Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n \n\n\n
Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
<\/p>\n ","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_3o3","class":"epic_block_3"};
Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n \n\n \n
Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
<\/p>\n ","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_3o3","class":"epic_block_3"};
Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n \n\n\n
Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n \n\n \n
Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
<\/p>\n ","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_3o3","class":"epic_block_3"};
Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n \n\n\n
Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n \n\n \n
Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n \n\n \n
Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
<\/p>\n ","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_3o3","class":"epic_block_3"};
Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n \n\n\n
Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n \n\n \n
Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n \n\n \n
Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n \n\n \n
Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
<\/p>\n ","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_3o3","class":"epic_block_3"};
Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n \n\n \n
Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n \n\n \n
Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n \n\n \n
Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n \n\n \n
Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
<\/p>\n ","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_3o3","class":"epic_block_3"};
Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n \n\n\n
Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n \n\n \n
Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n \n\n \n
Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n \n\n \n
Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n \n\n \n
Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
<\/p>\n ","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_3o3","class":"epic_block_3"};
Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa kehadiran Bangsa Tionghoa di Nusantara tak hanya sebagai pedagang, namun juga sebagai pekerja (bahkan hingga pekerja kasar). Benny Setiono, seorang sejarahwan menyebutkan bahwa antara tahun 1760-1770 dalam jumlah yang besar memasuki nusantara melalui Kalimantan Barat. Mereka bekerja sebagai kuli pertambangan di sana dan di kemudian hari membentuk sebuah republik bernama Republik Lanfang yang konon katanya menjadi republik pertama di Asia Tenggara.<\/p>\n \n\n\n
Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n \n\n \n
Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n \n\n \n
Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n \n\n \n
Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n \n\n \n
Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n \n\n \n
Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
<\/p>\n ","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_3o3","class":"epic_block_3"};
Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa kehadiran Bangsa Tionghoa di Nusantara tak hanya sebagai pedagang, namun juga sebagai pekerja (bahkan hingga pekerja kasar). Benny Setiono, seorang sejarahwan menyebutkan bahwa antara tahun 1760-1770 dalam jumlah yang besar memasuki nusantara melalui Kalimantan Barat. Mereka bekerja sebagai kuli pertambangan di sana dan di kemudian hari membentuk sebuah republik bernama Republik Lanfang yang konon katanya menjadi republik pertama di Asia Tenggara.<\/p>\n \n\n \n
Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n \n\n \n
Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n \n\n \n
Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n \n\n \n
Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n \n\n \n
Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n \n\n \n
Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
<\/p>\n ","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_3o3","class":"epic_block_3"};
DNA Bangsa Tionghoa yang memang merupakan pedagang menjadi pembuka kisah interaksi antara nenek moyang berbagai suku di Nusantara dengan mereka. Beberapa kelenteng-kelenteng yang tersebar pada berbagai pesisir daerah di Nusantara jadi buktinya. Pelabuhan-pelabuhan tua di tanah air dan ramainya perdagangan di pesisir mempermudah bangsa kita berhubungan dengan Bangsa Tionghoa.<\/p>\n \n\n\n
Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa kehadiran Bangsa Tionghoa di Nusantara tak hanya sebagai pedagang, namun juga sebagai pekerja (bahkan hingga pekerja kasar). Benny Setiono, seorang sejarahwan menyebutkan bahwa antara tahun 1760-1770 dalam jumlah yang besar memasuki nusantara melalui Kalimantan Barat. Mereka bekerja sebagai kuli pertambangan di sana dan di kemudian hari membentuk sebuah republik bernama Republik Lanfang yang konon katanya menjadi republik pertama di Asia Tenggara.<\/p>\n \n\n \n
Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n \n\n \n
Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n \n\n \n
Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n \n\n \n
Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n \n\n \n
Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n \n\n \n
Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
<\/p>\n ","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_3o3","class":"epic_block_3"};
Berterimakasihlah kepada sang bapak bangsa, KH Abdurrahman Wahid atau yang dikenal dengan nama Gus Dur. Berkat kebijakannya saat menjadi Presiden Indonesia, Tahun Baru Imlek resmi dijadikan hari libur nasional dan dianggap sebagai salah satu hari raya di Tanah Air. Meski sentimen antitionghoa masih ada di sana-sini, tapi tetap tak bisa dipungkiri bahwa bangsa tionghoa sudah bersentuhan dengan budaya lokal dalam kurun waktu yang sangat panjang.<\/p>\n \n\n\n
DNA Bangsa Tionghoa yang memang merupakan pedagang menjadi pembuka kisah interaksi antara nenek moyang berbagai suku di Nusantara dengan mereka. Beberapa kelenteng-kelenteng yang tersebar pada berbagai pesisir daerah di Nusantara jadi buktinya. Pelabuhan-pelabuhan tua di tanah air dan ramainya perdagangan di pesisir mempermudah bangsa kita berhubungan dengan Bangsa Tionghoa.<\/p>\n \n\n \n
Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa kehadiran Bangsa Tionghoa di Nusantara tak hanya sebagai pedagang, namun juga sebagai pekerja (bahkan hingga pekerja kasar). Benny Setiono, seorang sejarahwan menyebutkan bahwa antara tahun 1760-1770 dalam jumlah yang besar memasuki nusantara melalui Kalimantan Barat. Mereka bekerja sebagai kuli pertambangan di sana dan di kemudian hari membentuk sebuah republik bernama Republik Lanfang yang konon katanya menjadi republik pertama di Asia Tenggara.<\/p>\n \n\n \n
Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n \n\n \n
Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n \n\n \n
Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n \n\n \n
Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n \n\n \n
Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n \n\n \n
Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
<\/p>\n ","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_3o3","class":"epic_block_3"};
Tahun Baru Imlek yang merupakan tradisi Bangsa Tiongkok kini sudah tak lagi menjadi hal yang asing bagi masyarakat Indonesia. Kehadirannya sudah mewarnai dan berakulturasi dengan tradisi lokal. Menjelang Tahun Baru Imlek. Berbagai hiasan dan kemeriahan terjadi beberapa titik di Tanah Air. Perayaannya juga menjadi destinasi baru yang mengasyikkan untuk dilihat dan patut disaksikan.<\/p>\n \n\n\n
Berterimakasihlah kepada sang bapak bangsa, KH Abdurrahman Wahid atau yang dikenal dengan nama Gus Dur. Berkat kebijakannya saat menjadi Presiden Indonesia, Tahun Baru Imlek resmi dijadikan hari libur nasional dan dianggap sebagai salah satu hari raya di Tanah Air. Meski sentimen antitionghoa masih ada di sana-sini, tapi tetap tak bisa dipungkiri bahwa bangsa tionghoa sudah bersentuhan dengan budaya lokal dalam kurun waktu yang sangat panjang.<\/p>\n \n\n \n
DNA Bangsa Tionghoa yang memang merupakan pedagang menjadi pembuka kisah interaksi antara nenek moyang berbagai suku di Nusantara dengan mereka. Beberapa kelenteng-kelenteng yang tersebar pada berbagai pesisir daerah di Nusantara jadi buktinya. Pelabuhan-pelabuhan tua di tanah air dan ramainya perdagangan di pesisir mempermudah bangsa kita berhubungan dengan Bangsa Tionghoa.<\/p>\n \n\n \n
Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa kehadiran Bangsa Tionghoa di Nusantara tak hanya sebagai pedagang, namun juga sebagai pekerja (bahkan hingga pekerja kasar). Benny Setiono, seorang sejarahwan menyebutkan bahwa antara tahun 1760-1770 dalam jumlah yang besar memasuki nusantara melalui Kalimantan Barat. Mereka bekerja sebagai kuli pertambangan di sana dan di kemudian hari membentuk sebuah republik bernama Republik Lanfang yang konon katanya menjadi republik pertama di Asia Tenggara.<\/p>\n \n\n \n
Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n \n\n \n
Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n \n\n \n
Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n \n\n \n
Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n \n\n \n
Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n \n\n \n
Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
<\/p>\n ","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_3o3","class":"epic_block_3"};
Maka, kampanye aneh mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain dengan ragam rupa dalih yang membingungkan, bukan saja sama sekali tidak tepat dan asal-asalan, namun bisa jadi akan ditertawakan oleh para petani yang begitu paham dengan kondisi lahan dan terutama kondisi iklim dan cuaca. Sulit mencari tanaman semusim yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Jika pun ada, tak ada yang semenguntungkan tanaman tembakau.
<\/p>\n ","post_title":"Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"keberhasilan-gerakan-anti-tembakau-tak-ada-tembakau-saat-musim-hujan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-07 12:16:02","post_modified_gmt":"2019-02-07 05:16:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5415","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5409,"post_author":"919","post_date":"2019-02-05 08:04:43","post_date_gmt":"2019-02-05 01:04:43","post_content":"\n
Tahun Baru Imlek yang merupakan tradisi Bangsa Tiongkok kini sudah tak lagi menjadi hal yang asing bagi masyarakat Indonesia. Kehadirannya sudah mewarnai dan berakulturasi dengan tradisi lokal. Menjelang Tahun Baru Imlek. Berbagai hiasan dan kemeriahan terjadi beberapa titik di Tanah Air. Perayaannya juga menjadi destinasi baru yang mengasyikkan untuk dilihat dan patut disaksikan.<\/p>\n \n\n \n
Berterimakasihlah kepada sang bapak bangsa, KH Abdurrahman Wahid atau yang dikenal dengan nama Gus Dur. Berkat kebijakannya saat menjadi Presiden Indonesia, Tahun Baru Imlek resmi dijadikan hari libur nasional dan dianggap sebagai salah satu hari raya di Tanah Air. Meski sentimen antitionghoa masih ada di sana-sini, tapi tetap tak bisa dipungkiri bahwa bangsa tionghoa sudah bersentuhan dengan budaya lokal dalam kurun waktu yang sangat panjang.<\/p>\n \n\n \n
DNA Bangsa Tionghoa yang memang merupakan pedagang menjadi pembuka kisah interaksi antara nenek moyang berbagai suku di Nusantara dengan mereka. Beberapa kelenteng-kelenteng yang tersebar pada berbagai pesisir daerah di Nusantara jadi buktinya. Pelabuhan-pelabuhan tua di tanah air dan ramainya perdagangan di pesisir mempermudah bangsa kita berhubungan dengan Bangsa Tionghoa.<\/p>\n \n\n \n
Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa kehadiran Bangsa Tionghoa di Nusantara tak hanya sebagai pedagang, namun juga sebagai pekerja (bahkan hingga pekerja kasar). Benny Setiono, seorang sejarahwan menyebutkan bahwa antara tahun 1760-1770 dalam jumlah yang besar memasuki nusantara melalui Kalimantan Barat. Mereka bekerja sebagai kuli pertambangan di sana dan di kemudian hari membentuk sebuah republik bernama Republik Lanfang yang konon katanya menjadi republik pertama di Asia Tenggara.<\/p>\n \n\n \n
Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n \n\n \n
Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n \n\n \n
Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n \n\n \n
Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n \n\n \n
Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n \n\n \n
Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
<\/p>\n ","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_3o3","class":"epic_block_3"};
Uniknya, tipikal tanaman tembakau yang tumbuh baik di musim kemarau ini memberi pilihan lebih kepada para petani. Lahan-lahan yang sulit ditanami pada musim kemarau, pada akhirnya masih bisa tetap produktif dengan keberadaan tanaman tembakau. <\/p>\n \n\n\n
Maka, kampanye aneh mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain dengan ragam rupa dalih yang membingungkan, bukan saja sama sekali tidak tepat dan asal-asalan, namun bisa jadi akan ditertawakan oleh para petani yang begitu paham dengan kondisi lahan dan terutama kondisi iklim dan cuaca. Sulit mencari tanaman semusim yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Jika pun ada, tak ada yang semenguntungkan tanaman tembakau.
<\/p>\n ","post_title":"Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"keberhasilan-gerakan-anti-tembakau-tak-ada-tembakau-saat-musim-hujan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-07 12:16:02","post_modified_gmt":"2019-02-07 05:16:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5415","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5409,"post_author":"919","post_date":"2019-02-05 08:04:43","post_date_gmt":"2019-02-05 01:04:43","post_content":" \n
Tahun Baru Imlek yang merupakan tradisi Bangsa Tiongkok kini sudah tak lagi menjadi hal yang asing bagi masyarakat Indonesia. Kehadirannya sudah mewarnai dan berakulturasi dengan tradisi lokal. Menjelang Tahun Baru Imlek. Berbagai hiasan dan kemeriahan terjadi beberapa titik di Tanah Air. Perayaannya juga menjadi destinasi baru yang mengasyikkan untuk dilihat dan patut disaksikan.<\/p>\n \n\n \n
Berterimakasihlah kepada sang bapak bangsa, KH Abdurrahman Wahid atau yang dikenal dengan nama Gus Dur. Berkat kebijakannya saat menjadi Presiden Indonesia, Tahun Baru Imlek resmi dijadikan hari libur nasional dan dianggap sebagai salah satu hari raya di Tanah Air. Meski sentimen antitionghoa masih ada di sana-sini, tapi tetap tak bisa dipungkiri bahwa bangsa tionghoa sudah bersentuhan dengan budaya lokal dalam kurun waktu yang sangat panjang.<\/p>\n \n\n \n
DNA Bangsa Tionghoa yang memang merupakan pedagang menjadi pembuka kisah interaksi antara nenek moyang berbagai suku di Nusantara dengan mereka. Beberapa kelenteng-kelenteng yang tersebar pada berbagai pesisir daerah di Nusantara jadi buktinya. Pelabuhan-pelabuhan tua di tanah air dan ramainya perdagangan di pesisir mempermudah bangsa kita berhubungan dengan Bangsa Tionghoa.<\/p>\n \n\n \n
Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa kehadiran Bangsa Tionghoa di Nusantara tak hanya sebagai pedagang, namun juga sebagai pekerja (bahkan hingga pekerja kasar). Benny Setiono, seorang sejarahwan menyebutkan bahwa antara tahun 1760-1770 dalam jumlah yang besar memasuki nusantara melalui Kalimantan Barat. Mereka bekerja sebagai kuli pertambangan di sana dan di kemudian hari membentuk sebuah republik bernama Republik Lanfang yang konon katanya menjadi republik pertama di Asia Tenggara.<\/p>\n \n\n \n
Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n \n\n \n
Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n \n\n \n
Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n \n\n \n
Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n \n\n \n
Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n \n\n \n
Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
<\/p>\n ","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_3o3","class":"epic_block_3"};
Maka, tak heran pada musim-musim seperti saat ini, ketika musim penghujan mendekati puncaknya, di wilayah-wilayah yang dikenal sebagai sentra pertanian tembakau, sulit menemukan pohon tembakau yang sedang tumbuh. Pada lahan-lahan yang sebelumnya ditumbuhi tanaman tembakau pada musim panas, berganti tanaman-tanaman lain yang bermacam-macam, sesuai dengan kondisi lahannya. Untuk lahan sawah, lahan-lahan itu pada musim penghujan kini ditumbuhi tanaman padi yang subur. Pada lahan tegalan dan lahan di pegunungan, lahan-lahan yang ditanami tembakau pada musim kemarau, saat ini ditumbuhi bermacam jenis tanaman mulai dari cabai, bawang, tomat, kol, terong, mentimun, dan ragam jenis tanaman semusim lainnya.<\/p>\n \n\n\n
Uniknya, tipikal tanaman tembakau yang tumbuh baik di musim kemarau ini memberi pilihan lebih kepada para petani. Lahan-lahan yang sulit ditanami pada musim kemarau, pada akhirnya masih bisa tetap produktif dengan keberadaan tanaman tembakau. <\/p>\n \n\n \n
Maka, kampanye aneh mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain dengan ragam rupa dalih yang membingungkan, bukan saja sama sekali tidak tepat dan asal-asalan, namun bisa jadi akan ditertawakan oleh para petani yang begitu paham dengan kondisi lahan dan terutama kondisi iklim dan cuaca. Sulit mencari tanaman semusim yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Jika pun ada, tak ada yang semenguntungkan tanaman tembakau.
