Ritual ngopag (ngopi pagi) merupakan salah satu hal yang sering saya lakukan. Ada orang yang menganggap bahwa kebiasaan saya ini merupakan salah satu pemborosan. Namun, bagi saya, kegiatan ini adalah kegiatan untuk persiapan menghadapi hiruk-pikuknya pekerjaan. Juga berbagai persoalan dan tekanan yang akan dihadapi pada hari itu.
Daftar Isi
ToggleNgopag Lebih Murah daripada Psikolog
Ditengah permasalahan Gen-Z soal kesehatan mental, banyak yang memilih untuk menggunakan layanan psikolog sebagai solusinya. Tak semua orang terutama Gen-Z dapat membayar layanan psikolog untuk mengobati kesehatan mentalnya. Bagi saya, kopi dan rokok di pagi hari merupakan salah satu hal yang ampuh untuk mengatasi kesehatan mental saya. Apalagi jika itu dibarengi dengan mengobrol bersama teman.
Bukan berarti kopi dan rokok itu bisa langsung mengobati atau menyelesaikan masalah, tapi itu bisa menjadi pengganti dari terapi psikologis yang harganya jauh lebih murah.
Bayangkan saja, satu kali sesi psikolog bisa meraup ratusan ribu rupiah pada satu sesinya. Sedangkan kopi dan rokok, per hari-nya bisa menghabiskan sekitar Rp20 ribu, tergantung dari kopi dan rokok yang dipesannya. Harga ini jauh lebih murah, daripada harus datang ke psikolog yang uangnya bisa digunakan untuk kopi dan rokok dalam satu minggu.
Bukan berarti layanan psikolog ini dikatakan pemborosan atau buang-buang uang, namun kegiatan ini merupakan solusi murah yang dapat saya lakukan, serta dapat menghemat pengeluaran dalam satu minggu.
Ritual Sebelum “Bertarung”
Tak jarang saya melakukan ritual ini. Ritual yang terkesan sederhana ini, namun dapat memberikan ketenangan dalam pikiran saya dan memberikan sedikit ruang untuk sekedar “bernafas”. Saya memang tipe orang yang suka bercerita kepada orang, namun jika tidak ada orang yang bisa diajak bercerita, rokok dan kopi ini yang seringkali menemani saya di pagi hari.
Ironisnya, kebiasaan merokok ini seringkali dianggap sebagai penyakit oleh berbagai orang. Padahal, dari kegiatan itu bisa saja orang itu dapat melepaskan penat akan hiruk-pikuknya dunia. Walaupun hanya beberapa menit, ritual ini bisa membantu menenangkan diri. Apalagi ditemani dengan secangkir kopi sebagai pelengkapnya, rasa pahitnya semakin memantapkan ketenangan perasaan dan pikiran yang tidak bisa diungkapkan oleh kata-kata.
Saya menyadari bahwa kesehatan mental merupakan hak yang dapat dimiliki oleh setiap individu, bukan hanya orang-orang yang bisa membayar layanan psikolog. Saya juga percaya, masih banyak orang yang ingin bertahan dari situasi yang dihadapi, namun mereka akan mencari alternatif lainnya selain menggunakan layanan psikolog yang terkesannya sangat mahal. Salah satu hal yang mudah untuk dilakukan oleh setiap orang adalah ngopag dan nyebat.
Pada akhirnya, banyak hal-hal atau ritual lain yang bisa dilakukan untuk dijadikan sebagai pelarian. Ada yang memilih untuk olahraga lari, ada yang memilih untuk mendaki gunung, dan kegiatan lainnya. Apa saja itu, asalkan dia masih bisa semangat untuk menghadapi hidup, terlebih lagi Gen-Z yang umurnya masih terbilang muda-muda.
Hidup tak selalu dijalani dengan berat. Namun dengan secangkir kopi dan sebatang rokok, aku bisa menghadapi peliknya hidup.
Penulis: Aderifqi Dian Maulana
BACA JUGA: Yuk, Sementara Ngopi dan Nyebats di Rumah dulu Saja





