Wong Kalang dan Kotagede

TUTUR

mmWritten by:

Sebelum memasuki abad ke-20 awalnya di Kotagede terdapat dua sub-kelompok di kalangan Wong Kalang, tinggal di daerah Tegalgendu. Ada satu sub-kelompok Wong Kalang yang tinggal di daerah kuasa Kasunanan Surakarta.

rumah-kalang

 

[dropcap]S[/dropcap]eperti Wong Osing atau Tengger atau Samin, Wong Kalang juga memiliki corak kebudayaan yang berbeda dari masyarakat Jawa umumnya. Bicara warna kulit, cara berpakaian dan bahasa Orang Kalang sebenarnya tak jauh berbeda dari etnis Jawa. Namun demikian sering disebutkan Wong Kalang dan Wong Jawa memiliki kebudayaan yang berbeda signifikan, sekalipun keduanya sudah merentang berabad-abad hidup saling berdampingan. Barangkali Orang Kalang adalah subetnis Jawa ketimbang etnis tersendiri, atau sekiranya hal itu masih terasa berlebihan mungkin lebih tepat disebut sebagai (fenomena) subkultur Jawa.

Menurut Claude Guillot (1988), setidaknya ada empat hal pokok yang membedakannya secara signifikan. Pertama, berbeda dari etnis Badui yang label “Badui”-nya disematkan oleh orang luar, atribut nama Kalang itu digunakan oleh kalangan mereka sendiri. Artinya nama Kalang adalah bagian dari kontruksi identitas diri Wong Kalang dan kelompoknya, dan bukan semata kontruksi ke-liyan-an dari Wong Jawa.

Kedua, sistem perkawinan lebih bersifat endogami, yaitu mereka cenderung tidak akan menikah dengan orang di luar kelompoknya jika masih ingin dianggap Kalang sejati. Menurut catatan Mitsuo Nakamura (1983), banyak perkawinan mereka terjadi antara para keponakan bahkan pada garis pertama, atau malah juga diceritakan mereka biasa saling bertukar partner pernikahan di antara kelompok Kalang lain yang hidup dalam satu pemukiman atau kampung.

Ketiga, profesi kebanyakan mereka adalah pedagang atau kelompok tukang dan bukan petani seperti umumnya masyarakat Jawa. Sebagaimana nanti kita lihat, budaya Wong Kalang meskipun minoritas dan dipandang minor oleh budaya Wong Jawa, tapi dalam perjalanannya kemudian, setidaknya pada kasus sejarah lokal di Kotagede, justru sanggup mendudukkan diri sebagai budaya superior karena keberhasilan capaian kekayaan mereka.

Keempat, budaya Kalang relatif lebih mempertahankan ritus-ritus pra-Islam ketimbang budaya Jawa. Meski demikian Wong Kalang sendiri seandainya ditanya perihal agamanya tentu juga mendaku Islam. Tapi, mereka masih memiliki ritus pemakaman obong kalang, misalnya, yang notabene sudah tidak dikenal dalam tradisi Jawa. Menariknya, dalam upacara obong kalang ini mereka tidak membakar jasad si-orang meninggal laiknya upacara ngaben di Bali, melainkan hanya membakar boneka kayu (disebut “puspa gambar”) yang didandani dengan baju orang meninggal tersebut. Wong Kalang yang meninggal jasadnya tetap dikubur seperti lazimnya orang Jawa pasca masuknya Islam. Sementara, jadwal ritus obong kalang mengikuti sistem kalender masyarakat Hindu Bali ketimbang sistem kalendar masyarakat Jawa.

Sudah tentu di tengah masyarakat Jawa sendiri banyak tafsiran mitologis. Lazimnya cenderung mendua sikap, antara sikap kagum dan merendahkan. Pada masyarakat Kotagede di Yogyakarta, misalnya, beredar folklore yang kebenarannya mirip dongeng yang mengatakan bahwa Wong Kalang itu memiliki ekor. Merujuk catatan etnografis Mitsuo Nakamura (1983), legenda lokal Kotagede mengatakan bahwa Wong Kalang adalah tawanan perang yang dibawa oleh Sultan Agung pasca ekspedisi ke Bali yang gagal pada awal abad 17. Mereka juga dipercaya sebagai keturunan manusia dan kera sehingga terbetiklah cerita, konon Wong Kalang memiliki ekor.

Sedang tulisan Claude Guillot juga mencatat dongeng Jawa berisi asal-asul Wong Kalang yang digambarkan sebagai orang malang, tinggal tak menetap alias nomaden di sekitar pinggiran hutan-hutan, dianggap kelas pariah atau kasta rendah. Dan, lebih dari itu, tak jauh berbeda dari legenda lokal Kotagede yang dicatat oleh Mitsuo Nakamura, Wong Kalang juga diceritakan terkenai kutukan Tuhan karena telah melakukan kawin sumbang antara seorang manusia (wanita) dengan seekor anjing.

