\n

Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n \n\n\n

Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
<\/p>\n ","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_3o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca Juga: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n\n

Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n \n\n \n

Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
<\/p>\n ","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_3o3","class":"epic_block_3"};

\n

Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n \n\n\n

Baca Juga: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n \n\n \n

Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
<\/p>\n ","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_3o3","class":"epic_block_3"};

\n

Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n \n\n\n

Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n \n\n \n

Baca Juga: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n \n\n \n

Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
<\/p>\n ","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_3o3","class":"epic_block_3"};

\n

Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n \n\n\n

Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n \n\n \n

Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n \n\n \n

Baca Juga: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n \n\n \n

Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
<\/p>\n ","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_3o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca Juga: Imlek dan Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n\n

Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n \n\n \n

Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n \n\n \n

Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n \n\n \n

Baca Juga: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n \n\n \n

Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
<\/p>\n ","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_3o3","class":"epic_block_3"};

\n

Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n \n\n\n

Baca Juga: Imlek dan Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n

Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n \n\n \n

Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n \n\n \n

Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n \n\n \n

Baca Juga: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n \n\n \n

Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
<\/p>\n ","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_3o3","class":"epic_block_3"};

\n

Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa kehadiran Bangsa Tionghoa di Nusantara tak hanya sebagai pedagang, namun juga sebagai pekerja (bahkan hingga pekerja kasar). Benny Setiono, seorang sejarahwan menyebutkan bahwa antara tahun 1760-1770 dalam jumlah yang besar memasuki nusantara melalui Kalimantan Barat. Mereka bekerja sebagai kuli pertambangan di sana dan di kemudian hari membentuk sebuah republik bernama Republik Lanfang yang konon katanya menjadi republik pertama di Asia Tenggara.<\/p>\n \n\n\n

Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n \n\n \n

Baca Juga: Imlek dan Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n

Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n \n\n \n

Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n \n\n \n

Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n \n\n \n

Baca Juga: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n \n\n \n

Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
<\/p>\n ","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_3o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca Juga: Wong Kalang dan Kota Gede<\/a><\/h3>\n \n\n\n

Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa kehadiran Bangsa Tionghoa di Nusantara tak hanya sebagai pedagang, namun juga sebagai pekerja (bahkan hingga pekerja kasar). Benny Setiono, seorang sejarahwan menyebutkan bahwa antara tahun 1760-1770 dalam jumlah yang besar memasuki nusantara melalui Kalimantan Barat. Mereka bekerja sebagai kuli pertambangan di sana dan di kemudian hari membentuk sebuah republik bernama Republik Lanfang yang konon katanya menjadi republik pertama di Asia Tenggara.<\/p>\n \n\n \n

Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n \n\n \n

Baca Juga: Imlek dan Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n

Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n \n\n \n

Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n \n\n \n

Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n \n\n \n

Baca Juga: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n \n\n \n

Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
<\/p>\n ","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_3o3","class":"epic_block_3"};

\n

DNA Bangsa Tionghoa yang memang merupakan pedagang menjadi pembuka kisah interaksi antara nenek moyang berbagai suku di Nusantara dengan mereka. Beberapa kelenteng-kelenteng yang tersebar pada berbagai pesisir daerah di Nusantara jadi buktinya. Pelabuhan-pelabuhan tua di tanah air dan ramainya perdagangan di pesisir mempermudah bangsa kita berhubungan dengan Bangsa Tionghoa.<\/p>\n \n\n\n

Baca Juga: Wong Kalang dan Kota Gede<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa kehadiran Bangsa Tionghoa di Nusantara tak hanya sebagai pedagang, namun juga sebagai pekerja (bahkan hingga pekerja kasar). Benny Setiono, seorang sejarahwan menyebutkan bahwa antara tahun 1760-1770 dalam jumlah yang besar memasuki nusantara melalui Kalimantan Barat. Mereka bekerja sebagai kuli pertambangan di sana dan di kemudian hari membentuk sebuah republik bernama Republik Lanfang yang konon katanya menjadi republik pertama di Asia Tenggara.<\/p>\n \n\n \n

Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n \n\n \n

Baca Juga: Imlek dan Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n

Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n \n\n \n

Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n \n\n \n

Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n \n\n \n

Baca Juga: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n \n\n \n

Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
<\/p>\n ","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_3o3","class":"epic_block_3"};

\n

Berterimakasihlah kepada sang bapak bangsa, KH Abdurrahman Wahid atau yang dikenal dengan nama Gus Dur. Berkat kebijakannya saat menjadi Presiden Indonesia, Tahun Baru Imlek resmi dijadikan hari libur nasional dan dianggap sebagai salah satu hari raya di Tanah Air. Meski sentimen antitionghoa masih ada di sana-sini, tapi tetap tak bisa dipungkiri bahwa bangsa tionghoa sudah bersentuhan dengan budaya lokal dalam kurun waktu yang sangat panjang.<\/p>\n \n\n\n

DNA Bangsa Tionghoa yang memang merupakan pedagang menjadi pembuka kisah interaksi antara nenek moyang berbagai suku di Nusantara dengan mereka. Beberapa kelenteng-kelenteng yang tersebar pada berbagai pesisir daerah di Nusantara jadi buktinya. Pelabuhan-pelabuhan tua di tanah air dan ramainya perdagangan di pesisir mempermudah bangsa kita berhubungan dengan Bangsa Tionghoa.<\/p>\n \n\n \n

Baca Juga: Wong Kalang dan Kota Gede<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa kehadiran Bangsa Tionghoa di Nusantara tak hanya sebagai pedagang, namun juga sebagai pekerja (bahkan hingga pekerja kasar). Benny Setiono, seorang sejarahwan menyebutkan bahwa antara tahun 1760-1770 dalam jumlah yang besar memasuki nusantara melalui Kalimantan Barat. Mereka bekerja sebagai kuli pertambangan di sana dan di kemudian hari membentuk sebuah republik bernama Republik Lanfang yang konon katanya menjadi republik pertama di Asia Tenggara.<\/p>\n \n\n \n

Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n \n\n \n

Baca Juga: Imlek dan Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n

Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n \n\n \n

Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n \n\n \n

Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n \n\n \n

Baca Juga: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n \n\n \n

Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
<\/p>\n ","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_3o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tahun Baru Imlek yang merupakan tradisi Bangsa Tiongkok kini sudah tak lagi menjadi hal yang asing bagi masyarakat Indonesia. Kehadirannya sudah mewarnai dan berakulturasi dengan tradisi lokal. Menjelang Tahun Baru Imlek. Berbagai hiasan dan kemeriahan terjadi beberapa titik di Tanah Air. Perayaannya juga menjadi destinasi baru yang mengasyikkan untuk dilihat dan patut disaksikan.<\/p>\n \n\n\n

Berterimakasihlah kepada sang bapak bangsa, KH Abdurrahman Wahid atau yang dikenal dengan nama Gus Dur. Berkat kebijakannya saat menjadi Presiden Indonesia, Tahun Baru Imlek resmi dijadikan hari libur nasional dan dianggap sebagai salah satu hari raya di Tanah Air. Meski sentimen antitionghoa masih ada di sana-sini, tapi tetap tak bisa dipungkiri bahwa bangsa tionghoa sudah bersentuhan dengan budaya lokal dalam kurun waktu yang sangat panjang.<\/p>\n \n\n \n

DNA Bangsa Tionghoa yang memang merupakan pedagang menjadi pembuka kisah interaksi antara nenek moyang berbagai suku di Nusantara dengan mereka. Beberapa kelenteng-kelenteng yang tersebar pada berbagai pesisir daerah di Nusantara jadi buktinya. Pelabuhan-pelabuhan tua di tanah air dan ramainya perdagangan di pesisir mempermudah bangsa kita berhubungan dengan Bangsa Tionghoa.<\/p>\n \n\n \n

Baca Juga: Wong Kalang dan Kota Gede<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa kehadiran Bangsa Tionghoa di Nusantara tak hanya sebagai pedagang, namun juga sebagai pekerja (bahkan hingga pekerja kasar). Benny Setiono, seorang sejarahwan menyebutkan bahwa antara tahun 1760-1770 dalam jumlah yang besar memasuki nusantara melalui Kalimantan Barat. Mereka bekerja sebagai kuli pertambangan di sana dan di kemudian hari membentuk sebuah republik bernama Republik Lanfang yang konon katanya menjadi republik pertama di Asia Tenggara.<\/p>\n \n\n \n

Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n \n\n \n

Baca Juga: Imlek dan Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n

Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n \n\n \n

Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n \n\n \n

Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n \n\n \n

Baca Juga: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n \n\n \n

Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
<\/p>\n ","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_3o3","class":"epic_block_3"};

\n

Maka, kampanye aneh mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain dengan ragam rupa dalih yang membingungkan, bukan saja sama sekali tidak tepat dan asal-asalan, namun bisa jadi akan ditertawakan oleh para petani yang begitu paham dengan kondisi lahan dan terutama kondisi iklim dan cuaca. Sulit mencari tanaman semusim yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Jika pun ada, tak ada yang semenguntungkan tanaman tembakau.
<\/p>\n ","post_title":"Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"keberhasilan-gerakan-anti-tembakau-tak-ada-tembakau-saat-musim-hujan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-07 12:16:02","post_modified_gmt":"2019-02-07 05:16:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5415","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5409,"post_author":"919","post_date":"2019-02-05 08:04:43","post_date_gmt":"2019-02-05 01:04:43","post_content":"\n

Tahun Baru Imlek yang merupakan tradisi Bangsa Tiongkok kini sudah tak lagi menjadi hal yang asing bagi masyarakat Indonesia. Kehadirannya sudah mewarnai dan berakulturasi dengan tradisi lokal. Menjelang Tahun Baru Imlek. Berbagai hiasan dan kemeriahan terjadi beberapa titik di Tanah Air. Perayaannya juga menjadi destinasi baru yang mengasyikkan untuk dilihat dan patut disaksikan.<\/p>\n \n\n \n

Berterimakasihlah kepada sang bapak bangsa, KH Abdurrahman Wahid atau yang dikenal dengan nama Gus Dur. Berkat kebijakannya saat menjadi Presiden Indonesia, Tahun Baru Imlek resmi dijadikan hari libur nasional dan dianggap sebagai salah satu hari raya di Tanah Air. Meski sentimen antitionghoa masih ada di sana-sini, tapi tetap tak bisa dipungkiri bahwa bangsa tionghoa sudah bersentuhan dengan budaya lokal dalam kurun waktu yang sangat panjang.<\/p>\n \n\n \n

DNA Bangsa Tionghoa yang memang merupakan pedagang menjadi pembuka kisah interaksi antara nenek moyang berbagai suku di Nusantara dengan mereka. Beberapa kelenteng-kelenteng yang tersebar pada berbagai pesisir daerah di Nusantara jadi buktinya. Pelabuhan-pelabuhan tua di tanah air dan ramainya perdagangan di pesisir mempermudah bangsa kita berhubungan dengan Bangsa Tionghoa.<\/p>\n \n\n \n

Baca Juga: Wong Kalang dan Kota Gede<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa kehadiran Bangsa Tionghoa di Nusantara tak hanya sebagai pedagang, namun juga sebagai pekerja (bahkan hingga pekerja kasar). Benny Setiono, seorang sejarahwan menyebutkan bahwa antara tahun 1760-1770 dalam jumlah yang besar memasuki nusantara melalui Kalimantan Barat. Mereka bekerja sebagai kuli pertambangan di sana dan di kemudian hari membentuk sebuah republik bernama Republik Lanfang yang konon katanya menjadi republik pertama di Asia Tenggara.<\/p>\n \n\n \n

Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n \n\n \n

Baca Juga: Imlek dan Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n

Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n \n\n \n

Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n \n\n \n

Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n \n\n \n

Baca Juga: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n \n\n \n

Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
<\/p>\n ","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_3o3","class":"epic_block_3"};

\n

Uniknya, tipikal tanaman tembakau yang tumbuh baik di musim kemarau ini memberi pilihan lebih kepada para petani. Lahan-lahan yang sulit ditanami pada musim kemarau, pada akhirnya masih bisa tetap produktif dengan keberadaan tanaman tembakau. <\/p>\n \n\n\n

Maka, kampanye aneh mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain dengan ragam rupa dalih yang membingungkan, bukan saja sama sekali tidak tepat dan asal-asalan, namun bisa jadi akan ditertawakan oleh para petani yang begitu paham dengan kondisi lahan dan terutama kondisi iklim dan cuaca. Sulit mencari tanaman semusim yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Jika pun ada, tak ada yang semenguntungkan tanaman tembakau.
<\/p>\n ","post_title":"Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"keberhasilan-gerakan-anti-tembakau-tak-ada-tembakau-saat-musim-hujan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-07 12:16:02","post_modified_gmt":"2019-02-07 05:16:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5415","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5409,"post_author":"919","post_date":"2019-02-05 08:04:43","post_date_gmt":"2019-02-05 01:04:43","post_content":" \n

Tahun Baru Imlek yang merupakan tradisi Bangsa Tiongkok kini sudah tak lagi menjadi hal yang asing bagi masyarakat Indonesia. Kehadirannya sudah mewarnai dan berakulturasi dengan tradisi lokal. Menjelang Tahun Baru Imlek. Berbagai hiasan dan kemeriahan terjadi beberapa titik di Tanah Air. Perayaannya juga menjadi destinasi baru yang mengasyikkan untuk dilihat dan patut disaksikan.<\/p>\n \n\n \n

Berterimakasihlah kepada sang bapak bangsa, KH Abdurrahman Wahid atau yang dikenal dengan nama Gus Dur. Berkat kebijakannya saat menjadi Presiden Indonesia, Tahun Baru Imlek resmi dijadikan hari libur nasional dan dianggap sebagai salah satu hari raya di Tanah Air. Meski sentimen antitionghoa masih ada di sana-sini, tapi tetap tak bisa dipungkiri bahwa bangsa tionghoa sudah bersentuhan dengan budaya lokal dalam kurun waktu yang sangat panjang.<\/p>\n \n\n \n

DNA Bangsa Tionghoa yang memang merupakan pedagang menjadi pembuka kisah interaksi antara nenek moyang berbagai suku di Nusantara dengan mereka. Beberapa kelenteng-kelenteng yang tersebar pada berbagai pesisir daerah di Nusantara jadi buktinya. Pelabuhan-pelabuhan tua di tanah air dan ramainya perdagangan di pesisir mempermudah bangsa kita berhubungan dengan Bangsa Tionghoa.<\/p>\n \n\n \n

Baca Juga: Wong Kalang dan Kota Gede<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa kehadiran Bangsa Tionghoa di Nusantara tak hanya sebagai pedagang, namun juga sebagai pekerja (bahkan hingga pekerja kasar). Benny Setiono, seorang sejarahwan menyebutkan bahwa antara tahun 1760-1770 dalam jumlah yang besar memasuki nusantara melalui Kalimantan Barat. Mereka bekerja sebagai kuli pertambangan di sana dan di kemudian hari membentuk sebuah republik bernama Republik Lanfang yang konon katanya menjadi republik pertama di Asia Tenggara.<\/p>\n \n\n \n

Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n \n\n \n

Baca Juga: Imlek dan Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n

Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n \n\n \n

Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n \n\n \n

Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n \n\n \n

Baca Juga: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n \n\n \n

Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
<\/p>\n ","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_3o3","class":"epic_block_3"};

\n

Maka, tak heran pada musim-musim seperti saat ini, ketika musim penghujan mendekati puncaknya, di wilayah-wilayah yang dikenal sebagai sentra pertanian tembakau, sulit menemukan pohon tembakau yang sedang tumbuh. Pada lahan-lahan yang sebelumnya ditumbuhi tanaman tembakau pada musim panas, berganti tanaman-tanaman lain yang bermacam-macam, sesuai dengan kondisi lahannya. Untuk lahan sawah, lahan-lahan itu pada musim penghujan kini ditumbuhi tanaman padi yang subur. Pada lahan tegalan dan lahan di pegunungan, lahan-lahan yang ditanami tembakau pada musim kemarau, saat ini ditumbuhi bermacam jenis tanaman mulai dari cabai, bawang, tomat, kol, terong, mentimun, dan ragam jenis tanaman semusim lainnya.<\/p>\n \n\n\n

Uniknya, tipikal tanaman tembakau yang tumbuh baik di musim kemarau ini memberi pilihan lebih kepada para petani. Lahan-lahan yang sulit ditanami pada musim kemarau, pada akhirnya masih bisa tetap produktif dengan keberadaan tanaman tembakau. <\/p>\n \n\n \n

Maka, kampanye aneh mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain dengan ragam rupa dalih yang membingungkan, bukan saja sama sekali tidak tepat dan asal-asalan, namun bisa jadi akan ditertawakan oleh para petani yang begitu paham dengan kondisi lahan dan terutama kondisi iklim dan cuaca. Sulit mencari tanaman semusim yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Jika pun ada, tak ada yang semenguntungkan tanaman tembakau.
<\/p>\n ","post_title":"Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"keberhasilan-gerakan-anti-tembakau-tak-ada-tembakau-saat-musim-hujan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-07 12:16:02","post_modified_gmt":"2019-02-07 05:16:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5415","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5409,"post_author":"919","post_date":"2019-02-05 08:04:43","post_date_gmt":"2019-02-05 01:04:43","post_content":" \n

Tahun Baru Imlek yang merupakan tradisi Bangsa Tiongkok kini sudah tak lagi menjadi hal yang asing bagi masyarakat Indonesia. Kehadirannya sudah mewarnai dan berakulturasi dengan tradisi lokal. Menjelang Tahun Baru Imlek. Berbagai hiasan dan kemeriahan terjadi beberapa titik di Tanah Air. Perayaannya juga menjadi destinasi baru yang mengasyikkan untuk dilihat dan patut disaksikan.<\/p>\n \n\n \n

Berterimakasihlah kepada sang bapak bangsa, KH Abdurrahman Wahid atau yang dikenal dengan nama Gus Dur. Berkat kebijakannya saat menjadi Presiden Indonesia, Tahun Baru Imlek resmi dijadikan hari libur nasional dan dianggap sebagai salah satu hari raya di Tanah Air. Meski sentimen antitionghoa masih ada di sana-sini, tapi tetap tak bisa dipungkiri bahwa bangsa tionghoa sudah bersentuhan dengan budaya lokal dalam kurun waktu yang sangat panjang.<\/p>\n \n\n \n

DNA Bangsa Tionghoa yang memang merupakan pedagang menjadi pembuka kisah interaksi antara nenek moyang berbagai suku di Nusantara dengan mereka. Beberapa kelenteng-kelenteng yang tersebar pada berbagai pesisir daerah di Nusantara jadi buktinya. Pelabuhan-pelabuhan tua di tanah air dan ramainya perdagangan di pesisir mempermudah bangsa kita berhubungan dengan Bangsa Tionghoa.<\/p>\n \n\n \n

Baca Juga: Wong Kalang dan Kota Gede<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa kehadiran Bangsa Tionghoa di Nusantara tak hanya sebagai pedagang, namun juga sebagai pekerja (bahkan hingga pekerja kasar). Benny Setiono, seorang sejarahwan menyebutkan bahwa antara tahun 1760-1770 dalam jumlah yang besar memasuki nusantara melalui Kalimantan Barat. Mereka bekerja sebagai kuli pertambangan di sana dan di kemudian hari membentuk sebuah republik bernama Republik Lanfang yang konon katanya menjadi republik pertama di Asia Tenggara.<\/p>\n \n\n \n

Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n \n\n \n

Baca Juga: Imlek dan Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n

Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n \n\n \n

Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n \n\n \n

Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n \n\n \n

Baca Juga: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n \n\n \n

Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
<\/p>\n ","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_3o3","class":"epic_block_3"};

\n

Jika ditanam pada musim hujan, hampir bisa dipastikan tanaman tembakau akan gagal menghasilkan daun-daun yang berkualitas. Ia akan rusak dan membusuk karena terlalu banyak terkena air sehingga daun-daun itu tak layak dijual. Jangankan bisa dijual, untuk tumbuh dengan baik pun sepertinya sulit karena musim hujan akan membunuh banyak tanaman itu.<\/p>\n \n\n\n

