Gunung Sumbing adalah Gunung Sugih, Tanah Kelahiran Tembakau Srintil yang Telah Menghidupi Masyarakat

gunung sumbing adalah gunung yang sugih

Pertengahan April kemarin, saya bersama dua orang kawan melakukan perjalanan menuju lereng Gunung Sumbing. Tujuan kami adalah Desa Legoksari, sebuah wilayah yang dikenal luas sebagai salah satu penghasil tembakau terbaik di Indonesia. Kedatangan kami bertepatan dengan musim tanam. Di sepanjang jalan, tampak para petani sedang sibuk beraktivitas di lahan-lahan mereka: meletakkan bibit-bibit tembakau ke dalam tanah. 

Sampai di lokasi, kami bertemu dengan beberapa petani. Setelah berbincang sejenak dengan para petani di ladang, kami melanjutkan langkah untuk menemui salah satu sesepuh desa bernama Mbah Yasto. Di usianya yang telah genap satu abad, beliau masih tampak bugar dan memiliki ingatan yang tajam. Sambil duduk santai, beliau mulai bercerita tentang tanah kelahirannya dengan penuh kebanggaan.

Gunung Sumbing adalah “gunung sugih”

Mbah Yasto menyebut Sumbing sebagai “Gunung Sugih” atau gunung yang kaya. Istilah ini bukan sekadar kiasan, melainkan kenyataan yang telah dirasakan langsung oleh masyarakat setempat. Sebab berkat tembakau, warga di lereng Sumbing bisa hidup sejahtera dan mandiri secara ekonomi. Tanah di Legoksari memang memiliki keajaiban tersendiri karena mampu melahirkan tembakau Srintil, kasta tertinggi tembakau dengan aroma yang begitu khas dan tidak bisa ditemukan di belahan bumi manapun.

Ada satu hal unik yang diceritakan para petani mengenai karakter alam di sana. Ketika musim kemarau tiba, tanah di lereng gunung akan berubah menjadi sangat tandus dan air menjadi barang mewah. Dalam kondisi seekstrim itu, hampir semua jenis tanaman akan menyerah dan mati, kecuali tembakau. Uniknya, justru di tengah cuaca panas dan terik itulah, kualitas tembakau mencapai puncaknya. Alam seolah telah mendesain tanah ini khusus untuk satu tanaman ini saja.

Kekayaan Gunung Sumbing yang ingin diredupkan

Namun, di luar ketenangan lereng Sumbing, realitas ini seringkali dibenturkan dengan narasi-narasi antirokok yang buta fakta. Mereka seringkali bodoamat dan enggan melihat realitas sosial yang hidup di bawah kaki gunung. Bagi mereka, tembakau hanyalah masalah kesehatan yang harus segera dilenyapkan dari bumi Indonesia tanpa memikirkan nasib manusia di belakangnya. Jika mengutip istilah Puthut EA, inilah wujud nyata dari arogansi kelas menengah.

Mereka yang duduk di ruang-ruang berpendingin udara sering mendorong petani untuk melakukan diversifikasi atau berpindah ke tanaman lain. Seperti kopi, jambu, atau sayuran. Padahal, tantangan di lapangan tidak sesederhana teori di atas kertas.

Pertama, ada masalah ketidakcocokan lahan. Tidak semua tanaman bisa tumbuh optimal di lahan kering dengan ketinggian tertentu. Kedua, menyangkut nilai ekonomi. Tanaman alternatif seringkali memiliki harga yang fluktuatif atau masa panen yang terlalu lama. Bagi petani di Temanggung, tembakau adalah satu-satunya tanaman yang mampu memberikan kemakmuran dan memutar roda ekonomi wilayah secara signifikan. Tak ada tanaman lain yang memberi cuan yang menjanjikan selain tembakau.

Sugih tradisi dan budaya leluhurnya

Selain kekayaan alamnya, Desa Legoksari tetap teguh menjaga tradisi dan budaya leluhur. Keramahan masyarakatnya menyambut pendatang membuat suasana terasa sangat hangat, kontras dengan kerasnya perdebatan regulasi di ibu kota. Perjalanan ini menyadarkan kami bahwa tembakau bukan sekadar komoditas pertanian, melainkan urat nadi kehidupan, sejarah, dan identitas yang membuat masyarakat lereng Sumbing tetap tegak berdiri meski di tengah musim yang paling sulit sekalipun.

Menutup kunjungan kami, ada rasa hormat yang mendalam terhadap para petani yang sedang menanam bibit di musim tanam ini. Mereka bukan hanya sedang menanam tumbuhan, tapi sedang merawat harga diri bangsa yang tertanam kuat di tanah lereng Sumbing. Tembakau yang mereka hasilkan nanti bukan sekadar materi, melainkan simbol kejayaan yang terus diwariskan dari generasi ke generasi, persis seperti semangat Mbah Yasto yang tetap bugar melampaui satu abad usia, menolak untuk tunduk pada zaman.

Juru Bicara Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), Alfianaja Maulana Ardika

BACA JUGA: Mengenal Tembakau Srintil Temanggung

 

Artikel Lain

No Content Available

Artikel Lain