Bosan Dengan Media Sosial

“Coba saja hitung, jika dalam sehari menghabiskan waktu tiga jam, orang yang telah aktif di media sosial selama 5 tahun menghabiskan 5.475 jam dalam hidupnya untuk bermain di media sosial.”

[dropcap]R[/dropcap]ilis penelitian yang dilakukan oleh Hootsuite dan We Are Social pada awal tahun 2017, sebanyak 106 juta akun media sosial yang aktif di Indonesia, atau 40% dari jumlah populasi penduduk Indonesia. Dalam sehari, rata-rata menghabiskan waktu 3 jam 16 menit dalam satu hari untuk berselancar di media sosial.

Youtube, Facebook, Instagram, dan Twitter adala platform yang paling populer, dan tentu paling banyak digunakan oleh orang-orang. Entah sekadar melihat isi lini massa, memberikan komentar, mengunggah tulisan atau foto, atau bahkan memang digunakan sebagai sarana untuk menyebarkan informasi tertentu, baik yang bersifat politik atau komersil. Bayankan saja jika satu orang memiliki semua akun tersebut di atas, akan disibukan untuk berganti-ganti media.

Tiga jam lebih itu bukan waktu yang sedikit tentunya, tiga jam lebih itu telah mengubah perilaku orang dalam berinteraksi sosial. Mungkin pula kehadiran media sosial telah mengubah konsepsi May Day (delapan jam kerja, delapan jam istirahat, delapan jam rekreasi). Entah tiga jam lebih itu masuk dalam kategori mana, bisa salah satunya, bisa pula ketiganya.

Saat bangun atau hendak tidur, tak lepas dari telepon genggam, dalam perjalanan menuju kantor, saat waktu istirahat, atau saat waktu senggang bekerja. Apalagi bagi orang yang memang bekerja di bidang media sosial, mungkin dalam mimpinya pun sedang bermain-main di media sosial. Bahkan ketika asik menonton sepakbola, orang masih aktif di media sosial. Benar-benar menghilangkan fokus.

Selayaknya manusia yang akan selalu mengalami rasa bosan yang salah satunya karena rutinitas yang itu-itu saja, monoton, maka rasa bosan itu juga pasti dirasakan bagi mereka yang cukup aktif di media sosial.

Memang, isu atau topik yang beredar di media sosial cukup beragam. Kadang kala lelucon-lelucon yang menyenangkan, kadang pula mengikuti arus politik, dan kadang pula hanya berisikan unggahan orang-orang yang ingin memerkan sesuatu. Memamerkan foto saat liburan, memamerkan swafoto wajah cantik dan tampannya, curhat masalah pribadi atau pekerjaan, dll.

Namun keragaman hal yang beredar di media sosial bukan berarti tak akan menghilangkan rasa jenuh atas aktivitas itu. Terlebih jika itu dilakukan selama bertahun-tahun. Coba saja hitung, jika dalam sehari menghabiskan waktu tiga jam, orang yang telah aktif di media sosial selama 5 tahun menghabiskan 5.475 jam dalam hidupnya untuk bermain di media sosial.

Jika waktu sebanyak itu dilakukan oleh 106 juta orang, tak heran jika Mark Zuckerberg, Larry Page, Segey Brin, atau Jack Dorsey semakin menumpuk pundi-pundi dolarnya. Sementara orang-orang akan semakin banyak mengeluarkan uang untuk membeli paket data internet, untuk memastikan tak terlewatkan momen di media sosial.

Bukan waktu yang sedikit tentunya, dan bukan hal yang salah pula untuk menggunakan waktu sebanyak itu di media sosial karena sudah barang tentu tak selamanya aktivitas itu tak memiliki nilai guna. Namun sekalipun memiliki nilai guna bagi diri atau bagi orang lain, sekalipun itu adalah bagian dari rekreasi, tetap saja rasa bosan itu akan muncul jika dilakukan secara rutin.

Pada titik jenuh ini, penyikapan orang juga berbeda-beda. Menonaktifkan sementara akun media sosialnya, atau menguranginya dengan lebih banyak berinteraksi dengan orang secara fisik. Bisa jadi orang akan merasakan kengen untuk kembali bermain di media sosial, tapi bisa jadi orang menjadi merasa terbebaskan dari belenggu rutinitas media sosial. Tak akan juga orang mati jika tak bermain media sosial.

Kejenuhan di media sosial juga hal yang tak salah, meninggalkannya sementara atau selamanya juga tak apa. Bahwa itu akan kembali mengubah pola hidup, demi menghilangkan rasa bosan orang akan melakukan itu. Mengalihkan waktu selama 3 jam setiap hari untuk hal-hal yang baru, tentu juga akan sangat menyenangkan. Membaca buku, jalan-jalan, bercengkrama dengan keluarga, atau bengong. Asal jangan aktivitas baru itu kemudian diunggah juga di media sosial, sama saja.

Di sini, orang yang mengalami rasa bosan dengan media sosial mungkin akan berfikir bahwa orang yang gagap tekhnologi adalah orang yang beruntung. Tak harus merasakan merasakan apa yang ia rasakan.

Namun di antara semua orang yang pernah merasakan bosan dengan media sosial lalu sedang ┬ámelakukan detoks atas “candu” itu, sepertinya ada orang yang lebih gila. Adalah orang yang menulis cerita tentang kebosanan di media sosial. Usai ia menulis ceritanya ini, kemudian diunggah di website, lalu ia sebarkan tulisan ini di media sosial. F*ck!

Bijak Berkomentar Tanda Kretekus Santun

Mantan Sekjend Komunitas Kretek. Saat ini aktif di Komite Nasional Pelestarian Kretek dan juru kunci portal Kabar Buruh.

Tinggalkan Balasan