Tipu-tipu Bakul Obat

“Jangan suka tipu-tipu lu kayak kang (tukang) obat!” adalah sebuah candaan yang tak asing lagi di masyarakat kita. Menjadi sebuah bentuk kritik sosial atas maraknya tukang obat abal-abal yang banyak tersebar di pinggir-pinggir jalan, di negeri ini. Para tukang obat dengan retorika dan atraksi-aktraksi demi menarik pelanggan dalam menjual produknya.

Namun, bukan berarti tukang obat resmi, seperti perusahaan farmasi, bisa terlepas dari kebohongan. Bagaimanapun yang mereka lakukan adalah bagian dari bisnis. Seperti halnya bisnis-bisnis di bidang lain, keuntungan adalah tujuan utama mereka. Bedanya, tukang obat jenis ini menggunakan dalil riset dan akademik sebagai pembenaran atas produknya.

Sudah tidak diragukan lagi, selain dogma agama, ilmu pengetahuan adalah alat pembenaran terbaik atas hal apapun. Dengan keduanya, hal baik bisa menjadi buruk, begitupun sebaliknya. Hal ini senada dengan teori intelectual hegemony yang dikemukakan oleh Antonio Gramsci, yakni adanya penyeragaman atas pemikiran, analisis, dan preskripsi yang berbadning lurus dengan delegitimasi atas adanya sosial kritik.

Dalam hal ini, kampanye anti rokok yang dilakukan oleh perusahaan farmasi adalah sebuah bukti. Dengan dana berjuta-juta dollar AS, para pengusaha farmasi mengupayakan adanya riset sebagai pembuktian bahwa rokok tidak baik bagi kesehatan. Padahal, seperti halnya yang diungkapkan oleh Wanda Hammilton, dalam bukunya Nicotine War, usaha itu tak lain dari upaya mereka untuk merebut pasar nikotin internasional.

Dalam bukunya, Wanda menyatakan bahwa koferensi anti tembakau dan kesehatan dunia ke-11, tahun 2000, di Chicago, tak lebih menjadi ajang para pengusaha farmasi membahas strategi memenangi persaingan pasar nikotin, ketimbang soal kesehatan dunia. Glaxo Wellcome, Novartis, Pharmacia dan SmithKline Beecham, yang semuanya memproduksi dan/atau memasarkan produk-produk “pengganti nikotin” atau penghenti me-rokok lainnya, menjadi garda terdepan pemodal. Sedangkan, McNeil Consumer Products, anak perusahaan Johnson & Johnson yang memasarkan Nicotrol, diwakili oleh Robert Wood Johnson Foundation, sebuah yayasan yang menerima nyaris seluruh jumlah yang totalnya kira-kira $8 miliar dari sahamnya di J&J.

Bukti lain atas adanya konspirasi itu, adalah sebuah hasil penelitian berjudul New Study Shows that Nicotine Is Safe and Even Beneficial yang diunggah oleh situs churnmag.com. Di situ dikatakan bahwa, nikotin tidak sepenuhnya berbahaya, malah menguntungkan. Dr. Paul Newhouse, director of Vanderbilt University Center for Cognitive Medicine, menyatakan bahwa nikotin berfungsi sebagai penyembuh penyakit Alzheimer yang menyebabkan penurunan kualitas otak.

Selanjutnya, Newhouse juga menyatakan konsumsi nikotin bisa menjadi sebuah terapi pada penderita keterbelakangan mental. Karena, nikotin mampu mengoptimalkan salah satu jaringan pada otak yang berfungsi sebagai peningkat fokus. Hanya saja, menurutnya tantangan terbesarnya adalah memisahkan konsumsi nikotin dari rokok. Seperti halnya konsumsi kokain. Dan, baginya ini adalah tantangan untuk perusahaan farmasi.

Pemisahan nikotin dari rokok, adalah sebuah upaya yang secara jelas ditujukan untuk membatasi persebaran tembakau. Mengingat, bila tak juga dipisahkan, akan menyebabkan kekalahan bagi perusahaan farmasi dalam persaingan dagang nikotin. Sedangkan masyarakat telah lebih terbiasa mengonsumsi rokok ketimbang produk nikotin yang terpisah. Baik dalam bentuk koyok, rokok eletrik, atau produk apapun.

Padahal, bila kita merujuk pada sejarah penemuan kretek di negeri ini, sesungguhnya adalah sebagai obat dari penyakit selesma. Penyakit pernapasan yang saat itu banyak diderita oleh masyarakat. Obat yang murah dan terjangkau siapa saja. Bukan pembunuh seperti yang marak diisukan selama ini.

Dari sini, terlihat jelas segala upaya yang dilakukan perusahaan farmasi tak lebih dari sekadar tipu-tipu dan pembodohan semata. Yang sudah pasti akan menyebabkan kerugaian secara sistemik. Bukan hanya pengusaha rokok yang dirugikan. Melainkan juga pekerja, petani tembakau, dan pihak lain yang menggantungkan hajat hidupnya pada tembakau. Hasilnya kemiskinan akan meningkat. Sebuah hal yang menurut Nabi Muhammad SAW mendekatkan dengan kekufuran.

Lagipula, kesehatan hanyalah soal state of mind atau nalar berpikir saja. Seperti kata maqolah arab yang terkenal, al-aqlu salim fi al-jismi salim. Akal yang sehat terdapat pada badan yang sehat. Artinya, penyakit itu akan datang apabila akal kita sakit. Sedangkan, sakitnya akal salah satunya adalah karena dirampasnya kebahagian. Dan, bagi banyak orang, merokok adalah kebahagiaan mereka.

Jadi, sebenarnya perusahaan farmasi itu menjual obat atau penyakit? Silakan dijawab sendiri.

Ronny Joni

Editor

Rocker, traveller, hobi membaca.