Jakarta – Bandung Made In Tiongkok

Tak berlebihan sekiranya dikatakan, bahwa jaringan layanan rel kereta api berkecepatan tinggi di Tiongkok adalah yang terpanjang dan terbesar di dunia.

jakarta-bandung-made-in-china-body

Selama ini produk teknologi maupun barang yang berasal dari Tiongkok selalu dipandang sebelah mata. Apapun yang datang dari negeri Tirai Bambu cenderung serta merta dianggap berkualitas KW, entah itu kelas dua atau tiga.

Tak aneh setelah ditanda tangani kesepakatan Indonesia – Tiongkok membangun kereta api cepat Jakarta – Bandung justru muncul sinisme. Salah satunya terkait kekhawatiran khalayak perihal keamanan produk Tiongkok. Opini sinis berkembang di tengah masyarakat tentang kualitas teknologi Tiongkok adalah KW. Selama ini teknologi Jepang mendominasi benak kesadaran masyarakat kita. Sementara Pemerintah sendiri hanya menerangkan, Tiongkok terpilih sebagai investor ketimbang Jepang karena Tiongkok berani memberi fasilitas pinjaman senilai 5 milyar USD tanpa menuntut jaminan. Tanpa disertai dengan keterangan dan jaminan bahwa teknologi kereta cepat Tiongkok bersaing dengan Jepang. Masalahnya yang digemborkan pemerintah hanya selalu uang, uang, dan uang.

Sinisme juga kekhawatiran masyarakat semakin meruah. Lebih-lebih belakangan terungkap fakta bahwa proses perizinan AMDAL ditengarai dilakukan secara tergesa-gesa dan menyalahi prosedur. Rel kereta sepanjang kurang-lebih 150 Km dan diasumsikan ditempuh dengan waktu 30-an menit itu berada di atas tanah yang dikenal rentan longsor dan terdampak jalur kegempaan.

Tulisan ini bukan bermaksud memasuki debat pro atau kontra perihal pembangunan kereta api cepat Jakarta – Bandung, melainkan justru bermaksud menanyakan kebenaran asumsi teknologi Tiongkok yang konon kualitasnya KW. Benarkah, negara yang secara historis didirikan oleh Paman Mao pada tahun 1949 itu belum berhasil mencapai fase sederajat dengan capaian teknologi negara-negara Barat? Atau setidaknya juga belum berhasil menyamai tingkat teknologi yang telah dicapai oleh Jepang? Mari kita lihat bukti-buktinya di lapangan.

Tiongkok dalam hal pembangunan disertai penggunaan teknologi boleh dikata memiliki ambisi sangat besar. Ini nampak jelas pada pembangunan moda transportasi darat negara itu. Sistem perkeretaapian di Tiongkok berkembang sangat ekstensif. Hampir 80% daratan disana telah dihubungkan oleh rel. Bayangkan saja China Railways Corporation mengoperasikan hampir 600 ribu gerbong barang, hampir 45 ribu gerbong penumpang, lebih dari 18 ribu lokomotif dan mengoperasikan lebih dari 36 ribu perjalanan per hari. Tak salah bagi Tiongkok sendiri moda transportasi kereta api adalah demikian penting. Maka di Tiongkok peran PT KAI-nya dijalankan oleh pejabat menteri, yaitu Kementerian Perkeretaapian (Ministry of Railways). Hingga pada tahun 2013 karena berbagai skandal korupsi di tubuh Kementeriaan Perkeretaapian di Tiongkok, lembaga ini dibubarkan dan digabungkan dengan Kementeriaan Transportasi.

Sejarah mencatat, wajah moda transportasi kereta api di Tiongkok mulai berubah drastis sejak beroperasinya kereta api cepat, dari Qinhuangdao ke Shenyang atau sebaliknya, memasuki awal tahun 1999. Kereta api cepat yang dalam bahasa Tiongkok populer disebut Gao Tie, kecepatan pada waktu itu masih berkisar 200 Km/jam. Seperti sering disebutkan, dalam parameter internasional kereta api dengan kecepatan 100-120 Km/jam adalah kereta api biasa. Kecepatan 120–160 Km/jam dianggap kereta api kecepatan menengah. Kecepatan berkisar 160-200 Km/jam disebut kereta api cepat. Sementara, kereta api dengan kecepatan 200-400 Km/jam disebut kereta api super cepat.

Pada tahun 2002, kereta api cepat layanan komersial dari Qinhuangdao ke Shenyang atau sebaliknya, berhasil menembus kecepatan hingga 200-250 Km/jam. Masih pada tahun yang sama, mereka berhasil membuat kereta api yang mampu melaju pada kecepatan 321,5 Km/jam. Kereta api super cepat pertama milik negara ini dinamai China Star. Selama periode 2004-2005, perusahaan plat merah Tiongkok juga banyak melakukan penelitian perihal kereta api berkecepatan tinggi dengan banyak perusahaan multinasional seperti Canada Bombardier, Perancis Alstom dan German Siemens. Walhasil, pada tahun 2007 semua jalur rel tersibuk di Tiongkok, kereta api melaju dengan kecepatan 200-250 Km/jam. Kereta api bernama Hexiehao pun masuk dalam jantung kehidupan sehari-hari warga Tiongkok.

Pada tahun 2009 jalur kereta Beijing – Hong Kong dibuka. Sejak saat itu jika kita ingin memasuki Hong Kong dari Beijing atau sebaliknya bisa memakai moda transportasi darat. Ujung akhirnya ada di Kowloon, tersambung dengan tiga kota utama: Shanghai, Beijing dan Guangzhou. Beijing dan Shanghai yang berjarak 1.318 Km, misalnya, hanya ditempuh kurang dari lima jam. Sebagai perbandingan jarak 1.318 Km itu sepanjang dari Jakarta-Mataram, NTB.

Memasuki akhir tahun 2012, dengan menginvestasikan dana sebesar 300 milyar dolar AS, Tiongkok berambisi membangun jaringan rel kereta berkecepatan tinggi yang panjang keseluruhannya mencapai 30.000 Km dan ditargetkan selesai tahun 2020. Tak berlebihan sekiranya dikatakan, bahwa jaringan layanan rel kereta api berkecepatan tinggi di Tiongkok adalah yang terpanjang dan terbesar di dunia.

Apa yang juga menarik dicatat ialah, proyek pembangunan jalur kereta api Qinghai ke Tibet. National Geographic menobatkan pembangunan jalur kereta api ini sebagai pencapaian terhebat Tiongkok untuk membangun rel sepanjang lebih dari 1000 km di salah satu lingkungan paling ekstrim di muka bumi. Melalui salah satu program televisinya, Megastructures: World’s Most Extreme Railway, National Geographic menelaah proses pembangunan dan teknologi yang dipakai Tiogkok membangun jalur rel kereta api yang dikerjakan selama 50 tahun tersebut.

Jika menyimak tayangan Megastructure di Natgeo paling tidak mengingatkan lagi akan sebuah hadist “Belajarlah sampai Negeri Cina”. Kondisi lingkungan seekstrim itu dihadapi dengan cara yang tekun dan sabar sampai suatu hari mereka menemukan cara paling efektif, murah, dan tentu saja ramah lingkungan untuk membangun rel diatas permukaan tanah yang paling sulit sekalipun. Menyimak tayangan itu rasanya menjadi malu selalu mencerca bahwa teknologi Tiongkok kualitas KW namun kita tidak bisa membuat apa-apa.

mm

Zulvan Kurniawan

Ketua Pekerja

Penikmat tembakau, teh, dan camilan yang renyah. Koordinator Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK)