\n


Tapi jika kemudian di masa depan memang rokok elektrik yang kemudian menjadi sesuatu yang populer dan dinikmati banyak orang. Rasanya saya tetap ingin hidup di jaman ini, dengan sebatang kretek di tangan dan menikmati segala khasanah kebudayaan yang patut terus dipertahankan. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"masa-depan-rokok-elektrik-dan-semangat-alternatif-yang-sia-sia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-03 09:05:56","post_modified_gmt":"2019-02-03 02:05:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5403","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5385,"post_author":"883","post_date":"2019-02-02 08:01:01","post_date_gmt":"2019-02-02 01:01:01","post_content":"Pada tahun 2014, perusahaan rokok multinasional Philip Morris Internasional Inc. merilis sebuah produk <\/span>perangkat\u00a0<\/span>rokok<\/span><\/a>\u00a0tanpa asap, yang dipanaskan bukan dibakar atau istilahnya\u00a0<\/span>heat not burn<\/i><\/strong>\u00a0(HNB) iQOS<\/strong>. <\/span>\r\n\r\nPerangkat rokok tanpa asap dengan nama iQOS<\/a> ini berbentuk seperti bagian luar pulpen, dengan lubang di tengah untuk rokok. Produk yang berada di bawah brand Marlboro ini dapat memanaskan rokok sampai 350 derajat celcius lalu mengeluarkan uap nikotin beraroma tembakau<\/em><\/a>.<\/span>\r\n

Produk iQOS sebenarnya bukanlah produk rokok tanpa asap yang pertama muncul. Sebelumnya di tahun 1990-an, Reynolds Tobacco Co pernah merilis produk serupa bernama Eclipes yang juga dapat menguapkan nikotin setelah dinyalakan dengan korek api.<\/span><\/blockquote>\r\nSelain itu, Eclips juga dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. Namun, pada saat itu Eclips tidak diminati oleh pasar, utamanya para perokok konvensional. Meskipun Eclips dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. <\/span>\r\n\r\nBisnis semacam rokok tanpa asap seperti Eclips dan iQOS memang sudah menjadi bagian dari rencana panjang bisnis perusahaan-perusahaan rokok multinasional. Jadi tidak usah heran jika ke depannya akan kita akan banyak menemukan produk rokok tanpa asap ini.<\/span>\r\n\r\nWatak dari perusahaan multinasional memang seperti itu, mereka sangat jeli melihat peluang pasar ke depannya. Ketika market place perusahaan rokok multinasional saat ini terus dirongrong oleh kelompok antirokok, mereka tak kehabisan akal. Maka kemudian mereka menginovasi produk rokok konvensional menjadi rokok yang tidak berasap. Begitupun dengan mengikutsertakan jargon-jargon kesehatan dalam narasi promosi mereka.<\/span>\r\n\r\nSesungguhnya memang seperti itulah watak bisnis perusahaan-perusahaan multinasional, melakukan segala cara agar bisnis mereka tetap bertahan, meskipun harus merangkul musuh sekalipun. <\/span>\r\n\r\nYa kadang pura-pura berantem sama antirokok, tapi dibalik itu sebenarnya baik-baik saja, dan tentunya ada kompromi untuk terus melanggengkan bisnis mereka.<\/span>\r\n

Lalu siapa yang dirugikan dari permainan bisnis macam produk rokok tanpa asap perusahaan rokok multinasional ini?<\/span><\/h3>\r\nTentunya yang sangat dirugikan adalah produk hasil tembakau yang memiliki kekhasan seperti kretek di Indonesia. Kretek sebagai produk khas asli Indonesia yang menjadi bagian dari warisan kebudayaan tidak mungkin bertransformasi menjadi produk-produk elektrik dan sejenisnya.<\/span>\r\n\r\nKretek tetaplah kretek, dengan bahan baku alami tembakau dan cengkeh yang tidak diintervensi dengan zat atau perangkat penghantar lainnya. Karena dengan bentuk, karakter dan cara menikmatinya memang konvensional dan akan terus begitu apapun kondisi dan zamannya.<\/span>\r\n
Bisnis produk rokok tanpa asap (elektrik) juga menghajar kretek dengan mendompleng isu pengendalian tembakau. Kampanye pengendalian tembakau selalu membawa slogan bahaya merokok dan upaya untuk berhenti merokok. <\/span><\/blockquote>\r\nDari isu tersebut, rokok elektrik masuk dengan citra produk alternatif tembakau, bahkan mereka tak segan menilai bahwa rokok elektrik lebih aman ketimbang rokok konvensional, yakni kretek.<\/span>\r\n\r\nLalu jika Indonesia akan dibanjiri dengan produk-produk yang mengatasnamakan produk alternatif tembakau, macam rokok tanpa asap (iQOS dan sejenisnya), maka itulah pertanda bahwa kretek harus tergerus dari cara hidup manusia Indonesia dalam menikmati produk hasil tembakau khas Indonesia yang sudah turun-temurun lamanya dinikmati manusia Indonesia.<\/span>","post_title":"Nasib Kretek di Pusaran Pertarungan Bisnis Global Perusahaan Rokok Multinasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"nasib-kretek-di-pusaran-pertarungan-bisnis-global-perusahaan-rokok-multinasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-02 08:01:43","post_modified_gmt":"2019-02-02 01:01:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5385","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kini, perokok elektrik mulai merasakan kegelisahan. Beberapa negara mulai menerapkan peraturan ketat terhadap Vape, sedangkan di Indonesia biaya cukai pun kini mulai diberlakukan terhadap perdagangan rokok elektrik. Keberadaannya di mata negara pun mulai dianggap sama seperti rokok, meski pada awalnya rokok elektrik hadir dengan slogan-slogan produk alternatif yang lebih menyehatkan (katanya).<\/p>\n\n\n\n


Tapi jika kemudian di masa depan memang rokok elektrik yang kemudian menjadi sesuatu yang populer dan dinikmati banyak orang. Rasanya saya tetap ingin hidup di jaman ini, dengan sebatang kretek di tangan dan menikmati segala khasanah kebudayaan yang patut terus dipertahankan. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"masa-depan-rokok-elektrik-dan-semangat-alternatif-yang-sia-sia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-03 09:05:56","post_modified_gmt":"2019-02-03 02:05:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5403","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5385,"post_author":"883","post_date":"2019-02-02 08:01:01","post_date_gmt":"2019-02-02 01:01:01","post_content":"Pada tahun 2014, perusahaan rokok multinasional Philip Morris Internasional Inc. merilis sebuah produk <\/span>perangkat\u00a0<\/span>rokok<\/span><\/a>\u00a0tanpa asap, yang dipanaskan bukan dibakar atau istilahnya\u00a0<\/span>heat not burn<\/i><\/strong>\u00a0(HNB) iQOS<\/strong>. <\/span>\r\n\r\nPerangkat rokok tanpa asap dengan nama iQOS<\/a> ini berbentuk seperti bagian luar pulpen, dengan lubang di tengah untuk rokok. Produk yang berada di bawah brand Marlboro ini dapat memanaskan rokok sampai 350 derajat celcius lalu mengeluarkan uap nikotin beraroma tembakau<\/em><\/a>.<\/span>\r\n

Produk iQOS sebenarnya bukanlah produk rokok tanpa asap yang pertama muncul. Sebelumnya di tahun 1990-an, Reynolds Tobacco Co pernah merilis produk serupa bernama Eclipes yang juga dapat menguapkan nikotin setelah dinyalakan dengan korek api.<\/span><\/blockquote>\r\nSelain itu, Eclips juga dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. Namun, pada saat itu Eclips tidak diminati oleh pasar, utamanya para perokok konvensional. Meskipun Eclips dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. <\/span>\r\n\r\nBisnis semacam rokok tanpa asap seperti Eclips dan iQOS memang sudah menjadi bagian dari rencana panjang bisnis perusahaan-perusahaan rokok multinasional. Jadi tidak usah heran jika ke depannya akan kita akan banyak menemukan produk rokok tanpa asap ini.<\/span>\r\n\r\nWatak dari perusahaan multinasional memang seperti itu, mereka sangat jeli melihat peluang pasar ke depannya. Ketika market place perusahaan rokok multinasional saat ini terus dirongrong oleh kelompok antirokok, mereka tak kehabisan akal. Maka kemudian mereka menginovasi produk rokok konvensional menjadi rokok yang tidak berasap. Begitupun dengan mengikutsertakan jargon-jargon kesehatan dalam narasi promosi mereka.<\/span>\r\n\r\nSesungguhnya memang seperti itulah watak bisnis perusahaan-perusahaan multinasional, melakukan segala cara agar bisnis mereka tetap bertahan, meskipun harus merangkul musuh sekalipun. <\/span>\r\n\r\nYa kadang pura-pura berantem sama antirokok, tapi dibalik itu sebenarnya baik-baik saja, dan tentunya ada kompromi untuk terus melanggengkan bisnis mereka.<\/span>\r\n

Lalu siapa yang dirugikan dari permainan bisnis macam produk rokok tanpa asap perusahaan rokok multinasional ini?<\/span><\/h3>\r\nTentunya yang sangat dirugikan adalah produk hasil tembakau yang memiliki kekhasan seperti kretek di Indonesia. Kretek sebagai produk khas asli Indonesia yang menjadi bagian dari warisan kebudayaan tidak mungkin bertransformasi menjadi produk-produk elektrik dan sejenisnya.<\/span>\r\n\r\nKretek tetaplah kretek, dengan bahan baku alami tembakau dan cengkeh yang tidak diintervensi dengan zat atau perangkat penghantar lainnya. Karena dengan bentuk, karakter dan cara menikmatinya memang konvensional dan akan terus begitu apapun kondisi dan zamannya.<\/span>\r\n
Bisnis produk rokok tanpa asap (elektrik) juga menghajar kretek dengan mendompleng isu pengendalian tembakau. Kampanye pengendalian tembakau selalu membawa slogan bahaya merokok dan upaya untuk berhenti merokok. <\/span><\/blockquote>\r\nDari isu tersebut, rokok elektrik masuk dengan citra produk alternatif tembakau, bahkan mereka tak segan menilai bahwa rokok elektrik lebih aman ketimbang rokok konvensional, yakni kretek.<\/span>\r\n\r\nLalu jika Indonesia akan dibanjiri dengan produk-produk yang mengatasnamakan produk alternatif tembakau, macam rokok tanpa asap (iQOS dan sejenisnya), maka itulah pertanda bahwa kretek harus tergerus dari cara hidup manusia Indonesia dalam menikmati produk hasil tembakau khas Indonesia yang sudah turun-temurun lamanya dinikmati manusia Indonesia.<\/span>","post_title":"Nasib Kretek di Pusaran Pertarungan Bisnis Global Perusahaan Rokok Multinasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"nasib-kretek-di-pusaran-pertarungan-bisnis-global-perusahaan-rokok-multinasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-02 08:01:43","post_modified_gmt":"2019-02-02 01:01:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5385","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; \n

Sedikit berbeda dengan penikmat rokok konvensional atau kretek. Mengingat rokok kretek sudah menjadi kebudayan lokal yang terus dipertahankan selama bertahun-tahun, kehadirannya sudah mewarnai khasanah keindonesiaan. Perokok kretek juga sudah punya soliditas luar biasa yang terbentuk sejak lama dan terus terbangun mengiringi peradaban di Indonesia atau dunia.<\/p>\n\n\n\n

Kini, perokok elektrik mulai merasakan kegelisahan. Beberapa negara mulai menerapkan peraturan ketat terhadap Vape, sedangkan di Indonesia biaya cukai pun kini mulai diberlakukan terhadap perdagangan rokok elektrik. Keberadaannya di mata negara pun mulai dianggap sama seperti rokok, meski pada awalnya rokok elektrik hadir dengan slogan-slogan produk alternatif yang lebih menyehatkan (katanya).<\/p>\n\n\n\n


Tapi jika kemudian di masa depan memang rokok elektrik yang kemudian menjadi sesuatu yang populer dan dinikmati banyak orang. Rasanya saya tetap ingin hidup di jaman ini, dengan sebatang kretek di tangan dan menikmati segala khasanah kebudayaan yang patut terus dipertahankan. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"masa-depan-rokok-elektrik-dan-semangat-alternatif-yang-sia-sia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-03 09:05:56","post_modified_gmt":"2019-02-03 02:05:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5403","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5385,"post_author":"883","post_date":"2019-02-02 08:01:01","post_date_gmt":"2019-02-02 01:01:01","post_content":"Pada tahun 2014, perusahaan rokok multinasional Philip Morris Internasional Inc. merilis sebuah produk <\/span>perangkat\u00a0<\/span>rokok<\/span><\/a>\u00a0tanpa asap, yang dipanaskan bukan dibakar atau istilahnya\u00a0<\/span>heat not burn<\/i><\/strong>\u00a0(HNB) iQOS<\/strong>. <\/span>\r\n\r\nPerangkat rokok tanpa asap dengan nama iQOS<\/a> ini berbentuk seperti bagian luar pulpen, dengan lubang di tengah untuk rokok. Produk yang berada di bawah brand Marlboro ini dapat memanaskan rokok sampai 350 derajat celcius lalu mengeluarkan uap nikotin beraroma tembakau<\/em><\/a>.<\/span>\r\n

Produk iQOS sebenarnya bukanlah produk rokok tanpa asap yang pertama muncul. Sebelumnya di tahun 1990-an, Reynolds Tobacco Co pernah merilis produk serupa bernama Eclipes yang juga dapat menguapkan nikotin setelah dinyalakan dengan korek api.<\/span><\/blockquote>\r\nSelain itu, Eclips juga dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. Namun, pada saat itu Eclips tidak diminati oleh pasar, utamanya para perokok konvensional. Meskipun Eclips dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. <\/span>\r\n\r\nBisnis semacam rokok tanpa asap seperti Eclips dan iQOS memang sudah menjadi bagian dari rencana panjang bisnis perusahaan-perusahaan rokok multinasional. Jadi tidak usah heran jika ke depannya akan kita akan banyak menemukan produk rokok tanpa asap ini.<\/span>\r\n\r\nWatak dari perusahaan multinasional memang seperti itu, mereka sangat jeli melihat peluang pasar ke depannya. Ketika market place perusahaan rokok multinasional saat ini terus dirongrong oleh kelompok antirokok, mereka tak kehabisan akal. Maka kemudian mereka menginovasi produk rokok konvensional menjadi rokok yang tidak berasap. Begitupun dengan mengikutsertakan jargon-jargon kesehatan dalam narasi promosi mereka.<\/span>\r\n\r\nSesungguhnya memang seperti itulah watak bisnis perusahaan-perusahaan multinasional, melakukan segala cara agar bisnis mereka tetap bertahan, meskipun harus merangkul musuh sekalipun. <\/span>\r\n\r\nYa kadang pura-pura berantem sama antirokok, tapi dibalik itu sebenarnya baik-baik saja, dan tentunya ada kompromi untuk terus melanggengkan bisnis mereka.<\/span>\r\n

Lalu siapa yang dirugikan dari permainan bisnis macam produk rokok tanpa asap perusahaan rokok multinasional ini?<\/span><\/h3>\r\nTentunya yang sangat dirugikan adalah produk hasil tembakau yang memiliki kekhasan seperti kretek di Indonesia. Kretek sebagai produk khas asli Indonesia yang menjadi bagian dari warisan kebudayaan tidak mungkin bertransformasi menjadi produk-produk elektrik dan sejenisnya.<\/span>\r\n\r\nKretek tetaplah kretek, dengan bahan baku alami tembakau dan cengkeh yang tidak diintervensi dengan zat atau perangkat penghantar lainnya. Karena dengan bentuk, karakter dan cara menikmatinya memang konvensional dan akan terus begitu apapun kondisi dan zamannya.<\/span>\r\n
Bisnis produk rokok tanpa asap (elektrik) juga menghajar kretek dengan mendompleng isu pengendalian tembakau. Kampanye pengendalian tembakau selalu membawa slogan bahaya merokok dan upaya untuk berhenti merokok. <\/span><\/blockquote>\r\nDari isu tersebut, rokok elektrik masuk dengan citra produk alternatif tembakau, bahkan mereka tak segan menilai bahwa rokok elektrik lebih aman ketimbang rokok konvensional, yakni kretek.<\/span>\r\n\r\nLalu jika Indonesia akan dibanjiri dengan produk-produk yang mengatasnamakan produk alternatif tembakau, macam rokok tanpa asap (iQOS dan sejenisnya), maka itulah pertanda bahwa kretek harus tergerus dari cara hidup manusia Indonesia dalam menikmati produk hasil tembakau khas Indonesia yang sudah turun-temurun lamanya dinikmati manusia Indonesia.<\/span>","post_title":"Nasib Kretek di Pusaran Pertarungan Bisnis Global Perusahaan Rokok Multinasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"nasib-kretek-di-pusaran-pertarungan-bisnis-global-perusahaan-rokok-multinasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-02 08:01:43","post_modified_gmt":"2019-02-02 01:01:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5385","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; \n

Beberapa penikmat rokok elektrik kerap berbelanja liquid yang mereka idamkan. Terkadang, hal tersebut yang membuat mereka boros karena terus mengeksplor rasa mana yang mereka idam-idamkan. Tak jarang juga liquid dengan harga mahal hingga ratus ribuan akan mereka beli. Sebaliknya, para perokok konvensional justru kerap bertahan dengan satu rasa atau merek saja.<\/p>\n\n\n\n

Sedikit berbeda dengan penikmat rokok konvensional atau kretek. Mengingat rokok kretek sudah menjadi kebudayan lokal yang terus dipertahankan selama bertahun-tahun, kehadirannya sudah mewarnai khasanah keindonesiaan. Perokok kretek juga sudah punya soliditas luar biasa yang terbentuk sejak lama dan terus terbangun mengiringi peradaban di Indonesia atau dunia.<\/p>\n\n\n\n

Kini, perokok elektrik mulai merasakan kegelisahan. Beberapa negara mulai menerapkan peraturan ketat terhadap Vape, sedangkan di Indonesia biaya cukai pun kini mulai diberlakukan terhadap perdagangan rokok elektrik. Keberadaannya di mata negara pun mulai dianggap sama seperti rokok, meski pada awalnya rokok elektrik hadir dengan slogan-slogan produk alternatif yang lebih menyehatkan (katanya).<\/p>\n\n\n\n


Tapi jika kemudian di masa depan memang rokok elektrik yang kemudian menjadi sesuatu yang populer dan dinikmati banyak orang. Rasanya saya tetap ingin hidup di jaman ini, dengan sebatang kretek di tangan dan menikmati segala khasanah kebudayaan yang patut terus dipertahankan. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"masa-depan-rokok-elektrik-dan-semangat-alternatif-yang-sia-sia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-03 09:05:56","post_modified_gmt":"2019-02-03 02:05:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5403","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5385,"post_author":"883","post_date":"2019-02-02 08:01:01","post_date_gmt":"2019-02-02 01:01:01","post_content":"Pada tahun 2014, perusahaan rokok multinasional Philip Morris Internasional Inc. merilis sebuah produk <\/span>perangkat\u00a0<\/span>rokok<\/span><\/a>\u00a0tanpa asap, yang dipanaskan bukan dibakar atau istilahnya\u00a0<\/span>heat not burn<\/i><\/strong>\u00a0(HNB) iQOS<\/strong>. <\/span>\r\n\r\nPerangkat rokok tanpa asap dengan nama iQOS<\/a> ini berbentuk seperti bagian luar pulpen, dengan lubang di tengah untuk rokok. Produk yang berada di bawah brand Marlboro ini dapat memanaskan rokok sampai 350 derajat celcius lalu mengeluarkan uap nikotin beraroma tembakau<\/em><\/a>.<\/span>\r\n

Produk iQOS sebenarnya bukanlah produk rokok tanpa asap yang pertama muncul. Sebelumnya di tahun 1990-an, Reynolds Tobacco Co pernah merilis produk serupa bernama Eclipes yang juga dapat menguapkan nikotin setelah dinyalakan dengan korek api.<\/span><\/blockquote>\r\nSelain itu, Eclips juga dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. Namun, pada saat itu Eclips tidak diminati oleh pasar, utamanya para perokok konvensional. Meskipun Eclips dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. <\/span>\r\n\r\nBisnis semacam rokok tanpa asap seperti Eclips dan iQOS memang sudah menjadi bagian dari rencana panjang bisnis perusahaan-perusahaan rokok multinasional. Jadi tidak usah heran jika ke depannya akan kita akan banyak menemukan produk rokok tanpa asap ini.<\/span>\r\n\r\nWatak dari perusahaan multinasional memang seperti itu, mereka sangat jeli melihat peluang pasar ke depannya. Ketika market place perusahaan rokok multinasional saat ini terus dirongrong oleh kelompok antirokok, mereka tak kehabisan akal. Maka kemudian mereka menginovasi produk rokok konvensional menjadi rokok yang tidak berasap. Begitupun dengan mengikutsertakan jargon-jargon kesehatan dalam narasi promosi mereka.<\/span>\r\n\r\nSesungguhnya memang seperti itulah watak bisnis perusahaan-perusahaan multinasional, melakukan segala cara agar bisnis mereka tetap bertahan, meskipun harus merangkul musuh sekalipun. <\/span>\r\n\r\nYa kadang pura-pura berantem sama antirokok, tapi dibalik itu sebenarnya baik-baik saja, dan tentunya ada kompromi untuk terus melanggengkan bisnis mereka.<\/span>\r\n

Lalu siapa yang dirugikan dari permainan bisnis macam produk rokok tanpa asap perusahaan rokok multinasional ini?<\/span><\/h3>\r\nTentunya yang sangat dirugikan adalah produk hasil tembakau yang memiliki kekhasan seperti kretek di Indonesia. Kretek sebagai produk khas asli Indonesia yang menjadi bagian dari warisan kebudayaan tidak mungkin bertransformasi menjadi produk-produk elektrik dan sejenisnya.<\/span>\r\n\r\nKretek tetaplah kretek, dengan bahan baku alami tembakau dan cengkeh yang tidak diintervensi dengan zat atau perangkat penghantar lainnya. Karena dengan bentuk, karakter dan cara menikmatinya memang konvensional dan akan terus begitu apapun kondisi dan zamannya.<\/span>\r\n
Bisnis produk rokok tanpa asap (elektrik) juga menghajar kretek dengan mendompleng isu pengendalian tembakau. Kampanye pengendalian tembakau selalu membawa slogan bahaya merokok dan upaya untuk berhenti merokok. <\/span><\/blockquote>\r\nDari isu tersebut, rokok elektrik masuk dengan citra produk alternatif tembakau, bahkan mereka tak segan menilai bahwa rokok elektrik lebih aman ketimbang rokok konvensional, yakni kretek.<\/span>\r\n\r\nLalu jika Indonesia akan dibanjiri dengan produk-produk yang mengatasnamakan produk alternatif tembakau, macam rokok tanpa asap (iQOS dan sejenisnya), maka itulah pertanda bahwa kretek harus tergerus dari cara hidup manusia Indonesia dalam menikmati produk hasil tembakau khas Indonesia yang sudah turun-temurun lamanya dinikmati manusia Indonesia.<\/span>","post_title":"Nasib Kretek di Pusaran Pertarungan Bisnis Global Perusahaan Rokok Multinasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"nasib-kretek-di-pusaran-pertarungan-bisnis-global-perusahaan-rokok-multinasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-02 08:01:43","post_modified_gmt":"2019-02-02 01:01:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5385","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; \n

Menjadi budaya baru yang berkembang di berbagai belahan dunia bahkan di Indonesia, Vape konon menjadi alternatif yang lebih bermanfaat daripada rokok. Dalih yang diusung selalu sama kepada para perokok tradisonal yaitu soal kesehatan dan lebih irit. Soal kesehatan tentu ada beberapa pendapat para ilmuan yang membantahnya, namun soal irit, saya rasa tidak. Memang satu liquid bisa digunakan untuk beberapa Minggu, akan tetapi yang saya lihat di lapangan justru sebaliknya. <\/p>\n\n\n\n

Beberapa penikmat rokok elektrik kerap berbelanja liquid yang mereka idamkan. Terkadang, hal tersebut yang membuat mereka boros karena terus mengeksplor rasa mana yang mereka idam-idamkan. Tak jarang juga liquid dengan harga mahal hingga ratus ribuan akan mereka beli. Sebaliknya, para perokok konvensional justru kerap bertahan dengan satu rasa atau merek saja.<\/p>\n\n\n\n

Sedikit berbeda dengan penikmat rokok konvensional atau kretek. Mengingat rokok kretek sudah menjadi kebudayan lokal yang terus dipertahankan selama bertahun-tahun, kehadirannya sudah mewarnai khasanah keindonesiaan. Perokok kretek juga sudah punya soliditas luar biasa yang terbentuk sejak lama dan terus terbangun mengiringi peradaban di Indonesia atau dunia.<\/p>\n\n\n\n

Kini, perokok elektrik mulai merasakan kegelisahan. Beberapa negara mulai menerapkan peraturan ketat terhadap Vape, sedangkan di Indonesia biaya cukai pun kini mulai diberlakukan terhadap perdagangan rokok elektrik. Keberadaannya di mata negara pun mulai dianggap sama seperti rokok, meski pada awalnya rokok elektrik hadir dengan slogan-slogan produk alternatif yang lebih menyehatkan (katanya).<\/p>\n\n\n\n


Tapi jika kemudian di masa depan memang rokok elektrik yang kemudian menjadi sesuatu yang populer dan dinikmati banyak orang. Rasanya saya tetap ingin hidup di jaman ini, dengan sebatang kretek di tangan dan menikmati segala khasanah kebudayaan yang patut terus dipertahankan. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"masa-depan-rokok-elektrik-dan-semangat-alternatif-yang-sia-sia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-03 09:05:56","post_modified_gmt":"2019-02-03 02:05:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5403","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5385,"post_author":"883","post_date":"2019-02-02 08:01:01","post_date_gmt":"2019-02-02 01:01:01","post_content":"Pada tahun 2014, perusahaan rokok multinasional Philip Morris Internasional Inc. merilis sebuah produk <\/span>perangkat\u00a0<\/span>rokok<\/span><\/a>\u00a0tanpa asap, yang dipanaskan bukan dibakar atau istilahnya\u00a0<\/span>heat not burn<\/i><\/strong>\u00a0(HNB) iQOS<\/strong>. <\/span>\r\n\r\nPerangkat rokok tanpa asap dengan nama iQOS<\/a> ini berbentuk seperti bagian luar pulpen, dengan lubang di tengah untuk rokok. Produk yang berada di bawah brand Marlboro ini dapat memanaskan rokok sampai 350 derajat celcius lalu mengeluarkan uap nikotin beraroma tembakau<\/em><\/a>.<\/span>\r\n

Produk iQOS sebenarnya bukanlah produk rokok tanpa asap yang pertama muncul. Sebelumnya di tahun 1990-an, Reynolds Tobacco Co pernah merilis produk serupa bernama Eclipes yang juga dapat menguapkan nikotin setelah dinyalakan dengan korek api.<\/span><\/blockquote>\r\nSelain itu, Eclips juga dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. Namun, pada saat itu Eclips tidak diminati oleh pasar, utamanya para perokok konvensional. Meskipun Eclips dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. <\/span>\r\n\r\nBisnis semacam rokok tanpa asap seperti Eclips dan iQOS memang sudah menjadi bagian dari rencana panjang bisnis perusahaan-perusahaan rokok multinasional. Jadi tidak usah heran jika ke depannya akan kita akan banyak menemukan produk rokok tanpa asap ini.<\/span>\r\n\r\nWatak dari perusahaan multinasional memang seperti itu, mereka sangat jeli melihat peluang pasar ke depannya. Ketika market place perusahaan rokok multinasional saat ini terus dirongrong oleh kelompok antirokok, mereka tak kehabisan akal. Maka kemudian mereka menginovasi produk rokok konvensional menjadi rokok yang tidak berasap. Begitupun dengan mengikutsertakan jargon-jargon kesehatan dalam narasi promosi mereka.<\/span>\r\n\r\nSesungguhnya memang seperti itulah watak bisnis perusahaan-perusahaan multinasional, melakukan segala cara agar bisnis mereka tetap bertahan, meskipun harus merangkul musuh sekalipun. <\/span>\r\n\r\nYa kadang pura-pura berantem sama antirokok, tapi dibalik itu sebenarnya baik-baik saja, dan tentunya ada kompromi untuk terus melanggengkan bisnis mereka.<\/span>\r\n

Lalu siapa yang dirugikan dari permainan bisnis macam produk rokok tanpa asap perusahaan rokok multinasional ini?<\/span><\/h3>\r\nTentunya yang sangat dirugikan adalah produk hasil tembakau yang memiliki kekhasan seperti kretek di Indonesia. Kretek sebagai produk khas asli Indonesia yang menjadi bagian dari warisan kebudayaan tidak mungkin bertransformasi menjadi produk-produk elektrik dan sejenisnya.<\/span>\r\n\r\nKretek tetaplah kretek, dengan bahan baku alami tembakau dan cengkeh yang tidak diintervensi dengan zat atau perangkat penghantar lainnya. Karena dengan bentuk, karakter dan cara menikmatinya memang konvensional dan akan terus begitu apapun kondisi dan zamannya.<\/span>\r\n
Bisnis produk rokok tanpa asap (elektrik) juga menghajar kretek dengan mendompleng isu pengendalian tembakau. Kampanye pengendalian tembakau selalu membawa slogan bahaya merokok dan upaya untuk berhenti merokok. <\/span><\/blockquote>\r\nDari isu tersebut, rokok elektrik masuk dengan citra produk alternatif tembakau, bahkan mereka tak segan menilai bahwa rokok elektrik lebih aman ketimbang rokok konvensional, yakni kretek.<\/span>\r\n\r\nLalu jika Indonesia akan dibanjiri dengan produk-produk yang mengatasnamakan produk alternatif tembakau, macam rokok tanpa asap (iQOS dan sejenisnya), maka itulah pertanda bahwa kretek harus tergerus dari cara hidup manusia Indonesia dalam menikmati produk hasil tembakau khas Indonesia yang sudah turun-temurun lamanya dinikmati manusia Indonesia.<\/span>","post_title":"Nasib Kretek di Pusaran Pertarungan Bisnis Global Perusahaan Rokok Multinasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"nasib-kretek-di-pusaran-pertarungan-bisnis-global-perusahaan-rokok-multinasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-02 08:01:43","post_modified_gmt":"2019-02-02 01:01:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5385","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; \n

Nun jauh di sana, di Amerika Serikat tepatnya, budaya Vape juga sudah mulai berkembang lama ketimbang di Tanah Air. Penikmatnya terbagi menjadi dua, ada yang dulunya bekas perokok dan ada yang memang menikmatinya sebagai gaya hidup. Wajar saja mengingat facebook tak memperbolehkan iklan tembakau di platform mereka, sebaliknya iklan tentang vape justru bertebaran. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi budaya baru yang berkembang di berbagai belahan dunia bahkan di Indonesia, Vape konon menjadi alternatif yang lebih bermanfaat daripada rokok. Dalih yang diusung selalu sama kepada para perokok tradisonal yaitu soal kesehatan dan lebih irit. Soal kesehatan tentu ada beberapa pendapat para ilmuan yang membantahnya, namun soal irit, saya rasa tidak. Memang satu liquid bisa digunakan untuk beberapa Minggu, akan tetapi yang saya lihat di lapangan justru sebaliknya. <\/p>\n\n\n\n

Beberapa penikmat rokok elektrik kerap berbelanja liquid yang mereka idamkan. Terkadang, hal tersebut yang membuat mereka boros karena terus mengeksplor rasa mana yang mereka idam-idamkan. Tak jarang juga liquid dengan harga mahal hingga ratus ribuan akan mereka beli. Sebaliknya, para perokok konvensional justru kerap bertahan dengan satu rasa atau merek saja.<\/p>\n\n\n\n

Sedikit berbeda dengan penikmat rokok konvensional atau kretek. Mengingat rokok kretek sudah menjadi kebudayan lokal yang terus dipertahankan selama bertahun-tahun, kehadirannya sudah mewarnai khasanah keindonesiaan. Perokok kretek juga sudah punya soliditas luar biasa yang terbentuk sejak lama dan terus terbangun mengiringi peradaban di Indonesia atau dunia.<\/p>\n\n\n\n

Kini, perokok elektrik mulai merasakan kegelisahan. Beberapa negara mulai menerapkan peraturan ketat terhadap Vape, sedangkan di Indonesia biaya cukai pun kini mulai diberlakukan terhadap perdagangan rokok elektrik. Keberadaannya di mata negara pun mulai dianggap sama seperti rokok, meski pada awalnya rokok elektrik hadir dengan slogan-slogan produk alternatif yang lebih menyehatkan (katanya).<\/p>\n\n\n\n


Tapi jika kemudian di masa depan memang rokok elektrik yang kemudian menjadi sesuatu yang populer dan dinikmati banyak orang. Rasanya saya tetap ingin hidup di jaman ini, dengan sebatang kretek di tangan dan menikmati segala khasanah kebudayaan yang patut terus dipertahankan. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"masa-depan-rokok-elektrik-dan-semangat-alternatif-yang-sia-sia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-03 09:05:56","post_modified_gmt":"2019-02-03 02:05:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5403","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5385,"post_author":"883","post_date":"2019-02-02 08:01:01","post_date_gmt":"2019-02-02 01:01:01","post_content":"Pada tahun 2014, perusahaan rokok multinasional Philip Morris Internasional Inc. merilis sebuah produk <\/span>perangkat\u00a0<\/span>rokok<\/span><\/a>\u00a0tanpa asap, yang dipanaskan bukan dibakar atau istilahnya\u00a0<\/span>heat not burn<\/i><\/strong>\u00a0(HNB) iQOS<\/strong>. <\/span>\r\n\r\nPerangkat rokok tanpa asap dengan nama iQOS<\/a> ini berbentuk seperti bagian luar pulpen, dengan lubang di tengah untuk rokok. Produk yang berada di bawah brand Marlboro ini dapat memanaskan rokok sampai 350 derajat celcius lalu mengeluarkan uap nikotin beraroma tembakau<\/em><\/a>.<\/span>\r\n

Produk iQOS sebenarnya bukanlah produk rokok tanpa asap yang pertama muncul. Sebelumnya di tahun 1990-an, Reynolds Tobacco Co pernah merilis produk serupa bernama Eclipes yang juga dapat menguapkan nikotin setelah dinyalakan dengan korek api.<\/span><\/blockquote>\r\nSelain itu, Eclips juga dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. Namun, pada saat itu Eclips tidak diminati oleh pasar, utamanya para perokok konvensional. Meskipun Eclips dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. <\/span>\r\n\r\nBisnis semacam rokok tanpa asap seperti Eclips dan iQOS memang sudah menjadi bagian dari rencana panjang bisnis perusahaan-perusahaan rokok multinasional. Jadi tidak usah heran jika ke depannya akan kita akan banyak menemukan produk rokok tanpa asap ini.<\/span>\r\n\r\nWatak dari perusahaan multinasional memang seperti itu, mereka sangat jeli melihat peluang pasar ke depannya. Ketika market place perusahaan rokok multinasional saat ini terus dirongrong oleh kelompok antirokok, mereka tak kehabisan akal. Maka kemudian mereka menginovasi produk rokok konvensional menjadi rokok yang tidak berasap. Begitupun dengan mengikutsertakan jargon-jargon kesehatan dalam narasi promosi mereka.<\/span>\r\n\r\nSesungguhnya memang seperti itulah watak bisnis perusahaan-perusahaan multinasional, melakukan segala cara agar bisnis mereka tetap bertahan, meskipun harus merangkul musuh sekalipun. <\/span>\r\n\r\nYa kadang pura-pura berantem sama antirokok, tapi dibalik itu sebenarnya baik-baik saja, dan tentunya ada kompromi untuk terus melanggengkan bisnis mereka.<\/span>\r\n

Lalu siapa yang dirugikan dari permainan bisnis macam produk rokok tanpa asap perusahaan rokok multinasional ini?<\/span><\/h3>\r\nTentunya yang sangat dirugikan adalah produk hasil tembakau yang memiliki kekhasan seperti kretek di Indonesia. Kretek sebagai produk khas asli Indonesia yang menjadi bagian dari warisan kebudayaan tidak mungkin bertransformasi menjadi produk-produk elektrik dan sejenisnya.<\/span>\r\n\r\nKretek tetaplah kretek, dengan bahan baku alami tembakau dan cengkeh yang tidak diintervensi dengan zat atau perangkat penghantar lainnya. Karena dengan bentuk, karakter dan cara menikmatinya memang konvensional dan akan terus begitu apapun kondisi dan zamannya.<\/span>\r\n
Bisnis produk rokok tanpa asap (elektrik) juga menghajar kretek dengan mendompleng isu pengendalian tembakau. Kampanye pengendalian tembakau selalu membawa slogan bahaya merokok dan upaya untuk berhenti merokok. <\/span><\/blockquote>\r\nDari isu tersebut, rokok elektrik masuk dengan citra produk alternatif tembakau, bahkan mereka tak segan menilai bahwa rokok elektrik lebih aman ketimbang rokok konvensional, yakni kretek.<\/span>\r\n\r\nLalu jika Indonesia akan dibanjiri dengan produk-produk yang mengatasnamakan produk alternatif tembakau, macam rokok tanpa asap (iQOS dan sejenisnya), maka itulah pertanda bahwa kretek harus tergerus dari cara hidup manusia Indonesia dalam menikmati produk hasil tembakau khas Indonesia yang sudah turun-temurun lamanya dinikmati manusia Indonesia.<\/span>","post_title":"Nasib Kretek di Pusaran Pertarungan Bisnis Global Perusahaan Rokok Multinasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"nasib-kretek-di-pusaran-pertarungan-bisnis-global-perusahaan-rokok-multinasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-02 08:01:43","post_modified_gmt":"2019-02-02 01:01:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5385","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; \n

Meski belum bisa dikatakan memiliki jumlah penikmat yang setara dengan para perokok, pengguna Vape mulai menunjukkan eksistensinya. Selain toko yang tersebar, ragam acara juga mereka buat di beberapa daerah. Dalam lingkungan saya, beberapa teman yang dulunya merupakan perokok aktif tertarik mengikuti event tersebut dan beralih mengisap rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Nun jauh di sana, di Amerika Serikat tepatnya, budaya Vape juga sudah mulai berkembang lama ketimbang di Tanah Air. Penikmatnya terbagi menjadi dua, ada yang dulunya bekas perokok dan ada yang memang menikmatinya sebagai gaya hidup. Wajar saja mengingat facebook tak memperbolehkan iklan tembakau di platform mereka, sebaliknya iklan tentang vape justru bertebaran. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi budaya baru yang berkembang di berbagai belahan dunia bahkan di Indonesia, Vape konon menjadi alternatif yang lebih bermanfaat daripada rokok. Dalih yang diusung selalu sama kepada para perokok tradisonal yaitu soal kesehatan dan lebih irit. Soal kesehatan tentu ada beberapa pendapat para ilmuan yang membantahnya, namun soal irit, saya rasa tidak. Memang satu liquid bisa digunakan untuk beberapa Minggu, akan tetapi yang saya lihat di lapangan justru sebaliknya. <\/p>\n\n\n\n

Beberapa penikmat rokok elektrik kerap berbelanja liquid yang mereka idamkan. Terkadang, hal tersebut yang membuat mereka boros karena terus mengeksplor rasa mana yang mereka idam-idamkan. Tak jarang juga liquid dengan harga mahal hingga ratus ribuan akan mereka beli. Sebaliknya, para perokok konvensional justru kerap bertahan dengan satu rasa atau merek saja.<\/p>\n\n\n\n

Sedikit berbeda dengan penikmat rokok konvensional atau kretek. Mengingat rokok kretek sudah menjadi kebudayan lokal yang terus dipertahankan selama bertahun-tahun, kehadirannya sudah mewarnai khasanah keindonesiaan. Perokok kretek juga sudah punya soliditas luar biasa yang terbentuk sejak lama dan terus terbangun mengiringi peradaban di Indonesia atau dunia.<\/p>\n\n\n\n

Kini, perokok elektrik mulai merasakan kegelisahan. Beberapa negara mulai menerapkan peraturan ketat terhadap Vape, sedangkan di Indonesia biaya cukai pun kini mulai diberlakukan terhadap perdagangan rokok elektrik. Keberadaannya di mata negara pun mulai dianggap sama seperti rokok, meski pada awalnya rokok elektrik hadir dengan slogan-slogan produk alternatif yang lebih menyehatkan (katanya).<\/p>\n\n\n\n


Tapi jika kemudian di masa depan memang rokok elektrik yang kemudian menjadi sesuatu yang populer dan dinikmati banyak orang. Rasanya saya tetap ingin hidup di jaman ini, dengan sebatang kretek di tangan dan menikmati segala khasanah kebudayaan yang patut terus dipertahankan. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"masa-depan-rokok-elektrik-dan-semangat-alternatif-yang-sia-sia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-03 09:05:56","post_modified_gmt":"2019-02-03 02:05:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5403","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5385,"post_author":"883","post_date":"2019-02-02 08:01:01","post_date_gmt":"2019-02-02 01:01:01","post_content":"Pada tahun 2014, perusahaan rokok multinasional Philip Morris Internasional Inc. merilis sebuah produk <\/span>perangkat\u00a0<\/span>rokok<\/span><\/a>\u00a0tanpa asap, yang dipanaskan bukan dibakar atau istilahnya\u00a0<\/span>heat not burn<\/i><\/strong>\u00a0(HNB) iQOS<\/strong>. <\/span>\r\n\r\nPerangkat rokok tanpa asap dengan nama iQOS<\/a> ini berbentuk seperti bagian luar pulpen, dengan lubang di tengah untuk rokok. Produk yang berada di bawah brand Marlboro ini dapat memanaskan rokok sampai 350 derajat celcius lalu mengeluarkan uap nikotin beraroma tembakau<\/em><\/a>.<\/span>\r\n

Produk iQOS sebenarnya bukanlah produk rokok tanpa asap yang pertama muncul. Sebelumnya di tahun 1990-an, Reynolds Tobacco Co pernah merilis produk serupa bernama Eclipes yang juga dapat menguapkan nikotin setelah dinyalakan dengan korek api.<\/span><\/blockquote>\r\nSelain itu, Eclips juga dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. Namun, pada saat itu Eclips tidak diminati oleh pasar, utamanya para perokok konvensional. Meskipun Eclips dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. <\/span>\r\n\r\nBisnis semacam rokok tanpa asap seperti Eclips dan iQOS memang sudah menjadi bagian dari rencana panjang bisnis perusahaan-perusahaan rokok multinasional. Jadi tidak usah heran jika ke depannya akan kita akan banyak menemukan produk rokok tanpa asap ini.<\/span>\r\n\r\nWatak dari perusahaan multinasional memang seperti itu, mereka sangat jeli melihat peluang pasar ke depannya. Ketika market place perusahaan rokok multinasional saat ini terus dirongrong oleh kelompok antirokok, mereka tak kehabisan akal. Maka kemudian mereka menginovasi produk rokok konvensional menjadi rokok yang tidak berasap. Begitupun dengan mengikutsertakan jargon-jargon kesehatan dalam narasi promosi mereka.<\/span>\r\n\r\nSesungguhnya memang seperti itulah watak bisnis perusahaan-perusahaan multinasional, melakukan segala cara agar bisnis mereka tetap bertahan, meskipun harus merangkul musuh sekalipun. <\/span>\r\n\r\nYa kadang pura-pura berantem sama antirokok, tapi dibalik itu sebenarnya baik-baik saja, dan tentunya ada kompromi untuk terus melanggengkan bisnis mereka.<\/span>\r\n

Lalu siapa yang dirugikan dari permainan bisnis macam produk rokok tanpa asap perusahaan rokok multinasional ini?<\/span><\/h3>\r\nTentunya yang sangat dirugikan adalah produk hasil tembakau yang memiliki kekhasan seperti kretek di Indonesia. Kretek sebagai produk khas asli Indonesia yang menjadi bagian dari warisan kebudayaan tidak mungkin bertransformasi menjadi produk-produk elektrik dan sejenisnya.<\/span>\r\n\r\nKretek tetaplah kretek, dengan bahan baku alami tembakau dan cengkeh yang tidak diintervensi dengan zat atau perangkat penghantar lainnya. Karena dengan bentuk, karakter dan cara menikmatinya memang konvensional dan akan terus begitu apapun kondisi dan zamannya.<\/span>\r\n
Bisnis produk rokok tanpa asap (elektrik) juga menghajar kretek dengan mendompleng isu pengendalian tembakau. Kampanye pengendalian tembakau selalu membawa slogan bahaya merokok dan upaya untuk berhenti merokok. <\/span><\/blockquote>\r\nDari isu tersebut, rokok elektrik masuk dengan citra produk alternatif tembakau, bahkan mereka tak segan menilai bahwa rokok elektrik lebih aman ketimbang rokok konvensional, yakni kretek.<\/span>\r\n\r\nLalu jika Indonesia akan dibanjiri dengan produk-produk yang mengatasnamakan produk alternatif tembakau, macam rokok tanpa asap (iQOS dan sejenisnya), maka itulah pertanda bahwa kretek harus tergerus dari cara hidup manusia Indonesia dalam menikmati produk hasil tembakau khas Indonesia yang sudah turun-temurun lamanya dinikmati manusia Indonesia.<\/span>","post_title":"Nasib Kretek di Pusaran Pertarungan Bisnis Global Perusahaan Rokok Multinasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"nasib-kretek-di-pusaran-pertarungan-bisnis-global-perusahaan-rokok-multinasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-02 08:01:43","post_modified_gmt":"2019-02-02 01:01:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5385","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; \n

Kehadiran teknologi memang kerap sedikit atau benyak mengubah gaya atau kultur suatu masyarakat. Begitu pula yang saya perhatikan dengan rokok elektrik. Satu hal yang mudah diamati adalah menjamurnya toko-toko kecil yang menjual vape serta liquid di berbagai tempat. Sebagai sebuah warna baru dalam masyarakat, penggunanya ramai-ramai mengunjungi tempat tersebut berinteraksi dengan penikmat lainnya dan membangun sebuah rumah komunitas yang fleksibel.<\/p>\n\n\n\n

Meski belum bisa dikatakan memiliki jumlah penikmat yang setara dengan para perokok, pengguna Vape mulai menunjukkan eksistensinya. Selain toko yang tersebar, ragam acara juga mereka buat di beberapa daerah. Dalam lingkungan saya, beberapa teman yang dulunya merupakan perokok aktif tertarik mengikuti event tersebut dan beralih mengisap rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Nun jauh di sana, di Amerika Serikat tepatnya, budaya Vape juga sudah mulai berkembang lama ketimbang di Tanah Air. Penikmatnya terbagi menjadi dua, ada yang dulunya bekas perokok dan ada yang memang menikmatinya sebagai gaya hidup. Wajar saja mengingat facebook tak memperbolehkan iklan tembakau di platform mereka, sebaliknya iklan tentang vape justru bertebaran. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi budaya baru yang berkembang di berbagai belahan dunia bahkan di Indonesia, Vape konon menjadi alternatif yang lebih bermanfaat daripada rokok. Dalih yang diusung selalu sama kepada para perokok tradisonal yaitu soal kesehatan dan lebih irit. Soal kesehatan tentu ada beberapa pendapat para ilmuan yang membantahnya, namun soal irit, saya rasa tidak. Memang satu liquid bisa digunakan untuk beberapa Minggu, akan tetapi yang saya lihat di lapangan justru sebaliknya. <\/p>\n\n\n\n

Beberapa penikmat rokok elektrik kerap berbelanja liquid yang mereka idamkan. Terkadang, hal tersebut yang membuat mereka boros karena terus mengeksplor rasa mana yang mereka idam-idamkan. Tak jarang juga liquid dengan harga mahal hingga ratus ribuan akan mereka beli. Sebaliknya, para perokok konvensional justru kerap bertahan dengan satu rasa atau merek saja.<\/p>\n\n\n\n

Sedikit berbeda dengan penikmat rokok konvensional atau kretek. Mengingat rokok kretek sudah menjadi kebudayan lokal yang terus dipertahankan selama bertahun-tahun, kehadirannya sudah mewarnai khasanah keindonesiaan. Perokok kretek juga sudah punya soliditas luar biasa yang terbentuk sejak lama dan terus terbangun mengiringi peradaban di Indonesia atau dunia.<\/p>\n\n\n\n

Kini, perokok elektrik mulai merasakan kegelisahan. Beberapa negara mulai menerapkan peraturan ketat terhadap Vape, sedangkan di Indonesia biaya cukai pun kini mulai diberlakukan terhadap perdagangan rokok elektrik. Keberadaannya di mata negara pun mulai dianggap sama seperti rokok, meski pada awalnya rokok elektrik hadir dengan slogan-slogan produk alternatif yang lebih menyehatkan (katanya).<\/p>\n\n\n\n


Tapi jika kemudian di masa depan memang rokok elektrik yang kemudian menjadi sesuatu yang populer dan dinikmati banyak orang. Rasanya saya tetap ingin hidup di jaman ini, dengan sebatang kretek di tangan dan menikmati segala khasanah kebudayaan yang patut terus dipertahankan. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"masa-depan-rokok-elektrik-dan-semangat-alternatif-yang-sia-sia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-03 09:05:56","post_modified_gmt":"2019-02-03 02:05:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5403","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5385,"post_author":"883","post_date":"2019-02-02 08:01:01","post_date_gmt":"2019-02-02 01:01:01","post_content":"Pada tahun 2014, perusahaan rokok multinasional Philip Morris Internasional Inc. merilis sebuah produk <\/span>perangkat\u00a0<\/span>rokok<\/span><\/a>\u00a0tanpa asap, yang dipanaskan bukan dibakar atau istilahnya\u00a0<\/span>heat not burn<\/i><\/strong>\u00a0(HNB) iQOS<\/strong>. <\/span>\r\n\r\nPerangkat rokok tanpa asap dengan nama iQOS<\/a> ini berbentuk seperti bagian luar pulpen, dengan lubang di tengah untuk rokok. Produk yang berada di bawah brand Marlboro ini dapat memanaskan rokok sampai 350 derajat celcius lalu mengeluarkan uap nikotin beraroma tembakau<\/em><\/a>.<\/span>\r\n

Produk iQOS sebenarnya bukanlah produk rokok tanpa asap yang pertama muncul. Sebelumnya di tahun 1990-an, Reynolds Tobacco Co pernah merilis produk serupa bernama Eclipes yang juga dapat menguapkan nikotin setelah dinyalakan dengan korek api.<\/span><\/blockquote>\r\nSelain itu, Eclips juga dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. Namun, pada saat itu Eclips tidak diminati oleh pasar, utamanya para perokok konvensional. Meskipun Eclips dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. <\/span>\r\n\r\nBisnis semacam rokok tanpa asap seperti Eclips dan iQOS memang sudah menjadi bagian dari rencana panjang bisnis perusahaan-perusahaan rokok multinasional. Jadi tidak usah heran jika ke depannya akan kita akan banyak menemukan produk rokok tanpa asap ini.<\/span>\r\n\r\nWatak dari perusahaan multinasional memang seperti itu, mereka sangat jeli melihat peluang pasar ke depannya. Ketika market place perusahaan rokok multinasional saat ini terus dirongrong oleh kelompok antirokok, mereka tak kehabisan akal. Maka kemudian mereka menginovasi produk rokok konvensional menjadi rokok yang tidak berasap. Begitupun dengan mengikutsertakan jargon-jargon kesehatan dalam narasi promosi mereka.<\/span>\r\n\r\nSesungguhnya memang seperti itulah watak bisnis perusahaan-perusahaan multinasional, melakukan segala cara agar bisnis mereka tetap bertahan, meskipun harus merangkul musuh sekalipun. <\/span>\r\n\r\nYa kadang pura-pura berantem sama antirokok, tapi dibalik itu sebenarnya baik-baik saja, dan tentunya ada kompromi untuk terus melanggengkan bisnis mereka.<\/span>\r\n

Lalu siapa yang dirugikan dari permainan bisnis macam produk rokok tanpa asap perusahaan rokok multinasional ini?<\/span><\/h3>\r\nTentunya yang sangat dirugikan adalah produk hasil tembakau yang memiliki kekhasan seperti kretek di Indonesia. Kretek sebagai produk khas asli Indonesia yang menjadi bagian dari warisan kebudayaan tidak mungkin bertransformasi menjadi produk-produk elektrik dan sejenisnya.<\/span>\r\n\r\nKretek tetaplah kretek, dengan bahan baku alami tembakau dan cengkeh yang tidak diintervensi dengan zat atau perangkat penghantar lainnya. Karena dengan bentuk, karakter dan cara menikmatinya memang konvensional dan akan terus begitu apapun kondisi dan zamannya.<\/span>\r\n
Bisnis produk rokok tanpa asap (elektrik) juga menghajar kretek dengan mendompleng isu pengendalian tembakau. Kampanye pengendalian tembakau selalu membawa slogan bahaya merokok dan upaya untuk berhenti merokok. <\/span><\/blockquote>\r\nDari isu tersebut, rokok elektrik masuk dengan citra produk alternatif tembakau, bahkan mereka tak segan menilai bahwa rokok elektrik lebih aman ketimbang rokok konvensional, yakni kretek.<\/span>\r\n\r\nLalu jika Indonesia akan dibanjiri dengan produk-produk yang mengatasnamakan produk alternatif tembakau, macam rokok tanpa asap (iQOS dan sejenisnya), maka itulah pertanda bahwa kretek harus tergerus dari cara hidup manusia Indonesia dalam menikmati produk hasil tembakau khas Indonesia yang sudah turun-temurun lamanya dinikmati manusia Indonesia.<\/span>","post_title":"Nasib Kretek di Pusaran Pertarungan Bisnis Global Perusahaan Rokok Multinasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"nasib-kretek-di-pusaran-pertarungan-bisnis-global-perusahaan-rokok-multinasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-02 08:01:43","post_modified_gmt":"2019-02-02 01:01:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5385","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; \n

Baca Juga: LAGI-LAGI IKLAN ROKOK, KAPAN KPAI TIDAK TEBANG PILIH? <\/a><\/h4>\n\n\n\n

Kehadiran teknologi memang kerap sedikit atau benyak mengubah gaya atau kultur suatu masyarakat. Begitu pula yang saya perhatikan dengan rokok elektrik. Satu hal yang mudah diamati adalah menjamurnya toko-toko kecil yang menjual vape serta liquid di berbagai tempat. Sebagai sebuah warna baru dalam masyarakat, penggunanya ramai-ramai mengunjungi tempat tersebut berinteraksi dengan penikmat lainnya dan membangun sebuah rumah komunitas yang fleksibel.<\/p>\n\n\n\n

Meski belum bisa dikatakan memiliki jumlah penikmat yang setara dengan para perokok, pengguna Vape mulai menunjukkan eksistensinya. Selain toko yang tersebar, ragam acara juga mereka buat di beberapa daerah. Dalam lingkungan saya, beberapa teman yang dulunya merupakan perokok aktif tertarik mengikuti event tersebut dan beralih mengisap rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Nun jauh di sana, di Amerika Serikat tepatnya, budaya Vape juga sudah mulai berkembang lama ketimbang di Tanah Air. Penikmatnya terbagi menjadi dua, ada yang dulunya bekas perokok dan ada yang memang menikmatinya sebagai gaya hidup. Wajar saja mengingat facebook tak memperbolehkan iklan tembakau di platform mereka, sebaliknya iklan tentang vape justru bertebaran. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi budaya baru yang berkembang di berbagai belahan dunia bahkan di Indonesia, Vape konon menjadi alternatif yang lebih bermanfaat daripada rokok. Dalih yang diusung selalu sama kepada para perokok tradisonal yaitu soal kesehatan dan lebih irit. Soal kesehatan tentu ada beberapa pendapat para ilmuan yang membantahnya, namun soal irit, saya rasa tidak. Memang satu liquid bisa digunakan untuk beberapa Minggu, akan tetapi yang saya lihat di lapangan justru sebaliknya. <\/p>\n\n\n\n

Beberapa penikmat rokok elektrik kerap berbelanja liquid yang mereka idamkan. Terkadang, hal tersebut yang membuat mereka boros karena terus mengeksplor rasa mana yang mereka idam-idamkan. Tak jarang juga liquid dengan harga mahal hingga ratus ribuan akan mereka beli. Sebaliknya, para perokok konvensional justru kerap bertahan dengan satu rasa atau merek saja.<\/p>\n\n\n\n

Sedikit berbeda dengan penikmat rokok konvensional atau kretek. Mengingat rokok kretek sudah menjadi kebudayan lokal yang terus dipertahankan selama bertahun-tahun, kehadirannya sudah mewarnai khasanah keindonesiaan. Perokok kretek juga sudah punya soliditas luar biasa yang terbentuk sejak lama dan terus terbangun mengiringi peradaban di Indonesia atau dunia.<\/p>\n\n\n\n

Kini, perokok elektrik mulai merasakan kegelisahan. Beberapa negara mulai menerapkan peraturan ketat terhadap Vape, sedangkan di Indonesia biaya cukai pun kini mulai diberlakukan terhadap perdagangan rokok elektrik. Keberadaannya di mata negara pun mulai dianggap sama seperti rokok, meski pada awalnya rokok elektrik hadir dengan slogan-slogan produk alternatif yang lebih menyehatkan (katanya).<\/p>\n\n\n\n


Tapi jika kemudian di masa depan memang rokok elektrik yang kemudian menjadi sesuatu yang populer dan dinikmati banyak orang. Rasanya saya tetap ingin hidup di jaman ini, dengan sebatang kretek di tangan dan menikmati segala khasanah kebudayaan yang patut terus dipertahankan. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"masa-depan-rokok-elektrik-dan-semangat-alternatif-yang-sia-sia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-03 09:05:56","post_modified_gmt":"2019-02-03 02:05:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5403","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5385,"post_author":"883","post_date":"2019-02-02 08:01:01","post_date_gmt":"2019-02-02 01:01:01","post_content":"Pada tahun 2014, perusahaan rokok multinasional Philip Morris Internasional Inc. merilis sebuah produk <\/span>perangkat\u00a0<\/span>
rokok<\/span><\/a>\u00a0tanpa asap, yang dipanaskan bukan dibakar atau istilahnya\u00a0<\/span>heat not burn<\/i><\/strong>\u00a0(HNB) iQOS<\/strong>. <\/span>\r\n\r\nPerangkat rokok tanpa asap dengan nama iQOS<\/a> ini berbentuk seperti bagian luar pulpen, dengan lubang di tengah untuk rokok. Produk yang berada di bawah brand Marlboro ini dapat memanaskan rokok sampai 350 derajat celcius lalu mengeluarkan uap nikotin beraroma tembakau<\/em><\/a>.<\/span>\r\n

Produk iQOS sebenarnya bukanlah produk rokok tanpa asap yang pertama muncul. Sebelumnya di tahun 1990-an, Reynolds Tobacco Co pernah merilis produk serupa bernama Eclipes yang juga dapat menguapkan nikotin setelah dinyalakan dengan korek api.<\/span><\/blockquote>\r\nSelain itu, Eclips juga dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. Namun, pada saat itu Eclips tidak diminati oleh pasar, utamanya para perokok konvensional. Meskipun Eclips dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. <\/span>\r\n\r\nBisnis semacam rokok tanpa asap seperti Eclips dan iQOS memang sudah menjadi bagian dari rencana panjang bisnis perusahaan-perusahaan rokok multinasional. Jadi tidak usah heran jika ke depannya akan kita akan banyak menemukan produk rokok tanpa asap ini.<\/span>\r\n\r\nWatak dari perusahaan multinasional memang seperti itu, mereka sangat jeli melihat peluang pasar ke depannya. Ketika market place perusahaan rokok multinasional saat ini terus dirongrong oleh kelompok antirokok, mereka tak kehabisan akal. Maka kemudian mereka menginovasi produk rokok konvensional menjadi rokok yang tidak berasap. Begitupun dengan mengikutsertakan jargon-jargon kesehatan dalam narasi promosi mereka.<\/span>\r\n\r\nSesungguhnya memang seperti itulah watak bisnis perusahaan-perusahaan multinasional, melakukan segala cara agar bisnis mereka tetap bertahan, meskipun harus merangkul musuh sekalipun. <\/span>\r\n\r\nYa kadang pura-pura berantem sama antirokok, tapi dibalik itu sebenarnya baik-baik saja, dan tentunya ada kompromi untuk terus melanggengkan bisnis mereka.<\/span>\r\n

Lalu siapa yang dirugikan dari permainan bisnis macam produk rokok tanpa asap perusahaan rokok multinasional ini?<\/span><\/h3>\r\nTentunya yang sangat dirugikan adalah produk hasil tembakau yang memiliki kekhasan seperti kretek di Indonesia. Kretek sebagai produk khas asli Indonesia yang menjadi bagian dari warisan kebudayaan tidak mungkin bertransformasi menjadi produk-produk elektrik dan sejenisnya.<\/span>\r\n\r\nKretek tetaplah kretek, dengan bahan baku alami tembakau dan cengkeh yang tidak diintervensi dengan zat atau perangkat penghantar lainnya. Karena dengan bentuk, karakter dan cara menikmatinya memang konvensional dan akan terus begitu apapun kondisi dan zamannya.<\/span>\r\n
Bisnis produk rokok tanpa asap (elektrik) juga menghajar kretek dengan mendompleng isu pengendalian tembakau. Kampanye pengendalian tembakau selalu membawa slogan bahaya merokok dan upaya untuk berhenti merokok. <\/span><\/blockquote>\r\nDari isu tersebut, rokok elektrik masuk dengan citra produk alternatif tembakau, bahkan mereka tak segan menilai bahwa rokok elektrik lebih aman ketimbang rokok konvensional, yakni kretek.<\/span>\r\n\r\nLalu jika Indonesia akan dibanjiri dengan produk-produk yang mengatasnamakan produk alternatif tembakau, macam rokok tanpa asap (iQOS dan sejenisnya), maka itulah pertanda bahwa kretek harus tergerus dari cara hidup manusia Indonesia dalam menikmati produk hasil tembakau khas Indonesia yang sudah turun-temurun lamanya dinikmati manusia Indonesia.<\/span>","post_title":"Nasib Kretek di Pusaran Pertarungan Bisnis Global Perusahaan Rokok Multinasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"nasib-kretek-di-pusaran-pertarungan-bisnis-global-perusahaan-rokok-multinasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-02 08:01:43","post_modified_gmt":"2019-02-02 01:01:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5385","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; \n

Di awal kehadirannya Vape memang mengundang decak kekaguman saya. Bagaimana bisa sebuah mesin kecil mengeluarkan asap yang katanya lebih menyehatkan daripada rokok.<\/strong> Meski pada akhirnya teori tersebut juga bisa dibantah oleh beberapa ilmuan dunia. Tapi ada satu yang saya amati selain soal kesehatan, rokok elektrik rupanya menghadirkan kultur dan budaya baru dalam kehidupan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: LAGI-LAGI IKLAN ROKOK, KAPAN KPAI TIDAK TEBANG PILIH? <\/a><\/h4>\n\n\n\n

Kehadiran teknologi memang kerap sedikit atau benyak mengubah gaya atau kultur suatu masyarakat. Begitu pula yang saya perhatikan dengan rokok elektrik. Satu hal yang mudah diamati adalah menjamurnya toko-toko kecil yang menjual vape serta liquid di berbagai tempat. Sebagai sebuah warna baru dalam masyarakat, penggunanya ramai-ramai mengunjungi tempat tersebut berinteraksi dengan penikmat lainnya dan membangun sebuah rumah komunitas yang fleksibel.<\/p>\n\n\n\n

Meski belum bisa dikatakan memiliki jumlah penikmat yang setara dengan para perokok, pengguna Vape mulai menunjukkan eksistensinya. Selain toko yang tersebar, ragam acara juga mereka buat di beberapa daerah. Dalam lingkungan saya, beberapa teman yang dulunya merupakan perokok aktif tertarik mengikuti event tersebut dan beralih mengisap rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Nun jauh di sana, di Amerika Serikat tepatnya, budaya Vape juga sudah mulai berkembang lama ketimbang di Tanah Air. Penikmatnya terbagi menjadi dua, ada yang dulunya bekas perokok dan ada yang memang menikmatinya sebagai gaya hidup. Wajar saja mengingat facebook tak memperbolehkan iklan tembakau di platform mereka, sebaliknya iklan tentang vape justru bertebaran. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi budaya baru yang berkembang di berbagai belahan dunia bahkan di Indonesia, Vape konon menjadi alternatif yang lebih bermanfaat daripada rokok. Dalih yang diusung selalu sama kepada para perokok tradisonal yaitu soal kesehatan dan lebih irit. Soal kesehatan tentu ada beberapa pendapat para ilmuan yang membantahnya, namun soal irit, saya rasa tidak. Memang satu liquid bisa digunakan untuk beberapa Minggu, akan tetapi yang saya lihat di lapangan justru sebaliknya. <\/p>\n\n\n\n

Beberapa penikmat rokok elektrik kerap berbelanja liquid yang mereka idamkan. Terkadang, hal tersebut yang membuat mereka boros karena terus mengeksplor rasa mana yang mereka idam-idamkan. Tak jarang juga liquid dengan harga mahal hingga ratus ribuan akan mereka beli. Sebaliknya, para perokok konvensional justru kerap bertahan dengan satu rasa atau merek saja.<\/p>\n\n\n\n

Sedikit berbeda dengan penikmat rokok konvensional atau kretek. Mengingat rokok kretek sudah menjadi kebudayan lokal yang terus dipertahankan selama bertahun-tahun, kehadirannya sudah mewarnai khasanah keindonesiaan. Perokok kretek juga sudah punya soliditas luar biasa yang terbentuk sejak lama dan terus terbangun mengiringi peradaban di Indonesia atau dunia.<\/p>\n\n\n\n

Kini, perokok elektrik mulai merasakan kegelisahan. Beberapa negara mulai menerapkan peraturan ketat terhadap Vape, sedangkan di Indonesia biaya cukai pun kini mulai diberlakukan terhadap perdagangan rokok elektrik. Keberadaannya di mata negara pun mulai dianggap sama seperti rokok, meski pada awalnya rokok elektrik hadir dengan slogan-slogan produk alternatif yang lebih menyehatkan (katanya).<\/p>\n\n\n\n


Tapi jika kemudian di masa depan memang rokok elektrik yang kemudian menjadi sesuatu yang populer dan dinikmati banyak orang. Rasanya saya tetap ingin hidup di jaman ini, dengan sebatang kretek di tangan dan menikmati segala khasanah kebudayaan yang patut terus dipertahankan. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"masa-depan-rokok-elektrik-dan-semangat-alternatif-yang-sia-sia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-03 09:05:56","post_modified_gmt":"2019-02-03 02:05:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5403","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5385,"post_author":"883","post_date":"2019-02-02 08:01:01","post_date_gmt":"2019-02-02 01:01:01","post_content":"Pada tahun 2014, perusahaan rokok multinasional Philip Morris Internasional Inc. merilis sebuah produk <\/span>perangkat\u00a0<\/span>
rokok<\/span><\/a>\u00a0tanpa asap, yang dipanaskan bukan dibakar atau istilahnya\u00a0<\/span>heat not burn<\/i><\/strong>\u00a0(HNB) iQOS<\/strong>. <\/span>\r\n\r\nPerangkat rokok tanpa asap dengan nama iQOS<\/a> ini berbentuk seperti bagian luar pulpen, dengan lubang di tengah untuk rokok. Produk yang berada di bawah brand Marlboro ini dapat memanaskan rokok sampai 350 derajat celcius lalu mengeluarkan uap nikotin beraroma tembakau<\/em><\/a>.<\/span>\r\n

Produk iQOS sebenarnya bukanlah produk rokok tanpa asap yang pertama muncul. Sebelumnya di tahun 1990-an, Reynolds Tobacco Co pernah merilis produk serupa bernama Eclipes yang juga dapat menguapkan nikotin setelah dinyalakan dengan korek api.<\/span><\/blockquote>\r\nSelain itu, Eclips juga dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. Namun, pada saat itu Eclips tidak diminati oleh pasar, utamanya para perokok konvensional. Meskipun Eclips dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. <\/span>\r\n\r\nBisnis semacam rokok tanpa asap seperti Eclips dan iQOS memang sudah menjadi bagian dari rencana panjang bisnis perusahaan-perusahaan rokok multinasional. Jadi tidak usah heran jika ke depannya akan kita akan banyak menemukan produk rokok tanpa asap ini.<\/span>\r\n\r\nWatak dari perusahaan multinasional memang seperti itu, mereka sangat jeli melihat peluang pasar ke depannya. Ketika market place perusahaan rokok multinasional saat ini terus dirongrong oleh kelompok antirokok, mereka tak kehabisan akal. Maka kemudian mereka menginovasi produk rokok konvensional menjadi rokok yang tidak berasap. Begitupun dengan mengikutsertakan jargon-jargon kesehatan dalam narasi promosi mereka.<\/span>\r\n\r\nSesungguhnya memang seperti itulah watak bisnis perusahaan-perusahaan multinasional, melakukan segala cara agar bisnis mereka tetap bertahan, meskipun harus merangkul musuh sekalipun. <\/span>\r\n\r\nYa kadang pura-pura berantem sama antirokok, tapi dibalik itu sebenarnya baik-baik saja, dan tentunya ada kompromi untuk terus melanggengkan bisnis mereka.<\/span>\r\n

Lalu siapa yang dirugikan dari permainan bisnis macam produk rokok tanpa asap perusahaan rokok multinasional ini?<\/span><\/h3>\r\nTentunya yang sangat dirugikan adalah produk hasil tembakau yang memiliki kekhasan seperti kretek di Indonesia. Kretek sebagai produk khas asli Indonesia yang menjadi bagian dari warisan kebudayaan tidak mungkin bertransformasi menjadi produk-produk elektrik dan sejenisnya.<\/span>\r\n\r\nKretek tetaplah kretek, dengan bahan baku alami tembakau dan cengkeh yang tidak diintervensi dengan zat atau perangkat penghantar lainnya. Karena dengan bentuk, karakter dan cara menikmatinya memang konvensional dan akan terus begitu apapun kondisi dan zamannya.<\/span>\r\n
Bisnis produk rokok tanpa asap (elektrik) juga menghajar kretek dengan mendompleng isu pengendalian tembakau. Kampanye pengendalian tembakau selalu membawa slogan bahaya merokok dan upaya untuk berhenti merokok. <\/span><\/blockquote>\r\nDari isu tersebut, rokok elektrik masuk dengan citra produk alternatif tembakau, bahkan mereka tak segan menilai bahwa rokok elektrik lebih aman ketimbang rokok konvensional, yakni kretek.<\/span>\r\n\r\nLalu jika Indonesia akan dibanjiri dengan produk-produk yang mengatasnamakan produk alternatif tembakau, macam rokok tanpa asap (iQOS dan sejenisnya), maka itulah pertanda bahwa kretek harus tergerus dari cara hidup manusia Indonesia dalam menikmati produk hasil tembakau khas Indonesia yang sudah turun-temurun lamanya dinikmati manusia Indonesia.<\/span>","post_title":"Nasib Kretek di Pusaran Pertarungan Bisnis Global Perusahaan Rokok Multinasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"nasib-kretek-di-pusaran-pertarungan-bisnis-global-perusahaan-rokok-multinasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-02 08:01:43","post_modified_gmt":"2019-02-02 01:01:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5385","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; \n

Seiring waktu berjalan saya kian tumbuh dewasa dan punya kesadaran untuk memilih menjadi seorang perokok<\/a>. Saya juga melihat ada sebuah inovasi dan gambaran tentang masa depan yang hadir dalam kehidupan sekarang. Banyak memang, namun yang menyita perhatian saya adalah rokok elektrik atau yang populer disebut Vape. Konon katanya ia adalah produk inovasi untuk menjembatani kebutuhan menghisap asap dan kecanggihan masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Di awal kehadirannya Vape memang mengundang decak kekaguman saya. Bagaimana bisa sebuah mesin kecil mengeluarkan asap yang katanya lebih menyehatkan daripada rokok.<\/strong> Meski pada akhirnya teori tersebut juga bisa dibantah oleh beberapa ilmuan dunia. Tapi ada satu yang saya amati selain soal kesehatan, rokok elektrik rupanya menghadirkan kultur dan budaya baru dalam kehidupan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: LAGI-LAGI IKLAN ROKOK, KAPAN KPAI TIDAK TEBANG PILIH? <\/a><\/h4>\n\n\n\n

Kehadiran teknologi memang kerap sedikit atau benyak mengubah gaya atau kultur suatu masyarakat. Begitu pula yang saya perhatikan dengan rokok elektrik. Satu hal yang mudah diamati adalah menjamurnya toko-toko kecil yang menjual vape serta liquid di berbagai tempat. Sebagai sebuah warna baru dalam masyarakat, penggunanya ramai-ramai mengunjungi tempat tersebut berinteraksi dengan penikmat lainnya dan membangun sebuah rumah komunitas yang fleksibel.<\/p>\n\n\n\n

Meski belum bisa dikatakan memiliki jumlah penikmat yang setara dengan para perokok, pengguna Vape mulai menunjukkan eksistensinya. Selain toko yang tersebar, ragam acara juga mereka buat di beberapa daerah. Dalam lingkungan saya, beberapa teman yang dulunya merupakan perokok aktif tertarik mengikuti event tersebut dan beralih mengisap rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Nun jauh di sana, di Amerika Serikat tepatnya, budaya Vape juga sudah mulai berkembang lama ketimbang di Tanah Air. Penikmatnya terbagi menjadi dua, ada yang dulunya bekas perokok dan ada yang memang menikmatinya sebagai gaya hidup. Wajar saja mengingat facebook tak memperbolehkan iklan tembakau di platform mereka, sebaliknya iklan tentang vape justru bertebaran. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi budaya baru yang berkembang di berbagai belahan dunia bahkan di Indonesia, Vape konon menjadi alternatif yang lebih bermanfaat daripada rokok. Dalih yang diusung selalu sama kepada para perokok tradisonal yaitu soal kesehatan dan lebih irit. Soal kesehatan tentu ada beberapa pendapat para ilmuan yang membantahnya, namun soal irit, saya rasa tidak. Memang satu liquid bisa digunakan untuk beberapa Minggu, akan tetapi yang saya lihat di lapangan justru sebaliknya. <\/p>\n\n\n\n

Beberapa penikmat rokok elektrik kerap berbelanja liquid yang mereka idamkan. Terkadang, hal tersebut yang membuat mereka boros karena terus mengeksplor rasa mana yang mereka idam-idamkan. Tak jarang juga liquid dengan harga mahal hingga ratus ribuan akan mereka beli. Sebaliknya, para perokok konvensional justru kerap bertahan dengan satu rasa atau merek saja.<\/p>\n\n\n\n

Sedikit berbeda dengan penikmat rokok konvensional atau kretek. Mengingat rokok kretek sudah menjadi kebudayan lokal yang terus dipertahankan selama bertahun-tahun, kehadirannya sudah mewarnai khasanah keindonesiaan. Perokok kretek juga sudah punya soliditas luar biasa yang terbentuk sejak lama dan terus terbangun mengiringi peradaban di Indonesia atau dunia.<\/p>\n\n\n\n

Kini, perokok elektrik mulai merasakan kegelisahan. Beberapa negara mulai menerapkan peraturan ketat terhadap Vape, sedangkan di Indonesia biaya cukai pun kini mulai diberlakukan terhadap perdagangan rokok elektrik. Keberadaannya di mata negara pun mulai dianggap sama seperti rokok, meski pada awalnya rokok elektrik hadir dengan slogan-slogan produk alternatif yang lebih menyehatkan (katanya).<\/p>\n\n\n\n


Tapi jika kemudian di masa depan memang rokok elektrik yang kemudian menjadi sesuatu yang populer dan dinikmati banyak orang. Rasanya saya tetap ingin hidup di jaman ini, dengan sebatang kretek di tangan dan menikmati segala khasanah kebudayaan yang patut terus dipertahankan. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"masa-depan-rokok-elektrik-dan-semangat-alternatif-yang-sia-sia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-03 09:05:56","post_modified_gmt":"2019-02-03 02:05:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5403","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5385,"post_author":"883","post_date":"2019-02-02 08:01:01","post_date_gmt":"2019-02-02 01:01:01","post_content":"Pada tahun 2014, perusahaan rokok multinasional Philip Morris Internasional Inc. merilis sebuah produk <\/span>perangkat\u00a0<\/span>
rokok<\/span><\/a>\u00a0tanpa asap, yang dipanaskan bukan dibakar atau istilahnya\u00a0<\/span>heat not burn<\/i><\/strong>\u00a0(HNB) iQOS<\/strong>. <\/span>\r\n\r\nPerangkat rokok tanpa asap dengan nama iQOS<\/a> ini berbentuk seperti bagian luar pulpen, dengan lubang di tengah untuk rokok. Produk yang berada di bawah brand Marlboro ini dapat memanaskan rokok sampai 350 derajat celcius lalu mengeluarkan uap nikotin beraroma tembakau<\/em><\/a>.<\/span>\r\n

Produk iQOS sebenarnya bukanlah produk rokok tanpa asap yang pertama muncul. Sebelumnya di tahun 1990-an, Reynolds Tobacco Co pernah merilis produk serupa bernama Eclipes yang juga dapat menguapkan nikotin setelah dinyalakan dengan korek api.<\/span><\/blockquote>\r\nSelain itu, Eclips juga dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. Namun, pada saat itu Eclips tidak diminati oleh pasar, utamanya para perokok konvensional. Meskipun Eclips dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. <\/span>\r\n\r\nBisnis semacam rokok tanpa asap seperti Eclips dan iQOS memang sudah menjadi bagian dari rencana panjang bisnis perusahaan-perusahaan rokok multinasional. Jadi tidak usah heran jika ke depannya akan kita akan banyak menemukan produk rokok tanpa asap ini.<\/span>\r\n\r\nWatak dari perusahaan multinasional memang seperti itu, mereka sangat jeli melihat peluang pasar ke depannya. Ketika market place perusahaan rokok multinasional saat ini terus dirongrong oleh kelompok antirokok, mereka tak kehabisan akal. Maka kemudian mereka menginovasi produk rokok konvensional menjadi rokok yang tidak berasap. Begitupun dengan mengikutsertakan jargon-jargon kesehatan dalam narasi promosi mereka.<\/span>\r\n\r\nSesungguhnya memang seperti itulah watak bisnis perusahaan-perusahaan multinasional, melakukan segala cara agar bisnis mereka tetap bertahan, meskipun harus merangkul musuh sekalipun. <\/span>\r\n\r\nYa kadang pura-pura berantem sama antirokok, tapi dibalik itu sebenarnya baik-baik saja, dan tentunya ada kompromi untuk terus melanggengkan bisnis mereka.<\/span>\r\n

Lalu siapa yang dirugikan dari permainan bisnis macam produk rokok tanpa asap perusahaan rokok multinasional ini?<\/span><\/h3>\r\nTentunya yang sangat dirugikan adalah produk hasil tembakau yang memiliki kekhasan seperti kretek di Indonesia. Kretek sebagai produk khas asli Indonesia yang menjadi bagian dari warisan kebudayaan tidak mungkin bertransformasi menjadi produk-produk elektrik dan sejenisnya.<\/span>\r\n\r\nKretek tetaplah kretek, dengan bahan baku alami tembakau dan cengkeh yang tidak diintervensi dengan zat atau perangkat penghantar lainnya. Karena dengan bentuk, karakter dan cara menikmatinya memang konvensional dan akan terus begitu apapun kondisi dan zamannya.<\/span>\r\n
Bisnis produk rokok tanpa asap (elektrik) juga menghajar kretek dengan mendompleng isu pengendalian tembakau. Kampanye pengendalian tembakau selalu membawa slogan bahaya merokok dan upaya untuk berhenti merokok. <\/span><\/blockquote>\r\nDari isu tersebut, rokok elektrik masuk dengan citra produk alternatif tembakau, bahkan mereka tak segan menilai bahwa rokok elektrik lebih aman ketimbang rokok konvensional, yakni kretek.<\/span>\r\n\r\nLalu jika Indonesia akan dibanjiri dengan produk-produk yang mengatasnamakan produk alternatif tembakau, macam rokok tanpa asap (iQOS dan sejenisnya), maka itulah pertanda bahwa kretek harus tergerus dari cara hidup manusia Indonesia dalam menikmati produk hasil tembakau khas Indonesia yang sudah turun-temurun lamanya dinikmati manusia Indonesia.<\/span>","post_title":"Nasib Kretek di Pusaran Pertarungan Bisnis Global Perusahaan Rokok Multinasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"nasib-kretek-di-pusaran-pertarungan-bisnis-global-perusahaan-rokok-multinasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-02 08:01:43","post_modified_gmt":"2019-02-02 01:01:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5385","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; \n

Pernah dalam masa kecil saya menyaksikan sebuah film animasi buatan jepang yang mempertanyakan tentang makanan di masa depan. Dengan santai salah satu tokoh yang berasal dari masa depan itu menjawab bahwa suatu saat nanti manusia akan mengonsumsi makanan berupa pasta gigi namun dengan rasa yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa, aneh!<\/p>\n\n\n\n

Seiring waktu berjalan saya kian tumbuh dewasa dan punya kesadaran untuk memilih menjadi seorang perokok<\/a>. Saya juga melihat ada sebuah inovasi dan gambaran tentang masa depan yang hadir dalam kehidupan sekarang. Banyak memang, namun yang menyita perhatian saya adalah rokok elektrik atau yang populer disebut Vape. Konon katanya ia adalah produk inovasi untuk menjembatani kebutuhan menghisap asap dan kecanggihan masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Di awal kehadirannya Vape memang mengundang decak kekaguman saya. Bagaimana bisa sebuah mesin kecil mengeluarkan asap yang katanya lebih menyehatkan daripada rokok.<\/strong> Meski pada akhirnya teori tersebut juga bisa dibantah oleh beberapa ilmuan dunia. Tapi ada satu yang saya amati selain soal kesehatan, rokok elektrik rupanya menghadirkan kultur dan budaya baru dalam kehidupan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: LAGI-LAGI IKLAN ROKOK, KAPAN KPAI TIDAK TEBANG PILIH? <\/a><\/h4>\n\n\n\n

Kehadiran teknologi memang kerap sedikit atau benyak mengubah gaya atau kultur suatu masyarakat. Begitu pula yang saya perhatikan dengan rokok elektrik. Satu hal yang mudah diamati adalah menjamurnya toko-toko kecil yang menjual vape serta liquid di berbagai tempat. Sebagai sebuah warna baru dalam masyarakat, penggunanya ramai-ramai mengunjungi tempat tersebut berinteraksi dengan penikmat lainnya dan membangun sebuah rumah komunitas yang fleksibel.<\/p>\n\n\n\n

Meski belum bisa dikatakan memiliki jumlah penikmat yang setara dengan para perokok, pengguna Vape mulai menunjukkan eksistensinya. Selain toko yang tersebar, ragam acara juga mereka buat di beberapa daerah. Dalam lingkungan saya, beberapa teman yang dulunya merupakan perokok aktif tertarik mengikuti event tersebut dan beralih mengisap rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Nun jauh di sana, di Amerika Serikat tepatnya, budaya Vape juga sudah mulai berkembang lama ketimbang di Tanah Air. Penikmatnya terbagi menjadi dua, ada yang dulunya bekas perokok dan ada yang memang menikmatinya sebagai gaya hidup. Wajar saja mengingat facebook tak memperbolehkan iklan tembakau di platform mereka, sebaliknya iklan tentang vape justru bertebaran. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi budaya baru yang berkembang di berbagai belahan dunia bahkan di Indonesia, Vape konon menjadi alternatif yang lebih bermanfaat daripada rokok. Dalih yang diusung selalu sama kepada para perokok tradisonal yaitu soal kesehatan dan lebih irit. Soal kesehatan tentu ada beberapa pendapat para ilmuan yang membantahnya, namun soal irit, saya rasa tidak. Memang satu liquid bisa digunakan untuk beberapa Minggu, akan tetapi yang saya lihat di lapangan justru sebaliknya. <\/p>\n\n\n\n

Beberapa penikmat rokok elektrik kerap berbelanja liquid yang mereka idamkan. Terkadang, hal tersebut yang membuat mereka boros karena terus mengeksplor rasa mana yang mereka idam-idamkan. Tak jarang juga liquid dengan harga mahal hingga ratus ribuan akan mereka beli. Sebaliknya, para perokok konvensional justru kerap bertahan dengan satu rasa atau merek saja.<\/p>\n\n\n\n

Sedikit berbeda dengan penikmat rokok konvensional atau kretek. Mengingat rokok kretek sudah menjadi kebudayan lokal yang terus dipertahankan selama bertahun-tahun, kehadirannya sudah mewarnai khasanah keindonesiaan. Perokok kretek juga sudah punya soliditas luar biasa yang terbentuk sejak lama dan terus terbangun mengiringi peradaban di Indonesia atau dunia.<\/p>\n\n\n\n

Kini, perokok elektrik mulai merasakan kegelisahan. Beberapa negara mulai menerapkan peraturan ketat terhadap Vape, sedangkan di Indonesia biaya cukai pun kini mulai diberlakukan terhadap perdagangan rokok elektrik. Keberadaannya di mata negara pun mulai dianggap sama seperti rokok, meski pada awalnya rokok elektrik hadir dengan slogan-slogan produk alternatif yang lebih menyehatkan (katanya).<\/p>\n\n\n\n


Tapi jika kemudian di masa depan memang rokok elektrik yang kemudian menjadi sesuatu yang populer dan dinikmati banyak orang. Rasanya saya tetap ingin hidup di jaman ini, dengan sebatang kretek di tangan dan menikmati segala khasanah kebudayaan yang patut terus dipertahankan. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"masa-depan-rokok-elektrik-dan-semangat-alternatif-yang-sia-sia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-03 09:05:56","post_modified_gmt":"2019-02-03 02:05:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5403","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5385,"post_author":"883","post_date":"2019-02-02 08:01:01","post_date_gmt":"2019-02-02 01:01:01","post_content":"Pada tahun 2014, perusahaan rokok multinasional Philip Morris Internasional Inc. merilis sebuah produk <\/span>perangkat\u00a0<\/span>
rokok<\/span><\/a>\u00a0tanpa asap, yang dipanaskan bukan dibakar atau istilahnya\u00a0<\/span>heat not burn<\/i><\/strong>\u00a0(HNB) iQOS<\/strong>. <\/span>\r\n\r\nPerangkat rokok tanpa asap dengan nama iQOS<\/a> ini berbentuk seperti bagian luar pulpen, dengan lubang di tengah untuk rokok. Produk yang berada di bawah brand Marlboro ini dapat memanaskan rokok sampai 350 derajat celcius lalu mengeluarkan uap nikotin beraroma tembakau<\/em><\/a>.<\/span>\r\n

Produk iQOS sebenarnya bukanlah produk rokok tanpa asap yang pertama muncul. Sebelumnya di tahun 1990-an, Reynolds Tobacco Co pernah merilis produk serupa bernama Eclipes yang juga dapat menguapkan nikotin setelah dinyalakan dengan korek api.<\/span><\/blockquote>\r\nSelain itu, Eclips juga dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. Namun, pada saat itu Eclips tidak diminati oleh pasar, utamanya para perokok konvensional. Meskipun Eclips dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. <\/span>\r\n\r\nBisnis semacam rokok tanpa asap seperti Eclips dan iQOS memang sudah menjadi bagian dari rencana panjang bisnis perusahaan-perusahaan rokok multinasional. Jadi tidak usah heran jika ke depannya akan kita akan banyak menemukan produk rokok tanpa asap ini.<\/span>\r\n\r\nWatak dari perusahaan multinasional memang seperti itu, mereka sangat jeli melihat peluang pasar ke depannya. Ketika market place perusahaan rokok multinasional saat ini terus dirongrong oleh kelompok antirokok, mereka tak kehabisan akal. Maka kemudian mereka menginovasi produk rokok konvensional menjadi rokok yang tidak berasap. Begitupun dengan mengikutsertakan jargon-jargon kesehatan dalam narasi promosi mereka.<\/span>\r\n\r\nSesungguhnya memang seperti itulah watak bisnis perusahaan-perusahaan multinasional, melakukan segala cara agar bisnis mereka tetap bertahan, meskipun harus merangkul musuh sekalipun. <\/span>\r\n\r\nYa kadang pura-pura berantem sama antirokok, tapi dibalik itu sebenarnya baik-baik saja, dan tentunya ada kompromi untuk terus melanggengkan bisnis mereka.<\/span>\r\n

Lalu siapa yang dirugikan dari permainan bisnis macam produk rokok tanpa asap perusahaan rokok multinasional ini?<\/span><\/h3>\r\nTentunya yang sangat dirugikan adalah produk hasil tembakau yang memiliki kekhasan seperti kretek di Indonesia. Kretek sebagai produk khas asli Indonesia yang menjadi bagian dari warisan kebudayaan tidak mungkin bertransformasi menjadi produk-produk elektrik dan sejenisnya.<\/span>\r\n\r\nKretek tetaplah kretek, dengan bahan baku alami tembakau dan cengkeh yang tidak diintervensi dengan zat atau perangkat penghantar lainnya. Karena dengan bentuk, karakter dan cara menikmatinya memang konvensional dan akan terus begitu apapun kondisi dan zamannya.<\/span>\r\n
Bisnis produk rokok tanpa asap (elektrik) juga menghajar kretek dengan mendompleng isu pengendalian tembakau. Kampanye pengendalian tembakau selalu membawa slogan bahaya merokok dan upaya untuk berhenti merokok. <\/span><\/blockquote>\r\nDari isu tersebut, rokok elektrik masuk dengan citra produk alternatif tembakau, bahkan mereka tak segan menilai bahwa rokok elektrik lebih aman ketimbang rokok konvensional, yakni kretek.<\/span>\r\n\r\nLalu jika Indonesia akan dibanjiri dengan produk-produk yang mengatasnamakan produk alternatif tembakau, macam rokok tanpa asap (iQOS dan sejenisnya), maka itulah pertanda bahwa kretek harus tergerus dari cara hidup manusia Indonesia dalam menikmati produk hasil tembakau khas Indonesia yang sudah turun-temurun lamanya dinikmati manusia Indonesia.<\/span>","post_title":"Nasib Kretek di Pusaran Pertarungan Bisnis Global Perusahaan Rokok Multinasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"nasib-kretek-di-pusaran-pertarungan-bisnis-global-perusahaan-rokok-multinasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-02 08:01:43","post_modified_gmt":"2019-02-02 01:01:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5385","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; \n

Seringkali saya menyaksikan berbagai film baik itu Eropa atau Asia yang menggambarkan tentang masa depan. Pemandangan soal masa depan tersebut dihadirkan dengan gambaran kecanggihan teknologi seperti robot yang akan membantu kehidupan manusia, gedung-gedung yang tingginya sudah amat tak bisa ditandingi,  hingga mobil-mobil yang bisa terbang. <\/p>\n\n\n\n

Pernah dalam masa kecil saya menyaksikan sebuah film animasi buatan jepang yang mempertanyakan tentang makanan di masa depan. Dengan santai salah satu tokoh yang berasal dari masa depan itu menjawab bahwa suatu saat nanti manusia akan mengonsumsi makanan berupa pasta gigi namun dengan rasa yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa, aneh!<\/p>\n\n\n\n

Seiring waktu berjalan saya kian tumbuh dewasa dan punya kesadaran untuk memilih menjadi seorang perokok<\/a>. Saya juga melihat ada sebuah inovasi dan gambaran tentang masa depan yang hadir dalam kehidupan sekarang. Banyak memang, namun yang menyita perhatian saya adalah rokok elektrik atau yang populer disebut Vape. Konon katanya ia adalah produk inovasi untuk menjembatani kebutuhan menghisap asap dan kecanggihan masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Di awal kehadirannya Vape memang mengundang decak kekaguman saya. Bagaimana bisa sebuah mesin kecil mengeluarkan asap yang katanya lebih menyehatkan daripada rokok.<\/strong> Meski pada akhirnya teori tersebut juga bisa dibantah oleh beberapa ilmuan dunia. Tapi ada satu yang saya amati selain soal kesehatan, rokok elektrik rupanya menghadirkan kultur dan budaya baru dalam kehidupan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: LAGI-LAGI IKLAN ROKOK, KAPAN KPAI TIDAK TEBANG PILIH? <\/a><\/h4>\n\n\n\n

Kehadiran teknologi memang kerap sedikit atau benyak mengubah gaya atau kultur suatu masyarakat. Begitu pula yang saya perhatikan dengan rokok elektrik. Satu hal yang mudah diamati adalah menjamurnya toko-toko kecil yang menjual vape serta liquid di berbagai tempat. Sebagai sebuah warna baru dalam masyarakat, penggunanya ramai-ramai mengunjungi tempat tersebut berinteraksi dengan penikmat lainnya dan membangun sebuah rumah komunitas yang fleksibel.<\/p>\n\n\n\n

Meski belum bisa dikatakan memiliki jumlah penikmat yang setara dengan para perokok, pengguna Vape mulai menunjukkan eksistensinya. Selain toko yang tersebar, ragam acara juga mereka buat di beberapa daerah. Dalam lingkungan saya, beberapa teman yang dulunya merupakan perokok aktif tertarik mengikuti event tersebut dan beralih mengisap rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Nun jauh di sana, di Amerika Serikat tepatnya, budaya Vape juga sudah mulai berkembang lama ketimbang di Tanah Air. Penikmatnya terbagi menjadi dua, ada yang dulunya bekas perokok dan ada yang memang menikmatinya sebagai gaya hidup. Wajar saja mengingat facebook tak memperbolehkan iklan tembakau di platform mereka, sebaliknya iklan tentang vape justru bertebaran. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi budaya baru yang berkembang di berbagai belahan dunia bahkan di Indonesia, Vape konon menjadi alternatif yang lebih bermanfaat daripada rokok. Dalih yang diusung selalu sama kepada para perokok tradisonal yaitu soal kesehatan dan lebih irit. Soal kesehatan tentu ada beberapa pendapat para ilmuan yang membantahnya, namun soal irit, saya rasa tidak. Memang satu liquid bisa digunakan untuk beberapa Minggu, akan tetapi yang saya lihat di lapangan justru sebaliknya. <\/p>\n\n\n\n

Beberapa penikmat rokok elektrik kerap berbelanja liquid yang mereka idamkan. Terkadang, hal tersebut yang membuat mereka boros karena terus mengeksplor rasa mana yang mereka idam-idamkan. Tak jarang juga liquid dengan harga mahal hingga ratus ribuan akan mereka beli. Sebaliknya, para perokok konvensional justru kerap bertahan dengan satu rasa atau merek saja.<\/p>\n\n\n\n

Sedikit berbeda dengan penikmat rokok konvensional atau kretek. Mengingat rokok kretek sudah menjadi kebudayan lokal yang terus dipertahankan selama bertahun-tahun, kehadirannya sudah mewarnai khasanah keindonesiaan. Perokok kretek juga sudah punya soliditas luar biasa yang terbentuk sejak lama dan terus terbangun mengiringi peradaban di Indonesia atau dunia.<\/p>\n\n\n\n

Kini, perokok elektrik mulai merasakan kegelisahan. Beberapa negara mulai menerapkan peraturan ketat terhadap Vape, sedangkan di Indonesia biaya cukai pun kini mulai diberlakukan terhadap perdagangan rokok elektrik. Keberadaannya di mata negara pun mulai dianggap sama seperti rokok, meski pada awalnya rokok elektrik hadir dengan slogan-slogan produk alternatif yang lebih menyehatkan (katanya).<\/p>\n\n\n\n


Tapi jika kemudian di masa depan memang rokok elektrik yang kemudian menjadi sesuatu yang populer dan dinikmati banyak orang. Rasanya saya tetap ingin hidup di jaman ini, dengan sebatang kretek di tangan dan menikmati segala khasanah kebudayaan yang patut terus dipertahankan. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"masa-depan-rokok-elektrik-dan-semangat-alternatif-yang-sia-sia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-03 09:05:56","post_modified_gmt":"2019-02-03 02:05:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5403","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5385,"post_author":"883","post_date":"2019-02-02 08:01:01","post_date_gmt":"2019-02-02 01:01:01","post_content":"Pada tahun 2014, perusahaan rokok multinasional Philip Morris Internasional Inc. merilis sebuah produk <\/span>perangkat\u00a0<\/span>
rokok<\/span><\/a>\u00a0tanpa asap, yang dipanaskan bukan dibakar atau istilahnya\u00a0<\/span>heat not burn<\/i><\/strong>\u00a0(HNB) iQOS<\/strong>. <\/span>\r\n\r\nPerangkat rokok tanpa asap dengan nama iQOS<\/a> ini berbentuk seperti bagian luar pulpen, dengan lubang di tengah untuk rokok. Produk yang berada di bawah brand Marlboro ini dapat memanaskan rokok sampai 350 derajat celcius lalu mengeluarkan uap nikotin beraroma tembakau<\/em><\/a>.<\/span>\r\n

Produk iQOS sebenarnya bukanlah produk rokok tanpa asap yang pertama muncul. Sebelumnya di tahun 1990-an, Reynolds Tobacco Co pernah merilis produk serupa bernama Eclipes yang juga dapat menguapkan nikotin setelah dinyalakan dengan korek api.<\/span><\/blockquote>\r\nSelain itu, Eclips juga dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. Namun, pada saat itu Eclips tidak diminati oleh pasar, utamanya para perokok konvensional. Meskipun Eclips dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. <\/span>\r\n\r\nBisnis semacam rokok tanpa asap seperti Eclips dan iQOS memang sudah menjadi bagian dari rencana panjang bisnis perusahaan-perusahaan rokok multinasional. Jadi tidak usah heran jika ke depannya akan kita akan banyak menemukan produk rokok tanpa asap ini.<\/span>\r\n\r\nWatak dari perusahaan multinasional memang seperti itu, mereka sangat jeli melihat peluang pasar ke depannya. Ketika market place perusahaan rokok multinasional saat ini terus dirongrong oleh kelompok antirokok, mereka tak kehabisan akal. Maka kemudian mereka menginovasi produk rokok konvensional menjadi rokok yang tidak berasap. Begitupun dengan mengikutsertakan jargon-jargon kesehatan dalam narasi promosi mereka.<\/span>\r\n\r\nSesungguhnya memang seperti itulah watak bisnis perusahaan-perusahaan multinasional, melakukan segala cara agar bisnis mereka tetap bertahan, meskipun harus merangkul musuh sekalipun. <\/span>\r\n\r\nYa kadang pura-pura berantem sama antirokok, tapi dibalik itu sebenarnya baik-baik saja, dan tentunya ada kompromi untuk terus melanggengkan bisnis mereka.<\/span>\r\n

Lalu siapa yang dirugikan dari permainan bisnis macam produk rokok tanpa asap perusahaan rokok multinasional ini?<\/span><\/h3>\r\nTentunya yang sangat dirugikan adalah produk hasil tembakau yang memiliki kekhasan seperti kretek di Indonesia. Kretek sebagai produk khas asli Indonesia yang menjadi bagian dari warisan kebudayaan tidak mungkin bertransformasi menjadi produk-produk elektrik dan sejenisnya.<\/span>\r\n\r\nKretek tetaplah kretek, dengan bahan baku alami tembakau dan cengkeh yang tidak diintervensi dengan zat atau perangkat penghantar lainnya. Karena dengan bentuk, karakter dan cara menikmatinya memang konvensional dan akan terus begitu apapun kondisi dan zamannya.<\/span>\r\n
Bisnis produk rokok tanpa asap (elektrik) juga menghajar kretek dengan mendompleng isu pengendalian tembakau. Kampanye pengendalian tembakau selalu membawa slogan bahaya merokok dan upaya untuk berhenti merokok. <\/span><\/blockquote>\r\nDari isu tersebut, rokok elektrik masuk dengan citra produk alternatif tembakau, bahkan mereka tak segan menilai bahwa rokok elektrik lebih aman ketimbang rokok konvensional, yakni kretek.<\/span>\r\n\r\nLalu jika Indonesia akan dibanjiri dengan produk-produk yang mengatasnamakan produk alternatif tembakau, macam rokok tanpa asap (iQOS dan sejenisnya), maka itulah pertanda bahwa kretek harus tergerus dari cara hidup manusia Indonesia dalam menikmati produk hasil tembakau khas Indonesia yang sudah turun-temurun lamanya dinikmati manusia Indonesia.<\/span>","post_title":"Nasib Kretek di Pusaran Pertarungan Bisnis Global Perusahaan Rokok Multinasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"nasib-kretek-di-pusaran-pertarungan-bisnis-global-perusahaan-rokok-multinasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-02 08:01:43","post_modified_gmt":"2019-02-02 01:01:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5385","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; \n

Semangat nasionalisme harus tertanam, mengedepankan produk lokal adalah salah satu semangat nasionalime. Salah satu keberadaan rokok klobot menjadi ciri produk asli indonesia dan harus dilestarikan. Klobot sendiri adalah ramuan tembakau dan cengkeh di gulung memakai daun jagung, embrio perkembangan menjadi rokok sigaret kretek tangan dan sigaret kretek mesin.  
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pusaran Budaya Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pusaran-budaya-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-04 08:40:41","post_modified_gmt":"2019-02-04 01:40:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5406","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5403,"post_author":"919","post_date":"2019-02-03 09:05:50","post_date_gmt":"2019-02-03 02:05:50","post_content":"\n

Seringkali saya menyaksikan berbagai film baik itu Eropa atau Asia yang menggambarkan tentang masa depan. Pemandangan soal masa depan tersebut dihadirkan dengan gambaran kecanggihan teknologi seperti robot yang akan membantu kehidupan manusia, gedung-gedung yang tingginya sudah amat tak bisa ditandingi,  hingga mobil-mobil yang bisa terbang. <\/p>\n\n\n\n

Pernah dalam masa kecil saya menyaksikan sebuah film animasi buatan jepang yang mempertanyakan tentang makanan di masa depan. Dengan santai salah satu tokoh yang berasal dari masa depan itu menjawab bahwa suatu saat nanti manusia akan mengonsumsi makanan berupa pasta gigi namun dengan rasa yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa, aneh!<\/p>\n\n\n\n

Seiring waktu berjalan saya kian tumbuh dewasa dan punya kesadaran untuk memilih menjadi seorang perokok<\/a>. Saya juga melihat ada sebuah inovasi dan gambaran tentang masa depan yang hadir dalam kehidupan sekarang. Banyak memang, namun yang menyita perhatian saya adalah rokok elektrik atau yang populer disebut Vape. Konon katanya ia adalah produk inovasi untuk menjembatani kebutuhan menghisap asap dan kecanggihan masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Di awal kehadirannya Vape memang mengundang decak kekaguman saya. Bagaimana bisa sebuah mesin kecil mengeluarkan asap yang katanya lebih menyehatkan daripada rokok.<\/strong> Meski pada akhirnya teori tersebut juga bisa dibantah oleh beberapa ilmuan dunia. Tapi ada satu yang saya amati selain soal kesehatan, rokok elektrik rupanya menghadirkan kultur dan budaya baru dalam kehidupan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: LAGI-LAGI IKLAN ROKOK, KAPAN KPAI TIDAK TEBANG PILIH? <\/a><\/h4>\n\n\n\n

Kehadiran teknologi memang kerap sedikit atau benyak mengubah gaya atau kultur suatu masyarakat. Begitu pula yang saya perhatikan dengan rokok elektrik. Satu hal yang mudah diamati adalah menjamurnya toko-toko kecil yang menjual vape serta liquid di berbagai tempat. Sebagai sebuah warna baru dalam masyarakat, penggunanya ramai-ramai mengunjungi tempat tersebut berinteraksi dengan penikmat lainnya dan membangun sebuah rumah komunitas yang fleksibel.<\/p>\n\n\n\n

Meski belum bisa dikatakan memiliki jumlah penikmat yang setara dengan para perokok, pengguna Vape mulai menunjukkan eksistensinya. Selain toko yang tersebar, ragam acara juga mereka buat di beberapa daerah. Dalam lingkungan saya, beberapa teman yang dulunya merupakan perokok aktif tertarik mengikuti event tersebut dan beralih mengisap rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Nun jauh di sana, di Amerika Serikat tepatnya, budaya Vape juga sudah mulai berkembang lama ketimbang di Tanah Air. Penikmatnya terbagi menjadi dua, ada yang dulunya bekas perokok dan ada yang memang menikmatinya sebagai gaya hidup. Wajar saja mengingat facebook tak memperbolehkan iklan tembakau di platform mereka, sebaliknya iklan tentang vape justru bertebaran. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi budaya baru yang berkembang di berbagai belahan dunia bahkan di Indonesia, Vape konon menjadi alternatif yang lebih bermanfaat daripada rokok. Dalih yang diusung selalu sama kepada para perokok tradisonal yaitu soal kesehatan dan lebih irit. Soal kesehatan tentu ada beberapa pendapat para ilmuan yang membantahnya, namun soal irit, saya rasa tidak. Memang satu liquid bisa digunakan untuk beberapa Minggu, akan tetapi yang saya lihat di lapangan justru sebaliknya. <\/p>\n\n\n\n

Beberapa penikmat rokok elektrik kerap berbelanja liquid yang mereka idamkan. Terkadang, hal tersebut yang membuat mereka boros karena terus mengeksplor rasa mana yang mereka idam-idamkan. Tak jarang juga liquid dengan harga mahal hingga ratus ribuan akan mereka beli. Sebaliknya, para perokok konvensional justru kerap bertahan dengan satu rasa atau merek saja.<\/p>\n\n\n\n

Sedikit berbeda dengan penikmat rokok konvensional atau kretek. Mengingat rokok kretek sudah menjadi kebudayan lokal yang terus dipertahankan selama bertahun-tahun, kehadirannya sudah mewarnai khasanah keindonesiaan. Perokok kretek juga sudah punya soliditas luar biasa yang terbentuk sejak lama dan terus terbangun mengiringi peradaban di Indonesia atau dunia.<\/p>\n\n\n\n

Kini, perokok elektrik mulai merasakan kegelisahan. Beberapa negara mulai menerapkan peraturan ketat terhadap Vape, sedangkan di Indonesia biaya cukai pun kini mulai diberlakukan terhadap perdagangan rokok elektrik. Keberadaannya di mata negara pun mulai dianggap sama seperti rokok, meski pada awalnya rokok elektrik hadir dengan slogan-slogan produk alternatif yang lebih menyehatkan (katanya).<\/p>\n\n\n\n


Tapi jika kemudian di masa depan memang rokok elektrik yang kemudian menjadi sesuatu yang populer dan dinikmati banyak orang. Rasanya saya tetap ingin hidup di jaman ini, dengan sebatang kretek di tangan dan menikmati segala khasanah kebudayaan yang patut terus dipertahankan. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"masa-depan-rokok-elektrik-dan-semangat-alternatif-yang-sia-sia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-03 09:05:56","post_modified_gmt":"2019-02-03 02:05:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5403","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5385,"post_author":"883","post_date":"2019-02-02 08:01:01","post_date_gmt":"2019-02-02 01:01:01","post_content":"Pada tahun 2014, perusahaan rokok multinasional Philip Morris Internasional Inc. merilis sebuah produk <\/span>perangkat\u00a0<\/span>
rokok<\/span><\/a>\u00a0tanpa asap, yang dipanaskan bukan dibakar atau istilahnya\u00a0<\/span>heat not burn<\/i><\/strong>\u00a0(HNB) iQOS<\/strong>. <\/span>\r\n\r\nPerangkat rokok tanpa asap dengan nama iQOS<\/a> ini berbentuk seperti bagian luar pulpen, dengan lubang di tengah untuk rokok. Produk yang berada di bawah brand Marlboro ini dapat memanaskan rokok sampai 350 derajat celcius lalu mengeluarkan uap nikotin beraroma tembakau<\/em><\/a>.<\/span>\r\n

Produk iQOS sebenarnya bukanlah produk rokok tanpa asap yang pertama muncul. Sebelumnya di tahun 1990-an, Reynolds Tobacco Co pernah merilis produk serupa bernama Eclipes yang juga dapat menguapkan nikotin setelah dinyalakan dengan korek api.<\/span><\/blockquote>\r\nSelain itu, Eclips juga dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. Namun, pada saat itu Eclips tidak diminati oleh pasar, utamanya para perokok konvensional. Meskipun Eclips dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. <\/span>\r\n\r\nBisnis semacam rokok tanpa asap seperti Eclips dan iQOS memang sudah menjadi bagian dari rencana panjang bisnis perusahaan-perusahaan rokok multinasional. Jadi tidak usah heran jika ke depannya akan kita akan banyak menemukan produk rokok tanpa asap ini.<\/span>\r\n\r\nWatak dari perusahaan multinasional memang seperti itu, mereka sangat jeli melihat peluang pasar ke depannya. Ketika market place perusahaan rokok multinasional saat ini terus dirongrong oleh kelompok antirokok, mereka tak kehabisan akal. Maka kemudian mereka menginovasi produk rokok konvensional menjadi rokok yang tidak berasap. Begitupun dengan mengikutsertakan jargon-jargon kesehatan dalam narasi promosi mereka.<\/span>\r\n\r\nSesungguhnya memang seperti itulah watak bisnis perusahaan-perusahaan multinasional, melakukan segala cara agar bisnis mereka tetap bertahan, meskipun harus merangkul musuh sekalipun. <\/span>\r\n\r\nYa kadang pura-pura berantem sama antirokok, tapi dibalik itu sebenarnya baik-baik saja, dan tentunya ada kompromi untuk terus melanggengkan bisnis mereka.<\/span>\r\n

Lalu siapa yang dirugikan dari permainan bisnis macam produk rokok tanpa asap perusahaan rokok multinasional ini?<\/span><\/h3>\r\nTentunya yang sangat dirugikan adalah produk hasil tembakau yang memiliki kekhasan seperti kretek di Indonesia. Kretek sebagai produk khas asli Indonesia yang menjadi bagian dari warisan kebudayaan tidak mungkin bertransformasi menjadi produk-produk elektrik dan sejenisnya.<\/span>\r\n\r\nKretek tetaplah kretek, dengan bahan baku alami tembakau dan cengkeh yang tidak diintervensi dengan zat atau perangkat penghantar lainnya. Karena dengan bentuk, karakter dan cara menikmatinya memang konvensional dan akan terus begitu apapun kondisi dan zamannya.<\/span>\r\n
Bisnis produk rokok tanpa asap (elektrik) juga menghajar kretek dengan mendompleng isu pengendalian tembakau. Kampanye pengendalian tembakau selalu membawa slogan bahaya merokok dan upaya untuk berhenti merokok. <\/span><\/blockquote>\r\nDari isu tersebut, rokok elektrik masuk dengan citra produk alternatif tembakau, bahkan mereka tak segan menilai bahwa rokok elektrik lebih aman ketimbang rokok konvensional, yakni kretek.<\/span>\r\n\r\nLalu jika Indonesia akan dibanjiri dengan produk-produk yang mengatasnamakan produk alternatif tembakau, macam rokok tanpa asap (iQOS dan sejenisnya), maka itulah pertanda bahwa kretek harus tergerus dari cara hidup manusia Indonesia dalam menikmati produk hasil tembakau khas Indonesia yang sudah turun-temurun lamanya dinikmati manusia Indonesia.<\/span>","post_title":"Nasib Kretek di Pusaran Pertarungan Bisnis Global Perusahaan Rokok Multinasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"nasib-kretek-di-pusaran-pertarungan-bisnis-global-perusahaan-rokok-multinasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-02 08:01:43","post_modified_gmt":"2019-02-02 01:01:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5385","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; \n

Abdul Rifa\u2019I dalam media bintang timur terbit pada 03 Oktober 1927, mengatakan, \u201ckopinya bukan kopi saringan, tetapi kopi tubruk sebab kopi ini katanya nationaal, gulanya gula jawa, susu tidak dipakai karena tidak nationaal. Rokoknya kelobot, selamatan natioanaal ini terus berlangsung ed sampai pagi hari\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Semangat nasionalisme harus tertanam, mengedepankan produk lokal adalah salah satu semangat nasionalime. Salah satu keberadaan rokok klobot menjadi ciri produk asli indonesia dan harus dilestarikan. Klobot sendiri adalah ramuan tembakau dan cengkeh di gulung memakai daun jagung, embrio perkembangan menjadi rokok sigaret kretek tangan dan sigaret kretek mesin.  
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pusaran Budaya Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pusaran-budaya-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-04 08:40:41","post_modified_gmt":"2019-02-04 01:40:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5406","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5403,"post_author":"919","post_date":"2019-02-03 09:05:50","post_date_gmt":"2019-02-03 02:05:50","post_content":"\n

Seringkali saya menyaksikan berbagai film baik itu Eropa atau Asia yang menggambarkan tentang masa depan. Pemandangan soal masa depan tersebut dihadirkan dengan gambaran kecanggihan teknologi seperti robot yang akan membantu kehidupan manusia, gedung-gedung yang tingginya sudah amat tak bisa ditandingi,  hingga mobil-mobil yang bisa terbang. <\/p>\n\n\n\n

Pernah dalam masa kecil saya menyaksikan sebuah film animasi buatan jepang yang mempertanyakan tentang makanan di masa depan. Dengan santai salah satu tokoh yang berasal dari masa depan itu menjawab bahwa suatu saat nanti manusia akan mengonsumsi makanan berupa pasta gigi namun dengan rasa yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa, aneh!<\/p>\n\n\n\n

Seiring waktu berjalan saya kian tumbuh dewasa dan punya kesadaran untuk memilih menjadi seorang perokok<\/a>. Saya juga melihat ada sebuah inovasi dan gambaran tentang masa depan yang hadir dalam kehidupan sekarang. Banyak memang, namun yang menyita perhatian saya adalah rokok elektrik atau yang populer disebut Vape. Konon katanya ia adalah produk inovasi untuk menjembatani kebutuhan menghisap asap dan kecanggihan masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Di awal kehadirannya Vape memang mengundang decak kekaguman saya. Bagaimana bisa sebuah mesin kecil mengeluarkan asap yang katanya lebih menyehatkan daripada rokok.<\/strong> Meski pada akhirnya teori tersebut juga bisa dibantah oleh beberapa ilmuan dunia. Tapi ada satu yang saya amati selain soal kesehatan, rokok elektrik rupanya menghadirkan kultur dan budaya baru dalam kehidupan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: LAGI-LAGI IKLAN ROKOK, KAPAN KPAI TIDAK TEBANG PILIH? <\/a><\/h4>\n\n\n\n

Kehadiran teknologi memang kerap sedikit atau benyak mengubah gaya atau kultur suatu masyarakat. Begitu pula yang saya perhatikan dengan rokok elektrik. Satu hal yang mudah diamati adalah menjamurnya toko-toko kecil yang menjual vape serta liquid di berbagai tempat. Sebagai sebuah warna baru dalam masyarakat, penggunanya ramai-ramai mengunjungi tempat tersebut berinteraksi dengan penikmat lainnya dan membangun sebuah rumah komunitas yang fleksibel.<\/p>\n\n\n\n

Meski belum bisa dikatakan memiliki jumlah penikmat yang setara dengan para perokok, pengguna Vape mulai menunjukkan eksistensinya. Selain toko yang tersebar, ragam acara juga mereka buat di beberapa daerah. Dalam lingkungan saya, beberapa teman yang dulunya merupakan perokok aktif tertarik mengikuti event tersebut dan beralih mengisap rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Nun jauh di sana, di Amerika Serikat tepatnya, budaya Vape juga sudah mulai berkembang lama ketimbang di Tanah Air. Penikmatnya terbagi menjadi dua, ada yang dulunya bekas perokok dan ada yang memang menikmatinya sebagai gaya hidup. Wajar saja mengingat facebook tak memperbolehkan iklan tembakau di platform mereka, sebaliknya iklan tentang vape justru bertebaran. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi budaya baru yang berkembang di berbagai belahan dunia bahkan di Indonesia, Vape konon menjadi alternatif yang lebih bermanfaat daripada rokok. Dalih yang diusung selalu sama kepada para perokok tradisonal yaitu soal kesehatan dan lebih irit. Soal kesehatan tentu ada beberapa pendapat para ilmuan yang membantahnya, namun soal irit, saya rasa tidak. Memang satu liquid bisa digunakan untuk beberapa Minggu, akan tetapi yang saya lihat di lapangan justru sebaliknya. <\/p>\n\n\n\n

Beberapa penikmat rokok elektrik kerap berbelanja liquid yang mereka idamkan. Terkadang, hal tersebut yang membuat mereka boros karena terus mengeksplor rasa mana yang mereka idam-idamkan. Tak jarang juga liquid dengan harga mahal hingga ratus ribuan akan mereka beli. Sebaliknya, para perokok konvensional justru kerap bertahan dengan satu rasa atau merek saja.<\/p>\n\n\n\n

Sedikit berbeda dengan penikmat rokok konvensional atau kretek. Mengingat rokok kretek sudah menjadi kebudayan lokal yang terus dipertahankan selama bertahun-tahun, kehadirannya sudah mewarnai khasanah keindonesiaan. Perokok kretek juga sudah punya soliditas luar biasa yang terbentuk sejak lama dan terus terbangun mengiringi peradaban di Indonesia atau dunia.<\/p>\n\n\n\n

Kini, perokok elektrik mulai merasakan kegelisahan. Beberapa negara mulai menerapkan peraturan ketat terhadap Vape, sedangkan di Indonesia biaya cukai pun kini mulai diberlakukan terhadap perdagangan rokok elektrik. Keberadaannya di mata negara pun mulai dianggap sama seperti rokok, meski pada awalnya rokok elektrik hadir dengan slogan-slogan produk alternatif yang lebih menyehatkan (katanya).<\/p>\n\n\n\n


Tapi jika kemudian di masa depan memang rokok elektrik yang kemudian menjadi sesuatu yang populer dan dinikmati banyak orang. Rasanya saya tetap ingin hidup di jaman ini, dengan sebatang kretek di tangan dan menikmati segala khasanah kebudayaan yang patut terus dipertahankan. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"masa-depan-rokok-elektrik-dan-semangat-alternatif-yang-sia-sia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-03 09:05:56","post_modified_gmt":"2019-02-03 02:05:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5403","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5385,"post_author":"883","post_date":"2019-02-02 08:01:01","post_date_gmt":"2019-02-02 01:01:01","post_content":"Pada tahun 2014, perusahaan rokok multinasional Philip Morris Internasional Inc. merilis sebuah produk <\/span>perangkat\u00a0<\/span>
rokok<\/span><\/a>\u00a0tanpa asap, yang dipanaskan bukan dibakar atau istilahnya\u00a0<\/span>heat not burn<\/i><\/strong>\u00a0(HNB) iQOS<\/strong>. <\/span>\r\n\r\nPerangkat rokok tanpa asap dengan nama iQOS<\/a> ini berbentuk seperti bagian luar pulpen, dengan lubang di tengah untuk rokok. Produk yang berada di bawah brand Marlboro ini dapat memanaskan rokok sampai 350 derajat celcius lalu mengeluarkan uap nikotin beraroma tembakau<\/em><\/a>.<\/span>\r\n

Produk iQOS sebenarnya bukanlah produk rokok tanpa asap yang pertama muncul. Sebelumnya di tahun 1990-an, Reynolds Tobacco Co pernah merilis produk serupa bernama Eclipes yang juga dapat menguapkan nikotin setelah dinyalakan dengan korek api.<\/span><\/blockquote>\r\nSelain itu, Eclips juga dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. Namun, pada saat itu Eclips tidak diminati oleh pasar, utamanya para perokok konvensional. Meskipun Eclips dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. <\/span>\r\n\r\nBisnis semacam rokok tanpa asap seperti Eclips dan iQOS memang sudah menjadi bagian dari rencana panjang bisnis perusahaan-perusahaan rokok multinasional. Jadi tidak usah heran jika ke depannya akan kita akan banyak menemukan produk rokok tanpa asap ini.<\/span>\r\n\r\nWatak dari perusahaan multinasional memang seperti itu, mereka sangat jeli melihat peluang pasar ke depannya. Ketika market place perusahaan rokok multinasional saat ini terus dirongrong oleh kelompok antirokok, mereka tak kehabisan akal. Maka kemudian mereka menginovasi produk rokok konvensional menjadi rokok yang tidak berasap. Begitupun dengan mengikutsertakan jargon-jargon kesehatan dalam narasi promosi mereka.<\/span>\r\n\r\nSesungguhnya memang seperti itulah watak bisnis perusahaan-perusahaan multinasional, melakukan segala cara agar bisnis mereka tetap bertahan, meskipun harus merangkul musuh sekalipun. <\/span>\r\n\r\nYa kadang pura-pura berantem sama antirokok, tapi dibalik itu sebenarnya baik-baik saja, dan tentunya ada kompromi untuk terus melanggengkan bisnis mereka.<\/span>\r\n

Lalu siapa yang dirugikan dari permainan bisnis macam produk rokok tanpa asap perusahaan rokok multinasional ini?<\/span><\/h3>\r\nTentunya yang sangat dirugikan adalah produk hasil tembakau yang memiliki kekhasan seperti kretek di Indonesia. Kretek sebagai produk khas asli Indonesia yang menjadi bagian dari warisan kebudayaan tidak mungkin bertransformasi menjadi produk-produk elektrik dan sejenisnya.<\/span>\r\n\r\nKretek tetaplah kretek, dengan bahan baku alami tembakau dan cengkeh yang tidak diintervensi dengan zat atau perangkat penghantar lainnya. Karena dengan bentuk, karakter dan cara menikmatinya memang konvensional dan akan terus begitu apapun kondisi dan zamannya.<\/span>\r\n
Bisnis produk rokok tanpa asap (elektrik) juga menghajar kretek dengan mendompleng isu pengendalian tembakau. Kampanye pengendalian tembakau selalu membawa slogan bahaya merokok dan upaya untuk berhenti merokok. <\/span><\/blockquote>\r\nDari isu tersebut, rokok elektrik masuk dengan citra produk alternatif tembakau, bahkan mereka tak segan menilai bahwa rokok elektrik lebih aman ketimbang rokok konvensional, yakni kretek.<\/span>\r\n\r\nLalu jika Indonesia akan dibanjiri dengan produk-produk yang mengatasnamakan produk alternatif tembakau, macam rokok tanpa asap (iQOS dan sejenisnya), maka itulah pertanda bahwa kretek harus tergerus dari cara hidup manusia Indonesia dalam menikmati produk hasil tembakau khas Indonesia yang sudah turun-temurun lamanya dinikmati manusia Indonesia.<\/span>","post_title":"Nasib Kretek di Pusaran Pertarungan Bisnis Global Perusahaan Rokok Multinasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"nasib-kretek-di-pusaran-pertarungan-bisnis-global-perusahaan-rokok-multinasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-02 08:01:43","post_modified_gmt":"2019-02-02 01:01:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5385","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; \n

Kretek Sebagai Simbol Pergerakan Nasional     <\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Abdul Rifa\u2019I dalam media bintang timur terbit pada 03 Oktober 1927, mengatakan, \u201ckopinya bukan kopi saringan, tetapi kopi tubruk sebab kopi ini katanya nationaal, gulanya gula jawa, susu tidak dipakai karena tidak nationaal. Rokoknya kelobot, selamatan natioanaal ini terus berlangsung ed sampai pagi hari\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Semangat nasionalisme harus tertanam, mengedepankan produk lokal adalah salah satu semangat nasionalime. Salah satu keberadaan rokok klobot menjadi ciri produk asli indonesia dan harus dilestarikan. Klobot sendiri adalah ramuan tembakau dan cengkeh di gulung memakai daun jagung, embrio perkembangan menjadi rokok sigaret kretek tangan dan sigaret kretek mesin.  
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pusaran Budaya Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pusaran-budaya-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-04 08:40:41","post_modified_gmt":"2019-02-04 01:40:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5406","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5403,"post_author":"919","post_date":"2019-02-03 09:05:50","post_date_gmt":"2019-02-03 02:05:50","post_content":"\n

Seringkali saya menyaksikan berbagai film baik itu Eropa atau Asia yang menggambarkan tentang masa depan. Pemandangan soal masa depan tersebut dihadirkan dengan gambaran kecanggihan teknologi seperti robot yang akan membantu kehidupan manusia, gedung-gedung yang tingginya sudah amat tak bisa ditandingi,  hingga mobil-mobil yang bisa terbang. <\/p>\n\n\n\n

Pernah dalam masa kecil saya menyaksikan sebuah film animasi buatan jepang yang mempertanyakan tentang makanan di masa depan. Dengan santai salah satu tokoh yang berasal dari masa depan itu menjawab bahwa suatu saat nanti manusia akan mengonsumsi makanan berupa pasta gigi namun dengan rasa yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa, aneh!<\/p>\n\n\n\n

Seiring waktu berjalan saya kian tumbuh dewasa dan punya kesadaran untuk memilih menjadi seorang perokok<\/a>. Saya juga melihat ada sebuah inovasi dan gambaran tentang masa depan yang hadir dalam kehidupan sekarang. Banyak memang, namun yang menyita perhatian saya adalah rokok elektrik atau yang populer disebut Vape. Konon katanya ia adalah produk inovasi untuk menjembatani kebutuhan menghisap asap dan kecanggihan masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Di awal kehadirannya Vape memang mengundang decak kekaguman saya. Bagaimana bisa sebuah mesin kecil mengeluarkan asap yang katanya lebih menyehatkan daripada rokok.<\/strong> Meski pada akhirnya teori tersebut juga bisa dibantah oleh beberapa ilmuan dunia. Tapi ada satu yang saya amati selain soal kesehatan, rokok elektrik rupanya menghadirkan kultur dan budaya baru dalam kehidupan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: LAGI-LAGI IKLAN ROKOK, KAPAN KPAI TIDAK TEBANG PILIH? <\/a><\/h4>\n\n\n\n

Kehadiran teknologi memang kerap sedikit atau benyak mengubah gaya atau kultur suatu masyarakat. Begitu pula yang saya perhatikan dengan rokok elektrik. Satu hal yang mudah diamati adalah menjamurnya toko-toko kecil yang menjual vape serta liquid di berbagai tempat. Sebagai sebuah warna baru dalam masyarakat, penggunanya ramai-ramai mengunjungi tempat tersebut berinteraksi dengan penikmat lainnya dan membangun sebuah rumah komunitas yang fleksibel.<\/p>\n\n\n\n

Meski belum bisa dikatakan memiliki jumlah penikmat yang setara dengan para perokok, pengguna Vape mulai menunjukkan eksistensinya. Selain toko yang tersebar, ragam acara juga mereka buat di beberapa daerah. Dalam lingkungan saya, beberapa teman yang dulunya merupakan perokok aktif tertarik mengikuti event tersebut dan beralih mengisap rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Nun jauh di sana, di Amerika Serikat tepatnya, budaya Vape juga sudah mulai berkembang lama ketimbang di Tanah Air. Penikmatnya terbagi menjadi dua, ada yang dulunya bekas perokok dan ada yang memang menikmatinya sebagai gaya hidup. Wajar saja mengingat facebook tak memperbolehkan iklan tembakau di platform mereka, sebaliknya iklan tentang vape justru bertebaran. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi budaya baru yang berkembang di berbagai belahan dunia bahkan di Indonesia, Vape konon menjadi alternatif yang lebih bermanfaat daripada rokok. Dalih yang diusung selalu sama kepada para perokok tradisonal yaitu soal kesehatan dan lebih irit. Soal kesehatan tentu ada beberapa pendapat para ilmuan yang membantahnya, namun soal irit, saya rasa tidak. Memang satu liquid bisa digunakan untuk beberapa Minggu, akan tetapi yang saya lihat di lapangan justru sebaliknya. <\/p>\n\n\n\n

Beberapa penikmat rokok elektrik kerap berbelanja liquid yang mereka idamkan. Terkadang, hal tersebut yang membuat mereka boros karena terus mengeksplor rasa mana yang mereka idam-idamkan. Tak jarang juga liquid dengan harga mahal hingga ratus ribuan akan mereka beli. Sebaliknya, para perokok konvensional justru kerap bertahan dengan satu rasa atau merek saja.<\/p>\n\n\n\n

Sedikit berbeda dengan penikmat rokok konvensional atau kretek. Mengingat rokok kretek sudah menjadi kebudayan lokal yang terus dipertahankan selama bertahun-tahun, kehadirannya sudah mewarnai khasanah keindonesiaan. Perokok kretek juga sudah punya soliditas luar biasa yang terbentuk sejak lama dan terus terbangun mengiringi peradaban di Indonesia atau dunia.<\/p>\n\n\n\n

Kini, perokok elektrik mulai merasakan kegelisahan. Beberapa negara mulai menerapkan peraturan ketat terhadap Vape, sedangkan di Indonesia biaya cukai pun kini mulai diberlakukan terhadap perdagangan rokok elektrik. Keberadaannya di mata negara pun mulai dianggap sama seperti rokok, meski pada awalnya rokok elektrik hadir dengan slogan-slogan produk alternatif yang lebih menyehatkan (katanya).<\/p>\n\n\n\n


Tapi jika kemudian di masa depan memang rokok elektrik yang kemudian menjadi sesuatu yang populer dan dinikmati banyak orang. Rasanya saya tetap ingin hidup di jaman ini, dengan sebatang kretek di tangan dan menikmati segala khasanah kebudayaan yang patut terus dipertahankan. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"masa-depan-rokok-elektrik-dan-semangat-alternatif-yang-sia-sia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-03 09:05:56","post_modified_gmt":"2019-02-03 02:05:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5403","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5385,"post_author":"883","post_date":"2019-02-02 08:01:01","post_date_gmt":"2019-02-02 01:01:01","post_content":"Pada tahun 2014, perusahaan rokok multinasional Philip Morris Internasional Inc. merilis sebuah produk <\/span>perangkat\u00a0<\/span>
rokok<\/span><\/a>\u00a0tanpa asap, yang dipanaskan bukan dibakar atau istilahnya\u00a0<\/span>heat not burn<\/i><\/strong>\u00a0(HNB) iQOS<\/strong>. <\/span>\r\n\r\nPerangkat rokok tanpa asap dengan nama iQOS<\/a> ini berbentuk seperti bagian luar pulpen, dengan lubang di tengah untuk rokok. Produk yang berada di bawah brand Marlboro ini dapat memanaskan rokok sampai 350 derajat celcius lalu mengeluarkan uap nikotin beraroma tembakau<\/em><\/a>.<\/span>\r\n

Produk iQOS sebenarnya bukanlah produk rokok tanpa asap yang pertama muncul. Sebelumnya di tahun 1990-an, Reynolds Tobacco Co pernah merilis produk serupa bernama Eclipes yang juga dapat menguapkan nikotin setelah dinyalakan dengan korek api.<\/span><\/blockquote>\r\nSelain itu, Eclips juga dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. Namun, pada saat itu Eclips tidak diminati oleh pasar, utamanya para perokok konvensional. Meskipun Eclips dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. <\/span>\r\n\r\nBisnis semacam rokok tanpa asap seperti Eclips dan iQOS memang sudah menjadi bagian dari rencana panjang bisnis perusahaan-perusahaan rokok multinasional. Jadi tidak usah heran jika ke depannya akan kita akan banyak menemukan produk rokok tanpa asap ini.<\/span>\r\n\r\nWatak dari perusahaan multinasional memang seperti itu, mereka sangat jeli melihat peluang pasar ke depannya. Ketika market place perusahaan rokok multinasional saat ini terus dirongrong oleh kelompok antirokok, mereka tak kehabisan akal. Maka kemudian mereka menginovasi produk rokok konvensional menjadi rokok yang tidak berasap. Begitupun dengan mengikutsertakan jargon-jargon kesehatan dalam narasi promosi mereka.<\/span>\r\n\r\nSesungguhnya memang seperti itulah watak bisnis perusahaan-perusahaan multinasional, melakukan segala cara agar bisnis mereka tetap bertahan, meskipun harus merangkul musuh sekalipun. <\/span>\r\n\r\nYa kadang pura-pura berantem sama antirokok, tapi dibalik itu sebenarnya baik-baik saja, dan tentunya ada kompromi untuk terus melanggengkan bisnis mereka.<\/span>\r\n

Lalu siapa yang dirugikan dari permainan bisnis macam produk rokok tanpa asap perusahaan rokok multinasional ini?<\/span><\/h3>\r\nTentunya yang sangat dirugikan adalah produk hasil tembakau yang memiliki kekhasan seperti kretek di Indonesia. Kretek sebagai produk khas asli Indonesia yang menjadi bagian dari warisan kebudayaan tidak mungkin bertransformasi menjadi produk-produk elektrik dan sejenisnya.<\/span>\r\n\r\nKretek tetaplah kretek, dengan bahan baku alami tembakau dan cengkeh yang tidak diintervensi dengan zat atau perangkat penghantar lainnya. Karena dengan bentuk, karakter dan cara menikmatinya memang konvensional dan akan terus begitu apapun kondisi dan zamannya.<\/span>\r\n
Bisnis produk rokok tanpa asap (elektrik) juga menghajar kretek dengan mendompleng isu pengendalian tembakau. Kampanye pengendalian tembakau selalu membawa slogan bahaya merokok dan upaya untuk berhenti merokok. <\/span><\/blockquote>\r\nDari isu tersebut, rokok elektrik masuk dengan citra produk alternatif tembakau, bahkan mereka tak segan menilai bahwa rokok elektrik lebih aman ketimbang rokok konvensional, yakni kretek.<\/span>\r\n\r\nLalu jika Indonesia akan dibanjiri dengan produk-produk yang mengatasnamakan produk alternatif tembakau, macam rokok tanpa asap (iQOS dan sejenisnya), maka itulah pertanda bahwa kretek harus tergerus dari cara hidup manusia Indonesia dalam menikmati produk hasil tembakau khas Indonesia yang sudah turun-temurun lamanya dinikmati manusia Indonesia.<\/span>","post_title":"Nasib Kretek di Pusaran Pertarungan Bisnis Global Perusahaan Rokok Multinasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"nasib-kretek-di-pusaran-pertarungan-bisnis-global-perusahaan-rokok-multinasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-02 08:01:43","post_modified_gmt":"2019-02-02 01:01:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5385","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; \n

Baca Juga: Memilih Jalan Hidup Menikmati Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Simbol Pergerakan Nasional     <\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Abdul Rifa\u2019I dalam media bintang timur terbit pada 03 Oktober 1927, mengatakan, \u201ckopinya bukan kopi saringan, tetapi kopi tubruk sebab kopi ini katanya nationaal, gulanya gula jawa, susu tidak dipakai karena tidak nationaal. Rokoknya kelobot, selamatan natioanaal ini terus berlangsung ed sampai pagi hari\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Semangat nasionalisme harus tertanam, mengedepankan produk lokal adalah salah satu semangat nasionalime. Salah satu keberadaan rokok klobot menjadi ciri produk asli indonesia dan harus dilestarikan. Klobot sendiri adalah ramuan tembakau dan cengkeh di gulung memakai daun jagung, embrio perkembangan menjadi rokok sigaret kretek tangan dan sigaret kretek mesin.  
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pusaran Budaya Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pusaran-budaya-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-04 08:40:41","post_modified_gmt":"2019-02-04 01:40:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5406","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5403,"post_author":"919","post_date":"2019-02-03 09:05:50","post_date_gmt":"2019-02-03 02:05:50","post_content":"\n

Seringkali saya menyaksikan berbagai film baik itu Eropa atau Asia yang menggambarkan tentang masa depan. Pemandangan soal masa depan tersebut dihadirkan dengan gambaran kecanggihan teknologi seperti robot yang akan membantu kehidupan manusia, gedung-gedung yang tingginya sudah amat tak bisa ditandingi,  hingga mobil-mobil yang bisa terbang. <\/p>\n\n\n\n

Pernah dalam masa kecil saya menyaksikan sebuah film animasi buatan jepang yang mempertanyakan tentang makanan di masa depan. Dengan santai salah satu tokoh yang berasal dari masa depan itu menjawab bahwa suatu saat nanti manusia akan mengonsumsi makanan berupa pasta gigi namun dengan rasa yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa, aneh!<\/p>\n\n\n\n

Seiring waktu berjalan saya kian tumbuh dewasa dan punya kesadaran untuk memilih menjadi seorang perokok<\/a>. Saya juga melihat ada sebuah inovasi dan gambaran tentang masa depan yang hadir dalam kehidupan sekarang. Banyak memang, namun yang menyita perhatian saya adalah rokok elektrik atau yang populer disebut Vape. Konon katanya ia adalah produk inovasi untuk menjembatani kebutuhan menghisap asap dan kecanggihan masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Di awal kehadirannya Vape memang mengundang decak kekaguman saya. Bagaimana bisa sebuah mesin kecil mengeluarkan asap yang katanya lebih menyehatkan daripada rokok.<\/strong> Meski pada akhirnya teori tersebut juga bisa dibantah oleh beberapa ilmuan dunia. Tapi ada satu yang saya amati selain soal kesehatan, rokok elektrik rupanya menghadirkan kultur dan budaya baru dalam kehidupan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: LAGI-LAGI IKLAN ROKOK, KAPAN KPAI TIDAK TEBANG PILIH? <\/a><\/h4>\n\n\n\n

Kehadiran teknologi memang kerap sedikit atau benyak mengubah gaya atau kultur suatu masyarakat. Begitu pula yang saya perhatikan dengan rokok elektrik. Satu hal yang mudah diamati adalah menjamurnya toko-toko kecil yang menjual vape serta liquid di berbagai tempat. Sebagai sebuah warna baru dalam masyarakat, penggunanya ramai-ramai mengunjungi tempat tersebut berinteraksi dengan penikmat lainnya dan membangun sebuah rumah komunitas yang fleksibel.<\/p>\n\n\n\n

Meski belum bisa dikatakan memiliki jumlah penikmat yang setara dengan para perokok, pengguna Vape mulai menunjukkan eksistensinya. Selain toko yang tersebar, ragam acara juga mereka buat di beberapa daerah. Dalam lingkungan saya, beberapa teman yang dulunya merupakan perokok aktif tertarik mengikuti event tersebut dan beralih mengisap rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Nun jauh di sana, di Amerika Serikat tepatnya, budaya Vape juga sudah mulai berkembang lama ketimbang di Tanah Air. Penikmatnya terbagi menjadi dua, ada yang dulunya bekas perokok dan ada yang memang menikmatinya sebagai gaya hidup. Wajar saja mengingat facebook tak memperbolehkan iklan tembakau di platform mereka, sebaliknya iklan tentang vape justru bertebaran. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi budaya baru yang berkembang di berbagai belahan dunia bahkan di Indonesia, Vape konon menjadi alternatif yang lebih bermanfaat daripada rokok. Dalih yang diusung selalu sama kepada para perokok tradisonal yaitu soal kesehatan dan lebih irit. Soal kesehatan tentu ada beberapa pendapat para ilmuan yang membantahnya, namun soal irit, saya rasa tidak. Memang satu liquid bisa digunakan untuk beberapa Minggu, akan tetapi yang saya lihat di lapangan justru sebaliknya. <\/p>\n\n\n\n

Beberapa penikmat rokok elektrik kerap berbelanja liquid yang mereka idamkan. Terkadang, hal tersebut yang membuat mereka boros karena terus mengeksplor rasa mana yang mereka idam-idamkan. Tak jarang juga liquid dengan harga mahal hingga ratus ribuan akan mereka beli. Sebaliknya, para perokok konvensional justru kerap bertahan dengan satu rasa atau merek saja.<\/p>\n\n\n\n

Sedikit berbeda dengan penikmat rokok konvensional atau kretek. Mengingat rokok kretek sudah menjadi kebudayan lokal yang terus dipertahankan selama bertahun-tahun, kehadirannya sudah mewarnai khasanah keindonesiaan. Perokok kretek juga sudah punya soliditas luar biasa yang terbentuk sejak lama dan terus terbangun mengiringi peradaban di Indonesia atau dunia.<\/p>\n\n\n\n

Kini, perokok elektrik mulai merasakan kegelisahan. Beberapa negara mulai menerapkan peraturan ketat terhadap Vape, sedangkan di Indonesia biaya cukai pun kini mulai diberlakukan terhadap perdagangan rokok elektrik. Keberadaannya di mata negara pun mulai dianggap sama seperti rokok, meski pada awalnya rokok elektrik hadir dengan slogan-slogan produk alternatif yang lebih menyehatkan (katanya).<\/p>\n\n\n\n


Tapi jika kemudian di masa depan memang rokok elektrik yang kemudian menjadi sesuatu yang populer dan dinikmati banyak orang. Rasanya saya tetap ingin hidup di jaman ini, dengan sebatang kretek di tangan dan menikmati segala khasanah kebudayaan yang patut terus dipertahankan. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"masa-depan-rokok-elektrik-dan-semangat-alternatif-yang-sia-sia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-03 09:05:56","post_modified_gmt":"2019-02-03 02:05:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5403","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5385,"post_author":"883","post_date":"2019-02-02 08:01:01","post_date_gmt":"2019-02-02 01:01:01","post_content":"Pada tahun 2014, perusahaan rokok multinasional Philip Morris Internasional Inc. merilis sebuah produk <\/span>perangkat\u00a0<\/span>
rokok<\/span><\/a>\u00a0tanpa asap, yang dipanaskan bukan dibakar atau istilahnya\u00a0<\/span>heat not burn<\/i><\/strong>\u00a0(HNB) iQOS<\/strong>. <\/span>\r\n\r\nPerangkat rokok tanpa asap dengan nama iQOS<\/a> ini berbentuk seperti bagian luar pulpen, dengan lubang di tengah untuk rokok. Produk yang berada di bawah brand Marlboro ini dapat memanaskan rokok sampai 350 derajat celcius lalu mengeluarkan uap nikotin beraroma tembakau<\/em><\/a>.<\/span>\r\n

Produk iQOS sebenarnya bukanlah produk rokok tanpa asap yang pertama muncul. Sebelumnya di tahun 1990-an, Reynolds Tobacco Co pernah merilis produk serupa bernama Eclipes yang juga dapat menguapkan nikotin setelah dinyalakan dengan korek api.<\/span><\/blockquote>\r\nSelain itu, Eclips juga dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. Namun, pada saat itu Eclips tidak diminati oleh pasar, utamanya para perokok konvensional. Meskipun Eclips dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. <\/span>\r\n\r\nBisnis semacam rokok tanpa asap seperti Eclips dan iQOS memang sudah menjadi bagian dari rencana panjang bisnis perusahaan-perusahaan rokok multinasional. Jadi tidak usah heran jika ke depannya akan kita akan banyak menemukan produk rokok tanpa asap ini.<\/span>\r\n\r\nWatak dari perusahaan multinasional memang seperti itu, mereka sangat jeli melihat peluang pasar ke depannya. Ketika market place perusahaan rokok multinasional saat ini terus dirongrong oleh kelompok antirokok, mereka tak kehabisan akal. Maka kemudian mereka menginovasi produk rokok konvensional menjadi rokok yang tidak berasap. Begitupun dengan mengikutsertakan jargon-jargon kesehatan dalam narasi promosi mereka.<\/span>\r\n\r\nSesungguhnya memang seperti itulah watak bisnis perusahaan-perusahaan multinasional, melakukan segala cara agar bisnis mereka tetap bertahan, meskipun harus merangkul musuh sekalipun. <\/span>\r\n\r\nYa kadang pura-pura berantem sama antirokok, tapi dibalik itu sebenarnya baik-baik saja, dan tentunya ada kompromi untuk terus melanggengkan bisnis mereka.<\/span>\r\n

Lalu siapa yang dirugikan dari permainan bisnis macam produk rokok tanpa asap perusahaan rokok multinasional ini?<\/span><\/h3>\r\nTentunya yang sangat dirugikan adalah produk hasil tembakau yang memiliki kekhasan seperti kretek di Indonesia. Kretek sebagai produk khas asli Indonesia yang menjadi bagian dari warisan kebudayaan tidak mungkin bertransformasi menjadi produk-produk elektrik dan sejenisnya.<\/span>\r\n\r\nKretek tetaplah kretek, dengan bahan baku alami tembakau dan cengkeh yang tidak diintervensi dengan zat atau perangkat penghantar lainnya. Karena dengan bentuk, karakter dan cara menikmatinya memang konvensional dan akan terus begitu apapun kondisi dan zamannya.<\/span>\r\n
Bisnis produk rokok tanpa asap (elektrik) juga menghajar kretek dengan mendompleng isu pengendalian tembakau. Kampanye pengendalian tembakau selalu membawa slogan bahaya merokok dan upaya untuk berhenti merokok. <\/span><\/blockquote>\r\nDari isu tersebut, rokok elektrik masuk dengan citra produk alternatif tembakau, bahkan mereka tak segan menilai bahwa rokok elektrik lebih aman ketimbang rokok konvensional, yakni kretek.<\/span>\r\n\r\nLalu jika Indonesia akan dibanjiri dengan produk-produk yang mengatasnamakan produk alternatif tembakau, macam rokok tanpa asap (iQOS dan sejenisnya), maka itulah pertanda bahwa kretek harus tergerus dari cara hidup manusia Indonesia dalam menikmati produk hasil tembakau khas Indonesia yang sudah turun-temurun lamanya dinikmati manusia Indonesia.<\/span>","post_title":"Nasib Kretek di Pusaran Pertarungan Bisnis Global Perusahaan Rokok Multinasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"nasib-kretek-di-pusaran-pertarungan-bisnis-global-perusahaan-rokok-multinasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-02 08:01:43","post_modified_gmt":"2019-02-02 01:01:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5385","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; \n

Pelajaran Khofifah sangat mendalam dan bercirikhas Nusantara. Sebgaai Menteri \u00a0Sosial tentunya lebih berpengalaman apa yang dibutuhkan bangsa ini agar tetap jaya, bersatu dan utuh. Kenali perbedaan, hormati perbedaan, junjung tinggi budaya yang berbeda. \u00a0Apa yang telah dilakukan Khofifah dengan membawa rokok ke suku anak dalam adalah cermin penghormatan tradisi dan budaya masyarakat. Sebagai seorang Mentri, tentunya punya kuasa, artinya bisa seorang khofifah memberikan bantuan sesuai keinginannya sendiri, namun hal itu tidak dilakukan. Ia lebih mengedepankan penghormatan budaya masyarakat setempat, dengan membawa rokok untuk pendekatan dan pertemanan. Karena Khofifah tahu betul, bahwa merokok adalah budaya mereka, yang diwaris dari neneng moyang mereka. <\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Memilih Jalan Hidup Menikmati Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Simbol Pergerakan Nasional     <\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Abdul Rifa\u2019I dalam media bintang timur terbit pada 03 Oktober 1927, mengatakan, \u201ckopinya bukan kopi saringan, tetapi kopi tubruk sebab kopi ini katanya nationaal, gulanya gula jawa, susu tidak dipakai karena tidak nationaal. Rokoknya kelobot, selamatan natioanaal ini terus berlangsung ed sampai pagi hari\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Semangat nasionalisme harus tertanam, mengedepankan produk lokal adalah salah satu semangat nasionalime. Salah satu keberadaan rokok klobot menjadi ciri produk asli indonesia dan harus dilestarikan. Klobot sendiri adalah ramuan tembakau dan cengkeh di gulung memakai daun jagung, embrio perkembangan menjadi rokok sigaret kretek tangan dan sigaret kretek mesin.  
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pusaran Budaya Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pusaran-budaya-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-04 08:40:41","post_modified_gmt":"2019-02-04 01:40:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5406","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5403,"post_author":"919","post_date":"2019-02-03 09:05:50","post_date_gmt":"2019-02-03 02:05:50","post_content":"\n

Seringkali saya menyaksikan berbagai film baik itu Eropa atau Asia yang menggambarkan tentang masa depan. Pemandangan soal masa depan tersebut dihadirkan dengan gambaran kecanggihan teknologi seperti robot yang akan membantu kehidupan manusia, gedung-gedung yang tingginya sudah amat tak bisa ditandingi,  hingga mobil-mobil yang bisa terbang. <\/p>\n\n\n\n

Pernah dalam masa kecil saya menyaksikan sebuah film animasi buatan jepang yang mempertanyakan tentang makanan di masa depan. Dengan santai salah satu tokoh yang berasal dari masa depan itu menjawab bahwa suatu saat nanti manusia akan mengonsumsi makanan berupa pasta gigi namun dengan rasa yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa, aneh!<\/p>\n\n\n\n

Seiring waktu berjalan saya kian tumbuh dewasa dan punya kesadaran untuk memilih menjadi seorang perokok<\/a>. Saya juga melihat ada sebuah inovasi dan gambaran tentang masa depan yang hadir dalam kehidupan sekarang. Banyak memang, namun yang menyita perhatian saya adalah rokok elektrik atau yang populer disebut Vape. Konon katanya ia adalah produk inovasi untuk menjembatani kebutuhan menghisap asap dan kecanggihan masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Di awal kehadirannya Vape memang mengundang decak kekaguman saya. Bagaimana bisa sebuah mesin kecil mengeluarkan asap yang katanya lebih menyehatkan daripada rokok.<\/strong> Meski pada akhirnya teori tersebut juga bisa dibantah oleh beberapa ilmuan dunia. Tapi ada satu yang saya amati selain soal kesehatan, rokok elektrik rupanya menghadirkan kultur dan budaya baru dalam kehidupan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: LAGI-LAGI IKLAN ROKOK, KAPAN KPAI TIDAK TEBANG PILIH? <\/a><\/h4>\n\n\n\n

Kehadiran teknologi memang kerap sedikit atau benyak mengubah gaya atau kultur suatu masyarakat. Begitu pula yang saya perhatikan dengan rokok elektrik. Satu hal yang mudah diamati adalah menjamurnya toko-toko kecil yang menjual vape serta liquid di berbagai tempat. Sebagai sebuah warna baru dalam masyarakat, penggunanya ramai-ramai mengunjungi tempat tersebut berinteraksi dengan penikmat lainnya dan membangun sebuah rumah komunitas yang fleksibel.<\/p>\n\n\n\n

Meski belum bisa dikatakan memiliki jumlah penikmat yang setara dengan para perokok, pengguna Vape mulai menunjukkan eksistensinya. Selain toko yang tersebar, ragam acara juga mereka buat di beberapa daerah. Dalam lingkungan saya, beberapa teman yang dulunya merupakan perokok aktif tertarik mengikuti event tersebut dan beralih mengisap rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Nun jauh di sana, di Amerika Serikat tepatnya, budaya Vape juga sudah mulai berkembang lama ketimbang di Tanah Air. Penikmatnya terbagi menjadi dua, ada yang dulunya bekas perokok dan ada yang memang menikmatinya sebagai gaya hidup. Wajar saja mengingat facebook tak memperbolehkan iklan tembakau di platform mereka, sebaliknya iklan tentang vape justru bertebaran. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi budaya baru yang berkembang di berbagai belahan dunia bahkan di Indonesia, Vape konon menjadi alternatif yang lebih bermanfaat daripada rokok. Dalih yang diusung selalu sama kepada para perokok tradisonal yaitu soal kesehatan dan lebih irit. Soal kesehatan tentu ada beberapa pendapat para ilmuan yang membantahnya, namun soal irit, saya rasa tidak. Memang satu liquid bisa digunakan untuk beberapa Minggu, akan tetapi yang saya lihat di lapangan justru sebaliknya. <\/p>\n\n\n\n

Beberapa penikmat rokok elektrik kerap berbelanja liquid yang mereka idamkan. Terkadang, hal tersebut yang membuat mereka boros karena terus mengeksplor rasa mana yang mereka idam-idamkan. Tak jarang juga liquid dengan harga mahal hingga ratus ribuan akan mereka beli. Sebaliknya, para perokok konvensional justru kerap bertahan dengan satu rasa atau merek saja.<\/p>\n\n\n\n

Sedikit berbeda dengan penikmat rokok konvensional atau kretek. Mengingat rokok kretek sudah menjadi kebudayan lokal yang terus dipertahankan selama bertahun-tahun, kehadirannya sudah mewarnai khasanah keindonesiaan. Perokok kretek juga sudah punya soliditas luar biasa yang terbentuk sejak lama dan terus terbangun mengiringi peradaban di Indonesia atau dunia.<\/p>\n\n\n\n

Kini, perokok elektrik mulai merasakan kegelisahan. Beberapa negara mulai menerapkan peraturan ketat terhadap Vape, sedangkan di Indonesia biaya cukai pun kini mulai diberlakukan terhadap perdagangan rokok elektrik. Keberadaannya di mata negara pun mulai dianggap sama seperti rokok, meski pada awalnya rokok elektrik hadir dengan slogan-slogan produk alternatif yang lebih menyehatkan (katanya).<\/p>\n\n\n\n


Tapi jika kemudian di masa depan memang rokok elektrik yang kemudian menjadi sesuatu yang populer dan dinikmati banyak orang. Rasanya saya tetap ingin hidup di jaman ini, dengan sebatang kretek di tangan dan menikmati segala khasanah kebudayaan yang patut terus dipertahankan. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"masa-depan-rokok-elektrik-dan-semangat-alternatif-yang-sia-sia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-03 09:05:56","post_modified_gmt":"2019-02-03 02:05:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5403","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5385,"post_author":"883","post_date":"2019-02-02 08:01:01","post_date_gmt":"2019-02-02 01:01:01","post_content":"Pada tahun 2014, perusahaan rokok multinasional Philip Morris Internasional Inc. merilis sebuah produk <\/span>perangkat\u00a0<\/span>
rokok<\/span><\/a>\u00a0tanpa asap, yang dipanaskan bukan dibakar atau istilahnya\u00a0<\/span>heat not burn<\/i><\/strong>\u00a0(HNB) iQOS<\/strong>. <\/span>\r\n\r\nPerangkat rokok tanpa asap dengan nama iQOS<\/a> ini berbentuk seperti bagian luar pulpen, dengan lubang di tengah untuk rokok. Produk yang berada di bawah brand Marlboro ini dapat memanaskan rokok sampai 350 derajat celcius lalu mengeluarkan uap nikotin beraroma tembakau<\/em><\/a>.<\/span>\r\n

Produk iQOS sebenarnya bukanlah produk rokok tanpa asap yang pertama muncul. Sebelumnya di tahun 1990-an, Reynolds Tobacco Co pernah merilis produk serupa bernama Eclipes yang juga dapat menguapkan nikotin setelah dinyalakan dengan korek api.<\/span><\/blockquote>\r\nSelain itu, Eclips juga dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. Namun, pada saat itu Eclips tidak diminati oleh pasar, utamanya para perokok konvensional. Meskipun Eclips dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. <\/span>\r\n\r\nBisnis semacam rokok tanpa asap seperti Eclips dan iQOS memang sudah menjadi bagian dari rencana panjang bisnis perusahaan-perusahaan rokok multinasional. Jadi tidak usah heran jika ke depannya akan kita akan banyak menemukan produk rokok tanpa asap ini.<\/span>\r\n\r\nWatak dari perusahaan multinasional memang seperti itu, mereka sangat jeli melihat peluang pasar ke depannya. Ketika market place perusahaan rokok multinasional saat ini terus dirongrong oleh kelompok antirokok, mereka tak kehabisan akal. Maka kemudian mereka menginovasi produk rokok konvensional menjadi rokok yang tidak berasap. Begitupun dengan mengikutsertakan jargon-jargon kesehatan dalam narasi promosi mereka.<\/span>\r\n\r\nSesungguhnya memang seperti itulah watak bisnis perusahaan-perusahaan multinasional, melakukan segala cara agar bisnis mereka tetap bertahan, meskipun harus merangkul musuh sekalipun. <\/span>\r\n\r\nYa kadang pura-pura berantem sama antirokok, tapi dibalik itu sebenarnya baik-baik saja, dan tentunya ada kompromi untuk terus melanggengkan bisnis mereka.<\/span>\r\n

Lalu siapa yang dirugikan dari permainan bisnis macam produk rokok tanpa asap perusahaan rokok multinasional ini?<\/span><\/h3>\r\nTentunya yang sangat dirugikan adalah produk hasil tembakau yang memiliki kekhasan seperti kretek di Indonesia. Kretek sebagai produk khas asli Indonesia yang menjadi bagian dari warisan kebudayaan tidak mungkin bertransformasi menjadi produk-produk elektrik dan sejenisnya.<\/span>\r\n\r\nKretek tetaplah kretek, dengan bahan baku alami tembakau dan cengkeh yang tidak diintervensi dengan zat atau perangkat penghantar lainnya. Karena dengan bentuk, karakter dan cara menikmatinya memang konvensional dan akan terus begitu apapun kondisi dan zamannya.<\/span>\r\n
Bisnis produk rokok tanpa asap (elektrik) juga menghajar kretek dengan mendompleng isu pengendalian tembakau. Kampanye pengendalian tembakau selalu membawa slogan bahaya merokok dan upaya untuk berhenti merokok. <\/span><\/blockquote>\r\nDari isu tersebut, rokok elektrik masuk dengan citra produk alternatif tembakau, bahkan mereka tak segan menilai bahwa rokok elektrik lebih aman ketimbang rokok konvensional, yakni kretek.<\/span>\r\n\r\nLalu jika Indonesia akan dibanjiri dengan produk-produk yang mengatasnamakan produk alternatif tembakau, macam rokok tanpa asap (iQOS dan sejenisnya), maka itulah pertanda bahwa kretek harus tergerus dari cara hidup manusia Indonesia dalam menikmati produk hasil tembakau khas Indonesia yang sudah turun-temurun lamanya dinikmati manusia Indonesia.<\/span>","post_title":"Nasib Kretek di Pusaran Pertarungan Bisnis Global Perusahaan Rokok Multinasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"nasib-kretek-di-pusaran-pertarungan-bisnis-global-perusahaan-rokok-multinasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-02 08:01:43","post_modified_gmt":"2019-02-02 01:01:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5385","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; \n

Khofifah memberikan pelajaran bagi anti rokok. Tidak boleh sok tahu, apalagi selama ini antirokok hanya berasumsi, tanpa melihat fakta dilapangan. Khofifah juga menganjurkan agar lebih mengenal adat-istiadat, budaya dan tradisi masyarakat, tidak boleh melakukan hegemoni kultural, sebab keberagaman adat-istiadat dan budaya merupakan kekayaan negeri. <\/p>\n\n\n\n

Pelajaran Khofifah sangat mendalam dan bercirikhas Nusantara. Sebgaai Menteri \u00a0Sosial tentunya lebih berpengalaman apa yang dibutuhkan bangsa ini agar tetap jaya, bersatu dan utuh. Kenali perbedaan, hormati perbedaan, junjung tinggi budaya yang berbeda. \u00a0Apa yang telah dilakukan Khofifah dengan membawa rokok ke suku anak dalam adalah cermin penghormatan tradisi dan budaya masyarakat. Sebagai seorang Mentri, tentunya punya kuasa, artinya bisa seorang khofifah memberikan bantuan sesuai keinginannya sendiri, namun hal itu tidak dilakukan. Ia lebih mengedepankan penghormatan budaya masyarakat setempat, dengan membawa rokok untuk pendekatan dan pertemanan. Karena Khofifah tahu betul, bahwa merokok adalah budaya mereka, yang diwaris dari neneng moyang mereka. <\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Memilih Jalan Hidup Menikmati Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Simbol Pergerakan Nasional     <\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Abdul Rifa\u2019I dalam media bintang timur terbit pada 03 Oktober 1927, mengatakan, \u201ckopinya bukan kopi saringan, tetapi kopi tubruk sebab kopi ini katanya nationaal, gulanya gula jawa, susu tidak dipakai karena tidak nationaal. Rokoknya kelobot, selamatan natioanaal ini terus berlangsung ed sampai pagi hari\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Semangat nasionalisme harus tertanam, mengedepankan produk lokal adalah salah satu semangat nasionalime. Salah satu keberadaan rokok klobot menjadi ciri produk asli indonesia dan harus dilestarikan. Klobot sendiri adalah ramuan tembakau dan cengkeh di gulung memakai daun jagung, embrio perkembangan menjadi rokok sigaret kretek tangan dan sigaret kretek mesin.  
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pusaran Budaya Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pusaran-budaya-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-04 08:40:41","post_modified_gmt":"2019-02-04 01:40:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5406","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5403,"post_author":"919","post_date":"2019-02-03 09:05:50","post_date_gmt":"2019-02-03 02:05:50","post_content":"\n

Seringkali saya menyaksikan berbagai film baik itu Eropa atau Asia yang menggambarkan tentang masa depan. Pemandangan soal masa depan tersebut dihadirkan dengan gambaran kecanggihan teknologi seperti robot yang akan membantu kehidupan manusia, gedung-gedung yang tingginya sudah amat tak bisa ditandingi,  hingga mobil-mobil yang bisa terbang. <\/p>\n\n\n\n

Pernah dalam masa kecil saya menyaksikan sebuah film animasi buatan jepang yang mempertanyakan tentang makanan di masa depan. Dengan santai salah satu tokoh yang berasal dari masa depan itu menjawab bahwa suatu saat nanti manusia akan mengonsumsi makanan berupa pasta gigi namun dengan rasa yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa, aneh!<\/p>\n\n\n\n

Seiring waktu berjalan saya kian tumbuh dewasa dan punya kesadaran untuk memilih menjadi seorang perokok<\/a>. Saya juga melihat ada sebuah inovasi dan gambaran tentang masa depan yang hadir dalam kehidupan sekarang. Banyak memang, namun yang menyita perhatian saya adalah rokok elektrik atau yang populer disebut Vape. Konon katanya ia adalah produk inovasi untuk menjembatani kebutuhan menghisap asap dan kecanggihan masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Di awal kehadirannya Vape memang mengundang decak kekaguman saya. Bagaimana bisa sebuah mesin kecil mengeluarkan asap yang katanya lebih menyehatkan daripada rokok.<\/strong> Meski pada akhirnya teori tersebut juga bisa dibantah oleh beberapa ilmuan dunia. Tapi ada satu yang saya amati selain soal kesehatan, rokok elektrik rupanya menghadirkan kultur dan budaya baru dalam kehidupan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: LAGI-LAGI IKLAN ROKOK, KAPAN KPAI TIDAK TEBANG PILIH? <\/a><\/h4>\n\n\n\n

Kehadiran teknologi memang kerap sedikit atau benyak mengubah gaya atau kultur suatu masyarakat. Begitu pula yang saya perhatikan dengan rokok elektrik. Satu hal yang mudah diamati adalah menjamurnya toko-toko kecil yang menjual vape serta liquid di berbagai tempat. Sebagai sebuah warna baru dalam masyarakat, penggunanya ramai-ramai mengunjungi tempat tersebut berinteraksi dengan penikmat lainnya dan membangun sebuah rumah komunitas yang fleksibel.<\/p>\n\n\n\n

Meski belum bisa dikatakan memiliki jumlah penikmat yang setara dengan para perokok, pengguna Vape mulai menunjukkan eksistensinya. Selain toko yang tersebar, ragam acara juga mereka buat di beberapa daerah. Dalam lingkungan saya, beberapa teman yang dulunya merupakan perokok aktif tertarik mengikuti event tersebut dan beralih mengisap rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Nun jauh di sana, di Amerika Serikat tepatnya, budaya Vape juga sudah mulai berkembang lama ketimbang di Tanah Air. Penikmatnya terbagi menjadi dua, ada yang dulunya bekas perokok dan ada yang memang menikmatinya sebagai gaya hidup. Wajar saja mengingat facebook tak memperbolehkan iklan tembakau di platform mereka, sebaliknya iklan tentang vape justru bertebaran. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi budaya baru yang berkembang di berbagai belahan dunia bahkan di Indonesia, Vape konon menjadi alternatif yang lebih bermanfaat daripada rokok. Dalih yang diusung selalu sama kepada para perokok tradisonal yaitu soal kesehatan dan lebih irit. Soal kesehatan tentu ada beberapa pendapat para ilmuan yang membantahnya, namun soal irit, saya rasa tidak. Memang satu liquid bisa digunakan untuk beberapa Minggu, akan tetapi yang saya lihat di lapangan justru sebaliknya. <\/p>\n\n\n\n

Beberapa penikmat rokok elektrik kerap berbelanja liquid yang mereka idamkan. Terkadang, hal tersebut yang membuat mereka boros karena terus mengeksplor rasa mana yang mereka idam-idamkan. Tak jarang juga liquid dengan harga mahal hingga ratus ribuan akan mereka beli. Sebaliknya, para perokok konvensional justru kerap bertahan dengan satu rasa atau merek saja.<\/p>\n\n\n\n

Sedikit berbeda dengan penikmat rokok konvensional atau kretek. Mengingat rokok kretek sudah menjadi kebudayan lokal yang terus dipertahankan selama bertahun-tahun, kehadirannya sudah mewarnai khasanah keindonesiaan. Perokok kretek juga sudah punya soliditas luar biasa yang terbentuk sejak lama dan terus terbangun mengiringi peradaban di Indonesia atau dunia.<\/p>\n\n\n\n

Kini, perokok elektrik mulai merasakan kegelisahan. Beberapa negara mulai menerapkan peraturan ketat terhadap Vape, sedangkan di Indonesia biaya cukai pun kini mulai diberlakukan terhadap perdagangan rokok elektrik. Keberadaannya di mata negara pun mulai dianggap sama seperti rokok, meski pada awalnya rokok elektrik hadir dengan slogan-slogan produk alternatif yang lebih menyehatkan (katanya).<\/p>\n\n\n\n


Tapi jika kemudian di masa depan memang rokok elektrik yang kemudian menjadi sesuatu yang populer dan dinikmati banyak orang. Rasanya saya tetap ingin hidup di jaman ini, dengan sebatang kretek di tangan dan menikmati segala khasanah kebudayaan yang patut terus dipertahankan. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"masa-depan-rokok-elektrik-dan-semangat-alternatif-yang-sia-sia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-03 09:05:56","post_modified_gmt":"2019-02-03 02:05:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5403","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5385,"post_author":"883","post_date":"2019-02-02 08:01:01","post_date_gmt":"2019-02-02 01:01:01","post_content":"Pada tahun 2014, perusahaan rokok multinasional Philip Morris Internasional Inc. merilis sebuah produk <\/span>perangkat\u00a0<\/span>
rokok<\/span><\/a>\u00a0tanpa asap, yang dipanaskan bukan dibakar atau istilahnya\u00a0<\/span>heat not burn<\/i><\/strong>\u00a0(HNB) iQOS<\/strong>. <\/span>\r\n\r\nPerangkat rokok tanpa asap dengan nama iQOS<\/a> ini berbentuk seperti bagian luar pulpen, dengan lubang di tengah untuk rokok. Produk yang berada di bawah brand Marlboro ini dapat memanaskan rokok sampai 350 derajat celcius lalu mengeluarkan uap nikotin beraroma tembakau<\/em><\/a>.<\/span>\r\n

Produk iQOS sebenarnya bukanlah produk rokok tanpa asap yang pertama muncul. Sebelumnya di tahun 1990-an, Reynolds Tobacco Co pernah merilis produk serupa bernama Eclipes yang juga dapat menguapkan nikotin setelah dinyalakan dengan korek api.<\/span><\/blockquote>\r\nSelain itu, Eclips juga dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. Namun, pada saat itu Eclips tidak diminati oleh pasar, utamanya para perokok konvensional. Meskipun Eclips dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. <\/span>\r\n\r\nBisnis semacam rokok tanpa asap seperti Eclips dan iQOS memang sudah menjadi bagian dari rencana panjang bisnis perusahaan-perusahaan rokok multinasional. Jadi tidak usah heran jika ke depannya akan kita akan banyak menemukan produk rokok tanpa asap ini.<\/span>\r\n\r\nWatak dari perusahaan multinasional memang seperti itu, mereka sangat jeli melihat peluang pasar ke depannya. Ketika market place perusahaan rokok multinasional saat ini terus dirongrong oleh kelompok antirokok, mereka tak kehabisan akal. Maka kemudian mereka menginovasi produk rokok konvensional menjadi rokok yang tidak berasap. Begitupun dengan mengikutsertakan jargon-jargon kesehatan dalam narasi promosi mereka.<\/span>\r\n\r\nSesungguhnya memang seperti itulah watak bisnis perusahaan-perusahaan multinasional, melakukan segala cara agar bisnis mereka tetap bertahan, meskipun harus merangkul musuh sekalipun. <\/span>\r\n\r\nYa kadang pura-pura berantem sama antirokok, tapi dibalik itu sebenarnya baik-baik saja, dan tentunya ada kompromi untuk terus melanggengkan bisnis mereka.<\/span>\r\n

Lalu siapa yang dirugikan dari permainan bisnis macam produk rokok tanpa asap perusahaan rokok multinasional ini?<\/span><\/h3>\r\nTentunya yang sangat dirugikan adalah produk hasil tembakau yang memiliki kekhasan seperti kretek di Indonesia. Kretek sebagai produk khas asli Indonesia yang menjadi bagian dari warisan kebudayaan tidak mungkin bertransformasi menjadi produk-produk elektrik dan sejenisnya.<\/span>\r\n\r\nKretek tetaplah kretek, dengan bahan baku alami tembakau dan cengkeh yang tidak diintervensi dengan zat atau perangkat penghantar lainnya. Karena dengan bentuk, karakter dan cara menikmatinya memang konvensional dan akan terus begitu apapun kondisi dan zamannya.<\/span>\r\n
Bisnis produk rokok tanpa asap (elektrik) juga menghajar kretek dengan mendompleng isu pengendalian tembakau. Kampanye pengendalian tembakau selalu membawa slogan bahaya merokok dan upaya untuk berhenti merokok. <\/span><\/blockquote>\r\nDari isu tersebut, rokok elektrik masuk dengan citra produk alternatif tembakau, bahkan mereka tak segan menilai bahwa rokok elektrik lebih aman ketimbang rokok konvensional, yakni kretek.<\/span>\r\n\r\nLalu jika Indonesia akan dibanjiri dengan produk-produk yang mengatasnamakan produk alternatif tembakau, macam rokok tanpa asap (iQOS dan sejenisnya), maka itulah pertanda bahwa kretek harus tergerus dari cara hidup manusia Indonesia dalam menikmati produk hasil tembakau khas Indonesia yang sudah turun-temurun lamanya dinikmati manusia Indonesia.<\/span>","post_title":"Nasib Kretek di Pusaran Pertarungan Bisnis Global Perusahaan Rokok Multinasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"nasib-kretek-di-pusaran-pertarungan-bisnis-global-perusahaan-rokok-multinasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-02 08:01:43","post_modified_gmt":"2019-02-02 01:01:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5385","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; \n

Kebijakannya membuat fenomenal, selain bahan makanan, dan bantuan lain, khofifah juga membawa rokok.  Yang kemudian ada yang mengggugat dari anti rokok, tetapi sebagai Menteri, Khofifah tentunya sudah mengkaji secara mendalam. Dengan kecerdasannya , Khofifah menjawab dengan tegas dan lugas, \u201cjangan sok tahu kehidupan mereka, kenali apa yang menjadi ritme kehidupan mereka. Sangat bijaksana kalau kita semua pergi kesana, sehingga tahu adat istiadatnya juga. Tolong kalau ingin mengerti tentang kultur jangan hanya dari kacamata Jakarta. Saya pun ingin mengajak anda kesana, turun kesana, sapalah mereka\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Khofifah memberikan pelajaran bagi anti rokok. Tidak boleh sok tahu, apalagi selama ini antirokok hanya berasumsi, tanpa melihat fakta dilapangan. Khofifah juga menganjurkan agar lebih mengenal adat-istiadat, budaya dan tradisi masyarakat, tidak boleh melakukan hegemoni kultural, sebab keberagaman adat-istiadat dan budaya merupakan kekayaan negeri. <\/p>\n\n\n\n

Pelajaran Khofifah sangat mendalam dan bercirikhas Nusantara. Sebgaai Menteri \u00a0Sosial tentunya lebih berpengalaman apa yang dibutuhkan bangsa ini agar tetap jaya, bersatu dan utuh. Kenali perbedaan, hormati perbedaan, junjung tinggi budaya yang berbeda. \u00a0Apa yang telah dilakukan Khofifah dengan membawa rokok ke suku anak dalam adalah cermin penghormatan tradisi dan budaya masyarakat. Sebagai seorang Mentri, tentunya punya kuasa, artinya bisa seorang khofifah memberikan bantuan sesuai keinginannya sendiri, namun hal itu tidak dilakukan. Ia lebih mengedepankan penghormatan budaya masyarakat setempat, dengan membawa rokok untuk pendekatan dan pertemanan. Karena Khofifah tahu betul, bahwa merokok adalah budaya mereka, yang diwaris dari neneng moyang mereka. <\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Memilih Jalan Hidup Menikmati Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Simbol Pergerakan Nasional     <\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Abdul Rifa\u2019I dalam media bintang timur terbit pada 03 Oktober 1927, mengatakan, \u201ckopinya bukan kopi saringan, tetapi kopi tubruk sebab kopi ini katanya nationaal, gulanya gula jawa, susu tidak dipakai karena tidak nationaal. Rokoknya kelobot, selamatan natioanaal ini terus berlangsung ed sampai pagi hari\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Semangat nasionalisme harus tertanam, mengedepankan produk lokal adalah salah satu semangat nasionalime. Salah satu keberadaan rokok klobot menjadi ciri produk asli indonesia dan harus dilestarikan. Klobot sendiri adalah ramuan tembakau dan cengkeh di gulung memakai daun jagung, embrio perkembangan menjadi rokok sigaret kretek tangan dan sigaret kretek mesin.  
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pusaran Budaya Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pusaran-budaya-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-04 08:40:41","post_modified_gmt":"2019-02-04 01:40:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5406","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5403,"post_author":"919","post_date":"2019-02-03 09:05:50","post_date_gmt":"2019-02-03 02:05:50","post_content":"\n

Seringkali saya menyaksikan berbagai film baik itu Eropa atau Asia yang menggambarkan tentang masa depan. Pemandangan soal masa depan tersebut dihadirkan dengan gambaran kecanggihan teknologi seperti robot yang akan membantu kehidupan manusia, gedung-gedung yang tingginya sudah amat tak bisa ditandingi,  hingga mobil-mobil yang bisa terbang. <\/p>\n\n\n\n

Pernah dalam masa kecil saya menyaksikan sebuah film animasi buatan jepang yang mempertanyakan tentang makanan di masa depan. Dengan santai salah satu tokoh yang berasal dari masa depan itu menjawab bahwa suatu saat nanti manusia akan mengonsumsi makanan berupa pasta gigi namun dengan rasa yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa, aneh!<\/p>\n\n\n\n

Seiring waktu berjalan saya kian tumbuh dewasa dan punya kesadaran untuk memilih menjadi seorang perokok<\/a>. Saya juga melihat ada sebuah inovasi dan gambaran tentang masa depan yang hadir dalam kehidupan sekarang. Banyak memang, namun yang menyita perhatian saya adalah rokok elektrik atau yang populer disebut Vape. Konon katanya ia adalah produk inovasi untuk menjembatani kebutuhan menghisap asap dan kecanggihan masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Di awal kehadirannya Vape memang mengundang decak kekaguman saya. Bagaimana bisa sebuah mesin kecil mengeluarkan asap yang katanya lebih menyehatkan daripada rokok.<\/strong> Meski pada akhirnya teori tersebut juga bisa dibantah oleh beberapa ilmuan dunia. Tapi ada satu yang saya amati selain soal kesehatan, rokok elektrik rupanya menghadirkan kultur dan budaya baru dalam kehidupan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: LAGI-LAGI IKLAN ROKOK, KAPAN KPAI TIDAK TEBANG PILIH? <\/a><\/h4>\n\n\n\n

Kehadiran teknologi memang kerap sedikit atau benyak mengubah gaya atau kultur suatu masyarakat. Begitu pula yang saya perhatikan dengan rokok elektrik. Satu hal yang mudah diamati adalah menjamurnya toko-toko kecil yang menjual vape serta liquid di berbagai tempat. Sebagai sebuah warna baru dalam masyarakat, penggunanya ramai-ramai mengunjungi tempat tersebut berinteraksi dengan penikmat lainnya dan membangun sebuah rumah komunitas yang fleksibel.<\/p>\n\n\n\n

Meski belum bisa dikatakan memiliki jumlah penikmat yang setara dengan para perokok, pengguna Vape mulai menunjukkan eksistensinya. Selain toko yang tersebar, ragam acara juga mereka buat di beberapa daerah. Dalam lingkungan saya, beberapa teman yang dulunya merupakan perokok aktif tertarik mengikuti event tersebut dan beralih mengisap rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Nun jauh di sana, di Amerika Serikat tepatnya, budaya Vape juga sudah mulai berkembang lama ketimbang di Tanah Air. Penikmatnya terbagi menjadi dua, ada yang dulunya bekas perokok dan ada yang memang menikmatinya sebagai gaya hidup. Wajar saja mengingat facebook tak memperbolehkan iklan tembakau di platform mereka, sebaliknya iklan tentang vape justru bertebaran. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi budaya baru yang berkembang di berbagai belahan dunia bahkan di Indonesia, Vape konon menjadi alternatif yang lebih bermanfaat daripada rokok. Dalih yang diusung selalu sama kepada para perokok tradisonal yaitu soal kesehatan dan lebih irit. Soal kesehatan tentu ada beberapa pendapat para ilmuan yang membantahnya, namun soal irit, saya rasa tidak. Memang satu liquid bisa digunakan untuk beberapa Minggu, akan tetapi yang saya lihat di lapangan justru sebaliknya. <\/p>\n\n\n\n

Beberapa penikmat rokok elektrik kerap berbelanja liquid yang mereka idamkan. Terkadang, hal tersebut yang membuat mereka boros karena terus mengeksplor rasa mana yang mereka idam-idamkan. Tak jarang juga liquid dengan harga mahal hingga ratus ribuan akan mereka beli. Sebaliknya, para perokok konvensional justru kerap bertahan dengan satu rasa atau merek saja.<\/p>\n\n\n\n

Sedikit berbeda dengan penikmat rokok konvensional atau kretek. Mengingat rokok kretek sudah menjadi kebudayan lokal yang terus dipertahankan selama bertahun-tahun, kehadirannya sudah mewarnai khasanah keindonesiaan. Perokok kretek juga sudah punya soliditas luar biasa yang terbentuk sejak lama dan terus terbangun mengiringi peradaban di Indonesia atau dunia.<\/p>\n\n\n\n

Kini, perokok elektrik mulai merasakan kegelisahan. Beberapa negara mulai menerapkan peraturan ketat terhadap Vape, sedangkan di Indonesia biaya cukai pun kini mulai diberlakukan terhadap perdagangan rokok elektrik. Keberadaannya di mata negara pun mulai dianggap sama seperti rokok, meski pada awalnya rokok elektrik hadir dengan slogan-slogan produk alternatif yang lebih menyehatkan (katanya).<\/p>\n\n\n\n


Tapi jika kemudian di masa depan memang rokok elektrik yang kemudian menjadi sesuatu yang populer dan dinikmati banyak orang. Rasanya saya tetap ingin hidup di jaman ini, dengan sebatang kretek di tangan dan menikmati segala khasanah kebudayaan yang patut terus dipertahankan. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"masa-depan-rokok-elektrik-dan-semangat-alternatif-yang-sia-sia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-03 09:05:56","post_modified_gmt":"2019-02-03 02:05:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5403","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5385,"post_author":"883","post_date":"2019-02-02 08:01:01","post_date_gmt":"2019-02-02 01:01:01","post_content":"Pada tahun 2014, perusahaan rokok multinasional Philip Morris Internasional Inc. merilis sebuah produk <\/span>perangkat\u00a0<\/span>
rokok<\/span><\/a>\u00a0tanpa asap, yang dipanaskan bukan dibakar atau istilahnya\u00a0<\/span>heat not burn<\/i><\/strong>\u00a0(HNB) iQOS<\/strong>. <\/span>\r\n\r\nPerangkat rokok tanpa asap dengan nama iQOS<\/a> ini berbentuk seperti bagian luar pulpen, dengan lubang di tengah untuk rokok. Produk yang berada di bawah brand Marlboro ini dapat memanaskan rokok sampai 350 derajat celcius lalu mengeluarkan uap nikotin beraroma tembakau<\/em><\/a>.<\/span>\r\n

Produk iQOS sebenarnya bukanlah produk rokok tanpa asap yang pertama muncul. Sebelumnya di tahun 1990-an, Reynolds Tobacco Co pernah merilis produk serupa bernama Eclipes yang juga dapat menguapkan nikotin setelah dinyalakan dengan korek api.<\/span><\/blockquote>\r\nSelain itu, Eclips juga dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. Namun, pada saat itu Eclips tidak diminati oleh pasar, utamanya para perokok konvensional. Meskipun Eclips dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. <\/span>\r\n\r\nBisnis semacam rokok tanpa asap seperti Eclips dan iQOS memang sudah menjadi bagian dari rencana panjang bisnis perusahaan-perusahaan rokok multinasional. Jadi tidak usah heran jika ke depannya akan kita akan banyak menemukan produk rokok tanpa asap ini.<\/span>\r\n\r\nWatak dari perusahaan multinasional memang seperti itu, mereka sangat jeli melihat peluang pasar ke depannya. Ketika market place perusahaan rokok multinasional saat ini terus dirongrong oleh kelompok antirokok, mereka tak kehabisan akal. Maka kemudian mereka menginovasi produk rokok konvensional menjadi rokok yang tidak berasap. Begitupun dengan mengikutsertakan jargon-jargon kesehatan dalam narasi promosi mereka.<\/span>\r\n\r\nSesungguhnya memang seperti itulah watak bisnis perusahaan-perusahaan multinasional, melakukan segala cara agar bisnis mereka tetap bertahan, meskipun harus merangkul musuh sekalipun. <\/span>\r\n\r\nYa kadang pura-pura berantem sama antirokok, tapi dibalik itu sebenarnya baik-baik saja, dan tentunya ada kompromi untuk terus melanggengkan bisnis mereka.<\/span>\r\n

Lalu siapa yang dirugikan dari permainan bisnis macam produk rokok tanpa asap perusahaan rokok multinasional ini?<\/span><\/h3>\r\nTentunya yang sangat dirugikan adalah produk hasil tembakau yang memiliki kekhasan seperti kretek di Indonesia. Kretek sebagai produk khas asli Indonesia yang menjadi bagian dari warisan kebudayaan tidak mungkin bertransformasi menjadi produk-produk elektrik dan sejenisnya.<\/span>\r\n\r\nKretek tetaplah kretek, dengan bahan baku alami tembakau dan cengkeh yang tidak diintervensi dengan zat atau perangkat penghantar lainnya. Karena dengan bentuk, karakter dan cara menikmatinya memang konvensional dan akan terus begitu apapun kondisi dan zamannya.<\/span>\r\n
Bisnis produk rokok tanpa asap (elektrik) juga menghajar kretek dengan mendompleng isu pengendalian tembakau. Kampanye pengendalian tembakau selalu membawa slogan bahaya merokok dan upaya untuk berhenti merokok. <\/span><\/blockquote>\r\nDari isu tersebut, rokok elektrik masuk dengan citra produk alternatif tembakau, bahkan mereka tak segan menilai bahwa rokok elektrik lebih aman ketimbang rokok konvensional, yakni kretek.<\/span>\r\n\r\nLalu jika Indonesia akan dibanjiri dengan produk-produk yang mengatasnamakan produk alternatif tembakau, macam rokok tanpa asap (iQOS dan sejenisnya), maka itulah pertanda bahwa kretek harus tergerus dari cara hidup manusia Indonesia dalam menikmati produk hasil tembakau khas Indonesia yang sudah turun-temurun lamanya dinikmati manusia Indonesia.<\/span>","post_title":"Nasib Kretek di Pusaran Pertarungan Bisnis Global Perusahaan Rokok Multinasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"nasib-kretek-di-pusaran-pertarungan-bisnis-global-perusahaan-rokok-multinasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-02 08:01:43","post_modified_gmt":"2019-02-02 01:01:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5385","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; \n

Teringat apa yang pernah dilakukan Menteri Sosial dan Lingkungan Hidup, saat melakukan pendekatan pada suku anak dalam di Jambi. Tidak lain ia adalah Khofifah menteri perempuan yang energik. Saat itu Khofifah bertanggungjawab dalam mengatasi masalah pendidikan dan kesejahteraan masyarakat suku anak dalam di Jambi.  <\/p>\n\n\n\n

Kebijakannya membuat fenomenal, selain bahan makanan, dan bantuan lain, khofifah juga membawa rokok.  Yang kemudian ada yang mengggugat dari anti rokok, tetapi sebagai Menteri, Khofifah tentunya sudah mengkaji secara mendalam. Dengan kecerdasannya , Khofifah menjawab dengan tegas dan lugas, \u201cjangan sok tahu kehidupan mereka, kenali apa yang menjadi ritme kehidupan mereka. Sangat bijaksana kalau kita semua pergi kesana, sehingga tahu adat istiadatnya juga. Tolong kalau ingin mengerti tentang kultur jangan hanya dari kacamata Jakarta. Saya pun ingin mengajak anda kesana, turun kesana, sapalah mereka\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Khofifah memberikan pelajaran bagi anti rokok. Tidak boleh sok tahu, apalagi selama ini antirokok hanya berasumsi, tanpa melihat fakta dilapangan. Khofifah juga menganjurkan agar lebih mengenal adat-istiadat, budaya dan tradisi masyarakat, tidak boleh melakukan hegemoni kultural, sebab keberagaman adat-istiadat dan budaya merupakan kekayaan negeri. <\/p>\n\n\n\n

Pelajaran Khofifah sangat mendalam dan bercirikhas Nusantara. Sebgaai Menteri \u00a0Sosial tentunya lebih berpengalaman apa yang dibutuhkan bangsa ini agar tetap jaya, bersatu dan utuh. Kenali perbedaan, hormati perbedaan, junjung tinggi budaya yang berbeda. \u00a0Apa yang telah dilakukan Khofifah dengan membawa rokok ke suku anak dalam adalah cermin penghormatan tradisi dan budaya masyarakat. Sebagai seorang Mentri, tentunya punya kuasa, artinya bisa seorang khofifah memberikan bantuan sesuai keinginannya sendiri, namun hal itu tidak dilakukan. Ia lebih mengedepankan penghormatan budaya masyarakat setempat, dengan membawa rokok untuk pendekatan dan pertemanan. Karena Khofifah tahu betul, bahwa merokok adalah budaya mereka, yang diwaris dari neneng moyang mereka. <\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Memilih Jalan Hidup Menikmati Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Simbol Pergerakan Nasional     <\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Abdul Rifa\u2019I dalam media bintang timur terbit pada 03 Oktober 1927, mengatakan, \u201ckopinya bukan kopi saringan, tetapi kopi tubruk sebab kopi ini katanya nationaal, gulanya gula jawa, susu tidak dipakai karena tidak nationaal. Rokoknya kelobot, selamatan natioanaal ini terus berlangsung ed sampai pagi hari\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Semangat nasionalisme harus tertanam, mengedepankan produk lokal adalah salah satu semangat nasionalime. Salah satu keberadaan rokok klobot menjadi ciri produk asli indonesia dan harus dilestarikan. Klobot sendiri adalah ramuan tembakau dan cengkeh di gulung memakai daun jagung, embrio perkembangan menjadi rokok sigaret kretek tangan dan sigaret kretek mesin.  
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pusaran Budaya Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pusaran-budaya-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-04 08:40:41","post_modified_gmt":"2019-02-04 01:40:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5406","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5403,"post_author":"919","post_date":"2019-02-03 09:05:50","post_date_gmt":"2019-02-03 02:05:50","post_content":"\n

Seringkali saya menyaksikan berbagai film baik itu Eropa atau Asia yang menggambarkan tentang masa depan. Pemandangan soal masa depan tersebut dihadirkan dengan gambaran kecanggihan teknologi seperti robot yang akan membantu kehidupan manusia, gedung-gedung yang tingginya sudah amat tak bisa ditandingi,  hingga mobil-mobil yang bisa terbang. <\/p>\n\n\n\n

Pernah dalam masa kecil saya menyaksikan sebuah film animasi buatan jepang yang mempertanyakan tentang makanan di masa depan. Dengan santai salah satu tokoh yang berasal dari masa depan itu menjawab bahwa suatu saat nanti manusia akan mengonsumsi makanan berupa pasta gigi namun dengan rasa yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa, aneh!<\/p>\n\n\n\n

Seiring waktu berjalan saya kian tumbuh dewasa dan punya kesadaran untuk memilih menjadi seorang perokok<\/a>. Saya juga melihat ada sebuah inovasi dan gambaran tentang masa depan yang hadir dalam kehidupan sekarang. Banyak memang, namun yang menyita perhatian saya adalah rokok elektrik atau yang populer disebut Vape. Konon katanya ia adalah produk inovasi untuk menjembatani kebutuhan menghisap asap dan kecanggihan masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Di awal kehadirannya Vape memang mengundang decak kekaguman saya. Bagaimana bisa sebuah mesin kecil mengeluarkan asap yang katanya lebih menyehatkan daripada rokok.<\/strong> Meski pada akhirnya teori tersebut juga bisa dibantah oleh beberapa ilmuan dunia. Tapi ada satu yang saya amati selain soal kesehatan, rokok elektrik rupanya menghadirkan kultur dan budaya baru dalam kehidupan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: LAGI-LAGI IKLAN ROKOK, KAPAN KPAI TIDAK TEBANG PILIH? <\/a><\/h4>\n\n\n\n

Kehadiran teknologi memang kerap sedikit atau benyak mengubah gaya atau kultur suatu masyarakat. Begitu pula yang saya perhatikan dengan rokok elektrik. Satu hal yang mudah diamati adalah menjamurnya toko-toko kecil yang menjual vape serta liquid di berbagai tempat. Sebagai sebuah warna baru dalam masyarakat, penggunanya ramai-ramai mengunjungi tempat tersebut berinteraksi dengan penikmat lainnya dan membangun sebuah rumah komunitas yang fleksibel.<\/p>\n\n\n\n

Meski belum bisa dikatakan memiliki jumlah penikmat yang setara dengan para perokok, pengguna Vape mulai menunjukkan eksistensinya. Selain toko yang tersebar, ragam acara juga mereka buat di beberapa daerah. Dalam lingkungan saya, beberapa teman yang dulunya merupakan perokok aktif tertarik mengikuti event tersebut dan beralih mengisap rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Nun jauh di sana, di Amerika Serikat tepatnya, budaya Vape juga sudah mulai berkembang lama ketimbang di Tanah Air. Penikmatnya terbagi menjadi dua, ada yang dulunya bekas perokok dan ada yang memang menikmatinya sebagai gaya hidup. Wajar saja mengingat facebook tak memperbolehkan iklan tembakau di platform mereka, sebaliknya iklan tentang vape justru bertebaran. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi budaya baru yang berkembang di berbagai belahan dunia bahkan di Indonesia, Vape konon menjadi alternatif yang lebih bermanfaat daripada rokok. Dalih yang diusung selalu sama kepada para perokok tradisonal yaitu soal kesehatan dan lebih irit. Soal kesehatan tentu ada beberapa pendapat para ilmuan yang membantahnya, namun soal irit, saya rasa tidak. Memang satu liquid bisa digunakan untuk beberapa Minggu, akan tetapi yang saya lihat di lapangan justru sebaliknya. <\/p>\n\n\n\n

Beberapa penikmat rokok elektrik kerap berbelanja liquid yang mereka idamkan. Terkadang, hal tersebut yang membuat mereka boros karena terus mengeksplor rasa mana yang mereka idam-idamkan. Tak jarang juga liquid dengan harga mahal hingga ratus ribuan akan mereka beli. Sebaliknya, para perokok konvensional justru kerap bertahan dengan satu rasa atau merek saja.<\/p>\n\n\n\n

Sedikit berbeda dengan penikmat rokok konvensional atau kretek. Mengingat rokok kretek sudah menjadi kebudayan lokal yang terus dipertahankan selama bertahun-tahun, kehadirannya sudah mewarnai khasanah keindonesiaan. Perokok kretek juga sudah punya soliditas luar biasa yang terbentuk sejak lama dan terus terbangun mengiringi peradaban di Indonesia atau dunia.<\/p>\n\n\n\n

Kini, perokok elektrik mulai merasakan kegelisahan. Beberapa negara mulai menerapkan peraturan ketat terhadap Vape, sedangkan di Indonesia biaya cukai pun kini mulai diberlakukan terhadap perdagangan rokok elektrik. Keberadaannya di mata negara pun mulai dianggap sama seperti rokok, meski pada awalnya rokok elektrik hadir dengan slogan-slogan produk alternatif yang lebih menyehatkan (katanya).<\/p>\n\n\n\n


Tapi jika kemudian di masa depan memang rokok elektrik yang kemudian menjadi sesuatu yang populer dan dinikmati banyak orang. Rasanya saya tetap ingin hidup di jaman ini, dengan sebatang kretek di tangan dan menikmati segala khasanah kebudayaan yang patut terus dipertahankan. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"masa-depan-rokok-elektrik-dan-semangat-alternatif-yang-sia-sia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-03 09:05:56","post_modified_gmt":"2019-02-03 02:05:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5403","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5385,"post_author":"883","post_date":"2019-02-02 08:01:01","post_date_gmt":"2019-02-02 01:01:01","post_content":"Pada tahun 2014, perusahaan rokok multinasional Philip Morris Internasional Inc. merilis sebuah produk <\/span>perangkat\u00a0<\/span>
rokok<\/span><\/a>\u00a0tanpa asap, yang dipanaskan bukan dibakar atau istilahnya\u00a0<\/span>heat not burn<\/i><\/strong>\u00a0(HNB) iQOS<\/strong>. <\/span>\r\n\r\nPerangkat rokok tanpa asap dengan nama iQOS<\/a> ini berbentuk seperti bagian luar pulpen, dengan lubang di tengah untuk rokok. Produk yang berada di bawah brand Marlboro ini dapat memanaskan rokok sampai 350 derajat celcius lalu mengeluarkan uap nikotin beraroma tembakau<\/em><\/a>.<\/span>\r\n

Produk iQOS sebenarnya bukanlah produk rokok tanpa asap yang pertama muncul. Sebelumnya di tahun 1990-an, Reynolds Tobacco Co pernah merilis produk serupa bernama Eclipes yang juga dapat menguapkan nikotin setelah dinyalakan dengan korek api.<\/span><\/blockquote>\r\nSelain itu, Eclips juga dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. Namun, pada saat itu Eclips tidak diminati oleh pasar, utamanya para perokok konvensional. Meskipun Eclips dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. <\/span>\r\n\r\nBisnis semacam rokok tanpa asap seperti Eclips dan iQOS memang sudah menjadi bagian dari rencana panjang bisnis perusahaan-perusahaan rokok multinasional. Jadi tidak usah heran jika ke depannya akan kita akan banyak menemukan produk rokok tanpa asap ini.<\/span>\r\n\r\nWatak dari perusahaan multinasional memang seperti itu, mereka sangat jeli melihat peluang pasar ke depannya. Ketika market place perusahaan rokok multinasional saat ini terus dirongrong oleh kelompok antirokok, mereka tak kehabisan akal. Maka kemudian mereka menginovasi produk rokok konvensional menjadi rokok yang tidak berasap. Begitupun dengan mengikutsertakan jargon-jargon kesehatan dalam narasi promosi mereka.<\/span>\r\n\r\nSesungguhnya memang seperti itulah watak bisnis perusahaan-perusahaan multinasional, melakukan segala cara agar bisnis mereka tetap bertahan, meskipun harus merangkul musuh sekalipun. <\/span>\r\n\r\nYa kadang pura-pura berantem sama antirokok, tapi dibalik itu sebenarnya baik-baik saja, dan tentunya ada kompromi untuk terus melanggengkan bisnis mereka.<\/span>\r\n

Lalu siapa yang dirugikan dari permainan bisnis macam produk rokok tanpa asap perusahaan rokok multinasional ini?<\/span><\/h3>\r\nTentunya yang sangat dirugikan adalah produk hasil tembakau yang memiliki kekhasan seperti kretek di Indonesia. Kretek sebagai produk khas asli Indonesia yang menjadi bagian dari warisan kebudayaan tidak mungkin bertransformasi menjadi produk-produk elektrik dan sejenisnya.<\/span>\r\n\r\nKretek tetaplah kretek, dengan bahan baku alami tembakau dan cengkeh yang tidak diintervensi dengan zat atau perangkat penghantar lainnya. Karena dengan bentuk, karakter dan cara menikmatinya memang konvensional dan akan terus begitu apapun kondisi dan zamannya.<\/span>\r\n
Bisnis produk rokok tanpa asap (elektrik) juga menghajar kretek dengan mendompleng isu pengendalian tembakau. Kampanye pengendalian tembakau selalu membawa slogan bahaya merokok dan upaya untuk berhenti merokok. <\/span><\/blockquote>\r\nDari isu tersebut, rokok elektrik masuk dengan citra produk alternatif tembakau, bahkan mereka tak segan menilai bahwa rokok elektrik lebih aman ketimbang rokok konvensional, yakni kretek.<\/span>\r\n\r\nLalu jika Indonesia akan dibanjiri dengan produk-produk yang mengatasnamakan produk alternatif tembakau, macam rokok tanpa asap (iQOS dan sejenisnya), maka itulah pertanda bahwa kretek harus tergerus dari cara hidup manusia Indonesia dalam menikmati produk hasil tembakau khas Indonesia yang sudah turun-temurun lamanya dinikmati manusia Indonesia.<\/span>","post_title":"Nasib Kretek di Pusaran Pertarungan Bisnis Global Perusahaan Rokok Multinasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"nasib-kretek-di-pusaran-pertarungan-bisnis-global-perusahaan-rokok-multinasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-02 08:01:43","post_modified_gmt":"2019-02-02 01:01:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5385","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; \n

Kretek untuk Berteman dan Menjalin Persaudaraan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Teringat apa yang pernah dilakukan Menteri Sosial dan Lingkungan Hidup, saat melakukan pendekatan pada suku anak dalam di Jambi. Tidak lain ia adalah Khofifah menteri perempuan yang energik. Saat itu Khofifah bertanggungjawab dalam mengatasi masalah pendidikan dan kesejahteraan masyarakat suku anak dalam di Jambi.  <\/p>\n\n\n\n

Kebijakannya membuat fenomenal, selain bahan makanan, dan bantuan lain, khofifah juga membawa rokok.  Yang kemudian ada yang mengggugat dari anti rokok, tetapi sebagai Menteri, Khofifah tentunya sudah mengkaji secara mendalam. Dengan kecerdasannya , Khofifah menjawab dengan tegas dan lugas, \u201cjangan sok tahu kehidupan mereka, kenali apa yang menjadi ritme kehidupan mereka. Sangat bijaksana kalau kita semua pergi kesana, sehingga tahu adat istiadatnya juga. Tolong kalau ingin mengerti tentang kultur jangan hanya dari kacamata Jakarta. Saya pun ingin mengajak anda kesana, turun kesana, sapalah mereka\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Khofifah memberikan pelajaran bagi anti rokok. Tidak boleh sok tahu, apalagi selama ini antirokok hanya berasumsi, tanpa melihat fakta dilapangan. Khofifah juga menganjurkan agar lebih mengenal adat-istiadat, budaya dan tradisi masyarakat, tidak boleh melakukan hegemoni kultural, sebab keberagaman adat-istiadat dan budaya merupakan kekayaan negeri. <\/p>\n\n\n\n

Pelajaran Khofifah sangat mendalam dan bercirikhas Nusantara. Sebgaai Menteri \u00a0Sosial tentunya lebih berpengalaman apa yang dibutuhkan bangsa ini agar tetap jaya, bersatu dan utuh. Kenali perbedaan, hormati perbedaan, junjung tinggi budaya yang berbeda. \u00a0Apa yang telah dilakukan Khofifah dengan membawa rokok ke suku anak dalam adalah cermin penghormatan tradisi dan budaya masyarakat. Sebagai seorang Mentri, tentunya punya kuasa, artinya bisa seorang khofifah memberikan bantuan sesuai keinginannya sendiri, namun hal itu tidak dilakukan. Ia lebih mengedepankan penghormatan budaya masyarakat setempat, dengan membawa rokok untuk pendekatan dan pertemanan. Karena Khofifah tahu betul, bahwa merokok adalah budaya mereka, yang diwaris dari neneng moyang mereka. <\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Memilih Jalan Hidup Menikmati Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Simbol Pergerakan Nasional     <\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Abdul Rifa\u2019I dalam media bintang timur terbit pada 03 Oktober 1927, mengatakan, \u201ckopinya bukan kopi saringan, tetapi kopi tubruk sebab kopi ini katanya nationaal, gulanya gula jawa, susu tidak dipakai karena tidak nationaal. Rokoknya kelobot, selamatan natioanaal ini terus berlangsung ed sampai pagi hari\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Semangat nasionalisme harus tertanam, mengedepankan produk lokal adalah salah satu semangat nasionalime. Salah satu keberadaan rokok klobot menjadi ciri produk asli indonesia dan harus dilestarikan. Klobot sendiri adalah ramuan tembakau dan cengkeh di gulung memakai daun jagung, embrio perkembangan menjadi rokok sigaret kretek tangan dan sigaret kretek mesin.  
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pusaran Budaya Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pusaran-budaya-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-04 08:40:41","post_modified_gmt":"2019-02-04 01:40:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5406","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5403,"post_author":"919","post_date":"2019-02-03 09:05:50","post_date_gmt":"2019-02-03 02:05:50","post_content":"\n

Seringkali saya menyaksikan berbagai film baik itu Eropa atau Asia yang menggambarkan tentang masa depan. Pemandangan soal masa depan tersebut dihadirkan dengan gambaran kecanggihan teknologi seperti robot yang akan membantu kehidupan manusia, gedung-gedung yang tingginya sudah amat tak bisa ditandingi,  hingga mobil-mobil yang bisa terbang. <\/p>\n\n\n\n

Pernah dalam masa kecil saya menyaksikan sebuah film animasi buatan jepang yang mempertanyakan tentang makanan di masa depan. Dengan santai salah satu tokoh yang berasal dari masa depan itu menjawab bahwa suatu saat nanti manusia akan mengonsumsi makanan berupa pasta gigi namun dengan rasa yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa, aneh!<\/p>\n\n\n\n

Seiring waktu berjalan saya kian tumbuh dewasa dan punya kesadaran untuk memilih menjadi seorang perokok<\/a>. Saya juga melihat ada sebuah inovasi dan gambaran tentang masa depan yang hadir dalam kehidupan sekarang. Banyak memang, namun yang menyita perhatian saya adalah rokok elektrik atau yang populer disebut Vape. Konon katanya ia adalah produk inovasi untuk menjembatani kebutuhan menghisap asap dan kecanggihan masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Di awal kehadirannya Vape memang mengundang decak kekaguman saya. Bagaimana bisa sebuah mesin kecil mengeluarkan asap yang katanya lebih menyehatkan daripada rokok.<\/strong> Meski pada akhirnya teori tersebut juga bisa dibantah oleh beberapa ilmuan dunia. Tapi ada satu yang saya amati selain soal kesehatan, rokok elektrik rupanya menghadirkan kultur dan budaya baru dalam kehidupan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: LAGI-LAGI IKLAN ROKOK, KAPAN KPAI TIDAK TEBANG PILIH? <\/a><\/h4>\n\n\n\n

Kehadiran teknologi memang kerap sedikit atau benyak mengubah gaya atau kultur suatu masyarakat. Begitu pula yang saya perhatikan dengan rokok elektrik. Satu hal yang mudah diamati adalah menjamurnya toko-toko kecil yang menjual vape serta liquid di berbagai tempat. Sebagai sebuah warna baru dalam masyarakat, penggunanya ramai-ramai mengunjungi tempat tersebut berinteraksi dengan penikmat lainnya dan membangun sebuah rumah komunitas yang fleksibel.<\/p>\n\n\n\n

Meski belum bisa dikatakan memiliki jumlah penikmat yang setara dengan para perokok, pengguna Vape mulai menunjukkan eksistensinya. Selain toko yang tersebar, ragam acara juga mereka buat di beberapa daerah. Dalam lingkungan saya, beberapa teman yang dulunya merupakan perokok aktif tertarik mengikuti event tersebut dan beralih mengisap rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Nun jauh di sana, di Amerika Serikat tepatnya, budaya Vape juga sudah mulai berkembang lama ketimbang di Tanah Air. Penikmatnya terbagi menjadi dua, ada yang dulunya bekas perokok dan ada yang memang menikmatinya sebagai gaya hidup. Wajar saja mengingat facebook tak memperbolehkan iklan tembakau di platform mereka, sebaliknya iklan tentang vape justru bertebaran. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi budaya baru yang berkembang di berbagai belahan dunia bahkan di Indonesia, Vape konon menjadi alternatif yang lebih bermanfaat daripada rokok. Dalih yang diusung selalu sama kepada para perokok tradisonal yaitu soal kesehatan dan lebih irit. Soal kesehatan tentu ada beberapa pendapat para ilmuan yang membantahnya, namun soal irit, saya rasa tidak. Memang satu liquid bisa digunakan untuk beberapa Minggu, akan tetapi yang saya lihat di lapangan justru sebaliknya. <\/p>\n\n\n\n

Beberapa penikmat rokok elektrik kerap berbelanja liquid yang mereka idamkan. Terkadang, hal tersebut yang membuat mereka boros karena terus mengeksplor rasa mana yang mereka idam-idamkan. Tak jarang juga liquid dengan harga mahal hingga ratus ribuan akan mereka beli. Sebaliknya, para perokok konvensional justru kerap bertahan dengan satu rasa atau merek saja.<\/p>\n\n\n\n

Sedikit berbeda dengan penikmat rokok konvensional atau kretek. Mengingat rokok kretek sudah menjadi kebudayan lokal yang terus dipertahankan selama bertahun-tahun, kehadirannya sudah mewarnai khasanah keindonesiaan. Perokok kretek juga sudah punya soliditas luar biasa yang terbentuk sejak lama dan terus terbangun mengiringi peradaban di Indonesia atau dunia.<\/p>\n\n\n\n

Kini, perokok elektrik mulai merasakan kegelisahan. Beberapa negara mulai menerapkan peraturan ketat terhadap Vape, sedangkan di Indonesia biaya cukai pun kini mulai diberlakukan terhadap perdagangan rokok elektrik. Keberadaannya di mata negara pun mulai dianggap sama seperti rokok, meski pada awalnya rokok elektrik hadir dengan slogan-slogan produk alternatif yang lebih menyehatkan (katanya).<\/p>\n\n\n\n


Tapi jika kemudian di masa depan memang rokok elektrik yang kemudian menjadi sesuatu yang populer dan dinikmati banyak orang. Rasanya saya tetap ingin hidup di jaman ini, dengan sebatang kretek di tangan dan menikmati segala khasanah kebudayaan yang patut terus dipertahankan. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"masa-depan-rokok-elektrik-dan-semangat-alternatif-yang-sia-sia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-03 09:05:56","post_modified_gmt":"2019-02-03 02:05:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5403","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5385,"post_author":"883","post_date":"2019-02-02 08:01:01","post_date_gmt":"2019-02-02 01:01:01","post_content":"Pada tahun 2014, perusahaan rokok multinasional Philip Morris Internasional Inc. merilis sebuah produk <\/span>perangkat\u00a0<\/span>
rokok<\/span><\/a>\u00a0tanpa asap, yang dipanaskan bukan dibakar atau istilahnya\u00a0<\/span>heat not burn<\/i><\/strong>\u00a0(HNB) iQOS<\/strong>. <\/span>\r\n\r\nPerangkat rokok tanpa asap dengan nama iQOS<\/a> ini berbentuk seperti bagian luar pulpen, dengan lubang di tengah untuk rokok. Produk yang berada di bawah brand Marlboro ini dapat memanaskan rokok sampai 350 derajat celcius lalu mengeluarkan uap nikotin beraroma tembakau<\/em><\/a>.<\/span>\r\n

Produk iQOS sebenarnya bukanlah produk rokok tanpa asap yang pertama muncul. Sebelumnya di tahun 1990-an, Reynolds Tobacco Co pernah merilis produk serupa bernama Eclipes yang juga dapat menguapkan nikotin setelah dinyalakan dengan korek api.<\/span><\/blockquote>\r\nSelain itu, Eclips juga dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. Namun, pada saat itu Eclips tidak diminati oleh pasar, utamanya para perokok konvensional. Meskipun Eclips dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. <\/span>\r\n\r\nBisnis semacam rokok tanpa asap seperti Eclips dan iQOS memang sudah menjadi bagian dari rencana panjang bisnis perusahaan-perusahaan rokok multinasional. Jadi tidak usah heran jika ke depannya akan kita akan banyak menemukan produk rokok tanpa asap ini.<\/span>\r\n\r\nWatak dari perusahaan multinasional memang seperti itu, mereka sangat jeli melihat peluang pasar ke depannya. Ketika market place perusahaan rokok multinasional saat ini terus dirongrong oleh kelompok antirokok, mereka tak kehabisan akal. Maka kemudian mereka menginovasi produk rokok konvensional menjadi rokok yang tidak berasap. Begitupun dengan mengikutsertakan jargon-jargon kesehatan dalam narasi promosi mereka.<\/span>\r\n\r\nSesungguhnya memang seperti itulah watak bisnis perusahaan-perusahaan multinasional, melakukan segala cara agar bisnis mereka tetap bertahan, meskipun harus merangkul musuh sekalipun. <\/span>\r\n\r\nYa kadang pura-pura berantem sama antirokok, tapi dibalik itu sebenarnya baik-baik saja, dan tentunya ada kompromi untuk terus melanggengkan bisnis mereka.<\/span>\r\n

Lalu siapa yang dirugikan dari permainan bisnis macam produk rokok tanpa asap perusahaan rokok multinasional ini?<\/span><\/h3>\r\nTentunya yang sangat dirugikan adalah produk hasil tembakau yang memiliki kekhasan seperti kretek di Indonesia. Kretek sebagai produk khas asli Indonesia yang menjadi bagian dari warisan kebudayaan tidak mungkin bertransformasi menjadi produk-produk elektrik dan sejenisnya.<\/span>\r\n\r\nKretek tetaplah kretek, dengan bahan baku alami tembakau dan cengkeh yang tidak diintervensi dengan zat atau perangkat penghantar lainnya. Karena dengan bentuk, karakter dan cara menikmatinya memang konvensional dan akan terus begitu apapun kondisi dan zamannya.<\/span>\r\n
Bisnis produk rokok tanpa asap (elektrik) juga menghajar kretek dengan mendompleng isu pengendalian tembakau. Kampanye pengendalian tembakau selalu membawa slogan bahaya merokok dan upaya untuk berhenti merokok. <\/span><\/blockquote>\r\nDari isu tersebut, rokok elektrik masuk dengan citra produk alternatif tembakau, bahkan mereka tak segan menilai bahwa rokok elektrik lebih aman ketimbang rokok konvensional, yakni kretek.<\/span>\r\n\r\nLalu jika Indonesia akan dibanjiri dengan produk-produk yang mengatasnamakan produk alternatif tembakau, macam rokok tanpa asap (iQOS dan sejenisnya), maka itulah pertanda bahwa kretek harus tergerus dari cara hidup manusia Indonesia dalam menikmati produk hasil tembakau khas Indonesia yang sudah turun-temurun lamanya dinikmati manusia Indonesia.<\/span>","post_title":"Nasib Kretek di Pusaran Pertarungan Bisnis Global Perusahaan Rokok Multinasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"nasib-kretek-di-pusaran-pertarungan-bisnis-global-perusahaan-rokok-multinasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-02 08:01:43","post_modified_gmt":"2019-02-02 01:01:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5385","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; \n

Baca Juga: Mengisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek untuk Berteman dan Menjalin Persaudaraan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Teringat apa yang pernah dilakukan Menteri Sosial dan Lingkungan Hidup, saat melakukan pendekatan pada suku anak dalam di Jambi. Tidak lain ia adalah Khofifah menteri perempuan yang energik. Saat itu Khofifah bertanggungjawab dalam mengatasi masalah pendidikan dan kesejahteraan masyarakat suku anak dalam di Jambi.  <\/p>\n\n\n\n

Kebijakannya membuat fenomenal, selain bahan makanan, dan bantuan lain, khofifah juga membawa rokok.  Yang kemudian ada yang mengggugat dari anti rokok, tetapi sebagai Menteri, Khofifah tentunya sudah mengkaji secara mendalam. Dengan kecerdasannya , Khofifah menjawab dengan tegas dan lugas, \u201cjangan sok tahu kehidupan mereka, kenali apa yang menjadi ritme kehidupan mereka. Sangat bijaksana kalau kita semua pergi kesana, sehingga tahu adat istiadatnya juga. Tolong kalau ingin mengerti tentang kultur jangan hanya dari kacamata Jakarta. Saya pun ingin mengajak anda kesana, turun kesana, sapalah mereka\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Khofifah memberikan pelajaran bagi anti rokok. Tidak boleh sok tahu, apalagi selama ini antirokok hanya berasumsi, tanpa melihat fakta dilapangan. Khofifah juga menganjurkan agar lebih mengenal adat-istiadat, budaya dan tradisi masyarakat, tidak boleh melakukan hegemoni kultural, sebab keberagaman adat-istiadat dan budaya merupakan kekayaan negeri. <\/p>\n\n\n\n

Pelajaran Khofifah sangat mendalam dan bercirikhas Nusantara. Sebgaai Menteri \u00a0Sosial tentunya lebih berpengalaman apa yang dibutuhkan bangsa ini agar tetap jaya, bersatu dan utuh. Kenali perbedaan, hormati perbedaan, junjung tinggi budaya yang berbeda. \u00a0Apa yang telah dilakukan Khofifah dengan membawa rokok ke suku anak dalam adalah cermin penghormatan tradisi dan budaya masyarakat. Sebagai seorang Mentri, tentunya punya kuasa, artinya bisa seorang khofifah memberikan bantuan sesuai keinginannya sendiri, namun hal itu tidak dilakukan. Ia lebih mengedepankan penghormatan budaya masyarakat setempat, dengan membawa rokok untuk pendekatan dan pertemanan. Karena Khofifah tahu betul, bahwa merokok adalah budaya mereka, yang diwaris dari neneng moyang mereka. <\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Memilih Jalan Hidup Menikmati Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Simbol Pergerakan Nasional     <\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Abdul Rifa\u2019I dalam media bintang timur terbit pada 03 Oktober 1927, mengatakan, \u201ckopinya bukan kopi saringan, tetapi kopi tubruk sebab kopi ini katanya nationaal, gulanya gula jawa, susu tidak dipakai karena tidak nationaal. Rokoknya kelobot, selamatan natioanaal ini terus berlangsung ed sampai pagi hari\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Semangat nasionalisme harus tertanam, mengedepankan produk lokal adalah salah satu semangat nasionalime. Salah satu keberadaan rokok klobot menjadi ciri produk asli indonesia dan harus dilestarikan. Klobot sendiri adalah ramuan tembakau dan cengkeh di gulung memakai daun jagung, embrio perkembangan menjadi rokok sigaret kretek tangan dan sigaret kretek mesin.  
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pusaran Budaya Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pusaran-budaya-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-04 08:40:41","post_modified_gmt":"2019-02-04 01:40:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5406","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5403,"post_author":"919","post_date":"2019-02-03 09:05:50","post_date_gmt":"2019-02-03 02:05:50","post_content":"\n

Seringkali saya menyaksikan berbagai film baik itu Eropa atau Asia yang menggambarkan tentang masa depan. Pemandangan soal masa depan tersebut dihadirkan dengan gambaran kecanggihan teknologi seperti robot yang akan membantu kehidupan manusia, gedung-gedung yang tingginya sudah amat tak bisa ditandingi,  hingga mobil-mobil yang bisa terbang. <\/p>\n\n\n\n

Pernah dalam masa kecil saya menyaksikan sebuah film animasi buatan jepang yang mempertanyakan tentang makanan di masa depan. Dengan santai salah satu tokoh yang berasal dari masa depan itu menjawab bahwa suatu saat nanti manusia akan mengonsumsi makanan berupa pasta gigi namun dengan rasa yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa, aneh!<\/p>\n\n\n\n

Seiring waktu berjalan saya kian tumbuh dewasa dan punya kesadaran untuk memilih menjadi seorang perokok<\/a>. Saya juga melihat ada sebuah inovasi dan gambaran tentang masa depan yang hadir dalam kehidupan sekarang. Banyak memang, namun yang menyita perhatian saya adalah rokok elektrik atau yang populer disebut Vape. Konon katanya ia adalah produk inovasi untuk menjembatani kebutuhan menghisap asap dan kecanggihan masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Di awal kehadirannya Vape memang mengundang decak kekaguman saya. Bagaimana bisa sebuah mesin kecil mengeluarkan asap yang katanya lebih menyehatkan daripada rokok.<\/strong> Meski pada akhirnya teori tersebut juga bisa dibantah oleh beberapa ilmuan dunia. Tapi ada satu yang saya amati selain soal kesehatan, rokok elektrik rupanya menghadirkan kultur dan budaya baru dalam kehidupan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: LAGI-LAGI IKLAN ROKOK, KAPAN KPAI TIDAK TEBANG PILIH? <\/a><\/h4>\n\n\n\n

Kehadiran teknologi memang kerap sedikit atau benyak mengubah gaya atau kultur suatu masyarakat. Begitu pula yang saya perhatikan dengan rokok elektrik. Satu hal yang mudah diamati adalah menjamurnya toko-toko kecil yang menjual vape serta liquid di berbagai tempat. Sebagai sebuah warna baru dalam masyarakat, penggunanya ramai-ramai mengunjungi tempat tersebut berinteraksi dengan penikmat lainnya dan membangun sebuah rumah komunitas yang fleksibel.<\/p>\n\n\n\n

Meski belum bisa dikatakan memiliki jumlah penikmat yang setara dengan para perokok, pengguna Vape mulai menunjukkan eksistensinya. Selain toko yang tersebar, ragam acara juga mereka buat di beberapa daerah. Dalam lingkungan saya, beberapa teman yang dulunya merupakan perokok aktif tertarik mengikuti event tersebut dan beralih mengisap rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Nun jauh di sana, di Amerika Serikat tepatnya, budaya Vape juga sudah mulai berkembang lama ketimbang di Tanah Air. Penikmatnya terbagi menjadi dua, ada yang dulunya bekas perokok dan ada yang memang menikmatinya sebagai gaya hidup. Wajar saja mengingat facebook tak memperbolehkan iklan tembakau di platform mereka, sebaliknya iklan tentang vape justru bertebaran. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi budaya baru yang berkembang di berbagai belahan dunia bahkan di Indonesia, Vape konon menjadi alternatif yang lebih bermanfaat daripada rokok. Dalih yang diusung selalu sama kepada para perokok tradisonal yaitu soal kesehatan dan lebih irit. Soal kesehatan tentu ada beberapa pendapat para ilmuan yang membantahnya, namun soal irit, saya rasa tidak. Memang satu liquid bisa digunakan untuk beberapa Minggu, akan tetapi yang saya lihat di lapangan justru sebaliknya. <\/p>\n\n\n\n

Beberapa penikmat rokok elektrik kerap berbelanja liquid yang mereka idamkan. Terkadang, hal tersebut yang membuat mereka boros karena terus mengeksplor rasa mana yang mereka idam-idamkan. Tak jarang juga liquid dengan harga mahal hingga ratus ribuan akan mereka beli. Sebaliknya, para perokok konvensional justru kerap bertahan dengan satu rasa atau merek saja.<\/p>\n\n\n\n

Sedikit berbeda dengan penikmat rokok konvensional atau kretek. Mengingat rokok kretek sudah menjadi kebudayan lokal yang terus dipertahankan selama bertahun-tahun, kehadirannya sudah mewarnai khasanah keindonesiaan. Perokok kretek juga sudah punya soliditas luar biasa yang terbentuk sejak lama dan terus terbangun mengiringi peradaban di Indonesia atau dunia.<\/p>\n\n\n\n

Kini, perokok elektrik mulai merasakan kegelisahan. Beberapa negara mulai menerapkan peraturan ketat terhadap Vape, sedangkan di Indonesia biaya cukai pun kini mulai diberlakukan terhadap perdagangan rokok elektrik. Keberadaannya di mata negara pun mulai dianggap sama seperti rokok, meski pada awalnya rokok elektrik hadir dengan slogan-slogan produk alternatif yang lebih menyehatkan (katanya).<\/p>\n\n\n\n


Tapi jika kemudian di masa depan memang rokok elektrik yang kemudian menjadi sesuatu yang populer dan dinikmati banyak orang. Rasanya saya tetap ingin hidup di jaman ini, dengan sebatang kretek di tangan dan menikmati segala khasanah kebudayaan yang patut terus dipertahankan. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"masa-depan-rokok-elektrik-dan-semangat-alternatif-yang-sia-sia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-03 09:05:56","post_modified_gmt":"2019-02-03 02:05:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5403","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5385,"post_author":"883","post_date":"2019-02-02 08:01:01","post_date_gmt":"2019-02-02 01:01:01","post_content":"Pada tahun 2014, perusahaan rokok multinasional Philip Morris Internasional Inc. merilis sebuah produk <\/span>perangkat\u00a0<\/span>
rokok<\/span><\/a>\u00a0tanpa asap, yang dipanaskan bukan dibakar atau istilahnya\u00a0<\/span>heat not burn<\/i><\/strong>\u00a0(HNB) iQOS<\/strong>. <\/span>\r\n\r\nPerangkat rokok tanpa asap dengan nama iQOS<\/a> ini berbentuk seperti bagian luar pulpen, dengan lubang di tengah untuk rokok. Produk yang berada di bawah brand Marlboro ini dapat memanaskan rokok sampai 350 derajat celcius lalu mengeluarkan uap nikotin beraroma tembakau<\/em><\/a>.<\/span>\r\n

Produk iQOS sebenarnya bukanlah produk rokok tanpa asap yang pertama muncul. Sebelumnya di tahun 1990-an, Reynolds Tobacco Co pernah merilis produk serupa bernama Eclipes yang juga dapat menguapkan nikotin setelah dinyalakan dengan korek api.<\/span><\/blockquote>\r\nSelain itu, Eclips juga dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. Namun, pada saat itu Eclips tidak diminati oleh pasar, utamanya para perokok konvensional. Meskipun Eclips dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. <\/span>\r\n\r\nBisnis semacam rokok tanpa asap seperti Eclips dan iQOS memang sudah menjadi bagian dari rencana panjang bisnis perusahaan-perusahaan rokok multinasional. Jadi tidak usah heran jika ke depannya akan kita akan banyak menemukan produk rokok tanpa asap ini.<\/span>\r\n\r\nWatak dari perusahaan multinasional memang seperti itu, mereka sangat jeli melihat peluang pasar ke depannya. Ketika market place perusahaan rokok multinasional saat ini terus dirongrong oleh kelompok antirokok, mereka tak kehabisan akal. Maka kemudian mereka menginovasi produk rokok konvensional menjadi rokok yang tidak berasap. Begitupun dengan mengikutsertakan jargon-jargon kesehatan dalam narasi promosi mereka.<\/span>\r\n\r\nSesungguhnya memang seperti itulah watak bisnis perusahaan-perusahaan multinasional, melakukan segala cara agar bisnis mereka tetap bertahan, meskipun harus merangkul musuh sekalipun. <\/span>\r\n\r\nYa kadang pura-pura berantem sama antirokok, tapi dibalik itu sebenarnya baik-baik saja, dan tentunya ada kompromi untuk terus melanggengkan bisnis mereka.<\/span>\r\n

Lalu siapa yang dirugikan dari permainan bisnis macam produk rokok tanpa asap perusahaan rokok multinasional ini?<\/span><\/h3>\r\nTentunya yang sangat dirugikan adalah produk hasil tembakau yang memiliki kekhasan seperti kretek di Indonesia. Kretek sebagai produk khas asli Indonesia yang menjadi bagian dari warisan kebudayaan tidak mungkin bertransformasi menjadi produk-produk elektrik dan sejenisnya.<\/span>\r\n\r\nKretek tetaplah kretek, dengan bahan baku alami tembakau dan cengkeh yang tidak diintervensi dengan zat atau perangkat penghantar lainnya. Karena dengan bentuk, karakter dan cara menikmatinya memang konvensional dan akan terus begitu apapun kondisi dan zamannya.<\/span>\r\n
Bisnis produk rokok tanpa asap (elektrik) juga menghajar kretek dengan mendompleng isu pengendalian tembakau. Kampanye pengendalian tembakau selalu membawa slogan bahaya merokok dan upaya untuk berhenti merokok. <\/span><\/blockquote>\r\nDari isu tersebut, rokok elektrik masuk dengan citra produk alternatif tembakau, bahkan mereka tak segan menilai bahwa rokok elektrik lebih aman ketimbang rokok konvensional, yakni kretek.<\/span>\r\n\r\nLalu jika Indonesia akan dibanjiri dengan produk-produk yang mengatasnamakan produk alternatif tembakau, macam rokok tanpa asap (iQOS dan sejenisnya), maka itulah pertanda bahwa kretek harus tergerus dari cara hidup manusia Indonesia dalam menikmati produk hasil tembakau khas Indonesia yang sudah turun-temurun lamanya dinikmati manusia Indonesia.<\/span>","post_title":"Nasib Kretek di Pusaran Pertarungan Bisnis Global Perusahaan Rokok Multinasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"nasib-kretek-di-pusaran-pertarungan-bisnis-global-perusahaan-rokok-multinasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-02 08:01:43","post_modified_gmt":"2019-02-02 01:01:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5385","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; \n

Simpulan Putut EA, sebagai salah satu pembenar perkataan \u00a0KH. Agus Salim. Mungkin, jika tanaman cengkeh tidak ada, fakta sejarah akan berbeda, tidak ada penjajahan di bumi Nusantara ini. <\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Mengisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek untuk Berteman dan Menjalin Persaudaraan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Teringat apa yang pernah dilakukan Menteri Sosial dan Lingkungan Hidup, saat melakukan pendekatan pada suku anak dalam di Jambi. Tidak lain ia adalah Khofifah menteri perempuan yang energik. Saat itu Khofifah bertanggungjawab dalam mengatasi masalah pendidikan dan kesejahteraan masyarakat suku anak dalam di Jambi.  <\/p>\n\n\n\n

Kebijakannya membuat fenomenal, selain bahan makanan, dan bantuan lain, khofifah juga membawa rokok.  Yang kemudian ada yang mengggugat dari anti rokok, tetapi sebagai Menteri, Khofifah tentunya sudah mengkaji secara mendalam. Dengan kecerdasannya , Khofifah menjawab dengan tegas dan lugas, \u201cjangan sok tahu kehidupan mereka, kenali apa yang menjadi ritme kehidupan mereka. Sangat bijaksana kalau kita semua pergi kesana, sehingga tahu adat istiadatnya juga. Tolong kalau ingin mengerti tentang kultur jangan hanya dari kacamata Jakarta. Saya pun ingin mengajak anda kesana, turun kesana, sapalah mereka\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Khofifah memberikan pelajaran bagi anti rokok. Tidak boleh sok tahu, apalagi selama ini antirokok hanya berasumsi, tanpa melihat fakta dilapangan. Khofifah juga menganjurkan agar lebih mengenal adat-istiadat, budaya dan tradisi masyarakat, tidak boleh melakukan hegemoni kultural, sebab keberagaman adat-istiadat dan budaya merupakan kekayaan negeri. <\/p>\n\n\n\n

Pelajaran Khofifah sangat mendalam dan bercirikhas Nusantara. Sebgaai Menteri \u00a0Sosial tentunya lebih berpengalaman apa yang dibutuhkan bangsa ini agar tetap jaya, bersatu dan utuh. Kenali perbedaan, hormati perbedaan, junjung tinggi budaya yang berbeda. \u00a0Apa yang telah dilakukan Khofifah dengan membawa rokok ke suku anak dalam adalah cermin penghormatan tradisi dan budaya masyarakat. Sebagai seorang Mentri, tentunya punya kuasa, artinya bisa seorang khofifah memberikan bantuan sesuai keinginannya sendiri, namun hal itu tidak dilakukan. Ia lebih mengedepankan penghormatan budaya masyarakat setempat, dengan membawa rokok untuk pendekatan dan pertemanan. Karena Khofifah tahu betul, bahwa merokok adalah budaya mereka, yang diwaris dari neneng moyang mereka. <\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Memilih Jalan Hidup Menikmati Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Simbol Pergerakan Nasional     <\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Abdul Rifa\u2019I dalam media bintang timur terbit pada 03 Oktober 1927, mengatakan, \u201ckopinya bukan kopi saringan, tetapi kopi tubruk sebab kopi ini katanya nationaal, gulanya gula jawa, susu tidak dipakai karena tidak nationaal. Rokoknya kelobot, selamatan natioanaal ini terus berlangsung ed sampai pagi hari\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Semangat nasionalisme harus tertanam, mengedepankan produk lokal adalah salah satu semangat nasionalime. Salah satu keberadaan rokok klobot menjadi ciri produk asli indonesia dan harus dilestarikan. Klobot sendiri adalah ramuan tembakau dan cengkeh di gulung memakai daun jagung, embrio perkembangan menjadi rokok sigaret kretek tangan dan sigaret kretek mesin.  
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pusaran Budaya Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pusaran-budaya-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-04 08:40:41","post_modified_gmt":"2019-02-04 01:40:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5406","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5403,"post_author":"919","post_date":"2019-02-03 09:05:50","post_date_gmt":"2019-02-03 02:05:50","post_content":"\n

Seringkali saya menyaksikan berbagai film baik itu Eropa atau Asia yang menggambarkan tentang masa depan. Pemandangan soal masa depan tersebut dihadirkan dengan gambaran kecanggihan teknologi seperti robot yang akan membantu kehidupan manusia, gedung-gedung yang tingginya sudah amat tak bisa ditandingi,  hingga mobil-mobil yang bisa terbang. <\/p>\n\n\n\n

Pernah dalam masa kecil saya menyaksikan sebuah film animasi buatan jepang yang mempertanyakan tentang makanan di masa depan. Dengan santai salah satu tokoh yang berasal dari masa depan itu menjawab bahwa suatu saat nanti manusia akan mengonsumsi makanan berupa pasta gigi namun dengan rasa yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa, aneh!<\/p>\n\n\n\n

Seiring waktu berjalan saya kian tumbuh dewasa dan punya kesadaran untuk memilih menjadi seorang perokok<\/a>. Saya juga melihat ada sebuah inovasi dan gambaran tentang masa depan yang hadir dalam kehidupan sekarang. Banyak memang, namun yang menyita perhatian saya adalah rokok elektrik atau yang populer disebut Vape. Konon katanya ia adalah produk inovasi untuk menjembatani kebutuhan menghisap asap dan kecanggihan masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Di awal kehadirannya Vape memang mengundang decak kekaguman saya. Bagaimana bisa sebuah mesin kecil mengeluarkan asap yang katanya lebih menyehatkan daripada rokok.<\/strong> Meski pada akhirnya teori tersebut juga bisa dibantah oleh beberapa ilmuan dunia. Tapi ada satu yang saya amati selain soal kesehatan, rokok elektrik rupanya menghadirkan kultur dan budaya baru dalam kehidupan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: LAGI-LAGI IKLAN ROKOK, KAPAN KPAI TIDAK TEBANG PILIH? <\/a><\/h4>\n\n\n\n

Kehadiran teknologi memang kerap sedikit atau benyak mengubah gaya atau kultur suatu masyarakat. Begitu pula yang saya perhatikan dengan rokok elektrik. Satu hal yang mudah diamati adalah menjamurnya toko-toko kecil yang menjual vape serta liquid di berbagai tempat. Sebagai sebuah warna baru dalam masyarakat, penggunanya ramai-ramai mengunjungi tempat tersebut berinteraksi dengan penikmat lainnya dan membangun sebuah rumah komunitas yang fleksibel.<\/p>\n\n\n\n

Meski belum bisa dikatakan memiliki jumlah penikmat yang setara dengan para perokok, pengguna Vape mulai menunjukkan eksistensinya. Selain toko yang tersebar, ragam acara juga mereka buat di beberapa daerah. Dalam lingkungan saya, beberapa teman yang dulunya merupakan perokok aktif tertarik mengikuti event tersebut dan beralih mengisap rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Nun jauh di sana, di Amerika Serikat tepatnya, budaya Vape juga sudah mulai berkembang lama ketimbang di Tanah Air. Penikmatnya terbagi menjadi dua, ada yang dulunya bekas perokok dan ada yang memang menikmatinya sebagai gaya hidup. Wajar saja mengingat facebook tak memperbolehkan iklan tembakau di platform mereka, sebaliknya iklan tentang vape justru bertebaran. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi budaya baru yang berkembang di berbagai belahan dunia bahkan di Indonesia, Vape konon menjadi alternatif yang lebih bermanfaat daripada rokok. Dalih yang diusung selalu sama kepada para perokok tradisonal yaitu soal kesehatan dan lebih irit. Soal kesehatan tentu ada beberapa pendapat para ilmuan yang membantahnya, namun soal irit, saya rasa tidak. Memang satu liquid bisa digunakan untuk beberapa Minggu, akan tetapi yang saya lihat di lapangan justru sebaliknya. <\/p>\n\n\n\n

Beberapa penikmat rokok elektrik kerap berbelanja liquid yang mereka idamkan. Terkadang, hal tersebut yang membuat mereka boros karena terus mengeksplor rasa mana yang mereka idam-idamkan. Tak jarang juga liquid dengan harga mahal hingga ratus ribuan akan mereka beli. Sebaliknya, para perokok konvensional justru kerap bertahan dengan satu rasa atau merek saja.<\/p>\n\n\n\n

Sedikit berbeda dengan penikmat rokok konvensional atau kretek. Mengingat rokok kretek sudah menjadi kebudayan lokal yang terus dipertahankan selama bertahun-tahun, kehadirannya sudah mewarnai khasanah keindonesiaan. Perokok kretek juga sudah punya soliditas luar biasa yang terbentuk sejak lama dan terus terbangun mengiringi peradaban di Indonesia atau dunia.<\/p>\n\n\n\n

Kini, perokok elektrik mulai merasakan kegelisahan. Beberapa negara mulai menerapkan peraturan ketat terhadap Vape, sedangkan di Indonesia biaya cukai pun kini mulai diberlakukan terhadap perdagangan rokok elektrik. Keberadaannya di mata negara pun mulai dianggap sama seperti rokok, meski pada awalnya rokok elektrik hadir dengan slogan-slogan produk alternatif yang lebih menyehatkan (katanya).<\/p>\n\n\n\n


Tapi jika kemudian di masa depan memang rokok elektrik yang kemudian menjadi sesuatu yang populer dan dinikmati banyak orang. Rasanya saya tetap ingin hidup di jaman ini, dengan sebatang kretek di tangan dan menikmati segala khasanah kebudayaan yang patut terus dipertahankan. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"masa-depan-rokok-elektrik-dan-semangat-alternatif-yang-sia-sia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-03 09:05:56","post_modified_gmt":"2019-02-03 02:05:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5403","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5385,"post_author":"883","post_date":"2019-02-02 08:01:01","post_date_gmt":"2019-02-02 01:01:01","post_content":"Pada tahun 2014, perusahaan rokok multinasional Philip Morris Internasional Inc. merilis sebuah produk <\/span>perangkat\u00a0<\/span>
rokok<\/span><\/a>\u00a0tanpa asap, yang dipanaskan bukan dibakar atau istilahnya\u00a0<\/span>heat not burn<\/i><\/strong>\u00a0(HNB) iQOS<\/strong>. <\/span>\r\n\r\nPerangkat rokok tanpa asap dengan nama iQOS<\/a> ini berbentuk seperti bagian luar pulpen, dengan lubang di tengah untuk rokok. Produk yang berada di bawah brand Marlboro ini dapat memanaskan rokok sampai 350 derajat celcius lalu mengeluarkan uap nikotin beraroma tembakau<\/em><\/a>.<\/span>\r\n

Produk iQOS sebenarnya bukanlah produk rokok tanpa asap yang pertama muncul. Sebelumnya di tahun 1990-an, Reynolds Tobacco Co pernah merilis produk serupa bernama Eclipes yang juga dapat menguapkan nikotin setelah dinyalakan dengan korek api.<\/span><\/blockquote>\r\nSelain itu, Eclips juga dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. Namun, pada saat itu Eclips tidak diminati oleh pasar, utamanya para perokok konvensional. Meskipun Eclips dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. <\/span>\r\n\r\nBisnis semacam rokok tanpa asap seperti Eclips dan iQOS memang sudah menjadi bagian dari rencana panjang bisnis perusahaan-perusahaan rokok multinasional. Jadi tidak usah heran jika ke depannya akan kita akan banyak menemukan produk rokok tanpa asap ini.<\/span>\r\n\r\nWatak dari perusahaan multinasional memang seperti itu, mereka sangat jeli melihat peluang pasar ke depannya. Ketika market place perusahaan rokok multinasional saat ini terus dirongrong oleh kelompok antirokok, mereka tak kehabisan akal. Maka kemudian mereka menginovasi produk rokok konvensional menjadi rokok yang tidak berasap. Begitupun dengan mengikutsertakan jargon-jargon kesehatan dalam narasi promosi mereka.<\/span>\r\n\r\nSesungguhnya memang seperti itulah watak bisnis perusahaan-perusahaan multinasional, melakukan segala cara agar bisnis mereka tetap bertahan, meskipun harus merangkul musuh sekalipun. <\/span>\r\n\r\nYa kadang pura-pura berantem sama antirokok, tapi dibalik itu sebenarnya baik-baik saja, dan tentunya ada kompromi untuk terus melanggengkan bisnis mereka.<\/span>\r\n

Lalu siapa yang dirugikan dari permainan bisnis macam produk rokok tanpa asap perusahaan rokok multinasional ini?<\/span><\/h3>\r\nTentunya yang sangat dirugikan adalah produk hasil tembakau yang memiliki kekhasan seperti kretek di Indonesia. Kretek sebagai produk khas asli Indonesia yang menjadi bagian dari warisan kebudayaan tidak mungkin bertransformasi menjadi produk-produk elektrik dan sejenisnya.<\/span>\r\n\r\nKretek tetaplah kretek, dengan bahan baku alami tembakau dan cengkeh yang tidak diintervensi dengan zat atau perangkat penghantar lainnya. Karena dengan bentuk, karakter dan cara menikmatinya memang konvensional dan akan terus begitu apapun kondisi dan zamannya.<\/span>\r\n
Bisnis produk rokok tanpa asap (elektrik) juga menghajar kretek dengan mendompleng isu pengendalian tembakau. Kampanye pengendalian tembakau selalu membawa slogan bahaya merokok dan upaya untuk berhenti merokok. <\/span><\/blockquote>\r\nDari isu tersebut, rokok elektrik masuk dengan citra produk alternatif tembakau, bahkan mereka tak segan menilai bahwa rokok elektrik lebih aman ketimbang rokok konvensional, yakni kretek.<\/span>\r\n\r\nLalu jika Indonesia akan dibanjiri dengan produk-produk yang mengatasnamakan produk alternatif tembakau, macam rokok tanpa asap (iQOS dan sejenisnya), maka itulah pertanda bahwa kretek harus tergerus dari cara hidup manusia Indonesia dalam menikmati produk hasil tembakau khas Indonesia yang sudah turun-temurun lamanya dinikmati manusia Indonesia.<\/span>","post_title":"Nasib Kretek di Pusaran Pertarungan Bisnis Global Perusahaan Rokok Multinasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"nasib-kretek-di-pusaran-pertarungan-bisnis-global-perusahaan-rokok-multinasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-02 08:01:43","post_modified_gmt":"2019-02-02 01:01:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5385","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; \n

Cengkeh adalah salah satu tanaman yang diperebutkan bangsa-bangsa dunia, sampai melegalkan penjajahan.  Dalam simpulan perjalanan ekspedisi cengkeh tahun 2013, Kepala Suku begitu julukan bagi Putut Ea, mengatakan \u201c jika saja tak pernah ada cengkeh dan pala di Maluku, mungkin sejarah kepulauan Nusantara ini akan berbeda sama sekali\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Simpulan Putut EA, sebagai salah satu pembenar perkataan \u00a0KH. Agus Salim. Mungkin, jika tanaman cengkeh tidak ada, fakta sejarah akan berbeda, tidak ada penjajahan di bumi Nusantara ini. <\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Mengisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek untuk Berteman dan Menjalin Persaudaraan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Teringat apa yang pernah dilakukan Menteri Sosial dan Lingkungan Hidup, saat melakukan pendekatan pada suku anak dalam di Jambi. Tidak lain ia adalah Khofifah menteri perempuan yang energik. Saat itu Khofifah bertanggungjawab dalam mengatasi masalah pendidikan dan kesejahteraan masyarakat suku anak dalam di Jambi.  <\/p>\n\n\n\n

Kebijakannya membuat fenomenal, selain bahan makanan, dan bantuan lain, khofifah juga membawa rokok.  Yang kemudian ada yang mengggugat dari anti rokok, tetapi sebagai Menteri, Khofifah tentunya sudah mengkaji secara mendalam. Dengan kecerdasannya , Khofifah menjawab dengan tegas dan lugas, \u201cjangan sok tahu kehidupan mereka, kenali apa yang menjadi ritme kehidupan mereka. Sangat bijaksana kalau kita semua pergi kesana, sehingga tahu adat istiadatnya juga. Tolong kalau ingin mengerti tentang kultur jangan hanya dari kacamata Jakarta. Saya pun ingin mengajak anda kesana, turun kesana, sapalah mereka\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Khofifah memberikan pelajaran bagi anti rokok. Tidak boleh sok tahu, apalagi selama ini antirokok hanya berasumsi, tanpa melihat fakta dilapangan. Khofifah juga menganjurkan agar lebih mengenal adat-istiadat, budaya dan tradisi masyarakat, tidak boleh melakukan hegemoni kultural, sebab keberagaman adat-istiadat dan budaya merupakan kekayaan negeri. <\/p>\n\n\n\n

Pelajaran Khofifah sangat mendalam dan bercirikhas Nusantara. Sebgaai Menteri \u00a0Sosial tentunya lebih berpengalaman apa yang dibutuhkan bangsa ini agar tetap jaya, bersatu dan utuh. Kenali perbedaan, hormati perbedaan, junjung tinggi budaya yang berbeda. \u00a0Apa yang telah dilakukan Khofifah dengan membawa rokok ke suku anak dalam adalah cermin penghormatan tradisi dan budaya masyarakat. Sebagai seorang Mentri, tentunya punya kuasa, artinya bisa seorang khofifah memberikan bantuan sesuai keinginannya sendiri, namun hal itu tidak dilakukan. Ia lebih mengedepankan penghormatan budaya masyarakat setempat, dengan membawa rokok untuk pendekatan dan pertemanan. Karena Khofifah tahu betul, bahwa merokok adalah budaya mereka, yang diwaris dari neneng moyang mereka. <\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Memilih Jalan Hidup Menikmati Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Simbol Pergerakan Nasional     <\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Abdul Rifa\u2019I dalam media bintang timur terbit pada 03 Oktober 1927, mengatakan, \u201ckopinya bukan kopi saringan, tetapi kopi tubruk sebab kopi ini katanya nationaal, gulanya gula jawa, susu tidak dipakai karena tidak nationaal. Rokoknya kelobot, selamatan natioanaal ini terus berlangsung ed sampai pagi hari\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Semangat nasionalisme harus tertanam, mengedepankan produk lokal adalah salah satu semangat nasionalime. Salah satu keberadaan rokok klobot menjadi ciri produk asli indonesia dan harus dilestarikan. Klobot sendiri adalah ramuan tembakau dan cengkeh di gulung memakai daun jagung, embrio perkembangan menjadi rokok sigaret kretek tangan dan sigaret kretek mesin.  
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pusaran Budaya Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pusaran-budaya-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-04 08:40:41","post_modified_gmt":"2019-02-04 01:40:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5406","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5403,"post_author":"919","post_date":"2019-02-03 09:05:50","post_date_gmt":"2019-02-03 02:05:50","post_content":"\n

Seringkali saya menyaksikan berbagai film baik itu Eropa atau Asia yang menggambarkan tentang masa depan. Pemandangan soal masa depan tersebut dihadirkan dengan gambaran kecanggihan teknologi seperti robot yang akan membantu kehidupan manusia, gedung-gedung yang tingginya sudah amat tak bisa ditandingi,  hingga mobil-mobil yang bisa terbang. <\/p>\n\n\n\n

Pernah dalam masa kecil saya menyaksikan sebuah film animasi buatan jepang yang mempertanyakan tentang makanan di masa depan. Dengan santai salah satu tokoh yang berasal dari masa depan itu menjawab bahwa suatu saat nanti manusia akan mengonsumsi makanan berupa pasta gigi namun dengan rasa yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa, aneh!<\/p>\n\n\n\n

Seiring waktu berjalan saya kian tumbuh dewasa dan punya kesadaran untuk memilih menjadi seorang perokok<\/a>. Saya juga melihat ada sebuah inovasi dan gambaran tentang masa depan yang hadir dalam kehidupan sekarang. Banyak memang, namun yang menyita perhatian saya adalah rokok elektrik atau yang populer disebut Vape. Konon katanya ia adalah produk inovasi untuk menjembatani kebutuhan menghisap asap dan kecanggihan masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Di awal kehadirannya Vape memang mengundang decak kekaguman saya. Bagaimana bisa sebuah mesin kecil mengeluarkan asap yang katanya lebih menyehatkan daripada rokok.<\/strong> Meski pada akhirnya teori tersebut juga bisa dibantah oleh beberapa ilmuan dunia. Tapi ada satu yang saya amati selain soal kesehatan, rokok elektrik rupanya menghadirkan kultur dan budaya baru dalam kehidupan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: LAGI-LAGI IKLAN ROKOK, KAPAN KPAI TIDAK TEBANG PILIH? <\/a><\/h4>\n\n\n\n

Kehadiran teknologi memang kerap sedikit atau benyak mengubah gaya atau kultur suatu masyarakat. Begitu pula yang saya perhatikan dengan rokok elektrik. Satu hal yang mudah diamati adalah menjamurnya toko-toko kecil yang menjual vape serta liquid di berbagai tempat. Sebagai sebuah warna baru dalam masyarakat, penggunanya ramai-ramai mengunjungi tempat tersebut berinteraksi dengan penikmat lainnya dan membangun sebuah rumah komunitas yang fleksibel.<\/p>\n\n\n\n

Meski belum bisa dikatakan memiliki jumlah penikmat yang setara dengan para perokok, pengguna Vape mulai menunjukkan eksistensinya. Selain toko yang tersebar, ragam acara juga mereka buat di beberapa daerah. Dalam lingkungan saya, beberapa teman yang dulunya merupakan perokok aktif tertarik mengikuti event tersebut dan beralih mengisap rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Nun jauh di sana, di Amerika Serikat tepatnya, budaya Vape juga sudah mulai berkembang lama ketimbang di Tanah Air. Penikmatnya terbagi menjadi dua, ada yang dulunya bekas perokok dan ada yang memang menikmatinya sebagai gaya hidup. Wajar saja mengingat facebook tak memperbolehkan iklan tembakau di platform mereka, sebaliknya iklan tentang vape justru bertebaran. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi budaya baru yang berkembang di berbagai belahan dunia bahkan di Indonesia, Vape konon menjadi alternatif yang lebih bermanfaat daripada rokok. Dalih yang diusung selalu sama kepada para perokok tradisonal yaitu soal kesehatan dan lebih irit. Soal kesehatan tentu ada beberapa pendapat para ilmuan yang membantahnya, namun soal irit, saya rasa tidak. Memang satu liquid bisa digunakan untuk beberapa Minggu, akan tetapi yang saya lihat di lapangan justru sebaliknya. <\/p>\n\n\n\n

Beberapa penikmat rokok elektrik kerap berbelanja liquid yang mereka idamkan. Terkadang, hal tersebut yang membuat mereka boros karena terus mengeksplor rasa mana yang mereka idam-idamkan. Tak jarang juga liquid dengan harga mahal hingga ratus ribuan akan mereka beli. Sebaliknya, para perokok konvensional justru kerap bertahan dengan satu rasa atau merek saja.<\/p>\n\n\n\n

Sedikit berbeda dengan penikmat rokok konvensional atau kretek. Mengingat rokok kretek sudah menjadi kebudayan lokal yang terus dipertahankan selama bertahun-tahun, kehadirannya sudah mewarnai khasanah keindonesiaan. Perokok kretek juga sudah punya soliditas luar biasa yang terbentuk sejak lama dan terus terbangun mengiringi peradaban di Indonesia atau dunia.<\/p>\n\n\n\n

Kini, perokok elektrik mulai merasakan kegelisahan. Beberapa negara mulai menerapkan peraturan ketat terhadap Vape, sedangkan di Indonesia biaya cukai pun kini mulai diberlakukan terhadap perdagangan rokok elektrik. Keberadaannya di mata negara pun mulai dianggap sama seperti rokok, meski pada awalnya rokok elektrik hadir dengan slogan-slogan produk alternatif yang lebih menyehatkan (katanya).<\/p>\n\n\n\n


Tapi jika kemudian di masa depan memang rokok elektrik yang kemudian menjadi sesuatu yang populer dan dinikmati banyak orang. Rasanya saya tetap ingin hidup di jaman ini, dengan sebatang kretek di tangan dan menikmati segala khasanah kebudayaan yang patut terus dipertahankan. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"masa-depan-rokok-elektrik-dan-semangat-alternatif-yang-sia-sia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-03 09:05:56","post_modified_gmt":"2019-02-03 02:05:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5403","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5385,"post_author":"883","post_date":"2019-02-02 08:01:01","post_date_gmt":"2019-02-02 01:01:01","post_content":"Pada tahun 2014, perusahaan rokok multinasional Philip Morris Internasional Inc. merilis sebuah produk <\/span>perangkat\u00a0<\/span>
rokok<\/span><\/a>\u00a0tanpa asap, yang dipanaskan bukan dibakar atau istilahnya\u00a0<\/span>heat not burn<\/i><\/strong>\u00a0(HNB) iQOS<\/strong>. <\/span>\r\n\r\nPerangkat rokok tanpa asap dengan nama iQOS<\/a> ini berbentuk seperti bagian luar pulpen, dengan lubang di tengah untuk rokok. Produk yang berada di bawah brand Marlboro ini dapat memanaskan rokok sampai 350 derajat celcius lalu mengeluarkan uap nikotin beraroma tembakau<\/em><\/a>.<\/span>\r\n

Produk iQOS sebenarnya bukanlah produk rokok tanpa asap yang pertama muncul. Sebelumnya di tahun 1990-an, Reynolds Tobacco Co pernah merilis produk serupa bernama Eclipes yang juga dapat menguapkan nikotin setelah dinyalakan dengan korek api.<\/span><\/blockquote>\r\nSelain itu, Eclips juga dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. Namun, pada saat itu Eclips tidak diminati oleh pasar, utamanya para perokok konvensional. Meskipun Eclips dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. <\/span>\r\n\r\nBisnis semacam rokok tanpa asap seperti Eclips dan iQOS memang sudah menjadi bagian dari rencana panjang bisnis perusahaan-perusahaan rokok multinasional. Jadi tidak usah heran jika ke depannya akan kita akan banyak menemukan produk rokok tanpa asap ini.<\/span>\r\n\r\nWatak dari perusahaan multinasional memang seperti itu, mereka sangat jeli melihat peluang pasar ke depannya. Ketika market place perusahaan rokok multinasional saat ini terus dirongrong oleh kelompok antirokok, mereka tak kehabisan akal. Maka kemudian mereka menginovasi produk rokok konvensional menjadi rokok yang tidak berasap. Begitupun dengan mengikutsertakan jargon-jargon kesehatan dalam narasi promosi mereka.<\/span>\r\n\r\nSesungguhnya memang seperti itulah watak bisnis perusahaan-perusahaan multinasional, melakukan segala cara agar bisnis mereka tetap bertahan, meskipun harus merangkul musuh sekalipun. <\/span>\r\n\r\nYa kadang pura-pura berantem sama antirokok, tapi dibalik itu sebenarnya baik-baik saja, dan tentunya ada kompromi untuk terus melanggengkan bisnis mereka.<\/span>\r\n

Lalu siapa yang dirugikan dari permainan bisnis macam produk rokok tanpa asap perusahaan rokok multinasional ini?<\/span><\/h3>\r\nTentunya yang sangat dirugikan adalah produk hasil tembakau yang memiliki kekhasan seperti kretek di Indonesia. Kretek sebagai produk khas asli Indonesia yang menjadi bagian dari warisan kebudayaan tidak mungkin bertransformasi menjadi produk-produk elektrik dan sejenisnya.<\/span>\r\n\r\nKretek tetaplah kretek, dengan bahan baku alami tembakau dan cengkeh yang tidak diintervensi dengan zat atau perangkat penghantar lainnya. Karena dengan bentuk, karakter dan cara menikmatinya memang konvensional dan akan terus begitu apapun kondisi dan zamannya.<\/span>\r\n
Bisnis produk rokok tanpa asap (elektrik) juga menghajar kretek dengan mendompleng isu pengendalian tembakau. Kampanye pengendalian tembakau selalu membawa slogan bahaya merokok dan upaya untuk berhenti merokok. <\/span><\/blockquote>\r\nDari isu tersebut, rokok elektrik masuk dengan citra produk alternatif tembakau, bahkan mereka tak segan menilai bahwa rokok elektrik lebih aman ketimbang rokok konvensional, yakni kretek.<\/span>\r\n\r\nLalu jika Indonesia akan dibanjiri dengan produk-produk yang mengatasnamakan produk alternatif tembakau, macam rokok tanpa asap (iQOS dan sejenisnya), maka itulah pertanda bahwa kretek harus tergerus dari cara hidup manusia Indonesia dalam menikmati produk hasil tembakau khas Indonesia yang sudah turun-temurun lamanya dinikmati manusia Indonesia.<\/span>","post_title":"Nasib Kretek di Pusaran Pertarungan Bisnis Global Perusahaan Rokok Multinasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"nasib-kretek-di-pusaran-pertarungan-bisnis-global-perusahaan-rokok-multinasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-02 08:01:43","post_modified_gmt":"2019-02-02 01:01:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5385","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; \n

Jawaban KH. Agus Salim, faktanya memang benar. Rokok kretek tidak lain ada tambahan cengkeh (suzygium aromaticum<\/em>). \u00a0Tanaman legendaris menjadi rebutan dan sumber keuntungan kolonialisme Eropa atas Asia termasuk Indonesia. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Cengkeh adalah salah satu tanaman yang diperebutkan bangsa-bangsa dunia, sampai melegalkan penjajahan.  Dalam simpulan perjalanan ekspedisi cengkeh tahun 2013, Kepala Suku begitu julukan bagi Putut Ea, mengatakan \u201c jika saja tak pernah ada cengkeh dan pala di Maluku, mungkin sejarah kepulauan Nusantara ini akan berbeda sama sekali\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Simpulan Putut EA, sebagai salah satu pembenar perkataan \u00a0KH. Agus Salim. Mungkin, jika tanaman cengkeh tidak ada, fakta sejarah akan berbeda, tidak ada penjajahan di bumi Nusantara ini. <\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Mengisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek untuk Berteman dan Menjalin Persaudaraan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Teringat apa yang pernah dilakukan Menteri Sosial dan Lingkungan Hidup, saat melakukan pendekatan pada suku anak dalam di Jambi. Tidak lain ia adalah Khofifah menteri perempuan yang energik. Saat itu Khofifah bertanggungjawab dalam mengatasi masalah pendidikan dan kesejahteraan masyarakat suku anak dalam di Jambi.  <\/p>\n\n\n\n

Kebijakannya membuat fenomenal, selain bahan makanan, dan bantuan lain, khofifah juga membawa rokok.  Yang kemudian ada yang mengggugat dari anti rokok, tetapi sebagai Menteri, Khofifah tentunya sudah mengkaji secara mendalam. Dengan kecerdasannya , Khofifah menjawab dengan tegas dan lugas, \u201cjangan sok tahu kehidupan mereka, kenali apa yang menjadi ritme kehidupan mereka. Sangat bijaksana kalau kita semua pergi kesana, sehingga tahu adat istiadatnya juga. Tolong kalau ingin mengerti tentang kultur jangan hanya dari kacamata Jakarta. Saya pun ingin mengajak anda kesana, turun kesana, sapalah mereka\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Khofifah memberikan pelajaran bagi anti rokok. Tidak boleh sok tahu, apalagi selama ini antirokok hanya berasumsi, tanpa melihat fakta dilapangan. Khofifah juga menganjurkan agar lebih mengenal adat-istiadat, budaya dan tradisi masyarakat, tidak boleh melakukan hegemoni kultural, sebab keberagaman adat-istiadat dan budaya merupakan kekayaan negeri. <\/p>\n\n\n\n

Pelajaran Khofifah sangat mendalam dan bercirikhas Nusantara. Sebgaai Menteri \u00a0Sosial tentunya lebih berpengalaman apa yang dibutuhkan bangsa ini agar tetap jaya, bersatu dan utuh. Kenali perbedaan, hormati perbedaan, junjung tinggi budaya yang berbeda. \u00a0Apa yang telah dilakukan Khofifah dengan membawa rokok ke suku anak dalam adalah cermin penghormatan tradisi dan budaya masyarakat. Sebagai seorang Mentri, tentunya punya kuasa, artinya bisa seorang khofifah memberikan bantuan sesuai keinginannya sendiri, namun hal itu tidak dilakukan. Ia lebih mengedepankan penghormatan budaya masyarakat setempat, dengan membawa rokok untuk pendekatan dan pertemanan. Karena Khofifah tahu betul, bahwa merokok adalah budaya mereka, yang diwaris dari neneng moyang mereka. <\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Memilih Jalan Hidup Menikmati Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Simbol Pergerakan Nasional     <\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Abdul Rifa\u2019I dalam media bintang timur terbit pada 03 Oktober 1927, mengatakan, \u201ckopinya bukan kopi saringan, tetapi kopi tubruk sebab kopi ini katanya nationaal, gulanya gula jawa, susu tidak dipakai karena tidak nationaal. Rokoknya kelobot, selamatan natioanaal ini terus berlangsung ed sampai pagi hari\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Semangat nasionalisme harus tertanam, mengedepankan produk lokal adalah salah satu semangat nasionalime. Salah satu keberadaan rokok klobot menjadi ciri produk asli indonesia dan harus dilestarikan. Klobot sendiri adalah ramuan tembakau dan cengkeh di gulung memakai daun jagung, embrio perkembangan menjadi rokok sigaret kretek tangan dan sigaret kretek mesin.  
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pusaran Budaya Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pusaran-budaya-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-04 08:40:41","post_modified_gmt":"2019-02-04 01:40:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5406","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5403,"post_author":"919","post_date":"2019-02-03 09:05:50","post_date_gmt":"2019-02-03 02:05:50","post_content":"\n

Seringkali saya menyaksikan berbagai film baik itu Eropa atau Asia yang menggambarkan tentang masa depan. Pemandangan soal masa depan tersebut dihadirkan dengan gambaran kecanggihan teknologi seperti robot yang akan membantu kehidupan manusia, gedung-gedung yang tingginya sudah amat tak bisa ditandingi,  hingga mobil-mobil yang bisa terbang. <\/p>\n\n\n\n

Pernah dalam masa kecil saya menyaksikan sebuah film animasi buatan jepang yang mempertanyakan tentang makanan di masa depan. Dengan santai salah satu tokoh yang berasal dari masa depan itu menjawab bahwa suatu saat nanti manusia akan mengonsumsi makanan berupa pasta gigi namun dengan rasa yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa, aneh!<\/p>\n\n\n\n

Seiring waktu berjalan saya kian tumbuh dewasa dan punya kesadaran untuk memilih menjadi seorang perokok<\/a>. Saya juga melihat ada sebuah inovasi dan gambaran tentang masa depan yang hadir dalam kehidupan sekarang. Banyak memang, namun yang menyita perhatian saya adalah rokok elektrik atau yang populer disebut Vape. Konon katanya ia adalah produk inovasi untuk menjembatani kebutuhan menghisap asap dan kecanggihan masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Di awal kehadirannya Vape memang mengundang decak kekaguman saya. Bagaimana bisa sebuah mesin kecil mengeluarkan asap yang katanya lebih menyehatkan daripada rokok.<\/strong> Meski pada akhirnya teori tersebut juga bisa dibantah oleh beberapa ilmuan dunia. Tapi ada satu yang saya amati selain soal kesehatan, rokok elektrik rupanya menghadirkan kultur dan budaya baru dalam kehidupan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: LAGI-LAGI IKLAN ROKOK, KAPAN KPAI TIDAK TEBANG PILIH? <\/a><\/h4>\n\n\n\n

Kehadiran teknologi memang kerap sedikit atau benyak mengubah gaya atau kultur suatu masyarakat. Begitu pula yang saya perhatikan dengan rokok elektrik. Satu hal yang mudah diamati adalah menjamurnya toko-toko kecil yang menjual vape serta liquid di berbagai tempat. Sebagai sebuah warna baru dalam masyarakat, penggunanya ramai-ramai mengunjungi tempat tersebut berinteraksi dengan penikmat lainnya dan membangun sebuah rumah komunitas yang fleksibel.<\/p>\n\n\n\n

Meski belum bisa dikatakan memiliki jumlah penikmat yang setara dengan para perokok, pengguna Vape mulai menunjukkan eksistensinya. Selain toko yang tersebar, ragam acara juga mereka buat di beberapa daerah. Dalam lingkungan saya, beberapa teman yang dulunya merupakan perokok aktif tertarik mengikuti event tersebut dan beralih mengisap rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Nun jauh di sana, di Amerika Serikat tepatnya, budaya Vape juga sudah mulai berkembang lama ketimbang di Tanah Air. Penikmatnya terbagi menjadi dua, ada yang dulunya bekas perokok dan ada yang memang menikmatinya sebagai gaya hidup. Wajar saja mengingat facebook tak memperbolehkan iklan tembakau di platform mereka, sebaliknya iklan tentang vape justru bertebaran. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi budaya baru yang berkembang di berbagai belahan dunia bahkan di Indonesia, Vape konon menjadi alternatif yang lebih bermanfaat daripada rokok. Dalih yang diusung selalu sama kepada para perokok tradisonal yaitu soal kesehatan dan lebih irit. Soal kesehatan tentu ada beberapa pendapat para ilmuan yang membantahnya, namun soal irit, saya rasa tidak. Memang satu liquid bisa digunakan untuk beberapa Minggu, akan tetapi yang saya lihat di lapangan justru sebaliknya. <\/p>\n\n\n\n

Beberapa penikmat rokok elektrik kerap berbelanja liquid yang mereka idamkan. Terkadang, hal tersebut yang membuat mereka boros karena terus mengeksplor rasa mana yang mereka idam-idamkan. Tak jarang juga liquid dengan harga mahal hingga ratus ribuan akan mereka beli. Sebaliknya, para perokok konvensional justru kerap bertahan dengan satu rasa atau merek saja.<\/p>\n\n\n\n

Sedikit berbeda dengan penikmat rokok konvensional atau kretek. Mengingat rokok kretek sudah menjadi kebudayan lokal yang terus dipertahankan selama bertahun-tahun, kehadirannya sudah mewarnai khasanah keindonesiaan. Perokok kretek juga sudah punya soliditas luar biasa yang terbentuk sejak lama dan terus terbangun mengiringi peradaban di Indonesia atau dunia.<\/p>\n\n\n\n

Kini, perokok elektrik mulai merasakan kegelisahan. Beberapa negara mulai menerapkan peraturan ketat terhadap Vape, sedangkan di Indonesia biaya cukai pun kini mulai diberlakukan terhadap perdagangan rokok elektrik. Keberadaannya di mata negara pun mulai dianggap sama seperti rokok, meski pada awalnya rokok elektrik hadir dengan slogan-slogan produk alternatif yang lebih menyehatkan (katanya).<\/p>\n\n\n\n


Tapi jika kemudian di masa depan memang rokok elektrik yang kemudian menjadi sesuatu yang populer dan dinikmati banyak orang. Rasanya saya tetap ingin hidup di jaman ini, dengan sebatang kretek di tangan dan menikmati segala khasanah kebudayaan yang patut terus dipertahankan. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"masa-depan-rokok-elektrik-dan-semangat-alternatif-yang-sia-sia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-03 09:05:56","post_modified_gmt":"2019-02-03 02:05:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5403","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5385,"post_author":"883","post_date":"2019-02-02 08:01:01","post_date_gmt":"2019-02-02 01:01:01","post_content":"Pada tahun 2014, perusahaan rokok multinasional Philip Morris Internasional Inc. merilis sebuah produk <\/span>perangkat\u00a0<\/span>
rokok<\/span><\/a>\u00a0tanpa asap, yang dipanaskan bukan dibakar atau istilahnya\u00a0<\/span>heat not burn<\/i><\/strong>\u00a0(HNB) iQOS<\/strong>. <\/span>\r\n\r\nPerangkat rokok tanpa asap dengan nama iQOS<\/a> ini berbentuk seperti bagian luar pulpen, dengan lubang di tengah untuk rokok. Produk yang berada di bawah brand Marlboro ini dapat memanaskan rokok sampai 350 derajat celcius lalu mengeluarkan uap nikotin beraroma tembakau<\/em><\/a>.<\/span>\r\n

Produk iQOS sebenarnya bukanlah produk rokok tanpa asap yang pertama muncul. Sebelumnya di tahun 1990-an, Reynolds Tobacco Co pernah merilis produk serupa bernama Eclipes yang juga dapat menguapkan nikotin setelah dinyalakan dengan korek api.<\/span><\/blockquote>\r\nSelain itu, Eclips juga dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. Namun, pada saat itu Eclips tidak diminati oleh pasar, utamanya para perokok konvensional. Meskipun Eclips dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. <\/span>\r\n\r\nBisnis semacam rokok tanpa asap seperti Eclips dan iQOS memang sudah menjadi bagian dari rencana panjang bisnis perusahaan-perusahaan rokok multinasional. Jadi tidak usah heran jika ke depannya akan kita akan banyak menemukan produk rokok tanpa asap ini.<\/span>\r\n\r\nWatak dari perusahaan multinasional memang seperti itu, mereka sangat jeli melihat peluang pasar ke depannya. Ketika market place perusahaan rokok multinasional saat ini terus dirongrong oleh kelompok antirokok, mereka tak kehabisan akal. Maka kemudian mereka menginovasi produk rokok konvensional menjadi rokok yang tidak berasap. Begitupun dengan mengikutsertakan jargon-jargon kesehatan dalam narasi promosi mereka.<\/span>\r\n\r\nSesungguhnya memang seperti itulah watak bisnis perusahaan-perusahaan multinasional, melakukan segala cara agar bisnis mereka tetap bertahan, meskipun harus merangkul musuh sekalipun. <\/span>\r\n\r\nYa kadang pura-pura berantem sama antirokok, tapi dibalik itu sebenarnya baik-baik saja, dan tentunya ada kompromi untuk terus melanggengkan bisnis mereka.<\/span>\r\n

Lalu siapa yang dirugikan dari permainan bisnis macam produk rokok tanpa asap perusahaan rokok multinasional ini?<\/span><\/h3>\r\nTentunya yang sangat dirugikan adalah produk hasil tembakau yang memiliki kekhasan seperti kretek di Indonesia. Kretek sebagai produk khas asli Indonesia yang menjadi bagian dari warisan kebudayaan tidak mungkin bertransformasi menjadi produk-produk elektrik dan sejenisnya.<\/span>\r\n\r\nKretek tetaplah kretek, dengan bahan baku alami tembakau dan cengkeh yang tidak diintervensi dengan zat atau perangkat penghantar lainnya. Karena dengan bentuk, karakter dan cara menikmatinya memang konvensional dan akan terus begitu apapun kondisi dan zamannya.<\/span>\r\n
Bisnis produk rokok tanpa asap (elektrik) juga menghajar kretek dengan mendompleng isu pengendalian tembakau. Kampanye pengendalian tembakau selalu membawa slogan bahaya merokok dan upaya untuk berhenti merokok. <\/span><\/blockquote>\r\nDari isu tersebut, rokok elektrik masuk dengan citra produk alternatif tembakau, bahkan mereka tak segan menilai bahwa rokok elektrik lebih aman ketimbang rokok konvensional, yakni kretek.<\/span>\r\n\r\nLalu jika Indonesia akan dibanjiri dengan produk-produk yang mengatasnamakan produk alternatif tembakau, macam rokok tanpa asap (iQOS dan sejenisnya), maka itulah pertanda bahwa kretek harus tergerus dari cara hidup manusia Indonesia dalam menikmati produk hasil tembakau khas Indonesia yang sudah turun-temurun lamanya dinikmati manusia Indonesia.<\/span>","post_title":"Nasib Kretek di Pusaran Pertarungan Bisnis Global Perusahaan Rokok Multinasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"nasib-kretek-di-pusaran-pertarungan-bisnis-global-perusahaan-rokok-multinasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-02 08:01:43","post_modified_gmt":"2019-02-02 01:01:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5385","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; \n

Salah satu \u201cpendiri bangsa\u201d bernama KH. Agus Salim menghisap kretek dengan asapnya di kebal-kebulkan keudara, disaat ada perjamuan di Istana Buckingham ketika penobatan Elizabeth II sebagai Ratu kerajaan Inggris. Aroma khas keluar dari asap rokok kretek, tercium orang yang berada di ruang perjamuan. Sehingga memancing salah satu orang yang datang dalam perjamuan, dengan berkata; \u201ctuan sedang menghisap apa itu?\u201d.  Sentak KH. Agus Salim menjawab, \u201c inilah yang membuat nenek moyang anda sekian abad lalu datang dan kemudian menjajah negeri kami\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Jawaban KH. Agus Salim, faktanya memang benar. Rokok kretek tidak lain ada tambahan cengkeh (suzygium aromaticum<\/em>). \u00a0Tanaman legendaris menjadi rebutan dan sumber keuntungan kolonialisme Eropa atas Asia termasuk Indonesia. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Cengkeh adalah salah satu tanaman yang diperebutkan bangsa-bangsa dunia, sampai melegalkan penjajahan.  Dalam simpulan perjalanan ekspedisi cengkeh tahun 2013, Kepala Suku begitu julukan bagi Putut Ea, mengatakan \u201c jika saja tak pernah ada cengkeh dan pala di Maluku, mungkin sejarah kepulauan Nusantara ini akan berbeda sama sekali\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Simpulan Putut EA, sebagai salah satu pembenar perkataan \u00a0KH. Agus Salim. Mungkin, jika tanaman cengkeh tidak ada, fakta sejarah akan berbeda, tidak ada penjajahan di bumi Nusantara ini. <\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Mengisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek untuk Berteman dan Menjalin Persaudaraan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Teringat apa yang pernah dilakukan Menteri Sosial dan Lingkungan Hidup, saat melakukan pendekatan pada suku anak dalam di Jambi. Tidak lain ia adalah Khofifah menteri perempuan yang energik. Saat itu Khofifah bertanggungjawab dalam mengatasi masalah pendidikan dan kesejahteraan masyarakat suku anak dalam di Jambi.  <\/p>\n\n\n\n

