PERTANIAN

Jejak Perpustakaan di Indonesia, Banyak Jalan Menuju Pustaka

library of congress

Library of Congress di Washington DC. adalah perpustakkan terbesar di dunia.

[dropcap]S[/dropcap]esudah pembangunan BKGW, berdirilah perpustakaan khusus lainnya seiring berdirinya berbagai lembaga penelitian juga lembaga pemerintahan lainnya. Sebagai contoh pada tahun 1842 didirikan Bibliotheek Van’s Lands Plantentuin te Buitenzorg. Pada tahun 1911 namanya berubah menjadi Central Natuurwetenchap-pelijke Bibliotheek van het Departement van Lanbouw, Nijverheid en Handel. Nama ini kemudian berubah lagi menjadi Bibliotheca Bogoriensis, pasca tahun 1962 mengalami beberapa kali pergantian nama. Kini perpustakaan ini dikenal sebagai Pusat Perpustakaan dan Penyebaran Hasil-hasil Penelitian. Setelah periode tanam paksa, pemerintah Hindia Belanda menjalankan politik etis untuk ‘membalas hutang’ kepada rakyat Indonesia. Salah satunya adalah pembangunan sekolah rakyat.

Dalam bidang perpustakaan sekolah, pemerintah Hindia Belanda mendirikan Volksbibliotheek (perpustakaan rakyat), berbeda dari pengertian perpustakaan umum. Volksbibliotheek artinya perpustakaan yang didirikan oleh Volkslectuur (kelak berubah menjadi Balai Pustaka), sedangkan pengelolaannya diserahkan kepada Volkschool. Volkschool artinya sekolah rakyat yang menerima tamatan sekolah rendah tingkat dua. Perpustakaan ini melayani murid dan guru serta menyediakan bahan bacaan bagi rakyat setempat. Murid tidak dipungut bayaran, sedangkan masyarakat umum dipungut bayaran dari setiap buku yang dipinjam.

Pada masa 1911 pemerintah Hindia Belanda mendirikan Indonesische Volksblibliotheken, dan lima tahun setelahnya didirikan pula Nederlandsche Volksblibliotheken yang digabungkan dalam Holland-Inlandsche School (H.I.S). Tujuan Nederlandsche Volksblibliotheken adalah untuk memenuhi keperluan bacaan para guru dan murid. Di balik itu, di Batavia tercatat sejumlah sekolah swasta, sekolah milik Tiong Hoa, Hwe Koan, yang juga memiliki perpustakaan. Sekolah tersebut menerima bantuan buku dari Commercial Press (Shanghai) dan Chung Hua Book Co (Shanghai). Sebelum pemerintah Hindia Belanda mendirikan perpustakaan sekolah, pihak swasta sebetulnya sudah terlebih dahulu mendirikan perpustakaan yang mirip dengan pengertian perpustakaan umum sekarang.

Pada awal tahun 1910 berdiri Openbare Leeszalen. Istilah ini senada dengan istilah ruang baca umum. Openbare Leeszalen ini didirikan oleh Loge der Vrijmetselaren, Theosofische Vereeniging, dan Maatschappij tot Nut van het Algemeen. Perkembangan Perpustakaan Perguruan Tinggi di Indonesia dimulai pada awal tahun 1920-an yaitu mengikuti berdirinya sekolah tinggi, diantaranya Geneeskunde Hoogeschool di Batavia (1927) dan kemudian juga di Surabaya dengan STOVIA; Technische Hoogescholl di Bandung (1920), Fakultait van Landbouwwentenschap (er Wijsgebeerte Bitenzorg, 1941), Rechtshoogeschool di Batavia (1924), dan Fakulteit van Letterkunde di Batavia (1940).

Setiap sekolah tinggi atau fakultas itu mempunyai perpustakaan yang terpisah satu sama lain. Pada jaman Hindia Belanda juga berkembang sejenis perpustakaan komersial yang dikenal dengan nama Huurbibliotheek atau perpustakaan sewa. Perpustakaan sewa adalah perpustakaan yang meminjamkan buku kepada pemakainya dengan memungut uang sewa. Pada saat itu tejadi persaingan antara Volksbibliotheek dengan Huurbibliotheek. Perbedaannya sangat mencolok, Volksbibliotheek lebih banyak menyediakan bahan bacaan populer ilmiah, maka perpustakaan Huurbibliotheek lebih banyak menyediakan bahan bacaan berupa roman dalam bahasa Belanda, Inggris, Perancis, buku remaja serta bacaan gadis remaja.