Maka, tak heran pada musim-musim seperti saat ini, ketika musim penghujan mendekati puncaknya, di wilayah-wilayah yang dikenal sebagai sentra pertanian tembakau, sulit menemukan pohon tembakau yang sedang tumbuh. Pada lahan-lahan yang sebelumnya ditumbuhi tanaman tembakau pada musim panas, berganti tanaman-tanaman lain yang bermacam-macam, sesuai dengan kondisi lahannya. Untuk lahan sawah, lahan-lahan itu pada musim penghujan kini ditumbuhi tanaman padi yang subur. Pada lahan tegalan dan lahan di pegunungan, lahan-lahan yang ditanami tembakau pada musim kemarau, saat ini ditumbuhi bermacam jenis tanaman mulai dari cabai, bawang, tomat, kol, terong, mentimun, dan ragam jenis tanaman semusim lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Uniknya, tipikal tanaman tembakau yang tumbuh baik di musim kemarau ini memberi pilihan lebih kepada para petani. Lahan-lahan yang sulit ditanami pada musim kemarau, pada akhirnya masih bisa tetap produktif dengan keberadaan tanaman tembakau. <\/p>\n \n\n \n

Maka, kampanye aneh mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain dengan ragam rupa dalih yang membingungkan, bukan saja sama sekali tidak tepat dan asal-asalan, namun bisa jadi akan ditertawakan oleh para petani yang begitu paham dengan kondisi lahan dan terutama kondisi iklim dan cuaca. Sulit mencari tanaman semusim yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Jika pun ada, tak ada yang semenguntungkan tanaman tembakau.
<\/p>\n ","post_title":"Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"keberhasilan-gerakan-anti-tembakau-tak-ada-tembakau-saat-musim-hujan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-07 12:16:02","post_modified_gmt":"2019-02-07 05:16:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5415","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5409,"post_author":"919","post_date":"2019-02-05 08:04:43","post_date_gmt":"2019-02-05 01:04:43","post_content":" \n

Tahun Baru Imlek yang merupakan tradisi Bangsa Tiongkok kini sudah tak lagi menjadi hal yang asing bagi masyarakat Indonesia. Kehadirannya sudah mewarnai dan berakulturasi dengan tradisi lokal. Menjelang Tahun Baru Imlek. Berbagai hiasan dan kemeriahan terjadi beberapa titik di Tanah Air. Perayaannya juga menjadi destinasi baru yang mengasyikkan untuk dilihat dan patut disaksikan.<\/p>\n \n\n \n

Berterimakasihlah kepada sang bapak bangsa, KH Abdurrahman Wahid atau yang dikenal dengan nama Gus Dur. Berkat kebijakannya saat menjadi Presiden Indonesia, Tahun Baru Imlek resmi dijadikan hari libur nasional dan dianggap sebagai salah satu hari raya di Tanah Air. Meski sentimen antitionghoa masih ada di sana-sini, tapi tetap tak bisa dipungkiri bahwa bangsa tionghoa sudah bersentuhan dengan budaya lokal dalam kurun waktu yang sangat panjang.<\/p>\n \n\n \n

DNA Bangsa Tionghoa yang memang merupakan pedagang menjadi pembuka kisah interaksi antara nenek moyang berbagai suku di Nusantara dengan mereka. Beberapa kelenteng-kelenteng yang tersebar pada berbagai pesisir daerah di Nusantara jadi buktinya. Pelabuhan-pelabuhan tua di tanah air dan ramainya perdagangan di pesisir mempermudah bangsa kita berhubungan dengan Bangsa Tionghoa.<\/p>\n \n\n \n

Baca Juga: Wong Kalang dan Kota Gede<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa kehadiran Bangsa Tionghoa di Nusantara tak hanya sebagai pedagang, namun juga sebagai pekerja (bahkan hingga pekerja kasar). Benny Setiono, seorang sejarahwan menyebutkan bahwa antara tahun 1760-1770 dalam jumlah yang besar memasuki nusantara melalui Kalimantan Barat. Mereka bekerja sebagai kuli pertambangan di sana dan di kemudian hari membentuk sebuah republik bernama Republik Lanfang yang konon katanya menjadi republik pertama di Asia Tenggara.<\/p>\n \n\n \n

Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n \n\n \n

Baca Juga: Imlek dan Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n

Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n \n\n \n

Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n \n\n \n

Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n \n\n \n

Baca Juga: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n \n\n \n

Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
<\/p>\n ","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_3o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tembakau tanaman yang khas. Ia hanya tumbuh baik sepanjang empat hingga lima bulan dalam satu tahun. Tumbuh-kembang tanaman tembakau dengan baik itu umumnya terjadi pada musim kemarau setiap tahunnya. Hanya sedikit sekali jenis tembakau yang tumbuh baik di musim penghujan, mayoritasnya, tumbuh baik pada musim kemarau.<\/p>\n \n\n\n

Jika ditanam pada musim hujan, hampir bisa dipastikan tanaman tembakau akan gagal menghasilkan daun-daun yang berkualitas. Ia akan rusak dan membusuk karena terlalu banyak terkena air sehingga daun-daun itu tak layak dijual. Jangankan bisa dijual, untuk tumbuh dengan baik pun sepertinya sulit karena musim hujan akan membunuh banyak tanaman itu.<\/p>\n \n\n \n

Maka, tak heran pada musim-musim seperti saat ini, ketika musim penghujan mendekati puncaknya, di wilayah-wilayah yang dikenal sebagai sentra pertanian tembakau, sulit menemukan pohon tembakau yang sedang tumbuh. Pada lahan-lahan yang sebelumnya ditumbuhi tanaman tembakau pada musim panas, berganti tanaman-tanaman lain yang bermacam-macam, sesuai dengan kondisi lahannya. Untuk lahan sawah, lahan-lahan itu pada musim penghujan kini ditumbuhi tanaman padi yang subur. Pada lahan tegalan dan lahan di pegunungan, lahan-lahan yang ditanami tembakau pada musim kemarau, saat ini ditumbuhi bermacam jenis tanaman mulai dari cabai, bawang, tomat, kol, terong, mentimun, dan ragam jenis tanaman semusim lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Uniknya, tipikal tanaman tembakau yang tumbuh baik di musim kemarau ini memberi pilihan lebih kepada para petani. Lahan-lahan yang sulit ditanami pada musim kemarau, pada akhirnya masih bisa tetap produktif dengan keberadaan tanaman tembakau. <\/p>\n \n\n \n

Maka, kampanye aneh mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain dengan ragam rupa dalih yang membingungkan, bukan saja sama sekali tidak tepat dan asal-asalan, namun bisa jadi akan ditertawakan oleh para petani yang begitu paham dengan kondisi lahan dan terutama kondisi iklim dan cuaca. Sulit mencari tanaman semusim yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Jika pun ada, tak ada yang semenguntungkan tanaman tembakau.
<\/p>\n ","post_title":"Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"keberhasilan-gerakan-anti-tembakau-tak-ada-tembakau-saat-musim-hujan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-07 12:16:02","post_modified_gmt":"2019-02-07 05:16:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5415","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5409,"post_author":"919","post_date":"2019-02-05 08:04:43","post_date_gmt":"2019-02-05 01:04:43","post_content":" \n

Tahun Baru Imlek yang merupakan tradisi Bangsa Tiongkok kini sudah tak lagi menjadi hal yang asing bagi masyarakat Indonesia. Kehadirannya sudah mewarnai dan berakulturasi dengan tradisi lokal. Menjelang Tahun Baru Imlek. Berbagai hiasan dan kemeriahan terjadi beberapa titik di Tanah Air. Perayaannya juga menjadi destinasi baru yang mengasyikkan untuk dilihat dan patut disaksikan.<\/p>\n \n\n \n

Berterimakasihlah kepada sang bapak bangsa, KH Abdurrahman Wahid atau yang dikenal dengan nama Gus Dur. Berkat kebijakannya saat menjadi Presiden Indonesia, Tahun Baru Imlek resmi dijadikan hari libur nasional dan dianggap sebagai salah satu hari raya di Tanah Air. Meski sentimen antitionghoa masih ada di sana-sini, tapi tetap tak bisa dipungkiri bahwa bangsa tionghoa sudah bersentuhan dengan budaya lokal dalam kurun waktu yang sangat panjang.<\/p>\n \n\n \n

DNA Bangsa Tionghoa yang memang merupakan pedagang menjadi pembuka kisah interaksi antara nenek moyang berbagai suku di Nusantara dengan mereka. Beberapa kelenteng-kelenteng yang tersebar pada berbagai pesisir daerah di Nusantara jadi buktinya. Pelabuhan-pelabuhan tua di tanah air dan ramainya perdagangan di pesisir mempermudah bangsa kita berhubungan dengan Bangsa Tionghoa.<\/p>\n \n\n \n

Baca Juga: Wong Kalang dan Kota Gede<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa kehadiran Bangsa Tionghoa di Nusantara tak hanya sebagai pedagang, namun juga sebagai pekerja (bahkan hingga pekerja kasar). Benny Setiono, seorang sejarahwan menyebutkan bahwa antara tahun 1760-1770 dalam jumlah yang besar memasuki nusantara melalui Kalimantan Barat. Mereka bekerja sebagai kuli pertambangan di sana dan di kemudian hari membentuk sebuah republik bernama Republik Lanfang yang konon katanya menjadi republik pertama di Asia Tenggara.<\/p>\n \n\n \n

Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n \n\n \n

Baca Juga: Imlek dan Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n

Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n \n\n \n

Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n \n\n \n

Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n \n\n \n

Baca Juga: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n \n\n \n

Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
<\/p>\n ","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_3o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca juga: Imanlah kepada Allah, Bukan Antirokok<\/a><\/h3>\n \n\n\n

Tembakau tanaman yang khas. Ia hanya tumbuh baik sepanjang empat hingga lima bulan dalam satu tahun. Tumbuh-kembang tanaman tembakau dengan baik itu umumnya terjadi pada musim kemarau setiap tahunnya. Hanya sedikit sekali jenis tembakau yang tumbuh baik di musim penghujan, mayoritasnya, tumbuh baik pada musim kemarau.<\/p>\n \n\n \n

Jika ditanam pada musim hujan, hampir bisa dipastikan tanaman tembakau akan gagal menghasilkan daun-daun yang berkualitas. Ia akan rusak dan membusuk karena terlalu banyak terkena air sehingga daun-daun itu tak layak dijual. Jangankan bisa dijual, untuk tumbuh dengan baik pun sepertinya sulit karena musim hujan akan membunuh banyak tanaman itu.<\/p>\n \n\n \n

Maka, tak heran pada musim-musim seperti saat ini, ketika musim penghujan mendekati puncaknya, di wilayah-wilayah yang dikenal sebagai sentra pertanian tembakau, sulit menemukan pohon tembakau yang sedang tumbuh. Pada lahan-lahan yang sebelumnya ditumbuhi tanaman tembakau pada musim panas, berganti tanaman-tanaman lain yang bermacam-macam, sesuai dengan kondisi lahannya. Untuk lahan sawah, lahan-lahan itu pada musim penghujan kini ditumbuhi tanaman padi yang subur. Pada lahan tegalan dan lahan di pegunungan, lahan-lahan yang ditanami tembakau pada musim kemarau, saat ini ditumbuhi bermacam jenis tanaman mulai dari cabai, bawang, tomat, kol, terong, mentimun, dan ragam jenis tanaman semusim lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Uniknya, tipikal tanaman tembakau yang tumbuh baik di musim kemarau ini memberi pilihan lebih kepada para petani. Lahan-lahan yang sulit ditanami pada musim kemarau, pada akhirnya masih bisa tetap produktif dengan keberadaan tanaman tembakau. <\/p>\n \n\n \n

Maka, kampanye aneh mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain dengan ragam rupa dalih yang membingungkan, bukan saja sama sekali tidak tepat dan asal-asalan, namun bisa jadi akan ditertawakan oleh para petani yang begitu paham dengan kondisi lahan dan terutama kondisi iklim dan cuaca. Sulit mencari tanaman semusim yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Jika pun ada, tak ada yang semenguntungkan tanaman tembakau.
<\/p>\n ","post_title":"Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"keberhasilan-gerakan-anti-tembakau-tak-ada-tembakau-saat-musim-hujan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-07 12:16:02","post_modified_gmt":"2019-02-07 05:16:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5415","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5409,"post_author":"919","post_date":"2019-02-05 08:04:43","post_date_gmt":"2019-02-05 01:04:43","post_content":" \n

Tahun Baru Imlek yang merupakan tradisi Bangsa Tiongkok kini sudah tak lagi menjadi hal yang asing bagi masyarakat Indonesia. Kehadirannya sudah mewarnai dan berakulturasi dengan tradisi lokal. Menjelang Tahun Baru Imlek. Berbagai hiasan dan kemeriahan terjadi beberapa titik di Tanah Air. Perayaannya juga menjadi destinasi baru yang mengasyikkan untuk dilihat dan patut disaksikan.<\/p>\n \n\n \n

Berterimakasihlah kepada sang bapak bangsa, KH Abdurrahman Wahid atau yang dikenal dengan nama Gus Dur. Berkat kebijakannya saat menjadi Presiden Indonesia, Tahun Baru Imlek resmi dijadikan hari libur nasional dan dianggap sebagai salah satu hari raya di Tanah Air. Meski sentimen antitionghoa masih ada di sana-sini, tapi tetap tak bisa dipungkiri bahwa bangsa tionghoa sudah bersentuhan dengan budaya lokal dalam kurun waktu yang sangat panjang.<\/p>\n \n\n \n

DNA Bangsa Tionghoa yang memang merupakan pedagang menjadi pembuka kisah interaksi antara nenek moyang berbagai suku di Nusantara dengan mereka. Beberapa kelenteng-kelenteng yang tersebar pada berbagai pesisir daerah di Nusantara jadi buktinya. Pelabuhan-pelabuhan tua di tanah air dan ramainya perdagangan di pesisir mempermudah bangsa kita berhubungan dengan Bangsa Tionghoa.<\/p>\n \n\n \n

Baca Juga: Wong Kalang dan Kota Gede<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa kehadiran Bangsa Tionghoa di Nusantara tak hanya sebagai pedagang, namun juga sebagai pekerja (bahkan hingga pekerja kasar). Benny Setiono, seorang sejarahwan menyebutkan bahwa antara tahun 1760-1770 dalam jumlah yang besar memasuki nusantara melalui Kalimantan Barat. Mereka bekerja sebagai kuli pertambangan di sana dan di kemudian hari membentuk sebuah republik bernama Republik Lanfang yang konon katanya menjadi republik pertama di Asia Tenggara.<\/p>\n \n\n \n

Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n \n\n \n

Baca Juga: Imlek dan Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n

Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n \n\n \n

Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n \n\n \n

Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n \n\n \n

Baca Juga: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n \n\n \n

Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
<\/p>\n ","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_3o3","class":"epic_block_3"};

\n

Salah satu yang selalu mereka kampanyekan dan ngotot dengan itu, terkait hulu pertanian tembakau adalah mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya. Mereka berargumen banyak tanaman lain yang bisa semenguntungkan tanaman tembakau. Keengganan mereka terjun langsung ke lapangan inilah yang membikin mereka buta dengan kondisi pertanian tembakau dan pada akhirnya terus menerus mengampanyekan pergantian tanaman tembakau dengan tanaman lainnya.<\/p>\n \n\n\n

Baca juga: Imanlah kepada Allah, Bukan Antirokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Tembakau tanaman yang khas. Ia hanya tumbuh baik sepanjang empat hingga lima bulan dalam satu tahun. Tumbuh-kembang tanaman tembakau dengan baik itu umumnya terjadi pada musim kemarau setiap tahunnya. Hanya sedikit sekali jenis tembakau yang tumbuh baik di musim penghujan, mayoritasnya, tumbuh baik pada musim kemarau.<\/p>\n \n\n \n

Jika ditanam pada musim hujan, hampir bisa dipastikan tanaman tembakau akan gagal menghasilkan daun-daun yang berkualitas. Ia akan rusak dan membusuk karena terlalu banyak terkena air sehingga daun-daun itu tak layak dijual. Jangankan bisa dijual, untuk tumbuh dengan baik pun sepertinya sulit karena musim hujan akan membunuh banyak tanaman itu.<\/p>\n \n\n \n

Maka, tak heran pada musim-musim seperti saat ini, ketika musim penghujan mendekati puncaknya, di wilayah-wilayah yang dikenal sebagai sentra pertanian tembakau, sulit menemukan pohon tembakau yang sedang tumbuh. Pada lahan-lahan yang sebelumnya ditumbuhi tanaman tembakau pada musim panas, berganti tanaman-tanaman lain yang bermacam-macam, sesuai dengan kondisi lahannya. Untuk lahan sawah, lahan-lahan itu pada musim penghujan kini ditumbuhi tanaman padi yang subur. Pada lahan tegalan dan lahan di pegunungan, lahan-lahan yang ditanami tembakau pada musim kemarau, saat ini ditumbuhi bermacam jenis tanaman mulai dari cabai, bawang, tomat, kol, terong, mentimun, dan ragam jenis tanaman semusim lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Uniknya, tipikal tanaman tembakau yang tumbuh baik di musim kemarau ini memberi pilihan lebih kepada para petani. Lahan-lahan yang sulit ditanami pada musim kemarau, pada akhirnya masih bisa tetap produktif dengan keberadaan tanaman tembakau. <\/p>\n \n\n \n

Maka, kampanye aneh mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain dengan ragam rupa dalih yang membingungkan, bukan saja sama sekali tidak tepat dan asal-asalan, namun bisa jadi akan ditertawakan oleh para petani yang begitu paham dengan kondisi lahan dan terutama kondisi iklim dan cuaca. Sulit mencari tanaman semusim yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Jika pun ada, tak ada yang semenguntungkan tanaman tembakau.
<\/p>\n ","post_title":"Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"keberhasilan-gerakan-anti-tembakau-tak-ada-tembakau-saat-musim-hujan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-07 12:16:02","post_modified_gmt":"2019-02-07 05:16:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5415","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5409,"post_author":"919","post_date":"2019-02-05 08:04:43","post_date_gmt":"2019-02-05 01:04:43","post_content":" \n

Tahun Baru Imlek yang merupakan tradisi Bangsa Tiongkok kini sudah tak lagi menjadi hal yang asing bagi masyarakat Indonesia. Kehadirannya sudah mewarnai dan berakulturasi dengan tradisi lokal. Menjelang Tahun Baru Imlek. Berbagai hiasan dan kemeriahan terjadi beberapa titik di Tanah Air. Perayaannya juga menjadi destinasi baru yang mengasyikkan untuk dilihat dan patut disaksikan.<\/p>\n \n\n \n

Berterimakasihlah kepada sang bapak bangsa, KH Abdurrahman Wahid atau yang dikenal dengan nama Gus Dur. Berkat kebijakannya saat menjadi Presiden Indonesia, Tahun Baru Imlek resmi dijadikan hari libur nasional dan dianggap sebagai salah satu hari raya di Tanah Air. Meski sentimen antitionghoa masih ada di sana-sini, tapi tetap tak bisa dipungkiri bahwa bangsa tionghoa sudah bersentuhan dengan budaya lokal dalam kurun waktu yang sangat panjang.<\/p>\n \n\n \n

DNA Bangsa Tionghoa yang memang merupakan pedagang menjadi pembuka kisah interaksi antara nenek moyang berbagai suku di Nusantara dengan mereka. Beberapa kelenteng-kelenteng yang tersebar pada berbagai pesisir daerah di Nusantara jadi buktinya. Pelabuhan-pelabuhan tua di tanah air dan ramainya perdagangan di pesisir mempermudah bangsa kita berhubungan dengan Bangsa Tionghoa.<\/p>\n \n\n \n

Baca Juga: Wong Kalang dan Kota Gede<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa kehadiran Bangsa Tionghoa di Nusantara tak hanya sebagai pedagang, namun juga sebagai pekerja (bahkan hingga pekerja kasar). Benny Setiono, seorang sejarahwan menyebutkan bahwa antara tahun 1760-1770 dalam jumlah yang besar memasuki nusantara melalui Kalimantan Barat. Mereka bekerja sebagai kuli pertambangan di sana dan di kemudian hari membentuk sebuah republik bernama Republik Lanfang yang konon katanya menjadi republik pertama di Asia Tenggara.<\/p>\n \n\n \n

Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n \n\n \n

Baca Juga: Imlek dan Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n

Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n \n\n \n

Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n \n\n \n

Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n \n\n \n

Baca Juga: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n \n\n \n

Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
<\/p>\n ","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_3o3","class":"epic_block_3"};

\n

Fenomena ini membikin kita tak bisa melihat mereka para anti-rokok kecele lalu menertawakan mereka.<\/strong> Fenomena keengganan terjun langsung ke lapangan terlebih mencoba mendengar mereka yang tetap menanam tembakau, juga menjalani keseharian dalam waktu cukup lama bersama petani tembakau inilah yang saya kira menjadikan mereka tetap keras kepala untuk anti-rokok dan anti-tembakau. Karena jika mereka mau melakukan itu, saya yakin mereka semua tidak akan begitu kaku dalam memandang pertanian tembakau dan produk hasil industri tembakau.<\/p>\n \n\n\n

Salah satu yang selalu mereka kampanyekan dan ngotot dengan itu, terkait hulu pertanian tembakau adalah mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya. Mereka berargumen banyak tanaman lain yang bisa semenguntungkan tanaman tembakau. Keengganan mereka terjun langsung ke lapangan inilah yang membikin mereka buta dengan kondisi pertanian tembakau dan pada akhirnya terus menerus mengampanyekan pergantian tanaman tembakau dengan tanaman lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Baca juga: Imanlah kepada Allah, Bukan Antirokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Tembakau tanaman yang khas. Ia hanya tumbuh baik sepanjang empat hingga lima bulan dalam satu tahun. Tumbuh-kembang tanaman tembakau dengan baik itu umumnya terjadi pada musim kemarau setiap tahunnya. Hanya sedikit sekali jenis tembakau yang tumbuh baik di musim penghujan, mayoritasnya, tumbuh baik pada musim kemarau.<\/p>\n \n\n \n

Jika ditanam pada musim hujan, hampir bisa dipastikan tanaman tembakau akan gagal menghasilkan daun-daun yang berkualitas. Ia akan rusak dan membusuk karena terlalu banyak terkena air sehingga daun-daun itu tak layak dijual. Jangankan bisa dijual, untuk tumbuh dengan baik pun sepertinya sulit karena musim hujan akan membunuh banyak tanaman itu.<\/p>\n \n\n \n

Maka, tak heran pada musim-musim seperti saat ini, ketika musim penghujan mendekati puncaknya, di wilayah-wilayah yang dikenal sebagai sentra pertanian tembakau, sulit menemukan pohon tembakau yang sedang tumbuh. Pada lahan-lahan yang sebelumnya ditumbuhi tanaman tembakau pada musim panas, berganti tanaman-tanaman lain yang bermacam-macam, sesuai dengan kondisi lahannya. Untuk lahan sawah, lahan-lahan itu pada musim penghujan kini ditumbuhi tanaman padi yang subur. Pada lahan tegalan dan lahan di pegunungan, lahan-lahan yang ditanami tembakau pada musim kemarau, saat ini ditumbuhi bermacam jenis tanaman mulai dari cabai, bawang, tomat, kol, terong, mentimun, dan ragam jenis tanaman semusim lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Uniknya, tipikal tanaman tembakau yang tumbuh baik di musim kemarau ini memberi pilihan lebih kepada para petani. Lahan-lahan yang sulit ditanami pada musim kemarau, pada akhirnya masih bisa tetap produktif dengan keberadaan tanaman tembakau. <\/p>\n \n\n \n

Maka, kampanye aneh mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain dengan ragam rupa dalih yang membingungkan, bukan saja sama sekali tidak tepat dan asal-asalan, namun bisa jadi akan ditertawakan oleh para petani yang begitu paham dengan kondisi lahan dan terutama kondisi iklim dan cuaca. Sulit mencari tanaman semusim yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Jika pun ada, tak ada yang semenguntungkan tanaman tembakau.
<\/p>\n ","post_title":"Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"keberhasilan-gerakan-anti-tembakau-tak-ada-tembakau-saat-musim-hujan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-07 12:16:02","post_modified_gmt":"2019-02-07 05:16:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5415","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5409,"post_author":"919","post_date":"2019-02-05 08:04:43","post_date_gmt":"2019-02-05 01:04:43","post_content":" \n

Tahun Baru Imlek yang merupakan tradisi Bangsa Tiongkok kini sudah tak lagi menjadi hal yang asing bagi masyarakat Indonesia. Kehadirannya sudah mewarnai dan berakulturasi dengan tradisi lokal. Menjelang Tahun Baru Imlek. Berbagai hiasan dan kemeriahan terjadi beberapa titik di Tanah Air. Perayaannya juga menjadi destinasi baru yang mengasyikkan untuk dilihat dan patut disaksikan.<\/p>\n \n\n \n

Berterimakasihlah kepada sang bapak bangsa, KH Abdurrahman Wahid atau yang dikenal dengan nama Gus Dur. Berkat kebijakannya saat menjadi Presiden Indonesia, Tahun Baru Imlek resmi dijadikan hari libur nasional dan dianggap sebagai salah satu hari raya di Tanah Air. Meski sentimen antitionghoa masih ada di sana-sini, tapi tetap tak bisa dipungkiri bahwa bangsa tionghoa sudah bersentuhan dengan budaya lokal dalam kurun waktu yang sangat panjang.<\/p>\n \n\n \n

DNA Bangsa Tionghoa yang memang merupakan pedagang menjadi pembuka kisah interaksi antara nenek moyang berbagai suku di Nusantara dengan mereka. Beberapa kelenteng-kelenteng yang tersebar pada berbagai pesisir daerah di Nusantara jadi buktinya. Pelabuhan-pelabuhan tua di tanah air dan ramainya perdagangan di pesisir mempermudah bangsa kita berhubungan dengan Bangsa Tionghoa.<\/p>\n \n\n \n

Baca Juga: Wong Kalang dan Kota Gede<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa kehadiran Bangsa Tionghoa di Nusantara tak hanya sebagai pedagang, namun juga sebagai pekerja (bahkan hingga pekerja kasar). Benny Setiono, seorang sejarahwan menyebutkan bahwa antara tahun 1760-1770 dalam jumlah yang besar memasuki nusantara melalui Kalimantan Barat. Mereka bekerja sebagai kuli pertambangan di sana dan di kemudian hari membentuk sebuah republik bernama Republik Lanfang yang konon katanya menjadi republik pertama di Asia Tenggara.<\/p>\n \n\n \n

Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n \n\n \n

Baca Juga: Imlek dan Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n

Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n \n\n \n

Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n \n\n \n

Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n \n\n \n

Baca Juga: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n \n\n \n

Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
<\/p>\n ","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_3o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca juga: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/h3>\n \n\n\n

Fenomena ini membikin kita tak bisa melihat mereka para anti-rokok kecele lalu menertawakan mereka.<\/strong> Fenomena keengganan terjun langsung ke lapangan terlebih mencoba mendengar mereka yang tetap menanam tembakau, juga menjalani keseharian dalam waktu cukup lama bersama petani tembakau inilah yang saya kira menjadikan mereka tetap keras kepala untuk anti-rokok dan anti-tembakau. Karena jika mereka mau melakukan itu, saya yakin mereka semua tidak akan begitu kaku dalam memandang pertanian tembakau dan produk hasil industri tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Salah satu yang selalu mereka kampanyekan dan ngotot dengan itu, terkait hulu pertanian tembakau adalah mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya. Mereka berargumen banyak tanaman lain yang bisa semenguntungkan tanaman tembakau. Keengganan mereka terjun langsung ke lapangan inilah yang membikin mereka buta dengan kondisi pertanian tembakau dan pada akhirnya terus menerus mengampanyekan pergantian tanaman tembakau dengan tanaman lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Baca juga: Imanlah kepada Allah, Bukan Antirokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Tembakau tanaman yang khas. Ia hanya tumbuh baik sepanjang empat hingga lima bulan dalam satu tahun. Tumbuh-kembang tanaman tembakau dengan baik itu umumnya terjadi pada musim kemarau setiap tahunnya. Hanya sedikit sekali jenis tembakau yang tumbuh baik di musim penghujan, mayoritasnya, tumbuh baik pada musim kemarau.<\/p>\n \n\n \n

Jika ditanam pada musim hujan, hampir bisa dipastikan tanaman tembakau akan gagal menghasilkan daun-daun yang berkualitas. Ia akan rusak dan membusuk karena terlalu banyak terkena air sehingga daun-daun itu tak layak dijual. Jangankan bisa dijual, untuk tumbuh dengan baik pun sepertinya sulit karena musim hujan akan membunuh banyak tanaman itu.<\/p>\n \n\n \n

Maka, tak heran pada musim-musim seperti saat ini, ketika musim penghujan mendekati puncaknya, di wilayah-wilayah yang dikenal sebagai sentra pertanian tembakau, sulit menemukan pohon tembakau yang sedang tumbuh. Pada lahan-lahan yang sebelumnya ditumbuhi tanaman tembakau pada musim panas, berganti tanaman-tanaman lain yang bermacam-macam, sesuai dengan kondisi lahannya. Untuk lahan sawah, lahan-lahan itu pada musim penghujan kini ditumbuhi tanaman padi yang subur. Pada lahan tegalan dan lahan di pegunungan, lahan-lahan yang ditanami tembakau pada musim kemarau, saat ini ditumbuhi bermacam jenis tanaman mulai dari cabai, bawang, tomat, kol, terong, mentimun, dan ragam jenis tanaman semusim lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Uniknya, tipikal tanaman tembakau yang tumbuh baik di musim kemarau ini memberi pilihan lebih kepada para petani. Lahan-lahan yang sulit ditanami pada musim kemarau, pada akhirnya masih bisa tetap produktif dengan keberadaan tanaman tembakau. <\/p>\n \n\n \n

Maka, kampanye aneh mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain dengan ragam rupa dalih yang membingungkan, bukan saja sama sekali tidak tepat dan asal-asalan, namun bisa jadi akan ditertawakan oleh para petani yang begitu paham dengan kondisi lahan dan terutama kondisi iklim dan cuaca. Sulit mencari tanaman semusim yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Jika pun ada, tak ada yang semenguntungkan tanaman tembakau.
<\/p>\n ","post_title":"Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"keberhasilan-gerakan-anti-tembakau-tak-ada-tembakau-saat-musim-hujan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-07 12:16:02","post_modified_gmt":"2019-02-07 05:16:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5415","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5409,"post_author":"919","post_date":"2019-02-05 08:04:43","post_date_gmt":"2019-02-05 01:04:43","post_content":" \n

Tahun Baru Imlek yang merupakan tradisi Bangsa Tiongkok kini sudah tak lagi menjadi hal yang asing bagi masyarakat Indonesia. Kehadirannya sudah mewarnai dan berakulturasi dengan tradisi lokal. Menjelang Tahun Baru Imlek. Berbagai hiasan dan kemeriahan terjadi beberapa titik di Tanah Air. Perayaannya juga menjadi destinasi baru yang mengasyikkan untuk dilihat dan patut disaksikan.<\/p>\n \n\n \n

Berterimakasihlah kepada sang bapak bangsa, KH Abdurrahman Wahid atau yang dikenal dengan nama Gus Dur. Berkat kebijakannya saat menjadi Presiden Indonesia, Tahun Baru Imlek resmi dijadikan hari libur nasional dan dianggap sebagai salah satu hari raya di Tanah Air. Meski sentimen antitionghoa masih ada di sana-sini, tapi tetap tak bisa dipungkiri bahwa bangsa tionghoa sudah bersentuhan dengan budaya lokal dalam kurun waktu yang sangat panjang.<\/p>\n \n\n \n

DNA Bangsa Tionghoa yang memang merupakan pedagang menjadi pembuka kisah interaksi antara nenek moyang berbagai suku di Nusantara dengan mereka. Beberapa kelenteng-kelenteng yang tersebar pada berbagai pesisir daerah di Nusantara jadi buktinya. Pelabuhan-pelabuhan tua di tanah air dan ramainya perdagangan di pesisir mempermudah bangsa kita berhubungan dengan Bangsa Tionghoa.<\/p>\n \n\n \n

Baca Juga: Wong Kalang dan Kota Gede<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa kehadiran Bangsa Tionghoa di Nusantara tak hanya sebagai pedagang, namun juga sebagai pekerja (bahkan hingga pekerja kasar). Benny Setiono, seorang sejarahwan menyebutkan bahwa antara tahun 1760-1770 dalam jumlah yang besar memasuki nusantara melalui Kalimantan Barat. Mereka bekerja sebagai kuli pertambangan di sana dan di kemudian hari membentuk sebuah republik bernama Republik Lanfang yang konon katanya menjadi republik pertama di Asia Tenggara.<\/p>\n \n\n \n

Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n \n\n \n

Baca Juga: Imlek dan Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n

Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n \n\n \n

Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n \n\n \n

Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n \n\n \n

Baca Juga: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n \n\n \n

Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
<\/p>\n ","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_3o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sayangnya, mereka yang menganggap dirinya anti-rokok dan anti-tembakau tidak menyaksikan langsung fenomena ini di lapangan, di lahan-lahan yang peruntukannya berubah pada hari-hari belakangan ini ketika memasuki musim hujan. Mereka asyik duduk pada kursi empuk di ruang-ruang nyaman ber-AC di kota-kota yang jauh dari kultur pertanian. Mereka menyengajakan diri menjadi elit dan enggan untuk turun melihat langsung ke lapangan. Kalaupun ada yang turun langsung ke lapangan, hanya segelintir saja dari mereka, itupun sekadar formalitas saja. Tak pernah benar-benar mau turun ke lapangan, hidup dan merasakan langsung kultur pertanian tembakau dalam jangka waktu cukup lama di lapangan.<\/p>\n \n\n\n

Baca juga: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Fenomena ini membikin kita tak bisa melihat mereka para anti-rokok kecele lalu menertawakan mereka.<\/strong> Fenomena keengganan terjun langsung ke lapangan terlebih mencoba mendengar mereka yang tetap menanam tembakau, juga menjalani keseharian dalam waktu cukup lama bersama petani tembakau inilah yang saya kira menjadikan mereka tetap keras kepala untuk anti-rokok dan anti-tembakau. Karena jika mereka mau melakukan itu, saya yakin mereka semua tidak akan begitu kaku dalam memandang pertanian tembakau dan produk hasil industri tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Salah satu yang selalu mereka kampanyekan dan ngotot dengan itu, terkait hulu pertanian tembakau adalah mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya. Mereka berargumen banyak tanaman lain yang bisa semenguntungkan tanaman tembakau. Keengganan mereka terjun langsung ke lapangan inilah yang membikin mereka buta dengan kondisi pertanian tembakau dan pada akhirnya terus menerus mengampanyekan pergantian tanaman tembakau dengan tanaman lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Baca juga: Imanlah kepada Allah, Bukan Antirokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Tembakau tanaman yang khas. Ia hanya tumbuh baik sepanjang empat hingga lima bulan dalam satu tahun. Tumbuh-kembang tanaman tembakau dengan baik itu umumnya terjadi pada musim kemarau setiap tahunnya. Hanya sedikit sekali jenis tembakau yang tumbuh baik di musim penghujan, mayoritasnya, tumbuh baik pada musim kemarau.<\/p>\n \n\n \n

Jika ditanam pada musim hujan, hampir bisa dipastikan tanaman tembakau akan gagal menghasilkan daun-daun yang berkualitas. Ia akan rusak dan membusuk karena terlalu banyak terkena air sehingga daun-daun itu tak layak dijual. Jangankan bisa dijual, untuk tumbuh dengan baik pun sepertinya sulit karena musim hujan akan membunuh banyak tanaman itu.<\/p>\n \n\n \n

Maka, tak heran pada musim-musim seperti saat ini, ketika musim penghujan mendekati puncaknya, di wilayah-wilayah yang dikenal sebagai sentra pertanian tembakau, sulit menemukan pohon tembakau yang sedang tumbuh. Pada lahan-lahan yang sebelumnya ditumbuhi tanaman tembakau pada musim panas, berganti tanaman-tanaman lain yang bermacam-macam, sesuai dengan kondisi lahannya. Untuk lahan sawah, lahan-lahan itu pada musim penghujan kini ditumbuhi tanaman padi yang subur. Pada lahan tegalan dan lahan di pegunungan, lahan-lahan yang ditanami tembakau pada musim kemarau, saat ini ditumbuhi bermacam jenis tanaman mulai dari cabai, bawang, tomat, kol, terong, mentimun, dan ragam jenis tanaman semusim lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Uniknya, tipikal tanaman tembakau yang tumbuh baik di musim kemarau ini memberi pilihan lebih kepada para petani. Lahan-lahan yang sulit ditanami pada musim kemarau, pada akhirnya masih bisa tetap produktif dengan keberadaan tanaman tembakau. <\/p>\n \n\n \n

Maka, kampanye aneh mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain dengan ragam rupa dalih yang membingungkan, bukan saja sama sekali tidak tepat dan asal-asalan, namun bisa jadi akan ditertawakan oleh para petani yang begitu paham dengan kondisi lahan dan terutama kondisi iklim dan cuaca. Sulit mencari tanaman semusim yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Jika pun ada, tak ada yang semenguntungkan tanaman tembakau.
<\/p>\n ","post_title":"Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"keberhasilan-gerakan-anti-tembakau-tak-ada-tembakau-saat-musim-hujan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-07 12:16:02","post_modified_gmt":"2019-02-07 05:16:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5415","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5409,"post_author":"919","post_date":"2019-02-05 08:04:43","post_date_gmt":"2019-02-05 01:04:43","post_content":" \n

Tahun Baru Imlek yang merupakan tradisi Bangsa Tiongkok kini sudah tak lagi menjadi hal yang asing bagi masyarakat Indonesia. Kehadirannya sudah mewarnai dan berakulturasi dengan tradisi lokal. Menjelang Tahun Baru Imlek. Berbagai hiasan dan kemeriahan terjadi beberapa titik di Tanah Air. Perayaannya juga menjadi destinasi baru yang mengasyikkan untuk dilihat dan patut disaksikan.<\/p>\n \n\n \n

Berterimakasihlah kepada sang bapak bangsa, KH Abdurrahman Wahid atau yang dikenal dengan nama Gus Dur. Berkat kebijakannya saat menjadi Presiden Indonesia, Tahun Baru Imlek resmi dijadikan hari libur nasional dan dianggap sebagai salah satu hari raya di Tanah Air. Meski sentimen antitionghoa masih ada di sana-sini, tapi tetap tak bisa dipungkiri bahwa bangsa tionghoa sudah bersentuhan dengan budaya lokal dalam kurun waktu yang sangat panjang.<\/p>\n \n\n \n

DNA Bangsa Tionghoa yang memang merupakan pedagang menjadi pembuka kisah interaksi antara nenek moyang berbagai suku di Nusantara dengan mereka. Beberapa kelenteng-kelenteng yang tersebar pada berbagai pesisir daerah di Nusantara jadi buktinya. Pelabuhan-pelabuhan tua di tanah air dan ramainya perdagangan di pesisir mempermudah bangsa kita berhubungan dengan Bangsa Tionghoa.<\/p>\n \n\n \n

Baca Juga: Wong Kalang dan Kota Gede<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa kehadiran Bangsa Tionghoa di Nusantara tak hanya sebagai pedagang, namun juga sebagai pekerja (bahkan hingga pekerja kasar). Benny Setiono, seorang sejarahwan menyebutkan bahwa antara tahun 1760-1770 dalam jumlah yang besar memasuki nusantara melalui Kalimantan Barat. Mereka bekerja sebagai kuli pertambangan di sana dan di kemudian hari membentuk sebuah republik bernama Republik Lanfang yang konon katanya menjadi republik pertama di Asia Tenggara.<\/p>\n \n\n \n

Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n \n\n \n

Baca Juga: Imlek dan Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n

Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n \n\n \n

Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n \n\n \n

Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n \n\n \n

Baca Juga: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n \n\n \n

Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
<\/p>\n ","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_3o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kampanye-kampanye gerakan mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya, sepertinya juga sangat berhasil. Bagaimana tidak? Wilayah-wilayah yang sebelumnya penuh dengan tanaman tembakau dan bergeliat dengannya, kini lahan-lahannya sudah berganti dengan tanaman lain. Sebuah keberhasilan yang menggembirakan. Begitu mungkin pikir mereka para yang menganggap dirinya pejuang anti-rokok dan anti-tembakau. Dan tentu saja mereka akan kecele dan kita akan menertawakan hal itu.<\/p>\n \n\n\n

