Benarkah Ada Zat Psikotropika yang Mengakibatkan Ketergantungan pada Tembakau?

petani tembakau zat psikotropika

Nikotin sering disebut sebagai zat yang menyebabkan kecanduan. Bahkan sejumlah publikasi seringkali menyejajarkan nikotin dengan zat psikotropika heroin dan kokain. 

Namun, pernyataan tersebut sama sekali tidak berdasar. Bila ditelisik nikotin merupakan senyawa organik alkaloid yang pada umumnya terdiri dari karbon, hidrogen, nitrogen, dan oksigen. 

Konsumsi nikotin baik itu dari rokok maupun produk olahan tembakau lain tidaklah masuk sebagai ketergantungan, melainkan dapat dikatakan sebagai kebiasaan.

merajang tembakau dengan gobang

Keduanya mempunyai pengertian yang berbeda. Kebiasaan dilakukan karena orang melakukan aktivitas tertentu sudah menjadi hal yang lazim. Sedangkan ketergantungan menimbulkan efek ‘kebutuhan yang mendesak’ apabila tidak mengkonsumsi zat tertentu. Hingga timbul efek negatif yang dirasakan oleh tubuh. 

Dalam kasus konsumsi nikotin tidak ada pula orang yang punya kebiasaan konsumsi produk tembakau yang tiba-tiba sakau seperti halnya pecandu zat psikotropika. 

Di hari-hari puasa Ramadhan selama 30 hari para perokok juga santai-santai menjalankan ibadah puasa. 

Di balik gembar-gembor pemberitaan negatif tentang nikotin justru zat ini memberikan manfaat. 

Penelitian yang dilakukan oleh Ahli Toksikologi dan Akademisi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga menemukan bahwa nikotin membantu mengeluarkan hormon-hormon yang dapat menimbulkan rasa senang dan mencegah sejumlah penyakit yang berhubungan kinerja otak manusia seperti alzheimer dan parkinson. 

“Nikotin bisa membantu mengurangi rasa depresi yang sedang dihadapi asalkan dikonsumsi dalam jumlah yang tepat dan dengan cara yang rendah risiko,” katanya. 

Oleh sebab itu, aktivitas merokok bagi banyak orang justru menjadi sarana healing yang murah. Benar, kan?

Bijak Berkomentar Tanda Kretekus Santun