\n

Cerita situasi dan kondisi Bahtsul Masail, diapresiasi dan diinterpretasikan Kiai\/Ulama\u2019Kudus lebih kontekstual, salah satunya KH. Fatkhur Rahman, beliau bercerita;  saat KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) populer dengan sebutan Mbah Tur memimpin munadzoroh<\/em> ada pertanyaan: bagaimana hukumnya kretek? Mbah Tur malah mengambil kretek, menyulut dan menghisapnya, dengan begitu diasumsikan hukumnya \u201chalal\u201d (jadi  setelah itu sudah tidak perlu dibahas lagi soal kretek). KH. Fatkhur Rahman juga menceritakan ada satu alasan kuat, mengapa halal, karena para Kiai itu tidak mau barang subhat<\/em> (tidak jelas posisinya), apalagi haram. Ketika para Kiai\/Ulama\u2019 besar menghisap kretek, otomatis tidak haram. Tuhan menciptakan sesuatu untuk dinikmati itu ada dua, halal atau haram. <\/p>\n\n\n\n

Dasar hukum menghisap kretek adalah mubah, sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang menjadi wajib, juga menjadi haram. Dasar utamanya adalah  \u201cla dhororo wala dhiroro\u201d. <\/em>Hukumnya seperti  mengkonsumsi gula, ketika kena penyakit gula, maka haram atau tidak boleh mengkonsumsi gula. Begitu pula ketika punya darah tinggi, maka tidak boleh makan daging, dan seterusnya. Dimana \u201calhukmu yadurru ma\u2019a illatihi\u201d<\/em>(hukum itu bisa beralih tergantung alasannya). Membeli kretek dihukumi tidak boleh (haram), jika uang yang dipakai semestinya untuk belanja kebutuhan pokok, membayar sekolah dan lain sebagainya. Menghisap kretek menjadi wajib, ketika tidak menghisap sulit berpikir, lemas, tidak bisa kerja dan lain sebagainya.
<\/p>\n","post_title":"Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fenomena-hukum-rokok-bagi-ulama-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-10 10:37:16","post_modified_gmt":"2019-04-10 03:37:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5621","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

Paling Populer

\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cerita situasi dan kondisi Bahtsul Masail, diapresiasi dan diinterpretasikan Kiai\/Ulama\u2019Kudus lebih kontekstual, salah satunya KH. Fatkhur Rahman, beliau bercerita;  saat KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) populer dengan sebutan Mbah Tur memimpin munadzoroh<\/em> ada pertanyaan: bagaimana hukumnya kretek? Mbah Tur malah mengambil kretek, menyulut dan menghisapnya, dengan begitu diasumsikan hukumnya \u201chalal\u201d (jadi  setelah itu sudah tidak perlu dibahas lagi soal kretek). KH. Fatkhur Rahman juga menceritakan ada satu alasan kuat, mengapa halal, karena para Kiai itu tidak mau barang subhat<\/em> (tidak jelas posisinya), apalagi haram. Ketika para Kiai\/Ulama\u2019 besar menghisap kretek, otomatis tidak haram. Tuhan menciptakan sesuatu untuk dinikmati itu ada dua, halal atau haram. <\/p>\n\n\n\n

Dasar hukum menghisap kretek adalah mubah, sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang menjadi wajib, juga menjadi haram. Dasar utamanya adalah  \u201cla dhororo wala dhiroro\u201d. <\/em>Hukumnya seperti  mengkonsumsi gula, ketika kena penyakit gula, maka haram atau tidak boleh mengkonsumsi gula. Begitu pula ketika punya darah tinggi, maka tidak boleh makan daging, dan seterusnya. Dimana \u201calhukmu yadurru ma\u2019a illatihi\u201d<\/em>(hukum itu bisa beralih tergantung alasannya). Membeli kretek dihukumi tidak boleh (haram), jika uang yang dipakai semestinya untuk belanja kebutuhan pokok, membayar sekolah dan lain sebagainya. Menghisap kretek menjadi wajib, ketika tidak menghisap sulit berpikir, lemas, tidak bisa kerja dan lain sebagainya.
<\/p>\n","post_title":"Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fenomena-hukum-rokok-bagi-ulama-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-10 10:37:16","post_modified_gmt":"2019-04-10 03:37:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5621","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

Paling Populer

\n

Dilihat dari putusan Bahtsul Masail di atas, pada awalnya menghisap kretek dihukumi \u201cboleh\u201d, namun dengan kondisi tertentu menjadi \u201cWajib\u201d. Cerita penetapan hukum menghisap kretek dalam forum Bahtsul Masail di atas, telah menyebar di kalangan masyarakat Kudus, dan menjadi konsumsi publik, serta bersifat mengikat sampai sekarang. Sehingga banyak Kiai\/Ulama\u2019 Kudus tidak mempersoalkan lagi, apalagi membahas kembali. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cerita situasi dan kondisi Bahtsul Masail, diapresiasi dan diinterpretasikan Kiai\/Ulama\u2019Kudus lebih kontekstual, salah satunya KH. Fatkhur Rahman, beliau bercerita;  saat KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) populer dengan sebutan Mbah Tur memimpin munadzoroh<\/em> ada pertanyaan: bagaimana hukumnya kretek? Mbah Tur malah mengambil kretek, menyulut dan menghisapnya, dengan begitu diasumsikan hukumnya \u201chalal\u201d (jadi  setelah itu sudah tidak perlu dibahas lagi soal kretek). KH. Fatkhur Rahman juga menceritakan ada satu alasan kuat, mengapa halal, karena para Kiai itu tidak mau barang subhat<\/em> (tidak jelas posisinya), apalagi haram. Ketika para Kiai\/Ulama\u2019 besar menghisap kretek, otomatis tidak haram. Tuhan menciptakan sesuatu untuk dinikmati itu ada dua, halal atau haram. <\/p>\n\n\n\n

Dasar hukum menghisap kretek adalah mubah, sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang menjadi wajib, juga menjadi haram. Dasar utamanya adalah  \u201cla dhororo wala dhiroro\u201d. <\/em>Hukumnya seperti  mengkonsumsi gula, ketika kena penyakit gula, maka haram atau tidak boleh mengkonsumsi gula. Begitu pula ketika punya darah tinggi, maka tidak boleh makan daging, dan seterusnya. Dimana \u201calhukmu yadurru ma\u2019a illatihi\u201d<\/em>(hukum itu bisa beralih tergantung alasannya). Membeli kretek dihukumi tidak boleh (haram), jika uang yang dipakai semestinya untuk belanja kebutuhan pokok, membayar sekolah dan lain sebagainya. Menghisap kretek menjadi wajib, ketika tidak menghisap sulit berpikir, lemas, tidak bisa kerja dan lain sebagainya.
<\/p>\n","post_title":"Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fenomena-hukum-rokok-bagi-ulama-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-10 10:37:16","post_modified_gmt":"2019-04-10 03:37:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5621","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

Paling Populer

\n

Mungkin di benak para hadirin terlintas pikiran \u201capa yang dibahas sudah dijawab secara tersirat oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) dengan menghisap kretek\u201d. Pada akhirnya, pembahasan tetap dilaksanakan. Diceritakan KH. Sya\u2019roni juga, situasi saat itu tidak ada Kiai\/Ulama\u2019 yang hadir menghukumi \u201charam\u201d, pada akhirnya diputuskan KH. Turaikhan, dengan hukum \u201c boleh\u201d, disela-sela KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) memberikan penjelasan, ada salah satu hadirin mengacungkan jarinya, beliau adalah KH. Hambali (Al Maghfurlah), sambil berkata; \u201ckulo Kiai, menawi boten udud kulo mboten saget mucal\u201d (saya Kiai, kalau tidak sambil menghisap kretek, saya tidak dapat mengajar), disertai argumen dan penjelasanannya. Kemudian KH. Turaikhan, memberikan jawaban dan tanggapan kepada KH. Hambali, \u201cnek ngono, kanggo kuwi hukumi wajib\u201d (kalau begitu, untuk kamu hukumnya wajib mengkonsumsi kretek).  <\/p>\n\n\n\n

Dilihat dari putusan Bahtsul Masail di atas, pada awalnya menghisap kretek dihukumi \u201cboleh\u201d, namun dengan kondisi tertentu menjadi \u201cWajib\u201d. Cerita penetapan hukum menghisap kretek dalam forum Bahtsul Masail di atas, telah menyebar di kalangan masyarakat Kudus, dan menjadi konsumsi publik, serta bersifat mengikat sampai sekarang. Sehingga banyak Kiai\/Ulama\u2019 Kudus tidak mempersoalkan lagi, apalagi membahas kembali. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cerita situasi dan kondisi Bahtsul Masail, diapresiasi dan diinterpretasikan Kiai\/Ulama\u2019Kudus lebih kontekstual, salah satunya KH. Fatkhur Rahman, beliau bercerita;  saat KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) populer dengan sebutan Mbah Tur memimpin munadzoroh<\/em> ada pertanyaan: bagaimana hukumnya kretek? Mbah Tur malah mengambil kretek, menyulut dan menghisapnya, dengan begitu diasumsikan hukumnya \u201chalal\u201d (jadi  setelah itu sudah tidak perlu dibahas lagi soal kretek). KH. Fatkhur Rahman juga menceritakan ada satu alasan kuat, mengapa halal, karena para Kiai itu tidak mau barang subhat<\/em> (tidak jelas posisinya), apalagi haram. Ketika para Kiai\/Ulama\u2019 besar menghisap kretek, otomatis tidak haram. Tuhan menciptakan sesuatu untuk dinikmati itu ada dua, halal atau haram. <\/p>\n\n\n\n

Dasar hukum menghisap kretek adalah mubah, sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang menjadi wajib, juga menjadi haram. Dasar utamanya adalah  \u201cla dhororo wala dhiroro\u201d. <\/em>Hukumnya seperti  mengkonsumsi gula, ketika kena penyakit gula, maka haram atau tidak boleh mengkonsumsi gula. Begitu pula ketika punya darah tinggi, maka tidak boleh makan daging, dan seterusnya. Dimana \u201calhukmu yadurru ma\u2019a illatihi\u201d<\/em>(hukum itu bisa beralih tergantung alasannya). Membeli kretek dihukumi tidak boleh (haram), jika uang yang dipakai semestinya untuk belanja kebutuhan pokok, membayar sekolah dan lain sebagainya. Menghisap kretek menjadi wajib, ketika tidak menghisap sulit berpikir, lemas, tidak bisa kerja dan lain sebagainya.
<\/p>\n","post_title":"Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fenomena-hukum-rokok-bagi-ulama-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-10 10:37:16","post_modified_gmt":"2019-04-10 03:37:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5621","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

Paling Populer

\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mungkin di benak para hadirin terlintas pikiran \u201capa yang dibahas sudah dijawab secara tersirat oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) dengan menghisap kretek\u201d. Pada akhirnya, pembahasan tetap dilaksanakan. Diceritakan KH. Sya\u2019roni juga, situasi saat itu tidak ada Kiai\/Ulama\u2019 yang hadir menghukumi \u201charam\u201d, pada akhirnya diputuskan KH. Turaikhan, dengan hukum \u201c boleh\u201d, disela-sela KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) memberikan penjelasan, ada salah satu hadirin mengacungkan jarinya, beliau adalah KH. Hambali (Al Maghfurlah), sambil berkata; \u201ckulo Kiai, menawi boten udud kulo mboten saget mucal\u201d (saya Kiai, kalau tidak sambil menghisap kretek, saya tidak dapat mengajar), disertai argumen dan penjelasanannya. Kemudian KH. Turaikhan, memberikan jawaban dan tanggapan kepada KH. Hambali, \u201cnek ngono, kanggo kuwi hukumi wajib\u201d (kalau begitu, untuk kamu hukumnya wajib mengkonsumsi kretek).  <\/p>\n\n\n\n

Dilihat dari putusan Bahtsul Masail di atas, pada awalnya menghisap kretek dihukumi \u201cboleh\u201d, namun dengan kondisi tertentu menjadi \u201cWajib\u201d. Cerita penetapan hukum menghisap kretek dalam forum Bahtsul Masail di atas, telah menyebar di kalangan masyarakat Kudus, dan menjadi konsumsi publik, serta bersifat mengikat sampai sekarang. Sehingga banyak Kiai\/Ulama\u2019 Kudus tidak mempersoalkan lagi, apalagi membahas kembali. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cerita situasi dan kondisi Bahtsul Masail, diapresiasi dan diinterpretasikan Kiai\/Ulama\u2019Kudus lebih kontekstual, salah satunya KH. Fatkhur Rahman, beliau bercerita;  saat KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) populer dengan sebutan Mbah Tur memimpin munadzoroh<\/em> ada pertanyaan: bagaimana hukumnya kretek? Mbah Tur malah mengambil kretek, menyulut dan menghisapnya, dengan begitu diasumsikan hukumnya \u201chalal\u201d (jadi  setelah itu sudah tidak perlu dibahas lagi soal kretek). KH. Fatkhur Rahman juga menceritakan ada satu alasan kuat, mengapa halal, karena para Kiai itu tidak mau barang subhat<\/em> (tidak jelas posisinya), apalagi haram. Ketika para Kiai\/Ulama\u2019 besar menghisap kretek, otomatis tidak haram. Tuhan menciptakan sesuatu untuk dinikmati itu ada dua, halal atau haram. <\/p>\n\n\n\n

Dasar hukum menghisap kretek adalah mubah, sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang menjadi wajib, juga menjadi haram. Dasar utamanya adalah  \u201cla dhororo wala dhiroro\u201d. <\/em>Hukumnya seperti  mengkonsumsi gula, ketika kena penyakit gula, maka haram atau tidak boleh mengkonsumsi gula. Begitu pula ketika punya darah tinggi, maka tidak boleh makan daging, dan seterusnya. Dimana \u201calhukmu yadurru ma\u2019a illatihi\u201d<\/em>(hukum itu bisa beralih tergantung alasannya). Membeli kretek dihukumi tidak boleh (haram), jika uang yang dipakai semestinya untuk belanja kebutuhan pokok, membayar sekolah dan lain sebagainya. Menghisap kretek menjadi wajib, ketika tidak menghisap sulit berpikir, lemas, tidak bisa kerja dan lain sebagainya.
<\/p>\n","post_title":"Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fenomena-hukum-rokok-bagi-ulama-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-10 10:37:16","post_modified_gmt":"2019-04-10 03:37:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5621","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

Paling Populer

\n

Sebelum memulai pembahasan biasanya KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menanyakan tentang apa yang akan dibahas. Diceritakan oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi, situasi dan kondisi saat itu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), bertanya di forum, \u00a0\u201copo iki takonane?\u201d (pertanyaannya apa), di jawab yang hadir saat itu, \u201c anu Mbah bab kretek\u201d (itu bab menghisap kretek), lalu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menyambung jawaban hadirin, \u201coooo, bab kretek, kretekku gowo rene dikik\u201d (ooo, bab menghisap kretek, kretekku bawa kemari dulu), kemudian KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) mengambil satu batang kretek dari bungkusnya disulut dan dihisap. Selesai menyulut kretek, kembali KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) berbicara, \u201cwes kono dibahas\u201d (sudah sana dibahas). Setelah diperintahkan untuk dibahas, suasana hening sejenak. \u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mungkin di benak para hadirin terlintas pikiran \u201capa yang dibahas sudah dijawab secara tersirat oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) dengan menghisap kretek\u201d. Pada akhirnya, pembahasan tetap dilaksanakan. Diceritakan KH. Sya\u2019roni juga, situasi saat itu tidak ada Kiai\/Ulama\u2019 yang hadir menghukumi \u201charam\u201d, pada akhirnya diputuskan KH. Turaikhan, dengan hukum \u201c boleh\u201d, disela-sela KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) memberikan penjelasan, ada salah satu hadirin mengacungkan jarinya, beliau adalah KH. Hambali (Al Maghfurlah), sambil berkata; \u201ckulo Kiai, menawi boten udud kulo mboten saget mucal\u201d (saya Kiai, kalau tidak sambil menghisap kretek, saya tidak dapat mengajar), disertai argumen dan penjelasanannya. Kemudian KH. Turaikhan, memberikan jawaban dan tanggapan kepada KH. Hambali, \u201cnek ngono, kanggo kuwi hukumi wajib\u201d (kalau begitu, untuk kamu hukumnya wajib mengkonsumsi kretek).  <\/p>\n\n\n\n

Dilihat dari putusan Bahtsul Masail di atas, pada awalnya menghisap kretek dihukumi \u201cboleh\u201d, namun dengan kondisi tertentu menjadi \u201cWajib\u201d. Cerita penetapan hukum menghisap kretek dalam forum Bahtsul Masail di atas, telah menyebar di kalangan masyarakat Kudus, dan menjadi konsumsi publik, serta bersifat mengikat sampai sekarang. Sehingga banyak Kiai\/Ulama\u2019 Kudus tidak mempersoalkan lagi, apalagi membahas kembali. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cerita situasi dan kondisi Bahtsul Masail, diapresiasi dan diinterpretasikan Kiai\/Ulama\u2019Kudus lebih kontekstual, salah satunya KH. Fatkhur Rahman, beliau bercerita;  saat KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) populer dengan sebutan Mbah Tur memimpin munadzoroh<\/em> ada pertanyaan: bagaimana hukumnya kretek? Mbah Tur malah mengambil kretek, menyulut dan menghisapnya, dengan begitu diasumsikan hukumnya \u201chalal\u201d (jadi  setelah itu sudah tidak perlu dibahas lagi soal kretek). KH. Fatkhur Rahman juga menceritakan ada satu alasan kuat, mengapa halal, karena para Kiai itu tidak mau barang subhat<\/em> (tidak jelas posisinya), apalagi haram. Ketika para Kiai\/Ulama\u2019 besar menghisap kretek, otomatis tidak haram. Tuhan menciptakan sesuatu untuk dinikmati itu ada dua, halal atau haram. <\/p>\n\n\n\n

Dasar hukum menghisap kretek adalah mubah, sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang menjadi wajib, juga menjadi haram. Dasar utamanya adalah  \u201cla dhororo wala dhiroro\u201d. <\/em>Hukumnya seperti  mengkonsumsi gula, ketika kena penyakit gula, maka haram atau tidak boleh mengkonsumsi gula. Begitu pula ketika punya darah tinggi, maka tidak boleh makan daging, dan seterusnya. Dimana \u201calhukmu yadurru ma\u2019a illatihi\u201d<\/em>(hukum itu bisa beralih tergantung alasannya). Membeli kretek dihukumi tidak boleh (haram), jika uang yang dipakai semestinya untuk belanja kebutuhan pokok, membayar sekolah dan lain sebagainya. Menghisap kretek menjadi wajib, ketika tidak menghisap sulit berpikir, lemas, tidak bisa kerja dan lain sebagainya.
<\/p>\n","post_title":"Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fenomena-hukum-rokok-bagi-ulama-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-10 10:37:16","post_modified_gmt":"2019-04-10 03:37:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5621","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

Paling Populer

\n

\u201ckados pundi hukumipun ngkretek (bagaimana hukum menghisap kretek)?\u201d<\/em>--pertanyaan dari<\/em> Baletengahan--<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sebelum memulai pembahasan biasanya KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menanyakan tentang apa yang akan dibahas. Diceritakan oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi, situasi dan kondisi saat itu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), bertanya di forum, \u00a0\u201copo iki takonane?\u201d (pertanyaannya apa), di jawab yang hadir saat itu, \u201c anu Mbah bab kretek\u201d (itu bab menghisap kretek), lalu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menyambung jawaban hadirin, \u201coooo, bab kretek, kretekku gowo rene dikik\u201d (ooo, bab menghisap kretek, kretekku bawa kemari dulu), kemudian KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) mengambil satu batang kretek dari bungkusnya disulut dan dihisap. Selesai menyulut kretek, kembali KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) berbicara, \u201cwes kono dibahas\u201d (sudah sana dibahas). Setelah diperintahkan untuk dibahas, suasana hening sejenak. \u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mungkin di benak para hadirin terlintas pikiran \u201capa yang dibahas sudah dijawab secara tersirat oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) dengan menghisap kretek\u201d. Pada akhirnya, pembahasan tetap dilaksanakan. Diceritakan KH. Sya\u2019roni juga, situasi saat itu tidak ada Kiai\/Ulama\u2019 yang hadir menghukumi \u201charam\u201d, pada akhirnya diputuskan KH. Turaikhan, dengan hukum \u201c boleh\u201d, disela-sela KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) memberikan penjelasan, ada salah satu hadirin mengacungkan jarinya, beliau adalah KH. Hambali (Al Maghfurlah), sambil berkata; \u201ckulo Kiai, menawi boten udud kulo mboten saget mucal\u201d (saya Kiai, kalau tidak sambil menghisap kretek, saya tidak dapat mengajar), disertai argumen dan penjelasanannya. Kemudian KH. Turaikhan, memberikan jawaban dan tanggapan kepada KH. Hambali, \u201cnek ngono, kanggo kuwi hukumi wajib\u201d (kalau begitu, untuk kamu hukumnya wajib mengkonsumsi kretek).  <\/p>\n\n\n\n

Dilihat dari putusan Bahtsul Masail di atas, pada awalnya menghisap kretek dihukumi \u201cboleh\u201d, namun dengan kondisi tertentu menjadi \u201cWajib\u201d. Cerita penetapan hukum menghisap kretek dalam forum Bahtsul Masail di atas, telah menyebar di kalangan masyarakat Kudus, dan menjadi konsumsi publik, serta bersifat mengikat sampai sekarang. Sehingga banyak Kiai\/Ulama\u2019 Kudus tidak mempersoalkan lagi, apalagi membahas kembali. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cerita situasi dan kondisi Bahtsul Masail, diapresiasi dan diinterpretasikan Kiai\/Ulama\u2019Kudus lebih kontekstual, salah satunya KH. Fatkhur Rahman, beliau bercerita;  saat KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) populer dengan sebutan Mbah Tur memimpin munadzoroh<\/em> ada pertanyaan: bagaimana hukumnya kretek? Mbah Tur malah mengambil kretek, menyulut dan menghisapnya, dengan begitu diasumsikan hukumnya \u201chalal\u201d (jadi  setelah itu sudah tidak perlu dibahas lagi soal kretek). KH. Fatkhur Rahman juga menceritakan ada satu alasan kuat, mengapa halal, karena para Kiai itu tidak mau barang subhat<\/em> (tidak jelas posisinya), apalagi haram. Ketika para Kiai\/Ulama\u2019 besar menghisap kretek, otomatis tidak haram. Tuhan menciptakan sesuatu untuk dinikmati itu ada dua, halal atau haram. <\/p>\n\n\n\n

Dasar hukum menghisap kretek adalah mubah, sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang menjadi wajib, juga menjadi haram. Dasar utamanya adalah  \u201cla dhororo wala dhiroro\u201d. <\/em>Hukumnya seperti  mengkonsumsi gula, ketika kena penyakit gula, maka haram atau tidak boleh mengkonsumsi gula. Begitu pula ketika punya darah tinggi, maka tidak boleh makan daging, dan seterusnya. Dimana \u201calhukmu yadurru ma\u2019a illatihi\u201d<\/em>(hukum itu bisa beralih tergantung alasannya). Membeli kretek dihukumi tidak boleh (haram), jika uang yang dipakai semestinya untuk belanja kebutuhan pokok, membayar sekolah dan lain sebagainya. Menghisap kretek menjadi wajib, ketika tidak menghisap sulit berpikir, lemas, tidak bisa kerja dan lain sebagainya.
<\/p>\n","post_title":"Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fenomena-hukum-rokok-bagi-ulama-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-10 10:37:16","post_modified_gmt":"2019-04-10 03:37:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5621","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

Paling Populer

\n

Saat pembahasan mengenai kretek, bertempat di Masji al-Aqsho Menara Kudus yang dipimpin oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), redaksi pertanyaaannya adalah:<\/p>\n\n\n\n

\u201ckados pundi hukumipun ngkretek (bagaimana hukum menghisap kretek)?\u201d<\/em>--pertanyaan dari<\/em> Baletengahan--<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sebelum memulai pembahasan biasanya KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menanyakan tentang apa yang akan dibahas. Diceritakan oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi, situasi dan kondisi saat itu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), bertanya di forum, \u00a0\u201copo iki takonane?\u201d (pertanyaannya apa), di jawab yang hadir saat itu, \u201c anu Mbah bab kretek\u201d (itu bab menghisap kretek), lalu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menyambung jawaban hadirin, \u201coooo, bab kretek, kretekku gowo rene dikik\u201d (ooo, bab menghisap kretek, kretekku bawa kemari dulu), kemudian KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) mengambil satu batang kretek dari bungkusnya disulut dan dihisap. Selesai menyulut kretek, kembali KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) berbicara, \u201cwes kono dibahas\u201d (sudah sana dibahas). Setelah diperintahkan untuk dibahas, suasana hening sejenak. \u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mungkin di benak para hadirin terlintas pikiran \u201capa yang dibahas sudah dijawab secara tersirat oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) dengan menghisap kretek\u201d. Pada akhirnya, pembahasan tetap dilaksanakan. Diceritakan KH. Sya\u2019roni juga, situasi saat itu tidak ada Kiai\/Ulama\u2019 yang hadir menghukumi \u201charam\u201d, pada akhirnya diputuskan KH. Turaikhan, dengan hukum \u201c boleh\u201d, disela-sela KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) memberikan penjelasan, ada salah satu hadirin mengacungkan jarinya, beliau adalah KH. Hambali (Al Maghfurlah), sambil berkata; \u201ckulo Kiai, menawi boten udud kulo mboten saget mucal\u201d (saya Kiai, kalau tidak sambil menghisap kretek, saya tidak dapat mengajar), disertai argumen dan penjelasanannya. Kemudian KH. Turaikhan, memberikan jawaban dan tanggapan kepada KH. Hambali, \u201cnek ngono, kanggo kuwi hukumi wajib\u201d (kalau begitu, untuk kamu hukumnya wajib mengkonsumsi kretek).  <\/p>\n\n\n\n

Dilihat dari putusan Bahtsul Masail di atas, pada awalnya menghisap kretek dihukumi \u201cboleh\u201d, namun dengan kondisi tertentu menjadi \u201cWajib\u201d. Cerita penetapan hukum menghisap kretek dalam forum Bahtsul Masail di atas, telah menyebar di kalangan masyarakat Kudus, dan menjadi konsumsi publik, serta bersifat mengikat sampai sekarang. Sehingga banyak Kiai\/Ulama\u2019 Kudus tidak mempersoalkan lagi, apalagi membahas kembali. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cerita situasi dan kondisi Bahtsul Masail, diapresiasi dan diinterpretasikan Kiai\/Ulama\u2019Kudus lebih kontekstual, salah satunya KH. Fatkhur Rahman, beliau bercerita;  saat KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) populer dengan sebutan Mbah Tur memimpin munadzoroh<\/em> ada pertanyaan: bagaimana hukumnya kretek? Mbah Tur malah mengambil kretek, menyulut dan menghisapnya, dengan begitu diasumsikan hukumnya \u201chalal\u201d (jadi  setelah itu sudah tidak perlu dibahas lagi soal kretek). KH. Fatkhur Rahman juga menceritakan ada satu alasan kuat, mengapa halal, karena para Kiai itu tidak mau barang subhat<\/em> (tidak jelas posisinya), apalagi haram. Ketika para Kiai\/Ulama\u2019 besar menghisap kretek, otomatis tidak haram. Tuhan menciptakan sesuatu untuk dinikmati itu ada dua, halal atau haram. <\/p>\n\n\n\n

Dasar hukum menghisap kretek adalah mubah, sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang menjadi wajib, juga menjadi haram. Dasar utamanya adalah  \u201cla dhororo wala dhiroro\u201d. <\/em>Hukumnya seperti  mengkonsumsi gula, ketika kena penyakit gula, maka haram atau tidak boleh mengkonsumsi gula. Begitu pula ketika punya darah tinggi, maka tidak boleh makan daging, dan seterusnya. Dimana \u201calhukmu yadurru ma\u2019a illatihi\u201d<\/em>(hukum itu bisa beralih tergantung alasannya). Membeli kretek dihukumi tidak boleh (haram), jika uang yang dipakai semestinya untuk belanja kebutuhan pokok, membayar sekolah dan lain sebagainya. Menghisap kretek menjadi wajib, ketika tidak menghisap sulit berpikir, lemas, tidak bisa kerja dan lain sebagainya.
<\/p>\n","post_title":"Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fenomena-hukum-rokok-bagi-ulama-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-10 10:37:16","post_modified_gmt":"2019-04-10 03:37:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5621","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

Paling Populer

\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat pembahasan mengenai kretek, bertempat di Masji al-Aqsho Menara Kudus yang dipimpin oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), redaksi pertanyaaannya adalah:<\/p>\n\n\n\n

\u201ckados pundi hukumipun ngkretek (bagaimana hukum menghisap kretek)?\u201d<\/em>--pertanyaan dari<\/em> Baletengahan--<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sebelum memulai pembahasan biasanya KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menanyakan tentang apa yang akan dibahas. Diceritakan oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi, situasi dan kondisi saat itu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), bertanya di forum, \u00a0\u201copo iki takonane?\u201d (pertanyaannya apa), di jawab yang hadir saat itu, \u201c anu Mbah bab kretek\u201d (itu bab menghisap kretek), lalu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menyambung jawaban hadirin, \u201coooo, bab kretek, kretekku gowo rene dikik\u201d (ooo, bab menghisap kretek, kretekku bawa kemari dulu), kemudian KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) mengambil satu batang kretek dari bungkusnya disulut dan dihisap. Selesai menyulut kretek, kembali KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) berbicara, \u201cwes kono dibahas\u201d (sudah sana dibahas). Setelah diperintahkan untuk dibahas, suasana hening sejenak. \u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mungkin di benak para hadirin terlintas pikiran \u201capa yang dibahas sudah dijawab secara tersirat oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) dengan menghisap kretek\u201d. Pada akhirnya, pembahasan tetap dilaksanakan. Diceritakan KH. Sya\u2019roni juga, situasi saat itu tidak ada Kiai\/Ulama\u2019 yang hadir menghukumi \u201charam\u201d, pada akhirnya diputuskan KH. Turaikhan, dengan hukum \u201c boleh\u201d, disela-sela KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) memberikan penjelasan, ada salah satu hadirin mengacungkan jarinya, beliau adalah KH. Hambali (Al Maghfurlah), sambil berkata; \u201ckulo Kiai, menawi boten udud kulo mboten saget mucal\u201d (saya Kiai, kalau tidak sambil menghisap kretek, saya tidak dapat mengajar), disertai argumen dan penjelasanannya. Kemudian KH. Turaikhan, memberikan jawaban dan tanggapan kepada KH. Hambali, \u201cnek ngono, kanggo kuwi hukumi wajib\u201d (kalau begitu, untuk kamu hukumnya wajib mengkonsumsi kretek).  <\/p>\n\n\n\n

Dilihat dari putusan Bahtsul Masail di atas, pada awalnya menghisap kretek dihukumi \u201cboleh\u201d, namun dengan kondisi tertentu menjadi \u201cWajib\u201d. Cerita penetapan hukum menghisap kretek dalam forum Bahtsul Masail di atas, telah menyebar di kalangan masyarakat Kudus, dan menjadi konsumsi publik, serta bersifat mengikat sampai sekarang. Sehingga banyak Kiai\/Ulama\u2019 Kudus tidak mempersoalkan lagi, apalagi membahas kembali. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cerita situasi dan kondisi Bahtsul Masail, diapresiasi dan diinterpretasikan Kiai\/Ulama\u2019Kudus lebih kontekstual, salah satunya KH. Fatkhur Rahman, beliau bercerita;  saat KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) populer dengan sebutan Mbah Tur memimpin munadzoroh<\/em> ada pertanyaan: bagaimana hukumnya kretek? Mbah Tur malah mengambil kretek, menyulut dan menghisapnya, dengan begitu diasumsikan hukumnya \u201chalal\u201d (jadi  setelah itu sudah tidak perlu dibahas lagi soal kretek). KH. Fatkhur Rahman juga menceritakan ada satu alasan kuat, mengapa halal, karena para Kiai itu tidak mau barang subhat<\/em> (tidak jelas posisinya), apalagi haram. Ketika para Kiai\/Ulama\u2019 besar menghisap kretek, otomatis tidak haram. Tuhan menciptakan sesuatu untuk dinikmati itu ada dua, halal atau haram. <\/p>\n\n\n\n

Dasar hukum menghisap kretek adalah mubah, sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang menjadi wajib, juga menjadi haram. Dasar utamanya adalah  \u201cla dhororo wala dhiroro\u201d. <\/em>Hukumnya seperti  mengkonsumsi gula, ketika kena penyakit gula, maka haram atau tidak boleh mengkonsumsi gula. Begitu pula ketika punya darah tinggi, maka tidak boleh makan daging, dan seterusnya. Dimana \u201calhukmu yadurru ma\u2019a illatihi\u201d<\/em>(hukum itu bisa beralih tergantung alasannya). Membeli kretek dihukumi tidak boleh (haram), jika uang yang dipakai semestinya untuk belanja kebutuhan pokok, membayar sekolah dan lain sebagainya. Menghisap kretek menjadi wajib, ketika tidak menghisap sulit berpikir, lemas, tidak bisa kerja dan lain sebagainya.
<\/p>\n","post_title":"Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fenomena-hukum-rokok-bagi-ulama-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-10 10:37:16","post_modified_gmt":"2019-04-10 03:37:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5621","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

Paling Populer

\n

Tradisi Bahtsul Masail biasa disebut \u201cMunadzoroh<\/em>\u201d sudah lama dilakukan para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, dengan bertempat di Masjid-masjid di sekitar Kudus, bergantian dan memutar. Peserta munadzoroh<\/em> adalah para Kiai\/Ulama\u2019 se-Kabupaten Kudus dari berbagai penjuru desa, dan juga masyarakat umum, karena sifatnya terbuka (siapa saja boleh ikut tanpa terkecuali). Pelaksanaannya dari dulu hingga sekarang dijatuhkan pada hari Ahad (minggu). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat pembahasan mengenai kretek, bertempat di Masji al-Aqsho Menara Kudus yang dipimpin oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), redaksi pertanyaaannya adalah:<\/p>\n\n\n\n

\u201ckados pundi hukumipun ngkretek (bagaimana hukum menghisap kretek)?\u201d<\/em>--pertanyaan dari<\/em> Baletengahan--<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sebelum memulai pembahasan biasanya KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menanyakan tentang apa yang akan dibahas. Diceritakan oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi, situasi dan kondisi saat itu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), bertanya di forum, \u00a0\u201copo iki takonane?\u201d (pertanyaannya apa), di jawab yang hadir saat itu, \u201c anu Mbah bab kretek\u201d (itu bab menghisap kretek), lalu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menyambung jawaban hadirin, \u201coooo, bab kretek, kretekku gowo rene dikik\u201d (ooo, bab menghisap kretek, kretekku bawa kemari dulu), kemudian KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) mengambil satu batang kretek dari bungkusnya disulut dan dihisap. Selesai menyulut kretek, kembali KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) berbicara, \u201cwes kono dibahas\u201d (sudah sana dibahas). Setelah diperintahkan untuk dibahas, suasana hening sejenak. \u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mungkin di benak para hadirin terlintas pikiran \u201capa yang dibahas sudah dijawab secara tersirat oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) dengan menghisap kretek\u201d. Pada akhirnya, pembahasan tetap dilaksanakan. Diceritakan KH. Sya\u2019roni juga, situasi saat itu tidak ada Kiai\/Ulama\u2019 yang hadir menghukumi \u201charam\u201d, pada akhirnya diputuskan KH. Turaikhan, dengan hukum \u201c boleh\u201d, disela-sela KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) memberikan penjelasan, ada salah satu hadirin mengacungkan jarinya, beliau adalah KH. Hambali (Al Maghfurlah), sambil berkata; \u201ckulo Kiai, menawi boten udud kulo mboten saget mucal\u201d (saya Kiai, kalau tidak sambil menghisap kretek, saya tidak dapat mengajar), disertai argumen dan penjelasanannya. Kemudian KH. Turaikhan, memberikan jawaban dan tanggapan kepada KH. Hambali, \u201cnek ngono, kanggo kuwi hukumi wajib\u201d (kalau begitu, untuk kamu hukumnya wajib mengkonsumsi kretek).  <\/p>\n\n\n\n

Dilihat dari putusan Bahtsul Masail di atas, pada awalnya menghisap kretek dihukumi \u201cboleh\u201d, namun dengan kondisi tertentu menjadi \u201cWajib\u201d. Cerita penetapan hukum menghisap kretek dalam forum Bahtsul Masail di atas, telah menyebar di kalangan masyarakat Kudus, dan menjadi konsumsi publik, serta bersifat mengikat sampai sekarang. Sehingga banyak Kiai\/Ulama\u2019 Kudus tidak mempersoalkan lagi, apalagi membahas kembali. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cerita situasi dan kondisi Bahtsul Masail, diapresiasi dan diinterpretasikan Kiai\/Ulama\u2019Kudus lebih kontekstual, salah satunya KH. Fatkhur Rahman, beliau bercerita;  saat KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) populer dengan sebutan Mbah Tur memimpin munadzoroh<\/em> ada pertanyaan: bagaimana hukumnya kretek? Mbah Tur malah mengambil kretek, menyulut dan menghisapnya, dengan begitu diasumsikan hukumnya \u201chalal\u201d (jadi  setelah itu sudah tidak perlu dibahas lagi soal kretek). KH. Fatkhur Rahman juga menceritakan ada satu alasan kuat, mengapa halal, karena para Kiai itu tidak mau barang subhat<\/em> (tidak jelas posisinya), apalagi haram. Ketika para Kiai\/Ulama\u2019 besar menghisap kretek, otomatis tidak haram. Tuhan menciptakan sesuatu untuk dinikmati itu ada dua, halal atau haram. <\/p>\n\n\n\n

Dasar hukum menghisap kretek adalah mubah, sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang menjadi wajib, juga menjadi haram. Dasar utamanya adalah  \u201cla dhororo wala dhiroro\u201d. <\/em>Hukumnya seperti  mengkonsumsi gula, ketika kena penyakit gula, maka haram atau tidak boleh mengkonsumsi gula. Begitu pula ketika punya darah tinggi, maka tidak boleh makan daging, dan seterusnya. Dimana \u201calhukmu yadurru ma\u2019a illatihi\u201d<\/em>(hukum itu bisa beralih tergantung alasannya). Membeli kretek dihukumi tidak boleh (haram), jika uang yang dipakai semestinya untuk belanja kebutuhan pokok, membayar sekolah dan lain sebagainya. Menghisap kretek menjadi wajib, ketika tidak menghisap sulit berpikir, lemas, tidak bisa kerja dan lain sebagainya.
<\/p>\n","post_title":"Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fenomena-hukum-rokok-bagi-ulama-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-10 10:37:16","post_modified_gmt":"2019-04-10 03:37:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5621","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

Paling Populer

\n

Disini terlihat para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus mempunyai tradisi kritis menyikapi fenomena disekelilingnya. Sehingga wajar pada tahun 1990an muncul bahasan tentang kretek di Bahtsul Masail<\/em> para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, jauh mendahului keputusan MUI dan Muhammadiyyah hasil Padang Panjang, dilaksanakan tahun 2009-2010.<\/p>\n\n\n\n

Tradisi Bahtsul Masail biasa disebut \u201cMunadzoroh<\/em>\u201d sudah lama dilakukan para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, dengan bertempat di Masjid-masjid di sekitar Kudus, bergantian dan memutar. Peserta munadzoroh<\/em> adalah para Kiai\/Ulama\u2019 se-Kabupaten Kudus dari berbagai penjuru desa, dan juga masyarakat umum, karena sifatnya terbuka (siapa saja boleh ikut tanpa terkecuali). Pelaksanaannya dari dulu hingga sekarang dijatuhkan pada hari Ahad (minggu). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat pembahasan mengenai kretek, bertempat di Masji al-Aqsho Menara Kudus yang dipimpin oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), redaksi pertanyaaannya adalah:<\/p>\n\n\n\n

\u201ckados pundi hukumipun ngkretek (bagaimana hukum menghisap kretek)?\u201d<\/em>--pertanyaan dari<\/em> Baletengahan--<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sebelum memulai pembahasan biasanya KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menanyakan tentang apa yang akan dibahas. Diceritakan oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi, situasi dan kondisi saat itu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), bertanya di forum, \u00a0\u201copo iki takonane?\u201d (pertanyaannya apa), di jawab yang hadir saat itu, \u201c anu Mbah bab kretek\u201d (itu bab menghisap kretek), lalu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menyambung jawaban hadirin, \u201coooo, bab kretek, kretekku gowo rene dikik\u201d (ooo, bab menghisap kretek, kretekku bawa kemari dulu), kemudian KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) mengambil satu batang kretek dari bungkusnya disulut dan dihisap. Selesai menyulut kretek, kembali KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) berbicara, \u201cwes kono dibahas\u201d (sudah sana dibahas). Setelah diperintahkan untuk dibahas, suasana hening sejenak. \u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mungkin di benak para hadirin terlintas pikiran \u201capa yang dibahas sudah dijawab secara tersirat oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) dengan menghisap kretek\u201d. Pada akhirnya, pembahasan tetap dilaksanakan. Diceritakan KH. Sya\u2019roni juga, situasi saat itu tidak ada Kiai\/Ulama\u2019 yang hadir menghukumi \u201charam\u201d, pada akhirnya diputuskan KH. Turaikhan, dengan hukum \u201c boleh\u201d, disela-sela KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) memberikan penjelasan, ada salah satu hadirin mengacungkan jarinya, beliau adalah KH. Hambali (Al Maghfurlah), sambil berkata; \u201ckulo Kiai, menawi boten udud kulo mboten saget mucal\u201d (saya Kiai, kalau tidak sambil menghisap kretek, saya tidak dapat mengajar), disertai argumen dan penjelasanannya. Kemudian KH. Turaikhan, memberikan jawaban dan tanggapan kepada KH. Hambali, \u201cnek ngono, kanggo kuwi hukumi wajib\u201d (kalau begitu, untuk kamu hukumnya wajib mengkonsumsi kretek).  <\/p>\n\n\n\n

Dilihat dari putusan Bahtsul Masail di atas, pada awalnya menghisap kretek dihukumi \u201cboleh\u201d, namun dengan kondisi tertentu menjadi \u201cWajib\u201d. Cerita penetapan hukum menghisap kretek dalam forum Bahtsul Masail di atas, telah menyebar di kalangan masyarakat Kudus, dan menjadi konsumsi publik, serta bersifat mengikat sampai sekarang. Sehingga banyak Kiai\/Ulama\u2019 Kudus tidak mempersoalkan lagi, apalagi membahas kembali. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cerita situasi dan kondisi Bahtsul Masail, diapresiasi dan diinterpretasikan Kiai\/Ulama\u2019Kudus lebih kontekstual, salah satunya KH. Fatkhur Rahman, beliau bercerita;  saat KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) populer dengan sebutan Mbah Tur memimpin munadzoroh<\/em> ada pertanyaan: bagaimana hukumnya kretek? Mbah Tur malah mengambil kretek, menyulut dan menghisapnya, dengan begitu diasumsikan hukumnya \u201chalal\u201d (jadi  setelah itu sudah tidak perlu dibahas lagi soal kretek). KH. Fatkhur Rahman juga menceritakan ada satu alasan kuat, mengapa halal, karena para Kiai itu tidak mau barang subhat<\/em> (tidak jelas posisinya), apalagi haram. Ketika para Kiai\/Ulama\u2019 besar menghisap kretek, otomatis tidak haram. Tuhan menciptakan sesuatu untuk dinikmati itu ada dua, halal atau haram. <\/p>\n\n\n\n

Dasar hukum menghisap kretek adalah mubah, sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang menjadi wajib, juga menjadi haram. Dasar utamanya adalah  \u201cla dhororo wala dhiroro\u201d. <\/em>Hukumnya seperti  mengkonsumsi gula, ketika kena penyakit gula, maka haram atau tidak boleh mengkonsumsi gula. Begitu pula ketika punya darah tinggi, maka tidak boleh makan daging, dan seterusnya. Dimana \u201calhukmu yadurru ma\u2019a illatihi\u201d<\/em>(hukum itu bisa beralih tergantung alasannya). Membeli kretek dihukumi tidak boleh (haram), jika uang yang dipakai semestinya untuk belanja kebutuhan pokok, membayar sekolah dan lain sebagainya. Menghisap kretek menjadi wajib, ketika tidak menghisap sulit berpikir, lemas, tidak bisa kerja dan lain sebagainya.
<\/p>\n","post_title":"Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fenomena-hukum-rokok-bagi-ulama-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-10 10:37:16","post_modified_gmt":"2019-04-10 03:37:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5621","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

Paling Populer

\n

Lain halnya pesantren dan lembaga pendidikan, di sekitar Baletengahan Langgardalem, konon dahulu banyak usaha rumahan kretek. Petilasan yang masih dapat dijumpai di Langgardalem adalah \u201cgudang tembakau dan PR. Buah Cengkeh\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Disini terlihat para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus mempunyai tradisi kritis menyikapi fenomena disekelilingnya. Sehingga wajar pada tahun 1990an muncul bahasan tentang kretek di Bahtsul Masail<\/em> para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, jauh mendahului keputusan MUI dan Muhammadiyyah hasil Padang Panjang, dilaksanakan tahun 2009-2010.<\/p>\n\n\n\n

Tradisi Bahtsul Masail biasa disebut \u201cMunadzoroh<\/em>\u201d sudah lama dilakukan para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, dengan bertempat di Masjid-masjid di sekitar Kudus, bergantian dan memutar. Peserta munadzoroh<\/em> adalah para Kiai\/Ulama\u2019 se-Kabupaten Kudus dari berbagai penjuru desa, dan juga masyarakat umum, karena sifatnya terbuka (siapa saja boleh ikut tanpa terkecuali). Pelaksanaannya dari dulu hingga sekarang dijatuhkan pada hari Ahad (minggu). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat pembahasan mengenai kretek, bertempat di Masji al-Aqsho Menara Kudus yang dipimpin oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), redaksi pertanyaaannya adalah:<\/p>\n\n\n\n

\u201ckados pundi hukumipun ngkretek (bagaimana hukum menghisap kretek)?\u201d<\/em>--pertanyaan dari<\/em> Baletengahan--<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sebelum memulai pembahasan biasanya KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menanyakan tentang apa yang akan dibahas. Diceritakan oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi, situasi dan kondisi saat itu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), bertanya di forum, \u00a0\u201copo iki takonane?\u201d (pertanyaannya apa), di jawab yang hadir saat itu, \u201c anu Mbah bab kretek\u201d (itu bab menghisap kretek), lalu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menyambung jawaban hadirin, \u201coooo, bab kretek, kretekku gowo rene dikik\u201d (ooo, bab menghisap kretek, kretekku bawa kemari dulu), kemudian KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) mengambil satu batang kretek dari bungkusnya disulut dan dihisap. Selesai menyulut kretek, kembali KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) berbicara, \u201cwes kono dibahas\u201d (sudah sana dibahas). Setelah diperintahkan untuk dibahas, suasana hening sejenak. \u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mungkin di benak para hadirin terlintas pikiran \u201capa yang dibahas sudah dijawab secara tersirat oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) dengan menghisap kretek\u201d. Pada akhirnya, pembahasan tetap dilaksanakan. Diceritakan KH. Sya\u2019roni juga, situasi saat itu tidak ada Kiai\/Ulama\u2019 yang hadir menghukumi \u201charam\u201d, pada akhirnya diputuskan KH. Turaikhan, dengan hukum \u201c boleh\u201d, disela-sela KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) memberikan penjelasan, ada salah satu hadirin mengacungkan jarinya, beliau adalah KH. Hambali (Al Maghfurlah), sambil berkata; \u201ckulo Kiai, menawi boten udud kulo mboten saget mucal\u201d (saya Kiai, kalau tidak sambil menghisap kretek, saya tidak dapat mengajar), disertai argumen dan penjelasanannya. Kemudian KH. Turaikhan, memberikan jawaban dan tanggapan kepada KH. Hambali, \u201cnek ngono, kanggo kuwi hukumi wajib\u201d (kalau begitu, untuk kamu hukumnya wajib mengkonsumsi kretek).  <\/p>\n\n\n\n

Dilihat dari putusan Bahtsul Masail di atas, pada awalnya menghisap kretek dihukumi \u201cboleh\u201d, namun dengan kondisi tertentu menjadi \u201cWajib\u201d. Cerita penetapan hukum menghisap kretek dalam forum Bahtsul Masail di atas, telah menyebar di kalangan masyarakat Kudus, dan menjadi konsumsi publik, serta bersifat mengikat sampai sekarang. Sehingga banyak Kiai\/Ulama\u2019 Kudus tidak mempersoalkan lagi, apalagi membahas kembali. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cerita situasi dan kondisi Bahtsul Masail, diapresiasi dan diinterpretasikan Kiai\/Ulama\u2019Kudus lebih kontekstual, salah satunya KH. Fatkhur Rahman, beliau bercerita;  saat KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) populer dengan sebutan Mbah Tur memimpin munadzoroh<\/em> ada pertanyaan: bagaimana hukumnya kretek? Mbah Tur malah mengambil kretek, menyulut dan menghisapnya, dengan begitu diasumsikan hukumnya \u201chalal\u201d (jadi  setelah itu sudah tidak perlu dibahas lagi soal kretek). KH. Fatkhur Rahman juga menceritakan ada satu alasan kuat, mengapa halal, karena para Kiai itu tidak mau barang subhat<\/em> (tidak jelas posisinya), apalagi haram. Ketika para Kiai\/Ulama\u2019 besar menghisap kretek, otomatis tidak haram. Tuhan menciptakan sesuatu untuk dinikmati itu ada dua, halal atau haram. <\/p>\n\n\n\n

Dasar hukum menghisap kretek adalah mubah, sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang menjadi wajib, juga menjadi haram. Dasar utamanya adalah  \u201cla dhororo wala dhiroro\u201d. <\/em>Hukumnya seperti  mengkonsumsi gula, ketika kena penyakit gula, maka haram atau tidak boleh mengkonsumsi gula. Begitu pula ketika punya darah tinggi, maka tidak boleh makan daging, dan seterusnya. Dimana \u201calhukmu yadurru ma\u2019a illatihi\u201d<\/em>(hukum itu bisa beralih tergantung alasannya). Membeli kretek dihukumi tidak boleh (haram), jika uang yang dipakai semestinya untuk belanja kebutuhan pokok, membayar sekolah dan lain sebagainya. Menghisap kretek menjadi wajib, ketika tidak menghisap sulit berpikir, lemas, tidak bisa kerja dan lain sebagainya.
<\/p>\n","post_title":"Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fenomena-hukum-rokok-bagi-ulama-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-10 10:37:16","post_modified_gmt":"2019-04-10 03:37:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5621","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

Paling Populer

\n

Bahasan mengenai hukum menyulut kretek pernah dipertanyakan dalam forum bahtsul masail<\/em> (musyawarah) para Kiai\/Ulama\u2019 Kudus. Pertanyaan (saail<\/em>) yang mengajukan atas nama masyarakat Baletengahan, yaitu dukuh yang masuk wilayah Desa Langgardalem Kecamatan Kota. Tepatnya sekitar + 800an m, arah utara Masjid Menara Kudus (al-Aqsha). Kultur budaya masyarakat Baletengahan adalah santri, terdapat banyak Pesantren dan beberapa madrasah, salah satunya lembaga pendidikan formal TBS (Tasywiqut Thullab Salafiyyah), yaitu lembaga pendidikan salaf yang dahulu salah satu tempat  KH. Arwani Amin al-Hafiz mengajar dan yayasan pendidikan Nawa Kartika, yang didirikan oleh tokoh NU setempat. <\/p>\n\n\n\n

Lain halnya pesantren dan lembaga pendidikan, di sekitar Baletengahan Langgardalem, konon dahulu banyak usaha rumahan kretek. Petilasan yang masih dapat dijumpai di Langgardalem adalah \u201cgudang tembakau dan PR. Buah Cengkeh\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Disini terlihat para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus mempunyai tradisi kritis menyikapi fenomena disekelilingnya. Sehingga wajar pada tahun 1990an muncul bahasan tentang kretek di Bahtsul Masail<\/em> para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, jauh mendahului keputusan MUI dan Muhammadiyyah hasil Padang Panjang, dilaksanakan tahun 2009-2010.<\/p>\n\n\n\n

Tradisi Bahtsul Masail biasa disebut \u201cMunadzoroh<\/em>\u201d sudah lama dilakukan para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, dengan bertempat di Masjid-masjid di sekitar Kudus, bergantian dan memutar. Peserta munadzoroh<\/em> adalah para Kiai\/Ulama\u2019 se-Kabupaten Kudus dari berbagai penjuru desa, dan juga masyarakat umum, karena sifatnya terbuka (siapa saja boleh ikut tanpa terkecuali). Pelaksanaannya dari dulu hingga sekarang dijatuhkan pada hari Ahad (minggu). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat pembahasan mengenai kretek, bertempat di Masji al-Aqsho Menara Kudus yang dipimpin oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), redaksi pertanyaaannya adalah:<\/p>\n\n\n\n

\u201ckados pundi hukumipun ngkretek (bagaimana hukum menghisap kretek)?\u201d<\/em>--pertanyaan dari<\/em> Baletengahan--<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sebelum memulai pembahasan biasanya KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menanyakan tentang apa yang akan dibahas. Diceritakan oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi, situasi dan kondisi saat itu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), bertanya di forum, \u00a0\u201copo iki takonane?\u201d (pertanyaannya apa), di jawab yang hadir saat itu, \u201c anu Mbah bab kretek\u201d (itu bab menghisap kretek), lalu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menyambung jawaban hadirin, \u201coooo, bab kretek, kretekku gowo rene dikik\u201d (ooo, bab menghisap kretek, kretekku bawa kemari dulu), kemudian KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) mengambil satu batang kretek dari bungkusnya disulut dan dihisap. Selesai menyulut kretek, kembali KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) berbicara, \u201cwes kono dibahas\u201d (sudah sana dibahas). Setelah diperintahkan untuk dibahas, suasana hening sejenak. \u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mungkin di benak para hadirin terlintas pikiran \u201capa yang dibahas sudah dijawab secara tersirat oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) dengan menghisap kretek\u201d. Pada akhirnya, pembahasan tetap dilaksanakan. Diceritakan KH. Sya\u2019roni juga, situasi saat itu tidak ada Kiai\/Ulama\u2019 yang hadir menghukumi \u201charam\u201d, pada akhirnya diputuskan KH. Turaikhan, dengan hukum \u201c boleh\u201d, disela-sela KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) memberikan penjelasan, ada salah satu hadirin mengacungkan jarinya, beliau adalah KH. Hambali (Al Maghfurlah), sambil berkata; \u201ckulo Kiai, menawi boten udud kulo mboten saget mucal\u201d (saya Kiai, kalau tidak sambil menghisap kretek, saya tidak dapat mengajar), disertai argumen dan penjelasanannya. Kemudian KH. Turaikhan, memberikan jawaban dan tanggapan kepada KH. Hambali, \u201cnek ngono, kanggo kuwi hukumi wajib\u201d (kalau begitu, untuk kamu hukumnya wajib mengkonsumsi kretek).  <\/p>\n\n\n\n

Dilihat dari putusan Bahtsul Masail di atas, pada awalnya menghisap kretek dihukumi \u201cboleh\u201d, namun dengan kondisi tertentu menjadi \u201cWajib\u201d. Cerita penetapan hukum menghisap kretek dalam forum Bahtsul Masail di atas, telah menyebar di kalangan masyarakat Kudus, dan menjadi konsumsi publik, serta bersifat mengikat sampai sekarang. Sehingga banyak Kiai\/Ulama\u2019 Kudus tidak mempersoalkan lagi, apalagi membahas kembali. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cerita situasi dan kondisi Bahtsul Masail, diapresiasi dan diinterpretasikan Kiai\/Ulama\u2019Kudus lebih kontekstual, salah satunya KH. Fatkhur Rahman, beliau bercerita;  saat KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) populer dengan sebutan Mbah Tur memimpin munadzoroh<\/em> ada pertanyaan: bagaimana hukumnya kretek? Mbah Tur malah mengambil kretek, menyulut dan menghisapnya, dengan begitu diasumsikan hukumnya \u201chalal\u201d (jadi  setelah itu sudah tidak perlu dibahas lagi soal kretek). KH. Fatkhur Rahman juga menceritakan ada satu alasan kuat, mengapa halal, karena para Kiai itu tidak mau barang subhat<\/em> (tidak jelas posisinya), apalagi haram. Ketika para Kiai\/Ulama\u2019 besar menghisap kretek, otomatis tidak haram. Tuhan menciptakan sesuatu untuk dinikmati itu ada dua, halal atau haram. <\/p>\n\n\n\n

Dasar hukum menghisap kretek adalah mubah, sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang menjadi wajib, juga menjadi haram. Dasar utamanya adalah  \u201cla dhororo wala dhiroro\u201d. <\/em>Hukumnya seperti  mengkonsumsi gula, ketika kena penyakit gula, maka haram atau tidak boleh mengkonsumsi gula. Begitu pula ketika punya darah tinggi, maka tidak boleh makan daging, dan seterusnya. Dimana \u201calhukmu yadurru ma\u2019a illatihi\u201d<\/em>(hukum itu bisa beralih tergantung alasannya). Membeli kretek dihukumi tidak boleh (haram), jika uang yang dipakai semestinya untuk belanja kebutuhan pokok, membayar sekolah dan lain sebagainya. Menghisap kretek menjadi wajib, ketika tidak menghisap sulit berpikir, lemas, tidak bisa kerja dan lain sebagainya.
<\/p>\n","post_title":"Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fenomena-hukum-rokok-bagi-ulama-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-10 10:37:16","post_modified_gmt":"2019-04-10 03:37:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5621","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

Paling Populer

\n

Sadikin mengirim pesan kepada seluruh seniman di Tanah Air untuk terus berkaraya, tanpa peduli akan bernilai apa sebuah karya tersebut. \u201cYang terpenting kita dapat mengaktulisasikan diri dan terus melukis dengan niat mengharumkan nama negeri. Teruslah berkarya, karena sejatinya karya adalah yang dibuat dengan kesungguhan dan keikhlasan hati,\u201d pungkas pelukis beranak dua tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Shadikin Pard, Pelukis Tanpa Lengan yang Mengharumkan Bangsa dengan Kedua Kakinya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"shadikin-pard-pelukis-tanpa-lengan-yang-mengharumkan-bangsa-dengan-kedua-kakinya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-16 11:09:38","post_modified_gmt":"2019-04-16 04:09:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5637","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5621,"post_author":"877","post_date":"2019-04-10 10:37:08","post_date_gmt":"2019-04-10 03:37:08","post_content":"\n

Bahasan mengenai hukum menyulut kretek pernah dipertanyakan dalam forum bahtsul masail<\/em> (musyawarah) para Kiai\/Ulama\u2019 Kudus. Pertanyaan (saail<\/em>) yang mengajukan atas nama masyarakat Baletengahan, yaitu dukuh yang masuk wilayah Desa Langgardalem Kecamatan Kota. Tepatnya sekitar + 800an m, arah utara Masjid Menara Kudus (al-Aqsha). Kultur budaya masyarakat Baletengahan adalah santri, terdapat banyak Pesantren dan beberapa madrasah, salah satunya lembaga pendidikan formal TBS (Tasywiqut Thullab Salafiyyah), yaitu lembaga pendidikan salaf yang dahulu salah satu tempat  KH. Arwani Amin al-Hafiz mengajar dan yayasan pendidikan Nawa Kartika, yang didirikan oleh tokoh NU setempat. <\/p>\n\n\n\n

Lain halnya pesantren dan lembaga pendidikan, di sekitar Baletengahan Langgardalem, konon dahulu banyak usaha rumahan kretek. Petilasan yang masih dapat dijumpai di Langgardalem adalah \u201cgudang tembakau dan PR. Buah Cengkeh\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Disini terlihat para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus mempunyai tradisi kritis menyikapi fenomena disekelilingnya. Sehingga wajar pada tahun 1990an muncul bahasan tentang kretek di Bahtsul Masail<\/em> para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, jauh mendahului keputusan MUI dan Muhammadiyyah hasil Padang Panjang, dilaksanakan tahun 2009-2010.<\/p>\n\n\n\n

Tradisi Bahtsul Masail biasa disebut \u201cMunadzoroh<\/em>\u201d sudah lama dilakukan para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, dengan bertempat di Masjid-masjid di sekitar Kudus, bergantian dan memutar. Peserta munadzoroh<\/em> adalah para Kiai\/Ulama\u2019 se-Kabupaten Kudus dari berbagai penjuru desa, dan juga masyarakat umum, karena sifatnya terbuka (siapa saja boleh ikut tanpa terkecuali). Pelaksanaannya dari dulu hingga sekarang dijatuhkan pada hari Ahad (minggu). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat pembahasan mengenai kretek, bertempat di Masji al-Aqsho Menara Kudus yang dipimpin oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), redaksi pertanyaaannya adalah:<\/p>\n\n\n\n

\u201ckados pundi hukumipun ngkretek (bagaimana hukum menghisap kretek)?\u201d<\/em>--pertanyaan dari<\/em> Baletengahan--<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sebelum memulai pembahasan biasanya KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menanyakan tentang apa yang akan dibahas. Diceritakan oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi, situasi dan kondisi saat itu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), bertanya di forum, \u00a0\u201copo iki takonane?\u201d (pertanyaannya apa), di jawab yang hadir saat itu, \u201c anu Mbah bab kretek\u201d (itu bab menghisap kretek), lalu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menyambung jawaban hadirin, \u201coooo, bab kretek, kretekku gowo rene dikik\u201d (ooo, bab menghisap kretek, kretekku bawa kemari dulu), kemudian KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) mengambil satu batang kretek dari bungkusnya disulut dan dihisap. Selesai menyulut kretek, kembali KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) berbicara, \u201cwes kono dibahas\u201d (sudah sana dibahas). Setelah diperintahkan untuk dibahas, suasana hening sejenak. \u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mungkin di benak para hadirin terlintas pikiran \u201capa yang dibahas sudah dijawab secara tersirat oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) dengan menghisap kretek\u201d. Pada akhirnya, pembahasan tetap dilaksanakan. Diceritakan KH. Sya\u2019roni juga, situasi saat itu tidak ada Kiai\/Ulama\u2019 yang hadir menghukumi \u201charam\u201d, pada akhirnya diputuskan KH. Turaikhan, dengan hukum \u201c boleh\u201d, disela-sela KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) memberikan penjelasan, ada salah satu hadirin mengacungkan jarinya, beliau adalah KH. Hambali (Al Maghfurlah), sambil berkata; \u201ckulo Kiai, menawi boten udud kulo mboten saget mucal\u201d (saya Kiai, kalau tidak sambil menghisap kretek, saya tidak dapat mengajar), disertai argumen dan penjelasanannya. Kemudian KH. Turaikhan, memberikan jawaban dan tanggapan kepada KH. Hambali, \u201cnek ngono, kanggo kuwi hukumi wajib\u201d (kalau begitu, untuk kamu hukumnya wajib mengkonsumsi kretek).  <\/p>\n\n\n\n

Dilihat dari putusan Bahtsul Masail di atas, pada awalnya menghisap kretek dihukumi \u201cboleh\u201d, namun dengan kondisi tertentu menjadi \u201cWajib\u201d. Cerita penetapan hukum menghisap kretek dalam forum Bahtsul Masail di atas, telah menyebar di kalangan masyarakat Kudus, dan menjadi konsumsi publik, serta bersifat mengikat sampai sekarang. Sehingga banyak Kiai\/Ulama\u2019 Kudus tidak mempersoalkan lagi, apalagi membahas kembali. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cerita situasi dan kondisi Bahtsul Masail, diapresiasi dan diinterpretasikan Kiai\/Ulama\u2019Kudus lebih kontekstual, salah satunya KH. Fatkhur Rahman, beliau bercerita;  saat KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) populer dengan sebutan Mbah Tur memimpin munadzoroh<\/em> ada pertanyaan: bagaimana hukumnya kretek? Mbah Tur malah mengambil kretek, menyulut dan menghisapnya, dengan begitu diasumsikan hukumnya \u201chalal\u201d (jadi  setelah itu sudah tidak perlu dibahas lagi soal kretek). KH. Fatkhur Rahman juga menceritakan ada satu alasan kuat, mengapa halal, karena para Kiai itu tidak mau barang subhat<\/em> (tidak jelas posisinya), apalagi haram. Ketika para Kiai\/Ulama\u2019 besar menghisap kretek, otomatis tidak haram. Tuhan menciptakan sesuatu untuk dinikmati itu ada dua, halal atau haram. <\/p>\n\n\n\n

Dasar hukum menghisap kretek adalah mubah, sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang menjadi wajib, juga menjadi haram. Dasar utamanya adalah  \u201cla dhororo wala dhiroro\u201d. <\/em>Hukumnya seperti  mengkonsumsi gula, ketika kena penyakit gula, maka haram atau tidak boleh mengkonsumsi gula. Begitu pula ketika punya darah tinggi, maka tidak boleh makan daging, dan seterusnya. Dimana \u201calhukmu yadurru ma\u2019a illatihi\u201d<\/em>(hukum itu bisa beralih tergantung alasannya). Membeli kretek dihukumi tidak boleh (haram), jika uang yang dipakai semestinya untuk belanja kebutuhan pokok, membayar sekolah dan lain sebagainya. Menghisap kretek menjadi wajib, ketika tidak menghisap sulit berpikir, lemas, tidak bisa kerja dan lain sebagainya.
<\/p>\n","post_title":"Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fenomena-hukum-rokok-bagi-ulama-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-10 10:37:16","post_modified_gmt":"2019-04-10 03:37:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5621","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

Paling Populer

\n

\u201cSaya tidak menginginkan belas kasihan dari pemerintah. Karena yang sejatinya benar adalah, kita dapat memberikan apa kepada negara ini, bukan negara dapat memberikan apa kepada kita. Namun yang saya sayangkan, pemerintah sepertinya tidak peduli memperhatikan para seniman dan menghargai karya seni dari para seniman negeri sendiri. Seharusnya para seniman ini diberikan wadah, diperhatikan, kan juga kalau manajemennya bagus bisa menjadi pemasukan untuk negara,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin mengirim pesan kepada seluruh seniman di Tanah Air untuk terus berkaraya, tanpa peduli akan bernilai apa sebuah karya tersebut. \u201cYang terpenting kita dapat mengaktulisasikan diri dan terus melukis dengan niat mengharumkan nama negeri. Teruslah berkarya, karena sejatinya karya adalah yang dibuat dengan kesungguhan dan keikhlasan hati,\u201d pungkas pelukis beranak dua tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Shadikin Pard, Pelukis Tanpa Lengan yang Mengharumkan Bangsa dengan Kedua Kakinya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"shadikin-pard-pelukis-tanpa-lengan-yang-mengharumkan-bangsa-dengan-kedua-kakinya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-16 11:09:38","post_modified_gmt":"2019-04-16 04:09:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5637","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5621,"post_author":"877","post_date":"2019-04-10 10:37:08","post_date_gmt":"2019-04-10 03:37:08","post_content":"\n

Bahasan mengenai hukum menyulut kretek pernah dipertanyakan dalam forum bahtsul masail<\/em> (musyawarah) para Kiai\/Ulama\u2019 Kudus. Pertanyaan (saail<\/em>) yang mengajukan atas nama masyarakat Baletengahan, yaitu dukuh yang masuk wilayah Desa Langgardalem Kecamatan Kota. Tepatnya sekitar + 800an m, arah utara Masjid Menara Kudus (al-Aqsha). Kultur budaya masyarakat Baletengahan adalah santri, terdapat banyak Pesantren dan beberapa madrasah, salah satunya lembaga pendidikan formal TBS (Tasywiqut Thullab Salafiyyah), yaitu lembaga pendidikan salaf yang dahulu salah satu tempat  KH. Arwani Amin al-Hafiz mengajar dan yayasan pendidikan Nawa Kartika, yang didirikan oleh tokoh NU setempat. <\/p>\n\n\n\n

Lain halnya pesantren dan lembaga pendidikan, di sekitar Baletengahan Langgardalem, konon dahulu banyak usaha rumahan kretek. Petilasan yang masih dapat dijumpai di Langgardalem adalah \u201cgudang tembakau dan PR. Buah Cengkeh\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Disini terlihat para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus mempunyai tradisi kritis menyikapi fenomena disekelilingnya. Sehingga wajar pada tahun 1990an muncul bahasan tentang kretek di Bahtsul Masail<\/em> para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, jauh mendahului keputusan MUI dan Muhammadiyyah hasil Padang Panjang, dilaksanakan tahun 2009-2010.<\/p>\n\n\n\n

Tradisi Bahtsul Masail biasa disebut \u201cMunadzoroh<\/em>\u201d sudah lama dilakukan para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, dengan bertempat di Masjid-masjid di sekitar Kudus, bergantian dan memutar. Peserta munadzoroh<\/em> adalah para Kiai\/Ulama\u2019 se-Kabupaten Kudus dari berbagai penjuru desa, dan juga masyarakat umum, karena sifatnya terbuka (siapa saja boleh ikut tanpa terkecuali). Pelaksanaannya dari dulu hingga sekarang dijatuhkan pada hari Ahad (minggu). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat pembahasan mengenai kretek, bertempat di Masji al-Aqsho Menara Kudus yang dipimpin oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), redaksi pertanyaaannya adalah:<\/p>\n\n\n\n

\u201ckados pundi hukumipun ngkretek (bagaimana hukum menghisap kretek)?\u201d<\/em>--pertanyaan dari<\/em> Baletengahan--<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sebelum memulai pembahasan biasanya KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menanyakan tentang apa yang akan dibahas. Diceritakan oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi, situasi dan kondisi saat itu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), bertanya di forum, \u00a0\u201copo iki takonane?\u201d (pertanyaannya apa), di jawab yang hadir saat itu, \u201c anu Mbah bab kretek\u201d (itu bab menghisap kretek), lalu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menyambung jawaban hadirin, \u201coooo, bab kretek, kretekku gowo rene dikik\u201d (ooo, bab menghisap kretek, kretekku bawa kemari dulu), kemudian KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) mengambil satu batang kretek dari bungkusnya disulut dan dihisap. Selesai menyulut kretek, kembali KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) berbicara, \u201cwes kono dibahas\u201d (sudah sana dibahas). Setelah diperintahkan untuk dibahas, suasana hening sejenak. \u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mungkin di benak para hadirin terlintas pikiran \u201capa yang dibahas sudah dijawab secara tersirat oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) dengan menghisap kretek\u201d. Pada akhirnya, pembahasan tetap dilaksanakan. Diceritakan KH. Sya\u2019roni juga, situasi saat itu tidak ada Kiai\/Ulama\u2019 yang hadir menghukumi \u201charam\u201d, pada akhirnya diputuskan KH. Turaikhan, dengan hukum \u201c boleh\u201d, disela-sela KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) memberikan penjelasan, ada salah satu hadirin mengacungkan jarinya, beliau adalah KH. Hambali (Al Maghfurlah), sambil berkata; \u201ckulo Kiai, menawi boten udud kulo mboten saget mucal\u201d (saya Kiai, kalau tidak sambil menghisap kretek, saya tidak dapat mengajar), disertai argumen dan penjelasanannya. Kemudian KH. Turaikhan, memberikan jawaban dan tanggapan kepada KH. Hambali, \u201cnek ngono, kanggo kuwi hukumi wajib\u201d (kalau begitu, untuk kamu hukumnya wajib mengkonsumsi kretek).  <\/p>\n\n\n\n

Dilihat dari putusan Bahtsul Masail di atas, pada awalnya menghisap kretek dihukumi \u201cboleh\u201d, namun dengan kondisi tertentu menjadi \u201cWajib\u201d. Cerita penetapan hukum menghisap kretek dalam forum Bahtsul Masail di atas, telah menyebar di kalangan masyarakat Kudus, dan menjadi konsumsi publik, serta bersifat mengikat sampai sekarang. Sehingga banyak Kiai\/Ulama\u2019 Kudus tidak mempersoalkan lagi, apalagi membahas kembali. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cerita situasi dan kondisi Bahtsul Masail, diapresiasi dan diinterpretasikan Kiai\/Ulama\u2019Kudus lebih kontekstual, salah satunya KH. Fatkhur Rahman, beliau bercerita;  saat KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) populer dengan sebutan Mbah Tur memimpin munadzoroh<\/em> ada pertanyaan: bagaimana hukumnya kretek? Mbah Tur malah mengambil kretek, menyulut dan menghisapnya, dengan begitu diasumsikan hukumnya \u201chalal\u201d (jadi  setelah itu sudah tidak perlu dibahas lagi soal kretek). KH. Fatkhur Rahman juga menceritakan ada satu alasan kuat, mengapa halal, karena para Kiai itu tidak mau barang subhat<\/em> (tidak jelas posisinya), apalagi haram. Ketika para Kiai\/Ulama\u2019 besar menghisap kretek, otomatis tidak haram. Tuhan menciptakan sesuatu untuk dinikmati itu ada dua, halal atau haram. <\/p>\n\n\n\n

Dasar hukum menghisap kretek adalah mubah, sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang menjadi wajib, juga menjadi haram. Dasar utamanya adalah  \u201cla dhororo wala dhiroro\u201d. <\/em>Hukumnya seperti  mengkonsumsi gula, ketika kena penyakit gula, maka haram atau tidak boleh mengkonsumsi gula. Begitu pula ketika punya darah tinggi, maka tidak boleh makan daging, dan seterusnya. Dimana \u201calhukmu yadurru ma\u2019a illatihi\u201d<\/em>(hukum itu bisa beralih tergantung alasannya). Membeli kretek dihukumi tidak boleh (haram), jika uang yang dipakai semestinya untuk belanja kebutuhan pokok, membayar sekolah dan lain sebagainya. Menghisap kretek menjadi wajib, ketika tidak menghisap sulit berpikir, lemas, tidak bisa kerja dan lain sebagainya.
<\/p>\n","post_title":"Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fenomena-hukum-rokok-bagi-ulama-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-10 10:37:16","post_modified_gmt":"2019-04-10 03:37:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5621","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

Paling Populer

\n

Sadikin bisa berangkat ke Swiss dan mengharumkan nama Indonesia di mata dunia, tidak terlebih dulu mendapat perhatian dari pemerintah. Ia mengaku berangkat dengan uang sendiri. Bahkan, lanjut Sadikin, hingga kini pun tidak ada pemerintah yang mengapresiasi karya-karyanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak menginginkan belas kasihan dari pemerintah. Karena yang sejatinya benar adalah, kita dapat memberikan apa kepada negara ini, bukan negara dapat memberikan apa kepada kita. Namun yang saya sayangkan, pemerintah sepertinya tidak peduli memperhatikan para seniman dan menghargai karya seni dari para seniman negeri sendiri. Seharusnya para seniman ini diberikan wadah, diperhatikan, kan juga kalau manajemennya bagus bisa menjadi pemasukan untuk negara,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin mengirim pesan kepada seluruh seniman di Tanah Air untuk terus berkaraya, tanpa peduli akan bernilai apa sebuah karya tersebut. \u201cYang terpenting kita dapat mengaktulisasikan diri dan terus melukis dengan niat mengharumkan nama negeri. Teruslah berkarya, karena sejatinya karya adalah yang dibuat dengan kesungguhan dan keikhlasan hati,\u201d pungkas pelukis beranak dua tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Shadikin Pard, Pelukis Tanpa Lengan yang Mengharumkan Bangsa dengan Kedua Kakinya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"shadikin-pard-pelukis-tanpa-lengan-yang-mengharumkan-bangsa-dengan-kedua-kakinya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-16 11:09:38","post_modified_gmt":"2019-04-16 04:09:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5637","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5621,"post_author":"877","post_date":"2019-04-10 10:37:08","post_date_gmt":"2019-04-10 03:37:08","post_content":"\n

Bahasan mengenai hukum menyulut kretek pernah dipertanyakan dalam forum bahtsul masail<\/em> (musyawarah) para Kiai\/Ulama\u2019 Kudus. Pertanyaan (saail<\/em>) yang mengajukan atas nama masyarakat Baletengahan, yaitu dukuh yang masuk wilayah Desa Langgardalem Kecamatan Kota. Tepatnya sekitar + 800an m, arah utara Masjid Menara Kudus (al-Aqsha). Kultur budaya masyarakat Baletengahan adalah santri, terdapat banyak Pesantren dan beberapa madrasah, salah satunya lembaga pendidikan formal TBS (Tasywiqut Thullab Salafiyyah), yaitu lembaga pendidikan salaf yang dahulu salah satu tempat  KH. Arwani Amin al-Hafiz mengajar dan yayasan pendidikan Nawa Kartika, yang didirikan oleh tokoh NU setempat. <\/p>\n\n\n\n

Lain halnya pesantren dan lembaga pendidikan, di sekitar Baletengahan Langgardalem, konon dahulu banyak usaha rumahan kretek. Petilasan yang masih dapat dijumpai di Langgardalem adalah \u201cgudang tembakau dan PR. Buah Cengkeh\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Disini terlihat para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus mempunyai tradisi kritis menyikapi fenomena disekelilingnya. Sehingga wajar pada tahun 1990an muncul bahasan tentang kretek di Bahtsul Masail<\/em> para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, jauh mendahului keputusan MUI dan Muhammadiyyah hasil Padang Panjang, dilaksanakan tahun 2009-2010.<\/p>\n\n\n\n

Tradisi Bahtsul Masail biasa disebut \u201cMunadzoroh<\/em>\u201d sudah lama dilakukan para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, dengan bertempat di Masjid-masjid di sekitar Kudus, bergantian dan memutar. Peserta munadzoroh<\/em> adalah para Kiai\/Ulama\u2019 se-Kabupaten Kudus dari berbagai penjuru desa, dan juga masyarakat umum, karena sifatnya terbuka (siapa saja boleh ikut tanpa terkecuali). Pelaksanaannya dari dulu hingga sekarang dijatuhkan pada hari Ahad (minggu). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat pembahasan mengenai kretek, bertempat di Masji al-Aqsho Menara Kudus yang dipimpin oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), redaksi pertanyaaannya adalah:<\/p>\n\n\n\n

\u201ckados pundi hukumipun ngkretek (bagaimana hukum menghisap kretek)?\u201d<\/em>--pertanyaan dari<\/em> Baletengahan--<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sebelum memulai pembahasan biasanya KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menanyakan tentang apa yang akan dibahas. Diceritakan oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi, situasi dan kondisi saat itu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), bertanya di forum, \u00a0\u201copo iki takonane?\u201d (pertanyaannya apa), di jawab yang hadir saat itu, \u201c anu Mbah bab kretek\u201d (itu bab menghisap kretek), lalu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menyambung jawaban hadirin, \u201coooo, bab kretek, kretekku gowo rene dikik\u201d (ooo, bab menghisap kretek, kretekku bawa kemari dulu), kemudian KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) mengambil satu batang kretek dari bungkusnya disulut dan dihisap. Selesai menyulut kretek, kembali KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) berbicara, \u201cwes kono dibahas\u201d (sudah sana dibahas). Setelah diperintahkan untuk dibahas, suasana hening sejenak. \u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mungkin di benak para hadirin terlintas pikiran \u201capa yang dibahas sudah dijawab secara tersirat oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) dengan menghisap kretek\u201d. Pada akhirnya, pembahasan tetap dilaksanakan. Diceritakan KH. Sya\u2019roni juga, situasi saat itu tidak ada Kiai\/Ulama\u2019 yang hadir menghukumi \u201charam\u201d, pada akhirnya diputuskan KH. Turaikhan, dengan hukum \u201c boleh\u201d, disela-sela KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) memberikan penjelasan, ada salah satu hadirin mengacungkan jarinya, beliau adalah KH. Hambali (Al Maghfurlah), sambil berkata; \u201ckulo Kiai, menawi boten udud kulo mboten saget mucal\u201d (saya Kiai, kalau tidak sambil menghisap kretek, saya tidak dapat mengajar), disertai argumen dan penjelasanannya. Kemudian KH. Turaikhan, memberikan jawaban dan tanggapan kepada KH. Hambali, \u201cnek ngono, kanggo kuwi hukumi wajib\u201d (kalau begitu, untuk kamu hukumnya wajib mengkonsumsi kretek).  <\/p>\n\n\n\n

Dilihat dari putusan Bahtsul Masail di atas, pada awalnya menghisap kretek dihukumi \u201cboleh\u201d, namun dengan kondisi tertentu menjadi \u201cWajib\u201d. Cerita penetapan hukum menghisap kretek dalam forum Bahtsul Masail di atas, telah menyebar di kalangan masyarakat Kudus, dan menjadi konsumsi publik, serta bersifat mengikat sampai sekarang. Sehingga banyak Kiai\/Ulama\u2019 Kudus tidak mempersoalkan lagi, apalagi membahas kembali. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cerita situasi dan kondisi Bahtsul Masail, diapresiasi dan diinterpretasikan Kiai\/Ulama\u2019Kudus lebih kontekstual, salah satunya KH. Fatkhur Rahman, beliau bercerita;  saat KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) populer dengan sebutan Mbah Tur memimpin munadzoroh<\/em> ada pertanyaan: bagaimana hukumnya kretek? Mbah Tur malah mengambil kretek, menyulut dan menghisapnya, dengan begitu diasumsikan hukumnya \u201chalal\u201d (jadi  setelah itu sudah tidak perlu dibahas lagi soal kretek). KH. Fatkhur Rahman juga menceritakan ada satu alasan kuat, mengapa halal, karena para Kiai itu tidak mau barang subhat<\/em> (tidak jelas posisinya), apalagi haram. Ketika para Kiai\/Ulama\u2019 besar menghisap kretek, otomatis tidak haram. Tuhan menciptakan sesuatu untuk dinikmati itu ada dua, halal atau haram. <\/p>\n\n\n\n

Dasar hukum menghisap kretek adalah mubah, sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang menjadi wajib, juga menjadi haram. Dasar utamanya adalah  \u201cla dhororo wala dhiroro\u201d. <\/em>Hukumnya seperti  mengkonsumsi gula, ketika kena penyakit gula, maka haram atau tidak boleh mengkonsumsi gula. Begitu pula ketika punya darah tinggi, maka tidak boleh makan daging, dan seterusnya. Dimana \u201calhukmu yadurru ma\u2019a illatihi\u201d<\/em>(hukum itu bisa beralih tergantung alasannya). Membeli kretek dihukumi tidak boleh (haram), jika uang yang dipakai semestinya untuk belanja kebutuhan pokok, membayar sekolah dan lain sebagainya. Menghisap kretek menjadi wajib, ketika tidak menghisap sulit berpikir, lemas, tidak bisa kerja dan lain sebagainya.
<\/p>\n","post_title":"Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fenomena-hukum-rokok-bagi-ulama-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-10 10:37:16","post_modified_gmt":"2019-04-10 03:37:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5621","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

Paling Populer

\n

Bagi Sadikin, para difabel harus mulai mengubah sudut pandang. Bahwa segala kekurangan tidak kemudian menjadikan para difabel pasrah menerima nasib dan mengharapkan santunan dari orang lain dan pemerintah untuk menjalani hidup. Difabel adalah orang istimewa yang dapat berkarya melebihi orang-orang biasa. Kekurangan ini adalah kelebihan yang akan ditemukan dengan kerja keras dan melatih diri menjadi apa yang diinginkan.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin bisa berangkat ke Swiss dan mengharumkan nama Indonesia di mata dunia, tidak terlebih dulu mendapat perhatian dari pemerintah. Ia mengaku berangkat dengan uang sendiri. Bahkan, lanjut Sadikin, hingga kini pun tidak ada pemerintah yang mengapresiasi karya-karyanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak menginginkan belas kasihan dari pemerintah. Karena yang sejatinya benar adalah, kita dapat memberikan apa kepada negara ini, bukan negara dapat memberikan apa kepada kita. Namun yang saya sayangkan, pemerintah sepertinya tidak peduli memperhatikan para seniman dan menghargai karya seni dari para seniman negeri sendiri. Seharusnya para seniman ini diberikan wadah, diperhatikan, kan juga kalau manajemennya bagus bisa menjadi pemasukan untuk negara,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin mengirim pesan kepada seluruh seniman di Tanah Air untuk terus berkaraya, tanpa peduli akan bernilai apa sebuah karya tersebut. \u201cYang terpenting kita dapat mengaktulisasikan diri dan terus melukis dengan niat mengharumkan nama negeri. Teruslah berkarya, karena sejatinya karya adalah yang dibuat dengan kesungguhan dan keikhlasan hati,\u201d pungkas pelukis beranak dua tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Shadikin Pard, Pelukis Tanpa Lengan yang Mengharumkan Bangsa dengan Kedua Kakinya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"shadikin-pard-pelukis-tanpa-lengan-yang-mengharumkan-bangsa-dengan-kedua-kakinya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-16 11:09:38","post_modified_gmt":"2019-04-16 04:09:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5637","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5621,"post_author":"877","post_date":"2019-04-10 10:37:08","post_date_gmt":"2019-04-10 03:37:08","post_content":"\n

Bahasan mengenai hukum menyulut kretek pernah dipertanyakan dalam forum bahtsul masail<\/em> (musyawarah) para Kiai\/Ulama\u2019 Kudus. Pertanyaan (saail<\/em>) yang mengajukan atas nama masyarakat Baletengahan, yaitu dukuh yang masuk wilayah Desa Langgardalem Kecamatan Kota. Tepatnya sekitar + 800an m, arah utara Masjid Menara Kudus (al-Aqsha). Kultur budaya masyarakat Baletengahan adalah santri, terdapat banyak Pesantren dan beberapa madrasah, salah satunya lembaga pendidikan formal TBS (Tasywiqut Thullab Salafiyyah), yaitu lembaga pendidikan salaf yang dahulu salah satu tempat  KH. Arwani Amin al-Hafiz mengajar dan yayasan pendidikan Nawa Kartika, yang didirikan oleh tokoh NU setempat. <\/p>\n\n\n\n

Lain halnya pesantren dan lembaga pendidikan, di sekitar Baletengahan Langgardalem, konon dahulu banyak usaha rumahan kretek. Petilasan yang masih dapat dijumpai di Langgardalem adalah \u201cgudang tembakau dan PR. Buah Cengkeh\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Disini terlihat para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus mempunyai tradisi kritis menyikapi fenomena disekelilingnya. Sehingga wajar pada tahun 1990an muncul bahasan tentang kretek di Bahtsul Masail<\/em> para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, jauh mendahului keputusan MUI dan Muhammadiyyah hasil Padang Panjang, dilaksanakan tahun 2009-2010.<\/p>\n\n\n\n

Tradisi Bahtsul Masail biasa disebut \u201cMunadzoroh<\/em>\u201d sudah lama dilakukan para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, dengan bertempat di Masjid-masjid di sekitar Kudus, bergantian dan memutar. Peserta munadzoroh<\/em> adalah para Kiai\/Ulama\u2019 se-Kabupaten Kudus dari berbagai penjuru desa, dan juga masyarakat umum, karena sifatnya terbuka (siapa saja boleh ikut tanpa terkecuali). Pelaksanaannya dari dulu hingga sekarang dijatuhkan pada hari Ahad (minggu). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat pembahasan mengenai kretek, bertempat di Masji al-Aqsho Menara Kudus yang dipimpin oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), redaksi pertanyaaannya adalah:<\/p>\n\n\n\n

\u201ckados pundi hukumipun ngkretek (bagaimana hukum menghisap kretek)?\u201d<\/em>--pertanyaan dari<\/em> Baletengahan--<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sebelum memulai pembahasan biasanya KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menanyakan tentang apa yang akan dibahas. Diceritakan oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi, situasi dan kondisi saat itu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), bertanya di forum, \u00a0\u201copo iki takonane?\u201d (pertanyaannya apa), di jawab yang hadir saat itu, \u201c anu Mbah bab kretek\u201d (itu bab menghisap kretek), lalu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menyambung jawaban hadirin, \u201coooo, bab kretek, kretekku gowo rene dikik\u201d (ooo, bab menghisap kretek, kretekku bawa kemari dulu), kemudian KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) mengambil satu batang kretek dari bungkusnya disulut dan dihisap. Selesai menyulut kretek, kembali KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) berbicara, \u201cwes kono dibahas\u201d (sudah sana dibahas). Setelah diperintahkan untuk dibahas, suasana hening sejenak. \u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mungkin di benak para hadirin terlintas pikiran \u201capa yang dibahas sudah dijawab secara tersirat oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) dengan menghisap kretek\u201d. Pada akhirnya, pembahasan tetap dilaksanakan. Diceritakan KH. Sya\u2019roni juga, situasi saat itu tidak ada Kiai\/Ulama\u2019 yang hadir menghukumi \u201charam\u201d, pada akhirnya diputuskan KH. Turaikhan, dengan hukum \u201c boleh\u201d, disela-sela KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) memberikan penjelasan, ada salah satu hadirin mengacungkan jarinya, beliau adalah KH. Hambali (Al Maghfurlah), sambil berkata; \u201ckulo Kiai, menawi boten udud kulo mboten saget mucal\u201d (saya Kiai, kalau tidak sambil menghisap kretek, saya tidak dapat mengajar), disertai argumen dan penjelasanannya. Kemudian KH. Turaikhan, memberikan jawaban dan tanggapan kepada KH. Hambali, \u201cnek ngono, kanggo kuwi hukumi wajib\u201d (kalau begitu, untuk kamu hukumnya wajib mengkonsumsi kretek).  <\/p>\n\n\n\n

Dilihat dari putusan Bahtsul Masail di atas, pada awalnya menghisap kretek dihukumi \u201cboleh\u201d, namun dengan kondisi tertentu menjadi \u201cWajib\u201d. Cerita penetapan hukum menghisap kretek dalam forum Bahtsul Masail di atas, telah menyebar di kalangan masyarakat Kudus, dan menjadi konsumsi publik, serta bersifat mengikat sampai sekarang. Sehingga banyak Kiai\/Ulama\u2019 Kudus tidak mempersoalkan lagi, apalagi membahas kembali. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cerita situasi dan kondisi Bahtsul Masail, diapresiasi dan diinterpretasikan Kiai\/Ulama\u2019Kudus lebih kontekstual, salah satunya KH. Fatkhur Rahman, beliau bercerita;  saat KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) populer dengan sebutan Mbah Tur memimpin munadzoroh<\/em> ada pertanyaan: bagaimana hukumnya kretek? Mbah Tur malah mengambil kretek, menyulut dan menghisapnya, dengan begitu diasumsikan hukumnya \u201chalal\u201d (jadi  setelah itu sudah tidak perlu dibahas lagi soal kretek). KH. Fatkhur Rahman juga menceritakan ada satu alasan kuat, mengapa halal, karena para Kiai itu tidak mau barang subhat<\/em> (tidak jelas posisinya), apalagi haram. Ketika para Kiai\/Ulama\u2019 besar menghisap kretek, otomatis tidak haram. Tuhan menciptakan sesuatu untuk dinikmati itu ada dua, halal atau haram. <\/p>\n\n\n\n

Dasar hukum menghisap kretek adalah mubah, sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang menjadi wajib, juga menjadi haram. Dasar utamanya adalah  \u201cla dhororo wala dhiroro\u201d. <\/em>Hukumnya seperti  mengkonsumsi gula, ketika kena penyakit gula, maka haram atau tidak boleh mengkonsumsi gula. Begitu pula ketika punya darah tinggi, maka tidak boleh makan daging, dan seterusnya. Dimana \u201calhukmu yadurru ma\u2019a illatihi\u201d<\/em>(hukum itu bisa beralih tergantung alasannya). Membeli kretek dihukumi tidak boleh (haram), jika uang yang dipakai semestinya untuk belanja kebutuhan pokok, membayar sekolah dan lain sebagainya. Menghisap kretek menjadi wajib, ketika tidak menghisap sulit berpikir, lemas, tidak bisa kerja dan lain sebagainya.
<\/p>\n","post_title":"Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fenomena-hukum-rokok-bagi-ulama-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-10 10:37:16","post_modified_gmt":"2019-04-10 03:37:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5621","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

Paling Populer

\n

\u201cDifabel harus diperlakukan seperti manusia biasa, bahkan ia harus diberi tantangan dan ditempa untuk menemukan kelebihan dalam dirinya,\u201d kata Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, para difabel harus mulai mengubah sudut pandang. Bahwa segala kekurangan tidak kemudian menjadikan para difabel pasrah menerima nasib dan mengharapkan santunan dari orang lain dan pemerintah untuk menjalani hidup. Difabel adalah orang istimewa yang dapat berkarya melebihi orang-orang biasa. Kekurangan ini adalah kelebihan yang akan ditemukan dengan kerja keras dan melatih diri menjadi apa yang diinginkan.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin bisa berangkat ke Swiss dan mengharumkan nama Indonesia di mata dunia, tidak terlebih dulu mendapat perhatian dari pemerintah. Ia mengaku berangkat dengan uang sendiri. Bahkan, lanjut Sadikin, hingga kini pun tidak ada pemerintah yang mengapresiasi karya-karyanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak menginginkan belas kasihan dari pemerintah. Karena yang sejatinya benar adalah, kita dapat memberikan apa kepada negara ini, bukan negara dapat memberikan apa kepada kita. Namun yang saya sayangkan, pemerintah sepertinya tidak peduli memperhatikan para seniman dan menghargai karya seni dari para seniman negeri sendiri. Seharusnya para seniman ini diberikan wadah, diperhatikan, kan juga kalau manajemennya bagus bisa menjadi pemasukan untuk negara,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin mengirim pesan kepada seluruh seniman di Tanah Air untuk terus berkaraya, tanpa peduli akan bernilai apa sebuah karya tersebut. \u201cYang terpenting kita dapat mengaktulisasikan diri dan terus melukis dengan niat mengharumkan nama negeri. Teruslah berkarya, karena sejatinya karya adalah yang dibuat dengan kesungguhan dan keikhlasan hati,\u201d pungkas pelukis beranak dua tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Shadikin Pard, Pelukis Tanpa Lengan yang Mengharumkan Bangsa dengan Kedua Kakinya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"shadikin-pard-pelukis-tanpa-lengan-yang-mengharumkan-bangsa-dengan-kedua-kakinya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-16 11:09:38","post_modified_gmt":"2019-04-16 04:09:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5637","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5621,"post_author":"877","post_date":"2019-04-10 10:37:08","post_date_gmt":"2019-04-10 03:37:08","post_content":"\n

Bahasan mengenai hukum menyulut kretek pernah dipertanyakan dalam forum bahtsul masail<\/em> (musyawarah) para Kiai\/Ulama\u2019 Kudus. Pertanyaan (saail<\/em>) yang mengajukan atas nama masyarakat Baletengahan, yaitu dukuh yang masuk wilayah Desa Langgardalem Kecamatan Kota. Tepatnya sekitar + 800an m, arah utara Masjid Menara Kudus (al-Aqsha). Kultur budaya masyarakat Baletengahan adalah santri, terdapat banyak Pesantren dan beberapa madrasah, salah satunya lembaga pendidikan formal TBS (Tasywiqut Thullab Salafiyyah), yaitu lembaga pendidikan salaf yang dahulu salah satu tempat  KH. Arwani Amin al-Hafiz mengajar dan yayasan pendidikan Nawa Kartika, yang didirikan oleh tokoh NU setempat. <\/p>\n\n\n\n

Lain halnya pesantren dan lembaga pendidikan, di sekitar Baletengahan Langgardalem, konon dahulu banyak usaha rumahan kretek. Petilasan yang masih dapat dijumpai di Langgardalem adalah \u201cgudang tembakau dan PR. Buah Cengkeh\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Disini terlihat para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus mempunyai tradisi kritis menyikapi fenomena disekelilingnya. Sehingga wajar pada tahun 1990an muncul bahasan tentang kretek di Bahtsul Masail<\/em> para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, jauh mendahului keputusan MUI dan Muhammadiyyah hasil Padang Panjang, dilaksanakan tahun 2009-2010.<\/p>\n\n\n\n

Tradisi Bahtsul Masail biasa disebut \u201cMunadzoroh<\/em>\u201d sudah lama dilakukan para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, dengan bertempat di Masjid-masjid di sekitar Kudus, bergantian dan memutar. Peserta munadzoroh<\/em> adalah para Kiai\/Ulama\u2019 se-Kabupaten Kudus dari berbagai penjuru desa, dan juga masyarakat umum, karena sifatnya terbuka (siapa saja boleh ikut tanpa terkecuali). Pelaksanaannya dari dulu hingga sekarang dijatuhkan pada hari Ahad (minggu). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat pembahasan mengenai kretek, bertempat di Masji al-Aqsho Menara Kudus yang dipimpin oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), redaksi pertanyaaannya adalah:<\/p>\n\n\n\n

\u201ckados pundi hukumipun ngkretek (bagaimana hukum menghisap kretek)?\u201d<\/em>--pertanyaan dari<\/em> Baletengahan--<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sebelum memulai pembahasan biasanya KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menanyakan tentang apa yang akan dibahas. Diceritakan oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi, situasi dan kondisi saat itu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), bertanya di forum, \u00a0\u201copo iki takonane?\u201d (pertanyaannya apa), di jawab yang hadir saat itu, \u201c anu Mbah bab kretek\u201d (itu bab menghisap kretek), lalu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menyambung jawaban hadirin, \u201coooo, bab kretek, kretekku gowo rene dikik\u201d (ooo, bab menghisap kretek, kretekku bawa kemari dulu), kemudian KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) mengambil satu batang kretek dari bungkusnya disulut dan dihisap. Selesai menyulut kretek, kembali KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) berbicara, \u201cwes kono dibahas\u201d (sudah sana dibahas). Setelah diperintahkan untuk dibahas, suasana hening sejenak. \u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mungkin di benak para hadirin terlintas pikiran \u201capa yang dibahas sudah dijawab secara tersirat oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) dengan menghisap kretek\u201d. Pada akhirnya, pembahasan tetap dilaksanakan. Diceritakan KH. Sya\u2019roni juga, situasi saat itu tidak ada Kiai\/Ulama\u2019 yang hadir menghukumi \u201charam\u201d, pada akhirnya diputuskan KH. Turaikhan, dengan hukum \u201c boleh\u201d, disela-sela KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) memberikan penjelasan, ada salah satu hadirin mengacungkan jarinya, beliau adalah KH. Hambali (Al Maghfurlah), sambil berkata; \u201ckulo Kiai, menawi boten udud kulo mboten saget mucal\u201d (saya Kiai, kalau tidak sambil menghisap kretek, saya tidak dapat mengajar), disertai argumen dan penjelasanannya. Kemudian KH. Turaikhan, memberikan jawaban dan tanggapan kepada KH. Hambali, \u201cnek ngono, kanggo kuwi hukumi wajib\u201d (kalau begitu, untuk kamu hukumnya wajib mengkonsumsi kretek).  <\/p>\n\n\n\n

Dilihat dari putusan Bahtsul Masail di atas, pada awalnya menghisap kretek dihukumi \u201cboleh\u201d, namun dengan kondisi tertentu menjadi \u201cWajib\u201d. Cerita penetapan hukum menghisap kretek dalam forum Bahtsul Masail di atas, telah menyebar di kalangan masyarakat Kudus, dan menjadi konsumsi publik, serta bersifat mengikat sampai sekarang. Sehingga banyak Kiai\/Ulama\u2019 Kudus tidak mempersoalkan lagi, apalagi membahas kembali. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cerita situasi dan kondisi Bahtsul Masail, diapresiasi dan diinterpretasikan Kiai\/Ulama\u2019Kudus lebih kontekstual, salah satunya KH. Fatkhur Rahman, beliau bercerita;  saat KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) populer dengan sebutan Mbah Tur memimpin munadzoroh<\/em> ada pertanyaan: bagaimana hukumnya kretek? Mbah Tur malah mengambil kretek, menyulut dan menghisapnya, dengan begitu diasumsikan hukumnya \u201chalal\u201d (jadi  setelah itu sudah tidak perlu dibahas lagi soal kretek). KH. Fatkhur Rahman juga menceritakan ada satu alasan kuat, mengapa halal, karena para Kiai itu tidak mau barang subhat<\/em> (tidak jelas posisinya), apalagi haram. Ketika para Kiai\/Ulama\u2019 besar menghisap kretek, otomatis tidak haram. Tuhan menciptakan sesuatu untuk dinikmati itu ada dua, halal atau haram. <\/p>\n\n\n\n

Dasar hukum menghisap kretek adalah mubah, sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang menjadi wajib, juga menjadi haram. Dasar utamanya adalah  \u201cla dhororo wala dhiroro\u201d. <\/em>Hukumnya seperti  mengkonsumsi gula, ketika kena penyakit gula, maka haram atau tidak boleh mengkonsumsi gula. Begitu pula ketika punya darah tinggi, maka tidak boleh makan daging, dan seterusnya. Dimana \u201calhukmu yadurru ma\u2019a illatihi\u201d<\/em>(hukum itu bisa beralih tergantung alasannya). Membeli kretek dihukumi tidak boleh (haram), jika uang yang dipakai semestinya untuk belanja kebutuhan pokok, membayar sekolah dan lain sebagainya. Menghisap kretek menjadi wajib, ketika tidak menghisap sulit berpikir, lemas, tidak bisa kerja dan lain sebagainya.
<\/p>\n","post_title":"Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fenomena-hukum-rokok-bagi-ulama-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-10 10:37:16","post_modified_gmt":"2019-04-10 03:37:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5621","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

Paling Populer

\n

Menurut Sadikin, masyarakat harus adil memerlakukan para difabel. Difabel harus diperlakukan sebagaimana orang biasa. Semakin banyak orang yang mengasihani difabel, maka tidak malah membuat difabel itu kuat, sebaliknya berdampak melemahkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cDifabel harus diperlakukan seperti manusia biasa, bahkan ia harus diberi tantangan dan ditempa untuk menemukan kelebihan dalam dirinya,\u201d kata Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, para difabel harus mulai mengubah sudut pandang. Bahwa segala kekurangan tidak kemudian menjadikan para difabel pasrah menerima nasib dan mengharapkan santunan dari orang lain dan pemerintah untuk menjalani hidup. Difabel adalah orang istimewa yang dapat berkarya melebihi orang-orang biasa. Kekurangan ini adalah kelebihan yang akan ditemukan dengan kerja keras dan melatih diri menjadi apa yang diinginkan.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin bisa berangkat ke Swiss dan mengharumkan nama Indonesia di mata dunia, tidak terlebih dulu mendapat perhatian dari pemerintah. Ia mengaku berangkat dengan uang sendiri. Bahkan, lanjut Sadikin, hingga kini pun tidak ada pemerintah yang mengapresiasi karya-karyanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak menginginkan belas kasihan dari pemerintah. Karena yang sejatinya benar adalah, kita dapat memberikan apa kepada negara ini, bukan negara dapat memberikan apa kepada kita. Namun yang saya sayangkan, pemerintah sepertinya tidak peduli memperhatikan para seniman dan menghargai karya seni dari para seniman negeri sendiri. Seharusnya para seniman ini diberikan wadah, diperhatikan, kan juga kalau manajemennya bagus bisa menjadi pemasukan untuk negara,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin mengirim pesan kepada seluruh seniman di Tanah Air untuk terus berkaraya, tanpa peduli akan bernilai apa sebuah karya tersebut. \u201cYang terpenting kita dapat mengaktulisasikan diri dan terus melukis dengan niat mengharumkan nama negeri. Teruslah berkarya, karena sejatinya karya adalah yang dibuat dengan kesungguhan dan keikhlasan hati,\u201d pungkas pelukis beranak dua tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Shadikin Pard, Pelukis Tanpa Lengan yang Mengharumkan Bangsa dengan Kedua Kakinya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"shadikin-pard-pelukis-tanpa-lengan-yang-mengharumkan-bangsa-dengan-kedua-kakinya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-16 11:09:38","post_modified_gmt":"2019-04-16 04:09:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5637","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5621,"post_author":"877","post_date":"2019-04-10 10:37:08","post_date_gmt":"2019-04-10 03:37:08","post_content":"\n

Bahasan mengenai hukum menyulut kretek pernah dipertanyakan dalam forum bahtsul masail<\/em> (musyawarah) para Kiai\/Ulama\u2019 Kudus. Pertanyaan (saail<\/em>) yang mengajukan atas nama masyarakat Baletengahan, yaitu dukuh yang masuk wilayah Desa Langgardalem Kecamatan Kota. Tepatnya sekitar + 800an m, arah utara Masjid Menara Kudus (al-Aqsha). Kultur budaya masyarakat Baletengahan adalah santri, terdapat banyak Pesantren dan beberapa madrasah, salah satunya lembaga pendidikan formal TBS (Tasywiqut Thullab Salafiyyah), yaitu lembaga pendidikan salaf yang dahulu salah satu tempat  KH. Arwani Amin al-Hafiz mengajar dan yayasan pendidikan Nawa Kartika, yang didirikan oleh tokoh NU setempat. <\/p>\n\n\n\n

Lain halnya pesantren dan lembaga pendidikan, di sekitar Baletengahan Langgardalem, konon dahulu banyak usaha rumahan kretek. Petilasan yang masih dapat dijumpai di Langgardalem adalah \u201cgudang tembakau dan PR. Buah Cengkeh\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Disini terlihat para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus mempunyai tradisi kritis menyikapi fenomena disekelilingnya. Sehingga wajar pada tahun 1990an muncul bahasan tentang kretek di Bahtsul Masail<\/em> para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, jauh mendahului keputusan MUI dan Muhammadiyyah hasil Padang Panjang, dilaksanakan tahun 2009-2010.<\/p>\n\n\n\n

Tradisi Bahtsul Masail biasa disebut \u201cMunadzoroh<\/em>\u201d sudah lama dilakukan para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, dengan bertempat di Masjid-masjid di sekitar Kudus, bergantian dan memutar. Peserta munadzoroh<\/em> adalah para Kiai\/Ulama\u2019 se-Kabupaten Kudus dari berbagai penjuru desa, dan juga masyarakat umum, karena sifatnya terbuka (siapa saja boleh ikut tanpa terkecuali). Pelaksanaannya dari dulu hingga sekarang dijatuhkan pada hari Ahad (minggu). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat pembahasan mengenai kretek, bertempat di Masji al-Aqsho Menara Kudus yang dipimpin oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), redaksi pertanyaaannya adalah:<\/p>\n\n\n\n

\u201ckados pundi hukumipun ngkretek (bagaimana hukum menghisap kretek)?\u201d<\/em>--pertanyaan dari<\/em> Baletengahan--<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sebelum memulai pembahasan biasanya KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menanyakan tentang apa yang akan dibahas. Diceritakan oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi, situasi dan kondisi saat itu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), bertanya di forum, \u00a0\u201copo iki takonane?\u201d (pertanyaannya apa), di jawab yang hadir saat itu, \u201c anu Mbah bab kretek\u201d (itu bab menghisap kretek), lalu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menyambung jawaban hadirin, \u201coooo, bab kretek, kretekku gowo rene dikik\u201d (ooo, bab menghisap kretek, kretekku bawa kemari dulu), kemudian KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) mengambil satu batang kretek dari bungkusnya disulut dan dihisap. Selesai menyulut kretek, kembali KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) berbicara, \u201cwes kono dibahas\u201d (sudah sana dibahas). Setelah diperintahkan untuk dibahas, suasana hening sejenak. \u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mungkin di benak para hadirin terlintas pikiran \u201capa yang dibahas sudah dijawab secara tersirat oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) dengan menghisap kretek\u201d. Pada akhirnya, pembahasan tetap dilaksanakan. Diceritakan KH. Sya\u2019roni juga, situasi saat itu tidak ada Kiai\/Ulama\u2019 yang hadir menghukumi \u201charam\u201d, pada akhirnya diputuskan KH. Turaikhan, dengan hukum \u201c boleh\u201d, disela-sela KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) memberikan penjelasan, ada salah satu hadirin mengacungkan jarinya, beliau adalah KH. Hambali (Al Maghfurlah), sambil berkata; \u201ckulo Kiai, menawi boten udud kulo mboten saget mucal\u201d (saya Kiai, kalau tidak sambil menghisap kretek, saya tidak dapat mengajar), disertai argumen dan penjelasanannya. Kemudian KH. Turaikhan, memberikan jawaban dan tanggapan kepada KH. Hambali, \u201cnek ngono, kanggo kuwi hukumi wajib\u201d (kalau begitu, untuk kamu hukumnya wajib mengkonsumsi kretek).  <\/p>\n\n\n\n

Dilihat dari putusan Bahtsul Masail di atas, pada awalnya menghisap kretek dihukumi \u201cboleh\u201d, namun dengan kondisi tertentu menjadi \u201cWajib\u201d. Cerita penetapan hukum menghisap kretek dalam forum Bahtsul Masail di atas, telah menyebar di kalangan masyarakat Kudus, dan menjadi konsumsi publik, serta bersifat mengikat sampai sekarang. Sehingga banyak Kiai\/Ulama\u2019 Kudus tidak mempersoalkan lagi, apalagi membahas kembali. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cerita situasi dan kondisi Bahtsul Masail, diapresiasi dan diinterpretasikan Kiai\/Ulama\u2019Kudus lebih kontekstual, salah satunya KH. Fatkhur Rahman, beliau bercerita;  saat KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) populer dengan sebutan Mbah Tur memimpin munadzoroh<\/em> ada pertanyaan: bagaimana hukumnya kretek? Mbah Tur malah mengambil kretek, menyulut dan menghisapnya, dengan begitu diasumsikan hukumnya \u201chalal\u201d (jadi  setelah itu sudah tidak perlu dibahas lagi soal kretek). KH. Fatkhur Rahman juga menceritakan ada satu alasan kuat, mengapa halal, karena para Kiai itu tidak mau barang subhat<\/em> (tidak jelas posisinya), apalagi haram. Ketika para Kiai\/Ulama\u2019 besar menghisap kretek, otomatis tidak haram. Tuhan menciptakan sesuatu untuk dinikmati itu ada dua, halal atau haram. <\/p>\n\n\n\n

Dasar hukum menghisap kretek adalah mubah, sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang menjadi wajib, juga menjadi haram. Dasar utamanya adalah  \u201cla dhororo wala dhiroro\u201d. <\/em>Hukumnya seperti  mengkonsumsi gula, ketika kena penyakit gula, maka haram atau tidak boleh mengkonsumsi gula. Begitu pula ketika punya darah tinggi, maka tidak boleh makan daging, dan seterusnya. Dimana \u201calhukmu yadurru ma\u2019a illatihi\u201d<\/em>(hukum itu bisa beralih tergantung alasannya). Membeli kretek dihukumi tidak boleh (haram), jika uang yang dipakai semestinya untuk belanja kebutuhan pokok, membayar sekolah dan lain sebagainya. Menghisap kretek menjadi wajib, ketika tidak menghisap sulit berpikir, lemas, tidak bisa kerja dan lain sebagainya.
<\/p>\n","post_title":"Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fenomena-hukum-rokok-bagi-ulama-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-10 10:37:16","post_modified_gmt":"2019-04-10 03:37:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5621","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

Paling Populer

\n

Sadikin tidak mau dikasihani orang lain. Meski ia tunadaksa, ia adalah manusia yang sama, yang memilki kesempatan besar untuk menjalani rutinitas sebagaimana manusia lainnya. \u201cKuncinya adalah terus mencoba, mencoba dan mencoba. Saya tidak apa-apa dicemooh lukisan saya jelek. Bagi saya cemoohan seperti itu adalah cambuk untuk terus berlatih,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Sadikin, masyarakat harus adil memerlakukan para difabel. Difabel harus diperlakukan sebagaimana orang biasa. Semakin banyak orang yang mengasihani difabel, maka tidak malah membuat difabel itu kuat, sebaliknya berdampak melemahkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cDifabel harus diperlakukan seperti manusia biasa, bahkan ia harus diberi tantangan dan ditempa untuk menemukan kelebihan dalam dirinya,\u201d kata Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, para difabel harus mulai mengubah sudut pandang. Bahwa segala kekurangan tidak kemudian menjadikan para difabel pasrah menerima nasib dan mengharapkan santunan dari orang lain dan pemerintah untuk menjalani hidup. Difabel adalah orang istimewa yang dapat berkarya melebihi orang-orang biasa. Kekurangan ini adalah kelebihan yang akan ditemukan dengan kerja keras dan melatih diri menjadi apa yang diinginkan.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin bisa berangkat ke Swiss dan mengharumkan nama Indonesia di mata dunia, tidak terlebih dulu mendapat perhatian dari pemerintah. Ia mengaku berangkat dengan uang sendiri. Bahkan, lanjut Sadikin, hingga kini pun tidak ada pemerintah yang mengapresiasi karya-karyanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak menginginkan belas kasihan dari pemerintah. Karena yang sejatinya benar adalah, kita dapat memberikan apa kepada negara ini, bukan negara dapat memberikan apa kepada kita. Namun yang saya sayangkan, pemerintah sepertinya tidak peduli memperhatikan para seniman dan menghargai karya seni dari para seniman negeri sendiri. Seharusnya para seniman ini diberikan wadah, diperhatikan, kan juga kalau manajemennya bagus bisa menjadi pemasukan untuk negara,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin mengirim pesan kepada seluruh seniman di Tanah Air untuk terus berkaraya, tanpa peduli akan bernilai apa sebuah karya tersebut. \u201cYang terpenting kita dapat mengaktulisasikan diri dan terus melukis dengan niat mengharumkan nama negeri. Teruslah berkarya, karena sejatinya karya adalah yang dibuat dengan kesungguhan dan keikhlasan hati,\u201d pungkas pelukis beranak dua tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Shadikin Pard, Pelukis Tanpa Lengan yang Mengharumkan Bangsa dengan Kedua Kakinya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"shadikin-pard-pelukis-tanpa-lengan-yang-mengharumkan-bangsa-dengan-kedua-kakinya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-16 11:09:38","post_modified_gmt":"2019-04-16 04:09:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5637","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5621,"post_author":"877","post_date":"2019-04-10 10:37:08","post_date_gmt":"2019-04-10 03:37:08","post_content":"\n

Bahasan mengenai hukum menyulut kretek pernah dipertanyakan dalam forum bahtsul masail<\/em> (musyawarah) para Kiai\/Ulama\u2019 Kudus. Pertanyaan (saail<\/em>) yang mengajukan atas nama masyarakat Baletengahan, yaitu dukuh yang masuk wilayah Desa Langgardalem Kecamatan Kota. Tepatnya sekitar + 800an m, arah utara Masjid Menara Kudus (al-Aqsha). Kultur budaya masyarakat Baletengahan adalah santri, terdapat banyak Pesantren dan beberapa madrasah, salah satunya lembaga pendidikan formal TBS (Tasywiqut Thullab Salafiyyah), yaitu lembaga pendidikan salaf yang dahulu salah satu tempat  KH. Arwani Amin al-Hafiz mengajar dan yayasan pendidikan Nawa Kartika, yang didirikan oleh tokoh NU setempat. <\/p>\n\n\n\n

Lain halnya pesantren dan lembaga pendidikan, di sekitar Baletengahan Langgardalem, konon dahulu banyak usaha rumahan kretek. Petilasan yang masih dapat dijumpai di Langgardalem adalah \u201cgudang tembakau dan PR. Buah Cengkeh\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Disini terlihat para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus mempunyai tradisi kritis menyikapi fenomena disekelilingnya. Sehingga wajar pada tahun 1990an muncul bahasan tentang kretek di Bahtsul Masail<\/em> para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, jauh mendahului keputusan MUI dan Muhammadiyyah hasil Padang Panjang, dilaksanakan tahun 2009-2010.<\/p>\n\n\n\n

Tradisi Bahtsul Masail biasa disebut \u201cMunadzoroh<\/em>\u201d sudah lama dilakukan para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, dengan bertempat di Masjid-masjid di sekitar Kudus, bergantian dan memutar. Peserta munadzoroh<\/em> adalah para Kiai\/Ulama\u2019 se-Kabupaten Kudus dari berbagai penjuru desa, dan juga masyarakat umum, karena sifatnya terbuka (siapa saja boleh ikut tanpa terkecuali). Pelaksanaannya dari dulu hingga sekarang dijatuhkan pada hari Ahad (minggu). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat pembahasan mengenai kretek, bertempat di Masji al-Aqsho Menara Kudus yang dipimpin oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), redaksi pertanyaaannya adalah:<\/p>\n\n\n\n

\u201ckados pundi hukumipun ngkretek (bagaimana hukum menghisap kretek)?\u201d<\/em>--pertanyaan dari<\/em> Baletengahan--<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sebelum memulai pembahasan biasanya KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menanyakan tentang apa yang akan dibahas. Diceritakan oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi, situasi dan kondisi saat itu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), bertanya di forum, \u00a0\u201copo iki takonane?\u201d (pertanyaannya apa), di jawab yang hadir saat itu, \u201c anu Mbah bab kretek\u201d (itu bab menghisap kretek), lalu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menyambung jawaban hadirin, \u201coooo, bab kretek, kretekku gowo rene dikik\u201d (ooo, bab menghisap kretek, kretekku bawa kemari dulu), kemudian KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) mengambil satu batang kretek dari bungkusnya disulut dan dihisap. Selesai menyulut kretek, kembali KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) berbicara, \u201cwes kono dibahas\u201d (sudah sana dibahas). Setelah diperintahkan untuk dibahas, suasana hening sejenak. \u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mungkin di benak para hadirin terlintas pikiran \u201capa yang dibahas sudah dijawab secara tersirat oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) dengan menghisap kretek\u201d. Pada akhirnya, pembahasan tetap dilaksanakan. Diceritakan KH. Sya\u2019roni juga, situasi saat itu tidak ada Kiai\/Ulama\u2019 yang hadir menghukumi \u201charam\u201d, pada akhirnya diputuskan KH. Turaikhan, dengan hukum \u201c boleh\u201d, disela-sela KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) memberikan penjelasan, ada salah satu hadirin mengacungkan jarinya, beliau adalah KH. Hambali (Al Maghfurlah), sambil berkata; \u201ckulo Kiai, menawi boten udud kulo mboten saget mucal\u201d (saya Kiai, kalau tidak sambil menghisap kretek, saya tidak dapat mengajar), disertai argumen dan penjelasanannya. Kemudian KH. Turaikhan, memberikan jawaban dan tanggapan kepada KH. Hambali, \u201cnek ngono, kanggo kuwi hukumi wajib\u201d (kalau begitu, untuk kamu hukumnya wajib mengkonsumsi kretek).  <\/p>\n\n\n\n

Dilihat dari putusan Bahtsul Masail di atas, pada awalnya menghisap kretek dihukumi \u201cboleh\u201d, namun dengan kondisi tertentu menjadi \u201cWajib\u201d. Cerita penetapan hukum menghisap kretek dalam forum Bahtsul Masail di atas, telah menyebar di kalangan masyarakat Kudus, dan menjadi konsumsi publik, serta bersifat mengikat sampai sekarang. Sehingga banyak Kiai\/Ulama\u2019 Kudus tidak mempersoalkan lagi, apalagi membahas kembali. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cerita situasi dan kondisi Bahtsul Masail, diapresiasi dan diinterpretasikan Kiai\/Ulama\u2019Kudus lebih kontekstual, salah satunya KH. Fatkhur Rahman, beliau bercerita;  saat KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) populer dengan sebutan Mbah Tur memimpin munadzoroh<\/em> ada pertanyaan: bagaimana hukumnya kretek? Mbah Tur malah mengambil kretek, menyulut dan menghisapnya, dengan begitu diasumsikan hukumnya \u201chalal\u201d (jadi  setelah itu sudah tidak perlu dibahas lagi soal kretek). KH. Fatkhur Rahman juga menceritakan ada satu alasan kuat, mengapa halal, karena para Kiai itu tidak mau barang subhat<\/em> (tidak jelas posisinya), apalagi haram. Ketika para Kiai\/Ulama\u2019 besar menghisap kretek, otomatis tidak haram. Tuhan menciptakan sesuatu untuk dinikmati itu ada dua, halal atau haram. <\/p>\n\n\n\n

Dasar hukum menghisap kretek adalah mubah, sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang menjadi wajib, juga menjadi haram. Dasar utamanya adalah  \u201cla dhororo wala dhiroro\u201d. <\/em>Hukumnya seperti  mengkonsumsi gula, ketika kena penyakit gula, maka haram atau tidak boleh mengkonsumsi gula. Begitu pula ketika punya darah tinggi, maka tidak boleh makan daging, dan seterusnya. Dimana \u201calhukmu yadurru ma\u2019a illatihi\u201d<\/em>(hukum itu bisa beralih tergantung alasannya). Membeli kretek dihukumi tidak boleh (haram), jika uang yang dipakai semestinya untuk belanja kebutuhan pokok, membayar sekolah dan lain sebagainya. Menghisap kretek menjadi wajib, ketika tidak menghisap sulit berpikir, lemas, tidak bisa kerja dan lain sebagainya.
<\/p>\n","post_title":"Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fenomena-hukum-rokok-bagi-ulama-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-10 10:37:16","post_modified_gmt":"2019-04-10 03:37:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5621","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

Paling Populer

\n

Menolak Pasrah dan Bergantung kepada Pemerintah karena Disabilitas<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Sadikin tidak mau dikasihani orang lain. Meski ia tunadaksa, ia adalah manusia yang sama, yang memilki kesempatan besar untuk menjalani rutinitas sebagaimana manusia lainnya. \u201cKuncinya adalah terus mencoba, mencoba dan mencoba. Saya tidak apa-apa dicemooh lukisan saya jelek. Bagi saya cemoohan seperti itu adalah cambuk untuk terus berlatih,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Sadikin, masyarakat harus adil memerlakukan para difabel. Difabel harus diperlakukan sebagaimana orang biasa. Semakin banyak orang yang mengasihani difabel, maka tidak malah membuat difabel itu kuat, sebaliknya berdampak melemahkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cDifabel harus diperlakukan seperti manusia biasa, bahkan ia harus diberi tantangan dan ditempa untuk menemukan kelebihan dalam dirinya,\u201d kata Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, para difabel harus mulai mengubah sudut pandang. Bahwa segala kekurangan tidak kemudian menjadikan para difabel pasrah menerima nasib dan mengharapkan santunan dari orang lain dan pemerintah untuk menjalani hidup. Difabel adalah orang istimewa yang dapat berkarya melebihi orang-orang biasa. Kekurangan ini adalah kelebihan yang akan ditemukan dengan kerja keras dan melatih diri menjadi apa yang diinginkan.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin bisa berangkat ke Swiss dan mengharumkan nama Indonesia di mata dunia, tidak terlebih dulu mendapat perhatian dari pemerintah. Ia mengaku berangkat dengan uang sendiri. Bahkan, lanjut Sadikin, hingga kini pun tidak ada pemerintah yang mengapresiasi karya-karyanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak menginginkan belas kasihan dari pemerintah. Karena yang sejatinya benar adalah, kita dapat memberikan apa kepada negara ini, bukan negara dapat memberikan apa kepada kita. Namun yang saya sayangkan, pemerintah sepertinya tidak peduli memperhatikan para seniman dan menghargai karya seni dari para seniman negeri sendiri. Seharusnya para seniman ini diberikan wadah, diperhatikan, kan juga kalau manajemennya bagus bisa menjadi pemasukan untuk negara,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin mengirim pesan kepada seluruh seniman di Tanah Air untuk terus berkaraya, tanpa peduli akan bernilai apa sebuah karya tersebut. \u201cYang terpenting kita dapat mengaktulisasikan diri dan terus melukis dengan niat mengharumkan nama negeri. Teruslah berkarya, karena sejatinya karya adalah yang dibuat dengan kesungguhan dan keikhlasan hati,\u201d pungkas pelukis beranak dua tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Shadikin Pard, Pelukis Tanpa Lengan yang Mengharumkan Bangsa dengan Kedua Kakinya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"shadikin-pard-pelukis-tanpa-lengan-yang-mengharumkan-bangsa-dengan-kedua-kakinya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-16 11:09:38","post_modified_gmt":"2019-04-16 04:09:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5637","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5621,"post_author":"877","post_date":"2019-04-10 10:37:08","post_date_gmt":"2019-04-10 03:37:08","post_content":"\n

Bahasan mengenai hukum menyulut kretek pernah dipertanyakan dalam forum bahtsul masail<\/em> (musyawarah) para Kiai\/Ulama\u2019 Kudus. Pertanyaan (saail<\/em>) yang mengajukan atas nama masyarakat Baletengahan, yaitu dukuh yang masuk wilayah Desa Langgardalem Kecamatan Kota. Tepatnya sekitar + 800an m, arah utara Masjid Menara Kudus (al-Aqsha). Kultur budaya masyarakat Baletengahan adalah santri, terdapat banyak Pesantren dan beberapa madrasah, salah satunya lembaga pendidikan formal TBS (Tasywiqut Thullab Salafiyyah), yaitu lembaga pendidikan salaf yang dahulu salah satu tempat  KH. Arwani Amin al-Hafiz mengajar dan yayasan pendidikan Nawa Kartika, yang didirikan oleh tokoh NU setempat. <\/p>\n\n\n\n

Lain halnya pesantren dan lembaga pendidikan, di sekitar Baletengahan Langgardalem, konon dahulu banyak usaha rumahan kretek. Petilasan yang masih dapat dijumpai di Langgardalem adalah \u201cgudang tembakau dan PR. Buah Cengkeh\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Disini terlihat para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus mempunyai tradisi kritis menyikapi fenomena disekelilingnya. Sehingga wajar pada tahun 1990an muncul bahasan tentang kretek di Bahtsul Masail<\/em> para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, jauh mendahului keputusan MUI dan Muhammadiyyah hasil Padang Panjang, dilaksanakan tahun 2009-2010.<\/p>\n\n\n\n

Tradisi Bahtsul Masail biasa disebut \u201cMunadzoroh<\/em>\u201d sudah lama dilakukan para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, dengan bertempat di Masjid-masjid di sekitar Kudus, bergantian dan memutar. Peserta munadzoroh<\/em> adalah para Kiai\/Ulama\u2019 se-Kabupaten Kudus dari berbagai penjuru desa, dan juga masyarakat umum, karena sifatnya terbuka (siapa saja boleh ikut tanpa terkecuali). Pelaksanaannya dari dulu hingga sekarang dijatuhkan pada hari Ahad (minggu). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat pembahasan mengenai kretek, bertempat di Masji al-Aqsho Menara Kudus yang dipimpin oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), redaksi pertanyaaannya adalah:<\/p>\n\n\n\n

\u201ckados pundi hukumipun ngkretek (bagaimana hukum menghisap kretek)?\u201d<\/em>--pertanyaan dari<\/em> Baletengahan--<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sebelum memulai pembahasan biasanya KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menanyakan tentang apa yang akan dibahas. Diceritakan oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi, situasi dan kondisi saat itu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), bertanya di forum, \u00a0\u201copo iki takonane?\u201d (pertanyaannya apa), di jawab yang hadir saat itu, \u201c anu Mbah bab kretek\u201d (itu bab menghisap kretek), lalu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menyambung jawaban hadirin, \u201coooo, bab kretek, kretekku gowo rene dikik\u201d (ooo, bab menghisap kretek, kretekku bawa kemari dulu), kemudian KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) mengambil satu batang kretek dari bungkusnya disulut dan dihisap. Selesai menyulut kretek, kembali KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) berbicara, \u201cwes kono dibahas\u201d (sudah sana dibahas). Setelah diperintahkan untuk dibahas, suasana hening sejenak. \u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mungkin di benak para hadirin terlintas pikiran \u201capa yang dibahas sudah dijawab secara tersirat oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) dengan menghisap kretek\u201d. Pada akhirnya, pembahasan tetap dilaksanakan. Diceritakan KH. Sya\u2019roni juga, situasi saat itu tidak ada Kiai\/Ulama\u2019 yang hadir menghukumi \u201charam\u201d, pada akhirnya diputuskan KH. Turaikhan, dengan hukum \u201c boleh\u201d, disela-sela KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) memberikan penjelasan, ada salah satu hadirin mengacungkan jarinya, beliau adalah KH. Hambali (Al Maghfurlah), sambil berkata; \u201ckulo Kiai, menawi boten udud kulo mboten saget mucal\u201d (saya Kiai, kalau tidak sambil menghisap kretek, saya tidak dapat mengajar), disertai argumen dan penjelasanannya. Kemudian KH. Turaikhan, memberikan jawaban dan tanggapan kepada KH. Hambali, \u201cnek ngono, kanggo kuwi hukumi wajib\u201d (kalau begitu, untuk kamu hukumnya wajib mengkonsumsi kretek).  <\/p>\n\n\n\n

Dilihat dari putusan Bahtsul Masail di atas, pada awalnya menghisap kretek dihukumi \u201cboleh\u201d, namun dengan kondisi tertentu menjadi \u201cWajib\u201d. Cerita penetapan hukum menghisap kretek dalam forum Bahtsul Masail di atas, telah menyebar di kalangan masyarakat Kudus, dan menjadi konsumsi publik, serta bersifat mengikat sampai sekarang. Sehingga banyak Kiai\/Ulama\u2019 Kudus tidak mempersoalkan lagi, apalagi membahas kembali. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cerita situasi dan kondisi Bahtsul Masail, diapresiasi dan diinterpretasikan Kiai\/Ulama\u2019Kudus lebih kontekstual, salah satunya KH. Fatkhur Rahman, beliau bercerita;  saat KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) populer dengan sebutan Mbah Tur memimpin munadzoroh<\/em> ada pertanyaan: bagaimana hukumnya kretek? Mbah Tur malah mengambil kretek, menyulut dan menghisapnya, dengan begitu diasumsikan hukumnya \u201chalal\u201d (jadi  setelah itu sudah tidak perlu dibahas lagi soal kretek). KH. Fatkhur Rahman juga menceritakan ada satu alasan kuat, mengapa halal, karena para Kiai itu tidak mau barang subhat<\/em> (tidak jelas posisinya), apalagi haram. Ketika para Kiai\/Ulama\u2019 besar menghisap kretek, otomatis tidak haram. Tuhan menciptakan sesuatu untuk dinikmati itu ada dua, halal atau haram. <\/p>\n\n\n\n

Dasar hukum menghisap kretek adalah mubah, sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang menjadi wajib, juga menjadi haram. Dasar utamanya adalah  \u201cla dhororo wala dhiroro\u201d. <\/em>Hukumnya seperti  mengkonsumsi gula, ketika kena penyakit gula, maka haram atau tidak boleh mengkonsumsi gula. Begitu pula ketika punya darah tinggi, maka tidak boleh makan daging, dan seterusnya. Dimana \u201calhukmu yadurru ma\u2019a illatihi\u201d<\/em>(hukum itu bisa beralih tergantung alasannya). Membeli kretek dihukumi tidak boleh (haram), jika uang yang dipakai semestinya untuk belanja kebutuhan pokok, membayar sekolah dan lain sebagainya. Menghisap kretek menjadi wajib, ketika tidak menghisap sulit berpikir, lemas, tidak bisa kerja dan lain sebagainya.
<\/p>\n","post_title":"Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fenomena-hukum-rokok-bagi-ulama-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-10 10:37:16","post_modified_gmt":"2019-04-10 03:37:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5621","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

Paling Populer

\n

Setiap kali ada pameran lukisan dan kontes-kontes melukis, Sadikin tidak pernah alfa untuk mengikutinya. Karyanya menjadi sorotan publik dan banyak laku dengan harga yang tidak murah. Bahkan menurutnya, ada salah satu lukisannya yang laku hingga Rp 250 juta.<\/p>\n\n\n\n

Menolak Pasrah dan Bergantung kepada Pemerintah karena Disabilitas<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Sadikin tidak mau dikasihani orang lain. Meski ia tunadaksa, ia adalah manusia yang sama, yang memilki kesempatan besar untuk menjalani rutinitas sebagaimana manusia lainnya. \u201cKuncinya adalah terus mencoba, mencoba dan mencoba. Saya tidak apa-apa dicemooh lukisan saya jelek. Bagi saya cemoohan seperti itu adalah cambuk untuk terus berlatih,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Sadikin, masyarakat harus adil memerlakukan para difabel. Difabel harus diperlakukan sebagaimana orang biasa. Semakin banyak orang yang mengasihani difabel, maka tidak malah membuat difabel itu kuat, sebaliknya berdampak melemahkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cDifabel harus diperlakukan seperti manusia biasa, bahkan ia harus diberi tantangan dan ditempa untuk menemukan kelebihan dalam dirinya,\u201d kata Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, para difabel harus mulai mengubah sudut pandang. Bahwa segala kekurangan tidak kemudian menjadikan para difabel pasrah menerima nasib dan mengharapkan santunan dari orang lain dan pemerintah untuk menjalani hidup. Difabel adalah orang istimewa yang dapat berkarya melebihi orang-orang biasa. Kekurangan ini adalah kelebihan yang akan ditemukan dengan kerja keras dan melatih diri menjadi apa yang diinginkan.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin bisa berangkat ke Swiss dan mengharumkan nama Indonesia di mata dunia, tidak terlebih dulu mendapat perhatian dari pemerintah. Ia mengaku berangkat dengan uang sendiri. Bahkan, lanjut Sadikin, hingga kini pun tidak ada pemerintah yang mengapresiasi karya-karyanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak menginginkan belas kasihan dari pemerintah. Karena yang sejatinya benar adalah, kita dapat memberikan apa kepada negara ini, bukan negara dapat memberikan apa kepada kita. Namun yang saya sayangkan, pemerintah sepertinya tidak peduli memperhatikan para seniman dan menghargai karya seni dari para seniman negeri sendiri. Seharusnya para seniman ini diberikan wadah, diperhatikan, kan juga kalau manajemennya bagus bisa menjadi pemasukan untuk negara,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin mengirim pesan kepada seluruh seniman di Tanah Air untuk terus berkaraya, tanpa peduli akan bernilai apa sebuah karya tersebut. \u201cYang terpenting kita dapat mengaktulisasikan diri dan terus melukis dengan niat mengharumkan nama negeri. Teruslah berkarya, karena sejatinya karya adalah yang dibuat dengan kesungguhan dan keikhlasan hati,\u201d pungkas pelukis beranak dua tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Shadikin Pard, Pelukis Tanpa Lengan yang Mengharumkan Bangsa dengan Kedua Kakinya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"shadikin-pard-pelukis-tanpa-lengan-yang-mengharumkan-bangsa-dengan-kedua-kakinya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-16 11:09:38","post_modified_gmt":"2019-04-16 04:09:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5637","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5621,"post_author":"877","post_date":"2019-04-10 10:37:08","post_date_gmt":"2019-04-10 03:37:08","post_content":"\n

Bahasan mengenai hukum menyulut kretek pernah dipertanyakan dalam forum bahtsul masail<\/em> (musyawarah) para Kiai\/Ulama\u2019 Kudus. Pertanyaan (saail<\/em>) yang mengajukan atas nama masyarakat Baletengahan, yaitu dukuh yang masuk wilayah Desa Langgardalem Kecamatan Kota. Tepatnya sekitar + 800an m, arah utara Masjid Menara Kudus (al-Aqsha). Kultur budaya masyarakat Baletengahan adalah santri, terdapat banyak Pesantren dan beberapa madrasah, salah satunya lembaga pendidikan formal TBS (Tasywiqut Thullab Salafiyyah), yaitu lembaga pendidikan salaf yang dahulu salah satu tempat  KH. Arwani Amin al-Hafiz mengajar dan yayasan pendidikan Nawa Kartika, yang didirikan oleh tokoh NU setempat. <\/p>\n\n\n\n

Lain halnya pesantren dan lembaga pendidikan, di sekitar Baletengahan Langgardalem, konon dahulu banyak usaha rumahan kretek. Petilasan yang masih dapat dijumpai di Langgardalem adalah \u201cgudang tembakau dan PR. Buah Cengkeh\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Disini terlihat para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus mempunyai tradisi kritis menyikapi fenomena disekelilingnya. Sehingga wajar pada tahun 1990an muncul bahasan tentang kretek di Bahtsul Masail<\/em> para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, jauh mendahului keputusan MUI dan Muhammadiyyah hasil Padang Panjang, dilaksanakan tahun 2009-2010.<\/p>\n\n\n\n

Tradisi Bahtsul Masail biasa disebut \u201cMunadzoroh<\/em>\u201d sudah lama dilakukan para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, dengan bertempat di Masjid-masjid di sekitar Kudus, bergantian dan memutar. Peserta munadzoroh<\/em> adalah para Kiai\/Ulama\u2019 se-Kabupaten Kudus dari berbagai penjuru desa, dan juga masyarakat umum, karena sifatnya terbuka (siapa saja boleh ikut tanpa terkecuali). Pelaksanaannya dari dulu hingga sekarang dijatuhkan pada hari Ahad (minggu). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat pembahasan mengenai kretek, bertempat di Masji al-Aqsho Menara Kudus yang dipimpin oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), redaksi pertanyaaannya adalah:<\/p>\n\n\n\n

\u201ckados pundi hukumipun ngkretek (bagaimana hukum menghisap kretek)?\u201d<\/em>--pertanyaan dari<\/em> Baletengahan--<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sebelum memulai pembahasan biasanya KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menanyakan tentang apa yang akan dibahas. Diceritakan oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi, situasi dan kondisi saat itu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), bertanya di forum, \u00a0\u201copo iki takonane?\u201d (pertanyaannya apa), di jawab yang hadir saat itu, \u201c anu Mbah bab kretek\u201d (itu bab menghisap kretek), lalu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menyambung jawaban hadirin, \u201coooo, bab kretek, kretekku gowo rene dikik\u201d (ooo, bab menghisap kretek, kretekku bawa kemari dulu), kemudian KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) mengambil satu batang kretek dari bungkusnya disulut dan dihisap. Selesai menyulut kretek, kembali KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) berbicara, \u201cwes kono dibahas\u201d (sudah sana dibahas). Setelah diperintahkan untuk dibahas, suasana hening sejenak. \u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mungkin di benak para hadirin terlintas pikiran \u201capa yang dibahas sudah dijawab secara tersirat oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) dengan menghisap kretek\u201d. Pada akhirnya, pembahasan tetap dilaksanakan. Diceritakan KH. Sya\u2019roni juga, situasi saat itu tidak ada Kiai\/Ulama\u2019 yang hadir menghukumi \u201charam\u201d, pada akhirnya diputuskan KH. Turaikhan, dengan hukum \u201c boleh\u201d, disela-sela KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) memberikan penjelasan, ada salah satu hadirin mengacungkan jarinya, beliau adalah KH. Hambali (Al Maghfurlah), sambil berkata; \u201ckulo Kiai, menawi boten udud kulo mboten saget mucal\u201d (saya Kiai, kalau tidak sambil menghisap kretek, saya tidak dapat mengajar), disertai argumen dan penjelasanannya. Kemudian KH. Turaikhan, memberikan jawaban dan tanggapan kepada KH. Hambali, \u201cnek ngono, kanggo kuwi hukumi wajib\u201d (kalau begitu, untuk kamu hukumnya wajib mengkonsumsi kretek).  <\/p>\n\n\n\n

Dilihat dari putusan Bahtsul Masail di atas, pada awalnya menghisap kretek dihukumi \u201cboleh\u201d, namun dengan kondisi tertentu menjadi \u201cWajib\u201d. Cerita penetapan hukum menghisap kretek dalam forum Bahtsul Masail di atas, telah menyebar di kalangan masyarakat Kudus, dan menjadi konsumsi publik, serta bersifat mengikat sampai sekarang. Sehingga banyak Kiai\/Ulama\u2019 Kudus tidak mempersoalkan lagi, apalagi membahas kembali. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cerita situasi dan kondisi Bahtsul Masail, diapresiasi dan diinterpretasikan Kiai\/Ulama\u2019Kudus lebih kontekstual, salah satunya KH. Fatkhur Rahman, beliau bercerita;  saat KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) populer dengan sebutan Mbah Tur memimpin munadzoroh<\/em> ada pertanyaan: bagaimana hukumnya kretek? Mbah Tur malah mengambil kretek, menyulut dan menghisapnya, dengan begitu diasumsikan hukumnya \u201chalal\u201d (jadi  setelah itu sudah tidak perlu dibahas lagi soal kretek). KH. Fatkhur Rahman juga menceritakan ada satu alasan kuat, mengapa halal, karena para Kiai itu tidak mau barang subhat<\/em> (tidak jelas posisinya), apalagi haram. Ketika para Kiai\/Ulama\u2019 besar menghisap kretek, otomatis tidak haram. Tuhan menciptakan sesuatu untuk dinikmati itu ada dua, halal atau haram. <\/p>\n\n\n\n

Dasar hukum menghisap kretek adalah mubah, sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang menjadi wajib, juga menjadi haram. Dasar utamanya adalah  \u201cla dhororo wala dhiroro\u201d. <\/em>Hukumnya seperti  mengkonsumsi gula, ketika kena penyakit gula, maka haram atau tidak boleh mengkonsumsi gula. Begitu pula ketika punya darah tinggi, maka tidak boleh makan daging, dan seterusnya. Dimana \u201calhukmu yadurru ma\u2019a illatihi\u201d<\/em>(hukum itu bisa beralih tergantung alasannya). Membeli kretek dihukumi tidak boleh (haram), jika uang yang dipakai semestinya untuk belanja kebutuhan pokok, membayar sekolah dan lain sebagainya. Menghisap kretek menjadi wajib, ketika tidak menghisap sulit berpikir, lemas, tidak bisa kerja dan lain sebagainya.
<\/p>\n","post_title":"Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fenomena-hukum-rokok-bagi-ulama-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-10 10:37:16","post_modified_gmt":"2019-04-10 03:37:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5621","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

Paling Populer

\n

Sadikin terus melukis. Kemampuannya terus berkembang, bahkan melebihi tuntutan dari organisasi yang ia ikuti. Nama Sadikin juga mulai dikenal, bukan sebab keterbatasannya, melainkan sebab karyanya yang memang bernilai tinggi.
<\/p>\n\n\n\n

Setiap kali ada pameran lukisan dan kontes-kontes melukis, Sadikin tidak pernah alfa untuk mengikutinya. Karyanya menjadi sorotan publik dan banyak laku dengan harga yang tidak murah. Bahkan menurutnya, ada salah satu lukisannya yang laku hingga Rp 250 juta.<\/p>\n\n\n\n

Menolak Pasrah dan Bergantung kepada Pemerintah karena Disabilitas<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Sadikin tidak mau dikasihani orang lain. Meski ia tunadaksa, ia adalah manusia yang sama, yang memilki kesempatan besar untuk menjalani rutinitas sebagaimana manusia lainnya. \u201cKuncinya adalah terus mencoba, mencoba dan mencoba. Saya tidak apa-apa dicemooh lukisan saya jelek. Bagi saya cemoohan seperti itu adalah cambuk untuk terus berlatih,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Sadikin, masyarakat harus adil memerlakukan para difabel. Difabel harus diperlakukan sebagaimana orang biasa. Semakin banyak orang yang mengasihani difabel, maka tidak malah membuat difabel itu kuat, sebaliknya berdampak melemahkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cDifabel harus diperlakukan seperti manusia biasa, bahkan ia harus diberi tantangan dan ditempa untuk menemukan kelebihan dalam dirinya,\u201d kata Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, para difabel harus mulai mengubah sudut pandang. Bahwa segala kekurangan tidak kemudian menjadikan para difabel pasrah menerima nasib dan mengharapkan santunan dari orang lain dan pemerintah untuk menjalani hidup. Difabel adalah orang istimewa yang dapat berkarya melebihi orang-orang biasa. Kekurangan ini adalah kelebihan yang akan ditemukan dengan kerja keras dan melatih diri menjadi apa yang diinginkan.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin bisa berangkat ke Swiss dan mengharumkan nama Indonesia di mata dunia, tidak terlebih dulu mendapat perhatian dari pemerintah. Ia mengaku berangkat dengan uang sendiri. Bahkan, lanjut Sadikin, hingga kini pun tidak ada pemerintah yang mengapresiasi karya-karyanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak menginginkan belas kasihan dari pemerintah. Karena yang sejatinya benar adalah, kita dapat memberikan apa kepada negara ini, bukan negara dapat memberikan apa kepada kita. Namun yang saya sayangkan, pemerintah sepertinya tidak peduli memperhatikan para seniman dan menghargai karya seni dari para seniman negeri sendiri. Seharusnya para seniman ini diberikan wadah, diperhatikan, kan juga kalau manajemennya bagus bisa menjadi pemasukan untuk negara,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin mengirim pesan kepada seluruh seniman di Tanah Air untuk terus berkaraya, tanpa peduli akan bernilai apa sebuah karya tersebut. \u201cYang terpenting kita dapat mengaktulisasikan diri dan terus melukis dengan niat mengharumkan nama negeri. Teruslah berkarya, karena sejatinya karya adalah yang dibuat dengan kesungguhan dan keikhlasan hati,\u201d pungkas pelukis beranak dua tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Shadikin Pard, Pelukis Tanpa Lengan yang Mengharumkan Bangsa dengan Kedua Kakinya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"shadikin-pard-pelukis-tanpa-lengan-yang-mengharumkan-bangsa-dengan-kedua-kakinya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-16 11:09:38","post_modified_gmt":"2019-04-16 04:09:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5637","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5621,"post_author":"877","post_date":"2019-04-10 10:37:08","post_date_gmt":"2019-04-10 03:37:08","post_content":"\n

Bahasan mengenai hukum menyulut kretek pernah dipertanyakan dalam forum bahtsul masail<\/em> (musyawarah) para Kiai\/Ulama\u2019 Kudus. Pertanyaan (saail<\/em>) yang mengajukan atas nama masyarakat Baletengahan, yaitu dukuh yang masuk wilayah Desa Langgardalem Kecamatan Kota. Tepatnya sekitar + 800an m, arah utara Masjid Menara Kudus (al-Aqsha). Kultur budaya masyarakat Baletengahan adalah santri, terdapat banyak Pesantren dan beberapa madrasah, salah satunya lembaga pendidikan formal TBS (Tasywiqut Thullab Salafiyyah), yaitu lembaga pendidikan salaf yang dahulu salah satu tempat  KH. Arwani Amin al-Hafiz mengajar dan yayasan pendidikan Nawa Kartika, yang didirikan oleh tokoh NU setempat. <\/p>\n\n\n\n

Lain halnya pesantren dan lembaga pendidikan, di sekitar Baletengahan Langgardalem, konon dahulu banyak usaha rumahan kretek. Petilasan yang masih dapat dijumpai di Langgardalem adalah \u201cgudang tembakau dan PR. Buah Cengkeh\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Disini terlihat para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus mempunyai tradisi kritis menyikapi fenomena disekelilingnya. Sehingga wajar pada tahun 1990an muncul bahasan tentang kretek di Bahtsul Masail<\/em> para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, jauh mendahului keputusan MUI dan Muhammadiyyah hasil Padang Panjang, dilaksanakan tahun 2009-2010.<\/p>\n\n\n\n

Tradisi Bahtsul Masail biasa disebut \u201cMunadzoroh<\/em>\u201d sudah lama dilakukan para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, dengan bertempat di Masjid-masjid di sekitar Kudus, bergantian dan memutar. Peserta munadzoroh<\/em> adalah para Kiai\/Ulama\u2019 se-Kabupaten Kudus dari berbagai penjuru desa, dan juga masyarakat umum, karena sifatnya terbuka (siapa saja boleh ikut tanpa terkecuali). Pelaksanaannya dari dulu hingga sekarang dijatuhkan pada hari Ahad (minggu). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat pembahasan mengenai kretek, bertempat di Masji al-Aqsho Menara Kudus yang dipimpin oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), redaksi pertanyaaannya adalah:<\/p>\n\n\n\n

\u201ckados pundi hukumipun ngkretek (bagaimana hukum menghisap kretek)?\u201d<\/em>--pertanyaan dari<\/em> Baletengahan--<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sebelum memulai pembahasan biasanya KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menanyakan tentang apa yang akan dibahas. Diceritakan oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi, situasi dan kondisi saat itu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), bertanya di forum, \u00a0\u201copo iki takonane?\u201d (pertanyaannya apa), di jawab yang hadir saat itu, \u201c anu Mbah bab kretek\u201d (itu bab menghisap kretek), lalu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menyambung jawaban hadirin, \u201coooo, bab kretek, kretekku gowo rene dikik\u201d (ooo, bab menghisap kretek, kretekku bawa kemari dulu), kemudian KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) mengambil satu batang kretek dari bungkusnya disulut dan dihisap. Selesai menyulut kretek, kembali KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) berbicara, \u201cwes kono dibahas\u201d (sudah sana dibahas). Setelah diperintahkan untuk dibahas, suasana hening sejenak. \u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mungkin di benak para hadirin terlintas pikiran \u201capa yang dibahas sudah dijawab secara tersirat oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) dengan menghisap kretek\u201d. Pada akhirnya, pembahasan tetap dilaksanakan. Diceritakan KH. Sya\u2019roni juga, situasi saat itu tidak ada Kiai\/Ulama\u2019 yang hadir menghukumi \u201charam\u201d, pada akhirnya diputuskan KH. Turaikhan, dengan hukum \u201c boleh\u201d, disela-sela KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) memberikan penjelasan, ada salah satu hadirin mengacungkan jarinya, beliau adalah KH. Hambali (Al Maghfurlah), sambil berkata; \u201ckulo Kiai, menawi boten udud kulo mboten saget mucal\u201d (saya Kiai, kalau tidak sambil menghisap kretek, saya tidak dapat mengajar), disertai argumen dan penjelasanannya. Kemudian KH. Turaikhan, memberikan jawaban dan tanggapan kepada KH. Hambali, \u201cnek ngono, kanggo kuwi hukumi wajib\u201d (kalau begitu, untuk kamu hukumnya wajib mengkonsumsi kretek).  <\/p>\n\n\n\n

Dilihat dari putusan Bahtsul Masail di atas, pada awalnya menghisap kretek dihukumi \u201cboleh\u201d, namun dengan kondisi tertentu menjadi \u201cWajib\u201d. Cerita penetapan hukum menghisap kretek dalam forum Bahtsul Masail di atas, telah menyebar di kalangan masyarakat Kudus, dan menjadi konsumsi publik, serta bersifat mengikat sampai sekarang. Sehingga banyak Kiai\/Ulama\u2019 Kudus tidak mempersoalkan lagi, apalagi membahas kembali. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cerita situasi dan kondisi Bahtsul Masail, diapresiasi dan diinterpretasikan Kiai\/Ulama\u2019Kudus lebih kontekstual, salah satunya KH. Fatkhur Rahman, beliau bercerita;  saat KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) populer dengan sebutan Mbah Tur memimpin munadzoroh<\/em> ada pertanyaan: bagaimana hukumnya kretek? Mbah Tur malah mengambil kretek, menyulut dan menghisapnya, dengan begitu diasumsikan hukumnya \u201chalal\u201d (jadi  setelah itu sudah tidak perlu dibahas lagi soal kretek). KH. Fatkhur Rahman juga menceritakan ada satu alasan kuat, mengapa halal, karena para Kiai itu tidak mau barang subhat<\/em> (tidak jelas posisinya), apalagi haram. Ketika para Kiai\/Ulama\u2019 besar menghisap kretek, otomatis tidak haram. Tuhan menciptakan sesuatu untuk dinikmati itu ada dua, halal atau haram. <\/p>\n\n\n\n

Dasar hukum menghisap kretek adalah mubah, sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang menjadi wajib, juga menjadi haram. Dasar utamanya adalah  \u201cla dhororo wala dhiroro\u201d. <\/em>Hukumnya seperti  mengkonsumsi gula, ketika kena penyakit gula, maka haram atau tidak boleh mengkonsumsi gula. Begitu pula ketika punya darah tinggi, maka tidak boleh makan daging, dan seterusnya. Dimana \u201calhukmu yadurru ma\u2019a illatihi\u201d<\/em>(hukum itu bisa beralih tergantung alasannya). Membeli kretek dihukumi tidak boleh (haram), jika uang yang dipakai semestinya untuk belanja kebutuhan pokok, membayar sekolah dan lain sebagainya. Menghisap kretek menjadi wajib, ketika tidak menghisap sulit berpikir, lemas, tidak bisa kerja dan lain sebagainya.
<\/p>\n","post_title":"Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fenomena-hukum-rokok-bagi-ulama-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-10 10:37:16","post_modified_gmt":"2019-04-10 03:37:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5621","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

Paling Populer

\n

\u201cSetelah masuk AMFPA, saya menjadikan melukis sebagai profesi. Tahun 1989 saya menerima 300 swiss franc, setara Rp 300 ribu waktu itu. Kini, saya menerima sekitar 40 jt setiap bulan,\u201d ungkap Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin terus melukis. Kemampuannya terus berkembang, bahkan melebihi tuntutan dari organisasi yang ia ikuti. Nama Sadikin juga mulai dikenal, bukan sebab keterbatasannya, melainkan sebab karyanya yang memang bernilai tinggi.
<\/p>\n\n\n\n

Setiap kali ada pameran lukisan dan kontes-kontes melukis, Sadikin tidak pernah alfa untuk mengikutinya. Karyanya menjadi sorotan publik dan banyak laku dengan harga yang tidak murah. Bahkan menurutnya, ada salah satu lukisannya yang laku hingga Rp 250 juta.<\/p>\n\n\n\n

Menolak Pasrah dan Bergantung kepada Pemerintah karena Disabilitas<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Sadikin tidak mau dikasihani orang lain. Meski ia tunadaksa, ia adalah manusia yang sama, yang memilki kesempatan besar untuk menjalani rutinitas sebagaimana manusia lainnya. \u201cKuncinya adalah terus mencoba, mencoba dan mencoba. Saya tidak apa-apa dicemooh lukisan saya jelek. Bagi saya cemoohan seperti itu adalah cambuk untuk terus berlatih,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Sadikin, masyarakat harus adil memerlakukan para difabel. Difabel harus diperlakukan sebagaimana orang biasa. Semakin banyak orang yang mengasihani difabel, maka tidak malah membuat difabel itu kuat, sebaliknya berdampak melemahkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cDifabel harus diperlakukan seperti manusia biasa, bahkan ia harus diberi tantangan dan ditempa untuk menemukan kelebihan dalam dirinya,\u201d kata Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, para difabel harus mulai mengubah sudut pandang. Bahwa segala kekurangan tidak kemudian menjadikan para difabel pasrah menerima nasib dan mengharapkan santunan dari orang lain dan pemerintah untuk menjalani hidup. Difabel adalah orang istimewa yang dapat berkarya melebihi orang-orang biasa. Kekurangan ini adalah kelebihan yang akan ditemukan dengan kerja keras dan melatih diri menjadi apa yang diinginkan.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin bisa berangkat ke Swiss dan mengharumkan nama Indonesia di mata dunia, tidak terlebih dulu mendapat perhatian dari pemerintah. Ia mengaku berangkat dengan uang sendiri. Bahkan, lanjut Sadikin, hingga kini pun tidak ada pemerintah yang mengapresiasi karya-karyanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak menginginkan belas kasihan dari pemerintah. Karena yang sejatinya benar adalah, kita dapat memberikan apa kepada negara ini, bukan negara dapat memberikan apa kepada kita. Namun yang saya sayangkan, pemerintah sepertinya tidak peduli memperhatikan para seniman dan menghargai karya seni dari para seniman negeri sendiri. Seharusnya para seniman ini diberikan wadah, diperhatikan, kan juga kalau manajemennya bagus bisa menjadi pemasukan untuk negara,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin mengirim pesan kepada seluruh seniman di Tanah Air untuk terus berkaraya, tanpa peduli akan bernilai apa sebuah karya tersebut. \u201cYang terpenting kita dapat mengaktulisasikan diri dan terus melukis dengan niat mengharumkan nama negeri. Teruslah berkarya, karena sejatinya karya adalah yang dibuat dengan kesungguhan dan keikhlasan hati,\u201d pungkas pelukis beranak dua tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Shadikin Pard, Pelukis Tanpa Lengan yang Mengharumkan Bangsa dengan Kedua Kakinya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"shadikin-pard-pelukis-tanpa-lengan-yang-mengharumkan-bangsa-dengan-kedua-kakinya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-16 11:09:38","post_modified_gmt":"2019-04-16 04:09:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5637","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5621,"post_author":"877","post_date":"2019-04-10 10:37:08","post_date_gmt":"2019-04-10 03:37:08","post_content":"\n

Bahasan mengenai hukum menyulut kretek pernah dipertanyakan dalam forum bahtsul masail<\/em> (musyawarah) para Kiai\/Ulama\u2019 Kudus. Pertanyaan (saail<\/em>) yang mengajukan atas nama masyarakat Baletengahan, yaitu dukuh yang masuk wilayah Desa Langgardalem Kecamatan Kota. Tepatnya sekitar + 800an m, arah utara Masjid Menara Kudus (al-Aqsha). Kultur budaya masyarakat Baletengahan adalah santri, terdapat banyak Pesantren dan beberapa madrasah, salah satunya lembaga pendidikan formal TBS (Tasywiqut Thullab Salafiyyah), yaitu lembaga pendidikan salaf yang dahulu salah satu tempat  KH. Arwani Amin al-Hafiz mengajar dan yayasan pendidikan Nawa Kartika, yang didirikan oleh tokoh NU setempat. <\/p>\n\n\n\n

Lain halnya pesantren dan lembaga pendidikan, di sekitar Baletengahan Langgardalem, konon dahulu banyak usaha rumahan kretek. Petilasan yang masih dapat dijumpai di Langgardalem adalah \u201cgudang tembakau dan PR. Buah Cengkeh\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Disini terlihat para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus mempunyai tradisi kritis menyikapi fenomena disekelilingnya. Sehingga wajar pada tahun 1990an muncul bahasan tentang kretek di Bahtsul Masail<\/em> para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, jauh mendahului keputusan MUI dan Muhammadiyyah hasil Padang Panjang, dilaksanakan tahun 2009-2010.<\/p>\n\n\n\n

Tradisi Bahtsul Masail biasa disebut \u201cMunadzoroh<\/em>\u201d sudah lama dilakukan para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, dengan bertempat di Masjid-masjid di sekitar Kudus, bergantian dan memutar. Peserta munadzoroh<\/em> adalah para Kiai\/Ulama\u2019 se-Kabupaten Kudus dari berbagai penjuru desa, dan juga masyarakat umum, karena sifatnya terbuka (siapa saja boleh ikut tanpa terkecuali). Pelaksanaannya dari dulu hingga sekarang dijatuhkan pada hari Ahad (minggu). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat pembahasan mengenai kretek, bertempat di Masji al-Aqsho Menara Kudus yang dipimpin oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), redaksi pertanyaaannya adalah:<\/p>\n\n\n\n

\u201ckados pundi hukumipun ngkretek (bagaimana hukum menghisap kretek)?\u201d<\/em>--pertanyaan dari<\/em> Baletengahan--<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sebelum memulai pembahasan biasanya KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menanyakan tentang apa yang akan dibahas. Diceritakan oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi, situasi dan kondisi saat itu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), bertanya di forum, \u00a0\u201copo iki takonane?\u201d (pertanyaannya apa), di jawab yang hadir saat itu, \u201c anu Mbah bab kretek\u201d (itu bab menghisap kretek), lalu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menyambung jawaban hadirin, \u201coooo, bab kretek, kretekku gowo rene dikik\u201d (ooo, bab menghisap kretek, kretekku bawa kemari dulu), kemudian KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) mengambil satu batang kretek dari bungkusnya disulut dan dihisap. Selesai menyulut kretek, kembali KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) berbicara, \u201cwes kono dibahas\u201d (sudah sana dibahas). Setelah diperintahkan untuk dibahas, suasana hening sejenak. \u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mungkin di benak para hadirin terlintas pikiran \u201capa yang dibahas sudah dijawab secara tersirat oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) dengan menghisap kretek\u201d. Pada akhirnya, pembahasan tetap dilaksanakan. Diceritakan KH. Sya\u2019roni juga, situasi saat itu tidak ada Kiai\/Ulama\u2019 yang hadir menghukumi \u201charam\u201d, pada akhirnya diputuskan KH. Turaikhan, dengan hukum \u201c boleh\u201d, disela-sela KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) memberikan penjelasan, ada salah satu hadirin mengacungkan jarinya, beliau adalah KH. Hambali (Al Maghfurlah), sambil berkata; \u201ckulo Kiai, menawi boten udud kulo mboten saget mucal\u201d (saya Kiai, kalau tidak sambil menghisap kretek, saya tidak dapat mengajar), disertai argumen dan penjelasanannya. Kemudian KH. Turaikhan, memberikan jawaban dan tanggapan kepada KH. Hambali, \u201cnek ngono, kanggo kuwi hukumi wajib\u201d (kalau begitu, untuk kamu hukumnya wajib mengkonsumsi kretek).  <\/p>\n\n\n\n

Dilihat dari putusan Bahtsul Masail di atas, pada awalnya menghisap kretek dihukumi \u201cboleh\u201d, namun dengan kondisi tertentu menjadi \u201cWajib\u201d. Cerita penetapan hukum menghisap kretek dalam forum Bahtsul Masail di atas, telah menyebar di kalangan masyarakat Kudus, dan menjadi konsumsi publik, serta bersifat mengikat sampai sekarang. Sehingga banyak Kiai\/Ulama\u2019 Kudus tidak mempersoalkan lagi, apalagi membahas kembali. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cerita situasi dan kondisi Bahtsul Masail, diapresiasi dan diinterpretasikan Kiai\/Ulama\u2019Kudus lebih kontekstual, salah satunya KH. Fatkhur Rahman, beliau bercerita;  saat KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) populer dengan sebutan Mbah Tur memimpin munadzoroh<\/em> ada pertanyaan: bagaimana hukumnya kretek? Mbah Tur malah mengambil kretek, menyulut dan menghisapnya, dengan begitu diasumsikan hukumnya \u201chalal\u201d (jadi  setelah itu sudah tidak perlu dibahas lagi soal kretek). KH. Fatkhur Rahman juga menceritakan ada satu alasan kuat, mengapa halal, karena para Kiai itu tidak mau barang subhat<\/em> (tidak jelas posisinya), apalagi haram. Ketika para Kiai\/Ulama\u2019 besar menghisap kretek, otomatis tidak haram. Tuhan menciptakan sesuatu untuk dinikmati itu ada dua, halal atau haram. <\/p>\n\n\n\n

Dasar hukum menghisap kretek adalah mubah, sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang menjadi wajib, juga menjadi haram. Dasar utamanya adalah  \u201cla dhororo wala dhiroro\u201d. <\/em>Hukumnya seperti  mengkonsumsi gula, ketika kena penyakit gula, maka haram atau tidak boleh mengkonsumsi gula. Begitu pula ketika punya darah tinggi, maka tidak boleh makan daging, dan seterusnya. Dimana \u201calhukmu yadurru ma\u2019a illatihi\u201d<\/em>(hukum itu bisa beralih tergantung alasannya). Membeli kretek dihukumi tidak boleh (haram), jika uang yang dipakai semestinya untuk belanja kebutuhan pokok, membayar sekolah dan lain sebagainya. Menghisap kretek menjadi wajib, ketika tidak menghisap sulit berpikir, lemas, tidak bisa kerja dan lain sebagainya.
<\/p>\n","post_title":"Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fenomena-hukum-rokok-bagi-ulama-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-10 10:37:16","post_modified_gmt":"2019-04-10 03:37:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5621","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

Paling Populer

\n

Bagi Sadikin, kekurangan yang diberikan Tuhan adalah sebuah kelebihan yang tidak banyak dimiliki oleh orang lain. Kegigihannya dalam belajar melukis menghantarkannya ke Associaton of Mouth and Foot Painting Artist (AMFPA). Sebuah organisasi yang bermarkas di Swiss dan menghimpun karya pelukis yang melukis menggunakan kaki dan mulut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSetelah masuk AMFPA, saya menjadikan melukis sebagai profesi. Tahun 1989 saya menerima 300 swiss franc, setara Rp 300 ribu waktu itu. Kini, saya menerima sekitar 40 jt setiap bulan,\u201d ungkap Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin terus melukis. Kemampuannya terus berkembang, bahkan melebihi tuntutan dari organisasi yang ia ikuti. Nama Sadikin juga mulai dikenal, bukan sebab keterbatasannya, melainkan sebab karyanya yang memang bernilai tinggi.
<\/p>\n\n\n\n

Setiap kali ada pameran lukisan dan kontes-kontes melukis, Sadikin tidak pernah alfa untuk mengikutinya. Karyanya menjadi sorotan publik dan banyak laku dengan harga yang tidak murah. Bahkan menurutnya, ada salah satu lukisannya yang laku hingga Rp 250 juta.<\/p>\n\n\n\n

Menolak Pasrah dan Bergantung kepada Pemerintah karena Disabilitas<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Sadikin tidak mau dikasihani orang lain. Meski ia tunadaksa, ia adalah manusia yang sama, yang memilki kesempatan besar untuk menjalani rutinitas sebagaimana manusia lainnya. \u201cKuncinya adalah terus mencoba, mencoba dan mencoba. Saya tidak apa-apa dicemooh lukisan saya jelek. Bagi saya cemoohan seperti itu adalah cambuk untuk terus berlatih,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Sadikin, masyarakat harus adil memerlakukan para difabel. Difabel harus diperlakukan sebagaimana orang biasa. Semakin banyak orang yang mengasihani difabel, maka tidak malah membuat difabel itu kuat, sebaliknya berdampak melemahkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cDifabel harus diperlakukan seperti manusia biasa, bahkan ia harus diberi tantangan dan ditempa untuk menemukan kelebihan dalam dirinya,\u201d kata Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, para difabel harus mulai mengubah sudut pandang. Bahwa segala kekurangan tidak kemudian menjadikan para difabel pasrah menerima nasib dan mengharapkan santunan dari orang lain dan pemerintah untuk menjalani hidup. Difabel adalah orang istimewa yang dapat berkarya melebihi orang-orang biasa. Kekurangan ini adalah kelebihan yang akan ditemukan dengan kerja keras dan melatih diri menjadi apa yang diinginkan.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin bisa berangkat ke Swiss dan mengharumkan nama Indonesia di mata dunia, tidak terlebih dulu mendapat perhatian dari pemerintah. Ia mengaku berangkat dengan uang sendiri. Bahkan, lanjut Sadikin, hingga kini pun tidak ada pemerintah yang mengapresiasi karya-karyanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak menginginkan belas kasihan dari pemerintah. Karena yang sejatinya benar adalah, kita dapat memberikan apa kepada negara ini, bukan negara dapat memberikan apa kepada kita. Namun yang saya sayangkan, pemerintah sepertinya tidak peduli memperhatikan para seniman dan menghargai karya seni dari para seniman negeri sendiri. Seharusnya para seniman ini diberikan wadah, diperhatikan, kan juga kalau manajemennya bagus bisa menjadi pemasukan untuk negara,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin mengirim pesan kepada seluruh seniman di Tanah Air untuk terus berkaraya, tanpa peduli akan bernilai apa sebuah karya tersebut. \u201cYang terpenting kita dapat mengaktulisasikan diri dan terus melukis dengan niat mengharumkan nama negeri. Teruslah berkarya, karena sejatinya karya adalah yang dibuat dengan kesungguhan dan keikhlasan hati,\u201d pungkas pelukis beranak dua tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Shadikin Pard, Pelukis Tanpa Lengan yang Mengharumkan Bangsa dengan Kedua Kakinya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"shadikin-pard-pelukis-tanpa-lengan-yang-mengharumkan-bangsa-dengan-kedua-kakinya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-16 11:09:38","post_modified_gmt":"2019-04-16 04:09:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5637","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5621,"post_author":"877","post_date":"2019-04-10 10:37:08","post_date_gmt":"2019-04-10 03:37:08","post_content":"\n

Bahasan mengenai hukum menyulut kretek pernah dipertanyakan dalam forum bahtsul masail<\/em> (musyawarah) para Kiai\/Ulama\u2019 Kudus. Pertanyaan (saail<\/em>) yang mengajukan atas nama masyarakat Baletengahan, yaitu dukuh yang masuk wilayah Desa Langgardalem Kecamatan Kota. Tepatnya sekitar + 800an m, arah utara Masjid Menara Kudus (al-Aqsha). Kultur budaya masyarakat Baletengahan adalah santri, terdapat banyak Pesantren dan beberapa madrasah, salah satunya lembaga pendidikan formal TBS (Tasywiqut Thullab Salafiyyah), yaitu lembaga pendidikan salaf yang dahulu salah satu tempat  KH. Arwani Amin al-Hafiz mengajar dan yayasan pendidikan Nawa Kartika, yang didirikan oleh tokoh NU setempat. <\/p>\n\n\n\n

Lain halnya pesantren dan lembaga pendidikan, di sekitar Baletengahan Langgardalem, konon dahulu banyak usaha rumahan kretek. Petilasan yang masih dapat dijumpai di Langgardalem adalah \u201cgudang tembakau dan PR. Buah Cengkeh\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Disini terlihat para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus mempunyai tradisi kritis menyikapi fenomena disekelilingnya. Sehingga wajar pada tahun 1990an muncul bahasan tentang kretek di Bahtsul Masail<\/em> para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, jauh mendahului keputusan MUI dan Muhammadiyyah hasil Padang Panjang, dilaksanakan tahun 2009-2010.<\/p>\n\n\n\n

Tradisi Bahtsul Masail biasa disebut \u201cMunadzoroh<\/em>\u201d sudah lama dilakukan para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, dengan bertempat di Masjid-masjid di sekitar Kudus, bergantian dan memutar. Peserta munadzoroh<\/em> adalah para Kiai\/Ulama\u2019 se-Kabupaten Kudus dari berbagai penjuru desa, dan juga masyarakat umum, karena sifatnya terbuka (siapa saja boleh ikut tanpa terkecuali). Pelaksanaannya dari dulu hingga sekarang dijatuhkan pada hari Ahad (minggu). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat pembahasan mengenai kretek, bertempat di Masji al-Aqsho Menara Kudus yang dipimpin oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), redaksi pertanyaaannya adalah:<\/p>\n\n\n\n

\u201ckados pundi hukumipun ngkretek (bagaimana hukum menghisap kretek)?\u201d<\/em>--pertanyaan dari<\/em> Baletengahan--<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sebelum memulai pembahasan biasanya KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menanyakan tentang apa yang akan dibahas. Diceritakan oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi, situasi dan kondisi saat itu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), bertanya di forum, \u00a0\u201copo iki takonane?\u201d (pertanyaannya apa), di jawab yang hadir saat itu, \u201c anu Mbah bab kretek\u201d (itu bab menghisap kretek), lalu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menyambung jawaban hadirin, \u201coooo, bab kretek, kretekku gowo rene dikik\u201d (ooo, bab menghisap kretek, kretekku bawa kemari dulu), kemudian KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) mengambil satu batang kretek dari bungkusnya disulut dan dihisap. Selesai menyulut kretek, kembali KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) berbicara, \u201cwes kono dibahas\u201d (sudah sana dibahas). Setelah diperintahkan untuk dibahas, suasana hening sejenak. \u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mungkin di benak para hadirin terlintas pikiran \u201capa yang dibahas sudah dijawab secara tersirat oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) dengan menghisap kretek\u201d. Pada akhirnya, pembahasan tetap dilaksanakan. Diceritakan KH. Sya\u2019roni juga, situasi saat itu tidak ada Kiai\/Ulama\u2019 yang hadir menghukumi \u201charam\u201d, pada akhirnya diputuskan KH. Turaikhan, dengan hukum \u201c boleh\u201d, disela-sela KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) memberikan penjelasan, ada salah satu hadirin mengacungkan jarinya, beliau adalah KH. Hambali (Al Maghfurlah), sambil berkata; \u201ckulo Kiai, menawi boten udud kulo mboten saget mucal\u201d (saya Kiai, kalau tidak sambil menghisap kretek, saya tidak dapat mengajar), disertai argumen dan penjelasanannya. Kemudian KH. Turaikhan, memberikan jawaban dan tanggapan kepada KH. Hambali, \u201cnek ngono, kanggo kuwi hukumi wajib\u201d (kalau begitu, untuk kamu hukumnya wajib mengkonsumsi kretek).  <\/p>\n\n\n\n

Dilihat dari putusan Bahtsul Masail di atas, pada awalnya menghisap kretek dihukumi \u201cboleh\u201d, namun dengan kondisi tertentu menjadi \u201cWajib\u201d. Cerita penetapan hukum menghisap kretek dalam forum Bahtsul Masail di atas, telah menyebar di kalangan masyarakat Kudus, dan menjadi konsumsi publik, serta bersifat mengikat sampai sekarang. Sehingga banyak Kiai\/Ulama\u2019 Kudus tidak mempersoalkan lagi, apalagi membahas kembali. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cerita situasi dan kondisi Bahtsul Masail, diapresiasi dan diinterpretasikan Kiai\/Ulama\u2019Kudus lebih kontekstual, salah satunya KH. Fatkhur Rahman, beliau bercerita;  saat KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) populer dengan sebutan Mbah Tur memimpin munadzoroh<\/em> ada pertanyaan: bagaimana hukumnya kretek? Mbah Tur malah mengambil kretek, menyulut dan menghisapnya, dengan begitu diasumsikan hukumnya \u201chalal\u201d (jadi  setelah itu sudah tidak perlu dibahas lagi soal kretek). KH. Fatkhur Rahman juga menceritakan ada satu alasan kuat, mengapa halal, karena para Kiai itu tidak mau barang subhat<\/em> (tidak jelas posisinya), apalagi haram. Ketika para Kiai\/Ulama\u2019 besar menghisap kretek, otomatis tidak haram. Tuhan menciptakan sesuatu untuk dinikmati itu ada dua, halal atau haram. <\/p>\n\n\n\n

Dasar hukum menghisap kretek adalah mubah, sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang menjadi wajib, juga menjadi haram. Dasar utamanya adalah  \u201cla dhororo wala dhiroro\u201d. <\/em>Hukumnya seperti  mengkonsumsi gula, ketika kena penyakit gula, maka haram atau tidak boleh mengkonsumsi gula. Begitu pula ketika punya darah tinggi, maka tidak boleh makan daging, dan seterusnya. Dimana \u201calhukmu yadurru ma\u2019a illatihi\u201d<\/em>(hukum itu bisa beralih tergantung alasannya). Membeli kretek dihukumi tidak boleh (haram), jika uang yang dipakai semestinya untuk belanja kebutuhan pokok, membayar sekolah dan lain sebagainya. Menghisap kretek menjadi wajib, ketika tidak menghisap sulit berpikir, lemas, tidak bisa kerja dan lain sebagainya.
<\/p>\n","post_title":"Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fenomena-hukum-rokok-bagi-ulama-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-10 10:37:16","post_modified_gmt":"2019-04-10 03:37:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5621","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

Paling Populer

\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, kekurangan yang diberikan Tuhan adalah sebuah kelebihan yang tidak banyak dimiliki oleh orang lain. Kegigihannya dalam belajar melukis menghantarkannya ke Associaton of Mouth and Foot Painting Artist (AMFPA). Sebuah organisasi yang bermarkas di Swiss dan menghimpun karya pelukis yang melukis menggunakan kaki dan mulut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSetelah masuk AMFPA, saya menjadikan melukis sebagai profesi. Tahun 1989 saya menerima 300 swiss franc, setara Rp 300 ribu waktu itu. Kini, saya menerima sekitar 40 jt setiap bulan,\u201d ungkap Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin terus melukis. Kemampuannya terus berkembang, bahkan melebihi tuntutan dari organisasi yang ia ikuti. Nama Sadikin juga mulai dikenal, bukan sebab keterbatasannya, melainkan sebab karyanya yang memang bernilai tinggi.
<\/p>\n\n\n\n

Setiap kali ada pameran lukisan dan kontes-kontes melukis, Sadikin tidak pernah alfa untuk mengikutinya. Karyanya menjadi sorotan publik dan banyak laku dengan harga yang tidak murah. Bahkan menurutnya, ada salah satu lukisannya yang laku hingga Rp 250 juta.<\/p>\n\n\n\n

Menolak Pasrah dan Bergantung kepada Pemerintah karena Disabilitas<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Sadikin tidak mau dikasihani orang lain. Meski ia tunadaksa, ia adalah manusia yang sama, yang memilki kesempatan besar untuk menjalani rutinitas sebagaimana manusia lainnya. \u201cKuncinya adalah terus mencoba, mencoba dan mencoba. Saya tidak apa-apa dicemooh lukisan saya jelek. Bagi saya cemoohan seperti itu adalah cambuk untuk terus berlatih,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Sadikin, masyarakat harus adil memerlakukan para difabel. Difabel harus diperlakukan sebagaimana orang biasa. Semakin banyak orang yang mengasihani difabel, maka tidak malah membuat difabel itu kuat, sebaliknya berdampak melemahkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cDifabel harus diperlakukan seperti manusia biasa, bahkan ia harus diberi tantangan dan ditempa untuk menemukan kelebihan dalam dirinya,\u201d kata Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, para difabel harus mulai mengubah sudut pandang. Bahwa segala kekurangan tidak kemudian menjadikan para difabel pasrah menerima nasib dan mengharapkan santunan dari orang lain dan pemerintah untuk menjalani hidup. Difabel adalah orang istimewa yang dapat berkarya melebihi orang-orang biasa. Kekurangan ini adalah kelebihan yang akan ditemukan dengan kerja keras dan melatih diri menjadi apa yang diinginkan.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin bisa berangkat ke Swiss dan mengharumkan nama Indonesia di mata dunia, tidak terlebih dulu mendapat perhatian dari pemerintah. Ia mengaku berangkat dengan uang sendiri. Bahkan, lanjut Sadikin, hingga kini pun tidak ada pemerintah yang mengapresiasi karya-karyanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak menginginkan belas kasihan dari pemerintah. Karena yang sejatinya benar adalah, kita dapat memberikan apa kepada negara ini, bukan negara dapat memberikan apa kepada kita. Namun yang saya sayangkan, pemerintah sepertinya tidak peduli memperhatikan para seniman dan menghargai karya seni dari para seniman negeri sendiri. Seharusnya para seniman ini diberikan wadah, diperhatikan, kan juga kalau manajemennya bagus bisa menjadi pemasukan untuk negara,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin mengirim pesan kepada seluruh seniman di Tanah Air untuk terus berkaraya, tanpa peduli akan bernilai apa sebuah karya tersebut. \u201cYang terpenting kita dapat mengaktulisasikan diri dan terus melukis dengan niat mengharumkan nama negeri. Teruslah berkarya, karena sejatinya karya adalah yang dibuat dengan kesungguhan dan keikhlasan hati,\u201d pungkas pelukis beranak dua tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Shadikin Pard, Pelukis Tanpa Lengan yang Mengharumkan Bangsa dengan Kedua Kakinya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"shadikin-pard-pelukis-tanpa-lengan-yang-mengharumkan-bangsa-dengan-kedua-kakinya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-16 11:09:38","post_modified_gmt":"2019-04-16 04:09:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5637","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5621,"post_author":"877","post_date":"2019-04-10 10:37:08","post_date_gmt":"2019-04-10 03:37:08","post_content":"\n

Bahasan mengenai hukum menyulut kretek pernah dipertanyakan dalam forum bahtsul masail<\/em> (musyawarah) para Kiai\/Ulama\u2019 Kudus. Pertanyaan (saail<\/em>) yang mengajukan atas nama masyarakat Baletengahan, yaitu dukuh yang masuk wilayah Desa Langgardalem Kecamatan Kota. Tepatnya sekitar + 800an m, arah utara Masjid Menara Kudus (al-Aqsha). Kultur budaya masyarakat Baletengahan adalah santri, terdapat banyak Pesantren dan beberapa madrasah, salah satunya lembaga pendidikan formal TBS (Tasywiqut Thullab Salafiyyah), yaitu lembaga pendidikan salaf yang dahulu salah satu tempat  KH. Arwani Amin al-Hafiz mengajar dan yayasan pendidikan Nawa Kartika, yang didirikan oleh tokoh NU setempat. <\/p>\n\n\n\n

Lain halnya pesantren dan lembaga pendidikan, di sekitar Baletengahan Langgardalem, konon dahulu banyak usaha rumahan kretek. Petilasan yang masih dapat dijumpai di Langgardalem adalah \u201cgudang tembakau dan PR. Buah Cengkeh\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Disini terlihat para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus mempunyai tradisi kritis menyikapi fenomena disekelilingnya. Sehingga wajar pada tahun 1990an muncul bahasan tentang kretek di Bahtsul Masail<\/em> para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, jauh mendahului keputusan MUI dan Muhammadiyyah hasil Padang Panjang, dilaksanakan tahun 2009-2010.<\/p>\n\n\n\n

Tradisi Bahtsul Masail biasa disebut \u201cMunadzoroh<\/em>\u201d sudah lama dilakukan para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, dengan bertempat di Masjid-masjid di sekitar Kudus, bergantian dan memutar. Peserta munadzoroh<\/em> adalah para Kiai\/Ulama\u2019 se-Kabupaten Kudus dari berbagai penjuru desa, dan juga masyarakat umum, karena sifatnya terbuka (siapa saja boleh ikut tanpa terkecuali). Pelaksanaannya dari dulu hingga sekarang dijatuhkan pada hari Ahad (minggu). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat pembahasan mengenai kretek, bertempat di Masji al-Aqsho Menara Kudus yang dipimpin oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), redaksi pertanyaaannya adalah:<\/p>\n\n\n\n

\u201ckados pundi hukumipun ngkretek (bagaimana hukum menghisap kretek)?\u201d<\/em>--pertanyaan dari<\/em> Baletengahan--<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sebelum memulai pembahasan biasanya KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menanyakan tentang apa yang akan dibahas. Diceritakan oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi, situasi dan kondisi saat itu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), bertanya di forum, \u00a0\u201copo iki takonane?\u201d (pertanyaannya apa), di jawab yang hadir saat itu, \u201c anu Mbah bab kretek\u201d (itu bab menghisap kretek), lalu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menyambung jawaban hadirin, \u201coooo, bab kretek, kretekku gowo rene dikik\u201d (ooo, bab menghisap kretek, kretekku bawa kemari dulu), kemudian KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) mengambil satu batang kretek dari bungkusnya disulut dan dihisap. Selesai menyulut kretek, kembali KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) berbicara, \u201cwes kono dibahas\u201d (sudah sana dibahas). Setelah diperintahkan untuk dibahas, suasana hening sejenak. \u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mungkin di benak para hadirin terlintas pikiran \u201capa yang dibahas sudah dijawab secara tersirat oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) dengan menghisap kretek\u201d. Pada akhirnya, pembahasan tetap dilaksanakan. Diceritakan KH. Sya\u2019roni juga, situasi saat itu tidak ada Kiai\/Ulama\u2019 yang hadir menghukumi \u201charam\u201d, pada akhirnya diputuskan KH. Turaikhan, dengan hukum \u201c boleh\u201d, disela-sela KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) memberikan penjelasan, ada salah satu hadirin mengacungkan jarinya, beliau adalah KH. Hambali (Al Maghfurlah), sambil berkata; \u201ckulo Kiai, menawi boten udud kulo mboten saget mucal\u201d (saya Kiai, kalau tidak sambil menghisap kretek, saya tidak dapat mengajar), disertai argumen dan penjelasanannya. Kemudian KH. Turaikhan, memberikan jawaban dan tanggapan kepada KH. Hambali, \u201cnek ngono, kanggo kuwi hukumi wajib\u201d (kalau begitu, untuk kamu hukumnya wajib mengkonsumsi kretek).  <\/p>\n\n\n\n

Dilihat dari putusan Bahtsul Masail di atas, pada awalnya menghisap kretek dihukumi \u201cboleh\u201d, namun dengan kondisi tertentu menjadi \u201cWajib\u201d. Cerita penetapan hukum menghisap kretek dalam forum Bahtsul Masail di atas, telah menyebar di kalangan masyarakat Kudus, dan menjadi konsumsi publik, serta bersifat mengikat sampai sekarang. Sehingga banyak Kiai\/Ulama\u2019 Kudus tidak mempersoalkan lagi, apalagi membahas kembali. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cerita situasi dan kondisi Bahtsul Masail, diapresiasi dan diinterpretasikan Kiai\/Ulama\u2019Kudus lebih kontekstual, salah satunya KH. Fatkhur Rahman, beliau bercerita;  saat KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) populer dengan sebutan Mbah Tur memimpin munadzoroh<\/em> ada pertanyaan: bagaimana hukumnya kretek? Mbah Tur malah mengambil kretek, menyulut dan menghisapnya, dengan begitu diasumsikan hukumnya \u201chalal\u201d (jadi  setelah itu sudah tidak perlu dibahas lagi soal kretek). KH. Fatkhur Rahman juga menceritakan ada satu alasan kuat, mengapa halal, karena para Kiai itu tidak mau barang subhat<\/em> (tidak jelas posisinya), apalagi haram. Ketika para Kiai\/Ulama\u2019 besar menghisap kretek, otomatis tidak haram. Tuhan menciptakan sesuatu untuk dinikmati itu ada dua, halal atau haram. <\/p>\n\n\n\n

Dasar hukum menghisap kretek adalah mubah, sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang menjadi wajib, juga menjadi haram. Dasar utamanya adalah  \u201cla dhororo wala dhiroro\u201d. <\/em>Hukumnya seperti  mengkonsumsi gula, ketika kena penyakit gula, maka haram atau tidak boleh mengkonsumsi gula. Begitu pula ketika punya darah tinggi, maka tidak boleh makan daging, dan seterusnya. Dimana \u201calhukmu yadurru ma\u2019a illatihi\u201d<\/em>(hukum itu bisa beralih tergantung alasannya). Membeli kretek dihukumi tidak boleh (haram), jika uang yang dipakai semestinya untuk belanja kebutuhan pokok, membayar sekolah dan lain sebagainya. Menghisap kretek menjadi wajib, ketika tidak menghisap sulit berpikir, lemas, tidak bisa kerja dan lain sebagainya.
<\/p>\n","post_title":"Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fenomena-hukum-rokok-bagi-ulama-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-10 10:37:16","post_modified_gmt":"2019-04-10 03:37:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5621","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

Paling Populer

\n

Di tengah keterbatasannya, Sadikin lalu melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kala itu, Sadikin mengambil jurusan psikologi pascagagal mengambil jurusan arsitektur yang ia dambakan dan cita-citakan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, kekurangan yang diberikan Tuhan adalah sebuah kelebihan yang tidak banyak dimiliki oleh orang lain. Kegigihannya dalam belajar melukis menghantarkannya ke Associaton of Mouth and Foot Painting Artist (AMFPA). Sebuah organisasi yang bermarkas di Swiss dan menghimpun karya pelukis yang melukis menggunakan kaki dan mulut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSetelah masuk AMFPA, saya menjadikan melukis sebagai profesi. Tahun 1989 saya menerima 300 swiss franc, setara Rp 300 ribu waktu itu. Kini, saya menerima sekitar 40 jt setiap bulan,\u201d ungkap Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin terus melukis. Kemampuannya terus berkembang, bahkan melebihi tuntutan dari organisasi yang ia ikuti. Nama Sadikin juga mulai dikenal, bukan sebab keterbatasannya, melainkan sebab karyanya yang memang bernilai tinggi.
<\/p>\n\n\n\n

Setiap kali ada pameran lukisan dan kontes-kontes melukis, Sadikin tidak pernah alfa untuk mengikutinya. Karyanya menjadi sorotan publik dan banyak laku dengan harga yang tidak murah. Bahkan menurutnya, ada salah satu lukisannya yang laku hingga Rp 250 juta.<\/p>\n\n\n\n

Menolak Pasrah dan Bergantung kepada Pemerintah karena Disabilitas<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Sadikin tidak mau dikasihani orang lain. Meski ia tunadaksa, ia adalah manusia yang sama, yang memilki kesempatan besar untuk menjalani rutinitas sebagaimana manusia lainnya. \u201cKuncinya adalah terus mencoba, mencoba dan mencoba. Saya tidak apa-apa dicemooh lukisan saya jelek. Bagi saya cemoohan seperti itu adalah cambuk untuk terus berlatih,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Sadikin, masyarakat harus adil memerlakukan para difabel. Difabel harus diperlakukan sebagaimana orang biasa. Semakin banyak orang yang mengasihani difabel, maka tidak malah membuat difabel itu kuat, sebaliknya berdampak melemahkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cDifabel harus diperlakukan seperti manusia biasa, bahkan ia harus diberi tantangan dan ditempa untuk menemukan kelebihan dalam dirinya,\u201d kata Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, para difabel harus mulai mengubah sudut pandang. Bahwa segala kekurangan tidak kemudian menjadikan para difabel pasrah menerima nasib dan mengharapkan santunan dari orang lain dan pemerintah untuk menjalani hidup. Difabel adalah orang istimewa yang dapat berkarya melebihi orang-orang biasa. Kekurangan ini adalah kelebihan yang akan ditemukan dengan kerja keras dan melatih diri menjadi apa yang diinginkan.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin bisa berangkat ke Swiss dan mengharumkan nama Indonesia di mata dunia, tidak terlebih dulu mendapat perhatian dari pemerintah. Ia mengaku berangkat dengan uang sendiri. Bahkan, lanjut Sadikin, hingga kini pun tidak ada pemerintah yang mengapresiasi karya-karyanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak menginginkan belas kasihan dari pemerintah. Karena yang sejatinya benar adalah, kita dapat memberikan apa kepada negara ini, bukan negara dapat memberikan apa kepada kita. Namun yang saya sayangkan, pemerintah sepertinya tidak peduli memperhatikan para seniman dan menghargai karya seni dari para seniman negeri sendiri. Seharusnya para seniman ini diberikan wadah, diperhatikan, kan juga kalau manajemennya bagus bisa menjadi pemasukan untuk negara,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin mengirim pesan kepada seluruh seniman di Tanah Air untuk terus berkaraya, tanpa peduli akan bernilai apa sebuah karya tersebut. \u201cYang terpenting kita dapat mengaktulisasikan diri dan terus melukis dengan niat mengharumkan nama negeri. Teruslah berkarya, karena sejatinya karya adalah yang dibuat dengan kesungguhan dan keikhlasan hati,\u201d pungkas pelukis beranak dua tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Shadikin Pard, Pelukis Tanpa Lengan yang Mengharumkan Bangsa dengan Kedua Kakinya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"shadikin-pard-pelukis-tanpa-lengan-yang-mengharumkan-bangsa-dengan-kedua-kakinya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-16 11:09:38","post_modified_gmt":"2019-04-16 04:09:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5637","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5621,"post_author":"877","post_date":"2019-04-10 10:37:08","post_date_gmt":"2019-04-10 03:37:08","post_content":"\n

Bahasan mengenai hukum menyulut kretek pernah dipertanyakan dalam forum bahtsul masail<\/em> (musyawarah) para Kiai\/Ulama\u2019 Kudus. Pertanyaan (saail<\/em>) yang mengajukan atas nama masyarakat Baletengahan, yaitu dukuh yang masuk wilayah Desa Langgardalem Kecamatan Kota. Tepatnya sekitar + 800an m, arah utara Masjid Menara Kudus (al-Aqsha). Kultur budaya masyarakat Baletengahan adalah santri, terdapat banyak Pesantren dan beberapa madrasah, salah satunya lembaga pendidikan formal TBS (Tasywiqut Thullab Salafiyyah), yaitu lembaga pendidikan salaf yang dahulu salah satu tempat  KH. Arwani Amin al-Hafiz mengajar dan yayasan pendidikan Nawa Kartika, yang didirikan oleh tokoh NU setempat. <\/p>\n\n\n\n

Lain halnya pesantren dan lembaga pendidikan, di sekitar Baletengahan Langgardalem, konon dahulu banyak usaha rumahan kretek. Petilasan yang masih dapat dijumpai di Langgardalem adalah \u201cgudang tembakau dan PR. Buah Cengkeh\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Disini terlihat para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus mempunyai tradisi kritis menyikapi fenomena disekelilingnya. Sehingga wajar pada tahun 1990an muncul bahasan tentang kretek di Bahtsul Masail<\/em> para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, jauh mendahului keputusan MUI dan Muhammadiyyah hasil Padang Panjang, dilaksanakan tahun 2009-2010.<\/p>\n\n\n\n

Tradisi Bahtsul Masail biasa disebut \u201cMunadzoroh<\/em>\u201d sudah lama dilakukan para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, dengan bertempat di Masjid-masjid di sekitar Kudus, bergantian dan memutar. Peserta munadzoroh<\/em> adalah para Kiai\/Ulama\u2019 se-Kabupaten Kudus dari berbagai penjuru desa, dan juga masyarakat umum, karena sifatnya terbuka (siapa saja boleh ikut tanpa terkecuali). Pelaksanaannya dari dulu hingga sekarang dijatuhkan pada hari Ahad (minggu). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat pembahasan mengenai kretek, bertempat di Masji al-Aqsho Menara Kudus yang dipimpin oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), redaksi pertanyaaannya adalah:<\/p>\n\n\n\n

\u201ckados pundi hukumipun ngkretek (bagaimana hukum menghisap kretek)?\u201d<\/em>--pertanyaan dari<\/em> Baletengahan--<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sebelum memulai pembahasan biasanya KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menanyakan tentang apa yang akan dibahas. Diceritakan oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi, situasi dan kondisi saat itu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), bertanya di forum, \u00a0\u201copo iki takonane?\u201d (pertanyaannya apa), di jawab yang hadir saat itu, \u201c anu Mbah bab kretek\u201d (itu bab menghisap kretek), lalu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menyambung jawaban hadirin, \u201coooo, bab kretek, kretekku gowo rene dikik\u201d (ooo, bab menghisap kretek, kretekku bawa kemari dulu), kemudian KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) mengambil satu batang kretek dari bungkusnya disulut dan dihisap. Selesai menyulut kretek, kembali KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) berbicara, \u201cwes kono dibahas\u201d (sudah sana dibahas). Setelah diperintahkan untuk dibahas, suasana hening sejenak. \u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mungkin di benak para hadirin terlintas pikiran \u201capa yang dibahas sudah dijawab secara tersirat oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) dengan menghisap kretek\u201d. Pada akhirnya, pembahasan tetap dilaksanakan. Diceritakan KH. Sya\u2019roni juga, situasi saat itu tidak ada Kiai\/Ulama\u2019 yang hadir menghukumi \u201charam\u201d, pada akhirnya diputuskan KH. Turaikhan, dengan hukum \u201c boleh\u201d, disela-sela KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) memberikan penjelasan, ada salah satu hadirin mengacungkan jarinya, beliau adalah KH. Hambali (Al Maghfurlah), sambil berkata; \u201ckulo Kiai, menawi boten udud kulo mboten saget mucal\u201d (saya Kiai, kalau tidak sambil menghisap kretek, saya tidak dapat mengajar), disertai argumen dan penjelasanannya. Kemudian KH. Turaikhan, memberikan jawaban dan tanggapan kepada KH. Hambali, \u201cnek ngono, kanggo kuwi hukumi wajib\u201d (kalau begitu, untuk kamu hukumnya wajib mengkonsumsi kretek).  <\/p>\n\n\n\n

Dilihat dari putusan Bahtsul Masail di atas, pada awalnya menghisap kretek dihukumi \u201cboleh\u201d, namun dengan kondisi tertentu menjadi \u201cWajib\u201d. Cerita penetapan hukum menghisap kretek dalam forum Bahtsul Masail di atas, telah menyebar di kalangan masyarakat Kudus, dan menjadi konsumsi publik, serta bersifat mengikat sampai sekarang. Sehingga banyak Kiai\/Ulama\u2019 Kudus tidak mempersoalkan lagi, apalagi membahas kembali. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cerita situasi dan kondisi Bahtsul Masail, diapresiasi dan diinterpretasikan Kiai\/Ulama\u2019Kudus lebih kontekstual, salah satunya KH. Fatkhur Rahman, beliau bercerita;  saat KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) populer dengan sebutan Mbah Tur memimpin munadzoroh<\/em> ada pertanyaan: bagaimana hukumnya kretek? Mbah Tur malah mengambil kretek, menyulut dan menghisapnya, dengan begitu diasumsikan hukumnya \u201chalal\u201d (jadi  setelah itu sudah tidak perlu dibahas lagi soal kretek). KH. Fatkhur Rahman juga menceritakan ada satu alasan kuat, mengapa halal, karena para Kiai itu tidak mau barang subhat<\/em> (tidak jelas posisinya), apalagi haram. Ketika para Kiai\/Ulama\u2019 besar menghisap kretek, otomatis tidak haram. Tuhan menciptakan sesuatu untuk dinikmati itu ada dua, halal atau haram. <\/p>\n\n\n\n

Dasar hukum menghisap kretek adalah mubah, sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang menjadi wajib, juga menjadi haram. Dasar utamanya adalah  \u201cla dhororo wala dhiroro\u201d. <\/em>Hukumnya seperti  mengkonsumsi gula, ketika kena penyakit gula, maka haram atau tidak boleh mengkonsumsi gula. Begitu pula ketika punya darah tinggi, maka tidak boleh makan daging, dan seterusnya. Dimana \u201calhukmu yadurru ma\u2019a illatihi\u201d<\/em>(hukum itu bisa beralih tergantung alasannya). Membeli kretek dihukumi tidak boleh (haram), jika uang yang dipakai semestinya untuk belanja kebutuhan pokok, membayar sekolah dan lain sebagainya. Menghisap kretek menjadi wajib, ketika tidak menghisap sulit berpikir, lemas, tidak bisa kerja dan lain sebagainya.
<\/p>\n","post_title":"Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fenomena-hukum-rokok-bagi-ulama-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-10 10:37:16","post_modified_gmt":"2019-04-10 03:37:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5621","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

Paling Populer

\n

Pria kelahiran 29 Oktober 1996 ini mulai melukis sejak masih di taman kanak-kanak. Saat itu, melukis hanya sebagai hobi semata. Sadikin juga pernah les privat melukis di rumahnya. Hingga mengenyam pendidikan sekolah menengah atas di SMA Santa Maria Kota Malang, Sadikin masih menempatkan melukis sebagai hobi.
<\/p>\n\n\n\n

Di tengah keterbatasannya, Sadikin lalu melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kala itu, Sadikin mengambil jurusan psikologi pascagagal mengambil jurusan arsitektur yang ia dambakan dan cita-citakan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, kekurangan yang diberikan Tuhan adalah sebuah kelebihan yang tidak banyak dimiliki oleh orang lain. Kegigihannya dalam belajar melukis menghantarkannya ke Associaton of Mouth and Foot Painting Artist (AMFPA). Sebuah organisasi yang bermarkas di Swiss dan menghimpun karya pelukis yang melukis menggunakan kaki dan mulut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSetelah masuk AMFPA, saya menjadikan melukis sebagai profesi. Tahun 1989 saya menerima 300 swiss franc, setara Rp 300 ribu waktu itu. Kini, saya menerima sekitar 40 jt setiap bulan,\u201d ungkap Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin terus melukis. Kemampuannya terus berkembang, bahkan melebihi tuntutan dari organisasi yang ia ikuti. Nama Sadikin juga mulai dikenal, bukan sebab keterbatasannya, melainkan sebab karyanya yang memang bernilai tinggi.
<\/p>\n\n\n\n

Setiap kali ada pameran lukisan dan kontes-kontes melukis, Sadikin tidak pernah alfa untuk mengikutinya. Karyanya menjadi sorotan publik dan banyak laku dengan harga yang tidak murah. Bahkan menurutnya, ada salah satu lukisannya yang laku hingga Rp 250 juta.<\/p>\n\n\n\n

Menolak Pasrah dan Bergantung kepada Pemerintah karena Disabilitas<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Sadikin tidak mau dikasihani orang lain. Meski ia tunadaksa, ia adalah manusia yang sama, yang memilki kesempatan besar untuk menjalani rutinitas sebagaimana manusia lainnya. \u201cKuncinya adalah terus mencoba, mencoba dan mencoba. Saya tidak apa-apa dicemooh lukisan saya jelek. Bagi saya cemoohan seperti itu adalah cambuk untuk terus berlatih,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Sadikin, masyarakat harus adil memerlakukan para difabel. Difabel harus diperlakukan sebagaimana orang biasa. Semakin banyak orang yang mengasihani difabel, maka tidak malah membuat difabel itu kuat, sebaliknya berdampak melemahkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cDifabel harus diperlakukan seperti manusia biasa, bahkan ia harus diberi tantangan dan ditempa untuk menemukan kelebihan dalam dirinya,\u201d kata Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, para difabel harus mulai mengubah sudut pandang. Bahwa segala kekurangan tidak kemudian menjadikan para difabel pasrah menerima nasib dan mengharapkan santunan dari orang lain dan pemerintah untuk menjalani hidup. Difabel adalah orang istimewa yang dapat berkarya melebihi orang-orang biasa. Kekurangan ini adalah kelebihan yang akan ditemukan dengan kerja keras dan melatih diri menjadi apa yang diinginkan.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin bisa berangkat ke Swiss dan mengharumkan nama Indonesia di mata dunia, tidak terlebih dulu mendapat perhatian dari pemerintah. Ia mengaku berangkat dengan uang sendiri. Bahkan, lanjut Sadikin, hingga kini pun tidak ada pemerintah yang mengapresiasi karya-karyanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak menginginkan belas kasihan dari pemerintah. Karena yang sejatinya benar adalah, kita dapat memberikan apa kepada negara ini, bukan negara dapat memberikan apa kepada kita. Namun yang saya sayangkan, pemerintah sepertinya tidak peduli memperhatikan para seniman dan menghargai karya seni dari para seniman negeri sendiri. Seharusnya para seniman ini diberikan wadah, diperhatikan, kan juga kalau manajemennya bagus bisa menjadi pemasukan untuk negara,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin mengirim pesan kepada seluruh seniman di Tanah Air untuk terus berkaraya, tanpa peduli akan bernilai apa sebuah karya tersebut. \u201cYang terpenting kita dapat mengaktulisasikan diri dan terus melukis dengan niat mengharumkan nama negeri. Teruslah berkarya, karena sejatinya karya adalah yang dibuat dengan kesungguhan dan keikhlasan hati,\u201d pungkas pelukis beranak dua tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Shadikin Pard, Pelukis Tanpa Lengan yang Mengharumkan Bangsa dengan Kedua Kakinya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"shadikin-pard-pelukis-tanpa-lengan-yang-mengharumkan-bangsa-dengan-kedua-kakinya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-16 11:09:38","post_modified_gmt":"2019-04-16 04:09:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5637","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5621,"post_author":"877","post_date":"2019-04-10 10:37:08","post_date_gmt":"2019-04-10 03:37:08","post_content":"\n

Bahasan mengenai hukum menyulut kretek pernah dipertanyakan dalam forum bahtsul masail<\/em> (musyawarah) para Kiai\/Ulama\u2019 Kudus. Pertanyaan (saail<\/em>) yang mengajukan atas nama masyarakat Baletengahan, yaitu dukuh yang masuk wilayah Desa Langgardalem Kecamatan Kota. Tepatnya sekitar + 800an m, arah utara Masjid Menara Kudus (al-Aqsha). Kultur budaya masyarakat Baletengahan adalah santri, terdapat banyak Pesantren dan beberapa madrasah, salah satunya lembaga pendidikan formal TBS (Tasywiqut Thullab Salafiyyah), yaitu lembaga pendidikan salaf yang dahulu salah satu tempat  KH. Arwani Amin al-Hafiz mengajar dan yayasan pendidikan Nawa Kartika, yang didirikan oleh tokoh NU setempat. <\/p>\n\n\n\n

Lain halnya pesantren dan lembaga pendidikan, di sekitar Baletengahan Langgardalem, konon dahulu banyak usaha rumahan kretek. Petilasan yang masih dapat dijumpai di Langgardalem adalah \u201cgudang tembakau dan PR. Buah Cengkeh\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Disini terlihat para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus mempunyai tradisi kritis menyikapi fenomena disekelilingnya. Sehingga wajar pada tahun 1990an muncul bahasan tentang kretek di Bahtsul Masail<\/em> para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, jauh mendahului keputusan MUI dan Muhammadiyyah hasil Padang Panjang, dilaksanakan tahun 2009-2010.<\/p>\n\n\n\n

Tradisi Bahtsul Masail biasa disebut \u201cMunadzoroh<\/em>\u201d sudah lama dilakukan para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, dengan bertempat di Masjid-masjid di sekitar Kudus, bergantian dan memutar. Peserta munadzoroh<\/em> adalah para Kiai\/Ulama\u2019 se-Kabupaten Kudus dari berbagai penjuru desa, dan juga masyarakat umum, karena sifatnya terbuka (siapa saja boleh ikut tanpa terkecuali). Pelaksanaannya dari dulu hingga sekarang dijatuhkan pada hari Ahad (minggu). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat pembahasan mengenai kretek, bertempat di Masji al-Aqsho Menara Kudus yang dipimpin oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), redaksi pertanyaaannya adalah:<\/p>\n\n\n\n

\u201ckados pundi hukumipun ngkretek (bagaimana hukum menghisap kretek)?\u201d<\/em>--pertanyaan dari<\/em> Baletengahan--<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sebelum memulai pembahasan biasanya KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menanyakan tentang apa yang akan dibahas. Diceritakan oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi, situasi dan kondisi saat itu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), bertanya di forum, \u00a0\u201copo iki takonane?\u201d (pertanyaannya apa), di jawab yang hadir saat itu, \u201c anu Mbah bab kretek\u201d (itu bab menghisap kretek), lalu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menyambung jawaban hadirin, \u201coooo, bab kretek, kretekku gowo rene dikik\u201d (ooo, bab menghisap kretek, kretekku bawa kemari dulu), kemudian KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) mengambil satu batang kretek dari bungkusnya disulut dan dihisap. Selesai menyulut kretek, kembali KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) berbicara, \u201cwes kono dibahas\u201d (sudah sana dibahas). Setelah diperintahkan untuk dibahas, suasana hening sejenak. \u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mungkin di benak para hadirin terlintas pikiran \u201capa yang dibahas sudah dijawab secara tersirat oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) dengan menghisap kretek\u201d. Pada akhirnya, pembahasan tetap dilaksanakan. Diceritakan KH. Sya\u2019roni juga, situasi saat itu tidak ada Kiai\/Ulama\u2019 yang hadir menghukumi \u201charam\u201d, pada akhirnya diputuskan KH. Turaikhan, dengan hukum \u201c boleh\u201d, disela-sela KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) memberikan penjelasan, ada salah satu hadirin mengacungkan jarinya, beliau adalah KH. Hambali (Al Maghfurlah), sambil berkata; \u201ckulo Kiai, menawi boten udud kulo mboten saget mucal\u201d (saya Kiai, kalau tidak sambil menghisap kretek, saya tidak dapat mengajar), disertai argumen dan penjelasanannya. Kemudian KH. Turaikhan, memberikan jawaban dan tanggapan kepada KH. Hambali, \u201cnek ngono, kanggo kuwi hukumi wajib\u201d (kalau begitu, untuk kamu hukumnya wajib mengkonsumsi kretek).  <\/p>\n\n\n\n

Dilihat dari putusan Bahtsul Masail di atas, pada awalnya menghisap kretek dihukumi \u201cboleh\u201d, namun dengan kondisi tertentu menjadi \u201cWajib\u201d. Cerita penetapan hukum menghisap kretek dalam forum Bahtsul Masail di atas, telah menyebar di kalangan masyarakat Kudus, dan menjadi konsumsi publik, serta bersifat mengikat sampai sekarang. Sehingga banyak Kiai\/Ulama\u2019 Kudus tidak mempersoalkan lagi, apalagi membahas kembali. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cerita situasi dan kondisi Bahtsul Masail, diapresiasi dan diinterpretasikan Kiai\/Ulama\u2019Kudus lebih kontekstual, salah satunya KH. Fatkhur Rahman, beliau bercerita;  saat KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) populer dengan sebutan Mbah Tur memimpin munadzoroh<\/em> ada pertanyaan: bagaimana hukumnya kretek? Mbah Tur malah mengambil kretek, menyulut dan menghisapnya, dengan begitu diasumsikan hukumnya \u201chalal\u201d (jadi  setelah itu sudah tidak perlu dibahas lagi soal kretek). KH. Fatkhur Rahman juga menceritakan ada satu alasan kuat, mengapa halal, karena para Kiai itu tidak mau barang subhat<\/em> (tidak jelas posisinya), apalagi haram. Ketika para Kiai\/Ulama\u2019 besar menghisap kretek, otomatis tidak haram. Tuhan menciptakan sesuatu untuk dinikmati itu ada dua, halal atau haram. <\/p>\n\n\n\n

Dasar hukum menghisap kretek adalah mubah, sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang menjadi wajib, juga menjadi haram. Dasar utamanya adalah  \u201cla dhororo wala dhiroro\u201d. <\/em>Hukumnya seperti  mengkonsumsi gula, ketika kena penyakit gula, maka haram atau tidak boleh mengkonsumsi gula. Begitu pula ketika punya darah tinggi, maka tidak boleh makan daging, dan seterusnya. Dimana \u201calhukmu yadurru ma\u2019a illatihi\u201d<\/em>(hukum itu bisa beralih tergantung alasannya). Membeli kretek dihukumi tidak boleh (haram), jika uang yang dipakai semestinya untuk belanja kebutuhan pokok, membayar sekolah dan lain sebagainya. Menghisap kretek menjadi wajib, ketika tidak menghisap sulit berpikir, lemas, tidak bisa kerja dan lain sebagainya.
<\/p>\n","post_title":"Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fenomena-hukum-rokok-bagi-ulama-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-10 10:37:16","post_modified_gmt":"2019-04-10 03:37:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5621","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

Paling Populer

\n

Ialah Shadikin Pard, seorang pelukis masyhur yang terlahir tunadaksa atau tanpa kedua tangan. Kami berbincang di bawah pohon beringin rindang. Di antara para pelukis lainnya yang sedang beristirahat menunggu waktu pengumuman pemenang dibacakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pria kelahiran 29 Oktober 1996 ini mulai melukis sejak masih di taman kanak-kanak. Saat itu, melukis hanya sebagai hobi semata. Sadikin juga pernah les privat melukis di rumahnya. Hingga mengenyam pendidikan sekolah menengah atas di SMA Santa Maria Kota Malang, Sadikin masih menempatkan melukis sebagai hobi.
<\/p>\n\n\n\n

Di tengah keterbatasannya, Sadikin lalu melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kala itu, Sadikin mengambil jurusan psikologi pascagagal mengambil jurusan arsitektur yang ia dambakan dan cita-citakan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, kekurangan yang diberikan Tuhan adalah sebuah kelebihan yang tidak banyak dimiliki oleh orang lain. Kegigihannya dalam belajar melukis menghantarkannya ke Associaton of Mouth and Foot Painting Artist (AMFPA). Sebuah organisasi yang bermarkas di Swiss dan menghimpun karya pelukis yang melukis menggunakan kaki dan mulut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSetelah masuk AMFPA, saya menjadikan melukis sebagai profesi. Tahun 1989 saya menerima 300 swiss franc, setara Rp 300 ribu waktu itu. Kini, saya menerima sekitar 40 jt setiap bulan,\u201d ungkap Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin terus melukis. Kemampuannya terus berkembang, bahkan melebihi tuntutan dari organisasi yang ia ikuti. Nama Sadikin juga mulai dikenal, bukan sebab keterbatasannya, melainkan sebab karyanya yang memang bernilai tinggi.
<\/p>\n\n\n\n

Setiap kali ada pameran lukisan dan kontes-kontes melukis, Sadikin tidak pernah alfa untuk mengikutinya. Karyanya menjadi sorotan publik dan banyak laku dengan harga yang tidak murah. Bahkan menurutnya, ada salah satu lukisannya yang laku hingga Rp 250 juta.<\/p>\n\n\n\n

Menolak Pasrah dan Bergantung kepada Pemerintah karena Disabilitas<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Sadikin tidak mau dikasihani orang lain. Meski ia tunadaksa, ia adalah manusia yang sama, yang memilki kesempatan besar untuk menjalani rutinitas sebagaimana manusia lainnya. \u201cKuncinya adalah terus mencoba, mencoba dan mencoba. Saya tidak apa-apa dicemooh lukisan saya jelek. Bagi saya cemoohan seperti itu adalah cambuk untuk terus berlatih,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Sadikin, masyarakat harus adil memerlakukan para difabel. Difabel harus diperlakukan sebagaimana orang biasa. Semakin banyak orang yang mengasihani difabel, maka tidak malah membuat difabel itu kuat, sebaliknya berdampak melemahkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cDifabel harus diperlakukan seperti manusia biasa, bahkan ia harus diberi tantangan dan ditempa untuk menemukan kelebihan dalam dirinya,\u201d kata Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, para difabel harus mulai mengubah sudut pandang. Bahwa segala kekurangan tidak kemudian menjadikan para difabel pasrah menerima nasib dan mengharapkan santunan dari orang lain dan pemerintah untuk menjalani hidup. Difabel adalah orang istimewa yang dapat berkarya melebihi orang-orang biasa. Kekurangan ini adalah kelebihan yang akan ditemukan dengan kerja keras dan melatih diri menjadi apa yang diinginkan.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin bisa berangkat ke Swiss dan mengharumkan nama Indonesia di mata dunia, tidak terlebih dulu mendapat perhatian dari pemerintah. Ia mengaku berangkat dengan uang sendiri. Bahkan, lanjut Sadikin, hingga kini pun tidak ada pemerintah yang mengapresiasi karya-karyanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak menginginkan belas kasihan dari pemerintah. Karena yang sejatinya benar adalah, kita dapat memberikan apa kepada negara ini, bukan negara dapat memberikan apa kepada kita. Namun yang saya sayangkan, pemerintah sepertinya tidak peduli memperhatikan para seniman dan menghargai karya seni dari para seniman negeri sendiri. Seharusnya para seniman ini diberikan wadah, diperhatikan, kan juga kalau manajemennya bagus bisa menjadi pemasukan untuk negara,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin mengirim pesan kepada seluruh seniman di Tanah Air untuk terus berkaraya, tanpa peduli akan bernilai apa sebuah karya tersebut. \u201cYang terpenting kita dapat mengaktulisasikan diri dan terus melukis dengan niat mengharumkan nama negeri. Teruslah berkarya, karena sejatinya karya adalah yang dibuat dengan kesungguhan dan keikhlasan hati,\u201d pungkas pelukis beranak dua tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Shadikin Pard, Pelukis Tanpa Lengan yang Mengharumkan Bangsa dengan Kedua Kakinya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"shadikin-pard-pelukis-tanpa-lengan-yang-mengharumkan-bangsa-dengan-kedua-kakinya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-16 11:09:38","post_modified_gmt":"2019-04-16 04:09:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5637","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5621,"post_author":"877","post_date":"2019-04-10 10:37:08","post_date_gmt":"2019-04-10 03:37:08","post_content":"\n

Bahasan mengenai hukum menyulut kretek pernah dipertanyakan dalam forum bahtsul masail<\/em> (musyawarah) para Kiai\/Ulama\u2019 Kudus. Pertanyaan (saail<\/em>) yang mengajukan atas nama masyarakat Baletengahan, yaitu dukuh yang masuk wilayah Desa Langgardalem Kecamatan Kota. Tepatnya sekitar + 800an m, arah utara Masjid Menara Kudus (al-Aqsha). Kultur budaya masyarakat Baletengahan adalah santri, terdapat banyak Pesantren dan beberapa madrasah, salah satunya lembaga pendidikan formal TBS (Tasywiqut Thullab Salafiyyah), yaitu lembaga pendidikan salaf yang dahulu salah satu tempat  KH. Arwani Amin al-Hafiz mengajar dan yayasan pendidikan Nawa Kartika, yang didirikan oleh tokoh NU setempat. <\/p>\n\n\n\n

Lain halnya pesantren dan lembaga pendidikan, di sekitar Baletengahan Langgardalem, konon dahulu banyak usaha rumahan kretek. Petilasan yang masih dapat dijumpai di Langgardalem adalah \u201cgudang tembakau dan PR. Buah Cengkeh\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Disini terlihat para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus mempunyai tradisi kritis menyikapi fenomena disekelilingnya. Sehingga wajar pada tahun 1990an muncul bahasan tentang kretek di Bahtsul Masail<\/em> para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, jauh mendahului keputusan MUI dan Muhammadiyyah hasil Padang Panjang, dilaksanakan tahun 2009-2010.<\/p>\n\n\n\n

Tradisi Bahtsul Masail biasa disebut \u201cMunadzoroh<\/em>\u201d sudah lama dilakukan para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, dengan bertempat di Masjid-masjid di sekitar Kudus, bergantian dan memutar. Peserta munadzoroh<\/em> adalah para Kiai\/Ulama\u2019 se-Kabupaten Kudus dari berbagai penjuru desa, dan juga masyarakat umum, karena sifatnya terbuka (siapa saja boleh ikut tanpa terkecuali). Pelaksanaannya dari dulu hingga sekarang dijatuhkan pada hari Ahad (minggu). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat pembahasan mengenai kretek, bertempat di Masji al-Aqsho Menara Kudus yang dipimpin oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), redaksi pertanyaaannya adalah:<\/p>\n\n\n\n

\u201ckados pundi hukumipun ngkretek (bagaimana hukum menghisap kretek)?\u201d<\/em>--pertanyaan dari<\/em> Baletengahan--<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sebelum memulai pembahasan biasanya KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menanyakan tentang apa yang akan dibahas. Diceritakan oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi, situasi dan kondisi saat itu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), bertanya di forum, \u00a0\u201copo iki takonane?\u201d (pertanyaannya apa), di jawab yang hadir saat itu, \u201c anu Mbah bab kretek\u201d (itu bab menghisap kretek), lalu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menyambung jawaban hadirin, \u201coooo, bab kretek, kretekku gowo rene dikik\u201d (ooo, bab menghisap kretek, kretekku bawa kemari dulu), kemudian KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) mengambil satu batang kretek dari bungkusnya disulut dan dihisap. Selesai menyulut kretek, kembali KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) berbicara, \u201cwes kono dibahas\u201d (sudah sana dibahas). Setelah diperintahkan untuk dibahas, suasana hening sejenak. \u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mungkin di benak para hadirin terlintas pikiran \u201capa yang dibahas sudah dijawab secara tersirat oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) dengan menghisap kretek\u201d. Pada akhirnya, pembahasan tetap dilaksanakan. Diceritakan KH. Sya\u2019roni juga, situasi saat itu tidak ada Kiai\/Ulama\u2019 yang hadir menghukumi \u201charam\u201d, pada akhirnya diputuskan KH. Turaikhan, dengan hukum \u201c boleh\u201d, disela-sela KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) memberikan penjelasan, ada salah satu hadirin mengacungkan jarinya, beliau adalah KH. Hambali (Al Maghfurlah), sambil berkata; \u201ckulo Kiai, menawi boten udud kulo mboten saget mucal\u201d (saya Kiai, kalau tidak sambil menghisap kretek, saya tidak dapat mengajar), disertai argumen dan penjelasanannya. Kemudian KH. Turaikhan, memberikan jawaban dan tanggapan kepada KH. Hambali, \u201cnek ngono, kanggo kuwi hukumi wajib\u201d (kalau begitu, untuk kamu hukumnya wajib mengkonsumsi kretek).  <\/p>\n\n\n\n

Dilihat dari putusan Bahtsul Masail di atas, pada awalnya menghisap kretek dihukumi \u201cboleh\u201d, namun dengan kondisi tertentu menjadi \u201cWajib\u201d. Cerita penetapan hukum menghisap kretek dalam forum Bahtsul Masail di atas, telah menyebar di kalangan masyarakat Kudus, dan menjadi konsumsi publik, serta bersifat mengikat sampai sekarang. Sehingga banyak Kiai\/Ulama\u2019 Kudus tidak mempersoalkan lagi, apalagi membahas kembali. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cerita situasi dan kondisi Bahtsul Masail, diapresiasi dan diinterpretasikan Kiai\/Ulama\u2019Kudus lebih kontekstual, salah satunya KH. Fatkhur Rahman, beliau bercerita;  saat KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) populer dengan sebutan Mbah Tur memimpin munadzoroh<\/em> ada pertanyaan: bagaimana hukumnya kretek? Mbah Tur malah mengambil kretek, menyulut dan menghisapnya, dengan begitu diasumsikan hukumnya \u201chalal\u201d (jadi  setelah itu sudah tidak perlu dibahas lagi soal kretek). KH. Fatkhur Rahman juga menceritakan ada satu alasan kuat, mengapa halal, karena para Kiai itu tidak mau barang subhat<\/em> (tidak jelas posisinya), apalagi haram. Ketika para Kiai\/Ulama\u2019 besar menghisap kretek, otomatis tidak haram. Tuhan menciptakan sesuatu untuk dinikmati itu ada dua, halal atau haram. <\/p>\n\n\n\n

Dasar hukum menghisap kretek adalah mubah, sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang menjadi wajib, juga menjadi haram. Dasar utamanya adalah  \u201cla dhororo wala dhiroro\u201d. <\/em>Hukumnya seperti  mengkonsumsi gula, ketika kena penyakit gula, maka haram atau tidak boleh mengkonsumsi gula. Begitu pula ketika punya darah tinggi, maka tidak boleh makan daging, dan seterusnya. Dimana \u201calhukmu yadurru ma\u2019a illatihi\u201d<\/em>(hukum itu bisa beralih tergantung alasannya). Membeli kretek dihukumi tidak boleh (haram), jika uang yang dipakai semestinya untuk belanja kebutuhan pokok, membayar sekolah dan lain sebagainya. Menghisap kretek menjadi wajib, ketika tidak menghisap sulit berpikir, lemas, tidak bisa kerja dan lain sebagainya.
<\/p>\n","post_title":"Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fenomena-hukum-rokok-bagi-ulama-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-10 10:37:16","post_modified_gmt":"2019-04-10 03:37:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5621","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

Paling Populer

\n

Ia melukis Reog Ponorogo bukan tanpa alasan. Ia ingin memberikan kritik kepada seluruh masyarakat dan Pemerintah, bahwa mencintai kekayaan budaya bangsa sendiri adalah kewajiban yang harus selalu digelorakan. Jangan sampai, ketika kebudayaan tersebut direbut negara lain, bangsa ini baru panik dan serius mengakui serta membanggakan kekayaan kebudayaan sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ialah Shadikin Pard, seorang pelukis masyhur yang terlahir tunadaksa atau tanpa kedua tangan. Kami berbincang di bawah pohon beringin rindang. Di antara para pelukis lainnya yang sedang beristirahat menunggu waktu pengumuman pemenang dibacakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pria kelahiran 29 Oktober 1996 ini mulai melukis sejak masih di taman kanak-kanak. Saat itu, melukis hanya sebagai hobi semata. Sadikin juga pernah les privat melukis di rumahnya. Hingga mengenyam pendidikan sekolah menengah atas di SMA Santa Maria Kota Malang, Sadikin masih menempatkan melukis sebagai hobi.
<\/p>\n\n\n\n

Di tengah keterbatasannya, Sadikin lalu melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kala itu, Sadikin mengambil jurusan psikologi pascagagal mengambil jurusan arsitektur yang ia dambakan dan cita-citakan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, kekurangan yang diberikan Tuhan adalah sebuah kelebihan yang tidak banyak dimiliki oleh orang lain. Kegigihannya dalam belajar melukis menghantarkannya ke Associaton of Mouth and Foot Painting Artist (AMFPA). Sebuah organisasi yang bermarkas di Swiss dan menghimpun karya pelukis yang melukis menggunakan kaki dan mulut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSetelah masuk AMFPA, saya menjadikan melukis sebagai profesi. Tahun 1989 saya menerima 300 swiss franc, setara Rp 300 ribu waktu itu. Kini, saya menerima sekitar 40 jt setiap bulan,\u201d ungkap Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin terus melukis. Kemampuannya terus berkembang, bahkan melebihi tuntutan dari organisasi yang ia ikuti. Nama Sadikin juga mulai dikenal, bukan sebab keterbatasannya, melainkan sebab karyanya yang memang bernilai tinggi.
<\/p>\n\n\n\n

Setiap kali ada pameran lukisan dan kontes-kontes melukis, Sadikin tidak pernah alfa untuk mengikutinya. Karyanya menjadi sorotan publik dan banyak laku dengan harga yang tidak murah. Bahkan menurutnya, ada salah satu lukisannya yang laku hingga Rp 250 juta.<\/p>\n\n\n\n

Menolak Pasrah dan Bergantung kepada Pemerintah karena Disabilitas<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Sadikin tidak mau dikasihani orang lain. Meski ia tunadaksa, ia adalah manusia yang sama, yang memilki kesempatan besar untuk menjalani rutinitas sebagaimana manusia lainnya. \u201cKuncinya adalah terus mencoba, mencoba dan mencoba. Saya tidak apa-apa dicemooh lukisan saya jelek. Bagi saya cemoohan seperti itu adalah cambuk untuk terus berlatih,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Sadikin, masyarakat harus adil memerlakukan para difabel. Difabel harus diperlakukan sebagaimana orang biasa. Semakin banyak orang yang mengasihani difabel, maka tidak malah membuat difabel itu kuat, sebaliknya berdampak melemahkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cDifabel harus diperlakukan seperti manusia biasa, bahkan ia harus diberi tantangan dan ditempa untuk menemukan kelebihan dalam dirinya,\u201d kata Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, para difabel harus mulai mengubah sudut pandang. Bahwa segala kekurangan tidak kemudian menjadikan para difabel pasrah menerima nasib dan mengharapkan santunan dari orang lain dan pemerintah untuk menjalani hidup. Difabel adalah orang istimewa yang dapat berkarya melebihi orang-orang biasa. Kekurangan ini adalah kelebihan yang akan ditemukan dengan kerja keras dan melatih diri menjadi apa yang diinginkan.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin bisa berangkat ke Swiss dan mengharumkan nama Indonesia di mata dunia, tidak terlebih dulu mendapat perhatian dari pemerintah. Ia mengaku berangkat dengan uang sendiri. Bahkan, lanjut Sadikin, hingga kini pun tidak ada pemerintah yang mengapresiasi karya-karyanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak menginginkan belas kasihan dari pemerintah. Karena yang sejatinya benar adalah, kita dapat memberikan apa kepada negara ini, bukan negara dapat memberikan apa kepada kita. Namun yang saya sayangkan, pemerintah sepertinya tidak peduli memperhatikan para seniman dan menghargai karya seni dari para seniman negeri sendiri. Seharusnya para seniman ini diberikan wadah, diperhatikan, kan juga kalau manajemennya bagus bisa menjadi pemasukan untuk negara,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin mengirim pesan kepada seluruh seniman di Tanah Air untuk terus berkaraya, tanpa peduli akan bernilai apa sebuah karya tersebut. \u201cYang terpenting kita dapat mengaktulisasikan diri dan terus melukis dengan niat mengharumkan nama negeri. Teruslah berkarya, karena sejatinya karya adalah yang dibuat dengan kesungguhan dan keikhlasan hati,\u201d pungkas pelukis beranak dua tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Shadikin Pard, Pelukis Tanpa Lengan yang Mengharumkan Bangsa dengan Kedua Kakinya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"shadikin-pard-pelukis-tanpa-lengan-yang-mengharumkan-bangsa-dengan-kedua-kakinya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-16 11:09:38","post_modified_gmt":"2019-04-16 04:09:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5637","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5621,"post_author":"877","post_date":"2019-04-10 10:37:08","post_date_gmt":"2019-04-10 03:37:08","post_content":"\n

Bahasan mengenai hukum menyulut kretek pernah dipertanyakan dalam forum bahtsul masail<\/em> (musyawarah) para Kiai\/Ulama\u2019 Kudus. Pertanyaan (saail<\/em>) yang mengajukan atas nama masyarakat Baletengahan, yaitu dukuh yang masuk wilayah Desa Langgardalem Kecamatan Kota. Tepatnya sekitar + 800an m, arah utara Masjid Menara Kudus (al-Aqsha). Kultur budaya masyarakat Baletengahan adalah santri, terdapat banyak Pesantren dan beberapa madrasah, salah satunya lembaga pendidikan formal TBS (Tasywiqut Thullab Salafiyyah), yaitu lembaga pendidikan salaf yang dahulu salah satu tempat  KH. Arwani Amin al-Hafiz mengajar dan yayasan pendidikan Nawa Kartika, yang didirikan oleh tokoh NU setempat. <\/p>\n\n\n\n

Lain halnya pesantren dan lembaga pendidikan, di sekitar Baletengahan Langgardalem, konon dahulu banyak usaha rumahan kretek. Petilasan yang masih dapat dijumpai di Langgardalem adalah \u201cgudang tembakau dan PR. Buah Cengkeh\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Disini terlihat para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus mempunyai tradisi kritis menyikapi fenomena disekelilingnya. Sehingga wajar pada tahun 1990an muncul bahasan tentang kretek di Bahtsul Masail<\/em> para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, jauh mendahului keputusan MUI dan Muhammadiyyah hasil Padang Panjang, dilaksanakan tahun 2009-2010.<\/p>\n\n\n\n

Tradisi Bahtsul Masail biasa disebut \u201cMunadzoroh<\/em>\u201d sudah lama dilakukan para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, dengan bertempat di Masjid-masjid di sekitar Kudus, bergantian dan memutar. Peserta munadzoroh<\/em> adalah para Kiai\/Ulama\u2019 se-Kabupaten Kudus dari berbagai penjuru desa, dan juga masyarakat umum, karena sifatnya terbuka (siapa saja boleh ikut tanpa terkecuali). Pelaksanaannya dari dulu hingga sekarang dijatuhkan pada hari Ahad (minggu). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat pembahasan mengenai kretek, bertempat di Masji al-Aqsho Menara Kudus yang dipimpin oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), redaksi pertanyaaannya adalah:<\/p>\n\n\n\n

\u201ckados pundi hukumipun ngkretek (bagaimana hukum menghisap kretek)?\u201d<\/em>--pertanyaan dari<\/em> Baletengahan--<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sebelum memulai pembahasan biasanya KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menanyakan tentang apa yang akan dibahas. Diceritakan oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi, situasi dan kondisi saat itu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), bertanya di forum, \u00a0\u201copo iki takonane?\u201d (pertanyaannya apa), di jawab yang hadir saat itu, \u201c anu Mbah bab kretek\u201d (itu bab menghisap kretek), lalu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menyambung jawaban hadirin, \u201coooo, bab kretek, kretekku gowo rene dikik\u201d (ooo, bab menghisap kretek, kretekku bawa kemari dulu), kemudian KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) mengambil satu batang kretek dari bungkusnya disulut dan dihisap. Selesai menyulut kretek, kembali KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) berbicara, \u201cwes kono dibahas\u201d (sudah sana dibahas). Setelah diperintahkan untuk dibahas, suasana hening sejenak. \u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mungkin di benak para hadirin terlintas pikiran \u201capa yang dibahas sudah dijawab secara tersirat oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) dengan menghisap kretek\u201d. Pada akhirnya, pembahasan tetap dilaksanakan. Diceritakan KH. Sya\u2019roni juga, situasi saat itu tidak ada Kiai\/Ulama\u2019 yang hadir menghukumi \u201charam\u201d, pada akhirnya diputuskan KH. Turaikhan, dengan hukum \u201c boleh\u201d, disela-sela KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) memberikan penjelasan, ada salah satu hadirin mengacungkan jarinya, beliau adalah KH. Hambali (Al Maghfurlah), sambil berkata; \u201ckulo Kiai, menawi boten udud kulo mboten saget mucal\u201d (saya Kiai, kalau tidak sambil menghisap kretek, saya tidak dapat mengajar), disertai argumen dan penjelasanannya. Kemudian KH. Turaikhan, memberikan jawaban dan tanggapan kepada KH. Hambali, \u201cnek ngono, kanggo kuwi hukumi wajib\u201d (kalau begitu, untuk kamu hukumnya wajib mengkonsumsi kretek).  <\/p>\n\n\n\n

Dilihat dari putusan Bahtsul Masail di atas, pada awalnya menghisap kretek dihukumi \u201cboleh\u201d, namun dengan kondisi tertentu menjadi \u201cWajib\u201d. Cerita penetapan hukum menghisap kretek dalam forum Bahtsul Masail di atas, telah menyebar di kalangan masyarakat Kudus, dan menjadi konsumsi publik, serta bersifat mengikat sampai sekarang. Sehingga banyak Kiai\/Ulama\u2019 Kudus tidak mempersoalkan lagi, apalagi membahas kembali. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cerita situasi dan kondisi Bahtsul Masail, diapresiasi dan diinterpretasikan Kiai\/Ulama\u2019Kudus lebih kontekstual, salah satunya KH. Fatkhur Rahman, beliau bercerita;  saat KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) populer dengan sebutan Mbah Tur memimpin munadzoroh<\/em> ada pertanyaan: bagaimana hukumnya kretek? Mbah Tur malah mengambil kretek, menyulut dan menghisapnya, dengan begitu diasumsikan hukumnya \u201chalal\u201d (jadi  setelah itu sudah tidak perlu dibahas lagi soal kretek). KH. Fatkhur Rahman juga menceritakan ada satu alasan kuat, mengapa halal, karena para Kiai itu tidak mau barang subhat<\/em> (tidak jelas posisinya), apalagi haram. Ketika para Kiai\/Ulama\u2019 besar menghisap kretek, otomatis tidak haram. Tuhan menciptakan sesuatu untuk dinikmati itu ada dua, halal atau haram. <\/p>\n\n\n\n

Dasar hukum menghisap kretek adalah mubah, sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang menjadi wajib, juga menjadi haram. Dasar utamanya adalah  \u201cla dhororo wala dhiroro\u201d. <\/em>Hukumnya seperti  mengkonsumsi gula, ketika kena penyakit gula, maka haram atau tidak boleh mengkonsumsi gula. Begitu pula ketika punya darah tinggi, maka tidak boleh makan daging, dan seterusnya. Dimana \u201calhukmu yadurru ma\u2019a illatihi\u201d<\/em>(hukum itu bisa beralih tergantung alasannya). Membeli kretek dihukumi tidak boleh (haram), jika uang yang dipakai semestinya untuk belanja kebutuhan pokok, membayar sekolah dan lain sebagainya. Menghisap kretek menjadi wajib, ketika tidak menghisap sulit berpikir, lemas, tidak bisa kerja dan lain sebagainya.
<\/p>\n","post_title":"Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fenomena-hukum-rokok-bagi-ulama-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-10 10:37:16","post_modified_gmt":"2019-04-10 03:37:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5621","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

Paling Populer

\n

Di sampingnya, seorang pemuda yang ternyata anaknya dengan sigap menjalankan instruksi ayahnya, mulai dari mengganti ukuran kuas yang terjepit di antara jemarinya, membuka botol cat dan lain sebagainya. Sesekali anaknya menyalakan rokok dan menyodorkan ke hadapan mulut ayahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Ia melukis Reog Ponorogo bukan tanpa alasan. Ia ingin memberikan kritik kepada seluruh masyarakat dan Pemerintah, bahwa mencintai kekayaan budaya bangsa sendiri adalah kewajiban yang harus selalu digelorakan. Jangan sampai, ketika kebudayaan tersebut direbut negara lain, bangsa ini baru panik dan serius mengakui serta membanggakan kekayaan kebudayaan sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ialah Shadikin Pard, seorang pelukis masyhur yang terlahir tunadaksa atau tanpa kedua tangan. Kami berbincang di bawah pohon beringin rindang. Di antara para pelukis lainnya yang sedang beristirahat menunggu waktu pengumuman pemenang dibacakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pria kelahiran 29 Oktober 1996 ini mulai melukis sejak masih di taman kanak-kanak. Saat itu, melukis hanya sebagai hobi semata. Sadikin juga pernah les privat melukis di rumahnya. Hingga mengenyam pendidikan sekolah menengah atas di SMA Santa Maria Kota Malang, Sadikin masih menempatkan melukis sebagai hobi.
<\/p>\n\n\n\n

Di tengah keterbatasannya, Sadikin lalu melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kala itu, Sadikin mengambil jurusan psikologi pascagagal mengambil jurusan arsitektur yang ia dambakan dan cita-citakan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, kekurangan yang diberikan Tuhan adalah sebuah kelebihan yang tidak banyak dimiliki oleh orang lain. Kegigihannya dalam belajar melukis menghantarkannya ke Associaton of Mouth and Foot Painting Artist (AMFPA). Sebuah organisasi yang bermarkas di Swiss dan menghimpun karya pelukis yang melukis menggunakan kaki dan mulut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSetelah masuk AMFPA, saya menjadikan melukis sebagai profesi. Tahun 1989 saya menerima 300 swiss franc, setara Rp 300 ribu waktu itu. Kini, saya menerima sekitar 40 jt setiap bulan,\u201d ungkap Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin terus melukis. Kemampuannya terus berkembang, bahkan melebihi tuntutan dari organisasi yang ia ikuti. Nama Sadikin juga mulai dikenal, bukan sebab keterbatasannya, melainkan sebab karyanya yang memang bernilai tinggi.
<\/p>\n\n\n\n

Setiap kali ada pameran lukisan dan kontes-kontes melukis, Sadikin tidak pernah alfa untuk mengikutinya. Karyanya menjadi sorotan publik dan banyak laku dengan harga yang tidak murah. Bahkan menurutnya, ada salah satu lukisannya yang laku hingga Rp 250 juta.<\/p>\n\n\n\n

Menolak Pasrah dan Bergantung kepada Pemerintah karena Disabilitas<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Sadikin tidak mau dikasihani orang lain. Meski ia tunadaksa, ia adalah manusia yang sama, yang memilki kesempatan besar untuk menjalani rutinitas sebagaimana manusia lainnya. \u201cKuncinya adalah terus mencoba, mencoba dan mencoba. Saya tidak apa-apa dicemooh lukisan saya jelek. Bagi saya cemoohan seperti itu adalah cambuk untuk terus berlatih,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Sadikin, masyarakat harus adil memerlakukan para difabel. Difabel harus diperlakukan sebagaimana orang biasa. Semakin banyak orang yang mengasihani difabel, maka tidak malah membuat difabel itu kuat, sebaliknya berdampak melemahkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cDifabel harus diperlakukan seperti manusia biasa, bahkan ia harus diberi tantangan dan ditempa untuk menemukan kelebihan dalam dirinya,\u201d kata Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, para difabel harus mulai mengubah sudut pandang. Bahwa segala kekurangan tidak kemudian menjadikan para difabel pasrah menerima nasib dan mengharapkan santunan dari orang lain dan pemerintah untuk menjalani hidup. Difabel adalah orang istimewa yang dapat berkarya melebihi orang-orang biasa. Kekurangan ini adalah kelebihan yang akan ditemukan dengan kerja keras dan melatih diri menjadi apa yang diinginkan.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin bisa berangkat ke Swiss dan mengharumkan nama Indonesia di mata dunia, tidak terlebih dulu mendapat perhatian dari pemerintah. Ia mengaku berangkat dengan uang sendiri. Bahkan, lanjut Sadikin, hingga kini pun tidak ada pemerintah yang mengapresiasi karya-karyanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak menginginkan belas kasihan dari pemerintah. Karena yang sejatinya benar adalah, kita dapat memberikan apa kepada negara ini, bukan negara dapat memberikan apa kepada kita. Namun yang saya sayangkan, pemerintah sepertinya tidak peduli memperhatikan para seniman dan menghargai karya seni dari para seniman negeri sendiri. Seharusnya para seniman ini diberikan wadah, diperhatikan, kan juga kalau manajemennya bagus bisa menjadi pemasukan untuk negara,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin mengirim pesan kepada seluruh seniman di Tanah Air untuk terus berkaraya, tanpa peduli akan bernilai apa sebuah karya tersebut. \u201cYang terpenting kita dapat mengaktulisasikan diri dan terus melukis dengan niat mengharumkan nama negeri. Teruslah berkarya, karena sejatinya karya adalah yang dibuat dengan kesungguhan dan keikhlasan hati,\u201d pungkas pelukis beranak dua tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Shadikin Pard, Pelukis Tanpa Lengan yang Mengharumkan Bangsa dengan Kedua Kakinya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"shadikin-pard-pelukis-tanpa-lengan-yang-mengharumkan-bangsa-dengan-kedua-kakinya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-16 11:09:38","post_modified_gmt":"2019-04-16 04:09:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5637","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5621,"post_author":"877","post_date":"2019-04-10 10:37:08","post_date_gmt":"2019-04-10 03:37:08","post_content":"\n

Bahasan mengenai hukum menyulut kretek pernah dipertanyakan dalam forum bahtsul masail<\/em> (musyawarah) para Kiai\/Ulama\u2019 Kudus. Pertanyaan (saail<\/em>) yang mengajukan atas nama masyarakat Baletengahan, yaitu dukuh yang masuk wilayah Desa Langgardalem Kecamatan Kota. Tepatnya sekitar + 800an m, arah utara Masjid Menara Kudus (al-Aqsha). Kultur budaya masyarakat Baletengahan adalah santri, terdapat banyak Pesantren dan beberapa madrasah, salah satunya lembaga pendidikan formal TBS (Tasywiqut Thullab Salafiyyah), yaitu lembaga pendidikan salaf yang dahulu salah satu tempat  KH. Arwani Amin al-Hafiz mengajar dan yayasan pendidikan Nawa Kartika, yang didirikan oleh tokoh NU setempat. <\/p>\n\n\n\n

Lain halnya pesantren dan lembaga pendidikan, di sekitar Baletengahan Langgardalem, konon dahulu banyak usaha rumahan kretek. Petilasan yang masih dapat dijumpai di Langgardalem adalah \u201cgudang tembakau dan PR. Buah Cengkeh\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Disini terlihat para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus mempunyai tradisi kritis menyikapi fenomena disekelilingnya. Sehingga wajar pada tahun 1990an muncul bahasan tentang kretek di Bahtsul Masail<\/em> para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, jauh mendahului keputusan MUI dan Muhammadiyyah hasil Padang Panjang, dilaksanakan tahun 2009-2010.<\/p>\n\n\n\n

Tradisi Bahtsul Masail biasa disebut \u201cMunadzoroh<\/em>\u201d sudah lama dilakukan para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, dengan bertempat di Masjid-masjid di sekitar Kudus, bergantian dan memutar. Peserta munadzoroh<\/em> adalah para Kiai\/Ulama\u2019 se-Kabupaten Kudus dari berbagai penjuru desa, dan juga masyarakat umum, karena sifatnya terbuka (siapa saja boleh ikut tanpa terkecuali). Pelaksanaannya dari dulu hingga sekarang dijatuhkan pada hari Ahad (minggu). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat pembahasan mengenai kretek, bertempat di Masji al-Aqsho Menara Kudus yang dipimpin oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), redaksi pertanyaaannya adalah:<\/p>\n\n\n\n

\u201ckados pundi hukumipun ngkretek (bagaimana hukum menghisap kretek)?\u201d<\/em>--pertanyaan dari<\/em> Baletengahan--<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sebelum memulai pembahasan biasanya KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menanyakan tentang apa yang akan dibahas. Diceritakan oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi, situasi dan kondisi saat itu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), bertanya di forum, \u00a0\u201copo iki takonane?\u201d (pertanyaannya apa), di jawab yang hadir saat itu, \u201c anu Mbah bab kretek\u201d (itu bab menghisap kretek), lalu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menyambung jawaban hadirin, \u201coooo, bab kretek, kretekku gowo rene dikik\u201d (ooo, bab menghisap kretek, kretekku bawa kemari dulu), kemudian KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) mengambil satu batang kretek dari bungkusnya disulut dan dihisap. Selesai menyulut kretek, kembali KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) berbicara, \u201cwes kono dibahas\u201d (sudah sana dibahas). Setelah diperintahkan untuk dibahas, suasana hening sejenak. \u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mungkin di benak para hadirin terlintas pikiran \u201capa yang dibahas sudah dijawab secara tersirat oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) dengan menghisap kretek\u201d. Pada akhirnya, pembahasan tetap dilaksanakan. Diceritakan KH. Sya\u2019roni juga, situasi saat itu tidak ada Kiai\/Ulama\u2019 yang hadir menghukumi \u201charam\u201d, pada akhirnya diputuskan KH. Turaikhan, dengan hukum \u201c boleh\u201d, disela-sela KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) memberikan penjelasan, ada salah satu hadirin mengacungkan jarinya, beliau adalah KH. Hambali (Al Maghfurlah), sambil berkata; \u201ckulo Kiai, menawi boten udud kulo mboten saget mucal\u201d (saya Kiai, kalau tidak sambil menghisap kretek, saya tidak dapat mengajar), disertai argumen dan penjelasanannya. Kemudian KH. Turaikhan, memberikan jawaban dan tanggapan kepada KH. Hambali, \u201cnek ngono, kanggo kuwi hukumi wajib\u201d (kalau begitu, untuk kamu hukumnya wajib mengkonsumsi kretek).  <\/p>\n\n\n\n

Dilihat dari putusan Bahtsul Masail di atas, pada awalnya menghisap kretek dihukumi \u201cboleh\u201d, namun dengan kondisi tertentu menjadi \u201cWajib\u201d. Cerita penetapan hukum menghisap kretek dalam forum Bahtsul Masail di atas, telah menyebar di kalangan masyarakat Kudus, dan menjadi konsumsi publik, serta bersifat mengikat sampai sekarang. Sehingga banyak Kiai\/Ulama\u2019 Kudus tidak mempersoalkan lagi, apalagi membahas kembali. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cerita situasi dan kondisi Bahtsul Masail, diapresiasi dan diinterpretasikan Kiai\/Ulama\u2019Kudus lebih kontekstual, salah satunya KH. Fatkhur Rahman, beliau bercerita;  saat KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) populer dengan sebutan Mbah Tur memimpin munadzoroh<\/em> ada pertanyaan: bagaimana hukumnya kretek? Mbah Tur malah mengambil kretek, menyulut dan menghisapnya, dengan begitu diasumsikan hukumnya \u201chalal\u201d (jadi  setelah itu sudah tidak perlu dibahas lagi soal kretek). KH. Fatkhur Rahman juga menceritakan ada satu alasan kuat, mengapa halal, karena para Kiai itu tidak mau barang subhat<\/em> (tidak jelas posisinya), apalagi haram. Ketika para Kiai\/Ulama\u2019 besar menghisap kretek, otomatis tidak haram. Tuhan menciptakan sesuatu untuk dinikmati itu ada dua, halal atau haram. <\/p>\n\n\n\n

Dasar hukum menghisap kretek adalah mubah, sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang menjadi wajib, juga menjadi haram. Dasar utamanya adalah  \u201cla dhororo wala dhiroro\u201d. <\/em>Hukumnya seperti  mengkonsumsi gula, ketika kena penyakit gula, maka haram atau tidak boleh mengkonsumsi gula. Begitu pula ketika punya darah tinggi, maka tidak boleh makan daging, dan seterusnya. Dimana \u201calhukmu yadurru ma\u2019a illatihi\u201d<\/em>(hukum itu bisa beralih tergantung alasannya). Membeli kretek dihukumi tidak boleh (haram), jika uang yang dipakai semestinya untuk belanja kebutuhan pokok, membayar sekolah dan lain sebagainya. Menghisap kretek menjadi wajib, ketika tidak menghisap sulit berpikir, lemas, tidak bisa kerja dan lain sebagainya.
<\/p>\n","post_title":"Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fenomena-hukum-rokok-bagi-ulama-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-10 10:37:16","post_modified_gmt":"2019-04-10 03:37:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5621","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

Paling Populer

\n

Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di sampingnya, seorang pemuda yang ternyata anaknya dengan sigap menjalankan instruksi ayahnya, mulai dari mengganti ukuran kuas yang terjepit di antara jemarinya, membuka botol cat dan lain sebagainya. Sesekali anaknya menyalakan rokok dan menyodorkan ke hadapan mulut ayahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Ia melukis Reog Ponorogo bukan tanpa alasan. Ia ingin memberikan kritik kepada seluruh masyarakat dan Pemerintah, bahwa mencintai kekayaan budaya bangsa sendiri adalah kewajiban yang harus selalu digelorakan. Jangan sampai, ketika kebudayaan tersebut direbut negara lain, bangsa ini baru panik dan serius mengakui serta membanggakan kekayaan kebudayaan sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ialah Shadikin Pard, seorang pelukis masyhur yang terlahir tunadaksa atau tanpa kedua tangan. Kami berbincang di bawah pohon beringin rindang. Di antara para pelukis lainnya yang sedang beristirahat menunggu waktu pengumuman pemenang dibacakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pria kelahiran 29 Oktober 1996 ini mulai melukis sejak masih di taman kanak-kanak. Saat itu, melukis hanya sebagai hobi semata. Sadikin juga pernah les privat melukis di rumahnya. Hingga mengenyam pendidikan sekolah menengah atas di SMA Santa Maria Kota Malang, Sadikin masih menempatkan melukis sebagai hobi.
<\/p>\n\n\n\n

Di tengah keterbatasannya, Sadikin lalu melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kala itu, Sadikin mengambil jurusan psikologi pascagagal mengambil jurusan arsitektur yang ia dambakan dan cita-citakan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, kekurangan yang diberikan Tuhan adalah sebuah kelebihan yang tidak banyak dimiliki oleh orang lain. Kegigihannya dalam belajar melukis menghantarkannya ke Associaton of Mouth and Foot Painting Artist (AMFPA). Sebuah organisasi yang bermarkas di Swiss dan menghimpun karya pelukis yang melukis menggunakan kaki dan mulut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSetelah masuk AMFPA, saya menjadikan melukis sebagai profesi. Tahun 1989 saya menerima 300 swiss franc, setara Rp 300 ribu waktu itu. Kini, saya menerima sekitar 40 jt setiap bulan,\u201d ungkap Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin terus melukis. Kemampuannya terus berkembang, bahkan melebihi tuntutan dari organisasi yang ia ikuti. Nama Sadikin juga mulai dikenal, bukan sebab keterbatasannya, melainkan sebab karyanya yang memang bernilai tinggi.
<\/p>\n\n\n\n

Setiap kali ada pameran lukisan dan kontes-kontes melukis, Sadikin tidak pernah alfa untuk mengikutinya. Karyanya menjadi sorotan publik dan banyak laku dengan harga yang tidak murah. Bahkan menurutnya, ada salah satu lukisannya yang laku hingga Rp 250 juta.<\/p>\n\n\n\n

Menolak Pasrah dan Bergantung kepada Pemerintah karena Disabilitas<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Sadikin tidak mau dikasihani orang lain. Meski ia tunadaksa, ia adalah manusia yang sama, yang memilki kesempatan besar untuk menjalani rutinitas sebagaimana manusia lainnya. \u201cKuncinya adalah terus mencoba, mencoba dan mencoba. Saya tidak apa-apa dicemooh lukisan saya jelek. Bagi saya cemoohan seperti itu adalah cambuk untuk terus berlatih,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Sadikin, masyarakat harus adil memerlakukan para difabel. Difabel harus diperlakukan sebagaimana orang biasa. Semakin banyak orang yang mengasihani difabel, maka tidak malah membuat difabel itu kuat, sebaliknya berdampak melemahkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cDifabel harus diperlakukan seperti manusia biasa, bahkan ia harus diberi tantangan dan ditempa untuk menemukan kelebihan dalam dirinya,\u201d kata Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, para difabel harus mulai mengubah sudut pandang. Bahwa segala kekurangan tidak kemudian menjadikan para difabel pasrah menerima nasib dan mengharapkan santunan dari orang lain dan pemerintah untuk menjalani hidup. Difabel adalah orang istimewa yang dapat berkarya melebihi orang-orang biasa. Kekurangan ini adalah kelebihan yang akan ditemukan dengan kerja keras dan melatih diri menjadi apa yang diinginkan.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin bisa berangkat ke Swiss dan mengharumkan nama Indonesia di mata dunia, tidak terlebih dulu mendapat perhatian dari pemerintah. Ia mengaku berangkat dengan uang sendiri. Bahkan, lanjut Sadikin, hingga kini pun tidak ada pemerintah yang mengapresiasi karya-karyanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak menginginkan belas kasihan dari pemerintah. Karena yang sejatinya benar adalah, kita dapat memberikan apa kepada negara ini, bukan negara dapat memberikan apa kepada kita. Namun yang saya sayangkan, pemerintah sepertinya tidak peduli memperhatikan para seniman dan menghargai karya seni dari para seniman negeri sendiri. Seharusnya para seniman ini diberikan wadah, diperhatikan, kan juga kalau manajemennya bagus bisa menjadi pemasukan untuk negara,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin mengirim pesan kepada seluruh seniman di Tanah Air untuk terus berkaraya, tanpa peduli akan bernilai apa sebuah karya tersebut. \u201cYang terpenting kita dapat mengaktulisasikan diri dan terus melukis dengan niat mengharumkan nama negeri. Teruslah berkarya, karena sejatinya karya adalah yang dibuat dengan kesungguhan dan keikhlasan hati,\u201d pungkas pelukis beranak dua tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Shadikin Pard, Pelukis Tanpa Lengan yang Mengharumkan Bangsa dengan Kedua Kakinya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"shadikin-pard-pelukis-tanpa-lengan-yang-mengharumkan-bangsa-dengan-kedua-kakinya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-16 11:09:38","post_modified_gmt":"2019-04-16 04:09:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5637","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5621,"post_author":"877","post_date":"2019-04-10 10:37:08","post_date_gmt":"2019-04-10 03:37:08","post_content":"\n

Bahasan mengenai hukum menyulut kretek pernah dipertanyakan dalam forum bahtsul masail<\/em> (musyawarah) para Kiai\/Ulama\u2019 Kudus. Pertanyaan (saail<\/em>) yang mengajukan atas nama masyarakat Baletengahan, yaitu dukuh yang masuk wilayah Desa Langgardalem Kecamatan Kota. Tepatnya sekitar + 800an m, arah utara Masjid Menara Kudus (al-Aqsha). Kultur budaya masyarakat Baletengahan adalah santri, terdapat banyak Pesantren dan beberapa madrasah, salah satunya lembaga pendidikan formal TBS (Tasywiqut Thullab Salafiyyah), yaitu lembaga pendidikan salaf yang dahulu salah satu tempat  KH. Arwani Amin al-Hafiz mengajar dan yayasan pendidikan Nawa Kartika, yang didirikan oleh tokoh NU setempat. <\/p>\n\n\n\n

Lain halnya pesantren dan lembaga pendidikan, di sekitar Baletengahan Langgardalem, konon dahulu banyak usaha rumahan kretek. Petilasan yang masih dapat dijumpai di Langgardalem adalah \u201cgudang tembakau dan PR. Buah Cengkeh\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Disini terlihat para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus mempunyai tradisi kritis menyikapi fenomena disekelilingnya. Sehingga wajar pada tahun 1990an muncul bahasan tentang kretek di Bahtsul Masail<\/em> para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, jauh mendahului keputusan MUI dan Muhammadiyyah hasil Padang Panjang, dilaksanakan tahun 2009-2010.<\/p>\n\n\n\n

Tradisi Bahtsul Masail biasa disebut \u201cMunadzoroh<\/em>\u201d sudah lama dilakukan para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, dengan bertempat di Masjid-masjid di sekitar Kudus, bergantian dan memutar. Peserta munadzoroh<\/em> adalah para Kiai\/Ulama\u2019 se-Kabupaten Kudus dari berbagai penjuru desa, dan juga masyarakat umum, karena sifatnya terbuka (siapa saja boleh ikut tanpa terkecuali). Pelaksanaannya dari dulu hingga sekarang dijatuhkan pada hari Ahad (minggu). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat pembahasan mengenai kretek, bertempat di Masji al-Aqsho Menara Kudus yang dipimpin oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), redaksi pertanyaaannya adalah:<\/p>\n\n\n\n

\u201ckados pundi hukumipun ngkretek (bagaimana hukum menghisap kretek)?\u201d<\/em>--pertanyaan dari<\/em> Baletengahan--<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sebelum memulai pembahasan biasanya KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menanyakan tentang apa yang akan dibahas. Diceritakan oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi, situasi dan kondisi saat itu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), bertanya di forum, \u00a0\u201copo iki takonane?\u201d (pertanyaannya apa), di jawab yang hadir saat itu, \u201c anu Mbah bab kretek\u201d (itu bab menghisap kretek), lalu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menyambung jawaban hadirin, \u201coooo, bab kretek, kretekku gowo rene dikik\u201d (ooo, bab menghisap kretek, kretekku bawa kemari dulu), kemudian KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) mengambil satu batang kretek dari bungkusnya disulut dan dihisap. Selesai menyulut kretek, kembali KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) berbicara, \u201cwes kono dibahas\u201d (sudah sana dibahas). Setelah diperintahkan untuk dibahas, suasana hening sejenak. \u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mungkin di benak para hadirin terlintas pikiran \u201capa yang dibahas sudah dijawab secara tersirat oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) dengan menghisap kretek\u201d. Pada akhirnya, pembahasan tetap dilaksanakan. Diceritakan KH. Sya\u2019roni juga, situasi saat itu tidak ada Kiai\/Ulama\u2019 yang hadir menghukumi \u201charam\u201d, pada akhirnya diputuskan KH. Turaikhan, dengan hukum \u201c boleh\u201d, disela-sela KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) memberikan penjelasan, ada salah satu hadirin mengacungkan jarinya, beliau adalah KH. Hambali (Al Maghfurlah), sambil berkata; \u201ckulo Kiai, menawi boten udud kulo mboten saget mucal\u201d (saya Kiai, kalau tidak sambil menghisap kretek, saya tidak dapat mengajar), disertai argumen dan penjelasanannya. Kemudian KH. Turaikhan, memberikan jawaban dan tanggapan kepada KH. Hambali, \u201cnek ngono, kanggo kuwi hukumi wajib\u201d (kalau begitu, untuk kamu hukumnya wajib mengkonsumsi kretek).  <\/p>\n\n\n\n

Dilihat dari putusan Bahtsul Masail di atas, pada awalnya menghisap kretek dihukumi \u201cboleh\u201d, namun dengan kondisi tertentu menjadi \u201cWajib\u201d. Cerita penetapan hukum menghisap kretek dalam forum Bahtsul Masail di atas, telah menyebar di kalangan masyarakat Kudus, dan menjadi konsumsi publik, serta bersifat mengikat sampai sekarang. Sehingga banyak Kiai\/Ulama\u2019 Kudus tidak mempersoalkan lagi, apalagi membahas kembali. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cerita situasi dan kondisi Bahtsul Masail, diapresiasi dan diinterpretasikan Kiai\/Ulama\u2019Kudus lebih kontekstual, salah satunya KH. Fatkhur Rahman, beliau bercerita;  saat KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) populer dengan sebutan Mbah Tur memimpin munadzoroh<\/em> ada pertanyaan: bagaimana hukumnya kretek? Mbah Tur malah mengambil kretek, menyulut dan menghisapnya, dengan begitu diasumsikan hukumnya \u201chalal\u201d (jadi  setelah itu sudah tidak perlu dibahas lagi soal kretek). KH. Fatkhur Rahman juga menceritakan ada satu alasan kuat, mengapa halal, karena para Kiai itu tidak mau barang subhat<\/em> (tidak jelas posisinya), apalagi haram. Ketika para Kiai\/Ulama\u2019 besar menghisap kretek, otomatis tidak haram. Tuhan menciptakan sesuatu untuk dinikmati itu ada dua, halal atau haram. <\/p>\n\n\n\n

Dasar hukum menghisap kretek adalah mubah, sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang menjadi wajib, juga menjadi haram. Dasar utamanya adalah  \u201cla dhororo wala dhiroro\u201d. <\/em>Hukumnya seperti  mengkonsumsi gula, ketika kena penyakit gula, maka haram atau tidak boleh mengkonsumsi gula. Begitu pula ketika punya darah tinggi, maka tidak boleh makan daging, dan seterusnya. Dimana \u201calhukmu yadurru ma\u2019a illatihi\u201d<\/em>(hukum itu bisa beralih tergantung alasannya). Membeli kretek dihukumi tidak boleh (haram), jika uang yang dipakai semestinya untuk belanja kebutuhan pokok, membayar sekolah dan lain sebagainya. Menghisap kretek menjadi wajib, ketika tidak menghisap sulit berpikir, lemas, tidak bisa kerja dan lain sebagainya.
<\/p>\n","post_title":"Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fenomena-hukum-rokok-bagi-ulama-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-10 10:37:16","post_modified_gmt":"2019-04-10 03:37:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5621","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

Paling Populer

\n

Sebatang kuas dijepitkan di antara jemari kaki. Sesekali ia menyelupkan kuas itu ke dalam cat dan kemudian menggoreskannya ke dalam kanvas hingga membentuk sebuah lukisan realis Reog Ponorogo yang indah. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di sampingnya, seorang pemuda yang ternyata anaknya dengan sigap menjalankan instruksi ayahnya, mulai dari mengganti ukuran kuas yang terjepit di antara jemarinya, membuka botol cat dan lain sebagainya. Sesekali anaknya menyalakan rokok dan menyodorkan ke hadapan mulut ayahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Ia melukis Reog Ponorogo bukan tanpa alasan. Ia ingin memberikan kritik kepada seluruh masyarakat dan Pemerintah, bahwa mencintai kekayaan budaya bangsa sendiri adalah kewajiban yang harus selalu digelorakan. Jangan sampai, ketika kebudayaan tersebut direbut negara lain, bangsa ini baru panik dan serius mengakui serta membanggakan kekayaan kebudayaan sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ialah Shadikin Pard, seorang pelukis masyhur yang terlahir tunadaksa atau tanpa kedua tangan. Kami berbincang di bawah pohon beringin rindang. Di antara para pelukis lainnya yang sedang beristirahat menunggu waktu pengumuman pemenang dibacakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pria kelahiran 29 Oktober 1996 ini mulai melukis sejak masih di taman kanak-kanak. Saat itu, melukis hanya sebagai hobi semata. Sadikin juga pernah les privat melukis di rumahnya. Hingga mengenyam pendidikan sekolah menengah atas di SMA Santa Maria Kota Malang, Sadikin masih menempatkan melukis sebagai hobi.
<\/p>\n\n\n\n

Di tengah keterbatasannya, Sadikin lalu melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kala itu, Sadikin mengambil jurusan psikologi pascagagal mengambil jurusan arsitektur yang ia dambakan dan cita-citakan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, kekurangan yang diberikan Tuhan adalah sebuah kelebihan yang tidak banyak dimiliki oleh orang lain. Kegigihannya dalam belajar melukis menghantarkannya ke Associaton of Mouth and Foot Painting Artist (AMFPA). Sebuah organisasi yang bermarkas di Swiss dan menghimpun karya pelukis yang melukis menggunakan kaki dan mulut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSetelah masuk AMFPA, saya menjadikan melukis sebagai profesi. Tahun 1989 saya menerima 300 swiss franc, setara Rp 300 ribu waktu itu. Kini, saya menerima sekitar 40 jt setiap bulan,\u201d ungkap Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin terus melukis. Kemampuannya terus berkembang, bahkan melebihi tuntutan dari organisasi yang ia ikuti. Nama Sadikin juga mulai dikenal, bukan sebab keterbatasannya, melainkan sebab karyanya yang memang bernilai tinggi.
<\/p>\n\n\n\n

Setiap kali ada pameran lukisan dan kontes-kontes melukis, Sadikin tidak pernah alfa untuk mengikutinya. Karyanya menjadi sorotan publik dan banyak laku dengan harga yang tidak murah. Bahkan menurutnya, ada salah satu lukisannya yang laku hingga Rp 250 juta.<\/p>\n\n\n\n

Menolak Pasrah dan Bergantung kepada Pemerintah karena Disabilitas<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Sadikin tidak mau dikasihani orang lain. Meski ia tunadaksa, ia adalah manusia yang sama, yang memilki kesempatan besar untuk menjalani rutinitas sebagaimana manusia lainnya. \u201cKuncinya adalah terus mencoba, mencoba dan mencoba. Saya tidak apa-apa dicemooh lukisan saya jelek. Bagi saya cemoohan seperti itu adalah cambuk untuk terus berlatih,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Sadikin, masyarakat harus adil memerlakukan para difabel. Difabel harus diperlakukan sebagaimana orang biasa. Semakin banyak orang yang mengasihani difabel, maka tidak malah membuat difabel itu kuat, sebaliknya berdampak melemahkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cDifabel harus diperlakukan seperti manusia biasa, bahkan ia harus diberi tantangan dan ditempa untuk menemukan kelebihan dalam dirinya,\u201d kata Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, para difabel harus mulai mengubah sudut pandang. Bahwa segala kekurangan tidak kemudian menjadikan para difabel pasrah menerima nasib dan mengharapkan santunan dari orang lain dan pemerintah untuk menjalani hidup. Difabel adalah orang istimewa yang dapat berkarya melebihi orang-orang biasa. Kekurangan ini adalah kelebihan yang akan ditemukan dengan kerja keras dan melatih diri menjadi apa yang diinginkan.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin bisa berangkat ke Swiss dan mengharumkan nama Indonesia di mata dunia, tidak terlebih dulu mendapat perhatian dari pemerintah. Ia mengaku berangkat dengan uang sendiri. Bahkan, lanjut Sadikin, hingga kini pun tidak ada pemerintah yang mengapresiasi karya-karyanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak menginginkan belas kasihan dari pemerintah. Karena yang sejatinya benar adalah, kita dapat memberikan apa kepada negara ini, bukan negara dapat memberikan apa kepada kita. Namun yang saya sayangkan, pemerintah sepertinya tidak peduli memperhatikan para seniman dan menghargai karya seni dari para seniman negeri sendiri. Seharusnya para seniman ini diberikan wadah, diperhatikan, kan juga kalau manajemennya bagus bisa menjadi pemasukan untuk negara,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin mengirim pesan kepada seluruh seniman di Tanah Air untuk terus berkaraya, tanpa peduli akan bernilai apa sebuah karya tersebut. \u201cYang terpenting kita dapat mengaktulisasikan diri dan terus melukis dengan niat mengharumkan nama negeri. Teruslah berkarya, karena sejatinya karya adalah yang dibuat dengan kesungguhan dan keikhlasan hati,\u201d pungkas pelukis beranak dua tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Shadikin Pard, Pelukis Tanpa Lengan yang Mengharumkan Bangsa dengan Kedua Kakinya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"shadikin-pard-pelukis-tanpa-lengan-yang-mengharumkan-bangsa-dengan-kedua-kakinya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-16 11:09:38","post_modified_gmt":"2019-04-16 04:09:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5637","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5621,"post_author":"877","post_date":"2019-04-10 10:37:08","post_date_gmt":"2019-04-10 03:37:08","post_content":"\n

Bahasan mengenai hukum menyulut kretek pernah dipertanyakan dalam forum bahtsul masail<\/em> (musyawarah) para Kiai\/Ulama\u2019 Kudus. Pertanyaan (saail<\/em>) yang mengajukan atas nama masyarakat Baletengahan, yaitu dukuh yang masuk wilayah Desa Langgardalem Kecamatan Kota. Tepatnya sekitar + 800an m, arah utara Masjid Menara Kudus (al-Aqsha). Kultur budaya masyarakat Baletengahan adalah santri, terdapat banyak Pesantren dan beberapa madrasah, salah satunya lembaga pendidikan formal TBS (Tasywiqut Thullab Salafiyyah), yaitu lembaga pendidikan salaf yang dahulu salah satu tempat  KH. Arwani Amin al-Hafiz mengajar dan yayasan pendidikan Nawa Kartika, yang didirikan oleh tokoh NU setempat. <\/p>\n\n\n\n

Lain halnya pesantren dan lembaga pendidikan, di sekitar Baletengahan Langgardalem, konon dahulu banyak usaha rumahan kretek. Petilasan yang masih dapat dijumpai di Langgardalem adalah \u201cgudang tembakau dan PR. Buah Cengkeh\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Disini terlihat para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus mempunyai tradisi kritis menyikapi fenomena disekelilingnya. Sehingga wajar pada tahun 1990an muncul bahasan tentang kretek di Bahtsul Masail<\/em> para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, jauh mendahului keputusan MUI dan Muhammadiyyah hasil Padang Panjang, dilaksanakan tahun 2009-2010.<\/p>\n\n\n\n

Tradisi Bahtsul Masail biasa disebut \u201cMunadzoroh<\/em>\u201d sudah lama dilakukan para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, dengan bertempat di Masjid-masjid di sekitar Kudus, bergantian dan memutar. Peserta munadzoroh<\/em> adalah para Kiai\/Ulama\u2019 se-Kabupaten Kudus dari berbagai penjuru desa, dan juga masyarakat umum, karena sifatnya terbuka (siapa saja boleh ikut tanpa terkecuali). Pelaksanaannya dari dulu hingga sekarang dijatuhkan pada hari Ahad (minggu). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat pembahasan mengenai kretek, bertempat di Masji al-Aqsho Menara Kudus yang dipimpin oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), redaksi pertanyaaannya adalah:<\/p>\n\n\n\n

\u201ckados pundi hukumipun ngkretek (bagaimana hukum menghisap kretek)?\u201d<\/em>--pertanyaan dari<\/em> Baletengahan--<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sebelum memulai pembahasan biasanya KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menanyakan tentang apa yang akan dibahas. Diceritakan oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi, situasi dan kondisi saat itu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), bertanya di forum, \u00a0\u201copo iki takonane?\u201d (pertanyaannya apa), di jawab yang hadir saat itu, \u201c anu Mbah bab kretek\u201d (itu bab menghisap kretek), lalu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menyambung jawaban hadirin, \u201coooo, bab kretek, kretekku gowo rene dikik\u201d (ooo, bab menghisap kretek, kretekku bawa kemari dulu), kemudian KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) mengambil satu batang kretek dari bungkusnya disulut dan dihisap. Selesai menyulut kretek, kembali KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) berbicara, \u201cwes kono dibahas\u201d (sudah sana dibahas). Setelah diperintahkan untuk dibahas, suasana hening sejenak. \u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mungkin di benak para hadirin terlintas pikiran \u201capa yang dibahas sudah dijawab secara tersirat oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) dengan menghisap kretek\u201d. Pada akhirnya, pembahasan tetap dilaksanakan. Diceritakan KH. Sya\u2019roni juga, situasi saat itu tidak ada Kiai\/Ulama\u2019 yang hadir menghukumi \u201charam\u201d, pada akhirnya diputuskan KH. Turaikhan, dengan hukum \u201c boleh\u201d, disela-sela KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) memberikan penjelasan, ada salah satu hadirin mengacungkan jarinya, beliau adalah KH. Hambali (Al Maghfurlah), sambil berkata; \u201ckulo Kiai, menawi boten udud kulo mboten saget mucal\u201d (saya Kiai, kalau tidak sambil menghisap kretek, saya tidak dapat mengajar), disertai argumen dan penjelasanannya. Kemudian KH. Turaikhan, memberikan jawaban dan tanggapan kepada KH. Hambali, \u201cnek ngono, kanggo kuwi hukumi wajib\u201d (kalau begitu, untuk kamu hukumnya wajib mengkonsumsi kretek).  <\/p>\n\n\n\n

Dilihat dari putusan Bahtsul Masail di atas, pada awalnya menghisap kretek dihukumi \u201cboleh\u201d, namun dengan kondisi tertentu menjadi \u201cWajib\u201d. Cerita penetapan hukum menghisap kretek dalam forum Bahtsul Masail di atas, telah menyebar di kalangan masyarakat Kudus, dan menjadi konsumsi publik, serta bersifat mengikat sampai sekarang. Sehingga banyak Kiai\/Ulama\u2019 Kudus tidak mempersoalkan lagi, apalagi membahas kembali. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cerita situasi dan kondisi Bahtsul Masail, diapresiasi dan diinterpretasikan Kiai\/Ulama\u2019Kudus lebih kontekstual, salah satunya KH. Fatkhur Rahman, beliau bercerita;  saat KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) populer dengan sebutan Mbah Tur memimpin munadzoroh<\/em> ada pertanyaan: bagaimana hukumnya kretek? Mbah Tur malah mengambil kretek, menyulut dan menghisapnya, dengan begitu diasumsikan hukumnya \u201chalal\u201d (jadi  setelah itu sudah tidak perlu dibahas lagi soal kretek). KH. Fatkhur Rahman juga menceritakan ada satu alasan kuat, mengapa halal, karena para Kiai itu tidak mau barang subhat<\/em> (tidak jelas posisinya), apalagi haram. Ketika para Kiai\/Ulama\u2019 besar menghisap kretek, otomatis tidak haram. Tuhan menciptakan sesuatu untuk dinikmati itu ada dua, halal atau haram. <\/p>\n\n\n\n

Dasar hukum menghisap kretek adalah mubah, sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang menjadi wajib, juga menjadi haram. Dasar utamanya adalah  \u201cla dhororo wala dhiroro\u201d. <\/em>Hukumnya seperti  mengkonsumsi gula, ketika kena penyakit gula, maka haram atau tidak boleh mengkonsumsi gula. Begitu pula ketika punya darah tinggi, maka tidak boleh makan daging, dan seterusnya. Dimana \u201calhukmu yadurru ma\u2019a illatihi\u201d<\/em>(hukum itu bisa beralih tergantung alasannya). Membeli kretek dihukumi tidak boleh (haram), jika uang yang dipakai semestinya untuk belanja kebutuhan pokok, membayar sekolah dan lain sebagainya. Menghisap kretek menjadi wajib, ketika tidak menghisap sulit berpikir, lemas, tidak bisa kerja dan lain sebagainya.
<\/p>\n","post_title":"Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fenomena-hukum-rokok-bagi-ulama-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-10 10:37:16","post_modified_gmt":"2019-04-10 03:37:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5621","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

Paling Populer

\n

Saya terus melangkah menyusuri tanah basah yang di samping kanan dan kirinya para pelukis sedang khidmat menggoreskan kuas. Hingga kaki saya terhenti di hadapan pelukis yang berkonsentrasi melukis menggunakan kedua kakinya.
<\/p>\n\n\n\n

Sebatang kuas dijepitkan di antara jemari kaki. Sesekali ia menyelupkan kuas itu ke dalam cat dan kemudian menggoreskannya ke dalam kanvas hingga membentuk sebuah lukisan realis Reog Ponorogo yang indah. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di sampingnya, seorang pemuda yang ternyata anaknya dengan sigap menjalankan instruksi ayahnya, mulai dari mengganti ukuran kuas yang terjepit di antara jemarinya, membuka botol cat dan lain sebagainya. Sesekali anaknya menyalakan rokok dan menyodorkan ke hadapan mulut ayahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Ia melukis Reog Ponorogo bukan tanpa alasan. Ia ingin memberikan kritik kepada seluruh masyarakat dan Pemerintah, bahwa mencintai kekayaan budaya bangsa sendiri adalah kewajiban yang harus selalu digelorakan. Jangan sampai, ketika kebudayaan tersebut direbut negara lain, bangsa ini baru panik dan serius mengakui serta membanggakan kekayaan kebudayaan sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ialah Shadikin Pard, seorang pelukis masyhur yang terlahir tunadaksa atau tanpa kedua tangan. Kami berbincang di bawah pohon beringin rindang. Di antara para pelukis lainnya yang sedang beristirahat menunggu waktu pengumuman pemenang dibacakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pria kelahiran 29 Oktober 1996 ini mulai melukis sejak masih di taman kanak-kanak. Saat itu, melukis hanya sebagai hobi semata. Sadikin juga pernah les privat melukis di rumahnya. Hingga mengenyam pendidikan sekolah menengah atas di SMA Santa Maria Kota Malang, Sadikin masih menempatkan melukis sebagai hobi.
<\/p>\n\n\n\n

Di tengah keterbatasannya, Sadikin lalu melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kala itu, Sadikin mengambil jurusan psikologi pascagagal mengambil jurusan arsitektur yang ia dambakan dan cita-citakan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, kekurangan yang diberikan Tuhan adalah sebuah kelebihan yang tidak banyak dimiliki oleh orang lain. Kegigihannya dalam belajar melukis menghantarkannya ke Associaton of Mouth and Foot Painting Artist (AMFPA). Sebuah organisasi yang bermarkas di Swiss dan menghimpun karya pelukis yang melukis menggunakan kaki dan mulut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSetelah masuk AMFPA, saya menjadikan melukis sebagai profesi. Tahun 1989 saya menerima 300 swiss franc, setara Rp 300 ribu waktu itu. Kini, saya menerima sekitar 40 jt setiap bulan,\u201d ungkap Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin terus melukis. Kemampuannya terus berkembang, bahkan melebihi tuntutan dari organisasi yang ia ikuti. Nama Sadikin juga mulai dikenal, bukan sebab keterbatasannya, melainkan sebab karyanya yang memang bernilai tinggi.
<\/p>\n\n\n\n

Setiap kali ada pameran lukisan dan kontes-kontes melukis, Sadikin tidak pernah alfa untuk mengikutinya. Karyanya menjadi sorotan publik dan banyak laku dengan harga yang tidak murah. Bahkan menurutnya, ada salah satu lukisannya yang laku hingga Rp 250 juta.<\/p>\n\n\n\n

Menolak Pasrah dan Bergantung kepada Pemerintah karena Disabilitas<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Sadikin tidak mau dikasihani orang lain. Meski ia tunadaksa, ia adalah manusia yang sama, yang memilki kesempatan besar untuk menjalani rutinitas sebagaimana manusia lainnya. \u201cKuncinya adalah terus mencoba, mencoba dan mencoba. Saya tidak apa-apa dicemooh lukisan saya jelek. Bagi saya cemoohan seperti itu adalah cambuk untuk terus berlatih,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Sadikin, masyarakat harus adil memerlakukan para difabel. Difabel harus diperlakukan sebagaimana orang biasa. Semakin banyak orang yang mengasihani difabel, maka tidak malah membuat difabel itu kuat, sebaliknya berdampak melemahkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cDifabel harus diperlakukan seperti manusia biasa, bahkan ia harus diberi tantangan dan ditempa untuk menemukan kelebihan dalam dirinya,\u201d kata Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, para difabel harus mulai mengubah sudut pandang. Bahwa segala kekurangan tidak kemudian menjadikan para difabel pasrah menerima nasib dan mengharapkan santunan dari orang lain dan pemerintah untuk menjalani hidup. Difabel adalah orang istimewa yang dapat berkarya melebihi orang-orang biasa. Kekurangan ini adalah kelebihan yang akan ditemukan dengan kerja keras dan melatih diri menjadi apa yang diinginkan.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin bisa berangkat ke Swiss dan mengharumkan nama Indonesia di mata dunia, tidak terlebih dulu mendapat perhatian dari pemerintah. Ia mengaku berangkat dengan uang sendiri. Bahkan, lanjut Sadikin, hingga kini pun tidak ada pemerintah yang mengapresiasi karya-karyanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak menginginkan belas kasihan dari pemerintah. Karena yang sejatinya benar adalah, kita dapat memberikan apa kepada negara ini, bukan negara dapat memberikan apa kepada kita. Namun yang saya sayangkan, pemerintah sepertinya tidak peduli memperhatikan para seniman dan menghargai karya seni dari para seniman negeri sendiri. Seharusnya para seniman ini diberikan wadah, diperhatikan, kan juga kalau manajemennya bagus bisa menjadi pemasukan untuk negara,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin mengirim pesan kepada seluruh seniman di Tanah Air untuk terus berkaraya, tanpa peduli akan bernilai apa sebuah karya tersebut. \u201cYang terpenting kita dapat mengaktulisasikan diri dan terus melukis dengan niat mengharumkan nama negeri. Teruslah berkarya, karena sejatinya karya adalah yang dibuat dengan kesungguhan dan keikhlasan hati,\u201d pungkas pelukis beranak dua tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Shadikin Pard, Pelukis Tanpa Lengan yang Mengharumkan Bangsa dengan Kedua Kakinya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"shadikin-pard-pelukis-tanpa-lengan-yang-mengharumkan-bangsa-dengan-kedua-kakinya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-16 11:09:38","post_modified_gmt":"2019-04-16 04:09:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5637","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5621,"post_author":"877","post_date":"2019-04-10 10:37:08","post_date_gmt":"2019-04-10 03:37:08","post_content":"\n

Bahasan mengenai hukum menyulut kretek pernah dipertanyakan dalam forum bahtsul masail<\/em> (musyawarah) para Kiai\/Ulama\u2019 Kudus. Pertanyaan (saail<\/em>) yang mengajukan atas nama masyarakat Baletengahan, yaitu dukuh yang masuk wilayah Desa Langgardalem Kecamatan Kota. Tepatnya sekitar + 800an m, arah utara Masjid Menara Kudus (al-Aqsha). Kultur budaya masyarakat Baletengahan adalah santri, terdapat banyak Pesantren dan beberapa madrasah, salah satunya lembaga pendidikan formal TBS (Tasywiqut Thullab Salafiyyah), yaitu lembaga pendidikan salaf yang dahulu salah satu tempat  KH. Arwani Amin al-Hafiz mengajar dan yayasan pendidikan Nawa Kartika, yang didirikan oleh tokoh NU setempat. <\/p>\n\n\n\n

Lain halnya pesantren dan lembaga pendidikan, di sekitar Baletengahan Langgardalem, konon dahulu banyak usaha rumahan kretek. Petilasan yang masih dapat dijumpai di Langgardalem adalah \u201cgudang tembakau dan PR. Buah Cengkeh\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Disini terlihat para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus mempunyai tradisi kritis menyikapi fenomena disekelilingnya. Sehingga wajar pada tahun 1990an muncul bahasan tentang kretek di Bahtsul Masail<\/em> para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, jauh mendahului keputusan MUI dan Muhammadiyyah hasil Padang Panjang, dilaksanakan tahun 2009-2010.<\/p>\n\n\n\n

Tradisi Bahtsul Masail biasa disebut \u201cMunadzoroh<\/em>\u201d sudah lama dilakukan para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, dengan bertempat di Masjid-masjid di sekitar Kudus, bergantian dan memutar. Peserta munadzoroh<\/em> adalah para Kiai\/Ulama\u2019 se-Kabupaten Kudus dari berbagai penjuru desa, dan juga masyarakat umum, karena sifatnya terbuka (siapa saja boleh ikut tanpa terkecuali). Pelaksanaannya dari dulu hingga sekarang dijatuhkan pada hari Ahad (minggu). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat pembahasan mengenai kretek, bertempat di Masji al-Aqsho Menara Kudus yang dipimpin oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), redaksi pertanyaaannya adalah:<\/p>\n\n\n\n

\u201ckados pundi hukumipun ngkretek (bagaimana hukum menghisap kretek)?\u201d<\/em>--pertanyaan dari<\/em> Baletengahan--<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sebelum memulai pembahasan biasanya KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menanyakan tentang apa yang akan dibahas. Diceritakan oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi, situasi dan kondisi saat itu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), bertanya di forum, \u00a0\u201copo iki takonane?\u201d (pertanyaannya apa), di jawab yang hadir saat itu, \u201c anu Mbah bab kretek\u201d (itu bab menghisap kretek), lalu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menyambung jawaban hadirin, \u201coooo, bab kretek, kretekku gowo rene dikik\u201d (ooo, bab menghisap kretek, kretekku bawa kemari dulu), kemudian KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) mengambil satu batang kretek dari bungkusnya disulut dan dihisap. Selesai menyulut kretek, kembali KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) berbicara, \u201cwes kono dibahas\u201d (sudah sana dibahas). Setelah diperintahkan untuk dibahas, suasana hening sejenak. \u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mungkin di benak para hadirin terlintas pikiran \u201capa yang dibahas sudah dijawab secara tersirat oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) dengan menghisap kretek\u201d. Pada akhirnya, pembahasan tetap dilaksanakan. Diceritakan KH. Sya\u2019roni juga, situasi saat itu tidak ada Kiai\/Ulama\u2019 yang hadir menghukumi \u201charam\u201d, pada akhirnya diputuskan KH. Turaikhan, dengan hukum \u201c boleh\u201d, disela-sela KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) memberikan penjelasan, ada salah satu hadirin mengacungkan jarinya, beliau adalah KH. Hambali (Al Maghfurlah), sambil berkata; \u201ckulo Kiai, menawi boten udud kulo mboten saget mucal\u201d (saya Kiai, kalau tidak sambil menghisap kretek, saya tidak dapat mengajar), disertai argumen dan penjelasanannya. Kemudian KH. Turaikhan, memberikan jawaban dan tanggapan kepada KH. Hambali, \u201cnek ngono, kanggo kuwi hukumi wajib\u201d (kalau begitu, untuk kamu hukumnya wajib mengkonsumsi kretek).  <\/p>\n\n\n\n

Dilihat dari putusan Bahtsul Masail di atas, pada awalnya menghisap kretek dihukumi \u201cboleh\u201d, namun dengan kondisi tertentu menjadi \u201cWajib\u201d. Cerita penetapan hukum menghisap kretek dalam forum Bahtsul Masail di atas, telah menyebar di kalangan masyarakat Kudus, dan menjadi konsumsi publik, serta bersifat mengikat sampai sekarang. Sehingga banyak Kiai\/Ulama\u2019 Kudus tidak mempersoalkan lagi, apalagi membahas kembali. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cerita situasi dan kondisi Bahtsul Masail, diapresiasi dan diinterpretasikan Kiai\/Ulama\u2019Kudus lebih kontekstual, salah satunya KH. Fatkhur Rahman, beliau bercerita;  saat KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) populer dengan sebutan Mbah Tur memimpin munadzoroh<\/em> ada pertanyaan: bagaimana hukumnya kretek? Mbah Tur malah mengambil kretek, menyulut dan menghisapnya, dengan begitu diasumsikan hukumnya \u201chalal\u201d (jadi  setelah itu sudah tidak perlu dibahas lagi soal kretek). KH. Fatkhur Rahman juga menceritakan ada satu alasan kuat, mengapa halal, karena para Kiai itu tidak mau barang subhat<\/em> (tidak jelas posisinya), apalagi haram. Ketika para Kiai\/Ulama\u2019 besar menghisap kretek, otomatis tidak haram. Tuhan menciptakan sesuatu untuk dinikmati itu ada dua, halal atau haram. <\/p>\n\n\n\n

Dasar hukum menghisap kretek adalah mubah, sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang menjadi wajib, juga menjadi haram. Dasar utamanya adalah  \u201cla dhororo wala dhiroro\u201d. <\/em>Hukumnya seperti  mengkonsumsi gula, ketika kena penyakit gula, maka haram atau tidak boleh mengkonsumsi gula. Begitu pula ketika punya darah tinggi, maka tidak boleh makan daging, dan seterusnya. Dimana \u201calhukmu yadurru ma\u2019a illatihi\u201d<\/em>(hukum itu bisa beralih tergantung alasannya). Membeli kretek dihukumi tidak boleh (haram), jika uang yang dipakai semestinya untuk belanja kebutuhan pokok, membayar sekolah dan lain sebagainya. Menghisap kretek menjadi wajib, ketika tidak menghisap sulit berpikir, lemas, tidak bisa kerja dan lain sebagainya.
<\/p>\n","post_title":"Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fenomena-hukum-rokok-bagi-ulama-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-10 10:37:16","post_modified_gmt":"2019-04-10 03:37:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5621","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

Paling Populer

\n

Hujan sudah reda ketika kaki saya memasuki gerbang Taman Balekambang, Surakarta. Di dalam, di atas tanah yang masih basah, ratusan pelukis dari penjuru negeri sedang sibuk mengaktualisasikan kegelisahan hatinya ke sebuah kanvas. Mereka sedang mengikuti Indonesia Painting Contest 2019 yang diselenggarakan oleh NU Gallery.
<\/p>\n\n\n\n

Saya terus melangkah menyusuri tanah basah yang di samping kanan dan kirinya para pelukis sedang khidmat menggoreskan kuas. Hingga kaki saya terhenti di hadapan pelukis yang berkonsentrasi melukis menggunakan kedua kakinya.
<\/p>\n\n\n\n

Sebatang kuas dijepitkan di antara jemari kaki. Sesekali ia menyelupkan kuas itu ke dalam cat dan kemudian menggoreskannya ke dalam kanvas hingga membentuk sebuah lukisan realis Reog Ponorogo yang indah. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di sampingnya, seorang pemuda yang ternyata anaknya dengan sigap menjalankan instruksi ayahnya, mulai dari mengganti ukuran kuas yang terjepit di antara jemarinya, membuka botol cat dan lain sebagainya. Sesekali anaknya menyalakan rokok dan menyodorkan ke hadapan mulut ayahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Ia melukis Reog Ponorogo bukan tanpa alasan. Ia ingin memberikan kritik kepada seluruh masyarakat dan Pemerintah, bahwa mencintai kekayaan budaya bangsa sendiri adalah kewajiban yang harus selalu digelorakan. Jangan sampai, ketika kebudayaan tersebut direbut negara lain, bangsa ini baru panik dan serius mengakui serta membanggakan kekayaan kebudayaan sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ialah Shadikin Pard, seorang pelukis masyhur yang terlahir tunadaksa atau tanpa kedua tangan. Kami berbincang di bawah pohon beringin rindang. Di antara para pelukis lainnya yang sedang beristirahat menunggu waktu pengumuman pemenang dibacakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pria kelahiran 29 Oktober 1996 ini mulai melukis sejak masih di taman kanak-kanak. Saat itu, melukis hanya sebagai hobi semata. Sadikin juga pernah les privat melukis di rumahnya. Hingga mengenyam pendidikan sekolah menengah atas di SMA Santa Maria Kota Malang, Sadikin masih menempatkan melukis sebagai hobi.
<\/p>\n\n\n\n

Di tengah keterbatasannya, Sadikin lalu melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kala itu, Sadikin mengambil jurusan psikologi pascagagal mengambil jurusan arsitektur yang ia dambakan dan cita-citakan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, kekurangan yang diberikan Tuhan adalah sebuah kelebihan yang tidak banyak dimiliki oleh orang lain. Kegigihannya dalam belajar melukis menghantarkannya ke Associaton of Mouth and Foot Painting Artist (AMFPA). Sebuah organisasi yang bermarkas di Swiss dan menghimpun karya pelukis yang melukis menggunakan kaki dan mulut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSetelah masuk AMFPA, saya menjadikan melukis sebagai profesi. Tahun 1989 saya menerima 300 swiss franc, setara Rp 300 ribu waktu itu. Kini, saya menerima sekitar 40 jt setiap bulan,\u201d ungkap Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin terus melukis. Kemampuannya terus berkembang, bahkan melebihi tuntutan dari organisasi yang ia ikuti. Nama Sadikin juga mulai dikenal, bukan sebab keterbatasannya, melainkan sebab karyanya yang memang bernilai tinggi.
<\/p>\n\n\n\n

Setiap kali ada pameran lukisan dan kontes-kontes melukis, Sadikin tidak pernah alfa untuk mengikutinya. Karyanya menjadi sorotan publik dan banyak laku dengan harga yang tidak murah. Bahkan menurutnya, ada salah satu lukisannya yang laku hingga Rp 250 juta.<\/p>\n\n\n\n

Menolak Pasrah dan Bergantung kepada Pemerintah karena Disabilitas<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Sadikin tidak mau dikasihani orang lain. Meski ia tunadaksa, ia adalah manusia yang sama, yang memilki kesempatan besar untuk menjalani rutinitas sebagaimana manusia lainnya. \u201cKuncinya adalah terus mencoba, mencoba dan mencoba. Saya tidak apa-apa dicemooh lukisan saya jelek. Bagi saya cemoohan seperti itu adalah cambuk untuk terus berlatih,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Sadikin, masyarakat harus adil memerlakukan para difabel. Difabel harus diperlakukan sebagaimana orang biasa. Semakin banyak orang yang mengasihani difabel, maka tidak malah membuat difabel itu kuat, sebaliknya berdampak melemahkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cDifabel harus diperlakukan seperti manusia biasa, bahkan ia harus diberi tantangan dan ditempa untuk menemukan kelebihan dalam dirinya,\u201d kata Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, para difabel harus mulai mengubah sudut pandang. Bahwa segala kekurangan tidak kemudian menjadikan para difabel pasrah menerima nasib dan mengharapkan santunan dari orang lain dan pemerintah untuk menjalani hidup. Difabel adalah orang istimewa yang dapat berkarya melebihi orang-orang biasa. Kekurangan ini adalah kelebihan yang akan ditemukan dengan kerja keras dan melatih diri menjadi apa yang diinginkan.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin bisa berangkat ke Swiss dan mengharumkan nama Indonesia di mata dunia, tidak terlebih dulu mendapat perhatian dari pemerintah. Ia mengaku berangkat dengan uang sendiri. Bahkan, lanjut Sadikin, hingga kini pun tidak ada pemerintah yang mengapresiasi karya-karyanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak menginginkan belas kasihan dari pemerintah. Karena yang sejatinya benar adalah, kita dapat memberikan apa kepada negara ini, bukan negara dapat memberikan apa kepada kita. Namun yang saya sayangkan, pemerintah sepertinya tidak peduli memperhatikan para seniman dan menghargai karya seni dari para seniman negeri sendiri. Seharusnya para seniman ini diberikan wadah, diperhatikan, kan juga kalau manajemennya bagus bisa menjadi pemasukan untuk negara,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin mengirim pesan kepada seluruh seniman di Tanah Air untuk terus berkaraya, tanpa peduli akan bernilai apa sebuah karya tersebut. \u201cYang terpenting kita dapat mengaktulisasikan diri dan terus melukis dengan niat mengharumkan nama negeri. Teruslah berkarya, karena sejatinya karya adalah yang dibuat dengan kesungguhan dan keikhlasan hati,\u201d pungkas pelukis beranak dua tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Shadikin Pard, Pelukis Tanpa Lengan yang Mengharumkan Bangsa dengan Kedua Kakinya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"shadikin-pard-pelukis-tanpa-lengan-yang-mengharumkan-bangsa-dengan-kedua-kakinya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-16 11:09:38","post_modified_gmt":"2019-04-16 04:09:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5637","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5621,"post_author":"877","post_date":"2019-04-10 10:37:08","post_date_gmt":"2019-04-10 03:37:08","post_content":"\n

Bahasan mengenai hukum menyulut kretek pernah dipertanyakan dalam forum bahtsul masail<\/em> (musyawarah) para Kiai\/Ulama\u2019 Kudus. Pertanyaan (saail<\/em>) yang mengajukan atas nama masyarakat Baletengahan, yaitu dukuh yang masuk wilayah Desa Langgardalem Kecamatan Kota. Tepatnya sekitar + 800an m, arah utara Masjid Menara Kudus (al-Aqsha). Kultur budaya masyarakat Baletengahan adalah santri, terdapat banyak Pesantren dan beberapa madrasah, salah satunya lembaga pendidikan formal TBS (Tasywiqut Thullab Salafiyyah), yaitu lembaga pendidikan salaf yang dahulu salah satu tempat  KH. Arwani Amin al-Hafiz mengajar dan yayasan pendidikan Nawa Kartika, yang didirikan oleh tokoh NU setempat. <\/p>\n\n\n\n

Lain halnya pesantren dan lembaga pendidikan, di sekitar Baletengahan Langgardalem, konon dahulu banyak usaha rumahan kretek. Petilasan yang masih dapat dijumpai di Langgardalem adalah \u201cgudang tembakau dan PR. Buah Cengkeh\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Disini terlihat para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus mempunyai tradisi kritis menyikapi fenomena disekelilingnya. Sehingga wajar pada tahun 1990an muncul bahasan tentang kretek di Bahtsul Masail<\/em> para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, jauh mendahului keputusan MUI dan Muhammadiyyah hasil Padang Panjang, dilaksanakan tahun 2009-2010.<\/p>\n\n\n\n

Tradisi Bahtsul Masail biasa disebut \u201cMunadzoroh<\/em>\u201d sudah lama dilakukan para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, dengan bertempat di Masjid-masjid di sekitar Kudus, bergantian dan memutar. Peserta munadzoroh<\/em> adalah para Kiai\/Ulama\u2019 se-Kabupaten Kudus dari berbagai penjuru desa, dan juga masyarakat umum, karena sifatnya terbuka (siapa saja boleh ikut tanpa terkecuali). Pelaksanaannya dari dulu hingga sekarang dijatuhkan pada hari Ahad (minggu). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat pembahasan mengenai kretek, bertempat di Masji al-Aqsho Menara Kudus yang dipimpin oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), redaksi pertanyaaannya adalah:<\/p>\n\n\n\n

\u201ckados pundi hukumipun ngkretek (bagaimana hukum menghisap kretek)?\u201d<\/em>--pertanyaan dari<\/em> Baletengahan--<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sebelum memulai pembahasan biasanya KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menanyakan tentang apa yang akan dibahas. Diceritakan oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi, situasi dan kondisi saat itu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), bertanya di forum, \u00a0\u201copo iki takonane?\u201d (pertanyaannya apa), di jawab yang hadir saat itu, \u201c anu Mbah bab kretek\u201d (itu bab menghisap kretek), lalu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menyambung jawaban hadirin, \u201coooo, bab kretek, kretekku gowo rene dikik\u201d (ooo, bab menghisap kretek, kretekku bawa kemari dulu), kemudian KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) mengambil satu batang kretek dari bungkusnya disulut dan dihisap. Selesai menyulut kretek, kembali KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) berbicara, \u201cwes kono dibahas\u201d (sudah sana dibahas). Setelah diperintahkan untuk dibahas, suasana hening sejenak. \u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mungkin di benak para hadirin terlintas pikiran \u201capa yang dibahas sudah dijawab secara tersirat oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) dengan menghisap kretek\u201d. Pada akhirnya, pembahasan tetap dilaksanakan. Diceritakan KH. Sya\u2019roni juga, situasi saat itu tidak ada Kiai\/Ulama\u2019 yang hadir menghukumi \u201charam\u201d, pada akhirnya diputuskan KH. Turaikhan, dengan hukum \u201c boleh\u201d, disela-sela KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) memberikan penjelasan, ada salah satu hadirin mengacungkan jarinya, beliau adalah KH. Hambali (Al Maghfurlah), sambil berkata; \u201ckulo Kiai, menawi boten udud kulo mboten saget mucal\u201d (saya Kiai, kalau tidak sambil menghisap kretek, saya tidak dapat mengajar), disertai argumen dan penjelasanannya. Kemudian KH. Turaikhan, memberikan jawaban dan tanggapan kepada KH. Hambali, \u201cnek ngono, kanggo kuwi hukumi wajib\u201d (kalau begitu, untuk kamu hukumnya wajib mengkonsumsi kretek).  <\/p>\n\n\n\n

Dilihat dari putusan Bahtsul Masail di atas, pada awalnya menghisap kretek dihukumi \u201cboleh\u201d, namun dengan kondisi tertentu menjadi \u201cWajib\u201d. Cerita penetapan hukum menghisap kretek dalam forum Bahtsul Masail di atas, telah menyebar di kalangan masyarakat Kudus, dan menjadi konsumsi publik, serta bersifat mengikat sampai sekarang. Sehingga banyak Kiai\/Ulama\u2019 Kudus tidak mempersoalkan lagi, apalagi membahas kembali. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cerita situasi dan kondisi Bahtsul Masail, diapresiasi dan diinterpretasikan Kiai\/Ulama\u2019Kudus lebih kontekstual, salah satunya KH. Fatkhur Rahman, beliau bercerita;  saat KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) populer dengan sebutan Mbah Tur memimpin munadzoroh<\/em> ada pertanyaan: bagaimana hukumnya kretek? Mbah Tur malah mengambil kretek, menyulut dan menghisapnya, dengan begitu diasumsikan hukumnya \u201chalal\u201d (jadi  setelah itu sudah tidak perlu dibahas lagi soal kretek). KH. Fatkhur Rahman juga menceritakan ada satu alasan kuat, mengapa halal, karena para Kiai itu tidak mau barang subhat<\/em> (tidak jelas posisinya), apalagi haram. Ketika para Kiai\/Ulama\u2019 besar menghisap kretek, otomatis tidak haram. Tuhan menciptakan sesuatu untuk dinikmati itu ada dua, halal atau haram. <\/p>\n\n\n\n

Dasar hukum menghisap kretek adalah mubah, sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang menjadi wajib, juga menjadi haram. Dasar utamanya adalah  \u201cla dhororo wala dhiroro\u201d. <\/em>Hukumnya seperti  mengkonsumsi gula, ketika kena penyakit gula, maka haram atau tidak boleh mengkonsumsi gula. Begitu pula ketika punya darah tinggi, maka tidak boleh makan daging, dan seterusnya. Dimana \u201calhukmu yadurru ma\u2019a illatihi\u201d<\/em>(hukum itu bisa beralih tergantung alasannya). Membeli kretek dihukumi tidak boleh (haram), jika uang yang dipakai semestinya untuk belanja kebutuhan pokok, membayar sekolah dan lain sebagainya. Menghisap kretek menjadi wajib, ketika tidak menghisap sulit berpikir, lemas, tidak bisa kerja dan lain sebagainya.
<\/p>\n","post_title":"Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fenomena-hukum-rokok-bagi-ulama-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-10 10:37:16","post_modified_gmt":"2019-04-10 03:37:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5621","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

Paling Populer

\n

Terlahir sebagai tunadaksa atau tanpa tangan, tidak membuat Shadikin Pard pesimis menjalan hidup. Lebih dari itu, ia berhasil membuktikan bahwa kekurangan bukanlah aral melintang yang mengganjal langkah menuju kesuksesan.<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Hujan sudah reda ketika kaki saya memasuki gerbang Taman Balekambang, Surakarta. Di dalam, di atas tanah yang masih basah, ratusan pelukis dari penjuru negeri sedang sibuk mengaktualisasikan kegelisahan hatinya ke sebuah kanvas. Mereka sedang mengikuti Indonesia Painting Contest 2019 yang diselenggarakan oleh NU Gallery.
<\/p>\n\n\n\n

Saya terus melangkah menyusuri tanah basah yang di samping kanan dan kirinya para pelukis sedang khidmat menggoreskan kuas. Hingga kaki saya terhenti di hadapan pelukis yang berkonsentrasi melukis menggunakan kedua kakinya.
<\/p>\n\n\n\n

Sebatang kuas dijepitkan di antara jemari kaki. Sesekali ia menyelupkan kuas itu ke dalam cat dan kemudian menggoreskannya ke dalam kanvas hingga membentuk sebuah lukisan realis Reog Ponorogo yang indah. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di sampingnya, seorang pemuda yang ternyata anaknya dengan sigap menjalankan instruksi ayahnya, mulai dari mengganti ukuran kuas yang terjepit di antara jemarinya, membuka botol cat dan lain sebagainya. Sesekali anaknya menyalakan rokok dan menyodorkan ke hadapan mulut ayahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Ia melukis Reog Ponorogo bukan tanpa alasan. Ia ingin memberikan kritik kepada seluruh masyarakat dan Pemerintah, bahwa mencintai kekayaan budaya bangsa sendiri adalah kewajiban yang harus selalu digelorakan. Jangan sampai, ketika kebudayaan tersebut direbut negara lain, bangsa ini baru panik dan serius mengakui serta membanggakan kekayaan kebudayaan sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ialah Shadikin Pard, seorang pelukis masyhur yang terlahir tunadaksa atau tanpa kedua tangan. Kami berbincang di bawah pohon beringin rindang. Di antara para pelukis lainnya yang sedang beristirahat menunggu waktu pengumuman pemenang dibacakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pria kelahiran 29 Oktober 1996 ini mulai melukis sejak masih di taman kanak-kanak. Saat itu, melukis hanya sebagai hobi semata. Sadikin juga pernah les privat melukis di rumahnya. Hingga mengenyam pendidikan sekolah menengah atas di SMA Santa Maria Kota Malang, Sadikin masih menempatkan melukis sebagai hobi.
<\/p>\n\n\n\n

Di tengah keterbatasannya, Sadikin lalu melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kala itu, Sadikin mengambil jurusan psikologi pascagagal mengambil jurusan arsitektur yang ia dambakan dan cita-citakan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, kekurangan yang diberikan Tuhan adalah sebuah kelebihan yang tidak banyak dimiliki oleh orang lain. Kegigihannya dalam belajar melukis menghantarkannya ke Associaton of Mouth and Foot Painting Artist (AMFPA). Sebuah organisasi yang bermarkas di Swiss dan menghimpun karya pelukis yang melukis menggunakan kaki dan mulut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSetelah masuk AMFPA, saya menjadikan melukis sebagai profesi. Tahun 1989 saya menerima 300 swiss franc, setara Rp 300 ribu waktu itu. Kini, saya menerima sekitar 40 jt setiap bulan,\u201d ungkap Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin terus melukis. Kemampuannya terus berkembang, bahkan melebihi tuntutan dari organisasi yang ia ikuti. Nama Sadikin juga mulai dikenal, bukan sebab keterbatasannya, melainkan sebab karyanya yang memang bernilai tinggi.
<\/p>\n\n\n\n

Setiap kali ada pameran lukisan dan kontes-kontes melukis, Sadikin tidak pernah alfa untuk mengikutinya. Karyanya menjadi sorotan publik dan banyak laku dengan harga yang tidak murah. Bahkan menurutnya, ada salah satu lukisannya yang laku hingga Rp 250 juta.<\/p>\n\n\n\n

Menolak Pasrah dan Bergantung kepada Pemerintah karena Disabilitas<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Sadikin tidak mau dikasihani orang lain. Meski ia tunadaksa, ia adalah manusia yang sama, yang memilki kesempatan besar untuk menjalani rutinitas sebagaimana manusia lainnya. \u201cKuncinya adalah terus mencoba, mencoba dan mencoba. Saya tidak apa-apa dicemooh lukisan saya jelek. Bagi saya cemoohan seperti itu adalah cambuk untuk terus berlatih,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Sadikin, masyarakat harus adil memerlakukan para difabel. Difabel harus diperlakukan sebagaimana orang biasa. Semakin banyak orang yang mengasihani difabel, maka tidak malah membuat difabel itu kuat, sebaliknya berdampak melemahkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cDifabel harus diperlakukan seperti manusia biasa, bahkan ia harus diberi tantangan dan ditempa untuk menemukan kelebihan dalam dirinya,\u201d kata Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, para difabel harus mulai mengubah sudut pandang. Bahwa segala kekurangan tidak kemudian menjadikan para difabel pasrah menerima nasib dan mengharapkan santunan dari orang lain dan pemerintah untuk menjalani hidup. Difabel adalah orang istimewa yang dapat berkarya melebihi orang-orang biasa. Kekurangan ini adalah kelebihan yang akan ditemukan dengan kerja keras dan melatih diri menjadi apa yang diinginkan.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin bisa berangkat ke Swiss dan mengharumkan nama Indonesia di mata dunia, tidak terlebih dulu mendapat perhatian dari pemerintah. Ia mengaku berangkat dengan uang sendiri. Bahkan, lanjut Sadikin, hingga kini pun tidak ada pemerintah yang mengapresiasi karya-karyanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak menginginkan belas kasihan dari pemerintah. Karena yang sejatinya benar adalah, kita dapat memberikan apa kepada negara ini, bukan negara dapat memberikan apa kepada kita. Namun yang saya sayangkan, pemerintah sepertinya tidak peduli memperhatikan para seniman dan menghargai karya seni dari para seniman negeri sendiri. Seharusnya para seniman ini diberikan wadah, diperhatikan, kan juga kalau manajemennya bagus bisa menjadi pemasukan untuk negara,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin mengirim pesan kepada seluruh seniman di Tanah Air untuk terus berkaraya, tanpa peduli akan bernilai apa sebuah karya tersebut. \u201cYang terpenting kita dapat mengaktulisasikan diri dan terus melukis dengan niat mengharumkan nama negeri. Teruslah berkarya, karena sejatinya karya adalah yang dibuat dengan kesungguhan dan keikhlasan hati,\u201d pungkas pelukis beranak dua tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Shadikin Pard, Pelukis Tanpa Lengan yang Mengharumkan Bangsa dengan Kedua Kakinya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"shadikin-pard-pelukis-tanpa-lengan-yang-mengharumkan-bangsa-dengan-kedua-kakinya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-16 11:09:38","post_modified_gmt":"2019-04-16 04:09:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5637","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5621,"post_author":"877","post_date":"2019-04-10 10:37:08","post_date_gmt":"2019-04-10 03:37:08","post_content":"\n

Bahasan mengenai hukum menyulut kretek pernah dipertanyakan dalam forum bahtsul masail<\/em> (musyawarah) para Kiai\/Ulama\u2019 Kudus. Pertanyaan (saail<\/em>) yang mengajukan atas nama masyarakat Baletengahan, yaitu dukuh yang masuk wilayah Desa Langgardalem Kecamatan Kota. Tepatnya sekitar + 800an m, arah utara Masjid Menara Kudus (al-Aqsha). Kultur budaya masyarakat Baletengahan adalah santri, terdapat banyak Pesantren dan beberapa madrasah, salah satunya lembaga pendidikan formal TBS (Tasywiqut Thullab Salafiyyah), yaitu lembaga pendidikan salaf yang dahulu salah satu tempat  KH. Arwani Amin al-Hafiz mengajar dan yayasan pendidikan Nawa Kartika, yang didirikan oleh tokoh NU setempat. <\/p>\n\n\n\n

Lain halnya pesantren dan lembaga pendidikan, di sekitar Baletengahan Langgardalem, konon dahulu banyak usaha rumahan kretek. Petilasan yang masih dapat dijumpai di Langgardalem adalah \u201cgudang tembakau dan PR. Buah Cengkeh\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Disini terlihat para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus mempunyai tradisi kritis menyikapi fenomena disekelilingnya. Sehingga wajar pada tahun 1990an muncul bahasan tentang kretek di Bahtsul Masail<\/em> para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, jauh mendahului keputusan MUI dan Muhammadiyyah hasil Padang Panjang, dilaksanakan tahun 2009-2010.<\/p>\n\n\n\n

Tradisi Bahtsul Masail biasa disebut \u201cMunadzoroh<\/em>\u201d sudah lama dilakukan para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, dengan bertempat di Masjid-masjid di sekitar Kudus, bergantian dan memutar. Peserta munadzoroh<\/em> adalah para Kiai\/Ulama\u2019 se-Kabupaten Kudus dari berbagai penjuru desa, dan juga masyarakat umum, karena sifatnya terbuka (siapa saja boleh ikut tanpa terkecuali). Pelaksanaannya dari dulu hingga sekarang dijatuhkan pada hari Ahad (minggu). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat pembahasan mengenai kretek, bertempat di Masji al-Aqsho Menara Kudus yang dipimpin oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), redaksi pertanyaaannya adalah:<\/p>\n\n\n\n

