Siapa Perupa Lambang Negara?

Tak aneh sekiranya indikasi peran serta Basuki Resobowo kemudian menjadi hilang dengan diterima dan dimenangkannya sketsa rancangan Sultan Hamid II dan Muhammad Yamin. Apakah ini semacam kolusi panitia untuk memenangkan dirinya sendiri?

siapa-perupa-lambang-negara-2

Pencipta lagu Indonesia Raya sudah jelas, W.R Supratman. Penjahit sang saka Merah-Putih juga diketahui pasti, Ibu Fatmawati. Pada keduanya tak ada perdebatan, tak ada kontroversi, tak ada polemik. Tapi, lain Pancasila sebagai ideologi negara. Orde Baru secara historis menafsirkan Pancasila sebagai rumusan Muhammad Yamin ketimbang Soekarno, sekalipun Bung Hatta sendiri pernah mengatakan penggali nilai-nilai Pancasila adalah Soekarno dan bukan Yamin. Pasca Orde Baru sejarah resmi penemu rumusan Pancasila naga-naganya hingga kini juga belum ditetapkan oleh negara.

Bicara Pancasila, kontroversi tak hanya seputar siapa perumusnya, tapi juga terkait siapa perupa lambang itu. Betul, ideologi Pancasila memiliki lambang berupa Burung Garuda. Setidaknya ditemukan lima nama: Muhammad Yamin, Sultan Hamid II, Basuki Reksobowo, Dirk Ruhl Jr, dan Dullah; yang ditengarai berjasa membuat lambang negara. Lantas, manakah yang benar? Mari kita selisik bersama-sama.

Pada 13 Juli 1945, dalam rapat Panitia Perancangan UUD 1945 Parada Harahap usul perlunya dibuat sebuah lambang negara. Namun baru pada 16 November 1945 dibentuk Panitia Indonesia Raya. Tugasnya yaitu mempersiapkan bahan kajian tentang lambang negara. Diketuai Ki Hajar Dewantara dan Muhammad Yamin sebagai sekretaris umum. Namun kepanitiaan itu tak bisa menyelesaikan tugasnya akibat Peristiwa 3 Juli 1946, kudeta bersenjata oleh Persatuan Perjuangan (PP) dikomandani Tan Malaka terhadap Kabinet Syahrir, diduga Yamin terlibat juga.

Tahun 1947 pemerintah kembali mengadakan sayembara membuat lambang negara. Beberapa organisasi seni lukis dilibatkan seperti SIM, Pelukis Rakyat, PTPI, dan KPP. Tapi, karena satu atau lain hal, lomba ini gagal total. Pada 1949 pemerintah kembali mengadakan sayembara yang ketiga kalinya. Untuk itu dibentuklah Panitia Lambang Negara pada 10 Januari 1950, terdiri dari: Muhammad Yamin (Ketua), Ki Hajar Dewantara (anggota), M. Pellaupessy (anggota), Muhammad Natsir (anggota), dan R.M. Ng. Purbatjaraka (anggota). Kepanitiaan ini bertugas menyeleksi usulan-usulan lambang negara untuk diajukan kepada pemerintah. Walhasil, panitia ini memilih dua gambar rancangan terbaik, yaitu karya Sultan Hamid II dan Muhammad Yamin.

Pada rancangan gambar Sultan Hamid II ditemui simbol-simbol yang beberapa diantaranya nanti dipakai untuk melambangkan sila-sila Pancasila. Dia membuat sketsa awal berupa perisai yang dibagi menjadi lima ruang dan di dalamnya ada gambar kepala banteng, beringin, padi dan keris. Sedang rancangan gambar Muhammad Yamin lebih spesifik ditujukan pada lambang negara RIS. Ini terlihat dari adanya simbol matahari dilingkari kelapa, bumi dan bulan, sebagai penanda waktu atau lazim disebut “candrasengkala” dalam budaya Jawa. Simbol-simbol itu bermakna tahun 1881 Saka atau 1949 Masehi. Tahun yang menunjukkan hari kelahiran RIS.

Menurut Muhammad Hatta dalam buku “Bung Hatta Menjawab”, dalam proses selanjutnya yang diterima pemerintah ialah hasil rancangan Sultan Hamid II. Adapun karya Muhammad Yamin ditolak, karena alasan adanya simbol matahari yang sedikit atau banyak dikritik beberapa pihak sebagai terpengaruh oleh Jepang.

Sudah tentu sketsa rancangan lambang negara itu jauh dari proses sekali jadi. Banyak revisi dilakukan, dan revisi itu juga didasarkan pada banyak masukan atau kritik dari banyak pihak. Misalnya sketsa gambar kepala burung garuda terjadi revisi berulang-ulang. Dari yang semula menggunakan mahkota, trus berganti menjadi terkesan mengenakan surban, hingga menjadi bentuknya seperti kita kenal sekarang. Tak kecuali bentuk perisai di depan dada pun beberapa kali mengalami perubahan. Tercatat, Partai Masyumi sempat memberikan usulan agar burung garuda itu memiliki tangan dan bahu manusia untuk memegang perisai. Sedang M.Pellaupesy tercatat sebagai pengusul jumlah bulu burung garuda yang melambangkan tanggal 17-8-1945.

