In this economy, seorang perokok memang harus bisa berkompromi dengan isi dompetnya. Selain tentu saja harus pintar juga memilih rokok yang harganya terjangkau dan sesuai dengan kondisi keuangannya.
Daftar Isi
ToggleHanya pada masa rezim ini saja seorang teman saya yang biasanya tangguh secara keuangan kini mengalami turun kasta perihal merek rokok. Padahal dulu, teman saya ini terkenal dengan ketebalan dompetnya gak pernah susut. Rokok hariannya pun selalu SKM Mild golongan I.
Namun pada rezim kali ini, entah kenapa dia merasa harga rokok hariannya dirasa semakin melambung. Sebenarnya sih kalau menurut saya bukan harga rokoknya yang naik, tapi mencari uangnya yang rada sulit. Agak seret. Usaha kelihatan berhasil dikit udah kena palak. Memang sih gak semudah rezim sebelumnya, walaupun sebenarnya pergantian rezim juga gak jaminan ekonomi rakyat bakal baik juga. Karena sebagaimana kita tahu, rezim manapun selama bekerja untuk kroni dan oligarki ya sama aja. Sarua bae. Pada wae!
Makanya untuk menjaga keberlangsungan agar mulutnya tetap bisa ngebul, teman saya ini memilih beralih ke produk lain yang harganya lebih terjangkau. Baginya, rasa rokok masih bisa diadaptasi dalam beberapa hari, sedangkan harga rokok menyangkut keseimbangan hidup.
Rokok SKM Mild Ramah Kantong
Sekali lagi saya katakan, teman saya itu dulunya sehari-hari merokok SKM Mild golongan I. Saat ini harga rokok SKM Mild golongan I sudah mencapai 35 ribuan. Dia lalu menyusuri etalase rokok di Warung Madura yang berada di dekat rumahnya.
Tampilan Warung Madura memang punya display etalase yang memudahkan perokok untuk memilih berbagai merek rokok. Hingga suatu hari, dengan penuh pertimbangan, dia memilih Aroma Mile dari Kudus yang harganya masih cukup terjangkau bagi dompetnya. Bayangkan, teman saya yang dulu sehari hari rokoknya SKM Mild golongan I, pada rezim ini mau merokok saja mumet milih rokok mana yang harganya terjangkau.
Menurut cerita teman saya, rasa Aroma Mile memang membutuhkan sedikit adaptasi dibandingkan rokok mild yang biasa dikonsumsinya. Karena setelah beberapa hari, perbedaan rasanya tidak terlalu jauh dari rokok hariannya dulu. Setidaknya, masih bisa diterima oleh lidahnya. Begitu menurut cerita dari teman saya.
Dan yang paling penting, harganya jauh di bawah rokok SKM Mild golongan I, katanya lagi sambil tertawa.
Di Warung Madura dekat rumahnya, Aroma Mile dijual dengan harga Rp24.000. Pita cukainya dibandrol Rp23.775,-. Menurut teman saya, harga tersebut masih cukup masuk akal dibandingkan rokok hariannya yang sekarang sudah berada di kisaran 35 ribuan.
Desain Putih Minimalis Aroma Mile
Desain bungkus rokok SKM Mild Aroma Mile juga cukup menarik. Tampilannya cukup sederhana. Hanya ada warna putih yang mendominasi hampir seluruh permukaan bungkusnya. Identitas merek ditampilkan hanya melalui tulisan Aroma berwarna merah, sementara kata mile menggunakan warna abu-abu gelap. Ada pula logo berwarna emas dengan tulisan Double A Qlty sebagai aksen desain pada kemasannya.
Kombinasi warna putih, merah, dan emas membuat kemasan ini terlihat bersih dan tidak terlalu ramai. Tidak banyak ornamen yang digunakan. Desainnya cenderung minimalis, dengan identitas merek yang cukup mudah dikenali.
Secara keseluruhan, kemasan Aroma Mile tidak berusaha tampil dengan desain yang terlalu mencolok. Kesederhanaan pada desainnya justru menjadi karakter visual yang paling mudah ditangkap mata saat perokok berdiri di depan etalase warung Madura.
Karakter Rasa Aroma Mile
Batangan rokok Aroma Mile juga memiliki tampilan yang sederhana. Kertas pembungkus batangnya berwarna putih dengan tulisan merek berwarna merah. Dari aromanya, menurut cerita teman saya, tercium wangi khas yang mengingatkannya pada karakter produk produk rokok asal Kudus.
