Tuhan dalam Sajak Rendra

Rendra bukanlah tipe itu. Bagi Rendra, Tuhan, jalan hidup atau nasib, sama sekali bukanlah untuk dipertanyakan. Rendra bukanlah tipe orang “sulit”, ia cenderung menerima adanya konsep Tuhan dan keberadaan agama-agama sebagai kewajaran.

 

 

Rendra adalah penyair yang mempunyai pandangan unik dalam hal tafsir keagamaan. Tentu bukan soal kepindahan agamanya yang membuat sajak-sajaknya menarik. Rendra jelas bukanlah pribadi yang masih terkotak-kotak oleh aspek legal-formal agama yang sempit. Baginya spiritualitas atau religiusitas manusia tidak bisa dibatasi oleh kotak-kotak parsial dan simbol-simbol agama. Apa yang menarik adalah bahwa ekspresi profetis mewarnai hampir semua puisi Rendra, dan hal itu naga-naganya tak bisa dilepaskan dari tafsir keagamaannya.

Dalam suatu wawancara dengan Ihwan Mujahidin, suatu ketika Rendra pernah bertutur bahwa syairnya:

“….. //
kemarin dan esok adalah hari ini//
bencana dan keberuntungan sama saja//
langit di luar langit di badan bersatu dalam jiwa//….”
merupakan bentuk ekspresi yang religius. Pun syair ini:

“….. //
aku mendengar suara//
jerit makhluk terluka//
ada orang memanah rembulan//
ada anak burung keluar dari sarangnya//
orang-orang harus dibangunkan//
kesaksian harus diberikan//
agar kehidupan tetap terjaga
//…..” seturut Rendra sendiri juga bermakna religius.

Rendra memang seninam pemberontak. Tapi, bukan pemberontakan eksistensialisme seperti Chairil Anwar, yang menggugat surga “yang kata Masyumi dan Muhammadiyah bersungai susu, dan di sana bidadari beribu”. Bukan pula penyair eksistensialisme seperti Arifin C. Noer, yang gusar bertanya “mengapa” kepada Tuhan atau hidup.

Rendra bukanlah tipe itu. Bagi Rendra, Tuhan, jalan hidup atau nasib, sama sekali bukanlah untuk dipertanyakan. Rendra bukanlah tipe orang “sulit”, ia cenderung menerima adanya konsep Tuhan dan keberadaan agama-agama sebagai kewajaran. Bagi Rendra agama itu sendiri bukanlah wacana debat, ujar Syu’bah Asa.

Selain itu, Rendra memang pengagum berat sosok Muhammad. Kekaguman ini berawal dari membaca isi teks Shalawat Barzanji yang diterjemahkan Syu’bah Asa, selaku teman kreasi Rendra, ketika keduanya berproses melahirkan Qasidah Berzanji. Kekaguman pada Muhammad semakin mengukuhkan spiritnya melahirkan puisi-puisi profetiknya itu.

Benar, bahwa dalam Nyanyian Angsa atau Khotbah terkesan sarat kisah pemberontakan pada gereja. Maria Zaitun, tokoh sajak Nyanyian Angsa itu, dikisahkan adalah pelacur tua yang hidupnya terpinggirkan karena derita sipilis. Maria Zaitun dibuang dan dicaci maki banyak orang, bahkan malaikat pun enggan melihatnya. Tapi ia malah terpilih menjadi kekasih Tuhan, yang menjelma pada kehadiran sosok lelaki dengan bekas luka paku di kedua tangan merengkuhnya dalam cinta dan persetubuhan.

Pun puisi Khotbah. Kisah pemberontakan juga disasarkan pada lembaga keagamaan dan bukan dogma agamanya. Itupun, tak kecuali, sajak itu dibangun dengan latar belakang pekatnya narasi kemiskinan rakyat yang marah pada pedihnya derita hidup dan sikap ‘diam’nya gereja hingga berujung amuk massa.

Apa yang sedang digugat Rendra adalah soal budaya hipokrisi beserta lembaga keagamaan yang memapankan budaya itu dan juga merajalelanya kemiskinan. Boleh dikata Maria Zaitun dan Khotbah tetaplah sajak pembelaan bagi orang-orang kecil, dan bukan protes eksistensialisme atas agama beserta dogma-dogmanya.

Sebenarnya sejak sajak dramanya Orang-orang di Tikungan Jalan, tahun 1954, sudah bisa dilihat simpati dan keperpihakan sastrawan muda ini hendak diguratkan ke arah mana. Kisah Maria Zaitun yang liris dan pahit itu segera mendapat wujud barunya secara sarkastik dalam sajak Bersatulah Pelacur-pelacur Ibu Kota. Bersama itu “pesan moral” secara sinisme juga ditulis Rendra dalam puisi Pesan Pencopet Kepada Pacarnya. Selain merupakan pembalikan semua norma dan kaidah tentang baik dan buruk, puisi itu sekaligus merupakan tohokan keras atas kuatnya budaya hipokrisi yang menjelma dalam kuasa tirani.