Sayangnya, mereka yang menganggap dirinya anti-rokok dan anti-tembakau tidak menyaksikan langsung fenomena ini di lapangan, di lahan-lahan yang peruntukannya berubah pada hari-hari belakangan ini ketika memasuki musim hujan. Mereka asyik duduk pada kursi empuk di ruang-ruang nyaman ber-AC di kota-kota yang jauh dari kultur pertanian. Mereka menyengajakan diri menjadi elit dan enggan untuk turun melihat langsung ke lapangan. Kalaupun ada yang turun langsung ke lapangan, hanya segelintir saja dari mereka, itupun sekadar formalitas saja. Tak pernah benar-benar mau turun ke lapangan, hidup dan merasakan langsung kultur pertanian tembakau dalam jangka waktu cukup lama di lapangan.<\/p>\n \n\n \n

Baca juga: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Fenomena ini membikin kita tak bisa melihat mereka para anti-rokok kecele lalu menertawakan mereka.<\/strong> Fenomena keengganan terjun langsung ke lapangan terlebih mencoba mendengar mereka yang tetap menanam tembakau, juga menjalani keseharian dalam waktu cukup lama bersama petani tembakau inilah yang saya kira menjadikan mereka tetap keras kepala untuk anti-rokok dan anti-tembakau. Karena jika mereka mau melakukan itu, saya yakin mereka semua tidak akan begitu kaku dalam memandang pertanian tembakau dan produk hasil industri tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Salah satu yang selalu mereka kampanyekan dan ngotot dengan itu, terkait hulu pertanian tembakau adalah mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya. Mereka berargumen banyak tanaman lain yang bisa semenguntungkan tanaman tembakau. Keengganan mereka terjun langsung ke lapangan inilah yang membikin mereka buta dengan kondisi pertanian tembakau dan pada akhirnya terus menerus mengampanyekan pergantian tanaman tembakau dengan tanaman lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Baca juga: Imanlah kepada Allah, Bukan Antirokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Tembakau tanaman yang khas. Ia hanya tumbuh baik sepanjang empat hingga lima bulan dalam satu tahun. Tumbuh-kembang tanaman tembakau dengan baik itu umumnya terjadi pada musim kemarau setiap tahunnya. Hanya sedikit sekali jenis tembakau yang tumbuh baik di musim penghujan, mayoritasnya, tumbuh baik pada musim kemarau.<\/p>\n \n\n \n

Jika ditanam pada musim hujan, hampir bisa dipastikan tanaman tembakau akan gagal menghasilkan daun-daun yang berkualitas. Ia akan rusak dan membusuk karena terlalu banyak terkena air sehingga daun-daun itu tak layak dijual. Jangankan bisa dijual, untuk tumbuh dengan baik pun sepertinya sulit karena musim hujan akan membunuh banyak tanaman itu.<\/p>\n \n\n \n

Maka, tak heran pada musim-musim seperti saat ini, ketika musim penghujan mendekati puncaknya, di wilayah-wilayah yang dikenal sebagai sentra pertanian tembakau, sulit menemukan pohon tembakau yang sedang tumbuh. Pada lahan-lahan yang sebelumnya ditumbuhi tanaman tembakau pada musim panas, berganti tanaman-tanaman lain yang bermacam-macam, sesuai dengan kondisi lahannya. Untuk lahan sawah, lahan-lahan itu pada musim penghujan kini ditumbuhi tanaman padi yang subur. Pada lahan tegalan dan lahan di pegunungan, lahan-lahan yang ditanami tembakau pada musim kemarau, saat ini ditumbuhi bermacam jenis tanaman mulai dari cabai, bawang, tomat, kol, terong, mentimun, dan ragam jenis tanaman semusim lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Uniknya, tipikal tanaman tembakau yang tumbuh baik di musim kemarau ini memberi pilihan lebih kepada para petani. Lahan-lahan yang sulit ditanami pada musim kemarau, pada akhirnya masih bisa tetap produktif dengan keberadaan tanaman tembakau. <\/p>\n \n\n \n

Maka, kampanye aneh mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain dengan ragam rupa dalih yang membingungkan, bukan saja sama sekali tidak tepat dan asal-asalan, namun bisa jadi akan ditertawakan oleh para petani yang begitu paham dengan kondisi lahan dan terutama kondisi iklim dan cuaca. Sulit mencari tanaman semusim yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Jika pun ada, tak ada yang semenguntungkan tanaman tembakau.
<\/p>\n ","post_title":"Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"keberhasilan-gerakan-anti-tembakau-tak-ada-tembakau-saat-musim-hujan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-07 12:16:02","post_modified_gmt":"2019-02-07 05:16:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5415","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5409,"post_author":"919","post_date":"2019-02-05 08:04:43","post_date_gmt":"2019-02-05 01:04:43","post_content":" \n

Tahun Baru Imlek yang merupakan tradisi Bangsa Tiongkok kini sudah tak lagi menjadi hal yang asing bagi masyarakat Indonesia. Kehadirannya sudah mewarnai dan berakulturasi dengan tradisi lokal. Menjelang Tahun Baru Imlek. Berbagai hiasan dan kemeriahan terjadi beberapa titik di Tanah Air. Perayaannya juga menjadi destinasi baru yang mengasyikkan untuk dilihat dan patut disaksikan.<\/p>\n \n\n \n

Berterimakasihlah kepada sang bapak bangsa, KH Abdurrahman Wahid atau yang dikenal dengan nama Gus Dur. Berkat kebijakannya saat menjadi Presiden Indonesia, Tahun Baru Imlek resmi dijadikan hari libur nasional dan dianggap sebagai salah satu hari raya di Tanah Air. Meski sentimen antitionghoa masih ada di sana-sini, tapi tetap tak bisa dipungkiri bahwa bangsa tionghoa sudah bersentuhan dengan budaya lokal dalam kurun waktu yang sangat panjang.<\/p>\n \n\n \n

DNA Bangsa Tionghoa yang memang merupakan pedagang menjadi pembuka kisah interaksi antara nenek moyang berbagai suku di Nusantara dengan mereka. Beberapa kelenteng-kelenteng yang tersebar pada berbagai pesisir daerah di Nusantara jadi buktinya. Pelabuhan-pelabuhan tua di tanah air dan ramainya perdagangan di pesisir mempermudah bangsa kita berhubungan dengan Bangsa Tionghoa.<\/p>\n \n\n \n

Baca Juga: Wong Kalang dan Kota Gede<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa kehadiran Bangsa Tionghoa di Nusantara tak hanya sebagai pedagang, namun juga sebagai pekerja (bahkan hingga pekerja kasar). Benny Setiono, seorang sejarahwan menyebutkan bahwa antara tahun 1760-1770 dalam jumlah yang besar memasuki nusantara melalui Kalimantan Barat. Mereka bekerja sebagai kuli pertambangan di sana dan di kemudian hari membentuk sebuah republik bernama Republik Lanfang yang konon katanya menjadi republik pertama di Asia Tenggara.<\/p>\n \n\n \n

Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n \n\n \n

Baca Juga: Imlek dan Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n

Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n \n\n \n

Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n \n\n \n

Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n \n\n \n

Baca Juga: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n \n\n \n

Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
<\/p>\n ","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_3o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tak sia-sia turun ke jalan, tak sia-sia melakukan lobi-lobi ke penguasa, tak sia-sia mengucurkan uang yang tidak sedikit, dan tak sia-sia mempermalukan diri dengan mengemis ke lembaga donor asing dan menggondol uang dari cukai tembakau untuk mengampanyekan gerakan anti-rokok dan anti-tembakau. Tak sia-sia. Karena perjuangan sepertinya berhasil.<\/p><\/blockquote>\n \n\n\n

Kampanye-kampanye gerakan mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya, sepertinya juga sangat berhasil. Bagaimana tidak? Wilayah-wilayah yang sebelumnya penuh dengan tanaman tembakau dan bergeliat dengannya, kini lahan-lahannya sudah berganti dengan tanaman lain. Sebuah keberhasilan yang menggembirakan. Begitu mungkin pikir mereka para yang menganggap dirinya pejuang anti-rokok dan anti-tembakau. Dan tentu saja mereka akan kecele dan kita akan menertawakan hal itu.<\/p>\n \n\n \n

Sayangnya, mereka yang menganggap dirinya anti-rokok dan anti-tembakau tidak menyaksikan langsung fenomena ini di lapangan, di lahan-lahan yang peruntukannya berubah pada hari-hari belakangan ini ketika memasuki musim hujan. Mereka asyik duduk pada kursi empuk di ruang-ruang nyaman ber-AC di kota-kota yang jauh dari kultur pertanian. Mereka menyengajakan diri menjadi elit dan enggan untuk turun melihat langsung ke lapangan. Kalaupun ada yang turun langsung ke lapangan, hanya segelintir saja dari mereka, itupun sekadar formalitas saja. Tak pernah benar-benar mau turun ke lapangan, hidup dan merasakan langsung kultur pertanian tembakau dalam jangka waktu cukup lama di lapangan.<\/p>\n \n\n \n

Baca juga: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Fenomena ini membikin kita tak bisa melihat mereka para anti-rokok kecele lalu menertawakan mereka.<\/strong> Fenomena keengganan terjun langsung ke lapangan terlebih mencoba mendengar mereka yang tetap menanam tembakau, juga menjalani keseharian dalam waktu cukup lama bersama petani tembakau inilah yang saya kira menjadikan mereka tetap keras kepala untuk anti-rokok dan anti-tembakau. Karena jika mereka mau melakukan itu, saya yakin mereka semua tidak akan begitu kaku dalam memandang pertanian tembakau dan produk hasil industri tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Salah satu yang selalu mereka kampanyekan dan ngotot dengan itu, terkait hulu pertanian tembakau adalah mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya. Mereka berargumen banyak tanaman lain yang bisa semenguntungkan tanaman tembakau. Keengganan mereka terjun langsung ke lapangan inilah yang membikin mereka buta dengan kondisi pertanian tembakau dan pada akhirnya terus menerus mengampanyekan pergantian tanaman tembakau dengan tanaman lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Baca juga: Imanlah kepada Allah, Bukan Antirokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Tembakau tanaman yang khas. Ia hanya tumbuh baik sepanjang empat hingga lima bulan dalam satu tahun. Tumbuh-kembang tanaman tembakau dengan baik itu umumnya terjadi pada musim kemarau setiap tahunnya. Hanya sedikit sekali jenis tembakau yang tumbuh baik di musim penghujan, mayoritasnya, tumbuh baik pada musim kemarau.<\/p>\n \n\n \n

Jika ditanam pada musim hujan, hampir bisa dipastikan tanaman tembakau akan gagal menghasilkan daun-daun yang berkualitas. Ia akan rusak dan membusuk karena terlalu banyak terkena air sehingga daun-daun itu tak layak dijual. Jangankan bisa dijual, untuk tumbuh dengan baik pun sepertinya sulit karena musim hujan akan membunuh banyak tanaman itu.<\/p>\n \n\n \n

Maka, tak heran pada musim-musim seperti saat ini, ketika musim penghujan mendekati puncaknya, di wilayah-wilayah yang dikenal sebagai sentra pertanian tembakau, sulit menemukan pohon tembakau yang sedang tumbuh. Pada lahan-lahan yang sebelumnya ditumbuhi tanaman tembakau pada musim panas, berganti tanaman-tanaman lain yang bermacam-macam, sesuai dengan kondisi lahannya. Untuk lahan sawah, lahan-lahan itu pada musim penghujan kini ditumbuhi tanaman padi yang subur. Pada lahan tegalan dan lahan di pegunungan, lahan-lahan yang ditanami tembakau pada musim kemarau, saat ini ditumbuhi bermacam jenis tanaman mulai dari cabai, bawang, tomat, kol, terong, mentimun, dan ragam jenis tanaman semusim lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Uniknya, tipikal tanaman tembakau yang tumbuh baik di musim kemarau ini memberi pilihan lebih kepada para petani. Lahan-lahan yang sulit ditanami pada musim kemarau, pada akhirnya masih bisa tetap produktif dengan keberadaan tanaman tembakau. <\/p>\n \n\n \n

Maka, kampanye aneh mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain dengan ragam rupa dalih yang membingungkan, bukan saja sama sekali tidak tepat dan asal-asalan, namun bisa jadi akan ditertawakan oleh para petani yang begitu paham dengan kondisi lahan dan terutama kondisi iklim dan cuaca. Sulit mencari tanaman semusim yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Jika pun ada, tak ada yang semenguntungkan tanaman tembakau.
<\/p>\n ","post_title":"Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"keberhasilan-gerakan-anti-tembakau-tak-ada-tembakau-saat-musim-hujan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-07 12:16:02","post_modified_gmt":"2019-02-07 05:16:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5415","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5409,"post_author":"919","post_date":"2019-02-05 08:04:43","post_date_gmt":"2019-02-05 01:04:43","post_content":" \n

Tahun Baru Imlek yang merupakan tradisi Bangsa Tiongkok kini sudah tak lagi menjadi hal yang asing bagi masyarakat Indonesia. Kehadirannya sudah mewarnai dan berakulturasi dengan tradisi lokal. Menjelang Tahun Baru Imlek. Berbagai hiasan dan kemeriahan terjadi beberapa titik di Tanah Air. Perayaannya juga menjadi destinasi baru yang mengasyikkan untuk dilihat dan patut disaksikan.<\/p>\n \n\n \n

Berterimakasihlah kepada sang bapak bangsa, KH Abdurrahman Wahid atau yang dikenal dengan nama Gus Dur. Berkat kebijakannya saat menjadi Presiden Indonesia, Tahun Baru Imlek resmi dijadikan hari libur nasional dan dianggap sebagai salah satu hari raya di Tanah Air. Meski sentimen antitionghoa masih ada di sana-sini, tapi tetap tak bisa dipungkiri bahwa bangsa tionghoa sudah bersentuhan dengan budaya lokal dalam kurun waktu yang sangat panjang.<\/p>\n \n\n \n

DNA Bangsa Tionghoa yang memang merupakan pedagang menjadi pembuka kisah interaksi antara nenek moyang berbagai suku di Nusantara dengan mereka. Beberapa kelenteng-kelenteng yang tersebar pada berbagai pesisir daerah di Nusantara jadi buktinya. Pelabuhan-pelabuhan tua di tanah air dan ramainya perdagangan di pesisir mempermudah bangsa kita berhubungan dengan Bangsa Tionghoa.<\/p>\n \n\n \n

Baca Juga: Wong Kalang dan Kota Gede<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa kehadiran Bangsa Tionghoa di Nusantara tak hanya sebagai pedagang, namun juga sebagai pekerja (bahkan hingga pekerja kasar). Benny Setiono, seorang sejarahwan menyebutkan bahwa antara tahun 1760-1770 dalam jumlah yang besar memasuki nusantara melalui Kalimantan Barat. Mereka bekerja sebagai kuli pertambangan di sana dan di kemudian hari membentuk sebuah republik bernama Republik Lanfang yang konon katanya menjadi republik pertama di Asia Tenggara.<\/p>\n \n\n \n

Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n \n\n \n

Baca Juga: Imlek dan Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n

Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n \n\n \n

Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n \n\n \n

Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n \n\n \n

Baca Juga: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n \n\n \n

Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
<\/p>\n ","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_3o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca juga: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/h3>\n \n\n\n

Tak sia-sia turun ke jalan, tak sia-sia melakukan lobi-lobi ke penguasa, tak sia-sia mengucurkan uang yang tidak sedikit, dan tak sia-sia mempermalukan diri dengan mengemis ke lembaga donor asing dan menggondol uang dari cukai tembakau untuk mengampanyekan gerakan anti-rokok dan anti-tembakau. Tak sia-sia. Karena perjuangan sepertinya berhasil.<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

Kampanye-kampanye gerakan mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya, sepertinya juga sangat berhasil. Bagaimana tidak? Wilayah-wilayah yang sebelumnya penuh dengan tanaman tembakau dan bergeliat dengannya, kini lahan-lahannya sudah berganti dengan tanaman lain. Sebuah keberhasilan yang menggembirakan. Begitu mungkin pikir mereka para yang menganggap dirinya pejuang anti-rokok dan anti-tembakau. Dan tentu saja mereka akan kecele dan kita akan menertawakan hal itu.<\/p>\n \n\n \n

Sayangnya, mereka yang menganggap dirinya anti-rokok dan anti-tembakau tidak menyaksikan langsung fenomena ini di lapangan, di lahan-lahan yang peruntukannya berubah pada hari-hari belakangan ini ketika memasuki musim hujan. Mereka asyik duduk pada kursi empuk di ruang-ruang nyaman ber-AC di kota-kota yang jauh dari kultur pertanian. Mereka menyengajakan diri menjadi elit dan enggan untuk turun melihat langsung ke lapangan. Kalaupun ada yang turun langsung ke lapangan, hanya segelintir saja dari mereka, itupun sekadar formalitas saja. Tak pernah benar-benar mau turun ke lapangan, hidup dan merasakan langsung kultur pertanian tembakau dalam jangka waktu cukup lama di lapangan.<\/p>\n \n\n \n

Baca juga: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Fenomena ini membikin kita tak bisa melihat mereka para anti-rokok kecele lalu menertawakan mereka.<\/strong> Fenomena keengganan terjun langsung ke lapangan terlebih mencoba mendengar mereka yang tetap menanam tembakau, juga menjalani keseharian dalam waktu cukup lama bersama petani tembakau inilah yang saya kira menjadikan mereka tetap keras kepala untuk anti-rokok dan anti-tembakau. Karena jika mereka mau melakukan itu, saya yakin mereka semua tidak akan begitu kaku dalam memandang pertanian tembakau dan produk hasil industri tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Salah satu yang selalu mereka kampanyekan dan ngotot dengan itu, terkait hulu pertanian tembakau adalah mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya. Mereka berargumen banyak tanaman lain yang bisa semenguntungkan tanaman tembakau. Keengganan mereka terjun langsung ke lapangan inilah yang membikin mereka buta dengan kondisi pertanian tembakau dan pada akhirnya terus menerus mengampanyekan pergantian tanaman tembakau dengan tanaman lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Baca juga: Imanlah kepada Allah, Bukan Antirokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Tembakau tanaman yang khas. Ia hanya tumbuh baik sepanjang empat hingga lima bulan dalam satu tahun. Tumbuh-kembang tanaman tembakau dengan baik itu umumnya terjadi pada musim kemarau setiap tahunnya. Hanya sedikit sekali jenis tembakau yang tumbuh baik di musim penghujan, mayoritasnya, tumbuh baik pada musim kemarau.<\/p>\n \n\n \n

Jika ditanam pada musim hujan, hampir bisa dipastikan tanaman tembakau akan gagal menghasilkan daun-daun yang berkualitas. Ia akan rusak dan membusuk karena terlalu banyak terkena air sehingga daun-daun itu tak layak dijual. Jangankan bisa dijual, untuk tumbuh dengan baik pun sepertinya sulit karena musim hujan akan membunuh banyak tanaman itu.<\/p>\n \n\n \n

Maka, tak heran pada musim-musim seperti saat ini, ketika musim penghujan mendekati puncaknya, di wilayah-wilayah yang dikenal sebagai sentra pertanian tembakau, sulit menemukan pohon tembakau yang sedang tumbuh. Pada lahan-lahan yang sebelumnya ditumbuhi tanaman tembakau pada musim panas, berganti tanaman-tanaman lain yang bermacam-macam, sesuai dengan kondisi lahannya. Untuk lahan sawah, lahan-lahan itu pada musim penghujan kini ditumbuhi tanaman padi yang subur. Pada lahan tegalan dan lahan di pegunungan, lahan-lahan yang ditanami tembakau pada musim kemarau, saat ini ditumbuhi bermacam jenis tanaman mulai dari cabai, bawang, tomat, kol, terong, mentimun, dan ragam jenis tanaman semusim lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Uniknya, tipikal tanaman tembakau yang tumbuh baik di musim kemarau ini memberi pilihan lebih kepada para petani. Lahan-lahan yang sulit ditanami pada musim kemarau, pada akhirnya masih bisa tetap produktif dengan keberadaan tanaman tembakau. <\/p>\n \n\n \n

