Di kala harga rokok semakin tinggi, sementara kondisi negara yang makin suram dan membuat pusing setiap hari, rokok ilegal mungkin terlihat sebagai sebuah alternatif. Ia adalah sebuah opsi yang masih dimiliki agar kretekus bisa tetap ngebul. Meski begitu, bagi saya, rokok ilegal tak akan pernah menjadi opsi, dan inilah alasannya.
Daftar Isi
ToggleTurun Kasta Bukan Berarti Turun Moral
Di masa suram seperti sekarang, memang banyak orang melakukan turun kasta di berbagai aspek dalam hidupnya. Orang yang biasanya membawa mobil, beralih haluan naik angkutan umum. Yang biasanya membeli kopi di kafe, kemudian meracik sendiri kopinya dari rumah. Pun dengan para perokok, banyak juga yang turun kasta.
Betul, masa pemerintahan presiden hari ini begitu busuk rasanya untuk dihadapi. Namun, dalam urusan turun kasta, tetap ada norma yang perlu kita pegang. Turun kasta atau mendowngrade kehidupan bukan berarti menihilkan moral. Pun dalam urusan merokok, turun kasta tak kemudian membuat kita layak merokok ilegal.
Rokok ilegal adalah barang yang tidak layak konsumsi. Sebagai produk ilegal, bahan baku serta aturan main pembuatannya tentu tak bakal mengikuti standar. Belum lagi, jika kita melihat sektor yang lebih luas, pihak-pihak terkait tentu saja menggunakan tenaga kerja informal dan belum tentu memberikan upah yang layak kepada para pekerja tersebut.
Rokok Ilegal dan Nasib Pekerjanya
Dari sisi ini saja, rokok ilegal sudah tidak memanusiakan para pekerjanya. Karena tak resmi, mereka tidak mendapatkan asuransi kesehatan serta BPJS Ketenagakerjaan. Persoalannya bukan lagi sekadar harga rokok yang murah. Ada hak pekerja yang bisa saja diabaikan demi keuntungan bisnis. Padahal, itu adalah standar minimal yang harusnya bisa diberikan pada para pekerjanya. Kalau sudah begitu, kompas moral dalam diri saya tentu menjadi tameng agar tidak membeli rokok ilegal.
Kemudian, meskipun pabrikan rokok ilegal memang membeli tembakau dari petani, apakah harga yang mereka tawarkan benar-benar sudah layak dan sebanding dengan hasil kerja keras petani? Biar bagaimanapun, karena mereka mengejar harga murah, kualitas bahan baku tentu jadi nomor sekian.
Asal harganya murah, mereka bakal mengolah tembakau seburuk apa pun menjadi produk yang bisa mereka pasarkan kepada konsumen. Yang penting bisa dijual, mereka kemudian mengemasnya semenarik mungkin agar konsumen tertarik dan akhirnya membeli produk tersebut.
Murah, tapi Bagaimana dengan Kualitasnya?
Melihat persoalan di atas, hampir tidak mungkin pabrikan rokok ilegal memperhatikan kualitas produknya, yang akhirnya bakal berdampak pada konsumennya. Mereka tak peduli meskipun kualitas tembakaunya sangat buruk.
Selama masih bisa menjualnya, mereka akan tetap mengolahnya menjadi rokok. Bahkan, dalam suatu temuan, mereka pernah mencampurkan bahan dari petasan sebagai pengganti cengkeh agar rokok tetap menghasilkan sensasi kretek-kretek saat konsumen mengisapnya. Bajingan betul.
Saya mungkin bukan orang suci, bahkan belum tentu orang baik. Namun, sebisa mungkin, saya berusaha agar pilihan saya tidak merugikan orang lain. Pun dalam urusan rokok, sebagai prokok santun saya sangat amat menghindari merokok di ruang publik yang ada anak kecil atau ibu hamil. Pun saya tidak akan merokok jika tidak menemukan area khusus merokok.
Di urusan rokok tidak jelas ini, saya juga hanya bisa mengingatkan agar teman-teman kretekus tidak lagi mengonsumsinya. Bisnis rokok ilegal ini bisnis mafia, bisnis yang bayar sana-sini agar lancar dan aman. Derajatnya mirip judi online lah.
Membenci Negara Bukan Berarti Membenarkan Rokok Ilegal
Meski kita membenci negara, membeli rokok legal dengan cukai masih lebih beradab ketimbang bilang; beli rokok ilegal saja agar negara tak dapat uang. Membeli rokok ilegal dengan alasan agar negara tidak mendapat uang cukai bukanlah bentuk perlawanan yang tepat.
Ingat, di industri rokok yang resmi, ada jutaan orang yang hidup dari sana. Dan dengan membeli rokok ilegal, maka sama saja kalian berupaya membunuh industri ini seperti negara yang kalian benci itu.
Jika benar kalian membenci negara atau pemerintah, daripada bilang jangan setor cukai, lebih baik kalian ikut turun ke jalan robohkan setan yang berdiri mengangkang di seberang istana sang raja gemoy itu.










