Standar Ganda dalam Merokok, Kalau Ganteng Aman, Jelek Dihujat!

standar ganda merokok

Sering kali saya scroll media sosial seperti platform Threads. Saya gemar membaca komentar dan kejulidan yapping warganet. Saya melihat masih banyak netizen berkomentar negatif soal merokok. Hal itu tentu saja langsung menculik perhatian saya.

Banyak komentar menyalahkan orang menjadi miskin karena rokok. Banyak juga yang berpendapat orang jelek tidak pantas merokok. Mereka dianggap tidak pantas untuk dijadikan sebagai pasangan.

Muncul ungkapan kasar seperti, “Wis elek, ngerokok!” Namun, ada konten yang menampilkan preferensi kebalikan dari itu. Mereka rupanya lebih memilih pria tampan meskipun ia merokok.

Dari kejulidan itulah saya mulai membuat sebuah asumsi. Tampaknya, orang ganteng dan kaya bebas untuk merokok. Sementara itu, si miskin dan jelek selalu dilarang merokok.

Standar ganda merokok ini jelas terasa sangat ironis. Tetapi faktanya, di lapangan memang terjadi situasi seperti itu. Padahal, aktivitas merokok sejatinya hanyalah sebuah pilihan personal. Mereka masih memiliki hak penuh untuk memilih merokok. Hak ini berlaku selagi rokok beredar legal di negeri ini.

Standar Ganda Merokok: Ganteng Boleh, Jelek Dihujat

Dari berbagai konten di timeline, banyak perempuan memberikan pendapat. Mereka menyebutkan bahwa tipe pasangannya adalah pria ganteng. Ada juga yang berpendapat soal laki-laki tampan yang merokok. Mereka rupanya masih mau menerima laki-laki tersebut sebagai pasangannya.

Menariknya, ketika standar kegantengan pria itu sudah terpenuhi. Status kebencian sang perempuan soal rokok perlahan mulai tersembunyi. Hal ini menjadi bukti kuat adanya fenomena standar ganda merokok.

Kita ambil contoh sosok aktor ternama seperti Jefri Nichol. Bukan rahasia lagi bahwa Jefri adalah seorang perokok. Tetapi karena ia tampan, ia banyak diincar oleh kaum Hawa. Mereka sama sekali tidak mempermasalahkan kebiasaan Jefri tersebut.

Memiliki pacar seperti Jefri dianggap sudah seperti di surga. Banyak dari mereka tetap fokus melihat kegantengan Jefri. Hal itu tetap berlaku meski sang aktor sedang merokok.

Di dunia nyata, banyak perempuan memiliki pasangan ganteng merokok. Saya sering kali menjumpai kasus tersebut di berbagai tempat. Fenomena ini mudah ditemui di kafe dan tempat nongkrong. Sangat mudah melihat si laki-laki itu sedang merokok. Sementara itu, si perempuan tidak mengeluhkan pasangannya yang merokok.

Coba sandingkan hal ini dengan orang jelek tapi merokok. Publik akan menganggap rokok sebagai sumber segala penyakit. Rokok juga dijadikan alasan orang tersebut susah mendapat pasangan.

Lalu, mereka akan dengan mudah mengeluarkan berbagai pendapat negatif. “Kalau sudah jelek, jangan berani-berani merokok,” begitu katanya. Kalau memang hanya ingin mencari pasangan berparas bagus, bilang saja. Jangan jadikan rokok sebagai alasan untuk menghakimi seseorang.

Status Sosial dalam Merokok

Tidak hanya orang ganteng yang menjadi idaman seorang pasangan. Orang yang memiliki status tinggi dan harta juga diidamkan. Banyak perempuan memaklumi pasangannya merokok karena status sosialnya tinggi. Kekayaan laki-laki tersebut juga sering menjadi alasan pemakluman.

Lain halnya jika laki-laki itu miskin, susah, dan ripuh. Perempuan akan sigap menyalahkan rokok atas kondisi tersebut. Rokok akan langsung dianggap sebagai sumber dari segala kesulitannya.

Kalau berbicara soal status sosial, mari ambil sebuah contoh. Coba kita tengok sosok remaja bernama Fajar Sadboy. Ia beberapa kali tertangkap kamera sedang asyik merokok. Momen ini terlihat sangat jelas di beberapa tayangan podcast.

Dari banyaknya komentar warganet, saya tidak menemui komentar negatif. Tidak ada yang mempermasalahkan mengenai Fajar yang sedang merokok. Padahal kalau digali lebih dalam, Fajar masih umur 19 tahun.

Nasibnya berbanding terbalik dengan kondisi pelajar seumuran Fajar lainnya. Pelajar SMA yang merokok sering kali dianggap anak nakal. Mereka kerap dituduh sering tawuran dan dianggap ikut geng sekolah.

Dari contoh kasus di atas, kesimpulannya sudah sangat jelas. Orang berstatus tinggi tidak akan dipermasalahkan soalan urusan merokok. Tetapi, nasib berbeda menimpa orang yang berasal dari kalangan bawah.

Ia akan langsung digolongkan sebagai orang tanpa masa depan cerah. Hidupnya juga divonis akan selalu berada dalam segala kesulitan.

Pada akhirnya, merokok tidak bisa menjadi patokan kriteria pasangan. Toh, banyak yang memilih pasangan perokok karena berbagai alasan. Mereka memaklumi karena pasangannya ganteng, terkenal, dan juga kaya.

Rokok memang sangat sering dijadikan alasan untuk menghakimi seseorang. Publik akan membela perokok karena rupa dan statusnya di atas. Namun, mereka akan kejam menyerang perokok yang rupa dan statusnya bawah.

Penulis: Aderifqi Dian Maulana

BACA JUGA: Menengok Kemesraan Rokok dan Sosial Keagamaan Ulama Nusantara

Artikel Lain