Ketika dibakar, tarikan pertama memang terasa agak tawar. Namun, memasuki isapan kedua dan seterusnya, mulai muncul rasa manis tipis yang berpadu dengan sedikit rasa sepet sebagai penyeimbang. Karakter rasanya tidak terlalu tajam dan tidak meninggalkan rasa eneg di perut. Saat asap melewati tenggorokan juga tidak ada kejutan yang tajam. Tapi halus dan terasa enak karena rasa manis yang rendah dan seimbang dengan rasa sepetnya.
Hari pertama, teman saya sengaja memberi waktu bagi lidahnya untuk beradaptasi. Maklum, sebelumnya dia sudah cukup lama terbiasa dengan karakter rokok mild yang berbeda.
Perubahan hari kedua mulai terasa agak enak. Sementara pada hari ketiga, menurut teman saya, karakter rasa Aroma Mile sudah terasa lebih menyatu dengan kebiasaannya. Dia tidak lagi terlalu merasakan perbedaan mencolok dibandingkan rokok mild yang biasa dikonsumsinya sehari hari dulu.
Tentu saja, masih ada sedikit perbedaan. Namun, perbedaan tersebut masih bisa ditoleransi oleh lidahnya. Karakter manisnya juga tidak terlalu dominan. Ada sensasi sepet ringan yang membuat rasa manis tersebut tidak terasa berlebihan.
Aftertaste yang Nyaman
Untuk urusan aftertaste, teman saya menilai Aroma Mile meninggalkan rasa yang cukup nyaman di mulut. Tidak ada kesan manis yang terlalu kuat setelahnya. Karakter rasanya yang relatif ringan juga membuatnya tidak merasa terganggu ketika menikmati kopi atau teh manis hangat. Kini Aroma Mile telah menjadi rokok harian teman saya hingga sekarang.
Rasa rokok memang bisa diadaptasi menyesuaikan kantong. Jadi jika kamu merasa harga rokok harianmu sudah tidak sesuai dengan kantongmu, ya pindah merek saja. Gampang kan? Karena sebenarnya masih banyak merek rokok yang harganya terjangkau tapi rasanya juga tidak kalah dengan rokok yang harganya sekarang jadi mahal.
Sayangnya, banyak perokok yang masih terpaku pada rokok hariannya walaupun harganya perlahan melambung tinggi. Rokok murah bukan berarti murahan, apalagi soal rasanya. Karena mulut kita diciptakan bisa beradaptasi dengan rasa apa saja termasuk rasa rokok. Asalkan jangan beralih ke rokok ilegal saja, ya.
Harga adalah Koentji
Jadi, keputusan teman saya beralih ke Aroma Mile bukan semata karena ingin mencari pengalaman rasa yang baru. Bukan. Tapi ada pertimbangan ekonomi yang lebih realistis di balik pilihan alternatifnya. Nomor satu tentu urusan dompet. Kalau urusan rokok masih bisa diatur. Karena mulut masih bisa diajak adaptasi dengan rokok yang harganya terjangkau.
Apalagi Aroma Mile yang menurut teman saya menawarkan karakter rasa yang masih bisa diterima, tentu saja setelah melewati masa adaptasi beberapa hari.
In This Economy dengan harga 24k isi 16 batang, Aroma Mile menjadi salah satu pilihan alternatif rokok SKM Mild. Gak percaya? Coba saja.
Cerita pengalaman teman saya ini sekaligus memperlihatkan bahwa dalam memilih rokok, seorang perokok tidak harus selalu terpaku pada merek atau kebiasaan lama. Karena merokok sekarang ini yang paling penting ialah harganya yang terjangkau dompet, sebab soal rasa mulut kita bisa beradatasi dengan mudah dan akan segera terbiasa dalam beberapa hari saja.
Aroma Mile dari Kudus mungkin bukan produk yang sepenuhnya bisa menggantikan pengalaman menikmati rokok mild golongan I. Tapi buat teman saya, Aroma Mile menjadi alternatif pilihan dengan harga yang masuk akal.
Pengalaman ini tentu hanya sebuah kompromi antara kebiasaan merokok dan kemampuan isi dompet. Apakah kamu juga melakukan hal yang sama seperti teman saya?










