Dibalik Peristiwa Jatuhnya Pesawat Air Asia QZ 8501

“Ayo, kita harus terus datang ke tempat ini, semangat, tunjukkan bahwa kita masih peduli dengan kerja mereka semua yang terus membantu menemukan keluarga kita”

dibalik-peristiwa-jatuhnya-pesawat-air-asia

Hampir sebulan lewat jatuhnya pesawat Air Asia QZ8501 rute Surabaya-Singapura di perairan antara Sumatera dan Kalimantan. Belum semua korban berhasil dievakuasi, namun “Harapan masih cukup tinggi di keluarga korban”, begitu kata Stevanus Theodorus, kontributor kami yang kebetulan berada di Surabaya untuk mengurus keluarganya yang juga menjadi korban pesawat naas itu. Ia membagikan pengalamannya di balik peristiwa jatuhnya Air Asia.

Ini adalah kunjungan saya yang ke sekian kalinya ke Surabaya. Hanya kali ini sangat berbeda. Saya menyanggupi permintaan adik sepupu untuk membantu pengurusan masalah legalitas dengan pihak AirAsia. Ayah mertua dan kakak ipar dari adik sepupu saya itu turut menjadi korban jatuhnya pesawat pada 28 Desember 2014 lalu. Harus diakui, saya mendapat pengalaman mengikuti suatu proses yang begitu menguras emosi dan melelahkan, melibatkan begitu banyak pihak.

Begitu tiba di Surabaya saya datang ke Posko Post-Mortem DVI (Disaster Victim Identification), tempat identifikasi korban di RS Bhayangkara Polda, Jawa Timur, di Jl. Ahmad Yani 116. Di situ, saya berkesempatan bertemu langsung dengan Walikota Surabaya, Tri Rismaharini. Rasa kagum saya terhadap beliau semakin bertambah saat melihat dia setiap hari memimpin langsung tim Pemkot Surabaya yang membuat posko di tempat ini. Ibu Risma ikut mendampingi keluarga korban dan bergerak cepat mempermudah pengurusan akta kematian dan administrasi lainnya yang diperlukan keluarga korban untuk proses verifikasi.

Saya berkesempatan melihat langsung kondisi jenazah yang begitu mengenaskan. Satu persatu dibawa ke RS Bhayangkara, langsung ditangani oleh tim DVI yang tanpa lelah bekerja di bawah tekanan dan perhatian begitu banyak pihak. Mereka harus berpacu dengan waktu untuk mengidentifikasi para korban, berupaya mencocokkan data-data ante mortem maupun post mortem. Mungkin ada sebagian orang bertanya, kenapa begitu lama mengidentifikasi korban? Saya juga merasakan kesan itu, sampai akhirnya seorang tim DVI berkata ke saya bahwa mereka harus memastikan hasil identifikasi korban benar-benar cocok dengan data-data yang ada. Apalagi kondisi jenasah begitu sulit dikenali. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana bentuk korban yang hingga kini belum dievakuasi.

Anggota keluarga dari adik sepupu saya termasuk di antara korban yang berhasil ditemukan di minggu pertama setelah kejadian. Saya mengikuti proses upacara serah terima jenazah kepada pihak keluarga, setelah berhasil diidentifikasi oleh tim dan relawan DVI. Kesedihan jelas terasa, namun ada kelegaan juga yang muncul dari pihak keluarga karena tidak sampai menunggu terlalu lama untuk mendapat kepastian soal korban. Usai serah terima itu, kembali saya berpikir tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan mereka yang masih menanti anggota keluarganya ditemukan.

Saya mendapatkan jawaban atas pertanyaan tadi saat mendatangi Crisis Center Polda Jatim yang letaknya bersebelahan dengan Rumah Sakit Bhayangkara. Di sinilah tempat para keluarga korban dengan sabar menunggu kabar mengenai nasib anggota keluarga mereka yang berada di pesawat. Bukan kesedihan semata yang saya tangkap dari mereka, melainkan semangat dan keyakinan kuat serta keikhlasan mereka yang patut diacungi jempol. Prioritas utama mereka adalah menemukan kembali anggota keluarganya, apapun kondisinya dan memberikan yang penghormatan terbaik kepada untuk terakhir kalinya.

Di Crisis Center itu, seorang bapak yang kehilangan 5 anggota keluarganya, terus memberi semangat kepada sesama keluarga korban lain. Ia berkata, “Ayo, kita harus terus datang ke tempat ini, semangat, tunjukkan bahwa kita masih peduli dengan kerja mereka semua yang terus membantu menemukan keluarga kita”. Sungguh timbul kekaguman saya saat mendengar itu.

