Toko Tembakau di Jogja Semakin Tumbuh Subur

toko tembakau di jogja

Toko tembakau di Jogja kian menjamur, hal ini dipicu oleh kenaikan cukai rokok yang kian tak masuk akal dan semakin populernya trend tingwe.

Prevalensi merokok adalah salah satu narasi besar yang selalu dibawa pemerintah untuk dijadikan pondasi kenaikan cukai rokok. Dengan mengatakan itu, kenaikan cukai rokok menjadi terlegitimasi supaya masyarakat mengamini, “oh ya kenaikan cukai rokok perlu demi kesehatan seluruh masyarakat Indonesia”.

Bacaan Lainnya

Nahasnya, fakta di lapangan berkata lain. Kenaikan cukai rokok besar dipengaruhi sebab negara membutuhkan banyak pemasukan, dan pemasukan paling bisa diandalkan serta didapatkan dengan tempo secepat-cepatnya, sebanyak-banyaknya adalah sektor industri hasil tembakau. 

Belum ada data yang signifikan, apakah dengan kenaikan cukai rokok para perokok benar-benar pensiun atau tidak. Yang bisa dipastikan dari efek kenaikan cukai rokok ini adalah para perokok berbondong-bondong berganti merek rokok. Misalnya, dari rokok golongan satu pindah ke golongan dua, bahkan ke tingwe.

Saya mencatat, sejak kenaikan cukai tahun 21% pada tahun lalu, tren tingwe mulai menjamur di hampir seluruh belahan bumi Indonesia.

Tingwe yang semula dianggap “tua” mendadak berubah menjadi populer di kalangan anak muda. Di Jakarta misalnya, banyak muda-mudi yang nongkrong di kedai-kedai kopi menyisipi obrolan mereka dengan melinting tembakau, bertukar obrolan perihal varietas tembakau itu sendiri, hingga mengadu rasa tembakau yang mereka bawa masing-masing.

Spirit kebangkitan tingwe ini menjadi peluang siapapun yang ingin masuk sebagai pengusaha tembakau. Pasar yang sebenarnya sudah terbuka luas ini kemudian disambut baik oleh para pemuda untuk turut mengadu nasib di dunia pertembakauan. 

Tren ini menjadi secercah harapan bagi para petani tentunya. Ketika pabrik ditekan dengan berbagai regulasi sehingga berdampak terhadap petani secara langsung, masih adalah jalur niaga yang, sedikit banyak, melegakan nafas petani tembakau.

Maka jangan kaget, jika kemudian banyak sekali akun-akun media sosial yang menjajakan tembakau dibarengi dengan berdirinya toko-toko tembakau di sepanjang jalan.

Sebagai warga baru Yogyakarta yang menggemari tingwe, telinga saya sangat akrab dengan Toko Wiwoho, toko legendaris yang kerap diceritakan kawan-kawan saya. Toko ini terletak di kawasan Tugu Yogyakarta dan kabarnya sudah berdiri lebih dari seabad. Tidak hanya Toko Tembakau Wiwoho yang legendaris itu, nyatanya beberapa kali ketika random motoran, saya menemukan toko tembakau yang kian menjamur.

Jika di cek di google dengan keyword toko tembakau di Jogja, setidaknya puluhan toko muncul di laman pencarian. Toko-toko ini menyediakan berbagai macam varietas tembakau dari Sabang-Merauke, dari yang isap ringan sampai berat. Komplit.

Toko-toko ini mungkin akan ketimpa rejeki yang banyak pada 2022 mendatang, sebab pemerintah rencananya akan menaikan cukai dua digit, sekitar 18%. Sungguh sebuah kode keras untuk para kretekus benar-benar beralih menjadi tingwe sejati. 

Toko-toko tembakau ini harus tetap berdiri kokoh, sebab mereka adalah bagian penting industri hasil tembakau yang telah berjasa besar kepada negeri ini.

Bijak Berkomentar Tanda Kretekus Santun

Pos terkait