<\/p>\n ","post_title":"Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"keberhasilan-gerakan-anti-tembakau-tak-ada-tembakau-saat-musim-hujan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-07 12:16:02","post_modified_gmt":"2019-02-07 05:16:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5415","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5409,"post_author":"919","post_date":"2019-02-05 08:04:43","post_date_gmt":"2019-02-05 01:04:43","post_content":" \n
Tahun Baru Imlek yang merupakan tradisi Bangsa Tiongkok kini sudah tak lagi menjadi hal yang asing bagi masyarakat Indonesia. Kehadirannya sudah mewarnai dan berakulturasi dengan tradisi lokal. Menjelang Tahun Baru Imlek. Berbagai hiasan dan kemeriahan terjadi beberapa titik di Tanah Air. Perayaannya juga menjadi destinasi baru yang mengasyikkan untuk dilihat dan patut disaksikan.<\/p>\n \n\n \n
Berterimakasihlah kepada sang bapak bangsa, KH Abdurrahman Wahid atau yang dikenal dengan nama Gus Dur. Berkat kebijakannya saat menjadi Presiden Indonesia, Tahun Baru Imlek resmi dijadikan hari libur nasional dan dianggap sebagai salah satu hari raya di Tanah Air. Meski sentimen antitionghoa masih ada di sana-sini, tapi tetap tak bisa dipungkiri bahwa bangsa tionghoa sudah bersentuhan dengan budaya lokal dalam kurun waktu yang sangat panjang.<\/p>\n \n\n \n
DNA Bangsa Tionghoa yang memang merupakan pedagang menjadi pembuka kisah interaksi antara nenek moyang berbagai suku di Nusantara dengan mereka. Beberapa kelenteng-kelenteng yang tersebar pada berbagai pesisir daerah di Nusantara jadi buktinya. Pelabuhan-pelabuhan tua di tanah air dan ramainya perdagangan di pesisir mempermudah bangsa kita berhubungan dengan Bangsa Tionghoa.<\/p>\n \n\n \n
Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa kehadiran Bangsa Tionghoa di Nusantara tak hanya sebagai pedagang, namun juga sebagai pekerja (bahkan hingga pekerja kasar). Benny Setiono, seorang sejarahwan menyebutkan bahwa antara tahun 1760-1770 dalam jumlah yang besar memasuki nusantara melalui Kalimantan Barat. Mereka bekerja sebagai kuli pertambangan di sana dan di kemudian hari membentuk sebuah republik bernama Republik Lanfang yang konon katanya menjadi republik pertama di Asia Tenggara.<\/p>\n \n\n \n
Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n \n\n \n
Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n \n\n \n
Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n \n\n \n
Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n \n\n \n
Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n \n\n \n
Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
<\/p>\n ","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_3o3","class":"epic_block_3"};
Jika ditanam pada musim hujan, hampir bisa dipastikan tanaman tembakau akan gagal menghasilkan daun-daun yang berkualitas. Ia akan rusak dan membusuk karena terlalu banyak terkena air sehingga daun-daun itu tak layak dijual. Jangankan bisa dijual, untuk tumbuh dengan baik pun sepertinya sulit karena musim hujan akan membunuh banyak tanaman itu.<\/p>\n \n\n\n
Maka, tak heran pada musim-musim seperti saat ini, ketika musim penghujan mendekati puncaknya, di wilayah-wilayah yang dikenal sebagai sentra pertanian tembakau, sulit menemukan pohon tembakau yang sedang tumbuh. Pada lahan-lahan yang sebelumnya ditumbuhi tanaman tembakau pada musim panas, berganti tanaman-tanaman lain yang bermacam-macam, sesuai dengan kondisi lahannya. Untuk lahan sawah, lahan-lahan itu pada musim penghujan kini ditumbuhi tanaman padi yang subur. Pada lahan tegalan dan lahan di pegunungan, lahan-lahan yang ditanami tembakau pada musim kemarau, saat ini ditumbuhi bermacam jenis tanaman mulai dari cabai, bawang, tomat, kol, terong, mentimun, dan ragam jenis tanaman semusim lainnya.<\/p>\n \n\n \n
Uniknya, tipikal tanaman tembakau yang tumbuh baik di musim kemarau ini memberi pilihan lebih kepada para petani. Lahan-lahan yang sulit ditanami pada musim kemarau, pada akhirnya masih bisa tetap produktif dengan keberadaan tanaman tembakau. <\/p>\n \n\n \n
Maka, kampanye aneh mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain dengan ragam rupa dalih yang membingungkan, bukan saja sama sekali tidak tepat dan asal-asalan, namun bisa jadi akan ditertawakan oleh para petani yang begitu paham dengan kondisi lahan dan terutama kondisi iklim dan cuaca. Sulit mencari tanaman semusim yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Jika pun ada, tak ada yang semenguntungkan tanaman tembakau.
<\/p>\n ","post_title":"Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"keberhasilan-gerakan-anti-tembakau-tak-ada-tembakau-saat-musim-hujan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-07 12:16:02","post_modified_gmt":"2019-02-07 05:16:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5415","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5409,"post_author":"919","post_date":"2019-02-05 08:04:43","post_date_gmt":"2019-02-05 01:04:43","post_content":" \n
Tahun Baru Imlek yang merupakan tradisi Bangsa Tiongkok kini sudah tak lagi menjadi hal yang asing bagi masyarakat Indonesia. Kehadirannya sudah mewarnai dan berakulturasi dengan tradisi lokal. Menjelang Tahun Baru Imlek. Berbagai hiasan dan kemeriahan terjadi beberapa titik di Tanah Air. Perayaannya juga menjadi destinasi baru yang mengasyikkan untuk dilihat dan patut disaksikan.<\/p>\n \n\n \n
Berterimakasihlah kepada sang bapak bangsa, KH Abdurrahman Wahid atau yang dikenal dengan nama Gus Dur. Berkat kebijakannya saat menjadi Presiden Indonesia, Tahun Baru Imlek resmi dijadikan hari libur nasional dan dianggap sebagai salah satu hari raya di Tanah Air. Meski sentimen antitionghoa masih ada di sana-sini, tapi tetap tak bisa dipungkiri bahwa bangsa tionghoa sudah bersentuhan dengan budaya lokal dalam kurun waktu yang sangat panjang.<\/p>\n \n\n \n
DNA Bangsa Tionghoa yang memang merupakan pedagang menjadi pembuka kisah interaksi antara nenek moyang berbagai suku di Nusantara dengan mereka. Beberapa kelenteng-kelenteng yang tersebar pada berbagai pesisir daerah di Nusantara jadi buktinya. Pelabuhan-pelabuhan tua di tanah air dan ramainya perdagangan di pesisir mempermudah bangsa kita berhubungan dengan Bangsa Tionghoa.<\/p>\n \n\n \n
Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa kehadiran Bangsa Tionghoa di Nusantara tak hanya sebagai pedagang, namun juga sebagai pekerja (bahkan hingga pekerja kasar). Benny Setiono, seorang sejarahwan menyebutkan bahwa antara tahun 1760-1770 dalam jumlah yang besar memasuki nusantara melalui Kalimantan Barat. Mereka bekerja sebagai kuli pertambangan di sana dan di kemudian hari membentuk sebuah republik bernama Republik Lanfang yang konon katanya menjadi republik pertama di Asia Tenggara.<\/p>\n \n\n \n
Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n \n\n \n
Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n \n\n \n
Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n \n\n \n
Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n \n\n \n
Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n \n\n \n
Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
<\/p>\n ","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_3o3","class":"epic_block_3"};
Tembakau tanaman yang khas. Ia hanya tumbuh baik sepanjang empat hingga lima bulan dalam satu tahun. Tumbuh-kembang tanaman tembakau dengan baik itu umumnya terjadi pada musim kemarau setiap tahunnya. Hanya sedikit sekali jenis tembakau yang tumbuh baik di musim penghujan, mayoritasnya, tumbuh baik pada musim kemarau.<\/p>\n \n\n\n
Jika ditanam pada musim hujan, hampir bisa dipastikan tanaman tembakau akan gagal menghasilkan daun-daun yang berkualitas. Ia akan rusak dan membusuk karena terlalu banyak terkena air sehingga daun-daun itu tak layak dijual. Jangankan bisa dijual, untuk tumbuh dengan baik pun sepertinya sulit karena musim hujan akan membunuh banyak tanaman itu.<\/p>\n \n\n \n
Maka, tak heran pada musim-musim seperti saat ini, ketika musim penghujan mendekati puncaknya, di wilayah-wilayah yang dikenal sebagai sentra pertanian tembakau, sulit menemukan pohon tembakau yang sedang tumbuh. Pada lahan-lahan yang sebelumnya ditumbuhi tanaman tembakau pada musim panas, berganti tanaman-tanaman lain yang bermacam-macam, sesuai dengan kondisi lahannya. Untuk lahan sawah, lahan-lahan itu pada musim penghujan kini ditumbuhi tanaman padi yang subur. Pada lahan tegalan dan lahan di pegunungan, lahan-lahan yang ditanami tembakau pada musim kemarau, saat ini ditumbuhi bermacam jenis tanaman mulai dari cabai, bawang, tomat, kol, terong, mentimun, dan ragam jenis tanaman semusim lainnya.<\/p>\n \n\n \n
Uniknya, tipikal tanaman tembakau yang tumbuh baik di musim kemarau ini memberi pilihan lebih kepada para petani. Lahan-lahan yang sulit ditanami pada musim kemarau, pada akhirnya masih bisa tetap produktif dengan keberadaan tanaman tembakau. <\/p>\n \n\n \n
Maka, kampanye aneh mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain dengan ragam rupa dalih yang membingungkan, bukan saja sama sekali tidak tepat dan asal-asalan, namun bisa jadi akan ditertawakan oleh para petani yang begitu paham dengan kondisi lahan dan terutama kondisi iklim dan cuaca. Sulit mencari tanaman semusim yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Jika pun ada, tak ada yang semenguntungkan tanaman tembakau.
<\/p>\n ","post_title":"Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"keberhasilan-gerakan-anti-tembakau-tak-ada-tembakau-saat-musim-hujan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-07 12:16:02","post_modified_gmt":"2019-02-07 05:16:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5415","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5409,"post_author":"919","post_date":"2019-02-05 08:04:43","post_date_gmt":"2019-02-05 01:04:43","post_content":" \n
Tahun Baru Imlek yang merupakan tradisi Bangsa Tiongkok kini sudah tak lagi menjadi hal yang asing bagi masyarakat Indonesia. Kehadirannya sudah mewarnai dan berakulturasi dengan tradisi lokal. Menjelang Tahun Baru Imlek. Berbagai hiasan dan kemeriahan terjadi beberapa titik di Tanah Air. Perayaannya juga menjadi destinasi baru yang mengasyikkan untuk dilihat dan patut disaksikan.<\/p>\n \n\n \n
Berterimakasihlah kepada sang bapak bangsa, KH Abdurrahman Wahid atau yang dikenal dengan nama Gus Dur. Berkat kebijakannya saat menjadi Presiden Indonesia, Tahun Baru Imlek resmi dijadikan hari libur nasional dan dianggap sebagai salah satu hari raya di Tanah Air. Meski sentimen antitionghoa masih ada di sana-sini, tapi tetap tak bisa dipungkiri bahwa bangsa tionghoa sudah bersentuhan dengan budaya lokal dalam kurun waktu yang sangat panjang.<\/p>\n \n\n \n
DNA Bangsa Tionghoa yang memang merupakan pedagang menjadi pembuka kisah interaksi antara nenek moyang berbagai suku di Nusantara dengan mereka. Beberapa kelenteng-kelenteng yang tersebar pada berbagai pesisir daerah di Nusantara jadi buktinya. Pelabuhan-pelabuhan tua di tanah air dan ramainya perdagangan di pesisir mempermudah bangsa kita berhubungan dengan Bangsa Tionghoa.<\/p>\n \n\n \n
Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa kehadiran Bangsa Tionghoa di Nusantara tak hanya sebagai pedagang, namun juga sebagai pekerja (bahkan hingga pekerja kasar). Benny Setiono, seorang sejarahwan menyebutkan bahwa antara tahun 1760-1770 dalam jumlah yang besar memasuki nusantara melalui Kalimantan Barat. Mereka bekerja sebagai kuli pertambangan di sana dan di kemudian hari membentuk sebuah republik bernama Republik Lanfang yang konon katanya menjadi republik pertama di Asia Tenggara.<\/p>\n \n\n \n
Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n \n\n \n
Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n \n\n \n
Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n \n\n \n
Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n \n\n \n
Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n \n\n \n
Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
<\/p>\n ","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_3o3","class":"epic_block_3"};
Tembakau tanaman yang khas. Ia hanya tumbuh baik sepanjang empat hingga lima bulan dalam satu tahun. Tumbuh-kembang tanaman tembakau dengan baik itu umumnya terjadi pada musim kemarau setiap tahunnya. Hanya sedikit sekali jenis tembakau yang tumbuh baik di musim penghujan, mayoritasnya, tumbuh baik pada musim kemarau.<\/p>\n \n\n \n
Jika ditanam pada musim hujan, hampir bisa dipastikan tanaman tembakau akan gagal menghasilkan daun-daun yang berkualitas. Ia akan rusak dan membusuk karena terlalu banyak terkena air sehingga daun-daun itu tak layak dijual. Jangankan bisa dijual, untuk tumbuh dengan baik pun sepertinya sulit karena musim hujan akan membunuh banyak tanaman itu.<\/p>\n \n\n \n
Maka, tak heran pada musim-musim seperti saat ini, ketika musim penghujan mendekati puncaknya, di wilayah-wilayah yang dikenal sebagai sentra pertanian tembakau, sulit menemukan pohon tembakau yang sedang tumbuh. Pada lahan-lahan yang sebelumnya ditumbuhi tanaman tembakau pada musim panas, berganti tanaman-tanaman lain yang bermacam-macam, sesuai dengan kondisi lahannya. Untuk lahan sawah, lahan-lahan itu pada musim penghujan kini ditumbuhi tanaman padi yang subur. Pada lahan tegalan dan lahan di pegunungan, lahan-lahan yang ditanami tembakau pada musim kemarau, saat ini ditumbuhi bermacam jenis tanaman mulai dari cabai, bawang, tomat, kol, terong, mentimun, dan ragam jenis tanaman semusim lainnya.<\/p>\n \n\n \n
Uniknya, tipikal tanaman tembakau yang tumbuh baik di musim kemarau ini memberi pilihan lebih kepada para petani. Lahan-lahan yang sulit ditanami pada musim kemarau, pada akhirnya masih bisa tetap produktif dengan keberadaan tanaman tembakau. <\/p>\n \n\n \n
Maka, kampanye aneh mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain dengan ragam rupa dalih yang membingungkan, bukan saja sama sekali tidak tepat dan asal-asalan, namun bisa jadi akan ditertawakan oleh para petani yang begitu paham dengan kondisi lahan dan terutama kondisi iklim dan cuaca. Sulit mencari tanaman semusim yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Jika pun ada, tak ada yang semenguntungkan tanaman tembakau.