Maka, kampanye aneh mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain dengan ragam rupa dalih yang membingungkan, bukan saja sama sekali tidak tepat dan asal-asalan, namun bisa jadi akan ditertawakan oleh para petani yang begitu paham dengan kondisi lahan dan terutama kondisi iklim dan cuaca. Sulit mencari tanaman semusim yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Jika pun ada, tak ada yang semenguntungkan tanaman tembakau.
<\/p>\n ","post_title":"Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"keberhasilan-gerakan-anti-tembakau-tak-ada-tembakau-saat-musim-hujan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-07 12:16:02","post_modified_gmt":"2019-02-07 05:16:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5415","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5409,"post_author":"919","post_date":"2019-02-05 08:04:43","post_date_gmt":"2019-02-05 01:04:43","post_content":" \n

Tahun Baru Imlek yang merupakan tradisi Bangsa Tiongkok kini sudah tak lagi menjadi hal yang asing bagi masyarakat Indonesia. Kehadirannya sudah mewarnai dan berakulturasi dengan tradisi lokal. Menjelang Tahun Baru Imlek. Berbagai hiasan dan kemeriahan terjadi beberapa titik di Tanah Air. Perayaannya juga menjadi destinasi baru yang mengasyikkan untuk dilihat dan patut disaksikan.<\/p>\n \n\n \n

Berterimakasihlah kepada sang bapak bangsa, KH Abdurrahman Wahid atau yang dikenal dengan nama Gus Dur. Berkat kebijakannya saat menjadi Presiden Indonesia, Tahun Baru Imlek resmi dijadikan hari libur nasional dan dianggap sebagai salah satu hari raya di Tanah Air. Meski sentimen antitionghoa masih ada di sana-sini, tapi tetap tak bisa dipungkiri bahwa bangsa tionghoa sudah bersentuhan dengan budaya lokal dalam kurun waktu yang sangat panjang.<\/p>\n \n\n \n

DNA Bangsa Tionghoa yang memang merupakan pedagang menjadi pembuka kisah interaksi antara nenek moyang berbagai suku di Nusantara dengan mereka. Beberapa kelenteng-kelenteng yang tersebar pada berbagai pesisir daerah di Nusantara jadi buktinya. Pelabuhan-pelabuhan tua di tanah air dan ramainya perdagangan di pesisir mempermudah bangsa kita berhubungan dengan Bangsa Tionghoa.<\/p>\n \n\n \n

Baca Juga: Wong Kalang dan Kota Gede<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa kehadiran Bangsa Tionghoa di Nusantara tak hanya sebagai pedagang, namun juga sebagai pekerja (bahkan hingga pekerja kasar). Benny Setiono, seorang sejarahwan menyebutkan bahwa antara tahun 1760-1770 dalam jumlah yang besar memasuki nusantara melalui Kalimantan Barat. Mereka bekerja sebagai kuli pertambangan di sana dan di kemudian hari membentuk sebuah republik bernama Republik Lanfang yang konon katanya menjadi republik pertama di Asia Tenggara.<\/p>\n \n\n \n

Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n \n\n \n

Baca Juga: Imlek dan Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n

Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n \n\n \n

Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n \n\n \n

Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n \n\n \n

Baca Juga: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n \n\n \n

Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
<\/p>\n ","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_3o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kabar ini bisa jadi dianggap sebagai kabar gembira bagi mereka yang menganggap diri dan kelompoknya anti-rokok dan anti-tembakau yang selalu mengampanyekan sikap-sikap mereka terkait kebencian kepada tembakau dan aktivitas merokok. Setelah sekian lama berjuang, akhirnya perjuangan mereka dirasa berhasil usai menyaksikan fenomena lahan-lahan di wilayah yang dianggap sentra pertanian tembakau pada hari-hari belakangan ini.<\/p>\n \n\n\n

Baca juga: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Tak sia-sia turun ke jalan, tak sia-sia melakukan lobi-lobi ke penguasa, tak sia-sia mengucurkan uang yang tidak sedikit, dan tak sia-sia mempermalukan diri dengan mengemis ke lembaga donor asing dan menggondol uang dari cukai tembakau untuk mengampanyekan gerakan anti-rokok dan anti-tembakau. Tak sia-sia. Karena perjuangan sepertinya berhasil.<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

Kampanye-kampanye gerakan mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya, sepertinya juga sangat berhasil. Bagaimana tidak? Wilayah-wilayah yang sebelumnya penuh dengan tanaman tembakau dan bergeliat dengannya, kini lahan-lahannya sudah berganti dengan tanaman lain. Sebuah keberhasilan yang menggembirakan. Begitu mungkin pikir mereka para yang menganggap dirinya pejuang anti-rokok dan anti-tembakau. Dan tentu saja mereka akan kecele dan kita akan menertawakan hal itu.<\/p>\n \n\n \n

Sayangnya, mereka yang menganggap dirinya anti-rokok dan anti-tembakau tidak menyaksikan langsung fenomena ini di lapangan, di lahan-lahan yang peruntukannya berubah pada hari-hari belakangan ini ketika memasuki musim hujan. Mereka asyik duduk pada kursi empuk di ruang-ruang nyaman ber-AC di kota-kota yang jauh dari kultur pertanian. Mereka menyengajakan diri menjadi elit dan enggan untuk turun melihat langsung ke lapangan. Kalaupun ada yang turun langsung ke lapangan, hanya segelintir saja dari mereka, itupun sekadar formalitas saja. Tak pernah benar-benar mau turun ke lapangan, hidup dan merasakan langsung kultur pertanian tembakau dalam jangka waktu cukup lama di lapangan.<\/p>\n \n\n \n

Baca juga: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Fenomena ini membikin kita tak bisa melihat mereka para anti-rokok kecele lalu menertawakan mereka.<\/strong> Fenomena keengganan terjun langsung ke lapangan terlebih mencoba mendengar mereka yang tetap menanam tembakau, juga menjalani keseharian dalam waktu cukup lama bersama petani tembakau inilah yang saya kira menjadikan mereka tetap keras kepala untuk anti-rokok dan anti-tembakau. Karena jika mereka mau melakukan itu, saya yakin mereka semua tidak akan begitu kaku dalam memandang pertanian tembakau dan produk hasil industri tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Salah satu yang selalu mereka kampanyekan dan ngotot dengan itu, terkait hulu pertanian tembakau adalah mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya. Mereka berargumen banyak tanaman lain yang bisa semenguntungkan tanaman tembakau. Keengganan mereka terjun langsung ke lapangan inilah yang membikin mereka buta dengan kondisi pertanian tembakau dan pada akhirnya terus menerus mengampanyekan pergantian tanaman tembakau dengan tanaman lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Baca juga: Imanlah kepada Allah, Bukan Antirokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Tembakau tanaman yang khas. Ia hanya tumbuh baik sepanjang empat hingga lima bulan dalam satu tahun. Tumbuh-kembang tanaman tembakau dengan baik itu umumnya terjadi pada musim kemarau setiap tahunnya. Hanya sedikit sekali jenis tembakau yang tumbuh baik di musim penghujan, mayoritasnya, tumbuh baik pada musim kemarau.<\/p>\n \n\n \n

Jika ditanam pada musim hujan, hampir bisa dipastikan tanaman tembakau akan gagal menghasilkan daun-daun yang berkualitas. Ia akan rusak dan membusuk karena terlalu banyak terkena air sehingga daun-daun itu tak layak dijual. Jangankan bisa dijual, untuk tumbuh dengan baik pun sepertinya sulit karena musim hujan akan membunuh banyak tanaman itu.<\/p>\n \n\n \n

Maka, tak heran pada musim-musim seperti saat ini, ketika musim penghujan mendekati puncaknya, di wilayah-wilayah yang dikenal sebagai sentra pertanian tembakau, sulit menemukan pohon tembakau yang sedang tumbuh. Pada lahan-lahan yang sebelumnya ditumbuhi tanaman tembakau pada musim panas, berganti tanaman-tanaman lain yang bermacam-macam, sesuai dengan kondisi lahannya. Untuk lahan sawah, lahan-lahan itu pada musim penghujan kini ditumbuhi tanaman padi yang subur. Pada lahan tegalan dan lahan di pegunungan, lahan-lahan yang ditanami tembakau pada musim kemarau, saat ini ditumbuhi bermacam jenis tanaman mulai dari cabai, bawang, tomat, kol, terong, mentimun, dan ragam jenis tanaman semusim lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Uniknya, tipikal tanaman tembakau yang tumbuh baik di musim kemarau ini memberi pilihan lebih kepada para petani. Lahan-lahan yang sulit ditanami pada musim kemarau, pada akhirnya masih bisa tetap produktif dengan keberadaan tanaman tembakau. <\/p>\n \n\n \n

Maka, kampanye aneh mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain dengan ragam rupa dalih yang membingungkan, bukan saja sama sekali tidak tepat dan asal-asalan, namun bisa jadi akan ditertawakan oleh para petani yang begitu paham dengan kondisi lahan dan terutama kondisi iklim dan cuaca. Sulit mencari tanaman semusim yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Jika pun ada, tak ada yang semenguntungkan tanaman tembakau.
<\/p>\n ","post_title":"Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"keberhasilan-gerakan-anti-tembakau-tak-ada-tembakau-saat-musim-hujan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-07 12:16:02","post_modified_gmt":"2019-02-07 05:16:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5415","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5409,"post_author":"919","post_date":"2019-02-05 08:04:43","post_date_gmt":"2019-02-05 01:04:43","post_content":" \n

Tahun Baru Imlek yang merupakan tradisi Bangsa Tiongkok kini sudah tak lagi menjadi hal yang asing bagi masyarakat Indonesia. Kehadirannya sudah mewarnai dan berakulturasi dengan tradisi lokal. Menjelang Tahun Baru Imlek. Berbagai hiasan dan kemeriahan terjadi beberapa titik di Tanah Air. Perayaannya juga menjadi destinasi baru yang mengasyikkan untuk dilihat dan patut disaksikan.<\/p>\n \n\n \n

Berterimakasihlah kepada sang bapak bangsa, KH Abdurrahman Wahid atau yang dikenal dengan nama Gus Dur. Berkat kebijakannya saat menjadi Presiden Indonesia, Tahun Baru Imlek resmi dijadikan hari libur nasional dan dianggap sebagai salah satu hari raya di Tanah Air. Meski sentimen antitionghoa masih ada di sana-sini, tapi tetap tak bisa dipungkiri bahwa bangsa tionghoa sudah bersentuhan dengan budaya lokal dalam kurun waktu yang sangat panjang.<\/p>\n \n\n \n

DNA Bangsa Tionghoa yang memang merupakan pedagang menjadi pembuka kisah interaksi antara nenek moyang berbagai suku di Nusantara dengan mereka. Beberapa kelenteng-kelenteng yang tersebar pada berbagai pesisir daerah di Nusantara jadi buktinya. Pelabuhan-pelabuhan tua di tanah air dan ramainya perdagangan di pesisir mempermudah bangsa kita berhubungan dengan Bangsa Tionghoa.<\/p>\n \n\n \n

Baca Juga: Wong Kalang dan Kota Gede<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa kehadiran Bangsa Tionghoa di Nusantara tak hanya sebagai pedagang, namun juga sebagai pekerja (bahkan hingga pekerja kasar). Benny Setiono, seorang sejarahwan menyebutkan bahwa antara tahun 1760-1770 dalam jumlah yang besar memasuki nusantara melalui Kalimantan Barat. Mereka bekerja sebagai kuli pertambangan di sana dan di kemudian hari membentuk sebuah republik bernama Republik Lanfang yang konon katanya menjadi republik pertama di Asia Tenggara.<\/p>\n \n\n \n

Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n \n\n \n

Baca Juga: Imlek dan Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n

Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n \n\n \n

Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n \n\n \n

Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n \n\n \n

Baca Juga: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n \n\n \n

Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
<\/p>\n ","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_3o3","class":"epic_block_3"};

\n

Belakangan ini, ketika musim hujan tiba, di Kabupaten Temanggung, Kabupaten Jember, dan beberapa wilayah sentra pertanian tembakau lainnya, hampir mustahil menemukan tanaman tembakau tumbuh di lahan-lahan milik petani. Di wilayah-wilayah tersebut, citra sebagai sentra pertanian tembakau seakan menguap. Lahan-lahan yang ada di sana, sama sekali tidak ditumbuhi tanaman tembakau.<\/p>\n \n\n\n

Kabar ini bisa jadi dianggap sebagai kabar gembira bagi mereka yang menganggap diri dan kelompoknya anti-rokok dan anti-tembakau yang selalu mengampanyekan sikap-sikap mereka terkait kebencian kepada tembakau dan aktivitas merokok. Setelah sekian lama berjuang, akhirnya perjuangan mereka dirasa berhasil usai menyaksikan fenomena lahan-lahan di wilayah yang dianggap sentra pertanian tembakau pada hari-hari belakangan ini.<\/p>\n \n\n \n

Baca juga: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Tak sia-sia turun ke jalan, tak sia-sia melakukan lobi-lobi ke penguasa, tak sia-sia mengucurkan uang yang tidak sedikit, dan tak sia-sia mempermalukan diri dengan mengemis ke lembaga donor asing dan menggondol uang dari cukai tembakau untuk mengampanyekan gerakan anti-rokok dan anti-tembakau. Tak sia-sia. Karena perjuangan sepertinya berhasil.<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

Kampanye-kampanye gerakan mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya, sepertinya juga sangat berhasil. Bagaimana tidak? Wilayah-wilayah yang sebelumnya penuh dengan tanaman tembakau dan bergeliat dengannya, kini lahan-lahannya sudah berganti dengan tanaman lain. Sebuah keberhasilan yang menggembirakan. Begitu mungkin pikir mereka para yang menganggap dirinya pejuang anti-rokok dan anti-tembakau. Dan tentu saja mereka akan kecele dan kita akan menertawakan hal itu.<\/p>\n \n\n \n

Sayangnya, mereka yang menganggap dirinya anti-rokok dan anti-tembakau tidak menyaksikan langsung fenomena ini di lapangan, di lahan-lahan yang peruntukannya berubah pada hari-hari belakangan ini ketika memasuki musim hujan. Mereka asyik duduk pada kursi empuk di ruang-ruang nyaman ber-AC di kota-kota yang jauh dari kultur pertanian. Mereka menyengajakan diri menjadi elit dan enggan untuk turun melihat langsung ke lapangan. Kalaupun ada yang turun langsung ke lapangan, hanya segelintir saja dari mereka, itupun sekadar formalitas saja. Tak pernah benar-benar mau turun ke lapangan, hidup dan merasakan langsung kultur pertanian tembakau dalam jangka waktu cukup lama di lapangan.<\/p>\n \n\n \n

Baca juga: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Fenomena ini membikin kita tak bisa melihat mereka para anti-rokok kecele lalu menertawakan mereka.<\/strong> Fenomena keengganan terjun langsung ke lapangan terlebih mencoba mendengar mereka yang tetap menanam tembakau, juga menjalani keseharian dalam waktu cukup lama bersama petani tembakau inilah yang saya kira menjadikan mereka tetap keras kepala untuk anti-rokok dan anti-tembakau. Karena jika mereka mau melakukan itu, saya yakin mereka semua tidak akan begitu kaku dalam memandang pertanian tembakau dan produk hasil industri tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Salah satu yang selalu mereka kampanyekan dan ngotot dengan itu, terkait hulu pertanian tembakau adalah mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya. Mereka berargumen banyak tanaman lain yang bisa semenguntungkan tanaman tembakau. Keengganan mereka terjun langsung ke lapangan inilah yang membikin mereka buta dengan kondisi pertanian tembakau dan pada akhirnya terus menerus mengampanyekan pergantian tanaman tembakau dengan tanaman lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Baca juga: Imanlah kepada Allah, Bukan Antirokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Tembakau tanaman yang khas. Ia hanya tumbuh baik sepanjang empat hingga lima bulan dalam satu tahun. Tumbuh-kembang tanaman tembakau dengan baik itu umumnya terjadi pada musim kemarau setiap tahunnya. Hanya sedikit sekali jenis tembakau yang tumbuh baik di musim penghujan, mayoritasnya, tumbuh baik pada musim kemarau.<\/p>\n \n\n \n

Jika ditanam pada musim hujan, hampir bisa dipastikan tanaman tembakau akan gagal menghasilkan daun-daun yang berkualitas. Ia akan rusak dan membusuk karena terlalu banyak terkena air sehingga daun-daun itu tak layak dijual. Jangankan bisa dijual, untuk tumbuh dengan baik pun sepertinya sulit karena musim hujan akan membunuh banyak tanaman itu.<\/p>\n \n\n \n

Maka, tak heran pada musim-musim seperti saat ini, ketika musim penghujan mendekati puncaknya, di wilayah-wilayah yang dikenal sebagai sentra pertanian tembakau, sulit menemukan pohon tembakau yang sedang tumbuh. Pada lahan-lahan yang sebelumnya ditumbuhi tanaman tembakau pada musim panas, berganti tanaman-tanaman lain yang bermacam-macam, sesuai dengan kondisi lahannya. Untuk lahan sawah, lahan-lahan itu pada musim penghujan kini ditumbuhi tanaman padi yang subur. Pada lahan tegalan dan lahan di pegunungan, lahan-lahan yang ditanami tembakau pada musim kemarau, saat ini ditumbuhi bermacam jenis tanaman mulai dari cabai, bawang, tomat, kol, terong, mentimun, dan ragam jenis tanaman semusim lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Uniknya, tipikal tanaman tembakau yang tumbuh baik di musim kemarau ini memberi pilihan lebih kepada para petani. Lahan-lahan yang sulit ditanami pada musim kemarau, pada akhirnya masih bisa tetap produktif dengan keberadaan tanaman tembakau. <\/p>\n \n\n \n

Maka, kampanye aneh mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain dengan ragam rupa dalih yang membingungkan, bukan saja sama sekali tidak tepat dan asal-asalan, namun bisa jadi akan ditertawakan oleh para petani yang begitu paham dengan kondisi lahan dan terutama kondisi iklim dan cuaca. Sulit mencari tanaman semusim yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Jika pun ada, tak ada yang semenguntungkan tanaman tembakau.
<\/p>\n ","post_title":"Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"keberhasilan-gerakan-anti-tembakau-tak-ada-tembakau-saat-musim-hujan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-07 12:16:02","post_modified_gmt":"2019-02-07 05:16:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5415","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5409,"post_author":"919","post_date":"2019-02-05 08:04:43","post_date_gmt":"2019-02-05 01:04:43","post_content":" \n

Tahun Baru Imlek yang merupakan tradisi Bangsa Tiongkok kini sudah tak lagi menjadi hal yang asing bagi masyarakat Indonesia. Kehadirannya sudah mewarnai dan berakulturasi dengan tradisi lokal. Menjelang Tahun Baru Imlek. Berbagai hiasan dan kemeriahan terjadi beberapa titik di Tanah Air. Perayaannya juga menjadi destinasi baru yang mengasyikkan untuk dilihat dan patut disaksikan.<\/p>\n \n\n \n

Berterimakasihlah kepada sang bapak bangsa, KH Abdurrahman Wahid atau yang dikenal dengan nama Gus Dur. Berkat kebijakannya saat menjadi Presiden Indonesia, Tahun Baru Imlek resmi dijadikan hari libur nasional dan dianggap sebagai salah satu hari raya di Tanah Air. Meski sentimen antitionghoa masih ada di sana-sini, tapi tetap tak bisa dipungkiri bahwa bangsa tionghoa sudah bersentuhan dengan budaya lokal dalam kurun waktu yang sangat panjang.<\/p>\n \n\n \n

DNA Bangsa Tionghoa yang memang merupakan pedagang menjadi pembuka kisah interaksi antara nenek moyang berbagai suku di Nusantara dengan mereka. Beberapa kelenteng-kelenteng yang tersebar pada berbagai pesisir daerah di Nusantara jadi buktinya. Pelabuhan-pelabuhan tua di tanah air dan ramainya perdagangan di pesisir mempermudah bangsa kita berhubungan dengan Bangsa Tionghoa.<\/p>\n \n\n \n

