kesetaraan gender
OPINI

Rokok Menghambat Kesetaraan Gender?

Merokok menghambat tercapainya kesetaraan gender? Yang bener lho, Mbak!

Minggu dengan rintik hujan yang syahdu saya terganggu oleh artikel yang diterbitkan di laman theconversation.com. Artikel dengan judul “Mengapa rokok menghambat tercapainya kesetaraan gender di Indonesiaini membuat saya tergelitik untuk membacanya dengan sangat pelan dan memahami dengan baik kata per kata dengan seksama.

Saya paham betul, apa yang ditulis oleh Mbak Beladenta Amalia adalah murni kegelisahan dia perihal rokok yang mematikan ini. Bagaimana tidak, beliau sebagaimana ditulis pada atribusi profilnya, adalah bagian dari Institute for Global Tobacco Control, Universitas Johns Hopkins. Tentu saja apa yang beliau tulis adalah murni kegelisahan beliau sebagai seorang perempuan. Kalian semua tidak perlu mempertanyakan tendensi-tendensi yang ndakik-ndakik.

Tidak tanggung-tanggung lho, Mbak Bela ini membuka artikelnya dengan data yang serius dikutip dari Global Health Metrics, bahwa setiap tahun ada 2 juta perempuan di dunia menjadi korban jiwa akibat konsumsi tembakau, 700 ribu perempuan meninggal akibat paparan pasif asap rokok. Mbak Bela juga menuding industri rokok di Barat kemudian di seluruh dunia dengan sengaja menggunakan narasi emansipasi dalam iklan-iklan mereka. Betapa sungguh keterlaluan perusahaan rokok ini.

Perempuan kelas bawah yang merokok , bagi Mbak Bela, harus membayar mahal dengan terjebak dikubangan kemiskinan. Ternyata Mbak Bela ini, yang mengagungkan kesetaraan masih memandang kelas-kelas dalam kehidupan bermasyarakat. Padahal dia juga tau, kalau setengah petani tembakau dan 94% buruh pabrik rokok adalah perempuan. Sayangnya, hal ini tidak beliau pahami sebagai ruang kerja yang adil. Bahwa pabrik rokok memberikan banyak ruang bagi perempuan-perempuan untuk menyambung kebutuhan hidup.

Mbak Bela ini sepertinya tidak tau bagaimana kehidupan di desa-desa dengan penuh kearifan itu. Ia memandang dari data-data yang sudah tersaji dengan kondisi hidupnya yang mungkin tidak pernah merasakan kebahagiaan di tengah segala macam kesederhanaan. Sepertinya dia juga tidak pernah membaca buku fenomenal macam Nicotine War. Jadi kita harus mewajari kalo pikiran beliau agak mobat mabit dan berat sebelah ini.

Industri Rokok Menyasar Perempuan

perempuan merokok

Tak hanya satu adagium “industri rokok menyasar anak-anak”, adagium industri rokok menyasar perempuan juga menjadi penekanan yang serius bagi Mbak Bela. Mbak Bela punya tendensi, kenapa industri rokok menyasar perempuan. Sebab industri rokok menggunakan media sosial dan influencer perempuan untuk promosi produknya. 

Ia mempertanyakan, apakah keputusan perempuan merokok itu atas dasar kesadaran sendiri atau ulah bombardir iklan rokok? Tentu saja ini pertanyaan konyol yang mendiskreditkan kebebasan perempuan untuk memilih pilihannya sendiri. Perempuan Indonesia itu bukan orang-orang bodoh. Mereka bisa memilih mana yang baik dan mana yang buruk. 

Lagian kenapa beriklan bagi perusahaan itu dilarang? Wong negara juga menikmati hasil iklan itu. Coba saja, apakah Mbak Bela minum susu atau makan nasi putih itu karena terpengaruh iklan? Bagi perokok pun begitu.

Hentikan stigma negatif pada perokok perempuan, tapi jangan normalisasi merokok

Nah, saya agak sepakat dengan kalimat ini. Agak ya. Memang kita tidak boleh berstigma negatif bagi perempuan yang merokok, tetapi untuk normalisasi merokok ini saya kurang sepakat.

Mari kita tarik sejarahnya. Merokok memangnya tidak normal? Sejak dulu merokok itu normal, hingga kemudian ada gerakan dari antirokok yang disokong oleh perusahaan farmasi. Merokok menjadi aktivitas yang tidak normal. Masa tiba-tiba rokok yang semula kebiasaan berubah begitu saja menjadi kecanduan? Kalau mau baca, silahkan baca laporanya Wanda Hamilton.

Pengendalian tembakau untuk kesetaraan

perempuan tua merokok

Wah kalau ini, Mbak Bela mainnya kurang jauh. Meski Indonesia tidak meratifikasi, atau mungkin bahasa yang tepat adalah “belum”, negeri ini memiliki PP 109 tahun 2012. PP ini adalah replika FCTC. Baca saja bunyi pasal per pasal, ayat per ayat, yang mengatur sedemikian rupa dunia pertembakau di Indonesia.

Malah nih ya, kalau industri hasil tembakau benar-benar mati, lalu bagaimana nasib 94% perempuan yang bekerja di pabrik rokok itu, Mbak? Masa sampean yang mendaku diri sebagai aktivis kesetaraan tega melihat ibu-ibu kita ini harus hanya mengandalkan suaminya? Nanti dibilang tidak setara dong?

Mbak Bela mungkin saja tidak sadar, tulisan embak itu sebenarnya malah menuding perempuan Indonesia itu lemah. Menuding bahwa perempuan-perempuan Indonesia tidak bisa memilih mana yang baik dan mana yang buruk. Lagian ya, Mbak, banyak teman perempuan saya yang merokok. Mereka bahagia, sehat dan bisa mengasuh anak dengan sebaik-baiknya. Sehormat-hormatnya.