Jejak Perpustakaan di Indonesia, Banyak Jalan Menuju Pustaka

Kedatangan bangsa Barat pada abad ke-16 membawa budaya tersendiri. Perpustakaan mulai didirikan, semula untuk menunjang program penyebaran agama mereka.

perpusnas-001
Perpustakaan Nasional Republik Indonesia di Jakarta

Mendengar kata perpustakaan niscaya muncul di benak kita sebuah imajinasi tentang buku-buku yang berderet bisu juga berdebu, wajah serius pustakawan, serta suasana sepi yang terpelihara jumud yang membuat suara langkah kaki pelan saja pasti terdengar. Sekali saja kita menyalahgunakan kejumudan ruang (baca: perpustakaan) bakal ada seorang Rangga (tokoh dalam film AADC) yang bakal melempar pensil ke arah kita, yang kegaduhannya hanya bisa dilerai oleh Cinta. Suit suit… Padahal di luar layar, sebangsa Rangga lebih intim berkawan dengan gajet dibanding buku lho. “Wong e-book udah bisa diunggah-baca via gajet og,” timpal seorang teman. Yap. Masa depan ada di perpustakaan hibrida. Bebas sensor, bebas dari ancaman pembakaran.

Sebentar, kita simpan dulu sekuel Rangga dan Cinta di perpustakaan sekolah. Kita tilik dulu sejarah perpustakaan di Indonesia, memang sih secara umum terbilang muda jika dibanding Eropa dan Arab. Tetapi menilik pendangan bahwa sejarah perpustakaan ditandai dengan dikenalnya tulisan, maka sejarah perpustakaan di Indonesia dimulai pada tahun 400-an, saat lingga batu dengan tulisan Pallawa ditemukan dari periode Kerajaan Kutai.

Seorang musafir Fa-Hsien dari tahun 414 menyatakan, bahwa di kerajaan Ye-po-ti alias kerajaan Tarumanegara banyak dijumpai kaum Brahmana, yang tentu saja memerlukan buku atau manuskrip keagamaan yang kemungkinan disimpan di kediaman pendeta. Sekira tahun 695 Masehi, bahkan menurut musafir I-Tsing dari Cina, di Ibukota Kerajaan Sriwijaya hidup 1000-an lebih biksu dengan tugas keagamaan, dan mempelajari agama Budha melalui berbagai buku yang tentu saja disimpan di berbagai tempat.

Namun di pulau Jawa, sejarah perpustakaan ditandai pada masa Kerajaan Mataram Hindu. Masa era itu mulai dikenal pujangga keraton yang menulis berbagai karya sastra. Karya-karya tersebut seperti Sang Hyang Kamahayanikan yang memuat uraian tentang agama Budha Mahayana. Menyusul kemudian sembilan parwasari cerita Mahabharata dan satu kanda dari epos Ramayana. Juga muncul dua kitab keagamaan yaitu Brahmandapurana dan Agastyaparwa.

Kitab lain yang juga sohor adalah Arjuna Wiwaha yang digubah oleh Mpu Kanwa. Maka nyatalah, sudah ada naskah yang ditulis tangan pada media daun lontar, yang diperuntukkan bagi pembaca kalangan sangat khusus, yaitu kerajaan. Pada era Kerajaan Kediri dikenal dua pujangga mainstream dengan karya sastranya. Mereka itu adalah Mpu Sedah dan Mpu Panuluh yang berkolaborasi menggubah kitab Bharatayudha. Selain itu Mpu Panuluh juga menggubah kitab Hariwangsa dan kitab Gatotkacasrayya. Selain itu ada Mpu Monaguna dengan kitab Sumanasantaka dan Mpu Triguna dengan kitab Kresnayana. Semua kitab itu ditulis diatas daun lontar dengan jumlah yang sangat terbatas dan tetap berada dalam lingkungan keraton. Artinya belum menjadi konsumsi jelata di luar keraton.

Periode berikutnya adalah Kerajaan Singosari. Pada periode ini tidak dihasilkan naskah populer. Kitab Pararaton diduga ditulis setelah keruntuhan kerajaan Singosari. Pada masa Majapahit, buku Negarakertagama adalah yang dihasilkan pada masa itu, yang ditulis oleh Mpu Prapanca. Sedangkan Mpu Tantular menulis buku Sutasoma. Pada era itu sejumlah karya lain sukses dihasilkan, seperti Kidung Harsawijaya, Kidung Ranggalawe, Sorandaka, dan Sundayana.