Kebijakannya membuat fenomenal, selain bahan makanan, dan bantuan lain, khofifah juga membawa rokok.  Yang kemudian ada yang mengggugat dari anti rokok, tetapi sebagai Menteri, Khofifah tentunya sudah mengkaji secara mendalam. Dengan kecerdasannya , Khofifah menjawab dengan tegas dan lugas, \u201cjangan sok tahu kehidupan mereka, kenali apa yang menjadi ritme kehidupan mereka. Sangat bijaksana kalau kita semua pergi kesana, sehingga tahu adat istiadatnya juga. Tolong kalau ingin mengerti tentang kultur jangan hanya dari kacamata Jakarta. Saya pun ingin mengajak anda kesana, turun kesana, sapalah mereka\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Khofifah memberikan pelajaran bagi anti rokok. Tidak boleh sok tahu, apalagi selama ini antirokok hanya berasumsi, tanpa melihat fakta dilapangan. Khofifah juga menganjurkan agar lebih mengenal adat-istiadat, budaya dan tradisi masyarakat, tidak boleh melakukan hegemoni kultural, sebab keberagaman adat-istiadat dan budaya merupakan kekayaan negeri. <\/p>\n\n\n\n

Pelajaran Khofifah sangat mendalam dan bercirikhas Nusantara. Sebgaai Menteri \u00a0Sosial tentunya lebih berpengalaman apa yang dibutuhkan bangsa ini agar tetap jaya, bersatu dan utuh. Kenali perbedaan, hormati perbedaan, junjung tinggi budaya yang berbeda. \u00a0Apa yang telah dilakukan Khofifah dengan membawa rokok ke suku anak dalam adalah cermin penghormatan tradisi dan budaya masyarakat. Sebagai seorang Mentri, tentunya punya kuasa, artinya bisa seorang khofifah memberikan bantuan sesuai keinginannya sendiri, namun hal itu tidak dilakukan. Ia lebih mengedepankan penghormatan budaya masyarakat setempat, dengan membawa rokok untuk pendekatan dan pertemanan. Karena Khofifah tahu betul, bahwa merokok adalah budaya mereka, yang diwaris dari neneng moyang mereka. <\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Memilih Jalan Hidup Menikmati Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Simbol Pergerakan Nasional     <\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Abdul Rifa\u2019I dalam media bintang timur terbit pada 03 Oktober 1927, mengatakan, \u201ckopinya bukan kopi saringan, tetapi kopi tubruk sebab kopi ini katanya nationaal, gulanya gula jawa, susu tidak dipakai karena tidak nationaal. Rokoknya kelobot, selamatan natioanaal ini terus berlangsung ed sampai pagi hari\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Semangat nasionalisme harus tertanam, mengedepankan produk lokal adalah salah satu semangat nasionalime. Salah satu keberadaan rokok klobot menjadi ciri produk asli indonesia dan harus dilestarikan. Klobot sendiri adalah ramuan tembakau dan cengkeh di gulung memakai daun jagung, embrio perkembangan menjadi rokok sigaret kretek tangan dan sigaret kretek mesin.  
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pusaran Budaya Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pusaran-budaya-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-04 08:40:41","post_modified_gmt":"2019-02-04 01:40:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5406","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5403,"post_author":"919","post_date":"2019-02-03 09:05:50","post_date_gmt":"2019-02-03 02:05:50","post_content":"\n

Seringkali saya menyaksikan berbagai film baik itu Eropa atau Asia yang menggambarkan tentang masa depan. Pemandangan soal masa depan tersebut dihadirkan dengan gambaran kecanggihan teknologi seperti robot yang akan membantu kehidupan manusia, gedung-gedung yang tingginya sudah amat tak bisa ditandingi,  hingga mobil-mobil yang bisa terbang. <\/p>\n\n\n\n

Pernah dalam masa kecil saya menyaksikan sebuah film animasi buatan jepang yang mempertanyakan tentang makanan di masa depan. Dengan santai salah satu tokoh yang berasal dari masa depan itu menjawab bahwa suatu saat nanti manusia akan mengonsumsi makanan berupa pasta gigi namun dengan rasa yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa, aneh!<\/p>\n\n\n\n

Seiring waktu berjalan saya kian tumbuh dewasa dan punya kesadaran untuk memilih menjadi seorang perokok<\/a>. Saya juga melihat ada sebuah inovasi dan gambaran tentang masa depan yang hadir dalam kehidupan sekarang. Banyak memang, namun yang menyita perhatian saya adalah rokok elektrik atau yang populer disebut Vape. Konon katanya ia adalah produk inovasi untuk menjembatani kebutuhan menghisap asap dan kecanggihan masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Di awal kehadirannya Vape memang mengundang decak kekaguman saya. Bagaimana bisa sebuah mesin kecil mengeluarkan asap yang katanya lebih menyehatkan daripada rokok.<\/strong> Meski pada akhirnya teori tersebut juga bisa dibantah oleh beberapa ilmuan dunia. Tapi ada satu yang saya amati selain soal kesehatan, rokok elektrik rupanya menghadirkan kultur dan budaya baru dalam kehidupan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: LAGI-LAGI IKLAN ROKOK, KAPAN KPAI TIDAK TEBANG PILIH? <\/a><\/h4>\n\n\n\n

Kehadiran teknologi memang kerap sedikit atau benyak mengubah gaya atau kultur suatu masyarakat. Begitu pula yang saya perhatikan dengan rokok elektrik. Satu hal yang mudah diamati adalah menjamurnya toko-toko kecil yang menjual vape serta liquid di berbagai tempat. Sebagai sebuah warna baru dalam masyarakat, penggunanya ramai-ramai mengunjungi tempat tersebut berinteraksi dengan penikmat lainnya dan membangun sebuah rumah komunitas yang fleksibel.<\/p>\n\n\n\n

Meski belum bisa dikatakan memiliki jumlah penikmat yang setara dengan para perokok, pengguna Vape mulai menunjukkan eksistensinya. Selain toko yang tersebar, ragam acara juga mereka buat di beberapa daerah. Dalam lingkungan saya, beberapa teman yang dulunya merupakan perokok aktif tertarik mengikuti event tersebut dan beralih mengisap rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Nun jauh di sana, di Amerika Serikat tepatnya, budaya Vape juga sudah mulai berkembang lama ketimbang di Tanah Air. Penikmatnya terbagi menjadi dua, ada yang dulunya bekas perokok dan ada yang memang menikmatinya sebagai gaya hidup. Wajar saja mengingat facebook tak memperbolehkan iklan tembakau di platform mereka, sebaliknya iklan tentang vape justru bertebaran. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi budaya baru yang berkembang di berbagai belahan dunia bahkan di Indonesia, Vape konon menjadi alternatif yang lebih bermanfaat daripada rokok. Dalih yang diusung selalu sama kepada para perokok tradisonal yaitu soal kesehatan dan lebih irit. Soal kesehatan tentu ada beberapa pendapat para ilmuan yang membantahnya, namun soal irit, saya rasa tidak. Memang satu liquid bisa digunakan untuk beberapa Minggu, akan tetapi yang saya lihat di lapangan justru sebaliknya. <\/p>\n\n\n\n

Beberapa penikmat rokok elektrik kerap berbelanja liquid yang mereka idamkan. Terkadang, hal tersebut yang membuat mereka boros karena terus mengeksplor rasa mana yang mereka idam-idamkan. Tak jarang juga liquid dengan harga mahal hingga ratus ribuan akan mereka beli. Sebaliknya, para perokok konvensional justru kerap bertahan dengan satu rasa atau merek saja.<\/p>\n\n\n\n

Sedikit berbeda dengan penikmat rokok konvensional atau kretek. Mengingat rokok kretek sudah menjadi kebudayan lokal yang terus dipertahankan selama bertahun-tahun, kehadirannya sudah mewarnai khasanah keindonesiaan. Perokok kretek juga sudah punya soliditas luar biasa yang terbentuk sejak lama dan terus terbangun mengiringi peradaban di Indonesia atau dunia.<\/p>\n\n\n\n

Kini, perokok elektrik mulai merasakan kegelisahan. Beberapa negara mulai menerapkan peraturan ketat terhadap Vape, sedangkan di Indonesia biaya cukai pun kini mulai diberlakukan terhadap perdagangan rokok elektrik. Keberadaannya di mata negara pun mulai dianggap sama seperti rokok, meski pada awalnya rokok elektrik hadir dengan slogan-slogan produk alternatif yang lebih menyehatkan (katanya).<\/p>\n\n\n\n


Tapi jika kemudian di masa depan memang rokok elektrik yang kemudian menjadi sesuatu yang populer dan dinikmati banyak orang. Rasanya saya tetap ingin hidup di jaman ini, dengan sebatang kretek di tangan dan menikmati segala khasanah kebudayaan yang patut terus dipertahankan. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"masa-depan-rokok-elektrik-dan-semangat-alternatif-yang-sia-sia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-03 09:05:56","post_modified_gmt":"2019-02-03 02:05:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5403","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5385,"post_author":"883","post_date":"2019-02-02 08:01:01","post_date_gmt":"2019-02-02 01:01:01","post_content":"Pada tahun 2014, perusahaan rokok multinasional Philip Morris Internasional Inc. merilis sebuah produk <\/span>perangkat\u00a0<\/span>
rokok<\/span><\/a>\u00a0tanpa asap, yang dipanaskan bukan dibakar atau istilahnya\u00a0<\/span>heat not burn<\/i><\/strong>\u00a0(HNB) iQOS<\/strong>. <\/span>\r\n\r\nPerangkat rokok tanpa asap dengan nama iQOS<\/a> ini berbentuk seperti bagian luar pulpen, dengan lubang di tengah untuk rokok. Produk yang berada di bawah brand Marlboro ini dapat memanaskan rokok sampai 350 derajat celcius lalu mengeluarkan uap nikotin beraroma tembakau<\/em><\/a>.<\/span>\r\n

Produk iQOS sebenarnya bukanlah produk rokok tanpa asap yang pertama muncul. Sebelumnya di tahun 1990-an, Reynolds Tobacco Co pernah merilis produk serupa bernama Eclipes yang juga dapat menguapkan nikotin setelah dinyalakan dengan korek api.<\/span><\/blockquote>\r\nSelain itu, Eclips juga dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. Namun, pada saat itu Eclips tidak diminati oleh pasar, utamanya para perokok konvensional. Meskipun Eclips dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. <\/span>\r\n\r\nBisnis semacam rokok tanpa asap seperti Eclips dan iQOS memang sudah menjadi bagian dari rencana panjang bisnis perusahaan-perusahaan rokok multinasional. Jadi tidak usah heran jika ke depannya akan kita akan banyak menemukan produk rokok tanpa asap ini.<\/span>\r\n\r\nWatak dari perusahaan multinasional memang seperti itu, mereka sangat jeli melihat peluang pasar ke depannya. Ketika market place perusahaan rokok multinasional saat ini terus dirongrong oleh kelompok antirokok, mereka tak kehabisan akal. Maka kemudian mereka menginovasi produk rokok konvensional menjadi rokok yang tidak berasap. Begitupun dengan mengikutsertakan jargon-jargon kesehatan dalam narasi promosi mereka.<\/span>\r\n\r\nSesungguhnya memang seperti itulah watak bisnis perusahaan-perusahaan multinasional, melakukan segala cara agar bisnis mereka tetap bertahan, meskipun harus merangkul musuh sekalipun. <\/span>\r\n\r\nYa kadang pura-pura berantem sama antirokok, tapi dibalik itu sebenarnya baik-baik saja, dan tentunya ada kompromi untuk terus melanggengkan bisnis mereka.<\/span>\r\n

Lalu siapa yang dirugikan dari permainan bisnis macam produk rokok tanpa asap perusahaan rokok multinasional ini?<\/span><\/h3>\r\nTentunya yang sangat dirugikan adalah produk hasil tembakau yang memiliki kekhasan seperti kretek di Indonesia. Kretek sebagai produk khas asli Indonesia yang menjadi bagian dari warisan kebudayaan tidak mungkin bertransformasi menjadi produk-produk elektrik dan sejenisnya.<\/span>\r\n\r\nKretek tetaplah kretek, dengan bahan baku alami tembakau dan cengkeh yang tidak diintervensi dengan zat atau perangkat penghantar lainnya. Karena dengan bentuk, karakter dan cara menikmatinya memang konvensional dan akan terus begitu apapun kondisi dan zamannya.<\/span>\r\n
Bisnis produk rokok tanpa asap (elektrik) juga menghajar kretek dengan mendompleng isu pengendalian tembakau. Kampanye pengendalian tembakau selalu membawa slogan bahaya merokok dan upaya untuk berhenti merokok. <\/span><\/blockquote>\r\nDari isu tersebut, rokok elektrik masuk dengan citra produk alternatif tembakau, bahkan mereka tak segan menilai bahwa rokok elektrik lebih aman ketimbang rokok konvensional, yakni kretek.<\/span>\r\n\r\nLalu jika Indonesia akan dibanjiri dengan produk-produk yang mengatasnamakan produk alternatif tembakau, macam rokok tanpa asap (iQOS dan sejenisnya), maka itulah pertanda bahwa kretek harus tergerus dari cara hidup manusia Indonesia dalam menikmati produk hasil tembakau khas Indonesia yang sudah turun-temurun lamanya dinikmati manusia Indonesia.<\/span>","post_title":"Nasib Kretek di Pusaran Pertarungan Bisnis Global Perusahaan Rokok Multinasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"nasib-kretek-di-pusaran-pertarungan-bisnis-global-perusahaan-rokok-multinasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-02 08:01:43","post_modified_gmt":"2019-02-02 01:01:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5385","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; \n

Kretek Sebagai Jati Diri Bangsa<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Salah satu \u201cpendiri bangsa\u201d bernama KH. Agus Salim menghisap kretek dengan asapnya di kebal-kebulkan keudara, disaat ada perjamuan di Istana Buckingham ketika penobatan Elizabeth II sebagai Ratu kerajaan Inggris. Aroma khas keluar dari asap rokok kretek, tercium orang yang berada di ruang perjamuan. Sehingga memancing salah satu orang yang datang dalam perjamuan, dengan berkata; \u201ctuan sedang menghisap apa itu?\u201d.  Sentak KH. Agus Salim menjawab, \u201c inilah yang membuat nenek moyang anda sekian abad lalu datang dan kemudian menjajah negeri kami\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Jawaban KH. Agus Salim, faktanya memang benar. Rokok kretek tidak lain ada tambahan cengkeh (suzygium aromaticum<\/em>). \u00a0Tanaman legendaris menjadi rebutan dan sumber keuntungan kolonialisme Eropa atas Asia termasuk Indonesia. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Cengkeh adalah salah satu tanaman yang diperebutkan bangsa-bangsa dunia, sampai melegalkan penjajahan.  Dalam simpulan perjalanan ekspedisi cengkeh tahun 2013, Kepala Suku begitu julukan bagi Putut Ea, mengatakan \u201c jika saja tak pernah ada cengkeh dan pala di Maluku, mungkin sejarah kepulauan Nusantara ini akan berbeda sama sekali\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Simpulan Putut EA, sebagai salah satu pembenar perkataan \u00a0KH. Agus Salim. Mungkin, jika tanaman cengkeh tidak ada, fakta sejarah akan berbeda, tidak ada penjajahan di bumi Nusantara ini. <\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Mengisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek untuk Berteman dan Menjalin Persaudaraan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Teringat apa yang pernah dilakukan Menteri Sosial dan Lingkungan Hidup, saat melakukan pendekatan pada suku anak dalam di Jambi. Tidak lain ia adalah Khofifah menteri perempuan yang energik. Saat itu Khofifah bertanggungjawab dalam mengatasi masalah pendidikan dan kesejahteraan masyarakat suku anak dalam di Jambi.  <\/p>\n\n\n\n

Kebijakannya membuat fenomenal, selain bahan makanan, dan bantuan lain, khofifah juga membawa rokok.  Yang kemudian ada yang mengggugat dari anti rokok, tetapi sebagai Menteri, Khofifah tentunya sudah mengkaji secara mendalam. Dengan kecerdasannya , Khofifah menjawab dengan tegas dan lugas, \u201cjangan sok tahu kehidupan mereka, kenali apa yang menjadi ritme kehidupan mereka. Sangat bijaksana kalau kita semua pergi kesana, sehingga tahu adat istiadatnya juga. Tolong kalau ingin mengerti tentang kultur jangan hanya dari kacamata Jakarta. Saya pun ingin mengajak anda kesana, turun kesana, sapalah mereka\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Khofifah memberikan pelajaran bagi anti rokok. Tidak boleh sok tahu, apalagi selama ini antirokok hanya berasumsi, tanpa melihat fakta dilapangan. Khofifah juga menganjurkan agar lebih mengenal adat-istiadat, budaya dan tradisi masyarakat, tidak boleh melakukan hegemoni kultural, sebab keberagaman adat-istiadat dan budaya merupakan kekayaan negeri. <\/p>\n\n\n\n

Pelajaran Khofifah sangat mendalam dan bercirikhas Nusantara. Sebgaai Menteri \u00a0Sosial tentunya lebih berpengalaman apa yang dibutuhkan bangsa ini agar tetap jaya, bersatu dan utuh. Kenali perbedaan, hormati perbedaan, junjung tinggi budaya yang berbeda. \u00a0Apa yang telah dilakukan Khofifah dengan membawa rokok ke suku anak dalam adalah cermin penghormatan tradisi dan budaya masyarakat. Sebagai seorang Mentri, tentunya punya kuasa, artinya bisa seorang khofifah memberikan bantuan sesuai keinginannya sendiri, namun hal itu tidak dilakukan. Ia lebih mengedepankan penghormatan budaya masyarakat setempat, dengan membawa rokok untuk pendekatan dan pertemanan. Karena Khofifah tahu betul, bahwa merokok adalah budaya mereka, yang diwaris dari neneng moyang mereka. <\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Memilih Jalan Hidup Menikmati Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Simbol Pergerakan Nasional     <\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Abdul Rifa\u2019I dalam media bintang timur terbit pada 03 Oktober 1927, mengatakan, \u201ckopinya bukan kopi saringan, tetapi kopi tubruk sebab kopi ini katanya nationaal, gulanya gula jawa, susu tidak dipakai karena tidak nationaal. Rokoknya kelobot, selamatan natioanaal ini terus berlangsung ed sampai pagi hari\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Semangat nasionalisme harus tertanam, mengedepankan produk lokal adalah salah satu semangat nasionalime. Salah satu keberadaan rokok klobot menjadi ciri produk asli indonesia dan harus dilestarikan. Klobot sendiri adalah ramuan tembakau dan cengkeh di gulung memakai daun jagung, embrio perkembangan menjadi rokok sigaret kretek tangan dan sigaret kretek mesin.  
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pusaran Budaya Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pusaran-budaya-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-04 08:40:41","post_modified_gmt":"2019-02-04 01:40:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5406","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5403,"post_author":"919","post_date":"2019-02-03 09:05:50","post_date_gmt":"2019-02-03 02:05:50","post_content":"\n

Seringkali saya menyaksikan berbagai film baik itu Eropa atau Asia yang menggambarkan tentang masa depan. Pemandangan soal masa depan tersebut dihadirkan dengan gambaran kecanggihan teknologi seperti robot yang akan membantu kehidupan manusia, gedung-gedung yang tingginya sudah amat tak bisa ditandingi,  hingga mobil-mobil yang bisa terbang. <\/p>\n\n\n\n

Pernah dalam masa kecil saya menyaksikan sebuah film animasi buatan jepang yang mempertanyakan tentang makanan di masa depan. Dengan santai salah satu tokoh yang berasal dari masa depan itu menjawab bahwa suatu saat nanti manusia akan mengonsumsi makanan berupa pasta gigi namun dengan rasa yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa, aneh!<\/p>\n\n\n\n

Seiring waktu berjalan saya kian tumbuh dewasa dan punya kesadaran untuk memilih menjadi seorang perokok<\/a>. Saya juga melihat ada sebuah inovasi dan gambaran tentang masa depan yang hadir dalam kehidupan sekarang. Banyak memang, namun yang menyita perhatian saya adalah rokok elektrik atau yang populer disebut Vape. Konon katanya ia adalah produk inovasi untuk menjembatani kebutuhan menghisap asap dan kecanggihan masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Di awal kehadirannya Vape memang mengundang decak kekaguman saya. Bagaimana bisa sebuah mesin kecil mengeluarkan asap yang katanya lebih menyehatkan daripada rokok.<\/strong> Meski pada akhirnya teori tersebut juga bisa dibantah oleh beberapa ilmuan dunia. Tapi ada satu yang saya amati selain soal kesehatan, rokok elektrik rupanya menghadirkan kultur dan budaya baru dalam kehidupan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: LAGI-LAGI IKLAN ROKOK, KAPAN KPAI TIDAK TEBANG PILIH? <\/a><\/h4>\n\n\n\n

Kehadiran teknologi memang kerap sedikit atau benyak mengubah gaya atau kultur suatu masyarakat. Begitu pula yang saya perhatikan dengan rokok elektrik. Satu hal yang mudah diamati adalah menjamurnya toko-toko kecil yang menjual vape serta liquid di berbagai tempat. Sebagai sebuah warna baru dalam masyarakat, penggunanya ramai-ramai mengunjungi tempat tersebut berinteraksi dengan penikmat lainnya dan membangun sebuah rumah komunitas yang fleksibel.<\/p>\n\n\n\n

Meski belum bisa dikatakan memiliki jumlah penikmat yang setara dengan para perokok, pengguna Vape mulai menunjukkan eksistensinya. Selain toko yang tersebar, ragam acara juga mereka buat di beberapa daerah. Dalam lingkungan saya, beberapa teman yang dulunya merupakan perokok aktif tertarik mengikuti event tersebut dan beralih mengisap rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Nun jauh di sana, di Amerika Serikat tepatnya, budaya Vape juga sudah mulai berkembang lama ketimbang di Tanah Air. Penikmatnya terbagi menjadi dua, ada yang dulunya bekas perokok dan ada yang memang menikmatinya sebagai gaya hidup. Wajar saja mengingat facebook tak memperbolehkan iklan tembakau di platform mereka, sebaliknya iklan tentang vape justru bertebaran. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi budaya baru yang berkembang di berbagai belahan dunia bahkan di Indonesia, Vape konon menjadi alternatif yang lebih bermanfaat daripada rokok. Dalih yang diusung selalu sama kepada para perokok tradisonal yaitu soal kesehatan dan lebih irit. Soal kesehatan tentu ada beberapa pendapat para ilmuan yang membantahnya, namun soal irit, saya rasa tidak. Memang satu liquid bisa digunakan untuk beberapa Minggu, akan tetapi yang saya lihat di lapangan justru sebaliknya. <\/p>\n\n\n\n

Beberapa penikmat rokok elektrik kerap berbelanja liquid yang mereka idamkan. Terkadang, hal tersebut yang membuat mereka boros karena terus mengeksplor rasa mana yang mereka idam-idamkan. Tak jarang juga liquid dengan harga mahal hingga ratus ribuan akan mereka beli. Sebaliknya, para perokok konvensional justru kerap bertahan dengan satu rasa atau merek saja.<\/p>\n\n\n\n

Sedikit berbeda dengan penikmat rokok konvensional atau kretek. Mengingat rokok kretek sudah menjadi kebudayan lokal yang terus dipertahankan selama bertahun-tahun, kehadirannya sudah mewarnai khasanah keindonesiaan. Perokok kretek juga sudah punya soliditas luar biasa yang terbentuk sejak lama dan terus terbangun mengiringi peradaban di Indonesia atau dunia.<\/p>\n\n\n\n

Kini, perokok elektrik mulai merasakan kegelisahan. Beberapa negara mulai menerapkan peraturan ketat terhadap Vape, sedangkan di Indonesia biaya cukai pun kini mulai diberlakukan terhadap perdagangan rokok elektrik. Keberadaannya di mata negara pun mulai dianggap sama seperti rokok, meski pada awalnya rokok elektrik hadir dengan slogan-slogan produk alternatif yang lebih menyehatkan (katanya).<\/p>\n\n\n\n


Tapi jika kemudian di masa depan memang rokok elektrik yang kemudian menjadi sesuatu yang populer dan dinikmati banyak orang. Rasanya saya tetap ingin hidup di jaman ini, dengan sebatang kretek di tangan dan menikmati segala khasanah kebudayaan yang patut terus dipertahankan. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"masa-depan-rokok-elektrik-dan-semangat-alternatif-yang-sia-sia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-03 09:05:56","post_modified_gmt":"2019-02-03 02:05:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5403","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5385,"post_author":"883","post_date":"2019-02-02 08:01:01","post_date_gmt":"2019-02-02 01:01:01","post_content":"Pada tahun 2014, perusahaan rokok multinasional Philip Morris Internasional Inc. merilis sebuah produk <\/span>perangkat\u00a0<\/span>
rokok<\/span><\/a>\u00a0tanpa asap, yang dipanaskan bukan dibakar atau istilahnya\u00a0<\/span>heat not burn<\/i><\/strong>\u00a0(HNB) iQOS<\/strong>. <\/span>\r\n\r\nPerangkat rokok tanpa asap dengan nama iQOS<\/a> ini berbentuk seperti bagian luar pulpen, dengan lubang di tengah untuk rokok. Produk yang berada di bawah brand Marlboro ini dapat memanaskan rokok sampai 350 derajat celcius lalu mengeluarkan uap nikotin beraroma tembakau<\/em><\/a>.<\/span>\r\n

Produk iQOS sebenarnya bukanlah produk rokok tanpa asap yang pertama muncul. Sebelumnya di tahun 1990-an, Reynolds Tobacco Co pernah merilis produk serupa bernama Eclipes yang juga dapat menguapkan nikotin setelah dinyalakan dengan korek api.<\/span><\/blockquote>\r\nSelain itu, Eclips juga dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. Namun, pada saat itu Eclips tidak diminati oleh pasar, utamanya para perokok konvensional. Meskipun Eclips dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. <\/span>\r\n\r\nBisnis semacam rokok tanpa asap seperti Eclips dan iQOS memang sudah menjadi bagian dari rencana panjang bisnis perusahaan-perusahaan rokok multinasional. Jadi tidak usah heran jika ke depannya akan kita akan banyak menemukan produk rokok tanpa asap ini.<\/span>\r\n\r\nWatak dari perusahaan multinasional memang seperti itu, mereka sangat jeli melihat peluang pasar ke depannya. Ketika market place perusahaan rokok multinasional saat ini terus dirongrong oleh kelompok antirokok, mereka tak kehabisan akal. Maka kemudian mereka menginovasi produk rokok konvensional menjadi rokok yang tidak berasap. Begitupun dengan mengikutsertakan jargon-jargon kesehatan dalam narasi promosi mereka.<\/span>\r\n\r\nSesungguhnya memang seperti itulah watak bisnis perusahaan-perusahaan multinasional, melakukan segala cara agar bisnis mereka tetap bertahan, meskipun harus merangkul musuh sekalipun. <\/span>\r\n\r\nYa kadang pura-pura berantem sama antirokok, tapi dibalik itu sebenarnya baik-baik saja, dan tentunya ada kompromi untuk terus melanggengkan bisnis mereka.<\/span>\r\n

Lalu siapa yang dirugikan dari permainan bisnis macam produk rokok tanpa asap perusahaan rokok multinasional ini?<\/span><\/h3>\r\nTentunya yang sangat dirugikan adalah produk hasil tembakau yang memiliki kekhasan seperti kretek di Indonesia. Kretek sebagai produk khas asli Indonesia yang menjadi bagian dari warisan kebudayaan tidak mungkin bertransformasi menjadi produk-produk elektrik dan sejenisnya.<\/span>\r\n\r\nKretek tetaplah kretek, dengan bahan baku alami tembakau dan cengkeh yang tidak diintervensi dengan zat atau perangkat penghantar lainnya. Karena dengan bentuk, karakter dan cara menikmatinya memang konvensional dan akan terus begitu apapun kondisi dan zamannya.<\/span>\r\n
Bisnis produk rokok tanpa asap (elektrik) juga menghajar kretek dengan mendompleng isu pengendalian tembakau. Kampanye pengendalian tembakau selalu membawa slogan bahaya merokok dan upaya untuk berhenti merokok. <\/span><\/blockquote>\r\nDari isu tersebut, rokok elektrik masuk dengan citra produk alternatif tembakau, bahkan mereka tak segan menilai bahwa rokok elektrik lebih aman ketimbang rokok konvensional, yakni kretek.<\/span>\r\n\r\nLalu jika Indonesia akan dibanjiri dengan produk-produk yang mengatasnamakan produk alternatif tembakau, macam rokok tanpa asap (iQOS dan sejenisnya), maka itulah pertanda bahwa kretek harus tergerus dari cara hidup manusia Indonesia dalam menikmati produk hasil tembakau khas Indonesia yang sudah turun-temurun lamanya dinikmati manusia Indonesia.<\/span>","post_title":"Nasib Kretek di Pusaran Pertarungan Bisnis Global Perusahaan Rokok Multinasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"nasib-kretek-di-pusaran-pertarungan-bisnis-global-perusahaan-rokok-multinasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-02 08:01:43","post_modified_gmt":"2019-02-02 01:01:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5385","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; \n

Baca juga: Pangeran Diponegoro, Rokok Klobot dan Perlawanan Simbolis<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Jati Diri Bangsa<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Salah satu \u201cpendiri bangsa\u201d bernama KH. Agus Salim menghisap kretek dengan asapnya di kebal-kebulkan keudara, disaat ada perjamuan di Istana Buckingham ketika penobatan Elizabeth II sebagai Ratu kerajaan Inggris. Aroma khas keluar dari asap rokok kretek, tercium orang yang berada di ruang perjamuan. Sehingga memancing salah satu orang yang datang dalam perjamuan, dengan berkata; \u201ctuan sedang menghisap apa itu?\u201d.  Sentak KH. Agus Salim menjawab, \u201c inilah yang membuat nenek moyang anda sekian abad lalu datang dan kemudian menjajah negeri kami\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Jawaban KH. Agus Salim, faktanya memang benar. Rokok kretek tidak lain ada tambahan cengkeh (suzygium aromaticum<\/em>). \u00a0Tanaman legendaris menjadi rebutan dan sumber keuntungan kolonialisme Eropa atas Asia termasuk Indonesia. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Cengkeh adalah salah satu tanaman yang diperebutkan bangsa-bangsa dunia, sampai melegalkan penjajahan.  Dalam simpulan perjalanan ekspedisi cengkeh tahun 2013, Kepala Suku begitu julukan bagi Putut Ea, mengatakan \u201c jika saja tak pernah ada cengkeh dan pala di Maluku, mungkin sejarah kepulauan Nusantara ini akan berbeda sama sekali\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Simpulan Putut EA, sebagai salah satu pembenar perkataan \u00a0KH. Agus Salim. Mungkin, jika tanaman cengkeh tidak ada, fakta sejarah akan berbeda, tidak ada penjajahan di bumi Nusantara ini. <\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Mengisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek untuk Berteman dan Menjalin Persaudaraan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Teringat apa yang pernah dilakukan Menteri Sosial dan Lingkungan Hidup, saat melakukan pendekatan pada suku anak dalam di Jambi. Tidak lain ia adalah Khofifah menteri perempuan yang energik. Saat itu Khofifah bertanggungjawab dalam mengatasi masalah pendidikan dan kesejahteraan masyarakat suku anak dalam di Jambi.  <\/p>\n\n\n\n

Kebijakannya membuat fenomenal, selain bahan makanan, dan bantuan lain, khofifah juga membawa rokok.  Yang kemudian ada yang mengggugat dari anti rokok, tetapi sebagai Menteri, Khofifah tentunya sudah mengkaji secara mendalam. Dengan kecerdasannya , Khofifah menjawab dengan tegas dan lugas, \u201cjangan sok tahu kehidupan mereka, kenali apa yang menjadi ritme kehidupan mereka. Sangat bijaksana kalau kita semua pergi kesana, sehingga tahu adat istiadatnya juga. Tolong kalau ingin mengerti tentang kultur jangan hanya dari kacamata Jakarta. Saya pun ingin mengajak anda kesana, turun kesana, sapalah mereka\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Khofifah memberikan pelajaran bagi anti rokok. Tidak boleh sok tahu, apalagi selama ini antirokok hanya berasumsi, tanpa melihat fakta dilapangan. Khofifah juga menganjurkan agar lebih mengenal adat-istiadat, budaya dan tradisi masyarakat, tidak boleh melakukan hegemoni kultural, sebab keberagaman adat-istiadat dan budaya merupakan kekayaan negeri. <\/p>\n\n\n\n

Pelajaran Khofifah sangat mendalam dan bercirikhas Nusantara. Sebgaai Menteri \u00a0Sosial tentunya lebih berpengalaman apa yang dibutuhkan bangsa ini agar tetap jaya, bersatu dan utuh. Kenali perbedaan, hormati perbedaan, junjung tinggi budaya yang berbeda. \u00a0Apa yang telah dilakukan Khofifah dengan membawa rokok ke suku anak dalam adalah cermin penghormatan tradisi dan budaya masyarakat. Sebagai seorang Mentri, tentunya punya kuasa, artinya bisa seorang khofifah memberikan bantuan sesuai keinginannya sendiri, namun hal itu tidak dilakukan. Ia lebih mengedepankan penghormatan budaya masyarakat setempat, dengan membawa rokok untuk pendekatan dan pertemanan. Karena Khofifah tahu betul, bahwa merokok adalah budaya mereka, yang diwaris dari neneng moyang mereka. <\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Memilih Jalan Hidup Menikmati Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Simbol Pergerakan Nasional     <\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Abdul Rifa\u2019I dalam media bintang timur terbit pada 03 Oktober 1927, mengatakan, \u201ckopinya bukan kopi saringan, tetapi kopi tubruk sebab kopi ini katanya nationaal, gulanya gula jawa, susu tidak dipakai karena tidak nationaal. Rokoknya kelobot, selamatan natioanaal ini terus berlangsung ed sampai pagi hari\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Semangat nasionalisme harus tertanam, mengedepankan produk lokal adalah salah satu semangat nasionalime. Salah satu keberadaan rokok klobot menjadi ciri produk asli indonesia dan harus dilestarikan. Klobot sendiri adalah ramuan tembakau dan cengkeh di gulung memakai daun jagung, embrio perkembangan menjadi rokok sigaret kretek tangan dan sigaret kretek mesin.  
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pusaran Budaya Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pusaran-budaya-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-04 08:40:41","post_modified_gmt":"2019-02-04 01:40:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5406","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5403,"post_author":"919","post_date":"2019-02-03 09:05:50","post_date_gmt":"2019-02-03 02:05:50","post_content":"\n

Seringkali saya menyaksikan berbagai film baik itu Eropa atau Asia yang menggambarkan tentang masa depan. Pemandangan soal masa depan tersebut dihadirkan dengan gambaran kecanggihan teknologi seperti robot yang akan membantu kehidupan manusia, gedung-gedung yang tingginya sudah amat tak bisa ditandingi,  hingga mobil-mobil yang bisa terbang. <\/p>\n\n\n\n

Pernah dalam masa kecil saya menyaksikan sebuah film animasi buatan jepang yang mempertanyakan tentang makanan di masa depan. Dengan santai salah satu tokoh yang berasal dari masa depan itu menjawab bahwa suatu saat nanti manusia akan mengonsumsi makanan berupa pasta gigi namun dengan rasa yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa, aneh!<\/p>\n\n\n\n

Seiring waktu berjalan saya kian tumbuh dewasa dan punya kesadaran untuk memilih menjadi seorang perokok<\/a>. Saya juga melihat ada sebuah inovasi dan gambaran tentang masa depan yang hadir dalam kehidupan sekarang. Banyak memang, namun yang menyita perhatian saya adalah rokok elektrik atau yang populer disebut Vape. Konon katanya ia adalah produk inovasi untuk menjembatani kebutuhan menghisap asap dan kecanggihan masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Di awal kehadirannya Vape memang mengundang decak kekaguman saya. Bagaimana bisa sebuah mesin kecil mengeluarkan asap yang katanya lebih menyehatkan daripada rokok.<\/strong> Meski pada akhirnya teori tersebut juga bisa dibantah oleh beberapa ilmuan dunia. Tapi ada satu yang saya amati selain soal kesehatan, rokok elektrik rupanya menghadirkan kultur dan budaya baru dalam kehidupan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: LAGI-LAGI IKLAN ROKOK, KAPAN KPAI TIDAK TEBANG PILIH? <\/a><\/h4>\n\n\n\n

Kehadiran teknologi memang kerap sedikit atau benyak mengubah gaya atau kultur suatu masyarakat. Begitu pula yang saya perhatikan dengan rokok elektrik. Satu hal yang mudah diamati adalah menjamurnya toko-toko kecil yang menjual vape serta liquid di berbagai tempat. Sebagai sebuah warna baru dalam masyarakat, penggunanya ramai-ramai mengunjungi tempat tersebut berinteraksi dengan penikmat lainnya dan membangun sebuah rumah komunitas yang fleksibel.<\/p>\n\n\n\n

Meski belum bisa dikatakan memiliki jumlah penikmat yang setara dengan para perokok, pengguna Vape mulai menunjukkan eksistensinya. Selain toko yang tersebar, ragam acara juga mereka buat di beberapa daerah. Dalam lingkungan saya, beberapa teman yang dulunya merupakan perokok aktif tertarik mengikuti event tersebut dan beralih mengisap rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Nun jauh di sana, di Amerika Serikat tepatnya, budaya Vape juga sudah mulai berkembang lama ketimbang di Tanah Air. Penikmatnya terbagi menjadi dua, ada yang dulunya bekas perokok dan ada yang memang menikmatinya sebagai gaya hidup. Wajar saja mengingat facebook tak memperbolehkan iklan tembakau di platform mereka, sebaliknya iklan tentang vape justru bertebaran. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi budaya baru yang berkembang di berbagai belahan dunia bahkan di Indonesia, Vape konon menjadi alternatif yang lebih bermanfaat daripada rokok. Dalih yang diusung selalu sama kepada para perokok tradisonal yaitu soal kesehatan dan lebih irit. Soal kesehatan tentu ada beberapa pendapat para ilmuan yang membantahnya, namun soal irit, saya rasa tidak. Memang satu liquid bisa digunakan untuk beberapa Minggu, akan tetapi yang saya lihat di lapangan justru sebaliknya. <\/p>\n\n\n\n

Beberapa penikmat rokok elektrik kerap berbelanja liquid yang mereka idamkan. Terkadang, hal tersebut yang membuat mereka boros karena terus mengeksplor rasa mana yang mereka idam-idamkan. Tak jarang juga liquid dengan harga mahal hingga ratus ribuan akan mereka beli. Sebaliknya, para perokok konvensional justru kerap bertahan dengan satu rasa atau merek saja.<\/p>\n\n\n\n

Sedikit berbeda dengan penikmat rokok konvensional atau kretek. Mengingat rokok kretek sudah menjadi kebudayan lokal yang terus dipertahankan selama bertahun-tahun, kehadirannya sudah mewarnai khasanah keindonesiaan. Perokok kretek juga sudah punya soliditas luar biasa yang terbentuk sejak lama dan terus terbangun mengiringi peradaban di Indonesia atau dunia.<\/p>\n\n\n\n

Kini, perokok elektrik mulai merasakan kegelisahan. Beberapa negara mulai menerapkan peraturan ketat terhadap Vape, sedangkan di Indonesia biaya cukai pun kini mulai diberlakukan terhadap perdagangan rokok elektrik. Keberadaannya di mata negara pun mulai dianggap sama seperti rokok, meski pada awalnya rokok elektrik hadir dengan slogan-slogan produk alternatif yang lebih menyehatkan (katanya).<\/p>\n\n\n\n


Tapi jika kemudian di masa depan memang rokok elektrik yang kemudian menjadi sesuatu yang populer dan dinikmati banyak orang. Rasanya saya tetap ingin hidup di jaman ini, dengan sebatang kretek di tangan dan menikmati segala khasanah kebudayaan yang patut terus dipertahankan. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"masa-depan-rokok-elektrik-dan-semangat-alternatif-yang-sia-sia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-03 09:05:56","post_modified_gmt":"2019-02-03 02:05:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5403","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5385,"post_author":"883","post_date":"2019-02-02 08:01:01","post_date_gmt":"2019-02-02 01:01:01","post_content":"Pada tahun 2014, perusahaan rokok multinasional Philip Morris Internasional Inc. merilis sebuah produk <\/span>perangkat\u00a0<\/span>
rokok<\/span><\/a>\u00a0tanpa asap, yang dipanaskan bukan dibakar atau istilahnya\u00a0<\/span>heat not burn<\/i><\/strong>\u00a0(HNB) iQOS<\/strong>. <\/span>\r\n\r\nPerangkat rokok tanpa asap dengan nama iQOS<\/a> ini berbentuk seperti bagian luar pulpen, dengan lubang di tengah untuk rokok. Produk yang berada di bawah brand Marlboro ini dapat memanaskan rokok sampai 350 derajat celcius lalu mengeluarkan uap nikotin beraroma tembakau<\/em><\/a>.<\/span>\r\n

Produk iQOS sebenarnya bukanlah produk rokok tanpa asap yang pertama muncul. Sebelumnya di tahun 1990-an, Reynolds Tobacco Co pernah merilis produk serupa bernama Eclipes yang juga dapat menguapkan nikotin setelah dinyalakan dengan korek api.<\/span><\/blockquote>\r\nSelain itu, Eclips juga dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. Namun, pada saat itu Eclips tidak diminati oleh pasar, utamanya para perokok konvensional. Meskipun Eclips dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. <\/span>\r\n\r\nBisnis semacam rokok tanpa asap seperti Eclips dan iQOS memang sudah menjadi bagian dari rencana panjang bisnis perusahaan-perusahaan rokok multinasional. Jadi tidak usah heran jika ke depannya akan kita akan banyak menemukan produk rokok tanpa asap ini.<\/span>\r\n\r\nWatak dari perusahaan multinasional memang seperti itu, mereka sangat jeli melihat peluang pasar ke depannya. Ketika market place perusahaan rokok multinasional saat ini terus dirongrong oleh kelompok antirokok, mereka tak kehabisan akal. Maka kemudian mereka menginovasi produk rokok konvensional menjadi rokok yang tidak berasap. Begitupun dengan mengikutsertakan jargon-jargon kesehatan dalam narasi promosi mereka.<\/span>\r\n\r\nSesungguhnya memang seperti itulah watak bisnis perusahaan-perusahaan multinasional, melakukan segala cara agar bisnis mereka tetap bertahan, meskipun harus merangkul musuh sekalipun. <\/span>\r\n\r\nYa kadang pura-pura berantem sama antirokok, tapi dibalik itu sebenarnya baik-baik saja, dan tentunya ada kompromi untuk terus melanggengkan bisnis mereka.<\/span>\r\n

Lalu siapa yang dirugikan dari permainan bisnis macam produk rokok tanpa asap perusahaan rokok multinasional ini?<\/span><\/h3>\r\nTentunya yang sangat dirugikan adalah produk hasil tembakau yang memiliki kekhasan seperti kretek di Indonesia. Kretek sebagai produk khas asli Indonesia yang menjadi bagian dari warisan kebudayaan tidak mungkin bertransformasi menjadi produk-produk elektrik dan sejenisnya.<\/span>\r\n\r\nKretek tetaplah kretek, dengan bahan baku alami tembakau dan cengkeh yang tidak diintervensi dengan zat atau perangkat penghantar lainnya. Karena dengan bentuk, karakter dan cara menikmatinya memang konvensional dan akan terus begitu apapun kondisi dan zamannya.<\/span>\r\n
Bisnis produk rokok tanpa asap (elektrik) juga menghajar kretek dengan mendompleng isu pengendalian tembakau. Kampanye pengendalian tembakau selalu membawa slogan bahaya merokok dan upaya untuk berhenti merokok. <\/span><\/blockquote>\r\nDari isu tersebut, rokok elektrik masuk dengan citra produk alternatif tembakau, bahkan mereka tak segan menilai bahwa rokok elektrik lebih aman ketimbang rokok konvensional, yakni kretek.<\/span>\r\n\r\nLalu jika Indonesia akan dibanjiri dengan produk-produk yang mengatasnamakan produk alternatif tembakau, macam rokok tanpa asap (iQOS dan sejenisnya), maka itulah pertanda bahwa kretek harus tergerus dari cara hidup manusia Indonesia dalam menikmati produk hasil tembakau khas Indonesia yang sudah turun-temurun lamanya dinikmati manusia Indonesia.<\/span>","post_title":"Nasib Kretek di Pusaran Pertarungan Bisnis Global Perusahaan Rokok Multinasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"nasib-kretek-di-pusaran-pertarungan-bisnis-global-perusahaan-rokok-multinasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-02 08:01:43","post_modified_gmt":"2019-02-02 01:01:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5385","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; \n

Kebiasaan ini, juga dialami oleh pengikut \/pasukan perang Pangeran Diponegoro. Bagi mereka, rokok teman sejati, menemani disetiap perjalanan mereka. Rokok menghilangkan depresi mereka, sebagai hiburan saat jauh dari keluarga demi berjuang melawan penjajah. Rokok menumbuhkan percaya diri mereka, lebih berani melawan penjajah walaupun hanya dengan serba keterbatasan, pasukan jumlah terbatas, alat perang terbatas dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Baca juga: Pangeran Diponegoro, Rokok Klobot dan Perlawanan Simbolis<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Jati Diri Bangsa<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Salah satu \u201cpendiri bangsa\u201d bernama KH. Agus Salim menghisap kretek dengan asapnya di kebal-kebulkan keudara, disaat ada perjamuan di Istana Buckingham ketika penobatan Elizabeth II sebagai Ratu kerajaan Inggris. Aroma khas keluar dari asap rokok kretek, tercium orang yang berada di ruang perjamuan. Sehingga memancing salah satu orang yang datang dalam perjamuan, dengan berkata; \u201ctuan sedang menghisap apa itu?\u201d.  Sentak KH. Agus Salim menjawab, \u201c inilah yang membuat nenek moyang anda sekian abad lalu datang dan kemudian menjajah negeri kami\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Jawaban KH. Agus Salim, faktanya memang benar. Rokok kretek tidak lain ada tambahan cengkeh (suzygium aromaticum<\/em>). \u00a0Tanaman legendaris menjadi rebutan dan sumber keuntungan kolonialisme Eropa atas Asia termasuk Indonesia. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Cengkeh adalah salah satu tanaman yang diperebutkan bangsa-bangsa dunia, sampai melegalkan penjajahan.  Dalam simpulan perjalanan ekspedisi cengkeh tahun 2013, Kepala Suku begitu julukan bagi Putut Ea, mengatakan \u201c jika saja tak pernah ada cengkeh dan pala di Maluku, mungkin sejarah kepulauan Nusantara ini akan berbeda sama sekali\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Simpulan Putut EA, sebagai salah satu pembenar perkataan \u00a0KH. Agus Salim. Mungkin, jika tanaman cengkeh tidak ada, fakta sejarah akan berbeda, tidak ada penjajahan di bumi Nusantara ini. <\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Mengisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek untuk Berteman dan Menjalin Persaudaraan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Teringat apa yang pernah dilakukan Menteri Sosial dan Lingkungan Hidup, saat melakukan pendekatan pada suku anak dalam di Jambi. Tidak lain ia adalah Khofifah menteri perempuan yang energik. Saat itu Khofifah bertanggungjawab dalam mengatasi masalah pendidikan dan kesejahteraan masyarakat suku anak dalam di Jambi.  <\/p>\n\n\n\n

Kebijakannya membuat fenomenal, selain bahan makanan, dan bantuan lain, khofifah juga membawa rokok.  Yang kemudian ada yang mengggugat dari anti rokok, tetapi sebagai Menteri, Khofifah tentunya sudah mengkaji secara mendalam. Dengan kecerdasannya , Khofifah menjawab dengan tegas dan lugas, \u201cjangan sok tahu kehidupan mereka, kenali apa yang menjadi ritme kehidupan mereka. Sangat bijaksana kalau kita semua pergi kesana, sehingga tahu adat istiadatnya juga. Tolong kalau ingin mengerti tentang kultur jangan hanya dari kacamata Jakarta. Saya pun ingin mengajak anda kesana, turun kesana, sapalah mereka\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Khofifah memberikan pelajaran bagi anti rokok. Tidak boleh sok tahu, apalagi selama ini antirokok hanya berasumsi, tanpa melihat fakta dilapangan. Khofifah juga menganjurkan agar lebih mengenal adat-istiadat, budaya dan tradisi masyarakat, tidak boleh melakukan hegemoni kultural, sebab keberagaman adat-istiadat dan budaya merupakan kekayaan negeri. <\/p>\n\n\n\n

Pelajaran Khofifah sangat mendalam dan bercirikhas Nusantara. Sebgaai Menteri \u00a0Sosial tentunya lebih berpengalaman apa yang dibutuhkan bangsa ini agar tetap jaya, bersatu dan utuh. Kenali perbedaan, hormati perbedaan, junjung tinggi budaya yang berbeda. \u00a0Apa yang telah dilakukan Khofifah dengan membawa rokok ke suku anak dalam adalah cermin penghormatan tradisi dan budaya masyarakat. Sebagai seorang Mentri, tentunya punya kuasa, artinya bisa seorang khofifah memberikan bantuan sesuai keinginannya sendiri, namun hal itu tidak dilakukan. Ia lebih mengedepankan penghormatan budaya masyarakat setempat, dengan membawa rokok untuk pendekatan dan pertemanan. Karena Khofifah tahu betul, bahwa merokok adalah budaya mereka, yang diwaris dari neneng moyang mereka. <\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Memilih Jalan Hidup Menikmati Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Simbol Pergerakan Nasional     <\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Abdul Rifa\u2019I dalam media bintang timur terbit pada 03 Oktober 1927, mengatakan, \u201ckopinya bukan kopi saringan, tetapi kopi tubruk sebab kopi ini katanya nationaal, gulanya gula jawa, susu tidak dipakai karena tidak nationaal. Rokoknya kelobot, selamatan natioanaal ini terus berlangsung ed sampai pagi hari\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Semangat nasionalisme harus tertanam, mengedepankan produk lokal adalah salah satu semangat nasionalime. Salah satu keberadaan rokok klobot menjadi ciri produk asli indonesia dan harus dilestarikan. Klobot sendiri adalah ramuan tembakau dan cengkeh di gulung memakai daun jagung, embrio perkembangan menjadi rokok sigaret kretek tangan dan sigaret kretek mesin.  
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pusaran Budaya Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pusaran-budaya-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-04 08:40:41","post_modified_gmt":"2019-02-04 01:40:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5406","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5403,"post_author":"919","post_date":"2019-02-03 09:05:50","post_date_gmt":"2019-02-03 02:05:50","post_content":"\n

Seringkali saya menyaksikan berbagai film baik itu Eropa atau Asia yang menggambarkan tentang masa depan. Pemandangan soal masa depan tersebut dihadirkan dengan gambaran kecanggihan teknologi seperti robot yang akan membantu kehidupan manusia, gedung-gedung yang tingginya sudah amat tak bisa ditandingi,  hingga mobil-mobil yang bisa terbang. <\/p>\n\n\n\n

Pernah dalam masa kecil saya menyaksikan sebuah film animasi buatan jepang yang mempertanyakan tentang makanan di masa depan. Dengan santai salah satu tokoh yang berasal dari masa depan itu menjawab bahwa suatu saat nanti manusia akan mengonsumsi makanan berupa pasta gigi namun dengan rasa yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa, aneh!<\/p>\n\n\n\n

Seiring waktu berjalan saya kian tumbuh dewasa dan punya kesadaran untuk memilih menjadi seorang perokok<\/a>. Saya juga melihat ada sebuah inovasi dan gambaran tentang masa depan yang hadir dalam kehidupan sekarang. Banyak memang, namun yang menyita perhatian saya adalah rokok elektrik atau yang populer disebut Vape. Konon katanya ia adalah produk inovasi untuk menjembatani kebutuhan menghisap asap dan kecanggihan masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Di awal kehadirannya Vape memang mengundang decak kekaguman saya. Bagaimana bisa sebuah mesin kecil mengeluarkan asap yang katanya lebih menyehatkan daripada rokok.<\/strong> Meski pada akhirnya teori tersebut juga bisa dibantah oleh beberapa ilmuan dunia. Tapi ada satu yang saya amati selain soal kesehatan, rokok elektrik rupanya menghadirkan kultur dan budaya baru dalam kehidupan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: LAGI-LAGI IKLAN ROKOK, KAPAN KPAI TIDAK TEBANG PILIH? <\/a><\/h4>\n\n\n\n

Kehadiran teknologi memang kerap sedikit atau benyak mengubah gaya atau kultur suatu masyarakat. Begitu pula yang saya perhatikan dengan rokok elektrik. Satu hal yang mudah diamati adalah menjamurnya toko-toko kecil yang menjual vape serta liquid di berbagai tempat. Sebagai sebuah warna baru dalam masyarakat, penggunanya ramai-ramai mengunjungi tempat tersebut berinteraksi dengan penikmat lainnya dan membangun sebuah rumah komunitas yang fleksibel.<\/p>\n\n\n\n

Meski belum bisa dikatakan memiliki jumlah penikmat yang setara dengan para perokok, pengguna Vape mulai menunjukkan eksistensinya. Selain toko yang tersebar, ragam acara juga mereka buat di beberapa daerah. Dalam lingkungan saya, beberapa teman yang dulunya merupakan perokok aktif tertarik mengikuti event tersebut dan beralih mengisap rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Nun jauh di sana, di Amerika Serikat tepatnya, budaya Vape juga sudah mulai berkembang lama ketimbang di Tanah Air. Penikmatnya terbagi menjadi dua, ada yang dulunya bekas perokok dan ada yang memang menikmatinya sebagai gaya hidup. Wajar saja mengingat facebook tak memperbolehkan iklan tembakau di platform mereka, sebaliknya iklan tentang vape justru bertebaran. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi budaya baru yang berkembang di berbagai belahan dunia bahkan di Indonesia, Vape konon menjadi alternatif yang lebih bermanfaat daripada rokok. Dalih yang diusung selalu sama kepada para perokok tradisonal yaitu soal kesehatan dan lebih irit. Soal kesehatan tentu ada beberapa pendapat para ilmuan yang membantahnya, namun soal irit, saya rasa tidak. Memang satu liquid bisa digunakan untuk beberapa Minggu, akan tetapi yang saya lihat di lapangan justru sebaliknya. <\/p>\n\n\n\n

Beberapa penikmat rokok elektrik kerap berbelanja liquid yang mereka idamkan. Terkadang, hal tersebut yang membuat mereka boros karena terus mengeksplor rasa mana yang mereka idam-idamkan. Tak jarang juga liquid dengan harga mahal hingga ratus ribuan akan mereka beli. Sebaliknya, para perokok konvensional justru kerap bertahan dengan satu rasa atau merek saja.<\/p>\n\n\n\n

Sedikit berbeda dengan penikmat rokok konvensional atau kretek. Mengingat rokok kretek sudah menjadi kebudayan lokal yang terus dipertahankan selama bertahun-tahun, kehadirannya sudah mewarnai khasanah keindonesiaan. Perokok kretek juga sudah punya soliditas luar biasa yang terbentuk sejak lama dan terus terbangun mengiringi peradaban di Indonesia atau dunia.<\/p>\n\n\n\n

Kini, perokok elektrik mulai merasakan kegelisahan. Beberapa negara mulai menerapkan peraturan ketat terhadap Vape, sedangkan di Indonesia biaya cukai pun kini mulai diberlakukan terhadap perdagangan rokok elektrik. Keberadaannya di mata negara pun mulai dianggap sama seperti rokok, meski pada awalnya rokok elektrik hadir dengan slogan-slogan produk alternatif yang lebih menyehatkan (katanya).<\/p>\n\n\n\n


Tapi jika kemudian di masa depan memang rokok elektrik yang kemudian menjadi sesuatu yang populer dan dinikmati banyak orang. Rasanya saya tetap ingin hidup di jaman ini, dengan sebatang kretek di tangan dan menikmati segala khasanah kebudayaan yang patut terus dipertahankan. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"masa-depan-rokok-elektrik-dan-semangat-alternatif-yang-sia-sia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-03 09:05:56","post_modified_gmt":"2019-02-03 02:05:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5403","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5385,"post_author":"883","post_date":"2019-02-02 08:01:01","post_date_gmt":"2019-02-02 01:01:01","post_content":"Pada tahun 2014, perusahaan rokok multinasional Philip Morris Internasional Inc. merilis sebuah produk <\/span>perangkat\u00a0<\/span>
rokok<\/span><\/a>\u00a0tanpa asap, yang dipanaskan bukan dibakar atau istilahnya\u00a0<\/span>heat not burn<\/i><\/strong>\u00a0(HNB) iQOS<\/strong>. <\/span>\r\n\r\nPerangkat rokok tanpa asap dengan nama iQOS<\/a> ini berbentuk seperti bagian luar pulpen, dengan lubang di tengah untuk rokok. Produk yang berada di bawah brand Marlboro ini dapat memanaskan rokok sampai 350 derajat celcius lalu mengeluarkan uap nikotin beraroma tembakau<\/em><\/a>.<\/span>\r\n

Produk iQOS sebenarnya bukanlah produk rokok tanpa asap yang pertama muncul. Sebelumnya di tahun 1990-an, Reynolds Tobacco Co pernah merilis produk serupa bernama Eclipes yang juga dapat menguapkan nikotin setelah dinyalakan dengan korek api.<\/span><\/blockquote>\r\nSelain itu, Eclips juga dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. Namun, pada saat itu Eclips tidak diminati oleh pasar, utamanya para perokok konvensional. Meskipun Eclips dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. <\/span>\r\n\r\nBisnis semacam rokok tanpa asap seperti Eclips dan iQOS memang sudah menjadi bagian dari rencana panjang bisnis perusahaan-perusahaan rokok multinasional. Jadi tidak usah heran jika ke depannya akan kita akan banyak menemukan produk rokok tanpa asap ini.<\/span>\r\n\r\nWatak dari perusahaan multinasional memang seperti itu, mereka sangat jeli melihat peluang pasar ke depannya. Ketika market place perusahaan rokok multinasional saat ini terus dirongrong oleh kelompok antirokok, mereka tak kehabisan akal. Maka kemudian mereka menginovasi produk rokok konvensional menjadi rokok yang tidak berasap. Begitupun dengan mengikutsertakan jargon-jargon kesehatan dalam narasi promosi mereka.<\/span>\r\n\r\nSesungguhnya memang seperti itulah watak bisnis perusahaan-perusahaan multinasional, melakukan segala cara agar bisnis mereka tetap bertahan, meskipun harus merangkul musuh sekalipun. <\/span>\r\n\r\nYa kadang pura-pura berantem sama antirokok, tapi dibalik itu sebenarnya baik-baik saja, dan tentunya ada kompromi untuk terus melanggengkan bisnis mereka.<\/span>\r\n

Lalu siapa yang dirugikan dari permainan bisnis macam produk rokok tanpa asap perusahaan rokok multinasional ini?<\/span><\/h3>\r\nTentunya yang sangat dirugikan adalah produk hasil tembakau yang memiliki kekhasan seperti kretek di Indonesia. Kretek sebagai produk khas asli Indonesia yang menjadi bagian dari warisan kebudayaan tidak mungkin bertransformasi menjadi produk-produk elektrik dan sejenisnya.<\/span>\r\n\r\nKretek tetaplah kretek, dengan bahan baku alami tembakau dan cengkeh yang tidak diintervensi dengan zat atau perangkat penghantar lainnya. Karena dengan bentuk, karakter dan cara menikmatinya memang konvensional dan akan terus begitu apapun kondisi dan zamannya.<\/span>\r\n
Bisnis produk rokok tanpa asap (elektrik) juga menghajar kretek dengan mendompleng isu pengendalian tembakau. Kampanye pengendalian tembakau selalu membawa slogan bahaya merokok dan upaya untuk berhenti merokok. <\/span><\/blockquote>\r\nDari isu tersebut, rokok elektrik masuk dengan citra produk alternatif tembakau, bahkan mereka tak segan menilai bahwa rokok elektrik lebih aman ketimbang rokok konvensional, yakni kretek.<\/span>\r\n\r\nLalu jika Indonesia akan dibanjiri dengan produk-produk yang mengatasnamakan produk alternatif tembakau, macam rokok tanpa asap (iQOS dan sejenisnya), maka itulah pertanda bahwa kretek harus tergerus dari cara hidup manusia Indonesia dalam menikmati produk hasil tembakau khas Indonesia yang sudah turun-temurun lamanya dinikmati manusia Indonesia.<\/span>","post_title":"Nasib Kretek di Pusaran Pertarungan Bisnis Global Perusahaan Rokok Multinasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"nasib-kretek-di-pusaran-pertarungan-bisnis-global-perusahaan-rokok-multinasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-02 08:01:43","post_modified_gmt":"2019-02-02 01:01:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5385","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; \n

Lain itu, tenyata banyak cerita, Diponegoro saat berperang ditemani rokok. Ia dan pasukannya gemar merokok. Bahkan ketika tidak ada rokok, Pangeran Diponegoro rela hanya megunyah daun sirih yang diracik dengan kapur dan pinang. <\/p>\n\n\n\n

Kebiasaan ini, juga dialami oleh pengikut \/pasukan perang Pangeran Diponegoro. Bagi mereka, rokok teman sejati, menemani disetiap perjalanan mereka. Rokok menghilangkan depresi mereka, sebagai hiburan saat jauh dari keluarga demi berjuang melawan penjajah. Rokok menumbuhkan percaya diri mereka, lebih berani melawan penjajah walaupun hanya dengan serba keterbatasan, pasukan jumlah terbatas, alat perang terbatas dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Baca juga: Pangeran Diponegoro, Rokok Klobot dan Perlawanan Simbolis<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Jati Diri Bangsa<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Salah satu \u201cpendiri bangsa\u201d bernama KH. Agus Salim menghisap kretek dengan asapnya di kebal-kebulkan keudara, disaat ada perjamuan di Istana Buckingham ketika penobatan Elizabeth II sebagai Ratu kerajaan Inggris. Aroma khas keluar dari asap rokok kretek, tercium orang yang berada di ruang perjamuan. Sehingga memancing salah satu orang yang datang dalam perjamuan, dengan berkata; \u201ctuan sedang menghisap apa itu?\u201d.  Sentak KH. Agus Salim menjawab, \u201c inilah yang membuat nenek moyang anda sekian abad lalu datang dan kemudian menjajah negeri kami\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Jawaban KH. Agus Salim, faktanya memang benar. Rokok kretek tidak lain ada tambahan cengkeh (suzygium aromaticum<\/em>). \u00a0Tanaman legendaris menjadi rebutan dan sumber keuntungan kolonialisme Eropa atas Asia termasuk Indonesia. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Cengkeh adalah salah satu tanaman yang diperebutkan bangsa-bangsa dunia, sampai melegalkan penjajahan.  Dalam simpulan perjalanan ekspedisi cengkeh tahun 2013, Kepala Suku begitu julukan bagi Putut Ea, mengatakan \u201c jika saja tak pernah ada cengkeh dan pala di Maluku, mungkin sejarah kepulauan Nusantara ini akan berbeda sama sekali\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Simpulan Putut EA, sebagai salah satu pembenar perkataan \u00a0KH. Agus Salim. Mungkin, jika tanaman cengkeh tidak ada, fakta sejarah akan berbeda, tidak ada penjajahan di bumi Nusantara ini. <\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Mengisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek untuk Berteman dan Menjalin Persaudaraan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Teringat apa yang pernah dilakukan Menteri Sosial dan Lingkungan Hidup, saat melakukan pendekatan pada suku anak dalam di Jambi. Tidak lain ia adalah Khofifah menteri perempuan yang energik. Saat itu Khofifah bertanggungjawab dalam mengatasi masalah pendidikan dan kesejahteraan masyarakat suku anak dalam di Jambi.  <\/p>\n\n\n\n

Kebijakannya membuat fenomenal, selain bahan makanan, dan bantuan lain, khofifah juga membawa rokok.  Yang kemudian ada yang mengggugat dari anti rokok, tetapi sebagai Menteri, Khofifah tentunya sudah mengkaji secara mendalam. Dengan kecerdasannya , Khofifah menjawab dengan tegas dan lugas, \u201cjangan sok tahu kehidupan mereka, kenali apa yang menjadi ritme kehidupan mereka. Sangat bijaksana kalau kita semua pergi kesana, sehingga tahu adat istiadatnya juga. Tolong kalau ingin mengerti tentang kultur jangan hanya dari kacamata Jakarta. Saya pun ingin mengajak anda kesana, turun kesana, sapalah mereka\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Khofifah memberikan pelajaran bagi anti rokok. Tidak boleh sok tahu, apalagi selama ini antirokok hanya berasumsi, tanpa melihat fakta dilapangan. Khofifah juga menganjurkan agar lebih mengenal adat-istiadat, budaya dan tradisi masyarakat, tidak boleh melakukan hegemoni kultural, sebab keberagaman adat-istiadat dan budaya merupakan kekayaan negeri. <\/p>\n\n\n\n

Pelajaran Khofifah sangat mendalam dan bercirikhas Nusantara. Sebgaai Menteri \u00a0Sosial tentunya lebih berpengalaman apa yang dibutuhkan bangsa ini agar tetap jaya, bersatu dan utuh. Kenali perbedaan, hormati perbedaan, junjung tinggi budaya yang berbeda. \u00a0Apa yang telah dilakukan Khofifah dengan membawa rokok ke suku anak dalam adalah cermin penghormatan tradisi dan budaya masyarakat. Sebagai seorang Mentri, tentunya punya kuasa, artinya bisa seorang khofifah memberikan bantuan sesuai keinginannya sendiri, namun hal itu tidak dilakukan. Ia lebih mengedepankan penghormatan budaya masyarakat setempat, dengan membawa rokok untuk pendekatan dan pertemanan. Karena Khofifah tahu betul, bahwa merokok adalah budaya mereka, yang diwaris dari neneng moyang mereka. <\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Memilih Jalan Hidup Menikmati Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Simbol Pergerakan Nasional     <\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Abdul Rifa\u2019I dalam media bintang timur terbit pada 03 Oktober 1927, mengatakan, \u201ckopinya bukan kopi saringan, tetapi kopi tubruk sebab kopi ini katanya nationaal, gulanya gula jawa, susu tidak dipakai karena tidak nationaal. Rokoknya kelobot, selamatan natioanaal ini terus berlangsung ed sampai pagi hari\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Semangat nasionalisme harus tertanam, mengedepankan produk lokal adalah salah satu semangat nasionalime. Salah satu keberadaan rokok klobot menjadi ciri produk asli indonesia dan harus dilestarikan. Klobot sendiri adalah ramuan tembakau dan cengkeh di gulung memakai daun jagung, embrio perkembangan menjadi rokok sigaret kretek tangan dan sigaret kretek mesin.  
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pusaran Budaya Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pusaran-budaya-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-04 08:40:41","post_modified_gmt":"2019-02-04 01:40:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5406","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5403,"post_author":"919","post_date":"2019-02-03 09:05:50","post_date_gmt":"2019-02-03 02:05:50","post_content":"\n

Seringkali saya menyaksikan berbagai film baik itu Eropa atau Asia yang menggambarkan tentang masa depan. Pemandangan soal masa depan tersebut dihadirkan dengan gambaran kecanggihan teknologi seperti robot yang akan membantu kehidupan manusia, gedung-gedung yang tingginya sudah amat tak bisa ditandingi,  hingga mobil-mobil yang bisa terbang. <\/p>\n\n\n\n

Pernah dalam masa kecil saya menyaksikan sebuah film animasi buatan jepang yang mempertanyakan tentang makanan di masa depan. Dengan santai salah satu tokoh yang berasal dari masa depan itu menjawab bahwa suatu saat nanti manusia akan mengonsumsi makanan berupa pasta gigi namun dengan rasa yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa, aneh!<\/p>\n\n\n\n

Seiring waktu berjalan saya kian tumbuh dewasa dan punya kesadaran untuk memilih menjadi seorang perokok<\/a>. Saya juga melihat ada sebuah inovasi dan gambaran tentang masa depan yang hadir dalam kehidupan sekarang. Banyak memang, namun yang menyita perhatian saya adalah rokok elektrik atau yang populer disebut Vape. Konon katanya ia adalah produk inovasi untuk menjembatani kebutuhan menghisap asap dan kecanggihan masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Di awal kehadirannya Vape memang mengundang decak kekaguman saya. Bagaimana bisa sebuah mesin kecil mengeluarkan asap yang katanya lebih menyehatkan daripada rokok.<\/strong> Meski pada akhirnya teori tersebut juga bisa dibantah oleh beberapa ilmuan dunia. Tapi ada satu yang saya amati selain soal kesehatan, rokok elektrik rupanya menghadirkan kultur dan budaya baru dalam kehidupan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: LAGI-LAGI IKLAN ROKOK, KAPAN KPAI TIDAK TEBANG PILIH? <\/a><\/h4>\n\n\n\n

Kehadiran teknologi memang kerap sedikit atau benyak mengubah gaya atau kultur suatu masyarakat. Begitu pula yang saya perhatikan dengan rokok elektrik. Satu hal yang mudah diamati adalah menjamurnya toko-toko kecil yang menjual vape serta liquid di berbagai tempat. Sebagai sebuah warna baru dalam masyarakat, penggunanya ramai-ramai mengunjungi tempat tersebut berinteraksi dengan penikmat lainnya dan membangun sebuah rumah komunitas yang fleksibel.<\/p>\n\n\n\n

Meski belum bisa dikatakan memiliki jumlah penikmat yang setara dengan para perokok, pengguna Vape mulai menunjukkan eksistensinya. Selain toko yang tersebar, ragam acara juga mereka buat di beberapa daerah. Dalam lingkungan saya, beberapa teman yang dulunya merupakan perokok aktif tertarik mengikuti event tersebut dan beralih mengisap rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Nun jauh di sana, di Amerika Serikat tepatnya, budaya Vape juga sudah mulai berkembang lama ketimbang di Tanah Air. Penikmatnya terbagi menjadi dua, ada yang dulunya bekas perokok dan ada yang memang menikmatinya sebagai gaya hidup. Wajar saja mengingat facebook tak memperbolehkan iklan tembakau di platform mereka, sebaliknya iklan tentang vape justru bertebaran. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi budaya baru yang berkembang di berbagai belahan dunia bahkan di Indonesia, Vape konon menjadi alternatif yang lebih bermanfaat daripada rokok. Dalih yang diusung selalu sama kepada para perokok tradisonal yaitu soal kesehatan dan lebih irit. Soal kesehatan tentu ada beberapa pendapat para ilmuan yang membantahnya, namun soal irit, saya rasa tidak. Memang satu liquid bisa digunakan untuk beberapa Minggu, akan tetapi yang saya lihat di lapangan justru sebaliknya. <\/p>\n\n\n\n

Beberapa penikmat rokok elektrik kerap berbelanja liquid yang mereka idamkan. Terkadang, hal tersebut yang membuat mereka boros karena terus mengeksplor rasa mana yang mereka idam-idamkan. Tak jarang juga liquid dengan harga mahal hingga ratus ribuan akan mereka beli. Sebaliknya, para perokok konvensional justru kerap bertahan dengan satu rasa atau merek saja.<\/p>\n\n\n\n

Sedikit berbeda dengan penikmat rokok konvensional atau kretek. Mengingat rokok kretek sudah menjadi kebudayan lokal yang terus dipertahankan selama bertahun-tahun, kehadirannya sudah mewarnai khasanah keindonesiaan. Perokok kretek juga sudah punya soliditas luar biasa yang terbentuk sejak lama dan terus terbangun mengiringi peradaban di Indonesia atau dunia.<\/p>\n\n\n\n

Kini, perokok elektrik mulai merasakan kegelisahan. Beberapa negara mulai menerapkan peraturan ketat terhadap Vape, sedangkan di Indonesia biaya cukai pun kini mulai diberlakukan terhadap perdagangan rokok elektrik. Keberadaannya di mata negara pun mulai dianggap sama seperti rokok, meski pada awalnya rokok elektrik hadir dengan slogan-slogan produk alternatif yang lebih menyehatkan (katanya).<\/p>\n\n\n\n


Tapi jika kemudian di masa depan memang rokok elektrik yang kemudian menjadi sesuatu yang populer dan dinikmati banyak orang. Rasanya saya tetap ingin hidup di jaman ini, dengan sebatang kretek di tangan dan menikmati segala khasanah kebudayaan yang patut terus dipertahankan. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"masa-depan-rokok-elektrik-dan-semangat-alternatif-yang-sia-sia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-03 09:05:56","post_modified_gmt":"2019-02-03 02:05:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5403","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5385,"post_author":"883","post_date":"2019-02-02 08:01:01","post_date_gmt":"2019-02-02 01:01:01","post_content":"Pada tahun 2014, perusahaan rokok multinasional Philip Morris Internasional Inc. merilis sebuah produk <\/span>perangkat\u00a0<\/span>
rokok<\/span><\/a>\u00a0tanpa asap, yang dipanaskan bukan dibakar atau istilahnya\u00a0<\/span>heat not burn<\/i><\/strong>\u00a0(HNB) iQOS<\/strong>. <\/span>\r\n\r\nPerangkat rokok tanpa asap dengan nama iQOS<\/a> ini berbentuk seperti bagian luar pulpen, dengan lubang di tengah untuk rokok. Produk yang berada di bawah brand Marlboro ini dapat memanaskan rokok sampai 350 derajat celcius lalu mengeluarkan uap nikotin beraroma tembakau<\/em><\/a>.<\/span>\r\n

Produk iQOS sebenarnya bukanlah produk rokok tanpa asap yang pertama muncul. Sebelumnya di tahun 1990-an, Reynolds Tobacco Co pernah merilis produk serupa bernama Eclipes yang juga dapat menguapkan nikotin setelah dinyalakan dengan korek api.<\/span><\/blockquote>\r\nSelain itu, Eclips juga dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. Namun, pada saat itu Eclips tidak diminati oleh pasar, utamanya para perokok konvensional. Meskipun Eclips dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. <\/span>\r\n\r\nBisnis semacam rokok tanpa asap seperti Eclips dan iQOS memang sudah menjadi bagian dari rencana panjang bisnis perusahaan-perusahaan rokok multinasional. Jadi tidak usah heran jika ke depannya akan kita akan banyak menemukan produk rokok tanpa asap ini.<\/span>\r\n\r\nWatak dari perusahaan multinasional memang seperti itu, mereka sangat jeli melihat peluang pasar ke depannya. Ketika market place perusahaan rokok multinasional saat ini terus dirongrong oleh kelompok antirokok, mereka tak kehabisan akal. Maka kemudian mereka menginovasi produk rokok konvensional menjadi rokok yang tidak berasap. Begitupun dengan mengikutsertakan jargon-jargon kesehatan dalam narasi promosi mereka.<\/span>\r\n\r\nSesungguhnya memang seperti itulah watak bisnis perusahaan-perusahaan multinasional, melakukan segala cara agar bisnis mereka tetap bertahan, meskipun harus merangkul musuh sekalipun. <\/span>\r\n\r\nYa kadang pura-pura berantem sama antirokok, tapi dibalik itu sebenarnya baik-baik saja, dan tentunya ada kompromi untuk terus melanggengkan bisnis mereka.<\/span>\r\n

Lalu siapa yang dirugikan dari permainan bisnis macam produk rokok tanpa asap perusahaan rokok multinasional ini?<\/span><\/h3>\r\nTentunya yang sangat dirugikan adalah produk hasil tembakau yang memiliki kekhasan seperti kretek di Indonesia. Kretek sebagai produk khas asli Indonesia yang menjadi bagian dari warisan kebudayaan tidak mungkin bertransformasi menjadi produk-produk elektrik dan sejenisnya.<\/span>\r\n\r\nKretek tetaplah kretek, dengan bahan baku alami tembakau dan cengkeh yang tidak diintervensi dengan zat atau perangkat penghantar lainnya. Karena dengan bentuk, karakter dan cara menikmatinya memang konvensional dan akan terus begitu apapun kondisi dan zamannya.<\/span>\r\n
Bisnis produk rokok tanpa asap (elektrik) juga menghajar kretek dengan mendompleng isu pengendalian tembakau. Kampanye pengendalian tembakau selalu membawa slogan bahaya merokok dan upaya untuk berhenti merokok. <\/span><\/blockquote>\r\nDari isu tersebut, rokok elektrik masuk dengan citra produk alternatif tembakau, bahkan mereka tak segan menilai bahwa rokok elektrik lebih aman ketimbang rokok konvensional, yakni kretek.<\/span>\r\n\r\nLalu jika Indonesia akan dibanjiri dengan produk-produk yang mengatasnamakan produk alternatif tembakau, macam rokok tanpa asap (iQOS dan sejenisnya), maka itulah pertanda bahwa kretek harus tergerus dari cara hidup manusia Indonesia dalam menikmati produk hasil tembakau khas Indonesia yang sudah turun-temurun lamanya dinikmati manusia Indonesia.<\/span>","post_title":"Nasib Kretek di Pusaran Pertarungan Bisnis Global Perusahaan Rokok Multinasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"nasib-kretek-di-pusaran-pertarungan-bisnis-global-perusahaan-rokok-multinasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-02 08:01:43","post_modified_gmt":"2019-02-02 01:01:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5385","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; \n

Semasa berjuang melawan penjajah, yang harus dilakukan Diponegoro berpindah-pindah dari kota satu ke kota lain. Strategi perlawanan Diponegoro, kemudian sebagai basis strategi perang gerilya. Strategi yang menjadi idola dan kebanggaan tentara Indonesia. Dengan bergerilya, tentara Indonesia mampu mengecoh kekutan lawan yang lebih besar jumlahnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu, tenyata banyak cerita, Diponegoro saat berperang ditemani rokok. Ia dan pasukannya gemar merokok. Bahkan ketika tidak ada rokok, Pangeran Diponegoro rela hanya megunyah daun sirih yang diracik dengan kapur dan pinang. <\/p>\n\n\n\n

Kebiasaan ini, juga dialami oleh pengikut \/pasukan perang Pangeran Diponegoro. Bagi mereka, rokok teman sejati, menemani disetiap perjalanan mereka. Rokok menghilangkan depresi mereka, sebagai hiburan saat jauh dari keluarga demi berjuang melawan penjajah. Rokok menumbuhkan percaya diri mereka, lebih berani melawan penjajah walaupun hanya dengan serba keterbatasan, pasukan jumlah terbatas, alat perang terbatas dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Baca juga: Pangeran Diponegoro, Rokok Klobot dan Perlawanan Simbolis<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Jati Diri Bangsa<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Salah satu \u201cpendiri bangsa\u201d bernama KH. Agus Salim menghisap kretek dengan asapnya di kebal-kebulkan keudara, disaat ada perjamuan di Istana Buckingham ketika penobatan Elizabeth II sebagai Ratu kerajaan Inggris. Aroma khas keluar dari asap rokok kretek, tercium orang yang berada di ruang perjamuan. Sehingga memancing salah satu orang yang datang dalam perjamuan, dengan berkata; \u201ctuan sedang menghisap apa itu?\u201d.  Sentak KH. Agus Salim menjawab, \u201c inilah yang membuat nenek moyang anda sekian abad lalu datang dan kemudian menjajah negeri kami\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Jawaban KH. Agus Salim, faktanya memang benar. Rokok kretek tidak lain ada tambahan cengkeh (suzygium aromaticum<\/em>). \u00a0Tanaman legendaris menjadi rebutan dan sumber keuntungan kolonialisme Eropa atas Asia termasuk Indonesia. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Cengkeh adalah salah satu tanaman yang diperebutkan bangsa-bangsa dunia, sampai melegalkan penjajahan.  Dalam simpulan perjalanan ekspedisi cengkeh tahun 2013, Kepala Suku begitu julukan bagi Putut Ea, mengatakan \u201c jika saja tak pernah ada cengkeh dan pala di Maluku, mungkin sejarah kepulauan Nusantara ini akan berbeda sama sekali\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Simpulan Putut EA, sebagai salah satu pembenar perkataan \u00a0KH. Agus Salim. Mungkin, jika tanaman cengkeh tidak ada, fakta sejarah akan berbeda, tidak ada penjajahan di bumi Nusantara ini. <\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Mengisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek untuk Berteman dan Menjalin Persaudaraan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Teringat apa yang pernah dilakukan Menteri Sosial dan Lingkungan Hidup, saat melakukan pendekatan pada suku anak dalam di Jambi. Tidak lain ia adalah Khofifah menteri perempuan yang energik. Saat itu Khofifah bertanggungjawab dalam mengatasi masalah pendidikan dan kesejahteraan masyarakat suku anak dalam di Jambi.  <\/p>\n\n\n\n

Kebijakannya membuat fenomenal, selain bahan makanan, dan bantuan lain, khofifah juga membawa rokok.  Yang kemudian ada yang mengggugat dari anti rokok, tetapi sebagai Menteri, Khofifah tentunya sudah mengkaji secara mendalam. Dengan kecerdasannya , Khofifah menjawab dengan tegas dan lugas, \u201cjangan sok tahu kehidupan mereka, kenali apa yang menjadi ritme kehidupan mereka. Sangat bijaksana kalau kita semua pergi kesana, sehingga tahu adat istiadatnya juga. Tolong kalau ingin mengerti tentang kultur jangan hanya dari kacamata Jakarta. Saya pun ingin mengajak anda kesana, turun kesana, sapalah mereka\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Khofifah memberikan pelajaran bagi anti rokok. Tidak boleh sok tahu, apalagi selama ini antirokok hanya berasumsi, tanpa melihat fakta dilapangan. Khofifah juga menganjurkan agar lebih mengenal adat-istiadat, budaya dan tradisi masyarakat, tidak boleh melakukan hegemoni kultural, sebab keberagaman adat-istiadat dan budaya merupakan kekayaan negeri. <\/p>\n\n\n\n

Pelajaran Khofifah sangat mendalam dan bercirikhas Nusantara. Sebgaai Menteri \u00a0Sosial tentunya lebih berpengalaman apa yang dibutuhkan bangsa ini agar tetap jaya, bersatu dan utuh. Kenali perbedaan, hormati perbedaan, junjung tinggi budaya yang berbeda. \u00a0Apa yang telah dilakukan Khofifah dengan membawa rokok ke suku anak dalam adalah cermin penghormatan tradisi dan budaya masyarakat. Sebagai seorang Mentri, tentunya punya kuasa, artinya bisa seorang khofifah memberikan bantuan sesuai keinginannya sendiri, namun hal itu tidak dilakukan. Ia lebih mengedepankan penghormatan budaya masyarakat setempat, dengan membawa rokok untuk pendekatan dan pertemanan. Karena Khofifah tahu betul, bahwa merokok adalah budaya mereka, yang diwaris dari neneng moyang mereka. <\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Memilih Jalan Hidup Menikmati Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Simbol Pergerakan Nasional     <\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Abdul Rifa\u2019I dalam media bintang timur terbit pada 03 Oktober 1927, mengatakan, \u201ckopinya bukan kopi saringan, tetapi kopi tubruk sebab kopi ini katanya nationaal, gulanya gula jawa, susu tidak dipakai karena tidak nationaal. Rokoknya kelobot, selamatan natioanaal ini terus berlangsung ed sampai pagi hari\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Semangat nasionalisme harus tertanam, mengedepankan produk lokal adalah salah satu semangat nasionalime. Salah satu keberadaan rokok klobot menjadi ciri produk asli indonesia dan harus dilestarikan. Klobot sendiri adalah ramuan tembakau dan cengkeh di gulung memakai daun jagung, embrio perkembangan menjadi rokok sigaret kretek tangan dan sigaret kretek mesin.  
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pusaran Budaya Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pusaran-budaya-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-04 08:40:41","post_modified_gmt":"2019-02-04 01:40:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5406","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5403,"post_author":"919","post_date":"2019-02-03 09:05:50","post_date_gmt":"2019-02-03 02:05:50","post_content":"\n

Seringkali saya menyaksikan berbagai film baik itu Eropa atau Asia yang menggambarkan tentang masa depan. Pemandangan soal masa depan tersebut dihadirkan dengan gambaran kecanggihan teknologi seperti robot yang akan membantu kehidupan manusia, gedung-gedung yang tingginya sudah amat tak bisa ditandingi,  hingga mobil-mobil yang bisa terbang. <\/p>\n\n\n\n

Pernah dalam masa kecil saya menyaksikan sebuah film animasi buatan jepang yang mempertanyakan tentang makanan di masa depan. Dengan santai salah satu tokoh yang berasal dari masa depan itu menjawab bahwa suatu saat nanti manusia akan mengonsumsi makanan berupa pasta gigi namun dengan rasa yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa, aneh!<\/p>\n\n\n\n

Seiring waktu berjalan saya kian tumbuh dewasa dan punya kesadaran untuk memilih menjadi seorang perokok<\/a>. Saya juga melihat ada sebuah inovasi dan gambaran tentang masa depan yang hadir dalam kehidupan sekarang. Banyak memang, namun yang menyita perhatian saya adalah rokok elektrik atau yang populer disebut Vape. Konon katanya ia adalah produk inovasi untuk menjembatani kebutuhan menghisap asap dan kecanggihan masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Di awal kehadirannya Vape memang mengundang decak kekaguman saya. Bagaimana bisa sebuah mesin kecil mengeluarkan asap yang katanya lebih menyehatkan daripada rokok.<\/strong> Meski pada akhirnya teori tersebut juga bisa dibantah oleh beberapa ilmuan dunia. Tapi ada satu yang saya amati selain soal kesehatan, rokok elektrik rupanya menghadirkan kultur dan budaya baru dalam kehidupan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: LAGI-LAGI IKLAN ROKOK, KAPAN KPAI TIDAK TEBANG PILIH? <\/a><\/h4>\n\n\n\n

Kehadiran teknologi memang kerap sedikit atau benyak mengubah gaya atau kultur suatu masyarakat. Begitu pula yang saya perhatikan dengan rokok elektrik. Satu hal yang mudah diamati adalah menjamurnya toko-toko kecil yang menjual vape serta liquid di berbagai tempat. Sebagai sebuah warna baru dalam masyarakat, penggunanya ramai-ramai mengunjungi tempat tersebut berinteraksi dengan penikmat lainnya dan membangun sebuah rumah komunitas yang fleksibel.<\/p>\n\n\n\n

Meski belum bisa dikatakan memiliki jumlah penikmat yang setara dengan para perokok, pengguna Vape mulai menunjukkan eksistensinya. Selain toko yang tersebar, ragam acara juga mereka buat di beberapa daerah. Dalam lingkungan saya, beberapa teman yang dulunya merupakan perokok aktif tertarik mengikuti event tersebut dan beralih mengisap rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Nun jauh di sana, di Amerika Serikat tepatnya, budaya Vape juga sudah mulai berkembang lama ketimbang di Tanah Air. Penikmatnya terbagi menjadi dua, ada yang dulunya bekas perokok dan ada yang memang menikmatinya sebagai gaya hidup. Wajar saja mengingat facebook tak memperbolehkan iklan tembakau di platform mereka, sebaliknya iklan tentang vape justru bertebaran. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi budaya baru yang berkembang di berbagai belahan dunia bahkan di Indonesia, Vape konon menjadi alternatif yang lebih bermanfaat daripada rokok. Dalih yang diusung selalu sama kepada para perokok tradisonal yaitu soal kesehatan dan lebih irit. Soal kesehatan tentu ada beberapa pendapat para ilmuan yang membantahnya, namun soal irit, saya rasa tidak. Memang satu liquid bisa digunakan untuk beberapa Minggu, akan tetapi yang saya lihat di lapangan justru sebaliknya. <\/p>\n\n\n\n

Beberapa penikmat rokok elektrik kerap berbelanja liquid yang mereka idamkan. Terkadang, hal tersebut yang membuat mereka boros karena terus mengeksplor rasa mana yang mereka idam-idamkan. Tak jarang juga liquid dengan harga mahal hingga ratus ribuan akan mereka beli. Sebaliknya, para perokok konvensional justru kerap bertahan dengan satu rasa atau merek saja.<\/p>\n\n\n\n

Sedikit berbeda dengan penikmat rokok konvensional atau kretek. Mengingat rokok kretek sudah menjadi kebudayan lokal yang terus dipertahankan selama bertahun-tahun, kehadirannya sudah mewarnai khasanah keindonesiaan. Perokok kretek juga sudah punya soliditas luar biasa yang terbentuk sejak lama dan terus terbangun mengiringi peradaban di Indonesia atau dunia.<\/p>\n\n\n\n

Kini, perokok elektrik mulai merasakan kegelisahan. Beberapa negara mulai menerapkan peraturan ketat terhadap Vape, sedangkan di Indonesia biaya cukai pun kini mulai diberlakukan terhadap perdagangan rokok elektrik. Keberadaannya di mata negara pun mulai dianggap sama seperti rokok, meski pada awalnya rokok elektrik hadir dengan slogan-slogan produk alternatif yang lebih menyehatkan (katanya).<\/p>\n\n\n\n


Tapi jika kemudian di masa depan memang rokok elektrik yang kemudian menjadi sesuatu yang populer dan dinikmati banyak orang. Rasanya saya tetap ingin hidup di jaman ini, dengan sebatang kretek di tangan dan menikmati segala khasanah kebudayaan yang patut terus dipertahankan. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"masa-depan-rokok-elektrik-dan-semangat-alternatif-yang-sia-sia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-03 09:05:56","post_modified_gmt":"2019-02-03 02:05:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5403","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5385,"post_author":"883","post_date":"2019-02-02 08:01:01","post_date_gmt":"2019-02-02 01:01:01","post_content":"Pada tahun 2014, perusahaan rokok multinasional Philip Morris Internasional Inc. merilis sebuah produk <\/span>perangkat\u00a0<\/span>
rokok<\/span><\/a>\u00a0tanpa asap, yang dipanaskan bukan dibakar atau istilahnya\u00a0<\/span>heat not burn<\/i><\/strong>\u00a0(HNB) iQOS<\/strong>. <\/span>\r\n\r\nPerangkat rokok tanpa asap dengan nama iQOS<\/a> ini berbentuk seperti bagian luar pulpen, dengan lubang di tengah untuk rokok. Produk yang berada di bawah brand Marlboro ini dapat memanaskan rokok sampai 350 derajat celcius lalu mengeluarkan uap nikotin beraroma tembakau<\/em><\/a>.<\/span>\r\n

Produk iQOS sebenarnya bukanlah produk rokok tanpa asap yang pertama muncul. Sebelumnya di tahun 1990-an, Reynolds Tobacco Co pernah merilis produk serupa bernama Eclipes yang juga dapat menguapkan nikotin setelah dinyalakan dengan korek api.<\/span><\/blockquote>\r\nSelain itu, Eclips juga dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. Namun, pada saat itu Eclips tidak diminati oleh pasar, utamanya para perokok konvensional. Meskipun Eclips dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. <\/span>\r\n\r\nBisnis semacam rokok tanpa asap seperti Eclips dan iQOS memang sudah menjadi bagian dari rencana panjang bisnis perusahaan-perusahaan rokok multinasional. Jadi tidak usah heran jika ke depannya akan kita akan banyak menemukan produk rokok tanpa asap ini.<\/span>\r\n\r\nWatak dari perusahaan multinasional memang seperti itu, mereka sangat jeli melihat peluang pasar ke depannya. Ketika market place perusahaan rokok multinasional saat ini terus dirongrong oleh kelompok antirokok, mereka tak kehabisan akal. Maka kemudian mereka menginovasi produk rokok konvensional menjadi rokok yang tidak berasap. Begitupun dengan mengikutsertakan jargon-jargon kesehatan dalam narasi promosi mereka.<\/span>\r\n\r\nSesungguhnya memang seperti itulah watak bisnis perusahaan-perusahaan multinasional, melakukan segala cara agar bisnis mereka tetap bertahan, meskipun harus merangkul musuh sekalipun. <\/span>\r\n\r\nYa kadang pura-pura berantem sama antirokok, tapi dibalik itu sebenarnya baik-baik saja, dan tentunya ada kompromi untuk terus melanggengkan bisnis mereka.<\/span>\r\n

Lalu siapa yang dirugikan dari permainan bisnis macam produk rokok tanpa asap perusahaan rokok multinasional ini?<\/span><\/h3>\r\nTentunya yang sangat dirugikan adalah produk hasil tembakau yang memiliki kekhasan seperti kretek di Indonesia. Kretek sebagai produk khas asli Indonesia yang menjadi bagian dari warisan kebudayaan tidak mungkin bertransformasi menjadi produk-produk elektrik dan sejenisnya.<\/span>\r\n\r\nKretek tetaplah kretek, dengan bahan baku alami tembakau dan cengkeh yang tidak diintervensi dengan zat atau perangkat penghantar lainnya. Karena dengan bentuk, karakter dan cara menikmatinya memang konvensional dan akan terus begitu apapun kondisi dan zamannya.<\/span>\r\n
Bisnis produk rokok tanpa asap (elektrik) juga menghajar kretek dengan mendompleng isu pengendalian tembakau. Kampanye pengendalian tembakau selalu membawa slogan bahaya merokok dan upaya untuk berhenti merokok. <\/span><\/blockquote>\r\nDari isu tersebut, rokok elektrik masuk dengan citra produk alternatif tembakau, bahkan mereka tak segan menilai bahwa rokok elektrik lebih aman ketimbang rokok konvensional, yakni kretek.<\/span>\r\n\r\nLalu jika Indonesia akan dibanjiri dengan produk-produk yang mengatasnamakan produk alternatif tembakau, macam rokok tanpa asap (iQOS dan sejenisnya), maka itulah pertanda bahwa kretek harus tergerus dari cara hidup manusia Indonesia dalam menikmati produk hasil tembakau khas Indonesia yang sudah turun-temurun lamanya dinikmati manusia Indonesia.<\/span>","post_title":"Nasib Kretek di Pusaran Pertarungan Bisnis Global Perusahaan Rokok Multinasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"nasib-kretek-di-pusaran-pertarungan-bisnis-global-perusahaan-rokok-multinasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-02 08:01:43","post_modified_gmt":"2019-02-02 01:01:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5385","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; \n

Kretek, Teman Perjuangan  Diponegoro<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Semasa berjuang melawan penjajah, yang harus dilakukan Diponegoro berpindah-pindah dari kota satu ke kota lain. Strategi perlawanan Diponegoro, kemudian sebagai basis strategi perang gerilya. Strategi yang menjadi idola dan kebanggaan tentara Indonesia. Dengan bergerilya, tentara Indonesia mampu mengecoh kekutan lawan yang lebih besar jumlahnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu, tenyata banyak cerita, Diponegoro saat berperang ditemani rokok. Ia dan pasukannya gemar merokok. Bahkan ketika tidak ada rokok, Pangeran Diponegoro rela hanya megunyah daun sirih yang diracik dengan kapur dan pinang. <\/p>\n\n\n\n

Kebiasaan ini, juga dialami oleh pengikut \/pasukan perang Pangeran Diponegoro. Bagi mereka, rokok teman sejati, menemani disetiap perjalanan mereka. Rokok menghilangkan depresi mereka, sebagai hiburan saat jauh dari keluarga demi berjuang melawan penjajah. Rokok menumbuhkan percaya diri mereka, lebih berani melawan penjajah walaupun hanya dengan serba keterbatasan, pasukan jumlah terbatas, alat perang terbatas dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Baca juga: Pangeran Diponegoro, Rokok Klobot dan Perlawanan Simbolis<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Jati Diri Bangsa<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Salah satu \u201cpendiri bangsa\u201d bernama KH. Agus Salim menghisap kretek dengan asapnya di kebal-kebulkan keudara, disaat ada perjamuan di Istana Buckingham ketika penobatan Elizabeth II sebagai Ratu kerajaan Inggris. Aroma khas keluar dari asap rokok kretek, tercium orang yang berada di ruang perjamuan. Sehingga memancing salah satu orang yang datang dalam perjamuan, dengan berkata; \u201ctuan sedang menghisap apa itu?\u201d.  Sentak KH. Agus Salim menjawab, \u201c inilah yang membuat nenek moyang anda sekian abad lalu datang dan kemudian menjajah negeri kami\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Jawaban KH. Agus Salim, faktanya memang benar. Rokok kretek tidak lain ada tambahan cengkeh (suzygium aromaticum<\/em>). \u00a0Tanaman legendaris menjadi rebutan dan sumber keuntungan kolonialisme Eropa atas Asia termasuk Indonesia. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Cengkeh adalah salah satu tanaman yang diperebutkan bangsa-bangsa dunia, sampai melegalkan penjajahan.  Dalam simpulan perjalanan ekspedisi cengkeh tahun 2013, Kepala Suku begitu julukan bagi Putut Ea, mengatakan \u201c jika saja tak pernah ada cengkeh dan pala di Maluku, mungkin sejarah kepulauan Nusantara ini akan berbeda sama sekali\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Simpulan Putut EA, sebagai salah satu pembenar perkataan \u00a0KH. Agus Salim. Mungkin, jika tanaman cengkeh tidak ada, fakta sejarah akan berbeda, tidak ada penjajahan di bumi Nusantara ini. <\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Mengisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek untuk Berteman dan Menjalin Persaudaraan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Teringat apa yang pernah dilakukan Menteri Sosial dan Lingkungan Hidup, saat melakukan pendekatan pada suku anak dalam di Jambi. Tidak lain ia adalah Khofifah menteri perempuan yang energik. Saat itu Khofifah bertanggungjawab dalam mengatasi masalah pendidikan dan kesejahteraan masyarakat suku anak dalam di Jambi.  <\/p>\n\n\n\n

Kebijakannya membuat fenomenal, selain bahan makanan, dan bantuan lain, khofifah juga membawa rokok.  Yang kemudian ada yang mengggugat dari anti rokok, tetapi sebagai Menteri, Khofifah tentunya sudah mengkaji secara mendalam. Dengan kecerdasannya , Khofifah menjawab dengan tegas dan lugas, \u201cjangan sok tahu kehidupan mereka, kenali apa yang menjadi ritme kehidupan mereka. Sangat bijaksana kalau kita semua pergi kesana, sehingga tahu adat istiadatnya juga. Tolong kalau ingin mengerti tentang kultur jangan hanya dari kacamata Jakarta. Saya pun ingin mengajak anda kesana, turun kesana, sapalah mereka\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Khofifah memberikan pelajaran bagi anti rokok. Tidak boleh sok tahu, apalagi selama ini antirokok hanya berasumsi, tanpa melihat fakta dilapangan. Khofifah juga menganjurkan agar lebih mengenal adat-istiadat, budaya dan tradisi masyarakat, tidak boleh melakukan hegemoni kultural, sebab keberagaman adat-istiadat dan budaya merupakan kekayaan negeri. <\/p>\n\n\n\n

Pelajaran Khofifah sangat mendalam dan bercirikhas Nusantara. Sebgaai Menteri \u00a0Sosial tentunya lebih berpengalaman apa yang dibutuhkan bangsa ini agar tetap jaya, bersatu dan utuh. Kenali perbedaan, hormati perbedaan, junjung tinggi budaya yang berbeda. \u00a0Apa yang telah dilakukan Khofifah dengan membawa rokok ke suku anak dalam adalah cermin penghormatan tradisi dan budaya masyarakat. Sebagai seorang Mentri, tentunya punya kuasa, artinya bisa seorang khofifah memberikan bantuan sesuai keinginannya sendiri, namun hal itu tidak dilakukan. Ia lebih mengedepankan penghormatan budaya masyarakat setempat, dengan membawa rokok untuk pendekatan dan pertemanan. Karena Khofifah tahu betul, bahwa merokok adalah budaya mereka, yang diwaris dari neneng moyang mereka. <\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Memilih Jalan Hidup Menikmati Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Simbol Pergerakan Nasional     <\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Abdul Rifa\u2019I dalam media bintang timur terbit pada 03 Oktober 1927, mengatakan, \u201ckopinya bukan kopi saringan, tetapi kopi tubruk sebab kopi ini katanya nationaal, gulanya gula jawa, susu tidak dipakai karena tidak nationaal. Rokoknya kelobot, selamatan natioanaal ini terus berlangsung ed sampai pagi hari\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Semangat nasionalisme harus tertanam, mengedepankan produk lokal adalah salah satu semangat nasionalime. Salah satu keberadaan rokok klobot menjadi ciri produk asli indonesia dan harus dilestarikan. Klobot sendiri adalah ramuan tembakau dan cengkeh di gulung memakai daun jagung, embrio perkembangan menjadi rokok sigaret kretek tangan dan sigaret kretek mesin.  
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pusaran Budaya Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pusaran-budaya-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-04 08:40:41","post_modified_gmt":"2019-02-04 01:40:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5406","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5403,"post_author":"919","post_date":"2019-02-03 09:05:50","post_date_gmt":"2019-02-03 02:05:50","post_content":"\n

Seringkali saya menyaksikan berbagai film baik itu Eropa atau Asia yang menggambarkan tentang masa depan. Pemandangan soal masa depan tersebut dihadirkan dengan gambaran kecanggihan teknologi seperti robot yang akan membantu kehidupan manusia, gedung-gedung yang tingginya sudah amat tak bisa ditandingi,  hingga mobil-mobil yang bisa terbang. <\/p>\n\n\n\n

Pernah dalam masa kecil saya menyaksikan sebuah film animasi buatan jepang yang mempertanyakan tentang makanan di masa depan. Dengan santai salah satu tokoh yang berasal dari masa depan itu menjawab bahwa suatu saat nanti manusia akan mengonsumsi makanan berupa pasta gigi namun dengan rasa yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa, aneh!<\/p>\n\n\n\n

Seiring waktu berjalan saya kian tumbuh dewasa dan punya kesadaran untuk memilih menjadi seorang perokok<\/a>. Saya juga melihat ada sebuah inovasi dan gambaran tentang masa depan yang hadir dalam kehidupan sekarang. Banyak memang, namun yang menyita perhatian saya adalah rokok elektrik atau yang populer disebut Vape. Konon katanya ia adalah produk inovasi untuk menjembatani kebutuhan menghisap asap dan kecanggihan masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Di awal kehadirannya Vape memang mengundang decak kekaguman saya. Bagaimana bisa sebuah mesin kecil mengeluarkan asap yang katanya lebih menyehatkan daripada rokok.<\/strong> Meski pada akhirnya teori tersebut juga bisa dibantah oleh beberapa ilmuan dunia. Tapi ada satu yang saya amati selain soal kesehatan, rokok elektrik rupanya menghadirkan kultur dan budaya baru dalam kehidupan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: LAGI-LAGI IKLAN ROKOK, KAPAN KPAI TIDAK TEBANG PILIH? <\/a><\/h4>\n\n\n\n

Kehadiran teknologi memang kerap sedikit atau benyak mengubah gaya atau kultur suatu masyarakat. Begitu pula yang saya perhatikan dengan rokok elektrik. Satu hal yang mudah diamati adalah menjamurnya toko-toko kecil yang menjual vape serta liquid di berbagai tempat. Sebagai sebuah warna baru dalam masyarakat, penggunanya ramai-ramai mengunjungi tempat tersebut berinteraksi dengan penikmat lainnya dan membangun sebuah rumah komunitas yang fleksibel.<\/p>\n\n\n\n

Meski belum bisa dikatakan memiliki jumlah penikmat yang setara dengan para perokok, pengguna Vape mulai menunjukkan eksistensinya. Selain toko yang tersebar, ragam acara juga mereka buat di beberapa daerah. Dalam lingkungan saya, beberapa teman yang dulunya merupakan perokok aktif tertarik mengikuti event tersebut dan beralih mengisap rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Nun jauh di sana, di Amerika Serikat tepatnya, budaya Vape juga sudah mulai berkembang lama ketimbang di Tanah Air. Penikmatnya terbagi menjadi dua, ada yang dulunya bekas perokok dan ada yang memang menikmatinya sebagai gaya hidup. Wajar saja mengingat facebook tak memperbolehkan iklan tembakau di platform mereka, sebaliknya iklan tentang vape justru bertebaran. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi budaya baru yang berkembang di berbagai belahan dunia bahkan di Indonesia, Vape konon menjadi alternatif yang lebih bermanfaat daripada rokok. Dalih yang diusung selalu sama kepada para perokok tradisonal yaitu soal kesehatan dan lebih irit. Soal kesehatan tentu ada beberapa pendapat para ilmuan yang membantahnya, namun soal irit, saya rasa tidak. Memang satu liquid bisa digunakan untuk beberapa Minggu, akan tetapi yang saya lihat di lapangan justru sebaliknya. <\/p>\n\n\n\n

Beberapa penikmat rokok elektrik kerap berbelanja liquid yang mereka idamkan. Terkadang, hal tersebut yang membuat mereka boros karena terus mengeksplor rasa mana yang mereka idam-idamkan. Tak jarang juga liquid dengan harga mahal hingga ratus ribuan akan mereka beli. Sebaliknya, para perokok konvensional justru kerap bertahan dengan satu rasa atau merek saja.<\/p>\n\n\n\n

Sedikit berbeda dengan penikmat rokok konvensional atau kretek. Mengingat rokok kretek sudah menjadi kebudayan lokal yang terus dipertahankan selama bertahun-tahun, kehadirannya sudah mewarnai khasanah keindonesiaan. Perokok kretek juga sudah punya soliditas luar biasa yang terbentuk sejak lama dan terus terbangun mengiringi peradaban di Indonesia atau dunia.<\/p>\n\n\n\n

Kini, perokok elektrik mulai merasakan kegelisahan. Beberapa negara mulai menerapkan peraturan ketat terhadap Vape, sedangkan di Indonesia biaya cukai pun kini mulai diberlakukan terhadap perdagangan rokok elektrik. Keberadaannya di mata negara pun mulai dianggap sama seperti rokok, meski pada awalnya rokok elektrik hadir dengan slogan-slogan produk alternatif yang lebih menyehatkan (katanya).<\/p>\n\n\n\n


Tapi jika kemudian di masa depan memang rokok elektrik yang kemudian menjadi sesuatu yang populer dan dinikmati banyak orang. Rasanya saya tetap ingin hidup di jaman ini, dengan sebatang kretek di tangan dan menikmati segala khasanah kebudayaan yang patut terus dipertahankan. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"masa-depan-rokok-elektrik-dan-semangat-alternatif-yang-sia-sia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-03 09:05:56","post_modified_gmt":"2019-02-03 02:05:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5403","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5385,"post_author":"883","post_date":"2019-02-02 08:01:01","post_date_gmt":"2019-02-02 01:01:01","post_content":"Pada tahun 2014, perusahaan rokok multinasional Philip Morris Internasional Inc. merilis sebuah produk <\/span>perangkat\u00a0<\/span>
rokok<\/span><\/a>\u00a0tanpa asap, yang dipanaskan bukan dibakar atau istilahnya\u00a0<\/span>heat not burn<\/i><\/strong>\u00a0(HNB) iQOS<\/strong>. <\/span>\r\n\r\nPerangkat rokok tanpa asap dengan nama iQOS<\/a> ini berbentuk seperti bagian luar pulpen, dengan lubang di tengah untuk rokok. Produk yang berada di bawah brand Marlboro ini dapat memanaskan rokok sampai 350 derajat celcius lalu mengeluarkan uap nikotin beraroma tembakau<\/em><\/a>.<\/span>\r\n

Produk iQOS sebenarnya bukanlah produk rokok tanpa asap yang pertama muncul. Sebelumnya di tahun 1990-an, Reynolds Tobacco Co pernah merilis produk serupa bernama Eclipes yang juga dapat menguapkan nikotin setelah dinyalakan dengan korek api.<\/span><\/blockquote>\r\nSelain itu, Eclips juga dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. Namun, pada saat itu Eclips tidak diminati oleh pasar, utamanya para perokok konvensional. Meskipun Eclips dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. <\/span>\r\n\r\nBisnis semacam rokok tanpa asap seperti Eclips dan iQOS memang sudah menjadi bagian dari rencana panjang bisnis perusahaan-perusahaan rokok multinasional. Jadi tidak usah heran jika ke depannya akan kita akan banyak menemukan produk rokok tanpa asap ini.<\/span>\r\n\r\nWatak dari perusahaan multinasional memang seperti itu, mereka sangat jeli melihat peluang pasar ke depannya. Ketika market place perusahaan rokok multinasional saat ini terus dirongrong oleh kelompok antirokok, mereka tak kehabisan akal. Maka kemudian mereka menginovasi produk rokok konvensional menjadi rokok yang tidak berasap. Begitupun dengan mengikutsertakan jargon-jargon kesehatan dalam narasi promosi mereka.<\/span>\r\n\r\nSesungguhnya memang seperti itulah watak bisnis perusahaan-perusahaan multinasional, melakukan segala cara agar bisnis mereka tetap bertahan, meskipun harus merangkul musuh sekalipun. <\/span>\r\n\r\nYa kadang pura-pura berantem sama antirokok, tapi dibalik itu sebenarnya baik-baik saja, dan tentunya ada kompromi untuk terus melanggengkan bisnis mereka.<\/span>\r\n

Lalu siapa yang dirugikan dari permainan bisnis macam produk rokok tanpa asap perusahaan rokok multinasional ini?<\/span><\/h3>\r\nTentunya yang sangat dirugikan adalah produk hasil tembakau yang memiliki kekhasan seperti kretek di Indonesia. Kretek sebagai produk khas asli Indonesia yang menjadi bagian dari warisan kebudayaan tidak mungkin bertransformasi menjadi produk-produk elektrik dan sejenisnya.<\/span>\r\n\r\nKretek tetaplah kretek, dengan bahan baku alami tembakau dan cengkeh yang tidak diintervensi dengan zat atau perangkat penghantar lainnya. Karena dengan bentuk, karakter dan cara menikmatinya memang konvensional dan akan terus begitu apapun kondisi dan zamannya.<\/span>\r\n
Bisnis produk rokok tanpa asap (elektrik) juga menghajar kretek dengan mendompleng isu pengendalian tembakau. Kampanye pengendalian tembakau selalu membawa slogan bahaya merokok dan upaya untuk berhenti merokok. <\/span><\/blockquote>\r\nDari isu tersebut, rokok elektrik masuk dengan citra produk alternatif tembakau, bahkan mereka tak segan menilai bahwa rokok elektrik lebih aman ketimbang rokok konvensional, yakni kretek.<\/span>\r\n\r\nLalu jika Indonesia akan dibanjiri dengan produk-produk yang mengatasnamakan produk alternatif tembakau, macam rokok tanpa asap (iQOS dan sejenisnya), maka itulah pertanda bahwa kretek harus tergerus dari cara hidup manusia Indonesia dalam menikmati produk hasil tembakau khas Indonesia yang sudah turun-temurun lamanya dinikmati manusia Indonesia.<\/span>","post_title":"Nasib Kretek di Pusaran Pertarungan Bisnis Global Perusahaan Rokok Multinasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"nasib-kretek-di-pusaran-pertarungan-bisnis-global-perusahaan-rokok-multinasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-02 08:01:43","post_modified_gmt":"2019-02-02 01:01:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5385","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; \n

Baca: Kretek Pusaka Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek, Teman Perjuangan  Diponegoro<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Semasa berjuang melawan penjajah, yang harus dilakukan Diponegoro berpindah-pindah dari kota satu ke kota lain. Strategi perlawanan Diponegoro, kemudian sebagai basis strategi perang gerilya. Strategi yang menjadi idola dan kebanggaan tentara Indonesia. Dengan bergerilya, tentara Indonesia mampu mengecoh kekutan lawan yang lebih besar jumlahnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu, tenyata banyak cerita, Diponegoro saat berperang ditemani rokok. Ia dan pasukannya gemar merokok. Bahkan ketika tidak ada rokok, Pangeran Diponegoro rela hanya megunyah daun sirih yang diracik dengan kapur dan pinang. <\/p>\n\n\n\n

Kebiasaan ini, juga dialami oleh pengikut \/pasukan perang Pangeran Diponegoro. Bagi mereka, rokok teman sejati, menemani disetiap perjalanan mereka. Rokok menghilangkan depresi mereka, sebagai hiburan saat jauh dari keluarga demi berjuang melawan penjajah. Rokok menumbuhkan percaya diri mereka, lebih berani melawan penjajah walaupun hanya dengan serba keterbatasan, pasukan jumlah terbatas, alat perang terbatas dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Baca juga: Pangeran Diponegoro, Rokok Klobot dan Perlawanan Simbolis<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Jati Diri Bangsa<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Salah satu \u201cpendiri bangsa\u201d bernama KH. Agus Salim menghisap kretek dengan asapnya di kebal-kebulkan keudara, disaat ada perjamuan di Istana Buckingham ketika penobatan Elizabeth II sebagai Ratu kerajaan Inggris. Aroma khas keluar dari asap rokok kretek, tercium orang yang berada di ruang perjamuan. Sehingga memancing salah satu orang yang datang dalam perjamuan, dengan berkata; \u201ctuan sedang menghisap apa itu?\u201d.  Sentak KH. Agus Salim menjawab, \u201c inilah yang membuat nenek moyang anda sekian abad lalu datang dan kemudian menjajah negeri kami\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Jawaban KH. Agus Salim, faktanya memang benar. Rokok kretek tidak lain ada tambahan cengkeh (suzygium aromaticum<\/em>). \u00a0Tanaman legendaris menjadi rebutan dan sumber keuntungan kolonialisme Eropa atas Asia termasuk Indonesia. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Cengkeh adalah salah satu tanaman yang diperebutkan bangsa-bangsa dunia, sampai melegalkan penjajahan.  Dalam simpulan perjalanan ekspedisi cengkeh tahun 2013, Kepala Suku begitu julukan bagi Putut Ea, mengatakan \u201c jika saja tak pernah ada cengkeh dan pala di Maluku, mungkin sejarah kepulauan Nusantara ini akan berbeda sama sekali\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Simpulan Putut EA, sebagai salah satu pembenar perkataan \u00a0KH. Agus Salim. Mungkin, jika tanaman cengkeh tidak ada, fakta sejarah akan berbeda, tidak ada penjajahan di bumi Nusantara ini. <\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Mengisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek untuk Berteman dan Menjalin Persaudaraan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Teringat apa yang pernah dilakukan Menteri Sosial dan Lingkungan Hidup, saat melakukan pendekatan pada suku anak dalam di Jambi. Tidak lain ia adalah Khofifah menteri perempuan yang energik. Saat itu Khofifah bertanggungjawab dalam mengatasi masalah pendidikan dan kesejahteraan masyarakat suku anak dalam di Jambi.  <\/p>\n\n\n\n

Kebijakannya membuat fenomenal, selain bahan makanan, dan bantuan lain, khofifah juga membawa rokok.  Yang kemudian ada yang mengggugat dari anti rokok, tetapi sebagai Menteri, Khofifah tentunya sudah mengkaji secara mendalam. Dengan kecerdasannya , Khofifah menjawab dengan tegas dan lugas, \u201cjangan sok tahu kehidupan mereka, kenali apa yang menjadi ritme kehidupan mereka. Sangat bijaksana kalau kita semua pergi kesana, sehingga tahu adat istiadatnya juga. Tolong kalau ingin mengerti tentang kultur jangan hanya dari kacamata Jakarta. Saya pun ingin mengajak anda kesana, turun kesana, sapalah mereka\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Khofifah memberikan pelajaran bagi anti rokok. Tidak boleh sok tahu, apalagi selama ini antirokok hanya berasumsi, tanpa melihat fakta dilapangan. Khofifah juga menganjurkan agar lebih mengenal adat-istiadat, budaya dan tradisi masyarakat, tidak boleh melakukan hegemoni kultural, sebab keberagaman adat-istiadat dan budaya merupakan kekayaan negeri. <\/p>\n\n\n\n

Pelajaran Khofifah sangat mendalam dan bercirikhas Nusantara. Sebgaai Menteri \u00a0Sosial tentunya lebih berpengalaman apa yang dibutuhkan bangsa ini agar tetap jaya, bersatu dan utuh. Kenali perbedaan, hormati perbedaan, junjung tinggi budaya yang berbeda. \u00a0Apa yang telah dilakukan Khofifah dengan membawa rokok ke suku anak dalam adalah cermin penghormatan tradisi dan budaya masyarakat. Sebagai seorang Mentri, tentunya punya kuasa, artinya bisa seorang khofifah memberikan bantuan sesuai keinginannya sendiri, namun hal itu tidak dilakukan. Ia lebih mengedepankan penghormatan budaya masyarakat setempat, dengan membawa rokok untuk pendekatan dan pertemanan. Karena Khofifah tahu betul, bahwa merokok adalah budaya mereka, yang diwaris dari neneng moyang mereka. <\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Memilih Jalan Hidup Menikmati Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Simbol Pergerakan Nasional     <\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Abdul Rifa\u2019I dalam media bintang timur terbit pada 03 Oktober 1927, mengatakan, \u201ckopinya bukan kopi saringan, tetapi kopi tubruk sebab kopi ini katanya nationaal, gulanya gula jawa, susu tidak dipakai karena tidak nationaal. Rokoknya kelobot, selamatan natioanaal ini terus berlangsung ed sampai pagi hari\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Semangat nasionalisme harus tertanam, mengedepankan produk lokal adalah salah satu semangat nasionalime. Salah satu keberadaan rokok klobot menjadi ciri produk asli indonesia dan harus dilestarikan. Klobot sendiri adalah ramuan tembakau dan cengkeh di gulung memakai daun jagung, embrio perkembangan menjadi rokok sigaret kretek tangan dan sigaret kretek mesin.  
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pusaran Budaya Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pusaran-budaya-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-04 08:40:41","post_modified_gmt":"2019-02-04 01:40:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5406","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5403,"post_author":"919","post_date":"2019-02-03 09:05:50","post_date_gmt":"2019-02-03 02:05:50","post_content":"\n

Seringkali saya menyaksikan berbagai film baik itu Eropa atau Asia yang menggambarkan tentang masa depan. Pemandangan soal masa depan tersebut dihadirkan dengan gambaran kecanggihan teknologi seperti robot yang akan membantu kehidupan manusia, gedung-gedung yang tingginya sudah amat tak bisa ditandingi,  hingga mobil-mobil yang bisa terbang. <\/p>\n\n\n\n

Pernah dalam masa kecil saya menyaksikan sebuah film animasi buatan jepang yang mempertanyakan tentang makanan di masa depan. Dengan santai salah satu tokoh yang berasal dari masa depan itu menjawab bahwa suatu saat nanti manusia akan mengonsumsi makanan berupa pasta gigi namun dengan rasa yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa, aneh!<\/p>\n\n\n\n

Seiring waktu berjalan saya kian tumbuh dewasa dan punya kesadaran untuk memilih menjadi seorang perokok<\/a>. Saya juga melihat ada sebuah inovasi dan gambaran tentang masa depan yang hadir dalam kehidupan sekarang. Banyak memang, namun yang menyita perhatian saya adalah rokok elektrik atau yang populer disebut Vape. Konon katanya ia adalah produk inovasi untuk menjembatani kebutuhan menghisap asap dan kecanggihan masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Di awal kehadirannya Vape memang mengundang decak kekaguman saya. Bagaimana bisa sebuah mesin kecil mengeluarkan asap yang katanya lebih menyehatkan daripada rokok.<\/strong> Meski pada akhirnya teori tersebut juga bisa dibantah oleh beberapa ilmuan dunia. Tapi ada satu yang saya amati selain soal kesehatan, rokok elektrik rupanya menghadirkan kultur dan budaya baru dalam kehidupan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: LAGI-LAGI IKLAN ROKOK, KAPAN KPAI TIDAK TEBANG PILIH? <\/a><\/h4>\n\n\n\n

Kehadiran teknologi memang kerap sedikit atau benyak mengubah gaya atau kultur suatu masyarakat. Begitu pula yang saya perhatikan dengan rokok elektrik. Satu hal yang mudah diamati adalah menjamurnya toko-toko kecil yang menjual vape serta liquid di berbagai tempat. Sebagai sebuah warna baru dalam masyarakat, penggunanya ramai-ramai mengunjungi tempat tersebut berinteraksi dengan penikmat lainnya dan membangun sebuah rumah komunitas yang fleksibel.<\/p>\n\n\n\n

Meski belum bisa dikatakan memiliki jumlah penikmat yang setara dengan para perokok, pengguna Vape mulai menunjukkan eksistensinya. Selain toko yang tersebar, ragam acara juga mereka buat di beberapa daerah. Dalam lingkungan saya, beberapa teman yang dulunya merupakan perokok aktif tertarik mengikuti event tersebut dan beralih mengisap rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Nun jauh di sana, di Amerika Serikat tepatnya, budaya Vape juga sudah mulai berkembang lama ketimbang di Tanah Air. Penikmatnya terbagi menjadi dua, ada yang dulunya bekas perokok dan ada yang memang menikmatinya sebagai gaya hidup. Wajar saja mengingat facebook tak memperbolehkan iklan tembakau di platform mereka, sebaliknya iklan tentang vape justru bertebaran. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi budaya baru yang berkembang di berbagai belahan dunia bahkan di Indonesia, Vape konon menjadi alternatif yang lebih bermanfaat daripada rokok. Dalih yang diusung selalu sama kepada para perokok tradisonal yaitu soal kesehatan dan lebih irit. Soal kesehatan tentu ada beberapa pendapat para ilmuan yang membantahnya, namun soal irit, saya rasa tidak. Memang satu liquid bisa digunakan untuk beberapa Minggu, akan tetapi yang saya lihat di lapangan justru sebaliknya. <\/p>\n\n\n\n

Beberapa penikmat rokok elektrik kerap berbelanja liquid yang mereka idamkan. Terkadang, hal tersebut yang membuat mereka boros karena terus mengeksplor rasa mana yang mereka idam-idamkan. Tak jarang juga liquid dengan harga mahal hingga ratus ribuan akan mereka beli. Sebaliknya, para perokok konvensional justru kerap bertahan dengan satu rasa atau merek saja.<\/p>\n\n\n\n

Sedikit berbeda dengan penikmat rokok konvensional atau kretek. Mengingat rokok kretek sudah menjadi kebudayan lokal yang terus dipertahankan selama bertahun-tahun, kehadirannya sudah mewarnai khasanah keindonesiaan. Perokok kretek juga sudah punya soliditas luar biasa yang terbentuk sejak lama dan terus terbangun mengiringi peradaban di Indonesia atau dunia.<\/p>\n\n\n\n

Kini, perokok elektrik mulai merasakan kegelisahan. Beberapa negara mulai menerapkan peraturan ketat terhadap Vape, sedangkan di Indonesia biaya cukai pun kini mulai diberlakukan terhadap perdagangan rokok elektrik. Keberadaannya di mata negara pun mulai dianggap sama seperti rokok, meski pada awalnya rokok elektrik hadir dengan slogan-slogan produk alternatif yang lebih menyehatkan (katanya).<\/p>\n\n\n\n


Tapi jika kemudian di masa depan memang rokok elektrik yang kemudian menjadi sesuatu yang populer dan dinikmati banyak orang. Rasanya saya tetap ingin hidup di jaman ini, dengan sebatang kretek di tangan dan menikmati segala khasanah kebudayaan yang patut terus dipertahankan. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"masa-depan-rokok-elektrik-dan-semangat-alternatif-yang-sia-sia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-03 09:05:56","post_modified_gmt":"2019-02-03 02:05:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5403","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5385,"post_author":"883","post_date":"2019-02-02 08:01:01","post_date_gmt":"2019-02-02 01:01:01","post_content":"Pada tahun 2014, perusahaan rokok multinasional Philip Morris Internasional Inc. merilis sebuah produk <\/span>perangkat\u00a0<\/span>
rokok<\/span><\/a>\u00a0tanpa asap, yang dipanaskan bukan dibakar atau istilahnya\u00a0<\/span>heat not burn<\/i><\/strong>\u00a0(HNB) iQOS<\/strong>. <\/span>\r\n\r\nPerangkat rokok tanpa asap dengan nama iQOS<\/a> ini berbentuk seperti bagian luar pulpen, dengan lubang di tengah untuk rokok. Produk yang berada di bawah brand Marlboro ini dapat memanaskan rokok sampai 350 derajat celcius lalu mengeluarkan uap nikotin beraroma tembakau<\/em><\/a>.<\/span>\r\n

Produk iQOS sebenarnya bukanlah produk rokok tanpa asap yang pertama muncul. Sebelumnya di tahun 1990-an, Reynolds Tobacco Co pernah merilis produk serupa bernama Eclipes yang juga dapat menguapkan nikotin setelah dinyalakan dengan korek api.<\/span><\/blockquote>\r\nSelain itu, Eclips juga dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. Namun, pada saat itu Eclips tidak diminati oleh pasar, utamanya para perokok konvensional. Meskipun Eclips dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. <\/span>\r\n\r\nBisnis semacam rokok tanpa asap seperti Eclips dan iQOS memang sudah menjadi bagian dari rencana panjang bisnis perusahaan-perusahaan rokok multinasional. Jadi tidak usah heran jika ke depannya akan kita akan banyak menemukan produk rokok tanpa asap ini.<\/span>\r\n\r\nWatak dari perusahaan multinasional memang seperti itu, mereka sangat jeli melihat peluang pasar ke depannya. Ketika market place perusahaan rokok multinasional saat ini terus dirongrong oleh kelompok antirokok, mereka tak kehabisan akal. Maka kemudian mereka menginovasi produk rokok konvensional menjadi rokok yang tidak berasap. Begitupun dengan mengikutsertakan jargon-jargon kesehatan dalam narasi promosi mereka.<\/span>\r\n\r\nSesungguhnya memang seperti itulah watak bisnis perusahaan-perusahaan multinasional, melakukan segala cara agar bisnis mereka tetap bertahan, meskipun harus merangkul musuh sekalipun. <\/span>\r\n\r\nYa kadang pura-pura berantem sama antirokok, tapi dibalik itu sebenarnya baik-baik saja, dan tentunya ada kompromi untuk terus melanggengkan bisnis mereka.<\/span>\r\n

Lalu siapa yang dirugikan dari permainan bisnis macam produk rokok tanpa asap perusahaan rokok multinasional ini?<\/span><\/h3>\r\nTentunya yang sangat dirugikan adalah produk hasil tembakau yang memiliki kekhasan seperti kretek di Indonesia. Kretek sebagai produk khas asli Indonesia yang menjadi bagian dari warisan kebudayaan tidak mungkin bertransformasi menjadi produk-produk elektrik dan sejenisnya.<\/span>\r\n\r\nKretek tetaplah kretek, dengan bahan baku alami tembakau dan cengkeh yang tidak diintervensi dengan zat atau perangkat penghantar lainnya. Karena dengan bentuk, karakter dan cara menikmatinya memang konvensional dan akan terus begitu apapun kondisi dan zamannya.<\/span>\r\n
Bisnis produk rokok tanpa asap (elektrik) juga menghajar kretek dengan mendompleng isu pengendalian tembakau. Kampanye pengendalian tembakau selalu membawa slogan bahaya merokok dan upaya untuk berhenti merokok. <\/span><\/blockquote>\r\nDari isu tersebut, rokok elektrik masuk dengan citra produk alternatif tembakau, bahkan mereka tak segan menilai bahwa rokok elektrik lebih aman ketimbang rokok konvensional, yakni kretek.<\/span>\r\n\r\nLalu jika Indonesia akan dibanjiri dengan produk-produk yang mengatasnamakan produk alternatif tembakau, macam rokok tanpa asap (iQOS dan sejenisnya), maka itulah pertanda bahwa kretek harus tergerus dari cara hidup manusia Indonesia dalam menikmati produk hasil tembakau khas Indonesia yang sudah turun-temurun lamanya dinikmati manusia Indonesia.<\/span>","post_title":"Nasib Kretek di Pusaran Pertarungan Bisnis Global Perusahaan Rokok Multinasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"nasib-kretek-di-pusaran-pertarungan-bisnis-global-perusahaan-rokok-multinasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-02 08:01:43","post_modified_gmt":"2019-02-02 01:01:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5385","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; \n

Dengan rokok, hidup Roro Mendut terselamatkan. Adanya rokok, \u00a0Roro Mendut bebas dari belenggu kekuasaan. Berkat rokok, Roro Mendut terkengan, mengisi rubik informasi sejarah begitu kuatnya budaya merokok di \u00a0Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Pusaka Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek, Teman Perjuangan  Diponegoro<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Semasa berjuang melawan penjajah, yang harus dilakukan Diponegoro berpindah-pindah dari kota satu ke kota lain. Strategi perlawanan Diponegoro, kemudian sebagai basis strategi perang gerilya. Strategi yang menjadi idola dan kebanggaan tentara Indonesia. Dengan bergerilya, tentara Indonesia mampu mengecoh kekutan lawan yang lebih besar jumlahnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu, tenyata banyak cerita, Diponegoro saat berperang ditemani rokok. Ia dan pasukannya gemar merokok. Bahkan ketika tidak ada rokok, Pangeran Diponegoro rela hanya megunyah daun sirih yang diracik dengan kapur dan pinang. <\/p>\n\n\n\n

Kebiasaan ini, juga dialami oleh pengikut \/pasukan perang Pangeran Diponegoro. Bagi mereka, rokok teman sejati, menemani disetiap perjalanan mereka. Rokok menghilangkan depresi mereka, sebagai hiburan saat jauh dari keluarga demi berjuang melawan penjajah. Rokok menumbuhkan percaya diri mereka, lebih berani melawan penjajah walaupun hanya dengan serba keterbatasan, pasukan jumlah terbatas, alat perang terbatas dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Baca juga: Pangeran Diponegoro, Rokok Klobot dan Perlawanan Simbolis<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Jati Diri Bangsa<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Salah satu \u201cpendiri bangsa\u201d bernama KH. Agus Salim menghisap kretek dengan asapnya di kebal-kebulkan keudara, disaat ada perjamuan di Istana Buckingham ketika penobatan Elizabeth II sebagai Ratu kerajaan Inggris. Aroma khas keluar dari asap rokok kretek, tercium orang yang berada di ruang perjamuan. Sehingga memancing salah satu orang yang datang dalam perjamuan, dengan berkata; \u201ctuan sedang menghisap apa itu?\u201d.  Sentak KH. Agus Salim menjawab, \u201c inilah yang membuat nenek moyang anda sekian abad lalu datang dan kemudian menjajah negeri kami\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Jawaban KH. Agus Salim, faktanya memang benar. Rokok kretek tidak lain ada tambahan cengkeh (suzygium aromaticum<\/em>). \u00a0Tanaman legendaris menjadi rebutan dan sumber keuntungan kolonialisme Eropa atas Asia termasuk Indonesia. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Cengkeh adalah salah satu tanaman yang diperebutkan bangsa-bangsa dunia, sampai melegalkan penjajahan.  Dalam simpulan perjalanan ekspedisi cengkeh tahun 2013, Kepala Suku begitu julukan bagi Putut Ea, mengatakan \u201c jika saja tak pernah ada cengkeh dan pala di Maluku, mungkin sejarah kepulauan Nusantara ini akan berbeda sama sekali\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Simpulan Putut EA, sebagai salah satu pembenar perkataan \u00a0KH. Agus Salim. Mungkin, jika tanaman cengkeh tidak ada, fakta sejarah akan berbeda, tidak ada penjajahan di bumi Nusantara ini. <\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Mengisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek untuk Berteman dan Menjalin Persaudaraan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Teringat apa yang pernah dilakukan Menteri Sosial dan Lingkungan Hidup, saat melakukan pendekatan pada suku anak dalam di Jambi. Tidak lain ia adalah Khofifah menteri perempuan yang energik. Saat itu Khofifah bertanggungjawab dalam mengatasi masalah pendidikan dan kesejahteraan masyarakat suku anak dalam di Jambi.  <\/p>\n\n\n\n

Kebijakannya membuat fenomenal, selain bahan makanan, dan bantuan lain, khofifah juga membawa rokok.  Yang kemudian ada yang mengggugat dari anti rokok, tetapi sebagai Menteri, Khofifah tentunya sudah mengkaji secara mendalam. Dengan kecerdasannya , Khofifah menjawab dengan tegas dan lugas, \u201cjangan sok tahu kehidupan mereka, kenali apa yang menjadi ritme kehidupan mereka. Sangat bijaksana kalau kita semua pergi kesana, sehingga tahu adat istiadatnya juga. Tolong kalau ingin mengerti tentang kultur jangan hanya dari kacamata Jakarta. Saya pun ingin mengajak anda kesana, turun kesana, sapalah mereka\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Khofifah memberikan pelajaran bagi anti rokok. Tidak boleh sok tahu, apalagi selama ini antirokok hanya berasumsi, tanpa melihat fakta dilapangan. Khofifah juga menganjurkan agar lebih mengenal adat-istiadat, budaya dan tradisi masyarakat, tidak boleh melakukan hegemoni kultural, sebab keberagaman adat-istiadat dan budaya merupakan kekayaan negeri. <\/p>\n\n\n\n

Pelajaran Khofifah sangat mendalam dan bercirikhas Nusantara. Sebgaai Menteri \u00a0Sosial tentunya lebih berpengalaman apa yang dibutuhkan bangsa ini agar tetap jaya, bersatu dan utuh. Kenali perbedaan, hormati perbedaan, junjung tinggi budaya yang berbeda. \u00a0Apa yang telah dilakukan Khofifah dengan membawa rokok ke suku anak dalam adalah cermin penghormatan tradisi dan budaya masyarakat. Sebagai seorang Mentri, tentunya punya kuasa, artinya bisa seorang khofifah memberikan bantuan sesuai keinginannya sendiri, namun hal itu tidak dilakukan. Ia lebih mengedepankan penghormatan budaya masyarakat setempat, dengan membawa rokok untuk pendekatan dan pertemanan. Karena Khofifah tahu betul, bahwa merokok adalah budaya mereka, yang diwaris dari neneng moyang mereka. <\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Memilih Jalan Hidup Menikmati Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Simbol Pergerakan Nasional     <\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Abdul Rifa\u2019I dalam media bintang timur terbit pada 03 Oktober 1927, mengatakan, \u201ckopinya bukan kopi saringan, tetapi kopi tubruk sebab kopi ini katanya nationaal, gulanya gula jawa, susu tidak dipakai karena tidak nationaal. Rokoknya kelobot, selamatan natioanaal ini terus berlangsung ed sampai pagi hari\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Semangat nasionalisme harus tertanam, mengedepankan produk lokal adalah salah satu semangat nasionalime. Salah satu keberadaan rokok klobot menjadi ciri produk asli indonesia dan harus dilestarikan. Klobot sendiri adalah ramuan tembakau dan cengkeh di gulung memakai daun jagung, embrio perkembangan menjadi rokok sigaret kretek tangan dan sigaret kretek mesin.  
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pusaran Budaya Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pusaran-budaya-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-04 08:40:41","post_modified_gmt":"2019-02-04 01:40:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5406","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5403,"post_author":"919","post_date":"2019-02-03 09:05:50","post_date_gmt":"2019-02-03 02:05:50","post_content":"\n

Seringkali saya menyaksikan berbagai film baik itu Eropa atau Asia yang menggambarkan tentang masa depan. Pemandangan soal masa depan tersebut dihadirkan dengan gambaran kecanggihan teknologi seperti robot yang akan membantu kehidupan manusia, gedung-gedung yang tingginya sudah amat tak bisa ditandingi,  hingga mobil-mobil yang bisa terbang. <\/p>\n\n\n\n

Pernah dalam masa kecil saya menyaksikan sebuah film animasi buatan jepang yang mempertanyakan tentang makanan di masa depan. Dengan santai salah satu tokoh yang berasal dari masa depan itu menjawab bahwa suatu saat nanti manusia akan mengonsumsi makanan berupa pasta gigi namun dengan rasa yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa, aneh!<\/p>\n\n\n\n

Seiring waktu berjalan saya kian tumbuh dewasa dan punya kesadaran untuk memilih menjadi seorang perokok<\/a>. Saya juga melihat ada sebuah inovasi dan gambaran tentang masa depan yang hadir dalam kehidupan sekarang. Banyak memang, namun yang menyita perhatian saya adalah rokok elektrik atau yang populer disebut Vape. Konon katanya ia adalah produk inovasi untuk menjembatani kebutuhan menghisap asap dan kecanggihan masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Di awal kehadirannya Vape memang mengundang decak kekaguman saya. Bagaimana bisa sebuah mesin kecil mengeluarkan asap yang katanya lebih menyehatkan daripada rokok.<\/strong> Meski pada akhirnya teori tersebut juga bisa dibantah oleh beberapa ilmuan dunia. Tapi ada satu yang saya amati selain soal kesehatan, rokok elektrik rupanya menghadirkan kultur dan budaya baru dalam kehidupan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: LAGI-LAGI IKLAN ROKOK, KAPAN KPAI TIDAK TEBANG PILIH? <\/a><\/h4>\n\n\n\n

Kehadiran teknologi memang kerap sedikit atau benyak mengubah gaya atau kultur suatu masyarakat. Begitu pula yang saya perhatikan dengan rokok elektrik. Satu hal yang mudah diamati adalah menjamurnya toko-toko kecil yang menjual vape serta liquid di berbagai tempat. Sebagai sebuah warna baru dalam masyarakat, penggunanya ramai-ramai mengunjungi tempat tersebut berinteraksi dengan penikmat lainnya dan membangun sebuah rumah komunitas yang fleksibel.<\/p>\n\n\n\n

Meski belum bisa dikatakan memiliki jumlah penikmat yang setara dengan para perokok, pengguna Vape mulai menunjukkan eksistensinya. Selain toko yang tersebar, ragam acara juga mereka buat di beberapa daerah. Dalam lingkungan saya, beberapa teman yang dulunya merupakan perokok aktif tertarik mengikuti event tersebut dan beralih mengisap rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Nun jauh di sana, di Amerika Serikat tepatnya, budaya Vape juga sudah mulai berkembang lama ketimbang di Tanah Air. Penikmatnya terbagi menjadi dua, ada yang dulunya bekas perokok dan ada yang memang menikmatinya sebagai gaya hidup. Wajar saja mengingat facebook tak memperbolehkan iklan tembakau di platform mereka, sebaliknya iklan tentang vape justru bertebaran. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi budaya baru yang berkembang di berbagai belahan dunia bahkan di Indonesia, Vape konon menjadi alternatif yang lebih bermanfaat daripada rokok. Dalih yang diusung selalu sama kepada para perokok tradisonal yaitu soal kesehatan dan lebih irit. Soal kesehatan tentu ada beberapa pendapat para ilmuan yang membantahnya, namun soal irit, saya rasa tidak. Memang satu liquid bisa digunakan untuk beberapa Minggu, akan tetapi yang saya lihat di lapangan justru sebaliknya. <\/p>\n\n\n\n

Beberapa penikmat rokok elektrik kerap berbelanja liquid yang mereka idamkan. Terkadang, hal tersebut yang membuat mereka boros karena terus mengeksplor rasa mana yang mereka idam-idamkan. Tak jarang juga liquid dengan harga mahal hingga ratus ribuan akan mereka beli. Sebaliknya, para perokok konvensional justru kerap bertahan dengan satu rasa atau merek saja.<\/p>\n\n\n\n

Sedikit berbeda dengan penikmat rokok konvensional atau kretek. Mengingat rokok kretek sudah menjadi kebudayan lokal yang terus dipertahankan selama bertahun-tahun, kehadirannya sudah mewarnai khasanah keindonesiaan. Perokok kretek juga sudah punya soliditas luar biasa yang terbentuk sejak lama dan terus terbangun mengiringi peradaban di Indonesia atau dunia.<\/p>\n\n\n\n

Kini, perokok elektrik mulai merasakan kegelisahan. Beberapa negara mulai menerapkan peraturan ketat terhadap Vape, sedangkan di Indonesia biaya cukai pun kini mulai diberlakukan terhadap perdagangan rokok elektrik. Keberadaannya di mata negara pun mulai dianggap sama seperti rokok, meski pada awalnya rokok elektrik hadir dengan slogan-slogan produk alternatif yang lebih menyehatkan (katanya).<\/p>\n\n\n\n


Tapi jika kemudian di masa depan memang rokok elektrik yang kemudian menjadi sesuatu yang populer dan dinikmati banyak orang. Rasanya saya tetap ingin hidup di jaman ini, dengan sebatang kretek di tangan dan menikmati segala khasanah kebudayaan yang patut terus dipertahankan. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"masa-depan-rokok-elektrik-dan-semangat-alternatif-yang-sia-sia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-03 09:05:56","post_modified_gmt":"2019-02-03 02:05:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5403","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5385,"post_author":"883","post_date":"2019-02-02 08:01:01","post_date_gmt":"2019-02-02 01:01:01","post_content":"Pada tahun 2014, perusahaan rokok multinasional Philip Morris Internasional Inc. merilis sebuah produk <\/span>perangkat\u00a0<\/span>
rokok<\/span><\/a>\u00a0tanpa asap, yang dipanaskan bukan dibakar atau istilahnya\u00a0<\/span>heat not burn<\/i><\/strong>\u00a0(HNB) iQOS<\/strong>. <\/span>\r\n\r\nPerangkat rokok tanpa asap dengan nama iQOS<\/a> ini berbentuk seperti bagian luar pulpen, dengan lubang di tengah untuk rokok. Produk yang berada di bawah brand Marlboro ini dapat memanaskan rokok sampai 350 derajat celcius lalu mengeluarkan uap nikotin beraroma tembakau<\/em><\/a>.<\/span>\r\n

Produk iQOS sebenarnya bukanlah produk rokok tanpa asap yang pertama muncul. Sebelumnya di tahun 1990-an, Reynolds Tobacco Co pernah merilis produk serupa bernama Eclipes yang juga dapat menguapkan nikotin setelah dinyalakan dengan korek api.<\/span><\/blockquote>\r\nSelain itu, Eclips juga dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. Namun, pada saat itu Eclips tidak diminati oleh pasar, utamanya para perokok konvensional. Meskipun Eclips dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. <\/span>\r\n\r\nBisnis semacam rokok tanpa asap seperti Eclips dan iQOS memang sudah menjadi bagian dari rencana panjang bisnis perusahaan-perusahaan rokok multinasional. Jadi tidak usah heran jika ke depannya akan kita akan banyak menemukan produk rokok tanpa asap ini.<\/span>\r\n\r\nWatak dari perusahaan multinasional memang seperti itu, mereka sangat jeli melihat peluang pasar ke depannya. Ketika market place perusahaan rokok multinasional saat ini terus dirongrong oleh kelompok antirokok, mereka tak kehabisan akal. Maka kemudian mereka menginovasi produk rokok konvensional menjadi rokok yang tidak berasap. Begitupun dengan mengikutsertakan jargon-jargon kesehatan dalam narasi promosi mereka.<\/span>\r\n\r\nSesungguhnya memang seperti itulah watak bisnis perusahaan-perusahaan multinasional, melakukan segala cara agar bisnis mereka tetap bertahan, meskipun harus merangkul musuh sekalipun. <\/span>\r\n\r\nYa kadang pura-pura berantem sama antirokok, tapi dibalik itu sebenarnya baik-baik saja, dan tentunya ada kompromi untuk terus melanggengkan bisnis mereka.<\/span>\r\n

Lalu siapa yang dirugikan dari permainan bisnis macam produk rokok tanpa asap perusahaan rokok multinasional ini?<\/span><\/h3>\r\nTentunya yang sangat dirugikan adalah produk hasil tembakau yang memiliki kekhasan seperti kretek di Indonesia. Kretek sebagai produk khas asli Indonesia yang menjadi bagian dari warisan kebudayaan tidak mungkin bertransformasi menjadi produk-produk elektrik dan sejenisnya.<\/span>\r\n\r\nKretek tetaplah kretek, dengan bahan baku alami tembakau dan cengkeh yang tidak diintervensi dengan zat atau perangkat penghantar lainnya. Karena dengan bentuk, karakter dan cara menikmatinya memang konvensional dan akan terus begitu apapun kondisi dan zamannya.<\/span>\r\n
Bisnis produk rokok tanpa asap (elektrik) juga menghajar kretek dengan mendompleng isu pengendalian tembakau. Kampanye pengendalian tembakau selalu membawa slogan bahaya merokok dan upaya untuk berhenti merokok. <\/span><\/blockquote>\r\nDari isu tersebut, rokok elektrik masuk dengan citra produk alternatif tembakau, bahkan mereka tak segan menilai bahwa rokok elektrik lebih aman ketimbang rokok konvensional, yakni kretek.<\/span>\r\n\r\nLalu jika Indonesia akan dibanjiri dengan produk-produk yang mengatasnamakan produk alternatif tembakau, macam rokok tanpa asap (iQOS dan sejenisnya), maka itulah pertanda bahwa kretek harus tergerus dari cara hidup manusia Indonesia dalam menikmati produk hasil tembakau khas Indonesia yang sudah turun-temurun lamanya dinikmati manusia Indonesia.<\/span>","post_title":"Nasib Kretek di Pusaran Pertarungan Bisnis Global Perusahaan Rokok Multinasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"nasib-kretek-di-pusaran-pertarungan-bisnis-global-perusahaan-rokok-multinasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-02 08:01:43","post_modified_gmt":"2019-02-02 01:01:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5385","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; \n

Entah dari mana ide menjual rokok itu muncul. Yang jelas saking larisnya, kewajiban pajak Roro Mendut terpenuhi. Dan mungkin keadaannya akan lebih parah, jika saat itu Roro Mendut tidak berdagang rokok. Tidak akan terpenuhi kewajiban pajaknya. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Dengan rokok, hidup Roro Mendut terselamatkan. Adanya rokok, \u00a0Roro Mendut bebas dari belenggu kekuasaan. Berkat rokok, Roro Mendut terkengan, mengisi rubik informasi sejarah begitu kuatnya budaya merokok di \u00a0Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Pusaka Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek, Teman Perjuangan  Diponegoro<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Semasa berjuang melawan penjajah, yang harus dilakukan Diponegoro berpindah-pindah dari kota satu ke kota lain. Strategi perlawanan Diponegoro, kemudian sebagai basis strategi perang gerilya. Strategi yang menjadi idola dan kebanggaan tentara Indonesia. Dengan bergerilya, tentara Indonesia mampu mengecoh kekutan lawan yang lebih besar jumlahnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu, tenyata banyak cerita, Diponegoro saat berperang ditemani rokok. Ia dan pasukannya gemar merokok. Bahkan ketika tidak ada rokok, Pangeran Diponegoro rela hanya megunyah daun sirih yang diracik dengan kapur dan pinang. <\/p>\n\n\n\n

Kebiasaan ini, juga dialami oleh pengikut \/pasukan perang Pangeran Diponegoro. Bagi mereka, rokok teman sejati, menemani disetiap perjalanan mereka. Rokok menghilangkan depresi mereka, sebagai hiburan saat jauh dari keluarga demi berjuang melawan penjajah. Rokok menumbuhkan percaya diri mereka, lebih berani melawan penjajah walaupun hanya dengan serba keterbatasan, pasukan jumlah terbatas, alat perang terbatas dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Baca juga: Pangeran Diponegoro, Rokok Klobot dan Perlawanan Simbolis<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Jati Diri Bangsa<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Salah satu \u201cpendiri bangsa\u201d bernama KH. Agus Salim menghisap kretek dengan asapnya di kebal-kebulkan keudara, disaat ada perjamuan di Istana Buckingham ketika penobatan Elizabeth II sebagai Ratu kerajaan Inggris. Aroma khas keluar dari asap rokok kretek, tercium orang yang berada di ruang perjamuan. Sehingga memancing salah satu orang yang datang dalam perjamuan, dengan berkata; \u201ctuan sedang menghisap apa itu?\u201d.  Sentak KH. Agus Salim menjawab, \u201c inilah yang membuat nenek moyang anda sekian abad lalu datang dan kemudian menjajah negeri kami\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Jawaban KH. Agus Salim, faktanya memang benar. Rokok kretek tidak lain ada tambahan cengkeh (suzygium aromaticum<\/em>). \u00a0Tanaman legendaris menjadi rebutan dan sumber keuntungan kolonialisme Eropa atas Asia termasuk Indonesia. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Cengkeh adalah salah satu tanaman yang diperebutkan bangsa-bangsa dunia, sampai melegalkan penjajahan.  Dalam simpulan perjalanan ekspedisi cengkeh tahun 2013, Kepala Suku begitu julukan bagi Putut Ea, mengatakan \u201c jika saja tak pernah ada cengkeh dan pala di Maluku, mungkin sejarah kepulauan Nusantara ini akan berbeda sama sekali\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Simpulan Putut EA, sebagai salah satu pembenar perkataan \u00a0KH. Agus Salim. Mungkin, jika tanaman cengkeh tidak ada, fakta sejarah akan berbeda, tidak ada penjajahan di bumi Nusantara ini. <\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Mengisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek untuk Berteman dan Menjalin Persaudaraan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Teringat apa yang pernah dilakukan Menteri Sosial dan Lingkungan Hidup, saat melakukan pendekatan pada suku anak dalam di Jambi. Tidak lain ia adalah Khofifah menteri perempuan yang energik. Saat itu Khofifah bertanggungjawab dalam mengatasi masalah pendidikan dan kesejahteraan masyarakat suku anak dalam di Jambi.  <\/p>\n\n\n\n

Kebijakannya membuat fenomenal, selain bahan makanan, dan bantuan lain, khofifah juga membawa rokok.  Yang kemudian ada yang mengggugat dari anti rokok, tetapi sebagai Menteri, Khofifah tentunya sudah mengkaji secara mendalam. Dengan kecerdasannya , Khofifah menjawab dengan tegas dan lugas, \u201cjangan sok tahu kehidupan mereka, kenali apa yang menjadi ritme kehidupan mereka. Sangat bijaksana kalau kita semua pergi kesana, sehingga tahu adat istiadatnya juga. Tolong kalau ingin mengerti tentang kultur jangan hanya dari kacamata Jakarta. Saya pun ingin mengajak anda kesana, turun kesana, sapalah mereka\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Khofifah memberikan pelajaran bagi anti rokok. Tidak boleh sok tahu, apalagi selama ini antirokok hanya berasumsi, tanpa melihat fakta dilapangan. Khofifah juga menganjurkan agar lebih mengenal adat-istiadat, budaya dan tradisi masyarakat, tidak boleh melakukan hegemoni kultural, sebab keberagaman adat-istiadat dan budaya merupakan kekayaan negeri. <\/p>\n\n\n\n

Pelajaran Khofifah sangat mendalam dan bercirikhas Nusantara. Sebgaai Menteri \u00a0Sosial tentunya lebih berpengalaman apa yang dibutuhkan bangsa ini agar tetap jaya, bersatu dan utuh. Kenali perbedaan, hormati perbedaan, junjung tinggi budaya yang berbeda. \u00a0Apa yang telah dilakukan Khofifah dengan membawa rokok ke suku anak dalam adalah cermin penghormatan tradisi dan budaya masyarakat. Sebagai seorang Mentri, tentunya punya kuasa, artinya bisa seorang khofifah memberikan bantuan sesuai keinginannya sendiri, namun hal itu tidak dilakukan. Ia lebih mengedepankan penghormatan budaya masyarakat setempat, dengan membawa rokok untuk pendekatan dan pertemanan. Karena Khofifah tahu betul, bahwa merokok adalah budaya mereka, yang diwaris dari neneng moyang mereka. <\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Memilih Jalan Hidup Menikmati Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Simbol Pergerakan Nasional     <\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Abdul Rifa\u2019I dalam media bintang timur terbit pada 03 Oktober 1927, mengatakan, \u201ckopinya bukan kopi saringan, tetapi kopi tubruk sebab kopi ini katanya nationaal, gulanya gula jawa, susu tidak dipakai karena tidak nationaal. Rokoknya kelobot, selamatan natioanaal ini terus berlangsung ed sampai pagi hari\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Semangat nasionalisme harus tertanam, mengedepankan produk lokal adalah salah satu semangat nasionalime. Salah satu keberadaan rokok klobot menjadi ciri produk asli indonesia dan harus dilestarikan. Klobot sendiri adalah ramuan tembakau dan cengkeh di gulung memakai daun jagung, embrio perkembangan menjadi rokok sigaret kretek tangan dan sigaret kretek mesin.  
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pusaran Budaya Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pusaran-budaya-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-04 08:40:41","post_modified_gmt":"2019-02-04 01:40:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5406","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5403,"post_author":"919","post_date":"2019-02-03 09:05:50","post_date_gmt":"2019-02-03 02:05:50","post_content":"\n

Seringkali saya menyaksikan berbagai film baik itu Eropa atau Asia yang menggambarkan tentang masa depan. Pemandangan soal masa depan tersebut dihadirkan dengan gambaran kecanggihan teknologi seperti robot yang akan membantu kehidupan manusia, gedung-gedung yang tingginya sudah amat tak bisa ditandingi,  hingga mobil-mobil yang bisa terbang. <\/p>\n\n\n\n

Pernah dalam masa kecil saya menyaksikan sebuah film animasi buatan jepang yang mempertanyakan tentang makanan di masa depan. Dengan santai salah satu tokoh yang berasal dari masa depan itu menjawab bahwa suatu saat nanti manusia akan mengonsumsi makanan berupa pasta gigi namun dengan rasa yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa, aneh!<\/p>\n\n\n\n

Seiring waktu berjalan saya kian tumbuh dewasa dan punya kesadaran untuk memilih menjadi seorang perokok<\/a>. Saya juga melihat ada sebuah inovasi dan gambaran tentang masa depan yang hadir dalam kehidupan sekarang. Banyak memang, namun yang menyita perhatian saya adalah rokok elektrik atau yang populer disebut Vape. Konon katanya ia adalah produk inovasi untuk menjembatani kebutuhan menghisap asap dan kecanggihan masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Di awal kehadirannya Vape memang mengundang decak kekaguman saya. Bagaimana bisa sebuah mesin kecil mengeluarkan asap yang katanya lebih menyehatkan daripada rokok.<\/strong> Meski pada akhirnya teori tersebut juga bisa dibantah oleh beberapa ilmuan dunia. Tapi ada satu yang saya amati selain soal kesehatan, rokok elektrik rupanya menghadirkan kultur dan budaya baru dalam kehidupan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: LAGI-LAGI IKLAN ROKOK, KAPAN KPAI TIDAK TEBANG PILIH? <\/a><\/h4>\n\n\n\n

Kehadiran teknologi memang kerap sedikit atau benyak mengubah gaya atau kultur suatu masyarakat. Begitu pula yang saya perhatikan dengan rokok elektrik. Satu hal yang mudah diamati adalah menjamurnya toko-toko kecil yang menjual vape serta liquid di berbagai tempat. Sebagai sebuah warna baru dalam masyarakat, penggunanya ramai-ramai mengunjungi tempat tersebut berinteraksi dengan penikmat lainnya dan membangun sebuah rumah komunitas yang fleksibel.<\/p>\n\n\n\n

Meski belum bisa dikatakan memiliki jumlah penikmat yang setara dengan para perokok, pengguna Vape mulai menunjukkan eksistensinya. Selain toko yang tersebar, ragam acara juga mereka buat di beberapa daerah. Dalam lingkungan saya, beberapa teman yang dulunya merupakan perokok aktif tertarik mengikuti event tersebut dan beralih mengisap rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Nun jauh di sana, di Amerika Serikat tepatnya, budaya Vape juga sudah mulai berkembang lama ketimbang di Tanah Air. Penikmatnya terbagi menjadi dua, ada yang dulunya bekas perokok dan ada yang memang menikmatinya sebagai gaya hidup. Wajar saja mengingat facebook tak memperbolehkan iklan tembakau di platform mereka, sebaliknya iklan tentang vape justru bertebaran. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi budaya baru yang berkembang di berbagai belahan dunia bahkan di Indonesia, Vape konon menjadi alternatif yang lebih bermanfaat daripada rokok. Dalih yang diusung selalu sama kepada para perokok tradisonal yaitu soal kesehatan dan lebih irit. Soal kesehatan tentu ada beberapa pendapat para ilmuan yang membantahnya, namun soal irit, saya rasa tidak. Memang satu liquid bisa digunakan untuk beberapa Minggu, akan tetapi yang saya lihat di lapangan justru sebaliknya. <\/p>\n\n\n\n

Beberapa penikmat rokok elektrik kerap berbelanja liquid yang mereka idamkan. Terkadang, hal tersebut yang membuat mereka boros karena terus mengeksplor rasa mana yang mereka idam-idamkan. Tak jarang juga liquid dengan harga mahal hingga ratus ribuan akan mereka beli. Sebaliknya, para perokok konvensional justru kerap bertahan dengan satu rasa atau merek saja.<\/p>\n\n\n\n

Sedikit berbeda dengan penikmat rokok konvensional atau kretek. Mengingat rokok kretek sudah menjadi kebudayan lokal yang terus dipertahankan selama bertahun-tahun, kehadirannya sudah mewarnai khasanah keindonesiaan. Perokok kretek juga sudah punya soliditas luar biasa yang terbentuk sejak lama dan terus terbangun mengiringi peradaban di Indonesia atau dunia.<\/p>\n\n\n\n

Kini, perokok elektrik mulai merasakan kegelisahan. Beberapa negara mulai menerapkan peraturan ketat terhadap Vape, sedangkan di Indonesia biaya cukai pun kini mulai diberlakukan terhadap perdagangan rokok elektrik. Keberadaannya di mata negara pun mulai dianggap sama seperti rokok, meski pada awalnya rokok elektrik hadir dengan slogan-slogan produk alternatif yang lebih menyehatkan (katanya).<\/p>\n\n\n\n


Tapi jika kemudian di masa depan memang rokok elektrik yang kemudian menjadi sesuatu yang populer dan dinikmati banyak orang. Rasanya saya tetap ingin hidup di jaman ini, dengan sebatang kretek di tangan dan menikmati segala khasanah kebudayaan yang patut terus dipertahankan. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"masa-depan-rokok-elektrik-dan-semangat-alternatif-yang-sia-sia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-03 09:05:56","post_modified_gmt":"2019-02-03 02:05:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5403","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5385,"post_author":"883","post_date":"2019-02-02 08:01:01","post_date_gmt":"2019-02-02 01:01:01","post_content":"Pada tahun 2014, perusahaan rokok multinasional Philip Morris Internasional Inc. merilis sebuah produk <\/span>perangkat\u00a0<\/span>
rokok<\/span><\/a>\u00a0tanpa asap, yang dipanaskan bukan dibakar atau istilahnya\u00a0<\/span>heat not burn<\/i><\/strong>\u00a0(HNB) iQOS<\/strong>. <\/span>\r\n\r\nPerangkat rokok tanpa asap dengan nama iQOS<\/a> ini berbentuk seperti bagian luar pulpen, dengan lubang di tengah untuk rokok. Produk yang berada di bawah brand Marlboro ini dapat memanaskan rokok sampai 350 derajat celcius lalu mengeluarkan uap nikotin beraroma tembakau<\/em><\/a>.<\/span>\r\n

Produk iQOS sebenarnya bukanlah produk rokok tanpa asap yang pertama muncul. Sebelumnya di tahun 1990-an, Reynolds Tobacco Co pernah merilis produk serupa bernama Eclipes yang juga dapat menguapkan nikotin setelah dinyalakan dengan korek api.<\/span><\/blockquote>\r\nSelain itu, Eclips juga dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. Namun, pada saat itu Eclips tidak diminati oleh pasar, utamanya para perokok konvensional. Meskipun Eclips dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. <\/span>\r\n\r\nBisnis semacam rokok tanpa asap seperti Eclips dan iQOS memang sudah menjadi bagian dari rencana panjang bisnis perusahaan-perusahaan rokok multinasional. Jadi tidak usah heran jika ke depannya akan kita akan banyak menemukan produk rokok tanpa asap ini.<\/span>\r\n\r\nWatak dari perusahaan multinasional memang seperti itu, mereka sangat jeli melihat peluang pasar ke depannya. Ketika market place perusahaan rokok multinasional saat ini terus dirongrong oleh kelompok antirokok, mereka tak kehabisan akal. Maka kemudian mereka menginovasi produk rokok konvensional menjadi rokok yang tidak berasap. Begitupun dengan mengikutsertakan jargon-jargon kesehatan dalam narasi promosi mereka.<\/span>\r\n\r\nSesungguhnya memang seperti itulah watak bisnis perusahaan-perusahaan multinasional, melakukan segala cara agar bisnis mereka tetap bertahan, meskipun harus merangkul musuh sekalipun. <\/span>\r\n\r\nYa kadang pura-pura berantem sama antirokok, tapi dibalik itu sebenarnya baik-baik saja, dan tentunya ada kompromi untuk terus melanggengkan bisnis mereka.<\/span>\r\n

Lalu siapa yang dirugikan dari permainan bisnis macam produk rokok tanpa asap perusahaan rokok multinasional ini?<\/span><\/h3>\r\nTentunya yang sangat dirugikan adalah produk hasil tembakau yang memiliki kekhasan seperti kretek di Indonesia. Kretek sebagai produk khas asli Indonesia yang menjadi bagian dari warisan kebudayaan tidak mungkin bertransformasi menjadi produk-produk elektrik dan sejenisnya.<\/span>\r\n\r\nKretek tetaplah kretek, dengan bahan baku alami tembakau dan cengkeh yang tidak diintervensi dengan zat atau perangkat penghantar lainnya. Karena dengan bentuk, karakter dan cara menikmatinya memang konvensional dan akan terus begitu apapun kondisi dan zamannya.<\/span>\r\n
Bisnis produk rokok tanpa asap (elektrik) juga menghajar kretek dengan mendompleng isu pengendalian tembakau. Kampanye pengendalian tembakau selalu membawa slogan bahaya merokok dan upaya untuk berhenti merokok. <\/span><\/blockquote>\r\nDari isu tersebut, rokok elektrik masuk dengan citra produk alternatif tembakau, bahkan mereka tak segan menilai bahwa rokok elektrik lebih aman ketimbang rokok konvensional, yakni kretek.<\/span>\r\n\r\nLalu jika Indonesia akan dibanjiri dengan produk-produk yang mengatasnamakan produk alternatif tembakau, macam rokok tanpa asap (iQOS dan sejenisnya), maka itulah pertanda bahwa kretek harus tergerus dari cara hidup manusia Indonesia dalam menikmati produk hasil tembakau khas Indonesia yang sudah turun-temurun lamanya dinikmati manusia Indonesia.<\/span>","post_title":"Nasib Kretek di Pusaran Pertarungan Bisnis Global Perusahaan Rokok Multinasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"nasib-kretek-di-pusaran-pertarungan-bisnis-global-perusahaan-rokok-multinasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-02 08:01:43","post_modified_gmt":"2019-02-02 01:01:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5385","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; \n

Bisa dibayangkan, betapa bingungnya Roro Mendut saat itu. Uang dari mana, ia hasilkan untuk bayar pajak tiap hari demi bisa bersama kekasihnya. Ternyata Roro Mendut tidak hanya cantik tetapi cerdas dan kreatif, bisa membaca peluang bisnis saat itu. Ide cermerlang muncul dengan berdagang\/berjualan rokok lintingan yang direkatkan dengan air ludahnya, dan sebelum menjualnya, rokok lintingan di sulut dahulu dan dihisap bekas bibir merahnya. Kemudian baru dijual ke pembeli yang berdesakan berjejer antri. <\/p>\n\n\n\n

Entah dari mana ide menjual rokok itu muncul. Yang jelas saking larisnya, kewajiban pajak Roro Mendut terpenuhi. Dan mungkin keadaannya akan lebih parah, jika saat itu Roro Mendut tidak berdagang rokok. Tidak akan terpenuhi kewajiban pajaknya. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Dengan rokok, hidup Roro Mendut terselamatkan. Adanya rokok, \u00a0Roro Mendut bebas dari belenggu kekuasaan. Berkat rokok, Roro Mendut terkengan, mengisi rubik informasi sejarah begitu kuatnya budaya merokok di \u00a0Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Pusaka Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek, Teman Perjuangan  Diponegoro<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Semasa berjuang melawan penjajah, yang harus dilakukan Diponegoro berpindah-pindah dari kota satu ke kota lain. Strategi perlawanan Diponegoro, kemudian sebagai basis strategi perang gerilya. Strategi yang menjadi idola dan kebanggaan tentara Indonesia. Dengan bergerilya, tentara Indonesia mampu mengecoh kekutan lawan yang lebih besar jumlahnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu, tenyata banyak cerita, Diponegoro saat berperang ditemani rokok. Ia dan pasukannya gemar merokok. Bahkan ketika tidak ada rokok, Pangeran Diponegoro rela hanya megunyah daun sirih yang diracik dengan kapur dan pinang. <\/p>\n\n\n\n

Kebiasaan ini, juga dialami oleh pengikut \/pasukan perang Pangeran Diponegoro. Bagi mereka, rokok teman sejati, menemani disetiap perjalanan mereka. Rokok menghilangkan depresi mereka, sebagai hiburan saat jauh dari keluarga demi berjuang melawan penjajah. Rokok menumbuhkan percaya diri mereka, lebih berani melawan penjajah walaupun hanya dengan serba keterbatasan, pasukan jumlah terbatas, alat perang terbatas dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Baca juga: Pangeran Diponegoro, Rokok Klobot dan Perlawanan Simbolis<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Jati Diri Bangsa<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Salah satu \u201cpendiri bangsa\u201d bernama KH. Agus Salim menghisap kretek dengan asapnya di kebal-kebulkan keudara, disaat ada perjamuan di Istana Buckingham ketika penobatan Elizabeth II sebagai Ratu kerajaan Inggris. Aroma khas keluar dari asap rokok kretek, tercium orang yang berada di ruang perjamuan. Sehingga memancing salah satu orang yang datang dalam perjamuan, dengan berkata; \u201ctuan sedang menghisap apa itu?\u201d.  Sentak KH. Agus Salim menjawab, \u201c inilah yang membuat nenek moyang anda sekian abad lalu datang dan kemudian menjajah negeri kami\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Jawaban KH. Agus Salim, faktanya memang benar. Rokok kretek tidak lain ada tambahan cengkeh (suzygium aromaticum<\/em>). \u00a0Tanaman legendaris menjadi rebutan dan sumber keuntungan kolonialisme Eropa atas Asia termasuk Indonesia. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Cengkeh adalah salah satu tanaman yang diperebutkan bangsa-bangsa dunia, sampai melegalkan penjajahan.  Dalam simpulan perjalanan ekspedisi cengkeh tahun 2013, Kepala Suku begitu julukan bagi Putut Ea, mengatakan \u201c jika saja tak pernah ada cengkeh dan pala di Maluku, mungkin sejarah kepulauan Nusantara ini akan berbeda sama sekali\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Simpulan Putut EA, sebagai salah satu pembenar perkataan \u00a0KH. Agus Salim. Mungkin, jika tanaman cengkeh tidak ada, fakta sejarah akan berbeda, tidak ada penjajahan di bumi Nusantara ini. <\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Mengisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek untuk Berteman dan Menjalin Persaudaraan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Teringat apa yang pernah dilakukan Menteri Sosial dan Lingkungan Hidup, saat melakukan pendekatan pada suku anak dalam di Jambi. Tidak lain ia adalah Khofifah menteri perempuan yang energik. Saat itu Khofifah bertanggungjawab dalam mengatasi masalah pendidikan dan kesejahteraan masyarakat suku anak dalam di Jambi.  <\/p>\n\n\n\n

Kebijakannya membuat fenomenal, selain bahan makanan, dan bantuan lain, khofifah juga membawa rokok.  Yang kemudian ada yang mengggugat dari anti rokok, tetapi sebagai Menteri, Khofifah tentunya sudah mengkaji secara mendalam. Dengan kecerdasannya , Khofifah menjawab dengan tegas dan lugas, \u201cjangan sok tahu kehidupan mereka, kenali apa yang menjadi ritme kehidupan mereka. Sangat bijaksana kalau kita semua pergi kesana, sehingga tahu adat istiadatnya juga. Tolong kalau ingin mengerti tentang kultur jangan hanya dari kacamata Jakarta. Saya pun ingin mengajak anda kesana, turun kesana, sapalah mereka\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Khofifah memberikan pelajaran bagi anti rokok. Tidak boleh sok tahu, apalagi selama ini antirokok hanya berasumsi, tanpa melihat fakta dilapangan. Khofifah juga menganjurkan agar lebih mengenal adat-istiadat, budaya dan tradisi masyarakat, tidak boleh melakukan hegemoni kultural, sebab keberagaman adat-istiadat dan budaya merupakan kekayaan negeri. <\/p>\n\n\n\n

Pelajaran Khofifah sangat mendalam dan bercirikhas Nusantara. Sebgaai Menteri \u00a0Sosial tentunya lebih berpengalaman apa yang dibutuhkan bangsa ini agar tetap jaya, bersatu dan utuh. Kenali perbedaan, hormati perbedaan, junjung tinggi budaya yang berbeda. \u00a0Apa yang telah dilakukan Khofifah dengan membawa rokok ke suku anak dalam adalah cermin penghormatan tradisi dan budaya masyarakat. Sebagai seorang Mentri, tentunya punya kuasa, artinya bisa seorang khofifah memberikan bantuan sesuai keinginannya sendiri, namun hal itu tidak dilakukan. Ia lebih mengedepankan penghormatan budaya masyarakat setempat, dengan membawa rokok untuk pendekatan dan pertemanan. Karena Khofifah tahu betul, bahwa merokok adalah budaya mereka, yang diwaris dari neneng moyang mereka. <\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Memilih Jalan Hidup Menikmati Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Simbol Pergerakan Nasional     <\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Abdul Rifa\u2019I dalam media bintang timur terbit pada 03 Oktober 1927, mengatakan, \u201ckopinya bukan kopi saringan, tetapi kopi tubruk sebab kopi ini katanya nationaal, gulanya gula jawa, susu tidak dipakai karena tidak nationaal. Rokoknya kelobot, selamatan natioanaal ini terus berlangsung ed sampai pagi hari\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Semangat nasionalisme harus tertanam, mengedepankan produk lokal adalah salah satu semangat nasionalime. Salah satu keberadaan rokok klobot menjadi ciri produk asli indonesia dan harus dilestarikan. Klobot sendiri adalah ramuan tembakau dan cengkeh di gulung memakai daun jagung, embrio perkembangan menjadi rokok sigaret kretek tangan dan sigaret kretek mesin.  
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pusaran Budaya Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pusaran-budaya-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-04 08:40:41","post_modified_gmt":"2019-02-04 01:40:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5406","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5403,"post_author":"919","post_date":"2019-02-03 09:05:50","post_date_gmt":"2019-02-03 02:05:50","post_content":"\n

Seringkali saya menyaksikan berbagai film baik itu Eropa atau Asia yang menggambarkan tentang masa depan. Pemandangan soal masa depan tersebut dihadirkan dengan gambaran kecanggihan teknologi seperti robot yang akan membantu kehidupan manusia, gedung-gedung yang tingginya sudah amat tak bisa ditandingi,  hingga mobil-mobil yang bisa terbang. <\/p>\n\n\n\n

Pernah dalam masa kecil saya menyaksikan sebuah film animasi buatan jepang yang mempertanyakan tentang makanan di masa depan. Dengan santai salah satu tokoh yang berasal dari masa depan itu menjawab bahwa suatu saat nanti manusia akan mengonsumsi makanan berupa pasta gigi namun dengan rasa yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa, aneh!<\/p>\n\n\n\n

Seiring waktu berjalan saya kian tumbuh dewasa dan punya kesadaran untuk memilih menjadi seorang perokok<\/a>. Saya juga melihat ada sebuah inovasi dan gambaran tentang masa depan yang hadir dalam kehidupan sekarang. Banyak memang, namun yang menyita perhatian saya adalah rokok elektrik atau yang populer disebut Vape. Konon katanya ia adalah produk inovasi untuk menjembatani kebutuhan menghisap asap dan kecanggihan masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Di awal kehadirannya Vape memang mengundang decak kekaguman saya. Bagaimana bisa sebuah mesin kecil mengeluarkan asap yang katanya lebih menyehatkan daripada rokok.<\/strong> Meski pada akhirnya teori tersebut juga bisa dibantah oleh beberapa ilmuan dunia. Tapi ada satu yang saya amati selain soal kesehatan, rokok elektrik rupanya menghadirkan kultur dan budaya baru dalam kehidupan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: LAGI-LAGI IKLAN ROKOK, KAPAN KPAI TIDAK TEBANG PILIH? <\/a><\/h4>\n\n\n\n

Kehadiran teknologi memang kerap sedikit atau benyak mengubah gaya atau kultur suatu masyarakat. Begitu pula yang saya perhatikan dengan rokok elektrik. Satu hal yang mudah diamati adalah menjamurnya toko-toko kecil yang menjual vape serta liquid di berbagai tempat. Sebagai sebuah warna baru dalam masyarakat, penggunanya ramai-ramai mengunjungi tempat tersebut berinteraksi dengan penikmat lainnya dan membangun sebuah rumah komunitas yang fleksibel.<\/p>\n\n\n\n

Meski belum bisa dikatakan memiliki jumlah penikmat yang setara dengan para perokok, pengguna Vape mulai menunjukkan eksistensinya. Selain toko yang tersebar, ragam acara juga mereka buat di beberapa daerah. Dalam lingkungan saya, beberapa teman yang dulunya merupakan perokok aktif tertarik mengikuti event tersebut dan beralih mengisap rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Nun jauh di sana, di Amerika Serikat tepatnya, budaya Vape juga sudah mulai berkembang lama ketimbang di Tanah Air. Penikmatnya terbagi menjadi dua, ada yang dulunya bekas perokok dan ada yang memang menikmatinya sebagai gaya hidup. Wajar saja mengingat facebook tak memperbolehkan iklan tembakau di platform mereka, sebaliknya iklan tentang vape justru bertebaran. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi budaya baru yang berkembang di berbagai belahan dunia bahkan di Indonesia, Vape konon menjadi alternatif yang lebih bermanfaat daripada rokok. Dalih yang diusung selalu sama kepada para perokok tradisonal yaitu soal kesehatan dan lebih irit. Soal kesehatan tentu ada beberapa pendapat para ilmuan yang membantahnya, namun soal irit, saya rasa tidak. Memang satu liquid bisa digunakan untuk beberapa Minggu, akan tetapi yang saya lihat di lapangan justru sebaliknya. <\/p>\n\n\n\n

Beberapa penikmat rokok elektrik kerap berbelanja liquid yang mereka idamkan. Terkadang, hal tersebut yang membuat mereka boros karena terus mengeksplor rasa mana yang mereka idam-idamkan. Tak jarang juga liquid dengan harga mahal hingga ratus ribuan akan mereka beli. Sebaliknya, para perokok konvensional justru kerap bertahan dengan satu rasa atau merek saja.<\/p>\n\n\n\n

Sedikit berbeda dengan penikmat rokok konvensional atau kretek. Mengingat rokok kretek sudah menjadi kebudayan lokal yang terus dipertahankan selama bertahun-tahun, kehadirannya sudah mewarnai khasanah keindonesiaan. Perokok kretek juga sudah punya soliditas luar biasa yang terbentuk sejak lama dan terus terbangun mengiringi peradaban di Indonesia atau dunia.<\/p>\n\n\n\n

Kini, perokok elektrik mulai merasakan kegelisahan. Beberapa negara mulai menerapkan peraturan ketat terhadap Vape, sedangkan di Indonesia biaya cukai pun kini mulai diberlakukan terhadap perdagangan rokok elektrik. Keberadaannya di mata negara pun mulai dianggap sama seperti rokok, meski pada awalnya rokok elektrik hadir dengan slogan-slogan produk alternatif yang lebih menyehatkan (katanya).<\/p>\n\n\n\n


Tapi jika kemudian di masa depan memang rokok elektrik yang kemudian menjadi sesuatu yang populer dan dinikmati banyak orang. Rasanya saya tetap ingin hidup di jaman ini, dengan sebatang kretek di tangan dan menikmati segala khasanah kebudayaan yang patut terus dipertahankan. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"masa-depan-rokok-elektrik-dan-semangat-alternatif-yang-sia-sia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-03 09:05:56","post_modified_gmt":"2019-02-03 02:05:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5403","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5385,"post_author":"883","post_date":"2019-02-02 08:01:01","post_date_gmt":"2019-02-02 01:01:01","post_content":"Pada tahun 2014, perusahaan rokok multinasional Philip Morris Internasional Inc. merilis sebuah produk <\/span>perangkat\u00a0<\/span>
rokok<\/span><\/a>\u00a0tanpa asap, yang dipanaskan bukan dibakar atau istilahnya\u00a0<\/span>heat not burn<\/i><\/strong>\u00a0(HNB) iQOS<\/strong>. <\/span>\r\n\r\nPerangkat rokok tanpa asap dengan nama iQOS<\/a> ini berbentuk seperti bagian luar pulpen, dengan lubang di tengah untuk rokok. Produk yang berada di bawah brand Marlboro ini dapat memanaskan rokok sampai 350 derajat celcius lalu mengeluarkan uap nikotin beraroma tembakau<\/em><\/a>.<\/span>\r\n

Produk iQOS sebenarnya bukanlah produk rokok tanpa asap yang pertama muncul. Sebelumnya di tahun 1990-an, Reynolds Tobacco Co pernah merilis produk serupa bernama Eclipes yang juga dapat menguapkan nikotin setelah dinyalakan dengan korek api.<\/span><\/blockquote>\r\nSelain itu, Eclips juga dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. Namun, pada saat itu Eclips tidak diminati oleh pasar, utamanya para perokok konvensional. Meskipun Eclips dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. <\/span>\r\n\r\nBisnis semacam rokok tanpa asap seperti Eclips dan iQOS memang sudah menjadi bagian dari rencana panjang bisnis perusahaan-perusahaan rokok multinasional. Jadi tidak usah heran jika ke depannya akan kita akan banyak menemukan produk rokok tanpa asap ini.<\/span>\r\n\r\nWatak dari perusahaan multinasional memang seperti itu, mereka sangat jeli melihat peluang pasar ke depannya. Ketika market place perusahaan rokok multinasional saat ini terus dirongrong oleh kelompok antirokok, mereka tak kehabisan akal. Maka kemudian mereka menginovasi produk rokok konvensional menjadi rokok yang tidak berasap. Begitupun dengan mengikutsertakan jargon-jargon kesehatan dalam narasi promosi mereka.<\/span>\r\n\r\nSesungguhnya memang seperti itulah watak bisnis perusahaan-perusahaan multinasional, melakukan segala cara agar bisnis mereka tetap bertahan, meskipun harus merangkul musuh sekalipun. <\/span>\r\n\r\nYa kadang pura-pura berantem sama antirokok, tapi dibalik itu sebenarnya baik-baik saja, dan tentunya ada kompromi untuk terus melanggengkan bisnis mereka.<\/span>\r\n

Lalu siapa yang dirugikan dari permainan bisnis macam produk rokok tanpa asap perusahaan rokok multinasional ini?<\/span><\/h3>\r\nTentunya yang sangat dirugikan adalah produk hasil tembakau yang memiliki kekhasan seperti kretek di Indonesia. Kretek sebagai produk khas asli Indonesia yang menjadi bagian dari warisan kebudayaan tidak mungkin bertransformasi menjadi produk-produk elektrik dan sejenisnya.<\/span>\r\n\r\nKretek tetaplah kretek, dengan bahan baku alami tembakau dan cengkeh yang tidak diintervensi dengan zat atau perangkat penghantar lainnya. Karena dengan bentuk, karakter dan cara menikmatinya memang konvensional dan akan terus begitu apapun kondisi dan zamannya.<\/span>\r\n
Bisnis produk rokok tanpa asap (elektrik) juga menghajar kretek dengan mendompleng isu pengendalian tembakau. Kampanye pengendalian tembakau selalu membawa slogan bahaya merokok dan upaya untuk berhenti merokok. <\/span><\/blockquote>\r\nDari isu tersebut, rokok elektrik masuk dengan citra produk alternatif tembakau, bahkan mereka tak segan menilai bahwa rokok elektrik lebih aman ketimbang rokok konvensional, yakni kretek.<\/span>\r\n\r\nLalu jika Indonesia akan dibanjiri dengan produk-produk yang mengatasnamakan produk alternatif tembakau, macam rokok tanpa asap (iQOS dan sejenisnya), maka itulah pertanda bahwa kretek harus tergerus dari cara hidup manusia Indonesia dalam menikmati produk hasil tembakau khas Indonesia yang sudah turun-temurun lamanya dinikmati manusia Indonesia.<\/span>","post_title":"Nasib Kretek di Pusaran Pertarungan Bisnis Global Perusahaan Rokok Multinasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"nasib-kretek-di-pusaran-pertarungan-bisnis-global-perusahaan-rokok-multinasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-02 08:01:43","post_modified_gmt":"2019-02-02 01:01:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5385","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; \n

Diperkirakan pada tahun 1627, pada saat panglima perang Sultan Agung Mataram bernama Tumenggung Wiraguna berhasil menumpas pemberontakan di kota Pati, sebagai imbalanan atas keberhasilannya, mendapat hadiah wanita pujaan pria bernama Rara Mendut dari Kasultanan Agung Mataram.  Roro Mendut menolak dipinang Tumenggung Wiraguna, dan secara terang-terangan memilih pria lain dambaannya. Akibatnya, Roro Mendut harus membayar pajak setiap harinya kepada kerajaan Mataram. <\/p>\n\n\n\n

Bisa dibayangkan, betapa bingungnya Roro Mendut saat itu. Uang dari mana, ia hasilkan untuk bayar pajak tiap hari demi bisa bersama kekasihnya. Ternyata Roro Mendut tidak hanya cantik tetapi cerdas dan kreatif, bisa membaca peluang bisnis saat itu. Ide cermerlang muncul dengan berdagang\/berjualan rokok lintingan yang direkatkan dengan air ludahnya, dan sebelum menjualnya, rokok lintingan di sulut dahulu dan dihisap bekas bibir merahnya. Kemudian baru dijual ke pembeli yang berdesakan berjejer antri. <\/p>\n\n\n\n

Entah dari mana ide menjual rokok itu muncul. Yang jelas saking larisnya, kewajiban pajak Roro Mendut terpenuhi. Dan mungkin keadaannya akan lebih parah, jika saat itu Roro Mendut tidak berdagang rokok. Tidak akan terpenuhi kewajiban pajaknya. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Dengan rokok, hidup Roro Mendut terselamatkan. Adanya rokok, \u00a0Roro Mendut bebas dari belenggu kekuasaan. Berkat rokok, Roro Mendut terkengan, mengisi rubik informasi sejarah begitu kuatnya budaya merokok di \u00a0Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Pusaka Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek, Teman Perjuangan  Diponegoro<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Semasa berjuang melawan penjajah, yang harus dilakukan Diponegoro berpindah-pindah dari kota satu ke kota lain. Strategi perlawanan Diponegoro, kemudian sebagai basis strategi perang gerilya. Strategi yang menjadi idola dan kebanggaan tentara Indonesia. Dengan bergerilya, tentara Indonesia mampu mengecoh kekutan lawan yang lebih besar jumlahnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu, tenyata banyak cerita, Diponegoro saat berperang ditemani rokok. Ia dan pasukannya gemar merokok. Bahkan ketika tidak ada rokok, Pangeran Diponegoro rela hanya megunyah daun sirih yang diracik dengan kapur dan pinang. <\/p>\n\n\n\n

Kebiasaan ini, juga dialami oleh pengikut \/pasukan perang Pangeran Diponegoro. Bagi mereka, rokok teman sejati, menemani disetiap perjalanan mereka. Rokok menghilangkan depresi mereka, sebagai hiburan saat jauh dari keluarga demi berjuang melawan penjajah. Rokok menumbuhkan percaya diri mereka, lebih berani melawan penjajah walaupun hanya dengan serba keterbatasan, pasukan jumlah terbatas, alat perang terbatas dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Baca juga: Pangeran Diponegoro, Rokok Klobot dan Perlawanan Simbolis<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Jati Diri Bangsa<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Salah satu \u201cpendiri bangsa\u201d bernama KH. Agus Salim menghisap kretek dengan asapnya di kebal-kebulkan keudara, disaat ada perjamuan di Istana Buckingham ketika penobatan Elizabeth II sebagai Ratu kerajaan Inggris. Aroma khas keluar dari asap rokok kretek, tercium orang yang berada di ruang perjamuan. Sehingga memancing salah satu orang yang datang dalam perjamuan, dengan berkata; \u201ctuan sedang menghisap apa itu?\u201d.  Sentak KH. Agus Salim menjawab, \u201c inilah yang membuat nenek moyang anda sekian abad lalu datang dan kemudian menjajah negeri kami\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Jawaban KH. Agus Salim, faktanya memang benar. Rokok kretek tidak lain ada tambahan cengkeh (suzygium aromaticum<\/em>). \u00a0Tanaman legendaris menjadi rebutan dan sumber keuntungan kolonialisme Eropa atas Asia termasuk Indonesia. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Cengkeh adalah salah satu tanaman yang diperebutkan bangsa-bangsa dunia, sampai melegalkan penjajahan.  Dalam simpulan perjalanan ekspedisi cengkeh tahun 2013, Kepala Suku begitu julukan bagi Putut Ea, mengatakan \u201c jika saja tak pernah ada cengkeh dan pala di Maluku, mungkin sejarah kepulauan Nusantara ini akan berbeda sama sekali\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Simpulan Putut EA, sebagai salah satu pembenar perkataan \u00a0KH. Agus Salim. Mungkin, jika tanaman cengkeh tidak ada, fakta sejarah akan berbeda, tidak ada penjajahan di bumi Nusantara ini. <\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Mengisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek untuk Berteman dan Menjalin Persaudaraan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Teringat apa yang pernah dilakukan Menteri Sosial dan Lingkungan Hidup, saat melakukan pendekatan pada suku anak dalam di Jambi. Tidak lain ia adalah Khofifah menteri perempuan yang energik. Saat itu Khofifah bertanggungjawab dalam mengatasi masalah pendidikan dan kesejahteraan masyarakat suku anak dalam di Jambi.  <\/p>\n\n\n\n

Kebijakannya membuat fenomenal, selain bahan makanan, dan bantuan lain, khofifah juga membawa rokok.  Yang kemudian ada yang mengggugat dari anti rokok, tetapi sebagai Menteri, Khofifah tentunya sudah mengkaji secara mendalam. Dengan kecerdasannya , Khofifah menjawab dengan tegas dan lugas, \u201cjangan sok tahu kehidupan mereka, kenali apa yang menjadi ritme kehidupan mereka. Sangat bijaksana kalau kita semua pergi kesana, sehingga tahu adat istiadatnya juga. Tolong kalau ingin mengerti tentang kultur jangan hanya dari kacamata Jakarta. Saya pun ingin mengajak anda kesana, turun kesana, sapalah mereka\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Khofifah memberikan pelajaran bagi anti rokok. Tidak boleh sok tahu, apalagi selama ini antirokok hanya berasumsi, tanpa melihat fakta dilapangan. Khofifah juga menganjurkan agar lebih mengenal adat-istiadat, budaya dan tradisi masyarakat, tidak boleh melakukan hegemoni kultural, sebab keberagaman adat-istiadat dan budaya merupakan kekayaan negeri. <\/p>\n\n\n\n

Pelajaran Khofifah sangat mendalam dan bercirikhas Nusantara. Sebgaai Menteri \u00a0Sosial tentunya lebih berpengalaman apa yang dibutuhkan bangsa ini agar tetap jaya, bersatu dan utuh. Kenali perbedaan, hormati perbedaan, junjung tinggi budaya yang berbeda. \u00a0Apa yang telah dilakukan Khofifah dengan membawa rokok ke suku anak dalam adalah cermin penghormatan tradisi dan budaya masyarakat. Sebagai seorang Mentri, tentunya punya kuasa, artinya bisa seorang khofifah memberikan bantuan sesuai keinginannya sendiri, namun hal itu tidak dilakukan. Ia lebih mengedepankan penghormatan budaya masyarakat setempat, dengan membawa rokok untuk pendekatan dan pertemanan. Karena Khofifah tahu betul, bahwa merokok adalah budaya mereka, yang diwaris dari neneng moyang mereka. <\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Memilih Jalan Hidup Menikmati Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Simbol Pergerakan Nasional     <\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Abdul Rifa\u2019I dalam media bintang timur terbit pada 03 Oktober 1927, mengatakan, \u201ckopinya bukan kopi saringan, tetapi kopi tubruk sebab kopi ini katanya nationaal, gulanya gula jawa, susu tidak dipakai karena tidak nationaal. Rokoknya kelobot, selamatan natioanaal ini terus berlangsung ed sampai pagi hari\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Semangat nasionalisme harus tertanam, mengedepankan produk lokal adalah salah satu semangat nasionalime. Salah satu keberadaan rokok klobot menjadi ciri produk asli indonesia dan harus dilestarikan. Klobot sendiri adalah ramuan tembakau dan cengkeh di gulung memakai daun jagung, embrio perkembangan menjadi rokok sigaret kretek tangan dan sigaret kretek mesin.  
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pusaran Budaya Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pusaran-budaya-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-04 08:40:41","post_modified_gmt":"2019-02-04 01:40:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5406","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5403,"post_author":"919","post_date":"2019-02-03 09:05:50","post_date_gmt":"2019-02-03 02:05:50","post_content":"\n

Seringkali saya menyaksikan berbagai film baik itu Eropa atau Asia yang menggambarkan tentang masa depan. Pemandangan soal masa depan tersebut dihadirkan dengan gambaran kecanggihan teknologi seperti robot yang akan membantu kehidupan manusia, gedung-gedung yang tingginya sudah amat tak bisa ditandingi,  hingga mobil-mobil yang bisa terbang. <\/p>\n\n\n\n

Pernah dalam masa kecil saya menyaksikan sebuah film animasi buatan jepang yang mempertanyakan tentang makanan di masa depan. Dengan santai salah satu tokoh yang berasal dari masa depan itu menjawab bahwa suatu saat nanti manusia akan mengonsumsi makanan berupa pasta gigi namun dengan rasa yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa, aneh!<\/p>\n\n\n\n

Seiring waktu berjalan saya kian tumbuh dewasa dan punya kesadaran untuk memilih menjadi seorang perokok<\/a>. Saya juga melihat ada sebuah inovasi dan gambaran tentang masa depan yang hadir dalam kehidupan sekarang. Banyak memang, namun yang menyita perhatian saya adalah rokok elektrik atau yang populer disebut Vape. Konon katanya ia adalah produk inovasi untuk menjembatani kebutuhan menghisap asap dan kecanggihan masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Di awal kehadirannya Vape memang mengundang decak kekaguman saya. Bagaimana bisa sebuah mesin kecil mengeluarkan asap yang katanya lebih menyehatkan daripada rokok.<\/strong> Meski pada akhirnya teori tersebut juga bisa dibantah oleh beberapa ilmuan dunia. Tapi ada satu yang saya amati selain soal kesehatan, rokok elektrik rupanya menghadirkan kultur dan budaya baru dalam kehidupan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: LAGI-LAGI IKLAN ROKOK, KAPAN KPAI TIDAK TEBANG PILIH? <\/a><\/h4>\n\n\n\n

Kehadiran teknologi memang kerap sedikit atau benyak mengubah gaya atau kultur suatu masyarakat. Begitu pula yang saya perhatikan dengan rokok elektrik. Satu hal yang mudah diamati adalah menjamurnya toko-toko kecil yang menjual vape serta liquid di berbagai tempat. Sebagai sebuah warna baru dalam masyarakat, penggunanya ramai-ramai mengunjungi tempat tersebut berinteraksi dengan penikmat lainnya dan membangun sebuah rumah komunitas yang fleksibel.<\/p>\n\n\n\n

Meski belum bisa dikatakan memiliki jumlah penikmat yang setara dengan para perokok, pengguna Vape mulai menunjukkan eksistensinya. Selain toko yang tersebar, ragam acara juga mereka buat di beberapa daerah. Dalam lingkungan saya, beberapa teman yang dulunya merupakan perokok aktif tertarik mengikuti event tersebut dan beralih mengisap rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Nun jauh di sana, di Amerika Serikat tepatnya, budaya Vape juga sudah mulai berkembang lama ketimbang di Tanah Air. Penikmatnya terbagi menjadi dua, ada yang dulunya bekas perokok dan ada yang memang menikmatinya sebagai gaya hidup. Wajar saja mengingat facebook tak memperbolehkan iklan tembakau di platform mereka, sebaliknya iklan tentang vape justru bertebaran. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi budaya baru yang berkembang di berbagai belahan dunia bahkan di Indonesia, Vape konon menjadi alternatif yang lebih bermanfaat daripada rokok. Dalih yang diusung selalu sama kepada para perokok tradisonal yaitu soal kesehatan dan lebih irit. Soal kesehatan tentu ada beberapa pendapat para ilmuan yang membantahnya, namun soal irit, saya rasa tidak. Memang satu liquid bisa digunakan untuk beberapa Minggu, akan tetapi yang saya lihat di lapangan justru sebaliknya. <\/p>\n\n\n\n

Beberapa penikmat rokok elektrik kerap berbelanja liquid yang mereka idamkan. Terkadang, hal tersebut yang membuat mereka boros karena terus mengeksplor rasa mana yang mereka idam-idamkan. Tak jarang juga liquid dengan harga mahal hingga ratus ribuan akan mereka beli. Sebaliknya, para perokok konvensional justru kerap bertahan dengan satu rasa atau merek saja.<\/p>\n\n\n\n

Sedikit berbeda dengan penikmat rokok konvensional atau kretek. Mengingat rokok kretek sudah menjadi kebudayan lokal yang terus dipertahankan selama bertahun-tahun, kehadirannya sudah mewarnai khasanah keindonesiaan. Perokok kretek juga sudah punya soliditas luar biasa yang terbentuk sejak lama dan terus terbangun mengiringi peradaban di Indonesia atau dunia.<\/p>\n\n\n\n

Kini, perokok elektrik mulai merasakan kegelisahan. Beberapa negara mulai menerapkan peraturan ketat terhadap Vape, sedangkan di Indonesia biaya cukai pun kini mulai diberlakukan terhadap perdagangan rokok elektrik. Keberadaannya di mata negara pun mulai dianggap sama seperti rokok, meski pada awalnya rokok elektrik hadir dengan slogan-slogan produk alternatif yang lebih menyehatkan (katanya).<\/p>\n\n\n\n


Tapi jika kemudian di masa depan memang rokok elektrik yang kemudian menjadi sesuatu yang populer dan dinikmati banyak orang. Rasanya saya tetap ingin hidup di jaman ini, dengan sebatang kretek di tangan dan menikmati segala khasanah kebudayaan yang patut terus dipertahankan. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"masa-depan-rokok-elektrik-dan-semangat-alternatif-yang-sia-sia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-03 09:05:56","post_modified_gmt":"2019-02-03 02:05:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5403","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5385,"post_author":"883","post_date":"2019-02-02 08:01:01","post_date_gmt":"2019-02-02 01:01:01","post_content":"Pada tahun 2014, perusahaan rokok multinasional Philip Morris Internasional Inc. merilis sebuah produk <\/span>perangkat\u00a0<\/span>
rokok<\/span><\/a>\u00a0tanpa asap, yang dipanaskan bukan dibakar atau istilahnya\u00a0<\/span>heat not burn<\/i><\/strong>\u00a0(HNB) iQOS<\/strong>. <\/span>\r\n\r\nPerangkat rokok tanpa asap dengan nama iQOS<\/a> ini berbentuk seperti bagian luar pulpen, dengan lubang di tengah untuk rokok. Produk yang berada di bawah brand Marlboro ini dapat memanaskan rokok sampai 350 derajat celcius lalu mengeluarkan uap nikotin beraroma tembakau<\/em><\/a>.<\/span>\r\n

Produk iQOS sebenarnya bukanlah produk rokok tanpa asap yang pertama muncul. Sebelumnya di tahun 1990-an, Reynolds Tobacco Co pernah merilis produk serupa bernama Eclipes yang juga dapat menguapkan nikotin setelah dinyalakan dengan korek api.<\/span><\/blockquote>\r\nSelain itu, Eclips juga dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. Namun, pada saat itu Eclips tidak diminati oleh pasar, utamanya para perokok konvensional. Meskipun Eclips dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. <\/span>\r\n\r\nBisnis semacam rokok tanpa asap seperti Eclips dan iQOS memang sudah menjadi bagian dari rencana panjang bisnis perusahaan-perusahaan rokok multinasional. Jadi tidak usah heran jika ke depannya akan kita akan banyak menemukan produk rokok tanpa asap ini.<\/span>\r\n\r\nWatak dari perusahaan multinasional memang seperti itu, mereka sangat jeli melihat peluang pasar ke depannya. Ketika market place perusahaan rokok multinasional saat ini terus dirongrong oleh kelompok antirokok, mereka tak kehabisan akal. Maka kemudian mereka menginovasi produk rokok konvensional menjadi rokok yang tidak berasap. Begitupun dengan mengikutsertakan jargon-jargon kesehatan dalam narasi promosi mereka.<\/span>\r\n\r\nSesungguhnya memang seperti itulah watak bisnis perusahaan-perusahaan multinasional, melakukan segala cara agar bisnis mereka tetap bertahan, meskipun harus merangkul musuh sekalipun. <\/span>\r\n\r\nYa kadang pura-pura berantem sama antirokok, tapi dibalik itu sebenarnya baik-baik saja, dan tentunya ada kompromi untuk terus melanggengkan bisnis mereka.<\/span>\r\n

Lalu siapa yang dirugikan dari permainan bisnis macam produk rokok tanpa asap perusahaan rokok multinasional ini?<\/span><\/h3>\r\nTentunya yang sangat dirugikan adalah produk hasil tembakau yang memiliki kekhasan seperti kretek di Indonesia. Kretek sebagai produk khas asli Indonesia yang menjadi bagian dari warisan kebudayaan tidak mungkin bertransformasi menjadi produk-produk elektrik dan sejenisnya.<\/span>\r\n\r\nKretek tetaplah kretek, dengan bahan baku alami tembakau dan cengkeh yang tidak diintervensi dengan zat atau perangkat penghantar lainnya. Karena dengan bentuk, karakter dan cara menikmatinya memang konvensional dan akan terus begitu apapun kondisi dan zamannya.<\/span>\r\n
Bisnis produk rokok tanpa asap (elektrik) juga menghajar kretek dengan mendompleng isu pengendalian tembakau. Kampanye pengendalian tembakau selalu membawa slogan bahaya merokok dan upaya untuk berhenti merokok. <\/span><\/blockquote>\r\nDari isu tersebut, rokok elektrik masuk dengan citra produk alternatif tembakau, bahkan mereka tak segan menilai bahwa rokok elektrik lebih aman ketimbang rokok konvensional, yakni kretek.<\/span>\r\n\r\nLalu jika Indonesia akan dibanjiri dengan produk-produk yang mengatasnamakan produk alternatif tembakau, macam rokok tanpa asap (iQOS dan sejenisnya), maka itulah pertanda bahwa kretek harus tergerus dari cara hidup manusia Indonesia dalam menikmati produk hasil tembakau khas Indonesia yang sudah turun-temurun lamanya dinikmati manusia Indonesia.<\/span>","post_title":"Nasib Kretek di Pusaran Pertarungan Bisnis Global Perusahaan Rokok Multinasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"nasib-kretek-di-pusaran-pertarungan-bisnis-global-perusahaan-rokok-multinasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-02 08:01:43","post_modified_gmt":"2019-02-02 01:01:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5385","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; \n

Siapa yang tidak pernah mendengan cerita tentang Roro Mendut?, di telinga masyarakat Indonesia, kisah Roro Mendut tidak asing lagi.  Perempuan yang mempunyai paras wajah cantik, dan digandrungi kaum adam terutama kalangan putra kerajaan. Informasi kecantikan Roro Mendut tersebar seantero Nusantara, tidak satupun pria meragukan kecantikannya.  Bahkan kisah dan cerita kecantikan Roro Mendut tercatat dalam buku Babad Tanah Jawi. <\/p>\n\n\n\n

Diperkirakan pada tahun 1627, pada saat panglima perang Sultan Agung Mataram bernama Tumenggung Wiraguna berhasil menumpas pemberontakan di kota Pati, sebagai imbalanan atas keberhasilannya, mendapat hadiah wanita pujaan pria bernama Rara Mendut dari Kasultanan Agung Mataram.  Roro Mendut menolak dipinang Tumenggung Wiraguna, dan secara terang-terangan memilih pria lain dambaannya. Akibatnya, Roro Mendut harus membayar pajak setiap harinya kepada kerajaan Mataram. <\/p>\n\n\n\n

Bisa dibayangkan, betapa bingungnya Roro Mendut saat itu. Uang dari mana, ia hasilkan untuk bayar pajak tiap hari demi bisa bersama kekasihnya. Ternyata Roro Mendut tidak hanya cantik tetapi cerdas dan kreatif, bisa membaca peluang bisnis saat itu. Ide cermerlang muncul dengan berdagang\/berjualan rokok lintingan yang direkatkan dengan air ludahnya, dan sebelum menjualnya, rokok lintingan di sulut dahulu dan dihisap bekas bibir merahnya. Kemudian baru dijual ke pembeli yang berdesakan berjejer antri. <\/p>\n\n\n\n

Entah dari mana ide menjual rokok itu muncul. Yang jelas saking larisnya, kewajiban pajak Roro Mendut terpenuhi. Dan mungkin keadaannya akan lebih parah, jika saat itu Roro Mendut tidak berdagang rokok. Tidak akan terpenuhi kewajiban pajaknya. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Dengan rokok, hidup Roro Mendut terselamatkan. Adanya rokok, \u00a0Roro Mendut bebas dari belenggu kekuasaan. Berkat rokok, Roro Mendut terkengan, mengisi rubik informasi sejarah begitu kuatnya budaya merokok di \u00a0Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Pusaka Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek, Teman Perjuangan  Diponegoro<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Semasa berjuang melawan penjajah, yang harus dilakukan Diponegoro berpindah-pindah dari kota satu ke kota lain. Strategi perlawanan Diponegoro, kemudian sebagai basis strategi perang gerilya. Strategi yang menjadi idola dan kebanggaan tentara Indonesia. Dengan bergerilya, tentara Indonesia mampu mengecoh kekutan lawan yang lebih besar jumlahnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu, tenyata banyak cerita, Diponegoro saat berperang ditemani rokok. Ia dan pasukannya gemar merokok. Bahkan ketika tidak ada rokok, Pangeran Diponegoro rela hanya megunyah daun sirih yang diracik dengan kapur dan pinang. <\/p>\n\n\n\n

Kebiasaan ini, juga dialami oleh pengikut \/pasukan perang Pangeran Diponegoro. Bagi mereka, rokok teman sejati, menemani disetiap perjalanan mereka. Rokok menghilangkan depresi mereka, sebagai hiburan saat jauh dari keluarga demi berjuang melawan penjajah. Rokok menumbuhkan percaya diri mereka, lebih berani melawan penjajah walaupun hanya dengan serba keterbatasan, pasukan jumlah terbatas, alat perang terbatas dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Baca juga: Pangeran Diponegoro, Rokok Klobot dan Perlawanan Simbolis<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Jati Diri Bangsa<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Salah satu \u201cpendiri bangsa\u201d bernama KH. Agus Salim menghisap kretek dengan asapnya di kebal-kebulkan keudara, disaat ada perjamuan di Istana Buckingham ketika penobatan Elizabeth II sebagai Ratu kerajaan Inggris. Aroma khas keluar dari asap rokok kretek, tercium orang yang berada di ruang perjamuan. Sehingga memancing salah satu orang yang datang dalam perjamuan, dengan berkata; \u201ctuan sedang menghisap apa itu?\u201d.  Sentak KH. Agus Salim menjawab, \u201c inilah yang membuat nenek moyang anda sekian abad lalu datang dan kemudian menjajah negeri kami\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Jawaban KH. Agus Salim, faktanya memang benar. Rokok kretek tidak lain ada tambahan cengkeh (suzygium aromaticum<\/em>). \u00a0Tanaman legendaris menjadi rebutan dan sumber keuntungan kolonialisme Eropa atas Asia termasuk Indonesia. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Cengkeh adalah salah satu tanaman yang diperebutkan bangsa-bangsa dunia, sampai melegalkan penjajahan.  Dalam simpulan perjalanan ekspedisi cengkeh tahun 2013, Kepala Suku begitu julukan bagi Putut Ea, mengatakan \u201c jika saja tak pernah ada cengkeh dan pala di Maluku, mungkin sejarah kepulauan Nusantara ini akan berbeda sama sekali\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Simpulan Putut EA, sebagai salah satu pembenar perkataan \u00a0KH. Agus Salim. Mungkin, jika tanaman cengkeh tidak ada, fakta sejarah akan berbeda, tidak ada penjajahan di bumi Nusantara ini. <\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Mengisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek untuk Berteman dan Menjalin Persaudaraan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Teringat apa yang pernah dilakukan Menteri Sosial dan Lingkungan Hidup, saat melakukan pendekatan pada suku anak dalam di Jambi. Tidak lain ia adalah Khofifah menteri perempuan yang energik. Saat itu Khofifah bertanggungjawab dalam mengatasi masalah pendidikan dan kesejahteraan masyarakat suku anak dalam di Jambi.  <\/p>\n\n\n\n

Kebijakannya membuat fenomenal, selain bahan makanan, dan bantuan lain, khofifah juga membawa rokok.  Yang kemudian ada yang mengggugat dari anti rokok, tetapi sebagai Menteri, Khofifah tentunya sudah mengkaji secara mendalam. Dengan kecerdasannya , Khofifah menjawab dengan tegas dan lugas, \u201cjangan sok tahu kehidupan mereka, kenali apa yang menjadi ritme kehidupan mereka. Sangat bijaksana kalau kita semua pergi kesana, sehingga tahu adat istiadatnya juga. Tolong kalau ingin mengerti tentang kultur jangan hanya dari kacamata Jakarta. Saya pun ingin mengajak anda kesana, turun kesana, sapalah mereka\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Khofifah memberikan pelajaran bagi anti rokok. Tidak boleh sok tahu, apalagi selama ini antirokok hanya berasumsi, tanpa melihat fakta dilapangan. Khofifah juga menganjurkan agar lebih mengenal adat-istiadat, budaya dan tradisi masyarakat, tidak boleh melakukan hegemoni kultural, sebab keberagaman adat-istiadat dan budaya merupakan kekayaan negeri. <\/p>\n\n\n\n

Pelajaran Khofifah sangat mendalam dan bercirikhas Nusantara. Sebgaai Menteri \u00a0Sosial tentunya lebih berpengalaman apa yang dibutuhkan bangsa ini agar tetap jaya, bersatu dan utuh. Kenali perbedaan, hormati perbedaan, junjung tinggi budaya yang berbeda. \u00a0Apa yang telah dilakukan Khofifah dengan membawa rokok ke suku anak dalam adalah cermin penghormatan tradisi dan budaya masyarakat. Sebagai seorang Mentri, tentunya punya kuasa, artinya bisa seorang khofifah memberikan bantuan sesuai keinginannya sendiri, namun hal itu tidak dilakukan. Ia lebih mengedepankan penghormatan budaya masyarakat setempat, dengan membawa rokok untuk pendekatan dan pertemanan. Karena Khofifah tahu betul, bahwa merokok adalah budaya mereka, yang diwaris dari neneng moyang mereka. <\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Memilih Jalan Hidup Menikmati Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Simbol Pergerakan Nasional     <\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Abdul Rifa\u2019I dalam media bintang timur terbit pada 03 Oktober 1927, mengatakan, \u201ckopinya bukan kopi saringan, tetapi kopi tubruk sebab kopi ini katanya nationaal, gulanya gula jawa, susu tidak dipakai karena tidak nationaal. Rokoknya kelobot, selamatan natioanaal ini terus berlangsung ed sampai pagi hari\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Semangat nasionalisme harus tertanam, mengedepankan produk lokal adalah salah satu semangat nasionalime. Salah satu keberadaan rokok klobot menjadi ciri produk asli indonesia dan harus dilestarikan. Klobot sendiri adalah ramuan tembakau dan cengkeh di gulung memakai daun jagung, embrio perkembangan menjadi rokok sigaret kretek tangan dan sigaret kretek mesin.  
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pusaran Budaya Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pusaran-budaya-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-04 08:40:41","post_modified_gmt":"2019-02-04 01:40:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5406","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5403,"post_author":"919","post_date":"2019-02-03 09:05:50","post_date_gmt":"2019-02-03 02:05:50","post_content":"\n

Seringkali saya menyaksikan berbagai film baik itu Eropa atau Asia yang menggambarkan tentang masa depan. Pemandangan soal masa depan tersebut dihadirkan dengan gambaran kecanggihan teknologi seperti robot yang akan membantu kehidupan manusia, gedung-gedung yang tingginya sudah amat tak bisa ditandingi,  hingga mobil-mobil yang bisa terbang. <\/p>\n\n\n\n

Pernah dalam masa kecil saya menyaksikan sebuah film animasi buatan jepang yang mempertanyakan tentang makanan di masa depan. Dengan santai salah satu tokoh yang berasal dari masa depan itu menjawab bahwa suatu saat nanti manusia akan mengonsumsi makanan berupa pasta gigi namun dengan rasa yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa, aneh!<\/p>\n\n\n\n

Seiring waktu berjalan saya kian tumbuh dewasa dan punya kesadaran untuk memilih menjadi seorang perokok<\/a>. Saya juga melihat ada sebuah inovasi dan gambaran tentang masa depan yang hadir dalam kehidupan sekarang. Banyak memang, namun yang menyita perhatian saya adalah rokok elektrik atau yang populer disebut Vape. Konon katanya ia adalah produk inovasi untuk menjembatani kebutuhan menghisap asap dan kecanggihan masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Di awal kehadirannya Vape memang mengundang decak kekaguman saya. Bagaimana bisa sebuah mesin kecil mengeluarkan asap yang katanya lebih menyehatkan daripada rokok.<\/strong> Meski pada akhirnya teori tersebut juga bisa dibantah oleh beberapa ilmuan dunia. Tapi ada satu yang saya amati selain soal kesehatan, rokok elektrik rupanya menghadirkan kultur dan budaya baru dalam kehidupan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: LAGI-LAGI IKLAN ROKOK, KAPAN KPAI TIDAK TEBANG PILIH? <\/a><\/h4>\n\n\n\n

Kehadiran teknologi memang kerap sedikit atau benyak mengubah gaya atau kultur suatu masyarakat. Begitu pula yang saya perhatikan dengan rokok elektrik. Satu hal yang mudah diamati adalah menjamurnya toko-toko kecil yang menjual vape serta liquid di berbagai tempat. Sebagai sebuah warna baru dalam masyarakat, penggunanya ramai-ramai mengunjungi tempat tersebut berinteraksi dengan penikmat lainnya dan membangun sebuah rumah komunitas yang fleksibel.<\/p>\n\n\n\n

Meski belum bisa dikatakan memiliki jumlah penikmat yang setara dengan para perokok, pengguna Vape mulai menunjukkan eksistensinya. Selain toko yang tersebar, ragam acara juga mereka buat di beberapa daerah. Dalam lingkungan saya, beberapa teman yang dulunya merupakan perokok aktif tertarik mengikuti event tersebut dan beralih mengisap rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Nun jauh di sana, di Amerika Serikat tepatnya, budaya Vape juga sudah mulai berkembang lama ketimbang di Tanah Air. Penikmatnya terbagi menjadi dua, ada yang dulunya bekas perokok dan ada yang memang menikmatinya sebagai gaya hidup. Wajar saja mengingat facebook tak memperbolehkan iklan tembakau di platform mereka, sebaliknya iklan tentang vape justru bertebaran. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi budaya baru yang berkembang di berbagai belahan dunia bahkan di Indonesia, Vape konon menjadi alternatif yang lebih bermanfaat daripada rokok. Dalih yang diusung selalu sama kepada para perokok tradisonal yaitu soal kesehatan dan lebih irit. Soal kesehatan tentu ada beberapa pendapat para ilmuan yang membantahnya, namun soal irit, saya rasa tidak. Memang satu liquid bisa digunakan untuk beberapa Minggu, akan tetapi yang saya lihat di lapangan justru sebaliknya. <\/p>\n\n\n\n

Beberapa penikmat rokok elektrik kerap berbelanja liquid yang mereka idamkan. Terkadang, hal tersebut yang membuat mereka boros karena terus mengeksplor rasa mana yang mereka idam-idamkan. Tak jarang juga liquid dengan harga mahal hingga ratus ribuan akan mereka beli. Sebaliknya, para perokok konvensional justru kerap bertahan dengan satu rasa atau merek saja.<\/p>\n\n\n\n

Sedikit berbeda dengan penikmat rokok konvensional atau kretek. Mengingat rokok kretek sudah menjadi kebudayan lokal yang terus dipertahankan selama bertahun-tahun, kehadirannya sudah mewarnai khasanah keindonesiaan. Perokok kretek juga sudah punya soliditas luar biasa yang terbentuk sejak lama dan terus terbangun mengiringi peradaban di Indonesia atau dunia.<\/p>\n\n\n\n

Kini, perokok elektrik mulai merasakan kegelisahan. Beberapa negara mulai menerapkan peraturan ketat terhadap Vape, sedangkan di Indonesia biaya cukai pun kini mulai diberlakukan terhadap perdagangan rokok elektrik. Keberadaannya di mata negara pun mulai dianggap sama seperti rokok, meski pada awalnya rokok elektrik hadir dengan slogan-slogan produk alternatif yang lebih menyehatkan (katanya).<\/p>\n\n\n\n


Tapi jika kemudian di masa depan memang rokok elektrik yang kemudian menjadi sesuatu yang populer dan dinikmati banyak orang. Rasanya saya tetap ingin hidup di jaman ini, dengan sebatang kretek di tangan dan menikmati segala khasanah kebudayaan yang patut terus dipertahankan. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"masa-depan-rokok-elektrik-dan-semangat-alternatif-yang-sia-sia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-03 09:05:56","post_modified_gmt":"2019-02-03 02:05:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5403","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5385,"post_author":"883","post_date":"2019-02-02 08:01:01","post_date_gmt":"2019-02-02 01:01:01","post_content":"Pada tahun 2014, perusahaan rokok multinasional Philip Morris Internasional Inc. merilis sebuah produk <\/span>perangkat\u00a0<\/span>
rokok<\/span><\/a>\u00a0tanpa asap, yang dipanaskan bukan dibakar atau istilahnya\u00a0<\/span>heat not burn<\/i><\/strong>\u00a0(HNB) iQOS<\/strong>. <\/span>\r\n\r\nPerangkat rokok tanpa asap dengan nama iQOS<\/a> ini berbentuk seperti bagian luar pulpen, dengan lubang di tengah untuk rokok. Produk yang berada di bawah brand Marlboro ini dapat memanaskan rokok sampai 350 derajat celcius lalu mengeluarkan uap nikotin beraroma tembakau<\/em><\/a>.<\/span>\r\n

Produk iQOS sebenarnya bukanlah produk rokok tanpa asap yang pertama muncul. Sebelumnya di tahun 1990-an, Reynolds Tobacco Co pernah merilis produk serupa bernama Eclipes yang juga dapat menguapkan nikotin setelah dinyalakan dengan korek api.<\/span><\/blockquote>\r\nSelain itu, Eclips juga dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. Namun, pada saat itu Eclips tidak diminati oleh pasar, utamanya para perokok konvensional. Meskipun Eclips dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. <\/span>\r\n\r\nBisnis semacam rokok tanpa asap seperti Eclips dan iQOS memang sudah menjadi bagian dari rencana panjang bisnis perusahaan-perusahaan rokok multinasional. Jadi tidak usah heran jika ke depannya akan kita akan banyak menemukan produk rokok tanpa asap ini.<\/span>\r\n\r\nWatak dari perusahaan multinasional memang seperti itu, mereka sangat jeli melihat peluang pasar ke depannya. Ketika market place perusahaan rokok multinasional saat ini terus dirongrong oleh kelompok antirokok, mereka tak kehabisan akal. Maka kemudian mereka menginovasi produk rokok konvensional menjadi rokok yang tidak berasap. Begitupun dengan mengikutsertakan jargon-jargon kesehatan dalam narasi promosi mereka.<\/span>\r\n\r\nSesungguhnya memang seperti itulah watak bisnis perusahaan-perusahaan multinasional, melakukan segala cara agar bisnis mereka tetap bertahan, meskipun harus merangkul musuh sekalipun. <\/span>\r\n\r\nYa kadang pura-pura berantem sama antirokok, tapi dibalik itu sebenarnya baik-baik saja, dan tentunya ada kompromi untuk terus melanggengkan bisnis mereka.<\/span>\r\n

Lalu siapa yang dirugikan dari permainan bisnis macam produk rokok tanpa asap perusahaan rokok multinasional ini?<\/span><\/h3>\r\nTentunya yang sangat dirugikan adalah produk hasil tembakau yang memiliki kekhasan seperti kretek di Indonesia. Kretek sebagai produk khas asli Indonesia yang menjadi bagian dari warisan kebudayaan tidak mungkin bertransformasi menjadi produk-produk elektrik dan sejenisnya.<\/span>\r\n\r\nKretek tetaplah kretek, dengan bahan baku alami tembakau dan cengkeh yang tidak diintervensi dengan zat atau perangkat penghantar lainnya. Karena dengan bentuk, karakter dan cara menikmatinya memang konvensional dan akan terus begitu apapun kondisi dan zamannya.<\/span>\r\n
Bisnis produk rokok tanpa asap (elektrik) juga menghajar kretek dengan mendompleng isu pengendalian tembakau. Kampanye pengendalian tembakau selalu membawa slogan bahaya merokok dan upaya untuk berhenti merokok. <\/span><\/blockquote>\r\nDari isu tersebut, rokok elektrik masuk dengan citra produk alternatif tembakau, bahkan mereka tak segan menilai bahwa rokok elektrik lebih aman ketimbang rokok konvensional, yakni kretek.<\/span>\r\n\r\nLalu jika Indonesia akan dibanjiri dengan produk-produk yang mengatasnamakan produk alternatif tembakau, macam rokok tanpa asap (iQOS dan sejenisnya), maka itulah pertanda bahwa kretek harus tergerus dari cara hidup manusia Indonesia dalam menikmati produk hasil tembakau khas Indonesia yang sudah turun-temurun lamanya dinikmati manusia Indonesia.<\/span>","post_title":"Nasib Kretek di Pusaran Pertarungan Bisnis Global Perusahaan Rokok Multinasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"nasib-kretek-di-pusaran-pertarungan-bisnis-global-perusahaan-rokok-multinasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-02 08:01:43","post_modified_gmt":"2019-02-02 01:01:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5385","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; \n

Kretek, Simbol Perlawanan Roro Mendut<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Siapa yang tidak pernah mendengan cerita tentang Roro Mendut?, di telinga masyarakat Indonesia, kisah Roro Mendut tidak asing lagi.  Perempuan yang mempunyai paras wajah cantik, dan digandrungi kaum adam terutama kalangan putra kerajaan. Informasi kecantikan Roro Mendut tersebar seantero Nusantara, tidak satupun pria meragukan kecantikannya.  Bahkan kisah dan cerita kecantikan Roro Mendut tercatat dalam buku Babad Tanah Jawi. <\/p>\n\n\n\n

Diperkirakan pada tahun 1627, pada saat panglima perang Sultan Agung Mataram bernama Tumenggung Wiraguna berhasil menumpas pemberontakan di kota Pati, sebagai imbalanan atas keberhasilannya, mendapat hadiah wanita pujaan pria bernama Rara Mendut dari Kasultanan Agung Mataram.  Roro Mendut menolak dipinang Tumenggung Wiraguna, dan secara terang-terangan memilih pria lain dambaannya. Akibatnya, Roro Mendut harus membayar pajak setiap harinya kepada kerajaan Mataram. <\/p>\n\n\n\n

Bisa dibayangkan, betapa bingungnya Roro Mendut saat itu. Uang dari mana, ia hasilkan untuk bayar pajak tiap hari demi bisa bersama kekasihnya. Ternyata Roro Mendut tidak hanya cantik tetapi cerdas dan kreatif, bisa membaca peluang bisnis saat itu. Ide cermerlang muncul dengan berdagang\/berjualan rokok lintingan yang direkatkan dengan air ludahnya, dan sebelum menjualnya, rokok lintingan di sulut dahulu dan dihisap bekas bibir merahnya. Kemudian baru dijual ke pembeli yang berdesakan berjejer antri. <\/p>\n\n\n\n

Entah dari mana ide menjual rokok itu muncul. Yang jelas saking larisnya, kewajiban pajak Roro Mendut terpenuhi. Dan mungkin keadaannya akan lebih parah, jika saat itu Roro Mendut tidak berdagang rokok. Tidak akan terpenuhi kewajiban pajaknya. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Dengan rokok, hidup Roro Mendut terselamatkan. Adanya rokok, \u00a0Roro Mendut bebas dari belenggu kekuasaan. Berkat rokok, Roro Mendut terkengan, mengisi rubik informasi sejarah begitu kuatnya budaya merokok di \u00a0Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Pusaka Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek, Teman Perjuangan  Diponegoro<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Semasa berjuang melawan penjajah, yang harus dilakukan Diponegoro berpindah-pindah dari kota satu ke kota lain. Strategi perlawanan Diponegoro, kemudian sebagai basis strategi perang gerilya. Strategi yang menjadi idola dan kebanggaan tentara Indonesia. Dengan bergerilya, tentara Indonesia mampu mengecoh kekutan lawan yang lebih besar jumlahnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu, tenyata banyak cerita, Diponegoro saat berperang ditemani rokok. Ia dan pasukannya gemar merokok. Bahkan ketika tidak ada rokok, Pangeran Diponegoro rela hanya megunyah daun sirih yang diracik dengan kapur dan pinang. <\/p>\n\n\n\n

Kebiasaan ini, juga dialami oleh pengikut \/pasukan perang Pangeran Diponegoro. Bagi mereka, rokok teman sejati, menemani disetiap perjalanan mereka. Rokok menghilangkan depresi mereka, sebagai hiburan saat jauh dari keluarga demi berjuang melawan penjajah. Rokok menumbuhkan percaya diri mereka, lebih berani melawan penjajah walaupun hanya dengan serba keterbatasan, pasukan jumlah terbatas, alat perang terbatas dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Baca juga: Pangeran Diponegoro, Rokok Klobot dan Perlawanan Simbolis<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Jati Diri Bangsa<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Salah satu \u201cpendiri bangsa\u201d bernama KH. Agus Salim menghisap kretek dengan asapnya di kebal-kebulkan keudara, disaat ada perjamuan di Istana Buckingham ketika penobatan Elizabeth II sebagai Ratu kerajaan Inggris. Aroma khas keluar dari asap rokok kretek, tercium orang yang berada di ruang perjamuan. Sehingga memancing salah satu orang yang datang dalam perjamuan, dengan berkata; \u201ctuan sedang menghisap apa itu?\u201d.  Sentak KH. Agus Salim menjawab, \u201c inilah yang membuat nenek moyang anda sekian abad lalu datang dan kemudian menjajah negeri kami\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Jawaban KH. Agus Salim, faktanya memang benar. Rokok kretek tidak lain ada tambahan cengkeh (suzygium aromaticum<\/em>). \u00a0Tanaman legendaris menjadi rebutan dan sumber keuntungan kolonialisme Eropa atas Asia termasuk Indonesia. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Cengkeh adalah salah satu tanaman yang diperebutkan bangsa-bangsa dunia, sampai melegalkan penjajahan.  Dalam simpulan perjalanan ekspedisi cengkeh tahun 2013, Kepala Suku begitu julukan bagi Putut Ea, mengatakan \u201c jika saja tak pernah ada cengkeh dan pala di Maluku, mungkin sejarah kepulauan Nusantara ini akan berbeda sama sekali\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Simpulan Putut EA, sebagai salah satu pembenar perkataan \u00a0KH. Agus Salim. Mungkin, jika tanaman cengkeh tidak ada, fakta sejarah akan berbeda, tidak ada penjajahan di bumi Nusantara ini. <\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Mengisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek untuk Berteman dan Menjalin Persaudaraan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Teringat apa yang pernah dilakukan Menteri Sosial dan Lingkungan Hidup, saat melakukan pendekatan pada suku anak dalam di Jambi. Tidak lain ia adalah Khofifah menteri perempuan yang energik. Saat itu Khofifah bertanggungjawab dalam mengatasi masalah pendidikan dan kesejahteraan masyarakat suku anak dalam di Jambi.  <\/p>\n\n\n\n

Kebijakannya membuat fenomenal, selain bahan makanan, dan bantuan lain, khofifah juga membawa rokok.  Yang kemudian ada yang mengggugat dari anti rokok, tetapi sebagai Menteri, Khofifah tentunya sudah mengkaji secara mendalam. Dengan kecerdasannya , Khofifah menjawab dengan tegas dan lugas, \u201cjangan sok tahu kehidupan mereka, kenali apa yang menjadi ritme kehidupan mereka. Sangat bijaksana kalau kita semua pergi kesana, sehingga tahu adat istiadatnya juga. Tolong kalau ingin mengerti tentang kultur jangan hanya dari kacamata Jakarta. Saya pun ingin mengajak anda kesana, turun kesana, sapalah mereka\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Khofifah memberikan pelajaran bagi anti rokok. Tidak boleh sok tahu, apalagi selama ini antirokok hanya berasumsi, tanpa melihat fakta dilapangan. Khofifah juga menganjurkan agar lebih mengenal adat-istiadat, budaya dan tradisi masyarakat, tidak boleh melakukan hegemoni kultural, sebab keberagaman adat-istiadat dan budaya merupakan kekayaan negeri. <\/p>\n\n\n\n

Pelajaran Khofifah sangat mendalam dan bercirikhas Nusantara. Sebgaai Menteri \u00a0Sosial tentunya lebih berpengalaman apa yang dibutuhkan bangsa ini agar tetap jaya, bersatu dan utuh. Kenali perbedaan, hormati perbedaan, junjung tinggi budaya yang berbeda. \u00a0Apa yang telah dilakukan Khofifah dengan membawa rokok ke suku anak dalam adalah cermin penghormatan tradisi dan budaya masyarakat. Sebagai seorang Mentri, tentunya punya kuasa, artinya bisa seorang khofifah memberikan bantuan sesuai keinginannya sendiri, namun hal itu tidak dilakukan. Ia lebih mengedepankan penghormatan budaya masyarakat setempat, dengan membawa rokok untuk pendekatan dan pertemanan. Karena Khofifah tahu betul, bahwa merokok adalah budaya mereka, yang diwaris dari neneng moyang mereka. <\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Memilih Jalan Hidup Menikmati Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Simbol Pergerakan Nasional     <\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Abdul Rifa\u2019I dalam media bintang timur terbit pada 03 Oktober 1927, mengatakan, \u201ckopinya bukan kopi saringan, tetapi kopi tubruk sebab kopi ini katanya nationaal, gulanya gula jawa, susu tidak dipakai karena tidak nationaal. Rokoknya kelobot, selamatan natioanaal ini terus berlangsung ed sampai pagi hari\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Semangat nasionalisme harus tertanam, mengedepankan produk lokal adalah salah satu semangat nasionalime. Salah satu keberadaan rokok klobot menjadi ciri produk asli indonesia dan harus dilestarikan. Klobot sendiri adalah ramuan tembakau dan cengkeh di gulung memakai daun jagung, embrio perkembangan menjadi rokok sigaret kretek tangan dan sigaret kretek mesin.  
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pusaran Budaya Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pusaran-budaya-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-04 08:40:41","post_modified_gmt":"2019-02-04 01:40:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5406","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5403,"post_author":"919","post_date":"2019-02-03 09:05:50","post_date_gmt":"2019-02-03 02:05:50","post_content":"\n

Seringkali saya menyaksikan berbagai film baik itu Eropa atau Asia yang menggambarkan tentang masa depan. Pemandangan soal masa depan tersebut dihadirkan dengan gambaran kecanggihan teknologi seperti robot yang akan membantu kehidupan manusia, gedung-gedung yang tingginya sudah amat tak bisa ditandingi,  hingga mobil-mobil yang bisa terbang. <\/p>\n\n\n\n

Pernah dalam masa kecil saya menyaksikan sebuah film animasi buatan jepang yang mempertanyakan tentang makanan di masa depan. Dengan santai salah satu tokoh yang berasal dari masa depan itu menjawab bahwa suatu saat nanti manusia akan mengonsumsi makanan berupa pasta gigi namun dengan rasa yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa, aneh!<\/p>\n\n\n\n

Seiring waktu berjalan saya kian tumbuh dewasa dan punya kesadaran untuk memilih menjadi seorang perokok<\/a>. Saya juga melihat ada sebuah inovasi dan gambaran tentang masa depan yang hadir dalam kehidupan sekarang. Banyak memang, namun yang menyita perhatian saya adalah rokok elektrik atau yang populer disebut Vape. Konon katanya ia adalah produk inovasi untuk menjembatani kebutuhan menghisap asap dan kecanggihan masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Di awal kehadirannya Vape memang mengundang decak kekaguman saya. Bagaimana bisa sebuah mesin kecil mengeluarkan asap yang katanya lebih menyehatkan daripada rokok.<\/strong> Meski pada akhirnya teori tersebut juga bisa dibantah oleh beberapa ilmuan dunia. Tapi ada satu yang saya amati selain soal kesehatan, rokok elektrik rupanya menghadirkan kultur dan budaya baru dalam kehidupan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: LAGI-LAGI IKLAN ROKOK, KAPAN KPAI TIDAK TEBANG PILIH? <\/a><\/h4>\n\n\n\n

Kehadiran teknologi memang kerap sedikit atau benyak mengubah gaya atau kultur suatu masyarakat. Begitu pula yang saya perhatikan dengan rokok elektrik. Satu hal yang mudah diamati adalah menjamurnya toko-toko kecil yang menjual vape serta liquid di berbagai tempat. Sebagai sebuah warna baru dalam masyarakat, penggunanya ramai-ramai mengunjungi tempat tersebut berinteraksi dengan penikmat lainnya dan membangun sebuah rumah komunitas yang fleksibel.<\/p>\n\n\n\n

Meski belum bisa dikatakan memiliki jumlah penikmat yang setara dengan para perokok, pengguna Vape mulai menunjukkan eksistensinya. Selain toko yang tersebar, ragam acara juga mereka buat di beberapa daerah. Dalam lingkungan saya, beberapa teman yang dulunya merupakan perokok aktif tertarik mengikuti event tersebut dan beralih mengisap rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Nun jauh di sana, di Amerika Serikat tepatnya, budaya Vape juga sudah mulai berkembang lama ketimbang di Tanah Air. Penikmatnya terbagi menjadi dua, ada yang dulunya bekas perokok dan ada yang memang menikmatinya sebagai gaya hidup. Wajar saja mengingat facebook tak memperbolehkan iklan tembakau di platform mereka, sebaliknya iklan tentang vape justru bertebaran. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi budaya baru yang berkembang di berbagai belahan dunia bahkan di Indonesia, Vape konon menjadi alternatif yang lebih bermanfaat daripada rokok. Dalih yang diusung selalu sama kepada para perokok tradisonal yaitu soal kesehatan dan lebih irit. Soal kesehatan tentu ada beberapa pendapat para ilmuan yang membantahnya, namun soal irit, saya rasa tidak. Memang satu liquid bisa digunakan untuk beberapa Minggu, akan tetapi yang saya lihat di lapangan justru sebaliknya. <\/p>\n\n\n\n

Beberapa penikmat rokok elektrik kerap berbelanja liquid yang mereka idamkan. Terkadang, hal tersebut yang membuat mereka boros karena terus mengeksplor rasa mana yang mereka idam-idamkan. Tak jarang juga liquid dengan harga mahal hingga ratus ribuan akan mereka beli. Sebaliknya, para perokok konvensional justru kerap bertahan dengan satu rasa atau merek saja.<\/p>\n\n\n\n

Sedikit berbeda dengan penikmat rokok konvensional atau kretek. Mengingat rokok kretek sudah menjadi kebudayan lokal yang terus dipertahankan selama bertahun-tahun, kehadirannya sudah mewarnai khasanah keindonesiaan. Perokok kretek juga sudah punya soliditas luar biasa yang terbentuk sejak lama dan terus terbangun mengiringi peradaban di Indonesia atau dunia.<\/p>\n\n\n\n

Kini, perokok elektrik mulai merasakan kegelisahan. Beberapa negara mulai menerapkan peraturan ketat terhadap Vape, sedangkan di Indonesia biaya cukai pun kini mulai diberlakukan terhadap perdagangan rokok elektrik. Keberadaannya di mata negara pun mulai dianggap sama seperti rokok, meski pada awalnya rokok elektrik hadir dengan slogan-slogan produk alternatif yang lebih menyehatkan (katanya).<\/p>\n\n\n\n


Tapi jika kemudian di masa depan memang rokok elektrik yang kemudian menjadi sesuatu yang populer dan dinikmati banyak orang. Rasanya saya tetap ingin hidup di jaman ini, dengan sebatang kretek di tangan dan menikmati segala khasanah kebudayaan yang patut terus dipertahankan. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"masa-depan-rokok-elektrik-dan-semangat-alternatif-yang-sia-sia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-03 09:05:56","post_modified_gmt":"2019-02-03 02:05:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5403","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5385,"post_author":"883","post_date":"2019-02-02 08:01:01","post_date_gmt":"2019-02-02 01:01:01","post_content":"Pada tahun 2014, perusahaan rokok multinasional Philip Morris Internasional Inc. merilis sebuah produk <\/span>perangkat\u00a0<\/span>
rokok<\/span><\/a>\u00a0tanpa asap, yang dipanaskan bukan dibakar atau istilahnya\u00a0<\/span>heat not burn<\/i><\/strong>\u00a0(HNB) iQOS<\/strong>. <\/span>\r\n\r\nPerangkat rokok tanpa asap dengan nama iQOS<\/a> ini berbentuk seperti bagian luar pulpen, dengan lubang di tengah untuk rokok. Produk yang berada di bawah brand Marlboro ini dapat memanaskan rokok sampai 350 derajat celcius lalu mengeluarkan uap nikotin beraroma tembakau<\/em><\/a>.<\/span>\r\n

Produk iQOS sebenarnya bukanlah produk rokok tanpa asap yang pertama muncul. Sebelumnya di tahun 1990-an, Reynolds Tobacco Co pernah merilis produk serupa bernama Eclipes yang juga dapat menguapkan nikotin setelah dinyalakan dengan korek api.<\/span><\/blockquote>\r\nSelain itu, Eclips juga dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. Namun, pada saat itu Eclips tidak diminati oleh pasar, utamanya para perokok konvensional. Meskipun Eclips dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. <\/span>\r\n\r\nBisnis semacam rokok tanpa asap seperti Eclips dan iQOS memang sudah menjadi bagian dari rencana panjang bisnis perusahaan-perusahaan rokok multinasional. Jadi tidak usah heran jika ke depannya akan kita akan banyak menemukan produk rokok tanpa asap ini.<\/span>\r\n\r\nWatak dari perusahaan multinasional memang seperti itu, mereka sangat jeli melihat peluang pasar ke depannya. Ketika market place perusahaan rokok multinasional saat ini terus dirongrong oleh kelompok antirokok, mereka tak kehabisan akal. Maka kemudian mereka menginovasi produk rokok konvensional menjadi rokok yang tidak berasap. Begitupun dengan mengikutsertakan jargon-jargon kesehatan dalam narasi promosi mereka.<\/span>\r\n\r\nSesungguhnya memang seperti itulah watak bisnis perusahaan-perusahaan multinasional, melakukan segala cara agar bisnis mereka tetap bertahan, meskipun harus merangkul musuh sekalipun. <\/span>\r\n\r\nYa kadang pura-pura berantem sama antirokok, tapi dibalik itu sebenarnya baik-baik saja, dan tentunya ada kompromi untuk terus melanggengkan bisnis mereka.<\/span>\r\n

Lalu siapa yang dirugikan dari permainan bisnis macam produk rokok tanpa asap perusahaan rokok multinasional ini?<\/span><\/h3>\r\nTentunya yang sangat dirugikan adalah produk hasil tembakau yang memiliki kekhasan seperti kretek di Indonesia. Kretek sebagai produk khas asli Indonesia yang menjadi bagian dari warisan kebudayaan tidak mungkin bertransformasi menjadi produk-produk elektrik dan sejenisnya.<\/span>\r\n\r\nKretek tetaplah kretek, dengan bahan baku alami tembakau dan cengkeh yang tidak diintervensi dengan zat atau perangkat penghantar lainnya. Karena dengan bentuk, karakter dan cara menikmatinya memang konvensional dan akan terus begitu apapun kondisi dan zamannya.<\/span>\r\n
Bisnis produk rokok tanpa asap (elektrik) juga menghajar kretek dengan mendompleng isu pengendalian tembakau. Kampanye pengendalian tembakau selalu membawa slogan bahaya merokok dan upaya untuk berhenti merokok. <\/span><\/blockquote>\r\nDari isu tersebut, rokok elektrik masuk dengan citra produk alternatif tembakau, bahkan mereka tak segan menilai bahwa rokok elektrik lebih aman ketimbang rokok konvensional, yakni kretek.<\/span>\r\n\r\nLalu jika Indonesia akan dibanjiri dengan produk-produk yang mengatasnamakan produk alternatif tembakau, macam rokok tanpa asap (iQOS dan sejenisnya), maka itulah pertanda bahwa kretek harus tergerus dari cara hidup manusia Indonesia dalam menikmati produk hasil tembakau khas Indonesia yang sudah turun-temurun lamanya dinikmati manusia Indonesia.<\/span>","post_title":"Nasib Kretek di Pusaran Pertarungan Bisnis Global Perusahaan Rokok Multinasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"nasib-kretek-di-pusaran-pertarungan-bisnis-global-perusahaan-rokok-multinasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-02 08:01:43","post_modified_gmt":"2019-02-02 01:01:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5385","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; \n

Merokok itu sudah menjadi bagian dari budaya dan tradisi masyarakat, jauh sebelum Indonesia merdeka. Banyak cerita atau kisah tentang kretek <\/a><\/del>di tengah-tengah masyarakat bangsa ini, mulai sebagai alat untuk meraup keuntungan, alat komunikasi, sebagai teman sampai menjadi simbol pergerakan. <\/p>\n\n\n\n

Kretek, Simbol Perlawanan Roro Mendut<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Siapa yang tidak pernah mendengan cerita tentang Roro Mendut?, di telinga masyarakat Indonesia, kisah Roro Mendut tidak asing lagi.  Perempuan yang mempunyai paras wajah cantik, dan digandrungi kaum adam terutama kalangan putra kerajaan. Informasi kecantikan Roro Mendut tersebar seantero Nusantara, tidak satupun pria meragukan kecantikannya.  Bahkan kisah dan cerita kecantikan Roro Mendut tercatat dalam buku Babad Tanah Jawi. <\/p>\n\n\n\n

Diperkirakan pada tahun 1627, pada saat panglima perang Sultan Agung Mataram bernama Tumenggung Wiraguna berhasil menumpas pemberontakan di kota Pati, sebagai imbalanan atas keberhasilannya, mendapat hadiah wanita pujaan pria bernama Rara Mendut dari Kasultanan Agung Mataram.  Roro Mendut menolak dipinang Tumenggung Wiraguna, dan secara terang-terangan memilih pria lain dambaannya. Akibatnya, Roro Mendut harus membayar pajak setiap harinya kepada kerajaan Mataram. <\/p>\n\n\n\n

Bisa dibayangkan, betapa bingungnya Roro Mendut saat itu. Uang dari mana, ia hasilkan untuk bayar pajak tiap hari demi bisa bersama kekasihnya. Ternyata Roro Mendut tidak hanya cantik tetapi cerdas dan kreatif, bisa membaca peluang bisnis saat itu. Ide cermerlang muncul dengan berdagang\/berjualan rokok lintingan yang direkatkan dengan air ludahnya, dan sebelum menjualnya, rokok lintingan di sulut dahulu dan dihisap bekas bibir merahnya. Kemudian baru dijual ke pembeli yang berdesakan berjejer antri. <\/p>\n\n\n\n

Entah dari mana ide menjual rokok itu muncul. Yang jelas saking larisnya, kewajiban pajak Roro Mendut terpenuhi. Dan mungkin keadaannya akan lebih parah, jika saat itu Roro Mendut tidak berdagang rokok. Tidak akan terpenuhi kewajiban pajaknya. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Dengan rokok, hidup Roro Mendut terselamatkan. Adanya rokok, \u00a0Roro Mendut bebas dari belenggu kekuasaan. Berkat rokok, Roro Mendut terkengan, mengisi rubik informasi sejarah begitu kuatnya budaya merokok di \u00a0Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Pusaka Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek, Teman Perjuangan  Diponegoro<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Semasa berjuang melawan penjajah, yang harus dilakukan Diponegoro berpindah-pindah dari kota satu ke kota lain. Strategi perlawanan Diponegoro, kemudian sebagai basis strategi perang gerilya. Strategi yang menjadi idola dan kebanggaan tentara Indonesia. Dengan bergerilya, tentara Indonesia mampu mengecoh kekutan lawan yang lebih besar jumlahnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu, tenyata banyak cerita, Diponegoro saat berperang ditemani rokok. Ia dan pasukannya gemar merokok. Bahkan ketika tidak ada rokok, Pangeran Diponegoro rela hanya megunyah daun sirih yang diracik dengan kapur dan pinang. <\/p>\n\n\n\n

Kebiasaan ini, juga dialami oleh pengikut \/pasukan perang Pangeran Diponegoro. Bagi mereka, rokok teman sejati, menemani disetiap perjalanan mereka. Rokok menghilangkan depresi mereka, sebagai hiburan saat jauh dari keluarga demi berjuang melawan penjajah. Rokok menumbuhkan percaya diri mereka, lebih berani melawan penjajah walaupun hanya dengan serba keterbatasan, pasukan jumlah terbatas, alat perang terbatas dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Baca juga: Pangeran Diponegoro, Rokok Klobot dan Perlawanan Simbolis<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Jati Diri Bangsa<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Salah satu \u201cpendiri bangsa\u201d bernama KH. Agus Salim menghisap kretek dengan asapnya di kebal-kebulkan keudara, disaat ada perjamuan di Istana Buckingham ketika penobatan Elizabeth II sebagai Ratu kerajaan Inggris. Aroma khas keluar dari asap rokok kretek, tercium orang yang berada di ruang perjamuan. Sehingga memancing salah satu orang yang datang dalam perjamuan, dengan berkata; \u201ctuan sedang menghisap apa itu?\u201d.  Sentak KH. Agus Salim menjawab, \u201c inilah yang membuat nenek moyang anda sekian abad lalu datang dan kemudian menjajah negeri kami\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Jawaban KH. Agus Salim, faktanya memang benar. Rokok kretek tidak lain ada tambahan cengkeh (suzygium aromaticum<\/em>). \u00a0Tanaman legendaris menjadi rebutan dan sumber keuntungan kolonialisme Eropa atas Asia termasuk Indonesia. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Cengkeh adalah salah satu tanaman yang diperebutkan bangsa-bangsa dunia, sampai melegalkan penjajahan.  Dalam simpulan perjalanan ekspedisi cengkeh tahun 2013, Kepala Suku begitu julukan bagi Putut Ea, mengatakan \u201c jika saja tak pernah ada cengkeh dan pala di Maluku, mungkin sejarah kepulauan Nusantara ini akan berbeda sama sekali\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Simpulan Putut EA, sebagai salah satu pembenar perkataan \u00a0KH. Agus Salim. Mungkin, jika tanaman cengkeh tidak ada, fakta sejarah akan berbeda, tidak ada penjajahan di bumi Nusantara ini. <\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Mengisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek untuk Berteman dan Menjalin Persaudaraan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Teringat apa yang pernah dilakukan Menteri Sosial dan Lingkungan Hidup, saat melakukan pendekatan pada suku anak dalam di Jambi. Tidak lain ia adalah Khofifah menteri perempuan yang energik. Saat itu Khofifah bertanggungjawab dalam mengatasi masalah pendidikan dan kesejahteraan masyarakat suku anak dalam di Jambi.  <\/p>\n\n\n\n

Kebijakannya membuat fenomenal, selain bahan makanan, dan bantuan lain, khofifah juga membawa rokok.  Yang kemudian ada yang mengggugat dari anti rokok, tetapi sebagai Menteri, Khofifah tentunya sudah mengkaji secara mendalam. Dengan kecerdasannya , Khofifah menjawab dengan tegas dan lugas, \u201cjangan sok tahu kehidupan mereka, kenali apa yang menjadi ritme kehidupan mereka. Sangat bijaksana kalau kita semua pergi kesana, sehingga tahu adat istiadatnya juga. Tolong kalau ingin mengerti tentang kultur jangan hanya dari kacamata Jakarta. Saya pun ingin mengajak anda kesana, turun kesana, sapalah mereka\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Khofifah memberikan pelajaran bagi anti rokok. Tidak boleh sok tahu, apalagi selama ini antirokok hanya berasumsi, tanpa melihat fakta dilapangan. Khofifah juga menganjurkan agar lebih mengenal adat-istiadat, budaya dan tradisi masyarakat, tidak boleh melakukan hegemoni kultural, sebab keberagaman adat-istiadat dan budaya merupakan kekayaan negeri. <\/p>\n\n\n\n

Pelajaran Khofifah sangat mendalam dan bercirikhas Nusantara. Sebgaai Menteri \u00a0Sosial tentunya lebih berpengalaman apa yang dibutuhkan bangsa ini agar tetap jaya, bersatu dan utuh. Kenali perbedaan, hormati perbedaan, junjung tinggi budaya yang berbeda. \u00a0Apa yang telah dilakukan Khofifah dengan membawa rokok ke suku anak dalam adalah cermin penghormatan tradisi dan budaya masyarakat. Sebagai seorang Mentri, tentunya punya kuasa, artinya bisa seorang khofifah memberikan bantuan sesuai keinginannya sendiri, namun hal itu tidak dilakukan. Ia lebih mengedepankan penghormatan budaya masyarakat setempat, dengan membawa rokok untuk pendekatan dan pertemanan. Karena Khofifah tahu betul, bahwa merokok adalah budaya mereka, yang diwaris dari neneng moyang mereka. <\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Memilih Jalan Hidup Menikmati Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Simbol Pergerakan Nasional     <\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Abdul Rifa\u2019I dalam media bintang timur terbit pada 03 Oktober 1927, mengatakan, \u201ckopinya bukan kopi saringan, tetapi kopi tubruk sebab kopi ini katanya nationaal, gulanya gula jawa, susu tidak dipakai karena tidak nationaal. Rokoknya kelobot, selamatan natioanaal ini terus berlangsung ed sampai pagi hari\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Semangat nasionalisme harus tertanam, mengedepankan produk lokal adalah salah satu semangat nasionalime. Salah satu keberadaan rokok klobot menjadi ciri produk asli indonesia dan harus dilestarikan. Klobot sendiri adalah ramuan tembakau dan cengkeh di gulung memakai daun jagung, embrio perkembangan menjadi rokok sigaret kretek tangan dan sigaret kretek mesin.  
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pusaran Budaya Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pusaran-budaya-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-04 08:40:41","post_modified_gmt":"2019-02-04 01:40:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5406","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5403,"post_author":"919","post_date":"2019-02-03 09:05:50","post_date_gmt":"2019-02-03 02:05:50","post_content":"\n

Seringkali saya menyaksikan berbagai film baik itu Eropa atau Asia yang menggambarkan tentang masa depan. Pemandangan soal masa depan tersebut dihadirkan dengan gambaran kecanggihan teknologi seperti robot yang akan membantu kehidupan manusia, gedung-gedung yang tingginya sudah amat tak bisa ditandingi,  hingga mobil-mobil yang bisa terbang. <\/p>\n\n\n\n

Pernah dalam masa kecil saya menyaksikan sebuah film animasi buatan jepang yang mempertanyakan tentang makanan di masa depan. Dengan santai salah satu tokoh yang berasal dari masa depan itu menjawab bahwa suatu saat nanti manusia akan mengonsumsi makanan berupa pasta gigi namun dengan rasa yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa, aneh!<\/p>\n\n\n\n

Seiring waktu berjalan saya kian tumbuh dewasa dan punya kesadaran untuk memilih menjadi seorang perokok<\/a>. Saya juga melihat ada sebuah inovasi dan gambaran tentang masa depan yang hadir dalam kehidupan sekarang. Banyak memang, namun yang menyita perhatian saya adalah rokok elektrik atau yang populer disebut Vape. Konon katanya ia adalah produk inovasi untuk menjembatani kebutuhan menghisap asap dan kecanggihan masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Di awal kehadirannya Vape memang mengundang decak kekaguman saya. Bagaimana bisa sebuah mesin kecil mengeluarkan asap yang katanya lebih menyehatkan daripada rokok.<\/strong> Meski pada akhirnya teori tersebut juga bisa dibantah oleh beberapa ilmuan dunia. Tapi ada satu yang saya amati selain soal kesehatan, rokok elektrik rupanya menghadirkan kultur dan budaya baru dalam kehidupan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: LAGI-LAGI IKLAN ROKOK, KAPAN KPAI TIDAK TEBANG PILIH? <\/a><\/h4>\n\n\n\n

Kehadiran teknologi memang kerap sedikit atau benyak mengubah gaya atau kultur suatu masyarakat. Begitu pula yang saya perhatikan dengan rokok elektrik. Satu hal yang mudah diamati adalah menjamurnya toko-toko kecil yang menjual vape serta liquid di berbagai tempat. Sebagai sebuah warna baru dalam masyarakat, penggunanya ramai-ramai mengunjungi tempat tersebut berinteraksi dengan penikmat lainnya dan membangun sebuah rumah komunitas yang fleksibel.<\/p>\n\n\n\n

Meski belum bisa dikatakan memiliki jumlah penikmat yang setara dengan para perokok, pengguna Vape mulai menunjukkan eksistensinya. Selain toko yang tersebar, ragam acara juga mereka buat di beberapa daerah. Dalam lingkungan saya, beberapa teman yang dulunya merupakan perokok aktif tertarik mengikuti event tersebut dan beralih mengisap rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Nun jauh di sana, di Amerika Serikat tepatnya, budaya Vape juga sudah mulai berkembang lama ketimbang di Tanah Air. Penikmatnya terbagi menjadi dua, ada yang dulunya bekas perokok dan ada yang memang menikmatinya sebagai gaya hidup. Wajar saja mengingat facebook tak memperbolehkan iklan tembakau di platform mereka, sebaliknya iklan tentang vape justru bertebaran. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi budaya baru yang berkembang di berbagai belahan dunia bahkan di Indonesia, Vape konon menjadi alternatif yang lebih bermanfaat daripada rokok. Dalih yang diusung selalu sama kepada para perokok tradisonal yaitu soal kesehatan dan lebih irit. Soal kesehatan tentu ada beberapa pendapat para ilmuan yang membantahnya, namun soal irit, saya rasa tidak. Memang satu liquid bisa digunakan untuk beberapa Minggu, akan tetapi yang saya lihat di lapangan justru sebaliknya. <\/p>\n\n\n\n

Beberapa penikmat rokok elektrik kerap berbelanja liquid yang mereka idamkan. Terkadang, hal tersebut yang membuat mereka boros karena terus mengeksplor rasa mana yang mereka idam-idamkan. Tak jarang juga liquid dengan harga mahal hingga ratus ribuan akan mereka beli. Sebaliknya, para perokok konvensional justru kerap bertahan dengan satu rasa atau merek saja.<\/p>\n\n\n\n

Sedikit berbeda dengan penikmat rokok konvensional atau kretek. Mengingat rokok kretek sudah menjadi kebudayan lokal yang terus dipertahankan selama bertahun-tahun, kehadirannya sudah mewarnai khasanah keindonesiaan. Perokok kretek juga sudah punya soliditas luar biasa yang terbentuk sejak lama dan terus terbangun mengiringi peradaban di Indonesia atau dunia.<\/p>\n\n\n\n

Kini, perokok elektrik mulai merasakan kegelisahan. Beberapa negara mulai menerapkan peraturan ketat terhadap Vape, sedangkan di Indonesia biaya cukai pun kini mulai diberlakukan terhadap perdagangan rokok elektrik. Keberadaannya di mata negara pun mulai dianggap sama seperti rokok, meski pada awalnya rokok elektrik hadir dengan slogan-slogan produk alternatif yang lebih menyehatkan (katanya).<\/p>\n\n\n\n


Tapi jika kemudian di masa depan memang rokok elektrik yang kemudian menjadi sesuatu yang populer dan dinikmati banyak orang. Rasanya saya tetap ingin hidup di jaman ini, dengan sebatang kretek di tangan dan menikmati segala khasanah kebudayaan yang patut terus dipertahankan. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"masa-depan-rokok-elektrik-dan-semangat-alternatif-yang-sia-sia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-03 09:05:56","post_modified_gmt":"2019-02-03 02:05:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5403","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5385,"post_author":"883","post_date":"2019-02-02 08:01:01","post_date_gmt":"2019-02-02 01:01:01","post_content":"Pada tahun 2014, perusahaan rokok multinasional Philip Morris Internasional Inc. merilis sebuah produk <\/span>perangkat\u00a0<\/span>
rokok<\/span><\/a>\u00a0tanpa asap, yang dipanaskan bukan dibakar atau istilahnya\u00a0<\/span>heat not burn<\/i><\/strong>\u00a0(HNB) iQOS<\/strong>. <\/span>\r\n\r\nPerangkat rokok tanpa asap dengan nama iQOS<\/a> ini berbentuk seperti bagian luar pulpen, dengan lubang di tengah untuk rokok. Produk yang berada di bawah brand Marlboro ini dapat memanaskan rokok sampai 350 derajat celcius lalu mengeluarkan uap nikotin beraroma tembakau<\/em><\/a>.<\/span>\r\n

Produk iQOS sebenarnya bukanlah produk rokok tanpa asap yang pertama muncul. Sebelumnya di tahun 1990-an, Reynolds Tobacco Co pernah merilis produk serupa bernama Eclipes yang juga dapat menguapkan nikotin setelah dinyalakan dengan korek api.<\/span><\/blockquote>\r\nSelain itu, Eclips juga dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. Namun, pada saat itu Eclips tidak diminati oleh pasar, utamanya para perokok konvensional. Meskipun Eclips dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. <\/span>\r\n\r\nBisnis semacam rokok tanpa asap seperti Eclips dan iQOS memang sudah menjadi bagian dari rencana panjang bisnis perusahaan-perusahaan rokok multinasional. Jadi tidak usah heran jika ke depannya akan kita akan banyak menemukan produk rokok tanpa asap ini.<\/span>\r\n\r\nWatak dari perusahaan multinasional memang seperti itu, mereka sangat jeli melihat peluang pasar ke depannya. Ketika market place perusahaan rokok multinasional saat ini terus dirongrong oleh kelompok antirokok, mereka tak kehabisan akal. Maka kemudian mereka menginovasi produk rokok konvensional menjadi rokok yang tidak berasap. Begitupun dengan mengikutsertakan jargon-jargon kesehatan dalam narasi promosi mereka.<\/span>\r\n\r\nSesungguhnya memang seperti itulah watak bisnis perusahaan-perusahaan multinasional, melakukan segala cara agar bisnis mereka tetap bertahan, meskipun harus merangkul musuh sekalipun. <\/span>\r\n\r\nYa kadang pura-pura berantem sama antirokok, tapi dibalik itu sebenarnya baik-baik saja, dan tentunya ada kompromi untuk terus melanggengkan bisnis mereka.<\/span>\r\n

Lalu siapa yang dirugikan dari permainan bisnis macam produk rokok tanpa asap perusahaan rokok multinasional ini?<\/span><\/h3>\r\nTentunya yang sangat dirugikan adalah produk hasil tembakau yang memiliki kekhasan seperti kretek di Indonesia. Kretek sebagai produk khas asli Indonesia yang menjadi bagian dari warisan kebudayaan tidak mungkin bertransformasi menjadi produk-produk elektrik dan sejenisnya.<\/span>\r\n\r\nKretek tetaplah kretek, dengan bahan baku alami tembakau dan cengkeh yang tidak diintervensi dengan zat atau perangkat penghantar lainnya. Karena dengan bentuk, karakter dan cara menikmatinya memang konvensional dan akan terus begitu apapun kondisi dan zamannya.<\/span>\r\n
Bisnis produk rokok tanpa asap (elektrik) juga menghajar kretek dengan mendompleng isu pengendalian tembakau. Kampanye pengendalian tembakau selalu membawa slogan bahaya merokok dan upaya untuk berhenti merokok. <\/span><\/blockquote>\r\nDari isu tersebut, rokok elektrik masuk dengan citra produk alternatif tembakau, bahkan mereka tak segan menilai bahwa rokok elektrik lebih aman ketimbang rokok konvensional, yakni kretek.<\/span>\r\n\r\nLalu jika Indonesia akan dibanjiri dengan produk-produk yang mengatasnamakan produk alternatif tembakau, macam rokok tanpa asap (iQOS dan sejenisnya), maka itulah pertanda bahwa kretek harus tergerus dari cara hidup manusia Indonesia dalam menikmati produk hasil tembakau khas Indonesia yang sudah turun-temurun lamanya dinikmati manusia Indonesia.<\/span>","post_title":"Nasib Kretek di Pusaran Pertarungan Bisnis Global Perusahaan Rokok Multinasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"nasib-kretek-di-pusaran-pertarungan-bisnis-global-perusahaan-rokok-multinasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-02 08:01:43","post_modified_gmt":"2019-02-02 01:01:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5385","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; \n

Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
<\/p>\n","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5406,"post_author":"877","post_date":"2019-02-04 08:23:48","post_date_gmt":"2019-02-04 01:23:48","post_content":"\n

Merokok itu sudah menjadi bagian dari budaya dan tradisi masyarakat, jauh sebelum Indonesia merdeka. Banyak cerita atau kisah tentang kretek <\/a><\/del>di tengah-tengah masyarakat bangsa ini, mulai sebagai alat untuk meraup keuntungan, alat komunikasi, sebagai teman sampai menjadi simbol pergerakan. <\/p>\n\n\n\n

Kretek, Simbol Perlawanan Roro Mendut<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Siapa yang tidak pernah mendengan cerita tentang Roro Mendut?, di telinga masyarakat Indonesia, kisah Roro Mendut tidak asing lagi.  Perempuan yang mempunyai paras wajah cantik, dan digandrungi kaum adam terutama kalangan putra kerajaan. Informasi kecantikan Roro Mendut tersebar seantero Nusantara, tidak satupun pria meragukan kecantikannya.  Bahkan kisah dan cerita kecantikan Roro Mendut tercatat dalam buku Babad Tanah Jawi. <\/p>\n\n\n\n

Diperkirakan pada tahun 1627, pada saat panglima perang Sultan Agung Mataram bernama Tumenggung Wiraguna berhasil menumpas pemberontakan di kota Pati, sebagai imbalanan atas keberhasilannya, mendapat hadiah wanita pujaan pria bernama Rara Mendut dari Kasultanan Agung Mataram.  Roro Mendut menolak dipinang Tumenggung Wiraguna, dan secara terang-terangan memilih pria lain dambaannya. Akibatnya, Roro Mendut harus membayar pajak setiap harinya kepada kerajaan Mataram. <\/p>\n\n\n\n

Bisa dibayangkan, betapa bingungnya Roro Mendut saat itu. Uang dari mana, ia hasilkan untuk bayar pajak tiap hari demi bisa bersama kekasihnya. Ternyata Roro Mendut tidak hanya cantik tetapi cerdas dan kreatif, bisa membaca peluang bisnis saat itu. Ide cermerlang muncul dengan berdagang\/berjualan rokok lintingan yang direkatkan dengan air ludahnya, dan sebelum menjualnya, rokok lintingan di sulut dahulu dan dihisap bekas bibir merahnya. Kemudian baru dijual ke pembeli yang berdesakan berjejer antri. <\/p>\n\n\n\n

Entah dari mana ide menjual rokok itu muncul. Yang jelas saking larisnya, kewajiban pajak Roro Mendut terpenuhi. Dan mungkin keadaannya akan lebih parah, jika saat itu Roro Mendut tidak berdagang rokok. Tidak akan terpenuhi kewajiban pajaknya. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Dengan rokok, hidup Roro Mendut terselamatkan. Adanya rokok, \u00a0Roro Mendut bebas dari belenggu kekuasaan. Berkat rokok, Roro Mendut terkengan, mengisi rubik informasi sejarah begitu kuatnya budaya merokok di \u00a0Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Pusaka Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek, Teman Perjuangan  Diponegoro<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Semasa berjuang melawan penjajah, yang harus dilakukan Diponegoro berpindah-pindah dari kota satu ke kota lain. Strategi perlawanan Diponegoro, kemudian sebagai basis strategi perang gerilya. Strategi yang menjadi idola dan kebanggaan tentara Indonesia. Dengan bergerilya, tentara Indonesia mampu mengecoh kekutan lawan yang lebih besar jumlahnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu, tenyata banyak cerita, Diponegoro saat berperang ditemani rokok. Ia dan pasukannya gemar merokok. Bahkan ketika tidak ada rokok, Pangeran Diponegoro rela hanya megunyah daun sirih yang diracik dengan kapur dan pinang. <\/p>\n\n\n\n

Kebiasaan ini, juga dialami oleh pengikut \/pasukan perang Pangeran Diponegoro. Bagi mereka, rokok teman sejati, menemani disetiap perjalanan mereka. Rokok menghilangkan depresi mereka, sebagai hiburan saat jauh dari keluarga demi berjuang melawan penjajah. Rokok menumbuhkan percaya diri mereka, lebih berani melawan penjajah walaupun hanya dengan serba keterbatasan, pasukan jumlah terbatas, alat perang terbatas dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Baca juga: Pangeran Diponegoro, Rokok Klobot dan Perlawanan Simbolis<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Jati Diri Bangsa<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Salah satu \u201cpendiri bangsa\u201d bernama KH. Agus Salim menghisap kretek dengan asapnya di kebal-kebulkan keudara, disaat ada perjamuan di Istana Buckingham ketika penobatan Elizabeth II sebagai Ratu kerajaan Inggris. Aroma khas keluar dari asap rokok kretek, tercium orang yang berada di ruang perjamuan. Sehingga memancing salah satu orang yang datang dalam perjamuan, dengan berkata; \u201ctuan sedang menghisap apa itu?\u201d.  Sentak KH. Agus Salim menjawab, \u201c inilah yang membuat nenek moyang anda sekian abad lalu datang dan kemudian menjajah negeri kami\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Jawaban KH. Agus Salim, faktanya memang benar. Rokok kretek tidak lain ada tambahan cengkeh (suzygium aromaticum<\/em>). \u00a0Tanaman legendaris menjadi rebutan dan sumber keuntungan kolonialisme Eropa atas Asia termasuk Indonesia. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Cengkeh adalah salah satu tanaman yang diperebutkan bangsa-bangsa dunia, sampai melegalkan penjajahan.  Dalam simpulan perjalanan ekspedisi cengkeh tahun 2013, Kepala Suku begitu julukan bagi Putut Ea, mengatakan \u201c jika saja tak pernah ada cengkeh dan pala di Maluku, mungkin sejarah kepulauan Nusantara ini akan berbeda sama sekali\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Simpulan Putut EA, sebagai salah satu pembenar perkataan \u00a0KH. Agus Salim. Mungkin, jika tanaman cengkeh tidak ada, fakta sejarah akan berbeda, tidak ada penjajahan di bumi Nusantara ini. <\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Mengisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek untuk Berteman dan Menjalin Persaudaraan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Teringat apa yang pernah dilakukan Menteri Sosial dan Lingkungan Hidup, saat melakukan pendekatan pada suku anak dalam di Jambi. Tidak lain ia adalah Khofifah menteri perempuan yang energik. Saat itu Khofifah bertanggungjawab dalam mengatasi masalah pendidikan dan kesejahteraan masyarakat suku anak dalam di Jambi.  <\/p>\n\n\n\n

Kebijakannya membuat fenomenal, selain bahan makanan, dan bantuan lain, khofifah juga membawa rokok.  Yang kemudian ada yang mengggugat dari anti rokok, tetapi sebagai Menteri, Khofifah tentunya sudah mengkaji secara mendalam. Dengan kecerdasannya , Khofifah menjawab dengan tegas dan lugas, \u201cjangan sok tahu kehidupan mereka, kenali apa yang menjadi ritme kehidupan mereka. Sangat bijaksana kalau kita semua pergi kesana, sehingga tahu adat istiadatnya juga. Tolong kalau ingin mengerti tentang kultur jangan hanya dari kacamata Jakarta. Saya pun ingin mengajak anda kesana, turun kesana, sapalah mereka\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Khofifah memberikan pelajaran bagi anti rokok. Tidak boleh sok tahu, apalagi selama ini antirokok hanya berasumsi, tanpa melihat fakta dilapangan. Khofifah juga menganjurkan agar lebih mengenal adat-istiadat, budaya dan tradisi masyarakat, tidak boleh melakukan hegemoni kultural, sebab keberagaman adat-istiadat dan budaya merupakan kekayaan negeri. <\/p>\n\n\n\n

Pelajaran Khofifah sangat mendalam dan bercirikhas Nusantara. Sebgaai Menteri \u00a0Sosial tentunya lebih berpengalaman apa yang dibutuhkan bangsa ini agar tetap jaya, bersatu dan utuh. Kenali perbedaan, hormati perbedaan, junjung tinggi budaya yang berbeda. \u00a0Apa yang telah dilakukan Khofifah dengan membawa rokok ke suku anak dalam adalah cermin penghormatan tradisi dan budaya masyarakat. Sebagai seorang Mentri, tentunya punya kuasa, artinya bisa seorang khofifah memberikan bantuan sesuai keinginannya sendiri, namun hal itu tidak dilakukan. Ia lebih mengedepankan penghormatan budaya masyarakat setempat, dengan membawa rokok untuk pendekatan dan pertemanan. Karena Khofifah tahu betul, bahwa merokok adalah budaya mereka, yang diwaris dari neneng moyang mereka. <\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Memilih Jalan Hidup Menikmati Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Simbol Pergerakan Nasional     <\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Abdul Rifa\u2019I dalam media bintang timur terbit pada 03 Oktober 1927, mengatakan, \u201ckopinya bukan kopi saringan, tetapi kopi tubruk sebab kopi ini katanya nationaal, gulanya gula jawa, susu tidak dipakai karena tidak nationaal. Rokoknya kelobot, selamatan natioanaal ini terus berlangsung ed sampai pagi hari\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Semangat nasionalisme harus tertanam, mengedepankan produk lokal adalah salah satu semangat nasionalime. Salah satu keberadaan rokok klobot menjadi ciri produk asli indonesia dan harus dilestarikan. Klobot sendiri adalah ramuan tembakau dan cengkeh di gulung memakai daun jagung, embrio perkembangan menjadi rokok sigaret kretek tangan dan sigaret kretek mesin.  
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pusaran Budaya Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pusaran-budaya-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-04 08:40:41","post_modified_gmt":"2019-02-04 01:40:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5406","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5403,"post_author":"919","post_date":"2019-02-03 09:05:50","post_date_gmt":"2019-02-03 02:05:50","post_content":"\n

Seringkali saya menyaksikan berbagai film baik itu Eropa atau Asia yang menggambarkan tentang masa depan. Pemandangan soal masa depan tersebut dihadirkan dengan gambaran kecanggihan teknologi seperti robot yang akan membantu kehidupan manusia, gedung-gedung yang tingginya sudah amat tak bisa ditandingi,  hingga mobil-mobil yang bisa terbang. <\/p>\n\n\n\n

Pernah dalam masa kecil saya menyaksikan sebuah film animasi buatan jepang yang mempertanyakan tentang makanan di masa depan. Dengan santai salah satu tokoh yang berasal dari masa depan itu menjawab bahwa suatu saat nanti manusia akan mengonsumsi makanan berupa pasta gigi namun dengan rasa yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa, aneh!<\/p>\n\n\n\n

Seiring waktu berjalan saya kian tumbuh dewasa dan punya kesadaran untuk memilih menjadi seorang perokok<\/a>. Saya juga melihat ada sebuah inovasi dan gambaran tentang masa depan yang hadir dalam kehidupan sekarang. Banyak memang, namun yang menyita perhatian saya adalah rokok elektrik atau yang populer disebut Vape. Konon katanya ia adalah produk inovasi untuk menjembatani kebutuhan menghisap asap dan kecanggihan masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Di awal kehadirannya Vape memang mengundang decak kekaguman saya. Bagaimana bisa sebuah mesin kecil mengeluarkan asap yang katanya lebih menyehatkan daripada rokok.<\/strong> Meski pada akhirnya teori tersebut juga bisa dibantah oleh beberapa ilmuan dunia. Tapi ada satu yang saya amati selain soal kesehatan, rokok elektrik rupanya menghadirkan kultur dan budaya baru dalam kehidupan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: LAGI-LAGI IKLAN ROKOK, KAPAN KPAI TIDAK TEBANG PILIH? <\/a><\/h4>\n\n\n\n

Kehadiran teknologi memang kerap sedikit atau benyak mengubah gaya atau kultur suatu masyarakat. Begitu pula yang saya perhatikan dengan rokok elektrik. Satu hal yang mudah diamati adalah menjamurnya toko-toko kecil yang menjual vape serta liquid di berbagai tempat. Sebagai sebuah warna baru dalam masyarakat, penggunanya ramai-ramai mengunjungi tempat tersebut berinteraksi dengan penikmat lainnya dan membangun sebuah rumah komunitas yang fleksibel.<\/p>\n\n\n\n

Meski belum bisa dikatakan memiliki jumlah penikmat yang setara dengan para perokok, pengguna Vape mulai menunjukkan eksistensinya. Selain toko yang tersebar, ragam acara juga mereka buat di beberapa daerah. Dalam lingkungan saya, beberapa teman yang dulunya merupakan perokok aktif tertarik mengikuti event tersebut dan beralih mengisap rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Nun jauh di sana, di Amerika Serikat tepatnya, budaya Vape juga sudah mulai berkembang lama ketimbang di Tanah Air. Penikmatnya terbagi menjadi dua, ada yang dulunya bekas perokok dan ada yang memang menikmatinya sebagai gaya hidup. Wajar saja mengingat facebook tak memperbolehkan iklan tembakau di platform mereka, sebaliknya iklan tentang vape justru bertebaran. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi budaya baru yang berkembang di berbagai belahan dunia bahkan di Indonesia, Vape konon menjadi alternatif yang lebih bermanfaat daripada rokok. Dalih yang diusung selalu sama kepada para perokok tradisonal yaitu soal kesehatan dan lebih irit. Soal kesehatan tentu ada beberapa pendapat para ilmuan yang membantahnya, namun soal irit, saya rasa tidak. Memang satu liquid bisa digunakan untuk beberapa Minggu, akan tetapi yang saya lihat di lapangan justru sebaliknya. <\/p>\n\n\n\n