<\/p>\n ","post_title":"Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"keberhasilan-gerakan-anti-tembakau-tak-ada-tembakau-saat-musim-hujan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-07 12:16:02","post_modified_gmt":"2019-02-07 05:16:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5415","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5409,"post_author":"919","post_date":"2019-02-05 08:04:43","post_date_gmt":"2019-02-05 01:04:43","post_content":" \n
Tahun Baru Imlek yang merupakan tradisi Bangsa Tiongkok kini sudah tak lagi menjadi hal yang asing bagi masyarakat Indonesia. Kehadirannya sudah mewarnai dan berakulturasi dengan tradisi lokal. Menjelang Tahun Baru Imlek. Berbagai hiasan dan kemeriahan terjadi beberapa titik di Tanah Air. Perayaannya juga menjadi destinasi baru yang mengasyikkan untuk dilihat dan patut disaksikan.<\/p>\n \n\n \n
Berterimakasihlah kepada sang bapak bangsa, KH Abdurrahman Wahid atau yang dikenal dengan nama Gus Dur. Berkat kebijakannya saat menjadi Presiden Indonesia, Tahun Baru Imlek resmi dijadikan hari libur nasional dan dianggap sebagai salah satu hari raya di Tanah Air. Meski sentimen antitionghoa masih ada di sana-sini, tapi tetap tak bisa dipungkiri bahwa bangsa tionghoa sudah bersentuhan dengan budaya lokal dalam kurun waktu yang sangat panjang.<\/p>\n \n\n \n
DNA Bangsa Tionghoa yang memang merupakan pedagang menjadi pembuka kisah interaksi antara nenek moyang berbagai suku di Nusantara dengan mereka. Beberapa kelenteng-kelenteng yang tersebar pada berbagai pesisir daerah di Nusantara jadi buktinya. Pelabuhan-pelabuhan tua di tanah air dan ramainya perdagangan di pesisir mempermudah bangsa kita berhubungan dengan Bangsa Tionghoa.<\/p>\n \n\n \n
Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa kehadiran Bangsa Tionghoa di Nusantara tak hanya sebagai pedagang, namun juga sebagai pekerja (bahkan hingga pekerja kasar). Benny Setiono, seorang sejarahwan menyebutkan bahwa antara tahun 1760-1770 dalam jumlah yang besar memasuki nusantara melalui Kalimantan Barat. Mereka bekerja sebagai kuli pertambangan di sana dan di kemudian hari membentuk sebuah republik bernama Republik Lanfang yang konon katanya menjadi republik pertama di Asia Tenggara.<\/p>\n \n\n \n
Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n \n\n \n
Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n \n\n \n
Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n \n\n \n
Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n \n\n \n
Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n \n\n \n
Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
<\/p>\n ","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_3o3","class":"epic_block_3"};
Salah satu yang selalu mereka kampanyekan dan ngotot dengan itu, terkait hulu pertanian tembakau adalah mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya. Mereka berargumen banyak tanaman lain yang bisa semenguntungkan tanaman tembakau. Keengganan mereka terjun langsung ke lapangan inilah yang membikin mereka buta dengan kondisi pertanian tembakau dan pada akhirnya terus menerus mengampanyekan pergantian tanaman tembakau dengan tanaman lainnya.<\/p>\n \n\n\n
Tembakau tanaman yang khas. Ia hanya tumbuh baik sepanjang empat hingga lima bulan dalam satu tahun. Tumbuh-kembang tanaman tembakau dengan baik itu umumnya terjadi pada musim kemarau setiap tahunnya. Hanya sedikit sekali jenis tembakau yang tumbuh baik di musim penghujan, mayoritasnya, tumbuh baik pada musim kemarau.<\/p>\n \n\n \n
Jika ditanam pada musim hujan, hampir bisa dipastikan tanaman tembakau akan gagal menghasilkan daun-daun yang berkualitas. Ia akan rusak dan membusuk karena terlalu banyak terkena air sehingga daun-daun itu tak layak dijual. Jangankan bisa dijual, untuk tumbuh dengan baik pun sepertinya sulit karena musim hujan akan membunuh banyak tanaman itu.<\/p>\n \n\n \n
Maka, tak heran pada musim-musim seperti saat ini, ketika musim penghujan mendekati puncaknya, di wilayah-wilayah yang dikenal sebagai sentra pertanian tembakau, sulit menemukan pohon tembakau yang sedang tumbuh. Pada lahan-lahan yang sebelumnya ditumbuhi tanaman tembakau pada musim panas, berganti tanaman-tanaman lain yang bermacam-macam, sesuai dengan kondisi lahannya. Untuk lahan sawah, lahan-lahan itu pada musim penghujan kini ditumbuhi tanaman padi yang subur. Pada lahan tegalan dan lahan di pegunungan, lahan-lahan yang ditanami tembakau pada musim kemarau, saat ini ditumbuhi bermacam jenis tanaman mulai dari cabai, bawang, tomat, kol, terong, mentimun, dan ragam jenis tanaman semusim lainnya.<\/p>\n \n\n \n
Uniknya, tipikal tanaman tembakau yang tumbuh baik di musim kemarau ini memberi pilihan lebih kepada para petani. Lahan-lahan yang sulit ditanami pada musim kemarau, pada akhirnya masih bisa tetap produktif dengan keberadaan tanaman tembakau. <\/p>\n \n\n \n
Maka, kampanye aneh mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain dengan ragam rupa dalih yang membingungkan, bukan saja sama sekali tidak tepat dan asal-asalan, namun bisa jadi akan ditertawakan oleh para petani yang begitu paham dengan kondisi lahan dan terutama kondisi iklim dan cuaca. Sulit mencari tanaman semusim yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Jika pun ada, tak ada yang semenguntungkan tanaman tembakau.
<\/p>\n ","post_title":"Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"keberhasilan-gerakan-anti-tembakau-tak-ada-tembakau-saat-musim-hujan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-07 12:16:02","post_modified_gmt":"2019-02-07 05:16:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5415","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5409,"post_author":"919","post_date":"2019-02-05 08:04:43","post_date_gmt":"2019-02-05 01:04:43","post_content":" \n
Tahun Baru Imlek yang merupakan tradisi Bangsa Tiongkok kini sudah tak lagi menjadi hal yang asing bagi masyarakat Indonesia. Kehadirannya sudah mewarnai dan berakulturasi dengan tradisi lokal. Menjelang Tahun Baru Imlek. Berbagai hiasan dan kemeriahan terjadi beberapa titik di Tanah Air. Perayaannya juga menjadi destinasi baru yang mengasyikkan untuk dilihat dan patut disaksikan.<\/p>\n \n\n \n
Berterimakasihlah kepada sang bapak bangsa, KH Abdurrahman Wahid atau yang dikenal dengan nama Gus Dur. Berkat kebijakannya saat menjadi Presiden Indonesia, Tahun Baru Imlek resmi dijadikan hari libur nasional dan dianggap sebagai salah satu hari raya di Tanah Air. Meski sentimen antitionghoa masih ada di sana-sini, tapi tetap tak bisa dipungkiri bahwa bangsa tionghoa sudah bersentuhan dengan budaya lokal dalam kurun waktu yang sangat panjang.<\/p>\n \n\n \n
DNA Bangsa Tionghoa yang memang merupakan pedagang menjadi pembuka kisah interaksi antara nenek moyang berbagai suku di Nusantara dengan mereka. Beberapa kelenteng-kelenteng yang tersebar pada berbagai pesisir daerah di Nusantara jadi buktinya. Pelabuhan-pelabuhan tua di tanah air dan ramainya perdagangan di pesisir mempermudah bangsa kita berhubungan dengan Bangsa Tionghoa.<\/p>\n \n\n \n
Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa kehadiran Bangsa Tionghoa di Nusantara tak hanya sebagai pedagang, namun juga sebagai pekerja (bahkan hingga pekerja kasar). Benny Setiono, seorang sejarahwan menyebutkan bahwa antara tahun 1760-1770 dalam jumlah yang besar memasuki nusantara melalui Kalimantan Barat. Mereka bekerja sebagai kuli pertambangan di sana dan di kemudian hari membentuk sebuah republik bernama Republik Lanfang yang konon katanya menjadi republik pertama di Asia Tenggara.<\/p>\n \n\n \n
Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n \n\n \n
Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n \n\n \n
Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n \n\n \n
Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n \n\n \n
Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n \n\n \n
Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
<\/p>\n ","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_3o3","class":"epic_block_3"};
Fenomena ini membikin kita tak bisa melihat mereka para anti-rokok kecele lalu menertawakan mereka.<\/strong> Fenomena keengganan terjun langsung ke lapangan terlebih mencoba mendengar mereka yang tetap menanam tembakau, juga menjalani keseharian dalam waktu cukup lama bersama petani tembakau inilah yang saya kira menjadikan mereka tetap keras kepala untuk anti-rokok dan anti-tembakau. Karena jika mereka mau melakukan itu, saya yakin mereka semua tidak akan begitu kaku dalam memandang pertanian tembakau dan produk hasil industri tembakau.<\/p>\n \n\n\n Salah satu yang selalu mereka kampanyekan dan ngotot dengan itu, terkait hulu pertanian tembakau adalah mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya. Mereka berargumen banyak tanaman lain yang bisa semenguntungkan tanaman tembakau. Keengganan mereka terjun langsung ke lapangan inilah yang membikin mereka buta dengan kondisi pertanian tembakau dan pada akhirnya terus menerus mengampanyekan pergantian tanaman tembakau dengan tanaman lainnya.<\/p>\n \n\n \n Tembakau tanaman yang khas. Ia hanya tumbuh baik sepanjang empat hingga lima bulan dalam satu tahun. Tumbuh-kembang tanaman tembakau dengan baik itu umumnya terjadi pada musim kemarau setiap tahunnya. Hanya sedikit sekali jenis tembakau yang tumbuh baik di musim penghujan, mayoritasnya, tumbuh baik pada musim kemarau.<\/p>\n \n\n \n Jika ditanam pada musim hujan, hampir bisa dipastikan tanaman tembakau akan gagal menghasilkan daun-daun yang berkualitas. Ia akan rusak dan membusuk karena terlalu banyak terkena air sehingga daun-daun itu tak layak dijual. Jangankan bisa dijual, untuk tumbuh dengan baik pun sepertinya sulit karena musim hujan akan membunuh banyak tanaman itu.<\/p>\n \n\n \n Maka, tak heran pada musim-musim seperti saat ini, ketika musim penghujan mendekati puncaknya, di wilayah-wilayah yang dikenal sebagai sentra pertanian tembakau, sulit menemukan pohon tembakau yang sedang tumbuh. Pada lahan-lahan yang sebelumnya ditumbuhi tanaman tembakau pada musim panas, berganti tanaman-tanaman lain yang bermacam-macam, sesuai dengan kondisi lahannya. Untuk lahan sawah, lahan-lahan itu pada musim penghujan kini ditumbuhi tanaman padi yang subur. Pada lahan tegalan dan lahan di pegunungan, lahan-lahan yang ditanami tembakau pada musim kemarau, saat ini ditumbuhi bermacam jenis tanaman mulai dari cabai, bawang, tomat, kol, terong, mentimun, dan ragam jenis tanaman semusim lainnya.<\/p>\n \n\n \n Uniknya, tipikal tanaman tembakau yang tumbuh baik di musim kemarau ini memberi pilihan lebih kepada para petani. Lahan-lahan yang sulit ditanami pada musim kemarau, pada akhirnya masih bisa tetap produktif dengan keberadaan tanaman tembakau. <\/p>\n \n\n \n Maka, kampanye aneh mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain dengan ragam rupa dalih yang membingungkan, bukan saja sama sekali tidak tepat dan asal-asalan, namun bisa jadi akan ditertawakan oleh para petani yang begitu paham dengan kondisi lahan dan terutama kondisi iklim dan cuaca. Sulit mencari tanaman semusim yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Jika pun ada, tak ada yang semenguntungkan tanaman tembakau. Tahun Baru Imlek yang merupakan tradisi Bangsa Tiongkok kini sudah tak lagi menjadi hal yang asing bagi masyarakat Indonesia. Kehadirannya sudah mewarnai dan berakulturasi dengan tradisi lokal. Menjelang Tahun Baru Imlek. Berbagai hiasan dan kemeriahan terjadi beberapa titik di Tanah Air. Perayaannya juga menjadi destinasi baru yang mengasyikkan untuk dilihat dan patut disaksikan.<\/p>\n \n\n \n Berterimakasihlah kepada sang bapak bangsa, KH Abdurrahman Wahid atau yang dikenal dengan nama Gus Dur. Berkat kebijakannya saat menjadi Presiden Indonesia, Tahun Baru Imlek resmi dijadikan hari libur nasional dan dianggap sebagai salah satu hari raya di Tanah Air. Meski sentimen antitionghoa masih ada di sana-sini, tapi tetap tak bisa dipungkiri bahwa bangsa tionghoa sudah bersentuhan dengan budaya lokal dalam kurun waktu yang sangat panjang.<\/p>\n \n\n \n DNA Bangsa Tionghoa yang memang merupakan pedagang menjadi pembuka kisah interaksi antara nenek moyang berbagai suku di Nusantara dengan mereka. Beberapa kelenteng-kelenteng yang tersebar pada berbagai pesisir daerah di Nusantara jadi buktinya. Pelabuhan-pelabuhan tua di tanah air dan ramainya perdagangan di pesisir mempermudah bangsa kita berhubungan dengan Bangsa Tionghoa.<\/p>\n \n\n \n Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa kehadiran Bangsa Tionghoa di Nusantara tak hanya sebagai pedagang, namun juga sebagai pekerja (bahkan hingga pekerja kasar). Benny Setiono, seorang sejarahwan menyebutkan bahwa antara tahun 1760-1770 dalam jumlah yang besar memasuki nusantara melalui Kalimantan Barat. Mereka bekerja sebagai kuli pertambangan di sana dan di kemudian hari membentuk sebuah republik bernama Republik Lanfang yang konon katanya menjadi republik pertama di Asia Tenggara.<\/p>\n \n\n \n Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n \n\n \n Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n \n\n \n Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n \n\n \n Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n \n\n \n Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n \n\n \n Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai! Fenomena ini membikin kita tak bisa melihat mereka para anti-rokok kecele lalu menertawakan mereka.<\/strong> Fenomena keengganan terjun langsung ke lapangan terlebih mencoba mendengar mereka yang tetap menanam tembakau, juga menjalani keseharian dalam waktu cukup lama bersama petani tembakau inilah yang saya kira menjadikan mereka tetap keras kepala untuk anti-rokok dan anti-tembakau. Karena jika mereka mau melakukan itu, saya yakin mereka semua tidak akan begitu kaku dalam memandang pertanian tembakau dan produk hasil industri tembakau.<\/p>\n \n\n \n Salah satu yang selalu mereka kampanyekan dan ngotot dengan itu, terkait hulu pertanian tembakau adalah mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya. Mereka berargumen banyak tanaman lain yang bisa semenguntungkan tanaman tembakau. Keengganan mereka terjun langsung ke lapangan inilah yang membikin mereka buta dengan kondisi pertanian tembakau dan pada akhirnya terus menerus mengampanyekan pergantian tanaman tembakau dengan tanaman lainnya.<\/p>\n \n\n \n Tembakau tanaman yang khas. Ia hanya tumbuh baik sepanjang empat hingga lima bulan dalam satu tahun. Tumbuh-kembang tanaman tembakau dengan baik itu umumnya terjadi pada musim kemarau setiap tahunnya. Hanya sedikit sekali jenis tembakau yang tumbuh baik di musim penghujan, mayoritasnya, tumbuh baik pada musim kemarau.<\/p>\n \n\n \n Jika ditanam pada musim hujan, hampir bisa dipastikan tanaman tembakau akan gagal menghasilkan daun-daun yang berkualitas. Ia akan rusak dan membusuk karena terlalu banyak terkena air sehingga daun-daun itu tak layak dijual. Jangankan bisa dijual, untuk tumbuh dengan baik pun sepertinya sulit karena musim hujan akan membunuh banyak tanaman itu.<\/p>\n \n\n \n Maka, tak heran pada musim-musim seperti saat ini, ketika musim penghujan mendekati puncaknya, di wilayah-wilayah yang dikenal sebagai sentra pertanian tembakau, sulit menemukan pohon tembakau yang sedang tumbuh. Pada lahan-lahan yang sebelumnya ditumbuhi tanaman tembakau pada musim panas, berganti tanaman-tanaman lain yang bermacam-macam, sesuai dengan kondisi lahannya. Untuk lahan sawah, lahan-lahan itu pada musim penghujan kini ditumbuhi tanaman padi yang subur. Pada lahan tegalan dan lahan di pegunungan, lahan-lahan yang ditanami tembakau pada musim kemarau, saat ini ditumbuhi bermacam jenis tanaman mulai dari cabai, bawang, tomat, kol, terong, mentimun, dan ragam jenis tanaman semusim lainnya.