Namun justru di sinilah titik persoalan sulitnya menemukan siapa perupa lambang Garuda Pancasila, karena sketsa rancangan itu proses pembuatannya tak sekali jadi. Banyak revisi atau penyempurnaan di sana-sini oleh banyak pihak, dan hal itu prosesnya terjadi secara bertahap. Bahkan setelah lambang burung garuda itu resmi ditetapkan menjadi lambang negara RIS, masih saja revisi di sana sini dilakukan.

15 Februari 1950 lambang negara ditetapkan oleh Kabinet RIS. Uuntuk pertamakalinya Presiden Soekarno memperkenalkan lambang negara kepada khalayak umum di Hotel Des Indes, Jakarta. 17 Februari 1950 lambang Garuda ini disahkan oleh Parlemen RIS. Itu tak berlangsung lama. Usulan Bung Karno menyempurnakan kembali bagian kepala burung itu hanya berselang dua minggu setelah secara resmi disahkan oleh Parlemen RIS, yaitu pakhir Februari 1950. Bung Karno menghendaki kepala burung garuda yang menyerupai lambang burung rajawali negara Amerika, Bald Eagle, diganti dengan jenis burung rajawali atau elang yang ada di wilayah Jawa.

Tak hanya itu, Presiden Soekarno juga mengusulkan merubah bentuk cakar kaki burung garuda, dari terlihat menghadap ke belakang dan terbalik, disempurnakan menjadi bentuk cakar kaki menghadap ke depan sebagaimana kita lihat sekarang. Menanggapi kritik itu, Sultan Hamid II meminta bantuan kepada D. Ruhl Jr, seorang perupa dari Perancis yang telah lama tinggal di Indonesia.

Hasil akhir dari bentuk revisi sketsa oleh D. Ruhl mendapat persetujuan Presiden Soekarno pada 20 Maret 1950, dan kemudian Presiden Soekarno memerintahkan Dullah melukis kembali rancangan gambar tersebut. Dullah bertugas memperbaiki kesempurnaan lambang garuda dengan menambahkan jambul pada kepala. Selain itu juga merubah bentuk cakar kaki yang semula mencengkeram pita ke arah belakang menjadi ke arah depan pita, dan jadilah lambang Garuda Pancasila seperti yang ada sekarang ini, disahkan pada 17 Agustus 1951 melalui penetapan PP No. 66 Tahun 1951.

Dari pinggiran, tepatnya komunitas eksil di negeri Belanda, muncul suara tafsir sejarah yang lain. Bahwa Basuki Resobowo, pelukis anggota Lekra juga mengaku mengirimkan lukisannya dan merasa memenangi sayembara lambang negara pada tahun 1949. Basuki Resobowo adalah murid Taman Siswa terpandai yang memiliki bakat menggambar bagus dan kedekatan personal dengan Ki Hajar Dewantara. Sangat besar kemungkinan Basuki Resobowo memenangi sayembara waktu itu. Ki Nanang Rekto Wulanjaya sebagai cucu Ki Hajar Dewantara bercerita, bahwa Kakeknya lah yang memerintahkan Basuki Reksobowo untuk membuat sketsa simbol garuda.

Awal mula keterlibatan Basuki Resobowo ialah membantu Ki Hajar Dewantara selaku ketua Panitia Indonesia Raya pada 1945. Pada sayembara tahun 1949, karya Basuki Resobowo turut diseleksi ulang atau malah kemudian dikembangkan lebih jauh oleh pihak Panitia Lambang Negara. Posisi Sultan Hamid II adalah Menteri Negara Zonder Porto Folio selaku koordinator pembuatan lambang negara, sementara Muhammad Yamin jadi Ketua Panitia Lambang Negara. Tak aneh sekiranya indikasi peran serta Basuki Resobowo kemudian menjadi hilang dengan diterima dan dimenangkannya sketsa rancangan Sultan Hamid II dan Muhammad Yamin. Apakah ini semacam kolusi panitia untuk memenangkan dirinya sendiri? Entah.

Terlepas daripada itu, apa yang patut kita catat ialah: bahwa kata Garuda yang berasal dari bahasa Sanskerta adalah salah satu wahana dewa. Secara mitologis, Garuda tak hanya terdapat pada tradisi Hinduisme melainkan juga Buddhisme. Dalam tradisi Hinduisme, Garuda adalah tunggangan Dewa Wisnu. Sedangkan dalam konsep Trimurti, Wisnu adalah manifestasi Tuhan mengemban tugas melindungi dan memelihara alam semesta.

Mudah diduga, pilihan lambang Burung Garuda menyiratkan harapan tentang masa sejarah keemasan bagi Indonesia yang gemah ripah loh jinawi. Ya, semoga saja bukan semata harapan, tapi lebih dari itu. Burung Garuda jadi sebuah nubuat tentang masa depan Indonesia.

mm

Muhammad Kartolo

Pemikir, vegetarian, kadang lucu, yang jelas jomblo akut.