REVIEW

Kopi Indonesia untuk Dunia

kopi-kretek-buku-insert

 

[dropcap]K[/dropcap]onon, kopi pertama kali masuk ke Indonesia melalui Batavia pada 1696. Dibawa oleh Komandan Pasukan Belanda, Adrian Van Ommen. Awalnya tanaman ini ditanam dan dikembangkan di sebuah lokasi yang kini dikenal dengan Pondok Kopi, di Jakarta Timur. Namun budidaya ini gagal karena banjir. Maka pada 1699 didatangkan lagi bibit-bibit baru, yang kemudian dikembangkan di sekitar Jawa Barat antara lain di sekitar tanah Priangan. Ya, Hindia Belanda saat itu tercatat menjadi perkebunan kopi pertama di luar Arab dan Ethiopia. Ekspor kopi Indonesia pertamakali dilakukan oleh VOC pada 1711, dan dalam kurun waktu 10 tahun sejak ekspor perdana itu jumlah ekspor kopi dari Indonesia sudah meningkat hingga mencapai 60 ton/tahun.

Memasuki era Tanam Paksa atau Cultuurstelsel (1830—1870) pemerintah Belanda semakin intensif mengembangkan perkebunan komersial di Hindia Belanda, khususnya di Pulau Jawa, Pulau Sumatera dan sebagian Indonesia Timur. Seperti kita tahu, selain tembakau juga kopi menjadi komoditi andalan pemerintah Belanda. Awalnya jenis kopi yang dikembangkan di Indonesia adalah kopi jenis Arabika yang bibitnya didatangkan langsung dari Yaman. Tapi, kemudian menyusul beberapa varitas lain seperti liberika, ekselsa dan robusta ditanam juga. Sudah tentu ekspor kopi Indonesia ke dunia pada masa itu jumlahnya juga pasti semakin bertambah besar.

Apa yang menarik dicatat, konon Kopi Jawa saat itu sangat tekenal di Eropa, sehingga orang-orang Eropa menyebutnya dengan nama “secangkir Jawa”. Bahkan, sekali lagi, konon, hingga memasuki pertengahan abad ke 19 Kopi Jawa merupakan salah satu kopi yang tercatat sejarah sebagai terbaik kualitasnya di dunia.

Tak salah jika belum lama berselang, Presiden Direktur Royal Coffee AS pada acara pembukaan Specialty Coffee Association of America (SCAA) Expo ke-28 di Atlanta, Georgia, AS, 14-17 April 2016 baru lalu, berkata: “Dear Indonesia, thank you for your coffee”. Ajang paling bergengsi di dunia perkopian dunia ini sekali lagi menjadi bukti betapa Indonesia mendapat tempat khusus di mata para pelaku industri kopi spesial di tingkat dunia.

Terlebih dalam ajang tahunan kali ini Indonesia terpilih sebagai portrait country. Portrait country adalah penghargaan dari SCAA yang merupakan asosiasi “kopi spesial” (specialty coffee) terbesar dunia kepada negara penghasil kopi-kopi terbaik. Pada perhelatan ini Indonesia memamerkan 17 jenis kopi spesial yang telah diuji oleh Caswell’s Coffee, satu-satunya laboratorium kopi di Indonesia yang standar SCAA. Kopi-kopi itu dihasilkan dari lima pulau di Indonesia: Sumatera, Jawa, Sulawesi, Bali, dan Flores. Ketujuh belas kopi spesial itu antara lain jenis gunung puntang, mekar wangi, manggarai, malabar honey, atau lintang, toraja sapan, bluemoon organic, gayo organic, java cibeber, kopi catur washed, dan west java pasundan honey. Selain itu, ada juga arabica toraja, flores golewa, redelong, preanger weninggalih, flores ende, dan java temanggung. Luar biasa beragamnya khasanah hayati budidaya kopi di Indonesia.

cupper

Lantas, pertanyaannya: Apa itu “kopi spesial”? Ini adalah terminologi yang diperkenalkan oleh Erna Knutsen (95), pendiri Knutsen’s Coffee sekaligus eksponen perintis berdirinya SCAA. Istilah ini dipergunakannya pertamakali dalam Tea and Coffee Trade Journal pada 1978 untuk menyebut produk kopi yang berkualitas karena diolah secara khusus, bahkan sedari awal budidaya tanamnya.

Salah satu metode paling sederhana untuk memulai proses produksinya ialah metode “petik merah”, yakni pemetikan buah kopi dari pohon dengan dipetik satu demi satu dipilih yang benar-benar sudah matang alias berwarna merah. Selain itu, kopi spesial juga harus memiliki kadar rusak lebih rendah dari 4 persen. Dalam 1 kilogram kopi beras (green bean) biji rusak tidak boleh lebih dari 40 gram. Kadar airnya juga harus berkisar hanya 14 – 18 persen. Juga ketika diayak pada saringan berukuran 14 – 18 mesh atau 1 – 1,6 milimeter yang lolos tidak boleh lebih dari 5 persen. Ketentuan pengelolaan tanaman kopi secara organik juga akan jadi standar penentuan mutu ke depan.

Lebih dari itu semua, yang terpenting ialah bahwa produk kopi itu lolos uji cita rasa atau yang populer dikalangan para barista disebut dengan istilah coffee cuping. Terkait kopi Nusantara, Erna Knutsen sendiri pernah mengatakan: “Kopi mandailing Sumatera mengenalkan saya pada cita rasa kopi sesungguhnya. Pun kepada tangan-tangan kaum perempuan yang terlibat di balik prosesnya. Minumlah kopi terbaik dan kalian tidak akan berpaling lagi”.

Pada titik inilah, kita patut berbangga diri, boleh juga bahkan menepuk dada. Bahwa bukan hanya faktor alamiah (natural) sajalah, yakni tanah vulkanik nan subur, udara lembab dan matahari sepanjang tahun, tapi juga aspek kecerdasan masyarakat (cultural) Indonesia lah yang membuat kita mampu menciptakan beragam jenis kopi dengan kualitas kopi spesial kelas dunia itu.

Ya, itulah kepiawaian atau kecerdasan kultural yang lahir dari rahim tradisi meramu atau meracik khas Nusantara. Tradisi meramu atau meracik yang tidak hanya melahirkan beragam jenis kopi sepesial di Nusantara melainkan juga rahim dari lahirnya entitas budaya kretek yang bermula dari sebuah kota bernama Kudus.

Bijak Berkomentar Tanda Kretekus Santun
Panji Prakoso
Penulis yang kadang mengisi waktu dengan memelihara burung.

    You may also like

    Leave a reply

    Your email address will not be published.

    More in:REVIEW