<\/p>\n \n\n \n Uniknya, tipikal tanaman tembakau yang tumbuh baik di musim kemarau ini memberi pilihan lebih kepada para petani. Lahan-lahan yang sulit ditanami pada musim kemarau, pada akhirnya masih bisa tetap produktif dengan keberadaan tanaman tembakau. <\/p>\n \n\n \n Maka, kampanye aneh mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain dengan ragam rupa dalih yang membingungkan, bukan saja sama sekali tidak tepat dan asal-asalan, namun bisa jadi akan ditertawakan oleh para petani yang begitu paham dengan kondisi lahan dan terutama kondisi iklim dan cuaca. Sulit mencari tanaman semusim yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Jika pun ada, tak ada yang semenguntungkan tanaman tembakau. Tahun Baru Imlek yang merupakan tradisi Bangsa Tiongkok kini sudah tak lagi menjadi hal yang asing bagi masyarakat Indonesia. Kehadirannya sudah mewarnai dan berakulturasi dengan tradisi lokal. Menjelang Tahun Baru Imlek. Berbagai hiasan dan kemeriahan terjadi beberapa titik di Tanah Air. Perayaannya juga menjadi destinasi baru yang mengasyikkan untuk dilihat dan patut disaksikan.<\/p>\n \n\n \n Berterimakasihlah kepada sang bapak bangsa, KH Abdurrahman Wahid atau yang dikenal dengan nama Gus Dur. Berkat kebijakannya saat menjadi Presiden Indonesia, Tahun Baru Imlek resmi dijadikan hari libur nasional dan dianggap sebagai salah satu hari raya di Tanah Air. Meski sentimen antitionghoa masih ada di sana-sini, tapi tetap tak bisa dipungkiri bahwa bangsa tionghoa sudah bersentuhan dengan budaya lokal dalam kurun waktu yang sangat panjang.<\/p>\n \n\n \n DNA Bangsa Tionghoa yang memang merupakan pedagang menjadi pembuka kisah interaksi antara nenek moyang berbagai suku di Nusantara dengan mereka. Beberapa kelenteng-kelenteng yang tersebar pada berbagai pesisir daerah di Nusantara jadi buktinya. Pelabuhan-pelabuhan tua di tanah air dan ramainya perdagangan di pesisir mempermudah bangsa kita berhubungan dengan Bangsa Tionghoa.<\/p>\n \n\n \n Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa kehadiran Bangsa Tionghoa di Nusantara tak hanya sebagai pedagang, namun juga sebagai pekerja (bahkan hingga pekerja kasar). Benny Setiono, seorang sejarahwan menyebutkan bahwa antara tahun 1760-1770 dalam jumlah yang besar memasuki nusantara melalui Kalimantan Barat. Mereka bekerja sebagai kuli pertambangan di sana dan di kemudian hari membentuk sebuah republik bernama Republik Lanfang yang konon katanya menjadi republik pertama di Asia Tenggara.<\/p>\n \n\n \n Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n \n\n \n Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n \n\n \n Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n \n\n \n Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n \n\n \n Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n \n\n \n Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai! Sayangnya, mereka yang menganggap dirinya anti-rokok dan anti-tembakau tidak menyaksikan langsung fenomena ini di lapangan, di lahan-lahan yang peruntukannya berubah pada hari-hari belakangan ini ketika memasuki musim hujan. Mereka asyik duduk pada kursi empuk di ruang-ruang nyaman ber-AC di kota-kota yang jauh dari kultur pertanian. Mereka menyengajakan diri menjadi elit dan enggan untuk turun melihat langsung ke lapangan. Kalaupun ada yang turun langsung ke lapangan, hanya segelintir saja dari mereka, itupun sekadar formalitas saja. Tak pernah benar-benar mau turun ke lapangan, hidup dan merasakan langsung kultur pertanian tembakau dalam jangka waktu cukup lama di lapangan.<\/p>\n \n\n\n Fenomena ini membikin kita tak bisa melihat mereka para anti-rokok kecele lalu menertawakan mereka.<\/strong> Fenomena keengganan terjun langsung ke lapangan terlebih mencoba mendengar mereka yang tetap menanam tembakau, juga menjalani keseharian dalam waktu cukup lama bersama petani tembakau inilah yang saya kira menjadikan mereka tetap keras kepala untuk anti-rokok dan anti-tembakau. Karena jika mereka mau melakukan itu, saya yakin mereka semua tidak akan begitu kaku dalam memandang pertanian tembakau dan produk hasil industri tembakau.<\/p>\n \n\n \n Salah satu yang selalu mereka kampanyekan dan ngotot dengan itu, terkait hulu pertanian tembakau adalah mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya. Mereka berargumen banyak tanaman lain yang bisa semenguntungkan tanaman tembakau. Keengganan mereka terjun langsung ke lapangan inilah yang membikin mereka buta dengan kondisi pertanian tembakau dan pada akhirnya terus menerus mengampanyekan pergantian tanaman tembakau dengan tanaman lainnya.<\/p>\n \n\n \n Tembakau tanaman yang khas. Ia hanya tumbuh baik sepanjang empat hingga lima bulan dalam satu tahun. Tumbuh-kembang tanaman tembakau dengan baik itu umumnya terjadi pada musim kemarau setiap tahunnya. Hanya sedikit sekali jenis tembakau yang tumbuh baik di musim penghujan, mayoritasnya, tumbuh baik pada musim kemarau.<\/p>\n \n\n \n Jika ditanam pada musim hujan, hampir bisa dipastikan tanaman tembakau akan gagal menghasilkan daun-daun yang berkualitas. Ia akan rusak dan membusuk karena terlalu banyak terkena air sehingga daun-daun itu tak layak dijual. Jangankan bisa dijual, untuk tumbuh dengan baik pun sepertinya sulit karena musim hujan akan membunuh banyak tanaman itu.<\/p>\n \n\n \n Maka, tak heran pada musim-musim seperti saat ini, ketika musim penghujan mendekati puncaknya, di wilayah-wilayah yang dikenal sebagai sentra pertanian tembakau, sulit menemukan pohon tembakau yang sedang tumbuh. Pada lahan-lahan yang sebelumnya ditumbuhi tanaman tembakau pada musim panas, berganti tanaman-tanaman lain yang bermacam-macam, sesuai dengan kondisi lahannya. Untuk lahan sawah, lahan-lahan itu pada musim penghujan kini ditumbuhi tanaman padi yang subur. Pada lahan tegalan dan lahan di pegunungan, lahan-lahan yang ditanami tembakau pada musim kemarau, saat ini ditumbuhi bermacam jenis tanaman mulai dari cabai, bawang, tomat, kol, terong, mentimun, dan ragam jenis tanaman semusim lainnya.<\/p>\n \n\n \n Uniknya, tipikal tanaman tembakau yang tumbuh baik di musim kemarau ini memberi pilihan lebih kepada para petani. Lahan-lahan yang sulit ditanami pada musim kemarau, pada akhirnya masih bisa tetap produktif dengan keberadaan tanaman tembakau. <\/p>\n \n\n \n Maka, kampanye aneh mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain dengan ragam rupa dalih yang membingungkan, bukan saja sama sekali tidak tepat dan asal-asalan, namun bisa jadi akan ditertawakan oleh para petani yang begitu paham dengan kondisi lahan dan terutama kondisi iklim dan cuaca. Sulit mencari tanaman semusim yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Jika pun ada, tak ada yang semenguntungkan tanaman tembakau. Tahun Baru Imlek yang merupakan tradisi Bangsa Tiongkok kini sudah tak lagi menjadi hal yang asing bagi masyarakat Indonesia. Kehadirannya sudah mewarnai dan berakulturasi dengan tradisi lokal. Menjelang Tahun Baru Imlek. Berbagai hiasan dan kemeriahan terjadi beberapa titik di Tanah Air. Perayaannya juga menjadi destinasi baru yang mengasyikkan untuk dilihat dan patut disaksikan.<\/p>\n \n\n \n Berterimakasihlah kepada sang bapak bangsa, KH Abdurrahman Wahid atau yang dikenal dengan nama Gus Dur. Berkat kebijakannya saat menjadi Presiden Indonesia, Tahun Baru Imlek resmi dijadikan hari libur nasional dan dianggap sebagai salah satu hari raya di Tanah Air. Meski sentimen antitionghoa masih ada di sana-sini, tapi tetap tak bisa dipungkiri bahwa bangsa tionghoa sudah bersentuhan dengan budaya lokal dalam kurun waktu yang sangat panjang.<\/p>\n \n\n \n DNA Bangsa Tionghoa yang memang merupakan pedagang menjadi pembuka kisah interaksi antara nenek moyang berbagai suku di Nusantara dengan mereka. Beberapa kelenteng-kelenteng yang tersebar pada berbagai pesisir daerah di Nusantara jadi buktinya. Pelabuhan-pelabuhan tua di tanah air dan ramainya perdagangan di pesisir mempermudah bangsa kita berhubungan dengan Bangsa Tionghoa.<\/p>\n \n\n \n Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa kehadiran Bangsa Tionghoa di Nusantara tak hanya sebagai pedagang, namun juga sebagai pekerja (bahkan hingga pekerja kasar). Benny Setiono, seorang sejarahwan menyebutkan bahwa antara tahun 1760-1770 dalam jumlah yang besar memasuki nusantara melalui Kalimantan Barat. Mereka bekerja sebagai kuli pertambangan di sana dan di kemudian hari membentuk sebuah republik bernama Republik Lanfang yang konon katanya menjadi republik pertama di Asia Tenggara.<\/p>\n \n\n \n Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n \n\n \n Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n \n\n \n Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n \n\n \n Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n \n\n \n Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n \n\n \n Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai! Kampanye-kampanye gerakan mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya, sepertinya juga sangat berhasil. Bagaimana tidak? Wilayah-wilayah yang sebelumnya penuh dengan tanaman tembakau dan bergeliat dengannya, kini lahan-lahannya sudah berganti dengan tanaman lain. Sebuah keberhasilan yang menggembirakan. Begitu mungkin pikir mereka para yang menganggap dirinya pejuang anti-rokok dan anti-tembakau. Dan tentu saja mereka akan kecele dan kita akan menertawakan hal itu.<\/p>\n \n\n\n Sayangnya, mereka yang menganggap dirinya anti-rokok dan anti-tembakau tidak menyaksikan langsung fenomena ini di lapangan, di lahan-lahan yang peruntukannya berubah pada hari-hari belakangan ini ketika memasuki musim hujan. Mereka asyik duduk pada kursi empuk di ruang-ruang nyaman ber-AC di kota-kota yang jauh dari kultur pertanian. Mereka menyengajakan diri menjadi elit dan enggan untuk turun melihat langsung ke lapangan. Kalaupun ada yang turun langsung ke lapangan, hanya segelintir saja dari mereka, itupun sekadar formalitas saja. Tak pernah benar-benar mau turun ke lapangan, hidup dan merasakan langsung kultur pertanian tembakau dalam jangka waktu cukup lama di lapangan.<\/p>\n \n\n \n Fenomena ini membikin kita tak bisa melihat mereka para anti-rokok kecele lalu menertawakan mereka.<\/strong> Fenomena keengganan terjun langsung ke lapangan terlebih mencoba mendengar mereka yang tetap menanam tembakau, juga menjalani keseharian dalam waktu cukup lama bersama petani tembakau inilah yang saya kira menjadikan mereka tetap keras kepala untuk anti-rokok dan anti-tembakau. Karena jika mereka mau melakukan itu, saya yakin mereka semua tidak akan begitu kaku dalam memandang pertanian tembakau dan produk hasil industri tembakau.<\/p>\n \n\n \n Salah satu yang selalu mereka kampanyekan dan ngotot dengan itu, terkait hulu pertanian tembakau adalah mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya. Mereka berargumen banyak tanaman lain yang bisa semenguntungkan tanaman tembakau. Keengganan mereka terjun langsung ke lapangan inilah yang membikin mereka buta dengan kondisi pertanian tembakau dan pada akhirnya terus menerus mengampanyekan pergantian tanaman tembakau dengan tanaman lainnya.<\/p>\n \n\n \n Tembakau tanaman yang khas. Ia hanya tumbuh baik sepanjang empat hingga lima bulan dalam satu tahun. Tumbuh-kembang tanaman tembakau dengan baik itu umumnya terjadi pada musim kemarau setiap tahunnya. Hanya sedikit sekali jenis tembakau yang tumbuh baik di musim penghujan, mayoritasnya, tumbuh baik pada musim kemarau.<\/p>\n \n\n \n Jika ditanam pada musim hujan, hampir bisa dipastikan tanaman tembakau akan gagal menghasilkan daun-daun yang berkualitas. Ia akan rusak dan membusuk karena terlalu banyak terkena air sehingga daun-daun itu tak layak dijual. Jangankan bisa dijual, untuk tumbuh dengan baik pun sepertinya sulit karena musim hujan akan membunuh banyak tanaman itu.<\/p>\n \n\n \n Maka, tak heran pada musim-musim seperti saat ini, ketika musim penghujan mendekati puncaknya, di wilayah-wilayah yang dikenal sebagai sentra pertanian tembakau, sulit menemukan pohon tembakau yang sedang tumbuh. Pada lahan-lahan yang sebelumnya ditumbuhi tanaman tembakau pada musim panas, berganti tanaman-tanaman lain yang bermacam-macam, sesuai dengan kondisi lahannya. Untuk lahan sawah, lahan-lahan itu pada musim penghujan kini ditumbuhi tanaman padi yang subur. Pada lahan tegalan dan lahan di pegunungan, lahan-lahan yang ditanami tembakau pada musim kemarau, saat ini ditumbuhi bermacam jenis tanaman mulai dari cabai, bawang, tomat, kol, terong, mentimun, dan ragam jenis tanaman semusim lainnya.<\/p>\n \n\n \n Uniknya, tipikal tanaman tembakau yang tumbuh baik di musim kemarau ini memberi pilihan lebih kepada para petani. Lahan-lahan yang sulit ditanami pada musim kemarau, pada akhirnya masih bisa tetap produktif dengan keberadaan tanaman tembakau. <\/p>\n \n\n \n Maka, kampanye aneh mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain dengan ragam rupa dalih yang membingungkan, bukan saja sama sekali tidak tepat dan asal-asalan, namun bisa jadi akan ditertawakan oleh para petani yang begitu paham dengan kondisi lahan dan terutama kondisi iklim dan cuaca. Sulit mencari tanaman semusim yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Jika pun ada, tak ada yang semenguntungkan tanaman tembakau. Tahun Baru Imlek yang merupakan tradisi Bangsa Tiongkok kini sudah tak lagi menjadi hal yang asing bagi masyarakat Indonesia. Kehadirannya sudah mewarnai dan berakulturasi dengan tradisi lokal. Menjelang Tahun Baru Imlek. Berbagai hiasan dan kemeriahan terjadi beberapa titik di Tanah Air. Perayaannya juga menjadi destinasi baru yang mengasyikkan untuk dilihat dan patut disaksikan.<\/p>\n \n\n \n Berterimakasihlah kepada sang bapak bangsa, KH Abdurrahman Wahid atau yang dikenal dengan nama Gus Dur. Berkat kebijakannya saat menjadi Presiden Indonesia, Tahun Baru Imlek resmi dijadikan hari libur nasional dan dianggap sebagai salah satu hari raya di Tanah Air. Meski sentimen antitionghoa masih ada di sana-sini, tapi tetap tak bisa dipungkiri bahwa bangsa tionghoa sudah bersentuhan dengan budaya lokal dalam kurun waktu yang sangat panjang.<\/p>\n \n\n \n DNA Bangsa Tionghoa yang memang merupakan pedagang menjadi pembuka kisah interaksi antara nenek moyang berbagai suku di Nusantara dengan mereka. Beberapa kelenteng-kelenteng yang tersebar pada berbagai pesisir daerah di Nusantara jadi buktinya. Pelabuhan-pelabuhan tua di tanah air dan ramainya perdagangan di pesisir mempermudah bangsa kita berhubungan dengan Bangsa Tionghoa.<\/p>\n \n\n \n Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa kehadiran Bangsa Tionghoa di Nusantara tak hanya sebagai pedagang, namun juga sebagai pekerja (bahkan hingga pekerja kasar). Benny Setiono, seorang sejarahwan menyebutkan bahwa antara tahun 1760-1770 dalam jumlah yang besar memasuki nusantara melalui Kalimantan Barat. Mereka bekerja sebagai kuli pertambangan di sana dan di kemudian hari membentuk sebuah republik bernama Republik Lanfang yang konon katanya menjadi republik pertama di Asia Tenggara.<\/p>\n \n\n \n Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n \n\n \n Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n \n\n \n Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n \n\n \n Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n \n\n \n Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n \n\n \n Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai! Tak sia-sia turun ke jalan, tak sia-sia melakukan lobi-lobi ke penguasa, tak sia-sia mengucurkan uang yang tidak sedikit, dan tak sia-sia mempermalukan diri dengan mengemis ke lembaga donor asing dan menggondol uang dari cukai tembakau untuk mengampanyekan gerakan anti-rokok dan anti-tembakau. Tak sia-sia. Karena perjuangan sepertinya berhasil.<\/p><\/blockquote>\n \n\n\n Kampanye-kampanye gerakan mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya, sepertinya juga sangat berhasil. Bagaimana tidak? Wilayah-wilayah yang sebelumnya penuh dengan tanaman tembakau dan bergeliat dengannya, kini lahan-lahannya sudah berganti dengan tanaman lain. Sebuah keberhasilan yang menggembirakan. Begitu mungkin pikir mereka para yang menganggap dirinya pejuang anti-rokok dan anti-tembakau. Dan tentu saja mereka akan kecele dan kita akan menertawakan hal itu.