\u201ckados pundi hukumipun ngkretek (bagaimana hukum menghisap kretek)?\u201d<\/em>--pertanyaan dari<\/em> Baletengahan--<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sebelum memulai pembahasan biasanya KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menanyakan tentang apa yang akan dibahas. Diceritakan oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi, situasi dan kondisi saat itu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), bertanya di forum, \u00a0\u201copo iki takonane?\u201d (pertanyaannya apa), di jawab yang hadir saat itu, \u201c anu Mbah bab kretek\u201d (itu bab menghisap kretek), lalu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menyambung jawaban hadirin, \u201coooo, bab kretek, kretekku gowo rene dikik\u201d (ooo, bab menghisap kretek, kretekku bawa kemari dulu), kemudian KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) mengambil satu batang kretek dari bungkusnya disulut dan dihisap. Selesai menyulut kretek, kembali KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) berbicara, \u201cwes kono dibahas\u201d (sudah sana dibahas). Setelah diperintahkan untuk dibahas, suasana hening sejenak. \u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mungkin di benak para hadirin terlintas pikiran \u201capa yang dibahas sudah dijawab secara tersirat oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) dengan menghisap kretek\u201d. Pada akhirnya, pembahasan tetap dilaksanakan. Diceritakan KH. Sya\u2019roni juga, situasi saat itu tidak ada Kiai\/Ulama\u2019 yang hadir menghukumi \u201charam\u201d, pada akhirnya diputuskan KH. Turaikhan, dengan hukum \u201c boleh\u201d, disela-sela KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) memberikan penjelasan, ada salah satu hadirin mengacungkan jarinya, beliau adalah KH. Hambali (Al Maghfurlah), sambil berkata; \u201ckulo Kiai, menawi boten udud kulo mboten saget mucal\u201d (saya Kiai, kalau tidak sambil menghisap kretek, saya tidak dapat mengajar), disertai argumen dan penjelasanannya. Kemudian KH. Turaikhan, memberikan jawaban dan tanggapan kepada KH. Hambali, \u201cnek ngono, kanggo kuwi hukumi wajib\u201d (kalau begitu, untuk kamu hukumnya wajib mengkonsumsi kretek).  <\/p>\n\n\n\n

Dilihat dari putusan Bahtsul Masail di atas, pada awalnya menghisap kretek dihukumi \u201cboleh\u201d, namun dengan kondisi tertentu menjadi \u201cWajib\u201d. Cerita penetapan hukum menghisap kretek dalam forum Bahtsul Masail di atas, telah menyebar di kalangan masyarakat Kudus, dan menjadi konsumsi publik, serta bersifat mengikat sampai sekarang. Sehingga banyak Kiai\/Ulama\u2019 Kudus tidak mempersoalkan lagi, apalagi membahas kembali. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cerita situasi dan kondisi Bahtsul Masail, diapresiasi dan diinterpretasikan Kiai\/Ulama\u2019Kudus lebih kontekstual, salah satunya KH. Fatkhur Rahman, beliau bercerita;  saat KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) populer dengan sebutan Mbah Tur memimpin munadzoroh<\/em> ada pertanyaan: bagaimana hukumnya kretek? Mbah Tur malah mengambil kretek, menyulut dan menghisapnya, dengan begitu diasumsikan hukumnya \u201chalal\u201d (jadi  setelah itu sudah tidak perlu dibahas lagi soal kretek). KH. Fatkhur Rahman juga menceritakan ada satu alasan kuat, mengapa halal, karena para Kiai itu tidak mau barang subhat<\/em> (tidak jelas posisinya), apalagi haram. Ketika para Kiai\/Ulama\u2019 besar menghisap kretek, otomatis tidak haram. Tuhan menciptakan sesuatu untuk dinikmati itu ada dua, halal atau haram. <\/p>\n\n\n\n

Dasar hukum menghisap kretek adalah mubah, sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang menjadi wajib, juga menjadi haram. Dasar utamanya adalah  \u201cla dhororo wala dhiroro\u201d. <\/em>Hukumnya seperti  mengkonsumsi gula, ketika kena penyakit gula, maka haram atau tidak boleh mengkonsumsi gula. Begitu pula ketika punya darah tinggi, maka tidak boleh makan daging, dan seterusnya. Dimana \u201calhukmu yadurru ma\u2019a illatihi\u201d<\/em>(hukum itu bisa beralih tergantung alasannya). Membeli kretek dihukumi tidak boleh (haram), jika uang yang dipakai semestinya untuk belanja kebutuhan pokok, membayar sekolah dan lain sebagainya. Menghisap kretek menjadi wajib, ketika tidak menghisap sulit berpikir, lemas, tidak bisa kerja dan lain sebagainya.
<\/p>\n","post_title":"Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fenomena-hukum-rokok-bagi-ulama-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-10 10:37:16","post_modified_gmt":"2019-04-10 03:37:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5621","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

Paling Populer

\n

Maka Anda tak usah heran jika rokok diframing bertentangan dengan kesehatan, karena semua semata hanyalah akal-akalan pihak industri farmasi untuk memenangi pertarungan bisnis nikotin tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Pola Makan Tidak Sehat Membunuhmu","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pola-makan-tidak-sehat-membunuhmu","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-23 12:23:48","post_modified_gmt":"2019-04-23 05:23:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5653","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5637,"post_author":"855","post_date":"2019-04-16 11:07:27","post_date_gmt":"2019-04-16 04:07:27","post_content":"\n

Terlahir sebagai tunadaksa atau tanpa tangan, tidak membuat Shadikin Pard pesimis menjalan hidup. Lebih dari itu, ia berhasil membuktikan bahwa kekurangan bukanlah aral melintang yang mengganjal langkah menuju kesuksesan.<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Hujan sudah reda ketika kaki saya memasuki gerbang Taman Balekambang, Surakarta. Di dalam, di atas tanah yang masih basah, ratusan pelukis dari penjuru negeri sedang sibuk mengaktualisasikan kegelisahan hatinya ke sebuah kanvas. Mereka sedang mengikuti Indonesia Painting Contest 2019 yang diselenggarakan oleh NU Gallery.
<\/p>\n\n\n\n

Saya terus melangkah menyusuri tanah basah yang di samping kanan dan kirinya para pelukis sedang khidmat menggoreskan kuas. Hingga kaki saya terhenti di hadapan pelukis yang berkonsentrasi melukis menggunakan kedua kakinya.
<\/p>\n\n\n\n

Sebatang kuas dijepitkan di antara jemari kaki. Sesekali ia menyelupkan kuas itu ke dalam cat dan kemudian menggoreskannya ke dalam kanvas hingga membentuk sebuah lukisan realis Reog Ponorogo yang indah. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di sampingnya, seorang pemuda yang ternyata anaknya dengan sigap menjalankan instruksi ayahnya, mulai dari mengganti ukuran kuas yang terjepit di antara jemarinya, membuka botol cat dan lain sebagainya. Sesekali anaknya menyalakan rokok dan menyodorkan ke hadapan mulut ayahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Ia melukis Reog Ponorogo bukan tanpa alasan. Ia ingin memberikan kritik kepada seluruh masyarakat dan Pemerintah, bahwa mencintai kekayaan budaya bangsa sendiri adalah kewajiban yang harus selalu digelorakan. Jangan sampai, ketika kebudayaan tersebut direbut negara lain, bangsa ini baru panik dan serius mengakui serta membanggakan kekayaan kebudayaan sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ialah Shadikin Pard, seorang pelukis masyhur yang terlahir tunadaksa atau tanpa kedua tangan. Kami berbincang di bawah pohon beringin rindang. Di antara para pelukis lainnya yang sedang beristirahat menunggu waktu pengumuman pemenang dibacakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pria kelahiran 29 Oktober 1996 ini mulai melukis sejak masih di taman kanak-kanak. Saat itu, melukis hanya sebagai hobi semata. Sadikin juga pernah les privat melukis di rumahnya. Hingga mengenyam pendidikan sekolah menengah atas di SMA Santa Maria Kota Malang, Sadikin masih menempatkan melukis sebagai hobi.
<\/p>\n\n\n\n

Di tengah keterbatasannya, Sadikin lalu melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kala itu, Sadikin mengambil jurusan psikologi pascagagal mengambil jurusan arsitektur yang ia dambakan dan cita-citakan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, kekurangan yang diberikan Tuhan adalah sebuah kelebihan yang tidak banyak dimiliki oleh orang lain. Kegigihannya dalam belajar melukis menghantarkannya ke Associaton of Mouth and Foot Painting Artist (AMFPA). Sebuah organisasi yang bermarkas di Swiss dan menghimpun karya pelukis yang melukis menggunakan kaki dan mulut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSetelah masuk AMFPA, saya menjadikan melukis sebagai profesi. Tahun 1989 saya menerima 300 swiss franc, setara Rp 300 ribu waktu itu. Kini, saya menerima sekitar 40 jt setiap bulan,\u201d ungkap Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin terus melukis. Kemampuannya terus berkembang, bahkan melebihi tuntutan dari organisasi yang ia ikuti. Nama Sadikin juga mulai dikenal, bukan sebab keterbatasannya, melainkan sebab karyanya yang memang bernilai tinggi.
<\/p>\n\n\n\n

Setiap kali ada pameran lukisan dan kontes-kontes melukis, Sadikin tidak pernah alfa untuk mengikutinya. Karyanya menjadi sorotan publik dan banyak laku dengan harga yang tidak murah. Bahkan menurutnya, ada salah satu lukisannya yang laku hingga Rp 250 juta.<\/p>\n\n\n\n

Menolak Pasrah dan Bergantung kepada Pemerintah karena Disabilitas<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Sadikin tidak mau dikasihani orang lain. Meski ia tunadaksa, ia adalah manusia yang sama, yang memilki kesempatan besar untuk menjalani rutinitas sebagaimana manusia lainnya. \u201cKuncinya adalah terus mencoba, mencoba dan mencoba. Saya tidak apa-apa dicemooh lukisan saya jelek. Bagi saya cemoohan seperti itu adalah cambuk untuk terus berlatih,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Sadikin, masyarakat harus adil memerlakukan para difabel. Difabel harus diperlakukan sebagaimana orang biasa. Semakin banyak orang yang mengasihani difabel, maka tidak malah membuat difabel itu kuat, sebaliknya berdampak melemahkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cDifabel harus diperlakukan seperti manusia biasa, bahkan ia harus diberi tantangan dan ditempa untuk menemukan kelebihan dalam dirinya,\u201d kata Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, para difabel harus mulai mengubah sudut pandang. Bahwa segala kekurangan tidak kemudian menjadikan para difabel pasrah menerima nasib dan mengharapkan santunan dari orang lain dan pemerintah untuk menjalani hidup. Difabel adalah orang istimewa yang dapat berkarya melebihi orang-orang biasa. Kekurangan ini adalah kelebihan yang akan ditemukan dengan kerja keras dan melatih diri menjadi apa yang diinginkan.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin bisa berangkat ke Swiss dan mengharumkan nama Indonesia di mata dunia, tidak terlebih dulu mendapat perhatian dari pemerintah. Ia mengaku berangkat dengan uang sendiri. Bahkan, lanjut Sadikin, hingga kini pun tidak ada pemerintah yang mengapresiasi karya-karyanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak menginginkan belas kasihan dari pemerintah. Karena yang sejatinya benar adalah, kita dapat memberikan apa kepada negara ini, bukan negara dapat memberikan apa kepada kita. Namun yang saya sayangkan, pemerintah sepertinya tidak peduli memperhatikan para seniman dan menghargai karya seni dari para seniman negeri sendiri. Seharusnya para seniman ini diberikan wadah, diperhatikan, kan juga kalau manajemennya bagus bisa menjadi pemasukan untuk negara,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin mengirim pesan kepada seluruh seniman di Tanah Air untuk terus berkaraya, tanpa peduli akan bernilai apa sebuah karya tersebut. \u201cYang terpenting kita dapat mengaktulisasikan diri dan terus melukis dengan niat mengharumkan nama negeri. Teruslah berkarya, karena sejatinya karya adalah yang dibuat dengan kesungguhan dan keikhlasan hati,\u201d pungkas pelukis beranak dua tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Shadikin Pard, Pelukis Tanpa Lengan yang Mengharumkan Bangsa dengan Kedua Kakinya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"shadikin-pard-pelukis-tanpa-lengan-yang-mengharumkan-bangsa-dengan-kedua-kakinya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-16 11:09:38","post_modified_gmt":"2019-04-16 04:09:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5637","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5621,"post_author":"877","post_date":"2019-04-10 10:37:08","post_date_gmt":"2019-04-10 03:37:08","post_content":"\n

Bahasan mengenai hukum menyulut kretek pernah dipertanyakan dalam forum bahtsul masail<\/em> (musyawarah) para Kiai\/Ulama\u2019 Kudus. Pertanyaan (saail<\/em>) yang mengajukan atas nama masyarakat Baletengahan, yaitu dukuh yang masuk wilayah Desa Langgardalem Kecamatan Kota. Tepatnya sekitar + 800an m, arah utara Masjid Menara Kudus (al-Aqsha). Kultur budaya masyarakat Baletengahan adalah santri, terdapat banyak Pesantren dan beberapa madrasah, salah satunya lembaga pendidikan formal TBS (Tasywiqut Thullab Salafiyyah), yaitu lembaga pendidikan salaf yang dahulu salah satu tempat  KH. Arwani Amin al-Hafiz mengajar dan yayasan pendidikan Nawa Kartika, yang didirikan oleh tokoh NU setempat. <\/p>\n\n\n\n

Lain halnya pesantren dan lembaga pendidikan, di sekitar Baletengahan Langgardalem, konon dahulu banyak usaha rumahan kretek. Petilasan yang masih dapat dijumpai di Langgardalem adalah \u201cgudang tembakau dan PR. Buah Cengkeh\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Disini terlihat para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus mempunyai tradisi kritis menyikapi fenomena disekelilingnya. Sehingga wajar pada tahun 1990an muncul bahasan tentang kretek di Bahtsul Masail<\/em> para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, jauh mendahului keputusan MUI dan Muhammadiyyah hasil Padang Panjang, dilaksanakan tahun 2009-2010.<\/p>\n\n\n\n

Tradisi Bahtsul Masail biasa disebut \u201cMunadzoroh<\/em>\u201d sudah lama dilakukan para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, dengan bertempat di Masjid-masjid di sekitar Kudus, bergantian dan memutar. Peserta munadzoroh<\/em> adalah para Kiai\/Ulama\u2019 se-Kabupaten Kudus dari berbagai penjuru desa, dan juga masyarakat umum, karena sifatnya terbuka (siapa saja boleh ikut tanpa terkecuali). Pelaksanaannya dari dulu hingga sekarang dijatuhkan pada hari Ahad (minggu). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat pembahasan mengenai kretek, bertempat di Masji al-Aqsho Menara Kudus yang dipimpin oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), redaksi pertanyaaannya adalah:<\/p>\n\n\n\n

\u201ckados pundi hukumipun ngkretek (bagaimana hukum menghisap kretek)?\u201d<\/em>--pertanyaan dari<\/em> Baletengahan--<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sebelum memulai pembahasan biasanya KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menanyakan tentang apa yang akan dibahas. Diceritakan oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi, situasi dan kondisi saat itu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), bertanya di forum, \u00a0\u201copo iki takonane?\u201d (pertanyaannya apa), di jawab yang hadir saat itu, \u201c anu Mbah bab kretek\u201d (itu bab menghisap kretek), lalu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menyambung jawaban hadirin, \u201coooo, bab kretek, kretekku gowo rene dikik\u201d (ooo, bab menghisap kretek, kretekku bawa kemari dulu), kemudian KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) mengambil satu batang kretek dari bungkusnya disulut dan dihisap. Selesai menyulut kretek, kembali KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) berbicara, \u201cwes kono dibahas\u201d (sudah sana dibahas). Setelah diperintahkan untuk dibahas, suasana hening sejenak. \u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mungkin di benak para hadirin terlintas pikiran \u201capa yang dibahas sudah dijawab secara tersirat oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) dengan menghisap kretek\u201d. Pada akhirnya, pembahasan tetap dilaksanakan. Diceritakan KH. Sya\u2019roni juga, situasi saat itu tidak ada Kiai\/Ulama\u2019 yang hadir menghukumi \u201charam\u201d, pada akhirnya diputuskan KH. Turaikhan, dengan hukum \u201c boleh\u201d, disela-sela KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) memberikan penjelasan, ada salah satu hadirin mengacungkan jarinya, beliau adalah KH. Hambali (Al Maghfurlah), sambil berkata; \u201ckulo Kiai, menawi boten udud kulo mboten saget mucal\u201d (saya Kiai, kalau tidak sambil menghisap kretek, saya tidak dapat mengajar), disertai argumen dan penjelasanannya. Kemudian KH. Turaikhan, memberikan jawaban dan tanggapan kepada KH. Hambali, \u201cnek ngono, kanggo kuwi hukumi wajib\u201d (kalau begitu, untuk kamu hukumnya wajib mengkonsumsi kretek).  <\/p>\n\n\n\n

Dilihat dari putusan Bahtsul Masail di atas, pada awalnya menghisap kretek dihukumi \u201cboleh\u201d, namun dengan kondisi tertentu menjadi \u201cWajib\u201d. Cerita penetapan hukum menghisap kretek dalam forum Bahtsul Masail di atas, telah menyebar di kalangan masyarakat Kudus, dan menjadi konsumsi publik, serta bersifat mengikat sampai sekarang. Sehingga banyak Kiai\/Ulama\u2019 Kudus tidak mempersoalkan lagi, apalagi membahas kembali. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cerita situasi dan kondisi Bahtsul Masail, diapresiasi dan diinterpretasikan Kiai\/Ulama\u2019Kudus lebih kontekstual, salah satunya KH. Fatkhur Rahman, beliau bercerita;  saat KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) populer dengan sebutan Mbah Tur memimpin munadzoroh<\/em> ada pertanyaan: bagaimana hukumnya kretek? Mbah Tur malah mengambil kretek, menyulut dan menghisapnya, dengan begitu diasumsikan hukumnya \u201chalal\u201d (jadi  setelah itu sudah tidak perlu dibahas lagi soal kretek). KH. Fatkhur Rahman juga menceritakan ada satu alasan kuat, mengapa halal, karena para Kiai itu tidak mau barang subhat<\/em> (tidak jelas posisinya), apalagi haram. Ketika para Kiai\/Ulama\u2019 besar menghisap kretek, otomatis tidak haram. Tuhan menciptakan sesuatu untuk dinikmati itu ada dua, halal atau haram. <\/p>\n\n\n\n

Dasar hukum menghisap kretek adalah mubah, sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang menjadi wajib, juga menjadi haram. Dasar utamanya adalah  \u201cla dhororo wala dhiroro\u201d. <\/em>Hukumnya seperti  mengkonsumsi gula, ketika kena penyakit gula, maka haram atau tidak boleh mengkonsumsi gula. Begitu pula ketika punya darah tinggi, maka tidak boleh makan daging, dan seterusnya. Dimana \u201calhukmu yadurru ma\u2019a illatihi\u201d<\/em>(hukum itu bisa beralih tergantung alasannya). Membeli kretek dihukumi tidak boleh (haram), jika uang yang dipakai semestinya untuk belanja kebutuhan pokok, membayar sekolah dan lain sebagainya. Menghisap kretek menjadi wajib, ketika tidak menghisap sulit berpikir, lemas, tidak bisa kerja dan lain sebagainya.
<\/p>\n","post_title":"Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fenomena-hukum-rokok-bagi-ulama-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-10 10:37:16","post_modified_gmt":"2019-04-10 03:37:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5621","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

Paling Populer

\n

Untuk memahami hal ini tentunya anda harus mengetahui bahwa terdapat perang bisnis nikotin antara industri farmasi dan industri rokok, atau yang sering kami sebut sebagai \u201cNicotin War\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Maka Anda tak usah heran jika rokok diframing bertentangan dengan kesehatan, karena semua semata hanyalah akal-akalan pihak industri farmasi untuk memenangi pertarungan bisnis nikotin tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Pola Makan Tidak Sehat Membunuhmu","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pola-makan-tidak-sehat-membunuhmu","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-23 12:23:48","post_modified_gmt":"2019-04-23 05:23:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5653","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5637,"post_author":"855","post_date":"2019-04-16 11:07:27","post_date_gmt":"2019-04-16 04:07:27","post_content":"\n

Terlahir sebagai tunadaksa atau tanpa tangan, tidak membuat Shadikin Pard pesimis menjalan hidup. Lebih dari itu, ia berhasil membuktikan bahwa kekurangan bukanlah aral melintang yang mengganjal langkah menuju kesuksesan.<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Hujan sudah reda ketika kaki saya memasuki gerbang Taman Balekambang, Surakarta. Di dalam, di atas tanah yang masih basah, ratusan pelukis dari penjuru negeri sedang sibuk mengaktualisasikan kegelisahan hatinya ke sebuah kanvas. Mereka sedang mengikuti Indonesia Painting Contest 2019 yang diselenggarakan oleh NU Gallery.
<\/p>\n\n\n\n

Saya terus melangkah menyusuri tanah basah yang di samping kanan dan kirinya para pelukis sedang khidmat menggoreskan kuas. Hingga kaki saya terhenti di hadapan pelukis yang berkonsentrasi melukis menggunakan kedua kakinya.
<\/p>\n\n\n\n

Sebatang kuas dijepitkan di antara jemari kaki. Sesekali ia menyelupkan kuas itu ke dalam cat dan kemudian menggoreskannya ke dalam kanvas hingga membentuk sebuah lukisan realis Reog Ponorogo yang indah. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di sampingnya, seorang pemuda yang ternyata anaknya dengan sigap menjalankan instruksi ayahnya, mulai dari mengganti ukuran kuas yang terjepit di antara jemarinya, membuka botol cat dan lain sebagainya. Sesekali anaknya menyalakan rokok dan menyodorkan ke hadapan mulut ayahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Ia melukis Reog Ponorogo bukan tanpa alasan. Ia ingin memberikan kritik kepada seluruh masyarakat dan Pemerintah, bahwa mencintai kekayaan budaya bangsa sendiri adalah kewajiban yang harus selalu digelorakan. Jangan sampai, ketika kebudayaan tersebut direbut negara lain, bangsa ini baru panik dan serius mengakui serta membanggakan kekayaan kebudayaan sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ialah Shadikin Pard, seorang pelukis masyhur yang terlahir tunadaksa atau tanpa kedua tangan. Kami berbincang di bawah pohon beringin rindang. Di antara para pelukis lainnya yang sedang beristirahat menunggu waktu pengumuman pemenang dibacakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pria kelahiran 29 Oktober 1996 ini mulai melukis sejak masih di taman kanak-kanak. Saat itu, melukis hanya sebagai hobi semata. Sadikin juga pernah les privat melukis di rumahnya. Hingga mengenyam pendidikan sekolah menengah atas di SMA Santa Maria Kota Malang, Sadikin masih menempatkan melukis sebagai hobi.
<\/p>\n\n\n\n

Di tengah keterbatasannya, Sadikin lalu melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kala itu, Sadikin mengambil jurusan psikologi pascagagal mengambil jurusan arsitektur yang ia dambakan dan cita-citakan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, kekurangan yang diberikan Tuhan adalah sebuah kelebihan yang tidak banyak dimiliki oleh orang lain. Kegigihannya dalam belajar melukis menghantarkannya ke Associaton of Mouth and Foot Painting Artist (AMFPA). Sebuah organisasi yang bermarkas di Swiss dan menghimpun karya pelukis yang melukis menggunakan kaki dan mulut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSetelah masuk AMFPA, saya menjadikan melukis sebagai profesi. Tahun 1989 saya menerima 300 swiss franc, setara Rp 300 ribu waktu itu. Kini, saya menerima sekitar 40 jt setiap bulan,\u201d ungkap Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin terus melukis. Kemampuannya terus berkembang, bahkan melebihi tuntutan dari organisasi yang ia ikuti. Nama Sadikin juga mulai dikenal, bukan sebab keterbatasannya, melainkan sebab karyanya yang memang bernilai tinggi.
<\/p>\n\n\n\n

Setiap kali ada pameran lukisan dan kontes-kontes melukis, Sadikin tidak pernah alfa untuk mengikutinya. Karyanya menjadi sorotan publik dan banyak laku dengan harga yang tidak murah. Bahkan menurutnya, ada salah satu lukisannya yang laku hingga Rp 250 juta.<\/p>\n\n\n\n

Menolak Pasrah dan Bergantung kepada Pemerintah karena Disabilitas<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Sadikin tidak mau dikasihani orang lain. Meski ia tunadaksa, ia adalah manusia yang sama, yang memilki kesempatan besar untuk menjalani rutinitas sebagaimana manusia lainnya. \u201cKuncinya adalah terus mencoba, mencoba dan mencoba. Saya tidak apa-apa dicemooh lukisan saya jelek. Bagi saya cemoohan seperti itu adalah cambuk untuk terus berlatih,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Sadikin, masyarakat harus adil memerlakukan para difabel. Difabel harus diperlakukan sebagaimana orang biasa. Semakin banyak orang yang mengasihani difabel, maka tidak malah membuat difabel itu kuat, sebaliknya berdampak melemahkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cDifabel harus diperlakukan seperti manusia biasa, bahkan ia harus diberi tantangan dan ditempa untuk menemukan kelebihan dalam dirinya,\u201d kata Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, para difabel harus mulai mengubah sudut pandang. Bahwa segala kekurangan tidak kemudian menjadikan para difabel pasrah menerima nasib dan mengharapkan santunan dari orang lain dan pemerintah untuk menjalani hidup. Difabel adalah orang istimewa yang dapat berkarya melebihi orang-orang biasa. Kekurangan ini adalah kelebihan yang akan ditemukan dengan kerja keras dan melatih diri menjadi apa yang diinginkan.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin bisa berangkat ke Swiss dan mengharumkan nama Indonesia di mata dunia, tidak terlebih dulu mendapat perhatian dari pemerintah. Ia mengaku berangkat dengan uang sendiri. Bahkan, lanjut Sadikin, hingga kini pun tidak ada pemerintah yang mengapresiasi karya-karyanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak menginginkan belas kasihan dari pemerintah. Karena yang sejatinya benar adalah, kita dapat memberikan apa kepada negara ini, bukan negara dapat memberikan apa kepada kita. Namun yang saya sayangkan, pemerintah sepertinya tidak peduli memperhatikan para seniman dan menghargai karya seni dari para seniman negeri sendiri. Seharusnya para seniman ini diberikan wadah, diperhatikan, kan juga kalau manajemennya bagus bisa menjadi pemasukan untuk negara,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin mengirim pesan kepada seluruh seniman di Tanah Air untuk terus berkaraya, tanpa peduli akan bernilai apa sebuah karya tersebut. \u201cYang terpenting kita dapat mengaktulisasikan diri dan terus melukis dengan niat mengharumkan nama negeri. Teruslah berkarya, karena sejatinya karya adalah yang dibuat dengan kesungguhan dan keikhlasan hati,\u201d pungkas pelukis beranak dua tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Shadikin Pard, Pelukis Tanpa Lengan yang Mengharumkan Bangsa dengan Kedua Kakinya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"shadikin-pard-pelukis-tanpa-lengan-yang-mengharumkan-bangsa-dengan-kedua-kakinya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-16 11:09:38","post_modified_gmt":"2019-04-16 04:09:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5637","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5621,"post_author":"877","post_date":"2019-04-10 10:37:08","post_date_gmt":"2019-04-10 03:37:08","post_content":"\n

Bahasan mengenai hukum menyulut kretek pernah dipertanyakan dalam forum bahtsul masail<\/em> (musyawarah) para Kiai\/Ulama\u2019 Kudus. Pertanyaan (saail<\/em>) yang mengajukan atas nama masyarakat Baletengahan, yaitu dukuh yang masuk wilayah Desa Langgardalem Kecamatan Kota. Tepatnya sekitar + 800an m, arah utara Masjid Menara Kudus (al-Aqsha). Kultur budaya masyarakat Baletengahan adalah santri, terdapat banyak Pesantren dan beberapa madrasah, salah satunya lembaga pendidikan formal TBS (Tasywiqut Thullab Salafiyyah), yaitu lembaga pendidikan salaf yang dahulu salah satu tempat  KH. Arwani Amin al-Hafiz mengajar dan yayasan pendidikan Nawa Kartika, yang didirikan oleh tokoh NU setempat. <\/p>\n\n\n\n

Lain halnya pesantren dan lembaga pendidikan, di sekitar Baletengahan Langgardalem, konon dahulu banyak usaha rumahan kretek. Petilasan yang masih dapat dijumpai di Langgardalem adalah \u201cgudang tembakau dan PR. Buah Cengkeh\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Disini terlihat para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus mempunyai tradisi kritis menyikapi fenomena disekelilingnya. Sehingga wajar pada tahun 1990an muncul bahasan tentang kretek di Bahtsul Masail<\/em> para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, jauh mendahului keputusan MUI dan Muhammadiyyah hasil Padang Panjang, dilaksanakan tahun 2009-2010.<\/p>\n\n\n\n

Tradisi Bahtsul Masail biasa disebut \u201cMunadzoroh<\/em>\u201d sudah lama dilakukan para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, dengan bertempat di Masjid-masjid di sekitar Kudus, bergantian dan memutar. Peserta munadzoroh<\/em> adalah para Kiai\/Ulama\u2019 se-Kabupaten Kudus dari berbagai penjuru desa, dan juga masyarakat umum, karena sifatnya terbuka (siapa saja boleh ikut tanpa terkecuali). Pelaksanaannya dari dulu hingga sekarang dijatuhkan pada hari Ahad (minggu). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat pembahasan mengenai kretek, bertempat di Masji al-Aqsho Menara Kudus yang dipimpin oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), redaksi pertanyaaannya adalah:<\/p>\n\n\n\n

\u201ckados pundi hukumipun ngkretek (bagaimana hukum menghisap kretek)?\u201d<\/em>--pertanyaan dari<\/em> Baletengahan--<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sebelum memulai pembahasan biasanya KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menanyakan tentang apa yang akan dibahas. Diceritakan oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi, situasi dan kondisi saat itu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), bertanya di forum, \u00a0\u201copo iki takonane?\u201d (pertanyaannya apa), di jawab yang hadir saat itu, \u201c anu Mbah bab kretek\u201d (itu bab menghisap kretek), lalu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menyambung jawaban hadirin, \u201coooo, bab kretek, kretekku gowo rene dikik\u201d (ooo, bab menghisap kretek, kretekku bawa kemari dulu), kemudian KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) mengambil satu batang kretek dari bungkusnya disulut dan dihisap. Selesai menyulut kretek, kembali KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) berbicara, \u201cwes kono dibahas\u201d (sudah sana dibahas). Setelah diperintahkan untuk dibahas, suasana hening sejenak. \u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mungkin di benak para hadirin terlintas pikiran \u201capa yang dibahas sudah dijawab secara tersirat oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) dengan menghisap kretek\u201d. Pada akhirnya, pembahasan tetap dilaksanakan. Diceritakan KH. Sya\u2019roni juga, situasi saat itu tidak ada Kiai\/Ulama\u2019 yang hadir menghukumi \u201charam\u201d, pada akhirnya diputuskan KH. Turaikhan, dengan hukum \u201c boleh\u201d, disela-sela KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) memberikan penjelasan, ada salah satu hadirin mengacungkan jarinya, beliau adalah KH. Hambali (Al Maghfurlah), sambil berkata; \u201ckulo Kiai, menawi boten udud kulo mboten saget mucal\u201d (saya Kiai, kalau tidak sambil menghisap kretek, saya tidak dapat mengajar), disertai argumen dan penjelasanannya. Kemudian KH. Turaikhan, memberikan jawaban dan tanggapan kepada KH. Hambali, \u201cnek ngono, kanggo kuwi hukumi wajib\u201d (kalau begitu, untuk kamu hukumnya wajib mengkonsumsi kretek).  <\/p>\n\n\n\n

Dilihat dari putusan Bahtsul Masail di atas, pada awalnya menghisap kretek dihukumi \u201cboleh\u201d, namun dengan kondisi tertentu menjadi \u201cWajib\u201d. Cerita penetapan hukum menghisap kretek dalam forum Bahtsul Masail di atas, telah menyebar di kalangan masyarakat Kudus, dan menjadi konsumsi publik, serta bersifat mengikat sampai sekarang. Sehingga banyak Kiai\/Ulama\u2019 Kudus tidak mempersoalkan lagi, apalagi membahas kembali. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cerita situasi dan kondisi Bahtsul Masail, diapresiasi dan diinterpretasikan Kiai\/Ulama\u2019Kudus lebih kontekstual, salah satunya KH. Fatkhur Rahman, beliau bercerita;  saat KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) populer dengan sebutan Mbah Tur memimpin munadzoroh<\/em> ada pertanyaan: bagaimana hukumnya kretek? Mbah Tur malah mengambil kretek, menyulut dan menghisapnya, dengan begitu diasumsikan hukumnya \u201chalal\u201d (jadi  setelah itu sudah tidak perlu dibahas lagi soal kretek). KH. Fatkhur Rahman juga menceritakan ada satu alasan kuat, mengapa halal, karena para Kiai itu tidak mau barang subhat<\/em> (tidak jelas posisinya), apalagi haram. Ketika para Kiai\/Ulama\u2019 besar menghisap kretek, otomatis tidak haram. Tuhan menciptakan sesuatu untuk dinikmati itu ada dua, halal atau haram. <\/p>\n\n\n\n

Dasar hukum menghisap kretek adalah mubah, sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang menjadi wajib, juga menjadi haram. Dasar utamanya adalah  \u201cla dhororo wala dhiroro\u201d. <\/em>Hukumnya seperti  mengkonsumsi gula, ketika kena penyakit gula, maka haram atau tidak boleh mengkonsumsi gula. Begitu pula ketika punya darah tinggi, maka tidak boleh makan daging, dan seterusnya. Dimana \u201calhukmu yadurru ma\u2019a illatihi\u201d<\/em>(hukum itu bisa beralih tergantung alasannya). Membeli kretek dihukumi tidak boleh (haram), jika uang yang dipakai semestinya untuk belanja kebutuhan pokok, membayar sekolah dan lain sebagainya. Menghisap kretek menjadi wajib, ketika tidak menghisap sulit berpikir, lemas, tidak bisa kerja dan lain sebagainya.
<\/p>\n","post_title":"Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fenomena-hukum-rokok-bagi-ulama-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-10 10:37:16","post_modified_gmt":"2019-04-10 03:37:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5621","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

Paling Populer

\n

Nah loh, berdasarkan hasil-hasil penelitian yang menyatakan bahwa pola makan tidak sehat merupakan penyebab resiko kematian terbesar, lalu mengapa hanya rokok yang terus-menerus dituduh dalam kampanye kelompok-kelompok antirokok yang mengatasnamakan kesehatan?
<\/p>\n\n\n\n

Untuk memahami hal ini tentunya anda harus mengetahui bahwa terdapat perang bisnis nikotin antara industri farmasi dan industri rokok, atau yang sering kami sebut sebagai \u201cNicotin War\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Maka Anda tak usah heran jika rokok diframing bertentangan dengan kesehatan, karena semua semata hanyalah akal-akalan pihak industri farmasi untuk memenangi pertarungan bisnis nikotin tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Pola Makan Tidak Sehat Membunuhmu","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pola-makan-tidak-sehat-membunuhmu","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-23 12:23:48","post_modified_gmt":"2019-04-23 05:23:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5653","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5637,"post_author":"855","post_date":"2019-04-16 11:07:27","post_date_gmt":"2019-04-16 04:07:27","post_content":"\n

Terlahir sebagai tunadaksa atau tanpa tangan, tidak membuat Shadikin Pard pesimis menjalan hidup. Lebih dari itu, ia berhasil membuktikan bahwa kekurangan bukanlah aral melintang yang mengganjal langkah menuju kesuksesan.<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Hujan sudah reda ketika kaki saya memasuki gerbang Taman Balekambang, Surakarta. Di dalam, di atas tanah yang masih basah, ratusan pelukis dari penjuru negeri sedang sibuk mengaktualisasikan kegelisahan hatinya ke sebuah kanvas. Mereka sedang mengikuti Indonesia Painting Contest 2019 yang diselenggarakan oleh NU Gallery.
<\/p>\n\n\n\n

Saya terus melangkah menyusuri tanah basah yang di samping kanan dan kirinya para pelukis sedang khidmat menggoreskan kuas. Hingga kaki saya terhenti di hadapan pelukis yang berkonsentrasi melukis menggunakan kedua kakinya.
<\/p>\n\n\n\n

Sebatang kuas dijepitkan di antara jemari kaki. Sesekali ia menyelupkan kuas itu ke dalam cat dan kemudian menggoreskannya ke dalam kanvas hingga membentuk sebuah lukisan realis Reog Ponorogo yang indah. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di sampingnya, seorang pemuda yang ternyata anaknya dengan sigap menjalankan instruksi ayahnya, mulai dari mengganti ukuran kuas yang terjepit di antara jemarinya, membuka botol cat dan lain sebagainya. Sesekali anaknya menyalakan rokok dan menyodorkan ke hadapan mulut ayahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Ia melukis Reog Ponorogo bukan tanpa alasan. Ia ingin memberikan kritik kepada seluruh masyarakat dan Pemerintah, bahwa mencintai kekayaan budaya bangsa sendiri adalah kewajiban yang harus selalu digelorakan. Jangan sampai, ketika kebudayaan tersebut direbut negara lain, bangsa ini baru panik dan serius mengakui serta membanggakan kekayaan kebudayaan sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ialah Shadikin Pard, seorang pelukis masyhur yang terlahir tunadaksa atau tanpa kedua tangan. Kami berbincang di bawah pohon beringin rindang. Di antara para pelukis lainnya yang sedang beristirahat menunggu waktu pengumuman pemenang dibacakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pria kelahiran 29 Oktober 1996 ini mulai melukis sejak masih di taman kanak-kanak. Saat itu, melukis hanya sebagai hobi semata. Sadikin juga pernah les privat melukis di rumahnya. Hingga mengenyam pendidikan sekolah menengah atas di SMA Santa Maria Kota Malang, Sadikin masih menempatkan melukis sebagai hobi.
<\/p>\n\n\n\n

Di tengah keterbatasannya, Sadikin lalu melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kala itu, Sadikin mengambil jurusan psikologi pascagagal mengambil jurusan arsitektur yang ia dambakan dan cita-citakan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, kekurangan yang diberikan Tuhan adalah sebuah kelebihan yang tidak banyak dimiliki oleh orang lain. Kegigihannya dalam belajar melukis menghantarkannya ke Associaton of Mouth and Foot Painting Artist (AMFPA). Sebuah organisasi yang bermarkas di Swiss dan menghimpun karya pelukis yang melukis menggunakan kaki dan mulut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSetelah masuk AMFPA, saya menjadikan melukis sebagai profesi. Tahun 1989 saya menerima 300 swiss franc, setara Rp 300 ribu waktu itu. Kini, saya menerima sekitar 40 jt setiap bulan,\u201d ungkap Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin terus melukis. Kemampuannya terus berkembang, bahkan melebihi tuntutan dari organisasi yang ia ikuti. Nama Sadikin juga mulai dikenal, bukan sebab keterbatasannya, melainkan sebab karyanya yang memang bernilai tinggi.
<\/p>\n\n\n\n

Setiap kali ada pameran lukisan dan kontes-kontes melukis, Sadikin tidak pernah alfa untuk mengikutinya. Karyanya menjadi sorotan publik dan banyak laku dengan harga yang tidak murah. Bahkan menurutnya, ada salah satu lukisannya yang laku hingga Rp 250 juta.<\/p>\n\n\n\n

Menolak Pasrah dan Bergantung kepada Pemerintah karena Disabilitas<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Sadikin tidak mau dikasihani orang lain. Meski ia tunadaksa, ia adalah manusia yang sama, yang memilki kesempatan besar untuk menjalani rutinitas sebagaimana manusia lainnya. \u201cKuncinya adalah terus mencoba, mencoba dan mencoba. Saya tidak apa-apa dicemooh lukisan saya jelek. Bagi saya cemoohan seperti itu adalah cambuk untuk terus berlatih,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Sadikin, masyarakat harus adil memerlakukan para difabel. Difabel harus diperlakukan sebagaimana orang biasa. Semakin banyak orang yang mengasihani difabel, maka tidak malah membuat difabel itu kuat, sebaliknya berdampak melemahkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cDifabel harus diperlakukan seperti manusia biasa, bahkan ia harus diberi tantangan dan ditempa untuk menemukan kelebihan dalam dirinya,\u201d kata Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, para difabel harus mulai mengubah sudut pandang. Bahwa segala kekurangan tidak kemudian menjadikan para difabel pasrah menerima nasib dan mengharapkan santunan dari orang lain dan pemerintah untuk menjalani hidup. Difabel adalah orang istimewa yang dapat berkarya melebihi orang-orang biasa. Kekurangan ini adalah kelebihan yang akan ditemukan dengan kerja keras dan melatih diri menjadi apa yang diinginkan.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin bisa berangkat ke Swiss dan mengharumkan nama Indonesia di mata dunia, tidak terlebih dulu mendapat perhatian dari pemerintah. Ia mengaku berangkat dengan uang sendiri. Bahkan, lanjut Sadikin, hingga kini pun tidak ada pemerintah yang mengapresiasi karya-karyanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak menginginkan belas kasihan dari pemerintah. Karena yang sejatinya benar adalah, kita dapat memberikan apa kepada negara ini, bukan negara dapat memberikan apa kepada kita. Namun yang saya sayangkan, pemerintah sepertinya tidak peduli memperhatikan para seniman dan menghargai karya seni dari para seniman negeri sendiri. Seharusnya para seniman ini diberikan wadah, diperhatikan, kan juga kalau manajemennya bagus bisa menjadi pemasukan untuk negara,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin mengirim pesan kepada seluruh seniman di Tanah Air untuk terus berkaraya, tanpa peduli akan bernilai apa sebuah karya tersebut. \u201cYang terpenting kita dapat mengaktulisasikan diri dan terus melukis dengan niat mengharumkan nama negeri. Teruslah berkarya, karena sejatinya karya adalah yang dibuat dengan kesungguhan dan keikhlasan hati,\u201d pungkas pelukis beranak dua tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Shadikin Pard, Pelukis Tanpa Lengan yang Mengharumkan Bangsa dengan Kedua Kakinya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"shadikin-pard-pelukis-tanpa-lengan-yang-mengharumkan-bangsa-dengan-kedua-kakinya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-16 11:09:38","post_modified_gmt":"2019-04-16 04:09:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5637","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5621,"post_author":"877","post_date":"2019-04-10 10:37:08","post_date_gmt":"2019-04-10 03:37:08","post_content":"\n

Bahasan mengenai hukum menyulut kretek pernah dipertanyakan dalam forum bahtsul masail<\/em> (musyawarah) para Kiai\/Ulama\u2019 Kudus. Pertanyaan (saail<\/em>) yang mengajukan atas nama masyarakat Baletengahan, yaitu dukuh yang masuk wilayah Desa Langgardalem Kecamatan Kota. Tepatnya sekitar + 800an m, arah utara Masjid Menara Kudus (al-Aqsha). Kultur budaya masyarakat Baletengahan adalah santri, terdapat banyak Pesantren dan beberapa madrasah, salah satunya lembaga pendidikan formal TBS (Tasywiqut Thullab Salafiyyah), yaitu lembaga pendidikan salaf yang dahulu salah satu tempat  KH. Arwani Amin al-Hafiz mengajar dan yayasan pendidikan Nawa Kartika, yang didirikan oleh tokoh NU setempat. <\/p>\n\n\n\n

Lain halnya pesantren dan lembaga pendidikan, di sekitar Baletengahan Langgardalem, konon dahulu banyak usaha rumahan kretek. Petilasan yang masih dapat dijumpai di Langgardalem adalah \u201cgudang tembakau dan PR. Buah Cengkeh\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Disini terlihat para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus mempunyai tradisi kritis menyikapi fenomena disekelilingnya. Sehingga wajar pada tahun 1990an muncul bahasan tentang kretek di Bahtsul Masail<\/em> para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, jauh mendahului keputusan MUI dan Muhammadiyyah hasil Padang Panjang, dilaksanakan tahun 2009-2010.<\/p>\n\n\n\n

Tradisi Bahtsul Masail biasa disebut \u201cMunadzoroh<\/em>\u201d sudah lama dilakukan para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, dengan bertempat di Masjid-masjid di sekitar Kudus, bergantian dan memutar. Peserta munadzoroh<\/em> adalah para Kiai\/Ulama\u2019 se-Kabupaten Kudus dari berbagai penjuru desa, dan juga masyarakat umum, karena sifatnya terbuka (siapa saja boleh ikut tanpa terkecuali). Pelaksanaannya dari dulu hingga sekarang dijatuhkan pada hari Ahad (minggu). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat pembahasan mengenai kretek, bertempat di Masji al-Aqsho Menara Kudus yang dipimpin oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), redaksi pertanyaaannya adalah:<\/p>\n\n\n\n

\u201ckados pundi hukumipun ngkretek (bagaimana hukum menghisap kretek)?\u201d<\/em>--pertanyaan dari<\/em> Baletengahan--<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sebelum memulai pembahasan biasanya KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menanyakan tentang apa yang akan dibahas. Diceritakan oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi, situasi dan kondisi saat itu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), bertanya di forum, \u00a0\u201copo iki takonane?\u201d (pertanyaannya apa), di jawab yang hadir saat itu, \u201c anu Mbah bab kretek\u201d (itu bab menghisap kretek), lalu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menyambung jawaban hadirin, \u201coooo, bab kretek, kretekku gowo rene dikik\u201d (ooo, bab menghisap kretek, kretekku bawa kemari dulu), kemudian KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) mengambil satu batang kretek dari bungkusnya disulut dan dihisap. Selesai menyulut kretek, kembali KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) berbicara, \u201cwes kono dibahas\u201d (sudah sana dibahas). Setelah diperintahkan untuk dibahas, suasana hening sejenak. \u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mungkin di benak para hadirin terlintas pikiran \u201capa yang dibahas sudah dijawab secara tersirat oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) dengan menghisap kretek\u201d. Pada akhirnya, pembahasan tetap dilaksanakan. Diceritakan KH. Sya\u2019roni juga, situasi saat itu tidak ada Kiai\/Ulama\u2019 yang hadir menghukumi \u201charam\u201d, pada akhirnya diputuskan KH. Turaikhan, dengan hukum \u201c boleh\u201d, disela-sela KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) memberikan penjelasan, ada salah satu hadirin mengacungkan jarinya, beliau adalah KH. Hambali (Al Maghfurlah), sambil berkata; \u201ckulo Kiai, menawi boten udud kulo mboten saget mucal\u201d (saya Kiai, kalau tidak sambil menghisap kretek, saya tidak dapat mengajar), disertai argumen dan penjelasanannya. Kemudian KH. Turaikhan, memberikan jawaban dan tanggapan kepada KH. Hambali, \u201cnek ngono, kanggo kuwi hukumi wajib\u201d (kalau begitu, untuk kamu hukumnya wajib mengkonsumsi kretek).  <\/p>\n\n\n\n

Dilihat dari putusan Bahtsul Masail di atas, pada awalnya menghisap kretek dihukumi \u201cboleh\u201d, namun dengan kondisi tertentu menjadi \u201cWajib\u201d. Cerita penetapan hukum menghisap kretek dalam forum Bahtsul Masail di atas, telah menyebar di kalangan masyarakat Kudus, dan menjadi konsumsi publik, serta bersifat mengikat sampai sekarang. Sehingga banyak Kiai\/Ulama\u2019 Kudus tidak mempersoalkan lagi, apalagi membahas kembali. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cerita situasi dan kondisi Bahtsul Masail, diapresiasi dan diinterpretasikan Kiai\/Ulama\u2019Kudus lebih kontekstual, salah satunya KH. Fatkhur Rahman, beliau bercerita;  saat KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) populer dengan sebutan Mbah Tur memimpin munadzoroh<\/em> ada pertanyaan: bagaimana hukumnya kretek? Mbah Tur malah mengambil kretek, menyulut dan menghisapnya, dengan begitu diasumsikan hukumnya \u201chalal\u201d (jadi  setelah itu sudah tidak perlu dibahas lagi soal kretek). KH. Fatkhur Rahman juga menceritakan ada satu alasan kuat, mengapa halal, karena para Kiai itu tidak mau barang subhat<\/em> (tidak jelas posisinya), apalagi haram. Ketika para Kiai\/Ulama\u2019 besar menghisap kretek, otomatis tidak haram. Tuhan menciptakan sesuatu untuk dinikmati itu ada dua, halal atau haram. <\/p>\n\n\n\n

Dasar hukum menghisap kretek adalah mubah, sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang menjadi wajib, juga menjadi haram. Dasar utamanya adalah  \u201cla dhororo wala dhiroro\u201d. <\/em>Hukumnya seperti  mengkonsumsi gula, ketika kena penyakit gula, maka haram atau tidak boleh mengkonsumsi gula. Begitu pula ketika punya darah tinggi, maka tidak boleh makan daging, dan seterusnya. Dimana \u201calhukmu yadurru ma\u2019a illatihi\u201d<\/em>(hukum itu bisa beralih tergantung alasannya). Membeli kretek dihukumi tidak boleh (haram), jika uang yang dipakai semestinya untuk belanja kebutuhan pokok, membayar sekolah dan lain sebagainya. Menghisap kretek menjadi wajib, ketika tidak menghisap sulit berpikir, lemas, tidak bisa kerja dan lain sebagainya.
<\/p>\n","post_title":"Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fenomena-hukum-rokok-bagi-ulama-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-10 10:37:16","post_modified_gmt":"2019-04-10 03:37:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5621","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

Paling Populer

\n

Menurut Eva, sebuah pola bisa dibilang sehat jika semua yang masuk ke dalam tubuh seimbang. Tidak boleh berlebihan bukan berarti tidak dimakan sama sekali. Harus terdiri dari 50 persen protein, 30 persen karbohidrat, dan 20 persen lemak dan serat. Itu harus dipenuhi di luar mineral-mineral yang ada.
<\/p>\n\n\n\n

Nah loh, berdasarkan hasil-hasil penelitian yang menyatakan bahwa pola makan tidak sehat merupakan penyebab resiko kematian terbesar, lalu mengapa hanya rokok yang terus-menerus dituduh dalam kampanye kelompok-kelompok antirokok yang mengatasnamakan kesehatan?
<\/p>\n\n\n\n

Untuk memahami hal ini tentunya anda harus mengetahui bahwa terdapat perang bisnis nikotin antara industri farmasi dan industri rokok, atau yang sering kami sebut sebagai \u201cNicotin War\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Maka Anda tak usah heran jika rokok diframing bertentangan dengan kesehatan, karena semua semata hanyalah akal-akalan pihak industri farmasi untuk memenangi pertarungan bisnis nikotin tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Pola Makan Tidak Sehat Membunuhmu","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pola-makan-tidak-sehat-membunuhmu","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-23 12:23:48","post_modified_gmt":"2019-04-23 05:23:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5653","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5637,"post_author":"855","post_date":"2019-04-16 11:07:27","post_date_gmt":"2019-04-16 04:07:27","post_content":"\n

Terlahir sebagai tunadaksa atau tanpa tangan, tidak membuat Shadikin Pard pesimis menjalan hidup. Lebih dari itu, ia berhasil membuktikan bahwa kekurangan bukanlah aral melintang yang mengganjal langkah menuju kesuksesan.<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Hujan sudah reda ketika kaki saya memasuki gerbang Taman Balekambang, Surakarta. Di dalam, di atas tanah yang masih basah, ratusan pelukis dari penjuru negeri sedang sibuk mengaktualisasikan kegelisahan hatinya ke sebuah kanvas. Mereka sedang mengikuti Indonesia Painting Contest 2019 yang diselenggarakan oleh NU Gallery.
<\/p>\n\n\n\n

Saya terus melangkah menyusuri tanah basah yang di samping kanan dan kirinya para pelukis sedang khidmat menggoreskan kuas. Hingga kaki saya terhenti di hadapan pelukis yang berkonsentrasi melukis menggunakan kedua kakinya.
<\/p>\n\n\n\n

Sebatang kuas dijepitkan di antara jemari kaki. Sesekali ia menyelupkan kuas itu ke dalam cat dan kemudian menggoreskannya ke dalam kanvas hingga membentuk sebuah lukisan realis Reog Ponorogo yang indah. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di sampingnya, seorang pemuda yang ternyata anaknya dengan sigap menjalankan instruksi ayahnya, mulai dari mengganti ukuran kuas yang terjepit di antara jemarinya, membuka botol cat dan lain sebagainya. Sesekali anaknya menyalakan rokok dan menyodorkan ke hadapan mulut ayahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Ia melukis Reog Ponorogo bukan tanpa alasan. Ia ingin memberikan kritik kepada seluruh masyarakat dan Pemerintah, bahwa mencintai kekayaan budaya bangsa sendiri adalah kewajiban yang harus selalu digelorakan. Jangan sampai, ketika kebudayaan tersebut direbut negara lain, bangsa ini baru panik dan serius mengakui serta membanggakan kekayaan kebudayaan sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ialah Shadikin Pard, seorang pelukis masyhur yang terlahir tunadaksa atau tanpa kedua tangan. Kami berbincang di bawah pohon beringin rindang. Di antara para pelukis lainnya yang sedang beristirahat menunggu waktu pengumuman pemenang dibacakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pria kelahiran 29 Oktober 1996 ini mulai melukis sejak masih di taman kanak-kanak. Saat itu, melukis hanya sebagai hobi semata. Sadikin juga pernah les privat melukis di rumahnya. Hingga mengenyam pendidikan sekolah menengah atas di SMA Santa Maria Kota Malang, Sadikin masih menempatkan melukis sebagai hobi.
<\/p>\n\n\n\n

Di tengah keterbatasannya, Sadikin lalu melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kala itu, Sadikin mengambil jurusan psikologi pascagagal mengambil jurusan arsitektur yang ia dambakan dan cita-citakan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, kekurangan yang diberikan Tuhan adalah sebuah kelebihan yang tidak banyak dimiliki oleh orang lain. Kegigihannya dalam belajar melukis menghantarkannya ke Associaton of Mouth and Foot Painting Artist (AMFPA). Sebuah organisasi yang bermarkas di Swiss dan menghimpun karya pelukis yang melukis menggunakan kaki dan mulut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSetelah masuk AMFPA, saya menjadikan melukis sebagai profesi. Tahun 1989 saya menerima 300 swiss franc, setara Rp 300 ribu waktu itu. Kini, saya menerima sekitar 40 jt setiap bulan,\u201d ungkap Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin terus melukis. Kemampuannya terus berkembang, bahkan melebihi tuntutan dari organisasi yang ia ikuti. Nama Sadikin juga mulai dikenal, bukan sebab keterbatasannya, melainkan sebab karyanya yang memang bernilai tinggi.
<\/p>\n\n\n\n

Setiap kali ada pameran lukisan dan kontes-kontes melukis, Sadikin tidak pernah alfa untuk mengikutinya. Karyanya menjadi sorotan publik dan banyak laku dengan harga yang tidak murah. Bahkan menurutnya, ada salah satu lukisannya yang laku hingga Rp 250 juta.<\/p>\n\n\n\n

Menolak Pasrah dan Bergantung kepada Pemerintah karena Disabilitas<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Sadikin tidak mau dikasihani orang lain. Meski ia tunadaksa, ia adalah manusia yang sama, yang memilki kesempatan besar untuk menjalani rutinitas sebagaimana manusia lainnya. \u201cKuncinya adalah terus mencoba, mencoba dan mencoba. Saya tidak apa-apa dicemooh lukisan saya jelek. Bagi saya cemoohan seperti itu adalah cambuk untuk terus berlatih,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Sadikin, masyarakat harus adil memerlakukan para difabel. Difabel harus diperlakukan sebagaimana orang biasa. Semakin banyak orang yang mengasihani difabel, maka tidak malah membuat difabel itu kuat, sebaliknya berdampak melemahkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cDifabel harus diperlakukan seperti manusia biasa, bahkan ia harus diberi tantangan dan ditempa untuk menemukan kelebihan dalam dirinya,\u201d kata Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, para difabel harus mulai mengubah sudut pandang. Bahwa segala kekurangan tidak kemudian menjadikan para difabel pasrah menerima nasib dan mengharapkan santunan dari orang lain dan pemerintah untuk menjalani hidup. Difabel adalah orang istimewa yang dapat berkarya melebihi orang-orang biasa. Kekurangan ini adalah kelebihan yang akan ditemukan dengan kerja keras dan melatih diri menjadi apa yang diinginkan.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin bisa berangkat ke Swiss dan mengharumkan nama Indonesia di mata dunia, tidak terlebih dulu mendapat perhatian dari pemerintah. Ia mengaku berangkat dengan uang sendiri. Bahkan, lanjut Sadikin, hingga kini pun tidak ada pemerintah yang mengapresiasi karya-karyanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak menginginkan belas kasihan dari pemerintah. Karena yang sejatinya benar adalah, kita dapat memberikan apa kepada negara ini, bukan negara dapat memberikan apa kepada kita. Namun yang saya sayangkan, pemerintah sepertinya tidak peduli memperhatikan para seniman dan menghargai karya seni dari para seniman negeri sendiri. Seharusnya para seniman ini diberikan wadah, diperhatikan, kan juga kalau manajemennya bagus bisa menjadi pemasukan untuk negara,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin mengirim pesan kepada seluruh seniman di Tanah Air untuk terus berkaraya, tanpa peduli akan bernilai apa sebuah karya tersebut. \u201cYang terpenting kita dapat mengaktulisasikan diri dan terus melukis dengan niat mengharumkan nama negeri. Teruslah berkarya, karena sejatinya karya adalah yang dibuat dengan kesungguhan dan keikhlasan hati,\u201d pungkas pelukis beranak dua tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Shadikin Pard, Pelukis Tanpa Lengan yang Mengharumkan Bangsa dengan Kedua Kakinya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"shadikin-pard-pelukis-tanpa-lengan-yang-mengharumkan-bangsa-dengan-kedua-kakinya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-16 11:09:38","post_modified_gmt":"2019-04-16 04:09:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5637","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5621,"post_author":"877","post_date":"2019-04-10 10:37:08","post_date_gmt":"2019-04-10 03:37:08","post_content":"\n

Bahasan mengenai hukum menyulut kretek pernah dipertanyakan dalam forum bahtsul masail<\/em> (musyawarah) para Kiai\/Ulama\u2019 Kudus. Pertanyaan (saail<\/em>) yang mengajukan atas nama masyarakat Baletengahan, yaitu dukuh yang masuk wilayah Desa Langgardalem Kecamatan Kota. Tepatnya sekitar + 800an m, arah utara Masjid Menara Kudus (al-Aqsha). Kultur budaya masyarakat Baletengahan adalah santri, terdapat banyak Pesantren dan beberapa madrasah, salah satunya lembaga pendidikan formal TBS (Tasywiqut Thullab Salafiyyah), yaitu lembaga pendidikan salaf yang dahulu salah satu tempat  KH. Arwani Amin al-Hafiz mengajar dan yayasan pendidikan Nawa Kartika, yang didirikan oleh tokoh NU setempat. <\/p>\n\n\n\n

Lain halnya pesantren dan lembaga pendidikan, di sekitar Baletengahan Langgardalem, konon dahulu banyak usaha rumahan kretek. Petilasan yang masih dapat dijumpai di Langgardalem adalah \u201cgudang tembakau dan PR. Buah Cengkeh\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Disini terlihat para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus mempunyai tradisi kritis menyikapi fenomena disekelilingnya. Sehingga wajar pada tahun 1990an muncul bahasan tentang kretek di Bahtsul Masail<\/em> para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, jauh mendahului keputusan MUI dan Muhammadiyyah hasil Padang Panjang, dilaksanakan tahun 2009-2010.<\/p>\n\n\n\n

Tradisi Bahtsul Masail biasa disebut \u201cMunadzoroh<\/em>\u201d sudah lama dilakukan para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, dengan bertempat di Masjid-masjid di sekitar Kudus, bergantian dan memutar. Peserta munadzoroh<\/em> adalah para Kiai\/Ulama\u2019 se-Kabupaten Kudus dari berbagai penjuru desa, dan juga masyarakat umum, karena sifatnya terbuka (siapa saja boleh ikut tanpa terkecuali). Pelaksanaannya dari dulu hingga sekarang dijatuhkan pada hari Ahad (minggu). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat pembahasan mengenai kretek, bertempat di Masji al-Aqsho Menara Kudus yang dipimpin oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), redaksi pertanyaaannya adalah:<\/p>\n\n\n\n

\u201ckados pundi hukumipun ngkretek (bagaimana hukum menghisap kretek)?\u201d<\/em>--pertanyaan dari<\/em> Baletengahan--<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sebelum memulai pembahasan biasanya KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menanyakan tentang apa yang akan dibahas. Diceritakan oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi, situasi dan kondisi saat itu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), bertanya di forum, \u00a0\u201copo iki takonane?\u201d (pertanyaannya apa), di jawab yang hadir saat itu, \u201c anu Mbah bab kretek\u201d (itu bab menghisap kretek), lalu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menyambung jawaban hadirin, \u201coooo, bab kretek, kretekku gowo rene dikik\u201d (ooo, bab menghisap kretek, kretekku bawa kemari dulu), kemudian KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) mengambil satu batang kretek dari bungkusnya disulut dan dihisap. Selesai menyulut kretek, kembali KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) berbicara, \u201cwes kono dibahas\u201d (sudah sana dibahas). Setelah diperintahkan untuk dibahas, suasana hening sejenak. \u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mungkin di benak para hadirin terlintas pikiran \u201capa yang dibahas sudah dijawab secara tersirat oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) dengan menghisap kretek\u201d. Pada akhirnya, pembahasan tetap dilaksanakan. Diceritakan KH. Sya\u2019roni juga, situasi saat itu tidak ada Kiai\/Ulama\u2019 yang hadir menghukumi \u201charam\u201d, pada akhirnya diputuskan KH. Turaikhan, dengan hukum \u201c boleh\u201d, disela-sela KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) memberikan penjelasan, ada salah satu hadirin mengacungkan jarinya, beliau adalah KH. Hambali (Al Maghfurlah), sambil berkata; \u201ckulo Kiai, menawi boten udud kulo mboten saget mucal\u201d (saya Kiai, kalau tidak sambil menghisap kretek, saya tidak dapat mengajar), disertai argumen dan penjelasanannya. Kemudian KH. Turaikhan, memberikan jawaban dan tanggapan kepada KH. Hambali, \u201cnek ngono, kanggo kuwi hukumi wajib\u201d (kalau begitu, untuk kamu hukumnya wajib mengkonsumsi kretek).  <\/p>\n\n\n\n

Dilihat dari putusan Bahtsul Masail di atas, pada awalnya menghisap kretek dihukumi \u201cboleh\u201d, namun dengan kondisi tertentu menjadi \u201cWajib\u201d. Cerita penetapan hukum menghisap kretek dalam forum Bahtsul Masail di atas, telah menyebar di kalangan masyarakat Kudus, dan menjadi konsumsi publik, serta bersifat mengikat sampai sekarang. Sehingga banyak Kiai\/Ulama\u2019 Kudus tidak mempersoalkan lagi, apalagi membahas kembali. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cerita situasi dan kondisi Bahtsul Masail, diapresiasi dan diinterpretasikan Kiai\/Ulama\u2019Kudus lebih kontekstual, salah satunya KH. Fatkhur Rahman, beliau bercerita;  saat KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) populer dengan sebutan Mbah Tur memimpin munadzoroh<\/em> ada pertanyaan: bagaimana hukumnya kretek? Mbah Tur malah mengambil kretek, menyulut dan menghisapnya, dengan begitu diasumsikan hukumnya \u201chalal\u201d (jadi  setelah itu sudah tidak perlu dibahas lagi soal kretek). KH. Fatkhur Rahman juga menceritakan ada satu alasan kuat, mengapa halal, karena para Kiai itu tidak mau barang subhat<\/em> (tidak jelas posisinya), apalagi haram. Ketika para Kiai\/Ulama\u2019 besar menghisap kretek, otomatis tidak haram. Tuhan menciptakan sesuatu untuk dinikmati itu ada dua, halal atau haram. <\/p>\n\n\n\n

Dasar hukum menghisap kretek adalah mubah, sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang menjadi wajib, juga menjadi haram. Dasar utamanya adalah  \u201cla dhororo wala dhiroro\u201d. <\/em>Hukumnya seperti  mengkonsumsi gula, ketika kena penyakit gula, maka haram atau tidak boleh mengkonsumsi gula. Begitu pula ketika punya darah tinggi, maka tidak boleh makan daging, dan seterusnya. Dimana \u201calhukmu yadurru ma\u2019a illatihi\u201d<\/em>(hukum itu bisa beralih tergantung alasannya). Membeli kretek dihukumi tidak boleh (haram), jika uang yang dipakai semestinya untuk belanja kebutuhan pokok, membayar sekolah dan lain sebagainya. Menghisap kretek menjadi wajib, ketika tidak menghisap sulit berpikir, lemas, tidak bisa kerja dan lain sebagainya.
<\/p>\n","post_title":"Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fenomena-hukum-rokok-bagi-ulama-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-10 10:37:16","post_modified_gmt":"2019-04-10 03:37:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5621","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

Paling Populer

\n

Persoalan menjaga keseimbangan dalam pola makan ini juga disampaikan oleh Spesialis Patologi Anatomi dari Rumah Sakit Kanker Dharmais, dr Evalina Suzana. Ia mengatakan pola makan yang sehat merupakan bagian bentuk pencegahan dari penyakit kanker. Di luar dari olahraga yang teratur, minum air, dan tidur yang cukup.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Eva, sebuah pola bisa dibilang sehat jika semua yang masuk ke dalam tubuh seimbang. Tidak boleh berlebihan bukan berarti tidak dimakan sama sekali. Harus terdiri dari 50 persen protein, 30 persen karbohidrat, dan 20 persen lemak dan serat. Itu harus dipenuhi di luar mineral-mineral yang ada.
<\/p>\n\n\n\n

Nah loh, berdasarkan hasil-hasil penelitian yang menyatakan bahwa pola makan tidak sehat merupakan penyebab resiko kematian terbesar, lalu mengapa hanya rokok yang terus-menerus dituduh dalam kampanye kelompok-kelompok antirokok yang mengatasnamakan kesehatan?
<\/p>\n\n\n\n

Untuk memahami hal ini tentunya anda harus mengetahui bahwa terdapat perang bisnis nikotin antara industri farmasi dan industri rokok, atau yang sering kami sebut sebagai \u201cNicotin War\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Maka Anda tak usah heran jika rokok diframing bertentangan dengan kesehatan, karena semua semata hanyalah akal-akalan pihak industri farmasi untuk memenangi pertarungan bisnis nikotin tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Pola Makan Tidak Sehat Membunuhmu","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pola-makan-tidak-sehat-membunuhmu","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-23 12:23:48","post_modified_gmt":"2019-04-23 05:23:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5653","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5637,"post_author":"855","post_date":"2019-04-16 11:07:27","post_date_gmt":"2019-04-16 04:07:27","post_content":"\n

Terlahir sebagai tunadaksa atau tanpa tangan, tidak membuat Shadikin Pard pesimis menjalan hidup. Lebih dari itu, ia berhasil membuktikan bahwa kekurangan bukanlah aral melintang yang mengganjal langkah menuju kesuksesan.<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Hujan sudah reda ketika kaki saya memasuki gerbang Taman Balekambang, Surakarta. Di dalam, di atas tanah yang masih basah, ratusan pelukis dari penjuru negeri sedang sibuk mengaktualisasikan kegelisahan hatinya ke sebuah kanvas. Mereka sedang mengikuti Indonesia Painting Contest 2019 yang diselenggarakan oleh NU Gallery.
<\/p>\n\n\n\n

Saya terus melangkah menyusuri tanah basah yang di samping kanan dan kirinya para pelukis sedang khidmat menggoreskan kuas. Hingga kaki saya terhenti di hadapan pelukis yang berkonsentrasi melukis menggunakan kedua kakinya.
<\/p>\n\n\n\n

Sebatang kuas dijepitkan di antara jemari kaki. Sesekali ia menyelupkan kuas itu ke dalam cat dan kemudian menggoreskannya ke dalam kanvas hingga membentuk sebuah lukisan realis Reog Ponorogo yang indah. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di sampingnya, seorang pemuda yang ternyata anaknya dengan sigap menjalankan instruksi ayahnya, mulai dari mengganti ukuran kuas yang terjepit di antara jemarinya, membuka botol cat dan lain sebagainya. Sesekali anaknya menyalakan rokok dan menyodorkan ke hadapan mulut ayahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Ia melukis Reog Ponorogo bukan tanpa alasan. Ia ingin memberikan kritik kepada seluruh masyarakat dan Pemerintah, bahwa mencintai kekayaan budaya bangsa sendiri adalah kewajiban yang harus selalu digelorakan. Jangan sampai, ketika kebudayaan tersebut direbut negara lain, bangsa ini baru panik dan serius mengakui serta membanggakan kekayaan kebudayaan sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ialah Shadikin Pard, seorang pelukis masyhur yang terlahir tunadaksa atau tanpa kedua tangan. Kami berbincang di bawah pohon beringin rindang. Di antara para pelukis lainnya yang sedang beristirahat menunggu waktu pengumuman pemenang dibacakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pria kelahiran 29 Oktober 1996 ini mulai melukis sejak masih di taman kanak-kanak. Saat itu, melukis hanya sebagai hobi semata. Sadikin juga pernah les privat melukis di rumahnya. Hingga mengenyam pendidikan sekolah menengah atas di SMA Santa Maria Kota Malang, Sadikin masih menempatkan melukis sebagai hobi.
<\/p>\n\n\n\n

Di tengah keterbatasannya, Sadikin lalu melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kala itu, Sadikin mengambil jurusan psikologi pascagagal mengambil jurusan arsitektur yang ia dambakan dan cita-citakan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, kekurangan yang diberikan Tuhan adalah sebuah kelebihan yang tidak banyak dimiliki oleh orang lain. Kegigihannya dalam belajar melukis menghantarkannya ke Associaton of Mouth and Foot Painting Artist (AMFPA). Sebuah organisasi yang bermarkas di Swiss dan menghimpun karya pelukis yang melukis menggunakan kaki dan mulut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSetelah masuk AMFPA, saya menjadikan melukis sebagai profesi. Tahun 1989 saya menerima 300 swiss franc, setara Rp 300 ribu waktu itu. Kini, saya menerima sekitar 40 jt setiap bulan,\u201d ungkap Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin terus melukis. Kemampuannya terus berkembang, bahkan melebihi tuntutan dari organisasi yang ia ikuti. Nama Sadikin juga mulai dikenal, bukan sebab keterbatasannya, melainkan sebab karyanya yang memang bernilai tinggi.
<\/p>\n\n\n\n

Setiap kali ada pameran lukisan dan kontes-kontes melukis, Sadikin tidak pernah alfa untuk mengikutinya. Karyanya menjadi sorotan publik dan banyak laku dengan harga yang tidak murah. Bahkan menurutnya, ada salah satu lukisannya yang laku hingga Rp 250 juta.<\/p>\n\n\n\n

Menolak Pasrah dan Bergantung kepada Pemerintah karena Disabilitas<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Sadikin tidak mau dikasihani orang lain. Meski ia tunadaksa, ia adalah manusia yang sama, yang memilki kesempatan besar untuk menjalani rutinitas sebagaimana manusia lainnya. \u201cKuncinya adalah terus mencoba, mencoba dan mencoba. Saya tidak apa-apa dicemooh lukisan saya jelek. Bagi saya cemoohan seperti itu adalah cambuk untuk terus berlatih,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Sadikin, masyarakat harus adil memerlakukan para difabel. Difabel harus diperlakukan sebagaimana orang biasa. Semakin banyak orang yang mengasihani difabel, maka tidak malah membuat difabel itu kuat, sebaliknya berdampak melemahkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cDifabel harus diperlakukan seperti manusia biasa, bahkan ia harus diberi tantangan dan ditempa untuk menemukan kelebihan dalam dirinya,\u201d kata Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, para difabel harus mulai mengubah sudut pandang. Bahwa segala kekurangan tidak kemudian menjadikan para difabel pasrah menerima nasib dan mengharapkan santunan dari orang lain dan pemerintah untuk menjalani hidup. Difabel adalah orang istimewa yang dapat berkarya melebihi orang-orang biasa. Kekurangan ini adalah kelebihan yang akan ditemukan dengan kerja keras dan melatih diri menjadi apa yang diinginkan.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin bisa berangkat ke Swiss dan mengharumkan nama Indonesia di mata dunia, tidak terlebih dulu mendapat perhatian dari pemerintah. Ia mengaku berangkat dengan uang sendiri. Bahkan, lanjut Sadikin, hingga kini pun tidak ada pemerintah yang mengapresiasi karya-karyanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak menginginkan belas kasihan dari pemerintah. Karena yang sejatinya benar adalah, kita dapat memberikan apa kepada negara ini, bukan negara dapat memberikan apa kepada kita. Namun yang saya sayangkan, pemerintah sepertinya tidak peduli memperhatikan para seniman dan menghargai karya seni dari para seniman negeri sendiri. Seharusnya para seniman ini diberikan wadah, diperhatikan, kan juga kalau manajemennya bagus bisa menjadi pemasukan untuk negara,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin mengirim pesan kepada seluruh seniman di Tanah Air untuk terus berkaraya, tanpa peduli akan bernilai apa sebuah karya tersebut. \u201cYang terpenting kita dapat mengaktulisasikan diri dan terus melukis dengan niat mengharumkan nama negeri. Teruslah berkarya, karena sejatinya karya adalah yang dibuat dengan kesungguhan dan keikhlasan hati,\u201d pungkas pelukis beranak dua tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Shadikin Pard, Pelukis Tanpa Lengan yang Mengharumkan Bangsa dengan Kedua Kakinya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"shadikin-pard-pelukis-tanpa-lengan-yang-mengharumkan-bangsa-dengan-kedua-kakinya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-16 11:09:38","post_modified_gmt":"2019-04-16 04:09:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5637","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5621,"post_author":"877","post_date":"2019-04-10 10:37:08","post_date_gmt":"2019-04-10 03:37:08","post_content":"\n

Bahasan mengenai hukum menyulut kretek pernah dipertanyakan dalam forum bahtsul masail<\/em> (musyawarah) para Kiai\/Ulama\u2019 Kudus. Pertanyaan (saail<\/em>) yang mengajukan atas nama masyarakat Baletengahan, yaitu dukuh yang masuk wilayah Desa Langgardalem Kecamatan Kota. Tepatnya sekitar + 800an m, arah utara Masjid Menara Kudus (al-Aqsha). Kultur budaya masyarakat Baletengahan adalah santri, terdapat banyak Pesantren dan beberapa madrasah, salah satunya lembaga pendidikan formal TBS (Tasywiqut Thullab Salafiyyah), yaitu lembaga pendidikan salaf yang dahulu salah satu tempat  KH. Arwani Amin al-Hafiz mengajar dan yayasan pendidikan Nawa Kartika, yang didirikan oleh tokoh NU setempat. <\/p>\n\n\n\n

Lain halnya pesantren dan lembaga pendidikan, di sekitar Baletengahan Langgardalem, konon dahulu banyak usaha rumahan kretek. Petilasan yang masih dapat dijumpai di Langgardalem adalah \u201cgudang tembakau dan PR. Buah Cengkeh\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Disini terlihat para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus mempunyai tradisi kritis menyikapi fenomena disekelilingnya. Sehingga wajar pada tahun 1990an muncul bahasan tentang kretek di Bahtsul Masail<\/em> para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, jauh mendahului keputusan MUI dan Muhammadiyyah hasil Padang Panjang, dilaksanakan tahun 2009-2010.<\/p>\n\n\n\n

Tradisi Bahtsul Masail biasa disebut \u201cMunadzoroh<\/em>\u201d sudah lama dilakukan para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, dengan bertempat di Masjid-masjid di sekitar Kudus, bergantian dan memutar. Peserta munadzoroh<\/em> adalah para Kiai\/Ulama\u2019 se-Kabupaten Kudus dari berbagai penjuru desa, dan juga masyarakat umum, karena sifatnya terbuka (siapa saja boleh ikut tanpa terkecuali). Pelaksanaannya dari dulu hingga sekarang dijatuhkan pada hari Ahad (minggu). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat pembahasan mengenai kretek, bertempat di Masji al-Aqsho Menara Kudus yang dipimpin oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), redaksi pertanyaaannya adalah:<\/p>\n\n\n\n

\u201ckados pundi hukumipun ngkretek (bagaimana hukum menghisap kretek)?\u201d<\/em>--pertanyaan dari<\/em> Baletengahan--<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sebelum memulai pembahasan biasanya KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menanyakan tentang apa yang akan dibahas. Diceritakan oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi, situasi dan kondisi saat itu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), bertanya di forum, \u00a0\u201copo iki takonane?\u201d (pertanyaannya apa), di jawab yang hadir saat itu, \u201c anu Mbah bab kretek\u201d (itu bab menghisap kretek), lalu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menyambung jawaban hadirin, \u201coooo, bab kretek, kretekku gowo rene dikik\u201d (ooo, bab menghisap kretek, kretekku bawa kemari dulu), kemudian KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) mengambil satu batang kretek dari bungkusnya disulut dan dihisap. Selesai menyulut kretek, kembali KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) berbicara, \u201cwes kono dibahas\u201d (sudah sana dibahas). Setelah diperintahkan untuk dibahas, suasana hening sejenak. \u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mungkin di benak para hadirin terlintas pikiran \u201capa yang dibahas sudah dijawab secara tersirat oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) dengan menghisap kretek\u201d. Pada akhirnya, pembahasan tetap dilaksanakan. Diceritakan KH. Sya\u2019roni juga, situasi saat itu tidak ada Kiai\/Ulama\u2019 yang hadir menghukumi \u201charam\u201d, pada akhirnya diputuskan KH. Turaikhan, dengan hukum \u201c boleh\u201d, disela-sela KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) memberikan penjelasan, ada salah satu hadirin mengacungkan jarinya, beliau adalah KH. Hambali (Al Maghfurlah), sambil berkata; \u201ckulo Kiai, menawi boten udud kulo mboten saget mucal\u201d (saya Kiai, kalau tidak sambil menghisap kretek, saya tidak dapat mengajar), disertai argumen dan penjelasanannya. Kemudian KH. Turaikhan, memberikan jawaban dan tanggapan kepada KH. Hambali, \u201cnek ngono, kanggo kuwi hukumi wajib\u201d (kalau begitu, untuk kamu hukumnya wajib mengkonsumsi kretek).  <\/p>\n\n\n\n

Dilihat dari putusan Bahtsul Masail di atas, pada awalnya menghisap kretek dihukumi \u201cboleh\u201d, namun dengan kondisi tertentu menjadi \u201cWajib\u201d. Cerita penetapan hukum menghisap kretek dalam forum Bahtsul Masail di atas, telah menyebar di kalangan masyarakat Kudus, dan menjadi konsumsi publik, serta bersifat mengikat sampai sekarang. Sehingga banyak Kiai\/Ulama\u2019 Kudus tidak mempersoalkan lagi, apalagi membahas kembali. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cerita situasi dan kondisi Bahtsul Masail, diapresiasi dan diinterpretasikan Kiai\/Ulama\u2019Kudus lebih kontekstual, salah satunya KH. Fatkhur Rahman, beliau bercerita;  saat KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) populer dengan sebutan Mbah Tur memimpin munadzoroh<\/em> ada pertanyaan: bagaimana hukumnya kretek? Mbah Tur malah mengambil kretek, menyulut dan menghisapnya, dengan begitu diasumsikan hukumnya \u201chalal\u201d (jadi  setelah itu sudah tidak perlu dibahas lagi soal kretek). KH. Fatkhur Rahman juga menceritakan ada satu alasan kuat, mengapa halal, karena para Kiai itu tidak mau barang subhat<\/em> (tidak jelas posisinya), apalagi haram. Ketika para Kiai\/Ulama\u2019 besar menghisap kretek, otomatis tidak haram. Tuhan menciptakan sesuatu untuk dinikmati itu ada dua, halal atau haram. <\/p>\n\n\n\n

Dasar hukum menghisap kretek adalah mubah, sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang menjadi wajib, juga menjadi haram. Dasar utamanya adalah  \u201cla dhororo wala dhiroro\u201d. <\/em>Hukumnya seperti  mengkonsumsi gula, ketika kena penyakit gula, maka haram atau tidak boleh mengkonsumsi gula. Begitu pula ketika punya darah tinggi, maka tidak boleh makan daging, dan seterusnya. Dimana \u201calhukmu yadurru ma\u2019a illatihi\u201d<\/em>(hukum itu bisa beralih tergantung alasannya). Membeli kretek dihukumi tidak boleh (haram), jika uang yang dipakai semestinya untuk belanja kebutuhan pokok, membayar sekolah dan lain sebagainya. Menghisap kretek menjadi wajib, ketika tidak menghisap sulit berpikir, lemas, tidak bisa kerja dan lain sebagainya.
<\/p>\n","post_title":"Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fenomena-hukum-rokok-bagi-ulama-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-10 10:37:16","post_modified_gmt":"2019-04-10 03:37:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5621","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

Paling Populer

\n

Dalam sebuah artikel yang ditulis oleh Triyani Kresnawan, DCN,Mkes, Instalasi Gizi RSCM dan diterbitkan oleh Departemen Kesehatan Gizi Kementerian Kesehatan menyebutkan, pola makan yang tidak seimbang yang menyebabkan resiko munculnya penyakit kanker antara lain kebiasaan makanan cepat saji (fast food).
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan menjaga keseimbangan dalam pola makan ini juga disampaikan oleh Spesialis Patologi Anatomi dari Rumah Sakit Kanker Dharmais, dr Evalina Suzana. Ia mengatakan pola makan yang sehat merupakan bagian bentuk pencegahan dari penyakit kanker. Di luar dari olahraga yang teratur, minum air, dan tidur yang cukup.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Eva, sebuah pola bisa dibilang sehat jika semua yang masuk ke dalam tubuh seimbang. Tidak boleh berlebihan bukan berarti tidak dimakan sama sekali. Harus terdiri dari 50 persen protein, 30 persen karbohidrat, dan 20 persen lemak dan serat. Itu harus dipenuhi di luar mineral-mineral yang ada.
<\/p>\n\n\n\n

Nah loh, berdasarkan hasil-hasil penelitian yang menyatakan bahwa pola makan tidak sehat merupakan penyebab resiko kematian terbesar, lalu mengapa hanya rokok yang terus-menerus dituduh dalam kampanye kelompok-kelompok antirokok yang mengatasnamakan kesehatan?
<\/p>\n\n\n\n

Untuk memahami hal ini tentunya anda harus mengetahui bahwa terdapat perang bisnis nikotin antara industri farmasi dan industri rokok, atau yang sering kami sebut sebagai \u201cNicotin War\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Maka Anda tak usah heran jika rokok diframing bertentangan dengan kesehatan, karena semua semata hanyalah akal-akalan pihak industri farmasi untuk memenangi pertarungan bisnis nikotin tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Pola Makan Tidak Sehat Membunuhmu","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pola-makan-tidak-sehat-membunuhmu","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-23 12:23:48","post_modified_gmt":"2019-04-23 05:23:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5653","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5637,"post_author":"855","post_date":"2019-04-16 11:07:27","post_date_gmt":"2019-04-16 04:07:27","post_content":"\n

Terlahir sebagai tunadaksa atau tanpa tangan, tidak membuat Shadikin Pard pesimis menjalan hidup. Lebih dari itu, ia berhasil membuktikan bahwa kekurangan bukanlah aral melintang yang mengganjal langkah menuju kesuksesan.<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Hujan sudah reda ketika kaki saya memasuki gerbang Taman Balekambang, Surakarta. Di dalam, di atas tanah yang masih basah, ratusan pelukis dari penjuru negeri sedang sibuk mengaktualisasikan kegelisahan hatinya ke sebuah kanvas. Mereka sedang mengikuti Indonesia Painting Contest 2019 yang diselenggarakan oleh NU Gallery.
<\/p>\n\n\n\n

Saya terus melangkah menyusuri tanah basah yang di samping kanan dan kirinya para pelukis sedang khidmat menggoreskan kuas. Hingga kaki saya terhenti di hadapan pelukis yang berkonsentrasi melukis menggunakan kedua kakinya.
<\/p>\n\n\n\n

Sebatang kuas dijepitkan di antara jemari kaki. Sesekali ia menyelupkan kuas itu ke dalam cat dan kemudian menggoreskannya ke dalam kanvas hingga membentuk sebuah lukisan realis Reog Ponorogo yang indah. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di sampingnya, seorang pemuda yang ternyata anaknya dengan sigap menjalankan instruksi ayahnya, mulai dari mengganti ukuran kuas yang terjepit di antara jemarinya, membuka botol cat dan lain sebagainya. Sesekali anaknya menyalakan rokok dan menyodorkan ke hadapan mulut ayahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Ia melukis Reog Ponorogo bukan tanpa alasan. Ia ingin memberikan kritik kepada seluruh masyarakat dan Pemerintah, bahwa mencintai kekayaan budaya bangsa sendiri adalah kewajiban yang harus selalu digelorakan. Jangan sampai, ketika kebudayaan tersebut direbut negara lain, bangsa ini baru panik dan serius mengakui serta membanggakan kekayaan kebudayaan sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ialah Shadikin Pard, seorang pelukis masyhur yang terlahir tunadaksa atau tanpa kedua tangan. Kami berbincang di bawah pohon beringin rindang. Di antara para pelukis lainnya yang sedang beristirahat menunggu waktu pengumuman pemenang dibacakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pria kelahiran 29 Oktober 1996 ini mulai melukis sejak masih di taman kanak-kanak. Saat itu, melukis hanya sebagai hobi semata. Sadikin juga pernah les privat melukis di rumahnya. Hingga mengenyam pendidikan sekolah menengah atas di SMA Santa Maria Kota Malang, Sadikin masih menempatkan melukis sebagai hobi.
<\/p>\n\n\n\n

Di tengah keterbatasannya, Sadikin lalu melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kala itu, Sadikin mengambil jurusan psikologi pascagagal mengambil jurusan arsitektur yang ia dambakan dan cita-citakan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, kekurangan yang diberikan Tuhan adalah sebuah kelebihan yang tidak banyak dimiliki oleh orang lain. Kegigihannya dalam belajar melukis menghantarkannya ke Associaton of Mouth and Foot Painting Artist (AMFPA). Sebuah organisasi yang bermarkas di Swiss dan menghimpun karya pelukis yang melukis menggunakan kaki dan mulut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSetelah masuk AMFPA, saya menjadikan melukis sebagai profesi. Tahun 1989 saya menerima 300 swiss franc, setara Rp 300 ribu waktu itu. Kini, saya menerima sekitar 40 jt setiap bulan,\u201d ungkap Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin terus melukis. Kemampuannya terus berkembang, bahkan melebihi tuntutan dari organisasi yang ia ikuti. Nama Sadikin juga mulai dikenal, bukan sebab keterbatasannya, melainkan sebab karyanya yang memang bernilai tinggi.
<\/p>\n\n\n\n

Setiap kali ada pameran lukisan dan kontes-kontes melukis, Sadikin tidak pernah alfa untuk mengikutinya. Karyanya menjadi sorotan publik dan banyak laku dengan harga yang tidak murah. Bahkan menurutnya, ada salah satu lukisannya yang laku hingga Rp 250 juta.<\/p>\n\n\n\n

Menolak Pasrah dan Bergantung kepada Pemerintah karena Disabilitas<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Sadikin tidak mau dikasihani orang lain. Meski ia tunadaksa, ia adalah manusia yang sama, yang memilki kesempatan besar untuk menjalani rutinitas sebagaimana manusia lainnya. \u201cKuncinya adalah terus mencoba, mencoba dan mencoba. Saya tidak apa-apa dicemooh lukisan saya jelek. Bagi saya cemoohan seperti itu adalah cambuk untuk terus berlatih,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Sadikin, masyarakat harus adil memerlakukan para difabel. Difabel harus diperlakukan sebagaimana orang biasa. Semakin banyak orang yang mengasihani difabel, maka tidak malah membuat difabel itu kuat, sebaliknya berdampak melemahkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cDifabel harus diperlakukan seperti manusia biasa, bahkan ia harus diberi tantangan dan ditempa untuk menemukan kelebihan dalam dirinya,\u201d kata Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, para difabel harus mulai mengubah sudut pandang. Bahwa segala kekurangan tidak kemudian menjadikan para difabel pasrah menerima nasib dan mengharapkan santunan dari orang lain dan pemerintah untuk menjalani hidup. Difabel adalah orang istimewa yang dapat berkarya melebihi orang-orang biasa. Kekurangan ini adalah kelebihan yang akan ditemukan dengan kerja keras dan melatih diri menjadi apa yang diinginkan.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin bisa berangkat ke Swiss dan mengharumkan nama Indonesia di mata dunia, tidak terlebih dulu mendapat perhatian dari pemerintah. Ia mengaku berangkat dengan uang sendiri. Bahkan, lanjut Sadikin, hingga kini pun tidak ada pemerintah yang mengapresiasi karya-karyanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak menginginkan belas kasihan dari pemerintah. Karena yang sejatinya benar adalah, kita dapat memberikan apa kepada negara ini, bukan negara dapat memberikan apa kepada kita. Namun yang saya sayangkan, pemerintah sepertinya tidak peduli memperhatikan para seniman dan menghargai karya seni dari para seniman negeri sendiri. Seharusnya para seniman ini diberikan wadah, diperhatikan, kan juga kalau manajemennya bagus bisa menjadi pemasukan untuk negara,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin mengirim pesan kepada seluruh seniman di Tanah Air untuk terus berkaraya, tanpa peduli akan bernilai apa sebuah karya tersebut. \u201cYang terpenting kita dapat mengaktulisasikan diri dan terus melukis dengan niat mengharumkan nama negeri. Teruslah berkarya, karena sejatinya karya adalah yang dibuat dengan kesungguhan dan keikhlasan hati,\u201d pungkas pelukis beranak dua tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Shadikin Pard, Pelukis Tanpa Lengan yang Mengharumkan Bangsa dengan Kedua Kakinya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"shadikin-pard-pelukis-tanpa-lengan-yang-mengharumkan-bangsa-dengan-kedua-kakinya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-16 11:09:38","post_modified_gmt":"2019-04-16 04:09:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5637","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5621,"post_author":"877","post_date":"2019-04-10 10:37:08","post_date_gmt":"2019-04-10 03:37:08","post_content":"\n

Bahasan mengenai hukum menyulut kretek pernah dipertanyakan dalam forum bahtsul masail<\/em> (musyawarah) para Kiai\/Ulama\u2019 Kudus. Pertanyaan (saail<\/em>) yang mengajukan atas nama masyarakat Baletengahan, yaitu dukuh yang masuk wilayah Desa Langgardalem Kecamatan Kota. Tepatnya sekitar + 800an m, arah utara Masjid Menara Kudus (al-Aqsha). Kultur budaya masyarakat Baletengahan adalah santri, terdapat banyak Pesantren dan beberapa madrasah, salah satunya lembaga pendidikan formal TBS (Tasywiqut Thullab Salafiyyah), yaitu lembaga pendidikan salaf yang dahulu salah satu tempat  KH. Arwani Amin al-Hafiz mengajar dan yayasan pendidikan Nawa Kartika, yang didirikan oleh tokoh NU setempat. <\/p>\n\n\n\n

Lain halnya pesantren dan lembaga pendidikan, di sekitar Baletengahan Langgardalem, konon dahulu banyak usaha rumahan kretek. Petilasan yang masih dapat dijumpai di Langgardalem adalah \u201cgudang tembakau dan PR. Buah Cengkeh\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Disini terlihat para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus mempunyai tradisi kritis menyikapi fenomena disekelilingnya. Sehingga wajar pada tahun 1990an muncul bahasan tentang kretek di Bahtsul Masail<\/em> para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, jauh mendahului keputusan MUI dan Muhammadiyyah hasil Padang Panjang, dilaksanakan tahun 2009-2010.<\/p>\n\n\n\n

Tradisi Bahtsul Masail biasa disebut \u201cMunadzoroh<\/em>\u201d sudah lama dilakukan para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, dengan bertempat di Masjid-masjid di sekitar Kudus, bergantian dan memutar. Peserta munadzoroh<\/em> adalah para Kiai\/Ulama\u2019 se-Kabupaten Kudus dari berbagai penjuru desa, dan juga masyarakat umum, karena sifatnya terbuka (siapa saja boleh ikut tanpa terkecuali). Pelaksanaannya dari dulu hingga sekarang dijatuhkan pada hari Ahad (minggu). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat pembahasan mengenai kretek, bertempat di Masji al-Aqsho Menara Kudus yang dipimpin oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), redaksi pertanyaaannya adalah:<\/p>\n\n\n\n

\u201ckados pundi hukumipun ngkretek (bagaimana hukum menghisap kretek)?\u201d<\/em>--pertanyaan dari<\/em> Baletengahan--<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sebelum memulai pembahasan biasanya KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menanyakan tentang apa yang akan dibahas. Diceritakan oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi, situasi dan kondisi saat itu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), bertanya di forum, \u00a0\u201copo iki takonane?\u201d (pertanyaannya apa), di jawab yang hadir saat itu, \u201c anu Mbah bab kretek\u201d (itu bab menghisap kretek), lalu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menyambung jawaban hadirin, \u201coooo, bab kretek, kretekku gowo rene dikik\u201d (ooo, bab menghisap kretek, kretekku bawa kemari dulu), kemudian KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) mengambil satu batang kretek dari bungkusnya disulut dan dihisap. Selesai menyulut kretek, kembali KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) berbicara, \u201cwes kono dibahas\u201d (sudah sana dibahas). Setelah diperintahkan untuk dibahas, suasana hening sejenak. \u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mungkin di benak para hadirin terlintas pikiran \u201capa yang dibahas sudah dijawab secara tersirat oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) dengan menghisap kretek\u201d. Pada akhirnya, pembahasan tetap dilaksanakan. Diceritakan KH. Sya\u2019roni juga, situasi saat itu tidak ada Kiai\/Ulama\u2019 yang hadir menghukumi \u201charam\u201d, pada akhirnya diputuskan KH. Turaikhan, dengan hukum \u201c boleh\u201d, disela-sela KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) memberikan penjelasan, ada salah satu hadirin mengacungkan jarinya, beliau adalah KH. Hambali (Al Maghfurlah), sambil berkata; \u201ckulo Kiai, menawi boten udud kulo mboten saget mucal\u201d (saya Kiai, kalau tidak sambil menghisap kretek, saya tidak dapat mengajar), disertai argumen dan penjelasanannya. Kemudian KH. Turaikhan, memberikan jawaban dan tanggapan kepada KH. Hambali, \u201cnek ngono, kanggo kuwi hukumi wajib\u201d (kalau begitu, untuk kamu hukumnya wajib mengkonsumsi kretek).  <\/p>\n\n\n\n

Dilihat dari putusan Bahtsul Masail di atas, pada awalnya menghisap kretek dihukumi \u201cboleh\u201d, namun dengan kondisi tertentu menjadi \u201cWajib\u201d. Cerita penetapan hukum menghisap kretek dalam forum Bahtsul Masail di atas, telah menyebar di kalangan masyarakat Kudus, dan menjadi konsumsi publik, serta bersifat mengikat sampai sekarang. Sehingga banyak Kiai\/Ulama\u2019 Kudus tidak mempersoalkan lagi, apalagi membahas kembali. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cerita situasi dan kondisi Bahtsul Masail, diapresiasi dan diinterpretasikan Kiai\/Ulama\u2019Kudus lebih kontekstual, salah satunya KH. Fatkhur Rahman, beliau bercerita;  saat KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) populer dengan sebutan Mbah Tur memimpin munadzoroh<\/em> ada pertanyaan: bagaimana hukumnya kretek? Mbah Tur malah mengambil kretek, menyulut dan menghisapnya, dengan begitu diasumsikan hukumnya \u201chalal\u201d (jadi  setelah itu sudah tidak perlu dibahas lagi soal kretek). KH. Fatkhur Rahman juga menceritakan ada satu alasan kuat, mengapa halal, karena para Kiai itu tidak mau barang subhat<\/em> (tidak jelas posisinya), apalagi haram. Ketika para Kiai\/Ulama\u2019 besar menghisap kretek, otomatis tidak haram. Tuhan menciptakan sesuatu untuk dinikmati itu ada dua, halal atau haram. <\/p>\n\n\n\n

Dasar hukum menghisap kretek adalah mubah, sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang menjadi wajib, juga menjadi haram. Dasar utamanya adalah  \u201cla dhororo wala dhiroro\u201d. <\/em>Hukumnya seperti  mengkonsumsi gula, ketika kena penyakit gula, maka haram atau tidak boleh mengkonsumsi gula. Begitu pula ketika punya darah tinggi, maka tidak boleh makan daging, dan seterusnya. Dimana \u201calhukmu yadurru ma\u2019a illatihi\u201d<\/em>(hukum itu bisa beralih tergantung alasannya). Membeli kretek dihukumi tidak boleh (haram), jika uang yang dipakai semestinya untuk belanja kebutuhan pokok, membayar sekolah dan lain sebagainya. Menghisap kretek menjadi wajib, ketika tidak menghisap sulit berpikir, lemas, tidak bisa kerja dan lain sebagainya.
<\/p>\n","post_title":"Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fenomena-hukum-rokok-bagi-ulama-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-10 10:37:16","post_modified_gmt":"2019-04-10 03:37:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5621","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

Paling Populer

\n

Penelitian termutakhir yang di sebutkan di atas merupakan penelitian yang bersifat global, lalu bagaimana dengan di Indonesia? Apakah kasus pola makan yang tidak sehat juga menjadi penyebab kematian terbesar?
<\/p>\n\n\n\n

Dalam sebuah artikel yang ditulis oleh Triyani Kresnawan, DCN,Mkes, Instalasi Gizi RSCM dan diterbitkan oleh Departemen Kesehatan Gizi Kementerian Kesehatan menyebutkan, pola makan yang tidak seimbang yang menyebabkan resiko munculnya penyakit kanker antara lain kebiasaan makanan cepat saji (fast food).
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan menjaga keseimbangan dalam pola makan ini juga disampaikan oleh Spesialis Patologi Anatomi dari Rumah Sakit Kanker Dharmais, dr Evalina Suzana. Ia mengatakan pola makan yang sehat merupakan bagian bentuk pencegahan dari penyakit kanker. Di luar dari olahraga yang teratur, minum air, dan tidur yang cukup.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Eva, sebuah pola bisa dibilang sehat jika semua yang masuk ke dalam tubuh seimbang. Tidak boleh berlebihan bukan berarti tidak dimakan sama sekali. Harus terdiri dari 50 persen protein, 30 persen karbohidrat, dan 20 persen lemak dan serat. Itu harus dipenuhi di luar mineral-mineral yang ada.
<\/p>\n\n\n\n

Nah loh, berdasarkan hasil-hasil penelitian yang menyatakan bahwa pola makan tidak sehat merupakan penyebab resiko kematian terbesar, lalu mengapa hanya rokok yang terus-menerus dituduh dalam kampanye kelompok-kelompok antirokok yang mengatasnamakan kesehatan?
<\/p>\n\n\n\n

Untuk memahami hal ini tentunya anda harus mengetahui bahwa terdapat perang bisnis nikotin antara industri farmasi dan industri rokok, atau yang sering kami sebut sebagai \u201cNicotin War\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Maka Anda tak usah heran jika rokok diframing bertentangan dengan kesehatan, karena semua semata hanyalah akal-akalan pihak industri farmasi untuk memenangi pertarungan bisnis nikotin tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Pola Makan Tidak Sehat Membunuhmu","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pola-makan-tidak-sehat-membunuhmu","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-23 12:23:48","post_modified_gmt":"2019-04-23 05:23:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5653","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5637,"post_author":"855","post_date":"2019-04-16 11:07:27","post_date_gmt":"2019-04-16 04:07:27","post_content":"\n

Terlahir sebagai tunadaksa atau tanpa tangan, tidak membuat Shadikin Pard pesimis menjalan hidup. Lebih dari itu, ia berhasil membuktikan bahwa kekurangan bukanlah aral melintang yang mengganjal langkah menuju kesuksesan.<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Hujan sudah reda ketika kaki saya memasuki gerbang Taman Balekambang, Surakarta. Di dalam, di atas tanah yang masih basah, ratusan pelukis dari penjuru negeri sedang sibuk mengaktualisasikan kegelisahan hatinya ke sebuah kanvas. Mereka sedang mengikuti Indonesia Painting Contest 2019 yang diselenggarakan oleh NU Gallery.
<\/p>\n\n\n\n

Saya terus melangkah menyusuri tanah basah yang di samping kanan dan kirinya para pelukis sedang khidmat menggoreskan kuas. Hingga kaki saya terhenti di hadapan pelukis yang berkonsentrasi melukis menggunakan kedua kakinya.
<\/p>\n\n\n\n

Sebatang kuas dijepitkan di antara jemari kaki. Sesekali ia menyelupkan kuas itu ke dalam cat dan kemudian menggoreskannya ke dalam kanvas hingga membentuk sebuah lukisan realis Reog Ponorogo yang indah. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di sampingnya, seorang pemuda yang ternyata anaknya dengan sigap menjalankan instruksi ayahnya, mulai dari mengganti ukuran kuas yang terjepit di antara jemarinya, membuka botol cat dan lain sebagainya. Sesekali anaknya menyalakan rokok dan menyodorkan ke hadapan mulut ayahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Ia melukis Reog Ponorogo bukan tanpa alasan. Ia ingin memberikan kritik kepada seluruh masyarakat dan Pemerintah, bahwa mencintai kekayaan budaya bangsa sendiri adalah kewajiban yang harus selalu digelorakan. Jangan sampai, ketika kebudayaan tersebut direbut negara lain, bangsa ini baru panik dan serius mengakui serta membanggakan kekayaan kebudayaan sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ialah Shadikin Pard, seorang pelukis masyhur yang terlahir tunadaksa atau tanpa kedua tangan. Kami berbincang di bawah pohon beringin rindang. Di antara para pelukis lainnya yang sedang beristirahat menunggu waktu pengumuman pemenang dibacakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pria kelahiran 29 Oktober 1996 ini mulai melukis sejak masih di taman kanak-kanak. Saat itu, melukis hanya sebagai hobi semata. Sadikin juga pernah les privat melukis di rumahnya. Hingga mengenyam pendidikan sekolah menengah atas di SMA Santa Maria Kota Malang, Sadikin masih menempatkan melukis sebagai hobi.
<\/p>\n\n\n\n

Di tengah keterbatasannya, Sadikin lalu melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kala itu, Sadikin mengambil jurusan psikologi pascagagal mengambil jurusan arsitektur yang ia dambakan dan cita-citakan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, kekurangan yang diberikan Tuhan adalah sebuah kelebihan yang tidak banyak dimiliki oleh orang lain. Kegigihannya dalam belajar melukis menghantarkannya ke Associaton of Mouth and Foot Painting Artist (AMFPA). Sebuah organisasi yang bermarkas di Swiss dan menghimpun karya pelukis yang melukis menggunakan kaki dan mulut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSetelah masuk AMFPA, saya menjadikan melukis sebagai profesi. Tahun 1989 saya menerima 300 swiss franc, setara Rp 300 ribu waktu itu. Kini, saya menerima sekitar 40 jt setiap bulan,\u201d ungkap Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin terus melukis. Kemampuannya terus berkembang, bahkan melebihi tuntutan dari organisasi yang ia ikuti. Nama Sadikin juga mulai dikenal, bukan sebab keterbatasannya, melainkan sebab karyanya yang memang bernilai tinggi.
<\/p>\n\n\n\n

Setiap kali ada pameran lukisan dan kontes-kontes melukis, Sadikin tidak pernah alfa untuk mengikutinya. Karyanya menjadi sorotan publik dan banyak laku dengan harga yang tidak murah. Bahkan menurutnya, ada salah satu lukisannya yang laku hingga Rp 250 juta.<\/p>\n\n\n\n

Menolak Pasrah dan Bergantung kepada Pemerintah karena Disabilitas<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Sadikin tidak mau dikasihani orang lain. Meski ia tunadaksa, ia adalah manusia yang sama, yang memilki kesempatan besar untuk menjalani rutinitas sebagaimana manusia lainnya. \u201cKuncinya adalah terus mencoba, mencoba dan mencoba. Saya tidak apa-apa dicemooh lukisan saya jelek. Bagi saya cemoohan seperti itu adalah cambuk untuk terus berlatih,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Sadikin, masyarakat harus adil memerlakukan para difabel. Difabel harus diperlakukan sebagaimana orang biasa. Semakin banyak orang yang mengasihani difabel, maka tidak malah membuat difabel itu kuat, sebaliknya berdampak melemahkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cDifabel harus diperlakukan seperti manusia biasa, bahkan ia harus diberi tantangan dan ditempa untuk menemukan kelebihan dalam dirinya,\u201d kata Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, para difabel harus mulai mengubah sudut pandang. Bahwa segala kekurangan tidak kemudian menjadikan para difabel pasrah menerima nasib dan mengharapkan santunan dari orang lain dan pemerintah untuk menjalani hidup. Difabel adalah orang istimewa yang dapat berkarya melebihi orang-orang biasa. Kekurangan ini adalah kelebihan yang akan ditemukan dengan kerja keras dan melatih diri menjadi apa yang diinginkan.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin bisa berangkat ke Swiss dan mengharumkan nama Indonesia di mata dunia, tidak terlebih dulu mendapat perhatian dari pemerintah. Ia mengaku berangkat dengan uang sendiri. Bahkan, lanjut Sadikin, hingga kini pun tidak ada pemerintah yang mengapresiasi karya-karyanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak menginginkan belas kasihan dari pemerintah. Karena yang sejatinya benar adalah, kita dapat memberikan apa kepada negara ini, bukan negara dapat memberikan apa kepada kita. Namun yang saya sayangkan, pemerintah sepertinya tidak peduli memperhatikan para seniman dan menghargai karya seni dari para seniman negeri sendiri. Seharusnya para seniman ini diberikan wadah, diperhatikan, kan juga kalau manajemennya bagus bisa menjadi pemasukan untuk negara,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin mengirim pesan kepada seluruh seniman di Tanah Air untuk terus berkaraya, tanpa peduli akan bernilai apa sebuah karya tersebut. \u201cYang terpenting kita dapat mengaktulisasikan diri dan terus melukis dengan niat mengharumkan nama negeri. Teruslah berkarya, karena sejatinya karya adalah yang dibuat dengan kesungguhan dan keikhlasan hati,\u201d pungkas pelukis beranak dua tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Shadikin Pard, Pelukis Tanpa Lengan yang Mengharumkan Bangsa dengan Kedua Kakinya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"shadikin-pard-pelukis-tanpa-lengan-yang-mengharumkan-bangsa-dengan-kedua-kakinya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-16 11:09:38","post_modified_gmt":"2019-04-16 04:09:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5637","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5621,"post_author":"877","post_date":"2019-04-10 10:37:08","post_date_gmt":"2019-04-10 03:37:08","post_content":"\n

Bahasan mengenai hukum menyulut kretek pernah dipertanyakan dalam forum bahtsul masail<\/em> (musyawarah) para Kiai\/Ulama\u2019 Kudus. Pertanyaan (saail<\/em>) yang mengajukan atas nama masyarakat Baletengahan, yaitu dukuh yang masuk wilayah Desa Langgardalem Kecamatan Kota. Tepatnya sekitar + 800an m, arah utara Masjid Menara Kudus (al-Aqsha). Kultur budaya masyarakat Baletengahan adalah santri, terdapat banyak Pesantren dan beberapa madrasah, salah satunya lembaga pendidikan formal TBS (Tasywiqut Thullab Salafiyyah), yaitu lembaga pendidikan salaf yang dahulu salah satu tempat  KH. Arwani Amin al-Hafiz mengajar dan yayasan pendidikan Nawa Kartika, yang didirikan oleh tokoh NU setempat. <\/p>\n\n\n\n

Lain halnya pesantren dan lembaga pendidikan, di sekitar Baletengahan Langgardalem, konon dahulu banyak usaha rumahan kretek. Petilasan yang masih dapat dijumpai di Langgardalem adalah \u201cgudang tembakau dan PR. Buah Cengkeh\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Disini terlihat para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus mempunyai tradisi kritis menyikapi fenomena disekelilingnya. Sehingga wajar pada tahun 1990an muncul bahasan tentang kretek di Bahtsul Masail<\/em> para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, jauh mendahului keputusan MUI dan Muhammadiyyah hasil Padang Panjang, dilaksanakan tahun 2009-2010.<\/p>\n\n\n\n

Tradisi Bahtsul Masail biasa disebut \u201cMunadzoroh<\/em>\u201d sudah lama dilakukan para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, dengan bertempat di Masjid-masjid di sekitar Kudus, bergantian dan memutar. Peserta munadzoroh<\/em> adalah para Kiai\/Ulama\u2019 se-Kabupaten Kudus dari berbagai penjuru desa, dan juga masyarakat umum, karena sifatnya terbuka (siapa saja boleh ikut tanpa terkecuali). Pelaksanaannya dari dulu hingga sekarang dijatuhkan pada hari Ahad (minggu). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat pembahasan mengenai kretek, bertempat di Masji al-Aqsho Menara Kudus yang dipimpin oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), redaksi pertanyaaannya adalah:<\/p>\n\n\n\n

\u201ckados pundi hukumipun ngkretek (bagaimana hukum menghisap kretek)?\u201d<\/em>--pertanyaan dari<\/em> Baletengahan--<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sebelum memulai pembahasan biasanya KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menanyakan tentang apa yang akan dibahas. Diceritakan oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi, situasi dan kondisi saat itu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), bertanya di forum, \u00a0\u201copo iki takonane?\u201d (pertanyaannya apa), di jawab yang hadir saat itu, \u201c anu Mbah bab kretek\u201d (itu bab menghisap kretek), lalu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menyambung jawaban hadirin, \u201coooo, bab kretek, kretekku gowo rene dikik\u201d (ooo, bab menghisap kretek, kretekku bawa kemari dulu), kemudian KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) mengambil satu batang kretek dari bungkusnya disulut dan dihisap. Selesai menyulut kretek, kembali KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) berbicara, \u201cwes kono dibahas\u201d (sudah sana dibahas). Setelah diperintahkan untuk dibahas, suasana hening sejenak. \u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mungkin di benak para hadirin terlintas pikiran \u201capa yang dibahas sudah dijawab secara tersirat oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) dengan menghisap kretek\u201d. Pada akhirnya, pembahasan tetap dilaksanakan. Diceritakan KH. Sya\u2019roni juga, situasi saat itu tidak ada Kiai\/Ulama\u2019 yang hadir menghukumi \u201charam\u201d, pada akhirnya diputuskan KH. Turaikhan, dengan hukum \u201c boleh\u201d, disela-sela KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) memberikan penjelasan, ada salah satu hadirin mengacungkan jarinya, beliau adalah KH. Hambali (Al Maghfurlah), sambil berkata; \u201ckulo Kiai, menawi boten udud kulo mboten saget mucal\u201d (saya Kiai, kalau tidak sambil menghisap kretek, saya tidak dapat mengajar), disertai argumen dan penjelasanannya. Kemudian KH. Turaikhan, memberikan jawaban dan tanggapan kepada KH. Hambali, \u201cnek ngono, kanggo kuwi hukumi wajib\u201d (kalau begitu, untuk kamu hukumnya wajib mengkonsumsi kretek).  <\/p>\n\n\n\n

Dilihat dari putusan Bahtsul Masail di atas, pada awalnya menghisap kretek dihukumi \u201cboleh\u201d, namun dengan kondisi tertentu menjadi \u201cWajib\u201d. Cerita penetapan hukum menghisap kretek dalam forum Bahtsul Masail di atas, telah menyebar di kalangan masyarakat Kudus, dan menjadi konsumsi publik, serta bersifat mengikat sampai sekarang. Sehingga banyak Kiai\/Ulama\u2019 Kudus tidak mempersoalkan lagi, apalagi membahas kembali. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cerita situasi dan kondisi Bahtsul Masail, diapresiasi dan diinterpretasikan Kiai\/Ulama\u2019Kudus lebih kontekstual, salah satunya KH. Fatkhur Rahman, beliau bercerita;  saat KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) populer dengan sebutan Mbah Tur memimpin munadzoroh<\/em> ada pertanyaan: bagaimana hukumnya kretek? Mbah Tur malah mengambil kretek, menyulut dan menghisapnya, dengan begitu diasumsikan hukumnya \u201chalal\u201d (jadi  setelah itu sudah tidak perlu dibahas lagi soal kretek). KH. Fatkhur Rahman juga menceritakan ada satu alasan kuat, mengapa halal, karena para Kiai itu tidak mau barang subhat<\/em> (tidak jelas posisinya), apalagi haram. Ketika para Kiai\/Ulama\u2019 besar menghisap kretek, otomatis tidak haram. Tuhan menciptakan sesuatu untuk dinikmati itu ada dua, halal atau haram. <\/p>\n\n\n\n

Dasar hukum menghisap kretek adalah mubah, sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang menjadi wajib, juga menjadi haram. Dasar utamanya adalah  \u201cla dhororo wala dhiroro\u201d. <\/em>Hukumnya seperti  mengkonsumsi gula, ketika kena penyakit gula, maka haram atau tidak boleh mengkonsumsi gula. Begitu pula ketika punya darah tinggi, maka tidak boleh makan daging, dan seterusnya. Dimana \u201calhukmu yadurru ma\u2019a illatihi\u201d<\/em>(hukum itu bisa beralih tergantung alasannya). Membeli kretek dihukumi tidak boleh (haram), jika uang yang dipakai semestinya untuk belanja kebutuhan pokok, membayar sekolah dan lain sebagainya. Menghisap kretek menjadi wajib, ketika tidak menghisap sulit berpikir, lemas, tidak bisa kerja dan lain sebagainya.
<\/p>\n","post_title":"Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fenomena-hukum-rokok-bagi-ulama-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-10 10:37:16","post_modified_gmt":"2019-04-10 03:37:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5621","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

Paling Populer

\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Penelitian termutakhir yang di sebutkan di atas merupakan penelitian yang bersifat global, lalu bagaimana dengan di Indonesia? Apakah kasus pola makan yang tidak sehat juga menjadi penyebab kematian terbesar?
<\/p>\n\n\n\n

Dalam sebuah artikel yang ditulis oleh Triyani Kresnawan, DCN,Mkes, Instalasi Gizi RSCM dan diterbitkan oleh Departemen Kesehatan Gizi Kementerian Kesehatan menyebutkan, pola makan yang tidak seimbang yang menyebabkan resiko munculnya penyakit kanker antara lain kebiasaan makanan cepat saji (fast food).
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan menjaga keseimbangan dalam pola makan ini juga disampaikan oleh Spesialis Patologi Anatomi dari Rumah Sakit Kanker Dharmais, dr Evalina Suzana. Ia mengatakan pola makan yang sehat merupakan bagian bentuk pencegahan dari penyakit kanker. Di luar dari olahraga yang teratur, minum air, dan tidur yang cukup.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Eva, sebuah pola bisa dibilang sehat jika semua yang masuk ke dalam tubuh seimbang. Tidak boleh berlebihan bukan berarti tidak dimakan sama sekali. Harus terdiri dari 50 persen protein, 30 persen karbohidrat, dan 20 persen lemak dan serat. Itu harus dipenuhi di luar mineral-mineral yang ada.
<\/p>\n\n\n\n

Nah loh, berdasarkan hasil-hasil penelitian yang menyatakan bahwa pola makan tidak sehat merupakan penyebab resiko kematian terbesar, lalu mengapa hanya rokok yang terus-menerus dituduh dalam kampanye kelompok-kelompok antirokok yang mengatasnamakan kesehatan?
<\/p>\n\n\n\n

Untuk memahami hal ini tentunya anda harus mengetahui bahwa terdapat perang bisnis nikotin antara industri farmasi dan industri rokok, atau yang sering kami sebut sebagai \u201cNicotin War\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Maka Anda tak usah heran jika rokok diframing bertentangan dengan kesehatan, karena semua semata hanyalah akal-akalan pihak industri farmasi untuk memenangi pertarungan bisnis nikotin tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Pola Makan Tidak Sehat Membunuhmu","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pola-makan-tidak-sehat-membunuhmu","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-23 12:23:48","post_modified_gmt":"2019-04-23 05:23:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5653","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5637,"post_author":"855","post_date":"2019-04-16 11:07:27","post_date_gmt":"2019-04-16 04:07:27","post_content":"\n

Terlahir sebagai tunadaksa atau tanpa tangan, tidak membuat Shadikin Pard pesimis menjalan hidup. Lebih dari itu, ia berhasil membuktikan bahwa kekurangan bukanlah aral melintang yang mengganjal langkah menuju kesuksesan.<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Hujan sudah reda ketika kaki saya memasuki gerbang Taman Balekambang, Surakarta. Di dalam, di atas tanah yang masih basah, ratusan pelukis dari penjuru negeri sedang sibuk mengaktualisasikan kegelisahan hatinya ke sebuah kanvas. Mereka sedang mengikuti Indonesia Painting Contest 2019 yang diselenggarakan oleh NU Gallery.
<\/p>\n\n\n\n

Saya terus melangkah menyusuri tanah basah yang di samping kanan dan kirinya para pelukis sedang khidmat menggoreskan kuas. Hingga kaki saya terhenti di hadapan pelukis yang berkonsentrasi melukis menggunakan kedua kakinya.
<\/p>\n\n\n\n

Sebatang kuas dijepitkan di antara jemari kaki. Sesekali ia menyelupkan kuas itu ke dalam cat dan kemudian menggoreskannya ke dalam kanvas hingga membentuk sebuah lukisan realis Reog Ponorogo yang indah. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di sampingnya, seorang pemuda yang ternyata anaknya dengan sigap menjalankan instruksi ayahnya, mulai dari mengganti ukuran kuas yang terjepit di antara jemarinya, membuka botol cat dan lain sebagainya. Sesekali anaknya menyalakan rokok dan menyodorkan ke hadapan mulut ayahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Ia melukis Reog Ponorogo bukan tanpa alasan. Ia ingin memberikan kritik kepada seluruh masyarakat dan Pemerintah, bahwa mencintai kekayaan budaya bangsa sendiri adalah kewajiban yang harus selalu digelorakan. Jangan sampai, ketika kebudayaan tersebut direbut negara lain, bangsa ini baru panik dan serius mengakui serta membanggakan kekayaan kebudayaan sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ialah Shadikin Pard, seorang pelukis masyhur yang terlahir tunadaksa atau tanpa kedua tangan. Kami berbincang di bawah pohon beringin rindang. Di antara para pelukis lainnya yang sedang beristirahat menunggu waktu pengumuman pemenang dibacakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pria kelahiran 29 Oktober 1996 ini mulai melukis sejak masih di taman kanak-kanak. Saat itu, melukis hanya sebagai hobi semata. Sadikin juga pernah les privat melukis di rumahnya. Hingga mengenyam pendidikan sekolah menengah atas di SMA Santa Maria Kota Malang, Sadikin masih menempatkan melukis sebagai hobi.
<\/p>\n\n\n\n

Di tengah keterbatasannya, Sadikin lalu melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kala itu, Sadikin mengambil jurusan psikologi pascagagal mengambil jurusan arsitektur yang ia dambakan dan cita-citakan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, kekurangan yang diberikan Tuhan adalah sebuah kelebihan yang tidak banyak dimiliki oleh orang lain. Kegigihannya dalam belajar melukis menghantarkannya ke Associaton of Mouth and Foot Painting Artist (AMFPA). Sebuah organisasi yang bermarkas di Swiss dan menghimpun karya pelukis yang melukis menggunakan kaki dan mulut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSetelah masuk AMFPA, saya menjadikan melukis sebagai profesi. Tahun 1989 saya menerima 300 swiss franc, setara Rp 300 ribu waktu itu. Kini, saya menerima sekitar 40 jt setiap bulan,\u201d ungkap Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin terus melukis. Kemampuannya terus berkembang, bahkan melebihi tuntutan dari organisasi yang ia ikuti. Nama Sadikin juga mulai dikenal, bukan sebab keterbatasannya, melainkan sebab karyanya yang memang bernilai tinggi.
<\/p>\n\n\n\n

Setiap kali ada pameran lukisan dan kontes-kontes melukis, Sadikin tidak pernah alfa untuk mengikutinya. Karyanya menjadi sorotan publik dan banyak laku dengan harga yang tidak murah. Bahkan menurutnya, ada salah satu lukisannya yang laku hingga Rp 250 juta.<\/p>\n\n\n\n

Menolak Pasrah dan Bergantung kepada Pemerintah karena Disabilitas<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Sadikin tidak mau dikasihani orang lain. Meski ia tunadaksa, ia adalah manusia yang sama, yang memilki kesempatan besar untuk menjalani rutinitas sebagaimana manusia lainnya. \u201cKuncinya adalah terus mencoba, mencoba dan mencoba. Saya tidak apa-apa dicemooh lukisan saya jelek. Bagi saya cemoohan seperti itu adalah cambuk untuk terus berlatih,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Sadikin, masyarakat harus adil memerlakukan para difabel. Difabel harus diperlakukan sebagaimana orang biasa. Semakin banyak orang yang mengasihani difabel, maka tidak malah membuat difabel itu kuat, sebaliknya berdampak melemahkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cDifabel harus diperlakukan seperti manusia biasa, bahkan ia harus diberi tantangan dan ditempa untuk menemukan kelebihan dalam dirinya,\u201d kata Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, para difabel harus mulai mengubah sudut pandang. Bahwa segala kekurangan tidak kemudian menjadikan para difabel pasrah menerima nasib dan mengharapkan santunan dari orang lain dan pemerintah untuk menjalani hidup. Difabel adalah orang istimewa yang dapat berkarya melebihi orang-orang biasa. Kekurangan ini adalah kelebihan yang akan ditemukan dengan kerja keras dan melatih diri menjadi apa yang diinginkan.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin bisa berangkat ke Swiss dan mengharumkan nama Indonesia di mata dunia, tidak terlebih dulu mendapat perhatian dari pemerintah. Ia mengaku berangkat dengan uang sendiri. Bahkan, lanjut Sadikin, hingga kini pun tidak ada pemerintah yang mengapresiasi karya-karyanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak menginginkan belas kasihan dari pemerintah. Karena yang sejatinya benar adalah, kita dapat memberikan apa kepada negara ini, bukan negara dapat memberikan apa kepada kita. Namun yang saya sayangkan, pemerintah sepertinya tidak peduli memperhatikan para seniman dan menghargai karya seni dari para seniman negeri sendiri. Seharusnya para seniman ini diberikan wadah, diperhatikan, kan juga kalau manajemennya bagus bisa menjadi pemasukan untuk negara,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin mengirim pesan kepada seluruh seniman di Tanah Air untuk terus berkaraya, tanpa peduli akan bernilai apa sebuah karya tersebut. \u201cYang terpenting kita dapat mengaktulisasikan diri dan terus melukis dengan niat mengharumkan nama negeri. Teruslah berkarya, karena sejatinya karya adalah yang dibuat dengan kesungguhan dan keikhlasan hati,\u201d pungkas pelukis beranak dua tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Shadikin Pard, Pelukis Tanpa Lengan yang Mengharumkan Bangsa dengan Kedua Kakinya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"shadikin-pard-pelukis-tanpa-lengan-yang-mengharumkan-bangsa-dengan-kedua-kakinya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-16 11:09:38","post_modified_gmt":"2019-04-16 04:09:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5637","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5621,"post_author":"877","post_date":"2019-04-10 10:37:08","post_date_gmt":"2019-04-10 03:37:08","post_content":"\n

Bahasan mengenai hukum menyulut kretek pernah dipertanyakan dalam forum bahtsul masail<\/em> (musyawarah) para Kiai\/Ulama\u2019 Kudus. Pertanyaan (saail<\/em>) yang mengajukan atas nama masyarakat Baletengahan, yaitu dukuh yang masuk wilayah Desa Langgardalem Kecamatan Kota. Tepatnya sekitar + 800an m, arah utara Masjid Menara Kudus (al-Aqsha). Kultur budaya masyarakat Baletengahan adalah santri, terdapat banyak Pesantren dan beberapa madrasah, salah satunya lembaga pendidikan formal TBS (Tasywiqut Thullab Salafiyyah), yaitu lembaga pendidikan salaf yang dahulu salah satu tempat  KH. Arwani Amin al-Hafiz mengajar dan yayasan pendidikan Nawa Kartika, yang didirikan oleh tokoh NU setempat. <\/p>\n\n\n\n

Lain halnya pesantren dan lembaga pendidikan, di sekitar Baletengahan Langgardalem, konon dahulu banyak usaha rumahan kretek. Petilasan yang masih dapat dijumpai di Langgardalem adalah \u201cgudang tembakau dan PR. Buah Cengkeh\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Disini terlihat para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus mempunyai tradisi kritis menyikapi fenomena disekelilingnya. Sehingga wajar pada tahun 1990an muncul bahasan tentang kretek di Bahtsul Masail<\/em> para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, jauh mendahului keputusan MUI dan Muhammadiyyah hasil Padang Panjang, dilaksanakan tahun 2009-2010.<\/p>\n\n\n\n

Tradisi Bahtsul Masail biasa disebut \u201cMunadzoroh<\/em>\u201d sudah lama dilakukan para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, dengan bertempat di Masjid-masjid di sekitar Kudus, bergantian dan memutar. Peserta munadzoroh<\/em> adalah para Kiai\/Ulama\u2019 se-Kabupaten Kudus dari berbagai penjuru desa, dan juga masyarakat umum, karena sifatnya terbuka (siapa saja boleh ikut tanpa terkecuali). Pelaksanaannya dari dulu hingga sekarang dijatuhkan pada hari Ahad (minggu). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat pembahasan mengenai kretek, bertempat di Masji al-Aqsho Menara Kudus yang dipimpin oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), redaksi pertanyaaannya adalah:<\/p>\n\n\n\n

\u201ckados pundi hukumipun ngkretek (bagaimana hukum menghisap kretek)?\u201d<\/em>--pertanyaan dari<\/em> Baletengahan--<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sebelum memulai pembahasan biasanya KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menanyakan tentang apa yang akan dibahas. Diceritakan oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi, situasi dan kondisi saat itu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), bertanya di forum, \u00a0\u201copo iki takonane?\u201d (pertanyaannya apa), di jawab yang hadir saat itu, \u201c anu Mbah bab kretek\u201d (itu bab menghisap kretek), lalu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menyambung jawaban hadirin, \u201coooo, bab kretek, kretekku gowo rene dikik\u201d (ooo, bab menghisap kretek, kretekku bawa kemari dulu), kemudian KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) mengambil satu batang kretek dari bungkusnya disulut dan dihisap. Selesai menyulut kretek, kembali KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) berbicara, \u201cwes kono dibahas\u201d (sudah sana dibahas). Setelah diperintahkan untuk dibahas, suasana hening sejenak. \u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mungkin di benak para hadirin terlintas pikiran \u201capa yang dibahas sudah dijawab secara tersirat oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) dengan menghisap kretek\u201d. Pada akhirnya, pembahasan tetap dilaksanakan. Diceritakan KH. Sya\u2019roni juga, situasi saat itu tidak ada Kiai\/Ulama\u2019 yang hadir menghukumi \u201charam\u201d, pada akhirnya diputuskan KH. Turaikhan, dengan hukum \u201c boleh\u201d, disela-sela KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) memberikan penjelasan, ada salah satu hadirin mengacungkan jarinya, beliau adalah KH. Hambali (Al Maghfurlah), sambil berkata; \u201ckulo Kiai, menawi boten udud kulo mboten saget mucal\u201d (saya Kiai, kalau tidak sambil menghisap kretek, saya tidak dapat mengajar), disertai argumen dan penjelasanannya. Kemudian KH. Turaikhan, memberikan jawaban dan tanggapan kepada KH. Hambali, \u201cnek ngono, kanggo kuwi hukumi wajib\u201d (kalau begitu, untuk kamu hukumnya wajib mengkonsumsi kretek).  <\/p>\n\n\n\n

Dilihat dari putusan Bahtsul Masail di atas, pada awalnya menghisap kretek dihukumi \u201cboleh\u201d, namun dengan kondisi tertentu menjadi \u201cWajib\u201d. Cerita penetapan hukum menghisap kretek dalam forum Bahtsul Masail di atas, telah menyebar di kalangan masyarakat Kudus, dan menjadi konsumsi publik, serta bersifat mengikat sampai sekarang. Sehingga banyak Kiai\/Ulama\u2019 Kudus tidak mempersoalkan lagi, apalagi membahas kembali. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cerita situasi dan kondisi Bahtsul Masail, diapresiasi dan diinterpretasikan Kiai\/Ulama\u2019Kudus lebih kontekstual, salah satunya KH. Fatkhur Rahman, beliau bercerita;  saat KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) populer dengan sebutan Mbah Tur memimpin munadzoroh<\/em> ada pertanyaan: bagaimana hukumnya kretek? Mbah Tur malah mengambil kretek, menyulut dan menghisapnya, dengan begitu diasumsikan hukumnya \u201chalal\u201d (jadi  setelah itu sudah tidak perlu dibahas lagi soal kretek). KH. Fatkhur Rahman juga menceritakan ada satu alasan kuat, mengapa halal, karena para Kiai itu tidak mau barang subhat<\/em> (tidak jelas posisinya), apalagi haram. Ketika para Kiai\/Ulama\u2019 besar menghisap kretek, otomatis tidak haram. Tuhan menciptakan sesuatu untuk dinikmati itu ada dua, halal atau haram. <\/p>\n\n\n\n

Dasar hukum menghisap kretek adalah mubah, sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang menjadi wajib, juga menjadi haram. Dasar utamanya adalah  \u201cla dhororo wala dhiroro\u201d. <\/em>Hukumnya seperti  mengkonsumsi gula, ketika kena penyakit gula, maka haram atau tidak boleh mengkonsumsi gula. Begitu pula ketika punya darah tinggi, maka tidak boleh makan daging, dan seterusnya. Dimana \u201calhukmu yadurru ma\u2019a illatihi\u201d<\/em>(hukum itu bisa beralih tergantung alasannya). Membeli kretek dihukumi tidak boleh (haram), jika uang yang dipakai semestinya untuk belanja kebutuhan pokok, membayar sekolah dan lain sebagainya. Menghisap kretek menjadi wajib, ketika tidak menghisap sulit berpikir, lemas, tidak bisa kerja dan lain sebagainya.
<\/p>\n","post_title":"Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fenomena-hukum-rokok-bagi-ulama-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-10 10:37:16","post_modified_gmt":"2019-04-10 03:37:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5621","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

Paling Populer

\n

Sisanya terutama dari kanker dan diabetes tipe 2. Peringkat negara-negara dari tingkat kematian terkait diet terendah ke tertinggi menempatkan Israel pertama, dengan 89 kematian per 100.000 orang, dan Uzbekistan terakhir, dengan 892 per 100.000. Amerika Serikat, dengan 171 kematian per 100.000, berada di posisi ke-43 dan Inggris di peringkat ke-23, dengan 127 kematian per 100.000. India di tempat ke-118, dan Cina di ke-140.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Penelitian termutakhir yang di sebutkan di atas merupakan penelitian yang bersifat global, lalu bagaimana dengan di Indonesia? Apakah kasus pola makan yang tidak sehat juga menjadi penyebab kematian terbesar?
<\/p>\n\n\n\n

Dalam sebuah artikel yang ditulis oleh Triyani Kresnawan, DCN,Mkes, Instalasi Gizi RSCM dan diterbitkan oleh Departemen Kesehatan Gizi Kementerian Kesehatan menyebutkan, pola makan yang tidak seimbang yang menyebabkan resiko munculnya penyakit kanker antara lain kebiasaan makanan cepat saji (fast food).
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan menjaga keseimbangan dalam pola makan ini juga disampaikan oleh Spesialis Patologi Anatomi dari Rumah Sakit Kanker Dharmais, dr Evalina Suzana. Ia mengatakan pola makan yang sehat merupakan bagian bentuk pencegahan dari penyakit kanker. Di luar dari olahraga yang teratur, minum air, dan tidur yang cukup.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Eva, sebuah pola bisa dibilang sehat jika semua yang masuk ke dalam tubuh seimbang. Tidak boleh berlebihan bukan berarti tidak dimakan sama sekali. Harus terdiri dari 50 persen protein, 30 persen karbohidrat, dan 20 persen lemak dan serat. Itu harus dipenuhi di luar mineral-mineral yang ada.
<\/p>\n\n\n\n

Nah loh, berdasarkan hasil-hasil penelitian yang menyatakan bahwa pola makan tidak sehat merupakan penyebab resiko kematian terbesar, lalu mengapa hanya rokok yang terus-menerus dituduh dalam kampanye kelompok-kelompok antirokok yang mengatasnamakan kesehatan?
<\/p>\n\n\n\n

Untuk memahami hal ini tentunya anda harus mengetahui bahwa terdapat perang bisnis nikotin antara industri farmasi dan industri rokok, atau yang sering kami sebut sebagai \u201cNicotin War\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Maka Anda tak usah heran jika rokok diframing bertentangan dengan kesehatan, karena semua semata hanyalah akal-akalan pihak industri farmasi untuk memenangi pertarungan bisnis nikotin tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Pola Makan Tidak Sehat Membunuhmu","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pola-makan-tidak-sehat-membunuhmu","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-23 12:23:48","post_modified_gmt":"2019-04-23 05:23:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5653","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5637,"post_author":"855","post_date":"2019-04-16 11:07:27","post_date_gmt":"2019-04-16 04:07:27","post_content":"\n

Terlahir sebagai tunadaksa atau tanpa tangan, tidak membuat Shadikin Pard pesimis menjalan hidup. Lebih dari itu, ia berhasil membuktikan bahwa kekurangan bukanlah aral melintang yang mengganjal langkah menuju kesuksesan.<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Hujan sudah reda ketika kaki saya memasuki gerbang Taman Balekambang, Surakarta. Di dalam, di atas tanah yang masih basah, ratusan pelukis dari penjuru negeri sedang sibuk mengaktualisasikan kegelisahan hatinya ke sebuah kanvas. Mereka sedang mengikuti Indonesia Painting Contest 2019 yang diselenggarakan oleh NU Gallery.
<\/p>\n\n\n\n

Saya terus melangkah menyusuri tanah basah yang di samping kanan dan kirinya para pelukis sedang khidmat menggoreskan kuas. Hingga kaki saya terhenti di hadapan pelukis yang berkonsentrasi melukis menggunakan kedua kakinya.
<\/p>\n\n\n\n

Sebatang kuas dijepitkan di antara jemari kaki. Sesekali ia menyelupkan kuas itu ke dalam cat dan kemudian menggoreskannya ke dalam kanvas hingga membentuk sebuah lukisan realis Reog Ponorogo yang indah. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di sampingnya, seorang pemuda yang ternyata anaknya dengan sigap menjalankan instruksi ayahnya, mulai dari mengganti ukuran kuas yang terjepit di antara jemarinya, membuka botol cat dan lain sebagainya. Sesekali anaknya menyalakan rokok dan menyodorkan ke hadapan mulut ayahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Ia melukis Reog Ponorogo bukan tanpa alasan. Ia ingin memberikan kritik kepada seluruh masyarakat dan Pemerintah, bahwa mencintai kekayaan budaya bangsa sendiri adalah kewajiban yang harus selalu digelorakan. Jangan sampai, ketika kebudayaan tersebut direbut negara lain, bangsa ini baru panik dan serius mengakui serta membanggakan kekayaan kebudayaan sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ialah Shadikin Pard, seorang pelukis masyhur yang terlahir tunadaksa atau tanpa kedua tangan. Kami berbincang di bawah pohon beringin rindang. Di antara para pelukis lainnya yang sedang beristirahat menunggu waktu pengumuman pemenang dibacakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pria kelahiran 29 Oktober 1996 ini mulai melukis sejak masih di taman kanak-kanak. Saat itu, melukis hanya sebagai hobi semata. Sadikin juga pernah les privat melukis di rumahnya. Hingga mengenyam pendidikan sekolah menengah atas di SMA Santa Maria Kota Malang, Sadikin masih menempatkan melukis sebagai hobi.
<\/p>\n\n\n\n

Di tengah keterbatasannya, Sadikin lalu melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kala itu, Sadikin mengambil jurusan psikologi pascagagal mengambil jurusan arsitektur yang ia dambakan dan cita-citakan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, kekurangan yang diberikan Tuhan adalah sebuah kelebihan yang tidak banyak dimiliki oleh orang lain. Kegigihannya dalam belajar melukis menghantarkannya ke Associaton of Mouth and Foot Painting Artist (AMFPA). Sebuah organisasi yang bermarkas di Swiss dan menghimpun karya pelukis yang melukis menggunakan kaki dan mulut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSetelah masuk AMFPA, saya menjadikan melukis sebagai profesi. Tahun 1989 saya menerima 300 swiss franc, setara Rp 300 ribu waktu itu. Kini, saya menerima sekitar 40 jt setiap bulan,\u201d ungkap Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin terus melukis. Kemampuannya terus berkembang, bahkan melebihi tuntutan dari organisasi yang ia ikuti. Nama Sadikin juga mulai dikenal, bukan sebab keterbatasannya, melainkan sebab karyanya yang memang bernilai tinggi.
<\/p>\n\n\n\n

Setiap kali ada pameran lukisan dan kontes-kontes melukis, Sadikin tidak pernah alfa untuk mengikutinya. Karyanya menjadi sorotan publik dan banyak laku dengan harga yang tidak murah. Bahkan menurutnya, ada salah satu lukisannya yang laku hingga Rp 250 juta.<\/p>\n\n\n\n

Menolak Pasrah dan Bergantung kepada Pemerintah karena Disabilitas<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Sadikin tidak mau dikasihani orang lain. Meski ia tunadaksa, ia adalah manusia yang sama, yang memilki kesempatan besar untuk menjalani rutinitas sebagaimana manusia lainnya. \u201cKuncinya adalah terus mencoba, mencoba dan mencoba. Saya tidak apa-apa dicemooh lukisan saya jelek. Bagi saya cemoohan seperti itu adalah cambuk untuk terus berlatih,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Sadikin, masyarakat harus adil memerlakukan para difabel. Difabel harus diperlakukan sebagaimana orang biasa. Semakin banyak orang yang mengasihani difabel, maka tidak malah membuat difabel itu kuat, sebaliknya berdampak melemahkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cDifabel harus diperlakukan seperti manusia biasa, bahkan ia harus diberi tantangan dan ditempa untuk menemukan kelebihan dalam dirinya,\u201d kata Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, para difabel harus mulai mengubah sudut pandang. Bahwa segala kekurangan tidak kemudian menjadikan para difabel pasrah menerima nasib dan mengharapkan santunan dari orang lain dan pemerintah untuk menjalani hidup. Difabel adalah orang istimewa yang dapat berkarya melebihi orang-orang biasa. Kekurangan ini adalah kelebihan yang akan ditemukan dengan kerja keras dan melatih diri menjadi apa yang diinginkan.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin bisa berangkat ke Swiss dan mengharumkan nama Indonesia di mata dunia, tidak terlebih dulu mendapat perhatian dari pemerintah. Ia mengaku berangkat dengan uang sendiri. Bahkan, lanjut Sadikin, hingga kini pun tidak ada pemerintah yang mengapresiasi karya-karyanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak menginginkan belas kasihan dari pemerintah. Karena yang sejatinya benar adalah, kita dapat memberikan apa kepada negara ini, bukan negara dapat memberikan apa kepada kita. Namun yang saya sayangkan, pemerintah sepertinya tidak peduli memperhatikan para seniman dan menghargai karya seni dari para seniman negeri sendiri. Seharusnya para seniman ini diberikan wadah, diperhatikan, kan juga kalau manajemennya bagus bisa menjadi pemasukan untuk negara,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin mengirim pesan kepada seluruh seniman di Tanah Air untuk terus berkaraya, tanpa peduli akan bernilai apa sebuah karya tersebut. \u201cYang terpenting kita dapat mengaktulisasikan diri dan terus melukis dengan niat mengharumkan nama negeri. Teruslah berkarya, karena sejatinya karya adalah yang dibuat dengan kesungguhan dan keikhlasan hati,\u201d pungkas pelukis beranak dua tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Shadikin Pard, Pelukis Tanpa Lengan yang Mengharumkan Bangsa dengan Kedua Kakinya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"shadikin-pard-pelukis-tanpa-lengan-yang-mengharumkan-bangsa-dengan-kedua-kakinya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-16 11:09:38","post_modified_gmt":"2019-04-16 04:09:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5637","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5621,"post_author":"877","post_date":"2019-04-10 10:37:08","post_date_gmt":"2019-04-10 03:37:08","post_content":"\n

Bahasan mengenai hukum menyulut kretek pernah dipertanyakan dalam forum bahtsul masail<\/em> (musyawarah) para Kiai\/Ulama\u2019 Kudus. Pertanyaan (saail<\/em>) yang mengajukan atas nama masyarakat Baletengahan, yaitu dukuh yang masuk wilayah Desa Langgardalem Kecamatan Kota. Tepatnya sekitar + 800an m, arah utara Masjid Menara Kudus (al-Aqsha). Kultur budaya masyarakat Baletengahan adalah santri, terdapat banyak Pesantren dan beberapa madrasah, salah satunya lembaga pendidikan formal TBS (Tasywiqut Thullab Salafiyyah), yaitu lembaga pendidikan salaf yang dahulu salah satu tempat  KH. Arwani Amin al-Hafiz mengajar dan yayasan pendidikan Nawa Kartika, yang didirikan oleh tokoh NU setempat. <\/p>\n\n\n\n

Lain halnya pesantren dan lembaga pendidikan, di sekitar Baletengahan Langgardalem, konon dahulu banyak usaha rumahan kretek. Petilasan yang masih dapat dijumpai di Langgardalem adalah \u201cgudang tembakau dan PR. Buah Cengkeh\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Disini terlihat para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus mempunyai tradisi kritis menyikapi fenomena disekelilingnya. Sehingga wajar pada tahun 1990an muncul bahasan tentang kretek di Bahtsul Masail<\/em> para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, jauh mendahului keputusan MUI dan Muhammadiyyah hasil Padang Panjang, dilaksanakan tahun 2009-2010.<\/p>\n\n\n\n

Tradisi Bahtsul Masail biasa disebut \u201cMunadzoroh<\/em>\u201d sudah lama dilakukan para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, dengan bertempat di Masjid-masjid di sekitar Kudus, bergantian dan memutar. Peserta munadzoroh<\/em> adalah para Kiai\/Ulama\u2019 se-Kabupaten Kudus dari berbagai penjuru desa, dan juga masyarakat umum, karena sifatnya terbuka (siapa saja boleh ikut tanpa terkecuali). Pelaksanaannya dari dulu hingga sekarang dijatuhkan pada hari Ahad (minggu). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat pembahasan mengenai kretek, bertempat di Masji al-Aqsho Menara Kudus yang dipimpin oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), redaksi pertanyaaannya adalah:<\/p>\n\n\n\n

\u201ckados pundi hukumipun ngkretek (bagaimana hukum menghisap kretek)?\u201d<\/em>--pertanyaan dari<\/em> Baletengahan--<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sebelum memulai pembahasan biasanya KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menanyakan tentang apa yang akan dibahas. Diceritakan oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi, situasi dan kondisi saat itu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), bertanya di forum, \u00a0\u201copo iki takonane?\u201d (pertanyaannya apa), di jawab yang hadir saat itu, \u201c anu Mbah bab kretek\u201d (itu bab menghisap kretek), lalu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menyambung jawaban hadirin, \u201coooo, bab kretek, kretekku gowo rene dikik\u201d (ooo, bab menghisap kretek, kretekku bawa kemari dulu), kemudian KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) mengambil satu batang kretek dari bungkusnya disulut dan dihisap. Selesai menyulut kretek, kembali KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) berbicara, \u201cwes kono dibahas\u201d (sudah sana dibahas). Setelah diperintahkan untuk dibahas, suasana hening sejenak. \u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mungkin di benak para hadirin terlintas pikiran \u201capa yang dibahas sudah dijawab secara tersirat oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) dengan menghisap kretek\u201d. Pada akhirnya, pembahasan tetap dilaksanakan. Diceritakan KH. Sya\u2019roni juga, situasi saat itu tidak ada Kiai\/Ulama\u2019 yang hadir menghukumi \u201charam\u201d, pada akhirnya diputuskan KH. Turaikhan, dengan hukum \u201c boleh\u201d, disela-sela KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) memberikan penjelasan, ada salah satu hadirin mengacungkan jarinya, beliau adalah KH. Hambali (Al Maghfurlah), sambil berkata; \u201ckulo Kiai, menawi boten udud kulo mboten saget mucal\u201d (saya Kiai, kalau tidak sambil menghisap kretek, saya tidak dapat mengajar), disertai argumen dan penjelasanannya. Kemudian KH. Turaikhan, memberikan jawaban dan tanggapan kepada KH. Hambali, \u201cnek ngono, kanggo kuwi hukumi wajib\u201d (kalau begitu, untuk kamu hukumnya wajib mengkonsumsi kretek).  <\/p>\n\n\n\n

Dilihat dari putusan Bahtsul Masail di atas, pada awalnya menghisap kretek dihukumi \u201cboleh\u201d, namun dengan kondisi tertentu menjadi \u201cWajib\u201d. Cerita penetapan hukum menghisap kretek dalam forum Bahtsul Masail di atas, telah menyebar di kalangan masyarakat Kudus, dan menjadi konsumsi publik, serta bersifat mengikat sampai sekarang. Sehingga banyak Kiai\/Ulama\u2019 Kudus tidak mempersoalkan lagi, apalagi membahas kembali. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cerita situasi dan kondisi Bahtsul Masail, diapresiasi dan diinterpretasikan Kiai\/Ulama\u2019Kudus lebih kontekstual, salah satunya KH. Fatkhur Rahman, beliau bercerita;  saat KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) populer dengan sebutan Mbah Tur memimpin munadzoroh<\/em> ada pertanyaan: bagaimana hukumnya kretek? Mbah Tur malah mengambil kretek, menyulut dan menghisapnya, dengan begitu diasumsikan hukumnya \u201chalal\u201d (jadi  setelah itu sudah tidak perlu dibahas lagi soal kretek). KH. Fatkhur Rahman juga menceritakan ada satu alasan kuat, mengapa halal, karena para Kiai itu tidak mau barang subhat<\/em> (tidak jelas posisinya), apalagi haram. Ketika para Kiai\/Ulama\u2019 besar menghisap kretek, otomatis tidak haram. Tuhan menciptakan sesuatu untuk dinikmati itu ada dua, halal atau haram. <\/p>\n\n\n\n

Dasar hukum menghisap kretek adalah mubah, sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang menjadi wajib, juga menjadi haram. Dasar utamanya adalah  \u201cla dhororo wala dhiroro\u201d. <\/em>Hukumnya seperti  mengkonsumsi gula, ketika kena penyakit gula, maka haram atau tidak boleh mengkonsumsi gula. Begitu pula ketika punya darah tinggi, maka tidak boleh makan daging, dan seterusnya. Dimana \u201calhukmu yadurru ma\u2019a illatihi\u201d<\/em>(hukum itu bisa beralih tergantung alasannya). Membeli kretek dihukumi tidak boleh (haram), jika uang yang dipakai semestinya untuk belanja kebutuhan pokok, membayar sekolah dan lain sebagainya. Menghisap kretek menjadi wajib, ketika tidak menghisap sulit berpikir, lemas, tidak bisa kerja dan lain sebagainya.
<\/p>\n","post_title":"Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fenomena-hukum-rokok-bagi-ulama-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-10 10:37:16","post_modified_gmt":"2019-04-10 03:37:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5621","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

Paling Populer

\n

Penelitian lainnya yang bersumber dari Medical News Today, dalam sebuah makalah yang dimuat dalam The Lancet, para peneliti menyimpulkan, pola makan yang buruk menyumbang 1 dari 5, atau 11 juta, kematian orang dewasa pada tahun 2017. Sebagian besar dari kematian itu, sekitar 10 juta, berasal dari penyakit kardiovaskular.
<\/p>\n\n\n\n

Sisanya terutama dari kanker dan diabetes tipe 2. Peringkat negara-negara dari tingkat kematian terkait diet terendah ke tertinggi menempatkan Israel pertama, dengan 89 kematian per 100.000 orang, dan Uzbekistan terakhir, dengan 892 per 100.000. Amerika Serikat, dengan 171 kematian per 100.000, berada di posisi ke-43 dan Inggris di peringkat ke-23, dengan 127 kematian per 100.000. India di tempat ke-118, dan Cina di ke-140.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Penelitian termutakhir yang di sebutkan di atas merupakan penelitian yang bersifat global, lalu bagaimana dengan di Indonesia? Apakah kasus pola makan yang tidak sehat juga menjadi penyebab kematian terbesar?
<\/p>\n\n\n\n

Dalam sebuah artikel yang ditulis oleh Triyani Kresnawan, DCN,Mkes, Instalasi Gizi RSCM dan diterbitkan oleh Departemen Kesehatan Gizi Kementerian Kesehatan menyebutkan, pola makan yang tidak seimbang yang menyebabkan resiko munculnya penyakit kanker antara lain kebiasaan makanan cepat saji (fast food).
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan menjaga keseimbangan dalam pola makan ini juga disampaikan oleh Spesialis Patologi Anatomi dari Rumah Sakit Kanker Dharmais, dr Evalina Suzana. Ia mengatakan pola makan yang sehat merupakan bagian bentuk pencegahan dari penyakit kanker. Di luar dari olahraga yang teratur, minum air, dan tidur yang cukup.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Eva, sebuah pola bisa dibilang sehat jika semua yang masuk ke dalam tubuh seimbang. Tidak boleh berlebihan bukan berarti tidak dimakan sama sekali. Harus terdiri dari 50 persen protein, 30 persen karbohidrat, dan 20 persen lemak dan serat. Itu harus dipenuhi di luar mineral-mineral yang ada.
<\/p>\n\n\n\n

Nah loh, berdasarkan hasil-hasil penelitian yang menyatakan bahwa pola makan tidak sehat merupakan penyebab resiko kematian terbesar, lalu mengapa hanya rokok yang terus-menerus dituduh dalam kampanye kelompok-kelompok antirokok yang mengatasnamakan kesehatan?
<\/p>\n\n\n\n

Untuk memahami hal ini tentunya anda harus mengetahui bahwa terdapat perang bisnis nikotin antara industri farmasi dan industri rokok, atau yang sering kami sebut sebagai \u201cNicotin War\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Maka Anda tak usah heran jika rokok diframing bertentangan dengan kesehatan, karena semua semata hanyalah akal-akalan pihak industri farmasi untuk memenangi pertarungan bisnis nikotin tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Pola Makan Tidak Sehat Membunuhmu","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pola-makan-tidak-sehat-membunuhmu","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-23 12:23:48","post_modified_gmt":"2019-04-23 05:23:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5653","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5637,"post_author":"855","post_date":"2019-04-16 11:07:27","post_date_gmt":"2019-04-16 04:07:27","post_content":"\n

Terlahir sebagai tunadaksa atau tanpa tangan, tidak membuat Shadikin Pard pesimis menjalan hidup. Lebih dari itu, ia berhasil membuktikan bahwa kekurangan bukanlah aral melintang yang mengganjal langkah menuju kesuksesan.<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Hujan sudah reda ketika kaki saya memasuki gerbang Taman Balekambang, Surakarta. Di dalam, di atas tanah yang masih basah, ratusan pelukis dari penjuru negeri sedang sibuk mengaktualisasikan kegelisahan hatinya ke sebuah kanvas. Mereka sedang mengikuti Indonesia Painting Contest 2019 yang diselenggarakan oleh NU Gallery.
<\/p>\n\n\n\n

Saya terus melangkah menyusuri tanah basah yang di samping kanan dan kirinya para pelukis sedang khidmat menggoreskan kuas. Hingga kaki saya terhenti di hadapan pelukis yang berkonsentrasi melukis menggunakan kedua kakinya.
<\/p>\n\n\n\n

Sebatang kuas dijepitkan di antara jemari kaki. Sesekali ia menyelupkan kuas itu ke dalam cat dan kemudian menggoreskannya ke dalam kanvas hingga membentuk sebuah lukisan realis Reog Ponorogo yang indah. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di sampingnya, seorang pemuda yang ternyata anaknya dengan sigap menjalankan instruksi ayahnya, mulai dari mengganti ukuran kuas yang terjepit di antara jemarinya, membuka botol cat dan lain sebagainya. Sesekali anaknya menyalakan rokok dan menyodorkan ke hadapan mulut ayahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Ia melukis Reog Ponorogo bukan tanpa alasan. Ia ingin memberikan kritik kepada seluruh masyarakat dan Pemerintah, bahwa mencintai kekayaan budaya bangsa sendiri adalah kewajiban yang harus selalu digelorakan. Jangan sampai, ketika kebudayaan tersebut direbut negara lain, bangsa ini baru panik dan serius mengakui serta membanggakan kekayaan kebudayaan sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ialah Shadikin Pard, seorang pelukis masyhur yang terlahir tunadaksa atau tanpa kedua tangan. Kami berbincang di bawah pohon beringin rindang. Di antara para pelukis lainnya yang sedang beristirahat menunggu waktu pengumuman pemenang dibacakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pria kelahiran 29 Oktober 1996 ini mulai melukis sejak masih di taman kanak-kanak. Saat itu, melukis hanya sebagai hobi semata. Sadikin juga pernah les privat melukis di rumahnya. Hingga mengenyam pendidikan sekolah menengah atas di SMA Santa Maria Kota Malang, Sadikin masih menempatkan melukis sebagai hobi.
<\/p>\n\n\n\n

Di tengah keterbatasannya, Sadikin lalu melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kala itu, Sadikin mengambil jurusan psikologi pascagagal mengambil jurusan arsitektur yang ia dambakan dan cita-citakan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, kekurangan yang diberikan Tuhan adalah sebuah kelebihan yang tidak banyak dimiliki oleh orang lain. Kegigihannya dalam belajar melukis menghantarkannya ke Associaton of Mouth and Foot Painting Artist (AMFPA). Sebuah organisasi yang bermarkas di Swiss dan menghimpun karya pelukis yang melukis menggunakan kaki dan mulut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSetelah masuk AMFPA, saya menjadikan melukis sebagai profesi. Tahun 1989 saya menerima 300 swiss franc, setara Rp 300 ribu waktu itu. Kini, saya menerima sekitar 40 jt setiap bulan,\u201d ungkap Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin terus melukis. Kemampuannya terus berkembang, bahkan melebihi tuntutan dari organisasi yang ia ikuti. Nama Sadikin juga mulai dikenal, bukan sebab keterbatasannya, melainkan sebab karyanya yang memang bernilai tinggi.
<\/p>\n\n\n\n

Setiap kali ada pameran lukisan dan kontes-kontes melukis, Sadikin tidak pernah alfa untuk mengikutinya. Karyanya menjadi sorotan publik dan banyak laku dengan harga yang tidak murah. Bahkan menurutnya, ada salah satu lukisannya yang laku hingga Rp 250 juta.<\/p>\n\n\n\n