Jelas, itu semuanya hanyalah dongeng isapan jempol belaka. Masa’ ada sih manusia punya ekor panjang? Juga masa’ bisa sih species manusia beranak pinak dengan species binatang? Ya, tentu semua itu mustahil, dan jelas hanya mitos saja. Tapi, terlepas daripada itu, adanya beberapa dongeng itu setidaknya mencerminkan pandangan negatif Wong Jawa terhadap Wong Kalang. Lho, kenapa bisa? Mari kita telusuri bersama. Tapi, sebelum masuk pada topik itu, marilah kita simak mosaik catatan sejarah mengenai Wong Kalang.

Sekiranya merujuk catatan sejarah, merujuk artikel Claude Guillot, catatan pertama tentang orang Kalang ditemukan tertulis dalam beberapa prasasti, dari tahun 804 sampai 943 M, yang salah satunya berupa ketentuan tentang kawasan bebas pajak (sima) bagi orang Kalang atau ketua kelompok mereka (Tuha Kalang). Merujuk prasasti itu Zoetmulder menafsirkan, bahwa Wong Kalang adalah golongan profesi tukang. Nama Kalang juga ditemukan dalam “Prasasti Tambang” berangka tahun 1358, yakni pada zaman Majapahit Raja Hayam Wuruk yang isinya terkait profesi jasa transportasi di kalangan kelompok ini. Catatan tentang orang Kalang muncul lagi pada abad ke-17, yaitu ketika Sultan Agung di Mataram mengeluarkan kebijakan yang membuat Wong Kalang meninggalkan kebiasaan nomaden dan mulai tinggal menetap pada 1636.

Sedang catatan Belanda muncul pertama tahun 1675, isinya menceritakan keberadaan Orang Kalang di daerah Rembang dan Pati sebagai penebang pohon. Catatan Speelman (1678) menyajikan diskripsi lebih jelas: orang Kalang bekerja menebang dan mengangkut kayu; membuat “gorab” dan kapal perang. Masih dari catatan Belanda diketahui Orang Kalang membantu mengangkut barang-barang tentara Hurdt yang pergi menyerang Trunajaya di Kediri pada kisaran tahun 1679. Lebih jauh setelah Belanda menguasai pesisir Jawa pada 1743, tiga tahun berselang setelah itu VOC juga mengakui status khas orang Kalang sebagai kelompok tersendiri (een apart volk). Implikasinya, lain dari orang Jawa pada umumnya, Orang Kalang diwajibkan membayar pajak badan kepada Belanda, hal yang dulunya mereka bayarkan kepada Raja Jawa karena posisi mereka dianggap sebagai orang asing. Zaman Daendels berkuasa kewajiban pajak itu dihapuskan, dan selanjutnya Gubernur Jendral yang berjasa membuat jalan darat Anyer – Panurakan ini kemudian memberikan hak menebang pohon bagi mereka untuk membuat gerobak Jawa, yaitu cikar dan pedati.

Selain itu, Winter SR (1839) juga mencatat bahwa pada zaman dulu orang Kalang suka hidup berpindah-pindah. Namun sejak memasuki abad ke 17 dan 18 kebiasaaan nomaden ini berangsur-angsur menghilang, dan mereka mulai tinggal menetap. Meski demikian juga patut disinggung di sini, bahwa Orang Kalang cenderung tinggal mengelompok dalam satu kampung atau daerah yang berdekatan satu sama lain. Kampung atau daerah Wong Kalang ini lazim disebut Pekalangan.

Apa yang menarik sepanjang sejarahnya Wong Kalang memperlihatkan etos kewiraswastaan (enterprenuer), halnya etnis minoritas Tionghoa dan Arab. Profesi petani tentu bukannya tidak ada sama sekali, tapi sangat jarang. Lebih-lebih, bermaksud menjadi abdi-dalem Raja atau sekadar mencari status pangreh praja, bisa dipastikan bukanlah cita-cita sosial kelompok ini.

Mari kita simak lebih jauh profesi Wong Kalang pada kasus Kotagede, dan kita lihat sejauh mana mereka secara sosial berhasil membangun reputasi prestisius kelompoknya berkat sukses duniawinya tersebut.

Sebelum memasuki abad ke-20 awalnya di Kotagede terdapat dua sub-kelompok di kalangan Wong Kalang, tinggal di daerah Tegalgendu. Ada satu sub-kelompok Wong Kalang yang tinggal di daerah kuasa Kasunanan Surakarta. Pekerjaannya adalah spesialis ketrampilan mengolah kayu dan membuat produk dari kayu. Memperbaiki bangunan-bangunan di kompleks Makam Raja dan rumah-rumah bangsawan sekitar situ adalah jenis pekerjaannya. Satunya lagi, sub-kelompok Wong Kalang yang tinggal di daerah kuasa Kasultanan Yogyakarta. Secara umum pekerjaannya adalah jasa transportasi tradisional, dari piranti kuda atau sapi hingga kendaraan bermotor. Wong Kalang juga diingat oleh masyarakat Kotagede sebagai orang pribumi pertama di Jawa yang membeli sejumlah mobil ketika produk itu diimpor ke Jawa.