Beberapa penikmat rokok elektrik kerap berbelanja liquid yang mereka idamkan. Terkadang, hal tersebut yang membuat mereka boros karena terus mengeksplor rasa mana yang mereka idam-idamkan. Tak jarang juga liquid dengan harga mahal hingga ratus ribuan akan mereka beli. Sebaliknya, para perokok konvensional justru kerap bertahan dengan satu rasa atau merek saja.<\/p>\n\n\n\n

Sedikit berbeda dengan penikmat rokok konvensional atau kretek. Mengingat rokok kretek sudah menjadi kebudayan lokal yang terus dipertahankan selama bertahun-tahun, kehadirannya sudah mewarnai khasanah keindonesiaan. Perokok kretek juga sudah punya soliditas luar biasa yang terbentuk sejak lama dan terus terbangun mengiringi peradaban di Indonesia atau dunia.<\/p>\n\n\n\n

Kini, perokok elektrik mulai merasakan kegelisahan. Beberapa negara mulai menerapkan peraturan ketat terhadap Vape, sedangkan di Indonesia biaya cukai pun kini mulai diberlakukan terhadap perdagangan rokok elektrik. Keberadaannya di mata negara pun mulai dianggap sama seperti rokok, meski pada awalnya rokok elektrik hadir dengan slogan-slogan produk alternatif yang lebih menyehatkan (katanya).<\/p>\n\n\n\n


Tapi jika kemudian di masa depan memang rokok elektrik yang kemudian menjadi sesuatu yang populer dan dinikmati banyak orang. Rasanya saya tetap ingin hidup di jaman ini, dengan sebatang kretek di tangan dan menikmati segala khasanah kebudayaan yang patut terus dipertahankan. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"masa-depan-rokok-elektrik-dan-semangat-alternatif-yang-sia-sia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-03 09:05:56","post_modified_gmt":"2019-02-03 02:05:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5403","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5385,"post_author":"883","post_date":"2019-02-02 08:01:01","post_date_gmt":"2019-02-02 01:01:01","post_content":"Pada tahun 2014, perusahaan rokok multinasional Philip Morris Internasional Inc. merilis sebuah produk <\/span>perangkat\u00a0<\/span>
rokok<\/span><\/a>\u00a0tanpa asap, yang dipanaskan bukan dibakar atau istilahnya\u00a0<\/span>heat not burn<\/i><\/strong>\u00a0(HNB) iQOS<\/strong>. <\/span>\r\n\r\nPerangkat rokok tanpa asap dengan nama iQOS<\/a> ini berbentuk seperti bagian luar pulpen, dengan lubang di tengah untuk rokok. Produk yang berada di bawah brand Marlboro ini dapat memanaskan rokok sampai 350 derajat celcius lalu mengeluarkan uap nikotin beraroma tembakau<\/em><\/a>.<\/span>\r\n

Produk iQOS sebenarnya bukanlah produk rokok tanpa asap yang pertama muncul. Sebelumnya di tahun 1990-an, Reynolds Tobacco Co pernah merilis produk serupa bernama Eclipes yang juga dapat menguapkan nikotin setelah dinyalakan dengan korek api.<\/span><\/blockquote>\r\nSelain itu, Eclips juga dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. Namun, pada saat itu Eclips tidak diminati oleh pasar, utamanya para perokok konvensional. Meskipun Eclips dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. <\/span>\r\n\r\nBisnis semacam rokok tanpa asap seperti Eclips dan iQOS memang sudah menjadi bagian dari rencana panjang bisnis perusahaan-perusahaan rokok multinasional. Jadi tidak usah heran jika ke depannya akan kita akan banyak menemukan produk rokok tanpa asap ini.<\/span>\r\n\r\nWatak dari perusahaan multinasional memang seperti itu, mereka sangat jeli melihat peluang pasar ke depannya. Ketika market place perusahaan rokok multinasional saat ini terus dirongrong oleh kelompok antirokok, mereka tak kehabisan akal. Maka kemudian mereka menginovasi produk rokok konvensional menjadi rokok yang tidak berasap. Begitupun dengan mengikutsertakan jargon-jargon kesehatan dalam narasi promosi mereka.<\/span>\r\n\r\nSesungguhnya memang seperti itulah watak bisnis perusahaan-perusahaan multinasional, melakukan segala cara agar bisnis mereka tetap bertahan, meskipun harus merangkul musuh sekalipun. <\/span>\r\n\r\nYa kadang pura-pura berantem sama antirokok, tapi dibalik itu sebenarnya baik-baik saja, dan tentunya ada kompromi untuk terus melanggengkan bisnis mereka.<\/span>\r\n

Lalu siapa yang dirugikan dari permainan bisnis macam produk rokok tanpa asap perusahaan rokok multinasional ini?<\/span><\/h3>\r\nTentunya yang sangat dirugikan adalah produk hasil tembakau yang memiliki kekhasan seperti kretek di Indonesia. Kretek sebagai produk khas asli Indonesia yang menjadi bagian dari warisan kebudayaan tidak mungkin bertransformasi menjadi produk-produk elektrik dan sejenisnya.<\/span>\r\n\r\nKretek tetaplah kretek, dengan bahan baku alami tembakau dan cengkeh yang tidak diintervensi dengan zat atau perangkat penghantar lainnya. Karena dengan bentuk, karakter dan cara menikmatinya memang konvensional dan akan terus begitu apapun kondisi dan zamannya.<\/span>\r\n
Bisnis produk rokok tanpa asap (elektrik) juga menghajar kretek dengan mendompleng isu pengendalian tembakau. Kampanye pengendalian tembakau selalu membawa slogan bahaya merokok dan upaya untuk berhenti merokok. <\/span><\/blockquote>\r\nDari isu tersebut, rokok elektrik masuk dengan citra produk alternatif tembakau, bahkan mereka tak segan menilai bahwa rokok elektrik lebih aman ketimbang rokok konvensional, yakni kretek.<\/span>\r\n\r\nLalu jika Indonesia akan dibanjiri dengan produk-produk yang mengatasnamakan produk alternatif tembakau, macam rokok tanpa asap (iQOS dan sejenisnya), maka itulah pertanda bahwa kretek harus tergerus dari cara hidup manusia Indonesia dalam menikmati produk hasil tembakau khas Indonesia yang sudah turun-temurun lamanya dinikmati manusia Indonesia.<\/span>","post_title":"Nasib Kretek di Pusaran Pertarungan Bisnis Global Perusahaan Rokok Multinasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"nasib-kretek-di-pusaran-pertarungan-bisnis-global-perusahaan-rokok-multinasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-02 08:01:43","post_modified_gmt":"2019-02-02 01:01:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5385","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; \n

Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
<\/p>\n","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5406,"post_author":"877","post_date":"2019-02-04 08:23:48","post_date_gmt":"2019-02-04 01:23:48","post_content":"\n

Merokok itu sudah menjadi bagian dari budaya dan tradisi masyarakat, jauh sebelum Indonesia merdeka. Banyak cerita atau kisah tentang kretek <\/a><\/del>di tengah-tengah masyarakat bangsa ini, mulai sebagai alat untuk meraup keuntungan, alat komunikasi, sebagai teman sampai menjadi simbol pergerakan. <\/p>\n\n\n\n

Kretek, Simbol Perlawanan Roro Mendut<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Siapa yang tidak pernah mendengan cerita tentang Roro Mendut?, di telinga masyarakat Indonesia, kisah Roro Mendut tidak asing lagi.  Perempuan yang mempunyai paras wajah cantik, dan digandrungi kaum adam terutama kalangan putra kerajaan. Informasi kecantikan Roro Mendut tersebar seantero Nusantara, tidak satupun pria meragukan kecantikannya.  Bahkan kisah dan cerita kecantikan Roro Mendut tercatat dalam buku Babad Tanah Jawi. <\/p>\n\n\n\n

Diperkirakan pada tahun 1627, pada saat panglima perang Sultan Agung Mataram bernama Tumenggung Wiraguna berhasil menumpas pemberontakan di kota Pati, sebagai imbalanan atas keberhasilannya, mendapat hadiah wanita pujaan pria bernama Rara Mendut dari Kasultanan Agung Mataram.  Roro Mendut menolak dipinang Tumenggung Wiraguna, dan secara terang-terangan memilih pria lain dambaannya. Akibatnya, Roro Mendut harus membayar pajak setiap harinya kepada kerajaan Mataram. <\/p>\n\n\n\n

Bisa dibayangkan, betapa bingungnya Roro Mendut saat itu. Uang dari mana, ia hasilkan untuk bayar pajak tiap hari demi bisa bersama kekasihnya. Ternyata Roro Mendut tidak hanya cantik tetapi cerdas dan kreatif, bisa membaca peluang bisnis saat itu. Ide cermerlang muncul dengan berdagang\/berjualan rokok lintingan yang direkatkan dengan air ludahnya, dan sebelum menjualnya, rokok lintingan di sulut dahulu dan dihisap bekas bibir merahnya. Kemudian baru dijual ke pembeli yang berdesakan berjejer antri. <\/p>\n\n\n\n

Entah dari mana ide menjual rokok itu muncul. Yang jelas saking larisnya, kewajiban pajak Roro Mendut terpenuhi. Dan mungkin keadaannya akan lebih parah, jika saat itu Roro Mendut tidak berdagang rokok. Tidak akan terpenuhi kewajiban pajaknya. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Dengan rokok, hidup Roro Mendut terselamatkan. Adanya rokok, \u00a0Roro Mendut bebas dari belenggu kekuasaan. Berkat rokok, Roro Mendut terkengan, mengisi rubik informasi sejarah begitu kuatnya budaya merokok di \u00a0Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Pusaka Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek, Teman Perjuangan  Diponegoro<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Semasa berjuang melawan penjajah, yang harus dilakukan Diponegoro berpindah-pindah dari kota satu ke kota lain. Strategi perlawanan Diponegoro, kemudian sebagai basis strategi perang gerilya. Strategi yang menjadi idola dan kebanggaan tentara Indonesia. Dengan bergerilya, tentara Indonesia mampu mengecoh kekutan lawan yang lebih besar jumlahnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu, tenyata banyak cerita, Diponegoro saat berperang ditemani rokok. Ia dan pasukannya gemar merokok. Bahkan ketika tidak ada rokok, Pangeran Diponegoro rela hanya megunyah daun sirih yang diracik dengan kapur dan pinang. <\/p>\n\n\n\n

Kebiasaan ini, juga dialami oleh pengikut \/pasukan perang Pangeran Diponegoro. Bagi mereka, rokok teman sejati, menemani disetiap perjalanan mereka. Rokok menghilangkan depresi mereka, sebagai hiburan saat jauh dari keluarga demi berjuang melawan penjajah. Rokok menumbuhkan percaya diri mereka, lebih berani melawan penjajah walaupun hanya dengan serba keterbatasan, pasukan jumlah terbatas, alat perang terbatas dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Baca juga: Pangeran Diponegoro, Rokok Klobot dan Perlawanan Simbolis<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Jati Diri Bangsa<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Salah satu \u201cpendiri bangsa\u201d bernama KH. Agus Salim menghisap kretek dengan asapnya di kebal-kebulkan keudara, disaat ada perjamuan di Istana Buckingham ketika penobatan Elizabeth II sebagai Ratu kerajaan Inggris. Aroma khas keluar dari asap rokok kretek, tercium orang yang berada di ruang perjamuan. Sehingga memancing salah satu orang yang datang dalam perjamuan, dengan berkata; \u201ctuan sedang menghisap apa itu?\u201d.  Sentak KH. Agus Salim menjawab, \u201c inilah yang membuat nenek moyang anda sekian abad lalu datang dan kemudian menjajah negeri kami\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Jawaban KH. Agus Salim, faktanya memang benar. Rokok kretek tidak lain ada tambahan cengkeh (suzygium aromaticum<\/em>). \u00a0Tanaman legendaris menjadi rebutan dan sumber keuntungan kolonialisme Eropa atas Asia termasuk Indonesia. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Cengkeh adalah salah satu tanaman yang diperebutkan bangsa-bangsa dunia, sampai melegalkan penjajahan.  Dalam simpulan perjalanan ekspedisi cengkeh tahun 2013, Kepala Suku begitu julukan bagi Putut Ea, mengatakan \u201c jika saja tak pernah ada cengkeh dan pala di Maluku, mungkin sejarah kepulauan Nusantara ini akan berbeda sama sekali\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Simpulan Putut EA, sebagai salah satu pembenar perkataan \u00a0KH. Agus Salim. Mungkin, jika tanaman cengkeh tidak ada, fakta sejarah akan berbeda, tidak ada penjajahan di bumi Nusantara ini. <\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Mengisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek untuk Berteman dan Menjalin Persaudaraan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Teringat apa yang pernah dilakukan Menteri Sosial dan Lingkungan Hidup, saat melakukan pendekatan pada suku anak dalam di Jambi. Tidak lain ia adalah Khofifah menteri perempuan yang energik. Saat itu Khofifah bertanggungjawab dalam mengatasi masalah pendidikan dan kesejahteraan masyarakat suku anak dalam di Jambi.  <\/p>\n\n\n\n

Kebijakannya membuat fenomenal, selain bahan makanan, dan bantuan lain, khofifah juga membawa rokok.  Yang kemudian ada yang mengggugat dari anti rokok, tetapi sebagai Menteri, Khofifah tentunya sudah mengkaji secara mendalam. Dengan kecerdasannya , Khofifah menjawab dengan tegas dan lugas, \u201cjangan sok tahu kehidupan mereka, kenali apa yang menjadi ritme kehidupan mereka. Sangat bijaksana kalau kita semua pergi kesana, sehingga tahu adat istiadatnya juga. Tolong kalau ingin mengerti tentang kultur jangan hanya dari kacamata Jakarta. Saya pun ingin mengajak anda kesana, turun kesana, sapalah mereka\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Khofifah memberikan pelajaran bagi anti rokok. Tidak boleh sok tahu, apalagi selama ini antirokok hanya berasumsi, tanpa melihat fakta dilapangan. Khofifah juga menganjurkan agar lebih mengenal adat-istiadat, budaya dan tradisi masyarakat, tidak boleh melakukan hegemoni kultural, sebab keberagaman adat-istiadat dan budaya merupakan kekayaan negeri. <\/p>\n\n\n\n

Pelajaran Khofifah sangat mendalam dan bercirikhas Nusantara. Sebgaai Menteri \u00a0Sosial tentunya lebih berpengalaman apa yang dibutuhkan bangsa ini agar tetap jaya, bersatu dan utuh. Kenali perbedaan, hormati perbedaan, junjung tinggi budaya yang berbeda. \u00a0Apa yang telah dilakukan Khofifah dengan membawa rokok ke suku anak dalam adalah cermin penghormatan tradisi dan budaya masyarakat. Sebagai seorang Mentri, tentunya punya kuasa, artinya bisa seorang khofifah memberikan bantuan sesuai keinginannya sendiri, namun hal itu tidak dilakukan. Ia lebih mengedepankan penghormatan budaya masyarakat setempat, dengan membawa rokok untuk pendekatan dan pertemanan. Karena Khofifah tahu betul, bahwa merokok adalah budaya mereka, yang diwaris dari neneng moyang mereka. <\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Memilih Jalan Hidup Menikmati Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Simbol Pergerakan Nasional     <\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Abdul Rifa\u2019I dalam media bintang timur terbit pada 03 Oktober 1927, mengatakan, \u201ckopinya bukan kopi saringan, tetapi kopi tubruk sebab kopi ini katanya nationaal, gulanya gula jawa, susu tidak dipakai karena tidak nationaal. Rokoknya kelobot, selamatan natioanaal ini terus berlangsung ed sampai pagi hari\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Semangat nasionalisme harus tertanam, mengedepankan produk lokal adalah salah satu semangat nasionalime. Salah satu keberadaan rokok klobot menjadi ciri produk asli indonesia dan harus dilestarikan. Klobot sendiri adalah ramuan tembakau dan cengkeh di gulung memakai daun jagung, embrio perkembangan menjadi rokok sigaret kretek tangan dan sigaret kretek mesin.  
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pusaran Budaya Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pusaran-budaya-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-04 08:40:41","post_modified_gmt":"2019-02-04 01:40:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5406","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5403,"post_author":"919","post_date":"2019-02-03 09:05:50","post_date_gmt":"2019-02-03 02:05:50","post_content":"\n

Seringkali saya menyaksikan berbagai film baik itu Eropa atau Asia yang menggambarkan tentang masa depan. Pemandangan soal masa depan tersebut dihadirkan dengan gambaran kecanggihan teknologi seperti robot yang akan membantu kehidupan manusia, gedung-gedung yang tingginya sudah amat tak bisa ditandingi,  hingga mobil-mobil yang bisa terbang. <\/p>\n\n\n\n

Pernah dalam masa kecil saya menyaksikan sebuah film animasi buatan jepang yang mempertanyakan tentang makanan di masa depan. Dengan santai salah satu tokoh yang berasal dari masa depan itu menjawab bahwa suatu saat nanti manusia akan mengonsumsi makanan berupa pasta gigi namun dengan rasa yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa, aneh!<\/p>\n\n\n\n

Seiring waktu berjalan saya kian tumbuh dewasa dan punya kesadaran untuk memilih menjadi seorang perokok<\/a>. Saya juga melihat ada sebuah inovasi dan gambaran tentang masa depan yang hadir dalam kehidupan sekarang. Banyak memang, namun yang menyita perhatian saya adalah rokok elektrik atau yang populer disebut Vape. Konon katanya ia adalah produk inovasi untuk menjembatani kebutuhan menghisap asap dan kecanggihan masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Di awal kehadirannya Vape memang mengundang decak kekaguman saya. Bagaimana bisa sebuah mesin kecil mengeluarkan asap yang katanya lebih menyehatkan daripada rokok.<\/strong> Meski pada akhirnya teori tersebut juga bisa dibantah oleh beberapa ilmuan dunia. Tapi ada satu yang saya amati selain soal kesehatan, rokok elektrik rupanya menghadirkan kultur dan budaya baru dalam kehidupan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: LAGI-LAGI IKLAN ROKOK, KAPAN KPAI TIDAK TEBANG PILIH? <\/a><\/h4>\n\n\n\n

Kehadiran teknologi memang kerap sedikit atau benyak mengubah gaya atau kultur suatu masyarakat. Begitu pula yang saya perhatikan dengan rokok elektrik. Satu hal yang mudah diamati adalah menjamurnya toko-toko kecil yang menjual vape serta liquid di berbagai tempat. Sebagai sebuah warna baru dalam masyarakat, penggunanya ramai-ramai mengunjungi tempat tersebut berinteraksi dengan penikmat lainnya dan membangun sebuah rumah komunitas yang fleksibel.<\/p>\n\n\n\n

Meski belum bisa dikatakan memiliki jumlah penikmat yang setara dengan para perokok, pengguna Vape mulai menunjukkan eksistensinya. Selain toko yang tersebar, ragam acara juga mereka buat di beberapa daerah. Dalam lingkungan saya, beberapa teman yang dulunya merupakan perokok aktif tertarik mengikuti event tersebut dan beralih mengisap rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Nun jauh di sana, di Amerika Serikat tepatnya, budaya Vape juga sudah mulai berkembang lama ketimbang di Tanah Air. Penikmatnya terbagi menjadi dua, ada yang dulunya bekas perokok dan ada yang memang menikmatinya sebagai gaya hidup. Wajar saja mengingat facebook tak memperbolehkan iklan tembakau di platform mereka, sebaliknya iklan tentang vape justru bertebaran. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi budaya baru yang berkembang di berbagai belahan dunia bahkan di Indonesia, Vape konon menjadi alternatif yang lebih bermanfaat daripada rokok. Dalih yang diusung selalu sama kepada para perokok tradisonal yaitu soal kesehatan dan lebih irit. Soal kesehatan tentu ada beberapa pendapat para ilmuan yang membantahnya, namun soal irit, saya rasa tidak. Memang satu liquid bisa digunakan untuk beberapa Minggu, akan tetapi yang saya lihat di lapangan justru sebaliknya. <\/p>\n\n\n\n

Beberapa penikmat rokok elektrik kerap berbelanja liquid yang mereka idamkan. Terkadang, hal tersebut yang membuat mereka boros karena terus mengeksplor rasa mana yang mereka idam-idamkan. Tak jarang juga liquid dengan harga mahal hingga ratus ribuan akan mereka beli. Sebaliknya, para perokok konvensional justru kerap bertahan dengan satu rasa atau merek saja.<\/p>\n\n\n\n

Sedikit berbeda dengan penikmat rokok konvensional atau kretek. Mengingat rokok kretek sudah menjadi kebudayan lokal yang terus dipertahankan selama bertahun-tahun, kehadirannya sudah mewarnai khasanah keindonesiaan. Perokok kretek juga sudah punya soliditas luar biasa yang terbentuk sejak lama dan terus terbangun mengiringi peradaban di Indonesia atau dunia.<\/p>\n\n\n\n

Kini, perokok elektrik mulai merasakan kegelisahan. Beberapa negara mulai menerapkan peraturan ketat terhadap Vape, sedangkan di Indonesia biaya cukai pun kini mulai diberlakukan terhadap perdagangan rokok elektrik. Keberadaannya di mata negara pun mulai dianggap sama seperti rokok, meski pada awalnya rokok elektrik hadir dengan slogan-slogan produk alternatif yang lebih menyehatkan (katanya).<\/p>\n\n\n\n


Tapi jika kemudian di masa depan memang rokok elektrik yang kemudian menjadi sesuatu yang populer dan dinikmati banyak orang. Rasanya saya tetap ingin hidup di jaman ini, dengan sebatang kretek di tangan dan menikmati segala khasanah kebudayaan yang patut terus dipertahankan. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"masa-depan-rokok-elektrik-dan-semangat-alternatif-yang-sia-sia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-03 09:05:56","post_modified_gmt":"2019-02-03 02:05:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5403","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5385,"post_author":"883","post_date":"2019-02-02 08:01:01","post_date_gmt":"2019-02-02 01:01:01","post_content":"Pada tahun 2014, perusahaan rokok multinasional Philip Morris Internasional Inc. merilis sebuah produk <\/span>perangkat\u00a0<\/span>
rokok<\/span><\/a>\u00a0tanpa asap, yang dipanaskan bukan dibakar atau istilahnya\u00a0<\/span>heat not burn<\/i><\/strong>\u00a0(HNB) iQOS<\/strong>. <\/span>\r\n\r\nPerangkat rokok tanpa asap dengan nama iQOS<\/a> ini berbentuk seperti bagian luar pulpen, dengan lubang di tengah untuk rokok. Produk yang berada di bawah brand Marlboro ini dapat memanaskan rokok sampai 350 derajat celcius lalu mengeluarkan uap nikotin beraroma tembakau<\/em><\/a>.<\/span>\r\n

Produk iQOS sebenarnya bukanlah produk rokok tanpa asap yang pertama muncul. Sebelumnya di tahun 1990-an, Reynolds Tobacco Co pernah merilis produk serupa bernama Eclipes yang juga dapat menguapkan nikotin setelah dinyalakan dengan korek api.<\/span><\/blockquote>\r\nSelain itu, Eclips juga dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. Namun, pada saat itu Eclips tidak diminati oleh pasar, utamanya para perokok konvensional. Meskipun Eclips dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. <\/span>\r\n\r\nBisnis semacam rokok tanpa asap seperti Eclips dan iQOS memang sudah menjadi bagian dari rencana panjang bisnis perusahaan-perusahaan rokok multinasional. Jadi tidak usah heran jika ke depannya akan kita akan banyak menemukan produk rokok tanpa asap ini.<\/span>\r\n\r\nWatak dari perusahaan multinasional memang seperti itu, mereka sangat jeli melihat peluang pasar ke depannya. Ketika market place perusahaan rokok multinasional saat ini terus dirongrong oleh kelompok antirokok, mereka tak kehabisan akal. Maka kemudian mereka menginovasi produk rokok konvensional menjadi rokok yang tidak berasap. Begitupun dengan mengikutsertakan jargon-jargon kesehatan dalam narasi promosi mereka.<\/span>\r\n\r\nSesungguhnya memang seperti itulah watak bisnis perusahaan-perusahaan multinasional, melakukan segala cara agar bisnis mereka tetap bertahan, meskipun harus merangkul musuh sekalipun. <\/span>\r\n\r\nYa kadang pura-pura berantem sama antirokok, tapi dibalik itu sebenarnya baik-baik saja, dan tentunya ada kompromi untuk terus melanggengkan bisnis mereka.<\/span>\r\n

Lalu siapa yang dirugikan dari permainan bisnis macam produk rokok tanpa asap perusahaan rokok multinasional ini?<\/span><\/h3>\r\nTentunya yang sangat dirugikan adalah produk hasil tembakau yang memiliki kekhasan seperti kretek di Indonesia. Kretek sebagai produk khas asli Indonesia yang menjadi bagian dari warisan kebudayaan tidak mungkin bertransformasi menjadi produk-produk elektrik dan sejenisnya.<\/span>\r\n\r\nKretek tetaplah kretek, dengan bahan baku alami tembakau dan cengkeh yang tidak diintervensi dengan zat atau perangkat penghantar lainnya. Karena dengan bentuk, karakter dan cara menikmatinya memang konvensional dan akan terus begitu apapun kondisi dan zamannya.<\/span>\r\n
Bisnis produk rokok tanpa asap (elektrik) juga menghajar kretek dengan mendompleng isu pengendalian tembakau. Kampanye pengendalian tembakau selalu membawa slogan bahaya merokok dan upaya untuk berhenti merokok. <\/span><\/blockquote>\r\nDari isu tersebut, rokok elektrik masuk dengan citra produk alternatif tembakau, bahkan mereka tak segan menilai bahwa rokok elektrik lebih aman ketimbang rokok konvensional, yakni kretek.<\/span>\r\n\r\nLalu jika Indonesia akan dibanjiri dengan produk-produk yang mengatasnamakan produk alternatif tembakau, macam rokok tanpa asap (iQOS dan sejenisnya), maka itulah pertanda bahwa kretek harus tergerus dari cara hidup manusia Indonesia dalam menikmati produk hasil tembakau khas Indonesia yang sudah turun-temurun lamanya dinikmati manusia Indonesia.<\/span>","post_title":"Nasib Kretek di Pusaran Pertarungan Bisnis Global Perusahaan Rokok Multinasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"nasib-kretek-di-pusaran-pertarungan-bisnis-global-perusahaan-rokok-multinasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-02 08:01:43","post_modified_gmt":"2019-02-02 01:01:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5385","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; \n

Baca Juga: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
<\/p>\n","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5406,"post_author":"877","post_date":"2019-02-04 08:23:48","post_date_gmt":"2019-02-04 01:23:48","post_content":"\n

Merokok itu sudah menjadi bagian dari budaya dan tradisi masyarakat, jauh sebelum Indonesia merdeka. Banyak cerita atau kisah tentang kretek <\/a><\/del>di tengah-tengah masyarakat bangsa ini, mulai sebagai alat untuk meraup keuntungan, alat komunikasi, sebagai teman sampai menjadi simbol pergerakan. <\/p>\n\n\n\n

Kretek, Simbol Perlawanan Roro Mendut<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Siapa yang tidak pernah mendengan cerita tentang Roro Mendut?, di telinga masyarakat Indonesia, kisah Roro Mendut tidak asing lagi.  Perempuan yang mempunyai paras wajah cantik, dan digandrungi kaum adam terutama kalangan putra kerajaan. Informasi kecantikan Roro Mendut tersebar seantero Nusantara, tidak satupun pria meragukan kecantikannya.  Bahkan kisah dan cerita kecantikan Roro Mendut tercatat dalam buku Babad Tanah Jawi. <\/p>\n\n\n\n

Diperkirakan pada tahun 1627, pada saat panglima perang Sultan Agung Mataram bernama Tumenggung Wiraguna berhasil menumpas pemberontakan di kota Pati, sebagai imbalanan atas keberhasilannya, mendapat hadiah wanita pujaan pria bernama Rara Mendut dari Kasultanan Agung Mataram.  Roro Mendut menolak dipinang Tumenggung Wiraguna, dan secara terang-terangan memilih pria lain dambaannya. Akibatnya, Roro Mendut harus membayar pajak setiap harinya kepada kerajaan Mataram. <\/p>\n\n\n\n

Bisa dibayangkan, betapa bingungnya Roro Mendut saat itu. Uang dari mana, ia hasilkan untuk bayar pajak tiap hari demi bisa bersama kekasihnya. Ternyata Roro Mendut tidak hanya cantik tetapi cerdas dan kreatif, bisa membaca peluang bisnis saat itu. Ide cermerlang muncul dengan berdagang\/berjualan rokok lintingan yang direkatkan dengan air ludahnya, dan sebelum menjualnya, rokok lintingan di sulut dahulu dan dihisap bekas bibir merahnya. Kemudian baru dijual ke pembeli yang berdesakan berjejer antri. <\/p>\n\n\n\n

Entah dari mana ide menjual rokok itu muncul. Yang jelas saking larisnya, kewajiban pajak Roro Mendut terpenuhi. Dan mungkin keadaannya akan lebih parah, jika saat itu Roro Mendut tidak berdagang rokok. Tidak akan terpenuhi kewajiban pajaknya. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Dengan rokok, hidup Roro Mendut terselamatkan. Adanya rokok, \u00a0Roro Mendut bebas dari belenggu kekuasaan. Berkat rokok, Roro Mendut terkengan, mengisi rubik informasi sejarah begitu kuatnya budaya merokok di \u00a0Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Pusaka Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek, Teman Perjuangan  Diponegoro<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Semasa berjuang melawan penjajah, yang harus dilakukan Diponegoro berpindah-pindah dari kota satu ke kota lain. Strategi perlawanan Diponegoro, kemudian sebagai basis strategi perang gerilya. Strategi yang menjadi idola dan kebanggaan tentara Indonesia. Dengan bergerilya, tentara Indonesia mampu mengecoh kekutan lawan yang lebih besar jumlahnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu, tenyata banyak cerita, Diponegoro saat berperang ditemani rokok. Ia dan pasukannya gemar merokok. Bahkan ketika tidak ada rokok, Pangeran Diponegoro rela hanya megunyah daun sirih yang diracik dengan kapur dan pinang. <\/p>\n\n\n\n

Kebiasaan ini, juga dialami oleh pengikut \/pasukan perang Pangeran Diponegoro. Bagi mereka, rokok teman sejati, menemani disetiap perjalanan mereka. Rokok menghilangkan depresi mereka, sebagai hiburan saat jauh dari keluarga demi berjuang melawan penjajah. Rokok menumbuhkan percaya diri mereka, lebih berani melawan penjajah walaupun hanya dengan serba keterbatasan, pasukan jumlah terbatas, alat perang terbatas dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Baca juga: Pangeran Diponegoro, Rokok Klobot dan Perlawanan Simbolis<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Jati Diri Bangsa<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Salah satu \u201cpendiri bangsa\u201d bernama KH. Agus Salim menghisap kretek dengan asapnya di kebal-kebulkan keudara, disaat ada perjamuan di Istana Buckingham ketika penobatan Elizabeth II sebagai Ratu kerajaan Inggris. Aroma khas keluar dari asap rokok kretek, tercium orang yang berada di ruang perjamuan. Sehingga memancing salah satu orang yang datang dalam perjamuan, dengan berkata; \u201ctuan sedang menghisap apa itu?\u201d.  Sentak KH. Agus Salim menjawab, \u201c inilah yang membuat nenek moyang anda sekian abad lalu datang dan kemudian menjajah negeri kami\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Jawaban KH. Agus Salim, faktanya memang benar. Rokok kretek tidak lain ada tambahan cengkeh (suzygium aromaticum<\/em>). \u00a0Tanaman legendaris menjadi rebutan dan sumber keuntungan kolonialisme Eropa atas Asia termasuk Indonesia. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Cengkeh adalah salah satu tanaman yang diperebutkan bangsa-bangsa dunia, sampai melegalkan penjajahan.  Dalam simpulan perjalanan ekspedisi cengkeh tahun 2013, Kepala Suku begitu julukan bagi Putut Ea, mengatakan \u201c jika saja tak pernah ada cengkeh dan pala di Maluku, mungkin sejarah kepulauan Nusantara ini akan berbeda sama sekali\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Simpulan Putut EA, sebagai salah satu pembenar perkataan \u00a0KH. Agus Salim. Mungkin, jika tanaman cengkeh tidak ada, fakta sejarah akan berbeda, tidak ada penjajahan di bumi Nusantara ini. <\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Mengisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek untuk Berteman dan Menjalin Persaudaraan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Teringat apa yang pernah dilakukan Menteri Sosial dan Lingkungan Hidup, saat melakukan pendekatan pada suku anak dalam di Jambi. Tidak lain ia adalah Khofifah menteri perempuan yang energik. Saat itu Khofifah bertanggungjawab dalam mengatasi masalah pendidikan dan kesejahteraan masyarakat suku anak dalam di Jambi.  <\/p>\n\n\n\n

Kebijakannya membuat fenomenal, selain bahan makanan, dan bantuan lain, khofifah juga membawa rokok.  Yang kemudian ada yang mengggugat dari anti rokok, tetapi sebagai Menteri, Khofifah tentunya sudah mengkaji secara mendalam. Dengan kecerdasannya , Khofifah menjawab dengan tegas dan lugas, \u201cjangan sok tahu kehidupan mereka, kenali apa yang menjadi ritme kehidupan mereka. Sangat bijaksana kalau kita semua pergi kesana, sehingga tahu adat istiadatnya juga. Tolong kalau ingin mengerti tentang kultur jangan hanya dari kacamata Jakarta. Saya pun ingin mengajak anda kesana, turun kesana, sapalah mereka\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Khofifah memberikan pelajaran bagi anti rokok. Tidak boleh sok tahu, apalagi selama ini antirokok hanya berasumsi, tanpa melihat fakta dilapangan. Khofifah juga menganjurkan agar lebih mengenal adat-istiadat, budaya dan tradisi masyarakat, tidak boleh melakukan hegemoni kultural, sebab keberagaman adat-istiadat dan budaya merupakan kekayaan negeri. <\/p>\n\n\n\n

Pelajaran Khofifah sangat mendalam dan bercirikhas Nusantara. Sebgaai Menteri \u00a0Sosial tentunya lebih berpengalaman apa yang dibutuhkan bangsa ini agar tetap jaya, bersatu dan utuh. Kenali perbedaan, hormati perbedaan, junjung tinggi budaya yang berbeda. \u00a0Apa yang telah dilakukan Khofifah dengan membawa rokok ke suku anak dalam adalah cermin penghormatan tradisi dan budaya masyarakat. Sebagai seorang Mentri, tentunya punya kuasa, artinya bisa seorang khofifah memberikan bantuan sesuai keinginannya sendiri, namun hal itu tidak dilakukan. Ia lebih mengedepankan penghormatan budaya masyarakat setempat, dengan membawa rokok untuk pendekatan dan pertemanan. Karena Khofifah tahu betul, bahwa merokok adalah budaya mereka, yang diwaris dari neneng moyang mereka. <\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Memilih Jalan Hidup Menikmati Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Simbol Pergerakan Nasional     <\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Abdul Rifa\u2019I dalam media bintang timur terbit pada 03 Oktober 1927, mengatakan, \u201ckopinya bukan kopi saringan, tetapi kopi tubruk sebab kopi ini katanya nationaal, gulanya gula jawa, susu tidak dipakai karena tidak nationaal. Rokoknya kelobot, selamatan natioanaal ini terus berlangsung ed sampai pagi hari\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Semangat nasionalisme harus tertanam, mengedepankan produk lokal adalah salah satu semangat nasionalime. Salah satu keberadaan rokok klobot menjadi ciri produk asli indonesia dan harus dilestarikan. Klobot sendiri adalah ramuan tembakau dan cengkeh di gulung memakai daun jagung, embrio perkembangan menjadi rokok sigaret kretek tangan dan sigaret kretek mesin.  
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pusaran Budaya Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pusaran-budaya-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-04 08:40:41","post_modified_gmt":"2019-02-04 01:40:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5406","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5403,"post_author":"919","post_date":"2019-02-03 09:05:50","post_date_gmt":"2019-02-03 02:05:50","post_content":"\n

Seringkali saya menyaksikan berbagai film baik itu Eropa atau Asia yang menggambarkan tentang masa depan. Pemandangan soal masa depan tersebut dihadirkan dengan gambaran kecanggihan teknologi seperti robot yang akan membantu kehidupan manusia, gedung-gedung yang tingginya sudah amat tak bisa ditandingi,  hingga mobil-mobil yang bisa terbang. <\/p>\n\n\n\n

Pernah dalam masa kecil saya menyaksikan sebuah film animasi buatan jepang yang mempertanyakan tentang makanan di masa depan. Dengan santai salah satu tokoh yang berasal dari masa depan itu menjawab bahwa suatu saat nanti manusia akan mengonsumsi makanan berupa pasta gigi namun dengan rasa yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa, aneh!<\/p>\n\n\n\n

Seiring waktu berjalan saya kian tumbuh dewasa dan punya kesadaran untuk memilih menjadi seorang perokok<\/a>. Saya juga melihat ada sebuah inovasi dan gambaran tentang masa depan yang hadir dalam kehidupan sekarang. Banyak memang, namun yang menyita perhatian saya adalah rokok elektrik atau yang populer disebut Vape. Konon katanya ia adalah produk inovasi untuk menjembatani kebutuhan menghisap asap dan kecanggihan masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Di awal kehadirannya Vape memang mengundang decak kekaguman saya. Bagaimana bisa sebuah mesin kecil mengeluarkan asap yang katanya lebih menyehatkan daripada rokok.<\/strong> Meski pada akhirnya teori tersebut juga bisa dibantah oleh beberapa ilmuan dunia. Tapi ada satu yang saya amati selain soal kesehatan, rokok elektrik rupanya menghadirkan kultur dan budaya baru dalam kehidupan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: LAGI-LAGI IKLAN ROKOK, KAPAN KPAI TIDAK TEBANG PILIH? <\/a><\/h4>\n\n\n\n

Kehadiran teknologi memang kerap sedikit atau benyak mengubah gaya atau kultur suatu masyarakat. Begitu pula yang saya perhatikan dengan rokok elektrik. Satu hal yang mudah diamati adalah menjamurnya toko-toko kecil yang menjual vape serta liquid di berbagai tempat. Sebagai sebuah warna baru dalam masyarakat, penggunanya ramai-ramai mengunjungi tempat tersebut berinteraksi dengan penikmat lainnya dan membangun sebuah rumah komunitas yang fleksibel.<\/p>\n\n\n\n

Meski belum bisa dikatakan memiliki jumlah penikmat yang setara dengan para perokok, pengguna Vape mulai menunjukkan eksistensinya. Selain toko yang tersebar, ragam acara juga mereka buat di beberapa daerah. Dalam lingkungan saya, beberapa teman yang dulunya merupakan perokok aktif tertarik mengikuti event tersebut dan beralih mengisap rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Nun jauh di sana, di Amerika Serikat tepatnya, budaya Vape juga sudah mulai berkembang lama ketimbang di Tanah Air. Penikmatnya terbagi menjadi dua, ada yang dulunya bekas perokok dan ada yang memang menikmatinya sebagai gaya hidup. Wajar saja mengingat facebook tak memperbolehkan iklan tembakau di platform mereka, sebaliknya iklan tentang vape justru bertebaran. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi budaya baru yang berkembang di berbagai belahan dunia bahkan di Indonesia, Vape konon menjadi alternatif yang lebih bermanfaat daripada rokok. Dalih yang diusung selalu sama kepada para perokok tradisonal yaitu soal kesehatan dan lebih irit. Soal kesehatan tentu ada beberapa pendapat para ilmuan yang membantahnya, namun soal irit, saya rasa tidak. Memang satu liquid bisa digunakan untuk beberapa Minggu, akan tetapi yang saya lihat di lapangan justru sebaliknya. <\/p>\n\n\n\n

Beberapa penikmat rokok elektrik kerap berbelanja liquid yang mereka idamkan. Terkadang, hal tersebut yang membuat mereka boros karena terus mengeksplor rasa mana yang mereka idam-idamkan. Tak jarang juga liquid dengan harga mahal hingga ratus ribuan akan mereka beli. Sebaliknya, para perokok konvensional justru kerap bertahan dengan satu rasa atau merek saja.<\/p>\n\n\n\n

Sedikit berbeda dengan penikmat rokok konvensional atau kretek. Mengingat rokok kretek sudah menjadi kebudayan lokal yang terus dipertahankan selama bertahun-tahun, kehadirannya sudah mewarnai khasanah keindonesiaan. Perokok kretek juga sudah punya soliditas luar biasa yang terbentuk sejak lama dan terus terbangun mengiringi peradaban di Indonesia atau dunia.<\/p>\n\n\n\n

Kini, perokok elektrik mulai merasakan kegelisahan. Beberapa negara mulai menerapkan peraturan ketat terhadap Vape, sedangkan di Indonesia biaya cukai pun kini mulai diberlakukan terhadap perdagangan rokok elektrik. Keberadaannya di mata negara pun mulai dianggap sama seperti rokok, meski pada awalnya rokok elektrik hadir dengan slogan-slogan produk alternatif yang lebih menyehatkan (katanya).<\/p>\n\n\n\n


Tapi jika kemudian di masa depan memang rokok elektrik yang kemudian menjadi sesuatu yang populer dan dinikmati banyak orang. Rasanya saya tetap ingin hidup di jaman ini, dengan sebatang kretek di tangan dan menikmati segala khasanah kebudayaan yang patut terus dipertahankan. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"masa-depan-rokok-elektrik-dan-semangat-alternatif-yang-sia-sia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-03 09:05:56","post_modified_gmt":"2019-02-03 02:05:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5403","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5385,"post_author":"883","post_date":"2019-02-02 08:01:01","post_date_gmt":"2019-02-02 01:01:01","post_content":"Pada tahun 2014, perusahaan rokok multinasional Philip Morris Internasional Inc. merilis sebuah produk <\/span>perangkat\u00a0<\/span>
rokok<\/span><\/a>\u00a0tanpa asap, yang dipanaskan bukan dibakar atau istilahnya\u00a0<\/span>heat not burn<\/i><\/strong>\u00a0(HNB) iQOS<\/strong>. <\/span>\r\n\r\nPerangkat rokok tanpa asap dengan nama iQOS<\/a> ini berbentuk seperti bagian luar pulpen, dengan lubang di tengah untuk rokok. Produk yang berada di bawah brand Marlboro ini dapat memanaskan rokok sampai 350 derajat celcius lalu mengeluarkan uap nikotin beraroma tembakau<\/em><\/a>.<\/span>\r\n

Produk iQOS sebenarnya bukanlah produk rokok tanpa asap yang pertama muncul. Sebelumnya di tahun 1990-an, Reynolds Tobacco Co pernah merilis produk serupa bernama Eclipes yang juga dapat menguapkan nikotin setelah dinyalakan dengan korek api.<\/span><\/blockquote>\r\nSelain itu, Eclips juga dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. Namun, pada saat itu Eclips tidak diminati oleh pasar, utamanya para perokok konvensional. Meskipun Eclips dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. <\/span>\r\n\r\nBisnis semacam rokok tanpa asap seperti Eclips dan iQOS memang sudah menjadi bagian dari rencana panjang bisnis perusahaan-perusahaan rokok multinasional. Jadi tidak usah heran jika ke depannya akan kita akan banyak menemukan produk rokok tanpa asap ini.<\/span>\r\n\r\nWatak dari perusahaan multinasional memang seperti itu, mereka sangat jeli melihat peluang pasar ke depannya. Ketika market place perusahaan rokok multinasional saat ini terus dirongrong oleh kelompok antirokok, mereka tak kehabisan akal. Maka kemudian mereka menginovasi produk rokok konvensional menjadi rokok yang tidak berasap. Begitupun dengan mengikutsertakan jargon-jargon kesehatan dalam narasi promosi mereka.<\/span>\r\n\r\nSesungguhnya memang seperti itulah watak bisnis perusahaan-perusahaan multinasional, melakukan segala cara agar bisnis mereka tetap bertahan, meskipun harus merangkul musuh sekalipun. <\/span>\r\n\r\nYa kadang pura-pura berantem sama antirokok, tapi dibalik itu sebenarnya baik-baik saja, dan tentunya ada kompromi untuk terus melanggengkan bisnis mereka.<\/span>\r\n

Lalu siapa yang dirugikan dari permainan bisnis macam produk rokok tanpa asap perusahaan rokok multinasional ini?<\/span><\/h3>\r\nTentunya yang sangat dirugikan adalah produk hasil tembakau yang memiliki kekhasan seperti kretek di Indonesia. Kretek sebagai produk khas asli Indonesia yang menjadi bagian dari warisan kebudayaan tidak mungkin bertransformasi menjadi produk-produk elektrik dan sejenisnya.<\/span>\r\n\r\nKretek tetaplah kretek, dengan bahan baku alami tembakau dan cengkeh yang tidak diintervensi dengan zat atau perangkat penghantar lainnya. Karena dengan bentuk, karakter dan cara menikmatinya memang konvensional dan akan terus begitu apapun kondisi dan zamannya.<\/span>\r\n
Bisnis produk rokok tanpa asap (elektrik) juga menghajar kretek dengan mendompleng isu pengendalian tembakau. Kampanye pengendalian tembakau selalu membawa slogan bahaya merokok dan upaya untuk berhenti merokok. <\/span><\/blockquote>\r\nDari isu tersebut, rokok elektrik masuk dengan citra produk alternatif tembakau, bahkan mereka tak segan menilai bahwa rokok elektrik lebih aman ketimbang rokok konvensional, yakni kretek.<\/span>\r\n\r\nLalu jika Indonesia akan dibanjiri dengan produk-produk yang mengatasnamakan produk alternatif tembakau, macam rokok tanpa asap (iQOS dan sejenisnya), maka itulah pertanda bahwa kretek harus tergerus dari cara hidup manusia Indonesia dalam menikmati produk hasil tembakau khas Indonesia yang sudah turun-temurun lamanya dinikmati manusia Indonesia.<\/span>","post_title":"Nasib Kretek di Pusaran Pertarungan Bisnis Global Perusahaan Rokok Multinasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"nasib-kretek-di-pusaran-pertarungan-bisnis-global-perusahaan-rokok-multinasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-02 08:01:43","post_modified_gmt":"2019-02-02 01:01:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5385","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; \n

Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
<\/p>\n","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5406,"post_author":"877","post_date":"2019-02-04 08:23:48","post_date_gmt":"2019-02-04 01:23:48","post_content":"\n

Merokok itu sudah menjadi bagian dari budaya dan tradisi masyarakat, jauh sebelum Indonesia merdeka. Banyak cerita atau kisah tentang kretek <\/a><\/del>di tengah-tengah masyarakat bangsa ini, mulai sebagai alat untuk meraup keuntungan, alat komunikasi, sebagai teman sampai menjadi simbol pergerakan. <\/p>\n\n\n\n

Kretek, Simbol Perlawanan Roro Mendut<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Siapa yang tidak pernah mendengan cerita tentang Roro Mendut?, di telinga masyarakat Indonesia, kisah Roro Mendut tidak asing lagi.  Perempuan yang mempunyai paras wajah cantik, dan digandrungi kaum adam terutama kalangan putra kerajaan. Informasi kecantikan Roro Mendut tersebar seantero Nusantara, tidak satupun pria meragukan kecantikannya.  Bahkan kisah dan cerita kecantikan Roro Mendut tercatat dalam buku Babad Tanah Jawi. <\/p>\n\n\n\n

Diperkirakan pada tahun 1627, pada saat panglima perang Sultan Agung Mataram bernama Tumenggung Wiraguna berhasil menumpas pemberontakan di kota Pati, sebagai imbalanan atas keberhasilannya, mendapat hadiah wanita pujaan pria bernama Rara Mendut dari Kasultanan Agung Mataram.  Roro Mendut menolak dipinang Tumenggung Wiraguna, dan secara terang-terangan memilih pria lain dambaannya. Akibatnya, Roro Mendut harus membayar pajak setiap harinya kepada kerajaan Mataram. <\/p>\n\n\n\n

Bisa dibayangkan, betapa bingungnya Roro Mendut saat itu. Uang dari mana, ia hasilkan untuk bayar pajak tiap hari demi bisa bersama kekasihnya. Ternyata Roro Mendut tidak hanya cantik tetapi cerdas dan kreatif, bisa membaca peluang bisnis saat itu. Ide cermerlang muncul dengan berdagang\/berjualan rokok lintingan yang direkatkan dengan air ludahnya, dan sebelum menjualnya, rokok lintingan di sulut dahulu dan dihisap bekas bibir merahnya. Kemudian baru dijual ke pembeli yang berdesakan berjejer antri. <\/p>\n\n\n\n

Entah dari mana ide menjual rokok itu muncul. Yang jelas saking larisnya, kewajiban pajak Roro Mendut terpenuhi. Dan mungkin keadaannya akan lebih parah, jika saat itu Roro Mendut tidak berdagang rokok. Tidak akan terpenuhi kewajiban pajaknya. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Dengan rokok, hidup Roro Mendut terselamatkan. Adanya rokok, \u00a0Roro Mendut bebas dari belenggu kekuasaan. Berkat rokok, Roro Mendut terkengan, mengisi rubik informasi sejarah begitu kuatnya budaya merokok di \u00a0Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Pusaka Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek, Teman Perjuangan  Diponegoro<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Semasa berjuang melawan penjajah, yang harus dilakukan Diponegoro berpindah-pindah dari kota satu ke kota lain. Strategi perlawanan Diponegoro, kemudian sebagai basis strategi perang gerilya. Strategi yang menjadi idola dan kebanggaan tentara Indonesia. Dengan bergerilya, tentara Indonesia mampu mengecoh kekutan lawan yang lebih besar jumlahnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu, tenyata banyak cerita, Diponegoro saat berperang ditemani rokok. Ia dan pasukannya gemar merokok. Bahkan ketika tidak ada rokok, Pangeran Diponegoro rela hanya megunyah daun sirih yang diracik dengan kapur dan pinang. <\/p>\n\n\n\n

Kebiasaan ini, juga dialami oleh pengikut \/pasukan perang Pangeran Diponegoro. Bagi mereka, rokok teman sejati, menemani disetiap perjalanan mereka. Rokok menghilangkan depresi mereka, sebagai hiburan saat jauh dari keluarga demi berjuang melawan penjajah. Rokok menumbuhkan percaya diri mereka, lebih berani melawan penjajah walaupun hanya dengan serba keterbatasan, pasukan jumlah terbatas, alat perang terbatas dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Baca juga: Pangeran Diponegoro, Rokok Klobot dan Perlawanan Simbolis<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Jati Diri Bangsa<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Salah satu \u201cpendiri bangsa\u201d bernama KH. Agus Salim menghisap kretek dengan asapnya di kebal-kebulkan keudara, disaat ada perjamuan di Istana Buckingham ketika penobatan Elizabeth II sebagai Ratu kerajaan Inggris. Aroma khas keluar dari asap rokok kretek, tercium orang yang berada di ruang perjamuan. Sehingga memancing salah satu orang yang datang dalam perjamuan, dengan berkata; \u201ctuan sedang menghisap apa itu?\u201d.  Sentak KH. Agus Salim menjawab, \u201c inilah yang membuat nenek moyang anda sekian abad lalu datang dan kemudian menjajah negeri kami\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Jawaban KH. Agus Salim, faktanya memang benar. Rokok kretek tidak lain ada tambahan cengkeh (suzygium aromaticum<\/em>). \u00a0Tanaman legendaris menjadi rebutan dan sumber keuntungan kolonialisme Eropa atas Asia termasuk Indonesia. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Cengkeh adalah salah satu tanaman yang diperebutkan bangsa-bangsa dunia, sampai melegalkan penjajahan.  Dalam simpulan perjalanan ekspedisi cengkeh tahun 2013, Kepala Suku begitu julukan bagi Putut Ea, mengatakan \u201c jika saja tak pernah ada cengkeh dan pala di Maluku, mungkin sejarah kepulauan Nusantara ini akan berbeda sama sekali\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Simpulan Putut EA, sebagai salah satu pembenar perkataan \u00a0KH. Agus Salim. Mungkin, jika tanaman cengkeh tidak ada, fakta sejarah akan berbeda, tidak ada penjajahan di bumi Nusantara ini. <\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Mengisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek untuk Berteman dan Menjalin Persaudaraan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Teringat apa yang pernah dilakukan Menteri Sosial dan Lingkungan Hidup, saat melakukan pendekatan pada suku anak dalam di Jambi. Tidak lain ia adalah Khofifah menteri perempuan yang energik. Saat itu Khofifah bertanggungjawab dalam mengatasi masalah pendidikan dan kesejahteraan masyarakat suku anak dalam di Jambi.  <\/p>\n\n\n\n

Kebijakannya membuat fenomenal, selain bahan makanan, dan bantuan lain, khofifah juga membawa rokok.  Yang kemudian ada yang mengggugat dari anti rokok, tetapi sebagai Menteri, Khofifah tentunya sudah mengkaji secara mendalam. Dengan kecerdasannya , Khofifah menjawab dengan tegas dan lugas, \u201cjangan sok tahu kehidupan mereka, kenali apa yang menjadi ritme kehidupan mereka. Sangat bijaksana kalau kita semua pergi kesana, sehingga tahu adat istiadatnya juga. Tolong kalau ingin mengerti tentang kultur jangan hanya dari kacamata Jakarta. Saya pun ingin mengajak anda kesana, turun kesana, sapalah mereka\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Khofifah memberikan pelajaran bagi anti rokok. Tidak boleh sok tahu, apalagi selama ini antirokok hanya berasumsi, tanpa melihat fakta dilapangan. Khofifah juga menganjurkan agar lebih mengenal adat-istiadat, budaya dan tradisi masyarakat, tidak boleh melakukan hegemoni kultural, sebab keberagaman adat-istiadat dan budaya merupakan kekayaan negeri. <\/p>\n\n\n\n

Pelajaran Khofifah sangat mendalam dan bercirikhas Nusantara. Sebgaai Menteri \u00a0Sosial tentunya lebih berpengalaman apa yang dibutuhkan bangsa ini agar tetap jaya, bersatu dan utuh. Kenali perbedaan, hormati perbedaan, junjung tinggi budaya yang berbeda. \u00a0Apa yang telah dilakukan Khofifah dengan membawa rokok ke suku anak dalam adalah cermin penghormatan tradisi dan budaya masyarakat. Sebagai seorang Mentri, tentunya punya kuasa, artinya bisa seorang khofifah memberikan bantuan sesuai keinginannya sendiri, namun hal itu tidak dilakukan. Ia lebih mengedepankan penghormatan budaya masyarakat setempat, dengan membawa rokok untuk pendekatan dan pertemanan. Karena Khofifah tahu betul, bahwa merokok adalah budaya mereka, yang diwaris dari neneng moyang mereka. <\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Memilih Jalan Hidup Menikmati Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Simbol Pergerakan Nasional     <\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Abdul Rifa\u2019I dalam media bintang timur terbit pada 03 Oktober 1927, mengatakan, \u201ckopinya bukan kopi saringan, tetapi kopi tubruk sebab kopi ini katanya nationaal, gulanya gula jawa, susu tidak dipakai karena tidak nationaal. Rokoknya kelobot, selamatan natioanaal ini terus berlangsung ed sampai pagi hari\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Semangat nasionalisme harus tertanam, mengedepankan produk lokal adalah salah satu semangat nasionalime. Salah satu keberadaan rokok klobot menjadi ciri produk asli indonesia dan harus dilestarikan. Klobot sendiri adalah ramuan tembakau dan cengkeh di gulung memakai daun jagung, embrio perkembangan menjadi rokok sigaret kretek tangan dan sigaret kretek mesin.  
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pusaran Budaya Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pusaran-budaya-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-04 08:40:41","post_modified_gmt":"2019-02-04 01:40:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5406","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5403,"post_author":"919","post_date":"2019-02-03 09:05:50","post_date_gmt":"2019-02-03 02:05:50","post_content":"\n

Seringkali saya menyaksikan berbagai film baik itu Eropa atau Asia yang menggambarkan tentang masa depan. Pemandangan soal masa depan tersebut dihadirkan dengan gambaran kecanggihan teknologi seperti robot yang akan membantu kehidupan manusia, gedung-gedung yang tingginya sudah amat tak bisa ditandingi,  hingga mobil-mobil yang bisa terbang. <\/p>\n\n\n\n

Pernah dalam masa kecil saya menyaksikan sebuah film animasi buatan jepang yang mempertanyakan tentang makanan di masa depan. Dengan santai salah satu tokoh yang berasal dari masa depan itu menjawab bahwa suatu saat nanti manusia akan mengonsumsi makanan berupa pasta gigi namun dengan rasa yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa, aneh!<\/p>\n\n\n\n

Seiring waktu berjalan saya kian tumbuh dewasa dan punya kesadaran untuk memilih menjadi seorang perokok<\/a>. Saya juga melihat ada sebuah inovasi dan gambaran tentang masa depan yang hadir dalam kehidupan sekarang. Banyak memang, namun yang menyita perhatian saya adalah rokok elektrik atau yang populer disebut Vape. Konon katanya ia adalah produk inovasi untuk menjembatani kebutuhan menghisap asap dan kecanggihan masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Di awal kehadirannya Vape memang mengundang decak kekaguman saya. Bagaimana bisa sebuah mesin kecil mengeluarkan asap yang katanya lebih menyehatkan daripada rokok.<\/strong> Meski pada akhirnya teori tersebut juga bisa dibantah oleh beberapa ilmuan dunia. Tapi ada satu yang saya amati selain soal kesehatan, rokok elektrik rupanya menghadirkan kultur dan budaya baru dalam kehidupan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: LAGI-LAGI IKLAN ROKOK, KAPAN KPAI TIDAK TEBANG PILIH? <\/a><\/h4>\n\n\n\n

Kehadiran teknologi memang kerap sedikit atau benyak mengubah gaya atau kultur suatu masyarakat. Begitu pula yang saya perhatikan dengan rokok elektrik. Satu hal yang mudah diamati adalah menjamurnya toko-toko kecil yang menjual vape serta liquid di berbagai tempat. Sebagai sebuah warna baru dalam masyarakat, penggunanya ramai-ramai mengunjungi tempat tersebut berinteraksi dengan penikmat lainnya dan membangun sebuah rumah komunitas yang fleksibel.<\/p>\n\n\n\n

Meski belum bisa dikatakan memiliki jumlah penikmat yang setara dengan para perokok, pengguna Vape mulai menunjukkan eksistensinya. Selain toko yang tersebar, ragam acara juga mereka buat di beberapa daerah. Dalam lingkungan saya, beberapa teman yang dulunya merupakan perokok aktif tertarik mengikuti event tersebut dan beralih mengisap rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Nun jauh di sana, di Amerika Serikat tepatnya, budaya Vape juga sudah mulai berkembang lama ketimbang di Tanah Air. Penikmatnya terbagi menjadi dua, ada yang dulunya bekas perokok dan ada yang memang menikmatinya sebagai gaya hidup. Wajar saja mengingat facebook tak memperbolehkan iklan tembakau di platform mereka, sebaliknya iklan tentang vape justru bertebaran. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi budaya baru yang berkembang di berbagai belahan dunia bahkan di Indonesia, Vape konon menjadi alternatif yang lebih bermanfaat daripada rokok. Dalih yang diusung selalu sama kepada para perokok tradisonal yaitu soal kesehatan dan lebih irit. Soal kesehatan tentu ada beberapa pendapat para ilmuan yang membantahnya, namun soal irit, saya rasa tidak. Memang satu liquid bisa digunakan untuk beberapa Minggu, akan tetapi yang saya lihat di lapangan justru sebaliknya. <\/p>\n\n\n\n

Beberapa penikmat rokok elektrik kerap berbelanja liquid yang mereka idamkan. Terkadang, hal tersebut yang membuat mereka boros karena terus mengeksplor rasa mana yang mereka idam-idamkan. Tak jarang juga liquid dengan harga mahal hingga ratus ribuan akan mereka beli. Sebaliknya, para perokok konvensional justru kerap bertahan dengan satu rasa atau merek saja.<\/p>\n\n\n\n

Sedikit berbeda dengan penikmat rokok konvensional atau kretek. Mengingat rokok kretek sudah menjadi kebudayan lokal yang terus dipertahankan selama bertahun-tahun, kehadirannya sudah mewarnai khasanah keindonesiaan. Perokok kretek juga sudah punya soliditas luar biasa yang terbentuk sejak lama dan terus terbangun mengiringi peradaban di Indonesia atau dunia.<\/p>\n\n\n\n

Kini, perokok elektrik mulai merasakan kegelisahan. Beberapa negara mulai menerapkan peraturan ketat terhadap Vape, sedangkan di Indonesia biaya cukai pun kini mulai diberlakukan terhadap perdagangan rokok elektrik. Keberadaannya di mata negara pun mulai dianggap sama seperti rokok, meski pada awalnya rokok elektrik hadir dengan slogan-slogan produk alternatif yang lebih menyehatkan (katanya).<\/p>\n\n\n\n


Tapi jika kemudian di masa depan memang rokok elektrik yang kemudian menjadi sesuatu yang populer dan dinikmati banyak orang. Rasanya saya tetap ingin hidup di jaman ini, dengan sebatang kretek di tangan dan menikmati segala khasanah kebudayaan yang patut terus dipertahankan. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"masa-depan-rokok-elektrik-dan-semangat-alternatif-yang-sia-sia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-03 09:05:56","post_modified_gmt":"2019-02-03 02:05:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5403","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5385,"post_author":"883","post_date":"2019-02-02 08:01:01","post_date_gmt":"2019-02-02 01:01:01","post_content":"Pada tahun 2014, perusahaan rokok multinasional Philip Morris Internasional Inc. merilis sebuah produk <\/span>perangkat\u00a0<\/span>
rokok<\/span><\/a>\u00a0tanpa asap, yang dipanaskan bukan dibakar atau istilahnya\u00a0<\/span>heat not burn<\/i><\/strong>\u00a0(HNB) iQOS<\/strong>. <\/span>\r\n\r\nPerangkat rokok tanpa asap dengan nama iQOS<\/a> ini berbentuk seperti bagian luar pulpen, dengan lubang di tengah untuk rokok. Produk yang berada di bawah brand Marlboro ini dapat memanaskan rokok sampai 350 derajat celcius lalu mengeluarkan uap nikotin beraroma tembakau<\/em><\/a>.<\/span>\r\n

Produk iQOS sebenarnya bukanlah produk rokok tanpa asap yang pertama muncul. Sebelumnya di tahun 1990-an, Reynolds Tobacco Co pernah merilis produk serupa bernama Eclipes yang juga dapat menguapkan nikotin setelah dinyalakan dengan korek api.<\/span><\/blockquote>\r\nSelain itu, Eclips juga dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. Namun, pada saat itu Eclips tidak diminati oleh pasar, utamanya para perokok konvensional. Meskipun Eclips dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. <\/span>\r\n\r\nBisnis semacam rokok tanpa asap seperti Eclips dan iQOS memang sudah menjadi bagian dari rencana panjang bisnis perusahaan-perusahaan rokok multinasional. Jadi tidak usah heran jika ke depannya akan kita akan banyak menemukan produk rokok tanpa asap ini.<\/span>\r\n\r\nWatak dari perusahaan multinasional memang seperti itu, mereka sangat jeli melihat peluang pasar ke depannya. Ketika market place perusahaan rokok multinasional saat ini terus dirongrong oleh kelompok antirokok, mereka tak kehabisan akal. Maka kemudian mereka menginovasi produk rokok konvensional menjadi rokok yang tidak berasap. Begitupun dengan mengikutsertakan jargon-jargon kesehatan dalam narasi promosi mereka.<\/span>\r\n\r\nSesungguhnya memang seperti itulah watak bisnis perusahaan-perusahaan multinasional, melakukan segala cara agar bisnis mereka tetap bertahan, meskipun harus merangkul musuh sekalipun. <\/span>\r\n\r\nYa kadang pura-pura berantem sama antirokok, tapi dibalik itu sebenarnya baik-baik saja, dan tentunya ada kompromi untuk terus melanggengkan bisnis mereka.<\/span>\r\n

Lalu siapa yang dirugikan dari permainan bisnis macam produk rokok tanpa asap perusahaan rokok multinasional ini?<\/span><\/h3>\r\nTentunya yang sangat dirugikan adalah produk hasil tembakau yang memiliki kekhasan seperti kretek di Indonesia. Kretek sebagai produk khas asli Indonesia yang menjadi bagian dari warisan kebudayaan tidak mungkin bertransformasi menjadi produk-produk elektrik dan sejenisnya.<\/span>\r\n\r\nKretek tetaplah kretek, dengan bahan baku alami tembakau dan cengkeh yang tidak diintervensi dengan zat atau perangkat penghantar lainnya. Karena dengan bentuk, karakter dan cara menikmatinya memang konvensional dan akan terus begitu apapun kondisi dan zamannya.<\/span>\r\n
Bisnis produk rokok tanpa asap (elektrik) juga menghajar kretek dengan mendompleng isu pengendalian tembakau. Kampanye pengendalian tembakau selalu membawa slogan bahaya merokok dan upaya untuk berhenti merokok. <\/span><\/blockquote>\r\nDari isu tersebut, rokok elektrik masuk dengan citra produk alternatif tembakau, bahkan mereka tak segan menilai bahwa rokok elektrik lebih aman ketimbang rokok konvensional, yakni kretek.<\/span>\r\n\r\nLalu jika Indonesia akan dibanjiri dengan produk-produk yang mengatasnamakan produk alternatif tembakau, macam rokok tanpa asap (iQOS dan sejenisnya), maka itulah pertanda bahwa kretek harus tergerus dari cara hidup manusia Indonesia dalam menikmati produk hasil tembakau khas Indonesia yang sudah turun-temurun lamanya dinikmati manusia Indonesia.<\/span>","post_title":"Nasib Kretek di Pusaran Pertarungan Bisnis Global Perusahaan Rokok Multinasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"nasib-kretek-di-pusaran-pertarungan-bisnis-global-perusahaan-rokok-multinasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-02 08:01:43","post_modified_gmt":"2019-02-02 01:01:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5385","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; \n

Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n\n\n\n

Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
<\/p>\n","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5406,"post_author":"877","post_date":"2019-02-04 08:23:48","post_date_gmt":"2019-02-04 01:23:48","post_content":"\n

Merokok itu sudah menjadi bagian dari budaya dan tradisi masyarakat, jauh sebelum Indonesia merdeka. Banyak cerita atau kisah tentang kretek <\/a><\/del>di tengah-tengah masyarakat bangsa ini, mulai sebagai alat untuk meraup keuntungan, alat komunikasi, sebagai teman sampai menjadi simbol pergerakan. <\/p>\n\n\n\n

Kretek, Simbol Perlawanan Roro Mendut<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Siapa yang tidak pernah mendengan cerita tentang Roro Mendut?, di telinga masyarakat Indonesia, kisah Roro Mendut tidak asing lagi.  Perempuan yang mempunyai paras wajah cantik, dan digandrungi kaum adam terutama kalangan putra kerajaan. Informasi kecantikan Roro Mendut tersebar seantero Nusantara, tidak satupun pria meragukan kecantikannya.  Bahkan kisah dan cerita kecantikan Roro Mendut tercatat dalam buku Babad Tanah Jawi. <\/p>\n\n\n\n

Diperkirakan pada tahun 1627, pada saat panglima perang Sultan Agung Mataram bernama Tumenggung Wiraguna berhasil menumpas pemberontakan di kota Pati, sebagai imbalanan atas keberhasilannya, mendapat hadiah wanita pujaan pria bernama Rara Mendut dari Kasultanan Agung Mataram.  Roro Mendut menolak dipinang Tumenggung Wiraguna, dan secara terang-terangan memilih pria lain dambaannya. Akibatnya, Roro Mendut harus membayar pajak setiap harinya kepada kerajaan Mataram. <\/p>\n\n\n\n

Bisa dibayangkan, betapa bingungnya Roro Mendut saat itu. Uang dari mana, ia hasilkan untuk bayar pajak tiap hari demi bisa bersama kekasihnya. Ternyata Roro Mendut tidak hanya cantik tetapi cerdas dan kreatif, bisa membaca peluang bisnis saat itu. Ide cermerlang muncul dengan berdagang\/berjualan rokok lintingan yang direkatkan dengan air ludahnya, dan sebelum menjualnya, rokok lintingan di sulut dahulu dan dihisap bekas bibir merahnya. Kemudian baru dijual ke pembeli yang berdesakan berjejer antri. <\/p>\n\n\n\n

Entah dari mana ide menjual rokok itu muncul. Yang jelas saking larisnya, kewajiban pajak Roro Mendut terpenuhi. Dan mungkin keadaannya akan lebih parah, jika saat itu Roro Mendut tidak berdagang rokok. Tidak akan terpenuhi kewajiban pajaknya. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Dengan rokok, hidup Roro Mendut terselamatkan. Adanya rokok, \u00a0Roro Mendut bebas dari belenggu kekuasaan. Berkat rokok, Roro Mendut terkengan, mengisi rubik informasi sejarah begitu kuatnya budaya merokok di \u00a0Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Pusaka Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek, Teman Perjuangan  Diponegoro<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Semasa berjuang melawan penjajah, yang harus dilakukan Diponegoro berpindah-pindah dari kota satu ke kota lain. Strategi perlawanan Diponegoro, kemudian sebagai basis strategi perang gerilya. Strategi yang menjadi idola dan kebanggaan tentara Indonesia. Dengan bergerilya, tentara Indonesia mampu mengecoh kekutan lawan yang lebih besar jumlahnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu, tenyata banyak cerita, Diponegoro saat berperang ditemani rokok. Ia dan pasukannya gemar merokok. Bahkan ketika tidak ada rokok, Pangeran Diponegoro rela hanya megunyah daun sirih yang diracik dengan kapur dan pinang. <\/p>\n\n\n\n

Kebiasaan ini, juga dialami oleh pengikut \/pasukan perang Pangeran Diponegoro. Bagi mereka, rokok teman sejati, menemani disetiap perjalanan mereka. Rokok menghilangkan depresi mereka, sebagai hiburan saat jauh dari keluarga demi berjuang melawan penjajah. Rokok menumbuhkan percaya diri mereka, lebih berani melawan penjajah walaupun hanya dengan serba keterbatasan, pasukan jumlah terbatas, alat perang terbatas dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Baca juga: Pangeran Diponegoro, Rokok Klobot dan Perlawanan Simbolis<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Jati Diri Bangsa<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Salah satu \u201cpendiri bangsa\u201d bernama KH. Agus Salim menghisap kretek dengan asapnya di kebal-kebulkan keudara, disaat ada perjamuan di Istana Buckingham ketika penobatan Elizabeth II sebagai Ratu kerajaan Inggris. Aroma khas keluar dari asap rokok kretek, tercium orang yang berada di ruang perjamuan. Sehingga memancing salah satu orang yang datang dalam perjamuan, dengan berkata; \u201ctuan sedang menghisap apa itu?\u201d.  Sentak KH. Agus Salim menjawab, \u201c inilah yang membuat nenek moyang anda sekian abad lalu datang dan kemudian menjajah negeri kami\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Jawaban KH. Agus Salim, faktanya memang benar. Rokok kretek tidak lain ada tambahan cengkeh (suzygium aromaticum<\/em>). \u00a0Tanaman legendaris menjadi rebutan dan sumber keuntungan kolonialisme Eropa atas Asia termasuk Indonesia. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Cengkeh adalah salah satu tanaman yang diperebutkan bangsa-bangsa dunia, sampai melegalkan penjajahan.  Dalam simpulan perjalanan ekspedisi cengkeh tahun 2013, Kepala Suku begitu julukan bagi Putut Ea, mengatakan \u201c jika saja tak pernah ada cengkeh dan pala di Maluku, mungkin sejarah kepulauan Nusantara ini akan berbeda sama sekali\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Simpulan Putut EA, sebagai salah satu pembenar perkataan \u00a0KH. Agus Salim. Mungkin, jika tanaman cengkeh tidak ada, fakta sejarah akan berbeda, tidak ada penjajahan di bumi Nusantara ini. <\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Mengisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek untuk Berteman dan Menjalin Persaudaraan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Teringat apa yang pernah dilakukan Menteri Sosial dan Lingkungan Hidup, saat melakukan pendekatan pada suku anak dalam di Jambi. Tidak lain ia adalah Khofifah menteri perempuan yang energik. Saat itu Khofifah bertanggungjawab dalam mengatasi masalah pendidikan dan kesejahteraan masyarakat suku anak dalam di Jambi.  <\/p>\n\n\n\n

Kebijakannya membuat fenomenal, selain bahan makanan, dan bantuan lain, khofifah juga membawa rokok.  Yang kemudian ada yang mengggugat dari anti rokok, tetapi sebagai Menteri, Khofifah tentunya sudah mengkaji secara mendalam. Dengan kecerdasannya , Khofifah menjawab dengan tegas dan lugas, \u201cjangan sok tahu kehidupan mereka, kenali apa yang menjadi ritme kehidupan mereka. Sangat bijaksana kalau kita semua pergi kesana, sehingga tahu adat istiadatnya juga. Tolong kalau ingin mengerti tentang kultur jangan hanya dari kacamata Jakarta. Saya pun ingin mengajak anda kesana, turun kesana, sapalah mereka\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Khofifah memberikan pelajaran bagi anti rokok. Tidak boleh sok tahu, apalagi selama ini antirokok hanya berasumsi, tanpa melihat fakta dilapangan. Khofifah juga menganjurkan agar lebih mengenal adat-istiadat, budaya dan tradisi masyarakat, tidak boleh melakukan hegemoni kultural, sebab keberagaman adat-istiadat dan budaya merupakan kekayaan negeri. <\/p>\n\n\n\n

Pelajaran Khofifah sangat mendalam dan bercirikhas Nusantara. Sebgaai Menteri \u00a0Sosial tentunya lebih berpengalaman apa yang dibutuhkan bangsa ini agar tetap jaya, bersatu dan utuh. Kenali perbedaan, hormati perbedaan, junjung tinggi budaya yang berbeda. \u00a0Apa yang telah dilakukan Khofifah dengan membawa rokok ke suku anak dalam adalah cermin penghormatan tradisi dan budaya masyarakat. Sebagai seorang Mentri, tentunya punya kuasa, artinya bisa seorang khofifah memberikan bantuan sesuai keinginannya sendiri, namun hal itu tidak dilakukan. Ia lebih mengedepankan penghormatan budaya masyarakat setempat, dengan membawa rokok untuk pendekatan dan pertemanan. Karena Khofifah tahu betul, bahwa merokok adalah budaya mereka, yang diwaris dari neneng moyang mereka. <\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Memilih Jalan Hidup Menikmati Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Simbol Pergerakan Nasional     <\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Abdul Rifa\u2019I dalam media bintang timur terbit pada 03 Oktober 1927, mengatakan, \u201ckopinya bukan kopi saringan, tetapi kopi tubruk sebab kopi ini katanya nationaal, gulanya gula jawa, susu tidak dipakai karena tidak nationaal. Rokoknya kelobot, selamatan natioanaal ini terus berlangsung ed sampai pagi hari\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Semangat nasionalisme harus tertanam, mengedepankan produk lokal adalah salah satu semangat nasionalime. Salah satu keberadaan rokok klobot menjadi ciri produk asli indonesia dan harus dilestarikan. Klobot sendiri adalah ramuan tembakau dan cengkeh di gulung memakai daun jagung, embrio perkembangan menjadi rokok sigaret kretek tangan dan sigaret kretek mesin.  
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pusaran Budaya Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pusaran-budaya-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-04 08:40:41","post_modified_gmt":"2019-02-04 01:40:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5406","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5403,"post_author":"919","post_date":"2019-02-03 09:05:50","post_date_gmt":"2019-02-03 02:05:50","post_content":"\n

Seringkali saya menyaksikan berbagai film baik itu Eropa atau Asia yang menggambarkan tentang masa depan. Pemandangan soal masa depan tersebut dihadirkan dengan gambaran kecanggihan teknologi seperti robot yang akan membantu kehidupan manusia, gedung-gedung yang tingginya sudah amat tak bisa ditandingi,  hingga mobil-mobil yang bisa terbang. <\/p>\n\n\n\n

Pernah dalam masa kecil saya menyaksikan sebuah film animasi buatan jepang yang mempertanyakan tentang makanan di masa depan. Dengan santai salah satu tokoh yang berasal dari masa depan itu menjawab bahwa suatu saat nanti manusia akan mengonsumsi makanan berupa pasta gigi namun dengan rasa yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa, aneh!<\/p>\n\n\n\n

Seiring waktu berjalan saya kian tumbuh dewasa dan punya kesadaran untuk memilih menjadi seorang perokok<\/a>. Saya juga melihat ada sebuah inovasi dan gambaran tentang masa depan yang hadir dalam kehidupan sekarang. Banyak memang, namun yang menyita perhatian saya adalah rokok elektrik atau yang populer disebut Vape. Konon katanya ia adalah produk inovasi untuk menjembatani kebutuhan menghisap asap dan kecanggihan masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Di awal kehadirannya Vape memang mengundang decak kekaguman saya. Bagaimana bisa sebuah mesin kecil mengeluarkan asap yang katanya lebih menyehatkan daripada rokok.<\/strong> Meski pada akhirnya teori tersebut juga bisa dibantah oleh beberapa ilmuan dunia. Tapi ada satu yang saya amati selain soal kesehatan, rokok elektrik rupanya menghadirkan kultur dan budaya baru dalam kehidupan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: LAGI-LAGI IKLAN ROKOK, KAPAN KPAI TIDAK TEBANG PILIH? <\/a><\/h4>\n\n\n\n

Kehadiran teknologi memang kerap sedikit atau benyak mengubah gaya atau kultur suatu masyarakat. Begitu pula yang saya perhatikan dengan rokok elektrik. Satu hal yang mudah diamati adalah menjamurnya toko-toko kecil yang menjual vape serta liquid di berbagai tempat. Sebagai sebuah warna baru dalam masyarakat, penggunanya ramai-ramai mengunjungi tempat tersebut berinteraksi dengan penikmat lainnya dan membangun sebuah rumah komunitas yang fleksibel.<\/p>\n\n\n\n

Meski belum bisa dikatakan memiliki jumlah penikmat yang setara dengan para perokok, pengguna Vape mulai menunjukkan eksistensinya. Selain toko yang tersebar, ragam acara juga mereka buat di beberapa daerah. Dalam lingkungan saya, beberapa teman yang dulunya merupakan perokok aktif tertarik mengikuti event tersebut dan beralih mengisap rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Nun jauh di sana, di Amerika Serikat tepatnya, budaya Vape juga sudah mulai berkembang lama ketimbang di Tanah Air. Penikmatnya terbagi menjadi dua, ada yang dulunya bekas perokok dan ada yang memang menikmatinya sebagai gaya hidup. Wajar saja mengingat facebook tak memperbolehkan iklan tembakau di platform mereka, sebaliknya iklan tentang vape justru bertebaran. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi budaya baru yang berkembang di berbagai belahan dunia bahkan di Indonesia, Vape konon menjadi alternatif yang lebih bermanfaat daripada rokok. Dalih yang diusung selalu sama kepada para perokok tradisonal yaitu soal kesehatan dan lebih irit. Soal kesehatan tentu ada beberapa pendapat para ilmuan yang membantahnya, namun soal irit, saya rasa tidak. Memang satu liquid bisa digunakan untuk beberapa Minggu, akan tetapi yang saya lihat di lapangan justru sebaliknya. <\/p>\n\n\n\n

Beberapa penikmat rokok elektrik kerap berbelanja liquid yang mereka idamkan. Terkadang, hal tersebut yang membuat mereka boros karena terus mengeksplor rasa mana yang mereka idam-idamkan. Tak jarang juga liquid dengan harga mahal hingga ratus ribuan akan mereka beli. Sebaliknya, para perokok konvensional justru kerap bertahan dengan satu rasa atau merek saja.<\/p>\n\n\n\n

Sedikit berbeda dengan penikmat rokok konvensional atau kretek. Mengingat rokok kretek sudah menjadi kebudayan lokal yang terus dipertahankan selama bertahun-tahun, kehadirannya sudah mewarnai khasanah keindonesiaan. Perokok kretek juga sudah punya soliditas luar biasa yang terbentuk sejak lama dan terus terbangun mengiringi peradaban di Indonesia atau dunia.<\/p>\n\n\n\n

Kini, perokok elektrik mulai merasakan kegelisahan. Beberapa negara mulai menerapkan peraturan ketat terhadap Vape, sedangkan di Indonesia biaya cukai pun kini mulai diberlakukan terhadap perdagangan rokok elektrik. Keberadaannya di mata negara pun mulai dianggap sama seperti rokok, meski pada awalnya rokok elektrik hadir dengan slogan-slogan produk alternatif yang lebih menyehatkan (katanya).<\/p>\n\n\n\n


Tapi jika kemudian di masa depan memang rokok elektrik yang kemudian menjadi sesuatu yang populer dan dinikmati banyak orang. Rasanya saya tetap ingin hidup di jaman ini, dengan sebatang kretek di tangan dan menikmati segala khasanah kebudayaan yang patut terus dipertahankan. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"masa-depan-rokok-elektrik-dan-semangat-alternatif-yang-sia-sia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-03 09:05:56","post_modified_gmt":"2019-02-03 02:05:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5403","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5385,"post_author":"883","post_date":"2019-02-02 08:01:01","post_date_gmt":"2019-02-02 01:01:01","post_content":"Pada tahun 2014, perusahaan rokok multinasional Philip Morris Internasional Inc. merilis sebuah produk <\/span>perangkat\u00a0<\/span>
rokok<\/span><\/a>\u00a0tanpa asap, yang dipanaskan bukan dibakar atau istilahnya\u00a0<\/span>heat not burn<\/i><\/strong>\u00a0(HNB) iQOS<\/strong>. <\/span>\r\n\r\nPerangkat rokok tanpa asap dengan nama iQOS<\/a> ini berbentuk seperti bagian luar pulpen, dengan lubang di tengah untuk rokok. Produk yang berada di bawah brand Marlboro ini dapat memanaskan rokok sampai 350 derajat celcius lalu mengeluarkan uap nikotin beraroma tembakau<\/em><\/a>.<\/span>\r\n

Produk iQOS sebenarnya bukanlah produk rokok tanpa asap yang pertama muncul. Sebelumnya di tahun 1990-an, Reynolds Tobacco Co pernah merilis produk serupa bernama Eclipes yang juga dapat menguapkan nikotin setelah dinyalakan dengan korek api.<\/span><\/blockquote>\r\nSelain itu, Eclips juga dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. Namun, pada saat itu Eclips tidak diminati oleh pasar, utamanya para perokok konvensional. Meskipun Eclips dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. <\/span>\r\n\r\nBisnis semacam rokok tanpa asap seperti Eclips dan iQOS memang sudah menjadi bagian dari rencana panjang bisnis perusahaan-perusahaan rokok multinasional. Jadi tidak usah heran jika ke depannya akan kita akan banyak menemukan produk rokok tanpa asap ini.<\/span>\r\n\r\nWatak dari perusahaan multinasional memang seperti itu, mereka sangat jeli melihat peluang pasar ke depannya. Ketika market place perusahaan rokok multinasional saat ini terus dirongrong oleh kelompok antirokok, mereka tak kehabisan akal. Maka kemudian mereka menginovasi produk rokok konvensional menjadi rokok yang tidak berasap. Begitupun dengan mengikutsertakan jargon-jargon kesehatan dalam narasi promosi mereka.<\/span>\r\n\r\nSesungguhnya memang seperti itulah watak bisnis perusahaan-perusahaan multinasional, melakukan segala cara agar bisnis mereka tetap bertahan, meskipun harus merangkul musuh sekalipun. <\/span>\r\n\r\nYa kadang pura-pura berantem sama antirokok, tapi dibalik itu sebenarnya baik-baik saja, dan tentunya ada kompromi untuk terus melanggengkan bisnis mereka.<\/span>\r\n

Lalu siapa yang dirugikan dari permainan bisnis macam produk rokok tanpa asap perusahaan rokok multinasional ini?<\/span><\/h3>\r\nTentunya yang sangat dirugikan adalah produk hasil tembakau yang memiliki kekhasan seperti kretek di Indonesia. Kretek sebagai produk khas asli Indonesia yang menjadi bagian dari warisan kebudayaan tidak mungkin bertransformasi menjadi produk-produk elektrik dan sejenisnya.<\/span>\r\n\r\nKretek tetaplah kretek, dengan bahan baku alami tembakau dan cengkeh yang tidak diintervensi dengan zat atau perangkat penghantar lainnya. Karena dengan bentuk, karakter dan cara menikmatinya memang konvensional dan akan terus begitu apapun kondisi dan zamannya.<\/span>\r\n
Bisnis produk rokok tanpa asap (elektrik) juga menghajar kretek dengan mendompleng isu pengendalian tembakau. Kampanye pengendalian tembakau selalu membawa slogan bahaya merokok dan upaya untuk berhenti merokok. <\/span><\/blockquote>\r\nDari isu tersebut, rokok elektrik masuk dengan citra produk alternatif tembakau, bahkan mereka tak segan menilai bahwa rokok elektrik lebih aman ketimbang rokok konvensional, yakni kretek.<\/span>\r\n\r\nLalu jika Indonesia akan dibanjiri dengan produk-produk yang mengatasnamakan produk alternatif tembakau, macam rokok tanpa asap (iQOS dan sejenisnya), maka itulah pertanda bahwa kretek harus tergerus dari cara hidup manusia Indonesia dalam menikmati produk hasil tembakau khas Indonesia yang sudah turun-temurun lamanya dinikmati manusia Indonesia.<\/span>","post_title":"Nasib Kretek di Pusaran Pertarungan Bisnis Global Perusahaan Rokok Multinasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"nasib-kretek-di-pusaran-pertarungan-bisnis-global-perusahaan-rokok-multinasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-02 08:01:43","post_modified_gmt":"2019-02-02 01:01:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5385","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; \n

Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n\n\n\n

Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
<\/p>\n","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5406,"post_author":"877","post_date":"2019-02-04 08:23:48","post_date_gmt":"2019-02-04 01:23:48","post_content":"\n

Merokok itu sudah menjadi bagian dari budaya dan tradisi masyarakat, jauh sebelum Indonesia merdeka. Banyak cerita atau kisah tentang kretek <\/a><\/del>di tengah-tengah masyarakat bangsa ini, mulai sebagai alat untuk meraup keuntungan, alat komunikasi, sebagai teman sampai menjadi simbol pergerakan. <\/p>\n\n\n\n

Kretek, Simbol Perlawanan Roro Mendut<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Siapa yang tidak pernah mendengan cerita tentang Roro Mendut?, di telinga masyarakat Indonesia, kisah Roro Mendut tidak asing lagi.  Perempuan yang mempunyai paras wajah cantik, dan digandrungi kaum adam terutama kalangan putra kerajaan. Informasi kecantikan Roro Mendut tersebar seantero Nusantara, tidak satupun pria meragukan kecantikannya.  Bahkan kisah dan cerita kecantikan Roro Mendut tercatat dalam buku Babad Tanah Jawi. <\/p>\n\n\n\n

Diperkirakan pada tahun 1627, pada saat panglima perang Sultan Agung Mataram bernama Tumenggung Wiraguna berhasil menumpas pemberontakan di kota Pati, sebagai imbalanan atas keberhasilannya, mendapat hadiah wanita pujaan pria bernama Rara Mendut dari Kasultanan Agung Mataram.  Roro Mendut menolak dipinang Tumenggung Wiraguna, dan secara terang-terangan memilih pria lain dambaannya. Akibatnya, Roro Mendut harus membayar pajak setiap harinya kepada kerajaan Mataram. <\/p>\n\n\n\n

Bisa dibayangkan, betapa bingungnya Roro Mendut saat itu. Uang dari mana, ia hasilkan untuk bayar pajak tiap hari demi bisa bersama kekasihnya. Ternyata Roro Mendut tidak hanya cantik tetapi cerdas dan kreatif, bisa membaca peluang bisnis saat itu. Ide cermerlang muncul dengan berdagang\/berjualan rokok lintingan yang direkatkan dengan air ludahnya, dan sebelum menjualnya, rokok lintingan di sulut dahulu dan dihisap bekas bibir merahnya. Kemudian baru dijual ke pembeli yang berdesakan berjejer antri. <\/p>\n\n\n\n

Entah dari mana ide menjual rokok itu muncul. Yang jelas saking larisnya, kewajiban pajak Roro Mendut terpenuhi. Dan mungkin keadaannya akan lebih parah, jika saat itu Roro Mendut tidak berdagang rokok. Tidak akan terpenuhi kewajiban pajaknya. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Dengan rokok, hidup Roro Mendut terselamatkan. Adanya rokok, \u00a0Roro Mendut bebas dari belenggu kekuasaan. Berkat rokok, Roro Mendut terkengan, mengisi rubik informasi sejarah begitu kuatnya budaya merokok di \u00a0Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Pusaka Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek, Teman Perjuangan  Diponegoro<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Semasa berjuang melawan penjajah, yang harus dilakukan Diponegoro berpindah-pindah dari kota satu ke kota lain. Strategi perlawanan Diponegoro, kemudian sebagai basis strategi perang gerilya. Strategi yang menjadi idola dan kebanggaan tentara Indonesia. Dengan bergerilya, tentara Indonesia mampu mengecoh kekutan lawan yang lebih besar jumlahnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu, tenyata banyak cerita, Diponegoro saat berperang ditemani rokok. Ia dan pasukannya gemar merokok. Bahkan ketika tidak ada rokok, Pangeran Diponegoro rela hanya megunyah daun sirih yang diracik dengan kapur dan pinang. <\/p>\n\n\n\n

Kebiasaan ini, juga dialami oleh pengikut \/pasukan perang Pangeran Diponegoro. Bagi mereka, rokok teman sejati, menemani disetiap perjalanan mereka. Rokok menghilangkan depresi mereka, sebagai hiburan saat jauh dari keluarga demi berjuang melawan penjajah. Rokok menumbuhkan percaya diri mereka, lebih berani melawan penjajah walaupun hanya dengan serba keterbatasan, pasukan jumlah terbatas, alat perang terbatas dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Baca juga: Pangeran Diponegoro, Rokok Klobot dan Perlawanan Simbolis<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Jati Diri Bangsa<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Salah satu \u201cpendiri bangsa\u201d bernama KH. Agus Salim menghisap kretek dengan asapnya di kebal-kebulkan keudara, disaat ada perjamuan di Istana Buckingham ketika penobatan Elizabeth II sebagai Ratu kerajaan Inggris. Aroma khas keluar dari asap rokok kretek, tercium orang yang berada di ruang perjamuan. Sehingga memancing salah satu orang yang datang dalam perjamuan, dengan berkata; \u201ctuan sedang menghisap apa itu?\u201d.  Sentak KH. Agus Salim menjawab, \u201c inilah yang membuat nenek moyang anda sekian abad lalu datang dan kemudian menjajah negeri kami\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Jawaban KH. Agus Salim, faktanya memang benar. Rokok kretek tidak lain ada tambahan cengkeh (suzygium aromaticum<\/em>). \u00a0Tanaman legendaris menjadi rebutan dan sumber keuntungan kolonialisme Eropa atas Asia termasuk Indonesia. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Cengkeh adalah salah satu tanaman yang diperebutkan bangsa-bangsa dunia, sampai melegalkan penjajahan.  Dalam simpulan perjalanan ekspedisi cengkeh tahun 2013, Kepala Suku begitu julukan bagi Putut Ea, mengatakan \u201c jika saja tak pernah ada cengkeh dan pala di Maluku, mungkin sejarah kepulauan Nusantara ini akan berbeda sama sekali\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Simpulan Putut EA, sebagai salah satu pembenar perkataan \u00a0KH. Agus Salim. Mungkin, jika tanaman cengkeh tidak ada, fakta sejarah akan berbeda, tidak ada penjajahan di bumi Nusantara ini. <\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Mengisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek untuk Berteman dan Menjalin Persaudaraan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Teringat apa yang pernah dilakukan Menteri Sosial dan Lingkungan Hidup, saat melakukan pendekatan pada suku anak dalam di Jambi. Tidak lain ia adalah Khofifah menteri perempuan yang energik. Saat itu Khofifah bertanggungjawab dalam mengatasi masalah pendidikan dan kesejahteraan masyarakat suku anak dalam di Jambi.  <\/p>\n\n\n\n

Kebijakannya membuat fenomenal, selain bahan makanan, dan bantuan lain, khofifah juga membawa rokok.  Yang kemudian ada yang mengggugat dari anti rokok, tetapi sebagai Menteri, Khofifah tentunya sudah mengkaji secara mendalam. Dengan kecerdasannya , Khofifah menjawab dengan tegas dan lugas, \u201cjangan sok tahu kehidupan mereka, kenali apa yang menjadi ritme kehidupan mereka. Sangat bijaksana kalau kita semua pergi kesana, sehingga tahu adat istiadatnya juga. Tolong kalau ingin mengerti tentang kultur jangan hanya dari kacamata Jakarta. Saya pun ingin mengajak anda kesana, turun kesana, sapalah mereka\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Khofifah memberikan pelajaran bagi anti rokok. Tidak boleh sok tahu, apalagi selama ini antirokok hanya berasumsi, tanpa melihat fakta dilapangan. Khofifah juga menganjurkan agar lebih mengenal adat-istiadat, budaya dan tradisi masyarakat, tidak boleh melakukan hegemoni kultural, sebab keberagaman adat-istiadat dan budaya merupakan kekayaan negeri. <\/p>\n\n\n\n

Pelajaran Khofifah sangat mendalam dan bercirikhas Nusantara. Sebgaai Menteri \u00a0Sosial tentunya lebih berpengalaman apa yang dibutuhkan bangsa ini agar tetap jaya, bersatu dan utuh. Kenali perbedaan, hormati perbedaan, junjung tinggi budaya yang berbeda. \u00a0Apa yang telah dilakukan Khofifah dengan membawa rokok ke suku anak dalam adalah cermin penghormatan tradisi dan budaya masyarakat. Sebagai seorang Mentri, tentunya punya kuasa, artinya bisa seorang khofifah memberikan bantuan sesuai keinginannya sendiri, namun hal itu tidak dilakukan. Ia lebih mengedepankan penghormatan budaya masyarakat setempat, dengan membawa rokok untuk pendekatan dan pertemanan. Karena Khofifah tahu betul, bahwa merokok adalah budaya mereka, yang diwaris dari neneng moyang mereka. <\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Memilih Jalan Hidup Menikmati Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Simbol Pergerakan Nasional     <\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Abdul Rifa\u2019I dalam media bintang timur terbit pada 03 Oktober 1927, mengatakan, \u201ckopinya bukan kopi saringan, tetapi kopi tubruk sebab kopi ini katanya nationaal, gulanya gula jawa, susu tidak dipakai karena tidak nationaal. Rokoknya kelobot, selamatan natioanaal ini terus berlangsung ed sampai pagi hari\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Semangat nasionalisme harus tertanam, mengedepankan produk lokal adalah salah satu semangat nasionalime. Salah satu keberadaan rokok klobot menjadi ciri produk asli indonesia dan harus dilestarikan. Klobot sendiri adalah ramuan tembakau dan cengkeh di gulung memakai daun jagung, embrio perkembangan menjadi rokok sigaret kretek tangan dan sigaret kretek mesin.  
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pusaran Budaya Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pusaran-budaya-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-04 08:40:41","post_modified_gmt":"2019-02-04 01:40:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5406","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5403,"post_author":"919","post_date":"2019-02-03 09:05:50","post_date_gmt":"2019-02-03 02:05:50","post_content":"\n

Seringkali saya menyaksikan berbagai film baik itu Eropa atau Asia yang menggambarkan tentang masa depan. Pemandangan soal masa depan tersebut dihadirkan dengan gambaran kecanggihan teknologi seperti robot yang akan membantu kehidupan manusia, gedung-gedung yang tingginya sudah amat tak bisa ditandingi,  hingga mobil-mobil yang bisa terbang. <\/p>\n\n\n\n

Pernah dalam masa kecil saya menyaksikan sebuah film animasi buatan jepang yang mempertanyakan tentang makanan di masa depan. Dengan santai salah satu tokoh yang berasal dari masa depan itu menjawab bahwa suatu saat nanti manusia akan mengonsumsi makanan berupa pasta gigi namun dengan rasa yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa, aneh!<\/p>\n\n\n\n

Seiring waktu berjalan saya kian tumbuh dewasa dan punya kesadaran untuk memilih menjadi seorang perokok<\/a>. Saya juga melihat ada sebuah inovasi dan gambaran tentang masa depan yang hadir dalam kehidupan sekarang. Banyak memang, namun yang menyita perhatian saya adalah rokok elektrik atau yang populer disebut Vape. Konon katanya ia adalah produk inovasi untuk menjembatani kebutuhan menghisap asap dan kecanggihan masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Di awal kehadirannya Vape memang mengundang decak kekaguman saya. Bagaimana bisa sebuah mesin kecil mengeluarkan asap yang katanya lebih menyehatkan daripada rokok.<\/strong> Meski pada akhirnya teori tersebut juga bisa dibantah oleh beberapa ilmuan dunia. Tapi ada satu yang saya amati selain soal kesehatan, rokok elektrik rupanya menghadirkan kultur dan budaya baru dalam kehidupan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: LAGI-LAGI IKLAN ROKOK, KAPAN KPAI TIDAK TEBANG PILIH? <\/a><\/h4>\n\n\n\n

Kehadiran teknologi memang kerap sedikit atau benyak mengubah gaya atau kultur suatu masyarakat. Begitu pula yang saya perhatikan dengan rokok elektrik. Satu hal yang mudah diamati adalah menjamurnya toko-toko kecil yang menjual vape serta liquid di berbagai tempat. Sebagai sebuah warna baru dalam masyarakat, penggunanya ramai-ramai mengunjungi tempat tersebut berinteraksi dengan penikmat lainnya dan membangun sebuah rumah komunitas yang fleksibel.<\/p>\n\n\n\n

Meski belum bisa dikatakan memiliki jumlah penikmat yang setara dengan para perokok, pengguna Vape mulai menunjukkan eksistensinya. Selain toko yang tersebar, ragam acara juga mereka buat di beberapa daerah. Dalam lingkungan saya, beberapa teman yang dulunya merupakan perokok aktif tertarik mengikuti event tersebut dan beralih mengisap rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Nun jauh di sana, di Amerika Serikat tepatnya, budaya Vape juga sudah mulai berkembang lama ketimbang di Tanah Air. Penikmatnya terbagi menjadi dua, ada yang dulunya bekas perokok dan ada yang memang menikmatinya sebagai gaya hidup. Wajar saja mengingat facebook tak memperbolehkan iklan tembakau di platform mereka, sebaliknya iklan tentang vape justru bertebaran. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi budaya baru yang berkembang di berbagai belahan dunia bahkan di Indonesia, Vape konon menjadi alternatif yang lebih bermanfaat daripada rokok. Dalih yang diusung selalu sama kepada para perokok tradisonal yaitu soal kesehatan dan lebih irit. Soal kesehatan tentu ada beberapa pendapat para ilmuan yang membantahnya, namun soal irit, saya rasa tidak. Memang satu liquid bisa digunakan untuk beberapa Minggu, akan tetapi yang saya lihat di lapangan justru sebaliknya. <\/p>\n\n\n\n

Beberapa penikmat rokok elektrik kerap berbelanja liquid yang mereka idamkan. Terkadang, hal tersebut yang membuat mereka boros karena terus mengeksplor rasa mana yang mereka idam-idamkan. Tak jarang juga liquid dengan harga mahal hingga ratus ribuan akan mereka beli. Sebaliknya, para perokok konvensional justru kerap bertahan dengan satu rasa atau merek saja.<\/p>\n\n\n\n

Sedikit berbeda dengan penikmat rokok konvensional atau kretek. Mengingat rokok kretek sudah menjadi kebudayan lokal yang terus dipertahankan selama bertahun-tahun, kehadirannya sudah mewarnai khasanah keindonesiaan. Perokok kretek juga sudah punya soliditas luar biasa yang terbentuk sejak lama dan terus terbangun mengiringi peradaban di Indonesia atau dunia.<\/p>\n\n\n\n

Kini, perokok elektrik mulai merasakan kegelisahan. Beberapa negara mulai menerapkan peraturan ketat terhadap Vape, sedangkan di Indonesia biaya cukai pun kini mulai diberlakukan terhadap perdagangan rokok elektrik. Keberadaannya di mata negara pun mulai dianggap sama seperti rokok, meski pada awalnya rokok elektrik hadir dengan slogan-slogan produk alternatif yang lebih menyehatkan (katanya).<\/p>\n\n\n\n


Tapi jika kemudian di masa depan memang rokok elektrik yang kemudian menjadi sesuatu yang populer dan dinikmati banyak orang. Rasanya saya tetap ingin hidup di jaman ini, dengan sebatang kretek di tangan dan menikmati segala khasanah kebudayaan yang patut terus dipertahankan. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"masa-depan-rokok-elektrik-dan-semangat-alternatif-yang-sia-sia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-03 09:05:56","post_modified_gmt":"2019-02-03 02:05:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5403","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5385,"post_author":"883","post_date":"2019-02-02 08:01:01","post_date_gmt":"2019-02-02 01:01:01","post_content":"Pada tahun 2014, perusahaan rokok multinasional Philip Morris Internasional Inc. merilis sebuah produk <\/span>perangkat\u00a0<\/span>
rokok<\/span><\/a>\u00a0tanpa asap, yang dipanaskan bukan dibakar atau istilahnya\u00a0<\/span>heat not burn<\/i><\/strong>\u00a0(HNB) iQOS<\/strong>. <\/span>\r\n\r\nPerangkat rokok tanpa asap dengan nama iQOS<\/a> ini berbentuk seperti bagian luar pulpen, dengan lubang di tengah untuk rokok. Produk yang berada di bawah brand Marlboro ini dapat memanaskan rokok sampai 350 derajat celcius lalu mengeluarkan uap nikotin beraroma tembakau<\/em><\/a>.<\/span>\r\n

Produk iQOS sebenarnya bukanlah produk rokok tanpa asap yang pertama muncul. Sebelumnya di tahun 1990-an, Reynolds Tobacco Co pernah merilis produk serupa bernama Eclipes yang juga dapat menguapkan nikotin setelah dinyalakan dengan korek api.<\/span><\/blockquote>\r\nSelain itu, Eclips juga dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. Namun, pada saat itu Eclips tidak diminati oleh pasar, utamanya para perokok konvensional. Meskipun Eclips dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. <\/span>\r\n\r\nBisnis semacam rokok tanpa asap seperti Eclips dan iQOS memang sudah menjadi bagian dari rencana panjang bisnis perusahaan-perusahaan rokok multinasional. Jadi tidak usah heran jika ke depannya akan kita akan banyak menemukan produk rokok tanpa asap ini.<\/span>\r\n\r\nWatak dari perusahaan multinasional memang seperti itu, mereka sangat jeli melihat peluang pasar ke depannya. Ketika market place perusahaan rokok multinasional saat ini terus dirongrong oleh kelompok antirokok, mereka tak kehabisan akal. Maka kemudian mereka menginovasi produk rokok konvensional menjadi rokok yang tidak berasap. Begitupun dengan mengikutsertakan jargon-jargon kesehatan dalam narasi promosi mereka.<\/span>\r\n\r\nSesungguhnya memang seperti itulah watak bisnis perusahaan-perusahaan multinasional, melakukan segala cara agar bisnis mereka tetap bertahan, meskipun harus merangkul musuh sekalipun. <\/span>\r\n\r\nYa kadang pura-pura berantem sama antirokok, tapi dibalik itu sebenarnya baik-baik saja, dan tentunya ada kompromi untuk terus melanggengkan bisnis mereka.<\/span>\r\n

Lalu siapa yang dirugikan dari permainan bisnis macam produk rokok tanpa asap perusahaan rokok multinasional ini?<\/span><\/h3>\r\nTentunya yang sangat dirugikan adalah produk hasil tembakau yang memiliki kekhasan seperti kretek di Indonesia. Kretek sebagai produk khas asli Indonesia yang menjadi bagian dari warisan kebudayaan tidak mungkin bertransformasi menjadi produk-produk elektrik dan sejenisnya.<\/span>\r\n\r\nKretek tetaplah kretek, dengan bahan baku alami tembakau dan cengkeh yang tidak diintervensi dengan zat atau perangkat penghantar lainnya. Karena dengan bentuk, karakter dan cara menikmatinya memang konvensional dan akan terus begitu apapun kondisi dan zamannya.<\/span>\r\n
Bisnis produk rokok tanpa asap (elektrik) juga menghajar kretek dengan mendompleng isu pengendalian tembakau. Kampanye pengendalian tembakau selalu membawa slogan bahaya merokok dan upaya untuk berhenti merokok. <\/span><\/blockquote>\r\nDari isu tersebut, rokok elektrik masuk dengan citra produk alternatif tembakau, bahkan mereka tak segan menilai bahwa rokok elektrik lebih aman ketimbang rokok konvensional, yakni kretek.<\/span>\r\n\r\nLalu jika Indonesia akan dibanjiri dengan produk-produk yang mengatasnamakan produk alternatif tembakau, macam rokok tanpa asap (iQOS dan sejenisnya), maka itulah pertanda bahwa kretek harus tergerus dari cara hidup manusia Indonesia dalam menikmati produk hasil tembakau khas Indonesia yang sudah turun-temurun lamanya dinikmati manusia Indonesia.<\/span>","post_title":"Nasib Kretek di Pusaran Pertarungan Bisnis Global Perusahaan Rokok Multinasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"nasib-kretek-di-pusaran-pertarungan-bisnis-global-perusahaan-rokok-multinasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-02 08:01:43","post_modified_gmt":"2019-02-02 01:01:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5385","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; \n

Baca Juga: Imlek dan Indonesia<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n\n\n\n

Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
<\/p>\n","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5406,"post_author":"877","post_date":"2019-02-04 08:23:48","post_date_gmt":"2019-02-04 01:23:48","post_content":"\n

Merokok itu sudah menjadi bagian dari budaya dan tradisi masyarakat, jauh sebelum Indonesia merdeka. Banyak cerita atau kisah tentang kretek <\/a><\/del>di tengah-tengah masyarakat bangsa ini, mulai sebagai alat untuk meraup keuntungan, alat komunikasi, sebagai teman sampai menjadi simbol pergerakan. <\/p>\n\n\n\n

Kretek, Simbol Perlawanan Roro Mendut<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Siapa yang tidak pernah mendengan cerita tentang Roro Mendut?, di telinga masyarakat Indonesia, kisah Roro Mendut tidak asing lagi.  Perempuan yang mempunyai paras wajah cantik, dan digandrungi kaum adam terutama kalangan putra kerajaan. Informasi kecantikan Roro Mendut tersebar seantero Nusantara, tidak satupun pria meragukan kecantikannya.  Bahkan kisah dan cerita kecantikan Roro Mendut tercatat dalam buku Babad Tanah Jawi. <\/p>\n\n\n\n

Diperkirakan pada tahun 1627, pada saat panglima perang Sultan Agung Mataram bernama Tumenggung Wiraguna berhasil menumpas pemberontakan di kota Pati, sebagai imbalanan atas keberhasilannya, mendapat hadiah wanita pujaan pria bernama Rara Mendut dari Kasultanan Agung Mataram.  Roro Mendut menolak dipinang Tumenggung Wiraguna, dan secara terang-terangan memilih pria lain dambaannya. Akibatnya, Roro Mendut harus membayar pajak setiap harinya kepada kerajaan Mataram. <\/p>\n\n\n\n

Bisa dibayangkan, betapa bingungnya Roro Mendut saat itu. Uang dari mana, ia hasilkan untuk bayar pajak tiap hari demi bisa bersama kekasihnya. Ternyata Roro Mendut tidak hanya cantik tetapi cerdas dan kreatif, bisa membaca peluang bisnis saat itu. Ide cermerlang muncul dengan berdagang\/berjualan rokok lintingan yang direkatkan dengan air ludahnya, dan sebelum menjualnya, rokok lintingan di sulut dahulu dan dihisap bekas bibir merahnya. Kemudian baru dijual ke pembeli yang berdesakan berjejer antri. <\/p>\n\n\n\n

Entah dari mana ide menjual rokok itu muncul. Yang jelas saking larisnya, kewajiban pajak Roro Mendut terpenuhi. Dan mungkin keadaannya akan lebih parah, jika saat itu Roro Mendut tidak berdagang rokok. Tidak akan terpenuhi kewajiban pajaknya. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Dengan rokok, hidup Roro Mendut terselamatkan. Adanya rokok, \u00a0Roro Mendut bebas dari belenggu kekuasaan. Berkat rokok, Roro Mendut terkengan, mengisi rubik informasi sejarah begitu kuatnya budaya merokok di \u00a0Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Pusaka Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek, Teman Perjuangan  Diponegoro<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Semasa berjuang melawan penjajah, yang harus dilakukan Diponegoro berpindah-pindah dari kota satu ke kota lain. Strategi perlawanan Diponegoro, kemudian sebagai basis strategi perang gerilya. Strategi yang menjadi idola dan kebanggaan tentara Indonesia. Dengan bergerilya, tentara Indonesia mampu mengecoh kekutan lawan yang lebih besar jumlahnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu, tenyata banyak cerita, Diponegoro saat berperang ditemani rokok. Ia dan pasukannya gemar merokok. Bahkan ketika tidak ada rokok, Pangeran Diponegoro rela hanya megunyah daun sirih yang diracik dengan kapur dan pinang. <\/p>\n\n\n\n

Kebiasaan ini, juga dialami oleh pengikut \/pasukan perang Pangeran Diponegoro. Bagi mereka, rokok teman sejati, menemani disetiap perjalanan mereka. Rokok menghilangkan depresi mereka, sebagai hiburan saat jauh dari keluarga demi berjuang melawan penjajah. Rokok menumbuhkan percaya diri mereka, lebih berani melawan penjajah walaupun hanya dengan serba keterbatasan, pasukan jumlah terbatas, alat perang terbatas dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Baca juga: Pangeran Diponegoro, Rokok Klobot dan Perlawanan Simbolis<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Jati Diri Bangsa<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Salah satu \u201cpendiri bangsa\u201d bernama KH. Agus Salim menghisap kretek dengan asapnya di kebal-kebulkan keudara, disaat ada perjamuan di Istana Buckingham ketika penobatan Elizabeth II sebagai Ratu kerajaan Inggris. Aroma khas keluar dari asap rokok kretek, tercium orang yang berada di ruang perjamuan. Sehingga memancing salah satu orang yang datang dalam perjamuan, dengan berkata; \u201ctuan sedang menghisap apa itu?\u201d.  Sentak KH. Agus Salim menjawab, \u201c inilah yang membuat nenek moyang anda sekian abad lalu datang dan kemudian menjajah negeri kami\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Jawaban KH. Agus Salim, faktanya memang benar. Rokok kretek tidak lain ada tambahan cengkeh (suzygium aromaticum<\/em>). \u00a0Tanaman legendaris menjadi rebutan dan sumber keuntungan kolonialisme Eropa atas Asia termasuk Indonesia. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Cengkeh adalah salah satu tanaman yang diperebutkan bangsa-bangsa dunia, sampai melegalkan penjajahan.  Dalam simpulan perjalanan ekspedisi cengkeh tahun 2013, Kepala Suku begitu julukan bagi Putut Ea, mengatakan \u201c jika saja tak pernah ada cengkeh dan pala di Maluku, mungkin sejarah kepulauan Nusantara ini akan berbeda sama sekali\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Simpulan Putut EA, sebagai salah satu pembenar perkataan \u00a0KH. Agus Salim. Mungkin, jika tanaman cengkeh tidak ada, fakta sejarah akan berbeda, tidak ada penjajahan di bumi Nusantara ini. <\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Mengisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek untuk Berteman dan Menjalin Persaudaraan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Teringat apa yang pernah dilakukan Menteri Sosial dan Lingkungan Hidup, saat melakukan pendekatan pada suku anak dalam di Jambi. Tidak lain ia adalah Khofifah menteri perempuan yang energik. Saat itu Khofifah bertanggungjawab dalam mengatasi masalah pendidikan dan kesejahteraan masyarakat suku anak dalam di Jambi.  <\/p>\n\n\n\n

Kebijakannya membuat fenomenal, selain bahan makanan, dan bantuan lain, khofifah juga membawa rokok.  Yang kemudian ada yang mengggugat dari anti rokok, tetapi sebagai Menteri, Khofifah tentunya sudah mengkaji secara mendalam. Dengan kecerdasannya , Khofifah menjawab dengan tegas dan lugas, \u201cjangan sok tahu kehidupan mereka, kenali apa yang menjadi ritme kehidupan mereka. Sangat bijaksana kalau kita semua pergi kesana, sehingga tahu adat istiadatnya juga. Tolong kalau ingin mengerti tentang kultur jangan hanya dari kacamata Jakarta. Saya pun ingin mengajak anda kesana, turun kesana, sapalah mereka\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Khofifah memberikan pelajaran bagi anti rokok. Tidak boleh sok tahu, apalagi selama ini antirokok hanya berasumsi, tanpa melihat fakta dilapangan. Khofifah juga menganjurkan agar lebih mengenal adat-istiadat, budaya dan tradisi masyarakat, tidak boleh melakukan hegemoni kultural, sebab keberagaman adat-istiadat dan budaya merupakan kekayaan negeri. <\/p>\n\n\n\n

Pelajaran Khofifah sangat mendalam dan bercirikhas Nusantara. Sebgaai Menteri \u00a0Sosial tentunya lebih berpengalaman apa yang dibutuhkan bangsa ini agar tetap jaya, bersatu dan utuh. Kenali perbedaan, hormati perbedaan, junjung tinggi budaya yang berbeda. \u00a0Apa yang telah dilakukan Khofifah dengan membawa rokok ke suku anak dalam adalah cermin penghormatan tradisi dan budaya masyarakat. Sebagai seorang Mentri, tentunya punya kuasa, artinya bisa seorang khofifah memberikan bantuan sesuai keinginannya sendiri, namun hal itu tidak dilakukan. Ia lebih mengedepankan penghormatan budaya masyarakat setempat, dengan membawa rokok untuk pendekatan dan pertemanan. Karena Khofifah tahu betul, bahwa merokok adalah budaya mereka, yang diwaris dari neneng moyang mereka. <\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Memilih Jalan Hidup Menikmati Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Simbol Pergerakan Nasional     <\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Abdul Rifa\u2019I dalam media bintang timur terbit pada 03 Oktober 1927, mengatakan, \u201ckopinya bukan kopi saringan, tetapi kopi tubruk sebab kopi ini katanya nationaal, gulanya gula jawa, susu tidak dipakai karena tidak nationaal. Rokoknya kelobot, selamatan natioanaal ini terus berlangsung ed sampai pagi hari\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Semangat nasionalisme harus tertanam, mengedepankan produk lokal adalah salah satu semangat nasionalime. Salah satu keberadaan rokok klobot menjadi ciri produk asli indonesia dan harus dilestarikan. Klobot sendiri adalah ramuan tembakau dan cengkeh di gulung memakai daun jagung, embrio perkembangan menjadi rokok sigaret kretek tangan dan sigaret kretek mesin.  
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pusaran Budaya Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pusaran-budaya-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-04 08:40:41","post_modified_gmt":"2019-02-04 01:40:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5406","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5403,"post_author":"919","post_date":"2019-02-03 09:05:50","post_date_gmt":"2019-02-03 02:05:50","post_content":"\n

Seringkali saya menyaksikan berbagai film baik itu Eropa atau Asia yang menggambarkan tentang masa depan. Pemandangan soal masa depan tersebut dihadirkan dengan gambaran kecanggihan teknologi seperti robot yang akan membantu kehidupan manusia, gedung-gedung yang tingginya sudah amat tak bisa ditandingi,  hingga mobil-mobil yang bisa terbang. <\/p>\n\n\n\n

Pernah dalam masa kecil saya menyaksikan sebuah film animasi buatan jepang yang mempertanyakan tentang makanan di masa depan. Dengan santai salah satu tokoh yang berasal dari masa depan itu menjawab bahwa suatu saat nanti manusia akan mengonsumsi makanan berupa pasta gigi namun dengan rasa yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa, aneh!<\/p>\n\n\n\n

Seiring waktu berjalan saya kian tumbuh dewasa dan punya kesadaran untuk memilih menjadi seorang perokok<\/a>. Saya juga melihat ada sebuah inovasi dan gambaran tentang masa depan yang hadir dalam kehidupan sekarang. Banyak memang, namun yang menyita perhatian saya adalah rokok elektrik atau yang populer disebut Vape. Konon katanya ia adalah produk inovasi untuk menjembatani kebutuhan menghisap asap dan kecanggihan masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Di awal kehadirannya Vape memang mengundang decak kekaguman saya. Bagaimana bisa sebuah mesin kecil mengeluarkan asap yang katanya lebih menyehatkan daripada rokok.<\/strong> Meski pada akhirnya teori tersebut juga bisa dibantah oleh beberapa ilmuan dunia. Tapi ada satu yang saya amati selain soal kesehatan, rokok elektrik rupanya menghadirkan kultur dan budaya baru dalam kehidupan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: LAGI-LAGI IKLAN ROKOK, KAPAN KPAI TIDAK TEBANG PILIH? <\/a><\/h4>\n\n\n\n

Kehadiran teknologi memang kerap sedikit atau benyak mengubah gaya atau kultur suatu masyarakat. Begitu pula yang saya perhatikan dengan rokok elektrik. Satu hal yang mudah diamati adalah menjamurnya toko-toko kecil yang menjual vape serta liquid di berbagai tempat. Sebagai sebuah warna baru dalam masyarakat, penggunanya ramai-ramai mengunjungi tempat tersebut berinteraksi dengan penikmat lainnya dan membangun sebuah rumah komunitas yang fleksibel.<\/p>\n\n\n\n

Meski belum bisa dikatakan memiliki jumlah penikmat yang setara dengan para perokok, pengguna Vape mulai menunjukkan eksistensinya. Selain toko yang tersebar, ragam acara juga mereka buat di beberapa daerah. Dalam lingkungan saya, beberapa teman yang dulunya merupakan perokok aktif tertarik mengikuti event tersebut dan beralih mengisap rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Nun jauh di sana, di Amerika Serikat tepatnya, budaya Vape juga sudah mulai berkembang lama ketimbang di Tanah Air. Penikmatnya terbagi menjadi dua, ada yang dulunya bekas perokok dan ada yang memang menikmatinya sebagai gaya hidup. Wajar saja mengingat facebook tak memperbolehkan iklan tembakau di platform mereka, sebaliknya iklan tentang vape justru bertebaran. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi budaya baru yang berkembang di berbagai belahan dunia bahkan di Indonesia, Vape konon menjadi alternatif yang lebih bermanfaat daripada rokok. Dalih yang diusung selalu sama kepada para perokok tradisonal yaitu soal kesehatan dan lebih irit. Soal kesehatan tentu ada beberapa pendapat para ilmuan yang membantahnya, namun soal irit, saya rasa tidak. Memang satu liquid bisa digunakan untuk beberapa Minggu, akan tetapi yang saya lihat di lapangan justru sebaliknya. <\/p>\n\n\n\n

Beberapa penikmat rokok elektrik kerap berbelanja liquid yang mereka idamkan. Terkadang, hal tersebut yang membuat mereka boros karena terus mengeksplor rasa mana yang mereka idam-idamkan. Tak jarang juga liquid dengan harga mahal hingga ratus ribuan akan mereka beli. Sebaliknya, para perokok konvensional justru kerap bertahan dengan satu rasa atau merek saja.<\/p>\n\n\n\n

Sedikit berbeda dengan penikmat rokok konvensional atau kretek. Mengingat rokok kretek sudah menjadi kebudayan lokal yang terus dipertahankan selama bertahun-tahun, kehadirannya sudah mewarnai khasanah keindonesiaan. Perokok kretek juga sudah punya soliditas luar biasa yang terbentuk sejak lama dan terus terbangun mengiringi peradaban di Indonesia atau dunia.<\/p>\n\n\n\n

Kini, perokok elektrik mulai merasakan kegelisahan. Beberapa negara mulai menerapkan peraturan ketat terhadap Vape, sedangkan di Indonesia biaya cukai pun kini mulai diberlakukan terhadap perdagangan rokok elektrik. Keberadaannya di mata negara pun mulai dianggap sama seperti rokok, meski pada awalnya rokok elektrik hadir dengan slogan-slogan produk alternatif yang lebih menyehatkan (katanya).<\/p>\n\n\n\n


Tapi jika kemudian di masa depan memang rokok elektrik yang kemudian menjadi sesuatu yang populer dan dinikmati banyak orang. Rasanya saya tetap ingin hidup di jaman ini, dengan sebatang kretek di tangan dan menikmati segala khasanah kebudayaan yang patut terus dipertahankan. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"masa-depan-rokok-elektrik-dan-semangat-alternatif-yang-sia-sia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-03 09:05:56","post_modified_gmt":"2019-02-03 02:05:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5403","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5385,"post_author":"883","post_date":"2019-02-02 08:01:01","post_date_gmt":"2019-02-02 01:01:01","post_content":"Pada tahun 2014, perusahaan rokok multinasional Philip Morris Internasional Inc. merilis sebuah produk <\/span>perangkat\u00a0<\/span>
rokok<\/span><\/a>\u00a0tanpa asap, yang dipanaskan bukan dibakar atau istilahnya\u00a0<\/span>heat not burn<\/i><\/strong>\u00a0(HNB) iQOS<\/strong>. <\/span>\r\n\r\nPerangkat rokok tanpa asap dengan nama iQOS<\/a> ini berbentuk seperti bagian luar pulpen, dengan lubang di tengah untuk rokok. Produk yang berada di bawah brand Marlboro ini dapat memanaskan rokok sampai 350 derajat celcius lalu mengeluarkan uap nikotin beraroma tembakau<\/em><\/a>.<\/span>\r\n

Produk iQOS sebenarnya bukanlah produk rokok tanpa asap yang pertama muncul. Sebelumnya di tahun 1990-an, Reynolds Tobacco Co pernah merilis produk serupa bernama Eclipes yang juga dapat menguapkan nikotin setelah dinyalakan dengan korek api.<\/span><\/blockquote>\r\nSelain itu, Eclips juga dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. Namun, pada saat itu Eclips tidak diminati oleh pasar, utamanya para perokok konvensional. Meskipun Eclips dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. <\/span>\r\n\r\nBisnis semacam rokok tanpa asap seperti Eclips dan iQOS memang sudah menjadi bagian dari rencana panjang bisnis perusahaan-perusahaan rokok multinasional. Jadi tidak usah heran jika ke depannya akan kita akan banyak menemukan produk rokok tanpa asap ini.<\/span>\r\n\r\nWatak dari perusahaan multinasional memang seperti itu, mereka sangat jeli melihat peluang pasar ke depannya. Ketika market place perusahaan rokok multinasional saat ini terus dirongrong oleh kelompok antirokok, mereka tak kehabisan akal. Maka kemudian mereka menginovasi produk rokok konvensional menjadi rokok yang tidak berasap. Begitupun dengan mengikutsertakan jargon-jargon kesehatan dalam narasi promosi mereka.<\/span>\r\n\r\nSesungguhnya memang seperti itulah watak bisnis perusahaan-perusahaan multinasional, melakukan segala cara agar bisnis mereka tetap bertahan, meskipun harus merangkul musuh sekalipun. <\/span>\r\n\r\nYa kadang pura-pura berantem sama antirokok, tapi dibalik itu sebenarnya baik-baik saja, dan tentunya ada kompromi untuk terus melanggengkan bisnis mereka.<\/span>\r\n

Lalu siapa yang dirugikan dari permainan bisnis macam produk rokok tanpa asap perusahaan rokok multinasional ini?<\/span><\/h3>\r\nTentunya yang sangat dirugikan adalah produk hasil tembakau yang memiliki kekhasan seperti kretek di Indonesia. Kretek sebagai produk khas asli Indonesia yang menjadi bagian dari warisan kebudayaan tidak mungkin bertransformasi menjadi produk-produk elektrik dan sejenisnya.<\/span>\r\n\r\nKretek tetaplah kretek, dengan bahan baku alami tembakau dan cengkeh yang tidak diintervensi dengan zat atau perangkat penghantar lainnya. Karena dengan bentuk, karakter dan cara menikmatinya memang konvensional dan akan terus begitu apapun kondisi dan zamannya.<\/span>\r\n
Bisnis produk rokok tanpa asap (elektrik) juga menghajar kretek dengan mendompleng isu pengendalian tembakau. Kampanye pengendalian tembakau selalu membawa slogan bahaya merokok dan upaya untuk berhenti merokok. <\/span><\/blockquote>\r\nDari isu tersebut, rokok elektrik masuk dengan citra produk alternatif tembakau, bahkan mereka tak segan menilai bahwa rokok elektrik lebih aman ketimbang rokok konvensional, yakni kretek.<\/span>\r\n\r\nLalu jika Indonesia akan dibanjiri dengan produk-produk yang mengatasnamakan produk alternatif tembakau, macam rokok tanpa asap (iQOS dan sejenisnya), maka itulah pertanda bahwa kretek harus tergerus dari cara hidup manusia Indonesia dalam menikmati produk hasil tembakau khas Indonesia yang sudah turun-temurun lamanya dinikmati manusia Indonesia.<\/span>","post_title":"Nasib Kretek di Pusaran Pertarungan Bisnis Global Perusahaan Rokok Multinasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"nasib-kretek-di-pusaran-pertarungan-bisnis-global-perusahaan-rokok-multinasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-02 08:01:43","post_modified_gmt":"2019-02-02 01:01:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5385","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; \n

Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Imlek dan Indonesia<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n\n\n\n

Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
<\/p>\n","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5406,"post_author":"877","post_date":"2019-02-04 08:23:48","post_date_gmt":"2019-02-04 01:23:48","post_content":"\n

Merokok itu sudah menjadi bagian dari budaya dan tradisi masyarakat, jauh sebelum Indonesia merdeka. Banyak cerita atau kisah tentang kretek <\/a><\/del>di tengah-tengah masyarakat bangsa ini, mulai sebagai alat untuk meraup keuntungan, alat komunikasi, sebagai teman sampai menjadi simbol pergerakan. <\/p>\n\n\n\n

Kretek, Simbol Perlawanan Roro Mendut<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Siapa yang tidak pernah mendengan cerita tentang Roro Mendut?, di telinga masyarakat Indonesia, kisah Roro Mendut tidak asing lagi.  Perempuan yang mempunyai paras wajah cantik, dan digandrungi kaum adam terutama kalangan putra kerajaan. Informasi kecantikan Roro Mendut tersebar seantero Nusantara, tidak satupun pria meragukan kecantikannya.  Bahkan kisah dan cerita kecantikan Roro Mendut tercatat dalam buku Babad Tanah Jawi. <\/p>\n\n\n\n

Diperkirakan pada tahun 1627, pada saat panglima perang Sultan Agung Mataram bernama Tumenggung Wiraguna berhasil menumpas pemberontakan di kota Pati, sebagai imbalanan atas keberhasilannya, mendapat hadiah wanita pujaan pria bernama Rara Mendut dari Kasultanan Agung Mataram.  Roro Mendut menolak dipinang Tumenggung Wiraguna, dan secara terang-terangan memilih pria lain dambaannya. Akibatnya, Roro Mendut harus membayar pajak setiap harinya kepada kerajaan Mataram. <\/p>\n\n\n\n

Bisa dibayangkan, betapa bingungnya Roro Mendut saat itu. Uang dari mana, ia hasilkan untuk bayar pajak tiap hari demi bisa bersama kekasihnya. Ternyata Roro Mendut tidak hanya cantik tetapi cerdas dan kreatif, bisa membaca peluang bisnis saat itu. Ide cermerlang muncul dengan berdagang\/berjualan rokok lintingan yang direkatkan dengan air ludahnya, dan sebelum menjualnya, rokok lintingan di sulut dahulu dan dihisap bekas bibir merahnya. Kemudian baru dijual ke pembeli yang berdesakan berjejer antri. <\/p>\n\n\n\n

Entah dari mana ide menjual rokok itu muncul. Yang jelas saking larisnya, kewajiban pajak Roro Mendut terpenuhi. Dan mungkin keadaannya akan lebih parah, jika saat itu Roro Mendut tidak berdagang rokok. Tidak akan terpenuhi kewajiban pajaknya. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Dengan rokok, hidup Roro Mendut terselamatkan. Adanya rokok, \u00a0Roro Mendut bebas dari belenggu kekuasaan. Berkat rokok, Roro Mendut terkengan, mengisi rubik informasi sejarah begitu kuatnya budaya merokok di \u00a0Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Pusaka Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek, Teman Perjuangan  Diponegoro<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Semasa berjuang melawan penjajah, yang harus dilakukan Diponegoro berpindah-pindah dari kota satu ke kota lain. Strategi perlawanan Diponegoro, kemudian sebagai basis strategi perang gerilya. Strategi yang menjadi idola dan kebanggaan tentara Indonesia. Dengan bergerilya, tentara Indonesia mampu mengecoh kekutan lawan yang lebih besar jumlahnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu, tenyata banyak cerita, Diponegoro saat berperang ditemani rokok. Ia dan pasukannya gemar merokok. Bahkan ketika tidak ada rokok, Pangeran Diponegoro rela hanya megunyah daun sirih yang diracik dengan kapur dan pinang. <\/p>\n\n\n\n

Kebiasaan ini, juga dialami oleh pengikut \/pasukan perang Pangeran Diponegoro. Bagi mereka, rokok teman sejati, menemani disetiap perjalanan mereka. Rokok menghilangkan depresi mereka, sebagai hiburan saat jauh dari keluarga demi berjuang melawan penjajah. Rokok menumbuhkan percaya diri mereka, lebih berani melawan penjajah walaupun hanya dengan serba keterbatasan, pasukan jumlah terbatas, alat perang terbatas dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Baca juga: Pangeran Diponegoro, Rokok Klobot dan Perlawanan Simbolis<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Jati Diri Bangsa<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Salah satu \u201cpendiri bangsa\u201d bernama KH. Agus Salim menghisap kretek dengan asapnya di kebal-kebulkan keudara, disaat ada perjamuan di Istana Buckingham ketika penobatan Elizabeth II sebagai Ratu kerajaan Inggris. Aroma khas keluar dari asap rokok kretek, tercium orang yang berada di ruang perjamuan. Sehingga memancing salah satu orang yang datang dalam perjamuan, dengan berkata; \u201ctuan sedang menghisap apa itu?\u201d.  Sentak KH. Agus Salim menjawab, \u201c inilah yang membuat nenek moyang anda sekian abad lalu datang dan kemudian menjajah negeri kami\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Jawaban KH. Agus Salim, faktanya memang benar. Rokok kretek tidak lain ada tambahan cengkeh (suzygium aromaticum<\/em>). \u00a0Tanaman legendaris menjadi rebutan dan sumber keuntungan kolonialisme Eropa atas Asia termasuk Indonesia. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Cengkeh adalah salah satu tanaman yang diperebutkan bangsa-bangsa dunia, sampai melegalkan penjajahan.  Dalam simpulan perjalanan ekspedisi cengkeh tahun 2013, Kepala Suku begitu julukan bagi Putut Ea, mengatakan \u201c jika saja tak pernah ada cengkeh dan pala di Maluku, mungkin sejarah kepulauan Nusantara ini akan berbeda sama sekali\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Simpulan Putut EA, sebagai salah satu pembenar perkataan \u00a0KH. Agus Salim. Mungkin, jika tanaman cengkeh tidak ada, fakta sejarah akan berbeda, tidak ada penjajahan di bumi Nusantara ini. <\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Mengisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek untuk Berteman dan Menjalin Persaudaraan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Teringat apa yang pernah dilakukan Menteri Sosial dan Lingkungan Hidup, saat melakukan pendekatan pada suku anak dalam di Jambi. Tidak lain ia adalah Khofifah menteri perempuan yang energik. Saat itu Khofifah bertanggungjawab dalam mengatasi masalah pendidikan dan kesejahteraan masyarakat suku anak dalam di Jambi.  <\/p>\n\n\n\n

Kebijakannya membuat fenomenal, selain bahan makanan, dan bantuan lain, khofifah juga membawa rokok.  Yang kemudian ada yang mengggugat dari anti rokok, tetapi sebagai Menteri, Khofifah tentunya sudah mengkaji secara mendalam. Dengan kecerdasannya , Khofifah menjawab dengan tegas dan lugas, \u201cjangan sok tahu kehidupan mereka, kenali apa yang menjadi ritme kehidupan mereka. Sangat bijaksana kalau kita semua pergi kesana, sehingga tahu adat istiadatnya juga. Tolong kalau ingin mengerti tentang kultur jangan hanya dari kacamata Jakarta. Saya pun ingin mengajak anda kesana, turun kesana, sapalah mereka\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Khofifah memberikan pelajaran bagi anti rokok. Tidak boleh sok tahu, apalagi selama ini antirokok hanya berasumsi, tanpa melihat fakta dilapangan. Khofifah juga menganjurkan agar lebih mengenal adat-istiadat, budaya dan tradisi masyarakat, tidak boleh melakukan hegemoni kultural, sebab keberagaman adat-istiadat dan budaya merupakan kekayaan negeri. <\/p>\n\n\n\n

Pelajaran Khofifah sangat mendalam dan bercirikhas Nusantara. Sebgaai Menteri \u00a0Sosial tentunya lebih berpengalaman apa yang dibutuhkan bangsa ini agar tetap jaya, bersatu dan utuh. Kenali perbedaan, hormati perbedaan, junjung tinggi budaya yang berbeda. \u00a0Apa yang telah dilakukan Khofifah dengan membawa rokok ke suku anak dalam adalah cermin penghormatan tradisi dan budaya masyarakat. Sebagai seorang Mentri, tentunya punya kuasa, artinya bisa seorang khofifah memberikan bantuan sesuai keinginannya sendiri, namun hal itu tidak dilakukan. Ia lebih mengedepankan penghormatan budaya masyarakat setempat, dengan membawa rokok untuk pendekatan dan pertemanan. Karena Khofifah tahu betul, bahwa merokok adalah budaya mereka, yang diwaris dari neneng moyang mereka. <\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Memilih Jalan Hidup Menikmati Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Simbol Pergerakan Nasional     <\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Abdul Rifa\u2019I dalam media bintang timur terbit pada 03 Oktober 1927, mengatakan, \u201ckopinya bukan kopi saringan, tetapi kopi tubruk sebab kopi ini katanya nationaal, gulanya gula jawa, susu tidak dipakai karena tidak nationaal. Rokoknya kelobot, selamatan natioanaal ini terus berlangsung ed sampai pagi hari\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Semangat nasionalisme harus tertanam, mengedepankan produk lokal adalah salah satu semangat nasionalime. Salah satu keberadaan rokok klobot menjadi ciri produk asli indonesia dan harus dilestarikan. Klobot sendiri adalah ramuan tembakau dan cengkeh di gulung memakai daun jagung, embrio perkembangan menjadi rokok sigaret kretek tangan dan sigaret kretek mesin.  
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pusaran Budaya Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pusaran-budaya-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-04 08:40:41","post_modified_gmt":"2019-02-04 01:40:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5406","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5403,"post_author":"919","post_date":"2019-02-03 09:05:50","post_date_gmt":"2019-02-03 02:05:50","post_content":"\n

Seringkali saya menyaksikan berbagai film baik itu Eropa atau Asia yang menggambarkan tentang masa depan. Pemandangan soal masa depan tersebut dihadirkan dengan gambaran kecanggihan teknologi seperti robot yang akan membantu kehidupan manusia, gedung-gedung yang tingginya sudah amat tak bisa ditandingi,  hingga mobil-mobil yang bisa terbang. <\/p>\n\n\n\n

Pernah dalam masa kecil saya menyaksikan sebuah film animasi buatan jepang yang mempertanyakan tentang makanan di masa depan. Dengan santai salah satu tokoh yang berasal dari masa depan itu menjawab bahwa suatu saat nanti manusia akan mengonsumsi makanan berupa pasta gigi namun dengan rasa yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa, aneh!<\/p>\n\n\n\n

Seiring waktu berjalan saya kian tumbuh dewasa dan punya kesadaran untuk memilih menjadi seorang perokok<\/a>. Saya juga melihat ada sebuah inovasi dan gambaran tentang masa depan yang hadir dalam kehidupan sekarang. Banyak memang, namun yang menyita perhatian saya adalah rokok elektrik atau yang populer disebut Vape. Konon katanya ia adalah produk inovasi untuk menjembatani kebutuhan menghisap asap dan kecanggihan masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Di awal kehadirannya Vape memang mengundang decak kekaguman saya. Bagaimana bisa sebuah mesin kecil mengeluarkan asap yang katanya lebih menyehatkan daripada rokok.<\/strong> Meski pada akhirnya teori tersebut juga bisa dibantah oleh beberapa ilmuan dunia. Tapi ada satu yang saya amati selain soal kesehatan, rokok elektrik rupanya menghadirkan kultur dan budaya baru dalam kehidupan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: LAGI-LAGI IKLAN ROKOK, KAPAN KPAI TIDAK TEBANG PILIH? <\/a><\/h4>\n\n\n\n

Kehadiran teknologi memang kerap sedikit atau benyak mengubah gaya atau kultur suatu masyarakat. Begitu pula yang saya perhatikan dengan rokok elektrik. Satu hal yang mudah diamati adalah menjamurnya toko-toko kecil yang menjual vape serta liquid di berbagai tempat. Sebagai sebuah warna baru dalam masyarakat, penggunanya ramai-ramai mengunjungi tempat tersebut berinteraksi dengan penikmat lainnya dan membangun sebuah rumah komunitas yang fleksibel.<\/p>\n\n\n\n

Meski belum bisa dikatakan memiliki jumlah penikmat yang setara dengan para perokok, pengguna Vape mulai menunjukkan eksistensinya. Selain toko yang tersebar, ragam acara juga mereka buat di beberapa daerah. Dalam lingkungan saya, beberapa teman yang dulunya merupakan perokok aktif tertarik mengikuti event tersebut dan beralih mengisap rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Nun jauh di sana, di Amerika Serikat tepatnya, budaya Vape juga sudah mulai berkembang lama ketimbang di Tanah Air. Penikmatnya terbagi menjadi dua, ada yang dulunya bekas perokok dan ada yang memang menikmatinya sebagai gaya hidup. Wajar saja mengingat facebook tak memperbolehkan iklan tembakau di platform mereka, sebaliknya iklan tentang vape justru bertebaran. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi budaya baru yang berkembang di berbagai belahan dunia bahkan di Indonesia, Vape konon menjadi alternatif yang lebih bermanfaat daripada rokok. Dalih yang diusung selalu sama kepada para perokok tradisonal yaitu soal kesehatan dan lebih irit. Soal kesehatan tentu ada beberapa pendapat para ilmuan yang membantahnya, namun soal irit, saya rasa tidak. Memang satu liquid bisa digunakan untuk beberapa Minggu, akan tetapi yang saya lihat di lapangan justru sebaliknya. <\/p>\n\n\n\n

Beberapa penikmat rokok elektrik kerap berbelanja liquid yang mereka idamkan. Terkadang, hal tersebut yang membuat mereka boros karena terus mengeksplor rasa mana yang mereka idam-idamkan. Tak jarang juga liquid dengan harga mahal hingga ratus ribuan akan mereka beli. Sebaliknya, para perokok konvensional justru kerap bertahan dengan satu rasa atau merek saja.<\/p>\n\n\n\n

Sedikit berbeda dengan penikmat rokok konvensional atau kretek. Mengingat rokok kretek sudah menjadi kebudayan lokal yang terus dipertahankan selama bertahun-tahun, kehadirannya sudah mewarnai khasanah keindonesiaan. Perokok kretek juga sudah punya soliditas luar biasa yang terbentuk sejak lama dan terus terbangun mengiringi peradaban di Indonesia atau dunia.<\/p>\n\n\n\n

Kini, perokok elektrik mulai merasakan kegelisahan. Beberapa negara mulai menerapkan peraturan ketat terhadap Vape, sedangkan di Indonesia biaya cukai pun kini mulai diberlakukan terhadap perdagangan rokok elektrik. Keberadaannya di mata negara pun mulai dianggap sama seperti rokok, meski pada awalnya rokok elektrik hadir dengan slogan-slogan produk alternatif yang lebih menyehatkan (katanya).<\/p>\n\n\n\n


Tapi jika kemudian di masa depan memang rokok elektrik yang kemudian menjadi sesuatu yang populer dan dinikmati banyak orang. Rasanya saya tetap ingin hidup di jaman ini, dengan sebatang kretek di tangan dan menikmati segala khasanah kebudayaan yang patut terus dipertahankan. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"masa-depan-rokok-elektrik-dan-semangat-alternatif-yang-sia-sia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-03 09:05:56","post_modified_gmt":"2019-02-03 02:05:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5403","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5385,"post_author":"883","post_date":"2019-02-02 08:01:01","post_date_gmt":"2019-02-02 01:01:01","post_content":"Pada tahun 2014, perusahaan rokok multinasional Philip Morris Internasional Inc. merilis sebuah produk <\/span>perangkat\u00a0<\/span>
rokok<\/span><\/a>\u00a0tanpa asap, yang dipanaskan bukan dibakar atau istilahnya\u00a0<\/span>heat not burn<\/i><\/strong>\u00a0(HNB) iQOS<\/strong>. <\/span>\r\n\r\nPerangkat rokok tanpa asap dengan nama iQOS<\/a> ini berbentuk seperti bagian luar pulpen, dengan lubang di tengah untuk rokok. Produk yang berada di bawah brand Marlboro ini dapat memanaskan rokok sampai 350 derajat celcius lalu mengeluarkan uap nikotin beraroma tembakau<\/em><\/a>.<\/span>\r\n

Produk iQOS sebenarnya bukanlah produk rokok tanpa asap yang pertama muncul. Sebelumnya di tahun 1990-an, Reynolds Tobacco Co pernah merilis produk serupa bernama Eclipes yang juga dapat menguapkan nikotin setelah dinyalakan dengan korek api.<\/span><\/blockquote>\r\nSelain itu, Eclips juga dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. Namun, pada saat itu Eclips tidak diminati oleh pasar, utamanya para perokok konvensional. Meskipun Eclips dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. <\/span>\r\n\r\nBisnis semacam rokok tanpa asap seperti Eclips dan iQOS memang sudah menjadi bagian dari rencana panjang bisnis perusahaan-perusahaan rokok multinasional. Jadi tidak usah heran jika ke depannya akan kita akan banyak menemukan produk rokok tanpa asap ini.<\/span>\r\n\r\nWatak dari perusahaan multinasional memang seperti itu, mereka sangat jeli melihat peluang pasar ke depannya. Ketika market place perusahaan rokok multinasional saat ini terus dirongrong oleh kelompok antirokok, mereka tak kehabisan akal. Maka kemudian mereka menginovasi produk rokok konvensional menjadi rokok yang tidak berasap. Begitupun dengan mengikutsertakan jargon-jargon kesehatan dalam narasi promosi mereka.<\/span>\r\n\r\nSesungguhnya memang seperti itulah watak bisnis perusahaan-perusahaan multinasional, melakukan segala cara agar bisnis mereka tetap bertahan, meskipun harus merangkul musuh sekalipun. <\/span>\r\n\r\nYa kadang pura-pura berantem sama antirokok, tapi dibalik itu sebenarnya baik-baik saja, dan tentunya ada kompromi untuk terus melanggengkan bisnis mereka.<\/span>\r\n

Lalu siapa yang dirugikan dari permainan bisnis macam produk rokok tanpa asap perusahaan rokok multinasional ini?<\/span><\/h3>\r\nTentunya yang sangat dirugikan adalah produk hasil tembakau yang memiliki kekhasan seperti kretek di Indonesia. Kretek sebagai produk khas asli Indonesia yang menjadi bagian dari warisan kebudayaan tidak mungkin bertransformasi menjadi produk-produk elektrik dan sejenisnya.<\/span>\r\n\r\nKretek tetaplah kretek, dengan bahan baku alami tembakau dan cengkeh yang tidak diintervensi dengan zat atau perangkat penghantar lainnya. Karena dengan bentuk, karakter dan cara menikmatinya memang konvensional dan akan terus begitu apapun kondisi dan zamannya.<\/span>\r\n
Bisnis produk rokok tanpa asap (elektrik) juga menghajar kretek dengan mendompleng isu pengendalian tembakau. Kampanye pengendalian tembakau selalu membawa slogan bahaya merokok dan upaya untuk berhenti merokok. <\/span><\/blockquote>\r\nDari isu tersebut, rokok elektrik masuk dengan citra produk alternatif tembakau, bahkan mereka tak segan menilai bahwa rokok elektrik lebih aman ketimbang rokok konvensional, yakni kretek.<\/span>\r\n\r\nLalu jika Indonesia akan dibanjiri dengan produk-produk yang mengatasnamakan produk alternatif tembakau, macam rokok tanpa asap (iQOS dan sejenisnya), maka itulah pertanda bahwa kretek harus tergerus dari cara hidup manusia Indonesia dalam menikmati produk hasil tembakau khas Indonesia yang sudah turun-temurun lamanya dinikmati manusia Indonesia.<\/span>","post_title":"Nasib Kretek di Pusaran Pertarungan Bisnis Global Perusahaan Rokok Multinasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"nasib-kretek-di-pusaran-pertarungan-bisnis-global-perusahaan-rokok-multinasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-02 08:01:43","post_modified_gmt":"2019-02-02 01:01:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5385","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; \n

Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa kehadiran Bangsa Tionghoa di Nusantara tak hanya sebagai pedagang, namun juga sebagai pekerja (bahkan hingga pekerja kasar). Benny Setiono, seorang sejarahwan menyebutkan bahwa antara tahun 1760-1770 dalam jumlah yang besar memasuki nusantara melalui Kalimantan Barat. Mereka bekerja sebagai kuli pertambangan di sana dan di kemudian hari membentuk sebuah republik bernama Republik Lanfang yang konon katanya menjadi republik pertama di Asia Tenggara.<\/p>\n\n\n\n

Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Imlek dan Indonesia<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n\n\n\n

Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
<\/p>\n","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5406,"post_author":"877","post_date":"2019-02-04 08:23:48","post_date_gmt":"2019-02-04 01:23:48","post_content":"\n

Merokok itu sudah menjadi bagian dari budaya dan tradisi masyarakat, jauh sebelum Indonesia merdeka. Banyak cerita atau kisah tentang kretek <\/a><\/del>di tengah-tengah masyarakat bangsa ini, mulai sebagai alat untuk meraup keuntungan, alat komunikasi, sebagai teman sampai menjadi simbol pergerakan. <\/p>\n\n\n\n

Kretek, Simbol Perlawanan Roro Mendut<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Siapa yang tidak pernah mendengan cerita tentang Roro Mendut?, di telinga masyarakat Indonesia, kisah Roro Mendut tidak asing lagi.  Perempuan yang mempunyai paras wajah cantik, dan digandrungi kaum adam terutama kalangan putra kerajaan. Informasi kecantikan Roro Mendut tersebar seantero Nusantara, tidak satupun pria meragukan kecantikannya.  Bahkan kisah dan cerita kecantikan Roro Mendut tercatat dalam buku Babad Tanah Jawi. <\/p>\n\n\n\n

Diperkirakan pada tahun 1627, pada saat panglima perang Sultan Agung Mataram bernama Tumenggung Wiraguna berhasil menumpas pemberontakan di kota Pati, sebagai imbalanan atas keberhasilannya, mendapat hadiah wanita pujaan pria bernama Rara Mendut dari Kasultanan Agung Mataram.  Roro Mendut menolak dipinang Tumenggung Wiraguna, dan secara terang-terangan memilih pria lain dambaannya. Akibatnya, Roro Mendut harus membayar pajak setiap harinya kepada kerajaan Mataram. <\/p>\n\n\n\n

Bisa dibayangkan, betapa bingungnya Roro Mendut saat itu. Uang dari mana, ia hasilkan untuk bayar pajak tiap hari demi bisa bersama kekasihnya. Ternyata Roro Mendut tidak hanya cantik tetapi cerdas dan kreatif, bisa membaca peluang bisnis saat itu. Ide cermerlang muncul dengan berdagang\/berjualan rokok lintingan yang direkatkan dengan air ludahnya, dan sebelum menjualnya, rokok lintingan di sulut dahulu dan dihisap bekas bibir merahnya. Kemudian baru dijual ke pembeli yang berdesakan berjejer antri. <\/p>\n\n\n\n

Entah dari mana ide menjual rokok itu muncul. Yang jelas saking larisnya, kewajiban pajak Roro Mendut terpenuhi. Dan mungkin keadaannya akan lebih parah, jika saat itu Roro Mendut tidak berdagang rokok. Tidak akan terpenuhi kewajiban pajaknya. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Dengan rokok, hidup Roro Mendut terselamatkan. Adanya rokok, \u00a0Roro Mendut bebas dari belenggu kekuasaan. Berkat rokok, Roro Mendut terkengan, mengisi rubik informasi sejarah begitu kuatnya budaya merokok di \u00a0Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Pusaka Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek, Teman Perjuangan  Diponegoro<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Semasa berjuang melawan penjajah, yang harus dilakukan Diponegoro berpindah-pindah dari kota satu ke kota lain. Strategi perlawanan Diponegoro, kemudian sebagai basis strategi perang gerilya. Strategi yang menjadi idola dan kebanggaan tentara Indonesia. Dengan bergerilya, tentara Indonesia mampu mengecoh kekutan lawan yang lebih besar jumlahnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu, tenyata banyak cerita, Diponegoro saat berperang ditemani rokok. Ia dan pasukannya gemar merokok. Bahkan ketika tidak ada rokok, Pangeran Diponegoro rela hanya megunyah daun sirih yang diracik dengan kapur dan pinang. <\/p>\n\n\n\n

Kebiasaan ini, juga dialami oleh pengikut \/pasukan perang Pangeran Diponegoro. Bagi mereka, rokok teman sejati, menemani disetiap perjalanan mereka. Rokok menghilangkan depresi mereka, sebagai hiburan saat jauh dari keluarga demi berjuang melawan penjajah. Rokok menumbuhkan percaya diri mereka, lebih berani melawan penjajah walaupun hanya dengan serba keterbatasan, pasukan jumlah terbatas, alat perang terbatas dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Baca juga: Pangeran Diponegoro, Rokok Klobot dan Perlawanan Simbolis<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Jati Diri Bangsa<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Salah satu \u201cpendiri bangsa\u201d bernama KH. Agus Salim menghisap kretek dengan asapnya di kebal-kebulkan keudara, disaat ada perjamuan di Istana Buckingham ketika penobatan Elizabeth II sebagai Ratu kerajaan Inggris. Aroma khas keluar dari asap rokok kretek, tercium orang yang berada di ruang perjamuan. Sehingga memancing salah satu orang yang datang dalam perjamuan, dengan berkata; \u201ctuan sedang menghisap apa itu?\u201d.  Sentak KH. Agus Salim menjawab, \u201c inilah yang membuat nenek moyang anda sekian abad lalu datang dan kemudian menjajah negeri kami\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Jawaban KH. Agus Salim, faktanya memang benar. Rokok kretek tidak lain ada tambahan cengkeh (suzygium aromaticum<\/em>). \u00a0Tanaman legendaris menjadi rebutan dan sumber keuntungan kolonialisme Eropa atas Asia termasuk Indonesia. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Cengkeh adalah salah satu tanaman yang diperebutkan bangsa-bangsa dunia, sampai melegalkan penjajahan.  Dalam simpulan perjalanan ekspedisi cengkeh tahun 2013, Kepala Suku begitu julukan bagi Putut Ea, mengatakan \u201c jika saja tak pernah ada cengkeh dan pala di Maluku, mungkin sejarah kepulauan Nusantara ini akan berbeda sama sekali\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Simpulan Putut EA, sebagai salah satu pembenar perkataan \u00a0KH. Agus Salim. Mungkin, jika tanaman cengkeh tidak ada, fakta sejarah akan berbeda, tidak ada penjajahan di bumi Nusantara ini. <\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Mengisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek untuk Berteman dan Menjalin Persaudaraan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Teringat apa yang pernah dilakukan Menteri Sosial dan Lingkungan Hidup, saat melakukan pendekatan pada suku anak dalam di Jambi. Tidak lain ia adalah Khofifah menteri perempuan yang energik. Saat itu Khofifah bertanggungjawab dalam mengatasi masalah pendidikan dan kesejahteraan masyarakat suku anak dalam di Jambi.  <\/p>\n\n\n\n

Kebijakannya membuat fenomenal, selain bahan makanan, dan bantuan lain, khofifah juga membawa rokok.  Yang kemudian ada yang mengggugat dari anti rokok, tetapi sebagai Menteri, Khofifah tentunya sudah mengkaji secara mendalam. Dengan kecerdasannya , Khofifah menjawab dengan tegas dan lugas, \u201cjangan sok tahu kehidupan mereka, kenali apa yang menjadi ritme kehidupan mereka. Sangat bijaksana kalau kita semua pergi kesana, sehingga tahu adat istiadatnya juga. Tolong kalau ingin mengerti tentang kultur jangan hanya dari kacamata Jakarta. Saya pun ingin mengajak anda kesana, turun kesana, sapalah mereka\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Khofifah memberikan pelajaran bagi anti rokok. Tidak boleh sok tahu, apalagi selama ini antirokok hanya berasumsi, tanpa melihat fakta dilapangan. Khofifah juga menganjurkan agar lebih mengenal adat-istiadat, budaya dan tradisi masyarakat, tidak boleh melakukan hegemoni kultural, sebab keberagaman adat-istiadat dan budaya merupakan kekayaan negeri. <\/p>\n\n\n\n

Pelajaran Khofifah sangat mendalam dan bercirikhas Nusantara. Sebgaai Menteri \u00a0Sosial tentunya lebih berpengalaman apa yang dibutuhkan bangsa ini agar tetap jaya, bersatu dan utuh. Kenali perbedaan, hormati perbedaan, junjung tinggi budaya yang berbeda. \u00a0Apa yang telah dilakukan Khofifah dengan membawa rokok ke suku anak dalam adalah cermin penghormatan tradisi dan budaya masyarakat. Sebagai seorang Mentri, tentunya punya kuasa, artinya bisa seorang khofifah memberikan bantuan sesuai keinginannya sendiri, namun hal itu tidak dilakukan. Ia lebih mengedepankan penghormatan budaya masyarakat setempat, dengan membawa rokok untuk pendekatan dan pertemanan. Karena Khofifah tahu betul, bahwa merokok adalah budaya mereka, yang diwaris dari neneng moyang mereka. <\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Memilih Jalan Hidup Menikmati Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Simbol Pergerakan Nasional     <\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Abdul Rifa\u2019I dalam media bintang timur terbit pada 03 Oktober 1927, mengatakan, \u201ckopinya bukan kopi saringan, tetapi kopi tubruk sebab kopi ini katanya nationaal, gulanya gula jawa, susu tidak dipakai karena tidak nationaal. Rokoknya kelobot, selamatan natioanaal ini terus berlangsung ed sampai pagi hari\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Semangat nasionalisme harus tertanam, mengedepankan produk lokal adalah salah satu semangat nasionalime. Salah satu keberadaan rokok klobot menjadi ciri produk asli indonesia dan harus dilestarikan. Klobot sendiri adalah ramuan tembakau dan cengkeh di gulung memakai daun jagung, embrio perkembangan menjadi rokok sigaret kretek tangan dan sigaret kretek mesin.  
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pusaran Budaya Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pusaran-budaya-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-04 08:40:41","post_modified_gmt":"2019-02-04 01:40:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5406","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5403,"post_author":"919","post_date":"2019-02-03 09:05:50","post_date_gmt":"2019-02-03 02:05:50","post_content":"\n

Seringkali saya menyaksikan berbagai film baik itu Eropa atau Asia yang menggambarkan tentang masa depan. Pemandangan soal masa depan tersebut dihadirkan dengan gambaran kecanggihan teknologi seperti robot yang akan membantu kehidupan manusia, gedung-gedung yang tingginya sudah amat tak bisa ditandingi,  hingga mobil-mobil yang bisa terbang. <\/p>\n\n\n\n

Pernah dalam masa kecil saya menyaksikan sebuah film animasi buatan jepang yang mempertanyakan tentang makanan di masa depan. Dengan santai salah satu tokoh yang berasal dari masa depan itu menjawab bahwa suatu saat nanti manusia akan mengonsumsi makanan berupa pasta gigi namun dengan rasa yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa, aneh!<\/p>\n\n\n\n

Seiring waktu berjalan saya kian tumbuh dewasa dan punya kesadaran untuk memilih menjadi seorang perokok<\/a>. Saya juga melihat ada sebuah inovasi dan gambaran tentang masa depan yang hadir dalam kehidupan sekarang. Banyak memang, namun yang menyita perhatian saya adalah rokok elektrik atau yang populer disebut Vape. Konon katanya ia adalah produk inovasi untuk menjembatani kebutuhan menghisap asap dan kecanggihan masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Di awal kehadirannya Vape memang mengundang decak kekaguman saya. Bagaimana bisa sebuah mesin kecil mengeluarkan asap yang katanya lebih menyehatkan daripada rokok.<\/strong> Meski pada akhirnya teori tersebut juga bisa dibantah oleh beberapa ilmuan dunia. Tapi ada satu yang saya amati selain soal kesehatan, rokok elektrik rupanya menghadirkan kultur dan budaya baru dalam kehidupan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: LAGI-LAGI IKLAN ROKOK, KAPAN KPAI TIDAK TEBANG PILIH? <\/a><\/h4>\n\n\n\n

Kehadiran teknologi memang kerap sedikit atau benyak mengubah gaya atau kultur suatu masyarakat. Begitu pula yang saya perhatikan dengan rokok elektrik. Satu hal yang mudah diamati adalah menjamurnya toko-toko kecil yang menjual vape serta liquid di berbagai tempat. Sebagai sebuah warna baru dalam masyarakat, penggunanya ramai-ramai mengunjungi tempat tersebut berinteraksi dengan penikmat lainnya dan membangun sebuah rumah komunitas yang fleksibel.<\/p>\n\n\n\n

Meski belum bisa dikatakan memiliki jumlah penikmat yang setara dengan para perokok, pengguna Vape mulai menunjukkan eksistensinya. Selain toko yang tersebar, ragam acara juga mereka buat di beberapa daerah. Dalam lingkungan saya, beberapa teman yang dulunya merupakan perokok aktif tertarik mengikuti event tersebut dan beralih mengisap rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Nun jauh di sana, di Amerika Serikat tepatnya, budaya Vape juga sudah mulai berkembang lama ketimbang di Tanah Air. Penikmatnya terbagi menjadi dua, ada yang dulunya bekas perokok dan ada yang memang menikmatinya sebagai gaya hidup. Wajar saja mengingat facebook tak memperbolehkan iklan tembakau di platform mereka, sebaliknya iklan tentang vape justru bertebaran. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi budaya baru yang berkembang di berbagai belahan dunia bahkan di Indonesia, Vape konon menjadi alternatif yang lebih bermanfaat daripada rokok. Dalih yang diusung selalu sama kepada para perokok tradisonal yaitu soal kesehatan dan lebih irit. Soal kesehatan tentu ada beberapa pendapat para ilmuan yang membantahnya, namun soal irit, saya rasa tidak. Memang satu liquid bisa digunakan untuk beberapa Minggu, akan tetapi yang saya lihat di lapangan justru sebaliknya. <\/p>\n\n\n\n

Beberapa penikmat rokok elektrik kerap berbelanja liquid yang mereka idamkan. Terkadang, hal tersebut yang membuat mereka boros karena terus mengeksplor rasa mana yang mereka idam-idamkan. Tak jarang juga liquid dengan harga mahal hingga ratus ribuan akan mereka beli. Sebaliknya, para perokok konvensional justru kerap bertahan dengan satu rasa atau merek saja.<\/p>\n\n\n\n

Sedikit berbeda dengan penikmat rokok konvensional atau kretek. Mengingat rokok kretek sudah menjadi kebudayan lokal yang terus dipertahankan selama bertahun-tahun, kehadirannya sudah mewarnai khasanah keindonesiaan. Perokok kretek juga sudah punya soliditas luar biasa yang terbentuk sejak lama dan terus terbangun mengiringi peradaban di Indonesia atau dunia.<\/p>\n\n\n\n

Kini, perokok elektrik mulai merasakan kegelisahan. Beberapa negara mulai menerapkan peraturan ketat terhadap Vape, sedangkan di Indonesia biaya cukai pun kini mulai diberlakukan terhadap perdagangan rokok elektrik. Keberadaannya di mata negara pun mulai dianggap sama seperti rokok, meski pada awalnya rokok elektrik hadir dengan slogan-slogan produk alternatif yang lebih menyehatkan (katanya).<\/p>\n\n\n\n


Tapi jika kemudian di masa depan memang rokok elektrik yang kemudian menjadi sesuatu yang populer dan dinikmati banyak orang. Rasanya saya tetap ingin hidup di jaman ini, dengan sebatang kretek di tangan dan menikmati segala khasanah kebudayaan yang patut terus dipertahankan. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"masa-depan-rokok-elektrik-dan-semangat-alternatif-yang-sia-sia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-03 09:05:56","post_modified_gmt":"2019-02-03 02:05:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5403","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5385,"post_author":"883","post_date":"2019-02-02 08:01:01","post_date_gmt":"2019-02-02 01:01:01","post_content":"Pada tahun 2014, perusahaan rokok multinasional Philip Morris Internasional Inc. merilis sebuah produk <\/span>perangkat\u00a0<\/span>
rokok<\/span><\/a>\u00a0tanpa asap, yang dipanaskan bukan dibakar atau istilahnya\u00a0<\/span>heat not burn<\/i><\/strong>\u00a0(HNB) iQOS<\/strong>. <\/span>\r\n\r\nPerangkat rokok tanpa asap dengan nama iQOS<\/a> ini berbentuk seperti bagian luar pulpen, dengan lubang di tengah untuk rokok. Produk yang berada di bawah brand Marlboro ini dapat memanaskan rokok sampai 350 derajat celcius lalu mengeluarkan uap nikotin beraroma tembakau<\/em><\/a>.<\/span>\r\n

Produk iQOS sebenarnya bukanlah produk rokok tanpa asap yang pertama muncul. Sebelumnya di tahun 1990-an, Reynolds Tobacco Co pernah merilis produk serupa bernama Eclipes yang juga dapat menguapkan nikotin setelah dinyalakan dengan korek api.<\/span><\/blockquote>\r\nSelain itu, Eclips juga dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. Namun, pada saat itu Eclips tidak diminati oleh pasar, utamanya para perokok konvensional. Meskipun Eclips dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. <\/span>\r\n\r\nBisnis semacam rokok tanpa asap seperti Eclips dan iQOS memang sudah menjadi bagian dari rencana panjang bisnis perusahaan-perusahaan rokok multinasional. Jadi tidak usah heran jika ke depannya akan kita akan banyak menemukan produk rokok tanpa asap ini.<\/span>\r\n\r\nWatak dari perusahaan multinasional memang seperti itu, mereka sangat jeli melihat peluang pasar ke depannya. Ketika market place perusahaan rokok multinasional saat ini terus dirongrong oleh kelompok antirokok, mereka tak kehabisan akal. Maka kemudian mereka menginovasi produk rokok konvensional menjadi rokok yang tidak berasap. Begitupun dengan mengikutsertakan jargon-jargon kesehatan dalam narasi promosi mereka.<\/span>\r\n\r\nSesungguhnya memang seperti itulah watak bisnis perusahaan-perusahaan multinasional, melakukan segala cara agar bisnis mereka tetap bertahan, meskipun harus merangkul musuh sekalipun. <\/span>\r\n\r\nYa kadang pura-pura berantem sama antirokok, tapi dibalik itu sebenarnya baik-baik saja, dan tentunya ada kompromi untuk terus melanggengkan bisnis mereka.<\/span>\r\n

Lalu siapa yang dirugikan dari permainan bisnis macam produk rokok tanpa asap perusahaan rokok multinasional ini?<\/span><\/h3>\r\nTentunya yang sangat dirugikan adalah produk hasil tembakau yang memiliki kekhasan seperti kretek di Indonesia. Kretek sebagai produk khas asli Indonesia yang menjadi bagian dari warisan kebudayaan tidak mungkin bertransformasi menjadi produk-produk elektrik dan sejenisnya.<\/span>\r\n\r\nKretek tetaplah kretek, dengan bahan baku alami tembakau dan cengkeh yang tidak diintervensi dengan zat atau perangkat penghantar lainnya. Karena dengan bentuk, karakter dan cara menikmatinya memang konvensional dan akan terus begitu apapun kondisi dan zamannya.<\/span>\r\n
Bisnis produk rokok tanpa asap (elektrik) juga menghajar kretek dengan mendompleng isu pengendalian tembakau. Kampanye pengendalian tembakau selalu membawa slogan bahaya merokok dan upaya untuk berhenti merokok. <\/span><\/blockquote>\r\nDari isu tersebut, rokok elektrik masuk dengan citra produk alternatif tembakau, bahkan mereka tak segan menilai bahwa rokok elektrik lebih aman ketimbang rokok konvensional, yakni kretek.<\/span>\r\n\r\nLalu jika Indonesia akan dibanjiri dengan produk-produk yang mengatasnamakan produk alternatif tembakau, macam rokok tanpa asap (iQOS dan sejenisnya), maka itulah pertanda bahwa kretek harus tergerus dari cara hidup manusia Indonesia dalam menikmati produk hasil tembakau khas Indonesia yang sudah turun-temurun lamanya dinikmati manusia Indonesia.<\/span>","post_title":"Nasib Kretek di Pusaran Pertarungan Bisnis Global Perusahaan Rokok Multinasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"nasib-kretek-di-pusaran-pertarungan-bisnis-global-perusahaan-rokok-multinasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-02 08:01:43","post_modified_gmt":"2019-02-02 01:01:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5385","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; \n

Baca Juga: Wong Kalang dan Kota Gede<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa kehadiran Bangsa Tionghoa di Nusantara tak hanya sebagai pedagang, namun juga sebagai pekerja (bahkan hingga pekerja kasar). Benny Setiono, seorang sejarahwan menyebutkan bahwa antara tahun 1760-1770 dalam jumlah yang besar memasuki nusantara melalui Kalimantan Barat. Mereka bekerja sebagai kuli pertambangan di sana dan di kemudian hari membentuk sebuah republik bernama Republik Lanfang yang konon katanya menjadi republik pertama di Asia Tenggara.<\/p>\n\n\n\n

Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Imlek dan Indonesia<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n\n\n\n

Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
<\/p>\n","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5406,"post_author":"877","post_date":"2019-02-04 08:23:48","post_date_gmt":"2019-02-04 01:23:48","post_content":"\n

Merokok itu sudah menjadi bagian dari budaya dan tradisi masyarakat, jauh sebelum Indonesia merdeka. Banyak cerita atau kisah tentang kretek <\/a><\/del>di tengah-tengah masyarakat bangsa ini, mulai sebagai alat untuk meraup keuntungan, alat komunikasi, sebagai teman sampai menjadi simbol pergerakan. <\/p>\n\n\n\n

Kretek, Simbol Perlawanan Roro Mendut<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Siapa yang tidak pernah mendengan cerita tentang Roro Mendut?, di telinga masyarakat Indonesia, kisah Roro Mendut tidak asing lagi.  Perempuan yang mempunyai paras wajah cantik, dan digandrungi kaum adam terutama kalangan putra kerajaan. Informasi kecantikan Roro Mendut tersebar seantero Nusantara, tidak satupun pria meragukan kecantikannya.  Bahkan kisah dan cerita kecantikan Roro Mendut tercatat dalam buku Babad Tanah Jawi. <\/p>\n\n\n\n

Diperkirakan pada tahun 1627, pada saat panglima perang Sultan Agung Mataram bernama Tumenggung Wiraguna berhasil menumpas pemberontakan di kota Pati, sebagai imbalanan atas keberhasilannya, mendapat hadiah wanita pujaan pria bernama Rara Mendut dari Kasultanan Agung Mataram.  Roro Mendut menolak dipinang Tumenggung Wiraguna, dan secara terang-terangan memilih pria lain dambaannya. Akibatnya, Roro Mendut harus membayar pajak setiap harinya kepada kerajaan Mataram. <\/p>\n\n\n\n

Bisa dibayangkan, betapa bingungnya Roro Mendut saat itu. Uang dari mana, ia hasilkan untuk bayar pajak tiap hari demi bisa bersama kekasihnya. Ternyata Roro Mendut tidak hanya cantik tetapi cerdas dan kreatif, bisa membaca peluang bisnis saat itu. Ide cermerlang muncul dengan berdagang\/berjualan rokok lintingan yang direkatkan dengan air ludahnya, dan sebelum menjualnya, rokok lintingan di sulut dahulu dan dihisap bekas bibir merahnya. Kemudian baru dijual ke pembeli yang berdesakan berjejer antri. <\/p>\n\n\n\n

Entah dari mana ide menjual rokok itu muncul. Yang jelas saking larisnya, kewajiban pajak Roro Mendut terpenuhi. Dan mungkin keadaannya akan lebih parah, jika saat itu Roro Mendut tidak berdagang rokok. Tidak akan terpenuhi kewajiban pajaknya. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Dengan rokok, hidup Roro Mendut terselamatkan. Adanya rokok, \u00a0Roro Mendut bebas dari belenggu kekuasaan. Berkat rokok, Roro Mendut terkengan, mengisi rubik informasi sejarah begitu kuatnya budaya merokok di \u00a0Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Pusaka Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek, Teman Perjuangan  Diponegoro<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Semasa berjuang melawan penjajah, yang harus dilakukan Diponegoro berpindah-pindah dari kota satu ke kota lain. Strategi perlawanan Diponegoro, kemudian sebagai basis strategi perang gerilya. Strategi yang menjadi idola dan kebanggaan tentara Indonesia. Dengan bergerilya, tentara Indonesia mampu mengecoh kekutan lawan yang lebih besar jumlahnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu, tenyata banyak cerita, Diponegoro saat berperang ditemani rokok. Ia dan pasukannya gemar merokok. Bahkan ketika tidak ada rokok, Pangeran Diponegoro rela hanya megunyah daun sirih yang diracik dengan kapur dan pinang. <\/p>\n\n\n\n

Kebiasaan ini, juga dialami oleh pengikut \/pasukan perang Pangeran Diponegoro. Bagi mereka, rokok teman sejati, menemani disetiap perjalanan mereka. Rokok menghilangkan depresi mereka, sebagai hiburan saat jauh dari keluarga demi berjuang melawan penjajah. Rokok menumbuhkan percaya diri mereka, lebih berani melawan penjajah walaupun hanya dengan serba keterbatasan, pasukan jumlah terbatas, alat perang terbatas dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Baca juga: Pangeran Diponegoro, Rokok Klobot dan Perlawanan Simbolis<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Jati Diri Bangsa<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Salah satu \u201cpendiri bangsa\u201d bernama KH. Agus Salim menghisap kretek dengan asapnya di kebal-kebulkan keudara, disaat ada perjamuan di Istana Buckingham ketika penobatan Elizabeth II sebagai Ratu kerajaan Inggris. Aroma khas keluar dari asap rokok kretek, tercium orang yang berada di ruang perjamuan. Sehingga memancing salah satu orang yang datang dalam perjamuan, dengan berkata; \u201ctuan sedang menghisap apa itu?\u201d.  Sentak KH. Agus Salim menjawab, \u201c inilah yang membuat nenek moyang anda sekian abad lalu datang dan kemudian menjajah negeri kami\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Jawaban KH. Agus Salim, faktanya memang benar. Rokok kretek tidak lain ada tambahan cengkeh (suzygium aromaticum<\/em>). \u00a0Tanaman legendaris menjadi rebutan dan sumber keuntungan kolonialisme Eropa atas Asia termasuk Indonesia. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Cengkeh adalah salah satu tanaman yang diperebutkan bangsa-bangsa dunia, sampai melegalkan penjajahan.  Dalam simpulan perjalanan ekspedisi cengkeh tahun 2013, Kepala Suku begitu julukan bagi Putut Ea, mengatakan \u201c jika saja tak pernah ada cengkeh dan pala di Maluku, mungkin sejarah kepulauan Nusantara ini akan berbeda sama sekali\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Simpulan Putut EA, sebagai salah satu pembenar perkataan \u00a0KH. Agus Salim. Mungkin, jika tanaman cengkeh tidak ada, fakta sejarah akan berbeda, tidak ada penjajahan di bumi Nusantara ini. <\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Mengisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek untuk Berteman dan Menjalin Persaudaraan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Teringat apa yang pernah dilakukan Menteri Sosial dan Lingkungan Hidup, saat melakukan pendekatan pada suku anak dalam di Jambi. Tidak lain ia adalah Khofifah menteri perempuan yang energik. Saat itu Khofifah bertanggungjawab dalam mengatasi masalah pendidikan dan kesejahteraan masyarakat suku anak dalam di Jambi.  <\/p>\n\n\n\n

Kebijakannya membuat fenomenal, selain bahan makanan, dan bantuan lain, khofifah juga membawa rokok.  Yang kemudian ada yang mengggugat dari anti rokok, tetapi sebagai Menteri, Khofifah tentunya sudah mengkaji secara mendalam. Dengan kecerdasannya , Khofifah menjawab dengan tegas dan lugas, \u201cjangan sok tahu kehidupan mereka, kenali apa yang menjadi ritme kehidupan mereka. Sangat bijaksana kalau kita semua pergi kesana, sehingga tahu adat istiadatnya juga. Tolong kalau ingin mengerti tentang kultur jangan hanya dari kacamata Jakarta. Saya pun ingin mengajak anda kesana, turun kesana, sapalah mereka\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Khofifah memberikan pelajaran bagi anti rokok. Tidak boleh sok tahu, apalagi selama ini antirokok hanya berasumsi, tanpa melihat fakta dilapangan. Khofifah juga menganjurkan agar lebih mengenal adat-istiadat, budaya dan tradisi masyarakat, tidak boleh melakukan hegemoni kultural, sebab keberagaman adat-istiadat dan budaya merupakan kekayaan negeri. <\/p>\n\n\n\n

Pelajaran Khofifah sangat mendalam dan bercirikhas Nusantara. Sebgaai Menteri \u00a0Sosial tentunya lebih berpengalaman apa yang dibutuhkan bangsa ini agar tetap jaya, bersatu dan utuh. Kenali perbedaan, hormati perbedaan, junjung tinggi budaya yang berbeda. \u00a0Apa yang telah dilakukan Khofifah dengan membawa rokok ke suku anak dalam adalah cermin penghormatan tradisi dan budaya masyarakat. Sebagai seorang Mentri, tentunya punya kuasa, artinya bisa seorang khofifah memberikan bantuan sesuai keinginannya sendiri, namun hal itu tidak dilakukan. Ia lebih mengedepankan penghormatan budaya masyarakat setempat, dengan membawa rokok untuk pendekatan dan pertemanan. Karena Khofifah tahu betul, bahwa merokok adalah budaya mereka, yang diwaris dari neneng moyang mereka. <\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Memilih Jalan Hidup Menikmati Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Simbol Pergerakan Nasional     <\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Abdul Rifa\u2019I dalam media bintang timur terbit pada 03 Oktober 1927, mengatakan, \u201ckopinya bukan kopi saringan, tetapi kopi tubruk sebab kopi ini katanya nationaal, gulanya gula jawa, susu tidak dipakai karena tidak nationaal. Rokoknya kelobot, selamatan natioanaal ini terus berlangsung ed sampai pagi hari\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Semangat nasionalisme harus tertanam, mengedepankan produk lokal adalah salah satu semangat nasionalime. Salah satu keberadaan rokok klobot menjadi ciri produk asli indonesia dan harus dilestarikan. Klobot sendiri adalah ramuan tembakau dan cengkeh di gulung memakai daun jagung, embrio perkembangan menjadi rokok sigaret kretek tangan dan sigaret kretek mesin.  
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pusaran Budaya Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pusaran-budaya-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-04 08:40:41","post_modified_gmt":"2019-02-04 01:40:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5406","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5403,"post_author":"919","post_date":"2019-02-03 09:05:50","post_date_gmt":"2019-02-03 02:05:50","post_content":"\n

Seringkali saya menyaksikan berbagai film baik itu Eropa atau Asia yang menggambarkan tentang masa depan. Pemandangan soal masa depan tersebut dihadirkan dengan gambaran kecanggihan teknologi seperti robot yang akan membantu kehidupan manusia, gedung-gedung yang tingginya sudah amat tak bisa ditandingi,  hingga mobil-mobil yang bisa terbang. <\/p>\n\n\n\n

Pernah dalam masa kecil saya menyaksikan sebuah film animasi buatan jepang yang mempertanyakan tentang makanan di masa depan. Dengan santai salah satu tokoh yang berasal dari masa depan itu menjawab bahwa suatu saat nanti manusia akan mengonsumsi makanan berupa pasta gigi namun dengan rasa yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa, aneh!<\/p>\n\n\n\n

Seiring waktu berjalan saya kian tumbuh dewasa dan punya kesadaran untuk memilih menjadi seorang perokok<\/a>. Saya juga melihat ada sebuah inovasi dan gambaran tentang masa depan yang hadir dalam kehidupan sekarang. Banyak memang, namun yang menyita perhatian saya adalah rokok elektrik atau yang populer disebut Vape. Konon katanya ia adalah produk inovasi untuk menjembatani kebutuhan menghisap asap dan kecanggihan masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Di awal kehadirannya Vape memang mengundang decak kekaguman saya. Bagaimana bisa sebuah mesin kecil mengeluarkan asap yang katanya lebih menyehatkan daripada rokok.<\/strong> Meski pada akhirnya teori tersebut juga bisa dibantah oleh beberapa ilmuan dunia. Tapi ada satu yang saya amati selain soal kesehatan, rokok elektrik rupanya menghadirkan kultur dan budaya baru dalam kehidupan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: LAGI-LAGI IKLAN ROKOK, KAPAN KPAI TIDAK TEBANG PILIH? <\/a><\/h4>\n\n\n\n

Kehadiran teknologi memang kerap sedikit atau benyak mengubah gaya atau kultur suatu masyarakat. Begitu pula yang saya perhatikan dengan rokok elektrik. Satu hal yang mudah diamati adalah menjamurnya toko-toko kecil yang menjual vape serta liquid di berbagai tempat. Sebagai sebuah warna baru dalam masyarakat, penggunanya ramai-ramai mengunjungi tempat tersebut berinteraksi dengan penikmat lainnya dan membangun sebuah rumah komunitas yang fleksibel.<\/p>\n\n\n\n

Meski belum bisa dikatakan memiliki jumlah penikmat yang setara dengan para perokok, pengguna Vape mulai menunjukkan eksistensinya. Selain toko yang tersebar, ragam acara juga mereka buat di beberapa daerah. Dalam lingkungan saya, beberapa teman yang dulunya merupakan perokok aktif tertarik mengikuti event tersebut dan beralih mengisap rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Nun jauh di sana, di Amerika Serikat tepatnya, budaya Vape juga sudah mulai berkembang lama ketimbang di Tanah Air. Penikmatnya terbagi menjadi dua, ada yang dulunya bekas perokok dan ada yang memang menikmatinya sebagai gaya hidup. Wajar saja mengingat facebook tak memperbolehkan iklan tembakau di platform mereka, sebaliknya iklan tentang vape justru bertebaran. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi budaya baru yang berkembang di berbagai belahan dunia bahkan di Indonesia, Vape konon menjadi alternatif yang lebih bermanfaat daripada rokok. Dalih yang diusung selalu sama kepada para perokok tradisonal yaitu soal kesehatan dan lebih irit. Soal kesehatan tentu ada beberapa pendapat para ilmuan yang membantahnya, namun soal irit, saya rasa tidak. Memang satu liquid bisa digunakan untuk beberapa Minggu, akan tetapi yang saya lihat di lapangan justru sebaliknya. <\/p>\n\n\n\n

Beberapa penikmat rokok elektrik kerap berbelanja liquid yang mereka idamkan. Terkadang, hal tersebut yang membuat mereka boros karena terus mengeksplor rasa mana yang mereka idam-idamkan. Tak jarang juga liquid dengan harga mahal hingga ratus ribuan akan mereka beli. Sebaliknya, para perokok konvensional justru kerap bertahan dengan satu rasa atau merek saja.<\/p>\n\n\n\n

Sedikit berbeda dengan penikmat rokok konvensional atau kretek. Mengingat rokok kretek sudah menjadi kebudayan lokal yang terus dipertahankan selama bertahun-tahun, kehadirannya sudah mewarnai khasanah keindonesiaan. Perokok kretek juga sudah punya soliditas luar biasa yang terbentuk sejak lama dan terus terbangun mengiringi peradaban di Indonesia atau dunia.<\/p>\n\n\n\n

Kini, perokok elektrik mulai merasakan kegelisahan. Beberapa negara mulai menerapkan peraturan ketat terhadap Vape, sedangkan di Indonesia biaya cukai pun kini mulai diberlakukan terhadap perdagangan rokok elektrik. Keberadaannya di mata negara pun mulai dianggap sama seperti rokok, meski pada awalnya rokok elektrik hadir dengan slogan-slogan produk alternatif yang lebih menyehatkan (katanya).<\/p>\n\n\n\n


Tapi jika kemudian di masa depan memang rokok elektrik yang kemudian menjadi sesuatu yang populer dan dinikmati banyak orang. Rasanya saya tetap ingin hidup di jaman ini, dengan sebatang kretek di tangan dan menikmati segala khasanah kebudayaan yang patut terus dipertahankan. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"masa-depan-rokok-elektrik-dan-semangat-alternatif-yang-sia-sia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-03 09:05:56","post_modified_gmt":"2019-02-03 02:05:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5403","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5385,"post_author":"883","post_date":"2019-02-02 08:01:01","post_date_gmt":"2019-02-02 01:01:01","post_content":"Pada tahun 2014, perusahaan rokok multinasional Philip Morris Internasional Inc. merilis sebuah produk <\/span>perangkat\u00a0<\/span>
rokok<\/span><\/a>\u00a0tanpa asap, yang dipanaskan bukan dibakar atau istilahnya\u00a0<\/span>heat not burn<\/i><\/strong>\u00a0(HNB) iQOS<\/strong>. <\/span>\r\n\r\nPerangkat rokok tanpa asap dengan nama iQOS<\/a> ini berbentuk seperti bagian luar pulpen, dengan lubang di tengah untuk rokok. Produk yang berada di bawah brand Marlboro ini dapat memanaskan rokok sampai 350 derajat celcius lalu mengeluarkan uap nikotin beraroma tembakau<\/em><\/a>.<\/span>\r\n

Produk iQOS sebenarnya bukanlah produk rokok tanpa asap yang pertama muncul. Sebelumnya di tahun 1990-an, Reynolds Tobacco Co pernah merilis produk serupa bernama Eclipes yang juga dapat menguapkan nikotin setelah dinyalakan dengan korek api.<\/span><\/blockquote>\r\nSelain itu, Eclips juga dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. Namun, pada saat itu Eclips tidak diminati oleh pasar, utamanya para perokok konvensional. Meskipun Eclips dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. <\/span>\r\n\r\nBisnis semacam rokok tanpa asap seperti Eclips dan iQOS memang sudah menjadi bagian dari rencana panjang bisnis perusahaan-perusahaan rokok multinasional. Jadi tidak usah heran jika ke depannya akan kita akan banyak menemukan produk rokok tanpa asap ini.<\/span>\r\n\r\nWatak dari perusahaan multinasional memang seperti itu, mereka sangat jeli melihat peluang pasar ke depannya. Ketika market place perusahaan rokok multinasional saat ini terus dirongrong oleh kelompok antirokok, mereka tak kehabisan akal. Maka kemudian mereka menginovasi produk rokok konvensional menjadi rokok yang tidak berasap. Begitupun dengan mengikutsertakan jargon-jargon kesehatan dalam narasi promosi mereka.<\/span>\r\n\r\nSesungguhnya memang seperti itulah watak bisnis perusahaan-perusahaan multinasional, melakukan segala cara agar bisnis mereka tetap bertahan, meskipun harus merangkul musuh sekalipun. <\/span>\r\n\r\nYa kadang pura-pura berantem sama antirokok, tapi dibalik itu sebenarnya baik-baik saja, dan tentunya ada kompromi untuk terus melanggengkan bisnis mereka.<\/span>\r\n

Lalu siapa yang dirugikan dari permainan bisnis macam produk rokok tanpa asap perusahaan rokok multinasional ini?<\/span><\/h3>\r\nTentunya yang sangat dirugikan adalah produk hasil tembakau yang memiliki kekhasan seperti kretek di Indonesia. Kretek sebagai produk khas asli Indonesia yang menjadi bagian dari warisan kebudayaan tidak mungkin bertransformasi menjadi produk-produk elektrik dan sejenisnya.<\/span>\r\n\r\nKretek tetaplah kretek, dengan bahan baku alami tembakau dan cengkeh yang tidak diintervensi dengan zat atau perangkat penghantar lainnya. Karena dengan bentuk, karakter dan cara menikmatinya memang konvensional dan akan terus begitu apapun kondisi dan zamannya.<\/span>\r\n
Bisnis produk rokok tanpa asap (elektrik) juga menghajar kretek dengan mendompleng isu pengendalian tembakau. Kampanye pengendalian tembakau selalu membawa slogan bahaya merokok dan upaya untuk berhenti merokok. <\/span><\/blockquote>\r\nDari isu tersebut, rokok elektrik masuk dengan citra produk alternatif tembakau, bahkan mereka tak segan menilai bahwa rokok elektrik lebih aman ketimbang rokok konvensional, yakni kretek.<\/span>\r\n\r\nLalu jika Indonesia akan dibanjiri dengan produk-produk yang mengatasnamakan produk alternatif tembakau, macam rokok tanpa asap (iQOS dan sejenisnya), maka itulah pertanda bahwa kretek harus tergerus dari cara hidup manusia Indonesia dalam menikmati produk hasil tembakau khas Indonesia yang sudah turun-temurun lamanya dinikmati manusia Indonesia.<\/span>","post_title":"Nasib Kretek di Pusaran Pertarungan Bisnis Global Perusahaan Rokok Multinasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"nasib-kretek-di-pusaran-pertarungan-bisnis-global-perusahaan-rokok-multinasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-02 08:01:43","post_modified_gmt":"2019-02-02 01:01:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5385","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; \n

DNA Bangsa Tionghoa yang memang merupakan pedagang menjadi pembuka kisah interaksi antara nenek moyang berbagai suku di Nusantara dengan mereka. Beberapa kelenteng-kelenteng yang tersebar pada berbagai pesisir daerah di Nusantara jadi buktinya. Pelabuhan-pelabuhan tua di tanah air dan ramainya perdagangan di pesisir mempermudah bangsa kita berhubungan dengan Bangsa Tionghoa.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Wong Kalang dan Kota Gede<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa kehadiran Bangsa Tionghoa di Nusantara tak hanya sebagai pedagang, namun juga sebagai pekerja (bahkan hingga pekerja kasar). Benny Setiono, seorang sejarahwan menyebutkan bahwa antara tahun 1760-1770 dalam jumlah yang besar memasuki nusantara melalui Kalimantan Barat. Mereka bekerja sebagai kuli pertambangan di sana dan di kemudian hari membentuk sebuah republik bernama Republik Lanfang yang konon katanya menjadi republik pertama di Asia Tenggara.<\/p>\n\n\n\n

Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Imlek dan Indonesia<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n\n\n\n

Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
<\/p>\n","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5406,"post_author":"877","post_date":"2019-02-04 08:23:48","post_date_gmt":"2019-02-04 01:23:48","post_content":"\n

Merokok itu sudah menjadi bagian dari budaya dan tradisi masyarakat, jauh sebelum Indonesia merdeka. Banyak cerita atau kisah tentang kretek <\/a><\/del>di tengah-tengah masyarakat bangsa ini, mulai sebagai alat untuk meraup keuntungan, alat komunikasi, sebagai teman sampai menjadi simbol pergerakan. <\/p>\n\n\n\n

Kretek, Simbol Perlawanan Roro Mendut<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Siapa yang tidak pernah mendengan cerita tentang Roro Mendut?, di telinga masyarakat Indonesia, kisah Roro Mendut tidak asing lagi.  Perempuan yang mempunyai paras wajah cantik, dan digandrungi kaum adam terutama kalangan putra kerajaan. Informasi kecantikan Roro Mendut tersebar seantero Nusantara, tidak satupun pria meragukan kecantikannya.  Bahkan kisah dan cerita kecantikan Roro Mendut tercatat dalam buku Babad Tanah Jawi. <\/p>\n\n\n\n

Diperkirakan pada tahun 1627, pada saat panglima perang Sultan Agung Mataram bernama Tumenggung Wiraguna berhasil menumpas pemberontakan di kota Pati, sebagai imbalanan atas keberhasilannya, mendapat hadiah wanita pujaan pria bernama Rara Mendut dari Kasultanan Agung Mataram.  Roro Mendut menolak dipinang Tumenggung Wiraguna, dan secara terang-terangan memilih pria lain dambaannya. Akibatnya, Roro Mendut harus membayar pajak setiap harinya kepada kerajaan Mataram. <\/p>\n\n\n\n

Bisa dibayangkan, betapa bingungnya Roro Mendut saat itu. Uang dari mana, ia hasilkan untuk bayar pajak tiap hari demi bisa bersama kekasihnya. Ternyata Roro Mendut tidak hanya cantik tetapi cerdas dan kreatif, bisa membaca peluang bisnis saat itu. Ide cermerlang muncul dengan berdagang\/berjualan rokok lintingan yang direkatkan dengan air ludahnya, dan sebelum menjualnya, rokok lintingan di sulut dahulu dan dihisap bekas bibir merahnya. Kemudian baru dijual ke pembeli yang berdesakan berjejer antri. <\/p>\n\n\n\n

Entah dari mana ide menjual rokok itu muncul. Yang jelas saking larisnya, kewajiban pajak Roro Mendut terpenuhi. Dan mungkin keadaannya akan lebih parah, jika saat itu Roro Mendut tidak berdagang rokok. Tidak akan terpenuhi kewajiban pajaknya. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Dengan rokok, hidup Roro Mendut terselamatkan. Adanya rokok, \u00a0Roro Mendut bebas dari belenggu kekuasaan. Berkat rokok, Roro Mendut terkengan, mengisi rubik informasi sejarah begitu kuatnya budaya merokok di \u00a0Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Pusaka Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek, Teman Perjuangan  Diponegoro<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Semasa berjuang melawan penjajah, yang harus dilakukan Diponegoro berpindah-pindah dari kota satu ke kota lain. Strategi perlawanan Diponegoro, kemudian sebagai basis strategi perang gerilya. Strategi yang menjadi idola dan kebanggaan tentara Indonesia. Dengan bergerilya, tentara Indonesia mampu mengecoh kekutan lawan yang lebih besar jumlahnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu, tenyata banyak cerita, Diponegoro saat berperang ditemani rokok. Ia dan pasukannya gemar merokok. Bahkan ketika tidak ada rokok, Pangeran Diponegoro rela hanya megunyah daun sirih yang diracik dengan kapur dan pinang. <\/p>\n\n\n\n

Kebiasaan ini, juga dialami oleh pengikut \/pasukan perang Pangeran Diponegoro. Bagi mereka, rokok teman sejati, menemani disetiap perjalanan mereka. Rokok menghilangkan depresi mereka, sebagai hiburan saat jauh dari keluarga demi berjuang melawan penjajah. Rokok menumbuhkan percaya diri mereka, lebih berani melawan penjajah walaupun hanya dengan serba keterbatasan, pasukan jumlah terbatas, alat perang terbatas dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Baca juga: Pangeran Diponegoro, Rokok Klobot dan Perlawanan Simbolis<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Jati Diri Bangsa<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Salah satu \u201cpendiri bangsa\u201d bernama KH. Agus Salim menghisap kretek dengan asapnya di kebal-kebulkan keudara, disaat ada perjamuan di Istana Buckingham ketika penobatan Elizabeth II sebagai Ratu kerajaan Inggris. Aroma khas keluar dari asap rokok kretek, tercium orang yang berada di ruang perjamuan. Sehingga memancing salah satu orang yang datang dalam perjamuan, dengan berkata; \u201ctuan sedang menghisap apa itu?\u201d.  Sentak KH. Agus Salim menjawab, \u201c inilah yang membuat nenek moyang anda sekian abad lalu datang dan kemudian menjajah negeri kami\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Jawaban KH. Agus Salim, faktanya memang benar. Rokok kretek tidak lain ada tambahan cengkeh (suzygium aromaticum<\/em>). \u00a0Tanaman legendaris menjadi rebutan dan sumber keuntungan kolonialisme Eropa atas Asia termasuk Indonesia. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Cengkeh adalah salah satu tanaman yang diperebutkan bangsa-bangsa dunia, sampai melegalkan penjajahan.  Dalam simpulan perjalanan ekspedisi cengkeh tahun 2013, Kepala Suku begitu julukan bagi Putut Ea, mengatakan \u201c jika saja tak pernah ada cengkeh dan pala di Maluku, mungkin sejarah kepulauan Nusantara ini akan berbeda sama sekali\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Simpulan Putut EA, sebagai salah satu pembenar perkataan \u00a0KH. Agus Salim. Mungkin, jika tanaman cengkeh tidak ada, fakta sejarah akan berbeda, tidak ada penjajahan di bumi Nusantara ini. <\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Mengisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek untuk Berteman dan Menjalin Persaudaraan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Teringat apa yang pernah dilakukan Menteri Sosial dan Lingkungan Hidup, saat melakukan pendekatan pada suku anak dalam di Jambi. Tidak lain ia adalah Khofifah menteri perempuan yang energik. Saat itu Khofifah bertanggungjawab dalam mengatasi masalah pendidikan dan kesejahteraan masyarakat suku anak dalam di Jambi.  <\/p>\n\n\n\n

Kebijakannya membuat fenomenal, selain bahan makanan, dan bantuan lain, khofifah juga membawa rokok.  Yang kemudian ada yang mengggugat dari anti rokok, tetapi sebagai Menteri, Khofifah tentunya sudah mengkaji secara mendalam. Dengan kecerdasannya , Khofifah menjawab dengan tegas dan lugas, \u201cjangan sok tahu kehidupan mereka, kenali apa yang menjadi ritme kehidupan mereka. Sangat bijaksana kalau kita semua pergi kesana, sehingga tahu adat istiadatnya juga. Tolong kalau ingin mengerti tentang kultur jangan hanya dari kacamata Jakarta. Saya pun ingin mengajak anda kesana, turun kesana, sapalah mereka\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Khofifah memberikan pelajaran bagi anti rokok. Tidak boleh sok tahu, apalagi selama ini antirokok hanya berasumsi, tanpa melihat fakta dilapangan. Khofifah juga menganjurkan agar lebih mengenal adat-istiadat, budaya dan tradisi masyarakat, tidak boleh melakukan hegemoni kultural, sebab keberagaman adat-istiadat dan budaya merupakan kekayaan negeri. <\/p>\n\n\n\n

Pelajaran Khofifah sangat mendalam dan bercirikhas Nusantara. Sebgaai Menteri \u00a0Sosial tentunya lebih berpengalaman apa yang dibutuhkan bangsa ini agar tetap jaya, bersatu dan utuh. Kenali perbedaan, hormati perbedaan, junjung tinggi budaya yang berbeda. \u00a0Apa yang telah dilakukan Khofifah dengan membawa rokok ke suku anak dalam adalah cermin penghormatan tradisi dan budaya masyarakat. Sebagai seorang Mentri, tentunya punya kuasa, artinya bisa seorang khofifah memberikan bantuan sesuai keinginannya sendiri, namun hal itu tidak dilakukan. Ia lebih mengedepankan penghormatan budaya masyarakat setempat, dengan membawa rokok untuk pendekatan dan pertemanan. Karena Khofifah tahu betul, bahwa merokok adalah budaya mereka, yang diwaris dari neneng moyang mereka. <\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Memilih Jalan Hidup Menikmati Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Simbol Pergerakan Nasional     <\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Abdul Rifa\u2019I dalam media bintang timur terbit pada 03 Oktober 1927, mengatakan, \u201ckopinya bukan kopi saringan, tetapi kopi tubruk sebab kopi ini katanya nationaal, gulanya gula jawa, susu tidak dipakai karena tidak nationaal. Rokoknya kelobot, selamatan natioanaal ini terus berlangsung ed sampai pagi hari\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Semangat nasionalisme harus tertanam, mengedepankan produk lokal adalah salah satu semangat nasionalime. Salah satu keberadaan rokok klobot menjadi ciri produk asli indonesia dan harus dilestarikan. Klobot sendiri adalah ramuan tembakau dan cengkeh di gulung memakai daun jagung, embrio perkembangan menjadi rokok sigaret kretek tangan dan sigaret kretek mesin.  
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pusaran Budaya Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pusaran-budaya-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-04 08:40:41","post_modified_gmt":"2019-02-04 01:40:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5406","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5403,"post_author":"919","post_date":"2019-02-03 09:05:50","post_date_gmt":"2019-02-03 02:05:50","post_content":"\n

Seringkali saya menyaksikan berbagai film baik itu Eropa atau Asia yang menggambarkan tentang masa depan. Pemandangan soal masa depan tersebut dihadirkan dengan gambaran kecanggihan teknologi seperti robot yang akan membantu kehidupan manusia, gedung-gedung yang tingginya sudah amat tak bisa ditandingi,  hingga mobil-mobil yang bisa terbang. <\/p>\n\n\n\n

Pernah dalam masa kecil saya menyaksikan sebuah film animasi buatan jepang yang mempertanyakan tentang makanan di masa depan. Dengan santai salah satu tokoh yang berasal dari masa depan itu menjawab bahwa suatu saat nanti manusia akan mengonsumsi makanan berupa pasta gigi namun dengan rasa yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa, aneh!<\/p>\n\n\n\n

Seiring waktu berjalan saya kian tumbuh dewasa dan punya kesadaran untuk memilih menjadi seorang perokok<\/a>. Saya juga melihat ada sebuah inovasi dan gambaran tentang masa depan yang hadir dalam kehidupan sekarang. Banyak memang, namun yang menyita perhatian saya adalah rokok elektrik atau yang populer disebut Vape. Konon katanya ia adalah produk inovasi untuk menjembatani kebutuhan menghisap asap dan kecanggihan masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Di awal kehadirannya Vape memang mengundang decak kekaguman saya. Bagaimana bisa sebuah mesin kecil mengeluarkan asap yang katanya lebih menyehatkan daripada rokok.<\/strong> Meski pada akhirnya teori tersebut juga bisa dibantah oleh beberapa ilmuan dunia. Tapi ada satu yang saya amati selain soal kesehatan, rokok elektrik rupanya menghadirkan kultur dan budaya baru dalam kehidupan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: LAGI-LAGI IKLAN ROKOK, KAPAN KPAI TIDAK TEBANG PILIH? <\/a><\/h4>\n\n\n\n

Kehadiran teknologi memang kerap sedikit atau benyak mengubah gaya atau kultur suatu masyarakat. Begitu pula yang saya perhatikan dengan rokok elektrik. Satu hal yang mudah diamati adalah menjamurnya toko-toko kecil yang menjual vape serta liquid di berbagai tempat. Sebagai sebuah warna baru dalam masyarakat, penggunanya ramai-ramai mengunjungi tempat tersebut berinteraksi dengan penikmat lainnya dan membangun sebuah rumah komunitas yang fleksibel.<\/p>\n\n\n\n

Meski belum bisa dikatakan memiliki jumlah penikmat yang setara dengan para perokok, pengguna Vape mulai menunjukkan eksistensinya. Selain toko yang tersebar, ragam acara juga mereka buat di beberapa daerah. Dalam lingkungan saya, beberapa teman yang dulunya merupakan perokok aktif tertarik mengikuti event tersebut dan beralih mengisap rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Nun jauh di sana, di Amerika Serikat tepatnya, budaya Vape juga sudah mulai berkembang lama ketimbang di Tanah Air. Penikmatnya terbagi menjadi dua, ada yang dulunya bekas perokok dan ada yang memang menikmatinya sebagai gaya hidup. Wajar saja mengingat facebook tak memperbolehkan iklan tembakau di platform mereka, sebaliknya iklan tentang vape justru bertebaran. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi budaya baru yang berkembang di berbagai belahan dunia bahkan di Indonesia, Vape konon menjadi alternatif yang lebih bermanfaat daripada rokok. Dalih yang diusung selalu sama kepada para perokok tradisonal yaitu soal kesehatan dan lebih irit. Soal kesehatan tentu ada beberapa pendapat para ilmuan yang membantahnya, namun soal irit, saya rasa tidak. Memang satu liquid bisa digunakan untuk beberapa Minggu, akan tetapi yang saya lihat di lapangan justru sebaliknya. <\/p>\n\n\n\n

Beberapa penikmat rokok elektrik kerap berbelanja liquid yang mereka idamkan. Terkadang, hal tersebut yang membuat mereka boros karena terus mengeksplor rasa mana yang mereka idam-idamkan. Tak jarang juga liquid dengan harga mahal hingga ratus ribuan akan mereka beli. Sebaliknya, para perokok konvensional justru kerap bertahan dengan satu rasa atau merek saja.<\/p>\n\n\n\n

Sedikit berbeda dengan penikmat rokok konvensional atau kretek. Mengingat rokok kretek sudah menjadi kebudayan lokal yang terus dipertahankan selama bertahun-tahun, kehadirannya sudah mewarnai khasanah keindonesiaan. Perokok kretek juga sudah punya soliditas luar biasa yang terbentuk sejak lama dan terus terbangun mengiringi peradaban di Indonesia atau dunia.<\/p>\n\n\n\n

Kini, perokok elektrik mulai merasakan kegelisahan. Beberapa negara mulai menerapkan peraturan ketat terhadap Vape, sedangkan di Indonesia biaya cukai pun kini mulai diberlakukan terhadap perdagangan rokok elektrik. Keberadaannya di mata negara pun mulai dianggap sama seperti rokok, meski pada awalnya rokok elektrik hadir dengan slogan-slogan produk alternatif yang lebih menyehatkan (katanya).<\/p>\n\n\n\n


Tapi jika kemudian di masa depan memang rokok elektrik yang kemudian menjadi sesuatu yang populer dan dinikmati banyak orang. Rasanya saya tetap ingin hidup di jaman ini, dengan sebatang kretek di tangan dan menikmati segala khasanah kebudayaan yang patut terus dipertahankan. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"masa-depan-rokok-elektrik-dan-semangat-alternatif-yang-sia-sia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-03 09:05:56","post_modified_gmt":"2019-02-03 02:05:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5403","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5385,"post_author":"883","post_date":"2019-02-02 08:01:01","post_date_gmt":"2019-02-02 01:01:01","post_content":"Pada tahun 2014, perusahaan rokok multinasional Philip Morris Internasional Inc. merilis sebuah produk <\/span>perangkat\u00a0<\/span>
rokok<\/span><\/a>\u00a0tanpa asap, yang dipanaskan bukan dibakar atau istilahnya\u00a0<\/span>heat not burn<\/i><\/strong>\u00a0(HNB) iQOS<\/strong>. <\/span>\r\n\r\nPerangkat rokok tanpa asap dengan nama iQOS<\/a> ini berbentuk seperti bagian luar pulpen, dengan lubang di tengah untuk rokok. Produk yang berada di bawah brand Marlboro ini dapat memanaskan rokok sampai 350 derajat celcius lalu mengeluarkan uap nikotin beraroma tembakau<\/em><\/a>.<\/span>\r\n

Produk iQOS sebenarnya bukanlah produk rokok tanpa asap yang pertama muncul. Sebelumnya di tahun 1990-an, Reynolds Tobacco Co pernah merilis produk serupa bernama Eclipes yang juga dapat menguapkan nikotin setelah dinyalakan dengan korek api.<\/span><\/blockquote>\r\nSelain itu, Eclips juga dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. Namun, pada saat itu Eclips tidak diminati oleh pasar, utamanya para perokok konvensional. Meskipun Eclips dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. <\/span>\r\n\r\nBisnis semacam rokok tanpa asap seperti Eclips dan iQOS memang sudah menjadi bagian dari rencana panjang bisnis perusahaan-perusahaan rokok multinasional. Jadi tidak usah heran jika ke depannya akan kita akan banyak menemukan produk rokok tanpa asap ini.<\/span>\r\n\r\nWatak dari perusahaan multinasional memang seperti itu, mereka sangat jeli melihat peluang pasar ke depannya. Ketika market place perusahaan rokok multinasional saat ini terus dirongrong oleh kelompok antirokok, mereka tak kehabisan akal. Maka kemudian mereka menginovasi produk rokok konvensional menjadi rokok yang tidak berasap. Begitupun dengan mengikutsertakan jargon-jargon kesehatan dalam narasi promosi mereka.<\/span>\r\n\r\nSesungguhnya memang seperti itulah watak bisnis perusahaan-perusahaan multinasional, melakukan segala cara agar bisnis mereka tetap bertahan, meskipun harus merangkul musuh sekalipun. <\/span>\r\n\r\nYa kadang pura-pura berantem sama antirokok, tapi dibalik itu sebenarnya baik-baik saja, dan tentunya ada kompromi untuk terus melanggengkan bisnis mereka.<\/span>\r\n

Lalu siapa yang dirugikan dari permainan bisnis macam produk rokok tanpa asap perusahaan rokok multinasional ini?<\/span><\/h3>\r\nTentunya yang sangat dirugikan adalah produk hasil tembakau yang memiliki kekhasan seperti kretek di Indonesia. Kretek sebagai produk khas asli Indonesia yang menjadi bagian dari warisan kebudayaan tidak mungkin bertransformasi menjadi produk-produk elektrik dan sejenisnya.<\/span>\r\n\r\nKretek tetaplah kretek, dengan bahan baku alami tembakau dan cengkeh yang tidak diintervensi dengan zat atau perangkat penghantar lainnya. Karena dengan bentuk, karakter dan cara menikmatinya memang konvensional dan akan terus begitu apapun kondisi dan zamannya.<\/span>\r\n
Bisnis produk rokok tanpa asap (elektrik) juga menghajar kretek dengan mendompleng isu pengendalian tembakau. Kampanye pengendalian tembakau selalu membawa slogan bahaya merokok dan upaya untuk berhenti merokok. <\/span><\/blockquote>\r\nDari isu tersebut, rokok elektrik masuk dengan citra produk alternatif tembakau, bahkan mereka tak segan menilai bahwa rokok elektrik lebih aman ketimbang rokok konvensional, yakni kretek.<\/span>\r\n\r\nLalu jika Indonesia akan dibanjiri dengan produk-produk yang mengatasnamakan produk alternatif tembakau, macam rokok tanpa asap (iQOS dan sejenisnya), maka itulah pertanda bahwa kretek harus tergerus dari cara hidup manusia Indonesia dalam menikmati produk hasil tembakau khas Indonesia yang sudah turun-temurun lamanya dinikmati manusia Indonesia.<\/span>","post_title":"Nasib Kretek di Pusaran Pertarungan Bisnis Global Perusahaan Rokok Multinasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"nasib-kretek-di-pusaran-pertarungan-bisnis-global-perusahaan-rokok-multinasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-02 08:01:43","post_modified_gmt":"2019-02-02 01:01:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5385","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; \n

Berterimakasihlah kepada sang bapak bangsa, KH Abdurrahman Wahid atau yang dikenal dengan nama Gus Dur. Berkat kebijakannya saat menjadi Presiden Indonesia, Tahun Baru Imlek resmi dijadikan hari libur nasional dan dianggap sebagai salah satu hari raya di Tanah Air. Meski sentimen antitionghoa masih ada di sana-sini, tapi tetap tak bisa dipungkiri bahwa bangsa tionghoa sudah bersentuhan dengan budaya lokal dalam kurun waktu yang sangat panjang.<\/p>\n\n\n\n

DNA Bangsa Tionghoa yang memang merupakan pedagang menjadi pembuka kisah interaksi antara nenek moyang berbagai suku di Nusantara dengan mereka. Beberapa kelenteng-kelenteng yang tersebar pada berbagai pesisir daerah di Nusantara jadi buktinya. Pelabuhan-pelabuhan tua di tanah air dan ramainya perdagangan di pesisir mempermudah bangsa kita berhubungan dengan Bangsa Tionghoa.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Wong Kalang dan Kota Gede<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa kehadiran Bangsa Tionghoa di Nusantara tak hanya sebagai pedagang, namun juga sebagai pekerja (bahkan hingga pekerja kasar). Benny Setiono, seorang sejarahwan menyebutkan bahwa antara tahun 1760-1770 dalam jumlah yang besar memasuki nusantara melalui Kalimantan Barat. Mereka bekerja sebagai kuli pertambangan di sana dan di kemudian hari membentuk sebuah republik bernama Republik Lanfang yang konon katanya menjadi republik pertama di Asia Tenggara.<\/p>\n\n\n\n

Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Imlek dan Indonesia<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n\n\n\n

Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
<\/p>\n","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5406,"post_author":"877","post_date":"2019-02-04 08:23:48","post_date_gmt":"2019-02-04 01:23:48","post_content":"\n

Merokok itu sudah menjadi bagian dari budaya dan tradisi masyarakat, jauh sebelum Indonesia merdeka. Banyak cerita atau kisah tentang kretek <\/a><\/del>di tengah-tengah masyarakat bangsa ini, mulai sebagai alat untuk meraup keuntungan, alat komunikasi, sebagai teman sampai menjadi simbol pergerakan. <\/p>\n\n\n\n

Kretek, Simbol Perlawanan Roro Mendut<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Siapa yang tidak pernah mendengan cerita tentang Roro Mendut?, di telinga masyarakat Indonesia, kisah Roro Mendut tidak asing lagi.  Perempuan yang mempunyai paras wajah cantik, dan digandrungi kaum adam terutama kalangan putra kerajaan. Informasi kecantikan Roro Mendut tersebar seantero Nusantara, tidak satupun pria meragukan kecantikannya.  Bahkan kisah dan cerita kecantikan Roro Mendut tercatat dalam buku Babad Tanah Jawi. <\/p>\n\n\n\n

Diperkirakan pada tahun 1627, pada saat panglima perang Sultan Agung Mataram bernama Tumenggung Wiraguna berhasil menumpas pemberontakan di kota Pati, sebagai imbalanan atas keberhasilannya, mendapat hadiah wanita pujaan pria bernama Rara Mendut dari Kasultanan Agung Mataram.  Roro Mendut menolak dipinang Tumenggung Wiraguna, dan secara terang-terangan memilih pria lain dambaannya. Akibatnya, Roro Mendut harus membayar pajak setiap harinya kepada kerajaan Mataram. <\/p>\n\n\n\n

Bisa dibayangkan, betapa bingungnya Roro Mendut saat itu. Uang dari mana, ia hasilkan untuk bayar pajak tiap hari demi bisa bersama kekasihnya. Ternyata Roro Mendut tidak hanya cantik tetapi cerdas dan kreatif, bisa membaca peluang bisnis saat itu. Ide cermerlang muncul dengan berdagang\/berjualan rokok lintingan yang direkatkan dengan air ludahnya, dan sebelum menjualnya, rokok lintingan di sulut dahulu dan dihisap bekas bibir merahnya. Kemudian baru dijual ke pembeli yang berdesakan berjejer antri. <\/p>\n\n\n\n

Entah dari mana ide menjual rokok itu muncul. Yang jelas saking larisnya, kewajiban pajak Roro Mendut terpenuhi. Dan mungkin keadaannya akan lebih parah, jika saat itu Roro Mendut tidak berdagang rokok. Tidak akan terpenuhi kewajiban pajaknya. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Dengan rokok, hidup Roro Mendut terselamatkan. Adanya rokok, \u00a0Roro Mendut bebas dari belenggu kekuasaan. Berkat rokok, Roro Mendut terkengan, mengisi rubik informasi sejarah begitu kuatnya budaya merokok di \u00a0Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Pusaka Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek, Teman Perjuangan  Diponegoro<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Semasa berjuang melawan penjajah, yang harus dilakukan Diponegoro berpindah-pindah dari kota satu ke kota lain. Strategi perlawanan Diponegoro, kemudian sebagai basis strategi perang gerilya. Strategi yang menjadi idola dan kebanggaan tentara Indonesia. Dengan bergerilya, tentara Indonesia mampu mengecoh kekutan lawan yang lebih besar jumlahnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu, tenyata banyak cerita, Diponegoro saat berperang ditemani rokok. Ia dan pasukannya gemar merokok. Bahkan ketika tidak ada rokok, Pangeran Diponegoro rela hanya megunyah daun sirih yang diracik dengan kapur dan pinang. <\/p>\n\n\n\n

Kebiasaan ini, juga dialami oleh pengikut \/pasukan perang Pangeran Diponegoro. Bagi mereka, rokok teman sejati, menemani disetiap perjalanan mereka. Rokok menghilangkan depresi mereka, sebagai hiburan saat jauh dari keluarga demi berjuang melawan penjajah. Rokok menumbuhkan percaya diri mereka, lebih berani melawan penjajah walaupun hanya dengan serba keterbatasan, pasukan jumlah terbatas, alat perang terbatas dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Baca juga: Pangeran Diponegoro, Rokok Klobot dan Perlawanan Simbolis<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Jati Diri Bangsa<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Salah satu \u201cpendiri bangsa\u201d bernama KH. Agus Salim menghisap kretek dengan asapnya di kebal-kebulkan keudara, disaat ada perjamuan di Istana Buckingham ketika penobatan Elizabeth II sebagai Ratu kerajaan Inggris. Aroma khas keluar dari asap rokok kretek, tercium orang yang berada di ruang perjamuan. Sehingga memancing salah satu orang yang datang dalam perjamuan, dengan berkata; \u201ctuan sedang menghisap apa itu?\u201d.  Sentak KH. Agus Salim menjawab, \u201c inilah yang membuat nenek moyang anda sekian abad lalu datang dan kemudian menjajah negeri kami\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Jawaban KH. Agus Salim, faktanya memang benar. Rokok kretek tidak lain ada tambahan cengkeh (suzygium aromaticum<\/em>). \u00a0Tanaman legendaris menjadi rebutan dan sumber keuntungan kolonialisme Eropa atas Asia termasuk Indonesia. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Cengkeh adalah salah satu tanaman yang diperebutkan bangsa-bangsa dunia, sampai melegalkan penjajahan.  Dalam simpulan perjalanan ekspedisi cengkeh tahun 2013, Kepala Suku begitu julukan bagi Putut Ea, mengatakan \u201c jika saja tak pernah ada cengkeh dan pala di Maluku, mungkin sejarah kepulauan Nusantara ini akan berbeda sama sekali\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Simpulan Putut EA, sebagai salah satu pembenar perkataan \u00a0KH. Agus Salim. Mungkin, jika tanaman cengkeh tidak ada, fakta sejarah akan berbeda, tidak ada penjajahan di bumi Nusantara ini. <\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Mengisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek untuk Berteman dan Menjalin Persaudaraan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Teringat apa yang pernah dilakukan Menteri Sosial dan Lingkungan Hidup, saat melakukan pendekatan pada suku anak dalam di Jambi. Tidak lain ia adalah Khofifah menteri perempuan yang energik. Saat itu Khofifah bertanggungjawab dalam mengatasi masalah pendidikan dan kesejahteraan masyarakat suku anak dalam di Jambi.  <\/p>\n\n\n\n

Kebijakannya membuat fenomenal, selain bahan makanan, dan bantuan lain, khofifah juga membawa rokok.  Yang kemudian ada yang mengggugat dari anti rokok, tetapi sebagai Menteri, Khofifah tentunya sudah mengkaji secara mendalam. Dengan kecerdasannya , Khofifah menjawab dengan tegas dan lugas, \u201cjangan sok tahu kehidupan mereka, kenali apa yang menjadi ritme kehidupan mereka. Sangat bijaksana kalau kita semua pergi kesana, sehingga tahu adat istiadatnya juga. Tolong kalau ingin mengerti tentang kultur jangan hanya dari kacamata Jakarta. Saya pun ingin mengajak anda kesana, turun kesana, sapalah mereka\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Khofifah memberikan pelajaran bagi anti rokok. Tidak boleh sok tahu, apalagi selama ini antirokok hanya berasumsi, tanpa melihat fakta dilapangan. Khofifah juga menganjurkan agar lebih mengenal adat-istiadat, budaya dan tradisi masyarakat, tidak boleh melakukan hegemoni kultural, sebab keberagaman adat-istiadat dan budaya merupakan kekayaan negeri. <\/p>\n\n\n\n

Pelajaran Khofifah sangat mendalam dan bercirikhas Nusantara. Sebgaai Menteri \u00a0Sosial tentunya lebih berpengalaman apa yang dibutuhkan bangsa ini agar tetap jaya, bersatu dan utuh. Kenali perbedaan, hormati perbedaan, junjung tinggi budaya yang berbeda. \u00a0Apa yang telah dilakukan Khofifah dengan membawa rokok ke suku anak dalam adalah cermin penghormatan tradisi dan budaya masyarakat. Sebagai seorang Mentri, tentunya punya kuasa, artinya bisa seorang khofifah memberikan bantuan sesuai keinginannya sendiri, namun hal itu tidak dilakukan. Ia lebih mengedepankan penghormatan budaya masyarakat setempat, dengan membawa rokok untuk pendekatan dan pertemanan. Karena Khofifah tahu betul, bahwa merokok adalah budaya mereka, yang diwaris dari neneng moyang mereka. <\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Memilih Jalan Hidup Menikmati Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Simbol Pergerakan Nasional     <\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Abdul Rifa\u2019I dalam media bintang timur terbit pada 03 Oktober 1927, mengatakan, \u201ckopinya bukan kopi saringan, tetapi kopi tubruk sebab kopi ini katanya nationaal, gulanya gula jawa, susu tidak dipakai karena tidak nationaal. Rokoknya kelobot, selamatan natioanaal ini terus berlangsung ed sampai pagi hari\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Semangat nasionalisme harus tertanam, mengedepankan produk lokal adalah salah satu semangat nasionalime. Salah satu keberadaan rokok klobot menjadi ciri produk asli indonesia dan harus dilestarikan. Klobot sendiri adalah ramuan tembakau dan cengkeh di gulung memakai daun jagung, embrio perkembangan menjadi rokok sigaret kretek tangan dan sigaret kretek mesin.  
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pusaran Budaya Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pusaran-budaya-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-04 08:40:41","post_modified_gmt":"2019-02-04 01:40:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5406","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5403,"post_author":"919","post_date":"2019-02-03 09:05:50","post_date_gmt":"2019-02-03 02:05:50","post_content":"\n

Seringkali saya menyaksikan berbagai film baik itu Eropa atau Asia yang menggambarkan tentang masa depan. Pemandangan soal masa depan tersebut dihadirkan dengan gambaran kecanggihan teknologi seperti robot yang akan membantu kehidupan manusia, gedung-gedung yang tingginya sudah amat tak bisa ditandingi,  hingga mobil-mobil yang bisa terbang. <\/p>\n\n\n\n

Pernah dalam masa kecil saya menyaksikan sebuah film animasi buatan jepang yang mempertanyakan tentang makanan di masa depan. Dengan santai salah satu tokoh yang berasal dari masa depan itu menjawab bahwa suatu saat nanti manusia akan mengonsumsi makanan berupa pasta gigi namun dengan rasa yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa, aneh!<\/p>\n\n\n\n

Seiring waktu berjalan saya kian tumbuh dewasa dan punya kesadaran untuk memilih menjadi seorang perokok<\/a>. Saya juga melihat ada sebuah inovasi dan gambaran tentang masa depan yang hadir dalam kehidupan sekarang. Banyak memang, namun yang menyita perhatian saya adalah rokok elektrik atau yang populer disebut Vape. Konon katanya ia adalah produk inovasi untuk menjembatani kebutuhan menghisap asap dan kecanggihan masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Di awal kehadirannya Vape memang mengundang decak kekaguman saya. Bagaimana bisa sebuah mesin kecil mengeluarkan asap yang katanya lebih menyehatkan daripada rokok.<\/strong> Meski pada akhirnya teori tersebut juga bisa dibantah oleh beberapa ilmuan dunia. Tapi ada satu yang saya amati selain soal kesehatan, rokok elektrik rupanya menghadirkan kultur dan budaya baru dalam kehidupan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: LAGI-LAGI IKLAN ROKOK, KAPAN KPAI TIDAK TEBANG PILIH? <\/a><\/h4>\n\n\n\n

Kehadiran teknologi memang kerap sedikit atau benyak mengubah gaya atau kultur suatu masyarakat. Begitu pula yang saya perhatikan dengan rokok elektrik. Satu hal yang mudah diamati adalah menjamurnya toko-toko kecil yang menjual vape serta liquid di berbagai tempat. Sebagai sebuah warna baru dalam masyarakat, penggunanya ramai-ramai mengunjungi tempat tersebut berinteraksi dengan penikmat lainnya dan membangun sebuah rumah komunitas yang fleksibel.<\/p>\n\n\n\n

Meski belum bisa dikatakan memiliki jumlah penikmat yang setara dengan para perokok, pengguna Vape mulai menunjukkan eksistensinya. Selain toko yang tersebar, ragam acara juga mereka buat di beberapa daerah. Dalam lingkungan saya, beberapa teman yang dulunya merupakan perokok aktif tertarik mengikuti event tersebut dan beralih mengisap rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Nun jauh di sana, di Amerika Serikat tepatnya, budaya Vape juga sudah mulai berkembang lama ketimbang di Tanah Air. Penikmatnya terbagi menjadi dua, ada yang dulunya bekas perokok dan ada yang memang menikmatinya sebagai gaya hidup. Wajar saja mengingat facebook tak memperbolehkan iklan tembakau di platform mereka, sebaliknya iklan tentang vape justru bertebaran. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi budaya baru yang berkembang di berbagai belahan dunia bahkan di Indonesia, Vape konon menjadi alternatif yang lebih bermanfaat daripada rokok. Dalih yang diusung selalu sama kepada para perokok tradisonal yaitu soal kesehatan dan lebih irit. Soal kesehatan tentu ada beberapa pendapat para ilmuan yang membantahnya, namun soal irit, saya rasa tidak. Memang satu liquid bisa digunakan untuk beberapa Minggu, akan tetapi yang saya lihat di lapangan justru sebaliknya. <\/p>\n\n\n\n

Beberapa penikmat rokok elektrik kerap berbelanja liquid yang mereka idamkan. Terkadang, hal tersebut yang membuat mereka boros karena terus mengeksplor rasa mana yang mereka idam-idamkan. Tak jarang juga liquid dengan harga mahal hingga ratus ribuan akan mereka beli. Sebaliknya, para perokok konvensional justru kerap bertahan dengan satu rasa atau merek saja.<\/p>\n\n\n\n

Sedikit berbeda dengan penikmat rokok konvensional atau kretek. Mengingat rokok kretek sudah menjadi kebudayan lokal yang terus dipertahankan selama bertahun-tahun, kehadirannya sudah mewarnai khasanah keindonesiaan. Perokok kretek juga sudah punya soliditas luar biasa yang terbentuk sejak lama dan terus terbangun mengiringi peradaban di Indonesia atau dunia.<\/p>\n\n\n\n

Kini, perokok elektrik mulai merasakan kegelisahan. Beberapa negara mulai menerapkan peraturan ketat terhadap Vape, sedangkan di Indonesia biaya cukai pun kini mulai diberlakukan terhadap perdagangan rokok elektrik. Keberadaannya di mata negara pun mulai dianggap sama seperti rokok, meski pada awalnya rokok elektrik hadir dengan slogan-slogan produk alternatif yang lebih menyehatkan (katanya).<\/p>\n\n\n\n


Tapi jika kemudian di masa depan memang rokok elektrik yang kemudian menjadi sesuatu yang populer dan dinikmati banyak orang. Rasanya saya tetap ingin hidup di jaman ini, dengan sebatang kretek di tangan dan menikmati segala khasanah kebudayaan yang patut terus dipertahankan. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"masa-depan-rokok-elektrik-dan-semangat-alternatif-yang-sia-sia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-03 09:05:56","post_modified_gmt":"2019-02-03 02:05:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5403","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5385,"post_author":"883","post_date":"2019-02-02 08:01:01","post_date_gmt":"2019-02-02 01:01:01","post_content":"Pada tahun 2014, perusahaan rokok multinasional Philip Morris Internasional Inc. merilis sebuah produk <\/span>perangkat\u00a0<\/span>
rokok<\/span><\/a>\u00a0tanpa asap, yang dipanaskan bukan dibakar atau istilahnya\u00a0<\/span>heat not burn<\/i><\/strong>\u00a0(HNB) iQOS<\/strong>. <\/span>\r\n\r\nPerangkat rokok tanpa asap dengan nama iQOS<\/a> ini berbentuk seperti bagian luar pulpen, dengan lubang di tengah untuk rokok. Produk yang berada di bawah brand Marlboro ini dapat memanaskan rokok sampai 350 derajat celcius lalu mengeluarkan uap nikotin beraroma tembakau<\/em><\/a>.<\/span>\r\n

Produk iQOS sebenarnya bukanlah produk rokok tanpa asap yang pertama muncul. Sebelumnya di tahun 1990-an, Reynolds Tobacco Co pernah merilis produk serupa bernama Eclipes yang juga dapat menguapkan nikotin setelah dinyalakan dengan korek api.<\/span><\/blockquote>\r\nSelain itu, Eclips juga dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. Namun, pada saat itu Eclips tidak diminati oleh pasar, utamanya para perokok konvensional. Meskipun Eclips dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. <\/span>\r\n\r\nBisnis semacam rokok tanpa asap seperti Eclips dan iQOS memang sudah menjadi bagian dari rencana panjang bisnis perusahaan-perusahaan rokok multinasional. Jadi tidak usah heran jika ke depannya akan kita akan banyak menemukan produk rokok tanpa asap ini.<\/span>\r\n\r\nWatak dari perusahaan multinasional memang seperti itu, mereka sangat jeli melihat peluang pasar ke depannya. Ketika market place perusahaan rokok multinasional saat ini terus dirongrong oleh kelompok antirokok, mereka tak kehabisan akal. Maka kemudian mereka menginovasi produk rokok konvensional menjadi rokok yang tidak berasap. Begitupun dengan mengikutsertakan jargon-jargon kesehatan dalam narasi promosi mereka.<\/span>\r\n\r\nSesungguhnya memang seperti itulah watak bisnis perusahaan-perusahaan multinasional, melakukan segala cara agar bisnis mereka tetap bertahan, meskipun harus merangkul musuh sekalipun. <\/span>\r\n\r\nYa kadang pura-pura berantem sama antirokok, tapi dibalik itu sebenarnya baik-baik saja, dan tentunya ada kompromi untuk terus melanggengkan bisnis mereka.<\/span>\r\n

Lalu siapa yang dirugikan dari permainan bisnis macam produk rokok tanpa asap perusahaan rokok multinasional ini?<\/span><\/h3>\r\nTentunya yang sangat dirugikan adalah produk hasil tembakau yang memiliki kekhasan seperti kretek di Indonesia. Kretek sebagai produk khas asli Indonesia yang menjadi bagian dari warisan kebudayaan tidak mungkin bertransformasi menjadi produk-produk elektrik dan sejenisnya.<\/span>\r\n\r\nKretek tetaplah kretek, dengan bahan baku alami tembakau dan cengkeh yang tidak diintervensi dengan zat atau perangkat penghantar lainnya. Karena dengan bentuk, karakter dan cara menikmatinya memang konvensional dan akan terus begitu apapun kondisi dan zamannya.<\/span>\r\n
Bisnis produk rokok tanpa asap (elektrik) juga menghajar kretek dengan mendompleng isu pengendalian tembakau. Kampanye pengendalian tembakau selalu membawa slogan bahaya merokok dan upaya untuk berhenti merokok. <\/span><\/blockquote>\r\nDari isu tersebut, rokok elektrik masuk dengan citra produk alternatif tembakau, bahkan mereka tak segan menilai bahwa rokok elektrik lebih aman ketimbang rokok konvensional, yakni kretek.<\/span>\r\n\r\nLalu jika Indonesia akan dibanjiri dengan produk-produk yang mengatasnamakan produk alternatif tembakau, macam rokok tanpa asap (iQOS dan sejenisnya), maka itulah pertanda bahwa kretek harus tergerus dari cara hidup manusia Indonesia dalam menikmati produk hasil tembakau khas Indonesia yang sudah turun-temurun lamanya dinikmati manusia Indonesia.<\/span>","post_title":"Nasib Kretek di Pusaran Pertarungan Bisnis Global Perusahaan Rokok Multinasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"nasib-kretek-di-pusaran-pertarungan-bisnis-global-perusahaan-rokok-multinasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-02 08:01:43","post_modified_gmt":"2019-02-02 01:01:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5385","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; \n

Tahun Baru Imlek yang merupakan tradisi Bangsa Tiongkok kini sudah tak lagi menjadi hal yang asing bagi masyarakat Indonesia. Kehadirannya sudah mewarnai dan berakulturasi dengan tradisi lokal. Menjelang Tahun Baru Imlek. Berbagai hiasan dan kemeriahan terjadi beberapa titik di Tanah Air. Perayaannya juga menjadi destinasi baru yang mengasyikkan untuk dilihat dan patut disaksikan.<\/p>\n\n\n\n

Berterimakasihlah kepada sang bapak bangsa, KH Abdurrahman Wahid atau yang dikenal dengan nama Gus Dur. Berkat kebijakannya saat menjadi Presiden Indonesia, Tahun Baru Imlek resmi dijadikan hari libur nasional dan dianggap sebagai salah satu hari raya di Tanah Air. Meski sentimen antitionghoa masih ada di sana-sini, tapi tetap tak bisa dipungkiri bahwa bangsa tionghoa sudah bersentuhan dengan budaya lokal dalam kurun waktu yang sangat panjang.<\/p>\n\n\n\n

DNA Bangsa Tionghoa yang memang merupakan pedagang menjadi pembuka kisah interaksi antara nenek moyang berbagai suku di Nusantara dengan mereka. Beberapa kelenteng-kelenteng yang tersebar pada berbagai pesisir daerah di Nusantara jadi buktinya. Pelabuhan-pelabuhan tua di tanah air dan ramainya perdagangan di pesisir mempermudah bangsa kita berhubungan dengan Bangsa Tionghoa.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Wong Kalang dan Kota Gede<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa kehadiran Bangsa Tionghoa di Nusantara tak hanya sebagai pedagang, namun juga sebagai pekerja (bahkan hingga pekerja kasar). Benny Setiono, seorang sejarahwan menyebutkan bahwa antara tahun 1760-1770 dalam jumlah yang besar memasuki nusantara melalui Kalimantan Barat. Mereka bekerja sebagai kuli pertambangan di sana dan di kemudian hari membentuk sebuah republik bernama Republik Lanfang yang konon katanya menjadi republik pertama di Asia Tenggara.<\/p>\n\n\n\n

Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Imlek dan Indonesia<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n\n\n\n

Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
<\/p>\n","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5406,"post_author":"877","post_date":"2019-02-04 08:23:48","post_date_gmt":"2019-02-04 01:23:48","post_content":"\n

Merokok itu sudah menjadi bagian dari budaya dan tradisi masyarakat, jauh sebelum Indonesia merdeka. Banyak cerita atau kisah tentang kretek <\/a><\/del>di tengah-tengah masyarakat bangsa ini, mulai sebagai alat untuk meraup keuntungan, alat komunikasi, sebagai teman sampai menjadi simbol pergerakan. <\/p>\n\n\n\n

Kretek, Simbol Perlawanan Roro Mendut<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Siapa yang tidak pernah mendengan cerita tentang Roro Mendut?, di telinga masyarakat Indonesia, kisah Roro Mendut tidak asing lagi.  Perempuan yang mempunyai paras wajah cantik, dan digandrungi kaum adam terutama kalangan putra kerajaan. Informasi kecantikan Roro Mendut tersebar seantero Nusantara, tidak satupun pria meragukan kecantikannya.  Bahkan kisah dan cerita kecantikan Roro Mendut tercatat dalam buku Babad Tanah Jawi. <\/p>\n\n\n\n

Diperkirakan pada tahun 1627, pada saat panglima perang Sultan Agung Mataram bernama Tumenggung Wiraguna berhasil menumpas pemberontakan di kota Pati, sebagai imbalanan atas keberhasilannya, mendapat hadiah wanita pujaan pria bernama Rara Mendut dari Kasultanan Agung Mataram.  Roro Mendut menolak dipinang Tumenggung Wiraguna, dan secara terang-terangan memilih pria lain dambaannya. Akibatnya, Roro Mendut harus membayar pajak setiap harinya kepada kerajaan Mataram. <\/p>\n\n\n\n

Bisa dibayangkan, betapa bingungnya Roro Mendut saat itu. Uang dari mana, ia hasilkan untuk bayar pajak tiap hari demi bisa bersama kekasihnya. Ternyata Roro Mendut tidak hanya cantik tetapi cerdas dan kreatif, bisa membaca peluang bisnis saat itu. Ide cermerlang muncul dengan berdagang\/berjualan rokok lintingan yang direkatkan dengan air ludahnya, dan sebelum menjualnya, rokok lintingan di sulut dahulu dan dihisap bekas bibir merahnya. Kemudian baru dijual ke pembeli yang berdesakan berjejer antri. <\/p>\n\n\n\n

Entah dari mana ide menjual rokok itu muncul. Yang jelas saking larisnya, kewajiban pajak Roro Mendut terpenuhi. Dan mungkin keadaannya akan lebih parah, jika saat itu Roro Mendut tidak berdagang rokok. Tidak akan terpenuhi kewajiban pajaknya. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Dengan rokok, hidup Roro Mendut terselamatkan. Adanya rokok, \u00a0Roro Mendut bebas dari belenggu kekuasaan. Berkat rokok, Roro Mendut terkengan, mengisi rubik informasi sejarah begitu kuatnya budaya merokok di \u00a0Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Pusaka Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek, Teman Perjuangan  Diponegoro<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Semasa berjuang melawan penjajah, yang harus dilakukan Diponegoro berpindah-pindah dari kota satu ke kota lain. Strategi perlawanan Diponegoro, kemudian sebagai basis strategi perang gerilya. Strategi yang menjadi idola dan kebanggaan tentara Indonesia. Dengan bergerilya, tentara Indonesia mampu mengecoh kekutan lawan yang lebih besar jumlahnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu, tenyata banyak cerita, Diponegoro saat berperang ditemani rokok. Ia dan pasukannya gemar merokok. Bahkan ketika tidak ada rokok, Pangeran Diponegoro rela hanya megunyah daun sirih yang diracik dengan kapur dan pinang. <\/p>\n\n\n\n

Kebiasaan ini, juga dialami oleh pengikut \/pasukan perang Pangeran Diponegoro. Bagi mereka, rokok teman sejati, menemani disetiap perjalanan mereka. Rokok menghilangkan depresi mereka, sebagai hiburan saat jauh dari keluarga demi berjuang melawan penjajah. Rokok menumbuhkan percaya diri mereka, lebih berani melawan penjajah walaupun hanya dengan serba keterbatasan, pasukan jumlah terbatas, alat perang terbatas dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Baca juga: Pangeran Diponegoro, Rokok Klobot dan Perlawanan Simbolis<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Jati Diri Bangsa<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Salah satu \u201cpendiri bangsa\u201d bernama KH. Agus Salim menghisap kretek dengan asapnya di kebal-kebulkan keudara, disaat ada perjamuan di Istana Buckingham ketika penobatan Elizabeth II sebagai Ratu kerajaan Inggris. Aroma khas keluar dari asap rokok kretek, tercium orang yang berada di ruang perjamuan. Sehingga memancing salah satu orang yang datang dalam perjamuan, dengan berkata; \u201ctuan sedang menghisap apa itu?\u201d.  Sentak KH. Agus Salim menjawab, \u201c inilah yang membuat nenek moyang anda sekian abad lalu datang dan kemudian menjajah negeri kami\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Jawaban KH. Agus Salim, faktanya memang benar. Rokok kretek tidak lain ada tambahan cengkeh (suzygium aromaticum<\/em>). \u00a0Tanaman legendaris menjadi rebutan dan sumber keuntungan kolonialisme Eropa atas Asia termasuk Indonesia. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Cengkeh adalah salah satu tanaman yang diperebutkan bangsa-bangsa dunia, sampai melegalkan penjajahan.  Dalam simpulan perjalanan ekspedisi cengkeh tahun 2013, Kepala Suku begitu julukan bagi Putut Ea, mengatakan \u201c jika saja tak pernah ada cengkeh dan pala di Maluku, mungkin sejarah kepulauan Nusantara ini akan berbeda sama sekali\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Simpulan Putut EA, sebagai salah satu pembenar perkataan \u00a0KH. Agus Salim. Mungkin, jika tanaman cengkeh tidak ada, fakta sejarah akan berbeda, tidak ada penjajahan di bumi Nusantara ini. <\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Mengisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek untuk Berteman dan Menjalin Persaudaraan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Teringat apa yang pernah dilakukan Menteri Sosial dan Lingkungan Hidup, saat melakukan pendekatan pada suku anak dalam di Jambi. Tidak lain ia adalah Khofifah menteri perempuan yang energik. Saat itu Khofifah bertanggungjawab dalam mengatasi masalah pendidikan dan kesejahteraan masyarakat suku anak dalam di Jambi.  <\/p>\n\n\n\n

Kebijakannya membuat fenomenal, selain bahan makanan, dan bantuan lain, khofifah juga membawa rokok.  Yang kemudian ada yang mengggugat dari anti rokok, tetapi sebagai Menteri, Khofifah tentunya sudah mengkaji secara mendalam. Dengan kecerdasannya , Khofifah menjawab dengan tegas dan lugas, \u201cjangan sok tahu kehidupan mereka, kenali apa yang menjadi ritme kehidupan mereka. Sangat bijaksana kalau kita semua pergi kesana, sehingga tahu adat istiadatnya juga. Tolong kalau ingin mengerti tentang kultur jangan hanya dari kacamata Jakarta. Saya pun ingin mengajak anda kesana, turun kesana, sapalah mereka\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Khofifah memberikan pelajaran bagi anti rokok. Tidak boleh sok tahu, apalagi selama ini antirokok hanya berasumsi, tanpa melihat fakta dilapangan. Khofifah juga menganjurkan agar lebih mengenal adat-istiadat, budaya dan tradisi masyarakat, tidak boleh melakukan hegemoni kultural, sebab keberagaman adat-istiadat dan budaya merupakan kekayaan negeri. <\/p>\n\n\n\n

Pelajaran Khofifah sangat mendalam dan bercirikhas Nusantara. Sebgaai Menteri \u00a0Sosial tentunya lebih berpengalaman apa yang dibutuhkan bangsa ini agar tetap jaya, bersatu dan utuh. Kenali perbedaan, hormati perbedaan, junjung tinggi budaya yang berbeda. \u00a0Apa yang telah dilakukan Khofifah dengan membawa rokok ke suku anak dalam adalah cermin penghormatan tradisi dan budaya masyarakat. Sebagai seorang Mentri, tentunya punya kuasa, artinya bisa seorang khofifah memberikan bantuan sesuai keinginannya sendiri, namun hal itu tidak dilakukan. Ia lebih mengedepankan penghormatan budaya masyarakat setempat, dengan membawa rokok untuk pendekatan dan pertemanan. Karena Khofifah tahu betul, bahwa merokok adalah budaya mereka, yang diwaris dari neneng moyang mereka. <\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Memilih Jalan Hidup Menikmati Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Simbol Pergerakan Nasional     <\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Abdul Rifa\u2019I dalam media bintang timur terbit pada 03 Oktober 1927, mengatakan, \u201ckopinya bukan kopi saringan, tetapi kopi tubruk sebab kopi ini katanya nationaal, gulanya gula jawa, susu tidak dipakai karena tidak nationaal. Rokoknya kelobot, selamatan natioanaal ini terus berlangsung ed sampai pagi hari\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Semangat nasionalisme harus tertanam, mengedepankan produk lokal adalah salah satu semangat nasionalime. Salah satu keberadaan rokok klobot menjadi ciri produk asli indonesia dan harus dilestarikan. Klobot sendiri adalah ramuan tembakau dan cengkeh di gulung memakai daun jagung, embrio perkembangan menjadi rokok sigaret kretek tangan dan sigaret kretek mesin.  
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pusaran Budaya Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pusaran-budaya-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-04 08:40:41","post_modified_gmt":"2019-02-04 01:40:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5406","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5403,"post_author":"919","post_date":"2019-02-03 09:05:50","post_date_gmt":"2019-02-03 02:05:50","post_content":"\n

Seringkali saya menyaksikan berbagai film baik itu Eropa atau Asia yang menggambarkan tentang masa depan. Pemandangan soal masa depan tersebut dihadirkan dengan gambaran kecanggihan teknologi seperti robot yang akan membantu kehidupan manusia, gedung-gedung yang tingginya sudah amat tak bisa ditandingi,  hingga mobil-mobil yang bisa terbang. <\/p>\n\n\n\n

Pernah dalam masa kecil saya menyaksikan sebuah film animasi buatan jepang yang mempertanyakan tentang makanan di masa depan. Dengan santai salah satu tokoh yang berasal dari masa depan itu menjawab bahwa suatu saat nanti manusia akan mengonsumsi makanan berupa pasta gigi namun dengan rasa yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa, aneh!<\/p>\n\n\n\n

Seiring waktu berjalan saya kian tumbuh dewasa dan punya kesadaran untuk memilih menjadi seorang perokok<\/a>. Saya juga melihat ada sebuah inovasi dan gambaran tentang masa depan yang hadir dalam kehidupan sekarang. Banyak memang, namun yang menyita perhatian saya adalah rokok elektrik atau yang populer disebut Vape. Konon katanya ia adalah produk inovasi untuk menjembatani kebutuhan menghisap asap dan kecanggihan masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Di awal kehadirannya Vape memang mengundang decak kekaguman saya. Bagaimana bisa sebuah mesin kecil mengeluarkan asap yang katanya lebih menyehatkan daripada rokok.<\/strong> Meski pada akhirnya teori tersebut juga bisa dibantah oleh beberapa ilmuan dunia. Tapi ada satu yang saya amati selain soal kesehatan, rokok elektrik rupanya menghadirkan kultur dan budaya baru dalam kehidupan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: LAGI-LAGI IKLAN ROKOK, KAPAN KPAI TIDAK TEBANG PILIH? <\/a><\/h4>\n\n\n\n

Kehadiran teknologi memang kerap sedikit atau benyak mengubah gaya atau kultur suatu masyarakat. Begitu pula yang saya perhatikan dengan rokok elektrik. Satu hal yang mudah diamati adalah menjamurnya toko-toko kecil yang menjual vape serta liquid di berbagai tempat. Sebagai sebuah warna baru dalam masyarakat, penggunanya ramai-ramai mengunjungi tempat tersebut berinteraksi dengan penikmat lainnya dan membangun sebuah rumah komunitas yang fleksibel.<\/p>\n\n\n\n

Meski belum bisa dikatakan memiliki jumlah penikmat yang setara dengan para perokok, pengguna Vape mulai menunjukkan eksistensinya. Selain toko yang tersebar, ragam acara juga mereka buat di beberapa daerah. Dalam lingkungan saya, beberapa teman yang dulunya merupakan perokok aktif tertarik mengikuti event tersebut dan beralih mengisap rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Nun jauh di sana, di Amerika Serikat tepatnya, budaya Vape juga sudah mulai berkembang lama ketimbang di Tanah Air. Penikmatnya terbagi menjadi dua, ada yang dulunya bekas perokok dan ada yang memang menikmatinya sebagai gaya hidup. Wajar saja mengingat facebook tak memperbolehkan iklan tembakau di platform mereka, sebaliknya iklan tentang vape justru bertebaran. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi budaya baru yang berkembang di berbagai belahan dunia bahkan di Indonesia, Vape konon menjadi alternatif yang lebih bermanfaat daripada rokok. Dalih yang diusung selalu sama kepada para perokok tradisonal yaitu soal kesehatan dan lebih irit. Soal kesehatan tentu ada beberapa pendapat para ilmuan yang membantahnya, namun soal irit, saya rasa tidak. Memang satu liquid bisa digunakan untuk beberapa Minggu, akan tetapi yang saya lihat di lapangan justru sebaliknya. <\/p>\n\n\n\n

Beberapa penikmat rokok elektrik kerap berbelanja liquid yang mereka idamkan. Terkadang, hal tersebut yang membuat mereka boros karena terus mengeksplor rasa mana yang mereka idam-idamkan. Tak jarang juga liquid dengan harga mahal hingga ratus ribuan akan mereka beli. Sebaliknya, para perokok konvensional justru kerap bertahan dengan satu rasa atau merek saja.<\/p>\n\n\n\n

Sedikit berbeda dengan penikmat rokok konvensional atau kretek. Mengingat rokok kretek sudah menjadi kebudayan lokal yang terus dipertahankan selama bertahun-tahun, kehadirannya sudah mewarnai khasanah keindonesiaan. Perokok kretek juga sudah punya soliditas luar biasa yang terbentuk sejak lama dan terus terbangun mengiringi peradaban di Indonesia atau dunia.<\/p>\n\n\n\n

Kini, perokok elektrik mulai merasakan kegelisahan. Beberapa negara mulai menerapkan peraturan ketat terhadap Vape, sedangkan di Indonesia biaya cukai pun kini mulai diberlakukan terhadap perdagangan rokok elektrik. Keberadaannya di mata negara pun mulai dianggap sama seperti rokok, meski pada awalnya rokok elektrik hadir dengan slogan-slogan produk alternatif yang lebih menyehatkan (katanya).<\/p>\n\n\n\n


Tapi jika kemudian di masa depan memang rokok elektrik yang kemudian menjadi sesuatu yang populer dan dinikmati banyak orang. Rasanya saya tetap ingin hidup di jaman ini, dengan sebatang kretek di tangan dan menikmati segala khasanah kebudayaan yang patut terus dipertahankan. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"masa-depan-rokok-elektrik-dan-semangat-alternatif-yang-sia-sia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-03 09:05:56","post_modified_gmt":"2019-02-03 02:05:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5403","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5385,"post_author":"883","post_date":"2019-02-02 08:01:01","post_date_gmt":"2019-02-02 01:01:01","post_content":"Pada tahun 2014, perusahaan rokok multinasional Philip Morris Internasional Inc. merilis sebuah produk <\/span>perangkat\u00a0<\/span>
rokok<\/span><\/a>\u00a0tanpa asap, yang dipanaskan bukan dibakar atau istilahnya\u00a0<\/span>heat not burn<\/i><\/strong>\u00a0(HNB) iQOS<\/strong>. <\/span>\r\n\r\nPerangkat rokok tanpa asap dengan nama iQOS<\/a> ini berbentuk seperti bagian luar pulpen, dengan lubang di tengah untuk rokok. Produk yang berada di bawah brand Marlboro ini dapat memanaskan rokok sampai 350 derajat celcius lalu mengeluarkan uap nikotin beraroma tembakau<\/em><\/a>.<\/span>\r\n

Produk iQOS sebenarnya bukanlah produk rokok tanpa asap yang pertama muncul. Sebelumnya di tahun 1990-an, Reynolds Tobacco Co pernah merilis produk serupa bernama Eclipes yang juga dapat menguapkan nikotin setelah dinyalakan dengan korek api.<\/span><\/blockquote>\r\nSelain itu, Eclips juga dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. Namun, pada saat itu Eclips tidak diminati oleh pasar, utamanya para perokok konvensional. Meskipun Eclips dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. <\/span>\r\n\r\nBisnis semacam rokok tanpa asap seperti Eclips dan iQOS memang sudah menjadi bagian dari rencana panjang bisnis perusahaan-perusahaan rokok multinasional. Jadi tidak usah heran jika ke depannya akan kita akan banyak menemukan produk rokok tanpa asap ini.<\/span>\r\n\r\nWatak dari perusahaan multinasional memang seperti itu, mereka sangat jeli melihat peluang pasar ke depannya. Ketika market place perusahaan rokok multinasional saat ini terus dirongrong oleh kelompok antirokok, mereka tak kehabisan akal. Maka kemudian mereka menginovasi produk rokok konvensional menjadi rokok yang tidak berasap. Begitupun dengan mengikutsertakan jargon-jargon kesehatan dalam narasi promosi mereka.<\/span>\r\n\r\nSesungguhnya memang seperti itulah watak bisnis perusahaan-perusahaan multinasional, melakukan segala cara agar bisnis mereka tetap bertahan, meskipun harus merangkul musuh sekalipun. <\/span>\r\n\r\nYa kadang pura-pura berantem sama antirokok, tapi dibalik itu sebenarnya baik-baik saja, dan tentunya ada kompromi untuk terus melanggengkan bisnis mereka.<\/span>\r\n

Lalu siapa yang dirugikan dari permainan bisnis macam produk rokok tanpa asap perusahaan rokok multinasional ini?<\/span><\/h3>\r\nTentunya yang sangat dirugikan adalah produk hasil tembakau yang memiliki kekhasan seperti kretek di Indonesia. Kretek sebagai produk khas asli Indonesia yang menjadi bagian dari warisan kebudayaan tidak mungkin bertransformasi menjadi produk-produk elektrik dan sejenisnya.<\/span>\r\n\r\nKretek tetaplah kretek, dengan bahan baku alami tembakau dan cengkeh yang tidak diintervensi dengan zat atau perangkat penghantar lainnya. Karena dengan bentuk, karakter dan cara menikmatinya memang konvensional dan akan terus begitu apapun kondisi dan zamannya.<\/span>\r\n
Bisnis produk rokok tanpa asap (elektrik) juga menghajar kretek dengan mendompleng isu pengendalian tembakau. Kampanye pengendalian tembakau selalu membawa slogan bahaya merokok dan upaya untuk berhenti merokok. <\/span><\/blockquote>\r\nDari isu tersebut, rokok elektrik masuk dengan citra produk alternatif tembakau, bahkan mereka tak segan menilai bahwa rokok elektrik lebih aman ketimbang rokok konvensional, yakni kretek.<\/span>\r\n\r\nLalu jika Indonesia akan dibanjiri dengan produk-produk yang mengatasnamakan produk alternatif tembakau, macam rokok tanpa asap (iQOS dan sejenisnya), maka itulah pertanda bahwa kretek harus tergerus dari cara hidup manusia Indonesia dalam menikmati produk hasil tembakau khas Indonesia yang sudah turun-temurun lamanya dinikmati manusia Indonesia.<\/span>","post_title":"Nasib Kretek di Pusaran Pertarungan Bisnis Global Perusahaan Rokok Multinasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"nasib-kretek-di-pusaran-pertarungan-bisnis-global-perusahaan-rokok-multinasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-02 08:01:43","post_modified_gmt":"2019-02-02 01:01:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5385","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; \n

Maka, kampanye aneh mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain dengan ragam rupa dalih yang membingungkan, bukan saja sama sekali tidak tepat dan asal-asalan, namun bisa jadi akan ditertawakan oleh para petani yang begitu paham dengan kondisi lahan dan terutama kondisi iklim dan cuaca. Sulit mencari tanaman semusim yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Jika pun ada, tak ada yang semenguntungkan tanaman tembakau.
<\/p>\n","post_title":"Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"keberhasilan-gerakan-anti-tembakau-tak-ada-tembakau-saat-musim-hujan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-07 12:16:02","post_modified_gmt":"2019-02-07 05:16:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5415","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5409,"post_author":"919","post_date":"2019-02-05 08:04:43","post_date_gmt":"2019-02-05 01:04:43","post_content":"\n

Tahun Baru Imlek yang merupakan tradisi Bangsa Tiongkok kini sudah tak lagi menjadi hal yang asing bagi masyarakat Indonesia. Kehadirannya sudah mewarnai dan berakulturasi dengan tradisi lokal. Menjelang Tahun Baru Imlek. Berbagai hiasan dan kemeriahan terjadi beberapa titik di Tanah Air. Perayaannya juga menjadi destinasi baru yang mengasyikkan untuk dilihat dan patut disaksikan.<\/p>\n\n\n\n

Berterimakasihlah kepada sang bapak bangsa, KH Abdurrahman Wahid atau yang dikenal dengan nama Gus Dur. Berkat kebijakannya saat menjadi Presiden Indonesia, Tahun Baru Imlek resmi dijadikan hari libur nasional dan dianggap sebagai salah satu hari raya di Tanah Air. Meski sentimen antitionghoa masih ada di sana-sini, tapi tetap tak bisa dipungkiri bahwa bangsa tionghoa sudah bersentuhan dengan budaya lokal dalam kurun waktu yang sangat panjang.<\/p>\n\n\n\n

DNA Bangsa Tionghoa yang memang merupakan pedagang menjadi pembuka kisah interaksi antara nenek moyang berbagai suku di Nusantara dengan mereka. Beberapa kelenteng-kelenteng yang tersebar pada berbagai pesisir daerah di Nusantara jadi buktinya. Pelabuhan-pelabuhan tua di tanah air dan ramainya perdagangan di pesisir mempermudah bangsa kita berhubungan dengan Bangsa Tionghoa.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Wong Kalang dan Kota Gede<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa kehadiran Bangsa Tionghoa di Nusantara tak hanya sebagai pedagang, namun juga sebagai pekerja (bahkan hingga pekerja kasar). Benny Setiono, seorang sejarahwan menyebutkan bahwa antara tahun 1760-1770 dalam jumlah yang besar memasuki nusantara melalui Kalimantan Barat. Mereka bekerja sebagai kuli pertambangan di sana dan di kemudian hari membentuk sebuah republik bernama Republik Lanfang yang konon katanya menjadi republik pertama di Asia Tenggara.<\/p>\n\n\n\n

Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Imlek dan Indonesia<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n\n\n\n

Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
<\/p>\n","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5406,"post_author":"877","post_date":"2019-02-04 08:23:48","post_date_gmt":"2019-02-04 01:23:48","post_content":"\n

Merokok itu sudah menjadi bagian dari budaya dan tradisi masyarakat, jauh sebelum Indonesia merdeka. Banyak cerita atau kisah tentang kretek <\/a><\/del>di tengah-tengah masyarakat bangsa ini, mulai sebagai alat untuk meraup keuntungan, alat komunikasi, sebagai teman sampai menjadi simbol pergerakan. <\/p>\n\n\n\n

Kretek, Simbol Perlawanan Roro Mendut<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Siapa yang tidak pernah mendengan cerita tentang Roro Mendut?, di telinga masyarakat Indonesia, kisah Roro Mendut tidak asing lagi.  Perempuan yang mempunyai paras wajah cantik, dan digandrungi kaum adam terutama kalangan putra kerajaan. Informasi kecantikan Roro Mendut tersebar seantero Nusantara, tidak satupun pria meragukan kecantikannya.  Bahkan kisah dan cerita kecantikan Roro Mendut tercatat dalam buku Babad Tanah Jawi. <\/p>\n\n\n\n

Diperkirakan pada tahun 1627, pada saat panglima perang Sultan Agung Mataram bernama Tumenggung Wiraguna berhasil menumpas pemberontakan di kota Pati, sebagai imbalanan atas keberhasilannya, mendapat hadiah wanita pujaan pria bernama Rara Mendut dari Kasultanan Agung Mataram.  Roro Mendut menolak dipinang Tumenggung Wiraguna, dan secara terang-terangan memilih pria lain dambaannya. Akibatnya, Roro Mendut harus membayar pajak setiap harinya kepada kerajaan Mataram. <\/p>\n\n\n\n

Bisa dibayangkan, betapa bingungnya Roro Mendut saat itu. Uang dari mana, ia hasilkan untuk bayar pajak tiap hari demi bisa bersama kekasihnya. Ternyata Roro Mendut tidak hanya cantik tetapi cerdas dan kreatif, bisa membaca peluang bisnis saat itu. Ide cermerlang muncul dengan berdagang\/berjualan rokok lintingan yang direkatkan dengan air ludahnya, dan sebelum menjualnya, rokok lintingan di sulut dahulu dan dihisap bekas bibir merahnya. Kemudian baru dijual ke pembeli yang berdesakan berjejer antri. <\/p>\n\n\n\n

Entah dari mana ide menjual rokok itu muncul. Yang jelas saking larisnya, kewajiban pajak Roro Mendut terpenuhi. Dan mungkin keadaannya akan lebih parah, jika saat itu Roro Mendut tidak berdagang rokok. Tidak akan terpenuhi kewajiban pajaknya. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Dengan rokok, hidup Roro Mendut terselamatkan. Adanya rokok, \u00a0Roro Mendut bebas dari belenggu kekuasaan. Berkat rokok, Roro Mendut terkengan, mengisi rubik informasi sejarah begitu kuatnya budaya merokok di \u00a0Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Pusaka Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek, Teman Perjuangan  Diponegoro<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Semasa berjuang melawan penjajah, yang harus dilakukan Diponegoro berpindah-pindah dari kota satu ke kota lain. Strategi perlawanan Diponegoro, kemudian sebagai basis strategi perang gerilya. Strategi yang menjadi idola dan kebanggaan tentara Indonesia. Dengan bergerilya, tentara Indonesia mampu mengecoh kekutan lawan yang lebih besar jumlahnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu, tenyata banyak cerita, Diponegoro saat berperang ditemani rokok. Ia dan pasukannya gemar merokok. Bahkan ketika tidak ada rokok, Pangeran Diponegoro rela hanya megunyah daun sirih yang diracik dengan kapur dan pinang. <\/p>\n\n\n\n

Kebiasaan ini, juga dialami oleh pengikut \/pasukan perang Pangeran Diponegoro. Bagi mereka, rokok teman sejati, menemani disetiap perjalanan mereka. Rokok menghilangkan depresi mereka, sebagai hiburan saat jauh dari keluarga demi berjuang melawan penjajah. Rokok menumbuhkan percaya diri mereka, lebih berani melawan penjajah walaupun hanya dengan serba keterbatasan, pasukan jumlah terbatas, alat perang terbatas dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Baca juga: Pangeran Diponegoro, Rokok Klobot dan Perlawanan Simbolis<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Jati Diri Bangsa<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Salah satu \u201cpendiri bangsa\u201d bernama KH. Agus Salim menghisap kretek dengan asapnya di kebal-kebulkan keudara, disaat ada perjamuan di Istana Buckingham ketika penobatan Elizabeth II sebagai Ratu kerajaan Inggris. Aroma khas keluar dari asap rokok kretek, tercium orang yang berada di ruang perjamuan. Sehingga memancing salah satu orang yang datang dalam perjamuan, dengan berkata; \u201ctuan sedang menghisap apa itu?\u201d.  Sentak KH. Agus Salim menjawab, \u201c inilah yang membuat nenek moyang anda sekian abad lalu datang dan kemudian menjajah negeri kami\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Jawaban KH. Agus Salim, faktanya memang benar. Rokok kretek tidak lain ada tambahan cengkeh (suzygium aromaticum<\/em>). \u00a0Tanaman legendaris menjadi rebutan dan sumber keuntungan kolonialisme Eropa atas Asia termasuk Indonesia. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Cengkeh adalah salah satu tanaman yang diperebutkan bangsa-bangsa dunia, sampai melegalkan penjajahan.  Dalam simpulan perjalanan ekspedisi cengkeh tahun 2013, Kepala Suku begitu julukan bagi Putut Ea, mengatakan \u201c jika saja tak pernah ada cengkeh dan pala di Maluku, mungkin sejarah kepulauan Nusantara ini akan berbeda sama sekali\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Simpulan Putut EA, sebagai salah satu pembenar perkataan \u00a0KH. Agus Salim. Mungkin, jika tanaman cengkeh tidak ada, fakta sejarah akan berbeda, tidak ada penjajahan di bumi Nusantara ini. <\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Mengisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek untuk Berteman dan Menjalin Persaudaraan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Teringat apa yang pernah dilakukan Menteri Sosial dan Lingkungan Hidup, saat melakukan pendekatan pada suku anak dalam di Jambi. Tidak lain ia adalah Khofifah menteri perempuan yang energik. Saat itu Khofifah bertanggungjawab dalam mengatasi masalah pendidikan dan kesejahteraan masyarakat suku anak dalam di Jambi.  <\/p>\n\n\n\n

Kebijakannya membuat fenomenal, selain bahan makanan, dan bantuan lain, khofifah juga membawa rokok.  Yang kemudian ada yang mengggugat dari anti rokok, tetapi sebagai Menteri, Khofifah tentunya sudah mengkaji secara mendalam. Dengan kecerdasannya , Khofifah menjawab dengan tegas dan lugas, \u201cjangan sok tahu kehidupan mereka, kenali apa yang menjadi ritme kehidupan mereka. Sangat bijaksana kalau kita semua pergi kesana, sehingga tahu adat istiadatnya juga. Tolong kalau ingin mengerti tentang kultur jangan hanya dari kacamata Jakarta. Saya pun ingin mengajak anda kesana, turun kesana, sapalah mereka\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Khofifah memberikan pelajaran bagi anti rokok. Tidak boleh sok tahu, apalagi selama ini antirokok hanya berasumsi, tanpa melihat fakta dilapangan. Khofifah juga menganjurkan agar lebih mengenal adat-istiadat, budaya dan tradisi masyarakat, tidak boleh melakukan hegemoni kultural, sebab keberagaman adat-istiadat dan budaya merupakan kekayaan negeri. <\/p>\n\n\n\n

Pelajaran Khofifah sangat mendalam dan bercirikhas Nusantara. Sebgaai Menteri \u00a0Sosial tentunya lebih berpengalaman apa yang dibutuhkan bangsa ini agar tetap jaya, bersatu dan utuh. Kenali perbedaan, hormati perbedaan, junjung tinggi budaya yang berbeda. \u00a0Apa yang telah dilakukan Khofifah dengan membawa rokok ke suku anak dalam adalah cermin penghormatan tradisi dan budaya masyarakat. Sebagai seorang Mentri, tentunya punya kuasa, artinya bisa seorang khofifah memberikan bantuan sesuai keinginannya sendiri, namun hal itu tidak dilakukan. Ia lebih mengedepankan penghormatan budaya masyarakat setempat, dengan membawa rokok untuk pendekatan dan pertemanan. Karena Khofifah tahu betul, bahwa merokok adalah budaya mereka, yang diwaris dari neneng moyang mereka. <\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Memilih Jalan Hidup Menikmati Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Simbol Pergerakan Nasional     <\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Abdul Rifa\u2019I dalam media bintang timur terbit pada 03 Oktober 1927, mengatakan, \u201ckopinya bukan kopi saringan, tetapi kopi tubruk sebab kopi ini katanya nationaal, gulanya gula jawa, susu tidak dipakai karena tidak nationaal. Rokoknya kelobot, selamatan natioanaal ini terus berlangsung ed sampai pagi hari\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Semangat nasionalisme harus tertanam, mengedepankan produk lokal adalah salah satu semangat nasionalime. Salah satu keberadaan rokok klobot menjadi ciri produk asli indonesia dan harus dilestarikan. Klobot sendiri adalah ramuan tembakau dan cengkeh di gulung memakai daun jagung, embrio perkembangan menjadi rokok sigaret kretek tangan dan sigaret kretek mesin.  
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pusaran Budaya Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pusaran-budaya-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-04 08:40:41","post_modified_gmt":"2019-02-04 01:40:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5406","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5403,"post_author":"919","post_date":"2019-02-03 09:05:50","post_date_gmt":"2019-02-03 02:05:50","post_content":"\n

Seringkali saya menyaksikan berbagai film baik itu Eropa atau Asia yang menggambarkan tentang masa depan. Pemandangan soal masa depan tersebut dihadirkan dengan gambaran kecanggihan teknologi seperti robot yang akan membantu kehidupan manusia, gedung-gedung yang tingginya sudah amat tak bisa ditandingi,  hingga mobil-mobil yang bisa terbang. <\/p>\n\n\n\n

Pernah dalam masa kecil saya menyaksikan sebuah film animasi buatan jepang yang mempertanyakan tentang makanan di masa depan. Dengan santai salah satu tokoh yang berasal dari masa depan itu menjawab bahwa suatu saat nanti manusia akan mengonsumsi makanan berupa pasta gigi namun dengan rasa yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa, aneh!<\/p>\n\n\n\n

Seiring waktu berjalan saya kian tumbuh dewasa dan punya kesadaran untuk memilih menjadi seorang perokok<\/a>. Saya juga melihat ada sebuah inovasi dan gambaran tentang masa depan yang hadir dalam kehidupan sekarang. Banyak memang, namun yang menyita perhatian saya adalah rokok elektrik atau yang populer disebut Vape. Konon katanya ia adalah produk inovasi untuk menjembatani kebutuhan menghisap asap dan kecanggihan masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Di awal kehadirannya Vape memang mengundang decak kekaguman saya. Bagaimana bisa sebuah mesin kecil mengeluarkan asap yang katanya lebih menyehatkan daripada rokok.<\/strong> Meski pada akhirnya teori tersebut juga bisa dibantah oleh beberapa ilmuan dunia. Tapi ada satu yang saya amati selain soal kesehatan, rokok elektrik rupanya menghadirkan kultur dan budaya baru dalam kehidupan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: LAGI-LAGI IKLAN ROKOK, KAPAN KPAI TIDAK TEBANG PILIH? <\/a><\/h4>\n\n\n\n

Kehadiran teknologi memang kerap sedikit atau benyak mengubah gaya atau kultur suatu masyarakat. Begitu pula yang saya perhatikan dengan rokok elektrik. Satu hal yang mudah diamati adalah menjamurnya toko-toko kecil yang menjual vape serta liquid di berbagai tempat. Sebagai sebuah warna baru dalam masyarakat, penggunanya ramai-ramai mengunjungi tempat tersebut berinteraksi dengan penikmat lainnya dan membangun sebuah rumah komunitas yang fleksibel.<\/p>\n\n\n\n

Meski belum bisa dikatakan memiliki jumlah penikmat yang setara dengan para perokok, pengguna Vape mulai menunjukkan eksistensinya. Selain toko yang tersebar, ragam acara juga mereka buat di beberapa daerah. Dalam lingkungan saya, beberapa teman yang dulunya merupakan perokok aktif tertarik mengikuti event tersebut dan beralih mengisap rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Nun jauh di sana, di Amerika Serikat tepatnya, budaya Vape juga sudah mulai berkembang lama ketimbang di Tanah Air. Penikmatnya terbagi menjadi dua, ada yang dulunya bekas perokok dan ada yang memang menikmatinya sebagai gaya hidup. Wajar saja mengingat facebook tak memperbolehkan iklan tembakau di platform mereka, sebaliknya iklan tentang vape justru bertebaran. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi budaya baru yang berkembang di berbagai belahan dunia bahkan di Indonesia, Vape konon menjadi alternatif yang lebih bermanfaat daripada rokok. Dalih yang diusung selalu sama kepada para perokok tradisonal yaitu soal kesehatan dan lebih irit. Soal kesehatan tentu ada beberapa pendapat para ilmuan yang membantahnya, namun soal irit, saya rasa tidak. Memang satu liquid bisa digunakan untuk beberapa Minggu, akan tetapi yang saya lihat di lapangan justru sebaliknya. <\/p>\n\n\n\n

Beberapa penikmat rokok elektrik kerap berbelanja liquid yang mereka idamkan. Terkadang, hal tersebut yang membuat mereka boros karena terus mengeksplor rasa mana yang mereka idam-idamkan. Tak jarang juga liquid dengan harga mahal hingga ratus ribuan akan mereka beli. Sebaliknya, para perokok konvensional justru kerap bertahan dengan satu rasa atau merek saja.<\/p>\n\n\n\n

Sedikit berbeda dengan penikmat rokok konvensional atau kretek. Mengingat rokok kretek sudah menjadi kebudayan lokal yang terus dipertahankan selama bertahun-tahun, kehadirannya sudah mewarnai khasanah keindonesiaan. Perokok kretek juga sudah punya soliditas luar biasa yang terbentuk sejak lama dan terus terbangun mengiringi peradaban di Indonesia atau dunia.<\/p>\n\n\n\n

Kini, perokok elektrik mulai merasakan kegelisahan. Beberapa negara mulai menerapkan peraturan ketat terhadap Vape, sedangkan di Indonesia biaya cukai pun kini mulai diberlakukan terhadap perdagangan rokok elektrik. Keberadaannya di mata negara pun mulai dianggap sama seperti rokok, meski pada awalnya rokok elektrik hadir dengan slogan-slogan produk alternatif yang lebih menyehatkan (katanya).<\/p>\n\n\n\n


Tapi jika kemudian di masa depan memang rokok elektrik yang kemudian menjadi sesuatu yang populer dan dinikmati banyak orang. Rasanya saya tetap ingin hidup di jaman ini, dengan sebatang kretek di tangan dan menikmati segala khasanah kebudayaan yang patut terus dipertahankan. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"masa-depan-rokok-elektrik-dan-semangat-alternatif-yang-sia-sia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-03 09:05:56","post_modified_gmt":"2019-02-03 02:05:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5403","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5385,"post_author":"883","post_date":"2019-02-02 08:01:01","post_date_gmt":"2019-02-02 01:01:01","post_content":"Pada tahun 2014, perusahaan rokok multinasional Philip Morris Internasional Inc. merilis sebuah produk <\/span>perangkat\u00a0<\/span>
rokok<\/span><\/a>\u00a0tanpa asap, yang dipanaskan bukan dibakar atau istilahnya\u00a0<\/span>heat not burn<\/i><\/strong>\u00a0(HNB) iQOS<\/strong>. <\/span>\r\n\r\nPerangkat rokok tanpa asap dengan nama iQOS<\/a> ini berbentuk seperti bagian luar pulpen, dengan lubang di tengah untuk rokok. Produk yang berada di bawah brand Marlboro ini dapat memanaskan rokok sampai 350 derajat celcius lalu mengeluarkan uap nikotin beraroma tembakau<\/em><\/a>.<\/span>\r\n

