Bagi seorang lelaki perokok, sebatang rokok bukan hanya berupa benda yang dibakar lalu diisap. Namun rokok merupakan penanda jeda dari isi kepala yang selalu berisik. Itulah sebabnya rokok sangat berarti baginya, karena bisa menjadi teman paling setia yang setiap saat hadir di sela-sela hidup yang berjalan tanpa jeda.
Daftar Isi
ToggleSebatang rokok, terutama kretek dengan aroma cengkehnya yang khas, sering kali menjadi penanda bagi seorang lelaki bahwa tubuh dan pikirannya sedang meminta waktu untuk berhenti sejenak, menata napas dengan sadar, dan menenangkan isi kepala.
Dalam catatan sejarah, sejak pertama kali diciptakan oleh H. Jamhari di Kudus, rokok kretek telah menjadi bagian dari keseharian masyarakat Indonesia. Keberadaannya kemudian menjadi realitas sosial di tengah masyarakat hingga saat ini.
Pada perkembangan selanjutnya, rokok kretek tumbuh dan berkembang bersama para pekerja, petani, pedagang, dan status sosial lainnya. Rokok kretek hadir di ruang ruang sosial berbagai strata sosial.
Dalam perkembangannya yang lebih spesifik, rokok kretek kemudian selalu membersamai laki laki yang jarang punya ruang untuk berkeluh kesah.
Di ruang-ruang yang sederhana, rokok kretek menemani petani sepulang dari ladang, menjadi teman buruh usai bekerja di pabrik, hingga menemani kepala keluarga yang pulang dengan tubuh letih dan pikiran penuh dengan permasalahan hidup. Rokok kretek memang tidak pernah memberikan solusi, namun rokok kretek selalu setia menemani proses berpikir dalam mencari solusi bagi seorang lelaki.
Teras Rumah dan Lelaki yang Menyendiri
Dulu, saat saya masih duduk di bangku SMA, saya sering melihat Bapak duduk di teras rumah. Sendirian. Hampir setiap malam. Di sela jari tangannya terjepit sebatang rokok kretek Dji sam Soe, rokok yang dinikmatinya sehari hari. Jika sudah duduk berlama lama di teras seperti itu, Bapak biasanya sambil minum secangkir kopi, terkadang juga teh hangat.
Saat itu saya masih belum mengerti apa yang Bapak lakukan berlama lama duduk menyendiri di teras rumah. Ibu juga tidak pernah menemani. Biasanya, ibu ke teras hanya mengantarkan secangkir kopi atau teh hangat untuk Bapak. Ibu mungkin sudah tahu apa yang Bapak lakukan jika sudah duduk di teras sendirian sambil merokok.
Sebagai anak yang baru duduk di bangku SMA saya tentu saja tidak tahu apa sebenarnya yang sedang dipikirkan Bapak. Dulu saya menyangka Bapak sedang berzikir, karena hal itu dilakukan selalu setelah ba’da shalat Isya. Bersarung. Duduk sendiri sambil menikmati rokok, diam dalam keheningan malam.
Pertanyaan itu lama tidak terjawab. Sebagai anak pembarep saya sungkan untuk bertanya. Selain itu, Bapak memang bukan tipe orang yang banyak bercerita. Bapak tenggelam dalam rutinitasnya; bekerja seharian, dan jika dinas malam akan pulang pagi. Pada saat pulang sore, biasanya usai ba’da isya Bapak akan berlama lama duduk di teras rumah. Sambil menatap halaman depan. Sambil menikmati beberapa batang rokok. Lalu masuk rumah setelah kopi tandas. Selalu begitu. Hampir setiap malam jika pulang dari dinas pagi.
Dulu Bapak bekerja sebagai pengawal kereta jurusan Tanjungkarang-Palembang. Menjadi petugas Polsuska (Polisi Khusus Kerata Api). Tugasnya mengawal kereta penumpang.
Waktu berlalu. Pada tahun 1989 saya berangkat ke Jogja. Saya pulang menengok Bapak dan Ibu dua tahun sekali, kadang tiga tahun sekali pada saat Idul Fitri.
Bapak meninggal dunia pada 2016. Pertanyaan-pertanyaan lama tentang kebiasaan Bapak juga ikut terkubur.
Saya Melakukan Hal yang Sama Seperti Bapak
Pertanyaan lama tentang kebiasaan Bapak itu terjawab saat saya sudah menikah dan anak pertama saya lahir.
Tanpa saya sadari, saya melakukan hal yang dulu juga Bapak lakukan. Duduk di teras saat malam mulai sunyi. Sambil minum kopi atau teh hangat. Diam sambil mengisap sebatang rokok kretek. Hanya diam. Menikmati kretek sambil bernapas dengan sadar. Bedanya, Bapak dulu mengisap Dji Sam Soe, saya mengisap Djarum Coklat Extra.