Baca Juga: Wong Kalang dan Kota Gede<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa kehadiran Bangsa Tionghoa di Nusantara tak hanya sebagai pedagang, namun juga sebagai pekerja (bahkan hingga pekerja kasar). Benny Setiono, seorang sejarahwan menyebutkan bahwa antara tahun 1760-1770 dalam jumlah yang besar memasuki nusantara melalui Kalimantan Barat. Mereka bekerja sebagai kuli pertambangan di sana dan di kemudian hari membentuk sebuah republik bernama Republik Lanfang yang konon katanya menjadi republik pertama di Asia Tenggara.<\/p>\n \n\n \n

Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n \n\n \n

Baca Juga: Imlek dan Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n

Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n \n\n \n

Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n \n\n \n

Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n \n\n \n

Baca Juga: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n \n\n \n

Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
<\/p>\n ","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_3o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem Topatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n ","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-10 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-02-10 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5425","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5415,"post_author":"878","post_date":"2019-02-07 12:15:55","post_date_gmt":"2019-02-07 05:15:55","post_content":"\n

Belakangan ini, ketika musim hujan tiba, di Kabupaten Temanggung, Kabupaten Jember, dan beberapa wilayah sentra pertanian tembakau lainnya, hampir mustahil menemukan tanaman tembakau tumbuh di lahan-lahan milik petani. Di wilayah-wilayah tersebut, citra sebagai sentra pertanian tembakau seakan menguap. Lahan-lahan yang ada di sana, sama sekali tidak ditumbuhi tanaman tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Kabar ini bisa jadi dianggap sebagai kabar gembira bagi mereka yang menganggap diri dan kelompoknya anti-rokok dan anti-tembakau yang selalu mengampanyekan sikap-sikap mereka terkait kebencian kepada tembakau dan aktivitas merokok. Setelah sekian lama berjuang, akhirnya perjuangan mereka dirasa berhasil usai menyaksikan fenomena lahan-lahan di wilayah yang dianggap sentra pertanian tembakau pada hari-hari belakangan ini.<\/p>\n \n\n \n

Baca juga: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Tak sia-sia turun ke jalan, tak sia-sia melakukan lobi-lobi ke penguasa, tak sia-sia mengucurkan uang yang tidak sedikit, dan tak sia-sia mempermalukan diri dengan mengemis ke lembaga donor asing dan menggondol uang dari cukai tembakau untuk mengampanyekan gerakan anti-rokok dan anti-tembakau. Tak sia-sia. Karena perjuangan sepertinya berhasil.<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

Kampanye-kampanye gerakan mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya, sepertinya juga sangat berhasil. Bagaimana tidak? Wilayah-wilayah yang sebelumnya penuh dengan tanaman tembakau dan bergeliat dengannya, kini lahan-lahannya sudah berganti dengan tanaman lain. Sebuah keberhasilan yang menggembirakan. Begitu mungkin pikir mereka para yang menganggap dirinya pejuang anti-rokok dan anti-tembakau. Dan tentu saja mereka akan kecele dan kita akan menertawakan hal itu.<\/p>\n \n\n \n

Sayangnya, mereka yang menganggap dirinya anti-rokok dan anti-tembakau tidak menyaksikan langsung fenomena ini di lapangan, di lahan-lahan yang peruntukannya berubah pada hari-hari belakangan ini ketika memasuki musim hujan. Mereka asyik duduk pada kursi empuk di ruang-ruang nyaman ber-AC di kota-kota yang jauh dari kultur pertanian. Mereka menyengajakan diri menjadi elit dan enggan untuk turun melihat langsung ke lapangan. Kalaupun ada yang turun langsung ke lapangan, hanya segelintir saja dari mereka, itupun sekadar formalitas saja. Tak pernah benar-benar mau turun ke lapangan, hidup dan merasakan langsung kultur pertanian tembakau dalam jangka waktu cukup lama di lapangan.<\/p>\n \n\n \n

Baca juga: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Fenomena ini membikin kita tak bisa melihat mereka para anti-rokok kecele lalu menertawakan mereka.<\/strong> Fenomena keengganan terjun langsung ke lapangan terlebih mencoba mendengar mereka yang tetap menanam tembakau, juga menjalani keseharian dalam waktu cukup lama bersama petani tembakau inilah yang saya kira menjadikan mereka tetap keras kepala untuk anti-rokok dan anti-tembakau. Karena jika mereka mau melakukan itu, saya yakin mereka semua tidak akan begitu kaku dalam memandang pertanian tembakau dan produk hasil industri tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Salah satu yang selalu mereka kampanyekan dan ngotot dengan itu, terkait hulu pertanian tembakau adalah mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya. Mereka berargumen banyak tanaman lain yang bisa semenguntungkan tanaman tembakau. Keengganan mereka terjun langsung ke lapangan inilah yang membikin mereka buta dengan kondisi pertanian tembakau dan pada akhirnya terus menerus mengampanyekan pergantian tanaman tembakau dengan tanaman lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Baca juga: Imanlah kepada Allah, Bukan Antirokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Tembakau tanaman yang khas. Ia hanya tumbuh baik sepanjang empat hingga lima bulan dalam satu tahun. Tumbuh-kembang tanaman tembakau dengan baik itu umumnya terjadi pada musim kemarau setiap tahunnya. Hanya sedikit sekali jenis tembakau yang tumbuh baik di musim penghujan, mayoritasnya, tumbuh baik pada musim kemarau.<\/p>\n \n\n \n

Jika ditanam pada musim hujan, hampir bisa dipastikan tanaman tembakau akan gagal menghasilkan daun-daun yang berkualitas. Ia akan rusak dan membusuk karena terlalu banyak terkena air sehingga daun-daun itu tak layak dijual. Jangankan bisa dijual, untuk tumbuh dengan baik pun sepertinya sulit karena musim hujan akan membunuh banyak tanaman itu.<\/p>\n \n\n \n

Maka, tak heran pada musim-musim seperti saat ini, ketika musim penghujan mendekati puncaknya, di wilayah-wilayah yang dikenal sebagai sentra pertanian tembakau, sulit menemukan pohon tembakau yang sedang tumbuh. Pada lahan-lahan yang sebelumnya ditumbuhi tanaman tembakau pada musim panas, berganti tanaman-tanaman lain yang bermacam-macam, sesuai dengan kondisi lahannya. Untuk lahan sawah, lahan-lahan itu pada musim penghujan kini ditumbuhi tanaman padi yang subur. Pada lahan tegalan dan lahan di pegunungan, lahan-lahan yang ditanami tembakau pada musim kemarau, saat ini ditumbuhi bermacam jenis tanaman mulai dari cabai, bawang, tomat, kol, terong, mentimun, dan ragam jenis tanaman semusim lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Uniknya, tipikal tanaman tembakau yang tumbuh baik di musim kemarau ini memberi pilihan lebih kepada para petani. Lahan-lahan yang sulit ditanami pada musim kemarau, pada akhirnya masih bisa tetap produktif dengan keberadaan tanaman tembakau. <\/p>\n \n\n \n

Maka, kampanye aneh mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain dengan ragam rupa dalih yang membingungkan, bukan saja sama sekali tidak tepat dan asal-asalan, namun bisa jadi akan ditertawakan oleh para petani yang begitu paham dengan kondisi lahan dan terutama kondisi iklim dan cuaca. Sulit mencari tanaman semusim yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Jika pun ada, tak ada yang semenguntungkan tanaman tembakau.
<\/p>\n ","post_title":"Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"keberhasilan-gerakan-anti-tembakau-tak-ada-tembakau-saat-musim-hujan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-07 12:16:02","post_modified_gmt":"2019-02-07 05:16:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5415","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5409,"post_author":"919","post_date":"2019-02-05 08:04:43","post_date_gmt":"2019-02-05 01:04:43","post_content":" \n

Tahun Baru Imlek yang merupakan tradisi Bangsa Tiongkok kini sudah tak lagi menjadi hal yang asing bagi masyarakat Indonesia. Kehadirannya sudah mewarnai dan berakulturasi dengan tradisi lokal. Menjelang Tahun Baru Imlek. Berbagai hiasan dan kemeriahan terjadi beberapa titik di Tanah Air. Perayaannya juga menjadi destinasi baru yang mengasyikkan untuk dilihat dan patut disaksikan.<\/p>\n \n\n \n

Berterimakasihlah kepada sang bapak bangsa, KH Abdurrahman Wahid atau yang dikenal dengan nama Gus Dur. Berkat kebijakannya saat menjadi Presiden Indonesia, Tahun Baru Imlek resmi dijadikan hari libur nasional dan dianggap sebagai salah satu hari raya di Tanah Air. Meski sentimen antitionghoa masih ada di sana-sini, tapi tetap tak bisa dipungkiri bahwa bangsa tionghoa sudah bersentuhan dengan budaya lokal dalam kurun waktu yang sangat panjang.<\/p>\n \n\n \n

DNA Bangsa Tionghoa yang memang merupakan pedagang menjadi pembuka kisah interaksi antara nenek moyang berbagai suku di Nusantara dengan mereka. Beberapa kelenteng-kelenteng yang tersebar pada berbagai pesisir daerah di Nusantara jadi buktinya. Pelabuhan-pelabuhan tua di tanah air dan ramainya perdagangan di pesisir mempermudah bangsa kita berhubungan dengan Bangsa Tionghoa.<\/p>\n \n\n \n

Baca Juga: Wong Kalang dan Kota Gede<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa kehadiran Bangsa Tionghoa di Nusantara tak hanya sebagai pedagang, namun juga sebagai pekerja (bahkan hingga pekerja kasar). Benny Setiono, seorang sejarahwan menyebutkan bahwa antara tahun 1760-1770 dalam jumlah yang besar memasuki nusantara melalui Kalimantan Barat. Mereka bekerja sebagai kuli pertambangan di sana dan di kemudian hari membentuk sebuah republik bernama Republik Lanfang yang konon katanya menjadi republik pertama di Asia Tenggara.<\/p>\n \n\n \n

Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n \n\n \n

Baca Juga: Imlek dan Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n

Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n \n\n \n

Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n \n\n \n

Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n \n\n \n

Baca Juga: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n \n\n \n

Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
<\/p>\n ","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_3o3","class":"epic_block_3"};

\n

[3] Uraian lebih rinci sejarah kolonialisme rempah-rempah Nusantara ini, terutama oleh Belanda dan Portugis, dapat dibaca pada beberapa sumber kepustakaan yang sudah dikenal luas, antara lain: Glamann (1958) dan Boxer (1965 dan 1969). Dalam risalah klasik Pires disebutkan bahwa pada tahun 1512-1521 saja, jumlah produksi cengkeh di Maluku sudah mencapai 7.250 bahar per tahun, terbesar adalah di Makian serta Amboina dan Lease (masing-masing 1.500 bahar)(Pires, 1512-1515).<\/em>
<\/p>\n \n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem Topatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n ","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-10 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-02-10 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5425","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5415,"post_author":"878","post_date":"2019-02-07 12:15:55","post_date_gmt":"2019-02-07 05:15:55","post_content":" \n

Belakangan ini, ketika musim hujan tiba, di Kabupaten Temanggung, Kabupaten Jember, dan beberapa wilayah sentra pertanian tembakau lainnya, hampir mustahil menemukan tanaman tembakau tumbuh di lahan-lahan milik petani. Di wilayah-wilayah tersebut, citra sebagai sentra pertanian tembakau seakan menguap. Lahan-lahan yang ada di sana, sama sekali tidak ditumbuhi tanaman tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Kabar ini bisa jadi dianggap sebagai kabar gembira bagi mereka yang menganggap diri dan kelompoknya anti-rokok dan anti-tembakau yang selalu mengampanyekan sikap-sikap mereka terkait kebencian kepada tembakau dan aktivitas merokok. Setelah sekian lama berjuang, akhirnya perjuangan mereka dirasa berhasil usai menyaksikan fenomena lahan-lahan di wilayah yang dianggap sentra pertanian tembakau pada hari-hari belakangan ini.<\/p>\n \n\n \n

Baca juga: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Tak sia-sia turun ke jalan, tak sia-sia melakukan lobi-lobi ke penguasa, tak sia-sia mengucurkan uang yang tidak sedikit, dan tak sia-sia mempermalukan diri dengan mengemis ke lembaga donor asing dan menggondol uang dari cukai tembakau untuk mengampanyekan gerakan anti-rokok dan anti-tembakau. Tak sia-sia. Karena perjuangan sepertinya berhasil.<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

Kampanye-kampanye gerakan mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya, sepertinya juga sangat berhasil. Bagaimana tidak? Wilayah-wilayah yang sebelumnya penuh dengan tanaman tembakau dan bergeliat dengannya, kini lahan-lahannya sudah berganti dengan tanaman lain. Sebuah keberhasilan yang menggembirakan. Begitu mungkin pikir mereka para yang menganggap dirinya pejuang anti-rokok dan anti-tembakau. Dan tentu saja mereka akan kecele dan kita akan menertawakan hal itu.<\/p>\n \n\n \n

Sayangnya, mereka yang menganggap dirinya anti-rokok dan anti-tembakau tidak menyaksikan langsung fenomena ini di lapangan, di lahan-lahan yang peruntukannya berubah pada hari-hari belakangan ini ketika memasuki musim hujan. Mereka asyik duduk pada kursi empuk di ruang-ruang nyaman ber-AC di kota-kota yang jauh dari kultur pertanian. Mereka menyengajakan diri menjadi elit dan enggan untuk turun melihat langsung ke lapangan. Kalaupun ada yang turun langsung ke lapangan, hanya segelintir saja dari mereka, itupun sekadar formalitas saja. Tak pernah benar-benar mau turun ke lapangan, hidup dan merasakan langsung kultur pertanian tembakau dalam jangka waktu cukup lama di lapangan.<\/p>\n \n\n \n

Baca juga: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Fenomena ini membikin kita tak bisa melihat mereka para anti-rokok kecele lalu menertawakan mereka.<\/strong> Fenomena keengganan terjun langsung ke lapangan terlebih mencoba mendengar mereka yang tetap menanam tembakau, juga menjalani keseharian dalam waktu cukup lama bersama petani tembakau inilah yang saya kira menjadikan mereka tetap keras kepala untuk anti-rokok dan anti-tembakau. Karena jika mereka mau melakukan itu, saya yakin mereka semua tidak akan begitu kaku dalam memandang pertanian tembakau dan produk hasil industri tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Salah satu yang selalu mereka kampanyekan dan ngotot dengan itu, terkait hulu pertanian tembakau adalah mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya. Mereka berargumen banyak tanaman lain yang bisa semenguntungkan tanaman tembakau. Keengganan mereka terjun langsung ke lapangan inilah yang membikin mereka buta dengan kondisi pertanian tembakau dan pada akhirnya terus menerus mengampanyekan pergantian tanaman tembakau dengan tanaman lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Baca juga: Imanlah kepada Allah, Bukan Antirokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Tembakau tanaman yang khas. Ia hanya tumbuh baik sepanjang empat hingga lima bulan dalam satu tahun. Tumbuh-kembang tanaman tembakau dengan baik itu umumnya terjadi pada musim kemarau setiap tahunnya. Hanya sedikit sekali jenis tembakau yang tumbuh baik di musim penghujan, mayoritasnya, tumbuh baik pada musim kemarau.<\/p>\n \n\n \n

Jika ditanam pada musim hujan, hampir bisa dipastikan tanaman tembakau akan gagal menghasilkan daun-daun yang berkualitas. Ia akan rusak dan membusuk karena terlalu banyak terkena air sehingga daun-daun itu tak layak dijual. Jangankan bisa dijual, untuk tumbuh dengan baik pun sepertinya sulit karena musim hujan akan membunuh banyak tanaman itu.<\/p>\n \n\n \n

Maka, tak heran pada musim-musim seperti saat ini, ketika musim penghujan mendekati puncaknya, di wilayah-wilayah yang dikenal sebagai sentra pertanian tembakau, sulit menemukan pohon tembakau yang sedang tumbuh. Pada lahan-lahan yang sebelumnya ditumbuhi tanaman tembakau pada musim panas, berganti tanaman-tanaman lain yang bermacam-macam, sesuai dengan kondisi lahannya. Untuk lahan sawah, lahan-lahan itu pada musim penghujan kini ditumbuhi tanaman padi yang subur. Pada lahan tegalan dan lahan di pegunungan, lahan-lahan yang ditanami tembakau pada musim kemarau, saat ini ditumbuhi bermacam jenis tanaman mulai dari cabai, bawang, tomat, kol, terong, mentimun, dan ragam jenis tanaman semusim lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Uniknya, tipikal tanaman tembakau yang tumbuh baik di musim kemarau ini memberi pilihan lebih kepada para petani. Lahan-lahan yang sulit ditanami pada musim kemarau, pada akhirnya masih bisa tetap produktif dengan keberadaan tanaman tembakau. <\/p>\n \n\n \n

Maka, kampanye aneh mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain dengan ragam rupa dalih yang membingungkan, bukan saja sama sekali tidak tepat dan asal-asalan, namun bisa jadi akan ditertawakan oleh para petani yang begitu paham dengan kondisi lahan dan terutama kondisi iklim dan cuaca. Sulit mencari tanaman semusim yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Jika pun ada, tak ada yang semenguntungkan tanaman tembakau.
<\/p>\n ","post_title":"Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"keberhasilan-gerakan-anti-tembakau-tak-ada-tembakau-saat-musim-hujan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-07 12:16:02","post_modified_gmt":"2019-02-07 05:16:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5415","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5409,"post_author":"919","post_date":"2019-02-05 08:04:43","post_date_gmt":"2019-02-05 01:04:43","post_content":" \n

Tahun Baru Imlek yang merupakan tradisi Bangsa Tiongkok kini sudah tak lagi menjadi hal yang asing bagi masyarakat Indonesia. Kehadirannya sudah mewarnai dan berakulturasi dengan tradisi lokal. Menjelang Tahun Baru Imlek. Berbagai hiasan dan kemeriahan terjadi beberapa titik di Tanah Air. Perayaannya juga menjadi destinasi baru yang mengasyikkan untuk dilihat dan patut disaksikan.<\/p>\n \n\n \n

Berterimakasihlah kepada sang bapak bangsa, KH Abdurrahman Wahid atau yang dikenal dengan nama Gus Dur. Berkat kebijakannya saat menjadi Presiden Indonesia, Tahun Baru Imlek resmi dijadikan hari libur nasional dan dianggap sebagai salah satu hari raya di Tanah Air. Meski sentimen antitionghoa masih ada di sana-sini, tapi tetap tak bisa dipungkiri bahwa bangsa tionghoa sudah bersentuhan dengan budaya lokal dalam kurun waktu yang sangat panjang.<\/p>\n \n\n \n

DNA Bangsa Tionghoa yang memang merupakan pedagang menjadi pembuka kisah interaksi antara nenek moyang berbagai suku di Nusantara dengan mereka. Beberapa kelenteng-kelenteng yang tersebar pada berbagai pesisir daerah di Nusantara jadi buktinya. Pelabuhan-pelabuhan tua di tanah air dan ramainya perdagangan di pesisir mempermudah bangsa kita berhubungan dengan Bangsa Tionghoa.<\/p>\n \n\n \n

Baca Juga: Wong Kalang dan Kota Gede<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa kehadiran Bangsa Tionghoa di Nusantara tak hanya sebagai pedagang, namun juga sebagai pekerja (bahkan hingga pekerja kasar). Benny Setiono, seorang sejarahwan menyebutkan bahwa antara tahun 1760-1770 dalam jumlah yang besar memasuki nusantara melalui Kalimantan Barat. Mereka bekerja sebagai kuli pertambangan di sana dan di kemudian hari membentuk sebuah republik bernama Republik Lanfang yang konon katanya menjadi republik pertama di Asia Tenggara.<\/p>\n \n\n \n

Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n \n\n \n

Baca Juga: Imlek dan Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n

Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n \n\n \n

Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n \n\n \n

Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n \n\n \n

Baca Juga: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n \n\n \n

Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
<\/p>\n ","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_3o3","class":"epic_block_3"};