Menolak Pasrah dan Bergantung kepada Pemerintah karena Disabilitas<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Sadikin tidak mau dikasihani orang lain. Meski ia tunadaksa, ia adalah manusia yang sama, yang memilki kesempatan besar untuk menjalani rutinitas sebagaimana manusia lainnya. \u201cKuncinya adalah terus mencoba, mencoba dan mencoba. Saya tidak apa-apa dicemooh lukisan saya jelek. Bagi saya cemoohan seperti itu adalah cambuk untuk terus berlatih,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Sadikin, masyarakat harus adil memerlakukan para difabel. Difabel harus diperlakukan sebagaimana orang biasa. Semakin banyak orang yang mengasihani difabel, maka tidak malah membuat difabel itu kuat, sebaliknya berdampak melemahkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cDifabel harus diperlakukan seperti manusia biasa, bahkan ia harus diberi tantangan dan ditempa untuk menemukan kelebihan dalam dirinya,\u201d kata Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, para difabel harus mulai mengubah sudut pandang. Bahwa segala kekurangan tidak kemudian menjadikan para difabel pasrah menerima nasib dan mengharapkan santunan dari orang lain dan pemerintah untuk menjalani hidup. Difabel adalah orang istimewa yang dapat berkarya melebihi orang-orang biasa. Kekurangan ini adalah kelebihan yang akan ditemukan dengan kerja keras dan melatih diri menjadi apa yang diinginkan.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin bisa berangkat ke Swiss dan mengharumkan nama Indonesia di mata dunia, tidak terlebih dulu mendapat perhatian dari pemerintah. Ia mengaku berangkat dengan uang sendiri. Bahkan, lanjut Sadikin, hingga kini pun tidak ada pemerintah yang mengapresiasi karya-karyanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak menginginkan belas kasihan dari pemerintah. Karena yang sejatinya benar adalah, kita dapat memberikan apa kepada negara ini, bukan negara dapat memberikan apa kepada kita. Namun yang saya sayangkan, pemerintah sepertinya tidak peduli memperhatikan para seniman dan menghargai karya seni dari para seniman negeri sendiri. Seharusnya para seniman ini diberikan wadah, diperhatikan, kan juga kalau manajemennya bagus bisa menjadi pemasukan untuk negara,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin mengirim pesan kepada seluruh seniman di Tanah Air untuk terus berkaraya, tanpa peduli akan bernilai apa sebuah karya tersebut. \u201cYang terpenting kita dapat mengaktulisasikan diri dan terus melukis dengan niat mengharumkan nama negeri. Teruslah berkarya, karena sejatinya karya adalah yang dibuat dengan kesungguhan dan keikhlasan hati,\u201d pungkas pelukis beranak dua tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Shadikin Pard, Pelukis Tanpa Lengan yang Mengharumkan Bangsa dengan Kedua Kakinya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"shadikin-pard-pelukis-tanpa-lengan-yang-mengharumkan-bangsa-dengan-kedua-kakinya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-16 11:09:38","post_modified_gmt":"2019-04-16 04:09:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5637","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5621,"post_author":"877","post_date":"2019-04-10 10:37:08","post_date_gmt":"2019-04-10 03:37:08","post_content":"\n

Bahasan mengenai hukum menyulut kretek pernah dipertanyakan dalam forum bahtsul masail<\/em> (musyawarah) para Kiai\/Ulama\u2019 Kudus. Pertanyaan (saail<\/em>) yang mengajukan atas nama masyarakat Baletengahan, yaitu dukuh yang masuk wilayah Desa Langgardalem Kecamatan Kota. Tepatnya sekitar + 800an m, arah utara Masjid Menara Kudus (al-Aqsha). Kultur budaya masyarakat Baletengahan adalah santri, terdapat banyak Pesantren dan beberapa madrasah, salah satunya lembaga pendidikan formal TBS (Tasywiqut Thullab Salafiyyah), yaitu lembaga pendidikan salaf yang dahulu salah satu tempat  KH. Arwani Amin al-Hafiz mengajar dan yayasan pendidikan Nawa Kartika, yang didirikan oleh tokoh NU setempat. <\/p>\n\n\n\n

Lain halnya pesantren dan lembaga pendidikan, di sekitar Baletengahan Langgardalem, konon dahulu banyak usaha rumahan kretek. Petilasan yang masih dapat dijumpai di Langgardalem adalah \u201cgudang tembakau dan PR. Buah Cengkeh\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Disini terlihat para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus mempunyai tradisi kritis menyikapi fenomena disekelilingnya. Sehingga wajar pada tahun 1990an muncul bahasan tentang kretek di Bahtsul Masail<\/em> para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, jauh mendahului keputusan MUI dan Muhammadiyyah hasil Padang Panjang, dilaksanakan tahun 2009-2010.<\/p>\n\n\n\n

Tradisi Bahtsul Masail biasa disebut \u201cMunadzoroh<\/em>\u201d sudah lama dilakukan para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, dengan bertempat di Masjid-masjid di sekitar Kudus, bergantian dan memutar. Peserta munadzoroh<\/em> adalah para Kiai\/Ulama\u2019 se-Kabupaten Kudus dari berbagai penjuru desa, dan juga masyarakat umum, karena sifatnya terbuka (siapa saja boleh ikut tanpa terkecuali). Pelaksanaannya dari dulu hingga sekarang dijatuhkan pada hari Ahad (minggu). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat pembahasan mengenai kretek, bertempat di Masji al-Aqsho Menara Kudus yang dipimpin oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), redaksi pertanyaaannya adalah:<\/p>\n\n\n\n

\u201ckados pundi hukumipun ngkretek (bagaimana hukum menghisap kretek)?\u201d<\/em>--pertanyaan dari<\/em> Baletengahan--<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sebelum memulai pembahasan biasanya KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menanyakan tentang apa yang akan dibahas. Diceritakan oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi, situasi dan kondisi saat itu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), bertanya di forum, \u00a0\u201copo iki takonane?\u201d (pertanyaannya apa), di jawab yang hadir saat itu, \u201c anu Mbah bab kretek\u201d (itu bab menghisap kretek), lalu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menyambung jawaban hadirin, \u201coooo, bab kretek, kretekku gowo rene dikik\u201d (ooo, bab menghisap kretek, kretekku bawa kemari dulu), kemudian KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) mengambil satu batang kretek dari bungkusnya disulut dan dihisap. Selesai menyulut kretek, kembali KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) berbicara, \u201cwes kono dibahas\u201d (sudah sana dibahas). Setelah diperintahkan untuk dibahas, suasana hening sejenak. \u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mungkin di benak para hadirin terlintas pikiran \u201capa yang dibahas sudah dijawab secara tersirat oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) dengan menghisap kretek\u201d. Pada akhirnya, pembahasan tetap dilaksanakan. Diceritakan KH. Sya\u2019roni juga, situasi saat itu tidak ada Kiai\/Ulama\u2019 yang hadir menghukumi \u201charam\u201d, pada akhirnya diputuskan KH. Turaikhan, dengan hukum \u201c boleh\u201d, disela-sela KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) memberikan penjelasan, ada salah satu hadirin mengacungkan jarinya, beliau adalah KH. Hambali (Al Maghfurlah), sambil berkata; \u201ckulo Kiai, menawi boten udud kulo mboten saget mucal\u201d (saya Kiai, kalau tidak sambil menghisap kretek, saya tidak dapat mengajar), disertai argumen dan penjelasanannya. Kemudian KH. Turaikhan, memberikan jawaban dan tanggapan kepada KH. Hambali, \u201cnek ngono, kanggo kuwi hukumi wajib\u201d (kalau begitu, untuk kamu hukumnya wajib mengkonsumsi kretek).  <\/p>\n\n\n\n

Dilihat dari putusan Bahtsul Masail di atas, pada awalnya menghisap kretek dihukumi \u201cboleh\u201d, namun dengan kondisi tertentu menjadi \u201cWajib\u201d. Cerita penetapan hukum menghisap kretek dalam forum Bahtsul Masail di atas, telah menyebar di kalangan masyarakat Kudus, dan menjadi konsumsi publik, serta bersifat mengikat sampai sekarang. Sehingga banyak Kiai\/Ulama\u2019 Kudus tidak mempersoalkan lagi, apalagi membahas kembali. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cerita situasi dan kondisi Bahtsul Masail, diapresiasi dan diinterpretasikan Kiai\/Ulama\u2019Kudus lebih kontekstual, salah satunya KH. Fatkhur Rahman, beliau bercerita;  saat KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) populer dengan sebutan Mbah Tur memimpin munadzoroh<\/em> ada pertanyaan: bagaimana hukumnya kretek? Mbah Tur malah mengambil kretek, menyulut dan menghisapnya, dengan begitu diasumsikan hukumnya \u201chalal\u201d (jadi  setelah itu sudah tidak perlu dibahas lagi soal kretek). KH. Fatkhur Rahman juga menceritakan ada satu alasan kuat, mengapa halal, karena para Kiai itu tidak mau barang subhat<\/em> (tidak jelas posisinya), apalagi haram. Ketika para Kiai\/Ulama\u2019 besar menghisap kretek, otomatis tidak haram. Tuhan menciptakan sesuatu untuk dinikmati itu ada dua, halal atau haram. <\/p>\n\n\n\n

Dasar hukum menghisap kretek adalah mubah, sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang menjadi wajib, juga menjadi haram. Dasar utamanya adalah  \u201cla dhororo wala dhiroro\u201d. <\/em>Hukumnya seperti  mengkonsumsi gula, ketika kena penyakit gula, maka haram atau tidak boleh mengkonsumsi gula. Begitu pula ketika punya darah tinggi, maka tidak boleh makan daging, dan seterusnya. Dimana \u201calhukmu yadurru ma\u2019a illatihi\u201d<\/em>(hukum itu bisa beralih tergantung alasannya). Membeli kretek dihukumi tidak boleh (haram), jika uang yang dipakai semestinya untuk belanja kebutuhan pokok, membayar sekolah dan lain sebagainya. Menghisap kretek menjadi wajib, ketika tidak menghisap sulit berpikir, lemas, tidak bisa kerja dan lain sebagainya.
<\/p>\n","post_title":"Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fenomena-hukum-rokok-bagi-ulama-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-10 10:37:16","post_modified_gmt":"2019-04-10 03:37:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5621","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

Paling Populer

\n

Berdasarkan Studi Global Burden of Disease yang mengamati konsumsi makanan di 195 negara, antara tahun 1990 dan 2017, fokus pada 15 jenis makanan atau nutrisi mengamini pola makan tidak sehat adalah penyebab terbesar kematian manusia.
<\/p>\n\n\n\n

Penelitian lainnya yang bersumber dari Medical News Today, dalam sebuah makalah yang dimuat dalam The Lancet, para peneliti menyimpulkan, pola makan yang buruk menyumbang 1 dari 5, atau 11 juta, kematian orang dewasa pada tahun 2017. Sebagian besar dari kematian itu, sekitar 10 juta, berasal dari penyakit kardiovaskular.
<\/p>\n\n\n\n

Sisanya terutama dari kanker dan diabetes tipe 2. Peringkat negara-negara dari tingkat kematian terkait diet terendah ke tertinggi menempatkan Israel pertama, dengan 89 kematian per 100.000 orang, dan Uzbekistan terakhir, dengan 892 per 100.000. Amerika Serikat, dengan 171 kematian per 100.000, berada di posisi ke-43 dan Inggris di peringkat ke-23, dengan 127 kematian per 100.000. India di tempat ke-118, dan Cina di ke-140.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Penelitian termutakhir yang di sebutkan di atas merupakan penelitian yang bersifat global, lalu bagaimana dengan di Indonesia? Apakah kasus pola makan yang tidak sehat juga menjadi penyebab kematian terbesar?
<\/p>\n\n\n\n

Dalam sebuah artikel yang ditulis oleh Triyani Kresnawan, DCN,Mkes, Instalasi Gizi RSCM dan diterbitkan oleh Departemen Kesehatan Gizi Kementerian Kesehatan menyebutkan, pola makan yang tidak seimbang yang menyebabkan resiko munculnya penyakit kanker antara lain kebiasaan makanan cepat saji (fast food).
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan menjaga keseimbangan dalam pola makan ini juga disampaikan oleh Spesialis Patologi Anatomi dari Rumah Sakit Kanker Dharmais, dr Evalina Suzana. Ia mengatakan pola makan yang sehat merupakan bagian bentuk pencegahan dari penyakit kanker. Di luar dari olahraga yang teratur, minum air, dan tidur yang cukup.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Eva, sebuah pola bisa dibilang sehat jika semua yang masuk ke dalam tubuh seimbang. Tidak boleh berlebihan bukan berarti tidak dimakan sama sekali. Harus terdiri dari 50 persen protein, 30 persen karbohidrat, dan 20 persen lemak dan serat. Itu harus dipenuhi di luar mineral-mineral yang ada.
<\/p>\n\n\n\n

Nah loh, berdasarkan hasil-hasil penelitian yang menyatakan bahwa pola makan tidak sehat merupakan penyebab resiko kematian terbesar, lalu mengapa hanya rokok yang terus-menerus dituduh dalam kampanye kelompok-kelompok antirokok yang mengatasnamakan kesehatan?
<\/p>\n\n\n\n

Untuk memahami hal ini tentunya anda harus mengetahui bahwa terdapat perang bisnis nikotin antara industri farmasi dan industri rokok, atau yang sering kami sebut sebagai \u201cNicotin War\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Maka Anda tak usah heran jika rokok diframing bertentangan dengan kesehatan, karena semua semata hanyalah akal-akalan pihak industri farmasi untuk memenangi pertarungan bisnis nikotin tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Pola Makan Tidak Sehat Membunuhmu","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pola-makan-tidak-sehat-membunuhmu","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-23 12:23:48","post_modified_gmt":"2019-04-23 05:23:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5653","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5637,"post_author":"855","post_date":"2019-04-16 11:07:27","post_date_gmt":"2019-04-16 04:07:27","post_content":"\n

Terlahir sebagai tunadaksa atau tanpa tangan, tidak membuat Shadikin Pard pesimis menjalan hidup. Lebih dari itu, ia berhasil membuktikan bahwa kekurangan bukanlah aral melintang yang mengganjal langkah menuju kesuksesan.<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Hujan sudah reda ketika kaki saya memasuki gerbang Taman Balekambang, Surakarta. Di dalam, di atas tanah yang masih basah, ratusan pelukis dari penjuru negeri sedang sibuk mengaktualisasikan kegelisahan hatinya ke sebuah kanvas. Mereka sedang mengikuti Indonesia Painting Contest 2019 yang diselenggarakan oleh NU Gallery.
<\/p>\n\n\n\n

Saya terus melangkah menyusuri tanah basah yang di samping kanan dan kirinya para pelukis sedang khidmat menggoreskan kuas. Hingga kaki saya terhenti di hadapan pelukis yang berkonsentrasi melukis menggunakan kedua kakinya.
<\/p>\n\n\n\n

Sebatang kuas dijepitkan di antara jemari kaki. Sesekali ia menyelupkan kuas itu ke dalam cat dan kemudian menggoreskannya ke dalam kanvas hingga membentuk sebuah lukisan realis Reog Ponorogo yang indah. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di sampingnya, seorang pemuda yang ternyata anaknya dengan sigap menjalankan instruksi ayahnya, mulai dari mengganti ukuran kuas yang terjepit di antara jemarinya, membuka botol cat dan lain sebagainya. Sesekali anaknya menyalakan rokok dan menyodorkan ke hadapan mulut ayahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Ia melukis Reog Ponorogo bukan tanpa alasan. Ia ingin memberikan kritik kepada seluruh masyarakat dan Pemerintah, bahwa mencintai kekayaan budaya bangsa sendiri adalah kewajiban yang harus selalu digelorakan. Jangan sampai, ketika kebudayaan tersebut direbut negara lain, bangsa ini baru panik dan serius mengakui serta membanggakan kekayaan kebudayaan sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ialah Shadikin Pard, seorang pelukis masyhur yang terlahir tunadaksa atau tanpa kedua tangan. Kami berbincang di bawah pohon beringin rindang. Di antara para pelukis lainnya yang sedang beristirahat menunggu waktu pengumuman pemenang dibacakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pria kelahiran 29 Oktober 1996 ini mulai melukis sejak masih di taman kanak-kanak. Saat itu, melukis hanya sebagai hobi semata. Sadikin juga pernah les privat melukis di rumahnya. Hingga mengenyam pendidikan sekolah menengah atas di SMA Santa Maria Kota Malang, Sadikin masih menempatkan melukis sebagai hobi.
<\/p>\n\n\n\n

Di tengah keterbatasannya, Sadikin lalu melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kala itu, Sadikin mengambil jurusan psikologi pascagagal mengambil jurusan arsitektur yang ia dambakan dan cita-citakan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, kekurangan yang diberikan Tuhan adalah sebuah kelebihan yang tidak banyak dimiliki oleh orang lain. Kegigihannya dalam belajar melukis menghantarkannya ke Associaton of Mouth and Foot Painting Artist (AMFPA). Sebuah organisasi yang bermarkas di Swiss dan menghimpun karya pelukis yang melukis menggunakan kaki dan mulut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSetelah masuk AMFPA, saya menjadikan melukis sebagai profesi. Tahun 1989 saya menerima 300 swiss franc, setara Rp 300 ribu waktu itu. Kini, saya menerima sekitar 40 jt setiap bulan,\u201d ungkap Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin terus melukis. Kemampuannya terus berkembang, bahkan melebihi tuntutan dari organisasi yang ia ikuti. Nama Sadikin juga mulai dikenal, bukan sebab keterbatasannya, melainkan sebab karyanya yang memang bernilai tinggi.
<\/p>\n\n\n\n

Setiap kali ada pameran lukisan dan kontes-kontes melukis, Sadikin tidak pernah alfa untuk mengikutinya. Karyanya menjadi sorotan publik dan banyak laku dengan harga yang tidak murah. Bahkan menurutnya, ada salah satu lukisannya yang laku hingga Rp 250 juta.<\/p>\n\n\n\n

Menolak Pasrah dan Bergantung kepada Pemerintah karena Disabilitas<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Sadikin tidak mau dikasihani orang lain. Meski ia tunadaksa, ia adalah manusia yang sama, yang memilki kesempatan besar untuk menjalani rutinitas sebagaimana manusia lainnya. \u201cKuncinya adalah terus mencoba, mencoba dan mencoba. Saya tidak apa-apa dicemooh lukisan saya jelek. Bagi saya cemoohan seperti itu adalah cambuk untuk terus berlatih,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Sadikin, masyarakat harus adil memerlakukan para difabel. Difabel harus diperlakukan sebagaimana orang biasa. Semakin banyak orang yang mengasihani difabel, maka tidak malah membuat difabel itu kuat, sebaliknya berdampak melemahkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cDifabel harus diperlakukan seperti manusia biasa, bahkan ia harus diberi tantangan dan ditempa untuk menemukan kelebihan dalam dirinya,\u201d kata Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, para difabel harus mulai mengubah sudut pandang. Bahwa segala kekurangan tidak kemudian menjadikan para difabel pasrah menerima nasib dan mengharapkan santunan dari orang lain dan pemerintah untuk menjalani hidup. Difabel adalah orang istimewa yang dapat berkarya melebihi orang-orang biasa. Kekurangan ini adalah kelebihan yang akan ditemukan dengan kerja keras dan melatih diri menjadi apa yang diinginkan.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin bisa berangkat ke Swiss dan mengharumkan nama Indonesia di mata dunia, tidak terlebih dulu mendapat perhatian dari pemerintah. Ia mengaku berangkat dengan uang sendiri. Bahkan, lanjut Sadikin, hingga kini pun tidak ada pemerintah yang mengapresiasi karya-karyanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak menginginkan belas kasihan dari pemerintah. Karena yang sejatinya benar adalah, kita dapat memberikan apa kepada negara ini, bukan negara dapat memberikan apa kepada kita. Namun yang saya sayangkan, pemerintah sepertinya tidak peduli memperhatikan para seniman dan menghargai karya seni dari para seniman negeri sendiri. Seharusnya para seniman ini diberikan wadah, diperhatikan, kan juga kalau manajemennya bagus bisa menjadi pemasukan untuk negara,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin mengirim pesan kepada seluruh seniman di Tanah Air untuk terus berkaraya, tanpa peduli akan bernilai apa sebuah karya tersebut. \u201cYang terpenting kita dapat mengaktulisasikan diri dan terus melukis dengan niat mengharumkan nama negeri. Teruslah berkarya, karena sejatinya karya adalah yang dibuat dengan kesungguhan dan keikhlasan hati,\u201d pungkas pelukis beranak dua tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Shadikin Pard, Pelukis Tanpa Lengan yang Mengharumkan Bangsa dengan Kedua Kakinya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"shadikin-pard-pelukis-tanpa-lengan-yang-mengharumkan-bangsa-dengan-kedua-kakinya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-16 11:09:38","post_modified_gmt":"2019-04-16 04:09:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5637","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5621,"post_author":"877","post_date":"2019-04-10 10:37:08","post_date_gmt":"2019-04-10 03:37:08","post_content":"\n

Bahasan mengenai hukum menyulut kretek pernah dipertanyakan dalam forum bahtsul masail<\/em> (musyawarah) para Kiai\/Ulama\u2019 Kudus. Pertanyaan (saail<\/em>) yang mengajukan atas nama masyarakat Baletengahan, yaitu dukuh yang masuk wilayah Desa Langgardalem Kecamatan Kota. Tepatnya sekitar + 800an m, arah utara Masjid Menara Kudus (al-Aqsha). Kultur budaya masyarakat Baletengahan adalah santri, terdapat banyak Pesantren dan beberapa madrasah, salah satunya lembaga pendidikan formal TBS (Tasywiqut Thullab Salafiyyah), yaitu lembaga pendidikan salaf yang dahulu salah satu tempat  KH. Arwani Amin al-Hafiz mengajar dan yayasan pendidikan Nawa Kartika, yang didirikan oleh tokoh NU setempat. <\/p>\n\n\n\n

Lain halnya pesantren dan lembaga pendidikan, di sekitar Baletengahan Langgardalem, konon dahulu banyak usaha rumahan kretek. Petilasan yang masih dapat dijumpai di Langgardalem adalah \u201cgudang tembakau dan PR. Buah Cengkeh\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Disini terlihat para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus mempunyai tradisi kritis menyikapi fenomena disekelilingnya. Sehingga wajar pada tahun 1990an muncul bahasan tentang kretek di Bahtsul Masail<\/em> para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, jauh mendahului keputusan MUI dan Muhammadiyyah hasil Padang Panjang, dilaksanakan tahun 2009-2010.<\/p>\n\n\n\n

Tradisi Bahtsul Masail biasa disebut \u201cMunadzoroh<\/em>\u201d sudah lama dilakukan para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, dengan bertempat di Masjid-masjid di sekitar Kudus, bergantian dan memutar. Peserta munadzoroh<\/em> adalah para Kiai\/Ulama\u2019 se-Kabupaten Kudus dari berbagai penjuru desa, dan juga masyarakat umum, karena sifatnya terbuka (siapa saja boleh ikut tanpa terkecuali). Pelaksanaannya dari dulu hingga sekarang dijatuhkan pada hari Ahad (minggu). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat pembahasan mengenai kretek, bertempat di Masji al-Aqsho Menara Kudus yang dipimpin oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), redaksi pertanyaaannya adalah:<\/p>\n\n\n\n

\u201ckados pundi hukumipun ngkretek (bagaimana hukum menghisap kretek)?\u201d<\/em>--pertanyaan dari<\/em> Baletengahan--<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sebelum memulai pembahasan biasanya KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menanyakan tentang apa yang akan dibahas. Diceritakan oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi, situasi dan kondisi saat itu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), bertanya di forum, \u00a0\u201copo iki takonane?\u201d (pertanyaannya apa), di jawab yang hadir saat itu, \u201c anu Mbah bab kretek\u201d (itu bab menghisap kretek), lalu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menyambung jawaban hadirin, \u201coooo, bab kretek, kretekku gowo rene dikik\u201d (ooo, bab menghisap kretek, kretekku bawa kemari dulu), kemudian KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) mengambil satu batang kretek dari bungkusnya disulut dan dihisap. Selesai menyulut kretek, kembali KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) berbicara, \u201cwes kono dibahas\u201d (sudah sana dibahas). Setelah diperintahkan untuk dibahas, suasana hening sejenak. \u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mungkin di benak para hadirin terlintas pikiran \u201capa yang dibahas sudah dijawab secara tersirat oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) dengan menghisap kretek\u201d. Pada akhirnya, pembahasan tetap dilaksanakan. Diceritakan KH. Sya\u2019roni juga, situasi saat itu tidak ada Kiai\/Ulama\u2019 yang hadir menghukumi \u201charam\u201d, pada akhirnya diputuskan KH. Turaikhan, dengan hukum \u201c boleh\u201d, disela-sela KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) memberikan penjelasan, ada salah satu hadirin mengacungkan jarinya, beliau adalah KH. Hambali (Al Maghfurlah), sambil berkata; \u201ckulo Kiai, menawi boten udud kulo mboten saget mucal\u201d (saya Kiai, kalau tidak sambil menghisap kretek, saya tidak dapat mengajar), disertai argumen dan penjelasanannya. Kemudian KH. Turaikhan, memberikan jawaban dan tanggapan kepada KH. Hambali, \u201cnek ngono, kanggo kuwi hukumi wajib\u201d (kalau begitu, untuk kamu hukumnya wajib mengkonsumsi kretek).  <\/p>\n\n\n\n

Dilihat dari putusan Bahtsul Masail di atas, pada awalnya menghisap kretek dihukumi \u201cboleh\u201d, namun dengan kondisi tertentu menjadi \u201cWajib\u201d. Cerita penetapan hukum menghisap kretek dalam forum Bahtsul Masail di atas, telah menyebar di kalangan masyarakat Kudus, dan menjadi konsumsi publik, serta bersifat mengikat sampai sekarang. Sehingga banyak Kiai\/Ulama\u2019 Kudus tidak mempersoalkan lagi, apalagi membahas kembali. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cerita situasi dan kondisi Bahtsul Masail, diapresiasi dan diinterpretasikan Kiai\/Ulama\u2019Kudus lebih kontekstual, salah satunya KH. Fatkhur Rahman, beliau bercerita;  saat KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) populer dengan sebutan Mbah Tur memimpin munadzoroh<\/em> ada pertanyaan: bagaimana hukumnya kretek? Mbah Tur malah mengambil kretek, menyulut dan menghisapnya, dengan begitu diasumsikan hukumnya \u201chalal\u201d (jadi  setelah itu sudah tidak perlu dibahas lagi soal kretek). KH. Fatkhur Rahman juga menceritakan ada satu alasan kuat, mengapa halal, karena para Kiai itu tidak mau barang subhat<\/em> (tidak jelas posisinya), apalagi haram. Ketika para Kiai\/Ulama\u2019 besar menghisap kretek, otomatis tidak haram. Tuhan menciptakan sesuatu untuk dinikmati itu ada dua, halal atau haram. <\/p>\n\n\n\n

Dasar hukum menghisap kretek adalah mubah, sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang menjadi wajib, juga menjadi haram. Dasar utamanya adalah  \u201cla dhororo wala dhiroro\u201d. <\/em>Hukumnya seperti  mengkonsumsi gula, ketika kena penyakit gula, maka haram atau tidak boleh mengkonsumsi gula. Begitu pula ketika punya darah tinggi, maka tidak boleh makan daging, dan seterusnya. Dimana \u201calhukmu yadurru ma\u2019a illatihi\u201d<\/em>(hukum itu bisa beralih tergantung alasannya). Membeli kretek dihukumi tidak boleh (haram), jika uang yang dipakai semestinya untuk belanja kebutuhan pokok, membayar sekolah dan lain sebagainya. Menghisap kretek menjadi wajib, ketika tidak menghisap sulit berpikir, lemas, tidak bisa kerja dan lain sebagainya.
<\/p>\n","post_title":"Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fenomena-hukum-rokok-bagi-ulama-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-10 10:37:16","post_modified_gmt":"2019-04-10 03:37:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5621","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

Paling Populer

\n

Ini artinya agen malaikat pencabut nyawa manusia ada di pola makan kita. Apakah sudah sehat atau tidak sehat? satu hal yang seringkali diabaikan.
<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan Studi Global Burden of Disease yang mengamati konsumsi makanan di 195 negara, antara tahun 1990 dan 2017, fokus pada 15 jenis makanan atau nutrisi mengamini pola makan tidak sehat adalah penyebab terbesar kematian manusia.
<\/p>\n\n\n\n

Penelitian lainnya yang bersumber dari Medical News Today, dalam sebuah makalah yang dimuat dalam The Lancet, para peneliti menyimpulkan, pola makan yang buruk menyumbang 1 dari 5, atau 11 juta, kematian orang dewasa pada tahun 2017. Sebagian besar dari kematian itu, sekitar 10 juta, berasal dari penyakit kardiovaskular.
<\/p>\n\n\n\n

Sisanya terutama dari kanker dan diabetes tipe 2. Peringkat negara-negara dari tingkat kematian terkait diet terendah ke tertinggi menempatkan Israel pertama, dengan 89 kematian per 100.000 orang, dan Uzbekistan terakhir, dengan 892 per 100.000. Amerika Serikat, dengan 171 kematian per 100.000, berada di posisi ke-43 dan Inggris di peringkat ke-23, dengan 127 kematian per 100.000. India di tempat ke-118, dan Cina di ke-140.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Penelitian termutakhir yang di sebutkan di atas merupakan penelitian yang bersifat global, lalu bagaimana dengan di Indonesia? Apakah kasus pola makan yang tidak sehat juga menjadi penyebab kematian terbesar?
<\/p>\n\n\n\n

Dalam sebuah artikel yang ditulis oleh Triyani Kresnawan, DCN,Mkes, Instalasi Gizi RSCM dan diterbitkan oleh Departemen Kesehatan Gizi Kementerian Kesehatan menyebutkan, pola makan yang tidak seimbang yang menyebabkan resiko munculnya penyakit kanker antara lain kebiasaan makanan cepat saji (fast food).
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan menjaga keseimbangan dalam pola makan ini juga disampaikan oleh Spesialis Patologi Anatomi dari Rumah Sakit Kanker Dharmais, dr Evalina Suzana. Ia mengatakan pola makan yang sehat merupakan bagian bentuk pencegahan dari penyakit kanker. Di luar dari olahraga yang teratur, minum air, dan tidur yang cukup.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Eva, sebuah pola bisa dibilang sehat jika semua yang masuk ke dalam tubuh seimbang. Tidak boleh berlebihan bukan berarti tidak dimakan sama sekali. Harus terdiri dari 50 persen protein, 30 persen karbohidrat, dan 20 persen lemak dan serat. Itu harus dipenuhi di luar mineral-mineral yang ada.
<\/p>\n\n\n\n

Nah loh, berdasarkan hasil-hasil penelitian yang menyatakan bahwa pola makan tidak sehat merupakan penyebab resiko kematian terbesar, lalu mengapa hanya rokok yang terus-menerus dituduh dalam kampanye kelompok-kelompok antirokok yang mengatasnamakan kesehatan?
<\/p>\n\n\n\n

Untuk memahami hal ini tentunya anda harus mengetahui bahwa terdapat perang bisnis nikotin antara industri farmasi dan industri rokok, atau yang sering kami sebut sebagai \u201cNicotin War\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Maka Anda tak usah heran jika rokok diframing bertentangan dengan kesehatan, karena semua semata hanyalah akal-akalan pihak industri farmasi untuk memenangi pertarungan bisnis nikotin tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Pola Makan Tidak Sehat Membunuhmu","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pola-makan-tidak-sehat-membunuhmu","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-23 12:23:48","post_modified_gmt":"2019-04-23 05:23:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5653","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5637,"post_author":"855","post_date":"2019-04-16 11:07:27","post_date_gmt":"2019-04-16 04:07:27","post_content":"\n

Terlahir sebagai tunadaksa atau tanpa tangan, tidak membuat Shadikin Pard pesimis menjalan hidup. Lebih dari itu, ia berhasil membuktikan bahwa kekurangan bukanlah aral melintang yang mengganjal langkah menuju kesuksesan.<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Hujan sudah reda ketika kaki saya memasuki gerbang Taman Balekambang, Surakarta. Di dalam, di atas tanah yang masih basah, ratusan pelukis dari penjuru negeri sedang sibuk mengaktualisasikan kegelisahan hatinya ke sebuah kanvas. Mereka sedang mengikuti Indonesia Painting Contest 2019 yang diselenggarakan oleh NU Gallery.
<\/p>\n\n\n\n

Saya terus melangkah menyusuri tanah basah yang di samping kanan dan kirinya para pelukis sedang khidmat menggoreskan kuas. Hingga kaki saya terhenti di hadapan pelukis yang berkonsentrasi melukis menggunakan kedua kakinya.
<\/p>\n\n\n\n

Sebatang kuas dijepitkan di antara jemari kaki. Sesekali ia menyelupkan kuas itu ke dalam cat dan kemudian menggoreskannya ke dalam kanvas hingga membentuk sebuah lukisan realis Reog Ponorogo yang indah. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di sampingnya, seorang pemuda yang ternyata anaknya dengan sigap menjalankan instruksi ayahnya, mulai dari mengganti ukuran kuas yang terjepit di antara jemarinya, membuka botol cat dan lain sebagainya. Sesekali anaknya menyalakan rokok dan menyodorkan ke hadapan mulut ayahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Ia melukis Reog Ponorogo bukan tanpa alasan. Ia ingin memberikan kritik kepada seluruh masyarakat dan Pemerintah, bahwa mencintai kekayaan budaya bangsa sendiri adalah kewajiban yang harus selalu digelorakan. Jangan sampai, ketika kebudayaan tersebut direbut negara lain, bangsa ini baru panik dan serius mengakui serta membanggakan kekayaan kebudayaan sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ialah Shadikin Pard, seorang pelukis masyhur yang terlahir tunadaksa atau tanpa kedua tangan. Kami berbincang di bawah pohon beringin rindang. Di antara para pelukis lainnya yang sedang beristirahat menunggu waktu pengumuman pemenang dibacakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pria kelahiran 29 Oktober 1996 ini mulai melukis sejak masih di taman kanak-kanak. Saat itu, melukis hanya sebagai hobi semata. Sadikin juga pernah les privat melukis di rumahnya. Hingga mengenyam pendidikan sekolah menengah atas di SMA Santa Maria Kota Malang, Sadikin masih menempatkan melukis sebagai hobi.
<\/p>\n\n\n\n

Di tengah keterbatasannya, Sadikin lalu melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kala itu, Sadikin mengambil jurusan psikologi pascagagal mengambil jurusan arsitektur yang ia dambakan dan cita-citakan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, kekurangan yang diberikan Tuhan adalah sebuah kelebihan yang tidak banyak dimiliki oleh orang lain. Kegigihannya dalam belajar melukis menghantarkannya ke Associaton of Mouth and Foot Painting Artist (AMFPA). Sebuah organisasi yang bermarkas di Swiss dan menghimpun karya pelukis yang melukis menggunakan kaki dan mulut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSetelah masuk AMFPA, saya menjadikan melukis sebagai profesi. Tahun 1989 saya menerima 300 swiss franc, setara Rp 300 ribu waktu itu. Kini, saya menerima sekitar 40 jt setiap bulan,\u201d ungkap Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin terus melukis. Kemampuannya terus berkembang, bahkan melebihi tuntutan dari organisasi yang ia ikuti. Nama Sadikin juga mulai dikenal, bukan sebab keterbatasannya, melainkan sebab karyanya yang memang bernilai tinggi.
<\/p>\n\n\n\n

Setiap kali ada pameran lukisan dan kontes-kontes melukis, Sadikin tidak pernah alfa untuk mengikutinya. Karyanya menjadi sorotan publik dan banyak laku dengan harga yang tidak murah. Bahkan menurutnya, ada salah satu lukisannya yang laku hingga Rp 250 juta.<\/p>\n\n\n\n

Menolak Pasrah dan Bergantung kepada Pemerintah karena Disabilitas<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Sadikin tidak mau dikasihani orang lain. Meski ia tunadaksa, ia adalah manusia yang sama, yang memilki kesempatan besar untuk menjalani rutinitas sebagaimana manusia lainnya. \u201cKuncinya adalah terus mencoba, mencoba dan mencoba. Saya tidak apa-apa dicemooh lukisan saya jelek. Bagi saya cemoohan seperti itu adalah cambuk untuk terus berlatih,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Sadikin, masyarakat harus adil memerlakukan para difabel. Difabel harus diperlakukan sebagaimana orang biasa. Semakin banyak orang yang mengasihani difabel, maka tidak malah membuat difabel itu kuat, sebaliknya berdampak melemahkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cDifabel harus diperlakukan seperti manusia biasa, bahkan ia harus diberi tantangan dan ditempa untuk menemukan kelebihan dalam dirinya,\u201d kata Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, para difabel harus mulai mengubah sudut pandang. Bahwa segala kekurangan tidak kemudian menjadikan para difabel pasrah menerima nasib dan mengharapkan santunan dari orang lain dan pemerintah untuk menjalani hidup. Difabel adalah orang istimewa yang dapat berkarya melebihi orang-orang biasa. Kekurangan ini adalah kelebihan yang akan ditemukan dengan kerja keras dan melatih diri menjadi apa yang diinginkan.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin bisa berangkat ke Swiss dan mengharumkan nama Indonesia di mata dunia, tidak terlebih dulu mendapat perhatian dari pemerintah. Ia mengaku berangkat dengan uang sendiri. Bahkan, lanjut Sadikin, hingga kini pun tidak ada pemerintah yang mengapresiasi karya-karyanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak menginginkan belas kasihan dari pemerintah. Karena yang sejatinya benar adalah, kita dapat memberikan apa kepada negara ini, bukan negara dapat memberikan apa kepada kita. Namun yang saya sayangkan, pemerintah sepertinya tidak peduli memperhatikan para seniman dan menghargai karya seni dari para seniman negeri sendiri. Seharusnya para seniman ini diberikan wadah, diperhatikan, kan juga kalau manajemennya bagus bisa menjadi pemasukan untuk negara,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin mengirim pesan kepada seluruh seniman di Tanah Air untuk terus berkaraya, tanpa peduli akan bernilai apa sebuah karya tersebut. \u201cYang terpenting kita dapat mengaktulisasikan diri dan terus melukis dengan niat mengharumkan nama negeri. Teruslah berkarya, karena sejatinya karya adalah yang dibuat dengan kesungguhan dan keikhlasan hati,\u201d pungkas pelukis beranak dua tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Shadikin Pard, Pelukis Tanpa Lengan yang Mengharumkan Bangsa dengan Kedua Kakinya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"shadikin-pard-pelukis-tanpa-lengan-yang-mengharumkan-bangsa-dengan-kedua-kakinya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-16 11:09:38","post_modified_gmt":"2019-04-16 04:09:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5637","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5621,"post_author":"877","post_date":"2019-04-10 10:37:08","post_date_gmt":"2019-04-10 03:37:08","post_content":"\n

Bahasan mengenai hukum menyulut kretek pernah dipertanyakan dalam forum bahtsul masail<\/em> (musyawarah) para Kiai\/Ulama\u2019 Kudus. Pertanyaan (saail<\/em>) yang mengajukan atas nama masyarakat Baletengahan, yaitu dukuh yang masuk wilayah Desa Langgardalem Kecamatan Kota. Tepatnya sekitar + 800an m, arah utara Masjid Menara Kudus (al-Aqsha). Kultur budaya masyarakat Baletengahan adalah santri, terdapat banyak Pesantren dan beberapa madrasah, salah satunya lembaga pendidikan formal TBS (Tasywiqut Thullab Salafiyyah), yaitu lembaga pendidikan salaf yang dahulu salah satu tempat  KH. Arwani Amin al-Hafiz mengajar dan yayasan pendidikan Nawa Kartika, yang didirikan oleh tokoh NU setempat. <\/p>\n\n\n\n

Lain halnya pesantren dan lembaga pendidikan, di sekitar Baletengahan Langgardalem, konon dahulu banyak usaha rumahan kretek. Petilasan yang masih dapat dijumpai di Langgardalem adalah \u201cgudang tembakau dan PR. Buah Cengkeh\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Disini terlihat para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus mempunyai tradisi kritis menyikapi fenomena disekelilingnya. Sehingga wajar pada tahun 1990an muncul bahasan tentang kretek di Bahtsul Masail<\/em> para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, jauh mendahului keputusan MUI dan Muhammadiyyah hasil Padang Panjang, dilaksanakan tahun 2009-2010.<\/p>\n\n\n\n

Tradisi Bahtsul Masail biasa disebut \u201cMunadzoroh<\/em>\u201d sudah lama dilakukan para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, dengan bertempat di Masjid-masjid di sekitar Kudus, bergantian dan memutar. Peserta munadzoroh<\/em> adalah para Kiai\/Ulama\u2019 se-Kabupaten Kudus dari berbagai penjuru desa, dan juga masyarakat umum, karena sifatnya terbuka (siapa saja boleh ikut tanpa terkecuali). Pelaksanaannya dari dulu hingga sekarang dijatuhkan pada hari Ahad (minggu). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat pembahasan mengenai kretek, bertempat di Masji al-Aqsho Menara Kudus yang dipimpin oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), redaksi pertanyaaannya adalah:<\/p>\n\n\n\n

\u201ckados pundi hukumipun ngkretek (bagaimana hukum menghisap kretek)?\u201d<\/em>--pertanyaan dari<\/em> Baletengahan--<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sebelum memulai pembahasan biasanya KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menanyakan tentang apa yang akan dibahas. Diceritakan oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi, situasi dan kondisi saat itu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), bertanya di forum, \u00a0\u201copo iki takonane?\u201d (pertanyaannya apa), di jawab yang hadir saat itu, \u201c anu Mbah bab kretek\u201d (itu bab menghisap kretek), lalu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menyambung jawaban hadirin, \u201coooo, bab kretek, kretekku gowo rene dikik\u201d (ooo, bab menghisap kretek, kretekku bawa kemari dulu), kemudian KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) mengambil satu batang kretek dari bungkusnya disulut dan dihisap. Selesai menyulut kretek, kembali KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) berbicara, \u201cwes kono dibahas\u201d (sudah sana dibahas). Setelah diperintahkan untuk dibahas, suasana hening sejenak. \u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mungkin di benak para hadirin terlintas pikiran \u201capa yang dibahas sudah dijawab secara tersirat oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) dengan menghisap kretek\u201d. Pada akhirnya, pembahasan tetap dilaksanakan. Diceritakan KH. Sya\u2019roni juga, situasi saat itu tidak ada Kiai\/Ulama\u2019 yang hadir menghukumi \u201charam\u201d, pada akhirnya diputuskan KH. Turaikhan, dengan hukum \u201c boleh\u201d, disela-sela KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) memberikan penjelasan, ada salah satu hadirin mengacungkan jarinya, beliau adalah KH. Hambali (Al Maghfurlah), sambil berkata; \u201ckulo Kiai, menawi boten udud kulo mboten saget mucal\u201d (saya Kiai, kalau tidak sambil menghisap kretek, saya tidak dapat mengajar), disertai argumen dan penjelasanannya. Kemudian KH. Turaikhan, memberikan jawaban dan tanggapan kepada KH. Hambali, \u201cnek ngono, kanggo kuwi hukumi wajib\u201d (kalau begitu, untuk kamu hukumnya wajib mengkonsumsi kretek).  <\/p>\n\n\n\n

Dilihat dari putusan Bahtsul Masail di atas, pada awalnya menghisap kretek dihukumi \u201cboleh\u201d, namun dengan kondisi tertentu menjadi \u201cWajib\u201d. Cerita penetapan hukum menghisap kretek dalam forum Bahtsul Masail di atas, telah menyebar di kalangan masyarakat Kudus, dan menjadi konsumsi publik, serta bersifat mengikat sampai sekarang. Sehingga banyak Kiai\/Ulama\u2019 Kudus tidak mempersoalkan lagi, apalagi membahas kembali. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cerita situasi dan kondisi Bahtsul Masail, diapresiasi dan diinterpretasikan Kiai\/Ulama\u2019Kudus lebih kontekstual, salah satunya KH. Fatkhur Rahman, beliau bercerita;  saat KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) populer dengan sebutan Mbah Tur memimpin munadzoroh<\/em> ada pertanyaan: bagaimana hukumnya kretek? Mbah Tur malah mengambil kretek, menyulut dan menghisapnya, dengan begitu diasumsikan hukumnya \u201chalal\u201d (jadi  setelah itu sudah tidak perlu dibahas lagi soal kretek). KH. Fatkhur Rahman juga menceritakan ada satu alasan kuat, mengapa halal, karena para Kiai itu tidak mau barang subhat<\/em> (tidak jelas posisinya), apalagi haram. Ketika para Kiai\/Ulama\u2019 besar menghisap kretek, otomatis tidak haram. Tuhan menciptakan sesuatu untuk dinikmati itu ada dua, halal atau haram. <\/p>\n\n\n\n

Dasar hukum menghisap kretek adalah mubah, sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang menjadi wajib, juga menjadi haram. Dasar utamanya adalah  \u201cla dhororo wala dhiroro\u201d. <\/em>Hukumnya seperti  mengkonsumsi gula, ketika kena penyakit gula, maka haram atau tidak boleh mengkonsumsi gula. Begitu pula ketika punya darah tinggi, maka tidak boleh makan daging, dan seterusnya. Dimana \u201calhukmu yadurru ma\u2019a illatihi\u201d<\/em>(hukum itu bisa beralih tergantung alasannya). Membeli kretek dihukumi tidak boleh (haram), jika uang yang dipakai semestinya untuk belanja kebutuhan pokok, membayar sekolah dan lain sebagainya. Menghisap kretek menjadi wajib, ketika tidak menghisap sulit berpikir, lemas, tidak bisa kerja dan lain sebagainya.
<\/p>\n","post_title":"Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fenomena-hukum-rokok-bagi-ulama-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-10 10:37:16","post_modified_gmt":"2019-04-10 03:37:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5621","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

Paling Populer

\n

Baca: Cerita Rakyat Tentang Kretek dan Tembakau di Tiga Kota (Kudus, Temanggung, Madura)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ini artinya agen malaikat pencabut nyawa manusia ada di pola makan kita. Apakah sudah sehat atau tidak sehat? satu hal yang seringkali diabaikan.
<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan Studi Global Burden of Disease yang mengamati konsumsi makanan di 195 negara, antara tahun 1990 dan 2017, fokus pada 15 jenis makanan atau nutrisi mengamini pola makan tidak sehat adalah penyebab terbesar kematian manusia.
<\/p>\n\n\n\n

Penelitian lainnya yang bersumber dari Medical News Today, dalam sebuah makalah yang dimuat dalam The Lancet, para peneliti menyimpulkan, pola makan yang buruk menyumbang 1 dari 5, atau 11 juta, kematian orang dewasa pada tahun 2017. Sebagian besar dari kematian itu, sekitar 10 juta, berasal dari penyakit kardiovaskular.
<\/p>\n\n\n\n

Sisanya terutama dari kanker dan diabetes tipe 2. Peringkat negara-negara dari tingkat kematian terkait diet terendah ke tertinggi menempatkan Israel pertama, dengan 89 kematian per 100.000 orang, dan Uzbekistan terakhir, dengan 892 per 100.000. Amerika Serikat, dengan 171 kematian per 100.000, berada di posisi ke-43 dan Inggris di peringkat ke-23, dengan 127 kematian per 100.000. India di tempat ke-118, dan Cina di ke-140.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Penelitian termutakhir yang di sebutkan di atas merupakan penelitian yang bersifat global, lalu bagaimana dengan di Indonesia? Apakah kasus pola makan yang tidak sehat juga menjadi penyebab kematian terbesar?
<\/p>\n\n\n\n

Dalam sebuah artikel yang ditulis oleh Triyani Kresnawan, DCN,Mkes, Instalasi Gizi RSCM dan diterbitkan oleh Departemen Kesehatan Gizi Kementerian Kesehatan menyebutkan, pola makan yang tidak seimbang yang menyebabkan resiko munculnya penyakit kanker antara lain kebiasaan makanan cepat saji (fast food).
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan menjaga keseimbangan dalam pola makan ini juga disampaikan oleh Spesialis Patologi Anatomi dari Rumah Sakit Kanker Dharmais, dr Evalina Suzana. Ia mengatakan pola makan yang sehat merupakan bagian bentuk pencegahan dari penyakit kanker. Di luar dari olahraga yang teratur, minum air, dan tidur yang cukup.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Eva, sebuah pola bisa dibilang sehat jika semua yang masuk ke dalam tubuh seimbang. Tidak boleh berlebihan bukan berarti tidak dimakan sama sekali. Harus terdiri dari 50 persen protein, 30 persen karbohidrat, dan 20 persen lemak dan serat. Itu harus dipenuhi di luar mineral-mineral yang ada.
<\/p>\n\n\n\n

Nah loh, berdasarkan hasil-hasil penelitian yang menyatakan bahwa pola makan tidak sehat merupakan penyebab resiko kematian terbesar, lalu mengapa hanya rokok yang terus-menerus dituduh dalam kampanye kelompok-kelompok antirokok yang mengatasnamakan kesehatan?
<\/p>\n\n\n\n

Untuk memahami hal ini tentunya anda harus mengetahui bahwa terdapat perang bisnis nikotin antara industri farmasi dan industri rokok, atau yang sering kami sebut sebagai \u201cNicotin War\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Maka Anda tak usah heran jika rokok diframing bertentangan dengan kesehatan, karena semua semata hanyalah akal-akalan pihak industri farmasi untuk memenangi pertarungan bisnis nikotin tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Pola Makan Tidak Sehat Membunuhmu","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pola-makan-tidak-sehat-membunuhmu","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-23 12:23:48","post_modified_gmt":"2019-04-23 05:23:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5653","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5637,"post_author":"855","post_date":"2019-04-16 11:07:27","post_date_gmt":"2019-04-16 04:07:27","post_content":"\n

Terlahir sebagai tunadaksa atau tanpa tangan, tidak membuat Shadikin Pard pesimis menjalan hidup. Lebih dari itu, ia berhasil membuktikan bahwa kekurangan bukanlah aral melintang yang mengganjal langkah menuju kesuksesan.<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Hujan sudah reda ketika kaki saya memasuki gerbang Taman Balekambang, Surakarta. Di dalam, di atas tanah yang masih basah, ratusan pelukis dari penjuru negeri sedang sibuk mengaktualisasikan kegelisahan hatinya ke sebuah kanvas. Mereka sedang mengikuti Indonesia Painting Contest 2019 yang diselenggarakan oleh NU Gallery.
<\/p>\n\n\n\n

Saya terus melangkah menyusuri tanah basah yang di samping kanan dan kirinya para pelukis sedang khidmat menggoreskan kuas. Hingga kaki saya terhenti di hadapan pelukis yang berkonsentrasi melukis menggunakan kedua kakinya.
<\/p>\n\n\n\n

Sebatang kuas dijepitkan di antara jemari kaki. Sesekali ia menyelupkan kuas itu ke dalam cat dan kemudian menggoreskannya ke dalam kanvas hingga membentuk sebuah lukisan realis Reog Ponorogo yang indah. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di sampingnya, seorang pemuda yang ternyata anaknya dengan sigap menjalankan instruksi ayahnya, mulai dari mengganti ukuran kuas yang terjepit di antara jemarinya, membuka botol cat dan lain sebagainya. Sesekali anaknya menyalakan rokok dan menyodorkan ke hadapan mulut ayahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Ia melukis Reog Ponorogo bukan tanpa alasan. Ia ingin memberikan kritik kepada seluruh masyarakat dan Pemerintah, bahwa mencintai kekayaan budaya bangsa sendiri adalah kewajiban yang harus selalu digelorakan. Jangan sampai, ketika kebudayaan tersebut direbut negara lain, bangsa ini baru panik dan serius mengakui serta membanggakan kekayaan kebudayaan sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ialah Shadikin Pard, seorang pelukis masyhur yang terlahir tunadaksa atau tanpa kedua tangan. Kami berbincang di bawah pohon beringin rindang. Di antara para pelukis lainnya yang sedang beristirahat menunggu waktu pengumuman pemenang dibacakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pria kelahiran 29 Oktober 1996 ini mulai melukis sejak masih di taman kanak-kanak. Saat itu, melukis hanya sebagai hobi semata. Sadikin juga pernah les privat melukis di rumahnya. Hingga mengenyam pendidikan sekolah menengah atas di SMA Santa Maria Kota Malang, Sadikin masih menempatkan melukis sebagai hobi.
<\/p>\n\n\n\n

Di tengah keterbatasannya, Sadikin lalu melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kala itu, Sadikin mengambil jurusan psikologi pascagagal mengambil jurusan arsitektur yang ia dambakan dan cita-citakan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, kekurangan yang diberikan Tuhan adalah sebuah kelebihan yang tidak banyak dimiliki oleh orang lain. Kegigihannya dalam belajar melukis menghantarkannya ke Associaton of Mouth and Foot Painting Artist (AMFPA). Sebuah organisasi yang bermarkas di Swiss dan menghimpun karya pelukis yang melukis menggunakan kaki dan mulut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSetelah masuk AMFPA, saya menjadikan melukis sebagai profesi. Tahun 1989 saya menerima 300 swiss franc, setara Rp 300 ribu waktu itu. Kini, saya menerima sekitar 40 jt setiap bulan,\u201d ungkap Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin terus melukis. Kemampuannya terus berkembang, bahkan melebihi tuntutan dari organisasi yang ia ikuti. Nama Sadikin juga mulai dikenal, bukan sebab keterbatasannya, melainkan sebab karyanya yang memang bernilai tinggi.
<\/p>\n\n\n\n

Setiap kali ada pameran lukisan dan kontes-kontes melukis, Sadikin tidak pernah alfa untuk mengikutinya. Karyanya menjadi sorotan publik dan banyak laku dengan harga yang tidak murah. Bahkan menurutnya, ada salah satu lukisannya yang laku hingga Rp 250 juta.<\/p>\n\n\n\n

Menolak Pasrah dan Bergantung kepada Pemerintah karena Disabilitas<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Sadikin tidak mau dikasihani orang lain. Meski ia tunadaksa, ia adalah manusia yang sama, yang memilki kesempatan besar untuk menjalani rutinitas sebagaimana manusia lainnya. \u201cKuncinya adalah terus mencoba, mencoba dan mencoba. Saya tidak apa-apa dicemooh lukisan saya jelek. Bagi saya cemoohan seperti itu adalah cambuk untuk terus berlatih,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Sadikin, masyarakat harus adil memerlakukan para difabel. Difabel harus diperlakukan sebagaimana orang biasa. Semakin banyak orang yang mengasihani difabel, maka tidak malah membuat difabel itu kuat, sebaliknya berdampak melemahkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cDifabel harus diperlakukan seperti manusia biasa, bahkan ia harus diberi tantangan dan ditempa untuk menemukan kelebihan dalam dirinya,\u201d kata Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, para difabel harus mulai mengubah sudut pandang. Bahwa segala kekurangan tidak kemudian menjadikan para difabel pasrah menerima nasib dan mengharapkan santunan dari orang lain dan pemerintah untuk menjalani hidup. Difabel adalah orang istimewa yang dapat berkarya melebihi orang-orang biasa. Kekurangan ini adalah kelebihan yang akan ditemukan dengan kerja keras dan melatih diri menjadi apa yang diinginkan.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin bisa berangkat ke Swiss dan mengharumkan nama Indonesia di mata dunia, tidak terlebih dulu mendapat perhatian dari pemerintah. Ia mengaku berangkat dengan uang sendiri. Bahkan, lanjut Sadikin, hingga kini pun tidak ada pemerintah yang mengapresiasi karya-karyanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak menginginkan belas kasihan dari pemerintah. Karena yang sejatinya benar adalah, kita dapat memberikan apa kepada negara ini, bukan negara dapat memberikan apa kepada kita. Namun yang saya sayangkan, pemerintah sepertinya tidak peduli memperhatikan para seniman dan menghargai karya seni dari para seniman negeri sendiri. Seharusnya para seniman ini diberikan wadah, diperhatikan, kan juga kalau manajemennya bagus bisa menjadi pemasukan untuk negara,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin mengirim pesan kepada seluruh seniman di Tanah Air untuk terus berkaraya, tanpa peduli akan bernilai apa sebuah karya tersebut. \u201cYang terpenting kita dapat mengaktulisasikan diri dan terus melukis dengan niat mengharumkan nama negeri. Teruslah berkarya, karena sejatinya karya adalah yang dibuat dengan kesungguhan dan keikhlasan hati,\u201d pungkas pelukis beranak dua tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Shadikin Pard, Pelukis Tanpa Lengan yang Mengharumkan Bangsa dengan Kedua Kakinya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"shadikin-pard-pelukis-tanpa-lengan-yang-mengharumkan-bangsa-dengan-kedua-kakinya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-16 11:09:38","post_modified_gmt":"2019-04-16 04:09:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5637","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5621,"post_author":"877","post_date":"2019-04-10 10:37:08","post_date_gmt":"2019-04-10 03:37:08","post_content":"\n

Bahasan mengenai hukum menyulut kretek pernah dipertanyakan dalam forum bahtsul masail<\/em> (musyawarah) para Kiai\/Ulama\u2019 Kudus. Pertanyaan (saail<\/em>) yang mengajukan atas nama masyarakat Baletengahan, yaitu dukuh yang masuk wilayah Desa Langgardalem Kecamatan Kota. Tepatnya sekitar + 800an m, arah utara Masjid Menara Kudus (al-Aqsha). Kultur budaya masyarakat Baletengahan adalah santri, terdapat banyak Pesantren dan beberapa madrasah, salah satunya lembaga pendidikan formal TBS (Tasywiqut Thullab Salafiyyah), yaitu lembaga pendidikan salaf yang dahulu salah satu tempat  KH. Arwani Amin al-Hafiz mengajar dan yayasan pendidikan Nawa Kartika, yang didirikan oleh tokoh NU setempat. <\/p>\n\n\n\n

Lain halnya pesantren dan lembaga pendidikan, di sekitar Baletengahan Langgardalem, konon dahulu banyak usaha rumahan kretek. Petilasan yang masih dapat dijumpai di Langgardalem adalah \u201cgudang tembakau dan PR. Buah Cengkeh\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Disini terlihat para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus mempunyai tradisi kritis menyikapi fenomena disekelilingnya. Sehingga wajar pada tahun 1990an muncul bahasan tentang kretek di Bahtsul Masail<\/em> para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, jauh mendahului keputusan MUI dan Muhammadiyyah hasil Padang Panjang, dilaksanakan tahun 2009-2010.<\/p>\n\n\n\n

Tradisi Bahtsul Masail biasa disebut \u201cMunadzoroh<\/em>\u201d sudah lama dilakukan para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, dengan bertempat di Masjid-masjid di sekitar Kudus, bergantian dan memutar. Peserta munadzoroh<\/em> adalah para Kiai\/Ulama\u2019 se-Kabupaten Kudus dari berbagai penjuru desa, dan juga masyarakat umum, karena sifatnya terbuka (siapa saja boleh ikut tanpa terkecuali). Pelaksanaannya dari dulu hingga sekarang dijatuhkan pada hari Ahad (minggu). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat pembahasan mengenai kretek, bertempat di Masji al-Aqsho Menara Kudus yang dipimpin oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), redaksi pertanyaaannya adalah:<\/p>\n\n\n\n

\u201ckados pundi hukumipun ngkretek (bagaimana hukum menghisap kretek)?\u201d<\/em>--pertanyaan dari<\/em> Baletengahan--<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sebelum memulai pembahasan biasanya KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menanyakan tentang apa yang akan dibahas. Diceritakan oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi, situasi dan kondisi saat itu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), bertanya di forum, \u00a0\u201copo iki takonane?\u201d (pertanyaannya apa), di jawab yang hadir saat itu, \u201c anu Mbah bab kretek\u201d (itu bab menghisap kretek), lalu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menyambung jawaban hadirin, \u201coooo, bab kretek, kretekku gowo rene dikik\u201d (ooo, bab menghisap kretek, kretekku bawa kemari dulu), kemudian KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) mengambil satu batang kretek dari bungkusnya disulut dan dihisap. Selesai menyulut kretek, kembali KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) berbicara, \u201cwes kono dibahas\u201d (sudah sana dibahas). Setelah diperintahkan untuk dibahas, suasana hening sejenak. \u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mungkin di benak para hadirin terlintas pikiran \u201capa yang dibahas sudah dijawab secara tersirat oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) dengan menghisap kretek\u201d. Pada akhirnya, pembahasan tetap dilaksanakan. Diceritakan KH. Sya\u2019roni juga, situasi saat itu tidak ada Kiai\/Ulama\u2019 yang hadir menghukumi \u201charam\u201d, pada akhirnya diputuskan KH. Turaikhan, dengan hukum \u201c boleh\u201d, disela-sela KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) memberikan penjelasan, ada salah satu hadirin mengacungkan jarinya, beliau adalah KH. Hambali (Al Maghfurlah), sambil berkata; \u201ckulo Kiai, menawi boten udud kulo mboten saget mucal\u201d (saya Kiai, kalau tidak sambil menghisap kretek, saya tidak dapat mengajar), disertai argumen dan penjelasanannya. Kemudian KH. Turaikhan, memberikan jawaban dan tanggapan kepada KH. Hambali, \u201cnek ngono, kanggo kuwi hukumi wajib\u201d (kalau begitu, untuk kamu hukumnya wajib mengkonsumsi kretek).  <\/p>\n\n\n\n

Dilihat dari putusan Bahtsul Masail di atas, pada awalnya menghisap kretek dihukumi \u201cboleh\u201d, namun dengan kondisi tertentu menjadi \u201cWajib\u201d. Cerita penetapan hukum menghisap kretek dalam forum Bahtsul Masail di atas, telah menyebar di kalangan masyarakat Kudus, dan menjadi konsumsi publik, serta bersifat mengikat sampai sekarang. Sehingga banyak Kiai\/Ulama\u2019 Kudus tidak mempersoalkan lagi, apalagi membahas kembali. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cerita situasi dan kondisi Bahtsul Masail, diapresiasi dan diinterpretasikan Kiai\/Ulama\u2019Kudus lebih kontekstual, salah satunya KH. Fatkhur Rahman, beliau bercerita;  saat KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) populer dengan sebutan Mbah Tur memimpin munadzoroh<\/em> ada pertanyaan: bagaimana hukumnya kretek? Mbah Tur malah mengambil kretek, menyulut dan menghisapnya, dengan begitu diasumsikan hukumnya \u201chalal\u201d (jadi  setelah itu sudah tidak perlu dibahas lagi soal kretek). KH. Fatkhur Rahman juga menceritakan ada satu alasan kuat, mengapa halal, karena para Kiai itu tidak mau barang subhat<\/em> (tidak jelas posisinya), apalagi haram. Ketika para Kiai\/Ulama\u2019 besar menghisap kretek, otomatis tidak haram. Tuhan menciptakan sesuatu untuk dinikmati itu ada dua, halal atau haram. <\/p>\n\n\n\n

Dasar hukum menghisap kretek adalah mubah, sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang menjadi wajib, juga menjadi haram. Dasar utamanya adalah  \u201cla dhororo wala dhiroro\u201d. <\/em>Hukumnya seperti  mengkonsumsi gula, ketika kena penyakit gula, maka haram atau tidak boleh mengkonsumsi gula. Begitu pula ketika punya darah tinggi, maka tidak boleh makan daging, dan seterusnya. Dimana \u201calhukmu yadurru ma\u2019a illatihi\u201d<\/em>(hukum itu bisa beralih tergantung alasannya). Membeli kretek dihukumi tidak boleh (haram), jika uang yang dipakai semestinya untuk belanja kebutuhan pokok, membayar sekolah dan lain sebagainya. Menghisap kretek menjadi wajib, ketika tidak menghisap sulit berpikir, lemas, tidak bisa kerja dan lain sebagainya.
<\/p>\n","post_title":"Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fenomena-hukum-rokok-bagi-ulama-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-10 10:37:16","post_modified_gmt":"2019-04-10 03:37:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5621","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

Paling Populer

\n

Baru-baru ini sebuah penelitian menyatakan bahwa pola makan yang tidak sehat lebih banyak meningkatkan resiko kematian dini daripada faktor risiko lainnya, termasuk merokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cerita Rakyat Tentang Kretek dan Tembakau di Tiga Kota (Kudus, Temanggung, Madura)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ini artinya agen malaikat pencabut nyawa manusia ada di pola makan kita. Apakah sudah sehat atau tidak sehat? satu hal yang seringkali diabaikan.
<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan Studi Global Burden of Disease yang mengamati konsumsi makanan di 195 negara, antara tahun 1990 dan 2017, fokus pada 15 jenis makanan atau nutrisi mengamini pola makan tidak sehat adalah penyebab terbesar kematian manusia.
<\/p>\n\n\n\n

Penelitian lainnya yang bersumber dari Medical News Today, dalam sebuah makalah yang dimuat dalam The Lancet, para peneliti menyimpulkan, pola makan yang buruk menyumbang 1 dari 5, atau 11 juta, kematian orang dewasa pada tahun 2017. Sebagian besar dari kematian itu, sekitar 10 juta, berasal dari penyakit kardiovaskular.
<\/p>\n\n\n\n

Sisanya terutama dari kanker dan diabetes tipe 2. Peringkat negara-negara dari tingkat kematian terkait diet terendah ke tertinggi menempatkan Israel pertama, dengan 89 kematian per 100.000 orang, dan Uzbekistan terakhir, dengan 892 per 100.000. Amerika Serikat, dengan 171 kematian per 100.000, berada di posisi ke-43 dan Inggris di peringkat ke-23, dengan 127 kematian per 100.000. India di tempat ke-118, dan Cina di ke-140.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Penelitian termutakhir yang di sebutkan di atas merupakan penelitian yang bersifat global, lalu bagaimana dengan di Indonesia? Apakah kasus pola makan yang tidak sehat juga menjadi penyebab kematian terbesar?
<\/p>\n\n\n\n

Dalam sebuah artikel yang ditulis oleh Triyani Kresnawan, DCN,Mkes, Instalasi Gizi RSCM dan diterbitkan oleh Departemen Kesehatan Gizi Kementerian Kesehatan menyebutkan, pola makan yang tidak seimbang yang menyebabkan resiko munculnya penyakit kanker antara lain kebiasaan makanan cepat saji (fast food).
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan menjaga keseimbangan dalam pola makan ini juga disampaikan oleh Spesialis Patologi Anatomi dari Rumah Sakit Kanker Dharmais, dr Evalina Suzana. Ia mengatakan pola makan yang sehat merupakan bagian bentuk pencegahan dari penyakit kanker. Di luar dari olahraga yang teratur, minum air, dan tidur yang cukup.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Eva, sebuah pola bisa dibilang sehat jika semua yang masuk ke dalam tubuh seimbang. Tidak boleh berlebihan bukan berarti tidak dimakan sama sekali. Harus terdiri dari 50 persen protein, 30 persen karbohidrat, dan 20 persen lemak dan serat. Itu harus dipenuhi di luar mineral-mineral yang ada.
<\/p>\n\n\n\n

Nah loh, berdasarkan hasil-hasil penelitian yang menyatakan bahwa pola makan tidak sehat merupakan penyebab resiko kematian terbesar, lalu mengapa hanya rokok yang terus-menerus dituduh dalam kampanye kelompok-kelompok antirokok yang mengatasnamakan kesehatan?
<\/p>\n\n\n\n

Untuk memahami hal ini tentunya anda harus mengetahui bahwa terdapat perang bisnis nikotin antara industri farmasi dan industri rokok, atau yang sering kami sebut sebagai \u201cNicotin War\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Maka Anda tak usah heran jika rokok diframing bertentangan dengan kesehatan, karena semua semata hanyalah akal-akalan pihak industri farmasi untuk memenangi pertarungan bisnis nikotin tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Pola Makan Tidak Sehat Membunuhmu","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pola-makan-tidak-sehat-membunuhmu","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-23 12:23:48","post_modified_gmt":"2019-04-23 05:23:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5653","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5637,"post_author":"855","post_date":"2019-04-16 11:07:27","post_date_gmt":"2019-04-16 04:07:27","post_content":"\n

Terlahir sebagai tunadaksa atau tanpa tangan, tidak membuat Shadikin Pard pesimis menjalan hidup. Lebih dari itu, ia berhasil membuktikan bahwa kekurangan bukanlah aral melintang yang mengganjal langkah menuju kesuksesan.<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Hujan sudah reda ketika kaki saya memasuki gerbang Taman Balekambang, Surakarta. Di dalam, di atas tanah yang masih basah, ratusan pelukis dari penjuru negeri sedang sibuk mengaktualisasikan kegelisahan hatinya ke sebuah kanvas. Mereka sedang mengikuti Indonesia Painting Contest 2019 yang diselenggarakan oleh NU Gallery.
<\/p>\n\n\n\n

Saya terus melangkah menyusuri tanah basah yang di samping kanan dan kirinya para pelukis sedang khidmat menggoreskan kuas. Hingga kaki saya terhenti di hadapan pelukis yang berkonsentrasi melukis menggunakan kedua kakinya.
<\/p>\n\n\n\n

Sebatang kuas dijepitkan di antara jemari kaki. Sesekali ia menyelupkan kuas itu ke dalam cat dan kemudian menggoreskannya ke dalam kanvas hingga membentuk sebuah lukisan realis Reog Ponorogo yang indah. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di sampingnya, seorang pemuda yang ternyata anaknya dengan sigap menjalankan instruksi ayahnya, mulai dari mengganti ukuran kuas yang terjepit di antara jemarinya, membuka botol cat dan lain sebagainya. Sesekali anaknya menyalakan rokok dan menyodorkan ke hadapan mulut ayahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Ia melukis Reog Ponorogo bukan tanpa alasan. Ia ingin memberikan kritik kepada seluruh masyarakat dan Pemerintah, bahwa mencintai kekayaan budaya bangsa sendiri adalah kewajiban yang harus selalu digelorakan. Jangan sampai, ketika kebudayaan tersebut direbut negara lain, bangsa ini baru panik dan serius mengakui serta membanggakan kekayaan kebudayaan sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ialah Shadikin Pard, seorang pelukis masyhur yang terlahir tunadaksa atau tanpa kedua tangan. Kami berbincang di bawah pohon beringin rindang. Di antara para pelukis lainnya yang sedang beristirahat menunggu waktu pengumuman pemenang dibacakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pria kelahiran 29 Oktober 1996 ini mulai melukis sejak masih di taman kanak-kanak. Saat itu, melukis hanya sebagai hobi semata. Sadikin juga pernah les privat melukis di rumahnya. Hingga mengenyam pendidikan sekolah menengah atas di SMA Santa Maria Kota Malang, Sadikin masih menempatkan melukis sebagai hobi.
<\/p>\n\n\n\n

Di tengah keterbatasannya, Sadikin lalu melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kala itu, Sadikin mengambil jurusan psikologi pascagagal mengambil jurusan arsitektur yang ia dambakan dan cita-citakan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, kekurangan yang diberikan Tuhan adalah sebuah kelebihan yang tidak banyak dimiliki oleh orang lain. Kegigihannya dalam belajar melukis menghantarkannya ke Associaton of Mouth and Foot Painting Artist (AMFPA). Sebuah organisasi yang bermarkas di Swiss dan menghimpun karya pelukis yang melukis menggunakan kaki dan mulut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSetelah masuk AMFPA, saya menjadikan melukis sebagai profesi. Tahun 1989 saya menerima 300 swiss franc, setara Rp 300 ribu waktu itu. Kini, saya menerima sekitar 40 jt setiap bulan,\u201d ungkap Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin terus melukis. Kemampuannya terus berkembang, bahkan melebihi tuntutan dari organisasi yang ia ikuti. Nama Sadikin juga mulai dikenal, bukan sebab keterbatasannya, melainkan sebab karyanya yang memang bernilai tinggi.
<\/p>\n\n\n\n

Setiap kali ada pameran lukisan dan kontes-kontes melukis, Sadikin tidak pernah alfa untuk mengikutinya. Karyanya menjadi sorotan publik dan banyak laku dengan harga yang tidak murah. Bahkan menurutnya, ada salah satu lukisannya yang laku hingga Rp 250 juta.<\/p>\n\n\n\n

Menolak Pasrah dan Bergantung kepada Pemerintah karena Disabilitas<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Sadikin tidak mau dikasihani orang lain. Meski ia tunadaksa, ia adalah manusia yang sama, yang memilki kesempatan besar untuk menjalani rutinitas sebagaimana manusia lainnya. \u201cKuncinya adalah terus mencoba, mencoba dan mencoba. Saya tidak apa-apa dicemooh lukisan saya jelek. Bagi saya cemoohan seperti itu adalah cambuk untuk terus berlatih,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Sadikin, masyarakat harus adil memerlakukan para difabel. Difabel harus diperlakukan sebagaimana orang biasa. Semakin banyak orang yang mengasihani difabel, maka tidak malah membuat difabel itu kuat, sebaliknya berdampak melemahkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cDifabel harus diperlakukan seperti manusia biasa, bahkan ia harus diberi tantangan dan ditempa untuk menemukan kelebihan dalam dirinya,\u201d kata Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, para difabel harus mulai mengubah sudut pandang. Bahwa segala kekurangan tidak kemudian menjadikan para difabel pasrah menerima nasib dan mengharapkan santunan dari orang lain dan pemerintah untuk menjalani hidup. Difabel adalah orang istimewa yang dapat berkarya melebihi orang-orang biasa. Kekurangan ini adalah kelebihan yang akan ditemukan dengan kerja keras dan melatih diri menjadi apa yang diinginkan.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin bisa berangkat ke Swiss dan mengharumkan nama Indonesia di mata dunia, tidak terlebih dulu mendapat perhatian dari pemerintah. Ia mengaku berangkat dengan uang sendiri. Bahkan, lanjut Sadikin, hingga kini pun tidak ada pemerintah yang mengapresiasi karya-karyanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak menginginkan belas kasihan dari pemerintah. Karena yang sejatinya benar adalah, kita dapat memberikan apa kepada negara ini, bukan negara dapat memberikan apa kepada kita. Namun yang saya sayangkan, pemerintah sepertinya tidak peduli memperhatikan para seniman dan menghargai karya seni dari para seniman negeri sendiri. Seharusnya para seniman ini diberikan wadah, diperhatikan, kan juga kalau manajemennya bagus bisa menjadi pemasukan untuk negara,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin mengirim pesan kepada seluruh seniman di Tanah Air untuk terus berkaraya, tanpa peduli akan bernilai apa sebuah karya tersebut. \u201cYang terpenting kita dapat mengaktulisasikan diri dan terus melukis dengan niat mengharumkan nama negeri. Teruslah berkarya, karena sejatinya karya adalah yang dibuat dengan kesungguhan dan keikhlasan hati,\u201d pungkas pelukis beranak dua tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Shadikin Pard, Pelukis Tanpa Lengan yang Mengharumkan Bangsa dengan Kedua Kakinya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"shadikin-pard-pelukis-tanpa-lengan-yang-mengharumkan-bangsa-dengan-kedua-kakinya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-16 11:09:38","post_modified_gmt":"2019-04-16 04:09:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5637","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5621,"post_author":"877","post_date":"2019-04-10 10:37:08","post_date_gmt":"2019-04-10 03:37:08","post_content":"\n

Bahasan mengenai hukum menyulut kretek pernah dipertanyakan dalam forum bahtsul masail<\/em> (musyawarah) para Kiai\/Ulama\u2019 Kudus. Pertanyaan (saail<\/em>) yang mengajukan atas nama masyarakat Baletengahan, yaitu dukuh yang masuk wilayah Desa Langgardalem Kecamatan Kota. Tepatnya sekitar + 800an m, arah utara Masjid Menara Kudus (al-Aqsha). Kultur budaya masyarakat Baletengahan adalah santri, terdapat banyak Pesantren dan beberapa madrasah, salah satunya lembaga pendidikan formal TBS (Tasywiqut Thullab Salafiyyah), yaitu lembaga pendidikan salaf yang dahulu salah satu tempat  KH. Arwani Amin al-Hafiz mengajar dan yayasan pendidikan Nawa Kartika, yang didirikan oleh tokoh NU setempat. <\/p>\n\n\n\n

Lain halnya pesantren dan lembaga pendidikan, di sekitar Baletengahan Langgardalem, konon dahulu banyak usaha rumahan kretek. Petilasan yang masih dapat dijumpai di Langgardalem adalah \u201cgudang tembakau dan PR. Buah Cengkeh\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Disini terlihat para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus mempunyai tradisi kritis menyikapi fenomena disekelilingnya. Sehingga wajar pada tahun 1990an muncul bahasan tentang kretek di Bahtsul Masail<\/em> para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, jauh mendahului keputusan MUI dan Muhammadiyyah hasil Padang Panjang, dilaksanakan tahun 2009-2010.<\/p>\n\n\n\n

Tradisi Bahtsul Masail biasa disebut \u201cMunadzoroh<\/em>\u201d sudah lama dilakukan para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, dengan bertempat di Masjid-masjid di sekitar Kudus, bergantian dan memutar. Peserta munadzoroh<\/em> adalah para Kiai\/Ulama\u2019 se-Kabupaten Kudus dari berbagai penjuru desa, dan juga masyarakat umum, karena sifatnya terbuka (siapa saja boleh ikut tanpa terkecuali). Pelaksanaannya dari dulu hingga sekarang dijatuhkan pada hari Ahad (minggu). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat pembahasan mengenai kretek, bertempat di Masji al-Aqsho Menara Kudus yang dipimpin oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), redaksi pertanyaaannya adalah:<\/p>\n\n\n\n

\u201ckados pundi hukumipun ngkretek (bagaimana hukum menghisap kretek)?\u201d<\/em>--pertanyaan dari<\/em> Baletengahan--<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sebelum memulai pembahasan biasanya KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menanyakan tentang apa yang akan dibahas. Diceritakan oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi, situasi dan kondisi saat itu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), bertanya di forum, \u00a0\u201copo iki takonane?\u201d (pertanyaannya apa), di jawab yang hadir saat itu, \u201c anu Mbah bab kretek\u201d (itu bab menghisap kretek), lalu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menyambung jawaban hadirin, \u201coooo, bab kretek, kretekku gowo rene dikik\u201d (ooo, bab menghisap kretek, kretekku bawa kemari dulu), kemudian KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) mengambil satu batang kretek dari bungkusnya disulut dan dihisap. Selesai menyulut kretek, kembali KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) berbicara, \u201cwes kono dibahas\u201d (sudah sana dibahas). Setelah diperintahkan untuk dibahas, suasana hening sejenak. \u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mungkin di benak para hadirin terlintas pikiran \u201capa yang dibahas sudah dijawab secara tersirat oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) dengan menghisap kretek\u201d. Pada akhirnya, pembahasan tetap dilaksanakan. Diceritakan KH. Sya\u2019roni juga, situasi saat itu tidak ada Kiai\/Ulama\u2019 yang hadir menghukumi \u201charam\u201d, pada akhirnya diputuskan KH. Turaikhan, dengan hukum \u201c boleh\u201d, disela-sela KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) memberikan penjelasan, ada salah satu hadirin mengacungkan jarinya, beliau adalah KH. Hambali (Al Maghfurlah), sambil berkata; \u201ckulo Kiai, menawi boten udud kulo mboten saget mucal\u201d (saya Kiai, kalau tidak sambil menghisap kretek, saya tidak dapat mengajar), disertai argumen dan penjelasanannya. Kemudian KH. Turaikhan, memberikan jawaban dan tanggapan kepada KH. Hambali, \u201cnek ngono, kanggo kuwi hukumi wajib\u201d (kalau begitu, untuk kamu hukumnya wajib mengkonsumsi kretek).  <\/p>\n\n\n\n

Dilihat dari putusan Bahtsul Masail di atas, pada awalnya menghisap kretek dihukumi \u201cboleh\u201d, namun dengan kondisi tertentu menjadi \u201cWajib\u201d. Cerita penetapan hukum menghisap kretek dalam forum Bahtsul Masail di atas, telah menyebar di kalangan masyarakat Kudus, dan menjadi konsumsi publik, serta bersifat mengikat sampai sekarang. Sehingga banyak Kiai\/Ulama\u2019 Kudus tidak mempersoalkan lagi, apalagi membahas kembali. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cerita situasi dan kondisi Bahtsul Masail, diapresiasi dan diinterpretasikan Kiai\/Ulama\u2019Kudus lebih kontekstual, salah satunya KH. Fatkhur Rahman, beliau bercerita;  saat KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) populer dengan sebutan Mbah Tur memimpin munadzoroh<\/em> ada pertanyaan: bagaimana hukumnya kretek? Mbah Tur malah mengambil kretek, menyulut dan menghisapnya, dengan begitu diasumsikan hukumnya \u201chalal\u201d (jadi  setelah itu sudah tidak perlu dibahas lagi soal kretek). KH. Fatkhur Rahman juga menceritakan ada satu alasan kuat, mengapa halal, karena para Kiai itu tidak mau barang subhat<\/em> (tidak jelas posisinya), apalagi haram. Ketika para Kiai\/Ulama\u2019 besar menghisap kretek, otomatis tidak haram. Tuhan menciptakan sesuatu untuk dinikmati itu ada dua, halal atau haram. <\/p>\n\n\n\n

Dasar hukum menghisap kretek adalah mubah, sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang menjadi wajib, juga menjadi haram. Dasar utamanya adalah  \u201cla dhororo wala dhiroro\u201d. <\/em>Hukumnya seperti  mengkonsumsi gula, ketika kena penyakit gula, maka haram atau tidak boleh mengkonsumsi gula. Begitu pula ketika punya darah tinggi, maka tidak boleh makan daging, dan seterusnya. Dimana \u201calhukmu yadurru ma\u2019a illatihi\u201d<\/em>(hukum itu bisa beralih tergantung alasannya). Membeli kretek dihukumi tidak boleh (haram), jika uang yang dipakai semestinya untuk belanja kebutuhan pokok, membayar sekolah dan lain sebagainya. Menghisap kretek menjadi wajib, ketika tidak menghisap sulit berpikir, lemas, tidak bisa kerja dan lain sebagainya.
<\/p>\n","post_title":"Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fenomena-hukum-rokok-bagi-ulama-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-10 10:37:16","post_modified_gmt":"2019-04-10 03:37:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5621","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

Paling Populer

\n

Rokok selalu dikambinghitamkan sebagai penyebab dari tingginya angka kematian umat manusia. Angka dan data jadul yang selalu diulang-ulang mengenai rokok penyebab kematian, seakan membius kita bahwa rokok-lah musuh bersama. Sementara rokok dijadikan musuh bersama, kita justru abai terhadap musuh riil yang sedang mengintai kehidupan kita.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah penelitian menyatakan bahwa pola makan yang tidak sehat lebih banyak meningkatkan resiko kematian dini daripada faktor risiko lainnya, termasuk merokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cerita Rakyat Tentang Kretek dan Tembakau di Tiga Kota (Kudus, Temanggung, Madura)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ini artinya agen malaikat pencabut nyawa manusia ada di pola makan kita. Apakah sudah sehat atau tidak sehat? satu hal yang seringkali diabaikan.
<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan Studi Global Burden of Disease yang mengamati konsumsi makanan di 195 negara, antara tahun 1990 dan 2017, fokus pada 15 jenis makanan atau nutrisi mengamini pola makan tidak sehat adalah penyebab terbesar kematian manusia.
<\/p>\n\n\n\n

Penelitian lainnya yang bersumber dari Medical News Today, dalam sebuah makalah yang dimuat dalam The Lancet, para peneliti menyimpulkan, pola makan yang buruk menyumbang 1 dari 5, atau 11 juta, kematian orang dewasa pada tahun 2017. Sebagian besar dari kematian itu, sekitar 10 juta, berasal dari penyakit kardiovaskular.
<\/p>\n\n\n\n

Sisanya terutama dari kanker dan diabetes tipe 2. Peringkat negara-negara dari tingkat kematian terkait diet terendah ke tertinggi menempatkan Israel pertama, dengan 89 kematian per 100.000 orang, dan Uzbekistan terakhir, dengan 892 per 100.000. Amerika Serikat, dengan 171 kematian per 100.000, berada di posisi ke-43 dan Inggris di peringkat ke-23, dengan 127 kematian per 100.000. India di tempat ke-118, dan Cina di ke-140.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Penelitian termutakhir yang di sebutkan di atas merupakan penelitian yang bersifat global, lalu bagaimana dengan di Indonesia? Apakah kasus pola makan yang tidak sehat juga menjadi penyebab kematian terbesar?
<\/p>\n\n\n\n

Dalam sebuah artikel yang ditulis oleh Triyani Kresnawan, DCN,Mkes, Instalasi Gizi RSCM dan diterbitkan oleh Departemen Kesehatan Gizi Kementerian Kesehatan menyebutkan, pola makan yang tidak seimbang yang menyebabkan resiko munculnya penyakit kanker antara lain kebiasaan makanan cepat saji (fast food).
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan menjaga keseimbangan dalam pola makan ini juga disampaikan oleh Spesialis Patologi Anatomi dari Rumah Sakit Kanker Dharmais, dr Evalina Suzana. Ia mengatakan pola makan yang sehat merupakan bagian bentuk pencegahan dari penyakit kanker. Di luar dari olahraga yang teratur, minum air, dan tidur yang cukup.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Eva, sebuah pola bisa dibilang sehat jika semua yang masuk ke dalam tubuh seimbang. Tidak boleh berlebihan bukan berarti tidak dimakan sama sekali. Harus terdiri dari 50 persen protein, 30 persen karbohidrat, dan 20 persen lemak dan serat. Itu harus dipenuhi di luar mineral-mineral yang ada.
<\/p>\n\n\n\n

Nah loh, berdasarkan hasil-hasil penelitian yang menyatakan bahwa pola makan tidak sehat merupakan penyebab resiko kematian terbesar, lalu mengapa hanya rokok yang terus-menerus dituduh dalam kampanye kelompok-kelompok antirokok yang mengatasnamakan kesehatan?
<\/p>\n\n\n\n

Untuk memahami hal ini tentunya anda harus mengetahui bahwa terdapat perang bisnis nikotin antara industri farmasi dan industri rokok, atau yang sering kami sebut sebagai \u201cNicotin War\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Maka Anda tak usah heran jika rokok diframing bertentangan dengan kesehatan, karena semua semata hanyalah akal-akalan pihak industri farmasi untuk memenangi pertarungan bisnis nikotin tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Pola Makan Tidak Sehat Membunuhmu","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pola-makan-tidak-sehat-membunuhmu","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-23 12:23:48","post_modified_gmt":"2019-04-23 05:23:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5653","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5637,"post_author":"855","post_date":"2019-04-16 11:07:27","post_date_gmt":"2019-04-16 04:07:27","post_content":"\n

Terlahir sebagai tunadaksa atau tanpa tangan, tidak membuat Shadikin Pard pesimis menjalan hidup. Lebih dari itu, ia berhasil membuktikan bahwa kekurangan bukanlah aral melintang yang mengganjal langkah menuju kesuksesan.<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Hujan sudah reda ketika kaki saya memasuki gerbang Taman Balekambang, Surakarta. Di dalam, di atas tanah yang masih basah, ratusan pelukis dari penjuru negeri sedang sibuk mengaktualisasikan kegelisahan hatinya ke sebuah kanvas. Mereka sedang mengikuti Indonesia Painting Contest 2019 yang diselenggarakan oleh NU Gallery.
<\/p>\n\n\n\n

Saya terus melangkah menyusuri tanah basah yang di samping kanan dan kirinya para pelukis sedang khidmat menggoreskan kuas. Hingga kaki saya terhenti di hadapan pelukis yang berkonsentrasi melukis menggunakan kedua kakinya.
<\/p>\n\n\n\n

Sebatang kuas dijepitkan di antara jemari kaki. Sesekali ia menyelupkan kuas itu ke dalam cat dan kemudian menggoreskannya ke dalam kanvas hingga membentuk sebuah lukisan realis Reog Ponorogo yang indah. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di sampingnya, seorang pemuda yang ternyata anaknya dengan sigap menjalankan instruksi ayahnya, mulai dari mengganti ukuran kuas yang terjepit di antara jemarinya, membuka botol cat dan lain sebagainya. Sesekali anaknya menyalakan rokok dan menyodorkan ke hadapan mulut ayahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Ia melukis Reog Ponorogo bukan tanpa alasan. Ia ingin memberikan kritik kepada seluruh masyarakat dan Pemerintah, bahwa mencintai kekayaan budaya bangsa sendiri adalah kewajiban yang harus selalu digelorakan. Jangan sampai, ketika kebudayaan tersebut direbut negara lain, bangsa ini baru panik dan serius mengakui serta membanggakan kekayaan kebudayaan sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ialah Shadikin Pard, seorang pelukis masyhur yang terlahir tunadaksa atau tanpa kedua tangan. Kami berbincang di bawah pohon beringin rindang. Di antara para pelukis lainnya yang sedang beristirahat menunggu waktu pengumuman pemenang dibacakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pria kelahiran 29 Oktober 1996 ini mulai melukis sejak masih di taman kanak-kanak. Saat itu, melukis hanya sebagai hobi semata. Sadikin juga pernah les privat melukis di rumahnya. Hingga mengenyam pendidikan sekolah menengah atas di SMA Santa Maria Kota Malang, Sadikin masih menempatkan melukis sebagai hobi.
<\/p>\n\n\n\n

Di tengah keterbatasannya, Sadikin lalu melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kala itu, Sadikin mengambil jurusan psikologi pascagagal mengambil jurusan arsitektur yang ia dambakan dan cita-citakan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, kekurangan yang diberikan Tuhan adalah sebuah kelebihan yang tidak banyak dimiliki oleh orang lain. Kegigihannya dalam belajar melukis menghantarkannya ke Associaton of Mouth and Foot Painting Artist (AMFPA). Sebuah organisasi yang bermarkas di Swiss dan menghimpun karya pelukis yang melukis menggunakan kaki dan mulut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSetelah masuk AMFPA, saya menjadikan melukis sebagai profesi. Tahun 1989 saya menerima 300 swiss franc, setara Rp 300 ribu waktu itu. Kini, saya menerima sekitar 40 jt setiap bulan,\u201d ungkap Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin terus melukis. Kemampuannya terus berkembang, bahkan melebihi tuntutan dari organisasi yang ia ikuti. Nama Sadikin juga mulai dikenal, bukan sebab keterbatasannya, melainkan sebab karyanya yang memang bernilai tinggi.
<\/p>\n\n\n\n

Setiap kali ada pameran lukisan dan kontes-kontes melukis, Sadikin tidak pernah alfa untuk mengikutinya. Karyanya menjadi sorotan publik dan banyak laku dengan harga yang tidak murah. Bahkan menurutnya, ada salah satu lukisannya yang laku hingga Rp 250 juta.<\/p>\n\n\n\n

Menolak Pasrah dan Bergantung kepada Pemerintah karena Disabilitas<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Sadikin tidak mau dikasihani orang lain. Meski ia tunadaksa, ia adalah manusia yang sama, yang memilki kesempatan besar untuk menjalani rutinitas sebagaimana manusia lainnya. \u201cKuncinya adalah terus mencoba, mencoba dan mencoba. Saya tidak apa-apa dicemooh lukisan saya jelek. Bagi saya cemoohan seperti itu adalah cambuk untuk terus berlatih,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Sadikin, masyarakat harus adil memerlakukan para difabel. Difabel harus diperlakukan sebagaimana orang biasa. Semakin banyak orang yang mengasihani difabel, maka tidak malah membuat difabel itu kuat, sebaliknya berdampak melemahkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cDifabel harus diperlakukan seperti manusia biasa, bahkan ia harus diberi tantangan dan ditempa untuk menemukan kelebihan dalam dirinya,\u201d kata Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, para difabel harus mulai mengubah sudut pandang. Bahwa segala kekurangan tidak kemudian menjadikan para difabel pasrah menerima nasib dan mengharapkan santunan dari orang lain dan pemerintah untuk menjalani hidup. Difabel adalah orang istimewa yang dapat berkarya melebihi orang-orang biasa. Kekurangan ini adalah kelebihan yang akan ditemukan dengan kerja keras dan melatih diri menjadi apa yang diinginkan.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin bisa berangkat ke Swiss dan mengharumkan nama Indonesia di mata dunia, tidak terlebih dulu mendapat perhatian dari pemerintah. Ia mengaku berangkat dengan uang sendiri. Bahkan, lanjut Sadikin, hingga kini pun tidak ada pemerintah yang mengapresiasi karya-karyanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak menginginkan belas kasihan dari pemerintah. Karena yang sejatinya benar adalah, kita dapat memberikan apa kepada negara ini, bukan negara dapat memberikan apa kepada kita. Namun yang saya sayangkan, pemerintah sepertinya tidak peduli memperhatikan para seniman dan menghargai karya seni dari para seniman negeri sendiri. Seharusnya para seniman ini diberikan wadah, diperhatikan, kan juga kalau manajemennya bagus bisa menjadi pemasukan untuk negara,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin mengirim pesan kepada seluruh seniman di Tanah Air untuk terus berkaraya, tanpa peduli akan bernilai apa sebuah karya tersebut. \u201cYang terpenting kita dapat mengaktulisasikan diri dan terus melukis dengan niat mengharumkan nama negeri. Teruslah berkarya, karena sejatinya karya adalah yang dibuat dengan kesungguhan dan keikhlasan hati,\u201d pungkas pelukis beranak dua tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Shadikin Pard, Pelukis Tanpa Lengan yang Mengharumkan Bangsa dengan Kedua Kakinya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"shadikin-pard-pelukis-tanpa-lengan-yang-mengharumkan-bangsa-dengan-kedua-kakinya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-16 11:09:38","post_modified_gmt":"2019-04-16 04:09:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5637","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5621,"post_author":"877","post_date":"2019-04-10 10:37:08","post_date_gmt":"2019-04-10 03:37:08","post_content":"\n

Bahasan mengenai hukum menyulut kretek pernah dipertanyakan dalam forum bahtsul masail<\/em> (musyawarah) para Kiai\/Ulama\u2019 Kudus. Pertanyaan (saail<\/em>) yang mengajukan atas nama masyarakat Baletengahan, yaitu dukuh yang masuk wilayah Desa Langgardalem Kecamatan Kota. Tepatnya sekitar + 800an m, arah utara Masjid Menara Kudus (al-Aqsha). Kultur budaya masyarakat Baletengahan adalah santri, terdapat banyak Pesantren dan beberapa madrasah, salah satunya lembaga pendidikan formal TBS (Tasywiqut Thullab Salafiyyah), yaitu lembaga pendidikan salaf yang dahulu salah satu tempat  KH. Arwani Amin al-Hafiz mengajar dan yayasan pendidikan Nawa Kartika, yang didirikan oleh tokoh NU setempat. <\/p>\n\n\n\n

Lain halnya pesantren dan lembaga pendidikan, di sekitar Baletengahan Langgardalem, konon dahulu banyak usaha rumahan kretek. Petilasan yang masih dapat dijumpai di Langgardalem adalah \u201cgudang tembakau dan PR. Buah Cengkeh\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Disini terlihat para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus mempunyai tradisi kritis menyikapi fenomena disekelilingnya. Sehingga wajar pada tahun 1990an muncul bahasan tentang kretek di Bahtsul Masail<\/em> para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, jauh mendahului keputusan MUI dan Muhammadiyyah hasil Padang Panjang, dilaksanakan tahun 2009-2010.<\/p>\n\n\n\n

Tradisi Bahtsul Masail biasa disebut \u201cMunadzoroh<\/em>\u201d sudah lama dilakukan para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, dengan bertempat di Masjid-masjid di sekitar Kudus, bergantian dan memutar. Peserta munadzoroh<\/em> adalah para Kiai\/Ulama\u2019 se-Kabupaten Kudus dari berbagai penjuru desa, dan juga masyarakat umum, karena sifatnya terbuka (siapa saja boleh ikut tanpa terkecuali). Pelaksanaannya dari dulu hingga sekarang dijatuhkan pada hari Ahad (minggu). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat pembahasan mengenai kretek, bertempat di Masji al-Aqsho Menara Kudus yang dipimpin oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), redaksi pertanyaaannya adalah:<\/p>\n\n\n\n

\u201ckados pundi hukumipun ngkretek (bagaimana hukum menghisap kretek)?\u201d<\/em>--pertanyaan dari<\/em> Baletengahan--<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sebelum memulai pembahasan biasanya KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menanyakan tentang apa yang akan dibahas. Diceritakan oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi, situasi dan kondisi saat itu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), bertanya di forum, \u00a0\u201copo iki takonane?\u201d (pertanyaannya apa), di jawab yang hadir saat itu, \u201c anu Mbah bab kretek\u201d (itu bab menghisap kretek), lalu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menyambung jawaban hadirin, \u201coooo, bab kretek, kretekku gowo rene dikik\u201d (ooo, bab menghisap kretek, kretekku bawa kemari dulu), kemudian KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) mengambil satu batang kretek dari bungkusnya disulut dan dihisap. Selesai menyulut kretek, kembali KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) berbicara, \u201cwes kono dibahas\u201d (sudah sana dibahas). Setelah diperintahkan untuk dibahas, suasana hening sejenak. \u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mungkin di benak para hadirin terlintas pikiran \u201capa yang dibahas sudah dijawab secara tersirat oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) dengan menghisap kretek\u201d. Pada akhirnya, pembahasan tetap dilaksanakan. Diceritakan KH. Sya\u2019roni juga, situasi saat itu tidak ada Kiai\/Ulama\u2019 yang hadir menghukumi \u201charam\u201d, pada akhirnya diputuskan KH. Turaikhan, dengan hukum \u201c boleh\u201d, disela-sela KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) memberikan penjelasan, ada salah satu hadirin mengacungkan jarinya, beliau adalah KH. Hambali (Al Maghfurlah), sambil berkata; \u201ckulo Kiai, menawi boten udud kulo mboten saget mucal\u201d (saya Kiai, kalau tidak sambil menghisap kretek, saya tidak dapat mengajar), disertai argumen dan penjelasanannya. Kemudian KH. Turaikhan, memberikan jawaban dan tanggapan kepada KH. Hambali, \u201cnek ngono, kanggo kuwi hukumi wajib\u201d (kalau begitu, untuk kamu hukumnya wajib mengkonsumsi kretek).  <\/p>\n\n\n\n

Dilihat dari putusan Bahtsul Masail di atas, pada awalnya menghisap kretek dihukumi \u201cboleh\u201d, namun dengan kondisi tertentu menjadi \u201cWajib\u201d. Cerita penetapan hukum menghisap kretek dalam forum Bahtsul Masail di atas, telah menyebar di kalangan masyarakat Kudus, dan menjadi konsumsi publik, serta bersifat mengikat sampai sekarang. Sehingga banyak Kiai\/Ulama\u2019 Kudus tidak mempersoalkan lagi, apalagi membahas kembali. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cerita situasi dan kondisi Bahtsul Masail, diapresiasi dan diinterpretasikan Kiai\/Ulama\u2019Kudus lebih kontekstual, salah satunya KH. Fatkhur Rahman, beliau bercerita;  saat KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) populer dengan sebutan Mbah Tur memimpin munadzoroh<\/em> ada pertanyaan: bagaimana hukumnya kretek? Mbah Tur malah mengambil kretek, menyulut dan menghisapnya, dengan begitu diasumsikan hukumnya \u201chalal\u201d (jadi  setelah itu sudah tidak perlu dibahas lagi soal kretek). KH. Fatkhur Rahman juga menceritakan ada satu alasan kuat, mengapa halal, karena para Kiai itu tidak mau barang subhat<\/em> (tidak jelas posisinya), apalagi haram. Ketika para Kiai\/Ulama\u2019 besar menghisap kretek, otomatis tidak haram. Tuhan menciptakan sesuatu untuk dinikmati itu ada dua, halal atau haram. <\/p>\n\n\n\n

Dasar hukum menghisap kretek adalah mubah, sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang menjadi wajib, juga menjadi haram. Dasar utamanya adalah  \u201cla dhororo wala dhiroro\u201d. <\/em>Hukumnya seperti  mengkonsumsi gula, ketika kena penyakit gula, maka haram atau tidak boleh mengkonsumsi gula. Begitu pula ketika punya darah tinggi, maka tidak boleh makan daging, dan seterusnya. Dimana \u201calhukmu yadurru ma\u2019a illatihi\u201d<\/em>(hukum itu bisa beralih tergantung alasannya). Membeli kretek dihukumi tidak boleh (haram), jika uang yang dipakai semestinya untuk belanja kebutuhan pokok, membayar sekolah dan lain sebagainya. Menghisap kretek menjadi wajib, ketika tidak menghisap sulit berpikir, lemas, tidak bisa kerja dan lain sebagainya.
<\/p>\n","post_title":"Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fenomena-hukum-rokok-bagi-ulama-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-10 10:37:16","post_modified_gmt":"2019-04-10 03:37:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5621","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

Paling Populer

\n

Hal yang sama juga bisa kita lakukan dengan jejeran nama-nama orang dengan kinerja dan etos kerja. Yang rajin, juga yang malas, ada dalam kelompok mereka yang merokok juga kelompok mereka yang tidak merokok. Maka, saya kira, apa yang terjadi di Jepang dan diberitakan dalam sepekan belakangan, tentu saja mengganggu akal sehat siapa saja yang masih bisa berpikir dengan jernih.
<\/p>\n","post_title":"Diskriminasi Terhadap Para Perokok di Jepang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"diskriminasi-terhadap-para-perokok-di-jepang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-03 11:19:17","post_modified_gmt":"2019-05-03 04:19:17","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5679","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5653,"post_author":"883","post_date":"2019-04-23 12:23:36","post_date_gmt":"2019-04-23 05:23:36","post_content":"\n

Rokok selalu dikambinghitamkan sebagai penyebab dari tingginya angka kematian umat manusia. Angka dan data jadul yang selalu diulang-ulang mengenai rokok penyebab kematian, seakan membius kita bahwa rokok-lah musuh bersama. Sementara rokok dijadikan musuh bersama, kita justru abai terhadap musuh riil yang sedang mengintai kehidupan kita.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah penelitian menyatakan bahwa pola makan yang tidak sehat lebih banyak meningkatkan resiko kematian dini daripada faktor risiko lainnya, termasuk merokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cerita Rakyat Tentang Kretek dan Tembakau di Tiga Kota (Kudus, Temanggung, Madura)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ini artinya agen malaikat pencabut nyawa manusia ada di pola makan kita. Apakah sudah sehat atau tidak sehat? satu hal yang seringkali diabaikan.
<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan Studi Global Burden of Disease yang mengamati konsumsi makanan di 195 negara, antara tahun 1990 dan 2017, fokus pada 15 jenis makanan atau nutrisi mengamini pola makan tidak sehat adalah penyebab terbesar kematian manusia.
<\/p>\n\n\n\n

Penelitian lainnya yang bersumber dari Medical News Today, dalam sebuah makalah yang dimuat dalam The Lancet, para peneliti menyimpulkan, pola makan yang buruk menyumbang 1 dari 5, atau 11 juta, kematian orang dewasa pada tahun 2017. Sebagian besar dari kematian itu, sekitar 10 juta, berasal dari penyakit kardiovaskular.
<\/p>\n\n\n\n

Sisanya terutama dari kanker dan diabetes tipe 2. Peringkat negara-negara dari tingkat kematian terkait diet terendah ke tertinggi menempatkan Israel pertama, dengan 89 kematian per 100.000 orang, dan Uzbekistan terakhir, dengan 892 per 100.000. Amerika Serikat, dengan 171 kematian per 100.000, berada di posisi ke-43 dan Inggris di peringkat ke-23, dengan 127 kematian per 100.000. India di tempat ke-118, dan Cina di ke-140.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Penelitian termutakhir yang di sebutkan di atas merupakan penelitian yang bersifat global, lalu bagaimana dengan di Indonesia? Apakah kasus pola makan yang tidak sehat juga menjadi penyebab kematian terbesar?
<\/p>\n\n\n\n

Dalam sebuah artikel yang ditulis oleh Triyani Kresnawan, DCN,Mkes, Instalasi Gizi RSCM dan diterbitkan oleh Departemen Kesehatan Gizi Kementerian Kesehatan menyebutkan, pola makan yang tidak seimbang yang menyebabkan resiko munculnya penyakit kanker antara lain kebiasaan makanan cepat saji (fast food).
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan menjaga keseimbangan dalam pola makan ini juga disampaikan oleh Spesialis Patologi Anatomi dari Rumah Sakit Kanker Dharmais, dr Evalina Suzana. Ia mengatakan pola makan yang sehat merupakan bagian bentuk pencegahan dari penyakit kanker. Di luar dari olahraga yang teratur, minum air, dan tidur yang cukup.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Eva, sebuah pola bisa dibilang sehat jika semua yang masuk ke dalam tubuh seimbang. Tidak boleh berlebihan bukan berarti tidak dimakan sama sekali. Harus terdiri dari 50 persen protein, 30 persen karbohidrat, dan 20 persen lemak dan serat. Itu harus dipenuhi di luar mineral-mineral yang ada.
<\/p>\n\n\n\n

Nah loh, berdasarkan hasil-hasil penelitian yang menyatakan bahwa pola makan tidak sehat merupakan penyebab resiko kematian terbesar, lalu mengapa hanya rokok yang terus-menerus dituduh dalam kampanye kelompok-kelompok antirokok yang mengatasnamakan kesehatan?
<\/p>\n\n\n\n

Untuk memahami hal ini tentunya anda harus mengetahui bahwa terdapat perang bisnis nikotin antara industri farmasi dan industri rokok, atau yang sering kami sebut sebagai \u201cNicotin War\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Maka Anda tak usah heran jika rokok diframing bertentangan dengan kesehatan, karena semua semata hanyalah akal-akalan pihak industri farmasi untuk memenangi pertarungan bisnis nikotin tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Pola Makan Tidak Sehat Membunuhmu","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pola-makan-tidak-sehat-membunuhmu","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-23 12:23:48","post_modified_gmt":"2019-04-23 05:23:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5653","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5637,"post_author":"855","post_date":"2019-04-16 11:07:27","post_date_gmt":"2019-04-16 04:07:27","post_content":"\n

Terlahir sebagai tunadaksa atau tanpa tangan, tidak membuat Shadikin Pard pesimis menjalan hidup. Lebih dari itu, ia berhasil membuktikan bahwa kekurangan bukanlah aral melintang yang mengganjal langkah menuju kesuksesan.<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Hujan sudah reda ketika kaki saya memasuki gerbang Taman Balekambang, Surakarta. Di dalam, di atas tanah yang masih basah, ratusan pelukis dari penjuru negeri sedang sibuk mengaktualisasikan kegelisahan hatinya ke sebuah kanvas. Mereka sedang mengikuti Indonesia Painting Contest 2019 yang diselenggarakan oleh NU Gallery.
<\/p>\n\n\n\n

Saya terus melangkah menyusuri tanah basah yang di samping kanan dan kirinya para pelukis sedang khidmat menggoreskan kuas. Hingga kaki saya terhenti di hadapan pelukis yang berkonsentrasi melukis menggunakan kedua kakinya.
<\/p>\n\n\n\n

Sebatang kuas dijepitkan di antara jemari kaki. Sesekali ia menyelupkan kuas itu ke dalam cat dan kemudian menggoreskannya ke dalam kanvas hingga membentuk sebuah lukisan realis Reog Ponorogo yang indah. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di sampingnya, seorang pemuda yang ternyata anaknya dengan sigap menjalankan instruksi ayahnya, mulai dari mengganti ukuran kuas yang terjepit di antara jemarinya, membuka botol cat dan lain sebagainya. Sesekali anaknya menyalakan rokok dan menyodorkan ke hadapan mulut ayahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Ia melukis Reog Ponorogo bukan tanpa alasan. Ia ingin memberikan kritik kepada seluruh masyarakat dan Pemerintah, bahwa mencintai kekayaan budaya bangsa sendiri adalah kewajiban yang harus selalu digelorakan. Jangan sampai, ketika kebudayaan tersebut direbut negara lain, bangsa ini baru panik dan serius mengakui serta membanggakan kekayaan kebudayaan sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ialah Shadikin Pard, seorang pelukis masyhur yang terlahir tunadaksa atau tanpa kedua tangan. Kami berbincang di bawah pohon beringin rindang. Di antara para pelukis lainnya yang sedang beristirahat menunggu waktu pengumuman pemenang dibacakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pria kelahiran 29 Oktober 1996 ini mulai melukis sejak masih di taman kanak-kanak. Saat itu, melukis hanya sebagai hobi semata. Sadikin juga pernah les privat melukis di rumahnya. Hingga mengenyam pendidikan sekolah menengah atas di SMA Santa Maria Kota Malang, Sadikin masih menempatkan melukis sebagai hobi.
<\/p>\n\n\n\n

Di tengah keterbatasannya, Sadikin lalu melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kala itu, Sadikin mengambil jurusan psikologi pascagagal mengambil jurusan arsitektur yang ia dambakan dan cita-citakan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, kekurangan yang diberikan Tuhan adalah sebuah kelebihan yang tidak banyak dimiliki oleh orang lain. Kegigihannya dalam belajar melukis menghantarkannya ke Associaton of Mouth and Foot Painting Artist (AMFPA). Sebuah organisasi yang bermarkas di Swiss dan menghimpun karya pelukis yang melukis menggunakan kaki dan mulut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSetelah masuk AMFPA, saya menjadikan melukis sebagai profesi. Tahun 1989 saya menerima 300 swiss franc, setara Rp 300 ribu waktu itu. Kini, saya menerima sekitar 40 jt setiap bulan,\u201d ungkap Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin terus melukis. Kemampuannya terus berkembang, bahkan melebihi tuntutan dari organisasi yang ia ikuti. Nama Sadikin juga mulai dikenal, bukan sebab keterbatasannya, melainkan sebab karyanya yang memang bernilai tinggi.
<\/p>\n\n\n\n

Setiap kali ada pameran lukisan dan kontes-kontes melukis, Sadikin tidak pernah alfa untuk mengikutinya. Karyanya menjadi sorotan publik dan banyak laku dengan harga yang tidak murah. Bahkan menurutnya, ada salah satu lukisannya yang laku hingga Rp 250 juta.<\/p>\n\n\n\n

Menolak Pasrah dan Bergantung kepada Pemerintah karena Disabilitas<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Sadikin tidak mau dikasihani orang lain. Meski ia tunadaksa, ia adalah manusia yang sama, yang memilki kesempatan besar untuk menjalani rutinitas sebagaimana manusia lainnya. \u201cKuncinya adalah terus mencoba, mencoba dan mencoba. Saya tidak apa-apa dicemooh lukisan saya jelek. Bagi saya cemoohan seperti itu adalah cambuk untuk terus berlatih,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Sadikin, masyarakat harus adil memerlakukan para difabel. Difabel harus diperlakukan sebagaimana orang biasa. Semakin banyak orang yang mengasihani difabel, maka tidak malah membuat difabel itu kuat, sebaliknya berdampak melemahkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cDifabel harus diperlakukan seperti manusia biasa, bahkan ia harus diberi tantangan dan ditempa untuk menemukan kelebihan dalam dirinya,\u201d kata Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, para difabel harus mulai mengubah sudut pandang. Bahwa segala kekurangan tidak kemudian menjadikan para difabel pasrah menerima nasib dan mengharapkan santunan dari orang lain dan pemerintah untuk menjalani hidup. Difabel adalah orang istimewa yang dapat berkarya melebihi orang-orang biasa. Kekurangan ini adalah kelebihan yang akan ditemukan dengan kerja keras dan melatih diri menjadi apa yang diinginkan.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin bisa berangkat ke Swiss dan mengharumkan nama Indonesia di mata dunia, tidak terlebih dulu mendapat perhatian dari pemerintah. Ia mengaku berangkat dengan uang sendiri. Bahkan, lanjut Sadikin, hingga kini pun tidak ada pemerintah yang mengapresiasi karya-karyanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak menginginkan belas kasihan dari pemerintah. Karena yang sejatinya benar adalah, kita dapat memberikan apa kepada negara ini, bukan negara dapat memberikan apa kepada kita. Namun yang saya sayangkan, pemerintah sepertinya tidak peduli memperhatikan para seniman dan menghargai karya seni dari para seniman negeri sendiri. Seharusnya para seniman ini diberikan wadah, diperhatikan, kan juga kalau manajemennya bagus bisa menjadi pemasukan untuk negara,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin mengirim pesan kepada seluruh seniman di Tanah Air untuk terus berkaraya, tanpa peduli akan bernilai apa sebuah karya tersebut. \u201cYang terpenting kita dapat mengaktulisasikan diri dan terus melukis dengan niat mengharumkan nama negeri. Teruslah berkarya, karena sejatinya karya adalah yang dibuat dengan kesungguhan dan keikhlasan hati,\u201d pungkas pelukis beranak dua tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Shadikin Pard, Pelukis Tanpa Lengan yang Mengharumkan Bangsa dengan Kedua Kakinya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"shadikin-pard-pelukis-tanpa-lengan-yang-mengharumkan-bangsa-dengan-kedua-kakinya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-16 11:09:38","post_modified_gmt":"2019-04-16 04:09:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5637","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5621,"post_author":"877","post_date":"2019-04-10 10:37:08","post_date_gmt":"2019-04-10 03:37:08","post_content":"\n

Bahasan mengenai hukum menyulut kretek pernah dipertanyakan dalam forum bahtsul masail<\/em> (musyawarah) para Kiai\/Ulama\u2019 Kudus. Pertanyaan (saail<\/em>) yang mengajukan atas nama masyarakat Baletengahan, yaitu dukuh yang masuk wilayah Desa Langgardalem Kecamatan Kota. Tepatnya sekitar + 800an m, arah utara Masjid Menara Kudus (al-Aqsha). Kultur budaya masyarakat Baletengahan adalah santri, terdapat banyak Pesantren dan beberapa madrasah, salah satunya lembaga pendidikan formal TBS (Tasywiqut Thullab Salafiyyah), yaitu lembaga pendidikan salaf yang dahulu salah satu tempat  KH. Arwani Amin al-Hafiz mengajar dan yayasan pendidikan Nawa Kartika, yang didirikan oleh tokoh NU setempat. <\/p>\n\n\n\n

Lain halnya pesantren dan lembaga pendidikan, di sekitar Baletengahan Langgardalem, konon dahulu banyak usaha rumahan kretek. Petilasan yang masih dapat dijumpai di Langgardalem adalah \u201cgudang tembakau dan PR. Buah Cengkeh\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Disini terlihat para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus mempunyai tradisi kritis menyikapi fenomena disekelilingnya. Sehingga wajar pada tahun 1990an muncul bahasan tentang kretek di Bahtsul Masail<\/em> para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, jauh mendahului keputusan MUI dan Muhammadiyyah hasil Padang Panjang, dilaksanakan tahun 2009-2010.<\/p>\n\n\n\n

Tradisi Bahtsul Masail biasa disebut \u201cMunadzoroh<\/em>\u201d sudah lama dilakukan para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, dengan bertempat di Masjid-masjid di sekitar Kudus, bergantian dan memutar. Peserta munadzoroh<\/em> adalah para Kiai\/Ulama\u2019 se-Kabupaten Kudus dari berbagai penjuru desa, dan juga masyarakat umum, karena sifatnya terbuka (siapa saja boleh ikut tanpa terkecuali). Pelaksanaannya dari dulu hingga sekarang dijatuhkan pada hari Ahad (minggu). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat pembahasan mengenai kretek, bertempat di Masji al-Aqsho Menara Kudus yang dipimpin oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), redaksi pertanyaaannya adalah:<\/p>\n\n\n\n

\u201ckados pundi hukumipun ngkretek (bagaimana hukum menghisap kretek)?\u201d<\/em>--pertanyaan dari<\/em> Baletengahan--<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sebelum memulai pembahasan biasanya KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menanyakan tentang apa yang akan dibahas. Diceritakan oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi, situasi dan kondisi saat itu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), bertanya di forum, \u00a0\u201copo iki takonane?\u201d (pertanyaannya apa), di jawab yang hadir saat itu, \u201c anu Mbah bab kretek\u201d (itu bab menghisap kretek), lalu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menyambung jawaban hadirin, \u201coooo, bab kretek, kretekku gowo rene dikik\u201d (ooo, bab menghisap kretek, kretekku bawa kemari dulu), kemudian KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) mengambil satu batang kretek dari bungkusnya disulut dan dihisap. Selesai menyulut kretek, kembali KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) berbicara, \u201cwes kono dibahas\u201d (sudah sana dibahas). Setelah diperintahkan untuk dibahas, suasana hening sejenak. \u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mungkin di benak para hadirin terlintas pikiran \u201capa yang dibahas sudah dijawab secara tersirat oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) dengan menghisap kretek\u201d. Pada akhirnya, pembahasan tetap dilaksanakan. Diceritakan KH. Sya\u2019roni juga, situasi saat itu tidak ada Kiai\/Ulama\u2019 yang hadir menghukumi \u201charam\u201d, pada akhirnya diputuskan KH. Turaikhan, dengan hukum \u201c boleh\u201d, disela-sela KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) memberikan penjelasan, ada salah satu hadirin mengacungkan jarinya, beliau adalah KH. Hambali (Al Maghfurlah), sambil berkata; \u201ckulo Kiai, menawi boten udud kulo mboten saget mucal\u201d (saya Kiai, kalau tidak sambil menghisap kretek, saya tidak dapat mengajar), disertai argumen dan penjelasanannya. Kemudian KH. Turaikhan, memberikan jawaban dan tanggapan kepada KH. Hambali, \u201cnek ngono, kanggo kuwi hukumi wajib\u201d (kalau begitu, untuk kamu hukumnya wajib mengkonsumsi kretek).  <\/p>\n\n\n\n

Dilihat dari putusan Bahtsul Masail di atas, pada awalnya menghisap kretek dihukumi \u201cboleh\u201d, namun dengan kondisi tertentu menjadi \u201cWajib\u201d. Cerita penetapan hukum menghisap kretek dalam forum Bahtsul Masail di atas, telah menyebar di kalangan masyarakat Kudus, dan menjadi konsumsi publik, serta bersifat mengikat sampai sekarang. Sehingga banyak Kiai\/Ulama\u2019 Kudus tidak mempersoalkan lagi, apalagi membahas kembali. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cerita situasi dan kondisi Bahtsul Masail, diapresiasi dan diinterpretasikan Kiai\/Ulama\u2019Kudus lebih kontekstual, salah satunya KH. Fatkhur Rahman, beliau bercerita;  saat KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) populer dengan sebutan Mbah Tur memimpin munadzoroh<\/em> ada pertanyaan: bagaimana hukumnya kretek? Mbah Tur malah mengambil kretek, menyulut dan menghisapnya, dengan begitu diasumsikan hukumnya \u201chalal\u201d (jadi  setelah itu sudah tidak perlu dibahas lagi soal kretek). KH. Fatkhur Rahman juga menceritakan ada satu alasan kuat, mengapa halal, karena para Kiai itu tidak mau barang subhat<\/em> (tidak jelas posisinya), apalagi haram. Ketika para Kiai\/Ulama\u2019 besar menghisap kretek, otomatis tidak haram. Tuhan menciptakan sesuatu untuk dinikmati itu ada dua, halal atau haram. <\/p>\n\n\n\n

Dasar hukum menghisap kretek adalah mubah, sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang menjadi wajib, juga menjadi haram. Dasar utamanya adalah  \u201cla dhororo wala dhiroro\u201d. <\/em>Hukumnya seperti  mengkonsumsi gula, ketika kena penyakit gula, maka haram atau tidak boleh mengkonsumsi gula. Begitu pula ketika punya darah tinggi, maka tidak boleh makan daging, dan seterusnya. Dimana \u201calhukmu yadurru ma\u2019a illatihi\u201d<\/em>(hukum itu bisa beralih tergantung alasannya). Membeli kretek dihukumi tidak boleh (haram), jika uang yang dipakai semestinya untuk belanja kebutuhan pokok, membayar sekolah dan lain sebagainya. Menghisap kretek menjadi wajib, ketika tidak menghisap sulit berpikir, lemas, tidak bisa kerja dan lain sebagainya.
<\/p>\n","post_title":"Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fenomena-hukum-rokok-bagi-ulama-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-10 10:37:16","post_modified_gmt":"2019-04-10 03:37:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5621","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

Paling Populer

\n

Bodoh ya bodoh saja, malas ya malas saja, juga sebaliknya, tak ada kaitannya dengan kebiasaan merokok. Kita bisa menjejerkan ratusan bahkan ribuan nama-nama orang yang memiliki kebiasaan merokok, di sana akan ada orang-orang yang sangai pandai hingga orang-orang idiot sekalipun yang memiliki kebiasaan merokok. Kita juga bisa menjejerkan nama-nama ratusan hingga ribuan orang yang sama sekali tidak merokok, dan di sana akan ada orang yang pandai sekali juga akan ada orang goblok segoblok-gobloknya yang sama sekali tidak merokok. Lalu, apa alasan memecat staf dan dosen di kampus yang memiliki kebiasaan merokok?<\/p>\n\n\n\n

Hal yang sama juga bisa kita lakukan dengan jejeran nama-nama orang dengan kinerja dan etos kerja. Yang rajin, juga yang malas, ada dalam kelompok mereka yang merokok juga kelompok mereka yang tidak merokok. Maka, saya kira, apa yang terjadi di Jepang dan diberitakan dalam sepekan belakangan, tentu saja mengganggu akal sehat siapa saja yang masih bisa berpikir dengan jernih.
<\/p>\n","post_title":"Diskriminasi Terhadap Para Perokok di Jepang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"diskriminasi-terhadap-para-perokok-di-jepang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-03 11:19:17","post_modified_gmt":"2019-05-03 04:19:17","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5679","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5653,"post_author":"883","post_date":"2019-04-23 12:23:36","post_date_gmt":"2019-04-23 05:23:36","post_content":"\n

Rokok selalu dikambinghitamkan sebagai penyebab dari tingginya angka kematian umat manusia. Angka dan data jadul yang selalu diulang-ulang mengenai rokok penyebab kematian, seakan membius kita bahwa rokok-lah musuh bersama. Sementara rokok dijadikan musuh bersama, kita justru abai terhadap musuh riil yang sedang mengintai kehidupan kita.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah penelitian menyatakan bahwa pola makan yang tidak sehat lebih banyak meningkatkan resiko kematian dini daripada faktor risiko lainnya, termasuk merokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cerita Rakyat Tentang Kretek dan Tembakau di Tiga Kota (Kudus, Temanggung, Madura)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ini artinya agen malaikat pencabut nyawa manusia ada di pola makan kita. Apakah sudah sehat atau tidak sehat? satu hal yang seringkali diabaikan.
<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan Studi Global Burden of Disease yang mengamati konsumsi makanan di 195 negara, antara tahun 1990 dan 2017, fokus pada 15 jenis makanan atau nutrisi mengamini pola makan tidak sehat adalah penyebab terbesar kematian manusia.
<\/p>\n\n\n\n

Penelitian lainnya yang bersumber dari Medical News Today, dalam sebuah makalah yang dimuat dalam The Lancet, para peneliti menyimpulkan, pola makan yang buruk menyumbang 1 dari 5, atau 11 juta, kematian orang dewasa pada tahun 2017. Sebagian besar dari kematian itu, sekitar 10 juta, berasal dari penyakit kardiovaskular.
<\/p>\n\n\n\n

Sisanya terutama dari kanker dan diabetes tipe 2. Peringkat negara-negara dari tingkat kematian terkait diet terendah ke tertinggi menempatkan Israel pertama, dengan 89 kematian per 100.000 orang, dan Uzbekistan terakhir, dengan 892 per 100.000. Amerika Serikat, dengan 171 kematian per 100.000, berada di posisi ke-43 dan Inggris di peringkat ke-23, dengan 127 kematian per 100.000. India di tempat ke-118, dan Cina di ke-140.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Penelitian termutakhir yang di sebutkan di atas merupakan penelitian yang bersifat global, lalu bagaimana dengan di Indonesia? Apakah kasus pola makan yang tidak sehat juga menjadi penyebab kematian terbesar?
<\/p>\n\n\n\n

Dalam sebuah artikel yang ditulis oleh Triyani Kresnawan, DCN,Mkes, Instalasi Gizi RSCM dan diterbitkan oleh Departemen Kesehatan Gizi Kementerian Kesehatan menyebutkan, pola makan yang tidak seimbang yang menyebabkan resiko munculnya penyakit kanker antara lain kebiasaan makanan cepat saji (fast food).
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan menjaga keseimbangan dalam pola makan ini juga disampaikan oleh Spesialis Patologi Anatomi dari Rumah Sakit Kanker Dharmais, dr Evalina Suzana. Ia mengatakan pola makan yang sehat merupakan bagian bentuk pencegahan dari penyakit kanker. Di luar dari olahraga yang teratur, minum air, dan tidur yang cukup.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Eva, sebuah pola bisa dibilang sehat jika semua yang masuk ke dalam tubuh seimbang. Tidak boleh berlebihan bukan berarti tidak dimakan sama sekali. Harus terdiri dari 50 persen protein, 30 persen karbohidrat, dan 20 persen lemak dan serat. Itu harus dipenuhi di luar mineral-mineral yang ada.
<\/p>\n\n\n\n

Nah loh, berdasarkan hasil-hasil penelitian yang menyatakan bahwa pola makan tidak sehat merupakan penyebab resiko kematian terbesar, lalu mengapa hanya rokok yang terus-menerus dituduh dalam kampanye kelompok-kelompok antirokok yang mengatasnamakan kesehatan?
<\/p>\n\n\n\n

Untuk memahami hal ini tentunya anda harus mengetahui bahwa terdapat perang bisnis nikotin antara industri farmasi dan industri rokok, atau yang sering kami sebut sebagai \u201cNicotin War\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Maka Anda tak usah heran jika rokok diframing bertentangan dengan kesehatan, karena semua semata hanyalah akal-akalan pihak industri farmasi untuk memenangi pertarungan bisnis nikotin tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Pola Makan Tidak Sehat Membunuhmu","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pola-makan-tidak-sehat-membunuhmu","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-23 12:23:48","post_modified_gmt":"2019-04-23 05:23:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5653","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5637,"post_author":"855","post_date":"2019-04-16 11:07:27","post_date_gmt":"2019-04-16 04:07:27","post_content":"\n

Terlahir sebagai tunadaksa atau tanpa tangan, tidak membuat Shadikin Pard pesimis menjalan hidup. Lebih dari itu, ia berhasil membuktikan bahwa kekurangan bukanlah aral melintang yang mengganjal langkah menuju kesuksesan.<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Hujan sudah reda ketika kaki saya memasuki gerbang Taman Balekambang, Surakarta. Di dalam, di atas tanah yang masih basah, ratusan pelukis dari penjuru negeri sedang sibuk mengaktualisasikan kegelisahan hatinya ke sebuah kanvas. Mereka sedang mengikuti Indonesia Painting Contest 2019 yang diselenggarakan oleh NU Gallery.
<\/p>\n\n\n\n

Saya terus melangkah menyusuri tanah basah yang di samping kanan dan kirinya para pelukis sedang khidmat menggoreskan kuas. Hingga kaki saya terhenti di hadapan pelukis yang berkonsentrasi melukis menggunakan kedua kakinya.
<\/p>\n\n\n\n

Sebatang kuas dijepitkan di antara jemari kaki. Sesekali ia menyelupkan kuas itu ke dalam cat dan kemudian menggoreskannya ke dalam kanvas hingga membentuk sebuah lukisan realis Reog Ponorogo yang indah. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di sampingnya, seorang pemuda yang ternyata anaknya dengan sigap menjalankan instruksi ayahnya, mulai dari mengganti ukuran kuas yang terjepit di antara jemarinya, membuka botol cat dan lain sebagainya. Sesekali anaknya menyalakan rokok dan menyodorkan ke hadapan mulut ayahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Ia melukis Reog Ponorogo bukan tanpa alasan. Ia ingin memberikan kritik kepada seluruh masyarakat dan Pemerintah, bahwa mencintai kekayaan budaya bangsa sendiri adalah kewajiban yang harus selalu digelorakan. Jangan sampai, ketika kebudayaan tersebut direbut negara lain, bangsa ini baru panik dan serius mengakui serta membanggakan kekayaan kebudayaan sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ialah Shadikin Pard, seorang pelukis masyhur yang terlahir tunadaksa atau tanpa kedua tangan. Kami berbincang di bawah pohon beringin rindang. Di antara para pelukis lainnya yang sedang beristirahat menunggu waktu pengumuman pemenang dibacakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pria kelahiran 29 Oktober 1996 ini mulai melukis sejak masih di taman kanak-kanak. Saat itu, melukis hanya sebagai hobi semata. Sadikin juga pernah les privat melukis di rumahnya. Hingga mengenyam pendidikan sekolah menengah atas di SMA Santa Maria Kota Malang, Sadikin masih menempatkan melukis sebagai hobi.
<\/p>\n\n\n\n

Di tengah keterbatasannya, Sadikin lalu melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kala itu, Sadikin mengambil jurusan psikologi pascagagal mengambil jurusan arsitektur yang ia dambakan dan cita-citakan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, kekurangan yang diberikan Tuhan adalah sebuah kelebihan yang tidak banyak dimiliki oleh orang lain. Kegigihannya dalam belajar melukis menghantarkannya ke Associaton of Mouth and Foot Painting Artist (AMFPA). Sebuah organisasi yang bermarkas di Swiss dan menghimpun karya pelukis yang melukis menggunakan kaki dan mulut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSetelah masuk AMFPA, saya menjadikan melukis sebagai profesi. Tahun 1989 saya menerima 300 swiss franc, setara Rp 300 ribu waktu itu. Kini, saya menerima sekitar 40 jt setiap bulan,\u201d ungkap Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin terus melukis. Kemampuannya terus berkembang, bahkan melebihi tuntutan dari organisasi yang ia ikuti. Nama Sadikin juga mulai dikenal, bukan sebab keterbatasannya, melainkan sebab karyanya yang memang bernilai tinggi.
<\/p>\n\n\n\n

Setiap kali ada pameran lukisan dan kontes-kontes melukis, Sadikin tidak pernah alfa untuk mengikutinya. Karyanya menjadi sorotan publik dan banyak laku dengan harga yang tidak murah. Bahkan menurutnya, ada salah satu lukisannya yang laku hingga Rp 250 juta.<\/p>\n\n\n\n

Menolak Pasrah dan Bergantung kepada Pemerintah karena Disabilitas<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Sadikin tidak mau dikasihani orang lain. Meski ia tunadaksa, ia adalah manusia yang sama, yang memilki kesempatan besar untuk menjalani rutinitas sebagaimana manusia lainnya. \u201cKuncinya adalah terus mencoba, mencoba dan mencoba. Saya tidak apa-apa dicemooh lukisan saya jelek. Bagi saya cemoohan seperti itu adalah cambuk untuk terus berlatih,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Sadikin, masyarakat harus adil memerlakukan para difabel. Difabel harus diperlakukan sebagaimana orang biasa. Semakin banyak orang yang mengasihani difabel, maka tidak malah membuat difabel itu kuat, sebaliknya berdampak melemahkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cDifabel harus diperlakukan seperti manusia biasa, bahkan ia harus diberi tantangan dan ditempa untuk menemukan kelebihan dalam dirinya,\u201d kata Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, para difabel harus mulai mengubah sudut pandang. Bahwa segala kekurangan tidak kemudian menjadikan para difabel pasrah menerima nasib dan mengharapkan santunan dari orang lain dan pemerintah untuk menjalani hidup. Difabel adalah orang istimewa yang dapat berkarya melebihi orang-orang biasa. Kekurangan ini adalah kelebihan yang akan ditemukan dengan kerja keras dan melatih diri menjadi apa yang diinginkan.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin bisa berangkat ke Swiss dan mengharumkan nama Indonesia di mata dunia, tidak terlebih dulu mendapat perhatian dari pemerintah. Ia mengaku berangkat dengan uang sendiri. Bahkan, lanjut Sadikin, hingga kini pun tidak ada pemerintah yang mengapresiasi karya-karyanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak menginginkan belas kasihan dari pemerintah. Karena yang sejatinya benar adalah, kita dapat memberikan apa kepada negara ini, bukan negara dapat memberikan apa kepada kita. Namun yang saya sayangkan, pemerintah sepertinya tidak peduli memperhatikan para seniman dan menghargai karya seni dari para seniman negeri sendiri. Seharusnya para seniman ini diberikan wadah, diperhatikan, kan juga kalau manajemennya bagus bisa menjadi pemasukan untuk negara,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin mengirim pesan kepada seluruh seniman di Tanah Air untuk terus berkaraya, tanpa peduli akan bernilai apa sebuah karya tersebut. \u201cYang terpenting kita dapat mengaktulisasikan diri dan terus melukis dengan niat mengharumkan nama negeri. Teruslah berkarya, karena sejatinya karya adalah yang dibuat dengan kesungguhan dan keikhlasan hati,\u201d pungkas pelukis beranak dua tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Shadikin Pard, Pelukis Tanpa Lengan yang Mengharumkan Bangsa dengan Kedua Kakinya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"shadikin-pard-pelukis-tanpa-lengan-yang-mengharumkan-bangsa-dengan-kedua-kakinya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-16 11:09:38","post_modified_gmt":"2019-04-16 04:09:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5637","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5621,"post_author":"877","post_date":"2019-04-10 10:37:08","post_date_gmt":"2019-04-10 03:37:08","post_content":"\n

Bahasan mengenai hukum menyulut kretek pernah dipertanyakan dalam forum bahtsul masail<\/em> (musyawarah) para Kiai\/Ulama\u2019 Kudus. Pertanyaan (saail<\/em>) yang mengajukan atas nama masyarakat Baletengahan, yaitu dukuh yang masuk wilayah Desa Langgardalem Kecamatan Kota. Tepatnya sekitar + 800an m, arah utara Masjid Menara Kudus (al-Aqsha). Kultur budaya masyarakat Baletengahan adalah santri, terdapat banyak Pesantren dan beberapa madrasah, salah satunya lembaga pendidikan formal TBS (Tasywiqut Thullab Salafiyyah), yaitu lembaga pendidikan salaf yang dahulu salah satu tempat  KH. Arwani Amin al-Hafiz mengajar dan yayasan pendidikan Nawa Kartika, yang didirikan oleh tokoh NU setempat. <\/p>\n\n\n\n

Lain halnya pesantren dan lembaga pendidikan, di sekitar Baletengahan Langgardalem, konon dahulu banyak usaha rumahan kretek. Petilasan yang masih dapat dijumpai di Langgardalem adalah \u201cgudang tembakau dan PR. Buah Cengkeh\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Disini terlihat para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus mempunyai tradisi kritis menyikapi fenomena disekelilingnya. Sehingga wajar pada tahun 1990an muncul bahasan tentang kretek di Bahtsul Masail<\/em> para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, jauh mendahului keputusan MUI dan Muhammadiyyah hasil Padang Panjang, dilaksanakan tahun 2009-2010.<\/p>\n\n\n\n

Tradisi Bahtsul Masail biasa disebut \u201cMunadzoroh<\/em>\u201d sudah lama dilakukan para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, dengan bertempat di Masjid-masjid di sekitar Kudus, bergantian dan memutar. Peserta munadzoroh<\/em> adalah para Kiai\/Ulama\u2019 se-Kabupaten Kudus dari berbagai penjuru desa, dan juga masyarakat umum, karena sifatnya terbuka (siapa saja boleh ikut tanpa terkecuali). Pelaksanaannya dari dulu hingga sekarang dijatuhkan pada hari Ahad (minggu). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat pembahasan mengenai kretek, bertempat di Masji al-Aqsho Menara Kudus yang dipimpin oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), redaksi pertanyaaannya adalah:<\/p>\n\n\n\n

\u201ckados pundi hukumipun ngkretek (bagaimana hukum menghisap kretek)?\u201d<\/em>--pertanyaan dari<\/em> Baletengahan--<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sebelum memulai pembahasan biasanya KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menanyakan tentang apa yang akan dibahas. Diceritakan oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi, situasi dan kondisi saat itu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), bertanya di forum, \u00a0\u201copo iki takonane?\u201d (pertanyaannya apa), di jawab yang hadir saat itu, \u201c anu Mbah bab kretek\u201d (itu bab menghisap kretek), lalu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menyambung jawaban hadirin, \u201coooo, bab kretek, kretekku gowo rene dikik\u201d (ooo, bab menghisap kretek, kretekku bawa kemari dulu), kemudian KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) mengambil satu batang kretek dari bungkusnya disulut dan dihisap. Selesai menyulut kretek, kembali KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) berbicara, \u201cwes kono dibahas\u201d (sudah sana dibahas). Setelah diperintahkan untuk dibahas, suasana hening sejenak. \u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mungkin di benak para hadirin terlintas pikiran \u201capa yang dibahas sudah dijawab secara tersirat oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) dengan menghisap kretek\u201d. Pada akhirnya, pembahasan tetap dilaksanakan. Diceritakan KH. Sya\u2019roni juga, situasi saat itu tidak ada Kiai\/Ulama\u2019 yang hadir menghukumi \u201charam\u201d, pada akhirnya diputuskan KH. Turaikhan, dengan hukum \u201c boleh\u201d, disela-sela KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) memberikan penjelasan, ada salah satu hadirin mengacungkan jarinya, beliau adalah KH. Hambali (Al Maghfurlah), sambil berkata; \u201ckulo Kiai, menawi boten udud kulo mboten saget mucal\u201d (saya Kiai, kalau tidak sambil menghisap kretek, saya tidak dapat mengajar), disertai argumen dan penjelasanannya. Kemudian KH. Turaikhan, memberikan jawaban dan tanggapan kepada KH. Hambali, \u201cnek ngono, kanggo kuwi hukumi wajib\u201d (kalau begitu, untuk kamu hukumnya wajib mengkonsumsi kretek).  <\/p>\n\n\n\n

Dilihat dari putusan Bahtsul Masail di atas, pada awalnya menghisap kretek dihukumi \u201cboleh\u201d, namun dengan kondisi tertentu menjadi \u201cWajib\u201d. Cerita penetapan hukum menghisap kretek dalam forum Bahtsul Masail di atas, telah menyebar di kalangan masyarakat Kudus, dan menjadi konsumsi publik, serta bersifat mengikat sampai sekarang. Sehingga banyak Kiai\/Ulama\u2019 Kudus tidak mempersoalkan lagi, apalagi membahas kembali. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cerita situasi dan kondisi Bahtsul Masail, diapresiasi dan diinterpretasikan Kiai\/Ulama\u2019Kudus lebih kontekstual, salah satunya KH. Fatkhur Rahman, beliau bercerita;  saat KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) populer dengan sebutan Mbah Tur memimpin munadzoroh<\/em> ada pertanyaan: bagaimana hukumnya kretek? Mbah Tur malah mengambil kretek, menyulut dan menghisapnya, dengan begitu diasumsikan hukumnya \u201chalal\u201d (jadi  setelah itu sudah tidak perlu dibahas lagi soal kretek). KH. Fatkhur Rahman juga menceritakan ada satu alasan kuat, mengapa halal, karena para Kiai itu tidak mau barang subhat<\/em> (tidak jelas posisinya), apalagi haram. Ketika para Kiai\/Ulama\u2019 besar menghisap kretek, otomatis tidak haram. Tuhan menciptakan sesuatu untuk dinikmati itu ada dua, halal atau haram. <\/p>\n\n\n\n

Dasar hukum menghisap kretek adalah mubah, sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang menjadi wajib, juga menjadi haram. Dasar utamanya adalah  \u201cla dhororo wala dhiroro\u201d. <\/em>Hukumnya seperti  mengkonsumsi gula, ketika kena penyakit gula, maka haram atau tidak boleh mengkonsumsi gula. Begitu pula ketika punya darah tinggi, maka tidak boleh makan daging, dan seterusnya. Dimana \u201calhukmu yadurru ma\u2019a illatihi\u201d<\/em>(hukum itu bisa beralih tergantung alasannya). Membeli kretek dihukumi tidak boleh (haram), jika uang yang dipakai semestinya untuk belanja kebutuhan pokok, membayar sekolah dan lain sebagainya. Menghisap kretek menjadi wajib, ketika tidak menghisap sulit berpikir, lemas, tidak bisa kerja dan lain sebagainya.
<\/p>\n","post_title":"Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fenomena-hukum-rokok-bagi-ulama-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-10 10:37:16","post_modified_gmt":"2019-04-10 03:37:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5621","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

Paling Populer

\n

Lagi pula, tak ada relevansinya antara kecerdasan (dalam hal ini dunia kampus) dengan kebiasaan merokok. Juga tak ada relevansi antara kinerja (dalam hal ini pelamar kerja) dengan kebiasaan merokok. Lagi-lagi, ini semata sekadar cocokologi saja.<\/p>\n\n\n\n

Bodoh ya bodoh saja, malas ya malas saja, juga sebaliknya, tak ada kaitannya dengan kebiasaan merokok. Kita bisa menjejerkan ratusan bahkan ribuan nama-nama orang yang memiliki kebiasaan merokok, di sana akan ada orang-orang yang sangai pandai hingga orang-orang idiot sekalipun yang memiliki kebiasaan merokok. Kita juga bisa menjejerkan nama-nama ratusan hingga ribuan orang yang sama sekali tidak merokok, dan di sana akan ada orang yang pandai sekali juga akan ada orang goblok segoblok-gobloknya yang sama sekali tidak merokok. Lalu, apa alasan memecat staf dan dosen di kampus yang memiliki kebiasaan merokok?<\/p>\n\n\n\n

Hal yang sama juga bisa kita lakukan dengan jejeran nama-nama orang dengan kinerja dan etos kerja. Yang rajin, juga yang malas, ada dalam kelompok mereka yang merokok juga kelompok mereka yang tidak merokok. Maka, saya kira, apa yang terjadi di Jepang dan diberitakan dalam sepekan belakangan, tentu saja mengganggu akal sehat siapa saja yang masih bisa berpikir dengan jernih.
<\/p>\n","post_title":"Diskriminasi Terhadap Para Perokok di Jepang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"diskriminasi-terhadap-para-perokok-di-jepang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-03 11:19:17","post_modified_gmt":"2019-05-03 04:19:17","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5679","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5653,"post_author":"883","post_date":"2019-04-23 12:23:36","post_date_gmt":"2019-04-23 05:23:36","post_content":"\n

Rokok selalu dikambinghitamkan sebagai penyebab dari tingginya angka kematian umat manusia. Angka dan data jadul yang selalu diulang-ulang mengenai rokok penyebab kematian, seakan membius kita bahwa rokok-lah musuh bersama. Sementara rokok dijadikan musuh bersama, kita justru abai terhadap musuh riil yang sedang mengintai kehidupan kita.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah penelitian menyatakan bahwa pola makan yang tidak sehat lebih banyak meningkatkan resiko kematian dini daripada faktor risiko lainnya, termasuk merokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cerita Rakyat Tentang Kretek dan Tembakau di Tiga Kota (Kudus, Temanggung, Madura)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ini artinya agen malaikat pencabut nyawa manusia ada di pola makan kita. Apakah sudah sehat atau tidak sehat? satu hal yang seringkali diabaikan.
<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan Studi Global Burden of Disease yang mengamati konsumsi makanan di 195 negara, antara tahun 1990 dan 2017, fokus pada 15 jenis makanan atau nutrisi mengamini pola makan tidak sehat adalah penyebab terbesar kematian manusia.
<\/p>\n\n\n\n

Penelitian lainnya yang bersumber dari Medical News Today, dalam sebuah makalah yang dimuat dalam The Lancet, para peneliti menyimpulkan, pola makan yang buruk menyumbang 1 dari 5, atau 11 juta, kematian orang dewasa pada tahun 2017. Sebagian besar dari kematian itu, sekitar 10 juta, berasal dari penyakit kardiovaskular.
<\/p>\n\n\n\n

Sisanya terutama dari kanker dan diabetes tipe 2. Peringkat negara-negara dari tingkat kematian terkait diet terendah ke tertinggi menempatkan Israel pertama, dengan 89 kematian per 100.000 orang, dan Uzbekistan terakhir, dengan 892 per 100.000. Amerika Serikat, dengan 171 kematian per 100.000, berada di posisi ke-43 dan Inggris di peringkat ke-23, dengan 127 kematian per 100.000. India di tempat ke-118, dan Cina di ke-140.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Penelitian termutakhir yang di sebutkan di atas merupakan penelitian yang bersifat global, lalu bagaimana dengan di Indonesia? Apakah kasus pola makan yang tidak sehat juga menjadi penyebab kematian terbesar?
<\/p>\n\n\n\n

Dalam sebuah artikel yang ditulis oleh Triyani Kresnawan, DCN,Mkes, Instalasi Gizi RSCM dan diterbitkan oleh Departemen Kesehatan Gizi Kementerian Kesehatan menyebutkan, pola makan yang tidak seimbang yang menyebabkan resiko munculnya penyakit kanker antara lain kebiasaan makanan cepat saji (fast food).
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan menjaga keseimbangan dalam pola makan ini juga disampaikan oleh Spesialis Patologi Anatomi dari Rumah Sakit Kanker Dharmais, dr Evalina Suzana. Ia mengatakan pola makan yang sehat merupakan bagian bentuk pencegahan dari penyakit kanker. Di luar dari olahraga yang teratur, minum air, dan tidur yang cukup.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Eva, sebuah pola bisa dibilang sehat jika semua yang masuk ke dalam tubuh seimbang. Tidak boleh berlebihan bukan berarti tidak dimakan sama sekali. Harus terdiri dari 50 persen protein, 30 persen karbohidrat, dan 20 persen lemak dan serat. Itu harus dipenuhi di luar mineral-mineral yang ada.
<\/p>\n\n\n\n

Nah loh, berdasarkan hasil-hasil penelitian yang menyatakan bahwa pola makan tidak sehat merupakan penyebab resiko kematian terbesar, lalu mengapa hanya rokok yang terus-menerus dituduh dalam kampanye kelompok-kelompok antirokok yang mengatasnamakan kesehatan?
<\/p>\n\n\n\n

Untuk memahami hal ini tentunya anda harus mengetahui bahwa terdapat perang bisnis nikotin antara industri farmasi dan industri rokok, atau yang sering kami sebut sebagai \u201cNicotin War\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Maka Anda tak usah heran jika rokok diframing bertentangan dengan kesehatan, karena semua semata hanyalah akal-akalan pihak industri farmasi untuk memenangi pertarungan bisnis nikotin tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Pola Makan Tidak Sehat Membunuhmu","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pola-makan-tidak-sehat-membunuhmu","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-23 12:23:48","post_modified_gmt":"2019-04-23 05:23:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5653","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5637,"post_author":"855","post_date":"2019-04-16 11:07:27","post_date_gmt":"2019-04-16 04:07:27","post_content":"\n

Terlahir sebagai tunadaksa atau tanpa tangan, tidak membuat Shadikin Pard pesimis menjalan hidup. Lebih dari itu, ia berhasil membuktikan bahwa kekurangan bukanlah aral melintang yang mengganjal langkah menuju kesuksesan.<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Hujan sudah reda ketika kaki saya memasuki gerbang Taman Balekambang, Surakarta. Di dalam, di atas tanah yang masih basah, ratusan pelukis dari penjuru negeri sedang sibuk mengaktualisasikan kegelisahan hatinya ke sebuah kanvas. Mereka sedang mengikuti Indonesia Painting Contest 2019 yang diselenggarakan oleh NU Gallery.
<\/p>\n\n\n\n

Saya terus melangkah menyusuri tanah basah yang di samping kanan dan kirinya para pelukis sedang khidmat menggoreskan kuas. Hingga kaki saya terhenti di hadapan pelukis yang berkonsentrasi melukis menggunakan kedua kakinya.
<\/p>\n\n\n\n

Sebatang kuas dijepitkan di antara jemari kaki. Sesekali ia menyelupkan kuas itu ke dalam cat dan kemudian menggoreskannya ke dalam kanvas hingga membentuk sebuah lukisan realis Reog Ponorogo yang indah. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di sampingnya, seorang pemuda yang ternyata anaknya dengan sigap menjalankan instruksi ayahnya, mulai dari mengganti ukuran kuas yang terjepit di antara jemarinya, membuka botol cat dan lain sebagainya. Sesekali anaknya menyalakan rokok dan menyodorkan ke hadapan mulut ayahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Ia melukis Reog Ponorogo bukan tanpa alasan. Ia ingin memberikan kritik kepada seluruh masyarakat dan Pemerintah, bahwa mencintai kekayaan budaya bangsa sendiri adalah kewajiban yang harus selalu digelorakan. Jangan sampai, ketika kebudayaan tersebut direbut negara lain, bangsa ini baru panik dan serius mengakui serta membanggakan kekayaan kebudayaan sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ialah Shadikin Pard, seorang pelukis masyhur yang terlahir tunadaksa atau tanpa kedua tangan. Kami berbincang di bawah pohon beringin rindang. Di antara para pelukis lainnya yang sedang beristirahat menunggu waktu pengumuman pemenang dibacakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pria kelahiran 29 Oktober 1996 ini mulai melukis sejak masih di taman kanak-kanak. Saat itu, melukis hanya sebagai hobi semata. Sadikin juga pernah les privat melukis di rumahnya. Hingga mengenyam pendidikan sekolah menengah atas di SMA Santa Maria Kota Malang, Sadikin masih menempatkan melukis sebagai hobi.
<\/p>\n\n\n\n

Di tengah keterbatasannya, Sadikin lalu melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kala itu, Sadikin mengambil jurusan psikologi pascagagal mengambil jurusan arsitektur yang ia dambakan dan cita-citakan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, kekurangan yang diberikan Tuhan adalah sebuah kelebihan yang tidak banyak dimiliki oleh orang lain. Kegigihannya dalam belajar melukis menghantarkannya ke Associaton of Mouth and Foot Painting Artist (AMFPA). Sebuah organisasi yang bermarkas di Swiss dan menghimpun karya pelukis yang melukis menggunakan kaki dan mulut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSetelah masuk AMFPA, saya menjadikan melukis sebagai profesi. Tahun 1989 saya menerima 300 swiss franc, setara Rp 300 ribu waktu itu. Kini, saya menerima sekitar 40 jt setiap bulan,\u201d ungkap Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin terus melukis. Kemampuannya terus berkembang, bahkan melebihi tuntutan dari organisasi yang ia ikuti. Nama Sadikin juga mulai dikenal, bukan sebab keterbatasannya, melainkan sebab karyanya yang memang bernilai tinggi.
<\/p>\n\n\n\n

Setiap kali ada pameran lukisan dan kontes-kontes melukis, Sadikin tidak pernah alfa untuk mengikutinya. Karyanya menjadi sorotan publik dan banyak laku dengan harga yang tidak murah. Bahkan menurutnya, ada salah satu lukisannya yang laku hingga Rp 250 juta.<\/p>\n\n\n\n

Menolak Pasrah dan Bergantung kepada Pemerintah karena Disabilitas<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Sadikin tidak mau dikasihani orang lain. Meski ia tunadaksa, ia adalah manusia yang sama, yang memilki kesempatan besar untuk menjalani rutinitas sebagaimana manusia lainnya. \u201cKuncinya adalah terus mencoba, mencoba dan mencoba. Saya tidak apa-apa dicemooh lukisan saya jelek. Bagi saya cemoohan seperti itu adalah cambuk untuk terus berlatih,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Sadikin, masyarakat harus adil memerlakukan para difabel. Difabel harus diperlakukan sebagaimana orang biasa. Semakin banyak orang yang mengasihani difabel, maka tidak malah membuat difabel itu kuat, sebaliknya berdampak melemahkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cDifabel harus diperlakukan seperti manusia biasa, bahkan ia harus diberi tantangan dan ditempa untuk menemukan kelebihan dalam dirinya,\u201d kata Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, para difabel harus mulai mengubah sudut pandang. Bahwa segala kekurangan tidak kemudian menjadikan para difabel pasrah menerima nasib dan mengharapkan santunan dari orang lain dan pemerintah untuk menjalani hidup. Difabel adalah orang istimewa yang dapat berkarya melebihi orang-orang biasa. Kekurangan ini adalah kelebihan yang akan ditemukan dengan kerja keras dan melatih diri menjadi apa yang diinginkan.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin bisa berangkat ke Swiss dan mengharumkan nama Indonesia di mata dunia, tidak terlebih dulu mendapat perhatian dari pemerintah. Ia mengaku berangkat dengan uang sendiri. Bahkan, lanjut Sadikin, hingga kini pun tidak ada pemerintah yang mengapresiasi karya-karyanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak menginginkan belas kasihan dari pemerintah. Karena yang sejatinya benar adalah, kita dapat memberikan apa kepada negara ini, bukan negara dapat memberikan apa kepada kita. Namun yang saya sayangkan, pemerintah sepertinya tidak peduli memperhatikan para seniman dan menghargai karya seni dari para seniman negeri sendiri. Seharusnya para seniman ini diberikan wadah, diperhatikan, kan juga kalau manajemennya bagus bisa menjadi pemasukan untuk negara,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin mengirim pesan kepada seluruh seniman di Tanah Air untuk terus berkaraya, tanpa peduli akan bernilai apa sebuah karya tersebut. \u201cYang terpenting kita dapat mengaktulisasikan diri dan terus melukis dengan niat mengharumkan nama negeri. Teruslah berkarya, karena sejatinya karya adalah yang dibuat dengan kesungguhan dan keikhlasan hati,\u201d pungkas pelukis beranak dua tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Shadikin Pard, Pelukis Tanpa Lengan yang Mengharumkan Bangsa dengan Kedua Kakinya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"shadikin-pard-pelukis-tanpa-lengan-yang-mengharumkan-bangsa-dengan-kedua-kakinya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-16 11:09:38","post_modified_gmt":"2019-04-16 04:09:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5637","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5621,"post_author":"877","post_date":"2019-04-10 10:37:08","post_date_gmt":"2019-04-10 03:37:08","post_content":"\n

Bahasan mengenai hukum menyulut kretek pernah dipertanyakan dalam forum bahtsul masail<\/em> (musyawarah) para Kiai\/Ulama\u2019 Kudus. Pertanyaan (saail<\/em>) yang mengajukan atas nama masyarakat Baletengahan, yaitu dukuh yang masuk wilayah Desa Langgardalem Kecamatan Kota. Tepatnya sekitar + 800an m, arah utara Masjid Menara Kudus (al-Aqsha). Kultur budaya masyarakat Baletengahan adalah santri, terdapat banyak Pesantren dan beberapa madrasah, salah satunya lembaga pendidikan formal TBS (Tasywiqut Thullab Salafiyyah), yaitu lembaga pendidikan salaf yang dahulu salah satu tempat  KH. Arwani Amin al-Hafiz mengajar dan yayasan pendidikan Nawa Kartika, yang didirikan oleh tokoh NU setempat. <\/p>\n\n\n\n

Lain halnya pesantren dan lembaga pendidikan, di sekitar Baletengahan Langgardalem, konon dahulu banyak usaha rumahan kretek. Petilasan yang masih dapat dijumpai di Langgardalem adalah \u201cgudang tembakau dan PR. Buah Cengkeh\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Disini terlihat para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus mempunyai tradisi kritis menyikapi fenomena disekelilingnya. Sehingga wajar pada tahun 1990an muncul bahasan tentang kretek di Bahtsul Masail<\/em> para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, jauh mendahului keputusan MUI dan Muhammadiyyah hasil Padang Panjang, dilaksanakan tahun 2009-2010.<\/p>\n\n\n\n

