Refleksi Kemerdekaan 81 Tahun Indonesia Merdeka, Bagaimana Nasib Kretek dan Perokok?

kemerdekaan dipertanyakan

Sudah saatnya kita melakukan refleksi kemerdekaan dengan mengisap sabatang rokok. Sambil membayangkan kondisi negara yang ideal, di tengah carut-marutnya situasi negara ini. Kondisi sekarang memang harus membuat kita berpikir ulang, apakah benar ini wujud kemerdekaan yang selalu kita rayakan?

Refleksi Kemerdekaan: Antara Realitas dan Idealitas

Setiap pertengahan bulan Agustus, kita kembali pada rutinitas sama yang biasa kita lakukan: lomba-lomba, panggung musik, dan pada puncaknya upacara bendera. Semua itu  Kita merayakan kemerdekaan barangkali sebagai sebuah pencapaian sejarah atas kemenangan berhasil mengusir penjajah.

Padahal, sebelum jauh kesitu, kita perlu merefleksikan kembali bahwa sebenarnya yang merdeka negara atau bangsanya?

Namun pada intinya di usia Indonesia yang ke-81, kita perlu melihat kemerdekaan secara lebih dalam. Ketika PHK terjadi di berbagai tempat, pengangguran masih tinggi, banyak anak tidak bisa sekolah, dan banyak keluarga harus berjuang mempertahankan kehidupannya. Sementara rakyat masih sibuk saling sikut-menyikut, kedaulatan masih dipertanyakan, kita patut bertanya: Apakah kita sudah benar-benar merdeka?

Dewasa ini, pemaknaan tentang merdeka sering kali berhenti pada seremoni. Dalam kehidupan sehari-hari, kebebasan berpendapat masih berhadapan dengan stigma, tekanan, dan saling melaporkan. Kekayaan pun tidak selalu dibangun dari kerja yang adil, tetapi tidak jarang tumbuh dari keringat orang lain. Ketimpangan juga masih sangat nyata.

Perokok Indonesia Belum Merdeka

Dalam konteks rokok, persoalan ini terasa semakin nyata. Perokok tetap menjadi bagian dari masyarakat dan ikut berkontribusi terhadap penerimaan negara, tetapi pada saat yang sama terus berhadapan dengan stigma dan berbagai bentuk pembatasan. Bahkan tidak jarang mengalami kriminalisasi.

Lebih jauh lagi, perokok sering kali menjadi kambing hitam atas berbagai persoalan. Mulai dari ekonomi, kesehatan, hingga moraitas. Seolah perokok adalah pelaku kriminal. Padahal merokok adalah sebuah pilihan bagi setiap orang dewasa.

Dan jelas, merokok adalah aktivitas legal yang dilindungi undang-undang. Jika pilihan seseorang terus diperlakukan sebagai sesuatu yang harus dikendalikan, dibatasi, maka kita harus bertanya dimana sebenarnya letak kemerdekaannya?

Kemerdekaan Yang Mengancam Petani Dan Buruh

Pertanyaan tentang refleksi kemerdekaan tidak berhenti pada kebebasan individu. Ia juga menyangkut kemampuan sebuah bangsa untuk menentukan apa yang tumbuh dari tanahnya sendiri. Kretek adalah salah satu contohnya. Ia bukan produk yang datang sebagai warisan bangsa lain, tetapi lahir dan berkembang dari perjalanan masyarakat Indonesia. Dari kebiasaan masyarakat hingga industri yang besar, kretek telah menjadi bagian dari sejarah ekonomi dan budaya negeri ini.

Di balik sebatang kretek, ada rantai kehidupan dan ekonomi yang panjang. Ada petani tembakau yang menunggu musim panen, buruh petik, buruh mepe, buruh ngrajang, pekerja pabrik, pedagang, hingga warung kecil yang ikut menggerakkan perputaran uang di masyarakat. Di banyak daerah, kretek juga hadir dalam kehidupan sosial dan tradisi masyarakat. Karena itu, membicarakan keberadaan kretek berarti membicarakan manusia dan kehidupan ekonomi yang tumbuh bersamanya.

Katanya Merdeka Tapi Tidak Berdaulat

Kita perlu mempertanyakan kedaulatan negara. Saat apa yang tumbuh dari hasil kecerdasan manusianya justru dengan legowo manut pihak asing. Masalahnya muncul ketika industri yang sudah tumbuh dan menghidupi begitu banyak orang semakin banyak dibatasi oleh regulasi asing. Setiap kebijakan yang mempersempit ruang bagi kretek pada akhirnya tidak hanya berdampak pada perusahaan besar.

Dampaknya langsung sampai ke petani, buruh, pedagang, dan keluarga yang penghasilannya bergantung pada rantai industri tersebut. Padahal industri hasil tembakau selama bertahun-tahun juga menjadi salah satu sumber penerimaan negara yang besar.

Di tengah situasi tersebut, perusahaan multinasional justru memiliki posisi yang kuat dalam industri tembakau Indonesia. Nama seperti Philip Morris dan BAT bukan lagi pemain dari luar yang sekadar melihat pasar Indonesia, tetapi telah memiliki kepentingan dan kepemilikan di dalam industri nasional. Di sinilah kita perlu bertanya lebih jauh: ketika industri lokal semakin ditekan, sementara modal besar tetap memiliki ruang untuk menguasai pasar, siapa sebenarnya yang sedang mendapatkan keuntungan?

Pola perebutan pengaruh seperti ini bukan sesuatu yang sepenuhnya baru. Pada masa kolonial, devide at impera digunakan untuk melemahkan masyarakat dan mempermudah penguasaan sumber daya. Hari ini bentuknya mungkin tidak lagi berupa pasukan dan kekerasan, tetapi dapat hadir melalui kepentingan ekonomi, aturan, dan narasi yang membuat masyarakat saling berhadapan. Sementara itu, kepemilikan dan kendali atas pasar perlahan berpindah tangan kepada kekuatan asing. Kita menjadi budak rumah sendiri.

Menagih Kedaulatan Bangsa

Karena itu, di usia 81 tahun, mungkin kemerdekaan perlu kita refleksikan kembali. Merdeka bukan hanya bebas mengibarkan bendera atau menggelar perayaan setiap Agustus. Merdeka juga berarti memiliki ruang untuk menentukan pilihan, mempertahankan pekerjaan, mengembangkan industri sendiri, dan menjaga kebudayaan yang lahir dari masyarakat. Kretek adalah salah satu bagian dari perjalanan itu. Mempertahankannya bukan sekadar mempertahankan sebuah produk, tetapi mempertanyakan satu hal yang lebih besar: apakah kita benar-benar berdaulat atas apa yang tumbuh dan hidup di negeri sendiri? Kemerdekaan kretek adalah kemerdekaan bangsa

Artikel Lain