Sebat bareng awalnya mungkin terdengar asing dan agak aneh di telinga. Bahkan nyeleneh bagi sebagian orang. Sebuah poster simple yang berisi barcode lokasi, waktu kegiatan dan foto saya sedang merokok. Poster itu mengundang semua orang untuk datang dan berkumpul untuk merokok bareng, atau bahasa gaulnya adalah sebat bareng. Acara ini kolaborasi dengan Komunitas Kretek, KNPK, Rokok Indonesia dan Komunitas Jogja, pada Kamis (29/01) Malam.
Daftar Isi
ToggleSetiap orang yang datang akan mendapat satu batang rokok untuk dinikmati bersama-sama. Lokasinya di Akademi Bahagia EA. Dan lumayan yang datang. Tidak ada panggung, tidak ada susunan acara. Hanya sekedar duduk untuk menikmati rokok sambil ngobrol bareng. Acara ini dihadiri berbagai kalangan, mulai dari bapak-bapak hingga mahasiswa. Semua melebur tanpa saling kenal dulu.
Sebat bareng jadi ruang ngobrol santai pelepas lelah
Sekedar duduk bersama sambil ngobrol hal-hal ringan. Tentang hidup, dunia perkuliahan, pekerjaan dan tentang industri hasil tembakau yang kian makin dicekik. Dan tentunya sedikit basa-basi. Ada juga yang sambil baca buku. Di situlah letak menariknya. Di tengah dunia yang serba cepat dan penuh tuntutan, orang-orang masih mau meluangkan waktu hanya untuk hadir dan berbagi pengalaman atau momen sederhana. Untuk menambah kawan atau menjalin silaturahim.
Yang hadir semua laki-laki. Inilah alasan kenapa laki-laki gampang memperoleh teman. Karena ia mudah melebur dan tidak mengenal gengsi. Selama masih bernafas, semua bisa menjadi teman. Kalau waras atau tidak gila itu opsional bagi laki-laki. Yang penting asik diajak ngobrol dan tentunya ada kebiasaan yang sama: merokok. Entah kenapa kebanyakan laki-laki yang merokok, memiliki nilai sosial yang lebih.
Bermula dari acara di New York, Amerika Serikat
Fenomena ini sempat ramai di Amerika tepatnya di New York. Awalnya seorang pria bernama Bob menyebar selebaran poster yang berisi foto dirinya dan ajakan untuk nyalain rokok bareng. Ia menjanjikan siapapun yang datang akan mendapatkan satu batang rokok untuk dibakar ditempat bersama dirinya. Lebih dari 2000 orang benar-benar datang hanya untuk menikmati rokok bersama di titik yang sudah ditentukan, berdiri bersama dan menyalakan rokok bareng sesuai ajakanya.
Acara ini tentunya bukan ajakan untuk merokok bagi yang tidak merokok. Ini bukan kampanye soal rokok. Ini hanya ruang bersama untuk berkumpul bagi mereka yang sudah merokok. Sebuah alasan sederhana untuk bertemu, berbincang dan tentunya agar tidak merasa sendirian. Ini juga menjadi bukti bahwa rokok dapat menyatukan manusia.
Sebat bareng sebetulnya sudah mengakar dalam budaya kretek di Indonesia
Dalam konteks budaya Indonesia, rokok, terutama kretek, menjadi bagian dari kehidupan sosial masyarakatnya. Ia juga menjadi bagian tradisi dan budaya masyarakat. Banyak juga tradisi yang identik dengan rokok. Malah kadang terasa kurang sakral jika tanpa rokok. Warisan yang sangat berharga. Tidak ada di negara lain.

Rokok telah menemani perjalanan manusia dari waktu ke waktu. Biasanya hadir di teras rumah, warung kopi, pos ronda dan di sela-sela pekerjaan. Menemani setiap obrolan maupun kepenatan hidup. Kadang juga sebagai media untuk refleksi diri. Sering menemani kehidupan sehari-hari dengan sederhana. Bukti bahwa rokok bukan soal benda yang Dibakar lalu dihisap dan selesai. Tapi lebih dari itu, rokok sebagai media untuk mengeratkan hubungan sosial.
Apalagi ditengah arus yang tidak pasti seperti saat ini, ketika hubungan manusia dengan manusia semakin renggang karena dampak modernisasi yang gila dan tidak terukur ini. Saya merasa bahwa sebat bareng ini samakin relevan. Hal ini mengingatkan bahwa budaya berkumpul masih hidup. Budaya masyarakat Indonesia. Bahwa untuk menjalin silaturahim atau pertemuan tidak selalu butuh acara besar. Cukup dengan rokok, waktu, lokasi yang jelas dan tentunya kemauan untuk hadir.
Memang sederhana dan mungkin sepele. Tapi dengan hal-hal kecil inilah kita bisa menjalin silaturahim dengan orang yang belum kenal dan merawat kebersamaan. Kalau istilah Jawanya nambah sedulur. Dan barangkali di tengah kondisi ekonomi yang semakin sulit, kita memang butuh alasan-alasan sederhana untuk Kembali saling menyapa. Paling tidak istirahat sejenak dari gaduhnya dunia.
Juru Bicara Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), Alfianaja Maulana Ardika
BACA JUGA: Kretek Bukan Cuma Rokok Tanpa Filter, Jangan Salah Paham





