OPINI

Tuduhan Keterlaluan Yayasan Lentera Anak Terhadap Djarum Foundation

Berbakti terhadap Nusa dan Bangsa wajib hukumnya bagi seluruh rakyat Indonesia, tidak ada pengecualian. Orang kaya, orang kota, orang desa, individu, kelompok, golongan, pengusaha, petani, dan lain-lain, selama menjadi warga negara Indonesia harus peduli terhadap kemajuan Bangsa. Bentuknya bisa macam-macam dan berbeda-beda, sesuai kemampuan masing-masing.  Bentuk kepedulian yang berbeda, harus kita dorong dan hormati. Asalkan tujuannya baik, dan positif untuk kemajuan kehidupan Bangsa.

Menjadi aneh, jika ada orang atau golongan mencurigai orang lain yang sudah berbuat baik untuk kemajuan Bangsa. Ambil contoh, keberadaan Djarum Foundation dalam bhakti olah raga berupa audisi pencarian bakat atlet bulu tangkis sejak dini sekitar umur 6-15 tahun. Keberadaannya dilaporkan Ketua Yayasan Lentera Anak (YLA) bernama Lisda Sundari kepada Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) di Jakarta, pada Jumat, 15 Februari 2019. YLA menuduh adanya audisi tersebut, sebagai bentuk tindakan ekploitasi anak dan pencitraan perusahaan.

Tuduhan yang keterlaluan terhadap sesama anak bangsa yang berkontribusi untuk kemajuan bangsa dengan bentuk lain. Seharusnya keadaan ini tidak terjadi, sebaliknya justru saling mendukung.

Baca: Ketua YLKI yang Tak Pernah Membela Konsumen Rokok Itu Bernama Tulus Abadi

Setelah membaca berita yang tersebar di media online, tentang laporan ketua YLA kepada KPAI, isi penggalan laporannya berbunyi: “Pemenang audisi ini sebenarnya bukanlah anak-anak yang mendapat secuil beasiswa, melainkan adalah penyelenggara audisi. Karena mereka membangun pasar masa depan dan pencitraan sebagai perusahaan yang seolah-olah peduli (dengan  bulutangkis) melalui kegiatan ini, jelas Lisda”.  Saya menilai, tuduhan tersebut tidaklah tepat dan jauh dari kenyataan.

Tentunya, saya yakin YLA sudah berbuat yang terbaik untuk kemajuan anak-anak bangsa Indonesia. Mungkin pola dan bentuknya berbeda dengan Djarum Foundation. Melalui program bhakti olah raga yang saya ketahui, Djarum Foundation berupaya untuk memajukan olah raga bulutangkis yang selama ini sering membawa nama harum bangsa Indonesia.

Bagi masyarakat kudus, bisa menjadi pemain bulutangkis asuhan Djarum Foundation, menjadi kebanggaan tersendiri. Dan mungkin juga, berlaku didaerah lain. Buktinya setiap dilakukan audisi, yang datang dari seluruh pelosok negeri. Karena Djarum Foundation selama ini banyak mencetak atlet bulu tangkis mendunia. Sudah sepantasnya, karena Djarum Foundation selama ini melakukan pencarian bakat dimulai sejak dini, untuk mencari bibit-bibit unggulan.

Baca: Antirokok Jangan Asal-asalan Melarang Iklan Rokok

Anak-anak betul-betul dilatih bermain bulutangkis dengan baik. Tanpa ada sumbangan atau pembayaran sepersenpun dari mereka. Kebutuhan mereka, terpenuhi dengan baik, mereka hanya dilatih dengan giat, dan juga mendapatkan pembelajaran formal bersifat gratis pula.

Pertanyaan selanjutnya, apakah yang dilakukan Djarum Foundation di atas salah? Dimana letak kesalahannya?. Jelas-jelas Djarum Foundation membantu Negara, melalui audisi Djarum Foundatian memberikan kepada  anak-anak agar mempunyai keahlian berbasis olah raga sejak dini. Dan justru dengan bisa bergabung bersama Djarum Foundation, sudah meringankan beban Negara dalam rangka mencerdaskan bangsa. Pemerintah, anak dan keluarga lebih di untungkan. Anak-anak bisa sekolah, mempunyai keahlian, bermain, bahagia dengan gratis, sehingga keluarga dan pemerintah tidak terbebani.

Jika ada yang mempertanyakan bahkan mencurigai dengan apa yang telah dilakukan Djarum Foundation di atas, harus dipertanyakan dan balik dicurigai. Apa motif dan tujuannya?, sudah berapa besar perannya dalam mencerdaskan anak bangsa?. Jangan –jangan mereka ada rasa iri atau cemburu terhadap Djarum Foundation. Jika hanya iri atau cemburu, akan lebih baik, sehingga mereka diharapkan berlomba-lomba untuk mencerdaskan anak bangsa dengan Djarum Foundation. Namun menjadi celaka, bila kecurigaan mereka tanpa ada solusi konkret dan hanya didasari atau ditumpangi kepentingan lain.

Seperti halnya agenda untuk membatasi dan membunuh karakter industri rokok Indonesia. Bahasa tuduhan yang YLA pakai juga sangat menyudutkan, penggalannya berbunyi: “audisi diduga adanya tindakan ekploitasi anak untuk promosi produk rokok”.  Tuduhan tersebut dijawab tegas bagian Program Manajer Komunikasi Bakti Olahraga Djarum Foundation, bernama Budi Darmawan, bahwa: kegiatan audisi umum bulutangkis secara tegas tidak atau kampanye rokok karena tidak terkait merek rokok, adapun tulisan dalam kaos hanya sebagai identitas.

Baca: Menafsir Keputusan Pemerintah Tidak Menaikkan Tarif Cukai Rokok 2019

Tuduhan YLA di atas memeng tidak beralasan, jika audisi sebagai ajang promosi, pastinya Djarum Foundation akan memerintahkan bahkan mewajibkan para atletnya untuk merokok Djarum, kenyataannya tidak. Kalaupun ada tulisan Djarum di kaos yang dipakai para calon atlet, itupun hanya tulisan saja dan tidak dari bagian promosi produk, lebih pada identitas. Buktinya Djarum sangat mendukung adanya aturan yang boleh merokok umur 18+. Pihak Djarum menyadari bahwa usia tersebut masih menjadi beban orang tua, sehingga perlu dilarang.

Adanya program Djarum Foundation merupakan bakti Djarum terhadap Negeri, yang seharusnya didukung penuh oleh semua pihak. Adanya Djarum Foundation, ikut serta dalam mencerdaskan anak bangsa, membantu masyarakat, dan ikut serta meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Apabila keberadaan program Djarum Foundation dipermasalahkan bahkan dicurigai keberadaannya, pastinya yang mencurigai tidak tahu dan tidak faham betul tujuan utama program Djarum Foundatian.

Dan apabila sampai program Djarum Foundation tidak berlanjut, ada pihak yang dirugikan, yaitu masyarakat dan pemerintah. Pastinya bukan pihak Djarum yang rugi, justru sebaliknya hal tersebut mengurangi beban pengeluaran Djarum. Untuk itu mari kita dukung dan kita dorong program Djarum Foundation, karena sangat bermanfaat dan dibutuhkan masyarakat, dan mampu membantu pemerintah dalam rangka meningkatkan kualitas hidup Bangsa, mencerdaskan bangsa, mencetak generasi muda tangguh dan berdaya saing.