Sebagai manusia, kita adalah makhluk sosial yang seringkali membutuhkan orang lain untuk bertahan hidup. Seringkali saya menjumpai korek api sebagai alat untuk pemecah kecanggungan dan penyambung tali silaturahmi.
Daftar Isi
ToggleBagi saya, korek api adalah salah satu “senjata” yang paling bisa diandalkan. Bagaimana tidak, saya seringkali membutuhkan korek api untuk membakar rokok, memotong tali rafia, dan membakar lilin saat keadaan mati listrik. Barang sekecil itu bisa menjadi barang yang multi-fungsional.
Ada banyak hal yang bisa digantungkan terhadap korek api, makanya saya sering berpikir.
“Apa jadinya dunia ini apabila tidak ada korek api?”
Saya sungguh bersyukur dan berterima kasih kepada sang penemu korek api, karena barang sekecil ini bisa memiliki banyak manfaat baik untuk hajat hidup orang banyak.
Korek Api Menjadi Pintu Pembuka Sosialisasi
Tapi ada hal lain yang tak kalah penting, yakni untuk bersosialisasi. Bayangkan kamu sedang melakukan perjalanan darat dari Jakarta menuju Jogja, lalu bus yang kamu tumpangi sedang berhenti di rest area untuk melakukan service makan. Ada spare waktu kurang lebih 45 menit yang diberikan oleh kru bus untuk makan.
Setelah mengenyangkan perut, biasanya penumpang lain akan melakukan hal lain, seperti: pergi ke toilet, membeli jajanan, atau sekedar menunggu di depan bus. Ada juga yang merokok di sekitaran bus, sembari menunggu penumpang lain naik ke bus. Dikala itu, pasti ada saja penumpang yang ingin merokok, namun tidak memiliki korek api.
Disaat saya sedang membakar rokok SKT yang saya bawa, ada penumpang lain yang menghampiri saya.
“Mas, boleh pinjam korek?” Ujarnya.
Tanpa berpikir lama, saya-pun meminjamkan korek padanya. Setelah korek dibakar dan asapnya dihembuskan, akhirnya korek itu dikembalikan kepada saya.
“Makasih, Mas,” ujarnya, sambil melanjutkan hisapan rokok yang telah ia bakar.
Alih-alih hanya berdiam diri, akhirnya penumpang tersebut membuka topik dengan menanyakan tujuan saya. Dari hal sekecil meminjamkan korek api, kami pun saling mengobrol satu sama lain.
Dari Basa-Basi Pinjam Korek, Berakhir Deep Talk
Kadang, semesta ngasih pelajaran hidup lewat orang-orang random yang kita temuin di jalan. Sesaat saya meminjamkan korek kepada penumpang tersebut, akhirnya ia bercerita mengenai pengalaman hidup dirinya.
“Saya rutin pulang buat nengok ibu saya,” ujarnya sembari menghisap satu botong rokok mild itu.
Kerasnya hidup membuat dirinya ingin terus berjuang demi ibunya yang berada di kampung halaman. Saya pun turut mendengarkan dengan seksama sembari menghisap satu batang SKT. Selain itu, kami pun juga turut mengobrol tentang hal lainnya, seperti membandingkan fasilitas bus dengan perusahaan bus lainnya.
Suasana pun berubah, dari yang awalnya tegang menjadi cair, karena satu barang: korek api.
Modus Pinjam Korek Menjadi Cerita Lucu di Tongkrongan
Tak hanya menjadi barang andalan, korek api juga bisa menjadi satu cerita yang lucu setiap kali berkumpul bersama teman. Ketika sekelompok orang berkumpul di satu meja dan saling berhadapan dan ada satu korek api yang terlihat di meja tongkrongan.
“Korek, korek korek…” Ujan teman saya dengan nada bercanda.
Dengan berhembusnya asap yang ada di cafe saat itu, cerita beratnya hidup pun mulai berangsur disampaikan. Ada yang mendengarkan sambil bermain handphone, ada yang mendengarkan dengan seksama, ada juga yang menanggapinya dengan lelucon.
“Hidup tuh dibawa enjoy aja, men…” Ujan teman saya ketika sedang bercerita mengenai situasinya di kantor.
Namun, di balik cerita dan lelucon yang dilontarkan, ada satu aturan tak tertulis saat nongkrong: Korek ini adalah milik kita. Tapi dari aturan tersebut, ada aturan lain yang membayangi: Jaga korekmu. Karena kepemilikan korek sudah menjadi kabur saat di tongkrongan, bisa saja korek itu berganti KK (Kartu Keluarga).
Hal itu menjadi suasana lucu apabila korek yang awalnya milik sendiri, menjadi milik orang lain. Karena pelaku curanrek tidak bisa dihindari ketika sedang berkumpul. Pasti ada saja yang membawa korek kawannya untuk dijadikan sebagai bahan koleksi. Bikin kesel sih, tapi pada akhirnya, drama rebutan korek inilah yang sering jadi bahan ketawaan dan bikin tongkrongan tetap hidup.
Penulis: Aderifqi Dian Maulana
BACA JUGA: Tiga Merek Korek Api yang Paling Sering Digunakan Perokok