Produk iQOS sebenarnya bukanlah produk rokok tanpa asap yang pertama muncul. Sebelumnya di tahun 1990-an, Reynolds Tobacco Co pernah merilis produk serupa bernama Eclipes yang juga dapat menguapkan nikotin setelah dinyalakan dengan korek api.<\/span><\/blockquote>\r\nSelain itu, Eclips juga dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. Namun, pada saat itu Eclips tidak diminati oleh pasar, utamanya para perokok konvensional. Meskipun Eclips dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. <\/span>\r\n\r\nBisnis semacam rokok tanpa asap seperti Eclips dan iQOS memang sudah menjadi bagian dari rencana panjang bisnis perusahaan-perusahaan rokok multinasional. Jadi tidak usah heran jika ke depannya akan kita akan banyak menemukan produk rokok tanpa asap ini.<\/span>\r\n\r\nWatak dari perusahaan multinasional memang seperti itu, mereka sangat jeli melihat peluang pasar ke depannya. Ketika market place perusahaan rokok multinasional saat ini terus dirongrong oleh kelompok antirokok, mereka tak kehabisan akal. Maka kemudian mereka menginovasi produk rokok konvensional menjadi rokok yang tidak berasap. Begitupun dengan mengikutsertakan jargon-jargon kesehatan dalam narasi promosi mereka.<\/span>\r\n\r\nSesungguhnya memang seperti itulah watak bisnis perusahaan-perusahaan multinasional, melakukan segala cara agar bisnis mereka tetap bertahan, meskipun harus merangkul musuh sekalipun. <\/span>\r\n\r\nYa kadang pura-pura berantem sama antirokok, tapi dibalik itu sebenarnya baik-baik saja, dan tentunya ada kompromi untuk terus melanggengkan bisnis mereka.<\/span>\r\n

Lalu siapa yang dirugikan dari permainan bisnis macam produk rokok tanpa asap perusahaan rokok multinasional ini?<\/span><\/h3>\r\nTentunya yang sangat dirugikan adalah produk hasil tembakau yang memiliki kekhasan seperti kretek di Indonesia. Kretek sebagai produk khas asli Indonesia yang menjadi bagian dari warisan kebudayaan tidak mungkin bertransformasi menjadi produk-produk elektrik dan sejenisnya.<\/span>\r\n\r\nKretek tetaplah kretek, dengan bahan baku alami tembakau dan cengkeh yang tidak diintervensi dengan zat atau perangkat penghantar lainnya. Karena dengan bentuk, karakter dan cara menikmatinya memang konvensional dan akan terus begitu apapun kondisi dan zamannya.<\/span>\r\n
Bisnis produk rokok tanpa asap (elektrik) juga menghajar kretek dengan mendompleng isu pengendalian tembakau. Kampanye pengendalian tembakau selalu membawa slogan bahaya merokok dan upaya untuk berhenti merokok. <\/span><\/blockquote>\r\nDari isu tersebut, rokok elektrik masuk dengan citra produk alternatif tembakau, bahkan mereka tak segan menilai bahwa rokok elektrik lebih aman ketimbang rokok konvensional, yakni kretek.<\/span>\r\n\r\nLalu jika Indonesia akan dibanjiri dengan produk-produk yang mengatasnamakan produk alternatif tembakau, macam rokok tanpa asap (iQOS dan sejenisnya), maka itulah pertanda bahwa kretek harus tergerus dari cara hidup manusia Indonesia dalam menikmati produk hasil tembakau khas Indonesia yang sudah turun-temurun lamanya dinikmati manusia Indonesia.<\/span>","post_title":"Nasib Kretek di Pusaran Pertarungan Bisnis Global Perusahaan Rokok Multinasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"nasib-kretek-di-pusaran-pertarungan-bisnis-global-perusahaan-rokok-multinasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-02 08:01:43","post_modified_gmt":"2019-02-02 01:01:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5385","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; \n

Uniknya, tipikal tanaman tembakau yang tumbuh baik di musim kemarau ini memberi pilihan lebih kepada para petani. Lahan-lahan yang sulit ditanami pada musim kemarau, pada akhirnya masih bisa tetap produktif dengan keberadaan tanaman tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Maka, kampanye aneh mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain dengan ragam rupa dalih yang membingungkan, bukan saja sama sekali tidak tepat dan asal-asalan, namun bisa jadi akan ditertawakan oleh para petani yang begitu paham dengan kondisi lahan dan terutama kondisi iklim dan cuaca. Sulit mencari tanaman semusim yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Jika pun ada, tak ada yang semenguntungkan tanaman tembakau.
<\/p>\n","post_title":"Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"keberhasilan-gerakan-anti-tembakau-tak-ada-tembakau-saat-musim-hujan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-07 12:16:02","post_modified_gmt":"2019-02-07 05:16:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5415","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5409,"post_author":"919","post_date":"2019-02-05 08:04:43","post_date_gmt":"2019-02-05 01:04:43","post_content":"\n

Tahun Baru Imlek yang merupakan tradisi Bangsa Tiongkok kini sudah tak lagi menjadi hal yang asing bagi masyarakat Indonesia. Kehadirannya sudah mewarnai dan berakulturasi dengan tradisi lokal. Menjelang Tahun Baru Imlek. Berbagai hiasan dan kemeriahan terjadi beberapa titik di Tanah Air. Perayaannya juga menjadi destinasi baru yang mengasyikkan untuk dilihat dan patut disaksikan.<\/p>\n\n\n\n

Berterimakasihlah kepada sang bapak bangsa, KH Abdurrahman Wahid atau yang dikenal dengan nama Gus Dur. Berkat kebijakannya saat menjadi Presiden Indonesia, Tahun Baru Imlek resmi dijadikan hari libur nasional dan dianggap sebagai salah satu hari raya di Tanah Air. Meski sentimen antitionghoa masih ada di sana-sini, tapi tetap tak bisa dipungkiri bahwa bangsa tionghoa sudah bersentuhan dengan budaya lokal dalam kurun waktu yang sangat panjang.<\/p>\n\n\n\n

DNA Bangsa Tionghoa yang memang merupakan pedagang menjadi pembuka kisah interaksi antara nenek moyang berbagai suku di Nusantara dengan mereka. Beberapa kelenteng-kelenteng yang tersebar pada berbagai pesisir daerah di Nusantara jadi buktinya. Pelabuhan-pelabuhan tua di tanah air dan ramainya perdagangan di pesisir mempermudah bangsa kita berhubungan dengan Bangsa Tionghoa.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Wong Kalang dan Kota Gede<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa kehadiran Bangsa Tionghoa di Nusantara tak hanya sebagai pedagang, namun juga sebagai pekerja (bahkan hingga pekerja kasar). Benny Setiono, seorang sejarahwan menyebutkan bahwa antara tahun 1760-1770 dalam jumlah yang besar memasuki nusantara melalui Kalimantan Barat. Mereka bekerja sebagai kuli pertambangan di sana dan di kemudian hari membentuk sebuah republik bernama Republik Lanfang yang konon katanya menjadi republik pertama di Asia Tenggara.<\/p>\n\n\n\n

Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Imlek dan Indonesia<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n\n\n\n

Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
<\/p>\n","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5406,"post_author":"877","post_date":"2019-02-04 08:23:48","post_date_gmt":"2019-02-04 01:23:48","post_content":"\n

Merokok itu sudah menjadi bagian dari budaya dan tradisi masyarakat, jauh sebelum Indonesia merdeka. Banyak cerita atau kisah tentang kretek <\/a><\/del>di tengah-tengah masyarakat bangsa ini, mulai sebagai alat untuk meraup keuntungan, alat komunikasi, sebagai teman sampai menjadi simbol pergerakan. <\/p>\n\n\n\n

Kretek, Simbol Perlawanan Roro Mendut<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Siapa yang tidak pernah mendengan cerita tentang Roro Mendut?, di telinga masyarakat Indonesia, kisah Roro Mendut tidak asing lagi.  Perempuan yang mempunyai paras wajah cantik, dan digandrungi kaum adam terutama kalangan putra kerajaan. Informasi kecantikan Roro Mendut tersebar seantero Nusantara, tidak satupun pria meragukan kecantikannya.  Bahkan kisah dan cerita kecantikan Roro Mendut tercatat dalam buku Babad Tanah Jawi. <\/p>\n\n\n\n

Diperkirakan pada tahun 1627, pada saat panglima perang Sultan Agung Mataram bernama Tumenggung Wiraguna berhasil menumpas pemberontakan di kota Pati, sebagai imbalanan atas keberhasilannya, mendapat hadiah wanita pujaan pria bernama Rara Mendut dari Kasultanan Agung Mataram.  Roro Mendut menolak dipinang Tumenggung Wiraguna, dan secara terang-terangan memilih pria lain dambaannya. Akibatnya, Roro Mendut harus membayar pajak setiap harinya kepada kerajaan Mataram. <\/p>\n\n\n\n

Bisa dibayangkan, betapa bingungnya Roro Mendut saat itu. Uang dari mana, ia hasilkan untuk bayar pajak tiap hari demi bisa bersama kekasihnya. Ternyata Roro Mendut tidak hanya cantik tetapi cerdas dan kreatif, bisa membaca peluang bisnis saat itu. Ide cermerlang muncul dengan berdagang\/berjualan rokok lintingan yang direkatkan dengan air ludahnya, dan sebelum menjualnya, rokok lintingan di sulut dahulu dan dihisap bekas bibir merahnya. Kemudian baru dijual ke pembeli yang berdesakan berjejer antri. <\/p>\n\n\n\n

Entah dari mana ide menjual rokok itu muncul. Yang jelas saking larisnya, kewajiban pajak Roro Mendut terpenuhi. Dan mungkin keadaannya akan lebih parah, jika saat itu Roro Mendut tidak berdagang rokok. Tidak akan terpenuhi kewajiban pajaknya. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Dengan rokok, hidup Roro Mendut terselamatkan. Adanya rokok, \u00a0Roro Mendut bebas dari belenggu kekuasaan. Berkat rokok, Roro Mendut terkengan, mengisi rubik informasi sejarah begitu kuatnya budaya merokok di \u00a0Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Pusaka Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek, Teman Perjuangan  Diponegoro<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Semasa berjuang melawan penjajah, yang harus dilakukan Diponegoro berpindah-pindah dari kota satu ke kota lain. Strategi perlawanan Diponegoro, kemudian sebagai basis strategi perang gerilya. Strategi yang menjadi idola dan kebanggaan tentara Indonesia. Dengan bergerilya, tentara Indonesia mampu mengecoh kekutan lawan yang lebih besar jumlahnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu, tenyata banyak cerita, Diponegoro saat berperang ditemani rokok. Ia dan pasukannya gemar merokok. Bahkan ketika tidak ada rokok, Pangeran Diponegoro rela hanya megunyah daun sirih yang diracik dengan kapur dan pinang. <\/p>\n\n\n\n

Kebiasaan ini, juga dialami oleh pengikut \/pasukan perang Pangeran Diponegoro. Bagi mereka, rokok teman sejati, menemani disetiap perjalanan mereka. Rokok menghilangkan depresi mereka, sebagai hiburan saat jauh dari keluarga demi berjuang melawan penjajah. Rokok menumbuhkan percaya diri mereka, lebih berani melawan penjajah walaupun hanya dengan serba keterbatasan, pasukan jumlah terbatas, alat perang terbatas dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Baca juga: Pangeran Diponegoro, Rokok Klobot dan Perlawanan Simbolis<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Jati Diri Bangsa<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Salah satu \u201cpendiri bangsa\u201d bernama KH. Agus Salim menghisap kretek dengan asapnya di kebal-kebulkan keudara, disaat ada perjamuan di Istana Buckingham ketika penobatan Elizabeth II sebagai Ratu kerajaan Inggris. Aroma khas keluar dari asap rokok kretek, tercium orang yang berada di ruang perjamuan. Sehingga memancing salah satu orang yang datang dalam perjamuan, dengan berkata; \u201ctuan sedang menghisap apa itu?\u201d.  Sentak KH. Agus Salim menjawab, \u201c inilah yang membuat nenek moyang anda sekian abad lalu datang dan kemudian menjajah negeri kami\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Jawaban KH. Agus Salim, faktanya memang benar. Rokok kretek tidak lain ada tambahan cengkeh (suzygium aromaticum<\/em>). \u00a0Tanaman legendaris menjadi rebutan dan sumber keuntungan kolonialisme Eropa atas Asia termasuk Indonesia. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Cengkeh adalah salah satu tanaman yang diperebutkan bangsa-bangsa dunia, sampai melegalkan penjajahan.  Dalam simpulan perjalanan ekspedisi cengkeh tahun 2013, Kepala Suku begitu julukan bagi Putut Ea, mengatakan \u201c jika saja tak pernah ada cengkeh dan pala di Maluku, mungkin sejarah kepulauan Nusantara ini akan berbeda sama sekali\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Simpulan Putut EA, sebagai salah satu pembenar perkataan \u00a0KH. Agus Salim. Mungkin, jika tanaman cengkeh tidak ada, fakta sejarah akan berbeda, tidak ada penjajahan di bumi Nusantara ini. <\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Mengisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek untuk Berteman dan Menjalin Persaudaraan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Teringat apa yang pernah dilakukan Menteri Sosial dan Lingkungan Hidup, saat melakukan pendekatan pada suku anak dalam di Jambi. Tidak lain ia adalah Khofifah menteri perempuan yang energik. Saat itu Khofifah bertanggungjawab dalam mengatasi masalah pendidikan dan kesejahteraan masyarakat suku anak dalam di Jambi.  <\/p>\n\n\n\n

Kebijakannya membuat fenomenal, selain bahan makanan, dan bantuan lain, khofifah juga membawa rokok.  Yang kemudian ada yang mengggugat dari anti rokok, tetapi sebagai Menteri, Khofifah tentunya sudah mengkaji secara mendalam. Dengan kecerdasannya , Khofifah menjawab dengan tegas dan lugas, \u201cjangan sok tahu kehidupan mereka, kenali apa yang menjadi ritme kehidupan mereka. Sangat bijaksana kalau kita semua pergi kesana, sehingga tahu adat istiadatnya juga. Tolong kalau ingin mengerti tentang kultur jangan hanya dari kacamata Jakarta. Saya pun ingin mengajak anda kesana, turun kesana, sapalah mereka\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Khofifah memberikan pelajaran bagi anti rokok. Tidak boleh sok tahu, apalagi selama ini antirokok hanya berasumsi, tanpa melihat fakta dilapangan. Khofifah juga menganjurkan agar lebih mengenal adat-istiadat, budaya dan tradisi masyarakat, tidak boleh melakukan hegemoni kultural, sebab keberagaman adat-istiadat dan budaya merupakan kekayaan negeri. <\/p>\n\n\n\n

Pelajaran Khofifah sangat mendalam dan bercirikhas Nusantara. Sebgaai Menteri \u00a0Sosial tentunya lebih berpengalaman apa yang dibutuhkan bangsa ini agar tetap jaya, bersatu dan utuh. Kenali perbedaan, hormati perbedaan, junjung tinggi budaya yang berbeda. \u00a0Apa yang telah dilakukan Khofifah dengan membawa rokok ke suku anak dalam adalah cermin penghormatan tradisi dan budaya masyarakat. Sebagai seorang Mentri, tentunya punya kuasa, artinya bisa seorang khofifah memberikan bantuan sesuai keinginannya sendiri, namun hal itu tidak dilakukan. Ia lebih mengedepankan penghormatan budaya masyarakat setempat, dengan membawa rokok untuk pendekatan dan pertemanan. Karena Khofifah tahu betul, bahwa merokok adalah budaya mereka, yang diwaris dari neneng moyang mereka. <\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Memilih Jalan Hidup Menikmati Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Simbol Pergerakan Nasional     <\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Abdul Rifa\u2019I dalam media bintang timur terbit pada 03 Oktober 1927, mengatakan, \u201ckopinya bukan kopi saringan, tetapi kopi tubruk sebab kopi ini katanya nationaal, gulanya gula jawa, susu tidak dipakai karena tidak nationaal. Rokoknya kelobot, selamatan natioanaal ini terus berlangsung ed sampai pagi hari\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Semangat nasionalisme harus tertanam, mengedepankan produk lokal adalah salah satu semangat nasionalime. Salah satu keberadaan rokok klobot menjadi ciri produk asli indonesia dan harus dilestarikan. Klobot sendiri adalah ramuan tembakau dan cengkeh di gulung memakai daun jagung, embrio perkembangan menjadi rokok sigaret kretek tangan dan sigaret kretek mesin.  
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pusaran Budaya Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pusaran-budaya-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-04 08:40:41","post_modified_gmt":"2019-02-04 01:40:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5406","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5403,"post_author":"919","post_date":"2019-02-03 09:05:50","post_date_gmt":"2019-02-03 02:05:50","post_content":"\n

Seringkali saya menyaksikan berbagai film baik itu Eropa atau Asia yang menggambarkan tentang masa depan. Pemandangan soal masa depan tersebut dihadirkan dengan gambaran kecanggihan teknologi seperti robot yang akan membantu kehidupan manusia, gedung-gedung yang tingginya sudah amat tak bisa ditandingi,  hingga mobil-mobil yang bisa terbang. <\/p>\n\n\n\n

Pernah dalam masa kecil saya menyaksikan sebuah film animasi buatan jepang yang mempertanyakan tentang makanan di masa depan. Dengan santai salah satu tokoh yang berasal dari masa depan itu menjawab bahwa suatu saat nanti manusia akan mengonsumsi makanan berupa pasta gigi namun dengan rasa yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa, aneh!<\/p>\n\n\n\n

Seiring waktu berjalan saya kian tumbuh dewasa dan punya kesadaran untuk memilih menjadi seorang perokok<\/a>. Saya juga melihat ada sebuah inovasi dan gambaran tentang masa depan yang hadir dalam kehidupan sekarang. Banyak memang, namun yang menyita perhatian saya adalah rokok elektrik atau yang populer disebut Vape. Konon katanya ia adalah produk inovasi untuk menjembatani kebutuhan menghisap asap dan kecanggihan masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Di awal kehadirannya Vape memang mengundang decak kekaguman saya. Bagaimana bisa sebuah mesin kecil mengeluarkan asap yang katanya lebih menyehatkan daripada rokok.<\/strong> Meski pada akhirnya teori tersebut juga bisa dibantah oleh beberapa ilmuan dunia. Tapi ada satu yang saya amati selain soal kesehatan, rokok elektrik rupanya menghadirkan kultur dan budaya baru dalam kehidupan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: LAGI-LAGI IKLAN ROKOK, KAPAN KPAI TIDAK TEBANG PILIH? <\/a><\/h4>\n\n\n\n

Kehadiran teknologi memang kerap sedikit atau benyak mengubah gaya atau kultur suatu masyarakat. Begitu pula yang saya perhatikan dengan rokok elektrik. Satu hal yang mudah diamati adalah menjamurnya toko-toko kecil yang menjual vape serta liquid di berbagai tempat. Sebagai sebuah warna baru dalam masyarakat, penggunanya ramai-ramai mengunjungi tempat tersebut berinteraksi dengan penikmat lainnya dan membangun sebuah rumah komunitas yang fleksibel.<\/p>\n\n\n\n

Meski belum bisa dikatakan memiliki jumlah penikmat yang setara dengan para perokok, pengguna Vape mulai menunjukkan eksistensinya. Selain toko yang tersebar, ragam acara juga mereka buat di beberapa daerah. Dalam lingkungan saya, beberapa teman yang dulunya merupakan perokok aktif tertarik mengikuti event tersebut dan beralih mengisap rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Nun jauh di sana, di Amerika Serikat tepatnya, budaya Vape juga sudah mulai berkembang lama ketimbang di Tanah Air. Penikmatnya terbagi menjadi dua, ada yang dulunya bekas perokok dan ada yang memang menikmatinya sebagai gaya hidup. Wajar saja mengingat facebook tak memperbolehkan iklan tembakau di platform mereka, sebaliknya iklan tentang vape justru bertebaran. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi budaya baru yang berkembang di berbagai belahan dunia bahkan di Indonesia, Vape konon menjadi alternatif yang lebih bermanfaat daripada rokok. Dalih yang diusung selalu sama kepada para perokok tradisonal yaitu soal kesehatan dan lebih irit. Soal kesehatan tentu ada beberapa pendapat para ilmuan yang membantahnya, namun soal irit, saya rasa tidak. Memang satu liquid bisa digunakan untuk beberapa Minggu, akan tetapi yang saya lihat di lapangan justru sebaliknya. <\/p>\n\n\n\n

Beberapa penikmat rokok elektrik kerap berbelanja liquid yang mereka idamkan. Terkadang, hal tersebut yang membuat mereka boros karena terus mengeksplor rasa mana yang mereka idam-idamkan. Tak jarang juga liquid dengan harga mahal hingga ratus ribuan akan mereka beli. Sebaliknya, para perokok konvensional justru kerap bertahan dengan satu rasa atau merek saja.<\/p>\n\n\n\n

Sedikit berbeda dengan penikmat rokok konvensional atau kretek. Mengingat rokok kretek sudah menjadi kebudayan lokal yang terus dipertahankan selama bertahun-tahun, kehadirannya sudah mewarnai khasanah keindonesiaan. Perokok kretek juga sudah punya soliditas luar biasa yang terbentuk sejak lama dan terus terbangun mengiringi peradaban di Indonesia atau dunia.<\/p>\n\n\n\n

Kini, perokok elektrik mulai merasakan kegelisahan. Beberapa negara mulai menerapkan peraturan ketat terhadap Vape, sedangkan di Indonesia biaya cukai pun kini mulai diberlakukan terhadap perdagangan rokok elektrik. Keberadaannya di mata negara pun mulai dianggap sama seperti rokok, meski pada awalnya rokok elektrik hadir dengan slogan-slogan produk alternatif yang lebih menyehatkan (katanya).<\/p>\n\n\n\n


Tapi jika kemudian di masa depan memang rokok elektrik yang kemudian menjadi sesuatu yang populer dan dinikmati banyak orang. Rasanya saya tetap ingin hidup di jaman ini, dengan sebatang kretek di tangan dan menikmati segala khasanah kebudayaan yang patut terus dipertahankan. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"masa-depan-rokok-elektrik-dan-semangat-alternatif-yang-sia-sia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-03 09:05:56","post_modified_gmt":"2019-02-03 02:05:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5403","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5385,"post_author":"883","post_date":"2019-02-02 08:01:01","post_date_gmt":"2019-02-02 01:01:01","post_content":"Pada tahun 2014, perusahaan rokok multinasional Philip Morris Internasional Inc. merilis sebuah produk <\/span>perangkat\u00a0<\/span>
rokok<\/span><\/a>\u00a0tanpa asap, yang dipanaskan bukan dibakar atau istilahnya\u00a0<\/span>heat not burn<\/i><\/strong>\u00a0(HNB) iQOS<\/strong>. <\/span>\r\n\r\nPerangkat rokok tanpa asap dengan nama iQOS<\/a> ini berbentuk seperti bagian luar pulpen, dengan lubang di tengah untuk rokok. Produk yang berada di bawah brand Marlboro ini dapat memanaskan rokok sampai 350 derajat celcius lalu mengeluarkan uap nikotin beraroma tembakau<\/em><\/a>.<\/span>\r\n

Produk iQOS sebenarnya bukanlah produk rokok tanpa asap yang pertama muncul. Sebelumnya di tahun 1990-an, Reynolds Tobacco Co pernah merilis produk serupa bernama Eclipes yang juga dapat menguapkan nikotin setelah dinyalakan dengan korek api.<\/span><\/blockquote>\r\nSelain itu, Eclips juga dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. Namun, pada saat itu Eclips tidak diminati oleh pasar, utamanya para perokok konvensional. Meskipun Eclips dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. <\/span>\r\n\r\nBisnis semacam rokok tanpa asap seperti Eclips dan iQOS memang sudah menjadi bagian dari rencana panjang bisnis perusahaan-perusahaan rokok multinasional. Jadi tidak usah heran jika ke depannya akan kita akan banyak menemukan produk rokok tanpa asap ini.<\/span>\r\n\r\nWatak dari perusahaan multinasional memang seperti itu, mereka sangat jeli melihat peluang pasar ke depannya. Ketika market place perusahaan rokok multinasional saat ini terus dirongrong oleh kelompok antirokok, mereka tak kehabisan akal. Maka kemudian mereka menginovasi produk rokok konvensional menjadi rokok yang tidak berasap. Begitupun dengan mengikutsertakan jargon-jargon kesehatan dalam narasi promosi mereka.<\/span>\r\n\r\nSesungguhnya memang seperti itulah watak bisnis perusahaan-perusahaan multinasional, melakukan segala cara agar bisnis mereka tetap bertahan, meskipun harus merangkul musuh sekalipun. <\/span>\r\n\r\nYa kadang pura-pura berantem sama antirokok, tapi dibalik itu sebenarnya baik-baik saja, dan tentunya ada kompromi untuk terus melanggengkan bisnis mereka.<\/span>\r\n

Lalu siapa yang dirugikan dari permainan bisnis macam produk rokok tanpa asap perusahaan rokok multinasional ini?<\/span><\/h3>\r\nTentunya yang sangat dirugikan adalah produk hasil tembakau yang memiliki kekhasan seperti kretek di Indonesia. Kretek sebagai produk khas asli Indonesia yang menjadi bagian dari warisan kebudayaan tidak mungkin bertransformasi menjadi produk-produk elektrik dan sejenisnya.<\/span>\r\n\r\nKretek tetaplah kretek, dengan bahan baku alami tembakau dan cengkeh yang tidak diintervensi dengan zat atau perangkat penghantar lainnya. Karena dengan bentuk, karakter dan cara menikmatinya memang konvensional dan akan terus begitu apapun kondisi dan zamannya.<\/span>\r\n
Bisnis produk rokok tanpa asap (elektrik) juga menghajar kretek dengan mendompleng isu pengendalian tembakau. Kampanye pengendalian tembakau selalu membawa slogan bahaya merokok dan upaya untuk berhenti merokok. <\/span><\/blockquote>\r\nDari isu tersebut, rokok elektrik masuk dengan citra produk alternatif tembakau, bahkan mereka tak segan menilai bahwa rokok elektrik lebih aman ketimbang rokok konvensional, yakni kretek.<\/span>\r\n\r\nLalu jika Indonesia akan dibanjiri dengan produk-produk yang mengatasnamakan produk alternatif tembakau, macam rokok tanpa asap (iQOS dan sejenisnya), maka itulah pertanda bahwa kretek harus tergerus dari cara hidup manusia Indonesia dalam menikmati produk hasil tembakau khas Indonesia yang sudah turun-temurun lamanya dinikmati manusia Indonesia.<\/span>","post_title":"Nasib Kretek di Pusaran Pertarungan Bisnis Global Perusahaan Rokok Multinasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"nasib-kretek-di-pusaran-pertarungan-bisnis-global-perusahaan-rokok-multinasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-02 08:01:43","post_modified_gmt":"2019-02-02 01:01:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5385","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; \n

Maka, tak heran pada musim-musim seperti saat ini, ketika musim penghujan mendekati puncaknya, di wilayah-wilayah yang dikenal sebagai sentra pertanian tembakau, sulit menemukan pohon tembakau yang sedang tumbuh. Pada lahan-lahan yang sebelumnya ditumbuhi tanaman tembakau pada musim panas, berganti tanaman-tanaman lain yang bermacam-macam, sesuai dengan kondisi lahannya. Untuk lahan sawah, lahan-lahan itu pada musim penghujan kini ditumbuhi tanaman padi yang subur. Pada lahan tegalan dan lahan di pegunungan, lahan-lahan yang ditanami tembakau pada musim kemarau, saat ini ditumbuhi bermacam jenis tanaman mulai dari cabai, bawang, tomat, kol, terong, mentimun, dan ragam jenis tanaman semusim lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Uniknya, tipikal tanaman tembakau yang tumbuh baik di musim kemarau ini memberi pilihan lebih kepada para petani. Lahan-lahan yang sulit ditanami pada musim kemarau, pada akhirnya masih bisa tetap produktif dengan keberadaan tanaman tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Maka, kampanye aneh mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain dengan ragam rupa dalih yang membingungkan, bukan saja sama sekali tidak tepat dan asal-asalan, namun bisa jadi akan ditertawakan oleh para petani yang begitu paham dengan kondisi lahan dan terutama kondisi iklim dan cuaca. Sulit mencari tanaman semusim yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Jika pun ada, tak ada yang semenguntungkan tanaman tembakau.
<\/p>\n","post_title":"Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"keberhasilan-gerakan-anti-tembakau-tak-ada-tembakau-saat-musim-hujan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-07 12:16:02","post_modified_gmt":"2019-02-07 05:16:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5415","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5409,"post_author":"919","post_date":"2019-02-05 08:04:43","post_date_gmt":"2019-02-05 01:04:43","post_content":"\n

Tahun Baru Imlek yang merupakan tradisi Bangsa Tiongkok kini sudah tak lagi menjadi hal yang asing bagi masyarakat Indonesia. Kehadirannya sudah mewarnai dan berakulturasi dengan tradisi lokal. Menjelang Tahun Baru Imlek. Berbagai hiasan dan kemeriahan terjadi beberapa titik di Tanah Air. Perayaannya juga menjadi destinasi baru yang mengasyikkan untuk dilihat dan patut disaksikan.<\/p>\n\n\n\n

Berterimakasihlah kepada sang bapak bangsa, KH Abdurrahman Wahid atau yang dikenal dengan nama Gus Dur. Berkat kebijakannya saat menjadi Presiden Indonesia, Tahun Baru Imlek resmi dijadikan hari libur nasional dan dianggap sebagai salah satu hari raya di Tanah Air. Meski sentimen antitionghoa masih ada di sana-sini, tapi tetap tak bisa dipungkiri bahwa bangsa tionghoa sudah bersentuhan dengan budaya lokal dalam kurun waktu yang sangat panjang.<\/p>\n\n\n\n

DNA Bangsa Tionghoa yang memang merupakan pedagang menjadi pembuka kisah interaksi antara nenek moyang berbagai suku di Nusantara dengan mereka. Beberapa kelenteng-kelenteng yang tersebar pada berbagai pesisir daerah di Nusantara jadi buktinya. Pelabuhan-pelabuhan tua di tanah air dan ramainya perdagangan di pesisir mempermudah bangsa kita berhubungan dengan Bangsa Tionghoa.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Wong Kalang dan Kota Gede<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa kehadiran Bangsa Tionghoa di Nusantara tak hanya sebagai pedagang, namun juga sebagai pekerja (bahkan hingga pekerja kasar). Benny Setiono, seorang sejarahwan menyebutkan bahwa antara tahun 1760-1770 dalam jumlah yang besar memasuki nusantara melalui Kalimantan Barat. Mereka bekerja sebagai kuli pertambangan di sana dan di kemudian hari membentuk sebuah republik bernama Republik Lanfang yang konon katanya menjadi republik pertama di Asia Tenggara.<\/p>\n\n\n\n

Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Imlek dan Indonesia<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n\n\n\n

Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
<\/p>\n","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5406,"post_author":"877","post_date":"2019-02-04 08:23:48","post_date_gmt":"2019-02-04 01:23:48","post_content":"\n

Merokok itu sudah menjadi bagian dari budaya dan tradisi masyarakat, jauh sebelum Indonesia merdeka. Banyak cerita atau kisah tentang kretek <\/a><\/del>di tengah-tengah masyarakat bangsa ini, mulai sebagai alat untuk meraup keuntungan, alat komunikasi, sebagai teman sampai menjadi simbol pergerakan. <\/p>\n\n\n\n

Kretek, Simbol Perlawanan Roro Mendut<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Siapa yang tidak pernah mendengan cerita tentang Roro Mendut?, di telinga masyarakat Indonesia, kisah Roro Mendut tidak asing lagi.  Perempuan yang mempunyai paras wajah cantik, dan digandrungi kaum adam terutama kalangan putra kerajaan. Informasi kecantikan Roro Mendut tersebar seantero Nusantara, tidak satupun pria meragukan kecantikannya.  Bahkan kisah dan cerita kecantikan Roro Mendut tercatat dalam buku Babad Tanah Jawi. <\/p>\n\n\n\n

Diperkirakan pada tahun 1627, pada saat panglima perang Sultan Agung Mataram bernama Tumenggung Wiraguna berhasil menumpas pemberontakan di kota Pati, sebagai imbalanan atas keberhasilannya, mendapat hadiah wanita pujaan pria bernama Rara Mendut dari Kasultanan Agung Mataram.  Roro Mendut menolak dipinang Tumenggung Wiraguna, dan secara terang-terangan memilih pria lain dambaannya. Akibatnya, Roro Mendut harus membayar pajak setiap harinya kepada kerajaan Mataram. <\/p>\n\n\n\n

Bisa dibayangkan, betapa bingungnya Roro Mendut saat itu. Uang dari mana, ia hasilkan untuk bayar pajak tiap hari demi bisa bersama kekasihnya. Ternyata Roro Mendut tidak hanya cantik tetapi cerdas dan kreatif, bisa membaca peluang bisnis saat itu. Ide cermerlang muncul dengan berdagang\/berjualan rokok lintingan yang direkatkan dengan air ludahnya, dan sebelum menjualnya, rokok lintingan di sulut dahulu dan dihisap bekas bibir merahnya. Kemudian baru dijual ke pembeli yang berdesakan berjejer antri. <\/p>\n\n\n\n

Entah dari mana ide menjual rokok itu muncul. Yang jelas saking larisnya, kewajiban pajak Roro Mendut terpenuhi. Dan mungkin keadaannya akan lebih parah, jika saat itu Roro Mendut tidak berdagang rokok. Tidak akan terpenuhi kewajiban pajaknya. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Dengan rokok, hidup Roro Mendut terselamatkan. Adanya rokok, \u00a0Roro Mendut bebas dari belenggu kekuasaan. Berkat rokok, Roro Mendut terkengan, mengisi rubik informasi sejarah begitu kuatnya budaya merokok di \u00a0Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Pusaka Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek, Teman Perjuangan  Diponegoro<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Semasa berjuang melawan penjajah, yang harus dilakukan Diponegoro berpindah-pindah dari kota satu ke kota lain. Strategi perlawanan Diponegoro, kemudian sebagai basis strategi perang gerilya. Strategi yang menjadi idola dan kebanggaan tentara Indonesia. Dengan bergerilya, tentara Indonesia mampu mengecoh kekutan lawan yang lebih besar jumlahnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu, tenyata banyak cerita, Diponegoro saat berperang ditemani rokok. Ia dan pasukannya gemar merokok. Bahkan ketika tidak ada rokok, Pangeran Diponegoro rela hanya megunyah daun sirih yang diracik dengan kapur dan pinang. <\/p>\n\n\n\n

Kebiasaan ini, juga dialami oleh pengikut \/pasukan perang Pangeran Diponegoro. Bagi mereka, rokok teman sejati, menemani disetiap perjalanan mereka. Rokok menghilangkan depresi mereka, sebagai hiburan saat jauh dari keluarga demi berjuang melawan penjajah. Rokok menumbuhkan percaya diri mereka, lebih berani melawan penjajah walaupun hanya dengan serba keterbatasan, pasukan jumlah terbatas, alat perang terbatas dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Baca juga: Pangeran Diponegoro, Rokok Klobot dan Perlawanan Simbolis<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Jati Diri Bangsa<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Salah satu \u201cpendiri bangsa\u201d bernama KH. Agus Salim menghisap kretek dengan asapnya di kebal-kebulkan keudara, disaat ada perjamuan di Istana Buckingham ketika penobatan Elizabeth II sebagai Ratu kerajaan Inggris. Aroma khas keluar dari asap rokok kretek, tercium orang yang berada di ruang perjamuan. Sehingga memancing salah satu orang yang datang dalam perjamuan, dengan berkata; \u201ctuan sedang menghisap apa itu?\u201d.  Sentak KH. Agus Salim menjawab, \u201c inilah yang membuat nenek moyang anda sekian abad lalu datang dan kemudian menjajah negeri kami\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Jawaban KH. Agus Salim, faktanya memang benar. Rokok kretek tidak lain ada tambahan cengkeh (suzygium aromaticum<\/em>). \u00a0Tanaman legendaris menjadi rebutan dan sumber keuntungan kolonialisme Eropa atas Asia termasuk Indonesia. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Cengkeh adalah salah satu tanaman yang diperebutkan bangsa-bangsa dunia, sampai melegalkan penjajahan.  Dalam simpulan perjalanan ekspedisi cengkeh tahun 2013, Kepala Suku begitu julukan bagi Putut Ea, mengatakan \u201c jika saja tak pernah ada cengkeh dan pala di Maluku, mungkin sejarah kepulauan Nusantara ini akan berbeda sama sekali\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Simpulan Putut EA, sebagai salah satu pembenar perkataan \u00a0KH. Agus Salim. Mungkin, jika tanaman cengkeh tidak ada, fakta sejarah akan berbeda, tidak ada penjajahan di bumi Nusantara ini. <\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Mengisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek untuk Berteman dan Menjalin Persaudaraan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Teringat apa yang pernah dilakukan Menteri Sosial dan Lingkungan Hidup, saat melakukan pendekatan pada suku anak dalam di Jambi. Tidak lain ia adalah Khofifah menteri perempuan yang energik. Saat itu Khofifah bertanggungjawab dalam mengatasi masalah pendidikan dan kesejahteraan masyarakat suku anak dalam di Jambi.  <\/p>\n\n\n\n

Kebijakannya membuat fenomenal, selain bahan makanan, dan bantuan lain, khofifah juga membawa rokok.  Yang kemudian ada yang mengggugat dari anti rokok, tetapi sebagai Menteri, Khofifah tentunya sudah mengkaji secara mendalam. Dengan kecerdasannya , Khofifah menjawab dengan tegas dan lugas, \u201cjangan sok tahu kehidupan mereka, kenali apa yang menjadi ritme kehidupan mereka. Sangat bijaksana kalau kita semua pergi kesana, sehingga tahu adat istiadatnya juga. Tolong kalau ingin mengerti tentang kultur jangan hanya dari kacamata Jakarta. Saya pun ingin mengajak anda kesana, turun kesana, sapalah mereka\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Khofifah memberikan pelajaran bagi anti rokok. Tidak boleh sok tahu, apalagi selama ini antirokok hanya berasumsi, tanpa melihat fakta dilapangan. Khofifah juga menganjurkan agar lebih mengenal adat-istiadat, budaya dan tradisi masyarakat, tidak boleh melakukan hegemoni kultural, sebab keberagaman adat-istiadat dan budaya merupakan kekayaan negeri. <\/p>\n\n\n\n

Pelajaran Khofifah sangat mendalam dan bercirikhas Nusantara. Sebgaai Menteri \u00a0Sosial tentunya lebih berpengalaman apa yang dibutuhkan bangsa ini agar tetap jaya, bersatu dan utuh. Kenali perbedaan, hormati perbedaan, junjung tinggi budaya yang berbeda. \u00a0Apa yang telah dilakukan Khofifah dengan membawa rokok ke suku anak dalam adalah cermin penghormatan tradisi dan budaya masyarakat. Sebagai seorang Mentri, tentunya punya kuasa, artinya bisa seorang khofifah memberikan bantuan sesuai keinginannya sendiri, namun hal itu tidak dilakukan. Ia lebih mengedepankan penghormatan budaya masyarakat setempat, dengan membawa rokok untuk pendekatan dan pertemanan. Karena Khofifah tahu betul, bahwa merokok adalah budaya mereka, yang diwaris dari neneng moyang mereka. <\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Memilih Jalan Hidup Menikmati Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Simbol Pergerakan Nasional     <\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Abdul Rifa\u2019I dalam media bintang timur terbit pada 03 Oktober 1927, mengatakan, \u201ckopinya bukan kopi saringan, tetapi kopi tubruk sebab kopi ini katanya nationaal, gulanya gula jawa, susu tidak dipakai karena tidak nationaal. Rokoknya kelobot, selamatan natioanaal ini terus berlangsung ed sampai pagi hari\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Semangat nasionalisme harus tertanam, mengedepankan produk lokal adalah salah satu semangat nasionalime. Salah satu keberadaan rokok klobot menjadi ciri produk asli indonesia dan harus dilestarikan. Klobot sendiri adalah ramuan tembakau dan cengkeh di gulung memakai daun jagung, embrio perkembangan menjadi rokok sigaret kretek tangan dan sigaret kretek mesin.  
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pusaran Budaya Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pusaran-budaya-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-04 08:40:41","post_modified_gmt":"2019-02-04 01:40:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5406","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5403,"post_author":"919","post_date":"2019-02-03 09:05:50","post_date_gmt":"2019-02-03 02:05:50","post_content":"\n

Seringkali saya menyaksikan berbagai film baik itu Eropa atau Asia yang menggambarkan tentang masa depan. Pemandangan soal masa depan tersebut dihadirkan dengan gambaran kecanggihan teknologi seperti robot yang akan membantu kehidupan manusia, gedung-gedung yang tingginya sudah amat tak bisa ditandingi,  hingga mobil-mobil yang bisa terbang. <\/p>\n\n\n\n

Pernah dalam masa kecil saya menyaksikan sebuah film animasi buatan jepang yang mempertanyakan tentang makanan di masa depan. Dengan santai salah satu tokoh yang berasal dari masa depan itu menjawab bahwa suatu saat nanti manusia akan mengonsumsi makanan berupa pasta gigi namun dengan rasa yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa, aneh!<\/p>\n\n\n\n

Seiring waktu berjalan saya kian tumbuh dewasa dan punya kesadaran untuk memilih menjadi seorang perokok<\/a>. Saya juga melihat ada sebuah inovasi dan gambaran tentang masa depan yang hadir dalam kehidupan sekarang. Banyak memang, namun yang menyita perhatian saya adalah rokok elektrik atau yang populer disebut Vape. Konon katanya ia adalah produk inovasi untuk menjembatani kebutuhan menghisap asap dan kecanggihan masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Di awal kehadirannya Vape memang mengundang decak kekaguman saya. Bagaimana bisa sebuah mesin kecil mengeluarkan asap yang katanya lebih menyehatkan daripada rokok.<\/strong> Meski pada akhirnya teori tersebut juga bisa dibantah oleh beberapa ilmuan dunia. Tapi ada satu yang saya amati selain soal kesehatan, rokok elektrik rupanya menghadirkan kultur dan budaya baru dalam kehidupan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: LAGI-LAGI IKLAN ROKOK, KAPAN KPAI TIDAK TEBANG PILIH? <\/a><\/h4>\n\n\n\n

Kehadiran teknologi memang kerap sedikit atau benyak mengubah gaya atau kultur suatu masyarakat. Begitu pula yang saya perhatikan dengan rokok elektrik. Satu hal yang mudah diamati adalah menjamurnya toko-toko kecil yang menjual vape serta liquid di berbagai tempat. Sebagai sebuah warna baru dalam masyarakat, penggunanya ramai-ramai mengunjungi tempat tersebut berinteraksi dengan penikmat lainnya dan membangun sebuah rumah komunitas yang fleksibel.<\/p>\n\n\n\n

Meski belum bisa dikatakan memiliki jumlah penikmat yang setara dengan para perokok, pengguna Vape mulai menunjukkan eksistensinya. Selain toko yang tersebar, ragam acara juga mereka buat di beberapa daerah. Dalam lingkungan saya, beberapa teman yang dulunya merupakan perokok aktif tertarik mengikuti event tersebut dan beralih mengisap rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Nun jauh di sana, di Amerika Serikat tepatnya, budaya Vape juga sudah mulai berkembang lama ketimbang di Tanah Air. Penikmatnya terbagi menjadi dua, ada yang dulunya bekas perokok dan ada yang memang menikmatinya sebagai gaya hidup. Wajar saja mengingat facebook tak memperbolehkan iklan tembakau di platform mereka, sebaliknya iklan tentang vape justru bertebaran. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi budaya baru yang berkembang di berbagai belahan dunia bahkan di Indonesia, Vape konon menjadi alternatif yang lebih bermanfaat daripada rokok. Dalih yang diusung selalu sama kepada para perokok tradisonal yaitu soal kesehatan dan lebih irit. Soal kesehatan tentu ada beberapa pendapat para ilmuan yang membantahnya, namun soal irit, saya rasa tidak. Memang satu liquid bisa digunakan untuk beberapa Minggu, akan tetapi yang saya lihat di lapangan justru sebaliknya. <\/p>\n\n\n\n

Beberapa penikmat rokok elektrik kerap berbelanja liquid yang mereka idamkan. Terkadang, hal tersebut yang membuat mereka boros karena terus mengeksplor rasa mana yang mereka idam-idamkan. Tak jarang juga liquid dengan harga mahal hingga ratus ribuan akan mereka beli. Sebaliknya, para perokok konvensional justru kerap bertahan dengan satu rasa atau merek saja.<\/p>\n\n\n\n

Sedikit berbeda dengan penikmat rokok konvensional atau kretek. Mengingat rokok kretek sudah menjadi kebudayan lokal yang terus dipertahankan selama bertahun-tahun, kehadirannya sudah mewarnai khasanah keindonesiaan. Perokok kretek juga sudah punya soliditas luar biasa yang terbentuk sejak lama dan terus terbangun mengiringi peradaban di Indonesia atau dunia.<\/p>\n\n\n\n

Kini, perokok elektrik mulai merasakan kegelisahan. Beberapa negara mulai menerapkan peraturan ketat terhadap Vape, sedangkan di Indonesia biaya cukai pun kini mulai diberlakukan terhadap perdagangan rokok elektrik. Keberadaannya di mata negara pun mulai dianggap sama seperti rokok, meski pada awalnya rokok elektrik hadir dengan slogan-slogan produk alternatif yang lebih menyehatkan (katanya).<\/p>\n\n\n\n


Tapi jika kemudian di masa depan memang rokok elektrik yang kemudian menjadi sesuatu yang populer dan dinikmati banyak orang. Rasanya saya tetap ingin hidup di jaman ini, dengan sebatang kretek di tangan dan menikmati segala khasanah kebudayaan yang patut terus dipertahankan. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"masa-depan-rokok-elektrik-dan-semangat-alternatif-yang-sia-sia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-03 09:05:56","post_modified_gmt":"2019-02-03 02:05:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5403","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5385,"post_author":"883","post_date":"2019-02-02 08:01:01","post_date_gmt":"2019-02-02 01:01:01","post_content":"Pada tahun 2014, perusahaan rokok multinasional Philip Morris Internasional Inc. merilis sebuah produk <\/span>perangkat\u00a0<\/span>
rokok<\/span><\/a>\u00a0tanpa asap, yang dipanaskan bukan dibakar atau istilahnya\u00a0<\/span>heat not burn<\/i><\/strong>\u00a0(HNB) iQOS<\/strong>. <\/span>\r\n\r\nPerangkat rokok tanpa asap dengan nama iQOS<\/a> ini berbentuk seperti bagian luar pulpen, dengan lubang di tengah untuk rokok. Produk yang berada di bawah brand Marlboro ini dapat memanaskan rokok sampai 350 derajat celcius lalu mengeluarkan uap nikotin beraroma tembakau<\/em><\/a>.<\/span>\r\n

Produk iQOS sebenarnya bukanlah produk rokok tanpa asap yang pertama muncul. Sebelumnya di tahun 1990-an, Reynolds Tobacco Co pernah merilis produk serupa bernama Eclipes yang juga dapat menguapkan nikotin setelah dinyalakan dengan korek api.<\/span><\/blockquote>\r\nSelain itu, Eclips juga dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. Namun, pada saat itu Eclips tidak diminati oleh pasar, utamanya para perokok konvensional. Meskipun Eclips dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. <\/span>\r\n\r\nBisnis semacam rokok tanpa asap seperti Eclips dan iQOS memang sudah menjadi bagian dari rencana panjang bisnis perusahaan-perusahaan rokok multinasional. Jadi tidak usah heran jika ke depannya akan kita akan banyak menemukan produk rokok tanpa asap ini.<\/span>\r\n\r\nWatak dari perusahaan multinasional memang seperti itu, mereka sangat jeli melihat peluang pasar ke depannya. Ketika market place perusahaan rokok multinasional saat ini terus dirongrong oleh kelompok antirokok, mereka tak kehabisan akal. Maka kemudian mereka menginovasi produk rokok konvensional menjadi rokok yang tidak berasap. Begitupun dengan mengikutsertakan jargon-jargon kesehatan dalam narasi promosi mereka.<\/span>\r\n\r\nSesungguhnya memang seperti itulah watak bisnis perusahaan-perusahaan multinasional, melakukan segala cara agar bisnis mereka tetap bertahan, meskipun harus merangkul musuh sekalipun. <\/span>\r\n\r\nYa kadang pura-pura berantem sama antirokok, tapi dibalik itu sebenarnya baik-baik saja, dan tentunya ada kompromi untuk terus melanggengkan bisnis mereka.<\/span>\r\n

Lalu siapa yang dirugikan dari permainan bisnis macam produk rokok tanpa asap perusahaan rokok multinasional ini?<\/span><\/h3>\r\nTentunya yang sangat dirugikan adalah produk hasil tembakau yang memiliki kekhasan seperti kretek di Indonesia. Kretek sebagai produk khas asli Indonesia yang menjadi bagian dari warisan kebudayaan tidak mungkin bertransformasi menjadi produk-produk elektrik dan sejenisnya.<\/span>\r\n\r\nKretek tetaplah kretek, dengan bahan baku alami tembakau dan cengkeh yang tidak diintervensi dengan zat atau perangkat penghantar lainnya. Karena dengan bentuk, karakter dan cara menikmatinya memang konvensional dan akan terus begitu apapun kondisi dan zamannya.<\/span>\r\n
Bisnis produk rokok tanpa asap (elektrik) juga menghajar kretek dengan mendompleng isu pengendalian tembakau. Kampanye pengendalian tembakau selalu membawa slogan bahaya merokok dan upaya untuk berhenti merokok. <\/span><\/blockquote>\r\nDari isu tersebut, rokok elektrik masuk dengan citra produk alternatif tembakau, bahkan mereka tak segan menilai bahwa rokok elektrik lebih aman ketimbang rokok konvensional, yakni kretek.<\/span>\r\n\r\nLalu jika Indonesia akan dibanjiri dengan produk-produk yang mengatasnamakan produk alternatif tembakau, macam rokok tanpa asap (iQOS dan sejenisnya), maka itulah pertanda bahwa kretek harus tergerus dari cara hidup manusia Indonesia dalam menikmati produk hasil tembakau khas Indonesia yang sudah turun-temurun lamanya dinikmati manusia Indonesia.<\/span>","post_title":"Nasib Kretek di Pusaran Pertarungan Bisnis Global Perusahaan Rokok Multinasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"nasib-kretek-di-pusaran-pertarungan-bisnis-global-perusahaan-rokok-multinasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-02 08:01:43","post_modified_gmt":"2019-02-02 01:01:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5385","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; \n

Jika ditanam pada musim hujan, hampir bisa dipastikan tanaman tembakau akan gagal menghasilkan daun-daun yang berkualitas. Ia akan rusak dan membusuk karena terlalu banyak terkena air sehingga daun-daun itu tak layak dijual. Jangankan bisa dijual, untuk tumbuh dengan baik pun sepertinya sulit karena musim hujan akan membunuh banyak tanaman itu.<\/p>\n\n\n\n

Maka, tak heran pada musim-musim seperti saat ini, ketika musim penghujan mendekati puncaknya, di wilayah-wilayah yang dikenal sebagai sentra pertanian tembakau, sulit menemukan pohon tembakau yang sedang tumbuh. Pada lahan-lahan yang sebelumnya ditumbuhi tanaman tembakau pada musim panas, berganti tanaman-tanaman lain yang bermacam-macam, sesuai dengan kondisi lahannya. Untuk lahan sawah, lahan-lahan itu pada musim penghujan kini ditumbuhi tanaman padi yang subur. Pada lahan tegalan dan lahan di pegunungan, lahan-lahan yang ditanami tembakau pada musim kemarau, saat ini ditumbuhi bermacam jenis tanaman mulai dari cabai, bawang, tomat, kol, terong, mentimun, dan ragam jenis tanaman semusim lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Uniknya, tipikal tanaman tembakau yang tumbuh baik di musim kemarau ini memberi pilihan lebih kepada para petani. Lahan-lahan yang sulit ditanami pada musim kemarau, pada akhirnya masih bisa tetap produktif dengan keberadaan tanaman tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Maka, kampanye aneh mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain dengan ragam rupa dalih yang membingungkan, bukan saja sama sekali tidak tepat dan asal-asalan, namun bisa jadi akan ditertawakan oleh para petani yang begitu paham dengan kondisi lahan dan terutama kondisi iklim dan cuaca. Sulit mencari tanaman semusim yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Jika pun ada, tak ada yang semenguntungkan tanaman tembakau.
<\/p>\n","post_title":"Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"keberhasilan-gerakan-anti-tembakau-tak-ada-tembakau-saat-musim-hujan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-07 12:16:02","post_modified_gmt":"2019-02-07 05:16:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5415","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5409,"post_author":"919","post_date":"2019-02-05 08:04:43","post_date_gmt":"2019-02-05 01:04:43","post_content":"\n

Tahun Baru Imlek yang merupakan tradisi Bangsa Tiongkok kini sudah tak lagi menjadi hal yang asing bagi masyarakat Indonesia. Kehadirannya sudah mewarnai dan berakulturasi dengan tradisi lokal. Menjelang Tahun Baru Imlek. Berbagai hiasan dan kemeriahan terjadi beberapa titik di Tanah Air. Perayaannya juga menjadi destinasi baru yang mengasyikkan untuk dilihat dan patut disaksikan.<\/p>\n\n\n\n

Berterimakasihlah kepada sang bapak bangsa, KH Abdurrahman Wahid atau yang dikenal dengan nama Gus Dur. Berkat kebijakannya saat menjadi Presiden Indonesia, Tahun Baru Imlek resmi dijadikan hari libur nasional dan dianggap sebagai salah satu hari raya di Tanah Air. Meski sentimen antitionghoa masih ada di sana-sini, tapi tetap tak bisa dipungkiri bahwa bangsa tionghoa sudah bersentuhan dengan budaya lokal dalam kurun waktu yang sangat panjang.<\/p>\n\n\n\n

DNA Bangsa Tionghoa yang memang merupakan pedagang menjadi pembuka kisah interaksi antara nenek moyang berbagai suku di Nusantara dengan mereka. Beberapa kelenteng-kelenteng yang tersebar pada berbagai pesisir daerah di Nusantara jadi buktinya. Pelabuhan-pelabuhan tua di tanah air dan ramainya perdagangan di pesisir mempermudah bangsa kita berhubungan dengan Bangsa Tionghoa.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Wong Kalang dan Kota Gede<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa kehadiran Bangsa Tionghoa di Nusantara tak hanya sebagai pedagang, namun juga sebagai pekerja (bahkan hingga pekerja kasar). Benny Setiono, seorang sejarahwan menyebutkan bahwa antara tahun 1760-1770 dalam jumlah yang besar memasuki nusantara melalui Kalimantan Barat. Mereka bekerja sebagai kuli pertambangan di sana dan di kemudian hari membentuk sebuah republik bernama Republik Lanfang yang konon katanya menjadi republik pertama di Asia Tenggara.<\/p>\n\n\n\n

Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Imlek dan Indonesia<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n\n\n\n

Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
<\/p>\n","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5406,"post_author":"877","post_date":"2019-02-04 08:23:48","post_date_gmt":"2019-02-04 01:23:48","post_content":"\n

Merokok itu sudah menjadi bagian dari budaya dan tradisi masyarakat, jauh sebelum Indonesia merdeka. Banyak cerita atau kisah tentang kretek <\/a><\/del>di tengah-tengah masyarakat bangsa ini, mulai sebagai alat untuk meraup keuntungan, alat komunikasi, sebagai teman sampai menjadi simbol pergerakan. <\/p>\n\n\n\n

Kretek, Simbol Perlawanan Roro Mendut<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Siapa yang tidak pernah mendengan cerita tentang Roro Mendut?, di telinga masyarakat Indonesia, kisah Roro Mendut tidak asing lagi.  Perempuan yang mempunyai paras wajah cantik, dan digandrungi kaum adam terutama kalangan putra kerajaan. Informasi kecantikan Roro Mendut tersebar seantero Nusantara, tidak satupun pria meragukan kecantikannya.  Bahkan kisah dan cerita kecantikan Roro Mendut tercatat dalam buku Babad Tanah Jawi. <\/p>\n\n\n\n

Diperkirakan pada tahun 1627, pada saat panglima perang Sultan Agung Mataram bernama Tumenggung Wiraguna berhasil menumpas pemberontakan di kota Pati, sebagai imbalanan atas keberhasilannya, mendapat hadiah wanita pujaan pria bernama Rara Mendut dari Kasultanan Agung Mataram.  Roro Mendut menolak dipinang Tumenggung Wiraguna, dan secara terang-terangan memilih pria lain dambaannya. Akibatnya, Roro Mendut harus membayar pajak setiap harinya kepada kerajaan Mataram. <\/p>\n\n\n\n

Bisa dibayangkan, betapa bingungnya Roro Mendut saat itu. Uang dari mana, ia hasilkan untuk bayar pajak tiap hari demi bisa bersama kekasihnya. Ternyata Roro Mendut tidak hanya cantik tetapi cerdas dan kreatif, bisa membaca peluang bisnis saat itu. Ide cermerlang muncul dengan berdagang\/berjualan rokok lintingan yang direkatkan dengan air ludahnya, dan sebelum menjualnya, rokok lintingan di sulut dahulu dan dihisap bekas bibir merahnya. Kemudian baru dijual ke pembeli yang berdesakan berjejer antri. <\/p>\n\n\n\n

Entah dari mana ide menjual rokok itu muncul. Yang jelas saking larisnya, kewajiban pajak Roro Mendut terpenuhi. Dan mungkin keadaannya akan lebih parah, jika saat itu Roro Mendut tidak berdagang rokok. Tidak akan terpenuhi kewajiban pajaknya. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Dengan rokok, hidup Roro Mendut terselamatkan. Adanya rokok, \u00a0Roro Mendut bebas dari belenggu kekuasaan. Berkat rokok, Roro Mendut terkengan, mengisi rubik informasi sejarah begitu kuatnya budaya merokok di \u00a0Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Pusaka Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek, Teman Perjuangan  Diponegoro<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Semasa berjuang melawan penjajah, yang harus dilakukan Diponegoro berpindah-pindah dari kota satu ke kota lain. Strategi perlawanan Diponegoro, kemudian sebagai basis strategi perang gerilya. Strategi yang menjadi idola dan kebanggaan tentara Indonesia. Dengan bergerilya, tentara Indonesia mampu mengecoh kekutan lawan yang lebih besar jumlahnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu, tenyata banyak cerita, Diponegoro saat berperang ditemani rokok. Ia dan pasukannya gemar merokok. Bahkan ketika tidak ada rokok, Pangeran Diponegoro rela hanya megunyah daun sirih yang diracik dengan kapur dan pinang. <\/p>\n\n\n\n

Kebiasaan ini, juga dialami oleh pengikut \/pasukan perang Pangeran Diponegoro. Bagi mereka, rokok teman sejati, menemani disetiap perjalanan mereka. Rokok menghilangkan depresi mereka, sebagai hiburan saat jauh dari keluarga demi berjuang melawan penjajah. Rokok menumbuhkan percaya diri mereka, lebih berani melawan penjajah walaupun hanya dengan serba keterbatasan, pasukan jumlah terbatas, alat perang terbatas dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Baca juga: Pangeran Diponegoro, Rokok Klobot dan Perlawanan Simbolis<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Jati Diri Bangsa<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Salah satu \u201cpendiri bangsa\u201d bernama KH. Agus Salim menghisap kretek dengan asapnya di kebal-kebulkan keudara, disaat ada perjamuan di Istana Buckingham ketika penobatan Elizabeth II sebagai Ratu kerajaan Inggris. Aroma khas keluar dari asap rokok kretek, tercium orang yang berada di ruang perjamuan. Sehingga memancing salah satu orang yang datang dalam perjamuan, dengan berkata; \u201ctuan sedang menghisap apa itu?\u201d.  Sentak KH. Agus Salim menjawab, \u201c inilah yang membuat nenek moyang anda sekian abad lalu datang dan kemudian menjajah negeri kami\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Jawaban KH. Agus Salim, faktanya memang benar. Rokok kretek tidak lain ada tambahan cengkeh (suzygium aromaticum<\/em>). \u00a0Tanaman legendaris menjadi rebutan dan sumber keuntungan kolonialisme Eropa atas Asia termasuk Indonesia. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Cengkeh adalah salah satu tanaman yang diperebutkan bangsa-bangsa dunia, sampai melegalkan penjajahan.  Dalam simpulan perjalanan ekspedisi cengkeh tahun 2013, Kepala Suku begitu julukan bagi Putut Ea, mengatakan \u201c jika saja tak pernah ada cengkeh dan pala di Maluku, mungkin sejarah kepulauan Nusantara ini akan berbeda sama sekali\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Simpulan Putut EA, sebagai salah satu pembenar perkataan \u00a0KH. Agus Salim. Mungkin, jika tanaman cengkeh tidak ada, fakta sejarah akan berbeda, tidak ada penjajahan di bumi Nusantara ini. <\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Mengisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek untuk Berteman dan Menjalin Persaudaraan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Teringat apa yang pernah dilakukan Menteri Sosial dan Lingkungan Hidup, saat melakukan pendekatan pada suku anak dalam di Jambi. Tidak lain ia adalah Khofifah menteri perempuan yang energik. Saat itu Khofifah bertanggungjawab dalam mengatasi masalah pendidikan dan kesejahteraan masyarakat suku anak dalam di Jambi.  <\/p>\n\n\n\n

Kebijakannya membuat fenomenal, selain bahan makanan, dan bantuan lain, khofifah juga membawa rokok.  Yang kemudian ada yang mengggugat dari anti rokok, tetapi sebagai Menteri, Khofifah tentunya sudah mengkaji secara mendalam. Dengan kecerdasannya , Khofifah menjawab dengan tegas dan lugas, \u201cjangan sok tahu kehidupan mereka, kenali apa yang menjadi ritme kehidupan mereka. Sangat bijaksana kalau kita semua pergi kesana, sehingga tahu adat istiadatnya juga. Tolong kalau ingin mengerti tentang kultur jangan hanya dari kacamata Jakarta. Saya pun ingin mengajak anda kesana, turun kesana, sapalah mereka\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Khofifah memberikan pelajaran bagi anti rokok. Tidak boleh sok tahu, apalagi selama ini antirokok hanya berasumsi, tanpa melihat fakta dilapangan. Khofifah juga menganjurkan agar lebih mengenal adat-istiadat, budaya dan tradisi masyarakat, tidak boleh melakukan hegemoni kultural, sebab keberagaman adat-istiadat dan budaya merupakan kekayaan negeri. <\/p>\n\n\n\n

Pelajaran Khofifah sangat mendalam dan bercirikhas Nusantara. Sebgaai Menteri \u00a0Sosial tentunya lebih berpengalaman apa yang dibutuhkan bangsa ini agar tetap jaya, bersatu dan utuh. Kenali perbedaan, hormati perbedaan, junjung tinggi budaya yang berbeda. \u00a0Apa yang telah dilakukan Khofifah dengan membawa rokok ke suku anak dalam adalah cermin penghormatan tradisi dan budaya masyarakat. Sebagai seorang Mentri, tentunya punya kuasa, artinya bisa seorang khofifah memberikan bantuan sesuai keinginannya sendiri, namun hal itu tidak dilakukan. Ia lebih mengedepankan penghormatan budaya masyarakat setempat, dengan membawa rokok untuk pendekatan dan pertemanan. Karena Khofifah tahu betul, bahwa merokok adalah budaya mereka, yang diwaris dari neneng moyang mereka. <\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Memilih Jalan Hidup Menikmati Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Simbol Pergerakan Nasional     <\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Abdul Rifa\u2019I dalam media bintang timur terbit pada 03 Oktober 1927, mengatakan, \u201ckopinya bukan kopi saringan, tetapi kopi tubruk sebab kopi ini katanya nationaal, gulanya gula jawa, susu tidak dipakai karena tidak nationaal. Rokoknya kelobot, selamatan natioanaal ini terus berlangsung ed sampai pagi hari\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Semangat nasionalisme harus tertanam, mengedepankan produk lokal adalah salah satu semangat nasionalime. Salah satu keberadaan rokok klobot menjadi ciri produk asli indonesia dan harus dilestarikan. Klobot sendiri adalah ramuan tembakau dan cengkeh di gulung memakai daun jagung, embrio perkembangan menjadi rokok sigaret kretek tangan dan sigaret kretek mesin.  
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pusaran Budaya Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pusaran-budaya-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-04 08:40:41","post_modified_gmt":"2019-02-04 01:40:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5406","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5403,"post_author":"919","post_date":"2019-02-03 09:05:50","post_date_gmt":"2019-02-03 02:05:50","post_content":"\n

Seringkali saya menyaksikan berbagai film baik itu Eropa atau Asia yang menggambarkan tentang masa depan. Pemandangan soal masa depan tersebut dihadirkan dengan gambaran kecanggihan teknologi seperti robot yang akan membantu kehidupan manusia, gedung-gedung yang tingginya sudah amat tak bisa ditandingi,  hingga mobil-mobil yang bisa terbang. <\/p>\n\n\n\n

Pernah dalam masa kecil saya menyaksikan sebuah film animasi buatan jepang yang mempertanyakan tentang makanan di masa depan. Dengan santai salah satu tokoh yang berasal dari masa depan itu menjawab bahwa suatu saat nanti manusia akan mengonsumsi makanan berupa pasta gigi namun dengan rasa yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa, aneh!<\/p>\n\n\n\n

Seiring waktu berjalan saya kian tumbuh dewasa dan punya kesadaran untuk memilih menjadi seorang perokok<\/a>. Saya juga melihat ada sebuah inovasi dan gambaran tentang masa depan yang hadir dalam kehidupan sekarang. Banyak memang, namun yang menyita perhatian saya adalah rokok elektrik atau yang populer disebut Vape. Konon katanya ia adalah produk inovasi untuk menjembatani kebutuhan menghisap asap dan kecanggihan masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Di awal kehadirannya Vape memang mengundang decak kekaguman saya. Bagaimana bisa sebuah mesin kecil mengeluarkan asap yang katanya lebih menyehatkan daripada rokok.<\/strong> Meski pada akhirnya teori tersebut juga bisa dibantah oleh beberapa ilmuan dunia. Tapi ada satu yang saya amati selain soal kesehatan, rokok elektrik rupanya menghadirkan kultur dan budaya baru dalam kehidupan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: LAGI-LAGI IKLAN ROKOK, KAPAN KPAI TIDAK TEBANG PILIH? <\/a><\/h4>\n\n\n\n

Kehadiran teknologi memang kerap sedikit atau benyak mengubah gaya atau kultur suatu masyarakat. Begitu pula yang saya perhatikan dengan rokok elektrik. Satu hal yang mudah diamati adalah menjamurnya toko-toko kecil yang menjual vape serta liquid di berbagai tempat. Sebagai sebuah warna baru dalam masyarakat, penggunanya ramai-ramai mengunjungi tempat tersebut berinteraksi dengan penikmat lainnya dan membangun sebuah rumah komunitas yang fleksibel.<\/p>\n\n\n\n

Meski belum bisa dikatakan memiliki jumlah penikmat yang setara dengan para perokok, pengguna Vape mulai menunjukkan eksistensinya. Selain toko yang tersebar, ragam acara juga mereka buat di beberapa daerah. Dalam lingkungan saya, beberapa teman yang dulunya merupakan perokok aktif tertarik mengikuti event tersebut dan beralih mengisap rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Nun jauh di sana, di Amerika Serikat tepatnya, budaya Vape juga sudah mulai berkembang lama ketimbang di Tanah Air. Penikmatnya terbagi menjadi dua, ada yang dulunya bekas perokok dan ada yang memang menikmatinya sebagai gaya hidup. Wajar saja mengingat facebook tak memperbolehkan iklan tembakau di platform mereka, sebaliknya iklan tentang vape justru bertebaran. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi budaya baru yang berkembang di berbagai belahan dunia bahkan di Indonesia, Vape konon menjadi alternatif yang lebih bermanfaat daripada rokok. Dalih yang diusung selalu sama kepada para perokok tradisonal yaitu soal kesehatan dan lebih irit. Soal kesehatan tentu ada beberapa pendapat para ilmuan yang membantahnya, namun soal irit, saya rasa tidak. Memang satu liquid bisa digunakan untuk beberapa Minggu, akan tetapi yang saya lihat di lapangan justru sebaliknya. <\/p>\n\n\n\n

Beberapa penikmat rokok elektrik kerap berbelanja liquid yang mereka idamkan. Terkadang, hal tersebut yang membuat mereka boros karena terus mengeksplor rasa mana yang mereka idam-idamkan. Tak jarang juga liquid dengan harga mahal hingga ratus ribuan akan mereka beli. Sebaliknya, para perokok konvensional justru kerap bertahan dengan satu rasa atau merek saja.<\/p>\n\n\n\n

Sedikit berbeda dengan penikmat rokok konvensional atau kretek. Mengingat rokok kretek sudah menjadi kebudayan lokal yang terus dipertahankan selama bertahun-tahun, kehadirannya sudah mewarnai khasanah keindonesiaan. Perokok kretek juga sudah punya soliditas luar biasa yang terbentuk sejak lama dan terus terbangun mengiringi peradaban di Indonesia atau dunia.<\/p>\n\n\n\n

Kini, perokok elektrik mulai merasakan kegelisahan. Beberapa negara mulai menerapkan peraturan ketat terhadap Vape, sedangkan di Indonesia biaya cukai pun kini mulai diberlakukan terhadap perdagangan rokok elektrik. Keberadaannya di mata negara pun mulai dianggap sama seperti rokok, meski pada awalnya rokok elektrik hadir dengan slogan-slogan produk alternatif yang lebih menyehatkan (katanya).<\/p>\n\n\n\n


Tapi jika kemudian di masa depan memang rokok elektrik yang kemudian menjadi sesuatu yang populer dan dinikmati banyak orang. Rasanya saya tetap ingin hidup di jaman ini, dengan sebatang kretek di tangan dan menikmati segala khasanah kebudayaan yang patut terus dipertahankan. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"masa-depan-rokok-elektrik-dan-semangat-alternatif-yang-sia-sia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-03 09:05:56","post_modified_gmt":"2019-02-03 02:05:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5403","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5385,"post_author":"883","post_date":"2019-02-02 08:01:01","post_date_gmt":"2019-02-02 01:01:01","post_content":"Pada tahun 2014, perusahaan rokok multinasional Philip Morris Internasional Inc. merilis sebuah produk <\/span>perangkat\u00a0<\/span>
rokok<\/span><\/a>\u00a0tanpa asap, yang dipanaskan bukan dibakar atau istilahnya\u00a0<\/span>heat not burn<\/i><\/strong>\u00a0(HNB) iQOS<\/strong>. <\/span>\r\n\r\nPerangkat rokok tanpa asap dengan nama iQOS<\/a> ini berbentuk seperti bagian luar pulpen, dengan lubang di tengah untuk rokok. Produk yang berada di bawah brand Marlboro ini dapat memanaskan rokok sampai 350 derajat celcius lalu mengeluarkan uap nikotin beraroma tembakau<\/em><\/a>.<\/span>\r\n

Produk iQOS sebenarnya bukanlah produk rokok tanpa asap yang pertama muncul. Sebelumnya di tahun 1990-an, Reynolds Tobacco Co pernah merilis produk serupa bernama Eclipes yang juga dapat menguapkan nikotin setelah dinyalakan dengan korek api.<\/span><\/blockquote>\r\nSelain itu, Eclips juga dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. Namun, pada saat itu Eclips tidak diminati oleh pasar, utamanya para perokok konvensional. Meskipun Eclips dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. <\/span>\r\n\r\nBisnis semacam rokok tanpa asap seperti Eclips dan iQOS memang sudah menjadi bagian dari rencana panjang bisnis perusahaan-perusahaan rokok multinasional. Jadi tidak usah heran jika ke depannya akan kita akan banyak menemukan produk rokok tanpa asap ini.<\/span>\r\n\r\nWatak dari perusahaan multinasional memang seperti itu, mereka sangat jeli melihat peluang pasar ke depannya. Ketika market place perusahaan rokok multinasional saat ini terus dirongrong oleh kelompok antirokok, mereka tak kehabisan akal. Maka kemudian mereka menginovasi produk rokok konvensional menjadi rokok yang tidak berasap. Begitupun dengan mengikutsertakan jargon-jargon kesehatan dalam narasi promosi mereka.<\/span>\r\n\r\nSesungguhnya memang seperti itulah watak bisnis perusahaan-perusahaan multinasional, melakukan segala cara agar bisnis mereka tetap bertahan, meskipun harus merangkul musuh sekalipun. <\/span>\r\n\r\nYa kadang pura-pura berantem sama antirokok, tapi dibalik itu sebenarnya baik-baik saja, dan tentunya ada kompromi untuk terus melanggengkan bisnis mereka.<\/span>\r\n

Lalu siapa yang dirugikan dari permainan bisnis macam produk rokok tanpa asap perusahaan rokok multinasional ini?<\/span><\/h3>\r\nTentunya yang sangat dirugikan adalah produk hasil tembakau yang memiliki kekhasan seperti kretek di Indonesia. Kretek sebagai produk khas asli Indonesia yang menjadi bagian dari warisan kebudayaan tidak mungkin bertransformasi menjadi produk-produk elektrik dan sejenisnya.<\/span>\r\n\r\nKretek tetaplah kretek, dengan bahan baku alami tembakau dan cengkeh yang tidak diintervensi dengan zat atau perangkat penghantar lainnya. Karena dengan bentuk, karakter dan cara menikmatinya memang konvensional dan akan terus begitu apapun kondisi dan zamannya.<\/span>\r\n
Bisnis produk rokok tanpa asap (elektrik) juga menghajar kretek dengan mendompleng isu pengendalian tembakau. Kampanye pengendalian tembakau selalu membawa slogan bahaya merokok dan upaya untuk berhenti merokok. <\/span><\/blockquote>\r\nDari isu tersebut, rokok elektrik masuk dengan citra produk alternatif tembakau, bahkan mereka tak segan menilai bahwa rokok elektrik lebih aman ketimbang rokok konvensional, yakni kretek.<\/span>\r\n\r\nLalu jika Indonesia akan dibanjiri dengan produk-produk yang mengatasnamakan produk alternatif tembakau, macam rokok tanpa asap (iQOS dan sejenisnya), maka itulah pertanda bahwa kretek harus tergerus dari cara hidup manusia Indonesia dalam menikmati produk hasil tembakau khas Indonesia yang sudah turun-temurun lamanya dinikmati manusia Indonesia.<\/span>","post_title":"Nasib Kretek di Pusaran Pertarungan Bisnis Global Perusahaan Rokok Multinasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"nasib-kretek-di-pusaran-pertarungan-bisnis-global-perusahaan-rokok-multinasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-02 08:01:43","post_modified_gmt":"2019-02-02 01:01:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5385","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; \n

Tembakau tanaman yang khas. Ia hanya tumbuh baik sepanjang empat hingga lima bulan dalam satu tahun. Tumbuh-kembang tanaman tembakau dengan baik itu umumnya terjadi pada musim kemarau setiap tahunnya. Hanya sedikit sekali jenis tembakau yang tumbuh baik di musim penghujan, mayoritasnya, tumbuh baik pada musim kemarau.<\/p>\n\n\n\n

Jika ditanam pada musim hujan, hampir bisa dipastikan tanaman tembakau akan gagal menghasilkan daun-daun yang berkualitas. Ia akan rusak dan membusuk karena terlalu banyak terkena air sehingga daun-daun itu tak layak dijual. Jangankan bisa dijual, untuk tumbuh dengan baik pun sepertinya sulit karena musim hujan akan membunuh banyak tanaman itu.<\/p>\n\n\n\n

Maka, tak heran pada musim-musim seperti saat ini, ketika musim penghujan mendekati puncaknya, di wilayah-wilayah yang dikenal sebagai sentra pertanian tembakau, sulit menemukan pohon tembakau yang sedang tumbuh. Pada lahan-lahan yang sebelumnya ditumbuhi tanaman tembakau pada musim panas, berganti tanaman-tanaman lain yang bermacam-macam, sesuai dengan kondisi lahannya. Untuk lahan sawah, lahan-lahan itu pada musim penghujan kini ditumbuhi tanaman padi yang subur. Pada lahan tegalan dan lahan di pegunungan, lahan-lahan yang ditanami tembakau pada musim kemarau, saat ini ditumbuhi bermacam jenis tanaman mulai dari cabai, bawang, tomat, kol, terong, mentimun, dan ragam jenis tanaman semusim lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Uniknya, tipikal tanaman tembakau yang tumbuh baik di musim kemarau ini memberi pilihan lebih kepada para petani. Lahan-lahan yang sulit ditanami pada musim kemarau, pada akhirnya masih bisa tetap produktif dengan keberadaan tanaman tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Maka, kampanye aneh mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain dengan ragam rupa dalih yang membingungkan, bukan saja sama sekali tidak tepat dan asal-asalan, namun bisa jadi akan ditertawakan oleh para petani yang begitu paham dengan kondisi lahan dan terutama kondisi iklim dan cuaca. Sulit mencari tanaman semusim yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Jika pun ada, tak ada yang semenguntungkan tanaman tembakau.
<\/p>\n","post_title":"Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"keberhasilan-gerakan-anti-tembakau-tak-ada-tembakau-saat-musim-hujan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-07 12:16:02","post_modified_gmt":"2019-02-07 05:16:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5415","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5409,"post_author":"919","post_date":"2019-02-05 08:04:43","post_date_gmt":"2019-02-05 01:04:43","post_content":"\n

Tahun Baru Imlek yang merupakan tradisi Bangsa Tiongkok kini sudah tak lagi menjadi hal yang asing bagi masyarakat Indonesia. Kehadirannya sudah mewarnai dan berakulturasi dengan tradisi lokal. Menjelang Tahun Baru Imlek. Berbagai hiasan dan kemeriahan terjadi beberapa titik di Tanah Air. Perayaannya juga menjadi destinasi baru yang mengasyikkan untuk dilihat dan patut disaksikan.<\/p>\n\n\n\n

Berterimakasihlah kepada sang bapak bangsa, KH Abdurrahman Wahid atau yang dikenal dengan nama Gus Dur. Berkat kebijakannya saat menjadi Presiden Indonesia, Tahun Baru Imlek resmi dijadikan hari libur nasional dan dianggap sebagai salah satu hari raya di Tanah Air. Meski sentimen antitionghoa masih ada di sana-sini, tapi tetap tak bisa dipungkiri bahwa bangsa tionghoa sudah bersentuhan dengan budaya lokal dalam kurun waktu yang sangat panjang.<\/p>\n\n\n\n

DNA Bangsa Tionghoa yang memang merupakan pedagang menjadi pembuka kisah interaksi antara nenek moyang berbagai suku di Nusantara dengan mereka. Beberapa kelenteng-kelenteng yang tersebar pada berbagai pesisir daerah di Nusantara jadi buktinya. Pelabuhan-pelabuhan tua di tanah air dan ramainya perdagangan di pesisir mempermudah bangsa kita berhubungan dengan Bangsa Tionghoa.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Wong Kalang dan Kota Gede<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa kehadiran Bangsa Tionghoa di Nusantara tak hanya sebagai pedagang, namun juga sebagai pekerja (bahkan hingga pekerja kasar). Benny Setiono, seorang sejarahwan menyebutkan bahwa antara tahun 1760-1770 dalam jumlah yang besar memasuki nusantara melalui Kalimantan Barat. Mereka bekerja sebagai kuli pertambangan di sana dan di kemudian hari membentuk sebuah republik bernama Republik Lanfang yang konon katanya menjadi republik pertama di Asia Tenggara.<\/p>\n\n\n\n

Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Imlek dan Indonesia<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n\n\n\n

Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
<\/p>\n","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5406,"post_author":"877","post_date":"2019-02-04 08:23:48","post_date_gmt":"2019-02-04 01:23:48","post_content":"\n

Merokok itu sudah menjadi bagian dari budaya dan tradisi masyarakat, jauh sebelum Indonesia merdeka. Banyak cerita atau kisah tentang kretek <\/a><\/del>di tengah-tengah masyarakat bangsa ini, mulai sebagai alat untuk meraup keuntungan, alat komunikasi, sebagai teman sampai menjadi simbol pergerakan. <\/p>\n\n\n\n

Kretek, Simbol Perlawanan Roro Mendut<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Siapa yang tidak pernah mendengan cerita tentang Roro Mendut?, di telinga masyarakat Indonesia, kisah Roro Mendut tidak asing lagi.  Perempuan yang mempunyai paras wajah cantik, dan digandrungi kaum adam terutama kalangan putra kerajaan. Informasi kecantikan Roro Mendut tersebar seantero Nusantara, tidak satupun pria meragukan kecantikannya.  Bahkan kisah dan cerita kecantikan Roro Mendut tercatat dalam buku Babad Tanah Jawi. <\/p>\n\n\n\n

Diperkirakan pada tahun 1627, pada saat panglima perang Sultan Agung Mataram bernama Tumenggung Wiraguna berhasil menumpas pemberontakan di kota Pati, sebagai imbalanan atas keberhasilannya, mendapat hadiah wanita pujaan pria bernama Rara Mendut dari Kasultanan Agung Mataram.  Roro Mendut menolak dipinang Tumenggung Wiraguna, dan secara terang-terangan memilih pria lain dambaannya. Akibatnya, Roro Mendut harus membayar pajak setiap harinya kepada kerajaan Mataram. <\/p>\n\n\n\n

Bisa dibayangkan, betapa bingungnya Roro Mendut saat itu. Uang dari mana, ia hasilkan untuk bayar pajak tiap hari demi bisa bersama kekasihnya. Ternyata Roro Mendut tidak hanya cantik tetapi cerdas dan kreatif, bisa membaca peluang bisnis saat itu. Ide cermerlang muncul dengan berdagang\/berjualan rokok lintingan yang direkatkan dengan air ludahnya, dan sebelum menjualnya, rokok lintingan di sulut dahulu dan dihisap bekas bibir merahnya. Kemudian baru dijual ke pembeli yang berdesakan berjejer antri. <\/p>\n\n\n\n

Entah dari mana ide menjual rokok itu muncul. Yang jelas saking larisnya, kewajiban pajak Roro Mendut terpenuhi. Dan mungkin keadaannya akan lebih parah, jika saat itu Roro Mendut tidak berdagang rokok. Tidak akan terpenuhi kewajiban pajaknya. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Dengan rokok, hidup Roro Mendut terselamatkan. Adanya rokok, \u00a0Roro Mendut bebas dari belenggu kekuasaan. Berkat rokok, Roro Mendut terkengan, mengisi rubik informasi sejarah begitu kuatnya budaya merokok di \u00a0Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Pusaka Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek, Teman Perjuangan  Diponegoro<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Semasa berjuang melawan penjajah, yang harus dilakukan Diponegoro berpindah-pindah dari kota satu ke kota lain. Strategi perlawanan Diponegoro, kemudian sebagai basis strategi perang gerilya. Strategi yang menjadi idola dan kebanggaan tentara Indonesia. Dengan bergerilya, tentara Indonesia mampu mengecoh kekutan lawan yang lebih besar jumlahnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu, tenyata banyak cerita, Diponegoro saat berperang ditemani rokok. Ia dan pasukannya gemar merokok. Bahkan ketika tidak ada rokok, Pangeran Diponegoro rela hanya megunyah daun sirih yang diracik dengan kapur dan pinang. <\/p>\n\n\n\n

Kebiasaan ini, juga dialami oleh pengikut \/pasukan perang Pangeran Diponegoro. Bagi mereka, rokok teman sejati, menemani disetiap perjalanan mereka. Rokok menghilangkan depresi mereka, sebagai hiburan saat jauh dari keluarga demi berjuang melawan penjajah. Rokok menumbuhkan percaya diri mereka, lebih berani melawan penjajah walaupun hanya dengan serba keterbatasan, pasukan jumlah terbatas, alat perang terbatas dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Baca juga: Pangeran Diponegoro, Rokok Klobot dan Perlawanan Simbolis<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Jati Diri Bangsa<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Salah satu \u201cpendiri bangsa\u201d bernama KH. Agus Salim menghisap kretek dengan asapnya di kebal-kebulkan keudara, disaat ada perjamuan di Istana Buckingham ketika penobatan Elizabeth II sebagai Ratu kerajaan Inggris. Aroma khas keluar dari asap rokok kretek, tercium orang yang berada di ruang perjamuan. Sehingga memancing salah satu orang yang datang dalam perjamuan, dengan berkata; \u201ctuan sedang menghisap apa itu?\u201d.  Sentak KH. Agus Salim menjawab, \u201c inilah yang membuat nenek moyang anda sekian abad lalu datang dan kemudian menjajah negeri kami\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Jawaban KH. Agus Salim, faktanya memang benar. Rokok kretek tidak lain ada tambahan cengkeh (suzygium aromaticum<\/em>). \u00a0Tanaman legendaris menjadi rebutan dan sumber keuntungan kolonialisme Eropa atas Asia termasuk Indonesia. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Cengkeh adalah salah satu tanaman yang diperebutkan bangsa-bangsa dunia, sampai melegalkan penjajahan.  Dalam simpulan perjalanan ekspedisi cengkeh tahun 2013, Kepala Suku begitu julukan bagi Putut Ea, mengatakan \u201c jika saja tak pernah ada cengkeh dan pala di Maluku, mungkin sejarah kepulauan Nusantara ini akan berbeda sama sekali\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Simpulan Putut EA, sebagai salah satu pembenar perkataan \u00a0KH. Agus Salim. Mungkin, jika tanaman cengkeh tidak ada, fakta sejarah akan berbeda, tidak ada penjajahan di bumi Nusantara ini. <\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Mengisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek untuk Berteman dan Menjalin Persaudaraan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Teringat apa yang pernah dilakukan Menteri Sosial dan Lingkungan Hidup, saat melakukan pendekatan pada suku anak dalam di Jambi. Tidak lain ia adalah Khofifah menteri perempuan yang energik. Saat itu Khofifah bertanggungjawab dalam mengatasi masalah pendidikan dan kesejahteraan masyarakat suku anak dalam di Jambi.  <\/p>\n\n\n\n

Kebijakannya membuat fenomenal, selain bahan makanan, dan bantuan lain, khofifah juga membawa rokok.  Yang kemudian ada yang mengggugat dari anti rokok, tetapi sebagai Menteri, Khofifah tentunya sudah mengkaji secara mendalam. Dengan kecerdasannya , Khofifah menjawab dengan tegas dan lugas, \u201cjangan sok tahu kehidupan mereka, kenali apa yang menjadi ritme kehidupan mereka. Sangat bijaksana kalau kita semua pergi kesana, sehingga tahu adat istiadatnya juga. Tolong kalau ingin mengerti tentang kultur jangan hanya dari kacamata Jakarta. Saya pun ingin mengajak anda kesana, turun kesana, sapalah mereka\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Khofifah memberikan pelajaran bagi anti rokok. Tidak boleh sok tahu, apalagi selama ini antirokok hanya berasumsi, tanpa melihat fakta dilapangan. Khofifah juga menganjurkan agar lebih mengenal adat-istiadat, budaya dan tradisi masyarakat, tidak boleh melakukan hegemoni kultural, sebab keberagaman adat-istiadat dan budaya merupakan kekayaan negeri. <\/p>\n\n\n\n

Pelajaran Khofifah sangat mendalam dan bercirikhas Nusantara. Sebgaai Menteri \u00a0Sosial tentunya lebih berpengalaman apa yang dibutuhkan bangsa ini agar tetap jaya, bersatu dan utuh. Kenali perbedaan, hormati perbedaan, junjung tinggi budaya yang berbeda. \u00a0Apa yang telah dilakukan Khofifah dengan membawa rokok ke suku anak dalam adalah cermin penghormatan tradisi dan budaya masyarakat. Sebagai seorang Mentri, tentunya punya kuasa, artinya bisa seorang khofifah memberikan bantuan sesuai keinginannya sendiri, namun hal itu tidak dilakukan. Ia lebih mengedepankan penghormatan budaya masyarakat setempat, dengan membawa rokok untuk pendekatan dan pertemanan. Karena Khofifah tahu betul, bahwa merokok adalah budaya mereka, yang diwaris dari neneng moyang mereka. <\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Memilih Jalan Hidup Menikmati Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Simbol Pergerakan Nasional     <\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Abdul Rifa\u2019I dalam media bintang timur terbit pada 03 Oktober 1927, mengatakan, \u201ckopinya bukan kopi saringan, tetapi kopi tubruk sebab kopi ini katanya nationaal, gulanya gula jawa, susu tidak dipakai karena tidak nationaal. Rokoknya kelobot, selamatan natioanaal ini terus berlangsung ed sampai pagi hari\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Semangat nasionalisme harus tertanam, mengedepankan produk lokal adalah salah satu semangat nasionalime. Salah satu keberadaan rokok klobot menjadi ciri produk asli indonesia dan harus dilestarikan. Klobot sendiri adalah ramuan tembakau dan cengkeh di gulung memakai daun jagung, embrio perkembangan menjadi rokok sigaret kretek tangan dan sigaret kretek mesin.  
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pusaran Budaya Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pusaran-budaya-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-04 08:40:41","post_modified_gmt":"2019-02-04 01:40:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5406","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5403,"post_author":"919","post_date":"2019-02-03 09:05:50","post_date_gmt":"2019-02-03 02:05:50","post_content":"\n

Seringkali saya menyaksikan berbagai film baik itu Eropa atau Asia yang menggambarkan tentang masa depan. Pemandangan soal masa depan tersebut dihadirkan dengan gambaran kecanggihan teknologi seperti robot yang akan membantu kehidupan manusia, gedung-gedung yang tingginya sudah amat tak bisa ditandingi,  hingga mobil-mobil yang bisa terbang. <\/p>\n\n\n\n

Pernah dalam masa kecil saya menyaksikan sebuah film animasi buatan jepang yang mempertanyakan tentang makanan di masa depan. Dengan santai salah satu tokoh yang berasal dari masa depan itu menjawab bahwa suatu saat nanti manusia akan mengonsumsi makanan berupa pasta gigi namun dengan rasa yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa, aneh!<\/p>\n\n\n\n

Seiring waktu berjalan saya kian tumbuh dewasa dan punya kesadaran untuk memilih menjadi seorang perokok<\/a>. Saya juga melihat ada sebuah inovasi dan gambaran tentang masa depan yang hadir dalam kehidupan sekarang. Banyak memang, namun yang menyita perhatian saya adalah rokok elektrik atau yang populer disebut Vape. Konon katanya ia adalah produk inovasi untuk menjembatani kebutuhan menghisap asap dan kecanggihan masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Di awal kehadirannya Vape memang mengundang decak kekaguman saya. Bagaimana bisa sebuah mesin kecil mengeluarkan asap yang katanya lebih menyehatkan daripada rokok.<\/strong> Meski pada akhirnya teori tersebut juga bisa dibantah oleh beberapa ilmuan dunia. Tapi ada satu yang saya amati selain soal kesehatan, rokok elektrik rupanya menghadirkan kultur dan budaya baru dalam kehidupan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: LAGI-LAGI IKLAN ROKOK, KAPAN KPAI TIDAK TEBANG PILIH? <\/a><\/h4>\n\n\n\n

Kehadiran teknologi memang kerap sedikit atau benyak mengubah gaya atau kultur suatu masyarakat. Begitu pula yang saya perhatikan dengan rokok elektrik. Satu hal yang mudah diamati adalah menjamurnya toko-toko kecil yang menjual vape serta liquid di berbagai tempat. Sebagai sebuah warna baru dalam masyarakat, penggunanya ramai-ramai mengunjungi tempat tersebut berinteraksi dengan penikmat lainnya dan membangun sebuah rumah komunitas yang fleksibel.<\/p>\n\n\n\n

Meski belum bisa dikatakan memiliki jumlah penikmat yang setara dengan para perokok, pengguna Vape mulai menunjukkan eksistensinya. Selain toko yang tersebar, ragam acara juga mereka buat di beberapa daerah. Dalam lingkungan saya, beberapa teman yang dulunya merupakan perokok aktif tertarik mengikuti event tersebut dan beralih mengisap rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Nun jauh di sana, di Amerika Serikat tepatnya, budaya Vape juga sudah mulai berkembang lama ketimbang di Tanah Air. Penikmatnya terbagi menjadi dua, ada yang dulunya bekas perokok dan ada yang memang menikmatinya sebagai gaya hidup. Wajar saja mengingat facebook tak memperbolehkan iklan tembakau di platform mereka, sebaliknya iklan tentang vape justru bertebaran. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi budaya baru yang berkembang di berbagai belahan dunia bahkan di Indonesia, Vape konon menjadi alternatif yang lebih bermanfaat daripada rokok. Dalih yang diusung selalu sama kepada para perokok tradisonal yaitu soal kesehatan dan lebih irit. Soal kesehatan tentu ada beberapa pendapat para ilmuan yang membantahnya, namun soal irit, saya rasa tidak. Memang satu liquid bisa digunakan untuk beberapa Minggu, akan tetapi yang saya lihat di lapangan justru sebaliknya. <\/p>\n\n\n\n

Beberapa penikmat rokok elektrik kerap berbelanja liquid yang mereka idamkan. Terkadang, hal tersebut yang membuat mereka boros karena terus mengeksplor rasa mana yang mereka idam-idamkan. Tak jarang juga liquid dengan harga mahal hingga ratus ribuan akan mereka beli. Sebaliknya, para perokok konvensional justru kerap bertahan dengan satu rasa atau merek saja.<\/p>\n\n\n\n

Sedikit berbeda dengan penikmat rokok konvensional atau kretek. Mengingat rokok kretek sudah menjadi kebudayan lokal yang terus dipertahankan selama bertahun-tahun, kehadirannya sudah mewarnai khasanah keindonesiaan. Perokok kretek juga sudah punya soliditas luar biasa yang terbentuk sejak lama dan terus terbangun mengiringi peradaban di Indonesia atau dunia.<\/p>\n\n\n\n

Kini, perokok elektrik mulai merasakan kegelisahan. Beberapa negara mulai menerapkan peraturan ketat terhadap Vape, sedangkan di Indonesia biaya cukai pun kini mulai diberlakukan terhadap perdagangan rokok elektrik. Keberadaannya di mata negara pun mulai dianggap sama seperti rokok, meski pada awalnya rokok elektrik hadir dengan slogan-slogan produk alternatif yang lebih menyehatkan (katanya).<\/p>\n\n\n\n


Tapi jika kemudian di masa depan memang rokok elektrik yang kemudian menjadi sesuatu yang populer dan dinikmati banyak orang. Rasanya saya tetap ingin hidup di jaman ini, dengan sebatang kretek di tangan dan menikmati segala khasanah kebudayaan yang patut terus dipertahankan. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"masa-depan-rokok-elektrik-dan-semangat-alternatif-yang-sia-sia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-03 09:05:56","post_modified_gmt":"2019-02-03 02:05:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5403","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5385,"post_author":"883","post_date":"2019-02-02 08:01:01","post_date_gmt":"2019-02-02 01:01:01","post_content":"Pada tahun 2014, perusahaan rokok multinasional Philip Morris Internasional Inc. merilis sebuah produk <\/span>perangkat\u00a0<\/span>
rokok<\/span><\/a>\u00a0tanpa asap, yang dipanaskan bukan dibakar atau istilahnya\u00a0<\/span>heat not burn<\/i><\/strong>\u00a0(HNB) iQOS<\/strong>. <\/span>\r\n\r\nPerangkat rokok tanpa asap dengan nama iQOS<\/a> ini berbentuk seperti bagian luar pulpen, dengan lubang di tengah untuk rokok. Produk yang berada di bawah brand Marlboro ini dapat memanaskan rokok sampai 350 derajat celcius lalu mengeluarkan uap nikotin beraroma tembakau<\/em><\/a>.<\/span>\r\n

Produk iQOS sebenarnya bukanlah produk rokok tanpa asap yang pertama muncul. Sebelumnya di tahun 1990-an, Reynolds Tobacco Co pernah merilis produk serupa bernama Eclipes yang juga dapat menguapkan nikotin setelah dinyalakan dengan korek api.<\/span><\/blockquote>\r\nSelain itu, Eclips juga dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. Namun, pada saat itu Eclips tidak diminati oleh pasar, utamanya para perokok konvensional. Meskipun Eclips dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. <\/span>\r\n\r\nBisnis semacam rokok tanpa asap seperti Eclips dan iQOS memang sudah menjadi bagian dari rencana panjang bisnis perusahaan-perusahaan rokok multinasional. Jadi tidak usah heran jika ke depannya akan kita akan banyak menemukan produk rokok tanpa asap ini.<\/span>\r\n\r\nWatak dari perusahaan multinasional memang seperti itu, mereka sangat jeli melihat peluang pasar ke depannya. Ketika market place perusahaan rokok multinasional saat ini terus dirongrong oleh kelompok antirokok, mereka tak kehabisan akal. Maka kemudian mereka menginovasi produk rokok konvensional menjadi rokok yang tidak berasap. Begitupun dengan mengikutsertakan jargon-jargon kesehatan dalam narasi promosi mereka.<\/span>\r\n\r\nSesungguhnya memang seperti itulah watak bisnis perusahaan-perusahaan multinasional, melakukan segala cara agar bisnis mereka tetap bertahan, meskipun harus merangkul musuh sekalipun. <\/span>\r\n\r\nYa kadang pura-pura berantem sama antirokok, tapi dibalik itu sebenarnya baik-baik saja, dan tentunya ada kompromi untuk terus melanggengkan bisnis mereka.<\/span>\r\n

Lalu siapa yang dirugikan dari permainan bisnis macam produk rokok tanpa asap perusahaan rokok multinasional ini?<\/span><\/h3>\r\nTentunya yang sangat dirugikan adalah produk hasil tembakau yang memiliki kekhasan seperti kretek di Indonesia. Kretek sebagai produk khas asli Indonesia yang menjadi bagian dari warisan kebudayaan tidak mungkin bertransformasi menjadi produk-produk elektrik dan sejenisnya.<\/span>\r\n\r\nKretek tetaplah kretek, dengan bahan baku alami tembakau dan cengkeh yang tidak diintervensi dengan zat atau perangkat penghantar lainnya. Karena dengan bentuk, karakter dan cara menikmatinya memang konvensional dan akan terus begitu apapun kondisi dan zamannya.<\/span>\r\n
Bisnis produk rokok tanpa asap (elektrik) juga menghajar kretek dengan mendompleng isu pengendalian tembakau. Kampanye pengendalian tembakau selalu membawa slogan bahaya merokok dan upaya untuk berhenti merokok. <\/span><\/blockquote>\r\nDari isu tersebut, rokok elektrik masuk dengan citra produk alternatif tembakau, bahkan mereka tak segan menilai bahwa rokok elektrik lebih aman ketimbang rokok konvensional, yakni kretek.<\/span>\r\n\r\nLalu jika Indonesia akan dibanjiri dengan produk-produk yang mengatasnamakan produk alternatif tembakau, macam rokok tanpa asap (iQOS dan sejenisnya), maka itulah pertanda bahwa kretek harus tergerus dari cara hidup manusia Indonesia dalam menikmati produk hasil tembakau khas Indonesia yang sudah turun-temurun lamanya dinikmati manusia Indonesia.<\/span>","post_title":"Nasib Kretek di Pusaran Pertarungan Bisnis Global Perusahaan Rokok Multinasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"nasib-kretek-di-pusaran-pertarungan-bisnis-global-perusahaan-rokok-multinasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-02 08:01:43","post_modified_gmt":"2019-02-02 01:01:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5385","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; \n

Baca juga: Imanlah kepada Allah, Bukan Antirokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tembakau tanaman yang khas. Ia hanya tumbuh baik sepanjang empat hingga lima bulan dalam satu tahun. Tumbuh-kembang tanaman tembakau dengan baik itu umumnya terjadi pada musim kemarau setiap tahunnya. Hanya sedikit sekali jenis tembakau yang tumbuh baik di musim penghujan, mayoritasnya, tumbuh baik pada musim kemarau.<\/p>\n\n\n\n

Jika ditanam pada musim hujan, hampir bisa dipastikan tanaman tembakau akan gagal menghasilkan daun-daun yang berkualitas. Ia akan rusak dan membusuk karena terlalu banyak terkena air sehingga daun-daun itu tak layak dijual. Jangankan bisa dijual, untuk tumbuh dengan baik pun sepertinya sulit karena musim hujan akan membunuh banyak tanaman itu.<\/p>\n\n\n\n

Maka, tak heran pada musim-musim seperti saat ini, ketika musim penghujan mendekati puncaknya, di wilayah-wilayah yang dikenal sebagai sentra pertanian tembakau, sulit menemukan pohon tembakau yang sedang tumbuh. Pada lahan-lahan yang sebelumnya ditumbuhi tanaman tembakau pada musim panas, berganti tanaman-tanaman lain yang bermacam-macam, sesuai dengan kondisi lahannya. Untuk lahan sawah, lahan-lahan itu pada musim penghujan kini ditumbuhi tanaman padi yang subur. Pada lahan tegalan dan lahan di pegunungan, lahan-lahan yang ditanami tembakau pada musim kemarau, saat ini ditumbuhi bermacam jenis tanaman mulai dari cabai, bawang, tomat, kol, terong, mentimun, dan ragam jenis tanaman semusim lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Uniknya, tipikal tanaman tembakau yang tumbuh baik di musim kemarau ini memberi pilihan lebih kepada para petani. Lahan-lahan yang sulit ditanami pada musim kemarau, pada akhirnya masih bisa tetap produktif dengan keberadaan tanaman tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Maka, kampanye aneh mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain dengan ragam rupa dalih yang membingungkan, bukan saja sama sekali tidak tepat dan asal-asalan, namun bisa jadi akan ditertawakan oleh para petani yang begitu paham dengan kondisi lahan dan terutama kondisi iklim dan cuaca. Sulit mencari tanaman semusim yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Jika pun ada, tak ada yang semenguntungkan tanaman tembakau.
<\/p>\n","post_title":"Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"keberhasilan-gerakan-anti-tembakau-tak-ada-tembakau-saat-musim-hujan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-07 12:16:02","post_modified_gmt":"2019-02-07 05:16:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5415","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5409,"post_author":"919","post_date":"2019-02-05 08:04:43","post_date_gmt":"2019-02-05 01:04:43","post_content":"\n

Tahun Baru Imlek yang merupakan tradisi Bangsa Tiongkok kini sudah tak lagi menjadi hal yang asing bagi masyarakat Indonesia. Kehadirannya sudah mewarnai dan berakulturasi dengan tradisi lokal. Menjelang Tahun Baru Imlek. Berbagai hiasan dan kemeriahan terjadi beberapa titik di Tanah Air. Perayaannya juga menjadi destinasi baru yang mengasyikkan untuk dilihat dan patut disaksikan.<\/p>\n\n\n\n

Berterimakasihlah kepada sang bapak bangsa, KH Abdurrahman Wahid atau yang dikenal dengan nama Gus Dur. Berkat kebijakannya saat menjadi Presiden Indonesia, Tahun Baru Imlek resmi dijadikan hari libur nasional dan dianggap sebagai salah satu hari raya di Tanah Air. Meski sentimen antitionghoa masih ada di sana-sini, tapi tetap tak bisa dipungkiri bahwa bangsa tionghoa sudah bersentuhan dengan budaya lokal dalam kurun waktu yang sangat panjang.<\/p>\n\n\n\n

DNA Bangsa Tionghoa yang memang merupakan pedagang menjadi pembuka kisah interaksi antara nenek moyang berbagai suku di Nusantara dengan mereka. Beberapa kelenteng-kelenteng yang tersebar pada berbagai pesisir daerah di Nusantara jadi buktinya. Pelabuhan-pelabuhan tua di tanah air dan ramainya perdagangan di pesisir mempermudah bangsa kita berhubungan dengan Bangsa Tionghoa.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Wong Kalang dan Kota Gede<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa kehadiran Bangsa Tionghoa di Nusantara tak hanya sebagai pedagang, namun juga sebagai pekerja (bahkan hingga pekerja kasar). Benny Setiono, seorang sejarahwan menyebutkan bahwa antara tahun 1760-1770 dalam jumlah yang besar memasuki nusantara melalui Kalimantan Barat. Mereka bekerja sebagai kuli pertambangan di sana dan di kemudian hari membentuk sebuah republik bernama Republik Lanfang yang konon katanya menjadi republik pertama di Asia Tenggara.<\/p>\n\n\n\n

Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Imlek dan Indonesia<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n\n\n\n

Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
<\/p>\n","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5406,"post_author":"877","post_date":"2019-02-04 08:23:48","post_date_gmt":"2019-02-04 01:23:48","post_content":"\n

Merokok itu sudah menjadi bagian dari budaya dan tradisi masyarakat, jauh sebelum Indonesia merdeka. Banyak cerita atau kisah tentang kretek <\/a><\/del>di tengah-tengah masyarakat bangsa ini, mulai sebagai alat untuk meraup keuntungan, alat komunikasi, sebagai teman sampai menjadi simbol pergerakan. <\/p>\n\n\n\n

Kretek, Simbol Perlawanan Roro Mendut<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Siapa yang tidak pernah mendengan cerita tentang Roro Mendut?, di telinga masyarakat Indonesia, kisah Roro Mendut tidak asing lagi.  Perempuan yang mempunyai paras wajah cantik, dan digandrungi kaum adam terutama kalangan putra kerajaan. Informasi kecantikan Roro Mendut tersebar seantero Nusantara, tidak satupun pria meragukan kecantikannya.  Bahkan kisah dan cerita kecantikan Roro Mendut tercatat dalam buku Babad Tanah Jawi. <\/p>\n\n\n\n

Diperkirakan pada tahun 1627, pada saat panglima perang Sultan Agung Mataram bernama Tumenggung Wiraguna berhasil menumpas pemberontakan di kota Pati, sebagai imbalanan atas keberhasilannya, mendapat hadiah wanita pujaan pria bernama Rara Mendut dari Kasultanan Agung Mataram.  Roro Mendut menolak dipinang Tumenggung Wiraguna, dan secara terang-terangan memilih pria lain dambaannya. Akibatnya, Roro Mendut harus membayar pajak setiap harinya kepada kerajaan Mataram. <\/p>\n\n\n\n

Bisa dibayangkan, betapa bingungnya Roro Mendut saat itu. Uang dari mana, ia hasilkan untuk bayar pajak tiap hari demi bisa bersama kekasihnya. Ternyata Roro Mendut tidak hanya cantik tetapi cerdas dan kreatif, bisa membaca peluang bisnis saat itu. Ide cermerlang muncul dengan berdagang\/berjualan rokok lintingan yang direkatkan dengan air ludahnya, dan sebelum menjualnya, rokok lintingan di sulut dahulu dan dihisap bekas bibir merahnya. Kemudian baru dijual ke pembeli yang berdesakan berjejer antri. <\/p>\n\n\n\n

Entah dari mana ide menjual rokok itu muncul. Yang jelas saking larisnya, kewajiban pajak Roro Mendut terpenuhi. Dan mungkin keadaannya akan lebih parah, jika saat itu Roro Mendut tidak berdagang rokok. Tidak akan terpenuhi kewajiban pajaknya. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Dengan rokok, hidup Roro Mendut terselamatkan. Adanya rokok, \u00a0Roro Mendut bebas dari belenggu kekuasaan. Berkat rokok, Roro Mendut terkengan, mengisi rubik informasi sejarah begitu kuatnya budaya merokok di \u00a0Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Pusaka Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek, Teman Perjuangan  Diponegoro<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Semasa berjuang melawan penjajah, yang harus dilakukan Diponegoro berpindah-pindah dari kota satu ke kota lain. Strategi perlawanan Diponegoro, kemudian sebagai basis strategi perang gerilya. Strategi yang menjadi idola dan kebanggaan tentara Indonesia. Dengan bergerilya, tentara Indonesia mampu mengecoh kekutan lawan yang lebih besar jumlahnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu, tenyata banyak cerita, Diponegoro saat berperang ditemani rokok. Ia dan pasukannya gemar merokok. Bahkan ketika tidak ada rokok, Pangeran Diponegoro rela hanya megunyah daun sirih yang diracik dengan kapur dan pinang. <\/p>\n\n\n\n

Kebiasaan ini, juga dialami oleh pengikut \/pasukan perang Pangeran Diponegoro. Bagi mereka, rokok teman sejati, menemani disetiap perjalanan mereka. Rokok menghilangkan depresi mereka, sebagai hiburan saat jauh dari keluarga demi berjuang melawan penjajah. Rokok menumbuhkan percaya diri mereka, lebih berani melawan penjajah walaupun hanya dengan serba keterbatasan, pasukan jumlah terbatas, alat perang terbatas dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Baca juga: Pangeran Diponegoro, Rokok Klobot dan Perlawanan Simbolis<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Jati Diri Bangsa<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Salah satu \u201cpendiri bangsa\u201d bernama KH. Agus Salim menghisap kretek dengan asapnya di kebal-kebulkan keudara, disaat ada perjamuan di Istana Buckingham ketika penobatan Elizabeth II sebagai Ratu kerajaan Inggris. Aroma khas keluar dari asap rokok kretek, tercium orang yang berada di ruang perjamuan. Sehingga memancing salah satu orang yang datang dalam perjamuan, dengan berkata; \u201ctuan sedang menghisap apa itu?\u201d.  Sentak KH. Agus Salim menjawab, \u201c inilah yang membuat nenek moyang anda sekian abad lalu datang dan kemudian menjajah negeri kami\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Jawaban KH. Agus Salim, faktanya memang benar. Rokok kretek tidak lain ada tambahan cengkeh (suzygium aromaticum<\/em>). \u00a0Tanaman legendaris menjadi rebutan dan sumber keuntungan kolonialisme Eropa atas Asia termasuk Indonesia. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Cengkeh adalah salah satu tanaman yang diperebutkan bangsa-bangsa dunia, sampai melegalkan penjajahan.  Dalam simpulan perjalanan ekspedisi cengkeh tahun 2013, Kepala Suku begitu julukan bagi Putut Ea, mengatakan \u201c jika saja tak pernah ada cengkeh dan pala di Maluku, mungkin sejarah kepulauan Nusantara ini akan berbeda sama sekali\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Simpulan Putut EA, sebagai salah satu pembenar perkataan \u00a0KH. Agus Salim. Mungkin, jika tanaman cengkeh tidak ada, fakta sejarah akan berbeda, tidak ada penjajahan di bumi Nusantara ini. <\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Mengisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek untuk Berteman dan Menjalin Persaudaraan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Teringat apa yang pernah dilakukan Menteri Sosial dan Lingkungan Hidup, saat melakukan pendekatan pada suku anak dalam di Jambi. Tidak lain ia adalah Khofifah menteri perempuan yang energik. Saat itu Khofifah bertanggungjawab dalam mengatasi masalah pendidikan dan kesejahteraan masyarakat suku anak dalam di Jambi.  <\/p>\n\n\n\n

Kebijakannya membuat fenomenal, selain bahan makanan, dan bantuan lain, khofifah juga membawa rokok.  Yang kemudian ada yang mengggugat dari anti rokok, tetapi sebagai Menteri, Khofifah tentunya sudah mengkaji secara mendalam. Dengan kecerdasannya , Khofifah menjawab dengan tegas dan lugas, \u201cjangan sok tahu kehidupan mereka, kenali apa yang menjadi ritme kehidupan mereka. Sangat bijaksana kalau kita semua pergi kesana, sehingga tahu adat istiadatnya juga. Tolong kalau ingin mengerti tentang kultur jangan hanya dari kacamata Jakarta. Saya pun ingin mengajak anda kesana, turun kesana, sapalah mereka\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Khofifah memberikan pelajaran bagi anti rokok. Tidak boleh sok tahu, apalagi selama ini antirokok hanya berasumsi, tanpa melihat fakta dilapangan. Khofifah juga menganjurkan agar lebih mengenal adat-istiadat, budaya dan tradisi masyarakat, tidak boleh melakukan hegemoni kultural, sebab keberagaman adat-istiadat dan budaya merupakan kekayaan negeri. <\/p>\n\n\n\n

Pelajaran Khofifah sangat mendalam dan bercirikhas Nusantara. Sebgaai Menteri \u00a0Sosial tentunya lebih berpengalaman apa yang dibutuhkan bangsa ini agar tetap jaya, bersatu dan utuh. Kenali perbedaan, hormati perbedaan, junjung tinggi budaya yang berbeda. \u00a0Apa yang telah dilakukan Khofifah dengan membawa rokok ke suku anak dalam adalah cermin penghormatan tradisi dan budaya masyarakat. Sebagai seorang Mentri, tentunya punya kuasa, artinya bisa seorang khofifah memberikan bantuan sesuai keinginannya sendiri, namun hal itu tidak dilakukan. Ia lebih mengedepankan penghormatan budaya masyarakat setempat, dengan membawa rokok untuk pendekatan dan pertemanan. Karena Khofifah tahu betul, bahwa merokok adalah budaya mereka, yang diwaris dari neneng moyang mereka. <\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Memilih Jalan Hidup Menikmati Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Simbol Pergerakan Nasional     <\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Abdul Rifa\u2019I dalam media bintang timur terbit pada 03 Oktober 1927, mengatakan, \u201ckopinya bukan kopi saringan, tetapi kopi tubruk sebab kopi ini katanya nationaal, gulanya gula jawa, susu tidak dipakai karena tidak nationaal. Rokoknya kelobot, selamatan natioanaal ini terus berlangsung ed sampai pagi hari\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Semangat nasionalisme harus tertanam, mengedepankan produk lokal adalah salah satu semangat nasionalime. Salah satu keberadaan rokok klobot menjadi ciri produk asli indonesia dan harus dilestarikan. Klobot sendiri adalah ramuan tembakau dan cengkeh di gulung memakai daun jagung, embrio perkembangan menjadi rokok sigaret kretek tangan dan sigaret kretek mesin.  
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pusaran Budaya Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pusaran-budaya-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-04 08:40:41","post_modified_gmt":"2019-02-04 01:40:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5406","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5403,"post_author":"919","post_date":"2019-02-03 09:05:50","post_date_gmt":"2019-02-03 02:05:50","post_content":"\n

Seringkali saya menyaksikan berbagai film baik itu Eropa atau Asia yang menggambarkan tentang masa depan. Pemandangan soal masa depan tersebut dihadirkan dengan gambaran kecanggihan teknologi seperti robot yang akan membantu kehidupan manusia, gedung-gedung yang tingginya sudah amat tak bisa ditandingi,  hingga mobil-mobil yang bisa terbang. <\/p>\n\n\n\n

Pernah dalam masa kecil saya menyaksikan sebuah film animasi buatan jepang yang mempertanyakan tentang makanan di masa depan. Dengan santai salah satu tokoh yang berasal dari masa depan itu menjawab bahwa suatu saat nanti manusia akan mengonsumsi makanan berupa pasta gigi namun dengan rasa yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa, aneh!<\/p>\n\n\n\n

Seiring waktu berjalan saya kian tumbuh dewasa dan punya kesadaran untuk memilih menjadi seorang perokok<\/a>. Saya juga melihat ada sebuah inovasi dan gambaran tentang masa depan yang hadir dalam kehidupan sekarang. Banyak memang, namun yang menyita perhatian saya adalah rokok elektrik atau yang populer disebut Vape. Konon katanya ia adalah produk inovasi untuk menjembatani kebutuhan menghisap asap dan kecanggihan masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Di awal kehadirannya Vape memang mengundang decak kekaguman saya. Bagaimana bisa sebuah mesin kecil mengeluarkan asap yang katanya lebih menyehatkan daripada rokok.<\/strong> Meski pada akhirnya teori tersebut juga bisa dibantah oleh beberapa ilmuan dunia. Tapi ada satu yang saya amati selain soal kesehatan, rokok elektrik rupanya menghadirkan kultur dan budaya baru dalam kehidupan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: LAGI-LAGI IKLAN ROKOK, KAPAN KPAI TIDAK TEBANG PILIH? <\/a><\/h4>\n\n\n\n

Kehadiran teknologi memang kerap sedikit atau benyak mengubah gaya atau kultur suatu masyarakat. Begitu pula yang saya perhatikan dengan rokok elektrik. Satu hal yang mudah diamati adalah menjamurnya toko-toko kecil yang menjual vape serta liquid di berbagai tempat. Sebagai sebuah warna baru dalam masyarakat, penggunanya ramai-ramai mengunjungi tempat tersebut berinteraksi dengan penikmat lainnya dan membangun sebuah rumah komunitas yang fleksibel.<\/p>\n\n\n\n

Meski belum bisa dikatakan memiliki jumlah penikmat yang setara dengan para perokok, pengguna Vape mulai menunjukkan eksistensinya. Selain toko yang tersebar, ragam acara juga mereka buat di beberapa daerah. Dalam lingkungan saya, beberapa teman yang dulunya merupakan perokok aktif tertarik mengikuti event tersebut dan beralih mengisap rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Nun jauh di sana, di Amerika Serikat tepatnya, budaya Vape juga sudah mulai berkembang lama ketimbang di Tanah Air. Penikmatnya terbagi menjadi dua, ada yang dulunya bekas perokok dan ada yang memang menikmatinya sebagai gaya hidup. Wajar saja mengingat facebook tak memperbolehkan iklan tembakau di platform mereka, sebaliknya iklan tentang vape justru bertebaran. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi budaya baru yang berkembang di berbagai belahan dunia bahkan di Indonesia, Vape konon menjadi alternatif yang lebih bermanfaat daripada rokok. Dalih yang diusung selalu sama kepada para perokok tradisonal yaitu soal kesehatan dan lebih irit. Soal kesehatan tentu ada beberapa pendapat para ilmuan yang membantahnya, namun soal irit, saya rasa tidak. Memang satu liquid bisa digunakan untuk beberapa Minggu, akan tetapi yang saya lihat di lapangan justru sebaliknya. <\/p>\n\n\n\n

Beberapa penikmat rokok elektrik kerap berbelanja liquid yang mereka idamkan. Terkadang, hal tersebut yang membuat mereka boros karena terus mengeksplor rasa mana yang mereka idam-idamkan. Tak jarang juga liquid dengan harga mahal hingga ratus ribuan akan mereka beli. Sebaliknya, para perokok konvensional justru kerap bertahan dengan satu rasa atau merek saja.<\/p>\n\n\n\n

Sedikit berbeda dengan penikmat rokok konvensional atau kretek. Mengingat rokok kretek sudah menjadi kebudayan lokal yang terus dipertahankan selama bertahun-tahun, kehadirannya sudah mewarnai khasanah keindonesiaan. Perokok kretek juga sudah punya soliditas luar biasa yang terbentuk sejak lama dan terus terbangun mengiringi peradaban di Indonesia atau dunia.<\/p>\n\n\n\n

Kini, perokok elektrik mulai merasakan kegelisahan. Beberapa negara mulai menerapkan peraturan ketat terhadap Vape, sedangkan di Indonesia biaya cukai pun kini mulai diberlakukan terhadap perdagangan rokok elektrik. Keberadaannya di mata negara pun mulai dianggap sama seperti rokok, meski pada awalnya rokok elektrik hadir dengan slogan-slogan produk alternatif yang lebih menyehatkan (katanya).<\/p>\n\n\n\n


Tapi jika kemudian di masa depan memang rokok elektrik yang kemudian menjadi sesuatu yang populer dan dinikmati banyak orang. Rasanya saya tetap ingin hidup di jaman ini, dengan sebatang kretek di tangan dan menikmati segala khasanah kebudayaan yang patut terus dipertahankan. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"masa-depan-rokok-elektrik-dan-semangat-alternatif-yang-sia-sia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-03 09:05:56","post_modified_gmt":"2019-02-03 02:05:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5403","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5385,"post_author":"883","post_date":"2019-02-02 08:01:01","post_date_gmt":"2019-02-02 01:01:01","post_content":"Pada tahun 2014, perusahaan rokok multinasional Philip Morris Internasional Inc. merilis sebuah produk <\/span>perangkat\u00a0<\/span>
rokok<\/span><\/a>\u00a0tanpa asap, yang dipanaskan bukan dibakar atau istilahnya\u00a0<\/span>heat not burn<\/i><\/strong>\u00a0(HNB) iQOS<\/strong>. <\/span>\r\n\r\nPerangkat rokok tanpa asap dengan nama iQOS<\/a> ini berbentuk seperti bagian luar pulpen, dengan lubang di tengah untuk rokok. Produk yang berada di bawah brand Marlboro ini dapat memanaskan rokok sampai 350 derajat celcius lalu mengeluarkan uap nikotin beraroma tembakau<\/em><\/a>.<\/span>\r\n

Produk iQOS sebenarnya bukanlah produk rokok tanpa asap yang pertama muncul. Sebelumnya di tahun 1990-an, Reynolds Tobacco Co pernah merilis produk serupa bernama Eclipes yang juga dapat menguapkan nikotin setelah dinyalakan dengan korek api.<\/span><\/blockquote>\r\nSelain itu, Eclips juga dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. Namun, pada saat itu Eclips tidak diminati oleh pasar, utamanya para perokok konvensional. Meskipun Eclips dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. <\/span>\r\n\r\nBisnis semacam rokok tanpa asap seperti Eclips dan iQOS memang sudah menjadi bagian dari rencana panjang bisnis perusahaan-perusahaan rokok multinasional. Jadi tidak usah heran jika ke depannya akan kita akan banyak menemukan produk rokok tanpa asap ini.<\/span>\r\n\r\nWatak dari perusahaan multinasional memang seperti itu, mereka sangat jeli melihat peluang pasar ke depannya. Ketika market place perusahaan rokok multinasional saat ini terus dirongrong oleh kelompok antirokok, mereka tak kehabisan akal. Maka kemudian mereka menginovasi produk rokok konvensional menjadi rokok yang tidak berasap. Begitupun dengan mengikutsertakan jargon-jargon kesehatan dalam narasi promosi mereka.<\/span>\r\n\r\nSesungguhnya memang seperti itulah watak bisnis perusahaan-perusahaan multinasional, melakukan segala cara agar bisnis mereka tetap bertahan, meskipun harus merangkul musuh sekalipun. <\/span>\r\n\r\nYa kadang pura-pura berantem sama antirokok, tapi dibalik itu sebenarnya baik-baik saja, dan tentunya ada kompromi untuk terus melanggengkan bisnis mereka.<\/span>\r\n

Lalu siapa yang dirugikan dari permainan bisnis macam produk rokok tanpa asap perusahaan rokok multinasional ini?<\/span><\/h3>\r\nTentunya yang sangat dirugikan adalah produk hasil tembakau yang memiliki kekhasan seperti kretek di Indonesia. Kretek sebagai produk khas asli Indonesia yang menjadi bagian dari warisan kebudayaan tidak mungkin bertransformasi menjadi produk-produk elektrik dan sejenisnya.<\/span>\r\n\r\nKretek tetaplah kretek, dengan bahan baku alami tembakau dan cengkeh yang tidak diintervensi dengan zat atau perangkat penghantar lainnya. Karena dengan bentuk, karakter dan cara menikmatinya memang konvensional dan akan terus begitu apapun kondisi dan zamannya.<\/span>\r\n
Bisnis produk rokok tanpa asap (elektrik) juga menghajar kretek dengan mendompleng isu pengendalian tembakau. Kampanye pengendalian tembakau selalu membawa slogan bahaya merokok dan upaya untuk berhenti merokok. <\/span><\/blockquote>\r\nDari isu tersebut, rokok elektrik masuk dengan citra produk alternatif tembakau, bahkan mereka tak segan menilai bahwa rokok elektrik lebih aman ketimbang rokok konvensional, yakni kretek.<\/span>\r\n\r\nLalu jika Indonesia akan dibanjiri dengan produk-produk yang mengatasnamakan produk alternatif tembakau, macam rokok tanpa asap (iQOS dan sejenisnya), maka itulah pertanda bahwa kretek harus tergerus dari cara hidup manusia Indonesia dalam menikmati produk hasil tembakau khas Indonesia yang sudah turun-temurun lamanya dinikmati manusia Indonesia.<\/span>","post_title":"Nasib Kretek di Pusaran Pertarungan Bisnis Global Perusahaan Rokok Multinasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"nasib-kretek-di-pusaran-pertarungan-bisnis-global-perusahaan-rokok-multinasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-02 08:01:43","post_modified_gmt":"2019-02-02 01:01:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5385","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; \n

Salah satu yang selalu mereka kampanyekan dan ngotot dengan itu, terkait hulu pertanian tembakau adalah mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya. Mereka berargumen banyak tanaman lain yang bisa semenguntungkan tanaman tembakau. Keengganan mereka terjun langsung ke lapangan inilah yang membikin mereka buta dengan kondisi pertanian tembakau dan pada akhirnya terus menerus mengampanyekan pergantian tanaman tembakau dengan tanaman lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca juga: Imanlah kepada Allah, Bukan Antirokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tembakau tanaman yang khas. Ia hanya tumbuh baik sepanjang empat hingga lima bulan dalam satu tahun. Tumbuh-kembang tanaman tembakau dengan baik itu umumnya terjadi pada musim kemarau setiap tahunnya. Hanya sedikit sekali jenis tembakau yang tumbuh baik di musim penghujan, mayoritasnya, tumbuh baik pada musim kemarau.<\/p>\n\n\n\n

Jika ditanam pada musim hujan, hampir bisa dipastikan tanaman tembakau akan gagal menghasilkan daun-daun yang berkualitas. Ia akan rusak dan membusuk karena terlalu banyak terkena air sehingga daun-daun itu tak layak dijual. Jangankan bisa dijual, untuk tumbuh dengan baik pun sepertinya sulit karena musim hujan akan membunuh banyak tanaman itu.<\/p>\n\n\n\n

Maka, tak heran pada musim-musim seperti saat ini, ketika musim penghujan mendekati puncaknya, di wilayah-wilayah yang dikenal sebagai sentra pertanian tembakau, sulit menemukan pohon tembakau yang sedang tumbuh. Pada lahan-lahan yang sebelumnya ditumbuhi tanaman tembakau pada musim panas, berganti tanaman-tanaman lain yang bermacam-macam, sesuai dengan kondisi lahannya. Untuk lahan sawah, lahan-lahan itu pada musim penghujan kini ditumbuhi tanaman padi yang subur. Pada lahan tegalan dan lahan di pegunungan, lahan-lahan yang ditanami tembakau pada musim kemarau, saat ini ditumbuhi bermacam jenis tanaman mulai dari cabai, bawang, tomat, kol, terong, mentimun, dan ragam jenis tanaman semusim lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Uniknya, tipikal tanaman tembakau yang tumbuh baik di musim kemarau ini memberi pilihan lebih kepada para petani. Lahan-lahan yang sulit ditanami pada musim kemarau, pada akhirnya masih bisa tetap produktif dengan keberadaan tanaman tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Maka, kampanye aneh mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain dengan ragam rupa dalih yang membingungkan, bukan saja sama sekali tidak tepat dan asal-asalan, namun bisa jadi akan ditertawakan oleh para petani yang begitu paham dengan kondisi lahan dan terutama kondisi iklim dan cuaca. Sulit mencari tanaman semusim yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Jika pun ada, tak ada yang semenguntungkan tanaman tembakau.
<\/p>\n","post_title":"Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"keberhasilan-gerakan-anti-tembakau-tak-ada-tembakau-saat-musim-hujan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-07 12:16:02","post_modified_gmt":"2019-02-07 05:16:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5415","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5409,"post_author":"919","post_date":"2019-02-05 08:04:43","post_date_gmt":"2019-02-05 01:04:43","post_content":"\n

Tahun Baru Imlek yang merupakan tradisi Bangsa Tiongkok kini sudah tak lagi menjadi hal yang asing bagi masyarakat Indonesia. Kehadirannya sudah mewarnai dan berakulturasi dengan tradisi lokal. Menjelang Tahun Baru Imlek. Berbagai hiasan dan kemeriahan terjadi beberapa titik di Tanah Air. Perayaannya juga menjadi destinasi baru yang mengasyikkan untuk dilihat dan patut disaksikan.<\/p>\n\n\n\n

Berterimakasihlah kepada sang bapak bangsa, KH Abdurrahman Wahid atau yang dikenal dengan nama Gus Dur. Berkat kebijakannya saat menjadi Presiden Indonesia, Tahun Baru Imlek resmi dijadikan hari libur nasional dan dianggap sebagai salah satu hari raya di Tanah Air. Meski sentimen antitionghoa masih ada di sana-sini, tapi tetap tak bisa dipungkiri bahwa bangsa tionghoa sudah bersentuhan dengan budaya lokal dalam kurun waktu yang sangat panjang.<\/p>\n\n\n\n

DNA Bangsa Tionghoa yang memang merupakan pedagang menjadi pembuka kisah interaksi antara nenek moyang berbagai suku di Nusantara dengan mereka. Beberapa kelenteng-kelenteng yang tersebar pada berbagai pesisir daerah di Nusantara jadi buktinya. Pelabuhan-pelabuhan tua di tanah air dan ramainya perdagangan di pesisir mempermudah bangsa kita berhubungan dengan Bangsa Tionghoa.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Wong Kalang dan Kota Gede<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa kehadiran Bangsa Tionghoa di Nusantara tak hanya sebagai pedagang, namun juga sebagai pekerja (bahkan hingga pekerja kasar). Benny Setiono, seorang sejarahwan menyebutkan bahwa antara tahun 1760-1770 dalam jumlah yang besar memasuki nusantara melalui Kalimantan Barat. Mereka bekerja sebagai kuli pertambangan di sana dan di kemudian hari membentuk sebuah republik bernama Republik Lanfang yang konon katanya menjadi republik pertama di Asia Tenggara.<\/p>\n\n\n\n

Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Imlek dan Indonesia<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n\n\n\n

Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
<\/p>\n","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5406,"post_author":"877","post_date":"2019-02-04 08:23:48","post_date_gmt":"2019-02-04 01:23:48","post_content":"\n

Merokok itu sudah menjadi bagian dari budaya dan tradisi masyarakat, jauh sebelum Indonesia merdeka. Banyak cerita atau kisah tentang kretek <\/a><\/del>di tengah-tengah masyarakat bangsa ini, mulai sebagai alat untuk meraup keuntungan, alat komunikasi, sebagai teman sampai menjadi simbol pergerakan. <\/p>\n\n\n\n

Kretek, Simbol Perlawanan Roro Mendut<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Siapa yang tidak pernah mendengan cerita tentang Roro Mendut?, di telinga masyarakat Indonesia, kisah Roro Mendut tidak asing lagi.  Perempuan yang mempunyai paras wajah cantik, dan digandrungi kaum adam terutama kalangan putra kerajaan. Informasi kecantikan Roro Mendut tersebar seantero Nusantara, tidak satupun pria meragukan kecantikannya.  Bahkan kisah dan cerita kecantikan Roro Mendut tercatat dalam buku Babad Tanah Jawi. <\/p>\n\n\n\n

Diperkirakan pada tahun 1627, pada saat panglima perang Sultan Agung Mataram bernama Tumenggung Wiraguna berhasil menumpas pemberontakan di kota Pati, sebagai imbalanan atas keberhasilannya, mendapat hadiah wanita pujaan pria bernama Rara Mendut dari Kasultanan Agung Mataram.  Roro Mendut menolak dipinang Tumenggung Wiraguna, dan secara terang-terangan memilih pria lain dambaannya. Akibatnya, Roro Mendut harus membayar pajak setiap harinya kepada kerajaan Mataram. <\/p>\n\n\n\n

Bisa dibayangkan, betapa bingungnya Roro Mendut saat itu. Uang dari mana, ia hasilkan untuk bayar pajak tiap hari demi bisa bersama kekasihnya. Ternyata Roro Mendut tidak hanya cantik tetapi cerdas dan kreatif, bisa membaca peluang bisnis saat itu. Ide cermerlang muncul dengan berdagang\/berjualan rokok lintingan yang direkatkan dengan air ludahnya, dan sebelum menjualnya, rokok lintingan di sulut dahulu dan dihisap bekas bibir merahnya. Kemudian baru dijual ke pembeli yang berdesakan berjejer antri. <\/p>\n\n\n\n

Entah dari mana ide menjual rokok itu muncul. Yang jelas saking larisnya, kewajiban pajak Roro Mendut terpenuhi. Dan mungkin keadaannya akan lebih parah, jika saat itu Roro Mendut tidak berdagang rokok. Tidak akan terpenuhi kewajiban pajaknya. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Dengan rokok, hidup Roro Mendut terselamatkan. Adanya rokok, \u00a0Roro Mendut bebas dari belenggu kekuasaan. Berkat rokok, Roro Mendut terkengan, mengisi rubik informasi sejarah begitu kuatnya budaya merokok di \u00a0Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Pusaka Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek, Teman Perjuangan  Diponegoro<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Semasa berjuang melawan penjajah, yang harus dilakukan Diponegoro berpindah-pindah dari kota satu ke kota lain. Strategi perlawanan Diponegoro, kemudian sebagai basis strategi perang gerilya. Strategi yang menjadi idola dan kebanggaan tentara Indonesia. Dengan bergerilya, tentara Indonesia mampu mengecoh kekutan lawan yang lebih besar jumlahnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu, tenyata banyak cerita, Diponegoro saat berperang ditemani rokok. Ia dan pasukannya gemar merokok. Bahkan ketika tidak ada rokok, Pangeran Diponegoro rela hanya megunyah daun sirih yang diracik dengan kapur dan pinang. <\/p>\n\n\n\n

Kebiasaan ini, juga dialami oleh pengikut \/pasukan perang Pangeran Diponegoro. Bagi mereka, rokok teman sejati, menemani disetiap perjalanan mereka. Rokok menghilangkan depresi mereka, sebagai hiburan saat jauh dari keluarga demi berjuang melawan penjajah. Rokok menumbuhkan percaya diri mereka, lebih berani melawan penjajah walaupun hanya dengan serba keterbatasan, pasukan jumlah terbatas, alat perang terbatas dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Baca juga: Pangeran Diponegoro, Rokok Klobot dan Perlawanan Simbolis<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Jati Diri Bangsa<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Salah satu \u201cpendiri bangsa\u201d bernama KH. Agus Salim menghisap kretek dengan asapnya di kebal-kebulkan keudara, disaat ada perjamuan di Istana Buckingham ketika penobatan Elizabeth II sebagai Ratu kerajaan Inggris. Aroma khas keluar dari asap rokok kretek, tercium orang yang berada di ruang perjamuan. Sehingga memancing salah satu orang yang datang dalam perjamuan, dengan berkata; \u201ctuan sedang menghisap apa itu?\u201d.  Sentak KH. Agus Salim menjawab, \u201c inilah yang membuat nenek moyang anda sekian abad lalu datang dan kemudian menjajah negeri kami\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Jawaban KH. Agus Salim, faktanya memang benar. Rokok kretek tidak lain ada tambahan cengkeh (suzygium aromaticum<\/em>). \u00a0Tanaman legendaris menjadi rebutan dan sumber keuntungan kolonialisme Eropa atas Asia termasuk Indonesia. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Cengkeh adalah salah satu tanaman yang diperebutkan bangsa-bangsa dunia, sampai melegalkan penjajahan.  Dalam simpulan perjalanan ekspedisi cengkeh tahun 2013, Kepala Suku begitu julukan bagi Putut Ea, mengatakan \u201c jika saja tak pernah ada cengkeh dan pala di Maluku, mungkin sejarah kepulauan Nusantara ini akan berbeda sama sekali\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Simpulan Putut EA, sebagai salah satu pembenar perkataan \u00a0KH. Agus Salim. Mungkin, jika tanaman cengkeh tidak ada, fakta sejarah akan berbeda, tidak ada penjajahan di bumi Nusantara ini. <\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Mengisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek untuk Berteman dan Menjalin Persaudaraan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Teringat apa yang pernah dilakukan Menteri Sosial dan Lingkungan Hidup, saat melakukan pendekatan pada suku anak dalam di Jambi. Tidak lain ia adalah Khofifah menteri perempuan yang energik. Saat itu Khofifah bertanggungjawab dalam mengatasi masalah pendidikan dan kesejahteraan masyarakat suku anak dalam di Jambi.  <\/p>\n\n\n\n

Kebijakannya membuat fenomenal, selain bahan makanan, dan bantuan lain, khofifah juga membawa rokok.  Yang kemudian ada yang mengggugat dari anti rokok, tetapi sebagai Menteri, Khofifah tentunya sudah mengkaji secara mendalam. Dengan kecerdasannya , Khofifah menjawab dengan tegas dan lugas, \u201cjangan sok tahu kehidupan mereka, kenali apa yang menjadi ritme kehidupan mereka. Sangat bijaksana kalau kita semua pergi kesana, sehingga tahu adat istiadatnya juga. Tolong kalau ingin mengerti tentang kultur jangan hanya dari kacamata Jakarta. Saya pun ingin mengajak anda kesana, turun kesana, sapalah mereka\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Khofifah memberikan pelajaran bagi anti rokok. Tidak boleh sok tahu, apalagi selama ini antirokok hanya berasumsi, tanpa melihat fakta dilapangan. Khofifah juga menganjurkan agar lebih mengenal adat-istiadat, budaya dan tradisi masyarakat, tidak boleh melakukan hegemoni kultural, sebab keberagaman adat-istiadat dan budaya merupakan kekayaan negeri. <\/p>\n\n\n\n

Pelajaran Khofifah sangat mendalam dan bercirikhas Nusantara. Sebgaai Menteri \u00a0Sosial tentunya lebih berpengalaman apa yang dibutuhkan bangsa ini agar tetap jaya, bersatu dan utuh. Kenali perbedaan, hormati perbedaan, junjung tinggi budaya yang berbeda. \u00a0Apa yang telah dilakukan Khofifah dengan membawa rokok ke suku anak dalam adalah cermin penghormatan tradisi dan budaya masyarakat. Sebagai seorang Mentri, tentunya punya kuasa, artinya bisa seorang khofifah memberikan bantuan sesuai keinginannya sendiri, namun hal itu tidak dilakukan. Ia lebih mengedepankan penghormatan budaya masyarakat setempat, dengan membawa rokok untuk pendekatan dan pertemanan. Karena Khofifah tahu betul, bahwa merokok adalah budaya mereka, yang diwaris dari neneng moyang mereka. <\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Memilih Jalan Hidup Menikmati Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Simbol Pergerakan Nasional     <\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Abdul Rifa\u2019I dalam media bintang timur terbit pada 03 Oktober 1927, mengatakan, \u201ckopinya bukan kopi saringan, tetapi kopi tubruk sebab kopi ini katanya nationaal, gulanya gula jawa, susu tidak dipakai karena tidak nationaal. Rokoknya kelobot, selamatan natioanaal ini terus berlangsung ed sampai pagi hari\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Semangat nasionalisme harus tertanam, mengedepankan produk lokal adalah salah satu semangat nasionalime. Salah satu keberadaan rokok klobot menjadi ciri produk asli indonesia dan harus dilestarikan. Klobot sendiri adalah ramuan tembakau dan cengkeh di gulung memakai daun jagung, embrio perkembangan menjadi rokok sigaret kretek tangan dan sigaret kretek mesin.  
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pusaran Budaya Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pusaran-budaya-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-04 08:40:41","post_modified_gmt":"2019-02-04 01:40:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5406","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5403,"post_author":"919","post_date":"2019-02-03 09:05:50","post_date_gmt":"2019-02-03 02:05:50","post_content":"\n

Seringkali saya menyaksikan berbagai film baik itu Eropa atau Asia yang menggambarkan tentang masa depan. Pemandangan soal masa depan tersebut dihadirkan dengan gambaran kecanggihan teknologi seperti robot yang akan membantu kehidupan manusia, gedung-gedung yang tingginya sudah amat tak bisa ditandingi,  hingga mobil-mobil yang bisa terbang. <\/p>\n\n\n\n

Pernah dalam masa kecil saya menyaksikan sebuah film animasi buatan jepang yang mempertanyakan tentang makanan di masa depan. Dengan santai salah satu tokoh yang berasal dari masa depan itu menjawab bahwa suatu saat nanti manusia akan mengonsumsi makanan berupa pasta gigi namun dengan rasa yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa, aneh!<\/p>\n\n\n\n

Seiring waktu berjalan saya kian tumbuh dewasa dan punya kesadaran untuk memilih menjadi seorang perokok<\/a>. Saya juga melihat ada sebuah inovasi dan gambaran tentang masa depan yang hadir dalam kehidupan sekarang. Banyak memang, namun yang menyita perhatian saya adalah rokok elektrik atau yang populer disebut Vape. Konon katanya ia adalah produk inovasi untuk menjembatani kebutuhan menghisap asap dan kecanggihan masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Di awal kehadirannya Vape memang mengundang decak kekaguman saya. Bagaimana bisa sebuah mesin kecil mengeluarkan asap yang katanya lebih menyehatkan daripada rokok.<\/strong> Meski pada akhirnya teori tersebut juga bisa dibantah oleh beberapa ilmuan dunia. Tapi ada satu yang saya amati selain soal kesehatan, rokok elektrik rupanya menghadirkan kultur dan budaya baru dalam kehidupan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: LAGI-LAGI IKLAN ROKOK, KAPAN KPAI TIDAK TEBANG PILIH? <\/a><\/h4>\n\n\n\n

Kehadiran teknologi memang kerap sedikit atau benyak mengubah gaya atau kultur suatu masyarakat. Begitu pula yang saya perhatikan dengan rokok elektrik. Satu hal yang mudah diamati adalah menjamurnya toko-toko kecil yang menjual vape serta liquid di berbagai tempat. Sebagai sebuah warna baru dalam masyarakat, penggunanya ramai-ramai mengunjungi tempat tersebut berinteraksi dengan penikmat lainnya dan membangun sebuah rumah komunitas yang fleksibel.<\/p>\n\n\n\n

Meski belum bisa dikatakan memiliki jumlah penikmat yang setara dengan para perokok, pengguna Vape mulai menunjukkan eksistensinya. Selain toko yang tersebar, ragam acara juga mereka buat di beberapa daerah. Dalam lingkungan saya, beberapa teman yang dulunya merupakan perokok aktif tertarik mengikuti event tersebut dan beralih mengisap rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Nun jauh di sana, di Amerika Serikat tepatnya, budaya Vape juga sudah mulai berkembang lama ketimbang di Tanah Air. Penikmatnya terbagi menjadi dua, ada yang dulunya bekas perokok dan ada yang memang menikmatinya sebagai gaya hidup. Wajar saja mengingat facebook tak memperbolehkan iklan tembakau di platform mereka, sebaliknya iklan tentang vape justru bertebaran. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi budaya baru yang berkembang di berbagai belahan dunia bahkan di Indonesia, Vape konon menjadi alternatif yang lebih bermanfaat daripada rokok. Dalih yang diusung selalu sama kepada para perokok tradisonal yaitu soal kesehatan dan lebih irit. Soal kesehatan tentu ada beberapa pendapat para ilmuan yang membantahnya, namun soal irit, saya rasa tidak. Memang satu liquid bisa digunakan untuk beberapa Minggu, akan tetapi yang saya lihat di lapangan justru sebaliknya. <\/p>\n\n\n\n

Beberapa penikmat rokok elektrik kerap berbelanja liquid yang mereka idamkan. Terkadang, hal tersebut yang membuat mereka boros karena terus mengeksplor rasa mana yang mereka idam-idamkan. Tak jarang juga liquid dengan harga mahal hingga ratus ribuan akan mereka beli. Sebaliknya, para perokok konvensional justru kerap bertahan dengan satu rasa atau merek saja.<\/p>\n\n\n\n

Sedikit berbeda dengan penikmat rokok konvensional atau kretek. Mengingat rokok kretek sudah menjadi kebudayan lokal yang terus dipertahankan selama bertahun-tahun, kehadirannya sudah mewarnai khasanah keindonesiaan. Perokok kretek juga sudah punya soliditas luar biasa yang terbentuk sejak lama dan terus terbangun mengiringi peradaban di Indonesia atau dunia.<\/p>\n\n\n\n

Kini, perokok elektrik mulai merasakan kegelisahan. Beberapa negara mulai menerapkan peraturan ketat terhadap Vape, sedangkan di Indonesia biaya cukai pun kini mulai diberlakukan terhadap perdagangan rokok elektrik. Keberadaannya di mata negara pun mulai dianggap sama seperti rokok, meski pada awalnya rokok elektrik hadir dengan slogan-slogan produk alternatif yang lebih menyehatkan (katanya).<\/p>\n\n\n\n


Tapi jika kemudian di masa depan memang rokok elektrik yang kemudian menjadi sesuatu yang populer dan dinikmati banyak orang. Rasanya saya tetap ingin hidup di jaman ini, dengan sebatang kretek di tangan dan menikmati segala khasanah kebudayaan yang patut terus dipertahankan. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"masa-depan-rokok-elektrik-dan-semangat-alternatif-yang-sia-sia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-03 09:05:56","post_modified_gmt":"2019-02-03 02:05:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5403","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5385,"post_author":"883","post_date":"2019-02-02 08:01:01","post_date_gmt":"2019-02-02 01:01:01","post_content":"Pada tahun 2014, perusahaan rokok multinasional Philip Morris Internasional Inc. merilis sebuah produk <\/span>perangkat\u00a0<\/span>
rokok<\/span><\/a>\u00a0tanpa asap, yang dipanaskan bukan dibakar atau istilahnya\u00a0<\/span>heat not burn<\/i><\/strong>\u00a0(HNB) iQOS<\/strong>. <\/span>\r\n\r\nPerangkat rokok tanpa asap dengan nama iQOS<\/a> ini berbentuk seperti bagian luar pulpen, dengan lubang di tengah untuk rokok. Produk yang berada di bawah brand Marlboro ini dapat memanaskan rokok sampai 350 derajat celcius lalu mengeluarkan uap nikotin beraroma tembakau<\/em><\/a>.<\/span>\r\n

Produk iQOS sebenarnya bukanlah produk rokok tanpa asap yang pertama muncul. Sebelumnya di tahun 1990-an, Reynolds Tobacco Co pernah merilis produk serupa bernama Eclipes yang juga dapat menguapkan nikotin setelah dinyalakan dengan korek api.<\/span><\/blockquote>\r\nSelain itu, Eclips juga dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. Namun, pada saat itu Eclips tidak diminati oleh pasar, utamanya para perokok konvensional. Meskipun Eclips dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. <\/span>\r\n\r\nBisnis semacam rokok tanpa asap seperti Eclips dan iQOS memang sudah menjadi bagian dari rencana panjang bisnis perusahaan-perusahaan rokok multinasional. Jadi tidak usah heran jika ke depannya akan kita akan banyak menemukan produk rokok tanpa asap ini.<\/span>\r\n\r\nWatak dari perusahaan multinasional memang seperti itu, mereka sangat jeli melihat peluang pasar ke depannya. Ketika market place perusahaan rokok multinasional saat ini terus dirongrong oleh kelompok antirokok, mereka tak kehabisan akal. Maka kemudian mereka menginovasi produk rokok konvensional menjadi rokok yang tidak berasap. Begitupun dengan mengikutsertakan jargon-jargon kesehatan dalam narasi promosi mereka.<\/span>\r\n\r\nSesungguhnya memang seperti itulah watak bisnis perusahaan-perusahaan multinasional, melakukan segala cara agar bisnis mereka tetap bertahan, meskipun harus merangkul musuh sekalipun. <\/span>\r\n\r\nYa kadang pura-pura berantem sama antirokok, tapi dibalik itu sebenarnya baik-baik saja, dan tentunya ada kompromi untuk terus melanggengkan bisnis mereka.<\/span>\r\n

Lalu siapa yang dirugikan dari permainan bisnis macam produk rokok tanpa asap perusahaan rokok multinasional ini?<\/span><\/h3>\r\nTentunya yang sangat dirugikan adalah produk hasil tembakau yang memiliki kekhasan seperti kretek di Indonesia. Kretek sebagai produk khas asli Indonesia yang menjadi bagian dari warisan kebudayaan tidak mungkin bertransformasi menjadi produk-produk elektrik dan sejenisnya.<\/span>\r\n\r\nKretek tetaplah kretek, dengan bahan baku alami tembakau dan cengkeh yang tidak diintervensi dengan zat atau perangkat penghantar lainnya. Karena dengan bentuk, karakter dan cara menikmatinya memang konvensional dan akan terus begitu apapun kondisi dan zamannya.<\/span>\r\n
Bisnis produk rokok tanpa asap (elektrik) juga menghajar kretek dengan mendompleng isu pengendalian tembakau. Kampanye pengendalian tembakau selalu membawa slogan bahaya merokok dan upaya untuk berhenti merokok. <\/span><\/blockquote>\r\nDari isu tersebut, rokok elektrik masuk dengan citra produk alternatif tembakau, bahkan mereka tak segan menilai bahwa rokok elektrik lebih aman ketimbang rokok konvensional, yakni kretek.<\/span>\r\n\r\nLalu jika Indonesia akan dibanjiri dengan produk-produk yang mengatasnamakan produk alternatif tembakau, macam rokok tanpa asap (iQOS dan sejenisnya), maka itulah pertanda bahwa kretek harus tergerus dari cara hidup manusia Indonesia dalam menikmati produk hasil tembakau khas Indonesia yang sudah turun-temurun lamanya dinikmati manusia Indonesia.<\/span>","post_title":"Nasib Kretek di Pusaran Pertarungan Bisnis Global Perusahaan Rokok Multinasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"nasib-kretek-di-pusaran-pertarungan-bisnis-global-perusahaan-rokok-multinasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-02 08:01:43","post_modified_gmt":"2019-02-02 01:01:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5385","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; \n

Fenomena ini membikin kita tak bisa melihat mereka para anti-rokok kecele lalu menertawakan mereka.<\/strong> Fenomena keengganan terjun langsung ke lapangan terlebih mencoba mendengar mereka yang tetap menanam tembakau, juga menjalani keseharian dalam waktu cukup lama bersama petani tembakau inilah yang saya kira menjadikan mereka tetap keras kepala untuk anti-rokok dan anti-tembakau. Karena jika mereka mau melakukan itu, saya yakin mereka semua tidak akan begitu kaku dalam memandang pertanian tembakau dan produk hasil industri tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu yang selalu mereka kampanyekan dan ngotot dengan itu, terkait hulu pertanian tembakau adalah mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya. Mereka berargumen banyak tanaman lain yang bisa semenguntungkan tanaman tembakau. Keengganan mereka terjun langsung ke lapangan inilah yang membikin mereka buta dengan kondisi pertanian tembakau dan pada akhirnya terus menerus mengampanyekan pergantian tanaman tembakau dengan tanaman lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca juga: Imanlah kepada Allah, Bukan Antirokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tembakau tanaman yang khas. Ia hanya tumbuh baik sepanjang empat hingga lima bulan dalam satu tahun. Tumbuh-kembang tanaman tembakau dengan baik itu umumnya terjadi pada musim kemarau setiap tahunnya. Hanya sedikit sekali jenis tembakau yang tumbuh baik di musim penghujan, mayoritasnya, tumbuh baik pada musim kemarau.<\/p>\n\n\n\n

Jika ditanam pada musim hujan, hampir bisa dipastikan tanaman tembakau akan gagal menghasilkan daun-daun yang berkualitas. Ia akan rusak dan membusuk karena terlalu banyak terkena air sehingga daun-daun itu tak layak dijual. Jangankan bisa dijual, untuk tumbuh dengan baik pun sepertinya sulit karena musim hujan akan membunuh banyak tanaman itu.<\/p>\n\n\n\n

Maka, tak heran pada musim-musim seperti saat ini, ketika musim penghujan mendekati puncaknya, di wilayah-wilayah yang dikenal sebagai sentra pertanian tembakau, sulit menemukan pohon tembakau yang sedang tumbuh. Pada lahan-lahan yang sebelumnya ditumbuhi tanaman tembakau pada musim panas, berganti tanaman-tanaman lain yang bermacam-macam, sesuai dengan kondisi lahannya. Untuk lahan sawah, lahan-lahan itu pada musim penghujan kini ditumbuhi tanaman padi yang subur. Pada lahan tegalan dan lahan di pegunungan, lahan-lahan yang ditanami tembakau pada musim kemarau, saat ini ditumbuhi bermacam jenis tanaman mulai dari cabai, bawang, tomat, kol, terong, mentimun, dan ragam jenis tanaman semusim lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Uniknya, tipikal tanaman tembakau yang tumbuh baik di musim kemarau ini memberi pilihan lebih kepada para petani. Lahan-lahan yang sulit ditanami pada musim kemarau, pada akhirnya masih bisa tetap produktif dengan keberadaan tanaman tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Maka, kampanye aneh mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain dengan ragam rupa dalih yang membingungkan, bukan saja sama sekali tidak tepat dan asal-asalan, namun bisa jadi akan ditertawakan oleh para petani yang begitu paham dengan kondisi lahan dan terutama kondisi iklim dan cuaca. Sulit mencari tanaman semusim yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Jika pun ada, tak ada yang semenguntungkan tanaman tembakau.
<\/p>\n","post_title":"Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"keberhasilan-gerakan-anti-tembakau-tak-ada-tembakau-saat-musim-hujan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-07 12:16:02","post_modified_gmt":"2019-02-07 05:16:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5415","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5409,"post_author":"919","post_date":"2019-02-05 08:04:43","post_date_gmt":"2019-02-05 01:04:43","post_content":"\n

Tahun Baru Imlek yang merupakan tradisi Bangsa Tiongkok kini sudah tak lagi menjadi hal yang asing bagi masyarakat Indonesia. Kehadirannya sudah mewarnai dan berakulturasi dengan tradisi lokal. Menjelang Tahun Baru Imlek. Berbagai hiasan dan kemeriahan terjadi beberapa titik di Tanah Air. Perayaannya juga menjadi destinasi baru yang mengasyikkan untuk dilihat dan patut disaksikan.<\/p>\n\n\n\n

Berterimakasihlah kepada sang bapak bangsa, KH Abdurrahman Wahid atau yang dikenal dengan nama Gus Dur. Berkat kebijakannya saat menjadi Presiden Indonesia, Tahun Baru Imlek resmi dijadikan hari libur nasional dan dianggap sebagai salah satu hari raya di Tanah Air. Meski sentimen antitionghoa masih ada di sana-sini, tapi tetap tak bisa dipungkiri bahwa bangsa tionghoa sudah bersentuhan dengan budaya lokal dalam kurun waktu yang sangat panjang.<\/p>\n\n\n\n

DNA Bangsa Tionghoa yang memang merupakan pedagang menjadi pembuka kisah interaksi antara nenek moyang berbagai suku di Nusantara dengan mereka. Beberapa kelenteng-kelenteng yang tersebar pada berbagai pesisir daerah di Nusantara jadi buktinya. Pelabuhan-pelabuhan tua di tanah air dan ramainya perdagangan di pesisir mempermudah bangsa kita berhubungan dengan Bangsa Tionghoa.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Wong Kalang dan Kota Gede<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa kehadiran Bangsa Tionghoa di Nusantara tak hanya sebagai pedagang, namun juga sebagai pekerja (bahkan hingga pekerja kasar). Benny Setiono, seorang sejarahwan menyebutkan bahwa antara tahun 1760-1770 dalam jumlah yang besar memasuki nusantara melalui Kalimantan Barat. Mereka bekerja sebagai kuli pertambangan di sana dan di kemudian hari membentuk sebuah republik bernama Republik Lanfang yang konon katanya menjadi republik pertama di Asia Tenggara.<\/p>\n\n\n\n

Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Imlek dan Indonesia<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n\n\n\n

Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
<\/p>\n","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5406,"post_author":"877","post_date":"2019-02-04 08:23:48","post_date_gmt":"2019-02-04 01:23:48","post_content":"\n

Merokok itu sudah menjadi bagian dari budaya dan tradisi masyarakat, jauh sebelum Indonesia merdeka. Banyak cerita atau kisah tentang kretek <\/a><\/del>di tengah-tengah masyarakat bangsa ini, mulai sebagai alat untuk meraup keuntungan, alat komunikasi, sebagai teman sampai menjadi simbol pergerakan. <\/p>\n\n\n\n

Kretek, Simbol Perlawanan Roro Mendut<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Siapa yang tidak pernah mendengan cerita tentang Roro Mendut?, di telinga masyarakat Indonesia, kisah Roro Mendut tidak asing lagi.  Perempuan yang mempunyai paras wajah cantik, dan digandrungi kaum adam terutama kalangan putra kerajaan. Informasi kecantikan Roro Mendut tersebar seantero Nusantara, tidak satupun pria meragukan kecantikannya.  Bahkan kisah dan cerita kecantikan Roro Mendut tercatat dalam buku Babad Tanah Jawi. <\/p>\n\n\n\n

Diperkirakan pada tahun 1627, pada saat panglima perang Sultan Agung Mataram bernama Tumenggung Wiraguna berhasil menumpas pemberontakan di kota Pati, sebagai imbalanan atas keberhasilannya, mendapat hadiah wanita pujaan pria bernama Rara Mendut dari Kasultanan Agung Mataram.  Roro Mendut menolak dipinang Tumenggung Wiraguna, dan secara terang-terangan memilih pria lain dambaannya. Akibatnya, Roro Mendut harus membayar pajak setiap harinya kepada kerajaan Mataram. <\/p>\n\n\n\n

Bisa dibayangkan, betapa bingungnya Roro Mendut saat itu. Uang dari mana, ia hasilkan untuk bayar pajak tiap hari demi bisa bersama kekasihnya. Ternyata Roro Mendut tidak hanya cantik tetapi cerdas dan kreatif, bisa membaca peluang bisnis saat itu. Ide cermerlang muncul dengan berdagang\/berjualan rokok lintingan yang direkatkan dengan air ludahnya, dan sebelum menjualnya, rokok lintingan di sulut dahulu dan dihisap bekas bibir merahnya. Kemudian baru dijual ke pembeli yang berdesakan berjejer antri. <\/p>\n\n\n\n

Entah dari mana ide menjual rokok itu muncul. Yang jelas saking larisnya, kewajiban pajak Roro Mendut terpenuhi. Dan mungkin keadaannya akan lebih parah, jika saat itu Roro Mendut tidak berdagang rokok. Tidak akan terpenuhi kewajiban pajaknya. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Dengan rokok, hidup Roro Mendut terselamatkan. Adanya rokok, \u00a0Roro Mendut bebas dari belenggu kekuasaan. Berkat rokok, Roro Mendut terkengan, mengisi rubik informasi sejarah begitu kuatnya budaya merokok di \u00a0Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Pusaka Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek, Teman Perjuangan  Diponegoro<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Semasa berjuang melawan penjajah, yang harus dilakukan Diponegoro berpindah-pindah dari kota satu ke kota lain. Strategi perlawanan Diponegoro, kemudian sebagai basis strategi perang gerilya. Strategi yang menjadi idola dan kebanggaan tentara Indonesia. Dengan bergerilya, tentara Indonesia mampu mengecoh kekutan lawan yang lebih besar jumlahnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu, tenyata banyak cerita, Diponegoro saat berperang ditemani rokok. Ia dan pasukannya gemar merokok. Bahkan ketika tidak ada rokok, Pangeran Diponegoro rela hanya megunyah daun sirih yang diracik dengan kapur dan pinang. <\/p>\n\n\n\n

Kebiasaan ini, juga dialami oleh pengikut \/pasukan perang Pangeran Diponegoro. Bagi mereka, rokok teman sejati, menemani disetiap perjalanan mereka. Rokok menghilangkan depresi mereka, sebagai hiburan saat jauh dari keluarga demi berjuang melawan penjajah. Rokok menumbuhkan percaya diri mereka, lebih berani melawan penjajah walaupun hanya dengan serba keterbatasan, pasukan jumlah terbatas, alat perang terbatas dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Baca juga: Pangeran Diponegoro, Rokok Klobot dan Perlawanan Simbolis<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Jati Diri Bangsa<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Salah satu \u201cpendiri bangsa\u201d bernama KH. Agus Salim menghisap kretek dengan asapnya di kebal-kebulkan keudara, disaat ada perjamuan di Istana Buckingham ketika penobatan Elizabeth II sebagai Ratu kerajaan Inggris. Aroma khas keluar dari asap rokok kretek, tercium orang yang berada di ruang perjamuan. Sehingga memancing salah satu orang yang datang dalam perjamuan, dengan berkata; \u201ctuan sedang menghisap apa itu?\u201d.  Sentak KH. Agus Salim menjawab, \u201c inilah yang membuat nenek moyang anda sekian abad lalu datang dan kemudian menjajah negeri kami\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Jawaban KH. Agus Salim, faktanya memang benar. Rokok kretek tidak lain ada tambahan cengkeh (suzygium aromaticum<\/em>). \u00a0Tanaman legendaris menjadi rebutan dan sumber keuntungan kolonialisme Eropa atas Asia termasuk Indonesia. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Cengkeh adalah salah satu tanaman yang diperebutkan bangsa-bangsa dunia, sampai melegalkan penjajahan.  Dalam simpulan perjalanan ekspedisi cengkeh tahun 2013, Kepala Suku begitu julukan bagi Putut Ea, mengatakan \u201c jika saja tak pernah ada cengkeh dan pala di Maluku, mungkin sejarah kepulauan Nusantara ini akan berbeda sama sekali\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Simpulan Putut EA, sebagai salah satu pembenar perkataan \u00a0KH. Agus Salim. Mungkin, jika tanaman cengkeh tidak ada, fakta sejarah akan berbeda, tidak ada penjajahan di bumi Nusantara ini. <\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Mengisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek untuk Berteman dan Menjalin Persaudaraan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Teringat apa yang pernah dilakukan Menteri Sosial dan Lingkungan Hidup, saat melakukan pendekatan pada suku anak dalam di Jambi. Tidak lain ia adalah Khofifah menteri perempuan yang energik. Saat itu Khofifah bertanggungjawab dalam mengatasi masalah pendidikan dan kesejahteraan masyarakat suku anak dalam di Jambi.  <\/p>\n\n\n\n

Kebijakannya membuat fenomenal, selain bahan makanan, dan bantuan lain, khofifah juga membawa rokok.  Yang kemudian ada yang mengggugat dari anti rokok, tetapi sebagai Menteri, Khofifah tentunya sudah mengkaji secara mendalam. Dengan kecerdasannya , Khofifah menjawab dengan tegas dan lugas, \u201cjangan sok tahu kehidupan mereka, kenali apa yang menjadi ritme kehidupan mereka. Sangat bijaksana kalau kita semua pergi kesana, sehingga tahu adat istiadatnya juga. Tolong kalau ingin mengerti tentang kultur jangan hanya dari kacamata Jakarta. Saya pun ingin mengajak anda kesana, turun kesana, sapalah mereka\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Khofifah memberikan pelajaran bagi anti rokok. Tidak boleh sok tahu, apalagi selama ini antirokok hanya berasumsi, tanpa melihat fakta dilapangan. Khofifah juga menganjurkan agar lebih mengenal adat-istiadat, budaya dan tradisi masyarakat, tidak boleh melakukan hegemoni kultural, sebab keberagaman adat-istiadat dan budaya merupakan kekayaan negeri. <\/p>\n\n\n\n

Pelajaran Khofifah sangat mendalam dan bercirikhas Nusantara. Sebgaai Menteri \u00a0Sosial tentunya lebih berpengalaman apa yang dibutuhkan bangsa ini agar tetap jaya, bersatu dan utuh. Kenali perbedaan, hormati perbedaan, junjung tinggi budaya yang berbeda. \u00a0Apa yang telah dilakukan Khofifah dengan membawa rokok ke suku anak dalam adalah cermin penghormatan tradisi dan budaya masyarakat. Sebagai seorang Mentri, tentunya punya kuasa, artinya bisa seorang khofifah memberikan bantuan sesuai keinginannya sendiri, namun hal itu tidak dilakukan. Ia lebih mengedepankan penghormatan budaya masyarakat setempat, dengan membawa rokok untuk pendekatan dan pertemanan. Karena Khofifah tahu betul, bahwa merokok adalah budaya mereka, yang diwaris dari neneng moyang mereka. <\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Memilih Jalan Hidup Menikmati Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Simbol Pergerakan Nasional     <\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Abdul Rifa\u2019I dalam media bintang timur terbit pada 03 Oktober 1927, mengatakan, \u201ckopinya bukan kopi saringan, tetapi kopi tubruk sebab kopi ini katanya nationaal, gulanya gula jawa, susu tidak dipakai karena tidak nationaal. Rokoknya kelobot, selamatan natioanaal ini terus berlangsung ed sampai pagi hari\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Semangat nasionalisme harus tertanam, mengedepankan produk lokal adalah salah satu semangat nasionalime. Salah satu keberadaan rokok klobot menjadi ciri produk asli indonesia dan harus dilestarikan. Klobot sendiri adalah ramuan tembakau dan cengkeh di gulung memakai daun jagung, embrio perkembangan menjadi rokok sigaret kretek tangan dan sigaret kretek mesin.  
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pusaran Budaya Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pusaran-budaya-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-04 08:40:41","post_modified_gmt":"2019-02-04 01:40:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5406","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5403,"post_author":"919","post_date":"2019-02-03 09:05:50","post_date_gmt":"2019-02-03 02:05:50","post_content":"\n

Seringkali saya menyaksikan berbagai film baik itu Eropa atau Asia yang menggambarkan tentang masa depan. Pemandangan soal masa depan tersebut dihadirkan dengan gambaran kecanggihan teknologi seperti robot yang akan membantu kehidupan manusia, gedung-gedung yang tingginya sudah amat tak bisa ditandingi,  hingga mobil-mobil yang bisa terbang. <\/p>\n\n\n\n

Pernah dalam masa kecil saya menyaksikan sebuah film animasi buatan jepang yang mempertanyakan tentang makanan di masa depan. Dengan santai salah satu tokoh yang berasal dari masa depan itu menjawab bahwa suatu saat nanti manusia akan mengonsumsi makanan berupa pasta gigi namun dengan rasa yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa, aneh!<\/p>\n\n\n\n

Seiring waktu berjalan saya kian tumbuh dewasa dan punya kesadaran untuk memilih menjadi seorang perokok<\/a>. Saya juga melihat ada sebuah inovasi dan gambaran tentang masa depan yang hadir dalam kehidupan sekarang. Banyak memang, namun yang menyita perhatian saya adalah rokok elektrik atau yang populer disebut Vape. Konon katanya ia adalah produk inovasi untuk menjembatani kebutuhan menghisap asap dan kecanggihan masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Di awal kehadirannya Vape memang mengundang decak kekaguman saya. Bagaimana bisa sebuah mesin kecil mengeluarkan asap yang katanya lebih menyehatkan daripada rokok.<\/strong> Meski pada akhirnya teori tersebut juga bisa dibantah oleh beberapa ilmuan dunia. Tapi ada satu yang saya amati selain soal kesehatan, rokok elektrik rupanya menghadirkan kultur dan budaya baru dalam kehidupan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: LAGI-LAGI IKLAN ROKOK, KAPAN KPAI TIDAK TEBANG PILIH? <\/a><\/h4>\n\n\n\n

Kehadiran teknologi memang kerap sedikit atau benyak mengubah gaya atau kultur suatu masyarakat. Begitu pula yang saya perhatikan dengan rokok elektrik. Satu hal yang mudah diamati adalah menjamurnya toko-toko kecil yang menjual vape serta liquid di berbagai tempat. Sebagai sebuah warna baru dalam masyarakat, penggunanya ramai-ramai mengunjungi tempat tersebut berinteraksi dengan penikmat lainnya dan membangun sebuah rumah komunitas yang fleksibel.<\/p>\n\n\n\n

Meski belum bisa dikatakan memiliki jumlah penikmat yang setara dengan para perokok, pengguna Vape mulai menunjukkan eksistensinya. Selain toko yang tersebar, ragam acara juga mereka buat di beberapa daerah. Dalam lingkungan saya, beberapa teman yang dulunya merupakan perokok aktif tertarik mengikuti event tersebut dan beralih mengisap rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Nun jauh di sana, di Amerika Serikat tepatnya, budaya Vape juga sudah mulai berkembang lama ketimbang di Tanah Air. Penikmatnya terbagi menjadi dua, ada yang dulunya bekas perokok dan ada yang memang menikmatinya sebagai gaya hidup. Wajar saja mengingat facebook tak memperbolehkan iklan tembakau di platform mereka, sebaliknya iklan tentang vape justru bertebaran. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi budaya baru yang berkembang di berbagai belahan dunia bahkan di Indonesia, Vape konon menjadi alternatif yang lebih bermanfaat daripada rokok. Dalih yang diusung selalu sama kepada para perokok tradisonal yaitu soal kesehatan dan lebih irit. Soal kesehatan tentu ada beberapa pendapat para ilmuan yang membantahnya, namun soal irit, saya rasa tidak. Memang satu liquid bisa digunakan untuk beberapa Minggu, akan tetapi yang saya lihat di lapangan justru sebaliknya. <\/p>\n\n\n\n

Beberapa penikmat rokok elektrik kerap berbelanja liquid yang mereka idamkan. Terkadang, hal tersebut yang membuat mereka boros karena terus mengeksplor rasa mana yang mereka idam-idamkan. Tak jarang juga liquid dengan harga mahal hingga ratus ribuan akan mereka beli. Sebaliknya, para perokok konvensional justru kerap bertahan dengan satu rasa atau merek saja.<\/p>\n\n\n\n

Sedikit berbeda dengan penikmat rokok konvensional atau kretek. Mengingat rokok kretek sudah menjadi kebudayan lokal yang terus dipertahankan selama bertahun-tahun, kehadirannya sudah mewarnai khasanah keindonesiaan. Perokok kretek juga sudah punya soliditas luar biasa yang terbentuk sejak lama dan terus terbangun mengiringi peradaban di Indonesia atau dunia.<\/p>\n\n\n\n

Kini, perokok elektrik mulai merasakan kegelisahan. Beberapa negara mulai menerapkan peraturan ketat terhadap Vape, sedangkan di Indonesia biaya cukai pun kini mulai diberlakukan terhadap perdagangan rokok elektrik. Keberadaannya di mata negara pun mulai dianggap sama seperti rokok, meski pada awalnya rokok elektrik hadir dengan slogan-slogan produk alternatif yang lebih menyehatkan (katanya).<\/p>\n\n\n\n


Tapi jika kemudian di masa depan memang rokok elektrik yang kemudian menjadi sesuatu yang populer dan dinikmati banyak orang. Rasanya saya tetap ingin hidup di jaman ini, dengan sebatang kretek di tangan dan menikmati segala khasanah kebudayaan yang patut terus dipertahankan. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"masa-depan-rokok-elektrik-dan-semangat-alternatif-yang-sia-sia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-03 09:05:56","post_modified_gmt":"2019-02-03 02:05:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5403","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5385,"post_author":"883","post_date":"2019-02-02 08:01:01","post_date_gmt":"2019-02-02 01:01:01","post_content":"Pada tahun 2014, perusahaan rokok multinasional Philip Morris Internasional Inc. merilis sebuah produk <\/span>perangkat\u00a0<\/span>
rokok<\/span><\/a>\u00a0tanpa asap, yang dipanaskan bukan dibakar atau istilahnya\u00a0<\/span>heat not burn<\/i><\/strong>\u00a0(HNB) iQOS<\/strong>. <\/span>\r\n\r\nPerangkat rokok tanpa asap dengan nama iQOS<\/a> ini berbentuk seperti bagian luar pulpen, dengan lubang di tengah untuk rokok. Produk yang berada di bawah brand Marlboro ini dapat memanaskan rokok sampai 350 derajat celcius lalu mengeluarkan uap nikotin beraroma tembakau<\/em><\/a>.<\/span>\r\n

Produk iQOS sebenarnya bukanlah produk rokok tanpa asap yang pertama muncul. Sebelumnya di tahun 1990-an, Reynolds Tobacco Co pernah merilis produk serupa bernama Eclipes yang juga dapat menguapkan nikotin setelah dinyalakan dengan korek api.<\/span><\/blockquote>\r\nSelain itu, Eclips juga dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. Namun, pada saat itu Eclips tidak diminati oleh pasar, utamanya para perokok konvensional. Meskipun Eclips dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. <\/span>\r\n\r\nBisnis semacam rokok tanpa asap seperti Eclips dan iQOS memang sudah menjadi bagian dari rencana panjang bisnis perusahaan-perusahaan rokok multinasional. Jadi tidak usah heran jika ke depannya akan kita akan banyak menemukan produk rokok tanpa asap ini.<\/span>\r\n\r\nWatak dari perusahaan multinasional memang seperti itu, mereka sangat jeli melihat peluang pasar ke depannya. Ketika market place perusahaan rokok multinasional saat ini terus dirongrong oleh kelompok antirokok, mereka tak kehabisan akal. Maka kemudian mereka menginovasi produk rokok konvensional menjadi rokok yang tidak berasap. Begitupun dengan mengikutsertakan jargon-jargon kesehatan dalam narasi promosi mereka.<\/span>\r\n\r\nSesungguhnya memang seperti itulah watak bisnis perusahaan-perusahaan multinasional, melakukan segala cara agar bisnis mereka tetap bertahan, meskipun harus merangkul musuh sekalipun. <\/span>\r\n\r\nYa kadang pura-pura berantem sama antirokok, tapi dibalik itu sebenarnya baik-baik saja, dan tentunya ada kompromi untuk terus melanggengkan bisnis mereka.<\/span>\r\n

Lalu siapa yang dirugikan dari permainan bisnis macam produk rokok tanpa asap perusahaan rokok multinasional ini?<\/span><\/h3>\r\nTentunya yang sangat dirugikan adalah produk hasil tembakau yang memiliki kekhasan seperti kretek di Indonesia. Kretek sebagai produk khas asli Indonesia yang menjadi bagian dari warisan kebudayaan tidak mungkin bertransformasi menjadi produk-produk elektrik dan sejenisnya.<\/span>\r\n\r\nKretek tetaplah kretek, dengan bahan baku alami tembakau dan cengkeh yang tidak diintervensi dengan zat atau perangkat penghantar lainnya. Karena dengan bentuk, karakter dan cara menikmatinya memang konvensional dan akan terus begitu apapun kondisi dan zamannya.<\/span>\r\n
Bisnis produk rokok tanpa asap (elektrik) juga menghajar kretek dengan mendompleng isu pengendalian tembakau. Kampanye pengendalian tembakau selalu membawa slogan bahaya merokok dan upaya untuk berhenti merokok. <\/span><\/blockquote>\r\nDari isu tersebut, rokok elektrik masuk dengan citra produk alternatif tembakau, bahkan mereka tak segan menilai bahwa rokok elektrik lebih aman ketimbang rokok konvensional, yakni kretek.<\/span>\r\n\r\nLalu jika Indonesia akan dibanjiri dengan produk-produk yang mengatasnamakan produk alternatif tembakau, macam rokok tanpa asap (iQOS dan sejenisnya), maka itulah pertanda bahwa kretek harus tergerus dari cara hidup manusia Indonesia dalam menikmati produk hasil tembakau khas Indonesia yang sudah turun-temurun lamanya dinikmati manusia Indonesia.<\/span>","post_title":"Nasib Kretek di Pusaran Pertarungan Bisnis Global Perusahaan Rokok Multinasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"nasib-kretek-di-pusaran-pertarungan-bisnis-global-perusahaan-rokok-multinasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-02 08:01:43","post_modified_gmt":"2019-02-02 01:01:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5385","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; \n

Baca juga: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Fenomena ini membikin kita tak bisa melihat mereka para anti-rokok kecele lalu menertawakan mereka.<\/strong> Fenomena keengganan terjun langsung ke lapangan terlebih mencoba mendengar mereka yang tetap menanam tembakau, juga menjalani keseharian dalam waktu cukup lama bersama petani tembakau inilah yang saya kira menjadikan mereka tetap keras kepala untuk anti-rokok dan anti-tembakau. Karena jika mereka mau melakukan itu, saya yakin mereka semua tidak akan begitu kaku dalam memandang pertanian tembakau dan produk hasil industri tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu yang selalu mereka kampanyekan dan ngotot dengan itu, terkait hulu pertanian tembakau adalah mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya. Mereka berargumen banyak tanaman lain yang bisa semenguntungkan tanaman tembakau. Keengganan mereka terjun langsung ke lapangan inilah yang membikin mereka buta dengan kondisi pertanian tembakau dan pada akhirnya terus menerus mengampanyekan pergantian tanaman tembakau dengan tanaman lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca juga: Imanlah kepada Allah, Bukan Antirokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tembakau tanaman yang khas. Ia hanya tumbuh baik sepanjang empat hingga lima bulan dalam satu tahun. Tumbuh-kembang tanaman tembakau dengan baik itu umumnya terjadi pada musim kemarau setiap tahunnya. Hanya sedikit sekali jenis tembakau yang tumbuh baik di musim penghujan, mayoritasnya, tumbuh baik pada musim kemarau.<\/p>\n\n\n\n

Jika ditanam pada musim hujan, hampir bisa dipastikan tanaman tembakau akan gagal menghasilkan daun-daun yang berkualitas. Ia akan rusak dan membusuk karena terlalu banyak terkena air sehingga daun-daun itu tak layak dijual. Jangankan bisa dijual, untuk tumbuh dengan baik pun sepertinya sulit karena musim hujan akan membunuh banyak tanaman itu.<\/p>\n\n\n\n

Maka, tak heran pada musim-musim seperti saat ini, ketika musim penghujan mendekati puncaknya, di wilayah-wilayah yang dikenal sebagai sentra pertanian tembakau, sulit menemukan pohon tembakau yang sedang tumbuh. Pada lahan-lahan yang sebelumnya ditumbuhi tanaman tembakau pada musim panas, berganti tanaman-tanaman lain yang bermacam-macam, sesuai dengan kondisi lahannya. Untuk lahan sawah, lahan-lahan itu pada musim penghujan kini ditumbuhi tanaman padi yang subur. Pada lahan tegalan dan lahan di pegunungan, lahan-lahan yang ditanami tembakau pada musim kemarau, saat ini ditumbuhi bermacam jenis tanaman mulai dari cabai, bawang, tomat, kol, terong, mentimun, dan ragam jenis tanaman semusim lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Uniknya, tipikal tanaman tembakau yang tumbuh baik di musim kemarau ini memberi pilihan lebih kepada para petani. Lahan-lahan yang sulit ditanami pada musim kemarau, pada akhirnya masih bisa tetap produktif dengan keberadaan tanaman tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Maka, kampanye aneh mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain dengan ragam rupa dalih yang membingungkan, bukan saja sama sekali tidak tepat dan asal-asalan, namun bisa jadi akan ditertawakan oleh para petani yang begitu paham dengan kondisi lahan dan terutama kondisi iklim dan cuaca. Sulit mencari tanaman semusim yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Jika pun ada, tak ada yang semenguntungkan tanaman tembakau.
<\/p>\n","post_title":"Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"keberhasilan-gerakan-anti-tembakau-tak-ada-tembakau-saat-musim-hujan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-07 12:16:02","post_modified_gmt":"2019-02-07 05:16:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5415","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5409,"post_author":"919","post_date":"2019-02-05 08:04:43","post_date_gmt":"2019-02-05 01:04:43","post_content":"\n

Tahun Baru Imlek yang merupakan tradisi Bangsa Tiongkok kini sudah tak lagi menjadi hal yang asing bagi masyarakat Indonesia. Kehadirannya sudah mewarnai dan berakulturasi dengan tradisi lokal. Menjelang Tahun Baru Imlek. Berbagai hiasan dan kemeriahan terjadi beberapa titik di Tanah Air. Perayaannya juga menjadi destinasi baru yang mengasyikkan untuk dilihat dan patut disaksikan.<\/p>\n\n\n\n

Berterimakasihlah kepada sang bapak bangsa, KH Abdurrahman Wahid atau yang dikenal dengan nama Gus Dur. Berkat kebijakannya saat menjadi Presiden Indonesia, Tahun Baru Imlek resmi dijadikan hari libur nasional dan dianggap sebagai salah satu hari raya di Tanah Air. Meski sentimen antitionghoa masih ada di sana-sini, tapi tetap tak bisa dipungkiri bahwa bangsa tionghoa sudah bersentuhan dengan budaya lokal dalam kurun waktu yang sangat panjang.<\/p>\n\n\n\n

DNA Bangsa Tionghoa yang memang merupakan pedagang menjadi pembuka kisah interaksi antara nenek moyang berbagai suku di Nusantara dengan mereka. Beberapa kelenteng-kelenteng yang tersebar pada berbagai pesisir daerah di Nusantara jadi buktinya. Pelabuhan-pelabuhan tua di tanah air dan ramainya perdagangan di pesisir mempermudah bangsa kita berhubungan dengan Bangsa Tionghoa.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Wong Kalang dan Kota Gede<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa kehadiran Bangsa Tionghoa di Nusantara tak hanya sebagai pedagang, namun juga sebagai pekerja (bahkan hingga pekerja kasar). Benny Setiono, seorang sejarahwan menyebutkan bahwa antara tahun 1760-1770 dalam jumlah yang besar memasuki nusantara melalui Kalimantan Barat. Mereka bekerja sebagai kuli pertambangan di sana dan di kemudian hari membentuk sebuah republik bernama Republik Lanfang yang konon katanya menjadi republik pertama di Asia Tenggara.<\/p>\n\n\n\n

Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Imlek dan Indonesia<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n\n\n\n

Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
<\/p>\n","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5406,"post_author":"877","post_date":"2019-02-04 08:23:48","post_date_gmt":"2019-02-04 01:23:48","post_content":"\n

Merokok itu sudah menjadi bagian dari budaya dan tradisi masyarakat, jauh sebelum Indonesia merdeka. Banyak cerita atau kisah tentang kretek <\/a><\/del>di tengah-tengah masyarakat bangsa ini, mulai sebagai alat untuk meraup keuntungan, alat komunikasi, sebagai teman sampai menjadi simbol pergerakan. <\/p>\n\n\n\n

Kretek, Simbol Perlawanan Roro Mendut<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Siapa yang tidak pernah mendengan cerita tentang Roro Mendut?, di telinga masyarakat Indonesia, kisah Roro Mendut tidak asing lagi.  Perempuan yang mempunyai paras wajah cantik, dan digandrungi kaum adam terutama kalangan putra kerajaan. Informasi kecantikan Roro Mendut tersebar seantero Nusantara, tidak satupun pria meragukan kecantikannya.  Bahkan kisah dan cerita kecantikan Roro Mendut tercatat dalam buku Babad Tanah Jawi. <\/p>\n\n\n\n

Diperkirakan pada tahun 1627, pada saat panglima perang Sultan Agung Mataram bernama Tumenggung Wiraguna berhasil menumpas pemberontakan di kota Pati, sebagai imbalanan atas keberhasilannya, mendapat hadiah wanita pujaan pria bernama Rara Mendut dari Kasultanan Agung Mataram.  Roro Mendut menolak dipinang Tumenggung Wiraguna, dan secara terang-terangan memilih pria lain dambaannya. Akibatnya, Roro Mendut harus membayar pajak setiap harinya kepada kerajaan Mataram. <\/p>\n\n\n\n

Bisa dibayangkan, betapa bingungnya Roro Mendut saat itu. Uang dari mana, ia hasilkan untuk bayar pajak tiap hari demi bisa bersama kekasihnya. Ternyata Roro Mendut tidak hanya cantik tetapi cerdas dan kreatif, bisa membaca peluang bisnis saat itu. Ide cermerlang muncul dengan berdagang\/berjualan rokok lintingan yang direkatkan dengan air ludahnya, dan sebelum menjualnya, rokok lintingan di sulut dahulu dan dihisap bekas bibir merahnya. Kemudian baru dijual ke pembeli yang berdesakan berjejer antri. <\/p>\n\n\n\n

Entah dari mana ide menjual rokok itu muncul. Yang jelas saking larisnya, kewajiban pajak Roro Mendut terpenuhi. Dan mungkin keadaannya akan lebih parah, jika saat itu Roro Mendut tidak berdagang rokok. Tidak akan terpenuhi kewajiban pajaknya. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Dengan rokok, hidup Roro Mendut terselamatkan. Adanya rokok, \u00a0Roro Mendut bebas dari belenggu kekuasaan. Berkat rokok, Roro Mendut terkengan, mengisi rubik informasi sejarah begitu kuatnya budaya merokok di \u00a0Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Pusaka Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek, Teman Perjuangan  Diponegoro<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Semasa berjuang melawan penjajah, yang harus dilakukan Diponegoro berpindah-pindah dari kota satu ke kota lain. Strategi perlawanan Diponegoro, kemudian sebagai basis strategi perang gerilya. Strategi yang menjadi idola dan kebanggaan tentara Indonesia. Dengan bergerilya, tentara Indonesia mampu mengecoh kekutan lawan yang lebih besar jumlahnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu, tenyata banyak cerita, Diponegoro saat berperang ditemani rokok. Ia dan pasukannya gemar merokok. Bahkan ketika tidak ada rokok, Pangeran Diponegoro rela hanya megunyah daun sirih yang diracik dengan kapur dan pinang. <\/p>\n\n\n\n

Kebiasaan ini, juga dialami oleh pengikut \/pasukan perang Pangeran Diponegoro. Bagi mereka, rokok teman sejati, menemani disetiap perjalanan mereka. Rokok menghilangkan depresi mereka, sebagai hiburan saat jauh dari keluarga demi berjuang melawan penjajah. Rokok menumbuhkan percaya diri mereka, lebih berani melawan penjajah walaupun hanya dengan serba keterbatasan, pasukan jumlah terbatas, alat perang terbatas dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Baca juga: Pangeran Diponegoro, Rokok Klobot dan Perlawanan Simbolis<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Jati Diri Bangsa<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Salah satu \u201cpendiri bangsa\u201d bernama KH. Agus Salim menghisap kretek dengan asapnya di kebal-kebulkan keudara, disaat ada perjamuan di Istana Buckingham ketika penobatan Elizabeth II sebagai Ratu kerajaan Inggris. Aroma khas keluar dari asap rokok kretek, tercium orang yang berada di ruang perjamuan. Sehingga memancing salah satu orang yang datang dalam perjamuan, dengan berkata; \u201ctuan sedang menghisap apa itu?\u201d.  Sentak KH. Agus Salim menjawab, \u201c inilah yang membuat nenek moyang anda sekian abad lalu datang dan kemudian menjajah negeri kami\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Jawaban KH. Agus Salim, faktanya memang benar. Rokok kretek tidak lain ada tambahan cengkeh (suzygium aromaticum<\/em>). \u00a0Tanaman legendaris menjadi rebutan dan sumber keuntungan kolonialisme Eropa atas Asia termasuk Indonesia. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Cengkeh adalah salah satu tanaman yang diperebutkan bangsa-bangsa dunia, sampai melegalkan penjajahan.  Dalam simpulan perjalanan ekspedisi cengkeh tahun 2013, Kepala Suku begitu julukan bagi Putut Ea, mengatakan \u201c jika saja tak pernah ada cengkeh dan pala di Maluku, mungkin sejarah kepulauan Nusantara ini akan berbeda sama sekali\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Simpulan Putut EA, sebagai salah satu pembenar perkataan \u00a0KH. Agus Salim. Mungkin, jika tanaman cengkeh tidak ada, fakta sejarah akan berbeda, tidak ada penjajahan di bumi Nusantara ini. <\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Mengisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek untuk Berteman dan Menjalin Persaudaraan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Teringat apa yang pernah dilakukan Menteri Sosial dan Lingkungan Hidup, saat melakukan pendekatan pada suku anak dalam di Jambi. Tidak lain ia adalah Khofifah menteri perempuan yang energik. Saat itu Khofifah bertanggungjawab dalam mengatasi masalah pendidikan dan kesejahteraan masyarakat suku anak dalam di Jambi.  <\/p>\n\n\n\n

Kebijakannya membuat fenomenal, selain bahan makanan, dan bantuan lain, khofifah juga membawa rokok.  Yang kemudian ada yang mengggugat dari anti rokok, tetapi sebagai Menteri, Khofifah tentunya sudah mengkaji secara mendalam. Dengan kecerdasannya , Khofifah menjawab dengan tegas dan lugas, \u201cjangan sok tahu kehidupan mereka, kenali apa yang menjadi ritme kehidupan mereka. Sangat bijaksana kalau kita semua pergi kesana, sehingga tahu adat istiadatnya juga. Tolong kalau ingin mengerti tentang kultur jangan hanya dari kacamata Jakarta. Saya pun ingin mengajak anda kesana, turun kesana, sapalah mereka\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Khofifah memberikan pelajaran bagi anti rokok. Tidak boleh sok tahu, apalagi selama ini antirokok hanya berasumsi, tanpa melihat fakta dilapangan. Khofifah juga menganjurkan agar lebih mengenal adat-istiadat, budaya dan tradisi masyarakat, tidak boleh melakukan hegemoni kultural, sebab keberagaman adat-istiadat dan budaya merupakan kekayaan negeri. <\/p>\n\n\n\n

Pelajaran Khofifah sangat mendalam dan bercirikhas Nusantara. Sebgaai Menteri \u00a0Sosial tentunya lebih berpengalaman apa yang dibutuhkan bangsa ini agar tetap jaya, bersatu dan utuh. Kenali perbedaan, hormati perbedaan, junjung tinggi budaya yang berbeda. \u00a0Apa yang telah dilakukan Khofifah dengan membawa rokok ke suku anak dalam adalah cermin penghormatan tradisi dan budaya masyarakat. Sebagai seorang Mentri, tentunya punya kuasa, artinya bisa seorang khofifah memberikan bantuan sesuai keinginannya sendiri, namun hal itu tidak dilakukan. Ia lebih mengedepankan penghormatan budaya masyarakat setempat, dengan membawa rokok untuk pendekatan dan pertemanan. Karena Khofifah tahu betul, bahwa merokok adalah budaya mereka, yang diwaris dari neneng moyang mereka. <\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Memilih Jalan Hidup Menikmati Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Simbol Pergerakan Nasional     <\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Abdul Rifa\u2019I dalam media bintang timur terbit pada 03 Oktober 1927, mengatakan, \u201ckopinya bukan kopi saringan, tetapi kopi tubruk sebab kopi ini katanya nationaal, gulanya gula jawa, susu tidak dipakai karena tidak nationaal. Rokoknya kelobot, selamatan natioanaal ini terus berlangsung ed sampai pagi hari\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Semangat nasionalisme harus tertanam, mengedepankan produk lokal adalah salah satu semangat nasionalime. Salah satu keberadaan rokok klobot menjadi ciri produk asli indonesia dan harus dilestarikan. Klobot sendiri adalah ramuan tembakau dan cengkeh di gulung memakai daun jagung, embrio perkembangan menjadi rokok sigaret kretek tangan dan sigaret kretek mesin.  
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pusaran Budaya Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pusaran-budaya-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-04 08:40:41","post_modified_gmt":"2019-02-04 01:40:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5406","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5403,"post_author":"919","post_date":"2019-02-03 09:05:50","post_date_gmt":"2019-02-03 02:05:50","post_content":"\n

Seringkali saya menyaksikan berbagai film baik itu Eropa atau Asia yang menggambarkan tentang masa depan. Pemandangan soal masa depan tersebut dihadirkan dengan gambaran kecanggihan teknologi seperti robot yang akan membantu kehidupan manusia, gedung-gedung yang tingginya sudah amat tak bisa ditandingi,  hingga mobil-mobil yang bisa terbang. <\/p>\n\n\n\n

Pernah dalam masa kecil saya menyaksikan sebuah film animasi buatan jepang yang mempertanyakan tentang makanan di masa depan. Dengan santai salah satu tokoh yang berasal dari masa depan itu menjawab bahwa suatu saat nanti manusia akan mengonsumsi makanan berupa pasta gigi namun dengan rasa yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa, aneh!<\/p>\n\n\n\n

Seiring waktu berjalan saya kian tumbuh dewasa dan punya kesadaran untuk memilih menjadi seorang perokok<\/a>. Saya juga melihat ada sebuah inovasi dan gambaran tentang masa depan yang hadir dalam kehidupan sekarang. Banyak memang, namun yang menyita perhatian saya adalah rokok elektrik atau yang populer disebut Vape. Konon katanya ia adalah produk inovasi untuk menjembatani kebutuhan menghisap asap dan kecanggihan masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Di awal kehadirannya Vape memang mengundang decak kekaguman saya. Bagaimana bisa sebuah mesin kecil mengeluarkan asap yang katanya lebih menyehatkan daripada rokok.<\/strong> Meski pada akhirnya teori tersebut juga bisa dibantah oleh beberapa ilmuan dunia. Tapi ada satu yang saya amati selain soal kesehatan, rokok elektrik rupanya menghadirkan kultur dan budaya baru dalam kehidupan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: LAGI-LAGI IKLAN ROKOK, KAPAN KPAI TIDAK TEBANG PILIH? <\/a><\/h4>\n\n\n\n

Kehadiran teknologi memang kerap sedikit atau benyak mengubah gaya atau kultur suatu masyarakat. Begitu pula yang saya perhatikan dengan rokok elektrik. Satu hal yang mudah diamati adalah menjamurnya toko-toko kecil yang menjual vape serta liquid di berbagai tempat. Sebagai sebuah warna baru dalam masyarakat, penggunanya ramai-ramai mengunjungi tempat tersebut berinteraksi dengan penikmat lainnya dan membangun sebuah rumah komunitas yang fleksibel.<\/p>\n\n\n\n

Meski belum bisa dikatakan memiliki jumlah penikmat yang setara dengan para perokok, pengguna Vape mulai menunjukkan eksistensinya. Selain toko yang tersebar, ragam acara juga mereka buat di beberapa daerah. Dalam lingkungan saya, beberapa teman yang dulunya merupakan perokok aktif tertarik mengikuti event tersebut dan beralih mengisap rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Nun jauh di sana, di Amerika Serikat tepatnya, budaya Vape juga sudah mulai berkembang lama ketimbang di Tanah Air. Penikmatnya terbagi menjadi dua, ada yang dulunya bekas perokok dan ada yang memang menikmatinya sebagai gaya hidup. Wajar saja mengingat facebook tak memperbolehkan iklan tembakau di platform mereka, sebaliknya iklan tentang vape justru bertebaran. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi budaya baru yang berkembang di berbagai belahan dunia bahkan di Indonesia, Vape konon menjadi alternatif yang lebih bermanfaat daripada rokok. Dalih yang diusung selalu sama kepada para perokok tradisonal yaitu soal kesehatan dan lebih irit. Soal kesehatan tentu ada beberapa pendapat para ilmuan yang membantahnya, namun soal irit, saya rasa tidak. Memang satu liquid bisa digunakan untuk beberapa Minggu, akan tetapi yang saya lihat di lapangan justru sebaliknya. <\/p>\n\n\n\n

Beberapa penikmat rokok elektrik kerap berbelanja liquid yang mereka idamkan. Terkadang, hal tersebut yang membuat mereka boros karena terus mengeksplor rasa mana yang mereka idam-idamkan. Tak jarang juga liquid dengan harga mahal hingga ratus ribuan akan mereka beli. Sebaliknya, para perokok konvensional justru kerap bertahan dengan satu rasa atau merek saja.<\/p>\n\n\n\n

Sedikit berbeda dengan penikmat rokok konvensional atau kretek. Mengingat rokok kretek sudah menjadi kebudayan lokal yang terus dipertahankan selama bertahun-tahun, kehadirannya sudah mewarnai khasanah keindonesiaan. Perokok kretek juga sudah punya soliditas luar biasa yang terbentuk sejak lama dan terus terbangun mengiringi peradaban di Indonesia atau dunia.<\/p>\n\n\n\n

Kini, perokok elektrik mulai merasakan kegelisahan. Beberapa negara mulai menerapkan peraturan ketat terhadap Vape, sedangkan di Indonesia biaya cukai pun kini mulai diberlakukan terhadap perdagangan rokok elektrik. Keberadaannya di mata negara pun mulai dianggap sama seperti rokok, meski pada awalnya rokok elektrik hadir dengan slogan-slogan produk alternatif yang lebih menyehatkan (katanya).<\/p>\n\n\n\n


Tapi jika kemudian di masa depan memang rokok elektrik yang kemudian menjadi sesuatu yang populer dan dinikmati banyak orang. Rasanya saya tetap ingin hidup di jaman ini, dengan sebatang kretek di tangan dan menikmati segala khasanah kebudayaan yang patut terus dipertahankan. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"masa-depan-rokok-elektrik-dan-semangat-alternatif-yang-sia-sia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-03 09:05:56","post_modified_gmt":"2019-02-03 02:05:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5403","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5385,"post_author":"883","post_date":"2019-02-02 08:01:01","post_date_gmt":"2019-02-02 01:01:01","post_content":"Pada tahun 2014, perusahaan rokok multinasional Philip Morris Internasional Inc. merilis sebuah produk <\/span>perangkat\u00a0<\/span>
rokok<\/span><\/a>\u00a0tanpa asap, yang dipanaskan bukan dibakar atau istilahnya\u00a0<\/span>heat not burn<\/i><\/strong>\u00a0(HNB) iQOS<\/strong>. <\/span>\r\n\r\nPerangkat rokok tanpa asap dengan nama iQOS<\/a> ini berbentuk seperti bagian luar pulpen, dengan lubang di tengah untuk rokok. Produk yang berada di bawah brand Marlboro ini dapat memanaskan rokok sampai 350 derajat celcius lalu mengeluarkan uap nikotin beraroma tembakau<\/em><\/a>.<\/span>\r\n

Produk iQOS sebenarnya bukanlah produk rokok tanpa asap yang pertama muncul. Sebelumnya di tahun 1990-an, Reynolds Tobacco Co pernah merilis produk serupa bernama Eclipes yang juga dapat menguapkan nikotin setelah dinyalakan dengan korek api.<\/span><\/blockquote>\r\nSelain itu, Eclips juga dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. Namun, pada saat itu Eclips tidak diminati oleh pasar, utamanya para perokok konvensional. Meskipun Eclips dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. <\/span>\r\n\r\nBisnis semacam rokok tanpa asap seperti Eclips dan iQOS memang sudah menjadi bagian dari rencana panjang bisnis perusahaan-perusahaan rokok multinasional. Jadi tidak usah heran jika ke depannya akan kita akan banyak menemukan produk rokok tanpa asap ini.<\/span>\r\n\r\nWatak dari perusahaan multinasional memang seperti itu, mereka sangat jeli melihat peluang pasar ke depannya. Ketika market place perusahaan rokok multinasional saat ini terus dirongrong oleh kelompok antirokok, mereka tak kehabisan akal. Maka kemudian mereka menginovasi produk rokok konvensional menjadi rokok yang tidak berasap. Begitupun dengan mengikutsertakan jargon-jargon kesehatan dalam narasi promosi mereka.<\/span>\r\n\r\nSesungguhnya memang seperti itulah watak bisnis perusahaan-perusahaan multinasional, melakukan segala cara agar bisnis mereka tetap bertahan, meskipun harus merangkul musuh sekalipun. <\/span>\r\n\r\nYa kadang pura-pura berantem sama antirokok, tapi dibalik itu sebenarnya baik-baik saja, dan tentunya ada kompromi untuk terus melanggengkan bisnis mereka.<\/span>\r\n

Lalu siapa yang dirugikan dari permainan bisnis macam produk rokok tanpa asap perusahaan rokok multinasional ini?<\/span><\/h3>\r\nTentunya yang sangat dirugikan adalah produk hasil tembakau yang memiliki kekhasan seperti kretek di Indonesia. Kretek sebagai produk khas asli Indonesia yang menjadi bagian dari warisan kebudayaan tidak mungkin bertransformasi menjadi produk-produk elektrik dan sejenisnya.<\/span>\r\n\r\nKretek tetaplah kretek, dengan bahan baku alami tembakau dan cengkeh yang tidak diintervensi dengan zat atau perangkat penghantar lainnya. Karena dengan bentuk, karakter dan cara menikmatinya memang konvensional dan akan terus begitu apapun kondisi dan zamannya.<\/span>\r\n
Bisnis produk rokok tanpa asap (elektrik) juga menghajar kretek dengan mendompleng isu pengendalian tembakau. Kampanye pengendalian tembakau selalu membawa slogan bahaya merokok dan upaya untuk berhenti merokok. <\/span><\/blockquote>\r\nDari isu tersebut, rokok elektrik masuk dengan citra produk alternatif tembakau, bahkan mereka tak segan menilai bahwa rokok elektrik lebih aman ketimbang rokok konvensional, yakni kretek.<\/span>\r\n\r\nLalu jika Indonesia akan dibanjiri dengan produk-produk yang mengatasnamakan produk alternatif tembakau, macam rokok tanpa asap (iQOS dan sejenisnya), maka itulah pertanda bahwa kretek harus tergerus dari cara hidup manusia Indonesia dalam menikmati produk hasil tembakau khas Indonesia yang sudah turun-temurun lamanya dinikmati manusia Indonesia.<\/span>","post_title":"Nasib Kretek di Pusaran Pertarungan Bisnis Global Perusahaan Rokok Multinasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"nasib-kretek-di-pusaran-pertarungan-bisnis-global-perusahaan-rokok-multinasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-02 08:01:43","post_modified_gmt":"2019-02-02 01:01:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5385","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; \n

Sayangnya, mereka yang menganggap dirinya anti-rokok dan anti-tembakau tidak menyaksikan langsung fenomena ini di lapangan, di lahan-lahan yang peruntukannya berubah pada hari-hari belakangan ini ketika memasuki musim hujan. Mereka asyik duduk pada kursi empuk di ruang-ruang nyaman ber-AC di kota-kota yang jauh dari kultur pertanian. Mereka menyengajakan diri menjadi elit dan enggan untuk turun melihat langsung ke lapangan. Kalaupun ada yang turun langsung ke lapangan, hanya segelintir saja dari mereka, itupun sekadar formalitas saja. Tak pernah benar-benar mau turun ke lapangan, hidup dan merasakan langsung kultur pertanian tembakau dalam jangka waktu cukup lama di lapangan.<\/p>\n\n\n\n

Baca juga: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Fenomena ini membikin kita tak bisa melihat mereka para anti-rokok kecele lalu menertawakan mereka.<\/strong> Fenomena keengganan terjun langsung ke lapangan terlebih mencoba mendengar mereka yang tetap menanam tembakau, juga menjalani keseharian dalam waktu cukup lama bersama petani tembakau inilah yang saya kira menjadikan mereka tetap keras kepala untuk anti-rokok dan anti-tembakau. Karena jika mereka mau melakukan itu, saya yakin mereka semua tidak akan begitu kaku dalam memandang pertanian tembakau dan produk hasil industri tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu yang selalu mereka kampanyekan dan ngotot dengan itu, terkait hulu pertanian tembakau adalah mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya. Mereka berargumen banyak tanaman lain yang bisa semenguntungkan tanaman tembakau. Keengganan mereka terjun langsung ke lapangan inilah yang membikin mereka buta dengan kondisi pertanian tembakau dan pada akhirnya terus menerus mengampanyekan pergantian tanaman tembakau dengan tanaman lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca juga: Imanlah kepada Allah, Bukan Antirokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tembakau tanaman yang khas. Ia hanya tumbuh baik sepanjang empat hingga lima bulan dalam satu tahun. Tumbuh-kembang tanaman tembakau dengan baik itu umumnya terjadi pada musim kemarau setiap tahunnya. Hanya sedikit sekali jenis tembakau yang tumbuh baik di musim penghujan, mayoritasnya, tumbuh baik pada musim kemarau.<\/p>\n\n\n\n

Jika ditanam pada musim hujan, hampir bisa dipastikan tanaman tembakau akan gagal menghasilkan daun-daun yang berkualitas. Ia akan rusak dan membusuk karena terlalu banyak terkena air sehingga daun-daun itu tak layak dijual. Jangankan bisa dijual, untuk tumbuh dengan baik pun sepertinya sulit karena musim hujan akan membunuh banyak tanaman itu.<\/p>\n\n\n\n

Maka, tak heran pada musim-musim seperti saat ini, ketika musim penghujan mendekati puncaknya, di wilayah-wilayah yang dikenal sebagai sentra pertanian tembakau, sulit menemukan pohon tembakau yang sedang tumbuh. Pada lahan-lahan yang sebelumnya ditumbuhi tanaman tembakau pada musim panas, berganti tanaman-tanaman lain yang bermacam-macam, sesuai dengan kondisi lahannya. Untuk lahan sawah, lahan-lahan itu pada musim penghujan kini ditumbuhi tanaman padi yang subur. Pada lahan tegalan dan lahan di pegunungan, lahan-lahan yang ditanami tembakau pada musim kemarau, saat ini ditumbuhi bermacam jenis tanaman mulai dari cabai, bawang, tomat, kol, terong, mentimun, dan ragam jenis tanaman semusim lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Uniknya, tipikal tanaman tembakau yang tumbuh baik di musim kemarau ini memberi pilihan lebih kepada para petani. Lahan-lahan yang sulit ditanami pada musim kemarau, pada akhirnya masih bisa tetap produktif dengan keberadaan tanaman tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Maka, kampanye aneh mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain dengan ragam rupa dalih yang membingungkan, bukan saja sama sekali tidak tepat dan asal-asalan, namun bisa jadi akan ditertawakan oleh para petani yang begitu paham dengan kondisi lahan dan terutama kondisi iklim dan cuaca. Sulit mencari tanaman semusim yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Jika pun ada, tak ada yang semenguntungkan tanaman tembakau.
<\/p>\n","post_title":"Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"keberhasilan-gerakan-anti-tembakau-tak-ada-tembakau-saat-musim-hujan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-07 12:16:02","post_modified_gmt":"2019-02-07 05:16:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5415","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5409,"post_author":"919","post_date":"2019-02-05 08:04:43","post_date_gmt":"2019-02-05 01:04:43","post_content":"\n

Tahun Baru Imlek yang merupakan tradisi Bangsa Tiongkok kini sudah tak lagi menjadi hal yang asing bagi masyarakat Indonesia. Kehadirannya sudah mewarnai dan berakulturasi dengan tradisi lokal. Menjelang Tahun Baru Imlek. Berbagai hiasan dan kemeriahan terjadi beberapa titik di Tanah Air. Perayaannya juga menjadi destinasi baru yang mengasyikkan untuk dilihat dan patut disaksikan.<\/p>\n\n\n\n

Berterimakasihlah kepada sang bapak bangsa, KH Abdurrahman Wahid atau yang dikenal dengan nama Gus Dur. Berkat kebijakannya saat menjadi Presiden Indonesia, Tahun Baru Imlek resmi dijadikan hari libur nasional dan dianggap sebagai salah satu hari raya di Tanah Air. Meski sentimen antitionghoa masih ada di sana-sini, tapi tetap tak bisa dipungkiri bahwa bangsa tionghoa sudah bersentuhan dengan budaya lokal dalam kurun waktu yang sangat panjang.<\/p>\n\n\n\n

DNA Bangsa Tionghoa yang memang merupakan pedagang menjadi pembuka kisah interaksi antara nenek moyang berbagai suku di Nusantara dengan mereka. Beberapa kelenteng-kelenteng yang tersebar pada berbagai pesisir daerah di Nusantara jadi buktinya. Pelabuhan-pelabuhan tua di tanah air dan ramainya perdagangan di pesisir mempermudah bangsa kita berhubungan dengan Bangsa Tionghoa.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Wong Kalang dan Kota Gede<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa kehadiran Bangsa Tionghoa di Nusantara tak hanya sebagai pedagang, namun juga sebagai pekerja (bahkan hingga pekerja kasar). Benny Setiono, seorang sejarahwan menyebutkan bahwa antara tahun 1760-1770 dalam jumlah yang besar memasuki nusantara melalui Kalimantan Barat. Mereka bekerja sebagai kuli pertambangan di sana dan di kemudian hari membentuk sebuah republik bernama Republik Lanfang yang konon katanya menjadi republik pertama di Asia Tenggara.<\/p>\n\n\n\n

Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Imlek dan Indonesia<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n\n\n\n

Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
<\/p>\n","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5406,"post_author":"877","post_date":"2019-02-04 08:23:48","post_date_gmt":"2019-02-04 01:23:48","post_content":"\n

Merokok itu sudah menjadi bagian dari budaya dan tradisi masyarakat, jauh sebelum Indonesia merdeka. Banyak cerita atau kisah tentang kretek <\/a><\/del>di tengah-tengah masyarakat bangsa ini, mulai sebagai alat untuk meraup keuntungan, alat komunikasi, sebagai teman sampai menjadi simbol pergerakan. <\/p>\n\n\n\n

Kretek, Simbol Perlawanan Roro Mendut<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Siapa yang tidak pernah mendengan cerita tentang Roro Mendut?, di telinga masyarakat Indonesia, kisah Roro Mendut tidak asing lagi.  Perempuan yang mempunyai paras wajah cantik, dan digandrungi kaum adam terutama kalangan putra kerajaan. Informasi kecantikan Roro Mendut tersebar seantero Nusantara, tidak satupun pria meragukan kecantikannya.  Bahkan kisah dan cerita kecantikan Roro Mendut tercatat dalam buku Babad Tanah Jawi. <\/p>\n\n\n\n

Diperkirakan pada tahun 1627, pada saat panglima perang Sultan Agung Mataram bernama Tumenggung Wiraguna berhasil menumpas pemberontakan di kota Pati, sebagai imbalanan atas keberhasilannya, mendapat hadiah wanita pujaan pria bernama Rara Mendut dari Kasultanan Agung Mataram.  Roro Mendut menolak dipinang Tumenggung Wiraguna, dan secara terang-terangan memilih pria lain dambaannya. Akibatnya, Roro Mendut harus membayar pajak setiap harinya kepada kerajaan Mataram. <\/p>\n\n\n\n

Bisa dibayangkan, betapa bingungnya Roro Mendut saat itu. Uang dari mana, ia hasilkan untuk bayar pajak tiap hari demi bisa bersama kekasihnya. Ternyata Roro Mendut tidak hanya cantik tetapi cerdas dan kreatif, bisa membaca peluang bisnis saat itu. Ide cermerlang muncul dengan berdagang\/berjualan rokok lintingan yang direkatkan dengan air ludahnya, dan sebelum menjualnya, rokok lintingan di sulut dahulu dan dihisap bekas bibir merahnya. Kemudian baru dijual ke pembeli yang berdesakan berjejer antri. <\/p>\n\n\n\n

Entah dari mana ide menjual rokok itu muncul. Yang jelas saking larisnya, kewajiban pajak Roro Mendut terpenuhi. Dan mungkin keadaannya akan lebih parah, jika saat itu Roro Mendut tidak berdagang rokok. Tidak akan terpenuhi kewajiban pajaknya. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Dengan rokok, hidup Roro Mendut terselamatkan. Adanya rokok, \u00a0Roro Mendut bebas dari belenggu kekuasaan. Berkat rokok, Roro Mendut terkengan, mengisi rubik informasi sejarah begitu kuatnya budaya merokok di \u00a0Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Pusaka Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek, Teman Perjuangan  Diponegoro<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Semasa berjuang melawan penjajah, yang harus dilakukan Diponegoro berpindah-pindah dari kota satu ke kota lain. Strategi perlawanan Diponegoro, kemudian sebagai basis strategi perang gerilya. Strategi yang menjadi idola dan kebanggaan tentara Indonesia. Dengan bergerilya, tentara Indonesia mampu mengecoh kekutan lawan yang lebih besar jumlahnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu, tenyata banyak cerita, Diponegoro saat berperang ditemani rokok. Ia dan pasukannya gemar merokok. Bahkan ketika tidak ada rokok, Pangeran Diponegoro rela hanya megunyah daun sirih yang diracik dengan kapur dan pinang. <\/p>\n\n\n\n

Kebiasaan ini, juga dialami oleh pengikut \/pasukan perang Pangeran Diponegoro. Bagi mereka, rokok teman sejati, menemani disetiap perjalanan mereka. Rokok menghilangkan depresi mereka, sebagai hiburan saat jauh dari keluarga demi berjuang melawan penjajah. Rokok menumbuhkan percaya diri mereka, lebih berani melawan penjajah walaupun hanya dengan serba keterbatasan, pasukan jumlah terbatas, alat perang terbatas dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Baca juga: Pangeran Diponegoro, Rokok Klobot dan Perlawanan Simbolis<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Jati Diri Bangsa<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Salah satu \u201cpendiri bangsa\u201d bernama KH. Agus Salim menghisap kretek dengan asapnya di kebal-kebulkan keudara, disaat ada perjamuan di Istana Buckingham ketika penobatan Elizabeth II sebagai Ratu kerajaan Inggris. Aroma khas keluar dari asap rokok kretek, tercium orang yang berada di ruang perjamuan. Sehingga memancing salah satu orang yang datang dalam perjamuan, dengan berkata; \u201ctuan sedang menghisap apa itu?\u201d.  Sentak KH. Agus Salim menjawab, \u201c inilah yang membuat nenek moyang anda sekian abad lalu datang dan kemudian menjajah negeri kami\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Jawaban KH. Agus Salim, faktanya memang benar. Rokok kretek tidak lain ada tambahan cengkeh (suzygium aromaticum<\/em>). \u00a0Tanaman legendaris menjadi rebutan dan sumber keuntungan kolonialisme Eropa atas Asia termasuk Indonesia. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Cengkeh adalah salah satu tanaman yang diperebutkan bangsa-bangsa dunia, sampai melegalkan penjajahan.  Dalam simpulan perjalanan ekspedisi cengkeh tahun 2013, Kepala Suku begitu julukan bagi Putut Ea, mengatakan \u201c jika saja tak pernah ada cengkeh dan pala di Maluku, mungkin sejarah kepulauan Nusantara ini akan berbeda sama sekali\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Simpulan Putut EA, sebagai salah satu pembenar perkataan \u00a0KH. Agus Salim. Mungkin, jika tanaman cengkeh tidak ada, fakta sejarah akan berbeda, tidak ada penjajahan di bumi Nusantara ini. <\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Mengisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek untuk Berteman dan Menjalin Persaudaraan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Teringat apa yang pernah dilakukan Menteri Sosial dan Lingkungan Hidup, saat melakukan pendekatan pada suku anak dalam di Jambi. Tidak lain ia adalah Khofifah menteri perempuan yang energik. Saat itu Khofifah bertanggungjawab dalam mengatasi masalah pendidikan dan kesejahteraan masyarakat suku anak dalam di Jambi.  <\/p>\n\n\n\n

Kebijakannya membuat fenomenal, selain bahan makanan, dan bantuan lain, khofifah juga membawa rokok.  Yang kemudian ada yang mengggugat dari anti rokok, tetapi sebagai Menteri, Khofifah tentunya sudah mengkaji secara mendalam. Dengan kecerdasannya , Khofifah menjawab dengan tegas dan lugas, \u201cjangan sok tahu kehidupan mereka, kenali apa yang menjadi ritme kehidupan mereka. Sangat bijaksana kalau kita semua pergi kesana, sehingga tahu adat istiadatnya juga. Tolong kalau ingin mengerti tentang kultur jangan hanya dari kacamata Jakarta. Saya pun ingin mengajak anda kesana, turun kesana, sapalah mereka\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Khofifah memberikan pelajaran bagi anti rokok. Tidak boleh sok tahu, apalagi selama ini antirokok hanya berasumsi, tanpa melihat fakta dilapangan. Khofifah juga menganjurkan agar lebih mengenal adat-istiadat, budaya dan tradisi masyarakat, tidak boleh melakukan hegemoni kultural, sebab keberagaman adat-istiadat dan budaya merupakan kekayaan negeri. <\/p>\n\n\n\n

Pelajaran Khofifah sangat mendalam dan bercirikhas Nusantara. Sebgaai Menteri \u00a0Sosial tentunya lebih berpengalaman apa yang dibutuhkan bangsa ini agar tetap jaya, bersatu dan utuh. Kenali perbedaan, hormati perbedaan, junjung tinggi budaya yang berbeda. \u00a0Apa yang telah dilakukan Khofifah dengan membawa rokok ke suku anak dalam adalah cermin penghormatan tradisi dan budaya masyarakat. Sebagai seorang Mentri, tentunya punya kuasa, artinya bisa seorang khofifah memberikan bantuan sesuai keinginannya sendiri, namun hal itu tidak dilakukan. Ia lebih mengedepankan penghormatan budaya masyarakat setempat, dengan membawa rokok untuk pendekatan dan pertemanan. Karena Khofifah tahu betul, bahwa merokok adalah budaya mereka, yang diwaris dari neneng moyang mereka. <\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Memilih Jalan Hidup Menikmati Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Simbol Pergerakan Nasional     <\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Abdul Rifa\u2019I dalam media bintang timur terbit pada 03 Oktober 1927, mengatakan, \u201ckopinya bukan kopi saringan, tetapi kopi tubruk sebab kopi ini katanya nationaal, gulanya gula jawa, susu tidak dipakai karena tidak nationaal. Rokoknya kelobot, selamatan natioanaal ini terus berlangsung ed sampai pagi hari\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Semangat nasionalisme harus tertanam, mengedepankan produk lokal adalah salah satu semangat nasionalime. Salah satu keberadaan rokok klobot menjadi ciri produk asli indonesia dan harus dilestarikan. Klobot sendiri adalah ramuan tembakau dan cengkeh di gulung memakai daun jagung, embrio perkembangan menjadi rokok sigaret kretek tangan dan sigaret kretek mesin.  
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pusaran Budaya Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pusaran-budaya-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-04 08:40:41","post_modified_gmt":"2019-02-04 01:40:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5406","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5403,"post_author":"919","post_date":"2019-02-03 09:05:50","post_date_gmt":"2019-02-03 02:05:50","post_content":"\n

Seringkali saya menyaksikan berbagai film baik itu Eropa atau Asia yang menggambarkan tentang masa depan. Pemandangan soal masa depan tersebut dihadirkan dengan gambaran kecanggihan teknologi seperti robot yang akan membantu kehidupan manusia, gedung-gedung yang tingginya sudah amat tak bisa ditandingi,  hingga mobil-mobil yang bisa terbang. <\/p>\n\n\n\n

Pernah dalam masa kecil saya menyaksikan sebuah film animasi buatan jepang yang mempertanyakan tentang makanan di masa depan. Dengan santai salah satu tokoh yang berasal dari masa depan itu menjawab bahwa suatu saat nanti manusia akan mengonsumsi makanan berupa pasta gigi namun dengan rasa yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa, aneh!<\/p>\n\n\n\n

Seiring waktu berjalan saya kian tumbuh dewasa dan punya kesadaran untuk memilih menjadi seorang perokok<\/a>. Saya juga melihat ada sebuah inovasi dan gambaran tentang masa depan yang hadir dalam kehidupan sekarang. Banyak memang, namun yang menyita perhatian saya adalah rokok elektrik atau yang populer disebut Vape. Konon katanya ia adalah produk inovasi untuk menjembatani kebutuhan menghisap asap dan kecanggihan masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Di awal kehadirannya Vape memang mengundang decak kekaguman saya. Bagaimana bisa sebuah mesin kecil mengeluarkan asap yang katanya lebih menyehatkan daripada rokok.<\/strong> Meski pada akhirnya teori tersebut juga bisa dibantah oleh beberapa ilmuan dunia. Tapi ada satu yang saya amati selain soal kesehatan, rokok elektrik rupanya menghadirkan kultur dan budaya baru dalam kehidupan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: LAGI-LAGI IKLAN ROKOK, KAPAN KPAI TIDAK TEBANG PILIH? <\/a><\/h4>\n\n\n\n

Kehadiran teknologi memang kerap sedikit atau benyak mengubah gaya atau kultur suatu masyarakat. Begitu pula yang saya perhatikan dengan rokok elektrik. Satu hal yang mudah diamati adalah menjamurnya toko-toko kecil yang menjual vape serta liquid di berbagai tempat. Sebagai sebuah warna baru dalam masyarakat, penggunanya ramai-ramai mengunjungi tempat tersebut berinteraksi dengan penikmat lainnya dan membangun sebuah rumah komunitas yang fleksibel.<\/p>\n\n\n\n

Meski belum bisa dikatakan memiliki jumlah penikmat yang setara dengan para perokok, pengguna Vape mulai menunjukkan eksistensinya. Selain toko yang tersebar, ragam acara juga mereka buat di beberapa daerah. Dalam lingkungan saya, beberapa teman yang dulunya merupakan perokok aktif tertarik mengikuti event tersebut dan beralih mengisap rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Nun jauh di sana, di Amerika Serikat tepatnya, budaya Vape juga sudah mulai berkembang lama ketimbang di Tanah Air. Penikmatnya terbagi menjadi dua, ada yang dulunya bekas perokok dan ada yang memang menikmatinya sebagai gaya hidup. Wajar saja mengingat facebook tak memperbolehkan iklan tembakau di platform mereka, sebaliknya iklan tentang vape justru bertebaran. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi budaya baru yang berkembang di berbagai belahan dunia bahkan di Indonesia, Vape konon menjadi alternatif yang lebih bermanfaat daripada rokok. Dalih yang diusung selalu sama kepada para perokok tradisonal yaitu soal kesehatan dan lebih irit. Soal kesehatan tentu ada beberapa pendapat para ilmuan yang membantahnya, namun soal irit, saya rasa tidak. Memang satu liquid bisa digunakan untuk beberapa Minggu, akan tetapi yang saya lihat di lapangan justru sebaliknya. <\/p>\n\n\n\n

Beberapa penikmat rokok elektrik kerap berbelanja liquid yang mereka idamkan. Terkadang, hal tersebut yang membuat mereka boros karena terus mengeksplor rasa mana yang mereka idam-idamkan. Tak jarang juga liquid dengan harga mahal hingga ratus ribuan akan mereka beli. Sebaliknya, para perokok konvensional justru kerap bertahan dengan satu rasa atau merek saja.<\/p>\n\n\n\n

Sedikit berbeda dengan penikmat rokok konvensional atau kretek. Mengingat rokok kretek sudah menjadi kebudayan lokal yang terus dipertahankan selama bertahun-tahun, kehadirannya sudah mewarnai khasanah keindonesiaan. Perokok kretek juga sudah punya soliditas luar biasa yang terbentuk sejak lama dan terus terbangun mengiringi peradaban di Indonesia atau dunia.<\/p>\n\n\n\n

Kini, perokok elektrik mulai merasakan kegelisahan. Beberapa negara mulai menerapkan peraturan ketat terhadap Vape, sedangkan di Indonesia biaya cukai pun kini mulai diberlakukan terhadap perdagangan rokok elektrik. Keberadaannya di mata negara pun mulai dianggap sama seperti rokok, meski pada awalnya rokok elektrik hadir dengan slogan-slogan produk alternatif yang lebih menyehatkan (katanya).<\/p>\n\n\n\n


Tapi jika kemudian di masa depan memang rokok elektrik yang kemudian menjadi sesuatu yang populer dan dinikmati banyak orang. Rasanya saya tetap ingin hidup di jaman ini, dengan sebatang kretek di tangan dan menikmati segala khasanah kebudayaan yang patut terus dipertahankan. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"masa-depan-rokok-elektrik-dan-semangat-alternatif-yang-sia-sia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-03 09:05:56","post_modified_gmt":"2019-02-03 02:05:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5403","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5385,"post_author":"883","post_date":"2019-02-02 08:01:01","post_date_gmt":"2019-02-02 01:01:01","post_content":"Pada tahun 2014, perusahaan rokok multinasional Philip Morris Internasional Inc. merilis sebuah produk <\/span>perangkat\u00a0<\/span>
rokok<\/span><\/a>\u00a0tanpa asap, yang dipanaskan bukan dibakar atau istilahnya\u00a0<\/span>heat not burn<\/i><\/strong>\u00a0(HNB) iQOS<\/strong>. <\/span>\r\n\r\nPerangkat rokok tanpa asap dengan nama iQOS<\/a> ini berbentuk seperti bagian luar pulpen, dengan lubang di tengah untuk rokok. Produk yang berada di bawah brand Marlboro ini dapat memanaskan rokok sampai 350 derajat celcius lalu mengeluarkan uap nikotin beraroma tembakau<\/em><\/a>.<\/span>\r\n

Produk iQOS sebenarnya bukanlah produk rokok tanpa asap yang pertama muncul. Sebelumnya di tahun 1990-an, Reynolds Tobacco Co pernah merilis produk serupa bernama Eclipes yang juga dapat menguapkan nikotin setelah dinyalakan dengan korek api.<\/span><\/blockquote>\r\nSelain itu, Eclips juga dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. Namun, pada saat itu Eclips tidak diminati oleh pasar, utamanya para perokok konvensional. Meskipun Eclips dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. <\/span>\r\n\r\nBisnis semacam rokok tanpa asap seperti Eclips dan iQOS memang sudah menjadi bagian dari rencana panjang bisnis perusahaan-perusahaan rokok multinasional. Jadi tidak usah heran jika ke depannya akan kita akan banyak menemukan produk rokok tanpa asap ini.<\/span>\r\n\r\nWatak dari perusahaan multinasional memang seperti itu, mereka sangat jeli melihat peluang pasar ke depannya. Ketika market place perusahaan rokok multinasional saat ini terus dirongrong oleh kelompok antirokok, mereka tak kehabisan akal. Maka kemudian mereka menginovasi produk rokok konvensional menjadi rokok yang tidak berasap. Begitupun dengan mengikutsertakan jargon-jargon kesehatan dalam narasi promosi mereka.<\/span>\r\n\r\nSesungguhnya memang seperti itulah watak bisnis perusahaan-perusahaan multinasional, melakukan segala cara agar bisnis mereka tetap bertahan, meskipun harus merangkul musuh sekalipun. <\/span>\r\n\r\nYa kadang pura-pura berantem sama antirokok, tapi dibalik itu sebenarnya baik-baik saja, dan tentunya ada kompromi untuk terus melanggengkan bisnis mereka.<\/span>\r\n

Lalu siapa yang dirugikan dari permainan bisnis macam produk rokok tanpa asap perusahaan rokok multinasional ini?<\/span><\/h3>\r\nTentunya yang sangat dirugikan adalah produk hasil tembakau yang memiliki kekhasan seperti kretek di Indonesia. Kretek sebagai produk khas asli Indonesia yang menjadi bagian dari warisan kebudayaan tidak mungkin bertransformasi menjadi produk-produk elektrik dan sejenisnya.<\/span>\r\n\r\nKretek tetaplah kretek, dengan bahan baku alami tembakau dan cengkeh yang tidak diintervensi dengan zat atau perangkat penghantar lainnya. Karena dengan bentuk, karakter dan cara menikmatinya memang konvensional dan akan terus begitu apapun kondisi dan zamannya.<\/span>\r\n
Bisnis produk rokok tanpa asap (elektrik) juga menghajar kretek dengan mendompleng isu pengendalian tembakau. Kampanye pengendalian tembakau selalu membawa slogan bahaya merokok dan upaya untuk berhenti merokok. <\/span><\/blockquote>\r\nDari isu tersebut, rokok elektrik masuk dengan citra produk alternatif tembakau, bahkan mereka tak segan menilai bahwa rokok elektrik lebih aman ketimbang rokok konvensional, yakni kretek.<\/span>\r\n\r\nLalu jika Indonesia akan dibanjiri dengan produk-produk yang mengatasnamakan produk alternatif tembakau, macam rokok tanpa asap (iQOS dan sejenisnya), maka itulah pertanda bahwa kretek harus tergerus dari cara hidup manusia Indonesia dalam menikmati produk hasil tembakau khas Indonesia yang sudah turun-temurun lamanya dinikmati manusia Indonesia.<\/span>","post_title":"Nasib Kretek di Pusaran Pertarungan Bisnis Global Perusahaan Rokok Multinasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"nasib-kretek-di-pusaran-pertarungan-bisnis-global-perusahaan-rokok-multinasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-02 08:01:43","post_modified_gmt":"2019-02-02 01:01:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5385","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; \n

Kampanye-kampanye gerakan mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya, sepertinya juga sangat berhasil. Bagaimana tidak? Wilayah-wilayah yang sebelumnya penuh dengan tanaman tembakau dan bergeliat dengannya, kini lahan-lahannya sudah berganti dengan tanaman lain. Sebuah keberhasilan yang menggembirakan. Begitu mungkin pikir mereka para yang menganggap dirinya pejuang anti-rokok dan anti-tembakau. Dan tentu saja mereka akan kecele dan kita akan menertawakan hal itu.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, mereka yang menganggap dirinya anti-rokok dan anti-tembakau tidak menyaksikan langsung fenomena ini di lapangan, di lahan-lahan yang peruntukannya berubah pada hari-hari belakangan ini ketika memasuki musim hujan. Mereka asyik duduk pada kursi empuk di ruang-ruang nyaman ber-AC di kota-kota yang jauh dari kultur pertanian. Mereka menyengajakan diri menjadi elit dan enggan untuk turun melihat langsung ke lapangan. Kalaupun ada yang turun langsung ke lapangan, hanya segelintir saja dari mereka, itupun sekadar formalitas saja. Tak pernah benar-benar mau turun ke lapangan, hidup dan merasakan langsung kultur pertanian tembakau dalam jangka waktu cukup lama di lapangan.<\/p>\n\n\n\n

Baca juga: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Fenomena ini membikin kita tak bisa melihat mereka para anti-rokok kecele lalu menertawakan mereka.<\/strong> Fenomena keengganan terjun langsung ke lapangan terlebih mencoba mendengar mereka yang tetap menanam tembakau, juga menjalani keseharian dalam waktu cukup lama bersama petani tembakau inilah yang saya kira menjadikan mereka tetap keras kepala untuk anti-rokok dan anti-tembakau. Karena jika mereka mau melakukan itu, saya yakin mereka semua tidak akan begitu kaku dalam memandang pertanian tembakau dan produk hasil industri tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu yang selalu mereka kampanyekan dan ngotot dengan itu, terkait hulu pertanian tembakau adalah mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya. Mereka berargumen banyak tanaman lain yang bisa semenguntungkan tanaman tembakau. Keengganan mereka terjun langsung ke lapangan inilah yang membikin mereka buta dengan kondisi pertanian tembakau dan pada akhirnya terus menerus mengampanyekan pergantian tanaman tembakau dengan tanaman lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca juga: Imanlah kepada Allah, Bukan Antirokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tembakau tanaman yang khas. Ia hanya tumbuh baik sepanjang empat hingga lima bulan dalam satu tahun. Tumbuh-kembang tanaman tembakau dengan baik itu umumnya terjadi pada musim kemarau setiap tahunnya. Hanya sedikit sekali jenis tembakau yang tumbuh baik di musim penghujan, mayoritasnya, tumbuh baik pada musim kemarau.<\/p>\n\n\n\n

Jika ditanam pada musim hujan, hampir bisa dipastikan tanaman tembakau akan gagal menghasilkan daun-daun yang berkualitas. Ia akan rusak dan membusuk karena terlalu banyak terkena air sehingga daun-daun itu tak layak dijual. Jangankan bisa dijual, untuk tumbuh dengan baik pun sepertinya sulit karena musim hujan akan membunuh banyak tanaman itu.<\/p>\n\n\n\n

Maka, tak heran pada musim-musim seperti saat ini, ketika musim penghujan mendekati puncaknya, di wilayah-wilayah yang dikenal sebagai sentra pertanian tembakau, sulit menemukan pohon tembakau yang sedang tumbuh. Pada lahan-lahan yang sebelumnya ditumbuhi tanaman tembakau pada musim panas, berganti tanaman-tanaman lain yang bermacam-macam, sesuai dengan kondisi lahannya. Untuk lahan sawah, lahan-lahan itu pada musim penghujan kini ditumbuhi tanaman padi yang subur. Pada lahan tegalan dan lahan di pegunungan, lahan-lahan yang ditanami tembakau pada musim kemarau, saat ini ditumbuhi bermacam jenis tanaman mulai dari cabai, bawang, tomat, kol, terong, mentimun, dan ragam jenis tanaman semusim lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Uniknya, tipikal tanaman tembakau yang tumbuh baik di musim kemarau ini memberi pilihan lebih kepada para petani. Lahan-lahan yang sulit ditanami pada musim kemarau, pada akhirnya masih bisa tetap produktif dengan keberadaan tanaman tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Maka, kampanye aneh mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain dengan ragam rupa dalih yang membingungkan, bukan saja sama sekali tidak tepat dan asal-asalan, namun bisa jadi akan ditertawakan oleh para petani yang begitu paham dengan kondisi lahan dan terutama kondisi iklim dan cuaca. Sulit mencari tanaman semusim yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Jika pun ada, tak ada yang semenguntungkan tanaman tembakau.
<\/p>\n","post_title":"Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"keberhasilan-gerakan-anti-tembakau-tak-ada-tembakau-saat-musim-hujan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-07 12:16:02","post_modified_gmt":"2019-02-07 05:16:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5415","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5409,"post_author":"919","post_date":"2019-02-05 08:04:43","post_date_gmt":"2019-02-05 01:04:43","post_content":"\n

Tahun Baru Imlek yang merupakan tradisi Bangsa Tiongkok kini sudah tak lagi menjadi hal yang asing bagi masyarakat Indonesia. Kehadirannya sudah mewarnai dan berakulturasi dengan tradisi lokal. Menjelang Tahun Baru Imlek. Berbagai hiasan dan kemeriahan terjadi beberapa titik di Tanah Air. Perayaannya juga menjadi destinasi baru yang mengasyikkan untuk dilihat dan patut disaksikan.<\/p>\n\n\n\n

Berterimakasihlah kepada sang bapak bangsa, KH Abdurrahman Wahid atau yang dikenal dengan nama Gus Dur. Berkat kebijakannya saat menjadi Presiden Indonesia, Tahun Baru Imlek resmi dijadikan hari libur nasional dan dianggap sebagai salah satu hari raya di Tanah Air. Meski sentimen antitionghoa masih ada di sana-sini, tapi tetap tak bisa dipungkiri bahwa bangsa tionghoa sudah bersentuhan dengan budaya lokal dalam kurun waktu yang sangat panjang.<\/p>\n\n\n\n

DNA Bangsa Tionghoa yang memang merupakan pedagang menjadi pembuka kisah interaksi antara nenek moyang berbagai suku di Nusantara dengan mereka. Beberapa kelenteng-kelenteng yang tersebar pada berbagai pesisir daerah di Nusantara jadi buktinya. Pelabuhan-pelabuhan tua di tanah air dan ramainya perdagangan di pesisir mempermudah bangsa kita berhubungan dengan Bangsa Tionghoa.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Wong Kalang dan Kota Gede<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa kehadiran Bangsa Tionghoa di Nusantara tak hanya sebagai pedagang, namun juga sebagai pekerja (bahkan hingga pekerja kasar). Benny Setiono, seorang sejarahwan menyebutkan bahwa antara tahun 1760-1770 dalam jumlah yang besar memasuki nusantara melalui Kalimantan Barat. Mereka bekerja sebagai kuli pertambangan di sana dan di kemudian hari membentuk sebuah republik bernama Republik Lanfang yang konon katanya menjadi republik pertama di Asia Tenggara.<\/p>\n\n\n\n

Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Imlek dan Indonesia<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n\n\n\n

Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
<\/p>\n","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5406,"post_author":"877","post_date":"2019-02-04 08:23:48","post_date_gmt":"2019-02-04 01:23:48","post_content":"\n

Merokok itu sudah menjadi bagian dari budaya dan tradisi masyarakat, jauh sebelum Indonesia merdeka. Banyak cerita atau kisah tentang kretek <\/a><\/del>di tengah-tengah masyarakat bangsa ini, mulai sebagai alat untuk meraup keuntungan, alat komunikasi, sebagai teman sampai menjadi simbol pergerakan. <\/p>\n\n\n\n

Kretek, Simbol Perlawanan Roro Mendut<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Siapa yang tidak pernah mendengan cerita tentang Roro Mendut?, di telinga masyarakat Indonesia, kisah Roro Mendut tidak asing lagi.  Perempuan yang mempunyai paras wajah cantik, dan digandrungi kaum adam terutama kalangan putra kerajaan. Informasi kecantikan Roro Mendut tersebar seantero Nusantara, tidak satupun pria meragukan kecantikannya.  Bahkan kisah dan cerita kecantikan Roro Mendut tercatat dalam buku Babad Tanah Jawi. <\/p>\n\n\n\n

Diperkirakan pada tahun 1627, pada saat panglima perang Sultan Agung Mataram bernama Tumenggung Wiraguna berhasil menumpas pemberontakan di kota Pati, sebagai imbalanan atas keberhasilannya, mendapat hadiah wanita pujaan pria bernama Rara Mendut dari Kasultanan Agung Mataram.  Roro Mendut menolak dipinang Tumenggung Wiraguna, dan secara terang-terangan memilih pria lain dambaannya. Akibatnya, Roro Mendut harus membayar pajak setiap harinya kepada kerajaan Mataram. <\/p>\n\n\n\n

Bisa dibayangkan, betapa bingungnya Roro Mendut saat itu. Uang dari mana, ia hasilkan untuk bayar pajak tiap hari demi bisa bersama kekasihnya. Ternyata Roro Mendut tidak hanya cantik tetapi cerdas dan kreatif, bisa membaca peluang bisnis saat itu. Ide cermerlang muncul dengan berdagang\/berjualan rokok lintingan yang direkatkan dengan air ludahnya, dan sebelum menjualnya, rokok lintingan di sulut dahulu dan dihisap bekas bibir merahnya. Kemudian baru dijual ke pembeli yang berdesakan berjejer antri. <\/p>\n\n\n\n

Entah dari mana ide menjual rokok itu muncul. Yang jelas saking larisnya, kewajiban pajak Roro Mendut terpenuhi. Dan mungkin keadaannya akan lebih parah, jika saat itu Roro Mendut tidak berdagang rokok. Tidak akan terpenuhi kewajiban pajaknya. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Dengan rokok, hidup Roro Mendut terselamatkan. Adanya rokok, \u00a0Roro Mendut bebas dari belenggu kekuasaan. Berkat rokok, Roro Mendut terkengan, mengisi rubik informasi sejarah begitu kuatnya budaya merokok di \u00a0Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Pusaka Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek, Teman Perjuangan  Diponegoro<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Semasa berjuang melawan penjajah, yang harus dilakukan Diponegoro berpindah-pindah dari kota satu ke kota lain. Strategi perlawanan Diponegoro, kemudian sebagai basis strategi perang gerilya. Strategi yang menjadi idola dan kebanggaan tentara Indonesia. Dengan bergerilya, tentara Indonesia mampu mengecoh kekutan lawan yang lebih besar jumlahnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu, tenyata banyak cerita, Diponegoro saat berperang ditemani rokok. Ia dan pasukannya gemar merokok. Bahkan ketika tidak ada rokok, Pangeran Diponegoro rela hanya megunyah daun sirih yang diracik dengan kapur dan pinang. <\/p>\n\n\n\n

Kebiasaan ini, juga dialami oleh pengikut \/pasukan perang Pangeran Diponegoro. Bagi mereka, rokok teman sejati, menemani disetiap perjalanan mereka. Rokok menghilangkan depresi mereka, sebagai hiburan saat jauh dari keluarga demi berjuang melawan penjajah. Rokok menumbuhkan percaya diri mereka, lebih berani melawan penjajah walaupun hanya dengan serba keterbatasan, pasukan jumlah terbatas, alat perang terbatas dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Baca juga: Pangeran Diponegoro, Rokok Klobot dan Perlawanan Simbolis<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Jati Diri Bangsa<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Salah satu \u201cpendiri bangsa\u201d bernama KH. Agus Salim menghisap kretek dengan asapnya di kebal-kebulkan keudara, disaat ada perjamuan di Istana Buckingham ketika penobatan Elizabeth II sebagai Ratu kerajaan Inggris. Aroma khas keluar dari asap rokok kretek, tercium orang yang berada di ruang perjamuan. Sehingga memancing salah satu orang yang datang dalam perjamuan, dengan berkata; \u201ctuan sedang menghisap apa itu?\u201d.  Sentak KH. Agus Salim menjawab, \u201c inilah yang membuat nenek moyang anda sekian abad lalu datang dan kemudian menjajah negeri kami\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Jawaban KH. Agus Salim, faktanya memang benar. Rokok kretek tidak lain ada tambahan cengkeh (suzygium aromaticum<\/em>). \u00a0Tanaman legendaris menjadi rebutan dan sumber keuntungan kolonialisme Eropa atas Asia termasuk Indonesia. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Cengkeh adalah salah satu tanaman yang diperebutkan bangsa-bangsa dunia, sampai melegalkan penjajahan.  Dalam simpulan perjalanan ekspedisi cengkeh tahun 2013, Kepala Suku begitu julukan bagi Putut Ea, mengatakan \u201c jika saja tak pernah ada cengkeh dan pala di Maluku, mungkin sejarah kepulauan Nusantara ini akan berbeda sama sekali\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Simpulan Putut EA, sebagai salah satu pembenar perkataan \u00a0KH. Agus Salim. Mungkin, jika tanaman cengkeh tidak ada, fakta sejarah akan berbeda, tidak ada penjajahan di bumi Nusantara ini. <\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Mengisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek untuk Berteman dan Menjalin Persaudaraan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Teringat apa yang pernah dilakukan Menteri Sosial dan Lingkungan Hidup, saat melakukan pendekatan pada suku anak dalam di Jambi. Tidak lain ia adalah Khofifah menteri perempuan yang energik. Saat itu Khofifah bertanggungjawab dalam mengatasi masalah pendidikan dan kesejahteraan masyarakat suku anak dalam di Jambi.  <\/p>\n\n\n\n

Kebijakannya membuat fenomenal, selain bahan makanan, dan bantuan lain, khofifah juga membawa rokok.  Yang kemudian ada yang mengggugat dari anti rokok, tetapi sebagai Menteri, Khofifah tentunya sudah mengkaji secara mendalam. Dengan kecerdasannya , Khofifah menjawab dengan tegas dan lugas, \u201cjangan sok tahu kehidupan mereka, kenali apa yang menjadi ritme kehidupan mereka. Sangat bijaksana kalau kita semua pergi kesana, sehingga tahu adat istiadatnya juga. Tolong kalau ingin mengerti tentang kultur jangan hanya dari kacamata Jakarta. Saya pun ingin mengajak anda kesana, turun kesana, sapalah mereka\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Khofifah memberikan pelajaran bagi anti rokok. Tidak boleh sok tahu, apalagi selama ini antirokok hanya berasumsi, tanpa melihat fakta dilapangan. Khofifah juga menganjurkan agar lebih mengenal adat-istiadat, budaya dan tradisi masyarakat, tidak boleh melakukan hegemoni kultural, sebab keberagaman adat-istiadat dan budaya merupakan kekayaan negeri. <\/p>\n\n\n\n

Pelajaran Khofifah sangat mendalam dan bercirikhas Nusantara. Sebgaai Menteri \u00a0Sosial tentunya lebih berpengalaman apa yang dibutuhkan bangsa ini agar tetap jaya, bersatu dan utuh. Kenali perbedaan, hormati perbedaan, junjung tinggi budaya yang berbeda. \u00a0Apa yang telah dilakukan Khofifah dengan membawa rokok ke suku anak dalam adalah cermin penghormatan tradisi dan budaya masyarakat. Sebagai seorang Mentri, tentunya punya kuasa, artinya bisa seorang khofifah memberikan bantuan sesuai keinginannya sendiri, namun hal itu tidak dilakukan. Ia lebih mengedepankan penghormatan budaya masyarakat setempat, dengan membawa rokok untuk pendekatan dan pertemanan. Karena Khofifah tahu betul, bahwa merokok adalah budaya mereka, yang diwaris dari neneng moyang mereka. <\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Memilih Jalan Hidup Menikmati Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Simbol Pergerakan Nasional     <\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Abdul Rifa\u2019I dalam media bintang timur terbit pada 03 Oktober 1927, mengatakan, \u201ckopinya bukan kopi saringan, tetapi kopi tubruk sebab kopi ini katanya nationaal, gulanya gula jawa, susu tidak dipakai karena tidak nationaal. Rokoknya kelobot, selamatan natioanaal ini terus berlangsung ed sampai pagi hari\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Semangat nasionalisme harus tertanam, mengedepankan produk lokal adalah salah satu semangat nasionalime. Salah satu keberadaan rokok klobot menjadi ciri produk asli indonesia dan harus dilestarikan. Klobot sendiri adalah ramuan tembakau dan cengkeh di gulung memakai daun jagung, embrio perkembangan menjadi rokok sigaret kretek tangan dan sigaret kretek mesin.  
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pusaran Budaya Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pusaran-budaya-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-04 08:40:41","post_modified_gmt":"2019-02-04 01:40:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5406","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5403,"post_author":"919","post_date":"2019-02-03 09:05:50","post_date_gmt":"2019-02-03 02:05:50","post_content":"\n

Seringkali saya menyaksikan berbagai film baik itu Eropa atau Asia yang menggambarkan tentang masa depan. Pemandangan soal masa depan tersebut dihadirkan dengan gambaran kecanggihan teknologi seperti robot yang akan membantu kehidupan manusia, gedung-gedung yang tingginya sudah amat tak bisa ditandingi,  hingga mobil-mobil yang bisa terbang. <\/p>\n\n\n\n

Pernah dalam masa kecil saya menyaksikan sebuah film animasi buatan jepang yang mempertanyakan tentang makanan di masa depan. Dengan santai salah satu tokoh yang berasal dari masa depan itu menjawab bahwa suatu saat nanti manusia akan mengonsumsi makanan berupa pasta gigi namun dengan rasa yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa, aneh!<\/p>\n\n\n\n

Seiring waktu berjalan saya kian tumbuh dewasa dan punya kesadaran untuk memilih menjadi seorang perokok<\/a>. Saya juga melihat ada sebuah inovasi dan gambaran tentang masa depan yang hadir dalam kehidupan sekarang. Banyak memang, namun yang menyita perhatian saya adalah rokok elektrik atau yang populer disebut Vape. Konon katanya ia adalah produk inovasi untuk menjembatani kebutuhan menghisap asap dan kecanggihan masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Di awal kehadirannya Vape memang mengundang decak kekaguman saya. Bagaimana bisa sebuah mesin kecil mengeluarkan asap yang katanya lebih menyehatkan daripada rokok.<\/strong> Meski pada akhirnya teori tersebut juga bisa dibantah oleh beberapa ilmuan dunia. Tapi ada satu yang saya amati selain soal kesehatan, rokok elektrik rupanya menghadirkan kultur dan budaya baru dalam kehidupan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: LAGI-LAGI IKLAN ROKOK, KAPAN KPAI TIDAK TEBANG PILIH? <\/a><\/h4>\n\n\n\n

Kehadiran teknologi memang kerap sedikit atau benyak mengubah gaya atau kultur suatu masyarakat. Begitu pula yang saya perhatikan dengan rokok elektrik. Satu hal yang mudah diamati adalah menjamurnya toko-toko kecil yang menjual vape serta liquid di berbagai tempat. Sebagai sebuah warna baru dalam masyarakat, penggunanya ramai-ramai mengunjungi tempat tersebut berinteraksi dengan penikmat lainnya dan membangun sebuah rumah komunitas yang fleksibel.<\/p>\n\n\n\n

Meski belum bisa dikatakan memiliki jumlah penikmat yang setara dengan para perokok, pengguna Vape mulai menunjukkan eksistensinya. Selain toko yang tersebar, ragam acara juga mereka buat di beberapa daerah. Dalam lingkungan saya, beberapa teman yang dulunya merupakan perokok aktif tertarik mengikuti event tersebut dan beralih mengisap rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Nun jauh di sana, di Amerika Serikat tepatnya, budaya Vape juga sudah mulai berkembang lama ketimbang di Tanah Air. Penikmatnya terbagi menjadi dua, ada yang dulunya bekas perokok dan ada yang memang menikmatinya sebagai gaya hidup. Wajar saja mengingat facebook tak memperbolehkan iklan tembakau di platform mereka, sebaliknya iklan tentang vape justru bertebaran. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi budaya baru yang berkembang di berbagai belahan dunia bahkan di Indonesia, Vape konon menjadi alternatif yang lebih bermanfaat daripada rokok. Dalih yang diusung selalu sama kepada para perokok tradisonal yaitu soal kesehatan dan lebih irit. Soal kesehatan tentu ada beberapa pendapat para ilmuan yang membantahnya, namun soal irit, saya rasa tidak. Memang satu liquid bisa digunakan untuk beberapa Minggu, akan tetapi yang saya lihat di lapangan justru sebaliknya. <\/p>\n\n\n\n

Beberapa penikmat rokok elektrik kerap berbelanja liquid yang mereka idamkan. Terkadang, hal tersebut yang membuat mereka boros karena terus mengeksplor rasa mana yang mereka idam-idamkan. Tak jarang juga liquid dengan harga mahal hingga ratus ribuan akan mereka beli. Sebaliknya, para perokok konvensional justru kerap bertahan dengan satu rasa atau merek saja.<\/p>\n\n\n\n

Sedikit berbeda dengan penikmat rokok konvensional atau kretek. Mengingat rokok kretek sudah menjadi kebudayan lokal yang terus dipertahankan selama bertahun-tahun, kehadirannya sudah mewarnai khasanah keindonesiaan. Perokok kretek juga sudah punya soliditas luar biasa yang terbentuk sejak lama dan terus terbangun mengiringi peradaban di Indonesia atau dunia.<\/p>\n\n\n\n

Kini, perokok elektrik mulai merasakan kegelisahan. Beberapa negara mulai menerapkan peraturan ketat terhadap Vape, sedangkan di Indonesia biaya cukai pun kini mulai diberlakukan terhadap perdagangan rokok elektrik. Keberadaannya di mata negara pun mulai dianggap sama seperti rokok, meski pada awalnya rokok elektrik hadir dengan slogan-slogan produk alternatif yang lebih menyehatkan (katanya).<\/p>\n\n\n\n


Tapi jika kemudian di masa depan memang rokok elektrik yang kemudian menjadi sesuatu yang populer dan dinikmati banyak orang. Rasanya saya tetap ingin hidup di jaman ini, dengan sebatang kretek di tangan dan menikmati segala khasanah kebudayaan yang patut terus dipertahankan. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"masa-depan-rokok-elektrik-dan-semangat-alternatif-yang-sia-sia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-03 09:05:56","post_modified_gmt":"2019-02-03 02:05:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5403","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5385,"post_author":"883","post_date":"2019-02-02 08:01:01","post_date_gmt":"2019-02-02 01:01:01","post_content":"Pada tahun 2014, perusahaan rokok multinasional Philip Morris Internasional Inc. merilis sebuah produk <\/span>perangkat\u00a0<\/span>
rokok<\/span><\/a>\u00a0tanpa asap, yang dipanaskan bukan dibakar atau istilahnya\u00a0<\/span>heat not burn<\/i><\/strong>\u00a0(HNB) iQOS<\/strong>. <\/span>\r\n\r\nPerangkat rokok tanpa asap dengan nama iQOS<\/a> ini berbentuk seperti bagian luar pulpen, dengan lubang di tengah untuk rokok. Produk yang berada di bawah brand Marlboro ini dapat memanaskan rokok sampai 350 derajat celcius lalu mengeluarkan uap nikotin beraroma tembakau<\/em><\/a>.<\/span>\r\n

Produk iQOS sebenarnya bukanlah produk rokok tanpa asap yang pertama muncul. Sebelumnya di tahun 1990-an, Reynolds Tobacco Co pernah merilis produk serupa bernama Eclipes yang juga dapat menguapkan nikotin setelah dinyalakan dengan korek api.<\/span><\/blockquote>\r\nSelain itu, Eclips juga dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. Namun, pada saat itu Eclips tidak diminati oleh pasar, utamanya para perokok konvensional. Meskipun Eclips dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. <\/span>\r\n\r\nBisnis semacam rokok tanpa asap seperti Eclips dan iQOS memang sudah menjadi bagian dari rencana panjang bisnis perusahaan-perusahaan rokok multinasional. Jadi tidak usah heran jika ke depannya akan kita akan banyak menemukan produk rokok tanpa asap ini.<\/span>\r\n\r\nWatak dari perusahaan multinasional memang seperti itu, mereka sangat jeli melihat peluang pasar ke depannya. Ketika market place perusahaan rokok multinasional saat ini terus dirongrong oleh kelompok antirokok, mereka tak kehabisan akal. Maka kemudian mereka menginovasi produk rokok konvensional menjadi rokok yang tidak berasap. Begitupun dengan mengikutsertakan jargon-jargon kesehatan dalam narasi promosi mereka.<\/span>\r\n\r\nSesungguhnya memang seperti itulah watak bisnis perusahaan-perusahaan multinasional, melakukan segala cara agar bisnis mereka tetap bertahan, meskipun harus merangkul musuh sekalipun. <\/span>\r\n\r\nYa kadang pura-pura berantem sama antirokok, tapi dibalik itu sebenarnya baik-baik saja, dan tentunya ada kompromi untuk terus melanggengkan bisnis mereka.<\/span>\r\n

Lalu siapa yang dirugikan dari permainan bisnis macam produk rokok tanpa asap perusahaan rokok multinasional ini?<\/span><\/h3>\r\nTentunya yang sangat dirugikan adalah produk hasil tembakau yang memiliki kekhasan seperti kretek di Indonesia. Kretek sebagai produk khas asli Indonesia yang menjadi bagian dari warisan kebudayaan tidak mungkin bertransformasi menjadi produk-produk elektrik dan sejenisnya.<\/span>\r\n\r\nKretek tetaplah kretek, dengan bahan baku alami tembakau dan cengkeh yang tidak diintervensi dengan zat atau perangkat penghantar lainnya. Karena dengan bentuk, karakter dan cara menikmatinya memang konvensional dan akan terus begitu apapun kondisi dan zamannya.<\/span>\r\n
Bisnis produk rokok tanpa asap (elektrik) juga menghajar kretek dengan mendompleng isu pengendalian tembakau. Kampanye pengendalian tembakau selalu membawa slogan bahaya merokok dan upaya untuk berhenti merokok. <\/span><\/blockquote>\r\nDari isu tersebut, rokok elektrik masuk dengan citra produk alternatif tembakau, bahkan mereka tak segan menilai bahwa rokok elektrik lebih aman ketimbang rokok konvensional, yakni kretek.<\/span>\r\n\r\nLalu jika Indonesia akan dibanjiri dengan produk-produk yang mengatasnamakan produk alternatif tembakau, macam rokok tanpa asap (iQOS dan sejenisnya), maka itulah pertanda bahwa kretek harus tergerus dari cara hidup manusia Indonesia dalam menikmati produk hasil tembakau khas Indonesia yang sudah turun-temurun lamanya dinikmati manusia Indonesia.<\/span>","post_title":"Nasib Kretek di Pusaran Pertarungan Bisnis Global Perusahaan Rokok Multinasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"nasib-kretek-di-pusaran-pertarungan-bisnis-global-perusahaan-rokok-multinasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-02 08:01:43","post_modified_gmt":"2019-02-02 01:01:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5385","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; \n

Tak sia-sia turun ke jalan, tak sia-sia melakukan lobi-lobi ke penguasa, tak sia-sia mengucurkan uang yang tidak sedikit, dan tak sia-sia mempermalukan diri dengan mengemis ke lembaga donor asing dan menggondol uang dari cukai tembakau untuk mengampanyekan gerakan anti-rokok dan anti-tembakau. Tak sia-sia. Karena perjuangan sepertinya berhasil.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Kampanye-kampanye gerakan mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya, sepertinya juga sangat berhasil. Bagaimana tidak? Wilayah-wilayah yang sebelumnya penuh dengan tanaman tembakau dan bergeliat dengannya, kini lahan-lahannya sudah berganti dengan tanaman lain. Sebuah keberhasilan yang menggembirakan. Begitu mungkin pikir mereka para yang menganggap dirinya pejuang anti-rokok dan anti-tembakau. Dan tentu saja mereka akan kecele dan kita akan menertawakan hal itu.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, mereka yang menganggap dirinya anti-rokok dan anti-tembakau tidak menyaksikan langsung fenomena ini di lapangan, di lahan-lahan yang peruntukannya berubah pada hari-hari belakangan ini ketika memasuki musim hujan. Mereka asyik duduk pada kursi empuk di ruang-ruang nyaman ber-AC di kota-kota yang jauh dari kultur pertanian. Mereka menyengajakan diri menjadi elit dan enggan untuk turun melihat langsung ke lapangan. Kalaupun ada yang turun langsung ke lapangan, hanya segelintir saja dari mereka, itupun sekadar formalitas saja. Tak pernah benar-benar mau turun ke lapangan, hidup dan merasakan langsung kultur pertanian tembakau dalam jangka waktu cukup lama di lapangan.<\/p>\n\n\n\n

Baca juga: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Fenomena ini membikin kita tak bisa melihat mereka para anti-rokok kecele lalu menertawakan mereka.<\/strong> Fenomena keengganan terjun langsung ke lapangan terlebih mencoba mendengar mereka yang tetap menanam tembakau, juga menjalani keseharian dalam waktu cukup lama bersama petani tembakau inilah yang saya kira menjadikan mereka tetap keras kepala untuk anti-rokok dan anti-tembakau. Karena jika mereka mau melakukan itu, saya yakin mereka semua tidak akan begitu kaku dalam memandang pertanian tembakau dan produk hasil industri tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu yang selalu mereka kampanyekan dan ngotot dengan itu, terkait hulu pertanian tembakau adalah mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya. Mereka berargumen banyak tanaman lain yang bisa semenguntungkan tanaman tembakau. Keengganan mereka terjun langsung ke lapangan inilah yang membikin mereka buta dengan kondisi pertanian tembakau dan pada akhirnya terus menerus mengampanyekan pergantian tanaman tembakau dengan tanaman lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca juga: Imanlah kepada Allah, Bukan Antirokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tembakau tanaman yang khas. Ia hanya tumbuh baik sepanjang empat hingga lima bulan dalam satu tahun. Tumbuh-kembang tanaman tembakau dengan baik itu umumnya terjadi pada musim kemarau setiap tahunnya. Hanya sedikit sekali jenis tembakau yang tumbuh baik di musim penghujan, mayoritasnya, tumbuh baik pada musim kemarau.<\/p>\n\n\n\n

Jika ditanam pada musim hujan, hampir bisa dipastikan tanaman tembakau akan gagal menghasilkan daun-daun yang berkualitas. Ia akan rusak dan membusuk karena terlalu banyak terkena air sehingga daun-daun itu tak layak dijual. Jangankan bisa dijual, untuk tumbuh dengan baik pun sepertinya sulit karena musim hujan akan membunuh banyak tanaman itu.<\/p>\n\n\n\n

Maka, tak heran pada musim-musim seperti saat ini, ketika musim penghujan mendekati puncaknya, di wilayah-wilayah yang dikenal sebagai sentra pertanian tembakau, sulit menemukan pohon tembakau yang sedang tumbuh. Pada lahan-lahan yang sebelumnya ditumbuhi tanaman tembakau pada musim panas, berganti tanaman-tanaman lain yang bermacam-macam, sesuai dengan kondisi lahannya. Untuk lahan sawah, lahan-lahan itu pada musim penghujan kini ditumbuhi tanaman padi yang subur. Pada lahan tegalan dan lahan di pegunungan, lahan-lahan yang ditanami tembakau pada musim kemarau, saat ini ditumbuhi bermacam jenis tanaman mulai dari cabai, bawang, tomat, kol, terong, mentimun, dan ragam jenis tanaman semusim lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Uniknya, tipikal tanaman tembakau yang tumbuh baik di musim kemarau ini memberi pilihan lebih kepada para petani. Lahan-lahan yang sulit ditanami pada musim kemarau, pada akhirnya masih bisa tetap produktif dengan keberadaan tanaman tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Maka, kampanye aneh mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain dengan ragam rupa dalih yang membingungkan, bukan saja sama sekali tidak tepat dan asal-asalan, namun bisa jadi akan ditertawakan oleh para petani yang begitu paham dengan kondisi lahan dan terutama kondisi iklim dan cuaca. Sulit mencari tanaman semusim yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Jika pun ada, tak ada yang semenguntungkan tanaman tembakau.
<\/p>\n","post_title":"Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"keberhasilan-gerakan-anti-tembakau-tak-ada-tembakau-saat-musim-hujan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-07 12:16:02","post_modified_gmt":"2019-02-07 05:16:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5415","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5409,"post_author":"919","post_date":"2019-02-05 08:04:43","post_date_gmt":"2019-02-05 01:04:43","post_content":"\n

Tahun Baru Imlek yang merupakan tradisi Bangsa Tiongkok kini sudah tak lagi menjadi hal yang asing bagi masyarakat Indonesia. Kehadirannya sudah mewarnai dan berakulturasi dengan tradisi lokal. Menjelang Tahun Baru Imlek. Berbagai hiasan dan kemeriahan terjadi beberapa titik di Tanah Air. Perayaannya juga menjadi destinasi baru yang mengasyikkan untuk dilihat dan patut disaksikan.<\/p>\n\n\n\n

Berterimakasihlah kepada sang bapak bangsa, KH Abdurrahman Wahid atau yang dikenal dengan nama Gus Dur. Berkat kebijakannya saat menjadi Presiden Indonesia, Tahun Baru Imlek resmi dijadikan hari libur nasional dan dianggap sebagai salah satu hari raya di Tanah Air. Meski sentimen antitionghoa masih ada di sana-sini, tapi tetap tak bisa dipungkiri bahwa bangsa tionghoa sudah bersentuhan dengan budaya lokal dalam kurun waktu yang sangat panjang.<\/p>\n\n\n\n

DNA Bangsa Tionghoa yang memang merupakan pedagang menjadi pembuka kisah interaksi antara nenek moyang berbagai suku di Nusantara dengan mereka. Beberapa kelenteng-kelenteng yang tersebar pada berbagai pesisir daerah di Nusantara jadi buktinya. Pelabuhan-pelabuhan tua di tanah air dan ramainya perdagangan di pesisir mempermudah bangsa kita berhubungan dengan Bangsa Tionghoa.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Wong Kalang dan Kota Gede<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa kehadiran Bangsa Tionghoa di Nusantara tak hanya sebagai pedagang, namun juga sebagai pekerja (bahkan hingga pekerja kasar). Benny Setiono, seorang sejarahwan menyebutkan bahwa antara tahun 1760-1770 dalam jumlah yang besar memasuki nusantara melalui Kalimantan Barat. Mereka bekerja sebagai kuli pertambangan di sana dan di kemudian hari membentuk sebuah republik bernama Republik Lanfang yang konon katanya menjadi republik pertama di Asia Tenggara.<\/p>\n\n\n\n

Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Imlek dan Indonesia<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n\n\n\n

Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
<\/p>\n","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5406,"post_author":"877","post_date":"2019-02-04 08:23:48","post_date_gmt":"2019-02-04 01:23:48","post_content":"\n

Merokok itu sudah menjadi bagian dari budaya dan tradisi masyarakat, jauh sebelum Indonesia merdeka. Banyak cerita atau kisah tentang kretek <\/a><\/del>di tengah-tengah masyarakat bangsa ini, mulai sebagai alat untuk meraup keuntungan, alat komunikasi, sebagai teman sampai menjadi simbol pergerakan. <\/p>\n\n\n\n

Kretek, Simbol Perlawanan Roro Mendut<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Siapa yang tidak pernah mendengan cerita tentang Roro Mendut?, di telinga masyarakat Indonesia, kisah Roro Mendut tidak asing lagi.  Perempuan yang mempunyai paras wajah cantik, dan digandrungi kaum adam terutama kalangan putra kerajaan. Informasi kecantikan Roro Mendut tersebar seantero Nusantara, tidak satupun pria meragukan kecantikannya.  Bahkan kisah dan cerita kecantikan Roro Mendut tercatat dalam buku Babad Tanah Jawi. <\/p>\n\n\n\n

Diperkirakan pada tahun 1627, pada saat panglima perang Sultan Agung Mataram bernama Tumenggung Wiraguna berhasil menumpas pemberontakan di kota Pati, sebagai imbalanan atas keberhasilannya, mendapat hadiah wanita pujaan pria bernama Rara Mendut dari Kasultanan Agung Mataram.  Roro Mendut menolak dipinang Tumenggung Wiraguna, dan secara terang-terangan memilih pria lain dambaannya. Akibatnya, Roro Mendut harus membayar pajak setiap harinya kepada kerajaan Mataram. <\/p>\n\n\n\n

Bisa dibayangkan, betapa bingungnya Roro Mendut saat itu. Uang dari mana, ia hasilkan untuk bayar pajak tiap hari demi bisa bersama kekasihnya. Ternyata Roro Mendut tidak hanya cantik tetapi cerdas dan kreatif, bisa membaca peluang bisnis saat itu. Ide cermerlang muncul dengan berdagang\/berjualan rokok lintingan yang direkatkan dengan air ludahnya, dan sebelum menjualnya, rokok lintingan di sulut dahulu dan dihisap bekas bibir merahnya. Kemudian baru dijual ke pembeli yang berdesakan berjejer antri. <\/p>\n\n\n\n

Entah dari mana ide menjual rokok itu muncul. Yang jelas saking larisnya, kewajiban pajak Roro Mendut terpenuhi. Dan mungkin keadaannya akan lebih parah, jika saat itu Roro Mendut tidak berdagang rokok. Tidak akan terpenuhi kewajiban pajaknya. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Dengan rokok, hidup Roro Mendut terselamatkan. Adanya rokok, \u00a0Roro Mendut bebas dari belenggu kekuasaan. Berkat rokok, Roro Mendut terkengan, mengisi rubik informasi sejarah begitu kuatnya budaya merokok di \u00a0Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Pusaka Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek, Teman Perjuangan  Diponegoro<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Semasa berjuang melawan penjajah, yang harus dilakukan Diponegoro berpindah-pindah dari kota satu ke kota lain. Strategi perlawanan Diponegoro, kemudian sebagai basis strategi perang gerilya. Strategi yang menjadi idola dan kebanggaan tentara Indonesia. Dengan bergerilya, tentara Indonesia mampu mengecoh kekutan lawan yang lebih besar jumlahnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu, tenyata banyak cerita, Diponegoro saat berperang ditemani rokok. Ia dan pasukannya gemar merokok. Bahkan ketika tidak ada rokok, Pangeran Diponegoro rela hanya megunyah daun sirih yang diracik dengan kapur dan pinang. <\/p>\n\n\n\n

Kebiasaan ini, juga dialami oleh pengikut \/pasukan perang Pangeran Diponegoro. Bagi mereka, rokok teman sejati, menemani disetiap perjalanan mereka. Rokok menghilangkan depresi mereka, sebagai hiburan saat jauh dari keluarga demi berjuang melawan penjajah. Rokok menumbuhkan percaya diri mereka, lebih berani melawan penjajah walaupun hanya dengan serba keterbatasan, pasukan jumlah terbatas, alat perang terbatas dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Baca juga: Pangeran Diponegoro, Rokok Klobot dan Perlawanan Simbolis<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Jati Diri Bangsa<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Salah satu \u201cpendiri bangsa\u201d bernama KH. Agus Salim menghisap kretek dengan asapnya di kebal-kebulkan keudara, disaat ada perjamuan di Istana Buckingham ketika penobatan Elizabeth II sebagai Ratu kerajaan Inggris. Aroma khas keluar dari asap rokok kretek, tercium orang yang berada di ruang perjamuan. Sehingga memancing salah satu orang yang datang dalam perjamuan, dengan berkata; \u201ctuan sedang menghisap apa itu?\u201d.  Sentak KH. Agus Salim menjawab, \u201c inilah yang membuat nenek moyang anda sekian abad lalu datang dan kemudian menjajah negeri kami\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Jawaban KH. Agus Salim, faktanya memang benar. Rokok kretek tidak lain ada tambahan cengkeh (suzygium aromaticum<\/em>). \u00a0Tanaman legendaris menjadi rebutan dan sumber keuntungan kolonialisme Eropa atas Asia termasuk Indonesia. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Cengkeh adalah salah satu tanaman yang diperebutkan bangsa-bangsa dunia, sampai melegalkan penjajahan.  Dalam simpulan perjalanan ekspedisi cengkeh tahun 2013, Kepala Suku begitu julukan bagi Putut Ea, mengatakan \u201c jika saja tak pernah ada cengkeh dan pala di Maluku, mungkin sejarah kepulauan Nusantara ini akan berbeda sama sekali\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Simpulan Putut EA, sebagai salah satu pembenar perkataan \u00a0KH. Agus Salim. Mungkin, jika tanaman cengkeh tidak ada, fakta sejarah akan berbeda, tidak ada penjajahan di bumi Nusantara ini. <\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Mengisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek untuk Berteman dan Menjalin Persaudaraan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Teringat apa yang pernah dilakukan Menteri Sosial dan Lingkungan Hidup, saat melakukan pendekatan pada suku anak dalam di Jambi. Tidak lain ia adalah Khofifah menteri perempuan yang energik. Saat itu Khofifah bertanggungjawab dalam mengatasi masalah pendidikan dan kesejahteraan masyarakat suku anak dalam di Jambi.  <\/p>\n\n\n\n

Kebijakannya membuat fenomenal, selain bahan makanan, dan bantuan lain, khofifah juga membawa rokok.  Yang kemudian ada yang mengggugat dari anti rokok, tetapi sebagai Menteri, Khofifah tentunya sudah mengkaji secara mendalam. Dengan kecerdasannya , Khofifah menjawab dengan tegas dan lugas, \u201cjangan sok tahu kehidupan mereka, kenali apa yang menjadi ritme kehidupan mereka. Sangat bijaksana kalau kita semua pergi kesana, sehingga tahu adat istiadatnya juga. Tolong kalau ingin mengerti tentang kultur jangan hanya dari kacamata Jakarta. Saya pun ingin mengajak anda kesana, turun kesana, sapalah mereka\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Khofifah memberikan pelajaran bagi anti rokok. Tidak boleh sok tahu, apalagi selama ini antirokok hanya berasumsi, tanpa melihat fakta dilapangan. Khofifah juga menganjurkan agar lebih mengenal adat-istiadat, budaya dan tradisi masyarakat, tidak boleh melakukan hegemoni kultural, sebab keberagaman adat-istiadat dan budaya merupakan kekayaan negeri. <\/p>\n\n\n\n