Tradisi Bahtsul Masail biasa disebut \u201cMunadzoroh<\/em>\u201d sudah lama dilakukan para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, dengan bertempat di Masjid-masjid di sekitar Kudus, bergantian dan memutar. Peserta munadzoroh<\/em> adalah para Kiai\/Ulama\u2019 se-Kabupaten Kudus dari berbagai penjuru desa, dan juga masyarakat umum, karena sifatnya terbuka (siapa saja boleh ikut tanpa terkecuali). Pelaksanaannya dari dulu hingga sekarang dijatuhkan pada hari Ahad (minggu). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat pembahasan mengenai kretek, bertempat di Masji al-Aqsho Menara Kudus yang dipimpin oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), redaksi pertanyaaannya adalah:<\/p>\n\n\n\n

\u201ckados pundi hukumipun ngkretek (bagaimana hukum menghisap kretek)?\u201d<\/em>--pertanyaan dari<\/em> Baletengahan--<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sebelum memulai pembahasan biasanya KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menanyakan tentang apa yang akan dibahas. Diceritakan oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi, situasi dan kondisi saat itu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), bertanya di forum, \u00a0\u201copo iki takonane?\u201d (pertanyaannya apa), di jawab yang hadir saat itu, \u201c anu Mbah bab kretek\u201d (itu bab menghisap kretek), lalu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menyambung jawaban hadirin, \u201coooo, bab kretek, kretekku gowo rene dikik\u201d (ooo, bab menghisap kretek, kretekku bawa kemari dulu), kemudian KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) mengambil satu batang kretek dari bungkusnya disulut dan dihisap. Selesai menyulut kretek, kembali KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) berbicara, \u201cwes kono dibahas\u201d (sudah sana dibahas). Setelah diperintahkan untuk dibahas, suasana hening sejenak. \u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mungkin di benak para hadirin terlintas pikiran \u201capa yang dibahas sudah dijawab secara tersirat oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) dengan menghisap kretek\u201d. Pada akhirnya, pembahasan tetap dilaksanakan. Diceritakan KH. Sya\u2019roni juga, situasi saat itu tidak ada Kiai\/Ulama\u2019 yang hadir menghukumi \u201charam\u201d, pada akhirnya diputuskan KH. Turaikhan, dengan hukum \u201c boleh\u201d, disela-sela KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) memberikan penjelasan, ada salah satu hadirin mengacungkan jarinya, beliau adalah KH. Hambali (Al Maghfurlah), sambil berkata; \u201ckulo Kiai, menawi boten udud kulo mboten saget mucal\u201d (saya Kiai, kalau tidak sambil menghisap kretek, saya tidak dapat mengajar), disertai argumen dan penjelasanannya. Kemudian KH. Turaikhan, memberikan jawaban dan tanggapan kepada KH. Hambali, \u201cnek ngono, kanggo kuwi hukumi wajib\u201d (kalau begitu, untuk kamu hukumnya wajib mengkonsumsi kretek).  <\/p>\n\n\n\n

Dilihat dari putusan Bahtsul Masail di atas, pada awalnya menghisap kretek dihukumi \u201cboleh\u201d, namun dengan kondisi tertentu menjadi \u201cWajib\u201d. Cerita penetapan hukum menghisap kretek dalam forum Bahtsul Masail di atas, telah menyebar di kalangan masyarakat Kudus, dan menjadi konsumsi publik, serta bersifat mengikat sampai sekarang. Sehingga banyak Kiai\/Ulama\u2019 Kudus tidak mempersoalkan lagi, apalagi membahas kembali. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cerita situasi dan kondisi Bahtsul Masail, diapresiasi dan diinterpretasikan Kiai\/Ulama\u2019Kudus lebih kontekstual, salah satunya KH. Fatkhur Rahman, beliau bercerita;  saat KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) populer dengan sebutan Mbah Tur memimpin munadzoroh<\/em> ada pertanyaan: bagaimana hukumnya kretek? Mbah Tur malah mengambil kretek, menyulut dan menghisapnya, dengan begitu diasumsikan hukumnya \u201chalal\u201d (jadi  setelah itu sudah tidak perlu dibahas lagi soal kretek). KH. Fatkhur Rahman juga menceritakan ada satu alasan kuat, mengapa halal, karena para Kiai itu tidak mau barang subhat<\/em> (tidak jelas posisinya), apalagi haram. Ketika para Kiai\/Ulama\u2019 besar menghisap kretek, otomatis tidak haram. Tuhan menciptakan sesuatu untuk dinikmati itu ada dua, halal atau haram. <\/p>\n\n\n\n

Dasar hukum menghisap kretek adalah mubah, sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang menjadi wajib, juga menjadi haram. Dasar utamanya adalah  \u201cla dhororo wala dhiroro\u201d. <\/em>Hukumnya seperti  mengkonsumsi gula, ketika kena penyakit gula, maka haram atau tidak boleh mengkonsumsi gula. Begitu pula ketika punya darah tinggi, maka tidak boleh makan daging, dan seterusnya. Dimana \u201calhukmu yadurru ma\u2019a illatihi\u201d<\/em>(hukum itu bisa beralih tergantung alasannya). Membeli kretek dihukumi tidak boleh (haram), jika uang yang dipakai semestinya untuk belanja kebutuhan pokok, membayar sekolah dan lain sebagainya. Menghisap kretek menjadi wajib, ketika tidak menghisap sulit berpikir, lemas, tidak bisa kerja dan lain sebagainya.
<\/p>\n","post_title":"Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fenomena-hukum-rokok-bagi-ulama-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-10 10:37:16","post_modified_gmt":"2019-04-10 03:37:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5621","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

Paling Populer

\n

Alasan Jepang memberlakukan kebijakan tersebut sebagai upaya menyambut perhelatan olimpiade 2020 yang akan diselenggarakan di Tokyo. Lagi-lagi, dalih kesehatan yang menjadi tameng kebijakan ini. Jika ditelaah secara saksama, tentu saja kebijakan ini sama sekali tidak ada relevansinya. Terkesan pemaksaan dan sekadar pencitraan semata.<\/p>\n\n\n\n

Lagi pula, tak ada relevansinya antara kecerdasan (dalam hal ini dunia kampus) dengan kebiasaan merokok. Juga tak ada relevansi antara kinerja (dalam hal ini pelamar kerja) dengan kebiasaan merokok. Lagi-lagi, ini semata sekadar cocokologi saja.<\/p>\n\n\n\n

Bodoh ya bodoh saja, malas ya malas saja, juga sebaliknya, tak ada kaitannya dengan kebiasaan merokok. Kita bisa menjejerkan ratusan bahkan ribuan nama-nama orang yang memiliki kebiasaan merokok, di sana akan ada orang-orang yang sangai pandai hingga orang-orang idiot sekalipun yang memiliki kebiasaan merokok. Kita juga bisa menjejerkan nama-nama ratusan hingga ribuan orang yang sama sekali tidak merokok, dan di sana akan ada orang yang pandai sekali juga akan ada orang goblok segoblok-gobloknya yang sama sekali tidak merokok. Lalu, apa alasan memecat staf dan dosen di kampus yang memiliki kebiasaan merokok?<\/p>\n\n\n\n

Hal yang sama juga bisa kita lakukan dengan jejeran nama-nama orang dengan kinerja dan etos kerja. Yang rajin, juga yang malas, ada dalam kelompok mereka yang merokok juga kelompok mereka yang tidak merokok. Maka, saya kira, apa yang terjadi di Jepang dan diberitakan dalam sepekan belakangan, tentu saja mengganggu akal sehat siapa saja yang masih bisa berpikir dengan jernih.
<\/p>\n","post_title":"Diskriminasi Terhadap Para Perokok di Jepang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"diskriminasi-terhadap-para-perokok-di-jepang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-03 11:19:17","post_modified_gmt":"2019-05-03 04:19:17","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5679","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5653,"post_author":"883","post_date":"2019-04-23 12:23:36","post_date_gmt":"2019-04-23 05:23:36","post_content":"\n

Rokok selalu dikambinghitamkan sebagai penyebab dari tingginya angka kematian umat manusia. Angka dan data jadul yang selalu diulang-ulang mengenai rokok penyebab kematian, seakan membius kita bahwa rokok-lah musuh bersama. Sementara rokok dijadikan musuh bersama, kita justru abai terhadap musuh riil yang sedang mengintai kehidupan kita.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah penelitian menyatakan bahwa pola makan yang tidak sehat lebih banyak meningkatkan resiko kematian dini daripada faktor risiko lainnya, termasuk merokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cerita Rakyat Tentang Kretek dan Tembakau di Tiga Kota (Kudus, Temanggung, Madura)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ini artinya agen malaikat pencabut nyawa manusia ada di pola makan kita. Apakah sudah sehat atau tidak sehat? satu hal yang seringkali diabaikan.
<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan Studi Global Burden of Disease yang mengamati konsumsi makanan di 195 negara, antara tahun 1990 dan 2017, fokus pada 15 jenis makanan atau nutrisi mengamini pola makan tidak sehat adalah penyebab terbesar kematian manusia.
<\/p>\n\n\n\n

Penelitian lainnya yang bersumber dari Medical News Today, dalam sebuah makalah yang dimuat dalam The Lancet, para peneliti menyimpulkan, pola makan yang buruk menyumbang 1 dari 5, atau 11 juta, kematian orang dewasa pada tahun 2017. Sebagian besar dari kematian itu, sekitar 10 juta, berasal dari penyakit kardiovaskular.
<\/p>\n\n\n\n

Sisanya terutama dari kanker dan diabetes tipe 2. Peringkat negara-negara dari tingkat kematian terkait diet terendah ke tertinggi menempatkan Israel pertama, dengan 89 kematian per 100.000 orang, dan Uzbekistan terakhir, dengan 892 per 100.000. Amerika Serikat, dengan 171 kematian per 100.000, berada di posisi ke-43 dan Inggris di peringkat ke-23, dengan 127 kematian per 100.000. India di tempat ke-118, dan Cina di ke-140.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Penelitian termutakhir yang di sebutkan di atas merupakan penelitian yang bersifat global, lalu bagaimana dengan di Indonesia? Apakah kasus pola makan yang tidak sehat juga menjadi penyebab kematian terbesar?
<\/p>\n\n\n\n

Dalam sebuah artikel yang ditulis oleh Triyani Kresnawan, DCN,Mkes, Instalasi Gizi RSCM dan diterbitkan oleh Departemen Kesehatan Gizi Kementerian Kesehatan menyebutkan, pola makan yang tidak seimbang yang menyebabkan resiko munculnya penyakit kanker antara lain kebiasaan makanan cepat saji (fast food).
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan menjaga keseimbangan dalam pola makan ini juga disampaikan oleh Spesialis Patologi Anatomi dari Rumah Sakit Kanker Dharmais, dr Evalina Suzana. Ia mengatakan pola makan yang sehat merupakan bagian bentuk pencegahan dari penyakit kanker. Di luar dari olahraga yang teratur, minum air, dan tidur yang cukup.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Eva, sebuah pola bisa dibilang sehat jika semua yang masuk ke dalam tubuh seimbang. Tidak boleh berlebihan bukan berarti tidak dimakan sama sekali. Harus terdiri dari 50 persen protein, 30 persen karbohidrat, dan 20 persen lemak dan serat. Itu harus dipenuhi di luar mineral-mineral yang ada.
<\/p>\n\n\n\n

Nah loh, berdasarkan hasil-hasil penelitian yang menyatakan bahwa pola makan tidak sehat merupakan penyebab resiko kematian terbesar, lalu mengapa hanya rokok yang terus-menerus dituduh dalam kampanye kelompok-kelompok antirokok yang mengatasnamakan kesehatan?
<\/p>\n\n\n\n

Untuk memahami hal ini tentunya anda harus mengetahui bahwa terdapat perang bisnis nikotin antara industri farmasi dan industri rokok, atau yang sering kami sebut sebagai \u201cNicotin War\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Maka Anda tak usah heran jika rokok diframing bertentangan dengan kesehatan, karena semua semata hanyalah akal-akalan pihak industri farmasi untuk memenangi pertarungan bisnis nikotin tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Pola Makan Tidak Sehat Membunuhmu","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pola-makan-tidak-sehat-membunuhmu","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-23 12:23:48","post_modified_gmt":"2019-04-23 05:23:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5653","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5637,"post_author":"855","post_date":"2019-04-16 11:07:27","post_date_gmt":"2019-04-16 04:07:27","post_content":"\n

Terlahir sebagai tunadaksa atau tanpa tangan, tidak membuat Shadikin Pard pesimis menjalan hidup. Lebih dari itu, ia berhasil membuktikan bahwa kekurangan bukanlah aral melintang yang mengganjal langkah menuju kesuksesan.<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Hujan sudah reda ketika kaki saya memasuki gerbang Taman Balekambang, Surakarta. Di dalam, di atas tanah yang masih basah, ratusan pelukis dari penjuru negeri sedang sibuk mengaktualisasikan kegelisahan hatinya ke sebuah kanvas. Mereka sedang mengikuti Indonesia Painting Contest 2019 yang diselenggarakan oleh NU Gallery.
<\/p>\n\n\n\n

Saya terus melangkah menyusuri tanah basah yang di samping kanan dan kirinya para pelukis sedang khidmat menggoreskan kuas. Hingga kaki saya terhenti di hadapan pelukis yang berkonsentrasi melukis menggunakan kedua kakinya.
<\/p>\n\n\n\n

Sebatang kuas dijepitkan di antara jemari kaki. Sesekali ia menyelupkan kuas itu ke dalam cat dan kemudian menggoreskannya ke dalam kanvas hingga membentuk sebuah lukisan realis Reog Ponorogo yang indah. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di sampingnya, seorang pemuda yang ternyata anaknya dengan sigap menjalankan instruksi ayahnya, mulai dari mengganti ukuran kuas yang terjepit di antara jemarinya, membuka botol cat dan lain sebagainya. Sesekali anaknya menyalakan rokok dan menyodorkan ke hadapan mulut ayahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Ia melukis Reog Ponorogo bukan tanpa alasan. Ia ingin memberikan kritik kepada seluruh masyarakat dan Pemerintah, bahwa mencintai kekayaan budaya bangsa sendiri adalah kewajiban yang harus selalu digelorakan. Jangan sampai, ketika kebudayaan tersebut direbut negara lain, bangsa ini baru panik dan serius mengakui serta membanggakan kekayaan kebudayaan sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ialah Shadikin Pard, seorang pelukis masyhur yang terlahir tunadaksa atau tanpa kedua tangan. Kami berbincang di bawah pohon beringin rindang. Di antara para pelukis lainnya yang sedang beristirahat menunggu waktu pengumuman pemenang dibacakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pria kelahiran 29 Oktober 1996 ini mulai melukis sejak masih di taman kanak-kanak. Saat itu, melukis hanya sebagai hobi semata. Sadikin juga pernah les privat melukis di rumahnya. Hingga mengenyam pendidikan sekolah menengah atas di SMA Santa Maria Kota Malang, Sadikin masih menempatkan melukis sebagai hobi.
<\/p>\n\n\n\n

Di tengah keterbatasannya, Sadikin lalu melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kala itu, Sadikin mengambil jurusan psikologi pascagagal mengambil jurusan arsitektur yang ia dambakan dan cita-citakan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, kekurangan yang diberikan Tuhan adalah sebuah kelebihan yang tidak banyak dimiliki oleh orang lain. Kegigihannya dalam belajar melukis menghantarkannya ke Associaton of Mouth and Foot Painting Artist (AMFPA). Sebuah organisasi yang bermarkas di Swiss dan menghimpun karya pelukis yang melukis menggunakan kaki dan mulut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSetelah masuk AMFPA, saya menjadikan melukis sebagai profesi. Tahun 1989 saya menerima 300 swiss franc, setara Rp 300 ribu waktu itu. Kini, saya menerima sekitar 40 jt setiap bulan,\u201d ungkap Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin terus melukis. Kemampuannya terus berkembang, bahkan melebihi tuntutan dari organisasi yang ia ikuti. Nama Sadikin juga mulai dikenal, bukan sebab keterbatasannya, melainkan sebab karyanya yang memang bernilai tinggi.
<\/p>\n\n\n\n

Setiap kali ada pameran lukisan dan kontes-kontes melukis, Sadikin tidak pernah alfa untuk mengikutinya. Karyanya menjadi sorotan publik dan banyak laku dengan harga yang tidak murah. Bahkan menurutnya, ada salah satu lukisannya yang laku hingga Rp 250 juta.<\/p>\n\n\n\n

Menolak Pasrah dan Bergantung kepada Pemerintah karena Disabilitas<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Sadikin tidak mau dikasihani orang lain. Meski ia tunadaksa, ia adalah manusia yang sama, yang memilki kesempatan besar untuk menjalani rutinitas sebagaimana manusia lainnya. \u201cKuncinya adalah terus mencoba, mencoba dan mencoba. Saya tidak apa-apa dicemooh lukisan saya jelek. Bagi saya cemoohan seperti itu adalah cambuk untuk terus berlatih,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Sadikin, masyarakat harus adil memerlakukan para difabel. Difabel harus diperlakukan sebagaimana orang biasa. Semakin banyak orang yang mengasihani difabel, maka tidak malah membuat difabel itu kuat, sebaliknya berdampak melemahkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cDifabel harus diperlakukan seperti manusia biasa, bahkan ia harus diberi tantangan dan ditempa untuk menemukan kelebihan dalam dirinya,\u201d kata Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, para difabel harus mulai mengubah sudut pandang. Bahwa segala kekurangan tidak kemudian menjadikan para difabel pasrah menerima nasib dan mengharapkan santunan dari orang lain dan pemerintah untuk menjalani hidup. Difabel adalah orang istimewa yang dapat berkarya melebihi orang-orang biasa. Kekurangan ini adalah kelebihan yang akan ditemukan dengan kerja keras dan melatih diri menjadi apa yang diinginkan.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin bisa berangkat ke Swiss dan mengharumkan nama Indonesia di mata dunia, tidak terlebih dulu mendapat perhatian dari pemerintah. Ia mengaku berangkat dengan uang sendiri. Bahkan, lanjut Sadikin, hingga kini pun tidak ada pemerintah yang mengapresiasi karya-karyanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak menginginkan belas kasihan dari pemerintah. Karena yang sejatinya benar adalah, kita dapat memberikan apa kepada negara ini, bukan negara dapat memberikan apa kepada kita. Namun yang saya sayangkan, pemerintah sepertinya tidak peduli memperhatikan para seniman dan menghargai karya seni dari para seniman negeri sendiri. Seharusnya para seniman ini diberikan wadah, diperhatikan, kan juga kalau manajemennya bagus bisa menjadi pemasukan untuk negara,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin mengirim pesan kepada seluruh seniman di Tanah Air untuk terus berkaraya, tanpa peduli akan bernilai apa sebuah karya tersebut. \u201cYang terpenting kita dapat mengaktulisasikan diri dan terus melukis dengan niat mengharumkan nama negeri. Teruslah berkarya, karena sejatinya karya adalah yang dibuat dengan kesungguhan dan keikhlasan hati,\u201d pungkas pelukis beranak dua tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Shadikin Pard, Pelukis Tanpa Lengan yang Mengharumkan Bangsa dengan Kedua Kakinya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"shadikin-pard-pelukis-tanpa-lengan-yang-mengharumkan-bangsa-dengan-kedua-kakinya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-16 11:09:38","post_modified_gmt":"2019-04-16 04:09:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5637","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5621,"post_author":"877","post_date":"2019-04-10 10:37:08","post_date_gmt":"2019-04-10 03:37:08","post_content":"\n

Bahasan mengenai hukum menyulut kretek pernah dipertanyakan dalam forum bahtsul masail<\/em> (musyawarah) para Kiai\/Ulama\u2019 Kudus. Pertanyaan (saail<\/em>) yang mengajukan atas nama masyarakat Baletengahan, yaitu dukuh yang masuk wilayah Desa Langgardalem Kecamatan Kota. Tepatnya sekitar + 800an m, arah utara Masjid Menara Kudus (al-Aqsha). Kultur budaya masyarakat Baletengahan adalah santri, terdapat banyak Pesantren dan beberapa madrasah, salah satunya lembaga pendidikan formal TBS (Tasywiqut Thullab Salafiyyah), yaitu lembaga pendidikan salaf yang dahulu salah satu tempat  KH. Arwani Amin al-Hafiz mengajar dan yayasan pendidikan Nawa Kartika, yang didirikan oleh tokoh NU setempat. <\/p>\n\n\n\n

Lain halnya pesantren dan lembaga pendidikan, di sekitar Baletengahan Langgardalem, konon dahulu banyak usaha rumahan kretek. Petilasan yang masih dapat dijumpai di Langgardalem adalah \u201cgudang tembakau dan PR. Buah Cengkeh\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Disini terlihat para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus mempunyai tradisi kritis menyikapi fenomena disekelilingnya. Sehingga wajar pada tahun 1990an muncul bahasan tentang kretek di Bahtsul Masail<\/em> para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, jauh mendahului keputusan MUI dan Muhammadiyyah hasil Padang Panjang, dilaksanakan tahun 2009-2010.<\/p>\n\n\n\n

Tradisi Bahtsul Masail biasa disebut \u201cMunadzoroh<\/em>\u201d sudah lama dilakukan para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, dengan bertempat di Masjid-masjid di sekitar Kudus, bergantian dan memutar. Peserta munadzoroh<\/em> adalah para Kiai\/Ulama\u2019 se-Kabupaten Kudus dari berbagai penjuru desa, dan juga masyarakat umum, karena sifatnya terbuka (siapa saja boleh ikut tanpa terkecuali). Pelaksanaannya dari dulu hingga sekarang dijatuhkan pada hari Ahad (minggu). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat pembahasan mengenai kretek, bertempat di Masji al-Aqsho Menara Kudus yang dipimpin oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), redaksi pertanyaaannya adalah:<\/p>\n\n\n\n

\u201ckados pundi hukumipun ngkretek (bagaimana hukum menghisap kretek)?\u201d<\/em>--pertanyaan dari<\/em> Baletengahan--<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sebelum memulai pembahasan biasanya KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menanyakan tentang apa yang akan dibahas. Diceritakan oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi, situasi dan kondisi saat itu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), bertanya di forum, \u00a0\u201copo iki takonane?\u201d (pertanyaannya apa), di jawab yang hadir saat itu, \u201c anu Mbah bab kretek\u201d (itu bab menghisap kretek), lalu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menyambung jawaban hadirin, \u201coooo, bab kretek, kretekku gowo rene dikik\u201d (ooo, bab menghisap kretek, kretekku bawa kemari dulu), kemudian KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) mengambil satu batang kretek dari bungkusnya disulut dan dihisap. Selesai menyulut kretek, kembali KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) berbicara, \u201cwes kono dibahas\u201d (sudah sana dibahas). Setelah diperintahkan untuk dibahas, suasana hening sejenak. \u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mungkin di benak para hadirin terlintas pikiran \u201capa yang dibahas sudah dijawab secara tersirat oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) dengan menghisap kretek\u201d. Pada akhirnya, pembahasan tetap dilaksanakan. Diceritakan KH. Sya\u2019roni juga, situasi saat itu tidak ada Kiai\/Ulama\u2019 yang hadir menghukumi \u201charam\u201d, pada akhirnya diputuskan KH. Turaikhan, dengan hukum \u201c boleh\u201d, disela-sela KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) memberikan penjelasan, ada salah satu hadirin mengacungkan jarinya, beliau adalah KH. Hambali (Al Maghfurlah), sambil berkata; \u201ckulo Kiai, menawi boten udud kulo mboten saget mucal\u201d (saya Kiai, kalau tidak sambil menghisap kretek, saya tidak dapat mengajar), disertai argumen dan penjelasanannya. Kemudian KH. Turaikhan, memberikan jawaban dan tanggapan kepada KH. Hambali, \u201cnek ngono, kanggo kuwi hukumi wajib\u201d (kalau begitu, untuk kamu hukumnya wajib mengkonsumsi kretek).  <\/p>\n\n\n\n

Dilihat dari putusan Bahtsul Masail di atas, pada awalnya menghisap kretek dihukumi \u201cboleh\u201d, namun dengan kondisi tertentu menjadi \u201cWajib\u201d. Cerita penetapan hukum menghisap kretek dalam forum Bahtsul Masail di atas, telah menyebar di kalangan masyarakat Kudus, dan menjadi konsumsi publik, serta bersifat mengikat sampai sekarang. Sehingga banyak Kiai\/Ulama\u2019 Kudus tidak mempersoalkan lagi, apalagi membahas kembali. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cerita situasi dan kondisi Bahtsul Masail, diapresiasi dan diinterpretasikan Kiai\/Ulama\u2019Kudus lebih kontekstual, salah satunya KH. Fatkhur Rahman, beliau bercerita;  saat KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) populer dengan sebutan Mbah Tur memimpin munadzoroh<\/em> ada pertanyaan: bagaimana hukumnya kretek? Mbah Tur malah mengambil kretek, menyulut dan menghisapnya, dengan begitu diasumsikan hukumnya \u201chalal\u201d (jadi  setelah itu sudah tidak perlu dibahas lagi soal kretek). KH. Fatkhur Rahman juga menceritakan ada satu alasan kuat, mengapa halal, karena para Kiai itu tidak mau barang subhat<\/em> (tidak jelas posisinya), apalagi haram. Ketika para Kiai\/Ulama\u2019 besar menghisap kretek, otomatis tidak haram. Tuhan menciptakan sesuatu untuk dinikmati itu ada dua, halal atau haram. <\/p>\n\n\n\n

Dasar hukum menghisap kretek adalah mubah, sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang menjadi wajib, juga menjadi haram. Dasar utamanya adalah  \u201cla dhororo wala dhiroro\u201d. <\/em>Hukumnya seperti  mengkonsumsi gula, ketika kena penyakit gula, maka haram atau tidak boleh mengkonsumsi gula. Begitu pula ketika punya darah tinggi, maka tidak boleh makan daging, dan seterusnya. Dimana \u201calhukmu yadurru ma\u2019a illatihi\u201d<\/em>(hukum itu bisa beralih tergantung alasannya). Membeli kretek dihukumi tidak boleh (haram), jika uang yang dipakai semestinya untuk belanja kebutuhan pokok, membayar sekolah dan lain sebagainya. Menghisap kretek menjadi wajib, ketika tidak menghisap sulit berpikir, lemas, tidak bisa kerja dan lain sebagainya.
<\/p>\n","post_title":"Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fenomena-hukum-rokok-bagi-ulama-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-10 10:37:16","post_modified_gmt":"2019-04-10 03:37:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5621","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

Paling Populer

\n

Berita terbaru dalam sepekan terakhir, di Jepang, salah satu universitas negeri berencana memecat seluruh staf dan dosen mereka yang menjadi perokok aktif. Selain itu, beberapa perusahaan di Jepang juga akan mencoret langsung para pelamar kerja yang diketahui sebagai perokok aktif. Ini tentu saja menjadi kemunduran yang telak bagi negara Jepang. Padahal sebelumnya Jepang dikenal menjadi negara yang masih cukup ramah terhadap para perokok.<\/p>\n\n\n\n

Alasan Jepang memberlakukan kebijakan tersebut sebagai upaya menyambut perhelatan olimpiade 2020 yang akan diselenggarakan di Tokyo. Lagi-lagi, dalih kesehatan yang menjadi tameng kebijakan ini. Jika ditelaah secara saksama, tentu saja kebijakan ini sama sekali tidak ada relevansinya. Terkesan pemaksaan dan sekadar pencitraan semata.<\/p>\n\n\n\n

Lagi pula, tak ada relevansinya antara kecerdasan (dalam hal ini dunia kampus) dengan kebiasaan merokok. Juga tak ada relevansi antara kinerja (dalam hal ini pelamar kerja) dengan kebiasaan merokok. Lagi-lagi, ini semata sekadar cocokologi saja.<\/p>\n\n\n\n

Bodoh ya bodoh saja, malas ya malas saja, juga sebaliknya, tak ada kaitannya dengan kebiasaan merokok. Kita bisa menjejerkan ratusan bahkan ribuan nama-nama orang yang memiliki kebiasaan merokok, di sana akan ada orang-orang yang sangai pandai hingga orang-orang idiot sekalipun yang memiliki kebiasaan merokok. Kita juga bisa menjejerkan nama-nama ratusan hingga ribuan orang yang sama sekali tidak merokok, dan di sana akan ada orang yang pandai sekali juga akan ada orang goblok segoblok-gobloknya yang sama sekali tidak merokok. Lalu, apa alasan memecat staf dan dosen di kampus yang memiliki kebiasaan merokok?<\/p>\n\n\n\n

Hal yang sama juga bisa kita lakukan dengan jejeran nama-nama orang dengan kinerja dan etos kerja. Yang rajin, juga yang malas, ada dalam kelompok mereka yang merokok juga kelompok mereka yang tidak merokok. Maka, saya kira, apa yang terjadi di Jepang dan diberitakan dalam sepekan belakangan, tentu saja mengganggu akal sehat siapa saja yang masih bisa berpikir dengan jernih.
<\/p>\n","post_title":"Diskriminasi Terhadap Para Perokok di Jepang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"diskriminasi-terhadap-para-perokok-di-jepang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-03 11:19:17","post_modified_gmt":"2019-05-03 04:19:17","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5679","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5653,"post_author":"883","post_date":"2019-04-23 12:23:36","post_date_gmt":"2019-04-23 05:23:36","post_content":"\n

Rokok selalu dikambinghitamkan sebagai penyebab dari tingginya angka kematian umat manusia. Angka dan data jadul yang selalu diulang-ulang mengenai rokok penyebab kematian, seakan membius kita bahwa rokok-lah musuh bersama. Sementara rokok dijadikan musuh bersama, kita justru abai terhadap musuh riil yang sedang mengintai kehidupan kita.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah penelitian menyatakan bahwa pola makan yang tidak sehat lebih banyak meningkatkan resiko kematian dini daripada faktor risiko lainnya, termasuk merokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cerita Rakyat Tentang Kretek dan Tembakau di Tiga Kota (Kudus, Temanggung, Madura)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ini artinya agen malaikat pencabut nyawa manusia ada di pola makan kita. Apakah sudah sehat atau tidak sehat? satu hal yang seringkali diabaikan.
<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan Studi Global Burden of Disease yang mengamati konsumsi makanan di 195 negara, antara tahun 1990 dan 2017, fokus pada 15 jenis makanan atau nutrisi mengamini pola makan tidak sehat adalah penyebab terbesar kematian manusia.
<\/p>\n\n\n\n

Penelitian lainnya yang bersumber dari Medical News Today, dalam sebuah makalah yang dimuat dalam The Lancet, para peneliti menyimpulkan, pola makan yang buruk menyumbang 1 dari 5, atau 11 juta, kematian orang dewasa pada tahun 2017. Sebagian besar dari kematian itu, sekitar 10 juta, berasal dari penyakit kardiovaskular.
<\/p>\n\n\n\n

Sisanya terutama dari kanker dan diabetes tipe 2. Peringkat negara-negara dari tingkat kematian terkait diet terendah ke tertinggi menempatkan Israel pertama, dengan 89 kematian per 100.000 orang, dan Uzbekistan terakhir, dengan 892 per 100.000. Amerika Serikat, dengan 171 kematian per 100.000, berada di posisi ke-43 dan Inggris di peringkat ke-23, dengan 127 kematian per 100.000. India di tempat ke-118, dan Cina di ke-140.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Penelitian termutakhir yang di sebutkan di atas merupakan penelitian yang bersifat global, lalu bagaimana dengan di Indonesia? Apakah kasus pola makan yang tidak sehat juga menjadi penyebab kematian terbesar?
<\/p>\n\n\n\n

Dalam sebuah artikel yang ditulis oleh Triyani Kresnawan, DCN,Mkes, Instalasi Gizi RSCM dan diterbitkan oleh Departemen Kesehatan Gizi Kementerian Kesehatan menyebutkan, pola makan yang tidak seimbang yang menyebabkan resiko munculnya penyakit kanker antara lain kebiasaan makanan cepat saji (fast food).
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan menjaga keseimbangan dalam pola makan ini juga disampaikan oleh Spesialis Patologi Anatomi dari Rumah Sakit Kanker Dharmais, dr Evalina Suzana. Ia mengatakan pola makan yang sehat merupakan bagian bentuk pencegahan dari penyakit kanker. Di luar dari olahraga yang teratur, minum air, dan tidur yang cukup.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Eva, sebuah pola bisa dibilang sehat jika semua yang masuk ke dalam tubuh seimbang. Tidak boleh berlebihan bukan berarti tidak dimakan sama sekali. Harus terdiri dari 50 persen protein, 30 persen karbohidrat, dan 20 persen lemak dan serat. Itu harus dipenuhi di luar mineral-mineral yang ada.
<\/p>\n\n\n\n

Nah loh, berdasarkan hasil-hasil penelitian yang menyatakan bahwa pola makan tidak sehat merupakan penyebab resiko kematian terbesar, lalu mengapa hanya rokok yang terus-menerus dituduh dalam kampanye kelompok-kelompok antirokok yang mengatasnamakan kesehatan?
<\/p>\n\n\n\n

Untuk memahami hal ini tentunya anda harus mengetahui bahwa terdapat perang bisnis nikotin antara industri farmasi dan industri rokok, atau yang sering kami sebut sebagai \u201cNicotin War\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Maka Anda tak usah heran jika rokok diframing bertentangan dengan kesehatan, karena semua semata hanyalah akal-akalan pihak industri farmasi untuk memenangi pertarungan bisnis nikotin tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Pola Makan Tidak Sehat Membunuhmu","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pola-makan-tidak-sehat-membunuhmu","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-23 12:23:48","post_modified_gmt":"2019-04-23 05:23:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5653","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5637,"post_author":"855","post_date":"2019-04-16 11:07:27","post_date_gmt":"2019-04-16 04:07:27","post_content":"\n

Terlahir sebagai tunadaksa atau tanpa tangan, tidak membuat Shadikin Pard pesimis menjalan hidup. Lebih dari itu, ia berhasil membuktikan bahwa kekurangan bukanlah aral melintang yang mengganjal langkah menuju kesuksesan.<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Hujan sudah reda ketika kaki saya memasuki gerbang Taman Balekambang, Surakarta. Di dalam, di atas tanah yang masih basah, ratusan pelukis dari penjuru negeri sedang sibuk mengaktualisasikan kegelisahan hatinya ke sebuah kanvas. Mereka sedang mengikuti Indonesia Painting Contest 2019 yang diselenggarakan oleh NU Gallery.
<\/p>\n\n\n\n

Saya terus melangkah menyusuri tanah basah yang di samping kanan dan kirinya para pelukis sedang khidmat menggoreskan kuas. Hingga kaki saya terhenti di hadapan pelukis yang berkonsentrasi melukis menggunakan kedua kakinya.
<\/p>\n\n\n\n

Sebatang kuas dijepitkan di antara jemari kaki. Sesekali ia menyelupkan kuas itu ke dalam cat dan kemudian menggoreskannya ke dalam kanvas hingga membentuk sebuah lukisan realis Reog Ponorogo yang indah. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di sampingnya, seorang pemuda yang ternyata anaknya dengan sigap menjalankan instruksi ayahnya, mulai dari mengganti ukuran kuas yang terjepit di antara jemarinya, membuka botol cat dan lain sebagainya. Sesekali anaknya menyalakan rokok dan menyodorkan ke hadapan mulut ayahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Ia melukis Reog Ponorogo bukan tanpa alasan. Ia ingin memberikan kritik kepada seluruh masyarakat dan Pemerintah, bahwa mencintai kekayaan budaya bangsa sendiri adalah kewajiban yang harus selalu digelorakan. Jangan sampai, ketika kebudayaan tersebut direbut negara lain, bangsa ini baru panik dan serius mengakui serta membanggakan kekayaan kebudayaan sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ialah Shadikin Pard, seorang pelukis masyhur yang terlahir tunadaksa atau tanpa kedua tangan. Kami berbincang di bawah pohon beringin rindang. Di antara para pelukis lainnya yang sedang beristirahat menunggu waktu pengumuman pemenang dibacakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pria kelahiran 29 Oktober 1996 ini mulai melukis sejak masih di taman kanak-kanak. Saat itu, melukis hanya sebagai hobi semata. Sadikin juga pernah les privat melukis di rumahnya. Hingga mengenyam pendidikan sekolah menengah atas di SMA Santa Maria Kota Malang, Sadikin masih menempatkan melukis sebagai hobi.
<\/p>\n\n\n\n

Di tengah keterbatasannya, Sadikin lalu melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kala itu, Sadikin mengambil jurusan psikologi pascagagal mengambil jurusan arsitektur yang ia dambakan dan cita-citakan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, kekurangan yang diberikan Tuhan adalah sebuah kelebihan yang tidak banyak dimiliki oleh orang lain. Kegigihannya dalam belajar melukis menghantarkannya ke Associaton of Mouth and Foot Painting Artist (AMFPA). Sebuah organisasi yang bermarkas di Swiss dan menghimpun karya pelukis yang melukis menggunakan kaki dan mulut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSetelah masuk AMFPA, saya menjadikan melukis sebagai profesi. Tahun 1989 saya menerima 300 swiss franc, setara Rp 300 ribu waktu itu. Kini, saya menerima sekitar 40 jt setiap bulan,\u201d ungkap Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin terus melukis. Kemampuannya terus berkembang, bahkan melebihi tuntutan dari organisasi yang ia ikuti. Nama Sadikin juga mulai dikenal, bukan sebab keterbatasannya, melainkan sebab karyanya yang memang bernilai tinggi.
<\/p>\n\n\n\n

Setiap kali ada pameran lukisan dan kontes-kontes melukis, Sadikin tidak pernah alfa untuk mengikutinya. Karyanya menjadi sorotan publik dan banyak laku dengan harga yang tidak murah. Bahkan menurutnya, ada salah satu lukisannya yang laku hingga Rp 250 juta.<\/p>\n\n\n\n

Menolak Pasrah dan Bergantung kepada Pemerintah karena Disabilitas<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Sadikin tidak mau dikasihani orang lain. Meski ia tunadaksa, ia adalah manusia yang sama, yang memilki kesempatan besar untuk menjalani rutinitas sebagaimana manusia lainnya. \u201cKuncinya adalah terus mencoba, mencoba dan mencoba. Saya tidak apa-apa dicemooh lukisan saya jelek. Bagi saya cemoohan seperti itu adalah cambuk untuk terus berlatih,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Sadikin, masyarakat harus adil memerlakukan para difabel. Difabel harus diperlakukan sebagaimana orang biasa. Semakin banyak orang yang mengasihani difabel, maka tidak malah membuat difabel itu kuat, sebaliknya berdampak melemahkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cDifabel harus diperlakukan seperti manusia biasa, bahkan ia harus diberi tantangan dan ditempa untuk menemukan kelebihan dalam dirinya,\u201d kata Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, para difabel harus mulai mengubah sudut pandang. Bahwa segala kekurangan tidak kemudian menjadikan para difabel pasrah menerima nasib dan mengharapkan santunan dari orang lain dan pemerintah untuk menjalani hidup. Difabel adalah orang istimewa yang dapat berkarya melebihi orang-orang biasa. Kekurangan ini adalah kelebihan yang akan ditemukan dengan kerja keras dan melatih diri menjadi apa yang diinginkan.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin bisa berangkat ke Swiss dan mengharumkan nama Indonesia di mata dunia, tidak terlebih dulu mendapat perhatian dari pemerintah. Ia mengaku berangkat dengan uang sendiri. Bahkan, lanjut Sadikin, hingga kini pun tidak ada pemerintah yang mengapresiasi karya-karyanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak menginginkan belas kasihan dari pemerintah. Karena yang sejatinya benar adalah, kita dapat memberikan apa kepada negara ini, bukan negara dapat memberikan apa kepada kita. Namun yang saya sayangkan, pemerintah sepertinya tidak peduli memperhatikan para seniman dan menghargai karya seni dari para seniman negeri sendiri. Seharusnya para seniman ini diberikan wadah, diperhatikan, kan juga kalau manajemennya bagus bisa menjadi pemasukan untuk negara,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin mengirim pesan kepada seluruh seniman di Tanah Air untuk terus berkaraya, tanpa peduli akan bernilai apa sebuah karya tersebut. \u201cYang terpenting kita dapat mengaktulisasikan diri dan terus melukis dengan niat mengharumkan nama negeri. Teruslah berkarya, karena sejatinya karya adalah yang dibuat dengan kesungguhan dan keikhlasan hati,\u201d pungkas pelukis beranak dua tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Shadikin Pard, Pelukis Tanpa Lengan yang Mengharumkan Bangsa dengan Kedua Kakinya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"shadikin-pard-pelukis-tanpa-lengan-yang-mengharumkan-bangsa-dengan-kedua-kakinya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-16 11:09:38","post_modified_gmt":"2019-04-16 04:09:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5637","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5621,"post_author":"877","post_date":"2019-04-10 10:37:08","post_date_gmt":"2019-04-10 03:37:08","post_content":"\n

Bahasan mengenai hukum menyulut kretek pernah dipertanyakan dalam forum bahtsul masail<\/em> (musyawarah) para Kiai\/Ulama\u2019 Kudus. Pertanyaan (saail<\/em>) yang mengajukan atas nama masyarakat Baletengahan, yaitu dukuh yang masuk wilayah Desa Langgardalem Kecamatan Kota. Tepatnya sekitar + 800an m, arah utara Masjid Menara Kudus (al-Aqsha). Kultur budaya masyarakat Baletengahan adalah santri, terdapat banyak Pesantren dan beberapa madrasah, salah satunya lembaga pendidikan formal TBS (Tasywiqut Thullab Salafiyyah), yaitu lembaga pendidikan salaf yang dahulu salah satu tempat  KH. Arwani Amin al-Hafiz mengajar dan yayasan pendidikan Nawa Kartika, yang didirikan oleh tokoh NU setempat. <\/p>\n\n\n\n

Lain halnya pesantren dan lembaga pendidikan, di sekitar Baletengahan Langgardalem, konon dahulu banyak usaha rumahan kretek. Petilasan yang masih dapat dijumpai di Langgardalem adalah \u201cgudang tembakau dan PR. Buah Cengkeh\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Disini terlihat para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus mempunyai tradisi kritis menyikapi fenomena disekelilingnya. Sehingga wajar pada tahun 1990an muncul bahasan tentang kretek di Bahtsul Masail<\/em> para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, jauh mendahului keputusan MUI dan Muhammadiyyah hasil Padang Panjang, dilaksanakan tahun 2009-2010.<\/p>\n\n\n\n

Tradisi Bahtsul Masail biasa disebut \u201cMunadzoroh<\/em>\u201d sudah lama dilakukan para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, dengan bertempat di Masjid-masjid di sekitar Kudus, bergantian dan memutar. Peserta munadzoroh<\/em> adalah para Kiai\/Ulama\u2019 se-Kabupaten Kudus dari berbagai penjuru desa, dan juga masyarakat umum, karena sifatnya terbuka (siapa saja boleh ikut tanpa terkecuali). Pelaksanaannya dari dulu hingga sekarang dijatuhkan pada hari Ahad (minggu). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat pembahasan mengenai kretek, bertempat di Masji al-Aqsho Menara Kudus yang dipimpin oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), redaksi pertanyaaannya adalah:<\/p>\n\n\n\n

\u201ckados pundi hukumipun ngkretek (bagaimana hukum menghisap kretek)?\u201d<\/em>--pertanyaan dari<\/em> Baletengahan--<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sebelum memulai pembahasan biasanya KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menanyakan tentang apa yang akan dibahas. Diceritakan oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi, situasi dan kondisi saat itu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), bertanya di forum, \u00a0\u201copo iki takonane?\u201d (pertanyaannya apa), di jawab yang hadir saat itu, \u201c anu Mbah bab kretek\u201d (itu bab menghisap kretek), lalu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menyambung jawaban hadirin, \u201coooo, bab kretek, kretekku gowo rene dikik\u201d (ooo, bab menghisap kretek, kretekku bawa kemari dulu), kemudian KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) mengambil satu batang kretek dari bungkusnya disulut dan dihisap. Selesai menyulut kretek, kembali KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) berbicara, \u201cwes kono dibahas\u201d (sudah sana dibahas). Setelah diperintahkan untuk dibahas, suasana hening sejenak. \u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mungkin di benak para hadirin terlintas pikiran \u201capa yang dibahas sudah dijawab secara tersirat oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) dengan menghisap kretek\u201d. Pada akhirnya, pembahasan tetap dilaksanakan. Diceritakan KH. Sya\u2019roni juga, situasi saat itu tidak ada Kiai\/Ulama\u2019 yang hadir menghukumi \u201charam\u201d, pada akhirnya diputuskan KH. Turaikhan, dengan hukum \u201c boleh\u201d, disela-sela KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) memberikan penjelasan, ada salah satu hadirin mengacungkan jarinya, beliau adalah KH. Hambali (Al Maghfurlah), sambil berkata; \u201ckulo Kiai, menawi boten udud kulo mboten saget mucal\u201d (saya Kiai, kalau tidak sambil menghisap kretek, saya tidak dapat mengajar), disertai argumen dan penjelasanannya. Kemudian KH. Turaikhan, memberikan jawaban dan tanggapan kepada KH. Hambali, \u201cnek ngono, kanggo kuwi hukumi wajib\u201d (kalau begitu, untuk kamu hukumnya wajib mengkonsumsi kretek).  <\/p>\n\n\n\n

Dilihat dari putusan Bahtsul Masail di atas, pada awalnya menghisap kretek dihukumi \u201cboleh\u201d, namun dengan kondisi tertentu menjadi \u201cWajib\u201d. Cerita penetapan hukum menghisap kretek dalam forum Bahtsul Masail di atas, telah menyebar di kalangan masyarakat Kudus, dan menjadi konsumsi publik, serta bersifat mengikat sampai sekarang. Sehingga banyak Kiai\/Ulama\u2019 Kudus tidak mempersoalkan lagi, apalagi membahas kembali. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cerita situasi dan kondisi Bahtsul Masail, diapresiasi dan diinterpretasikan Kiai\/Ulama\u2019Kudus lebih kontekstual, salah satunya KH. Fatkhur Rahman, beliau bercerita;  saat KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) populer dengan sebutan Mbah Tur memimpin munadzoroh<\/em> ada pertanyaan: bagaimana hukumnya kretek? Mbah Tur malah mengambil kretek, menyulut dan menghisapnya, dengan begitu diasumsikan hukumnya \u201chalal\u201d (jadi  setelah itu sudah tidak perlu dibahas lagi soal kretek). KH. Fatkhur Rahman juga menceritakan ada satu alasan kuat, mengapa halal, karena para Kiai itu tidak mau barang subhat<\/em> (tidak jelas posisinya), apalagi haram. Ketika para Kiai\/Ulama\u2019 besar menghisap kretek, otomatis tidak haram. Tuhan menciptakan sesuatu untuk dinikmati itu ada dua, halal atau haram. <\/p>\n\n\n\n

Dasar hukum menghisap kretek adalah mubah, sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang menjadi wajib, juga menjadi haram. Dasar utamanya adalah  \u201cla dhororo wala dhiroro\u201d. <\/em>Hukumnya seperti  mengkonsumsi gula, ketika kena penyakit gula, maka haram atau tidak boleh mengkonsumsi gula. Begitu pula ketika punya darah tinggi, maka tidak boleh makan daging, dan seterusnya. Dimana \u201calhukmu yadurru ma\u2019a illatihi\u201d<\/em>(hukum itu bisa beralih tergantung alasannya). Membeli kretek dihukumi tidak boleh (haram), jika uang yang dipakai semestinya untuk belanja kebutuhan pokok, membayar sekolah dan lain sebagainya. Menghisap kretek menjadi wajib, ketika tidak menghisap sulit berpikir, lemas, tidak bisa kerja dan lain sebagainya.
<\/p>\n","post_title":"Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fenomena-hukum-rokok-bagi-ulama-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-10 10:37:16","post_modified_gmt":"2019-04-10 03:37:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5621","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

Paling Populer

\n

Baca: Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Berita terbaru dalam sepekan terakhir, di Jepang, salah satu universitas negeri berencana memecat seluruh staf dan dosen mereka yang menjadi perokok aktif. Selain itu, beberapa perusahaan di Jepang juga akan mencoret langsung para pelamar kerja yang diketahui sebagai perokok aktif. Ini tentu saja menjadi kemunduran yang telak bagi negara Jepang. Padahal sebelumnya Jepang dikenal menjadi negara yang masih cukup ramah terhadap para perokok.<\/p>\n\n\n\n

Alasan Jepang memberlakukan kebijakan tersebut sebagai upaya menyambut perhelatan olimpiade 2020 yang akan diselenggarakan di Tokyo. Lagi-lagi, dalih kesehatan yang menjadi tameng kebijakan ini. Jika ditelaah secara saksama, tentu saja kebijakan ini sama sekali tidak ada relevansinya. Terkesan pemaksaan dan sekadar pencitraan semata.<\/p>\n\n\n\n

Lagi pula, tak ada relevansinya antara kecerdasan (dalam hal ini dunia kampus) dengan kebiasaan merokok. Juga tak ada relevansi antara kinerja (dalam hal ini pelamar kerja) dengan kebiasaan merokok. Lagi-lagi, ini semata sekadar cocokologi saja.<\/p>\n\n\n\n

Bodoh ya bodoh saja, malas ya malas saja, juga sebaliknya, tak ada kaitannya dengan kebiasaan merokok. Kita bisa menjejerkan ratusan bahkan ribuan nama-nama orang yang memiliki kebiasaan merokok, di sana akan ada orang-orang yang sangai pandai hingga orang-orang idiot sekalipun yang memiliki kebiasaan merokok. Kita juga bisa menjejerkan nama-nama ratusan hingga ribuan orang yang sama sekali tidak merokok, dan di sana akan ada orang yang pandai sekali juga akan ada orang goblok segoblok-gobloknya yang sama sekali tidak merokok. Lalu, apa alasan memecat staf dan dosen di kampus yang memiliki kebiasaan merokok?<\/p>\n\n\n\n

Hal yang sama juga bisa kita lakukan dengan jejeran nama-nama orang dengan kinerja dan etos kerja. Yang rajin, juga yang malas, ada dalam kelompok mereka yang merokok juga kelompok mereka yang tidak merokok. Maka, saya kira, apa yang terjadi di Jepang dan diberitakan dalam sepekan belakangan, tentu saja mengganggu akal sehat siapa saja yang masih bisa berpikir dengan jernih.
<\/p>\n","post_title":"Diskriminasi Terhadap Para Perokok di Jepang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"diskriminasi-terhadap-para-perokok-di-jepang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-03 11:19:17","post_modified_gmt":"2019-05-03 04:19:17","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5679","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5653,"post_author":"883","post_date":"2019-04-23 12:23:36","post_date_gmt":"2019-04-23 05:23:36","post_content":"\n

Rokok selalu dikambinghitamkan sebagai penyebab dari tingginya angka kematian umat manusia. Angka dan data jadul yang selalu diulang-ulang mengenai rokok penyebab kematian, seakan membius kita bahwa rokok-lah musuh bersama. Sementara rokok dijadikan musuh bersama, kita justru abai terhadap musuh riil yang sedang mengintai kehidupan kita.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah penelitian menyatakan bahwa pola makan yang tidak sehat lebih banyak meningkatkan resiko kematian dini daripada faktor risiko lainnya, termasuk merokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cerita Rakyat Tentang Kretek dan Tembakau di Tiga Kota (Kudus, Temanggung, Madura)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ini artinya agen malaikat pencabut nyawa manusia ada di pola makan kita. Apakah sudah sehat atau tidak sehat? satu hal yang seringkali diabaikan.
<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan Studi Global Burden of Disease yang mengamati konsumsi makanan di 195 negara, antara tahun 1990 dan 2017, fokus pada 15 jenis makanan atau nutrisi mengamini pola makan tidak sehat adalah penyebab terbesar kematian manusia.
<\/p>\n\n\n\n

Penelitian lainnya yang bersumber dari Medical News Today, dalam sebuah makalah yang dimuat dalam The Lancet, para peneliti menyimpulkan, pola makan yang buruk menyumbang 1 dari 5, atau 11 juta, kematian orang dewasa pada tahun 2017. Sebagian besar dari kematian itu, sekitar 10 juta, berasal dari penyakit kardiovaskular.
<\/p>\n\n\n\n

Sisanya terutama dari kanker dan diabetes tipe 2. Peringkat negara-negara dari tingkat kematian terkait diet terendah ke tertinggi menempatkan Israel pertama, dengan 89 kematian per 100.000 orang, dan Uzbekistan terakhir, dengan 892 per 100.000. Amerika Serikat, dengan 171 kematian per 100.000, berada di posisi ke-43 dan Inggris di peringkat ke-23, dengan 127 kematian per 100.000. India di tempat ke-118, dan Cina di ke-140.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Penelitian termutakhir yang di sebutkan di atas merupakan penelitian yang bersifat global, lalu bagaimana dengan di Indonesia? Apakah kasus pola makan yang tidak sehat juga menjadi penyebab kematian terbesar?
<\/p>\n\n\n\n

Dalam sebuah artikel yang ditulis oleh Triyani Kresnawan, DCN,Mkes, Instalasi Gizi RSCM dan diterbitkan oleh Departemen Kesehatan Gizi Kementerian Kesehatan menyebutkan, pola makan yang tidak seimbang yang menyebabkan resiko munculnya penyakit kanker antara lain kebiasaan makanan cepat saji (fast food).
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan menjaga keseimbangan dalam pola makan ini juga disampaikan oleh Spesialis Patologi Anatomi dari Rumah Sakit Kanker Dharmais, dr Evalina Suzana. Ia mengatakan pola makan yang sehat merupakan bagian bentuk pencegahan dari penyakit kanker. Di luar dari olahraga yang teratur, minum air, dan tidur yang cukup.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Eva, sebuah pola bisa dibilang sehat jika semua yang masuk ke dalam tubuh seimbang. Tidak boleh berlebihan bukan berarti tidak dimakan sama sekali. Harus terdiri dari 50 persen protein, 30 persen karbohidrat, dan 20 persen lemak dan serat. Itu harus dipenuhi di luar mineral-mineral yang ada.
<\/p>\n\n\n\n

Nah loh, berdasarkan hasil-hasil penelitian yang menyatakan bahwa pola makan tidak sehat merupakan penyebab resiko kematian terbesar, lalu mengapa hanya rokok yang terus-menerus dituduh dalam kampanye kelompok-kelompok antirokok yang mengatasnamakan kesehatan?
<\/p>\n\n\n\n

Untuk memahami hal ini tentunya anda harus mengetahui bahwa terdapat perang bisnis nikotin antara industri farmasi dan industri rokok, atau yang sering kami sebut sebagai \u201cNicotin War\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Maka Anda tak usah heran jika rokok diframing bertentangan dengan kesehatan, karena semua semata hanyalah akal-akalan pihak industri farmasi untuk memenangi pertarungan bisnis nikotin tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Pola Makan Tidak Sehat Membunuhmu","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pola-makan-tidak-sehat-membunuhmu","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-23 12:23:48","post_modified_gmt":"2019-04-23 05:23:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5653","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5637,"post_author":"855","post_date":"2019-04-16 11:07:27","post_date_gmt":"2019-04-16 04:07:27","post_content":"\n

Terlahir sebagai tunadaksa atau tanpa tangan, tidak membuat Shadikin Pard pesimis menjalan hidup. Lebih dari itu, ia berhasil membuktikan bahwa kekurangan bukanlah aral melintang yang mengganjal langkah menuju kesuksesan.<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Hujan sudah reda ketika kaki saya memasuki gerbang Taman Balekambang, Surakarta. Di dalam, di atas tanah yang masih basah, ratusan pelukis dari penjuru negeri sedang sibuk mengaktualisasikan kegelisahan hatinya ke sebuah kanvas. Mereka sedang mengikuti Indonesia Painting Contest 2019 yang diselenggarakan oleh NU Gallery.
<\/p>\n\n\n\n

Saya terus melangkah menyusuri tanah basah yang di samping kanan dan kirinya para pelukis sedang khidmat menggoreskan kuas. Hingga kaki saya terhenti di hadapan pelukis yang berkonsentrasi melukis menggunakan kedua kakinya.
<\/p>\n\n\n\n

Sebatang kuas dijepitkan di antara jemari kaki. Sesekali ia menyelupkan kuas itu ke dalam cat dan kemudian menggoreskannya ke dalam kanvas hingga membentuk sebuah lukisan realis Reog Ponorogo yang indah. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di sampingnya, seorang pemuda yang ternyata anaknya dengan sigap menjalankan instruksi ayahnya, mulai dari mengganti ukuran kuas yang terjepit di antara jemarinya, membuka botol cat dan lain sebagainya. Sesekali anaknya menyalakan rokok dan menyodorkan ke hadapan mulut ayahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Ia melukis Reog Ponorogo bukan tanpa alasan. Ia ingin memberikan kritik kepada seluruh masyarakat dan Pemerintah, bahwa mencintai kekayaan budaya bangsa sendiri adalah kewajiban yang harus selalu digelorakan. Jangan sampai, ketika kebudayaan tersebut direbut negara lain, bangsa ini baru panik dan serius mengakui serta membanggakan kekayaan kebudayaan sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ialah Shadikin Pard, seorang pelukis masyhur yang terlahir tunadaksa atau tanpa kedua tangan. Kami berbincang di bawah pohon beringin rindang. Di antara para pelukis lainnya yang sedang beristirahat menunggu waktu pengumuman pemenang dibacakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pria kelahiran 29 Oktober 1996 ini mulai melukis sejak masih di taman kanak-kanak. Saat itu, melukis hanya sebagai hobi semata. Sadikin juga pernah les privat melukis di rumahnya. Hingga mengenyam pendidikan sekolah menengah atas di SMA Santa Maria Kota Malang, Sadikin masih menempatkan melukis sebagai hobi.
<\/p>\n\n\n\n

Di tengah keterbatasannya, Sadikin lalu melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kala itu, Sadikin mengambil jurusan psikologi pascagagal mengambil jurusan arsitektur yang ia dambakan dan cita-citakan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, kekurangan yang diberikan Tuhan adalah sebuah kelebihan yang tidak banyak dimiliki oleh orang lain. Kegigihannya dalam belajar melukis menghantarkannya ke Associaton of Mouth and Foot Painting Artist (AMFPA). Sebuah organisasi yang bermarkas di Swiss dan menghimpun karya pelukis yang melukis menggunakan kaki dan mulut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSetelah masuk AMFPA, saya menjadikan melukis sebagai profesi. Tahun 1989 saya menerima 300 swiss franc, setara Rp 300 ribu waktu itu. Kini, saya menerima sekitar 40 jt setiap bulan,\u201d ungkap Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin terus melukis. Kemampuannya terus berkembang, bahkan melebihi tuntutan dari organisasi yang ia ikuti. Nama Sadikin juga mulai dikenal, bukan sebab keterbatasannya, melainkan sebab karyanya yang memang bernilai tinggi.
<\/p>\n\n\n\n

Setiap kali ada pameran lukisan dan kontes-kontes melukis, Sadikin tidak pernah alfa untuk mengikutinya. Karyanya menjadi sorotan publik dan banyak laku dengan harga yang tidak murah. Bahkan menurutnya, ada salah satu lukisannya yang laku hingga Rp 250 juta.<\/p>\n\n\n\n

Menolak Pasrah dan Bergantung kepada Pemerintah karena Disabilitas<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Sadikin tidak mau dikasihani orang lain. Meski ia tunadaksa, ia adalah manusia yang sama, yang memilki kesempatan besar untuk menjalani rutinitas sebagaimana manusia lainnya. \u201cKuncinya adalah terus mencoba, mencoba dan mencoba. Saya tidak apa-apa dicemooh lukisan saya jelek. Bagi saya cemoohan seperti itu adalah cambuk untuk terus berlatih,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Sadikin, masyarakat harus adil memerlakukan para difabel. Difabel harus diperlakukan sebagaimana orang biasa. Semakin banyak orang yang mengasihani difabel, maka tidak malah membuat difabel itu kuat, sebaliknya berdampak melemahkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cDifabel harus diperlakukan seperti manusia biasa, bahkan ia harus diberi tantangan dan ditempa untuk menemukan kelebihan dalam dirinya,\u201d kata Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, para difabel harus mulai mengubah sudut pandang. Bahwa segala kekurangan tidak kemudian menjadikan para difabel pasrah menerima nasib dan mengharapkan santunan dari orang lain dan pemerintah untuk menjalani hidup. Difabel adalah orang istimewa yang dapat berkarya melebihi orang-orang biasa. Kekurangan ini adalah kelebihan yang akan ditemukan dengan kerja keras dan melatih diri menjadi apa yang diinginkan.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin bisa berangkat ke Swiss dan mengharumkan nama Indonesia di mata dunia, tidak terlebih dulu mendapat perhatian dari pemerintah. Ia mengaku berangkat dengan uang sendiri. Bahkan, lanjut Sadikin, hingga kini pun tidak ada pemerintah yang mengapresiasi karya-karyanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak menginginkan belas kasihan dari pemerintah. Karena yang sejatinya benar adalah, kita dapat memberikan apa kepada negara ini, bukan negara dapat memberikan apa kepada kita. Namun yang saya sayangkan, pemerintah sepertinya tidak peduli memperhatikan para seniman dan menghargai karya seni dari para seniman negeri sendiri. Seharusnya para seniman ini diberikan wadah, diperhatikan, kan juga kalau manajemennya bagus bisa menjadi pemasukan untuk negara,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin mengirim pesan kepada seluruh seniman di Tanah Air untuk terus berkaraya, tanpa peduli akan bernilai apa sebuah karya tersebut. \u201cYang terpenting kita dapat mengaktulisasikan diri dan terus melukis dengan niat mengharumkan nama negeri. Teruslah berkarya, karena sejatinya karya adalah yang dibuat dengan kesungguhan dan keikhlasan hati,\u201d pungkas pelukis beranak dua tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Shadikin Pard, Pelukis Tanpa Lengan yang Mengharumkan Bangsa dengan Kedua Kakinya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"shadikin-pard-pelukis-tanpa-lengan-yang-mengharumkan-bangsa-dengan-kedua-kakinya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-16 11:09:38","post_modified_gmt":"2019-04-16 04:09:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5637","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5621,"post_author":"877","post_date":"2019-04-10 10:37:08","post_date_gmt":"2019-04-10 03:37:08","post_content":"\n

Bahasan mengenai hukum menyulut kretek pernah dipertanyakan dalam forum bahtsul masail<\/em> (musyawarah) para Kiai\/Ulama\u2019 Kudus. Pertanyaan (saail<\/em>) yang mengajukan atas nama masyarakat Baletengahan, yaitu dukuh yang masuk wilayah Desa Langgardalem Kecamatan Kota. Tepatnya sekitar + 800an m, arah utara Masjid Menara Kudus (al-Aqsha). Kultur budaya masyarakat Baletengahan adalah santri, terdapat banyak Pesantren dan beberapa madrasah, salah satunya lembaga pendidikan formal TBS (Tasywiqut Thullab Salafiyyah), yaitu lembaga pendidikan salaf yang dahulu salah satu tempat  KH. Arwani Amin al-Hafiz mengajar dan yayasan pendidikan Nawa Kartika, yang didirikan oleh tokoh NU setempat. <\/p>\n\n\n\n

Lain halnya pesantren dan lembaga pendidikan, di sekitar Baletengahan Langgardalem, konon dahulu banyak usaha rumahan kretek. Petilasan yang masih dapat dijumpai di Langgardalem adalah \u201cgudang tembakau dan PR. Buah Cengkeh\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Disini terlihat para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus mempunyai tradisi kritis menyikapi fenomena disekelilingnya. Sehingga wajar pada tahun 1990an muncul bahasan tentang kretek di Bahtsul Masail<\/em> para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, jauh mendahului keputusan MUI dan Muhammadiyyah hasil Padang Panjang, dilaksanakan tahun 2009-2010.<\/p>\n\n\n\n

Tradisi Bahtsul Masail biasa disebut \u201cMunadzoroh<\/em>\u201d sudah lama dilakukan para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, dengan bertempat di Masjid-masjid di sekitar Kudus, bergantian dan memutar. Peserta munadzoroh<\/em> adalah para Kiai\/Ulama\u2019 se-Kabupaten Kudus dari berbagai penjuru desa, dan juga masyarakat umum, karena sifatnya terbuka (siapa saja boleh ikut tanpa terkecuali). Pelaksanaannya dari dulu hingga sekarang dijatuhkan pada hari Ahad (minggu). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat pembahasan mengenai kretek, bertempat di Masji al-Aqsho Menara Kudus yang dipimpin oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), redaksi pertanyaaannya adalah:<\/p>\n\n\n\n

\u201ckados pundi hukumipun ngkretek (bagaimana hukum menghisap kretek)?\u201d<\/em>--pertanyaan dari<\/em> Baletengahan--<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sebelum memulai pembahasan biasanya KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menanyakan tentang apa yang akan dibahas. Diceritakan oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi, situasi dan kondisi saat itu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), bertanya di forum, \u00a0\u201copo iki takonane?\u201d (pertanyaannya apa), di jawab yang hadir saat itu, \u201c anu Mbah bab kretek\u201d (itu bab menghisap kretek), lalu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menyambung jawaban hadirin, \u201coooo, bab kretek, kretekku gowo rene dikik\u201d (ooo, bab menghisap kretek, kretekku bawa kemari dulu), kemudian KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) mengambil satu batang kretek dari bungkusnya disulut dan dihisap. Selesai menyulut kretek, kembali KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) berbicara, \u201cwes kono dibahas\u201d (sudah sana dibahas). Setelah diperintahkan untuk dibahas, suasana hening sejenak. \u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mungkin di benak para hadirin terlintas pikiran \u201capa yang dibahas sudah dijawab secara tersirat oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) dengan menghisap kretek\u201d. Pada akhirnya, pembahasan tetap dilaksanakan. Diceritakan KH. Sya\u2019roni juga, situasi saat itu tidak ada Kiai\/Ulama\u2019 yang hadir menghukumi \u201charam\u201d, pada akhirnya diputuskan KH. Turaikhan, dengan hukum \u201c boleh\u201d, disela-sela KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) memberikan penjelasan, ada salah satu hadirin mengacungkan jarinya, beliau adalah KH. Hambali (Al Maghfurlah), sambil berkata; \u201ckulo Kiai, menawi boten udud kulo mboten saget mucal\u201d (saya Kiai, kalau tidak sambil menghisap kretek, saya tidak dapat mengajar), disertai argumen dan penjelasanannya. Kemudian KH. Turaikhan, memberikan jawaban dan tanggapan kepada KH. Hambali, \u201cnek ngono, kanggo kuwi hukumi wajib\u201d (kalau begitu, untuk kamu hukumnya wajib mengkonsumsi kretek).  <\/p>\n\n\n\n

Dilihat dari putusan Bahtsul Masail di atas, pada awalnya menghisap kretek dihukumi \u201cboleh\u201d, namun dengan kondisi tertentu menjadi \u201cWajib\u201d. Cerita penetapan hukum menghisap kretek dalam forum Bahtsul Masail di atas, telah menyebar di kalangan masyarakat Kudus, dan menjadi konsumsi publik, serta bersifat mengikat sampai sekarang. Sehingga banyak Kiai\/Ulama\u2019 Kudus tidak mempersoalkan lagi, apalagi membahas kembali. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cerita situasi dan kondisi Bahtsul Masail, diapresiasi dan diinterpretasikan Kiai\/Ulama\u2019Kudus lebih kontekstual, salah satunya KH. Fatkhur Rahman, beliau bercerita;  saat KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) populer dengan sebutan Mbah Tur memimpin munadzoroh<\/em> ada pertanyaan: bagaimana hukumnya kretek? Mbah Tur malah mengambil kretek, menyulut dan menghisapnya, dengan begitu diasumsikan hukumnya \u201chalal\u201d (jadi  setelah itu sudah tidak perlu dibahas lagi soal kretek). KH. Fatkhur Rahman juga menceritakan ada satu alasan kuat, mengapa halal, karena para Kiai itu tidak mau barang subhat<\/em> (tidak jelas posisinya), apalagi haram. Ketika para Kiai\/Ulama\u2019 besar menghisap kretek, otomatis tidak haram. Tuhan menciptakan sesuatu untuk dinikmati itu ada dua, halal atau haram. <\/p>\n\n\n\n

Dasar hukum menghisap kretek adalah mubah, sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang menjadi wajib, juga menjadi haram. Dasar utamanya adalah  \u201cla dhororo wala dhiroro\u201d. <\/em>Hukumnya seperti  mengkonsumsi gula, ketika kena penyakit gula, maka haram atau tidak boleh mengkonsumsi gula. Begitu pula ketika punya darah tinggi, maka tidak boleh makan daging, dan seterusnya. Dimana \u201calhukmu yadurru ma\u2019a illatihi\u201d<\/em>(hukum itu bisa beralih tergantung alasannya). Membeli kretek dihukumi tidak boleh (haram), jika uang yang dipakai semestinya untuk belanja kebutuhan pokok, membayar sekolah dan lain sebagainya. Menghisap kretek menjadi wajib, ketika tidak menghisap sulit berpikir, lemas, tidak bisa kerja dan lain sebagainya.
<\/p>\n","post_title":"Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fenomena-hukum-rokok-bagi-ulama-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-10 10:37:16","post_modified_gmt":"2019-04-10 03:37:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5621","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

Paling Populer

\n

Periode 2000 hingga saat ini, kampanye miring mengenai rokok dan rokok kretek kian menguat. Tak hanya korporasi besar, badan-badan kesehatan dunia juga ikut ambil peran dalam upaya menghancurkan produk rokok terutama rokok kretek yang menjadi ciri khas dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Berita terbaru dalam sepekan terakhir, di Jepang, salah satu universitas negeri berencana memecat seluruh staf dan dosen mereka yang menjadi perokok aktif. Selain itu, beberapa perusahaan di Jepang juga akan mencoret langsung para pelamar kerja yang diketahui sebagai perokok aktif. Ini tentu saja menjadi kemunduran yang telak bagi negara Jepang. Padahal sebelumnya Jepang dikenal menjadi negara yang masih cukup ramah terhadap para perokok.<\/p>\n\n\n\n

Alasan Jepang memberlakukan kebijakan tersebut sebagai upaya menyambut perhelatan olimpiade 2020 yang akan diselenggarakan di Tokyo. Lagi-lagi, dalih kesehatan yang menjadi tameng kebijakan ini. Jika ditelaah secara saksama, tentu saja kebijakan ini sama sekali tidak ada relevansinya. Terkesan pemaksaan dan sekadar pencitraan semata.<\/p>\n\n\n\n

Lagi pula, tak ada relevansinya antara kecerdasan (dalam hal ini dunia kampus) dengan kebiasaan merokok. Juga tak ada relevansi antara kinerja (dalam hal ini pelamar kerja) dengan kebiasaan merokok. Lagi-lagi, ini semata sekadar cocokologi saja.<\/p>\n\n\n\n

Bodoh ya bodoh saja, malas ya malas saja, juga sebaliknya, tak ada kaitannya dengan kebiasaan merokok. Kita bisa menjejerkan ratusan bahkan ribuan nama-nama orang yang memiliki kebiasaan merokok, di sana akan ada orang-orang yang sangai pandai hingga orang-orang idiot sekalipun yang memiliki kebiasaan merokok. Kita juga bisa menjejerkan nama-nama ratusan hingga ribuan orang yang sama sekali tidak merokok, dan di sana akan ada orang yang pandai sekali juga akan ada orang goblok segoblok-gobloknya yang sama sekali tidak merokok. Lalu, apa alasan memecat staf dan dosen di kampus yang memiliki kebiasaan merokok?<\/p>\n\n\n\n

Hal yang sama juga bisa kita lakukan dengan jejeran nama-nama orang dengan kinerja dan etos kerja. Yang rajin, juga yang malas, ada dalam kelompok mereka yang merokok juga kelompok mereka yang tidak merokok. Maka, saya kira, apa yang terjadi di Jepang dan diberitakan dalam sepekan belakangan, tentu saja mengganggu akal sehat siapa saja yang masih bisa berpikir dengan jernih.
<\/p>\n","post_title":"Diskriminasi Terhadap Para Perokok di Jepang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"diskriminasi-terhadap-para-perokok-di-jepang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-03 11:19:17","post_modified_gmt":"2019-05-03 04:19:17","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5679","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5653,"post_author":"883","post_date":"2019-04-23 12:23:36","post_date_gmt":"2019-04-23 05:23:36","post_content":"\n

Rokok selalu dikambinghitamkan sebagai penyebab dari tingginya angka kematian umat manusia. Angka dan data jadul yang selalu diulang-ulang mengenai rokok penyebab kematian, seakan membius kita bahwa rokok-lah musuh bersama. Sementara rokok dijadikan musuh bersama, kita justru abai terhadap musuh riil yang sedang mengintai kehidupan kita.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah penelitian menyatakan bahwa pola makan yang tidak sehat lebih banyak meningkatkan resiko kematian dini daripada faktor risiko lainnya, termasuk merokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cerita Rakyat Tentang Kretek dan Tembakau di Tiga Kota (Kudus, Temanggung, Madura)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ini artinya agen malaikat pencabut nyawa manusia ada di pola makan kita. Apakah sudah sehat atau tidak sehat? satu hal yang seringkali diabaikan.
<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan Studi Global Burden of Disease yang mengamati konsumsi makanan di 195 negara, antara tahun 1990 dan 2017, fokus pada 15 jenis makanan atau nutrisi mengamini pola makan tidak sehat adalah penyebab terbesar kematian manusia.
<\/p>\n\n\n\n

Penelitian lainnya yang bersumber dari Medical News Today, dalam sebuah makalah yang dimuat dalam The Lancet, para peneliti menyimpulkan, pola makan yang buruk menyumbang 1 dari 5, atau 11 juta, kematian orang dewasa pada tahun 2017. Sebagian besar dari kematian itu, sekitar 10 juta, berasal dari penyakit kardiovaskular.
<\/p>\n\n\n\n

Sisanya terutama dari kanker dan diabetes tipe 2. Peringkat negara-negara dari tingkat kematian terkait diet terendah ke tertinggi menempatkan Israel pertama, dengan 89 kematian per 100.000 orang, dan Uzbekistan terakhir, dengan 892 per 100.000. Amerika Serikat, dengan 171 kematian per 100.000, berada di posisi ke-43 dan Inggris di peringkat ke-23, dengan 127 kematian per 100.000. India di tempat ke-118, dan Cina di ke-140.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Penelitian termutakhir yang di sebutkan di atas merupakan penelitian yang bersifat global, lalu bagaimana dengan di Indonesia? Apakah kasus pola makan yang tidak sehat juga menjadi penyebab kematian terbesar?
<\/p>\n\n\n\n

Dalam sebuah artikel yang ditulis oleh Triyani Kresnawan, DCN,Mkes, Instalasi Gizi RSCM dan diterbitkan oleh Departemen Kesehatan Gizi Kementerian Kesehatan menyebutkan, pola makan yang tidak seimbang yang menyebabkan resiko munculnya penyakit kanker antara lain kebiasaan makanan cepat saji (fast food).
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan menjaga keseimbangan dalam pola makan ini juga disampaikan oleh Spesialis Patologi Anatomi dari Rumah Sakit Kanker Dharmais, dr Evalina Suzana. Ia mengatakan pola makan yang sehat merupakan bagian bentuk pencegahan dari penyakit kanker. Di luar dari olahraga yang teratur, minum air, dan tidur yang cukup.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Eva, sebuah pola bisa dibilang sehat jika semua yang masuk ke dalam tubuh seimbang. Tidak boleh berlebihan bukan berarti tidak dimakan sama sekali. Harus terdiri dari 50 persen protein, 30 persen karbohidrat, dan 20 persen lemak dan serat. Itu harus dipenuhi di luar mineral-mineral yang ada.
<\/p>\n\n\n\n

Nah loh, berdasarkan hasil-hasil penelitian yang menyatakan bahwa pola makan tidak sehat merupakan penyebab resiko kematian terbesar, lalu mengapa hanya rokok yang terus-menerus dituduh dalam kampanye kelompok-kelompok antirokok yang mengatasnamakan kesehatan?
<\/p>\n\n\n\n

Untuk memahami hal ini tentunya anda harus mengetahui bahwa terdapat perang bisnis nikotin antara industri farmasi dan industri rokok, atau yang sering kami sebut sebagai \u201cNicotin War\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Maka Anda tak usah heran jika rokok diframing bertentangan dengan kesehatan, karena semua semata hanyalah akal-akalan pihak industri farmasi untuk memenangi pertarungan bisnis nikotin tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Pola Makan Tidak Sehat Membunuhmu","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pola-makan-tidak-sehat-membunuhmu","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-23 12:23:48","post_modified_gmt":"2019-04-23 05:23:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5653","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5637,"post_author":"855","post_date":"2019-04-16 11:07:27","post_date_gmt":"2019-04-16 04:07:27","post_content":"\n

Terlahir sebagai tunadaksa atau tanpa tangan, tidak membuat Shadikin Pard pesimis menjalan hidup. Lebih dari itu, ia berhasil membuktikan bahwa kekurangan bukanlah aral melintang yang mengganjal langkah menuju kesuksesan.<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Hujan sudah reda ketika kaki saya memasuki gerbang Taman Balekambang, Surakarta. Di dalam, di atas tanah yang masih basah, ratusan pelukis dari penjuru negeri sedang sibuk mengaktualisasikan kegelisahan hatinya ke sebuah kanvas. Mereka sedang mengikuti Indonesia Painting Contest 2019 yang diselenggarakan oleh NU Gallery.
<\/p>\n\n\n\n

Saya terus melangkah menyusuri tanah basah yang di samping kanan dan kirinya para pelukis sedang khidmat menggoreskan kuas. Hingga kaki saya terhenti di hadapan pelukis yang berkonsentrasi melukis menggunakan kedua kakinya.
<\/p>\n\n\n\n

Sebatang kuas dijepitkan di antara jemari kaki. Sesekali ia menyelupkan kuas itu ke dalam cat dan kemudian menggoreskannya ke dalam kanvas hingga membentuk sebuah lukisan realis Reog Ponorogo yang indah. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di sampingnya, seorang pemuda yang ternyata anaknya dengan sigap menjalankan instruksi ayahnya, mulai dari mengganti ukuran kuas yang terjepit di antara jemarinya, membuka botol cat dan lain sebagainya. Sesekali anaknya menyalakan rokok dan menyodorkan ke hadapan mulut ayahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Ia melukis Reog Ponorogo bukan tanpa alasan. Ia ingin memberikan kritik kepada seluruh masyarakat dan Pemerintah, bahwa mencintai kekayaan budaya bangsa sendiri adalah kewajiban yang harus selalu digelorakan. Jangan sampai, ketika kebudayaan tersebut direbut negara lain, bangsa ini baru panik dan serius mengakui serta membanggakan kekayaan kebudayaan sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ialah Shadikin Pard, seorang pelukis masyhur yang terlahir tunadaksa atau tanpa kedua tangan. Kami berbincang di bawah pohon beringin rindang. Di antara para pelukis lainnya yang sedang beristirahat menunggu waktu pengumuman pemenang dibacakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pria kelahiran 29 Oktober 1996 ini mulai melukis sejak masih di taman kanak-kanak. Saat itu, melukis hanya sebagai hobi semata. Sadikin juga pernah les privat melukis di rumahnya. Hingga mengenyam pendidikan sekolah menengah atas di SMA Santa Maria Kota Malang, Sadikin masih menempatkan melukis sebagai hobi.
<\/p>\n\n\n\n

Di tengah keterbatasannya, Sadikin lalu melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kala itu, Sadikin mengambil jurusan psikologi pascagagal mengambil jurusan arsitektur yang ia dambakan dan cita-citakan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, kekurangan yang diberikan Tuhan adalah sebuah kelebihan yang tidak banyak dimiliki oleh orang lain. Kegigihannya dalam belajar melukis menghantarkannya ke Associaton of Mouth and Foot Painting Artist (AMFPA). Sebuah organisasi yang bermarkas di Swiss dan menghimpun karya pelukis yang melukis menggunakan kaki dan mulut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSetelah masuk AMFPA, saya menjadikan melukis sebagai profesi. Tahun 1989 saya menerima 300 swiss franc, setara Rp 300 ribu waktu itu. Kini, saya menerima sekitar 40 jt setiap bulan,\u201d ungkap Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin terus melukis. Kemampuannya terus berkembang, bahkan melebihi tuntutan dari organisasi yang ia ikuti. Nama Sadikin juga mulai dikenal, bukan sebab keterbatasannya, melainkan sebab karyanya yang memang bernilai tinggi.
<\/p>\n\n\n\n

Setiap kali ada pameran lukisan dan kontes-kontes melukis, Sadikin tidak pernah alfa untuk mengikutinya. Karyanya menjadi sorotan publik dan banyak laku dengan harga yang tidak murah. Bahkan menurutnya, ada salah satu lukisannya yang laku hingga Rp 250 juta.<\/p>\n\n\n\n

Menolak Pasrah dan Bergantung kepada Pemerintah karena Disabilitas<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Sadikin tidak mau dikasihani orang lain. Meski ia tunadaksa, ia adalah manusia yang sama, yang memilki kesempatan besar untuk menjalani rutinitas sebagaimana manusia lainnya. \u201cKuncinya adalah terus mencoba, mencoba dan mencoba. Saya tidak apa-apa dicemooh lukisan saya jelek. Bagi saya cemoohan seperti itu adalah cambuk untuk terus berlatih,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Sadikin, masyarakat harus adil memerlakukan para difabel. Difabel harus diperlakukan sebagaimana orang biasa. Semakin banyak orang yang mengasihani difabel, maka tidak malah membuat difabel itu kuat, sebaliknya berdampak melemahkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cDifabel harus diperlakukan seperti manusia biasa, bahkan ia harus diberi tantangan dan ditempa untuk menemukan kelebihan dalam dirinya,\u201d kata Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, para difabel harus mulai mengubah sudut pandang. Bahwa segala kekurangan tidak kemudian menjadikan para difabel pasrah menerima nasib dan mengharapkan santunan dari orang lain dan pemerintah untuk menjalani hidup. Difabel adalah orang istimewa yang dapat berkarya melebihi orang-orang biasa. Kekurangan ini adalah kelebihan yang akan ditemukan dengan kerja keras dan melatih diri menjadi apa yang diinginkan.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin bisa berangkat ke Swiss dan mengharumkan nama Indonesia di mata dunia, tidak terlebih dulu mendapat perhatian dari pemerintah. Ia mengaku berangkat dengan uang sendiri. Bahkan, lanjut Sadikin, hingga kini pun tidak ada pemerintah yang mengapresiasi karya-karyanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak menginginkan belas kasihan dari pemerintah. Karena yang sejatinya benar adalah, kita dapat memberikan apa kepada negara ini, bukan negara dapat memberikan apa kepada kita. Namun yang saya sayangkan, pemerintah sepertinya tidak peduli memperhatikan para seniman dan menghargai karya seni dari para seniman negeri sendiri. Seharusnya para seniman ini diberikan wadah, diperhatikan, kan juga kalau manajemennya bagus bisa menjadi pemasukan untuk negara,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin mengirim pesan kepada seluruh seniman di Tanah Air untuk terus berkaraya, tanpa peduli akan bernilai apa sebuah karya tersebut. \u201cYang terpenting kita dapat mengaktulisasikan diri dan terus melukis dengan niat mengharumkan nama negeri. Teruslah berkarya, karena sejatinya karya adalah yang dibuat dengan kesungguhan dan keikhlasan hati,\u201d pungkas pelukis beranak dua tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Shadikin Pard, Pelukis Tanpa Lengan yang Mengharumkan Bangsa dengan Kedua Kakinya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"shadikin-pard-pelukis-tanpa-lengan-yang-mengharumkan-bangsa-dengan-kedua-kakinya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-16 11:09:38","post_modified_gmt":"2019-04-16 04:09:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5637","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5621,"post_author":"877","post_date":"2019-04-10 10:37:08","post_date_gmt":"2019-04-10 03:37:08","post_content":"\n

Bahasan mengenai hukum menyulut kretek pernah dipertanyakan dalam forum bahtsul masail<\/em> (musyawarah) para Kiai\/Ulama\u2019 Kudus. Pertanyaan (saail<\/em>) yang mengajukan atas nama masyarakat Baletengahan, yaitu dukuh yang masuk wilayah Desa Langgardalem Kecamatan Kota. Tepatnya sekitar + 800an m, arah utara Masjid Menara Kudus (al-Aqsha). Kultur budaya masyarakat Baletengahan adalah santri, terdapat banyak Pesantren dan beberapa madrasah, salah satunya lembaga pendidikan formal TBS (Tasywiqut Thullab Salafiyyah), yaitu lembaga pendidikan salaf yang dahulu salah satu tempat  KH. Arwani Amin al-Hafiz mengajar dan yayasan pendidikan Nawa Kartika, yang didirikan oleh tokoh NU setempat. <\/p>\n\n\n\n

Lain halnya pesantren dan lembaga pendidikan, di sekitar Baletengahan Langgardalem, konon dahulu banyak usaha rumahan kretek. Petilasan yang masih dapat dijumpai di Langgardalem adalah \u201cgudang tembakau dan PR. Buah Cengkeh\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Disini terlihat para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus mempunyai tradisi kritis menyikapi fenomena disekelilingnya. Sehingga wajar pada tahun 1990an muncul bahasan tentang kretek di Bahtsul Masail<\/em> para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, jauh mendahului keputusan MUI dan Muhammadiyyah hasil Padang Panjang, dilaksanakan tahun 2009-2010.<\/p>\n\n\n\n

Tradisi Bahtsul Masail biasa disebut \u201cMunadzoroh<\/em>\u201d sudah lama dilakukan para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, dengan bertempat di Masjid-masjid di sekitar Kudus, bergantian dan memutar. Peserta munadzoroh<\/em> adalah para Kiai\/Ulama\u2019 se-Kabupaten Kudus dari berbagai penjuru desa, dan juga masyarakat umum, karena sifatnya terbuka (siapa saja boleh ikut tanpa terkecuali). Pelaksanaannya dari dulu hingga sekarang dijatuhkan pada hari Ahad (minggu). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat pembahasan mengenai kretek, bertempat di Masji al-Aqsho Menara Kudus yang dipimpin oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), redaksi pertanyaaannya adalah:<\/p>\n\n\n\n

\u201ckados pundi hukumipun ngkretek (bagaimana hukum menghisap kretek)?\u201d<\/em>--pertanyaan dari<\/em> Baletengahan--<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sebelum memulai pembahasan biasanya KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menanyakan tentang apa yang akan dibahas. Diceritakan oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi, situasi dan kondisi saat itu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), bertanya di forum, \u00a0\u201copo iki takonane?\u201d (pertanyaannya apa), di jawab yang hadir saat itu, \u201c anu Mbah bab kretek\u201d (itu bab menghisap kretek), lalu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menyambung jawaban hadirin, \u201coooo, bab kretek, kretekku gowo rene dikik\u201d (ooo, bab menghisap kretek, kretekku bawa kemari dulu), kemudian KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) mengambil satu batang kretek dari bungkusnya disulut dan dihisap. Selesai menyulut kretek, kembali KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) berbicara, \u201cwes kono dibahas\u201d (sudah sana dibahas). Setelah diperintahkan untuk dibahas, suasana hening sejenak. \u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mungkin di benak para hadirin terlintas pikiran \u201capa yang dibahas sudah dijawab secara tersirat oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) dengan menghisap kretek\u201d. Pada akhirnya, pembahasan tetap dilaksanakan. Diceritakan KH. Sya\u2019roni juga, situasi saat itu tidak ada Kiai\/Ulama\u2019 yang hadir menghukumi \u201charam\u201d, pada akhirnya diputuskan KH. Turaikhan, dengan hukum \u201c boleh\u201d, disela-sela KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) memberikan penjelasan, ada salah satu hadirin mengacungkan jarinya, beliau adalah KH. Hambali (Al Maghfurlah), sambil berkata; \u201ckulo Kiai, menawi boten udud kulo mboten saget mucal\u201d (saya Kiai, kalau tidak sambil menghisap kretek, saya tidak dapat mengajar), disertai argumen dan penjelasanannya. Kemudian KH. Turaikhan, memberikan jawaban dan tanggapan kepada KH. Hambali, \u201cnek ngono, kanggo kuwi hukumi wajib\u201d (kalau begitu, untuk kamu hukumnya wajib mengkonsumsi kretek).  <\/p>\n\n\n\n

Dilihat dari putusan Bahtsul Masail di atas, pada awalnya menghisap kretek dihukumi \u201cboleh\u201d, namun dengan kondisi tertentu menjadi \u201cWajib\u201d. Cerita penetapan hukum menghisap kretek dalam forum Bahtsul Masail di atas, telah menyebar di kalangan masyarakat Kudus, dan menjadi konsumsi publik, serta bersifat mengikat sampai sekarang. Sehingga banyak Kiai\/Ulama\u2019 Kudus tidak mempersoalkan lagi, apalagi membahas kembali. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cerita situasi dan kondisi Bahtsul Masail, diapresiasi dan diinterpretasikan Kiai\/Ulama\u2019Kudus lebih kontekstual, salah satunya KH. Fatkhur Rahman, beliau bercerita;  saat KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) populer dengan sebutan Mbah Tur memimpin munadzoroh<\/em> ada pertanyaan: bagaimana hukumnya kretek? Mbah Tur malah mengambil kretek, menyulut dan menghisapnya, dengan begitu diasumsikan hukumnya \u201chalal\u201d (jadi  setelah itu sudah tidak perlu dibahas lagi soal kretek). KH. Fatkhur Rahman juga menceritakan ada satu alasan kuat, mengapa halal, karena para Kiai itu tidak mau barang subhat<\/em> (tidak jelas posisinya), apalagi haram. Ketika para Kiai\/Ulama\u2019 besar menghisap kretek, otomatis tidak haram. Tuhan menciptakan sesuatu untuk dinikmati itu ada dua, halal atau haram. <\/p>\n\n\n\n

Dasar hukum menghisap kretek adalah mubah, sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang menjadi wajib, juga menjadi haram. Dasar utamanya adalah  \u201cla dhororo wala dhiroro\u201d. <\/em>Hukumnya seperti  mengkonsumsi gula, ketika kena penyakit gula, maka haram atau tidak boleh mengkonsumsi gula. Begitu pula ketika punya darah tinggi, maka tidak boleh makan daging, dan seterusnya. Dimana \u201calhukmu yadurru ma\u2019a illatihi\u201d<\/em>(hukum itu bisa beralih tergantung alasannya). Membeli kretek dihukumi tidak boleh (haram), jika uang yang dipakai semestinya untuk belanja kebutuhan pokok, membayar sekolah dan lain sebagainya. Menghisap kretek menjadi wajib, ketika tidak menghisap sulit berpikir, lemas, tidak bisa kerja dan lain sebagainya.
<\/p>\n","post_title":"Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fenomena-hukum-rokok-bagi-ulama-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-10 10:37:16","post_modified_gmt":"2019-04-10 03:37:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5621","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

Paling Populer

\n

Dari catatan singkat di atas, konsumsi tembakau kering yang diisap kemudian tembakau kering yang dicampur bunga cengkeh kering pada mulanya sebagai barang konsumsi untuk pengobatan dan relaksasi. Hingga pada akhirnya, persaingan bisnis menggiring kampanye-kampanye yang menyuarakan perihal keburukan konsumsi tembakau. Dalih kesehatan dijadikan alasan utama untuk menghancurkan perekonomian tembakau guna meloloskan bisnis farmasi yang dijalankan korporasi besar berskala internasional.<\/p>\n\n\n\n

Periode 2000 hingga saat ini, kampanye miring mengenai rokok dan rokok kretek kian menguat. Tak hanya korporasi besar, badan-badan kesehatan dunia juga ikut ambil peran dalam upaya menghancurkan produk rokok terutama rokok kretek yang menjadi ciri khas dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Berita terbaru dalam sepekan terakhir, di Jepang, salah satu universitas negeri berencana memecat seluruh staf dan dosen mereka yang menjadi perokok aktif. Selain itu, beberapa perusahaan di Jepang juga akan mencoret langsung para pelamar kerja yang diketahui sebagai perokok aktif. Ini tentu saja menjadi kemunduran yang telak bagi negara Jepang. Padahal sebelumnya Jepang dikenal menjadi negara yang masih cukup ramah terhadap para perokok.<\/p>\n\n\n\n

Alasan Jepang memberlakukan kebijakan tersebut sebagai upaya menyambut perhelatan olimpiade 2020 yang akan diselenggarakan di Tokyo. Lagi-lagi, dalih kesehatan yang menjadi tameng kebijakan ini. Jika ditelaah secara saksama, tentu saja kebijakan ini sama sekali tidak ada relevansinya. Terkesan pemaksaan dan sekadar pencitraan semata.<\/p>\n\n\n\n

Lagi pula, tak ada relevansinya antara kecerdasan (dalam hal ini dunia kampus) dengan kebiasaan merokok. Juga tak ada relevansi antara kinerja (dalam hal ini pelamar kerja) dengan kebiasaan merokok. Lagi-lagi, ini semata sekadar cocokologi saja.<\/p>\n\n\n\n

Bodoh ya bodoh saja, malas ya malas saja, juga sebaliknya, tak ada kaitannya dengan kebiasaan merokok. Kita bisa menjejerkan ratusan bahkan ribuan nama-nama orang yang memiliki kebiasaan merokok, di sana akan ada orang-orang yang sangai pandai hingga orang-orang idiot sekalipun yang memiliki kebiasaan merokok. Kita juga bisa menjejerkan nama-nama ratusan hingga ribuan orang yang sama sekali tidak merokok, dan di sana akan ada orang yang pandai sekali juga akan ada orang goblok segoblok-gobloknya yang sama sekali tidak merokok. Lalu, apa alasan memecat staf dan dosen di kampus yang memiliki kebiasaan merokok?<\/p>\n\n\n\n

Hal yang sama juga bisa kita lakukan dengan jejeran nama-nama orang dengan kinerja dan etos kerja. Yang rajin, juga yang malas, ada dalam kelompok mereka yang merokok juga kelompok mereka yang tidak merokok. Maka, saya kira, apa yang terjadi di Jepang dan diberitakan dalam sepekan belakangan, tentu saja mengganggu akal sehat siapa saja yang masih bisa berpikir dengan jernih.
<\/p>\n","post_title":"Diskriminasi Terhadap Para Perokok di Jepang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"diskriminasi-terhadap-para-perokok-di-jepang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-03 11:19:17","post_modified_gmt":"2019-05-03 04:19:17","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5679","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5653,"post_author":"883","post_date":"2019-04-23 12:23:36","post_date_gmt":"2019-04-23 05:23:36","post_content":"\n

Rokok selalu dikambinghitamkan sebagai penyebab dari tingginya angka kematian umat manusia. Angka dan data jadul yang selalu diulang-ulang mengenai rokok penyebab kematian, seakan membius kita bahwa rokok-lah musuh bersama. Sementara rokok dijadikan musuh bersama, kita justru abai terhadap musuh riil yang sedang mengintai kehidupan kita.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah penelitian menyatakan bahwa pola makan yang tidak sehat lebih banyak meningkatkan resiko kematian dini daripada faktor risiko lainnya, termasuk merokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cerita Rakyat Tentang Kretek dan Tembakau di Tiga Kota (Kudus, Temanggung, Madura)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ini artinya agen malaikat pencabut nyawa manusia ada di pola makan kita. Apakah sudah sehat atau tidak sehat? satu hal yang seringkali diabaikan.
<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan Studi Global Burden of Disease yang mengamati konsumsi makanan di 195 negara, antara tahun 1990 dan 2017, fokus pada 15 jenis makanan atau nutrisi mengamini pola makan tidak sehat adalah penyebab terbesar kematian manusia.
<\/p>\n\n\n\n

Penelitian lainnya yang bersumber dari Medical News Today, dalam sebuah makalah yang dimuat dalam The Lancet, para peneliti menyimpulkan, pola makan yang buruk menyumbang 1 dari 5, atau 11 juta, kematian orang dewasa pada tahun 2017. Sebagian besar dari kematian itu, sekitar 10 juta, berasal dari penyakit kardiovaskular.
<\/p>\n\n\n\n

Sisanya terutama dari kanker dan diabetes tipe 2. Peringkat negara-negara dari tingkat kematian terkait diet terendah ke tertinggi menempatkan Israel pertama, dengan 89 kematian per 100.000 orang, dan Uzbekistan terakhir, dengan 892 per 100.000. Amerika Serikat, dengan 171 kematian per 100.000, berada di posisi ke-43 dan Inggris di peringkat ke-23, dengan 127 kematian per 100.000. India di tempat ke-118, dan Cina di ke-140.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Penelitian termutakhir yang di sebutkan di atas merupakan penelitian yang bersifat global, lalu bagaimana dengan di Indonesia? Apakah kasus pola makan yang tidak sehat juga menjadi penyebab kematian terbesar?
<\/p>\n\n\n\n

Dalam sebuah artikel yang ditulis oleh Triyani Kresnawan, DCN,Mkes, Instalasi Gizi RSCM dan diterbitkan oleh Departemen Kesehatan Gizi Kementerian Kesehatan menyebutkan, pola makan yang tidak seimbang yang menyebabkan resiko munculnya penyakit kanker antara lain kebiasaan makanan cepat saji (fast food).
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan menjaga keseimbangan dalam pola makan ini juga disampaikan oleh Spesialis Patologi Anatomi dari Rumah Sakit Kanker Dharmais, dr Evalina Suzana. Ia mengatakan pola makan yang sehat merupakan bagian bentuk pencegahan dari penyakit kanker. Di luar dari olahraga yang teratur, minum air, dan tidur yang cukup.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Eva, sebuah pola bisa dibilang sehat jika semua yang masuk ke dalam tubuh seimbang. Tidak boleh berlebihan bukan berarti tidak dimakan sama sekali. Harus terdiri dari 50 persen protein, 30 persen karbohidrat, dan 20 persen lemak dan serat. Itu harus dipenuhi di luar mineral-mineral yang ada.
<\/p>\n\n\n\n

Nah loh, berdasarkan hasil-hasil penelitian yang menyatakan bahwa pola makan tidak sehat merupakan penyebab resiko kematian terbesar, lalu mengapa hanya rokok yang terus-menerus dituduh dalam kampanye kelompok-kelompok antirokok yang mengatasnamakan kesehatan?
<\/p>\n\n\n\n

Untuk memahami hal ini tentunya anda harus mengetahui bahwa terdapat perang bisnis nikotin antara industri farmasi dan industri rokok, atau yang sering kami sebut sebagai \u201cNicotin War\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Maka Anda tak usah heran jika rokok diframing bertentangan dengan kesehatan, karena semua semata hanyalah akal-akalan pihak industri farmasi untuk memenangi pertarungan bisnis nikotin tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Pola Makan Tidak Sehat Membunuhmu","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pola-makan-tidak-sehat-membunuhmu","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-23 12:23:48","post_modified_gmt":"2019-04-23 05:23:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5653","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5637,"post_author":"855","post_date":"2019-04-16 11:07:27","post_date_gmt":"2019-04-16 04:07:27","post_content":"\n

Terlahir sebagai tunadaksa atau tanpa tangan, tidak membuat Shadikin Pard pesimis menjalan hidup. Lebih dari itu, ia berhasil membuktikan bahwa kekurangan bukanlah aral melintang yang mengganjal langkah menuju kesuksesan.<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Hujan sudah reda ketika kaki saya memasuki gerbang Taman Balekambang, Surakarta. Di dalam, di atas tanah yang masih basah, ratusan pelukis dari penjuru negeri sedang sibuk mengaktualisasikan kegelisahan hatinya ke sebuah kanvas. Mereka sedang mengikuti Indonesia Painting Contest 2019 yang diselenggarakan oleh NU Gallery.
<\/p>\n\n\n\n

Saya terus melangkah menyusuri tanah basah yang di samping kanan dan kirinya para pelukis sedang khidmat menggoreskan kuas. Hingga kaki saya terhenti di hadapan pelukis yang berkonsentrasi melukis menggunakan kedua kakinya.
<\/p>\n\n\n\n

Sebatang kuas dijepitkan di antara jemari kaki. Sesekali ia menyelupkan kuas itu ke dalam cat dan kemudian menggoreskannya ke dalam kanvas hingga membentuk sebuah lukisan realis Reog Ponorogo yang indah. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di sampingnya, seorang pemuda yang ternyata anaknya dengan sigap menjalankan instruksi ayahnya, mulai dari mengganti ukuran kuas yang terjepit di antara jemarinya, membuka botol cat dan lain sebagainya. Sesekali anaknya menyalakan rokok dan menyodorkan ke hadapan mulut ayahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Ia melukis Reog Ponorogo bukan tanpa alasan. Ia ingin memberikan kritik kepada seluruh masyarakat dan Pemerintah, bahwa mencintai kekayaan budaya bangsa sendiri adalah kewajiban yang harus selalu digelorakan. Jangan sampai, ketika kebudayaan tersebut direbut negara lain, bangsa ini baru panik dan serius mengakui serta membanggakan kekayaan kebudayaan sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ialah Shadikin Pard, seorang pelukis masyhur yang terlahir tunadaksa atau tanpa kedua tangan. Kami berbincang di bawah pohon beringin rindang. Di antara para pelukis lainnya yang sedang beristirahat menunggu waktu pengumuman pemenang dibacakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pria kelahiran 29 Oktober 1996 ini mulai melukis sejak masih di taman kanak-kanak. Saat itu, melukis hanya sebagai hobi semata. Sadikin juga pernah les privat melukis di rumahnya. Hingga mengenyam pendidikan sekolah menengah atas di SMA Santa Maria Kota Malang, Sadikin masih menempatkan melukis sebagai hobi.
<\/p>\n\n\n\n

Di tengah keterbatasannya, Sadikin lalu melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kala itu, Sadikin mengambil jurusan psikologi pascagagal mengambil jurusan arsitektur yang ia dambakan dan cita-citakan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, kekurangan yang diberikan Tuhan adalah sebuah kelebihan yang tidak banyak dimiliki oleh orang lain. Kegigihannya dalam belajar melukis menghantarkannya ke Associaton of Mouth and Foot Painting Artist (AMFPA). Sebuah organisasi yang bermarkas di Swiss dan menghimpun karya pelukis yang melukis menggunakan kaki dan mulut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSetelah masuk AMFPA, saya menjadikan melukis sebagai profesi. Tahun 1989 saya menerima 300 swiss franc, setara Rp 300 ribu waktu itu. Kini, saya menerima sekitar 40 jt setiap bulan,\u201d ungkap Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin terus melukis. Kemampuannya terus berkembang, bahkan melebihi tuntutan dari organisasi yang ia ikuti. Nama Sadikin juga mulai dikenal, bukan sebab keterbatasannya, melainkan sebab karyanya yang memang bernilai tinggi.
<\/p>\n\n\n\n

Setiap kali ada pameran lukisan dan kontes-kontes melukis, Sadikin tidak pernah alfa untuk mengikutinya. Karyanya menjadi sorotan publik dan banyak laku dengan harga yang tidak murah. Bahkan menurutnya, ada salah satu lukisannya yang laku hingga Rp 250 juta.<\/p>\n\n\n\n

Menolak Pasrah dan Bergantung kepada Pemerintah karena Disabilitas<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Sadikin tidak mau dikasihani orang lain. Meski ia tunadaksa, ia adalah manusia yang sama, yang memilki kesempatan besar untuk menjalani rutinitas sebagaimana manusia lainnya. \u201cKuncinya adalah terus mencoba, mencoba dan mencoba. Saya tidak apa-apa dicemooh lukisan saya jelek. Bagi saya cemoohan seperti itu adalah cambuk untuk terus berlatih,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Sadikin, masyarakat harus adil memerlakukan para difabel. Difabel harus diperlakukan sebagaimana orang biasa. Semakin banyak orang yang mengasihani difabel, maka tidak malah membuat difabel itu kuat, sebaliknya berdampak melemahkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cDifabel harus diperlakukan seperti manusia biasa, bahkan ia harus diberi tantangan dan ditempa untuk menemukan kelebihan dalam dirinya,\u201d kata Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, para difabel harus mulai mengubah sudut pandang. Bahwa segala kekurangan tidak kemudian menjadikan para difabel pasrah menerima nasib dan mengharapkan santunan dari orang lain dan pemerintah untuk menjalani hidup. Difabel adalah orang istimewa yang dapat berkarya melebihi orang-orang biasa. Kekurangan ini adalah kelebihan yang akan ditemukan dengan kerja keras dan melatih diri menjadi apa yang diinginkan.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin bisa berangkat ke Swiss dan mengharumkan nama Indonesia di mata dunia, tidak terlebih dulu mendapat perhatian dari pemerintah. Ia mengaku berangkat dengan uang sendiri. Bahkan, lanjut Sadikin, hingga kini pun tidak ada pemerintah yang mengapresiasi karya-karyanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak menginginkan belas kasihan dari pemerintah. Karena yang sejatinya benar adalah, kita dapat memberikan apa kepada negara ini, bukan negara dapat memberikan apa kepada kita. Namun yang saya sayangkan, pemerintah sepertinya tidak peduli memperhatikan para seniman dan menghargai karya seni dari para seniman negeri sendiri. Seharusnya para seniman ini diberikan wadah, diperhatikan, kan juga kalau manajemennya bagus bisa menjadi pemasukan untuk negara,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin mengirim pesan kepada seluruh seniman di Tanah Air untuk terus berkaraya, tanpa peduli akan bernilai apa sebuah karya tersebut. \u201cYang terpenting kita dapat mengaktulisasikan diri dan terus melukis dengan niat mengharumkan nama negeri. Teruslah berkarya, karena sejatinya karya adalah yang dibuat dengan kesungguhan dan keikhlasan hati,\u201d pungkas pelukis beranak dua tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Shadikin Pard, Pelukis Tanpa Lengan yang Mengharumkan Bangsa dengan Kedua Kakinya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"shadikin-pard-pelukis-tanpa-lengan-yang-mengharumkan-bangsa-dengan-kedua-kakinya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-16 11:09:38","post_modified_gmt":"2019-04-16 04:09:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5637","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5621,"post_author":"877","post_date":"2019-04-10 10:37:08","post_date_gmt":"2019-04-10 03:37:08","post_content":"\n

Bahasan mengenai hukum menyulut kretek pernah dipertanyakan dalam forum bahtsul masail<\/em> (musyawarah) para Kiai\/Ulama\u2019 Kudus. Pertanyaan (saail<\/em>) yang mengajukan atas nama masyarakat Baletengahan, yaitu dukuh yang masuk wilayah Desa Langgardalem Kecamatan Kota. Tepatnya sekitar + 800an m, arah utara Masjid Menara Kudus (al-Aqsha). Kultur budaya masyarakat Baletengahan adalah santri, terdapat banyak Pesantren dan beberapa madrasah, salah satunya lembaga pendidikan formal TBS (Tasywiqut Thullab Salafiyyah), yaitu lembaga pendidikan salaf yang dahulu salah satu tempat  KH. Arwani Amin al-Hafiz mengajar dan yayasan pendidikan Nawa Kartika, yang didirikan oleh tokoh NU setempat. <\/p>\n\n\n\n

Lain halnya pesantren dan lembaga pendidikan, di sekitar Baletengahan Langgardalem, konon dahulu banyak usaha rumahan kretek. Petilasan yang masih dapat dijumpai di Langgardalem adalah \u201cgudang tembakau dan PR. Buah Cengkeh\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Disini terlihat para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus mempunyai tradisi kritis menyikapi fenomena disekelilingnya. Sehingga wajar pada tahun 1990an muncul bahasan tentang kretek di Bahtsul Masail<\/em> para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, jauh mendahului keputusan MUI dan Muhammadiyyah hasil Padang Panjang, dilaksanakan tahun 2009-2010.<\/p>\n\n\n\n

Tradisi Bahtsul Masail biasa disebut \u201cMunadzoroh<\/em>\u201d sudah lama dilakukan para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, dengan bertempat di Masjid-masjid di sekitar Kudus, bergantian dan memutar. Peserta munadzoroh<\/em> adalah para Kiai\/Ulama\u2019 se-Kabupaten Kudus dari berbagai penjuru desa, dan juga masyarakat umum, karena sifatnya terbuka (siapa saja boleh ikut tanpa terkecuali). Pelaksanaannya dari dulu hingga sekarang dijatuhkan pada hari Ahad (minggu). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat pembahasan mengenai kretek, bertempat di Masji al-Aqsho Menara Kudus yang dipimpin oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), redaksi pertanyaaannya adalah:<\/p>\n\n\n\n

\u201ckados pundi hukumipun ngkretek (bagaimana hukum menghisap kretek)?\u201d<\/em>--pertanyaan dari<\/em> Baletengahan--<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sebelum memulai pembahasan biasanya KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menanyakan tentang apa yang akan dibahas. Diceritakan oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi, situasi dan kondisi saat itu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), bertanya di forum, \u00a0\u201copo iki takonane?\u201d (pertanyaannya apa), di jawab yang hadir saat itu, \u201c anu Mbah bab kretek\u201d (itu bab menghisap kretek), lalu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menyambung jawaban hadirin, \u201coooo, bab kretek, kretekku gowo rene dikik\u201d (ooo, bab menghisap kretek, kretekku bawa kemari dulu), kemudian KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) mengambil satu batang kretek dari bungkusnya disulut dan dihisap. Selesai menyulut kretek, kembali KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) berbicara, \u201cwes kono dibahas\u201d (sudah sana dibahas). Setelah diperintahkan untuk dibahas, suasana hening sejenak. \u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mungkin di benak para hadirin terlintas pikiran \u201capa yang dibahas sudah dijawab secara tersirat oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) dengan menghisap kretek\u201d. Pada akhirnya, pembahasan tetap dilaksanakan. Diceritakan KH. Sya\u2019roni juga, situasi saat itu tidak ada Kiai\/Ulama\u2019 yang hadir menghukumi \u201charam\u201d, pada akhirnya diputuskan KH. Turaikhan, dengan hukum \u201c boleh\u201d, disela-sela KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) memberikan penjelasan, ada salah satu hadirin mengacungkan jarinya, beliau adalah KH. Hambali (Al Maghfurlah), sambil berkata; \u201ckulo Kiai, menawi boten udud kulo mboten saget mucal\u201d (saya Kiai, kalau tidak sambil menghisap kretek, saya tidak dapat mengajar), disertai argumen dan penjelasanannya. Kemudian KH. Turaikhan, memberikan jawaban dan tanggapan kepada KH. Hambali, \u201cnek ngono, kanggo kuwi hukumi wajib\u201d (kalau begitu, untuk kamu hukumnya wajib mengkonsumsi kretek).  <\/p>\n\n\n\n

Dilihat dari putusan Bahtsul Masail di atas, pada awalnya menghisap kretek dihukumi \u201cboleh\u201d, namun dengan kondisi tertentu menjadi \u201cWajib\u201d. Cerita penetapan hukum menghisap kretek dalam forum Bahtsul Masail di atas, telah menyebar di kalangan masyarakat Kudus, dan menjadi konsumsi publik, serta bersifat mengikat sampai sekarang. Sehingga banyak Kiai\/Ulama\u2019 Kudus tidak mempersoalkan lagi, apalagi membahas kembali. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cerita situasi dan kondisi Bahtsul Masail, diapresiasi dan diinterpretasikan Kiai\/Ulama\u2019Kudus lebih kontekstual, salah satunya KH. Fatkhur Rahman, beliau bercerita;  saat KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) populer dengan sebutan Mbah Tur memimpin munadzoroh<\/em> ada pertanyaan: bagaimana hukumnya kretek? Mbah Tur malah mengambil kretek, menyulut dan menghisapnya, dengan begitu diasumsikan hukumnya \u201chalal\u201d (jadi  setelah itu sudah tidak perlu dibahas lagi soal kretek). KH. Fatkhur Rahman juga menceritakan ada satu alasan kuat, mengapa halal, karena para Kiai itu tidak mau barang subhat<\/em> (tidak jelas posisinya), apalagi haram. Ketika para Kiai\/Ulama\u2019 besar menghisap kretek, otomatis tidak haram. Tuhan menciptakan sesuatu untuk dinikmati itu ada dua, halal atau haram. <\/p>\n\n\n\n

Dasar hukum menghisap kretek adalah mubah, sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang menjadi wajib, juga menjadi haram. Dasar utamanya adalah  \u201cla dhororo wala dhiroro\u201d. <\/em>Hukumnya seperti  mengkonsumsi gula, ketika kena penyakit gula, maka haram atau tidak boleh mengkonsumsi gula. Begitu pula ketika punya darah tinggi, maka tidak boleh makan daging, dan seterusnya. Dimana \u201calhukmu yadurru ma\u2019a illatihi\u201d<\/em>(hukum itu bisa beralih tergantung alasannya). Membeli kretek dihukumi tidak boleh (haram), jika uang yang dipakai semestinya untuk belanja kebutuhan pokok, membayar sekolah dan lain sebagainya. Menghisap kretek menjadi wajib, ketika tidak menghisap sulit berpikir, lemas, tidak bisa kerja dan lain sebagainya.
<\/p>\n","post_title":"Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fenomena-hukum-rokok-bagi-ulama-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-10 10:37:16","post_modified_gmt":"2019-04-10 03:37:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5621","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

Paling Populer

\n

Di Indonesia sendiri, tembakau pada mulanya digunakan sebagai bahan campuran dalam mengonsumsi sirih yang lazim disebut nyirih<\/em>. Karena dianggap jorok, penjajah Belanda melarang aktivitas nyirih dan mengenalkan konsumsi tembakau dengan cara dibakar dan diisap kepada masyarakat pribumi. Kebiasaan mengisap tembakau di Indonesia semakin populer usai Haji Djamhari menemukan ramuan tembakau kering yang dicampur cengkeh kering kemudian dibakar dan diisap sebagai obat asma yang ia derita. Campuran tembakau kering dan bunga cengkeh kering yang dibakar menimbulkan suara berkeretek hingga pada akhirnya produk rokok ini dinamakan rokok kretek dan menguasai pasar dalam negeri hingga saat ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari catatan singkat di atas, konsumsi tembakau kering yang diisap kemudian tembakau kering yang dicampur bunga cengkeh kering pada mulanya sebagai barang konsumsi untuk pengobatan dan relaksasi. Hingga pada akhirnya, persaingan bisnis menggiring kampanye-kampanye yang menyuarakan perihal keburukan konsumsi tembakau. Dalih kesehatan dijadikan alasan utama untuk menghancurkan perekonomian tembakau guna meloloskan bisnis farmasi yang dijalankan korporasi besar berskala internasional.<\/p>\n\n\n\n

Periode 2000 hingga saat ini, kampanye miring mengenai rokok dan rokok kretek kian menguat. Tak hanya korporasi besar, badan-badan kesehatan dunia juga ikut ambil peran dalam upaya menghancurkan produk rokok terutama rokok kretek yang menjadi ciri khas dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Berita terbaru dalam sepekan terakhir, di Jepang, salah satu universitas negeri berencana memecat seluruh staf dan dosen mereka yang menjadi perokok aktif. Selain itu, beberapa perusahaan di Jepang juga akan mencoret langsung para pelamar kerja yang diketahui sebagai perokok aktif. Ini tentu saja menjadi kemunduran yang telak bagi negara Jepang. Padahal sebelumnya Jepang dikenal menjadi negara yang masih cukup ramah terhadap para perokok.<\/p>\n\n\n\n

Alasan Jepang memberlakukan kebijakan tersebut sebagai upaya menyambut perhelatan olimpiade 2020 yang akan diselenggarakan di Tokyo. Lagi-lagi, dalih kesehatan yang menjadi tameng kebijakan ini. Jika ditelaah secara saksama, tentu saja kebijakan ini sama sekali tidak ada relevansinya. Terkesan pemaksaan dan sekadar pencitraan semata.<\/p>\n\n\n\n

Lagi pula, tak ada relevansinya antara kecerdasan (dalam hal ini dunia kampus) dengan kebiasaan merokok. Juga tak ada relevansi antara kinerja (dalam hal ini pelamar kerja) dengan kebiasaan merokok. Lagi-lagi, ini semata sekadar cocokologi saja.<\/p>\n\n\n\n

Bodoh ya bodoh saja, malas ya malas saja, juga sebaliknya, tak ada kaitannya dengan kebiasaan merokok. Kita bisa menjejerkan ratusan bahkan ribuan nama-nama orang yang memiliki kebiasaan merokok, di sana akan ada orang-orang yang sangai pandai hingga orang-orang idiot sekalipun yang memiliki kebiasaan merokok. Kita juga bisa menjejerkan nama-nama ratusan hingga ribuan orang yang sama sekali tidak merokok, dan di sana akan ada orang yang pandai sekali juga akan ada orang goblok segoblok-gobloknya yang sama sekali tidak merokok. Lalu, apa alasan memecat staf dan dosen di kampus yang memiliki kebiasaan merokok?<\/p>\n\n\n\n

Hal yang sama juga bisa kita lakukan dengan jejeran nama-nama orang dengan kinerja dan etos kerja. Yang rajin, juga yang malas, ada dalam kelompok mereka yang merokok juga kelompok mereka yang tidak merokok. Maka, saya kira, apa yang terjadi di Jepang dan diberitakan dalam sepekan belakangan, tentu saja mengganggu akal sehat siapa saja yang masih bisa berpikir dengan jernih.
<\/p>\n","post_title":"Diskriminasi Terhadap Para Perokok di Jepang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"diskriminasi-terhadap-para-perokok-di-jepang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-03 11:19:17","post_modified_gmt":"2019-05-03 04:19:17","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5679","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5653,"post_author":"883","post_date":"2019-04-23 12:23:36","post_date_gmt":"2019-04-23 05:23:36","post_content":"\n

Rokok selalu dikambinghitamkan sebagai penyebab dari tingginya angka kematian umat manusia. Angka dan data jadul yang selalu diulang-ulang mengenai rokok penyebab kematian, seakan membius kita bahwa rokok-lah musuh bersama. Sementara rokok dijadikan musuh bersama, kita justru abai terhadap musuh riil yang sedang mengintai kehidupan kita.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah penelitian menyatakan bahwa pola makan yang tidak sehat lebih banyak meningkatkan resiko kematian dini daripada faktor risiko lainnya, termasuk merokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cerita Rakyat Tentang Kretek dan Tembakau di Tiga Kota (Kudus, Temanggung, Madura)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ini artinya agen malaikat pencabut nyawa manusia ada di pola makan kita. Apakah sudah sehat atau tidak sehat? satu hal yang seringkali diabaikan.
<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan Studi Global Burden of Disease yang mengamati konsumsi makanan di 195 negara, antara tahun 1990 dan 2017, fokus pada 15 jenis makanan atau nutrisi mengamini pola makan tidak sehat adalah penyebab terbesar kematian manusia.
<\/p>\n\n\n\n

Penelitian lainnya yang bersumber dari Medical News Today, dalam sebuah makalah yang dimuat dalam The Lancet, para peneliti menyimpulkan, pola makan yang buruk menyumbang 1 dari 5, atau 11 juta, kematian orang dewasa pada tahun 2017. Sebagian besar dari kematian itu, sekitar 10 juta, berasal dari penyakit kardiovaskular.
<\/p>\n\n\n\n

Sisanya terutama dari kanker dan diabetes tipe 2. Peringkat negara-negara dari tingkat kematian terkait diet terendah ke tertinggi menempatkan Israel pertama, dengan 89 kematian per 100.000 orang, dan Uzbekistan terakhir, dengan 892 per 100.000. Amerika Serikat, dengan 171 kematian per 100.000, berada di posisi ke-43 dan Inggris di peringkat ke-23, dengan 127 kematian per 100.000. India di tempat ke-118, dan Cina di ke-140.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Penelitian termutakhir yang di sebutkan di atas merupakan penelitian yang bersifat global, lalu bagaimana dengan di Indonesia? Apakah kasus pola makan yang tidak sehat juga menjadi penyebab kematian terbesar?
<\/p>\n\n\n\n

Dalam sebuah artikel yang ditulis oleh Triyani Kresnawan, DCN,Mkes, Instalasi Gizi RSCM dan diterbitkan oleh Departemen Kesehatan Gizi Kementerian Kesehatan menyebutkan, pola makan yang tidak seimbang yang menyebabkan resiko munculnya penyakit kanker antara lain kebiasaan makanan cepat saji (fast food).
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan menjaga keseimbangan dalam pola makan ini juga disampaikan oleh Spesialis Patologi Anatomi dari Rumah Sakit Kanker Dharmais, dr Evalina Suzana. Ia mengatakan pola makan yang sehat merupakan bagian bentuk pencegahan dari penyakit kanker. Di luar dari olahraga yang teratur, minum air, dan tidur yang cukup.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Eva, sebuah pola bisa dibilang sehat jika semua yang masuk ke dalam tubuh seimbang. Tidak boleh berlebihan bukan berarti tidak dimakan sama sekali. Harus terdiri dari 50 persen protein, 30 persen karbohidrat, dan 20 persen lemak dan serat. Itu harus dipenuhi di luar mineral-mineral yang ada.
<\/p>\n\n\n\n

Nah loh, berdasarkan hasil-hasil penelitian yang menyatakan bahwa pola makan tidak sehat merupakan penyebab resiko kematian terbesar, lalu mengapa hanya rokok yang terus-menerus dituduh dalam kampanye kelompok-kelompok antirokok yang mengatasnamakan kesehatan?
<\/p>\n\n\n\n

Untuk memahami hal ini tentunya anda harus mengetahui bahwa terdapat perang bisnis nikotin antara industri farmasi dan industri rokok, atau yang sering kami sebut sebagai \u201cNicotin War\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Maka Anda tak usah heran jika rokok diframing bertentangan dengan kesehatan, karena semua semata hanyalah akal-akalan pihak industri farmasi untuk memenangi pertarungan bisnis nikotin tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Pola Makan Tidak Sehat Membunuhmu","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pola-makan-tidak-sehat-membunuhmu","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-23 12:23:48","post_modified_gmt":"2019-04-23 05:23:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5653","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5637,"post_author":"855","post_date":"2019-04-16 11:07:27","post_date_gmt":"2019-04-16 04:07:27","post_content":"\n

Terlahir sebagai tunadaksa atau tanpa tangan, tidak membuat Shadikin Pard pesimis menjalan hidup. Lebih dari itu, ia berhasil membuktikan bahwa kekurangan bukanlah aral melintang yang mengganjal langkah menuju kesuksesan.<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Hujan sudah reda ketika kaki saya memasuki gerbang Taman Balekambang, Surakarta. Di dalam, di atas tanah yang masih basah, ratusan pelukis dari penjuru negeri sedang sibuk mengaktualisasikan kegelisahan hatinya ke sebuah kanvas. Mereka sedang mengikuti Indonesia Painting Contest 2019 yang diselenggarakan oleh NU Gallery.
<\/p>\n\n\n\n

Saya terus melangkah menyusuri tanah basah yang di samping kanan dan kirinya para pelukis sedang khidmat menggoreskan kuas. Hingga kaki saya terhenti di hadapan pelukis yang berkonsentrasi melukis menggunakan kedua kakinya.
<\/p>\n\n\n\n

Sebatang kuas dijepitkan di antara jemari kaki. Sesekali ia menyelupkan kuas itu ke dalam cat dan kemudian menggoreskannya ke dalam kanvas hingga membentuk sebuah lukisan realis Reog Ponorogo yang indah. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di sampingnya, seorang pemuda yang ternyata anaknya dengan sigap menjalankan instruksi ayahnya, mulai dari mengganti ukuran kuas yang terjepit di antara jemarinya, membuka botol cat dan lain sebagainya. Sesekali anaknya menyalakan rokok dan menyodorkan ke hadapan mulut ayahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Ia melukis Reog Ponorogo bukan tanpa alasan. Ia ingin memberikan kritik kepada seluruh masyarakat dan Pemerintah, bahwa mencintai kekayaan budaya bangsa sendiri adalah kewajiban yang harus selalu digelorakan. Jangan sampai, ketika kebudayaan tersebut direbut negara lain, bangsa ini baru panik dan serius mengakui serta membanggakan kekayaan kebudayaan sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ialah Shadikin Pard, seorang pelukis masyhur yang terlahir tunadaksa atau tanpa kedua tangan. Kami berbincang di bawah pohon beringin rindang. Di antara para pelukis lainnya yang sedang beristirahat menunggu waktu pengumuman pemenang dibacakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pria kelahiran 29 Oktober 1996 ini mulai melukis sejak masih di taman kanak-kanak. Saat itu, melukis hanya sebagai hobi semata. Sadikin juga pernah les privat melukis di rumahnya. Hingga mengenyam pendidikan sekolah menengah atas di SMA Santa Maria Kota Malang, Sadikin masih menempatkan melukis sebagai hobi.
<\/p>\n\n\n\n

Di tengah keterbatasannya, Sadikin lalu melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kala itu, Sadikin mengambil jurusan psikologi pascagagal mengambil jurusan arsitektur yang ia dambakan dan cita-citakan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, kekurangan yang diberikan Tuhan adalah sebuah kelebihan yang tidak banyak dimiliki oleh orang lain. Kegigihannya dalam belajar melukis menghantarkannya ke Associaton of Mouth and Foot Painting Artist (AMFPA). Sebuah organisasi yang bermarkas di Swiss dan menghimpun karya pelukis yang melukis menggunakan kaki dan mulut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSetelah masuk AMFPA, saya menjadikan melukis sebagai profesi. Tahun 1989 saya menerima 300 swiss franc, setara Rp 300 ribu waktu itu. Kini, saya menerima sekitar 40 jt setiap bulan,\u201d ungkap Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin terus melukis. Kemampuannya terus berkembang, bahkan melebihi tuntutan dari organisasi yang ia ikuti. Nama Sadikin juga mulai dikenal, bukan sebab keterbatasannya, melainkan sebab karyanya yang memang bernilai tinggi.
<\/p>\n\n\n\n

Setiap kali ada pameran lukisan dan kontes-kontes melukis, Sadikin tidak pernah alfa untuk mengikutinya. Karyanya menjadi sorotan publik dan banyak laku dengan harga yang tidak murah. Bahkan menurutnya, ada salah satu lukisannya yang laku hingga Rp 250 juta.<\/p>\n\n\n\n

Menolak Pasrah dan Bergantung kepada Pemerintah karena Disabilitas<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Sadikin tidak mau dikasihani orang lain. Meski ia tunadaksa, ia adalah manusia yang sama, yang memilki kesempatan besar untuk menjalani rutinitas sebagaimana manusia lainnya. \u201cKuncinya adalah terus mencoba, mencoba dan mencoba. Saya tidak apa-apa dicemooh lukisan saya jelek. Bagi saya cemoohan seperti itu adalah cambuk untuk terus berlatih,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Sadikin, masyarakat harus adil memerlakukan para difabel. Difabel harus diperlakukan sebagaimana orang biasa. Semakin banyak orang yang mengasihani difabel, maka tidak malah membuat difabel itu kuat, sebaliknya berdampak melemahkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cDifabel harus diperlakukan seperti manusia biasa, bahkan ia harus diberi tantangan dan ditempa untuk menemukan kelebihan dalam dirinya,\u201d kata Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, para difabel harus mulai mengubah sudut pandang. Bahwa segala kekurangan tidak kemudian menjadikan para difabel pasrah menerima nasib dan mengharapkan santunan dari orang lain dan pemerintah untuk menjalani hidup. Difabel adalah orang istimewa yang dapat berkarya melebihi orang-orang biasa. Kekurangan ini adalah kelebihan yang akan ditemukan dengan kerja keras dan melatih diri menjadi apa yang diinginkan.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin bisa berangkat ke Swiss dan mengharumkan nama Indonesia di mata dunia, tidak terlebih dulu mendapat perhatian dari pemerintah. Ia mengaku berangkat dengan uang sendiri. Bahkan, lanjut Sadikin, hingga kini pun tidak ada pemerintah yang mengapresiasi karya-karyanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak menginginkan belas kasihan dari pemerintah. Karena yang sejatinya benar adalah, kita dapat memberikan apa kepada negara ini, bukan negara dapat memberikan apa kepada kita. Namun yang saya sayangkan, pemerintah sepertinya tidak peduli memperhatikan para seniman dan menghargai karya seni dari para seniman negeri sendiri. Seharusnya para seniman ini diberikan wadah, diperhatikan, kan juga kalau manajemennya bagus bisa menjadi pemasukan untuk negara,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin mengirim pesan kepada seluruh seniman di Tanah Air untuk terus berkaraya, tanpa peduli akan bernilai apa sebuah karya tersebut. \u201cYang terpenting kita dapat mengaktulisasikan diri dan terus melukis dengan niat mengharumkan nama negeri. Teruslah berkarya, karena sejatinya karya adalah yang dibuat dengan kesungguhan dan keikhlasan hati,\u201d pungkas pelukis beranak dua tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Shadikin Pard, Pelukis Tanpa Lengan yang Mengharumkan Bangsa dengan Kedua Kakinya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"shadikin-pard-pelukis-tanpa-lengan-yang-mengharumkan-bangsa-dengan-kedua-kakinya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-16 11:09:38","post_modified_gmt":"2019-04-16 04:09:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5637","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5621,"post_author":"877","post_date":"2019-04-10 10:37:08","post_date_gmt":"2019-04-10 03:37:08","post_content":"\n

Bahasan mengenai hukum menyulut kretek pernah dipertanyakan dalam forum bahtsul masail<\/em> (musyawarah) para Kiai\/Ulama\u2019 Kudus. Pertanyaan (saail<\/em>) yang mengajukan atas nama masyarakat Baletengahan, yaitu dukuh yang masuk wilayah Desa Langgardalem Kecamatan Kota. Tepatnya sekitar + 800an m, arah utara Masjid Menara Kudus (al-Aqsha). Kultur budaya masyarakat Baletengahan adalah santri, terdapat banyak Pesantren dan beberapa madrasah, salah satunya lembaga pendidikan formal TBS (Tasywiqut Thullab Salafiyyah), yaitu lembaga pendidikan salaf yang dahulu salah satu tempat  KH. Arwani Amin al-Hafiz mengajar dan yayasan pendidikan Nawa Kartika, yang didirikan oleh tokoh NU setempat. <\/p>\n\n\n\n

Lain halnya pesantren dan lembaga pendidikan, di sekitar Baletengahan Langgardalem, konon dahulu banyak usaha rumahan kretek. Petilasan yang masih dapat dijumpai di Langgardalem adalah \u201cgudang tembakau dan PR. Buah Cengkeh\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Disini terlihat para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus mempunyai tradisi kritis menyikapi fenomena disekelilingnya. Sehingga wajar pada tahun 1990an muncul bahasan tentang kretek di Bahtsul Masail<\/em> para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, jauh mendahului keputusan MUI dan Muhammadiyyah hasil Padang Panjang, dilaksanakan tahun 2009-2010.<\/p>\n\n\n\n

Tradisi Bahtsul Masail biasa disebut \u201cMunadzoroh<\/em>\u201d sudah lama dilakukan para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, dengan bertempat di Masjid-masjid di sekitar Kudus, bergantian dan memutar. Peserta munadzoroh<\/em> adalah para Kiai\/Ulama\u2019 se-Kabupaten Kudus dari berbagai penjuru desa, dan juga masyarakat umum, karena sifatnya terbuka (siapa saja boleh ikut tanpa terkecuali). Pelaksanaannya dari dulu hingga sekarang dijatuhkan pada hari Ahad (minggu). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat pembahasan mengenai kretek, bertempat di Masji al-Aqsho Menara Kudus yang dipimpin oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), redaksi pertanyaaannya adalah:<\/p>\n\n\n\n

\u201ckados pundi hukumipun ngkretek (bagaimana hukum menghisap kretek)?\u201d<\/em>--pertanyaan dari<\/em> Baletengahan--<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sebelum memulai pembahasan biasanya KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menanyakan tentang apa yang akan dibahas. Diceritakan oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi, situasi dan kondisi saat itu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), bertanya di forum, \u00a0\u201copo iki takonane?\u201d (pertanyaannya apa), di jawab yang hadir saat itu, \u201c anu Mbah bab kretek\u201d (itu bab menghisap kretek), lalu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menyambung jawaban hadirin, \u201coooo, bab kretek, kretekku gowo rene dikik\u201d (ooo, bab menghisap kretek, kretekku bawa kemari dulu), kemudian KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) mengambil satu batang kretek dari bungkusnya disulut dan dihisap. Selesai menyulut kretek, kembali KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) berbicara, \u201cwes kono dibahas\u201d (sudah sana dibahas). Setelah diperintahkan untuk dibahas, suasana hening sejenak. \u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mungkin di benak para hadirin terlintas pikiran \u201capa yang dibahas sudah dijawab secara tersirat oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) dengan menghisap kretek\u201d. Pada akhirnya, pembahasan tetap dilaksanakan. Diceritakan KH. Sya\u2019roni juga, situasi saat itu tidak ada Kiai\/Ulama\u2019 yang hadir menghukumi \u201charam\u201d, pada akhirnya diputuskan KH. Turaikhan, dengan hukum \u201c boleh\u201d, disela-sela KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) memberikan penjelasan, ada salah satu hadirin mengacungkan jarinya, beliau adalah KH. Hambali (Al Maghfurlah), sambil berkata; \u201ckulo Kiai, menawi boten udud kulo mboten saget mucal\u201d (saya Kiai, kalau tidak sambil menghisap kretek, saya tidak dapat mengajar), disertai argumen dan penjelasanannya. Kemudian KH. Turaikhan, memberikan jawaban dan tanggapan kepada KH. Hambali, \u201cnek ngono, kanggo kuwi hukumi wajib\u201d (kalau begitu, untuk kamu hukumnya wajib mengkonsumsi kretek).  <\/p>\n\n\n\n

Dilihat dari putusan Bahtsul Masail di atas, pada awalnya menghisap kretek dihukumi \u201cboleh\u201d, namun dengan kondisi tertentu menjadi \u201cWajib\u201d. Cerita penetapan hukum menghisap kretek dalam forum Bahtsul Masail di atas, telah menyebar di kalangan masyarakat Kudus, dan menjadi konsumsi publik, serta bersifat mengikat sampai sekarang. Sehingga banyak Kiai\/Ulama\u2019 Kudus tidak mempersoalkan lagi, apalagi membahas kembali. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cerita situasi dan kondisi Bahtsul Masail, diapresiasi dan diinterpretasikan Kiai\/Ulama\u2019Kudus lebih kontekstual, salah satunya KH. Fatkhur Rahman, beliau bercerita;  saat KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) populer dengan sebutan Mbah Tur memimpin munadzoroh<\/em> ada pertanyaan: bagaimana hukumnya kretek? Mbah Tur malah mengambil kretek, menyulut dan menghisapnya, dengan begitu diasumsikan hukumnya \u201chalal\u201d (jadi  setelah itu sudah tidak perlu dibahas lagi soal kretek). KH. Fatkhur Rahman juga menceritakan ada satu alasan kuat, mengapa halal, karena para Kiai itu tidak mau barang subhat<\/em> (tidak jelas posisinya), apalagi haram. Ketika para Kiai\/Ulama\u2019 besar menghisap kretek, otomatis tidak haram. Tuhan menciptakan sesuatu untuk dinikmati itu ada dua, halal atau haram. <\/p>\n\n\n\n

Dasar hukum menghisap kretek adalah mubah, sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang menjadi wajib, juga menjadi haram. Dasar utamanya adalah  \u201cla dhororo wala dhiroro\u201d. <\/em>Hukumnya seperti  mengkonsumsi gula, ketika kena penyakit gula, maka haram atau tidak boleh mengkonsumsi gula. Begitu pula ketika punya darah tinggi, maka tidak boleh makan daging, dan seterusnya. Dimana \u201calhukmu yadurru ma\u2019a illatihi\u201d<\/em>(hukum itu bisa beralih tergantung alasannya). Membeli kretek dihukumi tidak boleh (haram), jika uang yang dipakai semestinya untuk belanja kebutuhan pokok, membayar sekolah dan lain sebagainya. Menghisap kretek menjadi wajib, ketika tidak menghisap sulit berpikir, lemas, tidak bisa kerja dan lain sebagainya.
<\/p>\n","post_title":"Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fenomena-hukum-rokok-bagi-ulama-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-10 10:37:16","post_modified_gmt":"2019-04-10 03:37:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5621","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

Paling Populer

\n

Baca: Ariel Tatum dan Diskriminasi Perempuan Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia sendiri, tembakau pada mulanya digunakan sebagai bahan campuran dalam mengonsumsi sirih yang lazim disebut nyirih<\/em>. Karena dianggap jorok, penjajah Belanda melarang aktivitas nyirih dan mengenalkan konsumsi tembakau dengan cara dibakar dan diisap kepada masyarakat pribumi. Kebiasaan mengisap tembakau di Indonesia semakin populer usai Haji Djamhari menemukan ramuan tembakau kering yang dicampur cengkeh kering kemudian dibakar dan diisap sebagai obat asma yang ia derita. Campuran tembakau kering dan bunga cengkeh kering yang dibakar menimbulkan suara berkeretek hingga pada akhirnya produk rokok ini dinamakan rokok kretek dan menguasai pasar dalam negeri hingga saat ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari catatan singkat di atas, konsumsi tembakau kering yang diisap kemudian tembakau kering yang dicampur bunga cengkeh kering pada mulanya sebagai barang konsumsi untuk pengobatan dan relaksasi. Hingga pada akhirnya, persaingan bisnis menggiring kampanye-kampanye yang menyuarakan perihal keburukan konsumsi tembakau. Dalih kesehatan dijadikan alasan utama untuk menghancurkan perekonomian tembakau guna meloloskan bisnis farmasi yang dijalankan korporasi besar berskala internasional.<\/p>\n\n\n\n

Periode 2000 hingga saat ini, kampanye miring mengenai rokok dan rokok kretek kian menguat. Tak hanya korporasi besar, badan-badan kesehatan dunia juga ikut ambil peran dalam upaya menghancurkan produk rokok terutama rokok kretek yang menjadi ciri khas dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Berita terbaru dalam sepekan terakhir, di Jepang, salah satu universitas negeri berencana memecat seluruh staf dan dosen mereka yang menjadi perokok aktif. Selain itu, beberapa perusahaan di Jepang juga akan mencoret langsung para pelamar kerja yang diketahui sebagai perokok aktif. Ini tentu saja menjadi kemunduran yang telak bagi negara Jepang. Padahal sebelumnya Jepang dikenal menjadi negara yang masih cukup ramah terhadap para perokok.<\/p>\n\n\n\n

Alasan Jepang memberlakukan kebijakan tersebut sebagai upaya menyambut perhelatan olimpiade 2020 yang akan diselenggarakan di Tokyo. Lagi-lagi, dalih kesehatan yang menjadi tameng kebijakan ini. Jika ditelaah secara saksama, tentu saja kebijakan ini sama sekali tidak ada relevansinya. Terkesan pemaksaan dan sekadar pencitraan semata.<\/p>\n\n\n\n

Lagi pula, tak ada relevansinya antara kecerdasan (dalam hal ini dunia kampus) dengan kebiasaan merokok. Juga tak ada relevansi antara kinerja (dalam hal ini pelamar kerja) dengan kebiasaan merokok. Lagi-lagi, ini semata sekadar cocokologi saja.<\/p>\n\n\n\n

Bodoh ya bodoh saja, malas ya malas saja, juga sebaliknya, tak ada kaitannya dengan kebiasaan merokok. Kita bisa menjejerkan ratusan bahkan ribuan nama-nama orang yang memiliki kebiasaan merokok, di sana akan ada orang-orang yang sangai pandai hingga orang-orang idiot sekalipun yang memiliki kebiasaan merokok. Kita juga bisa menjejerkan nama-nama ratusan hingga ribuan orang yang sama sekali tidak merokok, dan di sana akan ada orang yang pandai sekali juga akan ada orang goblok segoblok-gobloknya yang sama sekali tidak merokok. Lalu, apa alasan memecat staf dan dosen di kampus yang memiliki kebiasaan merokok?<\/p>\n\n\n\n

Hal yang sama juga bisa kita lakukan dengan jejeran nama-nama orang dengan kinerja dan etos kerja. Yang rajin, juga yang malas, ada dalam kelompok mereka yang merokok juga kelompok mereka yang tidak merokok. Maka, saya kira, apa yang terjadi di Jepang dan diberitakan dalam sepekan belakangan, tentu saja mengganggu akal sehat siapa saja yang masih bisa berpikir dengan jernih.
<\/p>\n","post_title":"Diskriminasi Terhadap Para Perokok di Jepang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"diskriminasi-terhadap-para-perokok-di-jepang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-03 11:19:17","post_modified_gmt":"2019-05-03 04:19:17","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5679","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5653,"post_author":"883","post_date":"2019-04-23 12:23:36","post_date_gmt":"2019-04-23 05:23:36","post_content":"\n

Rokok selalu dikambinghitamkan sebagai penyebab dari tingginya angka kematian umat manusia. Angka dan data jadul yang selalu diulang-ulang mengenai rokok penyebab kematian, seakan membius kita bahwa rokok-lah musuh bersama. Sementara rokok dijadikan musuh bersama, kita justru abai terhadap musuh riil yang sedang mengintai kehidupan kita.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah penelitian menyatakan bahwa pola makan yang tidak sehat lebih banyak meningkatkan resiko kematian dini daripada faktor risiko lainnya, termasuk merokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cerita Rakyat Tentang Kretek dan Tembakau di Tiga Kota (Kudus, Temanggung, Madura)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ini artinya agen malaikat pencabut nyawa manusia ada di pola makan kita. Apakah sudah sehat atau tidak sehat? satu hal yang seringkali diabaikan.
<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan Studi Global Burden of Disease yang mengamati konsumsi makanan di 195 negara, antara tahun 1990 dan 2017, fokus pada 15 jenis makanan atau nutrisi mengamini pola makan tidak sehat adalah penyebab terbesar kematian manusia.
<\/p>\n\n\n\n

Penelitian lainnya yang bersumber dari Medical News Today, dalam sebuah makalah yang dimuat dalam The Lancet, para peneliti menyimpulkan, pola makan yang buruk menyumbang 1 dari 5, atau 11 juta, kematian orang dewasa pada tahun 2017. Sebagian besar dari kematian itu, sekitar 10 juta, berasal dari penyakit kardiovaskular.
<\/p>\n\n\n\n

Sisanya terutama dari kanker dan diabetes tipe 2. Peringkat negara-negara dari tingkat kematian terkait diet terendah ke tertinggi menempatkan Israel pertama, dengan 89 kematian per 100.000 orang, dan Uzbekistan terakhir, dengan 892 per 100.000. Amerika Serikat, dengan 171 kematian per 100.000, berada di posisi ke-43 dan Inggris di peringkat ke-23, dengan 127 kematian per 100.000. India di tempat ke-118, dan Cina di ke-140.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Penelitian termutakhir yang di sebutkan di atas merupakan penelitian yang bersifat global, lalu bagaimana dengan di Indonesia? Apakah kasus pola makan yang tidak sehat juga menjadi penyebab kematian terbesar?
<\/p>\n\n\n\n

Dalam sebuah artikel yang ditulis oleh Triyani Kresnawan, DCN,Mkes, Instalasi Gizi RSCM dan diterbitkan oleh Departemen Kesehatan Gizi Kementerian Kesehatan menyebutkan, pola makan yang tidak seimbang yang menyebabkan resiko munculnya penyakit kanker antara lain kebiasaan makanan cepat saji (fast food).
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan menjaga keseimbangan dalam pola makan ini juga disampaikan oleh Spesialis Patologi Anatomi dari Rumah Sakit Kanker Dharmais, dr Evalina Suzana. Ia mengatakan pola makan yang sehat merupakan bagian bentuk pencegahan dari penyakit kanker. Di luar dari olahraga yang teratur, minum air, dan tidur yang cukup.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Eva, sebuah pola bisa dibilang sehat jika semua yang masuk ke dalam tubuh seimbang. Tidak boleh berlebihan bukan berarti tidak dimakan sama sekali. Harus terdiri dari 50 persen protein, 30 persen karbohidrat, dan 20 persen lemak dan serat. Itu harus dipenuhi di luar mineral-mineral yang ada.
<\/p>\n\n\n\n

Nah loh, berdasarkan hasil-hasil penelitian yang menyatakan bahwa pola makan tidak sehat merupakan penyebab resiko kematian terbesar, lalu mengapa hanya rokok yang terus-menerus dituduh dalam kampanye kelompok-kelompok antirokok yang mengatasnamakan kesehatan?
<\/p>\n\n\n\n

Untuk memahami hal ini tentunya anda harus mengetahui bahwa terdapat perang bisnis nikotin antara industri farmasi dan industri rokok, atau yang sering kami sebut sebagai \u201cNicotin War\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Maka Anda tak usah heran jika rokok diframing bertentangan dengan kesehatan, karena semua semata hanyalah akal-akalan pihak industri farmasi untuk memenangi pertarungan bisnis nikotin tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Pola Makan Tidak Sehat Membunuhmu","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pola-makan-tidak-sehat-membunuhmu","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-23 12:23:48","post_modified_gmt":"2019-04-23 05:23:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5653","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5637,"post_author":"855","post_date":"2019-04-16 11:07:27","post_date_gmt":"2019-04-16 04:07:27","post_content":"\n

Terlahir sebagai tunadaksa atau tanpa tangan, tidak membuat Shadikin Pard pesimis menjalan hidup. Lebih dari itu, ia berhasil membuktikan bahwa kekurangan bukanlah aral melintang yang mengganjal langkah menuju kesuksesan.<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Hujan sudah reda ketika kaki saya memasuki gerbang Taman Balekambang, Surakarta. Di dalam, di atas tanah yang masih basah, ratusan pelukis dari penjuru negeri sedang sibuk mengaktualisasikan kegelisahan hatinya ke sebuah kanvas. Mereka sedang mengikuti Indonesia Painting Contest 2019 yang diselenggarakan oleh NU Gallery.
<\/p>\n\n\n\n

Saya terus melangkah menyusuri tanah basah yang di samping kanan dan kirinya para pelukis sedang khidmat menggoreskan kuas. Hingga kaki saya terhenti di hadapan pelukis yang berkonsentrasi melukis menggunakan kedua kakinya.
<\/p>\n\n\n\n

Sebatang kuas dijepitkan di antara jemari kaki. Sesekali ia menyelupkan kuas itu ke dalam cat dan kemudian menggoreskannya ke dalam kanvas hingga membentuk sebuah lukisan realis Reog Ponorogo yang indah. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di sampingnya, seorang pemuda yang ternyata anaknya dengan sigap menjalankan instruksi ayahnya, mulai dari mengganti ukuran kuas yang terjepit di antara jemarinya, membuka botol cat dan lain sebagainya. Sesekali anaknya menyalakan rokok dan menyodorkan ke hadapan mulut ayahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Ia melukis Reog Ponorogo bukan tanpa alasan. Ia ingin memberikan kritik kepada seluruh masyarakat dan Pemerintah, bahwa mencintai kekayaan budaya bangsa sendiri adalah kewajiban yang harus selalu digelorakan. Jangan sampai, ketika kebudayaan tersebut direbut negara lain, bangsa ini baru panik dan serius mengakui serta membanggakan kekayaan kebudayaan sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ialah Shadikin Pard, seorang pelukis masyhur yang terlahir tunadaksa atau tanpa kedua tangan. Kami berbincang di bawah pohon beringin rindang. Di antara para pelukis lainnya yang sedang beristirahat menunggu waktu pengumuman pemenang dibacakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pria kelahiran 29 Oktober 1996 ini mulai melukis sejak masih di taman kanak-kanak. Saat itu, melukis hanya sebagai hobi semata. Sadikin juga pernah les privat melukis di rumahnya. Hingga mengenyam pendidikan sekolah menengah atas di SMA Santa Maria Kota Malang, Sadikin masih menempatkan melukis sebagai hobi.
<\/p>\n\n\n\n

Di tengah keterbatasannya, Sadikin lalu melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kala itu, Sadikin mengambil jurusan psikologi pascagagal mengambil jurusan arsitektur yang ia dambakan dan cita-citakan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, kekurangan yang diberikan Tuhan adalah sebuah kelebihan yang tidak banyak dimiliki oleh orang lain. Kegigihannya dalam belajar melukis menghantarkannya ke Associaton of Mouth and Foot Painting Artist (AMFPA). Sebuah organisasi yang bermarkas di Swiss dan menghimpun karya pelukis yang melukis menggunakan kaki dan mulut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSetelah masuk AMFPA, saya menjadikan melukis sebagai profesi. Tahun 1989 saya menerima 300 swiss franc, setara Rp 300 ribu waktu itu. Kini, saya menerima sekitar 40 jt setiap bulan,\u201d ungkap Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin terus melukis. Kemampuannya terus berkembang, bahkan melebihi tuntutan dari organisasi yang ia ikuti. Nama Sadikin juga mulai dikenal, bukan sebab keterbatasannya, melainkan sebab karyanya yang memang bernilai tinggi.
<\/p>\n\n\n\n

Setiap kali ada pameran lukisan dan kontes-kontes melukis, Sadikin tidak pernah alfa untuk mengikutinya. Karyanya menjadi sorotan publik dan banyak laku dengan harga yang tidak murah. Bahkan menurutnya, ada salah satu lukisannya yang laku hingga Rp 250 juta.<\/p>\n\n\n\n

Menolak Pasrah dan Bergantung kepada Pemerintah karena Disabilitas<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Sadikin tidak mau dikasihani orang lain. Meski ia tunadaksa, ia adalah manusia yang sama, yang memilki kesempatan besar untuk menjalani rutinitas sebagaimana manusia lainnya. \u201cKuncinya adalah terus mencoba, mencoba dan mencoba. Saya tidak apa-apa dicemooh lukisan saya jelek. Bagi saya cemoohan seperti itu adalah cambuk untuk terus berlatih,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Sadikin, masyarakat harus adil memerlakukan para difabel. Difabel harus diperlakukan sebagaimana orang biasa. Semakin banyak orang yang mengasihani difabel, maka tidak malah membuat difabel itu kuat, sebaliknya berdampak melemahkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cDifabel harus diperlakukan seperti manusia biasa, bahkan ia harus diberi tantangan dan ditempa untuk menemukan kelebihan dalam dirinya,\u201d kata Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, para difabel harus mulai mengubah sudut pandang. Bahwa segala kekurangan tidak kemudian menjadikan para difabel pasrah menerima nasib dan mengharapkan santunan dari orang lain dan pemerintah untuk menjalani hidup. Difabel adalah orang istimewa yang dapat berkarya melebihi orang-orang biasa. Kekurangan ini adalah kelebihan yang akan ditemukan dengan kerja keras dan melatih diri menjadi apa yang diinginkan.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin bisa berangkat ke Swiss dan mengharumkan nama Indonesia di mata dunia, tidak terlebih dulu mendapat perhatian dari pemerintah. Ia mengaku berangkat dengan uang sendiri. Bahkan, lanjut Sadikin, hingga kini pun tidak ada pemerintah yang mengapresiasi karya-karyanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak menginginkan belas kasihan dari pemerintah. Karena yang sejatinya benar adalah, kita dapat memberikan apa kepada negara ini, bukan negara dapat memberikan apa kepada kita. Namun yang saya sayangkan, pemerintah sepertinya tidak peduli memperhatikan para seniman dan menghargai karya seni dari para seniman negeri sendiri. Seharusnya para seniman ini diberikan wadah, diperhatikan, kan juga kalau manajemennya bagus bisa menjadi pemasukan untuk negara,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin mengirim pesan kepada seluruh seniman di Tanah Air untuk terus berkaraya, tanpa peduli akan bernilai apa sebuah karya tersebut. \u201cYang terpenting kita dapat mengaktulisasikan diri dan terus melukis dengan niat mengharumkan nama negeri. Teruslah berkarya, karena sejatinya karya adalah yang dibuat dengan kesungguhan dan keikhlasan hati,\u201d pungkas pelukis beranak dua tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Shadikin Pard, Pelukis Tanpa Lengan yang Mengharumkan Bangsa dengan Kedua Kakinya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"shadikin-pard-pelukis-tanpa-lengan-yang-mengharumkan-bangsa-dengan-kedua-kakinya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-16 11:09:38","post_modified_gmt":"2019-04-16 04:09:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5637","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5621,"post_author":"877","post_date":"2019-04-10 10:37:08","post_date_gmt":"2019-04-10 03:37:08","post_content":"\n

Bahasan mengenai hukum menyulut kretek pernah dipertanyakan dalam forum bahtsul masail<\/em> (musyawarah) para Kiai\/Ulama\u2019 Kudus. Pertanyaan (saail<\/em>) yang mengajukan atas nama masyarakat Baletengahan, yaitu dukuh yang masuk wilayah Desa Langgardalem Kecamatan Kota. Tepatnya sekitar + 800an m, arah utara Masjid Menara Kudus (al-Aqsha). Kultur budaya masyarakat Baletengahan adalah santri, terdapat banyak Pesantren dan beberapa madrasah, salah satunya lembaga pendidikan formal TBS (Tasywiqut Thullab Salafiyyah), yaitu lembaga pendidikan salaf yang dahulu salah satu tempat  KH. Arwani Amin al-Hafiz mengajar dan yayasan pendidikan Nawa Kartika, yang didirikan oleh tokoh NU setempat. <\/p>\n\n\n\n

Lain halnya pesantren dan lembaga pendidikan, di sekitar Baletengahan Langgardalem, konon dahulu banyak usaha rumahan kretek. Petilasan yang masih dapat dijumpai di Langgardalem adalah \u201cgudang tembakau dan PR. Buah Cengkeh\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Disini terlihat para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus mempunyai tradisi kritis menyikapi fenomena disekelilingnya. Sehingga wajar pada tahun 1990an muncul bahasan tentang kretek di Bahtsul Masail<\/em> para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, jauh mendahului keputusan MUI dan Muhammadiyyah hasil Padang Panjang, dilaksanakan tahun 2009-2010.<\/p>\n\n\n\n

Tradisi Bahtsul Masail biasa disebut \u201cMunadzoroh<\/em>\u201d sudah lama dilakukan para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, dengan bertempat di Masjid-masjid di sekitar Kudus, bergantian dan memutar. Peserta munadzoroh<\/em> adalah para Kiai\/Ulama\u2019 se-Kabupaten Kudus dari berbagai penjuru desa, dan juga masyarakat umum, karena sifatnya terbuka (siapa saja boleh ikut tanpa terkecuali). Pelaksanaannya dari dulu hingga sekarang dijatuhkan pada hari Ahad (minggu). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat pembahasan mengenai kretek, bertempat di Masji al-Aqsho Menara Kudus yang dipimpin oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), redaksi pertanyaaannya adalah:<\/p>\n\n\n\n

