Marxisme dan Teologi Pemerdekaan

MARXISME

[dropcap]U[/dropcap]ntuk itu kita harus sedikit jalan memutar, memahami sedikit hal-ikwal Marxisme terlebih dulu. Setidaknya ada lima poin harus kita cermati, di mana poin-poin itu sekaligus memberi latarbelakang pemikiran bagi kemunculan Teologi Pemerdekaan di Amerika Latin.

Bacaan Lainnya

Pertama, apa yang harus kita catat bahwa paham Marxisme tak hanya menawarkan cara pandang kritis tapi juga radikal dalam mempersoalkan realitas. Kata radikal sendiri secara etimologi berasal dari “radix” yang artinya akar. Dus, melihat secara kritis dan radikal berarti “mempersoalkan” wajah “realitas” sampai ke akar-akar persoalan yang sesungguhnya.

Dari titik ini saja kita bisa melihat, makna common sense kata radikal dalam masyarakat pun telah terdistorsi sebegitu rupa menjadi berarti “garis keras” atau “anti kompromi.” Akibatnya gerakan fundamentalis Islam, misalnya, akhirnya juga termaknai sinonim gerakan radikal. Padahal makna sebenarnya bisa jadi berbeda. Sedang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) radikal memiliki arti : mendasar (sampai pada hal yang prinsip). Definisi radikal dari KBBI nampaknya relatif lebih dekat dengan arti fundamental.

Kedua, kata kunci penting lain yaitu “praksis” (praxis), yang dalam bahasa Indonesia sering dipadankan artinya, meski tak sepenuhnya tepat, dengan kata “aksi.” Menurut tradisi Marxisme kesatuan antara teori dan praksis adalah sebuah keniscayaan. Sebuah teori bukan hanya harus mencerminkan realitas dan menuntut adanya keberpihakan teoritis pada mereka-yang-tertindas atau tersisih dari ruang ekonomi-politik-budaya sistem kapitalisme, melainkan lebih jauh juga menuntut keterlibatan mereka-yang-sadar akan adanya penindasan itu untuk merubahnya dalam agenda perjuangan politik. Dus, dengan begitu Marxisme dirumuskan dalam kerangka menuntun praksis pembebasan, dan praksis juga secara simultan menjadi basis refleksi munculnya bangunan teoritis dan konsep baru.

Ketiga, kita harus melihat latarbelakang sejarah Eropa yang melahirkan gagasan ini. Yang terutama adalah inspirasi Revolusi Perancis (1789). Bukan saja telah melahirkan ide atau konsep universalisme manusia yang terangkum dalam tagline kebebasan, persamaan dan persaudaraan (liberty, egality, fraternity), tapi Revolusi Perancis juga momen pertama eksperimen partisipasi dan emansipasi rakyat jelata melawan sistem “penghisapan manusia atas manusia” melalui pembentukan pemerintahan langsung di zaman modern. Spirit Marxisme jelas tak bisa dipisahkan dari konteks Revolusi Perancis.

Keempat, kita juga harus melihat latarbelakang pemikiran filsafat Eropa khususnya Jerman, di mana filsafat Hegelian selain dominan juga telah melahirkan perspektif dialektika historisisme. Karl Marx sebenarnya bisa dikata hanya meminjam teori dialektika historisme dari Hegel, dan kemudian membalik perspektif itu plus memberi konteks sejarah yang kongkrit, yaitu proses material ekonomi-politik sebuah masyarakat.

Kelima, sumber utama penindasan ialah hubungan produksi. Hubungan produksi ini kemudian menentukan bentuk-bentuk hubungan lainnya seperti hubungan sosial, ekonomi, politik dan budaya. Di sini kata kuncinya ialah adanya konsep hak milik atau kepemilikan terhadap alat produksi/modal. Bahwa, segelintir orang karena memiliki alat produksi atau modal kemudian memperkerjakan mayoritas orang yang-tak-berpunya sehingga terciptalah “nilai-lebih” yang dicuri pihak pertama.

Dalam konteks sistem kapitalisme, gerak sejarah bersumber pada ketegangan hubungan produksi antara dominasi kelas kapitalis dan resistensi kelas buruh. Sedang pada konteks global bersumber dari hubungan dominasi struktural negara-negara pusat vis-a-vis negara pinggiran, di mana “nilai lebih” yang dihasilkan negara-pinggiran justru mengalir lebih besar ke negara-pusat. Sementara, celakanya elit atau penguasa (the rulling class) di negeri-pinggiran lazimnya malah lebih berpihak pada kepentingan negara-pusat ketimbang berani mendesakan agenda kepentingan nasionalnya sendiri.

Bijak Berkomentar Tanda Kretekus Santun

Pos terkait

Tinggalkan Balasan