OPINI

FCTC dan Hilangnya Orang Keren dengan Cigaret

Suatu ketika saya diundang diskusi tentang pertembakauan oleh Himpunan mahasiswa yg bernaung dibawah ormas keagamaan besar di NTB. Sy sungguh senang, melihat anak2 muda itu sangat bersemangat membela nasib para petani tembakau, yg jg adalah para orang tua dan masyarakat mereka sendiri.

Ya, siapa yg tidak tahu Pulau Lombok adalah penghasil tembakau, terutama jenis virginia terbesar dan terbaik di dunia? Tapi mengapa nasib para petani masih “gitu2 aja”, tetap miskin dan menderita? gugat mereka. Padahal tembakau adalah komoditas spesifik yg tdk semua daerah bahkan negara yg memilikinya. Itu artinya tdk ada alasan masyarakat Lombok tdk makmur, sejahtera dari hasil tembakau.

Lalu kamipun mencoba memetakan masalah yg mengepung dunia pertembakauan. Dari regulasi yg merugikan petani, kartel yg merajalela, hingga strategi gerakan untuk mmperjuangkan hak2 petani tembakau.

Di tengah ephoria dan gelora perjuangan tersebut, tiba2 beberapa hari kemudian saya ditelepon oleh ketua organisasi kemahasiswaan tersebut. Katanya akibat diskusi tsb mereka diusir, sekertariat mrk dibekukan, mereka disuruh pindah paksa tanpa alasan. Rumor yg beredar karena pemilik/petinggi yayasan tempat mereka bernaung mengharamkan rokok. Jleb!

Terlepas benar atau tidak, sentimen anti rokok ini begitu luarbiasa ternyata. Bahkan menyuruk hingga “jantung” produsen tembakau itu sendiri. Apa mereka tidak mikir, berapa banyak anak2 petani tembakau yg sekolah, kuliah disitu, bayar uang gedung, sumbangan ini itu,mmbiayai pwgawai dll dr keringat orgtua mrk? Berapa banyak pesantren, masjid dg menara megah, sarana pendidikan, bahkan fasilitas umum yg dihasilkan dari keringat darah para petani tembakau? Berapa banyak sarjana, tuan guru, birokrat, dokter, pengusaha, yg lahir dari rahim para petani tembakau? Mobil-motor berseliweran, jalan-jalan kampung tertata, ekonomi secara umum bisa tumbuh, sektor riil dan jasa yg dihidupi, pasti juga ada andil yg tdk kecil dr petani tembakau.

Bahkan hanya untuk mendiskusikan nasib para petani tembakau saja harus diberangus?

Tentu itu hanya secuil dari cerita usang penistaan dan pemberangusan dunia pertembakauan. Dengan dalih kesehatan, agama, ketertiban, etika, moral, para perokok diisolasi, dipersempit ruang geraknya. Bahkan dibinasakan sekalian bila perlu. Di bandara, ruang2 publik, pr perokok dipaksa berjejal, megap2 diruangan sempit tanpa ventilasi. Sementara pajak mereka terus dihisap, keringatnya diperas utk menghidupi negara, masyarakat, institusi sosial, komunitas agama, lembaga adat, kelompok preman, politikus bahkan korporasi.

Indonesia mmg belum meratifikasi FCTC (Framework Convention on Tobacco), mekanisme kontrol yang akan semakin memberatkan dunia pertembakauan. Tujuannya sudah jelas : membunuh industri pertembakauan. Tapi itu hanya soal waktu saja saya kira, jika nalar yg digunakan petinggi/pengelola negara hanya melihat para petani tembakau sebatas sapi perah dan perokok tak ubahnya pesakitan bahkan virus menjijikkan yg hrs segera dimusnahkan. Dan jgn harap akan ada lagi org2 cerdas gagah seperti Soekarno, Haji Agus Salim Che Guevara, Castro, Kennedy, Albert Camus, bahkan Soeharto yg bangga berpose dengan cigarret atau cerutunya.

Salam Syruuppuutt…