Pelajaran Khofifah sangat mendalam dan bercirikhas Nusantara. Sebgaai Menteri \u00a0Sosial tentunya lebih berpengalaman apa yang dibutuhkan bangsa ini agar tetap jaya, bersatu dan utuh. Kenali perbedaan, hormati perbedaan, junjung tinggi budaya yang berbeda. \u00a0Apa yang telah dilakukan Khofifah dengan membawa rokok ke suku anak dalam adalah cermin penghormatan tradisi dan budaya masyarakat. Sebagai seorang Mentri, tentunya punya kuasa, artinya bisa seorang khofifah memberikan bantuan sesuai keinginannya sendiri, namun hal itu tidak dilakukan. Ia lebih mengedepankan penghormatan budaya masyarakat setempat, dengan membawa rokok untuk pendekatan dan pertemanan. Karena Khofifah tahu betul, bahwa merokok adalah budaya mereka, yang diwaris dari neneng moyang mereka. <\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Memilih Jalan Hidup Menikmati Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Simbol Pergerakan Nasional     <\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Abdul Rifa\u2019I dalam media bintang timur terbit pada 03 Oktober 1927, mengatakan, \u201ckopinya bukan kopi saringan, tetapi kopi tubruk sebab kopi ini katanya nationaal, gulanya gula jawa, susu tidak dipakai karena tidak nationaal. Rokoknya kelobot, selamatan natioanaal ini terus berlangsung ed sampai pagi hari\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Semangat nasionalisme harus tertanam, mengedepankan produk lokal adalah salah satu semangat nasionalime. Salah satu keberadaan rokok klobot menjadi ciri produk asli indonesia dan harus dilestarikan. Klobot sendiri adalah ramuan tembakau dan cengkeh di gulung memakai daun jagung, embrio perkembangan menjadi rokok sigaret kretek tangan dan sigaret kretek mesin.  
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pusaran Budaya Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pusaran-budaya-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-04 08:40:41","post_modified_gmt":"2019-02-04 01:40:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5406","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5403,"post_author":"919","post_date":"2019-02-03 09:05:50","post_date_gmt":"2019-02-03 02:05:50","post_content":"\n

Seringkali saya menyaksikan berbagai film baik itu Eropa atau Asia yang menggambarkan tentang masa depan. Pemandangan soal masa depan tersebut dihadirkan dengan gambaran kecanggihan teknologi seperti robot yang akan membantu kehidupan manusia, gedung-gedung yang tingginya sudah amat tak bisa ditandingi,  hingga mobil-mobil yang bisa terbang. <\/p>\n\n\n\n

Pernah dalam masa kecil saya menyaksikan sebuah film animasi buatan jepang yang mempertanyakan tentang makanan di masa depan. Dengan santai salah satu tokoh yang berasal dari masa depan itu menjawab bahwa suatu saat nanti manusia akan mengonsumsi makanan berupa pasta gigi namun dengan rasa yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa, aneh!<\/p>\n\n\n\n

Seiring waktu berjalan saya kian tumbuh dewasa dan punya kesadaran untuk memilih menjadi seorang perokok<\/a>. Saya juga melihat ada sebuah inovasi dan gambaran tentang masa depan yang hadir dalam kehidupan sekarang. Banyak memang, namun yang menyita perhatian saya adalah rokok elektrik atau yang populer disebut Vape. Konon katanya ia adalah produk inovasi untuk menjembatani kebutuhan menghisap asap dan kecanggihan masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Di awal kehadirannya Vape memang mengundang decak kekaguman saya. Bagaimana bisa sebuah mesin kecil mengeluarkan asap yang katanya lebih menyehatkan daripada rokok.<\/strong> Meski pada akhirnya teori tersebut juga bisa dibantah oleh beberapa ilmuan dunia. Tapi ada satu yang saya amati selain soal kesehatan, rokok elektrik rupanya menghadirkan kultur dan budaya baru dalam kehidupan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: LAGI-LAGI IKLAN ROKOK, KAPAN KPAI TIDAK TEBANG PILIH? <\/a><\/h4>\n\n\n\n

Kehadiran teknologi memang kerap sedikit atau benyak mengubah gaya atau kultur suatu masyarakat. Begitu pula yang saya perhatikan dengan rokok elektrik. Satu hal yang mudah diamati adalah menjamurnya toko-toko kecil yang menjual vape serta liquid di berbagai tempat. Sebagai sebuah warna baru dalam masyarakat, penggunanya ramai-ramai mengunjungi tempat tersebut berinteraksi dengan penikmat lainnya dan membangun sebuah rumah komunitas yang fleksibel.<\/p>\n\n\n\n

Meski belum bisa dikatakan memiliki jumlah penikmat yang setara dengan para perokok, pengguna Vape mulai menunjukkan eksistensinya. Selain toko yang tersebar, ragam acara juga mereka buat di beberapa daerah. Dalam lingkungan saya, beberapa teman yang dulunya merupakan perokok aktif tertarik mengikuti event tersebut dan beralih mengisap rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Nun jauh di sana, di Amerika Serikat tepatnya, budaya Vape juga sudah mulai berkembang lama ketimbang di Tanah Air. Penikmatnya terbagi menjadi dua, ada yang dulunya bekas perokok dan ada yang memang menikmatinya sebagai gaya hidup. Wajar saja mengingat facebook tak memperbolehkan iklan tembakau di platform mereka, sebaliknya iklan tentang vape justru bertebaran. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi budaya baru yang berkembang di berbagai belahan dunia bahkan di Indonesia, Vape konon menjadi alternatif yang lebih bermanfaat daripada rokok. Dalih yang diusung selalu sama kepada para perokok tradisonal yaitu soal kesehatan dan lebih irit. Soal kesehatan tentu ada beberapa pendapat para ilmuan yang membantahnya, namun soal irit, saya rasa tidak. Memang satu liquid bisa digunakan untuk beberapa Minggu, akan tetapi yang saya lihat di lapangan justru sebaliknya. <\/p>\n\n\n\n

Beberapa penikmat rokok elektrik kerap berbelanja liquid yang mereka idamkan. Terkadang, hal tersebut yang membuat mereka boros karena terus mengeksplor rasa mana yang mereka idam-idamkan. Tak jarang juga liquid dengan harga mahal hingga ratus ribuan akan mereka beli. Sebaliknya, para perokok konvensional justru kerap bertahan dengan satu rasa atau merek saja.<\/p>\n\n\n\n

Sedikit berbeda dengan penikmat rokok konvensional atau kretek. Mengingat rokok kretek sudah menjadi kebudayan lokal yang terus dipertahankan selama bertahun-tahun, kehadirannya sudah mewarnai khasanah keindonesiaan. Perokok kretek juga sudah punya soliditas luar biasa yang terbentuk sejak lama dan terus terbangun mengiringi peradaban di Indonesia atau dunia.<\/p>\n\n\n\n

Kini, perokok elektrik mulai merasakan kegelisahan. Beberapa negara mulai menerapkan peraturan ketat terhadap Vape, sedangkan di Indonesia biaya cukai pun kini mulai diberlakukan terhadap perdagangan rokok elektrik. Keberadaannya di mata negara pun mulai dianggap sama seperti rokok, meski pada awalnya rokok elektrik hadir dengan slogan-slogan produk alternatif yang lebih menyehatkan (katanya).<\/p>\n\n\n\n


Tapi jika kemudian di masa depan memang rokok elektrik yang kemudian menjadi sesuatu yang populer dan dinikmati banyak orang. Rasanya saya tetap ingin hidup di jaman ini, dengan sebatang kretek di tangan dan menikmati segala khasanah kebudayaan yang patut terus dipertahankan. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"masa-depan-rokok-elektrik-dan-semangat-alternatif-yang-sia-sia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-03 09:05:56","post_modified_gmt":"2019-02-03 02:05:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5403","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5385,"post_author":"883","post_date":"2019-02-02 08:01:01","post_date_gmt":"2019-02-02 01:01:01","post_content":"Pada tahun 2014, perusahaan rokok multinasional Philip Morris Internasional Inc. merilis sebuah produk <\/span>perangkat\u00a0<\/span>
rokok<\/span><\/a>\u00a0tanpa asap, yang dipanaskan bukan dibakar atau istilahnya\u00a0<\/span>heat not burn<\/i><\/strong>\u00a0(HNB) iQOS<\/strong>. <\/span>\r\n\r\nPerangkat rokok tanpa asap dengan nama iQOS<\/a> ini berbentuk seperti bagian luar pulpen, dengan lubang di tengah untuk rokok. Produk yang berada di bawah brand Marlboro ini dapat memanaskan rokok sampai 350 derajat celcius lalu mengeluarkan uap nikotin beraroma tembakau<\/em><\/a>.<\/span>\r\n

Produk iQOS sebenarnya bukanlah produk rokok tanpa asap yang pertama muncul. Sebelumnya di tahun 1990-an, Reynolds Tobacco Co pernah merilis produk serupa bernama Eclipes yang juga dapat menguapkan nikotin setelah dinyalakan dengan korek api.<\/span><\/blockquote>\r\nSelain itu, Eclips juga dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. Namun, pada saat itu Eclips tidak diminati oleh pasar, utamanya para perokok konvensional. Meskipun Eclips dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. <\/span>\r\n\r\nBisnis semacam rokok tanpa asap seperti Eclips dan iQOS memang sudah menjadi bagian dari rencana panjang bisnis perusahaan-perusahaan rokok multinasional. Jadi tidak usah heran jika ke depannya akan kita akan banyak menemukan produk rokok tanpa asap ini.<\/span>\r\n\r\nWatak dari perusahaan multinasional memang seperti itu, mereka sangat jeli melihat peluang pasar ke depannya. Ketika market place perusahaan rokok multinasional saat ini terus dirongrong oleh kelompok antirokok, mereka tak kehabisan akal. Maka kemudian mereka menginovasi produk rokok konvensional menjadi rokok yang tidak berasap. Begitupun dengan mengikutsertakan jargon-jargon kesehatan dalam narasi promosi mereka.<\/span>\r\n\r\nSesungguhnya memang seperti itulah watak bisnis perusahaan-perusahaan multinasional, melakukan segala cara agar bisnis mereka tetap bertahan, meskipun harus merangkul musuh sekalipun. <\/span>\r\n\r\nYa kadang pura-pura berantem sama antirokok, tapi dibalik itu sebenarnya baik-baik saja, dan tentunya ada kompromi untuk terus melanggengkan bisnis mereka.<\/span>\r\n

Lalu siapa yang dirugikan dari permainan bisnis macam produk rokok tanpa asap perusahaan rokok multinasional ini?<\/span><\/h3>\r\nTentunya yang sangat dirugikan adalah produk hasil tembakau yang memiliki kekhasan seperti kretek di Indonesia. Kretek sebagai produk khas asli Indonesia yang menjadi bagian dari warisan kebudayaan tidak mungkin bertransformasi menjadi produk-produk elektrik dan sejenisnya.<\/span>\r\n\r\nKretek tetaplah kretek, dengan bahan baku alami tembakau dan cengkeh yang tidak diintervensi dengan zat atau perangkat penghantar lainnya. Karena dengan bentuk, karakter dan cara menikmatinya memang konvensional dan akan terus begitu apapun kondisi dan zamannya.<\/span>\r\n
Bisnis produk rokok tanpa asap (elektrik) juga menghajar kretek dengan mendompleng isu pengendalian tembakau. Kampanye pengendalian tembakau selalu membawa slogan bahaya merokok dan upaya untuk berhenti merokok. <\/span><\/blockquote>\r\nDari isu tersebut, rokok elektrik masuk dengan citra produk alternatif tembakau, bahkan mereka tak segan menilai bahwa rokok elektrik lebih aman ketimbang rokok konvensional, yakni kretek.<\/span>\r\n\r\nLalu jika Indonesia akan dibanjiri dengan produk-produk yang mengatasnamakan produk alternatif tembakau, macam rokok tanpa asap (iQOS dan sejenisnya), maka itulah pertanda bahwa kretek harus tergerus dari cara hidup manusia Indonesia dalam menikmati produk hasil tembakau khas Indonesia yang sudah turun-temurun lamanya dinikmati manusia Indonesia.<\/span>","post_title":"Nasib Kretek di Pusaran Pertarungan Bisnis Global Perusahaan Rokok Multinasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"nasib-kretek-di-pusaran-pertarungan-bisnis-global-perusahaan-rokok-multinasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-02 08:01:43","post_modified_gmt":"2019-02-02 01:01:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5385","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; \n

Baca juga: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tak sia-sia turun ke jalan, tak sia-sia melakukan lobi-lobi ke penguasa, tak sia-sia mengucurkan uang yang tidak sedikit, dan tak sia-sia mempermalukan diri dengan mengemis ke lembaga donor asing dan menggondol uang dari cukai tembakau untuk mengampanyekan gerakan anti-rokok dan anti-tembakau. Tak sia-sia. Karena perjuangan sepertinya berhasil.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Kampanye-kampanye gerakan mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya, sepertinya juga sangat berhasil. Bagaimana tidak? Wilayah-wilayah yang sebelumnya penuh dengan tanaman tembakau dan bergeliat dengannya, kini lahan-lahannya sudah berganti dengan tanaman lain. Sebuah keberhasilan yang menggembirakan. Begitu mungkin pikir mereka para yang menganggap dirinya pejuang anti-rokok dan anti-tembakau. Dan tentu saja mereka akan kecele dan kita akan menertawakan hal itu.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, mereka yang menganggap dirinya anti-rokok dan anti-tembakau tidak menyaksikan langsung fenomena ini di lapangan, di lahan-lahan yang peruntukannya berubah pada hari-hari belakangan ini ketika memasuki musim hujan. Mereka asyik duduk pada kursi empuk di ruang-ruang nyaman ber-AC di kota-kota yang jauh dari kultur pertanian. Mereka menyengajakan diri menjadi elit dan enggan untuk turun melihat langsung ke lapangan. Kalaupun ada yang turun langsung ke lapangan, hanya segelintir saja dari mereka, itupun sekadar formalitas saja. Tak pernah benar-benar mau turun ke lapangan, hidup dan merasakan langsung kultur pertanian tembakau dalam jangka waktu cukup lama di lapangan.<\/p>\n\n\n\n

Baca juga: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Fenomena ini membikin kita tak bisa melihat mereka para anti-rokok kecele lalu menertawakan mereka.<\/strong> Fenomena keengganan terjun langsung ke lapangan terlebih mencoba mendengar mereka yang tetap menanam tembakau, juga menjalani keseharian dalam waktu cukup lama bersama petani tembakau inilah yang saya kira menjadikan mereka tetap keras kepala untuk anti-rokok dan anti-tembakau. Karena jika mereka mau melakukan itu, saya yakin mereka semua tidak akan begitu kaku dalam memandang pertanian tembakau dan produk hasil industri tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu yang selalu mereka kampanyekan dan ngotot dengan itu, terkait hulu pertanian tembakau adalah mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya. Mereka berargumen banyak tanaman lain yang bisa semenguntungkan tanaman tembakau. Keengganan mereka terjun langsung ke lapangan inilah yang membikin mereka buta dengan kondisi pertanian tembakau dan pada akhirnya terus menerus mengampanyekan pergantian tanaman tembakau dengan tanaman lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca juga: Imanlah kepada Allah, Bukan Antirokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tembakau tanaman yang khas. Ia hanya tumbuh baik sepanjang empat hingga lima bulan dalam satu tahun. Tumbuh-kembang tanaman tembakau dengan baik itu umumnya terjadi pada musim kemarau setiap tahunnya. Hanya sedikit sekali jenis tembakau yang tumbuh baik di musim penghujan, mayoritasnya, tumbuh baik pada musim kemarau.<\/p>\n\n\n\n

Jika ditanam pada musim hujan, hampir bisa dipastikan tanaman tembakau akan gagal menghasilkan daun-daun yang berkualitas. Ia akan rusak dan membusuk karena terlalu banyak terkena air sehingga daun-daun itu tak layak dijual. Jangankan bisa dijual, untuk tumbuh dengan baik pun sepertinya sulit karena musim hujan akan membunuh banyak tanaman itu.<\/p>\n\n\n\n

Maka, tak heran pada musim-musim seperti saat ini, ketika musim penghujan mendekati puncaknya, di wilayah-wilayah yang dikenal sebagai sentra pertanian tembakau, sulit menemukan pohon tembakau yang sedang tumbuh. Pada lahan-lahan yang sebelumnya ditumbuhi tanaman tembakau pada musim panas, berganti tanaman-tanaman lain yang bermacam-macam, sesuai dengan kondisi lahannya. Untuk lahan sawah, lahan-lahan itu pada musim penghujan kini ditumbuhi tanaman padi yang subur. Pada lahan tegalan dan lahan di pegunungan, lahan-lahan yang ditanami tembakau pada musim kemarau, saat ini ditumbuhi bermacam jenis tanaman mulai dari cabai, bawang, tomat, kol, terong, mentimun, dan ragam jenis tanaman semusim lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Uniknya, tipikal tanaman tembakau yang tumbuh baik di musim kemarau ini memberi pilihan lebih kepada para petani. Lahan-lahan yang sulit ditanami pada musim kemarau, pada akhirnya masih bisa tetap produktif dengan keberadaan tanaman tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Maka, kampanye aneh mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain dengan ragam rupa dalih yang membingungkan, bukan saja sama sekali tidak tepat dan asal-asalan, namun bisa jadi akan ditertawakan oleh para petani yang begitu paham dengan kondisi lahan dan terutama kondisi iklim dan cuaca. Sulit mencari tanaman semusim yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Jika pun ada, tak ada yang semenguntungkan tanaman tembakau.
<\/p>\n","post_title":"Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"keberhasilan-gerakan-anti-tembakau-tak-ada-tembakau-saat-musim-hujan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-07 12:16:02","post_modified_gmt":"2019-02-07 05:16:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5415","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5409,"post_author":"919","post_date":"2019-02-05 08:04:43","post_date_gmt":"2019-02-05 01:04:43","post_content":"\n

Tahun Baru Imlek yang merupakan tradisi Bangsa Tiongkok kini sudah tak lagi menjadi hal yang asing bagi masyarakat Indonesia. Kehadirannya sudah mewarnai dan berakulturasi dengan tradisi lokal. Menjelang Tahun Baru Imlek. Berbagai hiasan dan kemeriahan terjadi beberapa titik di Tanah Air. Perayaannya juga menjadi destinasi baru yang mengasyikkan untuk dilihat dan patut disaksikan.<\/p>\n\n\n\n

Berterimakasihlah kepada sang bapak bangsa, KH Abdurrahman Wahid atau yang dikenal dengan nama Gus Dur. Berkat kebijakannya saat menjadi Presiden Indonesia, Tahun Baru Imlek resmi dijadikan hari libur nasional dan dianggap sebagai salah satu hari raya di Tanah Air. Meski sentimen antitionghoa masih ada di sana-sini, tapi tetap tak bisa dipungkiri bahwa bangsa tionghoa sudah bersentuhan dengan budaya lokal dalam kurun waktu yang sangat panjang.<\/p>\n\n\n\n

DNA Bangsa Tionghoa yang memang merupakan pedagang menjadi pembuka kisah interaksi antara nenek moyang berbagai suku di Nusantara dengan mereka. Beberapa kelenteng-kelenteng yang tersebar pada berbagai pesisir daerah di Nusantara jadi buktinya. Pelabuhan-pelabuhan tua di tanah air dan ramainya perdagangan di pesisir mempermudah bangsa kita berhubungan dengan Bangsa Tionghoa.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Wong Kalang dan Kota Gede<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa kehadiran Bangsa Tionghoa di Nusantara tak hanya sebagai pedagang, namun juga sebagai pekerja (bahkan hingga pekerja kasar). Benny Setiono, seorang sejarahwan menyebutkan bahwa antara tahun 1760-1770 dalam jumlah yang besar memasuki nusantara melalui Kalimantan Barat. Mereka bekerja sebagai kuli pertambangan di sana dan di kemudian hari membentuk sebuah republik bernama Republik Lanfang yang konon katanya menjadi republik pertama di Asia Tenggara.<\/p>\n\n\n\n

Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Imlek dan Indonesia<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n\n\n\n

Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
<\/p>\n","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5406,"post_author":"877","post_date":"2019-02-04 08:23:48","post_date_gmt":"2019-02-04 01:23:48","post_content":"\n

Merokok itu sudah menjadi bagian dari budaya dan tradisi masyarakat, jauh sebelum Indonesia merdeka. Banyak cerita atau kisah tentang kretek <\/a><\/del>di tengah-tengah masyarakat bangsa ini, mulai sebagai alat untuk meraup keuntungan, alat komunikasi, sebagai teman sampai menjadi simbol pergerakan. <\/p>\n\n\n\n

Kretek, Simbol Perlawanan Roro Mendut<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Siapa yang tidak pernah mendengan cerita tentang Roro Mendut?, di telinga masyarakat Indonesia, kisah Roro Mendut tidak asing lagi.  Perempuan yang mempunyai paras wajah cantik, dan digandrungi kaum adam terutama kalangan putra kerajaan. Informasi kecantikan Roro Mendut tersebar seantero Nusantara, tidak satupun pria meragukan kecantikannya.  Bahkan kisah dan cerita kecantikan Roro Mendut tercatat dalam buku Babad Tanah Jawi. <\/p>\n\n\n\n

Diperkirakan pada tahun 1627, pada saat panglima perang Sultan Agung Mataram bernama Tumenggung Wiraguna berhasil menumpas pemberontakan di kota Pati, sebagai imbalanan atas keberhasilannya, mendapat hadiah wanita pujaan pria bernama Rara Mendut dari Kasultanan Agung Mataram.  Roro Mendut menolak dipinang Tumenggung Wiraguna, dan secara terang-terangan memilih pria lain dambaannya. Akibatnya, Roro Mendut harus membayar pajak setiap harinya kepada kerajaan Mataram. <\/p>\n\n\n\n

Bisa dibayangkan, betapa bingungnya Roro Mendut saat itu. Uang dari mana, ia hasilkan untuk bayar pajak tiap hari demi bisa bersama kekasihnya. Ternyata Roro Mendut tidak hanya cantik tetapi cerdas dan kreatif, bisa membaca peluang bisnis saat itu. Ide cermerlang muncul dengan berdagang\/berjualan rokok lintingan yang direkatkan dengan air ludahnya, dan sebelum menjualnya, rokok lintingan di sulut dahulu dan dihisap bekas bibir merahnya. Kemudian baru dijual ke pembeli yang berdesakan berjejer antri. <\/p>\n\n\n\n

Entah dari mana ide menjual rokok itu muncul. Yang jelas saking larisnya, kewajiban pajak Roro Mendut terpenuhi. Dan mungkin keadaannya akan lebih parah, jika saat itu Roro Mendut tidak berdagang rokok. Tidak akan terpenuhi kewajiban pajaknya. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Dengan rokok, hidup Roro Mendut terselamatkan. Adanya rokok, \u00a0Roro Mendut bebas dari belenggu kekuasaan. Berkat rokok, Roro Mendut terkengan, mengisi rubik informasi sejarah begitu kuatnya budaya merokok di \u00a0Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Pusaka Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek, Teman Perjuangan  Diponegoro<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Semasa berjuang melawan penjajah, yang harus dilakukan Diponegoro berpindah-pindah dari kota satu ke kota lain. Strategi perlawanan Diponegoro, kemudian sebagai basis strategi perang gerilya. Strategi yang menjadi idola dan kebanggaan tentara Indonesia. Dengan bergerilya, tentara Indonesia mampu mengecoh kekutan lawan yang lebih besar jumlahnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu, tenyata banyak cerita, Diponegoro saat berperang ditemani rokok. Ia dan pasukannya gemar merokok. Bahkan ketika tidak ada rokok, Pangeran Diponegoro rela hanya megunyah daun sirih yang diracik dengan kapur dan pinang. <\/p>\n\n\n\n

Kebiasaan ini, juga dialami oleh pengikut \/pasukan perang Pangeran Diponegoro. Bagi mereka, rokok teman sejati, menemani disetiap perjalanan mereka. Rokok menghilangkan depresi mereka, sebagai hiburan saat jauh dari keluarga demi berjuang melawan penjajah. Rokok menumbuhkan percaya diri mereka, lebih berani melawan penjajah walaupun hanya dengan serba keterbatasan, pasukan jumlah terbatas, alat perang terbatas dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Baca juga: Pangeran Diponegoro, Rokok Klobot dan Perlawanan Simbolis<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Jati Diri Bangsa<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Salah satu \u201cpendiri bangsa\u201d bernama KH. Agus Salim menghisap kretek dengan asapnya di kebal-kebulkan keudara, disaat ada perjamuan di Istana Buckingham ketika penobatan Elizabeth II sebagai Ratu kerajaan Inggris. Aroma khas keluar dari asap rokok kretek, tercium orang yang berada di ruang perjamuan. Sehingga memancing salah satu orang yang datang dalam perjamuan, dengan berkata; \u201ctuan sedang menghisap apa itu?\u201d.  Sentak KH. Agus Salim menjawab, \u201c inilah yang membuat nenek moyang anda sekian abad lalu datang dan kemudian menjajah negeri kami\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Jawaban KH. Agus Salim, faktanya memang benar. Rokok kretek tidak lain ada tambahan cengkeh (suzygium aromaticum<\/em>). \u00a0Tanaman legendaris menjadi rebutan dan sumber keuntungan kolonialisme Eropa atas Asia termasuk Indonesia. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Cengkeh adalah salah satu tanaman yang diperebutkan bangsa-bangsa dunia, sampai melegalkan penjajahan.  Dalam simpulan perjalanan ekspedisi cengkeh tahun 2013, Kepala Suku begitu julukan bagi Putut Ea, mengatakan \u201c jika saja tak pernah ada cengkeh dan pala di Maluku, mungkin sejarah kepulauan Nusantara ini akan berbeda sama sekali\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Simpulan Putut EA, sebagai salah satu pembenar perkataan \u00a0KH. Agus Salim. Mungkin, jika tanaman cengkeh tidak ada, fakta sejarah akan berbeda, tidak ada penjajahan di bumi Nusantara ini. <\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Mengisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek untuk Berteman dan Menjalin Persaudaraan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Teringat apa yang pernah dilakukan Menteri Sosial dan Lingkungan Hidup, saat melakukan pendekatan pada suku anak dalam di Jambi. Tidak lain ia adalah Khofifah menteri perempuan yang energik. Saat itu Khofifah bertanggungjawab dalam mengatasi masalah pendidikan dan kesejahteraan masyarakat suku anak dalam di Jambi.  <\/p>\n\n\n\n

Kebijakannya membuat fenomenal, selain bahan makanan, dan bantuan lain, khofifah juga membawa rokok.  Yang kemudian ada yang mengggugat dari anti rokok, tetapi sebagai Menteri, Khofifah tentunya sudah mengkaji secara mendalam. Dengan kecerdasannya , Khofifah menjawab dengan tegas dan lugas, \u201cjangan sok tahu kehidupan mereka, kenali apa yang menjadi ritme kehidupan mereka. Sangat bijaksana kalau kita semua pergi kesana, sehingga tahu adat istiadatnya juga. Tolong kalau ingin mengerti tentang kultur jangan hanya dari kacamata Jakarta. Saya pun ingin mengajak anda kesana, turun kesana, sapalah mereka\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Khofifah memberikan pelajaran bagi anti rokok. Tidak boleh sok tahu, apalagi selama ini antirokok hanya berasumsi, tanpa melihat fakta dilapangan. Khofifah juga menganjurkan agar lebih mengenal adat-istiadat, budaya dan tradisi masyarakat, tidak boleh melakukan hegemoni kultural, sebab keberagaman adat-istiadat dan budaya merupakan kekayaan negeri. <\/p>\n\n\n\n

Pelajaran Khofifah sangat mendalam dan bercirikhas Nusantara. Sebgaai Menteri \u00a0Sosial tentunya lebih berpengalaman apa yang dibutuhkan bangsa ini agar tetap jaya, bersatu dan utuh. Kenali perbedaan, hormati perbedaan, junjung tinggi budaya yang berbeda. \u00a0Apa yang telah dilakukan Khofifah dengan membawa rokok ke suku anak dalam adalah cermin penghormatan tradisi dan budaya masyarakat. Sebagai seorang Mentri, tentunya punya kuasa, artinya bisa seorang khofifah memberikan bantuan sesuai keinginannya sendiri, namun hal itu tidak dilakukan. Ia lebih mengedepankan penghormatan budaya masyarakat setempat, dengan membawa rokok untuk pendekatan dan pertemanan. Karena Khofifah tahu betul, bahwa merokok adalah budaya mereka, yang diwaris dari neneng moyang mereka. <\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Memilih Jalan Hidup Menikmati Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Simbol Pergerakan Nasional     <\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Abdul Rifa\u2019I dalam media bintang timur terbit pada 03 Oktober 1927, mengatakan, \u201ckopinya bukan kopi saringan, tetapi kopi tubruk sebab kopi ini katanya nationaal, gulanya gula jawa, susu tidak dipakai karena tidak nationaal. Rokoknya kelobot, selamatan natioanaal ini terus berlangsung ed sampai pagi hari\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Semangat nasionalisme harus tertanam, mengedepankan produk lokal adalah salah satu semangat nasionalime. Salah satu keberadaan rokok klobot menjadi ciri produk asli indonesia dan harus dilestarikan. Klobot sendiri adalah ramuan tembakau dan cengkeh di gulung memakai daun jagung, embrio perkembangan menjadi rokok sigaret kretek tangan dan sigaret kretek mesin.  
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pusaran Budaya Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pusaran-budaya-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-04 08:40:41","post_modified_gmt":"2019-02-04 01:40:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5406","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5403,"post_author":"919","post_date":"2019-02-03 09:05:50","post_date_gmt":"2019-02-03 02:05:50","post_content":"\n

Seringkali saya menyaksikan berbagai film baik itu Eropa atau Asia yang menggambarkan tentang masa depan. Pemandangan soal masa depan tersebut dihadirkan dengan gambaran kecanggihan teknologi seperti robot yang akan membantu kehidupan manusia, gedung-gedung yang tingginya sudah amat tak bisa ditandingi,  hingga mobil-mobil yang bisa terbang. <\/p>\n\n\n\n

Pernah dalam masa kecil saya menyaksikan sebuah film animasi buatan jepang yang mempertanyakan tentang makanan di masa depan. Dengan santai salah satu tokoh yang berasal dari masa depan itu menjawab bahwa suatu saat nanti manusia akan mengonsumsi makanan berupa pasta gigi namun dengan rasa yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa, aneh!<\/p>\n\n\n\n

Seiring waktu berjalan saya kian tumbuh dewasa dan punya kesadaran untuk memilih menjadi seorang perokok<\/a>. Saya juga melihat ada sebuah inovasi dan gambaran tentang masa depan yang hadir dalam kehidupan sekarang. Banyak memang, namun yang menyita perhatian saya adalah rokok elektrik atau yang populer disebut Vape. Konon katanya ia adalah produk inovasi untuk menjembatani kebutuhan menghisap asap dan kecanggihan masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Di awal kehadirannya Vape memang mengundang decak kekaguman saya. Bagaimana bisa sebuah mesin kecil mengeluarkan asap yang katanya lebih menyehatkan daripada rokok.<\/strong> Meski pada akhirnya teori tersebut juga bisa dibantah oleh beberapa ilmuan dunia. Tapi ada satu yang saya amati selain soal kesehatan, rokok elektrik rupanya menghadirkan kultur dan budaya baru dalam kehidupan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: LAGI-LAGI IKLAN ROKOK, KAPAN KPAI TIDAK TEBANG PILIH? <\/a><\/h4>\n\n\n\n

Kehadiran teknologi memang kerap sedikit atau benyak mengubah gaya atau kultur suatu masyarakat. Begitu pula yang saya perhatikan dengan rokok elektrik. Satu hal yang mudah diamati adalah menjamurnya toko-toko kecil yang menjual vape serta liquid di berbagai tempat. Sebagai sebuah warna baru dalam masyarakat, penggunanya ramai-ramai mengunjungi tempat tersebut berinteraksi dengan penikmat lainnya dan membangun sebuah rumah komunitas yang fleksibel.<\/p>\n\n\n\n

Meski belum bisa dikatakan memiliki jumlah penikmat yang setara dengan para perokok, pengguna Vape mulai menunjukkan eksistensinya. Selain toko yang tersebar, ragam acara juga mereka buat di beberapa daerah. Dalam lingkungan saya, beberapa teman yang dulunya merupakan perokok aktif tertarik mengikuti event tersebut dan beralih mengisap rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Nun jauh di sana, di Amerika Serikat tepatnya, budaya Vape juga sudah mulai berkembang lama ketimbang di Tanah Air. Penikmatnya terbagi menjadi dua, ada yang dulunya bekas perokok dan ada yang memang menikmatinya sebagai gaya hidup. Wajar saja mengingat facebook tak memperbolehkan iklan tembakau di platform mereka, sebaliknya iklan tentang vape justru bertebaran. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi budaya baru yang berkembang di berbagai belahan dunia bahkan di Indonesia, Vape konon menjadi alternatif yang lebih bermanfaat daripada rokok. Dalih yang diusung selalu sama kepada para perokok tradisonal yaitu soal kesehatan dan lebih irit. Soal kesehatan tentu ada beberapa pendapat para ilmuan yang membantahnya, namun soal irit, saya rasa tidak. Memang satu liquid bisa digunakan untuk beberapa Minggu, akan tetapi yang saya lihat di lapangan justru sebaliknya. <\/p>\n\n\n\n

Beberapa penikmat rokok elektrik kerap berbelanja liquid yang mereka idamkan. Terkadang, hal tersebut yang membuat mereka boros karena terus mengeksplor rasa mana yang mereka idam-idamkan. Tak jarang juga liquid dengan harga mahal hingga ratus ribuan akan mereka beli. Sebaliknya, para perokok konvensional justru kerap bertahan dengan satu rasa atau merek saja.<\/p>\n\n\n\n

Sedikit berbeda dengan penikmat rokok konvensional atau kretek. Mengingat rokok kretek sudah menjadi kebudayan lokal yang terus dipertahankan selama bertahun-tahun, kehadirannya sudah mewarnai khasanah keindonesiaan. Perokok kretek juga sudah punya soliditas luar biasa yang terbentuk sejak lama dan terus terbangun mengiringi peradaban di Indonesia atau dunia.<\/p>\n\n\n\n

Kini, perokok elektrik mulai merasakan kegelisahan. Beberapa negara mulai menerapkan peraturan ketat terhadap Vape, sedangkan di Indonesia biaya cukai pun kini mulai diberlakukan terhadap perdagangan rokok elektrik. Keberadaannya di mata negara pun mulai dianggap sama seperti rokok, meski pada awalnya rokok elektrik hadir dengan slogan-slogan produk alternatif yang lebih menyehatkan (katanya).<\/p>\n\n\n\n


Tapi jika kemudian di masa depan memang rokok elektrik yang kemudian menjadi sesuatu yang populer dan dinikmati banyak orang. Rasanya saya tetap ingin hidup di jaman ini, dengan sebatang kretek di tangan dan menikmati segala khasanah kebudayaan yang patut terus dipertahankan. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"masa-depan-rokok-elektrik-dan-semangat-alternatif-yang-sia-sia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-03 09:05:56","post_modified_gmt":"2019-02-03 02:05:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5403","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5385,"post_author":"883","post_date":"2019-02-02 08:01:01","post_date_gmt":"2019-02-02 01:01:01","post_content":"Pada tahun 2014, perusahaan rokok multinasional Philip Morris Internasional Inc. merilis sebuah produk <\/span>perangkat\u00a0<\/span>
rokok<\/span><\/a>\u00a0tanpa asap, yang dipanaskan bukan dibakar atau istilahnya\u00a0<\/span>heat not burn<\/i><\/strong>\u00a0(HNB) iQOS<\/strong>. <\/span>\r\n\r\nPerangkat rokok tanpa asap dengan nama iQOS<\/a> ini berbentuk seperti bagian luar pulpen, dengan lubang di tengah untuk rokok. Produk yang berada di bawah brand Marlboro ini dapat memanaskan rokok sampai 350 derajat celcius lalu mengeluarkan uap nikotin beraroma tembakau<\/em><\/a>.<\/span>\r\n

Produk iQOS sebenarnya bukanlah produk rokok tanpa asap yang pertama muncul. Sebelumnya di tahun 1990-an, Reynolds Tobacco Co pernah merilis produk serupa bernama Eclipes yang juga dapat menguapkan nikotin setelah dinyalakan dengan korek api.<\/span><\/blockquote>\r\nSelain itu, Eclips juga dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. Namun, pada saat itu Eclips tidak diminati oleh pasar, utamanya para perokok konvensional. Meskipun Eclips dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. <\/span>\r\n\r\nBisnis semacam rokok tanpa asap seperti Eclips dan iQOS memang sudah menjadi bagian dari rencana panjang bisnis perusahaan-perusahaan rokok multinasional. Jadi tidak usah heran jika ke depannya akan kita akan banyak menemukan produk rokok tanpa asap ini.<\/span>\r\n\r\nWatak dari perusahaan multinasional memang seperti itu, mereka sangat jeli melihat peluang pasar ke depannya. Ketika market place perusahaan rokok multinasional saat ini terus dirongrong oleh kelompok antirokok, mereka tak kehabisan akal. Maka kemudian mereka menginovasi produk rokok konvensional menjadi rokok yang tidak berasap. Begitupun dengan mengikutsertakan jargon-jargon kesehatan dalam narasi promosi mereka.<\/span>\r\n\r\nSesungguhnya memang seperti itulah watak bisnis perusahaan-perusahaan multinasional, melakukan segala cara agar bisnis mereka tetap bertahan, meskipun harus merangkul musuh sekalipun. <\/span>\r\n\r\nYa kadang pura-pura berantem sama antirokok, tapi dibalik itu sebenarnya baik-baik saja, dan tentunya ada kompromi untuk terus melanggengkan bisnis mereka.<\/span>\r\n

Lalu siapa yang dirugikan dari permainan bisnis macam produk rokok tanpa asap perusahaan rokok multinasional ini?<\/span><\/h3>\r\nTentunya yang sangat dirugikan adalah produk hasil tembakau yang memiliki kekhasan seperti kretek di Indonesia. Kretek sebagai produk khas asli Indonesia yang menjadi bagian dari warisan kebudayaan tidak mungkin bertransformasi menjadi produk-produk elektrik dan sejenisnya.<\/span>\r\n\r\nKretek tetaplah kretek, dengan bahan baku alami tembakau dan cengkeh yang tidak diintervensi dengan zat atau perangkat penghantar lainnya. Karena dengan bentuk, karakter dan cara menikmatinya memang konvensional dan akan terus begitu apapun kondisi dan zamannya.<\/span>\r\n
Bisnis produk rokok tanpa asap (elektrik) juga menghajar kretek dengan mendompleng isu pengendalian tembakau. Kampanye pengendalian tembakau selalu membawa slogan bahaya merokok dan upaya untuk berhenti merokok. <\/span><\/blockquote>\r\nDari isu tersebut, rokok elektrik masuk dengan citra produk alternatif tembakau, bahkan mereka tak segan menilai bahwa rokok elektrik lebih aman ketimbang rokok konvensional, yakni kretek.<\/span>\r\n\r\nLalu jika Indonesia akan dibanjiri dengan produk-produk yang mengatasnamakan produk alternatif tembakau, macam rokok tanpa asap (iQOS dan sejenisnya), maka itulah pertanda bahwa kretek harus tergerus dari cara hidup manusia Indonesia dalam menikmati produk hasil tembakau khas Indonesia yang sudah turun-temurun lamanya dinikmati manusia Indonesia.<\/span>","post_title":"Nasib Kretek di Pusaran Pertarungan Bisnis Global Perusahaan Rokok Multinasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"nasib-kretek-di-pusaran-pertarungan-bisnis-global-perusahaan-rokok-multinasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-02 08:01:43","post_modified_gmt":"2019-02-02 01:01:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5385","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; \n

Kabar ini bisa jadi dianggap sebagai kabar gembira bagi mereka yang menganggap diri dan kelompoknya anti-rokok dan anti-tembakau yang selalu mengampanyekan sikap-sikap mereka terkait kebencian kepada tembakau dan aktivitas merokok. Setelah sekian lama berjuang, akhirnya perjuangan mereka dirasa berhasil usai menyaksikan fenomena lahan-lahan di wilayah yang dianggap sentra pertanian tembakau pada hari-hari belakangan ini.<\/p>\n\n\n\n

Baca juga: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tak sia-sia turun ke jalan, tak sia-sia melakukan lobi-lobi ke penguasa, tak sia-sia mengucurkan uang yang tidak sedikit, dan tak sia-sia mempermalukan diri dengan mengemis ke lembaga donor asing dan menggondol uang dari cukai tembakau untuk mengampanyekan gerakan anti-rokok dan anti-tembakau. Tak sia-sia. Karena perjuangan sepertinya berhasil.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Kampanye-kampanye gerakan mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya, sepertinya juga sangat berhasil. Bagaimana tidak? Wilayah-wilayah yang sebelumnya penuh dengan tanaman tembakau dan bergeliat dengannya, kini lahan-lahannya sudah berganti dengan tanaman lain. Sebuah keberhasilan yang menggembirakan. Begitu mungkin pikir mereka para yang menganggap dirinya pejuang anti-rokok dan anti-tembakau. Dan tentu saja mereka akan kecele dan kita akan menertawakan hal itu.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, mereka yang menganggap dirinya anti-rokok dan anti-tembakau tidak menyaksikan langsung fenomena ini di lapangan, di lahan-lahan yang peruntukannya berubah pada hari-hari belakangan ini ketika memasuki musim hujan. Mereka asyik duduk pada kursi empuk di ruang-ruang nyaman ber-AC di kota-kota yang jauh dari kultur pertanian. Mereka menyengajakan diri menjadi elit dan enggan untuk turun melihat langsung ke lapangan. Kalaupun ada yang turun langsung ke lapangan, hanya segelintir saja dari mereka, itupun sekadar formalitas saja. Tak pernah benar-benar mau turun ke lapangan, hidup dan merasakan langsung kultur pertanian tembakau dalam jangka waktu cukup lama di lapangan.<\/p>\n\n\n\n

Baca juga: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Fenomena ini membikin kita tak bisa melihat mereka para anti-rokok kecele lalu menertawakan mereka.<\/strong> Fenomena keengganan terjun langsung ke lapangan terlebih mencoba mendengar mereka yang tetap menanam tembakau, juga menjalani keseharian dalam waktu cukup lama bersama petani tembakau inilah yang saya kira menjadikan mereka tetap keras kepala untuk anti-rokok dan anti-tembakau. Karena jika mereka mau melakukan itu, saya yakin mereka semua tidak akan begitu kaku dalam memandang pertanian tembakau dan produk hasil industri tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu yang selalu mereka kampanyekan dan ngotot dengan itu, terkait hulu pertanian tembakau adalah mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya. Mereka berargumen banyak tanaman lain yang bisa semenguntungkan tanaman tembakau. Keengganan mereka terjun langsung ke lapangan inilah yang membikin mereka buta dengan kondisi pertanian tembakau dan pada akhirnya terus menerus mengampanyekan pergantian tanaman tembakau dengan tanaman lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca juga: Imanlah kepada Allah, Bukan Antirokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tembakau tanaman yang khas. Ia hanya tumbuh baik sepanjang empat hingga lima bulan dalam satu tahun. Tumbuh-kembang tanaman tembakau dengan baik itu umumnya terjadi pada musim kemarau setiap tahunnya. Hanya sedikit sekali jenis tembakau yang tumbuh baik di musim penghujan, mayoritasnya, tumbuh baik pada musim kemarau.<\/p>\n\n\n\n

Jika ditanam pada musim hujan, hampir bisa dipastikan tanaman tembakau akan gagal menghasilkan daun-daun yang berkualitas. Ia akan rusak dan membusuk karena terlalu banyak terkena air sehingga daun-daun itu tak layak dijual. Jangankan bisa dijual, untuk tumbuh dengan baik pun sepertinya sulit karena musim hujan akan membunuh banyak tanaman itu.<\/p>\n\n\n\n

Maka, tak heran pada musim-musim seperti saat ini, ketika musim penghujan mendekati puncaknya, di wilayah-wilayah yang dikenal sebagai sentra pertanian tembakau, sulit menemukan pohon tembakau yang sedang tumbuh. Pada lahan-lahan yang sebelumnya ditumbuhi tanaman tembakau pada musim panas, berganti tanaman-tanaman lain yang bermacam-macam, sesuai dengan kondisi lahannya. Untuk lahan sawah, lahan-lahan itu pada musim penghujan kini ditumbuhi tanaman padi yang subur. Pada lahan tegalan dan lahan di pegunungan, lahan-lahan yang ditanami tembakau pada musim kemarau, saat ini ditumbuhi bermacam jenis tanaman mulai dari cabai, bawang, tomat, kol, terong, mentimun, dan ragam jenis tanaman semusim lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Uniknya, tipikal tanaman tembakau yang tumbuh baik di musim kemarau ini memberi pilihan lebih kepada para petani. Lahan-lahan yang sulit ditanami pada musim kemarau, pada akhirnya masih bisa tetap produktif dengan keberadaan tanaman tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Maka, kampanye aneh mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain dengan ragam rupa dalih yang membingungkan, bukan saja sama sekali tidak tepat dan asal-asalan, namun bisa jadi akan ditertawakan oleh para petani yang begitu paham dengan kondisi lahan dan terutama kondisi iklim dan cuaca. Sulit mencari tanaman semusim yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Jika pun ada, tak ada yang semenguntungkan tanaman tembakau.
<\/p>\n","post_title":"Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"keberhasilan-gerakan-anti-tembakau-tak-ada-tembakau-saat-musim-hujan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-07 12:16:02","post_modified_gmt":"2019-02-07 05:16:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5415","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5409,"post_author":"919","post_date":"2019-02-05 08:04:43","post_date_gmt":"2019-02-05 01:04:43","post_content":"\n

Tahun Baru Imlek yang merupakan tradisi Bangsa Tiongkok kini sudah tak lagi menjadi hal yang asing bagi masyarakat Indonesia. Kehadirannya sudah mewarnai dan berakulturasi dengan tradisi lokal. Menjelang Tahun Baru Imlek. Berbagai hiasan dan kemeriahan terjadi beberapa titik di Tanah Air. Perayaannya juga menjadi destinasi baru yang mengasyikkan untuk dilihat dan patut disaksikan.<\/p>\n\n\n\n

Berterimakasihlah kepada sang bapak bangsa, KH Abdurrahman Wahid atau yang dikenal dengan nama Gus Dur. Berkat kebijakannya saat menjadi Presiden Indonesia, Tahun Baru Imlek resmi dijadikan hari libur nasional dan dianggap sebagai salah satu hari raya di Tanah Air. Meski sentimen antitionghoa masih ada di sana-sini, tapi tetap tak bisa dipungkiri bahwa bangsa tionghoa sudah bersentuhan dengan budaya lokal dalam kurun waktu yang sangat panjang.<\/p>\n\n\n\n

DNA Bangsa Tionghoa yang memang merupakan pedagang menjadi pembuka kisah interaksi antara nenek moyang berbagai suku di Nusantara dengan mereka. Beberapa kelenteng-kelenteng yang tersebar pada berbagai pesisir daerah di Nusantara jadi buktinya. Pelabuhan-pelabuhan tua di tanah air dan ramainya perdagangan di pesisir mempermudah bangsa kita berhubungan dengan Bangsa Tionghoa.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Wong Kalang dan Kota Gede<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa kehadiran Bangsa Tionghoa di Nusantara tak hanya sebagai pedagang, namun juga sebagai pekerja (bahkan hingga pekerja kasar). Benny Setiono, seorang sejarahwan menyebutkan bahwa antara tahun 1760-1770 dalam jumlah yang besar memasuki nusantara melalui Kalimantan Barat. Mereka bekerja sebagai kuli pertambangan di sana dan di kemudian hari membentuk sebuah republik bernama Republik Lanfang yang konon katanya menjadi republik pertama di Asia Tenggara.<\/p>\n\n\n\n

Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Imlek dan Indonesia<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n\n\n\n

Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
<\/p>\n","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5406,"post_author":"877","post_date":"2019-02-04 08:23:48","post_date_gmt":"2019-02-04 01:23:48","post_content":"\n

Merokok itu sudah menjadi bagian dari budaya dan tradisi masyarakat, jauh sebelum Indonesia merdeka. Banyak cerita atau kisah tentang kretek <\/a><\/del>di tengah-tengah masyarakat bangsa ini, mulai sebagai alat untuk meraup keuntungan, alat komunikasi, sebagai teman sampai menjadi simbol pergerakan. <\/p>\n\n\n\n

Kretek, Simbol Perlawanan Roro Mendut<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Siapa yang tidak pernah mendengan cerita tentang Roro Mendut?, di telinga masyarakat Indonesia, kisah Roro Mendut tidak asing lagi.  Perempuan yang mempunyai paras wajah cantik, dan digandrungi kaum adam terutama kalangan putra kerajaan. Informasi kecantikan Roro Mendut tersebar seantero Nusantara, tidak satupun pria meragukan kecantikannya.  Bahkan kisah dan cerita kecantikan Roro Mendut tercatat dalam buku Babad Tanah Jawi. <\/p>\n\n\n\n

Diperkirakan pada tahun 1627, pada saat panglima perang Sultan Agung Mataram bernama Tumenggung Wiraguna berhasil menumpas pemberontakan di kota Pati, sebagai imbalanan atas keberhasilannya, mendapat hadiah wanita pujaan pria bernama Rara Mendut dari Kasultanan Agung Mataram.  Roro Mendut menolak dipinang Tumenggung Wiraguna, dan secara terang-terangan memilih pria lain dambaannya. Akibatnya, Roro Mendut harus membayar pajak setiap harinya kepada kerajaan Mataram. <\/p>\n\n\n\n

Bisa dibayangkan, betapa bingungnya Roro Mendut saat itu. Uang dari mana, ia hasilkan untuk bayar pajak tiap hari demi bisa bersama kekasihnya. Ternyata Roro Mendut tidak hanya cantik tetapi cerdas dan kreatif, bisa membaca peluang bisnis saat itu. Ide cermerlang muncul dengan berdagang\/berjualan rokok lintingan yang direkatkan dengan air ludahnya, dan sebelum menjualnya, rokok lintingan di sulut dahulu dan dihisap bekas bibir merahnya. Kemudian baru dijual ke pembeli yang berdesakan berjejer antri. <\/p>\n\n\n\n

Entah dari mana ide menjual rokok itu muncul. Yang jelas saking larisnya, kewajiban pajak Roro Mendut terpenuhi. Dan mungkin keadaannya akan lebih parah, jika saat itu Roro Mendut tidak berdagang rokok. Tidak akan terpenuhi kewajiban pajaknya. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Dengan rokok, hidup Roro Mendut terselamatkan. Adanya rokok, \u00a0Roro Mendut bebas dari belenggu kekuasaan. Berkat rokok, Roro Mendut terkengan, mengisi rubik informasi sejarah begitu kuatnya budaya merokok di \u00a0Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Pusaka Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek, Teman Perjuangan  Diponegoro<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Semasa berjuang melawan penjajah, yang harus dilakukan Diponegoro berpindah-pindah dari kota satu ke kota lain. Strategi perlawanan Diponegoro, kemudian sebagai basis strategi perang gerilya. Strategi yang menjadi idola dan kebanggaan tentara Indonesia. Dengan bergerilya, tentara Indonesia mampu mengecoh kekutan lawan yang lebih besar jumlahnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu, tenyata banyak cerita, Diponegoro saat berperang ditemani rokok. Ia dan pasukannya gemar merokok. Bahkan ketika tidak ada rokok, Pangeran Diponegoro rela hanya megunyah daun sirih yang diracik dengan kapur dan pinang. <\/p>\n\n\n\n

Kebiasaan ini, juga dialami oleh pengikut \/pasukan perang Pangeran Diponegoro. Bagi mereka, rokok teman sejati, menemani disetiap perjalanan mereka. Rokok menghilangkan depresi mereka, sebagai hiburan saat jauh dari keluarga demi berjuang melawan penjajah. Rokok menumbuhkan percaya diri mereka, lebih berani melawan penjajah walaupun hanya dengan serba keterbatasan, pasukan jumlah terbatas, alat perang terbatas dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Baca juga: Pangeran Diponegoro, Rokok Klobot dan Perlawanan Simbolis<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Jati Diri Bangsa<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Salah satu \u201cpendiri bangsa\u201d bernama KH. Agus Salim menghisap kretek dengan asapnya di kebal-kebulkan keudara, disaat ada perjamuan di Istana Buckingham ketika penobatan Elizabeth II sebagai Ratu kerajaan Inggris. Aroma khas keluar dari asap rokok kretek, tercium orang yang berada di ruang perjamuan. Sehingga memancing salah satu orang yang datang dalam perjamuan, dengan berkata; \u201ctuan sedang menghisap apa itu?\u201d.  Sentak KH. Agus Salim menjawab, \u201c inilah yang membuat nenek moyang anda sekian abad lalu datang dan kemudian menjajah negeri kami\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Jawaban KH. Agus Salim, faktanya memang benar. Rokok kretek tidak lain ada tambahan cengkeh (suzygium aromaticum<\/em>). \u00a0Tanaman legendaris menjadi rebutan dan sumber keuntungan kolonialisme Eropa atas Asia termasuk Indonesia. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Cengkeh adalah salah satu tanaman yang diperebutkan bangsa-bangsa dunia, sampai melegalkan penjajahan.  Dalam simpulan perjalanan ekspedisi cengkeh tahun 2013, Kepala Suku begitu julukan bagi Putut Ea, mengatakan \u201c jika saja tak pernah ada cengkeh dan pala di Maluku, mungkin sejarah kepulauan Nusantara ini akan berbeda sama sekali\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Simpulan Putut EA, sebagai salah satu pembenar perkataan \u00a0KH. Agus Salim. Mungkin, jika tanaman cengkeh tidak ada, fakta sejarah akan berbeda, tidak ada penjajahan di bumi Nusantara ini. <\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Mengisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek untuk Berteman dan Menjalin Persaudaraan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Teringat apa yang pernah dilakukan Menteri Sosial dan Lingkungan Hidup, saat melakukan pendekatan pada suku anak dalam di Jambi. Tidak lain ia adalah Khofifah menteri perempuan yang energik. Saat itu Khofifah bertanggungjawab dalam mengatasi masalah pendidikan dan kesejahteraan masyarakat suku anak dalam di Jambi.  <\/p>\n\n\n\n

Kebijakannya membuat fenomenal, selain bahan makanan, dan bantuan lain, khofifah juga membawa rokok.  Yang kemudian ada yang mengggugat dari anti rokok, tetapi sebagai Menteri, Khofifah tentunya sudah mengkaji secara mendalam. Dengan kecerdasannya , Khofifah menjawab dengan tegas dan lugas, \u201cjangan sok tahu kehidupan mereka, kenali apa yang menjadi ritme kehidupan mereka. Sangat bijaksana kalau kita semua pergi kesana, sehingga tahu adat istiadatnya juga. Tolong kalau ingin mengerti tentang kultur jangan hanya dari kacamata Jakarta. Saya pun ingin mengajak anda kesana, turun kesana, sapalah mereka\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Khofifah memberikan pelajaran bagi anti rokok. Tidak boleh sok tahu, apalagi selama ini antirokok hanya berasumsi, tanpa melihat fakta dilapangan. Khofifah juga menganjurkan agar lebih mengenal adat-istiadat, budaya dan tradisi masyarakat, tidak boleh melakukan hegemoni kultural, sebab keberagaman adat-istiadat dan budaya merupakan kekayaan negeri. <\/p>\n\n\n\n

Pelajaran Khofifah sangat mendalam dan bercirikhas Nusantara. Sebgaai Menteri \u00a0Sosial tentunya lebih berpengalaman apa yang dibutuhkan bangsa ini agar tetap jaya, bersatu dan utuh. Kenali perbedaan, hormati perbedaan, junjung tinggi budaya yang berbeda. \u00a0Apa yang telah dilakukan Khofifah dengan membawa rokok ke suku anak dalam adalah cermin penghormatan tradisi dan budaya masyarakat. Sebagai seorang Mentri, tentunya punya kuasa, artinya bisa seorang khofifah memberikan bantuan sesuai keinginannya sendiri, namun hal itu tidak dilakukan. Ia lebih mengedepankan penghormatan budaya masyarakat setempat, dengan membawa rokok untuk pendekatan dan pertemanan. Karena Khofifah tahu betul, bahwa merokok adalah budaya mereka, yang diwaris dari neneng moyang mereka. <\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Memilih Jalan Hidup Menikmati Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Simbol Pergerakan Nasional     <\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Abdul Rifa\u2019I dalam media bintang timur terbit pada 03 Oktober 1927, mengatakan, \u201ckopinya bukan kopi saringan, tetapi kopi tubruk sebab kopi ini katanya nationaal, gulanya gula jawa, susu tidak dipakai karena tidak nationaal. Rokoknya kelobot, selamatan natioanaal ini terus berlangsung ed sampai pagi hari\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Semangat nasionalisme harus tertanam, mengedepankan produk lokal adalah salah satu semangat nasionalime. Salah satu keberadaan rokok klobot menjadi ciri produk asli indonesia dan harus dilestarikan. Klobot sendiri adalah ramuan tembakau dan cengkeh di gulung memakai daun jagung, embrio perkembangan menjadi rokok sigaret kretek tangan dan sigaret kretek mesin.  
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pusaran Budaya Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pusaran-budaya-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-04 08:40:41","post_modified_gmt":"2019-02-04 01:40:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5406","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5403,"post_author":"919","post_date":"2019-02-03 09:05:50","post_date_gmt":"2019-02-03 02:05:50","post_content":"\n

Seringkali saya menyaksikan berbagai film baik itu Eropa atau Asia yang menggambarkan tentang masa depan. Pemandangan soal masa depan tersebut dihadirkan dengan gambaran kecanggihan teknologi seperti robot yang akan membantu kehidupan manusia, gedung-gedung yang tingginya sudah amat tak bisa ditandingi,  hingga mobil-mobil yang bisa terbang. <\/p>\n\n\n\n

Pernah dalam masa kecil saya menyaksikan sebuah film animasi buatan jepang yang mempertanyakan tentang makanan di masa depan. Dengan santai salah satu tokoh yang berasal dari masa depan itu menjawab bahwa suatu saat nanti manusia akan mengonsumsi makanan berupa pasta gigi namun dengan rasa yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa, aneh!<\/p>\n\n\n\n

Seiring waktu berjalan saya kian tumbuh dewasa dan punya kesadaran untuk memilih menjadi seorang perokok<\/a>. Saya juga melihat ada sebuah inovasi dan gambaran tentang masa depan yang hadir dalam kehidupan sekarang. Banyak memang, namun yang menyita perhatian saya adalah rokok elektrik atau yang populer disebut Vape. Konon katanya ia adalah produk inovasi untuk menjembatani kebutuhan menghisap asap dan kecanggihan masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Di awal kehadirannya Vape memang mengundang decak kekaguman saya. Bagaimana bisa sebuah mesin kecil mengeluarkan asap yang katanya lebih menyehatkan daripada rokok.<\/strong> Meski pada akhirnya teori tersebut juga bisa dibantah oleh beberapa ilmuan dunia. Tapi ada satu yang saya amati selain soal kesehatan, rokok elektrik rupanya menghadirkan kultur dan budaya baru dalam kehidupan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: LAGI-LAGI IKLAN ROKOK, KAPAN KPAI TIDAK TEBANG PILIH? <\/a><\/h4>\n\n\n\n

Kehadiran teknologi memang kerap sedikit atau benyak mengubah gaya atau kultur suatu masyarakat. Begitu pula yang saya perhatikan dengan rokok elektrik. Satu hal yang mudah diamati adalah menjamurnya toko-toko kecil yang menjual vape serta liquid di berbagai tempat. Sebagai sebuah warna baru dalam masyarakat, penggunanya ramai-ramai mengunjungi tempat tersebut berinteraksi dengan penikmat lainnya dan membangun sebuah rumah komunitas yang fleksibel.<\/p>\n\n\n\n

Meski belum bisa dikatakan memiliki jumlah penikmat yang setara dengan para perokok, pengguna Vape mulai menunjukkan eksistensinya. Selain toko yang tersebar, ragam acara juga mereka buat di beberapa daerah. Dalam lingkungan saya, beberapa teman yang dulunya merupakan perokok aktif tertarik mengikuti event tersebut dan beralih mengisap rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Nun jauh di sana, di Amerika Serikat tepatnya, budaya Vape juga sudah mulai berkembang lama ketimbang di Tanah Air. Penikmatnya terbagi menjadi dua, ada yang dulunya bekas perokok dan ada yang memang menikmatinya sebagai gaya hidup. Wajar saja mengingat facebook tak memperbolehkan iklan tembakau di platform mereka, sebaliknya iklan tentang vape justru bertebaran. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi budaya baru yang berkembang di berbagai belahan dunia bahkan di Indonesia, Vape konon menjadi alternatif yang lebih bermanfaat daripada rokok. Dalih yang diusung selalu sama kepada para perokok tradisonal yaitu soal kesehatan dan lebih irit. Soal kesehatan tentu ada beberapa pendapat para ilmuan yang membantahnya, namun soal irit, saya rasa tidak. Memang satu liquid bisa digunakan untuk beberapa Minggu, akan tetapi yang saya lihat di lapangan justru sebaliknya. <\/p>\n\n\n\n

Beberapa penikmat rokok elektrik kerap berbelanja liquid yang mereka idamkan. Terkadang, hal tersebut yang membuat mereka boros karena terus mengeksplor rasa mana yang mereka idam-idamkan. Tak jarang juga liquid dengan harga mahal hingga ratus ribuan akan mereka beli. Sebaliknya, para perokok konvensional justru kerap bertahan dengan satu rasa atau merek saja.<\/p>\n\n\n\n

Sedikit berbeda dengan penikmat rokok konvensional atau kretek. Mengingat rokok kretek sudah menjadi kebudayan lokal yang terus dipertahankan selama bertahun-tahun, kehadirannya sudah mewarnai khasanah keindonesiaan. Perokok kretek juga sudah punya soliditas luar biasa yang terbentuk sejak lama dan terus terbangun mengiringi peradaban di Indonesia atau dunia.<\/p>\n\n\n\n

Kini, perokok elektrik mulai merasakan kegelisahan. Beberapa negara mulai menerapkan peraturan ketat terhadap Vape, sedangkan di Indonesia biaya cukai pun kini mulai diberlakukan terhadap perdagangan rokok elektrik. Keberadaannya di mata negara pun mulai dianggap sama seperti rokok, meski pada awalnya rokok elektrik hadir dengan slogan-slogan produk alternatif yang lebih menyehatkan (katanya).<\/p>\n\n\n\n


Tapi jika kemudian di masa depan memang rokok elektrik yang kemudian menjadi sesuatu yang populer dan dinikmati banyak orang. Rasanya saya tetap ingin hidup di jaman ini, dengan sebatang kretek di tangan dan menikmati segala khasanah kebudayaan yang patut terus dipertahankan. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"masa-depan-rokok-elektrik-dan-semangat-alternatif-yang-sia-sia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-03 09:05:56","post_modified_gmt":"2019-02-03 02:05:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5403","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5385,"post_author":"883","post_date":"2019-02-02 08:01:01","post_date_gmt":"2019-02-02 01:01:01","post_content":"Pada tahun 2014, perusahaan rokok multinasional Philip Morris Internasional Inc. merilis sebuah produk <\/span>perangkat\u00a0<\/span>
rokok<\/span><\/a>\u00a0tanpa asap, yang dipanaskan bukan dibakar atau istilahnya\u00a0<\/span>heat not burn<\/i><\/strong>\u00a0(HNB) iQOS<\/strong>. <\/span>\r\n\r\nPerangkat rokok tanpa asap dengan nama iQOS<\/a> ini berbentuk seperti bagian luar pulpen, dengan lubang di tengah untuk rokok. Produk yang berada di bawah brand Marlboro ini dapat memanaskan rokok sampai 350 derajat celcius lalu mengeluarkan uap nikotin beraroma tembakau<\/em><\/a>.<\/span>\r\n

Produk iQOS sebenarnya bukanlah produk rokok tanpa asap yang pertama muncul. Sebelumnya di tahun 1990-an, Reynolds Tobacco Co pernah merilis produk serupa bernama Eclipes yang juga dapat menguapkan nikotin setelah dinyalakan dengan korek api.<\/span><\/blockquote>\r\nSelain itu, Eclips juga dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. Namun, pada saat itu Eclips tidak diminati oleh pasar, utamanya para perokok konvensional. Meskipun Eclips dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. <\/span>\r\n\r\nBisnis semacam rokok tanpa asap seperti Eclips dan iQOS memang sudah menjadi bagian dari rencana panjang bisnis perusahaan-perusahaan rokok multinasional. Jadi tidak usah heran jika ke depannya akan kita akan banyak menemukan produk rokok tanpa asap ini.<\/span>\r\n\r\nWatak dari perusahaan multinasional memang seperti itu, mereka sangat jeli melihat peluang pasar ke depannya. Ketika market place perusahaan rokok multinasional saat ini terus dirongrong oleh kelompok antirokok, mereka tak kehabisan akal. Maka kemudian mereka menginovasi produk rokok konvensional menjadi rokok yang tidak berasap. Begitupun dengan mengikutsertakan jargon-jargon kesehatan dalam narasi promosi mereka.<\/span>\r\n\r\nSesungguhnya memang seperti itulah watak bisnis perusahaan-perusahaan multinasional, melakukan segala cara agar bisnis mereka tetap bertahan, meskipun harus merangkul musuh sekalipun. <\/span>\r\n\r\nYa kadang pura-pura berantem sama antirokok, tapi dibalik itu sebenarnya baik-baik saja, dan tentunya ada kompromi untuk terus melanggengkan bisnis mereka.<\/span>\r\n

Lalu siapa yang dirugikan dari permainan bisnis macam produk rokok tanpa asap perusahaan rokok multinasional ini?<\/span><\/h3>\r\nTentunya yang sangat dirugikan adalah produk hasil tembakau yang memiliki kekhasan seperti kretek di Indonesia. Kretek sebagai produk khas asli Indonesia yang menjadi bagian dari warisan kebudayaan tidak mungkin bertransformasi menjadi produk-produk elektrik dan sejenisnya.<\/span>\r\n\r\nKretek tetaplah kretek, dengan bahan baku alami tembakau dan cengkeh yang tidak diintervensi dengan zat atau perangkat penghantar lainnya. Karena dengan bentuk, karakter dan cara menikmatinya memang konvensional dan akan terus begitu apapun kondisi dan zamannya.<\/span>\r\n
Bisnis produk rokok tanpa asap (elektrik) juga menghajar kretek dengan mendompleng isu pengendalian tembakau. Kampanye pengendalian tembakau selalu membawa slogan bahaya merokok dan upaya untuk berhenti merokok. <\/span><\/blockquote>\r\nDari isu tersebut, rokok elektrik masuk dengan citra produk alternatif tembakau, bahkan mereka tak segan menilai bahwa rokok elektrik lebih aman ketimbang rokok konvensional, yakni kretek.<\/span>\r\n\r\nLalu jika Indonesia akan dibanjiri dengan produk-produk yang mengatasnamakan produk alternatif tembakau, macam rokok tanpa asap (iQOS dan sejenisnya), maka itulah pertanda bahwa kretek harus tergerus dari cara hidup manusia Indonesia dalam menikmati produk hasil tembakau khas Indonesia yang sudah turun-temurun lamanya dinikmati manusia Indonesia.<\/span>","post_title":"Nasib Kretek di Pusaran Pertarungan Bisnis Global Perusahaan Rokok Multinasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"nasib-kretek-di-pusaran-pertarungan-bisnis-global-perusahaan-rokok-multinasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-02 08:01:43","post_modified_gmt":"2019-02-02 01:01:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5385","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; \n

Belakangan ini, ketika musim hujan tiba, di Kabupaten Temanggung, Kabupaten Jember, dan beberapa wilayah sentra pertanian tembakau lainnya, hampir mustahil menemukan tanaman tembakau tumbuh di lahan-lahan milik petani. Di wilayah-wilayah tersebut, citra sebagai sentra pertanian tembakau seakan menguap. Lahan-lahan yang ada di sana, sama sekali tidak ditumbuhi tanaman tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Kabar ini bisa jadi dianggap sebagai kabar gembira bagi mereka yang menganggap diri dan kelompoknya anti-rokok dan anti-tembakau yang selalu mengampanyekan sikap-sikap mereka terkait kebencian kepada tembakau dan aktivitas merokok. Setelah sekian lama berjuang, akhirnya perjuangan mereka dirasa berhasil usai menyaksikan fenomena lahan-lahan di wilayah yang dianggap sentra pertanian tembakau pada hari-hari belakangan ini.<\/p>\n\n\n\n

Baca juga: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tak sia-sia turun ke jalan, tak sia-sia melakukan lobi-lobi ke penguasa, tak sia-sia mengucurkan uang yang tidak sedikit, dan tak sia-sia mempermalukan diri dengan mengemis ke lembaga donor asing dan menggondol uang dari cukai tembakau untuk mengampanyekan gerakan anti-rokok dan anti-tembakau. Tak sia-sia. Karena perjuangan sepertinya berhasil.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Kampanye-kampanye gerakan mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya, sepertinya juga sangat berhasil. Bagaimana tidak? Wilayah-wilayah yang sebelumnya penuh dengan tanaman tembakau dan bergeliat dengannya, kini lahan-lahannya sudah berganti dengan tanaman lain. Sebuah keberhasilan yang menggembirakan. Begitu mungkin pikir mereka para yang menganggap dirinya pejuang anti-rokok dan anti-tembakau. Dan tentu saja mereka akan kecele dan kita akan menertawakan hal itu.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, mereka yang menganggap dirinya anti-rokok dan anti-tembakau tidak menyaksikan langsung fenomena ini di lapangan, di lahan-lahan yang peruntukannya berubah pada hari-hari belakangan ini ketika memasuki musim hujan. Mereka asyik duduk pada kursi empuk di ruang-ruang nyaman ber-AC di kota-kota yang jauh dari kultur pertanian. Mereka menyengajakan diri menjadi elit dan enggan untuk turun melihat langsung ke lapangan. Kalaupun ada yang turun langsung ke lapangan, hanya segelintir saja dari mereka, itupun sekadar formalitas saja. Tak pernah benar-benar mau turun ke lapangan, hidup dan merasakan langsung kultur pertanian tembakau dalam jangka waktu cukup lama di lapangan.<\/p>\n\n\n\n

Baca juga: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Fenomena ini membikin kita tak bisa melihat mereka para anti-rokok kecele lalu menertawakan mereka.<\/strong> Fenomena keengganan terjun langsung ke lapangan terlebih mencoba mendengar mereka yang tetap menanam tembakau, juga menjalani keseharian dalam waktu cukup lama bersama petani tembakau inilah yang saya kira menjadikan mereka tetap keras kepala untuk anti-rokok dan anti-tembakau. Karena jika mereka mau melakukan itu, saya yakin mereka semua tidak akan begitu kaku dalam memandang pertanian tembakau dan produk hasil industri tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu yang selalu mereka kampanyekan dan ngotot dengan itu, terkait hulu pertanian tembakau adalah mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya. Mereka berargumen banyak tanaman lain yang bisa semenguntungkan tanaman tembakau. Keengganan mereka terjun langsung ke lapangan inilah yang membikin mereka buta dengan kondisi pertanian tembakau dan pada akhirnya terus menerus mengampanyekan pergantian tanaman tembakau dengan tanaman lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca juga: Imanlah kepada Allah, Bukan Antirokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tembakau tanaman yang khas. Ia hanya tumbuh baik sepanjang empat hingga lima bulan dalam satu tahun. Tumbuh-kembang tanaman tembakau dengan baik itu umumnya terjadi pada musim kemarau setiap tahunnya. Hanya sedikit sekali jenis tembakau yang tumbuh baik di musim penghujan, mayoritasnya, tumbuh baik pada musim kemarau.<\/p>\n\n\n\n

Jika ditanam pada musim hujan, hampir bisa dipastikan tanaman tembakau akan gagal menghasilkan daun-daun yang berkualitas. Ia akan rusak dan membusuk karena terlalu banyak terkena air sehingga daun-daun itu tak layak dijual. Jangankan bisa dijual, untuk tumbuh dengan baik pun sepertinya sulit karena musim hujan akan membunuh banyak tanaman itu.<\/p>\n\n\n\n

Maka, tak heran pada musim-musim seperti saat ini, ketika musim penghujan mendekati puncaknya, di wilayah-wilayah yang dikenal sebagai sentra pertanian tembakau, sulit menemukan pohon tembakau yang sedang tumbuh. Pada lahan-lahan yang sebelumnya ditumbuhi tanaman tembakau pada musim panas, berganti tanaman-tanaman lain yang bermacam-macam, sesuai dengan kondisi lahannya. Untuk lahan sawah, lahan-lahan itu pada musim penghujan kini ditumbuhi tanaman padi yang subur. Pada lahan tegalan dan lahan di pegunungan, lahan-lahan yang ditanami tembakau pada musim kemarau, saat ini ditumbuhi bermacam jenis tanaman mulai dari cabai, bawang, tomat, kol, terong, mentimun, dan ragam jenis tanaman semusim lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Uniknya, tipikal tanaman tembakau yang tumbuh baik di musim kemarau ini memberi pilihan lebih kepada para petani. Lahan-lahan yang sulit ditanami pada musim kemarau, pada akhirnya masih bisa tetap produktif dengan keberadaan tanaman tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Maka, kampanye aneh mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain dengan ragam rupa dalih yang membingungkan, bukan saja sama sekali tidak tepat dan asal-asalan, namun bisa jadi akan ditertawakan oleh para petani yang begitu paham dengan kondisi lahan dan terutama kondisi iklim dan cuaca. Sulit mencari tanaman semusim yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Jika pun ada, tak ada yang semenguntungkan tanaman tembakau.
<\/p>\n","post_title":"Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"keberhasilan-gerakan-anti-tembakau-tak-ada-tembakau-saat-musim-hujan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-07 12:16:02","post_modified_gmt":"2019-02-07 05:16:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5415","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5409,"post_author":"919","post_date":"2019-02-05 08:04:43","post_date_gmt":"2019-02-05 01:04:43","post_content":"\n

Tahun Baru Imlek yang merupakan tradisi Bangsa Tiongkok kini sudah tak lagi menjadi hal yang asing bagi masyarakat Indonesia. Kehadirannya sudah mewarnai dan berakulturasi dengan tradisi lokal. Menjelang Tahun Baru Imlek. Berbagai hiasan dan kemeriahan terjadi beberapa titik di Tanah Air. Perayaannya juga menjadi destinasi baru yang mengasyikkan untuk dilihat dan patut disaksikan.<\/p>\n\n\n\n

Berterimakasihlah kepada sang bapak bangsa, KH Abdurrahman Wahid atau yang dikenal dengan nama Gus Dur. Berkat kebijakannya saat menjadi Presiden Indonesia, Tahun Baru Imlek resmi dijadikan hari libur nasional dan dianggap sebagai salah satu hari raya di Tanah Air. Meski sentimen antitionghoa masih ada di sana-sini, tapi tetap tak bisa dipungkiri bahwa bangsa tionghoa sudah bersentuhan dengan budaya lokal dalam kurun waktu yang sangat panjang.<\/p>\n\n\n\n

DNA Bangsa Tionghoa yang memang merupakan pedagang menjadi pembuka kisah interaksi antara nenek moyang berbagai suku di Nusantara dengan mereka. Beberapa kelenteng-kelenteng yang tersebar pada berbagai pesisir daerah di Nusantara jadi buktinya. Pelabuhan-pelabuhan tua di tanah air dan ramainya perdagangan di pesisir mempermudah bangsa kita berhubungan dengan Bangsa Tionghoa.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Wong Kalang dan Kota Gede<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa kehadiran Bangsa Tionghoa di Nusantara tak hanya sebagai pedagang, namun juga sebagai pekerja (bahkan hingga pekerja kasar). Benny Setiono, seorang sejarahwan menyebutkan bahwa antara tahun 1760-1770 dalam jumlah yang besar memasuki nusantara melalui Kalimantan Barat. Mereka bekerja sebagai kuli pertambangan di sana dan di kemudian hari membentuk sebuah republik bernama Republik Lanfang yang konon katanya menjadi republik pertama di Asia Tenggara.<\/p>\n\n\n\n

Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Imlek dan Indonesia<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n\n\n\n

Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
<\/p>\n","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5406,"post_author":"877","post_date":"2019-02-04 08:23:48","post_date_gmt":"2019-02-04 01:23:48","post_content":"\n

Merokok itu sudah menjadi bagian dari budaya dan tradisi masyarakat, jauh sebelum Indonesia merdeka. Banyak cerita atau kisah tentang kretek <\/a><\/del>di tengah-tengah masyarakat bangsa ini, mulai sebagai alat untuk meraup keuntungan, alat komunikasi, sebagai teman sampai menjadi simbol pergerakan. <\/p>\n\n\n\n

Kretek, Simbol Perlawanan Roro Mendut<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Siapa yang tidak pernah mendengan cerita tentang Roro Mendut?, di telinga masyarakat Indonesia, kisah Roro Mendut tidak asing lagi.  Perempuan yang mempunyai paras wajah cantik, dan digandrungi kaum adam terutama kalangan putra kerajaan. Informasi kecantikan Roro Mendut tersebar seantero Nusantara, tidak satupun pria meragukan kecantikannya.  Bahkan kisah dan cerita kecantikan Roro Mendut tercatat dalam buku Babad Tanah Jawi. <\/p>\n\n\n\n

Diperkirakan pada tahun 1627, pada saat panglima perang Sultan Agung Mataram bernama Tumenggung Wiraguna berhasil menumpas pemberontakan di kota Pati, sebagai imbalanan atas keberhasilannya, mendapat hadiah wanita pujaan pria bernama Rara Mendut dari Kasultanan Agung Mataram.  Roro Mendut menolak dipinang Tumenggung Wiraguna, dan secara terang-terangan memilih pria lain dambaannya. Akibatnya, Roro Mendut harus membayar pajak setiap harinya kepada kerajaan Mataram. <\/p>\n\n\n\n

Bisa dibayangkan, betapa bingungnya Roro Mendut saat itu. Uang dari mana, ia hasilkan untuk bayar pajak tiap hari demi bisa bersama kekasihnya. Ternyata Roro Mendut tidak hanya cantik tetapi cerdas dan kreatif, bisa membaca peluang bisnis saat itu. Ide cermerlang muncul dengan berdagang\/berjualan rokok lintingan yang direkatkan dengan air ludahnya, dan sebelum menjualnya, rokok lintingan di sulut dahulu dan dihisap bekas bibir merahnya. Kemudian baru dijual ke pembeli yang berdesakan berjejer antri. <\/p>\n\n\n\n

Entah dari mana ide menjual rokok itu muncul. Yang jelas saking larisnya, kewajiban pajak Roro Mendut terpenuhi. Dan mungkin keadaannya akan lebih parah, jika saat itu Roro Mendut tidak berdagang rokok. Tidak akan terpenuhi kewajiban pajaknya. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Dengan rokok, hidup Roro Mendut terselamatkan. Adanya rokok, \u00a0Roro Mendut bebas dari belenggu kekuasaan. Berkat rokok, Roro Mendut terkengan, mengisi rubik informasi sejarah begitu kuatnya budaya merokok di \u00a0Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Pusaka Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek, Teman Perjuangan  Diponegoro<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Semasa berjuang melawan penjajah, yang harus dilakukan Diponegoro berpindah-pindah dari kota satu ke kota lain. Strategi perlawanan Diponegoro, kemudian sebagai basis strategi perang gerilya. Strategi yang menjadi idola dan kebanggaan tentara Indonesia. Dengan bergerilya, tentara Indonesia mampu mengecoh kekutan lawan yang lebih besar jumlahnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu, tenyata banyak cerita, Diponegoro saat berperang ditemani rokok. Ia dan pasukannya gemar merokok. Bahkan ketika tidak ada rokok, Pangeran Diponegoro rela hanya megunyah daun sirih yang diracik dengan kapur dan pinang. <\/p>\n\n\n\n

Kebiasaan ini, juga dialami oleh pengikut \/pasukan perang Pangeran Diponegoro. Bagi mereka, rokok teman sejati, menemani disetiap perjalanan mereka. Rokok menghilangkan depresi mereka, sebagai hiburan saat jauh dari keluarga demi berjuang melawan penjajah. Rokok menumbuhkan percaya diri mereka, lebih berani melawan penjajah walaupun hanya dengan serba keterbatasan, pasukan jumlah terbatas, alat perang terbatas dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Baca juga: Pangeran Diponegoro, Rokok Klobot dan Perlawanan Simbolis<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Jati Diri Bangsa<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Salah satu \u201cpendiri bangsa\u201d bernama KH. Agus Salim menghisap kretek dengan asapnya di kebal-kebulkan keudara, disaat ada perjamuan di Istana Buckingham ketika penobatan Elizabeth II sebagai Ratu kerajaan Inggris. Aroma khas keluar dari asap rokok kretek, tercium orang yang berada di ruang perjamuan. Sehingga memancing salah satu orang yang datang dalam perjamuan, dengan berkata; \u201ctuan sedang menghisap apa itu?\u201d.  Sentak KH. Agus Salim menjawab, \u201c inilah yang membuat nenek moyang anda sekian abad lalu datang dan kemudian menjajah negeri kami\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Jawaban KH. Agus Salim, faktanya memang benar. Rokok kretek tidak lain ada tambahan cengkeh (suzygium aromaticum<\/em>). \u00a0Tanaman legendaris menjadi rebutan dan sumber keuntungan kolonialisme Eropa atas Asia termasuk Indonesia. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Cengkeh adalah salah satu tanaman yang diperebutkan bangsa-bangsa dunia, sampai melegalkan penjajahan.  Dalam simpulan perjalanan ekspedisi cengkeh tahun 2013, Kepala Suku begitu julukan bagi Putut Ea, mengatakan \u201c jika saja tak pernah ada cengkeh dan pala di Maluku, mungkin sejarah kepulauan Nusantara ini akan berbeda sama sekali\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Simpulan Putut EA, sebagai salah satu pembenar perkataan \u00a0KH. Agus Salim. Mungkin, jika tanaman cengkeh tidak ada, fakta sejarah akan berbeda, tidak ada penjajahan di bumi Nusantara ini. <\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Mengisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek untuk Berteman dan Menjalin Persaudaraan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Teringat apa yang pernah dilakukan Menteri Sosial dan Lingkungan Hidup, saat melakukan pendekatan pada suku anak dalam di Jambi. Tidak lain ia adalah Khofifah menteri perempuan yang energik. Saat itu Khofifah bertanggungjawab dalam mengatasi masalah pendidikan dan kesejahteraan masyarakat suku anak dalam di Jambi.  <\/p>\n\n\n\n

Kebijakannya membuat fenomenal, selain bahan makanan, dan bantuan lain, khofifah juga membawa rokok.  Yang kemudian ada yang mengggugat dari anti rokok, tetapi sebagai Menteri, Khofifah tentunya sudah mengkaji secara mendalam. Dengan kecerdasannya , Khofifah menjawab dengan tegas dan lugas, \u201cjangan sok tahu kehidupan mereka, kenali apa yang menjadi ritme kehidupan mereka. Sangat bijaksana kalau kita semua pergi kesana, sehingga tahu adat istiadatnya juga. Tolong kalau ingin mengerti tentang kultur jangan hanya dari kacamata Jakarta. Saya pun ingin mengajak anda kesana, turun kesana, sapalah mereka\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Khofifah memberikan pelajaran bagi anti rokok. Tidak boleh sok tahu, apalagi selama ini antirokok hanya berasumsi, tanpa melihat fakta dilapangan. Khofifah juga menganjurkan agar lebih mengenal adat-istiadat, budaya dan tradisi masyarakat, tidak boleh melakukan hegemoni kultural, sebab keberagaman adat-istiadat dan budaya merupakan kekayaan negeri. <\/p>\n\n\n\n

Pelajaran Khofifah sangat mendalam dan bercirikhas Nusantara. Sebgaai Menteri \u00a0Sosial tentunya lebih berpengalaman apa yang dibutuhkan bangsa ini agar tetap jaya, bersatu dan utuh. Kenali perbedaan, hormati perbedaan, junjung tinggi budaya yang berbeda. \u00a0Apa yang telah dilakukan Khofifah dengan membawa rokok ke suku anak dalam adalah cermin penghormatan tradisi dan budaya masyarakat. Sebagai seorang Mentri, tentunya punya kuasa, artinya bisa seorang khofifah memberikan bantuan sesuai keinginannya sendiri, namun hal itu tidak dilakukan. Ia lebih mengedepankan penghormatan budaya masyarakat setempat, dengan membawa rokok untuk pendekatan dan pertemanan. Karena Khofifah tahu betul, bahwa merokok adalah budaya mereka, yang diwaris dari neneng moyang mereka. <\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Memilih Jalan Hidup Menikmati Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Simbol Pergerakan Nasional     <\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Abdul Rifa\u2019I dalam media bintang timur terbit pada 03 Oktober 1927, mengatakan, \u201ckopinya bukan kopi saringan, tetapi kopi tubruk sebab kopi ini katanya nationaal, gulanya gula jawa, susu tidak dipakai karena tidak nationaal. Rokoknya kelobot, selamatan natioanaal ini terus berlangsung ed sampai pagi hari\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Semangat nasionalisme harus tertanam, mengedepankan produk lokal adalah salah satu semangat nasionalime. Salah satu keberadaan rokok klobot menjadi ciri produk asli indonesia dan harus dilestarikan. Klobot sendiri adalah ramuan tembakau dan cengkeh di gulung memakai daun jagung, embrio perkembangan menjadi rokok sigaret kretek tangan dan sigaret kretek mesin.  
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pusaran Budaya Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pusaran-budaya-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-04 08:40:41","post_modified_gmt":"2019-02-04 01:40:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5406","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5403,"post_author":"919","post_date":"2019-02-03 09:05:50","post_date_gmt":"2019-02-03 02:05:50","post_content":"\n

Seringkali saya menyaksikan berbagai film baik itu Eropa atau Asia yang menggambarkan tentang masa depan. Pemandangan soal masa depan tersebut dihadirkan dengan gambaran kecanggihan teknologi seperti robot yang akan membantu kehidupan manusia, gedung-gedung yang tingginya sudah amat tak bisa ditandingi,  hingga mobil-mobil yang bisa terbang. <\/p>\n\n\n\n

Pernah dalam masa kecil saya menyaksikan sebuah film animasi buatan jepang yang mempertanyakan tentang makanan di masa depan. Dengan santai salah satu tokoh yang berasal dari masa depan itu menjawab bahwa suatu saat nanti manusia akan mengonsumsi makanan berupa pasta gigi namun dengan rasa yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa, aneh!<\/p>\n\n\n\n

Seiring waktu berjalan saya kian tumbuh dewasa dan punya kesadaran untuk memilih menjadi seorang perokok<\/a>. Saya juga melihat ada sebuah inovasi dan gambaran tentang masa depan yang hadir dalam kehidupan sekarang. Banyak memang, namun yang menyita perhatian saya adalah rokok elektrik atau yang populer disebut Vape. Konon katanya ia adalah produk inovasi untuk menjembatani kebutuhan menghisap asap dan kecanggihan masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Di awal kehadirannya Vape memang mengundang decak kekaguman saya. Bagaimana bisa sebuah mesin kecil mengeluarkan asap yang katanya lebih menyehatkan daripada rokok.<\/strong> Meski pada akhirnya teori tersebut juga bisa dibantah oleh beberapa ilmuan dunia. Tapi ada satu yang saya amati selain soal kesehatan, rokok elektrik rupanya menghadirkan kultur dan budaya baru dalam kehidupan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: LAGI-LAGI IKLAN ROKOK, KAPAN KPAI TIDAK TEBANG PILIH? <\/a><\/h4>\n\n\n\n

Kehadiran teknologi memang kerap sedikit atau benyak mengubah gaya atau kultur suatu masyarakat. Begitu pula yang saya perhatikan dengan rokok elektrik. Satu hal yang mudah diamati adalah menjamurnya toko-toko kecil yang menjual vape serta liquid di berbagai tempat. Sebagai sebuah warna baru dalam masyarakat, penggunanya ramai-ramai mengunjungi tempat tersebut berinteraksi dengan penikmat lainnya dan membangun sebuah rumah komunitas yang fleksibel.<\/p>\n\n\n\n

Meski belum bisa dikatakan memiliki jumlah penikmat yang setara dengan para perokok, pengguna Vape mulai menunjukkan eksistensinya. Selain toko yang tersebar, ragam acara juga mereka buat di beberapa daerah. Dalam lingkungan saya, beberapa teman yang dulunya merupakan perokok aktif tertarik mengikuti event tersebut dan beralih mengisap rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Nun jauh di sana, di Amerika Serikat tepatnya, budaya Vape juga sudah mulai berkembang lama ketimbang di Tanah Air. Penikmatnya terbagi menjadi dua, ada yang dulunya bekas perokok dan ada yang memang menikmatinya sebagai gaya hidup. Wajar saja mengingat facebook tak memperbolehkan iklan tembakau di platform mereka, sebaliknya iklan tentang vape justru bertebaran. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi budaya baru yang berkembang di berbagai belahan dunia bahkan di Indonesia, Vape konon menjadi alternatif yang lebih bermanfaat daripada rokok. Dalih yang diusung selalu sama kepada para perokok tradisonal yaitu soal kesehatan dan lebih irit. Soal kesehatan tentu ada beberapa pendapat para ilmuan yang membantahnya, namun soal irit, saya rasa tidak. Memang satu liquid bisa digunakan untuk beberapa Minggu, akan tetapi yang saya lihat di lapangan justru sebaliknya. <\/p>\n\n\n\n

Beberapa penikmat rokok elektrik kerap berbelanja liquid yang mereka idamkan. Terkadang, hal tersebut yang membuat mereka boros karena terus mengeksplor rasa mana yang mereka idam-idamkan. Tak jarang juga liquid dengan harga mahal hingga ratus ribuan akan mereka beli. Sebaliknya, para perokok konvensional justru kerap bertahan dengan satu rasa atau merek saja.<\/p>\n\n\n\n

Sedikit berbeda dengan penikmat rokok konvensional atau kretek. Mengingat rokok kretek sudah menjadi kebudayan lokal yang terus dipertahankan selama bertahun-tahun, kehadirannya sudah mewarnai khasanah keindonesiaan. Perokok kretek juga sudah punya soliditas luar biasa yang terbentuk sejak lama dan terus terbangun mengiringi peradaban di Indonesia atau dunia.<\/p>\n\n\n\n

Kini, perokok elektrik mulai merasakan kegelisahan. Beberapa negara mulai menerapkan peraturan ketat terhadap Vape, sedangkan di Indonesia biaya cukai pun kini mulai diberlakukan terhadap perdagangan rokok elektrik. Keberadaannya di mata negara pun mulai dianggap sama seperti rokok, meski pada awalnya rokok elektrik hadir dengan slogan-slogan produk alternatif yang lebih menyehatkan (katanya).<\/p>\n\n\n\n


Tapi jika kemudian di masa depan memang rokok elektrik yang kemudian menjadi sesuatu yang populer dan dinikmati banyak orang. Rasanya saya tetap ingin hidup di jaman ini, dengan sebatang kretek di tangan dan menikmati segala khasanah kebudayaan yang patut terus dipertahankan. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"masa-depan-rokok-elektrik-dan-semangat-alternatif-yang-sia-sia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-03 09:05:56","post_modified_gmt":"2019-02-03 02:05:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5403","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5385,"post_author":"883","post_date":"2019-02-02 08:01:01","post_date_gmt":"2019-02-02 01:01:01","post_content":"Pada tahun 2014, perusahaan rokok multinasional Philip Morris Internasional Inc. merilis sebuah produk <\/span>perangkat\u00a0<\/span>
rokok<\/span><\/a>\u00a0tanpa asap, yang dipanaskan bukan dibakar atau istilahnya\u00a0<\/span>heat not burn<\/i><\/strong>\u00a0(HNB) iQOS<\/strong>. <\/span>\r\n\r\nPerangkat rokok tanpa asap dengan nama iQOS<\/a> ini berbentuk seperti bagian luar pulpen, dengan lubang di tengah untuk rokok. Produk yang berada di bawah brand Marlboro ini dapat memanaskan rokok sampai 350 derajat celcius lalu mengeluarkan uap nikotin beraroma tembakau<\/em><\/a>.<\/span>\r\n

Produk iQOS sebenarnya bukanlah produk rokok tanpa asap yang pertama muncul. Sebelumnya di tahun 1990-an, Reynolds Tobacco Co pernah merilis produk serupa bernama Eclipes yang juga dapat menguapkan nikotin setelah dinyalakan dengan korek api.<\/span><\/blockquote>\r\nSelain itu, Eclips juga dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. Namun, pada saat itu Eclips tidak diminati oleh pasar, utamanya para perokok konvensional. Meskipun Eclips dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. <\/span>\r\n\r\nBisnis semacam rokok tanpa asap seperti Eclips dan iQOS memang sudah menjadi bagian dari rencana panjang bisnis perusahaan-perusahaan rokok multinasional. Jadi tidak usah heran jika ke depannya akan kita akan banyak menemukan produk rokok tanpa asap ini.<\/span>\r\n\r\nWatak dari perusahaan multinasional memang seperti itu, mereka sangat jeli melihat peluang pasar ke depannya. Ketika market place perusahaan rokok multinasional saat ini terus dirongrong oleh kelompok antirokok, mereka tak kehabisan akal. Maka kemudian mereka menginovasi produk rokok konvensional menjadi rokok yang tidak berasap. Begitupun dengan mengikutsertakan jargon-jargon kesehatan dalam narasi promosi mereka.<\/span>\r\n\r\nSesungguhnya memang seperti itulah watak bisnis perusahaan-perusahaan multinasional, melakukan segala cara agar bisnis mereka tetap bertahan, meskipun harus merangkul musuh sekalipun. <\/span>\r\n\r\nYa kadang pura-pura berantem sama antirokok, tapi dibalik itu sebenarnya baik-baik saja, dan tentunya ada kompromi untuk terus melanggengkan bisnis mereka.<\/span>\r\n

Lalu siapa yang dirugikan dari permainan bisnis macam produk rokok tanpa asap perusahaan rokok multinasional ini?<\/span><\/h3>\r\nTentunya yang sangat dirugikan adalah produk hasil tembakau yang memiliki kekhasan seperti kretek di Indonesia. Kretek sebagai produk khas asli Indonesia yang menjadi bagian dari warisan kebudayaan tidak mungkin bertransformasi menjadi produk-produk elektrik dan sejenisnya.<\/span>\r\n\r\nKretek tetaplah kretek, dengan bahan baku alami tembakau dan cengkeh yang tidak diintervensi dengan zat atau perangkat penghantar lainnya. Karena dengan bentuk, karakter dan cara menikmatinya memang konvensional dan akan terus begitu apapun kondisi dan zamannya.<\/span>\r\n
Bisnis produk rokok tanpa asap (elektrik) juga menghajar kretek dengan mendompleng isu pengendalian tembakau. Kampanye pengendalian tembakau selalu membawa slogan bahaya merokok dan upaya untuk berhenti merokok. <\/span><\/blockquote>\r\nDari isu tersebut, rokok elektrik masuk dengan citra produk alternatif tembakau, bahkan mereka tak segan menilai bahwa rokok elektrik lebih aman ketimbang rokok konvensional, yakni kretek.<\/span>\r\n\r\nLalu jika Indonesia akan dibanjiri dengan produk-produk yang mengatasnamakan produk alternatif tembakau, macam rokok tanpa asap (iQOS dan sejenisnya), maka itulah pertanda bahwa kretek harus tergerus dari cara hidup manusia Indonesia dalam menikmati produk hasil tembakau khas Indonesia yang sudah turun-temurun lamanya dinikmati manusia Indonesia.<\/span>","post_title":"Nasib Kretek di Pusaran Pertarungan Bisnis Global Perusahaan Rokok Multinasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"nasib-kretek-di-pusaran-pertarungan-bisnis-global-perusahaan-rokok-multinasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-02 08:01:43","post_modified_gmt":"2019-02-02 01:01:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5385","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; \n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem Topatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-10 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-02-10 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5425","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5415,"post_author":"878","post_date":"2019-02-07 12:15:55","post_date_gmt":"2019-02-07 05:15:55","post_content":"\n

Belakangan ini, ketika musim hujan tiba, di Kabupaten Temanggung, Kabupaten Jember, dan beberapa wilayah sentra pertanian tembakau lainnya, hampir mustahil menemukan tanaman tembakau tumbuh di lahan-lahan milik petani. Di wilayah-wilayah tersebut, citra sebagai sentra pertanian tembakau seakan menguap. Lahan-lahan yang ada di sana, sama sekali tidak ditumbuhi tanaman tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Kabar ini bisa jadi dianggap sebagai kabar gembira bagi mereka yang menganggap diri dan kelompoknya anti-rokok dan anti-tembakau yang selalu mengampanyekan sikap-sikap mereka terkait kebencian kepada tembakau dan aktivitas merokok. Setelah sekian lama berjuang, akhirnya perjuangan mereka dirasa berhasil usai menyaksikan fenomena lahan-lahan di wilayah yang dianggap sentra pertanian tembakau pada hari-hari belakangan ini.<\/p>\n\n\n\n

Baca juga: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tak sia-sia turun ke jalan, tak sia-sia melakukan lobi-lobi ke penguasa, tak sia-sia mengucurkan uang yang tidak sedikit, dan tak sia-sia mempermalukan diri dengan mengemis ke lembaga donor asing dan menggondol uang dari cukai tembakau untuk mengampanyekan gerakan anti-rokok dan anti-tembakau. Tak sia-sia. Karena perjuangan sepertinya berhasil.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Kampanye-kampanye gerakan mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya, sepertinya juga sangat berhasil. Bagaimana tidak? Wilayah-wilayah yang sebelumnya penuh dengan tanaman tembakau dan bergeliat dengannya, kini lahan-lahannya sudah berganti dengan tanaman lain. Sebuah keberhasilan yang menggembirakan. Begitu mungkin pikir mereka para yang menganggap dirinya pejuang anti-rokok dan anti-tembakau. Dan tentu saja mereka akan kecele dan kita akan menertawakan hal itu.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, mereka yang menganggap dirinya anti-rokok dan anti-tembakau tidak menyaksikan langsung fenomena ini di lapangan, di lahan-lahan yang peruntukannya berubah pada hari-hari belakangan ini ketika memasuki musim hujan. Mereka asyik duduk pada kursi empuk di ruang-ruang nyaman ber-AC di kota-kota yang jauh dari kultur pertanian. Mereka menyengajakan diri menjadi elit dan enggan untuk turun melihat langsung ke lapangan. Kalaupun ada yang turun langsung ke lapangan, hanya segelintir saja dari mereka, itupun sekadar formalitas saja. Tak pernah benar-benar mau turun ke lapangan, hidup dan merasakan langsung kultur pertanian tembakau dalam jangka waktu cukup lama di lapangan.<\/p>\n\n\n\n

Baca juga: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Fenomena ini membikin kita tak bisa melihat mereka para anti-rokok kecele lalu menertawakan mereka.<\/strong> Fenomena keengganan terjun langsung ke lapangan terlebih mencoba mendengar mereka yang tetap menanam tembakau, juga menjalani keseharian dalam waktu cukup lama bersama petani tembakau inilah yang saya kira menjadikan mereka tetap keras kepala untuk anti-rokok dan anti-tembakau. Karena jika mereka mau melakukan itu, saya yakin mereka semua tidak akan begitu kaku dalam memandang pertanian tembakau dan produk hasil industri tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu yang selalu mereka kampanyekan dan ngotot dengan itu, terkait hulu pertanian tembakau adalah mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya. Mereka berargumen banyak tanaman lain yang bisa semenguntungkan tanaman tembakau. Keengganan mereka terjun langsung ke lapangan inilah yang membikin mereka buta dengan kondisi pertanian tembakau dan pada akhirnya terus menerus mengampanyekan pergantian tanaman tembakau dengan tanaman lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca juga: Imanlah kepada Allah, Bukan Antirokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tembakau tanaman yang khas. Ia hanya tumbuh baik sepanjang empat hingga lima bulan dalam satu tahun. Tumbuh-kembang tanaman tembakau dengan baik itu umumnya terjadi pada musim kemarau setiap tahunnya. Hanya sedikit sekali jenis tembakau yang tumbuh baik di musim penghujan, mayoritasnya, tumbuh baik pada musim kemarau.<\/p>\n\n\n\n

Jika ditanam pada musim hujan, hampir bisa dipastikan tanaman tembakau akan gagal menghasilkan daun-daun yang berkualitas. Ia akan rusak dan membusuk karena terlalu banyak terkena air sehingga daun-daun itu tak layak dijual. Jangankan bisa dijual, untuk tumbuh dengan baik pun sepertinya sulit karena musim hujan akan membunuh banyak tanaman itu.<\/p>\n\n\n\n

Maka, tak heran pada musim-musim seperti saat ini, ketika musim penghujan mendekati puncaknya, di wilayah-wilayah yang dikenal sebagai sentra pertanian tembakau, sulit menemukan pohon tembakau yang sedang tumbuh. Pada lahan-lahan yang sebelumnya ditumbuhi tanaman tembakau pada musim panas, berganti tanaman-tanaman lain yang bermacam-macam, sesuai dengan kondisi lahannya. Untuk lahan sawah, lahan-lahan itu pada musim penghujan kini ditumbuhi tanaman padi yang subur. Pada lahan tegalan dan lahan di pegunungan, lahan-lahan yang ditanami tembakau pada musim kemarau, saat ini ditumbuhi bermacam jenis tanaman mulai dari cabai, bawang, tomat, kol, terong, mentimun, dan ragam jenis tanaman semusim lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Uniknya, tipikal tanaman tembakau yang tumbuh baik di musim kemarau ini memberi pilihan lebih kepada para petani. Lahan-lahan yang sulit ditanami pada musim kemarau, pada akhirnya masih bisa tetap produktif dengan keberadaan tanaman tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Maka, kampanye aneh mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain dengan ragam rupa dalih yang membingungkan, bukan saja sama sekali tidak tepat dan asal-asalan, namun bisa jadi akan ditertawakan oleh para petani yang begitu paham dengan kondisi lahan dan terutama kondisi iklim dan cuaca. Sulit mencari tanaman semusim yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Jika pun ada, tak ada yang semenguntungkan tanaman tembakau.
<\/p>\n","post_title":"Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"keberhasilan-gerakan-anti-tembakau-tak-ada-tembakau-saat-musim-hujan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-07 12:16:02","post_modified_gmt":"2019-02-07 05:16:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5415","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5409,"post_author":"919","post_date":"2019-02-05 08:04:43","post_date_gmt":"2019-02-05 01:04:43","post_content":"\n

Tahun Baru Imlek yang merupakan tradisi Bangsa Tiongkok kini sudah tak lagi menjadi hal yang asing bagi masyarakat Indonesia. Kehadirannya sudah mewarnai dan berakulturasi dengan tradisi lokal. Menjelang Tahun Baru Imlek. Berbagai hiasan dan kemeriahan terjadi beberapa titik di Tanah Air. Perayaannya juga menjadi destinasi baru yang mengasyikkan untuk dilihat dan patut disaksikan.<\/p>\n\n\n\n

Berterimakasihlah kepada sang bapak bangsa, KH Abdurrahman Wahid atau yang dikenal dengan nama Gus Dur. Berkat kebijakannya saat menjadi Presiden Indonesia, Tahun Baru Imlek resmi dijadikan hari libur nasional dan dianggap sebagai salah satu hari raya di Tanah Air. Meski sentimen antitionghoa masih ada di sana-sini, tapi tetap tak bisa dipungkiri bahwa bangsa tionghoa sudah bersentuhan dengan budaya lokal dalam kurun waktu yang sangat panjang.<\/p>\n\n\n\n

DNA Bangsa Tionghoa yang memang merupakan pedagang menjadi pembuka kisah interaksi antara nenek moyang berbagai suku di Nusantara dengan mereka. Beberapa kelenteng-kelenteng yang tersebar pada berbagai pesisir daerah di Nusantara jadi buktinya. Pelabuhan-pelabuhan tua di tanah air dan ramainya perdagangan di pesisir mempermudah bangsa kita berhubungan dengan Bangsa Tionghoa.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Wong Kalang dan Kota Gede<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa kehadiran Bangsa Tionghoa di Nusantara tak hanya sebagai pedagang, namun juga sebagai pekerja (bahkan hingga pekerja kasar). Benny Setiono, seorang sejarahwan menyebutkan bahwa antara tahun 1760-1770 dalam jumlah yang besar memasuki nusantara melalui Kalimantan Barat. Mereka bekerja sebagai kuli pertambangan di sana dan di kemudian hari membentuk sebuah republik bernama Republik Lanfang yang konon katanya menjadi republik pertama di Asia Tenggara.<\/p>\n\n\n\n

Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Imlek dan Indonesia<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n\n\n\n

Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
<\/p>\n","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5406,"post_author":"877","post_date":"2019-02-04 08:23:48","post_date_gmt":"2019-02-04 01:23:48","post_content":"\n

Merokok itu sudah menjadi bagian dari budaya dan tradisi masyarakat, jauh sebelum Indonesia merdeka. Banyak cerita atau kisah tentang kretek <\/a><\/del>di tengah-tengah masyarakat bangsa ini, mulai sebagai alat untuk meraup keuntungan, alat komunikasi, sebagai teman sampai menjadi simbol pergerakan. <\/p>\n\n\n\n

Kretek, Simbol Perlawanan Roro Mendut<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Siapa yang tidak pernah mendengan cerita tentang Roro Mendut?, di telinga masyarakat Indonesia, kisah Roro Mendut tidak asing lagi.  Perempuan yang mempunyai paras wajah cantik, dan digandrungi kaum adam terutama kalangan putra kerajaan. Informasi kecantikan Roro Mendut tersebar seantero Nusantara, tidak satupun pria meragukan kecantikannya.  Bahkan kisah dan cerita kecantikan Roro Mendut tercatat dalam buku Babad Tanah Jawi. <\/p>\n\n\n\n

Diperkirakan pada tahun 1627, pada saat panglima perang Sultan Agung Mataram bernama Tumenggung Wiraguna berhasil menumpas pemberontakan di kota Pati, sebagai imbalanan atas keberhasilannya, mendapat hadiah wanita pujaan pria bernama Rara Mendut dari Kasultanan Agung Mataram.  Roro Mendut menolak dipinang Tumenggung Wiraguna, dan secara terang-terangan memilih pria lain dambaannya. Akibatnya, Roro Mendut harus membayar pajak setiap harinya kepada kerajaan Mataram. <\/p>\n\n\n\n

Bisa dibayangkan, betapa bingungnya Roro Mendut saat itu. Uang dari mana, ia hasilkan untuk bayar pajak tiap hari demi bisa bersama kekasihnya. Ternyata Roro Mendut tidak hanya cantik tetapi cerdas dan kreatif, bisa membaca peluang bisnis saat itu. Ide cermerlang muncul dengan berdagang\/berjualan rokok lintingan yang direkatkan dengan air ludahnya, dan sebelum menjualnya, rokok lintingan di sulut dahulu dan dihisap bekas bibir merahnya. Kemudian baru dijual ke pembeli yang berdesakan berjejer antri. <\/p>\n\n\n\n

Entah dari mana ide menjual rokok itu muncul. Yang jelas saking larisnya, kewajiban pajak Roro Mendut terpenuhi. Dan mungkin keadaannya akan lebih parah, jika saat itu Roro Mendut tidak berdagang rokok. Tidak akan terpenuhi kewajiban pajaknya. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Dengan rokok, hidup Roro Mendut terselamatkan. Adanya rokok, \u00a0Roro Mendut bebas dari belenggu kekuasaan. Berkat rokok, Roro Mendut terkengan, mengisi rubik informasi sejarah begitu kuatnya budaya merokok di \u00a0Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Pusaka Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek, Teman Perjuangan  Diponegoro<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Semasa berjuang melawan penjajah, yang harus dilakukan Diponegoro berpindah-pindah dari kota satu ke kota lain. Strategi perlawanan Diponegoro, kemudian sebagai basis strategi perang gerilya. Strategi yang menjadi idola dan kebanggaan tentara Indonesia. Dengan bergerilya, tentara Indonesia mampu mengecoh kekutan lawan yang lebih besar jumlahnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu, tenyata banyak cerita, Diponegoro saat berperang ditemani rokok. Ia dan pasukannya gemar merokok. Bahkan ketika tidak ada rokok, Pangeran Diponegoro rela hanya megunyah daun sirih yang diracik dengan kapur dan pinang. <\/p>\n\n\n\n

Kebiasaan ini, juga dialami oleh pengikut \/pasukan perang Pangeran Diponegoro. Bagi mereka, rokok teman sejati, menemani disetiap perjalanan mereka. Rokok menghilangkan depresi mereka, sebagai hiburan saat jauh dari keluarga demi berjuang melawan penjajah. Rokok menumbuhkan percaya diri mereka, lebih berani melawan penjajah walaupun hanya dengan serba keterbatasan, pasukan jumlah terbatas, alat perang terbatas dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Baca juga: Pangeran Diponegoro, Rokok Klobot dan Perlawanan Simbolis<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Jati Diri Bangsa<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Salah satu \u201cpendiri bangsa\u201d bernama KH. Agus Salim menghisap kretek dengan asapnya di kebal-kebulkan keudara, disaat ada perjamuan di Istana Buckingham ketika penobatan Elizabeth II sebagai Ratu kerajaan Inggris. Aroma khas keluar dari asap rokok kretek, tercium orang yang berada di ruang perjamuan. Sehingga memancing salah satu orang yang datang dalam perjamuan, dengan berkata; \u201ctuan sedang menghisap apa itu?\u201d.  Sentak KH. Agus Salim menjawab, \u201c inilah yang membuat nenek moyang anda sekian abad lalu datang dan kemudian menjajah negeri kami\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Jawaban KH. Agus Salim, faktanya memang benar. Rokok kretek tidak lain ada tambahan cengkeh (suzygium aromaticum<\/em>). \u00a0Tanaman legendaris menjadi rebutan dan sumber keuntungan kolonialisme Eropa atas Asia termasuk Indonesia. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Cengkeh adalah salah satu tanaman yang diperebutkan bangsa-bangsa dunia, sampai melegalkan penjajahan.  Dalam simpulan perjalanan ekspedisi cengkeh tahun 2013, Kepala Suku begitu julukan bagi Putut Ea, mengatakan \u201c jika saja tak pernah ada cengkeh dan pala di Maluku, mungkin sejarah kepulauan Nusantara ini akan berbeda sama sekali\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Simpulan Putut EA, sebagai salah satu pembenar perkataan \u00a0KH. Agus Salim. Mungkin, jika tanaman cengkeh tidak ada, fakta sejarah akan berbeda, tidak ada penjajahan di bumi Nusantara ini. <\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Mengisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek untuk Berteman dan Menjalin Persaudaraan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Teringat apa yang pernah dilakukan Menteri Sosial dan Lingkungan Hidup, saat melakukan pendekatan pada suku anak dalam di Jambi. Tidak lain ia adalah Khofifah menteri perempuan yang energik. Saat itu Khofifah bertanggungjawab dalam mengatasi masalah pendidikan dan kesejahteraan masyarakat suku anak dalam di Jambi.  <\/p>\n\n\n\n

Kebijakannya membuat fenomenal, selain bahan makanan, dan bantuan lain, khofifah juga membawa rokok.  Yang kemudian ada yang mengggugat dari anti rokok, tetapi sebagai Menteri, Khofifah tentunya sudah mengkaji secara mendalam. Dengan kecerdasannya , Khofifah menjawab dengan tegas dan lugas, \u201cjangan sok tahu kehidupan mereka, kenali apa yang menjadi ritme kehidupan mereka. Sangat bijaksana kalau kita semua pergi kesana, sehingga tahu adat istiadatnya juga. Tolong kalau ingin mengerti tentang kultur jangan hanya dari kacamata Jakarta. Saya pun ingin mengajak anda kesana, turun kesana, sapalah mereka\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Khofifah memberikan pelajaran bagi anti rokok. Tidak boleh sok tahu, apalagi selama ini antirokok hanya berasumsi, tanpa melihat fakta dilapangan. Khofifah juga menganjurkan agar lebih mengenal adat-istiadat, budaya dan tradisi masyarakat, tidak boleh melakukan hegemoni kultural, sebab keberagaman adat-istiadat dan budaya merupakan kekayaan negeri. <\/p>\n\n\n\n

Pelajaran Khofifah sangat mendalam dan bercirikhas Nusantara. Sebgaai Menteri \u00a0Sosial tentunya lebih berpengalaman apa yang dibutuhkan bangsa ini agar tetap jaya, bersatu dan utuh. Kenali perbedaan, hormati perbedaan, junjung tinggi budaya yang berbeda. \u00a0Apa yang telah dilakukan Khofifah dengan membawa rokok ke suku anak dalam adalah cermin penghormatan tradisi dan budaya masyarakat. Sebagai seorang Mentri, tentunya punya kuasa, artinya bisa seorang khofifah memberikan bantuan sesuai keinginannya sendiri, namun hal itu tidak dilakukan. Ia lebih mengedepankan penghormatan budaya masyarakat setempat, dengan membawa rokok untuk pendekatan dan pertemanan. Karena Khofifah tahu betul, bahwa merokok adalah budaya mereka, yang diwaris dari neneng moyang mereka. <\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Memilih Jalan Hidup Menikmati Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Simbol Pergerakan Nasional     <\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Abdul Rifa\u2019I dalam media bintang timur terbit pada 03 Oktober 1927, mengatakan, \u201ckopinya bukan kopi saringan, tetapi kopi tubruk sebab kopi ini katanya nationaal, gulanya gula jawa, susu tidak dipakai karena tidak nationaal. Rokoknya kelobot, selamatan natioanaal ini terus berlangsung ed sampai pagi hari\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Semangat nasionalisme harus tertanam, mengedepankan produk lokal adalah salah satu semangat nasionalime. Salah satu keberadaan rokok klobot menjadi ciri produk asli indonesia dan harus dilestarikan. Klobot sendiri adalah ramuan tembakau dan cengkeh di gulung memakai daun jagung, embrio perkembangan menjadi rokok sigaret kretek tangan dan sigaret kretek mesin.  
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pusaran Budaya Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pusaran-budaya-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-04 08:40:41","post_modified_gmt":"2019-02-04 01:40:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5406","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5403,"post_author":"919","post_date":"2019-02-03 09:05:50","post_date_gmt":"2019-02-03 02:05:50","post_content":"\n

Seringkali saya menyaksikan berbagai film baik itu Eropa atau Asia yang menggambarkan tentang masa depan. Pemandangan soal masa depan tersebut dihadirkan dengan gambaran kecanggihan teknologi seperti robot yang akan membantu kehidupan manusia, gedung-gedung yang tingginya sudah amat tak bisa ditandingi,  hingga mobil-mobil yang bisa terbang. <\/p>\n\n\n\n

Pernah dalam masa kecil saya menyaksikan sebuah film animasi buatan jepang yang mempertanyakan tentang makanan di masa depan. Dengan santai salah satu tokoh yang berasal dari masa depan itu menjawab bahwa suatu saat nanti manusia akan mengonsumsi makanan berupa pasta gigi namun dengan rasa yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa, aneh!<\/p>\n\n\n\n

Seiring waktu berjalan saya kian tumbuh dewasa dan punya kesadaran untuk memilih menjadi seorang perokok<\/a>. Saya juga melihat ada sebuah inovasi dan gambaran tentang masa depan yang hadir dalam kehidupan sekarang. Banyak memang, namun yang menyita perhatian saya adalah rokok elektrik atau yang populer disebut Vape. Konon katanya ia adalah produk inovasi untuk menjembatani kebutuhan menghisap asap dan kecanggihan masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Di awal kehadirannya Vape memang mengundang decak kekaguman saya. Bagaimana bisa sebuah mesin kecil mengeluarkan asap yang katanya lebih menyehatkan daripada rokok.<\/strong> Meski pada akhirnya teori tersebut juga bisa dibantah oleh beberapa ilmuan dunia. Tapi ada satu yang saya amati selain soal kesehatan, rokok elektrik rupanya menghadirkan kultur dan budaya baru dalam kehidupan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: LAGI-LAGI IKLAN ROKOK, KAPAN KPAI TIDAK TEBANG PILIH? <\/a><\/h4>\n\n\n\n

Kehadiran teknologi memang kerap sedikit atau benyak mengubah gaya atau kultur suatu masyarakat. Begitu pula yang saya perhatikan dengan rokok elektrik. Satu hal yang mudah diamati adalah menjamurnya toko-toko kecil yang menjual vape serta liquid di berbagai tempat. Sebagai sebuah warna baru dalam masyarakat, penggunanya ramai-ramai mengunjungi tempat tersebut berinteraksi dengan penikmat lainnya dan membangun sebuah rumah komunitas yang fleksibel.<\/p>\n\n\n\n

Meski belum bisa dikatakan memiliki jumlah penikmat yang setara dengan para perokok, pengguna Vape mulai menunjukkan eksistensinya. Selain toko yang tersebar, ragam acara juga mereka buat di beberapa daerah. Dalam lingkungan saya, beberapa teman yang dulunya merupakan perokok aktif tertarik mengikuti event tersebut dan beralih mengisap rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Nun jauh di sana, di Amerika Serikat tepatnya, budaya Vape juga sudah mulai berkembang lama ketimbang di Tanah Air. Penikmatnya terbagi menjadi dua, ada yang dulunya bekas perokok dan ada yang memang menikmatinya sebagai gaya hidup. Wajar saja mengingat facebook tak memperbolehkan iklan tembakau di platform mereka, sebaliknya iklan tentang vape justru bertebaran. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi budaya baru yang berkembang di berbagai belahan dunia bahkan di Indonesia, Vape konon menjadi alternatif yang lebih bermanfaat daripada rokok. Dalih yang diusung selalu sama kepada para perokok tradisonal yaitu soal kesehatan dan lebih irit. Soal kesehatan tentu ada beberapa pendapat para ilmuan yang membantahnya, namun soal irit, saya rasa tidak. Memang satu liquid bisa digunakan untuk beberapa Minggu, akan tetapi yang saya lihat di lapangan justru sebaliknya. <\/p>\n\n\n\n

Beberapa penikmat rokok elektrik kerap berbelanja liquid yang mereka idamkan. Terkadang, hal tersebut yang membuat mereka boros karena terus mengeksplor rasa mana yang mereka idam-idamkan. Tak jarang juga liquid dengan harga mahal hingga ratus ribuan akan mereka beli. Sebaliknya, para perokok konvensional justru kerap bertahan dengan satu rasa atau merek saja.<\/p>\n\n\n\n

Sedikit berbeda dengan penikmat rokok konvensional atau kretek. Mengingat rokok kretek sudah menjadi kebudayan lokal yang terus dipertahankan selama bertahun-tahun, kehadirannya sudah mewarnai khasanah keindonesiaan. Perokok kretek juga sudah punya soliditas luar biasa yang terbentuk sejak lama dan terus terbangun mengiringi peradaban di Indonesia atau dunia.<\/p>\n\n\n\n

Kini, perokok elektrik mulai merasakan kegelisahan. Beberapa negara mulai menerapkan peraturan ketat terhadap Vape, sedangkan di Indonesia biaya cukai pun kini mulai diberlakukan terhadap perdagangan rokok elektrik. Keberadaannya di mata negara pun mulai dianggap sama seperti rokok, meski pada awalnya rokok elektrik hadir dengan slogan-slogan produk alternatif yang lebih menyehatkan (katanya).<\/p>\n\n\n\n


Tapi jika kemudian di masa depan memang rokok elektrik yang kemudian menjadi sesuatu yang populer dan dinikmati banyak orang. Rasanya saya tetap ingin hidup di jaman ini, dengan sebatang kretek di tangan dan menikmati segala khasanah kebudayaan yang patut terus dipertahankan. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"masa-depan-rokok-elektrik-dan-semangat-alternatif-yang-sia-sia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-03 09:05:56","post_modified_gmt":"2019-02-03 02:05:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5403","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5385,"post_author":"883","post_date":"2019-02-02 08:01:01","post_date_gmt":"2019-02-02 01:01:01","post_content":"Pada tahun 2014, perusahaan rokok multinasional Philip Morris Internasional Inc. merilis sebuah produk <\/span>perangkat\u00a0<\/span>
rokok<\/span><\/a>\u00a0tanpa asap, yang dipanaskan bukan dibakar atau istilahnya\u00a0<\/span>heat not burn<\/i><\/strong>\u00a0(HNB) iQOS<\/strong>. <\/span>\r\n\r\nPerangkat rokok tanpa asap dengan nama iQOS<\/a> ini berbentuk seperti bagian luar pulpen, dengan lubang di tengah untuk rokok. Produk yang berada di bawah brand Marlboro ini dapat memanaskan rokok sampai 350 derajat celcius lalu mengeluarkan uap nikotin beraroma tembakau<\/em><\/a>.<\/span>\r\n

Produk iQOS sebenarnya bukanlah produk rokok tanpa asap yang pertama muncul. Sebelumnya di tahun 1990-an, Reynolds Tobacco Co pernah merilis produk serupa bernama Eclipes yang juga dapat menguapkan nikotin setelah dinyalakan dengan korek api.<\/span><\/blockquote>\r\nSelain itu, Eclips juga dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. Namun, pada saat itu Eclips tidak diminati oleh pasar, utamanya para perokok konvensional. Meskipun Eclips dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. <\/span>\r\n\r\nBisnis semacam rokok tanpa asap seperti Eclips dan iQOS memang sudah menjadi bagian dari rencana panjang bisnis perusahaan-perusahaan rokok multinasional. Jadi tidak usah heran jika ke depannya akan kita akan banyak menemukan produk rokok tanpa asap ini.<\/span>\r\n\r\nWatak dari perusahaan multinasional memang seperti itu, mereka sangat jeli melihat peluang pasar ke depannya. Ketika market place perusahaan rokok multinasional saat ini terus dirongrong oleh kelompok antirokok, mereka tak kehabisan akal. Maka kemudian mereka menginovasi produk rokok konvensional menjadi rokok yang tidak berasap. Begitupun dengan mengikutsertakan jargon-jargon kesehatan dalam narasi promosi mereka.<\/span>\r\n\r\nSesungguhnya memang seperti itulah watak bisnis perusahaan-perusahaan multinasional, melakukan segala cara agar bisnis mereka tetap bertahan, meskipun harus merangkul musuh sekalipun. <\/span>\r\n\r\nYa kadang pura-pura berantem sama antirokok, tapi dibalik itu sebenarnya baik-baik saja, dan tentunya ada kompromi untuk terus melanggengkan bisnis mereka.<\/span>\r\n

Lalu siapa yang dirugikan dari permainan bisnis macam produk rokok tanpa asap perusahaan rokok multinasional ini?<\/span><\/h3>\r\nTentunya yang sangat dirugikan adalah produk hasil tembakau yang memiliki kekhasan seperti kretek di Indonesia. Kretek sebagai produk khas asli Indonesia yang menjadi bagian dari warisan kebudayaan tidak mungkin bertransformasi menjadi produk-produk elektrik dan sejenisnya.<\/span>\r\n\r\nKretek tetaplah kretek, dengan bahan baku alami tembakau dan cengkeh yang tidak diintervensi dengan zat atau perangkat penghantar lainnya. Karena dengan bentuk, karakter dan cara menikmatinya memang konvensional dan akan terus begitu apapun kondisi dan zamannya.<\/span>\r\n
Bisnis produk rokok tanpa asap (elektrik) juga menghajar kretek dengan mendompleng isu pengendalian tembakau. Kampanye pengendalian tembakau selalu membawa slogan bahaya merokok dan upaya untuk berhenti merokok. <\/span><\/blockquote>\r\nDari isu tersebut, rokok elektrik masuk dengan citra produk alternatif tembakau, bahkan mereka tak segan menilai bahwa rokok elektrik lebih aman ketimbang rokok konvensional, yakni kretek.<\/span>\r\n\r\nLalu jika Indonesia akan dibanjiri dengan produk-produk yang mengatasnamakan produk alternatif tembakau, macam rokok tanpa asap (iQOS dan sejenisnya), maka itulah pertanda bahwa kretek harus tergerus dari cara hidup manusia Indonesia dalam menikmati produk hasil tembakau khas Indonesia yang sudah turun-temurun lamanya dinikmati manusia Indonesia.<\/span>","post_title":"Nasib Kretek di Pusaran Pertarungan Bisnis Global Perusahaan Rokok Multinasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"nasib-kretek-di-pusaran-pertarungan-bisnis-global-perusahaan-rokok-multinasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-02 08:01:43","post_modified_gmt":"2019-02-02 01:01:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5385","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; \n

[3] Uraian lebih rinci sejarah kolonialisme rempah-rempah Nusantara ini, terutama oleh Belanda dan Portugis, dapat dibaca pada beberapa sumber kepustakaan yang sudah dikenal luas, antara lain: Glamann (1958) dan Boxer (1965 dan 1969). Dalam risalah klasik Pires disebutkan bahwa pada tahun 1512-1521 saja, jumlah produksi cengkeh di Maluku sudah mencapai 7.250 bahar per tahun, terbesar adalah di Makian serta Amboina dan Lease (masing-masing 1.500 bahar)(Pires, 1512-1515).<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem Topatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-10 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-02-10 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5425","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5415,"post_author":"878","post_date":"2019-02-07 12:15:55","post_date_gmt":"2019-02-07 05:15:55","post_content":"\n

Belakangan ini, ketika musim hujan tiba, di Kabupaten Temanggung, Kabupaten Jember, dan beberapa wilayah sentra pertanian tembakau lainnya, hampir mustahil menemukan tanaman tembakau tumbuh di lahan-lahan milik petani. Di wilayah-wilayah tersebut, citra sebagai sentra pertanian tembakau seakan menguap. Lahan-lahan yang ada di sana, sama sekali tidak ditumbuhi tanaman tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Kabar ini bisa jadi dianggap sebagai kabar gembira bagi mereka yang menganggap diri dan kelompoknya anti-rokok dan anti-tembakau yang selalu mengampanyekan sikap-sikap mereka terkait kebencian kepada tembakau dan aktivitas merokok. Setelah sekian lama berjuang, akhirnya perjuangan mereka dirasa berhasil usai menyaksikan fenomena lahan-lahan di wilayah yang dianggap sentra pertanian tembakau pada hari-hari belakangan ini.<\/p>\n\n\n\n

Baca juga: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tak sia-sia turun ke jalan, tak sia-sia melakukan lobi-lobi ke penguasa, tak sia-sia mengucurkan uang yang tidak sedikit, dan tak sia-sia mempermalukan diri dengan mengemis ke lembaga donor asing dan menggondol uang dari cukai tembakau untuk mengampanyekan gerakan anti-rokok dan anti-tembakau. Tak sia-sia. Karena perjuangan sepertinya berhasil.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Kampanye-kampanye gerakan mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya, sepertinya juga sangat berhasil. Bagaimana tidak? Wilayah-wilayah yang sebelumnya penuh dengan tanaman tembakau dan bergeliat dengannya, kini lahan-lahannya sudah berganti dengan tanaman lain. Sebuah keberhasilan yang menggembirakan. Begitu mungkin pikir mereka para yang menganggap dirinya pejuang anti-rokok dan anti-tembakau. Dan tentu saja mereka akan kecele dan kita akan menertawakan hal itu.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, mereka yang menganggap dirinya anti-rokok dan anti-tembakau tidak menyaksikan langsung fenomena ini di lapangan, di lahan-lahan yang peruntukannya berubah pada hari-hari belakangan ini ketika memasuki musim hujan. Mereka asyik duduk pada kursi empuk di ruang-ruang nyaman ber-AC di kota-kota yang jauh dari kultur pertanian. Mereka menyengajakan diri menjadi elit dan enggan untuk turun melihat langsung ke lapangan. Kalaupun ada yang turun langsung ke lapangan, hanya segelintir saja dari mereka, itupun sekadar formalitas saja. Tak pernah benar-benar mau turun ke lapangan, hidup dan merasakan langsung kultur pertanian tembakau dalam jangka waktu cukup lama di lapangan.<\/p>\n\n\n\n

Baca juga: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Fenomena ini membikin kita tak bisa melihat mereka para anti-rokok kecele lalu menertawakan mereka.<\/strong> Fenomena keengganan terjun langsung ke lapangan terlebih mencoba mendengar mereka yang tetap menanam tembakau, juga menjalani keseharian dalam waktu cukup lama bersama petani tembakau inilah yang saya kira menjadikan mereka tetap keras kepala untuk anti-rokok dan anti-tembakau. Karena jika mereka mau melakukan itu, saya yakin mereka semua tidak akan begitu kaku dalam memandang pertanian tembakau dan produk hasil industri tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu yang selalu mereka kampanyekan dan ngotot dengan itu, terkait hulu pertanian tembakau adalah mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya. Mereka berargumen banyak tanaman lain yang bisa semenguntungkan tanaman tembakau. Keengganan mereka terjun langsung ke lapangan inilah yang membikin mereka buta dengan kondisi pertanian tembakau dan pada akhirnya terus menerus mengampanyekan pergantian tanaman tembakau dengan tanaman lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca juga: Imanlah kepada Allah, Bukan Antirokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tembakau tanaman yang khas. Ia hanya tumbuh baik sepanjang empat hingga lima bulan dalam satu tahun. Tumbuh-kembang tanaman tembakau dengan baik itu umumnya terjadi pada musim kemarau setiap tahunnya. Hanya sedikit sekali jenis tembakau yang tumbuh baik di musim penghujan, mayoritasnya, tumbuh baik pada musim kemarau.<\/p>\n\n\n\n

Jika ditanam pada musim hujan, hampir bisa dipastikan tanaman tembakau akan gagal menghasilkan daun-daun yang berkualitas. Ia akan rusak dan membusuk karena terlalu banyak terkena air sehingga daun-daun itu tak layak dijual. Jangankan bisa dijual, untuk tumbuh dengan baik pun sepertinya sulit karena musim hujan akan membunuh banyak tanaman itu.<\/p>\n\n\n\n

Maka, tak heran pada musim-musim seperti saat ini, ketika musim penghujan mendekati puncaknya, di wilayah-wilayah yang dikenal sebagai sentra pertanian tembakau, sulit menemukan pohon tembakau yang sedang tumbuh. Pada lahan-lahan yang sebelumnya ditumbuhi tanaman tembakau pada musim panas, berganti tanaman-tanaman lain yang bermacam-macam, sesuai dengan kondisi lahannya. Untuk lahan sawah, lahan-lahan itu pada musim penghujan kini ditumbuhi tanaman padi yang subur. Pada lahan tegalan dan lahan di pegunungan, lahan-lahan yang ditanami tembakau pada musim kemarau, saat ini ditumbuhi bermacam jenis tanaman mulai dari cabai, bawang, tomat, kol, terong, mentimun, dan ragam jenis tanaman semusim lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Uniknya, tipikal tanaman tembakau yang tumbuh baik di musim kemarau ini memberi pilihan lebih kepada para petani. Lahan-lahan yang sulit ditanami pada musim kemarau, pada akhirnya masih bisa tetap produktif dengan keberadaan tanaman tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Maka, kampanye aneh mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain dengan ragam rupa dalih yang membingungkan, bukan saja sama sekali tidak tepat dan asal-asalan, namun bisa jadi akan ditertawakan oleh para petani yang begitu paham dengan kondisi lahan dan terutama kondisi iklim dan cuaca. Sulit mencari tanaman semusim yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Jika pun ada, tak ada yang semenguntungkan tanaman tembakau.
<\/p>\n","post_title":"Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"keberhasilan-gerakan-anti-tembakau-tak-ada-tembakau-saat-musim-hujan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-07 12:16:02","post_modified_gmt":"2019-02-07 05:16:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5415","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5409,"post_author":"919","post_date":"2019-02-05 08:04:43","post_date_gmt":"2019-02-05 01:04:43","post_content":"\n

Tahun Baru Imlek yang merupakan tradisi Bangsa Tiongkok kini sudah tak lagi menjadi hal yang asing bagi masyarakat Indonesia. Kehadirannya sudah mewarnai dan berakulturasi dengan tradisi lokal. Menjelang Tahun Baru Imlek. Berbagai hiasan dan kemeriahan terjadi beberapa titik di Tanah Air. Perayaannya juga menjadi destinasi baru yang mengasyikkan untuk dilihat dan patut disaksikan.<\/p>\n\n\n\n

Berterimakasihlah kepada sang bapak bangsa, KH Abdurrahman Wahid atau yang dikenal dengan nama Gus Dur. Berkat kebijakannya saat menjadi Presiden Indonesia, Tahun Baru Imlek resmi dijadikan hari libur nasional dan dianggap sebagai salah satu hari raya di Tanah Air. Meski sentimen antitionghoa masih ada di sana-sini, tapi tetap tak bisa dipungkiri bahwa bangsa tionghoa sudah bersentuhan dengan budaya lokal dalam kurun waktu yang sangat panjang.<\/p>\n\n\n\n

DNA Bangsa Tionghoa yang memang merupakan pedagang menjadi pembuka kisah interaksi antara nenek moyang berbagai suku di Nusantara dengan mereka. Beberapa kelenteng-kelenteng yang tersebar pada berbagai pesisir daerah di Nusantara jadi buktinya. Pelabuhan-pelabuhan tua di tanah air dan ramainya perdagangan di pesisir mempermudah bangsa kita berhubungan dengan Bangsa Tionghoa.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Wong Kalang dan Kota Gede<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa kehadiran Bangsa Tionghoa di Nusantara tak hanya sebagai pedagang, namun juga sebagai pekerja (bahkan hingga pekerja kasar). Benny Setiono, seorang sejarahwan menyebutkan bahwa antara tahun 1760-1770 dalam jumlah yang besar memasuki nusantara melalui Kalimantan Barat. Mereka bekerja sebagai kuli pertambangan di sana dan di kemudian hari membentuk sebuah republik bernama Republik Lanfang yang konon katanya menjadi republik pertama di Asia Tenggara.<\/p>\n\n\n\n

Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Imlek dan Indonesia<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n\n\n\n

Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
<\/p>\n","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5406,"post_author":"877","post_date":"2019-02-04 08:23:48","post_date_gmt":"2019-02-04 01:23:48","post_content":"\n

Merokok itu sudah menjadi bagian dari budaya dan tradisi masyarakat, jauh sebelum Indonesia merdeka. Banyak cerita atau kisah tentang kretek <\/a><\/del>di tengah-tengah masyarakat bangsa ini, mulai sebagai alat untuk meraup keuntungan, alat komunikasi, sebagai teman sampai menjadi simbol pergerakan. <\/p>\n\n\n\n

Kretek, Simbol Perlawanan Roro Mendut<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Siapa yang tidak pernah mendengan cerita tentang Roro Mendut?, di telinga masyarakat Indonesia, kisah Roro Mendut tidak asing lagi.  Perempuan yang mempunyai paras wajah cantik, dan digandrungi kaum adam terutama kalangan putra kerajaan. Informasi kecantikan Roro Mendut tersebar seantero Nusantara, tidak satupun pria meragukan kecantikannya.  Bahkan kisah dan cerita kecantikan Roro Mendut tercatat dalam buku Babad Tanah Jawi. <\/p>\n\n\n\n

Diperkirakan pada tahun 1627, pada saat panglima perang Sultan Agung Mataram bernama Tumenggung Wiraguna berhasil menumpas pemberontakan di kota Pati, sebagai imbalanan atas keberhasilannya, mendapat hadiah wanita pujaan pria bernama Rara Mendut dari Kasultanan Agung Mataram.  Roro Mendut menolak dipinang Tumenggung Wiraguna, dan secara terang-terangan memilih pria lain dambaannya. Akibatnya, Roro Mendut harus membayar pajak setiap harinya kepada kerajaan Mataram. <\/p>\n\n\n\n

Bisa dibayangkan, betapa bingungnya Roro Mendut saat itu. Uang dari mana, ia hasilkan untuk bayar pajak tiap hari demi bisa bersama kekasihnya. Ternyata Roro Mendut tidak hanya cantik tetapi cerdas dan kreatif, bisa membaca peluang bisnis saat itu. Ide cermerlang muncul dengan berdagang\/berjualan rokok lintingan yang direkatkan dengan air ludahnya, dan sebelum menjualnya, rokok lintingan di sulut dahulu dan dihisap bekas bibir merahnya. Kemudian baru dijual ke pembeli yang berdesakan berjejer antri. <\/p>\n\n\n\n

Entah dari mana ide menjual rokok itu muncul. Yang jelas saking larisnya, kewajiban pajak Roro Mendut terpenuhi. Dan mungkin keadaannya akan lebih parah, jika saat itu Roro Mendut tidak berdagang rokok. Tidak akan terpenuhi kewajiban pajaknya. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Dengan rokok, hidup Roro Mendut terselamatkan. Adanya rokok, \u00a0Roro Mendut bebas dari belenggu kekuasaan. Berkat rokok, Roro Mendut terkengan, mengisi rubik informasi sejarah begitu kuatnya budaya merokok di \u00a0Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Pusaka Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek, Teman Perjuangan  Diponegoro<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Semasa berjuang melawan penjajah, yang harus dilakukan Diponegoro berpindah-pindah dari kota satu ke kota lain. Strategi perlawanan Diponegoro, kemudian sebagai basis strategi perang gerilya. Strategi yang menjadi idola dan kebanggaan tentara Indonesia. Dengan bergerilya, tentara Indonesia mampu mengecoh kekutan lawan yang lebih besar jumlahnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu, tenyata banyak cerita, Diponegoro saat berperang ditemani rokok. Ia dan pasukannya gemar merokok. Bahkan ketika tidak ada rokok, Pangeran Diponegoro rela hanya megunyah daun sirih yang diracik dengan kapur dan pinang. <\/p>\n\n\n\n

Kebiasaan ini, juga dialami oleh pengikut \/pasukan perang Pangeran Diponegoro. Bagi mereka, rokok teman sejati, menemani disetiap perjalanan mereka. Rokok menghilangkan depresi mereka, sebagai hiburan saat jauh dari keluarga demi berjuang melawan penjajah. Rokok menumbuhkan percaya diri mereka, lebih berani melawan penjajah walaupun hanya dengan serba keterbatasan, pasukan jumlah terbatas, alat perang terbatas dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Baca juga: Pangeran Diponegoro, Rokok Klobot dan Perlawanan Simbolis<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Jati Diri Bangsa<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Salah satu \u201cpendiri bangsa\u201d bernama KH. Agus Salim menghisap kretek dengan asapnya di kebal-kebulkan keudara, disaat ada perjamuan di Istana Buckingham ketika penobatan Elizabeth II sebagai Ratu kerajaan Inggris. Aroma khas keluar dari asap rokok kretek, tercium orang yang berada di ruang perjamuan. Sehingga memancing salah satu orang yang datang dalam perjamuan, dengan berkata; \u201ctuan sedang menghisap apa itu?\u201d.  Sentak KH. Agus Salim menjawab, \u201c inilah yang membuat nenek moyang anda sekian abad lalu datang dan kemudian menjajah negeri kami\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Jawaban KH. Agus Salim, faktanya memang benar. Rokok kretek tidak lain ada tambahan cengkeh (suzygium aromaticum<\/em>). \u00a0Tanaman legendaris menjadi rebutan dan sumber keuntungan kolonialisme Eropa atas Asia termasuk Indonesia. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Cengkeh adalah salah satu tanaman yang diperebutkan bangsa-bangsa dunia, sampai melegalkan penjajahan.  Dalam simpulan perjalanan ekspedisi cengkeh tahun 2013, Kepala Suku begitu julukan bagi Putut Ea, mengatakan \u201c jika saja tak pernah ada cengkeh dan pala di Maluku, mungkin sejarah kepulauan Nusantara ini akan berbeda sama sekali\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Simpulan Putut EA, sebagai salah satu pembenar perkataan \u00a0KH. Agus Salim. Mungkin, jika tanaman cengkeh tidak ada, fakta sejarah akan berbeda, tidak ada penjajahan di bumi Nusantara ini. <\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Mengisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek untuk Berteman dan Menjalin Persaudaraan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Teringat apa yang pernah dilakukan Menteri Sosial dan Lingkungan Hidup, saat melakukan pendekatan pada suku anak dalam di Jambi. Tidak lain ia adalah Khofifah menteri perempuan yang energik. Saat itu Khofifah bertanggungjawab dalam mengatasi masalah pendidikan dan kesejahteraan masyarakat suku anak dalam di Jambi.  <\/p>\n\n\n\n

Kebijakannya membuat fenomenal, selain bahan makanan, dan bantuan lain, khofifah juga membawa rokok.  Yang kemudian ada yang mengggugat dari anti rokok, tetapi sebagai Menteri, Khofifah tentunya sudah mengkaji secara mendalam. Dengan kecerdasannya , Khofifah menjawab dengan tegas dan lugas, \u201cjangan sok tahu kehidupan mereka, kenali apa yang menjadi ritme kehidupan mereka. Sangat bijaksana kalau kita semua pergi kesana, sehingga tahu adat istiadatnya juga. Tolong kalau ingin mengerti tentang kultur jangan hanya dari kacamata Jakarta. Saya pun ingin mengajak anda kesana, turun kesana, sapalah mereka\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Khofifah memberikan pelajaran bagi anti rokok. Tidak boleh sok tahu, apalagi selama ini antirokok hanya berasumsi, tanpa melihat fakta dilapangan. Khofifah juga menganjurkan agar lebih mengenal adat-istiadat, budaya dan tradisi masyarakat, tidak boleh melakukan hegemoni kultural, sebab keberagaman adat-istiadat dan budaya merupakan kekayaan negeri. <\/p>\n\n\n\n

Pelajaran Khofifah sangat mendalam dan bercirikhas Nusantara. Sebgaai Menteri \u00a0Sosial tentunya lebih berpengalaman apa yang dibutuhkan bangsa ini agar tetap jaya, bersatu dan utuh. Kenali perbedaan, hormati perbedaan, junjung tinggi budaya yang berbeda. \u00a0Apa yang telah dilakukan Khofifah dengan membawa rokok ke suku anak dalam adalah cermin penghormatan tradisi dan budaya masyarakat. Sebagai seorang Mentri, tentunya punya kuasa, artinya bisa seorang khofifah memberikan bantuan sesuai keinginannya sendiri, namun hal itu tidak dilakukan. Ia lebih mengedepankan penghormatan budaya masyarakat setempat, dengan membawa rokok untuk pendekatan dan pertemanan. Karena Khofifah tahu betul, bahwa merokok adalah budaya mereka, yang diwaris dari neneng moyang mereka. <\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Memilih Jalan Hidup Menikmati Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Simbol Pergerakan Nasional     <\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Abdul Rifa\u2019I dalam media bintang timur terbit pada 03 Oktober 1927, mengatakan, \u201ckopinya bukan kopi saringan, tetapi kopi tubruk sebab kopi ini katanya nationaal, gulanya gula jawa, susu tidak dipakai karena tidak nationaal. Rokoknya kelobot, selamatan natioanaal ini terus berlangsung ed sampai pagi hari\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Semangat nasionalisme harus tertanam, mengedepankan produk lokal adalah salah satu semangat nasionalime. Salah satu keberadaan rokok klobot menjadi ciri produk asli indonesia dan harus dilestarikan. Klobot sendiri adalah ramuan tembakau dan cengkeh di gulung memakai daun jagung, embrio perkembangan menjadi rokok sigaret kretek tangan dan sigaret kretek mesin.  
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pusaran Budaya Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pusaran-budaya-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-04 08:40:41","post_modified_gmt":"2019-02-04 01:40:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5406","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5403,"post_author":"919","post_date":"2019-02-03 09:05:50","post_date_gmt":"2019-02-03 02:05:50","post_content":"\n

Seringkali saya menyaksikan berbagai film baik itu Eropa atau Asia yang menggambarkan tentang masa depan. Pemandangan soal masa depan tersebut dihadirkan dengan gambaran kecanggihan teknologi seperti robot yang akan membantu kehidupan manusia, gedung-gedung yang tingginya sudah amat tak bisa ditandingi,  hingga mobil-mobil yang bisa terbang. <\/p>\n\n\n\n

Pernah dalam masa kecil saya menyaksikan sebuah film animasi buatan jepang yang mempertanyakan tentang makanan di masa depan. Dengan santai salah satu tokoh yang berasal dari masa depan itu menjawab bahwa suatu saat nanti manusia akan mengonsumsi makanan berupa pasta gigi namun dengan rasa yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa, aneh!<\/p>\n\n\n\n

Seiring waktu berjalan saya kian tumbuh dewasa dan punya kesadaran untuk memilih menjadi seorang perokok<\/a>. Saya juga melihat ada sebuah inovasi dan gambaran tentang masa depan yang hadir dalam kehidupan sekarang. Banyak memang, namun yang menyita perhatian saya adalah rokok elektrik atau yang populer disebut Vape. Konon katanya ia adalah produk inovasi untuk menjembatani kebutuhan menghisap asap dan kecanggihan masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Di awal kehadirannya Vape memang mengundang decak kekaguman saya. Bagaimana bisa sebuah mesin kecil mengeluarkan asap yang katanya lebih menyehatkan daripada rokok.<\/strong> Meski pada akhirnya teori tersebut juga bisa dibantah oleh beberapa ilmuan dunia. Tapi ada satu yang saya amati selain soal kesehatan, rokok elektrik rupanya menghadirkan kultur dan budaya baru dalam kehidupan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: LAGI-LAGI IKLAN ROKOK, KAPAN KPAI TIDAK TEBANG PILIH? <\/a><\/h4>\n\n\n\n

Kehadiran teknologi memang kerap sedikit atau benyak mengubah gaya atau kultur suatu masyarakat. Begitu pula yang saya perhatikan dengan rokok elektrik. Satu hal yang mudah diamati adalah menjamurnya toko-toko kecil yang menjual vape serta liquid di berbagai tempat. Sebagai sebuah warna baru dalam masyarakat, penggunanya ramai-ramai mengunjungi tempat tersebut berinteraksi dengan penikmat lainnya dan membangun sebuah rumah komunitas yang fleksibel.<\/p>\n\n\n\n

Meski belum bisa dikatakan memiliki jumlah penikmat yang setara dengan para perokok, pengguna Vape mulai menunjukkan eksistensinya. Selain toko yang tersebar, ragam acara juga mereka buat di beberapa daerah. Dalam lingkungan saya, beberapa teman yang dulunya merupakan perokok aktif tertarik mengikuti event tersebut dan beralih mengisap rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Nun jauh di sana, di Amerika Serikat tepatnya, budaya Vape juga sudah mulai berkembang lama ketimbang di Tanah Air. Penikmatnya terbagi menjadi dua, ada yang dulunya bekas perokok dan ada yang memang menikmatinya sebagai gaya hidup. Wajar saja mengingat facebook tak memperbolehkan iklan tembakau di platform mereka, sebaliknya iklan tentang vape justru bertebaran. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi budaya baru yang berkembang di berbagai belahan dunia bahkan di Indonesia, Vape konon menjadi alternatif yang lebih bermanfaat daripada rokok. Dalih yang diusung selalu sama kepada para perokok tradisonal yaitu soal kesehatan dan lebih irit. Soal kesehatan tentu ada beberapa pendapat para ilmuan yang membantahnya, namun soal irit, saya rasa tidak. Memang satu liquid bisa digunakan untuk beberapa Minggu, akan tetapi yang saya lihat di lapangan justru sebaliknya. <\/p>\n\n\n\n

Beberapa penikmat rokok elektrik kerap berbelanja liquid yang mereka idamkan. Terkadang, hal tersebut yang membuat mereka boros karena terus mengeksplor rasa mana yang mereka idam-idamkan. Tak jarang juga liquid dengan harga mahal hingga ratus ribuan akan mereka beli. Sebaliknya, para perokok konvensional justru kerap bertahan dengan satu rasa atau merek saja.<\/p>\n\n\n\n

Sedikit berbeda dengan penikmat rokok konvensional atau kretek. Mengingat rokok kretek sudah menjadi kebudayan lokal yang terus dipertahankan selama bertahun-tahun, kehadirannya sudah mewarnai khasanah keindonesiaan. Perokok kretek juga sudah punya soliditas luar biasa yang terbentuk sejak lama dan terus terbangun mengiringi peradaban di Indonesia atau dunia.<\/p>\n\n\n\n

Kini, perokok elektrik mulai merasakan kegelisahan. Beberapa negara mulai menerapkan peraturan ketat terhadap Vape, sedangkan di Indonesia biaya cukai pun kini mulai diberlakukan terhadap perdagangan rokok elektrik. Keberadaannya di mata negara pun mulai dianggap sama seperti rokok, meski pada awalnya rokok elektrik hadir dengan slogan-slogan produk alternatif yang lebih menyehatkan (katanya).<\/p>\n\n\n\n


Tapi jika kemudian di masa depan memang rokok elektrik yang kemudian menjadi sesuatu yang populer dan dinikmati banyak orang. Rasanya saya tetap ingin hidup di jaman ini, dengan sebatang kretek di tangan dan menikmati segala khasanah kebudayaan yang patut terus dipertahankan. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"masa-depan-rokok-elektrik-dan-semangat-alternatif-yang-sia-sia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-03 09:05:56","post_modified_gmt":"2019-02-03 02:05:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5403","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5385,"post_author":"883","post_date":"2019-02-02 08:01:01","post_date_gmt":"2019-02-02 01:01:01","post_content":"Pada tahun 2014, perusahaan rokok multinasional Philip Morris Internasional Inc. merilis sebuah produk <\/span>perangkat\u00a0<\/span>
rokok<\/span><\/a>\u00a0tanpa asap, yang dipanaskan bukan dibakar atau istilahnya\u00a0<\/span>heat not burn<\/i><\/strong>\u00a0(HNB) iQOS<\/strong>. <\/span>\r\n\r\nPerangkat rokok tanpa asap dengan nama iQOS<\/a> ini berbentuk seperti bagian luar pulpen, dengan lubang di tengah untuk rokok. Produk yang berada di bawah brand Marlboro ini dapat memanaskan rokok sampai 350 derajat celcius lalu mengeluarkan uap nikotin beraroma tembakau<\/em><\/a>.<\/span>\r\n

Produk iQOS sebenarnya bukanlah produk rokok tanpa asap yang pertama muncul. Sebelumnya di tahun 1990-an, Reynolds Tobacco Co pernah merilis produk serupa bernama Eclipes yang juga dapat menguapkan nikotin setelah dinyalakan dengan korek api.<\/span><\/blockquote>\r\nSelain itu, Eclips juga dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. Namun, pada saat itu Eclips tidak diminati oleh pasar, utamanya para perokok konvensional. Meskipun Eclips dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. <\/span>\r\n\r\nBisnis semacam rokok tanpa asap seperti Eclips dan iQOS memang sudah menjadi bagian dari rencana panjang bisnis perusahaan-perusahaan rokok multinasional. Jadi tidak usah heran jika ke depannya akan kita akan banyak menemukan produk rokok tanpa asap ini.<\/span>\r\n\r\nWatak dari perusahaan multinasional memang seperti itu, mereka sangat jeli melihat peluang pasar ke depannya. Ketika market place perusahaan rokok multinasional saat ini terus dirongrong oleh kelompok antirokok, mereka tak kehabisan akal. Maka kemudian mereka menginovasi produk rokok konvensional menjadi rokok yang tidak berasap. Begitupun dengan mengikutsertakan jargon-jargon kesehatan dalam narasi promosi mereka.<\/span>\r\n\r\nSesungguhnya memang seperti itulah watak bisnis perusahaan-perusahaan multinasional, melakukan segala cara agar bisnis mereka tetap bertahan, meskipun harus merangkul musuh sekalipun. <\/span>\r\n\r\nYa kadang pura-pura berantem sama antirokok, tapi dibalik itu sebenarnya baik-baik saja, dan tentunya ada kompromi untuk terus melanggengkan bisnis mereka.<\/span>\r\n

Lalu siapa yang dirugikan dari permainan bisnis macam produk rokok tanpa asap perusahaan rokok multinasional ini?<\/span><\/h3>\r\nTentunya yang sangat dirugikan adalah produk hasil tembakau yang memiliki kekhasan seperti kretek di Indonesia. Kretek sebagai produk khas asli Indonesia yang menjadi bagian dari warisan kebudayaan tidak mungkin bertransformasi menjadi produk-produk elektrik dan sejenisnya.<\/span>\r\n\r\nKretek tetaplah kretek, dengan bahan baku alami tembakau dan cengkeh yang tidak diintervensi dengan zat atau perangkat penghantar lainnya. Karena dengan bentuk, karakter dan cara menikmatinya memang konvensional dan akan terus begitu apapun kondisi dan zamannya.<\/span>\r\n
Bisnis produk rokok tanpa asap (elektrik) juga menghajar kretek dengan mendompleng isu pengendalian tembakau. Kampanye pengendalian tembakau selalu membawa slogan bahaya merokok dan upaya untuk berhenti merokok. <\/span><\/blockquote>\r\nDari isu tersebut, rokok elektrik masuk dengan citra produk alternatif tembakau, bahkan mereka tak segan menilai bahwa rokok elektrik lebih aman ketimbang rokok konvensional, yakni kretek.<\/span>\r\n\r\nLalu jika Indonesia akan dibanjiri dengan produk-produk yang mengatasnamakan produk alternatif tembakau, macam rokok tanpa asap (iQOS dan sejenisnya), maka itulah pertanda bahwa kretek harus tergerus dari cara hidup manusia Indonesia dalam menikmati produk hasil tembakau khas Indonesia yang sudah turun-temurun lamanya dinikmati manusia Indonesia.<\/span>","post_title":"Nasib Kretek di Pusaran Pertarungan Bisnis Global Perusahaan Rokok Multinasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"nasib-kretek-di-pusaran-pertarungan-bisnis-global-perusahaan-rokok-multinasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-02 08:01:43","post_modified_gmt":"2019-02-02 01:01:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5385","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; \n

[2] Catatan-catatan para biarawan Fransiskan --yang disalin dan dikutip oleh van Frassen-- bahkan menyebut cengkeh sebagai salah satu bahan utama pengawet mumi para Fir\u2019aun, penguasa Mesir Kuno. Beberapa pakar sejarah dan arkeologi menyatakan bahwa rempah-rempah Maluku bahkan sudah ditemukan artefaknya di Lembah Mesopotomia (wilayah Iraq dan sekitarnya sekarang) pada 3.000 tahun sebelum Masehi. (lihat, antara lain: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n\n\n\n

[3] Uraian lebih rinci sejarah kolonialisme rempah-rempah Nusantara ini, terutama oleh Belanda dan Portugis, dapat dibaca pada beberapa sumber kepustakaan yang sudah dikenal luas, antara lain: Glamann (1958) dan Boxer (1965 dan 1969). Dalam risalah klasik Pires disebutkan bahwa pada tahun 1512-1521 saja, jumlah produksi cengkeh di Maluku sudah mencapai 7.250 bahar per tahun, terbesar adalah di Makian serta Amboina dan Lease (masing-masing 1.500 bahar)(Pires, 1512-1515).<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem Topatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-10 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-02-10 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5425","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5415,"post_author":"878","post_date":"2019-02-07 12:15:55","post_date_gmt":"2019-02-07 05:15:55","post_content":"\n

Belakangan ini, ketika musim hujan tiba, di Kabupaten Temanggung, Kabupaten Jember, dan beberapa wilayah sentra pertanian tembakau lainnya, hampir mustahil menemukan tanaman tembakau tumbuh di lahan-lahan milik petani. Di wilayah-wilayah tersebut, citra sebagai sentra pertanian tembakau seakan menguap. Lahan-lahan yang ada di sana, sama sekali tidak ditumbuhi tanaman tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Kabar ini bisa jadi dianggap sebagai kabar gembira bagi mereka yang menganggap diri dan kelompoknya anti-rokok dan anti-tembakau yang selalu mengampanyekan sikap-sikap mereka terkait kebencian kepada tembakau dan aktivitas merokok. Setelah sekian lama berjuang, akhirnya perjuangan mereka dirasa berhasil usai menyaksikan fenomena lahan-lahan di wilayah yang dianggap sentra pertanian tembakau pada hari-hari belakangan ini.<\/p>\n\n\n\n

Baca juga: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tak sia-sia turun ke jalan, tak sia-sia melakukan lobi-lobi ke penguasa, tak sia-sia mengucurkan uang yang tidak sedikit, dan tak sia-sia mempermalukan diri dengan mengemis ke lembaga donor asing dan menggondol uang dari cukai tembakau untuk mengampanyekan gerakan anti-rokok dan anti-tembakau. Tak sia-sia. Karena perjuangan sepertinya berhasil.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Kampanye-kampanye gerakan mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya, sepertinya juga sangat berhasil. Bagaimana tidak? Wilayah-wilayah yang sebelumnya penuh dengan tanaman tembakau dan bergeliat dengannya, kini lahan-lahannya sudah berganti dengan tanaman lain. Sebuah keberhasilan yang menggembirakan. Begitu mungkin pikir mereka para yang menganggap dirinya pejuang anti-rokok dan anti-tembakau. Dan tentu saja mereka akan kecele dan kita akan menertawakan hal itu.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, mereka yang menganggap dirinya anti-rokok dan anti-tembakau tidak menyaksikan langsung fenomena ini di lapangan, di lahan-lahan yang peruntukannya berubah pada hari-hari belakangan ini ketika memasuki musim hujan. Mereka asyik duduk pada kursi empuk di ruang-ruang nyaman ber-AC di kota-kota yang jauh dari kultur pertanian. Mereka menyengajakan diri menjadi elit dan enggan untuk turun melihat langsung ke lapangan. Kalaupun ada yang turun langsung ke lapangan, hanya segelintir saja dari mereka, itupun sekadar formalitas saja. Tak pernah benar-benar mau turun ke lapangan, hidup dan merasakan langsung kultur pertanian tembakau dalam jangka waktu cukup lama di lapangan.<\/p>\n\n\n\n

Baca juga: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Fenomena ini membikin kita tak bisa melihat mereka para anti-rokok kecele lalu menertawakan mereka.<\/strong> Fenomena keengganan terjun langsung ke lapangan terlebih mencoba mendengar mereka yang tetap menanam tembakau, juga menjalani keseharian dalam waktu cukup lama bersama petani tembakau inilah yang saya kira menjadikan mereka tetap keras kepala untuk anti-rokok dan anti-tembakau. Karena jika mereka mau melakukan itu, saya yakin mereka semua tidak akan begitu kaku dalam memandang pertanian tembakau dan produk hasil industri tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu yang selalu mereka kampanyekan dan ngotot dengan itu, terkait hulu pertanian tembakau adalah mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya. Mereka berargumen banyak tanaman lain yang bisa semenguntungkan tanaman tembakau. Keengganan mereka terjun langsung ke lapangan inilah yang membikin mereka buta dengan kondisi pertanian tembakau dan pada akhirnya terus menerus mengampanyekan pergantian tanaman tembakau dengan tanaman lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca juga: Imanlah kepada Allah, Bukan Antirokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tembakau tanaman yang khas. Ia hanya tumbuh baik sepanjang empat hingga lima bulan dalam satu tahun. Tumbuh-kembang tanaman tembakau dengan baik itu umumnya terjadi pada musim kemarau setiap tahunnya. Hanya sedikit sekali jenis tembakau yang tumbuh baik di musim penghujan, mayoritasnya, tumbuh baik pada musim kemarau.<\/p>\n\n\n\n

Jika ditanam pada musim hujan, hampir bisa dipastikan tanaman tembakau akan gagal menghasilkan daun-daun yang berkualitas. Ia akan rusak dan membusuk karena terlalu banyak terkena air sehingga daun-daun itu tak layak dijual. Jangankan bisa dijual, untuk tumbuh dengan baik pun sepertinya sulit karena musim hujan akan membunuh banyak tanaman itu.<\/p>\n\n\n\n

Maka, tak heran pada musim-musim seperti saat ini, ketika musim penghujan mendekati puncaknya, di wilayah-wilayah yang dikenal sebagai sentra pertanian tembakau, sulit menemukan pohon tembakau yang sedang tumbuh. Pada lahan-lahan yang sebelumnya ditumbuhi tanaman tembakau pada musim panas, berganti tanaman-tanaman lain yang bermacam-macam, sesuai dengan kondisi lahannya. Untuk lahan sawah, lahan-lahan itu pada musim penghujan kini ditumbuhi tanaman padi yang subur. Pada lahan tegalan dan lahan di pegunungan, lahan-lahan yang ditanami tembakau pada musim kemarau, saat ini ditumbuhi bermacam jenis tanaman mulai dari cabai, bawang, tomat, kol, terong, mentimun, dan ragam jenis tanaman semusim lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Uniknya, tipikal tanaman tembakau yang tumbuh baik di musim kemarau ini memberi pilihan lebih kepada para petani. Lahan-lahan yang sulit ditanami pada musim kemarau, pada akhirnya masih bisa tetap produktif dengan keberadaan tanaman tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Maka, kampanye aneh mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain dengan ragam rupa dalih yang membingungkan, bukan saja sama sekali tidak tepat dan asal-asalan, namun bisa jadi akan ditertawakan oleh para petani yang begitu paham dengan kondisi lahan dan terutama kondisi iklim dan cuaca. Sulit mencari tanaman semusim yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Jika pun ada, tak ada yang semenguntungkan tanaman tembakau.
<\/p>\n","post_title":"Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"keberhasilan-gerakan-anti-tembakau-tak-ada-tembakau-saat-musim-hujan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-07 12:16:02","post_modified_gmt":"2019-02-07 05:16:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5415","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5409,"post_author":"919","post_date":"2019-02-05 08:04:43","post_date_gmt":"2019-02-05 01:04:43","post_content":"\n

Tahun Baru Imlek yang merupakan tradisi Bangsa Tiongkok kini sudah tak lagi menjadi hal yang asing bagi masyarakat Indonesia. Kehadirannya sudah mewarnai dan berakulturasi dengan tradisi lokal. Menjelang Tahun Baru Imlek. Berbagai hiasan dan kemeriahan terjadi beberapa titik di Tanah Air. Perayaannya juga menjadi destinasi baru yang mengasyikkan untuk dilihat dan patut disaksikan.<\/p>\n\n\n\n

Berterimakasihlah kepada sang bapak bangsa, KH Abdurrahman Wahid atau yang dikenal dengan nama Gus Dur. Berkat kebijakannya saat menjadi Presiden Indonesia, Tahun Baru Imlek resmi dijadikan hari libur nasional dan dianggap sebagai salah satu hari raya di Tanah Air. Meski sentimen antitionghoa masih ada di sana-sini, tapi tetap tak bisa dipungkiri bahwa bangsa tionghoa sudah bersentuhan dengan budaya lokal dalam kurun waktu yang sangat panjang.<\/p>\n\n\n\n

DNA Bangsa Tionghoa yang memang merupakan pedagang menjadi pembuka kisah interaksi antara nenek moyang berbagai suku di Nusantara dengan mereka. Beberapa kelenteng-kelenteng yang tersebar pada berbagai pesisir daerah di Nusantara jadi buktinya. Pelabuhan-pelabuhan tua di tanah air dan ramainya perdagangan di pesisir mempermudah bangsa kita berhubungan dengan Bangsa Tionghoa.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Wong Kalang dan Kota Gede<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa kehadiran Bangsa Tionghoa di Nusantara tak hanya sebagai pedagang, namun juga sebagai pekerja (bahkan hingga pekerja kasar). Benny Setiono, seorang sejarahwan menyebutkan bahwa antara tahun 1760-1770 dalam jumlah yang besar memasuki nusantara melalui Kalimantan Barat. Mereka bekerja sebagai kuli pertambangan di sana dan di kemudian hari membentuk sebuah republik bernama Republik Lanfang yang konon katanya menjadi republik pertama di Asia Tenggara.<\/p>\n\n\n\n

Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Imlek dan Indonesia<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n\n\n\n

Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
<\/p>\n","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5406,"post_author":"877","post_date":"2019-02-04 08:23:48","post_date_gmt":"2019-02-04 01:23:48","post_content":"\n

Merokok itu sudah menjadi bagian dari budaya dan tradisi masyarakat, jauh sebelum Indonesia merdeka. Banyak cerita atau kisah tentang kretek <\/a><\/del>di tengah-tengah masyarakat bangsa ini, mulai sebagai alat untuk meraup keuntungan, alat komunikasi, sebagai teman sampai menjadi simbol pergerakan. <\/p>\n\n\n\n

Kretek, Simbol Perlawanan Roro Mendut<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Siapa yang tidak pernah mendengan cerita tentang Roro Mendut?, di telinga masyarakat Indonesia, kisah Roro Mendut tidak asing lagi.  Perempuan yang mempunyai paras wajah cantik, dan digandrungi kaum adam terutama kalangan putra kerajaan. Informasi kecantikan Roro Mendut tersebar seantero Nusantara, tidak satupun pria meragukan kecantikannya.  Bahkan kisah dan cerita kecantikan Roro Mendut tercatat dalam buku Babad Tanah Jawi. <\/p>\n\n\n\n

Diperkirakan pada tahun 1627, pada saat panglima perang Sultan Agung Mataram bernama Tumenggung Wiraguna berhasil menumpas pemberontakan di kota Pati, sebagai imbalanan atas keberhasilannya, mendapat hadiah wanita pujaan pria bernama Rara Mendut dari Kasultanan Agung Mataram.  Roro Mendut menolak dipinang Tumenggung Wiraguna, dan secara terang-terangan memilih pria lain dambaannya. Akibatnya, Roro Mendut harus membayar pajak setiap harinya kepada kerajaan Mataram. <\/p>\n\n\n\n

Bisa dibayangkan, betapa bingungnya Roro Mendut saat itu. Uang dari mana, ia hasilkan untuk bayar pajak tiap hari demi bisa bersama kekasihnya. Ternyata Roro Mendut tidak hanya cantik tetapi cerdas dan kreatif, bisa membaca peluang bisnis saat itu. Ide cermerlang muncul dengan berdagang\/berjualan rokok lintingan yang direkatkan dengan air ludahnya, dan sebelum menjualnya, rokok lintingan di sulut dahulu dan dihisap bekas bibir merahnya. Kemudian baru dijual ke pembeli yang berdesakan berjejer antri. <\/p>\n\n\n\n

Entah dari mana ide menjual rokok itu muncul. Yang jelas saking larisnya, kewajiban pajak Roro Mendut terpenuhi. Dan mungkin keadaannya akan lebih parah, jika saat itu Roro Mendut tidak berdagang rokok. Tidak akan terpenuhi kewajiban pajaknya. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Dengan rokok, hidup Roro Mendut terselamatkan. Adanya rokok, \u00a0Roro Mendut bebas dari belenggu kekuasaan. Berkat rokok, Roro Mendut terkengan, mengisi rubik informasi sejarah begitu kuatnya budaya merokok di \u00a0Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Pusaka Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek, Teman Perjuangan  Diponegoro<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Semasa berjuang melawan penjajah, yang harus dilakukan Diponegoro berpindah-pindah dari kota satu ke kota lain. Strategi perlawanan Diponegoro, kemudian sebagai basis strategi perang gerilya. Strategi yang menjadi idola dan kebanggaan tentara Indonesia. Dengan bergerilya, tentara Indonesia mampu mengecoh kekutan lawan yang lebih besar jumlahnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu, tenyata banyak cerita, Diponegoro saat berperang ditemani rokok. Ia dan pasukannya gemar merokok. Bahkan ketika tidak ada rokok, Pangeran Diponegoro rela hanya megunyah daun sirih yang diracik dengan kapur dan pinang. <\/p>\n\n\n\n

Kebiasaan ini, juga dialami oleh pengikut \/pasukan perang Pangeran Diponegoro. Bagi mereka, rokok teman sejati, menemani disetiap perjalanan mereka. Rokok menghilangkan depresi mereka, sebagai hiburan saat jauh dari keluarga demi berjuang melawan penjajah. Rokok menumbuhkan percaya diri mereka, lebih berani melawan penjajah walaupun hanya dengan serba keterbatasan, pasukan jumlah terbatas, alat perang terbatas dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Baca juga: Pangeran Diponegoro, Rokok Klobot dan Perlawanan Simbolis<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Jati Diri Bangsa<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Salah satu \u201cpendiri bangsa\u201d bernama KH. Agus Salim menghisap kretek dengan asapnya di kebal-kebulkan keudara, disaat ada perjamuan di Istana Buckingham ketika penobatan Elizabeth II sebagai Ratu kerajaan Inggris. Aroma khas keluar dari asap rokok kretek, tercium orang yang berada di ruang perjamuan. Sehingga memancing salah satu orang yang datang dalam perjamuan, dengan berkata; \u201ctuan sedang menghisap apa itu?\u201d.  Sentak KH. Agus Salim menjawab, \u201c inilah yang membuat nenek moyang anda sekian abad lalu datang dan kemudian menjajah negeri kami\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Jawaban KH. Agus Salim, faktanya memang benar. Rokok kretek tidak lain ada tambahan cengkeh (suzygium aromaticum<\/em>). \u00a0Tanaman legendaris menjadi rebutan dan sumber keuntungan kolonialisme Eropa atas Asia termasuk Indonesia. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Cengkeh adalah salah satu tanaman yang diperebutkan bangsa-bangsa dunia, sampai melegalkan penjajahan.  Dalam simpulan perjalanan ekspedisi cengkeh tahun 2013, Kepala Suku begitu julukan bagi Putut Ea, mengatakan \u201c jika saja tak pernah ada cengkeh dan pala di Maluku, mungkin sejarah kepulauan Nusantara ini akan berbeda sama sekali\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Simpulan Putut EA, sebagai salah satu pembenar perkataan \u00a0KH. Agus Salim. Mungkin, jika tanaman cengkeh tidak ada, fakta sejarah akan berbeda, tidak ada penjajahan di bumi Nusantara ini. <\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Mengisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek untuk Berteman dan Menjalin Persaudaraan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Teringat apa yang pernah dilakukan Menteri Sosial dan Lingkungan Hidup, saat melakukan pendekatan pada suku anak dalam di Jambi. Tidak lain ia adalah Khofifah menteri perempuan yang energik. Saat itu Khofifah bertanggungjawab dalam mengatasi masalah pendidikan dan kesejahteraan masyarakat suku anak dalam di Jambi.  <\/p>\n\n\n\n

Kebijakannya membuat fenomenal, selain bahan makanan, dan bantuan lain, khofifah juga membawa rokok.  Yang kemudian ada yang mengggugat dari anti rokok, tetapi sebagai Menteri, Khofifah tentunya sudah mengkaji secara mendalam. Dengan kecerdasannya , Khofifah menjawab dengan tegas dan lugas, \u201cjangan sok tahu kehidupan mereka, kenali apa yang menjadi ritme kehidupan mereka. Sangat bijaksana kalau kita semua pergi kesana, sehingga tahu adat istiadatnya juga. Tolong kalau ingin mengerti tentang kultur jangan hanya dari kacamata Jakarta. Saya pun ingin mengajak anda kesana, turun kesana, sapalah mereka\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Khofifah memberikan pelajaran bagi anti rokok. Tidak boleh sok tahu, apalagi selama ini antirokok hanya berasumsi, tanpa melihat fakta dilapangan. Khofifah juga menganjurkan agar lebih mengenal adat-istiadat, budaya dan tradisi masyarakat, tidak boleh melakukan hegemoni kultural, sebab keberagaman adat-istiadat dan budaya merupakan kekayaan negeri. <\/p>\n\n\n\n

Pelajaran Khofifah sangat mendalam dan bercirikhas Nusantara. Sebgaai Menteri \u00a0Sosial tentunya lebih berpengalaman apa yang dibutuhkan bangsa ini agar tetap jaya, bersatu dan utuh. Kenali perbedaan, hormati perbedaan, junjung tinggi budaya yang berbeda. \u00a0Apa yang telah dilakukan Khofifah dengan membawa rokok ke suku anak dalam adalah cermin penghormatan tradisi dan budaya masyarakat. Sebagai seorang Mentri, tentunya punya kuasa, artinya bisa seorang khofifah memberikan bantuan sesuai keinginannya sendiri, namun hal itu tidak dilakukan. Ia lebih mengedepankan penghormatan budaya masyarakat setempat, dengan membawa rokok untuk pendekatan dan pertemanan. Karena Khofifah tahu betul, bahwa merokok adalah budaya mereka, yang diwaris dari neneng moyang mereka. <\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Memilih Jalan Hidup Menikmati Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Simbol Pergerakan Nasional     <\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Abdul Rifa\u2019I dalam media bintang timur terbit pada 03 Oktober 1927, mengatakan, \u201ckopinya bukan kopi saringan, tetapi kopi tubruk sebab kopi ini katanya nationaal, gulanya gula jawa, susu tidak dipakai karena tidak nationaal. Rokoknya kelobot, selamatan natioanaal ini terus berlangsung ed sampai pagi hari\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Semangat nasionalisme harus tertanam, mengedepankan produk lokal adalah salah satu semangat nasionalime. Salah satu keberadaan rokok klobot menjadi ciri produk asli indonesia dan harus dilestarikan. Klobot sendiri adalah ramuan tembakau dan cengkeh di gulung memakai daun jagung, embrio perkembangan menjadi rokok sigaret kretek tangan dan sigaret kretek mesin.  
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pusaran Budaya Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pusaran-budaya-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-04 08:40:41","post_modified_gmt":"2019-02-04 01:40:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5406","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5403,"post_author":"919","post_date":"2019-02-03 09:05:50","post_date_gmt":"2019-02-03 02:05:50","post_content":"\n

Seringkali saya menyaksikan berbagai film baik itu Eropa atau Asia yang menggambarkan tentang masa depan. Pemandangan soal masa depan tersebut dihadirkan dengan gambaran kecanggihan teknologi seperti robot yang akan membantu kehidupan manusia, gedung-gedung yang tingginya sudah amat tak bisa ditandingi,  hingga mobil-mobil yang bisa terbang. <\/p>\n\n\n\n

Pernah dalam masa kecil saya menyaksikan sebuah film animasi buatan jepang yang mempertanyakan tentang makanan di masa depan. Dengan santai salah satu tokoh yang berasal dari masa depan itu menjawab bahwa suatu saat nanti manusia akan mengonsumsi makanan berupa pasta gigi namun dengan rasa yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa, aneh!<\/p>\n\n\n\n

Seiring waktu berjalan saya kian tumbuh dewasa dan punya kesadaran untuk memilih menjadi seorang perokok<\/a>. Saya juga melihat ada sebuah inovasi dan gambaran tentang masa depan yang hadir dalam kehidupan sekarang. Banyak memang, namun yang menyita perhatian saya adalah rokok elektrik atau yang populer disebut Vape. Konon katanya ia adalah produk inovasi untuk menjembatani kebutuhan menghisap asap dan kecanggihan masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Di awal kehadirannya Vape memang mengundang decak kekaguman saya. Bagaimana bisa sebuah mesin kecil mengeluarkan asap yang katanya lebih menyehatkan daripada rokok.<\/strong> Meski pada akhirnya teori tersebut juga bisa dibantah oleh beberapa ilmuan dunia. Tapi ada satu yang saya amati selain soal kesehatan, rokok elektrik rupanya menghadirkan kultur dan budaya baru dalam kehidupan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: LAGI-LAGI IKLAN ROKOK, KAPAN KPAI TIDAK TEBANG PILIH? <\/a><\/h4>\n\n\n\n

Kehadiran teknologi memang kerap sedikit atau benyak mengubah gaya atau kultur suatu masyarakat. Begitu pula yang saya perhatikan dengan rokok elektrik. Satu hal yang mudah diamati adalah menjamurnya toko-toko kecil yang menjual vape serta liquid di berbagai tempat. Sebagai sebuah warna baru dalam masyarakat, penggunanya ramai-ramai mengunjungi tempat tersebut berinteraksi dengan penikmat lainnya dan membangun sebuah rumah komunitas yang fleksibel.<\/p>\n\n\n\n

Meski belum bisa dikatakan memiliki jumlah penikmat yang setara dengan para perokok, pengguna Vape mulai menunjukkan eksistensinya. Selain toko yang tersebar, ragam acara juga mereka buat di beberapa daerah. Dalam lingkungan saya, beberapa teman yang dulunya merupakan perokok aktif tertarik mengikuti event tersebut dan beralih mengisap rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Nun jauh di sana, di Amerika Serikat tepatnya, budaya Vape juga sudah mulai berkembang lama ketimbang di Tanah Air. Penikmatnya terbagi menjadi dua, ada yang dulunya bekas perokok dan ada yang memang menikmatinya sebagai gaya hidup. Wajar saja mengingat facebook tak memperbolehkan iklan tembakau di platform mereka, sebaliknya iklan tentang vape justru bertebaran. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi budaya baru yang berkembang di berbagai belahan dunia bahkan di Indonesia, Vape konon menjadi alternatif yang lebih bermanfaat daripada rokok. Dalih yang diusung selalu sama kepada para perokok tradisonal yaitu soal kesehatan dan lebih irit. Soal kesehatan tentu ada beberapa pendapat para ilmuan yang membantahnya, namun soal irit, saya rasa tidak. Memang satu liquid bisa digunakan untuk beberapa Minggu, akan tetapi yang saya lihat di lapangan justru sebaliknya. <\/p>\n\n\n\n

Beberapa penikmat rokok elektrik kerap berbelanja liquid yang mereka idamkan. Terkadang, hal tersebut yang membuat mereka boros karena terus mengeksplor rasa mana yang mereka idam-idamkan. Tak jarang juga liquid dengan harga mahal hingga ratus ribuan akan mereka beli. Sebaliknya, para perokok konvensional justru kerap bertahan dengan satu rasa atau merek saja.<\/p>\n\n\n\n

Sedikit berbeda dengan penikmat rokok konvensional atau kretek. Mengingat rokok kretek sudah menjadi kebudayan lokal yang terus dipertahankan selama bertahun-tahun, kehadirannya sudah mewarnai khasanah keindonesiaan. Perokok kretek juga sudah punya soliditas luar biasa yang terbentuk sejak lama dan terus terbangun mengiringi peradaban di Indonesia atau dunia.<\/p>\n\n\n\n

Kini, perokok elektrik mulai merasakan kegelisahan. Beberapa negara mulai menerapkan peraturan ketat terhadap Vape, sedangkan di Indonesia biaya cukai pun kini mulai diberlakukan terhadap perdagangan rokok elektrik. Keberadaannya di mata negara pun mulai dianggap sama seperti rokok, meski pada awalnya rokok elektrik hadir dengan slogan-slogan produk alternatif yang lebih menyehatkan (katanya).<\/p>\n\n\n\n


Tapi jika kemudian di masa depan memang rokok elektrik yang kemudian menjadi sesuatu yang populer dan dinikmati banyak orang. Rasanya saya tetap ingin hidup di jaman ini, dengan sebatang kretek di tangan dan menikmati segala khasanah kebudayaan yang patut terus dipertahankan. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"masa-depan-rokok-elektrik-dan-semangat-alternatif-yang-sia-sia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-03 09:05:56","post_modified_gmt":"2019-02-03 02:05:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5403","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5385,"post_author":"883","post_date":"2019-02-02 08:01:01","post_date_gmt":"2019-02-02 01:01:01","post_content":"Pada tahun 2014, perusahaan rokok multinasional Philip Morris Internasional Inc. merilis sebuah produk <\/span>perangkat\u00a0<\/span>
rokok<\/span><\/a>\u00a0tanpa asap, yang dipanaskan bukan dibakar atau istilahnya\u00a0<\/span>heat not burn<\/i><\/strong>\u00a0(HNB) iQOS<\/strong>. <\/span>\r\n\r\nPerangkat rokok tanpa asap dengan nama iQOS<\/a> ini berbentuk seperti bagian luar pulpen, dengan lubang di tengah untuk rokok. Produk yang berada di bawah brand Marlboro ini dapat memanaskan rokok sampai 350 derajat celcius lalu mengeluarkan uap nikotin beraroma tembakau<\/em><\/a>.<\/span>\r\n

Produk iQOS sebenarnya bukanlah produk rokok tanpa asap yang pertama muncul. Sebelumnya di tahun 1990-an, Reynolds Tobacco Co pernah merilis produk serupa bernama Eclipes yang juga dapat menguapkan nikotin setelah dinyalakan dengan korek api.<\/span><\/blockquote>\r\nSelain itu, Eclips juga dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. Namun, pada saat itu Eclips tidak diminati oleh pasar, utamanya para perokok konvensional. Meskipun Eclips dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. <\/span>\r\n\r\nBisnis semacam rokok tanpa asap seperti Eclips dan iQOS memang sudah menjadi bagian dari rencana panjang bisnis perusahaan-perusahaan rokok multinasional. Jadi tidak usah heran jika ke depannya akan kita akan banyak menemukan produk rokok tanpa asap ini.<\/span>\r\n\r\nWatak dari perusahaan multinasional memang seperti itu, mereka sangat jeli melihat peluang pasar ke depannya. Ketika market place perusahaan rokok multinasional saat ini terus dirongrong oleh kelompok antirokok, mereka tak kehabisan akal. Maka kemudian mereka menginovasi produk rokok konvensional menjadi rokok yang tidak berasap. Begitupun dengan mengikutsertakan jargon-jargon kesehatan dalam narasi promosi mereka.<\/span>\r\n\r\nSesungguhnya memang seperti itulah watak bisnis perusahaan-perusahaan multinasional, melakukan segala cara agar bisnis mereka tetap bertahan, meskipun harus merangkul musuh sekalipun. <\/span>\r\n\r\nYa kadang pura-pura berantem sama antirokok, tapi dibalik itu sebenarnya baik-baik saja, dan tentunya ada kompromi untuk terus melanggengkan bisnis mereka.<\/span>\r\n

Lalu siapa yang dirugikan dari permainan bisnis macam produk rokok tanpa asap perusahaan rokok multinasional ini?<\/span><\/h3>\r\nTentunya yang sangat dirugikan adalah produk hasil tembakau yang memiliki kekhasan seperti kretek di Indonesia. Kretek sebagai produk khas asli Indonesia yang menjadi bagian dari warisan kebudayaan tidak mungkin bertransformasi menjadi produk-produk elektrik dan sejenisnya.<\/span>\r\n\r\nKretek tetaplah kretek, dengan bahan baku alami tembakau dan cengkeh yang tidak diintervensi dengan zat atau perangkat penghantar lainnya. Karena dengan bentuk, karakter dan cara menikmatinya memang konvensional dan akan terus begitu apapun kondisi dan zamannya.<\/span>\r\n
Bisnis produk rokok tanpa asap (elektrik) juga menghajar kretek dengan mendompleng isu pengendalian tembakau. Kampanye pengendalian tembakau selalu membawa slogan bahaya merokok dan upaya untuk berhenti merokok. <\/span><\/blockquote>\r\nDari isu tersebut, rokok elektrik masuk dengan citra produk alternatif tembakau, bahkan mereka tak segan menilai bahwa rokok elektrik lebih aman ketimbang rokok konvensional, yakni kretek.<\/span>\r\n\r\nLalu jika Indonesia akan dibanjiri dengan produk-produk yang mengatasnamakan produk alternatif tembakau, macam rokok tanpa asap (iQOS dan sejenisnya), maka itulah pertanda bahwa kretek harus tergerus dari cara hidup manusia Indonesia dalam menikmati produk hasil tembakau khas Indonesia yang sudah turun-temurun lamanya dinikmati manusia Indonesia.<\/span>","post_title":"Nasib Kretek di Pusaran Pertarungan Bisnis Global Perusahaan Rokok Multinasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"nasib-kretek-di-pusaran-pertarungan-bisnis-global-perusahaan-rokok-multinasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-02 08:01:43","post_modified_gmt":"2019-02-02 01:01:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5385","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; \n

[1] Beberapa sumber menyebutkan bahwa kata \u2018cengkeh\u2019 dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Mandarin, tkeng-his atau xi\u2019jia, yang berarti \u2018rempah [berbentuk mirip] paku\u2019 (scented nails). Ini menunjukkan bahwa cengkeh sudah dikenal sejak lama oleh bangsa Cina --diketahui sejak abad-2-- jauh sebelum orang Eropa mengenalnya ((lihat, misalnya: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n\n\n\n

[2] Catatan-catatan para biarawan Fransiskan --yang disalin dan dikutip oleh van Frassen-- bahkan menyebut cengkeh sebagai salah satu bahan utama pengawet mumi para Fir\u2019aun, penguasa Mesir Kuno. Beberapa pakar sejarah dan arkeologi menyatakan bahwa rempah-rempah Maluku bahkan sudah ditemukan artefaknya di Lembah Mesopotomia (wilayah Iraq dan sekitarnya sekarang) pada 3.000 tahun sebelum Masehi. (lihat, antara lain: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n\n\n\n

[3] Uraian lebih rinci sejarah kolonialisme rempah-rempah Nusantara ini, terutama oleh Belanda dan Portugis, dapat dibaca pada beberapa sumber kepustakaan yang sudah dikenal luas, antara lain: Glamann (1958) dan Boxer (1965 dan 1969). Dalam risalah klasik Pires disebutkan bahwa pada tahun 1512-1521 saja, jumlah produksi cengkeh di Maluku sudah mencapai 7.250 bahar per tahun, terbesar adalah di Makian serta Amboina dan Lease (masing-masing 1.500 bahar)(Pires, 1512-1515).<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem Topatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-10 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-02-10 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5425","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5415,"post_author":"878","post_date":"2019-02-07 12:15:55","post_date_gmt":"2019-02-07 05:15:55","post_content":"\n

Belakangan ini, ketika musim hujan tiba, di Kabupaten Temanggung, Kabupaten Jember, dan beberapa wilayah sentra pertanian tembakau lainnya, hampir mustahil menemukan tanaman tembakau tumbuh di lahan-lahan milik petani. Di wilayah-wilayah tersebut, citra sebagai sentra pertanian tembakau seakan menguap. Lahan-lahan yang ada di sana, sama sekali tidak ditumbuhi tanaman tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Kabar ini bisa jadi dianggap sebagai kabar gembira bagi mereka yang menganggap diri dan kelompoknya anti-rokok dan anti-tembakau yang selalu mengampanyekan sikap-sikap mereka terkait kebencian kepada tembakau dan aktivitas merokok. Setelah sekian lama berjuang, akhirnya perjuangan mereka dirasa berhasil usai menyaksikan fenomena lahan-lahan di wilayah yang dianggap sentra pertanian tembakau pada hari-hari belakangan ini.<\/p>\n\n\n\n

Baca juga: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tak sia-sia turun ke jalan, tak sia-sia melakukan lobi-lobi ke penguasa, tak sia-sia mengucurkan uang yang tidak sedikit, dan tak sia-sia mempermalukan diri dengan mengemis ke lembaga donor asing dan menggondol uang dari cukai tembakau untuk mengampanyekan gerakan anti-rokok dan anti-tembakau. Tak sia-sia. Karena perjuangan sepertinya berhasil.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Kampanye-kampanye gerakan mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya, sepertinya juga sangat berhasil. Bagaimana tidak? Wilayah-wilayah yang sebelumnya penuh dengan tanaman tembakau dan bergeliat dengannya, kini lahan-lahannya sudah berganti dengan tanaman lain. Sebuah keberhasilan yang menggembirakan. Begitu mungkin pikir mereka para yang menganggap dirinya pejuang anti-rokok dan anti-tembakau. Dan tentu saja mereka akan kecele dan kita akan menertawakan hal itu.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, mereka yang menganggap dirinya anti-rokok dan anti-tembakau tidak menyaksikan langsung fenomena ini di lapangan, di lahan-lahan yang peruntukannya berubah pada hari-hari belakangan ini ketika memasuki musim hujan. Mereka asyik duduk pada kursi empuk di ruang-ruang nyaman ber-AC di kota-kota yang jauh dari kultur pertanian. Mereka menyengajakan diri menjadi elit dan enggan untuk turun melihat langsung ke lapangan. Kalaupun ada yang turun langsung ke lapangan, hanya segelintir saja dari mereka, itupun sekadar formalitas saja. Tak pernah benar-benar mau turun ke lapangan, hidup dan merasakan langsung kultur pertanian tembakau dalam jangka waktu cukup lama di lapangan.<\/p>\n\n\n\n

Baca juga: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Fenomena ini membikin kita tak bisa melihat mereka para anti-rokok kecele lalu menertawakan mereka.<\/strong> Fenomena keengganan terjun langsung ke lapangan terlebih mencoba mendengar mereka yang tetap menanam tembakau, juga menjalani keseharian dalam waktu cukup lama bersama petani tembakau inilah yang saya kira menjadikan mereka tetap keras kepala untuk anti-rokok dan anti-tembakau. Karena jika mereka mau melakukan itu, saya yakin mereka semua tidak akan begitu kaku dalam memandang pertanian tembakau dan produk hasil industri tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu yang selalu mereka kampanyekan dan ngotot dengan itu, terkait hulu pertanian tembakau adalah mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya. Mereka berargumen banyak tanaman lain yang bisa semenguntungkan tanaman tembakau. Keengganan mereka terjun langsung ke lapangan inilah yang membikin mereka buta dengan kondisi pertanian tembakau dan pada akhirnya terus menerus mengampanyekan pergantian tanaman tembakau dengan tanaman lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca juga: Imanlah kepada Allah, Bukan Antirokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tembakau tanaman yang khas. Ia hanya tumbuh baik sepanjang empat hingga lima bulan dalam satu tahun. Tumbuh-kembang tanaman tembakau dengan baik itu umumnya terjadi pada musim kemarau setiap tahunnya. Hanya sedikit sekali jenis tembakau yang tumbuh baik di musim penghujan, mayoritasnya, tumbuh baik pada musim kemarau.<\/p>\n\n\n\n

Jika ditanam pada musim hujan, hampir bisa dipastikan tanaman tembakau akan gagal menghasilkan daun-daun yang berkualitas. Ia akan rusak dan membusuk karena terlalu banyak terkena air sehingga daun-daun itu tak layak dijual. Jangankan bisa dijual, untuk tumbuh dengan baik pun sepertinya sulit karena musim hujan akan membunuh banyak tanaman itu.<\/p>\n\n\n\n

Maka, tak heran pada musim-musim seperti saat ini, ketika musim penghujan mendekati puncaknya, di wilayah-wilayah yang dikenal sebagai sentra pertanian tembakau, sulit menemukan pohon tembakau yang sedang tumbuh. Pada lahan-lahan yang sebelumnya ditumbuhi tanaman tembakau pada musim panas, berganti tanaman-tanaman lain yang bermacam-macam, sesuai dengan kondisi lahannya. Untuk lahan sawah, lahan-lahan itu pada musim penghujan kini ditumbuhi tanaman padi yang subur. Pada lahan tegalan dan lahan di pegunungan, lahan-lahan yang ditanami tembakau pada musim kemarau, saat ini ditumbuhi bermacam jenis tanaman mulai dari cabai, bawang, tomat, kol, terong, mentimun, dan ragam jenis tanaman semusim lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Uniknya, tipikal tanaman tembakau yang tumbuh baik di musim kemarau ini memberi pilihan lebih kepada para petani. Lahan-lahan yang sulit ditanami pada musim kemarau, pada akhirnya masih bisa tetap produktif dengan keberadaan tanaman tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Maka, kampanye aneh mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain dengan ragam rupa dalih yang membingungkan, bukan saja sama sekali tidak tepat dan asal-asalan, namun bisa jadi akan ditertawakan oleh para petani yang begitu paham dengan kondisi lahan dan terutama kondisi iklim dan cuaca. Sulit mencari tanaman semusim yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Jika pun ada, tak ada yang semenguntungkan tanaman tembakau.
<\/p>\n","post_title":"Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"keberhasilan-gerakan-anti-tembakau-tak-ada-tembakau-saat-musim-hujan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-07 12:16:02","post_modified_gmt":"2019-02-07 05:16:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5415","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5409,"post_author":"919","post_date":"2019-02-05 08:04:43","post_date_gmt":"2019-02-05 01:04:43","post_content":"\n

Tahun Baru Imlek yang merupakan tradisi Bangsa Tiongkok kini sudah tak lagi menjadi hal yang asing bagi masyarakat Indonesia. Kehadirannya sudah mewarnai dan berakulturasi dengan tradisi lokal. Menjelang Tahun Baru Imlek. Berbagai hiasan dan kemeriahan terjadi beberapa titik di Tanah Air. Perayaannya juga menjadi destinasi baru yang mengasyikkan untuk dilihat dan patut disaksikan.<\/p>\n\n\n\n

Berterimakasihlah kepada sang bapak bangsa, KH Abdurrahman Wahid atau yang dikenal dengan nama Gus Dur. Berkat kebijakannya saat menjadi Presiden Indonesia, Tahun Baru Imlek resmi dijadikan hari libur nasional dan dianggap sebagai salah satu hari raya di Tanah Air. Meski sentimen antitionghoa masih ada di sana-sini, tapi tetap tak bisa dipungkiri bahwa bangsa tionghoa sudah bersentuhan dengan budaya lokal dalam kurun waktu yang sangat panjang.<\/p>\n\n\n\n

DNA Bangsa Tionghoa yang memang merupakan pedagang menjadi pembuka kisah interaksi antara nenek moyang berbagai suku di Nusantara dengan mereka. Beberapa kelenteng-kelenteng yang tersebar pada berbagai pesisir daerah di Nusantara jadi buktinya. Pelabuhan-pelabuhan tua di tanah air dan ramainya perdagangan di pesisir mempermudah bangsa kita berhubungan dengan Bangsa Tionghoa.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Wong Kalang dan Kota Gede<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa kehadiran Bangsa Tionghoa di Nusantara tak hanya sebagai pedagang, namun juga sebagai pekerja (bahkan hingga pekerja kasar). Benny Setiono, seorang sejarahwan menyebutkan bahwa antara tahun 1760-1770 dalam jumlah yang besar memasuki nusantara melalui Kalimantan Barat. Mereka bekerja sebagai kuli pertambangan di sana dan di kemudian hari membentuk sebuah republik bernama Republik Lanfang yang konon katanya menjadi republik pertama di Asia Tenggara.<\/p>\n\n\n\n

Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Imlek dan Indonesia<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n\n\n\n

Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
<\/p>\n","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5406,"post_author":"877","post_date":"2019-02-04 08:23:48","post_date_gmt":"2019-02-04 01:23:48","post_content":"\n

Merokok itu sudah menjadi bagian dari budaya dan tradisi masyarakat, jauh sebelum Indonesia merdeka. Banyak cerita atau kisah tentang kretek <\/a><\/del>di tengah-tengah masyarakat bangsa ini, mulai sebagai alat untuk meraup keuntungan, alat komunikasi, sebagai teman sampai menjadi simbol pergerakan. <\/p>\n\n\n\n

Kretek, Simbol Perlawanan Roro Mendut<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Siapa yang tidak pernah mendengan cerita tentang Roro Mendut?, di telinga masyarakat Indonesia, kisah Roro Mendut tidak asing lagi.  Perempuan yang mempunyai paras wajah cantik, dan digandrungi kaum adam terutama kalangan putra kerajaan. Informasi kecantikan Roro Mendut tersebar seantero Nusantara, tidak satupun pria meragukan kecantikannya.  Bahkan kisah dan cerita kecantikan Roro Mendut tercatat dalam buku Babad Tanah Jawi. <\/p>\n\n\n\n

Diperkirakan pada tahun 1627, pada saat panglima perang Sultan Agung Mataram bernama Tumenggung Wiraguna berhasil menumpas pemberontakan di kota Pati, sebagai imbalanan atas keberhasilannya, mendapat hadiah wanita pujaan pria bernama Rara Mendut dari Kasultanan Agung Mataram.  Roro Mendut menolak dipinang Tumenggung Wiraguna, dan secara terang-terangan memilih pria lain dambaannya. Akibatnya, Roro Mendut harus membayar pajak setiap harinya kepada kerajaan Mataram. <\/p>\n\n\n\n

Bisa dibayangkan, betapa bingungnya Roro Mendut saat itu. Uang dari mana, ia hasilkan untuk bayar pajak tiap hari demi bisa bersama kekasihnya. Ternyata Roro Mendut tidak hanya cantik tetapi cerdas dan kreatif, bisa membaca peluang bisnis saat itu. Ide cermerlang muncul dengan berdagang\/berjualan rokok lintingan yang direkatkan dengan air ludahnya, dan sebelum menjualnya, rokok lintingan di sulut dahulu dan dihisap bekas bibir merahnya. Kemudian baru dijual ke pembeli yang berdesakan berjejer antri. <\/p>\n\n\n\n

Entah dari mana ide menjual rokok itu muncul. Yang jelas saking larisnya, kewajiban pajak Roro Mendut terpenuhi. Dan mungkin keadaannya akan lebih parah, jika saat itu Roro Mendut tidak berdagang rokok. Tidak akan terpenuhi kewajiban pajaknya. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Dengan rokok, hidup Roro Mendut terselamatkan. Adanya rokok, \u00a0Roro Mendut bebas dari belenggu kekuasaan. Berkat rokok, Roro Mendut terkengan, mengisi rubik informasi sejarah begitu kuatnya budaya merokok di \u00a0Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Pusaka Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek, Teman Perjuangan  Diponegoro<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Semasa berjuang melawan penjajah, yang harus dilakukan Diponegoro berpindah-pindah dari kota satu ke kota lain. Strategi perlawanan Diponegoro, kemudian sebagai basis strategi perang gerilya. Strategi yang menjadi idola dan kebanggaan tentara Indonesia. Dengan bergerilya, tentara Indonesia mampu mengecoh kekutan lawan yang lebih besar jumlahnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu, tenyata banyak cerita, Diponegoro saat berperang ditemani rokok. Ia dan pasukannya gemar merokok. Bahkan ketika tidak ada rokok, Pangeran Diponegoro rela hanya megunyah daun sirih yang diracik dengan kapur dan pinang. <\/p>\n\n\n\n

Kebiasaan ini, juga dialami oleh pengikut \/pasukan perang Pangeran Diponegoro. Bagi mereka, rokok teman sejati, menemani disetiap perjalanan mereka. Rokok menghilangkan depresi mereka, sebagai hiburan saat jauh dari keluarga demi berjuang melawan penjajah. Rokok menumbuhkan percaya diri mereka, lebih berani melawan penjajah walaupun hanya dengan serba keterbatasan, pasukan jumlah terbatas, alat perang terbatas dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Baca juga: Pangeran Diponegoro, Rokok Klobot dan Perlawanan Simbolis<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Jati Diri Bangsa<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Salah satu \u201cpendiri bangsa\u201d bernama KH. Agus Salim menghisap kretek dengan asapnya di kebal-kebulkan keudara, disaat ada perjamuan di Istana Buckingham ketika penobatan Elizabeth II sebagai Ratu kerajaan Inggris. Aroma khas keluar dari asap rokok kretek, tercium orang yang berada di ruang perjamuan. Sehingga memancing salah satu orang yang datang dalam perjamuan, dengan berkata; \u201ctuan sedang menghisap apa itu?\u201d.  Sentak KH. Agus Salim menjawab, \u201c inilah yang membuat nenek moyang anda sekian abad lalu datang dan kemudian menjajah negeri kami\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Jawaban KH. Agus Salim, faktanya memang benar. Rokok kretek tidak lain ada tambahan cengkeh (suzygium aromaticum<\/em>). \u00a0Tanaman legendaris menjadi rebutan dan sumber keuntungan kolonialisme Eropa atas Asia termasuk Indonesia. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Cengkeh adalah salah satu tanaman yang diperebutkan bangsa-bangsa dunia, sampai melegalkan penjajahan.  Dalam simpulan perjalanan ekspedisi cengkeh tahun 2013, Kepala Suku begitu julukan bagi Putut Ea, mengatakan \u201c jika saja tak pernah ada cengkeh dan pala di Maluku, mungkin sejarah kepulauan Nusantara ini akan berbeda sama sekali\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Simpulan Putut EA, sebagai salah satu pembenar perkataan \u00a0KH. Agus Salim. Mungkin, jika tanaman cengkeh tidak ada, fakta sejarah akan berbeda, tidak ada penjajahan di bumi Nusantara ini. <\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Mengisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek untuk Berteman dan Menjalin Persaudaraan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Teringat apa yang pernah dilakukan Menteri Sosial dan Lingkungan Hidup, saat melakukan pendekatan pada suku anak dalam di Jambi. Tidak lain ia adalah Khofifah menteri perempuan yang energik. Saat itu Khofifah bertanggungjawab dalam mengatasi masalah pendidikan dan kesejahteraan masyarakat suku anak dalam di Jambi.  <\/p>\n\n\n\n

Kebijakannya membuat fenomenal, selain bahan makanan, dan bantuan lain, khofifah juga membawa rokok.  Yang kemudian ada yang mengggugat dari anti rokok, tetapi sebagai Menteri, Khofifah tentunya sudah mengkaji secara mendalam. Dengan kecerdasannya , Khofifah menjawab dengan tegas dan lugas, \u201cjangan sok tahu kehidupan mereka, kenali apa yang menjadi ritme kehidupan mereka. Sangat bijaksana kalau kita semua pergi kesana, sehingga tahu adat istiadatnya juga. Tolong kalau ingin mengerti tentang kultur jangan hanya dari kacamata Jakarta. Saya pun ingin mengajak anda kesana, turun kesana, sapalah mereka\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Khofifah memberikan pelajaran bagi anti rokok. Tidak boleh sok tahu, apalagi selama ini antirokok hanya berasumsi, tanpa melihat fakta dilapangan. Khofifah juga menganjurkan agar lebih mengenal adat-istiadat, budaya dan tradisi masyarakat, tidak boleh melakukan hegemoni kultural, sebab keberagaman adat-istiadat dan budaya merupakan kekayaan negeri. <\/p>\n\n\n\n

Pelajaran Khofifah sangat mendalam dan bercirikhas Nusantara. Sebgaai Menteri \u00a0Sosial tentunya lebih berpengalaman apa yang dibutuhkan bangsa ini agar tetap jaya, bersatu dan utuh. Kenali perbedaan, hormati perbedaan, junjung tinggi budaya yang berbeda. \u00a0Apa yang telah dilakukan Khofifah dengan membawa rokok ke suku anak dalam adalah cermin penghormatan tradisi dan budaya masyarakat. Sebagai seorang Mentri, tentunya punya kuasa, artinya bisa seorang khofifah memberikan bantuan sesuai keinginannya sendiri, namun hal itu tidak dilakukan. Ia lebih mengedepankan penghormatan budaya masyarakat setempat, dengan membawa rokok untuk pendekatan dan pertemanan. Karena Khofifah tahu betul, bahwa merokok adalah budaya mereka, yang diwaris dari neneng moyang mereka. <\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Memilih Jalan Hidup Menikmati Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Simbol Pergerakan Nasional     <\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Abdul Rifa\u2019I dalam media bintang timur terbit pada 03 Oktober 1927, mengatakan, \u201ckopinya bukan kopi saringan, tetapi kopi tubruk sebab kopi ini katanya nationaal, gulanya gula jawa, susu tidak dipakai karena tidak nationaal. Rokoknya kelobot, selamatan natioanaal ini terus berlangsung ed sampai pagi hari\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Semangat nasionalisme harus tertanam, mengedepankan produk lokal adalah salah satu semangat nasionalime. Salah satu keberadaan rokok klobot menjadi ciri produk asli indonesia dan harus dilestarikan. Klobot sendiri adalah ramuan tembakau dan cengkeh di gulung memakai daun jagung, embrio perkembangan menjadi rokok sigaret kretek tangan dan sigaret kretek mesin.  
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pusaran Budaya Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pusaran-budaya-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-04 08:40:41","post_modified_gmt":"2019-02-04 01:40:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5406","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5403,"post_author":"919","post_date":"2019-02-03 09:05:50","post_date_gmt":"2019-02-03 02:05:50","post_content":"\n

Seringkali saya menyaksikan berbagai film baik itu Eropa atau Asia yang menggambarkan tentang masa depan. Pemandangan soal masa depan tersebut dihadirkan dengan gambaran kecanggihan teknologi seperti robot yang akan membantu kehidupan manusia, gedung-gedung yang tingginya sudah amat tak bisa ditandingi,  hingga mobil-mobil yang bisa terbang. <\/p>\n\n\n\n

Pernah dalam masa kecil saya menyaksikan sebuah film animasi buatan jepang yang mempertanyakan tentang makanan di masa depan. Dengan santai salah satu tokoh yang berasal dari masa depan itu menjawab bahwa suatu saat nanti manusia akan mengonsumsi makanan berupa pasta gigi namun dengan rasa yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa, aneh!<\/p>\n\n\n\n

Seiring waktu berjalan saya kian tumbuh dewasa dan punya kesadaran untuk memilih menjadi seorang perokok<\/a>. Saya juga melihat ada sebuah inovasi dan gambaran tentang masa depan yang hadir dalam kehidupan sekarang. Banyak memang, namun yang menyita perhatian saya adalah rokok elektrik atau yang populer disebut Vape. Konon katanya ia adalah produk inovasi untuk menjembatani kebutuhan menghisap asap dan kecanggihan masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Di awal kehadirannya Vape memang mengundang decak kekaguman saya. Bagaimana bisa sebuah mesin kecil mengeluarkan asap yang katanya lebih menyehatkan daripada rokok.<\/strong> Meski pada akhirnya teori tersebut juga bisa dibantah oleh beberapa ilmuan dunia. Tapi ada satu yang saya amati selain soal kesehatan, rokok elektrik rupanya menghadirkan kultur dan budaya baru dalam kehidupan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: LAGI-LAGI IKLAN ROKOK, KAPAN KPAI TIDAK TEBANG PILIH? <\/a><\/h4>\n\n\n\n

Kehadiran teknologi memang kerap sedikit atau benyak mengubah gaya atau kultur suatu masyarakat. Begitu pula yang saya perhatikan dengan rokok elektrik. Satu hal yang mudah diamati adalah menjamurnya toko-toko kecil yang menjual vape serta liquid di berbagai tempat. Sebagai sebuah warna baru dalam masyarakat, penggunanya ramai-ramai mengunjungi tempat tersebut berinteraksi dengan penikmat lainnya dan membangun sebuah rumah komunitas yang fleksibel.<\/p>\n\n\n\n

Meski belum bisa dikatakan memiliki jumlah penikmat yang setara dengan para perokok, pengguna Vape mulai menunjukkan eksistensinya. Selain toko yang tersebar, ragam acara juga mereka buat di beberapa daerah. Dalam lingkungan saya, beberapa teman yang dulunya merupakan perokok aktif tertarik mengikuti event tersebut dan beralih mengisap rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Nun jauh di sana, di Amerika Serikat tepatnya, budaya Vape juga sudah mulai berkembang lama ketimbang di Tanah Air. Penikmatnya terbagi menjadi dua, ada yang dulunya bekas perokok dan ada yang memang menikmatinya sebagai gaya hidup. Wajar saja mengingat facebook tak memperbolehkan iklan tembakau di platform mereka, sebaliknya iklan tentang vape justru bertebaran. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi budaya baru yang berkembang di berbagai belahan dunia bahkan di Indonesia, Vape konon menjadi alternatif yang lebih bermanfaat daripada rokok. Dalih yang diusung selalu sama kepada para perokok tradisonal yaitu soal kesehatan dan lebih irit. Soal kesehatan tentu ada beberapa pendapat para ilmuan yang membantahnya, namun soal irit, saya rasa tidak. Memang satu liquid bisa digunakan untuk beberapa Minggu, akan tetapi yang saya lihat di lapangan justru sebaliknya. <\/p>\n\n\n\n

Beberapa penikmat rokok elektrik kerap berbelanja liquid yang mereka idamkan. Terkadang, hal tersebut yang membuat mereka boros karena terus mengeksplor rasa mana yang mereka idam-idamkan. Tak jarang juga liquid dengan harga mahal hingga ratus ribuan akan mereka beli. Sebaliknya, para perokok konvensional justru kerap bertahan dengan satu rasa atau merek saja.<\/p>\n\n\n\n

Sedikit berbeda dengan penikmat rokok konvensional atau kretek. Mengingat rokok kretek sudah menjadi kebudayan lokal yang terus dipertahankan selama bertahun-tahun, kehadirannya sudah mewarnai khasanah keindonesiaan. Perokok kretek juga sudah punya soliditas luar biasa yang terbentuk sejak lama dan terus terbangun mengiringi peradaban di Indonesia atau dunia.<\/p>\n\n\n\n

Kini, perokok elektrik mulai merasakan kegelisahan. Beberapa negara mulai menerapkan peraturan ketat terhadap Vape, sedangkan di Indonesia biaya cukai pun kini mulai diberlakukan terhadap perdagangan rokok elektrik. Keberadaannya di mata negara pun mulai dianggap sama seperti rokok, meski pada awalnya rokok elektrik hadir dengan slogan-slogan produk alternatif yang lebih menyehatkan (katanya).<\/p>\n\n\n\n


Tapi jika kemudian di masa depan memang rokok elektrik yang kemudian menjadi sesuatu yang populer dan dinikmati banyak orang. Rasanya saya tetap ingin hidup di jaman ini, dengan sebatang kretek di tangan dan menikmati segala khasanah kebudayaan yang patut terus dipertahankan. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"masa-depan-rokok-elektrik-dan-semangat-alternatif-yang-sia-sia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-03 09:05:56","post_modified_gmt":"2019-02-03 02:05:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5403","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5385,"post_author":"883","post_date":"2019-02-02 08:01:01","post_date_gmt":"2019-02-02 01:01:01","post_content":"Pada tahun 2014, perusahaan rokok multinasional Philip Morris Internasional Inc. merilis sebuah produk <\/span>perangkat\u00a0<\/span>
rokok<\/span><\/a>\u00a0tanpa asap, yang dipanaskan bukan dibakar atau istilahnya\u00a0<\/span>heat not burn<\/i><\/strong>\u00a0(HNB) iQOS<\/strong>. <\/span>\r\n\r\nPerangkat rokok tanpa asap dengan nama iQOS<\/a> ini berbentuk seperti bagian luar pulpen, dengan lubang di tengah untuk rokok. Produk yang berada di bawah brand Marlboro ini dapat memanaskan rokok sampai 350 derajat celcius lalu mengeluarkan uap nikotin beraroma tembakau<\/em><\/a>.<\/span>\r\n

Produk iQOS sebenarnya bukanlah produk rokok tanpa asap yang pertama muncul. Sebelumnya di tahun 1990-an, Reynolds Tobacco Co pernah merilis produk serupa bernama Eclipes yang juga dapat menguapkan nikotin setelah dinyalakan dengan korek api.<\/span><\/blockquote>\r\nSelain itu, Eclips juga dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. Namun, pada saat itu Eclips tidak diminati oleh pasar, utamanya para perokok konvensional. Meskipun Eclips dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. <\/span>\r\n\r\nBisnis semacam rokok tanpa asap seperti Eclips dan iQOS memang sudah menjadi bagian dari rencana panjang bisnis perusahaan-perusahaan rokok multinasional. Jadi tidak usah heran jika ke depannya akan kita akan banyak menemukan produk rokok tanpa asap ini.<\/span>\r\n\r\nWatak dari perusahaan multinasional memang seperti itu, mereka sangat jeli melihat peluang pasar ke depannya. Ketika market place perusahaan rokok multinasional saat ini terus dirongrong oleh kelompok antirokok, mereka tak kehabisan akal. Maka kemudian mereka menginovasi produk rokok konvensional menjadi rokok yang tidak berasap. Begitupun dengan mengikutsertakan jargon-jargon kesehatan dalam narasi promosi mereka.<\/span>\r\n\r\nSesungguhnya memang seperti itulah watak bisnis perusahaan-perusahaan multinasional, melakukan segala cara agar bisnis mereka tetap bertahan, meskipun harus merangkul musuh sekalipun. <\/span>\r\n\r\nYa kadang pura-pura berantem sama antirokok, tapi dibalik itu sebenarnya baik-baik saja, dan tentunya ada kompromi untuk terus melanggengkan bisnis mereka.<\/span>\r\n

Lalu siapa yang dirugikan dari permainan bisnis macam produk rokok tanpa asap perusahaan rokok multinasional ini?<\/span><\/h3>\r\nTentunya yang sangat dirugikan adalah produk hasil tembakau yang memiliki kekhasan seperti kretek di Indonesia. Kretek sebagai produk khas asli Indonesia yang menjadi bagian dari warisan kebudayaan tidak mungkin bertransformasi menjadi produk-produk elektrik dan sejenisnya.<\/span>\r\n\r\nKretek tetaplah kretek, dengan bahan baku alami tembakau dan cengkeh yang tidak diintervensi dengan zat atau perangkat penghantar lainnya. Karena dengan bentuk, karakter dan cara menikmatinya memang konvensional dan akan terus begitu apapun kondisi dan zamannya.<\/span>\r\n
Bisnis produk rokok tanpa asap (elektrik) juga menghajar kretek dengan mendompleng isu pengendalian tembakau. Kampanye pengendalian tembakau selalu membawa slogan bahaya merokok dan upaya untuk berhenti merokok. <\/span><\/blockquote>\r\nDari isu tersebut, rokok elektrik masuk dengan citra produk alternatif tembakau, bahkan mereka tak segan menilai bahwa rokok elektrik lebih aman ketimbang rokok konvensional, yakni kretek.<\/span>\r\n\r\nLalu jika Indonesia akan dibanjiri dengan produk-produk yang mengatasnamakan produk alternatif tembakau, macam rokok tanpa asap (iQOS dan sejenisnya), maka itulah pertanda bahwa kretek harus tergerus dari cara hidup manusia Indonesia dalam menikmati produk hasil tembakau khas Indonesia yang sudah turun-temurun lamanya dinikmati manusia Indonesia.<\/span>","post_title":"Nasib Kretek di Pusaran Pertarungan Bisnis Global Perusahaan Rokok Multinasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"nasib-kretek-di-pusaran-pertarungan-bisnis-global-perusahaan-rokok-multinasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-02 08:01:43","post_modified_gmt":"2019-02-02 01:01:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5385","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; \n

Catatan:<\/strong><\/p>\n\n\n\n

[1] Beberapa sumber menyebutkan bahwa kata \u2018cengkeh\u2019 dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Mandarin, tkeng-his atau xi\u2019jia, yang berarti \u2018rempah [berbentuk mirip] paku\u2019 (scented nails). Ini menunjukkan bahwa cengkeh sudah dikenal sejak lama oleh bangsa Cina --diketahui sejak abad-2-- jauh sebelum orang Eropa mengenalnya ((lihat, misalnya: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n\n\n\n

[2] Catatan-catatan para biarawan Fransiskan --yang disalin dan dikutip oleh van Frassen-- bahkan menyebut cengkeh sebagai salah satu bahan utama pengawet mumi para Fir\u2019aun, penguasa Mesir Kuno. Beberapa pakar sejarah dan arkeologi menyatakan bahwa rempah-rempah Maluku bahkan sudah ditemukan artefaknya di Lembah Mesopotomia (wilayah Iraq dan sekitarnya sekarang) pada 3.000 tahun sebelum Masehi. (lihat, antara lain: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n\n\n\n

[3] Uraian lebih rinci sejarah kolonialisme rempah-rempah Nusantara ini, terutama oleh Belanda dan Portugis, dapat dibaca pada beberapa sumber kepustakaan yang sudah dikenal luas, antara lain: Glamann (1958) dan Boxer (1965 dan 1969). Dalam risalah klasik Pires disebutkan bahwa pada tahun 1512-1521 saja, jumlah produksi cengkeh di Maluku sudah mencapai 7.250 bahar per tahun, terbesar adalah di Makian serta Amboina dan Lease (masing-masing 1.500 bahar)(Pires, 1512-1515).<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem Topatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-10 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-02-10 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5425","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5415,"post_author":"878","post_date":"2019-02-07 12:15:55","post_date_gmt":"2019-02-07 05:15:55","post_content":"\n

Belakangan ini, ketika musim hujan tiba, di Kabupaten Temanggung, Kabupaten Jember, dan beberapa wilayah sentra pertanian tembakau lainnya, hampir mustahil menemukan tanaman tembakau tumbuh di lahan-lahan milik petani. Di wilayah-wilayah tersebut, citra sebagai sentra pertanian tembakau seakan menguap. Lahan-lahan yang ada di sana, sama sekali tidak ditumbuhi tanaman tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Kabar ini bisa jadi dianggap sebagai kabar gembira bagi mereka yang menganggap diri dan kelompoknya anti-rokok dan anti-tembakau yang selalu mengampanyekan sikap-sikap mereka terkait kebencian kepada tembakau dan aktivitas merokok. Setelah sekian lama berjuang, akhirnya perjuangan mereka dirasa berhasil usai menyaksikan fenomena lahan-lahan di wilayah yang dianggap sentra pertanian tembakau pada hari-hari belakangan ini.<\/p>\n\n\n\n

Baca juga: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tak sia-sia turun ke jalan, tak sia-sia melakukan lobi-lobi ke penguasa, tak sia-sia mengucurkan uang yang tidak sedikit, dan tak sia-sia mempermalukan diri dengan mengemis ke lembaga donor asing dan menggondol uang dari cukai tembakau untuk mengampanyekan gerakan anti-rokok dan anti-tembakau. Tak sia-sia. Karena perjuangan sepertinya berhasil.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Kampanye-kampanye gerakan mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya, sepertinya juga sangat berhasil. Bagaimana tidak? Wilayah-wilayah yang sebelumnya penuh dengan tanaman tembakau dan bergeliat dengannya, kini lahan-lahannya sudah berganti dengan tanaman lain. Sebuah keberhasilan yang menggembirakan. Begitu mungkin pikir mereka para yang menganggap dirinya pejuang anti-rokok dan anti-tembakau. Dan tentu saja mereka akan kecele dan kita akan menertawakan hal itu.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, mereka yang menganggap dirinya anti-rokok dan anti-tembakau tidak menyaksikan langsung fenomena ini di lapangan, di lahan-lahan yang peruntukannya berubah pada hari-hari belakangan ini ketika memasuki musim hujan. Mereka asyik duduk pada kursi empuk di ruang-ruang nyaman ber-AC di kota-kota yang jauh dari kultur pertanian. Mereka menyengajakan diri menjadi elit dan enggan untuk turun melihat langsung ke lapangan. Kalaupun ada yang turun langsung ke lapangan, hanya segelintir saja dari mereka, itupun sekadar formalitas saja. Tak pernah benar-benar mau turun ke lapangan, hidup dan merasakan langsung kultur pertanian tembakau dalam jangka waktu cukup lama di lapangan.<\/p>\n\n\n\n

Baca juga: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Fenomena ini membikin kita tak bisa melihat mereka para anti-rokok kecele lalu menertawakan mereka.<\/strong> Fenomena keengganan terjun langsung ke lapangan terlebih mencoba mendengar mereka yang tetap menanam tembakau, juga menjalani keseharian dalam waktu cukup lama bersama petani tembakau inilah yang saya kira menjadikan mereka tetap keras kepala untuk anti-rokok dan anti-tembakau. Karena jika mereka mau melakukan itu, saya yakin mereka semua tidak akan begitu kaku dalam memandang pertanian tembakau dan produk hasil industri tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu yang selalu mereka kampanyekan dan ngotot dengan itu, terkait hulu pertanian tembakau adalah mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya. Mereka berargumen banyak tanaman lain yang bisa semenguntungkan tanaman tembakau. Keengganan mereka terjun langsung ke lapangan inilah yang membikin mereka buta dengan kondisi pertanian tembakau dan pada akhirnya terus menerus mengampanyekan pergantian tanaman tembakau dengan tanaman lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca juga: Imanlah kepada Allah, Bukan Antirokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tembakau tanaman yang khas. Ia hanya tumbuh baik sepanjang empat hingga lima bulan dalam satu tahun. Tumbuh-kembang tanaman tembakau dengan baik itu umumnya terjadi pada musim kemarau setiap tahunnya. Hanya sedikit sekali jenis tembakau yang tumbuh baik di musim penghujan, mayoritasnya, tumbuh baik pada musim kemarau.<\/p>\n\n\n\n

Jika ditanam pada musim hujan, hampir bisa dipastikan tanaman tembakau akan gagal menghasilkan daun-daun yang berkualitas. Ia akan rusak dan membusuk karena terlalu banyak terkena air sehingga daun-daun itu tak layak dijual. Jangankan bisa dijual, untuk tumbuh dengan baik pun sepertinya sulit karena musim hujan akan membunuh banyak tanaman itu.<\/p>\n\n\n\n

Maka, tak heran pada musim-musim seperti saat ini, ketika musim penghujan mendekati puncaknya, di wilayah-wilayah yang dikenal sebagai sentra pertanian tembakau, sulit menemukan pohon tembakau yang sedang tumbuh. Pada lahan-lahan yang sebelumnya ditumbuhi tanaman tembakau pada musim panas, berganti tanaman-tanaman lain yang bermacam-macam, sesuai dengan kondisi lahannya. Untuk lahan sawah, lahan-lahan itu pada musim penghujan kini ditumbuhi tanaman padi yang subur. Pada lahan tegalan dan lahan di pegunungan, lahan-lahan yang ditanami tembakau pada musim kemarau, saat ini ditumbuhi bermacam jenis tanaman mulai dari cabai, bawang, tomat, kol, terong, mentimun, dan ragam jenis tanaman semusim lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Uniknya, tipikal tanaman tembakau yang tumbuh baik di musim kemarau ini memberi pilihan lebih kepada para petani. Lahan-lahan yang sulit ditanami pada musim kemarau, pada akhirnya masih bisa tetap produktif dengan keberadaan tanaman tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Maka, kampanye aneh mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain dengan ragam rupa dalih yang membingungkan, bukan saja sama sekali tidak tepat dan asal-asalan, namun bisa jadi akan ditertawakan oleh para petani yang begitu paham dengan kondisi lahan dan terutama kondisi iklim dan cuaca. Sulit mencari tanaman semusim yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Jika pun ada, tak ada yang semenguntungkan tanaman tembakau.
<\/p>\n","post_title":"Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"keberhasilan-gerakan-anti-tembakau-tak-ada-tembakau-saat-musim-hujan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-07 12:16:02","post_modified_gmt":"2019-02-07 05:16:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5415","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5409,"post_author":"919","post_date":"2019-02-05 08:04:43","post_date_gmt":"2019-02-05 01:04:43","post_content":"\n

Tahun Baru Imlek yang merupakan tradisi Bangsa Tiongkok kini sudah tak lagi menjadi hal yang asing bagi masyarakat Indonesia. Kehadirannya sudah mewarnai dan berakulturasi dengan tradisi lokal. Menjelang Tahun Baru Imlek. Berbagai hiasan dan kemeriahan terjadi beberapa titik di Tanah Air. Perayaannya juga menjadi destinasi baru yang mengasyikkan untuk dilihat dan patut disaksikan.<\/p>\n\n\n\n

Berterimakasihlah kepada sang bapak bangsa, KH Abdurrahman Wahid atau yang dikenal dengan nama Gus Dur. Berkat kebijakannya saat menjadi Presiden Indonesia, Tahun Baru Imlek resmi dijadikan hari libur nasional dan dianggap sebagai salah satu hari raya di Tanah Air. Meski sentimen antitionghoa masih ada di sana-sini, tapi tetap tak bisa dipungkiri bahwa bangsa tionghoa sudah bersentuhan dengan budaya lokal dalam kurun waktu yang sangat panjang.<\/p>\n\n\n\n

DNA Bangsa Tionghoa yang memang merupakan pedagang menjadi pembuka kisah interaksi antara nenek moyang berbagai suku di Nusantara dengan mereka. Beberapa kelenteng-kelenteng yang tersebar pada berbagai pesisir daerah di Nusantara jadi buktinya. Pelabuhan-pelabuhan tua di tanah air dan ramainya perdagangan di pesisir mempermudah bangsa kita berhubungan dengan Bangsa Tionghoa.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Wong Kalang dan Kota Gede<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa kehadiran Bangsa Tionghoa di Nusantara tak hanya sebagai pedagang, namun juga sebagai pekerja (bahkan hingga pekerja kasar). Benny Setiono, seorang sejarahwan menyebutkan bahwa antara tahun 1760-1770 dalam jumlah yang besar memasuki nusantara melalui Kalimantan Barat. Mereka bekerja sebagai kuli pertambangan di sana dan di kemudian hari membentuk sebuah republik bernama Republik Lanfang yang konon katanya menjadi republik pertama di Asia Tenggara.<\/p>\n\n\n\n

Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Imlek dan Indonesia<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n\n\n\n

Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
<\/p>\n","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5406,"post_author":"877","post_date":"2019-02-04 08:23:48","post_date_gmt":"2019-02-04 01:23:48","post_content":"\n

Merokok itu sudah menjadi bagian dari budaya dan tradisi masyarakat, jauh sebelum Indonesia merdeka. Banyak cerita atau kisah tentang kretek <\/a><\/del>di tengah-tengah masyarakat bangsa ini, mulai sebagai alat untuk meraup keuntungan, alat komunikasi, sebagai teman sampai menjadi simbol pergerakan. <\/p>\n\n\n\n

Kretek, Simbol Perlawanan Roro Mendut<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Siapa yang tidak pernah mendengan cerita tentang Roro Mendut?, di telinga masyarakat Indonesia, kisah Roro Mendut tidak asing lagi.  Perempuan yang mempunyai paras wajah cantik, dan digandrungi kaum adam terutama kalangan putra kerajaan. Informasi kecantikan Roro Mendut tersebar seantero Nusantara, tidak satupun pria meragukan kecantikannya.  Bahkan kisah dan cerita kecantikan Roro Mendut tercatat dalam buku Babad Tanah Jawi. <\/p>\n\n\n\n

Diperkirakan pada tahun 1627, pada saat panglima perang Sultan Agung Mataram bernama Tumenggung Wiraguna berhasil menumpas pemberontakan di kota Pati, sebagai imbalanan atas keberhasilannya, mendapat hadiah wanita pujaan pria bernama Rara Mendut dari Kasultanan Agung Mataram.  Roro Mendut menolak dipinang Tumenggung Wiraguna, dan secara terang-terangan memilih pria lain dambaannya. Akibatnya, Roro Mendut harus membayar pajak setiap harinya kepada kerajaan Mataram. <\/p>\n\n\n\n

Bisa dibayangkan, betapa bingungnya Roro Mendut saat itu. Uang dari mana, ia hasilkan untuk bayar pajak tiap hari demi bisa bersama kekasihnya. Ternyata Roro Mendut tidak hanya cantik tetapi cerdas dan kreatif, bisa membaca peluang bisnis saat itu. Ide cermerlang muncul dengan berdagang\/berjualan rokok lintingan yang direkatkan dengan air ludahnya, dan sebelum menjualnya, rokok lintingan di sulut dahulu dan dihisap bekas bibir merahnya. Kemudian baru dijual ke pembeli yang berdesakan berjejer antri. <\/p>\n\n\n\n

Entah dari mana ide menjual rokok itu muncul. Yang jelas saking larisnya, kewajiban pajak Roro Mendut terpenuhi. Dan mungkin keadaannya akan lebih parah, jika saat itu Roro Mendut tidak berdagang rokok. Tidak akan terpenuhi kewajiban pajaknya. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Dengan rokok, hidup Roro Mendut terselamatkan. Adanya rokok, \u00a0Roro Mendut bebas dari belenggu kekuasaan. Berkat rokok, Roro Mendut terkengan, mengisi rubik informasi sejarah begitu kuatnya budaya merokok di \u00a0Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Pusaka Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek, Teman Perjuangan  Diponegoro<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Semasa berjuang melawan penjajah, yang harus dilakukan Diponegoro berpindah-pindah dari kota satu ke kota lain. Strategi perlawanan Diponegoro, kemudian sebagai basis strategi perang gerilya. Strategi yang menjadi idola dan kebanggaan tentara Indonesia. Dengan bergerilya, tentara Indonesia mampu mengecoh kekutan lawan yang lebih besar jumlahnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu, tenyata banyak cerita, Diponegoro saat berperang ditemani rokok. Ia dan pasukannya gemar merokok. Bahkan ketika tidak ada rokok, Pangeran Diponegoro rela hanya megunyah daun sirih yang diracik dengan kapur dan pinang. <\/p>\n\n\n\n

Kebiasaan ini, juga dialami oleh pengikut \/pasukan perang Pangeran Diponegoro. Bagi mereka, rokok teman sejati, menemani disetiap perjalanan mereka. Rokok menghilangkan depresi mereka, sebagai hiburan saat jauh dari keluarga demi berjuang melawan penjajah. Rokok menumbuhkan percaya diri mereka, lebih berani melawan penjajah walaupun hanya dengan serba keterbatasan, pasukan jumlah terbatas, alat perang terbatas dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Baca juga: Pangeran Diponegoro, Rokok Klobot dan Perlawanan Simbolis<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Jati Diri Bangsa<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Salah satu \u201cpendiri bangsa\u201d bernama KH. Agus Salim menghisap kretek dengan asapnya di kebal-kebulkan keudara, disaat ada perjamuan di Istana Buckingham ketika penobatan Elizabeth II sebagai Ratu kerajaan Inggris. Aroma khas keluar dari asap rokok kretek, tercium orang yang berada di ruang perjamuan. Sehingga memancing salah satu orang yang datang dalam perjamuan, dengan berkata; \u201ctuan sedang menghisap apa itu?\u201d.  Sentak KH. Agus Salim menjawab, \u201c inilah yang membuat nenek moyang anda sekian abad lalu datang dan kemudian menjajah negeri kami\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Jawaban KH. Agus Salim, faktanya memang benar. Rokok kretek tidak lain ada tambahan cengkeh (suzygium aromaticum<\/em>). \u00a0Tanaman legendaris menjadi rebutan dan sumber keuntungan kolonialisme Eropa atas Asia termasuk Indonesia. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Cengkeh adalah salah satu tanaman yang diperebutkan bangsa-bangsa dunia, sampai melegalkan penjajahan.  Dalam simpulan perjalanan ekspedisi cengkeh tahun 2013, Kepala Suku begitu julukan bagi Putut Ea, mengatakan \u201c jika saja tak pernah ada cengkeh dan pala di Maluku, mungkin sejarah kepulauan Nusantara ini akan berbeda sama sekali\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Simpulan Putut EA, sebagai salah satu pembenar perkataan \u00a0KH. Agus Salim. Mungkin, jika tanaman cengkeh tidak ada, fakta sejarah akan berbeda, tidak ada penjajahan di bumi Nusantara ini. <\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Mengisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek untuk Berteman dan Menjalin Persaudaraan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Teringat apa yang pernah dilakukan Menteri Sosial dan Lingkungan Hidup, saat melakukan pendekatan pada suku anak dalam di Jambi. Tidak lain ia adalah Khofifah menteri perempuan yang energik. Saat itu Khofifah bertanggungjawab dalam mengatasi masalah pendidikan dan kesejahteraan masyarakat suku anak dalam di Jambi.  <\/p>\n\n\n\n

Kebijakannya membuat fenomenal, selain bahan makanan, dan bantuan lain, khofifah juga membawa rokok.  Yang kemudian ada yang mengggugat dari anti rokok, tetapi sebagai Menteri, Khofifah tentunya sudah mengkaji secara mendalam. Dengan kecerdasannya , Khofifah menjawab dengan tegas dan lugas, \u201cjangan sok tahu kehidupan mereka, kenali apa yang menjadi ritme kehidupan mereka. Sangat bijaksana kalau kita semua pergi kesana, sehingga tahu adat istiadatnya juga. Tolong kalau ingin mengerti tentang kultur jangan hanya dari kacamata Jakarta. Saya pun ingin mengajak anda kesana, turun kesana, sapalah mereka\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Khofifah memberikan pelajaran bagi anti rokok. Tidak boleh sok tahu, apalagi selama ini antirokok hanya berasumsi, tanpa melihat fakta dilapangan. Khofifah juga menganjurkan agar lebih mengenal adat-istiadat, budaya dan tradisi masyarakat, tidak boleh melakukan hegemoni kultural, sebab keberagaman adat-istiadat dan budaya merupakan kekayaan negeri. <\/p>\n\n\n\n

Pelajaran Khofifah sangat mendalam dan bercirikhas Nusantara. Sebgaai Menteri \u00a0Sosial tentunya lebih berpengalaman apa yang dibutuhkan bangsa ini agar tetap jaya, bersatu dan utuh. Kenali perbedaan, hormati perbedaan, junjung tinggi budaya yang berbeda. \u00a0Apa yang telah dilakukan Khofifah dengan membawa rokok ke suku anak dalam adalah cermin penghormatan tradisi dan budaya masyarakat. Sebagai seorang Mentri, tentunya punya kuasa, artinya bisa seorang khofifah memberikan bantuan sesuai keinginannya sendiri, namun hal itu tidak dilakukan. Ia lebih mengedepankan penghormatan budaya masyarakat setempat, dengan membawa rokok untuk pendekatan dan pertemanan. Karena Khofifah tahu betul, bahwa merokok adalah budaya mereka, yang diwaris dari neneng moyang mereka. <\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Memilih Jalan Hidup Menikmati Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Simbol Pergerakan Nasional     <\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Abdul Rifa\u2019I dalam media bintang timur terbit pada 03 Oktober 1927, mengatakan, \u201ckopinya bukan kopi saringan, tetapi kopi tubruk sebab kopi ini katanya nationaal, gulanya gula jawa, susu tidak dipakai karena tidak nationaal. Rokoknya kelobot, selamatan natioanaal ini terus berlangsung ed sampai pagi hari\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Semangat nasionalisme harus tertanam, mengedepankan produk lokal adalah salah satu semangat nasionalime. Salah satu keberadaan rokok klobot menjadi ciri produk asli indonesia dan harus dilestarikan. Klobot sendiri adalah ramuan tembakau dan cengkeh di gulung memakai daun jagung, embrio perkembangan menjadi rokok sigaret kretek tangan dan sigaret kretek mesin.  
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pusaran Budaya Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pusaran-budaya-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-04 08:40:41","post_modified_gmt":"2019-02-04 01:40:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5406","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5403,"post_author":"919","post_date":"2019-02-03 09:05:50","post_date_gmt":"2019-02-03 02:05:50","post_content":"\n

Seringkali saya menyaksikan berbagai film baik itu Eropa atau Asia yang menggambarkan tentang masa depan. Pemandangan soal masa depan tersebut dihadirkan dengan gambaran kecanggihan teknologi seperti robot yang akan membantu kehidupan manusia, gedung-gedung yang tingginya sudah amat tak bisa ditandingi,  hingga mobil-mobil yang bisa terbang. <\/p>\n\n\n\n

Pernah dalam masa kecil saya menyaksikan sebuah film animasi buatan jepang yang mempertanyakan tentang makanan di masa depan. Dengan santai salah satu tokoh yang berasal dari masa depan itu menjawab bahwa suatu saat nanti manusia akan mengonsumsi makanan berupa pasta gigi namun dengan rasa yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa, aneh!<\/p>\n\n\n\n

Seiring waktu berjalan saya kian tumbuh dewasa dan punya kesadaran untuk memilih menjadi seorang perokok<\/a>. Saya juga melihat ada sebuah inovasi dan gambaran tentang masa depan yang hadir dalam kehidupan sekarang. Banyak memang, namun yang menyita perhatian saya adalah rokok elektrik atau yang populer disebut Vape. Konon katanya ia adalah produk inovasi untuk menjembatani kebutuhan menghisap asap dan kecanggihan masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Di awal kehadirannya Vape memang mengundang decak kekaguman saya. Bagaimana bisa sebuah mesin kecil mengeluarkan asap yang katanya lebih menyehatkan daripada rokok.<\/strong> Meski pada akhirnya teori tersebut juga bisa dibantah oleh beberapa ilmuan dunia. Tapi ada satu yang saya amati selain soal kesehatan, rokok elektrik rupanya menghadirkan kultur dan budaya baru dalam kehidupan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: LAGI-LAGI IKLAN ROKOK, KAPAN KPAI TIDAK TEBANG PILIH? <\/a><\/h4>\n\n\n\n

Kehadiran teknologi memang kerap sedikit atau benyak mengubah gaya atau kultur suatu masyarakat. Begitu pula yang saya perhatikan dengan rokok elektrik. Satu hal yang mudah diamati adalah menjamurnya toko-toko kecil yang menjual vape serta liquid di berbagai tempat. Sebagai sebuah warna baru dalam masyarakat, penggunanya ramai-ramai mengunjungi tempat tersebut berinteraksi dengan penikmat lainnya dan membangun sebuah rumah komunitas yang fleksibel.<\/p>\n\n\n\n

Meski belum bisa dikatakan memiliki jumlah penikmat yang setara dengan para perokok, pengguna Vape mulai menunjukkan eksistensinya. Selain toko yang tersebar, ragam acara juga mereka buat di beberapa daerah. Dalam lingkungan saya, beberapa teman yang dulunya merupakan perokok aktif tertarik mengikuti event tersebut dan beralih mengisap rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Nun jauh di sana, di Amerika Serikat tepatnya, budaya Vape juga sudah mulai berkembang lama ketimbang di Tanah Air. Penikmatnya terbagi menjadi dua, ada yang dulunya bekas perokok dan ada yang memang menikmatinya sebagai gaya hidup. Wajar saja mengingat facebook tak memperbolehkan iklan tembakau di platform mereka, sebaliknya iklan tentang vape justru bertebaran. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi budaya baru yang berkembang di berbagai belahan dunia bahkan di Indonesia, Vape konon menjadi alternatif yang lebih bermanfaat daripada rokok. Dalih yang diusung selalu sama kepada para perokok tradisonal yaitu soal kesehatan dan lebih irit. Soal kesehatan tentu ada beberapa pendapat para ilmuan yang membantahnya, namun soal irit, saya rasa tidak. Memang satu liquid bisa digunakan untuk beberapa Minggu, akan tetapi yang saya lihat di lapangan justru sebaliknya. <\/p>\n\n\n\n

Beberapa penikmat rokok elektrik kerap berbelanja liquid yang mereka idamkan. Terkadang, hal tersebut yang membuat mereka boros karena terus mengeksplor rasa mana yang mereka idam-idamkan. Tak jarang juga liquid dengan harga mahal hingga ratus ribuan akan mereka beli. Sebaliknya, para perokok konvensional justru kerap bertahan dengan satu rasa atau merek saja.<\/p>\n\n\n\n

Sedikit berbeda dengan penikmat rokok konvensional atau kretek. Mengingat rokok kretek sudah menjadi kebudayan lokal yang terus dipertahankan selama bertahun-tahun, kehadirannya sudah mewarnai khasanah keindonesiaan. Perokok kretek juga sudah punya soliditas luar biasa yang terbentuk sejak lama dan terus terbangun mengiringi peradaban di Indonesia atau dunia.<\/p>\n\n\n\n

Kini, perokok elektrik mulai merasakan kegelisahan. Beberapa negara mulai menerapkan peraturan ketat terhadap Vape, sedangkan di Indonesia biaya cukai pun kini mulai diberlakukan terhadap perdagangan rokok elektrik. Keberadaannya di mata negara pun mulai dianggap sama seperti rokok, meski pada awalnya rokok elektrik hadir dengan slogan-slogan produk alternatif yang lebih menyehatkan (katanya).<\/p>\n\n\n\n


Tapi jika kemudian di masa depan memang rokok elektrik yang kemudian menjadi sesuatu yang populer dan dinikmati banyak orang. Rasanya saya tetap ingin hidup di jaman ini, dengan sebatang kretek di tangan dan menikmati segala khasanah kebudayaan yang patut terus dipertahankan. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"masa-depan-rokok-elektrik-dan-semangat-alternatif-yang-sia-sia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-03 09:05:56","post_modified_gmt":"2019-02-03 02:05:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5403","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5385,"post_author":"883","post_date":"2019-02-02 08:01:01","post_date_gmt":"2019-02-02 01:01:01","post_content":"Pada tahun 2014, perusahaan rokok multinasional Philip Morris Internasional Inc. merilis sebuah produk <\/span>perangkat\u00a0<\/span>
rokok<\/span><\/a>\u00a0tanpa asap, yang dipanaskan bukan dibakar atau istilahnya\u00a0<\/span>heat not burn<\/i><\/strong>\u00a0(HNB) iQOS<\/strong>. <\/span>\r\n\r\nPerangkat rokok tanpa asap dengan nama iQOS<\/a> ini berbentuk seperti bagian luar pulpen, dengan lubang di tengah untuk rokok. Produk yang berada di bawah brand Marlboro ini dapat memanaskan rokok sampai 350 derajat celcius lalu mengeluarkan uap nikotin beraroma tembakau<\/em><\/a>.<\/span>\r\n

Produk iQOS sebenarnya bukanlah produk rokok tanpa asap yang pertama muncul. Sebelumnya di tahun 1990-an, Reynolds Tobacco Co pernah merilis produk serupa bernama Eclipes yang juga dapat menguapkan nikotin setelah dinyalakan dengan korek api.<\/span><\/blockquote>\r\nSelain itu, Eclips juga dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. Namun, pada saat itu Eclips tidak diminati oleh pasar, utamanya para perokok konvensional. Meskipun Eclips dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. <\/span>\r\n\r\nBisnis semacam rokok tanpa asap seperti Eclips dan iQOS memang sudah menjadi bagian dari rencana panjang bisnis perusahaan-perusahaan rokok multinasional. Jadi tidak usah heran jika ke depannya akan kita akan banyak menemukan produk rokok tanpa asap ini.<\/span>\r\n\r\nWatak dari perusahaan multinasional memang seperti itu, mereka sangat jeli melihat peluang pasar ke depannya. Ketika market place perusahaan rokok multinasional saat ini terus dirongrong oleh kelompok antirokok, mereka tak kehabisan akal. Maka kemudian mereka menginovasi produk rokok konvensional menjadi rokok yang tidak berasap. Begitupun dengan mengikutsertakan jargon-jargon kesehatan dalam narasi promosi mereka.<\/span>\r\n\r\nSesungguhnya memang seperti itulah watak bisnis perusahaan-perusahaan multinasional, melakukan segala cara agar bisnis mereka tetap bertahan, meskipun harus merangkul musuh sekalipun. <\/span>\r\n\r\nYa kadang pura-pura berantem sama antirokok, tapi dibalik itu sebenarnya baik-baik saja, dan tentunya ada kompromi untuk terus melanggengkan bisnis mereka.<\/span>\r\n

Lalu siapa yang dirugikan dari permainan bisnis macam produk rokok tanpa asap perusahaan rokok multinasional ini?<\/span><\/h3>\r\nTentunya yang sangat dirugikan adalah produk hasil tembakau yang memiliki kekhasan seperti kretek di Indonesia. Kretek sebagai produk khas asli Indonesia yang menjadi bagian dari warisan kebudayaan tidak mungkin bertransformasi menjadi produk-produk elektrik dan sejenisnya.<\/span>\r\n\r\nKretek tetaplah kretek, dengan bahan baku alami tembakau dan cengkeh yang tidak diintervensi dengan zat atau perangkat penghantar lainnya. Karena dengan bentuk, karakter dan cara menikmatinya memang konvensional dan akan terus begitu apapun kondisi dan zamannya.<\/span>\r\n
Bisnis produk rokok tanpa asap (elektrik) juga menghajar kretek dengan mendompleng isu pengendalian tembakau. Kampanye pengendalian tembakau selalu membawa slogan bahaya merokok dan upaya untuk berhenti merokok. <\/span><\/blockquote>\r\nDari isu tersebut, rokok elektrik masuk dengan citra produk alternatif tembakau, bahkan mereka tak segan menilai bahwa rokok elektrik lebih aman ketimbang rokok konvensional, yakni kretek.<\/span>\r\n\r\nLalu jika Indonesia akan dibanjiri dengan produk-produk yang mengatasnamakan produk alternatif tembakau, macam rokok tanpa asap (iQOS dan sejenisnya), maka itulah pertanda bahwa kretek harus tergerus dari cara hidup manusia Indonesia dalam menikmati produk hasil tembakau khas Indonesia yang sudah turun-temurun lamanya dinikmati manusia Indonesia.<\/span>","post_title":"Nasib Kretek di Pusaran Pertarungan Bisnis Global Perusahaan Rokok Multinasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"nasib-kretek-di-pusaran-pertarungan-bisnis-global-perusahaan-rokok-multinasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-02 08:01:43","post_modified_gmt":"2019-02-02 01:01:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5385","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; \n

Gelombang reformasi sistem politik dan hukum nasional yang dimulai pada tahun 1998, akhirnya menjungkalkan rezim Soeharto dan BPPC dibubarkan, Pelan tapi pasti, harga cengkeh kembali merangkak naik, sehingga pada tahun 2012, bahkan melewati angka Rp 200.000 per kilogram. Para petani cengkeh di seluruh negeri kembali tersenyum. Tetapi, sampai kapan? <\/p>\n\n\n\n

Catatan:<\/strong><\/p>\n\n\n\n

[1] Beberapa sumber menyebutkan bahwa kata \u2018cengkeh\u2019 dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Mandarin, tkeng-his atau xi\u2019jia, yang berarti \u2018rempah [berbentuk mirip] paku\u2019 (scented nails). Ini menunjukkan bahwa cengkeh sudah dikenal sejak lama oleh bangsa Cina --diketahui sejak abad-2-- jauh sebelum orang Eropa mengenalnya ((lihat, misalnya: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n\n\n\n

[2] Catatan-catatan para biarawan Fransiskan --yang disalin dan dikutip oleh van Frassen-- bahkan menyebut cengkeh sebagai salah satu bahan utama pengawet mumi para Fir\u2019aun, penguasa Mesir Kuno. Beberapa pakar sejarah dan arkeologi menyatakan bahwa rempah-rempah Maluku bahkan sudah ditemukan artefaknya di Lembah Mesopotomia (wilayah Iraq dan sekitarnya sekarang) pada 3.000 tahun sebelum Masehi. (lihat, antara lain: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n\n\n\n

[3] Uraian lebih rinci sejarah kolonialisme rempah-rempah Nusantara ini, terutama oleh Belanda dan Portugis, dapat dibaca pada beberapa sumber kepustakaan yang sudah dikenal luas, antara lain: Glamann (1958) dan Boxer (1965 dan 1969). Dalam risalah klasik Pires disebutkan bahwa pada tahun 1512-1521 saja, jumlah produksi cengkeh di Maluku sudah mencapai 7.250 bahar per tahun, terbesar adalah di Makian serta Amboina dan Lease (masing-masing 1.500 bahar)(Pires, 1512-1515).<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem Topatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-10 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-02-10 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5425","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5415,"post_author":"878","post_date":"2019-02-07 12:15:55","post_date_gmt":"2019-02-07 05:15:55","post_content":"\n

Belakangan ini, ketika musim hujan tiba, di Kabupaten Temanggung, Kabupaten Jember, dan beberapa wilayah sentra pertanian tembakau lainnya, hampir mustahil menemukan tanaman tembakau tumbuh di lahan-lahan milik petani. Di wilayah-wilayah tersebut, citra sebagai sentra pertanian tembakau seakan menguap. Lahan-lahan yang ada di sana, sama sekali tidak ditumbuhi tanaman tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Kabar ini bisa jadi dianggap sebagai kabar gembira bagi mereka yang menganggap diri dan kelompoknya anti-rokok dan anti-tembakau yang selalu mengampanyekan sikap-sikap mereka terkait kebencian kepada tembakau dan aktivitas merokok. Setelah sekian lama berjuang, akhirnya perjuangan mereka dirasa berhasil usai menyaksikan fenomena lahan-lahan di wilayah yang dianggap sentra pertanian tembakau pada hari-hari belakangan ini.<\/p>\n\n\n\n

Baca juga: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tak sia-sia turun ke jalan, tak sia-sia melakukan lobi-lobi ke penguasa, tak sia-sia mengucurkan uang yang tidak sedikit, dan tak sia-sia mempermalukan diri dengan mengemis ke lembaga donor asing dan menggondol uang dari cukai tembakau untuk mengampanyekan gerakan anti-rokok dan anti-tembakau. Tak sia-sia. Karena perjuangan sepertinya berhasil.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Kampanye-kampanye gerakan mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya, sepertinya juga sangat berhasil. Bagaimana tidak? Wilayah-wilayah yang sebelumnya penuh dengan tanaman tembakau dan bergeliat dengannya, kini lahan-lahannya sudah berganti dengan tanaman lain. Sebuah keberhasilan yang menggembirakan. Begitu mungkin pikir mereka para yang menganggap dirinya pejuang anti-rokok dan anti-tembakau. Dan tentu saja mereka akan kecele dan kita akan menertawakan hal itu.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, mereka yang menganggap dirinya anti-rokok dan anti-tembakau tidak menyaksikan langsung fenomena ini di lapangan, di lahan-lahan yang peruntukannya berubah pada hari-hari belakangan ini ketika memasuki musim hujan. Mereka asyik duduk pada kursi empuk di ruang-ruang nyaman ber-AC di kota-kota yang jauh dari kultur pertanian. Mereka menyengajakan diri menjadi elit dan enggan untuk turun melihat langsung ke lapangan. Kalaupun ada yang turun langsung ke lapangan, hanya segelintir saja dari mereka, itupun sekadar formalitas saja. Tak pernah benar-benar mau turun ke lapangan, hidup dan merasakan langsung kultur pertanian tembakau dalam jangka waktu cukup lama di lapangan.<\/p>\n\n\n\n

Baca juga: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Fenomena ini membikin kita tak bisa melihat mereka para anti-rokok kecele lalu menertawakan mereka.<\/strong> Fenomena keengganan terjun langsung ke lapangan terlebih mencoba mendengar mereka yang tetap menanam tembakau, juga menjalani keseharian dalam waktu cukup lama bersama petani tembakau inilah yang saya kira menjadikan mereka tetap keras kepala untuk anti-rokok dan anti-tembakau. Karena jika mereka mau melakukan itu, saya yakin mereka semua tidak akan begitu kaku dalam memandang pertanian tembakau dan produk hasil industri tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu yang selalu mereka kampanyekan dan ngotot dengan itu, terkait hulu pertanian tembakau adalah mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya. Mereka berargumen banyak tanaman lain yang bisa semenguntungkan tanaman tembakau. Keengganan mereka terjun langsung ke lapangan inilah yang membikin mereka buta dengan kondisi pertanian tembakau dan pada akhirnya terus menerus mengampanyekan pergantian tanaman tembakau dengan tanaman lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca juga: Imanlah kepada Allah, Bukan Antirokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tembakau tanaman yang khas. Ia hanya tumbuh baik sepanjang empat hingga lima bulan dalam satu tahun. Tumbuh-kembang tanaman tembakau dengan baik itu umumnya terjadi pada musim kemarau setiap tahunnya. Hanya sedikit sekali jenis tembakau yang tumbuh baik di musim penghujan, mayoritasnya, tumbuh baik pada musim kemarau.<\/p>\n\n\n\n

Jika ditanam pada musim hujan, hampir bisa dipastikan tanaman tembakau akan gagal menghasilkan daun-daun yang berkualitas. Ia akan rusak dan membusuk karena terlalu banyak terkena air sehingga daun-daun itu tak layak dijual. Jangankan bisa dijual, untuk tumbuh dengan baik pun sepertinya sulit karena musim hujan akan membunuh banyak tanaman itu.<\/p>\n\n\n\n

Maka, tak heran pada musim-musim seperti saat ini, ketika musim penghujan mendekati puncaknya, di wilayah-wilayah yang dikenal sebagai sentra pertanian tembakau, sulit menemukan pohon tembakau yang sedang tumbuh. Pada lahan-lahan yang sebelumnya ditumbuhi tanaman tembakau pada musim panas, berganti tanaman-tanaman lain yang bermacam-macam, sesuai dengan kondisi lahannya. Untuk lahan sawah, lahan-lahan itu pada musim penghujan kini ditumbuhi tanaman padi yang subur. Pada lahan tegalan dan lahan di pegunungan, lahan-lahan yang ditanami tembakau pada musim kemarau, saat ini ditumbuhi bermacam jenis tanaman mulai dari cabai, bawang, tomat, kol, terong, mentimun, dan ragam jenis tanaman semusim lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Uniknya, tipikal tanaman tembakau yang tumbuh baik di musim kemarau ini memberi pilihan lebih kepada para petani. Lahan-lahan yang sulit ditanami pada musim kemarau, pada akhirnya masih bisa tetap produktif dengan keberadaan tanaman tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Maka, kampanye aneh mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain dengan ragam rupa dalih yang membingungkan, bukan saja sama sekali tidak tepat dan asal-asalan, namun bisa jadi akan ditertawakan oleh para petani yang begitu paham dengan kondisi lahan dan terutama kondisi iklim dan cuaca. Sulit mencari tanaman semusim yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Jika pun ada, tak ada yang semenguntungkan tanaman tembakau.
<\/p>\n","post_title":"Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"keberhasilan-gerakan-anti-tembakau-tak-ada-tembakau-saat-musim-hujan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-07 12:16:02","post_modified_gmt":"2019-02-07 05:16:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5415","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5409,"post_author":"919","post_date":"2019-02-05 08:04:43","post_date_gmt":"2019-02-05 01:04:43","post_content":"\n

Tahun Baru Imlek yang merupakan tradisi Bangsa Tiongkok kini sudah tak lagi menjadi hal yang asing bagi masyarakat Indonesia. Kehadirannya sudah mewarnai dan berakulturasi dengan tradisi lokal. Menjelang Tahun Baru Imlek. Berbagai hiasan dan kemeriahan terjadi beberapa titik di Tanah Air. Perayaannya juga menjadi destinasi baru yang mengasyikkan untuk dilihat dan patut disaksikan.<\/p>\n\n\n\n

Berterimakasihlah kepada sang bapak bangsa, KH Abdurrahman Wahid atau yang dikenal dengan nama Gus Dur. Berkat kebijakannya saat menjadi Presiden Indonesia, Tahun Baru Imlek resmi dijadikan hari libur nasional dan dianggap sebagai salah satu hari raya di Tanah Air. Meski sentimen antitionghoa masih ada di sana-sini, tapi tetap tak bisa dipungkiri bahwa bangsa tionghoa sudah bersentuhan dengan budaya lokal dalam kurun waktu yang sangat panjang.<\/p>\n\n\n\n

DNA Bangsa Tionghoa yang memang merupakan pedagang menjadi pembuka kisah interaksi antara nenek moyang berbagai suku di Nusantara dengan mereka. Beberapa kelenteng-kelenteng yang tersebar pada berbagai pesisir daerah di Nusantara jadi buktinya. Pelabuhan-pelabuhan tua di tanah air dan ramainya perdagangan di pesisir mempermudah bangsa kita berhubungan dengan Bangsa Tionghoa.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Wong Kalang dan Kota Gede<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa kehadiran Bangsa Tionghoa di Nusantara tak hanya sebagai pedagang, namun juga sebagai pekerja (bahkan hingga pekerja kasar). Benny Setiono, seorang sejarahwan menyebutkan bahwa antara tahun 1760-1770 dalam jumlah yang besar memasuki nusantara melalui Kalimantan Barat. Mereka bekerja sebagai kuli pertambangan di sana dan di kemudian hari membentuk sebuah republik bernama Republik Lanfang yang konon katanya menjadi republik pertama di Asia Tenggara.<\/p>\n\n\n\n

Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Imlek dan Indonesia<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n\n\n\n

Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
<\/p>\n","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5406,"post_author":"877","post_date":"2019-02-04 08:23:48","post_date_gmt":"2019-02-04 01:23:48","post_content":"\n

Merokok itu sudah menjadi bagian dari budaya dan tradisi masyarakat, jauh sebelum Indonesia merdeka. Banyak cerita atau kisah tentang kretek <\/a><\/del>di tengah-tengah masyarakat bangsa ini, mulai sebagai alat untuk meraup keuntungan, alat komunikasi, sebagai teman sampai menjadi simbol pergerakan. <\/p>\n\n\n\n

Kretek, Simbol Perlawanan Roro Mendut<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Siapa yang tidak pernah mendengan cerita tentang Roro Mendut?, di telinga masyarakat Indonesia, kisah Roro Mendut tidak asing lagi.  Perempuan yang mempunyai paras wajah cantik, dan digandrungi kaum adam terutama kalangan putra kerajaan. Informasi kecantikan Roro Mendut tersebar seantero Nusantara, tidak satupun pria meragukan kecantikannya.  Bahkan kisah dan cerita kecantikan Roro Mendut tercatat dalam buku Babad Tanah Jawi. <\/p>\n\n\n\n

Diperkirakan pada tahun 1627, pada saat panglima perang Sultan Agung Mataram bernama Tumenggung Wiraguna berhasil menumpas pemberontakan di kota Pati, sebagai imbalanan atas keberhasilannya, mendapat hadiah wanita pujaan pria bernama Rara Mendut dari Kasultanan Agung Mataram.  Roro Mendut menolak dipinang Tumenggung Wiraguna, dan secara terang-terangan memilih pria lain dambaannya. Akibatnya, Roro Mendut harus membayar pajak setiap harinya kepada kerajaan Mataram. <\/p>\n\n\n\n

Bisa dibayangkan, betapa bingungnya Roro Mendut saat itu. Uang dari mana, ia hasilkan untuk bayar pajak tiap hari demi bisa bersama kekasihnya. Ternyata Roro Mendut tidak hanya cantik tetapi cerdas dan kreatif, bisa membaca peluang bisnis saat itu. Ide cermerlang muncul dengan berdagang\/berjualan rokok lintingan yang direkatkan dengan air ludahnya, dan sebelum menjualnya, rokok lintingan di sulut dahulu dan dihisap bekas bibir merahnya. Kemudian baru dijual ke pembeli yang berdesakan berjejer antri. <\/p>\n\n\n\n

Entah dari mana ide menjual rokok itu muncul. Yang jelas saking larisnya, kewajiban pajak Roro Mendut terpenuhi. Dan mungkin keadaannya akan lebih parah, jika saat itu Roro Mendut tidak berdagang rokok. Tidak akan terpenuhi kewajiban pajaknya. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Dengan rokok, hidup Roro Mendut terselamatkan. Adanya rokok, \u00a0Roro Mendut bebas dari belenggu kekuasaan. Berkat rokok, Roro Mendut terkengan, mengisi rubik informasi sejarah begitu kuatnya budaya merokok di \u00a0Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Pusaka Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek, Teman Perjuangan  Diponegoro<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Semasa berjuang melawan penjajah, yang harus dilakukan Diponegoro berpindah-pindah dari kota satu ke kota lain. Strategi perlawanan Diponegoro, kemudian sebagai basis strategi perang gerilya. Strategi yang menjadi idola dan kebanggaan tentara Indonesia. Dengan bergerilya, tentara Indonesia mampu mengecoh kekutan lawan yang lebih besar jumlahnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu, tenyata banyak cerita, Diponegoro saat berperang ditemani rokok. Ia dan pasukannya gemar merokok. Bahkan ketika tidak ada rokok, Pangeran Diponegoro rela hanya megunyah daun sirih yang diracik dengan kapur dan pinang. <\/p>\n\n\n\n

Kebiasaan ini, juga dialami oleh pengikut \/pasukan perang Pangeran Diponegoro. Bagi mereka, rokok teman sejati, menemani disetiap perjalanan mereka. Rokok menghilangkan depresi mereka, sebagai hiburan saat jauh dari keluarga demi berjuang melawan penjajah. Rokok menumbuhkan percaya diri mereka, lebih berani melawan penjajah walaupun hanya dengan serba keterbatasan, pasukan jumlah terbatas, alat perang terbatas dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Baca juga: Pangeran Diponegoro, Rokok Klobot dan Perlawanan Simbolis<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Jati Diri Bangsa<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Salah satu \u201cpendiri bangsa\u201d bernama KH. Agus Salim menghisap kretek dengan asapnya di kebal-kebulkan keudara, disaat ada perjamuan di Istana Buckingham ketika penobatan Elizabeth II sebagai Ratu kerajaan Inggris. Aroma khas keluar dari asap rokok kretek, tercium orang yang berada di ruang perjamuan. Sehingga memancing salah satu orang yang datang dalam perjamuan, dengan berkata; \u201ctuan sedang menghisap apa itu?\u201d.  Sentak KH. Agus Salim menjawab, \u201c inilah yang membuat nenek moyang anda sekian abad lalu datang dan kemudian menjajah negeri kami\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Jawaban KH. Agus Salim, faktanya memang benar. Rokok kretek tidak lain ada tambahan cengkeh (suzygium aromaticum<\/em>). \u00a0Tanaman legendaris menjadi rebutan dan sumber keuntungan kolonialisme Eropa atas Asia termasuk Indonesia. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Cengkeh adalah salah satu tanaman yang diperebutkan bangsa-bangsa dunia, sampai melegalkan penjajahan.  Dalam simpulan perjalanan ekspedisi cengkeh tahun 2013, Kepala Suku begitu julukan bagi Putut Ea, mengatakan \u201c jika saja tak pernah ada cengkeh dan pala di Maluku, mungkin sejarah kepulauan Nusantara ini akan berbeda sama sekali\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Simpulan Putut EA, sebagai salah satu pembenar perkataan \u00a0KH. Agus Salim. Mungkin, jika tanaman cengkeh tidak ada, fakta sejarah akan berbeda, tidak ada penjajahan di bumi Nusantara ini. <\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Mengisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek untuk Berteman dan Menjalin Persaudaraan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Teringat apa yang pernah dilakukan Menteri Sosial dan Lingkungan Hidup, saat melakukan pendekatan pada suku anak dalam di Jambi. Tidak lain ia adalah Khofifah menteri perempuan yang energik. Saat itu Khofifah bertanggungjawab dalam mengatasi masalah pendidikan dan kesejahteraan masyarakat suku anak dalam di Jambi.  <\/p>\n\n\n\n

Kebijakannya membuat fenomenal, selain bahan makanan, dan bantuan lain, khofifah juga membawa rokok.  Yang kemudian ada yang mengggugat dari anti rokok, tetapi sebagai Menteri, Khofifah tentunya sudah mengkaji secara mendalam. Dengan kecerdasannya , Khofifah menjawab dengan tegas dan lugas, \u201cjangan sok tahu kehidupan mereka, kenali apa yang menjadi ritme kehidupan mereka. Sangat bijaksana kalau kita semua pergi kesana, sehingga tahu adat istiadatnya juga. Tolong kalau ingin mengerti tentang kultur jangan hanya dari kacamata Jakarta. Saya pun ingin mengajak anda kesana, turun kesana, sapalah mereka\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Khofifah memberikan pelajaran bagi anti rokok. Tidak boleh sok tahu, apalagi selama ini antirokok hanya berasumsi, tanpa melihat fakta dilapangan. Khofifah juga menganjurkan agar lebih mengenal adat-istiadat, budaya dan tradisi masyarakat, tidak boleh melakukan hegemoni kultural, sebab keberagaman adat-istiadat dan budaya merupakan kekayaan negeri. <\/p>\n\n\n\n

Pelajaran Khofifah sangat mendalam dan bercirikhas Nusantara. Sebgaai Menteri \u00a0Sosial tentunya lebih berpengalaman apa yang dibutuhkan bangsa ini agar tetap jaya, bersatu dan utuh. Kenali perbedaan, hormati perbedaan, junjung tinggi budaya yang berbeda. \u00a0Apa yang telah dilakukan Khofifah dengan membawa rokok ke suku anak dalam adalah cermin penghormatan tradisi dan budaya masyarakat. Sebagai seorang Mentri, tentunya punya kuasa, artinya bisa seorang khofifah memberikan bantuan sesuai keinginannya sendiri, namun hal itu tidak dilakukan. Ia lebih mengedepankan penghormatan budaya masyarakat setempat, dengan membawa rokok untuk pendekatan dan pertemanan. Karena Khofifah tahu betul, bahwa merokok adalah budaya mereka, yang diwaris dari neneng moyang mereka. <\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Memilih Jalan Hidup Menikmati Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Simbol Pergerakan Nasional     <\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Abdul Rifa\u2019I dalam media bintang timur terbit pada 03 Oktober 1927, mengatakan, \u201ckopinya bukan kopi saringan, tetapi kopi tubruk sebab kopi ini katanya nationaal, gulanya gula jawa, susu tidak dipakai karena tidak nationaal. Rokoknya kelobot, selamatan natioanaal ini terus berlangsung ed sampai pagi hari\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Semangat nasionalisme harus tertanam, mengedepankan produk lokal adalah salah satu semangat nasionalime. Salah satu keberadaan rokok klobot menjadi ciri produk asli indonesia dan harus dilestarikan. Klobot sendiri adalah ramuan tembakau dan cengkeh di gulung memakai daun jagung, embrio perkembangan menjadi rokok sigaret kretek tangan dan sigaret kretek mesin.  
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pusaran Budaya Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pusaran-budaya-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-04 08:40:41","post_modified_gmt":"2019-02-04 01:40:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5406","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5403,"post_author":"919","post_date":"2019-02-03 09:05:50","post_date_gmt":"2019-02-03 02:05:50","post_content":"\n

Seringkali saya menyaksikan berbagai film baik itu Eropa atau Asia yang menggambarkan tentang masa depan. Pemandangan soal masa depan tersebut dihadirkan dengan gambaran kecanggihan teknologi seperti robot yang akan membantu kehidupan manusia, gedung-gedung yang tingginya sudah amat tak bisa ditandingi,  hingga mobil-mobil yang bisa terbang. <\/p>\n\n\n\n

Pernah dalam masa kecil saya menyaksikan sebuah film animasi buatan jepang yang mempertanyakan tentang makanan di masa depan. Dengan santai salah satu tokoh yang berasal dari masa depan itu menjawab bahwa suatu saat nanti manusia akan mengonsumsi makanan berupa pasta gigi namun dengan rasa yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa, aneh!<\/p>\n\n\n\n

Seiring waktu berjalan saya kian tumbuh dewasa dan punya kesadaran untuk memilih menjadi seorang perokok<\/a>. Saya juga melihat ada sebuah inovasi dan gambaran tentang masa depan yang hadir dalam kehidupan sekarang. Banyak memang, namun yang menyita perhatian saya adalah rokok elektrik atau yang populer disebut Vape. Konon katanya ia adalah produk inovasi untuk menjembatani kebutuhan menghisap asap dan kecanggihan masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Di awal kehadirannya Vape memang mengundang decak kekaguman saya. Bagaimana bisa sebuah mesin kecil mengeluarkan asap yang katanya lebih menyehatkan daripada rokok.<\/strong> Meski pada akhirnya teori tersebut juga bisa dibantah oleh beberapa ilmuan dunia. Tapi ada satu yang saya amati selain soal kesehatan, rokok elektrik rupanya menghadirkan kultur dan budaya baru dalam kehidupan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: LAGI-LAGI IKLAN ROKOK, KAPAN KPAI TIDAK TEBANG PILIH? <\/a><\/h4>\n\n\n\n

Kehadiran teknologi memang kerap sedikit atau benyak mengubah gaya atau kultur suatu masyarakat. Begitu pula yang saya perhatikan dengan rokok elektrik. Satu hal yang mudah diamati adalah menjamurnya toko-toko kecil yang menjual vape serta liquid di berbagai tempat. Sebagai sebuah warna baru dalam masyarakat, penggunanya ramai-ramai mengunjungi tempat tersebut berinteraksi dengan penikmat lainnya dan membangun sebuah rumah komunitas yang fleksibel.<\/p>\n\n\n\n

Meski belum bisa dikatakan memiliki jumlah penikmat yang setara dengan para perokok, pengguna Vape mulai menunjukkan eksistensinya. Selain toko yang tersebar, ragam acara juga mereka buat di beberapa daerah. Dalam lingkungan saya, beberapa teman yang dulunya merupakan perokok aktif tertarik mengikuti event tersebut dan beralih mengisap rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Nun jauh di sana, di Amerika Serikat tepatnya, budaya Vape juga sudah mulai berkembang lama ketimbang di Tanah Air. Penikmatnya terbagi menjadi dua, ada yang dulunya bekas perokok dan ada yang memang menikmatinya sebagai gaya hidup. Wajar saja mengingat facebook tak memperbolehkan iklan tembakau di platform mereka, sebaliknya iklan tentang vape justru bertebaran. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi budaya baru yang berkembang di berbagai belahan dunia bahkan di Indonesia, Vape konon menjadi alternatif yang lebih bermanfaat daripada rokok. Dalih yang diusung selalu sama kepada para perokok tradisonal yaitu soal kesehatan dan lebih irit. Soal kesehatan tentu ada beberapa pendapat para ilmuan yang membantahnya, namun soal irit, saya rasa tidak. Memang satu liquid bisa digunakan untuk beberapa Minggu, akan tetapi yang saya lihat di lapangan justru sebaliknya. <\/p>\n\n\n\n

Beberapa penikmat rokok elektrik kerap berbelanja liquid yang mereka idamkan. Terkadang, hal tersebut yang membuat mereka boros karena terus mengeksplor rasa mana yang mereka idam-idamkan. Tak jarang juga liquid dengan harga mahal hingga ratus ribuan akan mereka beli. Sebaliknya, para perokok konvensional justru kerap bertahan dengan satu rasa atau merek saja.<\/p>\n\n\n\n

Sedikit berbeda dengan penikmat rokok konvensional atau kretek. Mengingat rokok kretek sudah menjadi kebudayan lokal yang terus dipertahankan selama bertahun-tahun, kehadirannya sudah mewarnai khasanah keindonesiaan. Perokok kretek juga sudah punya soliditas luar biasa yang terbentuk sejak lama dan terus terbangun mengiringi peradaban di Indonesia atau dunia.<\/p>\n\n\n\n

Kini, perokok elektrik mulai merasakan kegelisahan. Beberapa negara mulai menerapkan peraturan ketat terhadap Vape, sedangkan di Indonesia biaya cukai pun kini mulai diberlakukan terhadap perdagangan rokok elektrik. Keberadaannya di mata negara pun mulai dianggap sama seperti rokok, meski pada awalnya rokok elektrik hadir dengan slogan-slogan produk alternatif yang lebih menyehatkan (katanya).<\/p>\n\n\n\n


Tapi jika kemudian di masa depan memang rokok elektrik yang kemudian menjadi sesuatu yang populer dan dinikmati banyak orang. Rasanya saya tetap ingin hidup di jaman ini, dengan sebatang kretek di tangan dan menikmati segala khasanah kebudayaan yang patut terus dipertahankan. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"masa-depan-rokok-elektrik-dan-semangat-alternatif-yang-sia-sia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-03 09:05:56","post_modified_gmt":"2019-02-03 02:05:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5403","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5385,"post_author":"883","post_date":"2019-02-02 08:01:01","post_date_gmt":"2019-02-02 01:01:01","post_content":"Pada tahun 2014, perusahaan rokok multinasional Philip Morris Internasional Inc. merilis sebuah produk <\/span>perangkat\u00a0<\/span>
rokok<\/span><\/a>\u00a0tanpa asap, yang dipanaskan bukan dibakar atau istilahnya\u00a0<\/span>heat not burn<\/i><\/strong>\u00a0(HNB) iQOS<\/strong>. <\/span>\r\n\r\nPerangkat rokok tanpa asap dengan nama iQOS<\/a> ini berbentuk seperti bagian luar pulpen, dengan lubang di tengah untuk rokok. Produk yang berada di bawah brand Marlboro ini dapat memanaskan rokok sampai 350 derajat celcius lalu mengeluarkan uap nikotin beraroma tembakau<\/em><\/a>.<\/span>\r\n