Bisnis ini semakin meningkat ketika pihak kraton Yogyakarta memberikan monopoli pada kelompok ini, terkait jasa pengangkutan barang-barang antara kota pelabuhan Semarang di pantai utara dan kota Yogyakarta. Bisnis mereka semakin membesar ketika sub-kelompok Surakarta juga memperoleh lisensi dari kraton Surakarta untuk membuka rumah gadai ke seluruh wilayah. Walhasil, dalam waktu singkat mereka berhasil mengembangkan jaringan luas rumah gadai yang membawa keuntungan sangat besar.

Selain itu, seturut catatan Claude Guillot, pekerjaan mereka yang lain adalah pedagang. Bekerja sebagai pedagang bukanlah monopoli kaum laki-laki tapi juga pekerjaan kaum perempuan. Mengambil contoh keluarga Mulyosuwarno dan istrinya Fatimah, Claude Guillot mencatat bahwa keluarga Kalang itu tak hanya berjualan kebutuhan sehari-hari berupa sembako, melainkan juga berdagang kain batik, emas serta berlian. Sementara Kotagede sendiri menurut catatan Van Mook (1926) adalah pusat perdagangan berlian terbesar di Hindia Belanda, dan pusat tersebut dipegang oleh keluarga Wong Kalang. Hasilnya mudah diterka, sepasang suami istri itu sudah sangat kaya dan menyandang status sosial yang tinggi. Anaknya, Prawirosuwarno, yang lahir pada 1873 dan pada akhir abad ke-19 masih usia remaja, diceritakan biasa keluar masuk istana Yogya secara bebas dan bermain-main dengan pangeran yang nantinya menjadi Sultan Hamengkubuwono VIII.

Mitsuo Nakamura juga mencatat, bahwa besarnya kekayaan yang terkumpul oleh keluarga Kalang kini masih dapat dengan mudah dikenali. Di Kotagede terdapat sekitar selusin rumah-rumah besar milik Wong Kalang yang mirip istana dibangun pada awal dasawarsa abad ke-20. Salah satunya ialah rumah di tepi timur Sungai Gajah Wong, sebuah rumah dengan dua garasi yang momot delapan mobil dan sebuah kandang untuk duapuluhan kuda.

Menariknya, seturut catatan Mitsuo Nakamura itu, cerita lokal Kotagede mengatakan bahwa suatu waktu sekitar Perang Dunia ke I, keluarga ini memperoleh keuntungan yang sangat besar dari bisnisnya. Karena itu mereka bermaksud menutup seluruh lantai ruang pendapa dengan uang koin perak. Entah dengan maksud apa, yang jelas sekiranya ruang pendapa itu seluruh lantainya ditutup dengan koin uang perak maka wajah Ratu Wilhelmina yang ada di mata uang tersebut akan diinjak-injak oleh orang pribumi. Mendengar rencana itu, residen Belanda di Yogyakarta terang merasa jengkel, namun juga enggak punya alasan yuridis untuk melarangnya. Maka residen pun bersiasat, menyarankan koin perak itu dipasang tegak dan bukan mendatar. Sekalipun keluarga Kalang itu superkaya tentu saja tetap tak cukup punya sejumlah sangat besar uang koin untuk memenuhi ‘saran’ residen itu, dan akhirnya rencana tersebut pun batal.

Lantas, pertanyaannya apa yang membuat Wong Kalang dipandang negatif oleh Wong Jawa? Mereka selain dikenal suka memamerkan kekayaannya secara berlebihan juga dikenal sangat hemat atau bahkan cenderung kikir. Bagi Wong Kalang uang hendaknya tidak digunakan untuk pendidikan, karena hal ini berarti memberikan keuntungan bagi Wong Londo; juga bukan digunakan untuk membayar zakat (Islam); serta tidak untuk membiayai pagelaran kebudayaan seperti menanggap wayang atau gamelan (Jawa). Lebih dari itu, Wong Kalang juga cenderung menghindari keterlibatan diri dalam dunia politik. Ditambah dengan sistem pernikahan yang cenderung endogami, dengan demikian Wong Kalang cenderung hidup dalam dunianya sendiri yang ekslusif dan semata-mata uang. Barangkali saja kisah Wong Kalang mirip cerita Paman Gober dalam komik Donal Bebek.

Lebih jauh, seturut simpulan Mitsuo Nakamura, Wong Kalang adalah kasus ektrim tradisi abangan di Kotagede. Barangkali Mitsuo Nakamura terlalu gegabah menyamakan Wong Kalang dengan kelompok abangan, buah gagasan Clifford Geertz. Tapi, terlepas daripada itu, kisah kewiraswastaan Wong Kalang ini setidaknya menjadi hipotesa perihal adanya spirit kapitalisme di kalangan pribumi Indonesia, sebagaimana Max Weber pernah mendalilkan spirit kapitalisme bersemayam dalam Etika Protestan masyarakat Eropa.

Sumber foto: tourbalijava.com
Bijak Berkomentar Tanda Kretekus Santun

One Reply to “Wong Kalang dan Kotagede”

  1. Shelvia says:

    Artikelnya bagus
    Bisa menambah pengetahuan saya tentang wong kalang
    Simbah buyut saya yg tinggal di tegalgendu, masih memiliki ekor dan masih termasuk wong kalang?

Leave a Reply

Your email address will not be published.