Kegiatan penulisan dan penyimpanan naskah masih terus dilanjutkan oleh para raja dan sultan yang tersebar di Nusantara. Misalnya, era Kerajaan Demak, Banten, Mataram, Surakarta Pakualaman, Mangkunegoro, Cirebon, Demak, Banten, Melayu, Jambi, Mempawah, Makassar, Maluku, dan Sumbawa.

Dari Cerebon diketahui dihasilkan puluhan buku yang ditulis sekitar abad ke-16 dan ke-17. Buku-buku tersebut adalah Pustaka Rajya-rajya & Bumi Nusantara (25 jilid), Pustaka Praratwan (10 jilid), Pustaka Nagarakretabhumi (12 jilid), Purwaka Samatabhuwana (17 jilid), Naskah hukum (2 jilid), Usadha (15 jilid), Naskah Masasastra (42 jilid), Usana (24 jilid), Kidung (18 jilid), Pustaka prasasti (35 jilid), Serat Nitrasamaya pantara ning raja-raja (18 jilid), Carita sang Waliya (20 jilid), dan lainlain (www.duniaperpustakaan.com). Maka dapat dikatakan, Cirebon merupakan salah satu pusat perbukuan pada masanya. Seturut masa-masa sebelumnya, buku-buku tersebut disimpan di istana.

Kedatangan bangsa Barat pada abad ke-16 membawa budaya tersendiri. Perpustakaan mulai didirikan, semula untuk menunjang program penyebaran agama mereka. Menurut sumber sekunder, perpustakaan paling awal berdiri pada masa ini persisnya pada masa VOC, yaitu perpustakaan gereja di Batavia yang dibangun sejak 1624. Namun karena sejumlah kesulitan perpustakaan ini baru diresmikan pada 27 April 1643 pustakawannya kala itu adalah Dominus Abraham Fierenius.

Pada masa inilah perpustakaan tidak lagi diperuntukkan bagi keluarga kerajaan saja, namun mulai dinikmati oleh masyarakat umum. Perpustakaan meminjamkan buku untuk perawat rumah sakit Batavia, bahkan peminjaman buku diperluas sampai ke Semarang dan Juana (Jawa Tengah). Jadi pada abad ke-17 Indonesia sudah mengenal perluasan jasa perpustakaan (kini layanan seperti ini disebut dengan pinjam antar perpustakaan atau interlibrary loan).

Museum Nasional--lampau
Gedung Royal Batavian Society of Arts and Sciences (kini Museum Nasional) adalah cikal bakal berdirinya perpustakaan nasional di Indonesia.

Lebih dari seratus tahun kemudian berdiri perpustakaan khusus di Batavia. Pada tanggal 25 April 1778 berdiri Bataviaasche Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (BGKW) di Batavia. Bersamaan dengan berdirinya lembaga tersebut berdiri pula perpustakaan lembaga BGKW. Pendirian perpustakaan lembaga BGKW tersebut diprakarsai oleh Mr. J.C.M. Rademaker, ketua Raad van Indie (Dewan Hindia Belanda). Ia memprakarsai pengumpulan buku dan manuskrip untuk koleksi perpustakaannya.

Perpustakaan ini mengeluarkan katalog buku yang pertama di Indonesia, yaitu pada tahun 1846 dengan judul Bibliotecae Artiumcientiaerumquae Batavia Florest Catalogue Systematicus hasil suntingan P. Bleeker. Edisi ke dua terbit dalam bahasa Belanda pada tahun 1848. Perpustakaan ini aktif dalam pertukaran bahan perpustakaan. Penerbitan yang digunakan sebagai bahan pertukaran adalah Tijdschrift voor Indische Taal, Land en Volkenkunde, Verhandelingen van het Bataviaasch Genootschapn van Kunsten en Wetenschappen, Jaarboek serta Werken buiten de Serie. Karena prestasinya yang luar biasa dalam meningkatkan ilmu dan kebudayaan, maka namanya ditambah menjadi Koninklijk Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen. Nama ini kemudian berubah menjadi Lembaga Kebudayaan Indonesia pada tahun 1950.

Yang selanjutnya pada tahun 1962 Lembaga Kebudayaan Indonesia diserahkan kepada Pemerintah Republik Indonesia dan namanya diubah menjadi Museum Pusat. Inilah cikal bakal sebutan Museum Nasional kemudian, sedangkan perpustakaannya dikenal dengan Perpustakaan Museum Nasional.

Jibal Windiaz

Seniman kopi pahit dan kretekus sampai nanti.