Produk iQOS sebenarnya bukanlah produk rokok tanpa asap yang pertama muncul. Sebelumnya di tahun 1990-an, Reynolds Tobacco Co pernah merilis produk serupa bernama Eclipes yang juga dapat menguapkan nikotin setelah dinyalakan dengan korek api.<\/span><\/blockquote>\r\nSelain itu, Eclips juga dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. Namun, pada saat itu Eclips tidak diminati oleh pasar, utamanya para perokok konvensional. Meskipun Eclips dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. <\/span>\r\n\r\nBisnis semacam rokok tanpa asap seperti Eclips dan iQOS memang sudah menjadi bagian dari rencana panjang bisnis perusahaan-perusahaan rokok multinasional. Jadi tidak usah heran jika ke depannya akan kita akan banyak menemukan produk rokok tanpa asap ini.<\/span>\r\n\r\nWatak dari perusahaan multinasional memang seperti itu, mereka sangat jeli melihat peluang pasar ke depannya. Ketika market place perusahaan rokok multinasional saat ini terus dirongrong oleh kelompok antirokok, mereka tak kehabisan akal. Maka kemudian mereka menginovasi produk rokok konvensional menjadi rokok yang tidak berasap. Begitupun dengan mengikutsertakan jargon-jargon kesehatan dalam narasi promosi mereka.<\/span>\r\n\r\nSesungguhnya memang seperti itulah watak bisnis perusahaan-perusahaan multinasional, melakukan segala cara agar bisnis mereka tetap bertahan, meskipun harus merangkul musuh sekalipun. <\/span>\r\n\r\nYa kadang pura-pura berantem sama antirokok, tapi dibalik itu sebenarnya baik-baik saja, dan tentunya ada kompromi untuk terus melanggengkan bisnis mereka.<\/span>\r\n

Lalu siapa yang dirugikan dari permainan bisnis macam produk rokok tanpa asap perusahaan rokok multinasional ini?<\/span><\/h3>\r\nTentunya yang sangat dirugikan adalah produk hasil tembakau yang memiliki kekhasan seperti kretek di Indonesia. Kretek sebagai produk khas asli Indonesia yang menjadi bagian dari warisan kebudayaan tidak mungkin bertransformasi menjadi produk-produk elektrik dan sejenisnya.<\/span>\r\n\r\nKretek tetaplah kretek, dengan bahan baku alami tembakau dan cengkeh yang tidak diintervensi dengan zat atau perangkat penghantar lainnya. Karena dengan bentuk, karakter dan cara menikmatinya memang konvensional dan akan terus begitu apapun kondisi dan zamannya.<\/span>\r\n
Bisnis produk rokok tanpa asap (elektrik) juga menghajar kretek dengan mendompleng isu pengendalian tembakau. Kampanye pengendalian tembakau selalu membawa slogan bahaya merokok dan upaya untuk berhenti merokok. <\/span><\/blockquote>\r\nDari isu tersebut, rokok elektrik masuk dengan citra produk alternatif tembakau, bahkan mereka tak segan menilai bahwa rokok elektrik lebih aman ketimbang rokok konvensional, yakni kretek.<\/span>\r\n\r\nLalu jika Indonesia akan dibanjiri dengan produk-produk yang mengatasnamakan produk alternatif tembakau, macam rokok tanpa asap (iQOS dan sejenisnya), maka itulah pertanda bahwa kretek harus tergerus dari cara hidup manusia Indonesia dalam menikmati produk hasil tembakau khas Indonesia yang sudah turun-temurun lamanya dinikmati manusia Indonesia.<\/span>","post_title":"Nasib Kretek di Pusaran Pertarungan Bisnis Global Perusahaan Rokok Multinasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"nasib-kretek-di-pusaran-pertarungan-bisnis-global-perusahaan-rokok-multinasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-02 08:01:43","post_modified_gmt":"2019-02-02 01:01:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5385","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; \n

Akibatnya, ratusan ribu pohon cengkeh di daerah-daerah penghasil utama --Maluku, Maluku Utara, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Selatan-- ditebangi atau dibiarkan terlantar tak terurus.
<\/p>\n\n\n\n

Gelombang reformasi sistem politik dan hukum nasional yang dimulai pada tahun 1998, akhirnya menjungkalkan rezim Soeharto dan BPPC dibubarkan, Pelan tapi pasti, harga cengkeh kembali merangkak naik, sehingga pada tahun 2012, bahkan melewati angka Rp 200.000 per kilogram. Para petani cengkeh di seluruh negeri kembali tersenyum. Tetapi, sampai kapan? <\/p>\n\n\n\n

Catatan:<\/strong><\/p>\n\n\n\n

[1] Beberapa sumber menyebutkan bahwa kata \u2018cengkeh\u2019 dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Mandarin, tkeng-his atau xi\u2019jia, yang berarti \u2018rempah [berbentuk mirip] paku\u2019 (scented nails). Ini menunjukkan bahwa cengkeh sudah dikenal sejak lama oleh bangsa Cina --diketahui sejak abad-2-- jauh sebelum orang Eropa mengenalnya ((lihat, misalnya: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n\n\n\n

[2] Catatan-catatan para biarawan Fransiskan --yang disalin dan dikutip oleh van Frassen-- bahkan menyebut cengkeh sebagai salah satu bahan utama pengawet mumi para Fir\u2019aun, penguasa Mesir Kuno. Beberapa pakar sejarah dan arkeologi menyatakan bahwa rempah-rempah Maluku bahkan sudah ditemukan artefaknya di Lembah Mesopotomia (wilayah Iraq dan sekitarnya sekarang) pada 3.000 tahun sebelum Masehi. (lihat, antara lain: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n\n\n\n

[3] Uraian lebih rinci sejarah kolonialisme rempah-rempah Nusantara ini, terutama oleh Belanda dan Portugis, dapat dibaca pada beberapa sumber kepustakaan yang sudah dikenal luas, antara lain: Glamann (1958) dan Boxer (1965 dan 1969). Dalam risalah klasik Pires disebutkan bahwa pada tahun 1512-1521 saja, jumlah produksi cengkeh di Maluku sudah mencapai 7.250 bahar per tahun, terbesar adalah di Makian serta Amboina dan Lease (masing-masing 1.500 bahar)(Pires, 1512-1515).<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem Topatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-10 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-02-10 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5425","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5415,"post_author":"878","post_date":"2019-02-07 12:15:55","post_date_gmt":"2019-02-07 05:15:55","post_content":"\n

Belakangan ini, ketika musim hujan tiba, di Kabupaten Temanggung, Kabupaten Jember, dan beberapa wilayah sentra pertanian tembakau lainnya, hampir mustahil menemukan tanaman tembakau tumbuh di lahan-lahan milik petani. Di wilayah-wilayah tersebut, citra sebagai sentra pertanian tembakau seakan menguap. Lahan-lahan yang ada di sana, sama sekali tidak ditumbuhi tanaman tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Kabar ini bisa jadi dianggap sebagai kabar gembira bagi mereka yang menganggap diri dan kelompoknya anti-rokok dan anti-tembakau yang selalu mengampanyekan sikap-sikap mereka terkait kebencian kepada tembakau dan aktivitas merokok. Setelah sekian lama berjuang, akhirnya perjuangan mereka dirasa berhasil usai menyaksikan fenomena lahan-lahan di wilayah yang dianggap sentra pertanian tembakau pada hari-hari belakangan ini.<\/p>\n\n\n\n

Baca juga: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tak sia-sia turun ke jalan, tak sia-sia melakukan lobi-lobi ke penguasa, tak sia-sia mengucurkan uang yang tidak sedikit, dan tak sia-sia mempermalukan diri dengan mengemis ke lembaga donor asing dan menggondol uang dari cukai tembakau untuk mengampanyekan gerakan anti-rokok dan anti-tembakau. Tak sia-sia. Karena perjuangan sepertinya berhasil.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Kampanye-kampanye gerakan mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya, sepertinya juga sangat berhasil. Bagaimana tidak? Wilayah-wilayah yang sebelumnya penuh dengan tanaman tembakau dan bergeliat dengannya, kini lahan-lahannya sudah berganti dengan tanaman lain. Sebuah keberhasilan yang menggembirakan. Begitu mungkin pikir mereka para yang menganggap dirinya pejuang anti-rokok dan anti-tembakau. Dan tentu saja mereka akan kecele dan kita akan menertawakan hal itu.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, mereka yang menganggap dirinya anti-rokok dan anti-tembakau tidak menyaksikan langsung fenomena ini di lapangan, di lahan-lahan yang peruntukannya berubah pada hari-hari belakangan ini ketika memasuki musim hujan. Mereka asyik duduk pada kursi empuk di ruang-ruang nyaman ber-AC di kota-kota yang jauh dari kultur pertanian. Mereka menyengajakan diri menjadi elit dan enggan untuk turun melihat langsung ke lapangan. Kalaupun ada yang turun langsung ke lapangan, hanya segelintir saja dari mereka, itupun sekadar formalitas saja. Tak pernah benar-benar mau turun ke lapangan, hidup dan merasakan langsung kultur pertanian tembakau dalam jangka waktu cukup lama di lapangan.<\/p>\n\n\n\n

Baca juga: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Fenomena ini membikin kita tak bisa melihat mereka para anti-rokok kecele lalu menertawakan mereka.<\/strong> Fenomena keengganan terjun langsung ke lapangan terlebih mencoba mendengar mereka yang tetap menanam tembakau, juga menjalani keseharian dalam waktu cukup lama bersama petani tembakau inilah yang saya kira menjadikan mereka tetap keras kepala untuk anti-rokok dan anti-tembakau. Karena jika mereka mau melakukan itu, saya yakin mereka semua tidak akan begitu kaku dalam memandang pertanian tembakau dan produk hasil industri tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu yang selalu mereka kampanyekan dan ngotot dengan itu, terkait hulu pertanian tembakau adalah mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya. Mereka berargumen banyak tanaman lain yang bisa semenguntungkan tanaman tembakau. Keengganan mereka terjun langsung ke lapangan inilah yang membikin mereka buta dengan kondisi pertanian tembakau dan pada akhirnya terus menerus mengampanyekan pergantian tanaman tembakau dengan tanaman lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca juga: Imanlah kepada Allah, Bukan Antirokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tembakau tanaman yang khas. Ia hanya tumbuh baik sepanjang empat hingga lima bulan dalam satu tahun. Tumbuh-kembang tanaman tembakau dengan baik itu umumnya terjadi pada musim kemarau setiap tahunnya. Hanya sedikit sekali jenis tembakau yang tumbuh baik di musim penghujan, mayoritasnya, tumbuh baik pada musim kemarau.<\/p>\n\n\n\n

Jika ditanam pada musim hujan, hampir bisa dipastikan tanaman tembakau akan gagal menghasilkan daun-daun yang berkualitas. Ia akan rusak dan membusuk karena terlalu banyak terkena air sehingga daun-daun itu tak layak dijual. Jangankan bisa dijual, untuk tumbuh dengan baik pun sepertinya sulit karena musim hujan akan membunuh banyak tanaman itu.<\/p>\n\n\n\n

Maka, tak heran pada musim-musim seperti saat ini, ketika musim penghujan mendekati puncaknya, di wilayah-wilayah yang dikenal sebagai sentra pertanian tembakau, sulit menemukan pohon tembakau yang sedang tumbuh. Pada lahan-lahan yang sebelumnya ditumbuhi tanaman tembakau pada musim panas, berganti tanaman-tanaman lain yang bermacam-macam, sesuai dengan kondisi lahannya. Untuk lahan sawah, lahan-lahan itu pada musim penghujan kini ditumbuhi tanaman padi yang subur. Pada lahan tegalan dan lahan di pegunungan, lahan-lahan yang ditanami tembakau pada musim kemarau, saat ini ditumbuhi bermacam jenis tanaman mulai dari cabai, bawang, tomat, kol, terong, mentimun, dan ragam jenis tanaman semusim lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Uniknya, tipikal tanaman tembakau yang tumbuh baik di musim kemarau ini memberi pilihan lebih kepada para petani. Lahan-lahan yang sulit ditanami pada musim kemarau, pada akhirnya masih bisa tetap produktif dengan keberadaan tanaman tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Maka, kampanye aneh mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain dengan ragam rupa dalih yang membingungkan, bukan saja sama sekali tidak tepat dan asal-asalan, namun bisa jadi akan ditertawakan oleh para petani yang begitu paham dengan kondisi lahan dan terutama kondisi iklim dan cuaca. Sulit mencari tanaman semusim yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Jika pun ada, tak ada yang semenguntungkan tanaman tembakau.
<\/p>\n","post_title":"Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"keberhasilan-gerakan-anti-tembakau-tak-ada-tembakau-saat-musim-hujan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-07 12:16:02","post_modified_gmt":"2019-02-07 05:16:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5415","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5409,"post_author":"919","post_date":"2019-02-05 08:04:43","post_date_gmt":"2019-02-05 01:04:43","post_content":"\n

Tahun Baru Imlek yang merupakan tradisi Bangsa Tiongkok kini sudah tak lagi menjadi hal yang asing bagi masyarakat Indonesia. Kehadirannya sudah mewarnai dan berakulturasi dengan tradisi lokal. Menjelang Tahun Baru Imlek. Berbagai hiasan dan kemeriahan terjadi beberapa titik di Tanah Air. Perayaannya juga menjadi destinasi baru yang mengasyikkan untuk dilihat dan patut disaksikan.<\/p>\n\n\n\n

Berterimakasihlah kepada sang bapak bangsa, KH Abdurrahman Wahid atau yang dikenal dengan nama Gus Dur. Berkat kebijakannya saat menjadi Presiden Indonesia, Tahun Baru Imlek resmi dijadikan hari libur nasional dan dianggap sebagai salah satu hari raya di Tanah Air. Meski sentimen antitionghoa masih ada di sana-sini, tapi tetap tak bisa dipungkiri bahwa bangsa tionghoa sudah bersentuhan dengan budaya lokal dalam kurun waktu yang sangat panjang.<\/p>\n\n\n\n

DNA Bangsa Tionghoa yang memang merupakan pedagang menjadi pembuka kisah interaksi antara nenek moyang berbagai suku di Nusantara dengan mereka. Beberapa kelenteng-kelenteng yang tersebar pada berbagai pesisir daerah di Nusantara jadi buktinya. Pelabuhan-pelabuhan tua di tanah air dan ramainya perdagangan di pesisir mempermudah bangsa kita berhubungan dengan Bangsa Tionghoa.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Wong Kalang dan Kota Gede<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa kehadiran Bangsa Tionghoa di Nusantara tak hanya sebagai pedagang, namun juga sebagai pekerja (bahkan hingga pekerja kasar). Benny Setiono, seorang sejarahwan menyebutkan bahwa antara tahun 1760-1770 dalam jumlah yang besar memasuki nusantara melalui Kalimantan Barat. Mereka bekerja sebagai kuli pertambangan di sana dan di kemudian hari membentuk sebuah republik bernama Republik Lanfang yang konon katanya menjadi republik pertama di Asia Tenggara.<\/p>\n\n\n\n

Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Imlek dan Indonesia<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n\n\n\n

Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
<\/p>\n","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5406,"post_author":"877","post_date":"2019-02-04 08:23:48","post_date_gmt":"2019-02-04 01:23:48","post_content":"\n

Merokok itu sudah menjadi bagian dari budaya dan tradisi masyarakat, jauh sebelum Indonesia merdeka. Banyak cerita atau kisah tentang kretek <\/a><\/del>di tengah-tengah masyarakat bangsa ini, mulai sebagai alat untuk meraup keuntungan, alat komunikasi, sebagai teman sampai menjadi simbol pergerakan. <\/p>\n\n\n\n

Kretek, Simbol Perlawanan Roro Mendut<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Siapa yang tidak pernah mendengan cerita tentang Roro Mendut?, di telinga masyarakat Indonesia, kisah Roro Mendut tidak asing lagi.  Perempuan yang mempunyai paras wajah cantik, dan digandrungi kaum adam terutama kalangan putra kerajaan. Informasi kecantikan Roro Mendut tersebar seantero Nusantara, tidak satupun pria meragukan kecantikannya.  Bahkan kisah dan cerita kecantikan Roro Mendut tercatat dalam buku Babad Tanah Jawi. <\/p>\n\n\n\n

Diperkirakan pada tahun 1627, pada saat panglima perang Sultan Agung Mataram bernama Tumenggung Wiraguna berhasil menumpas pemberontakan di kota Pati, sebagai imbalanan atas keberhasilannya, mendapat hadiah wanita pujaan pria bernama Rara Mendut dari Kasultanan Agung Mataram.  Roro Mendut menolak dipinang Tumenggung Wiraguna, dan secara terang-terangan memilih pria lain dambaannya. Akibatnya, Roro Mendut harus membayar pajak setiap harinya kepada kerajaan Mataram. <\/p>\n\n\n\n

Bisa dibayangkan, betapa bingungnya Roro Mendut saat itu. Uang dari mana, ia hasilkan untuk bayar pajak tiap hari demi bisa bersama kekasihnya. Ternyata Roro Mendut tidak hanya cantik tetapi cerdas dan kreatif, bisa membaca peluang bisnis saat itu. Ide cermerlang muncul dengan berdagang\/berjualan rokok lintingan yang direkatkan dengan air ludahnya, dan sebelum menjualnya, rokok lintingan di sulut dahulu dan dihisap bekas bibir merahnya. Kemudian baru dijual ke pembeli yang berdesakan berjejer antri. <\/p>\n\n\n\n

Entah dari mana ide menjual rokok itu muncul. Yang jelas saking larisnya, kewajiban pajak Roro Mendut terpenuhi. Dan mungkin keadaannya akan lebih parah, jika saat itu Roro Mendut tidak berdagang rokok. Tidak akan terpenuhi kewajiban pajaknya. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Dengan rokok, hidup Roro Mendut terselamatkan. Adanya rokok, \u00a0Roro Mendut bebas dari belenggu kekuasaan. Berkat rokok, Roro Mendut terkengan, mengisi rubik informasi sejarah begitu kuatnya budaya merokok di \u00a0Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Pusaka Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek, Teman Perjuangan  Diponegoro<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Semasa berjuang melawan penjajah, yang harus dilakukan Diponegoro berpindah-pindah dari kota satu ke kota lain. Strategi perlawanan Diponegoro, kemudian sebagai basis strategi perang gerilya. Strategi yang menjadi idola dan kebanggaan tentara Indonesia. Dengan bergerilya, tentara Indonesia mampu mengecoh kekutan lawan yang lebih besar jumlahnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu, tenyata banyak cerita, Diponegoro saat berperang ditemani rokok. Ia dan pasukannya gemar merokok. Bahkan ketika tidak ada rokok, Pangeran Diponegoro rela hanya megunyah daun sirih yang diracik dengan kapur dan pinang. <\/p>\n\n\n\n

Kebiasaan ini, juga dialami oleh pengikut \/pasukan perang Pangeran Diponegoro. Bagi mereka, rokok teman sejati, menemani disetiap perjalanan mereka. Rokok menghilangkan depresi mereka, sebagai hiburan saat jauh dari keluarga demi berjuang melawan penjajah. Rokok menumbuhkan percaya diri mereka, lebih berani melawan penjajah walaupun hanya dengan serba keterbatasan, pasukan jumlah terbatas, alat perang terbatas dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Baca juga: Pangeran Diponegoro, Rokok Klobot dan Perlawanan Simbolis<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Jati Diri Bangsa<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Salah satu \u201cpendiri bangsa\u201d bernama KH. Agus Salim menghisap kretek dengan asapnya di kebal-kebulkan keudara, disaat ada perjamuan di Istana Buckingham ketika penobatan Elizabeth II sebagai Ratu kerajaan Inggris. Aroma khas keluar dari asap rokok kretek, tercium orang yang berada di ruang perjamuan. Sehingga memancing salah satu orang yang datang dalam perjamuan, dengan berkata; \u201ctuan sedang menghisap apa itu?\u201d.  Sentak KH. Agus Salim menjawab, \u201c inilah yang membuat nenek moyang anda sekian abad lalu datang dan kemudian menjajah negeri kami\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Jawaban KH. Agus Salim, faktanya memang benar. Rokok kretek tidak lain ada tambahan cengkeh (suzygium aromaticum<\/em>). \u00a0Tanaman legendaris menjadi rebutan dan sumber keuntungan kolonialisme Eropa atas Asia termasuk Indonesia. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Cengkeh adalah salah satu tanaman yang diperebutkan bangsa-bangsa dunia, sampai melegalkan penjajahan.  Dalam simpulan perjalanan ekspedisi cengkeh tahun 2013, Kepala Suku begitu julukan bagi Putut Ea, mengatakan \u201c jika saja tak pernah ada cengkeh dan pala di Maluku, mungkin sejarah kepulauan Nusantara ini akan berbeda sama sekali\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Simpulan Putut EA, sebagai salah satu pembenar perkataan \u00a0KH. Agus Salim. Mungkin, jika tanaman cengkeh tidak ada, fakta sejarah akan berbeda, tidak ada penjajahan di bumi Nusantara ini. <\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Mengisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek untuk Berteman dan Menjalin Persaudaraan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Teringat apa yang pernah dilakukan Menteri Sosial dan Lingkungan Hidup, saat melakukan pendekatan pada suku anak dalam di Jambi. Tidak lain ia adalah Khofifah menteri perempuan yang energik. Saat itu Khofifah bertanggungjawab dalam mengatasi masalah pendidikan dan kesejahteraan masyarakat suku anak dalam di Jambi.  <\/p>\n\n\n\n

Kebijakannya membuat fenomenal, selain bahan makanan, dan bantuan lain, khofifah juga membawa rokok.  Yang kemudian ada yang mengggugat dari anti rokok, tetapi sebagai Menteri, Khofifah tentunya sudah mengkaji secara mendalam. Dengan kecerdasannya , Khofifah menjawab dengan tegas dan lugas, \u201cjangan sok tahu kehidupan mereka, kenali apa yang menjadi ritme kehidupan mereka. Sangat bijaksana kalau kita semua pergi kesana, sehingga tahu adat istiadatnya juga. Tolong kalau ingin mengerti tentang kultur jangan hanya dari kacamata Jakarta. Saya pun ingin mengajak anda kesana, turun kesana, sapalah mereka\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Khofifah memberikan pelajaran bagi anti rokok. Tidak boleh sok tahu, apalagi selama ini antirokok hanya berasumsi, tanpa melihat fakta dilapangan. Khofifah juga menganjurkan agar lebih mengenal adat-istiadat, budaya dan tradisi masyarakat, tidak boleh melakukan hegemoni kultural, sebab keberagaman adat-istiadat dan budaya merupakan kekayaan negeri. <\/p>\n\n\n\n

Pelajaran Khofifah sangat mendalam dan bercirikhas Nusantara. Sebgaai Menteri \u00a0Sosial tentunya lebih berpengalaman apa yang dibutuhkan bangsa ini agar tetap jaya, bersatu dan utuh. Kenali perbedaan, hormati perbedaan, junjung tinggi budaya yang berbeda. \u00a0Apa yang telah dilakukan Khofifah dengan membawa rokok ke suku anak dalam adalah cermin penghormatan tradisi dan budaya masyarakat. Sebagai seorang Mentri, tentunya punya kuasa, artinya bisa seorang khofifah memberikan bantuan sesuai keinginannya sendiri, namun hal itu tidak dilakukan. Ia lebih mengedepankan penghormatan budaya masyarakat setempat, dengan membawa rokok untuk pendekatan dan pertemanan. Karena Khofifah tahu betul, bahwa merokok adalah budaya mereka, yang diwaris dari neneng moyang mereka. <\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Memilih Jalan Hidup Menikmati Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Simbol Pergerakan Nasional     <\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Abdul Rifa\u2019I dalam media bintang timur terbit pada 03 Oktober 1927, mengatakan, \u201ckopinya bukan kopi saringan, tetapi kopi tubruk sebab kopi ini katanya nationaal, gulanya gula jawa, susu tidak dipakai karena tidak nationaal. Rokoknya kelobot, selamatan natioanaal ini terus berlangsung ed sampai pagi hari\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Semangat nasionalisme harus tertanam, mengedepankan produk lokal adalah salah satu semangat nasionalime. Salah satu keberadaan rokok klobot menjadi ciri produk asli indonesia dan harus dilestarikan. Klobot sendiri adalah ramuan tembakau dan cengkeh di gulung memakai daun jagung, embrio perkembangan menjadi rokok sigaret kretek tangan dan sigaret kretek mesin.  
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pusaran Budaya Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pusaran-budaya-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-04 08:40:41","post_modified_gmt":"2019-02-04 01:40:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5406","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5403,"post_author":"919","post_date":"2019-02-03 09:05:50","post_date_gmt":"2019-02-03 02:05:50","post_content":"\n

Seringkali saya menyaksikan berbagai film baik itu Eropa atau Asia yang menggambarkan tentang masa depan. Pemandangan soal masa depan tersebut dihadirkan dengan gambaran kecanggihan teknologi seperti robot yang akan membantu kehidupan manusia, gedung-gedung yang tingginya sudah amat tak bisa ditandingi,  hingga mobil-mobil yang bisa terbang. <\/p>\n\n\n\n

Pernah dalam masa kecil saya menyaksikan sebuah film animasi buatan jepang yang mempertanyakan tentang makanan di masa depan. Dengan santai salah satu tokoh yang berasal dari masa depan itu menjawab bahwa suatu saat nanti manusia akan mengonsumsi makanan berupa pasta gigi namun dengan rasa yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa, aneh!<\/p>\n\n\n\n

Seiring waktu berjalan saya kian tumbuh dewasa dan punya kesadaran untuk memilih menjadi seorang perokok<\/a>. Saya juga melihat ada sebuah inovasi dan gambaran tentang masa depan yang hadir dalam kehidupan sekarang. Banyak memang, namun yang menyita perhatian saya adalah rokok elektrik atau yang populer disebut Vape. Konon katanya ia adalah produk inovasi untuk menjembatani kebutuhan menghisap asap dan kecanggihan masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Di awal kehadirannya Vape memang mengundang decak kekaguman saya. Bagaimana bisa sebuah mesin kecil mengeluarkan asap yang katanya lebih menyehatkan daripada rokok.<\/strong> Meski pada akhirnya teori tersebut juga bisa dibantah oleh beberapa ilmuan dunia. Tapi ada satu yang saya amati selain soal kesehatan, rokok elektrik rupanya menghadirkan kultur dan budaya baru dalam kehidupan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: LAGI-LAGI IKLAN ROKOK, KAPAN KPAI TIDAK TEBANG PILIH? <\/a><\/h4>\n\n\n\n

Kehadiran teknologi memang kerap sedikit atau benyak mengubah gaya atau kultur suatu masyarakat. Begitu pula yang saya perhatikan dengan rokok elektrik. Satu hal yang mudah diamati adalah menjamurnya toko-toko kecil yang menjual vape serta liquid di berbagai tempat. Sebagai sebuah warna baru dalam masyarakat, penggunanya ramai-ramai mengunjungi tempat tersebut berinteraksi dengan penikmat lainnya dan membangun sebuah rumah komunitas yang fleksibel.<\/p>\n\n\n\n

Meski belum bisa dikatakan memiliki jumlah penikmat yang setara dengan para perokok, pengguna Vape mulai menunjukkan eksistensinya. Selain toko yang tersebar, ragam acara juga mereka buat di beberapa daerah. Dalam lingkungan saya, beberapa teman yang dulunya merupakan perokok aktif tertarik mengikuti event tersebut dan beralih mengisap rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Nun jauh di sana, di Amerika Serikat tepatnya, budaya Vape juga sudah mulai berkembang lama ketimbang di Tanah Air. Penikmatnya terbagi menjadi dua, ada yang dulunya bekas perokok dan ada yang memang menikmatinya sebagai gaya hidup. Wajar saja mengingat facebook tak memperbolehkan iklan tembakau di platform mereka, sebaliknya iklan tentang vape justru bertebaran. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi budaya baru yang berkembang di berbagai belahan dunia bahkan di Indonesia, Vape konon menjadi alternatif yang lebih bermanfaat daripada rokok. Dalih yang diusung selalu sama kepada para perokok tradisonal yaitu soal kesehatan dan lebih irit. Soal kesehatan tentu ada beberapa pendapat para ilmuan yang membantahnya, namun soal irit, saya rasa tidak. Memang satu liquid bisa digunakan untuk beberapa Minggu, akan tetapi yang saya lihat di lapangan justru sebaliknya. <\/p>\n\n\n\n

Beberapa penikmat rokok elektrik kerap berbelanja liquid yang mereka idamkan. Terkadang, hal tersebut yang membuat mereka boros karena terus mengeksplor rasa mana yang mereka idam-idamkan. Tak jarang juga liquid dengan harga mahal hingga ratus ribuan akan mereka beli. Sebaliknya, para perokok konvensional justru kerap bertahan dengan satu rasa atau merek saja.<\/p>\n\n\n\n

Sedikit berbeda dengan penikmat rokok konvensional atau kretek. Mengingat rokok kretek sudah menjadi kebudayan lokal yang terus dipertahankan selama bertahun-tahun, kehadirannya sudah mewarnai khasanah keindonesiaan. Perokok kretek juga sudah punya soliditas luar biasa yang terbentuk sejak lama dan terus terbangun mengiringi peradaban di Indonesia atau dunia.<\/p>\n\n\n\n

Kini, perokok elektrik mulai merasakan kegelisahan. Beberapa negara mulai menerapkan peraturan ketat terhadap Vape, sedangkan di Indonesia biaya cukai pun kini mulai diberlakukan terhadap perdagangan rokok elektrik. Keberadaannya di mata negara pun mulai dianggap sama seperti rokok, meski pada awalnya rokok elektrik hadir dengan slogan-slogan produk alternatif yang lebih menyehatkan (katanya).<\/p>\n\n\n\n


Tapi jika kemudian di masa depan memang rokok elektrik yang kemudian menjadi sesuatu yang populer dan dinikmati banyak orang. Rasanya saya tetap ingin hidup di jaman ini, dengan sebatang kretek di tangan dan menikmati segala khasanah kebudayaan yang patut terus dipertahankan. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"masa-depan-rokok-elektrik-dan-semangat-alternatif-yang-sia-sia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-03 09:05:56","post_modified_gmt":"2019-02-03 02:05:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5403","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5385,"post_author":"883","post_date":"2019-02-02 08:01:01","post_date_gmt":"2019-02-02 01:01:01","post_content":"Pada tahun 2014, perusahaan rokok multinasional Philip Morris Internasional Inc. merilis sebuah produk <\/span>perangkat\u00a0<\/span>
rokok<\/span><\/a>\u00a0tanpa asap, yang dipanaskan bukan dibakar atau istilahnya\u00a0<\/span>heat not burn<\/i><\/strong>\u00a0(HNB) iQOS<\/strong>. <\/span>\r\n\r\nPerangkat rokok tanpa asap dengan nama iQOS<\/a> ini berbentuk seperti bagian luar pulpen, dengan lubang di tengah untuk rokok. Produk yang berada di bawah brand Marlboro ini dapat memanaskan rokok sampai 350 derajat celcius lalu mengeluarkan uap nikotin beraroma tembakau<\/em><\/a>.<\/span>\r\n

Produk iQOS sebenarnya bukanlah produk rokok tanpa asap yang pertama muncul. Sebelumnya di tahun 1990-an, Reynolds Tobacco Co pernah merilis produk serupa bernama Eclipes yang juga dapat menguapkan nikotin setelah dinyalakan dengan korek api.<\/span><\/blockquote>\r\nSelain itu, Eclips juga dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. Namun, pada saat itu Eclips tidak diminati oleh pasar, utamanya para perokok konvensional. Meskipun Eclips dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. <\/span>\r\n\r\nBisnis semacam rokok tanpa asap seperti Eclips dan iQOS memang sudah menjadi bagian dari rencana panjang bisnis perusahaan-perusahaan rokok multinasional. Jadi tidak usah heran jika ke depannya akan kita akan banyak menemukan produk rokok tanpa asap ini.<\/span>\r\n\r\nWatak dari perusahaan multinasional memang seperti itu, mereka sangat jeli melihat peluang pasar ke depannya. Ketika market place perusahaan rokok multinasional saat ini terus dirongrong oleh kelompok antirokok, mereka tak kehabisan akal. Maka kemudian mereka menginovasi produk rokok konvensional menjadi rokok yang tidak berasap. Begitupun dengan mengikutsertakan jargon-jargon kesehatan dalam narasi promosi mereka.<\/span>\r\n\r\nSesungguhnya memang seperti itulah watak bisnis perusahaan-perusahaan multinasional, melakukan segala cara agar bisnis mereka tetap bertahan, meskipun harus merangkul musuh sekalipun. <\/span>\r\n\r\nYa kadang pura-pura berantem sama antirokok, tapi dibalik itu sebenarnya baik-baik saja, dan tentunya ada kompromi untuk terus melanggengkan bisnis mereka.<\/span>\r\n

Lalu siapa yang dirugikan dari permainan bisnis macam produk rokok tanpa asap perusahaan rokok multinasional ini?<\/span><\/h3>\r\nTentunya yang sangat dirugikan adalah produk hasil tembakau yang memiliki kekhasan seperti kretek di Indonesia. Kretek sebagai produk khas asli Indonesia yang menjadi bagian dari warisan kebudayaan tidak mungkin bertransformasi menjadi produk-produk elektrik dan sejenisnya.<\/span>\r\n\r\nKretek tetaplah kretek, dengan bahan baku alami tembakau dan cengkeh yang tidak diintervensi dengan zat atau perangkat penghantar lainnya. Karena dengan bentuk, karakter dan cara menikmatinya memang konvensional dan akan terus begitu apapun kondisi dan zamannya.<\/span>\r\n
Bisnis produk rokok tanpa asap (elektrik) juga menghajar kretek dengan mendompleng isu pengendalian tembakau. Kampanye pengendalian tembakau selalu membawa slogan bahaya merokok dan upaya untuk berhenti merokok. <\/span><\/blockquote>\r\nDari isu tersebut, rokok elektrik masuk dengan citra produk alternatif tembakau, bahkan mereka tak segan menilai bahwa rokok elektrik lebih aman ketimbang rokok konvensional, yakni kretek.<\/span>\r\n\r\nLalu jika Indonesia akan dibanjiri dengan produk-produk yang mengatasnamakan produk alternatif tembakau, macam rokok tanpa asap (iQOS dan sejenisnya), maka itulah pertanda bahwa kretek harus tergerus dari cara hidup manusia Indonesia dalam menikmati produk hasil tembakau khas Indonesia yang sudah turun-temurun lamanya dinikmati manusia Indonesia.<\/span>","post_title":"Nasib Kretek di Pusaran Pertarungan Bisnis Global Perusahaan Rokok Multinasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"nasib-kretek-di-pusaran-pertarungan-bisnis-global-perusahaan-rokok-multinasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-02 08:01:43","post_modified_gmt":"2019-02-02 01:01:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5385","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; \n

Nilai ekonomisnya yang sangat besar sempat menggoda penguasa otoriter rezim Presiden Soeharto, pada 1990-an, memberlakukan satu kebijakan \u2018Hongi Gaya Baru\u2019: monopoli perdagangan cengkeh dalam negeri melalui Badan Penyanggah dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) yang sangat merugikan petani. Harga cengkeh di tingkat petani penghasil anjlok sampai hanya Rp 2.000 - 3.000 per kilogram, lebih murah dari harga sebungkus kretek yang dihasilkan darinya.
<\/p>\n\n\n\n

Akibatnya, ratusan ribu pohon cengkeh di daerah-daerah penghasil utama --Maluku, Maluku Utara, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Selatan-- ditebangi atau dibiarkan terlantar tak terurus.
<\/p>\n\n\n\n

Gelombang reformasi sistem politik dan hukum nasional yang dimulai pada tahun 1998, akhirnya menjungkalkan rezim Soeharto dan BPPC dibubarkan, Pelan tapi pasti, harga cengkeh kembali merangkak naik, sehingga pada tahun 2012, bahkan melewati angka Rp 200.000 per kilogram. Para petani cengkeh di seluruh negeri kembali tersenyum. Tetapi, sampai kapan? <\/p>\n\n\n\n

Catatan:<\/strong><\/p>\n\n\n\n

[1] Beberapa sumber menyebutkan bahwa kata \u2018cengkeh\u2019 dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Mandarin, tkeng-his atau xi\u2019jia, yang berarti \u2018rempah [berbentuk mirip] paku\u2019 (scented nails). Ini menunjukkan bahwa cengkeh sudah dikenal sejak lama oleh bangsa Cina --diketahui sejak abad-2-- jauh sebelum orang Eropa mengenalnya ((lihat, misalnya: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n\n\n\n

[2] Catatan-catatan para biarawan Fransiskan --yang disalin dan dikutip oleh van Frassen-- bahkan menyebut cengkeh sebagai salah satu bahan utama pengawet mumi para Fir\u2019aun, penguasa Mesir Kuno. Beberapa pakar sejarah dan arkeologi menyatakan bahwa rempah-rempah Maluku bahkan sudah ditemukan artefaknya di Lembah Mesopotomia (wilayah Iraq dan sekitarnya sekarang) pada 3.000 tahun sebelum Masehi. (lihat, antara lain: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n\n\n\n

[3] Uraian lebih rinci sejarah kolonialisme rempah-rempah Nusantara ini, terutama oleh Belanda dan Portugis, dapat dibaca pada beberapa sumber kepustakaan yang sudah dikenal luas, antara lain: Glamann (1958) dan Boxer (1965 dan 1969). Dalam risalah klasik Pires disebutkan bahwa pada tahun 1512-1521 saja, jumlah produksi cengkeh di Maluku sudah mencapai 7.250 bahar per tahun, terbesar adalah di Makian serta Amboina dan Lease (masing-masing 1.500 bahar)(Pires, 1512-1515).<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem Topatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-10 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-02-10 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5425","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5415,"post_author":"878","post_date":"2019-02-07 12:15:55","post_date_gmt":"2019-02-07 05:15:55","post_content":"\n

Belakangan ini, ketika musim hujan tiba, di Kabupaten Temanggung, Kabupaten Jember, dan beberapa wilayah sentra pertanian tembakau lainnya, hampir mustahil menemukan tanaman tembakau tumbuh di lahan-lahan milik petani. Di wilayah-wilayah tersebut, citra sebagai sentra pertanian tembakau seakan menguap. Lahan-lahan yang ada di sana, sama sekali tidak ditumbuhi tanaman tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Kabar ini bisa jadi dianggap sebagai kabar gembira bagi mereka yang menganggap diri dan kelompoknya anti-rokok dan anti-tembakau yang selalu mengampanyekan sikap-sikap mereka terkait kebencian kepada tembakau dan aktivitas merokok. Setelah sekian lama berjuang, akhirnya perjuangan mereka dirasa berhasil usai menyaksikan fenomena lahan-lahan di wilayah yang dianggap sentra pertanian tembakau pada hari-hari belakangan ini.<\/p>\n\n\n\n

Baca juga: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tak sia-sia turun ke jalan, tak sia-sia melakukan lobi-lobi ke penguasa, tak sia-sia mengucurkan uang yang tidak sedikit, dan tak sia-sia mempermalukan diri dengan mengemis ke lembaga donor asing dan menggondol uang dari cukai tembakau untuk mengampanyekan gerakan anti-rokok dan anti-tembakau. Tak sia-sia. Karena perjuangan sepertinya berhasil.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Kampanye-kampanye gerakan mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya, sepertinya juga sangat berhasil. Bagaimana tidak? Wilayah-wilayah yang sebelumnya penuh dengan tanaman tembakau dan bergeliat dengannya, kini lahan-lahannya sudah berganti dengan tanaman lain. Sebuah keberhasilan yang menggembirakan. Begitu mungkin pikir mereka para yang menganggap dirinya pejuang anti-rokok dan anti-tembakau. Dan tentu saja mereka akan kecele dan kita akan menertawakan hal itu.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, mereka yang menganggap dirinya anti-rokok dan anti-tembakau tidak menyaksikan langsung fenomena ini di lapangan, di lahan-lahan yang peruntukannya berubah pada hari-hari belakangan ini ketika memasuki musim hujan. Mereka asyik duduk pada kursi empuk di ruang-ruang nyaman ber-AC di kota-kota yang jauh dari kultur pertanian. Mereka menyengajakan diri menjadi elit dan enggan untuk turun melihat langsung ke lapangan. Kalaupun ada yang turun langsung ke lapangan, hanya segelintir saja dari mereka, itupun sekadar formalitas saja. Tak pernah benar-benar mau turun ke lapangan, hidup dan merasakan langsung kultur pertanian tembakau dalam jangka waktu cukup lama di lapangan.<\/p>\n\n\n\n

Baca juga: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Fenomena ini membikin kita tak bisa melihat mereka para anti-rokok kecele lalu menertawakan mereka.<\/strong> Fenomena keengganan terjun langsung ke lapangan terlebih mencoba mendengar mereka yang tetap menanam tembakau, juga menjalani keseharian dalam waktu cukup lama bersama petani tembakau inilah yang saya kira menjadikan mereka tetap keras kepala untuk anti-rokok dan anti-tembakau. Karena jika mereka mau melakukan itu, saya yakin mereka semua tidak akan begitu kaku dalam memandang pertanian tembakau dan produk hasil industri tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu yang selalu mereka kampanyekan dan ngotot dengan itu, terkait hulu pertanian tembakau adalah mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya. Mereka berargumen banyak tanaman lain yang bisa semenguntungkan tanaman tembakau. Keengganan mereka terjun langsung ke lapangan inilah yang membikin mereka buta dengan kondisi pertanian tembakau dan pada akhirnya terus menerus mengampanyekan pergantian tanaman tembakau dengan tanaman lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca juga: Imanlah kepada Allah, Bukan Antirokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tembakau tanaman yang khas. Ia hanya tumbuh baik sepanjang empat hingga lima bulan dalam satu tahun. Tumbuh-kembang tanaman tembakau dengan baik itu umumnya terjadi pada musim kemarau setiap tahunnya. Hanya sedikit sekali jenis tembakau yang tumbuh baik di musim penghujan, mayoritasnya, tumbuh baik pada musim kemarau.<\/p>\n\n\n\n

Jika ditanam pada musim hujan, hampir bisa dipastikan tanaman tembakau akan gagal menghasilkan daun-daun yang berkualitas. Ia akan rusak dan membusuk karena terlalu banyak terkena air sehingga daun-daun itu tak layak dijual. Jangankan bisa dijual, untuk tumbuh dengan baik pun sepertinya sulit karena musim hujan akan membunuh banyak tanaman itu.<\/p>\n\n\n\n

Maka, tak heran pada musim-musim seperti saat ini, ketika musim penghujan mendekati puncaknya, di wilayah-wilayah yang dikenal sebagai sentra pertanian tembakau, sulit menemukan pohon tembakau yang sedang tumbuh. Pada lahan-lahan yang sebelumnya ditumbuhi tanaman tembakau pada musim panas, berganti tanaman-tanaman lain yang bermacam-macam, sesuai dengan kondisi lahannya. Untuk lahan sawah, lahan-lahan itu pada musim penghujan kini ditumbuhi tanaman padi yang subur. Pada lahan tegalan dan lahan di pegunungan, lahan-lahan yang ditanami tembakau pada musim kemarau, saat ini ditumbuhi bermacam jenis tanaman mulai dari cabai, bawang, tomat, kol, terong, mentimun, dan ragam jenis tanaman semusim lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Uniknya, tipikal tanaman tembakau yang tumbuh baik di musim kemarau ini memberi pilihan lebih kepada para petani. Lahan-lahan yang sulit ditanami pada musim kemarau, pada akhirnya masih bisa tetap produktif dengan keberadaan tanaman tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Maka, kampanye aneh mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain dengan ragam rupa dalih yang membingungkan, bukan saja sama sekali tidak tepat dan asal-asalan, namun bisa jadi akan ditertawakan oleh para petani yang begitu paham dengan kondisi lahan dan terutama kondisi iklim dan cuaca. Sulit mencari tanaman semusim yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Jika pun ada, tak ada yang semenguntungkan tanaman tembakau.
<\/p>\n","post_title":"Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"keberhasilan-gerakan-anti-tembakau-tak-ada-tembakau-saat-musim-hujan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-07 12:16:02","post_modified_gmt":"2019-02-07 05:16:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5415","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5409,"post_author":"919","post_date":"2019-02-05 08:04:43","post_date_gmt":"2019-02-05 01:04:43","post_content":"\n

Tahun Baru Imlek yang merupakan tradisi Bangsa Tiongkok kini sudah tak lagi menjadi hal yang asing bagi masyarakat Indonesia. Kehadirannya sudah mewarnai dan berakulturasi dengan tradisi lokal. Menjelang Tahun Baru Imlek. Berbagai hiasan dan kemeriahan terjadi beberapa titik di Tanah Air. Perayaannya juga menjadi destinasi baru yang mengasyikkan untuk dilihat dan patut disaksikan.<\/p>\n\n\n\n

Berterimakasihlah kepada sang bapak bangsa, KH Abdurrahman Wahid atau yang dikenal dengan nama Gus Dur. Berkat kebijakannya saat menjadi Presiden Indonesia, Tahun Baru Imlek resmi dijadikan hari libur nasional dan dianggap sebagai salah satu hari raya di Tanah Air. Meski sentimen antitionghoa masih ada di sana-sini, tapi tetap tak bisa dipungkiri bahwa bangsa tionghoa sudah bersentuhan dengan budaya lokal dalam kurun waktu yang sangat panjang.<\/p>\n\n\n\n

DNA Bangsa Tionghoa yang memang merupakan pedagang menjadi pembuka kisah interaksi antara nenek moyang berbagai suku di Nusantara dengan mereka. Beberapa kelenteng-kelenteng yang tersebar pada berbagai pesisir daerah di Nusantara jadi buktinya. Pelabuhan-pelabuhan tua di tanah air dan ramainya perdagangan di pesisir mempermudah bangsa kita berhubungan dengan Bangsa Tionghoa.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Wong Kalang dan Kota Gede<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa kehadiran Bangsa Tionghoa di Nusantara tak hanya sebagai pedagang, namun juga sebagai pekerja (bahkan hingga pekerja kasar). Benny Setiono, seorang sejarahwan menyebutkan bahwa antara tahun 1760-1770 dalam jumlah yang besar memasuki nusantara melalui Kalimantan Barat. Mereka bekerja sebagai kuli pertambangan di sana dan di kemudian hari membentuk sebuah republik bernama Republik Lanfang yang konon katanya menjadi republik pertama di Asia Tenggara.<\/p>\n\n\n\n

Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Imlek dan Indonesia<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n\n\n\n

Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
<\/p>\n","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5406,"post_author":"877","post_date":"2019-02-04 08:23:48","post_date_gmt":"2019-02-04 01:23:48","post_content":"\n

Merokok itu sudah menjadi bagian dari budaya dan tradisi masyarakat, jauh sebelum Indonesia merdeka. Banyak cerita atau kisah tentang kretek <\/a><\/del>di tengah-tengah masyarakat bangsa ini, mulai sebagai alat untuk meraup keuntungan, alat komunikasi, sebagai teman sampai menjadi simbol pergerakan. <\/p>\n\n\n\n

Kretek, Simbol Perlawanan Roro Mendut<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Siapa yang tidak pernah mendengan cerita tentang Roro Mendut?, di telinga masyarakat Indonesia, kisah Roro Mendut tidak asing lagi.  Perempuan yang mempunyai paras wajah cantik, dan digandrungi kaum adam terutama kalangan putra kerajaan. Informasi kecantikan Roro Mendut tersebar seantero Nusantara, tidak satupun pria meragukan kecantikannya.  Bahkan kisah dan cerita kecantikan Roro Mendut tercatat dalam buku Babad Tanah Jawi. <\/p>\n\n\n\n

Diperkirakan pada tahun 1627, pada saat panglima perang Sultan Agung Mataram bernama Tumenggung Wiraguna berhasil menumpas pemberontakan di kota Pati, sebagai imbalanan atas keberhasilannya, mendapat hadiah wanita pujaan pria bernama Rara Mendut dari Kasultanan Agung Mataram.  Roro Mendut menolak dipinang Tumenggung Wiraguna, dan secara terang-terangan memilih pria lain dambaannya. Akibatnya, Roro Mendut harus membayar pajak setiap harinya kepada kerajaan Mataram. <\/p>\n\n\n\n

Bisa dibayangkan, betapa bingungnya Roro Mendut saat itu. Uang dari mana, ia hasilkan untuk bayar pajak tiap hari demi bisa bersama kekasihnya. Ternyata Roro Mendut tidak hanya cantik tetapi cerdas dan kreatif, bisa membaca peluang bisnis saat itu. Ide cermerlang muncul dengan berdagang\/berjualan rokok lintingan yang direkatkan dengan air ludahnya, dan sebelum menjualnya, rokok lintingan di sulut dahulu dan dihisap bekas bibir merahnya. Kemudian baru dijual ke pembeli yang berdesakan berjejer antri. <\/p>\n\n\n\n

Entah dari mana ide menjual rokok itu muncul. Yang jelas saking larisnya, kewajiban pajak Roro Mendut terpenuhi. Dan mungkin keadaannya akan lebih parah, jika saat itu Roro Mendut tidak berdagang rokok. Tidak akan terpenuhi kewajiban pajaknya. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Dengan rokok, hidup Roro Mendut terselamatkan. Adanya rokok, \u00a0Roro Mendut bebas dari belenggu kekuasaan. Berkat rokok, Roro Mendut terkengan, mengisi rubik informasi sejarah begitu kuatnya budaya merokok di \u00a0Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Pusaka Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek, Teman Perjuangan  Diponegoro<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Semasa berjuang melawan penjajah, yang harus dilakukan Diponegoro berpindah-pindah dari kota satu ke kota lain. Strategi perlawanan Diponegoro, kemudian sebagai basis strategi perang gerilya. Strategi yang menjadi idola dan kebanggaan tentara Indonesia. Dengan bergerilya, tentara Indonesia mampu mengecoh kekutan lawan yang lebih besar jumlahnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu, tenyata banyak cerita, Diponegoro saat berperang ditemani rokok. Ia dan pasukannya gemar merokok. Bahkan ketika tidak ada rokok, Pangeran Diponegoro rela hanya megunyah daun sirih yang diracik dengan kapur dan pinang. <\/p>\n\n\n\n

Kebiasaan ini, juga dialami oleh pengikut \/pasukan perang Pangeran Diponegoro. Bagi mereka, rokok teman sejati, menemani disetiap perjalanan mereka. Rokok menghilangkan depresi mereka, sebagai hiburan saat jauh dari keluarga demi berjuang melawan penjajah. Rokok menumbuhkan percaya diri mereka, lebih berani melawan penjajah walaupun hanya dengan serba keterbatasan, pasukan jumlah terbatas, alat perang terbatas dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Baca juga: Pangeran Diponegoro, Rokok Klobot dan Perlawanan Simbolis<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Jati Diri Bangsa<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Salah satu \u201cpendiri bangsa\u201d bernama KH. Agus Salim menghisap kretek dengan asapnya di kebal-kebulkan keudara, disaat ada perjamuan di Istana Buckingham ketika penobatan Elizabeth II sebagai Ratu kerajaan Inggris. Aroma khas keluar dari asap rokok kretek, tercium orang yang berada di ruang perjamuan. Sehingga memancing salah satu orang yang datang dalam perjamuan, dengan berkata; \u201ctuan sedang menghisap apa itu?\u201d.  Sentak KH. Agus Salim menjawab, \u201c inilah yang membuat nenek moyang anda sekian abad lalu datang dan kemudian menjajah negeri kami\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Jawaban KH. Agus Salim, faktanya memang benar. Rokok kretek tidak lain ada tambahan cengkeh (suzygium aromaticum<\/em>). \u00a0Tanaman legendaris menjadi rebutan dan sumber keuntungan kolonialisme Eropa atas Asia termasuk Indonesia. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Cengkeh adalah salah satu tanaman yang diperebutkan bangsa-bangsa dunia, sampai melegalkan penjajahan.  Dalam simpulan perjalanan ekspedisi cengkeh tahun 2013, Kepala Suku begitu julukan bagi Putut Ea, mengatakan \u201c jika saja tak pernah ada cengkeh dan pala di Maluku, mungkin sejarah kepulauan Nusantara ini akan berbeda sama sekali\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Simpulan Putut EA, sebagai salah satu pembenar perkataan \u00a0KH. Agus Salim. Mungkin, jika tanaman cengkeh tidak ada, fakta sejarah akan berbeda, tidak ada penjajahan di bumi Nusantara ini. <\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Mengisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek untuk Berteman dan Menjalin Persaudaraan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Teringat apa yang pernah dilakukan Menteri Sosial dan Lingkungan Hidup, saat melakukan pendekatan pada suku anak dalam di Jambi. Tidak lain ia adalah Khofifah menteri perempuan yang energik. Saat itu Khofifah bertanggungjawab dalam mengatasi masalah pendidikan dan kesejahteraan masyarakat suku anak dalam di Jambi.  <\/p>\n\n\n\n

Kebijakannya membuat fenomenal, selain bahan makanan, dan bantuan lain, khofifah juga membawa rokok.  Yang kemudian ada yang mengggugat dari anti rokok, tetapi sebagai Menteri, Khofifah tentunya sudah mengkaji secara mendalam. Dengan kecerdasannya , Khofifah menjawab dengan tegas dan lugas, \u201cjangan sok tahu kehidupan mereka, kenali apa yang menjadi ritme kehidupan mereka. Sangat bijaksana kalau kita semua pergi kesana, sehingga tahu adat istiadatnya juga. Tolong kalau ingin mengerti tentang kultur jangan hanya dari kacamata Jakarta. Saya pun ingin mengajak anda kesana, turun kesana, sapalah mereka\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Khofifah memberikan pelajaran bagi anti rokok. Tidak boleh sok tahu, apalagi selama ini antirokok hanya berasumsi, tanpa melihat fakta dilapangan. Khofifah juga menganjurkan agar lebih mengenal adat-istiadat, budaya dan tradisi masyarakat, tidak boleh melakukan hegemoni kultural, sebab keberagaman adat-istiadat dan budaya merupakan kekayaan negeri. <\/p>\n\n\n\n

Pelajaran Khofifah sangat mendalam dan bercirikhas Nusantara. Sebgaai Menteri \u00a0Sosial tentunya lebih berpengalaman apa yang dibutuhkan bangsa ini agar tetap jaya, bersatu dan utuh. Kenali perbedaan, hormati perbedaan, junjung tinggi budaya yang berbeda. \u00a0Apa yang telah dilakukan Khofifah dengan membawa rokok ke suku anak dalam adalah cermin penghormatan tradisi dan budaya masyarakat. Sebagai seorang Mentri, tentunya punya kuasa, artinya bisa seorang khofifah memberikan bantuan sesuai keinginannya sendiri, namun hal itu tidak dilakukan. Ia lebih mengedepankan penghormatan budaya masyarakat setempat, dengan membawa rokok untuk pendekatan dan pertemanan. Karena Khofifah tahu betul, bahwa merokok adalah budaya mereka, yang diwaris dari neneng moyang mereka. <\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Memilih Jalan Hidup Menikmati Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Simbol Pergerakan Nasional     <\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Abdul Rifa\u2019I dalam media bintang timur terbit pada 03 Oktober 1927, mengatakan, \u201ckopinya bukan kopi saringan, tetapi kopi tubruk sebab kopi ini katanya nationaal, gulanya gula jawa, susu tidak dipakai karena tidak nationaal. Rokoknya kelobot, selamatan natioanaal ini terus berlangsung ed sampai pagi hari\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Semangat nasionalisme harus tertanam, mengedepankan produk lokal adalah salah satu semangat nasionalime. Salah satu keberadaan rokok klobot menjadi ciri produk asli indonesia dan harus dilestarikan. Klobot sendiri adalah ramuan tembakau dan cengkeh di gulung memakai daun jagung, embrio perkembangan menjadi rokok sigaret kretek tangan dan sigaret kretek mesin.  
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pusaran Budaya Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pusaran-budaya-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-04 08:40:41","post_modified_gmt":"2019-02-04 01:40:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5406","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5403,"post_author":"919","post_date":"2019-02-03 09:05:50","post_date_gmt":"2019-02-03 02:05:50","post_content":"\n

Seringkali saya menyaksikan berbagai film baik itu Eropa atau Asia yang menggambarkan tentang masa depan. Pemandangan soal masa depan tersebut dihadirkan dengan gambaran kecanggihan teknologi seperti robot yang akan membantu kehidupan manusia, gedung-gedung yang tingginya sudah amat tak bisa ditandingi,  hingga mobil-mobil yang bisa terbang. <\/p>\n\n\n\n

Pernah dalam masa kecil saya menyaksikan sebuah film animasi buatan jepang yang mempertanyakan tentang makanan di masa depan. Dengan santai salah satu tokoh yang berasal dari masa depan itu menjawab bahwa suatu saat nanti manusia akan mengonsumsi makanan berupa pasta gigi namun dengan rasa yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa, aneh!<\/p>\n\n\n\n

Seiring waktu berjalan saya kian tumbuh dewasa dan punya kesadaran untuk memilih menjadi seorang perokok<\/a>. Saya juga melihat ada sebuah inovasi dan gambaran tentang masa depan yang hadir dalam kehidupan sekarang. Banyak memang, namun yang menyita perhatian saya adalah rokok elektrik atau yang populer disebut Vape. Konon katanya ia adalah produk inovasi untuk menjembatani kebutuhan menghisap asap dan kecanggihan masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Di awal kehadirannya Vape memang mengundang decak kekaguman saya. Bagaimana bisa sebuah mesin kecil mengeluarkan asap yang katanya lebih menyehatkan daripada rokok.<\/strong> Meski pada akhirnya teori tersebut juga bisa dibantah oleh beberapa ilmuan dunia. Tapi ada satu yang saya amati selain soal kesehatan, rokok elektrik rupanya menghadirkan kultur dan budaya baru dalam kehidupan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: LAGI-LAGI IKLAN ROKOK, KAPAN KPAI TIDAK TEBANG PILIH? <\/a><\/h4>\n\n\n\n

Kehadiran teknologi memang kerap sedikit atau benyak mengubah gaya atau kultur suatu masyarakat. Begitu pula yang saya perhatikan dengan rokok elektrik. Satu hal yang mudah diamati adalah menjamurnya toko-toko kecil yang menjual vape serta liquid di berbagai tempat. Sebagai sebuah warna baru dalam masyarakat, penggunanya ramai-ramai mengunjungi tempat tersebut berinteraksi dengan penikmat lainnya dan membangun sebuah rumah komunitas yang fleksibel.<\/p>\n\n\n\n

Meski belum bisa dikatakan memiliki jumlah penikmat yang setara dengan para perokok, pengguna Vape mulai menunjukkan eksistensinya. Selain toko yang tersebar, ragam acara juga mereka buat di beberapa daerah. Dalam lingkungan saya, beberapa teman yang dulunya merupakan perokok aktif tertarik mengikuti event tersebut dan beralih mengisap rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Nun jauh di sana, di Amerika Serikat tepatnya, budaya Vape juga sudah mulai berkembang lama ketimbang di Tanah Air. Penikmatnya terbagi menjadi dua, ada yang dulunya bekas perokok dan ada yang memang menikmatinya sebagai gaya hidup. Wajar saja mengingat facebook tak memperbolehkan iklan tembakau di platform mereka, sebaliknya iklan tentang vape justru bertebaran. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi budaya baru yang berkembang di berbagai belahan dunia bahkan di Indonesia, Vape konon menjadi alternatif yang lebih bermanfaat daripada rokok. Dalih yang diusung selalu sama kepada para perokok tradisonal yaitu soal kesehatan dan lebih irit. Soal kesehatan tentu ada beberapa pendapat para ilmuan yang membantahnya, namun soal irit, saya rasa tidak. Memang satu liquid bisa digunakan untuk beberapa Minggu, akan tetapi yang saya lihat di lapangan justru sebaliknya. <\/p>\n\n\n\n

Beberapa penikmat rokok elektrik kerap berbelanja liquid yang mereka idamkan. Terkadang, hal tersebut yang membuat mereka boros karena terus mengeksplor rasa mana yang mereka idam-idamkan. Tak jarang juga liquid dengan harga mahal hingga ratus ribuan akan mereka beli. Sebaliknya, para perokok konvensional justru kerap bertahan dengan satu rasa atau merek saja.<\/p>\n\n\n\n

Sedikit berbeda dengan penikmat rokok konvensional atau kretek. Mengingat rokok kretek sudah menjadi kebudayan lokal yang terus dipertahankan selama bertahun-tahun, kehadirannya sudah mewarnai khasanah keindonesiaan. Perokok kretek juga sudah punya soliditas luar biasa yang terbentuk sejak lama dan terus terbangun mengiringi peradaban di Indonesia atau dunia.<\/p>\n\n\n\n

Kini, perokok elektrik mulai merasakan kegelisahan. Beberapa negara mulai menerapkan peraturan ketat terhadap Vape, sedangkan di Indonesia biaya cukai pun kini mulai diberlakukan terhadap perdagangan rokok elektrik. Keberadaannya di mata negara pun mulai dianggap sama seperti rokok, meski pada awalnya rokok elektrik hadir dengan slogan-slogan produk alternatif yang lebih menyehatkan (katanya).<\/p>\n\n\n\n


Tapi jika kemudian di masa depan memang rokok elektrik yang kemudian menjadi sesuatu yang populer dan dinikmati banyak orang. Rasanya saya tetap ingin hidup di jaman ini, dengan sebatang kretek di tangan dan menikmati segala khasanah kebudayaan yang patut terus dipertahankan. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"masa-depan-rokok-elektrik-dan-semangat-alternatif-yang-sia-sia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-03 09:05:56","post_modified_gmt":"2019-02-03 02:05:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5403","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5385,"post_author":"883","post_date":"2019-02-02 08:01:01","post_date_gmt":"2019-02-02 01:01:01","post_content":"Pada tahun 2014, perusahaan rokok multinasional Philip Morris Internasional Inc. merilis sebuah produk <\/span>perangkat\u00a0<\/span>
rokok<\/span><\/a>\u00a0tanpa asap, yang dipanaskan bukan dibakar atau istilahnya\u00a0<\/span>heat not burn<\/i><\/strong>\u00a0(HNB) iQOS<\/strong>. <\/span>\r\n\r\nPerangkat rokok tanpa asap dengan nama iQOS<\/a> ini berbentuk seperti bagian luar pulpen, dengan lubang di tengah untuk rokok. Produk yang berada di bawah brand Marlboro ini dapat memanaskan rokok sampai 350 derajat celcius lalu mengeluarkan uap nikotin beraroma tembakau<\/em><\/a>.<\/span>\r\n

Produk iQOS sebenarnya bukanlah produk rokok tanpa asap yang pertama muncul. Sebelumnya di tahun 1990-an, Reynolds Tobacco Co pernah merilis produk serupa bernama Eclipes yang juga dapat menguapkan nikotin setelah dinyalakan dengan korek api.<\/span><\/blockquote>\r\nSelain itu, Eclips juga dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. Namun, pada saat itu Eclips tidak diminati oleh pasar, utamanya para perokok konvensional. Meskipun Eclips dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. <\/span>\r\n\r\nBisnis semacam rokok tanpa asap seperti Eclips dan iQOS memang sudah menjadi bagian dari rencana panjang bisnis perusahaan-perusahaan rokok multinasional. Jadi tidak usah heran jika ke depannya akan kita akan banyak menemukan produk rokok tanpa asap ini.<\/span>\r\n\r\nWatak dari perusahaan multinasional memang seperti itu, mereka sangat jeli melihat peluang pasar ke depannya. Ketika market place perusahaan rokok multinasional saat ini terus dirongrong oleh kelompok antirokok, mereka tak kehabisan akal. Maka kemudian mereka menginovasi produk rokok konvensional menjadi rokok yang tidak berasap. Begitupun dengan mengikutsertakan jargon-jargon kesehatan dalam narasi promosi mereka.<\/span>\r\n\r\nSesungguhnya memang seperti itulah watak bisnis perusahaan-perusahaan multinasional, melakukan segala cara agar bisnis mereka tetap bertahan, meskipun harus merangkul musuh sekalipun. <\/span>\r\n\r\nYa kadang pura-pura berantem sama antirokok, tapi dibalik itu sebenarnya baik-baik saja, dan tentunya ada kompromi untuk terus melanggengkan bisnis mereka.<\/span>\r\n

Lalu siapa yang dirugikan dari permainan bisnis macam produk rokok tanpa asap perusahaan rokok multinasional ini?<\/span><\/h3>\r\nTentunya yang sangat dirugikan adalah produk hasil tembakau yang memiliki kekhasan seperti kretek di Indonesia. Kretek sebagai produk khas asli Indonesia yang menjadi bagian dari warisan kebudayaan tidak mungkin bertransformasi menjadi produk-produk elektrik dan sejenisnya.<\/span>\r\n\r\nKretek tetaplah kretek, dengan bahan baku alami tembakau dan cengkeh yang tidak diintervensi dengan zat atau perangkat penghantar lainnya. Karena dengan bentuk, karakter dan cara menikmatinya memang konvensional dan akan terus begitu apapun kondisi dan zamannya.<\/span>\r\n
Bisnis produk rokok tanpa asap (elektrik) juga menghajar kretek dengan mendompleng isu pengendalian tembakau. Kampanye pengendalian tembakau selalu membawa slogan bahaya merokok dan upaya untuk berhenti merokok. <\/span><\/blockquote>\r\nDari isu tersebut, rokok elektrik masuk dengan citra produk alternatif tembakau, bahkan mereka tak segan menilai bahwa rokok elektrik lebih aman ketimbang rokok konvensional, yakni kretek.<\/span>\r\n\r\nLalu jika Indonesia akan dibanjiri dengan produk-produk yang mengatasnamakan produk alternatif tembakau, macam rokok tanpa asap (iQOS dan sejenisnya), maka itulah pertanda bahwa kretek harus tergerus dari cara hidup manusia Indonesia dalam menikmati produk hasil tembakau khas Indonesia yang sudah turun-temurun lamanya dinikmati manusia Indonesia.<\/span>","post_title":"Nasib Kretek di Pusaran Pertarungan Bisnis Global Perusahaan Rokok Multinasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"nasib-kretek-di-pusaran-pertarungan-bisnis-global-perusahaan-rokok-multinasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-02 08:01:43","post_modified_gmt":"2019-02-02 01:01:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5385","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; \n

Cengkeh, bahan baku paling esensial dari kretek --selain tembakau, tentu saja-- pun kembali berjaya. Bahkan, sejak dasawarsa 1970an, telah menjadi salah satu penyumbang terbesar keuangan negara Republik Indonesia. Pada tahun 2012 dan 2013, pemasukan cukai dari industri kretek mencatat 95,5% dari seluruh pemasukan cukai ke kas negara. Nilainya tak tanggung-tanggung: Rp 87 triliun! (el-Guyanie, et.al.: 2013:4-5).<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Nilai ekonomisnya yang sangat besar sempat menggoda penguasa otoriter rezim Presiden Soeharto, pada 1990-an, memberlakukan satu kebijakan \u2018Hongi Gaya Baru\u2019: monopoli perdagangan cengkeh dalam negeri melalui Badan Penyanggah dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) yang sangat merugikan petani. Harga cengkeh di tingkat petani penghasil anjlok sampai hanya Rp 2.000 - 3.000 per kilogram, lebih murah dari harga sebungkus kretek yang dihasilkan darinya.
<\/p>\n\n\n\n

Akibatnya, ratusan ribu pohon cengkeh di daerah-daerah penghasil utama --Maluku, Maluku Utara, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Selatan-- ditebangi atau dibiarkan terlantar tak terurus.
<\/p>\n\n\n\n

Gelombang reformasi sistem politik dan hukum nasional yang dimulai pada tahun 1998, akhirnya menjungkalkan rezim Soeharto dan BPPC dibubarkan, Pelan tapi pasti, harga cengkeh kembali merangkak naik, sehingga pada tahun 2012, bahkan melewati angka Rp 200.000 per kilogram. Para petani cengkeh di seluruh negeri kembali tersenyum. Tetapi, sampai kapan? <\/p>\n\n\n\n

Catatan:<\/strong><\/p>\n\n\n\n

[1] Beberapa sumber menyebutkan bahwa kata \u2018cengkeh\u2019 dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Mandarin, tkeng-his atau xi\u2019jia, yang berarti \u2018rempah [berbentuk mirip] paku\u2019 (scented nails). Ini menunjukkan bahwa cengkeh sudah dikenal sejak lama oleh bangsa Cina --diketahui sejak abad-2-- jauh sebelum orang Eropa mengenalnya ((lihat, misalnya: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n\n\n\n

[2] Catatan-catatan para biarawan Fransiskan --yang disalin dan dikutip oleh van Frassen-- bahkan menyebut cengkeh sebagai salah satu bahan utama pengawet mumi para Fir\u2019aun, penguasa Mesir Kuno. Beberapa pakar sejarah dan arkeologi menyatakan bahwa rempah-rempah Maluku bahkan sudah ditemukan artefaknya di Lembah Mesopotomia (wilayah Iraq dan sekitarnya sekarang) pada 3.000 tahun sebelum Masehi. (lihat, antara lain: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n\n\n\n

[3] Uraian lebih rinci sejarah kolonialisme rempah-rempah Nusantara ini, terutama oleh Belanda dan Portugis, dapat dibaca pada beberapa sumber kepustakaan yang sudah dikenal luas, antara lain: Glamann (1958) dan Boxer (1965 dan 1969). Dalam risalah klasik Pires disebutkan bahwa pada tahun 1512-1521 saja, jumlah produksi cengkeh di Maluku sudah mencapai 7.250 bahar per tahun, terbesar adalah di Makian serta Amboina dan Lease (masing-masing 1.500 bahar)(Pires, 1512-1515).<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem Topatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-10 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-02-10 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5425","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5415,"post_author":"878","post_date":"2019-02-07 12:15:55","post_date_gmt":"2019-02-07 05:15:55","post_content":"\n

Belakangan ini, ketika musim hujan tiba, di Kabupaten Temanggung, Kabupaten Jember, dan beberapa wilayah sentra pertanian tembakau lainnya, hampir mustahil menemukan tanaman tembakau tumbuh di lahan-lahan milik petani. Di wilayah-wilayah tersebut, citra sebagai sentra pertanian tembakau seakan menguap. Lahan-lahan yang ada di sana, sama sekali tidak ditumbuhi tanaman tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Kabar ini bisa jadi dianggap sebagai kabar gembira bagi mereka yang menganggap diri dan kelompoknya anti-rokok dan anti-tembakau yang selalu mengampanyekan sikap-sikap mereka terkait kebencian kepada tembakau dan aktivitas merokok. Setelah sekian lama berjuang, akhirnya perjuangan mereka dirasa berhasil usai menyaksikan fenomena lahan-lahan di wilayah yang dianggap sentra pertanian tembakau pada hari-hari belakangan ini.<\/p>\n\n\n\n

Baca juga: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tak sia-sia turun ke jalan, tak sia-sia melakukan lobi-lobi ke penguasa, tak sia-sia mengucurkan uang yang tidak sedikit, dan tak sia-sia mempermalukan diri dengan mengemis ke lembaga donor asing dan menggondol uang dari cukai tembakau untuk mengampanyekan gerakan anti-rokok dan anti-tembakau. Tak sia-sia. Karena perjuangan sepertinya berhasil.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Kampanye-kampanye gerakan mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya, sepertinya juga sangat berhasil. Bagaimana tidak? Wilayah-wilayah yang sebelumnya penuh dengan tanaman tembakau dan bergeliat dengannya, kini lahan-lahannya sudah berganti dengan tanaman lain. Sebuah keberhasilan yang menggembirakan. Begitu mungkin pikir mereka para yang menganggap dirinya pejuang anti-rokok dan anti-tembakau. Dan tentu saja mereka akan kecele dan kita akan menertawakan hal itu.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, mereka yang menganggap dirinya anti-rokok dan anti-tembakau tidak menyaksikan langsung fenomena ini di lapangan, di lahan-lahan yang peruntukannya berubah pada hari-hari belakangan ini ketika memasuki musim hujan. Mereka asyik duduk pada kursi empuk di ruang-ruang nyaman ber-AC di kota-kota yang jauh dari kultur pertanian. Mereka menyengajakan diri menjadi elit dan enggan untuk turun melihat langsung ke lapangan. Kalaupun ada yang turun langsung ke lapangan, hanya segelintir saja dari mereka, itupun sekadar formalitas saja. Tak pernah benar-benar mau turun ke lapangan, hidup dan merasakan langsung kultur pertanian tembakau dalam jangka waktu cukup lama di lapangan.<\/p>\n\n\n\n

Baca juga: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Fenomena ini membikin kita tak bisa melihat mereka para anti-rokok kecele lalu menertawakan mereka.<\/strong> Fenomena keengganan terjun langsung ke lapangan terlebih mencoba mendengar mereka yang tetap menanam tembakau, juga menjalani keseharian dalam waktu cukup lama bersama petani tembakau inilah yang saya kira menjadikan mereka tetap keras kepala untuk anti-rokok dan anti-tembakau. Karena jika mereka mau melakukan itu, saya yakin mereka semua tidak akan begitu kaku dalam memandang pertanian tembakau dan produk hasil industri tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu yang selalu mereka kampanyekan dan ngotot dengan itu, terkait hulu pertanian tembakau adalah mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya. Mereka berargumen banyak tanaman lain yang bisa semenguntungkan tanaman tembakau. Keengganan mereka terjun langsung ke lapangan inilah yang membikin mereka buta dengan kondisi pertanian tembakau dan pada akhirnya terus menerus mengampanyekan pergantian tanaman tembakau dengan tanaman lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca juga: Imanlah kepada Allah, Bukan Antirokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tembakau tanaman yang khas. Ia hanya tumbuh baik sepanjang empat hingga lima bulan dalam satu tahun. Tumbuh-kembang tanaman tembakau dengan baik itu umumnya terjadi pada musim kemarau setiap tahunnya. Hanya sedikit sekali jenis tembakau yang tumbuh baik di musim penghujan, mayoritasnya, tumbuh baik pada musim kemarau.<\/p>\n\n\n\n

Jika ditanam pada musim hujan, hampir bisa dipastikan tanaman tembakau akan gagal menghasilkan daun-daun yang berkualitas. Ia akan rusak dan membusuk karena terlalu banyak terkena air sehingga daun-daun itu tak layak dijual. Jangankan bisa dijual, untuk tumbuh dengan baik pun sepertinya sulit karena musim hujan akan membunuh banyak tanaman itu.<\/p>\n\n\n\n

Maka, tak heran pada musim-musim seperti saat ini, ketika musim penghujan mendekati puncaknya, di wilayah-wilayah yang dikenal sebagai sentra pertanian tembakau, sulit menemukan pohon tembakau yang sedang tumbuh. Pada lahan-lahan yang sebelumnya ditumbuhi tanaman tembakau pada musim panas, berganti tanaman-tanaman lain yang bermacam-macam, sesuai dengan kondisi lahannya. Untuk lahan sawah, lahan-lahan itu pada musim penghujan kini ditumbuhi tanaman padi yang subur. Pada lahan tegalan dan lahan di pegunungan, lahan-lahan yang ditanami tembakau pada musim kemarau, saat ini ditumbuhi bermacam jenis tanaman mulai dari cabai, bawang, tomat, kol, terong, mentimun, dan ragam jenis tanaman semusim lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Uniknya, tipikal tanaman tembakau yang tumbuh baik di musim kemarau ini memberi pilihan lebih kepada para petani. Lahan-lahan yang sulit ditanami pada musim kemarau, pada akhirnya masih bisa tetap produktif dengan keberadaan tanaman tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Maka, kampanye aneh mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain dengan ragam rupa dalih yang membingungkan, bukan saja sama sekali tidak tepat dan asal-asalan, namun bisa jadi akan ditertawakan oleh para petani yang begitu paham dengan kondisi lahan dan terutama kondisi iklim dan cuaca. Sulit mencari tanaman semusim yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Jika pun ada, tak ada yang semenguntungkan tanaman tembakau.
<\/p>\n","post_title":"Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"keberhasilan-gerakan-anti-tembakau-tak-ada-tembakau-saat-musim-hujan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-07 12:16:02","post_modified_gmt":"2019-02-07 05:16:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5415","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5409,"post_author":"919","post_date":"2019-02-05 08:04:43","post_date_gmt":"2019-02-05 01:04:43","post_content":"\n

Tahun Baru Imlek yang merupakan tradisi Bangsa Tiongkok kini sudah tak lagi menjadi hal yang asing bagi masyarakat Indonesia. Kehadirannya sudah mewarnai dan berakulturasi dengan tradisi lokal. Menjelang Tahun Baru Imlek. Berbagai hiasan dan kemeriahan terjadi beberapa titik di Tanah Air. Perayaannya juga menjadi destinasi baru yang mengasyikkan untuk dilihat dan patut disaksikan.<\/p>\n\n\n\n

Berterimakasihlah kepada sang bapak bangsa, KH Abdurrahman Wahid atau yang dikenal dengan nama Gus Dur. Berkat kebijakannya saat menjadi Presiden Indonesia, Tahun Baru Imlek resmi dijadikan hari libur nasional dan dianggap sebagai salah satu hari raya di Tanah Air. Meski sentimen antitionghoa masih ada di sana-sini, tapi tetap tak bisa dipungkiri bahwa bangsa tionghoa sudah bersentuhan dengan budaya lokal dalam kurun waktu yang sangat panjang.<\/p>\n\n\n\n

DNA Bangsa Tionghoa yang memang merupakan pedagang menjadi pembuka kisah interaksi antara nenek moyang berbagai suku di Nusantara dengan mereka. Beberapa kelenteng-kelenteng yang tersebar pada berbagai pesisir daerah di Nusantara jadi buktinya. Pelabuhan-pelabuhan tua di tanah air dan ramainya perdagangan di pesisir mempermudah bangsa kita berhubungan dengan Bangsa Tionghoa.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Wong Kalang dan Kota Gede<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa kehadiran Bangsa Tionghoa di Nusantara tak hanya sebagai pedagang, namun juga sebagai pekerja (bahkan hingga pekerja kasar). Benny Setiono, seorang sejarahwan menyebutkan bahwa antara tahun 1760-1770 dalam jumlah yang besar memasuki nusantara melalui Kalimantan Barat. Mereka bekerja sebagai kuli pertambangan di sana dan di kemudian hari membentuk sebuah republik bernama Republik Lanfang yang konon katanya menjadi republik pertama di Asia Tenggara.<\/p>\n\n\n\n

Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Imlek dan Indonesia<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n\n\n\n

Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
<\/p>\n","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5406,"post_author":"877","post_date":"2019-02-04 08:23:48","post_date_gmt":"2019-02-04 01:23:48","post_content":"\n

Merokok itu sudah menjadi bagian dari budaya dan tradisi masyarakat, jauh sebelum Indonesia merdeka. Banyak cerita atau kisah tentang kretek <\/a><\/del>di tengah-tengah masyarakat bangsa ini, mulai sebagai alat untuk meraup keuntungan, alat komunikasi, sebagai teman sampai menjadi simbol pergerakan. <\/p>\n\n\n\n

Kretek, Simbol Perlawanan Roro Mendut<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Siapa yang tidak pernah mendengan cerita tentang Roro Mendut?, di telinga masyarakat Indonesia, kisah Roro Mendut tidak asing lagi.  Perempuan yang mempunyai paras wajah cantik, dan digandrungi kaum adam terutama kalangan putra kerajaan. Informasi kecantikan Roro Mendut tersebar seantero Nusantara, tidak satupun pria meragukan kecantikannya.  Bahkan kisah dan cerita kecantikan Roro Mendut tercatat dalam buku Babad Tanah Jawi. <\/p>\n\n\n\n

Diperkirakan pada tahun 1627, pada saat panglima perang Sultan Agung Mataram bernama Tumenggung Wiraguna berhasil menumpas pemberontakan di kota Pati, sebagai imbalanan atas keberhasilannya, mendapat hadiah wanita pujaan pria bernama Rara Mendut dari Kasultanan Agung Mataram.  Roro Mendut menolak dipinang Tumenggung Wiraguna, dan secara terang-terangan memilih pria lain dambaannya. Akibatnya, Roro Mendut harus membayar pajak setiap harinya kepada kerajaan Mataram. <\/p>\n\n\n\n

Bisa dibayangkan, betapa bingungnya Roro Mendut saat itu. Uang dari mana, ia hasilkan untuk bayar pajak tiap hari demi bisa bersama kekasihnya. Ternyata Roro Mendut tidak hanya cantik tetapi cerdas dan kreatif, bisa membaca peluang bisnis saat itu. Ide cermerlang muncul dengan berdagang\/berjualan rokok lintingan yang direkatkan dengan air ludahnya, dan sebelum menjualnya, rokok lintingan di sulut dahulu dan dihisap bekas bibir merahnya. Kemudian baru dijual ke pembeli yang berdesakan berjejer antri. <\/p>\n\n\n\n

Entah dari mana ide menjual rokok itu muncul. Yang jelas saking larisnya, kewajiban pajak Roro Mendut terpenuhi. Dan mungkin keadaannya akan lebih parah, jika saat itu Roro Mendut tidak berdagang rokok. Tidak akan terpenuhi kewajiban pajaknya. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Dengan rokok, hidup Roro Mendut terselamatkan. Adanya rokok, \u00a0Roro Mendut bebas dari belenggu kekuasaan. Berkat rokok, Roro Mendut terkengan, mengisi rubik informasi sejarah begitu kuatnya budaya merokok di \u00a0Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Pusaka Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek, Teman Perjuangan  Diponegoro<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Semasa berjuang melawan penjajah, yang harus dilakukan Diponegoro berpindah-pindah dari kota satu ke kota lain. Strategi perlawanan Diponegoro, kemudian sebagai basis strategi perang gerilya. Strategi yang menjadi idola dan kebanggaan tentara Indonesia. Dengan bergerilya, tentara Indonesia mampu mengecoh kekutan lawan yang lebih besar jumlahnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu, tenyata banyak cerita, Diponegoro saat berperang ditemani rokok. Ia dan pasukannya gemar merokok. Bahkan ketika tidak ada rokok, Pangeran Diponegoro rela hanya megunyah daun sirih yang diracik dengan kapur dan pinang. <\/p>\n\n\n\n

Kebiasaan ini, juga dialami oleh pengikut \/pasukan perang Pangeran Diponegoro. Bagi mereka, rokok teman sejati, menemani disetiap perjalanan mereka. Rokok menghilangkan depresi mereka, sebagai hiburan saat jauh dari keluarga demi berjuang melawan penjajah. Rokok menumbuhkan percaya diri mereka, lebih berani melawan penjajah walaupun hanya dengan serba keterbatasan, pasukan jumlah terbatas, alat perang terbatas dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Baca juga: Pangeran Diponegoro, Rokok Klobot dan Perlawanan Simbolis<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Jati Diri Bangsa<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Salah satu \u201cpendiri bangsa\u201d bernama KH. Agus Salim menghisap kretek dengan asapnya di kebal-kebulkan keudara, disaat ada perjamuan di Istana Buckingham ketika penobatan Elizabeth II sebagai Ratu kerajaan Inggris. Aroma khas keluar dari asap rokok kretek, tercium orang yang berada di ruang perjamuan. Sehingga memancing salah satu orang yang datang dalam perjamuan, dengan berkata; \u201ctuan sedang menghisap apa itu?\u201d.  Sentak KH. Agus Salim menjawab, \u201c inilah yang membuat nenek moyang anda sekian abad lalu datang dan kemudian menjajah negeri kami\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Jawaban KH. Agus Salim, faktanya memang benar. Rokok kretek tidak lain ada tambahan cengkeh (suzygium aromaticum<\/em>). \u00a0Tanaman legendaris menjadi rebutan dan sumber keuntungan kolonialisme Eropa atas Asia termasuk Indonesia. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Cengkeh adalah salah satu tanaman yang diperebutkan bangsa-bangsa dunia, sampai melegalkan penjajahan.  Dalam simpulan perjalanan ekspedisi cengkeh tahun 2013, Kepala Suku begitu julukan bagi Putut Ea, mengatakan \u201c jika saja tak pernah ada cengkeh dan pala di Maluku, mungkin sejarah kepulauan Nusantara ini akan berbeda sama sekali\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Simpulan Putut EA, sebagai salah satu pembenar perkataan \u00a0KH. Agus Salim. Mungkin, jika tanaman cengkeh tidak ada, fakta sejarah akan berbeda, tidak ada penjajahan di bumi Nusantara ini. <\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Mengisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek untuk Berteman dan Menjalin Persaudaraan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Teringat apa yang pernah dilakukan Menteri Sosial dan Lingkungan Hidup, saat melakukan pendekatan pada suku anak dalam di Jambi. Tidak lain ia adalah Khofifah menteri perempuan yang energik. Saat itu Khofifah bertanggungjawab dalam mengatasi masalah pendidikan dan kesejahteraan masyarakat suku anak dalam di Jambi.  <\/p>\n\n\n\n

Kebijakannya membuat fenomenal, selain bahan makanan, dan bantuan lain, khofifah juga membawa rokok.  Yang kemudian ada yang mengggugat dari anti rokok, tetapi sebagai Menteri, Khofifah tentunya sudah mengkaji secara mendalam. Dengan kecerdasannya , Khofifah menjawab dengan tegas dan lugas, \u201cjangan sok tahu kehidupan mereka, kenali apa yang menjadi ritme kehidupan mereka. Sangat bijaksana kalau kita semua pergi kesana, sehingga tahu adat istiadatnya juga. Tolong kalau ingin mengerti tentang kultur jangan hanya dari kacamata Jakarta. Saya pun ingin mengajak anda kesana, turun kesana, sapalah mereka\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Khofifah memberikan pelajaran bagi anti rokok. Tidak boleh sok tahu, apalagi selama ini antirokok hanya berasumsi, tanpa melihat fakta dilapangan. Khofifah juga menganjurkan agar lebih mengenal adat-istiadat, budaya dan tradisi masyarakat, tidak boleh melakukan hegemoni kultural, sebab keberagaman adat-istiadat dan budaya merupakan kekayaan negeri. <\/p>\n\n\n\n

Pelajaran Khofifah sangat mendalam dan bercirikhas Nusantara. Sebgaai Menteri \u00a0Sosial tentunya lebih berpengalaman apa yang dibutuhkan bangsa ini agar tetap jaya, bersatu dan utuh. Kenali perbedaan, hormati perbedaan, junjung tinggi budaya yang berbeda. \u00a0Apa yang telah dilakukan Khofifah dengan membawa rokok ke suku anak dalam adalah cermin penghormatan tradisi dan budaya masyarakat. Sebagai seorang Mentri, tentunya punya kuasa, artinya bisa seorang khofifah memberikan bantuan sesuai keinginannya sendiri, namun hal itu tidak dilakukan. Ia lebih mengedepankan penghormatan budaya masyarakat setempat, dengan membawa rokok untuk pendekatan dan pertemanan. Karena Khofifah tahu betul, bahwa merokok adalah budaya mereka, yang diwaris dari neneng moyang mereka. <\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Memilih Jalan Hidup Menikmati Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Simbol Pergerakan Nasional     <\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Abdul Rifa\u2019I dalam media bintang timur terbit pada 03 Oktober 1927, mengatakan, \u201ckopinya bukan kopi saringan, tetapi kopi tubruk sebab kopi ini katanya nationaal, gulanya gula jawa, susu tidak dipakai karena tidak nationaal. Rokoknya kelobot, selamatan natioanaal ini terus berlangsung ed sampai pagi hari\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Semangat nasionalisme harus tertanam, mengedepankan produk lokal adalah salah satu semangat nasionalime. Salah satu keberadaan rokok klobot menjadi ciri produk asli indonesia dan harus dilestarikan. Klobot sendiri adalah ramuan tembakau dan cengkeh di gulung memakai daun jagung, embrio perkembangan menjadi rokok sigaret kretek tangan dan sigaret kretek mesin.  
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pusaran Budaya Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pusaran-budaya-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-04 08:40:41","post_modified_gmt":"2019-02-04 01:40:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5406","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5403,"post_author":"919","post_date":"2019-02-03 09:05:50","post_date_gmt":"2019-02-03 02:05:50","post_content":"\n

Seringkali saya menyaksikan berbagai film baik itu Eropa atau Asia yang menggambarkan tentang masa depan. Pemandangan soal masa depan tersebut dihadirkan dengan gambaran kecanggihan teknologi seperti robot yang akan membantu kehidupan manusia, gedung-gedung yang tingginya sudah amat tak bisa ditandingi,  hingga mobil-mobil yang bisa terbang. <\/p>\n\n\n\n

Pernah dalam masa kecil saya menyaksikan sebuah film animasi buatan jepang yang mempertanyakan tentang makanan di masa depan. Dengan santai salah satu tokoh yang berasal dari masa depan itu menjawab bahwa suatu saat nanti manusia akan mengonsumsi makanan berupa pasta gigi namun dengan rasa yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa, aneh!<\/p>\n\n\n\n

Seiring waktu berjalan saya kian tumbuh dewasa dan punya kesadaran untuk memilih menjadi seorang perokok<\/a>. Saya juga melihat ada sebuah inovasi dan gambaran tentang masa depan yang hadir dalam kehidupan sekarang. Banyak memang, namun yang menyita perhatian saya adalah rokok elektrik atau yang populer disebut Vape. Konon katanya ia adalah produk inovasi untuk menjembatani kebutuhan menghisap asap dan kecanggihan masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Di awal kehadirannya Vape memang mengundang decak kekaguman saya. Bagaimana bisa sebuah mesin kecil mengeluarkan asap yang katanya lebih menyehatkan daripada rokok.<\/strong> Meski pada akhirnya teori tersebut juga bisa dibantah oleh beberapa ilmuan dunia. Tapi ada satu yang saya amati selain soal kesehatan, rokok elektrik rupanya menghadirkan kultur dan budaya baru dalam kehidupan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: LAGI-LAGI IKLAN ROKOK, KAPAN KPAI TIDAK TEBANG PILIH? <\/a><\/h4>\n\n\n\n

Kehadiran teknologi memang kerap sedikit atau benyak mengubah gaya atau kultur suatu masyarakat. Begitu pula yang saya perhatikan dengan rokok elektrik. Satu hal yang mudah diamati adalah menjamurnya toko-toko kecil yang menjual vape serta liquid di berbagai tempat. Sebagai sebuah warna baru dalam masyarakat, penggunanya ramai-ramai mengunjungi tempat tersebut berinteraksi dengan penikmat lainnya dan membangun sebuah rumah komunitas yang fleksibel.<\/p>\n\n\n\n

Meski belum bisa dikatakan memiliki jumlah penikmat yang setara dengan para perokok, pengguna Vape mulai menunjukkan eksistensinya. Selain toko yang tersebar, ragam acara juga mereka buat di beberapa daerah. Dalam lingkungan saya, beberapa teman yang dulunya merupakan perokok aktif tertarik mengikuti event tersebut dan beralih mengisap rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Nun jauh di sana, di Amerika Serikat tepatnya, budaya Vape juga sudah mulai berkembang lama ketimbang di Tanah Air. Penikmatnya terbagi menjadi dua, ada yang dulunya bekas perokok dan ada yang memang menikmatinya sebagai gaya hidup. Wajar saja mengingat facebook tak memperbolehkan iklan tembakau di platform mereka, sebaliknya iklan tentang vape justru bertebaran. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi budaya baru yang berkembang di berbagai belahan dunia bahkan di Indonesia, Vape konon menjadi alternatif yang lebih bermanfaat daripada rokok. Dalih yang diusung selalu sama kepada para perokok tradisonal yaitu soal kesehatan dan lebih irit. Soal kesehatan tentu ada beberapa pendapat para ilmuan yang membantahnya, namun soal irit, saya rasa tidak. Memang satu liquid bisa digunakan untuk beberapa Minggu, akan tetapi yang saya lihat di lapangan justru sebaliknya. <\/p>\n\n\n\n

Beberapa penikmat rokok elektrik kerap berbelanja liquid yang mereka idamkan. Terkadang, hal tersebut yang membuat mereka boros karena terus mengeksplor rasa mana yang mereka idam-idamkan. Tak jarang juga liquid dengan harga mahal hingga ratus ribuan akan mereka beli. Sebaliknya, para perokok konvensional justru kerap bertahan dengan satu rasa atau merek saja.<\/p>\n\n\n\n

Sedikit berbeda dengan penikmat rokok konvensional atau kretek. Mengingat rokok kretek sudah menjadi kebudayan lokal yang terus dipertahankan selama bertahun-tahun, kehadirannya sudah mewarnai khasanah keindonesiaan. Perokok kretek juga sudah punya soliditas luar biasa yang terbentuk sejak lama dan terus terbangun mengiringi peradaban di Indonesia atau dunia.<\/p>\n\n\n\n

Kini, perokok elektrik mulai merasakan kegelisahan. Beberapa negara mulai menerapkan peraturan ketat terhadap Vape, sedangkan di Indonesia biaya cukai pun kini mulai diberlakukan terhadap perdagangan rokok elektrik. Keberadaannya di mata negara pun mulai dianggap sama seperti rokok, meski pada awalnya rokok elektrik hadir dengan slogan-slogan produk alternatif yang lebih menyehatkan (katanya).<\/p>\n\n\n\n


Tapi jika kemudian di masa depan memang rokok elektrik yang kemudian menjadi sesuatu yang populer dan dinikmati banyak orang. Rasanya saya tetap ingin hidup di jaman ini, dengan sebatang kretek di tangan dan menikmati segala khasanah kebudayaan yang patut terus dipertahankan. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"masa-depan-rokok-elektrik-dan-semangat-alternatif-yang-sia-sia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-03 09:05:56","post_modified_gmt":"2019-02-03 02:05:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5403","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5385,"post_author":"883","post_date":"2019-02-02 08:01:01","post_date_gmt":"2019-02-02 01:01:01","post_content":"Pada tahun 2014, perusahaan rokok multinasional Philip Morris Internasional Inc. merilis sebuah produk <\/span>perangkat\u00a0<\/span>
rokok<\/span><\/a>\u00a0tanpa asap, yang dipanaskan bukan dibakar atau istilahnya\u00a0<\/span>heat not burn<\/i><\/strong>\u00a0(HNB) iQOS<\/strong>. <\/span>\r\n\r\nPerangkat rokok tanpa asap dengan nama iQOS<\/a> ini berbentuk seperti bagian luar pulpen, dengan lubang di tengah untuk rokok. Produk yang berada di bawah brand Marlboro ini dapat memanaskan rokok sampai 350 derajat celcius lalu mengeluarkan uap nikotin beraroma tembakau<\/em><\/a>.<\/span>\r\n

Produk iQOS sebenarnya bukanlah produk rokok tanpa asap yang pertama muncul. Sebelumnya di tahun 1990-an, Reynolds Tobacco Co pernah merilis produk serupa bernama Eclipes yang juga dapat menguapkan nikotin setelah dinyalakan dengan korek api.<\/span><\/blockquote>\r\nSelain itu, Eclips juga dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. Namun, pada saat itu Eclips tidak diminati oleh pasar, utamanya para perokok konvensional. Meskipun Eclips dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. <\/span>\r\n\r\nBisnis semacam rokok tanpa asap seperti Eclips dan iQOS memang sudah menjadi bagian dari rencana panjang bisnis perusahaan-perusahaan rokok multinasional. Jadi tidak usah heran jika ke depannya akan kita akan banyak menemukan produk rokok tanpa asap ini.<\/span>\r\n\r\nWatak dari perusahaan multinasional memang seperti itu, mereka sangat jeli melihat peluang pasar ke depannya. Ketika market place perusahaan rokok multinasional saat ini terus dirongrong oleh kelompok antirokok, mereka tak kehabisan akal. Maka kemudian mereka menginovasi produk rokok konvensional menjadi rokok yang tidak berasap. Begitupun dengan mengikutsertakan jargon-jargon kesehatan dalam narasi promosi mereka.<\/span>\r\n\r\nSesungguhnya memang seperti itulah watak bisnis perusahaan-perusahaan multinasional, melakukan segala cara agar bisnis mereka tetap bertahan, meskipun harus merangkul musuh sekalipun. <\/span>\r\n\r\nYa kadang pura-pura berantem sama antirokok, tapi dibalik itu sebenarnya baik-baik saja, dan tentunya ada kompromi untuk terus melanggengkan bisnis mereka.<\/span>\r\n

Lalu siapa yang dirugikan dari permainan bisnis macam produk rokok tanpa asap perusahaan rokok multinasional ini?<\/span><\/h3>\r\nTentunya yang sangat dirugikan adalah produk hasil tembakau yang memiliki kekhasan seperti kretek di Indonesia. Kretek sebagai produk khas asli Indonesia yang menjadi bagian dari warisan kebudayaan tidak mungkin bertransformasi menjadi produk-produk elektrik dan sejenisnya.<\/span>\r\n\r\nKretek tetaplah kretek, dengan bahan baku alami tembakau dan cengkeh yang tidak diintervensi dengan zat atau perangkat penghantar lainnya. Karena dengan bentuk, karakter dan cara menikmatinya memang konvensional dan akan terus begitu apapun kondisi dan zamannya.<\/span>\r\n
Bisnis produk rokok tanpa asap (elektrik) juga menghajar kretek dengan mendompleng isu pengendalian tembakau. Kampanye pengendalian tembakau selalu membawa slogan bahaya merokok dan upaya untuk berhenti merokok. <\/span><\/blockquote>\r\nDari isu tersebut, rokok elektrik masuk dengan citra produk alternatif tembakau, bahkan mereka tak segan menilai bahwa rokok elektrik lebih aman ketimbang rokok konvensional, yakni kretek.<\/span>\r\n\r\nLalu jika Indonesia akan dibanjiri dengan produk-produk yang mengatasnamakan produk alternatif tembakau, macam rokok tanpa asap (iQOS dan sejenisnya), maka itulah pertanda bahwa kretek harus tergerus dari cara hidup manusia Indonesia dalam menikmati produk hasil tembakau khas Indonesia yang sudah turun-temurun lamanya dinikmati manusia Indonesia.<\/span>","post_title":"Nasib Kretek di Pusaran Pertarungan Bisnis Global Perusahaan Rokok Multinasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"nasib-kretek-di-pusaran-pertarungan-bisnis-global-perusahaan-rokok-multinasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-02 08:01:43","post_modified_gmt":"2019-02-02 01:01:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5385","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; \n

Baca: Teruslah Menanam Tembakau dan Cengkeh, Wahai Petani Indonesia<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Cengkeh, bahan baku paling esensial dari kretek --selain tembakau, tentu saja-- pun kembali berjaya. Bahkan, sejak dasawarsa 1970an, telah menjadi salah satu penyumbang terbesar keuangan negara Republik Indonesia. Pada tahun 2012 dan 2013, pemasukan cukai dari industri kretek mencatat 95,5% dari seluruh pemasukan cukai ke kas negara. Nilainya tak tanggung-tanggung: Rp 87 triliun! (el-Guyanie, et.al.: 2013:4-5).<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Nilai ekonomisnya yang sangat besar sempat menggoda penguasa otoriter rezim Presiden Soeharto, pada 1990-an, memberlakukan satu kebijakan \u2018Hongi Gaya Baru\u2019: monopoli perdagangan cengkeh dalam negeri melalui Badan Penyanggah dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) yang sangat merugikan petani. Harga cengkeh di tingkat petani penghasil anjlok sampai hanya Rp 2.000 - 3.000 per kilogram, lebih murah dari harga sebungkus kretek yang dihasilkan darinya.
<\/p>\n\n\n\n

Akibatnya, ratusan ribu pohon cengkeh di daerah-daerah penghasil utama --Maluku, Maluku Utara, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Selatan-- ditebangi atau dibiarkan terlantar tak terurus.
<\/p>\n\n\n\n

Gelombang reformasi sistem politik dan hukum nasional yang dimulai pada tahun 1998, akhirnya menjungkalkan rezim Soeharto dan BPPC dibubarkan, Pelan tapi pasti, harga cengkeh kembali merangkak naik, sehingga pada tahun 2012, bahkan melewati angka Rp 200.000 per kilogram. Para petani cengkeh di seluruh negeri kembali tersenyum. Tetapi, sampai kapan? <\/p>\n\n\n\n

Catatan:<\/strong><\/p>\n\n\n\n

[1] Beberapa sumber menyebutkan bahwa kata \u2018cengkeh\u2019 dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Mandarin, tkeng-his atau xi\u2019jia, yang berarti \u2018rempah [berbentuk mirip] paku\u2019 (scented nails). Ini menunjukkan bahwa cengkeh sudah dikenal sejak lama oleh bangsa Cina --diketahui sejak abad-2-- jauh sebelum orang Eropa mengenalnya ((lihat, misalnya: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n\n\n\n

[2] Catatan-catatan para biarawan Fransiskan --yang disalin dan dikutip oleh van Frassen-- bahkan menyebut cengkeh sebagai salah satu bahan utama pengawet mumi para Fir\u2019aun, penguasa Mesir Kuno. Beberapa pakar sejarah dan arkeologi menyatakan bahwa rempah-rempah Maluku bahkan sudah ditemukan artefaknya di Lembah Mesopotomia (wilayah Iraq dan sekitarnya sekarang) pada 3.000 tahun sebelum Masehi. (lihat, antara lain: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n\n\n\n

[3] Uraian lebih rinci sejarah kolonialisme rempah-rempah Nusantara ini, terutama oleh Belanda dan Portugis, dapat dibaca pada beberapa sumber kepustakaan yang sudah dikenal luas, antara lain: Glamann (1958) dan Boxer (1965 dan 1969). Dalam risalah klasik Pires disebutkan bahwa pada tahun 1512-1521 saja, jumlah produksi cengkeh di Maluku sudah mencapai 7.250 bahar per tahun, terbesar adalah di Makian serta Amboina dan Lease (masing-masing 1.500 bahar)(Pires, 1512-1515).<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem Topatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-10 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-02-10 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5425","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5415,"post_author":"878","post_date":"2019-02-07 12:15:55","post_date_gmt":"2019-02-07 05:15:55","post_content":"\n

Belakangan ini, ketika musim hujan tiba, di Kabupaten Temanggung, Kabupaten Jember, dan beberapa wilayah sentra pertanian tembakau lainnya, hampir mustahil menemukan tanaman tembakau tumbuh di lahan-lahan milik petani. Di wilayah-wilayah tersebut, citra sebagai sentra pertanian tembakau seakan menguap. Lahan-lahan yang ada di sana, sama sekali tidak ditumbuhi tanaman tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Kabar ini bisa jadi dianggap sebagai kabar gembira bagi mereka yang menganggap diri dan kelompoknya anti-rokok dan anti-tembakau yang selalu mengampanyekan sikap-sikap mereka terkait kebencian kepada tembakau dan aktivitas merokok. Setelah sekian lama berjuang, akhirnya perjuangan mereka dirasa berhasil usai menyaksikan fenomena lahan-lahan di wilayah yang dianggap sentra pertanian tembakau pada hari-hari belakangan ini.<\/p>\n\n\n\n

Baca juga: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tak sia-sia turun ke jalan, tak sia-sia melakukan lobi-lobi ke penguasa, tak sia-sia mengucurkan uang yang tidak sedikit, dan tak sia-sia mempermalukan diri dengan mengemis ke lembaga donor asing dan menggondol uang dari cukai tembakau untuk mengampanyekan gerakan anti-rokok dan anti-tembakau. Tak sia-sia. Karena perjuangan sepertinya berhasil.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Kampanye-kampanye gerakan mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya, sepertinya juga sangat berhasil. Bagaimana tidak? Wilayah-wilayah yang sebelumnya penuh dengan tanaman tembakau dan bergeliat dengannya, kini lahan-lahannya sudah berganti dengan tanaman lain. Sebuah keberhasilan yang menggembirakan. Begitu mungkin pikir mereka para yang menganggap dirinya pejuang anti-rokok dan anti-tembakau. Dan tentu saja mereka akan kecele dan kita akan menertawakan hal itu.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, mereka yang menganggap dirinya anti-rokok dan anti-tembakau tidak menyaksikan langsung fenomena ini di lapangan, di lahan-lahan yang peruntukannya berubah pada hari-hari belakangan ini ketika memasuki musim hujan. Mereka asyik duduk pada kursi empuk di ruang-ruang nyaman ber-AC di kota-kota yang jauh dari kultur pertanian. Mereka menyengajakan diri menjadi elit dan enggan untuk turun melihat langsung ke lapangan. Kalaupun ada yang turun langsung ke lapangan, hanya segelintir saja dari mereka, itupun sekadar formalitas saja. Tak pernah benar-benar mau turun ke lapangan, hidup dan merasakan langsung kultur pertanian tembakau dalam jangka waktu cukup lama di lapangan.<\/p>\n\n\n\n

Baca juga: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Fenomena ini membikin kita tak bisa melihat mereka para anti-rokok kecele lalu menertawakan mereka.<\/strong> Fenomena keengganan terjun langsung ke lapangan terlebih mencoba mendengar mereka yang tetap menanam tembakau, juga menjalani keseharian dalam waktu cukup lama bersama petani tembakau inilah yang saya kira menjadikan mereka tetap keras kepala untuk anti-rokok dan anti-tembakau. Karena jika mereka mau melakukan itu, saya yakin mereka semua tidak akan begitu kaku dalam memandang pertanian tembakau dan produk hasil industri tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu yang selalu mereka kampanyekan dan ngotot dengan itu, terkait hulu pertanian tembakau adalah mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya. Mereka berargumen banyak tanaman lain yang bisa semenguntungkan tanaman tembakau. Keengganan mereka terjun langsung ke lapangan inilah yang membikin mereka buta dengan kondisi pertanian tembakau dan pada akhirnya terus menerus mengampanyekan pergantian tanaman tembakau dengan tanaman lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca juga: Imanlah kepada Allah, Bukan Antirokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tembakau tanaman yang khas. Ia hanya tumbuh baik sepanjang empat hingga lima bulan dalam satu tahun. Tumbuh-kembang tanaman tembakau dengan baik itu umumnya terjadi pada musim kemarau setiap tahunnya. Hanya sedikit sekali jenis tembakau yang tumbuh baik di musim penghujan, mayoritasnya, tumbuh baik pada musim kemarau.<\/p>\n\n\n\n

Jika ditanam pada musim hujan, hampir bisa dipastikan tanaman tembakau akan gagal menghasilkan daun-daun yang berkualitas. Ia akan rusak dan membusuk karena terlalu banyak terkena air sehingga daun-daun itu tak layak dijual. Jangankan bisa dijual, untuk tumbuh dengan baik pun sepertinya sulit karena musim hujan akan membunuh banyak tanaman itu.<\/p>\n\n\n\n

Maka, tak heran pada musim-musim seperti saat ini, ketika musim penghujan mendekati puncaknya, di wilayah-wilayah yang dikenal sebagai sentra pertanian tembakau, sulit menemukan pohon tembakau yang sedang tumbuh. Pada lahan-lahan yang sebelumnya ditumbuhi tanaman tembakau pada musim panas, berganti tanaman-tanaman lain yang bermacam-macam, sesuai dengan kondisi lahannya. Untuk lahan sawah, lahan-lahan itu pada musim penghujan kini ditumbuhi tanaman padi yang subur. Pada lahan tegalan dan lahan di pegunungan, lahan-lahan yang ditanami tembakau pada musim kemarau, saat ini ditumbuhi bermacam jenis tanaman mulai dari cabai, bawang, tomat, kol, terong, mentimun, dan ragam jenis tanaman semusim lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Uniknya, tipikal tanaman tembakau yang tumbuh baik di musim kemarau ini memberi pilihan lebih kepada para petani. Lahan-lahan yang sulit ditanami pada musim kemarau, pada akhirnya masih bisa tetap produktif dengan keberadaan tanaman tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Maka, kampanye aneh mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain dengan ragam rupa dalih yang membingungkan, bukan saja sama sekali tidak tepat dan asal-asalan, namun bisa jadi akan ditertawakan oleh para petani yang begitu paham dengan kondisi lahan dan terutama kondisi iklim dan cuaca. Sulit mencari tanaman semusim yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Jika pun ada, tak ada yang semenguntungkan tanaman tembakau.
<\/p>\n","post_title":"Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"keberhasilan-gerakan-anti-tembakau-tak-ada-tembakau-saat-musim-hujan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-07 12:16:02","post_modified_gmt":"2019-02-07 05:16:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5415","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5409,"post_author":"919","post_date":"2019-02-05 08:04:43","post_date_gmt":"2019-02-05 01:04:43","post_content":"\n

Tahun Baru Imlek yang merupakan tradisi Bangsa Tiongkok kini sudah tak lagi menjadi hal yang asing bagi masyarakat Indonesia. Kehadirannya sudah mewarnai dan berakulturasi dengan tradisi lokal. Menjelang Tahun Baru Imlek. Berbagai hiasan dan kemeriahan terjadi beberapa titik di Tanah Air. Perayaannya juga menjadi destinasi baru yang mengasyikkan untuk dilihat dan patut disaksikan.<\/p>\n\n\n\n

Berterimakasihlah kepada sang bapak bangsa, KH Abdurrahman Wahid atau yang dikenal dengan nama Gus Dur. Berkat kebijakannya saat menjadi Presiden Indonesia, Tahun Baru Imlek resmi dijadikan hari libur nasional dan dianggap sebagai salah satu hari raya di Tanah Air. Meski sentimen antitionghoa masih ada di sana-sini, tapi tetap tak bisa dipungkiri bahwa bangsa tionghoa sudah bersentuhan dengan budaya lokal dalam kurun waktu yang sangat panjang.<\/p>\n\n\n\n

DNA Bangsa Tionghoa yang memang merupakan pedagang menjadi pembuka kisah interaksi antara nenek moyang berbagai suku di Nusantara dengan mereka. Beberapa kelenteng-kelenteng yang tersebar pada berbagai pesisir daerah di Nusantara jadi buktinya. Pelabuhan-pelabuhan tua di tanah air dan ramainya perdagangan di pesisir mempermudah bangsa kita berhubungan dengan Bangsa Tionghoa.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Wong Kalang dan Kota Gede<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa kehadiran Bangsa Tionghoa di Nusantara tak hanya sebagai pedagang, namun juga sebagai pekerja (bahkan hingga pekerja kasar). Benny Setiono, seorang sejarahwan menyebutkan bahwa antara tahun 1760-1770 dalam jumlah yang besar memasuki nusantara melalui Kalimantan Barat. Mereka bekerja sebagai kuli pertambangan di sana dan di kemudian hari membentuk sebuah republik bernama Republik Lanfang yang konon katanya menjadi republik pertama di Asia Tenggara.<\/p>\n\n\n\n

Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Imlek dan Indonesia<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n\n\n\n

Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
<\/p>\n","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5406,"post_author":"877","post_date":"2019-02-04 08:23:48","post_date_gmt":"2019-02-04 01:23:48","post_content":"\n

Merokok itu sudah menjadi bagian dari budaya dan tradisi masyarakat, jauh sebelum Indonesia merdeka. Banyak cerita atau kisah tentang kretek <\/a><\/del>di tengah-tengah masyarakat bangsa ini, mulai sebagai alat untuk meraup keuntungan, alat komunikasi, sebagai teman sampai menjadi simbol pergerakan. <\/p>\n\n\n\n

Kretek, Simbol Perlawanan Roro Mendut<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Siapa yang tidak pernah mendengan cerita tentang Roro Mendut?, di telinga masyarakat Indonesia, kisah Roro Mendut tidak asing lagi.  Perempuan yang mempunyai paras wajah cantik, dan digandrungi kaum adam terutama kalangan putra kerajaan. Informasi kecantikan Roro Mendut tersebar seantero Nusantara, tidak satupun pria meragukan kecantikannya.  Bahkan kisah dan cerita kecantikan Roro Mendut tercatat dalam buku Babad Tanah Jawi. <\/p>\n\n\n\n

Diperkirakan pada tahun 1627, pada saat panglima perang Sultan Agung Mataram bernama Tumenggung Wiraguna berhasil menumpas pemberontakan di kota Pati, sebagai imbalanan atas keberhasilannya, mendapat hadiah wanita pujaan pria bernama Rara Mendut dari Kasultanan Agung Mataram.  Roro Mendut menolak dipinang Tumenggung Wiraguna, dan secara terang-terangan memilih pria lain dambaannya. Akibatnya, Roro Mendut harus membayar pajak setiap harinya kepada kerajaan Mataram. <\/p>\n\n\n\n

Bisa dibayangkan, betapa bingungnya Roro Mendut saat itu. Uang dari mana, ia hasilkan untuk bayar pajak tiap hari demi bisa bersama kekasihnya. Ternyata Roro Mendut tidak hanya cantik tetapi cerdas dan kreatif, bisa membaca peluang bisnis saat itu. Ide cermerlang muncul dengan berdagang\/berjualan rokok lintingan yang direkatkan dengan air ludahnya, dan sebelum menjualnya, rokok lintingan di sulut dahulu dan dihisap bekas bibir merahnya. Kemudian baru dijual ke pembeli yang berdesakan berjejer antri. <\/p>\n\n\n\n

Entah dari mana ide menjual rokok itu muncul. Yang jelas saking larisnya, kewajiban pajak Roro Mendut terpenuhi. Dan mungkin keadaannya akan lebih parah, jika saat itu Roro Mendut tidak berdagang rokok. Tidak akan terpenuhi kewajiban pajaknya. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Dengan rokok, hidup Roro Mendut terselamatkan. Adanya rokok, \u00a0Roro Mendut bebas dari belenggu kekuasaan. Berkat rokok, Roro Mendut terkengan, mengisi rubik informasi sejarah begitu kuatnya budaya merokok di \u00a0Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Pusaka Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek, Teman Perjuangan  Diponegoro<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Semasa berjuang melawan penjajah, yang harus dilakukan Diponegoro berpindah-pindah dari kota satu ke kota lain. Strategi perlawanan Diponegoro, kemudian sebagai basis strategi perang gerilya. Strategi yang menjadi idola dan kebanggaan tentara Indonesia. Dengan bergerilya, tentara Indonesia mampu mengecoh kekutan lawan yang lebih besar jumlahnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu, tenyata banyak cerita, Diponegoro saat berperang ditemani rokok. Ia dan pasukannya gemar merokok. Bahkan ketika tidak ada rokok, Pangeran Diponegoro rela hanya megunyah daun sirih yang diracik dengan kapur dan pinang. <\/p>\n\n\n\n

Kebiasaan ini, juga dialami oleh pengikut \/pasukan perang Pangeran Diponegoro. Bagi mereka, rokok teman sejati, menemani disetiap perjalanan mereka. Rokok menghilangkan depresi mereka, sebagai hiburan saat jauh dari keluarga demi berjuang melawan penjajah. Rokok menumbuhkan percaya diri mereka, lebih berani melawan penjajah walaupun hanya dengan serba keterbatasan, pasukan jumlah terbatas, alat perang terbatas dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Baca juga: Pangeran Diponegoro, Rokok Klobot dan Perlawanan Simbolis<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Jati Diri Bangsa<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Salah satu \u201cpendiri bangsa\u201d bernama KH. Agus Salim menghisap kretek dengan asapnya di kebal-kebulkan keudara, disaat ada perjamuan di Istana Buckingham ketika penobatan Elizabeth II sebagai Ratu kerajaan Inggris. Aroma khas keluar dari asap rokok kretek, tercium orang yang berada di ruang perjamuan. Sehingga memancing salah satu orang yang datang dalam perjamuan, dengan berkata; \u201ctuan sedang menghisap apa itu?\u201d.  Sentak KH. Agus Salim menjawab, \u201c inilah yang membuat nenek moyang anda sekian abad lalu datang dan kemudian menjajah negeri kami\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Jawaban KH. Agus Salim, faktanya memang benar. Rokok kretek tidak lain ada tambahan cengkeh (suzygium aromaticum<\/em>). \u00a0Tanaman legendaris menjadi rebutan dan sumber keuntungan kolonialisme Eropa atas Asia termasuk Indonesia. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Cengkeh adalah salah satu tanaman yang diperebutkan bangsa-bangsa dunia, sampai melegalkan penjajahan.  Dalam simpulan perjalanan ekspedisi cengkeh tahun 2013, Kepala Suku begitu julukan bagi Putut Ea, mengatakan \u201c jika saja tak pernah ada cengkeh dan pala di Maluku, mungkin sejarah kepulauan Nusantara ini akan berbeda sama sekali\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Simpulan Putut EA, sebagai salah satu pembenar perkataan \u00a0KH. Agus Salim. Mungkin, jika tanaman cengkeh tidak ada, fakta sejarah akan berbeda, tidak ada penjajahan di bumi Nusantara ini. <\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Mengisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek untuk Berteman dan Menjalin Persaudaraan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Teringat apa yang pernah dilakukan Menteri Sosial dan Lingkungan Hidup, saat melakukan pendekatan pada suku anak dalam di Jambi. Tidak lain ia adalah Khofifah menteri perempuan yang energik. Saat itu Khofifah bertanggungjawab dalam mengatasi masalah pendidikan dan kesejahteraan masyarakat suku anak dalam di Jambi.  <\/p>\n\n\n\n

Kebijakannya membuat fenomenal, selain bahan makanan, dan bantuan lain, khofifah juga membawa rokok.  Yang kemudian ada yang mengggugat dari anti rokok, tetapi sebagai Menteri, Khofifah tentunya sudah mengkaji secara mendalam. Dengan kecerdasannya , Khofifah menjawab dengan tegas dan lugas, \u201cjangan sok tahu kehidupan mereka, kenali apa yang menjadi ritme kehidupan mereka. Sangat bijaksana kalau kita semua pergi kesana, sehingga tahu adat istiadatnya juga. Tolong kalau ingin mengerti tentang kultur jangan hanya dari kacamata Jakarta. Saya pun ingin mengajak anda kesana, turun kesana, sapalah mereka\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Khofifah memberikan pelajaran bagi anti rokok. Tidak boleh sok tahu, apalagi selama ini antirokok hanya berasumsi, tanpa melihat fakta dilapangan. Khofifah juga menganjurkan agar lebih mengenal adat-istiadat, budaya dan tradisi masyarakat, tidak boleh melakukan hegemoni kultural, sebab keberagaman adat-istiadat dan budaya merupakan kekayaan negeri. <\/p>\n\n\n\n

Pelajaran Khofifah sangat mendalam dan bercirikhas Nusantara. Sebgaai Menteri \u00a0Sosial tentunya lebih berpengalaman apa yang dibutuhkan bangsa ini agar tetap jaya, bersatu dan utuh. Kenali perbedaan, hormati perbedaan, junjung tinggi budaya yang berbeda. \u00a0Apa yang telah dilakukan Khofifah dengan membawa rokok ke suku anak dalam adalah cermin penghormatan tradisi dan budaya masyarakat. Sebagai seorang Mentri, tentunya punya kuasa, artinya bisa seorang khofifah memberikan bantuan sesuai keinginannya sendiri, namun hal itu tidak dilakukan. Ia lebih mengedepankan penghormatan budaya masyarakat setempat, dengan membawa rokok untuk pendekatan dan pertemanan. Karena Khofifah tahu betul, bahwa merokok adalah budaya mereka, yang diwaris dari neneng moyang mereka. <\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Memilih Jalan Hidup Menikmati Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Simbol Pergerakan Nasional     <\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Abdul Rifa\u2019I dalam media bintang timur terbit pada 03 Oktober 1927, mengatakan, \u201ckopinya bukan kopi saringan, tetapi kopi tubruk sebab kopi ini katanya nationaal, gulanya gula jawa, susu tidak dipakai karena tidak nationaal. Rokoknya kelobot, selamatan natioanaal ini terus berlangsung ed sampai pagi hari\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Semangat nasionalisme harus tertanam, mengedepankan produk lokal adalah salah satu semangat nasionalime. Salah satu keberadaan rokok klobot menjadi ciri produk asli indonesia dan harus dilestarikan. Klobot sendiri adalah ramuan tembakau dan cengkeh di gulung memakai daun jagung, embrio perkembangan menjadi rokok sigaret kretek tangan dan sigaret kretek mesin.  
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pusaran Budaya Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pusaran-budaya-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-04 08:40:41","post_modified_gmt":"2019-02-04 01:40:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5406","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5403,"post_author":"919","post_date":"2019-02-03 09:05:50","post_date_gmt":"2019-02-03 02:05:50","post_content":"\n

Seringkali saya menyaksikan berbagai film baik itu Eropa atau Asia yang menggambarkan tentang masa depan. Pemandangan soal masa depan tersebut dihadirkan dengan gambaran kecanggihan teknologi seperti robot yang akan membantu kehidupan manusia, gedung-gedung yang tingginya sudah amat tak bisa ditandingi,  hingga mobil-mobil yang bisa terbang. <\/p>\n\n\n\n

Pernah dalam masa kecil saya menyaksikan sebuah film animasi buatan jepang yang mempertanyakan tentang makanan di masa depan. Dengan santai salah satu tokoh yang berasal dari masa depan itu menjawab bahwa suatu saat nanti manusia akan mengonsumsi makanan berupa pasta gigi namun dengan rasa yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa, aneh!<\/p>\n\n\n\n

Seiring waktu berjalan saya kian tumbuh dewasa dan punya kesadaran untuk memilih menjadi seorang perokok<\/a>. Saya juga melihat ada sebuah inovasi dan gambaran tentang masa depan yang hadir dalam kehidupan sekarang. Banyak memang, namun yang menyita perhatian saya adalah rokok elektrik atau yang populer disebut Vape. Konon katanya ia adalah produk inovasi untuk menjembatani kebutuhan menghisap asap dan kecanggihan masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Di awal kehadirannya Vape memang mengundang decak kekaguman saya. Bagaimana bisa sebuah mesin kecil mengeluarkan asap yang katanya lebih menyehatkan daripada rokok.<\/strong> Meski pada akhirnya teori tersebut juga bisa dibantah oleh beberapa ilmuan dunia. Tapi ada satu yang saya amati selain soal kesehatan, rokok elektrik rupanya menghadirkan kultur dan budaya baru dalam kehidupan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: LAGI-LAGI IKLAN ROKOK, KAPAN KPAI TIDAK TEBANG PILIH? <\/a><\/h4>\n\n\n\n

Kehadiran teknologi memang kerap sedikit atau benyak mengubah gaya atau kultur suatu masyarakat. Begitu pula yang saya perhatikan dengan rokok elektrik. Satu hal yang mudah diamati adalah menjamurnya toko-toko kecil yang menjual vape serta liquid di berbagai tempat. Sebagai sebuah warna baru dalam masyarakat, penggunanya ramai-ramai mengunjungi tempat tersebut berinteraksi dengan penikmat lainnya dan membangun sebuah rumah komunitas yang fleksibel.<\/p>\n\n\n\n

Meski belum bisa dikatakan memiliki jumlah penikmat yang setara dengan para perokok, pengguna Vape mulai menunjukkan eksistensinya. Selain toko yang tersebar, ragam acara juga mereka buat di beberapa daerah. Dalam lingkungan saya, beberapa teman yang dulunya merupakan perokok aktif tertarik mengikuti event tersebut dan beralih mengisap rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Nun jauh di sana, di Amerika Serikat tepatnya, budaya Vape juga sudah mulai berkembang lama ketimbang di Tanah Air. Penikmatnya terbagi menjadi dua, ada yang dulunya bekas perokok dan ada yang memang menikmatinya sebagai gaya hidup. Wajar saja mengingat facebook tak memperbolehkan iklan tembakau di platform mereka, sebaliknya iklan tentang vape justru bertebaran. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi budaya baru yang berkembang di berbagai belahan dunia bahkan di Indonesia, Vape konon menjadi alternatif yang lebih bermanfaat daripada rokok. Dalih yang diusung selalu sama kepada para perokok tradisonal yaitu soal kesehatan dan lebih irit. Soal kesehatan tentu ada beberapa pendapat para ilmuan yang membantahnya, namun soal irit, saya rasa tidak. Memang satu liquid bisa digunakan untuk beberapa Minggu, akan tetapi yang saya lihat di lapangan justru sebaliknya. <\/p>\n\n\n\n

Beberapa penikmat rokok elektrik kerap berbelanja liquid yang mereka idamkan. Terkadang, hal tersebut yang membuat mereka boros karena terus mengeksplor rasa mana yang mereka idam-idamkan. Tak jarang juga liquid dengan harga mahal hingga ratus ribuan akan mereka beli. Sebaliknya, para perokok konvensional justru kerap bertahan dengan satu rasa atau merek saja.<\/p>\n\n\n\n

Sedikit berbeda dengan penikmat rokok konvensional atau kretek. Mengingat rokok kretek sudah menjadi kebudayan lokal yang terus dipertahankan selama bertahun-tahun, kehadirannya sudah mewarnai khasanah keindonesiaan. Perokok kretek juga sudah punya soliditas luar biasa yang terbentuk sejak lama dan terus terbangun mengiringi peradaban di Indonesia atau dunia.<\/p>\n\n\n\n

Kini, perokok elektrik mulai merasakan kegelisahan. Beberapa negara mulai menerapkan peraturan ketat terhadap Vape, sedangkan di Indonesia biaya cukai pun kini mulai diberlakukan terhadap perdagangan rokok elektrik. Keberadaannya di mata negara pun mulai dianggap sama seperti rokok, meski pada awalnya rokok elektrik hadir dengan slogan-slogan produk alternatif yang lebih menyehatkan (katanya).<\/p>\n\n\n\n


Tapi jika kemudian di masa depan memang rokok elektrik yang kemudian menjadi sesuatu yang populer dan dinikmati banyak orang. Rasanya saya tetap ingin hidup di jaman ini, dengan sebatang kretek di tangan dan menikmati segala khasanah kebudayaan yang patut terus dipertahankan. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"masa-depan-rokok-elektrik-dan-semangat-alternatif-yang-sia-sia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-03 09:05:56","post_modified_gmt":"2019-02-03 02:05:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5403","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5385,"post_author":"883","post_date":"2019-02-02 08:01:01","post_date_gmt":"2019-02-02 01:01:01","post_content":"Pada tahun 2014, perusahaan rokok multinasional Philip Morris Internasional Inc. merilis sebuah produk <\/span>perangkat\u00a0<\/span>
rokok<\/span><\/a>\u00a0tanpa asap, yang dipanaskan bukan dibakar atau istilahnya\u00a0<\/span>heat not burn<\/i><\/strong>\u00a0(HNB) iQOS<\/strong>. <\/span>\r\n\r\nPerangkat rokok tanpa asap dengan nama iQOS<\/a> ini berbentuk seperti bagian luar pulpen, dengan lubang di tengah untuk rokok. Produk yang berada di bawah brand Marlboro ini dapat memanaskan rokok sampai 350 derajat celcius lalu mengeluarkan uap nikotin beraroma tembakau<\/em><\/a>.<\/span>\r\n

Produk iQOS sebenarnya bukanlah produk rokok tanpa asap yang pertama muncul. Sebelumnya di tahun 1990-an, Reynolds Tobacco Co pernah merilis produk serupa bernama Eclipes yang juga dapat menguapkan nikotin setelah dinyalakan dengan korek api.<\/span><\/blockquote>\r\nSelain itu, Eclips juga dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. Namun, pada saat itu Eclips tidak diminati oleh pasar, utamanya para perokok konvensional. Meskipun Eclips dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. <\/span>\r\n\r\nBisnis semacam rokok tanpa asap seperti Eclips dan iQOS memang sudah menjadi bagian dari rencana panjang bisnis perusahaan-perusahaan rokok multinasional. Jadi tidak usah heran jika ke depannya akan kita akan banyak menemukan produk rokok tanpa asap ini.<\/span>\r\n\r\nWatak dari perusahaan multinasional memang seperti itu, mereka sangat jeli melihat peluang pasar ke depannya. Ketika market place perusahaan rokok multinasional saat ini terus dirongrong oleh kelompok antirokok, mereka tak kehabisan akal. Maka kemudian mereka menginovasi produk rokok konvensional menjadi rokok yang tidak berasap. Begitupun dengan mengikutsertakan jargon-jargon kesehatan dalam narasi promosi mereka.<\/span>\r\n\r\nSesungguhnya memang seperti itulah watak bisnis perusahaan-perusahaan multinasional, melakukan segala cara agar bisnis mereka tetap bertahan, meskipun harus merangkul musuh sekalipun. <\/span>\r\n\r\nYa kadang pura-pura berantem sama antirokok, tapi dibalik itu sebenarnya baik-baik saja, dan tentunya ada kompromi untuk terus melanggengkan bisnis mereka.<\/span>\r\n

Lalu siapa yang dirugikan dari permainan bisnis macam produk rokok tanpa asap perusahaan rokok multinasional ini?<\/span><\/h3>\r\nTentunya yang sangat dirugikan adalah produk hasil tembakau yang memiliki kekhasan seperti kretek di Indonesia. Kretek sebagai produk khas asli Indonesia yang menjadi bagian dari warisan kebudayaan tidak mungkin bertransformasi menjadi produk-produk elektrik dan sejenisnya.<\/span>\r\n\r\nKretek tetaplah kretek, dengan bahan baku alami tembakau dan cengkeh yang tidak diintervensi dengan zat atau perangkat penghantar lainnya. Karena dengan bentuk, karakter dan cara menikmatinya memang konvensional dan akan terus begitu apapun kondisi dan zamannya.<\/span>\r\n
Bisnis produk rokok tanpa asap (elektrik) juga menghajar kretek dengan mendompleng isu pengendalian tembakau. Kampanye pengendalian tembakau selalu membawa slogan bahaya merokok dan upaya untuk berhenti merokok. <\/span><\/blockquote>\r\nDari isu tersebut, rokok elektrik masuk dengan citra produk alternatif tembakau, bahkan mereka tak segan menilai bahwa rokok elektrik lebih aman ketimbang rokok konvensional, yakni kretek.<\/span>\r\n\r\nLalu jika Indonesia akan dibanjiri dengan produk-produk yang mengatasnamakan produk alternatif tembakau, macam rokok tanpa asap (iQOS dan sejenisnya), maka itulah pertanda bahwa kretek harus tergerus dari cara hidup manusia Indonesia dalam menikmati produk hasil tembakau khas Indonesia yang sudah turun-temurun lamanya dinikmati manusia Indonesia.<\/span>","post_title":"Nasib Kretek di Pusaran Pertarungan Bisnis Global Perusahaan Rokok Multinasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"nasib-kretek-di-pusaran-pertarungan-bisnis-global-perusahaan-rokok-multinasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-02 08:01:43","post_modified_gmt":"2019-02-02 01:01:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5385","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; \n

Puncaknya adalah pada pertengahan tahun 1950-an, ketika produksi kretek mulai berkembang pesat menjadi industri raksasa modern dengan munculnya beberapa pabrik baru, antara lain, yang terkemuka, oleh Oei Wei Gwan (pendiri pabrik \u2018Djarum\u2019) di Kudus dan Tjou Ing Hwie (pendiri pabrik \u2018Gudang Garam\u2019) di Kediri (Topatimasang, et.al., eds., 2010:131).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Teruslah Menanam Tembakau dan Cengkeh, Wahai Petani Indonesia<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Cengkeh, bahan baku paling esensial dari kretek --selain tembakau, tentu saja-- pun kembali berjaya. Bahkan, sejak dasawarsa 1970an, telah menjadi salah satu penyumbang terbesar keuangan negara Republik Indonesia. Pada tahun 2012 dan 2013, pemasukan cukai dari industri kretek mencatat 95,5% dari seluruh pemasukan cukai ke kas negara. Nilainya tak tanggung-tanggung: Rp 87 triliun! (el-Guyanie, et.al.: 2013:4-5).<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Nilai ekonomisnya yang sangat besar sempat menggoda penguasa otoriter rezim Presiden Soeharto, pada 1990-an, memberlakukan satu kebijakan \u2018Hongi Gaya Baru\u2019: monopoli perdagangan cengkeh dalam negeri melalui Badan Penyanggah dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) yang sangat merugikan petani. Harga cengkeh di tingkat petani penghasil anjlok sampai hanya Rp 2.000 - 3.000 per kilogram, lebih murah dari harga sebungkus kretek yang dihasilkan darinya.
<\/p>\n\n\n\n

Akibatnya, ratusan ribu pohon cengkeh di daerah-daerah penghasil utama --Maluku, Maluku Utara, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Selatan-- ditebangi atau dibiarkan terlantar tak terurus.
<\/p>\n\n\n\n

Gelombang reformasi sistem politik dan hukum nasional yang dimulai pada tahun 1998, akhirnya menjungkalkan rezim Soeharto dan BPPC dibubarkan, Pelan tapi pasti, harga cengkeh kembali merangkak naik, sehingga pada tahun 2012, bahkan melewati angka Rp 200.000 per kilogram. Para petani cengkeh di seluruh negeri kembali tersenyum. Tetapi, sampai kapan? <\/p>\n\n\n\n

Catatan:<\/strong><\/p>\n\n\n\n

[1] Beberapa sumber menyebutkan bahwa kata \u2018cengkeh\u2019 dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Mandarin, tkeng-his atau xi\u2019jia, yang berarti \u2018rempah [berbentuk mirip] paku\u2019 (scented nails). Ini menunjukkan bahwa cengkeh sudah dikenal sejak lama oleh bangsa Cina --diketahui sejak abad-2-- jauh sebelum orang Eropa mengenalnya ((lihat, misalnya: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n\n\n\n

[2] Catatan-catatan para biarawan Fransiskan --yang disalin dan dikutip oleh van Frassen-- bahkan menyebut cengkeh sebagai salah satu bahan utama pengawet mumi para Fir\u2019aun, penguasa Mesir Kuno. Beberapa pakar sejarah dan arkeologi menyatakan bahwa rempah-rempah Maluku bahkan sudah ditemukan artefaknya di Lembah Mesopotomia (wilayah Iraq dan sekitarnya sekarang) pada 3.000 tahun sebelum Masehi. (lihat, antara lain: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n\n\n\n

[3] Uraian lebih rinci sejarah kolonialisme rempah-rempah Nusantara ini, terutama oleh Belanda dan Portugis, dapat dibaca pada beberapa sumber kepustakaan yang sudah dikenal luas, antara lain: Glamann (1958) dan Boxer (1965 dan 1969). Dalam risalah klasik Pires disebutkan bahwa pada tahun 1512-1521 saja, jumlah produksi cengkeh di Maluku sudah mencapai 7.250 bahar per tahun, terbesar adalah di Makian serta Amboina dan Lease (masing-masing 1.500 bahar)(Pires, 1512-1515).<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem Topatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-10 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-02-10 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5425","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5415,"post_author":"878","post_date":"2019-02-07 12:15:55","post_date_gmt":"2019-02-07 05:15:55","post_content":"\n

Belakangan ini, ketika musim hujan tiba, di Kabupaten Temanggung, Kabupaten Jember, dan beberapa wilayah sentra pertanian tembakau lainnya, hampir mustahil menemukan tanaman tembakau tumbuh di lahan-lahan milik petani. Di wilayah-wilayah tersebut, citra sebagai sentra pertanian tembakau seakan menguap. Lahan-lahan yang ada di sana, sama sekali tidak ditumbuhi tanaman tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Kabar ini bisa jadi dianggap sebagai kabar gembira bagi mereka yang menganggap diri dan kelompoknya anti-rokok dan anti-tembakau yang selalu mengampanyekan sikap-sikap mereka terkait kebencian kepada tembakau dan aktivitas merokok. Setelah sekian lama berjuang, akhirnya perjuangan mereka dirasa berhasil usai menyaksikan fenomena lahan-lahan di wilayah yang dianggap sentra pertanian tembakau pada hari-hari belakangan ini.<\/p>\n\n\n\n

Baca juga: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tak sia-sia turun ke jalan, tak sia-sia melakukan lobi-lobi ke penguasa, tak sia-sia mengucurkan uang yang tidak sedikit, dan tak sia-sia mempermalukan diri dengan mengemis ke lembaga donor asing dan menggondol uang dari cukai tembakau untuk mengampanyekan gerakan anti-rokok dan anti-tembakau. Tak sia-sia. Karena perjuangan sepertinya berhasil.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Kampanye-kampanye gerakan mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya, sepertinya juga sangat berhasil. Bagaimana tidak? Wilayah-wilayah yang sebelumnya penuh dengan tanaman tembakau dan bergeliat dengannya, kini lahan-lahannya sudah berganti dengan tanaman lain. Sebuah keberhasilan yang menggembirakan. Begitu mungkin pikir mereka para yang menganggap dirinya pejuang anti-rokok dan anti-tembakau. Dan tentu saja mereka akan kecele dan kita akan menertawakan hal itu.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, mereka yang menganggap dirinya anti-rokok dan anti-tembakau tidak menyaksikan langsung fenomena ini di lapangan, di lahan-lahan yang peruntukannya berubah pada hari-hari belakangan ini ketika memasuki musim hujan. Mereka asyik duduk pada kursi empuk di ruang-ruang nyaman ber-AC di kota-kota yang jauh dari kultur pertanian. Mereka menyengajakan diri menjadi elit dan enggan untuk turun melihat langsung ke lapangan. Kalaupun ada yang turun langsung ke lapangan, hanya segelintir saja dari mereka, itupun sekadar formalitas saja. Tak pernah benar-benar mau turun ke lapangan, hidup dan merasakan langsung kultur pertanian tembakau dalam jangka waktu cukup lama di lapangan.<\/p>\n\n\n\n

Baca juga: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Fenomena ini membikin kita tak bisa melihat mereka para anti-rokok kecele lalu menertawakan mereka.<\/strong> Fenomena keengganan terjun langsung ke lapangan terlebih mencoba mendengar mereka yang tetap menanam tembakau, juga menjalani keseharian dalam waktu cukup lama bersama petani tembakau inilah yang saya kira menjadikan mereka tetap keras kepala untuk anti-rokok dan anti-tembakau. Karena jika mereka mau melakukan itu, saya yakin mereka semua tidak akan begitu kaku dalam memandang pertanian tembakau dan produk hasil industri tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu yang selalu mereka kampanyekan dan ngotot dengan itu, terkait hulu pertanian tembakau adalah mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya. Mereka berargumen banyak tanaman lain yang bisa semenguntungkan tanaman tembakau. Keengganan mereka terjun langsung ke lapangan inilah yang membikin mereka buta dengan kondisi pertanian tembakau dan pada akhirnya terus menerus mengampanyekan pergantian tanaman tembakau dengan tanaman lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca juga: Imanlah kepada Allah, Bukan Antirokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tembakau tanaman yang khas. Ia hanya tumbuh baik sepanjang empat hingga lima bulan dalam satu tahun. Tumbuh-kembang tanaman tembakau dengan baik itu umumnya terjadi pada musim kemarau setiap tahunnya. Hanya sedikit sekali jenis tembakau yang tumbuh baik di musim penghujan, mayoritasnya, tumbuh baik pada musim kemarau.<\/p>\n\n\n\n

Jika ditanam pada musim hujan, hampir bisa dipastikan tanaman tembakau akan gagal menghasilkan daun-daun yang berkualitas. Ia akan rusak dan membusuk karena terlalu banyak terkena air sehingga daun-daun itu tak layak dijual. Jangankan bisa dijual, untuk tumbuh dengan baik pun sepertinya sulit karena musim hujan akan membunuh banyak tanaman itu.<\/p>\n\n\n\n

Maka, tak heran pada musim-musim seperti saat ini, ketika musim penghujan mendekati puncaknya, di wilayah-wilayah yang dikenal sebagai sentra pertanian tembakau, sulit menemukan pohon tembakau yang sedang tumbuh. Pada lahan-lahan yang sebelumnya ditumbuhi tanaman tembakau pada musim panas, berganti tanaman-tanaman lain yang bermacam-macam, sesuai dengan kondisi lahannya. Untuk lahan sawah, lahan-lahan itu pada musim penghujan kini ditumbuhi tanaman padi yang subur. Pada lahan tegalan dan lahan di pegunungan, lahan-lahan yang ditanami tembakau pada musim kemarau, saat ini ditumbuhi bermacam jenis tanaman mulai dari cabai, bawang, tomat, kol, terong, mentimun, dan ragam jenis tanaman semusim lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Uniknya, tipikal tanaman tembakau yang tumbuh baik di musim kemarau ini memberi pilihan lebih kepada para petani. Lahan-lahan yang sulit ditanami pada musim kemarau, pada akhirnya masih bisa tetap produktif dengan keberadaan tanaman tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Maka, kampanye aneh mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain dengan ragam rupa dalih yang membingungkan, bukan saja sama sekali tidak tepat dan asal-asalan, namun bisa jadi akan ditertawakan oleh para petani yang begitu paham dengan kondisi lahan dan terutama kondisi iklim dan cuaca. Sulit mencari tanaman semusim yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Jika pun ada, tak ada yang semenguntungkan tanaman tembakau.
<\/p>\n","post_title":"Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"keberhasilan-gerakan-anti-tembakau-tak-ada-tembakau-saat-musim-hujan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-07 12:16:02","post_modified_gmt":"2019-02-07 05:16:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5415","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5409,"post_author":"919","post_date":"2019-02-05 08:04:43","post_date_gmt":"2019-02-05 01:04:43","post_content":"\n

Tahun Baru Imlek yang merupakan tradisi Bangsa Tiongkok kini sudah tak lagi menjadi hal yang asing bagi masyarakat Indonesia. Kehadirannya sudah mewarnai dan berakulturasi dengan tradisi lokal. Menjelang Tahun Baru Imlek. Berbagai hiasan dan kemeriahan terjadi beberapa titik di Tanah Air. Perayaannya juga menjadi destinasi baru yang mengasyikkan untuk dilihat dan patut disaksikan.<\/p>\n\n\n\n

Berterimakasihlah kepada sang bapak bangsa, KH Abdurrahman Wahid atau yang dikenal dengan nama Gus Dur. Berkat kebijakannya saat menjadi Presiden Indonesia, Tahun Baru Imlek resmi dijadikan hari libur nasional dan dianggap sebagai salah satu hari raya di Tanah Air. Meski sentimen antitionghoa masih ada di sana-sini, tapi tetap tak bisa dipungkiri bahwa bangsa tionghoa sudah bersentuhan dengan budaya lokal dalam kurun waktu yang sangat panjang.<\/p>\n\n\n\n

DNA Bangsa Tionghoa yang memang merupakan pedagang menjadi pembuka kisah interaksi antara nenek moyang berbagai suku di Nusantara dengan mereka. Beberapa kelenteng-kelenteng yang tersebar pada berbagai pesisir daerah di Nusantara jadi buktinya. Pelabuhan-pelabuhan tua di tanah air dan ramainya perdagangan di pesisir mempermudah bangsa kita berhubungan dengan Bangsa Tionghoa.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Wong Kalang dan Kota Gede<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa kehadiran Bangsa Tionghoa di Nusantara tak hanya sebagai pedagang, namun juga sebagai pekerja (bahkan hingga pekerja kasar). Benny Setiono, seorang sejarahwan menyebutkan bahwa antara tahun 1760-1770 dalam jumlah yang besar memasuki nusantara melalui Kalimantan Barat. Mereka bekerja sebagai kuli pertambangan di sana dan di kemudian hari membentuk sebuah republik bernama Republik Lanfang yang konon katanya menjadi republik pertama di Asia Tenggara.<\/p>\n\n\n\n

Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Imlek dan Indonesia<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n\n\n\n

Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
<\/p>\n","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5406,"post_author":"877","post_date":"2019-02-04 08:23:48","post_date_gmt":"2019-02-04 01:23:48","post_content":"\n

Merokok itu sudah menjadi bagian dari budaya dan tradisi masyarakat, jauh sebelum Indonesia merdeka. Banyak cerita atau kisah tentang kretek <\/a><\/del>di tengah-tengah masyarakat bangsa ini, mulai sebagai alat untuk meraup keuntungan, alat komunikasi, sebagai teman sampai menjadi simbol pergerakan. <\/p>\n\n\n\n

Kretek, Simbol Perlawanan Roro Mendut<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Siapa yang tidak pernah mendengan cerita tentang Roro Mendut?, di telinga masyarakat Indonesia, kisah Roro Mendut tidak asing lagi.  Perempuan yang mempunyai paras wajah cantik, dan digandrungi kaum adam terutama kalangan putra kerajaan. Informasi kecantikan Roro Mendut tersebar seantero Nusantara, tidak satupun pria meragukan kecantikannya.  Bahkan kisah dan cerita kecantikan Roro Mendut tercatat dalam buku Babad Tanah Jawi. <\/p>\n\n\n\n

Diperkirakan pada tahun 1627, pada saat panglima perang Sultan Agung Mataram bernama Tumenggung Wiraguna berhasil menumpas pemberontakan di kota Pati, sebagai imbalanan atas keberhasilannya, mendapat hadiah wanita pujaan pria bernama Rara Mendut dari Kasultanan Agung Mataram.  Roro Mendut menolak dipinang Tumenggung Wiraguna, dan secara terang-terangan memilih pria lain dambaannya. Akibatnya, Roro Mendut harus membayar pajak setiap harinya kepada kerajaan Mataram. <\/p>\n\n\n\n

Bisa dibayangkan, betapa bingungnya Roro Mendut saat itu. Uang dari mana, ia hasilkan untuk bayar pajak tiap hari demi bisa bersama kekasihnya. Ternyata Roro Mendut tidak hanya cantik tetapi cerdas dan kreatif, bisa membaca peluang bisnis saat itu. Ide cermerlang muncul dengan berdagang\/berjualan rokok lintingan yang direkatkan dengan air ludahnya, dan sebelum menjualnya, rokok lintingan di sulut dahulu dan dihisap bekas bibir merahnya. Kemudian baru dijual ke pembeli yang berdesakan berjejer antri. <\/p>\n\n\n\n

Entah dari mana ide menjual rokok itu muncul. Yang jelas saking larisnya, kewajiban pajak Roro Mendut terpenuhi. Dan mungkin keadaannya akan lebih parah, jika saat itu Roro Mendut tidak berdagang rokok. Tidak akan terpenuhi kewajiban pajaknya. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Dengan rokok, hidup Roro Mendut terselamatkan. Adanya rokok, \u00a0Roro Mendut bebas dari belenggu kekuasaan. Berkat rokok, Roro Mendut terkengan, mengisi rubik informasi sejarah begitu kuatnya budaya merokok di \u00a0Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Pusaka Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek, Teman Perjuangan  Diponegoro<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Semasa berjuang melawan penjajah, yang harus dilakukan Diponegoro berpindah-pindah dari kota satu ke kota lain. Strategi perlawanan Diponegoro, kemudian sebagai basis strategi perang gerilya. Strategi yang menjadi idola dan kebanggaan tentara Indonesia. Dengan bergerilya, tentara Indonesia mampu mengecoh kekutan lawan yang lebih besar jumlahnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu, tenyata banyak cerita, Diponegoro saat berperang ditemani rokok. Ia dan pasukannya gemar merokok. Bahkan ketika tidak ada rokok, Pangeran Diponegoro rela hanya megunyah daun sirih yang diracik dengan kapur dan pinang. <\/p>\n\n\n\n

Kebiasaan ini, juga dialami oleh pengikut \/pasukan perang Pangeran Diponegoro. Bagi mereka, rokok teman sejati, menemani disetiap perjalanan mereka. Rokok menghilangkan depresi mereka, sebagai hiburan saat jauh dari keluarga demi berjuang melawan penjajah. Rokok menumbuhkan percaya diri mereka, lebih berani melawan penjajah walaupun hanya dengan serba keterbatasan, pasukan jumlah terbatas, alat perang terbatas dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Baca juga: Pangeran Diponegoro, Rokok Klobot dan Perlawanan Simbolis<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Jati Diri Bangsa<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Salah satu \u201cpendiri bangsa\u201d bernama KH. Agus Salim menghisap kretek dengan asapnya di kebal-kebulkan keudara, disaat ada perjamuan di Istana Buckingham ketika penobatan Elizabeth II sebagai Ratu kerajaan Inggris. Aroma khas keluar dari asap rokok kretek, tercium orang yang berada di ruang perjamuan. Sehingga memancing salah satu orang yang datang dalam perjamuan, dengan berkata; \u201ctuan sedang menghisap apa itu?\u201d.  Sentak KH. Agus Salim menjawab, \u201c inilah yang membuat nenek moyang anda sekian abad lalu datang dan kemudian menjajah negeri kami\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Jawaban KH. Agus Salim, faktanya memang benar. Rokok kretek tidak lain ada tambahan cengkeh (suzygium aromaticum<\/em>). \u00a0Tanaman legendaris menjadi rebutan dan sumber keuntungan kolonialisme Eropa atas Asia termasuk Indonesia. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Cengkeh adalah salah satu tanaman yang diperebutkan bangsa-bangsa dunia, sampai melegalkan penjajahan.  Dalam simpulan perjalanan ekspedisi cengkeh tahun 2013, Kepala Suku begitu julukan bagi Putut Ea, mengatakan \u201c jika saja tak pernah ada cengkeh dan pala di Maluku, mungkin sejarah kepulauan Nusantara ini akan berbeda sama sekali\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Simpulan Putut EA, sebagai salah satu pembenar perkataan \u00a0KH. Agus Salim. Mungkin, jika tanaman cengkeh tidak ada, fakta sejarah akan berbeda, tidak ada penjajahan di bumi Nusantara ini. <\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Mengisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek untuk Berteman dan Menjalin Persaudaraan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Teringat apa yang pernah dilakukan Menteri Sosial dan Lingkungan Hidup, saat melakukan pendekatan pada suku anak dalam di Jambi. Tidak lain ia adalah Khofifah menteri perempuan yang energik. Saat itu Khofifah bertanggungjawab dalam mengatasi masalah pendidikan dan kesejahteraan masyarakat suku anak dalam di Jambi.  <\/p>\n\n\n\n

Kebijakannya membuat fenomenal, selain bahan makanan, dan bantuan lain, khofifah juga membawa rokok.  Yang kemudian ada yang mengggugat dari anti rokok, tetapi sebagai Menteri, Khofifah tentunya sudah mengkaji secara mendalam. Dengan kecerdasannya , Khofifah menjawab dengan tegas dan lugas, \u201cjangan sok tahu kehidupan mereka, kenali apa yang menjadi ritme kehidupan mereka. Sangat bijaksana kalau kita semua pergi kesana, sehingga tahu adat istiadatnya juga. Tolong kalau ingin mengerti tentang kultur jangan hanya dari kacamata Jakarta. Saya pun ingin mengajak anda kesana, turun kesana, sapalah mereka\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Khofifah memberikan pelajaran bagi anti rokok. Tidak boleh sok tahu, apalagi selama ini antirokok hanya berasumsi, tanpa melihat fakta dilapangan. Khofifah juga menganjurkan agar lebih mengenal adat-istiadat, budaya dan tradisi masyarakat, tidak boleh melakukan hegemoni kultural, sebab keberagaman adat-istiadat dan budaya merupakan kekayaan negeri. <\/p>\n\n\n\n

Pelajaran Khofifah sangat mendalam dan bercirikhas Nusantara. Sebgaai Menteri \u00a0Sosial tentunya lebih berpengalaman apa yang dibutuhkan bangsa ini agar tetap jaya, bersatu dan utuh. Kenali perbedaan, hormati perbedaan, junjung tinggi budaya yang berbeda. \u00a0Apa yang telah dilakukan Khofifah dengan membawa rokok ke suku anak dalam adalah cermin penghormatan tradisi dan budaya masyarakat. Sebagai seorang Mentri, tentunya punya kuasa, artinya bisa seorang khofifah memberikan bantuan sesuai keinginannya sendiri, namun hal itu tidak dilakukan. Ia lebih mengedepankan penghormatan budaya masyarakat setempat, dengan membawa rokok untuk pendekatan dan pertemanan. Karena Khofifah tahu betul, bahwa merokok adalah budaya mereka, yang diwaris dari neneng moyang mereka. <\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Memilih Jalan Hidup Menikmati Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Simbol Pergerakan Nasional     <\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Abdul Rifa\u2019I dalam media bintang timur terbit pada 03 Oktober 1927, mengatakan, \u201ckopinya bukan kopi saringan, tetapi kopi tubruk sebab kopi ini katanya nationaal, gulanya gula jawa, susu tidak dipakai karena tidak nationaal. Rokoknya kelobot, selamatan natioanaal ini terus berlangsung ed sampai pagi hari\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Semangat nasionalisme harus tertanam, mengedepankan produk lokal adalah salah satu semangat nasionalime. Salah satu keberadaan rokok klobot menjadi ciri produk asli indonesia dan harus dilestarikan. Klobot sendiri adalah ramuan tembakau dan cengkeh di gulung memakai daun jagung, embrio perkembangan menjadi rokok sigaret kretek tangan dan sigaret kretek mesin.  
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pusaran Budaya Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pusaran-budaya-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-04 08:40:41","post_modified_gmt":"2019-02-04 01:40:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5406","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5403,"post_author":"919","post_date":"2019-02-03 09:05:50","post_date_gmt":"2019-02-03 02:05:50","post_content":"\n

Seringkali saya menyaksikan berbagai film baik itu Eropa atau Asia yang menggambarkan tentang masa depan. Pemandangan soal masa depan tersebut dihadirkan dengan gambaran kecanggihan teknologi seperti robot yang akan membantu kehidupan manusia, gedung-gedung yang tingginya sudah amat tak bisa ditandingi,  hingga mobil-mobil yang bisa terbang. <\/p>\n\n\n\n

Pernah dalam masa kecil saya menyaksikan sebuah film animasi buatan jepang yang mempertanyakan tentang makanan di masa depan. Dengan santai salah satu tokoh yang berasal dari masa depan itu menjawab bahwa suatu saat nanti manusia akan mengonsumsi makanan berupa pasta gigi namun dengan rasa yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa, aneh!<\/p>\n\n\n\n

Seiring waktu berjalan saya kian tumbuh dewasa dan punya kesadaran untuk memilih menjadi seorang perokok<\/a>. Saya juga melihat ada sebuah inovasi dan gambaran tentang masa depan yang hadir dalam kehidupan sekarang. Banyak memang, namun yang menyita perhatian saya adalah rokok elektrik atau yang populer disebut Vape. Konon katanya ia adalah produk inovasi untuk menjembatani kebutuhan menghisap asap dan kecanggihan masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Di awal kehadirannya Vape memang mengundang decak kekaguman saya. Bagaimana bisa sebuah mesin kecil mengeluarkan asap yang katanya lebih menyehatkan daripada rokok.<\/strong> Meski pada akhirnya teori tersebut juga bisa dibantah oleh beberapa ilmuan dunia. Tapi ada satu yang saya amati selain soal kesehatan, rokok elektrik rupanya menghadirkan kultur dan budaya baru dalam kehidupan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: LAGI-LAGI IKLAN ROKOK, KAPAN KPAI TIDAK TEBANG PILIH? <\/a><\/h4>\n\n\n\n

Kehadiran teknologi memang kerap sedikit atau benyak mengubah gaya atau kultur suatu masyarakat. Begitu pula yang saya perhatikan dengan rokok elektrik. Satu hal yang mudah diamati adalah menjamurnya toko-toko kecil yang menjual vape serta liquid di berbagai tempat. Sebagai sebuah warna baru dalam masyarakat, penggunanya ramai-ramai mengunjungi tempat tersebut berinteraksi dengan penikmat lainnya dan membangun sebuah rumah komunitas yang fleksibel.<\/p>\n\n\n\n

Meski belum bisa dikatakan memiliki jumlah penikmat yang setara dengan para perokok, pengguna Vape mulai menunjukkan eksistensinya. Selain toko yang tersebar, ragam acara juga mereka buat di beberapa daerah. Dalam lingkungan saya, beberapa teman yang dulunya merupakan perokok aktif tertarik mengikuti event tersebut dan beralih mengisap rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Nun jauh di sana, di Amerika Serikat tepatnya, budaya Vape juga sudah mulai berkembang lama ketimbang di Tanah Air. Penikmatnya terbagi menjadi dua, ada yang dulunya bekas perokok dan ada yang memang menikmatinya sebagai gaya hidup. Wajar saja mengingat facebook tak memperbolehkan iklan tembakau di platform mereka, sebaliknya iklan tentang vape justru bertebaran. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi budaya baru yang berkembang di berbagai belahan dunia bahkan di Indonesia, Vape konon menjadi alternatif yang lebih bermanfaat daripada rokok. Dalih yang diusung selalu sama kepada para perokok tradisonal yaitu soal kesehatan dan lebih irit. Soal kesehatan tentu ada beberapa pendapat para ilmuan yang membantahnya, namun soal irit, saya rasa tidak. Memang satu liquid bisa digunakan untuk beberapa Minggu, akan tetapi yang saya lihat di lapangan justru sebaliknya. <\/p>\n\n\n\n

Beberapa penikmat rokok elektrik kerap berbelanja liquid yang mereka idamkan. Terkadang, hal tersebut yang membuat mereka boros karena terus mengeksplor rasa mana yang mereka idam-idamkan. Tak jarang juga liquid dengan harga mahal hingga ratus ribuan akan mereka beli. Sebaliknya, para perokok konvensional justru kerap bertahan dengan satu rasa atau merek saja.<\/p>\n\n\n\n

Sedikit berbeda dengan penikmat rokok konvensional atau kretek. Mengingat rokok kretek sudah menjadi kebudayan lokal yang terus dipertahankan selama bertahun-tahun, kehadirannya sudah mewarnai khasanah keindonesiaan. Perokok kretek juga sudah punya soliditas luar biasa yang terbentuk sejak lama dan terus terbangun mengiringi peradaban di Indonesia atau dunia.<\/p>\n\n\n\n

Kini, perokok elektrik mulai merasakan kegelisahan. Beberapa negara mulai menerapkan peraturan ketat terhadap Vape, sedangkan di Indonesia biaya cukai pun kini mulai diberlakukan terhadap perdagangan rokok elektrik. Keberadaannya di mata negara pun mulai dianggap sama seperti rokok, meski pada awalnya rokok elektrik hadir dengan slogan-slogan produk alternatif yang lebih menyehatkan (katanya).<\/p>\n\n\n\n


Tapi jika kemudian di masa depan memang rokok elektrik yang kemudian menjadi sesuatu yang populer dan dinikmati banyak orang. Rasanya saya tetap ingin hidup di jaman ini, dengan sebatang kretek di tangan dan menikmati segala khasanah kebudayaan yang patut terus dipertahankan. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"masa-depan-rokok-elektrik-dan-semangat-alternatif-yang-sia-sia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-03 09:05:56","post_modified_gmt":"2019-02-03 02:05:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5403","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5385,"post_author":"883","post_date":"2019-02-02 08:01:01","post_date_gmt":"2019-02-02 01:01:01","post_content":"Pada tahun 2014, perusahaan rokok multinasional Philip Morris Internasional Inc. merilis sebuah produk <\/span>perangkat\u00a0<\/span>
rokok<\/span><\/a>\u00a0tanpa asap, yang dipanaskan bukan dibakar atau istilahnya\u00a0<\/span>heat not burn<\/i><\/strong>\u00a0(HNB) iQOS<\/strong>. <\/span>\r\n\r\nPerangkat rokok tanpa asap dengan nama iQOS<\/a> ini berbentuk seperti bagian luar pulpen, dengan lubang di tengah untuk rokok. Produk yang berada di bawah brand Marlboro ini dapat memanaskan rokok sampai 350 derajat celcius lalu mengeluarkan uap nikotin beraroma tembakau<\/em><\/a>.<\/span>\r\n

Produk iQOS sebenarnya bukanlah produk rokok tanpa asap yang pertama muncul. Sebelumnya di tahun 1990-an, Reynolds Tobacco Co pernah merilis produk serupa bernama Eclipes yang juga dapat menguapkan nikotin setelah dinyalakan dengan korek api.<\/span><\/blockquote>\r\nSelain itu, Eclips juga dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. Namun, pada saat itu Eclips tidak diminati oleh pasar, utamanya para perokok konvensional. Meskipun Eclips dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. <\/span>\r\n\r\nBisnis semacam rokok tanpa asap seperti Eclips dan iQOS memang sudah menjadi bagian dari rencana panjang bisnis perusahaan-perusahaan rokok multinasional. Jadi tidak usah heran jika ke depannya akan kita akan banyak menemukan produk rokok tanpa asap ini.<\/span>\r\n\r\nWatak dari perusahaan multinasional memang seperti itu, mereka sangat jeli melihat peluang pasar ke depannya. Ketika market place perusahaan rokok multinasional saat ini terus dirongrong oleh kelompok antirokok, mereka tak kehabisan akal. Maka kemudian mereka menginovasi produk rokok konvensional menjadi rokok yang tidak berasap. Begitupun dengan mengikutsertakan jargon-jargon kesehatan dalam narasi promosi mereka.<\/span>\r\n\r\nSesungguhnya memang seperti itulah watak bisnis perusahaan-perusahaan multinasional, melakukan segala cara agar bisnis mereka tetap bertahan, meskipun harus merangkul musuh sekalipun. <\/span>\r\n\r\nYa kadang pura-pura berantem sama antirokok, tapi dibalik itu sebenarnya baik-baik saja, dan tentunya ada kompromi untuk terus melanggengkan bisnis mereka.<\/span>\r\n

Lalu siapa yang dirugikan dari permainan bisnis macam produk rokok tanpa asap perusahaan rokok multinasional ini?<\/span><\/h3>\r\nTentunya yang sangat dirugikan adalah produk hasil tembakau yang memiliki kekhasan seperti kretek di Indonesia. Kretek sebagai produk khas asli Indonesia yang menjadi bagian dari warisan kebudayaan tidak mungkin bertransformasi menjadi produk-produk elektrik dan sejenisnya.<\/span>\r\n\r\nKretek tetaplah kretek, dengan bahan baku alami tembakau dan cengkeh yang tidak diintervensi dengan zat atau perangkat penghantar lainnya. Karena dengan bentuk, karakter dan cara menikmatinya memang konvensional dan akan terus begitu apapun kondisi dan zamannya.<\/span>\r\n
Bisnis produk rokok tanpa asap (elektrik) juga menghajar kretek dengan mendompleng isu pengendalian tembakau. Kampanye pengendalian tembakau selalu membawa slogan bahaya merokok dan upaya untuk berhenti merokok. <\/span><\/blockquote>\r\nDari isu tersebut, rokok elektrik masuk dengan citra produk alternatif tembakau, bahkan mereka tak segan menilai bahwa rokok elektrik lebih aman ketimbang rokok konvensional, yakni kretek.<\/span>\r\n\r\nLalu jika Indonesia akan dibanjiri dengan produk-produk yang mengatasnamakan produk alternatif tembakau, macam rokok tanpa asap (iQOS dan sejenisnya), maka itulah pertanda bahwa kretek harus tergerus dari cara hidup manusia Indonesia dalam menikmati produk hasil tembakau khas Indonesia yang sudah turun-temurun lamanya dinikmati manusia Indonesia.<\/span>","post_title":"Nasib Kretek di Pusaran Pertarungan Bisnis Global Perusahaan Rokok Multinasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"nasib-kretek-di-pusaran-pertarungan-bisnis-global-perusahaan-rokok-multinasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-02 08:01:43","post_modified_gmt":"2019-02-02 01:01:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5385","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; \n

Setelah seperempat abad hanya berkembang dalam skala kecil usaha rumah tangga, produksi kretek akhirnya menjelma menjadi industri besar sejak awal abad-20 yang dirintis oleh Haji Nitisemito (pendiri pabrik \u2018Jambu Bol\u2019) di Kudus dan Liem Seng Tee (pendiri pabrik \u2018Dji Sam Soe\u2019 dan \u2018Sampoerna\u2019) di Surabaya.
<\/p>\n\n\n\n

Puncaknya adalah pada pertengahan tahun 1950-an, ketika produksi kretek mulai berkembang pesat menjadi industri raksasa modern dengan munculnya beberapa pabrik baru, antara lain, yang terkemuka, oleh Oei Wei Gwan (pendiri pabrik \u2018Djarum\u2019) di Kudus dan Tjou Ing Hwie (pendiri pabrik \u2018Gudang Garam\u2019) di Kediri (Topatimasang, et.al., eds., 2010:131).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Teruslah Menanam Tembakau dan Cengkeh, Wahai Petani Indonesia<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Cengkeh, bahan baku paling esensial dari kretek --selain tembakau, tentu saja-- pun kembali berjaya. Bahkan, sejak dasawarsa 1970an, telah menjadi salah satu penyumbang terbesar keuangan negara Republik Indonesia. Pada tahun 2012 dan 2013, pemasukan cukai dari industri kretek mencatat 95,5% dari seluruh pemasukan cukai ke kas negara. Nilainya tak tanggung-tanggung: Rp 87 triliun! (el-Guyanie, et.al.: 2013:4-5).<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Nilai ekonomisnya yang sangat besar sempat menggoda penguasa otoriter rezim Presiden Soeharto, pada 1990-an, memberlakukan satu kebijakan \u2018Hongi Gaya Baru\u2019: monopoli perdagangan cengkeh dalam negeri melalui Badan Penyanggah dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) yang sangat merugikan petani. Harga cengkeh di tingkat petani penghasil anjlok sampai hanya Rp 2.000 - 3.000 per kilogram, lebih murah dari harga sebungkus kretek yang dihasilkan darinya.
<\/p>\n\n\n\n

Akibatnya, ratusan ribu pohon cengkeh di daerah-daerah penghasil utama --Maluku, Maluku Utara, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Selatan-- ditebangi atau dibiarkan terlantar tak terurus.
<\/p>\n\n\n\n

Gelombang reformasi sistem politik dan hukum nasional yang dimulai pada tahun 1998, akhirnya menjungkalkan rezim Soeharto dan BPPC dibubarkan, Pelan tapi pasti, harga cengkeh kembali merangkak naik, sehingga pada tahun 2012, bahkan melewati angka Rp 200.000 per kilogram. Para petani cengkeh di seluruh negeri kembali tersenyum. Tetapi, sampai kapan? <\/p>\n\n\n\n

Catatan:<\/strong><\/p>\n\n\n\n

[1] Beberapa sumber menyebutkan bahwa kata \u2018cengkeh\u2019 dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Mandarin, tkeng-his atau xi\u2019jia, yang berarti \u2018rempah [berbentuk mirip] paku\u2019 (scented nails). Ini menunjukkan bahwa cengkeh sudah dikenal sejak lama oleh bangsa Cina --diketahui sejak abad-2-- jauh sebelum orang Eropa mengenalnya ((lihat, misalnya: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n\n\n\n

[2] Catatan-catatan para biarawan Fransiskan --yang disalin dan dikutip oleh van Frassen-- bahkan menyebut cengkeh sebagai salah satu bahan utama pengawet mumi para Fir\u2019aun, penguasa Mesir Kuno. Beberapa pakar sejarah dan arkeologi menyatakan bahwa rempah-rempah Maluku bahkan sudah ditemukan artefaknya di Lembah Mesopotomia (wilayah Iraq dan sekitarnya sekarang) pada 3.000 tahun sebelum Masehi. (lihat, antara lain: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n\n\n\n

[3] Uraian lebih rinci sejarah kolonialisme rempah-rempah Nusantara ini, terutama oleh Belanda dan Portugis, dapat dibaca pada beberapa sumber kepustakaan yang sudah dikenal luas, antara lain: Glamann (1958) dan Boxer (1965 dan 1969). Dalam risalah klasik Pires disebutkan bahwa pada tahun 1512-1521 saja, jumlah produksi cengkeh di Maluku sudah mencapai 7.250 bahar per tahun, terbesar adalah di Makian serta Amboina dan Lease (masing-masing 1.500 bahar)(Pires, 1512-1515).<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem Topatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-10 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-02-10 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5425","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5415,"post_author":"878","post_date":"2019-02-07 12:15:55","post_date_gmt":"2019-02-07 05:15:55","post_content":"\n

Belakangan ini, ketika musim hujan tiba, di Kabupaten Temanggung, Kabupaten Jember, dan beberapa wilayah sentra pertanian tembakau lainnya, hampir mustahil menemukan tanaman tembakau tumbuh di lahan-lahan milik petani. Di wilayah-wilayah tersebut, citra sebagai sentra pertanian tembakau seakan menguap. Lahan-lahan yang ada di sana, sama sekali tidak ditumbuhi tanaman tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Kabar ini bisa jadi dianggap sebagai kabar gembira bagi mereka yang menganggap diri dan kelompoknya anti-rokok dan anti-tembakau yang selalu mengampanyekan sikap-sikap mereka terkait kebencian kepada tembakau dan aktivitas merokok. Setelah sekian lama berjuang, akhirnya perjuangan mereka dirasa berhasil usai menyaksikan fenomena lahan-lahan di wilayah yang dianggap sentra pertanian tembakau pada hari-hari belakangan ini.<\/p>\n\n\n\n

Baca juga: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tak sia-sia turun ke jalan, tak sia-sia melakukan lobi-lobi ke penguasa, tak sia-sia mengucurkan uang yang tidak sedikit, dan tak sia-sia mempermalukan diri dengan mengemis ke lembaga donor asing dan menggondol uang dari cukai tembakau untuk mengampanyekan gerakan anti-rokok dan anti-tembakau. Tak sia-sia. Karena perjuangan sepertinya berhasil.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Kampanye-kampanye gerakan mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya, sepertinya juga sangat berhasil. Bagaimana tidak? Wilayah-wilayah yang sebelumnya penuh dengan tanaman tembakau dan bergeliat dengannya, kini lahan-lahannya sudah berganti dengan tanaman lain. Sebuah keberhasilan yang menggembirakan. Begitu mungkin pikir mereka para yang menganggap dirinya pejuang anti-rokok dan anti-tembakau. Dan tentu saja mereka akan kecele dan kita akan menertawakan hal itu.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, mereka yang menganggap dirinya anti-rokok dan anti-tembakau tidak menyaksikan langsung fenomena ini di lapangan, di lahan-lahan yang peruntukannya berubah pada hari-hari belakangan ini ketika memasuki musim hujan. Mereka asyik duduk pada kursi empuk di ruang-ruang nyaman ber-AC di kota-kota yang jauh dari kultur pertanian. Mereka menyengajakan diri menjadi elit dan enggan untuk turun melihat langsung ke lapangan. Kalaupun ada yang turun langsung ke lapangan, hanya segelintir saja dari mereka, itupun sekadar formalitas saja. Tak pernah benar-benar mau turun ke lapangan, hidup dan merasakan langsung kultur pertanian tembakau dalam jangka waktu cukup lama di lapangan.<\/p>\n\n\n\n

Baca juga: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Fenomena ini membikin kita tak bisa melihat mereka para anti-rokok kecele lalu menertawakan mereka.<\/strong> Fenomena keengganan terjun langsung ke lapangan terlebih mencoba mendengar mereka yang tetap menanam tembakau, juga menjalani keseharian dalam waktu cukup lama bersama petani tembakau inilah yang saya kira menjadikan mereka tetap keras kepala untuk anti-rokok dan anti-tembakau. Karena jika mereka mau melakukan itu, saya yakin mereka semua tidak akan begitu kaku dalam memandang pertanian tembakau dan produk hasil industri tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu yang selalu mereka kampanyekan dan ngotot dengan itu, terkait hulu pertanian tembakau adalah mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya. Mereka berargumen banyak tanaman lain yang bisa semenguntungkan tanaman tembakau. Keengganan mereka terjun langsung ke lapangan inilah yang membikin mereka buta dengan kondisi pertanian tembakau dan pada akhirnya terus menerus mengampanyekan pergantian tanaman tembakau dengan tanaman lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca juga: Imanlah kepada Allah, Bukan Antirokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tembakau tanaman yang khas. Ia hanya tumbuh baik sepanjang empat hingga lima bulan dalam satu tahun. Tumbuh-kembang tanaman tembakau dengan baik itu umumnya terjadi pada musim kemarau setiap tahunnya. Hanya sedikit sekali jenis tembakau yang tumbuh baik di musim penghujan, mayoritasnya, tumbuh baik pada musim kemarau.<\/p>\n\n\n\n

Jika ditanam pada musim hujan, hampir bisa dipastikan tanaman tembakau akan gagal menghasilkan daun-daun yang berkualitas. Ia akan rusak dan membusuk karena terlalu banyak terkena air sehingga daun-daun itu tak layak dijual. Jangankan bisa dijual, untuk tumbuh dengan baik pun sepertinya sulit karena musim hujan akan membunuh banyak tanaman itu.<\/p>\n\n\n\n

Maka, tak heran pada musim-musim seperti saat ini, ketika musim penghujan mendekati puncaknya, di wilayah-wilayah yang dikenal sebagai sentra pertanian tembakau, sulit menemukan pohon tembakau yang sedang tumbuh. Pada lahan-lahan yang sebelumnya ditumbuhi tanaman tembakau pada musim panas, berganti tanaman-tanaman lain yang bermacam-macam, sesuai dengan kondisi lahannya. Untuk lahan sawah, lahan-lahan itu pada musim penghujan kini ditumbuhi tanaman padi yang subur. Pada lahan tegalan dan lahan di pegunungan, lahan-lahan yang ditanami tembakau pada musim kemarau, saat ini ditumbuhi bermacam jenis tanaman mulai dari cabai, bawang, tomat, kol, terong, mentimun, dan ragam jenis tanaman semusim lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Uniknya, tipikal tanaman tembakau yang tumbuh baik di musim kemarau ini memberi pilihan lebih kepada para petani. Lahan-lahan yang sulit ditanami pada musim kemarau, pada akhirnya masih bisa tetap produktif dengan keberadaan tanaman tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Maka, kampanye aneh mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain dengan ragam rupa dalih yang membingungkan, bukan saja sama sekali tidak tepat dan asal-asalan, namun bisa jadi akan ditertawakan oleh para petani yang begitu paham dengan kondisi lahan dan terutama kondisi iklim dan cuaca. Sulit mencari tanaman semusim yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Jika pun ada, tak ada yang semenguntungkan tanaman tembakau.
<\/p>\n","post_title":"Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"keberhasilan-gerakan-anti-tembakau-tak-ada-tembakau-saat-musim-hujan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-07 12:16:02","post_modified_gmt":"2019-02-07 05:16:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5415","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5409,"post_author":"919","post_date":"2019-02-05 08:04:43","post_date_gmt":"2019-02-05 01:04:43","post_content":"\n

Tahun Baru Imlek yang merupakan tradisi Bangsa Tiongkok kini sudah tak lagi menjadi hal yang asing bagi masyarakat Indonesia. Kehadirannya sudah mewarnai dan berakulturasi dengan tradisi lokal. Menjelang Tahun Baru Imlek. Berbagai hiasan dan kemeriahan terjadi beberapa titik di Tanah Air. Perayaannya juga menjadi destinasi baru yang mengasyikkan untuk dilihat dan patut disaksikan.<\/p>\n\n\n\n

Berterimakasihlah kepada sang bapak bangsa, KH Abdurrahman Wahid atau yang dikenal dengan nama Gus Dur. Berkat kebijakannya saat menjadi Presiden Indonesia, Tahun Baru Imlek resmi dijadikan hari libur nasional dan dianggap sebagai salah satu hari raya di Tanah Air. Meski sentimen antitionghoa masih ada di sana-sini, tapi tetap tak bisa dipungkiri bahwa bangsa tionghoa sudah bersentuhan dengan budaya lokal dalam kurun waktu yang sangat panjang.<\/p>\n\n\n\n

DNA Bangsa Tionghoa yang memang merupakan pedagang menjadi pembuka kisah interaksi antara nenek moyang berbagai suku di Nusantara dengan mereka. Beberapa kelenteng-kelenteng yang tersebar pada berbagai pesisir daerah di Nusantara jadi buktinya. Pelabuhan-pelabuhan tua di tanah air dan ramainya perdagangan di pesisir mempermudah bangsa kita berhubungan dengan Bangsa Tionghoa.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Wong Kalang dan Kota Gede<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa kehadiran Bangsa Tionghoa di Nusantara tak hanya sebagai pedagang, namun juga sebagai pekerja (bahkan hingga pekerja kasar). Benny Setiono, seorang sejarahwan menyebutkan bahwa antara tahun 1760-1770 dalam jumlah yang besar memasuki nusantara melalui Kalimantan Barat. Mereka bekerja sebagai kuli pertambangan di sana dan di kemudian hari membentuk sebuah republik bernama Republik Lanfang yang konon katanya menjadi republik pertama di Asia Tenggara.<\/p>\n\n\n\n

Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Imlek dan Indonesia<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n\n\n\n

Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
<\/p>\n","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5406,"post_author":"877","post_date":"2019-02-04 08:23:48","post_date_gmt":"2019-02-04 01:23:48","post_content":"\n

Merokok itu sudah menjadi bagian dari budaya dan tradisi masyarakat, jauh sebelum Indonesia merdeka. Banyak cerita atau kisah tentang kretek <\/a><\/del>di tengah-tengah masyarakat bangsa ini, mulai sebagai alat untuk meraup keuntungan, alat komunikasi, sebagai teman sampai menjadi simbol pergerakan. <\/p>\n\n\n\n

Kretek, Simbol Perlawanan Roro Mendut<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Siapa yang tidak pernah mendengan cerita tentang Roro Mendut?, di telinga masyarakat Indonesia, kisah Roro Mendut tidak asing lagi.  Perempuan yang mempunyai paras wajah cantik, dan digandrungi kaum adam terutama kalangan putra kerajaan. Informasi kecantikan Roro Mendut tersebar seantero Nusantara, tidak satupun pria meragukan kecantikannya.  Bahkan kisah dan cerita kecantikan Roro Mendut tercatat dalam buku Babad Tanah Jawi. <\/p>\n\n\n\n

Diperkirakan pada tahun 1627, pada saat panglima perang Sultan Agung Mataram bernama Tumenggung Wiraguna berhasil menumpas pemberontakan di kota Pati, sebagai imbalanan atas keberhasilannya, mendapat hadiah wanita pujaan pria bernama Rara Mendut dari Kasultanan Agung Mataram.  Roro Mendut menolak dipinang Tumenggung Wiraguna, dan secara terang-terangan memilih pria lain dambaannya. Akibatnya, Roro Mendut harus membayar pajak setiap harinya kepada kerajaan Mataram. <\/p>\n\n\n\n

Bisa dibayangkan, betapa bingungnya Roro Mendut saat itu. Uang dari mana, ia hasilkan untuk bayar pajak tiap hari demi bisa bersama kekasihnya. Ternyata Roro Mendut tidak hanya cantik tetapi cerdas dan kreatif, bisa membaca peluang bisnis saat itu. Ide cermerlang muncul dengan berdagang\/berjualan rokok lintingan yang direkatkan dengan air ludahnya, dan sebelum menjualnya, rokok lintingan di sulut dahulu dan dihisap bekas bibir merahnya. Kemudian baru dijual ke pembeli yang berdesakan berjejer antri. <\/p>\n\n\n\n

Entah dari mana ide menjual rokok itu muncul. Yang jelas saking larisnya, kewajiban pajak Roro Mendut terpenuhi. Dan mungkin keadaannya akan lebih parah, jika saat itu Roro Mendut tidak berdagang rokok. Tidak akan terpenuhi kewajiban pajaknya. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Dengan rokok, hidup Roro Mendut terselamatkan. Adanya rokok, \u00a0Roro Mendut bebas dari belenggu kekuasaan. Berkat rokok, Roro Mendut terkengan, mengisi rubik informasi sejarah begitu kuatnya budaya merokok di \u00a0Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Pusaka Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek, Teman Perjuangan  Diponegoro<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Semasa berjuang melawan penjajah, yang harus dilakukan Diponegoro berpindah-pindah dari kota satu ke kota lain. Strategi perlawanan Diponegoro, kemudian sebagai basis strategi perang gerilya. Strategi yang menjadi idola dan kebanggaan tentara Indonesia. Dengan bergerilya, tentara Indonesia mampu mengecoh kekutan lawan yang lebih besar jumlahnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu, tenyata banyak cerita, Diponegoro saat berperang ditemani rokok. Ia dan pasukannya gemar merokok. Bahkan ketika tidak ada rokok, Pangeran Diponegoro rela hanya megunyah daun sirih yang diracik dengan kapur dan pinang. <\/p>\n\n\n\n

Kebiasaan ini, juga dialami oleh pengikut \/pasukan perang Pangeran Diponegoro. Bagi mereka, rokok teman sejati, menemani disetiap perjalanan mereka. Rokok menghilangkan depresi mereka, sebagai hiburan saat jauh dari keluarga demi berjuang melawan penjajah. Rokok menumbuhkan percaya diri mereka, lebih berani melawan penjajah walaupun hanya dengan serba keterbatasan, pasukan jumlah terbatas, alat perang terbatas dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Baca juga: Pangeran Diponegoro, Rokok Klobot dan Perlawanan Simbolis<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Jati Diri Bangsa<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Salah satu \u201cpendiri bangsa\u201d bernama KH. Agus Salim menghisap kretek dengan asapnya di kebal-kebulkan keudara, disaat ada perjamuan di Istana Buckingham ketika penobatan Elizabeth II sebagai Ratu kerajaan Inggris. Aroma khas keluar dari asap rokok kretek, tercium orang yang berada di ruang perjamuan. Sehingga memancing salah satu orang yang datang dalam perjamuan, dengan berkata; \u201ctuan sedang menghisap apa itu?\u201d.  Sentak KH. Agus Salim menjawab, \u201c inilah yang membuat nenek moyang anda sekian abad lalu datang dan kemudian menjajah negeri kami\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Jawaban KH. Agus Salim, faktanya memang benar. Rokok kretek tidak lain ada tambahan cengkeh (suzygium aromaticum<\/em>). \u00a0Tanaman legendaris menjadi rebutan dan sumber keuntungan kolonialisme Eropa atas Asia termasuk Indonesia. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Cengkeh adalah salah satu tanaman yang diperebutkan bangsa-bangsa dunia, sampai melegalkan penjajahan.  Dalam simpulan perjalanan ekspedisi cengkeh tahun 2013, Kepala Suku begitu julukan bagi Putut Ea, mengatakan \u201c jika saja tak pernah ada cengkeh dan pala di Maluku, mungkin sejarah kepulauan Nusantara ini akan berbeda sama sekali\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Simpulan Putut EA, sebagai salah satu pembenar perkataan \u00a0KH. Agus Salim. Mungkin, jika tanaman cengkeh tidak ada, fakta sejarah akan berbeda, tidak ada penjajahan di bumi Nusantara ini. <\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Mengisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek untuk Berteman dan Menjalin Persaudaraan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Teringat apa yang pernah dilakukan Menteri Sosial dan Lingkungan Hidup, saat melakukan pendekatan pada suku anak dalam di Jambi. Tidak lain ia adalah Khofifah menteri perempuan yang energik. Saat itu Khofifah bertanggungjawab dalam mengatasi masalah pendidikan dan kesejahteraan masyarakat suku anak dalam di Jambi.  <\/p>\n\n\n\n

Kebijakannya membuat fenomenal, selain bahan makanan, dan bantuan lain, khofifah juga membawa rokok.  Yang kemudian ada yang mengggugat dari anti rokok, tetapi sebagai Menteri, Khofifah tentunya sudah mengkaji secara mendalam. Dengan kecerdasannya , Khofifah menjawab dengan tegas dan lugas, \u201cjangan sok tahu kehidupan mereka, kenali apa yang menjadi ritme kehidupan mereka. Sangat bijaksana kalau kita semua pergi kesana, sehingga tahu adat istiadatnya juga. Tolong kalau ingin mengerti tentang kultur jangan hanya dari kacamata Jakarta. Saya pun ingin mengajak anda kesana, turun kesana, sapalah mereka\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Khofifah memberikan pelajaran bagi anti rokok. Tidak boleh sok tahu, apalagi selama ini antirokok hanya berasumsi, tanpa melihat fakta dilapangan. Khofifah juga menganjurkan agar lebih mengenal adat-istiadat, budaya dan tradisi masyarakat, tidak boleh melakukan hegemoni kultural, sebab keberagaman adat-istiadat dan budaya merupakan kekayaan negeri. <\/p>\n\n\n\n

Pelajaran Khofifah sangat mendalam dan bercirikhas Nusantara. Sebgaai Menteri \u00a0Sosial tentunya lebih berpengalaman apa yang dibutuhkan bangsa ini agar tetap jaya, bersatu dan utuh. Kenali perbedaan, hormati perbedaan, junjung tinggi budaya yang berbeda. \u00a0Apa yang telah dilakukan Khofifah dengan membawa rokok ke suku anak dalam adalah cermin penghormatan tradisi dan budaya masyarakat. Sebagai seorang Mentri, tentunya punya kuasa, artinya bisa seorang khofifah memberikan bantuan sesuai keinginannya sendiri, namun hal itu tidak dilakukan. Ia lebih mengedepankan penghormatan budaya masyarakat setempat, dengan membawa rokok untuk pendekatan dan pertemanan. Karena Khofifah tahu betul, bahwa merokok adalah budaya mereka, yang diwaris dari neneng moyang mereka. <\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Memilih Jalan Hidup Menikmati Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Simbol Pergerakan Nasional     <\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Abdul Rifa\u2019I dalam media bintang timur terbit pada 03 Oktober 1927, mengatakan, \u201ckopinya bukan kopi saringan, tetapi kopi tubruk sebab kopi ini katanya nationaal, gulanya gula jawa, susu tidak dipakai karena tidak nationaal. Rokoknya kelobot, selamatan natioanaal ini terus berlangsung ed sampai pagi hari\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Semangat nasionalisme harus tertanam, mengedepankan produk lokal adalah salah satu semangat nasionalime. Salah satu keberadaan rokok klobot menjadi ciri produk asli indonesia dan harus dilestarikan. Klobot sendiri adalah ramuan tembakau dan cengkeh di gulung memakai daun jagung, embrio perkembangan menjadi rokok sigaret kretek tangan dan sigaret kretek mesin.  
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pusaran Budaya Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pusaran-budaya-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-04 08:40:41","post_modified_gmt":"2019-02-04 01:40:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5406","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5403,"post_author":"919","post_date":"2019-02-03 09:05:50","post_date_gmt":"2019-02-03 02:05:50","post_content":"\n

Seringkali saya menyaksikan berbagai film baik itu Eropa atau Asia yang menggambarkan tentang masa depan. Pemandangan soal masa depan tersebut dihadirkan dengan gambaran kecanggihan teknologi seperti robot yang akan membantu kehidupan manusia, gedung-gedung yang tingginya sudah amat tak bisa ditandingi,  hingga mobil-mobil yang bisa terbang. <\/p>\n\n\n\n

Pernah dalam masa kecil saya menyaksikan sebuah film animasi buatan jepang yang mempertanyakan tentang makanan di masa depan. Dengan santai salah satu tokoh yang berasal dari masa depan itu menjawab bahwa suatu saat nanti manusia akan mengonsumsi makanan berupa pasta gigi namun dengan rasa yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa, aneh!<\/p>\n\n\n\n

Seiring waktu berjalan saya kian tumbuh dewasa dan punya kesadaran untuk memilih menjadi seorang perokok<\/a>. Saya juga melihat ada sebuah inovasi dan gambaran tentang masa depan yang hadir dalam kehidupan sekarang. Banyak memang, namun yang menyita perhatian saya adalah rokok elektrik atau yang populer disebut Vape. Konon katanya ia adalah produk inovasi untuk menjembatani kebutuhan menghisap asap dan kecanggihan masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Di awal kehadirannya Vape memang mengundang decak kekaguman saya. Bagaimana bisa sebuah mesin kecil mengeluarkan asap yang katanya lebih menyehatkan daripada rokok.<\/strong> Meski pada akhirnya teori tersebut juga bisa dibantah oleh beberapa ilmuan dunia. Tapi ada satu yang saya amati selain soal kesehatan, rokok elektrik rupanya menghadirkan kultur dan budaya baru dalam kehidupan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: LAGI-LAGI IKLAN ROKOK, KAPAN KPAI TIDAK TEBANG PILIH? <\/a><\/h4>\n\n\n\n

Kehadiran teknologi memang kerap sedikit atau benyak mengubah gaya atau kultur suatu masyarakat. Begitu pula yang saya perhatikan dengan rokok elektrik. Satu hal yang mudah diamati adalah menjamurnya toko-toko kecil yang menjual vape serta liquid di berbagai tempat. Sebagai sebuah warna baru dalam masyarakat, penggunanya ramai-ramai mengunjungi tempat tersebut berinteraksi dengan penikmat lainnya dan membangun sebuah rumah komunitas yang fleksibel.<\/p>\n\n\n\n

Meski belum bisa dikatakan memiliki jumlah penikmat yang setara dengan para perokok, pengguna Vape mulai menunjukkan eksistensinya. Selain toko yang tersebar, ragam acara juga mereka buat di beberapa daerah. Dalam lingkungan saya, beberapa teman yang dulunya merupakan perokok aktif tertarik mengikuti event tersebut dan beralih mengisap rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Nun jauh di sana, di Amerika Serikat tepatnya, budaya Vape juga sudah mulai berkembang lama ketimbang di Tanah Air. Penikmatnya terbagi menjadi dua, ada yang dulunya bekas perokok dan ada yang memang menikmatinya sebagai gaya hidup. Wajar saja mengingat facebook tak memperbolehkan iklan tembakau di platform mereka, sebaliknya iklan tentang vape justru bertebaran. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi budaya baru yang berkembang di berbagai belahan dunia bahkan di Indonesia, Vape konon menjadi alternatif yang lebih bermanfaat daripada rokok. Dalih yang diusung selalu sama kepada para perokok tradisonal yaitu soal kesehatan dan lebih irit. Soal kesehatan tentu ada beberapa pendapat para ilmuan yang membantahnya, namun soal irit, saya rasa tidak. Memang satu liquid bisa digunakan untuk beberapa Minggu, akan tetapi yang saya lihat di lapangan justru sebaliknya. <\/p>\n\n\n\n

Beberapa penikmat rokok elektrik kerap berbelanja liquid yang mereka idamkan. Terkadang, hal tersebut yang membuat mereka boros karena terus mengeksplor rasa mana yang mereka idam-idamkan. Tak jarang juga liquid dengan harga mahal hingga ratus ribuan akan mereka beli. Sebaliknya, para perokok konvensional justru kerap bertahan dengan satu rasa atau merek saja.<\/p>\n\n\n\n

Sedikit berbeda dengan penikmat rokok konvensional atau kretek. Mengingat rokok kretek sudah menjadi kebudayan lokal yang terus dipertahankan selama bertahun-tahun, kehadirannya sudah mewarnai khasanah keindonesiaan. Perokok kretek juga sudah punya soliditas luar biasa yang terbentuk sejak lama dan terus terbangun mengiringi peradaban di Indonesia atau dunia.<\/p>\n\n\n\n

Kini, perokok elektrik mulai merasakan kegelisahan. Beberapa negara mulai menerapkan peraturan ketat terhadap Vape, sedangkan di Indonesia biaya cukai pun kini mulai diberlakukan terhadap perdagangan rokok elektrik. Keberadaannya di mata negara pun mulai dianggap sama seperti rokok, meski pada awalnya rokok elektrik hadir dengan slogan-slogan produk alternatif yang lebih menyehatkan (katanya).<\/p>\n\n\n\n


Tapi jika kemudian di masa depan memang rokok elektrik yang kemudian menjadi sesuatu yang populer dan dinikmati banyak orang. Rasanya saya tetap ingin hidup di jaman ini, dengan sebatang kretek di tangan dan menikmati segala khasanah kebudayaan yang patut terus dipertahankan. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"masa-depan-rokok-elektrik-dan-semangat-alternatif-yang-sia-sia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-03 09:05:56","post_modified_gmt":"2019-02-03 02:05:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5403","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5385,"post_author":"883","post_date":"2019-02-02 08:01:01","post_date_gmt":"2019-02-02 01:01:01","post_content":"Pada tahun 2014, perusahaan rokok multinasional Philip Morris Internasional Inc. merilis sebuah produk <\/span>perangkat\u00a0<\/span>
rokok<\/span><\/a>\u00a0tanpa asap, yang dipanaskan bukan dibakar atau istilahnya\u00a0<\/span>heat not burn<\/i><\/strong>\u00a0(HNB) iQOS<\/strong>. <\/span>\r\n\r\nPerangkat rokok tanpa asap dengan nama iQOS<\/a> ini berbentuk seperti bagian luar pulpen, dengan lubang di tengah untuk rokok. Produk yang berada di bawah brand Marlboro ini dapat memanaskan rokok sampai 350 derajat celcius lalu mengeluarkan uap nikotin beraroma tembakau<\/em><\/a>.<\/span>\r\n

Produk iQOS sebenarnya bukanlah produk rokok tanpa asap yang pertama muncul. Sebelumnya di tahun 1990-an, Reynolds Tobacco Co pernah merilis produk serupa bernama Eclipes yang juga dapat menguapkan nikotin setelah dinyalakan dengan korek api.<\/span><\/blockquote>\r\nSelain itu, Eclips juga dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. Namun, pada saat itu Eclips tidak diminati oleh pasar, utamanya para perokok konvensional. Meskipun Eclips dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. <\/span>\r\n\r\nBisnis semacam rokok tanpa asap seperti Eclips dan iQOS memang sudah menjadi bagian dari rencana panjang bisnis perusahaan-perusahaan rokok multinasional. Jadi tidak usah heran jika ke depannya akan kita akan banyak menemukan produk rokok tanpa asap ini.<\/span>\r\n\r\nWatak dari perusahaan multinasional memang seperti itu, mereka sangat jeli melihat peluang pasar ke depannya. Ketika market place perusahaan rokok multinasional saat ini terus dirongrong oleh kelompok antirokok, mereka tak kehabisan akal. Maka kemudian mereka menginovasi produk rokok konvensional menjadi rokok yang tidak berasap. Begitupun dengan mengikutsertakan jargon-jargon kesehatan dalam narasi promosi mereka.<\/span>\r\n\r\nSesungguhnya memang seperti itulah watak bisnis perusahaan-perusahaan multinasional, melakukan segala cara agar bisnis mereka tetap bertahan, meskipun harus merangkul musuh sekalipun. <\/span>\r\n\r\nYa kadang pura-pura berantem sama antirokok, tapi dibalik itu sebenarnya baik-baik saja, dan tentunya ada kompromi untuk terus melanggengkan bisnis mereka.<\/span>\r\n

Lalu siapa yang dirugikan dari permainan bisnis macam produk rokok tanpa asap perusahaan rokok multinasional ini?<\/span><\/h3>\r\nTentunya yang sangat dirugikan adalah produk hasil tembakau yang memiliki kekhasan seperti kretek di Indonesia. Kretek sebagai produk khas asli Indonesia yang menjadi bagian dari warisan kebudayaan tidak mungkin bertransformasi menjadi produk-produk elektrik dan sejenisnya.<\/span>\r\n\r\nKretek tetaplah kretek, dengan bahan baku alami tembakau dan cengkeh yang tidak diintervensi dengan zat atau perangkat penghantar lainnya. Karena dengan bentuk, karakter dan cara menikmatinya memang konvensional dan akan terus begitu apapun kondisi dan zamannya.<\/span>\r\n
Bisnis produk rokok tanpa asap (elektrik) juga menghajar kretek dengan mendompleng isu pengendalian tembakau. Kampanye pengendalian tembakau selalu membawa slogan bahaya merokok dan upaya untuk berhenti merokok. <\/span><\/blockquote>\r\nDari isu tersebut, rokok elektrik masuk dengan citra produk alternatif tembakau, bahkan mereka tak segan menilai bahwa rokok elektrik lebih aman ketimbang rokok konvensional, yakni kretek.<\/span>\r\n\r\nLalu jika Indonesia akan dibanjiri dengan produk-produk yang mengatasnamakan produk alternatif tembakau, macam rokok tanpa asap (iQOS dan sejenisnya), maka itulah pertanda bahwa kretek harus tergerus dari cara hidup manusia Indonesia dalam menikmati produk hasil tembakau khas Indonesia yang sudah turun-temurun lamanya dinikmati manusia Indonesia.<\/span>","post_title":"Nasib Kretek di Pusaran Pertarungan Bisnis Global Perusahaan Rokok Multinasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"nasib-kretek-di-pusaran-pertarungan-bisnis-global-perusahaan-rokok-multinasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-02 08:01:43","post_modified_gmt":"2019-02-02 01:01:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5385","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; \n

Nasibnya terselamatkan berkat penemuan oleh seorang Haji Djamhari di Kudus, Jawa Tengah. Pada akhir tahun 1880-an, Haji Djamhari menemukan kegunaan baru cengkeh sebagai ramuan utama rokok. Lahirlah satu produk baru yang unik, khas dan asli Indonesia: kretek! (Hanusz, 2000:ii).
<\/p>\n\n\n\n

Setelah seperempat abad hanya berkembang dalam skala kecil usaha rumah tangga, produksi kretek akhirnya menjelma menjadi industri besar sejak awal abad-20 yang dirintis oleh Haji Nitisemito (pendiri pabrik \u2018Jambu Bol\u2019) di Kudus dan Liem Seng Tee (pendiri pabrik \u2018Dji Sam Soe\u2019 dan \u2018Sampoerna\u2019) di Surabaya.
<\/p>\n\n\n\n

Puncaknya adalah pada pertengahan tahun 1950-an, ketika produksi kretek mulai berkembang pesat menjadi industri raksasa modern dengan munculnya beberapa pabrik baru, antara lain, yang terkemuka, oleh Oei Wei Gwan (pendiri pabrik \u2018Djarum\u2019) di Kudus dan Tjou Ing Hwie (pendiri pabrik \u2018Gudang Garam\u2019) di Kediri (Topatimasang, et.al., eds., 2010:131).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Teruslah Menanam Tembakau dan Cengkeh, Wahai Petani Indonesia<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Cengkeh, bahan baku paling esensial dari kretek --selain tembakau, tentu saja-- pun kembali berjaya. Bahkan, sejak dasawarsa 1970an, telah menjadi salah satu penyumbang terbesar keuangan negara Republik Indonesia. Pada tahun 2012 dan 2013, pemasukan cukai dari industri kretek mencatat 95,5% dari seluruh pemasukan cukai ke kas negara. Nilainya tak tanggung-tanggung: Rp 87 triliun! (el-Guyanie, et.al.: 2013:4-5).<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Nilai ekonomisnya yang sangat besar sempat menggoda penguasa otoriter rezim Presiden Soeharto, pada 1990-an, memberlakukan satu kebijakan \u2018Hongi Gaya Baru\u2019: monopoli perdagangan cengkeh dalam negeri melalui Badan Penyanggah dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) yang sangat merugikan petani. Harga cengkeh di tingkat petani penghasil anjlok sampai hanya Rp 2.000 - 3.000 per kilogram, lebih murah dari harga sebungkus kretek yang dihasilkan darinya.
<\/p>\n\n\n\n

Akibatnya, ratusan ribu pohon cengkeh di daerah-daerah penghasil utama --Maluku, Maluku Utara, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Selatan-- ditebangi atau dibiarkan terlantar tak terurus.
<\/p>\n\n\n\n

Gelombang reformasi sistem politik dan hukum nasional yang dimulai pada tahun 1998, akhirnya menjungkalkan rezim Soeharto dan BPPC dibubarkan, Pelan tapi pasti, harga cengkeh kembali merangkak naik, sehingga pada tahun 2012, bahkan melewati angka Rp 200.000 per kilogram. Para petani cengkeh di seluruh negeri kembali tersenyum. Tetapi, sampai kapan? <\/p>\n\n\n\n

Catatan:<\/strong><\/p>\n\n\n\n

[1] Beberapa sumber menyebutkan bahwa kata \u2018cengkeh\u2019 dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Mandarin, tkeng-his atau xi\u2019jia, yang berarti \u2018rempah [berbentuk mirip] paku\u2019 (scented nails). Ini menunjukkan bahwa cengkeh sudah dikenal sejak lama oleh bangsa Cina --diketahui sejak abad-2-- jauh sebelum orang Eropa mengenalnya ((lihat, misalnya: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n\n\n\n

[2] Catatan-catatan para biarawan Fransiskan --yang disalin dan dikutip oleh van Frassen-- bahkan menyebut cengkeh sebagai salah satu bahan utama pengawet mumi para Fir\u2019aun, penguasa Mesir Kuno. Beberapa pakar sejarah dan arkeologi menyatakan bahwa rempah-rempah Maluku bahkan sudah ditemukan artefaknya di Lembah Mesopotomia (wilayah Iraq dan sekitarnya sekarang) pada 3.000 tahun sebelum Masehi. (lihat, antara lain: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n\n\n\n

[3] Uraian lebih rinci sejarah kolonialisme rempah-rempah Nusantara ini, terutama oleh Belanda dan Portugis, dapat dibaca pada beberapa sumber kepustakaan yang sudah dikenal luas, antara lain: Glamann (1958) dan Boxer (1965 dan 1969). Dalam risalah klasik Pires disebutkan bahwa pada tahun 1512-1521 saja, jumlah produksi cengkeh di Maluku sudah mencapai 7.250 bahar per tahun, terbesar adalah di Makian serta Amboina dan Lease (masing-masing 1.500 bahar)(Pires, 1512-1515).<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem Topatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-10 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-02-10 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5425","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5415,"post_author":"878","post_date":"2019-02-07 12:15:55","post_date_gmt":"2019-02-07 05:15:55","post_content":"\n

Belakangan ini, ketika musim hujan tiba, di Kabupaten Temanggung, Kabupaten Jember, dan beberapa wilayah sentra pertanian tembakau lainnya, hampir mustahil menemukan tanaman tembakau tumbuh di lahan-lahan milik petani. Di wilayah-wilayah tersebut, citra sebagai sentra pertanian tembakau seakan menguap. Lahan-lahan yang ada di sana, sama sekali tidak ditumbuhi tanaman tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Kabar ini bisa jadi dianggap sebagai kabar gembira bagi mereka yang menganggap diri dan kelompoknya anti-rokok dan anti-tembakau yang selalu mengampanyekan sikap-sikap mereka terkait kebencian kepada tembakau dan aktivitas merokok. Setelah sekian lama berjuang, akhirnya perjuangan mereka dirasa berhasil usai menyaksikan fenomena lahan-lahan di wilayah yang dianggap sentra pertanian tembakau pada hari-hari belakangan ini.<\/p>\n\n\n\n

Baca juga: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tak sia-sia turun ke jalan, tak sia-sia melakukan lobi-lobi ke penguasa, tak sia-sia mengucurkan uang yang tidak sedikit, dan tak sia-sia mempermalukan diri dengan mengemis ke lembaga donor asing dan menggondol uang dari cukai tembakau untuk mengampanyekan gerakan anti-rokok dan anti-tembakau. Tak sia-sia. Karena perjuangan sepertinya berhasil.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Kampanye-kampanye gerakan mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya, sepertinya juga sangat berhasil. Bagaimana tidak? Wilayah-wilayah yang sebelumnya penuh dengan tanaman tembakau dan bergeliat dengannya, kini lahan-lahannya sudah berganti dengan tanaman lain. Sebuah keberhasilan yang menggembirakan. Begitu mungkin pikir mereka para yang menganggap dirinya pejuang anti-rokok dan anti-tembakau. Dan tentu saja mereka akan kecele dan kita akan menertawakan hal itu.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, mereka yang menganggap dirinya anti-rokok dan anti-tembakau tidak menyaksikan langsung fenomena ini di lapangan, di lahan-lahan yang peruntukannya berubah pada hari-hari belakangan ini ketika memasuki musim hujan. Mereka asyik duduk pada kursi empuk di ruang-ruang nyaman ber-AC di kota-kota yang jauh dari kultur pertanian. Mereka menyengajakan diri menjadi elit dan enggan untuk turun melihat langsung ke lapangan. Kalaupun ada yang turun langsung ke lapangan, hanya segelintir saja dari mereka, itupun sekadar formalitas saja. Tak pernah benar-benar mau turun ke lapangan, hidup dan merasakan langsung kultur pertanian tembakau dalam jangka waktu cukup lama di lapangan.<\/p>\n\n\n\n

Baca juga: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Fenomena ini membikin kita tak bisa melihat mereka para anti-rokok kecele lalu menertawakan mereka.<\/strong> Fenomena keengganan terjun langsung ke lapangan terlebih mencoba mendengar mereka yang tetap menanam tembakau, juga menjalani keseharian dalam waktu cukup lama bersama petani tembakau inilah yang saya kira menjadikan mereka tetap keras kepala untuk anti-rokok dan anti-tembakau. Karena jika mereka mau melakukan itu, saya yakin mereka semua tidak akan begitu kaku dalam memandang pertanian tembakau dan produk hasil industri tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu yang selalu mereka kampanyekan dan ngotot dengan itu, terkait hulu pertanian tembakau adalah mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya. Mereka berargumen banyak tanaman lain yang bisa semenguntungkan tanaman tembakau. Keengganan mereka terjun langsung ke lapangan inilah yang membikin mereka buta dengan kondisi pertanian tembakau dan pada akhirnya terus menerus mengampanyekan pergantian tanaman tembakau dengan tanaman lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca juga: Imanlah kepada Allah, Bukan Antirokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tembakau tanaman yang khas. Ia hanya tumbuh baik sepanjang empat hingga lima bulan dalam satu tahun. Tumbuh-kembang tanaman tembakau dengan baik itu umumnya terjadi pada musim kemarau setiap tahunnya. Hanya sedikit sekali jenis tembakau yang tumbuh baik di musim penghujan, mayoritasnya, tumbuh baik pada musim kemarau.<\/p>\n\n\n\n

Jika ditanam pada musim hujan, hampir bisa dipastikan tanaman tembakau akan gagal menghasilkan daun-daun yang berkualitas. Ia akan rusak dan membusuk karena terlalu banyak terkena air sehingga daun-daun itu tak layak dijual. Jangankan bisa dijual, untuk tumbuh dengan baik pun sepertinya sulit karena musim hujan akan membunuh banyak tanaman itu.<\/p>\n\n\n\n

Maka, tak heran pada musim-musim seperti saat ini, ketika musim penghujan mendekati puncaknya, di wilayah-wilayah yang dikenal sebagai sentra pertanian tembakau, sulit menemukan pohon tembakau yang sedang tumbuh. Pada lahan-lahan yang sebelumnya ditumbuhi tanaman tembakau pada musim panas, berganti tanaman-tanaman lain yang bermacam-macam, sesuai dengan kondisi lahannya. Untuk lahan sawah, lahan-lahan itu pada musim penghujan kini ditumbuhi tanaman padi yang subur. Pada lahan tegalan dan lahan di pegunungan, lahan-lahan yang ditanami tembakau pada musim kemarau, saat ini ditumbuhi bermacam jenis tanaman mulai dari cabai, bawang, tomat, kol, terong, mentimun, dan ragam jenis tanaman semusim lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Uniknya, tipikal tanaman tembakau yang tumbuh baik di musim kemarau ini memberi pilihan lebih kepada para petani. Lahan-lahan yang sulit ditanami pada musim kemarau, pada akhirnya masih bisa tetap produktif dengan keberadaan tanaman tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Maka, kampanye aneh mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain dengan ragam rupa dalih yang membingungkan, bukan saja sama sekali tidak tepat dan asal-asalan, namun bisa jadi akan ditertawakan oleh para petani yang begitu paham dengan kondisi lahan dan terutama kondisi iklim dan cuaca. Sulit mencari tanaman semusim yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Jika pun ada, tak ada yang semenguntungkan tanaman tembakau.
<\/p>\n","post_title":"Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"keberhasilan-gerakan-anti-tembakau-tak-ada-tembakau-saat-musim-hujan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-07 12:16:02","post_modified_gmt":"2019-02-07 05:16:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5415","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5409,"post_author":"919","post_date":"2019-02-05 08:04:43","post_date_gmt":"2019-02-05 01:04:43","post_content":"\n

Tahun Baru Imlek yang merupakan tradisi Bangsa Tiongkok kini sudah tak lagi menjadi hal yang asing bagi masyarakat Indonesia. Kehadirannya sudah mewarnai dan berakulturasi dengan tradisi lokal. Menjelang Tahun Baru Imlek. Berbagai hiasan dan kemeriahan terjadi beberapa titik di Tanah Air. Perayaannya juga menjadi destinasi baru yang mengasyikkan untuk dilihat dan patut disaksikan.<\/p>\n\n\n\n

Berterimakasihlah kepada sang bapak bangsa, KH Abdurrahman Wahid atau yang dikenal dengan nama Gus Dur. Berkat kebijakannya saat menjadi Presiden Indonesia, Tahun Baru Imlek resmi dijadikan hari libur nasional dan dianggap sebagai salah satu hari raya di Tanah Air. Meski sentimen antitionghoa masih ada di sana-sini, tapi tetap tak bisa dipungkiri bahwa bangsa tionghoa sudah bersentuhan dengan budaya lokal dalam kurun waktu yang sangat panjang.<\/p>\n\n\n\n

DNA Bangsa Tionghoa yang memang merupakan pedagang menjadi pembuka kisah interaksi antara nenek moyang berbagai suku di Nusantara dengan mereka. Beberapa kelenteng-kelenteng yang tersebar pada berbagai pesisir daerah di Nusantara jadi buktinya. Pelabuhan-pelabuhan tua di tanah air dan ramainya perdagangan di pesisir mempermudah bangsa kita berhubungan dengan Bangsa Tionghoa.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Wong Kalang dan Kota Gede<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa kehadiran Bangsa Tionghoa di Nusantara tak hanya sebagai pedagang, namun juga sebagai pekerja (bahkan hingga pekerja kasar). Benny Setiono, seorang sejarahwan menyebutkan bahwa antara tahun 1760-1770 dalam jumlah yang besar memasuki nusantara melalui Kalimantan Barat. Mereka bekerja sebagai kuli pertambangan di sana dan di kemudian hari membentuk sebuah republik bernama Republik Lanfang yang konon katanya menjadi republik pertama di Asia Tenggara.<\/p>\n\n\n\n

Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Imlek dan Indonesia<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n\n\n\n

Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
<\/p>\n","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5406,"post_author":"877","post_date":"2019-02-04 08:23:48","post_date_gmt":"2019-02-04 01:23:48","post_content":"\n

Merokok itu sudah menjadi bagian dari budaya dan tradisi masyarakat, jauh sebelum Indonesia merdeka. Banyak cerita atau kisah tentang kretek <\/a><\/del>di tengah-tengah masyarakat bangsa ini, mulai sebagai alat untuk meraup keuntungan, alat komunikasi, sebagai teman sampai menjadi simbol pergerakan. <\/p>\n\n\n\n

Kretek, Simbol Perlawanan Roro Mendut<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Siapa yang tidak pernah mendengan cerita tentang Roro Mendut?, di telinga masyarakat Indonesia, kisah Roro Mendut tidak asing lagi.  Perempuan yang mempunyai paras wajah cantik, dan digandrungi kaum adam terutama kalangan putra kerajaan. Informasi kecantikan Roro Mendut tersebar seantero Nusantara, tidak satupun pria meragukan kecantikannya.  Bahkan kisah dan cerita kecantikan Roro Mendut tercatat dalam buku Babad Tanah Jawi. <\/p>\n\n\n\n

Diperkirakan pada tahun 1627, pada saat panglima perang Sultan Agung Mataram bernama Tumenggung Wiraguna berhasil menumpas pemberontakan di kota Pati, sebagai imbalanan atas keberhasilannya, mendapat hadiah wanita pujaan pria bernama Rara Mendut dari Kasultanan Agung Mataram.  Roro Mendut menolak dipinang Tumenggung Wiraguna, dan secara terang-terangan memilih pria lain dambaannya. Akibatnya, Roro Mendut harus membayar pajak setiap harinya kepada kerajaan Mataram. <\/p>\n\n\n\n

Bisa dibayangkan, betapa bingungnya Roro Mendut saat itu. Uang dari mana, ia hasilkan untuk bayar pajak tiap hari demi bisa bersama kekasihnya. Ternyata Roro Mendut tidak hanya cantik tetapi cerdas dan kreatif, bisa membaca peluang bisnis saat itu. Ide cermerlang muncul dengan berdagang\/berjualan rokok lintingan yang direkatkan dengan air ludahnya, dan sebelum menjualnya, rokok lintingan di sulut dahulu dan dihisap bekas bibir merahnya. Kemudian baru dijual ke pembeli yang berdesakan berjejer antri. <\/p>\n\n\n\n

Entah dari mana ide menjual rokok itu muncul. Yang jelas saking larisnya, kewajiban pajak Roro Mendut terpenuhi. Dan mungkin keadaannya akan lebih parah, jika saat itu Roro Mendut tidak berdagang rokok. Tidak akan terpenuhi kewajiban pajaknya. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Dengan rokok, hidup Roro Mendut terselamatkan. Adanya rokok, \u00a0Roro Mendut bebas dari belenggu kekuasaan. Berkat rokok, Roro Mendut terkengan, mengisi rubik informasi sejarah begitu kuatnya budaya merokok di \u00a0Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Pusaka Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek, Teman Perjuangan  Diponegoro<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Semasa berjuang melawan penjajah, yang harus dilakukan Diponegoro berpindah-pindah dari kota satu ke kota lain. Strategi perlawanan Diponegoro, kemudian sebagai basis strategi perang gerilya. Strategi yang menjadi idola dan kebanggaan tentara Indonesia. Dengan bergerilya, tentara Indonesia mampu mengecoh kekutan lawan yang lebih besar jumlahnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu, tenyata banyak cerita, Diponegoro saat berperang ditemani rokok. Ia dan pasukannya gemar merokok. Bahkan ketika tidak ada rokok, Pangeran Diponegoro rela hanya megunyah daun sirih yang diracik dengan kapur dan pinang. <\/p>\n\n\n\n

Kebiasaan ini, juga dialami oleh pengikut \/pasukan perang Pangeran Diponegoro. Bagi mereka, rokok teman sejati, menemani disetiap perjalanan mereka. Rokok menghilangkan depresi mereka, sebagai hiburan saat jauh dari keluarga demi berjuang melawan penjajah. Rokok menumbuhkan percaya diri mereka, lebih berani melawan penjajah walaupun hanya dengan serba keterbatasan, pasukan jumlah terbatas, alat perang terbatas dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Baca juga: Pangeran Diponegoro, Rokok Klobot dan Perlawanan Simbolis<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Jati Diri Bangsa<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Salah satu \u201cpendiri bangsa\u201d bernama KH. Agus Salim menghisap kretek dengan asapnya di kebal-kebulkan keudara, disaat ada perjamuan di Istana Buckingham ketika penobatan Elizabeth II sebagai Ratu kerajaan Inggris. Aroma khas keluar dari asap rokok kretek, tercium orang yang berada di ruang perjamuan. Sehingga memancing salah satu orang yang datang dalam perjamuan, dengan berkata; \u201ctuan sedang menghisap apa itu?\u201d.  Sentak KH. Agus Salim menjawab, \u201c inilah yang membuat nenek moyang anda sekian abad lalu datang dan kemudian menjajah negeri kami\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Jawaban KH. Agus Salim, faktanya memang benar. Rokok kretek tidak lain ada tambahan cengkeh (suzygium aromaticum<\/em>). \u00a0Tanaman legendaris menjadi rebutan dan sumber keuntungan kolonialisme Eropa atas Asia termasuk Indonesia. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Cengkeh adalah salah satu tanaman yang diperebutkan bangsa-bangsa dunia, sampai melegalkan penjajahan.  Dalam simpulan perjalanan ekspedisi cengkeh tahun 2013, Kepala Suku begitu julukan bagi Putut Ea, mengatakan \u201c jika saja tak pernah ada cengkeh dan pala di Maluku, mungkin sejarah kepulauan Nusantara ini akan berbeda sama sekali\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Simpulan Putut EA, sebagai salah satu pembenar perkataan \u00a0KH. Agus Salim. Mungkin, jika tanaman cengkeh tidak ada, fakta sejarah akan berbeda, tidak ada penjajahan di bumi Nusantara ini. <\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Mengisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek untuk Berteman dan Menjalin Persaudaraan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Teringat apa yang pernah dilakukan Menteri Sosial dan Lingkungan Hidup, saat melakukan pendekatan pada suku anak dalam di Jambi. Tidak lain ia adalah Khofifah menteri perempuan yang energik. Saat itu Khofifah bertanggungjawab dalam mengatasi masalah pendidikan dan kesejahteraan masyarakat suku anak dalam di Jambi.  <\/p>\n\n\n\n

Kebijakannya membuat fenomenal, selain bahan makanan, dan bantuan lain, khofifah juga membawa rokok.  Yang kemudian ada yang mengggugat dari anti rokok, tetapi sebagai Menteri, Khofifah tentunya sudah mengkaji secara mendalam. Dengan kecerdasannya , Khofifah menjawab dengan tegas dan lugas, \u201cjangan sok tahu kehidupan mereka, kenali apa yang menjadi ritme kehidupan mereka. Sangat bijaksana kalau kita semua pergi kesana, sehingga tahu adat istiadatnya juga. Tolong kalau ingin mengerti tentang kultur jangan hanya dari kacamata Jakarta. Saya pun ingin mengajak anda kesana, turun kesana, sapalah mereka\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Khofifah memberikan pelajaran bagi anti rokok. Tidak boleh sok tahu, apalagi selama ini antirokok hanya berasumsi, tanpa melihat fakta dilapangan. Khofifah juga menganjurkan agar lebih mengenal adat-istiadat, budaya dan tradisi masyarakat, tidak boleh melakukan hegemoni kultural, sebab keberagaman adat-istiadat dan budaya merupakan kekayaan negeri. <\/p>\n\n\n\n

Pelajaran Khofifah sangat mendalam dan bercirikhas Nusantara. Sebgaai Menteri \u00a0Sosial tentunya lebih berpengalaman apa yang dibutuhkan bangsa ini agar tetap jaya, bersatu dan utuh. Kenali perbedaan, hormati perbedaan, junjung tinggi budaya yang berbeda. \u00a0Apa yang telah dilakukan Khofifah dengan membawa rokok ke suku anak dalam adalah cermin penghormatan tradisi dan budaya masyarakat. Sebagai seorang Mentri, tentunya punya kuasa, artinya bisa seorang khofifah memberikan bantuan sesuai keinginannya sendiri, namun hal itu tidak dilakukan. Ia lebih mengedepankan penghormatan budaya masyarakat setempat, dengan membawa rokok untuk pendekatan dan pertemanan. Karena Khofifah tahu betul, bahwa merokok adalah budaya mereka, yang diwaris dari neneng moyang mereka. <\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Memilih Jalan Hidup Menikmati Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Simbol Pergerakan Nasional     <\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Abdul Rifa\u2019I dalam media bintang timur terbit pada 03 Oktober 1927, mengatakan, \u201ckopinya bukan kopi saringan, tetapi kopi tubruk sebab kopi ini katanya nationaal, gulanya gula jawa, susu tidak dipakai karena tidak nationaal. Rokoknya kelobot, selamatan natioanaal ini terus berlangsung ed sampai pagi hari\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Semangat nasionalisme harus tertanam, mengedepankan produk lokal adalah salah satu semangat nasionalime. Salah satu keberadaan rokok klobot menjadi ciri produk asli indonesia dan harus dilestarikan. Klobot sendiri adalah ramuan tembakau dan cengkeh di gulung memakai daun jagung, embrio perkembangan menjadi rokok sigaret kretek tangan dan sigaret kretek mesin.  
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pusaran Budaya Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pusaran-budaya-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-04 08:40:41","post_modified_gmt":"2019-02-04 01:40:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5406","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5403,"post_author":"919","post_date":"2019-02-03 09:05:50","post_date_gmt":"2019-02-03 02:05:50","post_content":"\n

Seringkali saya menyaksikan berbagai film baik itu Eropa atau Asia yang menggambarkan tentang masa depan. Pemandangan soal masa depan tersebut dihadirkan dengan gambaran kecanggihan teknologi seperti robot yang akan membantu kehidupan manusia, gedung-gedung yang tingginya sudah amat tak bisa ditandingi,  hingga mobil-mobil yang bisa terbang. <\/p>\n\n\n\n

Pernah dalam masa kecil saya menyaksikan sebuah film animasi buatan jepang yang mempertanyakan tentang makanan di masa depan. Dengan santai salah satu tokoh yang berasal dari masa depan itu menjawab bahwa suatu saat nanti manusia akan mengonsumsi makanan berupa pasta gigi namun dengan rasa yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa, aneh!<\/p>\n\n\n\n

Seiring waktu berjalan saya kian tumbuh dewasa dan punya kesadaran untuk memilih menjadi seorang perokok<\/a>. Saya juga melihat ada sebuah inovasi dan gambaran tentang masa depan yang hadir dalam kehidupan sekarang. Banyak memang, namun yang menyita perhatian saya adalah rokok elektrik atau yang populer disebut Vape. Konon katanya ia adalah produk inovasi untuk menjembatani kebutuhan menghisap asap dan kecanggihan masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Di awal kehadirannya Vape memang mengundang decak kekaguman saya. Bagaimana bisa sebuah mesin kecil mengeluarkan asap yang katanya lebih menyehatkan daripada rokok.<\/strong> Meski pada akhirnya teori tersebut juga bisa dibantah oleh beberapa ilmuan dunia. Tapi ada satu yang saya amati selain soal kesehatan, rokok elektrik rupanya menghadirkan kultur dan budaya baru dalam kehidupan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: LAGI-LAGI IKLAN ROKOK, KAPAN KPAI TIDAK TEBANG PILIH? <\/a><\/h4>\n\n\n\n

Kehadiran teknologi memang kerap sedikit atau benyak mengubah gaya atau kultur suatu masyarakat. Begitu pula yang saya perhatikan dengan rokok elektrik. Satu hal yang mudah diamati adalah menjamurnya toko-toko kecil yang menjual vape serta liquid di berbagai tempat. Sebagai sebuah warna baru dalam masyarakat, penggunanya ramai-ramai mengunjungi tempat tersebut berinteraksi dengan penikmat lainnya dan membangun sebuah rumah komunitas yang fleksibel.<\/p>\n\n\n\n

Meski belum bisa dikatakan memiliki jumlah penikmat yang setara dengan para perokok, pengguna Vape mulai menunjukkan eksistensinya. Selain toko yang tersebar, ragam acara juga mereka buat di beberapa daerah. Dalam lingkungan saya, beberapa teman yang dulunya merupakan perokok aktif tertarik mengikuti event tersebut dan beralih mengisap rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Nun jauh di sana, di Amerika Serikat tepatnya, budaya Vape juga sudah mulai berkembang lama ketimbang di Tanah Air. Penikmatnya terbagi menjadi dua, ada yang dulunya bekas perokok dan ada yang memang menikmatinya sebagai gaya hidup. Wajar saja mengingat facebook tak memperbolehkan iklan tembakau di platform mereka, sebaliknya iklan tentang vape justru bertebaran. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi budaya baru yang berkembang di berbagai belahan dunia bahkan di Indonesia, Vape konon menjadi alternatif yang lebih bermanfaat daripada rokok. Dalih yang diusung selalu sama kepada para perokok tradisonal yaitu soal kesehatan dan lebih irit. Soal kesehatan tentu ada beberapa pendapat para ilmuan yang membantahnya, namun soal irit, saya rasa tidak. Memang satu liquid bisa digunakan untuk beberapa Minggu, akan tetapi yang saya lihat di lapangan justru sebaliknya. <\/p>\n\n\n\n

Beberapa penikmat rokok elektrik kerap berbelanja liquid yang mereka idamkan. Terkadang, hal tersebut yang membuat mereka boros karena terus mengeksplor rasa mana yang mereka idam-idamkan. Tak jarang juga liquid dengan harga mahal hingga ratus ribuan akan mereka beli. Sebaliknya, para perokok konvensional justru kerap bertahan dengan satu rasa atau merek saja.<\/p>\n\n\n\n

Sedikit berbeda dengan penikmat rokok konvensional atau kretek. Mengingat rokok kretek sudah menjadi kebudayan lokal yang terus dipertahankan selama bertahun-tahun, kehadirannya sudah mewarnai khasanah keindonesiaan. Perokok kretek juga sudah punya soliditas luar biasa yang terbentuk sejak lama dan terus terbangun mengiringi peradaban di Indonesia atau dunia.<\/p>\n\n\n\n

Kini, perokok elektrik mulai merasakan kegelisahan. Beberapa negara mulai menerapkan peraturan ketat terhadap Vape, sedangkan di Indonesia biaya cukai pun kini mulai diberlakukan terhadap perdagangan rokok elektrik. Keberadaannya di mata negara pun mulai dianggap sama seperti rokok, meski pada awalnya rokok elektrik hadir dengan slogan-slogan produk alternatif yang lebih menyehatkan (katanya).<\/p>\n\n\n\n


Tapi jika kemudian di masa depan memang rokok elektrik yang kemudian menjadi sesuatu yang populer dan dinikmati banyak orang. Rasanya saya tetap ingin hidup di jaman ini, dengan sebatang kretek di tangan dan menikmati segala khasanah kebudayaan yang patut terus dipertahankan. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"masa-depan-rokok-elektrik-dan-semangat-alternatif-yang-sia-sia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-03 09:05:56","post_modified_gmt":"2019-02-03 02:05:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5403","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5385,"post_author":"883","post_date":"2019-02-02 08:01:01","post_date_gmt":"2019-02-02 01:01:01","post_content":"Pada tahun 2014, perusahaan rokok multinasional Philip Morris Internasional Inc. merilis sebuah produk <\/span>perangkat\u00a0<\/span>
rokok<\/span><\/a>\u00a0tanpa asap, yang dipanaskan bukan dibakar atau istilahnya\u00a0<\/span>heat not burn<\/i><\/strong>\u00a0(HNB) iQOS<\/strong>. <\/span>\r\n\r\nPerangkat rokok tanpa asap dengan nama iQOS<\/a> ini berbentuk seperti bagian luar pulpen, dengan lubang di tengah untuk rokok. Produk yang berada di bawah brand Marlboro ini dapat memanaskan rokok sampai 350 derajat celcius lalu mengeluarkan uap nikotin beraroma tembakau<\/em><\/a>.<\/span>\r\n

Produk iQOS sebenarnya bukanlah produk rokok tanpa asap yang pertama muncul. Sebelumnya di tahun 1990-an, Reynolds Tobacco Co pernah merilis produk serupa bernama Eclipes yang juga dapat menguapkan nikotin setelah dinyalakan dengan korek api.<\/span><\/blockquote>\r\nSelain itu, Eclips juga dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. Namun, pada saat itu Eclips tidak diminati oleh pasar, utamanya para perokok konvensional. Meskipun Eclips dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. <\/span>\r\n\r\nBisnis semacam rokok tanpa asap seperti Eclips dan iQOS memang sudah menjadi bagian dari rencana panjang bisnis perusahaan-perusahaan rokok multinasional. Jadi tidak usah heran jika ke depannya akan kita akan banyak menemukan produk rokok tanpa asap ini.<\/span>\r\n\r\nWatak dari perusahaan multinasional memang seperti itu, mereka sangat jeli melihat peluang pasar ke depannya. Ketika market place perusahaan rokok multinasional saat ini terus dirongrong oleh kelompok antirokok, mereka tak kehabisan akal. Maka kemudian mereka menginovasi produk rokok konvensional menjadi rokok yang tidak berasap. Begitupun dengan mengikutsertakan jargon-jargon kesehatan dalam narasi promosi mereka.<\/span>\r\n\r\nSesungguhnya memang seperti itulah watak bisnis perusahaan-perusahaan multinasional, melakukan segala cara agar bisnis mereka tetap bertahan, meskipun harus merangkul musuh sekalipun. <\/span>\r\n\r\nYa kadang pura-pura berantem sama antirokok, tapi dibalik itu sebenarnya baik-baik saja, dan tentunya ada kompromi untuk terus melanggengkan bisnis mereka.<\/span>\r\n

Lalu siapa yang dirugikan dari permainan bisnis macam produk rokok tanpa asap perusahaan rokok multinasional ini?<\/span><\/h3>\r\nTentunya yang sangat dirugikan adalah produk hasil tembakau yang memiliki kekhasan seperti kretek di Indonesia. Kretek sebagai produk khas asli Indonesia yang menjadi bagian dari warisan kebudayaan tidak mungkin bertransformasi menjadi produk-produk elektrik dan sejenisnya.<\/span>\r\n\r\nKretek tetaplah kretek, dengan bahan baku alami tembakau dan cengkeh yang tidak diintervensi dengan zat atau perangkat penghantar lainnya. Karena dengan bentuk, karakter dan cara menikmatinya memang konvensional dan akan terus begitu apapun kondisi dan zamannya.<\/span>\r\n
Bisnis produk rokok tanpa asap (elektrik) juga menghajar kretek dengan mendompleng isu pengendalian tembakau. Kampanye pengendalian tembakau selalu membawa slogan bahaya merokok dan upaya untuk berhenti merokok. <\/span><\/blockquote>\r\nDari isu tersebut, rokok elektrik masuk dengan citra produk alternatif tembakau, bahkan mereka tak segan menilai bahwa rokok elektrik lebih aman ketimbang rokok konvensional, yakni kretek.<\/span>\r\n\r\nLalu jika Indonesia akan dibanjiri dengan produk-produk yang mengatasnamakan produk alternatif tembakau, macam rokok tanpa asap (iQOS dan sejenisnya), maka itulah pertanda bahwa kretek harus tergerus dari cara hidup manusia Indonesia dalam menikmati produk hasil tembakau khas Indonesia yang sudah turun-temurun lamanya dinikmati manusia Indonesia.<\/span>","post_title":"Nasib Kretek di Pusaran Pertarungan Bisnis Global Perusahaan Rokok Multinasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"nasib-kretek-di-pusaran-pertarungan-bisnis-global-perusahaan-rokok-multinasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-02 08:01:43","post_modified_gmt":"2019-02-02 01:01:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5385","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; \n

para saudagar Arab, pedagang Cina, serta kaum ningrat Eropa itu, tergantikan perannya oleh penemuan teknologi mesin pendingin berkat Revolusi Industri yang dimulai di Inggris pada pertengahan abad-18. Pasaran cengkeh di Eropa pun merosot tajam.
<\/p>\n\n\n\n

Nasibnya terselamatkan berkat penemuan oleh seorang Haji Djamhari di Kudus, Jawa Tengah. Pada akhir tahun 1880-an, Haji Djamhari menemukan kegunaan baru cengkeh sebagai ramuan utama rokok. Lahirlah satu produk baru yang unik, khas dan asli Indonesia: kretek! (Hanusz, 2000:ii).
<\/p>\n\n\n\n

Setelah seperempat abad hanya berkembang dalam skala kecil usaha rumah tangga, produksi kretek akhirnya menjelma menjadi industri besar sejak awal abad-20 yang dirintis oleh Haji Nitisemito (pendiri pabrik \u2018Jambu Bol\u2019) di Kudus dan Liem Seng Tee (pendiri pabrik \u2018Dji Sam Soe\u2019 dan \u2018Sampoerna\u2019) di Surabaya.
<\/p>\n\n\n\n

Puncaknya adalah pada pertengahan tahun 1950-an, ketika produksi kretek mulai berkembang pesat menjadi industri raksasa modern dengan munculnya beberapa pabrik baru, antara lain, yang terkemuka, oleh Oei Wei Gwan (pendiri pabrik \u2018Djarum\u2019) di Kudus dan Tjou Ing Hwie (pendiri pabrik \u2018Gudang Garam\u2019) di Kediri (Topatimasang, et.al., eds., 2010:131).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Teruslah Menanam Tembakau dan Cengkeh, Wahai Petani Indonesia<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Cengkeh, bahan baku paling esensial dari kretek --selain tembakau, tentu saja-- pun kembali berjaya. Bahkan, sejak dasawarsa 1970an, telah menjadi salah satu penyumbang terbesar keuangan negara Republik Indonesia. Pada tahun 2012 dan 2013, pemasukan cukai dari industri kretek mencatat 95,5% dari seluruh pemasukan cukai ke kas negara. Nilainya tak tanggung-tanggung: Rp 87 triliun! (el-Guyanie, et.al.: 2013:4-5).<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Nilai ekonomisnya yang sangat besar sempat menggoda penguasa otoriter rezim Presiden Soeharto, pada 1990-an, memberlakukan satu kebijakan \u2018Hongi Gaya Baru\u2019: monopoli perdagangan cengkeh dalam negeri melalui Badan Penyanggah dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) yang sangat merugikan petani. Harga cengkeh di tingkat petani penghasil anjlok sampai hanya Rp 2.000 - 3.000 per kilogram, lebih murah dari harga sebungkus kretek yang dihasilkan darinya.
<\/p>\n\n\n\n

Akibatnya, ratusan ribu pohon cengkeh di daerah-daerah penghasil utama --Maluku, Maluku Utara, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Selatan-- ditebangi atau dibiarkan terlantar tak terurus.
<\/p>\n\n\n\n

Gelombang reformasi sistem politik dan hukum nasional yang dimulai pada tahun 1998, akhirnya menjungkalkan rezim Soeharto dan BPPC dibubarkan, Pelan tapi pasti, harga cengkeh kembali merangkak naik, sehingga pada tahun 2012, bahkan melewati angka Rp 200.000 per kilogram. Para petani cengkeh di seluruh negeri kembali tersenyum. Tetapi, sampai kapan? <\/p>\n\n\n\n

Catatan:<\/strong><\/p>\n\n\n\n

[1] Beberapa sumber menyebutkan bahwa kata \u2018cengkeh\u2019 dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Mandarin, tkeng-his atau xi\u2019jia, yang berarti \u2018rempah [berbentuk mirip] paku\u2019 (scented nails). Ini menunjukkan bahwa cengkeh sudah dikenal sejak lama oleh bangsa Cina --diketahui sejak abad-2-- jauh sebelum orang Eropa mengenalnya ((lihat, misalnya: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n\n\n\n

[2] Catatan-catatan para biarawan Fransiskan --yang disalin dan dikutip oleh van Frassen-- bahkan menyebut cengkeh sebagai salah satu bahan utama pengawet mumi para Fir\u2019aun, penguasa Mesir Kuno. Beberapa pakar sejarah dan arkeologi menyatakan bahwa rempah-rempah Maluku bahkan sudah ditemukan artefaknya di Lembah Mesopotomia (wilayah Iraq dan sekitarnya sekarang) pada 3.000 tahun sebelum Masehi. (lihat, antara lain: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n\n\n\n

[3] Uraian lebih rinci sejarah kolonialisme rempah-rempah Nusantara ini, terutama oleh Belanda dan Portugis, dapat dibaca pada beberapa sumber kepustakaan yang sudah dikenal luas, antara lain: Glamann (1958) dan Boxer (1965 dan 1969). Dalam risalah klasik Pires disebutkan bahwa pada tahun 1512-1521 saja, jumlah produksi cengkeh di Maluku sudah mencapai 7.250 bahar per tahun, terbesar adalah di Makian serta Amboina dan Lease (masing-masing 1.500 bahar)(Pires, 1512-1515).<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem Topatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-10 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-02-10 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5425","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5415,"post_author":"878","post_date":"2019-02-07 12:15:55","post_date_gmt":"2019-02-07 05:15:55","post_content":"\n

Belakangan ini, ketika musim hujan tiba, di Kabupaten Temanggung, Kabupaten Jember, dan beberapa wilayah sentra pertanian tembakau lainnya, hampir mustahil menemukan tanaman tembakau tumbuh di lahan-lahan milik petani. Di wilayah-wilayah tersebut, citra sebagai sentra pertanian tembakau seakan menguap. Lahan-lahan yang ada di sana, sama sekali tidak ditumbuhi tanaman tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Kabar ini bisa jadi dianggap sebagai kabar gembira bagi mereka yang menganggap diri dan kelompoknya anti-rokok dan anti-tembakau yang selalu mengampanyekan sikap-sikap mereka terkait kebencian kepada tembakau dan aktivitas merokok. Setelah sekian lama berjuang, akhirnya perjuangan mereka dirasa berhasil usai menyaksikan fenomena lahan-lahan di wilayah yang dianggap sentra pertanian tembakau pada hari-hari belakangan ini.<\/p>\n\n\n\n

Baca juga: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tak sia-sia turun ke jalan, tak sia-sia melakukan lobi-lobi ke penguasa, tak sia-sia mengucurkan uang yang tidak sedikit, dan tak sia-sia mempermalukan diri dengan mengemis ke lembaga donor asing dan menggondol uang dari cukai tembakau untuk mengampanyekan gerakan anti-rokok dan anti-tembakau. Tak sia-sia. Karena perjuangan sepertinya berhasil.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Kampanye-kampanye gerakan mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya, sepertinya juga sangat berhasil. Bagaimana tidak? Wilayah-wilayah yang sebelumnya penuh dengan tanaman tembakau dan bergeliat dengannya, kini lahan-lahannya sudah berganti dengan tanaman lain. Sebuah keberhasilan yang menggembirakan. Begitu mungkin pikir mereka para yang menganggap dirinya pejuang anti-rokok dan anti-tembakau. Dan tentu saja mereka akan kecele dan kita akan menertawakan hal itu.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, mereka yang menganggap dirinya anti-rokok dan anti-tembakau tidak menyaksikan langsung fenomena ini di lapangan, di lahan-lahan yang peruntukannya berubah pada hari-hari belakangan ini ketika memasuki musim hujan. Mereka asyik duduk pada kursi empuk di ruang-ruang nyaman ber-AC di kota-kota yang jauh dari kultur pertanian. Mereka menyengajakan diri menjadi elit dan enggan untuk turun melihat langsung ke lapangan. Kalaupun ada yang turun langsung ke lapangan, hanya segelintir saja dari mereka, itupun sekadar formalitas saja. Tak pernah benar-benar mau turun ke lapangan, hidup dan merasakan langsung kultur pertanian tembakau dalam jangka waktu cukup lama di lapangan.<\/p>\n\n\n\n

Baca juga: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Fenomena ini membikin kita tak bisa melihat mereka para anti-rokok kecele lalu menertawakan mereka.<\/strong> Fenomena keengganan terjun langsung ke lapangan terlebih mencoba mendengar mereka yang tetap menanam tembakau, juga menjalani keseharian dalam waktu cukup lama bersama petani tembakau inilah yang saya kira menjadikan mereka tetap keras kepala untuk anti-rokok dan anti-tembakau. Karena jika mereka mau melakukan itu, saya yakin mereka semua tidak akan begitu kaku dalam memandang pertanian tembakau dan produk hasil industri tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu yang selalu mereka kampanyekan dan ngotot dengan itu, terkait hulu pertanian tembakau adalah mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya. Mereka berargumen banyak tanaman lain yang bisa semenguntungkan tanaman tembakau. Keengganan mereka terjun langsung ke lapangan inilah yang membikin mereka buta dengan kondisi pertanian tembakau dan pada akhirnya terus menerus mengampanyekan pergantian tanaman tembakau dengan tanaman lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca juga: Imanlah kepada Allah, Bukan Antirokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tembakau tanaman yang khas. Ia hanya tumbuh baik sepanjang empat hingga lima bulan dalam satu tahun. Tumbuh-kembang tanaman tembakau dengan baik itu umumnya terjadi pada musim kemarau setiap tahunnya. Hanya sedikit sekali jenis tembakau yang tumbuh baik di musim penghujan, mayoritasnya, tumbuh baik pada musim kemarau.<\/p>\n\n\n\n

Jika ditanam pada musim hujan, hampir bisa dipastikan tanaman tembakau akan gagal menghasilkan daun-daun yang berkualitas. Ia akan rusak dan membusuk karena terlalu banyak terkena air sehingga daun-daun itu tak layak dijual. Jangankan bisa dijual, untuk tumbuh dengan baik pun sepertinya sulit karena musim hujan akan membunuh banyak tanaman itu.<\/p>\n\n\n\n

Maka, tak heran pada musim-musim seperti saat ini, ketika musim penghujan mendekati puncaknya, di wilayah-wilayah yang dikenal sebagai sentra pertanian tembakau, sulit menemukan pohon tembakau yang sedang tumbuh. Pada lahan-lahan yang sebelumnya ditumbuhi tanaman tembakau pada musim panas, berganti tanaman-tanaman lain yang bermacam-macam, sesuai dengan kondisi lahannya. Untuk lahan sawah, lahan-lahan itu pada musim penghujan kini ditumbuhi tanaman padi yang subur. Pada lahan tegalan dan lahan di pegunungan, lahan-lahan yang ditanami tembakau pada musim kemarau, saat ini ditumbuhi bermacam jenis tanaman mulai dari cabai, bawang, tomat, kol, terong, mentimun, dan ragam jenis tanaman semusim lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Uniknya, tipikal tanaman tembakau yang tumbuh baik di musim kemarau ini memberi pilihan lebih kepada para petani. Lahan-lahan yang sulit ditanami pada musim kemarau, pada akhirnya masih bisa tetap produktif dengan keberadaan tanaman tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Maka, kampanye aneh mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain dengan ragam rupa dalih yang membingungkan, bukan saja sama sekali tidak tepat dan asal-asalan, namun bisa jadi akan ditertawakan oleh para petani yang begitu paham dengan kondisi lahan dan terutama kondisi iklim dan cuaca. Sulit mencari tanaman semusim yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Jika pun ada, tak ada yang semenguntungkan tanaman tembakau.
<\/p>\n","post_title":"Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"keberhasilan-gerakan-anti-tembakau-tak-ada-tembakau-saat-musim-hujan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-07 12:16:02","post_modified_gmt":"2019-02-07 05:16:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5415","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5409,"post_author":"919","post_date":"2019-02-05 08:04:43","post_date_gmt":"2019-02-05 01:04:43","post_content":"\n

Tahun Baru Imlek yang merupakan tradisi Bangsa Tiongkok kini sudah tak lagi menjadi hal yang asing bagi masyarakat Indonesia. Kehadirannya sudah mewarnai dan berakulturasi dengan tradisi lokal. Menjelang Tahun Baru Imlek. Berbagai hiasan dan kemeriahan terjadi beberapa titik di Tanah Air. Perayaannya juga menjadi destinasi baru yang mengasyikkan untuk dilihat dan patut disaksikan.<\/p>\n\n\n\n

Berterimakasihlah kepada sang bapak bangsa, KH Abdurrahman Wahid atau yang dikenal dengan nama Gus Dur. Berkat kebijakannya saat menjadi Presiden Indonesia, Tahun Baru Imlek resmi dijadikan hari libur nasional dan dianggap sebagai salah satu hari raya di Tanah Air. Meski sentimen antitionghoa masih ada di sana-sini, tapi tetap tak bisa dipungkiri bahwa bangsa tionghoa sudah bersentuhan dengan budaya lokal dalam kurun waktu yang sangat panjang.<\/p>\n\n\n\n

DNA Bangsa Tionghoa yang memang merupakan pedagang menjadi pembuka kisah interaksi antara nenek moyang berbagai suku di Nusantara dengan mereka. Beberapa kelenteng-kelenteng yang tersebar pada berbagai pesisir daerah di Nusantara jadi buktinya. Pelabuhan-pelabuhan tua di tanah air dan ramainya perdagangan di pesisir mempermudah bangsa kita berhubungan dengan Bangsa Tionghoa.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Wong Kalang dan Kota Gede<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa kehadiran Bangsa Tionghoa di Nusantara tak hanya sebagai pedagang, namun juga sebagai pekerja (bahkan hingga pekerja kasar). Benny Setiono, seorang sejarahwan menyebutkan bahwa antara tahun 1760-1770 dalam jumlah yang besar memasuki nusantara melalui Kalimantan Barat. Mereka bekerja sebagai kuli pertambangan di sana dan di kemudian hari membentuk sebuah republik bernama Republik Lanfang yang konon katanya menjadi republik pertama di Asia Tenggara.<\/p>\n\n\n\n

Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Imlek dan Indonesia<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n\n\n\n

Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
<\/p>\n","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5406,"post_author":"877","post_date":"2019-02-04 08:23:48","post_date_gmt":"2019-02-04 01:23:48","post_content":"\n

Merokok itu sudah menjadi bagian dari budaya dan tradisi masyarakat, jauh sebelum Indonesia merdeka. Banyak cerita atau kisah tentang kretek <\/a><\/del>di tengah-tengah masyarakat bangsa ini, mulai sebagai alat untuk meraup keuntungan, alat komunikasi, sebagai teman sampai menjadi simbol pergerakan. <\/p>\n\n\n\n

Kretek, Simbol Perlawanan Roro Mendut<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Siapa yang tidak pernah mendengan cerita tentang Roro Mendut?, di telinga masyarakat Indonesia, kisah Roro Mendut tidak asing lagi.  Perempuan yang mempunyai paras wajah cantik, dan digandrungi kaum adam terutama kalangan putra kerajaan. Informasi kecantikan Roro Mendut tersebar seantero Nusantara, tidak satupun pria meragukan kecantikannya.  Bahkan kisah dan cerita kecantikan Roro Mendut tercatat dalam buku Babad Tanah Jawi. <\/p>\n\n\n\n

Diperkirakan pada tahun 1627, pada saat panglima perang Sultan Agung Mataram bernama Tumenggung Wiraguna berhasil menumpas pemberontakan di kota Pati, sebagai imbalanan atas keberhasilannya, mendapat hadiah wanita pujaan pria bernama Rara Mendut dari Kasultanan Agung Mataram.  Roro Mendut menolak dipinang Tumenggung Wiraguna, dan secara terang-terangan memilih pria lain dambaannya. Akibatnya, Roro Mendut harus membayar pajak setiap harinya kepada kerajaan Mataram. <\/p>\n\n\n\n

Bisa dibayangkan, betapa bingungnya Roro Mendut saat itu. Uang dari mana, ia hasilkan untuk bayar pajak tiap hari demi bisa bersama kekasihnya. Ternyata Roro Mendut tidak hanya cantik tetapi cerdas dan kreatif, bisa membaca peluang bisnis saat itu. Ide cermerlang muncul dengan berdagang\/berjualan rokok lintingan yang direkatkan dengan air ludahnya, dan sebelum menjualnya, rokok lintingan di sulut dahulu dan dihisap bekas bibir merahnya. Kemudian baru dijual ke pembeli yang berdesakan berjejer antri. <\/p>\n\n\n\n

Entah dari mana ide menjual rokok itu muncul. Yang jelas saking larisnya, kewajiban pajak Roro Mendut terpenuhi. Dan mungkin keadaannya akan lebih parah, jika saat itu Roro Mendut tidak berdagang rokok. Tidak akan terpenuhi kewajiban pajaknya. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Dengan rokok, hidup Roro Mendut terselamatkan. Adanya rokok, \u00a0Roro Mendut bebas dari belenggu kekuasaan. Berkat rokok, Roro Mendut terkengan, mengisi rubik informasi sejarah begitu kuatnya budaya merokok di \u00a0Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Pusaka Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek, Teman Perjuangan  Diponegoro<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Semasa berjuang melawan penjajah, yang harus dilakukan Diponegoro berpindah-pindah dari kota satu ke kota lain. Strategi perlawanan Diponegoro, kemudian sebagai basis strategi perang gerilya. Strategi yang menjadi idola dan kebanggaan tentara Indonesia. Dengan bergerilya, tentara Indonesia mampu mengecoh kekutan lawan yang lebih besar jumlahnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu, tenyata banyak cerita, Diponegoro saat berperang ditemani rokok. Ia dan pasukannya gemar merokok. Bahkan ketika tidak ada rokok, Pangeran Diponegoro rela hanya megunyah daun sirih yang diracik dengan kapur dan pinang. <\/p>\n\n\n\n

Kebiasaan ini, juga dialami oleh pengikut \/pasukan perang Pangeran Diponegoro. Bagi mereka, rokok teman sejati, menemani disetiap perjalanan mereka. Rokok menghilangkan depresi mereka, sebagai hiburan saat jauh dari keluarga demi berjuang melawan penjajah. Rokok menumbuhkan percaya diri mereka, lebih berani melawan penjajah walaupun hanya dengan serba keterbatasan, pasukan jumlah terbatas, alat perang terbatas dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Baca juga: Pangeran Diponegoro, Rokok Klobot dan Perlawanan Simbolis<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Jati Diri Bangsa<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Salah satu \u201cpendiri bangsa\u201d bernama KH. Agus Salim menghisap kretek dengan asapnya di kebal-kebulkan keudara, disaat ada perjamuan di Istana Buckingham ketika penobatan Elizabeth II sebagai Ratu kerajaan Inggris. Aroma khas keluar dari asap rokok kretek, tercium orang yang berada di ruang perjamuan. Sehingga memancing salah satu orang yang datang dalam perjamuan, dengan berkata; \u201ctuan sedang menghisap apa itu?\u201d.  Sentak KH. Agus Salim menjawab, \u201c inilah yang membuat nenek moyang anda sekian abad lalu datang dan kemudian menjajah negeri kami\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Jawaban KH. Agus Salim, faktanya memang benar. Rokok kretek tidak lain ada tambahan cengkeh (suzygium aromaticum<\/em>). \u00a0Tanaman legendaris menjadi rebutan dan sumber keuntungan kolonialisme Eropa atas Asia termasuk Indonesia. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Cengkeh adalah salah satu tanaman yang diperebutkan bangsa-bangsa dunia, sampai melegalkan penjajahan.  Dalam simpulan perjalanan ekspedisi cengkeh tahun 2013, Kepala Suku begitu julukan bagi Putut Ea, mengatakan \u201c jika saja tak pernah ada cengkeh dan pala di Maluku, mungkin sejarah kepulauan Nusantara ini akan berbeda sama sekali\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Simpulan Putut EA, sebagai salah satu pembenar perkataan \u00a0KH. Agus Salim. Mungkin, jika tanaman cengkeh tidak ada, fakta sejarah akan berbeda, tidak ada penjajahan di bumi Nusantara ini. <\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Mengisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek untuk Berteman dan Menjalin Persaudaraan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Teringat apa yang pernah dilakukan Menteri Sosial dan Lingkungan Hidup, saat melakukan pendekatan pada suku anak dalam di Jambi. Tidak lain ia adalah Khofifah menteri perempuan yang energik. Saat itu Khofifah bertanggungjawab dalam mengatasi masalah pendidikan dan kesejahteraan masyarakat suku anak dalam di Jambi.  <\/p>\n\n\n\n

Kebijakannya membuat fenomenal, selain bahan makanan, dan bantuan lain, khofifah juga membawa rokok.  Yang kemudian ada yang mengggugat dari anti rokok, tetapi sebagai Menteri, Khofifah tentunya sudah mengkaji secara mendalam. Dengan kecerdasannya , Khofifah menjawab dengan tegas dan lugas, \u201cjangan sok tahu kehidupan mereka, kenali apa yang menjadi ritme kehidupan mereka. Sangat bijaksana kalau kita semua pergi kesana, sehingga tahu adat istiadatnya juga. Tolong kalau ingin mengerti tentang kultur jangan hanya dari kacamata Jakarta. Saya pun ingin mengajak anda kesana, turun kesana, sapalah mereka\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Khofifah memberikan pelajaran bagi anti rokok. Tidak boleh sok tahu, apalagi selama ini antirokok hanya berasumsi, tanpa melihat fakta dilapangan. Khofifah juga menganjurkan agar lebih mengenal adat-istiadat, budaya dan tradisi masyarakat, tidak boleh melakukan hegemoni kultural, sebab keberagaman adat-istiadat dan budaya merupakan kekayaan negeri. <\/p>\n\n\n\n

Pelajaran Khofifah sangat mendalam dan bercirikhas Nusantara. Sebgaai Menteri \u00a0Sosial tentunya lebih berpengalaman apa yang dibutuhkan bangsa ini agar tetap jaya, bersatu dan utuh. Kenali perbedaan, hormati perbedaan, junjung tinggi budaya yang berbeda. \u00a0Apa yang telah dilakukan Khofifah dengan membawa rokok ke suku anak dalam adalah cermin penghormatan tradisi dan budaya masyarakat. Sebagai seorang Mentri, tentunya punya kuasa, artinya bisa seorang khofifah memberikan bantuan sesuai keinginannya sendiri, namun hal itu tidak dilakukan. Ia lebih mengedepankan penghormatan budaya masyarakat setempat, dengan membawa rokok untuk pendekatan dan pertemanan. Karena Khofifah tahu betul, bahwa merokok adalah budaya mereka, yang diwaris dari neneng moyang mereka. <\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Memilih Jalan Hidup Menikmati Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Simbol Pergerakan Nasional     <\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Abdul Rifa\u2019I dalam media bintang timur terbit pada 03 Oktober 1927, mengatakan, \u201ckopinya bukan kopi saringan, tetapi kopi tubruk sebab kopi ini katanya nationaal, gulanya gula jawa, susu tidak dipakai karena tidak nationaal. Rokoknya kelobot, selamatan natioanaal ini terus berlangsung ed sampai pagi hari\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Semangat nasionalisme harus tertanam, mengedepankan produk lokal adalah salah satu semangat nasionalime. Salah satu keberadaan rokok klobot menjadi ciri produk asli indonesia dan harus dilestarikan. Klobot sendiri adalah ramuan tembakau dan cengkeh di gulung memakai daun jagung, embrio perkembangan menjadi rokok sigaret kretek tangan dan sigaret kretek mesin.  
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pusaran Budaya Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pusaran-budaya-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-04 08:40:41","post_modified_gmt":"2019-02-04 01:40:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5406","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5403,"post_author":"919","post_date":"2019-02-03 09:05:50","post_date_gmt":"2019-02-03 02:05:50","post_content":"\n

Seringkali saya menyaksikan berbagai film baik itu Eropa atau Asia yang menggambarkan tentang masa depan. Pemandangan soal masa depan tersebut dihadirkan dengan gambaran kecanggihan teknologi seperti robot yang akan membantu kehidupan manusia, gedung-gedung yang tingginya sudah amat tak bisa ditandingi,  hingga mobil-mobil yang bisa terbang. <\/p>\n\n\n\n

Pernah dalam masa kecil saya menyaksikan sebuah film animasi buatan jepang yang mempertanyakan tentang makanan di masa depan. Dengan santai salah satu tokoh yang berasal dari masa depan itu menjawab bahwa suatu saat nanti manusia akan mengonsumsi makanan berupa pasta gigi namun dengan rasa yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa, aneh!<\/p>\n\n\n\n

Seiring waktu berjalan saya kian tumbuh dewasa dan punya kesadaran untuk memilih menjadi seorang perokok<\/a>. Saya juga melihat ada sebuah inovasi dan gambaran tentang masa depan yang hadir dalam kehidupan sekarang. Banyak memang, namun yang menyita perhatian saya adalah rokok elektrik atau yang populer disebut Vape. Konon katanya ia adalah produk inovasi untuk menjembatani kebutuhan menghisap asap dan kecanggihan masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Di awal kehadirannya Vape memang mengundang decak kekaguman saya. Bagaimana bisa sebuah mesin kecil mengeluarkan asap yang katanya lebih menyehatkan daripada rokok.<\/strong> Meski pada akhirnya teori tersebut juga bisa dibantah oleh beberapa ilmuan dunia. Tapi ada satu yang saya amati selain soal kesehatan, rokok elektrik rupanya menghadirkan kultur dan budaya baru dalam kehidupan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: LAGI-LAGI IKLAN ROKOK, KAPAN KPAI TIDAK TEBANG PILIH? <\/a><\/h4>\n\n\n\n

Kehadiran teknologi memang kerap sedikit atau benyak mengubah gaya atau kultur suatu masyarakat. Begitu pula yang saya perhatikan dengan rokok elektrik. Satu hal yang mudah diamati adalah menjamurnya toko-toko kecil yang menjual vape serta liquid di berbagai tempat. Sebagai sebuah warna baru dalam masyarakat, penggunanya ramai-ramai mengunjungi tempat tersebut berinteraksi dengan penikmat lainnya dan membangun sebuah rumah komunitas yang fleksibel.<\/p>\n\n\n\n

Meski belum bisa dikatakan memiliki jumlah penikmat yang setara dengan para perokok, pengguna Vape mulai menunjukkan eksistensinya. Selain toko yang tersebar, ragam acara juga mereka buat di beberapa daerah. Dalam lingkungan saya, beberapa teman yang dulunya merupakan perokok aktif tertarik mengikuti event tersebut dan beralih mengisap rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Nun jauh di sana, di Amerika Serikat tepatnya, budaya Vape juga sudah mulai berkembang lama ketimbang di Tanah Air. Penikmatnya terbagi menjadi dua, ada yang dulunya bekas perokok dan ada yang memang menikmatinya sebagai gaya hidup. Wajar saja mengingat facebook tak memperbolehkan iklan tembakau di platform mereka, sebaliknya iklan tentang vape justru bertebaran. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi budaya baru yang berkembang di berbagai belahan dunia bahkan di Indonesia, Vape konon menjadi alternatif yang lebih bermanfaat daripada rokok. Dalih yang diusung selalu sama kepada para perokok tradisonal yaitu soal kesehatan dan lebih irit. Soal kesehatan tentu ada beberapa pendapat para ilmuan yang membantahnya, namun soal irit, saya rasa tidak. Memang satu liquid bisa digunakan untuk beberapa Minggu, akan tetapi yang saya lihat di lapangan justru sebaliknya. <\/p>\n\n\n\n

Beberapa penikmat rokok elektrik kerap berbelanja liquid yang mereka idamkan. Terkadang, hal tersebut yang membuat mereka boros karena terus mengeksplor rasa mana yang mereka idam-idamkan. Tak jarang juga liquid dengan harga mahal hingga ratus ribuan akan mereka beli. Sebaliknya, para perokok konvensional justru kerap bertahan dengan satu rasa atau merek saja.<\/p>\n\n\n\n

Sedikit berbeda dengan penikmat rokok konvensional atau kretek. Mengingat rokok kretek sudah menjadi kebudayan lokal yang terus dipertahankan selama bertahun-tahun, kehadirannya sudah mewarnai khasanah keindonesiaan. Perokok kretek juga sudah punya soliditas luar biasa yang terbentuk sejak lama dan terus terbangun mengiringi peradaban di Indonesia atau dunia.<\/p>\n\n\n\n

Kini, perokok elektrik mulai merasakan kegelisahan. Beberapa negara mulai menerapkan peraturan ketat terhadap Vape, sedangkan di Indonesia biaya cukai pun kini mulai diberlakukan terhadap perdagangan rokok elektrik. Keberadaannya di mata negara pun mulai dianggap sama seperti rokok, meski pada awalnya rokok elektrik hadir dengan slogan-slogan produk alternatif yang lebih menyehatkan (katanya).<\/p>\n\n\n\n


Tapi jika kemudian di masa depan memang rokok elektrik yang kemudian menjadi sesuatu yang populer dan dinikmati banyak orang. Rasanya saya tetap ingin hidup di jaman ini, dengan sebatang kretek di tangan dan menikmati segala khasanah kebudayaan yang patut terus dipertahankan. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"masa-depan-rokok-elektrik-dan-semangat-alternatif-yang-sia-sia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-03 09:05:56","post_modified_gmt":"2019-02-03 02:05:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5403","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5385,"post_author":"883","post_date":"2019-02-02 08:01:01","post_date_gmt":"2019-02-02 01:01:01","post_content":"Pada tahun 2014, perusahaan rokok multinasional Philip Morris Internasional Inc. merilis sebuah produk <\/span>perangkat\u00a0<\/span>
rokok<\/span><\/a>\u00a0tanpa asap, yang dipanaskan bukan dibakar atau istilahnya\u00a0<\/span>heat not burn<\/i><\/strong>\u00a0(HNB) iQOS<\/strong>. <\/span>\r\n\r\nPerangkat rokok tanpa asap dengan nama iQOS<\/a> ini berbentuk seperti bagian luar pulpen, dengan lubang di tengah untuk rokok. Produk yang berada di bawah brand Marlboro ini dapat memanaskan rokok sampai 350 derajat celcius lalu mengeluarkan uap nikotin beraroma tembakau<\/em><\/a>.<\/span>\r\n

Produk iQOS sebenarnya bukanlah produk rokok tanpa asap yang pertama muncul. Sebelumnya di tahun 1990-an, Reynolds Tobacco Co pernah merilis produk serupa bernama Eclipes yang juga dapat menguapkan nikotin setelah dinyalakan dengan korek api.<\/span><\/blockquote>\r\nSelain itu, Eclips juga dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. Namun, pada saat itu Eclips tidak diminati oleh pasar, utamanya para perokok konvensional. Meskipun Eclips dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. <\/span>\r\n\r\nBisnis semacam rokok tanpa asap seperti Eclips dan iQOS memang sudah menjadi bagian dari rencana panjang bisnis perusahaan-perusahaan rokok multinasional. Jadi tidak usah heran jika ke depannya akan kita akan banyak menemukan produk rokok tanpa asap ini.<\/span>\r\n\r\nWatak dari perusahaan multinasional memang seperti itu, mereka sangat jeli melihat peluang pasar ke depannya. Ketika market place perusahaan rokok multinasional saat ini terus dirongrong oleh kelompok antirokok, mereka tak kehabisan akal. Maka kemudian mereka menginovasi produk rokok konvensional menjadi rokok yang tidak berasap. Begitupun dengan mengikutsertakan jargon-jargon kesehatan dalam narasi promosi mereka.<\/span>\r\n\r\nSesungguhnya memang seperti itulah watak bisnis perusahaan-perusahaan multinasional, melakukan segala cara agar bisnis mereka tetap bertahan, meskipun harus merangkul musuh sekalipun. <\/span>\r\n\r\nYa kadang pura-pura berantem sama antirokok, tapi dibalik itu sebenarnya baik-baik saja, dan tentunya ada kompromi untuk terus melanggengkan bisnis mereka.<\/span>\r\n

Lalu siapa yang dirugikan dari permainan bisnis macam produk rokok tanpa asap perusahaan rokok multinasional ini?<\/span><\/h3>\r\nTentunya yang sangat dirugikan adalah produk hasil tembakau yang memiliki kekhasan seperti kretek di Indonesia. Kretek sebagai produk khas asli Indonesia yang menjadi bagian dari warisan kebudayaan tidak mungkin bertransformasi menjadi produk-produk elektrik dan sejenisnya.<\/span>\r\n\r\nKretek tetaplah kretek, dengan bahan baku alami tembakau dan cengkeh yang tidak diintervensi dengan zat atau perangkat penghantar lainnya. Karena dengan bentuk, karakter dan cara menikmatinya memang konvensional dan akan terus begitu apapun kondisi dan zamannya.<\/span>\r\n
Bisnis produk rokok tanpa asap (elektrik) juga menghajar kretek dengan mendompleng isu pengendalian tembakau. Kampanye pengendalian tembakau selalu membawa slogan bahaya merokok dan upaya untuk berhenti merokok. <\/span><\/blockquote>\r\nDari isu tersebut, rokok elektrik masuk dengan citra produk alternatif tembakau, bahkan mereka tak segan menilai bahwa rokok elektrik lebih aman ketimbang rokok konvensional, yakni kretek.<\/span>\r\n\r\nLalu jika Indonesia akan dibanjiri dengan produk-produk yang mengatasnamakan produk alternatif tembakau, macam rokok tanpa asap (iQOS dan sejenisnya), maka itulah pertanda bahwa kretek harus tergerus dari cara hidup manusia Indonesia dalam menikmati produk hasil tembakau khas Indonesia yang sudah turun-temurun lamanya dinikmati manusia Indonesia.<\/span>","post_title":"Nasib Kretek di Pusaran Pertarungan Bisnis Global Perusahaan Rokok Multinasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"nasib-kretek-di-pusaran-pertarungan-bisnis-global-perusahaan-rokok-multinasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-02 08:01:43","post_modified_gmt":"2019-02-02 01:01:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5385","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; \n

Masa suram cengkeh dan pala terus berlangsung sampai pertengahan abad-20. Rempah eksotika yang pernah membuat tergila-gila<\/p>\n\n\n\n

para saudagar Arab, pedagang Cina, serta kaum ningrat Eropa itu, tergantikan perannya oleh penemuan teknologi mesin pendingin berkat Revolusi Industri yang dimulai di Inggris pada pertengahan abad-18. Pasaran cengkeh di Eropa pun merosot tajam.
<\/p>\n\n\n\n

Nasibnya terselamatkan berkat penemuan oleh seorang Haji Djamhari di Kudus, Jawa Tengah. Pada akhir tahun 1880-an, Haji Djamhari menemukan kegunaan baru cengkeh sebagai ramuan utama rokok. Lahirlah satu produk baru yang unik, khas dan asli Indonesia: kretek! (Hanusz, 2000:ii).
<\/p>\n\n\n\n

Setelah seperempat abad hanya berkembang dalam skala kecil usaha rumah tangga, produksi kretek akhirnya menjelma menjadi industri besar sejak awal abad-20 yang dirintis oleh Haji Nitisemito (pendiri pabrik \u2018Jambu Bol\u2019) di Kudus dan Liem Seng Tee (pendiri pabrik \u2018Dji Sam Soe\u2019 dan \u2018Sampoerna\u2019) di Surabaya.
<\/p>\n\n\n\n

Puncaknya adalah pada pertengahan tahun 1950-an, ketika produksi kretek mulai berkembang pesat menjadi industri raksasa modern dengan munculnya beberapa pabrik baru, antara lain, yang terkemuka, oleh Oei Wei Gwan (pendiri pabrik \u2018Djarum\u2019) di Kudus dan Tjou Ing Hwie (pendiri pabrik \u2018Gudang Garam\u2019) di Kediri (Topatimasang, et.al., eds., 2010:131).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Teruslah Menanam Tembakau dan Cengkeh, Wahai Petani Indonesia<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Cengkeh, bahan baku paling esensial dari kretek --selain tembakau, tentu saja-- pun kembali berjaya. Bahkan, sejak dasawarsa 1970an, telah menjadi salah satu penyumbang terbesar keuangan negara Republik Indonesia. Pada tahun 2012 dan 2013, pemasukan cukai dari industri kretek mencatat 95,5% dari seluruh pemasukan cukai ke kas negara. Nilainya tak tanggung-tanggung: Rp 87 triliun! (el-Guyanie, et.al.: 2013:4-5).<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Nilai ekonomisnya yang sangat besar sempat menggoda penguasa otoriter rezim Presiden Soeharto, pada 1990-an, memberlakukan satu kebijakan \u2018Hongi Gaya Baru\u2019: monopoli perdagangan cengkeh dalam negeri melalui Badan Penyanggah dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) yang sangat merugikan petani. Harga cengkeh di tingkat petani penghasil anjlok sampai hanya Rp 2.000 - 3.000 per kilogram, lebih murah dari harga sebungkus kretek yang dihasilkan darinya.
<\/p>\n\n\n\n

Akibatnya, ratusan ribu pohon cengkeh di daerah-daerah penghasil utama --Maluku, Maluku Utara, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Selatan-- ditebangi atau dibiarkan terlantar tak terurus.
<\/p>\n\n\n\n

Gelombang reformasi sistem politik dan hukum nasional yang dimulai pada tahun 1998, akhirnya menjungkalkan rezim Soeharto dan BPPC dibubarkan, Pelan tapi pasti, harga cengkeh kembali merangkak naik, sehingga pada tahun 2012, bahkan melewati angka Rp 200.000 per kilogram. Para petani cengkeh di seluruh negeri kembali tersenyum. Tetapi, sampai kapan? <\/p>\n\n\n\n

Catatan:<\/strong><\/p>\n\n\n\n

[1] Beberapa sumber menyebutkan bahwa kata \u2018cengkeh\u2019 dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Mandarin, tkeng-his atau xi\u2019jia, yang berarti \u2018rempah [berbentuk mirip] paku\u2019 (scented nails). Ini menunjukkan bahwa cengkeh sudah dikenal sejak lama oleh bangsa Cina --diketahui sejak abad-2-- jauh sebelum orang Eropa mengenalnya ((lihat, misalnya: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n\n\n\n

[2] Catatan-catatan para biarawan Fransiskan --yang disalin dan dikutip oleh van Frassen-- bahkan menyebut cengkeh sebagai salah satu bahan utama pengawet mumi para Fir\u2019aun, penguasa Mesir Kuno. Beberapa pakar sejarah dan arkeologi menyatakan bahwa rempah-rempah Maluku bahkan sudah ditemukan artefaknya di Lembah Mesopotomia (wilayah Iraq dan sekitarnya sekarang) pada 3.000 tahun sebelum Masehi. (lihat, antara lain: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n\n\n\n

[3] Uraian lebih rinci sejarah kolonialisme rempah-rempah Nusantara ini, terutama oleh Belanda dan Portugis, dapat dibaca pada beberapa sumber kepustakaan yang sudah dikenal luas, antara lain: Glamann (1958) dan Boxer (1965 dan 1969). Dalam risalah klasik Pires disebutkan bahwa pada tahun 1512-1521 saja, jumlah produksi cengkeh di Maluku sudah mencapai 7.250 bahar per tahun, terbesar adalah di Makian serta Amboina dan Lease (masing-masing 1.500 bahar)(Pires, 1512-1515).<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem Topatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-10 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-02-10 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5425","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5415,"post_author":"878","post_date":"2019-02-07 12:15:55","post_date_gmt":"2019-02-07 05:15:55","post_content":"\n

Belakangan ini, ketika musim hujan tiba, di Kabupaten Temanggung, Kabupaten Jember, dan beberapa wilayah sentra pertanian tembakau lainnya, hampir mustahil menemukan tanaman tembakau tumbuh di lahan-lahan milik petani. Di wilayah-wilayah tersebut, citra sebagai sentra pertanian tembakau seakan menguap. Lahan-lahan yang ada di sana, sama sekali tidak ditumbuhi tanaman tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Kabar ini bisa jadi dianggap sebagai kabar gembira bagi mereka yang menganggap diri dan kelompoknya anti-rokok dan anti-tembakau yang selalu mengampanyekan sikap-sikap mereka terkait kebencian kepada tembakau dan aktivitas merokok. Setelah sekian lama berjuang, akhirnya perjuangan mereka dirasa berhasil usai menyaksikan fenomena lahan-lahan di wilayah yang dianggap sentra pertanian tembakau pada hari-hari belakangan ini.<\/p>\n\n\n\n