Ruwetnya Urusan Kompensasi

Kebetulan saya punya latar belakang di bidang hukum. Itulah yang membuat adik sepupu mengajak saya untuk membantunya mengurus hal-hal terkait legalitas. Kami, dan beberapa perwakilan keluarga korban lainnya, menemui pihak Air Asia di sebuah hotel di daerah Ketintang Baru. Di sana dibicarakan masalah kompensasi korban dan santunan pemakaman seperti yang dijanjikan oleh pihak maskapai. Ini bukan pertemuan pertama karena sebelumnya sudah ada pembicaraan antara keluarga korban dengan tim legal Air Asia. Namun kembali pertemuan di hotel itu tidak mencapai titik temu.

Di Crisis Center Polda Jatim, kembali diadakan pembicaraan dengan pihak AirAsia untuk membahas santunan pemakaman. Seperti halnya pertemuan di hotel tadi, keluarga juga belum mendapat kejelasan terkait permintaan keluarga. Jawaban pihak Air Asia selalu sama, mereka harus membicarakan lebih lanjut keinginan keluarga secara internal. Bukan hal yang mudah dan sederhana ternyata urusan kompensasi dan santunan ini. Untung saja, pembicaraan dengan wakil dari pihak asuransi yang mengurusi travel insurance berlangsung lebih baik. Semua prosedur dan proses klaim sudah dijelaskan dan disiapkan untuk pihak keluarga.

Saya mengapresiasi itikad baik Air Asia terhadap keluarga korban, tapi saya melihat jelas bagaimana tim yang ditugaskan untuk bertemu keluarga korban ternyata tidak punya wewenang apapun untuk memutuskan. Berulang kali pertemuan dilakukan terasa sia-sia. Para keluarga korban mencoba memahaminya karena masalah ini sangat sensitif. Baru setelah bertemu langsung dengan Presiden Direktur Air Asia Indonesia (Sunu Widyatmoko) beberapa hari kemudian, keluarga akhirnya mendapatkan kepastian dan kejelasan terkait hal-hal yang menjadi hak keluarga korban. Untuk alasan tertentu saya tidak bisa menceritakan detil isi pertemuan keluarga dengan Air Asia terkait apa saja yang menjadi hak korban, jumlah kompensasi, dan apa kesepakatan akhir yang diterima kedua belah pihak.

Pelajaran Berharga

Ijinkan saya membagikan beberapa saran seandainya apa yang saya alami ini, walaupun tentunya kita semua tidak mengharapkannya, terjadi pada diri anda atau anggota keluarga yang lain. Pertama, hal yang terpenting adalah tetap tenang sambil terus mengikuti perkembangan informasi dari pihak-pihak yang berkompeten. Apabila merasa sulit mengatasi keadaan, ajaklah dan serahkan beberapa urusan kepada anggota keluarga yang Anda percayai.

Kedua, cari tahu semua informasi yang berhubungan dengan aspek hukum atau aturan-aturan perundangan yang mengatur tentang hal ini. Jangan sepenuhnya mempercayai apa yang anda baca atau lihat di media, lebih baik bertanya kepada orang yang mengerti atau mempelajarinya.

Ketiga, jangan emosi atau mengumbar kemarahan apalagi mencari kesalahan pihak lain semata-mata karena anggota keluarga Anda telah menjadi korban. Lebih baik dibicarakan bersama, jelaskan secara terperinci apa keinginan Anda maupun keluarga. Berikan penekanan-penekanan pada hal-hal tersebut sesuai dengan aturan yang berlaku.

Keempat, jangan pernah mencari keuntungan pribadi atau melibatkan orang-orang yang sebenarnya bertujuan untuk mencari keuntungan sendiri atas musibah yang Anda maupun keluarga Anda alami. Ikhlaskan apa yang telah terjadi, lanjutkan hidup demi orang-orang terdekat yang masih membutuhkan Anda sambil tetap menyimpan kenangan indah akan mereka yang telah meninggalkan

Setelah seminggu di Surabaya dan segala urusan selesai, saya turut menghadiri pemakaman anggota keluarga adik sepupu, di Pemakaman Sentong Baru di daerah Lawang, Jawa Timur. Doa saya untuk mereka dan untuk para korban lainnya beserta keluarga yang ditinggalkan.

Requiescat in Pace, Jun & Om Koen. You’ll be missed.

Stevanus Theodorus

Advokat dan pendamping keluarga korban.