REVIEW

Budaya Lebaran dan Rokok di Hari Raya Idul Fitri Bagi Masyarakat Indonesia

Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.

Tidak terasa lebaran sudah masuk hari keenam, lebaran hampir selesai karena tiap berangsur-angsur memulai aktifitasnya seperti sedia kala. Sebelumnya dimulai hari akhir bulan ramadhan sampai masuk hari raya, aktifitas bekerja seseorang berhenti total. Yang terlihat orang-orang merayakan hari raya lebaran dengan saling berkunjung ke sanak family, halal bi halal bani (keturunan), kerumah teman, dan tidak ketinggalan reuni sekolah. Praktis kegiatan dilakukan dalam durasi maksimal tujuh hari terhitung mulai masuk hari raya. Selebihnya orang-orang banyak yang harus masuk kerja kembali, atau beraktifitas lagi.

Hari pertama sampai hari ketiga lebaran biasanya berkunjung ke saudara-saudara dekat sama berkunjung ke tetangga, hari selanjutnya berkunjung ke teman dan agenda halal bi halal dan reuni. Ini menjadi bagian dari tradisi masyarakat di Indonesia. Dan mungkin satu-satunya tradisi di Negara-negara dunia.


Lebaran istilah lain dari hari raya idul fitri, ada lagi yang mengucapkan hari halal bi halal, ada lagi yang menamakan riyoyo (bagi orang Jawa) dimanfaatkan dengan baik untuk saling mengikhlaskan satu sama lain atas keselahan-kesalahan dulu baik yang disengaja atupun yang tidak disengaja. Tiap ketemu di rumah, di jalan bahkan dimanapun tempat, berjabat tangan, saling merendahkan diri dan berebut mengakui kesalahan kemudian meminta maaf.


Di hari lebaran ini, seakan-akan sifat sombong manusia terbelenggu, yang ada hanya merendahkan diri, saling mengasihi, dan saling memberi. Ada yang berupa parsel ada yang berupa uang, atau ada yang berupa oleh-oleh seadanya sesui kemampuan. Demi merayakan hari lebaran, orang-orang yang merantau bekerja di kota lain rela mengeluarkan uang banyak untuk pulang kekampungnya atau pulang kerumah asalnya. Sampai sampai rela antri tiket jauh-jauh hari sebelum ramadhan, rela kena macet di jalan raya demi untuk pulang kampung (mudik). Tujuan utamanya bertemu dengan orang tua, saudara, tetangga dan teman untuk bersilaturrohim (bertemu) dan meminta maaf.


Tradisi lebaran ini tidak ditemukan di Negara-negara lain, kalaupun ada orang muslim Indonesia yang merayakan di sana. Tidak hanya itu, jagad media sosialpun diramaikan ucapan-ucapan selamat dan permintaan maaf, tidak terkecuali Whatshap (WA). Dimulai hari akhir bulan puasa sudah saling balas kiriman ucapan selamat dan meminta maaf ke saudara atau teman yang sekira di hari raya lebaran tidak mungkin ketemu. Sungguh satu tradisi yang sangat mulia yang senantiasa harus dilestarikan, sebagai budaya asli Nusantara.


Bagi orang Indonesia, lebaran dimaksud sebagai hari melebur kesalahan dengan meminta maaf, menebar maaf dengan ikhlas, dan masuk ke alam kesucian (fitroh), diibaratkan bayi yang baru lahir. Suci bermakna bersih, bersih dari dosa yang hubungannya dengan Pencipta (Tuhan) setelah melewati bulan Ramadhan, bulan penuh berkah dan ampunan. Di bulan Ramadhan, semua umat Islam diwajibkan berpuasa, dan semua amalan baik dibulan ini mendapatkan pahala berlimpah. Kemudian di hari idul fitri (lebaran), dimanfaatkan saling menghalalkan atau memaafkan satu sama lain sebagai bentuk hubungan manusia yang sering ada kesalahan saat bergaul, bermasyarakat, sebagai relasi sosial.
Sekali lagi, lebaran sungguh tradisi yang mulia yang harus dilestarikan untuk menciptakan kondisi dinamis, menciptakan stabilitas, menciptakan kerukunan antar umat dan antar agama, menciptakan persatuan dan menciptakan kerukunan. Jika terjadi perseteruan di hari lebaran ini, satu tindakan yang menciderai giroh dan filosofi lebaran. Lebaran menjadi salah satu budaya dan tradisi asli Nusantara.