Baca juga: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tak sia-sia turun ke jalan, tak sia-sia melakukan lobi-lobi ke penguasa, tak sia-sia mengucurkan uang yang tidak sedikit, dan tak sia-sia mempermalukan diri dengan mengemis ke lembaga donor asing dan menggondol uang dari cukai tembakau untuk mengampanyekan gerakan anti-rokok dan anti-tembakau. Tak sia-sia. Karena perjuangan sepertinya berhasil.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Kampanye-kampanye gerakan mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya, sepertinya juga sangat berhasil. Bagaimana tidak? Wilayah-wilayah yang sebelumnya penuh dengan tanaman tembakau dan bergeliat dengannya, kini lahan-lahannya sudah berganti dengan tanaman lain. Sebuah keberhasilan yang menggembirakan. Begitu mungkin pikir mereka para yang menganggap dirinya pejuang anti-rokok dan anti-tembakau. Dan tentu saja mereka akan kecele dan kita akan menertawakan hal itu.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, mereka yang menganggap dirinya anti-rokok dan anti-tembakau tidak menyaksikan langsung fenomena ini di lapangan, di lahan-lahan yang peruntukannya berubah pada hari-hari belakangan ini ketika memasuki musim hujan. Mereka asyik duduk pada kursi empuk di ruang-ruang nyaman ber-AC di kota-kota yang jauh dari kultur pertanian. Mereka menyengajakan diri menjadi elit dan enggan untuk turun melihat langsung ke lapangan. Kalaupun ada yang turun langsung ke lapangan, hanya segelintir saja dari mereka, itupun sekadar formalitas saja. Tak pernah benar-benar mau turun ke lapangan, hidup dan merasakan langsung kultur pertanian tembakau dalam jangka waktu cukup lama di lapangan.<\/p>\n\n\n\n

Baca juga: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Fenomena ini membikin kita tak bisa melihat mereka para anti-rokok kecele lalu menertawakan mereka.<\/strong> Fenomena keengganan terjun langsung ke lapangan terlebih mencoba mendengar mereka yang tetap menanam tembakau, juga menjalani keseharian dalam waktu cukup lama bersama petani tembakau inilah yang saya kira menjadikan mereka tetap keras kepala untuk anti-rokok dan anti-tembakau. Karena jika mereka mau melakukan itu, saya yakin mereka semua tidak akan begitu kaku dalam memandang pertanian tembakau dan produk hasil industri tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu yang selalu mereka kampanyekan dan ngotot dengan itu, terkait hulu pertanian tembakau adalah mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya. Mereka berargumen banyak tanaman lain yang bisa semenguntungkan tanaman tembakau. Keengganan mereka terjun langsung ke lapangan inilah yang membikin mereka buta dengan kondisi pertanian tembakau dan pada akhirnya terus menerus mengampanyekan pergantian tanaman tembakau dengan tanaman lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca juga: Imanlah kepada Allah, Bukan Antirokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tembakau tanaman yang khas. Ia hanya tumbuh baik sepanjang empat hingga lima bulan dalam satu tahun. Tumbuh-kembang tanaman tembakau dengan baik itu umumnya terjadi pada musim kemarau setiap tahunnya. Hanya sedikit sekali jenis tembakau yang tumbuh baik di musim penghujan, mayoritasnya, tumbuh baik pada musim kemarau.<\/p>\n\n\n\n

Jika ditanam pada musim hujan, hampir bisa dipastikan tanaman tembakau akan gagal menghasilkan daun-daun yang berkualitas. Ia akan rusak dan membusuk karena terlalu banyak terkena air sehingga daun-daun itu tak layak dijual. Jangankan bisa dijual, untuk tumbuh dengan baik pun sepertinya sulit karena musim hujan akan membunuh banyak tanaman itu.<\/p>\n\n\n\n

Maka, tak heran pada musim-musim seperti saat ini, ketika musim penghujan mendekati puncaknya, di wilayah-wilayah yang dikenal sebagai sentra pertanian tembakau, sulit menemukan pohon tembakau yang sedang tumbuh. Pada lahan-lahan yang sebelumnya ditumbuhi tanaman tembakau pada musim panas, berganti tanaman-tanaman lain yang bermacam-macam, sesuai dengan kondisi lahannya. Untuk lahan sawah, lahan-lahan itu pada musim penghujan kini ditumbuhi tanaman padi yang subur. Pada lahan tegalan dan lahan di pegunungan, lahan-lahan yang ditanami tembakau pada musim kemarau, saat ini ditumbuhi bermacam jenis tanaman mulai dari cabai, bawang, tomat, kol, terong, mentimun, dan ragam jenis tanaman semusim lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Uniknya, tipikal tanaman tembakau yang tumbuh baik di musim kemarau ini memberi pilihan lebih kepada para petani. Lahan-lahan yang sulit ditanami pada musim kemarau, pada akhirnya masih bisa tetap produktif dengan keberadaan tanaman tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Maka, kampanye aneh mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain dengan ragam rupa dalih yang membingungkan, bukan saja sama sekali tidak tepat dan asal-asalan, namun bisa jadi akan ditertawakan oleh para petani yang begitu paham dengan kondisi lahan dan terutama kondisi iklim dan cuaca. Sulit mencari tanaman semusim yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Jika pun ada, tak ada yang semenguntungkan tanaman tembakau.
<\/p>\n","post_title":"Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"keberhasilan-gerakan-anti-tembakau-tak-ada-tembakau-saat-musim-hujan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-07 12:16:02","post_modified_gmt":"2019-02-07 05:16:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5415","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5409,"post_author":"919","post_date":"2019-02-05 08:04:43","post_date_gmt":"2019-02-05 01:04:43","post_content":"\n

Tahun Baru Imlek yang merupakan tradisi Bangsa Tiongkok kini sudah tak lagi menjadi hal yang asing bagi masyarakat Indonesia. Kehadirannya sudah mewarnai dan berakulturasi dengan tradisi lokal. Menjelang Tahun Baru Imlek. Berbagai hiasan dan kemeriahan terjadi beberapa titik di Tanah Air. Perayaannya juga menjadi destinasi baru yang mengasyikkan untuk dilihat dan patut disaksikan.<\/p>\n\n\n\n

Berterimakasihlah kepada sang bapak bangsa, KH Abdurrahman Wahid atau yang dikenal dengan nama Gus Dur. Berkat kebijakannya saat menjadi Presiden Indonesia, Tahun Baru Imlek resmi dijadikan hari libur nasional dan dianggap sebagai salah satu hari raya di Tanah Air. Meski sentimen antitionghoa masih ada di sana-sini, tapi tetap tak bisa dipungkiri bahwa bangsa tionghoa sudah bersentuhan dengan budaya lokal dalam kurun waktu yang sangat panjang.<\/p>\n\n\n\n

DNA Bangsa Tionghoa yang memang merupakan pedagang menjadi pembuka kisah interaksi antara nenek moyang berbagai suku di Nusantara dengan mereka. Beberapa kelenteng-kelenteng yang tersebar pada berbagai pesisir daerah di Nusantara jadi buktinya. Pelabuhan-pelabuhan tua di tanah air dan ramainya perdagangan di pesisir mempermudah bangsa kita berhubungan dengan Bangsa Tionghoa.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Wong Kalang dan Kota Gede<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa kehadiran Bangsa Tionghoa di Nusantara tak hanya sebagai pedagang, namun juga sebagai pekerja (bahkan hingga pekerja kasar). Benny Setiono, seorang sejarahwan menyebutkan bahwa antara tahun 1760-1770 dalam jumlah yang besar memasuki nusantara melalui Kalimantan Barat. Mereka bekerja sebagai kuli pertambangan di sana dan di kemudian hari membentuk sebuah republik bernama Republik Lanfang yang konon katanya menjadi republik pertama di Asia Tenggara.<\/p>\n\n\n\n

Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Imlek dan Indonesia<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n\n\n\n

Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
<\/p>\n","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5406,"post_author":"877","post_date":"2019-02-04 08:23:48","post_date_gmt":"2019-02-04 01:23:48","post_content":"\n

Merokok itu sudah menjadi bagian dari budaya dan tradisi masyarakat, jauh sebelum Indonesia merdeka. Banyak cerita atau kisah tentang kretek <\/a><\/del>di tengah-tengah masyarakat bangsa ini, mulai sebagai alat untuk meraup keuntungan, alat komunikasi, sebagai teman sampai menjadi simbol pergerakan. <\/p>\n\n\n\n

Kretek, Simbol Perlawanan Roro Mendut<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Siapa yang tidak pernah mendengan cerita tentang Roro Mendut?, di telinga masyarakat Indonesia, kisah Roro Mendut tidak asing lagi.  Perempuan yang mempunyai paras wajah cantik, dan digandrungi kaum adam terutama kalangan putra kerajaan. Informasi kecantikan Roro Mendut tersebar seantero Nusantara, tidak satupun pria meragukan kecantikannya.  Bahkan kisah dan cerita kecantikan Roro Mendut tercatat dalam buku Babad Tanah Jawi. <\/p>\n\n\n\n

Diperkirakan pada tahun 1627, pada saat panglima perang Sultan Agung Mataram bernama Tumenggung Wiraguna berhasil menumpas pemberontakan di kota Pati, sebagai imbalanan atas keberhasilannya, mendapat hadiah wanita pujaan pria bernama Rara Mendut dari Kasultanan Agung Mataram.  Roro Mendut menolak dipinang Tumenggung Wiraguna, dan secara terang-terangan memilih pria lain dambaannya. Akibatnya, Roro Mendut harus membayar pajak setiap harinya kepada kerajaan Mataram. <\/p>\n\n\n\n

Bisa dibayangkan, betapa bingungnya Roro Mendut saat itu. Uang dari mana, ia hasilkan untuk bayar pajak tiap hari demi bisa bersama kekasihnya. Ternyata Roro Mendut tidak hanya cantik tetapi cerdas dan kreatif, bisa membaca peluang bisnis saat itu. Ide cermerlang muncul dengan berdagang\/berjualan rokok lintingan yang direkatkan dengan air ludahnya, dan sebelum menjualnya, rokok lintingan di sulut dahulu dan dihisap bekas bibir merahnya. Kemudian baru dijual ke pembeli yang berdesakan berjejer antri. <\/p>\n\n\n\n

Entah dari mana ide menjual rokok itu muncul. Yang jelas saking larisnya, kewajiban pajak Roro Mendut terpenuhi. Dan mungkin keadaannya akan lebih parah, jika saat itu Roro Mendut tidak berdagang rokok. Tidak akan terpenuhi kewajiban pajaknya. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Dengan rokok, hidup Roro Mendut terselamatkan. Adanya rokok, \u00a0Roro Mendut bebas dari belenggu kekuasaan. Berkat rokok, Roro Mendut terkengan, mengisi rubik informasi sejarah begitu kuatnya budaya merokok di \u00a0Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Pusaka Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek, Teman Perjuangan  Diponegoro<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Semasa berjuang melawan penjajah, yang harus dilakukan Diponegoro berpindah-pindah dari kota satu ke kota lain. Strategi perlawanan Diponegoro, kemudian sebagai basis strategi perang gerilya. Strategi yang menjadi idola dan kebanggaan tentara Indonesia. Dengan bergerilya, tentara Indonesia mampu mengecoh kekutan lawan yang lebih besar jumlahnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu, tenyata banyak cerita, Diponegoro saat berperang ditemani rokok. Ia dan pasukannya gemar merokok. Bahkan ketika tidak ada rokok, Pangeran Diponegoro rela hanya megunyah daun sirih yang diracik dengan kapur dan pinang. <\/p>\n\n\n\n

Kebiasaan ini, juga dialami oleh pengikut \/pasukan perang Pangeran Diponegoro. Bagi mereka, rokok teman sejati, menemani disetiap perjalanan mereka. Rokok menghilangkan depresi mereka, sebagai hiburan saat jauh dari keluarga demi berjuang melawan penjajah. Rokok menumbuhkan percaya diri mereka, lebih berani melawan penjajah walaupun hanya dengan serba keterbatasan, pasukan jumlah terbatas, alat perang terbatas dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Baca juga: Pangeran Diponegoro, Rokok Klobot dan Perlawanan Simbolis<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Jati Diri Bangsa<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Salah satu \u201cpendiri bangsa\u201d bernama KH. Agus Salim menghisap kretek dengan asapnya di kebal-kebulkan keudara, disaat ada perjamuan di Istana Buckingham ketika penobatan Elizabeth II sebagai Ratu kerajaan Inggris. Aroma khas keluar dari asap rokok kretek, tercium orang yang berada di ruang perjamuan. Sehingga memancing salah satu orang yang datang dalam perjamuan, dengan berkata; \u201ctuan sedang menghisap apa itu?\u201d.  Sentak KH. Agus Salim menjawab, \u201c inilah yang membuat nenek moyang anda sekian abad lalu datang dan kemudian menjajah negeri kami\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Jawaban KH. Agus Salim, faktanya memang benar. Rokok kretek tidak lain ada tambahan cengkeh (suzygium aromaticum<\/em>). \u00a0Tanaman legendaris menjadi rebutan dan sumber keuntungan kolonialisme Eropa atas Asia termasuk Indonesia. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Cengkeh adalah salah satu tanaman yang diperebutkan bangsa-bangsa dunia, sampai melegalkan penjajahan.  Dalam simpulan perjalanan ekspedisi cengkeh tahun 2013, Kepala Suku begitu julukan bagi Putut Ea, mengatakan \u201c jika saja tak pernah ada cengkeh dan pala di Maluku, mungkin sejarah kepulauan Nusantara ini akan berbeda sama sekali\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Simpulan Putut EA, sebagai salah satu pembenar perkataan \u00a0KH. Agus Salim. Mungkin, jika tanaman cengkeh tidak ada, fakta sejarah akan berbeda, tidak ada penjajahan di bumi Nusantara ini. <\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Mengisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek untuk Berteman dan Menjalin Persaudaraan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Teringat apa yang pernah dilakukan Menteri Sosial dan Lingkungan Hidup, saat melakukan pendekatan pada suku anak dalam di Jambi. Tidak lain ia adalah Khofifah menteri perempuan yang energik. Saat itu Khofifah bertanggungjawab dalam mengatasi masalah pendidikan dan kesejahteraan masyarakat suku anak dalam di Jambi.  <\/p>\n\n\n\n

Kebijakannya membuat fenomenal, selain bahan makanan, dan bantuan lain, khofifah juga membawa rokok.  Yang kemudian ada yang mengggugat dari anti rokok, tetapi sebagai Menteri, Khofifah tentunya sudah mengkaji secara mendalam. Dengan kecerdasannya , Khofifah menjawab dengan tegas dan lugas, \u201cjangan sok tahu kehidupan mereka, kenali apa yang menjadi ritme kehidupan mereka. Sangat bijaksana kalau kita semua pergi kesana, sehingga tahu adat istiadatnya juga. Tolong kalau ingin mengerti tentang kultur jangan hanya dari kacamata Jakarta. Saya pun ingin mengajak anda kesana, turun kesana, sapalah mereka\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Khofifah memberikan pelajaran bagi anti rokok. Tidak boleh sok tahu, apalagi selama ini antirokok hanya berasumsi, tanpa melihat fakta dilapangan. Khofifah juga menganjurkan agar lebih mengenal adat-istiadat, budaya dan tradisi masyarakat, tidak boleh melakukan hegemoni kultural, sebab keberagaman adat-istiadat dan budaya merupakan kekayaan negeri. <\/p>\n\n\n\n

Pelajaran Khofifah sangat mendalam dan bercirikhas Nusantara. Sebgaai Menteri \u00a0Sosial tentunya lebih berpengalaman apa yang dibutuhkan bangsa ini agar tetap jaya, bersatu dan utuh. Kenali perbedaan, hormati perbedaan, junjung tinggi budaya yang berbeda. \u00a0Apa yang telah dilakukan Khofifah dengan membawa rokok ke suku anak dalam adalah cermin penghormatan tradisi dan budaya masyarakat. Sebagai seorang Mentri, tentunya punya kuasa, artinya bisa seorang khofifah memberikan bantuan sesuai keinginannya sendiri, namun hal itu tidak dilakukan. Ia lebih mengedepankan penghormatan budaya masyarakat setempat, dengan membawa rokok untuk pendekatan dan pertemanan. Karena Khofifah tahu betul, bahwa merokok adalah budaya mereka, yang diwaris dari neneng moyang mereka. <\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Memilih Jalan Hidup Menikmati Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Simbol Pergerakan Nasional     <\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Abdul Rifa\u2019I dalam media bintang timur terbit pada 03 Oktober 1927, mengatakan, \u201ckopinya bukan kopi saringan, tetapi kopi tubruk sebab kopi ini katanya nationaal, gulanya gula jawa, susu tidak dipakai karena tidak nationaal. Rokoknya kelobot, selamatan natioanaal ini terus berlangsung ed sampai pagi hari\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Semangat nasionalisme harus tertanam, mengedepankan produk lokal adalah salah satu semangat nasionalime. Salah satu keberadaan rokok klobot menjadi ciri produk asli indonesia dan harus dilestarikan. Klobot sendiri adalah ramuan tembakau dan cengkeh di gulung memakai daun jagung, embrio perkembangan menjadi rokok sigaret kretek tangan dan sigaret kretek mesin.  
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pusaran Budaya Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pusaran-budaya-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-04 08:40:41","post_modified_gmt":"2019-02-04 01:40:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5406","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5403,"post_author":"919","post_date":"2019-02-03 09:05:50","post_date_gmt":"2019-02-03 02:05:50","post_content":"\n

Seringkali saya menyaksikan berbagai film baik itu Eropa atau Asia yang menggambarkan tentang masa depan. Pemandangan soal masa depan tersebut dihadirkan dengan gambaran kecanggihan teknologi seperti robot yang akan membantu kehidupan manusia, gedung-gedung yang tingginya sudah amat tak bisa ditandingi,  hingga mobil-mobil yang bisa terbang. <\/p>\n\n\n\n

Pernah dalam masa kecil saya menyaksikan sebuah film animasi buatan jepang yang mempertanyakan tentang makanan di masa depan. Dengan santai salah satu tokoh yang berasal dari masa depan itu menjawab bahwa suatu saat nanti manusia akan mengonsumsi makanan berupa pasta gigi namun dengan rasa yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa, aneh!<\/p>\n\n\n\n

Seiring waktu berjalan saya kian tumbuh dewasa dan punya kesadaran untuk memilih menjadi seorang perokok<\/a>. Saya juga melihat ada sebuah inovasi dan gambaran tentang masa depan yang hadir dalam kehidupan sekarang. Banyak memang, namun yang menyita perhatian saya adalah rokok elektrik atau yang populer disebut Vape. Konon katanya ia adalah produk inovasi untuk menjembatani kebutuhan menghisap asap dan kecanggihan masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Di awal kehadirannya Vape memang mengundang decak kekaguman saya. Bagaimana bisa sebuah mesin kecil mengeluarkan asap yang katanya lebih menyehatkan daripada rokok.<\/strong> Meski pada akhirnya teori tersebut juga bisa dibantah oleh beberapa ilmuan dunia. Tapi ada satu yang saya amati selain soal kesehatan, rokok elektrik rupanya menghadirkan kultur dan budaya baru dalam kehidupan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: LAGI-LAGI IKLAN ROKOK, KAPAN KPAI TIDAK TEBANG PILIH? <\/a><\/h4>\n\n\n\n

Kehadiran teknologi memang kerap sedikit atau benyak mengubah gaya atau kultur suatu masyarakat. Begitu pula yang saya perhatikan dengan rokok elektrik. Satu hal yang mudah diamati adalah menjamurnya toko-toko kecil yang menjual vape serta liquid di berbagai tempat. Sebagai sebuah warna baru dalam masyarakat, penggunanya ramai-ramai mengunjungi tempat tersebut berinteraksi dengan penikmat lainnya dan membangun sebuah rumah komunitas yang fleksibel.<\/p>\n\n\n\n

Meski belum bisa dikatakan memiliki jumlah penikmat yang setara dengan para perokok, pengguna Vape mulai menunjukkan eksistensinya. Selain toko yang tersebar, ragam acara juga mereka buat di beberapa daerah. Dalam lingkungan saya, beberapa teman yang dulunya merupakan perokok aktif tertarik mengikuti event tersebut dan beralih mengisap rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Nun jauh di sana, di Amerika Serikat tepatnya, budaya Vape juga sudah mulai berkembang lama ketimbang di Tanah Air. Penikmatnya terbagi menjadi dua, ada yang dulunya bekas perokok dan ada yang memang menikmatinya sebagai gaya hidup. Wajar saja mengingat facebook tak memperbolehkan iklan tembakau di platform mereka, sebaliknya iklan tentang vape justru bertebaran. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi budaya baru yang berkembang di berbagai belahan dunia bahkan di Indonesia, Vape konon menjadi alternatif yang lebih bermanfaat daripada rokok. Dalih yang diusung selalu sama kepada para perokok tradisonal yaitu soal kesehatan dan lebih irit. Soal kesehatan tentu ada beberapa pendapat para ilmuan yang membantahnya, namun soal irit, saya rasa tidak. Memang satu liquid bisa digunakan untuk beberapa Minggu, akan tetapi yang saya lihat di lapangan justru sebaliknya. <\/p>\n\n\n\n

Beberapa penikmat rokok elektrik kerap berbelanja liquid yang mereka idamkan. Terkadang, hal tersebut yang membuat mereka boros karena terus mengeksplor rasa mana yang mereka idam-idamkan. Tak jarang juga liquid dengan harga mahal hingga ratus ribuan akan mereka beli. Sebaliknya, para perokok konvensional justru kerap bertahan dengan satu rasa atau merek saja.<\/p>\n\n\n\n

Sedikit berbeda dengan penikmat rokok konvensional atau kretek. Mengingat rokok kretek sudah menjadi kebudayan lokal yang terus dipertahankan selama bertahun-tahun, kehadirannya sudah mewarnai khasanah keindonesiaan. Perokok kretek juga sudah punya soliditas luar biasa yang terbentuk sejak lama dan terus terbangun mengiringi peradaban di Indonesia atau dunia.<\/p>\n\n\n\n

Kini, perokok elektrik mulai merasakan kegelisahan. Beberapa negara mulai menerapkan peraturan ketat terhadap Vape, sedangkan di Indonesia biaya cukai pun kini mulai diberlakukan terhadap perdagangan rokok elektrik. Keberadaannya di mata negara pun mulai dianggap sama seperti rokok, meski pada awalnya rokok elektrik hadir dengan slogan-slogan produk alternatif yang lebih menyehatkan (katanya).<\/p>\n\n\n\n


Tapi jika kemudian di masa depan memang rokok elektrik yang kemudian menjadi sesuatu yang populer dan dinikmati banyak orang. Rasanya saya tetap ingin hidup di jaman ini, dengan sebatang kretek di tangan dan menikmati segala khasanah kebudayaan yang patut terus dipertahankan. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"masa-depan-rokok-elektrik-dan-semangat-alternatif-yang-sia-sia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-03 09:05:56","post_modified_gmt":"2019-02-03 02:05:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5403","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5385,"post_author":"883","post_date":"2019-02-02 08:01:01","post_date_gmt":"2019-02-02 01:01:01","post_content":"Pada tahun 2014, perusahaan rokok multinasional Philip Morris Internasional Inc. merilis sebuah produk <\/span>perangkat\u00a0<\/span>
rokok<\/span><\/a>\u00a0tanpa asap, yang dipanaskan bukan dibakar atau istilahnya\u00a0<\/span>heat not burn<\/i><\/strong>\u00a0(HNB) iQOS<\/strong>. <\/span>\r\n\r\nPerangkat rokok tanpa asap dengan nama iQOS<\/a> ini berbentuk seperti bagian luar pulpen, dengan lubang di tengah untuk rokok. Produk yang berada di bawah brand Marlboro ini dapat memanaskan rokok sampai 350 derajat celcius lalu mengeluarkan uap nikotin beraroma tembakau<\/em><\/a>.<\/span>\r\n

Produk iQOS sebenarnya bukanlah produk rokok tanpa asap yang pertama muncul. Sebelumnya di tahun 1990-an, Reynolds Tobacco Co pernah merilis produk serupa bernama Eclipes yang juga dapat menguapkan nikotin setelah dinyalakan dengan korek api.<\/span><\/blockquote>\r\nSelain itu, Eclips juga dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. Namun, pada saat itu Eclips tidak diminati oleh pasar, utamanya para perokok konvensional. Meskipun Eclips dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. <\/span>\r\n\r\nBisnis semacam rokok tanpa asap seperti Eclips dan iQOS memang sudah menjadi bagian dari rencana panjang bisnis perusahaan-perusahaan rokok multinasional. Jadi tidak usah heran jika ke depannya akan kita akan banyak menemukan produk rokok tanpa asap ini.<\/span>\r\n\r\nWatak dari perusahaan multinasional memang seperti itu, mereka sangat jeli melihat peluang pasar ke depannya. Ketika market place perusahaan rokok multinasional saat ini terus dirongrong oleh kelompok antirokok, mereka tak kehabisan akal. Maka kemudian mereka menginovasi produk rokok konvensional menjadi rokok yang tidak berasap. Begitupun dengan mengikutsertakan jargon-jargon kesehatan dalam narasi promosi mereka.<\/span>\r\n\r\nSesungguhnya memang seperti itulah watak bisnis perusahaan-perusahaan multinasional, melakukan segala cara agar bisnis mereka tetap bertahan, meskipun harus merangkul musuh sekalipun. <\/span>\r\n\r\nYa kadang pura-pura berantem sama antirokok, tapi dibalik itu sebenarnya baik-baik saja, dan tentunya ada kompromi untuk terus melanggengkan bisnis mereka.<\/span>\r\n

Lalu siapa yang dirugikan dari permainan bisnis macam produk rokok tanpa asap perusahaan rokok multinasional ini?<\/span><\/h3>\r\nTentunya yang sangat dirugikan adalah produk hasil tembakau yang memiliki kekhasan seperti kretek di Indonesia. Kretek sebagai produk khas asli Indonesia yang menjadi bagian dari warisan kebudayaan tidak mungkin bertransformasi menjadi produk-produk elektrik dan sejenisnya.<\/span>\r\n\r\nKretek tetaplah kretek, dengan bahan baku alami tembakau dan cengkeh yang tidak diintervensi dengan zat atau perangkat penghantar lainnya. Karena dengan bentuk, karakter dan cara menikmatinya memang konvensional dan akan terus begitu apapun kondisi dan zamannya.<\/span>\r\n
Bisnis produk rokok tanpa asap (elektrik) juga menghajar kretek dengan mendompleng isu pengendalian tembakau. Kampanye pengendalian tembakau selalu membawa slogan bahaya merokok dan upaya untuk berhenti merokok. <\/span><\/blockquote>\r\nDari isu tersebut, rokok elektrik masuk dengan citra produk alternatif tembakau, bahkan mereka tak segan menilai bahwa rokok elektrik lebih aman ketimbang rokok konvensional, yakni kretek.<\/span>\r\n\r\nLalu jika Indonesia akan dibanjiri dengan produk-produk yang mengatasnamakan produk alternatif tembakau, macam rokok tanpa asap (iQOS dan sejenisnya), maka itulah pertanda bahwa kretek harus tergerus dari cara hidup manusia Indonesia dalam menikmati produk hasil tembakau khas Indonesia yang sudah turun-temurun lamanya dinikmati manusia Indonesia.<\/span>","post_title":"Nasib Kretek di Pusaran Pertarungan Bisnis Global Perusahaan Rokok Multinasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"nasib-kretek-di-pusaran-pertarungan-bisnis-global-perusahaan-rokok-multinasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-02 08:01:43","post_modified_gmt":"2019-02-02 01:01:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5385","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; \n

Meskipun peran utama rempah-rempah Maluku itu kemudian tergusur pada abad-18 dan 19 oleh beberapa barang eksotika tropis lainnya --hasil perkebunan-perkebunana besar baru di Pulau Sumatera dan Jawa: tebu, tembakau, lada, kopi, teh, nila, kelapa sawit, dan kayu jati-- namun sejarah sudah mencatat bahwa dua jenis rempah-rempah Maluku itulah yang mengawali penjelajahan sekaligus penjajahan kepulauan Nusantara oleh bangsa-bangsa Eropah, terutama Belanda (Topatimasang, ed., 2004:32). Jika saja tak pernah ada cengkeh dan pala di Maluku, mungkin sejarah kepulauan Nusantara ini akan berbeda sama sekali.
<\/p>\n\n\n\n

Masa suram cengkeh dan pala terus berlangsung sampai pertengahan abad-20. Rempah eksotika yang pernah membuat tergila-gila<\/p>\n\n\n\n

para saudagar Arab, pedagang Cina, serta kaum ningrat Eropa itu, tergantikan perannya oleh penemuan teknologi mesin pendingin berkat Revolusi Industri yang dimulai di Inggris pada pertengahan abad-18. Pasaran cengkeh di Eropa pun merosot tajam.
<\/p>\n\n\n\n

Nasibnya terselamatkan berkat penemuan oleh seorang Haji Djamhari di Kudus, Jawa Tengah. Pada akhir tahun 1880-an, Haji Djamhari menemukan kegunaan baru cengkeh sebagai ramuan utama rokok. Lahirlah satu produk baru yang unik, khas dan asli Indonesia: kretek! (Hanusz, 2000:ii).
<\/p>\n\n\n\n

Setelah seperempat abad hanya berkembang dalam skala kecil usaha rumah tangga, produksi kretek akhirnya menjelma menjadi industri besar sejak awal abad-20 yang dirintis oleh Haji Nitisemito (pendiri pabrik \u2018Jambu Bol\u2019) di Kudus dan Liem Seng Tee (pendiri pabrik \u2018Dji Sam Soe\u2019 dan \u2018Sampoerna\u2019) di Surabaya.
<\/p>\n\n\n\n

Puncaknya adalah pada pertengahan tahun 1950-an, ketika produksi kretek mulai berkembang pesat menjadi industri raksasa modern dengan munculnya beberapa pabrik baru, antara lain, yang terkemuka, oleh Oei Wei Gwan (pendiri pabrik \u2018Djarum\u2019) di Kudus dan Tjou Ing Hwie (pendiri pabrik \u2018Gudang Garam\u2019) di Kediri (Topatimasang, et.al., eds., 2010:131).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Teruslah Menanam Tembakau dan Cengkeh, Wahai Petani Indonesia<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Cengkeh, bahan baku paling esensial dari kretek --selain tembakau, tentu saja-- pun kembali berjaya. Bahkan, sejak dasawarsa 1970an, telah menjadi salah satu penyumbang terbesar keuangan negara Republik Indonesia. Pada tahun 2012 dan 2013, pemasukan cukai dari industri kretek mencatat 95,5% dari seluruh pemasukan cukai ke kas negara. Nilainya tak tanggung-tanggung: Rp 87 triliun! (el-Guyanie, et.al.: 2013:4-5).<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Nilai ekonomisnya yang sangat besar sempat menggoda penguasa otoriter rezim Presiden Soeharto, pada 1990-an, memberlakukan satu kebijakan \u2018Hongi Gaya Baru\u2019: monopoli perdagangan cengkeh dalam negeri melalui Badan Penyanggah dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) yang sangat merugikan petani. Harga cengkeh di tingkat petani penghasil anjlok sampai hanya Rp 2.000 - 3.000 per kilogram, lebih murah dari harga sebungkus kretek yang dihasilkan darinya.
<\/p>\n\n\n\n

Akibatnya, ratusan ribu pohon cengkeh di daerah-daerah penghasil utama --Maluku, Maluku Utara, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Selatan-- ditebangi atau dibiarkan terlantar tak terurus.
<\/p>\n\n\n\n

Gelombang reformasi sistem politik dan hukum nasional yang dimulai pada tahun 1998, akhirnya menjungkalkan rezim Soeharto dan BPPC dibubarkan, Pelan tapi pasti, harga cengkeh kembali merangkak naik, sehingga pada tahun 2012, bahkan melewati angka Rp 200.000 per kilogram. Para petani cengkeh di seluruh negeri kembali tersenyum. Tetapi, sampai kapan? <\/p>\n\n\n\n

Catatan:<\/strong><\/p>\n\n\n\n

[1] Beberapa sumber menyebutkan bahwa kata \u2018cengkeh\u2019 dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Mandarin, tkeng-his atau xi\u2019jia, yang berarti \u2018rempah [berbentuk mirip] paku\u2019 (scented nails). Ini menunjukkan bahwa cengkeh sudah dikenal sejak lama oleh bangsa Cina --diketahui sejak abad-2-- jauh sebelum orang Eropa mengenalnya ((lihat, misalnya: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n\n\n\n

[2] Catatan-catatan para biarawan Fransiskan --yang disalin dan dikutip oleh van Frassen-- bahkan menyebut cengkeh sebagai salah satu bahan utama pengawet mumi para Fir\u2019aun, penguasa Mesir Kuno. Beberapa pakar sejarah dan arkeologi menyatakan bahwa rempah-rempah Maluku bahkan sudah ditemukan artefaknya di Lembah Mesopotomia (wilayah Iraq dan sekitarnya sekarang) pada 3.000 tahun sebelum Masehi. (lihat, antara lain: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n\n\n\n

[3] Uraian lebih rinci sejarah kolonialisme rempah-rempah Nusantara ini, terutama oleh Belanda dan Portugis, dapat dibaca pada beberapa sumber kepustakaan yang sudah dikenal luas, antara lain: Glamann (1958) dan Boxer (1965 dan 1969). Dalam risalah klasik Pires disebutkan bahwa pada tahun 1512-1521 saja, jumlah produksi cengkeh di Maluku sudah mencapai 7.250 bahar per tahun, terbesar adalah di Makian serta Amboina dan Lease (masing-masing 1.500 bahar)(Pires, 1512-1515).<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem Topatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-10 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-02-10 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5425","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5415,"post_author":"878","post_date":"2019-02-07 12:15:55","post_date_gmt":"2019-02-07 05:15:55","post_content":"\n

Belakangan ini, ketika musim hujan tiba, di Kabupaten Temanggung, Kabupaten Jember, dan beberapa wilayah sentra pertanian tembakau lainnya, hampir mustahil menemukan tanaman tembakau tumbuh di lahan-lahan milik petani. Di wilayah-wilayah tersebut, citra sebagai sentra pertanian tembakau seakan menguap. Lahan-lahan yang ada di sana, sama sekali tidak ditumbuhi tanaman tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Kabar ini bisa jadi dianggap sebagai kabar gembira bagi mereka yang menganggap diri dan kelompoknya anti-rokok dan anti-tembakau yang selalu mengampanyekan sikap-sikap mereka terkait kebencian kepada tembakau dan aktivitas merokok. Setelah sekian lama berjuang, akhirnya perjuangan mereka dirasa berhasil usai menyaksikan fenomena lahan-lahan di wilayah yang dianggap sentra pertanian tembakau pada hari-hari belakangan ini.<\/p>\n\n\n\n

Baca juga: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tak sia-sia turun ke jalan, tak sia-sia melakukan lobi-lobi ke penguasa, tak sia-sia mengucurkan uang yang tidak sedikit, dan tak sia-sia mempermalukan diri dengan mengemis ke lembaga donor asing dan menggondol uang dari cukai tembakau untuk mengampanyekan gerakan anti-rokok dan anti-tembakau. Tak sia-sia. Karena perjuangan sepertinya berhasil.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Kampanye-kampanye gerakan mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya, sepertinya juga sangat berhasil. Bagaimana tidak? Wilayah-wilayah yang sebelumnya penuh dengan tanaman tembakau dan bergeliat dengannya, kini lahan-lahannya sudah berganti dengan tanaman lain. Sebuah keberhasilan yang menggembirakan. Begitu mungkin pikir mereka para yang menganggap dirinya pejuang anti-rokok dan anti-tembakau. Dan tentu saja mereka akan kecele dan kita akan menertawakan hal itu.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, mereka yang menganggap dirinya anti-rokok dan anti-tembakau tidak menyaksikan langsung fenomena ini di lapangan, di lahan-lahan yang peruntukannya berubah pada hari-hari belakangan ini ketika memasuki musim hujan. Mereka asyik duduk pada kursi empuk di ruang-ruang nyaman ber-AC di kota-kota yang jauh dari kultur pertanian. Mereka menyengajakan diri menjadi elit dan enggan untuk turun melihat langsung ke lapangan. Kalaupun ada yang turun langsung ke lapangan, hanya segelintir saja dari mereka, itupun sekadar formalitas saja. Tak pernah benar-benar mau turun ke lapangan, hidup dan merasakan langsung kultur pertanian tembakau dalam jangka waktu cukup lama di lapangan.<\/p>\n\n\n\n

Baca juga: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Fenomena ini membikin kita tak bisa melihat mereka para anti-rokok kecele lalu menertawakan mereka.<\/strong> Fenomena keengganan terjun langsung ke lapangan terlebih mencoba mendengar mereka yang tetap menanam tembakau, juga menjalani keseharian dalam waktu cukup lama bersama petani tembakau inilah yang saya kira menjadikan mereka tetap keras kepala untuk anti-rokok dan anti-tembakau. Karena jika mereka mau melakukan itu, saya yakin mereka semua tidak akan begitu kaku dalam memandang pertanian tembakau dan produk hasil industri tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu yang selalu mereka kampanyekan dan ngotot dengan itu, terkait hulu pertanian tembakau adalah mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya. Mereka berargumen banyak tanaman lain yang bisa semenguntungkan tanaman tembakau. Keengganan mereka terjun langsung ke lapangan inilah yang membikin mereka buta dengan kondisi pertanian tembakau dan pada akhirnya terus menerus mengampanyekan pergantian tanaman tembakau dengan tanaman lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca juga: Imanlah kepada Allah, Bukan Antirokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tembakau tanaman yang khas. Ia hanya tumbuh baik sepanjang empat hingga lima bulan dalam satu tahun. Tumbuh-kembang tanaman tembakau dengan baik itu umumnya terjadi pada musim kemarau setiap tahunnya. Hanya sedikit sekali jenis tembakau yang tumbuh baik di musim penghujan, mayoritasnya, tumbuh baik pada musim kemarau.<\/p>\n\n\n\n

Jika ditanam pada musim hujan, hampir bisa dipastikan tanaman tembakau akan gagal menghasilkan daun-daun yang berkualitas. Ia akan rusak dan membusuk karena terlalu banyak terkena air sehingga daun-daun itu tak layak dijual. Jangankan bisa dijual, untuk tumbuh dengan baik pun sepertinya sulit karena musim hujan akan membunuh banyak tanaman itu.<\/p>\n\n\n\n

Maka, tak heran pada musim-musim seperti saat ini, ketika musim penghujan mendekati puncaknya, di wilayah-wilayah yang dikenal sebagai sentra pertanian tembakau, sulit menemukan pohon tembakau yang sedang tumbuh. Pada lahan-lahan yang sebelumnya ditumbuhi tanaman tembakau pada musim panas, berganti tanaman-tanaman lain yang bermacam-macam, sesuai dengan kondisi lahannya. Untuk lahan sawah, lahan-lahan itu pada musim penghujan kini ditumbuhi tanaman padi yang subur. Pada lahan tegalan dan lahan di pegunungan, lahan-lahan yang ditanami tembakau pada musim kemarau, saat ini ditumbuhi bermacam jenis tanaman mulai dari cabai, bawang, tomat, kol, terong, mentimun, dan ragam jenis tanaman semusim lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Uniknya, tipikal tanaman tembakau yang tumbuh baik di musim kemarau ini memberi pilihan lebih kepada para petani. Lahan-lahan yang sulit ditanami pada musim kemarau, pada akhirnya masih bisa tetap produktif dengan keberadaan tanaman tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Maka, kampanye aneh mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain dengan ragam rupa dalih yang membingungkan, bukan saja sama sekali tidak tepat dan asal-asalan, namun bisa jadi akan ditertawakan oleh para petani yang begitu paham dengan kondisi lahan dan terutama kondisi iklim dan cuaca. Sulit mencari tanaman semusim yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Jika pun ada, tak ada yang semenguntungkan tanaman tembakau.
<\/p>\n","post_title":"Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"keberhasilan-gerakan-anti-tembakau-tak-ada-tembakau-saat-musim-hujan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-07 12:16:02","post_modified_gmt":"2019-02-07 05:16:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5415","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5409,"post_author":"919","post_date":"2019-02-05 08:04:43","post_date_gmt":"2019-02-05 01:04:43","post_content":"\n

Tahun Baru Imlek yang merupakan tradisi Bangsa Tiongkok kini sudah tak lagi menjadi hal yang asing bagi masyarakat Indonesia. Kehadirannya sudah mewarnai dan berakulturasi dengan tradisi lokal. Menjelang Tahun Baru Imlek. Berbagai hiasan dan kemeriahan terjadi beberapa titik di Tanah Air. Perayaannya juga menjadi destinasi baru yang mengasyikkan untuk dilihat dan patut disaksikan.<\/p>\n\n\n\n

Berterimakasihlah kepada sang bapak bangsa, KH Abdurrahman Wahid atau yang dikenal dengan nama Gus Dur. Berkat kebijakannya saat menjadi Presiden Indonesia, Tahun Baru Imlek resmi dijadikan hari libur nasional dan dianggap sebagai salah satu hari raya di Tanah Air. Meski sentimen antitionghoa masih ada di sana-sini, tapi tetap tak bisa dipungkiri bahwa bangsa tionghoa sudah bersentuhan dengan budaya lokal dalam kurun waktu yang sangat panjang.<\/p>\n\n\n\n

DNA Bangsa Tionghoa yang memang merupakan pedagang menjadi pembuka kisah interaksi antara nenek moyang berbagai suku di Nusantara dengan mereka. Beberapa kelenteng-kelenteng yang tersebar pada berbagai pesisir daerah di Nusantara jadi buktinya. Pelabuhan-pelabuhan tua di tanah air dan ramainya perdagangan di pesisir mempermudah bangsa kita berhubungan dengan Bangsa Tionghoa.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Wong Kalang dan Kota Gede<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa kehadiran Bangsa Tionghoa di Nusantara tak hanya sebagai pedagang, namun juga sebagai pekerja (bahkan hingga pekerja kasar). Benny Setiono, seorang sejarahwan menyebutkan bahwa antara tahun 1760-1770 dalam jumlah yang besar memasuki nusantara melalui Kalimantan Barat. Mereka bekerja sebagai kuli pertambangan di sana dan di kemudian hari membentuk sebuah republik bernama Republik Lanfang yang konon katanya menjadi republik pertama di Asia Tenggara.<\/p>\n\n\n\n

Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Imlek dan Indonesia<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n\n\n\n

Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
<\/p>\n","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5406,"post_author":"877","post_date":"2019-02-04 08:23:48","post_date_gmt":"2019-02-04 01:23:48","post_content":"\n

Merokok itu sudah menjadi bagian dari budaya dan tradisi masyarakat, jauh sebelum Indonesia merdeka. Banyak cerita atau kisah tentang kretek <\/a><\/del>di tengah-tengah masyarakat bangsa ini, mulai sebagai alat untuk meraup keuntungan, alat komunikasi, sebagai teman sampai menjadi simbol pergerakan. <\/p>\n\n\n\n

Kretek, Simbol Perlawanan Roro Mendut<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Siapa yang tidak pernah mendengan cerita tentang Roro Mendut?, di telinga masyarakat Indonesia, kisah Roro Mendut tidak asing lagi.  Perempuan yang mempunyai paras wajah cantik, dan digandrungi kaum adam terutama kalangan putra kerajaan. Informasi kecantikan Roro Mendut tersebar seantero Nusantara, tidak satupun pria meragukan kecantikannya.  Bahkan kisah dan cerita kecantikan Roro Mendut tercatat dalam buku Babad Tanah Jawi. <\/p>\n\n\n\n

Diperkirakan pada tahun 1627, pada saat panglima perang Sultan Agung Mataram bernama Tumenggung Wiraguna berhasil menumpas pemberontakan di kota Pati, sebagai imbalanan atas keberhasilannya, mendapat hadiah wanita pujaan pria bernama Rara Mendut dari Kasultanan Agung Mataram.  Roro Mendut menolak dipinang Tumenggung Wiraguna, dan secara terang-terangan memilih pria lain dambaannya. Akibatnya, Roro Mendut harus membayar pajak setiap harinya kepada kerajaan Mataram. <\/p>\n\n\n\n

Bisa dibayangkan, betapa bingungnya Roro Mendut saat itu. Uang dari mana, ia hasilkan untuk bayar pajak tiap hari demi bisa bersama kekasihnya. Ternyata Roro Mendut tidak hanya cantik tetapi cerdas dan kreatif, bisa membaca peluang bisnis saat itu. Ide cermerlang muncul dengan berdagang\/berjualan rokok lintingan yang direkatkan dengan air ludahnya, dan sebelum menjualnya, rokok lintingan di sulut dahulu dan dihisap bekas bibir merahnya. Kemudian baru dijual ke pembeli yang berdesakan berjejer antri. <\/p>\n\n\n\n

Entah dari mana ide menjual rokok itu muncul. Yang jelas saking larisnya, kewajiban pajak Roro Mendut terpenuhi. Dan mungkin keadaannya akan lebih parah, jika saat itu Roro Mendut tidak berdagang rokok. Tidak akan terpenuhi kewajiban pajaknya. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Dengan rokok, hidup Roro Mendut terselamatkan. Adanya rokok, \u00a0Roro Mendut bebas dari belenggu kekuasaan. Berkat rokok, Roro Mendut terkengan, mengisi rubik informasi sejarah begitu kuatnya budaya merokok di \u00a0Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Pusaka Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek, Teman Perjuangan  Diponegoro<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Semasa berjuang melawan penjajah, yang harus dilakukan Diponegoro berpindah-pindah dari kota satu ke kota lain. Strategi perlawanan Diponegoro, kemudian sebagai basis strategi perang gerilya. Strategi yang menjadi idola dan kebanggaan tentara Indonesia. Dengan bergerilya, tentara Indonesia mampu mengecoh kekutan lawan yang lebih besar jumlahnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu, tenyata banyak cerita, Diponegoro saat berperang ditemani rokok. Ia dan pasukannya gemar merokok. Bahkan ketika tidak ada rokok, Pangeran Diponegoro rela hanya megunyah daun sirih yang diracik dengan kapur dan pinang. <\/p>\n\n\n\n

Kebiasaan ini, juga dialami oleh pengikut \/pasukan perang Pangeran Diponegoro. Bagi mereka, rokok teman sejati, menemani disetiap perjalanan mereka. Rokok menghilangkan depresi mereka, sebagai hiburan saat jauh dari keluarga demi berjuang melawan penjajah. Rokok menumbuhkan percaya diri mereka, lebih berani melawan penjajah walaupun hanya dengan serba keterbatasan, pasukan jumlah terbatas, alat perang terbatas dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Baca juga: Pangeran Diponegoro, Rokok Klobot dan Perlawanan Simbolis<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Jati Diri Bangsa<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Salah satu \u201cpendiri bangsa\u201d bernama KH. Agus Salim menghisap kretek dengan asapnya di kebal-kebulkan keudara, disaat ada perjamuan di Istana Buckingham ketika penobatan Elizabeth II sebagai Ratu kerajaan Inggris. Aroma khas keluar dari asap rokok kretek, tercium orang yang berada di ruang perjamuan. Sehingga memancing salah satu orang yang datang dalam perjamuan, dengan berkata; \u201ctuan sedang menghisap apa itu?\u201d.  Sentak KH. Agus Salim menjawab, \u201c inilah yang membuat nenek moyang anda sekian abad lalu datang dan kemudian menjajah negeri kami\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Jawaban KH. Agus Salim, faktanya memang benar. Rokok kretek tidak lain ada tambahan cengkeh (suzygium aromaticum<\/em>). \u00a0Tanaman legendaris menjadi rebutan dan sumber keuntungan kolonialisme Eropa atas Asia termasuk Indonesia. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Cengkeh adalah salah satu tanaman yang diperebutkan bangsa-bangsa dunia, sampai melegalkan penjajahan.  Dalam simpulan perjalanan ekspedisi cengkeh tahun 2013, Kepala Suku begitu julukan bagi Putut Ea, mengatakan \u201c jika saja tak pernah ada cengkeh dan pala di Maluku, mungkin sejarah kepulauan Nusantara ini akan berbeda sama sekali\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Simpulan Putut EA, sebagai salah satu pembenar perkataan \u00a0KH. Agus Salim. Mungkin, jika tanaman cengkeh tidak ada, fakta sejarah akan berbeda, tidak ada penjajahan di bumi Nusantara ini. <\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Mengisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek untuk Berteman dan Menjalin Persaudaraan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Teringat apa yang pernah dilakukan Menteri Sosial dan Lingkungan Hidup, saat melakukan pendekatan pada suku anak dalam di Jambi. Tidak lain ia adalah Khofifah menteri perempuan yang energik. Saat itu Khofifah bertanggungjawab dalam mengatasi masalah pendidikan dan kesejahteraan masyarakat suku anak dalam di Jambi.  <\/p>\n\n\n\n

Kebijakannya membuat fenomenal, selain bahan makanan, dan bantuan lain, khofifah juga membawa rokok.  Yang kemudian ada yang mengggugat dari anti rokok, tetapi sebagai Menteri, Khofifah tentunya sudah mengkaji secara mendalam. Dengan kecerdasannya , Khofifah menjawab dengan tegas dan lugas, \u201cjangan sok tahu kehidupan mereka, kenali apa yang menjadi ritme kehidupan mereka. Sangat bijaksana kalau kita semua pergi kesana, sehingga tahu adat istiadatnya juga. Tolong kalau ingin mengerti tentang kultur jangan hanya dari kacamata Jakarta. Saya pun ingin mengajak anda kesana, turun kesana, sapalah mereka\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Khofifah memberikan pelajaran bagi anti rokok. Tidak boleh sok tahu, apalagi selama ini antirokok hanya berasumsi, tanpa melihat fakta dilapangan. Khofifah juga menganjurkan agar lebih mengenal adat-istiadat, budaya dan tradisi masyarakat, tidak boleh melakukan hegemoni kultural, sebab keberagaman adat-istiadat dan budaya merupakan kekayaan negeri. <\/p>\n\n\n\n

Pelajaran Khofifah sangat mendalam dan bercirikhas Nusantara. Sebgaai Menteri \u00a0Sosial tentunya lebih berpengalaman apa yang dibutuhkan bangsa ini agar tetap jaya, bersatu dan utuh. Kenali perbedaan, hormati perbedaan, junjung tinggi budaya yang berbeda. \u00a0Apa yang telah dilakukan Khofifah dengan membawa rokok ke suku anak dalam adalah cermin penghormatan tradisi dan budaya masyarakat. Sebagai seorang Mentri, tentunya punya kuasa, artinya bisa seorang khofifah memberikan bantuan sesuai keinginannya sendiri, namun hal itu tidak dilakukan. Ia lebih mengedepankan penghormatan budaya masyarakat setempat, dengan membawa rokok untuk pendekatan dan pertemanan. Karena Khofifah tahu betul, bahwa merokok adalah budaya mereka, yang diwaris dari neneng moyang mereka. <\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Memilih Jalan Hidup Menikmati Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Simbol Pergerakan Nasional     <\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Abdul Rifa\u2019I dalam media bintang timur terbit pada 03 Oktober 1927, mengatakan, \u201ckopinya bukan kopi saringan, tetapi kopi tubruk sebab kopi ini katanya nationaal, gulanya gula jawa, susu tidak dipakai karena tidak nationaal. Rokoknya kelobot, selamatan natioanaal ini terus berlangsung ed sampai pagi hari\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Semangat nasionalisme harus tertanam, mengedepankan produk lokal adalah salah satu semangat nasionalime. Salah satu keberadaan rokok klobot menjadi ciri produk asli indonesia dan harus dilestarikan. Klobot sendiri adalah ramuan tembakau dan cengkeh di gulung memakai daun jagung, embrio perkembangan menjadi rokok sigaret kretek tangan dan sigaret kretek mesin.  
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pusaran Budaya Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pusaran-budaya-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-04 08:40:41","post_modified_gmt":"2019-02-04 01:40:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5406","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5403,"post_author":"919","post_date":"2019-02-03 09:05:50","post_date_gmt":"2019-02-03 02:05:50","post_content":"\n

Seringkali saya menyaksikan berbagai film baik itu Eropa atau Asia yang menggambarkan tentang masa depan. Pemandangan soal masa depan tersebut dihadirkan dengan gambaran kecanggihan teknologi seperti robot yang akan membantu kehidupan manusia, gedung-gedung yang tingginya sudah amat tak bisa ditandingi,  hingga mobil-mobil yang bisa terbang. <\/p>\n\n\n\n

Pernah dalam masa kecil saya menyaksikan sebuah film animasi buatan jepang yang mempertanyakan tentang makanan di masa depan. Dengan santai salah satu tokoh yang berasal dari masa depan itu menjawab bahwa suatu saat nanti manusia akan mengonsumsi makanan berupa pasta gigi namun dengan rasa yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa, aneh!<\/p>\n\n\n\n

Seiring waktu berjalan saya kian tumbuh dewasa dan punya kesadaran untuk memilih menjadi seorang perokok<\/a>. Saya juga melihat ada sebuah inovasi dan gambaran tentang masa depan yang hadir dalam kehidupan sekarang. Banyak memang, namun yang menyita perhatian saya adalah rokok elektrik atau yang populer disebut Vape. Konon katanya ia adalah produk inovasi untuk menjembatani kebutuhan menghisap asap dan kecanggihan masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Di awal kehadirannya Vape memang mengundang decak kekaguman saya. Bagaimana bisa sebuah mesin kecil mengeluarkan asap yang katanya lebih menyehatkan daripada rokok.<\/strong> Meski pada akhirnya teori tersebut juga bisa dibantah oleh beberapa ilmuan dunia. Tapi ada satu yang saya amati selain soal kesehatan, rokok elektrik rupanya menghadirkan kultur dan budaya baru dalam kehidupan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: LAGI-LAGI IKLAN ROKOK, KAPAN KPAI TIDAK TEBANG PILIH? <\/a><\/h4>\n\n\n\n

Kehadiran teknologi memang kerap sedikit atau benyak mengubah gaya atau kultur suatu masyarakat. Begitu pula yang saya perhatikan dengan rokok elektrik. Satu hal yang mudah diamati adalah menjamurnya toko-toko kecil yang menjual vape serta liquid di berbagai tempat. Sebagai sebuah warna baru dalam masyarakat, penggunanya ramai-ramai mengunjungi tempat tersebut berinteraksi dengan penikmat lainnya dan membangun sebuah rumah komunitas yang fleksibel.<\/p>\n\n\n\n

Meski belum bisa dikatakan memiliki jumlah penikmat yang setara dengan para perokok, pengguna Vape mulai menunjukkan eksistensinya. Selain toko yang tersebar, ragam acara juga mereka buat di beberapa daerah. Dalam lingkungan saya, beberapa teman yang dulunya merupakan perokok aktif tertarik mengikuti event tersebut dan beralih mengisap rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Nun jauh di sana, di Amerika Serikat tepatnya, budaya Vape juga sudah mulai berkembang lama ketimbang di Tanah Air. Penikmatnya terbagi menjadi dua, ada yang dulunya bekas perokok dan ada yang memang menikmatinya sebagai gaya hidup. Wajar saja mengingat facebook tak memperbolehkan iklan tembakau di platform mereka, sebaliknya iklan tentang vape justru bertebaran. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi budaya baru yang berkembang di berbagai belahan dunia bahkan di Indonesia, Vape konon menjadi alternatif yang lebih bermanfaat daripada rokok. Dalih yang diusung selalu sama kepada para perokok tradisonal yaitu soal kesehatan dan lebih irit. Soal kesehatan tentu ada beberapa pendapat para ilmuan yang membantahnya, namun soal irit, saya rasa tidak. Memang satu liquid bisa digunakan untuk beberapa Minggu, akan tetapi yang saya lihat di lapangan justru sebaliknya. <\/p>\n\n\n\n

Beberapa penikmat rokok elektrik kerap berbelanja liquid yang mereka idamkan. Terkadang, hal tersebut yang membuat mereka boros karena terus mengeksplor rasa mana yang mereka idam-idamkan. Tak jarang juga liquid dengan harga mahal hingga ratus ribuan akan mereka beli. Sebaliknya, para perokok konvensional justru kerap bertahan dengan satu rasa atau merek saja.<\/p>\n\n\n\n

Sedikit berbeda dengan penikmat rokok konvensional atau kretek. Mengingat rokok kretek sudah menjadi kebudayan lokal yang terus dipertahankan selama bertahun-tahun, kehadirannya sudah mewarnai khasanah keindonesiaan. Perokok kretek juga sudah punya soliditas luar biasa yang terbentuk sejak lama dan terus terbangun mengiringi peradaban di Indonesia atau dunia.<\/p>\n\n\n\n

Kini, perokok elektrik mulai merasakan kegelisahan. Beberapa negara mulai menerapkan peraturan ketat terhadap Vape, sedangkan di Indonesia biaya cukai pun kini mulai diberlakukan terhadap perdagangan rokok elektrik. Keberadaannya di mata negara pun mulai dianggap sama seperti rokok, meski pada awalnya rokok elektrik hadir dengan slogan-slogan produk alternatif yang lebih menyehatkan (katanya).<\/p>\n\n\n\n


Tapi jika kemudian di masa depan memang rokok elektrik yang kemudian menjadi sesuatu yang populer dan dinikmati banyak orang. Rasanya saya tetap ingin hidup di jaman ini, dengan sebatang kretek di tangan dan menikmati segala khasanah kebudayaan yang patut terus dipertahankan. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"masa-depan-rokok-elektrik-dan-semangat-alternatif-yang-sia-sia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-03 09:05:56","post_modified_gmt":"2019-02-03 02:05:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5403","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5385,"post_author":"883","post_date":"2019-02-02 08:01:01","post_date_gmt":"2019-02-02 01:01:01","post_content":"Pada tahun 2014, perusahaan rokok multinasional Philip Morris Internasional Inc. merilis sebuah produk <\/span>perangkat\u00a0<\/span>
rokok<\/span><\/a>\u00a0tanpa asap, yang dipanaskan bukan dibakar atau istilahnya\u00a0<\/span>heat not burn<\/i><\/strong>\u00a0(HNB) iQOS<\/strong>. <\/span>\r\n\r\nPerangkat rokok tanpa asap dengan nama iQOS<\/a> ini berbentuk seperti bagian luar pulpen, dengan lubang di tengah untuk rokok. Produk yang berada di bawah brand Marlboro ini dapat memanaskan rokok sampai 350 derajat celcius lalu mengeluarkan uap nikotin beraroma tembakau<\/em><\/a>.<\/span>\r\n

Produk iQOS sebenarnya bukanlah produk rokok tanpa asap yang pertama muncul. Sebelumnya di tahun 1990-an, Reynolds Tobacco Co pernah merilis produk serupa bernama Eclipes yang juga dapat menguapkan nikotin setelah dinyalakan dengan korek api.<\/span><\/blockquote>\r\nSelain itu, Eclips juga dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. Namun, pada saat itu Eclips tidak diminati oleh pasar, utamanya para perokok konvensional. Meskipun Eclips dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. <\/span>\r\n\r\nBisnis semacam rokok tanpa asap seperti Eclips dan iQOS memang sudah menjadi bagian dari rencana panjang bisnis perusahaan-perusahaan rokok multinasional. Jadi tidak usah heran jika ke depannya akan kita akan banyak menemukan produk rokok tanpa asap ini.<\/span>\r\n\r\nWatak dari perusahaan multinasional memang seperti itu, mereka sangat jeli melihat peluang pasar ke depannya. Ketika market place perusahaan rokok multinasional saat ini terus dirongrong oleh kelompok antirokok, mereka tak kehabisan akal. Maka kemudian mereka menginovasi produk rokok konvensional menjadi rokok yang tidak berasap. Begitupun dengan mengikutsertakan jargon-jargon kesehatan dalam narasi promosi mereka.<\/span>\r\n\r\nSesungguhnya memang seperti itulah watak bisnis perusahaan-perusahaan multinasional, melakukan segala cara agar bisnis mereka tetap bertahan, meskipun harus merangkul musuh sekalipun. <\/span>\r\n\r\nYa kadang pura-pura berantem sama antirokok, tapi dibalik itu sebenarnya baik-baik saja, dan tentunya ada kompromi untuk terus melanggengkan bisnis mereka.<\/span>\r\n

Lalu siapa yang dirugikan dari permainan bisnis macam produk rokok tanpa asap perusahaan rokok multinasional ini?<\/span><\/h3>\r\nTentunya yang sangat dirugikan adalah produk hasil tembakau yang memiliki kekhasan seperti kretek di Indonesia. Kretek sebagai produk khas asli Indonesia yang menjadi bagian dari warisan kebudayaan tidak mungkin bertransformasi menjadi produk-produk elektrik dan sejenisnya.<\/span>\r\n\r\nKretek tetaplah kretek, dengan bahan baku alami tembakau dan cengkeh yang tidak diintervensi dengan zat atau perangkat penghantar lainnya. Karena dengan bentuk, karakter dan cara menikmatinya memang konvensional dan akan terus begitu apapun kondisi dan zamannya.<\/span>\r\n
Bisnis produk rokok tanpa asap (elektrik) juga menghajar kretek dengan mendompleng isu pengendalian tembakau. Kampanye pengendalian tembakau selalu membawa slogan bahaya merokok dan upaya untuk berhenti merokok. <\/span><\/blockquote>\r\nDari isu tersebut, rokok elektrik masuk dengan citra produk alternatif tembakau, bahkan mereka tak segan menilai bahwa rokok elektrik lebih aman ketimbang rokok konvensional, yakni kretek.<\/span>\r\n\r\nLalu jika Indonesia akan dibanjiri dengan produk-produk yang mengatasnamakan produk alternatif tembakau, macam rokok tanpa asap (iQOS dan sejenisnya), maka itulah pertanda bahwa kretek harus tergerus dari cara hidup manusia Indonesia dalam menikmati produk hasil tembakau khas Indonesia yang sudah turun-temurun lamanya dinikmati manusia Indonesia.<\/span>","post_title":"Nasib Kretek di Pusaran Pertarungan Bisnis Global Perusahaan Rokok Multinasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"nasib-kretek-di-pusaran-pertarungan-bisnis-global-perusahaan-rokok-multinasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-02 08:01:43","post_modified_gmt":"2019-02-02 01:01:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5385","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; \n

Baca: Budidaya Pohon Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Meskipun peran utama rempah-rempah Maluku itu kemudian tergusur pada abad-18 dan 19 oleh beberapa barang eksotika tropis lainnya --hasil perkebunan-perkebunana besar baru di Pulau Sumatera dan Jawa: tebu, tembakau, lada, kopi, teh, nila, kelapa sawit, dan kayu jati-- namun sejarah sudah mencatat bahwa dua jenis rempah-rempah Maluku itulah yang mengawali penjelajahan sekaligus penjajahan kepulauan Nusantara oleh bangsa-bangsa Eropah, terutama Belanda (Topatimasang, ed., 2004:32). Jika saja tak pernah ada cengkeh dan pala di Maluku, mungkin sejarah kepulauan Nusantara ini akan berbeda sama sekali.
<\/p>\n\n\n\n

Masa suram cengkeh dan pala terus berlangsung sampai pertengahan abad-20. Rempah eksotika yang pernah membuat tergila-gila<\/p>\n\n\n\n

para saudagar Arab, pedagang Cina, serta kaum ningrat Eropa itu, tergantikan perannya oleh penemuan teknologi mesin pendingin berkat Revolusi Industri yang dimulai di Inggris pada pertengahan abad-18. Pasaran cengkeh di Eropa pun merosot tajam.
<\/p>\n\n\n\n

Nasibnya terselamatkan berkat penemuan oleh seorang Haji Djamhari di Kudus, Jawa Tengah. Pada akhir tahun 1880-an, Haji Djamhari menemukan kegunaan baru cengkeh sebagai ramuan utama rokok. Lahirlah satu produk baru yang unik, khas dan asli Indonesia: kretek! (Hanusz, 2000:ii).
<\/p>\n\n\n\n

Setelah seperempat abad hanya berkembang dalam skala kecil usaha rumah tangga, produksi kretek akhirnya menjelma menjadi industri besar sejak awal abad-20 yang dirintis oleh Haji Nitisemito (pendiri pabrik \u2018Jambu Bol\u2019) di Kudus dan Liem Seng Tee (pendiri pabrik \u2018Dji Sam Soe\u2019 dan \u2018Sampoerna\u2019) di Surabaya.
<\/p>\n\n\n\n

Puncaknya adalah pada pertengahan tahun 1950-an, ketika produksi kretek mulai berkembang pesat menjadi industri raksasa modern dengan munculnya beberapa pabrik baru, antara lain, yang terkemuka, oleh Oei Wei Gwan (pendiri pabrik \u2018Djarum\u2019) di Kudus dan Tjou Ing Hwie (pendiri pabrik \u2018Gudang Garam\u2019) di Kediri (Topatimasang, et.al., eds., 2010:131).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Teruslah Menanam Tembakau dan Cengkeh, Wahai Petani Indonesia<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Cengkeh, bahan baku paling esensial dari kretek --selain tembakau, tentu saja-- pun kembali berjaya. Bahkan, sejak dasawarsa 1970an, telah menjadi salah satu penyumbang terbesar keuangan negara Republik Indonesia. Pada tahun 2012 dan 2013, pemasukan cukai dari industri kretek mencatat 95,5% dari seluruh pemasukan cukai ke kas negara. Nilainya tak tanggung-tanggung: Rp 87 triliun! (el-Guyanie, et.al.: 2013:4-5).<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Nilai ekonomisnya yang sangat besar sempat menggoda penguasa otoriter rezim Presiden Soeharto, pada 1990-an, memberlakukan satu kebijakan \u2018Hongi Gaya Baru\u2019: monopoli perdagangan cengkeh dalam negeri melalui Badan Penyanggah dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) yang sangat merugikan petani. Harga cengkeh di tingkat petani penghasil anjlok sampai hanya Rp 2.000 - 3.000 per kilogram, lebih murah dari harga sebungkus kretek yang dihasilkan darinya.
<\/p>\n\n\n\n

Akibatnya, ratusan ribu pohon cengkeh di daerah-daerah penghasil utama --Maluku, Maluku Utara, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Selatan-- ditebangi atau dibiarkan terlantar tak terurus.
<\/p>\n\n\n\n

Gelombang reformasi sistem politik dan hukum nasional yang dimulai pada tahun 1998, akhirnya menjungkalkan rezim Soeharto dan BPPC dibubarkan, Pelan tapi pasti, harga cengkeh kembali merangkak naik, sehingga pada tahun 2012, bahkan melewati angka Rp 200.000 per kilogram. Para petani cengkeh di seluruh negeri kembali tersenyum. Tetapi, sampai kapan? <\/p>\n\n\n\n

Catatan:<\/strong><\/p>\n\n\n\n

[1] Beberapa sumber menyebutkan bahwa kata \u2018cengkeh\u2019 dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Mandarin, tkeng-his atau xi\u2019jia, yang berarti \u2018rempah [berbentuk mirip] paku\u2019 (scented nails). Ini menunjukkan bahwa cengkeh sudah dikenal sejak lama oleh bangsa Cina --diketahui sejak abad-2-- jauh sebelum orang Eropa mengenalnya ((lihat, misalnya: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n\n\n\n

[2] Catatan-catatan para biarawan Fransiskan --yang disalin dan dikutip oleh van Frassen-- bahkan menyebut cengkeh sebagai salah satu bahan utama pengawet mumi para Fir\u2019aun, penguasa Mesir Kuno. Beberapa pakar sejarah dan arkeologi menyatakan bahwa rempah-rempah Maluku bahkan sudah ditemukan artefaknya di Lembah Mesopotomia (wilayah Iraq dan sekitarnya sekarang) pada 3.000 tahun sebelum Masehi. (lihat, antara lain: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n\n\n\n

[3] Uraian lebih rinci sejarah kolonialisme rempah-rempah Nusantara ini, terutama oleh Belanda dan Portugis, dapat dibaca pada beberapa sumber kepustakaan yang sudah dikenal luas, antara lain: Glamann (1958) dan Boxer (1965 dan 1969). Dalam risalah klasik Pires disebutkan bahwa pada tahun 1512-1521 saja, jumlah produksi cengkeh di Maluku sudah mencapai 7.250 bahar per tahun, terbesar adalah di Makian serta Amboina dan Lease (masing-masing 1.500 bahar)(Pires, 1512-1515).<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem Topatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-10 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-02-10 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5425","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5415,"post_author":"878","post_date":"2019-02-07 12:15:55","post_date_gmt":"2019-02-07 05:15:55","post_content":"\n

Belakangan ini, ketika musim hujan tiba, di Kabupaten Temanggung, Kabupaten Jember, dan beberapa wilayah sentra pertanian tembakau lainnya, hampir mustahil menemukan tanaman tembakau tumbuh di lahan-lahan milik petani. Di wilayah-wilayah tersebut, citra sebagai sentra pertanian tembakau seakan menguap. Lahan-lahan yang ada di sana, sama sekali tidak ditumbuhi tanaman tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Kabar ini bisa jadi dianggap sebagai kabar gembira bagi mereka yang menganggap diri dan kelompoknya anti-rokok dan anti-tembakau yang selalu mengampanyekan sikap-sikap mereka terkait kebencian kepada tembakau dan aktivitas merokok. Setelah sekian lama berjuang, akhirnya perjuangan mereka dirasa berhasil usai menyaksikan fenomena lahan-lahan di wilayah yang dianggap sentra pertanian tembakau pada hari-hari belakangan ini.<\/p>\n\n\n\n

Baca juga: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tak sia-sia turun ke jalan, tak sia-sia melakukan lobi-lobi ke penguasa, tak sia-sia mengucurkan uang yang tidak sedikit, dan tak sia-sia mempermalukan diri dengan mengemis ke lembaga donor asing dan menggondol uang dari cukai tembakau untuk mengampanyekan gerakan anti-rokok dan anti-tembakau. Tak sia-sia. Karena perjuangan sepertinya berhasil.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Kampanye-kampanye gerakan mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya, sepertinya juga sangat berhasil. Bagaimana tidak? Wilayah-wilayah yang sebelumnya penuh dengan tanaman tembakau dan bergeliat dengannya, kini lahan-lahannya sudah berganti dengan tanaman lain. Sebuah keberhasilan yang menggembirakan. Begitu mungkin pikir mereka para yang menganggap dirinya pejuang anti-rokok dan anti-tembakau. Dan tentu saja mereka akan kecele dan kita akan menertawakan hal itu.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, mereka yang menganggap dirinya anti-rokok dan anti-tembakau tidak menyaksikan langsung fenomena ini di lapangan, di lahan-lahan yang peruntukannya berubah pada hari-hari belakangan ini ketika memasuki musim hujan. Mereka asyik duduk pada kursi empuk di ruang-ruang nyaman ber-AC di kota-kota yang jauh dari kultur pertanian. Mereka menyengajakan diri menjadi elit dan enggan untuk turun melihat langsung ke lapangan. Kalaupun ada yang turun langsung ke lapangan, hanya segelintir saja dari mereka, itupun sekadar formalitas saja. Tak pernah benar-benar mau turun ke lapangan, hidup dan merasakan langsung kultur pertanian tembakau dalam jangka waktu cukup lama di lapangan.<\/p>\n\n\n\n

Baca juga: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Fenomena ini membikin kita tak bisa melihat mereka para anti-rokok kecele lalu menertawakan mereka.<\/strong> Fenomena keengganan terjun langsung ke lapangan terlebih mencoba mendengar mereka yang tetap menanam tembakau, juga menjalani keseharian dalam waktu cukup lama bersama petani tembakau inilah yang saya kira menjadikan mereka tetap keras kepala untuk anti-rokok dan anti-tembakau. Karena jika mereka mau melakukan itu, saya yakin mereka semua tidak akan begitu kaku dalam memandang pertanian tembakau dan produk hasil industri tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu yang selalu mereka kampanyekan dan ngotot dengan itu, terkait hulu pertanian tembakau adalah mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya. Mereka berargumen banyak tanaman lain yang bisa semenguntungkan tanaman tembakau. Keengganan mereka terjun langsung ke lapangan inilah yang membikin mereka buta dengan kondisi pertanian tembakau dan pada akhirnya terus menerus mengampanyekan pergantian tanaman tembakau dengan tanaman lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca juga: Imanlah kepada Allah, Bukan Antirokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tembakau tanaman yang khas. Ia hanya tumbuh baik sepanjang empat hingga lima bulan dalam satu tahun. Tumbuh-kembang tanaman tembakau dengan baik itu umumnya terjadi pada musim kemarau setiap tahunnya. Hanya sedikit sekali jenis tembakau yang tumbuh baik di musim penghujan, mayoritasnya, tumbuh baik pada musim kemarau.<\/p>\n\n\n\n

Jika ditanam pada musim hujan, hampir bisa dipastikan tanaman tembakau akan gagal menghasilkan daun-daun yang berkualitas. Ia akan rusak dan membusuk karena terlalu banyak terkena air sehingga daun-daun itu tak layak dijual. Jangankan bisa dijual, untuk tumbuh dengan baik pun sepertinya sulit karena musim hujan akan membunuh banyak tanaman itu.<\/p>\n\n\n\n

Maka, tak heran pada musim-musim seperti saat ini, ketika musim penghujan mendekati puncaknya, di wilayah-wilayah yang dikenal sebagai sentra pertanian tembakau, sulit menemukan pohon tembakau yang sedang tumbuh. Pada lahan-lahan yang sebelumnya ditumbuhi tanaman tembakau pada musim panas, berganti tanaman-tanaman lain yang bermacam-macam, sesuai dengan kondisi lahannya. Untuk lahan sawah, lahan-lahan itu pada musim penghujan kini ditumbuhi tanaman padi yang subur. Pada lahan tegalan dan lahan di pegunungan, lahan-lahan yang ditanami tembakau pada musim kemarau, saat ini ditumbuhi bermacam jenis tanaman mulai dari cabai, bawang, tomat, kol, terong, mentimun, dan ragam jenis tanaman semusim lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Uniknya, tipikal tanaman tembakau yang tumbuh baik di musim kemarau ini memberi pilihan lebih kepada para petani. Lahan-lahan yang sulit ditanami pada musim kemarau, pada akhirnya masih bisa tetap produktif dengan keberadaan tanaman tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Maka, kampanye aneh mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain dengan ragam rupa dalih yang membingungkan, bukan saja sama sekali tidak tepat dan asal-asalan, namun bisa jadi akan ditertawakan oleh para petani yang begitu paham dengan kondisi lahan dan terutama kondisi iklim dan cuaca. Sulit mencari tanaman semusim yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Jika pun ada, tak ada yang semenguntungkan tanaman tembakau.
<\/p>\n","post_title":"Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"keberhasilan-gerakan-anti-tembakau-tak-ada-tembakau-saat-musim-hujan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-07 12:16:02","post_modified_gmt":"2019-02-07 05:16:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5415","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5409,"post_author":"919","post_date":"2019-02-05 08:04:43","post_date_gmt":"2019-02-05 01:04:43","post_content":"\n

Tahun Baru Imlek yang merupakan tradisi Bangsa Tiongkok kini sudah tak lagi menjadi hal yang asing bagi masyarakat Indonesia. Kehadirannya sudah mewarnai dan berakulturasi dengan tradisi lokal. Menjelang Tahun Baru Imlek. Berbagai hiasan dan kemeriahan terjadi beberapa titik di Tanah Air. Perayaannya juga menjadi destinasi baru yang mengasyikkan untuk dilihat dan patut disaksikan.<\/p>\n\n\n\n

Berterimakasihlah kepada sang bapak bangsa, KH Abdurrahman Wahid atau yang dikenal dengan nama Gus Dur. Berkat kebijakannya saat menjadi Presiden Indonesia, Tahun Baru Imlek resmi dijadikan hari libur nasional dan dianggap sebagai salah satu hari raya di Tanah Air. Meski sentimen antitionghoa masih ada di sana-sini, tapi tetap tak bisa dipungkiri bahwa bangsa tionghoa sudah bersentuhan dengan budaya lokal dalam kurun waktu yang sangat panjang.<\/p>\n\n\n\n

DNA Bangsa Tionghoa yang memang merupakan pedagang menjadi pembuka kisah interaksi antara nenek moyang berbagai suku di Nusantara dengan mereka. Beberapa kelenteng-kelenteng yang tersebar pada berbagai pesisir daerah di Nusantara jadi buktinya. Pelabuhan-pelabuhan tua di tanah air dan ramainya perdagangan di pesisir mempermudah bangsa kita berhubungan dengan Bangsa Tionghoa.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Wong Kalang dan Kota Gede<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa kehadiran Bangsa Tionghoa di Nusantara tak hanya sebagai pedagang, namun juga sebagai pekerja (bahkan hingga pekerja kasar). Benny Setiono, seorang sejarahwan menyebutkan bahwa antara tahun 1760-1770 dalam jumlah yang besar memasuki nusantara melalui Kalimantan Barat. Mereka bekerja sebagai kuli pertambangan di sana dan di kemudian hari membentuk sebuah republik bernama Republik Lanfang yang konon katanya menjadi republik pertama di Asia Tenggara.<\/p>\n\n\n\n

Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Imlek dan Indonesia<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n\n\n\n

Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
<\/p>\n","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5406,"post_author":"877","post_date":"2019-02-04 08:23:48","post_date_gmt":"2019-02-04 01:23:48","post_content":"\n

Merokok itu sudah menjadi bagian dari budaya dan tradisi masyarakat, jauh sebelum Indonesia merdeka. Banyak cerita atau kisah tentang kretek <\/a><\/del>di tengah-tengah masyarakat bangsa ini, mulai sebagai alat untuk meraup keuntungan, alat komunikasi, sebagai teman sampai menjadi simbol pergerakan. <\/p>\n\n\n\n

Kretek, Simbol Perlawanan Roro Mendut<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Siapa yang tidak pernah mendengan cerita tentang Roro Mendut?, di telinga masyarakat Indonesia, kisah Roro Mendut tidak asing lagi.  Perempuan yang mempunyai paras wajah cantik, dan digandrungi kaum adam terutama kalangan putra kerajaan. Informasi kecantikan Roro Mendut tersebar seantero Nusantara, tidak satupun pria meragukan kecantikannya.  Bahkan kisah dan cerita kecantikan Roro Mendut tercatat dalam buku Babad Tanah Jawi. <\/p>\n\n\n\n

Diperkirakan pada tahun 1627, pada saat panglima perang Sultan Agung Mataram bernama Tumenggung Wiraguna berhasil menumpas pemberontakan di kota Pati, sebagai imbalanan atas keberhasilannya, mendapat hadiah wanita pujaan pria bernama Rara Mendut dari Kasultanan Agung Mataram.  Roro Mendut menolak dipinang Tumenggung Wiraguna, dan secara terang-terangan memilih pria lain dambaannya. Akibatnya, Roro Mendut harus membayar pajak setiap harinya kepada kerajaan Mataram. <\/p>\n\n\n\n

Bisa dibayangkan, betapa bingungnya Roro Mendut saat itu. Uang dari mana, ia hasilkan untuk bayar pajak tiap hari demi bisa bersama kekasihnya. Ternyata Roro Mendut tidak hanya cantik tetapi cerdas dan kreatif, bisa membaca peluang bisnis saat itu. Ide cermerlang muncul dengan berdagang\/berjualan rokok lintingan yang direkatkan dengan air ludahnya, dan sebelum menjualnya, rokok lintingan di sulut dahulu dan dihisap bekas bibir merahnya. Kemudian baru dijual ke pembeli yang berdesakan berjejer antri. <\/p>\n\n\n\n

Entah dari mana ide menjual rokok itu muncul. Yang jelas saking larisnya, kewajiban pajak Roro Mendut terpenuhi. Dan mungkin keadaannya akan lebih parah, jika saat itu Roro Mendut tidak berdagang rokok. Tidak akan terpenuhi kewajiban pajaknya. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Dengan rokok, hidup Roro Mendut terselamatkan. Adanya rokok, \u00a0Roro Mendut bebas dari belenggu kekuasaan. Berkat rokok, Roro Mendut terkengan, mengisi rubik informasi sejarah begitu kuatnya budaya merokok di \u00a0Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Pusaka Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek, Teman Perjuangan  Diponegoro<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Semasa berjuang melawan penjajah, yang harus dilakukan Diponegoro berpindah-pindah dari kota satu ke kota lain. Strategi perlawanan Diponegoro, kemudian sebagai basis strategi perang gerilya. Strategi yang menjadi idola dan kebanggaan tentara Indonesia. Dengan bergerilya, tentara Indonesia mampu mengecoh kekutan lawan yang lebih besar jumlahnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu, tenyata banyak cerita, Diponegoro saat berperang ditemani rokok. Ia dan pasukannya gemar merokok. Bahkan ketika tidak ada rokok, Pangeran Diponegoro rela hanya megunyah daun sirih yang diracik dengan kapur dan pinang. <\/p>\n\n\n\n

Kebiasaan ini, juga dialami oleh pengikut \/pasukan perang Pangeran Diponegoro. Bagi mereka, rokok teman sejati, menemani disetiap perjalanan mereka. Rokok menghilangkan depresi mereka, sebagai hiburan saat jauh dari keluarga demi berjuang melawan penjajah. Rokok menumbuhkan percaya diri mereka, lebih berani melawan penjajah walaupun hanya dengan serba keterbatasan, pasukan jumlah terbatas, alat perang terbatas dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Baca juga: Pangeran Diponegoro, Rokok Klobot dan Perlawanan Simbolis<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Jati Diri Bangsa<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Salah satu \u201cpendiri bangsa\u201d bernama KH. Agus Salim menghisap kretek dengan asapnya di kebal-kebulkan keudara, disaat ada perjamuan di Istana Buckingham ketika penobatan Elizabeth II sebagai Ratu kerajaan Inggris. Aroma khas keluar dari asap rokok kretek, tercium orang yang berada di ruang perjamuan. Sehingga memancing salah satu orang yang datang dalam perjamuan, dengan berkata; \u201ctuan sedang menghisap apa itu?\u201d.  Sentak KH. Agus Salim menjawab, \u201c inilah yang membuat nenek moyang anda sekian abad lalu datang dan kemudian menjajah negeri kami\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Jawaban KH. Agus Salim, faktanya memang benar. Rokok kretek tidak lain ada tambahan cengkeh (suzygium aromaticum<\/em>). \u00a0Tanaman legendaris menjadi rebutan dan sumber keuntungan kolonialisme Eropa atas Asia termasuk Indonesia. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Cengkeh adalah salah satu tanaman yang diperebutkan bangsa-bangsa dunia, sampai melegalkan penjajahan.  Dalam simpulan perjalanan ekspedisi cengkeh tahun 2013, Kepala Suku begitu julukan bagi Putut Ea, mengatakan \u201c jika saja tak pernah ada cengkeh dan pala di Maluku, mungkin sejarah kepulauan Nusantara ini akan berbeda sama sekali\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Simpulan Putut EA, sebagai salah satu pembenar perkataan \u00a0KH. Agus Salim. Mungkin, jika tanaman cengkeh tidak ada, fakta sejarah akan berbeda, tidak ada penjajahan di bumi Nusantara ini. <\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Mengisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek untuk Berteman dan Menjalin Persaudaraan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Teringat apa yang pernah dilakukan Menteri Sosial dan Lingkungan Hidup, saat melakukan pendekatan pada suku anak dalam di Jambi. Tidak lain ia adalah Khofifah menteri perempuan yang energik. Saat itu Khofifah bertanggungjawab dalam mengatasi masalah pendidikan dan kesejahteraan masyarakat suku anak dalam di Jambi.  <\/p>\n\n\n\n

Kebijakannya membuat fenomenal, selain bahan makanan, dan bantuan lain, khofifah juga membawa rokok.  Yang kemudian ada yang mengggugat dari anti rokok, tetapi sebagai Menteri, Khofifah tentunya sudah mengkaji secara mendalam. Dengan kecerdasannya , Khofifah menjawab dengan tegas dan lugas, \u201cjangan sok tahu kehidupan mereka, kenali apa yang menjadi ritme kehidupan mereka. Sangat bijaksana kalau kita semua pergi kesana, sehingga tahu adat istiadatnya juga. Tolong kalau ingin mengerti tentang kultur jangan hanya dari kacamata Jakarta. Saya pun ingin mengajak anda kesana, turun kesana, sapalah mereka\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Khofifah memberikan pelajaran bagi anti rokok. Tidak boleh sok tahu, apalagi selama ini antirokok hanya berasumsi, tanpa melihat fakta dilapangan. Khofifah juga menganjurkan agar lebih mengenal adat-istiadat, budaya dan tradisi masyarakat, tidak boleh melakukan hegemoni kultural, sebab keberagaman adat-istiadat dan budaya merupakan kekayaan negeri. <\/p>\n\n\n\n

Pelajaran Khofifah sangat mendalam dan bercirikhas Nusantara. Sebgaai Menteri \u00a0Sosial tentunya lebih berpengalaman apa yang dibutuhkan bangsa ini agar tetap jaya, bersatu dan utuh. Kenali perbedaan, hormati perbedaan, junjung tinggi budaya yang berbeda. \u00a0Apa yang telah dilakukan Khofifah dengan membawa rokok ke suku anak dalam adalah cermin penghormatan tradisi dan budaya masyarakat. Sebagai seorang Mentri, tentunya punya kuasa, artinya bisa seorang khofifah memberikan bantuan sesuai keinginannya sendiri, namun hal itu tidak dilakukan. Ia lebih mengedepankan penghormatan budaya masyarakat setempat, dengan membawa rokok untuk pendekatan dan pertemanan. Karena Khofifah tahu betul, bahwa merokok adalah budaya mereka, yang diwaris dari neneng moyang mereka. <\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Memilih Jalan Hidup Menikmati Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Simbol Pergerakan Nasional     <\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Abdul Rifa\u2019I dalam media bintang timur terbit pada 03 Oktober 1927, mengatakan, \u201ckopinya bukan kopi saringan, tetapi kopi tubruk sebab kopi ini katanya nationaal, gulanya gula jawa, susu tidak dipakai karena tidak nationaal. Rokoknya kelobot, selamatan natioanaal ini terus berlangsung ed sampai pagi hari\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Semangat nasionalisme harus tertanam, mengedepankan produk lokal adalah salah satu semangat nasionalime. Salah satu keberadaan rokok klobot menjadi ciri produk asli indonesia dan harus dilestarikan. Klobot sendiri adalah ramuan tembakau dan cengkeh di gulung memakai daun jagung, embrio perkembangan menjadi rokok sigaret kretek tangan dan sigaret kretek mesin.  
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pusaran Budaya Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pusaran-budaya-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-04 08:40:41","post_modified_gmt":"2019-02-04 01:40:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5406","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5403,"post_author":"919","post_date":"2019-02-03 09:05:50","post_date_gmt":"2019-02-03 02:05:50","post_content":"\n

Seringkali saya menyaksikan berbagai film baik itu Eropa atau Asia yang menggambarkan tentang masa depan. Pemandangan soal masa depan tersebut dihadirkan dengan gambaran kecanggihan teknologi seperti robot yang akan membantu kehidupan manusia, gedung-gedung yang tingginya sudah amat tak bisa ditandingi,  hingga mobil-mobil yang bisa terbang. <\/p>\n\n\n\n

Pernah dalam masa kecil saya menyaksikan sebuah film animasi buatan jepang yang mempertanyakan tentang makanan di masa depan. Dengan santai salah satu tokoh yang berasal dari masa depan itu menjawab bahwa suatu saat nanti manusia akan mengonsumsi makanan berupa pasta gigi namun dengan rasa yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa, aneh!<\/p>\n\n\n\n

Seiring waktu berjalan saya kian tumbuh dewasa dan punya kesadaran untuk memilih menjadi seorang perokok<\/a>. Saya juga melihat ada sebuah inovasi dan gambaran tentang masa depan yang hadir dalam kehidupan sekarang. Banyak memang, namun yang menyita perhatian saya adalah rokok elektrik atau yang populer disebut Vape. Konon katanya ia adalah produk inovasi untuk menjembatani kebutuhan menghisap asap dan kecanggihan masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Di awal kehadirannya Vape memang mengundang decak kekaguman saya. Bagaimana bisa sebuah mesin kecil mengeluarkan asap yang katanya lebih menyehatkan daripada rokok.<\/strong> Meski pada akhirnya teori tersebut juga bisa dibantah oleh beberapa ilmuan dunia. Tapi ada satu yang saya amati selain soal kesehatan, rokok elektrik rupanya menghadirkan kultur dan budaya baru dalam kehidupan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: LAGI-LAGI IKLAN ROKOK, KAPAN KPAI TIDAK TEBANG PILIH? <\/a><\/h4>\n\n\n\n

Kehadiran teknologi memang kerap sedikit atau benyak mengubah gaya atau kultur suatu masyarakat. Begitu pula yang saya perhatikan dengan rokok elektrik. Satu hal yang mudah diamati adalah menjamurnya toko-toko kecil yang menjual vape serta liquid di berbagai tempat. Sebagai sebuah warna baru dalam masyarakat, penggunanya ramai-ramai mengunjungi tempat tersebut berinteraksi dengan penikmat lainnya dan membangun sebuah rumah komunitas yang fleksibel.<\/p>\n\n\n\n

Meski belum bisa dikatakan memiliki jumlah penikmat yang setara dengan para perokok, pengguna Vape mulai menunjukkan eksistensinya. Selain toko yang tersebar, ragam acara juga mereka buat di beberapa daerah. Dalam lingkungan saya, beberapa teman yang dulunya merupakan perokok aktif tertarik mengikuti event tersebut dan beralih mengisap rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Nun jauh di sana, di Amerika Serikat tepatnya, budaya Vape juga sudah mulai berkembang lama ketimbang di Tanah Air. Penikmatnya terbagi menjadi dua, ada yang dulunya bekas perokok dan ada yang memang menikmatinya sebagai gaya hidup. Wajar saja mengingat facebook tak memperbolehkan iklan tembakau di platform mereka, sebaliknya iklan tentang vape justru bertebaran. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi budaya baru yang berkembang di berbagai belahan dunia bahkan di Indonesia, Vape konon menjadi alternatif yang lebih bermanfaat daripada rokok. Dalih yang diusung selalu sama kepada para perokok tradisonal yaitu soal kesehatan dan lebih irit. Soal kesehatan tentu ada beberapa pendapat para ilmuan yang membantahnya, namun soal irit, saya rasa tidak. Memang satu liquid bisa digunakan untuk beberapa Minggu, akan tetapi yang saya lihat di lapangan justru sebaliknya. <\/p>\n\n\n\n

Beberapa penikmat rokok elektrik kerap berbelanja liquid yang mereka idamkan. Terkadang, hal tersebut yang membuat mereka boros karena terus mengeksplor rasa mana yang mereka idam-idamkan. Tak jarang juga liquid dengan harga mahal hingga ratus ribuan akan mereka beli. Sebaliknya, para perokok konvensional justru kerap bertahan dengan satu rasa atau merek saja.<\/p>\n\n\n\n

Sedikit berbeda dengan penikmat rokok konvensional atau kretek. Mengingat rokok kretek sudah menjadi kebudayan lokal yang terus dipertahankan selama bertahun-tahun, kehadirannya sudah mewarnai khasanah keindonesiaan. Perokok kretek juga sudah punya soliditas luar biasa yang terbentuk sejak lama dan terus terbangun mengiringi peradaban di Indonesia atau dunia.<\/p>\n\n\n\n

Kini, perokok elektrik mulai merasakan kegelisahan. Beberapa negara mulai menerapkan peraturan ketat terhadap Vape, sedangkan di Indonesia biaya cukai pun kini mulai diberlakukan terhadap perdagangan rokok elektrik. Keberadaannya di mata negara pun mulai dianggap sama seperti rokok, meski pada awalnya rokok elektrik hadir dengan slogan-slogan produk alternatif yang lebih menyehatkan (katanya).<\/p>\n\n\n\n


Tapi jika kemudian di masa depan memang rokok elektrik yang kemudian menjadi sesuatu yang populer dan dinikmati banyak orang. Rasanya saya tetap ingin hidup di jaman ini, dengan sebatang kretek di tangan dan menikmati segala khasanah kebudayaan yang patut terus dipertahankan. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"masa-depan-rokok-elektrik-dan-semangat-alternatif-yang-sia-sia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-03 09:05:56","post_modified_gmt":"2019-02-03 02:05:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5403","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5385,"post_author":"883","post_date":"2019-02-02 08:01:01","post_date_gmt":"2019-02-02 01:01:01","post_content":"Pada tahun 2014, perusahaan rokok multinasional Philip Morris Internasional Inc. merilis sebuah produk <\/span>perangkat\u00a0<\/span>
rokok<\/span><\/a>\u00a0tanpa asap, yang dipanaskan bukan dibakar atau istilahnya\u00a0<\/span>heat not burn<\/i><\/strong>\u00a0(HNB) iQOS<\/strong>. <\/span>\r\n\r\nPerangkat rokok tanpa asap dengan nama iQOS<\/a> ini berbentuk seperti bagian luar pulpen, dengan lubang di tengah untuk rokok. Produk yang berada di bawah brand Marlboro ini dapat memanaskan rokok sampai 350 derajat celcius lalu mengeluarkan uap nikotin beraroma tembakau<\/em><\/a>.<\/span>\r\n

Produk iQOS sebenarnya bukanlah produk rokok tanpa asap yang pertama muncul. Sebelumnya di tahun 1990-an, Reynolds Tobacco Co pernah merilis produk serupa bernama Eclipes yang juga dapat menguapkan nikotin setelah dinyalakan dengan korek api.<\/span><\/blockquote>\r\nSelain itu, Eclips juga dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. Namun, pada saat itu Eclips tidak diminati oleh pasar, utamanya para perokok konvensional. Meskipun Eclips dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. <\/span>\r\n\r\nBisnis semacam rokok tanpa asap seperti Eclips dan iQOS memang sudah menjadi bagian dari rencana panjang bisnis perusahaan-perusahaan rokok multinasional. Jadi tidak usah heran jika ke depannya akan kita akan banyak menemukan produk rokok tanpa asap ini.<\/span>\r\n\r\nWatak dari perusahaan multinasional memang seperti itu, mereka sangat jeli melihat peluang pasar ke depannya. Ketika market place perusahaan rokok multinasional saat ini terus dirongrong oleh kelompok antirokok, mereka tak kehabisan akal. Maka kemudian mereka menginovasi produk rokok konvensional menjadi rokok yang tidak berasap. Begitupun dengan mengikutsertakan jargon-jargon kesehatan dalam narasi promosi mereka.<\/span>\r\n\r\nSesungguhnya memang seperti itulah watak bisnis perusahaan-perusahaan multinasional, melakukan segala cara agar bisnis mereka tetap bertahan, meskipun harus merangkul musuh sekalipun. <\/span>\r\n\r\nYa kadang pura-pura berantem sama antirokok, tapi dibalik itu sebenarnya baik-baik saja, dan tentunya ada kompromi untuk terus melanggengkan bisnis mereka.<\/span>\r\n

Lalu siapa yang dirugikan dari permainan bisnis macam produk rokok tanpa asap perusahaan rokok multinasional ini?<\/span><\/h3>\r\nTentunya yang sangat dirugikan adalah produk hasil tembakau yang memiliki kekhasan seperti kretek di Indonesia. Kretek sebagai produk khas asli Indonesia yang menjadi bagian dari warisan kebudayaan tidak mungkin bertransformasi menjadi produk-produk elektrik dan sejenisnya.<\/span>\r\n\r\nKretek tetaplah kretek, dengan bahan baku alami tembakau dan cengkeh yang tidak diintervensi dengan zat atau perangkat penghantar lainnya. Karena dengan bentuk, karakter dan cara menikmatinya memang konvensional dan akan terus begitu apapun kondisi dan zamannya.<\/span>\r\n
Bisnis produk rokok tanpa asap (elektrik) juga menghajar kretek dengan mendompleng isu pengendalian tembakau. Kampanye pengendalian tembakau selalu membawa slogan bahaya merokok dan upaya untuk berhenti merokok. <\/span><\/blockquote>\r\nDari isu tersebut, rokok elektrik masuk dengan citra produk alternatif tembakau, bahkan mereka tak segan menilai bahwa rokok elektrik lebih aman ketimbang rokok konvensional, yakni kretek.<\/span>\r\n\r\nLalu jika Indonesia akan dibanjiri dengan produk-produk yang mengatasnamakan produk alternatif tembakau, macam rokok tanpa asap (iQOS dan sejenisnya), maka itulah pertanda bahwa kretek harus tergerus dari cara hidup manusia Indonesia dalam menikmati produk hasil tembakau khas Indonesia yang sudah turun-temurun lamanya dinikmati manusia Indonesia.<\/span>","post_title":"Nasib Kretek di Pusaran Pertarungan Bisnis Global Perusahaan Rokok Multinasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"nasib-kretek-di-pusaran-pertarungan-bisnis-global-perusahaan-rokok-multinasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-02 08:01:43","post_modified_gmt":"2019-02-02 01:01:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5385","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; \n

Praktis, sejak akhir abad-16, Belanda pun menguasai penuh perdagangan rempah-rempah Maluku dengan jumlah produksi rerata 2.500 sampai 4.500 ton per tahun. [3]<\/p>\n\n\n\n

Baca: Budidaya Pohon Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Meskipun peran utama rempah-rempah Maluku itu kemudian tergusur pada abad-18 dan 19 oleh beberapa barang eksotika tropis lainnya --hasil perkebunan-perkebunana besar baru di Pulau Sumatera dan Jawa: tebu, tembakau, lada, kopi, teh, nila, kelapa sawit, dan kayu jati-- namun sejarah sudah mencatat bahwa dua jenis rempah-rempah Maluku itulah yang mengawali penjelajahan sekaligus penjajahan kepulauan Nusantara oleh bangsa-bangsa Eropah, terutama Belanda (Topatimasang, ed., 2004:32). Jika saja tak pernah ada cengkeh dan pala di Maluku, mungkin sejarah kepulauan Nusantara ini akan berbeda sama sekali.
<\/p>\n\n\n\n

Masa suram cengkeh dan pala terus berlangsung sampai pertengahan abad-20. Rempah eksotika yang pernah membuat tergila-gila<\/p>\n\n\n\n

para saudagar Arab, pedagang Cina, serta kaum ningrat Eropa itu, tergantikan perannya oleh penemuan teknologi mesin pendingin berkat Revolusi Industri yang dimulai di Inggris pada pertengahan abad-18. Pasaran cengkeh di Eropa pun merosot tajam.
<\/p>\n\n\n\n

Nasibnya terselamatkan berkat penemuan oleh seorang Haji Djamhari di Kudus, Jawa Tengah. Pada akhir tahun 1880-an, Haji Djamhari menemukan kegunaan baru cengkeh sebagai ramuan utama rokok. Lahirlah satu produk baru yang unik, khas dan asli Indonesia: kretek! (Hanusz, 2000:ii).
<\/p>\n\n\n\n

Setelah seperempat abad hanya berkembang dalam skala kecil usaha rumah tangga, produksi kretek akhirnya menjelma menjadi industri besar sejak awal abad-20 yang dirintis oleh Haji Nitisemito (pendiri pabrik \u2018Jambu Bol\u2019) di Kudus dan Liem Seng Tee (pendiri pabrik \u2018Dji Sam Soe\u2019 dan \u2018Sampoerna\u2019) di Surabaya.
<\/p>\n\n\n\n

Puncaknya adalah pada pertengahan tahun 1950-an, ketika produksi kretek mulai berkembang pesat menjadi industri raksasa modern dengan munculnya beberapa pabrik baru, antara lain, yang terkemuka, oleh Oei Wei Gwan (pendiri pabrik \u2018Djarum\u2019) di Kudus dan Tjou Ing Hwie (pendiri pabrik \u2018Gudang Garam\u2019) di Kediri (Topatimasang, et.al., eds., 2010:131).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Teruslah Menanam Tembakau dan Cengkeh, Wahai Petani Indonesia<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Cengkeh, bahan baku paling esensial dari kretek --selain tembakau, tentu saja-- pun kembali berjaya. Bahkan, sejak dasawarsa 1970an, telah menjadi salah satu penyumbang terbesar keuangan negara Republik Indonesia. Pada tahun 2012 dan 2013, pemasukan cukai dari industri kretek mencatat 95,5% dari seluruh pemasukan cukai ke kas negara. Nilainya tak tanggung-tanggung: Rp 87 triliun! (el-Guyanie, et.al.: 2013:4-5).<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Nilai ekonomisnya yang sangat besar sempat menggoda penguasa otoriter rezim Presiden Soeharto, pada 1990-an, memberlakukan satu kebijakan \u2018Hongi Gaya Baru\u2019: monopoli perdagangan cengkeh dalam negeri melalui Badan Penyanggah dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) yang sangat merugikan petani. Harga cengkeh di tingkat petani penghasil anjlok sampai hanya Rp 2.000 - 3.000 per kilogram, lebih murah dari harga sebungkus kretek yang dihasilkan darinya.
<\/p>\n\n\n\n

Akibatnya, ratusan ribu pohon cengkeh di daerah-daerah penghasil utama --Maluku, Maluku Utara, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Selatan-- ditebangi atau dibiarkan terlantar tak terurus.
<\/p>\n\n\n\n

Gelombang reformasi sistem politik dan hukum nasional yang dimulai pada tahun 1998, akhirnya menjungkalkan rezim Soeharto dan BPPC dibubarkan, Pelan tapi pasti, harga cengkeh kembali merangkak naik, sehingga pada tahun 2012, bahkan melewati angka Rp 200.000 per kilogram. Para petani cengkeh di seluruh negeri kembali tersenyum. Tetapi, sampai kapan? <\/p>\n\n\n\n

Catatan:<\/strong><\/p>\n\n\n\n

[1] Beberapa sumber menyebutkan bahwa kata \u2018cengkeh\u2019 dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Mandarin, tkeng-his atau xi\u2019jia, yang berarti \u2018rempah [berbentuk mirip] paku\u2019 (scented nails). Ini menunjukkan bahwa cengkeh sudah dikenal sejak lama oleh bangsa Cina --diketahui sejak abad-2-- jauh sebelum orang Eropa mengenalnya ((lihat, misalnya: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n\n\n\n

[2] Catatan-catatan para biarawan Fransiskan --yang disalin dan dikutip oleh van Frassen-- bahkan menyebut cengkeh sebagai salah satu bahan utama pengawet mumi para Fir\u2019aun, penguasa Mesir Kuno. Beberapa pakar sejarah dan arkeologi menyatakan bahwa rempah-rempah Maluku bahkan sudah ditemukan artefaknya di Lembah Mesopotomia (wilayah Iraq dan sekitarnya sekarang) pada 3.000 tahun sebelum Masehi. (lihat, antara lain: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n\n\n\n

[3] Uraian lebih rinci sejarah kolonialisme rempah-rempah Nusantara ini, terutama oleh Belanda dan Portugis, dapat dibaca pada beberapa sumber kepustakaan yang sudah dikenal luas, antara lain: Glamann (1958) dan Boxer (1965 dan 1969). Dalam risalah klasik Pires disebutkan bahwa pada tahun 1512-1521 saja, jumlah produksi cengkeh di Maluku sudah mencapai 7.250 bahar per tahun, terbesar adalah di Makian serta Amboina dan Lease (masing-masing 1.500 bahar)(Pires, 1512-1515).<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem Topatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-10 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-02-10 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5425","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5415,"post_author":"878","post_date":"2019-02-07 12:15:55","post_date_gmt":"2019-02-07 05:15:55","post_content":"\n

Belakangan ini, ketika musim hujan tiba, di Kabupaten Temanggung, Kabupaten Jember, dan beberapa wilayah sentra pertanian tembakau lainnya, hampir mustahil menemukan tanaman tembakau tumbuh di lahan-lahan milik petani. Di wilayah-wilayah tersebut, citra sebagai sentra pertanian tembakau seakan menguap. Lahan-lahan yang ada di sana, sama sekali tidak ditumbuhi tanaman tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Kabar ini bisa jadi dianggap sebagai kabar gembira bagi mereka yang menganggap diri dan kelompoknya anti-rokok dan anti-tembakau yang selalu mengampanyekan sikap-sikap mereka terkait kebencian kepada tembakau dan aktivitas merokok. Setelah sekian lama berjuang, akhirnya perjuangan mereka dirasa berhasil usai menyaksikan fenomena lahan-lahan di wilayah yang dianggap sentra pertanian tembakau pada hari-hari belakangan ini.<\/p>\n\n\n\n

Baca juga: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tak sia-sia turun ke jalan, tak sia-sia melakukan lobi-lobi ke penguasa, tak sia-sia mengucurkan uang yang tidak sedikit, dan tak sia-sia mempermalukan diri dengan mengemis ke lembaga donor asing dan menggondol uang dari cukai tembakau untuk mengampanyekan gerakan anti-rokok dan anti-tembakau. Tak sia-sia. Karena perjuangan sepertinya berhasil.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Kampanye-kampanye gerakan mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya, sepertinya juga sangat berhasil. Bagaimana tidak? Wilayah-wilayah yang sebelumnya penuh dengan tanaman tembakau dan bergeliat dengannya, kini lahan-lahannya sudah berganti dengan tanaman lain. Sebuah keberhasilan yang menggembirakan. Begitu mungkin pikir mereka para yang menganggap dirinya pejuang anti-rokok dan anti-tembakau. Dan tentu saja mereka akan kecele dan kita akan menertawakan hal itu.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, mereka yang menganggap dirinya anti-rokok dan anti-tembakau tidak menyaksikan langsung fenomena ini di lapangan, di lahan-lahan yang peruntukannya berubah pada hari-hari belakangan ini ketika memasuki musim hujan. Mereka asyik duduk pada kursi empuk di ruang-ruang nyaman ber-AC di kota-kota yang jauh dari kultur pertanian. Mereka menyengajakan diri menjadi elit dan enggan untuk turun melihat langsung ke lapangan. Kalaupun ada yang turun langsung ke lapangan, hanya segelintir saja dari mereka, itupun sekadar formalitas saja. Tak pernah benar-benar mau turun ke lapangan, hidup dan merasakan langsung kultur pertanian tembakau dalam jangka waktu cukup lama di lapangan.<\/p>\n\n\n\n

Baca juga: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Fenomena ini membikin kita tak bisa melihat mereka para anti-rokok kecele lalu menertawakan mereka.<\/strong> Fenomena keengganan terjun langsung ke lapangan terlebih mencoba mendengar mereka yang tetap menanam tembakau, juga menjalani keseharian dalam waktu cukup lama bersama petani tembakau inilah yang saya kira menjadikan mereka tetap keras kepala untuk anti-rokok dan anti-tembakau. Karena jika mereka mau melakukan itu, saya yakin mereka semua tidak akan begitu kaku dalam memandang pertanian tembakau dan produk hasil industri tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu yang selalu mereka kampanyekan dan ngotot dengan itu, terkait hulu pertanian tembakau adalah mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya. Mereka berargumen banyak tanaman lain yang bisa semenguntungkan tanaman tembakau. Keengganan mereka terjun langsung ke lapangan inilah yang membikin mereka buta dengan kondisi pertanian tembakau dan pada akhirnya terus menerus mengampanyekan pergantian tanaman tembakau dengan tanaman lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca juga: Imanlah kepada Allah, Bukan Antirokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tembakau tanaman yang khas. Ia hanya tumbuh baik sepanjang empat hingga lima bulan dalam satu tahun. Tumbuh-kembang tanaman tembakau dengan baik itu umumnya terjadi pada musim kemarau setiap tahunnya. Hanya sedikit sekali jenis tembakau yang tumbuh baik di musim penghujan, mayoritasnya, tumbuh baik pada musim kemarau.<\/p>\n\n\n\n

Jika ditanam pada musim hujan, hampir bisa dipastikan tanaman tembakau akan gagal menghasilkan daun-daun yang berkualitas. Ia akan rusak dan membusuk karena terlalu banyak terkena air sehingga daun-daun itu tak layak dijual. Jangankan bisa dijual, untuk tumbuh dengan baik pun sepertinya sulit karena musim hujan akan membunuh banyak tanaman itu.<\/p>\n\n\n\n

Maka, tak heran pada musim-musim seperti saat ini, ketika musim penghujan mendekati puncaknya, di wilayah-wilayah yang dikenal sebagai sentra pertanian tembakau, sulit menemukan pohon tembakau yang sedang tumbuh. Pada lahan-lahan yang sebelumnya ditumbuhi tanaman tembakau pada musim panas, berganti tanaman-tanaman lain yang bermacam-macam, sesuai dengan kondisi lahannya. Untuk lahan sawah, lahan-lahan itu pada musim penghujan kini ditumbuhi tanaman padi yang subur. Pada lahan tegalan dan lahan di pegunungan, lahan-lahan yang ditanami tembakau pada musim kemarau, saat ini ditumbuhi bermacam jenis tanaman mulai dari cabai, bawang, tomat, kol, terong, mentimun, dan ragam jenis tanaman semusim lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Uniknya, tipikal tanaman tembakau yang tumbuh baik di musim kemarau ini memberi pilihan lebih kepada para petani. Lahan-lahan yang sulit ditanami pada musim kemarau, pada akhirnya masih bisa tetap produktif dengan keberadaan tanaman tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Maka, kampanye aneh mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain dengan ragam rupa dalih yang membingungkan, bukan saja sama sekali tidak tepat dan asal-asalan, namun bisa jadi akan ditertawakan oleh para petani yang begitu paham dengan kondisi lahan dan terutama kondisi iklim dan cuaca. Sulit mencari tanaman semusim yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Jika pun ada, tak ada yang semenguntungkan tanaman tembakau.
<\/p>\n","post_title":"Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"keberhasilan-gerakan-anti-tembakau-tak-ada-tembakau-saat-musim-hujan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-07 12:16:02","post_modified_gmt":"2019-02-07 05:16:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5415","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5409,"post_author":"919","post_date":"2019-02-05 08:04:43","post_date_gmt":"2019-02-05 01:04:43","post_content":"\n

Tahun Baru Imlek yang merupakan tradisi Bangsa Tiongkok kini sudah tak lagi menjadi hal yang asing bagi masyarakat Indonesia. Kehadirannya sudah mewarnai dan berakulturasi dengan tradisi lokal. Menjelang Tahun Baru Imlek. Berbagai hiasan dan kemeriahan terjadi beberapa titik di Tanah Air. Perayaannya juga menjadi destinasi baru yang mengasyikkan untuk dilihat dan patut disaksikan.<\/p>\n\n\n\n

Berterimakasihlah kepada sang bapak bangsa, KH Abdurrahman Wahid atau yang dikenal dengan nama Gus Dur. Berkat kebijakannya saat menjadi Presiden Indonesia, Tahun Baru Imlek resmi dijadikan hari libur nasional dan dianggap sebagai salah satu hari raya di Tanah Air. Meski sentimen antitionghoa masih ada di sana-sini, tapi tetap tak bisa dipungkiri bahwa bangsa tionghoa sudah bersentuhan dengan budaya lokal dalam kurun waktu yang sangat panjang.<\/p>\n\n\n\n

DNA Bangsa Tionghoa yang memang merupakan pedagang menjadi pembuka kisah interaksi antara nenek moyang berbagai suku di Nusantara dengan mereka. Beberapa kelenteng-kelenteng yang tersebar pada berbagai pesisir daerah di Nusantara jadi buktinya. Pelabuhan-pelabuhan tua di tanah air dan ramainya perdagangan di pesisir mempermudah bangsa kita berhubungan dengan Bangsa Tionghoa.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Wong Kalang dan Kota Gede<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa kehadiran Bangsa Tionghoa di Nusantara tak hanya sebagai pedagang, namun juga sebagai pekerja (bahkan hingga pekerja kasar). Benny Setiono, seorang sejarahwan menyebutkan bahwa antara tahun 1760-1770 dalam jumlah yang besar memasuki nusantara melalui Kalimantan Barat. Mereka bekerja sebagai kuli pertambangan di sana dan di kemudian hari membentuk sebuah republik bernama Republik Lanfang yang konon katanya menjadi republik pertama di Asia Tenggara.<\/p>\n\n\n\n

Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Imlek dan Indonesia<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n\n\n\n

Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
<\/p>\n","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5406,"post_author":"877","post_date":"2019-02-04 08:23:48","post_date_gmt":"2019-02-04 01:23:48","post_content":"\n

Merokok itu sudah menjadi bagian dari budaya dan tradisi masyarakat, jauh sebelum Indonesia merdeka. Banyak cerita atau kisah tentang kretek <\/a><\/del>di tengah-tengah masyarakat bangsa ini, mulai sebagai alat untuk meraup keuntungan, alat komunikasi, sebagai teman sampai menjadi simbol pergerakan. <\/p>\n\n\n\n

Kretek, Simbol Perlawanan Roro Mendut<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Siapa yang tidak pernah mendengan cerita tentang Roro Mendut?, di telinga masyarakat Indonesia, kisah Roro Mendut tidak asing lagi.  Perempuan yang mempunyai paras wajah cantik, dan digandrungi kaum adam terutama kalangan putra kerajaan. Informasi kecantikan Roro Mendut tersebar seantero Nusantara, tidak satupun pria meragukan kecantikannya.  Bahkan kisah dan cerita kecantikan Roro Mendut tercatat dalam buku Babad Tanah Jawi. <\/p>\n\n\n\n

Diperkirakan pada tahun 1627, pada saat panglima perang Sultan Agung Mataram bernama Tumenggung Wiraguna berhasil menumpas pemberontakan di kota Pati, sebagai imbalanan atas keberhasilannya, mendapat hadiah wanita pujaan pria bernama Rara Mendut dari Kasultanan Agung Mataram.  Roro Mendut menolak dipinang Tumenggung Wiraguna, dan secara terang-terangan memilih pria lain dambaannya. Akibatnya, Roro Mendut harus membayar pajak setiap harinya kepada kerajaan Mataram. <\/p>\n\n\n\n

Bisa dibayangkan, betapa bingungnya Roro Mendut saat itu. Uang dari mana, ia hasilkan untuk bayar pajak tiap hari demi bisa bersama kekasihnya. Ternyata Roro Mendut tidak hanya cantik tetapi cerdas dan kreatif, bisa membaca peluang bisnis saat itu. Ide cermerlang muncul dengan berdagang\/berjualan rokok lintingan yang direkatkan dengan air ludahnya, dan sebelum menjualnya, rokok lintingan di sulut dahulu dan dihisap bekas bibir merahnya. Kemudian baru dijual ke pembeli yang berdesakan berjejer antri. <\/p>\n\n\n\n

Entah dari mana ide menjual rokok itu muncul. Yang jelas saking larisnya, kewajiban pajak Roro Mendut terpenuhi. Dan mungkin keadaannya akan lebih parah, jika saat itu Roro Mendut tidak berdagang rokok. Tidak akan terpenuhi kewajiban pajaknya. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Dengan rokok, hidup Roro Mendut terselamatkan. Adanya rokok, \u00a0Roro Mendut bebas dari belenggu kekuasaan. Berkat rokok, Roro Mendut terkengan, mengisi rubik informasi sejarah begitu kuatnya budaya merokok di \u00a0Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Pusaka Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek, Teman Perjuangan  Diponegoro<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Semasa berjuang melawan penjajah, yang harus dilakukan Diponegoro berpindah-pindah dari kota satu ke kota lain. Strategi perlawanan Diponegoro, kemudian sebagai basis strategi perang gerilya. Strategi yang menjadi idola dan kebanggaan tentara Indonesia. Dengan bergerilya, tentara Indonesia mampu mengecoh kekutan lawan yang lebih besar jumlahnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu, tenyata banyak cerita, Diponegoro saat berperang ditemani rokok. Ia dan pasukannya gemar merokok. Bahkan ketika tidak ada rokok, Pangeran Diponegoro rela hanya megunyah daun sirih yang diracik dengan kapur dan pinang. <\/p>\n\n\n\n

Kebiasaan ini, juga dialami oleh pengikut \/pasukan perang Pangeran Diponegoro. Bagi mereka, rokok teman sejati, menemani disetiap perjalanan mereka. Rokok menghilangkan depresi mereka, sebagai hiburan saat jauh dari keluarga demi berjuang melawan penjajah. Rokok menumbuhkan percaya diri mereka, lebih berani melawan penjajah walaupun hanya dengan serba keterbatasan, pasukan jumlah terbatas, alat perang terbatas dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Baca juga: Pangeran Diponegoro, Rokok Klobot dan Perlawanan Simbolis<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Jati Diri Bangsa<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Salah satu \u201cpendiri bangsa\u201d bernama KH. Agus Salim menghisap kretek dengan asapnya di kebal-kebulkan keudara, disaat ada perjamuan di Istana Buckingham ketika penobatan Elizabeth II sebagai Ratu kerajaan Inggris. Aroma khas keluar dari asap rokok kretek, tercium orang yang berada di ruang perjamuan. Sehingga memancing salah satu orang yang datang dalam perjamuan, dengan berkata; \u201ctuan sedang menghisap apa itu?\u201d.  Sentak KH. Agus Salim menjawab, \u201c inilah yang membuat nenek moyang anda sekian abad lalu datang dan kemudian menjajah negeri kami\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Jawaban KH. Agus Salim, faktanya memang benar. Rokok kretek tidak lain ada tambahan cengkeh (suzygium aromaticum<\/em>). \u00a0Tanaman legendaris menjadi rebutan dan sumber keuntungan kolonialisme Eropa atas Asia termasuk Indonesia. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Cengkeh adalah salah satu tanaman yang diperebutkan bangsa-bangsa dunia, sampai melegalkan penjajahan.  Dalam simpulan perjalanan ekspedisi cengkeh tahun 2013, Kepala Suku begitu julukan bagi Putut Ea, mengatakan \u201c jika saja tak pernah ada cengkeh dan pala di Maluku, mungkin sejarah kepulauan Nusantara ini akan berbeda sama sekali\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Simpulan Putut EA, sebagai salah satu pembenar perkataan \u00a0KH. Agus Salim. Mungkin, jika tanaman cengkeh tidak ada, fakta sejarah akan berbeda, tidak ada penjajahan di bumi Nusantara ini. <\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Mengisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek untuk Berteman dan Menjalin Persaudaraan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Teringat apa yang pernah dilakukan Menteri Sosial dan Lingkungan Hidup, saat melakukan pendekatan pada suku anak dalam di Jambi. Tidak lain ia adalah Khofifah menteri perempuan yang energik. Saat itu Khofifah bertanggungjawab dalam mengatasi masalah pendidikan dan kesejahteraan masyarakat suku anak dalam di Jambi.  <\/p>\n\n\n\n

Kebijakannya membuat fenomenal, selain bahan makanan, dan bantuan lain, khofifah juga membawa rokok.  Yang kemudian ada yang mengggugat dari anti rokok, tetapi sebagai Menteri, Khofifah tentunya sudah mengkaji secara mendalam. Dengan kecerdasannya , Khofifah menjawab dengan tegas dan lugas, \u201cjangan sok tahu kehidupan mereka, kenali apa yang menjadi ritme kehidupan mereka. Sangat bijaksana kalau kita semua pergi kesana, sehingga tahu adat istiadatnya juga. Tolong kalau ingin mengerti tentang kultur jangan hanya dari kacamata Jakarta. Saya pun ingin mengajak anda kesana, turun kesana, sapalah mereka\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Khofifah memberikan pelajaran bagi anti rokok. Tidak boleh sok tahu, apalagi selama ini antirokok hanya berasumsi, tanpa melihat fakta dilapangan. Khofifah juga menganjurkan agar lebih mengenal adat-istiadat, budaya dan tradisi masyarakat, tidak boleh melakukan hegemoni kultural, sebab keberagaman adat-istiadat dan budaya merupakan kekayaan negeri. <\/p>\n\n\n\n

Pelajaran Khofifah sangat mendalam dan bercirikhas Nusantara. Sebgaai Menteri \u00a0Sosial tentunya lebih berpengalaman apa yang dibutuhkan bangsa ini agar tetap jaya, bersatu dan utuh. Kenali perbedaan, hormati perbedaan, junjung tinggi budaya yang berbeda. \u00a0Apa yang telah dilakukan Khofifah dengan membawa rokok ke suku anak dalam adalah cermin penghormatan tradisi dan budaya masyarakat. Sebagai seorang Mentri, tentunya punya kuasa, artinya bisa seorang khofifah memberikan bantuan sesuai keinginannya sendiri, namun hal itu tidak dilakukan. Ia lebih mengedepankan penghormatan budaya masyarakat setempat, dengan membawa rokok untuk pendekatan dan pertemanan. Karena Khofifah tahu betul, bahwa merokok adalah budaya mereka, yang diwaris dari neneng moyang mereka. <\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Memilih Jalan Hidup Menikmati Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Simbol Pergerakan Nasional     <\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Abdul Rifa\u2019I dalam media bintang timur terbit pada 03 Oktober 1927, mengatakan, \u201ckopinya bukan kopi saringan, tetapi kopi tubruk sebab kopi ini katanya nationaal, gulanya gula jawa, susu tidak dipakai karena tidak nationaal. Rokoknya kelobot, selamatan natioanaal ini terus berlangsung ed sampai pagi hari\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Semangat nasionalisme harus tertanam, mengedepankan produk lokal adalah salah satu semangat nasionalime. Salah satu keberadaan rokok klobot menjadi ciri produk asli indonesia dan harus dilestarikan. Klobot sendiri adalah ramuan tembakau dan cengkeh di gulung memakai daun jagung, embrio perkembangan menjadi rokok sigaret kretek tangan dan sigaret kretek mesin.  
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pusaran Budaya Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pusaran-budaya-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-04 08:40:41","post_modified_gmt":"2019-02-04 01:40:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5406","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5403,"post_author":"919","post_date":"2019-02-03 09:05:50","post_date_gmt":"2019-02-03 02:05:50","post_content":"\n

Seringkali saya menyaksikan berbagai film baik itu Eropa atau Asia yang menggambarkan tentang masa depan. Pemandangan soal masa depan tersebut dihadirkan dengan gambaran kecanggihan teknologi seperti robot yang akan membantu kehidupan manusia, gedung-gedung yang tingginya sudah amat tak bisa ditandingi,  hingga mobil-mobil yang bisa terbang. <\/p>\n\n\n\n

Pernah dalam masa kecil saya menyaksikan sebuah film animasi buatan jepang yang mempertanyakan tentang makanan di masa depan. Dengan santai salah satu tokoh yang berasal dari masa depan itu menjawab bahwa suatu saat nanti manusia akan mengonsumsi makanan berupa pasta gigi namun dengan rasa yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa, aneh!<\/p>\n\n\n\n

Seiring waktu berjalan saya kian tumbuh dewasa dan punya kesadaran untuk memilih menjadi seorang perokok<\/a>. Saya juga melihat ada sebuah inovasi dan gambaran tentang masa depan yang hadir dalam kehidupan sekarang. Banyak memang, namun yang menyita perhatian saya adalah rokok elektrik atau yang populer disebut Vape. Konon katanya ia adalah produk inovasi untuk menjembatani kebutuhan menghisap asap dan kecanggihan masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Di awal kehadirannya Vape memang mengundang decak kekaguman saya. Bagaimana bisa sebuah mesin kecil mengeluarkan asap yang katanya lebih menyehatkan daripada rokok.<\/strong> Meski pada akhirnya teori tersebut juga bisa dibantah oleh beberapa ilmuan dunia. Tapi ada satu yang saya amati selain soal kesehatan, rokok elektrik rupanya menghadirkan kultur dan budaya baru dalam kehidupan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: LAGI-LAGI IKLAN ROKOK, KAPAN KPAI TIDAK TEBANG PILIH? <\/a><\/h4>\n\n\n\n

Kehadiran teknologi memang kerap sedikit atau benyak mengubah gaya atau kultur suatu masyarakat. Begitu pula yang saya perhatikan dengan rokok elektrik. Satu hal yang mudah diamati adalah menjamurnya toko-toko kecil yang menjual vape serta liquid di berbagai tempat. Sebagai sebuah warna baru dalam masyarakat, penggunanya ramai-ramai mengunjungi tempat tersebut berinteraksi dengan penikmat lainnya dan membangun sebuah rumah komunitas yang fleksibel.<\/p>\n\n\n\n

Meski belum bisa dikatakan memiliki jumlah penikmat yang setara dengan para perokok, pengguna Vape mulai menunjukkan eksistensinya. Selain toko yang tersebar, ragam acara juga mereka buat di beberapa daerah. Dalam lingkungan saya, beberapa teman yang dulunya merupakan perokok aktif tertarik mengikuti event tersebut dan beralih mengisap rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Nun jauh di sana, di Amerika Serikat tepatnya, budaya Vape juga sudah mulai berkembang lama ketimbang di Tanah Air. Penikmatnya terbagi menjadi dua, ada yang dulunya bekas perokok dan ada yang memang menikmatinya sebagai gaya hidup. Wajar saja mengingat facebook tak memperbolehkan iklan tembakau di platform mereka, sebaliknya iklan tentang vape justru bertebaran. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi budaya baru yang berkembang di berbagai belahan dunia bahkan di Indonesia, Vape konon menjadi alternatif yang lebih bermanfaat daripada rokok. Dalih yang diusung selalu sama kepada para perokok tradisonal yaitu soal kesehatan dan lebih irit. Soal kesehatan tentu ada beberapa pendapat para ilmuan yang membantahnya, namun soal irit, saya rasa tidak. Memang satu liquid bisa digunakan untuk beberapa Minggu, akan tetapi yang saya lihat di lapangan justru sebaliknya. <\/p>\n\n\n\n

Beberapa penikmat rokok elektrik kerap berbelanja liquid yang mereka idamkan. Terkadang, hal tersebut yang membuat mereka boros karena terus mengeksplor rasa mana yang mereka idam-idamkan. Tak jarang juga liquid dengan harga mahal hingga ratus ribuan akan mereka beli. Sebaliknya, para perokok konvensional justru kerap bertahan dengan satu rasa atau merek saja.<\/p>\n\n\n\n

Sedikit berbeda dengan penikmat rokok konvensional atau kretek. Mengingat rokok kretek sudah menjadi kebudayan lokal yang terus dipertahankan selama bertahun-tahun, kehadirannya sudah mewarnai khasanah keindonesiaan. Perokok kretek juga sudah punya soliditas luar biasa yang terbentuk sejak lama dan terus terbangun mengiringi peradaban di Indonesia atau dunia.<\/p>\n\n\n\n

Kini, perokok elektrik mulai merasakan kegelisahan. Beberapa negara mulai menerapkan peraturan ketat terhadap Vape, sedangkan di Indonesia biaya cukai pun kini mulai diberlakukan terhadap perdagangan rokok elektrik. Keberadaannya di mata negara pun mulai dianggap sama seperti rokok, meski pada awalnya rokok elektrik hadir dengan slogan-slogan produk alternatif yang lebih menyehatkan (katanya).<\/p>\n\n\n\n


Tapi jika kemudian di masa depan memang rokok elektrik yang kemudian menjadi sesuatu yang populer dan dinikmati banyak orang. Rasanya saya tetap ingin hidup di jaman ini, dengan sebatang kretek di tangan dan menikmati segala khasanah kebudayaan yang patut terus dipertahankan. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"masa-depan-rokok-elektrik-dan-semangat-alternatif-yang-sia-sia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-03 09:05:56","post_modified_gmt":"2019-02-03 02:05:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5403","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5385,"post_author":"883","post_date":"2019-02-02 08:01:01","post_date_gmt":"2019-02-02 01:01:01","post_content":"Pada tahun 2014, perusahaan rokok multinasional Philip Morris Internasional Inc. merilis sebuah produk <\/span>perangkat\u00a0<\/span>
rokok<\/span><\/a>\u00a0tanpa asap, yang dipanaskan bukan dibakar atau istilahnya\u00a0<\/span>heat not burn<\/i><\/strong>\u00a0(HNB) iQOS<\/strong>. <\/span>\r\n\r\nPerangkat rokok tanpa asap dengan nama iQOS<\/a> ini berbentuk seperti bagian luar pulpen, dengan lubang di tengah untuk rokok. Produk yang berada di bawah brand Marlboro ini dapat memanaskan rokok sampai 350 derajat celcius lalu mengeluarkan uap nikotin beraroma tembakau<\/em><\/a>.<\/span>\r\n

Produk iQOS sebenarnya bukanlah produk rokok tanpa asap yang pertama muncul. Sebelumnya di tahun 1990-an, Reynolds Tobacco Co pernah merilis produk serupa bernama Eclipes yang juga dapat menguapkan nikotin setelah dinyalakan dengan korek api.<\/span><\/blockquote>\r\nSelain itu, Eclips juga dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. Namun, pada saat itu Eclips tidak diminati oleh pasar, utamanya para perokok konvensional. Meskipun Eclips dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. <\/span>\r\n\r\nBisnis semacam rokok tanpa asap seperti Eclips dan iQOS memang sudah menjadi bagian dari rencana panjang bisnis perusahaan-perusahaan rokok multinasional. Jadi tidak usah heran jika ke depannya akan kita akan banyak menemukan produk rokok tanpa asap ini.<\/span>\r\n\r\nWatak dari perusahaan multinasional memang seperti itu, mereka sangat jeli melihat peluang pasar ke depannya. Ketika market place perusahaan rokok multinasional saat ini terus dirongrong oleh kelompok antirokok, mereka tak kehabisan akal. Maka kemudian mereka menginovasi produk rokok konvensional menjadi rokok yang tidak berasap. Begitupun dengan mengikutsertakan jargon-jargon kesehatan dalam narasi promosi mereka.<\/span>\r\n\r\nSesungguhnya memang seperti itulah watak bisnis perusahaan-perusahaan multinasional, melakukan segala cara agar bisnis mereka tetap bertahan, meskipun harus merangkul musuh sekalipun. <\/span>\r\n\r\nYa kadang pura-pura berantem sama antirokok, tapi dibalik itu sebenarnya baik-baik saja, dan tentunya ada kompromi untuk terus melanggengkan bisnis mereka.<\/span>\r\n

Lalu siapa yang dirugikan dari permainan bisnis macam produk rokok tanpa asap perusahaan rokok multinasional ini?<\/span><\/h3>\r\nTentunya yang sangat dirugikan adalah produk hasil tembakau yang memiliki kekhasan seperti kretek di Indonesia. Kretek sebagai produk khas asli Indonesia yang menjadi bagian dari warisan kebudayaan tidak mungkin bertransformasi menjadi produk-produk elektrik dan sejenisnya.<\/span>\r\n\r\nKretek tetaplah kretek, dengan bahan baku alami tembakau dan cengkeh yang tidak diintervensi dengan zat atau perangkat penghantar lainnya. Karena dengan bentuk, karakter dan cara menikmatinya memang konvensional dan akan terus begitu apapun kondisi dan zamannya.<\/span>\r\n
Bisnis produk rokok tanpa asap (elektrik) juga menghajar kretek dengan mendompleng isu pengendalian tembakau. Kampanye pengendalian tembakau selalu membawa slogan bahaya merokok dan upaya untuk berhenti merokok. <\/span><\/blockquote>\r\nDari isu tersebut, rokok elektrik masuk dengan citra produk alternatif tembakau, bahkan mereka tak segan menilai bahwa rokok elektrik lebih aman ketimbang rokok konvensional, yakni kretek.<\/span>\r\n\r\nLalu jika Indonesia akan dibanjiri dengan produk-produk yang mengatasnamakan produk alternatif tembakau, macam rokok tanpa asap (iQOS dan sejenisnya), maka itulah pertanda bahwa kretek harus tergerus dari cara hidup manusia Indonesia dalam menikmati produk hasil tembakau khas Indonesia yang sudah turun-temurun lamanya dinikmati manusia Indonesia.<\/span>","post_title":"Nasib Kretek di Pusaran Pertarungan Bisnis Global Perusahaan Rokok Multinasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"nasib-kretek-di-pusaran-pertarungan-bisnis-global-perusahaan-rokok-multinasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-02 08:01:43","post_modified_gmt":"2019-02-02 01:01:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5385","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; \n

Mereka silih berganti saling mengalahkan, tetapi pemenang terakhir adalah Belanda. Melalui Perusahaan Dagang Hindia Timur (Vereenigde Oostindische Compagnie, VOC) yang dibentuk pada awal abad-17 (tepatnya tahun 1609), Belanda melancarkan ekspedisi Pelayaran Hongi (Hongie Tochten), untuk memusnahkan semua tanaman cengkeh di Ternate, Tidore, Moti, dan Makian, lalu membatasi ketat penanamnya hanya di Pulau-pulau Ambon dan Lease --yang lebih dekat ke Banda sebagai pusat pemerintahan mereka sebelum akhirnya dipindahkan ke Batavia.
<\/p>\n\n\n\n

Praktis, sejak akhir abad-16, Belanda pun menguasai penuh perdagangan rempah-rempah Maluku dengan jumlah produksi rerata 2.500 sampai 4.500 ton per tahun. [3]<\/p>\n\n\n\n

Baca: Budidaya Pohon Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Meskipun peran utama rempah-rempah Maluku itu kemudian tergusur pada abad-18 dan 19 oleh beberapa barang eksotika tropis lainnya --hasil perkebunan-perkebunana besar baru di Pulau Sumatera dan Jawa: tebu, tembakau, lada, kopi, teh, nila, kelapa sawit, dan kayu jati-- namun sejarah sudah mencatat bahwa dua jenis rempah-rempah Maluku itulah yang mengawali penjelajahan sekaligus penjajahan kepulauan Nusantara oleh bangsa-bangsa Eropah, terutama Belanda (Topatimasang, ed., 2004:32). Jika saja tak pernah ada cengkeh dan pala di Maluku, mungkin sejarah kepulauan Nusantara ini akan berbeda sama sekali.
<\/p>\n\n\n\n

Masa suram cengkeh dan pala terus berlangsung sampai pertengahan abad-20. Rempah eksotika yang pernah membuat tergila-gila<\/p>\n\n\n\n

para saudagar Arab, pedagang Cina, serta kaum ningrat Eropa itu, tergantikan perannya oleh penemuan teknologi mesin pendingin berkat Revolusi Industri yang dimulai di Inggris pada pertengahan abad-18. Pasaran cengkeh di Eropa pun merosot tajam.
<\/p>\n\n\n\n

Nasibnya terselamatkan berkat penemuan oleh seorang Haji Djamhari di Kudus, Jawa Tengah. Pada akhir tahun 1880-an, Haji Djamhari menemukan kegunaan baru cengkeh sebagai ramuan utama rokok. Lahirlah satu produk baru yang unik, khas dan asli Indonesia: kretek! (Hanusz, 2000:ii).
<\/p>\n\n\n\n

Setelah seperempat abad hanya berkembang dalam skala kecil usaha rumah tangga, produksi kretek akhirnya menjelma menjadi industri besar sejak awal abad-20 yang dirintis oleh Haji Nitisemito (pendiri pabrik \u2018Jambu Bol\u2019) di Kudus dan Liem Seng Tee (pendiri pabrik \u2018Dji Sam Soe\u2019 dan \u2018Sampoerna\u2019) di Surabaya.
<\/p>\n\n\n\n

Puncaknya adalah pada pertengahan tahun 1950-an, ketika produksi kretek mulai berkembang pesat menjadi industri raksasa modern dengan munculnya beberapa pabrik baru, antara lain, yang terkemuka, oleh Oei Wei Gwan (pendiri pabrik \u2018Djarum\u2019) di Kudus dan Tjou Ing Hwie (pendiri pabrik \u2018Gudang Garam\u2019) di Kediri (Topatimasang, et.al., eds., 2010:131).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Teruslah Menanam Tembakau dan Cengkeh, Wahai Petani Indonesia<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Cengkeh, bahan baku paling esensial dari kretek --selain tembakau, tentu saja-- pun kembali berjaya. Bahkan, sejak dasawarsa 1970an, telah menjadi salah satu penyumbang terbesar keuangan negara Republik Indonesia. Pada tahun 2012 dan 2013, pemasukan cukai dari industri kretek mencatat 95,5% dari seluruh pemasukan cukai ke kas negara. Nilainya tak tanggung-tanggung: Rp 87 triliun! (el-Guyanie, et.al.: 2013:4-5).<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Nilai ekonomisnya yang sangat besar sempat menggoda penguasa otoriter rezim Presiden Soeharto, pada 1990-an, memberlakukan satu kebijakan \u2018Hongi Gaya Baru\u2019: monopoli perdagangan cengkeh dalam negeri melalui Badan Penyanggah dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) yang sangat merugikan petani. Harga cengkeh di tingkat petani penghasil anjlok sampai hanya Rp 2.000 - 3.000 per kilogram, lebih murah dari harga sebungkus kretek yang dihasilkan darinya.
<\/p>\n\n\n\n

Akibatnya, ratusan ribu pohon cengkeh di daerah-daerah penghasil utama --Maluku, Maluku Utara, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Selatan-- ditebangi atau dibiarkan terlantar tak terurus.
<\/p>\n\n\n\n

Gelombang reformasi sistem politik dan hukum nasional yang dimulai pada tahun 1998, akhirnya menjungkalkan rezim Soeharto dan BPPC dibubarkan, Pelan tapi pasti, harga cengkeh kembali merangkak naik, sehingga pada tahun 2012, bahkan melewati angka Rp 200.000 per kilogram. Para petani cengkeh di seluruh negeri kembali tersenyum. Tetapi, sampai kapan? <\/p>\n\n\n\n

Catatan:<\/strong><\/p>\n\n\n\n

[1] Beberapa sumber menyebutkan bahwa kata \u2018cengkeh\u2019 dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Mandarin, tkeng-his atau xi\u2019jia, yang berarti \u2018rempah [berbentuk mirip] paku\u2019 (scented nails). Ini menunjukkan bahwa cengkeh sudah dikenal sejak lama oleh bangsa Cina --diketahui sejak abad-2-- jauh sebelum orang Eropa mengenalnya ((lihat, misalnya: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n\n\n\n

[2] Catatan-catatan para biarawan Fransiskan --yang disalin dan dikutip oleh van Frassen-- bahkan menyebut cengkeh sebagai salah satu bahan utama pengawet mumi para Fir\u2019aun, penguasa Mesir Kuno. Beberapa pakar sejarah dan arkeologi menyatakan bahwa rempah-rempah Maluku bahkan sudah ditemukan artefaknya di Lembah Mesopotomia (wilayah Iraq dan sekitarnya sekarang) pada 3.000 tahun sebelum Masehi. (lihat, antara lain: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n\n\n\n

[3] Uraian lebih rinci sejarah kolonialisme rempah-rempah Nusantara ini, terutama oleh Belanda dan Portugis, dapat dibaca pada beberapa sumber kepustakaan yang sudah dikenal luas, antara lain: Glamann (1958) dan Boxer (1965 dan 1969). Dalam risalah klasik Pires disebutkan bahwa pada tahun 1512-1521 saja, jumlah produksi cengkeh di Maluku sudah mencapai 7.250 bahar per tahun, terbesar adalah di Makian serta Amboina dan Lease (masing-masing 1.500 bahar)(Pires, 1512-1515).<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem Topatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-10 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-02-10 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5425","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5415,"post_author":"878","post_date":"2019-02-07 12:15:55","post_date_gmt":"2019-02-07 05:15:55","post_content":"\n

Belakangan ini, ketika musim hujan tiba, di Kabupaten Temanggung, Kabupaten Jember, dan beberapa wilayah sentra pertanian tembakau lainnya, hampir mustahil menemukan tanaman tembakau tumbuh di lahan-lahan milik petani. Di wilayah-wilayah tersebut, citra sebagai sentra pertanian tembakau seakan menguap. Lahan-lahan yang ada di sana, sama sekali tidak ditumbuhi tanaman tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Kabar ini bisa jadi dianggap sebagai kabar gembira bagi mereka yang menganggap diri dan kelompoknya anti-rokok dan anti-tembakau yang selalu mengampanyekan sikap-sikap mereka terkait kebencian kepada tembakau dan aktivitas merokok. Setelah sekian lama berjuang, akhirnya perjuangan mereka dirasa berhasil usai menyaksikan fenomena lahan-lahan di wilayah yang dianggap sentra pertanian tembakau pada hari-hari belakangan ini.<\/p>\n\n\n\n

Baca juga: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tak sia-sia turun ke jalan, tak sia-sia melakukan lobi-lobi ke penguasa, tak sia-sia mengucurkan uang yang tidak sedikit, dan tak sia-sia mempermalukan diri dengan mengemis ke lembaga donor asing dan menggondol uang dari cukai tembakau untuk mengampanyekan gerakan anti-rokok dan anti-tembakau. Tak sia-sia. Karena perjuangan sepertinya berhasil.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Kampanye-kampanye gerakan mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya, sepertinya juga sangat berhasil. Bagaimana tidak? Wilayah-wilayah yang sebelumnya penuh dengan tanaman tembakau dan bergeliat dengannya, kini lahan-lahannya sudah berganti dengan tanaman lain. Sebuah keberhasilan yang menggembirakan. Begitu mungkin pikir mereka para yang menganggap dirinya pejuang anti-rokok dan anti-tembakau. Dan tentu saja mereka akan kecele dan kita akan menertawakan hal itu.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, mereka yang menganggap dirinya anti-rokok dan anti-tembakau tidak menyaksikan langsung fenomena ini di lapangan, di lahan-lahan yang peruntukannya berubah pada hari-hari belakangan ini ketika memasuki musim hujan. Mereka asyik duduk pada kursi empuk di ruang-ruang nyaman ber-AC di kota-kota yang jauh dari kultur pertanian. Mereka menyengajakan diri menjadi elit dan enggan untuk turun melihat langsung ke lapangan. Kalaupun ada yang turun langsung ke lapangan, hanya segelintir saja dari mereka, itupun sekadar formalitas saja. Tak pernah benar-benar mau turun ke lapangan, hidup dan merasakan langsung kultur pertanian tembakau dalam jangka waktu cukup lama di lapangan.<\/p>\n\n\n\n

Baca juga: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Fenomena ini membikin kita tak bisa melihat mereka para anti-rokok kecele lalu menertawakan mereka.<\/strong> Fenomena keengganan terjun langsung ke lapangan terlebih mencoba mendengar mereka yang tetap menanam tembakau, juga menjalani keseharian dalam waktu cukup lama bersama petani tembakau inilah yang saya kira menjadikan mereka tetap keras kepala untuk anti-rokok dan anti-tembakau. Karena jika mereka mau melakukan itu, saya yakin mereka semua tidak akan begitu kaku dalam memandang pertanian tembakau dan produk hasil industri tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu yang selalu mereka kampanyekan dan ngotot dengan itu, terkait hulu pertanian tembakau adalah mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya. Mereka berargumen banyak tanaman lain yang bisa semenguntungkan tanaman tembakau. Keengganan mereka terjun langsung ke lapangan inilah yang membikin mereka buta dengan kondisi pertanian tembakau dan pada akhirnya terus menerus mengampanyekan pergantian tanaman tembakau dengan tanaman lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca juga: Imanlah kepada Allah, Bukan Antirokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tembakau tanaman yang khas. Ia hanya tumbuh baik sepanjang empat hingga lima bulan dalam satu tahun. Tumbuh-kembang tanaman tembakau dengan baik itu umumnya terjadi pada musim kemarau setiap tahunnya. Hanya sedikit sekali jenis tembakau yang tumbuh baik di musim penghujan, mayoritasnya, tumbuh baik pada musim kemarau.<\/p>\n\n\n\n

Jika ditanam pada musim hujan, hampir bisa dipastikan tanaman tembakau akan gagal menghasilkan daun-daun yang berkualitas. Ia akan rusak dan membusuk karena terlalu banyak terkena air sehingga daun-daun itu tak layak dijual. Jangankan bisa dijual, untuk tumbuh dengan baik pun sepertinya sulit karena musim hujan akan membunuh banyak tanaman itu.<\/p>\n\n\n\n

Maka, tak heran pada musim-musim seperti saat ini, ketika musim penghujan mendekati puncaknya, di wilayah-wilayah yang dikenal sebagai sentra pertanian tembakau, sulit menemukan pohon tembakau yang sedang tumbuh. Pada lahan-lahan yang sebelumnya ditumbuhi tanaman tembakau pada musim panas, berganti tanaman-tanaman lain yang bermacam-macam, sesuai dengan kondisi lahannya. Untuk lahan sawah, lahan-lahan itu pada musim penghujan kini ditumbuhi tanaman padi yang subur. Pada lahan tegalan dan lahan di pegunungan, lahan-lahan yang ditanami tembakau pada musim kemarau, saat ini ditumbuhi bermacam jenis tanaman mulai dari cabai, bawang, tomat, kol, terong, mentimun, dan ragam jenis tanaman semusim lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Uniknya, tipikal tanaman tembakau yang tumbuh baik di musim kemarau ini memberi pilihan lebih kepada para petani. Lahan-lahan yang sulit ditanami pada musim kemarau, pada akhirnya masih bisa tetap produktif dengan keberadaan tanaman tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Maka, kampanye aneh mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain dengan ragam rupa dalih yang membingungkan, bukan saja sama sekali tidak tepat dan asal-asalan, namun bisa jadi akan ditertawakan oleh para petani yang begitu paham dengan kondisi lahan dan terutama kondisi iklim dan cuaca. Sulit mencari tanaman semusim yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Jika pun ada, tak ada yang semenguntungkan tanaman tembakau.
<\/p>\n","post_title":"Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"keberhasilan-gerakan-anti-tembakau-tak-ada-tembakau-saat-musim-hujan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-07 12:16:02","post_modified_gmt":"2019-02-07 05:16:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5415","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5409,"post_author":"919","post_date":"2019-02-05 08:04:43","post_date_gmt":"2019-02-05 01:04:43","post_content":"\n

Tahun Baru Imlek yang merupakan tradisi Bangsa Tiongkok kini sudah tak lagi menjadi hal yang asing bagi masyarakat Indonesia. Kehadirannya sudah mewarnai dan berakulturasi dengan tradisi lokal. Menjelang Tahun Baru Imlek. Berbagai hiasan dan kemeriahan terjadi beberapa titik di Tanah Air. Perayaannya juga menjadi destinasi baru yang mengasyikkan untuk dilihat dan patut disaksikan.<\/p>\n\n\n\n

Berterimakasihlah kepada sang bapak bangsa, KH Abdurrahman Wahid atau yang dikenal dengan nama Gus Dur. Berkat kebijakannya saat menjadi Presiden Indonesia, Tahun Baru Imlek resmi dijadikan hari libur nasional dan dianggap sebagai salah satu hari raya di Tanah Air. Meski sentimen antitionghoa masih ada di sana-sini, tapi tetap tak bisa dipungkiri bahwa bangsa tionghoa sudah bersentuhan dengan budaya lokal dalam kurun waktu yang sangat panjang.<\/p>\n\n\n\n

DNA Bangsa Tionghoa yang memang merupakan pedagang menjadi pembuka kisah interaksi antara nenek moyang berbagai suku di Nusantara dengan mereka. Beberapa kelenteng-kelenteng yang tersebar pada berbagai pesisir daerah di Nusantara jadi buktinya. Pelabuhan-pelabuhan tua di tanah air dan ramainya perdagangan di pesisir mempermudah bangsa kita berhubungan dengan Bangsa Tionghoa.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Wong Kalang dan Kota Gede<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa kehadiran Bangsa Tionghoa di Nusantara tak hanya sebagai pedagang, namun juga sebagai pekerja (bahkan hingga pekerja kasar). Benny Setiono, seorang sejarahwan menyebutkan bahwa antara tahun 1760-1770 dalam jumlah yang besar memasuki nusantara melalui Kalimantan Barat. Mereka bekerja sebagai kuli pertambangan di sana dan di kemudian hari membentuk sebuah republik bernama Republik Lanfang yang konon katanya menjadi republik pertama di Asia Tenggara.<\/p>\n\n\n\n

Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Imlek dan Indonesia<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n\n\n\n

Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
<\/p>\n","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5406,"post_author":"877","post_date":"2019-02-04 08:23:48","post_date_gmt":"2019-02-04 01:23:48","post_content":"\n

Merokok itu sudah menjadi bagian dari budaya dan tradisi masyarakat, jauh sebelum Indonesia merdeka. Banyak cerita atau kisah tentang kretek <\/a><\/del>di tengah-tengah masyarakat bangsa ini, mulai sebagai alat untuk meraup keuntungan, alat komunikasi, sebagai teman sampai menjadi simbol pergerakan. <\/p>\n\n\n\n

Kretek, Simbol Perlawanan Roro Mendut<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Siapa yang tidak pernah mendengan cerita tentang Roro Mendut?, di telinga masyarakat Indonesia, kisah Roro Mendut tidak asing lagi.  Perempuan yang mempunyai paras wajah cantik, dan digandrungi kaum adam terutama kalangan putra kerajaan. Informasi kecantikan Roro Mendut tersebar seantero Nusantara, tidak satupun pria meragukan kecantikannya.  Bahkan kisah dan cerita kecantikan Roro Mendut tercatat dalam buku Babad Tanah Jawi. <\/p>\n\n\n\n

Diperkirakan pada tahun 1627, pada saat panglima perang Sultan Agung Mataram bernama Tumenggung Wiraguna berhasil menumpas pemberontakan di kota Pati, sebagai imbalanan atas keberhasilannya, mendapat hadiah wanita pujaan pria bernama Rara Mendut dari Kasultanan Agung Mataram.  Roro Mendut menolak dipinang Tumenggung Wiraguna, dan secara terang-terangan memilih pria lain dambaannya. Akibatnya, Roro Mendut harus membayar pajak setiap harinya kepada kerajaan Mataram. <\/p>\n\n\n\n

Bisa dibayangkan, betapa bingungnya Roro Mendut saat itu. Uang dari mana, ia hasilkan untuk bayar pajak tiap hari demi bisa bersama kekasihnya. Ternyata Roro Mendut tidak hanya cantik tetapi cerdas dan kreatif, bisa membaca peluang bisnis saat itu. Ide cermerlang muncul dengan berdagang\/berjualan rokok lintingan yang direkatkan dengan air ludahnya, dan sebelum menjualnya, rokok lintingan di sulut dahulu dan dihisap bekas bibir merahnya. Kemudian baru dijual ke pembeli yang berdesakan berjejer antri. <\/p>\n\n\n\n

Entah dari mana ide menjual rokok itu muncul. Yang jelas saking larisnya, kewajiban pajak Roro Mendut terpenuhi. Dan mungkin keadaannya akan lebih parah, jika saat itu Roro Mendut tidak berdagang rokok. Tidak akan terpenuhi kewajiban pajaknya. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Dengan rokok, hidup Roro Mendut terselamatkan. Adanya rokok, \u00a0Roro Mendut bebas dari belenggu kekuasaan. Berkat rokok, Roro Mendut terkengan, mengisi rubik informasi sejarah begitu kuatnya budaya merokok di \u00a0Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Pusaka Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek, Teman Perjuangan  Diponegoro<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Semasa berjuang melawan penjajah, yang harus dilakukan Diponegoro berpindah-pindah dari kota satu ke kota lain. Strategi perlawanan Diponegoro, kemudian sebagai basis strategi perang gerilya. Strategi yang menjadi idola dan kebanggaan tentara Indonesia. Dengan bergerilya, tentara Indonesia mampu mengecoh kekutan lawan yang lebih besar jumlahnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu, tenyata banyak cerita, Diponegoro saat berperang ditemani rokok. Ia dan pasukannya gemar merokok. Bahkan ketika tidak ada rokok, Pangeran Diponegoro rela hanya megunyah daun sirih yang diracik dengan kapur dan pinang. <\/p>\n\n\n\n

Kebiasaan ini, juga dialami oleh pengikut \/pasukan perang Pangeran Diponegoro. Bagi mereka, rokok teman sejati, menemani disetiap perjalanan mereka. Rokok menghilangkan depresi mereka, sebagai hiburan saat jauh dari keluarga demi berjuang melawan penjajah. Rokok menumbuhkan percaya diri mereka, lebih berani melawan penjajah walaupun hanya dengan serba keterbatasan, pasukan jumlah terbatas, alat perang terbatas dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Baca juga: Pangeran Diponegoro, Rokok Klobot dan Perlawanan Simbolis<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Jati Diri Bangsa<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Salah satu \u201cpendiri bangsa\u201d bernama KH. Agus Salim menghisap kretek dengan asapnya di kebal-kebulkan keudara, disaat ada perjamuan di Istana Buckingham ketika penobatan Elizabeth II sebagai Ratu kerajaan Inggris. Aroma khas keluar dari asap rokok kretek, tercium orang yang berada di ruang perjamuan. Sehingga memancing salah satu orang yang datang dalam perjamuan, dengan berkata; \u201ctuan sedang menghisap apa itu?\u201d.  Sentak KH. Agus Salim menjawab, \u201c inilah yang membuat nenek moyang anda sekian abad lalu datang dan kemudian menjajah negeri kami\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Jawaban KH. Agus Salim, faktanya memang benar. Rokok kretek tidak lain ada tambahan cengkeh (suzygium aromaticum<\/em>). \u00a0Tanaman legendaris menjadi rebutan dan sumber keuntungan kolonialisme Eropa atas Asia termasuk Indonesia. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Cengkeh adalah salah satu tanaman yang diperebutkan bangsa-bangsa dunia, sampai melegalkan penjajahan.  Dalam simpulan perjalanan ekspedisi cengkeh tahun 2013, Kepala Suku begitu julukan bagi Putut Ea, mengatakan \u201c jika saja tak pernah ada cengkeh dan pala di Maluku, mungkin sejarah kepulauan Nusantara ini akan berbeda sama sekali\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Simpulan Putut EA, sebagai salah satu pembenar perkataan \u00a0KH. Agus Salim. Mungkin, jika tanaman cengkeh tidak ada, fakta sejarah akan berbeda, tidak ada penjajahan di bumi Nusantara ini. <\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Mengisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek untuk Berteman dan Menjalin Persaudaraan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Teringat apa yang pernah dilakukan Menteri Sosial dan Lingkungan Hidup, saat melakukan pendekatan pada suku anak dalam di Jambi. Tidak lain ia adalah Khofifah menteri perempuan yang energik. Saat itu Khofifah bertanggungjawab dalam mengatasi masalah pendidikan dan kesejahteraan masyarakat suku anak dalam di Jambi.  <\/p>\n\n\n\n

Kebijakannya membuat fenomenal, selain bahan makanan, dan bantuan lain, khofifah juga membawa rokok.  Yang kemudian ada yang mengggugat dari anti rokok, tetapi sebagai Menteri, Khofifah tentunya sudah mengkaji secara mendalam. Dengan kecerdasannya , Khofifah menjawab dengan tegas dan lugas, \u201cjangan sok tahu kehidupan mereka, kenali apa yang menjadi ritme kehidupan mereka. Sangat bijaksana kalau kita semua pergi kesana, sehingga tahu adat istiadatnya juga. Tolong kalau ingin mengerti tentang kultur jangan hanya dari kacamata Jakarta. Saya pun ingin mengajak anda kesana, turun kesana, sapalah mereka\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Khofifah memberikan pelajaran bagi anti rokok. Tidak boleh sok tahu, apalagi selama ini antirokok hanya berasumsi, tanpa melihat fakta dilapangan. Khofifah juga menganjurkan agar lebih mengenal adat-istiadat, budaya dan tradisi masyarakat, tidak boleh melakukan hegemoni kultural, sebab keberagaman adat-istiadat dan budaya merupakan kekayaan negeri. <\/p>\n\n\n\n

Pelajaran Khofifah sangat mendalam dan bercirikhas Nusantara. Sebgaai Menteri \u00a0Sosial tentunya lebih berpengalaman apa yang dibutuhkan bangsa ini agar tetap jaya, bersatu dan utuh. Kenali perbedaan, hormati perbedaan, junjung tinggi budaya yang berbeda. \u00a0Apa yang telah dilakukan Khofifah dengan membawa rokok ke suku anak dalam adalah cermin penghormatan tradisi dan budaya masyarakat. Sebagai seorang Mentri, tentunya punya kuasa, artinya bisa seorang khofifah memberikan bantuan sesuai keinginannya sendiri, namun hal itu tidak dilakukan. Ia lebih mengedepankan penghormatan budaya masyarakat setempat, dengan membawa rokok untuk pendekatan dan pertemanan. Karena Khofifah tahu betul, bahwa merokok adalah budaya mereka, yang diwaris dari neneng moyang mereka. <\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Memilih Jalan Hidup Menikmati Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Simbol Pergerakan Nasional     <\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Abdul Rifa\u2019I dalam media bintang timur terbit pada 03 Oktober 1927, mengatakan, \u201ckopinya bukan kopi saringan, tetapi kopi tubruk sebab kopi ini katanya nationaal, gulanya gula jawa, susu tidak dipakai karena tidak nationaal. Rokoknya kelobot, selamatan natioanaal ini terus berlangsung ed sampai pagi hari\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Semangat nasionalisme harus tertanam, mengedepankan produk lokal adalah salah satu semangat nasionalime. Salah satu keberadaan rokok klobot menjadi ciri produk asli indonesia dan harus dilestarikan. Klobot sendiri adalah ramuan tembakau dan cengkeh di gulung memakai daun jagung, embrio perkembangan menjadi rokok sigaret kretek tangan dan sigaret kretek mesin.  
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pusaran Budaya Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pusaran-budaya-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-04 08:40:41","post_modified_gmt":"2019-02-04 01:40:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5406","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5403,"post_author":"919","post_date":"2019-02-03 09:05:50","post_date_gmt":"2019-02-03 02:05:50","post_content":"\n

Seringkali saya menyaksikan berbagai film baik itu Eropa atau Asia yang menggambarkan tentang masa depan. Pemandangan soal masa depan tersebut dihadirkan dengan gambaran kecanggihan teknologi seperti robot yang akan membantu kehidupan manusia, gedung-gedung yang tingginya sudah amat tak bisa ditandingi,  hingga mobil-mobil yang bisa terbang. <\/p>\n\n\n\n

Pernah dalam masa kecil saya menyaksikan sebuah film animasi buatan jepang yang mempertanyakan tentang makanan di masa depan. Dengan santai salah satu tokoh yang berasal dari masa depan itu menjawab bahwa suatu saat nanti manusia akan mengonsumsi makanan berupa pasta gigi namun dengan rasa yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa, aneh!<\/p>\n\n\n\n

Seiring waktu berjalan saya kian tumbuh dewasa dan punya kesadaran untuk memilih menjadi seorang perokok<\/a>. Saya juga melihat ada sebuah inovasi dan gambaran tentang masa depan yang hadir dalam kehidupan sekarang. Banyak memang, namun yang menyita perhatian saya adalah rokok elektrik atau yang populer disebut Vape. Konon katanya ia adalah produk inovasi untuk menjembatani kebutuhan menghisap asap dan kecanggihan masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Di awal kehadirannya Vape memang mengundang decak kekaguman saya. Bagaimana bisa sebuah mesin kecil mengeluarkan asap yang katanya lebih menyehatkan daripada rokok.<\/strong> Meski pada akhirnya teori tersebut juga bisa dibantah oleh beberapa ilmuan dunia. Tapi ada satu yang saya amati selain soal kesehatan, rokok elektrik rupanya menghadirkan kultur dan budaya baru dalam kehidupan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: LAGI-LAGI IKLAN ROKOK, KAPAN KPAI TIDAK TEBANG PILIH? <\/a><\/h4>\n\n\n\n

Kehadiran teknologi memang kerap sedikit atau benyak mengubah gaya atau kultur suatu masyarakat. Begitu pula yang saya perhatikan dengan rokok elektrik. Satu hal yang mudah diamati adalah menjamurnya toko-toko kecil yang menjual vape serta liquid di berbagai tempat. Sebagai sebuah warna baru dalam masyarakat, penggunanya ramai-ramai mengunjungi tempat tersebut berinteraksi dengan penikmat lainnya dan membangun sebuah rumah komunitas yang fleksibel.<\/p>\n\n\n\n

Meski belum bisa dikatakan memiliki jumlah penikmat yang setara dengan para perokok, pengguna Vape mulai menunjukkan eksistensinya. Selain toko yang tersebar, ragam acara juga mereka buat di beberapa daerah. Dalam lingkungan saya, beberapa teman yang dulunya merupakan perokok aktif tertarik mengikuti event tersebut dan beralih mengisap rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Nun jauh di sana, di Amerika Serikat tepatnya, budaya Vape juga sudah mulai berkembang lama ketimbang di Tanah Air. Penikmatnya terbagi menjadi dua, ada yang dulunya bekas perokok dan ada yang memang menikmatinya sebagai gaya hidup. Wajar saja mengingat facebook tak memperbolehkan iklan tembakau di platform mereka, sebaliknya iklan tentang vape justru bertebaran. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi budaya baru yang berkembang di berbagai belahan dunia bahkan di Indonesia, Vape konon menjadi alternatif yang lebih bermanfaat daripada rokok. Dalih yang diusung selalu sama kepada para perokok tradisonal yaitu soal kesehatan dan lebih irit. Soal kesehatan tentu ada beberapa pendapat para ilmuan yang membantahnya, namun soal irit, saya rasa tidak. Memang satu liquid bisa digunakan untuk beberapa Minggu, akan tetapi yang saya lihat di lapangan justru sebaliknya. <\/p>\n\n\n\n

Beberapa penikmat rokok elektrik kerap berbelanja liquid yang mereka idamkan. Terkadang, hal tersebut yang membuat mereka boros karena terus mengeksplor rasa mana yang mereka idam-idamkan. Tak jarang juga liquid dengan harga mahal hingga ratus ribuan akan mereka beli. Sebaliknya, para perokok konvensional justru kerap bertahan dengan satu rasa atau merek saja.<\/p>\n\n\n\n

Sedikit berbeda dengan penikmat rokok konvensional atau kretek. Mengingat rokok kretek sudah menjadi kebudayan lokal yang terus dipertahankan selama bertahun-tahun, kehadirannya sudah mewarnai khasanah keindonesiaan. Perokok kretek juga sudah punya soliditas luar biasa yang terbentuk sejak lama dan terus terbangun mengiringi peradaban di Indonesia atau dunia.<\/p>\n\n\n\n

Kini, perokok elektrik mulai merasakan kegelisahan. Beberapa negara mulai menerapkan peraturan ketat terhadap Vape, sedangkan di Indonesia biaya cukai pun kini mulai diberlakukan terhadap perdagangan rokok elektrik. Keberadaannya di mata negara pun mulai dianggap sama seperti rokok, meski pada awalnya rokok elektrik hadir dengan slogan-slogan produk alternatif yang lebih menyehatkan (katanya).<\/p>\n\n\n\n


Tapi jika kemudian di masa depan memang rokok elektrik yang kemudian menjadi sesuatu yang populer dan dinikmati banyak orang. Rasanya saya tetap ingin hidup di jaman ini, dengan sebatang kretek di tangan dan menikmati segala khasanah kebudayaan yang patut terus dipertahankan. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"masa-depan-rokok-elektrik-dan-semangat-alternatif-yang-sia-sia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-03 09:05:56","post_modified_gmt":"2019-02-03 02:05:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5403","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5385,"post_author":"883","post_date":"2019-02-02 08:01:01","post_date_gmt":"2019-02-02 01:01:01","post_content":"Pada tahun 2014, perusahaan rokok multinasional Philip Morris Internasional Inc. merilis sebuah produk <\/span>perangkat\u00a0<\/span>
rokok<\/span><\/a>\u00a0tanpa asap, yang dipanaskan bukan dibakar atau istilahnya\u00a0<\/span>heat not burn<\/i><\/strong>\u00a0(HNB) iQOS<\/strong>. <\/span>\r\n\r\nPerangkat rokok tanpa asap dengan nama iQOS<\/a> ini berbentuk seperti bagian luar pulpen, dengan lubang di tengah untuk rokok. Produk yang berada di bawah brand Marlboro ini dapat memanaskan rokok sampai 350 derajat celcius lalu mengeluarkan uap nikotin beraroma tembakau<\/em><\/a>.<\/span>\r\n

Produk iQOS sebenarnya bukanlah produk rokok tanpa asap yang pertama muncul. Sebelumnya di tahun 1990-an, Reynolds Tobacco Co pernah merilis produk serupa bernama Eclipes yang juga dapat menguapkan nikotin setelah dinyalakan dengan korek api.<\/span><\/blockquote>\r\nSelain itu, Eclips juga dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. Namun, pada saat itu Eclips tidak diminati oleh pasar, utamanya para perokok konvensional. Meskipun Eclips dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. <\/span>\r\n\r\nBisnis semacam rokok tanpa asap seperti Eclips dan iQOS memang sudah menjadi bagian dari rencana panjang bisnis perusahaan-perusahaan rokok multinasional. Jadi tidak usah heran jika ke depannya akan kita akan banyak menemukan produk rokok tanpa asap ini.<\/span>\r\n\r\nWatak dari perusahaan multinasional memang seperti itu, mereka sangat jeli melihat peluang pasar ke depannya. Ketika market place perusahaan rokok multinasional saat ini terus dirongrong oleh kelompok antirokok, mereka tak kehabisan akal. Maka kemudian mereka menginovasi produk rokok konvensional menjadi rokok yang tidak berasap. Begitupun dengan mengikutsertakan jargon-jargon kesehatan dalam narasi promosi mereka.<\/span>\r\n\r\nSesungguhnya memang seperti itulah watak bisnis perusahaan-perusahaan multinasional, melakukan segala cara agar bisnis mereka tetap bertahan, meskipun harus merangkul musuh sekalipun. <\/span>\r\n\r\nYa kadang pura-pura berantem sama antirokok, tapi dibalik itu sebenarnya baik-baik saja, dan tentunya ada kompromi untuk terus melanggengkan bisnis mereka.<\/span>\r\n

Lalu siapa yang dirugikan dari permainan bisnis macam produk rokok tanpa asap perusahaan rokok multinasional ini?<\/span><\/h3>\r\nTentunya yang sangat dirugikan adalah produk hasil tembakau yang memiliki kekhasan seperti kretek di Indonesia. Kretek sebagai produk khas asli Indonesia yang menjadi bagian dari warisan kebudayaan tidak mungkin bertransformasi menjadi produk-produk elektrik dan sejenisnya.<\/span>\r\n\r\nKretek tetaplah kretek, dengan bahan baku alami tembakau dan cengkeh yang tidak diintervensi dengan zat atau perangkat penghantar lainnya. Karena dengan bentuk, karakter dan cara menikmatinya memang konvensional dan akan terus begitu apapun kondisi dan zamannya.<\/span>\r\n
Bisnis produk rokok tanpa asap (elektrik) juga menghajar kretek dengan mendompleng isu pengendalian tembakau. Kampanye pengendalian tembakau selalu membawa slogan bahaya merokok dan upaya untuk berhenti merokok. <\/span><\/blockquote>\r\nDari isu tersebut, rokok elektrik masuk dengan citra produk alternatif tembakau, bahkan mereka tak segan menilai bahwa rokok elektrik lebih aman ketimbang rokok konvensional, yakni kretek.<\/span>\r\n\r\nLalu jika Indonesia akan dibanjiri dengan produk-produk yang mengatasnamakan produk alternatif tembakau, macam rokok tanpa asap (iQOS dan sejenisnya), maka itulah pertanda bahwa kretek harus tergerus dari cara hidup manusia Indonesia dalam menikmati produk hasil tembakau khas Indonesia yang sudah turun-temurun lamanya dinikmati manusia Indonesia.<\/span>","post_title":"Nasib Kretek di Pusaran Pertarungan Bisnis Global Perusahaan Rokok Multinasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"nasib-kretek-di-pusaran-pertarungan-bisnis-global-perusahaan-rokok-multinasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-02 08:01:43","post_modified_gmt":"2019-02-02 01:01:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5385","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; \n

Tergerak oleh sahwat menguasai rempah-rempah yang menggiurkan itu, bangsa-bangsa Eropa --terutama Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda-- pun menggelar ekspedisi-ekspedisi besar untuk menemukan cengkeh dan pala langsung di tanah asalnya. Ketika armada-armada mereka akhirnya mencapai perairan Kepulauan Maluku, pada abad-16, perang pun tak terhindarkan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka silih berganti saling mengalahkan, tetapi pemenang terakhir adalah Belanda. Melalui Perusahaan Dagang Hindia Timur (Vereenigde Oostindische Compagnie, VOC) yang dibentuk pada awal abad-17 (tepatnya tahun 1609), Belanda melancarkan ekspedisi Pelayaran Hongi (Hongie Tochten), untuk memusnahkan semua tanaman cengkeh di Ternate, Tidore, Moti, dan Makian, lalu membatasi ketat penanamnya hanya di Pulau-pulau Ambon dan Lease --yang lebih dekat ke Banda sebagai pusat pemerintahan mereka sebelum akhirnya dipindahkan ke Batavia.
<\/p>\n\n\n\n

Praktis, sejak akhir abad-16, Belanda pun menguasai penuh perdagangan rempah-rempah Maluku dengan jumlah produksi rerata 2.500 sampai 4.500 ton per tahun. [3]<\/p>\n\n\n\n

Baca: Budidaya Pohon Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Meskipun peran utama rempah-rempah Maluku itu kemudian tergusur pada abad-18 dan 19 oleh beberapa barang eksotika tropis lainnya --hasil perkebunan-perkebunana besar baru di Pulau Sumatera dan Jawa: tebu, tembakau, lada, kopi, teh, nila, kelapa sawit, dan kayu jati-- namun sejarah sudah mencatat bahwa dua jenis rempah-rempah Maluku itulah yang mengawali penjelajahan sekaligus penjajahan kepulauan Nusantara oleh bangsa-bangsa Eropah, terutama Belanda (Topatimasang, ed., 2004:32). Jika saja tak pernah ada cengkeh dan pala di Maluku, mungkin sejarah kepulauan Nusantara ini akan berbeda sama sekali.
<\/p>\n\n\n\n

Masa suram cengkeh dan pala terus berlangsung sampai pertengahan abad-20. Rempah eksotika yang pernah membuat tergila-gila<\/p>\n\n\n\n

para saudagar Arab, pedagang Cina, serta kaum ningrat Eropa itu, tergantikan perannya oleh penemuan teknologi mesin pendingin berkat Revolusi Industri yang dimulai di Inggris pada pertengahan abad-18. Pasaran cengkeh di Eropa pun merosot tajam.
<\/p>\n\n\n\n

Nasibnya terselamatkan berkat penemuan oleh seorang Haji Djamhari di Kudus, Jawa Tengah. Pada akhir tahun 1880-an, Haji Djamhari menemukan kegunaan baru cengkeh sebagai ramuan utama rokok. Lahirlah satu produk baru yang unik, khas dan asli Indonesia: kretek! (Hanusz, 2000:ii).
<\/p>\n\n\n\n

Setelah seperempat abad hanya berkembang dalam skala kecil usaha rumah tangga, produksi kretek akhirnya menjelma menjadi industri besar sejak awal abad-20 yang dirintis oleh Haji Nitisemito (pendiri pabrik \u2018Jambu Bol\u2019) di Kudus dan Liem Seng Tee (pendiri pabrik \u2018Dji Sam Soe\u2019 dan \u2018Sampoerna\u2019) di Surabaya.
<\/p>\n\n\n\n

Puncaknya adalah pada pertengahan tahun 1950-an, ketika produksi kretek mulai berkembang pesat menjadi industri raksasa modern dengan munculnya beberapa pabrik baru, antara lain, yang terkemuka, oleh Oei Wei Gwan (pendiri pabrik \u2018Djarum\u2019) di Kudus dan Tjou Ing Hwie (pendiri pabrik \u2018Gudang Garam\u2019) di Kediri (Topatimasang, et.al., eds., 2010:131).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Teruslah Menanam Tembakau dan Cengkeh, Wahai Petani Indonesia<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Cengkeh, bahan baku paling esensial dari kretek --selain tembakau, tentu saja-- pun kembali berjaya. Bahkan, sejak dasawarsa 1970an, telah menjadi salah satu penyumbang terbesar keuangan negara Republik Indonesia. Pada tahun 2012 dan 2013, pemasukan cukai dari industri kretek mencatat 95,5% dari seluruh pemasukan cukai ke kas negara. Nilainya tak tanggung-tanggung: Rp 87 triliun! (el-Guyanie, et.al.: 2013:4-5).<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Nilai ekonomisnya yang sangat besar sempat menggoda penguasa otoriter rezim Presiden Soeharto, pada 1990-an, memberlakukan satu kebijakan \u2018Hongi Gaya Baru\u2019: monopoli perdagangan cengkeh dalam negeri melalui Badan Penyanggah dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) yang sangat merugikan petani. Harga cengkeh di tingkat petani penghasil anjlok sampai hanya Rp 2.000 - 3.000 per kilogram, lebih murah dari harga sebungkus kretek yang dihasilkan darinya.
<\/p>\n\n\n\n

Akibatnya, ratusan ribu pohon cengkeh di daerah-daerah penghasil utama --Maluku, Maluku Utara, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Selatan-- ditebangi atau dibiarkan terlantar tak terurus.
<\/p>\n\n\n\n

Gelombang reformasi sistem politik dan hukum nasional yang dimulai pada tahun 1998, akhirnya menjungkalkan rezim Soeharto dan BPPC dibubarkan, Pelan tapi pasti, harga cengkeh kembali merangkak naik, sehingga pada tahun 2012, bahkan melewati angka Rp 200.000 per kilogram. Para petani cengkeh di seluruh negeri kembali tersenyum. Tetapi, sampai kapan? <\/p>\n\n\n\n

Catatan:<\/strong><\/p>\n\n\n\n

[1] Beberapa sumber menyebutkan bahwa kata \u2018cengkeh\u2019 dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Mandarin, tkeng-his atau xi\u2019jia, yang berarti \u2018rempah [berbentuk mirip] paku\u2019 (scented nails). Ini menunjukkan bahwa cengkeh sudah dikenal sejak lama oleh bangsa Cina --diketahui sejak abad-2-- jauh sebelum orang Eropa mengenalnya ((lihat, misalnya: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n\n\n\n

[2] Catatan-catatan para biarawan Fransiskan --yang disalin dan dikutip oleh van Frassen-- bahkan menyebut cengkeh sebagai salah satu bahan utama pengawet mumi para Fir\u2019aun, penguasa Mesir Kuno. Beberapa pakar sejarah dan arkeologi menyatakan bahwa rempah-rempah Maluku bahkan sudah ditemukan artefaknya di Lembah Mesopotomia (wilayah Iraq dan sekitarnya sekarang) pada 3.000 tahun sebelum Masehi. (lihat, antara lain: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n\n\n\n

[3] Uraian lebih rinci sejarah kolonialisme rempah-rempah Nusantara ini, terutama oleh Belanda dan Portugis, dapat dibaca pada beberapa sumber kepustakaan yang sudah dikenal luas, antara lain: Glamann (1958) dan Boxer (1965 dan 1969). Dalam risalah klasik Pires disebutkan bahwa pada tahun 1512-1521 saja, jumlah produksi cengkeh di Maluku sudah mencapai 7.250 bahar per tahun, terbesar adalah di Makian serta Amboina dan Lease (masing-masing 1.500 bahar)(Pires, 1512-1515).<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem Topatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-10 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-02-10 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5425","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5415,"post_author":"878","post_date":"2019-02-07 12:15:55","post_date_gmt":"2019-02-07 05:15:55","post_content":"\n

Belakangan ini, ketika musim hujan tiba, di Kabupaten Temanggung, Kabupaten Jember, dan beberapa wilayah sentra pertanian tembakau lainnya, hampir mustahil menemukan tanaman tembakau tumbuh di lahan-lahan milik petani. Di wilayah-wilayah tersebut, citra sebagai sentra pertanian tembakau seakan menguap. Lahan-lahan yang ada di sana, sama sekali tidak ditumbuhi tanaman tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Kabar ini bisa jadi dianggap sebagai kabar gembira bagi mereka yang menganggap diri dan kelompoknya anti-rokok dan anti-tembakau yang selalu mengampanyekan sikap-sikap mereka terkait kebencian kepada tembakau dan aktivitas merokok. Setelah sekian lama berjuang, akhirnya perjuangan mereka dirasa berhasil usai menyaksikan fenomena lahan-lahan di wilayah yang dianggap sentra pertanian tembakau pada hari-hari belakangan ini.<\/p>\n\n\n\n

Baca juga: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tak sia-sia turun ke jalan, tak sia-sia melakukan lobi-lobi ke penguasa, tak sia-sia mengucurkan uang yang tidak sedikit, dan tak sia-sia mempermalukan diri dengan mengemis ke lembaga donor asing dan menggondol uang dari cukai tembakau untuk mengampanyekan gerakan anti-rokok dan anti-tembakau. Tak sia-sia. Karena perjuangan sepertinya berhasil.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Kampanye-kampanye gerakan mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya, sepertinya juga sangat berhasil. Bagaimana tidak? Wilayah-wilayah yang sebelumnya penuh dengan tanaman tembakau dan bergeliat dengannya, kini lahan-lahannya sudah berganti dengan tanaman lain. Sebuah keberhasilan yang menggembirakan. Begitu mungkin pikir mereka para yang menganggap dirinya pejuang anti-rokok dan anti-tembakau. Dan tentu saja mereka akan kecele dan kita akan menertawakan hal itu.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, mereka yang menganggap dirinya anti-rokok dan anti-tembakau tidak menyaksikan langsung fenomena ini di lapangan, di lahan-lahan yang peruntukannya berubah pada hari-hari belakangan ini ketika memasuki musim hujan. Mereka asyik duduk pada kursi empuk di ruang-ruang nyaman ber-AC di kota-kota yang jauh dari kultur pertanian. Mereka menyengajakan diri menjadi elit dan enggan untuk turun melihat langsung ke lapangan. Kalaupun ada yang turun langsung ke lapangan, hanya segelintir saja dari mereka, itupun sekadar formalitas saja. Tak pernah benar-benar mau turun ke lapangan, hidup dan merasakan langsung kultur pertanian tembakau dalam jangka waktu cukup lama di lapangan.<\/p>\n\n\n\n

Baca juga: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Fenomena ini membikin kita tak bisa melihat mereka para anti-rokok kecele lalu menertawakan mereka.<\/strong> Fenomena keengganan terjun langsung ke lapangan terlebih mencoba mendengar mereka yang tetap menanam tembakau, juga menjalani keseharian dalam waktu cukup lama bersama petani tembakau inilah yang saya kira menjadikan mereka tetap keras kepala untuk anti-rokok dan anti-tembakau. Karena jika mereka mau melakukan itu, saya yakin mereka semua tidak akan begitu kaku dalam memandang pertanian tembakau dan produk hasil industri tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu yang selalu mereka kampanyekan dan ngotot dengan itu, terkait hulu pertanian tembakau adalah mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya. Mereka berargumen banyak tanaman lain yang bisa semenguntungkan tanaman tembakau. Keengganan mereka terjun langsung ke lapangan inilah yang membikin mereka buta dengan kondisi pertanian tembakau dan pada akhirnya terus menerus mengampanyekan pergantian tanaman tembakau dengan tanaman lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca juga: Imanlah kepada Allah, Bukan Antirokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tembakau tanaman yang khas. Ia hanya tumbuh baik sepanjang empat hingga lima bulan dalam satu tahun. Tumbuh-kembang tanaman tembakau dengan baik itu umumnya terjadi pada musim kemarau setiap tahunnya. Hanya sedikit sekali jenis tembakau yang tumbuh baik di musim penghujan, mayoritasnya, tumbuh baik pada musim kemarau.<\/p>\n\n\n\n

Jika ditanam pada musim hujan, hampir bisa dipastikan tanaman tembakau akan gagal menghasilkan daun-daun yang berkualitas. Ia akan rusak dan membusuk karena terlalu banyak terkena air sehingga daun-daun itu tak layak dijual. Jangankan bisa dijual, untuk tumbuh dengan baik pun sepertinya sulit karena musim hujan akan membunuh banyak tanaman itu.<\/p>\n\n\n\n

Maka, tak heran pada musim-musim seperti saat ini, ketika musim penghujan mendekati puncaknya, di wilayah-wilayah yang dikenal sebagai sentra pertanian tembakau, sulit menemukan pohon tembakau yang sedang tumbuh. Pada lahan-lahan yang sebelumnya ditumbuhi tanaman tembakau pada musim panas, berganti tanaman-tanaman lain yang bermacam-macam, sesuai dengan kondisi lahannya. Untuk lahan sawah, lahan-lahan itu pada musim penghujan kini ditumbuhi tanaman padi yang subur. Pada lahan tegalan dan lahan di pegunungan, lahan-lahan yang ditanami tembakau pada musim kemarau, saat ini ditumbuhi bermacam jenis tanaman mulai dari cabai, bawang, tomat, kol, terong, mentimun, dan ragam jenis tanaman semusim lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Uniknya, tipikal tanaman tembakau yang tumbuh baik di musim kemarau ini memberi pilihan lebih kepada para petani. Lahan-lahan yang sulit ditanami pada musim kemarau, pada akhirnya masih bisa tetap produktif dengan keberadaan tanaman tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Maka, kampanye aneh mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain dengan ragam rupa dalih yang membingungkan, bukan saja sama sekali tidak tepat dan asal-asalan, namun bisa jadi akan ditertawakan oleh para petani yang begitu paham dengan kondisi lahan dan terutama kondisi iklim dan cuaca. Sulit mencari tanaman semusim yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Jika pun ada, tak ada yang semenguntungkan tanaman tembakau.
<\/p>\n","post_title":"Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"keberhasilan-gerakan-anti-tembakau-tak-ada-tembakau-saat-musim-hujan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-07 12:16:02","post_modified_gmt":"2019-02-07 05:16:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5415","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5409,"post_author":"919","post_date":"2019-02-05 08:04:43","post_date_gmt":"2019-02-05 01:04:43","post_content":"\n

Tahun Baru Imlek yang merupakan tradisi Bangsa Tiongkok kini sudah tak lagi menjadi hal yang asing bagi masyarakat Indonesia. Kehadirannya sudah mewarnai dan berakulturasi dengan tradisi lokal. Menjelang Tahun Baru Imlek. Berbagai hiasan dan kemeriahan terjadi beberapa titik di Tanah Air. Perayaannya juga menjadi destinasi baru yang mengasyikkan untuk dilihat dan patut disaksikan.<\/p>\n\n\n\n

Berterimakasihlah kepada sang bapak bangsa, KH Abdurrahman Wahid atau yang dikenal dengan nama Gus Dur. Berkat kebijakannya saat menjadi Presiden Indonesia, Tahun Baru Imlek resmi dijadikan hari libur nasional dan dianggap sebagai salah satu hari raya di Tanah Air. Meski sentimen antitionghoa masih ada di sana-sini, tapi tetap tak bisa dipungkiri bahwa bangsa tionghoa sudah bersentuhan dengan budaya lokal dalam kurun waktu yang sangat panjang.<\/p>\n\n\n\n

DNA Bangsa Tionghoa yang memang merupakan pedagang menjadi pembuka kisah interaksi antara nenek moyang berbagai suku di Nusantara dengan mereka. Beberapa kelenteng-kelenteng yang tersebar pada berbagai pesisir daerah di Nusantara jadi buktinya. Pelabuhan-pelabuhan tua di tanah air dan ramainya perdagangan di pesisir mempermudah bangsa kita berhubungan dengan Bangsa Tionghoa.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Wong Kalang dan Kota Gede<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa kehadiran Bangsa Tionghoa di Nusantara tak hanya sebagai pedagang, namun juga sebagai pekerja (bahkan hingga pekerja kasar). Benny Setiono, seorang sejarahwan menyebutkan bahwa antara tahun 1760-1770 dalam jumlah yang besar memasuki nusantara melalui Kalimantan Barat. Mereka bekerja sebagai kuli pertambangan di sana dan di kemudian hari membentuk sebuah republik bernama Republik Lanfang yang konon katanya menjadi republik pertama di Asia Tenggara.<\/p>\n\n\n\n

Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Imlek dan Indonesia<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n\n\n\n

Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
<\/p>\n","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5406,"post_author":"877","post_date":"2019-02-04 08:23:48","post_date_gmt":"2019-02-04 01:23:48","post_content":"\n

Merokok itu sudah menjadi bagian dari budaya dan tradisi masyarakat, jauh sebelum Indonesia merdeka. Banyak cerita atau kisah tentang kretek <\/a><\/del>di tengah-tengah masyarakat bangsa ini, mulai sebagai alat untuk meraup keuntungan, alat komunikasi, sebagai teman sampai menjadi simbol pergerakan. <\/p>\n\n\n\n

Kretek, Simbol Perlawanan Roro Mendut<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Siapa yang tidak pernah mendengan cerita tentang Roro Mendut?, di telinga masyarakat Indonesia, kisah Roro Mendut tidak asing lagi.  Perempuan yang mempunyai paras wajah cantik, dan digandrungi kaum adam terutama kalangan putra kerajaan. Informasi kecantikan Roro Mendut tersebar seantero Nusantara, tidak satupun pria meragukan kecantikannya.  Bahkan kisah dan cerita kecantikan Roro Mendut tercatat dalam buku Babad Tanah Jawi. <\/p>\n\n\n\n

Diperkirakan pada tahun 1627, pada saat panglima perang Sultan Agung Mataram bernama Tumenggung Wiraguna berhasil menumpas pemberontakan di kota Pati, sebagai imbalanan atas keberhasilannya, mendapat hadiah wanita pujaan pria bernama Rara Mendut dari Kasultanan Agung Mataram.  Roro Mendut menolak dipinang Tumenggung Wiraguna, dan secara terang-terangan memilih pria lain dambaannya. Akibatnya, Roro Mendut harus membayar pajak setiap harinya kepada kerajaan Mataram. <\/p>\n\n\n\n

Bisa dibayangkan, betapa bingungnya Roro Mendut saat itu. Uang dari mana, ia hasilkan untuk bayar pajak tiap hari demi bisa bersama kekasihnya. Ternyata Roro Mendut tidak hanya cantik tetapi cerdas dan kreatif, bisa membaca peluang bisnis saat itu. Ide cermerlang muncul dengan berdagang\/berjualan rokok lintingan yang direkatkan dengan air ludahnya, dan sebelum menjualnya, rokok lintingan di sulut dahulu dan dihisap bekas bibir merahnya. Kemudian baru dijual ke pembeli yang berdesakan berjejer antri. <\/p>\n\n\n\n

Entah dari mana ide menjual rokok itu muncul. Yang jelas saking larisnya, kewajiban pajak Roro Mendut terpenuhi. Dan mungkin keadaannya akan lebih parah, jika saat itu Roro Mendut tidak berdagang rokok. Tidak akan terpenuhi kewajiban pajaknya. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Dengan rokok, hidup Roro Mendut terselamatkan. Adanya rokok, \u00a0Roro Mendut bebas dari belenggu kekuasaan. Berkat rokok, Roro Mendut terkengan, mengisi rubik informasi sejarah begitu kuatnya budaya merokok di \u00a0Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Pusaka Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek, Teman Perjuangan  Diponegoro<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Semasa berjuang melawan penjajah, yang harus dilakukan Diponegoro berpindah-pindah dari kota satu ke kota lain. Strategi perlawanan Diponegoro, kemudian sebagai basis strategi perang gerilya. Strategi yang menjadi idola dan kebanggaan tentara Indonesia. Dengan bergerilya, tentara Indonesia mampu mengecoh kekutan lawan yang lebih besar jumlahnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu, tenyata banyak cerita, Diponegoro saat berperang ditemani rokok. Ia dan pasukannya gemar merokok. Bahkan ketika tidak ada rokok, Pangeran Diponegoro rela hanya megunyah daun sirih yang diracik dengan kapur dan pinang. <\/p>\n\n\n\n

Kebiasaan ini, juga dialami oleh pengikut \/pasukan perang Pangeran Diponegoro. Bagi mereka, rokok teman sejati, menemani disetiap perjalanan mereka. Rokok menghilangkan depresi mereka, sebagai hiburan saat jauh dari keluarga demi berjuang melawan penjajah. Rokok menumbuhkan percaya diri mereka, lebih berani melawan penjajah walaupun hanya dengan serba keterbatasan, pasukan jumlah terbatas, alat perang terbatas dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Baca juga: Pangeran Diponegoro, Rokok Klobot dan Perlawanan Simbolis<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Jati Diri Bangsa<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Salah satu \u201cpendiri bangsa\u201d bernama KH. Agus Salim menghisap kretek dengan asapnya di kebal-kebulkan keudara, disaat ada perjamuan di Istana Buckingham ketika penobatan Elizabeth II sebagai Ratu kerajaan Inggris. Aroma khas keluar dari asap rokok kretek, tercium orang yang berada di ruang perjamuan. Sehingga memancing salah satu orang yang datang dalam perjamuan, dengan berkata; \u201ctuan sedang menghisap apa itu?\u201d.  Sentak KH. Agus Salim menjawab, \u201c inilah yang membuat nenek moyang anda sekian abad lalu datang dan kemudian menjajah negeri kami\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Jawaban KH. Agus Salim, faktanya memang benar. Rokok kretek tidak lain ada tambahan cengkeh (suzygium aromaticum<\/em>). \u00a0Tanaman legendaris menjadi rebutan dan sumber keuntungan kolonialisme Eropa atas Asia termasuk Indonesia. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Cengkeh adalah salah satu tanaman yang diperebutkan bangsa-bangsa dunia, sampai melegalkan penjajahan.  Dalam simpulan perjalanan ekspedisi cengkeh tahun 2013, Kepala Suku begitu julukan bagi Putut Ea, mengatakan \u201c jika saja tak pernah ada cengkeh dan pala di Maluku, mungkin sejarah kepulauan Nusantara ini akan berbeda sama sekali\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Simpulan Putut EA, sebagai salah satu pembenar perkataan \u00a0KH. Agus Salim. Mungkin, jika tanaman cengkeh tidak ada, fakta sejarah akan berbeda, tidak ada penjajahan di bumi Nusantara ini. <\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Mengisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek untuk Berteman dan Menjalin Persaudaraan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Teringat apa yang pernah dilakukan Menteri Sosial dan Lingkungan Hidup, saat melakukan pendekatan pada suku anak dalam di Jambi. Tidak lain ia adalah Khofifah menteri perempuan yang energik. Saat itu Khofifah bertanggungjawab dalam mengatasi masalah pendidikan dan kesejahteraan masyarakat suku anak dalam di Jambi.  <\/p>\n\n\n\n

Kebijakannya membuat fenomenal, selain bahan makanan, dan bantuan lain, khofifah juga membawa rokok.  Yang kemudian ada yang mengggugat dari anti rokok, tetapi sebagai Menteri, Khofifah tentunya sudah mengkaji secara mendalam. Dengan kecerdasannya , Khofifah menjawab dengan tegas dan lugas, \u201cjangan sok tahu kehidupan mereka, kenali apa yang menjadi ritme kehidupan mereka. Sangat bijaksana kalau kita semua pergi kesana, sehingga tahu adat istiadatnya juga. Tolong kalau ingin mengerti tentang kultur jangan hanya dari kacamata Jakarta. Saya pun ingin mengajak anda kesana, turun kesana, sapalah mereka\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Khofifah memberikan pelajaran bagi anti rokok. Tidak boleh sok tahu, apalagi selama ini antirokok hanya berasumsi, tanpa melihat fakta dilapangan. Khofifah juga menganjurkan agar lebih mengenal adat-istiadat, budaya dan tradisi masyarakat, tidak boleh melakukan hegemoni kultural, sebab keberagaman adat-istiadat dan budaya merupakan kekayaan negeri. <\/p>\n\n\n\n

Pelajaran Khofifah sangat mendalam dan bercirikhas Nusantara. Sebgaai Menteri \u00a0Sosial tentunya lebih berpengalaman apa yang dibutuhkan bangsa ini agar tetap jaya, bersatu dan utuh. Kenali perbedaan, hormati perbedaan, junjung tinggi budaya yang berbeda. \u00a0Apa yang telah dilakukan Khofifah dengan membawa rokok ke suku anak dalam adalah cermin penghormatan tradisi dan budaya masyarakat. Sebagai seorang Mentri, tentunya punya kuasa, artinya bisa seorang khofifah memberikan bantuan sesuai keinginannya sendiri, namun hal itu tidak dilakukan. Ia lebih mengedepankan penghormatan budaya masyarakat setempat, dengan membawa rokok untuk pendekatan dan pertemanan. Karena Khofifah tahu betul, bahwa merokok adalah budaya mereka, yang diwaris dari neneng moyang mereka. <\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Memilih Jalan Hidup Menikmati Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Simbol Pergerakan Nasional     <\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Abdul Rifa\u2019I dalam media bintang timur terbit pada 03 Oktober 1927, mengatakan, \u201ckopinya bukan kopi saringan, tetapi kopi tubruk sebab kopi ini katanya nationaal, gulanya gula jawa, susu tidak dipakai karena tidak nationaal. Rokoknya kelobot, selamatan natioanaal ini terus berlangsung ed sampai pagi hari\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Semangat nasionalisme harus tertanam, mengedepankan produk lokal adalah salah satu semangat nasionalime. Salah satu keberadaan rokok klobot menjadi ciri produk asli indonesia dan harus dilestarikan. Klobot sendiri adalah ramuan tembakau dan cengkeh di gulung memakai daun jagung, embrio perkembangan menjadi rokok sigaret kretek tangan dan sigaret kretek mesin.  
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pusaran Budaya Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pusaran-budaya-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-04 08:40:41","post_modified_gmt":"2019-02-04 01:40:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5406","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5403,"post_author":"919","post_date":"2019-02-03 09:05:50","post_date_gmt":"2019-02-03 02:05:50","post_content":"\n

Seringkali saya menyaksikan berbagai film baik itu Eropa atau Asia yang menggambarkan tentang masa depan. Pemandangan soal masa depan tersebut dihadirkan dengan gambaran kecanggihan teknologi seperti robot yang akan membantu kehidupan manusia, gedung-gedung yang tingginya sudah amat tak bisa ditandingi,  hingga mobil-mobil yang bisa terbang. <\/p>\n\n\n\n

Pernah dalam masa kecil saya menyaksikan sebuah film animasi buatan jepang yang mempertanyakan tentang makanan di masa depan. Dengan santai salah satu tokoh yang berasal dari masa depan itu menjawab bahwa suatu saat nanti manusia akan mengonsumsi makanan berupa pasta gigi namun dengan rasa yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa, aneh!<\/p>\n\n\n\n

Seiring waktu berjalan saya kian tumbuh dewasa dan punya kesadaran untuk memilih menjadi seorang perokok<\/a>. Saya juga melihat ada sebuah inovasi dan gambaran tentang masa depan yang hadir dalam kehidupan sekarang. Banyak memang, namun yang menyita perhatian saya adalah rokok elektrik atau yang populer disebut Vape. Konon katanya ia adalah produk inovasi untuk menjembatani kebutuhan menghisap asap dan kecanggihan masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Di awal kehadirannya Vape memang mengundang decak kekaguman saya. Bagaimana bisa sebuah mesin kecil mengeluarkan asap yang katanya lebih menyehatkan daripada rokok.<\/strong> Meski pada akhirnya teori tersebut juga bisa dibantah oleh beberapa ilmuan dunia. Tapi ada satu yang saya amati selain soal kesehatan, rokok elektrik rupanya menghadirkan kultur dan budaya baru dalam kehidupan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: LAGI-LAGI IKLAN ROKOK, KAPAN KPAI TIDAK TEBANG PILIH? <\/a><\/h4>\n\n\n\n

Kehadiran teknologi memang kerap sedikit atau benyak mengubah gaya atau kultur suatu masyarakat. Begitu pula yang saya perhatikan dengan rokok elektrik. Satu hal yang mudah diamati adalah menjamurnya toko-toko kecil yang menjual vape serta liquid di berbagai tempat. Sebagai sebuah warna baru dalam masyarakat, penggunanya ramai-ramai mengunjungi tempat tersebut berinteraksi dengan penikmat lainnya dan membangun sebuah rumah komunitas yang fleksibel.<\/p>\n\n\n\n

Meski belum bisa dikatakan memiliki jumlah penikmat yang setara dengan para perokok, pengguna Vape mulai menunjukkan eksistensinya. Selain toko yang tersebar, ragam acara juga mereka buat di beberapa daerah. Dalam lingkungan saya, beberapa teman yang dulunya merupakan perokok aktif tertarik mengikuti event tersebut dan beralih mengisap rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Nun jauh di sana, di Amerika Serikat tepatnya, budaya Vape juga sudah mulai berkembang lama ketimbang di Tanah Air. Penikmatnya terbagi menjadi dua, ada yang dulunya bekas perokok dan ada yang memang menikmatinya sebagai gaya hidup. Wajar saja mengingat facebook tak memperbolehkan iklan tembakau di platform mereka, sebaliknya iklan tentang vape justru bertebaran. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi budaya baru yang berkembang di berbagai belahan dunia bahkan di Indonesia, Vape konon menjadi alternatif yang lebih bermanfaat daripada rokok. Dalih yang diusung selalu sama kepada para perokok tradisonal yaitu soal kesehatan dan lebih irit. Soal kesehatan tentu ada beberapa pendapat para ilmuan yang membantahnya, namun soal irit, saya rasa tidak. Memang satu liquid bisa digunakan untuk beberapa Minggu, akan tetapi yang saya lihat di lapangan justru sebaliknya. <\/p>\n\n\n\n

Beberapa penikmat rokok elektrik kerap berbelanja liquid yang mereka idamkan. Terkadang, hal tersebut yang membuat mereka boros karena terus mengeksplor rasa mana yang mereka idam-idamkan. Tak jarang juga liquid dengan harga mahal hingga ratus ribuan akan mereka beli. Sebaliknya, para perokok konvensional justru kerap bertahan dengan satu rasa atau merek saja.<\/p>\n\n\n\n

Sedikit berbeda dengan penikmat rokok konvensional atau kretek. Mengingat rokok kretek sudah menjadi kebudayan lokal yang terus dipertahankan selama bertahun-tahun, kehadirannya sudah mewarnai khasanah keindonesiaan. Perokok kretek juga sudah punya soliditas luar biasa yang terbentuk sejak lama dan terus terbangun mengiringi peradaban di Indonesia atau dunia.<\/p>\n\n\n\n

Kini, perokok elektrik mulai merasakan kegelisahan. Beberapa negara mulai menerapkan peraturan ketat terhadap Vape, sedangkan di Indonesia biaya cukai pun kini mulai diberlakukan terhadap perdagangan rokok elektrik. Keberadaannya di mata negara pun mulai dianggap sama seperti rokok, meski pada awalnya rokok elektrik hadir dengan slogan-slogan produk alternatif yang lebih menyehatkan (katanya).<\/p>\n\n\n\n


Tapi jika kemudian di masa depan memang rokok elektrik yang kemudian menjadi sesuatu yang populer dan dinikmati banyak orang. Rasanya saya tetap ingin hidup di jaman ini, dengan sebatang kretek di tangan dan menikmati segala khasanah kebudayaan yang patut terus dipertahankan. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"masa-depan-rokok-elektrik-dan-semangat-alternatif-yang-sia-sia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-03 09:05:56","post_modified_gmt":"2019-02-03 02:05:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5403","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5385,"post_author":"883","post_date":"2019-02-02 08:01:01","post_date_gmt":"2019-02-02 01:01:01","post_content":"Pada tahun 2014, perusahaan rokok multinasional Philip Morris Internasional Inc. merilis sebuah produk <\/span>perangkat\u00a0<\/span>
rokok<\/span><\/a>\u00a0tanpa asap, yang dipanaskan bukan dibakar atau istilahnya\u00a0<\/span>heat not burn<\/i><\/strong>\u00a0(HNB) iQOS<\/strong>. <\/span>\r\n\r\nPerangkat rokok tanpa asap dengan nama iQOS<\/a> ini berbentuk seperti bagian luar pulpen, dengan lubang di tengah untuk rokok. Produk yang berada di bawah brand Marlboro ini dapat memanaskan rokok sampai 350 derajat celcius lalu mengeluarkan uap nikotin beraroma tembakau<\/em><\/a>.<\/span>\r\n

Produk iQOS sebenarnya bukanlah produk rokok tanpa asap yang pertama muncul. Sebelumnya di tahun 1990-an, Reynolds Tobacco Co pernah merilis produk serupa bernama Eclipes yang juga dapat menguapkan nikotin setelah dinyalakan dengan korek api.<\/span><\/blockquote>\r\nSelain itu, Eclips juga dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. Namun, pada saat itu Eclips tidak diminati oleh pasar, utamanya para perokok konvensional. Meskipun Eclips dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. <\/span>\r\n\r\nBisnis semacam rokok tanpa asap seperti Eclips dan iQOS memang sudah menjadi bagian dari rencana panjang bisnis perusahaan-perusahaan rokok multinasional. Jadi tidak usah heran jika ke depannya akan kita akan banyak menemukan produk rokok tanpa asap ini.<\/span>\r\n\r\nWatak dari perusahaan multinasional memang seperti itu, mereka sangat jeli melihat peluang pasar ke depannya. Ketika market place perusahaan rokok multinasional saat ini terus dirongrong oleh kelompok antirokok, mereka tak kehabisan akal. Maka kemudian mereka menginovasi produk rokok konvensional menjadi rokok yang tidak berasap. Begitupun dengan mengikutsertakan jargon-jargon kesehatan dalam narasi promosi mereka.<\/span>\r\n\r\nSesungguhnya memang seperti itulah watak bisnis perusahaan-perusahaan multinasional, melakukan segala cara agar bisnis mereka tetap bertahan, meskipun harus merangkul musuh sekalipun. <\/span>\r\n\r\nYa kadang pura-pura berantem sama antirokok, tapi dibalik itu sebenarnya baik-baik saja, dan tentunya ada kompromi untuk terus melanggengkan bisnis mereka.<\/span>\r\n

Lalu siapa yang dirugikan dari permainan bisnis macam produk rokok tanpa asap perusahaan rokok multinasional ini?<\/span><\/h3>\r\nTentunya yang sangat dirugikan adalah produk hasil tembakau yang memiliki kekhasan seperti kretek di Indonesia. Kretek sebagai produk khas asli Indonesia yang menjadi bagian dari warisan kebudayaan tidak mungkin bertransformasi menjadi produk-produk elektrik dan sejenisnya.<\/span>\r\n\r\nKretek tetaplah kretek, dengan bahan baku alami tembakau dan cengkeh yang tidak diintervensi dengan zat atau perangkat penghantar lainnya. Karena dengan bentuk, karakter dan cara menikmatinya memang konvensional dan akan terus begitu apapun kondisi dan zamannya.<\/span>\r\n
Bisnis produk rokok tanpa asap (elektrik) juga menghajar kretek dengan mendompleng isu pengendalian tembakau. Kampanye pengendalian tembakau selalu membawa slogan bahaya merokok dan upaya untuk berhenti merokok. <\/span><\/blockquote>\r\nDari isu tersebut, rokok elektrik masuk dengan citra produk alternatif tembakau, bahkan mereka tak segan menilai bahwa rokok elektrik lebih aman ketimbang rokok konvensional, yakni kretek.<\/span>\r\n\r\nLalu jika Indonesia akan dibanjiri dengan produk-produk yang mengatasnamakan produk alternatif tembakau, macam rokok tanpa asap (iQOS dan sejenisnya), maka itulah pertanda bahwa kretek harus tergerus dari cara hidup manusia Indonesia dalam menikmati produk hasil tembakau khas Indonesia yang sudah turun-temurun lamanya dinikmati manusia Indonesia.<\/span>","post_title":"Nasib Kretek di Pusaran Pertarungan Bisnis Global Perusahaan Rokok Multinasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"nasib-kretek-di-pusaran-pertarungan-bisnis-global-perusahaan-rokok-multinasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-02 08:01:43","post_modified_gmt":"2019-02-02 01:01:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5385","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; \n

Bukan hanya membuat perekonomian dan perdagangan serta ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang, cengkeh dan pala bahkan adalah faktor yang paling menentukan dalam kemunculan satu babakan paling mengenaskan dalam sejarah politik dunia, yakni zaman penjajahan (kolonialisme) Eropa, terutama atas-atas negeri- negeri Asia Selatan, Timur dan Tenggara, termasuk Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Tergerak oleh sahwat menguasai rempah-rempah yang menggiurkan itu, bangsa-bangsa Eropa --terutama Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda-- pun menggelar ekspedisi-ekspedisi besar untuk menemukan cengkeh dan pala langsung di tanah asalnya. Ketika armada-armada mereka akhirnya mencapai perairan Kepulauan Maluku, pada abad-16, perang pun tak terhindarkan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka silih berganti saling mengalahkan, tetapi pemenang terakhir adalah Belanda. Melalui Perusahaan Dagang Hindia Timur (Vereenigde Oostindische Compagnie, VOC) yang dibentuk pada awal abad-17 (tepatnya tahun 1609), Belanda melancarkan ekspedisi Pelayaran Hongi (Hongie Tochten), untuk memusnahkan semua tanaman cengkeh di Ternate, Tidore, Moti, dan Makian, lalu membatasi ketat penanamnya hanya di Pulau-pulau Ambon dan Lease --yang lebih dekat ke Banda sebagai pusat pemerintahan mereka sebelum akhirnya dipindahkan ke Batavia.
<\/p>\n\n\n\n

Praktis, sejak akhir abad-16, Belanda pun menguasai penuh perdagangan rempah-rempah Maluku dengan jumlah produksi rerata 2.500 sampai 4.500 ton per tahun. [3]<\/p>\n\n\n\n

Baca: Budidaya Pohon Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Meskipun peran utama rempah-rempah Maluku itu kemudian tergusur pada abad-18 dan 19 oleh beberapa barang eksotika tropis lainnya --hasil perkebunan-perkebunana besar baru di Pulau Sumatera dan Jawa: tebu, tembakau, lada, kopi, teh, nila, kelapa sawit, dan kayu jati-- namun sejarah sudah mencatat bahwa dua jenis rempah-rempah Maluku itulah yang mengawali penjelajahan sekaligus penjajahan kepulauan Nusantara oleh bangsa-bangsa Eropah, terutama Belanda (Topatimasang, ed., 2004:32). Jika saja tak pernah ada cengkeh dan pala di Maluku, mungkin sejarah kepulauan Nusantara ini akan berbeda sama sekali.
<\/p>\n\n\n\n

Masa suram cengkeh dan pala terus berlangsung sampai pertengahan abad-20. Rempah eksotika yang pernah membuat tergila-gila<\/p>\n\n\n\n

para saudagar Arab, pedagang Cina, serta kaum ningrat Eropa itu, tergantikan perannya oleh penemuan teknologi mesin pendingin berkat Revolusi Industri yang dimulai di Inggris pada pertengahan abad-18. Pasaran cengkeh di Eropa pun merosot tajam.
<\/p>\n\n\n\n

Nasibnya terselamatkan berkat penemuan oleh seorang Haji Djamhari di Kudus, Jawa Tengah. Pada akhir tahun 1880-an, Haji Djamhari menemukan kegunaan baru cengkeh sebagai ramuan utama rokok. Lahirlah satu produk baru yang unik, khas dan asli Indonesia: kretek! (Hanusz, 2000:ii).
<\/p>\n\n\n\n

Setelah seperempat abad hanya berkembang dalam skala kecil usaha rumah tangga, produksi kretek akhirnya menjelma menjadi industri besar sejak awal abad-20 yang dirintis oleh Haji Nitisemito (pendiri pabrik \u2018Jambu Bol\u2019) di Kudus dan Liem Seng Tee (pendiri pabrik \u2018Dji Sam Soe\u2019 dan \u2018Sampoerna\u2019) di Surabaya.
<\/p>\n\n\n\n

Puncaknya adalah pada pertengahan tahun 1950-an, ketika produksi kretek mulai berkembang pesat menjadi industri raksasa modern dengan munculnya beberapa pabrik baru, antara lain, yang terkemuka, oleh Oei Wei Gwan (pendiri pabrik \u2018Djarum\u2019) di Kudus dan Tjou Ing Hwie (pendiri pabrik \u2018Gudang Garam\u2019) di Kediri (Topatimasang, et.al., eds., 2010:131).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Teruslah Menanam Tembakau dan Cengkeh, Wahai Petani Indonesia<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Cengkeh, bahan baku paling esensial dari kretek --selain tembakau, tentu saja-- pun kembali berjaya. Bahkan, sejak dasawarsa 1970an, telah menjadi salah satu penyumbang terbesar keuangan negara Republik Indonesia. Pada tahun 2012 dan 2013, pemasukan cukai dari industri kretek mencatat 95,5% dari seluruh pemasukan cukai ke kas negara. Nilainya tak tanggung-tanggung: Rp 87 triliun! (el-Guyanie, et.al.: 2013:4-5).<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Nilai ekonomisnya yang sangat besar sempat menggoda penguasa otoriter rezim Presiden Soeharto, pada 1990-an, memberlakukan satu kebijakan \u2018Hongi Gaya Baru\u2019: monopoli perdagangan cengkeh dalam negeri melalui Badan Penyanggah dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) yang sangat merugikan petani. Harga cengkeh di tingkat petani penghasil anjlok sampai hanya Rp 2.000 - 3.000 per kilogram, lebih murah dari harga sebungkus kretek yang dihasilkan darinya.
<\/p>\n\n\n\n

Akibatnya, ratusan ribu pohon cengkeh di daerah-daerah penghasil utama --Maluku, Maluku Utara, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Selatan-- ditebangi atau dibiarkan terlantar tak terurus.
<\/p>\n\n\n\n

Gelombang reformasi sistem politik dan hukum nasional yang dimulai pada tahun 1998, akhirnya menjungkalkan rezim Soeharto dan BPPC dibubarkan, Pelan tapi pasti, harga cengkeh kembali merangkak naik, sehingga pada tahun 2012, bahkan melewati angka Rp 200.000 per kilogram. Para petani cengkeh di seluruh negeri kembali tersenyum. Tetapi, sampai kapan? <\/p>\n\n\n\n

Catatan:<\/strong><\/p>\n\n\n\n

[1] Beberapa sumber menyebutkan bahwa kata \u2018cengkeh\u2019 dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Mandarin, tkeng-his atau xi\u2019jia, yang berarti \u2018rempah [berbentuk mirip] paku\u2019 (scented nails). Ini menunjukkan bahwa cengkeh sudah dikenal sejak lama oleh bangsa Cina --diketahui sejak abad-2-- jauh sebelum orang Eropa mengenalnya ((lihat, misalnya: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n\n\n\n

[2] Catatan-catatan para biarawan Fransiskan --yang disalin dan dikutip oleh van Frassen-- bahkan menyebut cengkeh sebagai salah satu bahan utama pengawet mumi para Fir\u2019aun, penguasa Mesir Kuno. Beberapa pakar sejarah dan arkeologi menyatakan bahwa rempah-rempah Maluku bahkan sudah ditemukan artefaknya di Lembah Mesopotomia (wilayah Iraq dan sekitarnya sekarang) pada 3.000 tahun sebelum Masehi. (lihat, antara lain: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n\n\n\n

[3] Uraian lebih rinci sejarah kolonialisme rempah-rempah Nusantara ini, terutama oleh Belanda dan Portugis, dapat dibaca pada beberapa sumber kepustakaan yang sudah dikenal luas, antara lain: Glamann (1958) dan Boxer (1965 dan 1969). Dalam risalah klasik Pires disebutkan bahwa pada tahun 1512-1521 saja, jumlah produksi cengkeh di Maluku sudah mencapai 7.250 bahar per tahun, terbesar adalah di Makian serta Amboina dan Lease (masing-masing 1.500 bahar)(Pires, 1512-1515).<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem Topatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-10 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-02-10 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5425","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5415,"post_author":"878","post_date":"2019-02-07 12:15:55","post_date_gmt":"2019-02-07 05:15:55","post_content":"\n

Belakangan ini, ketika musim hujan tiba, di Kabupaten Temanggung, Kabupaten Jember, dan beberapa wilayah sentra pertanian tembakau lainnya, hampir mustahil menemukan tanaman tembakau tumbuh di lahan-lahan milik petani. Di wilayah-wilayah tersebut, citra sebagai sentra pertanian tembakau seakan menguap. Lahan-lahan yang ada di sana, sama sekali tidak ditumbuhi tanaman tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Kabar ini bisa jadi dianggap sebagai kabar gembira bagi mereka yang menganggap diri dan kelompoknya anti-rokok dan anti-tembakau yang selalu mengampanyekan sikap-sikap mereka terkait kebencian kepada tembakau dan aktivitas merokok. Setelah sekian lama berjuang, akhirnya perjuangan mereka dirasa berhasil usai menyaksikan fenomena lahan-lahan di wilayah yang dianggap sentra pertanian tembakau pada hari-hari belakangan ini.<\/p>\n\n\n\n

Baca juga: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tak sia-sia turun ke jalan, tak sia-sia melakukan lobi-lobi ke penguasa, tak sia-sia mengucurkan uang yang tidak sedikit, dan tak sia-sia mempermalukan diri dengan mengemis ke lembaga donor asing dan menggondol uang dari cukai tembakau untuk mengampanyekan gerakan anti-rokok dan anti-tembakau. Tak sia-sia. Karena perjuangan sepertinya berhasil.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Kampanye-kampanye gerakan mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya, sepertinya juga sangat berhasil. Bagaimana tidak? Wilayah-wilayah yang sebelumnya penuh dengan tanaman tembakau dan bergeliat dengannya, kini lahan-lahannya sudah berganti dengan tanaman lain. Sebuah keberhasilan yang menggembirakan. Begitu mungkin pikir mereka para yang menganggap dirinya pejuang anti-rokok dan anti-tembakau. Dan tentu saja mereka akan kecele dan kita akan menertawakan hal itu.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, mereka yang menganggap dirinya anti-rokok dan anti-tembakau tidak menyaksikan langsung fenomena ini di lapangan, di lahan-lahan yang peruntukannya berubah pada hari-hari belakangan ini ketika memasuki musim hujan. Mereka asyik duduk pada kursi empuk di ruang-ruang nyaman ber-AC di kota-kota yang jauh dari kultur pertanian. Mereka menyengajakan diri menjadi elit dan enggan untuk turun melihat langsung ke lapangan. Kalaupun ada yang turun langsung ke lapangan, hanya segelintir saja dari mereka, itupun sekadar formalitas saja. Tak pernah benar-benar mau turun ke lapangan, hidup dan merasakan langsung kultur pertanian tembakau dalam jangka waktu cukup lama di lapangan.<\/p>\n\n\n\n

Baca juga: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Fenomena ini membikin kita tak bisa melihat mereka para anti-rokok kecele lalu menertawakan mereka.<\/strong> Fenomena keengganan terjun langsung ke lapangan terlebih mencoba mendengar mereka yang tetap menanam tembakau, juga menjalani keseharian dalam waktu cukup lama bersama petani tembakau inilah yang saya kira menjadikan mereka tetap keras kepala untuk anti-rokok dan anti-tembakau. Karena jika mereka mau melakukan itu, saya yakin mereka semua tidak akan begitu kaku dalam memandang pertanian tembakau dan produk hasil industri tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu yang selalu mereka kampanyekan dan ngotot dengan itu, terkait hulu pertanian tembakau adalah mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya. Mereka berargumen banyak tanaman lain yang bisa semenguntungkan tanaman tembakau. Keengganan mereka terjun langsung ke lapangan inilah yang membikin mereka buta dengan kondisi pertanian tembakau dan pada akhirnya terus menerus mengampanyekan pergantian tanaman tembakau dengan tanaman lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca juga: Imanlah kepada Allah, Bukan Antirokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tembakau tanaman yang khas. Ia hanya tumbuh baik sepanjang empat hingga lima bulan dalam satu tahun. Tumbuh-kembang tanaman tembakau dengan baik itu umumnya terjadi pada musim kemarau setiap tahunnya. Hanya sedikit sekali jenis tembakau yang tumbuh baik di musim penghujan, mayoritasnya, tumbuh baik pada musim kemarau.<\/p>\n\n\n\n

Jika ditanam pada musim hujan, hampir bisa dipastikan tanaman tembakau akan gagal menghasilkan daun-daun yang berkualitas. Ia akan rusak dan membusuk karena terlalu banyak terkena air sehingga daun-daun itu tak layak dijual. Jangankan bisa dijual, untuk tumbuh dengan baik pun sepertinya sulit karena musim hujan akan membunuh banyak tanaman itu.<\/p>\n\n\n\n

Maka, tak heran pada musim-musim seperti saat ini, ketika musim penghujan mendekati puncaknya, di wilayah-wilayah yang dikenal sebagai sentra pertanian tembakau, sulit menemukan pohon tembakau yang sedang tumbuh. Pada lahan-lahan yang sebelumnya ditumbuhi tanaman tembakau pada musim panas, berganti tanaman-tanaman lain yang bermacam-macam, sesuai dengan kondisi lahannya. Untuk lahan sawah, lahan-lahan itu pada musim penghujan kini ditumbuhi tanaman padi yang subur. Pada lahan tegalan dan lahan di pegunungan, lahan-lahan yang ditanami tembakau pada musim kemarau, saat ini ditumbuhi bermacam jenis tanaman mulai dari cabai, bawang, tomat, kol, terong, mentimun, dan ragam jenis tanaman semusim lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Uniknya, tipikal tanaman tembakau yang tumbuh baik di musim kemarau ini memberi pilihan lebih kepada para petani. Lahan-lahan yang sulit ditanami pada musim kemarau, pada akhirnya masih bisa tetap produktif dengan keberadaan tanaman tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Maka, kampanye aneh mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain dengan ragam rupa dalih yang membingungkan, bukan saja sama sekali tidak tepat dan asal-asalan, namun bisa jadi akan ditertawakan oleh para petani yang begitu paham dengan kondisi lahan dan terutama kondisi iklim dan cuaca. Sulit mencari tanaman semusim yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Jika pun ada, tak ada yang semenguntungkan tanaman tembakau.
<\/p>\n","post_title":"Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"keberhasilan-gerakan-anti-tembakau-tak-ada-tembakau-saat-musim-hujan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-07 12:16:02","post_modified_gmt":"2019-02-07 05:16:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5415","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5409,"post_author":"919","post_date":"2019-02-05 08:04:43","post_date_gmt":"2019-02-05 01:04:43","post_content":"\n

Tahun Baru Imlek yang merupakan tradisi Bangsa Tiongkok kini sudah tak lagi menjadi hal yang asing bagi masyarakat Indonesia. Kehadirannya sudah mewarnai dan berakulturasi dengan tradisi lokal. Menjelang Tahun Baru Imlek. Berbagai hiasan dan kemeriahan terjadi beberapa titik di Tanah Air. Perayaannya juga menjadi destinasi baru yang mengasyikkan untuk dilihat dan patut disaksikan.<\/p>\n\n\n\n

Berterimakasihlah kepada sang bapak bangsa, KH Abdurrahman Wahid atau yang dikenal dengan nama Gus Dur. Berkat kebijakannya saat menjadi Presiden Indonesia, Tahun Baru Imlek resmi dijadikan hari libur nasional dan dianggap sebagai salah satu hari raya di Tanah Air. Meski sentimen antitionghoa masih ada di sana-sini, tapi tetap tak bisa dipungkiri bahwa bangsa tionghoa sudah bersentuhan dengan budaya lokal dalam kurun waktu yang sangat panjang.<\/p>\n\n\n\n

DNA Bangsa Tionghoa yang memang merupakan pedagang menjadi pembuka kisah interaksi antara nenek moyang berbagai suku di Nusantara dengan mereka. Beberapa kelenteng-kelenteng yang tersebar pada berbagai pesisir daerah di Nusantara jadi buktinya. Pelabuhan-pelabuhan tua di tanah air dan ramainya perdagangan di pesisir mempermudah bangsa kita berhubungan dengan Bangsa Tionghoa.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Wong Kalang dan Kota Gede<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa kehadiran Bangsa Tionghoa di Nusantara tak hanya sebagai pedagang, namun juga sebagai pekerja (bahkan hingga pekerja kasar). Benny Setiono, seorang sejarahwan menyebutkan bahwa antara tahun 1760-1770 dalam jumlah yang besar memasuki nusantara melalui Kalimantan Barat. Mereka bekerja sebagai kuli pertambangan di sana dan di kemudian hari membentuk sebuah republik bernama Republik Lanfang yang konon katanya menjadi republik pertama di Asia Tenggara.<\/p>\n\n\n\n

Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Imlek dan Indonesia<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n\n\n\n

Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
<\/p>\n","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5406,"post_author":"877","post_date":"2019-02-04 08:23:48","post_date_gmt":"2019-02-04 01:23:48","post_content":"\n

Merokok itu sudah menjadi bagian dari budaya dan tradisi masyarakat, jauh sebelum Indonesia merdeka. Banyak cerita atau kisah tentang kretek <\/a><\/del>di tengah-tengah masyarakat bangsa ini, mulai sebagai alat untuk meraup keuntungan, alat komunikasi, sebagai teman sampai menjadi simbol pergerakan. <\/p>\n\n\n\n

Kretek, Simbol Perlawanan Roro Mendut<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Siapa yang tidak pernah mendengan cerita tentang Roro Mendut?, di telinga masyarakat Indonesia, kisah Roro Mendut tidak asing lagi.  Perempuan yang mempunyai paras wajah cantik, dan digandrungi kaum adam terutama kalangan putra kerajaan. Informasi kecantikan Roro Mendut tersebar seantero Nusantara, tidak satupun pria meragukan kecantikannya.  Bahkan kisah dan cerita kecantikan Roro Mendut tercatat dalam buku Babad Tanah Jawi. <\/p>\n\n\n\n

Diperkirakan pada tahun 1627, pada saat panglima perang Sultan Agung Mataram bernama Tumenggung Wiraguna berhasil menumpas pemberontakan di kota Pati, sebagai imbalanan atas keberhasilannya, mendapat hadiah wanita pujaan pria bernama Rara Mendut dari Kasultanan Agung Mataram.  Roro Mendut menolak dipinang Tumenggung Wiraguna, dan secara terang-terangan memilih pria lain dambaannya. Akibatnya, Roro Mendut harus membayar pajak setiap harinya kepada kerajaan Mataram. <\/p>\n\n\n\n

Bisa dibayangkan, betapa bingungnya Roro Mendut saat itu. Uang dari mana, ia hasilkan untuk bayar pajak tiap hari demi bisa bersama kekasihnya. Ternyata Roro Mendut tidak hanya cantik tetapi cerdas dan kreatif, bisa membaca peluang bisnis saat itu. Ide cermerlang muncul dengan berdagang\/berjualan rokok lintingan yang direkatkan dengan air ludahnya, dan sebelum menjualnya, rokok lintingan di sulut dahulu dan dihisap bekas bibir merahnya. Kemudian baru dijual ke pembeli yang berdesakan berjejer antri. <\/p>\n\n\n\n

Entah dari mana ide menjual rokok itu muncul. Yang jelas saking larisnya, kewajiban pajak Roro Mendut terpenuhi. Dan mungkin keadaannya akan lebih parah, jika saat itu Roro Mendut tidak berdagang rokok. Tidak akan terpenuhi kewajiban pajaknya. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Dengan rokok, hidup Roro Mendut terselamatkan. Adanya rokok, \u00a0Roro Mendut bebas dari belenggu kekuasaan. Berkat rokok, Roro Mendut terkengan, mengisi rubik informasi sejarah begitu kuatnya budaya merokok di \u00a0Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Pusaka Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek, Teman Perjuangan  Diponegoro<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Semasa berjuang melawan penjajah, yang harus dilakukan Diponegoro berpindah-pindah dari kota satu ke kota lain. Strategi perlawanan Diponegoro, kemudian sebagai basis strategi perang gerilya. Strategi yang menjadi idola dan kebanggaan tentara Indonesia. Dengan bergerilya, tentara Indonesia mampu mengecoh kekutan lawan yang lebih besar jumlahnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu, tenyata banyak cerita, Diponegoro saat berperang ditemani rokok. Ia dan pasukannya gemar merokok. Bahkan ketika tidak ada rokok, Pangeran Diponegoro rela hanya megunyah daun sirih yang diracik dengan kapur dan pinang. <\/p>\n\n\n\n

Kebiasaan ini, juga dialami oleh pengikut \/pasukan perang Pangeran Diponegoro. Bagi mereka, rokok teman sejati, menemani disetiap perjalanan mereka. Rokok menghilangkan depresi mereka, sebagai hiburan saat jauh dari keluarga demi berjuang melawan penjajah. Rokok menumbuhkan percaya diri mereka, lebih berani melawan penjajah walaupun hanya dengan serba keterbatasan, pasukan jumlah terbatas, alat perang terbatas dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Baca juga: Pangeran Diponegoro, Rokok Klobot dan Perlawanan Simbolis<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Jati Diri Bangsa<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Salah satu \u201cpendiri bangsa\u201d bernama KH. Agus Salim menghisap kretek dengan asapnya di kebal-kebulkan keudara, disaat ada perjamuan di Istana Buckingham ketika penobatan Elizabeth II sebagai Ratu kerajaan Inggris. Aroma khas keluar dari asap rokok kretek, tercium orang yang berada di ruang perjamuan. Sehingga memancing salah satu orang yang datang dalam perjamuan, dengan berkata; \u201ctuan sedang menghisap apa itu?\u201d.  Sentak KH. Agus Salim menjawab, \u201c inilah yang membuat nenek moyang anda sekian abad lalu datang dan kemudian menjajah negeri kami\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Jawaban KH. Agus Salim, faktanya memang benar. Rokok kretek tidak lain ada tambahan cengkeh (suzygium aromaticum<\/em>). \u00a0Tanaman legendaris menjadi rebutan dan sumber keuntungan kolonialisme Eropa atas Asia termasuk Indonesia. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Cengkeh adalah salah satu tanaman yang diperebutkan bangsa-bangsa dunia, sampai melegalkan penjajahan.  Dalam simpulan perjalanan ekspedisi cengkeh tahun 2013, Kepala Suku begitu julukan bagi Putut Ea, mengatakan \u201c jika saja tak pernah ada cengkeh dan pala di Maluku, mungkin sejarah kepulauan Nusantara ini akan berbeda sama sekali\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Simpulan Putut EA, sebagai salah satu pembenar perkataan \u00a0KH. Agus Salim. Mungkin, jika tanaman cengkeh tidak ada, fakta sejarah akan berbeda, tidak ada penjajahan di bumi Nusantara ini. <\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Mengisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek untuk Berteman dan Menjalin Persaudaraan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Teringat apa yang pernah dilakukan Menteri Sosial dan Lingkungan Hidup, saat melakukan pendekatan pada suku anak dalam di Jambi. Tidak lain ia adalah Khofifah menteri perempuan yang energik. Saat itu Khofifah bertanggungjawab dalam mengatasi masalah pendidikan dan kesejahteraan masyarakat suku anak dalam di Jambi.  <\/p>\n\n\n\n

Kebijakannya membuat fenomenal, selain bahan makanan, dan bantuan lain, khofifah juga membawa rokok.  Yang kemudian ada yang mengggugat dari anti rokok, tetapi sebagai Menteri, Khofifah tentunya sudah mengkaji secara mendalam. Dengan kecerdasannya , Khofifah menjawab dengan tegas dan lugas, \u201cjangan sok tahu kehidupan mereka, kenali apa yang menjadi ritme kehidupan mereka. Sangat bijaksana kalau kita semua pergi kesana, sehingga tahu adat istiadatnya juga. Tolong kalau ingin mengerti tentang kultur jangan hanya dari kacamata Jakarta. Saya pun ingin mengajak anda kesana, turun kesana, sapalah mereka\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Khofifah memberikan pelajaran bagi anti rokok. Tidak boleh sok tahu, apalagi selama ini antirokok hanya berasumsi, tanpa melihat fakta dilapangan. Khofifah juga menganjurkan agar lebih mengenal adat-istiadat, budaya dan tradisi masyarakat, tidak boleh melakukan hegemoni kultural, sebab keberagaman adat-istiadat dan budaya merupakan kekayaan negeri. <\/p>\n\n\n\n

Pelajaran Khofifah sangat mendalam dan bercirikhas Nusantara. Sebgaai Menteri \u00a0Sosial tentunya lebih berpengalaman apa yang dibutuhkan bangsa ini agar tetap jaya, bersatu dan utuh. Kenali perbedaan, hormati perbedaan, junjung tinggi budaya yang berbeda. \u00a0Apa yang telah dilakukan Khofifah dengan membawa rokok ke suku anak dalam adalah cermin penghormatan tradisi dan budaya masyarakat. Sebagai seorang Mentri, tentunya punya kuasa, artinya bisa seorang khofifah memberikan bantuan sesuai keinginannya sendiri, namun hal itu tidak dilakukan. Ia lebih mengedepankan penghormatan budaya masyarakat setempat, dengan membawa rokok untuk pendekatan dan pertemanan. Karena Khofifah tahu betul, bahwa merokok adalah budaya mereka, yang diwaris dari neneng moyang mereka. <\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Memilih Jalan Hidup Menikmati Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Simbol Pergerakan Nasional     <\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Abdul Rifa\u2019I dalam media bintang timur terbit pada 03 Oktober 1927, mengatakan, \u201ckopinya bukan kopi saringan, tetapi kopi tubruk sebab kopi ini katanya nationaal, gulanya gula jawa, susu tidak dipakai karena tidak nationaal. Rokoknya kelobot, selamatan natioanaal ini terus berlangsung ed sampai pagi hari\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Semangat nasionalisme harus tertanam, mengedepankan produk lokal adalah salah satu semangat nasionalime. Salah satu keberadaan rokok klobot menjadi ciri produk asli indonesia dan harus dilestarikan. Klobot sendiri adalah ramuan tembakau dan cengkeh di gulung memakai daun jagung, embrio perkembangan menjadi rokok sigaret kretek tangan dan sigaret kretek mesin.  
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pusaran Budaya Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pusaran-budaya-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-04 08:40:41","post_modified_gmt":"2019-02-04 01:40:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5406","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5403,"post_author":"919","post_date":"2019-02-03 09:05:50","post_date_gmt":"2019-02-03 02:05:50","post_content":"\n

Seringkali saya menyaksikan berbagai film baik itu Eropa atau Asia yang menggambarkan tentang masa depan. Pemandangan soal masa depan tersebut dihadirkan dengan gambaran kecanggihan teknologi seperti robot yang akan membantu kehidupan manusia, gedung-gedung yang tingginya sudah amat tak bisa ditandingi,  hingga mobil-mobil yang bisa terbang. <\/p>\n\n\n\n

Pernah dalam masa kecil saya menyaksikan sebuah film animasi buatan jepang yang mempertanyakan tentang makanan di masa depan. Dengan santai salah satu tokoh yang berasal dari masa depan itu menjawab bahwa suatu saat nanti manusia akan mengonsumsi makanan berupa pasta gigi namun dengan rasa yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa, aneh!<\/p>\n\n\n\n

Seiring waktu berjalan saya kian tumbuh dewasa dan punya kesadaran untuk memilih menjadi seorang perokok<\/a>. Saya juga melihat ada sebuah inovasi dan gambaran tentang masa depan yang hadir dalam kehidupan sekarang. Banyak memang, namun yang menyita perhatian saya adalah rokok elektrik atau yang populer disebut Vape. Konon katanya ia adalah produk inovasi untuk menjembatani kebutuhan menghisap asap dan kecanggihan masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Di awal kehadirannya Vape memang mengundang decak kekaguman saya. Bagaimana bisa sebuah mesin kecil mengeluarkan asap yang katanya lebih menyehatkan daripada rokok.<\/strong> Meski pada akhirnya teori tersebut juga bisa dibantah oleh beberapa ilmuan dunia. Tapi ada satu yang saya amati selain soal kesehatan, rokok elektrik rupanya menghadirkan kultur dan budaya baru dalam kehidupan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: LAGI-LAGI IKLAN ROKOK, KAPAN KPAI TIDAK TEBANG PILIH? <\/a><\/h4>\n\n\n\n

Kehadiran teknologi memang kerap sedikit atau benyak mengubah gaya atau kultur suatu masyarakat. Begitu pula yang saya perhatikan dengan rokok elektrik. Satu hal yang mudah diamati adalah menjamurnya toko-toko kecil yang menjual vape serta liquid di berbagai tempat. Sebagai sebuah warna baru dalam masyarakat, penggunanya ramai-ramai mengunjungi tempat tersebut berinteraksi dengan penikmat lainnya dan membangun sebuah rumah komunitas yang fleksibel.<\/p>\n\n\n\n

Meski belum bisa dikatakan memiliki jumlah penikmat yang setara dengan para perokok, pengguna Vape mulai menunjukkan eksistensinya. Selain toko yang tersebar, ragam acara juga mereka buat di beberapa daerah. Dalam lingkungan saya, beberapa teman yang dulunya merupakan perokok aktif tertarik mengikuti event tersebut dan beralih mengisap rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Nun jauh di sana, di Amerika Serikat tepatnya, budaya Vape juga sudah mulai berkembang lama ketimbang di Tanah Air. Penikmatnya terbagi menjadi dua, ada yang dulunya bekas perokok dan ada yang memang menikmatinya sebagai gaya hidup. Wajar saja mengingat facebook tak memperbolehkan iklan tembakau di platform mereka, sebaliknya iklan tentang vape justru bertebaran. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi budaya baru yang berkembang di berbagai belahan dunia bahkan di Indonesia, Vape konon menjadi alternatif yang lebih bermanfaat daripada rokok. Dalih yang diusung selalu sama kepada para perokok tradisonal yaitu soal kesehatan dan lebih irit. Soal kesehatan tentu ada beberapa pendapat para ilmuan yang membantahnya, namun soal irit, saya rasa tidak. Memang satu liquid bisa digunakan untuk beberapa Minggu, akan tetapi yang saya lihat di lapangan justru sebaliknya. <\/p>\n\n\n\n

Beberapa penikmat rokok elektrik kerap berbelanja liquid yang mereka idamkan. Terkadang, hal tersebut yang membuat mereka boros karena terus mengeksplor rasa mana yang mereka idam-idamkan. Tak jarang juga liquid dengan harga mahal hingga ratus ribuan akan mereka beli. Sebaliknya, para perokok konvensional justru kerap bertahan dengan satu rasa atau merek saja.<\/p>\n\n\n\n

Sedikit berbeda dengan penikmat rokok konvensional atau kretek. Mengingat rokok kretek sudah menjadi kebudayan lokal yang terus dipertahankan selama bertahun-tahun, kehadirannya sudah mewarnai khasanah keindonesiaan. Perokok kretek juga sudah punya soliditas luar biasa yang terbentuk sejak lama dan terus terbangun mengiringi peradaban di Indonesia atau dunia.<\/p>\n\n\n\n

Kini, perokok elektrik mulai merasakan kegelisahan. Beberapa negara mulai menerapkan peraturan ketat terhadap Vape, sedangkan di Indonesia biaya cukai pun kini mulai diberlakukan terhadap perdagangan rokok elektrik. Keberadaannya di mata negara pun mulai dianggap sama seperti rokok, meski pada awalnya rokok elektrik hadir dengan slogan-slogan produk alternatif yang lebih menyehatkan (katanya).<\/p>\n\n\n\n


Tapi jika kemudian di masa depan memang rokok elektrik yang kemudian menjadi sesuatu yang populer dan dinikmati banyak orang. Rasanya saya tetap ingin hidup di jaman ini, dengan sebatang kretek di tangan dan menikmati segala khasanah kebudayaan yang patut terus dipertahankan. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"masa-depan-rokok-elektrik-dan-semangat-alternatif-yang-sia-sia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-03 09:05:56","post_modified_gmt":"2019-02-03 02:05:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5403","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5385,"post_author":"883","post_date":"2019-02-02 08:01:01","post_date_gmt":"2019-02-02 01:01:01","post_content":"Pada tahun 2014, perusahaan rokok multinasional Philip Morris Internasional Inc. merilis sebuah produk <\/span>perangkat\u00a0<\/span>
rokok<\/span><\/a>\u00a0tanpa asap, yang dipanaskan bukan dibakar atau istilahnya\u00a0<\/span>heat not burn<\/i><\/strong>\u00a0(HNB) iQOS<\/strong>. <\/span>\r\n\r\nPerangkat rokok tanpa asap dengan nama iQOS<\/a> ini berbentuk seperti bagian luar pulpen, dengan lubang di tengah untuk rokok. Produk yang berada di bawah brand Marlboro ini dapat memanaskan rokok sampai 350 derajat celcius lalu mengeluarkan uap nikotin beraroma tembakau<\/em><\/a>.<\/span>\r\n

Produk iQOS sebenarnya bukanlah produk rokok tanpa asap yang pertama muncul. Sebelumnya di tahun 1990-an, Reynolds Tobacco Co pernah merilis produk serupa bernama Eclipes yang juga dapat menguapkan nikotin setelah dinyalakan dengan korek api.<\/span><\/blockquote>\r\nSelain itu, Eclips juga dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. Namun, pada saat itu Eclips tidak diminati oleh pasar, utamanya para perokok konvensional. Meskipun Eclips dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. <\/span>\r\n\r\nBisnis semacam rokok tanpa asap seperti Eclips dan iQOS memang sudah menjadi bagian dari rencana panjang bisnis perusahaan-perusahaan rokok multinasional. Jadi tidak usah heran jika ke depannya akan kita akan banyak menemukan produk rokok tanpa asap ini.<\/span>\r\n\r\nWatak dari perusahaan multinasional memang seperti itu, mereka sangat jeli melihat peluang pasar ke depannya. Ketika market place perusahaan rokok multinasional saat ini terus dirongrong oleh kelompok antirokok, mereka tak kehabisan akal. Maka kemudian mereka menginovasi produk rokok konvensional menjadi rokok yang tidak berasap. Begitupun dengan mengikutsertakan jargon-jargon kesehatan dalam narasi promosi mereka.<\/span>\r\n\r\nSesungguhnya memang seperti itulah watak bisnis perusahaan-perusahaan multinasional, melakukan segala cara agar bisnis mereka tetap bertahan, meskipun harus merangkul musuh sekalipun. <\/span>\r\n\r\nYa kadang pura-pura berantem sama antirokok, tapi dibalik itu sebenarnya baik-baik saja, dan tentunya ada kompromi untuk terus melanggengkan bisnis mereka.<\/span>\r\n

Lalu siapa yang dirugikan dari permainan bisnis macam produk rokok tanpa asap perusahaan rokok multinasional ini?<\/span><\/h3>\r\nTentunya yang sangat dirugikan adalah produk hasil tembakau yang memiliki kekhasan seperti kretek di Indonesia. Kretek sebagai produk khas asli Indonesia yang menjadi bagian dari warisan kebudayaan tidak mungkin bertransformasi menjadi produk-produk elektrik dan sejenisnya.<\/span>\r\n\r\nKretek tetaplah kretek, dengan bahan baku alami tembakau dan cengkeh yang tidak diintervensi dengan zat atau perangkat penghantar lainnya. Karena dengan bentuk, karakter dan cara menikmatinya memang konvensional dan akan terus begitu apapun kondisi dan zamannya.<\/span>\r\n
Bisnis produk rokok tanpa asap (elektrik) juga menghajar kretek dengan mendompleng isu pengendalian tembakau. Kampanye pengendalian tembakau selalu membawa slogan bahaya merokok dan upaya untuk berhenti merokok. <\/span><\/blockquote>\r\nDari isu tersebut, rokok elektrik masuk dengan citra produk alternatif tembakau, bahkan mereka tak segan menilai bahwa rokok elektrik lebih aman ketimbang rokok konvensional, yakni kretek.<\/span>\r\n\r\nLalu jika Indonesia akan dibanjiri dengan produk-produk yang mengatasnamakan produk alternatif tembakau, macam rokok tanpa asap (iQOS dan sejenisnya), maka itulah pertanda bahwa kretek harus tergerus dari cara hidup manusia Indonesia dalam menikmati produk hasil tembakau khas Indonesia yang sudah turun-temurun lamanya dinikmati manusia Indonesia.<\/span>","post_title":"Nasib Kretek di Pusaran Pertarungan Bisnis Global Perusahaan Rokok Multinasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"nasib-kretek-di-pusaran-pertarungan-bisnis-global-perusahaan-rokok-multinasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-02 08:01:43","post_modified_gmt":"2019-02-02 01:01:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5385","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; \n

Baca: Cengkeh dan Kelapa di Kepulauan Anambas<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Bukan hanya membuat perekonomian dan perdagangan serta ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang, cengkeh dan pala bahkan adalah faktor yang paling menentukan dalam kemunculan satu babakan paling mengenaskan dalam sejarah politik dunia, yakni zaman penjajahan (kolonialisme) Eropa, terutama atas-atas negeri- negeri Asia Selatan, Timur dan Tenggara, termasuk Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Tergerak oleh sahwat menguasai rempah-rempah yang menggiurkan itu, bangsa-bangsa Eropa --terutama Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda-- pun menggelar ekspedisi-ekspedisi besar untuk menemukan cengkeh dan pala langsung di tanah asalnya. Ketika armada-armada mereka akhirnya mencapai perairan Kepulauan Maluku, pada abad-16, perang pun tak terhindarkan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka silih berganti saling mengalahkan, tetapi pemenang terakhir adalah Belanda. Melalui Perusahaan Dagang Hindia Timur (Vereenigde Oostindische Compagnie, VOC) yang dibentuk pada awal abad-17 (tepatnya tahun 1609), Belanda melancarkan ekspedisi Pelayaran Hongi (Hongie Tochten), untuk memusnahkan semua tanaman cengkeh di Ternate, Tidore, Moti, dan Makian, lalu membatasi ketat penanamnya hanya di Pulau-pulau Ambon dan Lease --yang lebih dekat ke Banda sebagai pusat pemerintahan mereka sebelum akhirnya dipindahkan ke Batavia.
<\/p>\n\n\n\n

Praktis, sejak akhir abad-16, Belanda pun menguasai penuh perdagangan rempah-rempah Maluku dengan jumlah produksi rerata 2.500 sampai 4.500 ton per tahun. [3]<\/p>\n\n\n\n

Baca: Budidaya Pohon Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Meskipun peran utama rempah-rempah Maluku itu kemudian tergusur pada abad-18 dan 19 oleh beberapa barang eksotika tropis lainnya --hasil perkebunan-perkebunana besar baru di Pulau Sumatera dan Jawa: tebu, tembakau, lada, kopi, teh, nila, kelapa sawit, dan kayu jati-- namun sejarah sudah mencatat bahwa dua jenis rempah-rempah Maluku itulah yang mengawali penjelajahan sekaligus penjajahan kepulauan Nusantara oleh bangsa-bangsa Eropah, terutama Belanda (Topatimasang, ed., 2004:32). Jika saja tak pernah ada cengkeh dan pala di Maluku, mungkin sejarah kepulauan Nusantara ini akan berbeda sama sekali.
<\/p>\n\n\n\n

Masa suram cengkeh dan pala terus berlangsung sampai pertengahan abad-20. Rempah eksotika yang pernah membuat tergila-gila<\/p>\n\n\n\n

para saudagar Arab, pedagang Cina, serta kaum ningrat Eropa itu, tergantikan perannya oleh penemuan teknologi mesin pendingin berkat Revolusi Industri yang dimulai di Inggris pada pertengahan abad-18. Pasaran cengkeh di Eropa pun merosot tajam.
<\/p>\n\n\n\n

Nasibnya terselamatkan berkat penemuan oleh seorang Haji Djamhari di Kudus, Jawa Tengah. Pada akhir tahun 1880-an, Haji Djamhari menemukan kegunaan baru cengkeh sebagai ramuan utama rokok. Lahirlah satu produk baru yang unik, khas dan asli Indonesia: kretek! (Hanusz, 2000:ii).
<\/p>\n\n\n\n

Setelah seperempat abad hanya berkembang dalam skala kecil usaha rumah tangga, produksi kretek akhirnya menjelma menjadi industri besar sejak awal abad-20 yang dirintis oleh Haji Nitisemito (pendiri pabrik \u2018Jambu Bol\u2019) di Kudus dan Liem Seng Tee (pendiri pabrik \u2018Dji Sam Soe\u2019 dan \u2018Sampoerna\u2019) di Surabaya.
<\/p>\n\n\n\n

Puncaknya adalah pada pertengahan tahun 1950-an, ketika produksi kretek mulai berkembang pesat menjadi industri raksasa modern dengan munculnya beberapa pabrik baru, antara lain, yang terkemuka, oleh Oei Wei Gwan (pendiri pabrik \u2018Djarum\u2019) di Kudus dan Tjou Ing Hwie (pendiri pabrik \u2018Gudang Garam\u2019) di Kediri (Topatimasang, et.al., eds., 2010:131).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Teruslah Menanam Tembakau dan Cengkeh, Wahai Petani Indonesia<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Cengkeh, bahan baku paling esensial dari kretek --selain tembakau, tentu saja-- pun kembali berjaya. Bahkan, sejak dasawarsa 1970an, telah menjadi salah satu penyumbang terbesar keuangan negara Republik Indonesia. Pada tahun 2012 dan 2013, pemasukan cukai dari industri kretek mencatat 95,5% dari seluruh pemasukan cukai ke kas negara. Nilainya tak tanggung-tanggung: Rp 87 triliun! (el-Guyanie, et.al.: 2013:4-5).<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Nilai ekonomisnya yang sangat besar sempat menggoda penguasa otoriter rezim Presiden Soeharto, pada 1990-an, memberlakukan satu kebijakan \u2018Hongi Gaya Baru\u2019: monopoli perdagangan cengkeh dalam negeri melalui Badan Penyanggah dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) yang sangat merugikan petani. Harga cengkeh di tingkat petani penghasil anjlok sampai hanya Rp 2.000 - 3.000 per kilogram, lebih murah dari harga sebungkus kretek yang dihasilkan darinya.
<\/p>\n\n\n\n

Akibatnya, ratusan ribu pohon cengkeh di daerah-daerah penghasil utama --Maluku, Maluku Utara, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Selatan-- ditebangi atau dibiarkan terlantar tak terurus.
<\/p>\n\n\n\n

Gelombang reformasi sistem politik dan hukum nasional yang dimulai pada tahun 1998, akhirnya menjungkalkan rezim Soeharto dan BPPC dibubarkan, Pelan tapi pasti, harga cengkeh kembali merangkak naik, sehingga pada tahun 2012, bahkan melewati angka Rp 200.000 per kilogram. Para petani cengkeh di seluruh negeri kembali tersenyum. Tetapi, sampai kapan? <\/p>\n\n\n\n

Catatan:<\/strong><\/p>\n\n\n\n

[1] Beberapa sumber menyebutkan bahwa kata \u2018cengkeh\u2019 dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Mandarin, tkeng-his atau xi\u2019jia, yang berarti \u2018rempah [berbentuk mirip] paku\u2019 (scented nails). Ini menunjukkan bahwa cengkeh sudah dikenal sejak lama oleh bangsa Cina --diketahui sejak abad-2-- jauh sebelum orang Eropa mengenalnya ((lihat, misalnya: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n\n\n\n

[2] Catatan-catatan para biarawan Fransiskan --yang disalin dan dikutip oleh van Frassen-- bahkan menyebut cengkeh sebagai salah satu bahan utama pengawet mumi para Fir\u2019aun, penguasa Mesir Kuno. Beberapa pakar sejarah dan arkeologi menyatakan bahwa rempah-rempah Maluku bahkan sudah ditemukan artefaknya di Lembah Mesopotomia (wilayah Iraq dan sekitarnya sekarang) pada 3.000 tahun sebelum Masehi. (lihat, antara lain: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n\n\n\n

[3] Uraian lebih rinci sejarah kolonialisme rempah-rempah Nusantara ini, terutama oleh Belanda dan Portugis, dapat dibaca pada beberapa sumber kepustakaan yang sudah dikenal luas, antara lain: Glamann (1958) dan Boxer (1965 dan 1969). Dalam risalah klasik Pires disebutkan bahwa pada tahun 1512-1521 saja, jumlah produksi cengkeh di Maluku sudah mencapai 7.250 bahar per tahun, terbesar adalah di Makian serta Amboina dan Lease (masing-masing 1.500 bahar)(Pires, 1512-1515).<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem Topatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-10 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-02-10 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5425","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5415,"post_author":"878","post_date":"2019-02-07 12:15:55","post_date_gmt":"2019-02-07 05:15:55","post_content":"\n

Belakangan ini, ketika musim hujan tiba, di Kabupaten Temanggung, Kabupaten Jember, dan beberapa wilayah sentra pertanian tembakau lainnya, hampir mustahil menemukan tanaman tembakau tumbuh di lahan-lahan milik petani. Di wilayah-wilayah tersebut, citra sebagai sentra pertanian tembakau seakan menguap. Lahan-lahan yang ada di sana, sama sekali tidak ditumbuhi tanaman tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Kabar ini bisa jadi dianggap sebagai kabar gembira bagi mereka yang menganggap diri dan kelompoknya anti-rokok dan anti-tembakau yang selalu mengampanyekan sikap-sikap mereka terkait kebencian kepada tembakau dan aktivitas merokok. Setelah sekian lama berjuang, akhirnya perjuangan mereka dirasa berhasil usai menyaksikan fenomena lahan-lahan di wilayah yang dianggap sentra pertanian tembakau pada hari-hari belakangan ini.<\/p>\n\n\n\n

Baca juga: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tak sia-sia turun ke jalan, tak sia-sia melakukan lobi-lobi ke penguasa, tak sia-sia mengucurkan uang yang tidak sedikit, dan tak sia-sia mempermalukan diri dengan mengemis ke lembaga donor asing dan menggondol uang dari cukai tembakau untuk mengampanyekan gerakan anti-rokok dan anti-tembakau. Tak sia-sia. Karena perjuangan sepertinya berhasil.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Kampanye-kampanye gerakan mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya, sepertinya juga sangat berhasil. Bagaimana tidak? Wilayah-wilayah yang sebelumnya penuh dengan tanaman tembakau dan bergeliat dengannya, kini lahan-lahannya sudah berganti dengan tanaman lain. Sebuah keberhasilan yang menggembirakan. Begitu mungkin pikir mereka para yang menganggap dirinya pejuang anti-rokok dan anti-tembakau. Dan tentu saja mereka akan kecele dan kita akan menertawakan hal itu.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, mereka yang menganggap dirinya anti-rokok dan anti-tembakau tidak menyaksikan langsung fenomena ini di lapangan, di lahan-lahan yang peruntukannya berubah pada hari-hari belakangan ini ketika memasuki musim hujan. Mereka asyik duduk pada kursi empuk di ruang-ruang nyaman ber-AC di kota-kota yang jauh dari kultur pertanian. Mereka menyengajakan diri menjadi elit dan enggan untuk turun melihat langsung ke lapangan. Kalaupun ada yang turun langsung ke lapangan, hanya segelintir saja dari mereka, itupun sekadar formalitas saja. Tak pernah benar-benar mau turun ke lapangan, hidup dan merasakan langsung kultur pertanian tembakau dalam jangka waktu cukup lama di lapangan.<\/p>\n\n\n\n

Baca juga: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Fenomena ini membikin kita tak bisa melihat mereka para anti-rokok kecele lalu menertawakan mereka.<\/strong> Fenomena keengganan terjun langsung ke lapangan terlebih mencoba mendengar mereka yang tetap menanam tembakau, juga menjalani keseharian dalam waktu cukup lama bersama petani tembakau inilah yang saya kira menjadikan mereka tetap keras kepala untuk anti-rokok dan anti-tembakau. Karena jika mereka mau melakukan itu, saya yakin mereka semua tidak akan begitu kaku dalam memandang pertanian tembakau dan produk hasil industri tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu yang selalu mereka kampanyekan dan ngotot dengan itu, terkait hulu pertanian tembakau adalah mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya. Mereka berargumen banyak tanaman lain yang bisa semenguntungkan tanaman tembakau. Keengganan mereka terjun langsung ke lapangan inilah yang membikin mereka buta dengan kondisi pertanian tembakau dan pada akhirnya terus menerus mengampanyekan pergantian tanaman tembakau dengan tanaman lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca juga: Imanlah kepada Allah, Bukan Antirokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tembakau tanaman yang khas. Ia hanya tumbuh baik sepanjang empat hingga lima bulan dalam satu tahun. Tumbuh-kembang tanaman tembakau dengan baik itu umumnya terjadi pada musim kemarau setiap tahunnya. Hanya sedikit sekali jenis tembakau yang tumbuh baik di musim penghujan, mayoritasnya, tumbuh baik pada musim kemarau.<\/p>\n\n\n\n

Jika ditanam pada musim hujan, hampir bisa dipastikan tanaman tembakau akan gagal menghasilkan daun-daun yang berkualitas. Ia akan rusak dan membusuk karena terlalu banyak terkena air sehingga daun-daun itu tak layak dijual. Jangankan bisa dijual, untuk tumbuh dengan baik pun sepertinya sulit karena musim hujan akan membunuh banyak tanaman itu.<\/p>\n\n\n\n

Maka, tak heran pada musim-musim seperti saat ini, ketika musim penghujan mendekati puncaknya, di wilayah-wilayah yang dikenal sebagai sentra pertanian tembakau, sulit menemukan pohon tembakau yang sedang tumbuh. Pada lahan-lahan yang sebelumnya ditumbuhi tanaman tembakau pada musim panas, berganti tanaman-tanaman lain yang bermacam-macam, sesuai dengan kondisi lahannya. Untuk lahan sawah, lahan-lahan itu pada musim penghujan kini ditumbuhi tanaman padi yang subur. Pada lahan tegalan dan lahan di pegunungan, lahan-lahan yang ditanami tembakau pada musim kemarau, saat ini ditumbuhi bermacam jenis tanaman mulai dari cabai, bawang, tomat, kol, terong, mentimun, dan ragam jenis tanaman semusim lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Uniknya, tipikal tanaman tembakau yang tumbuh baik di musim kemarau ini memberi pilihan lebih kepada para petani. Lahan-lahan yang sulit ditanami pada musim kemarau, pada akhirnya masih bisa tetap produktif dengan keberadaan tanaman tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Maka, kampanye aneh mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain dengan ragam rupa dalih yang membingungkan, bukan saja sama sekali tidak tepat dan asal-asalan, namun bisa jadi akan ditertawakan oleh para petani yang begitu paham dengan kondisi lahan dan terutama kondisi iklim dan cuaca. Sulit mencari tanaman semusim yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Jika pun ada, tak ada yang semenguntungkan tanaman tembakau.
<\/p>\n","post_title":"Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"keberhasilan-gerakan-anti-tembakau-tak-ada-tembakau-saat-musim-hujan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-07 12:16:02","post_modified_gmt":"2019-02-07 05:16:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5415","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5409,"post_author":"919","post_date":"2019-02-05 08:04:43","post_date_gmt":"2019-02-05 01:04:43","post_content":"\n

Tahun Baru Imlek yang merupakan tradisi Bangsa Tiongkok kini sudah tak lagi menjadi hal yang asing bagi masyarakat Indonesia. Kehadirannya sudah mewarnai dan berakulturasi dengan tradisi lokal. Menjelang Tahun Baru Imlek. Berbagai hiasan dan kemeriahan terjadi beberapa titik di Tanah Air. Perayaannya juga menjadi destinasi baru yang mengasyikkan untuk dilihat dan patut disaksikan.<\/p>\n\n\n\n

Berterimakasihlah kepada sang bapak bangsa, KH Abdurrahman Wahid atau yang dikenal dengan nama Gus Dur. Berkat kebijakannya saat menjadi Presiden Indonesia, Tahun Baru Imlek resmi dijadikan hari libur nasional dan dianggap sebagai salah satu hari raya di Tanah Air. Meski sentimen antitionghoa masih ada di sana-sini, tapi tetap tak bisa dipungkiri bahwa bangsa tionghoa sudah bersentuhan dengan budaya lokal dalam kurun waktu yang sangat panjang.<\/p>\n\n\n\n

DNA Bangsa Tionghoa yang memang merupakan pedagang menjadi pembuka kisah interaksi antara nenek moyang berbagai suku di Nusantara dengan mereka. Beberapa kelenteng-kelenteng yang tersebar pada berbagai pesisir daerah di Nusantara jadi buktinya. Pelabuhan-pelabuhan tua di tanah air dan ramainya perdagangan di pesisir mempermudah bangsa kita berhubungan dengan Bangsa Tionghoa.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Wong Kalang dan Kota Gede<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa kehadiran Bangsa Tionghoa di Nusantara tak hanya sebagai pedagang, namun juga sebagai pekerja (bahkan hingga pekerja kasar). Benny Setiono, seorang sejarahwan menyebutkan bahwa antara tahun 1760-1770 dalam jumlah yang besar memasuki nusantara melalui Kalimantan Barat. Mereka bekerja sebagai kuli pertambangan di sana dan di kemudian hari membentuk sebuah republik bernama Republik Lanfang yang konon katanya menjadi republik pertama di Asia Tenggara.<\/p>\n\n\n\n

Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Imlek dan Indonesia<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n\n\n\n

Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
<\/p>\n","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5406,"post_author":"877","post_date":"2019-02-04 08:23:48","post_date_gmt":"2019-02-04 01:23:48","post_content":"\n

Merokok itu sudah menjadi bagian dari budaya dan tradisi masyarakat, jauh sebelum Indonesia merdeka. Banyak cerita atau kisah tentang kretek <\/a><\/del>di tengah-tengah masyarakat bangsa ini, mulai sebagai alat untuk meraup keuntungan, alat komunikasi, sebagai teman sampai menjadi simbol pergerakan. <\/p>\n\n\n\n

Kretek, Simbol Perlawanan Roro Mendut<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Siapa yang tidak pernah mendengan cerita tentang Roro Mendut?, di telinga masyarakat Indonesia, kisah Roro Mendut tidak asing lagi.  Perempuan yang mempunyai paras wajah cantik, dan digandrungi kaum adam terutama kalangan putra kerajaan. Informasi kecantikan Roro Mendut tersebar seantero Nusantara, tidak satupun pria meragukan kecantikannya.  Bahkan kisah dan cerita kecantikan Roro Mendut tercatat dalam buku Babad Tanah Jawi. <\/p>\n\n\n\n

Diperkirakan pada tahun 1627, pada saat panglima perang Sultan Agung Mataram bernama Tumenggung Wiraguna berhasil menumpas pemberontakan di kota Pati, sebagai imbalanan atas keberhasilannya, mendapat hadiah wanita pujaan pria bernama Rara Mendut dari Kasultanan Agung Mataram.  Roro Mendut menolak dipinang Tumenggung Wiraguna, dan secara terang-terangan memilih pria lain dambaannya. Akibatnya, Roro Mendut harus membayar pajak setiap harinya kepada kerajaan Mataram. <\/p>\n\n\n\n

Bisa dibayangkan, betapa bingungnya Roro Mendut saat itu. Uang dari mana, ia hasilkan untuk bayar pajak tiap hari demi bisa bersama kekasihnya. Ternyata Roro Mendut tidak hanya cantik tetapi cerdas dan kreatif, bisa membaca peluang bisnis saat itu. Ide cermerlang muncul dengan berdagang\/berjualan rokok lintingan yang direkatkan dengan air ludahnya, dan sebelum menjualnya, rokok lintingan di sulut dahulu dan dihisap bekas bibir merahnya. Kemudian baru dijual ke pembeli yang berdesakan berjejer antri. <\/p>\n\n\n\n

Entah dari mana ide menjual rokok itu muncul. Yang jelas saking larisnya, kewajiban pajak Roro Mendut terpenuhi. Dan mungkin keadaannya akan lebih parah, jika saat itu Roro Mendut tidak berdagang rokok. Tidak akan terpenuhi kewajiban pajaknya. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Dengan rokok, hidup Roro Mendut terselamatkan. Adanya rokok, \u00a0Roro Mendut bebas dari belenggu kekuasaan. Berkat rokok, Roro Mendut terkengan, mengisi rubik informasi sejarah begitu kuatnya budaya merokok di \u00a0Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Pusaka Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek, Teman Perjuangan  Diponegoro<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Semasa berjuang melawan penjajah, yang harus dilakukan Diponegoro berpindah-pindah dari kota satu ke kota lain. Strategi perlawanan Diponegoro, kemudian sebagai basis strategi perang gerilya. Strategi yang menjadi idola dan kebanggaan tentara Indonesia. Dengan bergerilya, tentara Indonesia mampu mengecoh kekutan lawan yang lebih besar jumlahnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu, tenyata banyak cerita, Diponegoro saat berperang ditemani rokok. Ia dan pasukannya gemar merokok. Bahkan ketika tidak ada rokok, Pangeran Diponegoro rela hanya megunyah daun sirih yang diracik dengan kapur dan pinang. <\/p>\n\n\n\n

Kebiasaan ini, juga dialami oleh pengikut \/pasukan perang Pangeran Diponegoro. Bagi mereka, rokok teman sejati, menemani disetiap perjalanan mereka. Rokok menghilangkan depresi mereka, sebagai hiburan saat jauh dari keluarga demi berjuang melawan penjajah. Rokok menumbuhkan percaya diri mereka, lebih berani melawan penjajah walaupun hanya dengan serba keterbatasan, pasukan jumlah terbatas, alat perang terbatas dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Baca juga: Pangeran Diponegoro, Rokok Klobot dan Perlawanan Simbolis<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Jati Diri Bangsa<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Salah satu \u201cpendiri bangsa\u201d bernama KH. Agus Salim menghisap kretek dengan asapnya di kebal-kebulkan keudara, disaat ada perjamuan di Istana Buckingham ketika penobatan Elizabeth II sebagai Ratu kerajaan Inggris. Aroma khas keluar dari asap rokok kretek, tercium orang yang berada di ruang perjamuan. Sehingga memancing salah satu orang yang datang dalam perjamuan, dengan berkata; \u201ctuan sedang menghisap apa itu?\u201d.  Sentak KH. Agus Salim menjawab, \u201c inilah yang membuat nenek moyang anda sekian abad lalu datang dan kemudian menjajah negeri kami\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Jawaban KH. Agus Salim, faktanya memang benar. Rokok kretek tidak lain ada tambahan cengkeh (suzygium aromaticum<\/em>). \u00a0Tanaman legendaris menjadi rebutan dan sumber keuntungan kolonialisme Eropa atas Asia termasuk Indonesia. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Cengkeh adalah salah satu tanaman yang diperebutkan bangsa-bangsa dunia, sampai melegalkan penjajahan.  Dalam simpulan perjalanan ekspedisi cengkeh tahun 2013, Kepala Suku begitu julukan bagi Putut Ea, mengatakan \u201c jika saja tak pernah ada cengkeh dan pala di Maluku, mungkin sejarah kepulauan Nusantara ini akan berbeda sama sekali\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Simpulan Putut EA, sebagai salah satu pembenar perkataan \u00a0KH. Agus Salim. Mungkin, jika tanaman cengkeh tidak ada, fakta sejarah akan berbeda, tidak ada penjajahan di bumi Nusantara ini. <\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Mengisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek untuk Berteman dan Menjalin Persaudaraan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Teringat apa yang pernah dilakukan Menteri Sosial dan Lingkungan Hidup, saat melakukan pendekatan pada suku anak dalam di Jambi. Tidak lain ia adalah Khofifah menteri perempuan yang energik. Saat itu Khofifah bertanggungjawab dalam mengatasi masalah pendidikan dan kesejahteraan masyarakat suku anak dalam di Jambi.  <\/p>\n\n\n\n

Kebijakannya membuat fenomenal, selain bahan makanan, dan bantuan lain, khofifah juga membawa rokok.  Yang kemudian ada yang mengggugat dari anti rokok, tetapi sebagai Menteri, Khofifah tentunya sudah mengkaji secara mendalam. Dengan kecerdasannya , Khofifah menjawab dengan tegas dan lugas, \u201cjangan sok tahu kehidupan mereka, kenali apa yang menjadi ritme kehidupan mereka. Sangat bijaksana kalau kita semua pergi kesana, sehingga tahu adat istiadatnya juga. Tolong kalau ingin mengerti tentang kultur jangan hanya dari kacamata Jakarta. Saya pun ingin mengajak anda kesana, turun kesana, sapalah mereka\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Khofifah memberikan pelajaran bagi anti rokok. Tidak boleh sok tahu, apalagi selama ini antirokok hanya berasumsi, tanpa melihat fakta dilapangan. Khofifah juga menganjurkan agar lebih mengenal adat-istiadat, budaya dan tradisi masyarakat, tidak boleh melakukan hegemoni kultural, sebab keberagaman adat-istiadat dan budaya merupakan kekayaan negeri. <\/p>\n\n\n\n

Pelajaran Khofifah sangat mendalam dan bercirikhas Nusantara. Sebgaai Menteri \u00a0Sosial tentunya lebih berpengalaman apa yang dibutuhkan bangsa ini agar tetap jaya, bersatu dan utuh. Kenali perbedaan, hormati perbedaan, junjung tinggi budaya yang berbeda. \u00a0Apa yang telah dilakukan Khofifah dengan membawa rokok ke suku anak dalam adalah cermin penghormatan tradisi dan budaya masyarakat. Sebagai seorang Mentri, tentunya punya kuasa, artinya bisa seorang khofifah memberikan bantuan sesuai keinginannya sendiri, namun hal itu tidak dilakukan. Ia lebih mengedepankan penghormatan budaya masyarakat setempat, dengan membawa rokok untuk pendekatan dan pertemanan. Karena Khofifah tahu betul, bahwa merokok adalah budaya mereka, yang diwaris dari neneng moyang mereka. <\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Memilih Jalan Hidup Menikmati Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Simbol Pergerakan Nasional     <\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Abdul Rifa\u2019I dalam media bintang timur terbit pada 03 Oktober 1927, mengatakan, \u201ckopinya bukan kopi saringan, tetapi kopi tubruk sebab kopi ini katanya nationaal, gulanya gula jawa, susu tidak dipakai karena tidak nationaal. Rokoknya kelobot, selamatan natioanaal ini terus berlangsung ed sampai pagi hari\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Semangat nasionalisme harus tertanam, mengedepankan produk lokal adalah salah satu semangat nasionalime. Salah satu keberadaan rokok klobot menjadi ciri produk asli indonesia dan harus dilestarikan. Klobot sendiri adalah ramuan tembakau dan cengkeh di gulung memakai daun jagung, embrio perkembangan menjadi rokok sigaret kretek tangan dan sigaret kretek mesin.  
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pusaran Budaya Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pusaran-budaya-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-04 08:40:41","post_modified_gmt":"2019-02-04 01:40:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5406","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5403,"post_author":"919","post_date":"2019-02-03 09:05:50","post_date_gmt":"2019-02-03 02:05:50","post_content":"\n

Seringkali saya menyaksikan berbagai film baik itu Eropa atau Asia yang menggambarkan tentang masa depan. Pemandangan soal masa depan tersebut dihadirkan dengan gambaran kecanggihan teknologi seperti robot yang akan membantu kehidupan manusia, gedung-gedung yang tingginya sudah amat tak bisa ditandingi,  hingga mobil-mobil yang bisa terbang. <\/p>\n\n\n\n

Pernah dalam masa kecil saya menyaksikan sebuah film animasi buatan jepang yang mempertanyakan tentang makanan di masa depan. Dengan santai salah satu tokoh yang berasal dari masa depan itu menjawab bahwa suatu saat nanti manusia akan mengonsumsi makanan berupa pasta gigi namun dengan rasa yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa, aneh!<\/p>\n\n\n\n

Seiring waktu berjalan saya kian tumbuh dewasa dan punya kesadaran untuk memilih menjadi seorang perokok<\/a>. Saya juga melihat ada sebuah inovasi dan gambaran tentang masa depan yang hadir dalam kehidupan sekarang. Banyak memang, namun yang menyita perhatian saya adalah rokok elektrik atau yang populer disebut Vape. Konon katanya ia adalah produk inovasi untuk menjembatani kebutuhan menghisap asap dan kecanggihan masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Di awal kehadirannya Vape memang mengundang decak kekaguman saya. Bagaimana bisa sebuah mesin kecil mengeluarkan asap yang katanya lebih menyehatkan daripada rokok.<\/strong> Meski pada akhirnya teori tersebut juga bisa dibantah oleh beberapa ilmuan dunia. Tapi ada satu yang saya amati selain soal kesehatan, rokok elektrik rupanya menghadirkan kultur dan budaya baru dalam kehidupan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: LAGI-LAGI IKLAN ROKOK, KAPAN KPAI TIDAK TEBANG PILIH? <\/a><\/h4>\n\n\n\n

Kehadiran teknologi memang kerap sedikit atau benyak mengubah gaya atau kultur suatu masyarakat. Begitu pula yang saya perhatikan dengan rokok elektrik. Satu hal yang mudah diamati adalah menjamurnya toko-toko kecil yang menjual vape serta liquid di berbagai tempat. Sebagai sebuah warna baru dalam masyarakat, penggunanya ramai-ramai mengunjungi tempat tersebut berinteraksi dengan penikmat lainnya dan membangun sebuah rumah komunitas yang fleksibel.<\/p>\n\n\n\n

Meski belum bisa dikatakan memiliki jumlah penikmat yang setara dengan para perokok, pengguna Vape mulai menunjukkan eksistensinya. Selain toko yang tersebar, ragam acara juga mereka buat di beberapa daerah. Dalam lingkungan saya, beberapa teman yang dulunya merupakan perokok aktif tertarik mengikuti event tersebut dan beralih mengisap rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Nun jauh di sana, di Amerika Serikat tepatnya, budaya Vape juga sudah mulai berkembang lama ketimbang di Tanah Air. Penikmatnya terbagi menjadi dua, ada yang dulunya bekas perokok dan ada yang memang menikmatinya sebagai gaya hidup. Wajar saja mengingat facebook tak memperbolehkan iklan tembakau di platform mereka, sebaliknya iklan tentang vape justru bertebaran. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi budaya baru yang berkembang di berbagai belahan dunia bahkan di Indonesia, Vape konon menjadi alternatif yang lebih bermanfaat daripada rokok. Dalih yang diusung selalu sama kepada para perokok tradisonal yaitu soal kesehatan dan lebih irit. Soal kesehatan tentu ada beberapa pendapat para ilmuan yang membantahnya, namun soal irit, saya rasa tidak. Memang satu liquid bisa digunakan untuk beberapa Minggu, akan tetapi yang saya lihat di lapangan justru sebaliknya. <\/p>\n\n\n\n

Beberapa penikmat rokok elektrik kerap berbelanja liquid yang mereka idamkan. Terkadang, hal tersebut yang membuat mereka boros karena terus mengeksplor rasa mana yang mereka idam-idamkan. Tak jarang juga liquid dengan harga mahal hingga ratus ribuan akan mereka beli. Sebaliknya, para perokok konvensional justru kerap bertahan dengan satu rasa atau merek saja.<\/p>\n\n\n\n

Sedikit berbeda dengan penikmat rokok konvensional atau kretek. Mengingat rokok kretek sudah menjadi kebudayan lokal yang terus dipertahankan selama bertahun-tahun, kehadirannya sudah mewarnai khasanah keindonesiaan. Perokok kretek juga sudah punya soliditas luar biasa yang terbentuk sejak lama dan terus terbangun mengiringi peradaban di Indonesia atau dunia.<\/p>\n\n\n\n

