Ramadan di Tanah Rimba

“Hari pertama sahur di rimba, Jangat Pico, dan Pengendum sengaja terjaga hingga waktu sahur tiba. Memasak nasi, dan lauk pauknya kemudian membangunkan saya, dan Dwi untuk lekas bersantap sahur.”

Ramadan 2011, kala itu bertepatan dengan bulan kedelapan masa tugas saya di Sokola Rimba, Jambi. Sekitar dua minggu selama Ramadan saya tinggal bersama Orang Rimba, belajar bersama murid-murid di Sokola Rimba sembari menjalani ibadah puasa, sebelum akhirnya kesempatan mudik untuk menyambut Lebaran bersama keluarga.

Selain saya dan Dwi – rekan sesama relawan di Sokola Rimba – tak ada lagi yang berpuasa. Saat itu kami menjadi minoritas di tengah komunitas Orang Rimba Rombong Makekal Hulu. Orang Rimba memiliki agama dan kepercayaannya sendiri yang berpusat, dan terkait dengan hutan, serta alam raya tempat mereka tinggal.

Sayangnya, agama dan kepercayaan yang mereka anut tidak diakui oleh negara, dan masyarakat umum yang tinggal di sekitar mereka. Dalam pandangan masyarakat yang tinggal di sekitar Orang Rimba, mereka dianggap tak beragama, kafir.

Dari ribuan Orang Rimba yang tinggal di kawasan Hutan Bukit XII, tak banyak yang mengetahui kewajiban puasa yang harus dijalani oleh umat Islam. Dari sedikit yang tahu, hanya segelintir saja yang benar-benar paham tentang siklus puasa selama sebulan, apa itu sahur dan berbuka, kapan dilakukannya, serta bermacam pantang yang harus dipatuhi selama menjalani ibadah puasa.

Umumnya, mereka mengetahuinya dari warga desa yang sering berhubungan dengan Orang Rimba, atau dari para relawan Sokola Rimba seperti saya, dan Dwi.

Saat saya bertekat tetap berpuasa selama bertugas di rimba, saya memberitahukan kepada murid-murid akan hal ini. Memberitahu mereka apa itu puasa, dan mengapa saya harus menjalani kewajiban ini. Untuk memudahkan murid-murid agar mengerti, saya beri perumpamaan dengan kewajiban mereka terhadap keyakinan yang mereka jalani. Pemahaman ini terutama saya lakukan terhadap murid-murid yang belum menginjak remaja.

Hari pertama sahur di rimba, Jangat Pico, dan Pengendum sengaja terjaga hingga waktu sahur tiba. Memasak nasi, dan lauk pauknya kemudian membangunkan saya, dan Dwi untuk lekas bersantap sahur. Beberapa murid lain yang terjaga karena keributan yang kami buat, turut kami ajak makan bersama.

Saat waktu makan siang tiba, anak-anak yang memang tinggal bersama kami selama 24 jam penuh di bangunan yang kami sebut Ruma Sokola – juga diperuntukkan sebagai ruang belajar – akan menyingkir cukup jauh hingga tak terlihat oleh saya, dan Dwi. Saat saya dan Dwi bilang tidak usah begitu, “Santai saja, silakan makan di mana saja sesuka hati.” Mereka menolak, “tidak sopan,” begitu jawab mereka.

Sore hari, seusai belajar, Becayo dan Menosur pamit, mereka pergi ke hutan membawa ketapel. Menjelang gelap, mereka kembali ke Ruma Sokola, membawa beberapa ekor burung yang berhasil mereka buru menggunakan ketapel. Mereka berdua lekas mengumpulkan kayu bakar, menyalakan perapian, membakar burung yang mereka dapatkan, kemudian menyerahkan semuanya kepada saya, semuanya.

“Buat buka puasa, Guding,” ujar mereka berdua.

Ini terjadi terus selama saya berpuasa di rimba. Sering kali, selain Pico, Pengendum, Becayo dan Menosur, anak-anak lain juga ambil peran saat sahur dan buka puasa. Mereka yang sudah remaja juga kerap menegur adik-adik mereka yang tanpa sengaja, dan karena ketidaktahuan, makan di hadapan saya dan Dwi saat kami berpuasa. Padahal saya dan Dwi biasa saja, sama sekali tidak berkeberatan.

Di hari-hari berikutnya, selain Becayo dan Menosur, murid-murid lain di Sokola Rimba berlomba menyediakan kudapan untuk berbuka. Sore hari selepas belajar, dengan mengalungkan ketapel di leher mereka masing-masing, anak-anak rimba ini akan berpencar menuju hutan untuk berburu. Ketika senja hampir usai, mereka akan kembali ke ruma sokola dengan hasil buruan mereka, berbagai jenis burung, dan bermacam tupai dengan ukuran yang bervariasi.

