Industri Hasil Tembakau (IHT), khususnya kretek, bukan sekadar komoditas dagang biasa. Ia adalah tulang punggung ekonomi yang sudah teruji oleh berbagai zaman. Ketika sektor manufaktur lain tiarap saat nilai tukar rupiah babak belur, industri ini justru sering kali tampil sebagai penyelamat devisa negara. Rekam jejaknya pun sangat jelas: dari hulu ke hilir, puluhan juta orang menggantungkan hidupnya di sektor ini.
Daftar Isi
ToggleJika kita menengok sejarah, ketangguhan industri kretek ini sudah terlihat sejak zaman prakemerdekaan. Nama-nama besar seperti Nitisemito dengan ribuan pekerjanya di Kudus, hingga M. Atmowidjoyo dan pengusaha lainnya, telah meletakkan fondasi industri yang berbasis pada kekuatan domestik. Karakter gotong royong dan kearifan lokal inilah yang membuat kretek tetap eksis meski dinamika zaman silih berganti.
Anomali Ekonomi Saat Krisis Moneter 1998
Titik balik paling nyata terlihat pada krisis moneter 1998. Saat itu, ekonomi makro Indonesia hancur lebur dengan lonjakan inflasi mencapai 70 persen. Namun, anomali justru terjadi di sektor rokok. Produksi nasional justru meningkat dari 220 miliar batang menjadi 269,8 miliar batang.
Penerimaan Cukai Hasil Tembakau (CHT) melonjak drastis. Dari Rp4 triliun menjadi lebih dari Rp10 triliun hanya dalam kurun waktu tiga tahun. Berdasarkan catatan GAPPRI, jumlah pabrik rokok bahkan tumbuh melesat dari 800 menjadi hampir 5.000 unit pada era pascareformasi.
Ketangguhan ini kembali terbukti pada saat krisis finansial global 2008 dan pandemi COVID-19 melanda. Melalui pemodelan statistik ARIMAX, variabel krisis terbukti tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap volume produksi hasil tembakau. Selama tingkat kesejahteraan masyarakat dan harga jual eceran masih terjaga, industri ini akan tetap berdiri kokoh. Terbukti, sebagian besar perusahaan manufaktur rokok di bursa saham selalu berada dalam kondisi keuangan yang sehat, tanpa mengalami kesulitan finansial berarti meskipun badai ekonomi global menerjang.
Kedaulatan Bahan Baku Sebagai Perisai Utama
Jika kita bandingkan dengan kondisi hari ini, di mana rupiah terus mengalami tren pelemahan terhadap dolar AS, IHT memiliki satu keunggulan absolut yang tidak dimiliki industri lain: kedaulatan bahan baku. Hal ini merupakan manifestasi nyata dari simbol kedaulatan nasional. Seluruh bahan bakunya dipasok dan diproduksi di dalam negeri.
Kondisi ini jelas berbeda dengan industri farmasi atau elektronik, yang pasti akan langsung kelabakan saat kurs dolar naik karena tingginya komponen impor. Sebaliknya, kretek bernapas lewat tembakau dan cengkeh dari hasil keringat perkebunan rakyat sendiri. Hubungan emosional antara pabrikan dan petani—seperti yang terlihat kokoh di sentra tembakau Temanggung—menciptakan rantai pasok yang tangguh dan kebal terhadap gejolak nilai tukar.
Ancaman Regulasi di Balik Ketangguhan Industri Kretek
Pertanyaannya kini, mampukah industri ini melewati tren pelemahan rupiah yang sedang terjadi? Jawabannya: bisa, namun dengan sebuah catatan penting. Musuh utama IHT hari ini sebenarnya bukanlah pelemahan rupiah, apalagi krisis ekonomi, melainkan hantaman regulasi yang berlebihan dan kurang rasional.
Selama pemerintah menyadari bahwa industri ini merupakan pilar sumber penerimaan negara yang stabil serta mampu menampung jutaan tenaga kerja langsung—sekaligus mau melindunginya—maka resiliensi itu akan selalu ada.
Pemerintah harus menjaga ekosistem ini dengan pijakan yang bijak, terutama dalam merumuskan kebijakan cukai dan regulasi-regulasi turunannya. Dengan struktur industri yang begitu luas, mulai dari korporasi besar hingga industri skala rumah tangga, IHT adalah jaring pengaman sosial yang berwujud nyata.
Selama kedaulatan industri hasil tembakau tetap dijunjung tinggi dan dilindungi, serta kearifan lokal terus dihargai. Kretek akan senantiasa menjadi benteng ekonomi yang bersetia pada kelangsungan bangsa, tak peduli badai krisis datang silih berganti.
Juru Bicara Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), Alfianaja Maulana Ardika
BACA JUGA: Akankah Cukai Rokok Naik di Tengah Melemahnya Rupiah dan Ekonomi yang Lesu?