Kini, perokok elektrik mulai merasakan kegelisahan. Beberapa negara mulai menerapkan peraturan ketat terhadap Vape, sedangkan di Indonesia biaya cukai pun kini mulai diberlakukan terhadap perdagangan rokok elektrik. Keberadaannya di mata negara pun mulai dianggap sama seperti rokok, meski pada awalnya rokok elektrik hadir dengan slogan-slogan produk alternatif yang lebih menyehatkan (katanya).<\/p>\n\n\n\n


Tapi jika kemudian di masa depan memang rokok elektrik yang kemudian menjadi sesuatu yang populer dan dinikmati banyak orang. Rasanya saya tetap ingin hidup di jaman ini, dengan sebatang kretek di tangan dan menikmati segala khasanah kebudayaan yang patut terus dipertahankan. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"masa-depan-rokok-elektrik-dan-semangat-alternatif-yang-sia-sia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-03 09:05:56","post_modified_gmt":"2019-02-03 02:05:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5403","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5385,"post_author":"883","post_date":"2019-02-02 08:01:01","post_date_gmt":"2019-02-02 01:01:01","post_content":"Pada tahun 2014, perusahaan rokok multinasional Philip Morris Internasional Inc. merilis sebuah produk <\/span>perangkat\u00a0<\/span>
rokok<\/span><\/a>\u00a0tanpa asap, yang dipanaskan bukan dibakar atau istilahnya\u00a0<\/span>heat not burn<\/i><\/strong>\u00a0(HNB) iQOS<\/strong>. <\/span>\r\n\r\nPerangkat rokok tanpa asap dengan nama iQOS<\/a> ini berbentuk seperti bagian luar pulpen, dengan lubang di tengah untuk rokok. Produk yang berada di bawah brand Marlboro ini dapat memanaskan rokok sampai 350 derajat celcius lalu mengeluarkan uap nikotin beraroma tembakau<\/em><\/a>.<\/span>\r\n

Produk iQOS sebenarnya bukanlah produk rokok tanpa asap yang pertama muncul. Sebelumnya di tahun 1990-an, Reynolds Tobacco Co pernah merilis produk serupa bernama Eclipes yang juga dapat menguapkan nikotin setelah dinyalakan dengan korek api.<\/span><\/blockquote>\r\nSelain itu, Eclips juga dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. Namun, pada saat itu Eclips tidak diminati oleh pasar, utamanya para perokok konvensional. Meskipun Eclips dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. <\/span>\r\n\r\nBisnis semacam rokok tanpa asap seperti Eclips dan iQOS memang sudah menjadi bagian dari rencana panjang bisnis perusahaan-perusahaan rokok multinasional. Jadi tidak usah heran jika ke depannya akan kita akan banyak menemukan produk rokok tanpa asap ini.<\/span>\r\n\r\nWatak dari perusahaan multinasional memang seperti itu, mereka sangat jeli melihat peluang pasar ke depannya. Ketika market place perusahaan rokok multinasional saat ini terus dirongrong oleh kelompok antirokok, mereka tak kehabisan akal. Maka kemudian mereka menginovasi produk rokok konvensional menjadi rokok yang tidak berasap. Begitupun dengan mengikutsertakan jargon-jargon kesehatan dalam narasi promosi mereka.<\/span>\r\n\r\nSesungguhnya memang seperti itulah watak bisnis perusahaan-perusahaan multinasional, melakukan segala cara agar bisnis mereka tetap bertahan, meskipun harus merangkul musuh sekalipun. <\/span>\r\n\r\nYa kadang pura-pura berantem sama antirokok, tapi dibalik itu sebenarnya baik-baik saja, dan tentunya ada kompromi untuk terus melanggengkan bisnis mereka.<\/span>\r\n

Lalu siapa yang dirugikan dari permainan bisnis macam produk rokok tanpa asap perusahaan rokok multinasional ini?<\/span><\/h3>\r\nTentunya yang sangat dirugikan adalah produk hasil tembakau yang memiliki kekhasan seperti kretek di Indonesia. Kretek sebagai produk khas asli Indonesia yang menjadi bagian dari warisan kebudayaan tidak mungkin bertransformasi menjadi produk-produk elektrik dan sejenisnya.<\/span>\r\n\r\nKretek tetaplah kretek, dengan bahan baku alami tembakau dan cengkeh yang tidak diintervensi dengan zat atau perangkat penghantar lainnya. Karena dengan bentuk, karakter dan cara menikmatinya memang konvensional dan akan terus begitu apapun kondisi dan zamannya.<\/span>\r\n
Bisnis produk rokok tanpa asap (elektrik) juga menghajar kretek dengan mendompleng isu pengendalian tembakau. Kampanye pengendalian tembakau selalu membawa slogan bahaya merokok dan upaya untuk berhenti merokok. <\/span><\/blockquote>\r\nDari isu tersebut, rokok elektrik masuk dengan citra produk alternatif tembakau, bahkan mereka tak segan menilai bahwa rokok elektrik lebih aman ketimbang rokok konvensional, yakni kretek.<\/span>\r\n\r\nLalu jika Indonesia akan dibanjiri dengan produk-produk yang mengatasnamakan produk alternatif tembakau, macam rokok tanpa asap (iQOS dan sejenisnya), maka itulah pertanda bahwa kretek harus tergerus dari cara hidup manusia Indonesia dalam menikmati produk hasil tembakau khas Indonesia yang sudah turun-temurun lamanya dinikmati manusia Indonesia.<\/span>","post_title":"Nasib Kretek di Pusaran Pertarungan Bisnis Global Perusahaan Rokok Multinasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"nasib-kretek-di-pusaran-pertarungan-bisnis-global-perusahaan-rokok-multinasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-02 08:01:43","post_modified_gmt":"2019-02-02 01:01:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5385","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; \n

\u201cKemampuan menyimpan makanan lebih dari yang kami makan sekaligus berarti kemampuan menjual dan membelinya dalam jumlah besar --dan kota-kota dagang pun mekar. Perekonomian yang dihasilkannya mengarahkan kami ke zaman Pencerahan dan kemudian Revolusi Industri. Tak lama setelah kami menghirup aroma yang sangat kuat dari Timur itu dan mengubah kimiawi makanan kami, maka kami pun mampu melakukan lompatan besar dalam bidang budaya dan seni.\u201d (Blair & Blair, 2010; 30-31).<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh dan Kelapa di Kepulauan Anambas<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Bukan hanya membuat perekonomian dan perdagangan serta ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang, cengkeh dan pala bahkan adalah faktor yang paling menentukan dalam kemunculan satu babakan paling mengenaskan dalam sejarah politik dunia, yakni zaman penjajahan (kolonialisme) Eropa, terutama atas-atas negeri- negeri Asia Selatan, Timur dan Tenggara, termasuk Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Tergerak oleh sahwat menguasai rempah-rempah yang menggiurkan itu, bangsa-bangsa Eropa --terutama Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda-- pun menggelar ekspedisi-ekspedisi besar untuk menemukan cengkeh dan pala langsung di tanah asalnya. Ketika armada-armada mereka akhirnya mencapai perairan Kepulauan Maluku, pada abad-16, perang pun tak terhindarkan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka silih berganti saling mengalahkan, tetapi pemenang terakhir adalah Belanda. Melalui Perusahaan Dagang Hindia Timur (Vereenigde Oostindische Compagnie, VOC) yang dibentuk pada awal abad-17 (tepatnya tahun 1609), Belanda melancarkan ekspedisi Pelayaran Hongi (Hongie Tochten), untuk memusnahkan semua tanaman cengkeh di Ternate, Tidore, Moti, dan Makian, lalu membatasi ketat penanamnya hanya di Pulau-pulau Ambon dan Lease --yang lebih dekat ke Banda sebagai pusat pemerintahan mereka sebelum akhirnya dipindahkan ke Batavia.
<\/p>\n\n\n\n

Praktis, sejak akhir abad-16, Belanda pun menguasai penuh perdagangan rempah-rempah Maluku dengan jumlah produksi rerata 2.500 sampai 4.500 ton per tahun. [3]<\/p>\n\n\n\n

Baca: Budidaya Pohon Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Meskipun peran utama rempah-rempah Maluku itu kemudian tergusur pada abad-18 dan 19 oleh beberapa barang eksotika tropis lainnya --hasil perkebunan-perkebunana besar baru di Pulau Sumatera dan Jawa: tebu, tembakau, lada, kopi, teh, nila, kelapa sawit, dan kayu jati-- namun sejarah sudah mencatat bahwa dua jenis rempah-rempah Maluku itulah yang mengawali penjelajahan sekaligus penjajahan kepulauan Nusantara oleh bangsa-bangsa Eropah, terutama Belanda (Topatimasang, ed., 2004:32). Jika saja tak pernah ada cengkeh dan pala di Maluku, mungkin sejarah kepulauan Nusantara ini akan berbeda sama sekali.
<\/p>\n\n\n\n

Masa suram cengkeh dan pala terus berlangsung sampai pertengahan abad-20. Rempah eksotika yang pernah membuat tergila-gila<\/p>\n\n\n\n

para saudagar Arab, pedagang Cina, serta kaum ningrat Eropa itu, tergantikan perannya oleh penemuan teknologi mesin pendingin berkat Revolusi Industri yang dimulai di Inggris pada pertengahan abad-18. Pasaran cengkeh di Eropa pun merosot tajam.
<\/p>\n\n\n\n

Nasibnya terselamatkan berkat penemuan oleh seorang Haji Djamhari di Kudus, Jawa Tengah. Pada akhir tahun 1880-an, Haji Djamhari menemukan kegunaan baru cengkeh sebagai ramuan utama rokok. Lahirlah satu produk baru yang unik, khas dan asli Indonesia: kretek! (Hanusz, 2000:ii).
<\/p>\n\n\n\n

Setelah seperempat abad hanya berkembang dalam skala kecil usaha rumah tangga, produksi kretek akhirnya menjelma menjadi industri besar sejak awal abad-20 yang dirintis oleh Haji Nitisemito (pendiri pabrik \u2018Jambu Bol\u2019) di Kudus dan Liem Seng Tee (pendiri pabrik \u2018Dji Sam Soe\u2019 dan \u2018Sampoerna\u2019) di Surabaya.
<\/p>\n\n\n\n

Puncaknya adalah pada pertengahan tahun 1950-an, ketika produksi kretek mulai berkembang pesat menjadi industri raksasa modern dengan munculnya beberapa pabrik baru, antara lain, yang terkemuka, oleh Oei Wei Gwan (pendiri pabrik \u2018Djarum\u2019) di Kudus dan Tjou Ing Hwie (pendiri pabrik \u2018Gudang Garam\u2019) di Kediri (Topatimasang, et.al., eds., 2010:131).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Teruslah Menanam Tembakau dan Cengkeh, Wahai Petani Indonesia<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Cengkeh, bahan baku paling esensial dari kretek --selain tembakau, tentu saja-- pun kembali berjaya. Bahkan, sejak dasawarsa 1970an, telah menjadi salah satu penyumbang terbesar keuangan negara Republik Indonesia. Pada tahun 2012 dan 2013, pemasukan cukai dari industri kretek mencatat 95,5% dari seluruh pemasukan cukai ke kas negara. Nilainya tak tanggung-tanggung: Rp 87 triliun! (el-Guyanie, et.al.: 2013:4-5).<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Nilai ekonomisnya yang sangat besar sempat menggoda penguasa otoriter rezim Presiden Soeharto, pada 1990-an, memberlakukan satu kebijakan \u2018Hongi Gaya Baru\u2019: monopoli perdagangan cengkeh dalam negeri melalui Badan Penyanggah dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) yang sangat merugikan petani. Harga cengkeh di tingkat petani penghasil anjlok sampai hanya Rp 2.000 - 3.000 per kilogram, lebih murah dari harga sebungkus kretek yang dihasilkan darinya.
<\/p>\n\n\n\n

Akibatnya, ratusan ribu pohon cengkeh di daerah-daerah penghasil utama --Maluku, Maluku Utara, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Selatan-- ditebangi atau dibiarkan terlantar tak terurus.
<\/p>\n\n\n\n

Gelombang reformasi sistem politik dan hukum nasional yang dimulai pada tahun 1998, akhirnya menjungkalkan rezim Soeharto dan BPPC dibubarkan, Pelan tapi pasti, harga cengkeh kembali merangkak naik, sehingga pada tahun 2012, bahkan melewati angka Rp 200.000 per kilogram. Para petani cengkeh di seluruh negeri kembali tersenyum. Tetapi, sampai kapan? <\/p>\n\n\n\n

Catatan:<\/strong><\/p>\n\n\n\n

[1] Beberapa sumber menyebutkan bahwa kata \u2018cengkeh\u2019 dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Mandarin, tkeng-his atau xi\u2019jia, yang berarti \u2018rempah [berbentuk mirip] paku\u2019 (scented nails). Ini menunjukkan bahwa cengkeh sudah dikenal sejak lama oleh bangsa Cina --diketahui sejak abad-2-- jauh sebelum orang Eropa mengenalnya ((lihat, misalnya: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n\n\n\n

[2] Catatan-catatan para biarawan Fransiskan --yang disalin dan dikutip oleh van Frassen-- bahkan menyebut cengkeh sebagai salah satu bahan utama pengawet mumi para Fir\u2019aun, penguasa Mesir Kuno. Beberapa pakar sejarah dan arkeologi menyatakan bahwa rempah-rempah Maluku bahkan sudah ditemukan artefaknya di Lembah Mesopotomia (wilayah Iraq dan sekitarnya sekarang) pada 3.000 tahun sebelum Masehi. (lihat, antara lain: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n\n\n\n

[3] Uraian lebih rinci sejarah kolonialisme rempah-rempah Nusantara ini, terutama oleh Belanda dan Portugis, dapat dibaca pada beberapa sumber kepustakaan yang sudah dikenal luas, antara lain: Glamann (1958) dan Boxer (1965 dan 1969). Dalam risalah klasik Pires disebutkan bahwa pada tahun 1512-1521 saja, jumlah produksi cengkeh di Maluku sudah mencapai 7.250 bahar per tahun, terbesar adalah di Makian serta Amboina dan Lease (masing-masing 1.500 bahar)(Pires, 1512-1515).<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem Topatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-10 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-02-10 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5425","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5415,"post_author":"878","post_date":"2019-02-07 12:15:55","post_date_gmt":"2019-02-07 05:15:55","post_content":"\n

Belakangan ini, ketika musim hujan tiba, di Kabupaten Temanggung, Kabupaten Jember, dan beberapa wilayah sentra pertanian tembakau lainnya, hampir mustahil menemukan tanaman tembakau tumbuh di lahan-lahan milik petani. Di wilayah-wilayah tersebut, citra sebagai sentra pertanian tembakau seakan menguap. Lahan-lahan yang ada di sana, sama sekali tidak ditumbuhi tanaman tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Kabar ini bisa jadi dianggap sebagai kabar gembira bagi mereka yang menganggap diri dan kelompoknya anti-rokok dan anti-tembakau yang selalu mengampanyekan sikap-sikap mereka terkait kebencian kepada tembakau dan aktivitas merokok. Setelah sekian lama berjuang, akhirnya perjuangan mereka dirasa berhasil usai menyaksikan fenomena lahan-lahan di wilayah yang dianggap sentra pertanian tembakau pada hari-hari belakangan ini.<\/p>\n\n\n\n

Baca juga: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tak sia-sia turun ke jalan, tak sia-sia melakukan lobi-lobi ke penguasa, tak sia-sia mengucurkan uang yang tidak sedikit, dan tak sia-sia mempermalukan diri dengan mengemis ke lembaga donor asing dan menggondol uang dari cukai tembakau untuk mengampanyekan gerakan anti-rokok dan anti-tembakau. Tak sia-sia. Karena perjuangan sepertinya berhasil.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Kampanye-kampanye gerakan mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya, sepertinya juga sangat berhasil. Bagaimana tidak? Wilayah-wilayah yang sebelumnya penuh dengan tanaman tembakau dan bergeliat dengannya, kini lahan-lahannya sudah berganti dengan tanaman lain. Sebuah keberhasilan yang menggembirakan. Begitu mungkin pikir mereka para yang menganggap dirinya pejuang anti-rokok dan anti-tembakau. Dan tentu saja mereka akan kecele dan kita akan menertawakan hal itu.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, mereka yang menganggap dirinya anti-rokok dan anti-tembakau tidak menyaksikan langsung fenomena ini di lapangan, di lahan-lahan yang peruntukannya berubah pada hari-hari belakangan ini ketika memasuki musim hujan. Mereka asyik duduk pada kursi empuk di ruang-ruang nyaman ber-AC di kota-kota yang jauh dari kultur pertanian. Mereka menyengajakan diri menjadi elit dan enggan untuk turun melihat langsung ke lapangan. Kalaupun ada yang turun langsung ke lapangan, hanya segelintir saja dari mereka, itupun sekadar formalitas saja. Tak pernah benar-benar mau turun ke lapangan, hidup dan merasakan langsung kultur pertanian tembakau dalam jangka waktu cukup lama di lapangan.<\/p>\n\n\n\n

Baca juga: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Fenomena ini membikin kita tak bisa melihat mereka para anti-rokok kecele lalu menertawakan mereka.<\/strong> Fenomena keengganan terjun langsung ke lapangan terlebih mencoba mendengar mereka yang tetap menanam tembakau, juga menjalani keseharian dalam waktu cukup lama bersama petani tembakau inilah yang saya kira menjadikan mereka tetap keras kepala untuk anti-rokok dan anti-tembakau. Karena jika mereka mau melakukan itu, saya yakin mereka semua tidak akan begitu kaku dalam memandang pertanian tembakau dan produk hasil industri tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu yang selalu mereka kampanyekan dan ngotot dengan itu, terkait hulu pertanian tembakau adalah mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya. Mereka berargumen banyak tanaman lain yang bisa semenguntungkan tanaman tembakau. Keengganan mereka terjun langsung ke lapangan inilah yang membikin mereka buta dengan kondisi pertanian tembakau dan pada akhirnya terus menerus mengampanyekan pergantian tanaman tembakau dengan tanaman lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca juga: Imanlah kepada Allah, Bukan Antirokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tembakau tanaman yang khas. Ia hanya tumbuh baik sepanjang empat hingga lima bulan dalam satu tahun. Tumbuh-kembang tanaman tembakau dengan baik itu umumnya terjadi pada musim kemarau setiap tahunnya. Hanya sedikit sekali jenis tembakau yang tumbuh baik di musim penghujan, mayoritasnya, tumbuh baik pada musim kemarau.<\/p>\n\n\n\n

Jika ditanam pada musim hujan, hampir bisa dipastikan tanaman tembakau akan gagal menghasilkan daun-daun yang berkualitas. Ia akan rusak dan membusuk karena terlalu banyak terkena air sehingga daun-daun itu tak layak dijual. Jangankan bisa dijual, untuk tumbuh dengan baik pun sepertinya sulit karena musim hujan akan membunuh banyak tanaman itu.<\/p>\n\n\n\n

Maka, tak heran pada musim-musim seperti saat ini, ketika musim penghujan mendekati puncaknya, di wilayah-wilayah yang dikenal sebagai sentra pertanian tembakau, sulit menemukan pohon tembakau yang sedang tumbuh. Pada lahan-lahan yang sebelumnya ditumbuhi tanaman tembakau pada musim panas, berganti tanaman-tanaman lain yang bermacam-macam, sesuai dengan kondisi lahannya. Untuk lahan sawah, lahan-lahan itu pada musim penghujan kini ditumbuhi tanaman padi yang subur. Pada lahan tegalan dan lahan di pegunungan, lahan-lahan yang ditanami tembakau pada musim kemarau, saat ini ditumbuhi bermacam jenis tanaman mulai dari cabai, bawang, tomat, kol, terong, mentimun, dan ragam jenis tanaman semusim lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Uniknya, tipikal tanaman tembakau yang tumbuh baik di musim kemarau ini memberi pilihan lebih kepada para petani. Lahan-lahan yang sulit ditanami pada musim kemarau, pada akhirnya masih bisa tetap produktif dengan keberadaan tanaman tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Maka, kampanye aneh mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain dengan ragam rupa dalih yang membingungkan, bukan saja sama sekali tidak tepat dan asal-asalan, namun bisa jadi akan ditertawakan oleh para petani yang begitu paham dengan kondisi lahan dan terutama kondisi iklim dan cuaca. Sulit mencari tanaman semusim yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Jika pun ada, tak ada yang semenguntungkan tanaman tembakau.
<\/p>\n","post_title":"Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"keberhasilan-gerakan-anti-tembakau-tak-ada-tembakau-saat-musim-hujan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-07 12:16:02","post_modified_gmt":"2019-02-07 05:16:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5415","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5409,"post_author":"919","post_date":"2019-02-05 08:04:43","post_date_gmt":"2019-02-05 01:04:43","post_content":"\n

Tahun Baru Imlek yang merupakan tradisi Bangsa Tiongkok kini sudah tak lagi menjadi hal yang asing bagi masyarakat Indonesia. Kehadirannya sudah mewarnai dan berakulturasi dengan tradisi lokal. Menjelang Tahun Baru Imlek. Berbagai hiasan dan kemeriahan terjadi beberapa titik di Tanah Air. Perayaannya juga menjadi destinasi baru yang mengasyikkan untuk dilihat dan patut disaksikan.<\/p>\n\n\n\n

Berterimakasihlah kepada sang bapak bangsa, KH Abdurrahman Wahid atau yang dikenal dengan nama Gus Dur. Berkat kebijakannya saat menjadi Presiden Indonesia, Tahun Baru Imlek resmi dijadikan hari libur nasional dan dianggap sebagai salah satu hari raya di Tanah Air. Meski sentimen antitionghoa masih ada di sana-sini, tapi tetap tak bisa dipungkiri bahwa bangsa tionghoa sudah bersentuhan dengan budaya lokal dalam kurun waktu yang sangat panjang.<\/p>\n\n\n\n

DNA Bangsa Tionghoa yang memang merupakan pedagang menjadi pembuka kisah interaksi antara nenek moyang berbagai suku di Nusantara dengan mereka. Beberapa kelenteng-kelenteng yang tersebar pada berbagai pesisir daerah di Nusantara jadi buktinya. Pelabuhan-pelabuhan tua di tanah air dan ramainya perdagangan di pesisir mempermudah bangsa kita berhubungan dengan Bangsa Tionghoa.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Wong Kalang dan Kota Gede<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa kehadiran Bangsa Tionghoa di Nusantara tak hanya sebagai pedagang, namun juga sebagai pekerja (bahkan hingga pekerja kasar). Benny Setiono, seorang sejarahwan menyebutkan bahwa antara tahun 1760-1770 dalam jumlah yang besar memasuki nusantara melalui Kalimantan Barat. Mereka bekerja sebagai kuli pertambangan di sana dan di kemudian hari membentuk sebuah republik bernama Republik Lanfang yang konon katanya menjadi republik pertama di Asia Tenggara.<\/p>\n\n\n\n

Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Imlek dan Indonesia<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n\n\n\n

Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
<\/p>\n","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5406,"post_author":"877","post_date":"2019-02-04 08:23:48","post_date_gmt":"2019-02-04 01:23:48","post_content":"\n

Merokok itu sudah menjadi bagian dari budaya dan tradisi masyarakat, jauh sebelum Indonesia merdeka. Banyak cerita atau kisah tentang kretek <\/a><\/del>di tengah-tengah masyarakat bangsa ini, mulai sebagai alat untuk meraup keuntungan, alat komunikasi, sebagai teman sampai menjadi simbol pergerakan. <\/p>\n\n\n\n

Kretek, Simbol Perlawanan Roro Mendut<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Siapa yang tidak pernah mendengan cerita tentang Roro Mendut?, di telinga masyarakat Indonesia, kisah Roro Mendut tidak asing lagi.  Perempuan yang mempunyai paras wajah cantik, dan digandrungi kaum adam terutama kalangan putra kerajaan. Informasi kecantikan Roro Mendut tersebar seantero Nusantara, tidak satupun pria meragukan kecantikannya.  Bahkan kisah dan cerita kecantikan Roro Mendut tercatat dalam buku Babad Tanah Jawi. <\/p>\n\n\n\n

Diperkirakan pada tahun 1627, pada saat panglima perang Sultan Agung Mataram bernama Tumenggung Wiraguna berhasil menumpas pemberontakan di kota Pati, sebagai imbalanan atas keberhasilannya, mendapat hadiah wanita pujaan pria bernama Rara Mendut dari Kasultanan Agung Mataram.  Roro Mendut menolak dipinang Tumenggung Wiraguna, dan secara terang-terangan memilih pria lain dambaannya. Akibatnya, Roro Mendut harus membayar pajak setiap harinya kepada kerajaan Mataram. <\/p>\n\n\n\n

Bisa dibayangkan, betapa bingungnya Roro Mendut saat itu. Uang dari mana, ia hasilkan untuk bayar pajak tiap hari demi bisa bersama kekasihnya. Ternyata Roro Mendut tidak hanya cantik tetapi cerdas dan kreatif, bisa membaca peluang bisnis saat itu. Ide cermerlang muncul dengan berdagang\/berjualan rokok lintingan yang direkatkan dengan air ludahnya, dan sebelum menjualnya, rokok lintingan di sulut dahulu dan dihisap bekas bibir merahnya. Kemudian baru dijual ke pembeli yang berdesakan berjejer antri. <\/p>\n\n\n\n

Entah dari mana ide menjual rokok itu muncul. Yang jelas saking larisnya, kewajiban pajak Roro Mendut terpenuhi. Dan mungkin keadaannya akan lebih parah, jika saat itu Roro Mendut tidak berdagang rokok. Tidak akan terpenuhi kewajiban pajaknya. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Dengan rokok, hidup Roro Mendut terselamatkan. Adanya rokok, \u00a0Roro Mendut bebas dari belenggu kekuasaan. Berkat rokok, Roro Mendut terkengan, mengisi rubik informasi sejarah begitu kuatnya budaya merokok di \u00a0Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Pusaka Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek, Teman Perjuangan  Diponegoro<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Semasa berjuang melawan penjajah, yang harus dilakukan Diponegoro berpindah-pindah dari kota satu ke kota lain. Strategi perlawanan Diponegoro, kemudian sebagai basis strategi perang gerilya. Strategi yang menjadi idola dan kebanggaan tentara Indonesia. Dengan bergerilya, tentara Indonesia mampu mengecoh kekutan lawan yang lebih besar jumlahnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu, tenyata banyak cerita, Diponegoro saat berperang ditemani rokok. Ia dan pasukannya gemar merokok. Bahkan ketika tidak ada rokok, Pangeran Diponegoro rela hanya megunyah daun sirih yang diracik dengan kapur dan pinang. <\/p>\n\n\n\n

Kebiasaan ini, juga dialami oleh pengikut \/pasukan perang Pangeran Diponegoro. Bagi mereka, rokok teman sejati, menemani disetiap perjalanan mereka. Rokok menghilangkan depresi mereka, sebagai hiburan saat jauh dari keluarga demi berjuang melawan penjajah. Rokok menumbuhkan percaya diri mereka, lebih berani melawan penjajah walaupun hanya dengan serba keterbatasan, pasukan jumlah terbatas, alat perang terbatas dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Baca juga: Pangeran Diponegoro, Rokok Klobot dan Perlawanan Simbolis<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Jati Diri Bangsa<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Salah satu \u201cpendiri bangsa\u201d bernama KH. Agus Salim menghisap kretek dengan asapnya di kebal-kebulkan keudara, disaat ada perjamuan di Istana Buckingham ketika penobatan Elizabeth II sebagai Ratu kerajaan Inggris. Aroma khas keluar dari asap rokok kretek, tercium orang yang berada di ruang perjamuan. Sehingga memancing salah satu orang yang datang dalam perjamuan, dengan berkata; \u201ctuan sedang menghisap apa itu?\u201d.  Sentak KH. Agus Salim menjawab, \u201c inilah yang membuat nenek moyang anda sekian abad lalu datang dan kemudian menjajah negeri kami\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Jawaban KH. Agus Salim, faktanya memang benar. Rokok kretek tidak lain ada tambahan cengkeh (suzygium aromaticum<\/em>). \u00a0Tanaman legendaris menjadi rebutan dan sumber keuntungan kolonialisme Eropa atas Asia termasuk Indonesia. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Cengkeh adalah salah satu tanaman yang diperebutkan bangsa-bangsa dunia, sampai melegalkan penjajahan.  Dalam simpulan perjalanan ekspedisi cengkeh tahun 2013, Kepala Suku begitu julukan bagi Putut Ea, mengatakan \u201c jika saja tak pernah ada cengkeh dan pala di Maluku, mungkin sejarah kepulauan Nusantara ini akan berbeda sama sekali\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Simpulan Putut EA, sebagai salah satu pembenar perkataan \u00a0KH. Agus Salim. Mungkin, jika tanaman cengkeh tidak ada, fakta sejarah akan berbeda, tidak ada penjajahan di bumi Nusantara ini. <\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Mengisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek untuk Berteman dan Menjalin Persaudaraan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Teringat apa yang pernah dilakukan Menteri Sosial dan Lingkungan Hidup, saat melakukan pendekatan pada suku anak dalam di Jambi. Tidak lain ia adalah Khofifah menteri perempuan yang energik. Saat itu Khofifah bertanggungjawab dalam mengatasi masalah pendidikan dan kesejahteraan masyarakat suku anak dalam di Jambi.  <\/p>\n\n\n\n

Kebijakannya membuat fenomenal, selain bahan makanan, dan bantuan lain, khofifah juga membawa rokok.  Yang kemudian ada yang mengggugat dari anti rokok, tetapi sebagai Menteri, Khofifah tentunya sudah mengkaji secara mendalam. Dengan kecerdasannya , Khofifah menjawab dengan tegas dan lugas, \u201cjangan sok tahu kehidupan mereka, kenali apa yang menjadi ritme kehidupan mereka. Sangat bijaksana kalau kita semua pergi kesana, sehingga tahu adat istiadatnya juga. Tolong kalau ingin mengerti tentang kultur jangan hanya dari kacamata Jakarta. Saya pun ingin mengajak anda kesana, turun kesana, sapalah mereka\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Khofifah memberikan pelajaran bagi anti rokok. Tidak boleh sok tahu, apalagi selama ini antirokok hanya berasumsi, tanpa melihat fakta dilapangan. Khofifah juga menganjurkan agar lebih mengenal adat-istiadat, budaya dan tradisi masyarakat, tidak boleh melakukan hegemoni kultural, sebab keberagaman adat-istiadat dan budaya merupakan kekayaan negeri. <\/p>\n\n\n\n

Pelajaran Khofifah sangat mendalam dan bercirikhas Nusantara. Sebgaai Menteri \u00a0Sosial tentunya lebih berpengalaman apa yang dibutuhkan bangsa ini agar tetap jaya, bersatu dan utuh. Kenali perbedaan, hormati perbedaan, junjung tinggi budaya yang berbeda. \u00a0Apa yang telah dilakukan Khofifah dengan membawa rokok ke suku anak dalam adalah cermin penghormatan tradisi dan budaya masyarakat. Sebagai seorang Mentri, tentunya punya kuasa, artinya bisa seorang khofifah memberikan bantuan sesuai keinginannya sendiri, namun hal itu tidak dilakukan. Ia lebih mengedepankan penghormatan budaya masyarakat setempat, dengan membawa rokok untuk pendekatan dan pertemanan. Karena Khofifah tahu betul, bahwa merokok adalah budaya mereka, yang diwaris dari neneng moyang mereka. <\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Memilih Jalan Hidup Menikmati Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Simbol Pergerakan Nasional     <\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Abdul Rifa\u2019I dalam media bintang timur terbit pada 03 Oktober 1927, mengatakan, \u201ckopinya bukan kopi saringan, tetapi kopi tubruk sebab kopi ini katanya nationaal, gulanya gula jawa, susu tidak dipakai karena tidak nationaal. Rokoknya kelobot, selamatan natioanaal ini terus berlangsung ed sampai pagi hari\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Semangat nasionalisme harus tertanam, mengedepankan produk lokal adalah salah satu semangat nasionalime. Salah satu keberadaan rokok klobot menjadi ciri produk asli indonesia dan harus dilestarikan. Klobot sendiri adalah ramuan tembakau dan cengkeh di gulung memakai daun jagung, embrio perkembangan menjadi rokok sigaret kretek tangan dan sigaret kretek mesin.  
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pusaran Budaya Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pusaran-budaya-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-04 08:40:41","post_modified_gmt":"2019-02-04 01:40:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5406","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5403,"post_author":"919","post_date":"2019-02-03 09:05:50","post_date_gmt":"2019-02-03 02:05:50","post_content":"\n

Seringkali saya menyaksikan berbagai film baik itu Eropa atau Asia yang menggambarkan tentang masa depan. Pemandangan soal masa depan tersebut dihadirkan dengan gambaran kecanggihan teknologi seperti robot yang akan membantu kehidupan manusia, gedung-gedung yang tingginya sudah amat tak bisa ditandingi,  hingga mobil-mobil yang bisa terbang. <\/p>\n\n\n\n

Pernah dalam masa kecil saya menyaksikan sebuah film animasi buatan jepang yang mempertanyakan tentang makanan di masa depan. Dengan santai salah satu tokoh yang berasal dari masa depan itu menjawab bahwa suatu saat nanti manusia akan mengonsumsi makanan berupa pasta gigi namun dengan rasa yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa, aneh!<\/p>\n\n\n\n

Seiring waktu berjalan saya kian tumbuh dewasa dan punya kesadaran untuk memilih menjadi seorang perokok<\/a>. Saya juga melihat ada sebuah inovasi dan gambaran tentang masa depan yang hadir dalam kehidupan sekarang. Banyak memang, namun yang menyita perhatian saya adalah rokok elektrik atau yang populer disebut Vape. Konon katanya ia adalah produk inovasi untuk menjembatani kebutuhan menghisap asap dan kecanggihan masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Di awal kehadirannya Vape memang mengundang decak kekaguman saya. Bagaimana bisa sebuah mesin kecil mengeluarkan asap yang katanya lebih menyehatkan daripada rokok.<\/strong> Meski pada akhirnya teori tersebut juga bisa dibantah oleh beberapa ilmuan dunia. Tapi ada satu yang saya amati selain soal kesehatan, rokok elektrik rupanya menghadirkan kultur dan budaya baru dalam kehidupan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: LAGI-LAGI IKLAN ROKOK, KAPAN KPAI TIDAK TEBANG PILIH? <\/a><\/h4>\n\n\n\n

Kehadiran teknologi memang kerap sedikit atau benyak mengubah gaya atau kultur suatu masyarakat. Begitu pula yang saya perhatikan dengan rokok elektrik. Satu hal yang mudah diamati adalah menjamurnya toko-toko kecil yang menjual vape serta liquid di berbagai tempat. Sebagai sebuah warna baru dalam masyarakat, penggunanya ramai-ramai mengunjungi tempat tersebut berinteraksi dengan penikmat lainnya dan membangun sebuah rumah komunitas yang fleksibel.<\/p>\n\n\n\n

Meski belum bisa dikatakan memiliki jumlah penikmat yang setara dengan para perokok, pengguna Vape mulai menunjukkan eksistensinya. Selain toko yang tersebar, ragam acara juga mereka buat di beberapa daerah. Dalam lingkungan saya, beberapa teman yang dulunya merupakan perokok aktif tertarik mengikuti event tersebut dan beralih mengisap rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Nun jauh di sana, di Amerika Serikat tepatnya, budaya Vape juga sudah mulai berkembang lama ketimbang di Tanah Air. Penikmatnya terbagi menjadi dua, ada yang dulunya bekas perokok dan ada yang memang menikmatinya sebagai gaya hidup. Wajar saja mengingat facebook tak memperbolehkan iklan tembakau di platform mereka, sebaliknya iklan tentang vape justru bertebaran. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi budaya baru yang berkembang di berbagai belahan dunia bahkan di Indonesia, Vape konon menjadi alternatif yang lebih bermanfaat daripada rokok. Dalih yang diusung selalu sama kepada para perokok tradisonal yaitu soal kesehatan dan lebih irit. Soal kesehatan tentu ada beberapa pendapat para ilmuan yang membantahnya, namun soal irit, saya rasa tidak. Memang satu liquid bisa digunakan untuk beberapa Minggu, akan tetapi yang saya lihat di lapangan justru sebaliknya. <\/p>\n\n\n\n

Beberapa penikmat rokok elektrik kerap berbelanja liquid yang mereka idamkan. Terkadang, hal tersebut yang membuat mereka boros karena terus mengeksplor rasa mana yang mereka idam-idamkan. Tak jarang juga liquid dengan harga mahal hingga ratus ribuan akan mereka beli. Sebaliknya, para perokok konvensional justru kerap bertahan dengan satu rasa atau merek saja.<\/p>\n\n\n\n

Sedikit berbeda dengan penikmat rokok konvensional atau kretek. Mengingat rokok kretek sudah menjadi kebudayan lokal yang terus dipertahankan selama bertahun-tahun, kehadirannya sudah mewarnai khasanah keindonesiaan. Perokok kretek juga sudah punya soliditas luar biasa yang terbentuk sejak lama dan terus terbangun mengiringi peradaban di Indonesia atau dunia.<\/p>\n\n\n\n

Kini, perokok elektrik mulai merasakan kegelisahan. Beberapa negara mulai menerapkan peraturan ketat terhadap Vape, sedangkan di Indonesia biaya cukai pun kini mulai diberlakukan terhadap perdagangan rokok elektrik. Keberadaannya di mata negara pun mulai dianggap sama seperti rokok, meski pada awalnya rokok elektrik hadir dengan slogan-slogan produk alternatif yang lebih menyehatkan (katanya).<\/p>\n\n\n\n


Tapi jika kemudian di masa depan memang rokok elektrik yang kemudian menjadi sesuatu yang populer dan dinikmati banyak orang. Rasanya saya tetap ingin hidup di jaman ini, dengan sebatang kretek di tangan dan menikmati segala khasanah kebudayaan yang patut terus dipertahankan. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"masa-depan-rokok-elektrik-dan-semangat-alternatif-yang-sia-sia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-03 09:05:56","post_modified_gmt":"2019-02-03 02:05:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5403","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5385,"post_author":"883","post_date":"2019-02-02 08:01:01","post_date_gmt":"2019-02-02 01:01:01","post_content":"Pada tahun 2014, perusahaan rokok multinasional Philip Morris Internasional Inc. merilis sebuah produk <\/span>perangkat\u00a0<\/span>
rokok<\/span><\/a>\u00a0tanpa asap, yang dipanaskan bukan dibakar atau istilahnya\u00a0<\/span>heat not burn<\/i><\/strong>\u00a0(HNB) iQOS<\/strong>. <\/span>\r\n\r\nPerangkat rokok tanpa asap dengan nama iQOS<\/a> ini berbentuk seperti bagian luar pulpen, dengan lubang di tengah untuk rokok. Produk yang berada di bawah brand Marlboro ini dapat memanaskan rokok sampai 350 derajat celcius lalu mengeluarkan uap nikotin beraroma tembakau<\/em><\/a>.<\/span>\r\n

Produk iQOS sebenarnya bukanlah produk rokok tanpa asap yang pertama muncul. Sebelumnya di tahun 1990-an, Reynolds Tobacco Co pernah merilis produk serupa bernama Eclipes yang juga dapat menguapkan nikotin setelah dinyalakan dengan korek api.<\/span><\/blockquote>\r\nSelain itu, Eclips juga dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. Namun, pada saat itu Eclips tidak diminati oleh pasar, utamanya para perokok konvensional. Meskipun Eclips dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. <\/span>\r\n\r\nBisnis semacam rokok tanpa asap seperti Eclips dan iQOS memang sudah menjadi bagian dari rencana panjang bisnis perusahaan-perusahaan rokok multinasional. Jadi tidak usah heran jika ke depannya akan kita akan banyak menemukan produk rokok tanpa asap ini.<\/span>\r\n\r\nWatak dari perusahaan multinasional memang seperti itu, mereka sangat jeli melihat peluang pasar ke depannya. Ketika market place perusahaan rokok multinasional saat ini terus dirongrong oleh kelompok antirokok, mereka tak kehabisan akal. Maka kemudian mereka menginovasi produk rokok konvensional menjadi rokok yang tidak berasap. Begitupun dengan mengikutsertakan jargon-jargon kesehatan dalam narasi promosi mereka.<\/span>\r\n\r\nSesungguhnya memang seperti itulah watak bisnis perusahaan-perusahaan multinasional, melakukan segala cara agar bisnis mereka tetap bertahan, meskipun harus merangkul musuh sekalipun. <\/span>\r\n\r\nYa kadang pura-pura berantem sama antirokok, tapi dibalik itu sebenarnya baik-baik saja, dan tentunya ada kompromi untuk terus melanggengkan bisnis mereka.<\/span>\r\n

Lalu siapa yang dirugikan dari permainan bisnis macam produk rokok tanpa asap perusahaan rokok multinasional ini?<\/span><\/h3>\r\nTentunya yang sangat dirugikan adalah produk hasil tembakau yang memiliki kekhasan seperti kretek di Indonesia. Kretek sebagai produk khas asli Indonesia yang menjadi bagian dari warisan kebudayaan tidak mungkin bertransformasi menjadi produk-produk elektrik dan sejenisnya.<\/span>\r\n\r\nKretek tetaplah kretek, dengan bahan baku alami tembakau dan cengkeh yang tidak diintervensi dengan zat atau perangkat penghantar lainnya. Karena dengan bentuk, karakter dan cara menikmatinya memang konvensional dan akan terus begitu apapun kondisi dan zamannya.<\/span>\r\n
Bisnis produk rokok tanpa asap (elektrik) juga menghajar kretek dengan mendompleng isu pengendalian tembakau. Kampanye pengendalian tembakau selalu membawa slogan bahaya merokok dan upaya untuk berhenti merokok. <\/span><\/blockquote>\r\nDari isu tersebut, rokok elektrik masuk dengan citra produk alternatif tembakau, bahkan mereka tak segan menilai bahwa rokok elektrik lebih aman ketimbang rokok konvensional, yakni kretek.<\/span>\r\n\r\nLalu jika Indonesia akan dibanjiri dengan produk-produk yang mengatasnamakan produk alternatif tembakau, macam rokok tanpa asap (iQOS dan sejenisnya), maka itulah pertanda bahwa kretek harus tergerus dari cara hidup manusia Indonesia dalam menikmati produk hasil tembakau khas Indonesia yang sudah turun-temurun lamanya dinikmati manusia Indonesia.<\/span>","post_title":"Nasib Kretek di Pusaran Pertarungan Bisnis Global Perusahaan Rokok Multinasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"nasib-kretek-di-pusaran-pertarungan-bisnis-global-perusahaan-rokok-multinasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-02 08:01:43","post_modified_gmt":"2019-02-02 01:01:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5385","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; \n

Inilah yang membuat orang-orang Eropa untuk pertama kalinya dapat mengawetkan dan menimbun makanan selama bermusim-musim. Prosa indah Blair bersaudara menggambarkannya dengan sangat baik:
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKemampuan menyimpan makanan lebih dari yang kami makan sekaligus berarti kemampuan menjual dan membelinya dalam jumlah besar --dan kota-kota dagang pun mekar. Perekonomian yang dihasilkannya mengarahkan kami ke zaman Pencerahan dan kemudian Revolusi Industri. Tak lama setelah kami menghirup aroma yang sangat kuat dari Timur itu dan mengubah kimiawi makanan kami, maka kami pun mampu melakukan lompatan besar dalam bidang budaya dan seni.\u201d (Blair & Blair, 2010; 30-31).<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh dan Kelapa di Kepulauan Anambas<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Bukan hanya membuat perekonomian dan perdagangan serta ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang, cengkeh dan pala bahkan adalah faktor yang paling menentukan dalam kemunculan satu babakan paling mengenaskan dalam sejarah politik dunia, yakni zaman penjajahan (kolonialisme) Eropa, terutama atas-atas negeri- negeri Asia Selatan, Timur dan Tenggara, termasuk Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Tergerak oleh sahwat menguasai rempah-rempah yang menggiurkan itu, bangsa-bangsa Eropa --terutama Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda-- pun menggelar ekspedisi-ekspedisi besar untuk menemukan cengkeh dan pala langsung di tanah asalnya. Ketika armada-armada mereka akhirnya mencapai perairan Kepulauan Maluku, pada abad-16, perang pun tak terhindarkan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka silih berganti saling mengalahkan, tetapi pemenang terakhir adalah Belanda. Melalui Perusahaan Dagang Hindia Timur (Vereenigde Oostindische Compagnie, VOC) yang dibentuk pada awal abad-17 (tepatnya tahun 1609), Belanda melancarkan ekspedisi Pelayaran Hongi (Hongie Tochten), untuk memusnahkan semua tanaman cengkeh di Ternate, Tidore, Moti, dan Makian, lalu membatasi ketat penanamnya hanya di Pulau-pulau Ambon dan Lease --yang lebih dekat ke Banda sebagai pusat pemerintahan mereka sebelum akhirnya dipindahkan ke Batavia.
<\/p>\n\n\n\n

Praktis, sejak akhir abad-16, Belanda pun menguasai penuh perdagangan rempah-rempah Maluku dengan jumlah produksi rerata 2.500 sampai 4.500 ton per tahun. [3]<\/p>\n\n\n\n

Baca: Budidaya Pohon Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Meskipun peran utama rempah-rempah Maluku itu kemudian tergusur pada abad-18 dan 19 oleh beberapa barang eksotika tropis lainnya --hasil perkebunan-perkebunana besar baru di Pulau Sumatera dan Jawa: tebu, tembakau, lada, kopi, teh, nila, kelapa sawit, dan kayu jati-- namun sejarah sudah mencatat bahwa dua jenis rempah-rempah Maluku itulah yang mengawali penjelajahan sekaligus penjajahan kepulauan Nusantara oleh bangsa-bangsa Eropah, terutama Belanda (Topatimasang, ed., 2004:32). Jika saja tak pernah ada cengkeh dan pala di Maluku, mungkin sejarah kepulauan Nusantara ini akan berbeda sama sekali.
<\/p>\n\n\n\n

Masa suram cengkeh dan pala terus berlangsung sampai pertengahan abad-20. Rempah eksotika yang pernah membuat tergila-gila<\/p>\n\n\n\n

para saudagar Arab, pedagang Cina, serta kaum ningrat Eropa itu, tergantikan perannya oleh penemuan teknologi mesin pendingin berkat Revolusi Industri yang dimulai di Inggris pada pertengahan abad-18. Pasaran cengkeh di Eropa pun merosot tajam.
<\/p>\n\n\n\n

Nasibnya terselamatkan berkat penemuan oleh seorang Haji Djamhari di Kudus, Jawa Tengah. Pada akhir tahun 1880-an, Haji Djamhari menemukan kegunaan baru cengkeh sebagai ramuan utama rokok. Lahirlah satu produk baru yang unik, khas dan asli Indonesia: kretek! (Hanusz, 2000:ii).
<\/p>\n\n\n\n

Setelah seperempat abad hanya berkembang dalam skala kecil usaha rumah tangga, produksi kretek akhirnya menjelma menjadi industri besar sejak awal abad-20 yang dirintis oleh Haji Nitisemito (pendiri pabrik \u2018Jambu Bol\u2019) di Kudus dan Liem Seng Tee (pendiri pabrik \u2018Dji Sam Soe\u2019 dan \u2018Sampoerna\u2019) di Surabaya.
<\/p>\n\n\n\n

Puncaknya adalah pada pertengahan tahun 1950-an, ketika produksi kretek mulai berkembang pesat menjadi industri raksasa modern dengan munculnya beberapa pabrik baru, antara lain, yang terkemuka, oleh Oei Wei Gwan (pendiri pabrik \u2018Djarum\u2019) di Kudus dan Tjou Ing Hwie (pendiri pabrik \u2018Gudang Garam\u2019) di Kediri (Topatimasang, et.al., eds., 2010:131).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Teruslah Menanam Tembakau dan Cengkeh, Wahai Petani Indonesia<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Cengkeh, bahan baku paling esensial dari kretek --selain tembakau, tentu saja-- pun kembali berjaya. Bahkan, sejak dasawarsa 1970an, telah menjadi salah satu penyumbang terbesar keuangan negara Republik Indonesia. Pada tahun 2012 dan 2013, pemasukan cukai dari industri kretek mencatat 95,5% dari seluruh pemasukan cukai ke kas negara. Nilainya tak tanggung-tanggung: Rp 87 triliun! (el-Guyanie, et.al.: 2013:4-5).<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Nilai ekonomisnya yang sangat besar sempat menggoda penguasa otoriter rezim Presiden Soeharto, pada 1990-an, memberlakukan satu kebijakan \u2018Hongi Gaya Baru\u2019: monopoli perdagangan cengkeh dalam negeri melalui Badan Penyanggah dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) yang sangat merugikan petani. Harga cengkeh di tingkat petani penghasil anjlok sampai hanya Rp 2.000 - 3.000 per kilogram, lebih murah dari harga sebungkus kretek yang dihasilkan darinya.
<\/p>\n\n\n\n

Akibatnya, ratusan ribu pohon cengkeh di daerah-daerah penghasil utama --Maluku, Maluku Utara, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Selatan-- ditebangi atau dibiarkan terlantar tak terurus.
<\/p>\n\n\n\n

Gelombang reformasi sistem politik dan hukum nasional yang dimulai pada tahun 1998, akhirnya menjungkalkan rezim Soeharto dan BPPC dibubarkan, Pelan tapi pasti, harga cengkeh kembali merangkak naik, sehingga pada tahun 2012, bahkan melewati angka Rp 200.000 per kilogram. Para petani cengkeh di seluruh negeri kembali tersenyum. Tetapi, sampai kapan? <\/p>\n\n\n\n

Catatan:<\/strong><\/p>\n\n\n\n

[1] Beberapa sumber menyebutkan bahwa kata \u2018cengkeh\u2019 dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Mandarin, tkeng-his atau xi\u2019jia, yang berarti \u2018rempah [berbentuk mirip] paku\u2019 (scented nails). Ini menunjukkan bahwa cengkeh sudah dikenal sejak lama oleh bangsa Cina --diketahui sejak abad-2-- jauh sebelum orang Eropa mengenalnya ((lihat, misalnya: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n\n\n\n

[2] Catatan-catatan para biarawan Fransiskan --yang disalin dan dikutip oleh van Frassen-- bahkan menyebut cengkeh sebagai salah satu bahan utama pengawet mumi para Fir\u2019aun, penguasa Mesir Kuno. Beberapa pakar sejarah dan arkeologi menyatakan bahwa rempah-rempah Maluku bahkan sudah ditemukan artefaknya di Lembah Mesopotomia (wilayah Iraq dan sekitarnya sekarang) pada 3.000 tahun sebelum Masehi. (lihat, antara lain: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n\n\n\n

[3] Uraian lebih rinci sejarah kolonialisme rempah-rempah Nusantara ini, terutama oleh Belanda dan Portugis, dapat dibaca pada beberapa sumber kepustakaan yang sudah dikenal luas, antara lain: Glamann (1958) dan Boxer (1965 dan 1969). Dalam risalah klasik Pires disebutkan bahwa pada tahun 1512-1521 saja, jumlah produksi cengkeh di Maluku sudah mencapai 7.250 bahar per tahun, terbesar adalah di Makian serta Amboina dan Lease (masing-masing 1.500 bahar)(Pires, 1512-1515).<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem Topatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-10 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-02-10 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5425","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5415,"post_author":"878","post_date":"2019-02-07 12:15:55","post_date_gmt":"2019-02-07 05:15:55","post_content":"\n

Belakangan ini, ketika musim hujan tiba, di Kabupaten Temanggung, Kabupaten Jember, dan beberapa wilayah sentra pertanian tembakau lainnya, hampir mustahil menemukan tanaman tembakau tumbuh di lahan-lahan milik petani. Di wilayah-wilayah tersebut, citra sebagai sentra pertanian tembakau seakan menguap. Lahan-lahan yang ada di sana, sama sekali tidak ditumbuhi tanaman tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Kabar ini bisa jadi dianggap sebagai kabar gembira bagi mereka yang menganggap diri dan kelompoknya anti-rokok dan anti-tembakau yang selalu mengampanyekan sikap-sikap mereka terkait kebencian kepada tembakau dan aktivitas merokok. Setelah sekian lama berjuang, akhirnya perjuangan mereka dirasa berhasil usai menyaksikan fenomena lahan-lahan di wilayah yang dianggap sentra pertanian tembakau pada hari-hari belakangan ini.<\/p>\n\n\n\n

Baca juga: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tak sia-sia turun ke jalan, tak sia-sia melakukan lobi-lobi ke penguasa, tak sia-sia mengucurkan uang yang tidak sedikit, dan tak sia-sia mempermalukan diri dengan mengemis ke lembaga donor asing dan menggondol uang dari cukai tembakau untuk mengampanyekan gerakan anti-rokok dan anti-tembakau. Tak sia-sia. Karena perjuangan sepertinya berhasil.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Kampanye-kampanye gerakan mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya, sepertinya juga sangat berhasil. Bagaimana tidak? Wilayah-wilayah yang sebelumnya penuh dengan tanaman tembakau dan bergeliat dengannya, kini lahan-lahannya sudah berganti dengan tanaman lain. Sebuah keberhasilan yang menggembirakan. Begitu mungkin pikir mereka para yang menganggap dirinya pejuang anti-rokok dan anti-tembakau. Dan tentu saja mereka akan kecele dan kita akan menertawakan hal itu.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, mereka yang menganggap dirinya anti-rokok dan anti-tembakau tidak menyaksikan langsung fenomena ini di lapangan, di lahan-lahan yang peruntukannya berubah pada hari-hari belakangan ini ketika memasuki musim hujan. Mereka asyik duduk pada kursi empuk di ruang-ruang nyaman ber-AC di kota-kota yang jauh dari kultur pertanian. Mereka menyengajakan diri menjadi elit dan enggan untuk turun melihat langsung ke lapangan. Kalaupun ada yang turun langsung ke lapangan, hanya segelintir saja dari mereka, itupun sekadar formalitas saja. Tak pernah benar-benar mau turun ke lapangan, hidup dan merasakan langsung kultur pertanian tembakau dalam jangka waktu cukup lama di lapangan.<\/p>\n\n\n\n

Baca juga: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Fenomena ini membikin kita tak bisa melihat mereka para anti-rokok kecele lalu menertawakan mereka.<\/strong> Fenomena keengganan terjun langsung ke lapangan terlebih mencoba mendengar mereka yang tetap menanam tembakau, juga menjalani keseharian dalam waktu cukup lama bersama petani tembakau inilah yang saya kira menjadikan mereka tetap keras kepala untuk anti-rokok dan anti-tembakau. Karena jika mereka mau melakukan itu, saya yakin mereka semua tidak akan begitu kaku dalam memandang pertanian tembakau dan produk hasil industri tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu yang selalu mereka kampanyekan dan ngotot dengan itu, terkait hulu pertanian tembakau adalah mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya. Mereka berargumen banyak tanaman lain yang bisa semenguntungkan tanaman tembakau. Keengganan mereka terjun langsung ke lapangan inilah yang membikin mereka buta dengan kondisi pertanian tembakau dan pada akhirnya terus menerus mengampanyekan pergantian tanaman tembakau dengan tanaman lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca juga: Imanlah kepada Allah, Bukan Antirokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tembakau tanaman yang khas. Ia hanya tumbuh baik sepanjang empat hingga lima bulan dalam satu tahun. Tumbuh-kembang tanaman tembakau dengan baik itu umumnya terjadi pada musim kemarau setiap tahunnya. Hanya sedikit sekali jenis tembakau yang tumbuh baik di musim penghujan, mayoritasnya, tumbuh baik pada musim kemarau.<\/p>\n\n\n\n

Jika ditanam pada musim hujan, hampir bisa dipastikan tanaman tembakau akan gagal menghasilkan daun-daun yang berkualitas. Ia akan rusak dan membusuk karena terlalu banyak terkena air sehingga daun-daun itu tak layak dijual. Jangankan bisa dijual, untuk tumbuh dengan baik pun sepertinya sulit karena musim hujan akan membunuh banyak tanaman itu.<\/p>\n\n\n\n

Maka, tak heran pada musim-musim seperti saat ini, ketika musim penghujan mendekati puncaknya, di wilayah-wilayah yang dikenal sebagai sentra pertanian tembakau, sulit menemukan pohon tembakau yang sedang tumbuh. Pada lahan-lahan yang sebelumnya ditumbuhi tanaman tembakau pada musim panas, berganti tanaman-tanaman lain yang bermacam-macam, sesuai dengan kondisi lahannya. Untuk lahan sawah, lahan-lahan itu pada musim penghujan kini ditumbuhi tanaman padi yang subur. Pada lahan tegalan dan lahan di pegunungan, lahan-lahan yang ditanami tembakau pada musim kemarau, saat ini ditumbuhi bermacam jenis tanaman mulai dari cabai, bawang, tomat, kol, terong, mentimun, dan ragam jenis tanaman semusim lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Uniknya, tipikal tanaman tembakau yang tumbuh baik di musim kemarau ini memberi pilihan lebih kepada para petani. Lahan-lahan yang sulit ditanami pada musim kemarau, pada akhirnya masih bisa tetap produktif dengan keberadaan tanaman tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Maka, kampanye aneh mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain dengan ragam rupa dalih yang membingungkan, bukan saja sama sekali tidak tepat dan asal-asalan, namun bisa jadi akan ditertawakan oleh para petani yang begitu paham dengan kondisi lahan dan terutama kondisi iklim dan cuaca. Sulit mencari tanaman semusim yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Jika pun ada, tak ada yang semenguntungkan tanaman tembakau.
<\/p>\n","post_title":"Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"keberhasilan-gerakan-anti-tembakau-tak-ada-tembakau-saat-musim-hujan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-07 12:16:02","post_modified_gmt":"2019-02-07 05:16:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5415","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5409,"post_author":"919","post_date":"2019-02-05 08:04:43","post_date_gmt":"2019-02-05 01:04:43","post_content":"\n

Tahun Baru Imlek yang merupakan tradisi Bangsa Tiongkok kini sudah tak lagi menjadi hal yang asing bagi masyarakat Indonesia. Kehadirannya sudah mewarnai dan berakulturasi dengan tradisi lokal. Menjelang Tahun Baru Imlek. Berbagai hiasan dan kemeriahan terjadi beberapa titik di Tanah Air. Perayaannya juga menjadi destinasi baru yang mengasyikkan untuk dilihat dan patut disaksikan.<\/p>\n\n\n\n

Berterimakasihlah kepada sang bapak bangsa, KH Abdurrahman Wahid atau yang dikenal dengan nama Gus Dur. Berkat kebijakannya saat menjadi Presiden Indonesia, Tahun Baru Imlek resmi dijadikan hari libur nasional dan dianggap sebagai salah satu hari raya di Tanah Air. Meski sentimen antitionghoa masih ada di sana-sini, tapi tetap tak bisa dipungkiri bahwa bangsa tionghoa sudah bersentuhan dengan budaya lokal dalam kurun waktu yang sangat panjang.<\/p>\n\n\n\n

DNA Bangsa Tionghoa yang memang merupakan pedagang menjadi pembuka kisah interaksi antara nenek moyang berbagai suku di Nusantara dengan mereka. Beberapa kelenteng-kelenteng yang tersebar pada berbagai pesisir daerah di Nusantara jadi buktinya. Pelabuhan-pelabuhan tua di tanah air dan ramainya perdagangan di pesisir mempermudah bangsa kita berhubungan dengan Bangsa Tionghoa.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Wong Kalang dan Kota Gede<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa kehadiran Bangsa Tionghoa di Nusantara tak hanya sebagai pedagang, namun juga sebagai pekerja (bahkan hingga pekerja kasar). Benny Setiono, seorang sejarahwan menyebutkan bahwa antara tahun 1760-1770 dalam jumlah yang besar memasuki nusantara melalui Kalimantan Barat. Mereka bekerja sebagai kuli pertambangan di sana dan di kemudian hari membentuk sebuah republik bernama Republik Lanfang yang konon katanya menjadi republik pertama di Asia Tenggara.<\/p>\n\n\n\n

Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Imlek dan Indonesia<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n\n\n\n

Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
<\/p>\n","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5406,"post_author":"877","post_date":"2019-02-04 08:23:48","post_date_gmt":"2019-02-04 01:23:48","post_content":"\n

Merokok itu sudah menjadi bagian dari budaya dan tradisi masyarakat, jauh sebelum Indonesia merdeka. Banyak cerita atau kisah tentang kretek <\/a><\/del>di tengah-tengah masyarakat bangsa ini, mulai sebagai alat untuk meraup keuntungan, alat komunikasi, sebagai teman sampai menjadi simbol pergerakan. <\/p>\n\n\n\n

Kretek, Simbol Perlawanan Roro Mendut<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Siapa yang tidak pernah mendengan cerita tentang Roro Mendut?, di telinga masyarakat Indonesia, kisah Roro Mendut tidak asing lagi.  Perempuan yang mempunyai paras wajah cantik, dan digandrungi kaum adam terutama kalangan putra kerajaan. Informasi kecantikan Roro Mendut tersebar seantero Nusantara, tidak satupun pria meragukan kecantikannya.  Bahkan kisah dan cerita kecantikan Roro Mendut tercatat dalam buku Babad Tanah Jawi. <\/p>\n\n\n\n

Diperkirakan pada tahun 1627, pada saat panglima perang Sultan Agung Mataram bernama Tumenggung Wiraguna berhasil menumpas pemberontakan di kota Pati, sebagai imbalanan atas keberhasilannya, mendapat hadiah wanita pujaan pria bernama Rara Mendut dari Kasultanan Agung Mataram.  Roro Mendut menolak dipinang Tumenggung Wiraguna, dan secara terang-terangan memilih pria lain dambaannya. Akibatnya, Roro Mendut harus membayar pajak setiap harinya kepada kerajaan Mataram. <\/p>\n\n\n\n

Bisa dibayangkan, betapa bingungnya Roro Mendut saat itu. Uang dari mana, ia hasilkan untuk bayar pajak tiap hari demi bisa bersama kekasihnya. Ternyata Roro Mendut tidak hanya cantik tetapi cerdas dan kreatif, bisa membaca peluang bisnis saat itu. Ide cermerlang muncul dengan berdagang\/berjualan rokok lintingan yang direkatkan dengan air ludahnya, dan sebelum menjualnya, rokok lintingan di sulut dahulu dan dihisap bekas bibir merahnya. Kemudian baru dijual ke pembeli yang berdesakan berjejer antri. <\/p>\n\n\n\n

Entah dari mana ide menjual rokok itu muncul. Yang jelas saking larisnya, kewajiban pajak Roro Mendut terpenuhi. Dan mungkin keadaannya akan lebih parah, jika saat itu Roro Mendut tidak berdagang rokok. Tidak akan terpenuhi kewajiban pajaknya. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Dengan rokok, hidup Roro Mendut terselamatkan. Adanya rokok, \u00a0Roro Mendut bebas dari belenggu kekuasaan. Berkat rokok, Roro Mendut terkengan, mengisi rubik informasi sejarah begitu kuatnya budaya merokok di \u00a0Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Pusaka Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek, Teman Perjuangan  Diponegoro<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Semasa berjuang melawan penjajah, yang harus dilakukan Diponegoro berpindah-pindah dari kota satu ke kota lain. Strategi perlawanan Diponegoro, kemudian sebagai basis strategi perang gerilya. Strategi yang menjadi idola dan kebanggaan tentara Indonesia. Dengan bergerilya, tentara Indonesia mampu mengecoh kekutan lawan yang lebih besar jumlahnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu, tenyata banyak cerita, Diponegoro saat berperang ditemani rokok. Ia dan pasukannya gemar merokok. Bahkan ketika tidak ada rokok, Pangeran Diponegoro rela hanya megunyah daun sirih yang diracik dengan kapur dan pinang. <\/p>\n\n\n\n

Kebiasaan ini, juga dialami oleh pengikut \/pasukan perang Pangeran Diponegoro. Bagi mereka, rokok teman sejati, menemani disetiap perjalanan mereka. Rokok menghilangkan depresi mereka, sebagai hiburan saat jauh dari keluarga demi berjuang melawan penjajah. Rokok menumbuhkan percaya diri mereka, lebih berani melawan penjajah walaupun hanya dengan serba keterbatasan, pasukan jumlah terbatas, alat perang terbatas dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Baca juga: Pangeran Diponegoro, Rokok Klobot dan Perlawanan Simbolis<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Jati Diri Bangsa<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Salah satu \u201cpendiri bangsa\u201d bernama KH. Agus Salim menghisap kretek dengan asapnya di kebal-kebulkan keudara, disaat ada perjamuan di Istana Buckingham ketika penobatan Elizabeth II sebagai Ratu kerajaan Inggris. Aroma khas keluar dari asap rokok kretek, tercium orang yang berada di ruang perjamuan. Sehingga memancing salah satu orang yang datang dalam perjamuan, dengan berkata; \u201ctuan sedang menghisap apa itu?\u201d.  Sentak KH. Agus Salim menjawab, \u201c inilah yang membuat nenek moyang anda sekian abad lalu datang dan kemudian menjajah negeri kami\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Jawaban KH. Agus Salim, faktanya memang benar. Rokok kretek tidak lain ada tambahan cengkeh (suzygium aromaticum<\/em>). \u00a0Tanaman legendaris menjadi rebutan dan sumber keuntungan kolonialisme Eropa atas Asia termasuk Indonesia. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Cengkeh adalah salah satu tanaman yang diperebutkan bangsa-bangsa dunia, sampai melegalkan penjajahan.  Dalam simpulan perjalanan ekspedisi cengkeh tahun 2013, Kepala Suku begitu julukan bagi Putut Ea, mengatakan \u201c jika saja tak pernah ada cengkeh dan pala di Maluku, mungkin sejarah kepulauan Nusantara ini akan berbeda sama sekali\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Simpulan Putut EA, sebagai salah satu pembenar perkataan \u00a0KH. Agus Salim. Mungkin, jika tanaman cengkeh tidak ada, fakta sejarah akan berbeda, tidak ada penjajahan di bumi Nusantara ini. <\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Mengisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek untuk Berteman dan Menjalin Persaudaraan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Teringat apa yang pernah dilakukan Menteri Sosial dan Lingkungan Hidup, saat melakukan pendekatan pada suku anak dalam di Jambi. Tidak lain ia adalah Khofifah menteri perempuan yang energik. Saat itu Khofifah bertanggungjawab dalam mengatasi masalah pendidikan dan kesejahteraan masyarakat suku anak dalam di Jambi.  <\/p>\n\n\n\n

Kebijakannya membuat fenomenal, selain bahan makanan, dan bantuan lain, khofifah juga membawa rokok.  Yang kemudian ada yang mengggugat dari anti rokok, tetapi sebagai Menteri, Khofifah tentunya sudah mengkaji secara mendalam. Dengan kecerdasannya , Khofifah menjawab dengan tegas dan lugas, \u201cjangan sok tahu kehidupan mereka, kenali apa yang menjadi ritme kehidupan mereka. Sangat bijaksana kalau kita semua pergi kesana, sehingga tahu adat istiadatnya juga. Tolong kalau ingin mengerti tentang kultur jangan hanya dari kacamata Jakarta. Saya pun ingin mengajak anda kesana, turun kesana, sapalah mereka\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Khofifah memberikan pelajaran bagi anti rokok. Tidak boleh sok tahu, apalagi selama ini antirokok hanya berasumsi, tanpa melihat fakta dilapangan. Khofifah juga menganjurkan agar lebih mengenal adat-istiadat, budaya dan tradisi masyarakat, tidak boleh melakukan hegemoni kultural, sebab keberagaman adat-istiadat dan budaya merupakan kekayaan negeri. <\/p>\n\n\n\n

Pelajaran Khofifah sangat mendalam dan bercirikhas Nusantara. Sebgaai Menteri \u00a0Sosial tentunya lebih berpengalaman apa yang dibutuhkan bangsa ini agar tetap jaya, bersatu dan utuh. Kenali perbedaan, hormati perbedaan, junjung tinggi budaya yang berbeda. \u00a0Apa yang telah dilakukan Khofifah dengan membawa rokok ke suku anak dalam adalah cermin penghormatan tradisi dan budaya masyarakat. Sebagai seorang Mentri, tentunya punya kuasa, artinya bisa seorang khofifah memberikan bantuan sesuai keinginannya sendiri, namun hal itu tidak dilakukan. Ia lebih mengedepankan penghormatan budaya masyarakat setempat, dengan membawa rokok untuk pendekatan dan pertemanan. Karena Khofifah tahu betul, bahwa merokok adalah budaya mereka, yang diwaris dari neneng moyang mereka. <\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Memilih Jalan Hidup Menikmati Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Simbol Pergerakan Nasional     <\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Abdul Rifa\u2019I dalam media bintang timur terbit pada 03 Oktober 1927, mengatakan, \u201ckopinya bukan kopi saringan, tetapi kopi tubruk sebab kopi ini katanya nationaal, gulanya gula jawa, susu tidak dipakai karena tidak nationaal. Rokoknya kelobot, selamatan natioanaal ini terus berlangsung ed sampai pagi hari\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Semangat nasionalisme harus tertanam, mengedepankan produk lokal adalah salah satu semangat nasionalime. Salah satu keberadaan rokok klobot menjadi ciri produk asli indonesia dan harus dilestarikan. Klobot sendiri adalah ramuan tembakau dan cengkeh di gulung memakai daun jagung, embrio perkembangan menjadi rokok sigaret kretek tangan dan sigaret kretek mesin.  
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pusaran Budaya Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pusaran-budaya-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-04 08:40:41","post_modified_gmt":"2019-02-04 01:40:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5406","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5403,"post_author":"919","post_date":"2019-02-03 09:05:50","post_date_gmt":"2019-02-03 02:05:50","post_content":"\n

Seringkali saya menyaksikan berbagai film baik itu Eropa atau Asia yang menggambarkan tentang masa depan. Pemandangan soal masa depan tersebut dihadirkan dengan gambaran kecanggihan teknologi seperti robot yang akan membantu kehidupan manusia, gedung-gedung yang tingginya sudah amat tak bisa ditandingi,  hingga mobil-mobil yang bisa terbang. <\/p>\n\n\n\n

Pernah dalam masa kecil saya menyaksikan sebuah film animasi buatan jepang yang mempertanyakan tentang makanan di masa depan. Dengan santai salah satu tokoh yang berasal dari masa depan itu menjawab bahwa suatu saat nanti manusia akan mengonsumsi makanan berupa pasta gigi namun dengan rasa yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa, aneh!<\/p>\n\n\n\n

Seiring waktu berjalan saya kian tumbuh dewasa dan punya kesadaran untuk memilih menjadi seorang perokok<\/a>. Saya juga melihat ada sebuah inovasi dan gambaran tentang masa depan yang hadir dalam kehidupan sekarang. Banyak memang, namun yang menyita perhatian saya adalah rokok elektrik atau yang populer disebut Vape. Konon katanya ia adalah produk inovasi untuk menjembatani kebutuhan menghisap asap dan kecanggihan masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Di awal kehadirannya Vape memang mengundang decak kekaguman saya. Bagaimana bisa sebuah mesin kecil mengeluarkan asap yang katanya lebih menyehatkan daripada rokok.<\/strong> Meski pada akhirnya teori tersebut juga bisa dibantah oleh beberapa ilmuan dunia. Tapi ada satu yang saya amati selain soal kesehatan, rokok elektrik rupanya menghadirkan kultur dan budaya baru dalam kehidupan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: LAGI-LAGI IKLAN ROKOK, KAPAN KPAI TIDAK TEBANG PILIH? <\/a><\/h4>\n\n\n\n

Kehadiran teknologi memang kerap sedikit atau benyak mengubah gaya atau kultur suatu masyarakat. Begitu pula yang saya perhatikan dengan rokok elektrik. Satu hal yang mudah diamati adalah menjamurnya toko-toko kecil yang menjual vape serta liquid di berbagai tempat. Sebagai sebuah warna baru dalam masyarakat, penggunanya ramai-ramai mengunjungi tempat tersebut berinteraksi dengan penikmat lainnya dan membangun sebuah rumah komunitas yang fleksibel.<\/p>\n\n\n\n

Meski belum bisa dikatakan memiliki jumlah penikmat yang setara dengan para perokok, pengguna Vape mulai menunjukkan eksistensinya. Selain toko yang tersebar, ragam acara juga mereka buat di beberapa daerah. Dalam lingkungan saya, beberapa teman yang dulunya merupakan perokok aktif tertarik mengikuti event tersebut dan beralih mengisap rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Nun jauh di sana, di Amerika Serikat tepatnya, budaya Vape juga sudah mulai berkembang lama ketimbang di Tanah Air. Penikmatnya terbagi menjadi dua, ada yang dulunya bekas perokok dan ada yang memang menikmatinya sebagai gaya hidup. Wajar saja mengingat facebook tak memperbolehkan iklan tembakau di platform mereka, sebaliknya iklan tentang vape justru bertebaran. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi budaya baru yang berkembang di berbagai belahan dunia bahkan di Indonesia, Vape konon menjadi alternatif yang lebih bermanfaat daripada rokok. Dalih yang diusung selalu sama kepada para perokok tradisonal yaitu soal kesehatan dan lebih irit. Soal kesehatan tentu ada beberapa pendapat para ilmuan yang membantahnya, namun soal irit, saya rasa tidak. Memang satu liquid bisa digunakan untuk beberapa Minggu, akan tetapi yang saya lihat di lapangan justru sebaliknya. <\/p>\n\n\n\n

Beberapa penikmat rokok elektrik kerap berbelanja liquid yang mereka idamkan. Terkadang, hal tersebut yang membuat mereka boros karena terus mengeksplor rasa mana yang mereka idam-idamkan. Tak jarang juga liquid dengan harga mahal hingga ratus ribuan akan mereka beli. Sebaliknya, para perokok konvensional justru kerap bertahan dengan satu rasa atau merek saja.<\/p>\n\n\n\n

Sedikit berbeda dengan penikmat rokok konvensional atau kretek. Mengingat rokok kretek sudah menjadi kebudayan lokal yang terus dipertahankan selama bertahun-tahun, kehadirannya sudah mewarnai khasanah keindonesiaan. Perokok kretek juga sudah punya soliditas luar biasa yang terbentuk sejak lama dan terus terbangun mengiringi peradaban di Indonesia atau dunia.<\/p>\n\n\n\n

Kini, perokok elektrik mulai merasakan kegelisahan. Beberapa negara mulai menerapkan peraturan ketat terhadap Vape, sedangkan di Indonesia biaya cukai pun kini mulai diberlakukan terhadap perdagangan rokok elektrik. Keberadaannya di mata negara pun mulai dianggap sama seperti rokok, meski pada awalnya rokok elektrik hadir dengan slogan-slogan produk alternatif yang lebih menyehatkan (katanya).<\/p>\n\n\n\n


Tapi jika kemudian di masa depan memang rokok elektrik yang kemudian menjadi sesuatu yang populer dan dinikmati banyak orang. Rasanya saya tetap ingin hidup di jaman ini, dengan sebatang kretek di tangan dan menikmati segala khasanah kebudayaan yang patut terus dipertahankan. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"masa-depan-rokok-elektrik-dan-semangat-alternatif-yang-sia-sia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-03 09:05:56","post_modified_gmt":"2019-02-03 02:05:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5403","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5385,"post_author":"883","post_date":"2019-02-02 08:01:01","post_date_gmt":"2019-02-02 01:01:01","post_content":"Pada tahun 2014, perusahaan rokok multinasional Philip Morris Internasional Inc. merilis sebuah produk <\/span>perangkat\u00a0<\/span>
rokok<\/span><\/a>\u00a0tanpa asap, yang dipanaskan bukan dibakar atau istilahnya\u00a0<\/span>heat not burn<\/i><\/strong>\u00a0(HNB) iQOS<\/strong>. <\/span>\r\n\r\nPerangkat rokok tanpa asap dengan nama iQOS<\/a> ini berbentuk seperti bagian luar pulpen, dengan lubang di tengah untuk rokok. Produk yang berada di bawah brand Marlboro ini dapat memanaskan rokok sampai 350 derajat celcius lalu mengeluarkan uap nikotin beraroma tembakau<\/em><\/a>.<\/span>\r\n

Produk iQOS sebenarnya bukanlah produk rokok tanpa asap yang pertama muncul. Sebelumnya di tahun 1990-an, Reynolds Tobacco Co pernah merilis produk serupa bernama Eclipes yang juga dapat menguapkan nikotin setelah dinyalakan dengan korek api.<\/span><\/blockquote>\r\nSelain itu, Eclips juga dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. Namun, pada saat itu Eclips tidak diminati oleh pasar, utamanya para perokok konvensional. Meskipun Eclips dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. <\/span>\r\n\r\nBisnis semacam rokok tanpa asap seperti Eclips dan iQOS memang sudah menjadi bagian dari rencana panjang bisnis perusahaan-perusahaan rokok multinasional. Jadi tidak usah heran jika ke depannya akan kita akan banyak menemukan produk rokok tanpa asap ini.<\/span>\r\n\r\nWatak dari perusahaan multinasional memang seperti itu, mereka sangat jeli melihat peluang pasar ke depannya. Ketika market place perusahaan rokok multinasional saat ini terus dirongrong oleh kelompok antirokok, mereka tak kehabisan akal. Maka kemudian mereka menginovasi produk rokok konvensional menjadi rokok yang tidak berasap. Begitupun dengan mengikutsertakan jargon-jargon kesehatan dalam narasi promosi mereka.<\/span>\r\n\r\nSesungguhnya memang seperti itulah watak bisnis perusahaan-perusahaan multinasional, melakukan segala cara agar bisnis mereka tetap bertahan, meskipun harus merangkul musuh sekalipun. <\/span>\r\n\r\nYa kadang pura-pura berantem sama antirokok, tapi dibalik itu sebenarnya baik-baik saja, dan tentunya ada kompromi untuk terus melanggengkan bisnis mereka.<\/span>\r\n

Lalu siapa yang dirugikan dari permainan bisnis macam produk rokok tanpa asap perusahaan rokok multinasional ini?<\/span><\/h3>\r\nTentunya yang sangat dirugikan adalah produk hasil tembakau yang memiliki kekhasan seperti kretek di Indonesia. Kretek sebagai produk khas asli Indonesia yang menjadi bagian dari warisan kebudayaan tidak mungkin bertransformasi menjadi produk-produk elektrik dan sejenisnya.<\/span>\r\n\r\nKretek tetaplah kretek, dengan bahan baku alami tembakau dan cengkeh yang tidak diintervensi dengan zat atau perangkat penghantar lainnya. Karena dengan bentuk, karakter dan cara menikmatinya memang konvensional dan akan terus begitu apapun kondisi dan zamannya.<\/span>\r\n
Bisnis produk rokok tanpa asap (elektrik) juga menghajar kretek dengan mendompleng isu pengendalian tembakau. Kampanye pengendalian tembakau selalu membawa slogan bahaya merokok dan upaya untuk berhenti merokok. <\/span><\/blockquote>\r\nDari isu tersebut, rokok elektrik masuk dengan citra produk alternatif tembakau, bahkan mereka tak segan menilai bahwa rokok elektrik lebih aman ketimbang rokok konvensional, yakni kretek.<\/span>\r\n\r\nLalu jika Indonesia akan dibanjiri dengan produk-produk yang mengatasnamakan produk alternatif tembakau, macam rokok tanpa asap (iQOS dan sejenisnya), maka itulah pertanda bahwa kretek harus tergerus dari cara hidup manusia Indonesia dalam menikmati produk hasil tembakau khas Indonesia yang sudah turun-temurun lamanya dinikmati manusia Indonesia.<\/span>","post_title":"Nasib Kretek di Pusaran Pertarungan Bisnis Global Perusahaan Rokok Multinasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"nasib-kretek-di-pusaran-pertarungan-bisnis-global-perusahaan-rokok-multinasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-02 08:01:43","post_modified_gmt":"2019-02-02 01:01:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5385","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; \n

Bandar-bandar besar Tyre di Yunani dan Venesia di Italia menjadi pelabuhan utama rempah-rempah Maluku memasuki kehidupan dan peradaban Eropa. Selain sebagai bumbu masakan, rempah obat, dan ramuan wewangian, cengkeh dan pala juga menjadi bahan utama pengawet bahan pangan. [2]
<\/p>\n\n\n\n

Inilah yang membuat orang-orang Eropa untuk pertama kalinya dapat mengawetkan dan menimbun makanan selama bermusim-musim. Prosa indah Blair bersaudara menggambarkannya dengan sangat baik:
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKemampuan menyimpan makanan lebih dari yang kami makan sekaligus berarti kemampuan menjual dan membelinya dalam jumlah besar --dan kota-kota dagang pun mekar. Perekonomian yang dihasilkannya mengarahkan kami ke zaman Pencerahan dan kemudian Revolusi Industri. Tak lama setelah kami menghirup aroma yang sangat kuat dari Timur itu dan mengubah kimiawi makanan kami, maka kami pun mampu melakukan lompatan besar dalam bidang budaya dan seni.\u201d (Blair & Blair, 2010; 30-31).<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh dan Kelapa di Kepulauan Anambas<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Bukan hanya membuat perekonomian dan perdagangan serta ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang, cengkeh dan pala bahkan adalah faktor yang paling menentukan dalam kemunculan satu babakan paling mengenaskan dalam sejarah politik dunia, yakni zaman penjajahan (kolonialisme) Eropa, terutama atas-atas negeri- negeri Asia Selatan, Timur dan Tenggara, termasuk Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Tergerak oleh sahwat menguasai rempah-rempah yang menggiurkan itu, bangsa-bangsa Eropa --terutama Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda-- pun menggelar ekspedisi-ekspedisi besar untuk menemukan cengkeh dan pala langsung di tanah asalnya. Ketika armada-armada mereka akhirnya mencapai perairan Kepulauan Maluku, pada abad-16, perang pun tak terhindarkan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka silih berganti saling mengalahkan, tetapi pemenang terakhir adalah Belanda. Melalui Perusahaan Dagang Hindia Timur (Vereenigde Oostindische Compagnie, VOC) yang dibentuk pada awal abad-17 (tepatnya tahun 1609), Belanda melancarkan ekspedisi Pelayaran Hongi (Hongie Tochten), untuk memusnahkan semua tanaman cengkeh di Ternate, Tidore, Moti, dan Makian, lalu membatasi ketat penanamnya hanya di Pulau-pulau Ambon dan Lease --yang lebih dekat ke Banda sebagai pusat pemerintahan mereka sebelum akhirnya dipindahkan ke Batavia.
<\/p>\n\n\n\n

Praktis, sejak akhir abad-16, Belanda pun menguasai penuh perdagangan rempah-rempah Maluku dengan jumlah produksi rerata 2.500 sampai 4.500 ton per tahun. [3]<\/p>\n\n\n\n

Baca: Budidaya Pohon Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Meskipun peran utama rempah-rempah Maluku itu kemudian tergusur pada abad-18 dan 19 oleh beberapa barang eksotika tropis lainnya --hasil perkebunan-perkebunana besar baru di Pulau Sumatera dan Jawa: tebu, tembakau, lada, kopi, teh, nila, kelapa sawit, dan kayu jati-- namun sejarah sudah mencatat bahwa dua jenis rempah-rempah Maluku itulah yang mengawali penjelajahan sekaligus penjajahan kepulauan Nusantara oleh bangsa-bangsa Eropah, terutama Belanda (Topatimasang, ed., 2004:32). Jika saja tak pernah ada cengkeh dan pala di Maluku, mungkin sejarah kepulauan Nusantara ini akan berbeda sama sekali.
<\/p>\n\n\n\n

Masa suram cengkeh dan pala terus berlangsung sampai pertengahan abad-20. Rempah eksotika yang pernah membuat tergila-gila<\/p>\n\n\n\n

para saudagar Arab, pedagang Cina, serta kaum ningrat Eropa itu, tergantikan perannya oleh penemuan teknologi mesin pendingin berkat Revolusi Industri yang dimulai di Inggris pada pertengahan abad-18. Pasaran cengkeh di Eropa pun merosot tajam.
<\/p>\n\n\n\n

Nasibnya terselamatkan berkat penemuan oleh seorang Haji Djamhari di Kudus, Jawa Tengah. Pada akhir tahun 1880-an, Haji Djamhari menemukan kegunaan baru cengkeh sebagai ramuan utama rokok. Lahirlah satu produk baru yang unik, khas dan asli Indonesia: kretek! (Hanusz, 2000:ii).
<\/p>\n\n\n\n

Setelah seperempat abad hanya berkembang dalam skala kecil usaha rumah tangga, produksi kretek akhirnya menjelma menjadi industri besar sejak awal abad-20 yang dirintis oleh Haji Nitisemito (pendiri pabrik \u2018Jambu Bol\u2019) di Kudus dan Liem Seng Tee (pendiri pabrik \u2018Dji Sam Soe\u2019 dan \u2018Sampoerna\u2019) di Surabaya.
<\/p>\n\n\n\n

Puncaknya adalah pada pertengahan tahun 1950-an, ketika produksi kretek mulai berkembang pesat menjadi industri raksasa modern dengan munculnya beberapa pabrik baru, antara lain, yang terkemuka, oleh Oei Wei Gwan (pendiri pabrik \u2018Djarum\u2019) di Kudus dan Tjou Ing Hwie (pendiri pabrik \u2018Gudang Garam\u2019) di Kediri (Topatimasang, et.al., eds., 2010:131).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Teruslah Menanam Tembakau dan Cengkeh, Wahai Petani Indonesia<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Cengkeh, bahan baku paling esensial dari kretek --selain tembakau, tentu saja-- pun kembali berjaya. Bahkan, sejak dasawarsa 1970an, telah menjadi salah satu penyumbang terbesar keuangan negara Republik Indonesia. Pada tahun 2012 dan 2013, pemasukan cukai dari industri kretek mencatat 95,5% dari seluruh pemasukan cukai ke kas negara. Nilainya tak tanggung-tanggung: Rp 87 triliun! (el-Guyanie, et.al.: 2013:4-5).<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Nilai ekonomisnya yang sangat besar sempat menggoda penguasa otoriter rezim Presiden Soeharto, pada 1990-an, memberlakukan satu kebijakan \u2018Hongi Gaya Baru\u2019: monopoli perdagangan cengkeh dalam negeri melalui Badan Penyanggah dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) yang sangat merugikan petani. Harga cengkeh di tingkat petani penghasil anjlok sampai hanya Rp 2.000 - 3.000 per kilogram, lebih murah dari harga sebungkus kretek yang dihasilkan darinya.
<\/p>\n\n\n\n

Akibatnya, ratusan ribu pohon cengkeh di daerah-daerah penghasil utama --Maluku, Maluku Utara, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Selatan-- ditebangi atau dibiarkan terlantar tak terurus.
<\/p>\n\n\n\n

Gelombang reformasi sistem politik dan hukum nasional yang dimulai pada tahun 1998, akhirnya menjungkalkan rezim Soeharto dan BPPC dibubarkan, Pelan tapi pasti, harga cengkeh kembali merangkak naik, sehingga pada tahun 2012, bahkan melewati angka Rp 200.000 per kilogram. Para petani cengkeh di seluruh negeri kembali tersenyum. Tetapi, sampai kapan? <\/p>\n\n\n\n

Catatan:<\/strong><\/p>\n\n\n\n

[1] Beberapa sumber menyebutkan bahwa kata \u2018cengkeh\u2019 dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Mandarin, tkeng-his atau xi\u2019jia, yang berarti \u2018rempah [berbentuk mirip] paku\u2019 (scented nails). Ini menunjukkan bahwa cengkeh sudah dikenal sejak lama oleh bangsa Cina --diketahui sejak abad-2-- jauh sebelum orang Eropa mengenalnya ((lihat, misalnya: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n\n\n\n

[2] Catatan-catatan para biarawan Fransiskan --yang disalin dan dikutip oleh van Frassen-- bahkan menyebut cengkeh sebagai salah satu bahan utama pengawet mumi para Fir\u2019aun, penguasa Mesir Kuno. Beberapa pakar sejarah dan arkeologi menyatakan bahwa rempah-rempah Maluku bahkan sudah ditemukan artefaknya di Lembah Mesopotomia (wilayah Iraq dan sekitarnya sekarang) pada 3.000 tahun sebelum Masehi. (lihat, antara lain: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n\n\n\n

[3] Uraian lebih rinci sejarah kolonialisme rempah-rempah Nusantara ini, terutama oleh Belanda dan Portugis, dapat dibaca pada beberapa sumber kepustakaan yang sudah dikenal luas, antara lain: Glamann (1958) dan Boxer (1965 dan 1969). Dalam risalah klasik Pires disebutkan bahwa pada tahun 1512-1521 saja, jumlah produksi cengkeh di Maluku sudah mencapai 7.250 bahar per tahun, terbesar adalah di Makian serta Amboina dan Lease (masing-masing 1.500 bahar)(Pires, 1512-1515).<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem Topatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-10 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-02-10 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5425","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5415,"post_author":"878","post_date":"2019-02-07 12:15:55","post_date_gmt":"2019-02-07 05:15:55","post_content":"\n

Belakangan ini, ketika musim hujan tiba, di Kabupaten Temanggung, Kabupaten Jember, dan beberapa wilayah sentra pertanian tembakau lainnya, hampir mustahil menemukan tanaman tembakau tumbuh di lahan-lahan milik petani. Di wilayah-wilayah tersebut, citra sebagai sentra pertanian tembakau seakan menguap. Lahan-lahan yang ada di sana, sama sekali tidak ditumbuhi tanaman tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Kabar ini bisa jadi dianggap sebagai kabar gembira bagi mereka yang menganggap diri dan kelompoknya anti-rokok dan anti-tembakau yang selalu mengampanyekan sikap-sikap mereka terkait kebencian kepada tembakau dan aktivitas merokok. Setelah sekian lama berjuang, akhirnya perjuangan mereka dirasa berhasil usai menyaksikan fenomena lahan-lahan di wilayah yang dianggap sentra pertanian tembakau pada hari-hari belakangan ini.<\/p>\n\n\n\n

Baca juga: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tak sia-sia turun ke jalan, tak sia-sia melakukan lobi-lobi ke penguasa, tak sia-sia mengucurkan uang yang tidak sedikit, dan tak sia-sia mempermalukan diri dengan mengemis ke lembaga donor asing dan menggondol uang dari cukai tembakau untuk mengampanyekan gerakan anti-rokok dan anti-tembakau. Tak sia-sia. Karena perjuangan sepertinya berhasil.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Kampanye-kampanye gerakan mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya, sepertinya juga sangat berhasil. Bagaimana tidak? Wilayah-wilayah yang sebelumnya penuh dengan tanaman tembakau dan bergeliat dengannya, kini lahan-lahannya sudah berganti dengan tanaman lain. Sebuah keberhasilan yang menggembirakan. Begitu mungkin pikir mereka para yang menganggap dirinya pejuang anti-rokok dan anti-tembakau. Dan tentu saja mereka akan kecele dan kita akan menertawakan hal itu.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, mereka yang menganggap dirinya anti-rokok dan anti-tembakau tidak menyaksikan langsung fenomena ini di lapangan, di lahan-lahan yang peruntukannya berubah pada hari-hari belakangan ini ketika memasuki musim hujan. Mereka asyik duduk pada kursi empuk di ruang-ruang nyaman ber-AC di kota-kota yang jauh dari kultur pertanian. Mereka menyengajakan diri menjadi elit dan enggan untuk turun melihat langsung ke lapangan. Kalaupun ada yang turun langsung ke lapangan, hanya segelintir saja dari mereka, itupun sekadar formalitas saja. Tak pernah benar-benar mau turun ke lapangan, hidup dan merasakan langsung kultur pertanian tembakau dalam jangka waktu cukup lama di lapangan.<\/p>\n\n\n\n

Baca juga: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Fenomena ini membikin kita tak bisa melihat mereka para anti-rokok kecele lalu menertawakan mereka.<\/strong> Fenomena keengganan terjun langsung ke lapangan terlebih mencoba mendengar mereka yang tetap menanam tembakau, juga menjalani keseharian dalam waktu cukup lama bersama petani tembakau inilah yang saya kira menjadikan mereka tetap keras kepala untuk anti-rokok dan anti-tembakau. Karena jika mereka mau melakukan itu, saya yakin mereka semua tidak akan begitu kaku dalam memandang pertanian tembakau dan produk hasil industri tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu yang selalu mereka kampanyekan dan ngotot dengan itu, terkait hulu pertanian tembakau adalah mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya. Mereka berargumen banyak tanaman lain yang bisa semenguntungkan tanaman tembakau. Keengganan mereka terjun langsung ke lapangan inilah yang membikin mereka buta dengan kondisi pertanian tembakau dan pada akhirnya terus menerus mengampanyekan pergantian tanaman tembakau dengan tanaman lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca juga: Imanlah kepada Allah, Bukan Antirokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tembakau tanaman yang khas. Ia hanya tumbuh baik sepanjang empat hingga lima bulan dalam satu tahun. Tumbuh-kembang tanaman tembakau dengan baik itu umumnya terjadi pada musim kemarau setiap tahunnya. Hanya sedikit sekali jenis tembakau yang tumbuh baik di musim penghujan, mayoritasnya, tumbuh baik pada musim kemarau.<\/p>\n\n\n\n

Jika ditanam pada musim hujan, hampir bisa dipastikan tanaman tembakau akan gagal menghasilkan daun-daun yang berkualitas. Ia akan rusak dan membusuk karena terlalu banyak terkena air sehingga daun-daun itu tak layak dijual. Jangankan bisa dijual, untuk tumbuh dengan baik pun sepertinya sulit karena musim hujan akan membunuh banyak tanaman itu.<\/p>\n\n\n\n

Maka, tak heran pada musim-musim seperti saat ini, ketika musim penghujan mendekati puncaknya, di wilayah-wilayah yang dikenal sebagai sentra pertanian tembakau, sulit menemukan pohon tembakau yang sedang tumbuh. Pada lahan-lahan yang sebelumnya ditumbuhi tanaman tembakau pada musim panas, berganti tanaman-tanaman lain yang bermacam-macam, sesuai dengan kondisi lahannya. Untuk lahan sawah, lahan-lahan itu pada musim penghujan kini ditumbuhi tanaman padi yang subur. Pada lahan tegalan dan lahan di pegunungan, lahan-lahan yang ditanami tembakau pada musim kemarau, saat ini ditumbuhi bermacam jenis tanaman mulai dari cabai, bawang, tomat, kol, terong, mentimun, dan ragam jenis tanaman semusim lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Uniknya, tipikal tanaman tembakau yang tumbuh baik di musim kemarau ini memberi pilihan lebih kepada para petani. Lahan-lahan yang sulit ditanami pada musim kemarau, pada akhirnya masih bisa tetap produktif dengan keberadaan tanaman tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Maka, kampanye aneh mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain dengan ragam rupa dalih yang membingungkan, bukan saja sama sekali tidak tepat dan asal-asalan, namun bisa jadi akan ditertawakan oleh para petani yang begitu paham dengan kondisi lahan dan terutama kondisi iklim dan cuaca. Sulit mencari tanaman semusim yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Jika pun ada, tak ada yang semenguntungkan tanaman tembakau.
<\/p>\n","post_title":"Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"keberhasilan-gerakan-anti-tembakau-tak-ada-tembakau-saat-musim-hujan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-07 12:16:02","post_modified_gmt":"2019-02-07 05:16:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5415","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5409,"post_author":"919","post_date":"2019-02-05 08:04:43","post_date_gmt":"2019-02-05 01:04:43","post_content":"\n

Tahun Baru Imlek yang merupakan tradisi Bangsa Tiongkok kini sudah tak lagi menjadi hal yang asing bagi masyarakat Indonesia. Kehadirannya sudah mewarnai dan berakulturasi dengan tradisi lokal. Menjelang Tahun Baru Imlek. Berbagai hiasan dan kemeriahan terjadi beberapa titik di Tanah Air. Perayaannya juga menjadi destinasi baru yang mengasyikkan untuk dilihat dan patut disaksikan.<\/p>\n\n\n\n

Berterimakasihlah kepada sang bapak bangsa, KH Abdurrahman Wahid atau yang dikenal dengan nama Gus Dur. Berkat kebijakannya saat menjadi Presiden Indonesia, Tahun Baru Imlek resmi dijadikan hari libur nasional dan dianggap sebagai salah satu hari raya di Tanah Air. Meski sentimen antitionghoa masih ada di sana-sini, tapi tetap tak bisa dipungkiri bahwa bangsa tionghoa sudah bersentuhan dengan budaya lokal dalam kurun waktu yang sangat panjang.<\/p>\n\n\n\n

DNA Bangsa Tionghoa yang memang merupakan pedagang menjadi pembuka kisah interaksi antara nenek moyang berbagai suku di Nusantara dengan mereka. Beberapa kelenteng-kelenteng yang tersebar pada berbagai pesisir daerah di Nusantara jadi buktinya. Pelabuhan-pelabuhan tua di tanah air dan ramainya perdagangan di pesisir mempermudah bangsa kita berhubungan dengan Bangsa Tionghoa.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Wong Kalang dan Kota Gede<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa kehadiran Bangsa Tionghoa di Nusantara tak hanya sebagai pedagang, namun juga sebagai pekerja (bahkan hingga pekerja kasar). Benny Setiono, seorang sejarahwan menyebutkan bahwa antara tahun 1760-1770 dalam jumlah yang besar memasuki nusantara melalui Kalimantan Barat. Mereka bekerja sebagai kuli pertambangan di sana dan di kemudian hari membentuk sebuah republik bernama Republik Lanfang yang konon katanya menjadi republik pertama di Asia Tenggara.<\/p>\n\n\n\n

Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Imlek dan Indonesia<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n\n\n\n

Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
<\/p>\n","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5406,"post_author":"877","post_date":"2019-02-04 08:23:48","post_date_gmt":"2019-02-04 01:23:48","post_content":"\n

Merokok itu sudah menjadi bagian dari budaya dan tradisi masyarakat, jauh sebelum Indonesia merdeka. Banyak cerita atau kisah tentang kretek <\/a><\/del>di tengah-tengah masyarakat bangsa ini, mulai sebagai alat untuk meraup keuntungan, alat komunikasi, sebagai teman sampai menjadi simbol pergerakan. <\/p>\n\n\n\n

Kretek, Simbol Perlawanan Roro Mendut<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Siapa yang tidak pernah mendengan cerita tentang Roro Mendut?, di telinga masyarakat Indonesia, kisah Roro Mendut tidak asing lagi.  Perempuan yang mempunyai paras wajah cantik, dan digandrungi kaum adam terutama kalangan putra kerajaan. Informasi kecantikan Roro Mendut tersebar seantero Nusantara, tidak satupun pria meragukan kecantikannya.  Bahkan kisah dan cerita kecantikan Roro Mendut tercatat dalam buku Babad Tanah Jawi. <\/p>\n\n\n\n

Diperkirakan pada tahun 1627, pada saat panglima perang Sultan Agung Mataram bernama Tumenggung Wiraguna berhasil menumpas pemberontakan di kota Pati, sebagai imbalanan atas keberhasilannya, mendapat hadiah wanita pujaan pria bernama Rara Mendut dari Kasultanan Agung Mataram.  Roro Mendut menolak dipinang Tumenggung Wiraguna, dan secara terang-terangan memilih pria lain dambaannya. Akibatnya, Roro Mendut harus membayar pajak setiap harinya kepada kerajaan Mataram. <\/p>\n\n\n\n

Bisa dibayangkan, betapa bingungnya Roro Mendut saat itu. Uang dari mana, ia hasilkan untuk bayar pajak tiap hari demi bisa bersama kekasihnya. Ternyata Roro Mendut tidak hanya cantik tetapi cerdas dan kreatif, bisa membaca peluang bisnis saat itu. Ide cermerlang muncul dengan berdagang\/berjualan rokok lintingan yang direkatkan dengan air ludahnya, dan sebelum menjualnya, rokok lintingan di sulut dahulu dan dihisap bekas bibir merahnya. Kemudian baru dijual ke pembeli yang berdesakan berjejer antri. <\/p>\n\n\n\n

Entah dari mana ide menjual rokok itu muncul. Yang jelas saking larisnya, kewajiban pajak Roro Mendut terpenuhi. Dan mungkin keadaannya akan lebih parah, jika saat itu Roro Mendut tidak berdagang rokok. Tidak akan terpenuhi kewajiban pajaknya. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Dengan rokok, hidup Roro Mendut terselamatkan. Adanya rokok, \u00a0Roro Mendut bebas dari belenggu kekuasaan. Berkat rokok, Roro Mendut terkengan, mengisi rubik informasi sejarah begitu kuatnya budaya merokok di \u00a0Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Pusaka Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek, Teman Perjuangan  Diponegoro<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Semasa berjuang melawan penjajah, yang harus dilakukan Diponegoro berpindah-pindah dari kota satu ke kota lain. Strategi perlawanan Diponegoro, kemudian sebagai basis strategi perang gerilya. Strategi yang menjadi idola dan kebanggaan tentara Indonesia. Dengan bergerilya, tentara Indonesia mampu mengecoh kekutan lawan yang lebih besar jumlahnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu, tenyata banyak cerita, Diponegoro saat berperang ditemani rokok. Ia dan pasukannya gemar merokok. Bahkan ketika tidak ada rokok, Pangeran Diponegoro rela hanya megunyah daun sirih yang diracik dengan kapur dan pinang. <\/p>\n\n\n\n

Kebiasaan ini, juga dialami oleh pengikut \/pasukan perang Pangeran Diponegoro. Bagi mereka, rokok teman sejati, menemani disetiap perjalanan mereka. Rokok menghilangkan depresi mereka, sebagai hiburan saat jauh dari keluarga demi berjuang melawan penjajah. Rokok menumbuhkan percaya diri mereka, lebih berani melawan penjajah walaupun hanya dengan serba keterbatasan, pasukan jumlah terbatas, alat perang terbatas dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Baca juga: Pangeran Diponegoro, Rokok Klobot dan Perlawanan Simbolis<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Jati Diri Bangsa<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Salah satu \u201cpendiri bangsa\u201d bernama KH. Agus Salim menghisap kretek dengan asapnya di kebal-kebulkan keudara, disaat ada perjamuan di Istana Buckingham ketika penobatan Elizabeth II sebagai Ratu kerajaan Inggris. Aroma khas keluar dari asap rokok kretek, tercium orang yang berada di ruang perjamuan. Sehingga memancing salah satu orang yang datang dalam perjamuan, dengan berkata; \u201ctuan sedang menghisap apa itu?\u201d.  Sentak KH. Agus Salim menjawab, \u201c inilah yang membuat nenek moyang anda sekian abad lalu datang dan kemudian menjajah negeri kami\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Jawaban KH. Agus Salim, faktanya memang benar. Rokok kretek tidak lain ada tambahan cengkeh (suzygium aromaticum<\/em>). \u00a0Tanaman legendaris menjadi rebutan dan sumber keuntungan kolonialisme Eropa atas Asia termasuk Indonesia. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Cengkeh adalah salah satu tanaman yang diperebutkan bangsa-bangsa dunia, sampai melegalkan penjajahan.  Dalam simpulan perjalanan ekspedisi cengkeh tahun 2013, Kepala Suku begitu julukan bagi Putut Ea, mengatakan \u201c jika saja tak pernah ada cengkeh dan pala di Maluku, mungkin sejarah kepulauan Nusantara ini akan berbeda sama sekali\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Simpulan Putut EA, sebagai salah satu pembenar perkataan \u00a0KH. Agus Salim. Mungkin, jika tanaman cengkeh tidak ada, fakta sejarah akan berbeda, tidak ada penjajahan di bumi Nusantara ini. <\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Mengisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek untuk Berteman dan Menjalin Persaudaraan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Teringat apa yang pernah dilakukan Menteri Sosial dan Lingkungan Hidup, saat melakukan pendekatan pada suku anak dalam di Jambi. Tidak lain ia adalah Khofifah menteri perempuan yang energik. Saat itu Khofifah bertanggungjawab dalam mengatasi masalah pendidikan dan kesejahteraan masyarakat suku anak dalam di Jambi.  <\/p>\n\n\n\n

Kebijakannya membuat fenomenal, selain bahan makanan, dan bantuan lain, khofifah juga membawa rokok.  Yang kemudian ada yang mengggugat dari anti rokok, tetapi sebagai Menteri, Khofifah tentunya sudah mengkaji secara mendalam. Dengan kecerdasannya , Khofifah menjawab dengan tegas dan lugas, \u201cjangan sok tahu kehidupan mereka, kenali apa yang menjadi ritme kehidupan mereka. Sangat bijaksana kalau kita semua pergi kesana, sehingga tahu adat istiadatnya juga. Tolong kalau ingin mengerti tentang kultur jangan hanya dari kacamata Jakarta. Saya pun ingin mengajak anda kesana, turun kesana, sapalah mereka\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Khofifah memberikan pelajaran bagi anti rokok. Tidak boleh sok tahu, apalagi selama ini antirokok hanya berasumsi, tanpa melihat fakta dilapangan. Khofifah juga menganjurkan agar lebih mengenal adat-istiadat, budaya dan tradisi masyarakat, tidak boleh melakukan hegemoni kultural, sebab keberagaman adat-istiadat dan budaya merupakan kekayaan negeri. <\/p>\n\n\n\n

Pelajaran Khofifah sangat mendalam dan bercirikhas Nusantara. Sebgaai Menteri \u00a0Sosial tentunya lebih berpengalaman apa yang dibutuhkan bangsa ini agar tetap jaya, bersatu dan utuh. Kenali perbedaan, hormati perbedaan, junjung tinggi budaya yang berbeda. \u00a0Apa yang telah dilakukan Khofifah dengan membawa rokok ke suku anak dalam adalah cermin penghormatan tradisi dan budaya masyarakat. Sebagai seorang Mentri, tentunya punya kuasa, artinya bisa seorang khofifah memberikan bantuan sesuai keinginannya sendiri, namun hal itu tidak dilakukan. Ia lebih mengedepankan penghormatan budaya masyarakat setempat, dengan membawa rokok untuk pendekatan dan pertemanan. Karena Khofifah tahu betul, bahwa merokok adalah budaya mereka, yang diwaris dari neneng moyang mereka. <\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Memilih Jalan Hidup Menikmati Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Simbol Pergerakan Nasional     <\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Abdul Rifa\u2019I dalam media bintang timur terbit pada 03 Oktober 1927, mengatakan, \u201ckopinya bukan kopi saringan, tetapi kopi tubruk sebab kopi ini katanya nationaal, gulanya gula jawa, susu tidak dipakai karena tidak nationaal. Rokoknya kelobot, selamatan natioanaal ini terus berlangsung ed sampai pagi hari\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Semangat nasionalisme harus tertanam, mengedepankan produk lokal adalah salah satu semangat nasionalime. Salah satu keberadaan rokok klobot menjadi ciri produk asli indonesia dan harus dilestarikan. Klobot sendiri adalah ramuan tembakau dan cengkeh di gulung memakai daun jagung, embrio perkembangan menjadi rokok sigaret kretek tangan dan sigaret kretek mesin.  
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pusaran Budaya Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pusaran-budaya-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-04 08:40:41","post_modified_gmt":"2019-02-04 01:40:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5406","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5403,"post_author":"919","post_date":"2019-02-03 09:05:50","post_date_gmt":"2019-02-03 02:05:50","post_content":"\n

Seringkali saya menyaksikan berbagai film baik itu Eropa atau Asia yang menggambarkan tentang masa depan. Pemandangan soal masa depan tersebut dihadirkan dengan gambaran kecanggihan teknologi seperti robot yang akan membantu kehidupan manusia, gedung-gedung yang tingginya sudah amat tak bisa ditandingi,  hingga mobil-mobil yang bisa terbang. <\/p>\n\n\n\n

Pernah dalam masa kecil saya menyaksikan sebuah film animasi buatan jepang yang mempertanyakan tentang makanan di masa depan. Dengan santai salah satu tokoh yang berasal dari masa depan itu menjawab bahwa suatu saat nanti manusia akan mengonsumsi makanan berupa pasta gigi namun dengan rasa yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa, aneh!<\/p>\n\n\n\n

Seiring waktu berjalan saya kian tumbuh dewasa dan punya kesadaran untuk memilih menjadi seorang perokok<\/a>. Saya juga melihat ada sebuah inovasi dan gambaran tentang masa depan yang hadir dalam kehidupan sekarang. Banyak memang, namun yang menyita perhatian saya adalah rokok elektrik atau yang populer disebut Vape. Konon katanya ia adalah produk inovasi untuk menjembatani kebutuhan menghisap asap dan kecanggihan masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Di awal kehadirannya Vape memang mengundang decak kekaguman saya. Bagaimana bisa sebuah mesin kecil mengeluarkan asap yang katanya lebih menyehatkan daripada rokok.<\/strong> Meski pada akhirnya teori tersebut juga bisa dibantah oleh beberapa ilmuan dunia. Tapi ada satu yang saya amati selain soal kesehatan, rokok elektrik rupanya menghadirkan kultur dan budaya baru dalam kehidupan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: LAGI-LAGI IKLAN ROKOK, KAPAN KPAI TIDAK TEBANG PILIH? <\/a><\/h4>\n\n\n\n

Kehadiran teknologi memang kerap sedikit atau benyak mengubah gaya atau kultur suatu masyarakat. Begitu pula yang saya perhatikan dengan rokok elektrik. Satu hal yang mudah diamati adalah menjamurnya toko-toko kecil yang menjual vape serta liquid di berbagai tempat. Sebagai sebuah warna baru dalam masyarakat, penggunanya ramai-ramai mengunjungi tempat tersebut berinteraksi dengan penikmat lainnya dan membangun sebuah rumah komunitas yang fleksibel.<\/p>\n\n\n\n

Meski belum bisa dikatakan memiliki jumlah penikmat yang setara dengan para perokok, pengguna Vape mulai menunjukkan eksistensinya. Selain toko yang tersebar, ragam acara juga mereka buat di beberapa daerah. Dalam lingkungan saya, beberapa teman yang dulunya merupakan perokok aktif tertarik mengikuti event tersebut dan beralih mengisap rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Nun jauh di sana, di Amerika Serikat tepatnya, budaya Vape juga sudah mulai berkembang lama ketimbang di Tanah Air. Penikmatnya terbagi menjadi dua, ada yang dulunya bekas perokok dan ada yang memang menikmatinya sebagai gaya hidup. Wajar saja mengingat facebook tak memperbolehkan iklan tembakau di platform mereka, sebaliknya iklan tentang vape justru bertebaran. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi budaya baru yang berkembang di berbagai belahan dunia bahkan di Indonesia, Vape konon menjadi alternatif yang lebih bermanfaat daripada rokok. Dalih yang diusung selalu sama kepada para perokok tradisonal yaitu soal kesehatan dan lebih irit. Soal kesehatan tentu ada beberapa pendapat para ilmuan yang membantahnya, namun soal irit, saya rasa tidak. Memang satu liquid bisa digunakan untuk beberapa Minggu, akan tetapi yang saya lihat di lapangan justru sebaliknya. <\/p>\n\n\n\n

Beberapa penikmat rokok elektrik kerap berbelanja liquid yang mereka idamkan. Terkadang, hal tersebut yang membuat mereka boros karena terus mengeksplor rasa mana yang mereka idam-idamkan. Tak jarang juga liquid dengan harga mahal hingga ratus ribuan akan mereka beli. Sebaliknya, para perokok konvensional justru kerap bertahan dengan satu rasa atau merek saja.<\/p>\n\n\n\n

Sedikit berbeda dengan penikmat rokok konvensional atau kretek. Mengingat rokok kretek sudah menjadi kebudayan lokal yang terus dipertahankan selama bertahun-tahun, kehadirannya sudah mewarnai khasanah keindonesiaan. Perokok kretek juga sudah punya soliditas luar biasa yang terbentuk sejak lama dan terus terbangun mengiringi peradaban di Indonesia atau dunia.<\/p>\n\n\n\n

Kini, perokok elektrik mulai merasakan kegelisahan. Beberapa negara mulai menerapkan peraturan ketat terhadap Vape, sedangkan di Indonesia biaya cukai pun kini mulai diberlakukan terhadap perdagangan rokok elektrik. Keberadaannya di mata negara pun mulai dianggap sama seperti rokok, meski pada awalnya rokok elektrik hadir dengan slogan-slogan produk alternatif yang lebih menyehatkan (katanya).<\/p>\n\n\n\n


Tapi jika kemudian di masa depan memang rokok elektrik yang kemudian menjadi sesuatu yang populer dan dinikmati banyak orang. Rasanya saya tetap ingin hidup di jaman ini, dengan sebatang kretek di tangan dan menikmati segala khasanah kebudayaan yang patut terus dipertahankan. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"masa-depan-rokok-elektrik-dan-semangat-alternatif-yang-sia-sia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-03 09:05:56","post_modified_gmt":"2019-02-03 02:05:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5403","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5385,"post_author":"883","post_date":"2019-02-02 08:01:01","post_date_gmt":"2019-02-02 01:01:01","post_content":"Pada tahun 2014, perusahaan rokok multinasional Philip Morris Internasional Inc. merilis sebuah produk <\/span>perangkat\u00a0<\/span>
rokok<\/span><\/a>\u00a0tanpa asap, yang dipanaskan bukan dibakar atau istilahnya\u00a0<\/span>heat not burn<\/i><\/strong>\u00a0(HNB) iQOS<\/strong>. <\/span>\r\n\r\nPerangkat rokok tanpa asap dengan nama iQOS<\/a> ini berbentuk seperti bagian luar pulpen, dengan lubang di tengah untuk rokok. Produk yang berada di bawah brand Marlboro ini dapat memanaskan rokok sampai 350 derajat celcius lalu mengeluarkan uap nikotin beraroma tembakau<\/em><\/a>.<\/span>\r\n

Produk iQOS sebenarnya bukanlah produk rokok tanpa asap yang pertama muncul. Sebelumnya di tahun 1990-an, Reynolds Tobacco Co pernah merilis produk serupa bernama Eclipes yang juga dapat menguapkan nikotin setelah dinyalakan dengan korek api.<\/span><\/blockquote>\r\nSelain itu, Eclips juga dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. Namun, pada saat itu Eclips tidak diminati oleh pasar, utamanya para perokok konvensional. Meskipun Eclips dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. <\/span>\r\n\r\nBisnis semacam rokok tanpa asap seperti Eclips dan iQOS memang sudah menjadi bagian dari rencana panjang bisnis perusahaan-perusahaan rokok multinasional. Jadi tidak usah heran jika ke depannya akan kita akan banyak menemukan produk rokok tanpa asap ini.<\/span>\r\n\r\nWatak dari perusahaan multinasional memang seperti itu, mereka sangat jeli melihat peluang pasar ke depannya. Ketika market place perusahaan rokok multinasional saat ini terus dirongrong oleh kelompok antirokok, mereka tak kehabisan akal. Maka kemudian mereka menginovasi produk rokok konvensional menjadi rokok yang tidak berasap. Begitupun dengan mengikutsertakan jargon-jargon kesehatan dalam narasi promosi mereka.<\/span>\r\n\r\nSesungguhnya memang seperti itulah watak bisnis perusahaan-perusahaan multinasional, melakukan segala cara agar bisnis mereka tetap bertahan, meskipun harus merangkul musuh sekalipun. <\/span>\r\n\r\nYa kadang pura-pura berantem sama antirokok, tapi dibalik itu sebenarnya baik-baik saja, dan tentunya ada kompromi untuk terus melanggengkan bisnis mereka.<\/span>\r\n

Lalu siapa yang dirugikan dari permainan bisnis macam produk rokok tanpa asap perusahaan rokok multinasional ini?<\/span><\/h3>\r\nTentunya yang sangat dirugikan adalah produk hasil tembakau yang memiliki kekhasan seperti kretek di Indonesia. Kretek sebagai produk khas asli Indonesia yang menjadi bagian dari warisan kebudayaan tidak mungkin bertransformasi menjadi produk-produk elektrik dan sejenisnya.<\/span>\r\n\r\nKretek tetaplah kretek, dengan bahan baku alami tembakau dan cengkeh yang tidak diintervensi dengan zat atau perangkat penghantar lainnya. Karena dengan bentuk, karakter dan cara menikmatinya memang konvensional dan akan terus begitu apapun kondisi dan zamannya.<\/span>\r\n
Bisnis produk rokok tanpa asap (elektrik) juga menghajar kretek dengan mendompleng isu pengendalian tembakau. Kampanye pengendalian tembakau selalu membawa slogan bahaya merokok dan upaya untuk berhenti merokok. <\/span><\/blockquote>\r\nDari isu tersebut, rokok elektrik masuk dengan citra produk alternatif tembakau, bahkan mereka tak segan menilai bahwa rokok elektrik lebih aman ketimbang rokok konvensional, yakni kretek.<\/span>\r\n\r\nLalu jika Indonesia akan dibanjiri dengan produk-produk yang mengatasnamakan produk alternatif tembakau, macam rokok tanpa asap (iQOS dan sejenisnya), maka itulah pertanda bahwa kretek harus tergerus dari cara hidup manusia Indonesia dalam menikmati produk hasil tembakau khas Indonesia yang sudah turun-temurun lamanya dinikmati manusia Indonesia.<\/span>","post_title":"Nasib Kretek di Pusaran Pertarungan Bisnis Global Perusahaan Rokok Multinasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"nasib-kretek-di-pusaran-pertarungan-bisnis-global-perusahaan-rokok-multinasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-02 08:01:43","post_modified_gmt":"2019-02-02 01:01:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5385","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; \n

Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Bandar-bandar besar Tyre di Yunani dan Venesia di Italia menjadi pelabuhan utama rempah-rempah Maluku memasuki kehidupan dan peradaban Eropa. Selain sebagai bumbu masakan, rempah obat, dan ramuan wewangian, cengkeh dan pala juga menjadi bahan utama pengawet bahan pangan. [2]
<\/p>\n\n\n\n

Inilah yang membuat orang-orang Eropa untuk pertama kalinya dapat mengawetkan dan menimbun makanan selama bermusim-musim. Prosa indah Blair bersaudara menggambarkannya dengan sangat baik:
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKemampuan menyimpan makanan lebih dari yang kami makan sekaligus berarti kemampuan menjual dan membelinya dalam jumlah besar --dan kota-kota dagang pun mekar. Perekonomian yang dihasilkannya mengarahkan kami ke zaman Pencerahan dan kemudian Revolusi Industri. Tak lama setelah kami menghirup aroma yang sangat kuat dari Timur itu dan mengubah kimiawi makanan kami, maka kami pun mampu melakukan lompatan besar dalam bidang budaya dan seni.\u201d (Blair & Blair, 2010; 30-31).<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh dan Kelapa di Kepulauan Anambas<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Bukan hanya membuat perekonomian dan perdagangan serta ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang, cengkeh dan pala bahkan adalah faktor yang paling menentukan dalam kemunculan satu babakan paling mengenaskan dalam sejarah politik dunia, yakni zaman penjajahan (kolonialisme) Eropa, terutama atas-atas negeri- negeri Asia Selatan, Timur dan Tenggara, termasuk Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Tergerak oleh sahwat menguasai rempah-rempah yang menggiurkan itu, bangsa-bangsa Eropa --terutama Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda-- pun menggelar ekspedisi-ekspedisi besar untuk menemukan cengkeh dan pala langsung di tanah asalnya. Ketika armada-armada mereka akhirnya mencapai perairan Kepulauan Maluku, pada abad-16, perang pun tak terhindarkan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka silih berganti saling mengalahkan, tetapi pemenang terakhir adalah Belanda. Melalui Perusahaan Dagang Hindia Timur (Vereenigde Oostindische Compagnie, VOC) yang dibentuk pada awal abad-17 (tepatnya tahun 1609), Belanda melancarkan ekspedisi Pelayaran Hongi (Hongie Tochten), untuk memusnahkan semua tanaman cengkeh di Ternate, Tidore, Moti, dan Makian, lalu membatasi ketat penanamnya hanya di Pulau-pulau Ambon dan Lease --yang lebih dekat ke Banda sebagai pusat pemerintahan mereka sebelum akhirnya dipindahkan ke Batavia.
<\/p>\n\n\n\n

Praktis, sejak akhir abad-16, Belanda pun menguasai penuh perdagangan rempah-rempah Maluku dengan jumlah produksi rerata 2.500 sampai 4.500 ton per tahun. [3]<\/p>\n\n\n\n

Baca: Budidaya Pohon Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Meskipun peran utama rempah-rempah Maluku itu kemudian tergusur pada abad-18 dan 19 oleh beberapa barang eksotika tropis lainnya --hasil perkebunan-perkebunana besar baru di Pulau Sumatera dan Jawa: tebu, tembakau, lada, kopi, teh, nila, kelapa sawit, dan kayu jati-- namun sejarah sudah mencatat bahwa dua jenis rempah-rempah Maluku itulah yang mengawali penjelajahan sekaligus penjajahan kepulauan Nusantara oleh bangsa-bangsa Eropah, terutama Belanda (Topatimasang, ed., 2004:32). Jika saja tak pernah ada cengkeh dan pala di Maluku, mungkin sejarah kepulauan Nusantara ini akan berbeda sama sekali.
<\/p>\n\n\n\n

Masa suram cengkeh dan pala terus berlangsung sampai pertengahan abad-20. Rempah eksotika yang pernah membuat tergila-gila<\/p>\n\n\n\n

para saudagar Arab, pedagang Cina, serta kaum ningrat Eropa itu, tergantikan perannya oleh penemuan teknologi mesin pendingin berkat Revolusi Industri yang dimulai di Inggris pada pertengahan abad-18. Pasaran cengkeh di Eropa pun merosot tajam.
<\/p>\n\n\n\n

Nasibnya terselamatkan berkat penemuan oleh seorang Haji Djamhari di Kudus, Jawa Tengah. Pada akhir tahun 1880-an, Haji Djamhari menemukan kegunaan baru cengkeh sebagai ramuan utama rokok. Lahirlah satu produk baru yang unik, khas dan asli Indonesia: kretek! (Hanusz, 2000:ii).
<\/p>\n\n\n\n

Setelah seperempat abad hanya berkembang dalam skala kecil usaha rumah tangga, produksi kretek akhirnya menjelma menjadi industri besar sejak awal abad-20 yang dirintis oleh Haji Nitisemito (pendiri pabrik \u2018Jambu Bol\u2019) di Kudus dan Liem Seng Tee (pendiri pabrik \u2018Dji Sam Soe\u2019 dan \u2018Sampoerna\u2019) di Surabaya.
<\/p>\n\n\n\n

Puncaknya adalah pada pertengahan tahun 1950-an, ketika produksi kretek mulai berkembang pesat menjadi industri raksasa modern dengan munculnya beberapa pabrik baru, antara lain, yang terkemuka, oleh Oei Wei Gwan (pendiri pabrik \u2018Djarum\u2019) di Kudus dan Tjou Ing Hwie (pendiri pabrik \u2018Gudang Garam\u2019) di Kediri (Topatimasang, et.al., eds., 2010:131).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Teruslah Menanam Tembakau dan Cengkeh, Wahai Petani Indonesia<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Cengkeh, bahan baku paling esensial dari kretek --selain tembakau, tentu saja-- pun kembali berjaya. Bahkan, sejak dasawarsa 1970an, telah menjadi salah satu penyumbang terbesar keuangan negara Republik Indonesia. Pada tahun 2012 dan 2013, pemasukan cukai dari industri kretek mencatat 95,5% dari seluruh pemasukan cukai ke kas negara. Nilainya tak tanggung-tanggung: Rp 87 triliun! (el-Guyanie, et.al.: 2013:4-5).<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Nilai ekonomisnya yang sangat besar sempat menggoda penguasa otoriter rezim Presiden Soeharto, pada 1990-an, memberlakukan satu kebijakan \u2018Hongi Gaya Baru\u2019: monopoli perdagangan cengkeh dalam negeri melalui Badan Penyanggah dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) yang sangat merugikan petani. Harga cengkeh di tingkat petani penghasil anjlok sampai hanya Rp 2.000 - 3.000 per kilogram, lebih murah dari harga sebungkus kretek yang dihasilkan darinya.
<\/p>\n\n\n\n

Akibatnya, ratusan ribu pohon cengkeh di daerah-daerah penghasil utama --Maluku, Maluku Utara, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Selatan-- ditebangi atau dibiarkan terlantar tak terurus.
<\/p>\n\n\n\n

Gelombang reformasi sistem politik dan hukum nasional yang dimulai pada tahun 1998, akhirnya menjungkalkan rezim Soeharto dan BPPC dibubarkan, Pelan tapi pasti, harga cengkeh kembali merangkak naik, sehingga pada tahun 2012, bahkan melewati angka Rp 200.000 per kilogram. Para petani cengkeh di seluruh negeri kembali tersenyum. Tetapi, sampai kapan? <\/p>\n\n\n\n

Catatan:<\/strong><\/p>\n\n\n\n

[1] Beberapa sumber menyebutkan bahwa kata \u2018cengkeh\u2019 dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Mandarin, tkeng-his atau xi\u2019jia, yang berarti \u2018rempah [berbentuk mirip] paku\u2019 (scented nails). Ini menunjukkan bahwa cengkeh sudah dikenal sejak lama oleh bangsa Cina --diketahui sejak abad-2-- jauh sebelum orang Eropa mengenalnya ((lihat, misalnya: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n\n\n\n

[2] Catatan-catatan para biarawan Fransiskan --yang disalin dan dikutip oleh van Frassen-- bahkan menyebut cengkeh sebagai salah satu bahan utama pengawet mumi para Fir\u2019aun, penguasa Mesir Kuno. Beberapa pakar sejarah dan arkeologi menyatakan bahwa rempah-rempah Maluku bahkan sudah ditemukan artefaknya di Lembah Mesopotomia (wilayah Iraq dan sekitarnya sekarang) pada 3.000 tahun sebelum Masehi. (lihat, antara lain: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n\n\n\n

[3] Uraian lebih rinci sejarah kolonialisme rempah-rempah Nusantara ini, terutama oleh Belanda dan Portugis, dapat dibaca pada beberapa sumber kepustakaan yang sudah dikenal luas, antara lain: Glamann (1958) dan Boxer (1965 dan 1969). Dalam risalah klasik Pires disebutkan bahwa pada tahun 1512-1521 saja, jumlah produksi cengkeh di Maluku sudah mencapai 7.250 bahar per tahun, terbesar adalah di Makian serta Amboina dan Lease (masing-masing 1.500 bahar)(Pires, 1512-1515).<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem Topatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-10 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-02-10 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5425","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5415,"post_author":"878","post_date":"2019-02-07 12:15:55","post_date_gmt":"2019-02-07 05:15:55","post_content":"\n

Belakangan ini, ketika musim hujan tiba, di Kabupaten Temanggung, Kabupaten Jember, dan beberapa wilayah sentra pertanian tembakau lainnya, hampir mustahil menemukan tanaman tembakau tumbuh di lahan-lahan milik petani. Di wilayah-wilayah tersebut, citra sebagai sentra pertanian tembakau seakan menguap. Lahan-lahan yang ada di sana, sama sekali tidak ditumbuhi tanaman tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Kabar ini bisa jadi dianggap sebagai kabar gembira bagi mereka yang menganggap diri dan kelompoknya anti-rokok dan anti-tembakau yang selalu mengampanyekan sikap-sikap mereka terkait kebencian kepada tembakau dan aktivitas merokok. Setelah sekian lama berjuang, akhirnya perjuangan mereka dirasa berhasil usai menyaksikan fenomena lahan-lahan di wilayah yang dianggap sentra pertanian tembakau pada hari-hari belakangan ini.<\/p>\n\n\n\n

Baca juga: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tak sia-sia turun ke jalan, tak sia-sia melakukan lobi-lobi ke penguasa, tak sia-sia mengucurkan uang yang tidak sedikit, dan tak sia-sia mempermalukan diri dengan mengemis ke lembaga donor asing dan menggondol uang dari cukai tembakau untuk mengampanyekan gerakan anti-rokok dan anti-tembakau. Tak sia-sia. Karena perjuangan sepertinya berhasil.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Kampanye-kampanye gerakan mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya, sepertinya juga sangat berhasil. Bagaimana tidak? Wilayah-wilayah yang sebelumnya penuh dengan tanaman tembakau dan bergeliat dengannya, kini lahan-lahannya sudah berganti dengan tanaman lain. Sebuah keberhasilan yang menggembirakan. Begitu mungkin pikir mereka para yang menganggap dirinya pejuang anti-rokok dan anti-tembakau. Dan tentu saja mereka akan kecele dan kita akan menertawakan hal itu.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, mereka yang menganggap dirinya anti-rokok dan anti-tembakau tidak menyaksikan langsung fenomena ini di lapangan, di lahan-lahan yang peruntukannya berubah pada hari-hari belakangan ini ketika memasuki musim hujan. Mereka asyik duduk pada kursi empuk di ruang-ruang nyaman ber-AC di kota-kota yang jauh dari kultur pertanian. Mereka menyengajakan diri menjadi elit dan enggan untuk turun melihat langsung ke lapangan. Kalaupun ada yang turun langsung ke lapangan, hanya segelintir saja dari mereka, itupun sekadar formalitas saja. Tak pernah benar-benar mau turun ke lapangan, hidup dan merasakan langsung kultur pertanian tembakau dalam jangka waktu cukup lama di lapangan.<\/p>\n\n\n\n

Baca juga: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Fenomena ini membikin kita tak bisa melihat mereka para anti-rokok kecele lalu menertawakan mereka.<\/strong> Fenomena keengganan terjun langsung ke lapangan terlebih mencoba mendengar mereka yang tetap menanam tembakau, juga menjalani keseharian dalam waktu cukup lama bersama petani tembakau inilah yang saya kira menjadikan mereka tetap keras kepala untuk anti-rokok dan anti-tembakau. Karena jika mereka mau melakukan itu, saya yakin mereka semua tidak akan begitu kaku dalam memandang pertanian tembakau dan produk hasil industri tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu yang selalu mereka kampanyekan dan ngotot dengan itu, terkait hulu pertanian tembakau adalah mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya. Mereka berargumen banyak tanaman lain yang bisa semenguntungkan tanaman tembakau. Keengganan mereka terjun langsung ke lapangan inilah yang membikin mereka buta dengan kondisi pertanian tembakau dan pada akhirnya terus menerus mengampanyekan pergantian tanaman tembakau dengan tanaman lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca juga: Imanlah kepada Allah, Bukan Antirokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tembakau tanaman yang khas. Ia hanya tumbuh baik sepanjang empat hingga lima bulan dalam satu tahun. Tumbuh-kembang tanaman tembakau dengan baik itu umumnya terjadi pada musim kemarau setiap tahunnya. Hanya sedikit sekali jenis tembakau yang tumbuh baik di musim penghujan, mayoritasnya, tumbuh baik pada musim kemarau.<\/p>\n\n\n\n

Jika ditanam pada musim hujan, hampir bisa dipastikan tanaman tembakau akan gagal menghasilkan daun-daun yang berkualitas. Ia akan rusak dan membusuk karena terlalu banyak terkena air sehingga daun-daun itu tak layak dijual. Jangankan bisa dijual, untuk tumbuh dengan baik pun sepertinya sulit karena musim hujan akan membunuh banyak tanaman itu.<\/p>\n\n\n\n

Maka, tak heran pada musim-musim seperti saat ini, ketika musim penghujan mendekati puncaknya, di wilayah-wilayah yang dikenal sebagai sentra pertanian tembakau, sulit menemukan pohon tembakau yang sedang tumbuh. Pada lahan-lahan yang sebelumnya ditumbuhi tanaman tembakau pada musim panas, berganti tanaman-tanaman lain yang bermacam-macam, sesuai dengan kondisi lahannya. Untuk lahan sawah, lahan-lahan itu pada musim penghujan kini ditumbuhi tanaman padi yang subur. Pada lahan tegalan dan lahan di pegunungan, lahan-lahan yang ditanami tembakau pada musim kemarau, saat ini ditumbuhi bermacam jenis tanaman mulai dari cabai, bawang, tomat, kol, terong, mentimun, dan ragam jenis tanaman semusim lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Uniknya, tipikal tanaman tembakau yang tumbuh baik di musim kemarau ini memberi pilihan lebih kepada para petani. Lahan-lahan yang sulit ditanami pada musim kemarau, pada akhirnya masih bisa tetap produktif dengan keberadaan tanaman tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Maka, kampanye aneh mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain dengan ragam rupa dalih yang membingungkan, bukan saja sama sekali tidak tepat dan asal-asalan, namun bisa jadi akan ditertawakan oleh para petani yang begitu paham dengan kondisi lahan dan terutama kondisi iklim dan cuaca. Sulit mencari tanaman semusim yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Jika pun ada, tak ada yang semenguntungkan tanaman tembakau.
<\/p>\n","post_title":"Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"keberhasilan-gerakan-anti-tembakau-tak-ada-tembakau-saat-musim-hujan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-07 12:16:02","post_modified_gmt":"2019-02-07 05:16:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5415","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5409,"post_author":"919","post_date":"2019-02-05 08:04:43","post_date_gmt":"2019-02-05 01:04:43","post_content":"\n

Tahun Baru Imlek yang merupakan tradisi Bangsa Tiongkok kini sudah tak lagi menjadi hal yang asing bagi masyarakat Indonesia. Kehadirannya sudah mewarnai dan berakulturasi dengan tradisi lokal. Menjelang Tahun Baru Imlek. Berbagai hiasan dan kemeriahan terjadi beberapa titik di Tanah Air. Perayaannya juga menjadi destinasi baru yang mengasyikkan untuk dilihat dan patut disaksikan.<\/p>\n\n\n\n

Berterimakasihlah kepada sang bapak bangsa, KH Abdurrahman Wahid atau yang dikenal dengan nama Gus Dur. Berkat kebijakannya saat menjadi Presiden Indonesia, Tahun Baru Imlek resmi dijadikan hari libur nasional dan dianggap sebagai salah satu hari raya di Tanah Air. Meski sentimen antitionghoa masih ada di sana-sini, tapi tetap tak bisa dipungkiri bahwa bangsa tionghoa sudah bersentuhan dengan budaya lokal dalam kurun waktu yang sangat panjang.<\/p>\n\n\n\n

DNA Bangsa Tionghoa yang memang merupakan pedagang menjadi pembuka kisah interaksi antara nenek moyang berbagai suku di Nusantara dengan mereka. Beberapa kelenteng-kelenteng yang tersebar pada berbagai pesisir daerah di Nusantara jadi buktinya. Pelabuhan-pelabuhan tua di tanah air dan ramainya perdagangan di pesisir mempermudah bangsa kita berhubungan dengan Bangsa Tionghoa.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Wong Kalang dan Kota Gede<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa kehadiran Bangsa Tionghoa di Nusantara tak hanya sebagai pedagang, namun juga sebagai pekerja (bahkan hingga pekerja kasar). Benny Setiono, seorang sejarahwan menyebutkan bahwa antara tahun 1760-1770 dalam jumlah yang besar memasuki nusantara melalui Kalimantan Barat. Mereka bekerja sebagai kuli pertambangan di sana dan di kemudian hari membentuk sebuah republik bernama Republik Lanfang yang konon katanya menjadi republik pertama di Asia Tenggara.<\/p>\n\n\n\n

Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Imlek dan Indonesia<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n\n\n\n

Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
<\/p>\n","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5406,"post_author":"877","post_date":"2019-02-04 08:23:48","post_date_gmt":"2019-02-04 01:23:48","post_content":"\n

Merokok itu sudah menjadi bagian dari budaya dan tradisi masyarakat, jauh sebelum Indonesia merdeka. Banyak cerita atau kisah tentang kretek <\/a><\/del>di tengah-tengah masyarakat bangsa ini, mulai sebagai alat untuk meraup keuntungan, alat komunikasi, sebagai teman sampai menjadi simbol pergerakan. <\/p>\n\n\n\n

Kretek, Simbol Perlawanan Roro Mendut<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Siapa yang tidak pernah mendengan cerita tentang Roro Mendut?, di telinga masyarakat Indonesia, kisah Roro Mendut tidak asing lagi.  Perempuan yang mempunyai paras wajah cantik, dan digandrungi kaum adam terutama kalangan putra kerajaan. Informasi kecantikan Roro Mendut tersebar seantero Nusantara, tidak satupun pria meragukan kecantikannya.  Bahkan kisah dan cerita kecantikan Roro Mendut tercatat dalam buku Babad Tanah Jawi. <\/p>\n\n\n\n

Diperkirakan pada tahun 1627, pada saat panglima perang Sultan Agung Mataram bernama Tumenggung Wiraguna berhasil menumpas pemberontakan di kota Pati, sebagai imbalanan atas keberhasilannya, mendapat hadiah wanita pujaan pria bernama Rara Mendut dari Kasultanan Agung Mataram.  Roro Mendut menolak dipinang Tumenggung Wiraguna, dan secara terang-terangan memilih pria lain dambaannya. Akibatnya, Roro Mendut harus membayar pajak setiap harinya kepada kerajaan Mataram. <\/p>\n\n\n\n

Bisa dibayangkan, betapa bingungnya Roro Mendut saat itu. Uang dari mana, ia hasilkan untuk bayar pajak tiap hari demi bisa bersama kekasihnya. Ternyata Roro Mendut tidak hanya cantik tetapi cerdas dan kreatif, bisa membaca peluang bisnis saat itu. Ide cermerlang muncul dengan berdagang\/berjualan rokok lintingan yang direkatkan dengan air ludahnya, dan sebelum menjualnya, rokok lintingan di sulut dahulu dan dihisap bekas bibir merahnya. Kemudian baru dijual ke pembeli yang berdesakan berjejer antri. <\/p>\n\n\n\n

Entah dari mana ide menjual rokok itu muncul. Yang jelas saking larisnya, kewajiban pajak Roro Mendut terpenuhi. Dan mungkin keadaannya akan lebih parah, jika saat itu Roro Mendut tidak berdagang rokok. Tidak akan terpenuhi kewajiban pajaknya. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Dengan rokok, hidup Roro Mendut terselamatkan. Adanya rokok, \u00a0Roro Mendut bebas dari belenggu kekuasaan. Berkat rokok, Roro Mendut terkengan, mengisi rubik informasi sejarah begitu kuatnya budaya merokok di \u00a0Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Pusaka Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek, Teman Perjuangan  Diponegoro<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Semasa berjuang melawan penjajah, yang harus dilakukan Diponegoro berpindah-pindah dari kota satu ke kota lain. Strategi perlawanan Diponegoro, kemudian sebagai basis strategi perang gerilya. Strategi yang menjadi idola dan kebanggaan tentara Indonesia. Dengan bergerilya, tentara Indonesia mampu mengecoh kekutan lawan yang lebih besar jumlahnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu, tenyata banyak cerita, Diponegoro saat berperang ditemani rokok. Ia dan pasukannya gemar merokok. Bahkan ketika tidak ada rokok, Pangeran Diponegoro rela hanya megunyah daun sirih yang diracik dengan kapur dan pinang. <\/p>\n\n\n\n

Kebiasaan ini, juga dialami oleh pengikut \/pasukan perang Pangeran Diponegoro. Bagi mereka, rokok teman sejati, menemani disetiap perjalanan mereka. Rokok menghilangkan depresi mereka, sebagai hiburan saat jauh dari keluarga demi berjuang melawan penjajah. Rokok menumbuhkan percaya diri mereka, lebih berani melawan penjajah walaupun hanya dengan serba keterbatasan, pasukan jumlah terbatas, alat perang terbatas dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Baca juga: Pangeran Diponegoro, Rokok Klobot dan Perlawanan Simbolis<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Jati Diri Bangsa<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Salah satu \u201cpendiri bangsa\u201d bernama KH. Agus Salim menghisap kretek dengan asapnya di kebal-kebulkan keudara, disaat ada perjamuan di Istana Buckingham ketika penobatan Elizabeth II sebagai Ratu kerajaan Inggris. Aroma khas keluar dari asap rokok kretek, tercium orang yang berada di ruang perjamuan. Sehingga memancing salah satu orang yang datang dalam perjamuan, dengan berkata; \u201ctuan sedang menghisap apa itu?\u201d.  Sentak KH. Agus Salim menjawab, \u201c inilah yang membuat nenek moyang anda sekian abad lalu datang dan kemudian menjajah negeri kami\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Jawaban KH. Agus Salim, faktanya memang benar. Rokok kretek tidak lain ada tambahan cengkeh (suzygium aromaticum<\/em>). \u00a0Tanaman legendaris menjadi rebutan dan sumber keuntungan kolonialisme Eropa atas Asia termasuk Indonesia. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Cengkeh adalah salah satu tanaman yang diperebutkan bangsa-bangsa dunia, sampai melegalkan penjajahan.  Dalam simpulan perjalanan ekspedisi cengkeh tahun 2013, Kepala Suku begitu julukan bagi Putut Ea, mengatakan \u201c jika saja tak pernah ada cengkeh dan pala di Maluku, mungkin sejarah kepulauan Nusantara ini akan berbeda sama sekali\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Simpulan Putut EA, sebagai salah satu pembenar perkataan \u00a0KH. Agus Salim. Mungkin, jika tanaman cengkeh tidak ada, fakta sejarah akan berbeda, tidak ada penjajahan di bumi Nusantara ini. <\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Mengisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek untuk Berteman dan Menjalin Persaudaraan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Teringat apa yang pernah dilakukan Menteri Sosial dan Lingkungan Hidup, saat melakukan pendekatan pada suku anak dalam di Jambi. Tidak lain ia adalah Khofifah menteri perempuan yang energik. Saat itu Khofifah bertanggungjawab dalam mengatasi masalah pendidikan dan kesejahteraan masyarakat suku anak dalam di Jambi.  <\/p>\n\n\n\n

Kebijakannya membuat fenomenal, selain bahan makanan, dan bantuan lain, khofifah juga membawa rokok.  Yang kemudian ada yang mengggugat dari anti rokok, tetapi sebagai Menteri, Khofifah tentunya sudah mengkaji secara mendalam. Dengan kecerdasannya , Khofifah menjawab dengan tegas dan lugas, \u201cjangan sok tahu kehidupan mereka, kenali apa yang menjadi ritme kehidupan mereka. Sangat bijaksana kalau kita semua pergi kesana, sehingga tahu adat istiadatnya juga. Tolong kalau ingin mengerti tentang kultur jangan hanya dari kacamata Jakarta. Saya pun ingin mengajak anda kesana, turun kesana, sapalah mereka\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Khofifah memberikan pelajaran bagi anti rokok. Tidak boleh sok tahu, apalagi selama ini antirokok hanya berasumsi, tanpa melihat fakta dilapangan. Khofifah juga menganjurkan agar lebih mengenal adat-istiadat, budaya dan tradisi masyarakat, tidak boleh melakukan hegemoni kultural, sebab keberagaman adat-istiadat dan budaya merupakan kekayaan negeri. <\/p>\n\n\n\n

Pelajaran Khofifah sangat mendalam dan bercirikhas Nusantara. Sebgaai Menteri \u00a0Sosial tentunya lebih berpengalaman apa yang dibutuhkan bangsa ini agar tetap jaya, bersatu dan utuh. Kenali perbedaan, hormati perbedaan, junjung tinggi budaya yang berbeda. \u00a0Apa yang telah dilakukan Khofifah dengan membawa rokok ke suku anak dalam adalah cermin penghormatan tradisi dan budaya masyarakat. Sebagai seorang Mentri, tentunya punya kuasa, artinya bisa seorang khofifah memberikan bantuan sesuai keinginannya sendiri, namun hal itu tidak dilakukan. Ia lebih mengedepankan penghormatan budaya masyarakat setempat, dengan membawa rokok untuk pendekatan dan pertemanan. Karena Khofifah tahu betul, bahwa merokok adalah budaya mereka, yang diwaris dari neneng moyang mereka. <\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Memilih Jalan Hidup Menikmati Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Simbol Pergerakan Nasional     <\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Abdul Rifa\u2019I dalam media bintang timur terbit pada 03 Oktober 1927, mengatakan, \u201ckopinya bukan kopi saringan, tetapi kopi tubruk sebab kopi ini katanya nationaal, gulanya gula jawa, susu tidak dipakai karena tidak nationaal. Rokoknya kelobot, selamatan natioanaal ini terus berlangsung ed sampai pagi hari\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Semangat nasionalisme harus tertanam, mengedepankan produk lokal adalah salah satu semangat nasionalime. Salah satu keberadaan rokok klobot menjadi ciri produk asli indonesia dan harus dilestarikan. Klobot sendiri adalah ramuan tembakau dan cengkeh di gulung memakai daun jagung, embrio perkembangan menjadi rokok sigaret kretek tangan dan sigaret kretek mesin.  
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pusaran Budaya Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pusaran-budaya-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-04 08:40:41","post_modified_gmt":"2019-02-04 01:40:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5406","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5403,"post_author":"919","post_date":"2019-02-03 09:05:50","post_date_gmt":"2019-02-03 02:05:50","post_content":"\n

Seringkali saya menyaksikan berbagai film baik itu Eropa atau Asia yang menggambarkan tentang masa depan. Pemandangan soal masa depan tersebut dihadirkan dengan gambaran kecanggihan teknologi seperti robot yang akan membantu kehidupan manusia, gedung-gedung yang tingginya sudah amat tak bisa ditandingi,  hingga mobil-mobil yang bisa terbang. <\/p>\n\n\n\n

Pernah dalam masa kecil saya menyaksikan sebuah film animasi buatan jepang yang mempertanyakan tentang makanan di masa depan. Dengan santai salah satu tokoh yang berasal dari masa depan itu menjawab bahwa suatu saat nanti manusia akan mengonsumsi makanan berupa pasta gigi namun dengan rasa yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa, aneh!<\/p>\n\n\n\n

Seiring waktu berjalan saya kian tumbuh dewasa dan punya kesadaran untuk memilih menjadi seorang perokok<\/a>. Saya juga melihat ada sebuah inovasi dan gambaran tentang masa depan yang hadir dalam kehidupan sekarang. Banyak memang, namun yang menyita perhatian saya adalah rokok elektrik atau yang populer disebut Vape. Konon katanya ia adalah produk inovasi untuk menjembatani kebutuhan menghisap asap dan kecanggihan masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Di awal kehadirannya Vape memang mengundang decak kekaguman saya. Bagaimana bisa sebuah mesin kecil mengeluarkan asap yang katanya lebih menyehatkan daripada rokok.<\/strong> Meski pada akhirnya teori tersebut juga bisa dibantah oleh beberapa ilmuan dunia. Tapi ada satu yang saya amati selain soal kesehatan, rokok elektrik rupanya menghadirkan kultur dan budaya baru dalam kehidupan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: LAGI-LAGI IKLAN ROKOK, KAPAN KPAI TIDAK TEBANG PILIH? <\/a><\/h4>\n\n\n\n

Kehadiran teknologi memang kerap sedikit atau benyak mengubah gaya atau kultur suatu masyarakat. Begitu pula yang saya perhatikan dengan rokok elektrik. Satu hal yang mudah diamati adalah menjamurnya toko-toko kecil yang menjual vape serta liquid di berbagai tempat. Sebagai sebuah warna baru dalam masyarakat, penggunanya ramai-ramai mengunjungi tempat tersebut berinteraksi dengan penikmat lainnya dan membangun sebuah rumah komunitas yang fleksibel.<\/p>\n\n\n\n

Meski belum bisa dikatakan memiliki jumlah penikmat yang setara dengan para perokok, pengguna Vape mulai menunjukkan eksistensinya. Selain toko yang tersebar, ragam acara juga mereka buat di beberapa daerah. Dalam lingkungan saya, beberapa teman yang dulunya merupakan perokok aktif tertarik mengikuti event tersebut dan beralih mengisap rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Nun jauh di sana, di Amerika Serikat tepatnya, budaya Vape juga sudah mulai berkembang lama ketimbang di Tanah Air. Penikmatnya terbagi menjadi dua, ada yang dulunya bekas perokok dan ada yang memang menikmatinya sebagai gaya hidup. Wajar saja mengingat facebook tak memperbolehkan iklan tembakau di platform mereka, sebaliknya iklan tentang vape justru bertebaran. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi budaya baru yang berkembang di berbagai belahan dunia bahkan di Indonesia, Vape konon menjadi alternatif yang lebih bermanfaat daripada rokok. Dalih yang diusung selalu sama kepada para perokok tradisonal yaitu soal kesehatan dan lebih irit. Soal kesehatan tentu ada beberapa pendapat para ilmuan yang membantahnya, namun soal irit, saya rasa tidak. Memang satu liquid bisa digunakan untuk beberapa Minggu, akan tetapi yang saya lihat di lapangan justru sebaliknya. <\/p>\n\n\n\n

Beberapa penikmat rokok elektrik kerap berbelanja liquid yang mereka idamkan. Terkadang, hal tersebut yang membuat mereka boros karena terus mengeksplor rasa mana yang mereka idam-idamkan. Tak jarang juga liquid dengan harga mahal hingga ratus ribuan akan mereka beli. Sebaliknya, para perokok konvensional justru kerap bertahan dengan satu rasa atau merek saja.<\/p>\n\n\n\n

Sedikit berbeda dengan penikmat rokok konvensional atau kretek. Mengingat rokok kretek sudah menjadi kebudayan lokal yang terus dipertahankan selama bertahun-tahun, kehadirannya sudah mewarnai khasanah keindonesiaan. Perokok kretek juga sudah punya soliditas luar biasa yang terbentuk sejak lama dan terus terbangun mengiringi peradaban di Indonesia atau dunia.<\/p>\n\n\n\n

Kini, perokok elektrik mulai merasakan kegelisahan. Beberapa negara mulai menerapkan peraturan ketat terhadap Vape, sedangkan di Indonesia biaya cukai pun kini mulai diberlakukan terhadap perdagangan rokok elektrik. Keberadaannya di mata negara pun mulai dianggap sama seperti rokok, meski pada awalnya rokok elektrik hadir dengan slogan-slogan produk alternatif yang lebih menyehatkan (katanya).<\/p>\n\n\n\n


Tapi jika kemudian di masa depan memang rokok elektrik yang kemudian menjadi sesuatu yang populer dan dinikmati banyak orang. Rasanya saya tetap ingin hidup di jaman ini, dengan sebatang kretek di tangan dan menikmati segala khasanah kebudayaan yang patut terus dipertahankan. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"masa-depan-rokok-elektrik-dan-semangat-alternatif-yang-sia-sia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-03 09:05:56","post_modified_gmt":"2019-02-03 02:05:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5403","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5385,"post_author":"883","post_date":"2019-02-02 08:01:01","post_date_gmt":"2019-02-02 01:01:01","post_content":"Pada tahun 2014, perusahaan rokok multinasional Philip Morris Internasional Inc. merilis sebuah produk <\/span>perangkat\u00a0<\/span>
rokok<\/span><\/a>\u00a0tanpa asap, yang dipanaskan bukan dibakar atau istilahnya\u00a0<\/span>heat not burn<\/i><\/strong>\u00a0(HNB) iQOS<\/strong>. <\/span>\r\n\r\nPerangkat rokok tanpa asap dengan nama iQOS<\/a> ini berbentuk seperti bagian luar pulpen, dengan lubang di tengah untuk rokok. Produk yang berada di bawah brand Marlboro ini dapat memanaskan rokok sampai 350 derajat celcius lalu mengeluarkan uap nikotin beraroma tembakau<\/em><\/a>.<\/span>\r\n

Produk iQOS sebenarnya bukanlah produk rokok tanpa asap yang pertama muncul. Sebelumnya di tahun 1990-an, Reynolds Tobacco Co pernah merilis produk serupa bernama Eclipes yang juga dapat menguapkan nikotin setelah dinyalakan dengan korek api.<\/span><\/blockquote>\r\nSelain itu, Eclips juga dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. Namun, pada saat itu Eclips tidak diminati oleh pasar, utamanya para perokok konvensional. Meskipun Eclips dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. <\/span>\r\n\r\nBisnis semacam rokok tanpa asap seperti Eclips dan iQOS memang sudah menjadi bagian dari rencana panjang bisnis perusahaan-perusahaan rokok multinasional. Jadi tidak usah heran jika ke depannya akan kita akan banyak menemukan produk rokok tanpa asap ini.<\/span>\r\n\r\nWatak dari perusahaan multinasional memang seperti itu, mereka sangat jeli melihat peluang pasar ke depannya. Ketika market place perusahaan rokok multinasional saat ini terus dirongrong oleh kelompok antirokok, mereka tak kehabisan akal. Maka kemudian mereka menginovasi produk rokok konvensional menjadi rokok yang tidak berasap. Begitupun dengan mengikutsertakan jargon-jargon kesehatan dalam narasi promosi mereka.<\/span>\r\n\r\nSesungguhnya memang seperti itulah watak bisnis perusahaan-perusahaan multinasional, melakukan segala cara agar bisnis mereka tetap bertahan, meskipun harus merangkul musuh sekalipun. <\/span>\r\n\r\nYa kadang pura-pura berantem sama antirokok, tapi dibalik itu sebenarnya baik-baik saja, dan tentunya ada kompromi untuk terus melanggengkan bisnis mereka.<\/span>\r\n

Lalu siapa yang dirugikan dari permainan bisnis macam produk rokok tanpa asap perusahaan rokok multinasional ini?<\/span><\/h3>\r\nTentunya yang sangat dirugikan adalah produk hasil tembakau yang memiliki kekhasan seperti kretek di Indonesia. Kretek sebagai produk khas asli Indonesia yang menjadi bagian dari warisan kebudayaan tidak mungkin bertransformasi menjadi produk-produk elektrik dan sejenisnya.<\/span>\r\n\r\nKretek tetaplah kretek, dengan bahan baku alami tembakau dan cengkeh yang tidak diintervensi dengan zat atau perangkat penghantar lainnya. Karena dengan bentuk, karakter dan cara menikmatinya memang konvensional dan akan terus begitu apapun kondisi dan zamannya.<\/span>\r\n
Bisnis produk rokok tanpa asap (elektrik) juga menghajar kretek dengan mendompleng isu pengendalian tembakau. Kampanye pengendalian tembakau selalu membawa slogan bahaya merokok dan upaya untuk berhenti merokok. <\/span><\/blockquote>\r\nDari isu tersebut, rokok elektrik masuk dengan citra produk alternatif tembakau, bahkan mereka tak segan menilai bahwa rokok elektrik lebih aman ketimbang rokok konvensional, yakni kretek.<\/span>\r\n\r\nLalu jika Indonesia akan dibanjiri dengan produk-produk yang mengatasnamakan produk alternatif tembakau, macam rokok tanpa asap (iQOS dan sejenisnya), maka itulah pertanda bahwa kretek harus tergerus dari cara hidup manusia Indonesia dalam menikmati produk hasil tembakau khas Indonesia yang sudah turun-temurun lamanya dinikmati manusia Indonesia.<\/span>","post_title":"Nasib Kretek di Pusaran Pertarungan Bisnis Global Perusahaan Rokok Multinasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"nasib-kretek-di-pusaran-pertarungan-bisnis-global-perusahaan-rokok-multinasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-02 08:01:43","post_modified_gmt":"2019-02-02 01:01:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5385","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; \n

Sejak beberapa abad sebelum Masehi, adalah para saudagar Arab --melalui Samudera Hindia melintasi Iskandariyah dan Laut Tengah-- serta para pedagang Cina --melalui jalur \u2018Jalan Sutra\u2019 melintasi Asia Tengah dan Asia Barat-- yang membawa dan memperkenalkannya ke daratan Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Bandar-bandar besar Tyre di Yunani dan Venesia di Italia menjadi pelabuhan utama rempah-rempah Maluku memasuki kehidupan dan peradaban Eropa. Selain sebagai bumbu masakan, rempah obat, dan ramuan wewangian, cengkeh dan pala juga menjadi bahan utama pengawet bahan pangan. [2]
<\/p>\n\n\n\n

Inilah yang membuat orang-orang Eropa untuk pertama kalinya dapat mengawetkan dan menimbun makanan selama bermusim-musim. Prosa indah Blair bersaudara menggambarkannya dengan sangat baik:
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKemampuan menyimpan makanan lebih dari yang kami makan sekaligus berarti kemampuan menjual dan membelinya dalam jumlah besar --dan kota-kota dagang pun mekar. Perekonomian yang dihasilkannya mengarahkan kami ke zaman Pencerahan dan kemudian Revolusi Industri. Tak lama setelah kami menghirup aroma yang sangat kuat dari Timur itu dan mengubah kimiawi makanan kami, maka kami pun mampu melakukan lompatan besar dalam bidang budaya dan seni.\u201d (Blair & Blair, 2010; 30-31).<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh dan Kelapa di Kepulauan Anambas<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Bukan hanya membuat perekonomian dan perdagangan serta ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang, cengkeh dan pala bahkan adalah faktor yang paling menentukan dalam kemunculan satu babakan paling mengenaskan dalam sejarah politik dunia, yakni zaman penjajahan (kolonialisme) Eropa, terutama atas-atas negeri- negeri Asia Selatan, Timur dan Tenggara, termasuk Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Tergerak oleh sahwat menguasai rempah-rempah yang menggiurkan itu, bangsa-bangsa Eropa --terutama Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda-- pun menggelar ekspedisi-ekspedisi besar untuk menemukan cengkeh dan pala langsung di tanah asalnya. Ketika armada-armada mereka akhirnya mencapai perairan Kepulauan Maluku, pada abad-16, perang pun tak terhindarkan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka silih berganti saling mengalahkan, tetapi pemenang terakhir adalah Belanda. Melalui Perusahaan Dagang Hindia Timur (Vereenigde Oostindische Compagnie, VOC) yang dibentuk pada awal abad-17 (tepatnya tahun 1609), Belanda melancarkan ekspedisi Pelayaran Hongi (Hongie Tochten), untuk memusnahkan semua tanaman cengkeh di Ternate, Tidore, Moti, dan Makian, lalu membatasi ketat penanamnya hanya di Pulau-pulau Ambon dan Lease --yang lebih dekat ke Banda sebagai pusat pemerintahan mereka sebelum akhirnya dipindahkan ke Batavia.
<\/p>\n\n\n\n

Praktis, sejak akhir abad-16, Belanda pun menguasai penuh perdagangan rempah-rempah Maluku dengan jumlah produksi rerata 2.500 sampai 4.500 ton per tahun. [3]<\/p>\n\n\n\n

Baca: Budidaya Pohon Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Meskipun peran utama rempah-rempah Maluku itu kemudian tergusur pada abad-18 dan 19 oleh beberapa barang eksotika tropis lainnya --hasil perkebunan-perkebunana besar baru di Pulau Sumatera dan Jawa: tebu, tembakau, lada, kopi, teh, nila, kelapa sawit, dan kayu jati-- namun sejarah sudah mencatat bahwa dua jenis rempah-rempah Maluku itulah yang mengawali penjelajahan sekaligus penjajahan kepulauan Nusantara oleh bangsa-bangsa Eropah, terutama Belanda (Topatimasang, ed., 2004:32). Jika saja tak pernah ada cengkeh dan pala di Maluku, mungkin sejarah kepulauan Nusantara ini akan berbeda sama sekali.
<\/p>\n\n\n\n

Masa suram cengkeh dan pala terus berlangsung sampai pertengahan abad-20. Rempah eksotika yang pernah membuat tergila-gila<\/p>\n\n\n\n

para saudagar Arab, pedagang Cina, serta kaum ningrat Eropa itu, tergantikan perannya oleh penemuan teknologi mesin pendingin berkat Revolusi Industri yang dimulai di Inggris pada pertengahan abad-18. Pasaran cengkeh di Eropa pun merosot tajam.
<\/p>\n\n\n\n

Nasibnya terselamatkan berkat penemuan oleh seorang Haji Djamhari di Kudus, Jawa Tengah. Pada akhir tahun 1880-an, Haji Djamhari menemukan kegunaan baru cengkeh sebagai ramuan utama rokok. Lahirlah satu produk baru yang unik, khas dan asli Indonesia: kretek! (Hanusz, 2000:ii).
<\/p>\n\n\n\n

Setelah seperempat abad hanya berkembang dalam skala kecil usaha rumah tangga, produksi kretek akhirnya menjelma menjadi industri besar sejak awal abad-20 yang dirintis oleh Haji Nitisemito (pendiri pabrik \u2018Jambu Bol\u2019) di Kudus dan Liem Seng Tee (pendiri pabrik \u2018Dji Sam Soe\u2019 dan \u2018Sampoerna\u2019) di Surabaya.
<\/p>\n\n\n\n

Puncaknya adalah pada pertengahan tahun 1950-an, ketika produksi kretek mulai berkembang pesat menjadi industri raksasa modern dengan munculnya beberapa pabrik baru, antara lain, yang terkemuka, oleh Oei Wei Gwan (pendiri pabrik \u2018Djarum\u2019) di Kudus dan Tjou Ing Hwie (pendiri pabrik \u2018Gudang Garam\u2019) di Kediri (Topatimasang, et.al., eds., 2010:131).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Teruslah Menanam Tembakau dan Cengkeh, Wahai Petani Indonesia<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Cengkeh, bahan baku paling esensial dari kretek --selain tembakau, tentu saja-- pun kembali berjaya. Bahkan, sejak dasawarsa 1970an, telah menjadi salah satu penyumbang terbesar keuangan negara Republik Indonesia. Pada tahun 2012 dan 2013, pemasukan cukai dari industri kretek mencatat 95,5% dari seluruh pemasukan cukai ke kas negara. Nilainya tak tanggung-tanggung: Rp 87 triliun! (el-Guyanie, et.al.: 2013:4-5).<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Nilai ekonomisnya yang sangat besar sempat menggoda penguasa otoriter rezim Presiden Soeharto, pada 1990-an, memberlakukan satu kebijakan \u2018Hongi Gaya Baru\u2019: monopoli perdagangan cengkeh dalam negeri melalui Badan Penyanggah dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) yang sangat merugikan petani. Harga cengkeh di tingkat petani penghasil anjlok sampai hanya Rp 2.000 - 3.000 per kilogram, lebih murah dari harga sebungkus kretek yang dihasilkan darinya.
<\/p>\n\n\n\n

Akibatnya, ratusan ribu pohon cengkeh di daerah-daerah penghasil utama --Maluku, Maluku Utara, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Selatan-- ditebangi atau dibiarkan terlantar tak terurus.
<\/p>\n\n\n\n

Gelombang reformasi sistem politik dan hukum nasional yang dimulai pada tahun 1998, akhirnya menjungkalkan rezim Soeharto dan BPPC dibubarkan, Pelan tapi pasti, harga cengkeh kembali merangkak naik, sehingga pada tahun 2012, bahkan melewati angka Rp 200.000 per kilogram. Para petani cengkeh di seluruh negeri kembali tersenyum. Tetapi, sampai kapan? <\/p>\n\n\n\n

Catatan:<\/strong><\/p>\n\n\n\n

[1] Beberapa sumber menyebutkan bahwa kata \u2018cengkeh\u2019 dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Mandarin, tkeng-his atau xi\u2019jia, yang berarti \u2018rempah [berbentuk mirip] paku\u2019 (scented nails). Ini menunjukkan bahwa cengkeh sudah dikenal sejak lama oleh bangsa Cina --diketahui sejak abad-2-- jauh sebelum orang Eropa mengenalnya ((lihat, misalnya: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n\n\n\n

[2] Catatan-catatan para biarawan Fransiskan --yang disalin dan dikutip oleh van Frassen-- bahkan menyebut cengkeh sebagai salah satu bahan utama pengawet mumi para Fir\u2019aun, penguasa Mesir Kuno. Beberapa pakar sejarah dan arkeologi menyatakan bahwa rempah-rempah Maluku bahkan sudah ditemukan artefaknya di Lembah Mesopotomia (wilayah Iraq dan sekitarnya sekarang) pada 3.000 tahun sebelum Masehi. (lihat, antara lain: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n\n\n\n

[3] Uraian lebih rinci sejarah kolonialisme rempah-rempah Nusantara ini, terutama oleh Belanda dan Portugis, dapat dibaca pada beberapa sumber kepustakaan yang sudah dikenal luas, antara lain: Glamann (1958) dan Boxer (1965 dan 1969). Dalam risalah klasik Pires disebutkan bahwa pada tahun 1512-1521 saja, jumlah produksi cengkeh di Maluku sudah mencapai 7.250 bahar per tahun, terbesar adalah di Makian serta Amboina dan Lease (masing-masing 1.500 bahar)(Pires, 1512-1515).<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem Topatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-10 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-02-10 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5425","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5415,"post_author":"878","post_date":"2019-02-07 12:15:55","post_date_gmt":"2019-02-07 05:15:55","post_content":"\n

Belakangan ini, ketika musim hujan tiba, di Kabupaten Temanggung, Kabupaten Jember, dan beberapa wilayah sentra pertanian tembakau lainnya, hampir mustahil menemukan tanaman tembakau tumbuh di lahan-lahan milik petani. Di wilayah-wilayah tersebut, citra sebagai sentra pertanian tembakau seakan menguap. Lahan-lahan yang ada di sana, sama sekali tidak ditumbuhi tanaman tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Kabar ini bisa jadi dianggap sebagai kabar gembira bagi mereka yang menganggap diri dan kelompoknya anti-rokok dan anti-tembakau yang selalu mengampanyekan sikap-sikap mereka terkait kebencian kepada tembakau dan aktivitas merokok. Setelah sekian lama berjuang, akhirnya perjuangan mereka dirasa berhasil usai menyaksikan fenomena lahan-lahan di wilayah yang dianggap sentra pertanian tembakau pada hari-hari belakangan ini.<\/p>\n\n\n\n

Baca juga: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tak sia-sia turun ke jalan, tak sia-sia melakukan lobi-lobi ke penguasa, tak sia-sia mengucurkan uang yang tidak sedikit, dan tak sia-sia mempermalukan diri dengan mengemis ke lembaga donor asing dan menggondol uang dari cukai tembakau untuk mengampanyekan gerakan anti-rokok dan anti-tembakau. Tak sia-sia. Karena perjuangan sepertinya berhasil.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Kampanye-kampanye gerakan mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya, sepertinya juga sangat berhasil. Bagaimana tidak? Wilayah-wilayah yang sebelumnya penuh dengan tanaman tembakau dan bergeliat dengannya, kini lahan-lahannya sudah berganti dengan tanaman lain. Sebuah keberhasilan yang menggembirakan. Begitu mungkin pikir mereka para yang menganggap dirinya pejuang anti-rokok dan anti-tembakau. Dan tentu saja mereka akan kecele dan kita akan menertawakan hal itu.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, mereka yang menganggap dirinya anti-rokok dan anti-tembakau tidak menyaksikan langsung fenomena ini di lapangan, di lahan-lahan yang peruntukannya berubah pada hari-hari belakangan ini ketika memasuki musim hujan. Mereka asyik duduk pada kursi empuk di ruang-ruang nyaman ber-AC di kota-kota yang jauh dari kultur pertanian. Mereka menyengajakan diri menjadi elit dan enggan untuk turun melihat langsung ke lapangan. Kalaupun ada yang turun langsung ke lapangan, hanya segelintir saja dari mereka, itupun sekadar formalitas saja. Tak pernah benar-benar mau turun ke lapangan, hidup dan merasakan langsung kultur pertanian tembakau dalam jangka waktu cukup lama di lapangan.<\/p>\n\n\n\n

Baca juga: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Fenomena ini membikin kita tak bisa melihat mereka para anti-rokok kecele lalu menertawakan mereka.<\/strong> Fenomena keengganan terjun langsung ke lapangan terlebih mencoba mendengar mereka yang tetap menanam tembakau, juga menjalani keseharian dalam waktu cukup lama bersama petani tembakau inilah yang saya kira menjadikan mereka tetap keras kepala untuk anti-rokok dan anti-tembakau. Karena jika mereka mau melakukan itu, saya yakin mereka semua tidak akan begitu kaku dalam memandang pertanian tembakau dan produk hasil industri tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu yang selalu mereka kampanyekan dan ngotot dengan itu, terkait hulu pertanian tembakau adalah mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya. Mereka berargumen banyak tanaman lain yang bisa semenguntungkan tanaman tembakau. Keengganan mereka terjun langsung ke lapangan inilah yang membikin mereka buta dengan kondisi pertanian tembakau dan pada akhirnya terus menerus mengampanyekan pergantian tanaman tembakau dengan tanaman lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca juga: Imanlah kepada Allah, Bukan Antirokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tembakau tanaman yang khas. Ia hanya tumbuh baik sepanjang empat hingga lima bulan dalam satu tahun. Tumbuh-kembang tanaman tembakau dengan baik itu umumnya terjadi pada musim kemarau setiap tahunnya. Hanya sedikit sekali jenis tembakau yang tumbuh baik di musim penghujan, mayoritasnya, tumbuh baik pada musim kemarau.<\/p>\n\n\n\n

Jika ditanam pada musim hujan, hampir bisa dipastikan tanaman tembakau akan gagal menghasilkan daun-daun yang berkualitas. Ia akan rusak dan membusuk karena terlalu banyak terkena air sehingga daun-daun itu tak layak dijual. Jangankan bisa dijual, untuk tumbuh dengan baik pun sepertinya sulit karena musim hujan akan membunuh banyak tanaman itu.<\/p>\n\n\n\n

Maka, tak heran pada musim-musim seperti saat ini, ketika musim penghujan mendekati puncaknya, di wilayah-wilayah yang dikenal sebagai sentra pertanian tembakau, sulit menemukan pohon tembakau yang sedang tumbuh. Pada lahan-lahan yang sebelumnya ditumbuhi tanaman tembakau pada musim panas, berganti tanaman-tanaman lain yang bermacam-macam, sesuai dengan kondisi lahannya. Untuk lahan sawah, lahan-lahan itu pada musim penghujan kini ditumbuhi tanaman padi yang subur. Pada lahan tegalan dan lahan di pegunungan, lahan-lahan yang ditanami tembakau pada musim kemarau, saat ini ditumbuhi bermacam jenis tanaman mulai dari cabai, bawang, tomat, kol, terong, mentimun, dan ragam jenis tanaman semusim lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Uniknya, tipikal tanaman tembakau yang tumbuh baik di musim kemarau ini memberi pilihan lebih kepada para petani. Lahan-lahan yang sulit ditanami pada musim kemarau, pada akhirnya masih bisa tetap produktif dengan keberadaan tanaman tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Maka, kampanye aneh mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain dengan ragam rupa dalih yang membingungkan, bukan saja sama sekali tidak tepat dan asal-asalan, namun bisa jadi akan ditertawakan oleh para petani yang begitu paham dengan kondisi lahan dan terutama kondisi iklim dan cuaca. Sulit mencari tanaman semusim yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Jika pun ada, tak ada yang semenguntungkan tanaman tembakau.
<\/p>\n","post_title":"Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"keberhasilan-gerakan-anti-tembakau-tak-ada-tembakau-saat-musim-hujan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-07 12:16:02","post_modified_gmt":"2019-02-07 05:16:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5415","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5409,"post_author":"919","post_date":"2019-02-05 08:04:43","post_date_gmt":"2019-02-05 01:04:43","post_content":"\n

Tahun Baru Imlek yang merupakan tradisi Bangsa Tiongkok kini sudah tak lagi menjadi hal yang asing bagi masyarakat Indonesia. Kehadirannya sudah mewarnai dan berakulturasi dengan tradisi lokal. Menjelang Tahun Baru Imlek. Berbagai hiasan dan kemeriahan terjadi beberapa titik di Tanah Air. Perayaannya juga menjadi destinasi baru yang mengasyikkan untuk dilihat dan patut disaksikan.<\/p>\n\n\n\n

Berterimakasihlah kepada sang bapak bangsa, KH Abdurrahman Wahid atau yang dikenal dengan nama Gus Dur. Berkat kebijakannya saat menjadi Presiden Indonesia, Tahun Baru Imlek resmi dijadikan hari libur nasional dan dianggap sebagai salah satu hari raya di Tanah Air. Meski sentimen antitionghoa masih ada di sana-sini, tapi tetap tak bisa dipungkiri bahwa bangsa tionghoa sudah bersentuhan dengan budaya lokal dalam kurun waktu yang sangat panjang.<\/p>\n\n\n\n

DNA Bangsa Tionghoa yang memang merupakan pedagang menjadi pembuka kisah interaksi antara nenek moyang berbagai suku di Nusantara dengan mereka. Beberapa kelenteng-kelenteng yang tersebar pada berbagai pesisir daerah di Nusantara jadi buktinya. Pelabuhan-pelabuhan tua di tanah air dan ramainya perdagangan di pesisir mempermudah bangsa kita berhubungan dengan Bangsa Tionghoa.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Wong Kalang dan Kota Gede<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa kehadiran Bangsa Tionghoa di Nusantara tak hanya sebagai pedagang, namun juga sebagai pekerja (bahkan hingga pekerja kasar). Benny Setiono, seorang sejarahwan menyebutkan bahwa antara tahun 1760-1770 dalam jumlah yang besar memasuki nusantara melalui Kalimantan Barat. Mereka bekerja sebagai kuli pertambangan di sana dan di kemudian hari membentuk sebuah republik bernama Republik Lanfang yang konon katanya menjadi republik pertama di Asia Tenggara.<\/p>\n\n\n\n

Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Imlek dan Indonesia<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n\n\n\n

Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
<\/p>\n","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5406,"post_author":"877","post_date":"2019-02-04 08:23:48","post_date_gmt":"2019-02-04 01:23:48","post_content":"\n

Merokok itu sudah menjadi bagian dari budaya dan tradisi masyarakat, jauh sebelum Indonesia merdeka. Banyak cerita atau kisah tentang kretek <\/a><\/del>di tengah-tengah masyarakat bangsa ini, mulai sebagai alat untuk meraup keuntungan, alat komunikasi, sebagai teman sampai menjadi simbol pergerakan. <\/p>\n\n\n\n

Kretek, Simbol Perlawanan Roro Mendut<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Siapa yang tidak pernah mendengan cerita tentang Roro Mendut?, di telinga masyarakat Indonesia, kisah Roro Mendut tidak asing lagi.  Perempuan yang mempunyai paras wajah cantik, dan digandrungi kaum adam terutama kalangan putra kerajaan. Informasi kecantikan Roro Mendut tersebar seantero Nusantara, tidak satupun pria meragukan kecantikannya.  Bahkan kisah dan cerita kecantikan Roro Mendut tercatat dalam buku Babad Tanah Jawi. <\/p>\n\n\n\n

Diperkirakan pada tahun 1627, pada saat panglima perang Sultan Agung Mataram bernama Tumenggung Wiraguna berhasil menumpas pemberontakan di kota Pati, sebagai imbalanan atas keberhasilannya, mendapat hadiah wanita pujaan pria bernama Rara Mendut dari Kasultanan Agung Mataram.  Roro Mendut menolak dipinang Tumenggung Wiraguna, dan secara terang-terangan memilih pria lain dambaannya. Akibatnya, Roro Mendut harus membayar pajak setiap harinya kepada kerajaan Mataram. <\/p>\n\n\n\n

Bisa dibayangkan, betapa bingungnya Roro Mendut saat itu. Uang dari mana, ia hasilkan untuk bayar pajak tiap hari demi bisa bersama kekasihnya. Ternyata Roro Mendut tidak hanya cantik tetapi cerdas dan kreatif, bisa membaca peluang bisnis saat itu. Ide cermerlang muncul dengan berdagang\/berjualan rokok lintingan yang direkatkan dengan air ludahnya, dan sebelum menjualnya, rokok lintingan di sulut dahulu dan dihisap bekas bibir merahnya. Kemudian baru dijual ke pembeli yang berdesakan berjejer antri. <\/p>\n\n\n\n

Entah dari mana ide menjual rokok itu muncul. Yang jelas saking larisnya, kewajiban pajak Roro Mendut terpenuhi. Dan mungkin keadaannya akan lebih parah, jika saat itu Roro Mendut tidak berdagang rokok. Tidak akan terpenuhi kewajiban pajaknya. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Dengan rokok, hidup Roro Mendut terselamatkan. Adanya rokok, \u00a0Roro Mendut bebas dari belenggu kekuasaan. Berkat rokok, Roro Mendut terkengan, mengisi rubik informasi sejarah begitu kuatnya budaya merokok di \u00a0Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Pusaka Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek, Teman Perjuangan  Diponegoro<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Semasa berjuang melawan penjajah, yang harus dilakukan Diponegoro berpindah-pindah dari kota satu ke kota lain. Strategi perlawanan Diponegoro, kemudian sebagai basis strategi perang gerilya. Strategi yang menjadi idola dan kebanggaan tentara Indonesia. Dengan bergerilya, tentara Indonesia mampu mengecoh kekutan lawan yang lebih besar jumlahnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu, tenyata banyak cerita, Diponegoro saat berperang ditemani rokok. Ia dan pasukannya gemar merokok. Bahkan ketika tidak ada rokok, Pangeran Diponegoro rela hanya megunyah daun sirih yang diracik dengan kapur dan pinang. <\/p>\n\n\n\n

Kebiasaan ini, juga dialami oleh pengikut \/pasukan perang Pangeran Diponegoro. Bagi mereka, rokok teman sejati, menemani disetiap perjalanan mereka. Rokok menghilangkan depresi mereka, sebagai hiburan saat jauh dari keluarga demi berjuang melawan penjajah. Rokok menumbuhkan percaya diri mereka, lebih berani melawan penjajah walaupun hanya dengan serba keterbatasan, pasukan jumlah terbatas, alat perang terbatas dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Baca juga: Pangeran Diponegoro, Rokok Klobot dan Perlawanan Simbolis<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Jati Diri Bangsa<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Salah satu \u201cpendiri bangsa\u201d bernama KH. Agus Salim menghisap kretek dengan asapnya di kebal-kebulkan keudara, disaat ada perjamuan di Istana Buckingham ketika penobatan Elizabeth II sebagai Ratu kerajaan Inggris. Aroma khas keluar dari asap rokok kretek, tercium orang yang berada di ruang perjamuan. Sehingga memancing salah satu orang yang datang dalam perjamuan, dengan berkata; \u201ctuan sedang menghisap apa itu?\u201d.  Sentak KH. Agus Salim menjawab, \u201c inilah yang membuat nenek moyang anda sekian abad lalu datang dan kemudian menjajah negeri kami\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Jawaban KH. Agus Salim, faktanya memang benar. Rokok kretek tidak lain ada tambahan cengkeh (suzygium aromaticum<\/em>). \u00a0Tanaman legendaris menjadi rebutan dan sumber keuntungan kolonialisme Eropa atas Asia termasuk Indonesia. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Cengkeh adalah salah satu tanaman yang diperebutkan bangsa-bangsa dunia, sampai melegalkan penjajahan.  Dalam simpulan perjalanan ekspedisi cengkeh tahun 2013, Kepala Suku begitu julukan bagi Putut Ea, mengatakan \u201c jika saja tak pernah ada cengkeh dan pala di Maluku, mungkin sejarah kepulauan Nusantara ini akan berbeda sama sekali\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Simpulan Putut EA, sebagai salah satu pembenar perkataan \u00a0KH. Agus Salim. Mungkin, jika tanaman cengkeh tidak ada, fakta sejarah akan berbeda, tidak ada penjajahan di bumi Nusantara ini. <\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Mengisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek untuk Berteman dan Menjalin Persaudaraan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Teringat apa yang pernah dilakukan Menteri Sosial dan Lingkungan Hidup, saat melakukan pendekatan pada suku anak dalam di Jambi. Tidak lain ia adalah Khofifah menteri perempuan yang energik. Saat itu Khofifah bertanggungjawab dalam mengatasi masalah pendidikan dan kesejahteraan masyarakat suku anak dalam di Jambi.  <\/p>\n\n\n\n

Kebijakannya membuat fenomenal, selain bahan makanan, dan bantuan lain, khofifah juga membawa rokok.  Yang kemudian ada yang mengggugat dari anti rokok, tetapi sebagai Menteri, Khofifah tentunya sudah mengkaji secara mendalam. Dengan kecerdasannya , Khofifah menjawab dengan tegas dan lugas, \u201cjangan sok tahu kehidupan mereka, kenali apa yang menjadi ritme kehidupan mereka. Sangat bijaksana kalau kita semua pergi kesana, sehingga tahu adat istiadatnya juga. Tolong kalau ingin mengerti tentang kultur jangan hanya dari kacamata Jakarta. Saya pun ingin mengajak anda kesana, turun kesana, sapalah mereka\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Khofifah memberikan pelajaran bagi anti rokok. Tidak boleh sok tahu, apalagi selama ini antirokok hanya berasumsi, tanpa melihat fakta dilapangan. Khofifah juga menganjurkan agar lebih mengenal adat-istiadat, budaya dan tradisi masyarakat, tidak boleh melakukan hegemoni kultural, sebab keberagaman adat-istiadat dan budaya merupakan kekayaan negeri. <\/p>\n\n\n\n

Pelajaran Khofifah sangat mendalam dan bercirikhas Nusantara. Sebgaai Menteri \u00a0Sosial tentunya lebih berpengalaman apa yang dibutuhkan bangsa ini agar tetap jaya, bersatu dan utuh. Kenali perbedaan, hormati perbedaan, junjung tinggi budaya yang berbeda. \u00a0Apa yang telah dilakukan Khofifah dengan membawa rokok ke suku anak dalam adalah cermin penghormatan tradisi dan budaya masyarakat. Sebagai seorang Mentri, tentunya punya kuasa, artinya bisa seorang khofifah memberikan bantuan sesuai keinginannya sendiri, namun hal itu tidak dilakukan. Ia lebih mengedepankan penghormatan budaya masyarakat setempat, dengan membawa rokok untuk pendekatan dan pertemanan. Karena Khofifah tahu betul, bahwa merokok adalah budaya mereka, yang diwaris dari neneng moyang mereka. <\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Memilih Jalan Hidup Menikmati Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Simbol Pergerakan Nasional     <\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Abdul Rifa\u2019I dalam media bintang timur terbit pada 03 Oktober 1927, mengatakan, \u201ckopinya bukan kopi saringan, tetapi kopi tubruk sebab kopi ini katanya nationaal, gulanya gula jawa, susu tidak dipakai karena tidak nationaal. Rokoknya kelobot, selamatan natioanaal ini terus berlangsung ed sampai pagi hari\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Semangat nasionalisme harus tertanam, mengedepankan produk lokal adalah salah satu semangat nasionalime. Salah satu keberadaan rokok klobot menjadi ciri produk asli indonesia dan harus dilestarikan. Klobot sendiri adalah ramuan tembakau dan cengkeh di gulung memakai daun jagung, embrio perkembangan menjadi rokok sigaret kretek tangan dan sigaret kretek mesin.  
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pusaran Budaya Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pusaran-budaya-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-04 08:40:41","post_modified_gmt":"2019-02-04 01:40:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5406","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5403,"post_author":"919","post_date":"2019-02-03 09:05:50","post_date_gmt":"2019-02-03 02:05:50","post_content":"\n

Seringkali saya menyaksikan berbagai film baik itu Eropa atau Asia yang menggambarkan tentang masa depan. Pemandangan soal masa depan tersebut dihadirkan dengan gambaran kecanggihan teknologi seperti robot yang akan membantu kehidupan manusia, gedung-gedung yang tingginya sudah amat tak bisa ditandingi,  hingga mobil-mobil yang bisa terbang. <\/p>\n\n\n\n

Pernah dalam masa kecil saya menyaksikan sebuah film animasi buatan jepang yang mempertanyakan tentang makanan di masa depan. Dengan santai salah satu tokoh yang berasal dari masa depan itu menjawab bahwa suatu saat nanti manusia akan mengonsumsi makanan berupa pasta gigi namun dengan rasa yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa, aneh!<\/p>\n\n\n\n

Seiring waktu berjalan saya kian tumbuh dewasa dan punya kesadaran untuk memilih menjadi seorang perokok<\/a>. Saya juga melihat ada sebuah inovasi dan gambaran tentang masa depan yang hadir dalam kehidupan sekarang. Banyak memang, namun yang menyita perhatian saya adalah rokok elektrik atau yang populer disebut Vape. Konon katanya ia adalah produk inovasi untuk menjembatani kebutuhan menghisap asap dan kecanggihan masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Di awal kehadirannya Vape memang mengundang decak kekaguman saya. Bagaimana bisa sebuah mesin kecil mengeluarkan asap yang katanya lebih menyehatkan daripada rokok.<\/strong> Meski pada akhirnya teori tersebut juga bisa dibantah oleh beberapa ilmuan dunia. Tapi ada satu yang saya amati selain soal kesehatan, rokok elektrik rupanya menghadirkan kultur dan budaya baru dalam kehidupan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: LAGI-LAGI IKLAN ROKOK, KAPAN KPAI TIDAK TEBANG PILIH? <\/a><\/h4>\n\n\n\n

Kehadiran teknologi memang kerap sedikit atau benyak mengubah gaya atau kultur suatu masyarakat. Begitu pula yang saya perhatikan dengan rokok elektrik. Satu hal yang mudah diamati adalah menjamurnya toko-toko kecil yang menjual vape serta liquid di berbagai tempat. Sebagai sebuah warna baru dalam masyarakat, penggunanya ramai-ramai mengunjungi tempat tersebut berinteraksi dengan penikmat lainnya dan membangun sebuah rumah komunitas yang fleksibel.<\/p>\n\n\n\n

Meski belum bisa dikatakan memiliki jumlah penikmat yang setara dengan para perokok, pengguna Vape mulai menunjukkan eksistensinya. Selain toko yang tersebar, ragam acara juga mereka buat di beberapa daerah. Dalam lingkungan saya, beberapa teman yang dulunya merupakan perokok aktif tertarik mengikuti event tersebut dan beralih mengisap rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Nun jauh di sana, di Amerika Serikat tepatnya, budaya Vape juga sudah mulai berkembang lama ketimbang di Tanah Air. Penikmatnya terbagi menjadi dua, ada yang dulunya bekas perokok dan ada yang memang menikmatinya sebagai gaya hidup. Wajar saja mengingat facebook tak memperbolehkan iklan tembakau di platform mereka, sebaliknya iklan tentang vape justru bertebaran. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi budaya baru yang berkembang di berbagai belahan dunia bahkan di Indonesia, Vape konon menjadi alternatif yang lebih bermanfaat daripada rokok. Dalih yang diusung selalu sama kepada para perokok tradisonal yaitu soal kesehatan dan lebih irit. Soal kesehatan tentu ada beberapa pendapat para ilmuan yang membantahnya, namun soal irit, saya rasa tidak. Memang satu liquid bisa digunakan untuk beberapa Minggu, akan tetapi yang saya lihat di lapangan justru sebaliknya. <\/p>\n\n\n\n

Beberapa penikmat rokok elektrik kerap berbelanja liquid yang mereka idamkan. Terkadang, hal tersebut yang membuat mereka boros karena terus mengeksplor rasa mana yang mereka idam-idamkan. Tak jarang juga liquid dengan harga mahal hingga ratus ribuan akan mereka beli. Sebaliknya, para perokok konvensional justru kerap bertahan dengan satu rasa atau merek saja.<\/p>\n\n\n\n

Sedikit berbeda dengan penikmat rokok konvensional atau kretek. Mengingat rokok kretek sudah menjadi kebudayan lokal yang terus dipertahankan selama bertahun-tahun, kehadirannya sudah mewarnai khasanah keindonesiaan. Perokok kretek juga sudah punya soliditas luar biasa yang terbentuk sejak lama dan terus terbangun mengiringi peradaban di Indonesia atau dunia.<\/p>\n\n\n\n

Kini, perokok elektrik mulai merasakan kegelisahan. Beberapa negara mulai menerapkan peraturan ketat terhadap Vape, sedangkan di Indonesia biaya cukai pun kini mulai diberlakukan terhadap perdagangan rokok elektrik. Keberadaannya di mata negara pun mulai dianggap sama seperti rokok, meski pada awalnya rokok elektrik hadir dengan slogan-slogan produk alternatif yang lebih menyehatkan (katanya).<\/p>\n\n\n\n


Tapi jika kemudian di masa depan memang rokok elektrik yang kemudian menjadi sesuatu yang populer dan dinikmati banyak orang. Rasanya saya tetap ingin hidup di jaman ini, dengan sebatang kretek di tangan dan menikmati segala khasanah kebudayaan yang patut terus dipertahankan. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"masa-depan-rokok-elektrik-dan-semangat-alternatif-yang-sia-sia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-03 09:05:56","post_modified_gmt":"2019-02-03 02:05:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5403","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5385,"post_author":"883","post_date":"2019-02-02 08:01:01","post_date_gmt":"2019-02-02 01:01:01","post_content":"Pada tahun 2014, perusahaan rokok multinasional Philip Morris Internasional Inc. merilis sebuah produk <\/span>perangkat\u00a0<\/span>
rokok<\/span><\/a>\u00a0tanpa asap, yang dipanaskan bukan dibakar atau istilahnya\u00a0<\/span>heat not burn<\/i><\/strong>\u00a0(HNB) iQOS<\/strong>. <\/span>\r\n\r\nPerangkat rokok tanpa asap dengan nama iQOS<\/a> ini berbentuk seperti bagian luar pulpen, dengan lubang di tengah untuk rokok. Produk yang berada di bawah brand Marlboro ini dapat memanaskan rokok sampai 350 derajat celcius lalu mengeluarkan uap nikotin beraroma tembakau<\/em><\/a>.<\/span>\r\n

Produk iQOS sebenarnya bukanlah produk rokok tanpa asap yang pertama muncul. Sebelumnya di tahun 1990-an, Reynolds Tobacco Co pernah merilis produk serupa bernama Eclipes yang juga dapat menguapkan nikotin setelah dinyalakan dengan korek api.<\/span><\/blockquote>\r\nSelain itu, Eclips juga dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. Namun, pada saat itu Eclips tidak diminati oleh pasar, utamanya para perokok konvensional. Meskipun Eclips dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. <\/span>\r\n\r\nBisnis semacam rokok tanpa asap seperti Eclips dan iQOS memang sudah menjadi bagian dari rencana panjang bisnis perusahaan-perusahaan rokok multinasional. Jadi tidak usah heran jika ke depannya akan kita akan banyak menemukan produk rokok tanpa asap ini.<\/span>\r\n\r\nWatak dari perusahaan multinasional memang seperti itu, mereka sangat jeli melihat peluang pasar ke depannya. Ketika market place perusahaan rokok multinasional saat ini terus dirongrong oleh kelompok antirokok, mereka tak kehabisan akal. Maka kemudian mereka menginovasi produk rokok konvensional menjadi rokok yang tidak berasap. Begitupun dengan mengikutsertakan jargon-jargon kesehatan dalam narasi promosi mereka.<\/span>\r\n\r\nSesungguhnya memang seperti itulah watak bisnis perusahaan-perusahaan multinasional, melakukan segala cara agar bisnis mereka tetap bertahan, meskipun harus merangkul musuh sekalipun. <\/span>\r\n\r\nYa kadang pura-pura berantem sama antirokok, tapi dibalik itu sebenarnya baik-baik saja, dan tentunya ada kompromi untuk terus melanggengkan bisnis mereka.<\/span>\r\n

Lalu siapa yang dirugikan dari permainan bisnis macam produk rokok tanpa asap perusahaan rokok multinasional ini?<\/span><\/h3>\r\nTentunya yang sangat dirugikan adalah produk hasil tembakau yang memiliki kekhasan seperti kretek di Indonesia. Kretek sebagai produk khas asli Indonesia yang menjadi bagian dari warisan kebudayaan tidak mungkin bertransformasi menjadi produk-produk elektrik dan sejenisnya.<\/span>\r\n\r\nKretek tetaplah kretek, dengan bahan baku alami tembakau dan cengkeh yang tidak diintervensi dengan zat atau perangkat penghantar lainnya. Karena dengan bentuk, karakter dan cara menikmatinya memang konvensional dan akan terus begitu apapun kondisi dan zamannya.<\/span>\r\n
Bisnis produk rokok tanpa asap (elektrik) juga menghajar kretek dengan mendompleng isu pengendalian tembakau. Kampanye pengendalian tembakau selalu membawa slogan bahaya merokok dan upaya untuk berhenti merokok. <\/span><\/blockquote>\r\nDari isu tersebut, rokok elektrik masuk dengan citra produk alternatif tembakau, bahkan mereka tak segan menilai bahwa rokok elektrik lebih aman ketimbang rokok konvensional, yakni kretek.<\/span>\r\n\r\nLalu jika Indonesia akan dibanjiri dengan produk-produk yang mengatasnamakan produk alternatif tembakau, macam rokok tanpa asap (iQOS dan sejenisnya), maka itulah pertanda bahwa kretek harus tergerus dari cara hidup manusia Indonesia dalam menikmati produk hasil tembakau khas Indonesia yang sudah turun-temurun lamanya dinikmati manusia Indonesia.<\/span>","post_title":"Nasib Kretek di Pusaran Pertarungan Bisnis Global Perusahaan Rokok Multinasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"nasib-kretek-di-pusaran-pertarungan-bisnis-global-perusahaan-rokok-multinasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-02 08:01:43","post_modified_gmt":"2019-02-02 01:01:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5385","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; \n

Adapun pala, berasal dari empat pulau kecil lainnya di tengah Laut Banda: Lonthor, Neira, Rhun, dan Ai. Pada penjelasan peta abad-16 oleh penjelajah dari Semenanjung Iberia, Fransisco Rodriguez, tertulis: \u201cEstas quatro Ilhas Azures suam as de molluquo homde nace ho crauzo\u201d<\/em> (Adalah empat pulau berwarna biru [dalam peta] yang disebut sebagai Kepulauan Maluku di mana rempah-rempah berasal) (Pires, 1512- 1515:213).
<\/p>\n\n\n\n

Sejak beberapa abad sebelum Masehi, adalah para saudagar Arab --melalui Samudera Hindia melintasi Iskandariyah dan Laut Tengah-- serta para pedagang Cina --melalui jalur \u2018Jalan Sutra\u2019 melintasi Asia Tengah dan Asia Barat-- yang membawa dan memperkenalkannya ke daratan Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Bandar-bandar besar Tyre di Yunani dan Venesia di Italia menjadi pelabuhan utama rempah-rempah Maluku memasuki kehidupan dan peradaban Eropa. Selain sebagai bumbu masakan, rempah obat, dan ramuan wewangian, cengkeh dan pala juga menjadi bahan utama pengawet bahan pangan. [2]
<\/p>\n\n\n\n

Inilah yang membuat orang-orang Eropa untuk pertama kalinya dapat mengawetkan dan menimbun makanan selama bermusim-musim. Prosa indah Blair bersaudara menggambarkannya dengan sangat baik:
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKemampuan menyimpan makanan lebih dari yang kami makan sekaligus berarti kemampuan menjual dan membelinya dalam jumlah besar --dan kota-kota dagang pun mekar. Perekonomian yang dihasilkannya mengarahkan kami ke zaman Pencerahan dan kemudian Revolusi Industri. Tak lama setelah kami menghirup aroma yang sangat kuat dari Timur itu dan mengubah kimiawi makanan kami, maka kami pun mampu melakukan lompatan besar dalam bidang budaya dan seni.\u201d (Blair & Blair, 2010; 30-31).<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh dan Kelapa di Kepulauan Anambas<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Bukan hanya membuat perekonomian dan perdagangan serta ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang, cengkeh dan pala bahkan adalah faktor yang paling menentukan dalam kemunculan satu babakan paling mengenaskan dalam sejarah politik dunia, yakni zaman penjajahan (kolonialisme) Eropa, terutama atas-atas negeri- negeri Asia Selatan, Timur dan Tenggara, termasuk Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Tergerak oleh sahwat menguasai rempah-rempah yang menggiurkan itu, bangsa-bangsa Eropa --terutama Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda-- pun menggelar ekspedisi-ekspedisi besar untuk menemukan cengkeh dan pala langsung di tanah asalnya. Ketika armada-armada mereka akhirnya mencapai perairan Kepulauan Maluku, pada abad-16, perang pun tak terhindarkan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka silih berganti saling mengalahkan, tetapi pemenang terakhir adalah Belanda. Melalui Perusahaan Dagang Hindia Timur (Vereenigde Oostindische Compagnie, VOC) yang dibentuk pada awal abad-17 (tepatnya tahun 1609), Belanda melancarkan ekspedisi Pelayaran Hongi (Hongie Tochten), untuk memusnahkan semua tanaman cengkeh di Ternate, Tidore, Moti, dan Makian, lalu membatasi ketat penanamnya hanya di Pulau-pulau Ambon dan Lease --yang lebih dekat ke Banda sebagai pusat pemerintahan mereka sebelum akhirnya dipindahkan ke Batavia.
<\/p>\n\n\n\n

Praktis, sejak akhir abad-16, Belanda pun menguasai penuh perdagangan rempah-rempah Maluku dengan jumlah produksi rerata 2.500 sampai 4.500 ton per tahun. [3]<\/p>\n\n\n\n

Baca: Budidaya Pohon Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Meskipun peran utama rempah-rempah Maluku itu kemudian tergusur pada abad-18 dan 19 oleh beberapa barang eksotika tropis lainnya --hasil perkebunan-perkebunana besar baru di Pulau Sumatera dan Jawa: tebu, tembakau, lada, kopi, teh, nila, kelapa sawit, dan kayu jati-- namun sejarah sudah mencatat bahwa dua jenis rempah-rempah Maluku itulah yang mengawali penjelajahan sekaligus penjajahan kepulauan Nusantara oleh bangsa-bangsa Eropah, terutama Belanda (Topatimasang, ed., 2004:32). Jika saja tak pernah ada cengkeh dan pala di Maluku, mungkin sejarah kepulauan Nusantara ini akan berbeda sama sekali.
<\/p>\n\n\n\n

Masa suram cengkeh dan pala terus berlangsung sampai pertengahan abad-20. Rempah eksotika yang pernah membuat tergila-gila<\/p>\n\n\n\n

para saudagar Arab, pedagang Cina, serta kaum ningrat Eropa itu, tergantikan perannya oleh penemuan teknologi mesin pendingin berkat Revolusi Industri yang dimulai di Inggris pada pertengahan abad-18. Pasaran cengkeh di Eropa pun merosot tajam.
<\/p>\n\n\n\n

Nasibnya terselamatkan berkat penemuan oleh seorang Haji Djamhari di Kudus, Jawa Tengah. Pada akhir tahun 1880-an, Haji Djamhari menemukan kegunaan baru cengkeh sebagai ramuan utama rokok. Lahirlah satu produk baru yang unik, khas dan asli Indonesia: kretek! (Hanusz, 2000:ii).
<\/p>\n\n\n\n

Setelah seperempat abad hanya berkembang dalam skala kecil usaha rumah tangga, produksi kretek akhirnya menjelma menjadi industri besar sejak awal abad-20 yang dirintis oleh Haji Nitisemito (pendiri pabrik \u2018Jambu Bol\u2019) di Kudus dan Liem Seng Tee (pendiri pabrik \u2018Dji Sam Soe\u2019 dan \u2018Sampoerna\u2019) di Surabaya.
<\/p>\n\n\n\n

Puncaknya adalah pada pertengahan tahun 1950-an, ketika produksi kretek mulai berkembang pesat menjadi industri raksasa modern dengan munculnya beberapa pabrik baru, antara lain, yang terkemuka, oleh Oei Wei Gwan (pendiri pabrik \u2018Djarum\u2019) di Kudus dan Tjou Ing Hwie (pendiri pabrik \u2018Gudang Garam\u2019) di Kediri (Topatimasang, et.al., eds., 2010:131).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Teruslah Menanam Tembakau dan Cengkeh, Wahai Petani Indonesia<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Cengkeh, bahan baku paling esensial dari kretek --selain tembakau, tentu saja-- pun kembali berjaya. Bahkan, sejak dasawarsa 1970an, telah menjadi salah satu penyumbang terbesar keuangan negara Republik Indonesia. Pada tahun 2012 dan 2013, pemasukan cukai dari industri kretek mencatat 95,5% dari seluruh pemasukan cukai ke kas negara. Nilainya tak tanggung-tanggung: Rp 87 triliun! (el-Guyanie, et.al.: 2013:4-5).<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Nilai ekonomisnya yang sangat besar sempat menggoda penguasa otoriter rezim Presiden Soeharto, pada 1990-an, memberlakukan satu kebijakan \u2018Hongi Gaya Baru\u2019: monopoli perdagangan cengkeh dalam negeri melalui Badan Penyanggah dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) yang sangat merugikan petani. Harga cengkeh di tingkat petani penghasil anjlok sampai hanya Rp 2.000 - 3.000 per kilogram, lebih murah dari harga sebungkus kretek yang dihasilkan darinya.
<\/p>\n\n\n\n

Akibatnya, ratusan ribu pohon cengkeh di daerah-daerah penghasil utama --Maluku, Maluku Utara, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Selatan-- ditebangi atau dibiarkan terlantar tak terurus.
<\/p>\n\n\n\n

Gelombang reformasi sistem politik dan hukum nasional yang dimulai pada tahun 1998, akhirnya menjungkalkan rezim Soeharto dan BPPC dibubarkan, Pelan tapi pasti, harga cengkeh kembali merangkak naik, sehingga pada tahun 2012, bahkan melewati angka Rp 200.000 per kilogram. Para petani cengkeh di seluruh negeri kembali tersenyum. Tetapi, sampai kapan? <\/p>\n\n\n\n

Catatan:<\/strong><\/p>\n\n\n\n

[1] Beberapa sumber menyebutkan bahwa kata \u2018cengkeh\u2019 dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Mandarin, tkeng-his atau xi\u2019jia, yang berarti \u2018rempah [berbentuk mirip] paku\u2019 (scented nails). Ini menunjukkan bahwa cengkeh sudah dikenal sejak lama oleh bangsa Cina --diketahui sejak abad-2-- jauh sebelum orang Eropa mengenalnya ((lihat, misalnya: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n\n\n\n

[2] Catatan-catatan para biarawan Fransiskan --yang disalin dan dikutip oleh van Frassen-- bahkan menyebut cengkeh sebagai salah satu bahan utama pengawet mumi para Fir\u2019aun, penguasa Mesir Kuno. Beberapa pakar sejarah dan arkeologi menyatakan bahwa rempah-rempah Maluku bahkan sudah ditemukan artefaknya di Lembah Mesopotomia (wilayah Iraq dan sekitarnya sekarang) pada 3.000 tahun sebelum Masehi. (lihat, antara lain: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n\n\n\n

[3] Uraian lebih rinci sejarah kolonialisme rempah-rempah Nusantara ini, terutama oleh Belanda dan Portugis, dapat dibaca pada beberapa sumber kepustakaan yang sudah dikenal luas, antara lain: Glamann (1958) dan Boxer (1965 dan 1969). Dalam risalah klasik Pires disebutkan bahwa pada tahun 1512-1521 saja, jumlah produksi cengkeh di Maluku sudah mencapai 7.250 bahar per tahun, terbesar adalah di Makian serta Amboina dan Lease (masing-masing 1.500 bahar)(Pires, 1512-1515).<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem Topatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-10 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-02-10 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5425","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5415,"post_author":"878","post_date":"2019-02-07 12:15:55","post_date_gmt":"2019-02-07 05:15:55","post_content":"\n

Belakangan ini, ketika musim hujan tiba, di Kabupaten Temanggung, Kabupaten Jember, dan beberapa wilayah sentra pertanian tembakau lainnya, hampir mustahil menemukan tanaman tembakau tumbuh di lahan-lahan milik petani. Di wilayah-wilayah tersebut, citra sebagai sentra pertanian tembakau seakan menguap. Lahan-lahan yang ada di sana, sama sekali tidak ditumbuhi tanaman tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Kabar ini bisa jadi dianggap sebagai kabar gembira bagi mereka yang menganggap diri dan kelompoknya anti-rokok dan anti-tembakau yang selalu mengampanyekan sikap-sikap mereka terkait kebencian kepada tembakau dan aktivitas merokok. Setelah sekian lama berjuang, akhirnya perjuangan mereka dirasa berhasil usai menyaksikan fenomena lahan-lahan di wilayah yang dianggap sentra pertanian tembakau pada hari-hari belakangan ini.<\/p>\n\n\n\n

Baca juga: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tak sia-sia turun ke jalan, tak sia-sia melakukan lobi-lobi ke penguasa, tak sia-sia mengucurkan uang yang tidak sedikit, dan tak sia-sia mempermalukan diri dengan mengemis ke lembaga donor asing dan menggondol uang dari cukai tembakau untuk mengampanyekan gerakan anti-rokok dan anti-tembakau. Tak sia-sia. Karena perjuangan sepertinya berhasil.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Kampanye-kampanye gerakan mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya, sepertinya juga sangat berhasil. Bagaimana tidak? Wilayah-wilayah yang sebelumnya penuh dengan tanaman tembakau dan bergeliat dengannya, kini lahan-lahannya sudah berganti dengan tanaman lain. Sebuah keberhasilan yang menggembirakan. Begitu mungkin pikir mereka para yang menganggap dirinya pejuang anti-rokok dan anti-tembakau. Dan tentu saja mereka akan kecele dan kita akan menertawakan hal itu.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, mereka yang menganggap dirinya anti-rokok dan anti-tembakau tidak menyaksikan langsung fenomena ini di lapangan, di lahan-lahan yang peruntukannya berubah pada hari-hari belakangan ini ketika memasuki musim hujan. Mereka asyik duduk pada kursi empuk di ruang-ruang nyaman ber-AC di kota-kota yang jauh dari kultur pertanian. Mereka menyengajakan diri menjadi elit dan enggan untuk turun melihat langsung ke lapangan. Kalaupun ada yang turun langsung ke lapangan, hanya segelintir saja dari mereka, itupun sekadar formalitas saja. Tak pernah benar-benar mau turun ke lapangan, hidup dan merasakan langsung kultur pertanian tembakau dalam jangka waktu cukup lama di lapangan.<\/p>\n\n\n\n

Baca juga: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Fenomena ini membikin kita tak bisa melihat mereka para anti-rokok kecele lalu menertawakan mereka.<\/strong> Fenomena keengganan terjun langsung ke lapangan terlebih mencoba mendengar mereka yang tetap menanam tembakau, juga menjalani keseharian dalam waktu cukup lama bersama petani tembakau inilah yang saya kira menjadikan mereka tetap keras kepala untuk anti-rokok dan anti-tembakau. Karena jika mereka mau melakukan itu, saya yakin mereka semua tidak akan begitu kaku dalam memandang pertanian tembakau dan produk hasil industri tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu yang selalu mereka kampanyekan dan ngotot dengan itu, terkait hulu pertanian tembakau adalah mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya. Mereka berargumen banyak tanaman lain yang bisa semenguntungkan tanaman tembakau. Keengganan mereka terjun langsung ke lapangan inilah yang membikin mereka buta dengan kondisi pertanian tembakau dan pada akhirnya terus menerus mengampanyekan pergantian tanaman tembakau dengan tanaman lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca juga: Imanlah kepada Allah, Bukan Antirokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tembakau tanaman yang khas. Ia hanya tumbuh baik sepanjang empat hingga lima bulan dalam satu tahun. Tumbuh-kembang tanaman tembakau dengan baik itu umumnya terjadi pada musim kemarau setiap tahunnya. Hanya sedikit sekali jenis tembakau yang tumbuh baik di musim penghujan, mayoritasnya, tumbuh baik pada musim kemarau.<\/p>\n\n\n\n

Jika ditanam pada musim hujan, hampir bisa dipastikan tanaman tembakau akan gagal menghasilkan daun-daun yang berkualitas. Ia akan rusak dan membusuk karena terlalu banyak terkena air sehingga daun-daun itu tak layak dijual. Jangankan bisa dijual, untuk tumbuh dengan baik pun sepertinya sulit karena musim hujan akan membunuh banyak tanaman itu.<\/p>\n\n\n\n

Maka, tak heran pada musim-musim seperti saat ini, ketika musim penghujan mendekati puncaknya, di wilayah-wilayah yang dikenal sebagai sentra pertanian tembakau, sulit menemukan pohon tembakau yang sedang tumbuh. Pada lahan-lahan yang sebelumnya ditumbuhi tanaman tembakau pada musim panas, berganti tanaman-tanaman lain yang bermacam-macam, sesuai dengan kondisi lahannya. Untuk lahan sawah, lahan-lahan itu pada musim penghujan kini ditumbuhi tanaman padi yang subur. Pada lahan tegalan dan lahan di pegunungan, lahan-lahan yang ditanami tembakau pada musim kemarau, saat ini ditumbuhi bermacam jenis tanaman mulai dari cabai, bawang, tomat, kol, terong, mentimun, dan ragam jenis tanaman semusim lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Uniknya, tipikal tanaman tembakau yang tumbuh baik di musim kemarau ini memberi pilihan lebih kepada para petani. Lahan-lahan yang sulit ditanami pada musim kemarau, pada akhirnya masih bisa tetap produktif dengan keberadaan tanaman tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Maka, kampanye aneh mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain dengan ragam rupa dalih yang membingungkan, bukan saja sama sekali tidak tepat dan asal-asalan, namun bisa jadi akan ditertawakan oleh para petani yang begitu paham dengan kondisi lahan dan terutama kondisi iklim dan cuaca. Sulit mencari tanaman semusim yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Jika pun ada, tak ada yang semenguntungkan tanaman tembakau.
<\/p>\n","post_title":"Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"keberhasilan-gerakan-anti-tembakau-tak-ada-tembakau-saat-musim-hujan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-07 12:16:02","post_modified_gmt":"2019-02-07 05:16:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5415","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5409,"post_author":"919","post_date":"2019-02-05 08:04:43","post_date_gmt":"2019-02-05 01:04:43","post_content":"\n

Tahun Baru Imlek yang merupakan tradisi Bangsa Tiongkok kini sudah tak lagi menjadi hal yang asing bagi masyarakat Indonesia. Kehadirannya sudah mewarnai dan berakulturasi dengan tradisi lokal. Menjelang Tahun Baru Imlek. Berbagai hiasan dan kemeriahan terjadi beberapa titik di Tanah Air. Perayaannya juga menjadi destinasi baru yang mengasyikkan untuk dilihat dan patut disaksikan.<\/p>\n\n\n\n

Berterimakasihlah kepada sang bapak bangsa, KH Abdurrahman Wahid atau yang dikenal dengan nama Gus Dur. Berkat kebijakannya saat menjadi Presiden Indonesia, Tahun Baru Imlek resmi dijadikan hari libur nasional dan dianggap sebagai salah satu hari raya di Tanah Air. Meski sentimen antitionghoa masih ada di sana-sini, tapi tetap tak bisa dipungkiri bahwa bangsa tionghoa sudah bersentuhan dengan budaya lokal dalam kurun waktu yang sangat panjang.<\/p>\n\n\n\n

DNA Bangsa Tionghoa yang memang merupakan pedagang menjadi pembuka kisah interaksi antara nenek moyang berbagai suku di Nusantara dengan mereka. Beberapa kelenteng-kelenteng yang tersebar pada berbagai pesisir daerah di Nusantara jadi buktinya. Pelabuhan-pelabuhan tua di tanah air dan ramainya perdagangan di pesisir mempermudah bangsa kita berhubungan dengan Bangsa Tionghoa.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Wong Kalang dan Kota Gede<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa kehadiran Bangsa Tionghoa di Nusantara tak hanya sebagai pedagang, namun juga sebagai pekerja (bahkan hingga pekerja kasar). Benny Setiono, seorang sejarahwan menyebutkan bahwa antara tahun 1760-1770 dalam jumlah yang besar memasuki nusantara melalui Kalimantan Barat. Mereka bekerja sebagai kuli pertambangan di sana dan di kemudian hari membentuk sebuah republik bernama Republik Lanfang yang konon katanya menjadi republik pertama di Asia Tenggara.<\/p>\n\n\n\n

Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Imlek dan Indonesia<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n\n\n\n

Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
<\/p>\n","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5406,"post_author":"877","post_date":"2019-02-04 08:23:48","post_date_gmt":"2019-02-04 01:23:48","post_content":"\n

Merokok itu sudah menjadi bagian dari budaya dan tradisi masyarakat, jauh sebelum Indonesia merdeka. Banyak cerita atau kisah tentang kretek <\/a><\/del>di tengah-tengah masyarakat bangsa ini, mulai sebagai alat untuk meraup keuntungan, alat komunikasi, sebagai teman sampai menjadi simbol pergerakan. <\/p>\n\n\n\n

Kretek, Simbol Perlawanan Roro Mendut<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Siapa yang tidak pernah mendengan cerita tentang Roro Mendut?, di telinga masyarakat Indonesia, kisah Roro Mendut tidak asing lagi.  Perempuan yang mempunyai paras wajah cantik, dan digandrungi kaum adam terutama kalangan putra kerajaan. Informasi kecantikan Roro Mendut tersebar seantero Nusantara, tidak satupun pria meragukan kecantikannya.  Bahkan kisah dan cerita kecantikan Roro Mendut tercatat dalam buku Babad Tanah Jawi. <\/p>\n\n\n\n

Diperkirakan pada tahun 1627, pada saat panglima perang Sultan Agung Mataram bernama Tumenggung Wiraguna berhasil menumpas pemberontakan di kota Pati, sebagai imbalanan atas keberhasilannya, mendapat hadiah wanita pujaan pria bernama Rara Mendut dari Kasultanan Agung Mataram.  Roro Mendut menolak dipinang Tumenggung Wiraguna, dan secara terang-terangan memilih pria lain dambaannya. Akibatnya, Roro Mendut harus membayar pajak setiap harinya kepada kerajaan Mataram. <\/p>\n\n\n\n

Bisa dibayangkan, betapa bingungnya Roro Mendut saat itu. Uang dari mana, ia hasilkan untuk bayar pajak tiap hari demi bisa bersama kekasihnya. Ternyata Roro Mendut tidak hanya cantik tetapi cerdas dan kreatif, bisa membaca peluang bisnis saat itu. Ide cermerlang muncul dengan berdagang\/berjualan rokok lintingan yang direkatkan dengan air ludahnya, dan sebelum menjualnya, rokok lintingan di sulut dahulu dan dihisap bekas bibir merahnya. Kemudian baru dijual ke pembeli yang berdesakan berjejer antri. <\/p>\n\n\n\n

Entah dari mana ide menjual rokok itu muncul. Yang jelas saking larisnya, kewajiban pajak Roro Mendut terpenuhi. Dan mungkin keadaannya akan lebih parah, jika saat itu Roro Mendut tidak berdagang rokok. Tidak akan terpenuhi kewajiban pajaknya. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Dengan rokok, hidup Roro Mendut terselamatkan. Adanya rokok, \u00a0Roro Mendut bebas dari belenggu kekuasaan. Berkat rokok, Roro Mendut terkengan, mengisi rubik informasi sejarah begitu kuatnya budaya merokok di \u00a0Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Pusaka Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek, Teman Perjuangan  Diponegoro<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Semasa berjuang melawan penjajah, yang harus dilakukan Diponegoro berpindah-pindah dari kota satu ke kota lain. Strategi perlawanan Diponegoro, kemudian sebagai basis strategi perang gerilya. Strategi yang menjadi idola dan kebanggaan tentara Indonesia. Dengan bergerilya, tentara Indonesia mampu mengecoh kekutan lawan yang lebih besar jumlahnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu, tenyata banyak cerita, Diponegoro saat berperang ditemani rokok. Ia dan pasukannya gemar merokok. Bahkan ketika tidak ada rokok, Pangeran Diponegoro rela hanya megunyah daun sirih yang diracik dengan kapur dan pinang. <\/p>\n\n\n\n

Kebiasaan ini, juga dialami oleh pengikut \/pasukan perang Pangeran Diponegoro. Bagi mereka, rokok teman sejati, menemani disetiap perjalanan mereka. Rokok menghilangkan depresi mereka, sebagai hiburan saat jauh dari keluarga demi berjuang melawan penjajah. Rokok menumbuhkan percaya diri mereka, lebih berani melawan penjajah walaupun hanya dengan serba keterbatasan, pasukan jumlah terbatas, alat perang terbatas dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Baca juga: Pangeran Diponegoro, Rokok Klobot dan Perlawanan Simbolis<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Jati Diri Bangsa<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Salah satu \u201cpendiri bangsa\u201d bernama KH. Agus Salim menghisap kretek dengan asapnya di kebal-kebulkan keudara, disaat ada perjamuan di Istana Buckingham ketika penobatan Elizabeth II sebagai Ratu kerajaan Inggris. Aroma khas keluar dari asap rokok kretek, tercium orang yang berada di ruang perjamuan. Sehingga memancing salah satu orang yang datang dalam perjamuan, dengan berkata; \u201ctuan sedang menghisap apa itu?\u201d.  Sentak KH. Agus Salim menjawab, \u201c inilah yang membuat nenek moyang anda sekian abad lalu datang dan kemudian menjajah negeri kami\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Jawaban KH. Agus Salim, faktanya memang benar. Rokok kretek tidak lain ada tambahan cengkeh (suzygium aromaticum<\/em>). \u00a0Tanaman legendaris menjadi rebutan dan sumber keuntungan kolonialisme Eropa atas Asia termasuk Indonesia. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Cengkeh adalah salah satu tanaman yang diperebutkan bangsa-bangsa dunia, sampai melegalkan penjajahan.  Dalam simpulan perjalanan ekspedisi cengkeh tahun 2013, Kepala Suku begitu julukan bagi Putut Ea, mengatakan \u201c jika saja tak pernah ada cengkeh dan pala di Maluku, mungkin sejarah kepulauan Nusantara ini akan berbeda sama sekali\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Simpulan Putut EA, sebagai salah satu pembenar perkataan \u00a0KH. Agus Salim. Mungkin, jika tanaman cengkeh tidak ada, fakta sejarah akan berbeda, tidak ada penjajahan di bumi Nusantara ini. <\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Mengisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek untuk Berteman dan Menjalin Persaudaraan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Teringat apa yang pernah dilakukan Menteri Sosial dan Lingkungan Hidup, saat melakukan pendekatan pada suku anak dalam di Jambi. Tidak lain ia adalah Khofifah menteri perempuan yang energik. Saat itu Khofifah bertanggungjawab dalam mengatasi masalah pendidikan dan kesejahteraan masyarakat suku anak dalam di Jambi.  <\/p>\n\n\n\n

Kebijakannya membuat fenomenal, selain bahan makanan, dan bantuan lain, khofifah juga membawa rokok.  Yang kemudian ada yang mengggugat dari anti rokok, tetapi sebagai Menteri, Khofifah tentunya sudah mengkaji secara mendalam. Dengan kecerdasannya , Khofifah menjawab dengan tegas dan lugas, \u201cjangan sok tahu kehidupan mereka, kenali apa yang menjadi ritme kehidupan mereka. Sangat bijaksana kalau kita semua pergi kesana, sehingga tahu adat istiadatnya juga. Tolong kalau ingin mengerti tentang kultur jangan hanya dari kacamata Jakarta. Saya pun ingin mengajak anda kesana, turun kesana, sapalah mereka\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Khofifah memberikan pelajaran bagi anti rokok. Tidak boleh sok tahu, apalagi selama ini antirokok hanya berasumsi, tanpa melihat fakta dilapangan. Khofifah juga menganjurkan agar lebih mengenal adat-istiadat, budaya dan tradisi masyarakat, tidak boleh melakukan hegemoni kultural, sebab keberagaman adat-istiadat dan budaya merupakan kekayaan negeri. <\/p>\n\n\n\n

Pelajaran Khofifah sangat mendalam dan bercirikhas Nusantara. Sebgaai Menteri \u00a0Sosial tentunya lebih berpengalaman apa yang dibutuhkan bangsa ini agar tetap jaya, bersatu dan utuh. Kenali perbedaan, hormati perbedaan, junjung tinggi budaya yang berbeda. \u00a0Apa yang telah dilakukan Khofifah dengan membawa rokok ke suku anak dalam adalah cermin penghormatan tradisi dan budaya masyarakat. Sebagai seorang Mentri, tentunya punya kuasa, artinya bisa seorang khofifah memberikan bantuan sesuai keinginannya sendiri, namun hal itu tidak dilakukan. Ia lebih mengedepankan penghormatan budaya masyarakat setempat, dengan membawa rokok untuk pendekatan dan pertemanan. Karena Khofifah tahu betul, bahwa merokok adalah budaya mereka, yang diwaris dari neneng moyang mereka. <\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Memilih Jalan Hidup Menikmati Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Simbol Pergerakan Nasional     <\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Abdul Rifa\u2019I dalam media bintang timur terbit pada 03 Oktober 1927, mengatakan, \u201ckopinya bukan kopi saringan, tetapi kopi tubruk sebab kopi ini katanya nationaal, gulanya gula jawa, susu tidak dipakai karena tidak nationaal. Rokoknya kelobot, selamatan natioanaal ini terus berlangsung ed sampai pagi hari\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Semangat nasionalisme harus tertanam, mengedepankan produk lokal adalah salah satu semangat nasionalime. Salah satu keberadaan rokok klobot menjadi ciri produk asli indonesia dan harus dilestarikan. Klobot sendiri adalah ramuan tembakau dan cengkeh di gulung memakai daun jagung, embrio perkembangan menjadi rokok sigaret kretek tangan dan sigaret kretek mesin.  
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pusaran Budaya Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pusaran-budaya-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-04 08:40:41","post_modified_gmt":"2019-02-04 01:40:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5406","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5403,"post_author":"919","post_date":"2019-02-03 09:05:50","post_date_gmt":"2019-02-03 02:05:50","post_content":"\n

Seringkali saya menyaksikan berbagai film baik itu Eropa atau Asia yang menggambarkan tentang masa depan. Pemandangan soal masa depan tersebut dihadirkan dengan gambaran kecanggihan teknologi seperti robot yang akan membantu kehidupan manusia, gedung-gedung yang tingginya sudah amat tak bisa ditandingi,  hingga mobil-mobil yang bisa terbang. <\/p>\n\n\n\n

Pernah dalam masa kecil saya menyaksikan sebuah film animasi buatan jepang yang mempertanyakan tentang makanan di masa depan. Dengan santai salah satu tokoh yang berasal dari masa depan itu menjawab bahwa suatu saat nanti manusia akan mengonsumsi makanan berupa pasta gigi namun dengan rasa yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa, aneh!<\/p>\n\n\n\n

Seiring waktu berjalan saya kian tumbuh dewasa dan punya kesadaran untuk memilih menjadi seorang perokok<\/a>. Saya juga melihat ada sebuah inovasi dan gambaran tentang masa depan yang hadir dalam kehidupan sekarang. Banyak memang, namun yang menyita perhatian saya adalah rokok elektrik atau yang populer disebut Vape. Konon katanya ia adalah produk inovasi untuk menjembatani kebutuhan menghisap asap dan kecanggihan masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Di awal kehadirannya Vape memang mengundang decak kekaguman saya. Bagaimana bisa sebuah mesin kecil mengeluarkan asap yang katanya lebih menyehatkan daripada rokok.<\/strong> Meski pada akhirnya teori tersebut juga bisa dibantah oleh beberapa ilmuan dunia. Tapi ada satu yang saya amati selain soal kesehatan, rokok elektrik rupanya menghadirkan kultur dan budaya baru dalam kehidupan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: LAGI-LAGI IKLAN ROKOK, KAPAN KPAI TIDAK TEBANG PILIH? <\/a><\/h4>\n\n\n\n

Kehadiran teknologi memang kerap sedikit atau benyak mengubah gaya atau kultur suatu masyarakat. Begitu pula yang saya perhatikan dengan rokok elektrik. Satu hal yang mudah diamati adalah menjamurnya toko-toko kecil yang menjual vape serta liquid di berbagai tempat. Sebagai sebuah warna baru dalam masyarakat, penggunanya ramai-ramai mengunjungi tempat tersebut berinteraksi dengan penikmat lainnya dan membangun sebuah rumah komunitas yang fleksibel.<\/p>\n\n\n\n

Meski belum bisa dikatakan memiliki jumlah penikmat yang setara dengan para perokok, pengguna Vape mulai menunjukkan eksistensinya. Selain toko yang tersebar, ragam acara juga mereka buat di beberapa daerah. Dalam lingkungan saya, beberapa teman yang dulunya merupakan perokok aktif tertarik mengikuti event tersebut dan beralih mengisap rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Nun jauh di sana, di Amerika Serikat tepatnya, budaya Vape juga sudah mulai berkembang lama ketimbang di Tanah Air. Penikmatnya terbagi menjadi dua, ada yang dulunya bekas perokok dan ada yang memang menikmatinya sebagai gaya hidup. Wajar saja mengingat facebook tak memperbolehkan iklan tembakau di platform mereka, sebaliknya iklan tentang vape justru bertebaran. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi budaya baru yang berkembang di berbagai belahan dunia bahkan di Indonesia, Vape konon menjadi alternatif yang lebih bermanfaat daripada rokok. Dalih yang diusung selalu sama kepada para perokok tradisonal yaitu soal kesehatan dan lebih irit. Soal kesehatan tentu ada beberapa pendapat para ilmuan yang membantahnya, namun soal irit, saya rasa tidak. Memang satu liquid bisa digunakan untuk beberapa Minggu, akan tetapi yang saya lihat di lapangan justru sebaliknya. <\/p>\n\n\n\n

Beberapa penikmat rokok elektrik kerap berbelanja liquid yang mereka idamkan. Terkadang, hal tersebut yang membuat mereka boros karena terus mengeksplor rasa mana yang mereka idam-idamkan. Tak jarang juga liquid dengan harga mahal hingga ratus ribuan akan mereka beli. Sebaliknya, para perokok konvensional justru kerap bertahan dengan satu rasa atau merek saja.<\/p>\n\n\n\n

Sedikit berbeda dengan penikmat rokok konvensional atau kretek. Mengingat rokok kretek sudah menjadi kebudayan lokal yang terus dipertahankan selama bertahun-tahun, kehadirannya sudah mewarnai khasanah keindonesiaan. Perokok kretek juga sudah punya soliditas luar biasa yang terbentuk sejak lama dan terus terbangun mengiringi peradaban di Indonesia atau dunia.<\/p>\n\n\n\n

Kini, perokok elektrik mulai merasakan kegelisahan. Beberapa negara mulai menerapkan peraturan ketat terhadap Vape, sedangkan di Indonesia biaya cukai pun kini mulai diberlakukan terhadap perdagangan rokok elektrik. Keberadaannya di mata negara pun mulai dianggap sama seperti rokok, meski pada awalnya rokok elektrik hadir dengan slogan-slogan produk alternatif yang lebih menyehatkan (katanya).<\/p>\n\n\n\n


Tapi jika kemudian di masa depan memang rokok elektrik yang kemudian menjadi sesuatu yang populer dan dinikmati banyak orang. Rasanya saya tetap ingin hidup di jaman ini, dengan sebatang kretek di tangan dan menikmati segala khasanah kebudayaan yang patut terus dipertahankan. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"masa-depan-rokok-elektrik-dan-semangat-alternatif-yang-sia-sia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-03 09:05:56","post_modified_gmt":"2019-02-03 02:05:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5403","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5385,"post_author":"883","post_date":"2019-02-02 08:01:01","post_date_gmt":"2019-02-02 01:01:01","post_content":"Pada tahun 2014, perusahaan rokok multinasional Philip Morris Internasional Inc. merilis sebuah produk <\/span>perangkat\u00a0<\/span>
rokok<\/span><\/a>\u00a0tanpa asap, yang dipanaskan bukan dibakar atau istilahnya\u00a0<\/span>heat not burn<\/i><\/strong>\u00a0(HNB) iQOS<\/strong>. <\/span>\r\n\r\nPerangkat rokok tanpa asap dengan nama iQOS<\/a> ini berbentuk seperti bagian luar pulpen, dengan lubang di tengah untuk rokok. Produk yang berada di bawah brand Marlboro ini dapat memanaskan rokok sampai 350 derajat celcius lalu mengeluarkan uap nikotin beraroma tembakau<\/em><\/a>.<\/span>\r\n

Produk iQOS sebenarnya bukanlah produk rokok tanpa asap yang pertama muncul. Sebelumnya di tahun 1990-an, Reynolds Tobacco Co pernah merilis produk serupa bernama Eclipes yang juga dapat menguapkan nikotin setelah dinyalakan dengan korek api.<\/span><\/blockquote>\r\nSelain itu, Eclips juga dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. Namun, pada saat itu Eclips tidak diminati oleh pasar, utamanya para perokok konvensional. Meskipun Eclips dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. <\/span>\r\n\r\nBisnis semacam rokok tanpa asap seperti Eclips dan iQOS memang sudah menjadi bagian dari rencana panjang bisnis perusahaan-perusahaan rokok multinasional. Jadi tidak usah heran jika ke depannya akan kita akan banyak menemukan produk rokok tanpa asap ini.<\/span>\r\n\r\nWatak dari perusahaan multinasional memang seperti itu, mereka sangat jeli melihat peluang pasar ke depannya. Ketika market place perusahaan rokok multinasional saat ini terus dirongrong oleh kelompok antirokok, mereka tak kehabisan akal. Maka kemudian mereka menginovasi produk rokok konvensional menjadi rokok yang tidak berasap. Begitupun dengan mengikutsertakan jargon-jargon kesehatan dalam narasi promosi mereka.<\/span>\r\n\r\nSesungguhnya memang seperti itulah watak bisnis perusahaan-perusahaan multinasional, melakukan segala cara agar bisnis mereka tetap bertahan, meskipun harus merangkul musuh sekalipun. <\/span>\r\n\r\nYa kadang pura-pura berantem sama antirokok, tapi dibalik itu sebenarnya baik-baik saja, dan tentunya ada kompromi untuk terus melanggengkan bisnis mereka.<\/span>\r\n

Lalu siapa yang dirugikan dari permainan bisnis macam produk rokok tanpa asap perusahaan rokok multinasional ini?<\/span><\/h3>\r\nTentunya yang sangat dirugikan adalah produk hasil tembakau yang memiliki kekhasan seperti kretek di Indonesia. Kretek sebagai produk khas asli Indonesia yang menjadi bagian dari warisan kebudayaan tidak mungkin bertransformasi menjadi produk-produk elektrik dan sejenisnya.<\/span>\r\n\r\nKretek tetaplah kretek, dengan bahan baku alami tembakau dan cengkeh yang tidak diintervensi dengan zat atau perangkat penghantar lainnya. Karena dengan bentuk, karakter dan cara menikmatinya memang konvensional dan akan terus begitu apapun kondisi dan zamannya.<\/span>\r\n
Bisnis produk rokok tanpa asap (elektrik) juga menghajar kretek dengan mendompleng isu pengendalian tembakau. Kampanye pengendalian tembakau selalu membawa slogan bahaya merokok dan upaya untuk berhenti merokok. <\/span><\/blockquote>\r\nDari isu tersebut, rokok elektrik masuk dengan citra produk alternatif tembakau, bahkan mereka tak segan menilai bahwa rokok elektrik lebih aman ketimbang rokok konvensional, yakni kretek.<\/span>\r\n\r\nLalu jika Indonesia akan dibanjiri dengan produk-produk yang mengatasnamakan produk alternatif tembakau, macam rokok tanpa asap (iQOS dan sejenisnya), maka itulah pertanda bahwa kretek harus tergerus dari cara hidup manusia Indonesia dalam menikmati produk hasil tembakau khas Indonesia yang sudah turun-temurun lamanya dinikmati manusia Indonesia.<\/span>","post_title":"Nasib Kretek di Pusaran Pertarungan Bisnis Global Perusahaan Rokok Multinasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"nasib-kretek-di-pusaran-pertarungan-bisnis-global-perusahaan-rokok-multinasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-02 08:01:43","post_modified_gmt":"2019-02-02 01:01:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5385","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; \n

Bahwa cengkeh [1] (Syzygium aromaticum) --bersama pala (Myristica fragrans)-- adalah dua tanaman asli (endemik) Kepulauan Maluku, sudah tak terbantahkan. Cengkeh dikenal dan diakui berasal dari \u2018Empat Pulau Gunung Maluku\u2019 (Maloko Kie Raha): Ternate, Tidore, Moti, dan Makian.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun pala, berasal dari empat pulau kecil lainnya di tengah Laut Banda: Lonthor, Neira, Rhun, dan Ai. Pada penjelasan peta abad-16 oleh penjelajah dari Semenanjung Iberia, Fransisco Rodriguez, tertulis: \u201cEstas quatro Ilhas Azures suam as de molluquo homde nace ho crauzo\u201d<\/em> (Adalah empat pulau berwarna biru [dalam peta] yang disebut sebagai Kepulauan Maluku di mana rempah-rempah berasal) (Pires, 1512- 1515:213).
<\/p>\n\n\n\n

Sejak beberapa abad sebelum Masehi, adalah para saudagar Arab --melalui Samudera Hindia melintasi Iskandariyah dan Laut Tengah-- serta para pedagang Cina --melalui jalur \u2018Jalan Sutra\u2019 melintasi Asia Tengah dan Asia Barat-- yang membawa dan memperkenalkannya ke daratan Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Bandar-bandar besar Tyre di Yunani dan Venesia di Italia menjadi pelabuhan utama rempah-rempah Maluku memasuki kehidupan dan peradaban Eropa. Selain sebagai bumbu masakan, rempah obat, dan ramuan wewangian, cengkeh dan pala juga menjadi bahan utama pengawet bahan pangan. [2]
<\/p>\n\n\n\n

Inilah yang membuat orang-orang Eropa untuk pertama kalinya dapat mengawetkan dan menimbun makanan selama bermusim-musim. Prosa indah Blair bersaudara menggambarkannya dengan sangat baik:
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKemampuan menyimpan makanan lebih dari yang kami makan sekaligus berarti kemampuan menjual dan membelinya dalam jumlah besar --dan kota-kota dagang pun mekar. Perekonomian yang dihasilkannya mengarahkan kami ke zaman Pencerahan dan kemudian Revolusi Industri. Tak lama setelah kami menghirup aroma yang sangat kuat dari Timur itu dan mengubah kimiawi makanan kami, maka kami pun mampu melakukan lompatan besar dalam bidang budaya dan seni.\u201d (Blair & Blair, 2010; 30-31).<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh dan Kelapa di Kepulauan Anambas<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Bukan hanya membuat perekonomian dan perdagangan serta ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang, cengkeh dan pala bahkan adalah faktor yang paling menentukan dalam kemunculan satu babakan paling mengenaskan dalam sejarah politik dunia, yakni zaman penjajahan (kolonialisme) Eropa, terutama atas-atas negeri- negeri Asia Selatan, Timur dan Tenggara, termasuk Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Tergerak oleh sahwat menguasai rempah-rempah yang menggiurkan itu, bangsa-bangsa Eropa --terutama Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda-- pun menggelar ekspedisi-ekspedisi besar untuk menemukan cengkeh dan pala langsung di tanah asalnya. Ketika armada-armada mereka akhirnya mencapai perairan Kepulauan Maluku, pada abad-16, perang pun tak terhindarkan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka silih berganti saling mengalahkan, tetapi pemenang terakhir adalah Belanda. Melalui Perusahaan Dagang Hindia Timur (Vereenigde Oostindische Compagnie, VOC) yang dibentuk pada awal abad-17 (tepatnya tahun 1609), Belanda melancarkan ekspedisi Pelayaran Hongi (Hongie Tochten), untuk memusnahkan semua tanaman cengkeh di Ternate, Tidore, Moti, dan Makian, lalu membatasi ketat penanamnya hanya di Pulau-pulau Ambon dan Lease --yang lebih dekat ke Banda sebagai pusat pemerintahan mereka sebelum akhirnya dipindahkan ke Batavia.
<\/p>\n\n\n\n

Praktis, sejak akhir abad-16, Belanda pun menguasai penuh perdagangan rempah-rempah Maluku dengan jumlah produksi rerata 2.500 sampai 4.500 ton per tahun. [3]<\/p>\n\n\n\n

Baca: Budidaya Pohon Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Meskipun peran utama rempah-rempah Maluku itu kemudian tergusur pada abad-18 dan 19 oleh beberapa barang eksotika tropis lainnya --hasil perkebunan-perkebunana besar baru di Pulau Sumatera dan Jawa: tebu, tembakau, lada, kopi, teh, nila, kelapa sawit, dan kayu jati-- namun sejarah sudah mencatat bahwa dua jenis rempah-rempah Maluku itulah yang mengawali penjelajahan sekaligus penjajahan kepulauan Nusantara oleh bangsa-bangsa Eropah, terutama Belanda (Topatimasang, ed., 2004:32). Jika saja tak pernah ada cengkeh dan pala di Maluku, mungkin sejarah kepulauan Nusantara ini akan berbeda sama sekali.
<\/p>\n\n\n\n

Masa suram cengkeh dan pala terus berlangsung sampai pertengahan abad-20. Rempah eksotika yang pernah membuat tergila-gila<\/p>\n\n\n\n

para saudagar Arab, pedagang Cina, serta kaum ningrat Eropa itu, tergantikan perannya oleh penemuan teknologi mesin pendingin berkat Revolusi Industri yang dimulai di Inggris pada pertengahan abad-18. Pasaran cengkeh di Eropa pun merosot tajam.
<\/p>\n\n\n\n

Nasibnya terselamatkan berkat penemuan oleh seorang Haji Djamhari di Kudus, Jawa Tengah. Pada akhir tahun 1880-an, Haji Djamhari menemukan kegunaan baru cengkeh sebagai ramuan utama rokok. Lahirlah satu produk baru yang unik, khas dan asli Indonesia: kretek! (Hanusz, 2000:ii).
<\/p>\n\n\n\n

Setelah seperempat abad hanya berkembang dalam skala kecil usaha rumah tangga, produksi kretek akhirnya menjelma menjadi industri besar sejak awal abad-20 yang dirintis oleh Haji Nitisemito (pendiri pabrik \u2018Jambu Bol\u2019) di Kudus dan Liem Seng Tee (pendiri pabrik \u2018Dji Sam Soe\u2019 dan \u2018Sampoerna\u2019) di Surabaya.
<\/p>\n\n\n\n

Puncaknya adalah pada pertengahan tahun 1950-an, ketika produksi kretek mulai berkembang pesat menjadi industri raksasa modern dengan munculnya beberapa pabrik baru, antara lain, yang terkemuka, oleh Oei Wei Gwan (pendiri pabrik \u2018Djarum\u2019) di Kudus dan Tjou Ing Hwie (pendiri pabrik \u2018Gudang Garam\u2019) di Kediri (Topatimasang, et.al., eds., 2010:131).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Teruslah Menanam Tembakau dan Cengkeh, Wahai Petani Indonesia<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Cengkeh, bahan baku paling esensial dari kretek --selain tembakau, tentu saja-- pun kembali berjaya. Bahkan, sejak dasawarsa 1970an, telah menjadi salah satu penyumbang terbesar keuangan negara Republik Indonesia. Pada tahun 2012 dan 2013, pemasukan cukai dari industri kretek mencatat 95,5% dari seluruh pemasukan cukai ke kas negara. Nilainya tak tanggung-tanggung: Rp 87 triliun! (el-Guyanie, et.al.: 2013:4-5).<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Nilai ekonomisnya yang sangat besar sempat menggoda penguasa otoriter rezim Presiden Soeharto, pada 1990-an, memberlakukan satu kebijakan \u2018Hongi Gaya Baru\u2019: monopoli perdagangan cengkeh dalam negeri melalui Badan Penyanggah dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) yang sangat merugikan petani. Harga cengkeh di tingkat petani penghasil anjlok sampai hanya Rp 2.000 - 3.000 per kilogram, lebih murah dari harga sebungkus kretek yang dihasilkan darinya.
<\/p>\n\n\n\n

Akibatnya, ratusan ribu pohon cengkeh di daerah-daerah penghasil utama --Maluku, Maluku Utara, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Selatan-- ditebangi atau dibiarkan terlantar tak terurus.
<\/p>\n\n\n\n

Gelombang reformasi sistem politik dan hukum nasional yang dimulai pada tahun 1998, akhirnya menjungkalkan rezim Soeharto dan BPPC dibubarkan, Pelan tapi pasti, harga cengkeh kembali merangkak naik, sehingga pada tahun 2012, bahkan melewati angka Rp 200.000 per kilogram. Para petani cengkeh di seluruh negeri kembali tersenyum. Tetapi, sampai kapan? <\/p>\n\n\n\n

Catatan:<\/strong><\/p>\n\n\n\n

[1] Beberapa sumber menyebutkan bahwa kata \u2018cengkeh\u2019 dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Mandarin, tkeng-his atau xi\u2019jia, yang berarti \u2018rempah [berbentuk mirip] paku\u2019 (scented nails). Ini menunjukkan bahwa cengkeh sudah dikenal sejak lama oleh bangsa Cina --diketahui sejak abad-2-- jauh sebelum orang Eropa mengenalnya ((lihat, misalnya: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n\n\n\n

[2] Catatan-catatan para biarawan Fransiskan --yang disalin dan dikutip oleh van Frassen-- bahkan menyebut cengkeh sebagai salah satu bahan utama pengawet mumi para Fir\u2019aun, penguasa Mesir Kuno. Beberapa pakar sejarah dan arkeologi menyatakan bahwa rempah-rempah Maluku bahkan sudah ditemukan artefaknya di Lembah Mesopotomia (wilayah Iraq dan sekitarnya sekarang) pada 3.000 tahun sebelum Masehi. (lihat, antara lain: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n\n\n\n

[3] Uraian lebih rinci sejarah kolonialisme rempah-rempah Nusantara ini, terutama oleh Belanda dan Portugis, dapat dibaca pada beberapa sumber kepustakaan yang sudah dikenal luas, antara lain: Glamann (1958) dan Boxer (1965 dan 1969). Dalam risalah klasik Pires disebutkan bahwa pada tahun 1512-1521 saja, jumlah produksi cengkeh di Maluku sudah mencapai 7.250 bahar per tahun, terbesar adalah di Makian serta Amboina dan Lease (masing-masing 1.500 bahar)(Pires, 1512-1515).<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem Topatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-10 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-02-10 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5425","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5415,"post_author":"878","post_date":"2019-02-07 12:15:55","post_date_gmt":"2019-02-07 05:15:55","post_content":"\n

Belakangan ini, ketika musim hujan tiba, di Kabupaten Temanggung, Kabupaten Jember, dan beberapa wilayah sentra pertanian tembakau lainnya, hampir mustahil menemukan tanaman tembakau tumbuh di lahan-lahan milik petani. Di wilayah-wilayah tersebut, citra sebagai sentra pertanian tembakau seakan menguap. Lahan-lahan yang ada di sana, sama sekali tidak ditumbuhi tanaman tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Kabar ini bisa jadi dianggap sebagai kabar gembira bagi mereka yang menganggap diri dan kelompoknya anti-rokok dan anti-tembakau yang selalu mengampanyekan sikap-sikap mereka terkait kebencian kepada tembakau dan aktivitas merokok. Setelah sekian lama berjuang, akhirnya perjuangan mereka dirasa berhasil usai menyaksikan fenomena lahan-lahan di wilayah yang dianggap sentra pertanian tembakau pada hari-hari belakangan ini.<\/p>\n\n\n\n

Baca juga: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tak sia-sia turun ke jalan, tak sia-sia melakukan lobi-lobi ke penguasa, tak sia-sia mengucurkan uang yang tidak sedikit, dan tak sia-sia mempermalukan diri dengan mengemis ke lembaga donor asing dan menggondol uang dari cukai tembakau untuk mengampanyekan gerakan anti-rokok dan anti-tembakau. Tak sia-sia. Karena perjuangan sepertinya berhasil.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Kampanye-kampanye gerakan mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya, sepertinya juga sangat berhasil. Bagaimana tidak? Wilayah-wilayah yang sebelumnya penuh dengan tanaman tembakau dan bergeliat dengannya, kini lahan-lahannya sudah berganti dengan tanaman lain. Sebuah keberhasilan yang menggembirakan. Begitu mungkin pikir mereka para yang menganggap dirinya pejuang anti-rokok dan anti-tembakau. Dan tentu saja mereka akan kecele dan kita akan menertawakan hal itu.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, mereka yang menganggap dirinya anti-rokok dan anti-tembakau tidak menyaksikan langsung fenomena ini di lapangan, di lahan-lahan yang peruntukannya berubah pada hari-hari belakangan ini ketika memasuki musim hujan. Mereka asyik duduk pada kursi empuk di ruang-ruang nyaman ber-AC di kota-kota yang jauh dari kultur pertanian. Mereka menyengajakan diri menjadi elit dan enggan untuk turun melihat langsung ke lapangan. Kalaupun ada yang turun langsung ke lapangan, hanya segelintir saja dari mereka, itupun sekadar formalitas saja. Tak pernah benar-benar mau turun ke lapangan, hidup dan merasakan langsung kultur pertanian tembakau dalam jangka waktu cukup lama di lapangan.<\/p>\n\n\n\n

Baca juga: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Fenomena ini membikin kita tak bisa melihat mereka para anti-rokok kecele lalu menertawakan mereka.<\/strong> Fenomena keengganan terjun langsung ke lapangan terlebih mencoba mendengar mereka yang tetap menanam tembakau, juga menjalani keseharian dalam waktu cukup lama bersama petani tembakau inilah yang saya kira menjadikan mereka tetap keras kepala untuk anti-rokok dan anti-tembakau. Karena jika mereka mau melakukan itu, saya yakin mereka semua tidak akan begitu kaku dalam memandang pertanian tembakau dan produk hasil industri tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu yang selalu mereka kampanyekan dan ngotot dengan itu, terkait hulu pertanian tembakau adalah mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya. Mereka berargumen banyak tanaman lain yang bisa semenguntungkan tanaman tembakau. Keengganan mereka terjun langsung ke lapangan inilah yang membikin mereka buta dengan kondisi pertanian tembakau dan pada akhirnya terus menerus mengampanyekan pergantian tanaman tembakau dengan tanaman lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca juga: Imanlah kepada Allah, Bukan Antirokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tembakau tanaman yang khas. Ia hanya tumbuh baik sepanjang empat hingga lima bulan dalam satu tahun. Tumbuh-kembang tanaman tembakau dengan baik itu umumnya terjadi pada musim kemarau setiap tahunnya. Hanya sedikit sekali jenis tembakau yang tumbuh baik di musim penghujan, mayoritasnya, tumbuh baik pada musim kemarau.<\/p>\n\n\n\n

Jika ditanam pada musim hujan, hampir bisa dipastikan tanaman tembakau akan gagal menghasilkan daun-daun yang berkualitas. Ia akan rusak dan membusuk karena terlalu banyak terkena air sehingga daun-daun itu tak layak dijual. Jangankan bisa dijual, untuk tumbuh dengan baik pun sepertinya sulit karena musim hujan akan membunuh banyak tanaman itu.<\/p>\n\n\n\n

Maka, tak heran pada musim-musim seperti saat ini, ketika musim penghujan mendekati puncaknya, di wilayah-wilayah yang dikenal sebagai sentra pertanian tembakau, sulit menemukan pohon tembakau yang sedang tumbuh. Pada lahan-lahan yang sebelumnya ditumbuhi tanaman tembakau pada musim panas, berganti tanaman-tanaman lain yang bermacam-macam, sesuai dengan kondisi lahannya. Untuk lahan sawah, lahan-lahan itu pada musim penghujan kini ditumbuhi tanaman padi yang subur. Pada lahan tegalan dan lahan di pegunungan, lahan-lahan yang ditanami tembakau pada musim kemarau, saat ini ditumbuhi bermacam jenis tanaman mulai dari cabai, bawang, tomat, kol, terong, mentimun, dan ragam jenis tanaman semusim lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Uniknya, tipikal tanaman tembakau yang tumbuh baik di musim kemarau ini memberi pilihan lebih kepada para petani. Lahan-lahan yang sulit ditanami pada musim kemarau, pada akhirnya masih bisa tetap produktif dengan keberadaan tanaman tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Maka, kampanye aneh mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain dengan ragam rupa dalih yang membingungkan, bukan saja sama sekali tidak tepat dan asal-asalan, namun bisa jadi akan ditertawakan oleh para petani yang begitu paham dengan kondisi lahan dan terutama kondisi iklim dan cuaca. Sulit mencari tanaman semusim yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Jika pun ada, tak ada yang semenguntungkan tanaman tembakau.
<\/p>\n","post_title":"Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"keberhasilan-gerakan-anti-tembakau-tak-ada-tembakau-saat-musim-hujan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-07 12:16:02","post_modified_gmt":"2019-02-07 05:16:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5415","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5409,"post_author":"919","post_date":"2019-02-05 08:04:43","post_date_gmt":"2019-02-05 01:04:43","post_content":"\n

Tahun Baru Imlek yang merupakan tradisi Bangsa Tiongkok kini sudah tak lagi menjadi hal yang asing bagi masyarakat Indonesia. Kehadirannya sudah mewarnai dan berakulturasi dengan tradisi lokal. Menjelang Tahun Baru Imlek. Berbagai hiasan dan kemeriahan terjadi beberapa titik di Tanah Air. Perayaannya juga menjadi destinasi baru yang mengasyikkan untuk dilihat dan patut disaksikan.<\/p>\n\n\n\n

Berterimakasihlah kepada sang bapak bangsa, KH Abdurrahman Wahid atau yang dikenal dengan nama Gus Dur. Berkat kebijakannya saat menjadi Presiden Indonesia, Tahun Baru Imlek resmi dijadikan hari libur nasional dan dianggap sebagai salah satu hari raya di Tanah Air. Meski sentimen antitionghoa masih ada di sana-sini, tapi tetap tak bisa dipungkiri bahwa bangsa tionghoa sudah bersentuhan dengan budaya lokal dalam kurun waktu yang sangat panjang.<\/p>\n\n\n\n

DNA Bangsa Tionghoa yang memang merupakan pedagang menjadi pembuka kisah interaksi antara nenek moyang berbagai suku di Nusantara dengan mereka. Beberapa kelenteng-kelenteng yang tersebar pada berbagai pesisir daerah di Nusantara jadi buktinya. Pelabuhan-pelabuhan tua di tanah air dan ramainya perdagangan di pesisir mempermudah bangsa kita berhubungan dengan Bangsa Tionghoa.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Wong Kalang dan Kota Gede<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa kehadiran Bangsa Tionghoa di Nusantara tak hanya sebagai pedagang, namun juga sebagai pekerja (bahkan hingga pekerja kasar). Benny Setiono, seorang sejarahwan menyebutkan bahwa antara tahun 1760-1770 dalam jumlah yang besar memasuki nusantara melalui Kalimantan Barat. Mereka bekerja sebagai kuli pertambangan di sana dan di kemudian hari membentuk sebuah republik bernama Republik Lanfang yang konon katanya menjadi republik pertama di Asia Tenggara.<\/p>\n\n\n\n

Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Imlek dan Indonesia<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n\n\n\n

Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
<\/p>\n","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5406,"post_author":"877","post_date":"2019-02-04 08:23:48","post_date_gmt":"2019-02-04 01:23:48","post_content":"\n

Merokok itu sudah menjadi bagian dari budaya dan tradisi masyarakat, jauh sebelum Indonesia merdeka. Banyak cerita atau kisah tentang kretek <\/a><\/del>di tengah-tengah masyarakat bangsa ini, mulai sebagai alat untuk meraup keuntungan, alat komunikasi, sebagai teman sampai menjadi simbol pergerakan. <\/p>\n\n\n\n

Kretek, Simbol Perlawanan Roro Mendut<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Siapa yang tidak pernah mendengan cerita tentang Roro Mendut?, di telinga masyarakat Indonesia, kisah Roro Mendut tidak asing lagi.  Perempuan yang mempunyai paras wajah cantik, dan digandrungi kaum adam terutama kalangan putra kerajaan. Informasi kecantikan Roro Mendut tersebar seantero Nusantara, tidak satupun pria meragukan kecantikannya.  Bahkan kisah dan cerita kecantikan Roro Mendut tercatat dalam buku Babad Tanah Jawi. <\/p>\n\n\n\n

Diperkirakan pada tahun 1627, pada saat panglima perang Sultan Agung Mataram bernama Tumenggung Wiraguna berhasil menumpas pemberontakan di kota Pati, sebagai imbalanan atas keberhasilannya, mendapat hadiah wanita pujaan pria bernama Rara Mendut dari Kasultanan Agung Mataram.  Roro Mendut menolak dipinang Tumenggung Wiraguna, dan secara terang-terangan memilih pria lain dambaannya. Akibatnya, Roro Mendut harus membayar pajak setiap harinya kepada kerajaan Mataram. <\/p>\n\n\n\n

Bisa dibayangkan, betapa bingungnya Roro Mendut saat itu. Uang dari mana, ia hasilkan untuk bayar pajak tiap hari demi bisa bersama kekasihnya. Ternyata Roro Mendut tidak hanya cantik tetapi cerdas dan kreatif, bisa membaca peluang bisnis saat itu. Ide cermerlang muncul dengan berdagang\/berjualan rokok lintingan yang direkatkan dengan air ludahnya, dan sebelum menjualnya, rokok lintingan di sulut dahulu dan dihisap bekas bibir merahnya. Kemudian baru dijual ke pembeli yang berdesakan berjejer antri. <\/p>\n\n\n\n

Entah dari mana ide menjual rokok itu muncul. Yang jelas saking larisnya, kewajiban pajak Roro Mendut terpenuhi. Dan mungkin keadaannya akan lebih parah, jika saat itu Roro Mendut tidak berdagang rokok. Tidak akan terpenuhi kewajiban pajaknya. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Dengan rokok, hidup Roro Mendut terselamatkan. Adanya rokok, \u00a0Roro Mendut bebas dari belenggu kekuasaan. Berkat rokok, Roro Mendut terkengan, mengisi rubik informasi sejarah begitu kuatnya budaya merokok di \u00a0Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Pusaka Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek, Teman Perjuangan  Diponegoro<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Semasa berjuang melawan penjajah, yang harus dilakukan Diponegoro berpindah-pindah dari kota satu ke kota lain. Strategi perlawanan Diponegoro, kemudian sebagai basis strategi perang gerilya. Strategi yang menjadi idola dan kebanggaan tentara Indonesia. Dengan bergerilya, tentara Indonesia mampu mengecoh kekutan lawan yang lebih besar jumlahnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu, tenyata banyak cerita, Diponegoro saat berperang ditemani rokok. Ia dan pasukannya gemar merokok. Bahkan ketika tidak ada rokok, Pangeran Diponegoro rela hanya megunyah daun sirih yang diracik dengan kapur dan pinang. <\/p>\n\n\n\n

Kebiasaan ini, juga dialami oleh pengikut \/pasukan perang Pangeran Diponegoro. Bagi mereka, rokok teman sejati, menemani disetiap perjalanan mereka. Rokok menghilangkan depresi mereka, sebagai hiburan saat jauh dari keluarga demi berjuang melawan penjajah. Rokok menumbuhkan percaya diri mereka, lebih berani melawan penjajah walaupun hanya dengan serba keterbatasan, pasukan jumlah terbatas, alat perang terbatas dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Baca juga: Pangeran Diponegoro, Rokok Klobot dan Perlawanan Simbolis<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Jati Diri Bangsa<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Salah satu \u201cpendiri bangsa\u201d bernama KH. Agus Salim menghisap kretek dengan asapnya di kebal-kebulkan keudara, disaat ada perjamuan di Istana Buckingham ketika penobatan Elizabeth II sebagai Ratu kerajaan Inggris. Aroma khas keluar dari asap rokok kretek, tercium orang yang berada di ruang perjamuan. Sehingga memancing salah satu orang yang datang dalam perjamuan, dengan berkata; \u201ctuan sedang menghisap apa itu?\u201d.  Sentak KH. Agus Salim menjawab, \u201c inilah yang membuat nenek moyang anda sekian abad lalu datang dan kemudian menjajah negeri kami\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Jawaban KH. Agus Salim, faktanya memang benar. Rokok kretek tidak lain ada tambahan cengkeh (suzygium aromaticum<\/em>). \u00a0Tanaman legendaris menjadi rebutan dan sumber keuntungan kolonialisme Eropa atas Asia termasuk Indonesia. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Cengkeh adalah salah satu tanaman yang diperebutkan bangsa-bangsa dunia, sampai melegalkan penjajahan.  Dalam simpulan perjalanan ekspedisi cengkeh tahun 2013, Kepala Suku begitu julukan bagi Putut Ea, mengatakan \u201c jika saja tak pernah ada cengkeh dan pala di Maluku, mungkin sejarah kepulauan Nusantara ini akan berbeda sama sekali\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Simpulan Putut EA, sebagai salah satu pembenar perkataan \u00a0KH. Agus Salim. Mungkin, jika tanaman cengkeh tidak ada, fakta sejarah akan berbeda, tidak ada penjajahan di bumi Nusantara ini. <\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Mengisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek untuk Berteman dan Menjalin Persaudaraan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Teringat apa yang pernah dilakukan Menteri Sosial dan Lingkungan Hidup, saat melakukan pendekatan pada suku anak dalam di Jambi. Tidak lain ia adalah Khofifah menteri perempuan yang energik. Saat itu Khofifah bertanggungjawab dalam mengatasi masalah pendidikan dan kesejahteraan masyarakat suku anak dalam di Jambi.  <\/p>\n\n\n\n

Kebijakannya membuat fenomenal, selain bahan makanan, dan bantuan lain, khofifah juga membawa rokok.  Yang kemudian ada yang mengggugat dari anti rokok, tetapi sebagai Menteri, Khofifah tentunya sudah mengkaji secara mendalam. Dengan kecerdasannya , Khofifah menjawab dengan tegas dan lugas, \u201cjangan sok tahu kehidupan mereka, kenali apa yang menjadi ritme kehidupan mereka. Sangat bijaksana kalau kita semua pergi kesana, sehingga tahu adat istiadatnya juga. Tolong kalau ingin mengerti tentang kultur jangan hanya dari kacamata Jakarta. Saya pun ingin mengajak anda kesana, turun kesana, sapalah mereka\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Khofifah memberikan pelajaran bagi anti rokok. Tidak boleh sok tahu, apalagi selama ini antirokok hanya berasumsi, tanpa melihat fakta dilapangan. Khofifah juga menganjurkan agar lebih mengenal adat-istiadat, budaya dan tradisi masyarakat, tidak boleh melakukan hegemoni kultural, sebab keberagaman adat-istiadat dan budaya merupakan kekayaan negeri. <\/p>\n\n\n\n

Pelajaran Khofifah sangat mendalam dan bercirikhas Nusantara. Sebgaai Menteri \u00a0Sosial tentunya lebih berpengalaman apa yang dibutuhkan bangsa ini agar tetap jaya, bersatu dan utuh. Kenali perbedaan, hormati perbedaan, junjung tinggi budaya yang berbeda. \u00a0Apa yang telah dilakukan Khofifah dengan membawa rokok ke suku anak dalam adalah cermin penghormatan tradisi dan budaya masyarakat. Sebagai seorang Mentri, tentunya punya kuasa, artinya bisa seorang khofifah memberikan bantuan sesuai keinginannya sendiri, namun hal itu tidak dilakukan. Ia lebih mengedepankan penghormatan budaya masyarakat setempat, dengan membawa rokok untuk pendekatan dan pertemanan. Karena Khofifah tahu betul, bahwa merokok adalah budaya mereka, yang diwaris dari neneng moyang mereka. <\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: Memilih Jalan Hidup Menikmati Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Simbol Pergerakan Nasional     <\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Abdul Rifa\u2019I dalam media bintang timur terbit pada 03 Oktober 1927, mengatakan, \u201ckopinya bukan kopi saringan, tetapi kopi tubruk sebab kopi ini katanya nationaal, gulanya gula jawa, susu tidak dipakai karena tidak nationaal. Rokoknya kelobot, selamatan natioanaal ini terus berlangsung ed sampai pagi hari\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Semangat nasionalisme harus tertanam, mengedepankan produk lokal adalah salah satu semangat nasionalime. Salah satu keberadaan rokok klobot menjadi ciri produk asli indonesia dan harus dilestarikan. Klobot sendiri adalah ramuan tembakau dan cengkeh di gulung memakai daun jagung, embrio perkembangan menjadi rokok sigaret kretek tangan dan sigaret kretek mesin.  
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pusaran Budaya Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pusaran-budaya-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-04 08:40:41","post_modified_gmt":"2019-02-04 01:40:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5406","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5403,"post_author":"919","post_date":"2019-02-03 09:05:50","post_date_gmt":"2019-02-03 02:05:50","post_content":"\n

Seringkali saya menyaksikan berbagai film baik itu Eropa atau Asia yang menggambarkan tentang masa depan. Pemandangan soal masa depan tersebut dihadirkan dengan gambaran kecanggihan teknologi seperti robot yang akan membantu kehidupan manusia, gedung-gedung yang tingginya sudah amat tak bisa ditandingi,  hingga mobil-mobil yang bisa terbang. <\/p>\n\n\n\n

Pernah dalam masa kecil saya menyaksikan sebuah film animasi buatan jepang yang mempertanyakan tentang makanan di masa depan. Dengan santai salah satu tokoh yang berasal dari masa depan itu menjawab bahwa suatu saat nanti manusia akan mengonsumsi makanan berupa pasta gigi namun dengan rasa yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa, aneh!<\/p>\n\n\n\n

Seiring waktu berjalan saya kian tumbuh dewasa dan punya kesadaran untuk memilih menjadi seorang perokok<\/a>. Saya juga melihat ada sebuah inovasi dan gambaran tentang masa depan yang hadir dalam kehidupan sekarang. Banyak memang, namun yang menyita perhatian saya adalah rokok elektrik atau yang populer disebut Vape. Konon katanya ia adalah produk inovasi untuk menjembatani kebutuhan menghisap asap dan kecanggihan masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Di awal kehadirannya Vape memang mengundang decak kekaguman saya. Bagaimana bisa sebuah mesin kecil mengeluarkan asap yang katanya lebih menyehatkan daripada rokok.<\/strong> Meski pada akhirnya teori tersebut juga bisa dibantah oleh beberapa ilmuan dunia. Tapi ada satu yang saya amati selain soal kesehatan, rokok elektrik rupanya menghadirkan kultur dan budaya baru dalam kehidupan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: LAGI-LAGI IKLAN ROKOK, KAPAN KPAI TIDAK TEBANG PILIH? <\/a><\/h4>\n\n\n\n

Kehadiran teknologi memang kerap sedikit atau benyak mengubah gaya atau kultur suatu masyarakat. Begitu pula yang saya perhatikan dengan rokok elektrik. Satu hal yang mudah diamati adalah menjamurnya toko-toko kecil yang menjual vape serta liquid di berbagai tempat. Sebagai sebuah warna baru dalam masyarakat, penggunanya ramai-ramai mengunjungi tempat tersebut berinteraksi dengan penikmat lainnya dan membangun sebuah rumah komunitas yang fleksibel.<\/p>\n\n\n\n

Meski belum bisa dikatakan memiliki jumlah penikmat yang setara dengan para perokok, pengguna Vape mulai menunjukkan eksistensinya. Selain toko yang tersebar, ragam acara juga mereka buat di beberapa daerah. Dalam lingkungan saya, beberapa teman yang dulunya merupakan perokok aktif tertarik mengikuti event tersebut dan beralih mengisap rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Nun jauh di sana, di Amerika Serikat tepatnya, budaya Vape juga sudah mulai berkembang lama ketimbang di Tanah Air. Penikmatnya terbagi menjadi dua, ada yang dulunya bekas perokok dan ada yang memang menikmatinya sebagai gaya hidup. Wajar saja mengingat facebook tak memperbolehkan iklan tembakau di platform mereka, sebaliknya iklan tentang vape justru bertebaran. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi budaya baru yang berkembang di berbagai belahan dunia bahkan di Indonesia, Vape konon menjadi alternatif yang lebih bermanfaat daripada rokok. Dalih yang diusung selalu sama kepada para perokok tradisonal yaitu soal kesehatan dan lebih irit. Soal kesehatan tentu ada beberapa pendapat para ilmuan yang membantahnya, namun soal irit, saya rasa tidak. Memang satu liquid bisa digunakan untuk beberapa Minggu, akan tetapi yang saya lihat di lapangan justru sebaliknya. <\/p>\n\n\n\n

Beberapa penikmat rokok elektrik kerap berbelanja liquid yang mereka idamkan. Terkadang, hal tersebut yang membuat mereka boros karena terus mengeksplor rasa mana yang mereka idam-idamkan. Tak jarang juga liquid dengan harga mahal hingga ratus ribuan akan mereka beli. Sebaliknya, para perokok konvensional justru kerap bertahan dengan satu rasa atau merek saja.<\/p>\n\n\n\n

Sedikit berbeda dengan penikmat rokok konvensional atau kretek. Mengingat rokok kretek sudah menjadi kebudayan lokal yang terus dipertahankan selama bertahun-tahun, kehadirannya sudah mewarnai khasanah keindonesiaan. Perokok kretek juga sudah punya soliditas luar biasa yang terbentuk sejak lama dan terus terbangun mengiringi peradaban di Indonesia atau dunia.<\/p>\n\n\n\n

Kini, perokok elektrik mulai merasakan kegelisahan. Beberapa negara mulai menerapkan peraturan ketat terhadap Vape, sedangkan di Indonesia biaya cukai pun kini mulai diberlakukan terhadap perdagangan rokok elektrik. Keberadaannya di mata negara pun mulai dianggap sama seperti rokok, meski pada awalnya rokok elektrik hadir dengan slogan-slogan produk alternatif yang lebih menyehatkan (katanya).<\/p>\n\n\n\n


Tapi jika kemudian di masa depan memang rokok elektrik yang kemudian menjadi sesuatu yang populer dan dinikmati banyak orang. Rasanya saya tetap ingin hidup di jaman ini, dengan sebatang kretek di tangan dan menikmati segala khasanah kebudayaan yang patut terus dipertahankan. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"masa-depan-rokok-elektrik-dan-semangat-alternatif-yang-sia-sia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-03 09:05:56","post_modified_gmt":"2019-02-03 02:05:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5403","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5385,"post_author":"883","post_date":"2019-02-02 08:01:01","post_date_gmt":"2019-02-02 01:01:01","post_content":"Pada tahun 2014, perusahaan rokok multinasional Philip Morris Internasional Inc. merilis sebuah produk <\/span>perangkat\u00a0<\/span>
rokok<\/span><\/a>\u00a0tanpa asap, yang dipanaskan bukan dibakar atau istilahnya\u00a0<\/span>heat not burn<\/i><\/strong>\u00a0(HNB) iQOS<\/strong>. <\/span>\r\n\r\nPerangkat rokok tanpa asap dengan nama iQOS<\/a> ini berbentuk seperti bagian luar pulpen, dengan lubang di tengah untuk rokok. Produk yang berada di bawah brand Marlboro ini dapat memanaskan rokok sampai 350 derajat celcius lalu mengeluarkan uap nikotin beraroma tembakau<\/em><\/a>.<\/span>\r\n

Produk iQOS sebenarnya bukanlah produk rokok tanpa asap yang pertama muncul. Sebelumnya di tahun 1990-an, Reynolds Tobacco Co pernah merilis produk serupa bernama Eclipes yang juga dapat menguapkan nikotin setelah dinyalakan dengan korek api.<\/span><\/blockquote>\r\nSelain itu, Eclips juga dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. Namun, pada saat itu Eclips tidak diminati oleh pasar, utamanya para perokok konvensional. Meskipun Eclips dipromosikan sebagai produk rokok yang tidak menyisakan sampah abu atau meninggalkan bau di penggunanya. <\/span>\r\n\r\nBisnis semacam rokok tanpa asap seperti Eclips dan iQOS memang sudah menjadi bagian dari rencana panjang bisnis perusahaan-perusahaan rokok multinasional. Jadi tidak usah heran jika ke depannya akan kita akan banyak menemukan produk rokok tanpa asap ini.<\/span>\r\n\r\nWatak dari perusahaan multinasional memang seperti itu, mereka sangat jeli melihat peluang pasar ke depannya. Ketika market place perusahaan rokok multinasional saat ini terus dirongrong oleh kelompok antirokok, mereka tak kehabisan akal. Maka kemudian mereka menginovasi produk rokok konvensional menjadi rokok yang tidak berasap. Begitupun dengan mengikutsertakan jargon-jargon kesehatan dalam narasi promosi mereka.<\/span>\r\n\r\nSesungguhnya memang seperti itulah watak bisnis perusahaan-perusahaan multinasional, melakukan segala cara agar bisnis mereka tetap bertahan, meskipun harus merangkul musuh sekalipun. <\/span>\r\n\r\nYa kadang pura-pura berantem sama antirokok, tapi dibalik itu sebenarnya baik-baik saja, dan tentunya ada kompromi untuk terus melanggengkan bisnis mereka.<\/span>\r\n

Lalu siapa yang dirugikan dari permainan bisnis macam produk rokok tanpa asap perusahaan rokok multinasional ini?<\/span><\/h3>\r\nTentunya yang sangat dirugikan adalah produk hasil tembakau yang memiliki kekhasan seperti kretek di Indonesia. Kretek sebagai produk khas asli Indonesia yang menjadi bagian dari warisan kebudayaan tidak mungkin bertransformasi menjadi produk-produk elektrik dan sejenisnya.<\/span>\r\n\r\nKretek tetaplah kretek, dengan bahan baku alami tembakau dan cengkeh yang tidak diintervensi dengan zat atau perangkat penghantar lainnya. Karena dengan bentuk, karakter dan cara menikmatinya memang konvensional dan akan terus begitu apapun kondisi dan zamannya.<\/span>\r\n
Bisnis produk rokok tanpa asap (elektrik) juga menghajar kretek dengan mendompleng isu pengendalian tembakau. Kampanye pengendalian tembakau selalu membawa slogan bahaya merokok dan upaya untuk berhenti merokok. <\/span><\/blockquote>\r\nDari isu tersebut, rokok elektrik masuk dengan citra produk alternatif tembakau, bahkan mereka tak segan menilai bahwa rokok elektrik lebih aman ketimbang rokok konvensional, yakni kretek.<\/span>\r\n\r\nLalu jika Indonesia akan dibanjiri dengan produk-produk yang mengatasnamakan produk alternatif tembakau, macam rokok tanpa asap (iQOS dan sejenisnya), maka itulah pertanda bahwa kretek harus tergerus dari cara hidup manusia Indonesia dalam menikmati produk hasil tembakau khas Indonesia yang sudah turun-temurun lamanya dinikmati manusia Indonesia.<\/span>","post_title":"Nasib Kretek di Pusaran Pertarungan Bisnis Global Perusahaan Rokok Multinasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"nasib-kretek-di-pusaran-pertarungan-bisnis-global-perusahaan-rokok-multinasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-02 08:01:43","post_modified_gmt":"2019-02-02 01:01:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5385","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};