<\/p>\n \n\n \n Sayangnya, mereka yang menganggap dirinya anti-rokok dan anti-tembakau tidak menyaksikan langsung fenomena ini di lapangan, di lahan-lahan yang peruntukannya berubah pada hari-hari belakangan ini ketika memasuki musim hujan. Mereka asyik duduk pada kursi empuk di ruang-ruang nyaman ber-AC di kota-kota yang jauh dari kultur pertanian. Mereka menyengajakan diri menjadi elit dan enggan untuk turun melihat langsung ke lapangan. Kalaupun ada yang turun langsung ke lapangan, hanya segelintir saja dari mereka, itupun sekadar formalitas saja. Tak pernah benar-benar mau turun ke lapangan, hidup dan merasakan langsung kultur pertanian tembakau dalam jangka waktu cukup lama di lapangan.<\/p>\n \n\n \n Fenomena ini membikin kita tak bisa melihat mereka para anti-rokok kecele lalu menertawakan mereka.<\/strong> Fenomena keengganan terjun langsung ke lapangan terlebih mencoba mendengar mereka yang tetap menanam tembakau, juga menjalani keseharian dalam waktu cukup lama bersama petani tembakau inilah yang saya kira menjadikan mereka tetap keras kepala untuk anti-rokok dan anti-tembakau. Karena jika mereka mau melakukan itu, saya yakin mereka semua tidak akan begitu kaku dalam memandang pertanian tembakau dan produk hasil industri tembakau.<\/p>\n \n\n \n Salah satu yang selalu mereka kampanyekan dan ngotot dengan itu, terkait hulu pertanian tembakau adalah mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya. Mereka berargumen banyak tanaman lain yang bisa semenguntungkan tanaman tembakau. Keengganan mereka terjun langsung ke lapangan inilah yang membikin mereka buta dengan kondisi pertanian tembakau dan pada akhirnya terus menerus mengampanyekan pergantian tanaman tembakau dengan tanaman lainnya.<\/p>\n \n\n \n Tembakau tanaman yang khas. Ia hanya tumbuh baik sepanjang empat hingga lima bulan dalam satu tahun. Tumbuh-kembang tanaman tembakau dengan baik itu umumnya terjadi pada musim kemarau setiap tahunnya. Hanya sedikit sekali jenis tembakau yang tumbuh baik di musim penghujan, mayoritasnya, tumbuh baik pada musim kemarau.<\/p>\n \n\n \n Jika ditanam pada musim hujan, hampir bisa dipastikan tanaman tembakau akan gagal menghasilkan daun-daun yang berkualitas. Ia akan rusak dan membusuk karena terlalu banyak terkena air sehingga daun-daun itu tak layak dijual. Jangankan bisa dijual, untuk tumbuh dengan baik pun sepertinya sulit karena musim hujan akan membunuh banyak tanaman itu.<\/p>\n \n\n \n Maka, tak heran pada musim-musim seperti saat ini, ketika musim penghujan mendekati puncaknya, di wilayah-wilayah yang dikenal sebagai sentra pertanian tembakau, sulit menemukan pohon tembakau yang sedang tumbuh. Pada lahan-lahan yang sebelumnya ditumbuhi tanaman tembakau pada musim panas, berganti tanaman-tanaman lain yang bermacam-macam, sesuai dengan kondisi lahannya. Untuk lahan sawah, lahan-lahan itu pada musim penghujan kini ditumbuhi tanaman padi yang subur. Pada lahan tegalan dan lahan di pegunungan, lahan-lahan yang ditanami tembakau pada musim kemarau, saat ini ditumbuhi bermacam jenis tanaman mulai dari cabai, bawang, tomat, kol, terong, mentimun, dan ragam jenis tanaman semusim lainnya.<\/p>\n \n\n \n Uniknya, tipikal tanaman tembakau yang tumbuh baik di musim kemarau ini memberi pilihan lebih kepada para petani. Lahan-lahan yang sulit ditanami pada musim kemarau, pada akhirnya masih bisa tetap produktif dengan keberadaan tanaman tembakau. <\/p>\n \n\n \n Maka, kampanye aneh mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain dengan ragam rupa dalih yang membingungkan, bukan saja sama sekali tidak tepat dan asal-asalan, namun bisa jadi akan ditertawakan oleh para petani yang begitu paham dengan kondisi lahan dan terutama kondisi iklim dan cuaca. Sulit mencari tanaman semusim yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Jika pun ada, tak ada yang semenguntungkan tanaman tembakau. Tahun Baru Imlek yang merupakan tradisi Bangsa Tiongkok kini sudah tak lagi menjadi hal yang asing bagi masyarakat Indonesia. Kehadirannya sudah mewarnai dan berakulturasi dengan tradisi lokal. Menjelang Tahun Baru Imlek. Berbagai hiasan dan kemeriahan terjadi beberapa titik di Tanah Air. Perayaannya juga menjadi destinasi baru yang mengasyikkan untuk dilihat dan patut disaksikan.<\/p>\n \n\n \n Berterimakasihlah kepada sang bapak bangsa, KH Abdurrahman Wahid atau yang dikenal dengan nama Gus Dur. Berkat kebijakannya saat menjadi Presiden Indonesia, Tahun Baru Imlek resmi dijadikan hari libur nasional dan dianggap sebagai salah satu hari raya di Tanah Air. Meski sentimen antitionghoa masih ada di sana-sini, tapi tetap tak bisa dipungkiri bahwa bangsa tionghoa sudah bersentuhan dengan budaya lokal dalam kurun waktu yang sangat panjang.<\/p>\n \n\n \n DNA Bangsa Tionghoa yang memang merupakan pedagang menjadi pembuka kisah interaksi antara nenek moyang berbagai suku di Nusantara dengan mereka. Beberapa kelenteng-kelenteng yang tersebar pada berbagai pesisir daerah di Nusantara jadi buktinya. Pelabuhan-pelabuhan tua di tanah air dan ramainya perdagangan di pesisir mempermudah bangsa kita berhubungan dengan Bangsa Tionghoa.<\/p>\n \n\n \n Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa kehadiran Bangsa Tionghoa di Nusantara tak hanya sebagai pedagang, namun juga sebagai pekerja (bahkan hingga pekerja kasar). Benny Setiono, seorang sejarahwan menyebutkan bahwa antara tahun 1760-1770 dalam jumlah yang besar memasuki nusantara melalui Kalimantan Barat. Mereka bekerja sebagai kuli pertambangan di sana dan di kemudian hari membentuk sebuah republik bernama Republik Lanfang yang konon katanya menjadi republik pertama di Asia Tenggara.<\/p>\n \n\n \n Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n \n\n \n Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n \n\n \n Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n \n\n \n Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n \n\n \n Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n \n\n \n Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai! Tak sia-sia turun ke jalan, tak sia-sia melakukan lobi-lobi ke penguasa, tak sia-sia mengucurkan uang yang tidak sedikit, dan tak sia-sia mempermalukan diri dengan mengemis ke lembaga donor asing dan menggondol uang dari cukai tembakau untuk mengampanyekan gerakan anti-rokok dan anti-tembakau. Tak sia-sia. Karena perjuangan sepertinya berhasil.<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n Kampanye-kampanye gerakan mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya, sepertinya juga sangat berhasil. Bagaimana tidak? Wilayah-wilayah yang sebelumnya penuh dengan tanaman tembakau dan bergeliat dengannya, kini lahan-lahannya sudah berganti dengan tanaman lain. Sebuah keberhasilan yang menggembirakan. Begitu mungkin pikir mereka para yang menganggap dirinya pejuang anti-rokok dan anti-tembakau. Dan tentu saja mereka akan kecele dan kita akan menertawakan hal itu.<\/p>\n \n\n \n Sayangnya, mereka yang menganggap dirinya anti-rokok dan anti-tembakau tidak menyaksikan langsung fenomena ini di lapangan, di lahan-lahan yang peruntukannya berubah pada hari-hari belakangan ini ketika memasuki musim hujan. Mereka asyik duduk pada kursi empuk di ruang-ruang nyaman ber-AC di kota-kota yang jauh dari kultur pertanian. Mereka menyengajakan diri menjadi elit dan enggan untuk turun melihat langsung ke lapangan. Kalaupun ada yang turun langsung ke lapangan, hanya segelintir saja dari mereka, itupun sekadar formalitas saja. Tak pernah benar-benar mau turun ke lapangan, hidup dan merasakan langsung kultur pertanian tembakau dalam jangka waktu cukup lama di lapangan.<\/p>\n \n\n \n Fenomena ini membikin kita tak bisa melihat mereka para anti-rokok kecele lalu menertawakan mereka.<\/strong> Fenomena keengganan terjun langsung ke lapangan terlebih mencoba mendengar mereka yang tetap menanam tembakau, juga menjalani keseharian dalam waktu cukup lama bersama petani tembakau inilah yang saya kira menjadikan mereka tetap keras kepala untuk anti-rokok dan anti-tembakau. Karena jika mereka mau melakukan itu, saya yakin mereka semua tidak akan begitu kaku dalam memandang pertanian tembakau dan produk hasil industri tembakau.<\/p>\n \n\n \n Salah satu yang selalu mereka kampanyekan dan ngotot dengan itu, terkait hulu pertanian tembakau adalah mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya. Mereka berargumen banyak tanaman lain yang bisa semenguntungkan tanaman tembakau. Keengganan mereka terjun langsung ke lapangan inilah yang membikin mereka buta dengan kondisi pertanian tembakau dan pada akhirnya terus menerus mengampanyekan pergantian tanaman tembakau dengan tanaman lainnya.<\/p>\n \n\n \n Tembakau tanaman yang khas. Ia hanya tumbuh baik sepanjang empat hingga lima bulan dalam satu tahun. Tumbuh-kembang tanaman tembakau dengan baik itu umumnya terjadi pada musim kemarau setiap tahunnya. Hanya sedikit sekali jenis tembakau yang tumbuh baik di musim penghujan, mayoritasnya, tumbuh baik pada musim kemarau.<\/p>\n \n\n \n Jika ditanam pada musim hujan, hampir bisa dipastikan tanaman tembakau akan gagal menghasilkan daun-daun yang berkualitas. Ia akan rusak dan membusuk karena terlalu banyak terkena air sehingga daun-daun itu tak layak dijual. Jangankan bisa dijual, untuk tumbuh dengan baik pun sepertinya sulit karena musim hujan akan membunuh banyak tanaman itu.<\/p>\n \n\n \n Maka, tak heran pada musim-musim seperti saat ini, ketika musim penghujan mendekati puncaknya, di wilayah-wilayah yang dikenal sebagai sentra pertanian tembakau, sulit menemukan pohon tembakau yang sedang tumbuh. Pada lahan-lahan yang sebelumnya ditumbuhi tanaman tembakau pada musim panas, berganti tanaman-tanaman lain yang bermacam-macam, sesuai dengan kondisi lahannya. Untuk lahan sawah, lahan-lahan itu pada musim penghujan kini ditumbuhi tanaman padi yang subur. Pada lahan tegalan dan lahan di pegunungan, lahan-lahan yang ditanami tembakau pada musim kemarau, saat ini ditumbuhi bermacam jenis tanaman mulai dari cabai, bawang, tomat, kol, terong, mentimun, dan ragam jenis tanaman semusim lainnya.<\/p>\n \n\n \n Uniknya, tipikal tanaman tembakau yang tumbuh baik di musim kemarau ini memberi pilihan lebih kepada para petani. Lahan-lahan yang sulit ditanami pada musim kemarau, pada akhirnya masih bisa tetap produktif dengan keberadaan tanaman tembakau. <\/p>\n \n\n \n Maka, kampanye aneh mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain dengan ragam rupa dalih yang membingungkan, bukan saja sama sekali tidak tepat dan asal-asalan, namun bisa jadi akan ditertawakan oleh para petani yang begitu paham dengan kondisi lahan dan terutama kondisi iklim dan cuaca. Sulit mencari tanaman semusim yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Jika pun ada, tak ada yang semenguntungkan tanaman tembakau. Tahun Baru Imlek yang merupakan tradisi Bangsa Tiongkok kini sudah tak lagi menjadi hal yang asing bagi masyarakat Indonesia. Kehadirannya sudah mewarnai dan berakulturasi dengan tradisi lokal. Menjelang Tahun Baru Imlek. Berbagai hiasan dan kemeriahan terjadi beberapa titik di Tanah Air. Perayaannya juga menjadi destinasi baru yang mengasyikkan untuk dilihat dan patut disaksikan.<\/p>\n \n\n \n Berterimakasihlah kepada sang bapak bangsa, KH Abdurrahman Wahid atau yang dikenal dengan nama Gus Dur. Berkat kebijakannya saat menjadi Presiden Indonesia, Tahun Baru Imlek resmi dijadikan hari libur nasional dan dianggap sebagai salah satu hari raya di Tanah Air. Meski sentimen antitionghoa masih ada di sana-sini, tapi tetap tak bisa dipungkiri bahwa bangsa tionghoa sudah bersentuhan dengan budaya lokal dalam kurun waktu yang sangat panjang.<\/p>\n \n\n \n DNA Bangsa Tionghoa yang memang merupakan pedagang menjadi pembuka kisah interaksi antara nenek moyang berbagai suku di Nusantara dengan mereka. Beberapa kelenteng-kelenteng yang tersebar pada berbagai pesisir daerah di Nusantara jadi buktinya. Pelabuhan-pelabuhan tua di tanah air dan ramainya perdagangan di pesisir mempermudah bangsa kita berhubungan dengan Bangsa Tionghoa.<\/p>\n \n\n \n Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa kehadiran Bangsa Tionghoa di Nusantara tak hanya sebagai pedagang, namun juga sebagai pekerja (bahkan hingga pekerja kasar). Benny Setiono, seorang sejarahwan menyebutkan bahwa antara tahun 1760-1770 dalam jumlah yang besar memasuki nusantara melalui Kalimantan Barat. Mereka bekerja sebagai kuli pertambangan di sana dan di kemudian hari membentuk sebuah republik bernama Republik Lanfang yang konon katanya menjadi republik pertama di Asia Tenggara.<\/p>\n \n\n \n Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n \n\n \n Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n \n\n \n Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n \n\n \n Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n \n\n \n Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n \n\n \n Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai! Kabar ini bisa jadi dianggap sebagai kabar gembira bagi mereka yang menganggap diri dan kelompoknya anti-rokok dan anti-tembakau yang selalu mengampanyekan sikap-sikap mereka terkait kebencian kepada tembakau dan aktivitas merokok. Setelah sekian lama berjuang, akhirnya perjuangan mereka dirasa berhasil usai menyaksikan fenomena lahan-lahan di wilayah yang dianggap sentra pertanian tembakau pada hari-hari belakangan ini.<\/p>\n \n\n\n Tak sia-sia turun ke jalan, tak sia-sia melakukan lobi-lobi ke penguasa, tak sia-sia mengucurkan uang yang tidak sedikit, dan tak sia-sia mempermalukan diri dengan mengemis ke lembaga donor asing dan menggondol uang dari cukai tembakau untuk mengampanyekan gerakan anti-rokok dan anti-tembakau. Tak sia-sia. Karena perjuangan sepertinya berhasil.<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n Kampanye-kampanye gerakan mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya, sepertinya juga sangat berhasil. Bagaimana tidak? Wilayah-wilayah yang sebelumnya penuh dengan tanaman tembakau dan bergeliat dengannya, kini lahan-lahannya sudah berganti dengan tanaman lain. Sebuah keberhasilan yang menggembirakan. Begitu mungkin pikir mereka para yang menganggap dirinya pejuang anti-rokok dan anti-tembakau. Dan tentu saja mereka akan kecele dan kita akan menertawakan hal itu.<\/p>\n \n\n \n Sayangnya, mereka yang menganggap dirinya anti-rokok dan anti-tembakau tidak menyaksikan langsung fenomena ini di lapangan, di lahan-lahan yang peruntukannya berubah pada hari-hari belakangan ini ketika memasuki musim hujan. Mereka asyik duduk pada kursi empuk di ruang-ruang nyaman ber-AC di kota-kota yang jauh dari kultur pertanian. Mereka menyengajakan diri menjadi elit dan enggan untuk turun melihat langsung ke lapangan. Kalaupun ada yang turun langsung ke lapangan, hanya segelintir saja dari mereka, itupun sekadar formalitas saja. Tak pernah benar-benar mau turun ke lapangan, hidup dan merasakan langsung kultur pertanian tembakau dalam jangka waktu cukup lama di lapangan.<\/p>\n \n\n \n Fenomena ini membikin kita tak bisa melihat mereka para anti-rokok kecele lalu menertawakan mereka.<\/strong> Fenomena keengganan terjun langsung ke lapangan terlebih mencoba mendengar mereka yang tetap menanam tembakau, juga menjalani keseharian dalam waktu cukup lama bersama petani tembakau inilah yang saya kira menjadikan mereka tetap keras kepala untuk anti-rokok dan anti-tembakau. Karena jika mereka mau melakukan itu, saya yakin mereka semua tidak akan begitu kaku dalam memandang pertanian tembakau dan produk hasil industri tembakau.<\/p>\n \n\n \n Salah satu yang selalu mereka kampanyekan dan ngotot dengan itu, terkait hulu pertanian tembakau adalah mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya. Mereka berargumen banyak tanaman lain yang bisa semenguntungkan tanaman tembakau. Keengganan mereka terjun langsung ke lapangan inilah yang membikin mereka buta dengan kondisi pertanian tembakau dan pada akhirnya terus menerus mengampanyekan pergantian tanaman tembakau dengan tanaman lainnya.<\/p>\n \n\n \n Tembakau tanaman yang khas. Ia hanya tumbuh baik sepanjang empat hingga lima bulan dalam satu tahun. Tumbuh-kembang tanaman tembakau dengan baik itu umumnya terjadi pada musim kemarau setiap tahunnya. Hanya sedikit sekali jenis tembakau yang tumbuh baik di musim penghujan, mayoritasnya, tumbuh baik pada musim kemarau.