siasat pandemi
REVIEW

Nostalgia, Siasat Para Perokok Menghadapi Pandemi 2020

Melihat kondisi sekarang, saya ingin bernostalgia sedikit tentang situasi di awal pandemi 2020. Saya bertemu banyak orang di sekitar tempat tinggal saya di Jogja. Semua orang tadi seperti punya pemikiran dan rencana sendiri dalam menghadapi pandemi. Dari banyak orang tadi, ada 3 tokoh yang cukup berkesan dan meninggalkan sebuah rekaman cerita menarik, bagi saya.

Dimulai dari seorang pria berusia 56 tahun di RT tempat saya tinggal, sejak Mei 2020 ia rajin sekali membeli tembakau lengkap dengan cengkeh dan kertas lintingnya. Awalnya saya pikir dia hanya ikut-ikutan pemuda sekitar yang mulai rajin melinting sejak akhir 2019. Saat itu, di akhir 2019, harga rokok memang dirasa mulai mahal dan rokok murah belum membanjiri pasaran seperti sekarang. 

Pria berusia 56 tahun ini bernama pak Wijayadi atau akrab dipanggil Pak Wij. Dulu, awal saya kenal, dia langganan menghisap Dji Sam Soe Magnum Mild, atau sesekali menghisap L.A Bold. Tapi semenjak pandemi muncul, Pak Wij, yang juga merangkap sekretaris RT ini mulai sering bertanya kepada saya kemana harus membeli tembakau di sekitar Jogja, dan apa rekomendasi tembakau dari saya. Saat itu saya menyarankan membeli tembakau Mole sebagai tembakau “sayur” dan tembakau temanggung atau posong sebagai tembakau “lauk”. Bisa juga tembakau “sayur” dicampur dengan sedikit tembakau Gayo, apapun jenis Gayo tadi. 

Pak Wij seorang pekerja lepas di salah satu LSM di Jateng, pendapatan terbanyaknya hanya dari kost-kostan yang dimiliki bersama istrinya, saat pandemi, LSM tempat Pak Wij bekerja memilih untuk mengakhiri kerjasamanya dengan Pak Wij, atau dengan kata lain harus mem-PHK Pak Wij. Setiap kali bertemu saat jadwal ronda atau rapat warga, saya mulai memahami kesulitan Pak Wij dalam mengakali operasional sehari-harinya. Salah satunya dengan beralih dari rokok bungkusan ke rokok tingwe untuk memangkas uang jajan demi keperluan rumah tangga yang lain. Jadi kalau ada yang menganggap perokok itu mengutamakan membeli rokok dibanding keperluan lain, itu sih asal njeplak aja. Didiemin aja.

tembakau pandemi

Beberapa bulan di awal pandemi saya selalu melihat Pak Wij membawa sebuah kotak berisi tembakau, kertas dan alat linting 30-ribuan berwarna biru. Pak Wij mengakui kalau di kondisi sulit saat itu, salah satu strategi untuk mengurangi uang jajannya hanya dengan membeli tingwe. Itu membantu manajemen dapur istrinya juga, paling tidak keinginannya menghisap kretek terbayar dengan membeli tingwe. Apalagi saat itu pemerintah kita seperti tidak tahu mau berbuat apa. Terawan dengan “jokes” tidak bermutunya di media, Lord Luhut dengan tingkah lakunya yang ngeselin, dan yang mulia Bapak Presiden dengan masukan dari bawahan yang membingungkan. Ruwet.

Lalu ada Iqbal Aji Daryono, mantan senior saya di sebuah lembaga ini punya kebiasaan unik saat membeli rokok. Dia selalu mencuci rokok yang dibelinya dari warung setibanya di rumah. Tapi, bungkus plastiknya belum dibuka, ya. Beberapa kali melalui akun instagramnya Mas Iqbal memamerkan tutorial mencuci rokok di wastafel dapur menggunakan sabun, semata-mata untuk meminimalisir penyebaran Covid-19. Anda tentu paham, bersentuhan dengan benda-gagang pintu atau apapun itu bisa meningkatkan resiko kita terkena Covid. Itu kenapa dianjurkan menggunakan hand sanitizer atau mencuci tangan sebelum dan sesudah keluar minimarket seandainya kita tidak membawa hand sanitizer.

Menurut saya, Mas Iqbal adalah salah satu orang yang tidak terlalu peduli dengan hidup irit membeli rokok. Jangan salah paham dulu, beliau tetap mengatur pengeluarannya dengan cermat agar tetap bisa menikmati rokok kretek favoritnya; Djarum Super. Sebesar apapun badai pandemi menerjang negara ini, Mas Iqbal adalah orang cukup pintar menyiasati keuangan agar tetap merokok dengan nikmat bersama Djarum Super. Dia sudah berkeluarga, punya dua momongan, yang artinya mekanisme keuangannya benar-benar detail dan terencana. Sekali lagi, kalau ada yang bilang membeli rokok membuat orang melupakan kebutuhan primer yang lain, mungkin mereka-mereka itu perlu dibawa ke sebuah pulau lalu menikmati liburan tanpa memegang gajet. Atau dengan kata lain, pikiran mereka sudah terlalu penat, perlu liburan dan relaksasi.