Selain penyewaan buku terdapat pula penyewaan naskah, misalnya penulis Muhammad Bakir pada tahun 1897 mengelola sebuah perpustakaan sewaan di Pecenongan, Jakarta. Jenis sewa Naskah juga dijumpai di Palembang dan Banjarmasin. Naskah disewakan pada umumnya dengan biaya tertentu dengan disertai permohonan kepada pembacanya supaya menangani naskah dengan baik. Selain perpustakaan yang didirikan Pemerintah Hindia Belanda, tercatat juga perpustakaan yang didirikan orang Indonesia. Pihak Keraton Mangkunegoro mendirikan perpustakaan Keratin, sedangkan keraton Yogyakarta mendirikan Radyo Pustoko. Sebagian besar koleksinya adalah naskah kuno. Koleksi perpustakaan ini tidak dipinjamkan, namun boleh dibaca di tempat.

Pada masa penjajahan Jepang hampir tidak ada perkembangan perpustakaan yang berarti. Jepang hanya mengamankan beberapa gedung penting diantaranya Bataviaasch Genootschap van Kunten Weetenschappen. Selama pendudukan Jepang openbare leeszalen ditutup. Volkbibliotheek dijarah oleh rakyat dan lenyap dari permukaan bumi. Karena pengamanan yang kuat pada gedung Bataviaasch Genootschap van Kunten Weetenschappen koleksi perpustakaan ini dapat dipertahankan, yang merupakan cikal bakal Perpustakaan Nasional.

Perkembangan pasca kemerdekaan ditandai dengan berdirinya perpustakaan baru pada tahun 1950. Tepat 25 Agustus 1950 berdiri perpustakaan Yayasan Bung Hatta dengan koleksi yang menitikberatkan pengelolaan ilmu pengetahuan dan kebudayaan Indonesia. Dan pada 7 Juni 1952 perpustakaan Stichting voor culturele Samenwerking, suatu badan kerjasama kebudayaan antara pemerintah RI dengan pemerintah Negeri Belanda, diserahkan kepada pemerintah RI. Kemudian oleh Pemerintah RI diubah menjadi Perpustakaan Sejarah Politik dan Sosial Departemen P & K.

Dalam rangka pemberantasan buta huruf di seluruh pelosok tanah air, telah didirikan Perpustakaan Rakyat yang bertugas membantu usaha Jawatan Pendidikan Masyarakat. Pada periode ini juga lahir perpustakaan Negara yang berfungsi sebagai perpustakaan umum dan didirikan di Ibukota Provinsi.

perpustakaan mtsn majenang

Perpustakaan sekolah di Indonesia.

By the way, menengarai sikap semena-mena rezim reaksioner belakangan ini dalam merespon ragam buku kiri yang dianggap membangkitkan ancaman komunisme. Bahkan pihak Perpusnas pun sampai mendukung pemberangusan buku-buku yang dianggap meresahkan itu. Ini suatu kondisi paradoks yang memalukan. Apakah itu berarti era ‘pembersihan’ (Säuberung) Nazi akan berulang? Duh, dengkul apa otak yang dipakai berpikir semacam ini ya. Hehe…

Sebelum banyak ahli membincangkan perpustakaan digital, sesungguhnya sudah diwacanakan dari jauh hari tentang perpustakaan hibrida. Istilah Hybrid library ini pertama kali dikemukakan oleh Chris Rusbridge dalam artikel yang dimuat D-Lib Magazine pada tahun 1998. Istilah ini digunakan untuk menggambarkan suatu perpustakaan yang koleksinya terdiri atas bahan cetak dan bahan non cetak. Perpustakaan hibrida adalah campuran bahan-bahan cetakan seperti buku, majalah, dan juga bahan-bahan berupa jurnal elektronik, e-book dan sebagainya.

Perpustakaan semacam ini merupakan continuum antara perpustakaan konvensional dan perpustakaan digital, dimana informasi yang dikemas dalam media elektronik maupun cetak digunakan secara bersamaan. Tantangan pengelola perpustakaan hibrida adalah mendorong pengguna untuk menemukan informasi dalam berbagai format. Dan itu artinya, generasi penerus Rangga tak perlu cemas akan bahan bacaan Cinta kiri di masa datang. Woles, bukankah pepatah lama awet membilang; Banyak Jalan Menuju Roma Pustaka.

Selamat merayakan Hari Buku Nasional, bagi yang merayakannya.

Bijak Berkomentar Tanda Kretekus Santun
Jibal Windiaz
Seniman kopi pahit dan kretekus sampai nanti.

You may also like

Leave a reply

Your email address will not be published.

More in:PERTANIAN