Tradisi lebaran tidaklah muncul dengan sendirinya, ia diciptakan oleh para ulama’ terdahulu dengan dasar yang kuat, dan kontekstual. Walaupun di Negara asal Islam (Arab) tradisi saling mengunjungi saling bersalaman dan memaafkan di hari raya idul fitri tidak terlihat. Yang terlihat mereka pergi ketempat rekreasi dan kuliner bersama keluarga.
Lebaran di Indonesia identik dengan simbul ketupat, yaitu berbentuk persegi empat terbuat dari daun kelapa dianyam atau dirajut tengahnya kosong yang kemudian diisi beras dan dimasak seperti menanak nasi. Setelah matang, ketupat di antar ke saudara dan tetangga, yang konon ketupat sebagai simbul ngaku lepat (mengaku salah) dan laku papat (prilaku empat).


Ngaku lepat, dilakukan dengan bersungkem ke orang yang lebih tua, atau berjabat tangan dengan permohonan maaf. Laku papat yaitu lebaran artinya selesai bulan puasa, pintu maaf terbuka lebar, luberan artinya melimpah atau membeikan sedekah dan saling memberi, leburan artinya saling memaafkan, dan laburan artinya kembali bersih dari dosa dan kesalahan.


Ada dibeberapa daerah, makanan ketupat disampingnya terdapat makan lepet, yaitu bungkusnya sama dari daun kelapa tetapi yang digunakan daun muda (janur) dan didalamnya diisi beras ketan dengan bumbu kelapa yang di haluskan (diparut). Lepet sebagai simbul tambahan, banyak yang menafsiri setelah mengaku salah, dan berprilaku emapat di atas, kemudian merajut persatuan dan kesatuan bagaikan nasi ketan yang sangat lengket.


Uniknya lagi, saat lebaran di ruang tamu tiap rumah tersaji bermacam-macam kue dan tidak jarang di siapkan rokok. Seperti halnya salah satu tradisi di kampung Kayuapu Desa Gondangmanis Kudus, selain macam-macam kue juga tersaji rokok, ada yang disjikan batangan yang ditaruh dalam gelas ada juga yang disajikan masih dalam bungkus. Rumah yang menyajikan rokok pasti ramai sampai larut malam, selain saling memaafkan, bersilaturrokhim mereka tidak mau menyia-nyiakan waktunya untuk ngobrol saling bercerita dan berbagi pengalaman saat diperantauan. Sungguh suasana menggembirakan yang tidak bisa dilakukan dihari hari biasa selain lebaran, tutur Moh. Rifa’i yang bekerja di Bekasi saat lebaran pulang kampung.


Indonesia saat lebaran punya tradisi tersediri, pulang kampung/mudik menjadi agenda rutin, berkunjunng kesaudara, tetangga dan teman untuk saling memaafkan kesalahan menjadi agenda utama, ngobrol saling cerita pengalaman bahkan tidak jarang mengingat masa lalu dan masa kecil sambil ngopi dan merokok bersama menjadi budaya dan tradisi tersendiri.


Sekali lagi segenap keluarga besar KNPK menghantarkan kesalahan yang selama ini dilakukan baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja kepada seluruh masyarakat Indonesia umumnya, khususnya bagi pembaca dan kepada seluruh stokeholder pertembakauan, dimohon ikhlasnya untuk dihalalkan atau dimaafkan, jazakumullah khoiro al jaza’.

Bijak Berkomentar Tanda Kretekus Santun
mm
Seorang santri dari Kudus. Saat ini aktif di Komite Nasional Penyelamatan Kretek (KNPK).

You may also like

Comments are closed.

More in:REVIEW