\u201ckados pundi hukumipun ngkretek (bagaimana hukum menghisap kretek)?\u201d<\/em>--pertanyaan dari<\/em> Baletengahan--<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sebelum memulai pembahasan biasanya KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menanyakan tentang apa yang akan dibahas. Diceritakan oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi, situasi dan kondisi saat itu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), bertanya di forum, \u00a0\u201copo iki takonane?\u201d (pertanyaannya apa), di jawab yang hadir saat itu, \u201c anu Mbah bab kretek\u201d (itu bab menghisap kretek), lalu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menyambung jawaban hadirin, \u201coooo, bab kretek, kretekku gowo rene dikik\u201d (ooo, bab menghisap kretek, kretekku bawa kemari dulu), kemudian KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) mengambil satu batang kretek dari bungkusnya disulut dan dihisap. Selesai menyulut kretek, kembali KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) berbicara, \u201cwes kono dibahas\u201d (sudah sana dibahas). Setelah diperintahkan untuk dibahas, suasana hening sejenak. \u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mungkin di benak para hadirin terlintas pikiran \u201capa yang dibahas sudah dijawab secara tersirat oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) dengan menghisap kretek\u201d. Pada akhirnya, pembahasan tetap dilaksanakan. Diceritakan KH. Sya\u2019roni juga, situasi saat itu tidak ada Kiai\/Ulama\u2019 yang hadir menghukumi \u201charam\u201d, pada akhirnya diputuskan KH. Turaikhan, dengan hukum \u201c boleh\u201d, disela-sela KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) memberikan penjelasan, ada salah satu hadirin mengacungkan jarinya, beliau adalah KH. Hambali (Al Maghfurlah), sambil berkata; \u201ckulo Kiai, menawi boten udud kulo mboten saget mucal\u201d (saya Kiai, kalau tidak sambil menghisap kretek, saya tidak dapat mengajar), disertai argumen dan penjelasanannya. Kemudian KH. Turaikhan, memberikan jawaban dan tanggapan kepada KH. Hambali, \u201cnek ngono, kanggo kuwi hukumi wajib\u201d (kalau begitu, untuk kamu hukumnya wajib mengkonsumsi kretek).  <\/p>\n\n\n\n

Dilihat dari putusan Bahtsul Masail di atas, pada awalnya menghisap kretek dihukumi \u201cboleh\u201d, namun dengan kondisi tertentu menjadi \u201cWajib\u201d. Cerita penetapan hukum menghisap kretek dalam forum Bahtsul Masail di atas, telah menyebar di kalangan masyarakat Kudus, dan menjadi konsumsi publik, serta bersifat mengikat sampai sekarang. Sehingga banyak Kiai\/Ulama\u2019 Kudus tidak mempersoalkan lagi, apalagi membahas kembali. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cerita situasi dan kondisi Bahtsul Masail, diapresiasi dan diinterpretasikan Kiai\/Ulama\u2019Kudus lebih kontekstual, salah satunya KH. Fatkhur Rahman, beliau bercerita;  saat KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) populer dengan sebutan Mbah Tur memimpin munadzoroh<\/em> ada pertanyaan: bagaimana hukumnya kretek? Mbah Tur malah mengambil kretek, menyulut dan menghisapnya, dengan begitu diasumsikan hukumnya \u201chalal\u201d (jadi  setelah itu sudah tidak perlu dibahas lagi soal kretek). KH. Fatkhur Rahman juga menceritakan ada satu alasan kuat, mengapa halal, karena para Kiai itu tidak mau barang subhat<\/em> (tidak jelas posisinya), apalagi haram. Ketika para Kiai\/Ulama\u2019 besar menghisap kretek, otomatis tidak haram. Tuhan menciptakan sesuatu untuk dinikmati itu ada dua, halal atau haram. <\/p>\n\n\n\n

Dasar hukum menghisap kretek adalah mubah, sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang menjadi wajib, juga menjadi haram. Dasar utamanya adalah  \u201cla dhororo wala dhiroro\u201d. <\/em>Hukumnya seperti  mengkonsumsi gula, ketika kena penyakit gula, maka haram atau tidak boleh mengkonsumsi gula. Begitu pula ketika punya darah tinggi, maka tidak boleh makan daging, dan seterusnya. Dimana \u201calhukmu yadurru ma\u2019a illatihi\u201d<\/em>(hukum itu bisa beralih tergantung alasannya). Membeli kretek dihukumi tidak boleh (haram), jika uang yang dipakai semestinya untuk belanja kebutuhan pokok, membayar sekolah dan lain sebagainya. Menghisap kretek menjadi wajib, ketika tidak menghisap sulit berpikir, lemas, tidak bisa kerja dan lain sebagainya.
<\/p>\n","post_title":"Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fenomena-hukum-rokok-bagi-ulama-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-10 10:37:16","post_modified_gmt":"2019-04-10 03:37:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5621","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

Paling Populer

\n

Melalui Colombus dan seluruh awak kapalnya yang mendatangi benua Amerika, kebiasaan mengisap tembakau ini kemudian diperkenalkan ke Eropa dan perlahan menjadi kebiasaan yang umum di sana. Konsumsi tembakau di Eropa terutama dimanfaatkan sebagai penghilang rasa dingin ketika musim dingin tiba di daratan Eropa. Bangsa Eropa kemudian membawa tembakau ke negeri jajahan mereka dan membudidayakannya di sana hingga pada akhirnya tembakau menjadi konsumsi yang mendunia, termasuk juga di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ariel Tatum dan Diskriminasi Perempuan Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia sendiri, tembakau pada mulanya digunakan sebagai bahan campuran dalam mengonsumsi sirih yang lazim disebut nyirih<\/em>. Karena dianggap jorok, penjajah Belanda melarang aktivitas nyirih dan mengenalkan konsumsi tembakau dengan cara dibakar dan diisap kepada masyarakat pribumi. Kebiasaan mengisap tembakau di Indonesia semakin populer usai Haji Djamhari menemukan ramuan tembakau kering yang dicampur cengkeh kering kemudian dibakar dan diisap sebagai obat asma yang ia derita. Campuran tembakau kering dan bunga cengkeh kering yang dibakar menimbulkan suara berkeretek hingga pada akhirnya produk rokok ini dinamakan rokok kretek dan menguasai pasar dalam negeri hingga saat ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari catatan singkat di atas, konsumsi tembakau kering yang diisap kemudian tembakau kering yang dicampur bunga cengkeh kering pada mulanya sebagai barang konsumsi untuk pengobatan dan relaksasi. Hingga pada akhirnya, persaingan bisnis menggiring kampanye-kampanye yang menyuarakan perihal keburukan konsumsi tembakau. Dalih kesehatan dijadikan alasan utama untuk menghancurkan perekonomian tembakau guna meloloskan bisnis farmasi yang dijalankan korporasi besar berskala internasional.<\/p>\n\n\n\n

Periode 2000 hingga saat ini, kampanye miring mengenai rokok dan rokok kretek kian menguat. Tak hanya korporasi besar, badan-badan kesehatan dunia juga ikut ambil peran dalam upaya menghancurkan produk rokok terutama rokok kretek yang menjadi ciri khas dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Berita terbaru dalam sepekan terakhir, di Jepang, salah satu universitas negeri berencana memecat seluruh staf dan dosen mereka yang menjadi perokok aktif. Selain itu, beberapa perusahaan di Jepang juga akan mencoret langsung para pelamar kerja yang diketahui sebagai perokok aktif. Ini tentu saja menjadi kemunduran yang telak bagi negara Jepang. Padahal sebelumnya Jepang dikenal menjadi negara yang masih cukup ramah terhadap para perokok.<\/p>\n\n\n\n

Alasan Jepang memberlakukan kebijakan tersebut sebagai upaya menyambut perhelatan olimpiade 2020 yang akan diselenggarakan di Tokyo. Lagi-lagi, dalih kesehatan yang menjadi tameng kebijakan ini. Jika ditelaah secara saksama, tentu saja kebijakan ini sama sekali tidak ada relevansinya. Terkesan pemaksaan dan sekadar pencitraan semata.<\/p>\n\n\n\n

Lagi pula, tak ada relevansinya antara kecerdasan (dalam hal ini dunia kampus) dengan kebiasaan merokok. Juga tak ada relevansi antara kinerja (dalam hal ini pelamar kerja) dengan kebiasaan merokok. Lagi-lagi, ini semata sekadar cocokologi saja.<\/p>\n\n\n\n

Bodoh ya bodoh saja, malas ya malas saja, juga sebaliknya, tak ada kaitannya dengan kebiasaan merokok. Kita bisa menjejerkan ratusan bahkan ribuan nama-nama orang yang memiliki kebiasaan merokok, di sana akan ada orang-orang yang sangai pandai hingga orang-orang idiot sekalipun yang memiliki kebiasaan merokok. Kita juga bisa menjejerkan nama-nama ratusan hingga ribuan orang yang sama sekali tidak merokok, dan di sana akan ada orang yang pandai sekali juga akan ada orang goblok segoblok-gobloknya yang sama sekali tidak merokok. Lalu, apa alasan memecat staf dan dosen di kampus yang memiliki kebiasaan merokok?<\/p>\n\n\n\n

Hal yang sama juga bisa kita lakukan dengan jejeran nama-nama orang dengan kinerja dan etos kerja. Yang rajin, juga yang malas, ada dalam kelompok mereka yang merokok juga kelompok mereka yang tidak merokok. Maka, saya kira, apa yang terjadi di Jepang dan diberitakan dalam sepekan belakangan, tentu saja mengganggu akal sehat siapa saja yang masih bisa berpikir dengan jernih.
<\/p>\n","post_title":"Diskriminasi Terhadap Para Perokok di Jepang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"diskriminasi-terhadap-para-perokok-di-jepang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-03 11:19:17","post_modified_gmt":"2019-05-03 04:19:17","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5679","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5653,"post_author":"883","post_date":"2019-04-23 12:23:36","post_date_gmt":"2019-04-23 05:23:36","post_content":"\n

Rokok selalu dikambinghitamkan sebagai penyebab dari tingginya angka kematian umat manusia. Angka dan data jadul yang selalu diulang-ulang mengenai rokok penyebab kematian, seakan membius kita bahwa rokok-lah musuh bersama. Sementara rokok dijadikan musuh bersama, kita justru abai terhadap musuh riil yang sedang mengintai kehidupan kita.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah penelitian menyatakan bahwa pola makan yang tidak sehat lebih banyak meningkatkan resiko kematian dini daripada faktor risiko lainnya, termasuk merokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cerita Rakyat Tentang Kretek dan Tembakau di Tiga Kota (Kudus, Temanggung, Madura)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ini artinya agen malaikat pencabut nyawa manusia ada di pola makan kita. Apakah sudah sehat atau tidak sehat? satu hal yang seringkali diabaikan.
<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan Studi Global Burden of Disease yang mengamati konsumsi makanan di 195 negara, antara tahun 1990 dan 2017, fokus pada 15 jenis makanan atau nutrisi mengamini pola makan tidak sehat adalah penyebab terbesar kematian manusia.
<\/p>\n\n\n\n

Penelitian lainnya yang bersumber dari Medical News Today, dalam sebuah makalah yang dimuat dalam The Lancet, para peneliti menyimpulkan, pola makan yang buruk menyumbang 1 dari 5, atau 11 juta, kematian orang dewasa pada tahun 2017. Sebagian besar dari kematian itu, sekitar 10 juta, berasal dari penyakit kardiovaskular.
<\/p>\n\n\n\n

Sisanya terutama dari kanker dan diabetes tipe 2. Peringkat negara-negara dari tingkat kematian terkait diet terendah ke tertinggi menempatkan Israel pertama, dengan 89 kematian per 100.000 orang, dan Uzbekistan terakhir, dengan 892 per 100.000. Amerika Serikat, dengan 171 kematian per 100.000, berada di posisi ke-43 dan Inggris di peringkat ke-23, dengan 127 kematian per 100.000. India di tempat ke-118, dan Cina di ke-140.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Penelitian termutakhir yang di sebutkan di atas merupakan penelitian yang bersifat global, lalu bagaimana dengan di Indonesia? Apakah kasus pola makan yang tidak sehat juga menjadi penyebab kematian terbesar?
<\/p>\n\n\n\n

Dalam sebuah artikel yang ditulis oleh Triyani Kresnawan, DCN,Mkes, Instalasi Gizi RSCM dan diterbitkan oleh Departemen Kesehatan Gizi Kementerian Kesehatan menyebutkan, pola makan yang tidak seimbang yang menyebabkan resiko munculnya penyakit kanker antara lain kebiasaan makanan cepat saji (fast food).
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan menjaga keseimbangan dalam pola makan ini juga disampaikan oleh Spesialis Patologi Anatomi dari Rumah Sakit Kanker Dharmais, dr Evalina Suzana. Ia mengatakan pola makan yang sehat merupakan bagian bentuk pencegahan dari penyakit kanker. Di luar dari olahraga yang teratur, minum air, dan tidur yang cukup.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Eva, sebuah pola bisa dibilang sehat jika semua yang masuk ke dalam tubuh seimbang. Tidak boleh berlebihan bukan berarti tidak dimakan sama sekali. Harus terdiri dari 50 persen protein, 30 persen karbohidrat, dan 20 persen lemak dan serat. Itu harus dipenuhi di luar mineral-mineral yang ada.
<\/p>\n\n\n\n

Nah loh, berdasarkan hasil-hasil penelitian yang menyatakan bahwa pola makan tidak sehat merupakan penyebab resiko kematian terbesar, lalu mengapa hanya rokok yang terus-menerus dituduh dalam kampanye kelompok-kelompok antirokok yang mengatasnamakan kesehatan?
<\/p>\n\n\n\n

Untuk memahami hal ini tentunya anda harus mengetahui bahwa terdapat perang bisnis nikotin antara industri farmasi dan industri rokok, atau yang sering kami sebut sebagai \u201cNicotin War\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Maka Anda tak usah heran jika rokok diframing bertentangan dengan kesehatan, karena semua semata hanyalah akal-akalan pihak industri farmasi untuk memenangi pertarungan bisnis nikotin tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Pola Makan Tidak Sehat Membunuhmu","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pola-makan-tidak-sehat-membunuhmu","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-23 12:23:48","post_modified_gmt":"2019-04-23 05:23:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5653","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5637,"post_author":"855","post_date":"2019-04-16 11:07:27","post_date_gmt":"2019-04-16 04:07:27","post_content":"\n

Terlahir sebagai tunadaksa atau tanpa tangan, tidak membuat Shadikin Pard pesimis menjalan hidup. Lebih dari itu, ia berhasil membuktikan bahwa kekurangan bukanlah aral melintang yang mengganjal langkah menuju kesuksesan.<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Hujan sudah reda ketika kaki saya memasuki gerbang Taman Balekambang, Surakarta. Di dalam, di atas tanah yang masih basah, ratusan pelukis dari penjuru negeri sedang sibuk mengaktualisasikan kegelisahan hatinya ke sebuah kanvas. Mereka sedang mengikuti Indonesia Painting Contest 2019 yang diselenggarakan oleh NU Gallery.
<\/p>\n\n\n\n

Saya terus melangkah menyusuri tanah basah yang di samping kanan dan kirinya para pelukis sedang khidmat menggoreskan kuas. Hingga kaki saya terhenti di hadapan pelukis yang berkonsentrasi melukis menggunakan kedua kakinya.
<\/p>\n\n\n\n

Sebatang kuas dijepitkan di antara jemari kaki. Sesekali ia menyelupkan kuas itu ke dalam cat dan kemudian menggoreskannya ke dalam kanvas hingga membentuk sebuah lukisan realis Reog Ponorogo yang indah. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di sampingnya, seorang pemuda yang ternyata anaknya dengan sigap menjalankan instruksi ayahnya, mulai dari mengganti ukuran kuas yang terjepit di antara jemarinya, membuka botol cat dan lain sebagainya. Sesekali anaknya menyalakan rokok dan menyodorkan ke hadapan mulut ayahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Ia melukis Reog Ponorogo bukan tanpa alasan. Ia ingin memberikan kritik kepada seluruh masyarakat dan Pemerintah, bahwa mencintai kekayaan budaya bangsa sendiri adalah kewajiban yang harus selalu digelorakan. Jangan sampai, ketika kebudayaan tersebut direbut negara lain, bangsa ini baru panik dan serius mengakui serta membanggakan kekayaan kebudayaan sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ialah Shadikin Pard, seorang pelukis masyhur yang terlahir tunadaksa atau tanpa kedua tangan. Kami berbincang di bawah pohon beringin rindang. Di antara para pelukis lainnya yang sedang beristirahat menunggu waktu pengumuman pemenang dibacakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pria kelahiran 29 Oktober 1996 ini mulai melukis sejak masih di taman kanak-kanak. Saat itu, melukis hanya sebagai hobi semata. Sadikin juga pernah les privat melukis di rumahnya. Hingga mengenyam pendidikan sekolah menengah atas di SMA Santa Maria Kota Malang, Sadikin masih menempatkan melukis sebagai hobi.
<\/p>\n\n\n\n

Di tengah keterbatasannya, Sadikin lalu melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kala itu, Sadikin mengambil jurusan psikologi pascagagal mengambil jurusan arsitektur yang ia dambakan dan cita-citakan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, kekurangan yang diberikan Tuhan adalah sebuah kelebihan yang tidak banyak dimiliki oleh orang lain. Kegigihannya dalam belajar melukis menghantarkannya ke Associaton of Mouth and Foot Painting Artist (AMFPA). Sebuah organisasi yang bermarkas di Swiss dan menghimpun karya pelukis yang melukis menggunakan kaki dan mulut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSetelah masuk AMFPA, saya menjadikan melukis sebagai profesi. Tahun 1989 saya menerima 300 swiss franc, setara Rp 300 ribu waktu itu. Kini, saya menerima sekitar 40 jt setiap bulan,\u201d ungkap Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin terus melukis. Kemampuannya terus berkembang, bahkan melebihi tuntutan dari organisasi yang ia ikuti. Nama Sadikin juga mulai dikenal, bukan sebab keterbatasannya, melainkan sebab karyanya yang memang bernilai tinggi.
<\/p>\n\n\n\n

Setiap kali ada pameran lukisan dan kontes-kontes melukis, Sadikin tidak pernah alfa untuk mengikutinya. Karyanya menjadi sorotan publik dan banyak laku dengan harga yang tidak murah. Bahkan menurutnya, ada salah satu lukisannya yang laku hingga Rp 250 juta.<\/p>\n\n\n\n

Menolak Pasrah dan Bergantung kepada Pemerintah karena Disabilitas<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Sadikin tidak mau dikasihani orang lain. Meski ia tunadaksa, ia adalah manusia yang sama, yang memilki kesempatan besar untuk menjalani rutinitas sebagaimana manusia lainnya. \u201cKuncinya adalah terus mencoba, mencoba dan mencoba. Saya tidak apa-apa dicemooh lukisan saya jelek. Bagi saya cemoohan seperti itu adalah cambuk untuk terus berlatih,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Sadikin, masyarakat harus adil memerlakukan para difabel. Difabel harus diperlakukan sebagaimana orang biasa. Semakin banyak orang yang mengasihani difabel, maka tidak malah membuat difabel itu kuat, sebaliknya berdampak melemahkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cDifabel harus diperlakukan seperti manusia biasa, bahkan ia harus diberi tantangan dan ditempa untuk menemukan kelebihan dalam dirinya,\u201d kata Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, para difabel harus mulai mengubah sudut pandang. Bahwa segala kekurangan tidak kemudian menjadikan para difabel pasrah menerima nasib dan mengharapkan santunan dari orang lain dan pemerintah untuk menjalani hidup. Difabel adalah orang istimewa yang dapat berkarya melebihi orang-orang biasa. Kekurangan ini adalah kelebihan yang akan ditemukan dengan kerja keras dan melatih diri menjadi apa yang diinginkan.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin bisa berangkat ke Swiss dan mengharumkan nama Indonesia di mata dunia, tidak terlebih dulu mendapat perhatian dari pemerintah. Ia mengaku berangkat dengan uang sendiri. Bahkan, lanjut Sadikin, hingga kini pun tidak ada pemerintah yang mengapresiasi karya-karyanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak menginginkan belas kasihan dari pemerintah. Karena yang sejatinya benar adalah, kita dapat memberikan apa kepada negara ini, bukan negara dapat memberikan apa kepada kita. Namun yang saya sayangkan, pemerintah sepertinya tidak peduli memperhatikan para seniman dan menghargai karya seni dari para seniman negeri sendiri. Seharusnya para seniman ini diberikan wadah, diperhatikan, kan juga kalau manajemennya bagus bisa menjadi pemasukan untuk negara,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin mengirim pesan kepada seluruh seniman di Tanah Air untuk terus berkaraya, tanpa peduli akan bernilai apa sebuah karya tersebut. \u201cYang terpenting kita dapat mengaktulisasikan diri dan terus melukis dengan niat mengharumkan nama negeri. Teruslah berkarya, karena sejatinya karya adalah yang dibuat dengan kesungguhan dan keikhlasan hati,\u201d pungkas pelukis beranak dua tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Shadikin Pard, Pelukis Tanpa Lengan yang Mengharumkan Bangsa dengan Kedua Kakinya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"shadikin-pard-pelukis-tanpa-lengan-yang-mengharumkan-bangsa-dengan-kedua-kakinya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-16 11:09:38","post_modified_gmt":"2019-04-16 04:09:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5637","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5621,"post_author":"877","post_date":"2019-04-10 10:37:08","post_date_gmt":"2019-04-10 03:37:08","post_content":"\n

Bahasan mengenai hukum menyulut kretek pernah dipertanyakan dalam forum bahtsul masail<\/em> (musyawarah) para Kiai\/Ulama\u2019 Kudus. Pertanyaan (saail<\/em>) yang mengajukan atas nama masyarakat Baletengahan, yaitu dukuh yang masuk wilayah Desa Langgardalem Kecamatan Kota. Tepatnya sekitar + 800an m, arah utara Masjid Menara Kudus (al-Aqsha). Kultur budaya masyarakat Baletengahan adalah santri, terdapat banyak Pesantren dan beberapa madrasah, salah satunya lembaga pendidikan formal TBS (Tasywiqut Thullab Salafiyyah), yaitu lembaga pendidikan salaf yang dahulu salah satu tempat  KH. Arwani Amin al-Hafiz mengajar dan yayasan pendidikan Nawa Kartika, yang didirikan oleh tokoh NU setempat. <\/p>\n\n\n\n

Lain halnya pesantren dan lembaga pendidikan, di sekitar Baletengahan Langgardalem, konon dahulu banyak usaha rumahan kretek. Petilasan yang masih dapat dijumpai di Langgardalem adalah \u201cgudang tembakau dan PR. Buah Cengkeh\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Disini terlihat para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus mempunyai tradisi kritis menyikapi fenomena disekelilingnya. Sehingga wajar pada tahun 1990an muncul bahasan tentang kretek di Bahtsul Masail<\/em> para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, jauh mendahului keputusan MUI dan Muhammadiyyah hasil Padang Panjang, dilaksanakan tahun 2009-2010.<\/p>\n\n\n\n

Tradisi Bahtsul Masail biasa disebut \u201cMunadzoroh<\/em>\u201d sudah lama dilakukan para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, dengan bertempat di Masjid-masjid di sekitar Kudus, bergantian dan memutar. Peserta munadzoroh<\/em> adalah para Kiai\/Ulama\u2019 se-Kabupaten Kudus dari berbagai penjuru desa, dan juga masyarakat umum, karena sifatnya terbuka (siapa saja boleh ikut tanpa terkecuali). Pelaksanaannya dari dulu hingga sekarang dijatuhkan pada hari Ahad (minggu). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat pembahasan mengenai kretek, bertempat di Masji al-Aqsho Menara Kudus yang dipimpin oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), redaksi pertanyaaannya adalah:<\/p>\n\n\n\n

\u201ckados pundi hukumipun ngkretek (bagaimana hukum menghisap kretek)?\u201d<\/em>--pertanyaan dari<\/em> Baletengahan--<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sebelum memulai pembahasan biasanya KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menanyakan tentang apa yang akan dibahas. Diceritakan oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi, situasi dan kondisi saat itu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), bertanya di forum, \u00a0\u201copo iki takonane?\u201d (pertanyaannya apa), di jawab yang hadir saat itu, \u201c anu Mbah bab kretek\u201d (itu bab menghisap kretek), lalu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menyambung jawaban hadirin, \u201coooo, bab kretek, kretekku gowo rene dikik\u201d (ooo, bab menghisap kretek, kretekku bawa kemari dulu), kemudian KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) mengambil satu batang kretek dari bungkusnya disulut dan dihisap. Selesai menyulut kretek, kembali KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) berbicara, \u201cwes kono dibahas\u201d (sudah sana dibahas). Setelah diperintahkan untuk dibahas, suasana hening sejenak. \u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mungkin di benak para hadirin terlintas pikiran \u201capa yang dibahas sudah dijawab secara tersirat oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) dengan menghisap kretek\u201d. Pada akhirnya, pembahasan tetap dilaksanakan. Diceritakan KH. Sya\u2019roni juga, situasi saat itu tidak ada Kiai\/Ulama\u2019 yang hadir menghukumi \u201charam\u201d, pada akhirnya diputuskan KH. Turaikhan, dengan hukum \u201c boleh\u201d, disela-sela KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) memberikan penjelasan, ada salah satu hadirin mengacungkan jarinya, beliau adalah KH. Hambali (Al Maghfurlah), sambil berkata; \u201ckulo Kiai, menawi boten udud kulo mboten saget mucal\u201d (saya Kiai, kalau tidak sambil menghisap kretek, saya tidak dapat mengajar), disertai argumen dan penjelasanannya. Kemudian KH. Turaikhan, memberikan jawaban dan tanggapan kepada KH. Hambali, \u201cnek ngono, kanggo kuwi hukumi wajib\u201d (kalau begitu, untuk kamu hukumnya wajib mengkonsumsi kretek).  <\/p>\n\n\n\n

Dilihat dari putusan Bahtsul Masail di atas, pada awalnya menghisap kretek dihukumi \u201cboleh\u201d, namun dengan kondisi tertentu menjadi \u201cWajib\u201d. Cerita penetapan hukum menghisap kretek dalam forum Bahtsul Masail di atas, telah menyebar di kalangan masyarakat Kudus, dan menjadi konsumsi publik, serta bersifat mengikat sampai sekarang. Sehingga banyak Kiai\/Ulama\u2019 Kudus tidak mempersoalkan lagi, apalagi membahas kembali. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cerita situasi dan kondisi Bahtsul Masail, diapresiasi dan diinterpretasikan Kiai\/Ulama\u2019Kudus lebih kontekstual, salah satunya KH. Fatkhur Rahman, beliau bercerita;  saat KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) populer dengan sebutan Mbah Tur memimpin munadzoroh<\/em> ada pertanyaan: bagaimana hukumnya kretek? Mbah Tur malah mengambil kretek, menyulut dan menghisapnya, dengan begitu diasumsikan hukumnya \u201chalal\u201d (jadi  setelah itu sudah tidak perlu dibahas lagi soal kretek). KH. Fatkhur Rahman juga menceritakan ada satu alasan kuat, mengapa halal, karena para Kiai itu tidak mau barang subhat<\/em> (tidak jelas posisinya), apalagi haram. Ketika para Kiai\/Ulama\u2019 besar menghisap kretek, otomatis tidak haram. Tuhan menciptakan sesuatu untuk dinikmati itu ada dua, halal atau haram. <\/p>\n\n\n\n

Dasar hukum menghisap kretek adalah mubah, sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang menjadi wajib, juga menjadi haram. Dasar utamanya adalah  \u201cla dhororo wala dhiroro\u201d. <\/em>Hukumnya seperti  mengkonsumsi gula, ketika kena penyakit gula, maka haram atau tidak boleh mengkonsumsi gula. Begitu pula ketika punya darah tinggi, maka tidak boleh makan daging, dan seterusnya. Dimana \u201calhukmu yadurru ma\u2019a illatihi\u201d<\/em>(hukum itu bisa beralih tergantung alasannya). Membeli kretek dihukumi tidak boleh (haram), jika uang yang dipakai semestinya untuk belanja kebutuhan pokok, membayar sekolah dan lain sebagainya. Menghisap kretek menjadi wajib, ketika tidak menghisap sulit berpikir, lemas, tidak bisa kerja dan lain sebagainya.
<\/p>\n","post_title":"Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fenomena-hukum-rokok-bagi-ulama-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-10 10:37:16","post_modified_gmt":"2019-04-10 03:37:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5621","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

Paling Populer

\n

Pada mulanya masyarakat pribumi yang mendiami benua Amerika mulai dari wilayah paling utara hingga ke selatan, dengan bermacam suku-suku yang hidup secara komunal\u2014yang kemudian disamaratakan penyebutannya oleh penjelajah Eropa dengan sebutan Suku Indian\u2014mengonsumsi tembakau yang dikeringkan sebagai sarana pelepas lelah, dan untuk mengobati beberapa jenis penyakit yang ada ketika itu. Mereka mengisap tembakau yang dikeringkan menggunakan sebuah pipa yang lazim disebut \u2018tubak<\/em>\u2019, selanjutnya bangsa Eropa menggunakan penyebutan \u2018tubak<\/em>\u2019 untuk menamakan daun kering tersebut, lahirlah istilah \u2018tobacco<\/em>\u2019 dalam bahasa Inggirs yang diserap menjadi \u2018tembakau\u2019 dalam bahasa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Melalui Colombus dan seluruh awak kapalnya yang mendatangi benua Amerika, kebiasaan mengisap tembakau ini kemudian diperkenalkan ke Eropa dan perlahan menjadi kebiasaan yang umum di sana. Konsumsi tembakau di Eropa terutama dimanfaatkan sebagai penghilang rasa dingin ketika musim dingin tiba di daratan Eropa. Bangsa Eropa kemudian membawa tembakau ke negeri jajahan mereka dan membudidayakannya di sana hingga pada akhirnya tembakau menjadi konsumsi yang mendunia, termasuk juga di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ariel Tatum dan Diskriminasi Perempuan Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia sendiri, tembakau pada mulanya digunakan sebagai bahan campuran dalam mengonsumsi sirih yang lazim disebut nyirih<\/em>. Karena dianggap jorok, penjajah Belanda melarang aktivitas nyirih dan mengenalkan konsumsi tembakau dengan cara dibakar dan diisap kepada masyarakat pribumi. Kebiasaan mengisap tembakau di Indonesia semakin populer usai Haji Djamhari menemukan ramuan tembakau kering yang dicampur cengkeh kering kemudian dibakar dan diisap sebagai obat asma yang ia derita. Campuran tembakau kering dan bunga cengkeh kering yang dibakar menimbulkan suara berkeretek hingga pada akhirnya produk rokok ini dinamakan rokok kretek dan menguasai pasar dalam negeri hingga saat ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari catatan singkat di atas, konsumsi tembakau kering yang diisap kemudian tembakau kering yang dicampur bunga cengkeh kering pada mulanya sebagai barang konsumsi untuk pengobatan dan relaksasi. Hingga pada akhirnya, persaingan bisnis menggiring kampanye-kampanye yang menyuarakan perihal keburukan konsumsi tembakau. Dalih kesehatan dijadikan alasan utama untuk menghancurkan perekonomian tembakau guna meloloskan bisnis farmasi yang dijalankan korporasi besar berskala internasional.<\/p>\n\n\n\n

Periode 2000 hingga saat ini, kampanye miring mengenai rokok dan rokok kretek kian menguat. Tak hanya korporasi besar, badan-badan kesehatan dunia juga ikut ambil peran dalam upaya menghancurkan produk rokok terutama rokok kretek yang menjadi ciri khas dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Berita terbaru dalam sepekan terakhir, di Jepang, salah satu universitas negeri berencana memecat seluruh staf dan dosen mereka yang menjadi perokok aktif. Selain itu, beberapa perusahaan di Jepang juga akan mencoret langsung para pelamar kerja yang diketahui sebagai perokok aktif. Ini tentu saja menjadi kemunduran yang telak bagi negara Jepang. Padahal sebelumnya Jepang dikenal menjadi negara yang masih cukup ramah terhadap para perokok.<\/p>\n\n\n\n

Alasan Jepang memberlakukan kebijakan tersebut sebagai upaya menyambut perhelatan olimpiade 2020 yang akan diselenggarakan di Tokyo. Lagi-lagi, dalih kesehatan yang menjadi tameng kebijakan ini. Jika ditelaah secara saksama, tentu saja kebijakan ini sama sekali tidak ada relevansinya. Terkesan pemaksaan dan sekadar pencitraan semata.<\/p>\n\n\n\n

Lagi pula, tak ada relevansinya antara kecerdasan (dalam hal ini dunia kampus) dengan kebiasaan merokok. Juga tak ada relevansi antara kinerja (dalam hal ini pelamar kerja) dengan kebiasaan merokok. Lagi-lagi, ini semata sekadar cocokologi saja.<\/p>\n\n\n\n

Bodoh ya bodoh saja, malas ya malas saja, juga sebaliknya, tak ada kaitannya dengan kebiasaan merokok. Kita bisa menjejerkan ratusan bahkan ribuan nama-nama orang yang memiliki kebiasaan merokok, di sana akan ada orang-orang yang sangai pandai hingga orang-orang idiot sekalipun yang memiliki kebiasaan merokok. Kita juga bisa menjejerkan nama-nama ratusan hingga ribuan orang yang sama sekali tidak merokok, dan di sana akan ada orang yang pandai sekali juga akan ada orang goblok segoblok-gobloknya yang sama sekali tidak merokok. Lalu, apa alasan memecat staf dan dosen di kampus yang memiliki kebiasaan merokok?<\/p>\n\n\n\n

Hal yang sama juga bisa kita lakukan dengan jejeran nama-nama orang dengan kinerja dan etos kerja. Yang rajin, juga yang malas, ada dalam kelompok mereka yang merokok juga kelompok mereka yang tidak merokok. Maka, saya kira, apa yang terjadi di Jepang dan diberitakan dalam sepekan belakangan, tentu saja mengganggu akal sehat siapa saja yang masih bisa berpikir dengan jernih.
<\/p>\n","post_title":"Diskriminasi Terhadap Para Perokok di Jepang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"diskriminasi-terhadap-para-perokok-di-jepang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-03 11:19:17","post_modified_gmt":"2019-05-03 04:19:17","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5679","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5653,"post_author":"883","post_date":"2019-04-23 12:23:36","post_date_gmt":"2019-04-23 05:23:36","post_content":"\n

Rokok selalu dikambinghitamkan sebagai penyebab dari tingginya angka kematian umat manusia. Angka dan data jadul yang selalu diulang-ulang mengenai rokok penyebab kematian, seakan membius kita bahwa rokok-lah musuh bersama. Sementara rokok dijadikan musuh bersama, kita justru abai terhadap musuh riil yang sedang mengintai kehidupan kita.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah penelitian menyatakan bahwa pola makan yang tidak sehat lebih banyak meningkatkan resiko kematian dini daripada faktor risiko lainnya, termasuk merokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cerita Rakyat Tentang Kretek dan Tembakau di Tiga Kota (Kudus, Temanggung, Madura)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ini artinya agen malaikat pencabut nyawa manusia ada di pola makan kita. Apakah sudah sehat atau tidak sehat? satu hal yang seringkali diabaikan.
<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan Studi Global Burden of Disease yang mengamati konsumsi makanan di 195 negara, antara tahun 1990 dan 2017, fokus pada 15 jenis makanan atau nutrisi mengamini pola makan tidak sehat adalah penyebab terbesar kematian manusia.
<\/p>\n\n\n\n

Penelitian lainnya yang bersumber dari Medical News Today, dalam sebuah makalah yang dimuat dalam The Lancet, para peneliti menyimpulkan, pola makan yang buruk menyumbang 1 dari 5, atau 11 juta, kematian orang dewasa pada tahun 2017. Sebagian besar dari kematian itu, sekitar 10 juta, berasal dari penyakit kardiovaskular.
<\/p>\n\n\n\n

Sisanya terutama dari kanker dan diabetes tipe 2. Peringkat negara-negara dari tingkat kematian terkait diet terendah ke tertinggi menempatkan Israel pertama, dengan 89 kematian per 100.000 orang, dan Uzbekistan terakhir, dengan 892 per 100.000. Amerika Serikat, dengan 171 kematian per 100.000, berada di posisi ke-43 dan Inggris di peringkat ke-23, dengan 127 kematian per 100.000. India di tempat ke-118, dan Cina di ke-140.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Penelitian termutakhir yang di sebutkan di atas merupakan penelitian yang bersifat global, lalu bagaimana dengan di Indonesia? Apakah kasus pola makan yang tidak sehat juga menjadi penyebab kematian terbesar?
<\/p>\n\n\n\n

Dalam sebuah artikel yang ditulis oleh Triyani Kresnawan, DCN,Mkes, Instalasi Gizi RSCM dan diterbitkan oleh Departemen Kesehatan Gizi Kementerian Kesehatan menyebutkan, pola makan yang tidak seimbang yang menyebabkan resiko munculnya penyakit kanker antara lain kebiasaan makanan cepat saji (fast food).
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan menjaga keseimbangan dalam pola makan ini juga disampaikan oleh Spesialis Patologi Anatomi dari Rumah Sakit Kanker Dharmais, dr Evalina Suzana. Ia mengatakan pola makan yang sehat merupakan bagian bentuk pencegahan dari penyakit kanker. Di luar dari olahraga yang teratur, minum air, dan tidur yang cukup.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Eva, sebuah pola bisa dibilang sehat jika semua yang masuk ke dalam tubuh seimbang. Tidak boleh berlebihan bukan berarti tidak dimakan sama sekali. Harus terdiri dari 50 persen protein, 30 persen karbohidrat, dan 20 persen lemak dan serat. Itu harus dipenuhi di luar mineral-mineral yang ada.
<\/p>\n\n\n\n

Nah loh, berdasarkan hasil-hasil penelitian yang menyatakan bahwa pola makan tidak sehat merupakan penyebab resiko kematian terbesar, lalu mengapa hanya rokok yang terus-menerus dituduh dalam kampanye kelompok-kelompok antirokok yang mengatasnamakan kesehatan?
<\/p>\n\n\n\n

Untuk memahami hal ini tentunya anda harus mengetahui bahwa terdapat perang bisnis nikotin antara industri farmasi dan industri rokok, atau yang sering kami sebut sebagai \u201cNicotin War\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Maka Anda tak usah heran jika rokok diframing bertentangan dengan kesehatan, karena semua semata hanyalah akal-akalan pihak industri farmasi untuk memenangi pertarungan bisnis nikotin tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Pola Makan Tidak Sehat Membunuhmu","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pola-makan-tidak-sehat-membunuhmu","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-23 12:23:48","post_modified_gmt":"2019-04-23 05:23:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5653","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5637,"post_author":"855","post_date":"2019-04-16 11:07:27","post_date_gmt":"2019-04-16 04:07:27","post_content":"\n

Terlahir sebagai tunadaksa atau tanpa tangan, tidak membuat Shadikin Pard pesimis menjalan hidup. Lebih dari itu, ia berhasil membuktikan bahwa kekurangan bukanlah aral melintang yang mengganjal langkah menuju kesuksesan.<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Hujan sudah reda ketika kaki saya memasuki gerbang Taman Balekambang, Surakarta. Di dalam, di atas tanah yang masih basah, ratusan pelukis dari penjuru negeri sedang sibuk mengaktualisasikan kegelisahan hatinya ke sebuah kanvas. Mereka sedang mengikuti Indonesia Painting Contest 2019 yang diselenggarakan oleh NU Gallery.
<\/p>\n\n\n\n

Saya terus melangkah menyusuri tanah basah yang di samping kanan dan kirinya para pelukis sedang khidmat menggoreskan kuas. Hingga kaki saya terhenti di hadapan pelukis yang berkonsentrasi melukis menggunakan kedua kakinya.
<\/p>\n\n\n\n

Sebatang kuas dijepitkan di antara jemari kaki. Sesekali ia menyelupkan kuas itu ke dalam cat dan kemudian menggoreskannya ke dalam kanvas hingga membentuk sebuah lukisan realis Reog Ponorogo yang indah. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di sampingnya, seorang pemuda yang ternyata anaknya dengan sigap menjalankan instruksi ayahnya, mulai dari mengganti ukuran kuas yang terjepit di antara jemarinya, membuka botol cat dan lain sebagainya. Sesekali anaknya menyalakan rokok dan menyodorkan ke hadapan mulut ayahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Ia melukis Reog Ponorogo bukan tanpa alasan. Ia ingin memberikan kritik kepada seluruh masyarakat dan Pemerintah, bahwa mencintai kekayaan budaya bangsa sendiri adalah kewajiban yang harus selalu digelorakan. Jangan sampai, ketika kebudayaan tersebut direbut negara lain, bangsa ini baru panik dan serius mengakui serta membanggakan kekayaan kebudayaan sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ialah Shadikin Pard, seorang pelukis masyhur yang terlahir tunadaksa atau tanpa kedua tangan. Kami berbincang di bawah pohon beringin rindang. Di antara para pelukis lainnya yang sedang beristirahat menunggu waktu pengumuman pemenang dibacakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pria kelahiran 29 Oktober 1996 ini mulai melukis sejak masih di taman kanak-kanak. Saat itu, melukis hanya sebagai hobi semata. Sadikin juga pernah les privat melukis di rumahnya. Hingga mengenyam pendidikan sekolah menengah atas di SMA Santa Maria Kota Malang, Sadikin masih menempatkan melukis sebagai hobi.
<\/p>\n\n\n\n

Di tengah keterbatasannya, Sadikin lalu melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kala itu, Sadikin mengambil jurusan psikologi pascagagal mengambil jurusan arsitektur yang ia dambakan dan cita-citakan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, kekurangan yang diberikan Tuhan adalah sebuah kelebihan yang tidak banyak dimiliki oleh orang lain. Kegigihannya dalam belajar melukis menghantarkannya ke Associaton of Mouth and Foot Painting Artist (AMFPA). Sebuah organisasi yang bermarkas di Swiss dan menghimpun karya pelukis yang melukis menggunakan kaki dan mulut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSetelah masuk AMFPA, saya menjadikan melukis sebagai profesi. Tahun 1989 saya menerima 300 swiss franc, setara Rp 300 ribu waktu itu. Kini, saya menerima sekitar 40 jt setiap bulan,\u201d ungkap Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin terus melukis. Kemampuannya terus berkembang, bahkan melebihi tuntutan dari organisasi yang ia ikuti. Nama Sadikin juga mulai dikenal, bukan sebab keterbatasannya, melainkan sebab karyanya yang memang bernilai tinggi.
<\/p>\n\n\n\n

Setiap kali ada pameran lukisan dan kontes-kontes melukis, Sadikin tidak pernah alfa untuk mengikutinya. Karyanya menjadi sorotan publik dan banyak laku dengan harga yang tidak murah. Bahkan menurutnya, ada salah satu lukisannya yang laku hingga Rp 250 juta.<\/p>\n\n\n\n

Menolak Pasrah dan Bergantung kepada Pemerintah karena Disabilitas<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Sadikin tidak mau dikasihani orang lain. Meski ia tunadaksa, ia adalah manusia yang sama, yang memilki kesempatan besar untuk menjalani rutinitas sebagaimana manusia lainnya. \u201cKuncinya adalah terus mencoba, mencoba dan mencoba. Saya tidak apa-apa dicemooh lukisan saya jelek. Bagi saya cemoohan seperti itu adalah cambuk untuk terus berlatih,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Sadikin, masyarakat harus adil memerlakukan para difabel. Difabel harus diperlakukan sebagaimana orang biasa. Semakin banyak orang yang mengasihani difabel, maka tidak malah membuat difabel itu kuat, sebaliknya berdampak melemahkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cDifabel harus diperlakukan seperti manusia biasa, bahkan ia harus diberi tantangan dan ditempa untuk menemukan kelebihan dalam dirinya,\u201d kata Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, para difabel harus mulai mengubah sudut pandang. Bahwa segala kekurangan tidak kemudian menjadikan para difabel pasrah menerima nasib dan mengharapkan santunan dari orang lain dan pemerintah untuk menjalani hidup. Difabel adalah orang istimewa yang dapat berkarya melebihi orang-orang biasa. Kekurangan ini adalah kelebihan yang akan ditemukan dengan kerja keras dan melatih diri menjadi apa yang diinginkan.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin bisa berangkat ke Swiss dan mengharumkan nama Indonesia di mata dunia, tidak terlebih dulu mendapat perhatian dari pemerintah. Ia mengaku berangkat dengan uang sendiri. Bahkan, lanjut Sadikin, hingga kini pun tidak ada pemerintah yang mengapresiasi karya-karyanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak menginginkan belas kasihan dari pemerintah. Karena yang sejatinya benar adalah, kita dapat memberikan apa kepada negara ini, bukan negara dapat memberikan apa kepada kita. Namun yang saya sayangkan, pemerintah sepertinya tidak peduli memperhatikan para seniman dan menghargai karya seni dari para seniman negeri sendiri. Seharusnya para seniman ini diberikan wadah, diperhatikan, kan juga kalau manajemennya bagus bisa menjadi pemasukan untuk negara,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin mengirim pesan kepada seluruh seniman di Tanah Air untuk terus berkaraya, tanpa peduli akan bernilai apa sebuah karya tersebut. \u201cYang terpenting kita dapat mengaktulisasikan diri dan terus melukis dengan niat mengharumkan nama negeri. Teruslah berkarya, karena sejatinya karya adalah yang dibuat dengan kesungguhan dan keikhlasan hati,\u201d pungkas pelukis beranak dua tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Shadikin Pard, Pelukis Tanpa Lengan yang Mengharumkan Bangsa dengan Kedua Kakinya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"shadikin-pard-pelukis-tanpa-lengan-yang-mengharumkan-bangsa-dengan-kedua-kakinya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-16 11:09:38","post_modified_gmt":"2019-04-16 04:09:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5637","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5621,"post_author":"877","post_date":"2019-04-10 10:37:08","post_date_gmt":"2019-04-10 03:37:08","post_content":"\n

Bahasan mengenai hukum menyulut kretek pernah dipertanyakan dalam forum bahtsul masail<\/em> (musyawarah) para Kiai\/Ulama\u2019 Kudus. Pertanyaan (saail<\/em>) yang mengajukan atas nama masyarakat Baletengahan, yaitu dukuh yang masuk wilayah Desa Langgardalem Kecamatan Kota. Tepatnya sekitar + 800an m, arah utara Masjid Menara Kudus (al-Aqsha). Kultur budaya masyarakat Baletengahan adalah santri, terdapat banyak Pesantren dan beberapa madrasah, salah satunya lembaga pendidikan formal TBS (Tasywiqut Thullab Salafiyyah), yaitu lembaga pendidikan salaf yang dahulu salah satu tempat  KH. Arwani Amin al-Hafiz mengajar dan yayasan pendidikan Nawa Kartika, yang didirikan oleh tokoh NU setempat. <\/p>\n\n\n\n

Lain halnya pesantren dan lembaga pendidikan, di sekitar Baletengahan Langgardalem, konon dahulu banyak usaha rumahan kretek. Petilasan yang masih dapat dijumpai di Langgardalem adalah \u201cgudang tembakau dan PR. Buah Cengkeh\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Disini terlihat para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus mempunyai tradisi kritis menyikapi fenomena disekelilingnya. Sehingga wajar pada tahun 1990an muncul bahasan tentang kretek di Bahtsul Masail<\/em> para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, jauh mendahului keputusan MUI dan Muhammadiyyah hasil Padang Panjang, dilaksanakan tahun 2009-2010.<\/p>\n\n\n\n

Tradisi Bahtsul Masail biasa disebut \u201cMunadzoroh<\/em>\u201d sudah lama dilakukan para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, dengan bertempat di Masjid-masjid di sekitar Kudus, bergantian dan memutar. Peserta munadzoroh<\/em> adalah para Kiai\/Ulama\u2019 se-Kabupaten Kudus dari berbagai penjuru desa, dan juga masyarakat umum, karena sifatnya terbuka (siapa saja boleh ikut tanpa terkecuali). Pelaksanaannya dari dulu hingga sekarang dijatuhkan pada hari Ahad (minggu). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat pembahasan mengenai kretek, bertempat di Masji al-Aqsho Menara Kudus yang dipimpin oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), redaksi pertanyaaannya adalah:<\/p>\n\n\n\n

\u201ckados pundi hukumipun ngkretek (bagaimana hukum menghisap kretek)?\u201d<\/em>--pertanyaan dari<\/em> Baletengahan--<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sebelum memulai pembahasan biasanya KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menanyakan tentang apa yang akan dibahas. Diceritakan oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi, situasi dan kondisi saat itu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), bertanya di forum, \u00a0\u201copo iki takonane?\u201d (pertanyaannya apa), di jawab yang hadir saat itu, \u201c anu Mbah bab kretek\u201d (itu bab menghisap kretek), lalu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menyambung jawaban hadirin, \u201coooo, bab kretek, kretekku gowo rene dikik\u201d (ooo, bab menghisap kretek, kretekku bawa kemari dulu), kemudian KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) mengambil satu batang kretek dari bungkusnya disulut dan dihisap. Selesai menyulut kretek, kembali KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) berbicara, \u201cwes kono dibahas\u201d (sudah sana dibahas). Setelah diperintahkan untuk dibahas, suasana hening sejenak. \u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mungkin di benak para hadirin terlintas pikiran \u201capa yang dibahas sudah dijawab secara tersirat oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) dengan menghisap kretek\u201d. Pada akhirnya, pembahasan tetap dilaksanakan. Diceritakan KH. Sya\u2019roni juga, situasi saat itu tidak ada Kiai\/Ulama\u2019 yang hadir menghukumi \u201charam\u201d, pada akhirnya diputuskan KH. Turaikhan, dengan hukum \u201c boleh\u201d, disela-sela KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) memberikan penjelasan, ada salah satu hadirin mengacungkan jarinya, beliau adalah KH. Hambali (Al Maghfurlah), sambil berkata; \u201ckulo Kiai, menawi boten udud kulo mboten saget mucal\u201d (saya Kiai, kalau tidak sambil menghisap kretek, saya tidak dapat mengajar), disertai argumen dan penjelasanannya. Kemudian KH. Turaikhan, memberikan jawaban dan tanggapan kepada KH. Hambali, \u201cnek ngono, kanggo kuwi hukumi wajib\u201d (kalau begitu, untuk kamu hukumnya wajib mengkonsumsi kretek).  <\/p>\n\n\n\n

Dilihat dari putusan Bahtsul Masail di atas, pada awalnya menghisap kretek dihukumi \u201cboleh\u201d, namun dengan kondisi tertentu menjadi \u201cWajib\u201d. Cerita penetapan hukum menghisap kretek dalam forum Bahtsul Masail di atas, telah menyebar di kalangan masyarakat Kudus, dan menjadi konsumsi publik, serta bersifat mengikat sampai sekarang. Sehingga banyak Kiai\/Ulama\u2019 Kudus tidak mempersoalkan lagi, apalagi membahas kembali. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cerita situasi dan kondisi Bahtsul Masail, diapresiasi dan diinterpretasikan Kiai\/Ulama\u2019Kudus lebih kontekstual, salah satunya KH. Fatkhur Rahman, beliau bercerita;  saat KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) populer dengan sebutan Mbah Tur memimpin munadzoroh<\/em> ada pertanyaan: bagaimana hukumnya kretek? Mbah Tur malah mengambil kretek, menyulut dan menghisapnya, dengan begitu diasumsikan hukumnya \u201chalal\u201d (jadi  setelah itu sudah tidak perlu dibahas lagi soal kretek). KH. Fatkhur Rahman juga menceritakan ada satu alasan kuat, mengapa halal, karena para Kiai itu tidak mau barang subhat<\/em> (tidak jelas posisinya), apalagi haram. Ketika para Kiai\/Ulama\u2019 besar menghisap kretek, otomatis tidak haram. Tuhan menciptakan sesuatu untuk dinikmati itu ada dua, halal atau haram. <\/p>\n\n\n\n

Dasar hukum menghisap kretek adalah mubah, sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang menjadi wajib, juga menjadi haram. Dasar utamanya adalah  \u201cla dhororo wala dhiroro\u201d. <\/em>Hukumnya seperti  mengkonsumsi gula, ketika kena penyakit gula, maka haram atau tidak boleh mengkonsumsi gula. Begitu pula ketika punya darah tinggi, maka tidak boleh makan daging, dan seterusnya. Dimana \u201calhukmu yadurru ma\u2019a illatihi\u201d<\/em>(hukum itu bisa beralih tergantung alasannya). Membeli kretek dihukumi tidak boleh (haram), jika uang yang dipakai semestinya untuk belanja kebutuhan pokok, membayar sekolah dan lain sebagainya. Menghisap kretek menjadi wajib, ketika tidak menghisap sulit berpikir, lemas, tidak bisa kerja dan lain sebagainya.
<\/p>\n","post_title":"Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fenomena-hukum-rokok-bagi-ulama-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-10 10:37:16","post_modified_gmt":"2019-04-10 03:37:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5621","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

Paling Populer

\n

Maka masihkah relevan peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia? Daripada memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia, lebih baik kita semua menunaikan ibadah puasa dengan khidmat yang jelas-jelas mendapatkan pahala berlipat ganda.
<\/p>\n","post_title":"Menolak Peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia dengan Berpuasa di Bulan Ramadhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menolak-peringatan-hari-tanpa-tembakau-sedunia-dengan-berpuasa-di-bulan-ramadhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-11 12:30:30","post_modified_gmt":"2019-05-11 05:30:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5710","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5679,"post_author":"878","post_date":"2019-05-03 11:19:10","post_date_gmt":"2019-05-03 04:19:10","post_content":"\n

Pada mulanya masyarakat pribumi yang mendiami benua Amerika mulai dari wilayah paling utara hingga ke selatan, dengan bermacam suku-suku yang hidup secara komunal\u2014yang kemudian disamaratakan penyebutannya oleh penjelajah Eropa dengan sebutan Suku Indian\u2014mengonsumsi tembakau yang dikeringkan sebagai sarana pelepas lelah, dan untuk mengobati beberapa jenis penyakit yang ada ketika itu. Mereka mengisap tembakau yang dikeringkan menggunakan sebuah pipa yang lazim disebut \u2018tubak<\/em>\u2019, selanjutnya bangsa Eropa menggunakan penyebutan \u2018tubak<\/em>\u2019 untuk menamakan daun kering tersebut, lahirlah istilah \u2018tobacco<\/em>\u2019 dalam bahasa Inggirs yang diserap menjadi \u2018tembakau\u2019 dalam bahasa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Melalui Colombus dan seluruh awak kapalnya yang mendatangi benua Amerika, kebiasaan mengisap tembakau ini kemudian diperkenalkan ke Eropa dan perlahan menjadi kebiasaan yang umum di sana. Konsumsi tembakau di Eropa terutama dimanfaatkan sebagai penghilang rasa dingin ketika musim dingin tiba di daratan Eropa. Bangsa Eropa kemudian membawa tembakau ke negeri jajahan mereka dan membudidayakannya di sana hingga pada akhirnya tembakau menjadi konsumsi yang mendunia, termasuk juga di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ariel Tatum dan Diskriminasi Perempuan Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia sendiri, tembakau pada mulanya digunakan sebagai bahan campuran dalam mengonsumsi sirih yang lazim disebut nyirih<\/em>. Karena dianggap jorok, penjajah Belanda melarang aktivitas nyirih dan mengenalkan konsumsi tembakau dengan cara dibakar dan diisap kepada masyarakat pribumi. Kebiasaan mengisap tembakau di Indonesia semakin populer usai Haji Djamhari menemukan ramuan tembakau kering yang dicampur cengkeh kering kemudian dibakar dan diisap sebagai obat asma yang ia derita. Campuran tembakau kering dan bunga cengkeh kering yang dibakar menimbulkan suara berkeretek hingga pada akhirnya produk rokok ini dinamakan rokok kretek dan menguasai pasar dalam negeri hingga saat ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari catatan singkat di atas, konsumsi tembakau kering yang diisap kemudian tembakau kering yang dicampur bunga cengkeh kering pada mulanya sebagai barang konsumsi untuk pengobatan dan relaksasi. Hingga pada akhirnya, persaingan bisnis menggiring kampanye-kampanye yang menyuarakan perihal keburukan konsumsi tembakau. Dalih kesehatan dijadikan alasan utama untuk menghancurkan perekonomian tembakau guna meloloskan bisnis farmasi yang dijalankan korporasi besar berskala internasional.<\/p>\n\n\n\n

Periode 2000 hingga saat ini, kampanye miring mengenai rokok dan rokok kretek kian menguat. Tak hanya korporasi besar, badan-badan kesehatan dunia juga ikut ambil peran dalam upaya menghancurkan produk rokok terutama rokok kretek yang menjadi ciri khas dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Berita terbaru dalam sepekan terakhir, di Jepang, salah satu universitas negeri berencana memecat seluruh staf dan dosen mereka yang menjadi perokok aktif. Selain itu, beberapa perusahaan di Jepang juga akan mencoret langsung para pelamar kerja yang diketahui sebagai perokok aktif. Ini tentu saja menjadi kemunduran yang telak bagi negara Jepang. Padahal sebelumnya Jepang dikenal menjadi negara yang masih cukup ramah terhadap para perokok.<\/p>\n\n\n\n

Alasan Jepang memberlakukan kebijakan tersebut sebagai upaya menyambut perhelatan olimpiade 2020 yang akan diselenggarakan di Tokyo. Lagi-lagi, dalih kesehatan yang menjadi tameng kebijakan ini. Jika ditelaah secara saksama, tentu saja kebijakan ini sama sekali tidak ada relevansinya. Terkesan pemaksaan dan sekadar pencitraan semata.<\/p>\n\n\n\n

Lagi pula, tak ada relevansinya antara kecerdasan (dalam hal ini dunia kampus) dengan kebiasaan merokok. Juga tak ada relevansi antara kinerja (dalam hal ini pelamar kerja) dengan kebiasaan merokok. Lagi-lagi, ini semata sekadar cocokologi saja.<\/p>\n\n\n\n

Bodoh ya bodoh saja, malas ya malas saja, juga sebaliknya, tak ada kaitannya dengan kebiasaan merokok. Kita bisa menjejerkan ratusan bahkan ribuan nama-nama orang yang memiliki kebiasaan merokok, di sana akan ada orang-orang yang sangai pandai hingga orang-orang idiot sekalipun yang memiliki kebiasaan merokok. Kita juga bisa menjejerkan nama-nama ratusan hingga ribuan orang yang sama sekali tidak merokok, dan di sana akan ada orang yang pandai sekali juga akan ada orang goblok segoblok-gobloknya yang sama sekali tidak merokok. Lalu, apa alasan memecat staf dan dosen di kampus yang memiliki kebiasaan merokok?<\/p>\n\n\n\n

Hal yang sama juga bisa kita lakukan dengan jejeran nama-nama orang dengan kinerja dan etos kerja. Yang rajin, juga yang malas, ada dalam kelompok mereka yang merokok juga kelompok mereka yang tidak merokok. Maka, saya kira, apa yang terjadi di Jepang dan diberitakan dalam sepekan belakangan, tentu saja mengganggu akal sehat siapa saja yang masih bisa berpikir dengan jernih.
<\/p>\n","post_title":"Diskriminasi Terhadap Para Perokok di Jepang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"diskriminasi-terhadap-para-perokok-di-jepang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-03 11:19:17","post_modified_gmt":"2019-05-03 04:19:17","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5679","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5653,"post_author":"883","post_date":"2019-04-23 12:23:36","post_date_gmt":"2019-04-23 05:23:36","post_content":"\n

Rokok selalu dikambinghitamkan sebagai penyebab dari tingginya angka kematian umat manusia. Angka dan data jadul yang selalu diulang-ulang mengenai rokok penyebab kematian, seakan membius kita bahwa rokok-lah musuh bersama. Sementara rokok dijadikan musuh bersama, kita justru abai terhadap musuh riil yang sedang mengintai kehidupan kita.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah penelitian menyatakan bahwa pola makan yang tidak sehat lebih banyak meningkatkan resiko kematian dini daripada faktor risiko lainnya, termasuk merokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cerita Rakyat Tentang Kretek dan Tembakau di Tiga Kota (Kudus, Temanggung, Madura)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ini artinya agen malaikat pencabut nyawa manusia ada di pola makan kita. Apakah sudah sehat atau tidak sehat? satu hal yang seringkali diabaikan.
<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan Studi Global Burden of Disease yang mengamati konsumsi makanan di 195 negara, antara tahun 1990 dan 2017, fokus pada 15 jenis makanan atau nutrisi mengamini pola makan tidak sehat adalah penyebab terbesar kematian manusia.
<\/p>\n\n\n\n

Penelitian lainnya yang bersumber dari Medical News Today, dalam sebuah makalah yang dimuat dalam The Lancet, para peneliti menyimpulkan, pola makan yang buruk menyumbang 1 dari 5, atau 11 juta, kematian orang dewasa pada tahun 2017. Sebagian besar dari kematian itu, sekitar 10 juta, berasal dari penyakit kardiovaskular.
<\/p>\n\n\n\n

Sisanya terutama dari kanker dan diabetes tipe 2. Peringkat negara-negara dari tingkat kematian terkait diet terendah ke tertinggi menempatkan Israel pertama, dengan 89 kematian per 100.000 orang, dan Uzbekistan terakhir, dengan 892 per 100.000. Amerika Serikat, dengan 171 kematian per 100.000, berada di posisi ke-43 dan Inggris di peringkat ke-23, dengan 127 kematian per 100.000. India di tempat ke-118, dan Cina di ke-140.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Penelitian termutakhir yang di sebutkan di atas merupakan penelitian yang bersifat global, lalu bagaimana dengan di Indonesia? Apakah kasus pola makan yang tidak sehat juga menjadi penyebab kematian terbesar?
<\/p>\n\n\n\n

Dalam sebuah artikel yang ditulis oleh Triyani Kresnawan, DCN,Mkes, Instalasi Gizi RSCM dan diterbitkan oleh Departemen Kesehatan Gizi Kementerian Kesehatan menyebutkan, pola makan yang tidak seimbang yang menyebabkan resiko munculnya penyakit kanker antara lain kebiasaan makanan cepat saji (fast food).
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan menjaga keseimbangan dalam pola makan ini juga disampaikan oleh Spesialis Patologi Anatomi dari Rumah Sakit Kanker Dharmais, dr Evalina Suzana. Ia mengatakan pola makan yang sehat merupakan bagian bentuk pencegahan dari penyakit kanker. Di luar dari olahraga yang teratur, minum air, dan tidur yang cukup.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Eva, sebuah pola bisa dibilang sehat jika semua yang masuk ke dalam tubuh seimbang. Tidak boleh berlebihan bukan berarti tidak dimakan sama sekali. Harus terdiri dari 50 persen protein, 30 persen karbohidrat, dan 20 persen lemak dan serat. Itu harus dipenuhi di luar mineral-mineral yang ada.
<\/p>\n\n\n\n

Nah loh, berdasarkan hasil-hasil penelitian yang menyatakan bahwa pola makan tidak sehat merupakan penyebab resiko kematian terbesar, lalu mengapa hanya rokok yang terus-menerus dituduh dalam kampanye kelompok-kelompok antirokok yang mengatasnamakan kesehatan?
<\/p>\n\n\n\n

Untuk memahami hal ini tentunya anda harus mengetahui bahwa terdapat perang bisnis nikotin antara industri farmasi dan industri rokok, atau yang sering kami sebut sebagai \u201cNicotin War\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Maka Anda tak usah heran jika rokok diframing bertentangan dengan kesehatan, karena semua semata hanyalah akal-akalan pihak industri farmasi untuk memenangi pertarungan bisnis nikotin tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Pola Makan Tidak Sehat Membunuhmu","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pola-makan-tidak-sehat-membunuhmu","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-23 12:23:48","post_modified_gmt":"2019-04-23 05:23:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5653","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5637,"post_author":"855","post_date":"2019-04-16 11:07:27","post_date_gmt":"2019-04-16 04:07:27","post_content":"\n

Terlahir sebagai tunadaksa atau tanpa tangan, tidak membuat Shadikin Pard pesimis menjalan hidup. Lebih dari itu, ia berhasil membuktikan bahwa kekurangan bukanlah aral melintang yang mengganjal langkah menuju kesuksesan.<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Hujan sudah reda ketika kaki saya memasuki gerbang Taman Balekambang, Surakarta. Di dalam, di atas tanah yang masih basah, ratusan pelukis dari penjuru negeri sedang sibuk mengaktualisasikan kegelisahan hatinya ke sebuah kanvas. Mereka sedang mengikuti Indonesia Painting Contest 2019 yang diselenggarakan oleh NU Gallery.
<\/p>\n\n\n\n

Saya terus melangkah menyusuri tanah basah yang di samping kanan dan kirinya para pelukis sedang khidmat menggoreskan kuas. Hingga kaki saya terhenti di hadapan pelukis yang berkonsentrasi melukis menggunakan kedua kakinya.
<\/p>\n\n\n\n

Sebatang kuas dijepitkan di antara jemari kaki. Sesekali ia menyelupkan kuas itu ke dalam cat dan kemudian menggoreskannya ke dalam kanvas hingga membentuk sebuah lukisan realis Reog Ponorogo yang indah. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di sampingnya, seorang pemuda yang ternyata anaknya dengan sigap menjalankan instruksi ayahnya, mulai dari mengganti ukuran kuas yang terjepit di antara jemarinya, membuka botol cat dan lain sebagainya. Sesekali anaknya menyalakan rokok dan menyodorkan ke hadapan mulut ayahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Ia melukis Reog Ponorogo bukan tanpa alasan. Ia ingin memberikan kritik kepada seluruh masyarakat dan Pemerintah, bahwa mencintai kekayaan budaya bangsa sendiri adalah kewajiban yang harus selalu digelorakan. Jangan sampai, ketika kebudayaan tersebut direbut negara lain, bangsa ini baru panik dan serius mengakui serta membanggakan kekayaan kebudayaan sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ialah Shadikin Pard, seorang pelukis masyhur yang terlahir tunadaksa atau tanpa kedua tangan. Kami berbincang di bawah pohon beringin rindang. Di antara para pelukis lainnya yang sedang beristirahat menunggu waktu pengumuman pemenang dibacakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pria kelahiran 29 Oktober 1996 ini mulai melukis sejak masih di taman kanak-kanak. Saat itu, melukis hanya sebagai hobi semata. Sadikin juga pernah les privat melukis di rumahnya. Hingga mengenyam pendidikan sekolah menengah atas di SMA Santa Maria Kota Malang, Sadikin masih menempatkan melukis sebagai hobi.
<\/p>\n\n\n\n

Di tengah keterbatasannya, Sadikin lalu melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kala itu, Sadikin mengambil jurusan psikologi pascagagal mengambil jurusan arsitektur yang ia dambakan dan cita-citakan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, kekurangan yang diberikan Tuhan adalah sebuah kelebihan yang tidak banyak dimiliki oleh orang lain. Kegigihannya dalam belajar melukis menghantarkannya ke Associaton of Mouth and Foot Painting Artist (AMFPA). Sebuah organisasi yang bermarkas di Swiss dan menghimpun karya pelukis yang melukis menggunakan kaki dan mulut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSetelah masuk AMFPA, saya menjadikan melukis sebagai profesi. Tahun 1989 saya menerima 300 swiss franc, setara Rp 300 ribu waktu itu. Kini, saya menerima sekitar 40 jt setiap bulan,\u201d ungkap Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin terus melukis. Kemampuannya terus berkembang, bahkan melebihi tuntutan dari organisasi yang ia ikuti. Nama Sadikin juga mulai dikenal, bukan sebab keterbatasannya, melainkan sebab karyanya yang memang bernilai tinggi.
<\/p>\n\n\n\n

Setiap kali ada pameran lukisan dan kontes-kontes melukis, Sadikin tidak pernah alfa untuk mengikutinya. Karyanya menjadi sorotan publik dan banyak laku dengan harga yang tidak murah. Bahkan menurutnya, ada salah satu lukisannya yang laku hingga Rp 250 juta.<\/p>\n\n\n\n

Menolak Pasrah dan Bergantung kepada Pemerintah karena Disabilitas<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Sadikin tidak mau dikasihani orang lain. Meski ia tunadaksa, ia adalah manusia yang sama, yang memilki kesempatan besar untuk menjalani rutinitas sebagaimana manusia lainnya. \u201cKuncinya adalah terus mencoba, mencoba dan mencoba. Saya tidak apa-apa dicemooh lukisan saya jelek. Bagi saya cemoohan seperti itu adalah cambuk untuk terus berlatih,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Sadikin, masyarakat harus adil memerlakukan para difabel. Difabel harus diperlakukan sebagaimana orang biasa. Semakin banyak orang yang mengasihani difabel, maka tidak malah membuat difabel itu kuat, sebaliknya berdampak melemahkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cDifabel harus diperlakukan seperti manusia biasa, bahkan ia harus diberi tantangan dan ditempa untuk menemukan kelebihan dalam dirinya,\u201d kata Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, para difabel harus mulai mengubah sudut pandang. Bahwa segala kekurangan tidak kemudian menjadikan para difabel pasrah menerima nasib dan mengharapkan santunan dari orang lain dan pemerintah untuk menjalani hidup. Difabel adalah orang istimewa yang dapat berkarya melebihi orang-orang biasa. Kekurangan ini adalah kelebihan yang akan ditemukan dengan kerja keras dan melatih diri menjadi apa yang diinginkan.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin bisa berangkat ke Swiss dan mengharumkan nama Indonesia di mata dunia, tidak terlebih dulu mendapat perhatian dari pemerintah. Ia mengaku berangkat dengan uang sendiri. Bahkan, lanjut Sadikin, hingga kini pun tidak ada pemerintah yang mengapresiasi karya-karyanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak menginginkan belas kasihan dari pemerintah. Karena yang sejatinya benar adalah, kita dapat memberikan apa kepada negara ini, bukan negara dapat memberikan apa kepada kita. Namun yang saya sayangkan, pemerintah sepertinya tidak peduli memperhatikan para seniman dan menghargai karya seni dari para seniman negeri sendiri. Seharusnya para seniman ini diberikan wadah, diperhatikan, kan juga kalau manajemennya bagus bisa menjadi pemasukan untuk negara,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin mengirim pesan kepada seluruh seniman di Tanah Air untuk terus berkaraya, tanpa peduli akan bernilai apa sebuah karya tersebut. \u201cYang terpenting kita dapat mengaktulisasikan diri dan terus melukis dengan niat mengharumkan nama negeri. Teruslah berkarya, karena sejatinya karya adalah yang dibuat dengan kesungguhan dan keikhlasan hati,\u201d pungkas pelukis beranak dua tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Shadikin Pard, Pelukis Tanpa Lengan yang Mengharumkan Bangsa dengan Kedua Kakinya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"shadikin-pard-pelukis-tanpa-lengan-yang-mengharumkan-bangsa-dengan-kedua-kakinya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-16 11:09:38","post_modified_gmt":"2019-04-16 04:09:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5637","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5621,"post_author":"877","post_date":"2019-04-10 10:37:08","post_date_gmt":"2019-04-10 03:37:08","post_content":"\n

Bahasan mengenai hukum menyulut kretek pernah dipertanyakan dalam forum bahtsul masail<\/em> (musyawarah) para Kiai\/Ulama\u2019 Kudus. Pertanyaan (saail<\/em>) yang mengajukan atas nama masyarakat Baletengahan, yaitu dukuh yang masuk wilayah Desa Langgardalem Kecamatan Kota. Tepatnya sekitar + 800an m, arah utara Masjid Menara Kudus (al-Aqsha). Kultur budaya masyarakat Baletengahan adalah santri, terdapat banyak Pesantren dan beberapa madrasah, salah satunya lembaga pendidikan formal TBS (Tasywiqut Thullab Salafiyyah), yaitu lembaga pendidikan salaf yang dahulu salah satu tempat  KH. Arwani Amin al-Hafiz mengajar dan yayasan pendidikan Nawa Kartika, yang didirikan oleh tokoh NU setempat. <\/p>\n\n\n\n

Lain halnya pesantren dan lembaga pendidikan, di sekitar Baletengahan Langgardalem, konon dahulu banyak usaha rumahan kretek. Petilasan yang masih dapat dijumpai di Langgardalem adalah \u201cgudang tembakau dan PR. Buah Cengkeh\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Disini terlihat para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus mempunyai tradisi kritis menyikapi fenomena disekelilingnya. Sehingga wajar pada tahun 1990an muncul bahasan tentang kretek di Bahtsul Masail<\/em> para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, jauh mendahului keputusan MUI dan Muhammadiyyah hasil Padang Panjang, dilaksanakan tahun 2009-2010.<\/p>\n\n\n\n

Tradisi Bahtsul Masail biasa disebut \u201cMunadzoroh<\/em>\u201d sudah lama dilakukan para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, dengan bertempat di Masjid-masjid di sekitar Kudus, bergantian dan memutar. Peserta munadzoroh<\/em> adalah para Kiai\/Ulama\u2019 se-Kabupaten Kudus dari berbagai penjuru desa, dan juga masyarakat umum, karena sifatnya terbuka (siapa saja boleh ikut tanpa terkecuali). Pelaksanaannya dari dulu hingga sekarang dijatuhkan pada hari Ahad (minggu). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat pembahasan mengenai kretek, bertempat di Masji al-Aqsho Menara Kudus yang dipimpin oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), redaksi pertanyaaannya adalah:<\/p>\n\n\n\n

\u201ckados pundi hukumipun ngkretek (bagaimana hukum menghisap kretek)?\u201d<\/em>--pertanyaan dari<\/em> Baletengahan--<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sebelum memulai pembahasan biasanya KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menanyakan tentang apa yang akan dibahas. Diceritakan oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi, situasi dan kondisi saat itu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), bertanya di forum, \u00a0\u201copo iki takonane?\u201d (pertanyaannya apa), di jawab yang hadir saat itu, \u201c anu Mbah bab kretek\u201d (itu bab menghisap kretek), lalu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menyambung jawaban hadirin, \u201coooo, bab kretek, kretekku gowo rene dikik\u201d (ooo, bab menghisap kretek, kretekku bawa kemari dulu), kemudian KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) mengambil satu batang kretek dari bungkusnya disulut dan dihisap. Selesai menyulut kretek, kembali KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) berbicara, \u201cwes kono dibahas\u201d (sudah sana dibahas). Setelah diperintahkan untuk dibahas, suasana hening sejenak. \u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mungkin di benak para hadirin terlintas pikiran \u201capa yang dibahas sudah dijawab secara tersirat oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) dengan menghisap kretek\u201d. Pada akhirnya, pembahasan tetap dilaksanakan. Diceritakan KH. Sya\u2019roni juga, situasi saat itu tidak ada Kiai\/Ulama\u2019 yang hadir menghukumi \u201charam\u201d, pada akhirnya diputuskan KH. Turaikhan, dengan hukum \u201c boleh\u201d, disela-sela KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) memberikan penjelasan, ada salah satu hadirin mengacungkan jarinya, beliau adalah KH. Hambali (Al Maghfurlah), sambil berkata; \u201ckulo Kiai, menawi boten udud kulo mboten saget mucal\u201d (saya Kiai, kalau tidak sambil menghisap kretek, saya tidak dapat mengajar), disertai argumen dan penjelasanannya. Kemudian KH. Turaikhan, memberikan jawaban dan tanggapan kepada KH. Hambali, \u201cnek ngono, kanggo kuwi hukumi wajib\u201d (kalau begitu, untuk kamu hukumnya wajib mengkonsumsi kretek).  <\/p>\n\n\n\n

Dilihat dari putusan Bahtsul Masail di atas, pada awalnya menghisap kretek dihukumi \u201cboleh\u201d, namun dengan kondisi tertentu menjadi \u201cWajib\u201d. Cerita penetapan hukum menghisap kretek dalam forum Bahtsul Masail di atas, telah menyebar di kalangan masyarakat Kudus, dan menjadi konsumsi publik, serta bersifat mengikat sampai sekarang. Sehingga banyak Kiai\/Ulama\u2019 Kudus tidak mempersoalkan lagi, apalagi membahas kembali. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cerita situasi dan kondisi Bahtsul Masail, diapresiasi dan diinterpretasikan Kiai\/Ulama\u2019Kudus lebih kontekstual, salah satunya KH. Fatkhur Rahman, beliau bercerita;  saat KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) populer dengan sebutan Mbah Tur memimpin munadzoroh<\/em> ada pertanyaan: bagaimana hukumnya kretek? Mbah Tur malah mengambil kretek, menyulut dan menghisapnya, dengan begitu diasumsikan hukumnya \u201chalal\u201d (jadi  setelah itu sudah tidak perlu dibahas lagi soal kretek). KH. Fatkhur Rahman juga menceritakan ada satu alasan kuat, mengapa halal, karena para Kiai itu tidak mau barang subhat<\/em> (tidak jelas posisinya), apalagi haram. Ketika para Kiai\/Ulama\u2019 besar menghisap kretek, otomatis tidak haram. Tuhan menciptakan sesuatu untuk dinikmati itu ada dua, halal atau haram. <\/p>\n\n\n\n

Dasar hukum menghisap kretek adalah mubah, sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang menjadi wajib, juga menjadi haram. Dasar utamanya adalah  \u201cla dhororo wala dhiroro\u201d. <\/em>Hukumnya seperti  mengkonsumsi gula, ketika kena penyakit gula, maka haram atau tidak boleh mengkonsumsi gula. Begitu pula ketika punya darah tinggi, maka tidak boleh makan daging, dan seterusnya. Dimana \u201calhukmu yadurru ma\u2019a illatihi\u201d<\/em>(hukum itu bisa beralih tergantung alasannya). Membeli kretek dihukumi tidak boleh (haram), jika uang yang dipakai semestinya untuk belanja kebutuhan pokok, membayar sekolah dan lain sebagainya. Menghisap kretek menjadi wajib, ketika tidak menghisap sulit berpikir, lemas, tidak bisa kerja dan lain sebagainya.
<\/p>\n","post_title":"Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fenomena-hukum-rokok-bagi-ulama-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-10 10:37:16","post_modified_gmt":"2019-04-10 03:37:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5621","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

Paling Populer

\n

Berpuasa bukan sekedar menahan haus dan lapar, tapi juga dapat meningkatkan kualitas rohani dan jasmani bagi orang-orang yang berpuasa. Ini sangat jelas. Sudah sangat banyak riset-riset ilmiah yang menunjukan bahwa puasa memiliki segudang manfaat bagi manusia. Atas dasar itulah para perokok patuh terhadap seruan menunaikan ibadah puasa. Menahan diri untuk tidak merokok semantara waktu selama hampir 13 jam lamanya.
<\/p>\n\n\n\n

Maka masihkah relevan peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia? Daripada memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia, lebih baik kita semua menunaikan ibadah puasa dengan khidmat yang jelas-jelas mendapatkan pahala berlipat ganda.
<\/p>\n","post_title":"Menolak Peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia dengan Berpuasa di Bulan Ramadhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menolak-peringatan-hari-tanpa-tembakau-sedunia-dengan-berpuasa-di-bulan-ramadhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-11 12:30:30","post_modified_gmt":"2019-05-11 05:30:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5710","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5679,"post_author":"878","post_date":"2019-05-03 11:19:10","post_date_gmt":"2019-05-03 04:19:10","post_content":"\n

Pada mulanya masyarakat pribumi yang mendiami benua Amerika mulai dari wilayah paling utara hingga ke selatan, dengan bermacam suku-suku yang hidup secara komunal\u2014yang kemudian disamaratakan penyebutannya oleh penjelajah Eropa dengan sebutan Suku Indian\u2014mengonsumsi tembakau yang dikeringkan sebagai sarana pelepas lelah, dan untuk mengobati beberapa jenis penyakit yang ada ketika itu. Mereka mengisap tembakau yang dikeringkan menggunakan sebuah pipa yang lazim disebut \u2018tubak<\/em>\u2019, selanjutnya bangsa Eropa menggunakan penyebutan \u2018tubak<\/em>\u2019 untuk menamakan daun kering tersebut, lahirlah istilah \u2018tobacco<\/em>\u2019 dalam bahasa Inggirs yang diserap menjadi \u2018tembakau\u2019 dalam bahasa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Melalui Colombus dan seluruh awak kapalnya yang mendatangi benua Amerika, kebiasaan mengisap tembakau ini kemudian diperkenalkan ke Eropa dan perlahan menjadi kebiasaan yang umum di sana. Konsumsi tembakau di Eropa terutama dimanfaatkan sebagai penghilang rasa dingin ketika musim dingin tiba di daratan Eropa. Bangsa Eropa kemudian membawa tembakau ke negeri jajahan mereka dan membudidayakannya di sana hingga pada akhirnya tembakau menjadi konsumsi yang mendunia, termasuk juga di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ariel Tatum dan Diskriminasi Perempuan Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia sendiri, tembakau pada mulanya digunakan sebagai bahan campuran dalam mengonsumsi sirih yang lazim disebut nyirih<\/em>. Karena dianggap jorok, penjajah Belanda melarang aktivitas nyirih dan mengenalkan konsumsi tembakau dengan cara dibakar dan diisap kepada masyarakat pribumi. Kebiasaan mengisap tembakau di Indonesia semakin populer usai Haji Djamhari menemukan ramuan tembakau kering yang dicampur cengkeh kering kemudian dibakar dan diisap sebagai obat asma yang ia derita. Campuran tembakau kering dan bunga cengkeh kering yang dibakar menimbulkan suara berkeretek hingga pada akhirnya produk rokok ini dinamakan rokok kretek dan menguasai pasar dalam negeri hingga saat ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari catatan singkat di atas, konsumsi tembakau kering yang diisap kemudian tembakau kering yang dicampur bunga cengkeh kering pada mulanya sebagai barang konsumsi untuk pengobatan dan relaksasi. Hingga pada akhirnya, persaingan bisnis menggiring kampanye-kampanye yang menyuarakan perihal keburukan konsumsi tembakau. Dalih kesehatan dijadikan alasan utama untuk menghancurkan perekonomian tembakau guna meloloskan bisnis farmasi yang dijalankan korporasi besar berskala internasional.<\/p>\n\n\n\n

Periode 2000 hingga saat ini, kampanye miring mengenai rokok dan rokok kretek kian menguat. Tak hanya korporasi besar, badan-badan kesehatan dunia juga ikut ambil peran dalam upaya menghancurkan produk rokok terutama rokok kretek yang menjadi ciri khas dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Berita terbaru dalam sepekan terakhir, di Jepang, salah satu universitas negeri berencana memecat seluruh staf dan dosen mereka yang menjadi perokok aktif. Selain itu, beberapa perusahaan di Jepang juga akan mencoret langsung para pelamar kerja yang diketahui sebagai perokok aktif. Ini tentu saja menjadi kemunduran yang telak bagi negara Jepang. Padahal sebelumnya Jepang dikenal menjadi negara yang masih cukup ramah terhadap para perokok.<\/p>\n\n\n\n

Alasan Jepang memberlakukan kebijakan tersebut sebagai upaya menyambut perhelatan olimpiade 2020 yang akan diselenggarakan di Tokyo. Lagi-lagi, dalih kesehatan yang menjadi tameng kebijakan ini. Jika ditelaah secara saksama, tentu saja kebijakan ini sama sekali tidak ada relevansinya. Terkesan pemaksaan dan sekadar pencitraan semata.<\/p>\n\n\n\n

Lagi pula, tak ada relevansinya antara kecerdasan (dalam hal ini dunia kampus) dengan kebiasaan merokok. Juga tak ada relevansi antara kinerja (dalam hal ini pelamar kerja) dengan kebiasaan merokok. Lagi-lagi, ini semata sekadar cocokologi saja.<\/p>\n\n\n\n

Bodoh ya bodoh saja, malas ya malas saja, juga sebaliknya, tak ada kaitannya dengan kebiasaan merokok. Kita bisa menjejerkan ratusan bahkan ribuan nama-nama orang yang memiliki kebiasaan merokok, di sana akan ada orang-orang yang sangai pandai hingga orang-orang idiot sekalipun yang memiliki kebiasaan merokok. Kita juga bisa menjejerkan nama-nama ratusan hingga ribuan orang yang sama sekali tidak merokok, dan di sana akan ada orang yang pandai sekali juga akan ada orang goblok segoblok-gobloknya yang sama sekali tidak merokok. Lalu, apa alasan memecat staf dan dosen di kampus yang memiliki kebiasaan merokok?<\/p>\n\n\n\n

Hal yang sama juga bisa kita lakukan dengan jejeran nama-nama orang dengan kinerja dan etos kerja. Yang rajin, juga yang malas, ada dalam kelompok mereka yang merokok juga kelompok mereka yang tidak merokok. Maka, saya kira, apa yang terjadi di Jepang dan diberitakan dalam sepekan belakangan, tentu saja mengganggu akal sehat siapa saja yang masih bisa berpikir dengan jernih.
<\/p>\n","post_title":"Diskriminasi Terhadap Para Perokok di Jepang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"diskriminasi-terhadap-para-perokok-di-jepang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-03 11:19:17","post_modified_gmt":"2019-05-03 04:19:17","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5679","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5653,"post_author":"883","post_date":"2019-04-23 12:23:36","post_date_gmt":"2019-04-23 05:23:36","post_content":"\n

Rokok selalu dikambinghitamkan sebagai penyebab dari tingginya angka kematian umat manusia. Angka dan data jadul yang selalu diulang-ulang mengenai rokok penyebab kematian, seakan membius kita bahwa rokok-lah musuh bersama. Sementara rokok dijadikan musuh bersama, kita justru abai terhadap musuh riil yang sedang mengintai kehidupan kita.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah penelitian menyatakan bahwa pola makan yang tidak sehat lebih banyak meningkatkan resiko kematian dini daripada faktor risiko lainnya, termasuk merokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cerita Rakyat Tentang Kretek dan Tembakau di Tiga Kota (Kudus, Temanggung, Madura)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ini artinya agen malaikat pencabut nyawa manusia ada di pola makan kita. Apakah sudah sehat atau tidak sehat? satu hal yang seringkali diabaikan.
<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan Studi Global Burden of Disease yang mengamati konsumsi makanan di 195 negara, antara tahun 1990 dan 2017, fokus pada 15 jenis makanan atau nutrisi mengamini pola makan tidak sehat adalah penyebab terbesar kematian manusia.
<\/p>\n\n\n\n

Penelitian lainnya yang bersumber dari Medical News Today, dalam sebuah makalah yang dimuat dalam The Lancet, para peneliti menyimpulkan, pola makan yang buruk menyumbang 1 dari 5, atau 11 juta, kematian orang dewasa pada tahun 2017. Sebagian besar dari kematian itu, sekitar 10 juta, berasal dari penyakit kardiovaskular.
<\/p>\n\n\n\n

Sisanya terutama dari kanker dan diabetes tipe 2. Peringkat negara-negara dari tingkat kematian terkait diet terendah ke tertinggi menempatkan Israel pertama, dengan 89 kematian per 100.000 orang, dan Uzbekistan terakhir, dengan 892 per 100.000. Amerika Serikat, dengan 171 kematian per 100.000, berada di posisi ke-43 dan Inggris di peringkat ke-23, dengan 127 kematian per 100.000. India di tempat ke-118, dan Cina di ke-140.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Penelitian termutakhir yang di sebutkan di atas merupakan penelitian yang bersifat global, lalu bagaimana dengan di Indonesia? Apakah kasus pola makan yang tidak sehat juga menjadi penyebab kematian terbesar?
<\/p>\n\n\n\n

Dalam sebuah artikel yang ditulis oleh Triyani Kresnawan, DCN,Mkes, Instalasi Gizi RSCM dan diterbitkan oleh Departemen Kesehatan Gizi Kementerian Kesehatan menyebutkan, pola makan yang tidak seimbang yang menyebabkan resiko munculnya penyakit kanker antara lain kebiasaan makanan cepat saji (fast food).
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan menjaga keseimbangan dalam pola makan ini juga disampaikan oleh Spesialis Patologi Anatomi dari Rumah Sakit Kanker Dharmais, dr Evalina Suzana. Ia mengatakan pola makan yang sehat merupakan bagian bentuk pencegahan dari penyakit kanker. Di luar dari olahraga yang teratur, minum air, dan tidur yang cukup.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Eva, sebuah pola bisa dibilang sehat jika semua yang masuk ke dalam tubuh seimbang. Tidak boleh berlebihan bukan berarti tidak dimakan sama sekali. Harus terdiri dari 50 persen protein, 30 persen karbohidrat, dan 20 persen lemak dan serat. Itu harus dipenuhi di luar mineral-mineral yang ada.
<\/p>\n\n\n\n

Nah loh, berdasarkan hasil-hasil penelitian yang menyatakan bahwa pola makan tidak sehat merupakan penyebab resiko kematian terbesar, lalu mengapa hanya rokok yang terus-menerus dituduh dalam kampanye kelompok-kelompok antirokok yang mengatasnamakan kesehatan?
<\/p>\n\n\n\n

Untuk memahami hal ini tentunya anda harus mengetahui bahwa terdapat perang bisnis nikotin antara industri farmasi dan industri rokok, atau yang sering kami sebut sebagai \u201cNicotin War\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Maka Anda tak usah heran jika rokok diframing bertentangan dengan kesehatan, karena semua semata hanyalah akal-akalan pihak industri farmasi untuk memenangi pertarungan bisnis nikotin tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Pola Makan Tidak Sehat Membunuhmu","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pola-makan-tidak-sehat-membunuhmu","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-23 12:23:48","post_modified_gmt":"2019-04-23 05:23:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5653","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5637,"post_author":"855","post_date":"2019-04-16 11:07:27","post_date_gmt":"2019-04-16 04:07:27","post_content":"\n

Terlahir sebagai tunadaksa atau tanpa tangan, tidak membuat Shadikin Pard pesimis menjalan hidup. Lebih dari itu, ia berhasil membuktikan bahwa kekurangan bukanlah aral melintang yang mengganjal langkah menuju kesuksesan.<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Hujan sudah reda ketika kaki saya memasuki gerbang Taman Balekambang, Surakarta. Di dalam, di atas tanah yang masih basah, ratusan pelukis dari penjuru negeri sedang sibuk mengaktualisasikan kegelisahan hatinya ke sebuah kanvas. Mereka sedang mengikuti Indonesia Painting Contest 2019 yang diselenggarakan oleh NU Gallery.
<\/p>\n\n\n\n

Saya terus melangkah menyusuri tanah basah yang di samping kanan dan kirinya para pelukis sedang khidmat menggoreskan kuas. Hingga kaki saya terhenti di hadapan pelukis yang berkonsentrasi melukis menggunakan kedua kakinya.
<\/p>\n\n\n\n

Sebatang kuas dijepitkan di antara jemari kaki. Sesekali ia menyelupkan kuas itu ke dalam cat dan kemudian menggoreskannya ke dalam kanvas hingga membentuk sebuah lukisan realis Reog Ponorogo yang indah. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di sampingnya, seorang pemuda yang ternyata anaknya dengan sigap menjalankan instruksi ayahnya, mulai dari mengganti ukuran kuas yang terjepit di antara jemarinya, membuka botol cat dan lain sebagainya. Sesekali anaknya menyalakan rokok dan menyodorkan ke hadapan mulut ayahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Ia melukis Reog Ponorogo bukan tanpa alasan. Ia ingin memberikan kritik kepada seluruh masyarakat dan Pemerintah, bahwa mencintai kekayaan budaya bangsa sendiri adalah kewajiban yang harus selalu digelorakan. Jangan sampai, ketika kebudayaan tersebut direbut negara lain, bangsa ini baru panik dan serius mengakui serta membanggakan kekayaan kebudayaan sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ialah Shadikin Pard, seorang pelukis masyhur yang terlahir tunadaksa atau tanpa kedua tangan. Kami berbincang di bawah pohon beringin rindang. Di antara para pelukis lainnya yang sedang beristirahat menunggu waktu pengumuman pemenang dibacakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pria kelahiran 29 Oktober 1996 ini mulai melukis sejak masih di taman kanak-kanak. Saat itu, melukis hanya sebagai hobi semata. Sadikin juga pernah les privat melukis di rumahnya. Hingga mengenyam pendidikan sekolah menengah atas di SMA Santa Maria Kota Malang, Sadikin masih menempatkan melukis sebagai hobi.
<\/p>\n\n\n\n

Di tengah keterbatasannya, Sadikin lalu melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kala itu, Sadikin mengambil jurusan psikologi pascagagal mengambil jurusan arsitektur yang ia dambakan dan cita-citakan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, kekurangan yang diberikan Tuhan adalah sebuah kelebihan yang tidak banyak dimiliki oleh orang lain. Kegigihannya dalam belajar melukis menghantarkannya ke Associaton of Mouth and Foot Painting Artist (AMFPA). Sebuah organisasi yang bermarkas di Swiss dan menghimpun karya pelukis yang melukis menggunakan kaki dan mulut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSetelah masuk AMFPA, saya menjadikan melukis sebagai profesi. Tahun 1989 saya menerima 300 swiss franc, setara Rp 300 ribu waktu itu. Kini, saya menerima sekitar 40 jt setiap bulan,\u201d ungkap Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin terus melukis. Kemampuannya terus berkembang, bahkan melebihi tuntutan dari organisasi yang ia ikuti. Nama Sadikin juga mulai dikenal, bukan sebab keterbatasannya, melainkan sebab karyanya yang memang bernilai tinggi.
<\/p>\n\n\n\n

Setiap kali ada pameran lukisan dan kontes-kontes melukis, Sadikin tidak pernah alfa untuk mengikutinya. Karyanya menjadi sorotan publik dan banyak laku dengan harga yang tidak murah. Bahkan menurutnya, ada salah satu lukisannya yang laku hingga Rp 250 juta.<\/p>\n\n\n\n

Menolak Pasrah dan Bergantung kepada Pemerintah karena Disabilitas<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Sadikin tidak mau dikasihani orang lain. Meski ia tunadaksa, ia adalah manusia yang sama, yang memilki kesempatan besar untuk menjalani rutinitas sebagaimana manusia lainnya. \u201cKuncinya adalah terus mencoba, mencoba dan mencoba. Saya tidak apa-apa dicemooh lukisan saya jelek. Bagi saya cemoohan seperti itu adalah cambuk untuk terus berlatih,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Sadikin, masyarakat harus adil memerlakukan para difabel. Difabel harus diperlakukan sebagaimana orang biasa. Semakin banyak orang yang mengasihani difabel, maka tidak malah membuat difabel itu kuat, sebaliknya berdampak melemahkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cDifabel harus diperlakukan seperti manusia biasa, bahkan ia harus diberi tantangan dan ditempa untuk menemukan kelebihan dalam dirinya,\u201d kata Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, para difabel harus mulai mengubah sudut pandang. Bahwa segala kekurangan tidak kemudian menjadikan para difabel pasrah menerima nasib dan mengharapkan santunan dari orang lain dan pemerintah untuk menjalani hidup. Difabel adalah orang istimewa yang dapat berkarya melebihi orang-orang biasa. Kekurangan ini adalah kelebihan yang akan ditemukan dengan kerja keras dan melatih diri menjadi apa yang diinginkan.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin bisa berangkat ke Swiss dan mengharumkan nama Indonesia di mata dunia, tidak terlebih dulu mendapat perhatian dari pemerintah. Ia mengaku berangkat dengan uang sendiri. Bahkan, lanjut Sadikin, hingga kini pun tidak ada pemerintah yang mengapresiasi karya-karyanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak menginginkan belas kasihan dari pemerintah. Karena yang sejatinya benar adalah, kita dapat memberikan apa kepada negara ini, bukan negara dapat memberikan apa kepada kita. Namun yang saya sayangkan, pemerintah sepertinya tidak peduli memperhatikan para seniman dan menghargai karya seni dari para seniman negeri sendiri. Seharusnya para seniman ini diberikan wadah, diperhatikan, kan juga kalau manajemennya bagus bisa menjadi pemasukan untuk negara,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin mengirim pesan kepada seluruh seniman di Tanah Air untuk terus berkaraya, tanpa peduli akan bernilai apa sebuah karya tersebut. \u201cYang terpenting kita dapat mengaktulisasikan diri dan terus melukis dengan niat mengharumkan nama negeri. Teruslah berkarya, karena sejatinya karya adalah yang dibuat dengan kesungguhan dan keikhlasan hati,\u201d pungkas pelukis beranak dua tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Shadikin Pard, Pelukis Tanpa Lengan yang Mengharumkan Bangsa dengan Kedua Kakinya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"shadikin-pard-pelukis-tanpa-lengan-yang-mengharumkan-bangsa-dengan-kedua-kakinya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-16 11:09:38","post_modified_gmt":"2019-04-16 04:09:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5637","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5621,"post_author":"877","post_date":"2019-04-10 10:37:08","post_date_gmt":"2019-04-10 03:37:08","post_content":"\n

Bahasan mengenai hukum menyulut kretek pernah dipertanyakan dalam forum bahtsul masail<\/em> (musyawarah) para Kiai\/Ulama\u2019 Kudus. Pertanyaan (saail<\/em>) yang mengajukan atas nama masyarakat Baletengahan, yaitu dukuh yang masuk wilayah Desa Langgardalem Kecamatan Kota. Tepatnya sekitar + 800an m, arah utara Masjid Menara Kudus (al-Aqsha). Kultur budaya masyarakat Baletengahan adalah santri, terdapat banyak Pesantren dan beberapa madrasah, salah satunya lembaga pendidikan formal TBS (Tasywiqut Thullab Salafiyyah), yaitu lembaga pendidikan salaf yang dahulu salah satu tempat  KH. Arwani Amin al-Hafiz mengajar dan yayasan pendidikan Nawa Kartika, yang didirikan oleh tokoh NU setempat. <\/p>\n\n\n\n

Lain halnya pesantren dan lembaga pendidikan, di sekitar Baletengahan Langgardalem, konon dahulu banyak usaha rumahan kretek. Petilasan yang masih dapat dijumpai di Langgardalem adalah \u201cgudang tembakau dan PR. Buah Cengkeh\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Disini terlihat para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus mempunyai tradisi kritis menyikapi fenomena disekelilingnya. Sehingga wajar pada tahun 1990an muncul bahasan tentang kretek di Bahtsul Masail<\/em> para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, jauh mendahului keputusan MUI dan Muhammadiyyah hasil Padang Panjang, dilaksanakan tahun 2009-2010.<\/p>\n\n\n\n

Tradisi Bahtsul Masail biasa disebut \u201cMunadzoroh<\/em>\u201d sudah lama dilakukan para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, dengan bertempat di Masjid-masjid di sekitar Kudus, bergantian dan memutar. Peserta munadzoroh<\/em> adalah para Kiai\/Ulama\u2019 se-Kabupaten Kudus dari berbagai penjuru desa, dan juga masyarakat umum, karena sifatnya terbuka (siapa saja boleh ikut tanpa terkecuali). Pelaksanaannya dari dulu hingga sekarang dijatuhkan pada hari Ahad (minggu). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat pembahasan mengenai kretek, bertempat di Masji al-Aqsho Menara Kudus yang dipimpin oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), redaksi pertanyaaannya adalah:<\/p>\n\n\n\n

\u201ckados pundi hukumipun ngkretek (bagaimana hukum menghisap kretek)?\u201d<\/em>--pertanyaan dari<\/em> Baletengahan--<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sebelum memulai pembahasan biasanya KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menanyakan tentang apa yang akan dibahas. Diceritakan oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi, situasi dan kondisi saat itu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), bertanya di forum, \u00a0\u201copo iki takonane?\u201d (pertanyaannya apa), di jawab yang hadir saat itu, \u201c anu Mbah bab kretek\u201d (itu bab menghisap kretek), lalu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menyambung jawaban hadirin, \u201coooo, bab kretek, kretekku gowo rene dikik\u201d (ooo, bab menghisap kretek, kretekku bawa kemari dulu), kemudian KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) mengambil satu batang kretek dari bungkusnya disulut dan dihisap. Selesai menyulut kretek, kembali KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) berbicara, \u201cwes kono dibahas\u201d (sudah sana dibahas). Setelah diperintahkan untuk dibahas, suasana hening sejenak. \u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mungkin di benak para hadirin terlintas pikiran \u201capa yang dibahas sudah dijawab secara tersirat oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) dengan menghisap kretek\u201d. Pada akhirnya, pembahasan tetap dilaksanakan. Diceritakan KH. Sya\u2019roni juga, situasi saat itu tidak ada Kiai\/Ulama\u2019 yang hadir menghukumi \u201charam\u201d, pada akhirnya diputuskan KH. Turaikhan, dengan hukum \u201c boleh\u201d, disela-sela KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) memberikan penjelasan, ada salah satu hadirin mengacungkan jarinya, beliau adalah KH. Hambali (Al Maghfurlah), sambil berkata; \u201ckulo Kiai, menawi boten udud kulo mboten saget mucal\u201d (saya Kiai, kalau tidak sambil menghisap kretek, saya tidak dapat mengajar), disertai argumen dan penjelasanannya. Kemudian KH. Turaikhan, memberikan jawaban dan tanggapan kepada KH. Hambali, \u201cnek ngono, kanggo kuwi hukumi wajib\u201d (kalau begitu, untuk kamu hukumnya wajib mengkonsumsi kretek).  <\/p>\n\n\n\n

Dilihat dari putusan Bahtsul Masail di atas, pada awalnya menghisap kretek dihukumi \u201cboleh\u201d, namun dengan kondisi tertentu menjadi \u201cWajib\u201d. Cerita penetapan hukum menghisap kretek dalam forum Bahtsul Masail di atas, telah menyebar di kalangan masyarakat Kudus, dan menjadi konsumsi publik, serta bersifat mengikat sampai sekarang. Sehingga banyak Kiai\/Ulama\u2019 Kudus tidak mempersoalkan lagi, apalagi membahas kembali. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cerita situasi dan kondisi Bahtsul Masail, diapresiasi dan diinterpretasikan Kiai\/Ulama\u2019Kudus lebih kontekstual, salah satunya KH. Fatkhur Rahman, beliau bercerita;  saat KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) populer dengan sebutan Mbah Tur memimpin munadzoroh<\/em> ada pertanyaan: bagaimana hukumnya kretek? Mbah Tur malah mengambil kretek, menyulut dan menghisapnya, dengan begitu diasumsikan hukumnya \u201chalal\u201d (jadi  setelah itu sudah tidak perlu dibahas lagi soal kretek). KH. Fatkhur Rahman juga menceritakan ada satu alasan kuat, mengapa halal, karena para Kiai itu tidak mau barang subhat<\/em> (tidak jelas posisinya), apalagi haram. Ketika para Kiai\/Ulama\u2019 besar menghisap kretek, otomatis tidak haram. Tuhan menciptakan sesuatu untuk dinikmati itu ada dua, halal atau haram. <\/p>\n\n\n\n

Dasar hukum menghisap kretek adalah mubah, sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang menjadi wajib, juga menjadi haram. Dasar utamanya adalah  \u201cla dhororo wala dhiroro\u201d. <\/em>Hukumnya seperti  mengkonsumsi gula, ketika kena penyakit gula, maka haram atau tidak boleh mengkonsumsi gula. Begitu pula ketika punya darah tinggi, maka tidak boleh makan daging, dan seterusnya. Dimana \u201calhukmu yadurru ma\u2019a illatihi\u201d<\/em>(hukum itu bisa beralih tergantung alasannya). Membeli kretek dihukumi tidak boleh (haram), jika uang yang dipakai semestinya untuk belanja kebutuhan pokok, membayar sekolah dan lain sebagainya. Menghisap kretek menjadi wajib, ketika tidak menghisap sulit berpikir, lemas, tidak bisa kerja dan lain sebagainya.
<\/p>\n","post_title":"Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fenomena-hukum-rokok-bagi-ulama-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-10 10:37:16","post_modified_gmt":"2019-04-10 03:37:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5621","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

Paling Populer

\n

Baca: Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini<\/a><\/p>\n\n\n\n

Berpuasa bukan sekedar menahan haus dan lapar, tapi juga dapat meningkatkan kualitas rohani dan jasmani bagi orang-orang yang berpuasa. Ini sangat jelas. Sudah sangat banyak riset-riset ilmiah yang menunjukan bahwa puasa memiliki segudang manfaat bagi manusia. Atas dasar itulah para perokok patuh terhadap seruan menunaikan ibadah puasa. Menahan diri untuk tidak merokok semantara waktu selama hampir 13 jam lamanya.
<\/p>\n\n\n\n

Maka masihkah relevan peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia? Daripada memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia, lebih baik kita semua menunaikan ibadah puasa dengan khidmat yang jelas-jelas mendapatkan pahala berlipat ganda.
<\/p>\n","post_title":"Menolak Peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia dengan Berpuasa di Bulan Ramadhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menolak-peringatan-hari-tanpa-tembakau-sedunia-dengan-berpuasa-di-bulan-ramadhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-11 12:30:30","post_modified_gmt":"2019-05-11 05:30:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5710","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5679,"post_author":"878","post_date":"2019-05-03 11:19:10","post_date_gmt":"2019-05-03 04:19:10","post_content":"\n

Pada mulanya masyarakat pribumi yang mendiami benua Amerika mulai dari wilayah paling utara hingga ke selatan, dengan bermacam suku-suku yang hidup secara komunal\u2014yang kemudian disamaratakan penyebutannya oleh penjelajah Eropa dengan sebutan Suku Indian\u2014mengonsumsi tembakau yang dikeringkan sebagai sarana pelepas lelah, dan untuk mengobati beberapa jenis penyakit yang ada ketika itu. Mereka mengisap tembakau yang dikeringkan menggunakan sebuah pipa yang lazim disebut \u2018tubak<\/em>\u2019, selanjutnya bangsa Eropa menggunakan penyebutan \u2018tubak<\/em>\u2019 untuk menamakan daun kering tersebut, lahirlah istilah \u2018tobacco<\/em>\u2019 dalam bahasa Inggirs yang diserap menjadi \u2018tembakau\u2019 dalam bahasa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Melalui Colombus dan seluruh awak kapalnya yang mendatangi benua Amerika, kebiasaan mengisap tembakau ini kemudian diperkenalkan ke Eropa dan perlahan menjadi kebiasaan yang umum di sana. Konsumsi tembakau di Eropa terutama dimanfaatkan sebagai penghilang rasa dingin ketika musim dingin tiba di daratan Eropa. Bangsa Eropa kemudian membawa tembakau ke negeri jajahan mereka dan membudidayakannya di sana hingga pada akhirnya tembakau menjadi konsumsi yang mendunia, termasuk juga di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ariel Tatum dan Diskriminasi Perempuan Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia sendiri, tembakau pada mulanya digunakan sebagai bahan campuran dalam mengonsumsi sirih yang lazim disebut nyirih<\/em>. Karena dianggap jorok, penjajah Belanda melarang aktivitas nyirih dan mengenalkan konsumsi tembakau dengan cara dibakar dan diisap kepada masyarakat pribumi. Kebiasaan mengisap tembakau di Indonesia semakin populer usai Haji Djamhari menemukan ramuan tembakau kering yang dicampur cengkeh kering kemudian dibakar dan diisap sebagai obat asma yang ia derita. Campuran tembakau kering dan bunga cengkeh kering yang dibakar menimbulkan suara berkeretek hingga pada akhirnya produk rokok ini dinamakan rokok kretek dan menguasai pasar dalam negeri hingga saat ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari catatan singkat di atas, konsumsi tembakau kering yang diisap kemudian tembakau kering yang dicampur bunga cengkeh kering pada mulanya sebagai barang konsumsi untuk pengobatan dan relaksasi. Hingga pada akhirnya, persaingan bisnis menggiring kampanye-kampanye yang menyuarakan perihal keburukan konsumsi tembakau. Dalih kesehatan dijadikan alasan utama untuk menghancurkan perekonomian tembakau guna meloloskan bisnis farmasi yang dijalankan korporasi besar berskala internasional.<\/p>\n\n\n\n

Periode 2000 hingga saat ini, kampanye miring mengenai rokok dan rokok kretek kian menguat. Tak hanya korporasi besar, badan-badan kesehatan dunia juga ikut ambil peran dalam upaya menghancurkan produk rokok terutama rokok kretek yang menjadi ciri khas dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Berita terbaru dalam sepekan terakhir, di Jepang, salah satu universitas negeri berencana memecat seluruh staf dan dosen mereka yang menjadi perokok aktif. Selain itu, beberapa perusahaan di Jepang juga akan mencoret langsung para pelamar kerja yang diketahui sebagai perokok aktif. Ini tentu saja menjadi kemunduran yang telak bagi negara Jepang. Padahal sebelumnya Jepang dikenal menjadi negara yang masih cukup ramah terhadap para perokok.<\/p>\n\n\n\n

Alasan Jepang memberlakukan kebijakan tersebut sebagai upaya menyambut perhelatan olimpiade 2020 yang akan diselenggarakan di Tokyo. Lagi-lagi, dalih kesehatan yang menjadi tameng kebijakan ini. Jika ditelaah secara saksama, tentu saja kebijakan ini sama sekali tidak ada relevansinya. Terkesan pemaksaan dan sekadar pencitraan semata.<\/p>\n\n\n\n

Lagi pula, tak ada relevansinya antara kecerdasan (dalam hal ini dunia kampus) dengan kebiasaan merokok. Juga tak ada relevansi antara kinerja (dalam hal ini pelamar kerja) dengan kebiasaan merokok. Lagi-lagi, ini semata sekadar cocokologi saja.<\/p>\n\n\n\n

Bodoh ya bodoh saja, malas ya malas saja, juga sebaliknya, tak ada kaitannya dengan kebiasaan merokok. Kita bisa menjejerkan ratusan bahkan ribuan nama-nama orang yang memiliki kebiasaan merokok, di sana akan ada orang-orang yang sangai pandai hingga orang-orang idiot sekalipun yang memiliki kebiasaan merokok. Kita juga bisa menjejerkan nama-nama ratusan hingga ribuan orang yang sama sekali tidak merokok, dan di sana akan ada orang yang pandai sekali juga akan ada orang goblok segoblok-gobloknya yang sama sekali tidak merokok. Lalu, apa alasan memecat staf dan dosen di kampus yang memiliki kebiasaan merokok?<\/p>\n\n\n\n

Hal yang sama juga bisa kita lakukan dengan jejeran nama-nama orang dengan kinerja dan etos kerja. Yang rajin, juga yang malas, ada dalam kelompok mereka yang merokok juga kelompok mereka yang tidak merokok. Maka, saya kira, apa yang terjadi di Jepang dan diberitakan dalam sepekan belakangan, tentu saja mengganggu akal sehat siapa saja yang masih bisa berpikir dengan jernih.
<\/p>\n","post_title":"Diskriminasi Terhadap Para Perokok di Jepang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"diskriminasi-terhadap-para-perokok-di-jepang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-03 11:19:17","post_modified_gmt":"2019-05-03 04:19:17","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5679","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5653,"post_author":"883","post_date":"2019-04-23 12:23:36","post_date_gmt":"2019-04-23 05:23:36","post_content":"\n

Rokok selalu dikambinghitamkan sebagai penyebab dari tingginya angka kematian umat manusia. Angka dan data jadul yang selalu diulang-ulang mengenai rokok penyebab kematian, seakan membius kita bahwa rokok-lah musuh bersama. Sementara rokok dijadikan musuh bersama, kita justru abai terhadap musuh riil yang sedang mengintai kehidupan kita.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah penelitian menyatakan bahwa pola makan yang tidak sehat lebih banyak meningkatkan resiko kematian dini daripada faktor risiko lainnya, termasuk merokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cerita Rakyat Tentang Kretek dan Tembakau di Tiga Kota (Kudus, Temanggung, Madura)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ini artinya agen malaikat pencabut nyawa manusia ada di pola makan kita. Apakah sudah sehat atau tidak sehat? satu hal yang seringkali diabaikan.
<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan Studi Global Burden of Disease yang mengamati konsumsi makanan di 195 negara, antara tahun 1990 dan 2017, fokus pada 15 jenis makanan atau nutrisi mengamini pola makan tidak sehat adalah penyebab terbesar kematian manusia.
<\/p>\n\n\n\n

Penelitian lainnya yang bersumber dari Medical News Today, dalam sebuah makalah yang dimuat dalam The Lancet, para peneliti menyimpulkan, pola makan yang buruk menyumbang 1 dari 5, atau 11 juta, kematian orang dewasa pada tahun 2017. Sebagian besar dari kematian itu, sekitar 10 juta, berasal dari penyakit kardiovaskular.
<\/p>\n\n\n\n

Sisanya terutama dari kanker dan diabetes tipe 2. Peringkat negara-negara dari tingkat kematian terkait diet terendah ke tertinggi menempatkan Israel pertama, dengan 89 kematian per 100.000 orang, dan Uzbekistan terakhir, dengan 892 per 100.000. Amerika Serikat, dengan 171 kematian per 100.000, berada di posisi ke-43 dan Inggris di peringkat ke-23, dengan 127 kematian per 100.000. India di tempat ke-118, dan Cina di ke-140.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Penelitian termutakhir yang di sebutkan di atas merupakan penelitian yang bersifat global, lalu bagaimana dengan di Indonesia? Apakah kasus pola makan yang tidak sehat juga menjadi penyebab kematian terbesar?
<\/p>\n\n\n\n

Dalam sebuah artikel yang ditulis oleh Triyani Kresnawan, DCN,Mkes, Instalasi Gizi RSCM dan diterbitkan oleh Departemen Kesehatan Gizi Kementerian Kesehatan menyebutkan, pola makan yang tidak seimbang yang menyebabkan resiko munculnya penyakit kanker antara lain kebiasaan makanan cepat saji (fast food).
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan menjaga keseimbangan dalam pola makan ini juga disampaikan oleh Spesialis Patologi Anatomi dari Rumah Sakit Kanker Dharmais, dr Evalina Suzana. Ia mengatakan pola makan yang sehat merupakan bagian bentuk pencegahan dari penyakit kanker. Di luar dari olahraga yang teratur, minum air, dan tidur yang cukup.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Eva, sebuah pola bisa dibilang sehat jika semua yang masuk ke dalam tubuh seimbang. Tidak boleh berlebihan bukan berarti tidak dimakan sama sekali. Harus terdiri dari 50 persen protein, 30 persen karbohidrat, dan 20 persen lemak dan serat. Itu harus dipenuhi di luar mineral-mineral yang ada.
<\/p>\n\n\n\n

Nah loh, berdasarkan hasil-hasil penelitian yang menyatakan bahwa pola makan tidak sehat merupakan penyebab resiko kematian terbesar, lalu mengapa hanya rokok yang terus-menerus dituduh dalam kampanye kelompok-kelompok antirokok yang mengatasnamakan kesehatan?
<\/p>\n\n\n\n

Untuk memahami hal ini tentunya anda harus mengetahui bahwa terdapat perang bisnis nikotin antara industri farmasi dan industri rokok, atau yang sering kami sebut sebagai \u201cNicotin War\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Maka Anda tak usah heran jika rokok diframing bertentangan dengan kesehatan, karena semua semata hanyalah akal-akalan pihak industri farmasi untuk memenangi pertarungan bisnis nikotin tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Pola Makan Tidak Sehat Membunuhmu","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pola-makan-tidak-sehat-membunuhmu","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-23 12:23:48","post_modified_gmt":"2019-04-23 05:23:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5653","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5637,"post_author":"855","post_date":"2019-04-16 11:07:27","post_date_gmt":"2019-04-16 04:07:27","post_content":"\n

Terlahir sebagai tunadaksa atau tanpa tangan, tidak membuat Shadikin Pard pesimis menjalan hidup. Lebih dari itu, ia berhasil membuktikan bahwa kekurangan bukanlah aral melintang yang mengganjal langkah menuju kesuksesan.<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Hujan sudah reda ketika kaki saya memasuki gerbang Taman Balekambang, Surakarta. Di dalam, di atas tanah yang masih basah, ratusan pelukis dari penjuru negeri sedang sibuk mengaktualisasikan kegelisahan hatinya ke sebuah kanvas. Mereka sedang mengikuti Indonesia Painting Contest 2019 yang diselenggarakan oleh NU Gallery.
<\/p>\n\n\n\n

Saya terus melangkah menyusuri tanah basah yang di samping kanan dan kirinya para pelukis sedang khidmat menggoreskan kuas. Hingga kaki saya terhenti di hadapan pelukis yang berkonsentrasi melukis menggunakan kedua kakinya.
<\/p>\n\n\n\n

Sebatang kuas dijepitkan di antara jemari kaki. Sesekali ia menyelupkan kuas itu ke dalam cat dan kemudian menggoreskannya ke dalam kanvas hingga membentuk sebuah lukisan realis Reog Ponorogo yang indah. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di sampingnya, seorang pemuda yang ternyata anaknya dengan sigap menjalankan instruksi ayahnya, mulai dari mengganti ukuran kuas yang terjepit di antara jemarinya, membuka botol cat dan lain sebagainya. Sesekali anaknya menyalakan rokok dan menyodorkan ke hadapan mulut ayahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Ia melukis Reog Ponorogo bukan tanpa alasan. Ia ingin memberikan kritik kepada seluruh masyarakat dan Pemerintah, bahwa mencintai kekayaan budaya bangsa sendiri adalah kewajiban yang harus selalu digelorakan. Jangan sampai, ketika kebudayaan tersebut direbut negara lain, bangsa ini baru panik dan serius mengakui serta membanggakan kekayaan kebudayaan sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ialah Shadikin Pard, seorang pelukis masyhur yang terlahir tunadaksa atau tanpa kedua tangan. Kami berbincang di bawah pohon beringin rindang. Di antara para pelukis lainnya yang sedang beristirahat menunggu waktu pengumuman pemenang dibacakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pria kelahiran 29 Oktober 1996 ini mulai melukis sejak masih di taman kanak-kanak. Saat itu, melukis hanya sebagai hobi semata. Sadikin juga pernah les privat melukis di rumahnya. Hingga mengenyam pendidikan sekolah menengah atas di SMA Santa Maria Kota Malang, Sadikin masih menempatkan melukis sebagai hobi.
<\/p>\n\n\n\n

Di tengah keterbatasannya, Sadikin lalu melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kala itu, Sadikin mengambil jurusan psikologi pascagagal mengambil jurusan arsitektur yang ia dambakan dan cita-citakan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, kekurangan yang diberikan Tuhan adalah sebuah kelebihan yang tidak banyak dimiliki oleh orang lain. Kegigihannya dalam belajar melukis menghantarkannya ke Associaton of Mouth and Foot Painting Artist (AMFPA). Sebuah organisasi yang bermarkas di Swiss dan menghimpun karya pelukis yang melukis menggunakan kaki dan mulut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSetelah masuk AMFPA, saya menjadikan melukis sebagai profesi. Tahun 1989 saya menerima 300 swiss franc, setara Rp 300 ribu waktu itu. Kini, saya menerima sekitar 40 jt setiap bulan,\u201d ungkap Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin terus melukis. Kemampuannya terus berkembang, bahkan melebihi tuntutan dari organisasi yang ia ikuti. Nama Sadikin juga mulai dikenal, bukan sebab keterbatasannya, melainkan sebab karyanya yang memang bernilai tinggi.
<\/p>\n\n\n\n

Setiap kali ada pameran lukisan dan kontes-kontes melukis, Sadikin tidak pernah alfa untuk mengikutinya. Karyanya menjadi sorotan publik dan banyak laku dengan harga yang tidak murah. Bahkan menurutnya, ada salah satu lukisannya yang laku hingga Rp 250 juta.<\/p>\n\n\n\n

Menolak Pasrah dan Bergantung kepada Pemerintah karena Disabilitas<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Sadikin tidak mau dikasihani orang lain. Meski ia tunadaksa, ia adalah manusia yang sama, yang memilki kesempatan besar untuk menjalani rutinitas sebagaimana manusia lainnya. \u201cKuncinya adalah terus mencoba, mencoba dan mencoba. Saya tidak apa-apa dicemooh lukisan saya jelek. Bagi saya cemoohan seperti itu adalah cambuk untuk terus berlatih,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Sadikin, masyarakat harus adil memerlakukan para difabel. Difabel harus diperlakukan sebagaimana orang biasa. Semakin banyak orang yang mengasihani difabel, maka tidak malah membuat difabel itu kuat, sebaliknya berdampak melemahkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cDifabel harus diperlakukan seperti manusia biasa, bahkan ia harus diberi tantangan dan ditempa untuk menemukan kelebihan dalam dirinya,\u201d kata Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, para difabel harus mulai mengubah sudut pandang. Bahwa segala kekurangan tidak kemudian menjadikan para difabel pasrah menerima nasib dan mengharapkan santunan dari orang lain dan pemerintah untuk menjalani hidup. Difabel adalah orang istimewa yang dapat berkarya melebihi orang-orang biasa. Kekurangan ini adalah kelebihan yang akan ditemukan dengan kerja keras dan melatih diri menjadi apa yang diinginkan.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin bisa berangkat ke Swiss dan mengharumkan nama Indonesia di mata dunia, tidak terlebih dulu mendapat perhatian dari pemerintah. Ia mengaku berangkat dengan uang sendiri. Bahkan, lanjut Sadikin, hingga kini pun tidak ada pemerintah yang mengapresiasi karya-karyanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak menginginkan belas kasihan dari pemerintah. Karena yang sejatinya benar adalah, kita dapat memberikan apa kepada negara ini, bukan negara dapat memberikan apa kepada kita. Namun yang saya sayangkan, pemerintah sepertinya tidak peduli memperhatikan para seniman dan menghargai karya seni dari para seniman negeri sendiri. Seharusnya para seniman ini diberikan wadah, diperhatikan, kan juga kalau manajemennya bagus bisa menjadi pemasukan untuk negara,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin mengirim pesan kepada seluruh seniman di Tanah Air untuk terus berkaraya, tanpa peduli akan bernilai apa sebuah karya tersebut. \u201cYang terpenting kita dapat mengaktulisasikan diri dan terus melukis dengan niat mengharumkan nama negeri. Teruslah berkarya, karena sejatinya karya adalah yang dibuat dengan kesungguhan dan keikhlasan hati,\u201d pungkas pelukis beranak dua tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Shadikin Pard, Pelukis Tanpa Lengan yang Mengharumkan Bangsa dengan Kedua Kakinya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"shadikin-pard-pelukis-tanpa-lengan-yang-mengharumkan-bangsa-dengan-kedua-kakinya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-16 11:09:38","post_modified_gmt":"2019-04-16 04:09:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5637","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5621,"post_author":"877","post_date":"2019-04-10 10:37:08","post_date_gmt":"2019-04-10 03:37:08","post_content":"\n

Bahasan mengenai hukum menyulut kretek pernah dipertanyakan dalam forum bahtsul masail<\/em> (musyawarah) para Kiai\/Ulama\u2019 Kudus. Pertanyaan (saail<\/em>) yang mengajukan atas nama masyarakat Baletengahan, yaitu dukuh yang masuk wilayah Desa Langgardalem Kecamatan Kota. Tepatnya sekitar + 800an m, arah utara Masjid Menara Kudus (al-Aqsha). Kultur budaya masyarakat Baletengahan adalah santri, terdapat banyak Pesantren dan beberapa madrasah, salah satunya lembaga pendidikan formal TBS (Tasywiqut Thullab Salafiyyah), yaitu lembaga pendidikan salaf yang dahulu salah satu tempat  KH. Arwani Amin al-Hafiz mengajar dan yayasan pendidikan Nawa Kartika, yang didirikan oleh tokoh NU setempat. <\/p>\n\n\n\n

Lain halnya pesantren dan lembaga pendidikan, di sekitar Baletengahan Langgardalem, konon dahulu banyak usaha rumahan kretek. Petilasan yang masih dapat dijumpai di Langgardalem adalah \u201cgudang tembakau dan PR. Buah Cengkeh\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Disini terlihat para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus mempunyai tradisi kritis menyikapi fenomena disekelilingnya. Sehingga wajar pada tahun 1990an muncul bahasan tentang kretek di Bahtsul Masail<\/em> para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, jauh mendahului keputusan MUI dan Muhammadiyyah hasil Padang Panjang, dilaksanakan tahun 2009-2010.<\/p>\n\n\n\n

Tradisi Bahtsul Masail biasa disebut \u201cMunadzoroh<\/em>\u201d sudah lama dilakukan para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, dengan bertempat di Masjid-masjid di sekitar Kudus, bergantian dan memutar. Peserta munadzoroh<\/em> adalah para Kiai\/Ulama\u2019 se-Kabupaten Kudus dari berbagai penjuru desa, dan juga masyarakat umum, karena sifatnya terbuka (siapa saja boleh ikut tanpa terkecuali). Pelaksanaannya dari dulu hingga sekarang dijatuhkan pada hari Ahad (minggu). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat pembahasan mengenai kretek, bertempat di Masji al-Aqsho Menara Kudus yang dipimpin oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), redaksi pertanyaaannya adalah:<\/p>\n\n\n\n

\u201ckados pundi hukumipun ngkretek (bagaimana hukum menghisap kretek)?\u201d<\/em>--pertanyaan dari<\/em> Baletengahan--<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sebelum memulai pembahasan biasanya KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menanyakan tentang apa yang akan dibahas. Diceritakan oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi, situasi dan kondisi saat itu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), bertanya di forum, \u00a0\u201copo iki takonane?\u201d (pertanyaannya apa), di jawab yang hadir saat itu, \u201c anu Mbah bab kretek\u201d (itu bab menghisap kretek), lalu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menyambung jawaban hadirin, \u201coooo, bab kretek, kretekku gowo rene dikik\u201d (ooo, bab menghisap kretek, kretekku bawa kemari dulu), kemudian KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) mengambil satu batang kretek dari bungkusnya disulut dan dihisap. Selesai menyulut kretek, kembali KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) berbicara, \u201cwes kono dibahas\u201d (sudah sana dibahas). Setelah diperintahkan untuk dibahas, suasana hening sejenak. \u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mungkin di benak para hadirin terlintas pikiran \u201capa yang dibahas sudah dijawab secara tersirat oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) dengan menghisap kretek\u201d. Pada akhirnya, pembahasan tetap dilaksanakan. Diceritakan KH. Sya\u2019roni juga, situasi saat itu tidak ada Kiai\/Ulama\u2019 yang hadir menghukumi \u201charam\u201d, pada akhirnya diputuskan KH. Turaikhan, dengan hukum \u201c boleh\u201d, disela-sela KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) memberikan penjelasan, ada salah satu hadirin mengacungkan jarinya, beliau adalah KH. Hambali (Al Maghfurlah), sambil berkata; \u201ckulo Kiai, menawi boten udud kulo mboten saget mucal\u201d (saya Kiai, kalau tidak sambil menghisap kretek, saya tidak dapat mengajar), disertai argumen dan penjelasanannya. Kemudian KH. Turaikhan, memberikan jawaban dan tanggapan kepada KH. Hambali, \u201cnek ngono, kanggo kuwi hukumi wajib\u201d (kalau begitu, untuk kamu hukumnya wajib mengkonsumsi kretek).  <\/p>\n\n\n\n

Dilihat dari putusan Bahtsul Masail di atas, pada awalnya menghisap kretek dihukumi \u201cboleh\u201d, namun dengan kondisi tertentu menjadi \u201cWajib\u201d. Cerita penetapan hukum menghisap kretek dalam forum Bahtsul Masail di atas, telah menyebar di kalangan masyarakat Kudus, dan menjadi konsumsi publik, serta bersifat mengikat sampai sekarang. Sehingga banyak Kiai\/Ulama\u2019 Kudus tidak mempersoalkan lagi, apalagi membahas kembali. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cerita situasi dan kondisi Bahtsul Masail, diapresiasi dan diinterpretasikan Kiai\/Ulama\u2019Kudus lebih kontekstual, salah satunya KH. Fatkhur Rahman, beliau bercerita;  saat KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) populer dengan sebutan Mbah Tur memimpin munadzoroh<\/em> ada pertanyaan: bagaimana hukumnya kretek? Mbah Tur malah mengambil kretek, menyulut dan menghisapnya, dengan begitu diasumsikan hukumnya \u201chalal\u201d (jadi  setelah itu sudah tidak perlu dibahas lagi soal kretek). KH. Fatkhur Rahman juga menceritakan ada satu alasan kuat, mengapa halal, karena para Kiai itu tidak mau barang subhat<\/em> (tidak jelas posisinya), apalagi haram. Ketika para Kiai\/Ulama\u2019 besar menghisap kretek, otomatis tidak haram. Tuhan menciptakan sesuatu untuk dinikmati itu ada dua, halal atau haram. <\/p>\n\n\n\n

Dasar hukum menghisap kretek adalah mubah, sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang menjadi wajib, juga menjadi haram. Dasar utamanya adalah  \u201cla dhororo wala dhiroro\u201d. <\/em>Hukumnya seperti  mengkonsumsi gula, ketika kena penyakit gula, maka haram atau tidak boleh mengkonsumsi gula. Begitu pula ketika punya darah tinggi, maka tidak boleh makan daging, dan seterusnya. Dimana \u201calhukmu yadurru ma\u2019a illatihi\u201d<\/em>(hukum itu bisa beralih tergantung alasannya). Membeli kretek dihukumi tidak boleh (haram), jika uang yang dipakai semestinya untuk belanja kebutuhan pokok, membayar sekolah dan lain sebagainya. Menghisap kretek menjadi wajib, ketika tidak menghisap sulit berpikir, lemas, tidak bisa kerja dan lain sebagainya.
<\/p>\n","post_title":"Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fenomena-hukum-rokok-bagi-ulama-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-10 10:37:16","post_modified_gmt":"2019-04-10 03:37:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5621","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

Paling Populer

\n

Lalu tidak memiliki substansi yang dimaksud adalah peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia tidak memiliki visi yang jelas dan landasan dasar yang kuat. Selama ini visi dan landasan dasar yang diserukan ketika peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia hanyalah memberikan stigma-stigma negatif dan membangun kebencian kepada rokok dan perokok. Bandingkan dengan puasa yang memiliki substansi kuat di dalamnya. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini<\/a><\/p>\n\n\n\n

Berpuasa bukan sekedar menahan haus dan lapar, tapi juga dapat meningkatkan kualitas rohani dan jasmani bagi orang-orang yang berpuasa. Ini sangat jelas. Sudah sangat banyak riset-riset ilmiah yang menunjukan bahwa puasa memiliki segudang manfaat bagi manusia. Atas dasar itulah para perokok patuh terhadap seruan menunaikan ibadah puasa. Menahan diri untuk tidak merokok semantara waktu selama hampir 13 jam lamanya.
<\/p>\n\n\n\n

Maka masihkah relevan peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia? Daripada memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia, lebih baik kita semua menunaikan ibadah puasa dengan khidmat yang jelas-jelas mendapatkan pahala berlipat ganda.
<\/p>\n","post_title":"Menolak Peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia dengan Berpuasa di Bulan Ramadhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menolak-peringatan-hari-tanpa-tembakau-sedunia-dengan-berpuasa-di-bulan-ramadhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-11 12:30:30","post_modified_gmt":"2019-05-11 05:30:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5710","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5679,"post_author":"878","post_date":"2019-05-03 11:19:10","post_date_gmt":"2019-05-03 04:19:10","post_content":"\n

Pada mulanya masyarakat pribumi yang mendiami benua Amerika mulai dari wilayah paling utara hingga ke selatan, dengan bermacam suku-suku yang hidup secara komunal\u2014yang kemudian disamaratakan penyebutannya oleh penjelajah Eropa dengan sebutan Suku Indian\u2014mengonsumsi tembakau yang dikeringkan sebagai sarana pelepas lelah, dan untuk mengobati beberapa jenis penyakit yang ada ketika itu. Mereka mengisap tembakau yang dikeringkan menggunakan sebuah pipa yang lazim disebut \u2018tubak<\/em>\u2019, selanjutnya bangsa Eropa menggunakan penyebutan \u2018tubak<\/em>\u2019 untuk menamakan daun kering tersebut, lahirlah istilah \u2018tobacco<\/em>\u2019 dalam bahasa Inggirs yang diserap menjadi \u2018tembakau\u2019 dalam bahasa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Melalui Colombus dan seluruh awak kapalnya yang mendatangi benua Amerika, kebiasaan mengisap tembakau ini kemudian diperkenalkan ke Eropa dan perlahan menjadi kebiasaan yang umum di sana. Konsumsi tembakau di Eropa terutama dimanfaatkan sebagai penghilang rasa dingin ketika musim dingin tiba di daratan Eropa. Bangsa Eropa kemudian membawa tembakau ke negeri jajahan mereka dan membudidayakannya di sana hingga pada akhirnya tembakau menjadi konsumsi yang mendunia, termasuk juga di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ariel Tatum dan Diskriminasi Perempuan Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia sendiri, tembakau pada mulanya digunakan sebagai bahan campuran dalam mengonsumsi sirih yang lazim disebut nyirih<\/em>. Karena dianggap jorok, penjajah Belanda melarang aktivitas nyirih dan mengenalkan konsumsi tembakau dengan cara dibakar dan diisap kepada masyarakat pribumi. Kebiasaan mengisap tembakau di Indonesia semakin populer usai Haji Djamhari menemukan ramuan tembakau kering yang dicampur cengkeh kering kemudian dibakar dan diisap sebagai obat asma yang ia derita. Campuran tembakau kering dan bunga cengkeh kering yang dibakar menimbulkan suara berkeretek hingga pada akhirnya produk rokok ini dinamakan rokok kretek dan menguasai pasar dalam negeri hingga saat ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari catatan singkat di atas, konsumsi tembakau kering yang diisap kemudian tembakau kering yang dicampur bunga cengkeh kering pada mulanya sebagai barang konsumsi untuk pengobatan dan relaksasi. Hingga pada akhirnya, persaingan bisnis menggiring kampanye-kampanye yang menyuarakan perihal keburukan konsumsi tembakau. Dalih kesehatan dijadikan alasan utama untuk menghancurkan perekonomian tembakau guna meloloskan bisnis farmasi yang dijalankan korporasi besar berskala internasional.<\/p>\n\n\n\n

Periode 2000 hingga saat ini, kampanye miring mengenai rokok dan rokok kretek kian menguat. Tak hanya korporasi besar, badan-badan kesehatan dunia juga ikut ambil peran dalam upaya menghancurkan produk rokok terutama rokok kretek yang menjadi ciri khas dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Berita terbaru dalam sepekan terakhir, di Jepang, salah satu universitas negeri berencana memecat seluruh staf dan dosen mereka yang menjadi perokok aktif. Selain itu, beberapa perusahaan di Jepang juga akan mencoret langsung para pelamar kerja yang diketahui sebagai perokok aktif. Ini tentu saja menjadi kemunduran yang telak bagi negara Jepang. Padahal sebelumnya Jepang dikenal menjadi negara yang masih cukup ramah terhadap para perokok.<\/p>\n\n\n\n

Alasan Jepang memberlakukan kebijakan tersebut sebagai upaya menyambut perhelatan olimpiade 2020 yang akan diselenggarakan di Tokyo. Lagi-lagi, dalih kesehatan yang menjadi tameng kebijakan ini. Jika ditelaah secara saksama, tentu saja kebijakan ini sama sekali tidak ada relevansinya. Terkesan pemaksaan dan sekadar pencitraan semata.<\/p>\n\n\n\n

Lagi pula, tak ada relevansinya antara kecerdasan (dalam hal ini dunia kampus) dengan kebiasaan merokok. Juga tak ada relevansi antara kinerja (dalam hal ini pelamar kerja) dengan kebiasaan merokok. Lagi-lagi, ini semata sekadar cocokologi saja.<\/p>\n\n\n\n

Bodoh ya bodoh saja, malas ya malas saja, juga sebaliknya, tak ada kaitannya dengan kebiasaan merokok. Kita bisa menjejerkan ratusan bahkan ribuan nama-nama orang yang memiliki kebiasaan merokok, di sana akan ada orang-orang yang sangai pandai hingga orang-orang idiot sekalipun yang memiliki kebiasaan merokok. Kita juga bisa menjejerkan nama-nama ratusan hingga ribuan orang yang sama sekali tidak merokok, dan di sana akan ada orang yang pandai sekali juga akan ada orang goblok segoblok-gobloknya yang sama sekali tidak merokok. Lalu, apa alasan memecat staf dan dosen di kampus yang memiliki kebiasaan merokok?<\/p>\n\n\n\n

Hal yang sama juga bisa kita lakukan dengan jejeran nama-nama orang dengan kinerja dan etos kerja. Yang rajin, juga yang malas, ada dalam kelompok mereka yang merokok juga kelompok mereka yang tidak merokok. Maka, saya kira, apa yang terjadi di Jepang dan diberitakan dalam sepekan belakangan, tentu saja mengganggu akal sehat siapa saja yang masih bisa berpikir dengan jernih.
<\/p>\n","post_title":"Diskriminasi Terhadap Para Perokok di Jepang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"diskriminasi-terhadap-para-perokok-di-jepang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-03 11:19:17","post_modified_gmt":"2019-05-03 04:19:17","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5679","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5653,"post_author":"883","post_date":"2019-04-23 12:23:36","post_date_gmt":"2019-04-23 05:23:36","post_content":"\n

Rokok selalu dikambinghitamkan sebagai penyebab dari tingginya angka kematian umat manusia. Angka dan data jadul yang selalu diulang-ulang mengenai rokok penyebab kematian, seakan membius kita bahwa rokok-lah musuh bersama. Sementara rokok dijadikan musuh bersama, kita justru abai terhadap musuh riil yang sedang mengintai kehidupan kita.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah penelitian menyatakan bahwa pola makan yang tidak sehat lebih banyak meningkatkan resiko kematian dini daripada faktor risiko lainnya, termasuk merokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cerita Rakyat Tentang Kretek dan Tembakau di Tiga Kota (Kudus, Temanggung, Madura)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ini artinya agen malaikat pencabut nyawa manusia ada di pola makan kita. Apakah sudah sehat atau tidak sehat? satu hal yang seringkali diabaikan.
<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan Studi Global Burden of Disease yang mengamati konsumsi makanan di 195 negara, antara tahun 1990 dan 2017, fokus pada 15 jenis makanan atau nutrisi mengamini pola makan tidak sehat adalah penyebab terbesar kematian manusia.
<\/p>\n\n\n\n

Penelitian lainnya yang bersumber dari Medical News Today, dalam sebuah makalah yang dimuat dalam The Lancet, para peneliti menyimpulkan, pola makan yang buruk menyumbang 1 dari 5, atau 11 juta, kematian orang dewasa pada tahun 2017. Sebagian besar dari kematian itu, sekitar 10 juta, berasal dari penyakit kardiovaskular.
<\/p>\n\n\n\n

Sisanya terutama dari kanker dan diabetes tipe 2. Peringkat negara-negara dari tingkat kematian terkait diet terendah ke tertinggi menempatkan Israel pertama, dengan 89 kematian per 100.000 orang, dan Uzbekistan terakhir, dengan 892 per 100.000. Amerika Serikat, dengan 171 kematian per 100.000, berada di posisi ke-43 dan Inggris di peringkat ke-23, dengan 127 kematian per 100.000. India di tempat ke-118, dan Cina di ke-140.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Penelitian termutakhir yang di sebutkan di atas merupakan penelitian yang bersifat global, lalu bagaimana dengan di Indonesia? Apakah kasus pola makan yang tidak sehat juga menjadi penyebab kematian terbesar?
<\/p>\n\n\n\n

Dalam sebuah artikel yang ditulis oleh Triyani Kresnawan, DCN,Mkes, Instalasi Gizi RSCM dan diterbitkan oleh Departemen Kesehatan Gizi Kementerian Kesehatan menyebutkan, pola makan yang tidak seimbang yang menyebabkan resiko munculnya penyakit kanker antara lain kebiasaan makanan cepat saji (fast food).
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan menjaga keseimbangan dalam pola makan ini juga disampaikan oleh Spesialis Patologi Anatomi dari Rumah Sakit Kanker Dharmais, dr Evalina Suzana. Ia mengatakan pola makan yang sehat merupakan bagian bentuk pencegahan dari penyakit kanker. Di luar dari olahraga yang teratur, minum air, dan tidur yang cukup.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Eva, sebuah pola bisa dibilang sehat jika semua yang masuk ke dalam tubuh seimbang. Tidak boleh berlebihan bukan berarti tidak dimakan sama sekali. Harus terdiri dari 50 persen protein, 30 persen karbohidrat, dan 20 persen lemak dan serat. Itu harus dipenuhi di luar mineral-mineral yang ada.
<\/p>\n\n\n\n

Nah loh, berdasarkan hasil-hasil penelitian yang menyatakan bahwa pola makan tidak sehat merupakan penyebab resiko kematian terbesar, lalu mengapa hanya rokok yang terus-menerus dituduh dalam kampanye kelompok-kelompok antirokok yang mengatasnamakan kesehatan?
<\/p>\n\n\n\n

Untuk memahami hal ini tentunya anda harus mengetahui bahwa terdapat perang bisnis nikotin antara industri farmasi dan industri rokok, atau yang sering kami sebut sebagai \u201cNicotin War\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Maka Anda tak usah heran jika rokok diframing bertentangan dengan kesehatan, karena semua semata hanyalah akal-akalan pihak industri farmasi untuk memenangi pertarungan bisnis nikotin tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Pola Makan Tidak Sehat Membunuhmu","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pola-makan-tidak-sehat-membunuhmu","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-23 12:23:48","post_modified_gmt":"2019-04-23 05:23:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5653","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5637,"post_author":"855","post_date":"2019-04-16 11:07:27","post_date_gmt":"2019-04-16 04:07:27","post_content":"\n

Terlahir sebagai tunadaksa atau tanpa tangan, tidak membuat Shadikin Pard pesimis menjalan hidup. Lebih dari itu, ia berhasil membuktikan bahwa kekurangan bukanlah aral melintang yang mengganjal langkah menuju kesuksesan.<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Hujan sudah reda ketika kaki saya memasuki gerbang Taman Balekambang, Surakarta. Di dalam, di atas tanah yang masih basah, ratusan pelukis dari penjuru negeri sedang sibuk mengaktualisasikan kegelisahan hatinya ke sebuah kanvas. Mereka sedang mengikuti Indonesia Painting Contest 2019 yang diselenggarakan oleh NU Gallery.
<\/p>\n\n\n\n

Saya terus melangkah menyusuri tanah basah yang di samping kanan dan kirinya para pelukis sedang khidmat menggoreskan kuas. Hingga kaki saya terhenti di hadapan pelukis yang berkonsentrasi melukis menggunakan kedua kakinya.
<\/p>\n\n\n\n

Sebatang kuas dijepitkan di antara jemari kaki. Sesekali ia menyelupkan kuas itu ke dalam cat dan kemudian menggoreskannya ke dalam kanvas hingga membentuk sebuah lukisan realis Reog Ponorogo yang indah. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di sampingnya, seorang pemuda yang ternyata anaknya dengan sigap menjalankan instruksi ayahnya, mulai dari mengganti ukuran kuas yang terjepit di antara jemarinya, membuka botol cat dan lain sebagainya. Sesekali anaknya menyalakan rokok dan menyodorkan ke hadapan mulut ayahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Ia melukis Reog Ponorogo bukan tanpa alasan. Ia ingin memberikan kritik kepada seluruh masyarakat dan Pemerintah, bahwa mencintai kekayaan budaya bangsa sendiri adalah kewajiban yang harus selalu digelorakan. Jangan sampai, ketika kebudayaan tersebut direbut negara lain, bangsa ini baru panik dan serius mengakui serta membanggakan kekayaan kebudayaan sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ialah Shadikin Pard, seorang pelukis masyhur yang terlahir tunadaksa atau tanpa kedua tangan. Kami berbincang di bawah pohon beringin rindang. Di antara para pelukis lainnya yang sedang beristirahat menunggu waktu pengumuman pemenang dibacakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pria kelahiran 29 Oktober 1996 ini mulai melukis sejak masih di taman kanak-kanak. Saat itu, melukis hanya sebagai hobi semata. Sadikin juga pernah les privat melukis di rumahnya. Hingga mengenyam pendidikan sekolah menengah atas di SMA Santa Maria Kota Malang, Sadikin masih menempatkan melukis sebagai hobi.
<\/p>\n\n\n\n

Di tengah keterbatasannya, Sadikin lalu melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kala itu, Sadikin mengambil jurusan psikologi pascagagal mengambil jurusan arsitektur yang ia dambakan dan cita-citakan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, kekurangan yang diberikan Tuhan adalah sebuah kelebihan yang tidak banyak dimiliki oleh orang lain. Kegigihannya dalam belajar melukis menghantarkannya ke Associaton of Mouth and Foot Painting Artist (AMFPA). Sebuah organisasi yang bermarkas di Swiss dan menghimpun karya pelukis yang melukis menggunakan kaki dan mulut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSetelah masuk AMFPA, saya menjadikan melukis sebagai profesi. Tahun 1989 saya menerima 300 swiss franc, setara Rp 300 ribu waktu itu. Kini, saya menerima sekitar 40 jt setiap bulan,\u201d ungkap Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin terus melukis. Kemampuannya terus berkembang, bahkan melebihi tuntutan dari organisasi yang ia ikuti. Nama Sadikin juga mulai dikenal, bukan sebab keterbatasannya, melainkan sebab karyanya yang memang bernilai tinggi.
<\/p>\n\n\n\n

Setiap kali ada pameran lukisan dan kontes-kontes melukis, Sadikin tidak pernah alfa untuk mengikutinya. Karyanya menjadi sorotan publik dan banyak laku dengan harga yang tidak murah. Bahkan menurutnya, ada salah satu lukisannya yang laku hingga Rp 250 juta.<\/p>\n\n\n\n

Menolak Pasrah dan Bergantung kepada Pemerintah karena Disabilitas<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Sadikin tidak mau dikasihani orang lain. Meski ia tunadaksa, ia adalah manusia yang sama, yang memilki kesempatan besar untuk menjalani rutinitas sebagaimana manusia lainnya. \u201cKuncinya adalah terus mencoba, mencoba dan mencoba. Saya tidak apa-apa dicemooh lukisan saya jelek. Bagi saya cemoohan seperti itu adalah cambuk untuk terus berlatih,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Sadikin, masyarakat harus adil memerlakukan para difabel. Difabel harus diperlakukan sebagaimana orang biasa. Semakin banyak orang yang mengasihani difabel, maka tidak malah membuat difabel itu kuat, sebaliknya berdampak melemahkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cDifabel harus diperlakukan seperti manusia biasa, bahkan ia harus diberi tantangan dan ditempa untuk menemukan kelebihan dalam dirinya,\u201d kata Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, para difabel harus mulai mengubah sudut pandang. Bahwa segala kekurangan tidak kemudian menjadikan para difabel pasrah menerima nasib dan mengharapkan santunan dari orang lain dan pemerintah untuk menjalani hidup. Difabel adalah orang istimewa yang dapat berkarya melebihi orang-orang biasa. Kekurangan ini adalah kelebihan yang akan ditemukan dengan kerja keras dan melatih diri menjadi apa yang diinginkan.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin bisa berangkat ke Swiss dan mengharumkan nama Indonesia di mata dunia, tidak terlebih dulu mendapat perhatian dari pemerintah. Ia mengaku berangkat dengan uang sendiri. Bahkan, lanjut Sadikin, hingga kini pun tidak ada pemerintah yang mengapresiasi karya-karyanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak menginginkan belas kasihan dari pemerintah. Karena yang sejatinya benar adalah, kita dapat memberikan apa kepada negara ini, bukan negara dapat memberikan apa kepada kita. Namun yang saya sayangkan, pemerintah sepertinya tidak peduli memperhatikan para seniman dan menghargai karya seni dari para seniman negeri sendiri. Seharusnya para seniman ini diberikan wadah, diperhatikan, kan juga kalau manajemennya bagus bisa menjadi pemasukan untuk negara,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin mengirim pesan kepada seluruh seniman di Tanah Air untuk terus berkaraya, tanpa peduli akan bernilai apa sebuah karya tersebut. \u201cYang terpenting kita dapat mengaktulisasikan diri dan terus melukis dengan niat mengharumkan nama negeri. Teruslah berkarya, karena sejatinya karya adalah yang dibuat dengan kesungguhan dan keikhlasan hati,\u201d pungkas pelukis beranak dua tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Shadikin Pard, Pelukis Tanpa Lengan yang Mengharumkan Bangsa dengan Kedua Kakinya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"shadikin-pard-pelukis-tanpa-lengan-yang-mengharumkan-bangsa-dengan-kedua-kakinya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-16 11:09:38","post_modified_gmt":"2019-04-16 04:09:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5637","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5621,"post_author":"877","post_date":"2019-04-10 10:37:08","post_date_gmt":"2019-04-10 03:37:08","post_content":"\n

Bahasan mengenai hukum menyulut kretek pernah dipertanyakan dalam forum bahtsul masail<\/em> (musyawarah) para Kiai\/Ulama\u2019 Kudus. Pertanyaan (saail<\/em>) yang mengajukan atas nama masyarakat Baletengahan, yaitu dukuh yang masuk wilayah Desa Langgardalem Kecamatan Kota. Tepatnya sekitar + 800an m, arah utara Masjid Menara Kudus (al-Aqsha). Kultur budaya masyarakat Baletengahan adalah santri, terdapat banyak Pesantren dan beberapa madrasah, salah satunya lembaga pendidikan formal TBS (Tasywiqut Thullab Salafiyyah), yaitu lembaga pendidikan salaf yang dahulu salah satu tempat  KH. Arwani Amin al-Hafiz mengajar dan yayasan pendidikan Nawa Kartika, yang didirikan oleh tokoh NU setempat. <\/p>\n\n\n\n

Lain halnya pesantren dan lembaga pendidikan, di sekitar Baletengahan Langgardalem, konon dahulu banyak usaha rumahan kretek. Petilasan yang masih dapat dijumpai di Langgardalem adalah \u201cgudang tembakau dan PR. Buah Cengkeh\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Disini terlihat para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus mempunyai tradisi kritis menyikapi fenomena disekelilingnya. Sehingga wajar pada tahun 1990an muncul bahasan tentang kretek di Bahtsul Masail<\/em> para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, jauh mendahului keputusan MUI dan Muhammadiyyah hasil Padang Panjang, dilaksanakan tahun 2009-2010.<\/p>\n\n\n\n

Tradisi Bahtsul Masail biasa disebut \u201cMunadzoroh<\/em>\u201d sudah lama dilakukan para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, dengan bertempat di Masjid-masjid di sekitar Kudus, bergantian dan memutar. Peserta munadzoroh<\/em> adalah para Kiai\/Ulama\u2019 se-Kabupaten Kudus dari berbagai penjuru desa, dan juga masyarakat umum, karena sifatnya terbuka (siapa saja boleh ikut tanpa terkecuali). Pelaksanaannya dari dulu hingga sekarang dijatuhkan pada hari Ahad (minggu). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat pembahasan mengenai kretek, bertempat di Masji al-Aqsho Menara Kudus yang dipimpin oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), redaksi pertanyaaannya adalah:<\/p>\n\n\n\n

\u201ckados pundi hukumipun ngkretek (bagaimana hukum menghisap kretek)?\u201d<\/em>--pertanyaan dari<\/em> Baletengahan--<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sebelum memulai pembahasan biasanya KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menanyakan tentang apa yang akan dibahas. Diceritakan oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi, situasi dan kondisi saat itu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), bertanya di forum, \u00a0\u201copo iki takonane?\u201d (pertanyaannya apa), di jawab yang hadir saat itu, \u201c anu Mbah bab kretek\u201d (itu bab menghisap kretek), lalu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menyambung jawaban hadirin, \u201coooo, bab kretek, kretekku gowo rene dikik\u201d (ooo, bab menghisap kretek, kretekku bawa kemari dulu), kemudian KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) mengambil satu batang kretek dari bungkusnya disulut dan dihisap. Selesai menyulut kretek, kembali KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) berbicara, \u201cwes kono dibahas\u201d (sudah sana dibahas). Setelah diperintahkan untuk dibahas, suasana hening sejenak. \u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mungkin di benak para hadirin terlintas pikiran \u201capa yang dibahas sudah dijawab secara tersirat oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) dengan menghisap kretek\u201d. Pada akhirnya, pembahasan tetap dilaksanakan. Diceritakan KH. Sya\u2019roni juga, situasi saat itu tidak ada Kiai\/Ulama\u2019 yang hadir menghukumi \u201charam\u201d, pada akhirnya diputuskan KH. Turaikhan, dengan hukum \u201c boleh\u201d, disela-sela KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) memberikan penjelasan, ada salah satu hadirin mengacungkan jarinya, beliau adalah KH. Hambali (Al Maghfurlah), sambil berkata; \u201ckulo Kiai, menawi boten udud kulo mboten saget mucal\u201d (saya Kiai, kalau tidak sambil menghisap kretek, saya tidak dapat mengajar), disertai argumen dan penjelasanannya. Kemudian KH. Turaikhan, memberikan jawaban dan tanggapan kepada KH. Hambali, \u201cnek ngono, kanggo kuwi hukumi wajib\u201d (kalau begitu, untuk kamu hukumnya wajib mengkonsumsi kretek).  <\/p>\n\n\n\n

Dilihat dari putusan Bahtsul Masail di atas, pada awalnya menghisap kretek dihukumi \u201cboleh\u201d, namun dengan kondisi tertentu menjadi \u201cWajib\u201d. Cerita penetapan hukum menghisap kretek dalam forum Bahtsul Masail di atas, telah menyebar di kalangan masyarakat Kudus, dan menjadi konsumsi publik, serta bersifat mengikat sampai sekarang. Sehingga banyak Kiai\/Ulama\u2019 Kudus tidak mempersoalkan lagi, apalagi membahas kembali. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cerita situasi dan kondisi Bahtsul Masail, diapresiasi dan diinterpretasikan Kiai\/Ulama\u2019Kudus lebih kontekstual, salah satunya KH. Fatkhur Rahman, beliau bercerita;  saat KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) populer dengan sebutan Mbah Tur memimpin munadzoroh<\/em> ada pertanyaan: bagaimana hukumnya kretek? Mbah Tur malah mengambil kretek, menyulut dan menghisapnya, dengan begitu diasumsikan hukumnya \u201chalal\u201d (jadi  setelah itu sudah tidak perlu dibahas lagi soal kretek). KH. Fatkhur Rahman juga menceritakan ada satu alasan kuat, mengapa halal, karena para Kiai itu tidak mau barang subhat<\/em> (tidak jelas posisinya), apalagi haram. Ketika para Kiai\/Ulama\u2019 besar menghisap kretek, otomatis tidak haram. Tuhan menciptakan sesuatu untuk dinikmati itu ada dua, halal atau haram. <\/p>\n\n\n\n

Dasar hukum menghisap kretek adalah mubah, sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang menjadi wajib, juga menjadi haram. Dasar utamanya adalah  \u201cla dhororo wala dhiroro\u201d. <\/em>Hukumnya seperti  mengkonsumsi gula, ketika kena penyakit gula, maka haram atau tidak boleh mengkonsumsi gula. Begitu pula ketika punya darah tinggi, maka tidak boleh makan daging, dan seterusnya. Dimana \u201calhukmu yadurru ma\u2019a illatihi\u201d<\/em>(hukum itu bisa beralih tergantung alasannya). Membeli kretek dihukumi tidak boleh (haram), jika uang yang dipakai semestinya untuk belanja kebutuhan pokok, membayar sekolah dan lain sebagainya. Menghisap kretek menjadi wajib, ketika tidak menghisap sulit berpikir, lemas, tidak bisa kerja dan lain sebagainya.
<\/p>\n","post_title":"Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fenomena-hukum-rokok-bagi-ulama-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-10 10:37:16","post_modified_gmt":"2019-04-10 03:37:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5621","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

