Gara-Gara Kalah Perang Dunia kedua, Orang Jepang Meninggalkan Rokok Tradisionalnya karena Dominasi Rokok Putihan yang Dibawa Amerika

rokok tradisional jepang bernama kiseru

Jepang punya reputasi sebagai salah satu negara dengan tingkat perokok yang tinggi di dunia. Uniknya, di balik tingginya angka konsumsi tersebut, masyarakat Jepang justru mencatatkan tingkat kejadian kanker paru-paru yang rendah. Harapan hidup mereka pun jauh lebih panjang.

Fenomena menarik ini kerap menjadi bantahan telak terhadap berbagai narasi dari kubu antirokok. Narasi itu mengklaim hubungan mutlak antara rokok dengan kanker maupun pendeknya harapan hidup. Namun, jauh sebelum rokok industri merajai pasar, rokok tradisional Jepang memiliki akar sejarah dan filosofi yang luar biasa dalam.

Orang Jepang pertama kali mengenal tembakau pada dekade 1570-an. Para pedagang asal Portugis membawanya langsung melalui Pelabuhan Nagasaki. Pada masa awal kedatangannya, tembakau bukanlah barang yang bisa sembarang orang konsumsi. Sebaliknya, masyarakat lokal memandangnya sebagai barang yang eksotis, prestisius, serta memiliki nilai ekonomi yang amat tinggi.

Karena nilainya yang sangat tinggi, hanya kalangan tertentu yang bisa menikmati tembakau pada masa itu. Mereka adalah bangsawan istana, para samurai yang terhormat, serta para saudagar kaya raya. Mereka tidak membakar daun tembakau tersebut langsung seperti rokok masa kini. Sebagai gantinya, mereka menggunakan pipa tradisional khas bernama kiseru.

Kiseru: Rokok Tradisional Jepang yang Penuh Filosofi

Para pengrajin umumnya membuat pipa kiseru dari material pilihan. Material itu bisa berupa bambu, logam berkualitas, atau kayu bernilai seni tinggi. Pipa tersebut lalu mereka isi dengan tembakau cincang halus berjenis koiki. Merokok menggunakan pipa kiseru bukan sekadar aktivitas fisik untuk menikmati rasa tembakau. Lebih dari itu, ritual tersebut telah bertransformasi menjadi simbol status sosial yang sangat bergengsi di tengah masyarakat feodal Jepang.

Jepang memang senantiasa menjunjung etika dan sopan santun yang mengakar kuat. Hal tersebut pun berlaku ketat ketika seseorang melakukan aktivitas merokok. Pada masa itu, bahkan seorang shogun pernah mengeluarkan pedoman resmi. Pedoman itu menyebut menerima tembakau dari tuan rumah dan merokok dengan penuh kesopanan sebagai bagian esensial etiket sosial. Masyarakat wajib menjunjung tinggi etiket tersebut.

Orang memandang merokok menggunakan kiseru sebagai ritual yang sakral dan mempunyai tingkat estetika yang sangat tinggi. Nilai filosofis rokok tradisional Jepang ini setara tingginya dengan nilai-nilai luhur yang orang junjung dalam upacara minum teh tradisional Jepang.

Kekalahan Perang Dunia II

Namun, roda sejarah berputar secara drastis ketika Perang Dunia Kedua berakhir dengan kekalahan di pihak Jepang. Pengaruh budaya Amerika Serikat masuk ke Jepang lewat penetrasi film, iklan komersial, serta dominasi kehadiran tentara sekutu di sana. Sejak saat itu, lanskap kebudayaan merokok di Jepang mengalami pergeseran yang sangat radikal.

Perusahaan-perusahaan raksasa tembakau asal Amerika Serikat seperti Philip Morris, R.J. Reynolds, dan Brown & Williamson mulai menyerbu pasar Jepang. Mereka memperkenalkan berbagai merek rokok putihan internasional seperti Marlboro, Salem, dan Virginia Slims. Rokok putih buatan pabrik modern ini dengan cepat menjadi sangat populer. Orang menganggapnya jauh lebih praktis dan modern dibandingkan kiseru. Generasi masa itu pun perlahan-lahan mulai meninggalkan kiseru.

Dari lembaran sejarah Jepang ini, kita dapat memetik pelajaran berharga. Peperangan, pendudukan, dan penjajahan tidak pernah sekadar mengeruk kekayaan sumber daya alam. Ketiganya juga mengeksploitasi sumber daya manusia. Lebih dari itu, intervensi kuasa asing terbukti mampu merombak kebudayaan sebuah bangsa hingga ke akar-akarnya. Intervensi itu juga mengubah perilaku dan kebiasaan masyarakat dalam mengonsumsi tembakau.

Perubahan budaya semacam ini pada hakikatnya juga merupakan bentuk peperangan kultural yang nyata. Kondisi tersebut terjadi bukan karena proses akulturasi yang damai dan alamiah. Melainkan, kondisi itu lahir dari unsur paksaan serta dominasi kuasa asing yang hegemonik.

Artikel Lain