Kian hari, takjil yang disediakan anak-anak rimba berupa burung dan tupai bakar kian melimpah. Kadang saya sudah terlalu kenyang dengan semua itu, sehingga baru menyentuh nasi lagi ketika makan sahur.

Karena banyaknya hasil buruan, pada akhirnya tidak semua hasil buruan langsung dibakar. Kami mengolahnya dengan cara lain, digoreng, ditumis, kadang diolah bersama cabai, bawang, dan merica yang dihaluskan, atau kecap ditambah irisan cabai.

Semula semua hasil buruan itu untuk saya dan Dwi saja, anak-anak sengaja memang berburu untuk kami. Tetapi karena terlalu banyak, akhirnya kami makan bersama-sama. Siapa coba yang bisa makan 60 ekor burung bakar berdua saja?

Namun, aktivitas menyediakan takjil untuk berbuka puasa itu, datangkan kekecewaan bagi Bedundang. Saat itu mungkin usia Bedundang sekitar 7 atau 8 tahun. Ia murid yang selalu ada di Ruma Sokola selama program belajar berlangsung.

Mengapa Bedundang kecewa? Karena ia terkenal paling payah berburu menggunakan ketapel. Dibanding adik-adiknya yang masih berusia 5 hingga 6 tahun, Bedundang tetap kalah hebat.

Selama proses berburu untuk berbuka puasa, Bedundang hanya mendapat satu ekor burung, itupun burung kecil.

Dibandingkan dengan teman lainnya yang bisa mendapat belasan burung dan beberapa ekor tupai. Lebih lagi, jika dibandingkan dengan Becayo dan Menosur yang pernah dalan sehari mereka berdua berhasil mendapat 54 ekor burung, dan 7 ekor tupai.

Akhirnya, sekali waktu kekecewaan itu sedikit memudar. Sore hari saat teman-teman lainnya fokus berburu di hutan, ia masih santai-santai di Ruma Sokola. Saat teman-temannya sudah kembali ke membawa hasil buruannya, Bedundang beranjak untuk kembali ke rumah orang tuanya yang tak jauh lokasinya. Tak terlalu lama ia kembali lagi dengan piring besar berisi tumpukan daging yang menggiurkan.

Mikae cuma bisa moriko Pawai natong ebun pi olen mumpa iyoy, ake bewo nio buat Pawai, lebih olen (Kalian hanya bisa kasih Pawai [burung] binatang kecil nggak enak kayak gitu, saya bawa ini buat Pawai, lebih lezat),” ujar Bedundang jumawa.

Nioma bebi jatahke dari Bepak, di malom kan nye buli bebi, mikae semua la makon jatah mikae, tapi ake hopi, bebi nioma ake simpani anggo Pawai (Ini babi jatahku dari Bapak, semalamkan dia berburu dapat babi. Kalian semua sudah makan babi jatah kalian pasti, aku enggak, babi jatahku kusimpan buat Pawai),” sambung Begundang.

Spontan Pengendum, Becayo, dan Menosur mengejek ketidaktahuan Bedundang. “Yeee…. Lolonye, bebi yoya pantong, Pawai hopi bole makon bebi. Dasar budak kuloi (Yeee…. Bego. Pawai haram makan babi. Dasar payah),” jawab mereka sembari berkelakar.

Orang Rimba, bahkan hingga saat ini, oleh orang-orang di sekitar mereka masih dipandang sebelah mata, dianggap remeh, dihakimi dengan stereotip-stereotip negatif. Bodoh, kotor, jorok, tak beradab, tak beragama, primitif dan sejenisnya.

Namun faktanya, ia yang dipandang serba negatif seperti itu malah mempraktikkan bentuk toleransi yang sebaik-baiknya, sehebat-hebatnya. Berbeda dengan mereka yang meremehkan Orang Rimba sembari menganggap diri paling suci dan beradab. Sejatinya mereka telah menistakan diri mereka sendiri dengan sikap semacam itu.

Orang Rimba, sunyi dalam tutur, namun praktik langsung dengan laku bagaimana sebaiknya berlaku terhadap sesama manusia. Sedang banyak manusia di sekeliling mereka, berbuih-buih dalam ujaran, dan mendaku diri paling suci, namun malah menistakan diri sendiri lewat sikap dan perilaku terhadap manusia yang berbeda dengan mereka.

mm

Fawaz al Batawy

KONTRIBUTOR

Pecinta kretek, saat ini aktif di Sokola Rimba, Ketua Jaringan Relawan Indonesia untuk Keadilan (JARIK)