REVIEW

Jember, Wilayah yang Dibesarkan oleh Tembakau

Jumat, 18 Januari 2019, selepas isya, hujan yang mengguyur beberapa wilayah di Kabupaten Jember baru saja reda. Gedung-gedung, pepohonan, trotoar, dan jalan raya masih basah akibat hujan. Genangan air muncul di beberapa sudut ruas jalan yang berhimpitan dengan trotoar. Aroma petrikor menguar di udara Kota Jember.

Mengendarai sepeda motor, saya melintasi jalan raya Jember meninggalkan stasiun Jember menuju Kecamatan Arjasa. Usai singgah sejenak di Arjasa, saya melanjutkan perjalanan menuju Kecamatan Kalisat, masih di Kabupaten Jember. Malam itu saya dan Lala, istri saya, memang sudah merencanakan untuk bermalam di Kalisat, di kediaman salah seorang rekan yang berprofesi sebagai wartawan dan sejarawan yang mengkhususkan diri untuk meneliti sejarah Kecamatan Kalisat dan Kabupaten Jember.

Di sepanjang jalan menuju Kalisat, di kiri dan kanan jalan kami menemui banyak bangunan besar peninggalan Belanda. Bangunan-bangunan tua yang masih berdiri kokoh. Sejak dahulu hingga kini, bangunan-bangunan itu difungsikan sebagai gudang untuk menyimpan tembakau yang baru dipanen dari perkebunan tembakau yang banyak terdapat di Kabupaten Jember. Selain di Kalisat, di beberapa wilayah lain di Kabupaten Jember kami juga menemukan bangunan yang sama.

Meskipun tidak sedang dalam masa tanam dan panen tembakau karena masa tanam dan panen tembakau sudah lewat beberapa bulan yang lalu, aroma tembakau masih tercium hingga ke jalan raya tak jauh dari bangunan-bangunan gudang itu. Aroma tembakau bercampur dengan aroma petrikor yang tercium hidung bagi saya sangat menyegarkan.

Jember memang tak bisa dipisahkan dari tembakau. Wilayah ini begitu terkait erat dan berpilin-berkelindan perkembangannya bersama perkebunan tembakau. Kurang tepat memang jika menyebut wilayah Jember terbentuk karena perkebunan tembakau, namun, yang pasti wilayah Jember tumbuh dan berkembang pesat bersama pertumbuhan dan perkembangan perkebunan tembakau. Tanpa mengecilkan perkebunan-perkebunan lain yang juga berkembang di sana, tembakau memang menjadi ujung tombak perkebunan di wilayah Jember, sejak dulu hingga kini.

Tak ada yang tahu pasti sejak kapan tembakau ditanam di wilayah Jember, sejarah mencatat, perkebunan tembakau berkembang pesat sejak tahun 1850-an, tepatnya sejak George Birnie, seorang warga negara Belanda keturunan Skotlandia mendirikan perusahaan perkebunan tembakau bernama Lanbhouw Maaschappij Oud Djember pada 21 Oktober 1859. Pesatnya perkembangan usaha perkebunan tembakau di Jember mengundang banyak pendatang baru ke wilayah Jember dari Madura dan wilayah lain di Pulau Jawa semisal Lumajang, Blitar, Kediri, dan Ponorogo.

Perkembangan perkebunan tembakau di wilayah Jember menyebabkan lonjakan penduduk Jember sangat spektakuler karena kedatangan pekerja dari luar Jember. Pada tahun 1845 penduduk Jember berjumlah hanya 9.237 orang dan pada tahun 1867 meningkat menjadi 75.780 orang (Pertumbuhan Kota Jember dan Munculnya Budaya Pandhalungan, Makalah Presentasi Konferensi Nasional Sejarah VIII, Drs. Edy Burhan Arifin, S, Dosen Jurusan Sejarah, Fakultas Sastra Universitas Jember, Jakarta 2006).

Menurut catatan Pemerintah Kabupaten Jember pada laman resminya, pada 1805 penduduk Jember hanya sekitar 5000 jiwa, berkembang pesat mendekati satu juta jiwa pada akhir abad 19. Pemerintah Kabupaten Jember sampai mendaulat George Birnie sebagai Bapak Jember Modern karena keberhasilannya mengembangkan perkebunan tembakau di Jember hingga mendatangkan banyak penduduk baru ke wilayah tersebut.

Dampak lain dari kedatangan pekerja ke wilayah Jember usai pembukaan perkebunan tembakau di sana, selain pesatnya perkembangan perkebunan tembakau hingga menyebabkan Jember menjadi salah satu wilayah andalan pemerintahan kolonial Belanda untuk menghasilkan tembakau yang diekspor ke Bremen, Jerman, adalah munculnya kebudayaan baru di wilayah Jember yang dibentuk berdasar asimilasi para pendatang dari Madura dan wilayah lain di Pulau Jawa. Kebudayaan dan adat istiadat tersebut kerap disebut sebagai Pendhalungan, perpaduan antara Madura dan Jawa hingga menghasilkan budaya dan tradisi baru.

Berawal dari pembukaan perkebunan tembakau, wilayah Jember berkembang pesat hingga saat ini dengan tetap menyematkan identitas tembakau dalam perjalanan perkembangan wilayahnya. Jika ingin melihat wilayah yang tumbuh dan berkembang beriringan dengan budidaya perkebunan tembakau, tak bisa dimungkiri, Jember mesti disebut paling awal, karena Jember dan tembakau, saling terkait dan berkembang beriringan.

Bijak Berkomentar Tanda Kretekus Santun
mm
Pecinta kretek, saat ini aktif di Sokola Rimba, Ketua Jaringan Relawan Indonesia untuk Keadilan (JARIK)

You may also like

Comments are closed.

More in:REVIEW