Ya, Rendra menggugat, menggebrak keras, demi kepentingan orang-orang yang terlempar, marah dan berpihak bagi mereka yang terpinggirkan. Menggebrak bukan kepada takdir langit, atau kehendak Tuhan, atau pada hidup, tapi Rendra menggebrak lingkungan nyata, menggedor pada sistem dunia. Ya, kebobrokan yang disebabkan oleh sistem, itulah sasaran pemberontakan Rendra.

Tak salah sekiranya Syu’bah Asa mengatakan, agama dan juga budaya Jawa adalah tempat berlindung Rendra. Laksana sebuah gedung besar di latar belakang, di mana Rendra berdiri di depannya. Dia bisa di dalam dan bisa di luar, tapi ia tak bisa kehilangan semuanya itu.

Rendra biasanya menulis sajaknya bersifat lugas. Bahkan mulai 1970-an sajak-sajak penyair bernama lengkap Willibrodus Surendra Bhawana Rendra tapi kemudian memilih menyingkatnya WS Rendra ini, oleh banyak pengamat disebut sebagai sajak “mini kata” atau “puisi pamflet.” Namum demikian toh masih dapat ditemui corak puisi-puisi abstraknya. Sedikit sekali, memang, tapi bukan tak ada. Dari yang sedikit itu kebanyakan mengambil topik religiusitas atau sebutlah tafsir keagamaan. Ambil contoh sajak Setelah Pengakuan Dosa:

“…..//
Telah putih tangan-tangan jiwaku berdebu//
kausiram air mawar dari lukamu//
Burung malam lari dari subuh//
Kijang yang lumpuh butuh berteduh//
Di langit tangan-tangan tembaga terulur//
memanjang barat-timur bukit-bukit kapur//
Tuhan adalah bunga-bunga mawar yang ramah//
Tuhan adalah burung kecil berhati merah//…..”

Menariknya meskipun di sana-sini Rendra menggugat kejumudan dan dekadensi budaya Jawa, seperti pidato kebudayaannya yang berjudul Megatruh, namun kita juga masih menemukan nafas dunia kebatinan Jawa mewarnai puisinya. Dalam kumpulan puisi bertajuk Anuning Ning (1988), misalnya. Seperti diketahui, dalam konsepsi Kejawen dikenal istilah “urip tan kena ing pati” sebagai sinonim hakikat terdalam dari daya kesadaran hidup manusia dan realitas semesta, yaitu Rasha, Ingsung, atau Gusti. Konsepsi Urip ini terlihat pada sajak Doa Mengolah Welas Asih:

“…..//
Wahai, citra welas asih yang purba//
Inti dari tenaga alam semesta//
Inti dari daya hidup//
Inti dari daya pertumbuhan//
Inti dari daya penyembuhan//
Semoga melewati kamu//
Aku bisa lebih dekat//
dengan kehendak Tuhanmu//
Semoga getaran wibawamu //
Terpancar dari tempat ini//
Segenap penjuru alam semesta//…..”

Namun demikian tafsiran puisi Rendra tentang Tuhan tetaplah Tuhan yang dicitrakan demikian dekat dengan sisi kemanusiaan manusia sendiri. Sajaknya Masmur Mawar dalam Sajak-sajak Sepatu Tua menceritakan bahwa manusia terang tak mungkin mengingkari kebesaran dan keberadaan Tuhan. Ada aspek transendensi pada Tuhan. Namun bersama itu juga ada aspek immanensi pada Tuhan. Puisi ini menempatkan Tuhan sebagai teman kita yang akrab, Tuhan adalah teman kita semua, para musuh polisi: para perampok, pembunuh, penjudi, pelacur, penganggur, dan peminta-minta.

Pada puisi Masmur Mawar barangkali saja Rendra terinspirasi QS. Al Baqarah ayat 115 “…..ke arah manapun kamu berpaling di situlah wajah Tuhan.” Demikian penggalan syair puisinya:

“…..//
Kita menuliskan nama Tuhan//
Kita menuliskan dengan segenap mawar //
Kita menuliskan Tuhan yang manis, Indah dan penuh kasih sayang//
Tuhan adalah serdadu yang tertembak//
Tuhan berjalan disepanjang jalan becek//
Sebagai seorang miskin yang bijaksana //
Dengan baju compang camping//
membelai kepala kanak-kanak yang lapar//
Tuhan adalah Bapa yang sakit batuk//
Dengan pandangan arif dan bijak membelai kepala para pelacur//
Tuhan berada di gang-gang gelap//
Bersama para pencuri, para perampok dan para pembunuh//
Tuhan adalah teman sekamar para penjinah//
Raja dari segala raja// adalah cacing bagi bebek dan babi//
Wajah Tuhan yang manis adalah meja pejudian yang berdebu dan dibantingi kartu-kartu//…..”