\n

[2] Catatan-catatan para biarawan Fransiskan --yang disalin dan dikutip oleh van Frassen-- bahkan menyebut cengkeh sebagai salah satu bahan utama pengawet mumi para Fir\u2019aun, penguasa Mesir Kuno. Beberapa pakar sejarah dan arkeologi menyatakan bahwa rempah-rempah Maluku bahkan sudah ditemukan artefaknya di Lembah Mesopotomia (wilayah Iraq dan sekitarnya sekarang) pada 3.000 tahun sebelum Masehi. (lihat, antara lain: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n \n\n\n

[3] Uraian lebih rinci sejarah kolonialisme rempah-rempah Nusantara ini, terutama oleh Belanda dan Portugis, dapat dibaca pada beberapa sumber kepustakaan yang sudah dikenal luas, antara lain: Glamann (1958) dan Boxer (1965 dan 1969). Dalam risalah klasik Pires disebutkan bahwa pada tahun 1512-1521 saja, jumlah produksi cengkeh di Maluku sudah mencapai 7.250 bahar per tahun, terbesar adalah di Makian serta Amboina dan Lease (masing-masing 1.500 bahar)(Pires, 1512-1515).<\/em>
<\/p>\n \n\n \n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem Topatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n ","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-10 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-02-10 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5425","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5415,"post_author":"878","post_date":"2019-02-07 12:15:55","post_date_gmt":"2019-02-07 05:15:55","post_content":" \n

Belakangan ini, ketika musim hujan tiba, di Kabupaten Temanggung, Kabupaten Jember, dan beberapa wilayah sentra pertanian tembakau lainnya, hampir mustahil menemukan tanaman tembakau tumbuh di lahan-lahan milik petani. Di wilayah-wilayah tersebut, citra sebagai sentra pertanian tembakau seakan menguap. Lahan-lahan yang ada di sana, sama sekali tidak ditumbuhi tanaman tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Kabar ini bisa jadi dianggap sebagai kabar gembira bagi mereka yang menganggap diri dan kelompoknya anti-rokok dan anti-tembakau yang selalu mengampanyekan sikap-sikap mereka terkait kebencian kepada tembakau dan aktivitas merokok. Setelah sekian lama berjuang, akhirnya perjuangan mereka dirasa berhasil usai menyaksikan fenomena lahan-lahan di wilayah yang dianggap sentra pertanian tembakau pada hari-hari belakangan ini.<\/p>\n \n\n \n

Baca juga: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Tak sia-sia turun ke jalan, tak sia-sia melakukan lobi-lobi ke penguasa, tak sia-sia mengucurkan uang yang tidak sedikit, dan tak sia-sia mempermalukan diri dengan mengemis ke lembaga donor asing dan menggondol uang dari cukai tembakau untuk mengampanyekan gerakan anti-rokok dan anti-tembakau. Tak sia-sia. Karena perjuangan sepertinya berhasil.<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

Kampanye-kampanye gerakan mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya, sepertinya juga sangat berhasil. Bagaimana tidak? Wilayah-wilayah yang sebelumnya penuh dengan tanaman tembakau dan bergeliat dengannya, kini lahan-lahannya sudah berganti dengan tanaman lain. Sebuah keberhasilan yang menggembirakan. Begitu mungkin pikir mereka para yang menganggap dirinya pejuang anti-rokok dan anti-tembakau. Dan tentu saja mereka akan kecele dan kita akan menertawakan hal itu.<\/p>\n \n\n \n

Sayangnya, mereka yang menganggap dirinya anti-rokok dan anti-tembakau tidak menyaksikan langsung fenomena ini di lapangan, di lahan-lahan yang peruntukannya berubah pada hari-hari belakangan ini ketika memasuki musim hujan. Mereka asyik duduk pada kursi empuk di ruang-ruang nyaman ber-AC di kota-kota yang jauh dari kultur pertanian. Mereka menyengajakan diri menjadi elit dan enggan untuk turun melihat langsung ke lapangan. Kalaupun ada yang turun langsung ke lapangan, hanya segelintir saja dari mereka, itupun sekadar formalitas saja. Tak pernah benar-benar mau turun ke lapangan, hidup dan merasakan langsung kultur pertanian tembakau dalam jangka waktu cukup lama di lapangan.<\/p>\n \n\n \n

Baca juga: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Fenomena ini membikin kita tak bisa melihat mereka para anti-rokok kecele lalu menertawakan mereka.<\/strong> Fenomena keengganan terjun langsung ke lapangan terlebih mencoba mendengar mereka yang tetap menanam tembakau, juga menjalani keseharian dalam waktu cukup lama bersama petani tembakau inilah yang saya kira menjadikan mereka tetap keras kepala untuk anti-rokok dan anti-tembakau. Karena jika mereka mau melakukan itu, saya yakin mereka semua tidak akan begitu kaku dalam memandang pertanian tembakau dan produk hasil industri tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Salah satu yang selalu mereka kampanyekan dan ngotot dengan itu, terkait hulu pertanian tembakau adalah mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya. Mereka berargumen banyak tanaman lain yang bisa semenguntungkan tanaman tembakau. Keengganan mereka terjun langsung ke lapangan inilah yang membikin mereka buta dengan kondisi pertanian tembakau dan pada akhirnya terus menerus mengampanyekan pergantian tanaman tembakau dengan tanaman lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Baca juga: Imanlah kepada Allah, Bukan Antirokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Tembakau tanaman yang khas. Ia hanya tumbuh baik sepanjang empat hingga lima bulan dalam satu tahun. Tumbuh-kembang tanaman tembakau dengan baik itu umumnya terjadi pada musim kemarau setiap tahunnya. Hanya sedikit sekali jenis tembakau yang tumbuh baik di musim penghujan, mayoritasnya, tumbuh baik pada musim kemarau.<\/p>\n \n\n \n

Jika ditanam pada musim hujan, hampir bisa dipastikan tanaman tembakau akan gagal menghasilkan daun-daun yang berkualitas. Ia akan rusak dan membusuk karena terlalu banyak terkena air sehingga daun-daun itu tak layak dijual. Jangankan bisa dijual, untuk tumbuh dengan baik pun sepertinya sulit karena musim hujan akan membunuh banyak tanaman itu.<\/p>\n \n\n \n

Maka, tak heran pada musim-musim seperti saat ini, ketika musim penghujan mendekati puncaknya, di wilayah-wilayah yang dikenal sebagai sentra pertanian tembakau, sulit menemukan pohon tembakau yang sedang tumbuh. Pada lahan-lahan yang sebelumnya ditumbuhi tanaman tembakau pada musim panas, berganti tanaman-tanaman lain yang bermacam-macam, sesuai dengan kondisi lahannya. Untuk lahan sawah, lahan-lahan itu pada musim penghujan kini ditumbuhi tanaman padi yang subur. Pada lahan tegalan dan lahan di pegunungan, lahan-lahan yang ditanami tembakau pada musim kemarau, saat ini ditumbuhi bermacam jenis tanaman mulai dari cabai, bawang, tomat, kol, terong, mentimun, dan ragam jenis tanaman semusim lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Uniknya, tipikal tanaman tembakau yang tumbuh baik di musim kemarau ini memberi pilihan lebih kepada para petani. Lahan-lahan yang sulit ditanami pada musim kemarau, pada akhirnya masih bisa tetap produktif dengan keberadaan tanaman tembakau. <\/p>\n \n\n \n

Maka, kampanye aneh mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain dengan ragam rupa dalih yang membingungkan, bukan saja sama sekali tidak tepat dan asal-asalan, namun bisa jadi akan ditertawakan oleh para petani yang begitu paham dengan kondisi lahan dan terutama kondisi iklim dan cuaca. Sulit mencari tanaman semusim yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Jika pun ada, tak ada yang semenguntungkan tanaman tembakau.
<\/p>\n ","post_title":"Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"keberhasilan-gerakan-anti-tembakau-tak-ada-tembakau-saat-musim-hujan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-07 12:16:02","post_modified_gmt":"2019-02-07 05:16:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5415","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5409,"post_author":"919","post_date":"2019-02-05 08:04:43","post_date_gmt":"2019-02-05 01:04:43","post_content":" \n

Tahun Baru Imlek yang merupakan tradisi Bangsa Tiongkok kini sudah tak lagi menjadi hal yang asing bagi masyarakat Indonesia. Kehadirannya sudah mewarnai dan berakulturasi dengan tradisi lokal. Menjelang Tahun Baru Imlek. Berbagai hiasan dan kemeriahan terjadi beberapa titik di Tanah Air. Perayaannya juga menjadi destinasi baru yang mengasyikkan untuk dilihat dan patut disaksikan.<\/p>\n \n\n \n

Berterimakasihlah kepada sang bapak bangsa, KH Abdurrahman Wahid atau yang dikenal dengan nama Gus Dur. Berkat kebijakannya saat menjadi Presiden Indonesia, Tahun Baru Imlek resmi dijadikan hari libur nasional dan dianggap sebagai salah satu hari raya di Tanah Air. Meski sentimen antitionghoa masih ada di sana-sini, tapi tetap tak bisa dipungkiri bahwa bangsa tionghoa sudah bersentuhan dengan budaya lokal dalam kurun waktu yang sangat panjang.<\/p>\n \n\n \n

DNA Bangsa Tionghoa yang memang merupakan pedagang menjadi pembuka kisah interaksi antara nenek moyang berbagai suku di Nusantara dengan mereka. Beberapa kelenteng-kelenteng yang tersebar pada berbagai pesisir daerah di Nusantara jadi buktinya. Pelabuhan-pelabuhan tua di tanah air dan ramainya perdagangan di pesisir mempermudah bangsa kita berhubungan dengan Bangsa Tionghoa.<\/p>\n \n\n \n

Baca Juga: Wong Kalang dan Kota Gede<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa kehadiran Bangsa Tionghoa di Nusantara tak hanya sebagai pedagang, namun juga sebagai pekerja (bahkan hingga pekerja kasar). Benny Setiono, seorang sejarahwan menyebutkan bahwa antara tahun 1760-1770 dalam jumlah yang besar memasuki nusantara melalui Kalimantan Barat. Mereka bekerja sebagai kuli pertambangan di sana dan di kemudian hari membentuk sebuah republik bernama Republik Lanfang yang konon katanya menjadi republik pertama di Asia Tenggara.<\/p>\n \n\n \n

Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n \n\n \n

Baca Juga: Imlek dan Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n

Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n \n\n \n

Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n \n\n \n

Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n \n\n \n

Baca Juga: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n \n\n \n

Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
<\/p>\n ","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_3o3","class":"epic_block_3"};

\n

[1] Beberapa sumber menyebutkan bahwa kata \u2018cengkeh\u2019 dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Mandarin, tkeng-his atau xi\u2019jia, yang berarti \u2018rempah [berbentuk mirip] paku\u2019 (scented nails). Ini menunjukkan bahwa cengkeh sudah dikenal sejak lama oleh bangsa Cina --diketahui sejak abad-2-- jauh sebelum orang Eropa mengenalnya ((lihat, misalnya: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n \n\n\n

[2] Catatan-catatan para biarawan Fransiskan --yang disalin dan dikutip oleh van Frassen-- bahkan menyebut cengkeh sebagai salah satu bahan utama pengawet mumi para Fir\u2019aun, penguasa Mesir Kuno. Beberapa pakar sejarah dan arkeologi menyatakan bahwa rempah-rempah Maluku bahkan sudah ditemukan artefaknya di Lembah Mesopotomia (wilayah Iraq dan sekitarnya sekarang) pada 3.000 tahun sebelum Masehi. (lihat, antara lain: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n \n\n \n

[3] Uraian lebih rinci sejarah kolonialisme rempah-rempah Nusantara ini, terutama oleh Belanda dan Portugis, dapat dibaca pada beberapa sumber kepustakaan yang sudah dikenal luas, antara lain: Glamann (1958) dan Boxer (1965 dan 1969). Dalam risalah klasik Pires disebutkan bahwa pada tahun 1512-1521 saja, jumlah produksi cengkeh di Maluku sudah mencapai 7.250 bahar per tahun, terbesar adalah di Makian serta Amboina dan Lease (masing-masing 1.500 bahar)(Pires, 1512-1515).<\/em>
<\/p>\n \n\n \n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem Topatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n ","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-10 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-02-10 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5425","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5415,"post_author":"878","post_date":"2019-02-07 12:15:55","post_date_gmt":"2019-02-07 05:15:55","post_content":" \n

Belakangan ini, ketika musim hujan tiba, di Kabupaten Temanggung, Kabupaten Jember, dan beberapa wilayah sentra pertanian tembakau lainnya, hampir mustahil menemukan tanaman tembakau tumbuh di lahan-lahan milik petani. Di wilayah-wilayah tersebut, citra sebagai sentra pertanian tembakau seakan menguap. Lahan-lahan yang ada di sana, sama sekali tidak ditumbuhi tanaman tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Kabar ini bisa jadi dianggap sebagai kabar gembira bagi mereka yang menganggap diri dan kelompoknya anti-rokok dan anti-tembakau yang selalu mengampanyekan sikap-sikap mereka terkait kebencian kepada tembakau dan aktivitas merokok. Setelah sekian lama berjuang, akhirnya perjuangan mereka dirasa berhasil usai menyaksikan fenomena lahan-lahan di wilayah yang dianggap sentra pertanian tembakau pada hari-hari belakangan ini.<\/p>\n \n\n \n

Baca juga: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Tak sia-sia turun ke jalan, tak sia-sia melakukan lobi-lobi ke penguasa, tak sia-sia mengucurkan uang yang tidak sedikit, dan tak sia-sia mempermalukan diri dengan mengemis ke lembaga donor asing dan menggondol uang dari cukai tembakau untuk mengampanyekan gerakan anti-rokok dan anti-tembakau. Tak sia-sia. Karena perjuangan sepertinya berhasil.<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

Kampanye-kampanye gerakan mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya, sepertinya juga sangat berhasil. Bagaimana tidak? Wilayah-wilayah yang sebelumnya penuh dengan tanaman tembakau dan bergeliat dengannya, kini lahan-lahannya sudah berganti dengan tanaman lain. Sebuah keberhasilan yang menggembirakan. Begitu mungkin pikir mereka para yang menganggap dirinya pejuang anti-rokok dan anti-tembakau. Dan tentu saja mereka akan kecele dan kita akan menertawakan hal itu.<\/p>\n \n\n \n

Sayangnya, mereka yang menganggap dirinya anti-rokok dan anti-tembakau tidak menyaksikan langsung fenomena ini di lapangan, di lahan-lahan yang peruntukannya berubah pada hari-hari belakangan ini ketika memasuki musim hujan. Mereka asyik duduk pada kursi empuk di ruang-ruang nyaman ber-AC di kota-kota yang jauh dari kultur pertanian. Mereka menyengajakan diri menjadi elit dan enggan untuk turun melihat langsung ke lapangan. Kalaupun ada yang turun langsung ke lapangan, hanya segelintir saja dari mereka, itupun sekadar formalitas saja. Tak pernah benar-benar mau turun ke lapangan, hidup dan merasakan langsung kultur pertanian tembakau dalam jangka waktu cukup lama di lapangan.<\/p>\n \n\n \n

Baca juga: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Fenomena ini membikin kita tak bisa melihat mereka para anti-rokok kecele lalu menertawakan mereka.<\/strong> Fenomena keengganan terjun langsung ke lapangan terlebih mencoba mendengar mereka yang tetap menanam tembakau, juga menjalani keseharian dalam waktu cukup lama bersama petani tembakau inilah yang saya kira menjadikan mereka tetap keras kepala untuk anti-rokok dan anti-tembakau. Karena jika mereka mau melakukan itu, saya yakin mereka semua tidak akan begitu kaku dalam memandang pertanian tembakau dan produk hasil industri tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Salah satu yang selalu mereka kampanyekan dan ngotot dengan itu, terkait hulu pertanian tembakau adalah mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya. Mereka berargumen banyak tanaman lain yang bisa semenguntungkan tanaman tembakau. Keengganan mereka terjun langsung ke lapangan inilah yang membikin mereka buta dengan kondisi pertanian tembakau dan pada akhirnya terus menerus mengampanyekan pergantian tanaman tembakau dengan tanaman lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Baca juga: Imanlah kepada Allah, Bukan Antirokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Tembakau tanaman yang khas. Ia hanya tumbuh baik sepanjang empat hingga lima bulan dalam satu tahun. Tumbuh-kembang tanaman tembakau dengan baik itu umumnya terjadi pada musim kemarau setiap tahunnya. Hanya sedikit sekali jenis tembakau yang tumbuh baik di musim penghujan, mayoritasnya, tumbuh baik pada musim kemarau.<\/p>\n \n\n \n

Jika ditanam pada musim hujan, hampir bisa dipastikan tanaman tembakau akan gagal menghasilkan daun-daun yang berkualitas. Ia akan rusak dan membusuk karena terlalu banyak terkena air sehingga daun-daun itu tak layak dijual. Jangankan bisa dijual, untuk tumbuh dengan baik pun sepertinya sulit karena musim hujan akan membunuh banyak tanaman itu.<\/p>\n \n\n \n

Maka, tak heran pada musim-musim seperti saat ini, ketika musim penghujan mendekati puncaknya, di wilayah-wilayah yang dikenal sebagai sentra pertanian tembakau, sulit menemukan pohon tembakau yang sedang tumbuh. Pada lahan-lahan yang sebelumnya ditumbuhi tanaman tembakau pada musim panas, berganti tanaman-tanaman lain yang bermacam-macam, sesuai dengan kondisi lahannya. Untuk lahan sawah, lahan-lahan itu pada musim penghujan kini ditumbuhi tanaman padi yang subur. Pada lahan tegalan dan lahan di pegunungan, lahan-lahan yang ditanami tembakau pada musim kemarau, saat ini ditumbuhi bermacam jenis tanaman mulai dari cabai, bawang, tomat, kol, terong, mentimun, dan ragam jenis tanaman semusim lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Uniknya, tipikal tanaman tembakau yang tumbuh baik di musim kemarau ini memberi pilihan lebih kepada para petani. Lahan-lahan yang sulit ditanami pada musim kemarau, pada akhirnya masih bisa tetap produktif dengan keberadaan tanaman tembakau. <\/p>\n \n\n \n

Maka, kampanye aneh mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain dengan ragam rupa dalih yang membingungkan, bukan saja sama sekali tidak tepat dan asal-asalan, namun bisa jadi akan ditertawakan oleh para petani yang begitu paham dengan kondisi lahan dan terutama kondisi iklim dan cuaca. Sulit mencari tanaman semusim yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Jika pun ada, tak ada yang semenguntungkan tanaman tembakau.
<\/p>\n ","post_title":"Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"keberhasilan-gerakan-anti-tembakau-tak-ada-tembakau-saat-musim-hujan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-07 12:16:02","post_modified_gmt":"2019-02-07 05:16:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5415","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5409,"post_author":"919","post_date":"2019-02-05 08:04:43","post_date_gmt":"2019-02-05 01:04:43","post_content":" \n

Tahun Baru Imlek yang merupakan tradisi Bangsa Tiongkok kini sudah tak lagi menjadi hal yang asing bagi masyarakat Indonesia. Kehadirannya sudah mewarnai dan berakulturasi dengan tradisi lokal. Menjelang Tahun Baru Imlek. Berbagai hiasan dan kemeriahan terjadi beberapa titik di Tanah Air. Perayaannya juga menjadi destinasi baru yang mengasyikkan untuk dilihat dan patut disaksikan.<\/p>\n \n\n \n

Berterimakasihlah kepada sang bapak bangsa, KH Abdurrahman Wahid atau yang dikenal dengan nama Gus Dur. Berkat kebijakannya saat menjadi Presiden Indonesia, Tahun Baru Imlek resmi dijadikan hari libur nasional dan dianggap sebagai salah satu hari raya di Tanah Air. Meski sentimen antitionghoa masih ada di sana-sini, tapi tetap tak bisa dipungkiri bahwa bangsa tionghoa sudah bersentuhan dengan budaya lokal dalam kurun waktu yang sangat panjang.<\/p>\n \n\n \n

