Narasi yang menempatkan rokok sebagai penyebab kemiskinan di Indonesia adalah bentuk penyederhanaan masalah yang menyesatkan. Seolah-olah, jika seluruh rakyat berhenti merokok besok pagi, kemiskinan akan hilang seketika. Nyatanya, akar masalah kemiskinan jauh lebih kompleks dan sistemis. Mulai dari sulitnya akses lapangan kerja, kegagalan pemerintah dalam mengendalikan harga bahan pokok, hingga korupsi yang kian tak terkendali.
Daftar Isi
ToggleBahkan, meminjam kegelisahan Ketua BEM UGM, Tiyo Ardiyanto, siapa pun yang memahami Indonesia secara mendalam pasti akan merasa putus asa. Mengapa? Karena hampir seluruh lembaga di negara ini, mulai dari pendidikan, pertahanan, hingga keuangan, terasa kian bobrok. Namun, alih-alih membenahi masalah struktural ini, energi masyarakat justru habis terkuras untuk saling sikut pada isu-isu permukaan yang sengaja dipertajam.
Mengapa muncul narasi rokok penyebab kemiskinan?
Persoalan rokok kini telah bergeser dari sekadar gaya hidup menjadi masalah ideologis yang membelah masyarakat menjadi dua kubu: perokok dan tidak merokok. Di sinilah kita harus jeli membedakan antara mereka yang sekadar tidak merokok dengan mereka yang anti-rokok. Tidak merokok adalah hak dan pilihan pribadi, dan itu sama sekali bukan masalah. Namun, kelompok anti-rokok seringkali tampil menyebalkan karena agresivitasnya dalam memaksakan standar moral dan ekonomi kepada orang lain.
Kelompok anti-rokok bergerak dengan kampanye masif, menyuntikkan subjektivitasnya yang kemudian membuat masyarakat sulit melihat persoalan secara objektif. Tak jarang juga narasi yang mereka gunakan dibungkus dengan data yang meragukan atau junk science demi membenarkan stigma negatif. Yang lebih lucu lagi ketika mereka merasa paling benar dengan dalih ekonomi, seringkali menggunakan kalkulasi matematis yang klise: “Jika uang rokok Rp20.000 per hari ditabung, maka dalam sebulan terkumpul Rp600.000, dan setahun menjadi Rp7,2 juta.”
Pertanyaannya, apakah uang Rp7 juta itu cukup untuk membayar uang muka (DP) rumah di tengah inflasi yang gila seperti kondisi saat ini? Sering kali, mereka yang sibuk menggurui orang lain untuk menabung pun sebenarnya juga belum mampu membeli apa-apa. Ini adalah bentuk kesombongan moral yang mengabaikan realitas sosial. Mereka gagal memahami bahwa kondisi ekonomi setiap orang berbeda, dan tidak semua orang memiliki privilege untuk merencanakan masa depan yang jauh, sementara kebutuhan untuk bertahan hidup hari ini saja sudah mencekik.
Rokok jadi hiburan bagi rakyat kecil
Kesenangan kecil seperti mengisap rokok bagi sebagian orang adalah mekanisme pertahanan diri menghadapi tekanan hidup yang berat. Tidak semua orang memiliki pikiran yang sama tentang bagaimana mengelola kebahagiaan. Ada yang sanggup menyisihkan banyak untuk masa depan, namun ada juga yang memilih menikmati sedikit hasil keringatnya hari ini sebagai upah atau hadiah kepada dirinya sendiri setelah lelah bekerja.
Pada akhirnya, ini bukan hanya soal hitung-hitungan hemat atau boros. Ini adalah soal kedaulatan individu atas caranya menikmati hidup. Mengkambinghitamkan rokok atas kemiskinan hanya akan mengaburkan tanggung jawab negara dalam menyejahterakan rakyatnya. Berhentilah menyalahkan pilihan konsumsi rakyat kecil, dan mulailah mempertanyakan mengapa sistem di negeri ini masih begitu buruk untuk melindungi mereka dari kemiskinan yang sesungguhnya.Â
Juru Bicara Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), Alfianaja Maulana Ardika
BACA JUGA: Benarkah Bau Rokok adalah Bau Kemiskinan?









