Kopi Indonesia untuk Dunia

Presiden Direktur Royal Coffee AS pada acara pembukaan Specialty Coffee Association of America (SCAA) Expo ke-28 di Atlanta, Georgia, AS, 14-17 April 2016 baru lalu, berkata: “Dear Indonesia, thank you for your coffee”.

Tracy Allen, Presiden Direktur SCAA
Tracy Allen, Presiden Direktur SCAA

Kudus bukan hanya Kota Kretek, tempat di mana bukan hanya terdapat banyak pabrik kretek tapi juga tempat asal muasal lahirnya penemuan produk olahan tembakau yang khas itu sendiri. Dari jagat kuliner menu “Soto Kudus” juga menempati hati banyak orang hingga tak kalah me-nasional-nya ketimbang masakan Padang yang hampir terdapat di semua kota besar di tanah air.

Tapi, mungkin banyak yang enggak tahu, bahwa Kudus sekalipun bukan daerah penghasil kopi, namun masyarakat kota itu juga memiliki kebiasaan meracik kopi sebagai kerja sampingannya. Walhasil, muncullah kopi khas Kudus. Kopi Jetak, demikian nama populernya di sana. Kopi ini mulai dibuat warga sana pada sekitar tahun 1990-an. Daerah yang banyak warganya jadi pembuat kopi jetak adalah Dukuh Jetak. Karena inilah, kopi tersebut diberi nama Kopi Jetak.

Di tengah-tengah kebiasaan meracik kopi masyarakat Kudus itu muncul sebuah inovasi brilian, yang tak hanya melahirkan racikan kopi yang demikian khas melainkan juga menjadi sebuah branding baru bagi Kota Kudus. Rasanya tak kalah dibanding rasa kopi-kopi yang dihasilkan oleh kota-kota penghasil kopi, setidaknya tentu bagi anggapan masyarakat Kudus sendiri. Ya, itulah Kopi Rempah Saqinano atau Saqinano Coffee, demikian namanya.

Apa yang menarik dari sajian kopi ini? Dilatarbelakangi usaha jualan kopi turun-temurun oleh keluarga, tetapi pada awalnya terasa bagai jalan di tempat, Nono Anik Sulastri kemudian menjajal membuat kopi yang lain daripada yang lain. Lain daripada apa yang sudah ada di Kudus. Berbekal pengetahuannya yang lumayan luas perihal kopi dan rempah-rempah beserta khasiatnya, Nono mencoba mengadu peruntungan dalam bisnis kopi, dengan harapan racikan kopinya nanti dapat digemari oleh masyarakat luas.

Selanjutnya, formula baru ia tetapkan berupa racikan antara kopi gayo (arabika) dari Aceh dan kopi robusta dari seputar Gunung Muria atau yang populer disebut Kopi Jetak. Lalu, dia menambahkan rempah-rempah, seperti cengkeh, jahe, kapulaga, pala, dan kayu manis. Akhirnya, terciptalah produk baru kopi Saqinano dengan enam rasa yang berbeda khasiat satu sama lain. Orang butuh relaksasi, menjaga stamina (kebugaran), dan bahkan seadainya ada keluhan soal “kejantanan”, silahkan cukup minum kopi Saqinano ujar promosinya.

Menikmati Kopi Jetak di Warung Mbak Atun. Sumber: http://www.seputarkudus.com
Menikmati Kopi Jetak di Warung Mbak Atun. Sumber: http://www.seputarkudus.com

Ya, bicara kopi di Indonesia jelas tak ada habisnya. Fenomena kemunculan Kopi Saqinano bagi Kudus, yang sekalipun bukan kota penghasil kopi, sebenarnya bukanlah hal aneh. Cerita seperti ini banyak kita temui, tentu saja di daerah-daerah yang notabene masyarakatnya fanatik minum kopi. Dikatakan fanatik karena minum kopi jadi kebiasaan bagi mereka sehari-hari, terkadang bahkan konsumsi kopi mereka melebihi dosis minum obat sehari tiga kali.

Menariknya, lazimnya masing-masing kota atau daerah cenderung punya kopi lokal jagoannya sekaligus penggemar fanatiknya yang tak mudah goyah dengan serbuan merek-merek kopi lain, sekalipun itu merek manca seperti Starbuck. Ambil contoh, misalnya Kopi Aroma jadi andalan minum kopi warga Bandung. Liong Bulan memantapkan posisinya di Bogor. Kopi Ulee Kareng banyak digemari orang Aceh. Kopi bubuk Sinar Baru digemari warga Lampung. Kopi Berontoseno dari Kediri Jawa Timur, tak hanya merambah warga Kediri tapi juga Tulungagung. Bahkan, pada kedua kota di Jawa Timur ini kebiasaan ngopi telah memunculkan tradisi nyete, yaitu membatik dengan lelet ampas kopi pada sebatang rokok. Daftar ini bisa semakin memanjang sekiranya hendak kita catat semuanya satu demi satu.

secangkir-kopi

 

Bicara aspek sejarahnya di Indonesia, sejarah tanaman kopi barangkali mirip sejarah tanaman tembakau. Ya, tanaman kopi sekalipun bukan tanaman endemik Indonesia, tapi begitu ditanam di tanah serta disiram dengan air Indonesia nampaknya serta merta jadi sebuah berkah tersendiri. Ya, terkesan segera saja muncul keajaiban tanah vulkano yang begitu subur, yang ketika berkombinasi dengan iklim tropika yang lembab namun kaya matahari sepanjang tahun, ternyata membuat tak hanya tembakau tapi juga kopi begitu ditanam di tanah air Indonesia serta merta tumbuh menjadi sebuah tanaman yang kualitas hasilnya begitu disegani pada tingkat dunia. Bahkan tak sekali dua nampaknya justru tanaman bukan asli Indonesia ini hasilnya sanggup mengalahkan kualitas tanaman di habitat aslinya sono.

Panji Prakoso

Penulis yang kadang mengisi waktu dengan memelihara burung.