Ibu Warto, adalah seorang Ibu Rumah tangga teladan yang sangat disiplin dalam mengatur keuangan dapur. Dia memang sudah terkenal di lingkungan kami sebagai penjual lotek. Di awal pandemi tahun lalu, saya adalah orang yang selalu mendapatkan dukungan darinya tentang rokok. Dia tahu betul kalau saya seorang perokok aktif yang hampir di setiap aktivitas selalu menghisap rokok. Saat itu saya mulai melinting tembakau dan jarang sekali membeli rokok bungkusan andalan saya; Djarum Super atau 76 Filter. Saya harus menyiasati keuangan untuk keperluan yang lain, saya sadar betul kalau terus membeli rokok bungkusan akan berpengaruh kepada kantong cekak dan hal urgen lain. Anda mungkin tahu, berapa harga swab di awal pandemi dan berapa harga vitamin yang wajib kita siapkan di dalam rumah? Cukup mahal saat itu, dan tidak mungkin saya mementingkan membeli rokok dan mengesampingkan kebutuhan rumah yang lain.

Di awal pandemi, saya dan Ibu Warto  sering bertemu di warungnya, karena saya malas keluar area perumahan dan seringnya membeli lotek di tempat Ibu Warto untuk makan siang. Kala itu saya seperti tinggal di sebuah kota mati, toko masih banyak yang tutup, sebagian warung makan mulai tutup dan tidak buka lagi, dan tetangga yang sangat sensitif saat mendengar orang batuk atau bersin. Semuanya saat itu cukup “mencekam” menurut saya. Walaupun saya pernah mengalami bencana gempa 2006 di Jogja. Tapi pandemi saat itu berbeda, keluar tidak pakai masker sudah seperti pendosa dan dipandang sebagai kriminal.

Kenapa tadi saya bilang mendapat dukungan dari Ibu Warto mengenai rokok? Suatu hari setelah selesai makan siang di warungnya, dia bertanya kenapa saya berganti rokok dari yang biasanya membeli bungkusan kemudian pindah membeli “rokok kertas”. Dia menyebut rokok tingwe itu adalah rokok kertas. Saya kemudian menjelaskan beberapa hal, salah satunya adalah siasat menyelamatkan biaya rumah tangga. Mantan istri saya saat itu bekerja di zona merah; Cikarang. Tapi walaupun kami berdua memiliki pendapatan, kebijakan keuangan tetap harus kami atur dan tertata dengan baik.

rokok djarum coklat

Ibu Warto ternyata berpikiran lain, menurutnya tidak pengaruh membeli rokok bungkusan atau lintingan, itu soal mengatur frekuensi menghisap rokok, kalau sebelum pandemi bisa 5-7 batang perhari, mungkin saat pandemi bisa 4-5 batang perhari. Dia malah meminta saya untuk membuktikan bahwa rokok itu bukan candu, jadi tetap bisa dikonsumsi seperlunya saja. Di mata Ibu Warto, rokok tingwe tidak praktis, kualitas tidak sebaik buatan pabrikan, dan tentu rasanya yang berbeda. Dalam hati saya mengamini apa yang dikatakan beliau, memang benar, kalau alasannya itu. Ibu Warto memiliki suami bukan seorang perokok, tapi anak laki-lakinya yang seorang mahasiswa semester 4, selalu diingatkan olehnya agar harus pintar mengatur pengeluaran saat pandemi, tingwe bukan solusi walaupun jadi salah satu pilihan terbaik, bagi Ibu Warto, mengatur akan jauh lebih baik daripada mencari alternatif yang belum tentu memiliki hasil yang sama. 

Tapi kemudian di awal tahun 2021, banyak merek rokok baru bermunculan, pabrikan mulai menyiasati penjualan dengan menjual rokok-rokok murah dengan rasa yang tidak kalah saing dengan rokok premium. Tidak hanya pabrikan, kualitas rokok tingwe juga semakin baik, mulai dari kemasan, rasa dan promosi yang semakin menarik walau sebatas di media sosial seperti facebook atau instagram.

Saat pandemi jilid 2 seperti sekarang, sebut saja begitu, akan ada kebijakan baru tiap-tiap orang untuk mengatur sistem keuangannya sendiri-sendiri. Dari mulai urusan belanja sembako, kebutuhan sekunder sampai urusan rokok. Saya sebagai salah seorang pemuja rokok bungkusan dari kudus, apapun mereknya tentu akan lebih memilih rokok bungkusan dibandingkan tingwe karena alasan praktis.

Kita sedang dihimpit sebuah keadaan yang tidak mengenakkan; berusaha mengelola keuangan, menjauhi virus dengan berbagai cara, menerima dengan lapang dada kampanye anti rokok dan melihat pemerintah pusat dan daerah seperti sedang kebingungan dengan kondisi sekarang. Cara terbaik bagi saya untuk menghadapi itu semua tentu dengan ketenangan dan mencari hiburan digital yang bisa saya nikmati tiap hari dari rumah. Sesekali menonton berita tidak apa, selama bisa menyerap dan objektif menerima berita tersebut.

Untuk kawan-kawan di luar sana, siapapun kalian, terutama yang sudah berhasil melewati gelombang pertama pandemi di 2020, semoga kalian sehat selalu dan tanpa lelah terus membagikan pikiran positif kepada siapapun. Kurangi berdebat di media sosial dan perbanyak sebat sambil ngopi sembari menghitung segala resiko di hari-hari berikut yang mungkin akan kalian alami. Sehat terus, bahagia terus!