REVIEW

Menanam, Menanam, Melawan

Pandemi Covid-19 memberi efek luar biasa bagi seluruh elemen. Semua lini kehidupan goncang, tapi tidak dengan industri hasil tembakau Indonesia.

Meski tentu saja ada sedikit gejolak, ditambah himpitan ragam peraturan dan isu-isu mematikan, nyatanya industri hasil tembakau tetap berdiri tegak. Memberikan sumbangsih besar kepada negara dan mempertahankan label “mampu menghadapi krisis sejak jaman dahulu”.

Industri hasil tembakau masih menjalankan roda perokonomian dan menghasilkan pemasukan bagi negara. Dana Bagi Hasil Cukai-Hasil Tembakau (DBHCHT) dimanfaatkan pemerintah daerah untuk mendanai penaggulangan pandemi.

Saya hanya seorang pekerja kreatif yang kebetulan lahir dari rahim seorang ibu petani tembakau, turut ikut gelisah. Bagaimana jika iht tumbang, lantas juga berdampak pada mata pencaharian orang tua?

Tapi nyatanya tidak. IHT masih terus berjalan, bahkan membantu pemerintah menghadapi pandemi.

Selama pandemi, saya lebih sering bertukar kabar dengan keluarga di rumah. Bapak selalu mengabarkan apa yang sedang terjadi di kampung halaman. Mulai pemberlakuan pembatasan, dll. Saya agak kaget ketika Bapak mengirim kabar, “Le, Bapak habis tanam tembakau,”

Seketika pikiran saya morat-marit. Meski saya sadar betul, iht tetap sehat, ada rasa takut apa yang dilakukan Bapakk menjadi bumerang di kemudian hari.

Saya lantas menelfon Bapak. Dari penjelasannya saya menangkap satu hal, “Bahwa manusia hanya bisa berusaha sebisa mungkin, soal hasil akhir bukan kewenangan manusia untuk menentukan”. Sebuah nilai luhur yang diajarkan sesepuh saya turun temurun.

Bapak mungkin tidak tau, selama pandemi antirokok melempar isu soal penularan virus melalui asap rokok. Bapak mungkin juga tidak tau, bahwa hari ini dunia memeringati hari tanpa tembakau. Tapi saya tau, bahwa dengan menanam, bapak telah melakukan perlawanan.

Bapak, mungkin, adalah satu dari sekian banyak petani tembakau dan cengkeh, yang tidak sadar jika mata pencahariannya tengah digerogoti sedikit demi sedikit oleh antirokok.

Bapak mungkin juga tidak tau jika hasil tanamnya, keringatnya, masuk ke APBN dan digunakan untuk mengelola negara, bahkan kampanye untuk menyerang mata pencahariannya. tapi percayalah, bapakku, bapakmu, dan bapak kita semua tau bagaimana cara melawan dengan sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.

Bijak Berkomentar Tanda Kretekus Santun
Ibil S Widodo
Manusia bodoh yang tak kunjung pandai

You may also like

Comments are closed.

More in:REVIEW