Paling Populer

\n

Gagal dalam artian goals atau tujuan yang dicapai dari peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia tidak menuai hasil. Perokok tidak patuh dan acuh tak acuh terhadap hari peringatan tersebut, justru lebih memilih menjalankan puasa dengan khidmat. Prinsip yang dibangun oleh perokok adalah menikmati rokok ada waktunya, soal berhenti adalah soal pilihan.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu tidak memiliki substansi yang dimaksud adalah peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia tidak memiliki visi yang jelas dan landasan dasar yang kuat. Selama ini visi dan landasan dasar yang diserukan ketika peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia hanyalah memberikan stigma-stigma negatif dan membangun kebencian kepada rokok dan perokok. Bandingkan dengan puasa yang memiliki substansi kuat di dalamnya. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini<\/a><\/p>\n\n\n\n

Berpuasa bukan sekedar menahan haus dan lapar, tapi juga dapat meningkatkan kualitas rohani dan jasmani bagi orang-orang yang berpuasa. Ini sangat jelas. Sudah sangat banyak riset-riset ilmiah yang menunjukan bahwa puasa memiliki segudang manfaat bagi manusia. Atas dasar itulah para perokok patuh terhadap seruan menunaikan ibadah puasa. Menahan diri untuk tidak merokok semantara waktu selama hampir 13 jam lamanya.
<\/p>\n\n\n\n

Maka masihkah relevan peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia? Daripada memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia, lebih baik kita semua menunaikan ibadah puasa dengan khidmat yang jelas-jelas mendapatkan pahala berlipat ganda.
<\/p>\n","post_title":"Menolak Peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia dengan Berpuasa di Bulan Ramadhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menolak-peringatan-hari-tanpa-tembakau-sedunia-dengan-berpuasa-di-bulan-ramadhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-11 12:30:30","post_modified_gmt":"2019-05-11 05:30:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5710","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5679,"post_author":"878","post_date":"2019-05-03 11:19:10","post_date_gmt":"2019-05-03 04:19:10","post_content":"\n

Pada mulanya masyarakat pribumi yang mendiami benua Amerika mulai dari wilayah paling utara hingga ke selatan, dengan bermacam suku-suku yang hidup secara komunal\u2014yang kemudian disamaratakan penyebutannya oleh penjelajah Eropa dengan sebutan Suku Indian\u2014mengonsumsi tembakau yang dikeringkan sebagai sarana pelepas lelah, dan untuk mengobati beberapa jenis penyakit yang ada ketika itu. Mereka mengisap tembakau yang dikeringkan menggunakan sebuah pipa yang lazim disebut \u2018tubak<\/em>\u2019, selanjutnya bangsa Eropa menggunakan penyebutan \u2018tubak<\/em>\u2019 untuk menamakan daun kering tersebut, lahirlah istilah \u2018tobacco<\/em>\u2019 dalam bahasa Inggirs yang diserap menjadi \u2018tembakau\u2019 dalam bahasa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Melalui Colombus dan seluruh awak kapalnya yang mendatangi benua Amerika, kebiasaan mengisap tembakau ini kemudian diperkenalkan ke Eropa dan perlahan menjadi kebiasaan yang umum di sana. Konsumsi tembakau di Eropa terutama dimanfaatkan sebagai penghilang rasa dingin ketika musim dingin tiba di daratan Eropa. Bangsa Eropa kemudian membawa tembakau ke negeri jajahan mereka dan membudidayakannya di sana hingga pada akhirnya tembakau menjadi konsumsi yang mendunia, termasuk juga di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ariel Tatum dan Diskriminasi Perempuan Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia sendiri, tembakau pada mulanya digunakan sebagai bahan campuran dalam mengonsumsi sirih yang lazim disebut nyirih<\/em>. Karena dianggap jorok, penjajah Belanda melarang aktivitas nyirih dan mengenalkan konsumsi tembakau dengan cara dibakar dan diisap kepada masyarakat pribumi. Kebiasaan mengisap tembakau di Indonesia semakin populer usai Haji Djamhari menemukan ramuan tembakau kering yang dicampur cengkeh kering kemudian dibakar dan diisap sebagai obat asma yang ia derita. Campuran tembakau kering dan bunga cengkeh kering yang dibakar menimbulkan suara berkeretek hingga pada akhirnya produk rokok ini dinamakan rokok kretek dan menguasai pasar dalam negeri hingga saat ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari catatan singkat di atas, konsumsi tembakau kering yang diisap kemudian tembakau kering yang dicampur bunga cengkeh kering pada mulanya sebagai barang konsumsi untuk pengobatan dan relaksasi. Hingga pada akhirnya, persaingan bisnis menggiring kampanye-kampanye yang menyuarakan perihal keburukan konsumsi tembakau. Dalih kesehatan dijadikan alasan utama untuk menghancurkan perekonomian tembakau guna meloloskan bisnis farmasi yang dijalankan korporasi besar berskala internasional.<\/p>\n\n\n\n

Periode 2000 hingga saat ini, kampanye miring mengenai rokok dan rokok kretek kian menguat. Tak hanya korporasi besar, badan-badan kesehatan dunia juga ikut ambil peran dalam upaya menghancurkan produk rokok terutama rokok kretek yang menjadi ciri khas dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Berita terbaru dalam sepekan terakhir, di Jepang, salah satu universitas negeri berencana memecat seluruh staf dan dosen mereka yang menjadi perokok aktif. Selain itu, beberapa perusahaan di Jepang juga akan mencoret langsung para pelamar kerja yang diketahui sebagai perokok aktif. Ini tentu saja menjadi kemunduran yang telak bagi negara Jepang. Padahal sebelumnya Jepang dikenal menjadi negara yang masih cukup ramah terhadap para perokok.<\/p>\n\n\n\n

Alasan Jepang memberlakukan kebijakan tersebut sebagai upaya menyambut perhelatan olimpiade 2020 yang akan diselenggarakan di Tokyo. Lagi-lagi, dalih kesehatan yang menjadi tameng kebijakan ini. Jika ditelaah secara saksama, tentu saja kebijakan ini sama sekali tidak ada relevansinya. Terkesan pemaksaan dan sekadar pencitraan semata.<\/p>\n\n\n\n

Lagi pula, tak ada relevansinya antara kecerdasan (dalam hal ini dunia kampus) dengan kebiasaan merokok. Juga tak ada relevansi antara kinerja (dalam hal ini pelamar kerja) dengan kebiasaan merokok. Lagi-lagi, ini semata sekadar cocokologi saja.<\/p>\n\n\n\n

Bodoh ya bodoh saja, malas ya malas saja, juga sebaliknya, tak ada kaitannya dengan kebiasaan merokok. Kita bisa menjejerkan ratusan bahkan ribuan nama-nama orang yang memiliki kebiasaan merokok, di sana akan ada orang-orang yang sangai pandai hingga orang-orang idiot sekalipun yang memiliki kebiasaan merokok. Kita juga bisa menjejerkan nama-nama ratusan hingga ribuan orang yang sama sekali tidak merokok, dan di sana akan ada orang yang pandai sekali juga akan ada orang goblok segoblok-gobloknya yang sama sekali tidak merokok. Lalu, apa alasan memecat staf dan dosen di kampus yang memiliki kebiasaan merokok?<\/p>\n\n\n\n

Hal yang sama juga bisa kita lakukan dengan jejeran nama-nama orang dengan kinerja dan etos kerja. Yang rajin, juga yang malas, ada dalam kelompok mereka yang merokok juga kelompok mereka yang tidak merokok. Maka, saya kira, apa yang terjadi di Jepang dan diberitakan dalam sepekan belakangan, tentu saja mengganggu akal sehat siapa saja yang masih bisa berpikir dengan jernih.
<\/p>\n","post_title":"Diskriminasi Terhadap Para Perokok di Jepang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"diskriminasi-terhadap-para-perokok-di-jepang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-03 11:19:17","post_modified_gmt":"2019-05-03 04:19:17","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5679","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5653,"post_author":"883","post_date":"2019-04-23 12:23:36","post_date_gmt":"2019-04-23 05:23:36","post_content":"\n

Rokok selalu dikambinghitamkan sebagai penyebab dari tingginya angka kematian umat manusia. Angka dan data jadul yang selalu diulang-ulang mengenai rokok penyebab kematian, seakan membius kita bahwa rokok-lah musuh bersama. Sementara rokok dijadikan musuh bersama, kita justru abai terhadap musuh riil yang sedang mengintai kehidupan kita.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah penelitian menyatakan bahwa pola makan yang tidak sehat lebih banyak meningkatkan resiko kematian dini daripada faktor risiko lainnya, termasuk merokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cerita Rakyat Tentang Kretek dan Tembakau di Tiga Kota (Kudus, Temanggung, Madura)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ini artinya agen malaikat pencabut nyawa manusia ada di pola makan kita. Apakah sudah sehat atau tidak sehat? satu hal yang seringkali diabaikan.
<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan Studi Global Burden of Disease yang mengamati konsumsi makanan di 195 negara, antara tahun 1990 dan 2017, fokus pada 15 jenis makanan atau nutrisi mengamini pola makan tidak sehat adalah penyebab terbesar kematian manusia.
<\/p>\n\n\n\n

Penelitian lainnya yang bersumber dari Medical News Today, dalam sebuah makalah yang dimuat dalam The Lancet, para peneliti menyimpulkan, pola makan yang buruk menyumbang 1 dari 5, atau 11 juta, kematian orang dewasa pada tahun 2017. Sebagian besar dari kematian itu, sekitar 10 juta, berasal dari penyakit kardiovaskular.
<\/p>\n\n\n\n

Sisanya terutama dari kanker dan diabetes tipe 2. Peringkat negara-negara dari tingkat kematian terkait diet terendah ke tertinggi menempatkan Israel pertama, dengan 89 kematian per 100.000 orang, dan Uzbekistan terakhir, dengan 892 per 100.000. Amerika Serikat, dengan 171 kematian per 100.000, berada di posisi ke-43 dan Inggris di peringkat ke-23, dengan 127 kematian per 100.000. India di tempat ke-118, dan Cina di ke-140.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Penelitian termutakhir yang di sebutkan di atas merupakan penelitian yang bersifat global, lalu bagaimana dengan di Indonesia? Apakah kasus pola makan yang tidak sehat juga menjadi penyebab kematian terbesar?
<\/p>\n\n\n\n

Dalam sebuah artikel yang ditulis oleh Triyani Kresnawan, DCN,Mkes, Instalasi Gizi RSCM dan diterbitkan oleh Departemen Kesehatan Gizi Kementerian Kesehatan menyebutkan, pola makan yang tidak seimbang yang menyebabkan resiko munculnya penyakit kanker antara lain kebiasaan makanan cepat saji (fast food).
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan menjaga keseimbangan dalam pola makan ini juga disampaikan oleh Spesialis Patologi Anatomi dari Rumah Sakit Kanker Dharmais, dr Evalina Suzana. Ia mengatakan pola makan yang sehat merupakan bagian bentuk pencegahan dari penyakit kanker. Di luar dari olahraga yang teratur, minum air, dan tidur yang cukup.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Eva, sebuah pola bisa dibilang sehat jika semua yang masuk ke dalam tubuh seimbang. Tidak boleh berlebihan bukan berarti tidak dimakan sama sekali. Harus terdiri dari 50 persen protein, 30 persen karbohidrat, dan 20 persen lemak dan serat. Itu harus dipenuhi di luar mineral-mineral yang ada.
<\/p>\n\n\n\n

Nah loh, berdasarkan hasil-hasil penelitian yang menyatakan bahwa pola makan tidak sehat merupakan penyebab resiko kematian terbesar, lalu mengapa hanya rokok yang terus-menerus dituduh dalam kampanye kelompok-kelompok antirokok yang mengatasnamakan kesehatan?
<\/p>\n\n\n\n

Untuk memahami hal ini tentunya anda harus mengetahui bahwa terdapat perang bisnis nikotin antara industri farmasi dan industri rokok, atau yang sering kami sebut sebagai \u201cNicotin War\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Maka Anda tak usah heran jika rokok diframing bertentangan dengan kesehatan, karena semua semata hanyalah akal-akalan pihak industri farmasi untuk memenangi pertarungan bisnis nikotin tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Pola Makan Tidak Sehat Membunuhmu","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pola-makan-tidak-sehat-membunuhmu","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-23 12:23:48","post_modified_gmt":"2019-04-23 05:23:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5653","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5637,"post_author":"855","post_date":"2019-04-16 11:07:27","post_date_gmt":"2019-04-16 04:07:27","post_content":"\n

Terlahir sebagai tunadaksa atau tanpa tangan, tidak membuat Shadikin Pard pesimis menjalan hidup. Lebih dari itu, ia berhasil membuktikan bahwa kekurangan bukanlah aral melintang yang mengganjal langkah menuju kesuksesan.<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Hujan sudah reda ketika kaki saya memasuki gerbang Taman Balekambang, Surakarta. Di dalam, di atas tanah yang masih basah, ratusan pelukis dari penjuru negeri sedang sibuk mengaktualisasikan kegelisahan hatinya ke sebuah kanvas. Mereka sedang mengikuti Indonesia Painting Contest 2019 yang diselenggarakan oleh NU Gallery.
<\/p>\n\n\n\n

Saya terus melangkah menyusuri tanah basah yang di samping kanan dan kirinya para pelukis sedang khidmat menggoreskan kuas. Hingga kaki saya terhenti di hadapan pelukis yang berkonsentrasi melukis menggunakan kedua kakinya.
<\/p>\n\n\n\n

Sebatang kuas dijepitkan di antara jemari kaki. Sesekali ia menyelupkan kuas itu ke dalam cat dan kemudian menggoreskannya ke dalam kanvas hingga membentuk sebuah lukisan realis Reog Ponorogo yang indah. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di sampingnya, seorang pemuda yang ternyata anaknya dengan sigap menjalankan instruksi ayahnya, mulai dari mengganti ukuran kuas yang terjepit di antara jemarinya, membuka botol cat dan lain sebagainya. Sesekali anaknya menyalakan rokok dan menyodorkan ke hadapan mulut ayahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Ia melukis Reog Ponorogo bukan tanpa alasan. Ia ingin memberikan kritik kepada seluruh masyarakat dan Pemerintah, bahwa mencintai kekayaan budaya bangsa sendiri adalah kewajiban yang harus selalu digelorakan. Jangan sampai, ketika kebudayaan tersebut direbut negara lain, bangsa ini baru panik dan serius mengakui serta membanggakan kekayaan kebudayaan sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ialah Shadikin Pard, seorang pelukis masyhur yang terlahir tunadaksa atau tanpa kedua tangan. Kami berbincang di bawah pohon beringin rindang. Di antara para pelukis lainnya yang sedang beristirahat menunggu waktu pengumuman pemenang dibacakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pria kelahiran 29 Oktober 1996 ini mulai melukis sejak masih di taman kanak-kanak. Saat itu, melukis hanya sebagai hobi semata. Sadikin juga pernah les privat melukis di rumahnya. Hingga mengenyam pendidikan sekolah menengah atas di SMA Santa Maria Kota Malang, Sadikin masih menempatkan melukis sebagai hobi.
<\/p>\n\n\n\n

Di tengah keterbatasannya, Sadikin lalu melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kala itu, Sadikin mengambil jurusan psikologi pascagagal mengambil jurusan arsitektur yang ia dambakan dan cita-citakan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, kekurangan yang diberikan Tuhan adalah sebuah kelebihan yang tidak banyak dimiliki oleh orang lain. Kegigihannya dalam belajar melukis menghantarkannya ke Associaton of Mouth and Foot Painting Artist (AMFPA). Sebuah organisasi yang bermarkas di Swiss dan menghimpun karya pelukis yang melukis menggunakan kaki dan mulut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSetelah masuk AMFPA, saya menjadikan melukis sebagai profesi. Tahun 1989 saya menerima 300 swiss franc, setara Rp 300 ribu waktu itu. Kini, saya menerima sekitar 40 jt setiap bulan,\u201d ungkap Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin terus melukis. Kemampuannya terus berkembang, bahkan melebihi tuntutan dari organisasi yang ia ikuti. Nama Sadikin juga mulai dikenal, bukan sebab keterbatasannya, melainkan sebab karyanya yang memang bernilai tinggi.
<\/p>\n\n\n\n

Setiap kali ada pameran lukisan dan kontes-kontes melukis, Sadikin tidak pernah alfa untuk mengikutinya. Karyanya menjadi sorotan publik dan banyak laku dengan harga yang tidak murah. Bahkan menurutnya, ada salah satu lukisannya yang laku hingga Rp 250 juta.<\/p>\n\n\n\n

Menolak Pasrah dan Bergantung kepada Pemerintah karena Disabilitas<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Sadikin tidak mau dikasihani orang lain. Meski ia tunadaksa, ia adalah manusia yang sama, yang memilki kesempatan besar untuk menjalani rutinitas sebagaimana manusia lainnya. \u201cKuncinya adalah terus mencoba, mencoba dan mencoba. Saya tidak apa-apa dicemooh lukisan saya jelek. Bagi saya cemoohan seperti itu adalah cambuk untuk terus berlatih,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Sadikin, masyarakat harus adil memerlakukan para difabel. Difabel harus diperlakukan sebagaimana orang biasa. Semakin banyak orang yang mengasihani difabel, maka tidak malah membuat difabel itu kuat, sebaliknya berdampak melemahkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cDifabel harus diperlakukan seperti manusia biasa, bahkan ia harus diberi tantangan dan ditempa untuk menemukan kelebihan dalam dirinya,\u201d kata Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, para difabel harus mulai mengubah sudut pandang. Bahwa segala kekurangan tidak kemudian menjadikan para difabel pasrah menerima nasib dan mengharapkan santunan dari orang lain dan pemerintah untuk menjalani hidup. Difabel adalah orang istimewa yang dapat berkarya melebihi orang-orang biasa. Kekurangan ini adalah kelebihan yang akan ditemukan dengan kerja keras dan melatih diri menjadi apa yang diinginkan.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin bisa berangkat ke Swiss dan mengharumkan nama Indonesia di mata dunia, tidak terlebih dulu mendapat perhatian dari pemerintah. Ia mengaku berangkat dengan uang sendiri. Bahkan, lanjut Sadikin, hingga kini pun tidak ada pemerintah yang mengapresiasi karya-karyanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak menginginkan belas kasihan dari pemerintah. Karena yang sejatinya benar adalah, kita dapat memberikan apa kepada negara ini, bukan negara dapat memberikan apa kepada kita. Namun yang saya sayangkan, pemerintah sepertinya tidak peduli memperhatikan para seniman dan menghargai karya seni dari para seniman negeri sendiri. Seharusnya para seniman ini diberikan wadah, diperhatikan, kan juga kalau manajemennya bagus bisa menjadi pemasukan untuk negara,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin mengirim pesan kepada seluruh seniman di Tanah Air untuk terus berkaraya, tanpa peduli akan bernilai apa sebuah karya tersebut. \u201cYang terpenting kita dapat mengaktulisasikan diri dan terus melukis dengan niat mengharumkan nama negeri. Teruslah berkarya, karena sejatinya karya adalah yang dibuat dengan kesungguhan dan keikhlasan hati,\u201d pungkas pelukis beranak dua tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Shadikin Pard, Pelukis Tanpa Lengan yang Mengharumkan Bangsa dengan Kedua Kakinya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"shadikin-pard-pelukis-tanpa-lengan-yang-mengharumkan-bangsa-dengan-kedua-kakinya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-16 11:09:38","post_modified_gmt":"2019-04-16 04:09:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5637","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5621,"post_author":"877","post_date":"2019-04-10 10:37:08","post_date_gmt":"2019-04-10 03:37:08","post_content":"\n

Bahasan mengenai hukum menyulut kretek pernah dipertanyakan dalam forum bahtsul masail<\/em> (musyawarah) para Kiai\/Ulama\u2019 Kudus. Pertanyaan (saail<\/em>) yang mengajukan atas nama masyarakat Baletengahan, yaitu dukuh yang masuk wilayah Desa Langgardalem Kecamatan Kota. Tepatnya sekitar + 800an m, arah utara Masjid Menara Kudus (al-Aqsha). Kultur budaya masyarakat Baletengahan adalah santri, terdapat banyak Pesantren dan beberapa madrasah, salah satunya lembaga pendidikan formal TBS (Tasywiqut Thullab Salafiyyah), yaitu lembaga pendidikan salaf yang dahulu salah satu tempat  KH. Arwani Amin al-Hafiz mengajar dan yayasan pendidikan Nawa Kartika, yang didirikan oleh tokoh NU setempat. <\/p>\n\n\n\n

Lain halnya pesantren dan lembaga pendidikan, di sekitar Baletengahan Langgardalem, konon dahulu banyak usaha rumahan kretek. Petilasan yang masih dapat dijumpai di Langgardalem adalah \u201cgudang tembakau dan PR. Buah Cengkeh\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Disini terlihat para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus mempunyai tradisi kritis menyikapi fenomena disekelilingnya. Sehingga wajar pada tahun 1990an muncul bahasan tentang kretek di Bahtsul Masail<\/em> para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, jauh mendahului keputusan MUI dan Muhammadiyyah hasil Padang Panjang, dilaksanakan tahun 2009-2010.<\/p>\n\n\n\n

Tradisi Bahtsul Masail biasa disebut \u201cMunadzoroh<\/em>\u201d sudah lama dilakukan para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, dengan bertempat di Masjid-masjid di sekitar Kudus, bergantian dan memutar. Peserta munadzoroh<\/em> adalah para Kiai\/Ulama\u2019 se-Kabupaten Kudus dari berbagai penjuru desa, dan juga masyarakat umum, karena sifatnya terbuka (siapa saja boleh ikut tanpa terkecuali). Pelaksanaannya dari dulu hingga sekarang dijatuhkan pada hari Ahad (minggu). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat pembahasan mengenai kretek, bertempat di Masji al-Aqsho Menara Kudus yang dipimpin oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), redaksi pertanyaaannya adalah:<\/p>\n\n\n\n

\u201ckados pundi hukumipun ngkretek (bagaimana hukum menghisap kretek)?\u201d<\/em>--pertanyaan dari<\/em> Baletengahan--<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sebelum memulai pembahasan biasanya KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menanyakan tentang apa yang akan dibahas. Diceritakan oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi, situasi dan kondisi saat itu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), bertanya di forum, \u00a0\u201copo iki takonane?\u201d (pertanyaannya apa), di jawab yang hadir saat itu, \u201c anu Mbah bab kretek\u201d (itu bab menghisap kretek), lalu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menyambung jawaban hadirin, \u201coooo, bab kretek, kretekku gowo rene dikik\u201d (ooo, bab menghisap kretek, kretekku bawa kemari dulu), kemudian KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) mengambil satu batang kretek dari bungkusnya disulut dan dihisap. Selesai menyulut kretek, kembali KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) berbicara, \u201cwes kono dibahas\u201d (sudah sana dibahas). Setelah diperintahkan untuk dibahas, suasana hening sejenak. \u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mungkin di benak para hadirin terlintas pikiran \u201capa yang dibahas sudah dijawab secara tersirat oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) dengan menghisap kretek\u201d. Pada akhirnya, pembahasan tetap dilaksanakan. Diceritakan KH. Sya\u2019roni juga, situasi saat itu tidak ada Kiai\/Ulama\u2019 yang hadir menghukumi \u201charam\u201d, pada akhirnya diputuskan KH. Turaikhan, dengan hukum \u201c boleh\u201d, disela-sela KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) memberikan penjelasan, ada salah satu hadirin mengacungkan jarinya, beliau adalah KH. Hambali (Al Maghfurlah), sambil berkata; \u201ckulo Kiai, menawi boten udud kulo mboten saget mucal\u201d (saya Kiai, kalau tidak sambil menghisap kretek, saya tidak dapat mengajar), disertai argumen dan penjelasanannya. Kemudian KH. Turaikhan, memberikan jawaban dan tanggapan kepada KH. Hambali, \u201cnek ngono, kanggo kuwi hukumi wajib\u201d (kalau begitu, untuk kamu hukumnya wajib mengkonsumsi kretek).  <\/p>\n\n\n\n

Dilihat dari putusan Bahtsul Masail di atas, pada awalnya menghisap kretek dihukumi \u201cboleh\u201d, namun dengan kondisi tertentu menjadi \u201cWajib\u201d. Cerita penetapan hukum menghisap kretek dalam forum Bahtsul Masail di atas, telah menyebar di kalangan masyarakat Kudus, dan menjadi konsumsi publik, serta bersifat mengikat sampai sekarang. Sehingga banyak Kiai\/Ulama\u2019 Kudus tidak mempersoalkan lagi, apalagi membahas kembali. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cerita situasi dan kondisi Bahtsul Masail, diapresiasi dan diinterpretasikan Kiai\/Ulama\u2019Kudus lebih kontekstual, salah satunya KH. Fatkhur Rahman, beliau bercerita;  saat KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) populer dengan sebutan Mbah Tur memimpin munadzoroh<\/em> ada pertanyaan: bagaimana hukumnya kretek? Mbah Tur malah mengambil kretek, menyulut dan menghisapnya, dengan begitu diasumsikan hukumnya \u201chalal\u201d (jadi  setelah itu sudah tidak perlu dibahas lagi soal kretek). KH. Fatkhur Rahman juga menceritakan ada satu alasan kuat, mengapa halal, karena para Kiai itu tidak mau barang subhat<\/em> (tidak jelas posisinya), apalagi haram. Ketika para Kiai\/Ulama\u2019 besar menghisap kretek, otomatis tidak haram. Tuhan menciptakan sesuatu untuk dinikmati itu ada dua, halal atau haram. <\/p>\n\n\n\n

Dasar hukum menghisap kretek adalah mubah, sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang menjadi wajib, juga menjadi haram. Dasar utamanya adalah  \u201cla dhororo wala dhiroro\u201d. <\/em>Hukumnya seperti  mengkonsumsi gula, ketika kena penyakit gula, maka haram atau tidak boleh mengkonsumsi gula. Begitu pula ketika punya darah tinggi, maka tidak boleh makan daging, dan seterusnya. Dimana \u201calhukmu yadurru ma\u2019a illatihi\u201d<\/em>(hukum itu bisa beralih tergantung alasannya). Membeli kretek dihukumi tidak boleh (haram), jika uang yang dipakai semestinya untuk belanja kebutuhan pokok, membayar sekolah dan lain sebagainya. Menghisap kretek menjadi wajib, ketika tidak menghisap sulit berpikir, lemas, tidak bisa kerja dan lain sebagainya.
<\/p>\n","post_title":"Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fenomena-hukum-rokok-bagi-ulama-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-10 10:37:16","post_modified_gmt":"2019-04-10 03:37:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5621","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

Paling Populer

\n

Sudah seharusnya peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia tidak diselenggarakan, sebab dengan adanya bulan ramadhan, hal ini dapat menganulir peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Dikarenakan hari peringatan tersebut sudah gaagal dan tidak memiliki substansi dalam penyelenggaraannya.
<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Gagal dalam artian goals atau tujuan yang dicapai dari peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia tidak menuai hasil. Perokok tidak patuh dan acuh tak acuh terhadap hari peringatan tersebut, justru lebih memilih menjalankan puasa dengan khidmat. Prinsip yang dibangun oleh perokok adalah menikmati rokok ada waktunya, soal berhenti adalah soal pilihan.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu tidak memiliki substansi yang dimaksud adalah peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia tidak memiliki visi yang jelas dan landasan dasar yang kuat. Selama ini visi dan landasan dasar yang diserukan ketika peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia hanyalah memberikan stigma-stigma negatif dan membangun kebencian kepada rokok dan perokok. Bandingkan dengan puasa yang memiliki substansi kuat di dalamnya. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini<\/a><\/p>\n\n\n\n

Berpuasa bukan sekedar menahan haus dan lapar, tapi juga dapat meningkatkan kualitas rohani dan jasmani bagi orang-orang yang berpuasa. Ini sangat jelas. Sudah sangat banyak riset-riset ilmiah yang menunjukan bahwa puasa memiliki segudang manfaat bagi manusia. Atas dasar itulah para perokok patuh terhadap seruan menunaikan ibadah puasa. Menahan diri untuk tidak merokok semantara waktu selama hampir 13 jam lamanya.
<\/p>\n\n\n\n

Maka masihkah relevan peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia? Daripada memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia, lebih baik kita semua menunaikan ibadah puasa dengan khidmat yang jelas-jelas mendapatkan pahala berlipat ganda.
<\/p>\n","post_title":"Menolak Peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia dengan Berpuasa di Bulan Ramadhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menolak-peringatan-hari-tanpa-tembakau-sedunia-dengan-berpuasa-di-bulan-ramadhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-11 12:30:30","post_modified_gmt":"2019-05-11 05:30:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5710","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5679,"post_author":"878","post_date":"2019-05-03 11:19:10","post_date_gmt":"2019-05-03 04:19:10","post_content":"\n

Pada mulanya masyarakat pribumi yang mendiami benua Amerika mulai dari wilayah paling utara hingga ke selatan, dengan bermacam suku-suku yang hidup secara komunal\u2014yang kemudian disamaratakan penyebutannya oleh penjelajah Eropa dengan sebutan Suku Indian\u2014mengonsumsi tembakau yang dikeringkan sebagai sarana pelepas lelah, dan untuk mengobati beberapa jenis penyakit yang ada ketika itu. Mereka mengisap tembakau yang dikeringkan menggunakan sebuah pipa yang lazim disebut \u2018tubak<\/em>\u2019, selanjutnya bangsa Eropa menggunakan penyebutan \u2018tubak<\/em>\u2019 untuk menamakan daun kering tersebut, lahirlah istilah \u2018tobacco<\/em>\u2019 dalam bahasa Inggirs yang diserap menjadi \u2018tembakau\u2019 dalam bahasa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Melalui Colombus dan seluruh awak kapalnya yang mendatangi benua Amerika, kebiasaan mengisap tembakau ini kemudian diperkenalkan ke Eropa dan perlahan menjadi kebiasaan yang umum di sana. Konsumsi tembakau di Eropa terutama dimanfaatkan sebagai penghilang rasa dingin ketika musim dingin tiba di daratan Eropa. Bangsa Eropa kemudian membawa tembakau ke negeri jajahan mereka dan membudidayakannya di sana hingga pada akhirnya tembakau menjadi konsumsi yang mendunia, termasuk juga di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ariel Tatum dan Diskriminasi Perempuan Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia sendiri, tembakau pada mulanya digunakan sebagai bahan campuran dalam mengonsumsi sirih yang lazim disebut nyirih<\/em>. Karena dianggap jorok, penjajah Belanda melarang aktivitas nyirih dan mengenalkan konsumsi tembakau dengan cara dibakar dan diisap kepada masyarakat pribumi. Kebiasaan mengisap tembakau di Indonesia semakin populer usai Haji Djamhari menemukan ramuan tembakau kering yang dicampur cengkeh kering kemudian dibakar dan diisap sebagai obat asma yang ia derita. Campuran tembakau kering dan bunga cengkeh kering yang dibakar menimbulkan suara berkeretek hingga pada akhirnya produk rokok ini dinamakan rokok kretek dan menguasai pasar dalam negeri hingga saat ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari catatan singkat di atas, konsumsi tembakau kering yang diisap kemudian tembakau kering yang dicampur bunga cengkeh kering pada mulanya sebagai barang konsumsi untuk pengobatan dan relaksasi. Hingga pada akhirnya, persaingan bisnis menggiring kampanye-kampanye yang menyuarakan perihal keburukan konsumsi tembakau. Dalih kesehatan dijadikan alasan utama untuk menghancurkan perekonomian tembakau guna meloloskan bisnis farmasi yang dijalankan korporasi besar berskala internasional.<\/p>\n\n\n\n

Periode 2000 hingga saat ini, kampanye miring mengenai rokok dan rokok kretek kian menguat. Tak hanya korporasi besar, badan-badan kesehatan dunia juga ikut ambil peran dalam upaya menghancurkan produk rokok terutama rokok kretek yang menjadi ciri khas dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Berita terbaru dalam sepekan terakhir, di Jepang, salah satu universitas negeri berencana memecat seluruh staf dan dosen mereka yang menjadi perokok aktif. Selain itu, beberapa perusahaan di Jepang juga akan mencoret langsung para pelamar kerja yang diketahui sebagai perokok aktif. Ini tentu saja menjadi kemunduran yang telak bagi negara Jepang. Padahal sebelumnya Jepang dikenal menjadi negara yang masih cukup ramah terhadap para perokok.<\/p>\n\n\n\n

Alasan Jepang memberlakukan kebijakan tersebut sebagai upaya menyambut perhelatan olimpiade 2020 yang akan diselenggarakan di Tokyo. Lagi-lagi, dalih kesehatan yang menjadi tameng kebijakan ini. Jika ditelaah secara saksama, tentu saja kebijakan ini sama sekali tidak ada relevansinya. Terkesan pemaksaan dan sekadar pencitraan semata.<\/p>\n\n\n\n

Lagi pula, tak ada relevansinya antara kecerdasan (dalam hal ini dunia kampus) dengan kebiasaan merokok. Juga tak ada relevansi antara kinerja (dalam hal ini pelamar kerja) dengan kebiasaan merokok. Lagi-lagi, ini semata sekadar cocokologi saja.<\/p>\n\n\n\n

Bodoh ya bodoh saja, malas ya malas saja, juga sebaliknya, tak ada kaitannya dengan kebiasaan merokok. Kita bisa menjejerkan ratusan bahkan ribuan nama-nama orang yang memiliki kebiasaan merokok, di sana akan ada orang-orang yang sangai pandai hingga orang-orang idiot sekalipun yang memiliki kebiasaan merokok. Kita juga bisa menjejerkan nama-nama ratusan hingga ribuan orang yang sama sekali tidak merokok, dan di sana akan ada orang yang pandai sekali juga akan ada orang goblok segoblok-gobloknya yang sama sekali tidak merokok. Lalu, apa alasan memecat staf dan dosen di kampus yang memiliki kebiasaan merokok?<\/p>\n\n\n\n

Hal yang sama juga bisa kita lakukan dengan jejeran nama-nama orang dengan kinerja dan etos kerja. Yang rajin, juga yang malas, ada dalam kelompok mereka yang merokok juga kelompok mereka yang tidak merokok. Maka, saya kira, apa yang terjadi di Jepang dan diberitakan dalam sepekan belakangan, tentu saja mengganggu akal sehat siapa saja yang masih bisa berpikir dengan jernih.
<\/p>\n","post_title":"Diskriminasi Terhadap Para Perokok di Jepang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"diskriminasi-terhadap-para-perokok-di-jepang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-03 11:19:17","post_modified_gmt":"2019-05-03 04:19:17","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5679","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5653,"post_author":"883","post_date":"2019-04-23 12:23:36","post_date_gmt":"2019-04-23 05:23:36","post_content":"\n

Rokok selalu dikambinghitamkan sebagai penyebab dari tingginya angka kematian umat manusia. Angka dan data jadul yang selalu diulang-ulang mengenai rokok penyebab kematian, seakan membius kita bahwa rokok-lah musuh bersama. Sementara rokok dijadikan musuh bersama, kita justru abai terhadap musuh riil yang sedang mengintai kehidupan kita.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah penelitian menyatakan bahwa pola makan yang tidak sehat lebih banyak meningkatkan resiko kematian dini daripada faktor risiko lainnya, termasuk merokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cerita Rakyat Tentang Kretek dan Tembakau di Tiga Kota (Kudus, Temanggung, Madura)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ini artinya agen malaikat pencabut nyawa manusia ada di pola makan kita. Apakah sudah sehat atau tidak sehat? satu hal yang seringkali diabaikan.
<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan Studi Global Burden of Disease yang mengamati konsumsi makanan di 195 negara, antara tahun 1990 dan 2017, fokus pada 15 jenis makanan atau nutrisi mengamini pola makan tidak sehat adalah penyebab terbesar kematian manusia.
<\/p>\n\n\n\n

Penelitian lainnya yang bersumber dari Medical News Today, dalam sebuah makalah yang dimuat dalam The Lancet, para peneliti menyimpulkan, pola makan yang buruk menyumbang 1 dari 5, atau 11 juta, kematian orang dewasa pada tahun 2017. Sebagian besar dari kematian itu, sekitar 10 juta, berasal dari penyakit kardiovaskular.
<\/p>\n\n\n\n

Sisanya terutama dari kanker dan diabetes tipe 2. Peringkat negara-negara dari tingkat kematian terkait diet terendah ke tertinggi menempatkan Israel pertama, dengan 89 kematian per 100.000 orang, dan Uzbekistan terakhir, dengan 892 per 100.000. Amerika Serikat, dengan 171 kematian per 100.000, berada di posisi ke-43 dan Inggris di peringkat ke-23, dengan 127 kematian per 100.000. India di tempat ke-118, dan Cina di ke-140.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Penelitian termutakhir yang di sebutkan di atas merupakan penelitian yang bersifat global, lalu bagaimana dengan di Indonesia? Apakah kasus pola makan yang tidak sehat juga menjadi penyebab kematian terbesar?
<\/p>\n\n\n\n

Dalam sebuah artikel yang ditulis oleh Triyani Kresnawan, DCN,Mkes, Instalasi Gizi RSCM dan diterbitkan oleh Departemen Kesehatan Gizi Kementerian Kesehatan menyebutkan, pola makan yang tidak seimbang yang menyebabkan resiko munculnya penyakit kanker antara lain kebiasaan makanan cepat saji (fast food).
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan menjaga keseimbangan dalam pola makan ini juga disampaikan oleh Spesialis Patologi Anatomi dari Rumah Sakit Kanker Dharmais, dr Evalina Suzana. Ia mengatakan pola makan yang sehat merupakan bagian bentuk pencegahan dari penyakit kanker. Di luar dari olahraga yang teratur, minum air, dan tidur yang cukup.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Eva, sebuah pola bisa dibilang sehat jika semua yang masuk ke dalam tubuh seimbang. Tidak boleh berlebihan bukan berarti tidak dimakan sama sekali. Harus terdiri dari 50 persen protein, 30 persen karbohidrat, dan 20 persen lemak dan serat. Itu harus dipenuhi di luar mineral-mineral yang ada.
<\/p>\n\n\n\n

Nah loh, berdasarkan hasil-hasil penelitian yang menyatakan bahwa pola makan tidak sehat merupakan penyebab resiko kematian terbesar, lalu mengapa hanya rokok yang terus-menerus dituduh dalam kampanye kelompok-kelompok antirokok yang mengatasnamakan kesehatan?
<\/p>\n\n\n\n

Untuk memahami hal ini tentunya anda harus mengetahui bahwa terdapat perang bisnis nikotin antara industri farmasi dan industri rokok, atau yang sering kami sebut sebagai \u201cNicotin War\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Maka Anda tak usah heran jika rokok diframing bertentangan dengan kesehatan, karena semua semata hanyalah akal-akalan pihak industri farmasi untuk memenangi pertarungan bisnis nikotin tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Pola Makan Tidak Sehat Membunuhmu","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pola-makan-tidak-sehat-membunuhmu","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-23 12:23:48","post_modified_gmt":"2019-04-23 05:23:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5653","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5637,"post_author":"855","post_date":"2019-04-16 11:07:27","post_date_gmt":"2019-04-16 04:07:27","post_content":"\n

Terlahir sebagai tunadaksa atau tanpa tangan, tidak membuat Shadikin Pard pesimis menjalan hidup. Lebih dari itu, ia berhasil membuktikan bahwa kekurangan bukanlah aral melintang yang mengganjal langkah menuju kesuksesan.<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Hujan sudah reda ketika kaki saya memasuki gerbang Taman Balekambang, Surakarta. Di dalam, di atas tanah yang masih basah, ratusan pelukis dari penjuru negeri sedang sibuk mengaktualisasikan kegelisahan hatinya ke sebuah kanvas. Mereka sedang mengikuti Indonesia Painting Contest 2019 yang diselenggarakan oleh NU Gallery.
<\/p>\n\n\n\n

Saya terus melangkah menyusuri tanah basah yang di samping kanan dan kirinya para pelukis sedang khidmat menggoreskan kuas. Hingga kaki saya terhenti di hadapan pelukis yang berkonsentrasi melukis menggunakan kedua kakinya.
<\/p>\n\n\n\n

Sebatang kuas dijepitkan di antara jemari kaki. Sesekali ia menyelupkan kuas itu ke dalam cat dan kemudian menggoreskannya ke dalam kanvas hingga membentuk sebuah lukisan realis Reog Ponorogo yang indah. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di sampingnya, seorang pemuda yang ternyata anaknya dengan sigap menjalankan instruksi ayahnya, mulai dari mengganti ukuran kuas yang terjepit di antara jemarinya, membuka botol cat dan lain sebagainya. Sesekali anaknya menyalakan rokok dan menyodorkan ke hadapan mulut ayahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Ia melukis Reog Ponorogo bukan tanpa alasan. Ia ingin memberikan kritik kepada seluruh masyarakat dan Pemerintah, bahwa mencintai kekayaan budaya bangsa sendiri adalah kewajiban yang harus selalu digelorakan. Jangan sampai, ketika kebudayaan tersebut direbut negara lain, bangsa ini baru panik dan serius mengakui serta membanggakan kekayaan kebudayaan sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ialah Shadikin Pard, seorang pelukis masyhur yang terlahir tunadaksa atau tanpa kedua tangan. Kami berbincang di bawah pohon beringin rindang. Di antara para pelukis lainnya yang sedang beristirahat menunggu waktu pengumuman pemenang dibacakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pria kelahiran 29 Oktober 1996 ini mulai melukis sejak masih di taman kanak-kanak. Saat itu, melukis hanya sebagai hobi semata. Sadikin juga pernah les privat melukis di rumahnya. Hingga mengenyam pendidikan sekolah menengah atas di SMA Santa Maria Kota Malang, Sadikin masih menempatkan melukis sebagai hobi.
<\/p>\n\n\n\n

Di tengah keterbatasannya, Sadikin lalu melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kala itu, Sadikin mengambil jurusan psikologi pascagagal mengambil jurusan arsitektur yang ia dambakan dan cita-citakan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, kekurangan yang diberikan Tuhan adalah sebuah kelebihan yang tidak banyak dimiliki oleh orang lain. Kegigihannya dalam belajar melukis menghantarkannya ke Associaton of Mouth and Foot Painting Artist (AMFPA). Sebuah organisasi yang bermarkas di Swiss dan menghimpun karya pelukis yang melukis menggunakan kaki dan mulut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSetelah masuk AMFPA, saya menjadikan melukis sebagai profesi. Tahun 1989 saya menerima 300 swiss franc, setara Rp 300 ribu waktu itu. Kini, saya menerima sekitar 40 jt setiap bulan,\u201d ungkap Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin terus melukis. Kemampuannya terus berkembang, bahkan melebihi tuntutan dari organisasi yang ia ikuti. Nama Sadikin juga mulai dikenal, bukan sebab keterbatasannya, melainkan sebab karyanya yang memang bernilai tinggi.
<\/p>\n\n\n\n

Setiap kali ada pameran lukisan dan kontes-kontes melukis, Sadikin tidak pernah alfa untuk mengikutinya. Karyanya menjadi sorotan publik dan banyak laku dengan harga yang tidak murah. Bahkan menurutnya, ada salah satu lukisannya yang laku hingga Rp 250 juta.<\/p>\n\n\n\n

Menolak Pasrah dan Bergantung kepada Pemerintah karena Disabilitas<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Sadikin tidak mau dikasihani orang lain. Meski ia tunadaksa, ia adalah manusia yang sama, yang memilki kesempatan besar untuk menjalani rutinitas sebagaimana manusia lainnya. \u201cKuncinya adalah terus mencoba, mencoba dan mencoba. Saya tidak apa-apa dicemooh lukisan saya jelek. Bagi saya cemoohan seperti itu adalah cambuk untuk terus berlatih,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Sadikin, masyarakat harus adil memerlakukan para difabel. Difabel harus diperlakukan sebagaimana orang biasa. Semakin banyak orang yang mengasihani difabel, maka tidak malah membuat difabel itu kuat, sebaliknya berdampak melemahkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cDifabel harus diperlakukan seperti manusia biasa, bahkan ia harus diberi tantangan dan ditempa untuk menemukan kelebihan dalam dirinya,\u201d kata Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, para difabel harus mulai mengubah sudut pandang. Bahwa segala kekurangan tidak kemudian menjadikan para difabel pasrah menerima nasib dan mengharapkan santunan dari orang lain dan pemerintah untuk menjalani hidup. Difabel adalah orang istimewa yang dapat berkarya melebihi orang-orang biasa. Kekurangan ini adalah kelebihan yang akan ditemukan dengan kerja keras dan melatih diri menjadi apa yang diinginkan.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin bisa berangkat ke Swiss dan mengharumkan nama Indonesia di mata dunia, tidak terlebih dulu mendapat perhatian dari pemerintah. Ia mengaku berangkat dengan uang sendiri. Bahkan, lanjut Sadikin, hingga kini pun tidak ada pemerintah yang mengapresiasi karya-karyanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak menginginkan belas kasihan dari pemerintah. Karena yang sejatinya benar adalah, kita dapat memberikan apa kepada negara ini, bukan negara dapat memberikan apa kepada kita. Namun yang saya sayangkan, pemerintah sepertinya tidak peduli memperhatikan para seniman dan menghargai karya seni dari para seniman negeri sendiri. Seharusnya para seniman ini diberikan wadah, diperhatikan, kan juga kalau manajemennya bagus bisa menjadi pemasukan untuk negara,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin mengirim pesan kepada seluruh seniman di Tanah Air untuk terus berkaraya, tanpa peduli akan bernilai apa sebuah karya tersebut. \u201cYang terpenting kita dapat mengaktulisasikan diri dan terus melukis dengan niat mengharumkan nama negeri. Teruslah berkarya, karena sejatinya karya adalah yang dibuat dengan kesungguhan dan keikhlasan hati,\u201d pungkas pelukis beranak dua tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Shadikin Pard, Pelukis Tanpa Lengan yang Mengharumkan Bangsa dengan Kedua Kakinya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"shadikin-pard-pelukis-tanpa-lengan-yang-mengharumkan-bangsa-dengan-kedua-kakinya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-16 11:09:38","post_modified_gmt":"2019-04-16 04:09:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5637","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5621,"post_author":"877","post_date":"2019-04-10 10:37:08","post_date_gmt":"2019-04-10 03:37:08","post_content":"\n

Bahasan mengenai hukum menyulut kretek pernah dipertanyakan dalam forum bahtsul masail<\/em> (musyawarah) para Kiai\/Ulama\u2019 Kudus. Pertanyaan (saail<\/em>) yang mengajukan atas nama masyarakat Baletengahan, yaitu dukuh yang masuk wilayah Desa Langgardalem Kecamatan Kota. Tepatnya sekitar + 800an m, arah utara Masjid Menara Kudus (al-Aqsha). Kultur budaya masyarakat Baletengahan adalah santri, terdapat banyak Pesantren dan beberapa madrasah, salah satunya lembaga pendidikan formal TBS (Tasywiqut Thullab Salafiyyah), yaitu lembaga pendidikan salaf yang dahulu salah satu tempat  KH. Arwani Amin al-Hafiz mengajar dan yayasan pendidikan Nawa Kartika, yang didirikan oleh tokoh NU setempat. <\/p>\n\n\n\n

Lain halnya pesantren dan lembaga pendidikan, di sekitar Baletengahan Langgardalem, konon dahulu banyak usaha rumahan kretek. Petilasan yang masih dapat dijumpai di Langgardalem adalah \u201cgudang tembakau dan PR. Buah Cengkeh\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Disini terlihat para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus mempunyai tradisi kritis menyikapi fenomena disekelilingnya. Sehingga wajar pada tahun 1990an muncul bahasan tentang kretek di Bahtsul Masail<\/em> para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, jauh mendahului keputusan MUI dan Muhammadiyyah hasil Padang Panjang, dilaksanakan tahun 2009-2010.<\/p>\n\n\n\n

Tradisi Bahtsul Masail biasa disebut \u201cMunadzoroh<\/em>\u201d sudah lama dilakukan para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, dengan bertempat di Masjid-masjid di sekitar Kudus, bergantian dan memutar. Peserta munadzoroh<\/em> adalah para Kiai\/Ulama\u2019 se-Kabupaten Kudus dari berbagai penjuru desa, dan juga masyarakat umum, karena sifatnya terbuka (siapa saja boleh ikut tanpa terkecuali). Pelaksanaannya dari dulu hingga sekarang dijatuhkan pada hari Ahad (minggu). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat pembahasan mengenai kretek, bertempat di Masji al-Aqsho Menara Kudus yang dipimpin oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), redaksi pertanyaaannya adalah:<\/p>\n\n\n\n

\u201ckados pundi hukumipun ngkretek (bagaimana hukum menghisap kretek)?\u201d<\/em>--pertanyaan dari<\/em> Baletengahan--<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sebelum memulai pembahasan biasanya KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menanyakan tentang apa yang akan dibahas. Diceritakan oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi, situasi dan kondisi saat itu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), bertanya di forum, \u00a0\u201copo iki takonane?\u201d (pertanyaannya apa), di jawab yang hadir saat itu, \u201c anu Mbah bab kretek\u201d (itu bab menghisap kretek), lalu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menyambung jawaban hadirin, \u201coooo, bab kretek, kretekku gowo rene dikik\u201d (ooo, bab menghisap kretek, kretekku bawa kemari dulu), kemudian KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) mengambil satu batang kretek dari bungkusnya disulut dan dihisap. Selesai menyulut kretek, kembali KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) berbicara, \u201cwes kono dibahas\u201d (sudah sana dibahas). Setelah diperintahkan untuk dibahas, suasana hening sejenak. \u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mungkin di benak para hadirin terlintas pikiran \u201capa yang dibahas sudah dijawab secara tersirat oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) dengan menghisap kretek\u201d. Pada akhirnya, pembahasan tetap dilaksanakan. Diceritakan KH. Sya\u2019roni juga, situasi saat itu tidak ada Kiai\/Ulama\u2019 yang hadir menghukumi \u201charam\u201d, pada akhirnya diputuskan KH. Turaikhan, dengan hukum \u201c boleh\u201d, disela-sela KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) memberikan penjelasan, ada salah satu hadirin mengacungkan jarinya, beliau adalah KH. Hambali (Al Maghfurlah), sambil berkata; \u201ckulo Kiai, menawi boten udud kulo mboten saget mucal\u201d (saya Kiai, kalau tidak sambil menghisap kretek, saya tidak dapat mengajar), disertai argumen dan penjelasanannya. Kemudian KH. Turaikhan, memberikan jawaban dan tanggapan kepada KH. Hambali, \u201cnek ngono, kanggo kuwi hukumi wajib\u201d (kalau begitu, untuk kamu hukumnya wajib mengkonsumsi kretek).  <\/p>\n\n\n\n

Dilihat dari putusan Bahtsul Masail di atas, pada awalnya menghisap kretek dihukumi \u201cboleh\u201d, namun dengan kondisi tertentu menjadi \u201cWajib\u201d. Cerita penetapan hukum menghisap kretek dalam forum Bahtsul Masail di atas, telah menyebar di kalangan masyarakat Kudus, dan menjadi konsumsi publik, serta bersifat mengikat sampai sekarang. Sehingga banyak Kiai\/Ulama\u2019 Kudus tidak mempersoalkan lagi, apalagi membahas kembali. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cerita situasi dan kondisi Bahtsul Masail, diapresiasi dan diinterpretasikan Kiai\/Ulama\u2019Kudus lebih kontekstual, salah satunya KH. Fatkhur Rahman, beliau bercerita;  saat KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) populer dengan sebutan Mbah Tur memimpin munadzoroh<\/em> ada pertanyaan: bagaimana hukumnya kretek? Mbah Tur malah mengambil kretek, menyulut dan menghisapnya, dengan begitu diasumsikan hukumnya \u201chalal\u201d (jadi  setelah itu sudah tidak perlu dibahas lagi soal kretek). KH. Fatkhur Rahman juga menceritakan ada satu alasan kuat, mengapa halal, karena para Kiai itu tidak mau barang subhat<\/em> (tidak jelas posisinya), apalagi haram. Ketika para Kiai\/Ulama\u2019 besar menghisap kretek, otomatis tidak haram. Tuhan menciptakan sesuatu untuk dinikmati itu ada dua, halal atau haram. <\/p>\n\n\n\n

Dasar hukum menghisap kretek adalah mubah, sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang menjadi wajib, juga menjadi haram. Dasar utamanya adalah  \u201cla dhororo wala dhiroro\u201d. <\/em>Hukumnya seperti  mengkonsumsi gula, ketika kena penyakit gula, maka haram atau tidak boleh mengkonsumsi gula. Begitu pula ketika punya darah tinggi, maka tidak boleh makan daging, dan seterusnya. Dimana \u201calhukmu yadurru ma\u2019a illatihi\u201d<\/em>(hukum itu bisa beralih tergantung alasannya). Membeli kretek dihukumi tidak boleh (haram), jika uang yang dipakai semestinya untuk belanja kebutuhan pokok, membayar sekolah dan lain sebagainya. Menghisap kretek menjadi wajib, ketika tidak menghisap sulit berpikir, lemas, tidak bisa kerja dan lain sebagainya.
<\/p>\n","post_title":"Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fenomena-hukum-rokok-bagi-ulama-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-10 10:37:16","post_modified_gmt":"2019-04-10 03:37:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5621","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

Paling Populer

\n

Lalu lihatlah ketika bulan ramadhan, apakah perokok harus diprovokasi dahulu agar bisa berpuasa? Lagi-lagi dengan penuh kesadaran para perokok dapat berhenti merokok selama 13 jam setiap hari tanpa paksaan, tanpa kampanye negatif dan ajakan-ajakan berhenti merokok lainnya yang sangat menyebalkan.
<\/p>\n\n\n\n

Sudah seharusnya peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia tidak diselenggarakan, sebab dengan adanya bulan ramadhan, hal ini dapat menganulir peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Dikarenakan hari peringatan tersebut sudah gaagal dan tidak memiliki substansi dalam penyelenggaraannya.
<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Gagal dalam artian goals atau tujuan yang dicapai dari peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia tidak menuai hasil. Perokok tidak patuh dan acuh tak acuh terhadap hari peringatan tersebut, justru lebih memilih menjalankan puasa dengan khidmat. Prinsip yang dibangun oleh perokok adalah menikmati rokok ada waktunya, soal berhenti adalah soal pilihan.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu tidak memiliki substansi yang dimaksud adalah peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia tidak memiliki visi yang jelas dan landasan dasar yang kuat. Selama ini visi dan landasan dasar yang diserukan ketika peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia hanyalah memberikan stigma-stigma negatif dan membangun kebencian kepada rokok dan perokok. Bandingkan dengan puasa yang memiliki substansi kuat di dalamnya. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini<\/a><\/p>\n\n\n\n

Berpuasa bukan sekedar menahan haus dan lapar, tapi juga dapat meningkatkan kualitas rohani dan jasmani bagi orang-orang yang berpuasa. Ini sangat jelas. Sudah sangat banyak riset-riset ilmiah yang menunjukan bahwa puasa memiliki segudang manfaat bagi manusia. Atas dasar itulah para perokok patuh terhadap seruan menunaikan ibadah puasa. Menahan diri untuk tidak merokok semantara waktu selama hampir 13 jam lamanya.
<\/p>\n\n\n\n

Maka masihkah relevan peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia? Daripada memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia, lebih baik kita semua menunaikan ibadah puasa dengan khidmat yang jelas-jelas mendapatkan pahala berlipat ganda.
<\/p>\n","post_title":"Menolak Peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia dengan Berpuasa di Bulan Ramadhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menolak-peringatan-hari-tanpa-tembakau-sedunia-dengan-berpuasa-di-bulan-ramadhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-11 12:30:30","post_modified_gmt":"2019-05-11 05:30:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5710","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5679,"post_author":"878","post_date":"2019-05-03 11:19:10","post_date_gmt":"2019-05-03 04:19:10","post_content":"\n

Pada mulanya masyarakat pribumi yang mendiami benua Amerika mulai dari wilayah paling utara hingga ke selatan, dengan bermacam suku-suku yang hidup secara komunal\u2014yang kemudian disamaratakan penyebutannya oleh penjelajah Eropa dengan sebutan Suku Indian\u2014mengonsumsi tembakau yang dikeringkan sebagai sarana pelepas lelah, dan untuk mengobati beberapa jenis penyakit yang ada ketika itu. Mereka mengisap tembakau yang dikeringkan menggunakan sebuah pipa yang lazim disebut \u2018tubak<\/em>\u2019, selanjutnya bangsa Eropa menggunakan penyebutan \u2018tubak<\/em>\u2019 untuk menamakan daun kering tersebut, lahirlah istilah \u2018tobacco<\/em>\u2019 dalam bahasa Inggirs yang diserap menjadi \u2018tembakau\u2019 dalam bahasa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Melalui Colombus dan seluruh awak kapalnya yang mendatangi benua Amerika, kebiasaan mengisap tembakau ini kemudian diperkenalkan ke Eropa dan perlahan menjadi kebiasaan yang umum di sana. Konsumsi tembakau di Eropa terutama dimanfaatkan sebagai penghilang rasa dingin ketika musim dingin tiba di daratan Eropa. Bangsa Eropa kemudian membawa tembakau ke negeri jajahan mereka dan membudidayakannya di sana hingga pada akhirnya tembakau menjadi konsumsi yang mendunia, termasuk juga di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ariel Tatum dan Diskriminasi Perempuan Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia sendiri, tembakau pada mulanya digunakan sebagai bahan campuran dalam mengonsumsi sirih yang lazim disebut nyirih<\/em>. Karena dianggap jorok, penjajah Belanda melarang aktivitas nyirih dan mengenalkan konsumsi tembakau dengan cara dibakar dan diisap kepada masyarakat pribumi. Kebiasaan mengisap tembakau di Indonesia semakin populer usai Haji Djamhari menemukan ramuan tembakau kering yang dicampur cengkeh kering kemudian dibakar dan diisap sebagai obat asma yang ia derita. Campuran tembakau kering dan bunga cengkeh kering yang dibakar menimbulkan suara berkeretek hingga pada akhirnya produk rokok ini dinamakan rokok kretek dan menguasai pasar dalam negeri hingga saat ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari catatan singkat di atas, konsumsi tembakau kering yang diisap kemudian tembakau kering yang dicampur bunga cengkeh kering pada mulanya sebagai barang konsumsi untuk pengobatan dan relaksasi. Hingga pada akhirnya, persaingan bisnis menggiring kampanye-kampanye yang menyuarakan perihal keburukan konsumsi tembakau. Dalih kesehatan dijadikan alasan utama untuk menghancurkan perekonomian tembakau guna meloloskan bisnis farmasi yang dijalankan korporasi besar berskala internasional.<\/p>\n\n\n\n

Periode 2000 hingga saat ini, kampanye miring mengenai rokok dan rokok kretek kian menguat. Tak hanya korporasi besar, badan-badan kesehatan dunia juga ikut ambil peran dalam upaya menghancurkan produk rokok terutama rokok kretek yang menjadi ciri khas dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Berita terbaru dalam sepekan terakhir, di Jepang, salah satu universitas negeri berencana memecat seluruh staf dan dosen mereka yang menjadi perokok aktif. Selain itu, beberapa perusahaan di Jepang juga akan mencoret langsung para pelamar kerja yang diketahui sebagai perokok aktif. Ini tentu saja menjadi kemunduran yang telak bagi negara Jepang. Padahal sebelumnya Jepang dikenal menjadi negara yang masih cukup ramah terhadap para perokok.<\/p>\n\n\n\n

Alasan Jepang memberlakukan kebijakan tersebut sebagai upaya menyambut perhelatan olimpiade 2020 yang akan diselenggarakan di Tokyo. Lagi-lagi, dalih kesehatan yang menjadi tameng kebijakan ini. Jika ditelaah secara saksama, tentu saja kebijakan ini sama sekali tidak ada relevansinya. Terkesan pemaksaan dan sekadar pencitraan semata.<\/p>\n\n\n\n

Lagi pula, tak ada relevansinya antara kecerdasan (dalam hal ini dunia kampus) dengan kebiasaan merokok. Juga tak ada relevansi antara kinerja (dalam hal ini pelamar kerja) dengan kebiasaan merokok. Lagi-lagi, ini semata sekadar cocokologi saja.<\/p>\n\n\n\n

Bodoh ya bodoh saja, malas ya malas saja, juga sebaliknya, tak ada kaitannya dengan kebiasaan merokok. Kita bisa menjejerkan ratusan bahkan ribuan nama-nama orang yang memiliki kebiasaan merokok, di sana akan ada orang-orang yang sangai pandai hingga orang-orang idiot sekalipun yang memiliki kebiasaan merokok. Kita juga bisa menjejerkan nama-nama ratusan hingga ribuan orang yang sama sekali tidak merokok, dan di sana akan ada orang yang pandai sekali juga akan ada orang goblok segoblok-gobloknya yang sama sekali tidak merokok. Lalu, apa alasan memecat staf dan dosen di kampus yang memiliki kebiasaan merokok?<\/p>\n\n\n\n

Hal yang sama juga bisa kita lakukan dengan jejeran nama-nama orang dengan kinerja dan etos kerja. Yang rajin, juga yang malas, ada dalam kelompok mereka yang merokok juga kelompok mereka yang tidak merokok. Maka, saya kira, apa yang terjadi di Jepang dan diberitakan dalam sepekan belakangan, tentu saja mengganggu akal sehat siapa saja yang masih bisa berpikir dengan jernih.
<\/p>\n","post_title":"Diskriminasi Terhadap Para Perokok di Jepang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"diskriminasi-terhadap-para-perokok-di-jepang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-03 11:19:17","post_modified_gmt":"2019-05-03 04:19:17","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5679","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5653,"post_author":"883","post_date":"2019-04-23 12:23:36","post_date_gmt":"2019-04-23 05:23:36","post_content":"\n

Rokok selalu dikambinghitamkan sebagai penyebab dari tingginya angka kematian umat manusia. Angka dan data jadul yang selalu diulang-ulang mengenai rokok penyebab kematian, seakan membius kita bahwa rokok-lah musuh bersama. Sementara rokok dijadikan musuh bersama, kita justru abai terhadap musuh riil yang sedang mengintai kehidupan kita.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah penelitian menyatakan bahwa pola makan yang tidak sehat lebih banyak meningkatkan resiko kematian dini daripada faktor risiko lainnya, termasuk merokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cerita Rakyat Tentang Kretek dan Tembakau di Tiga Kota (Kudus, Temanggung, Madura)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ini artinya agen malaikat pencabut nyawa manusia ada di pola makan kita. Apakah sudah sehat atau tidak sehat? satu hal yang seringkali diabaikan.
<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan Studi Global Burden of Disease yang mengamati konsumsi makanan di 195 negara, antara tahun 1990 dan 2017, fokus pada 15 jenis makanan atau nutrisi mengamini pola makan tidak sehat adalah penyebab terbesar kematian manusia.
<\/p>\n\n\n\n

Penelitian lainnya yang bersumber dari Medical News Today, dalam sebuah makalah yang dimuat dalam The Lancet, para peneliti menyimpulkan, pola makan yang buruk menyumbang 1 dari 5, atau 11 juta, kematian orang dewasa pada tahun 2017. Sebagian besar dari kematian itu, sekitar 10 juta, berasal dari penyakit kardiovaskular.
<\/p>\n\n\n\n

Sisanya terutama dari kanker dan diabetes tipe 2. Peringkat negara-negara dari tingkat kematian terkait diet terendah ke tertinggi menempatkan Israel pertama, dengan 89 kematian per 100.000 orang, dan Uzbekistan terakhir, dengan 892 per 100.000. Amerika Serikat, dengan 171 kematian per 100.000, berada di posisi ke-43 dan Inggris di peringkat ke-23, dengan 127 kematian per 100.000. India di tempat ke-118, dan Cina di ke-140.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Penelitian termutakhir yang di sebutkan di atas merupakan penelitian yang bersifat global, lalu bagaimana dengan di Indonesia? Apakah kasus pola makan yang tidak sehat juga menjadi penyebab kematian terbesar?
<\/p>\n\n\n\n

Dalam sebuah artikel yang ditulis oleh Triyani Kresnawan, DCN,Mkes, Instalasi Gizi RSCM dan diterbitkan oleh Departemen Kesehatan Gizi Kementerian Kesehatan menyebutkan, pola makan yang tidak seimbang yang menyebabkan resiko munculnya penyakit kanker antara lain kebiasaan makanan cepat saji (fast food).
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan menjaga keseimbangan dalam pola makan ini juga disampaikan oleh Spesialis Patologi Anatomi dari Rumah Sakit Kanker Dharmais, dr Evalina Suzana. Ia mengatakan pola makan yang sehat merupakan bagian bentuk pencegahan dari penyakit kanker. Di luar dari olahraga yang teratur, minum air, dan tidur yang cukup.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Eva, sebuah pola bisa dibilang sehat jika semua yang masuk ke dalam tubuh seimbang. Tidak boleh berlebihan bukan berarti tidak dimakan sama sekali. Harus terdiri dari 50 persen protein, 30 persen karbohidrat, dan 20 persen lemak dan serat. Itu harus dipenuhi di luar mineral-mineral yang ada.
<\/p>\n\n\n\n

Nah loh, berdasarkan hasil-hasil penelitian yang menyatakan bahwa pola makan tidak sehat merupakan penyebab resiko kematian terbesar, lalu mengapa hanya rokok yang terus-menerus dituduh dalam kampanye kelompok-kelompok antirokok yang mengatasnamakan kesehatan?
<\/p>\n\n\n\n

Untuk memahami hal ini tentunya anda harus mengetahui bahwa terdapat perang bisnis nikotin antara industri farmasi dan industri rokok, atau yang sering kami sebut sebagai \u201cNicotin War\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Maka Anda tak usah heran jika rokok diframing bertentangan dengan kesehatan, karena semua semata hanyalah akal-akalan pihak industri farmasi untuk memenangi pertarungan bisnis nikotin tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Pola Makan Tidak Sehat Membunuhmu","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pola-makan-tidak-sehat-membunuhmu","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-23 12:23:48","post_modified_gmt":"2019-04-23 05:23:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5653","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5637,"post_author":"855","post_date":"2019-04-16 11:07:27","post_date_gmt":"2019-04-16 04:07:27","post_content":"\n

Terlahir sebagai tunadaksa atau tanpa tangan, tidak membuat Shadikin Pard pesimis menjalan hidup. Lebih dari itu, ia berhasil membuktikan bahwa kekurangan bukanlah aral melintang yang mengganjal langkah menuju kesuksesan.<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Hujan sudah reda ketika kaki saya memasuki gerbang Taman Balekambang, Surakarta. Di dalam, di atas tanah yang masih basah, ratusan pelukis dari penjuru negeri sedang sibuk mengaktualisasikan kegelisahan hatinya ke sebuah kanvas. Mereka sedang mengikuti Indonesia Painting Contest 2019 yang diselenggarakan oleh NU Gallery.
<\/p>\n\n\n\n

Saya terus melangkah menyusuri tanah basah yang di samping kanan dan kirinya para pelukis sedang khidmat menggoreskan kuas. Hingga kaki saya terhenti di hadapan pelukis yang berkonsentrasi melukis menggunakan kedua kakinya.
<\/p>\n\n\n\n

Sebatang kuas dijepitkan di antara jemari kaki. Sesekali ia menyelupkan kuas itu ke dalam cat dan kemudian menggoreskannya ke dalam kanvas hingga membentuk sebuah lukisan realis Reog Ponorogo yang indah. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di sampingnya, seorang pemuda yang ternyata anaknya dengan sigap menjalankan instruksi ayahnya, mulai dari mengganti ukuran kuas yang terjepit di antara jemarinya, membuka botol cat dan lain sebagainya. Sesekali anaknya menyalakan rokok dan menyodorkan ke hadapan mulut ayahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Ia melukis Reog Ponorogo bukan tanpa alasan. Ia ingin memberikan kritik kepada seluruh masyarakat dan Pemerintah, bahwa mencintai kekayaan budaya bangsa sendiri adalah kewajiban yang harus selalu digelorakan. Jangan sampai, ketika kebudayaan tersebut direbut negara lain, bangsa ini baru panik dan serius mengakui serta membanggakan kekayaan kebudayaan sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ialah Shadikin Pard, seorang pelukis masyhur yang terlahir tunadaksa atau tanpa kedua tangan. Kami berbincang di bawah pohon beringin rindang. Di antara para pelukis lainnya yang sedang beristirahat menunggu waktu pengumuman pemenang dibacakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pria kelahiran 29 Oktober 1996 ini mulai melukis sejak masih di taman kanak-kanak. Saat itu, melukis hanya sebagai hobi semata. Sadikin juga pernah les privat melukis di rumahnya. Hingga mengenyam pendidikan sekolah menengah atas di SMA Santa Maria Kota Malang, Sadikin masih menempatkan melukis sebagai hobi.
<\/p>\n\n\n\n

Di tengah keterbatasannya, Sadikin lalu melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kala itu, Sadikin mengambil jurusan psikologi pascagagal mengambil jurusan arsitektur yang ia dambakan dan cita-citakan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, kekurangan yang diberikan Tuhan adalah sebuah kelebihan yang tidak banyak dimiliki oleh orang lain. Kegigihannya dalam belajar melukis menghantarkannya ke Associaton of Mouth and Foot Painting Artist (AMFPA). Sebuah organisasi yang bermarkas di Swiss dan menghimpun karya pelukis yang melukis menggunakan kaki dan mulut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSetelah masuk AMFPA, saya menjadikan melukis sebagai profesi. Tahun 1989 saya menerima 300 swiss franc, setara Rp 300 ribu waktu itu. Kini, saya menerima sekitar 40 jt setiap bulan,\u201d ungkap Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin terus melukis. Kemampuannya terus berkembang, bahkan melebihi tuntutan dari organisasi yang ia ikuti. Nama Sadikin juga mulai dikenal, bukan sebab keterbatasannya, melainkan sebab karyanya yang memang bernilai tinggi.
<\/p>\n\n\n\n

Setiap kali ada pameran lukisan dan kontes-kontes melukis, Sadikin tidak pernah alfa untuk mengikutinya. Karyanya menjadi sorotan publik dan banyak laku dengan harga yang tidak murah. Bahkan menurutnya, ada salah satu lukisannya yang laku hingga Rp 250 juta.<\/p>\n\n\n\n

Menolak Pasrah dan Bergantung kepada Pemerintah karena Disabilitas<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Sadikin tidak mau dikasihani orang lain. Meski ia tunadaksa, ia adalah manusia yang sama, yang memilki kesempatan besar untuk menjalani rutinitas sebagaimana manusia lainnya. \u201cKuncinya adalah terus mencoba, mencoba dan mencoba. Saya tidak apa-apa dicemooh lukisan saya jelek. Bagi saya cemoohan seperti itu adalah cambuk untuk terus berlatih,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Sadikin, masyarakat harus adil memerlakukan para difabel. Difabel harus diperlakukan sebagaimana orang biasa. Semakin banyak orang yang mengasihani difabel, maka tidak malah membuat difabel itu kuat, sebaliknya berdampak melemahkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cDifabel harus diperlakukan seperti manusia biasa, bahkan ia harus diberi tantangan dan ditempa untuk menemukan kelebihan dalam dirinya,\u201d kata Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, para difabel harus mulai mengubah sudut pandang. Bahwa segala kekurangan tidak kemudian menjadikan para difabel pasrah menerima nasib dan mengharapkan santunan dari orang lain dan pemerintah untuk menjalani hidup. Difabel adalah orang istimewa yang dapat berkarya melebihi orang-orang biasa. Kekurangan ini adalah kelebihan yang akan ditemukan dengan kerja keras dan melatih diri menjadi apa yang diinginkan.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin bisa berangkat ke Swiss dan mengharumkan nama Indonesia di mata dunia, tidak terlebih dulu mendapat perhatian dari pemerintah. Ia mengaku berangkat dengan uang sendiri. Bahkan, lanjut Sadikin, hingga kini pun tidak ada pemerintah yang mengapresiasi karya-karyanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak menginginkan belas kasihan dari pemerintah. Karena yang sejatinya benar adalah, kita dapat memberikan apa kepada negara ini, bukan negara dapat memberikan apa kepada kita. Namun yang saya sayangkan, pemerintah sepertinya tidak peduli memperhatikan para seniman dan menghargai karya seni dari para seniman negeri sendiri. Seharusnya para seniman ini diberikan wadah, diperhatikan, kan juga kalau manajemennya bagus bisa menjadi pemasukan untuk negara,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin mengirim pesan kepada seluruh seniman di Tanah Air untuk terus berkaraya, tanpa peduli akan bernilai apa sebuah karya tersebut. \u201cYang terpenting kita dapat mengaktulisasikan diri dan terus melukis dengan niat mengharumkan nama negeri. Teruslah berkarya, karena sejatinya karya adalah yang dibuat dengan kesungguhan dan keikhlasan hati,\u201d pungkas pelukis beranak dua tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Shadikin Pard, Pelukis Tanpa Lengan yang Mengharumkan Bangsa dengan Kedua Kakinya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"shadikin-pard-pelukis-tanpa-lengan-yang-mengharumkan-bangsa-dengan-kedua-kakinya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-16 11:09:38","post_modified_gmt":"2019-04-16 04:09:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5637","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5621,"post_author":"877","post_date":"2019-04-10 10:37:08","post_date_gmt":"2019-04-10 03:37:08","post_content":"\n

Bahasan mengenai hukum menyulut kretek pernah dipertanyakan dalam forum bahtsul masail<\/em> (musyawarah) para Kiai\/Ulama\u2019 Kudus. Pertanyaan (saail<\/em>) yang mengajukan atas nama masyarakat Baletengahan, yaitu dukuh yang masuk wilayah Desa Langgardalem Kecamatan Kota. Tepatnya sekitar + 800an m, arah utara Masjid Menara Kudus (al-Aqsha). Kultur budaya masyarakat Baletengahan adalah santri, terdapat banyak Pesantren dan beberapa madrasah, salah satunya lembaga pendidikan formal TBS (Tasywiqut Thullab Salafiyyah), yaitu lembaga pendidikan salaf yang dahulu salah satu tempat  KH. Arwani Amin al-Hafiz mengajar dan yayasan pendidikan Nawa Kartika, yang didirikan oleh tokoh NU setempat. <\/p>\n\n\n\n

Lain halnya pesantren dan lembaga pendidikan, di sekitar Baletengahan Langgardalem, konon dahulu banyak usaha rumahan kretek. Petilasan yang masih dapat dijumpai di Langgardalem adalah \u201cgudang tembakau dan PR. Buah Cengkeh\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Disini terlihat para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus mempunyai tradisi kritis menyikapi fenomena disekelilingnya. Sehingga wajar pada tahun 1990an muncul bahasan tentang kretek di Bahtsul Masail<\/em> para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, jauh mendahului keputusan MUI dan Muhammadiyyah hasil Padang Panjang, dilaksanakan tahun 2009-2010.<\/p>\n\n\n\n

Tradisi Bahtsul Masail biasa disebut \u201cMunadzoroh<\/em>\u201d sudah lama dilakukan para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, dengan bertempat di Masjid-masjid di sekitar Kudus, bergantian dan memutar. Peserta munadzoroh<\/em> adalah para Kiai\/Ulama\u2019 se-Kabupaten Kudus dari berbagai penjuru desa, dan juga masyarakat umum, karena sifatnya terbuka (siapa saja boleh ikut tanpa terkecuali). Pelaksanaannya dari dulu hingga sekarang dijatuhkan pada hari Ahad (minggu). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat pembahasan mengenai kretek, bertempat di Masji al-Aqsho Menara Kudus yang dipimpin oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), redaksi pertanyaaannya adalah:<\/p>\n\n\n\n

\u201ckados pundi hukumipun ngkretek (bagaimana hukum menghisap kretek)?\u201d<\/em>--pertanyaan dari<\/em> Baletengahan--<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sebelum memulai pembahasan biasanya KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menanyakan tentang apa yang akan dibahas. Diceritakan oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi, situasi dan kondisi saat itu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), bertanya di forum, \u00a0\u201copo iki takonane?\u201d (pertanyaannya apa), di jawab yang hadir saat itu, \u201c anu Mbah bab kretek\u201d (itu bab menghisap kretek), lalu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menyambung jawaban hadirin, \u201coooo, bab kretek, kretekku gowo rene dikik\u201d (ooo, bab menghisap kretek, kretekku bawa kemari dulu), kemudian KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) mengambil satu batang kretek dari bungkusnya disulut dan dihisap. Selesai menyulut kretek, kembali KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) berbicara, \u201cwes kono dibahas\u201d (sudah sana dibahas). Setelah diperintahkan untuk dibahas, suasana hening sejenak. \u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mungkin di benak para hadirin terlintas pikiran \u201capa yang dibahas sudah dijawab secara tersirat oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) dengan menghisap kretek\u201d. Pada akhirnya, pembahasan tetap dilaksanakan. Diceritakan KH. Sya\u2019roni juga, situasi saat itu tidak ada Kiai\/Ulama\u2019 yang hadir menghukumi \u201charam\u201d, pada akhirnya diputuskan KH. Turaikhan, dengan hukum \u201c boleh\u201d, disela-sela KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) memberikan penjelasan, ada salah satu hadirin mengacungkan jarinya, beliau adalah KH. Hambali (Al Maghfurlah), sambil berkata; \u201ckulo Kiai, menawi boten udud kulo mboten saget mucal\u201d (saya Kiai, kalau tidak sambil menghisap kretek, saya tidak dapat mengajar), disertai argumen dan penjelasanannya. Kemudian KH. Turaikhan, memberikan jawaban dan tanggapan kepada KH. Hambali, \u201cnek ngono, kanggo kuwi hukumi wajib\u201d (kalau begitu, untuk kamu hukumnya wajib mengkonsumsi kretek).  <\/p>\n\n\n\n

Dilihat dari putusan Bahtsul Masail di atas, pada awalnya menghisap kretek dihukumi \u201cboleh\u201d, namun dengan kondisi tertentu menjadi \u201cWajib\u201d. Cerita penetapan hukum menghisap kretek dalam forum Bahtsul Masail di atas, telah menyebar di kalangan masyarakat Kudus, dan menjadi konsumsi publik, serta bersifat mengikat sampai sekarang. Sehingga banyak Kiai\/Ulama\u2019 Kudus tidak mempersoalkan lagi, apalagi membahas kembali. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cerita situasi dan kondisi Bahtsul Masail, diapresiasi dan diinterpretasikan Kiai\/Ulama\u2019Kudus lebih kontekstual, salah satunya KH. Fatkhur Rahman, beliau bercerita;  saat KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) populer dengan sebutan Mbah Tur memimpin munadzoroh<\/em> ada pertanyaan: bagaimana hukumnya kretek? Mbah Tur malah mengambil kretek, menyulut dan menghisapnya, dengan begitu diasumsikan hukumnya \u201chalal\u201d (jadi  setelah itu sudah tidak perlu dibahas lagi soal kretek). KH. Fatkhur Rahman juga menceritakan ada satu alasan kuat, mengapa halal, karena para Kiai itu tidak mau barang subhat<\/em> (tidak jelas posisinya), apalagi haram. Ketika para Kiai\/Ulama\u2019 besar menghisap kretek, otomatis tidak haram. Tuhan menciptakan sesuatu untuk dinikmati itu ada dua, halal atau haram. <\/p>\n\n\n\n

Dasar hukum menghisap kretek adalah mubah, sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang menjadi wajib, juga menjadi haram. Dasar utamanya adalah  \u201cla dhororo wala dhiroro\u201d. <\/em>Hukumnya seperti  mengkonsumsi gula, ketika kena penyakit gula, maka haram atau tidak boleh mengkonsumsi gula. Begitu pula ketika punya darah tinggi, maka tidak boleh makan daging, dan seterusnya. Dimana \u201calhukmu yadurru ma\u2019a illatihi\u201d<\/em>(hukum itu bisa beralih tergantung alasannya). Membeli kretek dihukumi tidak boleh (haram), jika uang yang dipakai semestinya untuk belanja kebutuhan pokok, membayar sekolah dan lain sebagainya. Menghisap kretek menjadi wajib, ketika tidak menghisap sulit berpikir, lemas, tidak bisa kerja dan lain sebagainya.
<\/p>\n","post_title":"Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fenomena-hukum-rokok-bagi-ulama-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-10 10:37:16","post_modified_gmt":"2019-04-10 03:37:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5621","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

Paling Populer

\n

Baca: Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lalu lihatlah ketika bulan ramadhan, apakah perokok harus diprovokasi dahulu agar bisa berpuasa? Lagi-lagi dengan penuh kesadaran para perokok dapat berhenti merokok selama 13 jam setiap hari tanpa paksaan, tanpa kampanye negatif dan ajakan-ajakan berhenti merokok lainnya yang sangat menyebalkan.
<\/p>\n\n\n\n

Sudah seharusnya peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia tidak diselenggarakan, sebab dengan adanya bulan ramadhan, hal ini dapat menganulir peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Dikarenakan hari peringatan tersebut sudah gaagal dan tidak memiliki substansi dalam penyelenggaraannya.
<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Gagal dalam artian goals atau tujuan yang dicapai dari peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia tidak menuai hasil. Perokok tidak patuh dan acuh tak acuh terhadap hari peringatan tersebut, justru lebih memilih menjalankan puasa dengan khidmat. Prinsip yang dibangun oleh perokok adalah menikmati rokok ada waktunya, soal berhenti adalah soal pilihan.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu tidak memiliki substansi yang dimaksud adalah peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia tidak memiliki visi yang jelas dan landasan dasar yang kuat. Selama ini visi dan landasan dasar yang diserukan ketika peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia hanyalah memberikan stigma-stigma negatif dan membangun kebencian kepada rokok dan perokok. Bandingkan dengan puasa yang memiliki substansi kuat di dalamnya. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini<\/a><\/p>\n\n\n\n

Berpuasa bukan sekedar menahan haus dan lapar, tapi juga dapat meningkatkan kualitas rohani dan jasmani bagi orang-orang yang berpuasa. Ini sangat jelas. Sudah sangat banyak riset-riset ilmiah yang menunjukan bahwa puasa memiliki segudang manfaat bagi manusia. Atas dasar itulah para perokok patuh terhadap seruan menunaikan ibadah puasa. Menahan diri untuk tidak merokok semantara waktu selama hampir 13 jam lamanya.
<\/p>\n\n\n\n

Maka masihkah relevan peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia? Daripada memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia, lebih baik kita semua menunaikan ibadah puasa dengan khidmat yang jelas-jelas mendapatkan pahala berlipat ganda.
<\/p>\n","post_title":"Menolak Peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia dengan Berpuasa di Bulan Ramadhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menolak-peringatan-hari-tanpa-tembakau-sedunia-dengan-berpuasa-di-bulan-ramadhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-11 12:30:30","post_modified_gmt":"2019-05-11 05:30:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5710","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5679,"post_author":"878","post_date":"2019-05-03 11:19:10","post_date_gmt":"2019-05-03 04:19:10","post_content":"\n

Pada mulanya masyarakat pribumi yang mendiami benua Amerika mulai dari wilayah paling utara hingga ke selatan, dengan bermacam suku-suku yang hidup secara komunal\u2014yang kemudian disamaratakan penyebutannya oleh penjelajah Eropa dengan sebutan Suku Indian\u2014mengonsumsi tembakau yang dikeringkan sebagai sarana pelepas lelah, dan untuk mengobati beberapa jenis penyakit yang ada ketika itu. Mereka mengisap tembakau yang dikeringkan menggunakan sebuah pipa yang lazim disebut \u2018tubak<\/em>\u2019, selanjutnya bangsa Eropa menggunakan penyebutan \u2018tubak<\/em>\u2019 untuk menamakan daun kering tersebut, lahirlah istilah \u2018tobacco<\/em>\u2019 dalam bahasa Inggirs yang diserap menjadi \u2018tembakau\u2019 dalam bahasa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Melalui Colombus dan seluruh awak kapalnya yang mendatangi benua Amerika, kebiasaan mengisap tembakau ini kemudian diperkenalkan ke Eropa dan perlahan menjadi kebiasaan yang umum di sana. Konsumsi tembakau di Eropa terutama dimanfaatkan sebagai penghilang rasa dingin ketika musim dingin tiba di daratan Eropa. Bangsa Eropa kemudian membawa tembakau ke negeri jajahan mereka dan membudidayakannya di sana hingga pada akhirnya tembakau menjadi konsumsi yang mendunia, termasuk juga di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ariel Tatum dan Diskriminasi Perempuan Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia sendiri, tembakau pada mulanya digunakan sebagai bahan campuran dalam mengonsumsi sirih yang lazim disebut nyirih<\/em>. Karena dianggap jorok, penjajah Belanda melarang aktivitas nyirih dan mengenalkan konsumsi tembakau dengan cara dibakar dan diisap kepada masyarakat pribumi. Kebiasaan mengisap tembakau di Indonesia semakin populer usai Haji Djamhari menemukan ramuan tembakau kering yang dicampur cengkeh kering kemudian dibakar dan diisap sebagai obat asma yang ia derita. Campuran tembakau kering dan bunga cengkeh kering yang dibakar menimbulkan suara berkeretek hingga pada akhirnya produk rokok ini dinamakan rokok kretek dan menguasai pasar dalam negeri hingga saat ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari catatan singkat di atas, konsumsi tembakau kering yang diisap kemudian tembakau kering yang dicampur bunga cengkeh kering pada mulanya sebagai barang konsumsi untuk pengobatan dan relaksasi. Hingga pada akhirnya, persaingan bisnis menggiring kampanye-kampanye yang menyuarakan perihal keburukan konsumsi tembakau. Dalih kesehatan dijadikan alasan utama untuk menghancurkan perekonomian tembakau guna meloloskan bisnis farmasi yang dijalankan korporasi besar berskala internasional.<\/p>\n\n\n\n

Periode 2000 hingga saat ini, kampanye miring mengenai rokok dan rokok kretek kian menguat. Tak hanya korporasi besar, badan-badan kesehatan dunia juga ikut ambil peran dalam upaya menghancurkan produk rokok terutama rokok kretek yang menjadi ciri khas dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Berita terbaru dalam sepekan terakhir, di Jepang, salah satu universitas negeri berencana memecat seluruh staf dan dosen mereka yang menjadi perokok aktif. Selain itu, beberapa perusahaan di Jepang juga akan mencoret langsung para pelamar kerja yang diketahui sebagai perokok aktif. Ini tentu saja menjadi kemunduran yang telak bagi negara Jepang. Padahal sebelumnya Jepang dikenal menjadi negara yang masih cukup ramah terhadap para perokok.<\/p>\n\n\n\n

Alasan Jepang memberlakukan kebijakan tersebut sebagai upaya menyambut perhelatan olimpiade 2020 yang akan diselenggarakan di Tokyo. Lagi-lagi, dalih kesehatan yang menjadi tameng kebijakan ini. Jika ditelaah secara saksama, tentu saja kebijakan ini sama sekali tidak ada relevansinya. Terkesan pemaksaan dan sekadar pencitraan semata.<\/p>\n\n\n\n

Lagi pula, tak ada relevansinya antara kecerdasan (dalam hal ini dunia kampus) dengan kebiasaan merokok. Juga tak ada relevansi antara kinerja (dalam hal ini pelamar kerja) dengan kebiasaan merokok. Lagi-lagi, ini semata sekadar cocokologi saja.<\/p>\n\n\n\n

Bodoh ya bodoh saja, malas ya malas saja, juga sebaliknya, tak ada kaitannya dengan kebiasaan merokok. Kita bisa menjejerkan ratusan bahkan ribuan nama-nama orang yang memiliki kebiasaan merokok, di sana akan ada orang-orang yang sangai pandai hingga orang-orang idiot sekalipun yang memiliki kebiasaan merokok. Kita juga bisa menjejerkan nama-nama ratusan hingga ribuan orang yang sama sekali tidak merokok, dan di sana akan ada orang yang pandai sekali juga akan ada orang goblok segoblok-gobloknya yang sama sekali tidak merokok. Lalu, apa alasan memecat staf dan dosen di kampus yang memiliki kebiasaan merokok?<\/p>\n\n\n\n

Hal yang sama juga bisa kita lakukan dengan jejeran nama-nama orang dengan kinerja dan etos kerja. Yang rajin, juga yang malas, ada dalam kelompok mereka yang merokok juga kelompok mereka yang tidak merokok. Maka, saya kira, apa yang terjadi di Jepang dan diberitakan dalam sepekan belakangan, tentu saja mengganggu akal sehat siapa saja yang masih bisa berpikir dengan jernih.
<\/p>\n","post_title":"Diskriminasi Terhadap Para Perokok di Jepang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"diskriminasi-terhadap-para-perokok-di-jepang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-03 11:19:17","post_modified_gmt":"2019-05-03 04:19:17","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5679","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5653,"post_author":"883","post_date":"2019-04-23 12:23:36","post_date_gmt":"2019-04-23 05:23:36","post_content":"\n

Rokok selalu dikambinghitamkan sebagai penyebab dari tingginya angka kematian umat manusia. Angka dan data jadul yang selalu diulang-ulang mengenai rokok penyebab kematian, seakan membius kita bahwa rokok-lah musuh bersama. Sementara rokok dijadikan musuh bersama, kita justru abai terhadap musuh riil yang sedang mengintai kehidupan kita.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah penelitian menyatakan bahwa pola makan yang tidak sehat lebih banyak meningkatkan resiko kematian dini daripada faktor risiko lainnya, termasuk merokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cerita Rakyat Tentang Kretek dan Tembakau di Tiga Kota (Kudus, Temanggung, Madura)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ini artinya agen malaikat pencabut nyawa manusia ada di pola makan kita. Apakah sudah sehat atau tidak sehat? satu hal yang seringkali diabaikan.
<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan Studi Global Burden of Disease yang mengamati konsumsi makanan di 195 negara, antara tahun 1990 dan 2017, fokus pada 15 jenis makanan atau nutrisi mengamini pola makan tidak sehat adalah penyebab terbesar kematian manusia.
<\/p>\n\n\n\n

Penelitian lainnya yang bersumber dari Medical News Today, dalam sebuah makalah yang dimuat dalam The Lancet, para peneliti menyimpulkan, pola makan yang buruk menyumbang 1 dari 5, atau 11 juta, kematian orang dewasa pada tahun 2017. Sebagian besar dari kematian itu, sekitar 10 juta, berasal dari penyakit kardiovaskular.
<\/p>\n\n\n\n

Sisanya terutama dari kanker dan diabetes tipe 2. Peringkat negara-negara dari tingkat kematian terkait diet terendah ke tertinggi menempatkan Israel pertama, dengan 89 kematian per 100.000 orang, dan Uzbekistan terakhir, dengan 892 per 100.000. Amerika Serikat, dengan 171 kematian per 100.000, berada di posisi ke-43 dan Inggris di peringkat ke-23, dengan 127 kematian per 100.000. India di tempat ke-118, dan Cina di ke-140.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Penelitian termutakhir yang di sebutkan di atas merupakan penelitian yang bersifat global, lalu bagaimana dengan di Indonesia? Apakah kasus pola makan yang tidak sehat juga menjadi penyebab kematian terbesar?
<\/p>\n\n\n\n

Dalam sebuah artikel yang ditulis oleh Triyani Kresnawan, DCN,Mkes, Instalasi Gizi RSCM dan diterbitkan oleh Departemen Kesehatan Gizi Kementerian Kesehatan menyebutkan, pola makan yang tidak seimbang yang menyebabkan resiko munculnya penyakit kanker antara lain kebiasaan makanan cepat saji (fast food).
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan menjaga keseimbangan dalam pola makan ini juga disampaikan oleh Spesialis Patologi Anatomi dari Rumah Sakit Kanker Dharmais, dr Evalina Suzana. Ia mengatakan pola makan yang sehat merupakan bagian bentuk pencegahan dari penyakit kanker. Di luar dari olahraga yang teratur, minum air, dan tidur yang cukup.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Eva, sebuah pola bisa dibilang sehat jika semua yang masuk ke dalam tubuh seimbang. Tidak boleh berlebihan bukan berarti tidak dimakan sama sekali. Harus terdiri dari 50 persen protein, 30 persen karbohidrat, dan 20 persen lemak dan serat. Itu harus dipenuhi di luar mineral-mineral yang ada.
<\/p>\n\n\n\n

Nah loh, berdasarkan hasil-hasil penelitian yang menyatakan bahwa pola makan tidak sehat merupakan penyebab resiko kematian terbesar, lalu mengapa hanya rokok yang terus-menerus dituduh dalam kampanye kelompok-kelompok antirokok yang mengatasnamakan kesehatan?
<\/p>\n\n\n\n

Untuk memahami hal ini tentunya anda harus mengetahui bahwa terdapat perang bisnis nikotin antara industri farmasi dan industri rokok, atau yang sering kami sebut sebagai \u201cNicotin War\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Maka Anda tak usah heran jika rokok diframing bertentangan dengan kesehatan, karena semua semata hanyalah akal-akalan pihak industri farmasi untuk memenangi pertarungan bisnis nikotin tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Pola Makan Tidak Sehat Membunuhmu","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pola-makan-tidak-sehat-membunuhmu","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-23 12:23:48","post_modified_gmt":"2019-04-23 05:23:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5653","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5637,"post_author":"855","post_date":"2019-04-16 11:07:27","post_date_gmt":"2019-04-16 04:07:27","post_content":"\n

Terlahir sebagai tunadaksa atau tanpa tangan, tidak membuat Shadikin Pard pesimis menjalan hidup. Lebih dari itu, ia berhasil membuktikan bahwa kekurangan bukanlah aral melintang yang mengganjal langkah menuju kesuksesan.<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Hujan sudah reda ketika kaki saya memasuki gerbang Taman Balekambang, Surakarta. Di dalam, di atas tanah yang masih basah, ratusan pelukis dari penjuru negeri sedang sibuk mengaktualisasikan kegelisahan hatinya ke sebuah kanvas. Mereka sedang mengikuti Indonesia Painting Contest 2019 yang diselenggarakan oleh NU Gallery.
<\/p>\n\n\n\n

Saya terus melangkah menyusuri tanah basah yang di samping kanan dan kirinya para pelukis sedang khidmat menggoreskan kuas. Hingga kaki saya terhenti di hadapan pelukis yang berkonsentrasi melukis menggunakan kedua kakinya.
<\/p>\n\n\n\n

Sebatang kuas dijepitkan di antara jemari kaki. Sesekali ia menyelupkan kuas itu ke dalam cat dan kemudian menggoreskannya ke dalam kanvas hingga membentuk sebuah lukisan realis Reog Ponorogo yang indah. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di sampingnya, seorang pemuda yang ternyata anaknya dengan sigap menjalankan instruksi ayahnya, mulai dari mengganti ukuran kuas yang terjepit di antara jemarinya, membuka botol cat dan lain sebagainya. Sesekali anaknya menyalakan rokok dan menyodorkan ke hadapan mulut ayahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Ia melukis Reog Ponorogo bukan tanpa alasan. Ia ingin memberikan kritik kepada seluruh masyarakat dan Pemerintah, bahwa mencintai kekayaan budaya bangsa sendiri adalah kewajiban yang harus selalu digelorakan. Jangan sampai, ketika kebudayaan tersebut direbut negara lain, bangsa ini baru panik dan serius mengakui serta membanggakan kekayaan kebudayaan sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ialah Shadikin Pard, seorang pelukis masyhur yang terlahir tunadaksa atau tanpa kedua tangan. Kami berbincang di bawah pohon beringin rindang. Di antara para pelukis lainnya yang sedang beristirahat menunggu waktu pengumuman pemenang dibacakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pria kelahiran 29 Oktober 1996 ini mulai melukis sejak masih di taman kanak-kanak. Saat itu, melukis hanya sebagai hobi semata. Sadikin juga pernah les privat melukis di rumahnya. Hingga mengenyam pendidikan sekolah menengah atas di SMA Santa Maria Kota Malang, Sadikin masih menempatkan melukis sebagai hobi.
<\/p>\n\n\n\n

Di tengah keterbatasannya, Sadikin lalu melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kala itu, Sadikin mengambil jurusan psikologi pascagagal mengambil jurusan arsitektur yang ia dambakan dan cita-citakan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, kekurangan yang diberikan Tuhan adalah sebuah kelebihan yang tidak banyak dimiliki oleh orang lain. Kegigihannya dalam belajar melukis menghantarkannya ke Associaton of Mouth and Foot Painting Artist (AMFPA). Sebuah organisasi yang bermarkas di Swiss dan menghimpun karya pelukis yang melukis menggunakan kaki dan mulut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSetelah masuk AMFPA, saya menjadikan melukis sebagai profesi. Tahun 1989 saya menerima 300 swiss franc, setara Rp 300 ribu waktu itu. Kini, saya menerima sekitar 40 jt setiap bulan,\u201d ungkap Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin terus melukis. Kemampuannya terus berkembang, bahkan melebihi tuntutan dari organisasi yang ia ikuti. Nama Sadikin juga mulai dikenal, bukan sebab keterbatasannya, melainkan sebab karyanya yang memang bernilai tinggi.
<\/p>\n\n\n\n

Setiap kali ada pameran lukisan dan kontes-kontes melukis, Sadikin tidak pernah alfa untuk mengikutinya. Karyanya menjadi sorotan publik dan banyak laku dengan harga yang tidak murah. Bahkan menurutnya, ada salah satu lukisannya yang laku hingga Rp 250 juta.<\/p>\n\n\n\n

Menolak Pasrah dan Bergantung kepada Pemerintah karena Disabilitas<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Sadikin tidak mau dikasihani orang lain. Meski ia tunadaksa, ia adalah manusia yang sama, yang memilki kesempatan besar untuk menjalani rutinitas sebagaimana manusia lainnya. \u201cKuncinya adalah terus mencoba, mencoba dan mencoba. Saya tidak apa-apa dicemooh lukisan saya jelek. Bagi saya cemoohan seperti itu adalah cambuk untuk terus berlatih,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Sadikin, masyarakat harus adil memerlakukan para difabel. Difabel harus diperlakukan sebagaimana orang biasa. Semakin banyak orang yang mengasihani difabel, maka tidak malah membuat difabel itu kuat, sebaliknya berdampak melemahkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cDifabel harus diperlakukan seperti manusia biasa, bahkan ia harus diberi tantangan dan ditempa untuk menemukan kelebihan dalam dirinya,\u201d kata Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, para difabel harus mulai mengubah sudut pandang. Bahwa segala kekurangan tidak kemudian menjadikan para difabel pasrah menerima nasib dan mengharapkan santunan dari orang lain dan pemerintah untuk menjalani hidup. Difabel adalah orang istimewa yang dapat berkarya melebihi orang-orang biasa. Kekurangan ini adalah kelebihan yang akan ditemukan dengan kerja keras dan melatih diri menjadi apa yang diinginkan.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin bisa berangkat ke Swiss dan mengharumkan nama Indonesia di mata dunia, tidak terlebih dulu mendapat perhatian dari pemerintah. Ia mengaku berangkat dengan uang sendiri. Bahkan, lanjut Sadikin, hingga kini pun tidak ada pemerintah yang mengapresiasi karya-karyanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak menginginkan belas kasihan dari pemerintah. Karena yang sejatinya benar adalah, kita dapat memberikan apa kepada negara ini, bukan negara dapat memberikan apa kepada kita. Namun yang saya sayangkan, pemerintah sepertinya tidak peduli memperhatikan para seniman dan menghargai karya seni dari para seniman negeri sendiri. Seharusnya para seniman ini diberikan wadah, diperhatikan, kan juga kalau manajemennya bagus bisa menjadi pemasukan untuk negara,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin mengirim pesan kepada seluruh seniman di Tanah Air untuk terus berkaraya, tanpa peduli akan bernilai apa sebuah karya tersebut. \u201cYang terpenting kita dapat mengaktulisasikan diri dan terus melukis dengan niat mengharumkan nama negeri. Teruslah berkarya, karena sejatinya karya adalah yang dibuat dengan kesungguhan dan keikhlasan hati,\u201d pungkas pelukis beranak dua tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Shadikin Pard, Pelukis Tanpa Lengan yang Mengharumkan Bangsa dengan Kedua Kakinya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"shadikin-pard-pelukis-tanpa-lengan-yang-mengharumkan-bangsa-dengan-kedua-kakinya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-16 11:09:38","post_modified_gmt":"2019-04-16 04:09:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5637","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5621,"post_author":"877","post_date":"2019-04-10 10:37:08","post_date_gmt":"2019-04-10 03:37:08","post_content":"\n

Bahasan mengenai hukum menyulut kretek pernah dipertanyakan dalam forum bahtsul masail<\/em> (musyawarah) para Kiai\/Ulama\u2019 Kudus. Pertanyaan (saail<\/em>) yang mengajukan atas nama masyarakat Baletengahan, yaitu dukuh yang masuk wilayah Desa Langgardalem Kecamatan Kota. Tepatnya sekitar + 800an m, arah utara Masjid Menara Kudus (al-Aqsha). Kultur budaya masyarakat Baletengahan adalah santri, terdapat banyak Pesantren dan beberapa madrasah, salah satunya lembaga pendidikan formal TBS (Tasywiqut Thullab Salafiyyah), yaitu lembaga pendidikan salaf yang dahulu salah satu tempat  KH. Arwani Amin al-Hafiz mengajar dan yayasan pendidikan Nawa Kartika, yang didirikan oleh tokoh NU setempat. <\/p>\n\n\n\n

Lain halnya pesantren dan lembaga pendidikan, di sekitar Baletengahan Langgardalem, konon dahulu banyak usaha rumahan kretek. Petilasan yang masih dapat dijumpai di Langgardalem adalah \u201cgudang tembakau dan PR. Buah Cengkeh\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Disini terlihat para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus mempunyai tradisi kritis menyikapi fenomena disekelilingnya. Sehingga wajar pada tahun 1990an muncul bahasan tentang kretek di Bahtsul Masail<\/em> para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, jauh mendahului keputusan MUI dan Muhammadiyyah hasil Padang Panjang, dilaksanakan tahun 2009-2010.<\/p>\n\n\n\n

Tradisi Bahtsul Masail biasa disebut \u201cMunadzoroh<\/em>\u201d sudah lama dilakukan para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, dengan bertempat di Masjid-masjid di sekitar Kudus, bergantian dan memutar. Peserta munadzoroh<\/em> adalah para Kiai\/Ulama\u2019 se-Kabupaten Kudus dari berbagai penjuru desa, dan juga masyarakat umum, karena sifatnya terbuka (siapa saja boleh ikut tanpa terkecuali). Pelaksanaannya dari dulu hingga sekarang dijatuhkan pada hari Ahad (minggu). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat pembahasan mengenai kretek, bertempat di Masji al-Aqsho Menara Kudus yang dipimpin oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), redaksi pertanyaaannya adalah:<\/p>\n\n\n\n

\u201ckados pundi hukumipun ngkretek (bagaimana hukum menghisap kretek)?\u201d<\/em>--pertanyaan dari<\/em> Baletengahan--<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sebelum memulai pembahasan biasanya KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menanyakan tentang apa yang akan dibahas. Diceritakan oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi, situasi dan kondisi saat itu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), bertanya di forum, \u00a0\u201copo iki takonane?\u201d (pertanyaannya apa), di jawab yang hadir saat itu, \u201c anu Mbah bab kretek\u201d (itu bab menghisap kretek), lalu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menyambung jawaban hadirin, \u201coooo, bab kretek, kretekku gowo rene dikik\u201d (ooo, bab menghisap kretek, kretekku bawa kemari dulu), kemudian KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) mengambil satu batang kretek dari bungkusnya disulut dan dihisap. Selesai menyulut kretek, kembali KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) berbicara, \u201cwes kono dibahas\u201d (sudah sana dibahas). Setelah diperintahkan untuk dibahas, suasana hening sejenak. \u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mungkin di benak para hadirin terlintas pikiran \u201capa yang dibahas sudah dijawab secara tersirat oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) dengan menghisap kretek\u201d. Pada akhirnya, pembahasan tetap dilaksanakan. Diceritakan KH. Sya\u2019roni juga, situasi saat itu tidak ada Kiai\/Ulama\u2019 yang hadir menghukumi \u201charam\u201d, pada akhirnya diputuskan KH. Turaikhan, dengan hukum \u201c boleh\u201d, disela-sela KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) memberikan penjelasan, ada salah satu hadirin mengacungkan jarinya, beliau adalah KH. Hambali (Al Maghfurlah), sambil berkata; \u201ckulo Kiai, menawi boten udud kulo mboten saget mucal\u201d (saya Kiai, kalau tidak sambil menghisap kretek, saya tidak dapat mengajar), disertai argumen dan penjelasanannya. Kemudian KH. Turaikhan, memberikan jawaban dan tanggapan kepada KH. Hambali, \u201cnek ngono, kanggo kuwi hukumi wajib\u201d (kalau begitu, untuk kamu hukumnya wajib mengkonsumsi kretek).  <\/p>\n\n\n\n

Dilihat dari putusan Bahtsul Masail di atas, pada awalnya menghisap kretek dihukumi \u201cboleh\u201d, namun dengan kondisi tertentu menjadi \u201cWajib\u201d. Cerita penetapan hukum menghisap kretek dalam forum Bahtsul Masail di atas, telah menyebar di kalangan masyarakat Kudus, dan menjadi konsumsi publik, serta bersifat mengikat sampai sekarang. Sehingga banyak Kiai\/Ulama\u2019 Kudus tidak mempersoalkan lagi, apalagi membahas kembali. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cerita situasi dan kondisi Bahtsul Masail, diapresiasi dan diinterpretasikan Kiai\/Ulama\u2019Kudus lebih kontekstual, salah satunya KH. Fatkhur Rahman, beliau bercerita;  saat KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) populer dengan sebutan Mbah Tur memimpin munadzoroh<\/em> ada pertanyaan: bagaimana hukumnya kretek? Mbah Tur malah mengambil kretek, menyulut dan menghisapnya, dengan begitu diasumsikan hukumnya \u201chalal\u201d (jadi  setelah itu sudah tidak perlu dibahas lagi soal kretek). KH. Fatkhur Rahman juga menceritakan ada satu alasan kuat, mengapa halal, karena para Kiai itu tidak mau barang subhat<\/em> (tidak jelas posisinya), apalagi haram. Ketika para Kiai\/Ulama\u2019 besar menghisap kretek, otomatis tidak haram. Tuhan menciptakan sesuatu untuk dinikmati itu ada dua, halal atau haram. <\/p>\n\n\n\n

Dasar hukum menghisap kretek adalah mubah, sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang menjadi wajib, juga menjadi haram. Dasar utamanya adalah  \u201cla dhororo wala dhiroro\u201d. <\/em>Hukumnya seperti  mengkonsumsi gula, ketika kena penyakit gula, maka haram atau tidak boleh mengkonsumsi gula. Begitu pula ketika punya darah tinggi, maka tidak boleh makan daging, dan seterusnya. Dimana \u201calhukmu yadurru ma\u2019a illatihi\u201d<\/em>(hukum itu bisa beralih tergantung alasannya). Membeli kretek dihukumi tidak boleh (haram), jika uang yang dipakai semestinya untuk belanja kebutuhan pokok, membayar sekolah dan lain sebagainya. Menghisap kretek menjadi wajib, ketika tidak menghisap sulit berpikir, lemas, tidak bisa kerja dan lain sebagainya.
<\/p>\n","post_title":"Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fenomena-hukum-rokok-bagi-ulama-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-10 10:37:16","post_modified_gmt":"2019-04-10 03:37:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5621","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

Paling Populer

\n

Justru para peneliti di British Medical Journal mengatakan, penggunaan kata adiktif kepada rokok dan ajakan berhenti merokok berulang-ulang tidaklah tepat. Sebab para peneliti tersebut mengemukakan perokok sangat mudah untuk berhenti dari aktivitas merokoknya. Justru kata adiktif itulah yang membuat perokok menjadi sulit untuk berhenti merokok.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lalu lihatlah ketika bulan ramadhan, apakah perokok harus diprovokasi dahulu agar bisa berpuasa? Lagi-lagi dengan penuh kesadaran para perokok dapat berhenti merokok selama 13 jam setiap hari tanpa paksaan, tanpa kampanye negatif dan ajakan-ajakan berhenti merokok lainnya yang sangat menyebalkan.
<\/p>\n\n\n\n

Sudah seharusnya peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia tidak diselenggarakan, sebab dengan adanya bulan ramadhan, hal ini dapat menganulir peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Dikarenakan hari peringatan tersebut sudah gaagal dan tidak memiliki substansi dalam penyelenggaraannya.
<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Gagal dalam artian goals atau tujuan yang dicapai dari peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia tidak menuai hasil. Perokok tidak patuh dan acuh tak acuh terhadap hari peringatan tersebut, justru lebih memilih menjalankan puasa dengan khidmat. Prinsip yang dibangun oleh perokok adalah menikmati rokok ada waktunya, soal berhenti adalah soal pilihan.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu tidak memiliki substansi yang dimaksud adalah peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia tidak memiliki visi yang jelas dan landasan dasar yang kuat. Selama ini visi dan landasan dasar yang diserukan ketika peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia hanyalah memberikan stigma-stigma negatif dan membangun kebencian kepada rokok dan perokok. Bandingkan dengan puasa yang memiliki substansi kuat di dalamnya. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini<\/a><\/p>\n\n\n\n

Berpuasa bukan sekedar menahan haus dan lapar, tapi juga dapat meningkatkan kualitas rohani dan jasmani bagi orang-orang yang berpuasa. Ini sangat jelas. Sudah sangat banyak riset-riset ilmiah yang menunjukan bahwa puasa memiliki segudang manfaat bagi manusia. Atas dasar itulah para perokok patuh terhadap seruan menunaikan ibadah puasa. Menahan diri untuk tidak merokok semantara waktu selama hampir 13 jam lamanya.
<\/p>\n\n\n\n

Maka masihkah relevan peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia? Daripada memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia, lebih baik kita semua menunaikan ibadah puasa dengan khidmat yang jelas-jelas mendapatkan pahala berlipat ganda.
<\/p>\n","post_title":"Menolak Peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia dengan Berpuasa di Bulan Ramadhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menolak-peringatan-hari-tanpa-tembakau-sedunia-dengan-berpuasa-di-bulan-ramadhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-11 12:30:30","post_modified_gmt":"2019-05-11 05:30:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5710","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5679,"post_author":"878","post_date":"2019-05-03 11:19:10","post_date_gmt":"2019-05-03 04:19:10","post_content":"\n

Pada mulanya masyarakat pribumi yang mendiami benua Amerika mulai dari wilayah paling utara hingga ke selatan, dengan bermacam suku-suku yang hidup secara komunal\u2014yang kemudian disamaratakan penyebutannya oleh penjelajah Eropa dengan sebutan Suku Indian\u2014mengonsumsi tembakau yang dikeringkan sebagai sarana pelepas lelah, dan untuk mengobati beberapa jenis penyakit yang ada ketika itu. Mereka mengisap tembakau yang dikeringkan menggunakan sebuah pipa yang lazim disebut \u2018tubak<\/em>\u2019, selanjutnya bangsa Eropa menggunakan penyebutan \u2018tubak<\/em>\u2019 untuk menamakan daun kering tersebut, lahirlah istilah \u2018tobacco<\/em>\u2019 dalam bahasa Inggirs yang diserap menjadi \u2018tembakau\u2019 dalam bahasa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Melalui Colombus dan seluruh awak kapalnya yang mendatangi benua Amerika, kebiasaan mengisap tembakau ini kemudian diperkenalkan ke Eropa dan perlahan menjadi kebiasaan yang umum di sana. Konsumsi tembakau di Eropa terutama dimanfaatkan sebagai penghilang rasa dingin ketika musim dingin tiba di daratan Eropa. Bangsa Eropa kemudian membawa tembakau ke negeri jajahan mereka dan membudidayakannya di sana hingga pada akhirnya tembakau menjadi konsumsi yang mendunia, termasuk juga di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ariel Tatum dan Diskriminasi Perempuan Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia sendiri, tembakau pada mulanya digunakan sebagai bahan campuran dalam mengonsumsi sirih yang lazim disebut nyirih<\/em>. Karena dianggap jorok, penjajah Belanda melarang aktivitas nyirih dan mengenalkan konsumsi tembakau dengan cara dibakar dan diisap kepada masyarakat pribumi. Kebiasaan mengisap tembakau di Indonesia semakin populer usai Haji Djamhari menemukan ramuan tembakau kering yang dicampur cengkeh kering kemudian dibakar dan diisap sebagai obat asma yang ia derita. Campuran tembakau kering dan bunga cengkeh kering yang dibakar menimbulkan suara berkeretek hingga pada akhirnya produk rokok ini dinamakan rokok kretek dan menguasai pasar dalam negeri hingga saat ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari catatan singkat di atas, konsumsi tembakau kering yang diisap kemudian tembakau kering yang dicampur bunga cengkeh kering pada mulanya sebagai barang konsumsi untuk pengobatan dan relaksasi. Hingga pada akhirnya, persaingan bisnis menggiring kampanye-kampanye yang menyuarakan perihal keburukan konsumsi tembakau. Dalih kesehatan dijadikan alasan utama untuk menghancurkan perekonomian tembakau guna meloloskan bisnis farmasi yang dijalankan korporasi besar berskala internasional.<\/p>\n\n\n\n

Periode 2000 hingga saat ini, kampanye miring mengenai rokok dan rokok kretek kian menguat. Tak hanya korporasi besar, badan-badan kesehatan dunia juga ikut ambil peran dalam upaya menghancurkan produk rokok terutama rokok kretek yang menjadi ciri khas dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Berita terbaru dalam sepekan terakhir, di Jepang, salah satu universitas negeri berencana memecat seluruh staf dan dosen mereka yang menjadi perokok aktif. Selain itu, beberapa perusahaan di Jepang juga akan mencoret langsung para pelamar kerja yang diketahui sebagai perokok aktif. Ini tentu saja menjadi kemunduran yang telak bagi negara Jepang. Padahal sebelumnya Jepang dikenal menjadi negara yang masih cukup ramah terhadap para perokok.<\/p>\n\n\n\n

Alasan Jepang memberlakukan kebijakan tersebut sebagai upaya menyambut perhelatan olimpiade 2020 yang akan diselenggarakan di Tokyo. Lagi-lagi, dalih kesehatan yang menjadi tameng kebijakan ini. Jika ditelaah secara saksama, tentu saja kebijakan ini sama sekali tidak ada relevansinya. Terkesan pemaksaan dan sekadar pencitraan semata.<\/p>\n\n\n\n

Lagi pula, tak ada relevansinya antara kecerdasan (dalam hal ini dunia kampus) dengan kebiasaan merokok. Juga tak ada relevansi antara kinerja (dalam hal ini pelamar kerja) dengan kebiasaan merokok. Lagi-lagi, ini semata sekadar cocokologi saja.<\/p>\n\n\n\n

Bodoh ya bodoh saja, malas ya malas saja, juga sebaliknya, tak ada kaitannya dengan kebiasaan merokok. Kita bisa menjejerkan ratusan bahkan ribuan nama-nama orang yang memiliki kebiasaan merokok, di sana akan ada orang-orang yang sangai pandai hingga orang-orang idiot sekalipun yang memiliki kebiasaan merokok. Kita juga bisa menjejerkan nama-nama ratusan hingga ribuan orang yang sama sekali tidak merokok, dan di sana akan ada orang yang pandai sekali juga akan ada orang goblok segoblok-gobloknya yang sama sekali tidak merokok. Lalu, apa alasan memecat staf dan dosen di kampus yang memiliki kebiasaan merokok?<\/p>\n\n\n\n

Hal yang sama juga bisa kita lakukan dengan jejeran nama-nama orang dengan kinerja dan etos kerja. Yang rajin, juga yang malas, ada dalam kelompok mereka yang merokok juga kelompok mereka yang tidak merokok. Maka, saya kira, apa yang terjadi di Jepang dan diberitakan dalam sepekan belakangan, tentu saja mengganggu akal sehat siapa saja yang masih bisa berpikir dengan jernih.
<\/p>\n","post_title":"Diskriminasi Terhadap Para Perokok di Jepang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"diskriminasi-terhadap-para-perokok-di-jepang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-03 11:19:17","post_modified_gmt":"2019-05-03 04:19:17","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5679","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5653,"post_author":"883","post_date":"2019-04-23 12:23:36","post_date_gmt":"2019-04-23 05:23:36","post_content":"\n

Rokok selalu dikambinghitamkan sebagai penyebab dari tingginya angka kematian umat manusia. Angka dan data jadul yang selalu diulang-ulang mengenai rokok penyebab kematian, seakan membius kita bahwa rokok-lah musuh bersama. Sementara rokok dijadikan musuh bersama, kita justru abai terhadap musuh riil yang sedang mengintai kehidupan kita.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah penelitian menyatakan bahwa pola makan yang tidak sehat lebih banyak meningkatkan resiko kematian dini daripada faktor risiko lainnya, termasuk merokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cerita Rakyat Tentang Kretek dan Tembakau di Tiga Kota (Kudus, Temanggung, Madura)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ini artinya agen malaikat pencabut nyawa manusia ada di pola makan kita. Apakah sudah sehat atau tidak sehat? satu hal yang seringkali diabaikan.
<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan Studi Global Burden of Disease yang mengamati konsumsi makanan di 195 negara, antara tahun 1990 dan 2017, fokus pada 15 jenis makanan atau nutrisi mengamini pola makan tidak sehat adalah penyebab terbesar kematian manusia.
<\/p>\n\n\n\n

Penelitian lainnya yang bersumber dari Medical News Today, dalam sebuah makalah yang dimuat dalam The Lancet, para peneliti menyimpulkan, pola makan yang buruk menyumbang 1 dari 5, atau 11 juta, kematian orang dewasa pada tahun 2017. Sebagian besar dari kematian itu, sekitar 10 juta, berasal dari penyakit kardiovaskular.
<\/p>\n\n\n\n

Sisanya terutama dari kanker dan diabetes tipe 2. Peringkat negara-negara dari tingkat kematian terkait diet terendah ke tertinggi menempatkan Israel pertama, dengan 89 kematian per 100.000 orang, dan Uzbekistan terakhir, dengan 892 per 100.000. Amerika Serikat, dengan 171 kematian per 100.000, berada di posisi ke-43 dan Inggris di peringkat ke-23, dengan 127 kematian per 100.000. India di tempat ke-118, dan Cina di ke-140.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Penelitian termutakhir yang di sebutkan di atas merupakan penelitian yang bersifat global, lalu bagaimana dengan di Indonesia? Apakah kasus pola makan yang tidak sehat juga menjadi penyebab kematian terbesar?
<\/p>\n\n\n\n

Dalam sebuah artikel yang ditulis oleh Triyani Kresnawan, DCN,Mkes, Instalasi Gizi RSCM dan diterbitkan oleh Departemen Kesehatan Gizi Kementerian Kesehatan menyebutkan, pola makan yang tidak seimbang yang menyebabkan resiko munculnya penyakit kanker antara lain kebiasaan makanan cepat saji (fast food).
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan menjaga keseimbangan dalam pola makan ini juga disampaikan oleh Spesialis Patologi Anatomi dari Rumah Sakit Kanker Dharmais, dr Evalina Suzana. Ia mengatakan pola makan yang sehat merupakan bagian bentuk pencegahan dari penyakit kanker. Di luar dari olahraga yang teratur, minum air, dan tidur yang cukup.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Eva, sebuah pola bisa dibilang sehat jika semua yang masuk ke dalam tubuh seimbang. Tidak boleh berlebihan bukan berarti tidak dimakan sama sekali. Harus terdiri dari 50 persen protein, 30 persen karbohidrat, dan 20 persen lemak dan serat. Itu harus dipenuhi di luar mineral-mineral yang ada.
<\/p>\n\n\n\n

Nah loh, berdasarkan hasil-hasil penelitian yang menyatakan bahwa pola makan tidak sehat merupakan penyebab resiko kematian terbesar, lalu mengapa hanya rokok yang terus-menerus dituduh dalam kampanye kelompok-kelompok antirokok yang mengatasnamakan kesehatan?
<\/p>\n\n\n\n

Untuk memahami hal ini tentunya anda harus mengetahui bahwa terdapat perang bisnis nikotin antara industri farmasi dan industri rokok, atau yang sering kami sebut sebagai \u201cNicotin War\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Maka Anda tak usah heran jika rokok diframing bertentangan dengan kesehatan, karena semua semata hanyalah akal-akalan pihak industri farmasi untuk memenangi pertarungan bisnis nikotin tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Pola Makan Tidak Sehat Membunuhmu","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pola-makan-tidak-sehat-membunuhmu","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-23 12:23:48","post_modified_gmt":"2019-04-23 05:23:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5653","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5637,"post_author":"855","post_date":"2019-04-16 11:07:27","post_date_gmt":"2019-04-16 04:07:27","post_content":"\n

Terlahir sebagai tunadaksa atau tanpa tangan, tidak membuat Shadikin Pard pesimis menjalan hidup. Lebih dari itu, ia berhasil membuktikan bahwa kekurangan bukanlah aral melintang yang mengganjal langkah menuju kesuksesan.<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Hujan sudah reda ketika kaki saya memasuki gerbang Taman Balekambang, Surakarta. Di dalam, di atas tanah yang masih basah, ratusan pelukis dari penjuru negeri sedang sibuk mengaktualisasikan kegelisahan hatinya ke sebuah kanvas. Mereka sedang mengikuti Indonesia Painting Contest 2019 yang diselenggarakan oleh NU Gallery.
<\/p>\n\n\n\n

Saya terus melangkah menyusuri tanah basah yang di samping kanan dan kirinya para pelukis sedang khidmat menggoreskan kuas. Hingga kaki saya terhenti di hadapan pelukis yang berkonsentrasi melukis menggunakan kedua kakinya.
<\/p>\n\n\n\n

Sebatang kuas dijepitkan di antara jemari kaki. Sesekali ia menyelupkan kuas itu ke dalam cat dan kemudian menggoreskannya ke dalam kanvas hingga membentuk sebuah lukisan realis Reog Ponorogo yang indah. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di sampingnya, seorang pemuda yang ternyata anaknya dengan sigap menjalankan instruksi ayahnya, mulai dari mengganti ukuran kuas yang terjepit di antara jemarinya, membuka botol cat dan lain sebagainya. Sesekali anaknya menyalakan rokok dan menyodorkan ke hadapan mulut ayahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Ia melukis Reog Ponorogo bukan tanpa alasan. Ia ingin memberikan kritik kepada seluruh masyarakat dan Pemerintah, bahwa mencintai kekayaan budaya bangsa sendiri adalah kewajiban yang harus selalu digelorakan. Jangan sampai, ketika kebudayaan tersebut direbut negara lain, bangsa ini baru panik dan serius mengakui serta membanggakan kekayaan kebudayaan sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ialah Shadikin Pard, seorang pelukis masyhur yang terlahir tunadaksa atau tanpa kedua tangan. Kami berbincang di bawah pohon beringin rindang. Di antara para pelukis lainnya yang sedang beristirahat menunggu waktu pengumuman pemenang dibacakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pria kelahiran 29 Oktober 1996 ini mulai melukis sejak masih di taman kanak-kanak. Saat itu, melukis hanya sebagai hobi semata. Sadikin juga pernah les privat melukis di rumahnya. Hingga mengenyam pendidikan sekolah menengah atas di SMA Santa Maria Kota Malang, Sadikin masih menempatkan melukis sebagai hobi.
<\/p>\n\n\n\n

Di tengah keterbatasannya, Sadikin lalu melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kala itu, Sadikin mengambil jurusan psikologi pascagagal mengambil jurusan arsitektur yang ia dambakan dan cita-citakan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, kekurangan yang diberikan Tuhan adalah sebuah kelebihan yang tidak banyak dimiliki oleh orang lain. Kegigihannya dalam belajar melukis menghantarkannya ke Associaton of Mouth and Foot Painting Artist (AMFPA). Sebuah organisasi yang bermarkas di Swiss dan menghimpun karya pelukis yang melukis menggunakan kaki dan mulut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSetelah masuk AMFPA, saya menjadikan melukis sebagai profesi. Tahun 1989 saya menerima 300 swiss franc, setara Rp 300 ribu waktu itu. Kini, saya menerima sekitar 40 jt setiap bulan,\u201d ungkap Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin terus melukis. Kemampuannya terus berkembang, bahkan melebihi tuntutan dari organisasi yang ia ikuti. Nama Sadikin juga mulai dikenal, bukan sebab keterbatasannya, melainkan sebab karyanya yang memang bernilai tinggi.
<\/p>\n\n\n\n

Setiap kali ada pameran lukisan dan kontes-kontes melukis, Sadikin tidak pernah alfa untuk mengikutinya. Karyanya menjadi sorotan publik dan banyak laku dengan harga yang tidak murah. Bahkan menurutnya, ada salah satu lukisannya yang laku hingga Rp 250 juta.<\/p>\n\n\n\n

Menolak Pasrah dan Bergantung kepada Pemerintah karena Disabilitas<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Sadikin tidak mau dikasihani orang lain. Meski ia tunadaksa, ia adalah manusia yang sama, yang memilki kesempatan besar untuk menjalani rutinitas sebagaimana manusia lainnya. \u201cKuncinya adalah terus mencoba, mencoba dan mencoba. Saya tidak apa-apa dicemooh lukisan saya jelek. Bagi saya cemoohan seperti itu adalah cambuk untuk terus berlatih,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Sadikin, masyarakat harus adil memerlakukan para difabel. Difabel harus diperlakukan sebagaimana orang biasa. Semakin banyak orang yang mengasihani difabel, maka tidak malah membuat difabel itu kuat, sebaliknya berdampak melemahkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cDifabel harus diperlakukan seperti manusia biasa, bahkan ia harus diberi tantangan dan ditempa untuk menemukan kelebihan dalam dirinya,\u201d kata Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, para difabel harus mulai mengubah sudut pandang. Bahwa segala kekurangan tidak kemudian menjadikan para difabel pasrah menerima nasib dan mengharapkan santunan dari orang lain dan pemerintah untuk menjalani hidup. Difabel adalah orang istimewa yang dapat berkarya melebihi orang-orang biasa. Kekurangan ini adalah kelebihan yang akan ditemukan dengan kerja keras dan melatih diri menjadi apa yang diinginkan.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin bisa berangkat ke Swiss dan mengharumkan nama Indonesia di mata dunia, tidak terlebih dulu mendapat perhatian dari pemerintah. Ia mengaku berangkat dengan uang sendiri. Bahkan, lanjut Sadikin, hingga kini pun tidak ada pemerintah yang mengapresiasi karya-karyanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak menginginkan belas kasihan dari pemerintah. Karena yang sejatinya benar adalah, kita dapat memberikan apa kepada negara ini, bukan negara dapat memberikan apa kepada kita. Namun yang saya sayangkan, pemerintah sepertinya tidak peduli memperhatikan para seniman dan menghargai karya seni dari para seniman negeri sendiri. Seharusnya para seniman ini diberikan wadah, diperhatikan, kan juga kalau manajemennya bagus bisa menjadi pemasukan untuk negara,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin mengirim pesan kepada seluruh seniman di Tanah Air untuk terus berkaraya, tanpa peduli akan bernilai apa sebuah karya tersebut. \u201cYang terpenting kita dapat mengaktulisasikan diri dan terus melukis dengan niat mengharumkan nama negeri. Teruslah berkarya, karena sejatinya karya adalah yang dibuat dengan kesungguhan dan keikhlasan hati,\u201d pungkas pelukis beranak dua tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Shadikin Pard, Pelukis Tanpa Lengan yang Mengharumkan Bangsa dengan Kedua Kakinya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"shadikin-pard-pelukis-tanpa-lengan-yang-mengharumkan-bangsa-dengan-kedua-kakinya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-16 11:09:38","post_modified_gmt":"2019-04-16 04:09:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5637","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5621,"post_author":"877","post_date":"2019-04-10 10:37:08","post_date_gmt":"2019-04-10 03:37:08","post_content":"\n

Bahasan mengenai hukum menyulut kretek pernah dipertanyakan dalam forum bahtsul masail<\/em> (musyawarah) para Kiai\/Ulama\u2019 Kudus. Pertanyaan (saail<\/em>) yang mengajukan atas nama masyarakat Baletengahan, yaitu dukuh yang masuk wilayah Desa Langgardalem Kecamatan Kota. Tepatnya sekitar + 800an m, arah utara Masjid Menara Kudus (al-Aqsha). Kultur budaya masyarakat Baletengahan adalah santri, terdapat banyak Pesantren dan beberapa madrasah, salah satunya lembaga pendidikan formal TBS (Tasywiqut Thullab Salafiyyah), yaitu lembaga pendidikan salaf yang dahulu salah satu tempat  KH. Arwani Amin al-Hafiz mengajar dan yayasan pendidikan Nawa Kartika, yang didirikan oleh tokoh NU setempat. <\/p>\n\n\n\n

Lain halnya pesantren dan lembaga pendidikan, di sekitar Baletengahan Langgardalem, konon dahulu banyak usaha rumahan kretek. Petilasan yang masih dapat dijumpai di Langgardalem adalah \u201cgudang tembakau dan PR. Buah Cengkeh\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Disini terlihat para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus mempunyai tradisi kritis menyikapi fenomena disekelilingnya. Sehingga wajar pada tahun 1990an muncul bahasan tentang kretek di Bahtsul Masail<\/em> para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, jauh mendahului keputusan MUI dan Muhammadiyyah hasil Padang Panjang, dilaksanakan tahun 2009-2010.<\/p>\n\n\n\n

Tradisi Bahtsul Masail biasa disebut \u201cMunadzoroh<\/em>\u201d sudah lama dilakukan para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, dengan bertempat di Masjid-masjid di sekitar Kudus, bergantian dan memutar. Peserta munadzoroh<\/em> adalah para Kiai\/Ulama\u2019 se-Kabupaten Kudus dari berbagai penjuru desa, dan juga masyarakat umum, karena sifatnya terbuka (siapa saja boleh ikut tanpa terkecuali). Pelaksanaannya dari dulu hingga sekarang dijatuhkan pada hari Ahad (minggu). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat pembahasan mengenai kretek, bertempat di Masji al-Aqsho Menara Kudus yang dipimpin oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), redaksi pertanyaaannya adalah:<\/p>\n\n\n\n

\u201ckados pundi hukumipun ngkretek (bagaimana hukum menghisap kretek)?\u201d<\/em>--pertanyaan dari<\/em> Baletengahan--<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sebelum memulai pembahasan biasanya KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menanyakan tentang apa yang akan dibahas. Diceritakan oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi, situasi dan kondisi saat itu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), bertanya di forum, \u00a0\u201copo iki takonane?\u201d (pertanyaannya apa), di jawab yang hadir saat itu, \u201c anu Mbah bab kretek\u201d (itu bab menghisap kretek), lalu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menyambung jawaban hadirin, \u201coooo, bab kretek, kretekku gowo rene dikik\u201d (ooo, bab menghisap kretek, kretekku bawa kemari dulu), kemudian KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) mengambil satu batang kretek dari bungkusnya disulut dan dihisap. Selesai menyulut kretek, kembali KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) berbicara, \u201cwes kono dibahas\u201d (sudah sana dibahas). Setelah diperintahkan untuk dibahas, suasana hening sejenak. \u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mungkin di benak para hadirin terlintas pikiran \u201capa yang dibahas sudah dijawab secara tersirat oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) dengan menghisap kretek\u201d. Pada akhirnya, pembahasan tetap dilaksanakan. Diceritakan KH. Sya\u2019roni juga, situasi saat itu tidak ada Kiai\/Ulama\u2019 yang hadir menghukumi \u201charam\u201d, pada akhirnya diputuskan KH. Turaikhan, dengan hukum \u201c boleh\u201d, disela-sela KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) memberikan penjelasan, ada salah satu hadirin mengacungkan jarinya, beliau adalah KH. Hambali (Al Maghfurlah), sambil berkata; \u201ckulo Kiai, menawi boten udud kulo mboten saget mucal\u201d (saya Kiai, kalau tidak sambil menghisap kretek, saya tidak dapat mengajar), disertai argumen dan penjelasanannya. Kemudian KH. Turaikhan, memberikan jawaban dan tanggapan kepada KH. Hambali, \u201cnek ngono, kanggo kuwi hukumi wajib\u201d (kalau begitu, untuk kamu hukumnya wajib mengkonsumsi kretek).  <\/p>\n\n\n\n

Dilihat dari putusan Bahtsul Masail di atas, pada awalnya menghisap kretek dihukumi \u201cboleh\u201d, namun dengan kondisi tertentu menjadi \u201cWajib\u201d. Cerita penetapan hukum menghisap kretek dalam forum Bahtsul Masail di atas, telah menyebar di kalangan masyarakat Kudus, dan menjadi konsumsi publik, serta bersifat mengikat sampai sekarang. Sehingga banyak Kiai\/Ulama\u2019 Kudus tidak mempersoalkan lagi, apalagi membahas kembali. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cerita situasi dan kondisi Bahtsul Masail, diapresiasi dan diinterpretasikan Kiai\/Ulama\u2019Kudus lebih kontekstual, salah satunya KH. Fatkhur Rahman, beliau bercerita;  saat KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) populer dengan sebutan Mbah Tur memimpin munadzoroh<\/em> ada pertanyaan: bagaimana hukumnya kretek? Mbah Tur malah mengambil kretek, menyulut dan menghisapnya, dengan begitu diasumsikan hukumnya \u201chalal\u201d (jadi  setelah itu sudah tidak perlu dibahas lagi soal kretek). KH. Fatkhur Rahman juga menceritakan ada satu alasan kuat, mengapa halal, karena para Kiai itu tidak mau barang subhat<\/em> (tidak jelas posisinya), apalagi haram. Ketika para Kiai\/Ulama\u2019 besar menghisap kretek, otomatis tidak haram. Tuhan menciptakan sesuatu untuk dinikmati itu ada dua, halal atau haram. <\/p>\n\n\n\n

Dasar hukum menghisap kretek adalah mubah, sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang menjadi wajib, juga menjadi haram. Dasar utamanya adalah  \u201cla dhororo wala dhiroro\u201d. <\/em>Hukumnya seperti  mengkonsumsi gula, ketika kena penyakit gula, maka haram atau tidak boleh mengkonsumsi gula. Begitu pula ketika punya darah tinggi, maka tidak boleh makan daging, dan seterusnya. Dimana \u201calhukmu yadurru ma\u2019a illatihi\u201d<\/em>(hukum itu bisa beralih tergantung alasannya). Membeli kretek dihukumi tidak boleh (haram), jika uang yang dipakai semestinya untuk belanja kebutuhan pokok, membayar sekolah dan lain sebagainya. Menghisap kretek menjadi wajib, ketika tidak menghisap sulit berpikir, lemas, tidak bisa kerja dan lain sebagainya.
<\/p>\n","post_title":"Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fenomena-hukum-rokok-bagi-ulama-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-10 10:37:16","post_modified_gmt":"2019-04-10 03:37:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5621","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

Paling Populer

\n

Provokasi berhenti merokok dengan segala macam kampanye buruk mengenai rokok di Hari Peringatan Tanpa Tembakau Sedunia adalah sebuah sesat pikir dari kelompok antirokok. Sebab, perokok sejatinya tahu dan punya kebebasan dalam memilih apa yang dikonsumsinya.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Justru para peneliti di British Medical Journal mengatakan, penggunaan kata adiktif kepada rokok dan ajakan berhenti merokok berulang-ulang tidaklah tepat. Sebab para peneliti tersebut mengemukakan perokok sangat mudah untuk berhenti dari aktivitas merokoknya. Justru kata adiktif itulah yang membuat perokok menjadi sulit untuk berhenti merokok.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lalu lihatlah ketika bulan ramadhan, apakah perokok harus diprovokasi dahulu agar bisa berpuasa? Lagi-lagi dengan penuh kesadaran para perokok dapat berhenti merokok selama 13 jam setiap hari tanpa paksaan, tanpa kampanye negatif dan ajakan-ajakan berhenti merokok lainnya yang sangat menyebalkan.
<\/p>\n\n\n\n

Sudah seharusnya peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia tidak diselenggarakan, sebab dengan adanya bulan ramadhan, hal ini dapat menganulir peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Dikarenakan hari peringatan tersebut sudah gaagal dan tidak memiliki substansi dalam penyelenggaraannya.
<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Gagal dalam artian goals atau tujuan yang dicapai dari peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia tidak menuai hasil. Perokok tidak patuh dan acuh tak acuh terhadap hari peringatan tersebut, justru lebih memilih menjalankan puasa dengan khidmat. Prinsip yang dibangun oleh perokok adalah menikmati rokok ada waktunya, soal berhenti adalah soal pilihan.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu tidak memiliki substansi yang dimaksud adalah peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia tidak memiliki visi yang jelas dan landasan dasar yang kuat. Selama ini visi dan landasan dasar yang diserukan ketika peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia hanyalah memberikan stigma-stigma negatif dan membangun kebencian kepada rokok dan perokok. Bandingkan dengan puasa yang memiliki substansi kuat di dalamnya. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini<\/a><\/p>\n\n\n\n

Berpuasa bukan sekedar menahan haus dan lapar, tapi juga dapat meningkatkan kualitas rohani dan jasmani bagi orang-orang yang berpuasa. Ini sangat jelas. Sudah sangat banyak riset-riset ilmiah yang menunjukan bahwa puasa memiliki segudang manfaat bagi manusia. Atas dasar itulah para perokok patuh terhadap seruan menunaikan ibadah puasa. Menahan diri untuk tidak merokok semantara waktu selama hampir 13 jam lamanya.
<\/p>\n\n\n\n

Maka masihkah relevan peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia? Daripada memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia, lebih baik kita semua menunaikan ibadah puasa dengan khidmat yang jelas-jelas mendapatkan pahala berlipat ganda.
<\/p>\n","post_title":"Menolak Peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia dengan Berpuasa di Bulan Ramadhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menolak-peringatan-hari-tanpa-tembakau-sedunia-dengan-berpuasa-di-bulan-ramadhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-11 12:30:30","post_modified_gmt":"2019-05-11 05:30:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5710","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5679,"post_author":"878","post_date":"2019-05-03 11:19:10","post_date_gmt":"2019-05-03 04:19:10","post_content":"\n

Pada mulanya masyarakat pribumi yang mendiami benua Amerika mulai dari wilayah paling utara hingga ke selatan, dengan bermacam suku-suku yang hidup secara komunal\u2014yang kemudian disamaratakan penyebutannya oleh penjelajah Eropa dengan sebutan Suku Indian\u2014mengonsumsi tembakau yang dikeringkan sebagai sarana pelepas lelah, dan untuk mengobati beberapa jenis penyakit yang ada ketika itu. Mereka mengisap tembakau yang dikeringkan menggunakan sebuah pipa yang lazim disebut \u2018tubak<\/em>\u2019, selanjutnya bangsa Eropa menggunakan penyebutan \u2018tubak<\/em>\u2019 untuk menamakan daun kering tersebut, lahirlah istilah \u2018tobacco<\/em>\u2019 dalam bahasa Inggirs yang diserap menjadi \u2018tembakau\u2019 dalam bahasa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Melalui Colombus dan seluruh awak kapalnya yang mendatangi benua Amerika, kebiasaan mengisap tembakau ini kemudian diperkenalkan ke Eropa dan perlahan menjadi kebiasaan yang umum di sana. Konsumsi tembakau di Eropa terutama dimanfaatkan sebagai penghilang rasa dingin ketika musim dingin tiba di daratan Eropa. Bangsa Eropa kemudian membawa tembakau ke negeri jajahan mereka dan membudidayakannya di sana hingga pada akhirnya tembakau menjadi konsumsi yang mendunia, termasuk juga di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ariel Tatum dan Diskriminasi Perempuan Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia sendiri, tembakau pada mulanya digunakan sebagai bahan campuran dalam mengonsumsi sirih yang lazim disebut nyirih<\/em>. Karena dianggap jorok, penjajah Belanda melarang aktivitas nyirih dan mengenalkan konsumsi tembakau dengan cara dibakar dan diisap kepada masyarakat pribumi. Kebiasaan mengisap tembakau di Indonesia semakin populer usai Haji Djamhari menemukan ramuan tembakau kering yang dicampur cengkeh kering kemudian dibakar dan diisap sebagai obat asma yang ia derita. Campuran tembakau kering dan bunga cengkeh kering yang dibakar menimbulkan suara berkeretek hingga pada akhirnya produk rokok ini dinamakan rokok kretek dan menguasai pasar dalam negeri hingga saat ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari catatan singkat di atas, konsumsi tembakau kering yang diisap kemudian tembakau kering yang dicampur bunga cengkeh kering pada mulanya sebagai barang konsumsi untuk pengobatan dan relaksasi. Hingga pada akhirnya, persaingan bisnis menggiring kampanye-kampanye yang menyuarakan perihal keburukan konsumsi tembakau. Dalih kesehatan dijadikan alasan utama untuk menghancurkan perekonomian tembakau guna meloloskan bisnis farmasi yang dijalankan korporasi besar berskala internasional.<\/p>\n\n\n\n

Periode 2000 hingga saat ini, kampanye miring mengenai rokok dan rokok kretek kian menguat. Tak hanya korporasi besar, badan-badan kesehatan dunia juga ikut ambil peran dalam upaya menghancurkan produk rokok terutama rokok kretek yang menjadi ciri khas dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Berita terbaru dalam sepekan terakhir, di Jepang, salah satu universitas negeri berencana memecat seluruh staf dan dosen mereka yang menjadi perokok aktif. Selain itu, beberapa perusahaan di Jepang juga akan mencoret langsung para pelamar kerja yang diketahui sebagai perokok aktif. Ini tentu saja menjadi kemunduran yang telak bagi negara Jepang. Padahal sebelumnya Jepang dikenal menjadi negara yang masih cukup ramah terhadap para perokok.<\/p>\n\n\n\n

Alasan Jepang memberlakukan kebijakan tersebut sebagai upaya menyambut perhelatan olimpiade 2020 yang akan diselenggarakan di Tokyo. Lagi-lagi, dalih kesehatan yang menjadi tameng kebijakan ini. Jika ditelaah secara saksama, tentu saja kebijakan ini sama sekali tidak ada relevansinya. Terkesan pemaksaan dan sekadar pencitraan semata.<\/p>\n\n\n\n

Lagi pula, tak ada relevansinya antara kecerdasan (dalam hal ini dunia kampus) dengan kebiasaan merokok. Juga tak ada relevansi antara kinerja (dalam hal ini pelamar kerja) dengan kebiasaan merokok. Lagi-lagi, ini semata sekadar cocokologi saja.<\/p>\n\n\n\n

Bodoh ya bodoh saja, malas ya malas saja, juga sebaliknya, tak ada kaitannya dengan kebiasaan merokok. Kita bisa menjejerkan ratusan bahkan ribuan nama-nama orang yang memiliki kebiasaan merokok, di sana akan ada orang-orang yang sangai pandai hingga orang-orang idiot sekalipun yang memiliki kebiasaan merokok. Kita juga bisa menjejerkan nama-nama ratusan hingga ribuan orang yang sama sekali tidak merokok, dan di sana akan ada orang yang pandai sekali juga akan ada orang goblok segoblok-gobloknya yang sama sekali tidak merokok. Lalu, apa alasan memecat staf dan dosen di kampus yang memiliki kebiasaan merokok?<\/p>\n\n\n\n

Hal yang sama juga bisa kita lakukan dengan jejeran nama-nama orang dengan kinerja dan etos kerja. Yang rajin, juga yang malas, ada dalam kelompok mereka yang merokok juga kelompok mereka yang tidak merokok. Maka, saya kira, apa yang terjadi di Jepang dan diberitakan dalam sepekan belakangan, tentu saja mengganggu akal sehat siapa saja yang masih bisa berpikir dengan jernih.
<\/p>\n","post_title":"Diskriminasi Terhadap Para Perokok di Jepang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"diskriminasi-terhadap-para-perokok-di-jepang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-03 11:19:17","post_modified_gmt":"2019-05-03 04:19:17","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5679","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5653,"post_author":"883","post_date":"2019-04-23 12:23:36","post_date_gmt":"2019-04-23 05:23:36","post_content":"\n

Rokok selalu dikambinghitamkan sebagai penyebab dari tingginya angka kematian umat manusia. Angka dan data jadul yang selalu diulang-ulang mengenai rokok penyebab kematian, seakan membius kita bahwa rokok-lah musuh bersama. Sementara rokok dijadikan musuh bersama, kita justru abai terhadap musuh riil yang sedang mengintai kehidupan kita.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah penelitian menyatakan bahwa pola makan yang tidak sehat lebih banyak meningkatkan resiko kematian dini daripada faktor risiko lainnya, termasuk merokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cerita Rakyat Tentang Kretek dan Tembakau di Tiga Kota (Kudus, Temanggung, Madura)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ini artinya agen malaikat pencabut nyawa manusia ada di pola makan kita. Apakah sudah sehat atau tidak sehat? satu hal yang seringkali diabaikan.
<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan Studi Global Burden of Disease yang mengamati konsumsi makanan di 195 negara, antara tahun 1990 dan 2017, fokus pada 15 jenis makanan atau nutrisi mengamini pola makan tidak sehat adalah penyebab terbesar kematian manusia.
<\/p>\n\n\n\n

Penelitian lainnya yang bersumber dari Medical News Today, dalam sebuah makalah yang dimuat dalam The Lancet, para peneliti menyimpulkan, pola makan yang buruk menyumbang 1 dari 5, atau 11 juta, kematian orang dewasa pada tahun 2017. Sebagian besar dari kematian itu, sekitar 10 juta, berasal dari penyakit kardiovaskular.
<\/p>\n\n\n\n

Sisanya terutama dari kanker dan diabetes tipe 2. Peringkat negara-negara dari tingkat kematian terkait diet terendah ke tertinggi menempatkan Israel pertama, dengan 89 kematian per 100.000 orang, dan Uzbekistan terakhir, dengan 892 per 100.000. Amerika Serikat, dengan 171 kematian per 100.000, berada di posisi ke-43 dan Inggris di peringkat ke-23, dengan 127 kematian per 100.000. India di tempat ke-118, dan Cina di ke-140.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Penelitian termutakhir yang di sebutkan di atas merupakan penelitian yang bersifat global, lalu bagaimana dengan di Indonesia? Apakah kasus pola makan yang tidak sehat juga menjadi penyebab kematian terbesar?
<\/p>\n\n\n\n

Dalam sebuah artikel yang ditulis oleh Triyani Kresnawan, DCN,Mkes, Instalasi Gizi RSCM dan diterbitkan oleh Departemen Kesehatan Gizi Kementerian Kesehatan menyebutkan, pola makan yang tidak seimbang yang menyebabkan resiko munculnya penyakit kanker antara lain kebiasaan makanan cepat saji (fast food).
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan menjaga keseimbangan dalam pola makan ini juga disampaikan oleh Spesialis Patologi Anatomi dari Rumah Sakit Kanker Dharmais, dr Evalina Suzana. Ia mengatakan pola makan yang sehat merupakan bagian bentuk pencegahan dari penyakit kanker. Di luar dari olahraga yang teratur, minum air, dan tidur yang cukup.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Eva, sebuah pola bisa dibilang sehat jika semua yang masuk ke dalam tubuh seimbang. Tidak boleh berlebihan bukan berarti tidak dimakan sama sekali. Harus terdiri dari 50 persen protein, 30 persen karbohidrat, dan 20 persen lemak dan serat. Itu harus dipenuhi di luar mineral-mineral yang ada.
<\/p>\n\n\n\n

Nah loh, berdasarkan hasil-hasil penelitian yang menyatakan bahwa pola makan tidak sehat merupakan penyebab resiko kematian terbesar, lalu mengapa hanya rokok yang terus-menerus dituduh dalam kampanye kelompok-kelompok antirokok yang mengatasnamakan kesehatan?
<\/p>\n\n\n\n

Untuk memahami hal ini tentunya anda harus mengetahui bahwa terdapat perang bisnis nikotin antara industri farmasi dan industri rokok, atau yang sering kami sebut sebagai \u201cNicotin War\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Maka Anda tak usah heran jika rokok diframing bertentangan dengan kesehatan, karena semua semata hanyalah akal-akalan pihak industri farmasi untuk memenangi pertarungan bisnis nikotin tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Pola Makan Tidak Sehat Membunuhmu","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pola-makan-tidak-sehat-membunuhmu","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-23 12:23:48","post_modified_gmt":"2019-04-23 05:23:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5653","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5637,"post_author":"855","post_date":"2019-04-16 11:07:27","post_date_gmt":"2019-04-16 04:07:27","post_content":"\n

Terlahir sebagai tunadaksa atau tanpa tangan, tidak membuat Shadikin Pard pesimis menjalan hidup. Lebih dari itu, ia berhasil membuktikan bahwa kekurangan bukanlah aral melintang yang mengganjal langkah menuju kesuksesan.<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Hujan sudah reda ketika kaki saya memasuki gerbang Taman Balekambang, Surakarta. Di dalam, di atas tanah yang masih basah, ratusan pelukis dari penjuru negeri sedang sibuk mengaktualisasikan kegelisahan hatinya ke sebuah kanvas. Mereka sedang mengikuti Indonesia Painting Contest 2019 yang diselenggarakan oleh NU Gallery.
<\/p>\n\n\n\n

Saya terus melangkah menyusuri tanah basah yang di samping kanan dan kirinya para pelukis sedang khidmat menggoreskan kuas. Hingga kaki saya terhenti di hadapan pelukis yang berkonsentrasi melukis menggunakan kedua kakinya.
<\/p>\n\n\n\n

Sebatang kuas dijepitkan di antara jemari kaki. Sesekali ia menyelupkan kuas itu ke dalam cat dan kemudian menggoreskannya ke dalam kanvas hingga membentuk sebuah lukisan realis Reog Ponorogo yang indah. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di sampingnya, seorang pemuda yang ternyata anaknya dengan sigap menjalankan instruksi ayahnya, mulai dari mengganti ukuran kuas yang terjepit di antara jemarinya, membuka botol cat dan lain sebagainya. Sesekali anaknya menyalakan rokok dan menyodorkan ke hadapan mulut ayahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Ia melukis Reog Ponorogo bukan tanpa alasan. Ia ingin memberikan kritik kepada seluruh masyarakat dan Pemerintah, bahwa mencintai kekayaan budaya bangsa sendiri adalah kewajiban yang harus selalu digelorakan. Jangan sampai, ketika kebudayaan tersebut direbut negara lain, bangsa ini baru panik dan serius mengakui serta membanggakan kekayaan kebudayaan sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ialah Shadikin Pard, seorang pelukis masyhur yang terlahir tunadaksa atau tanpa kedua tangan. Kami berbincang di bawah pohon beringin rindang. Di antara para pelukis lainnya yang sedang beristirahat menunggu waktu pengumuman pemenang dibacakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pria kelahiran 29 Oktober 1996 ini mulai melukis sejak masih di taman kanak-kanak. Saat itu, melukis hanya sebagai hobi semata. Sadikin juga pernah les privat melukis di rumahnya. Hingga mengenyam pendidikan sekolah menengah atas di SMA Santa Maria Kota Malang, Sadikin masih menempatkan melukis sebagai hobi.
<\/p>\n\n\n\n

Di tengah keterbatasannya, Sadikin lalu melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kala itu, Sadikin mengambil jurusan psikologi pascagagal mengambil jurusan arsitektur yang ia dambakan dan cita-citakan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, kekurangan yang diberikan Tuhan adalah sebuah kelebihan yang tidak banyak dimiliki oleh orang lain. Kegigihannya dalam belajar melukis menghantarkannya ke Associaton of Mouth and Foot Painting Artist (AMFPA). Sebuah organisasi yang bermarkas di Swiss dan menghimpun karya pelukis yang melukis menggunakan kaki dan mulut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSetelah masuk AMFPA, saya menjadikan melukis sebagai profesi. Tahun 1989 saya menerima 300 swiss franc, setara Rp 300 ribu waktu itu. Kini, saya menerima sekitar 40 jt setiap bulan,\u201d ungkap Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin terus melukis. Kemampuannya terus berkembang, bahkan melebihi tuntutan dari organisasi yang ia ikuti. Nama Sadikin juga mulai dikenal, bukan sebab keterbatasannya, melainkan sebab karyanya yang memang bernilai tinggi.
<\/p>\n\n\n\n

Setiap kali ada pameran lukisan dan kontes-kontes melukis, Sadikin tidak pernah alfa untuk mengikutinya. Karyanya menjadi sorotan publik dan banyak laku dengan harga yang tidak murah. Bahkan menurutnya, ada salah satu lukisannya yang laku hingga Rp 250 juta.<\/p>\n\n\n\n

Menolak Pasrah dan Bergantung kepada Pemerintah karena Disabilitas<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Sadikin tidak mau dikasihani orang lain. Meski ia tunadaksa, ia adalah manusia yang sama, yang memilki kesempatan besar untuk menjalani rutinitas sebagaimana manusia lainnya. \u201cKuncinya adalah terus mencoba, mencoba dan mencoba. Saya tidak apa-apa dicemooh lukisan saya jelek. Bagi saya cemoohan seperti itu adalah cambuk untuk terus berlatih,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Sadikin, masyarakat harus adil memerlakukan para difabel. Difabel harus diperlakukan sebagaimana orang biasa. Semakin banyak orang yang mengasihani difabel, maka tidak malah membuat difabel itu kuat, sebaliknya berdampak melemahkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cDifabel harus diperlakukan seperti manusia biasa, bahkan ia harus diberi tantangan dan ditempa untuk menemukan kelebihan dalam dirinya,\u201d kata Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, para difabel harus mulai mengubah sudut pandang. Bahwa segala kekurangan tidak kemudian menjadikan para difabel pasrah menerima nasib dan mengharapkan santunan dari orang lain dan pemerintah untuk menjalani hidup. Difabel adalah orang istimewa yang dapat berkarya melebihi orang-orang biasa. Kekurangan ini adalah kelebihan yang akan ditemukan dengan kerja keras dan melatih diri menjadi apa yang diinginkan.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin bisa berangkat ke Swiss dan mengharumkan nama Indonesia di mata dunia, tidak terlebih dulu mendapat perhatian dari pemerintah. Ia mengaku berangkat dengan uang sendiri. Bahkan, lanjut Sadikin, hingga kini pun tidak ada pemerintah yang mengapresiasi karya-karyanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak menginginkan belas kasihan dari pemerintah. Karena yang sejatinya benar adalah, kita dapat memberikan apa kepada negara ini, bukan negara dapat memberikan apa kepada kita. Namun yang saya sayangkan, pemerintah sepertinya tidak peduli memperhatikan para seniman dan menghargai karya seni dari para seniman negeri sendiri. Seharusnya para seniman ini diberikan wadah, diperhatikan, kan juga kalau manajemennya bagus bisa menjadi pemasukan untuk negara,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin mengirim pesan kepada seluruh seniman di Tanah Air untuk terus berkaraya, tanpa peduli akan bernilai apa sebuah karya tersebut. \u201cYang terpenting kita dapat mengaktulisasikan diri dan terus melukis dengan niat mengharumkan nama negeri. Teruslah berkarya, karena sejatinya karya adalah yang dibuat dengan kesungguhan dan keikhlasan hati,\u201d pungkas pelukis beranak dua tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Shadikin Pard, Pelukis Tanpa Lengan yang Mengharumkan Bangsa dengan Kedua Kakinya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"shadikin-pard-pelukis-tanpa-lengan-yang-mengharumkan-bangsa-dengan-kedua-kakinya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-16 11:09:38","post_modified_gmt":"2019-04-16 04:09:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5637","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5621,"post_author":"877","post_date":"2019-04-10 10:37:08","post_date_gmt":"2019-04-10 03:37:08","post_content":"\n