<\/p>\n \n\n \n Jika ditanam pada musim hujan, hampir bisa dipastikan tanaman tembakau akan gagal menghasilkan daun-daun yang berkualitas. Ia akan rusak dan membusuk karena terlalu banyak terkena air sehingga daun-daun itu tak layak dijual. Jangankan bisa dijual, untuk tumbuh dengan baik pun sepertinya sulit karena musim hujan akan membunuh banyak tanaman itu.<\/p>\n \n\n \n Maka, tak heran pada musim-musim seperti saat ini, ketika musim penghujan mendekati puncaknya, di wilayah-wilayah yang dikenal sebagai sentra pertanian tembakau, sulit menemukan pohon tembakau yang sedang tumbuh. Pada lahan-lahan yang sebelumnya ditumbuhi tanaman tembakau pada musim panas, berganti tanaman-tanaman lain yang bermacam-macam, sesuai dengan kondisi lahannya. Untuk lahan sawah, lahan-lahan itu pada musim penghujan kini ditumbuhi tanaman padi yang subur. Pada lahan tegalan dan lahan di pegunungan, lahan-lahan yang ditanami tembakau pada musim kemarau, saat ini ditumbuhi bermacam jenis tanaman mulai dari cabai, bawang, tomat, kol, terong, mentimun, dan ragam jenis tanaman semusim lainnya.<\/p>\n \n\n \n Uniknya, tipikal tanaman tembakau yang tumbuh baik di musim kemarau ini memberi pilihan lebih kepada para petani. Lahan-lahan yang sulit ditanami pada musim kemarau, pada akhirnya masih bisa tetap produktif dengan keberadaan tanaman tembakau. <\/p>\n \n\n \n Maka, kampanye aneh mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain dengan ragam rupa dalih yang membingungkan, bukan saja sama sekali tidak tepat dan asal-asalan, namun bisa jadi akan ditertawakan oleh para petani yang begitu paham dengan kondisi lahan dan terutama kondisi iklim dan cuaca. Sulit mencari tanaman semusim yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Jika pun ada, tak ada yang semenguntungkan tanaman tembakau. Tahun Baru Imlek yang merupakan tradisi Bangsa Tiongkok kini sudah tak lagi menjadi hal yang asing bagi masyarakat Indonesia. Kehadirannya sudah mewarnai dan berakulturasi dengan tradisi lokal. Menjelang Tahun Baru Imlek. Berbagai hiasan dan kemeriahan terjadi beberapa titik di Tanah Air. Perayaannya juga menjadi destinasi baru yang mengasyikkan untuk dilihat dan patut disaksikan.<\/p>\n \n\n \n Berterimakasihlah kepada sang bapak bangsa, KH Abdurrahman Wahid atau yang dikenal dengan nama Gus Dur. Berkat kebijakannya saat menjadi Presiden Indonesia, Tahun Baru Imlek resmi dijadikan hari libur nasional dan dianggap sebagai salah satu hari raya di Tanah Air. Meski sentimen antitionghoa masih ada di sana-sini, tapi tetap tak bisa dipungkiri bahwa bangsa tionghoa sudah bersentuhan dengan budaya lokal dalam kurun waktu yang sangat panjang.<\/p>\n \n\n \n DNA Bangsa Tionghoa yang memang merupakan pedagang menjadi pembuka kisah interaksi antara nenek moyang berbagai suku di Nusantara dengan mereka. Beberapa kelenteng-kelenteng yang tersebar pada berbagai pesisir daerah di Nusantara jadi buktinya. Pelabuhan-pelabuhan tua di tanah air dan ramainya perdagangan di pesisir mempermudah bangsa kita berhubungan dengan Bangsa Tionghoa.<\/p>\n \n\n \n Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa kehadiran Bangsa Tionghoa di Nusantara tak hanya sebagai pedagang, namun juga sebagai pekerja (bahkan hingga pekerja kasar). Benny Setiono, seorang sejarahwan menyebutkan bahwa antara tahun 1760-1770 dalam jumlah yang besar memasuki nusantara melalui Kalimantan Barat. Mereka bekerja sebagai kuli pertambangan di sana dan di kemudian hari membentuk sebuah republik bernama Republik Lanfang yang konon katanya menjadi republik pertama di Asia Tenggara.<\/p>\n \n\n \n Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n \n\n \n Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n \n\n \n Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n \n\n \n Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n \n\n \n Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n \n\n \n Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai! Belakangan ini, ketika musim hujan tiba, di Kabupaten Temanggung, Kabupaten Jember, dan beberapa wilayah sentra pertanian tembakau lainnya, hampir mustahil menemukan tanaman tembakau tumbuh di lahan-lahan milik petani. Di wilayah-wilayah tersebut, citra sebagai sentra pertanian tembakau seakan menguap. Lahan-lahan yang ada di sana, sama sekali tidak ditumbuhi tanaman tembakau.<\/p>\n \n\n\n Kabar ini bisa jadi dianggap sebagai kabar gembira bagi mereka yang menganggap diri dan kelompoknya anti-rokok dan anti-tembakau yang selalu mengampanyekan sikap-sikap mereka terkait kebencian kepada tembakau dan aktivitas merokok. Setelah sekian lama berjuang, akhirnya perjuangan mereka dirasa berhasil usai menyaksikan fenomena lahan-lahan di wilayah yang dianggap sentra pertanian tembakau pada hari-hari belakangan ini.<\/p>\n \n\n \n Tak sia-sia turun ke jalan, tak sia-sia melakukan lobi-lobi ke penguasa, tak sia-sia mengucurkan uang yang tidak sedikit, dan tak sia-sia mempermalukan diri dengan mengemis ke lembaga donor asing dan menggondol uang dari cukai tembakau untuk mengampanyekan gerakan anti-rokok dan anti-tembakau. Tak sia-sia. Karena perjuangan sepertinya berhasil.<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n Kampanye-kampanye gerakan mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya, sepertinya juga sangat berhasil. Bagaimana tidak? Wilayah-wilayah yang sebelumnya penuh dengan tanaman tembakau dan bergeliat dengannya, kini lahan-lahannya sudah berganti dengan tanaman lain. Sebuah keberhasilan yang menggembirakan. Begitu mungkin pikir mereka para yang menganggap dirinya pejuang anti-rokok dan anti-tembakau. Dan tentu saja mereka akan kecele dan kita akan menertawakan hal itu.<\/p>\n \n\n \n Sayangnya, mereka yang menganggap dirinya anti-rokok dan anti-tembakau tidak menyaksikan langsung fenomena ini di lapangan, di lahan-lahan yang peruntukannya berubah pada hari-hari belakangan ini ketika memasuki musim hujan. Mereka asyik duduk pada kursi empuk di ruang-ruang nyaman ber-AC di kota-kota yang jauh dari kultur pertanian. Mereka menyengajakan diri menjadi elit dan enggan untuk turun melihat langsung ke lapangan. Kalaupun ada yang turun langsung ke lapangan, hanya segelintir saja dari mereka, itupun sekadar formalitas saja. Tak pernah benar-benar mau turun ke lapangan, hidup dan merasakan langsung kultur pertanian tembakau dalam jangka waktu cukup lama di lapangan.<\/p>\n \n\n \n Fenomena ini membikin kita tak bisa melihat mereka para anti-rokok kecele lalu menertawakan mereka.<\/strong> Fenomena keengganan terjun langsung ke lapangan terlebih mencoba mendengar mereka yang tetap menanam tembakau, juga menjalani keseharian dalam waktu cukup lama bersama petani tembakau inilah yang saya kira menjadikan mereka tetap keras kepala untuk anti-rokok dan anti-tembakau. Karena jika mereka mau melakukan itu, saya yakin mereka semua tidak akan begitu kaku dalam memandang pertanian tembakau dan produk hasil industri tembakau.<\/p>\n \n\n \n Salah satu yang selalu mereka kampanyekan dan ngotot dengan itu, terkait hulu pertanian tembakau adalah mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya. Mereka berargumen banyak tanaman lain yang bisa semenguntungkan tanaman tembakau. Keengganan mereka terjun langsung ke lapangan inilah yang membikin mereka buta dengan kondisi pertanian tembakau dan pada akhirnya terus menerus mengampanyekan pergantian tanaman tembakau dengan tanaman lainnya.<\/p>\n \n\n \n Tembakau tanaman yang khas. Ia hanya tumbuh baik sepanjang empat hingga lima bulan dalam satu tahun. Tumbuh-kembang tanaman tembakau dengan baik itu umumnya terjadi pada musim kemarau setiap tahunnya. Hanya sedikit sekali jenis tembakau yang tumbuh baik di musim penghujan, mayoritasnya, tumbuh baik pada musim kemarau.<\/p>\n \n\n \n Jika ditanam pada musim hujan, hampir bisa dipastikan tanaman tembakau akan gagal menghasilkan daun-daun yang berkualitas. Ia akan rusak dan membusuk karena terlalu banyak terkena air sehingga daun-daun itu tak layak dijual. Jangankan bisa dijual, untuk tumbuh dengan baik pun sepertinya sulit karena musim hujan akan membunuh banyak tanaman itu.<\/p>\n \n\n \n Maka, tak heran pada musim-musim seperti saat ini, ketika musim penghujan mendekati puncaknya, di wilayah-wilayah yang dikenal sebagai sentra pertanian tembakau, sulit menemukan pohon tembakau yang sedang tumbuh. Pada lahan-lahan yang sebelumnya ditumbuhi tanaman tembakau pada musim panas, berganti tanaman-tanaman lain yang bermacam-macam, sesuai dengan kondisi lahannya. Untuk lahan sawah, lahan-lahan itu pada musim penghujan kini ditumbuhi tanaman padi yang subur. Pada lahan tegalan dan lahan di pegunungan, lahan-lahan yang ditanami tembakau pada musim kemarau, saat ini ditumbuhi bermacam jenis tanaman mulai dari cabai, bawang, tomat, kol, terong, mentimun, dan ragam jenis tanaman semusim lainnya.<\/p>\n \n\n \n Uniknya, tipikal tanaman tembakau yang tumbuh baik di musim kemarau ini memberi pilihan lebih kepada para petani. Lahan-lahan yang sulit ditanami pada musim kemarau, pada akhirnya masih bisa tetap produktif dengan keberadaan tanaman tembakau. <\/p>\n \n\n \n Maka, kampanye aneh mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain dengan ragam rupa dalih yang membingungkan, bukan saja sama sekali tidak tepat dan asal-asalan, namun bisa jadi akan ditertawakan oleh para petani yang begitu paham dengan kondisi lahan dan terutama kondisi iklim dan cuaca. Sulit mencari tanaman semusim yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Jika pun ada, tak ada yang semenguntungkan tanaman tembakau. Tahun Baru Imlek yang merupakan tradisi Bangsa Tiongkok kini sudah tak lagi menjadi hal yang asing bagi masyarakat Indonesia. Kehadirannya sudah mewarnai dan berakulturasi dengan tradisi lokal. Menjelang Tahun Baru Imlek. Berbagai hiasan dan kemeriahan terjadi beberapa titik di Tanah Air. Perayaannya juga menjadi destinasi baru yang mengasyikkan untuk dilihat dan patut disaksikan.<\/p>\n \n\n \n Berterimakasihlah kepada sang bapak bangsa, KH Abdurrahman Wahid atau yang dikenal dengan nama Gus Dur. Berkat kebijakannya saat menjadi Presiden Indonesia, Tahun Baru Imlek resmi dijadikan hari libur nasional dan dianggap sebagai salah satu hari raya di Tanah Air. Meski sentimen antitionghoa masih ada di sana-sini, tapi tetap tak bisa dipungkiri bahwa bangsa tionghoa sudah bersentuhan dengan budaya lokal dalam kurun waktu yang sangat panjang.<\/p>\n \n\n \n DNA Bangsa Tionghoa yang memang merupakan pedagang menjadi pembuka kisah interaksi antara nenek moyang berbagai suku di Nusantara dengan mereka. Beberapa kelenteng-kelenteng yang tersebar pada berbagai pesisir daerah di Nusantara jadi buktinya. Pelabuhan-pelabuhan tua di tanah air dan ramainya perdagangan di pesisir mempermudah bangsa kita berhubungan dengan Bangsa Tionghoa.<\/p>\n \n\n \n Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa kehadiran Bangsa Tionghoa di Nusantara tak hanya sebagai pedagang, namun juga sebagai pekerja (bahkan hingga pekerja kasar). Benny Setiono, seorang sejarahwan menyebutkan bahwa antara tahun 1760-1770 dalam jumlah yang besar memasuki nusantara melalui Kalimantan Barat. Mereka bekerja sebagai kuli pertambangan di sana dan di kemudian hari membentuk sebuah republik bernama Republik Lanfang yang konon katanya menjadi republik pertama di Asia Tenggara.<\/p>\n \n\n \n Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n \n\n \n Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n \n\n \n Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n \n\n \n Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n \n\n \n Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n \n\n \n Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai! Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem Topatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong> Belakangan ini, ketika musim hujan tiba, di Kabupaten Temanggung, Kabupaten Jember, dan beberapa wilayah sentra pertanian tembakau lainnya, hampir mustahil menemukan tanaman tembakau tumbuh di lahan-lahan milik petani. Di wilayah-wilayah tersebut, citra sebagai sentra pertanian tembakau seakan menguap. Lahan-lahan yang ada di sana, sama sekali tidak ditumbuhi tanaman tembakau.<\/p>\n \n\n \n Kabar ini bisa jadi dianggap sebagai kabar gembira bagi mereka yang menganggap diri dan kelompoknya anti-rokok dan anti-tembakau yang selalu mengampanyekan sikap-sikap mereka terkait kebencian kepada tembakau dan aktivitas merokok. Setelah sekian lama berjuang, akhirnya perjuangan mereka dirasa berhasil usai menyaksikan fenomena lahan-lahan di wilayah yang dianggap sentra pertanian tembakau pada hari-hari belakangan ini.<\/p>\n \n\n \n Tak sia-sia turun ke jalan, tak sia-sia melakukan lobi-lobi ke penguasa, tak sia-sia mengucurkan uang yang tidak sedikit, dan tak sia-sia mempermalukan diri dengan mengemis ke lembaga donor asing dan menggondol uang dari cukai tembakau untuk mengampanyekan gerakan anti-rokok dan anti-tembakau. Tak sia-sia. Karena perjuangan sepertinya berhasil.<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n Kampanye-kampanye gerakan mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya, sepertinya juga sangat berhasil. Bagaimana tidak? Wilayah-wilayah yang sebelumnya penuh dengan tanaman tembakau dan bergeliat dengannya, kini lahan-lahannya sudah berganti dengan tanaman lain. Sebuah keberhasilan yang menggembirakan. Begitu mungkin pikir mereka para yang menganggap dirinya pejuang anti-rokok dan anti-tembakau. Dan tentu saja mereka akan kecele dan kita akan menertawakan hal itu.<\/p>\n \n\n \n Sayangnya, mereka yang menganggap dirinya anti-rokok dan anti-tembakau tidak menyaksikan langsung fenomena ini di lapangan, di lahan-lahan yang peruntukannya berubah pada hari-hari belakangan ini ketika memasuki musim hujan. Mereka asyik duduk pada kursi empuk di ruang-ruang nyaman ber-AC di kota-kota yang jauh dari kultur pertanian. Mereka menyengajakan diri menjadi elit dan enggan untuk turun melihat langsung ke lapangan. Kalaupun ada yang turun langsung ke lapangan, hanya segelintir saja dari mereka, itupun sekadar formalitas saja. Tak pernah benar-benar mau turun ke lapangan, hidup dan merasakan langsung kultur pertanian tembakau dalam jangka waktu cukup lama di lapangan.<\/p>\n \n\n \n Fenomena ini membikin kita tak bisa melihat mereka para anti-rokok kecele lalu menertawakan mereka.<\/strong> Fenomena keengganan terjun langsung ke lapangan terlebih mencoba mendengar mereka yang tetap menanam tembakau, juga menjalani keseharian dalam waktu cukup lama bersama petani tembakau inilah yang saya kira menjadikan mereka tetap keras kepala untuk anti-rokok dan anti-tembakau. Karena jika mereka mau melakukan itu, saya yakin mereka semua tidak akan begitu kaku dalam memandang pertanian tembakau dan produk hasil industri tembakau.<\/p>\n \n\n \n Salah satu yang selalu mereka kampanyekan dan ngotot dengan itu, terkait hulu pertanian tembakau adalah mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya. Mereka berargumen banyak tanaman lain yang bisa semenguntungkan tanaman tembakau. Keengganan mereka terjun langsung ke lapangan inilah yang membikin mereka buta dengan kondisi pertanian tembakau dan pada akhirnya terus menerus mengampanyekan pergantian tanaman tembakau dengan tanaman lainnya.<\/p>\n \n\n \n Tembakau tanaman yang khas. Ia hanya tumbuh baik sepanjang empat hingga lima bulan dalam satu tahun. Tumbuh-kembang tanaman tembakau dengan baik itu umumnya terjadi pada musim kemarau setiap tahunnya. Hanya sedikit sekali jenis tembakau yang tumbuh baik di musim penghujan, mayoritasnya, tumbuh baik pada musim kemarau.<\/p>\n \n\n \n Jika ditanam pada musim hujan, hampir bisa dipastikan tanaman tembakau akan gagal menghasilkan daun-daun yang berkualitas. Ia akan rusak dan membusuk karena terlalu banyak terkena air sehingga daun-daun itu tak layak dijual. Jangankan bisa dijual, untuk tumbuh dengan baik pun sepertinya sulit karena musim hujan akan membunuh banyak tanaman itu.