Saatnya Saling Memaafkan dan Merajut Kerukunan di Hari yang Fitri

“Kita saling bertemu, berjabat tangan, saling mengakui segala salah, dan ditutup dengan meminta maaf. Sebuah hari yang penuh dengan kebesaran hati.”

[dropcap]R[/dropcap]amadan telah ada di ujung, bulan yang melatik manusia untuk mengekang hawa nafsu dan mengendalikan kesabaran dalam bersikap dan berperilaku telah dilewati. Kemenangan bagi mereka yang mengikuti amalan Ramadan ada di pelupuk mata, merayakannya bersama keluarga, sanak saudara, dan orang-orang terkasih.

Dengan berpuasa di bulan suci Ramadhan, diharapkan semakin rendah hati, kepala semakin menunduk, bertambah bahagia karena telah berhasil membelenggu, dan memberi pelajaran pada hawa nafsu yang kemudian tiba saatnya jiwa umat Islam menjadi bersih atau suci (fitroh) atau disebut hari raya idul fitri (kembali bersih).

Bagi umat Islam di Indonesia, Hari Raya Idul Fitri dikenal dengan istilah Lebaran yang berasal dari kata “lebar” atau yang artinya selesai. Yaitu selesai menjalankan ibadah puasa, menggambarkan kelegaan setelah memperoleh kemenangan dalam berjuang memperbaiki hawa nafsu selama satu bulan dengan menahan lapar dan dahaga. Keberhasilan melawan hawa nafsu adalah sebuah kemenangan yang luar biasa, sehingga pada hari yang fitri, kita saling mengucapkan minal ‘aidin wal faizin (kembali dengan kemenangan).

Silaturahmi yang menjadi tradisi dalam perayaan Lebaran, dimaksudkan untuk mempererat tali persaudaraan. Selain itu dengan bersilaturrahim dapat mendatangkan rezeki, dan memperpanjang umur. Kita saling bertemu, berjabat tangan, saling mengakui segala salah, dan ditutup dengan meminta maaf. Sebuah hari yang penuh dengan kebesaran hati.

Dalam jiwa manusia terdapat dua hal fundamental yang melatari pengaruh terhadap kepribadian dan tingkah laku, yaitu akal dan nafsu. Akal cenderung berbakti terhadap Tuhan, sedangkan nafsu kebalikannya. Nafsu adalah representasi dari hal negatif dalam diri manusia. Kesombongan, keangkuhan, kerakusan, kebodohan, kedengkian dan lain sebagainya .

Diceritakan oleh KH. Sya’roni Ahmadi seorang tokoh ulama’ dari Kudus, Jawa Tengah, bahwa pada saat akal dan nafsu diciptakan, dan ditanya oleh Tuhan satu persatu. “Man anta wa man ana (siapa kamu dan siapa aku? [Tuhan])”. Akal menjawab, “anta robbi wa ana abduka (kamu adalah Tuhanku dan aku adalah abdimu)”. Sedangkan nafsu menjawab, “ana ana wa anta anta (aku adalah aku dan kamu adalah kamu)”. Dengan sombongnya nafsu tersebut, kemudian Tuhan menghukum selama 100 tahun tanpa asupan gizi (puasa), barulah ego nafsu berubah menjadi baik, tunduk dan taat.

Lebaran menjadi titik tolak bertambahnya kepatuhan pada Tuhan. Lebaran bukanlah untuk orang yang suka permusuhan, dengki, adu domba, melainkan bagi yang cinta damai, terwujudnya masyarakat harmonis, sejuk dan saling menjaga kehormatan. Merayakan hari raya itu sangat mudah, tetapi menjadi fitri itu sangat sulit. Fitri yang berarti fitrah, atau kembali ke asal muasal, terlahir kembali menjadi bayi yang suci.

Dihari Lebaran yang indah ini, mari kita tingkatkan amal perbuatan baik dengan memupuk persatuan, merajut kembali tali persaudaraan, cerminan dari Islam yang ramah dan penuh rahmah. Dengan perasaan penuh gembira, ceria, bersahabat mari kita saling memaafkan, memaafkan kesalahan yang disengaja ataupun yang tidak disengaja, saling melupakan kesalahan yang pernah diperbuat, saling menebarkan perdamaian, dan kasih sayang, sehingga menjadi rukun, damai, penuh dengan rasa persaudaraan, saling menghormati dan saling toleran, dan memaklumi kekurangan masing-masing.

Kita harus mampu menahan diri, tidak larut dalam hawa nafsu yang mengarah pada perbuatan tercela, ketidakpatuhan terhadap norma agama, dan ego yang tinggi.

Mari kita sama-sama menutup lembaran lama yang penuh dengan noda, dan membuka lembaran baru yang masih bersih dan suci, menebarkan amal perbuatan baik, meningkatkan kepekaan sosial, dan kepedulian terhadap lingkungan sekitar yang telah diamanatkan pada kita.

Selamat Hari Raya Idul Fitri, mohon maaf lahir batin.

Bijak Berkomentar Tanda Kretekus Santun
mm

Seorang santri dari Kudus. Saat ini aktif di Komite Nasional Penyelamatan Kretek (KNPK).

Leave a Reply

Your email address will not be published.

ARTIKEL TERKAIT

Romansa Sebatang Kretek di Hari Santri Nasional

Di dunia pesantren, menghisap kretek tidak semata menjadi alat relaksasi dan teman ketika mengisi kegelisan hati, lebih dari itu rokok…

Kisah Sebatang Kretek

Usai sebuah diskusi tentang Aceh, jelang akhir bulan Mei 2005, kami diundang untuk sebuah santap sore di sebuah gedung tidak…

Para Wali yang Mendidik dengan Rokok

Di dunia ini terdapat banyak hal yang meluluhlantakkan nalar kita sebagai manusia. Salah satunya adalah bagaimana cara kiai mendidikan umat…

Kopi dan Kretek untuk Sukarelawan

Hingga hari ini, satu-satunya film seri yang selesai saya tonton hingga episode terakhir adalah Prison Break. Satu yang hingga kini…