Anti rokok selalu menyerang di berbagai sisi. Mereka menggunakan segala upaya untuk menbentuk pola berpikir masyarakat yang sesat soal rokok. Belakangan muncul narasi bahwa bau rokok identik dengan kemiskinan. Seolah-olah, orang yang merokok pasti miskin, dan yang tidak merokok pasti sejahtera.
Daftar Isi
TogglePertanyaannya sederhana: Benarkah realita sesempit itu? Kalau kita lihat pakai logika ekonomi, kemiskinan bukan soal “bau” atau “kebiasaan konsumsi” semata. Tapi jauh lebih dari itu. Kemiskinan terjadi karena korupsi, upah, yang rendah, sulitnya lapangan kerja, harga kebutuhan pokok naik, dan kebijakan yang tidak berpihak ke masyarakat.
Rokok jadi kambing hitam kemiskinan
Setiap angka kemiskinan naik, rokok selalu disalahkan. Kenapa korupsi, kenaikan harga bahan pokok, atau kurangnya lapangan kerja jarang disebut sebagai variabel utama? Memang lebih mudah menyalahkan perilaku rakyat kecil daripada mempertanyakan atau mengevaluasi kebijakan pemerintah yang gagal.
Stigma bau rokok identik dengan bau miskin lebih dekat ke label sosial, bukan fakta ekonomi. Mereka sedang berusaha agar rokok dan perilaku merokok dibenci masyarakat. Namun, pelabelan ini bisa dibilang sangat berbahaya. Sebab ini jadi menyederhanakan masalah kompleks. Seolah orang miskin menjadi miskin karena membeli barang tertentu. Akibatnya yang terjadi malah menyudutkan kelompok tertentu dan menutup mata dari akar persoalan yang sebenarnya.
Padahal realitasnya, banyak juga orang kaya yang merokok. Apalagi penghisap cerutu. Selain itu banyak juga orang yang bekerja di sektor tembakau: petani, buruh pabrik, pedagang kecil, hingga pekerja distribusi. Apakah mereka miskin? Tentu saja tidak. Jika kita melihat definisi miskin, adalah ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan hidup, seperti sandang, pangan, kesehatan, pendidikan dan papan atau tempat tinggal. Faktanya mereka masih bisa memenuhi itu semua.
Rokok penyebab kemiskinan itu salah kaprah
Lebih jauh lagi, bagi mereka, rokok bukan simbol kemiskinan. Malah justru sebagai sumber penghidupan. Selain itu, cukai hasil tembakau (CHT) setiap tahun konsisten menyumbang 200 Triliun lebih. Bahkan mengalahkan seluruh deviden BUMN.
Sementara itu yang terjadi, penyebab kemiskinan yang nyata sering luput dibahas. Seperti korupsi, kebijakan ekonomi yang tidak stabil, gagalnya pemerintah dalam mengendalikan harga kebutuhan pokok, dan tentu saja sulitnya lapangan pekerjaan. Di mana 19 juta lapangan kerja yang dijanjikan itu?
Maka sangat aneh, jika yang disalahkan justru konsumsi rakyat kecil. Selain itu industri rokok juga berkontribusi dalam pembangunan, kesehatan, pendidikan dan pembinaan atlet dalam negeri.
Jadi sangat tidak adil jika hanya dilihat dari satu sisi, lalu diberi label negatif secara sepihak.
Narasi “bau rokok sama dengan bau kemiskinan” pada akhirnya ini bukan soal kesehatan atau ekonomi semata. Melainkan soal cara pandang yang bias dan salah. Ketika realitas malah disederhanakan, yang muncul bukan solusi, tapi stigma. Kemiskinan tidak punya bau. Ia punya sebab yang jauh lebih dalam: sistem, kebijakan, dan keadilan. Jadi sebelum memberi label, lebih baik memahami realita secara utuh. Maka dari itu, daripada menyalahkan, lebih baik memberi solusi yang baik.
Juru Bicara Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), Alfianaja Maulana Ardika
BACA JUGA: Rokok Bukan Penyebab Kemiskinan, Tapi Korupsi, UMR Rendah, dan Pajak yang Terlampau Tinggi