<\/p>\n \n\n \n Maka, tak heran pada musim-musim seperti saat ini, ketika musim penghujan mendekati puncaknya, di wilayah-wilayah yang dikenal sebagai sentra pertanian tembakau, sulit menemukan pohon tembakau yang sedang tumbuh. Pada lahan-lahan yang sebelumnya ditumbuhi tanaman tembakau pada musim panas, berganti tanaman-tanaman lain yang bermacam-macam, sesuai dengan kondisi lahannya. Untuk lahan sawah, lahan-lahan itu pada musim penghujan kini ditumbuhi tanaman padi yang subur. Pada lahan tegalan dan lahan di pegunungan, lahan-lahan yang ditanami tembakau pada musim kemarau, saat ini ditumbuhi bermacam jenis tanaman mulai dari cabai, bawang, tomat, kol, terong, mentimun, dan ragam jenis tanaman semusim lainnya.<\/p>\n \n\n \n Uniknya, tipikal tanaman tembakau yang tumbuh baik di musim kemarau ini memberi pilihan lebih kepada para petani. Lahan-lahan yang sulit ditanami pada musim kemarau, pada akhirnya masih bisa tetap produktif dengan keberadaan tanaman tembakau. <\/p>\n \n\n \n Maka, kampanye aneh mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain dengan ragam rupa dalih yang membingungkan, bukan saja sama sekali tidak tepat dan asal-asalan, namun bisa jadi akan ditertawakan oleh para petani yang begitu paham dengan kondisi lahan dan terutama kondisi iklim dan cuaca. Sulit mencari tanaman semusim yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Jika pun ada, tak ada yang semenguntungkan tanaman tembakau. Tahun Baru Imlek yang merupakan tradisi Bangsa Tiongkok kini sudah tak lagi menjadi hal yang asing bagi masyarakat Indonesia. Kehadirannya sudah mewarnai dan berakulturasi dengan tradisi lokal. Menjelang Tahun Baru Imlek. Berbagai hiasan dan kemeriahan terjadi beberapa titik di Tanah Air. Perayaannya juga menjadi destinasi baru yang mengasyikkan untuk dilihat dan patut disaksikan.<\/p>\n \n\n \n Berterimakasihlah kepada sang bapak bangsa, KH Abdurrahman Wahid atau yang dikenal dengan nama Gus Dur. Berkat kebijakannya saat menjadi Presiden Indonesia, Tahun Baru Imlek resmi dijadikan hari libur nasional dan dianggap sebagai salah satu hari raya di Tanah Air. Meski sentimen antitionghoa masih ada di sana-sini, tapi tetap tak bisa dipungkiri bahwa bangsa tionghoa sudah bersentuhan dengan budaya lokal dalam kurun waktu yang sangat panjang.<\/p>\n \n\n \n DNA Bangsa Tionghoa yang memang merupakan pedagang menjadi pembuka kisah interaksi antara nenek moyang berbagai suku di Nusantara dengan mereka. Beberapa kelenteng-kelenteng yang tersebar pada berbagai pesisir daerah di Nusantara jadi buktinya. Pelabuhan-pelabuhan tua di tanah air dan ramainya perdagangan di pesisir mempermudah bangsa kita berhubungan dengan Bangsa Tionghoa.<\/p>\n \n\n \n Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa kehadiran Bangsa Tionghoa di Nusantara tak hanya sebagai pedagang, namun juga sebagai pekerja (bahkan hingga pekerja kasar). Benny Setiono, seorang sejarahwan menyebutkan bahwa antara tahun 1760-1770 dalam jumlah yang besar memasuki nusantara melalui Kalimantan Barat. Mereka bekerja sebagai kuli pertambangan di sana dan di kemudian hari membentuk sebuah republik bernama Republik Lanfang yang konon katanya menjadi republik pertama di Asia Tenggara.<\/p>\n \n\n \n Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n \n\n \n Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n \n\n \n Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n \n\n \n Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n \n\n \n Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n \n\n \n Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai! [3] Uraian lebih rinci sejarah kolonialisme rempah-rempah Nusantara ini, terutama oleh Belanda dan Portugis, dapat dibaca pada beberapa sumber kepustakaan yang sudah dikenal luas, antara lain: Glamann (1958) dan Boxer (1965 dan 1969). Dalam risalah klasik Pires disebutkan bahwa pada tahun 1512-1521 saja, jumlah produksi cengkeh di Maluku sudah mencapai 7.250 bahar per tahun, terbesar adalah di Makian serta Amboina dan Lease (masing-masing 1.500 bahar)(Pires, 1512-1515).<\/em> Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem Topatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong> Belakangan ini, ketika musim hujan tiba, di Kabupaten Temanggung, Kabupaten Jember, dan beberapa wilayah sentra pertanian tembakau lainnya, hampir mustahil menemukan tanaman tembakau tumbuh di lahan-lahan milik petani. Di wilayah-wilayah tersebut, citra sebagai sentra pertanian tembakau seakan menguap. Lahan-lahan yang ada di sana, sama sekali tidak ditumbuhi tanaman tembakau.<\/p>\n \n\n \n Kabar ini bisa jadi dianggap sebagai kabar gembira bagi mereka yang menganggap diri dan kelompoknya anti-rokok dan anti-tembakau yang selalu mengampanyekan sikap-sikap mereka terkait kebencian kepada tembakau dan aktivitas merokok. Setelah sekian lama berjuang, akhirnya perjuangan mereka dirasa berhasil usai menyaksikan fenomena lahan-lahan di wilayah yang dianggap sentra pertanian tembakau pada hari-hari belakangan ini.<\/p>\n \n\n \n Tak sia-sia turun ke jalan, tak sia-sia melakukan lobi-lobi ke penguasa, tak sia-sia mengucurkan uang yang tidak sedikit, dan tak sia-sia mempermalukan diri dengan mengemis ke lembaga donor asing dan menggondol uang dari cukai tembakau untuk mengampanyekan gerakan anti-rokok dan anti-tembakau. Tak sia-sia. Karena perjuangan sepertinya berhasil.<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n Kampanye-kampanye gerakan mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya, sepertinya juga sangat berhasil. Bagaimana tidak? Wilayah-wilayah yang sebelumnya penuh dengan tanaman tembakau dan bergeliat dengannya, kini lahan-lahannya sudah berganti dengan tanaman lain. Sebuah keberhasilan yang menggembirakan. Begitu mungkin pikir mereka para yang menganggap dirinya pejuang anti-rokok dan anti-tembakau. Dan tentu saja mereka akan kecele dan kita akan menertawakan hal itu.<\/p>\n \n\n \n Sayangnya, mereka yang menganggap dirinya anti-rokok dan anti-tembakau tidak menyaksikan langsung fenomena ini di lapangan, di lahan-lahan yang peruntukannya berubah pada hari-hari belakangan ini ketika memasuki musim hujan. Mereka asyik duduk pada kursi empuk di ruang-ruang nyaman ber-AC di kota-kota yang jauh dari kultur pertanian. Mereka menyengajakan diri menjadi elit dan enggan untuk turun melihat langsung ke lapangan. Kalaupun ada yang turun langsung ke lapangan, hanya segelintir saja dari mereka, itupun sekadar formalitas saja. Tak pernah benar-benar mau turun ke lapangan, hidup dan merasakan langsung kultur pertanian tembakau dalam jangka waktu cukup lama di lapangan.<\/p>\n \n\n \n Fenomena ini membikin kita tak bisa melihat mereka para anti-rokok kecele lalu menertawakan mereka.<\/strong> Fenomena keengganan terjun langsung ke lapangan terlebih mencoba mendengar mereka yang tetap menanam tembakau, juga menjalani keseharian dalam waktu cukup lama bersama petani tembakau inilah yang saya kira menjadikan mereka tetap keras kepala untuk anti-rokok dan anti-tembakau. Karena jika mereka mau melakukan itu, saya yakin mereka semua tidak akan begitu kaku dalam memandang pertanian tembakau dan produk hasil industri tembakau.<\/p>\n \n\n \n Salah satu yang selalu mereka kampanyekan dan ngotot dengan itu, terkait hulu pertanian tembakau adalah mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya. Mereka berargumen banyak tanaman lain yang bisa semenguntungkan tanaman tembakau. Keengganan mereka terjun langsung ke lapangan inilah yang membikin mereka buta dengan kondisi pertanian tembakau dan pada akhirnya terus menerus mengampanyekan pergantian tanaman tembakau dengan tanaman lainnya.<\/p>\n \n\n \n Tembakau tanaman yang khas. Ia hanya tumbuh baik sepanjang empat hingga lima bulan dalam satu tahun. Tumbuh-kembang tanaman tembakau dengan baik itu umumnya terjadi pada musim kemarau setiap tahunnya. Hanya sedikit sekali jenis tembakau yang tumbuh baik di musim penghujan, mayoritasnya, tumbuh baik pada musim kemarau.<\/p>\n \n\n \n Jika ditanam pada musim hujan, hampir bisa dipastikan tanaman tembakau akan gagal menghasilkan daun-daun yang berkualitas. Ia akan rusak dan membusuk karena terlalu banyak terkena air sehingga daun-daun itu tak layak dijual. Jangankan bisa dijual, untuk tumbuh dengan baik pun sepertinya sulit karena musim hujan akan membunuh banyak tanaman itu.<\/p>\n \n\n \n Maka, tak heran pada musim-musim seperti saat ini, ketika musim penghujan mendekati puncaknya, di wilayah-wilayah yang dikenal sebagai sentra pertanian tembakau, sulit menemukan pohon tembakau yang sedang tumbuh. Pada lahan-lahan yang sebelumnya ditumbuhi tanaman tembakau pada musim panas, berganti tanaman-tanaman lain yang bermacam-macam, sesuai dengan kondisi lahannya. Untuk lahan sawah, lahan-lahan itu pada musim penghujan kini ditumbuhi tanaman padi yang subur. Pada lahan tegalan dan lahan di pegunungan, lahan-lahan yang ditanami tembakau pada musim kemarau, saat ini ditumbuhi bermacam jenis tanaman mulai dari cabai, bawang, tomat, kol, terong, mentimun, dan ragam jenis tanaman semusim lainnya.<\/p>\n \n\n \n Uniknya, tipikal tanaman tembakau yang tumbuh baik di musim kemarau ini memberi pilihan lebih kepada para petani. Lahan-lahan yang sulit ditanami pada musim kemarau, pada akhirnya masih bisa tetap produktif dengan keberadaan tanaman tembakau. <\/p>\n \n\n \n Maka, kampanye aneh mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain dengan ragam rupa dalih yang membingungkan, bukan saja sama sekali tidak tepat dan asal-asalan, namun bisa jadi akan ditertawakan oleh para petani yang begitu paham dengan kondisi lahan dan terutama kondisi iklim dan cuaca. Sulit mencari tanaman semusim yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Jika pun ada, tak ada yang semenguntungkan tanaman tembakau. Tahun Baru Imlek yang merupakan tradisi Bangsa Tiongkok kini sudah tak lagi menjadi hal yang asing bagi masyarakat Indonesia. Kehadirannya sudah mewarnai dan berakulturasi dengan tradisi lokal. Menjelang Tahun Baru Imlek. Berbagai hiasan dan kemeriahan terjadi beberapa titik di Tanah Air. Perayaannya juga menjadi destinasi baru yang mengasyikkan untuk dilihat dan patut disaksikan.<\/p>\n \n\n \n Berterimakasihlah kepada sang bapak bangsa, KH Abdurrahman Wahid atau yang dikenal dengan nama Gus Dur. Berkat kebijakannya saat menjadi Presiden Indonesia, Tahun Baru Imlek resmi dijadikan hari libur nasional dan dianggap sebagai salah satu hari raya di Tanah Air. Meski sentimen antitionghoa masih ada di sana-sini, tapi tetap tak bisa dipungkiri bahwa bangsa tionghoa sudah bersentuhan dengan budaya lokal dalam kurun waktu yang sangat panjang.<\/p>\n \n\n \n DNA Bangsa Tionghoa yang memang merupakan pedagang menjadi pembuka kisah interaksi antara nenek moyang berbagai suku di Nusantara dengan mereka. Beberapa kelenteng-kelenteng yang tersebar pada berbagai pesisir daerah di Nusantara jadi buktinya. Pelabuhan-pelabuhan tua di tanah air dan ramainya perdagangan di pesisir mempermudah bangsa kita berhubungan dengan Bangsa Tionghoa.<\/p>\n \n\n \n Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa kehadiran Bangsa Tionghoa di Nusantara tak hanya sebagai pedagang, namun juga sebagai pekerja (bahkan hingga pekerja kasar). Benny Setiono, seorang sejarahwan menyebutkan bahwa antara tahun 1760-1770 dalam jumlah yang besar memasuki nusantara melalui Kalimantan Barat. Mereka bekerja sebagai kuli pertambangan di sana dan di kemudian hari membentuk sebuah republik bernama Republik Lanfang yang konon katanya menjadi republik pertama di Asia Tenggara.<\/p>\n \n\n \n Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n \n\n \n Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n \n\n \n Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n \n\n \n Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n \n\n \n Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n \n\n \n Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai! [2] Catatan-catatan para biarawan Fransiskan --yang disalin dan dikutip oleh van Frassen-- bahkan menyebut cengkeh sebagai salah satu bahan utama pengawet mumi para Fir\u2019aun, penguasa Mesir Kuno. Beberapa pakar sejarah dan arkeologi menyatakan bahwa rempah-rempah Maluku bahkan sudah ditemukan artefaknya di Lembah Mesopotomia (wilayah Iraq dan sekitarnya sekarang) pada 3.000 tahun sebelum Masehi. (lihat, antara lain: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n \n\n\n [3] Uraian lebih rinci sejarah kolonialisme rempah-rempah Nusantara ini, terutama oleh Belanda dan Portugis, dapat dibaca pada beberapa sumber kepustakaan yang sudah dikenal luas, antara lain: Glamann (1958) dan Boxer (1965 dan 1969). Dalam risalah klasik Pires disebutkan bahwa pada tahun 1512-1521 saja, jumlah produksi cengkeh di Maluku sudah mencapai 7.250 bahar per tahun, terbesar adalah di Makian serta Amboina dan Lease (masing-masing 1.500 bahar)(Pires, 1512-1515).<\/em> Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem Topatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong> Belakangan ini, ketika musim hujan tiba, di Kabupaten Temanggung, Kabupaten Jember, dan beberapa wilayah sentra pertanian tembakau lainnya, hampir mustahil menemukan tanaman tembakau tumbuh di lahan-lahan milik petani. Di wilayah-wilayah tersebut, citra sebagai sentra pertanian tembakau seakan menguap. Lahan-lahan yang ada di sana, sama sekali tidak ditumbuhi tanaman tembakau.<\/p>\n \n\n \n Kabar ini bisa jadi dianggap sebagai kabar gembira bagi mereka yang menganggap diri dan kelompoknya anti-rokok dan anti-tembakau yang selalu mengampanyekan sikap-sikap mereka terkait kebencian kepada tembakau dan aktivitas merokok. Setelah sekian lama berjuang, akhirnya perjuangan mereka dirasa berhasil usai menyaksikan fenomena lahan-lahan di wilayah yang dianggap sentra pertanian tembakau pada hari-hari belakangan ini.<\/p>\n \n\n \n Tak sia-sia turun ke jalan, tak sia-sia melakukan lobi-lobi ke penguasa, tak sia-sia mengucurkan uang yang tidak sedikit, dan tak sia-sia mempermalukan diri dengan mengemis ke lembaga donor asing dan menggondol uang dari cukai tembakau untuk mengampanyekan gerakan anti-rokok dan anti-tembakau. Tak sia-sia. Karena perjuangan sepertinya berhasil.<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n Kampanye-kampanye gerakan mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya, sepertinya juga sangat berhasil. Bagaimana tidak? Wilayah-wilayah yang sebelumnya penuh dengan tanaman tembakau dan bergeliat dengannya, kini lahan-lahannya sudah berganti dengan tanaman lain. Sebuah keberhasilan yang menggembirakan. Begitu mungkin pikir mereka para yang menganggap dirinya pejuang anti-rokok dan anti-tembakau. Dan tentu saja mereka akan kecele dan kita akan menertawakan hal itu.<\/p>\n \n\n \n Sayangnya, mereka yang menganggap dirinya anti-rokok dan anti-tembakau tidak menyaksikan langsung fenomena ini di lapangan, di lahan-lahan yang peruntukannya berubah pada hari-hari belakangan ini ketika memasuki musim hujan. Mereka asyik duduk pada kursi empuk di ruang-ruang nyaman ber-AC di kota-kota yang jauh dari kultur pertanian. Mereka menyengajakan diri menjadi elit dan enggan untuk turun melihat langsung ke lapangan. Kalaupun ada yang turun langsung ke lapangan, hanya segelintir saja dari mereka, itupun sekadar formalitas saja. Tak pernah benar-benar mau turun ke lapangan, hidup dan merasakan langsung kultur pertanian tembakau dalam jangka waktu cukup lama di lapangan.<\/p>\n \n\n \n Fenomena ini membikin kita tak bisa melihat mereka para anti-rokok kecele lalu menertawakan mereka.<\/strong> Fenomena keengganan terjun langsung ke lapangan terlebih mencoba mendengar mereka yang tetap menanam tembakau, juga menjalani keseharian dalam waktu cukup lama bersama petani tembakau inilah yang saya kira menjadikan mereka tetap keras kepala untuk anti-rokok dan anti-tembakau. Karena jika mereka mau melakukan itu, saya yakin mereka semua tidak akan begitu kaku dalam memandang pertanian tembakau dan produk hasil industri tembakau.<\/p>\n \n\n \n Salah satu yang selalu mereka kampanyekan dan ngotot dengan itu, terkait hulu pertanian tembakau adalah mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya. Mereka berargumen banyak tanaman lain yang bisa semenguntungkan tanaman tembakau. Keengganan mereka terjun langsung ke lapangan inilah yang membikin mereka buta dengan kondisi pertanian tembakau dan pada akhirnya terus menerus mengampanyekan pergantian tanaman tembakau dengan tanaman lainnya.