Pada saat seperti itulah akhirnya saya mulai merasakan apa yang dilakukan Bapak dulu saat duduk di teras rumah sendirian.
Bagi seorang lelaki, menjadi kepala rumah tangga bukan hanya untuk gagah-gagahan, atau agar terlihat jantan. Melainkan meningkatkan daya hidup dengan mengelola sehimpun kecemasan yang jarang dibicarakan. Tentang biaya sekolah anak, tentang kebutuhan dapur, tentang kesehatan istri dan anak-anak. Tentang pekerjaan yang sewaktu-waktu bisa goyah, tentang mengelola rasa bosan yang sering datang. Dan tentang apapun yang laki laki alami dalam hidupnya. Semua itu bersarang di kepala, tapi pantang dibicarakan.
Kebanyakan lelaki seperti saya, bukan karena tidak ingin bercerita, melainkan karena merasa harus kuat. Dulu saya masih ingat pernah diwejangi Bapak, lelaki itu harus berani menghadapi masalah, diselesaikan. Bukan malah gibah atau membicarakan masalahnya di mana mana.
Maka saat malam, teras rumah menjadi ruang paling jujur. Di teras rumahlah lelaki menempa diri dalam alam pikirnya. Dan di teras rumah pula, rokok kretek menjadi teman yang tidak membicarakan hal-hal yang memang tidak seharusnya dibicarakan.
Teras rumah seperti ruang ritual yang sunyi. Asap rokok kretek yang keluar perlahan dari mulut dan hidung seperti membawa pergi lelah yang tidak sempat dibicarakan. Setiap isapan adalah jeda. Setiap embusan adalah pelepasan. Dan semakin hening adalah kenikmatan menuju ketenangan.
Kretek sebagai Ritual Sunyi
Selain itu menurut saya, merokok di teras juga bukan soal gaya hidup. Selain menghormati istri dan anak anak di dalam rumah, merokok di teras rumah bagi saya merupakan ritual sunyi agar pikiran bisa tenang dalam setiap isapan. sebenarnya ini sebuah cara sederhana untuk menata ulang pikiran sebelum esok hari kembali bertarung dengan realitas kehidupan.
Karena dalam kesendirian, tentu saja sambil menikmati rokok; isi kepala seorang lelaki terkadang juga belajar mengatur strategi, mengelola rencana, hingga mencoba berdamai dengan berbagai kondisi dan situasi dalam kehidupannya. Juga berdamai dengan mimpi yang kadang harus ditunda, serta berdamai dengan keinginan yang harus takluk oleh kebutuhan.
Namun dalam kesendirian, seorang lelaki juga kadang hanya diam. Pikirannya kosong. Hanya menikmati isapan rokok kretek dan menyeruput kopi. Ya, hanya itu. Karena rokok juga menjadi penanda bahwa pikiran harus jeda sejenak. Juga penanda seorang lelaki bahwa dirinya masih waras. Karena lelaki yang kurang waras tidak akan pernah bisa menikmati sedapnya rokok kretek.
Jadi apa yang dulu dilakukan Bapak ternyata bukan kebiasaan sia sia walaupun Bapak terlihat hanya sekadar duduk saja tidak melakukan apa-apa. Namun sebenarnya, teras rumah adalah ruang sunyi yang menjadi ruang kendali untuk mengatur isi kepala agar harmonis dengan tubuh, agar selaras dengan kehidupan.
Kini, saya tidak hanya mewarisi kebiasaan Bapak duduk di teras, tapi juga mewarisi beban dan tanggung jawab yang menyertainya sebagai seorang lelaki.
Lelaki yang menyendiri dengan sebatang rokok bukan berarti laki-laki lemah
Seorang lelaki dengan sebatang rokok yang sedang menyendiri bukan berarti lelaki yang mudah menyerah. Bukan lelaki yang cengeng berlarut larut dalam romantika. Melainkan upaya untuk tetap tegak berdiri, untuk menjaga agar pikiran tetap waras. Karena selemah-lemahnya lelaki saat menghadapi masalah hidup, ia biasanya enggan bercerita. Ia memilih diam. Menata diri dalam sunyi. Bukan untuk lari, tapi untuk kembali kuat.
Sebab ia tahu, lelah yang parah akan mudah membangkitkan amarah.
Maka jika lelah itu datang, menyendirilah sejenak. Seduhlah kopimu. Nyalakan kretekmu. Nikmatilah dengan kesadaran.
Karena bagi seorang lelaki, masalah harus dihadapi, tanggung jawab tetap harus dijalani. Dan setiap lelaki punya caranya sendiri.
Tetap semangat.
Salam sebat.
Penulis: Eko Susanto
BACA JUGA: Laki-laki, Rokok, dan Kecemasan di Quarter Life Crisis