Bahasan mengenai hukum menyulut kretek pernah dipertanyakan dalam forum bahtsul masail<\/em> (musyawarah) para Kiai\/Ulama\u2019 Kudus. Pertanyaan (saail<\/em>) yang mengajukan atas nama masyarakat Baletengahan, yaitu dukuh yang masuk wilayah Desa Langgardalem Kecamatan Kota. Tepatnya sekitar + 800an m, arah utara Masjid Menara Kudus (al-Aqsha). Kultur budaya masyarakat Baletengahan adalah santri, terdapat banyak Pesantren dan beberapa madrasah, salah satunya lembaga pendidikan formal TBS (Tasywiqut Thullab Salafiyyah), yaitu lembaga pendidikan salaf yang dahulu salah satu tempat  KH. Arwani Amin al-Hafiz mengajar dan yayasan pendidikan Nawa Kartika, yang didirikan oleh tokoh NU setempat. <\/p>\n\n\n\n

Lain halnya pesantren dan lembaga pendidikan, di sekitar Baletengahan Langgardalem, konon dahulu banyak usaha rumahan kretek. Petilasan yang masih dapat dijumpai di Langgardalem adalah \u201cgudang tembakau dan PR. Buah Cengkeh\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Disini terlihat para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus mempunyai tradisi kritis menyikapi fenomena disekelilingnya. Sehingga wajar pada tahun 1990an muncul bahasan tentang kretek di Bahtsul Masail<\/em> para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, jauh mendahului keputusan MUI dan Muhammadiyyah hasil Padang Panjang, dilaksanakan tahun 2009-2010.<\/p>\n\n\n\n

Tradisi Bahtsul Masail biasa disebut \u201cMunadzoroh<\/em>\u201d sudah lama dilakukan para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, dengan bertempat di Masjid-masjid di sekitar Kudus, bergantian dan memutar. Peserta munadzoroh<\/em> adalah para Kiai\/Ulama\u2019 se-Kabupaten Kudus dari berbagai penjuru desa, dan juga masyarakat umum, karena sifatnya terbuka (siapa saja boleh ikut tanpa terkecuali). Pelaksanaannya dari dulu hingga sekarang dijatuhkan pada hari Ahad (minggu). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat pembahasan mengenai kretek, bertempat di Masji al-Aqsho Menara Kudus yang dipimpin oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), redaksi pertanyaaannya adalah:<\/p>\n\n\n\n

\u201ckados pundi hukumipun ngkretek (bagaimana hukum menghisap kretek)?\u201d<\/em>--pertanyaan dari<\/em> Baletengahan--<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sebelum memulai pembahasan biasanya KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menanyakan tentang apa yang akan dibahas. Diceritakan oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi, situasi dan kondisi saat itu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), bertanya di forum, \u00a0\u201copo iki takonane?\u201d (pertanyaannya apa), di jawab yang hadir saat itu, \u201c anu Mbah bab kretek\u201d (itu bab menghisap kretek), lalu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menyambung jawaban hadirin, \u201coooo, bab kretek, kretekku gowo rene dikik\u201d (ooo, bab menghisap kretek, kretekku bawa kemari dulu), kemudian KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) mengambil satu batang kretek dari bungkusnya disulut dan dihisap. Selesai menyulut kretek, kembali KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) berbicara, \u201cwes kono dibahas\u201d (sudah sana dibahas). Setelah diperintahkan untuk dibahas, suasana hening sejenak. \u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mungkin di benak para hadirin terlintas pikiran \u201capa yang dibahas sudah dijawab secara tersirat oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) dengan menghisap kretek\u201d. Pada akhirnya, pembahasan tetap dilaksanakan. Diceritakan KH. Sya\u2019roni juga, situasi saat itu tidak ada Kiai\/Ulama\u2019 yang hadir menghukumi \u201charam\u201d, pada akhirnya diputuskan KH. Turaikhan, dengan hukum \u201c boleh\u201d, disela-sela KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) memberikan penjelasan, ada salah satu hadirin mengacungkan jarinya, beliau adalah KH. Hambali (Al Maghfurlah), sambil berkata; \u201ckulo Kiai, menawi boten udud kulo mboten saget mucal\u201d (saya Kiai, kalau tidak sambil menghisap kretek, saya tidak dapat mengajar), disertai argumen dan penjelasanannya. Kemudian KH. Turaikhan, memberikan jawaban dan tanggapan kepada KH. Hambali, \u201cnek ngono, kanggo kuwi hukumi wajib\u201d (kalau begitu, untuk kamu hukumnya wajib mengkonsumsi kretek).  <\/p>\n\n\n\n

Dilihat dari putusan Bahtsul Masail di atas, pada awalnya menghisap kretek dihukumi \u201cboleh\u201d, namun dengan kondisi tertentu menjadi \u201cWajib\u201d. Cerita penetapan hukum menghisap kretek dalam forum Bahtsul Masail di atas, telah menyebar di kalangan masyarakat Kudus, dan menjadi konsumsi publik, serta bersifat mengikat sampai sekarang. Sehingga banyak Kiai\/Ulama\u2019 Kudus tidak mempersoalkan lagi, apalagi membahas kembali. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cerita situasi dan kondisi Bahtsul Masail, diapresiasi dan diinterpretasikan Kiai\/Ulama\u2019Kudus lebih kontekstual, salah satunya KH. Fatkhur Rahman, beliau bercerita;  saat KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) populer dengan sebutan Mbah Tur memimpin munadzoroh<\/em> ada pertanyaan: bagaimana hukumnya kretek? Mbah Tur malah mengambil kretek, menyulut dan menghisapnya, dengan begitu diasumsikan hukumnya \u201chalal\u201d (jadi  setelah itu sudah tidak perlu dibahas lagi soal kretek). KH. Fatkhur Rahman juga menceritakan ada satu alasan kuat, mengapa halal, karena para Kiai itu tidak mau barang subhat<\/em> (tidak jelas posisinya), apalagi haram. Ketika para Kiai\/Ulama\u2019 besar menghisap kretek, otomatis tidak haram. Tuhan menciptakan sesuatu untuk dinikmati itu ada dua, halal atau haram. <\/p>\n\n\n\n

Dasar hukum menghisap kretek adalah mubah, sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang menjadi wajib, juga menjadi haram. Dasar utamanya adalah  \u201cla dhororo wala dhiroro\u201d. <\/em>Hukumnya seperti  mengkonsumsi gula, ketika kena penyakit gula, maka haram atau tidak boleh mengkonsumsi gula. Begitu pula ketika punya darah tinggi, maka tidak boleh makan daging, dan seterusnya. Dimana \u201calhukmu yadurru ma\u2019a illatihi\u201d<\/em>(hukum itu bisa beralih tergantung alasannya). Membeli kretek dihukumi tidak boleh (haram), jika uang yang dipakai semestinya untuk belanja kebutuhan pokok, membayar sekolah dan lain sebagainya. Menghisap kretek menjadi wajib, ketika tidak menghisap sulit berpikir, lemas, tidak bisa kerja dan lain sebagainya.
<\/p>\n","post_title":"Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fenomena-hukum-rokok-bagi-ulama-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-10 10:37:16","post_modified_gmt":"2019-04-10 03:37:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5621","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

Paling Populer

\n

Toh tidak usah disuruh-suruh perokok untuk berhenti merokok selama sehari, karena memang perokok akan berhenti merokok selama seharian penuh sepanjang bulan suci ramadhan. Bahkan para perokok menahan hasrat mengonsumsi rokok sebulan lamanya dengan penuh kesadaran, tanpa harus diprovokasi sana-sini dengan kampanye berhenti merokok.
<\/p>\n\n\n\n

Provokasi berhenti merokok dengan segala macam kampanye buruk mengenai rokok di Hari Peringatan Tanpa Tembakau Sedunia adalah sebuah sesat pikir dari kelompok antirokok. Sebab, perokok sejatinya tahu dan punya kebebasan dalam memilih apa yang dikonsumsinya.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Justru para peneliti di British Medical Journal mengatakan, penggunaan kata adiktif kepada rokok dan ajakan berhenti merokok berulang-ulang tidaklah tepat. Sebab para peneliti tersebut mengemukakan perokok sangat mudah untuk berhenti dari aktivitas merokoknya. Justru kata adiktif itulah yang membuat perokok menjadi sulit untuk berhenti merokok.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lalu lihatlah ketika bulan ramadhan, apakah perokok harus diprovokasi dahulu agar bisa berpuasa? Lagi-lagi dengan penuh kesadaran para perokok dapat berhenti merokok selama 13 jam setiap hari tanpa paksaan, tanpa kampanye negatif dan ajakan-ajakan berhenti merokok lainnya yang sangat menyebalkan.
<\/p>\n\n\n\n

Sudah seharusnya peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia tidak diselenggarakan, sebab dengan adanya bulan ramadhan, hal ini dapat menganulir peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Dikarenakan hari peringatan tersebut sudah gaagal dan tidak memiliki substansi dalam penyelenggaraannya.
<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Gagal dalam artian goals atau tujuan yang dicapai dari peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia tidak menuai hasil. Perokok tidak patuh dan acuh tak acuh terhadap hari peringatan tersebut, justru lebih memilih menjalankan puasa dengan khidmat. Prinsip yang dibangun oleh perokok adalah menikmati rokok ada waktunya, soal berhenti adalah soal pilihan.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu tidak memiliki substansi yang dimaksud adalah peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia tidak memiliki visi yang jelas dan landasan dasar yang kuat. Selama ini visi dan landasan dasar yang diserukan ketika peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia hanyalah memberikan stigma-stigma negatif dan membangun kebencian kepada rokok dan perokok. Bandingkan dengan puasa yang memiliki substansi kuat di dalamnya. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini<\/a><\/p>\n\n\n\n

Berpuasa bukan sekedar menahan haus dan lapar, tapi juga dapat meningkatkan kualitas rohani dan jasmani bagi orang-orang yang berpuasa. Ini sangat jelas. Sudah sangat banyak riset-riset ilmiah yang menunjukan bahwa puasa memiliki segudang manfaat bagi manusia. Atas dasar itulah para perokok patuh terhadap seruan menunaikan ibadah puasa. Menahan diri untuk tidak merokok semantara waktu selama hampir 13 jam lamanya.
<\/p>\n\n\n\n

Maka masihkah relevan peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia? Daripada memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia, lebih baik kita semua menunaikan ibadah puasa dengan khidmat yang jelas-jelas mendapatkan pahala berlipat ganda.
<\/p>\n","post_title":"Menolak Peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia dengan Berpuasa di Bulan Ramadhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menolak-peringatan-hari-tanpa-tembakau-sedunia-dengan-berpuasa-di-bulan-ramadhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-11 12:30:30","post_modified_gmt":"2019-05-11 05:30:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5710","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5679,"post_author":"878","post_date":"2019-05-03 11:19:10","post_date_gmt":"2019-05-03 04:19:10","post_content":"\n

Pada mulanya masyarakat pribumi yang mendiami benua Amerika mulai dari wilayah paling utara hingga ke selatan, dengan bermacam suku-suku yang hidup secara komunal\u2014yang kemudian disamaratakan penyebutannya oleh penjelajah Eropa dengan sebutan Suku Indian\u2014mengonsumsi tembakau yang dikeringkan sebagai sarana pelepas lelah, dan untuk mengobati beberapa jenis penyakit yang ada ketika itu. Mereka mengisap tembakau yang dikeringkan menggunakan sebuah pipa yang lazim disebut \u2018tubak<\/em>\u2019, selanjutnya bangsa Eropa menggunakan penyebutan \u2018tubak<\/em>\u2019 untuk menamakan daun kering tersebut, lahirlah istilah \u2018tobacco<\/em>\u2019 dalam bahasa Inggirs yang diserap menjadi \u2018tembakau\u2019 dalam bahasa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Melalui Colombus dan seluruh awak kapalnya yang mendatangi benua Amerika, kebiasaan mengisap tembakau ini kemudian diperkenalkan ke Eropa dan perlahan menjadi kebiasaan yang umum di sana. Konsumsi tembakau di Eropa terutama dimanfaatkan sebagai penghilang rasa dingin ketika musim dingin tiba di daratan Eropa. Bangsa Eropa kemudian membawa tembakau ke negeri jajahan mereka dan membudidayakannya di sana hingga pada akhirnya tembakau menjadi konsumsi yang mendunia, termasuk juga di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ariel Tatum dan Diskriminasi Perempuan Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia sendiri, tembakau pada mulanya digunakan sebagai bahan campuran dalam mengonsumsi sirih yang lazim disebut nyirih<\/em>. Karena dianggap jorok, penjajah Belanda melarang aktivitas nyirih dan mengenalkan konsumsi tembakau dengan cara dibakar dan diisap kepada masyarakat pribumi. Kebiasaan mengisap tembakau di Indonesia semakin populer usai Haji Djamhari menemukan ramuan tembakau kering yang dicampur cengkeh kering kemudian dibakar dan diisap sebagai obat asma yang ia derita. Campuran tembakau kering dan bunga cengkeh kering yang dibakar menimbulkan suara berkeretek hingga pada akhirnya produk rokok ini dinamakan rokok kretek dan menguasai pasar dalam negeri hingga saat ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari catatan singkat di atas, konsumsi tembakau kering yang diisap kemudian tembakau kering yang dicampur bunga cengkeh kering pada mulanya sebagai barang konsumsi untuk pengobatan dan relaksasi. Hingga pada akhirnya, persaingan bisnis menggiring kampanye-kampanye yang menyuarakan perihal keburukan konsumsi tembakau. Dalih kesehatan dijadikan alasan utama untuk menghancurkan perekonomian tembakau guna meloloskan bisnis farmasi yang dijalankan korporasi besar berskala internasional.<\/p>\n\n\n\n

Periode 2000 hingga saat ini, kampanye miring mengenai rokok dan rokok kretek kian menguat. Tak hanya korporasi besar, badan-badan kesehatan dunia juga ikut ambil peran dalam upaya menghancurkan produk rokok terutama rokok kretek yang menjadi ciri khas dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Berita terbaru dalam sepekan terakhir, di Jepang, salah satu universitas negeri berencana memecat seluruh staf dan dosen mereka yang menjadi perokok aktif. Selain itu, beberapa perusahaan di Jepang juga akan mencoret langsung para pelamar kerja yang diketahui sebagai perokok aktif. Ini tentu saja menjadi kemunduran yang telak bagi negara Jepang. Padahal sebelumnya Jepang dikenal menjadi negara yang masih cukup ramah terhadap para perokok.<\/p>\n\n\n\n

Alasan Jepang memberlakukan kebijakan tersebut sebagai upaya menyambut perhelatan olimpiade 2020 yang akan diselenggarakan di Tokyo. Lagi-lagi, dalih kesehatan yang menjadi tameng kebijakan ini. Jika ditelaah secara saksama, tentu saja kebijakan ini sama sekali tidak ada relevansinya. Terkesan pemaksaan dan sekadar pencitraan semata.<\/p>\n\n\n\n

Lagi pula, tak ada relevansinya antara kecerdasan (dalam hal ini dunia kampus) dengan kebiasaan merokok. Juga tak ada relevansi antara kinerja (dalam hal ini pelamar kerja) dengan kebiasaan merokok. Lagi-lagi, ini semata sekadar cocokologi saja.<\/p>\n\n\n\n

Bodoh ya bodoh saja, malas ya malas saja, juga sebaliknya, tak ada kaitannya dengan kebiasaan merokok. Kita bisa menjejerkan ratusan bahkan ribuan nama-nama orang yang memiliki kebiasaan merokok, di sana akan ada orang-orang yang sangai pandai hingga orang-orang idiot sekalipun yang memiliki kebiasaan merokok. Kita juga bisa menjejerkan nama-nama ratusan hingga ribuan orang yang sama sekali tidak merokok, dan di sana akan ada orang yang pandai sekali juga akan ada orang goblok segoblok-gobloknya yang sama sekali tidak merokok. Lalu, apa alasan memecat staf dan dosen di kampus yang memiliki kebiasaan merokok?<\/p>\n\n\n\n

Hal yang sama juga bisa kita lakukan dengan jejeran nama-nama orang dengan kinerja dan etos kerja. Yang rajin, juga yang malas, ada dalam kelompok mereka yang merokok juga kelompok mereka yang tidak merokok. Maka, saya kira, apa yang terjadi di Jepang dan diberitakan dalam sepekan belakangan, tentu saja mengganggu akal sehat siapa saja yang masih bisa berpikir dengan jernih.
<\/p>\n","post_title":"Diskriminasi Terhadap Para Perokok di Jepang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"diskriminasi-terhadap-para-perokok-di-jepang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-03 11:19:17","post_modified_gmt":"2019-05-03 04:19:17","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5679","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5653,"post_author":"883","post_date":"2019-04-23 12:23:36","post_date_gmt":"2019-04-23 05:23:36","post_content":"\n

Rokok selalu dikambinghitamkan sebagai penyebab dari tingginya angka kematian umat manusia. Angka dan data jadul yang selalu diulang-ulang mengenai rokok penyebab kematian, seakan membius kita bahwa rokok-lah musuh bersama. Sementara rokok dijadikan musuh bersama, kita justru abai terhadap musuh riil yang sedang mengintai kehidupan kita.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah penelitian menyatakan bahwa pola makan yang tidak sehat lebih banyak meningkatkan resiko kematian dini daripada faktor risiko lainnya, termasuk merokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cerita Rakyat Tentang Kretek dan Tembakau di Tiga Kota (Kudus, Temanggung, Madura)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ini artinya agen malaikat pencabut nyawa manusia ada di pola makan kita. Apakah sudah sehat atau tidak sehat? satu hal yang seringkali diabaikan.
<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan Studi Global Burden of Disease yang mengamati konsumsi makanan di 195 negara, antara tahun 1990 dan 2017, fokus pada 15 jenis makanan atau nutrisi mengamini pola makan tidak sehat adalah penyebab terbesar kematian manusia.
<\/p>\n\n\n\n

Penelitian lainnya yang bersumber dari Medical News Today, dalam sebuah makalah yang dimuat dalam The Lancet, para peneliti menyimpulkan, pola makan yang buruk menyumbang 1 dari 5, atau 11 juta, kematian orang dewasa pada tahun 2017. Sebagian besar dari kematian itu, sekitar 10 juta, berasal dari penyakit kardiovaskular.
<\/p>\n\n\n\n

Sisanya terutama dari kanker dan diabetes tipe 2. Peringkat negara-negara dari tingkat kematian terkait diet terendah ke tertinggi menempatkan Israel pertama, dengan 89 kematian per 100.000 orang, dan Uzbekistan terakhir, dengan 892 per 100.000. Amerika Serikat, dengan 171 kematian per 100.000, berada di posisi ke-43 dan Inggris di peringkat ke-23, dengan 127 kematian per 100.000. India di tempat ke-118, dan Cina di ke-140.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Penelitian termutakhir yang di sebutkan di atas merupakan penelitian yang bersifat global, lalu bagaimana dengan di Indonesia? Apakah kasus pola makan yang tidak sehat juga menjadi penyebab kematian terbesar?
<\/p>\n\n\n\n

Dalam sebuah artikel yang ditulis oleh Triyani Kresnawan, DCN,Mkes, Instalasi Gizi RSCM dan diterbitkan oleh Departemen Kesehatan Gizi Kementerian Kesehatan menyebutkan, pola makan yang tidak seimbang yang menyebabkan resiko munculnya penyakit kanker antara lain kebiasaan makanan cepat saji (fast food).
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan menjaga keseimbangan dalam pola makan ini juga disampaikan oleh Spesialis Patologi Anatomi dari Rumah Sakit Kanker Dharmais, dr Evalina Suzana. Ia mengatakan pola makan yang sehat merupakan bagian bentuk pencegahan dari penyakit kanker. Di luar dari olahraga yang teratur, minum air, dan tidur yang cukup.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Eva, sebuah pola bisa dibilang sehat jika semua yang masuk ke dalam tubuh seimbang. Tidak boleh berlebihan bukan berarti tidak dimakan sama sekali. Harus terdiri dari 50 persen protein, 30 persen karbohidrat, dan 20 persen lemak dan serat. Itu harus dipenuhi di luar mineral-mineral yang ada.
<\/p>\n\n\n\n

Nah loh, berdasarkan hasil-hasil penelitian yang menyatakan bahwa pola makan tidak sehat merupakan penyebab resiko kematian terbesar, lalu mengapa hanya rokok yang terus-menerus dituduh dalam kampanye kelompok-kelompok antirokok yang mengatasnamakan kesehatan?
<\/p>\n\n\n\n

Untuk memahami hal ini tentunya anda harus mengetahui bahwa terdapat perang bisnis nikotin antara industri farmasi dan industri rokok, atau yang sering kami sebut sebagai \u201cNicotin War\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Maka Anda tak usah heran jika rokok diframing bertentangan dengan kesehatan, karena semua semata hanyalah akal-akalan pihak industri farmasi untuk memenangi pertarungan bisnis nikotin tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Pola Makan Tidak Sehat Membunuhmu","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pola-makan-tidak-sehat-membunuhmu","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-23 12:23:48","post_modified_gmt":"2019-04-23 05:23:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5653","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5637,"post_author":"855","post_date":"2019-04-16 11:07:27","post_date_gmt":"2019-04-16 04:07:27","post_content":"\n

Terlahir sebagai tunadaksa atau tanpa tangan, tidak membuat Shadikin Pard pesimis menjalan hidup. Lebih dari itu, ia berhasil membuktikan bahwa kekurangan bukanlah aral melintang yang mengganjal langkah menuju kesuksesan.<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Hujan sudah reda ketika kaki saya memasuki gerbang Taman Balekambang, Surakarta. Di dalam, di atas tanah yang masih basah, ratusan pelukis dari penjuru negeri sedang sibuk mengaktualisasikan kegelisahan hatinya ke sebuah kanvas. Mereka sedang mengikuti Indonesia Painting Contest 2019 yang diselenggarakan oleh NU Gallery.
<\/p>\n\n\n\n

Saya terus melangkah menyusuri tanah basah yang di samping kanan dan kirinya para pelukis sedang khidmat menggoreskan kuas. Hingga kaki saya terhenti di hadapan pelukis yang berkonsentrasi melukis menggunakan kedua kakinya.
<\/p>\n\n\n\n

Sebatang kuas dijepitkan di antara jemari kaki. Sesekali ia menyelupkan kuas itu ke dalam cat dan kemudian menggoreskannya ke dalam kanvas hingga membentuk sebuah lukisan realis Reog Ponorogo yang indah. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di sampingnya, seorang pemuda yang ternyata anaknya dengan sigap menjalankan instruksi ayahnya, mulai dari mengganti ukuran kuas yang terjepit di antara jemarinya, membuka botol cat dan lain sebagainya. Sesekali anaknya menyalakan rokok dan menyodorkan ke hadapan mulut ayahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Ia melukis Reog Ponorogo bukan tanpa alasan. Ia ingin memberikan kritik kepada seluruh masyarakat dan Pemerintah, bahwa mencintai kekayaan budaya bangsa sendiri adalah kewajiban yang harus selalu digelorakan. Jangan sampai, ketika kebudayaan tersebut direbut negara lain, bangsa ini baru panik dan serius mengakui serta membanggakan kekayaan kebudayaan sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ialah Shadikin Pard, seorang pelukis masyhur yang terlahir tunadaksa atau tanpa kedua tangan. Kami berbincang di bawah pohon beringin rindang. Di antara para pelukis lainnya yang sedang beristirahat menunggu waktu pengumuman pemenang dibacakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pria kelahiran 29 Oktober 1996 ini mulai melukis sejak masih di taman kanak-kanak. Saat itu, melukis hanya sebagai hobi semata. Sadikin juga pernah les privat melukis di rumahnya. Hingga mengenyam pendidikan sekolah menengah atas di SMA Santa Maria Kota Malang, Sadikin masih menempatkan melukis sebagai hobi.
<\/p>\n\n\n\n

Di tengah keterbatasannya, Sadikin lalu melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kala itu, Sadikin mengambil jurusan psikologi pascagagal mengambil jurusan arsitektur yang ia dambakan dan cita-citakan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, kekurangan yang diberikan Tuhan adalah sebuah kelebihan yang tidak banyak dimiliki oleh orang lain. Kegigihannya dalam belajar melukis menghantarkannya ke Associaton of Mouth and Foot Painting Artist (AMFPA). Sebuah organisasi yang bermarkas di Swiss dan menghimpun karya pelukis yang melukis menggunakan kaki dan mulut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSetelah masuk AMFPA, saya menjadikan melukis sebagai profesi. Tahun 1989 saya menerima 300 swiss franc, setara Rp 300 ribu waktu itu. Kini, saya menerima sekitar 40 jt setiap bulan,\u201d ungkap Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin terus melukis. Kemampuannya terus berkembang, bahkan melebihi tuntutan dari organisasi yang ia ikuti. Nama Sadikin juga mulai dikenal, bukan sebab keterbatasannya, melainkan sebab karyanya yang memang bernilai tinggi.
<\/p>\n\n\n\n

Setiap kali ada pameran lukisan dan kontes-kontes melukis, Sadikin tidak pernah alfa untuk mengikutinya. Karyanya menjadi sorotan publik dan banyak laku dengan harga yang tidak murah. Bahkan menurutnya, ada salah satu lukisannya yang laku hingga Rp 250 juta.<\/p>\n\n\n\n

Menolak Pasrah dan Bergantung kepada Pemerintah karena Disabilitas<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Sadikin tidak mau dikasihani orang lain. Meski ia tunadaksa, ia adalah manusia yang sama, yang memilki kesempatan besar untuk menjalani rutinitas sebagaimana manusia lainnya. \u201cKuncinya adalah terus mencoba, mencoba dan mencoba. Saya tidak apa-apa dicemooh lukisan saya jelek. Bagi saya cemoohan seperti itu adalah cambuk untuk terus berlatih,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Sadikin, masyarakat harus adil memerlakukan para difabel. Difabel harus diperlakukan sebagaimana orang biasa. Semakin banyak orang yang mengasihani difabel, maka tidak malah membuat difabel itu kuat, sebaliknya berdampak melemahkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cDifabel harus diperlakukan seperti manusia biasa, bahkan ia harus diberi tantangan dan ditempa untuk menemukan kelebihan dalam dirinya,\u201d kata Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, para difabel harus mulai mengubah sudut pandang. Bahwa segala kekurangan tidak kemudian menjadikan para difabel pasrah menerima nasib dan mengharapkan santunan dari orang lain dan pemerintah untuk menjalani hidup. Difabel adalah orang istimewa yang dapat berkarya melebihi orang-orang biasa. Kekurangan ini adalah kelebihan yang akan ditemukan dengan kerja keras dan melatih diri menjadi apa yang diinginkan.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin bisa berangkat ke Swiss dan mengharumkan nama Indonesia di mata dunia, tidak terlebih dulu mendapat perhatian dari pemerintah. Ia mengaku berangkat dengan uang sendiri. Bahkan, lanjut Sadikin, hingga kini pun tidak ada pemerintah yang mengapresiasi karya-karyanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak menginginkan belas kasihan dari pemerintah. Karena yang sejatinya benar adalah, kita dapat memberikan apa kepada negara ini, bukan negara dapat memberikan apa kepada kita. Namun yang saya sayangkan, pemerintah sepertinya tidak peduli memperhatikan para seniman dan menghargai karya seni dari para seniman negeri sendiri. Seharusnya para seniman ini diberikan wadah, diperhatikan, kan juga kalau manajemennya bagus bisa menjadi pemasukan untuk negara,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin mengirim pesan kepada seluruh seniman di Tanah Air untuk terus berkaraya, tanpa peduli akan bernilai apa sebuah karya tersebut. \u201cYang terpenting kita dapat mengaktulisasikan diri dan terus melukis dengan niat mengharumkan nama negeri. Teruslah berkarya, karena sejatinya karya adalah yang dibuat dengan kesungguhan dan keikhlasan hati,\u201d pungkas pelukis beranak dua tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Shadikin Pard, Pelukis Tanpa Lengan yang Mengharumkan Bangsa dengan Kedua Kakinya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"shadikin-pard-pelukis-tanpa-lengan-yang-mengharumkan-bangsa-dengan-kedua-kakinya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-16 11:09:38","post_modified_gmt":"2019-04-16 04:09:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5637","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5621,"post_author":"877","post_date":"2019-04-10 10:37:08","post_date_gmt":"2019-04-10 03:37:08","post_content":"\n

Bahasan mengenai hukum menyulut kretek pernah dipertanyakan dalam forum bahtsul masail<\/em> (musyawarah) para Kiai\/Ulama\u2019 Kudus. Pertanyaan (saail<\/em>) yang mengajukan atas nama masyarakat Baletengahan, yaitu dukuh yang masuk wilayah Desa Langgardalem Kecamatan Kota. Tepatnya sekitar + 800an m, arah utara Masjid Menara Kudus (al-Aqsha). Kultur budaya masyarakat Baletengahan adalah santri, terdapat banyak Pesantren dan beberapa madrasah, salah satunya lembaga pendidikan formal TBS (Tasywiqut Thullab Salafiyyah), yaitu lembaga pendidikan salaf yang dahulu salah satu tempat  KH. Arwani Amin al-Hafiz mengajar dan yayasan pendidikan Nawa Kartika, yang didirikan oleh tokoh NU setempat. <\/p>\n\n\n\n

Lain halnya pesantren dan lembaga pendidikan, di sekitar Baletengahan Langgardalem, konon dahulu banyak usaha rumahan kretek. Petilasan yang masih dapat dijumpai di Langgardalem adalah \u201cgudang tembakau dan PR. Buah Cengkeh\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Disini terlihat para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus mempunyai tradisi kritis menyikapi fenomena disekelilingnya. Sehingga wajar pada tahun 1990an muncul bahasan tentang kretek di Bahtsul Masail<\/em> para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, jauh mendahului keputusan MUI dan Muhammadiyyah hasil Padang Panjang, dilaksanakan tahun 2009-2010.<\/p>\n\n\n\n

Tradisi Bahtsul Masail biasa disebut \u201cMunadzoroh<\/em>\u201d sudah lama dilakukan para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, dengan bertempat di Masjid-masjid di sekitar Kudus, bergantian dan memutar. Peserta munadzoroh<\/em> adalah para Kiai\/Ulama\u2019 se-Kabupaten Kudus dari berbagai penjuru desa, dan juga masyarakat umum, karena sifatnya terbuka (siapa saja boleh ikut tanpa terkecuali). Pelaksanaannya dari dulu hingga sekarang dijatuhkan pada hari Ahad (minggu). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat pembahasan mengenai kretek, bertempat di Masji al-Aqsho Menara Kudus yang dipimpin oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), redaksi pertanyaaannya adalah:<\/p>\n\n\n\n

\u201ckados pundi hukumipun ngkretek (bagaimana hukum menghisap kretek)?\u201d<\/em>--pertanyaan dari<\/em> Baletengahan--<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sebelum memulai pembahasan biasanya KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menanyakan tentang apa yang akan dibahas. Diceritakan oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi, situasi dan kondisi saat itu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), bertanya di forum, \u00a0\u201copo iki takonane?\u201d (pertanyaannya apa), di jawab yang hadir saat itu, \u201c anu Mbah bab kretek\u201d (itu bab menghisap kretek), lalu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menyambung jawaban hadirin, \u201coooo, bab kretek, kretekku gowo rene dikik\u201d (ooo, bab menghisap kretek, kretekku bawa kemari dulu), kemudian KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) mengambil satu batang kretek dari bungkusnya disulut dan dihisap. Selesai menyulut kretek, kembali KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) berbicara, \u201cwes kono dibahas\u201d (sudah sana dibahas). Setelah diperintahkan untuk dibahas, suasana hening sejenak. \u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mungkin di benak para hadirin terlintas pikiran \u201capa yang dibahas sudah dijawab secara tersirat oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) dengan menghisap kretek\u201d. Pada akhirnya, pembahasan tetap dilaksanakan. Diceritakan KH. Sya\u2019roni juga, situasi saat itu tidak ada Kiai\/Ulama\u2019 yang hadir menghukumi \u201charam\u201d, pada akhirnya diputuskan KH. Turaikhan, dengan hukum \u201c boleh\u201d, disela-sela KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) memberikan penjelasan, ada salah satu hadirin mengacungkan jarinya, beliau adalah KH. Hambali (Al Maghfurlah), sambil berkata; \u201ckulo Kiai, menawi boten udud kulo mboten saget mucal\u201d (saya Kiai, kalau tidak sambil menghisap kretek, saya tidak dapat mengajar), disertai argumen dan penjelasanannya. Kemudian KH. Turaikhan, memberikan jawaban dan tanggapan kepada KH. Hambali, \u201cnek ngono, kanggo kuwi hukumi wajib\u201d (kalau begitu, untuk kamu hukumnya wajib mengkonsumsi kretek).  <\/p>\n\n\n\n

Dilihat dari putusan Bahtsul Masail di atas, pada awalnya menghisap kretek dihukumi \u201cboleh\u201d, namun dengan kondisi tertentu menjadi \u201cWajib\u201d. Cerita penetapan hukum menghisap kretek dalam forum Bahtsul Masail di atas, telah menyebar di kalangan masyarakat Kudus, dan menjadi konsumsi publik, serta bersifat mengikat sampai sekarang. Sehingga banyak Kiai\/Ulama\u2019 Kudus tidak mempersoalkan lagi, apalagi membahas kembali. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cerita situasi dan kondisi Bahtsul Masail, diapresiasi dan diinterpretasikan Kiai\/Ulama\u2019Kudus lebih kontekstual, salah satunya KH. Fatkhur Rahman, beliau bercerita;  saat KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) populer dengan sebutan Mbah Tur memimpin munadzoroh<\/em> ada pertanyaan: bagaimana hukumnya kretek? Mbah Tur malah mengambil kretek, menyulut dan menghisapnya, dengan begitu diasumsikan hukumnya \u201chalal\u201d (jadi  setelah itu sudah tidak perlu dibahas lagi soal kretek). KH. Fatkhur Rahman juga menceritakan ada satu alasan kuat, mengapa halal, karena para Kiai itu tidak mau barang subhat<\/em> (tidak jelas posisinya), apalagi haram. Ketika para Kiai\/Ulama\u2019 besar menghisap kretek, otomatis tidak haram. Tuhan menciptakan sesuatu untuk dinikmati itu ada dua, halal atau haram. <\/p>\n\n\n\n

Dasar hukum menghisap kretek adalah mubah, sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang menjadi wajib, juga menjadi haram. Dasar utamanya adalah  \u201cla dhororo wala dhiroro\u201d. <\/em>Hukumnya seperti  mengkonsumsi gula, ketika kena penyakit gula, maka haram atau tidak boleh mengkonsumsi gula. Begitu pula ketika punya darah tinggi, maka tidak boleh makan daging, dan seterusnya. Dimana \u201calhukmu yadurru ma\u2019a illatihi\u201d<\/em>(hukum itu bisa beralih tergantung alasannya). Membeli kretek dihukumi tidak boleh (haram), jika uang yang dipakai semestinya untuk belanja kebutuhan pokok, membayar sekolah dan lain sebagainya. Menghisap kretek menjadi wajib, ketika tidak menghisap sulit berpikir, lemas, tidak bisa kerja dan lain sebagainya.
<\/p>\n","post_title":"Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fenomena-hukum-rokok-bagi-ulama-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-10 10:37:16","post_modified_gmt":"2019-04-10 03:37:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5621","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

Paling Populer

\n

Baca: Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Toh tidak usah disuruh-suruh perokok untuk berhenti merokok selama sehari, karena memang perokok akan berhenti merokok selama seharian penuh sepanjang bulan suci ramadhan. Bahkan para perokok menahan hasrat mengonsumsi rokok sebulan lamanya dengan penuh kesadaran, tanpa harus diprovokasi sana-sini dengan kampanye berhenti merokok.
<\/p>\n\n\n\n

Provokasi berhenti merokok dengan segala macam kampanye buruk mengenai rokok di Hari Peringatan Tanpa Tembakau Sedunia adalah sebuah sesat pikir dari kelompok antirokok. Sebab, perokok sejatinya tahu dan punya kebebasan dalam memilih apa yang dikonsumsinya.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Justru para peneliti di British Medical Journal mengatakan, penggunaan kata adiktif kepada rokok dan ajakan berhenti merokok berulang-ulang tidaklah tepat. Sebab para peneliti tersebut mengemukakan perokok sangat mudah untuk berhenti dari aktivitas merokoknya. Justru kata adiktif itulah yang membuat perokok menjadi sulit untuk berhenti merokok.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lalu lihatlah ketika bulan ramadhan, apakah perokok harus diprovokasi dahulu agar bisa berpuasa? Lagi-lagi dengan penuh kesadaran para perokok dapat berhenti merokok selama 13 jam setiap hari tanpa paksaan, tanpa kampanye negatif dan ajakan-ajakan berhenti merokok lainnya yang sangat menyebalkan.
<\/p>\n\n\n\n

Sudah seharusnya peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia tidak diselenggarakan, sebab dengan adanya bulan ramadhan, hal ini dapat menganulir peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Dikarenakan hari peringatan tersebut sudah gaagal dan tidak memiliki substansi dalam penyelenggaraannya.
<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Gagal dalam artian goals atau tujuan yang dicapai dari peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia tidak menuai hasil. Perokok tidak patuh dan acuh tak acuh terhadap hari peringatan tersebut, justru lebih memilih menjalankan puasa dengan khidmat. Prinsip yang dibangun oleh perokok adalah menikmati rokok ada waktunya, soal berhenti adalah soal pilihan.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu tidak memiliki substansi yang dimaksud adalah peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia tidak memiliki visi yang jelas dan landasan dasar yang kuat. Selama ini visi dan landasan dasar yang diserukan ketika peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia hanyalah memberikan stigma-stigma negatif dan membangun kebencian kepada rokok dan perokok. Bandingkan dengan puasa yang memiliki substansi kuat di dalamnya. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini<\/a><\/p>\n\n\n\n

Berpuasa bukan sekedar menahan haus dan lapar, tapi juga dapat meningkatkan kualitas rohani dan jasmani bagi orang-orang yang berpuasa. Ini sangat jelas. Sudah sangat banyak riset-riset ilmiah yang menunjukan bahwa puasa memiliki segudang manfaat bagi manusia. Atas dasar itulah para perokok patuh terhadap seruan menunaikan ibadah puasa. Menahan diri untuk tidak merokok semantara waktu selama hampir 13 jam lamanya.
<\/p>\n\n\n\n

Maka masihkah relevan peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia? Daripada memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia, lebih baik kita semua menunaikan ibadah puasa dengan khidmat yang jelas-jelas mendapatkan pahala berlipat ganda.
<\/p>\n","post_title":"Menolak Peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia dengan Berpuasa di Bulan Ramadhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menolak-peringatan-hari-tanpa-tembakau-sedunia-dengan-berpuasa-di-bulan-ramadhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-11 12:30:30","post_modified_gmt":"2019-05-11 05:30:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5710","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5679,"post_author":"878","post_date":"2019-05-03 11:19:10","post_date_gmt":"2019-05-03 04:19:10","post_content":"\n

Pada mulanya masyarakat pribumi yang mendiami benua Amerika mulai dari wilayah paling utara hingga ke selatan, dengan bermacam suku-suku yang hidup secara komunal\u2014yang kemudian disamaratakan penyebutannya oleh penjelajah Eropa dengan sebutan Suku Indian\u2014mengonsumsi tembakau yang dikeringkan sebagai sarana pelepas lelah, dan untuk mengobati beberapa jenis penyakit yang ada ketika itu. Mereka mengisap tembakau yang dikeringkan menggunakan sebuah pipa yang lazim disebut \u2018tubak<\/em>\u2019, selanjutnya bangsa Eropa menggunakan penyebutan \u2018tubak<\/em>\u2019 untuk menamakan daun kering tersebut, lahirlah istilah \u2018tobacco<\/em>\u2019 dalam bahasa Inggirs yang diserap menjadi \u2018tembakau\u2019 dalam bahasa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Melalui Colombus dan seluruh awak kapalnya yang mendatangi benua Amerika, kebiasaan mengisap tembakau ini kemudian diperkenalkan ke Eropa dan perlahan menjadi kebiasaan yang umum di sana. Konsumsi tembakau di Eropa terutama dimanfaatkan sebagai penghilang rasa dingin ketika musim dingin tiba di daratan Eropa. Bangsa Eropa kemudian membawa tembakau ke negeri jajahan mereka dan membudidayakannya di sana hingga pada akhirnya tembakau menjadi konsumsi yang mendunia, termasuk juga di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ariel Tatum dan Diskriminasi Perempuan Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia sendiri, tembakau pada mulanya digunakan sebagai bahan campuran dalam mengonsumsi sirih yang lazim disebut nyirih<\/em>. Karena dianggap jorok, penjajah Belanda melarang aktivitas nyirih dan mengenalkan konsumsi tembakau dengan cara dibakar dan diisap kepada masyarakat pribumi. Kebiasaan mengisap tembakau di Indonesia semakin populer usai Haji Djamhari menemukan ramuan tembakau kering yang dicampur cengkeh kering kemudian dibakar dan diisap sebagai obat asma yang ia derita. Campuran tembakau kering dan bunga cengkeh kering yang dibakar menimbulkan suara berkeretek hingga pada akhirnya produk rokok ini dinamakan rokok kretek dan menguasai pasar dalam negeri hingga saat ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari catatan singkat di atas, konsumsi tembakau kering yang diisap kemudian tembakau kering yang dicampur bunga cengkeh kering pada mulanya sebagai barang konsumsi untuk pengobatan dan relaksasi. Hingga pada akhirnya, persaingan bisnis menggiring kampanye-kampanye yang menyuarakan perihal keburukan konsumsi tembakau. Dalih kesehatan dijadikan alasan utama untuk menghancurkan perekonomian tembakau guna meloloskan bisnis farmasi yang dijalankan korporasi besar berskala internasional.<\/p>\n\n\n\n

Periode 2000 hingga saat ini, kampanye miring mengenai rokok dan rokok kretek kian menguat. Tak hanya korporasi besar, badan-badan kesehatan dunia juga ikut ambil peran dalam upaya menghancurkan produk rokok terutama rokok kretek yang menjadi ciri khas dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Berita terbaru dalam sepekan terakhir, di Jepang, salah satu universitas negeri berencana memecat seluruh staf dan dosen mereka yang menjadi perokok aktif. Selain itu, beberapa perusahaan di Jepang juga akan mencoret langsung para pelamar kerja yang diketahui sebagai perokok aktif. Ini tentu saja menjadi kemunduran yang telak bagi negara Jepang. Padahal sebelumnya Jepang dikenal menjadi negara yang masih cukup ramah terhadap para perokok.<\/p>\n\n\n\n

Alasan Jepang memberlakukan kebijakan tersebut sebagai upaya menyambut perhelatan olimpiade 2020 yang akan diselenggarakan di Tokyo. Lagi-lagi, dalih kesehatan yang menjadi tameng kebijakan ini. Jika ditelaah secara saksama, tentu saja kebijakan ini sama sekali tidak ada relevansinya. Terkesan pemaksaan dan sekadar pencitraan semata.<\/p>\n\n\n\n

Lagi pula, tak ada relevansinya antara kecerdasan (dalam hal ini dunia kampus) dengan kebiasaan merokok. Juga tak ada relevansi antara kinerja (dalam hal ini pelamar kerja) dengan kebiasaan merokok. Lagi-lagi, ini semata sekadar cocokologi saja.<\/p>\n\n\n\n

Bodoh ya bodoh saja, malas ya malas saja, juga sebaliknya, tak ada kaitannya dengan kebiasaan merokok. Kita bisa menjejerkan ratusan bahkan ribuan nama-nama orang yang memiliki kebiasaan merokok, di sana akan ada orang-orang yang sangai pandai hingga orang-orang idiot sekalipun yang memiliki kebiasaan merokok. Kita juga bisa menjejerkan nama-nama ratusan hingga ribuan orang yang sama sekali tidak merokok, dan di sana akan ada orang yang pandai sekali juga akan ada orang goblok segoblok-gobloknya yang sama sekali tidak merokok. Lalu, apa alasan memecat staf dan dosen di kampus yang memiliki kebiasaan merokok?<\/p>\n\n\n\n

Hal yang sama juga bisa kita lakukan dengan jejeran nama-nama orang dengan kinerja dan etos kerja. Yang rajin, juga yang malas, ada dalam kelompok mereka yang merokok juga kelompok mereka yang tidak merokok. Maka, saya kira, apa yang terjadi di Jepang dan diberitakan dalam sepekan belakangan, tentu saja mengganggu akal sehat siapa saja yang masih bisa berpikir dengan jernih.
<\/p>\n","post_title":"Diskriminasi Terhadap Para Perokok di Jepang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"diskriminasi-terhadap-para-perokok-di-jepang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-03 11:19:17","post_modified_gmt":"2019-05-03 04:19:17","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5679","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5653,"post_author":"883","post_date":"2019-04-23 12:23:36","post_date_gmt":"2019-04-23 05:23:36","post_content":"\n

Rokok selalu dikambinghitamkan sebagai penyebab dari tingginya angka kematian umat manusia. Angka dan data jadul yang selalu diulang-ulang mengenai rokok penyebab kematian, seakan membius kita bahwa rokok-lah musuh bersama. Sementara rokok dijadikan musuh bersama, kita justru abai terhadap musuh riil yang sedang mengintai kehidupan kita.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah penelitian menyatakan bahwa pola makan yang tidak sehat lebih banyak meningkatkan resiko kematian dini daripada faktor risiko lainnya, termasuk merokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cerita Rakyat Tentang Kretek dan Tembakau di Tiga Kota (Kudus, Temanggung, Madura)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ini artinya agen malaikat pencabut nyawa manusia ada di pola makan kita. Apakah sudah sehat atau tidak sehat? satu hal yang seringkali diabaikan.
<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan Studi Global Burden of Disease yang mengamati konsumsi makanan di 195 negara, antara tahun 1990 dan 2017, fokus pada 15 jenis makanan atau nutrisi mengamini pola makan tidak sehat adalah penyebab terbesar kematian manusia.
<\/p>\n\n\n\n

Penelitian lainnya yang bersumber dari Medical News Today, dalam sebuah makalah yang dimuat dalam The Lancet, para peneliti menyimpulkan, pola makan yang buruk menyumbang 1 dari 5, atau 11 juta, kematian orang dewasa pada tahun 2017. Sebagian besar dari kematian itu, sekitar 10 juta, berasal dari penyakit kardiovaskular.
<\/p>\n\n\n\n

Sisanya terutama dari kanker dan diabetes tipe 2. Peringkat negara-negara dari tingkat kematian terkait diet terendah ke tertinggi menempatkan Israel pertama, dengan 89 kematian per 100.000 orang, dan Uzbekistan terakhir, dengan 892 per 100.000. Amerika Serikat, dengan 171 kematian per 100.000, berada di posisi ke-43 dan Inggris di peringkat ke-23, dengan 127 kematian per 100.000. India di tempat ke-118, dan Cina di ke-140.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Penelitian termutakhir yang di sebutkan di atas merupakan penelitian yang bersifat global, lalu bagaimana dengan di Indonesia? Apakah kasus pola makan yang tidak sehat juga menjadi penyebab kematian terbesar?
<\/p>\n\n\n\n

Dalam sebuah artikel yang ditulis oleh Triyani Kresnawan, DCN,Mkes, Instalasi Gizi RSCM dan diterbitkan oleh Departemen Kesehatan Gizi Kementerian Kesehatan menyebutkan, pola makan yang tidak seimbang yang menyebabkan resiko munculnya penyakit kanker antara lain kebiasaan makanan cepat saji (fast food).
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan menjaga keseimbangan dalam pola makan ini juga disampaikan oleh Spesialis Patologi Anatomi dari Rumah Sakit Kanker Dharmais, dr Evalina Suzana. Ia mengatakan pola makan yang sehat merupakan bagian bentuk pencegahan dari penyakit kanker. Di luar dari olahraga yang teratur, minum air, dan tidur yang cukup.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Eva, sebuah pola bisa dibilang sehat jika semua yang masuk ke dalam tubuh seimbang. Tidak boleh berlebihan bukan berarti tidak dimakan sama sekali. Harus terdiri dari 50 persen protein, 30 persen karbohidrat, dan 20 persen lemak dan serat. Itu harus dipenuhi di luar mineral-mineral yang ada.
<\/p>\n\n\n\n

Nah loh, berdasarkan hasil-hasil penelitian yang menyatakan bahwa pola makan tidak sehat merupakan penyebab resiko kematian terbesar, lalu mengapa hanya rokok yang terus-menerus dituduh dalam kampanye kelompok-kelompok antirokok yang mengatasnamakan kesehatan?
<\/p>\n\n\n\n

Untuk memahami hal ini tentunya anda harus mengetahui bahwa terdapat perang bisnis nikotin antara industri farmasi dan industri rokok, atau yang sering kami sebut sebagai \u201cNicotin War\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Maka Anda tak usah heran jika rokok diframing bertentangan dengan kesehatan, karena semua semata hanyalah akal-akalan pihak industri farmasi untuk memenangi pertarungan bisnis nikotin tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Pola Makan Tidak Sehat Membunuhmu","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pola-makan-tidak-sehat-membunuhmu","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-23 12:23:48","post_modified_gmt":"2019-04-23 05:23:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5653","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5637,"post_author":"855","post_date":"2019-04-16 11:07:27","post_date_gmt":"2019-04-16 04:07:27","post_content":"\n

Terlahir sebagai tunadaksa atau tanpa tangan, tidak membuat Shadikin Pard pesimis menjalan hidup. Lebih dari itu, ia berhasil membuktikan bahwa kekurangan bukanlah aral melintang yang mengganjal langkah menuju kesuksesan.<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Hujan sudah reda ketika kaki saya memasuki gerbang Taman Balekambang, Surakarta. Di dalam, di atas tanah yang masih basah, ratusan pelukis dari penjuru negeri sedang sibuk mengaktualisasikan kegelisahan hatinya ke sebuah kanvas. Mereka sedang mengikuti Indonesia Painting Contest 2019 yang diselenggarakan oleh NU Gallery.
<\/p>\n\n\n\n

Saya terus melangkah menyusuri tanah basah yang di samping kanan dan kirinya para pelukis sedang khidmat menggoreskan kuas. Hingga kaki saya terhenti di hadapan pelukis yang berkonsentrasi melukis menggunakan kedua kakinya.
<\/p>\n\n\n\n

Sebatang kuas dijepitkan di antara jemari kaki. Sesekali ia menyelupkan kuas itu ke dalam cat dan kemudian menggoreskannya ke dalam kanvas hingga membentuk sebuah lukisan realis Reog Ponorogo yang indah. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di sampingnya, seorang pemuda yang ternyata anaknya dengan sigap menjalankan instruksi ayahnya, mulai dari mengganti ukuran kuas yang terjepit di antara jemarinya, membuka botol cat dan lain sebagainya. Sesekali anaknya menyalakan rokok dan menyodorkan ke hadapan mulut ayahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Ia melukis Reog Ponorogo bukan tanpa alasan. Ia ingin memberikan kritik kepada seluruh masyarakat dan Pemerintah, bahwa mencintai kekayaan budaya bangsa sendiri adalah kewajiban yang harus selalu digelorakan. Jangan sampai, ketika kebudayaan tersebut direbut negara lain, bangsa ini baru panik dan serius mengakui serta membanggakan kekayaan kebudayaan sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ialah Shadikin Pard, seorang pelukis masyhur yang terlahir tunadaksa atau tanpa kedua tangan. Kami berbincang di bawah pohon beringin rindang. Di antara para pelukis lainnya yang sedang beristirahat menunggu waktu pengumuman pemenang dibacakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pria kelahiran 29 Oktober 1996 ini mulai melukis sejak masih di taman kanak-kanak. Saat itu, melukis hanya sebagai hobi semata. Sadikin juga pernah les privat melukis di rumahnya. Hingga mengenyam pendidikan sekolah menengah atas di SMA Santa Maria Kota Malang, Sadikin masih menempatkan melukis sebagai hobi.
<\/p>\n\n\n\n

Di tengah keterbatasannya, Sadikin lalu melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kala itu, Sadikin mengambil jurusan psikologi pascagagal mengambil jurusan arsitektur yang ia dambakan dan cita-citakan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, kekurangan yang diberikan Tuhan adalah sebuah kelebihan yang tidak banyak dimiliki oleh orang lain. Kegigihannya dalam belajar melukis menghantarkannya ke Associaton of Mouth and Foot Painting Artist (AMFPA). Sebuah organisasi yang bermarkas di Swiss dan menghimpun karya pelukis yang melukis menggunakan kaki dan mulut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSetelah masuk AMFPA, saya menjadikan melukis sebagai profesi. Tahun 1989 saya menerima 300 swiss franc, setara Rp 300 ribu waktu itu. Kini, saya menerima sekitar 40 jt setiap bulan,\u201d ungkap Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin terus melukis. Kemampuannya terus berkembang, bahkan melebihi tuntutan dari organisasi yang ia ikuti. Nama Sadikin juga mulai dikenal, bukan sebab keterbatasannya, melainkan sebab karyanya yang memang bernilai tinggi.
<\/p>\n\n\n\n

Setiap kali ada pameran lukisan dan kontes-kontes melukis, Sadikin tidak pernah alfa untuk mengikutinya. Karyanya menjadi sorotan publik dan banyak laku dengan harga yang tidak murah. Bahkan menurutnya, ada salah satu lukisannya yang laku hingga Rp 250 juta.<\/p>\n\n\n\n

Menolak Pasrah dan Bergantung kepada Pemerintah karena Disabilitas<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Sadikin tidak mau dikasihani orang lain. Meski ia tunadaksa, ia adalah manusia yang sama, yang memilki kesempatan besar untuk menjalani rutinitas sebagaimana manusia lainnya. \u201cKuncinya adalah terus mencoba, mencoba dan mencoba. Saya tidak apa-apa dicemooh lukisan saya jelek. Bagi saya cemoohan seperti itu adalah cambuk untuk terus berlatih,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Sadikin, masyarakat harus adil memerlakukan para difabel. Difabel harus diperlakukan sebagaimana orang biasa. Semakin banyak orang yang mengasihani difabel, maka tidak malah membuat difabel itu kuat, sebaliknya berdampak melemahkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cDifabel harus diperlakukan seperti manusia biasa, bahkan ia harus diberi tantangan dan ditempa untuk menemukan kelebihan dalam dirinya,\u201d kata Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, para difabel harus mulai mengubah sudut pandang. Bahwa segala kekurangan tidak kemudian menjadikan para difabel pasrah menerima nasib dan mengharapkan santunan dari orang lain dan pemerintah untuk menjalani hidup. Difabel adalah orang istimewa yang dapat berkarya melebihi orang-orang biasa. Kekurangan ini adalah kelebihan yang akan ditemukan dengan kerja keras dan melatih diri menjadi apa yang diinginkan.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin bisa berangkat ke Swiss dan mengharumkan nama Indonesia di mata dunia, tidak terlebih dulu mendapat perhatian dari pemerintah. Ia mengaku berangkat dengan uang sendiri. Bahkan, lanjut Sadikin, hingga kini pun tidak ada pemerintah yang mengapresiasi karya-karyanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak menginginkan belas kasihan dari pemerintah. Karena yang sejatinya benar adalah, kita dapat memberikan apa kepada negara ini, bukan negara dapat memberikan apa kepada kita. Namun yang saya sayangkan, pemerintah sepertinya tidak peduli memperhatikan para seniman dan menghargai karya seni dari para seniman negeri sendiri. Seharusnya para seniman ini diberikan wadah, diperhatikan, kan juga kalau manajemennya bagus bisa menjadi pemasukan untuk negara,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin mengirim pesan kepada seluruh seniman di Tanah Air untuk terus berkaraya, tanpa peduli akan bernilai apa sebuah karya tersebut. \u201cYang terpenting kita dapat mengaktulisasikan diri dan terus melukis dengan niat mengharumkan nama negeri. Teruslah berkarya, karena sejatinya karya adalah yang dibuat dengan kesungguhan dan keikhlasan hati,\u201d pungkas pelukis beranak dua tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Shadikin Pard, Pelukis Tanpa Lengan yang Mengharumkan Bangsa dengan Kedua Kakinya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"shadikin-pard-pelukis-tanpa-lengan-yang-mengharumkan-bangsa-dengan-kedua-kakinya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-16 11:09:38","post_modified_gmt":"2019-04-16 04:09:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5637","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5621,"post_author":"877","post_date":"2019-04-10 10:37:08","post_date_gmt":"2019-04-10 03:37:08","post_content":"\n

Bahasan mengenai hukum menyulut kretek pernah dipertanyakan dalam forum bahtsul masail<\/em> (musyawarah) para Kiai\/Ulama\u2019 Kudus. Pertanyaan (saail<\/em>) yang mengajukan atas nama masyarakat Baletengahan, yaitu dukuh yang masuk wilayah Desa Langgardalem Kecamatan Kota. Tepatnya sekitar + 800an m, arah utara Masjid Menara Kudus (al-Aqsha). Kultur budaya masyarakat Baletengahan adalah santri, terdapat banyak Pesantren dan beberapa madrasah, salah satunya lembaga pendidikan formal TBS (Tasywiqut Thullab Salafiyyah), yaitu lembaga pendidikan salaf yang dahulu salah satu tempat  KH. Arwani Amin al-Hafiz mengajar dan yayasan pendidikan Nawa Kartika, yang didirikan oleh tokoh NU setempat. <\/p>\n\n\n\n

Lain halnya pesantren dan lembaga pendidikan, di sekitar Baletengahan Langgardalem, konon dahulu banyak usaha rumahan kretek. Petilasan yang masih dapat dijumpai di Langgardalem adalah \u201cgudang tembakau dan PR. Buah Cengkeh\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Disini terlihat para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus mempunyai tradisi kritis menyikapi fenomena disekelilingnya. Sehingga wajar pada tahun 1990an muncul bahasan tentang kretek di Bahtsul Masail<\/em> para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, jauh mendahului keputusan MUI dan Muhammadiyyah hasil Padang Panjang, dilaksanakan tahun 2009-2010.<\/p>\n\n\n\n

Tradisi Bahtsul Masail biasa disebut \u201cMunadzoroh<\/em>\u201d sudah lama dilakukan para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, dengan bertempat di Masjid-masjid di sekitar Kudus, bergantian dan memutar. Peserta munadzoroh<\/em> adalah para Kiai\/Ulama\u2019 se-Kabupaten Kudus dari berbagai penjuru desa, dan juga masyarakat umum, karena sifatnya terbuka (siapa saja boleh ikut tanpa terkecuali). Pelaksanaannya dari dulu hingga sekarang dijatuhkan pada hari Ahad (minggu). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat pembahasan mengenai kretek, bertempat di Masji al-Aqsho Menara Kudus yang dipimpin oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), redaksi pertanyaaannya adalah:<\/p>\n\n\n\n

\u201ckados pundi hukumipun ngkretek (bagaimana hukum menghisap kretek)?\u201d<\/em>--pertanyaan dari<\/em> Baletengahan--<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sebelum memulai pembahasan biasanya KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menanyakan tentang apa yang akan dibahas. Diceritakan oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi, situasi dan kondisi saat itu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), bertanya di forum, \u00a0\u201copo iki takonane?\u201d (pertanyaannya apa), di jawab yang hadir saat itu, \u201c anu Mbah bab kretek\u201d (itu bab menghisap kretek), lalu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menyambung jawaban hadirin, \u201coooo, bab kretek, kretekku gowo rene dikik\u201d (ooo, bab menghisap kretek, kretekku bawa kemari dulu), kemudian KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) mengambil satu batang kretek dari bungkusnya disulut dan dihisap. Selesai menyulut kretek, kembali KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) berbicara, \u201cwes kono dibahas\u201d (sudah sana dibahas). Setelah diperintahkan untuk dibahas, suasana hening sejenak. \u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mungkin di benak para hadirin terlintas pikiran \u201capa yang dibahas sudah dijawab secara tersirat oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) dengan menghisap kretek\u201d. Pada akhirnya, pembahasan tetap dilaksanakan. Diceritakan KH. Sya\u2019roni juga, situasi saat itu tidak ada Kiai\/Ulama\u2019 yang hadir menghukumi \u201charam\u201d, pada akhirnya diputuskan KH. Turaikhan, dengan hukum \u201c boleh\u201d, disela-sela KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) memberikan penjelasan, ada salah satu hadirin mengacungkan jarinya, beliau adalah KH. Hambali (Al Maghfurlah), sambil berkata; \u201ckulo Kiai, menawi boten udud kulo mboten saget mucal\u201d (saya Kiai, kalau tidak sambil menghisap kretek, saya tidak dapat mengajar), disertai argumen dan penjelasanannya. Kemudian KH. Turaikhan, memberikan jawaban dan tanggapan kepada KH. Hambali, \u201cnek ngono, kanggo kuwi hukumi wajib\u201d (kalau begitu, untuk kamu hukumnya wajib mengkonsumsi kretek).  <\/p>\n\n\n\n

Dilihat dari putusan Bahtsul Masail di atas, pada awalnya menghisap kretek dihukumi \u201cboleh\u201d, namun dengan kondisi tertentu menjadi \u201cWajib\u201d. Cerita penetapan hukum menghisap kretek dalam forum Bahtsul Masail di atas, telah menyebar di kalangan masyarakat Kudus, dan menjadi konsumsi publik, serta bersifat mengikat sampai sekarang. Sehingga banyak Kiai\/Ulama\u2019 Kudus tidak mempersoalkan lagi, apalagi membahas kembali. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cerita situasi dan kondisi Bahtsul Masail, diapresiasi dan diinterpretasikan Kiai\/Ulama\u2019Kudus lebih kontekstual, salah satunya KH. Fatkhur Rahman, beliau bercerita;  saat KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) populer dengan sebutan Mbah Tur memimpin munadzoroh<\/em> ada pertanyaan: bagaimana hukumnya kretek? Mbah Tur malah mengambil kretek, menyulut dan menghisapnya, dengan begitu diasumsikan hukumnya \u201chalal\u201d (jadi  setelah itu sudah tidak perlu dibahas lagi soal kretek). KH. Fatkhur Rahman juga menceritakan ada satu alasan kuat, mengapa halal, karena para Kiai itu tidak mau barang subhat<\/em> (tidak jelas posisinya), apalagi haram. Ketika para Kiai\/Ulama\u2019 besar menghisap kretek, otomatis tidak haram. Tuhan menciptakan sesuatu untuk dinikmati itu ada dua, halal atau haram. <\/p>\n\n\n\n

Dasar hukum menghisap kretek adalah mubah, sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang menjadi wajib, juga menjadi haram. Dasar utamanya adalah  \u201cla dhororo wala dhiroro\u201d. <\/em>Hukumnya seperti  mengkonsumsi gula, ketika kena penyakit gula, maka haram atau tidak boleh mengkonsumsi gula. Begitu pula ketika punya darah tinggi, maka tidak boleh makan daging, dan seterusnya. Dimana \u201calhukmu yadurru ma\u2019a illatihi\u201d<\/em>(hukum itu bisa beralih tergantung alasannya). Membeli kretek dihukumi tidak boleh (haram), jika uang yang dipakai semestinya untuk belanja kebutuhan pokok, membayar sekolah dan lain sebagainya. Menghisap kretek menjadi wajib, ketika tidak menghisap sulit berpikir, lemas, tidak bisa kerja dan lain sebagainya.
<\/p>\n","post_title":"Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fenomena-hukum-rokok-bagi-ulama-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-10 10:37:16","post_modified_gmt":"2019-04-10 03:37:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5621","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

Paling Populer

\n

Sudah 2 tahun belakangan peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia jatuh pada bulan suci ramadhan. Dengan kondisi mayoritas perokok di Indonesia sedang menjalankan ibadah puasa, tentu gelaran Hari Tanpa Tembakau Sedunia jadi aneh rasanya jika dikampanyekan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Toh tidak usah disuruh-suruh perokok untuk berhenti merokok selama sehari, karena memang perokok akan berhenti merokok selama seharian penuh sepanjang bulan suci ramadhan. Bahkan para perokok menahan hasrat mengonsumsi rokok sebulan lamanya dengan penuh kesadaran, tanpa harus diprovokasi sana-sini dengan kampanye berhenti merokok.
<\/p>\n\n\n\n

Provokasi berhenti merokok dengan segala macam kampanye buruk mengenai rokok di Hari Peringatan Tanpa Tembakau Sedunia adalah sebuah sesat pikir dari kelompok antirokok. Sebab, perokok sejatinya tahu dan punya kebebasan dalam memilih apa yang dikonsumsinya.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Justru para peneliti di British Medical Journal mengatakan, penggunaan kata adiktif kepada rokok dan ajakan berhenti merokok berulang-ulang tidaklah tepat. Sebab para peneliti tersebut mengemukakan perokok sangat mudah untuk berhenti dari aktivitas merokoknya. Justru kata adiktif itulah yang membuat perokok menjadi sulit untuk berhenti merokok.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lalu lihatlah ketika bulan ramadhan, apakah perokok harus diprovokasi dahulu agar bisa berpuasa? Lagi-lagi dengan penuh kesadaran para perokok dapat berhenti merokok selama 13 jam setiap hari tanpa paksaan, tanpa kampanye negatif dan ajakan-ajakan berhenti merokok lainnya yang sangat menyebalkan.
<\/p>\n\n\n\n

Sudah seharusnya peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia tidak diselenggarakan, sebab dengan adanya bulan ramadhan, hal ini dapat menganulir peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Dikarenakan hari peringatan tersebut sudah gaagal dan tidak memiliki substansi dalam penyelenggaraannya.
<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Gagal dalam artian goals atau tujuan yang dicapai dari peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia tidak menuai hasil. Perokok tidak patuh dan acuh tak acuh terhadap hari peringatan tersebut, justru lebih memilih menjalankan puasa dengan khidmat. Prinsip yang dibangun oleh perokok adalah menikmati rokok ada waktunya, soal berhenti adalah soal pilihan.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu tidak memiliki substansi yang dimaksud adalah peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia tidak memiliki visi yang jelas dan landasan dasar yang kuat. Selama ini visi dan landasan dasar yang diserukan ketika peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia hanyalah memberikan stigma-stigma negatif dan membangun kebencian kepada rokok dan perokok. Bandingkan dengan puasa yang memiliki substansi kuat di dalamnya. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini<\/a><\/p>\n\n\n\n

Berpuasa bukan sekedar menahan haus dan lapar, tapi juga dapat meningkatkan kualitas rohani dan jasmani bagi orang-orang yang berpuasa. Ini sangat jelas. Sudah sangat banyak riset-riset ilmiah yang menunjukan bahwa puasa memiliki segudang manfaat bagi manusia. Atas dasar itulah para perokok patuh terhadap seruan menunaikan ibadah puasa. Menahan diri untuk tidak merokok semantara waktu selama hampir 13 jam lamanya.
<\/p>\n\n\n\n

Maka masihkah relevan peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia? Daripada memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia, lebih baik kita semua menunaikan ibadah puasa dengan khidmat yang jelas-jelas mendapatkan pahala berlipat ganda.
<\/p>\n","post_title":"Menolak Peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia dengan Berpuasa di Bulan Ramadhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menolak-peringatan-hari-tanpa-tembakau-sedunia-dengan-berpuasa-di-bulan-ramadhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-11 12:30:30","post_modified_gmt":"2019-05-11 05:30:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5710","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5679,"post_author":"878","post_date":"2019-05-03 11:19:10","post_date_gmt":"2019-05-03 04:19:10","post_content":"\n

Pada mulanya masyarakat pribumi yang mendiami benua Amerika mulai dari wilayah paling utara hingga ke selatan, dengan bermacam suku-suku yang hidup secara komunal\u2014yang kemudian disamaratakan penyebutannya oleh penjelajah Eropa dengan sebutan Suku Indian\u2014mengonsumsi tembakau yang dikeringkan sebagai sarana pelepas lelah, dan untuk mengobati beberapa jenis penyakit yang ada ketika itu. Mereka mengisap tembakau yang dikeringkan menggunakan sebuah pipa yang lazim disebut \u2018tubak<\/em>\u2019, selanjutnya bangsa Eropa menggunakan penyebutan \u2018tubak<\/em>\u2019 untuk menamakan daun kering tersebut, lahirlah istilah \u2018tobacco<\/em>\u2019 dalam bahasa Inggirs yang diserap menjadi \u2018tembakau\u2019 dalam bahasa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Melalui Colombus dan seluruh awak kapalnya yang mendatangi benua Amerika, kebiasaan mengisap tembakau ini kemudian diperkenalkan ke Eropa dan perlahan menjadi kebiasaan yang umum di sana. Konsumsi tembakau di Eropa terutama dimanfaatkan sebagai penghilang rasa dingin ketika musim dingin tiba di daratan Eropa. Bangsa Eropa kemudian membawa tembakau ke negeri jajahan mereka dan membudidayakannya di sana hingga pada akhirnya tembakau menjadi konsumsi yang mendunia, termasuk juga di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ariel Tatum dan Diskriminasi Perempuan Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia sendiri, tembakau pada mulanya digunakan sebagai bahan campuran dalam mengonsumsi sirih yang lazim disebut nyirih<\/em>. Karena dianggap jorok, penjajah Belanda melarang aktivitas nyirih dan mengenalkan konsumsi tembakau dengan cara dibakar dan diisap kepada masyarakat pribumi. Kebiasaan mengisap tembakau di Indonesia semakin populer usai Haji Djamhari menemukan ramuan tembakau kering yang dicampur cengkeh kering kemudian dibakar dan diisap sebagai obat asma yang ia derita. Campuran tembakau kering dan bunga cengkeh kering yang dibakar menimbulkan suara berkeretek hingga pada akhirnya produk rokok ini dinamakan rokok kretek dan menguasai pasar dalam negeri hingga saat ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari catatan singkat di atas, konsumsi tembakau kering yang diisap kemudian tembakau kering yang dicampur bunga cengkeh kering pada mulanya sebagai barang konsumsi untuk pengobatan dan relaksasi. Hingga pada akhirnya, persaingan bisnis menggiring kampanye-kampanye yang menyuarakan perihal keburukan konsumsi tembakau. Dalih kesehatan dijadikan alasan utama untuk menghancurkan perekonomian tembakau guna meloloskan bisnis farmasi yang dijalankan korporasi besar berskala internasional.<\/p>\n\n\n\n

Periode 2000 hingga saat ini, kampanye miring mengenai rokok dan rokok kretek kian menguat. Tak hanya korporasi besar, badan-badan kesehatan dunia juga ikut ambil peran dalam upaya menghancurkan produk rokok terutama rokok kretek yang menjadi ciri khas dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Berita terbaru dalam sepekan terakhir, di Jepang, salah satu universitas negeri berencana memecat seluruh staf dan dosen mereka yang menjadi perokok aktif. Selain itu, beberapa perusahaan di Jepang juga akan mencoret langsung para pelamar kerja yang diketahui sebagai perokok aktif. Ini tentu saja menjadi kemunduran yang telak bagi negara Jepang. Padahal sebelumnya Jepang dikenal menjadi negara yang masih cukup ramah terhadap para perokok.<\/p>\n\n\n\n

Alasan Jepang memberlakukan kebijakan tersebut sebagai upaya menyambut perhelatan olimpiade 2020 yang akan diselenggarakan di Tokyo. Lagi-lagi, dalih kesehatan yang menjadi tameng kebijakan ini. Jika ditelaah secara saksama, tentu saja kebijakan ini sama sekali tidak ada relevansinya. Terkesan pemaksaan dan sekadar pencitraan semata.<\/p>\n\n\n\n

Lagi pula, tak ada relevansinya antara kecerdasan (dalam hal ini dunia kampus) dengan kebiasaan merokok. Juga tak ada relevansi antara kinerja (dalam hal ini pelamar kerja) dengan kebiasaan merokok. Lagi-lagi, ini semata sekadar cocokologi saja.<\/p>\n\n\n\n

Bodoh ya bodoh saja, malas ya malas saja, juga sebaliknya, tak ada kaitannya dengan kebiasaan merokok. Kita bisa menjejerkan ratusan bahkan ribuan nama-nama orang yang memiliki kebiasaan merokok, di sana akan ada orang-orang yang sangai pandai hingga orang-orang idiot sekalipun yang memiliki kebiasaan merokok. Kita juga bisa menjejerkan nama-nama ratusan hingga ribuan orang yang sama sekali tidak merokok, dan di sana akan ada orang yang pandai sekali juga akan ada orang goblok segoblok-gobloknya yang sama sekali tidak merokok. Lalu, apa alasan memecat staf dan dosen di kampus yang memiliki kebiasaan merokok?<\/p>\n\n\n\n

Hal yang sama juga bisa kita lakukan dengan jejeran nama-nama orang dengan kinerja dan etos kerja. Yang rajin, juga yang malas, ada dalam kelompok mereka yang merokok juga kelompok mereka yang tidak merokok. Maka, saya kira, apa yang terjadi di Jepang dan diberitakan dalam sepekan belakangan, tentu saja mengganggu akal sehat siapa saja yang masih bisa berpikir dengan jernih.
<\/p>\n","post_title":"Diskriminasi Terhadap Para Perokok di Jepang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"diskriminasi-terhadap-para-perokok-di-jepang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-03 11:19:17","post_modified_gmt":"2019-05-03 04:19:17","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5679","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5653,"post_author":"883","post_date":"2019-04-23 12:23:36","post_date_gmt":"2019-04-23 05:23:36","post_content":"\n

Rokok selalu dikambinghitamkan sebagai penyebab dari tingginya angka kematian umat manusia. Angka dan data jadul yang selalu diulang-ulang mengenai rokok penyebab kematian, seakan membius kita bahwa rokok-lah musuh bersama. Sementara rokok dijadikan musuh bersama, kita justru abai terhadap musuh riil yang sedang mengintai kehidupan kita.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah penelitian menyatakan bahwa pola makan yang tidak sehat lebih banyak meningkatkan resiko kematian dini daripada faktor risiko lainnya, termasuk merokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cerita Rakyat Tentang Kretek dan Tembakau di Tiga Kota (Kudus, Temanggung, Madura)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ini artinya agen malaikat pencabut nyawa manusia ada di pola makan kita. Apakah sudah sehat atau tidak sehat? satu hal yang seringkali diabaikan.
<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan Studi Global Burden of Disease yang mengamati konsumsi makanan di 195 negara, antara tahun 1990 dan 2017, fokus pada 15 jenis makanan atau nutrisi mengamini pola makan tidak sehat adalah penyebab terbesar kematian manusia.
<\/p>\n\n\n\n

Penelitian lainnya yang bersumber dari Medical News Today, dalam sebuah makalah yang dimuat dalam The Lancet, para peneliti menyimpulkan, pola makan yang buruk menyumbang 1 dari 5, atau 11 juta, kematian orang dewasa pada tahun 2017. Sebagian besar dari kematian itu, sekitar 10 juta, berasal dari penyakit kardiovaskular.
<\/p>\n\n\n\n

Sisanya terutama dari kanker dan diabetes tipe 2. Peringkat negara-negara dari tingkat kematian terkait diet terendah ke tertinggi menempatkan Israel pertama, dengan 89 kematian per 100.000 orang, dan Uzbekistan terakhir, dengan 892 per 100.000. Amerika Serikat, dengan 171 kematian per 100.000, berada di posisi ke-43 dan Inggris di peringkat ke-23, dengan 127 kematian per 100.000. India di tempat ke-118, dan Cina di ke-140.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Penelitian termutakhir yang di sebutkan di atas merupakan penelitian yang bersifat global, lalu bagaimana dengan di Indonesia? Apakah kasus pola makan yang tidak sehat juga menjadi penyebab kematian terbesar?
<\/p>\n\n\n\n

Dalam sebuah artikel yang ditulis oleh Triyani Kresnawan, DCN,Mkes, Instalasi Gizi RSCM dan diterbitkan oleh Departemen Kesehatan Gizi Kementerian Kesehatan menyebutkan, pola makan yang tidak seimbang yang menyebabkan resiko munculnya penyakit kanker antara lain kebiasaan makanan cepat saji (fast food).
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan menjaga keseimbangan dalam pola makan ini juga disampaikan oleh Spesialis Patologi Anatomi dari Rumah Sakit Kanker Dharmais, dr Evalina Suzana. Ia mengatakan pola makan yang sehat merupakan bagian bentuk pencegahan dari penyakit kanker. Di luar dari olahraga yang teratur, minum air, dan tidur yang cukup.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Eva, sebuah pola bisa dibilang sehat jika semua yang masuk ke dalam tubuh seimbang. Tidak boleh berlebihan bukan berarti tidak dimakan sama sekali. Harus terdiri dari 50 persen protein, 30 persen karbohidrat, dan 20 persen lemak dan serat. Itu harus dipenuhi di luar mineral-mineral yang ada.
<\/p>\n\n\n\n

Nah loh, berdasarkan hasil-hasil penelitian yang menyatakan bahwa pola makan tidak sehat merupakan penyebab resiko kematian terbesar, lalu mengapa hanya rokok yang terus-menerus dituduh dalam kampanye kelompok-kelompok antirokok yang mengatasnamakan kesehatan?
<\/p>\n\n\n\n

Untuk memahami hal ini tentunya anda harus mengetahui bahwa terdapat perang bisnis nikotin antara industri farmasi dan industri rokok, atau yang sering kami sebut sebagai \u201cNicotin War\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Maka Anda tak usah heran jika rokok diframing bertentangan dengan kesehatan, karena semua semata hanyalah akal-akalan pihak industri farmasi untuk memenangi pertarungan bisnis nikotin tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Pola Makan Tidak Sehat Membunuhmu","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pola-makan-tidak-sehat-membunuhmu","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-23 12:23:48","post_modified_gmt":"2019-04-23 05:23:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5653","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5637,"post_author":"855","post_date":"2019-04-16 11:07:27","post_date_gmt":"2019-04-16 04:07:27","post_content":"\n

Terlahir sebagai tunadaksa atau tanpa tangan, tidak membuat Shadikin Pard pesimis menjalan hidup. Lebih dari itu, ia berhasil membuktikan bahwa kekurangan bukanlah aral melintang yang mengganjal langkah menuju kesuksesan.<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Hujan sudah reda ketika kaki saya memasuki gerbang Taman Balekambang, Surakarta. Di dalam, di atas tanah yang masih basah, ratusan pelukis dari penjuru negeri sedang sibuk mengaktualisasikan kegelisahan hatinya ke sebuah kanvas. Mereka sedang mengikuti Indonesia Painting Contest 2019 yang diselenggarakan oleh NU Gallery.
<\/p>\n\n\n\n

Saya terus melangkah menyusuri tanah basah yang di samping kanan dan kirinya para pelukis sedang khidmat menggoreskan kuas. Hingga kaki saya terhenti di hadapan pelukis yang berkonsentrasi melukis menggunakan kedua kakinya.
<\/p>\n\n\n\n

Sebatang kuas dijepitkan di antara jemari kaki. Sesekali ia menyelupkan kuas itu ke dalam cat dan kemudian menggoreskannya ke dalam kanvas hingga membentuk sebuah lukisan realis Reog Ponorogo yang indah. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di sampingnya, seorang pemuda yang ternyata anaknya dengan sigap menjalankan instruksi ayahnya, mulai dari mengganti ukuran kuas yang terjepit di antara jemarinya, membuka botol cat dan lain sebagainya. Sesekali anaknya menyalakan rokok dan menyodorkan ke hadapan mulut ayahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Ia melukis Reog Ponorogo bukan tanpa alasan. Ia ingin memberikan kritik kepada seluruh masyarakat dan Pemerintah, bahwa mencintai kekayaan budaya bangsa sendiri adalah kewajiban yang harus selalu digelorakan. Jangan sampai, ketika kebudayaan tersebut direbut negara lain, bangsa ini baru panik dan serius mengakui serta membanggakan kekayaan kebudayaan sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ialah Shadikin Pard, seorang pelukis masyhur yang terlahir tunadaksa atau tanpa kedua tangan. Kami berbincang di bawah pohon beringin rindang. Di antara para pelukis lainnya yang sedang beristirahat menunggu waktu pengumuman pemenang dibacakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pria kelahiran 29 Oktober 1996 ini mulai melukis sejak masih di taman kanak-kanak. Saat itu, melukis hanya sebagai hobi semata. Sadikin juga pernah les privat melukis di rumahnya. Hingga mengenyam pendidikan sekolah menengah atas di SMA Santa Maria Kota Malang, Sadikin masih menempatkan melukis sebagai hobi.
<\/p>\n\n\n\n

Di tengah keterbatasannya, Sadikin lalu melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kala itu, Sadikin mengambil jurusan psikologi pascagagal mengambil jurusan arsitektur yang ia dambakan dan cita-citakan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, kekurangan yang diberikan Tuhan adalah sebuah kelebihan yang tidak banyak dimiliki oleh orang lain. Kegigihannya dalam belajar melukis menghantarkannya ke Associaton of Mouth and Foot Painting Artist (AMFPA). Sebuah organisasi yang bermarkas di Swiss dan menghimpun karya pelukis yang melukis menggunakan kaki dan mulut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSetelah masuk AMFPA, saya menjadikan melukis sebagai profesi. Tahun 1989 saya menerima 300 swiss franc, setara Rp 300 ribu waktu itu. Kini, saya menerima sekitar 40 jt setiap bulan,\u201d ungkap Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin terus melukis. Kemampuannya terus berkembang, bahkan melebihi tuntutan dari organisasi yang ia ikuti. Nama Sadikin juga mulai dikenal, bukan sebab keterbatasannya, melainkan sebab karyanya yang memang bernilai tinggi.
<\/p>\n\n\n\n

Setiap kali ada pameran lukisan dan kontes-kontes melukis, Sadikin tidak pernah alfa untuk mengikutinya. Karyanya menjadi sorotan publik dan banyak laku dengan harga yang tidak murah. Bahkan menurutnya, ada salah satu lukisannya yang laku hingga Rp 250 juta.<\/p>\n\n\n\n

Menolak Pasrah dan Bergantung kepada Pemerintah karena Disabilitas<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Sadikin tidak mau dikasihani orang lain. Meski ia tunadaksa, ia adalah manusia yang sama, yang memilki kesempatan besar untuk menjalani rutinitas sebagaimana manusia lainnya. \u201cKuncinya adalah terus mencoba, mencoba dan mencoba. Saya tidak apa-apa dicemooh lukisan saya jelek. Bagi saya cemoohan seperti itu adalah cambuk untuk terus berlatih,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Sadikin, masyarakat harus adil memerlakukan para difabel. Difabel harus diperlakukan sebagaimana orang biasa. Semakin banyak orang yang mengasihani difabel, maka tidak malah membuat difabel itu kuat, sebaliknya berdampak melemahkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cDifabel harus diperlakukan seperti manusia biasa, bahkan ia harus diberi tantangan dan ditempa untuk menemukan kelebihan dalam dirinya,\u201d kata Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, para difabel harus mulai mengubah sudut pandang. Bahwa segala kekurangan tidak kemudian menjadikan para difabel pasrah menerima nasib dan mengharapkan santunan dari orang lain dan pemerintah untuk menjalani hidup. Difabel adalah orang istimewa yang dapat berkarya melebihi orang-orang biasa. Kekurangan ini adalah kelebihan yang akan ditemukan dengan kerja keras dan melatih diri menjadi apa yang diinginkan.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin bisa berangkat ke Swiss dan mengharumkan nama Indonesia di mata dunia, tidak terlebih dulu mendapat perhatian dari pemerintah. Ia mengaku berangkat dengan uang sendiri. Bahkan, lanjut Sadikin, hingga kini pun tidak ada pemerintah yang mengapresiasi karya-karyanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak menginginkan belas kasihan dari pemerintah. Karena yang sejatinya benar adalah, kita dapat memberikan apa kepada negara ini, bukan negara dapat memberikan apa kepada kita. Namun yang saya sayangkan, pemerintah sepertinya tidak peduli memperhatikan para seniman dan menghargai karya seni dari para seniman negeri sendiri. Seharusnya para seniman ini diberikan wadah, diperhatikan, kan juga kalau manajemennya bagus bisa menjadi pemasukan untuk negara,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin mengirim pesan kepada seluruh seniman di Tanah Air untuk terus berkaraya, tanpa peduli akan bernilai apa sebuah karya tersebut. \u201cYang terpenting kita dapat mengaktulisasikan diri dan terus melukis dengan niat mengharumkan nama negeri. Teruslah berkarya, karena sejatinya karya adalah yang dibuat dengan kesungguhan dan keikhlasan hati,\u201d pungkas pelukis beranak dua tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Shadikin Pard, Pelukis Tanpa Lengan yang Mengharumkan Bangsa dengan Kedua Kakinya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"shadikin-pard-pelukis-tanpa-lengan-yang-mengharumkan-bangsa-dengan-kedua-kakinya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-16 11:09:38","post_modified_gmt":"2019-04-16 04:09:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5637","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5621,"post_author":"877","post_date":"2019-04-10 10:37:08","post_date_gmt":"2019-04-10 03:37:08","post_content":"\n

Bahasan mengenai hukum menyulut kretek pernah dipertanyakan dalam forum bahtsul masail<\/em> (musyawarah) para Kiai\/Ulama\u2019 Kudus. Pertanyaan (saail<\/em>) yang mengajukan atas nama masyarakat Baletengahan, yaitu dukuh yang masuk wilayah Desa Langgardalem Kecamatan Kota. Tepatnya sekitar + 800an m, arah utara Masjid Menara Kudus (al-Aqsha). Kultur budaya masyarakat Baletengahan adalah santri, terdapat banyak Pesantren dan beberapa madrasah, salah satunya lembaga pendidikan formal TBS (Tasywiqut Thullab Salafiyyah), yaitu lembaga pendidikan salaf yang dahulu salah satu tempat  KH. Arwani Amin al-Hafiz mengajar dan yayasan pendidikan Nawa Kartika, yang didirikan oleh tokoh NU setempat. <\/p>\n\n\n\n

Lain halnya pesantren dan lembaga pendidikan, di sekitar Baletengahan Langgardalem, konon dahulu banyak usaha rumahan kretek. Petilasan yang masih dapat dijumpai di Langgardalem adalah \u201cgudang tembakau dan PR. Buah Cengkeh\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Disini terlihat para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus mempunyai tradisi kritis menyikapi fenomena disekelilingnya. Sehingga wajar pada tahun 1990an muncul bahasan tentang kretek di Bahtsul Masail<\/em> para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, jauh mendahului keputusan MUI dan Muhammadiyyah hasil Padang Panjang, dilaksanakan tahun 2009-2010.<\/p>\n\n\n\n

Tradisi Bahtsul Masail biasa disebut \u201cMunadzoroh<\/em>\u201d sudah lama dilakukan para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, dengan bertempat di Masjid-masjid di sekitar Kudus, bergantian dan memutar. Peserta munadzoroh<\/em> adalah para Kiai\/Ulama\u2019 se-Kabupaten Kudus dari berbagai penjuru desa, dan juga masyarakat umum, karena sifatnya terbuka (siapa saja boleh ikut tanpa terkecuali). Pelaksanaannya dari dulu hingga sekarang dijatuhkan pada hari Ahad (minggu). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat pembahasan mengenai kretek, bertempat di Masji al-Aqsho Menara Kudus yang dipimpin oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), redaksi pertanyaaannya adalah:<\/p>\n\n\n\n

\u201ckados pundi hukumipun ngkretek (bagaimana hukum menghisap kretek)?\u201d<\/em>--pertanyaan dari<\/em> Baletengahan--<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sebelum memulai pembahasan biasanya KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menanyakan tentang apa yang akan dibahas. Diceritakan oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi, situasi dan kondisi saat itu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), bertanya di forum, \u00a0\u201copo iki takonane?\u201d (pertanyaannya apa), di jawab yang hadir saat itu, \u201c anu Mbah bab kretek\u201d (itu bab menghisap kretek), lalu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menyambung jawaban hadirin, \u201coooo, bab kretek, kretekku gowo rene dikik\u201d (ooo, bab menghisap kretek, kretekku bawa kemari dulu), kemudian KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) mengambil satu batang kretek dari bungkusnya disulut dan dihisap. Selesai menyulut kretek, kembali KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) berbicara, \u201cwes kono dibahas\u201d (sudah sana dibahas). Setelah diperintahkan untuk dibahas, suasana hening sejenak. \u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mungkin di benak para hadirin terlintas pikiran \u201capa yang dibahas sudah dijawab secara tersirat oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) dengan menghisap kretek\u201d. Pada akhirnya, pembahasan tetap dilaksanakan. Diceritakan KH. Sya\u2019roni juga, situasi saat itu tidak ada Kiai\/Ulama\u2019 yang hadir menghukumi \u201charam\u201d, pada akhirnya diputuskan KH. Turaikhan, dengan hukum \u201c boleh\u201d, disela-sela KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) memberikan penjelasan, ada salah satu hadirin mengacungkan jarinya, beliau adalah KH. Hambali (Al Maghfurlah), sambil berkata; \u201ckulo Kiai, menawi boten udud kulo mboten saget mucal\u201d (saya Kiai, kalau tidak sambil menghisap kretek, saya tidak dapat mengajar), disertai argumen dan penjelasanannya. Kemudian KH. Turaikhan, memberikan jawaban dan tanggapan kepada KH. Hambali, \u201cnek ngono, kanggo kuwi hukumi wajib\u201d (kalau begitu, untuk kamu hukumnya wajib mengkonsumsi kretek).  <\/p>\n\n\n\n

Dilihat dari putusan Bahtsul Masail di atas, pada awalnya menghisap kretek dihukumi \u201cboleh\u201d, namun dengan kondisi tertentu menjadi \u201cWajib\u201d. Cerita penetapan hukum menghisap kretek dalam forum Bahtsul Masail di atas, telah menyebar di kalangan masyarakat Kudus, dan menjadi konsumsi publik, serta bersifat mengikat sampai sekarang. Sehingga banyak Kiai\/Ulama\u2019 Kudus tidak mempersoalkan lagi, apalagi membahas kembali. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cerita situasi dan kondisi Bahtsul Masail, diapresiasi dan diinterpretasikan Kiai\/Ulama\u2019Kudus lebih kontekstual, salah satunya KH. Fatkhur Rahman, beliau bercerita;  saat KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) populer dengan sebutan Mbah Tur memimpin munadzoroh<\/em> ada pertanyaan: bagaimana hukumnya kretek? Mbah Tur malah mengambil kretek, menyulut dan menghisapnya, dengan begitu diasumsikan hukumnya \u201chalal\u201d (jadi  setelah itu sudah tidak perlu dibahas lagi soal kretek). KH. Fatkhur Rahman juga menceritakan ada satu alasan kuat, mengapa halal, karena para Kiai itu tidak mau barang subhat<\/em> (tidak jelas posisinya), apalagi haram. Ketika para Kiai\/Ulama\u2019 besar menghisap kretek, otomatis tidak haram. Tuhan menciptakan sesuatu untuk dinikmati itu ada dua, halal atau haram. <\/p>\n\n\n\n

Dasar hukum menghisap kretek adalah mubah, sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang menjadi wajib, juga menjadi haram. Dasar utamanya adalah  \u201cla dhororo wala dhiroro\u201d. <\/em>Hukumnya seperti  mengkonsumsi gula, ketika kena penyakit gula, maka haram atau tidak boleh mengkonsumsi gula. Begitu pula ketika punya darah tinggi, maka tidak boleh makan daging, dan seterusnya. Dimana \u201calhukmu yadurru ma\u2019a illatihi\u201d<\/em>(hukum itu bisa beralih tergantung alasannya). Membeli kretek dihukumi tidak boleh (haram), jika uang yang dipakai semestinya untuk belanja kebutuhan pokok, membayar sekolah dan lain sebagainya. Menghisap kretek menjadi wajib, ketika tidak menghisap sulit berpikir, lemas, tidak bisa kerja dan lain sebagainya.
<\/p>\n","post_title":"Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fenomena-hukum-rokok-bagi-ulama-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-10 10:37:16","post_modified_gmt":"2019-04-10 03:37:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5621","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

Paling Populer

\n

Tanggal 31 Mei biasa diperingati sebagai Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Gerakan ini dipelopori oleh Majelis Kesehatan Dunia atau WHO (World Health Organization) sejak 1988. WHO  menyerukan kepada seluruh negara anggotanya untuk merayakan Hari Tanpa Tembakau Sedunia (World No Tobacco Day). Biasanya kelompok antirokok akan mengajak orang-orang untuk tidak merokok pada Hari Tanpa Tembakau Sedunia.
<\/p>\n\n\n\n

Sudah 2 tahun belakangan peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia jatuh pada bulan suci ramadhan. Dengan kondisi mayoritas perokok di Indonesia sedang menjalankan ibadah puasa, tentu gelaran Hari Tanpa Tembakau Sedunia jadi aneh rasanya jika dikampanyekan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Toh tidak usah disuruh-suruh perokok untuk berhenti merokok selama sehari, karena memang perokok akan berhenti merokok selama seharian penuh sepanjang bulan suci ramadhan. Bahkan para perokok menahan hasrat mengonsumsi rokok sebulan lamanya dengan penuh kesadaran, tanpa harus diprovokasi sana-sini dengan kampanye berhenti merokok.
<\/p>\n\n\n\n

Provokasi berhenti merokok dengan segala macam kampanye buruk mengenai rokok di Hari Peringatan Tanpa Tembakau Sedunia adalah sebuah sesat pikir dari kelompok antirokok. Sebab, perokok sejatinya tahu dan punya kebebasan dalam memilih apa yang dikonsumsinya.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Justru para peneliti di British Medical Journal mengatakan, penggunaan kata adiktif kepada rokok dan ajakan berhenti merokok berulang-ulang tidaklah tepat. Sebab para peneliti tersebut mengemukakan perokok sangat mudah untuk berhenti dari aktivitas merokoknya. Justru kata adiktif itulah yang membuat perokok menjadi sulit untuk berhenti merokok.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lalu lihatlah ketika bulan ramadhan, apakah perokok harus diprovokasi dahulu agar bisa berpuasa? Lagi-lagi dengan penuh kesadaran para perokok dapat berhenti merokok selama 13 jam setiap hari tanpa paksaan, tanpa kampanye negatif dan ajakan-ajakan berhenti merokok lainnya yang sangat menyebalkan.
<\/p>\n\n\n\n

Sudah seharusnya peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia tidak diselenggarakan, sebab dengan adanya bulan ramadhan, hal ini dapat menganulir peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Dikarenakan hari peringatan tersebut sudah gaagal dan tidak memiliki substansi dalam penyelenggaraannya.
<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Gagal dalam artian goals atau tujuan yang dicapai dari peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia tidak menuai hasil. Perokok tidak patuh dan acuh tak acuh terhadap hari peringatan tersebut, justru lebih memilih menjalankan puasa dengan khidmat. Prinsip yang dibangun oleh perokok adalah menikmati rokok ada waktunya, soal berhenti adalah soal pilihan.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu tidak memiliki substansi yang dimaksud adalah peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia tidak memiliki visi yang jelas dan landasan dasar yang kuat. Selama ini visi dan landasan dasar yang diserukan ketika peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia hanyalah memberikan stigma-stigma negatif dan membangun kebencian kepada rokok dan perokok. Bandingkan dengan puasa yang memiliki substansi kuat di dalamnya. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini<\/a><\/p>\n\n\n\n

Berpuasa bukan sekedar menahan haus dan lapar, tapi juga dapat meningkatkan kualitas rohani dan jasmani bagi orang-orang yang berpuasa. Ini sangat jelas. Sudah sangat banyak riset-riset ilmiah yang menunjukan bahwa puasa memiliki segudang manfaat bagi manusia. Atas dasar itulah para perokok patuh terhadap seruan menunaikan ibadah puasa. Menahan diri untuk tidak merokok semantara waktu selama hampir 13 jam lamanya.
<\/p>\n\n\n\n

Maka masihkah relevan peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia? Daripada memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia, lebih baik kita semua menunaikan ibadah puasa dengan khidmat yang jelas-jelas mendapatkan pahala berlipat ganda.
<\/p>\n","post_title":"Menolak Peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia dengan Berpuasa di Bulan Ramadhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menolak-peringatan-hari-tanpa-tembakau-sedunia-dengan-berpuasa-di-bulan-ramadhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-11 12:30:30","post_modified_gmt":"2019-05-11 05:30:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5710","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5679,"post_author":"878","post_date":"2019-05-03 11:19:10","post_date_gmt":"2019-05-03 04:19:10","post_content":"\n

Pada mulanya masyarakat pribumi yang mendiami benua Amerika mulai dari wilayah paling utara hingga ke selatan, dengan bermacam suku-suku yang hidup secara komunal\u2014yang kemudian disamaratakan penyebutannya oleh penjelajah Eropa dengan sebutan Suku Indian\u2014mengonsumsi tembakau yang dikeringkan sebagai sarana pelepas lelah, dan untuk mengobati beberapa jenis penyakit yang ada ketika itu. Mereka mengisap tembakau yang dikeringkan menggunakan sebuah pipa yang lazim disebut \u2018tubak<\/em>\u2019, selanjutnya bangsa Eropa menggunakan penyebutan \u2018tubak<\/em>\u2019 untuk menamakan daun kering tersebut, lahirlah istilah \u2018tobacco<\/em>\u2019 dalam bahasa Inggirs yang diserap menjadi \u2018tembakau\u2019 dalam bahasa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Melalui Colombus dan seluruh awak kapalnya yang mendatangi benua Amerika, kebiasaan mengisap tembakau ini kemudian diperkenalkan ke Eropa dan perlahan menjadi kebiasaan yang umum di sana. Konsumsi tembakau di Eropa terutama dimanfaatkan sebagai penghilang rasa dingin ketika musim dingin tiba di daratan Eropa. Bangsa Eropa kemudian membawa tembakau ke negeri jajahan mereka dan membudidayakannya di sana hingga pada akhirnya tembakau menjadi konsumsi yang mendunia, termasuk juga di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ariel Tatum dan Diskriminasi Perempuan Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia sendiri, tembakau pada mulanya digunakan sebagai bahan campuran dalam mengonsumsi sirih yang lazim disebut nyirih<\/em>. Karena dianggap jorok, penjajah Belanda melarang aktivitas nyirih dan mengenalkan konsumsi tembakau dengan cara dibakar dan diisap kepada masyarakat pribumi. Kebiasaan mengisap tembakau di Indonesia semakin populer usai Haji Djamhari menemukan ramuan tembakau kering yang dicampur cengkeh kering kemudian dibakar dan diisap sebagai obat asma yang ia derita. Campuran tembakau kering dan bunga cengkeh kering yang dibakar menimbulkan suara berkeretek hingga pada akhirnya produk rokok ini dinamakan rokok kretek dan menguasai pasar dalam negeri hingga saat ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari catatan singkat di atas, konsumsi tembakau kering yang diisap kemudian tembakau kering yang dicampur bunga cengkeh kering pada mulanya sebagai barang konsumsi untuk pengobatan dan relaksasi. Hingga pada akhirnya, persaingan bisnis menggiring kampanye-kampanye yang menyuarakan perihal keburukan konsumsi tembakau. Dalih kesehatan dijadikan alasan utama untuk menghancurkan perekonomian tembakau guna meloloskan bisnis farmasi yang dijalankan korporasi besar berskala internasional.<\/p>\n\n\n\n

Periode 2000 hingga saat ini, kampanye miring mengenai rokok dan rokok kretek kian menguat. Tak hanya korporasi besar, badan-badan kesehatan dunia juga ikut ambil peran dalam upaya menghancurkan produk rokok terutama rokok kretek yang menjadi ciri khas dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Berita terbaru dalam sepekan terakhir, di Jepang, salah satu universitas negeri berencana memecat seluruh staf dan dosen mereka yang menjadi perokok aktif. Selain itu, beberapa perusahaan di Jepang juga akan mencoret langsung para pelamar kerja yang diketahui sebagai perokok aktif. Ini tentu saja menjadi kemunduran yang telak bagi negara Jepang. Padahal sebelumnya Jepang dikenal menjadi negara yang masih cukup ramah terhadap para perokok.<\/p>\n\n\n\n

Alasan Jepang memberlakukan kebijakan tersebut sebagai upaya menyambut perhelatan olimpiade 2020 yang akan diselenggarakan di Tokyo. Lagi-lagi, dalih kesehatan yang menjadi tameng kebijakan ini. Jika ditelaah secara saksama, tentu saja kebijakan ini sama sekali tidak ada relevansinya. Terkesan pemaksaan dan sekadar pencitraan semata.<\/p>\n\n\n\n

Lagi pula, tak ada relevansinya antara kecerdasan (dalam hal ini dunia kampus) dengan kebiasaan merokok. Juga tak ada relevansi antara kinerja (dalam hal ini pelamar kerja) dengan kebiasaan merokok. Lagi-lagi, ini semata sekadar cocokologi saja.<\/p>\n\n\n\n

Bodoh ya bodoh saja, malas ya malas saja, juga sebaliknya, tak ada kaitannya dengan kebiasaan merokok. Kita bisa menjejerkan ratusan bahkan ribuan nama-nama orang yang memiliki kebiasaan merokok, di sana akan ada orang-orang yang sangai pandai hingga orang-orang idiot sekalipun yang memiliki kebiasaan merokok. Kita juga bisa menjejerkan nama-nama ratusan hingga ribuan orang yang sama sekali tidak merokok, dan di sana akan ada orang yang pandai sekali juga akan ada orang goblok segoblok-gobloknya yang sama sekali tidak merokok. Lalu, apa alasan memecat staf dan dosen di kampus yang memiliki kebiasaan merokok?<\/p>\n\n\n\n

Hal yang sama juga bisa kita lakukan dengan jejeran nama-nama orang dengan kinerja dan etos kerja. Yang rajin, juga yang malas, ada dalam kelompok mereka yang merokok juga kelompok mereka yang tidak merokok. Maka, saya kira, apa yang terjadi di Jepang dan diberitakan dalam sepekan belakangan, tentu saja mengganggu akal sehat siapa saja yang masih bisa berpikir dengan jernih.
<\/p>\n","post_title":"Diskriminasi Terhadap Para Perokok di Jepang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"diskriminasi-terhadap-para-perokok-di-jepang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-03 11:19:17","post_modified_gmt":"2019-05-03 04:19:17","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5679","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5653,"post_author":"883","post_date":"2019-04-23 12:23:36","post_date_gmt":"2019-04-23 05:23:36","post_content":"\n

Rokok selalu dikambinghitamkan sebagai penyebab dari tingginya angka kematian umat manusia. Angka dan data jadul yang selalu diulang-ulang mengenai rokok penyebab kematian, seakan membius kita bahwa rokok-lah musuh bersama. Sementara rokok dijadikan musuh bersama, kita justru abai terhadap musuh riil yang sedang mengintai kehidupan kita.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah penelitian menyatakan bahwa pola makan yang tidak sehat lebih banyak meningkatkan resiko kematian dini daripada faktor risiko lainnya, termasuk merokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cerita Rakyat Tentang Kretek dan Tembakau di Tiga Kota (Kudus, Temanggung, Madura)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ini artinya agen malaikat pencabut nyawa manusia ada di pola makan kita. Apakah sudah sehat atau tidak sehat? satu hal yang seringkali diabaikan.
<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan Studi Global Burden of Disease yang mengamati konsumsi makanan di 195 negara, antara tahun 1990 dan 2017, fokus pada 15 jenis makanan atau nutrisi mengamini pola makan tidak sehat adalah penyebab terbesar kematian manusia.
<\/p>\n\n\n\n

Penelitian lainnya yang bersumber dari Medical News Today, dalam sebuah makalah yang dimuat dalam The Lancet, para peneliti menyimpulkan, pola makan yang buruk menyumbang 1 dari 5, atau 11 juta, kematian orang dewasa pada tahun 2017. Sebagian besar dari kematian itu, sekitar 10 juta, berasal dari penyakit kardiovaskular.
<\/p>\n\n\n\n

Sisanya terutama dari kanker dan diabetes tipe 2. Peringkat negara-negara dari tingkat kematian terkait diet terendah ke tertinggi menempatkan Israel pertama, dengan 89 kematian per 100.000 orang, dan Uzbekistan terakhir, dengan 892 per 100.000. Amerika Serikat, dengan 171 kematian per 100.000, berada di posisi ke-43 dan Inggris di peringkat ke-23, dengan 127 kematian per 100.000. India di tempat ke-118, dan Cina di ke-140.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Penelitian termutakhir yang di sebutkan di atas merupakan penelitian yang bersifat global, lalu bagaimana dengan di Indonesia? Apakah kasus pola makan yang tidak sehat juga menjadi penyebab kematian terbesar?
<\/p>\n\n\n\n

Dalam sebuah artikel yang ditulis oleh Triyani Kresnawan, DCN,Mkes, Instalasi Gizi RSCM dan diterbitkan oleh Departemen Kesehatan Gizi Kementerian Kesehatan menyebutkan, pola makan yang tidak seimbang yang menyebabkan resiko munculnya penyakit kanker antara lain kebiasaan makanan cepat saji (fast food).
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan menjaga keseimbangan dalam pola makan ini juga disampaikan oleh Spesialis Patologi Anatomi dari Rumah Sakit Kanker Dharmais, dr Evalina Suzana. Ia mengatakan pola makan yang sehat merupakan bagian bentuk pencegahan dari penyakit kanker. Di luar dari olahraga yang teratur, minum air, dan tidur yang cukup.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Eva, sebuah pola bisa dibilang sehat jika semua yang masuk ke dalam tubuh seimbang. Tidak boleh berlebihan bukan berarti tidak dimakan sama sekali. Harus terdiri dari 50 persen protein, 30 persen karbohidrat, dan 20 persen lemak dan serat. Itu harus dipenuhi di luar mineral-mineral yang ada.
<\/p>\n\n\n\n

Nah loh, berdasarkan hasil-hasil penelitian yang menyatakan bahwa pola makan tidak sehat merupakan penyebab resiko kematian terbesar, lalu mengapa hanya rokok yang terus-menerus dituduh dalam kampanye kelompok-kelompok antirokok yang mengatasnamakan kesehatan?
<\/p>\n\n\n\n

Untuk memahami hal ini tentunya anda harus mengetahui bahwa terdapat perang bisnis nikotin antara industri farmasi dan industri rokok, atau yang sering kami sebut sebagai \u201cNicotin War\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Maka Anda tak usah heran jika rokok diframing bertentangan dengan kesehatan, karena semua semata hanyalah akal-akalan pihak industri farmasi untuk memenangi pertarungan bisnis nikotin tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Pola Makan Tidak Sehat Membunuhmu","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pola-makan-tidak-sehat-membunuhmu","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-23 12:23:48","post_modified_gmt":"2019-04-23 05:23:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5653","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5637,"post_author":"855","post_date":"2019-04-16 11:07:27","post_date_gmt":"2019-04-16 04:07:27","post_content":"\n

Terlahir sebagai tunadaksa atau tanpa tangan, tidak membuat Shadikin Pard pesimis menjalan hidup. Lebih dari itu, ia berhasil membuktikan bahwa kekurangan bukanlah aral melintang yang mengganjal langkah menuju kesuksesan.<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Hujan sudah reda ketika kaki saya memasuki gerbang Taman Balekambang, Surakarta. Di dalam, di atas tanah yang masih basah, ratusan pelukis dari penjuru negeri sedang sibuk mengaktualisasikan kegelisahan hatinya ke sebuah kanvas. Mereka sedang mengikuti Indonesia Painting Contest 2019 yang diselenggarakan oleh NU Gallery.
<\/p>\n\n\n\n

Saya terus melangkah menyusuri tanah basah yang di samping kanan dan kirinya para pelukis sedang khidmat menggoreskan kuas. Hingga kaki saya terhenti di hadapan pelukis yang berkonsentrasi melukis menggunakan kedua kakinya.
<\/p>\n\n\n\n

Sebatang kuas dijepitkan di antara jemari kaki. Sesekali ia menyelupkan kuas itu ke dalam cat dan kemudian menggoreskannya ke dalam kanvas hingga membentuk sebuah lukisan realis Reog Ponorogo yang indah. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di sampingnya, seorang pemuda yang ternyata anaknya dengan sigap menjalankan instruksi ayahnya, mulai dari mengganti ukuran kuas yang terjepit di antara jemarinya, membuka botol cat dan lain sebagainya. Sesekali anaknya menyalakan rokok dan menyodorkan ke hadapan mulut ayahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Ia melukis Reog Ponorogo bukan tanpa alasan. Ia ingin memberikan kritik kepada seluruh masyarakat dan Pemerintah, bahwa mencintai kekayaan budaya bangsa sendiri adalah kewajiban yang harus selalu digelorakan. Jangan sampai, ketika kebudayaan tersebut direbut negara lain, bangsa ini baru panik dan serius mengakui serta membanggakan kekayaan kebudayaan sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ialah Shadikin Pard, seorang pelukis masyhur yang terlahir tunadaksa atau tanpa kedua tangan. Kami berbincang di bawah pohon beringin rindang. Di antara para pelukis lainnya yang sedang beristirahat menunggu waktu pengumuman pemenang dibacakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pria kelahiran 29 Oktober 1996 ini mulai melukis sejak masih di taman kanak-kanak. Saat itu, melukis hanya sebagai hobi semata. Sadikin juga pernah les privat melukis di rumahnya. Hingga mengenyam pendidikan sekolah menengah atas di SMA Santa Maria Kota Malang, Sadikin masih menempatkan melukis sebagai hobi.
<\/p>\n\n\n\n

Di tengah keterbatasannya, Sadikin lalu melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kala itu, Sadikin mengambil jurusan psikologi pascagagal mengambil jurusan arsitektur yang ia dambakan dan cita-citakan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, kekurangan yang diberikan Tuhan adalah sebuah kelebihan yang tidak banyak dimiliki oleh orang lain. Kegigihannya dalam belajar melukis menghantarkannya ke Associaton of Mouth and Foot Painting Artist (AMFPA). Sebuah organisasi yang bermarkas di Swiss dan menghimpun karya pelukis yang melukis menggunakan kaki dan mulut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSetelah masuk AMFPA, saya menjadikan melukis sebagai profesi. Tahun 1989 saya menerima 300 swiss franc, setara Rp 300 ribu waktu itu. Kini, saya menerima sekitar 40 jt setiap bulan,\u201d ungkap Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin terus melukis. Kemampuannya terus berkembang, bahkan melebihi tuntutan dari organisasi yang ia ikuti. Nama Sadikin juga mulai dikenal, bukan sebab keterbatasannya, melainkan sebab karyanya yang memang bernilai tinggi.
<\/p>\n\n\n\n

Setiap kali ada pameran lukisan dan kontes-kontes melukis, Sadikin tidak pernah alfa untuk mengikutinya. Karyanya menjadi sorotan publik dan banyak laku dengan harga yang tidak murah. Bahkan menurutnya, ada salah satu lukisannya yang laku hingga Rp 250 juta.<\/p>\n\n\n\n

Menolak Pasrah dan Bergantung kepada Pemerintah karena Disabilitas<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Sadikin tidak mau dikasihani orang lain. Meski ia tunadaksa, ia adalah manusia yang sama, yang memilki kesempatan besar untuk menjalani rutinitas sebagaimana manusia lainnya. \u201cKuncinya adalah terus mencoba, mencoba dan mencoba. Saya tidak apa-apa dicemooh lukisan saya jelek. Bagi saya cemoohan seperti itu adalah cambuk untuk terus berlatih,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Sadikin, masyarakat harus adil memerlakukan para difabel. Difabel harus diperlakukan sebagaimana orang biasa. Semakin banyak orang yang mengasihani difabel, maka tidak malah membuat difabel itu kuat, sebaliknya berdampak melemahkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cDifabel harus diperlakukan seperti manusia biasa, bahkan ia harus diberi tantangan dan ditempa untuk menemukan kelebihan dalam dirinya,\u201d kata Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, para difabel harus mulai mengubah sudut pandang. Bahwa segala kekurangan tidak kemudian menjadikan para difabel pasrah menerima nasib dan mengharapkan santunan dari orang lain dan pemerintah untuk menjalani hidup. Difabel adalah orang istimewa yang dapat berkarya melebihi orang-orang biasa. Kekurangan ini adalah kelebihan yang akan ditemukan dengan kerja keras dan melatih diri menjadi apa yang diinginkan.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin bisa berangkat ke Swiss dan mengharumkan nama Indonesia di mata dunia, tidak terlebih dulu mendapat perhatian dari pemerintah. Ia mengaku berangkat dengan uang sendiri. Bahkan, lanjut Sadikin, hingga kini pun tidak ada pemerintah yang mengapresiasi karya-karyanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak menginginkan belas kasihan dari pemerintah. Karena yang sejatinya benar adalah, kita dapat memberikan apa kepada negara ini, bukan negara dapat memberikan apa kepada kita. Namun yang saya sayangkan, pemerintah sepertinya tidak peduli memperhatikan para seniman dan menghargai karya seni dari para seniman negeri sendiri. Seharusnya para seniman ini diberikan wadah, diperhatikan, kan juga kalau manajemennya bagus bisa menjadi pemasukan untuk negara,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin mengirim pesan kepada seluruh seniman di Tanah Air untuk terus berkaraya, tanpa peduli akan bernilai apa sebuah karya tersebut. \u201cYang terpenting kita dapat mengaktulisasikan diri dan terus melukis dengan niat mengharumkan nama negeri. Teruslah berkarya, karena sejatinya karya adalah yang dibuat dengan kesungguhan dan keikhlasan hati,\u201d pungkas pelukis beranak dua tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Shadikin Pard, Pelukis Tanpa Lengan yang Mengharumkan Bangsa dengan Kedua Kakinya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"shadikin-pard-pelukis-tanpa-lengan-yang-mengharumkan-bangsa-dengan-kedua-kakinya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-16 11:09:38","post_modified_gmt":"2019-04-16 04:09:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5637","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5621,"post_author":"877","post_date":"2019-04-10 10:37:08","post_date_gmt":"2019-04-10 03:37:08","post_content":"\n

Bahasan mengenai hukum menyulut kretek pernah dipertanyakan dalam forum bahtsul masail<\/em> (musyawarah) para Kiai\/Ulama\u2019 Kudus. Pertanyaan (saail<\/em>) yang mengajukan atas nama masyarakat Baletengahan, yaitu dukuh yang masuk wilayah Desa Langgardalem Kecamatan Kota. Tepatnya sekitar + 800an m, arah utara Masjid Menara Kudus (al-Aqsha). Kultur budaya masyarakat Baletengahan adalah santri, terdapat banyak Pesantren dan beberapa madrasah, salah satunya lembaga pendidikan formal TBS (Tasywiqut Thullab Salafiyyah), yaitu lembaga pendidikan salaf yang dahulu salah satu tempat  KH. Arwani Amin al-Hafiz mengajar dan yayasan pendidikan Nawa Kartika, yang didirikan oleh tokoh NU setempat. <\/p>\n\n\n\n

Lain halnya pesantren dan lembaga pendidikan, di sekitar Baletengahan Langgardalem, konon dahulu banyak usaha rumahan kretek. Petilasan yang masih dapat dijumpai di Langgardalem adalah \u201cgudang tembakau dan PR. Buah Cengkeh\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Disini terlihat para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus mempunyai tradisi kritis menyikapi fenomena disekelilingnya. Sehingga wajar pada tahun 1990an muncul bahasan tentang kretek di Bahtsul Masail<\/em> para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, jauh mendahului keputusan MUI dan Muhammadiyyah hasil Padang Panjang, dilaksanakan tahun 2009-2010.<\/p>\n\n\n\n

Tradisi Bahtsul Masail biasa disebut \u201cMunadzoroh<\/em>\u201d sudah lama dilakukan para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, dengan bertempat di Masjid-masjid di sekitar Kudus, bergantian dan memutar. Peserta munadzoroh<\/em> adalah para Kiai\/Ulama\u2019 se-Kabupaten Kudus dari berbagai penjuru desa, dan juga masyarakat umum, karena sifatnya terbuka (siapa saja boleh ikut tanpa terkecuali). Pelaksanaannya dari dulu hingga sekarang dijatuhkan pada hari Ahad (minggu). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat pembahasan mengenai kretek, bertempat di Masji al-Aqsho Menara Kudus yang dipimpin oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), redaksi pertanyaaannya adalah:<\/p>\n\n\n\n

\u201ckados pundi hukumipun ngkretek (bagaimana hukum menghisap kretek)?\u201d<\/em>--pertanyaan dari<\/em> Baletengahan--<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sebelum memulai pembahasan biasanya KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menanyakan tentang apa yang akan dibahas. Diceritakan oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi, situasi dan kondisi saat itu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), bertanya di forum, \u00a0\u201copo iki takonane?\u201d (pertanyaannya apa), di jawab yang hadir saat itu, \u201c anu Mbah bab kretek\u201d (itu bab menghisap kretek), lalu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menyambung jawaban hadirin, \u201coooo, bab kretek, kretekku gowo rene dikik\u201d (ooo, bab menghisap kretek, kretekku bawa kemari dulu), kemudian KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) mengambil satu batang kretek dari bungkusnya disulut dan dihisap. Selesai menyulut kretek, kembali KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) berbicara, \u201cwes kono dibahas\u201d (sudah sana dibahas). Setelah diperintahkan untuk dibahas, suasana hening sejenak. \u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mungkin di benak para hadirin terlintas pikiran \u201capa yang dibahas sudah dijawab secara tersirat oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) dengan menghisap kretek\u201d. Pada akhirnya, pembahasan tetap dilaksanakan. Diceritakan KH. Sya\u2019roni juga, situasi saat itu tidak ada Kiai\/Ulama\u2019 yang hadir menghukumi \u201charam\u201d, pada akhirnya diputuskan KH. Turaikhan, dengan hukum \u201c boleh\u201d, disela-sela KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) memberikan penjelasan, ada salah satu hadirin mengacungkan jarinya, beliau adalah KH. Hambali (Al Maghfurlah), sambil berkata; \u201ckulo Kiai, menawi boten udud kulo mboten saget mucal\u201d (saya Kiai, kalau tidak sambil menghisap kretek, saya tidak dapat mengajar), disertai argumen dan penjelasanannya. Kemudian KH. Turaikhan, memberikan jawaban dan tanggapan kepada KH. Hambali, \u201cnek ngono, kanggo kuwi hukumi wajib\u201d (kalau begitu, untuk kamu hukumnya wajib mengkonsumsi kretek).  <\/p>\n\n\n\n

Dilihat dari putusan Bahtsul Masail di atas, pada awalnya menghisap kretek dihukumi \u201cboleh\u201d, namun dengan kondisi tertentu menjadi \u201cWajib\u201d. Cerita penetapan hukum menghisap kretek dalam forum Bahtsul Masail di atas, telah menyebar di kalangan masyarakat Kudus, dan menjadi konsumsi publik, serta bersifat mengikat sampai sekarang. Sehingga banyak Kiai\/Ulama\u2019 Kudus tidak mempersoalkan lagi, apalagi membahas kembali. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cerita situasi dan kondisi Bahtsul Masail, diapresiasi dan diinterpretasikan Kiai\/Ulama\u2019Kudus lebih kontekstual, salah satunya KH. Fatkhur Rahman, beliau bercerita;  saat KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) populer dengan sebutan Mbah Tur memimpin munadzoroh<\/em> ada pertanyaan: bagaimana hukumnya kretek? Mbah Tur malah mengambil kretek, menyulut dan menghisapnya, dengan begitu diasumsikan hukumnya \u201chalal\u201d (jadi  setelah itu sudah tidak perlu dibahas lagi soal kretek). KH. Fatkhur Rahman juga menceritakan ada satu alasan kuat, mengapa halal, karena para Kiai itu tidak mau barang subhat<\/em> (tidak jelas posisinya), apalagi haram. Ketika para Kiai\/Ulama\u2019 besar menghisap kretek, otomatis tidak haram. Tuhan menciptakan sesuatu untuk dinikmati itu ada dua, halal atau haram. <\/p>\n\n\n\n

Dasar hukum menghisap kretek adalah mubah, sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang menjadi wajib, juga menjadi haram. Dasar utamanya adalah  \u201cla dhororo wala dhiroro\u201d. <\/em>Hukumnya seperti  mengkonsumsi gula, ketika kena penyakit gula, maka haram atau tidak boleh mengkonsumsi gula. Begitu pula ketika punya darah tinggi, maka tidak boleh makan daging, dan seterusnya. Dimana \u201calhukmu yadurru ma\u2019a illatihi\u201d<\/em>(hukum itu bisa beralih tergantung alasannya). Membeli kretek dihukumi tidak boleh (haram), jika uang yang dipakai semestinya untuk belanja kebutuhan pokok, membayar sekolah dan lain sebagainya. Menghisap kretek menjadi wajib, ketika tidak menghisap sulit berpikir, lemas, tidak bisa kerja dan lain sebagainya.
<\/p>\n","post_title":"Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fenomena-hukum-rokok-bagi-ulama-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-10 10:37:16","post_modified_gmt":"2019-04-10 03:37:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5621","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

Paling Populer

\n

Saat mendaki tangga-tangga Stadion Utama Senayan (kini Gelora Bung Karno), usia kandungan Umi sudah memasuki delapan bulan. Sembari mendaki tangga, ia mencari nomor kursi yang sama persis dengan nomor tes miliknya. Umi hendak mengikuti tes PNS, jika lolos, ia bukan lagi guru honorer untuk mata pelajaran Agama Islam di Sekolah Dasar.

\nTitimangsa itu, ketika Umi mengandung janin dalam rahimnya yang kini menjadi saya, Diego Armando Maradona mencetak gol 'Tangan Tuhan' dan gol solo run melewati lebih separuh pemain Inggris pada gelaran piala dunia di Meksiko. Umi akhirnya lolos dan hingga kini mengabdi sebagai guru Agama Islam di sekolah dasar. Tahun ini, masa akhir pengabdian Umi. September nanti Umi memasuki masa pensiun.

\nSelain Umi, hampir seluruh saudara perempuan Umi juga berprofesi sebagai guru. Ibu dari Umi, nenek saya, meski buta aksara latin, ia juga seorang guru. Guru mengaji di kampung kami, Rawabelong.

\nKarena mereka semua, saya begitu menghormati profesi guru. Begitu luhur berbalur pengabdian. Dedikasi dan kesabaran mereka membikin saya merasa mendekati mustahil bisa berprofesi laiknya mereka. Saya merasa tidak pantas untuk profesi itu.

\nNamun, nasib menggiring saya ke jalur yang mirip dengan jalur yang dilalui Umi, Nenek, dan saudara-saudara perempuan Umi. Saya menjadi sukarelawan guru di Sokola Rimba sejak 2011 hingga kini. Atas aktivitas saya di Sokola Rimba pula, saya bisa menyelam lebih dalam bukan sekadar dalam lautan profesi guru, juga lautan dalam yang melintasi palung bernama palung pendidikan.

\nSelain di Sokola Rimba, kini saya juga terlibat dalam program beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung. Saya terlibat di bawah lembaga bernama Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK).

\nSelasa, 7 Mei 2019, saya berangkat ke Temanggung dari Yogya. Jam 08.13 WIB saya meninggalkan rumah menuju terminal Jombor menumpang ojek online. Dalam perjalanan menuju Jombor, tak banyak yang saya perbincangkan dengan supir ojek online. Kami sekadar membicarakan kondisi cuaca serasa menjadi masyarakat Inggris. Selebihnya diam.

\nTak lama usai saya duduk dalam bis yang akan membawa saya dari Jombor menuju Secang, Kabupaten Magelang, bis berangkat. Puasa membikin pagi-pagi saya dipenuhi rasa kantuk. Tidur menjadi pilihan paling baik tentu saja. Saya terjaga sesaat sebelum tiba di Secang. Dari Secang, saya pindah bis menuju Temanggung. Dengan ongkos Rp5 ribu, lama perjalanan 18 menit, saya tiba di pusat kota Temanggung, bersebelahan dengan kantor bupati.

\nKali ini, setidaknya saya berada di Temanggung selama tiga hari, 7 hingga 9 Mei 2019. Tugas utama saya kali ini selama tiga hari adalah berkunjung ke sekira 25 rumah petani, buruh tani, dan para pekerja yang terkait dengan sektor pertembakauan. Saya harus berjumpa mereka untuk berbincang perihal pendidikan anak mereka yang tahun ini lulus SMP dan bersiap masuk jenjang SMK. Mereka adalah keluarga yang salah seorang anaknya ada kemungkinan menerima beasiswa KNPK tahun ini.

\nPada tulisan selanjutnya, saya akan mencoba cerita perihal perjalanan ke 25 rumah di empat kecamatan di Temanggung itu. Dari kunjungan itu, saya mendapat banyak cerita perihal lanskap rumah tangga sebuah keluarga, kondisi perekonomian mereka, peran sektor pertembakauan terhadap ketahanan ekonomi rumah tangga, hingga dunia pendidikan di Temanggung serta kisah-kisah biasa dalam sebuah perjalanan di bulan puasa berkeliling Kabupaten Temanggung.

\nMungkin masih akan ada dua tulisan sambungan lagi, bisa jadi tiga, atau empat, atau lima. Terserah pimpinan redaksi situsweb ini saja sudah.<\/p>\n","post_title":"Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"awal-ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-18 11:32:41","post_modified_gmt":"2019-05-18 04:32:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5738","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5710,"post_author":"883","post_date":"2019-05-11 12:30:27","post_date_gmt":"2019-05-11 05:30:27","post_content":"\n

Tanggal 31 Mei biasa diperingati sebagai Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Gerakan ini dipelopori oleh Majelis Kesehatan Dunia atau WHO (World Health Organization) sejak 1988. WHO  menyerukan kepada seluruh negara anggotanya untuk merayakan Hari Tanpa Tembakau Sedunia (World No Tobacco Day). Biasanya kelompok antirokok akan mengajak orang-orang untuk tidak merokok pada Hari Tanpa Tembakau Sedunia.
<\/p>\n\n\n\n

Sudah 2 tahun belakangan peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia jatuh pada bulan suci ramadhan. Dengan kondisi mayoritas perokok di Indonesia sedang menjalankan ibadah puasa, tentu gelaran Hari Tanpa Tembakau Sedunia jadi aneh rasanya jika dikampanyekan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Toh tidak usah disuruh-suruh perokok untuk berhenti merokok selama sehari, karena memang perokok akan berhenti merokok selama seharian penuh sepanjang bulan suci ramadhan. Bahkan para perokok menahan hasrat mengonsumsi rokok sebulan lamanya dengan penuh kesadaran, tanpa harus diprovokasi sana-sini dengan kampanye berhenti merokok.
<\/p>\n\n\n\n

Provokasi berhenti merokok dengan segala macam kampanye buruk mengenai rokok di Hari Peringatan Tanpa Tembakau Sedunia adalah sebuah sesat pikir dari kelompok antirokok. Sebab, perokok sejatinya tahu dan punya kebebasan dalam memilih apa yang dikonsumsinya.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Justru para peneliti di British Medical Journal mengatakan, penggunaan kata adiktif kepada rokok dan ajakan berhenti merokok berulang-ulang tidaklah tepat. Sebab para peneliti tersebut mengemukakan perokok sangat mudah untuk berhenti dari aktivitas merokoknya. Justru kata adiktif itulah yang membuat perokok menjadi sulit untuk berhenti merokok.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lalu lihatlah ketika bulan ramadhan, apakah perokok harus diprovokasi dahulu agar bisa berpuasa? Lagi-lagi dengan penuh kesadaran para perokok dapat berhenti merokok selama 13 jam setiap hari tanpa paksaan, tanpa kampanye negatif dan ajakan-ajakan berhenti merokok lainnya yang sangat menyebalkan.
<\/p>\n\n\n\n

Sudah seharusnya peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia tidak diselenggarakan, sebab dengan adanya bulan ramadhan, hal ini dapat menganulir peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Dikarenakan hari peringatan tersebut sudah gaagal dan tidak memiliki substansi dalam penyelenggaraannya.
<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Gagal dalam artian goals atau tujuan yang dicapai dari peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia tidak menuai hasil. Perokok tidak patuh dan acuh tak acuh terhadap hari peringatan tersebut, justru lebih memilih menjalankan puasa dengan khidmat. Prinsip yang dibangun oleh perokok adalah menikmati rokok ada waktunya, soal berhenti adalah soal pilihan.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu tidak memiliki substansi yang dimaksud adalah peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia tidak memiliki visi yang jelas dan landasan dasar yang kuat. Selama ini visi dan landasan dasar yang diserukan ketika peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia hanyalah memberikan stigma-stigma negatif dan membangun kebencian kepada rokok dan perokok. Bandingkan dengan puasa yang memiliki substansi kuat di dalamnya. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini<\/a><\/p>\n\n\n\n

Berpuasa bukan sekedar menahan haus dan lapar, tapi juga dapat meningkatkan kualitas rohani dan jasmani bagi orang-orang yang berpuasa. Ini sangat jelas. Sudah sangat banyak riset-riset ilmiah yang menunjukan bahwa puasa memiliki segudang manfaat bagi manusia. Atas dasar itulah para perokok patuh terhadap seruan menunaikan ibadah puasa. Menahan diri untuk tidak merokok semantara waktu selama hampir 13 jam lamanya.
<\/p>\n\n\n\n

Maka masihkah relevan peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia? Daripada memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia, lebih baik kita semua menunaikan ibadah puasa dengan khidmat yang jelas-jelas mendapatkan pahala berlipat ganda.
<\/p>\n","post_title":"Menolak Peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia dengan Berpuasa di Bulan Ramadhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menolak-peringatan-hari-tanpa-tembakau-sedunia-dengan-berpuasa-di-bulan-ramadhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-11 12:30:30","post_modified_gmt":"2019-05-11 05:30:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5710","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5679,"post_author":"878","post_date":"2019-05-03 11:19:10","post_date_gmt":"2019-05-03 04:19:10","post_content":"\n

Pada mulanya masyarakat pribumi yang mendiami benua Amerika mulai dari wilayah paling utara hingga ke selatan, dengan bermacam suku-suku yang hidup secara komunal\u2014yang kemudian disamaratakan penyebutannya oleh penjelajah Eropa dengan sebutan Suku Indian\u2014mengonsumsi tembakau yang dikeringkan sebagai sarana pelepas lelah, dan untuk mengobati beberapa jenis penyakit yang ada ketika itu. Mereka mengisap tembakau yang dikeringkan menggunakan sebuah pipa yang lazim disebut \u2018tubak<\/em>\u2019, selanjutnya bangsa Eropa menggunakan penyebutan \u2018tubak<\/em>\u2019 untuk menamakan daun kering tersebut, lahirlah istilah \u2018tobacco<\/em>\u2019 dalam bahasa Inggirs yang diserap menjadi \u2018tembakau\u2019 dalam bahasa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Melalui Colombus dan seluruh awak kapalnya yang mendatangi benua Amerika, kebiasaan mengisap tembakau ini kemudian diperkenalkan ke Eropa dan perlahan menjadi kebiasaan yang umum di sana. Konsumsi tembakau di Eropa terutama dimanfaatkan sebagai penghilang rasa dingin ketika musim dingin tiba di daratan Eropa. Bangsa Eropa kemudian membawa tembakau ke negeri jajahan mereka dan membudidayakannya di sana hingga pada akhirnya tembakau menjadi konsumsi yang mendunia, termasuk juga di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ariel Tatum dan Diskriminasi Perempuan Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia sendiri, tembakau pada mulanya digunakan sebagai bahan campuran dalam mengonsumsi sirih yang lazim disebut nyirih<\/em>. Karena dianggap jorok, penjajah Belanda melarang aktivitas nyirih dan mengenalkan konsumsi tembakau dengan cara dibakar dan diisap kepada masyarakat pribumi. Kebiasaan mengisap tembakau di Indonesia semakin populer usai Haji Djamhari menemukan ramuan tembakau kering yang dicampur cengkeh kering kemudian dibakar dan diisap sebagai obat asma yang ia derita. Campuran tembakau kering dan bunga cengkeh kering yang dibakar menimbulkan suara berkeretek hingga pada akhirnya produk rokok ini dinamakan rokok kretek dan menguasai pasar dalam negeri hingga saat ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari catatan singkat di atas, konsumsi tembakau kering yang diisap kemudian tembakau kering yang dicampur bunga cengkeh kering pada mulanya sebagai barang konsumsi untuk pengobatan dan relaksasi. Hingga pada akhirnya, persaingan bisnis menggiring kampanye-kampanye yang menyuarakan perihal keburukan konsumsi tembakau. Dalih kesehatan dijadikan alasan utama untuk menghancurkan perekonomian tembakau guna meloloskan bisnis farmasi yang dijalankan korporasi besar berskala internasional.<\/p>\n\n\n\n

Periode 2000 hingga saat ini, kampanye miring mengenai rokok dan rokok kretek kian menguat. Tak hanya korporasi besar, badan-badan kesehatan dunia juga ikut ambil peran dalam upaya menghancurkan produk rokok terutama rokok kretek yang menjadi ciri khas dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Berita terbaru dalam sepekan terakhir, di Jepang, salah satu universitas negeri berencana memecat seluruh staf dan dosen mereka yang menjadi perokok aktif. Selain itu, beberapa perusahaan di Jepang juga akan mencoret langsung para pelamar kerja yang diketahui sebagai perokok aktif. Ini tentu saja menjadi kemunduran yang telak bagi negara Jepang. Padahal sebelumnya Jepang dikenal menjadi negara yang masih cukup ramah terhadap para perokok.<\/p>\n\n\n\n

Alasan Jepang memberlakukan kebijakan tersebut sebagai upaya menyambut perhelatan olimpiade 2020 yang akan diselenggarakan di Tokyo. Lagi-lagi, dalih kesehatan yang menjadi tameng kebijakan ini. Jika ditelaah secara saksama, tentu saja kebijakan ini sama sekali tidak ada relevansinya. Terkesan pemaksaan dan sekadar pencitraan semata.<\/p>\n\n\n\n

Lagi pula, tak ada relevansinya antara kecerdasan (dalam hal ini dunia kampus) dengan kebiasaan merokok. Juga tak ada relevansi antara kinerja (dalam hal ini pelamar kerja) dengan kebiasaan merokok. Lagi-lagi, ini semata sekadar cocokologi saja.<\/p>\n\n\n\n

Bodoh ya bodoh saja, malas ya malas saja, juga sebaliknya, tak ada kaitannya dengan kebiasaan merokok. Kita bisa menjejerkan ratusan bahkan ribuan nama-nama orang yang memiliki kebiasaan merokok, di sana akan ada orang-orang yang sangai pandai hingga orang-orang idiot sekalipun yang memiliki kebiasaan merokok. Kita juga bisa menjejerkan nama-nama ratusan hingga ribuan orang yang sama sekali tidak merokok, dan di sana akan ada orang yang pandai sekali juga akan ada orang goblok segoblok-gobloknya yang sama sekali tidak merokok. Lalu, apa alasan memecat staf dan dosen di kampus yang memiliki kebiasaan merokok?<\/p>\n\n\n\n

Hal yang sama juga bisa kita lakukan dengan jejeran nama-nama orang dengan kinerja dan etos kerja. Yang rajin, juga yang malas, ada dalam kelompok mereka yang merokok juga kelompok mereka yang tidak merokok. Maka, saya kira, apa yang terjadi di Jepang dan diberitakan dalam sepekan belakangan, tentu saja mengganggu akal sehat siapa saja yang masih bisa berpikir dengan jernih.
<\/p>\n","post_title":"Diskriminasi Terhadap Para Perokok di Jepang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"diskriminasi-terhadap-para-perokok-di-jepang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-03 11:19:17","post_modified_gmt":"2019-05-03 04:19:17","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5679","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5653,"post_author":"883","post_date":"2019-04-23 12:23:36","post_date_gmt":"2019-04-23 05:23:36","post_content":"\n

Rokok selalu dikambinghitamkan sebagai penyebab dari tingginya angka kematian umat manusia. Angka dan data jadul yang selalu diulang-ulang mengenai rokok penyebab kematian, seakan membius kita bahwa rokok-lah musuh bersama. Sementara rokok dijadikan musuh bersama, kita justru abai terhadap musuh riil yang sedang mengintai kehidupan kita.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah penelitian menyatakan bahwa pola makan yang tidak sehat lebih banyak meningkatkan resiko kematian dini daripada faktor risiko lainnya, termasuk merokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cerita Rakyat Tentang Kretek dan Tembakau di Tiga Kota (Kudus, Temanggung, Madura)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ini artinya agen malaikat pencabut nyawa manusia ada di pola makan kita. Apakah sudah sehat atau tidak sehat? satu hal yang seringkali diabaikan.
<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan Studi Global Burden of Disease yang mengamati konsumsi makanan di 195 negara, antara tahun 1990 dan 2017, fokus pada 15 jenis makanan atau nutrisi mengamini pola makan tidak sehat adalah penyebab terbesar kematian manusia.
<\/p>\n\n\n\n

Penelitian lainnya yang bersumber dari Medical News Today, dalam sebuah makalah yang dimuat dalam The Lancet, para peneliti menyimpulkan, pola makan yang buruk menyumbang 1 dari 5, atau 11 juta, kematian orang dewasa pada tahun 2017. Sebagian besar dari kematian itu, sekitar 10 juta, berasal dari penyakit kardiovaskular.
<\/p>\n\n\n\n

Sisanya terutama dari kanker dan diabetes tipe 2. Peringkat negara-negara dari tingkat kematian terkait diet terendah ke tertinggi menempatkan Israel pertama, dengan 89 kematian per 100.000 orang, dan Uzbekistan terakhir, dengan 892 per 100.000. Amerika Serikat, dengan 171 kematian per 100.000, berada di posisi ke-43 dan Inggris di peringkat ke-23, dengan 127 kematian per 100.000. India di tempat ke-118, dan Cina di ke-140.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Penelitian termutakhir yang di sebutkan di atas merupakan penelitian yang bersifat global, lalu bagaimana dengan di Indonesia? Apakah kasus pola makan yang tidak sehat juga menjadi penyebab kematian terbesar?
<\/p>\n\n\n\n

Dalam sebuah artikel yang ditulis oleh Triyani Kresnawan, DCN,Mkes, Instalasi Gizi RSCM dan diterbitkan oleh Departemen Kesehatan Gizi Kementerian Kesehatan menyebutkan, pola makan yang tidak seimbang yang menyebabkan resiko munculnya penyakit kanker antara lain kebiasaan makanan cepat saji (fast food).
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan menjaga keseimbangan dalam pola makan ini juga disampaikan oleh Spesialis Patologi Anatomi dari Rumah Sakit Kanker Dharmais, dr Evalina Suzana. Ia mengatakan pola makan yang sehat merupakan bagian bentuk pencegahan dari penyakit kanker. Di luar dari olahraga yang teratur, minum air, dan tidur yang cukup.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Eva, sebuah pola bisa dibilang sehat jika semua yang masuk ke dalam tubuh seimbang. Tidak boleh berlebihan bukan berarti tidak dimakan sama sekali. Harus terdiri dari 50 persen protein, 30 persen karbohidrat, dan 20 persen lemak dan serat. Itu harus dipenuhi di luar mineral-mineral yang ada.
<\/p>\n\n\n\n

Nah loh, berdasarkan hasil-hasil penelitian yang menyatakan bahwa pola makan tidak sehat merupakan penyebab resiko kematian terbesar, lalu mengapa hanya rokok yang terus-menerus dituduh dalam kampanye kelompok-kelompok antirokok yang mengatasnamakan kesehatan?
<\/p>\n\n\n\n

Untuk memahami hal ini tentunya anda harus mengetahui bahwa terdapat perang bisnis nikotin antara industri farmasi dan industri rokok, atau yang sering kami sebut sebagai \u201cNicotin War\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Maka Anda tak usah heran jika rokok diframing bertentangan dengan kesehatan, karena semua semata hanyalah akal-akalan pihak industri farmasi untuk memenangi pertarungan bisnis nikotin tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Pola Makan Tidak Sehat Membunuhmu","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pola-makan-tidak-sehat-membunuhmu","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-23 12:23:48","post_modified_gmt":"2019-04-23 05:23:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5653","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5637,"post_author":"855","post_date":"2019-04-16 11:07:27","post_date_gmt":"2019-04-16 04:07:27","post_content":"\n

Terlahir sebagai tunadaksa atau tanpa tangan, tidak membuat Shadikin Pard pesimis menjalan hidup. Lebih dari itu, ia berhasil membuktikan bahwa kekurangan bukanlah aral melintang yang mengganjal langkah menuju kesuksesan.<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Hujan sudah reda ketika kaki saya memasuki gerbang Taman Balekambang, Surakarta. Di dalam, di atas tanah yang masih basah, ratusan pelukis dari penjuru negeri sedang sibuk mengaktualisasikan kegelisahan hatinya ke sebuah kanvas. Mereka sedang mengikuti Indonesia Painting Contest 2019 yang diselenggarakan oleh NU Gallery.
<\/p>\n\n\n\n

Saya terus melangkah menyusuri tanah basah yang di samping kanan dan kirinya para pelukis sedang khidmat menggoreskan kuas. Hingga kaki saya terhenti di hadapan pelukis yang berkonsentrasi melukis menggunakan kedua kakinya.
<\/p>\n\n\n\n

Sebatang kuas dijepitkan di antara jemari kaki. Sesekali ia menyelupkan kuas itu ke dalam cat dan kemudian menggoreskannya ke dalam kanvas hingga membentuk sebuah lukisan realis Reog Ponorogo yang indah. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di sampingnya, seorang pemuda yang ternyata anaknya dengan sigap menjalankan instruksi ayahnya, mulai dari mengganti ukuran kuas yang terjepit di antara jemarinya, membuka botol cat dan lain sebagainya. Sesekali anaknya menyalakan rokok dan menyodorkan ke hadapan mulut ayahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Ia melukis Reog Ponorogo bukan tanpa alasan. Ia ingin memberikan kritik kepada seluruh masyarakat dan Pemerintah, bahwa mencintai kekayaan budaya bangsa sendiri adalah kewajiban yang harus selalu digelorakan. Jangan sampai, ketika kebudayaan tersebut direbut negara lain, bangsa ini baru panik dan serius mengakui serta membanggakan kekayaan kebudayaan sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ialah Shadikin Pard, seorang pelukis masyhur yang terlahir tunadaksa atau tanpa kedua tangan. Kami berbincang di bawah pohon beringin rindang. Di antara para pelukis lainnya yang sedang beristirahat menunggu waktu pengumuman pemenang dibacakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pria kelahiran 29 Oktober 1996 ini mulai melukis sejak masih di taman kanak-kanak. Saat itu, melukis hanya sebagai hobi semata. Sadikin juga pernah les privat melukis di rumahnya. Hingga mengenyam pendidikan sekolah menengah atas di SMA Santa Maria Kota Malang, Sadikin masih menempatkan melukis sebagai hobi.
<\/p>\n\n\n\n

Di tengah keterbatasannya, Sadikin lalu melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kala itu, Sadikin mengambil jurusan psikologi pascagagal mengambil jurusan arsitektur yang ia dambakan dan cita-citakan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, kekurangan yang diberikan Tuhan adalah sebuah kelebihan yang tidak banyak dimiliki oleh orang lain. Kegigihannya dalam belajar melukis menghantarkannya ke Associaton of Mouth and Foot Painting Artist (AMFPA). Sebuah organisasi yang bermarkas di Swiss dan menghimpun karya pelukis yang melukis menggunakan kaki dan mulut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSetelah masuk AMFPA, saya menjadikan melukis sebagai profesi. Tahun 1989 saya menerima 300 swiss franc, setara Rp 300 ribu waktu itu. Kini, saya menerima sekitar 40 jt setiap bulan,\u201d ungkap Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin terus melukis. Kemampuannya terus berkembang, bahkan melebihi tuntutan dari organisasi yang ia ikuti. Nama Sadikin juga mulai dikenal, bukan sebab keterbatasannya, melainkan sebab karyanya yang memang bernilai tinggi.
<\/p>\n\n\n\n

Setiap kali ada pameran lukisan dan kontes-kontes melukis, Sadikin tidak pernah alfa untuk mengikutinya. Karyanya menjadi sorotan publik dan banyak laku dengan harga yang tidak murah. Bahkan menurutnya, ada salah satu lukisannya yang laku hingga Rp 250 juta.<\/p>\n\n\n\n

Menolak Pasrah dan Bergantung kepada Pemerintah karena Disabilitas<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Sadikin tidak mau dikasihani orang lain. Meski ia tunadaksa, ia adalah manusia yang sama, yang memilki kesempatan besar untuk menjalani rutinitas sebagaimana manusia lainnya. \u201cKuncinya adalah terus mencoba, mencoba dan mencoba. Saya tidak apa-apa dicemooh lukisan saya jelek. Bagi saya cemoohan seperti itu adalah cambuk untuk terus berlatih,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Sadikin, masyarakat harus adil memerlakukan para difabel. Difabel harus diperlakukan sebagaimana orang biasa. Semakin banyak orang yang mengasihani difabel, maka tidak malah membuat difabel itu kuat, sebaliknya berdampak melemahkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cDifabel harus diperlakukan seperti manusia biasa, bahkan ia harus diberi tantangan dan ditempa untuk menemukan kelebihan dalam dirinya,\u201d kata Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, para difabel harus mulai mengubah sudut pandang. Bahwa segala kekurangan tidak kemudian menjadikan para difabel pasrah menerima nasib dan mengharapkan santunan dari orang lain dan pemerintah untuk menjalani hidup. Difabel adalah orang istimewa yang dapat berkarya melebihi orang-orang biasa. Kekurangan ini adalah kelebihan yang akan ditemukan dengan kerja keras dan melatih diri menjadi apa yang diinginkan.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin bisa berangkat ke Swiss dan mengharumkan nama Indonesia di mata dunia, tidak terlebih dulu mendapat perhatian dari pemerintah. Ia mengaku berangkat dengan uang sendiri. Bahkan, lanjut Sadikin, hingga kini pun tidak ada pemerintah yang mengapresiasi karya-karyanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak menginginkan belas kasihan dari pemerintah. Karena yang sejatinya benar adalah, kita dapat memberikan apa kepada negara ini, bukan negara dapat memberikan apa kepada kita. Namun yang saya sayangkan, pemerintah sepertinya tidak peduli memperhatikan para seniman dan menghargai karya seni dari para seniman negeri sendiri. Seharusnya para seniman ini diberikan wadah, diperhatikan, kan juga kalau manajemennya bagus bisa menjadi pemasukan untuk negara,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin mengirim pesan kepada seluruh seniman di Tanah Air untuk terus berkaraya, tanpa peduli akan bernilai apa sebuah karya tersebut. \u201cYang terpenting kita dapat mengaktulisasikan diri dan terus melukis dengan niat mengharumkan nama negeri. Teruslah berkarya, karena sejatinya karya adalah yang dibuat dengan kesungguhan dan keikhlasan hati,\u201d pungkas pelukis beranak dua tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Shadikin Pard, Pelukis Tanpa Lengan yang Mengharumkan Bangsa dengan Kedua Kakinya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"shadikin-pard-pelukis-tanpa-lengan-yang-mengharumkan-bangsa-dengan-kedua-kakinya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-16 11:09:38","post_modified_gmt":"2019-04-16 04:09:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5637","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5621,"post_author":"877","post_date":"2019-04-10 10:37:08","post_date_gmt":"2019-04-10 03:37:08","post_content":"\n

Bahasan mengenai hukum menyulut kretek pernah dipertanyakan dalam forum bahtsul masail<\/em> (musyawarah) para Kiai\/Ulama\u2019 Kudus. Pertanyaan (saail<\/em>) yang mengajukan atas nama masyarakat Baletengahan, yaitu dukuh yang masuk wilayah Desa Langgardalem Kecamatan Kota. Tepatnya sekitar + 800an m, arah utara Masjid Menara Kudus (al-Aqsha). Kultur budaya masyarakat Baletengahan adalah santri, terdapat banyak Pesantren dan beberapa madrasah, salah satunya lembaga pendidikan formal TBS (Tasywiqut Thullab Salafiyyah), yaitu lembaga pendidikan salaf yang dahulu salah satu tempat  KH. Arwani Amin al-Hafiz mengajar dan yayasan pendidikan Nawa Kartika, yang didirikan oleh tokoh NU setempat. <\/p>\n\n\n\n

Lain halnya pesantren dan lembaga pendidikan, di sekitar Baletengahan Langgardalem, konon dahulu banyak usaha rumahan kretek. Petilasan yang masih dapat dijumpai di Langgardalem adalah \u201cgudang tembakau dan PR. Buah Cengkeh\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Disini terlihat para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus mempunyai tradisi kritis menyikapi fenomena disekelilingnya. Sehingga wajar pada tahun 1990an muncul bahasan tentang kretek di Bahtsul Masail<\/em> para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, jauh mendahului keputusan MUI dan Muhammadiyyah hasil Padang Panjang, dilaksanakan tahun 2009-2010.<\/p>\n\n\n\n

Tradisi Bahtsul Masail biasa disebut \u201cMunadzoroh<\/em>\u201d sudah lama dilakukan para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, dengan bertempat di Masjid-masjid di sekitar Kudus, bergantian dan memutar. Peserta munadzoroh<\/em> adalah para Kiai\/Ulama\u2019 se-Kabupaten Kudus dari berbagai penjuru desa, dan juga masyarakat umum, karena sifatnya terbuka (siapa saja boleh ikut tanpa terkecuali). Pelaksanaannya dari dulu hingga sekarang dijatuhkan pada hari Ahad (minggu). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat pembahasan mengenai kretek, bertempat di Masji al-Aqsho Menara Kudus yang dipimpin oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), redaksi pertanyaaannya adalah:<\/p>\n\n\n\n

\u201ckados pundi hukumipun ngkretek (bagaimana hukum menghisap kretek)?\u201d<\/em>--pertanyaan dari<\/em> Baletengahan--<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sebelum memulai pembahasan biasanya KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menanyakan tentang apa yang akan dibahas. Diceritakan oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi, situasi dan kondisi saat itu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), bertanya di forum, \u00a0\u201copo iki takonane?\u201d (pertanyaannya apa), di jawab yang hadir saat itu, \u201c anu Mbah bab kretek\u201d (itu bab menghisap kretek), lalu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menyambung jawaban hadirin, \u201coooo, bab kretek, kretekku gowo rene dikik\u201d (ooo, bab menghisap kretek, kretekku bawa kemari dulu), kemudian KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) mengambil satu batang kretek dari bungkusnya disulut dan dihisap. Selesai menyulut kretek, kembali KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) berbicara, \u201cwes kono dibahas\u201d (sudah sana dibahas). Setelah diperintahkan untuk dibahas, suasana hening sejenak. \u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mungkin di benak para hadirin terlintas pikiran \u201capa yang dibahas sudah dijawab secara tersirat oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) dengan menghisap kretek\u201d. Pada akhirnya, pembahasan tetap dilaksanakan. Diceritakan KH. Sya\u2019roni juga, situasi saat itu tidak ada Kiai\/Ulama\u2019 yang hadir menghukumi \u201charam\u201d, pada akhirnya diputuskan KH. Turaikhan, dengan hukum \u201c boleh\u201d, disela-sela KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) memberikan penjelasan, ada salah satu hadirin mengacungkan jarinya, beliau adalah KH. Hambali (Al Maghfurlah), sambil berkata; \u201ckulo Kiai, menawi boten udud kulo mboten saget mucal\u201d (saya Kiai, kalau tidak sambil menghisap kretek, saya tidak dapat mengajar), disertai argumen dan penjelasanannya. Kemudian KH. Turaikhan, memberikan jawaban dan tanggapan kepada KH. Hambali, \u201cnek ngono, kanggo kuwi hukumi wajib\u201d (kalau begitu, untuk kamu hukumnya wajib mengkonsumsi kretek).  <\/p>\n\n\n\n

Dilihat dari putusan Bahtsul Masail di atas, pada awalnya menghisap kretek dihukumi \u201cboleh\u201d, namun dengan kondisi tertentu menjadi \u201cWajib\u201d. Cerita penetapan hukum menghisap kretek dalam forum Bahtsul Masail di atas, telah menyebar di kalangan masyarakat Kudus, dan menjadi konsumsi publik, serta bersifat mengikat sampai sekarang. Sehingga banyak Kiai\/Ulama\u2019 Kudus tidak mempersoalkan lagi, apalagi membahas kembali. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cerita situasi dan kondisi Bahtsul Masail, diapresiasi dan diinterpretasikan Kiai\/Ulama\u2019Kudus lebih kontekstual, salah satunya KH. Fatkhur Rahman, beliau bercerita;  saat KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) populer dengan sebutan Mbah Tur memimpin munadzoroh<\/em> ada pertanyaan: bagaimana hukumnya kretek? Mbah Tur malah mengambil kretek, menyulut dan menghisapnya, dengan begitu diasumsikan hukumnya \u201chalal\u201d (jadi  setelah itu sudah tidak perlu dibahas lagi soal kretek). KH. Fatkhur Rahman juga menceritakan ada satu alasan kuat, mengapa halal, karena para Kiai itu tidak mau barang subhat<\/em> (tidak jelas posisinya), apalagi haram. Ketika para Kiai\/Ulama\u2019 besar menghisap kretek, otomatis tidak haram. Tuhan menciptakan sesuatu untuk dinikmati itu ada dua, halal atau haram. <\/p>\n\n\n\n

Dasar hukum menghisap kretek adalah mubah, sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang menjadi wajib, juga menjadi haram. Dasar utamanya adalah  \u201cla dhororo wala dhiroro\u201d. <\/em>Hukumnya seperti  mengkonsumsi gula, ketika kena penyakit gula, maka haram atau tidak boleh mengkonsumsi gula. Begitu pula ketika punya darah tinggi, maka tidak boleh makan daging, dan seterusnya. Dimana \u201calhukmu yadurru ma\u2019a illatihi\u201d<\/em>(hukum itu bisa beralih tergantung alasannya). Membeli kretek dihukumi tidak boleh (haram), jika uang yang dipakai semestinya untuk belanja kebutuhan pokok, membayar sekolah dan lain sebagainya. Menghisap kretek menjadi wajib, ketika tidak menghisap sulit berpikir, lemas, tidak bisa kerja dan lain sebagainya.
<\/p>\n","post_title":"Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fenomena-hukum-rokok-bagi-ulama-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-10 10:37:16","post_modified_gmt":"2019-04-10 03:37:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5621","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

Paling Populer

Paling Populer