<\/p>\n \n\n \n Tembakau tanaman yang khas. Ia hanya tumbuh baik sepanjang empat hingga lima bulan dalam satu tahun. Tumbuh-kembang tanaman tembakau dengan baik itu umumnya terjadi pada musim kemarau setiap tahunnya. Hanya sedikit sekali jenis tembakau yang tumbuh baik di musim penghujan, mayoritasnya, tumbuh baik pada musim kemarau.<\/p>\n \n\n \n Jika ditanam pada musim hujan, hampir bisa dipastikan tanaman tembakau akan gagal menghasilkan daun-daun yang berkualitas. Ia akan rusak dan membusuk karena terlalu banyak terkena air sehingga daun-daun itu tak layak dijual. Jangankan bisa dijual, untuk tumbuh dengan baik pun sepertinya sulit karena musim hujan akan membunuh banyak tanaman itu.<\/p>\n \n\n \n Maka, tak heran pada musim-musim seperti saat ini, ketika musim penghujan mendekati puncaknya, di wilayah-wilayah yang dikenal sebagai sentra pertanian tembakau, sulit menemukan pohon tembakau yang sedang tumbuh. Pada lahan-lahan yang sebelumnya ditumbuhi tanaman tembakau pada musim panas, berganti tanaman-tanaman lain yang bermacam-macam, sesuai dengan kondisi lahannya. Untuk lahan sawah, lahan-lahan itu pada musim penghujan kini ditumbuhi tanaman padi yang subur. Pada lahan tegalan dan lahan di pegunungan, lahan-lahan yang ditanami tembakau pada musim kemarau, saat ini ditumbuhi bermacam jenis tanaman mulai dari cabai, bawang, tomat, kol, terong, mentimun, dan ragam jenis tanaman semusim lainnya.<\/p>\n \n\n \n Uniknya, tipikal tanaman tembakau yang tumbuh baik di musim kemarau ini memberi pilihan lebih kepada para petani. Lahan-lahan yang sulit ditanami pada musim kemarau, pada akhirnya masih bisa tetap produktif dengan keberadaan tanaman tembakau. <\/p>\n \n\n \n Maka, kampanye aneh mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain dengan ragam rupa dalih yang membingungkan, bukan saja sama sekali tidak tepat dan asal-asalan, namun bisa jadi akan ditertawakan oleh para petani yang begitu paham dengan kondisi lahan dan terutama kondisi iklim dan cuaca. Sulit mencari tanaman semusim yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Jika pun ada, tak ada yang semenguntungkan tanaman tembakau. Tahun Baru Imlek yang merupakan tradisi Bangsa Tiongkok kini sudah tak lagi menjadi hal yang asing bagi masyarakat Indonesia. Kehadirannya sudah mewarnai dan berakulturasi dengan tradisi lokal. Menjelang Tahun Baru Imlek. Berbagai hiasan dan kemeriahan terjadi beberapa titik di Tanah Air. Perayaannya juga menjadi destinasi baru yang mengasyikkan untuk dilihat dan patut disaksikan.<\/p>\n \n\n \n Berterimakasihlah kepada sang bapak bangsa, KH Abdurrahman Wahid atau yang dikenal dengan nama Gus Dur. Berkat kebijakannya saat menjadi Presiden Indonesia, Tahun Baru Imlek resmi dijadikan hari libur nasional dan dianggap sebagai salah satu hari raya di Tanah Air. Meski sentimen antitionghoa masih ada di sana-sini, tapi tetap tak bisa dipungkiri bahwa bangsa tionghoa sudah bersentuhan dengan budaya lokal dalam kurun waktu yang sangat panjang.<\/p>\n \n\n \n DNA Bangsa Tionghoa yang memang merupakan pedagang menjadi pembuka kisah interaksi antara nenek moyang berbagai suku di Nusantara dengan mereka. Beberapa kelenteng-kelenteng yang tersebar pada berbagai pesisir daerah di Nusantara jadi buktinya. Pelabuhan-pelabuhan tua di tanah air dan ramainya perdagangan di pesisir mempermudah bangsa kita berhubungan dengan Bangsa Tionghoa.<\/p>\n \n\n \n Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa kehadiran Bangsa Tionghoa di Nusantara tak hanya sebagai pedagang, namun juga sebagai pekerja (bahkan hingga pekerja kasar). Benny Setiono, seorang sejarahwan menyebutkan bahwa antara tahun 1760-1770 dalam jumlah yang besar memasuki nusantara melalui Kalimantan Barat. Mereka bekerja sebagai kuli pertambangan di sana dan di kemudian hari membentuk sebuah republik bernama Republik Lanfang yang konon katanya menjadi republik pertama di Asia Tenggara.<\/p>\n \n\n \n Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n \n\n \n Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n \n\n \n Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n \n\n \n Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n \n\n \n Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n \n\n \n Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!Baca juga: Imanlah kepada Allah, Bukan Antirokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n
<\/p>\n ","post_title":"Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"keberhasilan-gerakan-anti-tembakau-tak-ada-tembakau-saat-musim-hujan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-07 12:16:02","post_modified_gmt":"2019-02-07 05:16:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5415","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5409,"post_author":"919","post_date":"2019-02-05 08:04:43","post_date_gmt":"2019-02-05 01:04:43","post_content":" \nBaca Juga: Wong Kalang dan Kota Gede<\/a><\/h3>\n \n\n \n
Baca Juga: Imlek dan Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n
Baca Juga: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n
<\/p>\n ","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_3o3","class":"epic_block_3"};Baca juga: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/h3>\n \n\n\n
Baca juga: Imanlah kepada Allah, Bukan Antirokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n
<\/p>\n ","post_title":"Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"keberhasilan-gerakan-anti-tembakau-tak-ada-tembakau-saat-musim-hujan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-07 12:16:02","post_modified_gmt":"2019-02-07 05:16:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5415","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5409,"post_author":"919","post_date":"2019-02-05 08:04:43","post_date_gmt":"2019-02-05 01:04:43","post_content":" \nBaca Juga: Wong Kalang dan Kota Gede<\/a><\/h3>\n \n\n \n
Baca Juga: Imlek dan Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n
Baca Juga: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n
<\/p>\n ","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_3o3","class":"epic_block_3"};Baca juga: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n
Baca juga: Imanlah kepada Allah, Bukan Antirokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n
<\/p>\n ","post_title":"Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"keberhasilan-gerakan-anti-tembakau-tak-ada-tembakau-saat-musim-hujan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-07 12:16:02","post_modified_gmt":"2019-02-07 05:16:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5415","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5409,"post_author":"919","post_date":"2019-02-05 08:04:43","post_date_gmt":"2019-02-05 01:04:43","post_content":" \nBaca Juga: Wong Kalang dan Kota Gede<\/a><\/h3>\n \n\n \n
Baca Juga: Imlek dan Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n
Baca Juga: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n
<\/p>\n ","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_3o3","class":"epic_block_3"};Baca juga: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n
Baca juga: Imanlah kepada Allah, Bukan Antirokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n
<\/p>\n ","post_title":"Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"keberhasilan-gerakan-anti-tembakau-tak-ada-tembakau-saat-musim-hujan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-07 12:16:02","post_modified_gmt":"2019-02-07 05:16:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5415","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5409,"post_author":"919","post_date":"2019-02-05 08:04:43","post_date_gmt":"2019-02-05 01:04:43","post_content":" \nBaca Juga: Wong Kalang dan Kota Gede<\/a><\/h3>\n \n\n \n
Baca Juga: Imlek dan Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n
Baca Juga: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n
<\/p>\n ","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_3o3","class":"epic_block_3"};Baca juga: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n
Baca juga: Imanlah kepada Allah, Bukan Antirokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n
<\/p>\n ","post_title":"Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"keberhasilan-gerakan-anti-tembakau-tak-ada-tembakau-saat-musim-hujan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-07 12:16:02","post_modified_gmt":"2019-02-07 05:16:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5415","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5409,"post_author":"919","post_date":"2019-02-05 08:04:43","post_date_gmt":"2019-02-05 01:04:43","post_content":" \nBaca Juga: Wong Kalang dan Kota Gede<\/a><\/h3>\n \n\n \n
Baca Juga: Imlek dan Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n
Baca Juga: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n
<\/p>\n ","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_3o3","class":"epic_block_3"};Baca juga: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/h3>\n \n\n\n
Baca juga: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n
Baca juga: Imanlah kepada Allah, Bukan Antirokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n
<\/p>\n ","post_title":"Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"keberhasilan-gerakan-anti-tembakau-tak-ada-tembakau-saat-musim-hujan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-07 12:16:02","post_modified_gmt":"2019-02-07 05:16:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5415","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5409,"post_author":"919","post_date":"2019-02-05 08:04:43","post_date_gmt":"2019-02-05 01:04:43","post_content":" \nBaca Juga: Wong Kalang dan Kota Gede<\/a><\/h3>\n \n\n \n
Baca Juga: Imlek dan Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n
Baca Juga: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n
<\/p>\n ","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_3o3","class":"epic_block_3"};Baca juga: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/h3>\n \n\n \n
Baca juga: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n
Baca juga: Imanlah kepada Allah, Bukan Antirokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n
<\/p>\n ","post_title":"Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"keberhasilan-gerakan-anti-tembakau-tak-ada-tembakau-saat-musim-hujan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-07 12:16:02","post_modified_gmt":"2019-02-07 05:16:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5415","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5409,"post_author":"919","post_date":"2019-02-05 08:04:43","post_date_gmt":"2019-02-05 01:04:43","post_content":" \nBaca Juga: Wong Kalang dan Kota Gede<\/a><\/h3>\n \n\n \n
Baca Juga: Imlek dan Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n
Baca Juga: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n
<\/p>\n ","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_3o3","class":"epic_block_3"};Baca juga: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/h3>\n \n\n \n
Baca juga: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n
Baca juga: Imanlah kepada Allah, Bukan Antirokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n
<\/p>\n ","post_title":"Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"keberhasilan-gerakan-anti-tembakau-tak-ada-tembakau-saat-musim-hujan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-07 12:16:02","post_modified_gmt":"2019-02-07 05:16:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5415","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5409,"post_author":"919","post_date":"2019-02-05 08:04:43","post_date_gmt":"2019-02-05 01:04:43","post_content":" \nBaca Juga: Wong Kalang dan Kota Gede<\/a><\/h3>\n \n\n \n
Baca Juga: Imlek dan Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n
Baca Juga: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n
<\/p>\n ","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_3o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n ","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-10 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-02-10 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5425","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5415,"post_author":"878","post_date":"2019-02-07 12:15:55","post_date_gmt":"2019-02-07 05:15:55","post_content":"\nBaca juga: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/h3>\n \n\n \n
Baca juga: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n
Baca juga: Imanlah kepada Allah, Bukan Antirokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n
<\/p>\n ","post_title":"Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"keberhasilan-gerakan-anti-tembakau-tak-ada-tembakau-saat-musim-hujan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-07 12:16:02","post_modified_gmt":"2019-02-07 05:16:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5415","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5409,"post_author":"919","post_date":"2019-02-05 08:04:43","post_date_gmt":"2019-02-05 01:04:43","post_content":" \nBaca Juga: Wong Kalang dan Kota Gede<\/a><\/h3>\n \n\n \n
Baca Juga: Imlek dan Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n
Baca Juga: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n
<\/p>\n ","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_3o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n \n\n\n
<\/p>\n ","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-10 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-02-10 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5425","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5415,"post_author":"878","post_date":"2019-02-07 12:15:55","post_date_gmt":"2019-02-07 05:15:55","post_content":" \nBaca juga: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/h3>\n \n\n \n
Baca juga: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n
Baca juga: Imanlah kepada Allah, Bukan Antirokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n
<\/p>\n ","post_title":"Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"keberhasilan-gerakan-anti-tembakau-tak-ada-tembakau-saat-musim-hujan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-07 12:16:02","post_modified_gmt":"2019-02-07 05:16:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5415","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5409,"post_author":"919","post_date":"2019-02-05 08:04:43","post_date_gmt":"2019-02-05 01:04:43","post_content":" \nBaca Juga: Wong Kalang dan Kota Gede<\/a><\/h3>\n \n\n \n
Baca Juga: Imlek dan Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n
Baca Juga: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n
<\/p>\n ","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_3o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n \n\n \n
<\/p>\n ","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-10 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-02-10 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5425","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5415,"post_author":"878","post_date":"2019-02-07 12:15:55","post_date_gmt":"2019-02-07 05:15:55","post_content":" \nBaca juga: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/h3>\n \n\n \n
Baca juga: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n
Baca juga: Imanlah kepada Allah, Bukan Antirokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n
<\/p>\n ","post_title":"Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"keberhasilan-gerakan-anti-tembakau-tak-ada-tembakau-saat-musim-hujan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-07 12:16:02","post_modified_gmt":"2019-02-07 05:16:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5415","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5409,"post_author":"919","post_date":"2019-02-05 08:04:43","post_date_gmt":"2019-02-05 01:04:43","post_content":" \nBaca Juga: Wong Kalang dan Kota Gede<\/a><\/h3>\n \n\n \n
Baca Juga: Imlek dan Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n
Baca Juga: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n
<\/p>\n ","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_3o3","class":"epic_block_3"};