Bagaimana Rendra memandang keberadaan manusia? Rendra tentu bukanlah sosok Nietzsche dengan puisi-puisi aphorisme tentang Manusia Sempurna (Übermensch). Sebaliknya si Burung Merak itu, demikianlah predikat yang disematkan Goenawan Muhamad, justru menginsyafi sisi kelemahan manusia. Ini nampak jelas dalam puisi Tobat, yang penggalan syairnya antara lain:

“….. //
Aku tobat, ya Tuhanku //
Tobat atas segala dosaku//
Burung-burung kecil di belukar//
Batang pimping menggeliat//
Mulut-Mu di hutan//
Di injak kaki petani//
Aku tobat, ya Tuhanku//
Telah kuinjak mulut-Mu//
Dan juga jantung-Mu//…..”

Dalam tulisan kata pengantar buku “Daulat Manusia”, yang terjemahan dari The Rights of Man karya Thomas Paine, pandangan Rendra tentang hakikat manusia jelas tergambarkan.

“Ternyata antroposentirmse maupun ekosentrisme bisa saling membahayakan keutuhan kemanusiaan. Untuk menciptakan keseimbangan antara Daulat Manusia dan Daulat Alam, kita harus berorientasi kepada Kehendak Sang Pencipta Manusia dan Sang Pencipta Alam. Karena hanya Sang maha Pencipta sendirilah yang paling tahu syari’at hidup yang tepat yang bisa mendamaikan keseimbangan kepentingan antara Daulat Manusia dan Daulat Alam dalam diri umat manusia.”WS. Rendra


Sementara, seandainya ditanyakan bagaimana wujud pribadi seorang manusia yang berhasil mendamaikan keseimbangan antara Daulat Manusia dan Daulat Alam? Sajak Seorang Tua untuk Istrinya nampaknya berhasil menggambarkan gagasan ideal yang diangankan oleh Rendra.

Sebagai penutup mari kita simak lagi sajak yang telah ditautkan diatas:

Aku tulis sajak ini untuk menghibur hatimu//
Sementara kau kenangkan encokmu//
kenangkanlah pula masa remaja kita yang gemilang//
Dan juga masa depan kita yang hampir rampung dan dengan lega akan kita lunaskan//

Kita tidaklah sendiri dan terasing dengan nasib kita//
Karena soalnya adalah hukum sejarah kehidupan//
Suka duka kita bukanlah istimewa//
karena setiap orang mengalaminya//

Hidup tidaklah untuk mengeluh dan mengaduh//
Hidup adalah untuk mengolah hidup//
bekerja membalik tanah//
memasuki rahasia langit dan samodra//
serta mencipta dan mengukir dunia//

Kita menyandang tugas//
karena tugas adalah tugas//
Bukannya demi surga atau neraka//
Tetapi demi kehormatan seorang manusia//

Karena sesungguhnyalah kita bukan debu//
meski kita telah reyot, tua renta dan kelabu//
Kita adalah kepribadian//
dan harga kita adalah kehormatan kita//

Tolehlah lagi ke belakang//
ke masa silam yang tak seorangpun kuasa menghapusnya//

Lihatlah betapa tahun-tahun kita penuh warna//
Sembilan puluh tahun yang dibelai napas kita//
Sembilan puluh tahun yang selalu bangkit//
melewatkan tahun-tahun lama yang porak poranda//
Dan kenangkanlah pula bagaimana kita dahulu tersenyum senantiasa//
menghadapi langit dan bumi, dan juga nasib kita//

Kita tersenyum bukanlah karena bersandiwara//
Bukan karena senyuman adalah suatu kedok//
Tetapi karena senyuman adalah suatu sikap//
Sikap kita untuk Tuhan, manusia sesama, nasib, dan kehidupan//

Lihatlah!//
Sembilan puluh tahun penuh warna//
Kenangkanlah bahwa kita telah selalu menolak menjadi koma//

Kita menjadi goyah dan bongkok//
karena usia nampaknya lebih kuat dari kita//
tetapi bukan karena kita telah terkalahkan//

Aku tulis sajak ini untuk menghibur hatimu//
Sementara kaukenangkan encokmu//
kenangkanlah pula bahwa kita ditantang seratus dewa//

Haryanto

Mahasiswa yang meyakini akan sukses dengan kerupuk dan teh botol.