DNA Bangsa Tionghoa yang memang merupakan pedagang menjadi pembuka kisah interaksi antara nenek moyang berbagai suku di Nusantara dengan mereka. Beberapa kelenteng-kelenteng yang tersebar pada berbagai pesisir daerah di Nusantara jadi buktinya. Pelabuhan-pelabuhan tua di tanah air dan ramainya perdagangan di pesisir mempermudah bangsa kita berhubungan dengan Bangsa Tionghoa.<\/p>\n \n\n \n

Baca Juga: Wong Kalang dan Kota Gede<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa kehadiran Bangsa Tionghoa di Nusantara tak hanya sebagai pedagang, namun juga sebagai pekerja (bahkan hingga pekerja kasar). Benny Setiono, seorang sejarahwan menyebutkan bahwa antara tahun 1760-1770 dalam jumlah yang besar memasuki nusantara melalui Kalimantan Barat. Mereka bekerja sebagai kuli pertambangan di sana dan di kemudian hari membentuk sebuah republik bernama Republik Lanfang yang konon katanya menjadi republik pertama di Asia Tenggara.<\/p>\n \n\n \n

Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n \n\n \n

Baca Juga: Imlek dan Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n

Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n \n\n \n

Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n \n\n \n

Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n \n\n \n

Baca Juga: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n \n\n \n

Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
<\/p>\n ","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_3o3","class":"epic_block_3"};

\n

Catatan:<\/strong><\/p>\n \n\n\n

[1] Beberapa sumber menyebutkan bahwa kata \u2018cengkeh\u2019 dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Mandarin, tkeng-his atau xi\u2019jia, yang berarti \u2018rempah [berbentuk mirip] paku\u2019 (scented nails). Ini menunjukkan bahwa cengkeh sudah dikenal sejak lama oleh bangsa Cina --diketahui sejak abad-2-- jauh sebelum orang Eropa mengenalnya ((lihat, misalnya: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n \n\n \n

[2] Catatan-catatan para biarawan Fransiskan --yang disalin dan dikutip oleh van Frassen-- bahkan menyebut cengkeh sebagai salah satu bahan utama pengawet mumi para Fir\u2019aun, penguasa Mesir Kuno. Beberapa pakar sejarah dan arkeologi menyatakan bahwa rempah-rempah Maluku bahkan sudah ditemukan artefaknya di Lembah Mesopotomia (wilayah Iraq dan sekitarnya sekarang) pada 3.000 tahun sebelum Masehi. (lihat, antara lain: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n \n\n \n

[3] Uraian lebih rinci sejarah kolonialisme rempah-rempah Nusantara ini, terutama oleh Belanda dan Portugis, dapat dibaca pada beberapa sumber kepustakaan yang sudah dikenal luas, antara lain: Glamann (1958) dan Boxer (1965 dan 1969). Dalam risalah klasik Pires disebutkan bahwa pada tahun 1512-1521 saja, jumlah produksi cengkeh di Maluku sudah mencapai 7.250 bahar per tahun, terbesar adalah di Makian serta Amboina dan Lease (masing-masing 1.500 bahar)(Pires, 1512-1515).<\/em>
<\/p>\n \n\n \n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem Topatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n ","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-10 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-02-10 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5425","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5415,"post_author":"878","post_date":"2019-02-07 12:15:55","post_date_gmt":"2019-02-07 05:15:55","post_content":" \n

Belakangan ini, ketika musim hujan tiba, di Kabupaten Temanggung, Kabupaten Jember, dan beberapa wilayah sentra pertanian tembakau lainnya, hampir mustahil menemukan tanaman tembakau tumbuh di lahan-lahan milik petani. Di wilayah-wilayah tersebut, citra sebagai sentra pertanian tembakau seakan menguap. Lahan-lahan yang ada di sana, sama sekali tidak ditumbuhi tanaman tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Kabar ini bisa jadi dianggap sebagai kabar gembira bagi mereka yang menganggap diri dan kelompoknya anti-rokok dan anti-tembakau yang selalu mengampanyekan sikap-sikap mereka terkait kebencian kepada tembakau dan aktivitas merokok. Setelah sekian lama berjuang, akhirnya perjuangan mereka dirasa berhasil usai menyaksikan fenomena lahan-lahan di wilayah yang dianggap sentra pertanian tembakau pada hari-hari belakangan ini.<\/p>\n \n\n \n

Baca juga: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Tak sia-sia turun ke jalan, tak sia-sia melakukan lobi-lobi ke penguasa, tak sia-sia mengucurkan uang yang tidak sedikit, dan tak sia-sia mempermalukan diri dengan mengemis ke lembaga donor asing dan menggondol uang dari cukai tembakau untuk mengampanyekan gerakan anti-rokok dan anti-tembakau. Tak sia-sia. Karena perjuangan sepertinya berhasil.<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

Kampanye-kampanye gerakan mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya, sepertinya juga sangat berhasil. Bagaimana tidak? Wilayah-wilayah yang sebelumnya penuh dengan tanaman tembakau dan bergeliat dengannya, kini lahan-lahannya sudah berganti dengan tanaman lain. Sebuah keberhasilan yang menggembirakan. Begitu mungkin pikir mereka para yang menganggap dirinya pejuang anti-rokok dan anti-tembakau. Dan tentu saja mereka akan kecele dan kita akan menertawakan hal itu.<\/p>\n \n\n \n

Sayangnya, mereka yang menganggap dirinya anti-rokok dan anti-tembakau tidak menyaksikan langsung fenomena ini di lapangan, di lahan-lahan yang peruntukannya berubah pada hari-hari belakangan ini ketika memasuki musim hujan. Mereka asyik duduk pada kursi empuk di ruang-ruang nyaman ber-AC di kota-kota yang jauh dari kultur pertanian. Mereka menyengajakan diri menjadi elit dan enggan untuk turun melihat langsung ke lapangan. Kalaupun ada yang turun langsung ke lapangan, hanya segelintir saja dari mereka, itupun sekadar formalitas saja. Tak pernah benar-benar mau turun ke lapangan, hidup dan merasakan langsung kultur pertanian tembakau dalam jangka waktu cukup lama di lapangan.<\/p>\n \n\n \n

Baca juga: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Fenomena ini membikin kita tak bisa melihat mereka para anti-rokok kecele lalu menertawakan mereka.<\/strong> Fenomena keengganan terjun langsung ke lapangan terlebih mencoba mendengar mereka yang tetap menanam tembakau, juga menjalani keseharian dalam waktu cukup lama bersama petani tembakau inilah yang saya kira menjadikan mereka tetap keras kepala untuk anti-rokok dan anti-tembakau. Karena jika mereka mau melakukan itu, saya yakin mereka semua tidak akan begitu kaku dalam memandang pertanian tembakau dan produk hasil industri tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Salah satu yang selalu mereka kampanyekan dan ngotot dengan itu, terkait hulu pertanian tembakau adalah mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya. Mereka berargumen banyak tanaman lain yang bisa semenguntungkan tanaman tembakau. Keengganan mereka terjun langsung ke lapangan inilah yang membikin mereka buta dengan kondisi pertanian tembakau dan pada akhirnya terus menerus mengampanyekan pergantian tanaman tembakau dengan tanaman lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Baca juga: Imanlah kepada Allah, Bukan Antirokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Tembakau tanaman yang khas. Ia hanya tumbuh baik sepanjang empat hingga lima bulan dalam satu tahun. Tumbuh-kembang tanaman tembakau dengan baik itu umumnya terjadi pada musim kemarau setiap tahunnya. Hanya sedikit sekali jenis tembakau yang tumbuh baik di musim penghujan, mayoritasnya, tumbuh baik pada musim kemarau.<\/p>\n \n\n \n

Jika ditanam pada musim hujan, hampir bisa dipastikan tanaman tembakau akan gagal menghasilkan daun-daun yang berkualitas. Ia akan rusak dan membusuk karena terlalu banyak terkena air sehingga daun-daun itu tak layak dijual. Jangankan bisa dijual, untuk tumbuh dengan baik pun sepertinya sulit karena musim hujan akan membunuh banyak tanaman itu.<\/p>\n \n\n \n

Maka, tak heran pada musim-musim seperti saat ini, ketika musim penghujan mendekati puncaknya, di wilayah-wilayah yang dikenal sebagai sentra pertanian tembakau, sulit menemukan pohon tembakau yang sedang tumbuh. Pada lahan-lahan yang sebelumnya ditumbuhi tanaman tembakau pada musim panas, berganti tanaman-tanaman lain yang bermacam-macam, sesuai dengan kondisi lahannya. Untuk lahan sawah, lahan-lahan itu pada musim penghujan kini ditumbuhi tanaman padi yang subur. Pada lahan tegalan dan lahan di pegunungan, lahan-lahan yang ditanami tembakau pada musim kemarau, saat ini ditumbuhi bermacam jenis tanaman mulai dari cabai, bawang, tomat, kol, terong, mentimun, dan ragam jenis tanaman semusim lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Uniknya, tipikal tanaman tembakau yang tumbuh baik di musim kemarau ini memberi pilihan lebih kepada para petani. Lahan-lahan yang sulit ditanami pada musim kemarau, pada akhirnya masih bisa tetap produktif dengan keberadaan tanaman tembakau. <\/p>\n \n\n \n

Maka, kampanye aneh mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain dengan ragam rupa dalih yang membingungkan, bukan saja sama sekali tidak tepat dan asal-asalan, namun bisa jadi akan ditertawakan oleh para petani yang begitu paham dengan kondisi lahan dan terutama kondisi iklim dan cuaca. Sulit mencari tanaman semusim yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Jika pun ada, tak ada yang semenguntungkan tanaman tembakau.
<\/p>\n ","post_title":"Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"keberhasilan-gerakan-anti-tembakau-tak-ada-tembakau-saat-musim-hujan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-07 12:16:02","post_modified_gmt":"2019-02-07 05:16:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5415","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5409,"post_author":"919","post_date":"2019-02-05 08:04:43","post_date_gmt":"2019-02-05 01:04:43","post_content":" \n

Tahun Baru Imlek yang merupakan tradisi Bangsa Tiongkok kini sudah tak lagi menjadi hal yang asing bagi masyarakat Indonesia. Kehadirannya sudah mewarnai dan berakulturasi dengan tradisi lokal. Menjelang Tahun Baru Imlek. Berbagai hiasan dan kemeriahan terjadi beberapa titik di Tanah Air. Perayaannya juga menjadi destinasi baru yang mengasyikkan untuk dilihat dan patut disaksikan.<\/p>\n \n\n \n

Berterimakasihlah kepada sang bapak bangsa, KH Abdurrahman Wahid atau yang dikenal dengan nama Gus Dur. Berkat kebijakannya saat menjadi Presiden Indonesia, Tahun Baru Imlek resmi dijadikan hari libur nasional dan dianggap sebagai salah satu hari raya di Tanah Air. Meski sentimen antitionghoa masih ada di sana-sini, tapi tetap tak bisa dipungkiri bahwa bangsa tionghoa sudah bersentuhan dengan budaya lokal dalam kurun waktu yang sangat panjang.<\/p>\n \n\n \n

DNA Bangsa Tionghoa yang memang merupakan pedagang menjadi pembuka kisah interaksi antara nenek moyang berbagai suku di Nusantara dengan mereka. Beberapa kelenteng-kelenteng yang tersebar pada berbagai pesisir daerah di Nusantara jadi buktinya. Pelabuhan-pelabuhan tua di tanah air dan ramainya perdagangan di pesisir mempermudah bangsa kita berhubungan dengan Bangsa Tionghoa.<\/p>\n \n\n \n

Baca Juga: Wong Kalang dan Kota Gede<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa kehadiran Bangsa Tionghoa di Nusantara tak hanya sebagai pedagang, namun juga sebagai pekerja (bahkan hingga pekerja kasar). Benny Setiono, seorang sejarahwan menyebutkan bahwa antara tahun 1760-1770 dalam jumlah yang besar memasuki nusantara melalui Kalimantan Barat. Mereka bekerja sebagai kuli pertambangan di sana dan di kemudian hari membentuk sebuah republik bernama Republik Lanfang yang konon katanya menjadi republik pertama di Asia Tenggara.<\/p>\n \n\n \n

Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n \n\n \n

Baca Juga: Imlek dan Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n

Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n \n\n \n

Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n \n\n \n

Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n \n\n \n

Baca Juga: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n \n\n \n

Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
<\/p>\n ","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_3o3","class":"epic_block_3"};

\n

Gelombang reformasi sistem politik dan hukum nasional yang dimulai pada tahun 1998, akhirnya menjungkalkan rezim Soeharto dan BPPC dibubarkan, Pelan tapi pasti, harga cengkeh kembali merangkak naik, sehingga pada tahun 2012, bahkan melewati angka Rp 200.000 per kilogram. Para petani cengkeh di seluruh negeri kembali tersenyum. Tetapi, sampai kapan? <\/p>\n \n\n\n

Catatan:<\/strong><\/p>\n \n\n \n

[1] Beberapa sumber menyebutkan bahwa kata \u2018cengkeh\u2019 dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Mandarin, tkeng-his atau xi\u2019jia, yang berarti \u2018rempah [berbentuk mirip] paku\u2019 (scented nails). Ini menunjukkan bahwa cengkeh sudah dikenal sejak lama oleh bangsa Cina --diketahui sejak abad-2-- jauh sebelum orang Eropa mengenalnya ((lihat, misalnya: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n \n\n \n

[2] Catatan-catatan para biarawan Fransiskan --yang disalin dan dikutip oleh van Frassen-- bahkan menyebut cengkeh sebagai salah satu bahan utama pengawet mumi para Fir\u2019aun, penguasa Mesir Kuno. Beberapa pakar sejarah dan arkeologi menyatakan bahwa rempah-rempah Maluku bahkan sudah ditemukan artefaknya di Lembah Mesopotomia (wilayah Iraq dan sekitarnya sekarang) pada 3.000 tahun sebelum Masehi. (lihat, antara lain: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n \n\n \n

[3] Uraian lebih rinci sejarah kolonialisme rempah-rempah Nusantara ini, terutama oleh Belanda dan Portugis, dapat dibaca pada beberapa sumber kepustakaan yang sudah dikenal luas, antara lain: Glamann (1958) dan Boxer (1965 dan 1969). Dalam risalah klasik Pires disebutkan bahwa pada tahun 1512-1521 saja, jumlah produksi cengkeh di Maluku sudah mencapai 7.250 bahar per tahun, terbesar adalah di Makian serta Amboina dan Lease (masing-masing 1.500 bahar)(Pires, 1512-1515).<\/em>
<\/p>\n \n\n \n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem Topatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n ","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-10 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-02-10 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5425","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5415,"post_author":"878","post_date":"2019-02-07 12:15:55","post_date_gmt":"2019-02-07 05:15:55","post_content":" \n

Belakangan ini, ketika musim hujan tiba, di Kabupaten Temanggung, Kabupaten Jember, dan beberapa wilayah sentra pertanian tembakau lainnya, hampir mustahil menemukan tanaman tembakau tumbuh di lahan-lahan milik petani. Di wilayah-wilayah tersebut, citra sebagai sentra pertanian tembakau seakan menguap. Lahan-lahan yang ada di sana, sama sekali tidak ditumbuhi tanaman tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Kabar ini bisa jadi dianggap sebagai kabar gembira bagi mereka yang menganggap diri dan kelompoknya anti-rokok dan anti-tembakau yang selalu mengampanyekan sikap-sikap mereka terkait kebencian kepada tembakau dan aktivitas merokok. Setelah sekian lama berjuang, akhirnya perjuangan mereka dirasa berhasil usai menyaksikan fenomena lahan-lahan di wilayah yang dianggap sentra pertanian tembakau pada hari-hari belakangan ini.<\/p>\n \n\n \n

Baca juga: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Tak sia-sia turun ke jalan, tak sia-sia melakukan lobi-lobi ke penguasa, tak sia-sia mengucurkan uang yang tidak sedikit, dan tak sia-sia mempermalukan diri dengan mengemis ke lembaga donor asing dan menggondol uang dari cukai tembakau untuk mengampanyekan gerakan anti-rokok dan anti-tembakau. Tak sia-sia. Karena perjuangan sepertinya berhasil.<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

Kampanye-kampanye gerakan mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya, sepertinya juga sangat berhasil. Bagaimana tidak? Wilayah-wilayah yang sebelumnya penuh dengan tanaman tembakau dan bergeliat dengannya, kini lahan-lahannya sudah berganti dengan tanaman lain. Sebuah keberhasilan yang menggembirakan. Begitu mungkin pikir mereka para yang menganggap dirinya pejuang anti-rokok dan anti-tembakau. Dan tentu saja mereka akan kecele dan kita akan menertawakan hal itu.<\/p>\n \n\n \n

Sayangnya, mereka yang menganggap dirinya anti-rokok dan anti-tembakau tidak menyaksikan langsung fenomena ini di lapangan, di lahan-lahan yang peruntukannya berubah pada hari-hari belakangan ini ketika memasuki musim hujan. Mereka asyik duduk pada kursi empuk di ruang-ruang nyaman ber-AC di kota-kota yang jauh dari kultur pertanian. Mereka menyengajakan diri menjadi elit dan enggan untuk turun melihat langsung ke lapangan. Kalaupun ada yang turun langsung ke lapangan, hanya segelintir saja dari mereka, itupun sekadar formalitas saja. Tak pernah benar-benar mau turun ke lapangan, hidup dan merasakan langsung kultur pertanian tembakau dalam jangka waktu cukup lama di lapangan.<\/p>\n \n\n \n

Baca juga: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Fenomena ini membikin kita tak bisa melihat mereka para anti-rokok kecele lalu menertawakan mereka.<\/strong> Fenomena keengganan terjun langsung ke lapangan terlebih mencoba mendengar mereka yang tetap menanam tembakau, juga menjalani keseharian dalam waktu cukup lama bersama petani tembakau inilah yang saya kira menjadikan mereka tetap keras kepala untuk anti-rokok dan anti-tembakau. Karena jika mereka mau melakukan itu, saya yakin mereka semua tidak akan begitu kaku dalam memandang pertanian tembakau dan produk hasil industri tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Salah satu yang selalu mereka kampanyekan dan ngotot dengan itu, terkait hulu pertanian tembakau adalah mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya. Mereka berargumen banyak tanaman lain yang bisa semenguntungkan tanaman tembakau. Keengganan mereka terjun langsung ke lapangan inilah yang membikin mereka buta dengan kondisi pertanian tembakau dan pada akhirnya terus menerus mengampanyekan pergantian tanaman tembakau dengan tanaman lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Baca juga: Imanlah kepada Allah, Bukan Antirokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Tembakau tanaman yang khas. Ia hanya tumbuh baik sepanjang empat hingga lima bulan dalam satu tahun. Tumbuh-kembang tanaman tembakau dengan baik itu umumnya terjadi pada musim kemarau setiap tahunnya. Hanya sedikit sekali jenis tembakau yang tumbuh baik di musim penghujan, mayoritasnya, tumbuh baik pada musim kemarau.<\/p>\n \n\n \n

Jika ditanam pada musim hujan, hampir bisa dipastikan tanaman tembakau akan gagal menghasilkan daun-daun yang berkualitas. Ia akan rusak dan membusuk karena terlalu banyak terkena air sehingga daun-daun itu tak layak dijual. Jangankan bisa dijual, untuk tumbuh dengan baik pun sepertinya sulit karena musim hujan akan membunuh banyak tanaman itu.<\/p>\n \n\n \n

Maka, tak heran pada musim-musim seperti saat ini, ketika musim penghujan mendekati puncaknya, di wilayah-wilayah yang dikenal sebagai sentra pertanian tembakau, sulit menemukan pohon tembakau yang sedang tumbuh. Pada lahan-lahan yang sebelumnya ditumbuhi tanaman tembakau pada musim panas, berganti tanaman-tanaman lain yang bermacam-macam, sesuai dengan kondisi lahannya. Untuk lahan sawah, lahan-lahan itu pada musim penghujan kini ditumbuhi tanaman padi yang subur. Pada lahan tegalan dan lahan di pegunungan, lahan-lahan yang ditanami tembakau pada musim kemarau, saat ini ditumbuhi bermacam jenis tanaman mulai dari cabai, bawang, tomat, kol, terong, mentimun, dan ragam jenis tanaman semusim lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Uniknya, tipikal tanaman tembakau yang tumbuh baik di musim kemarau ini memberi pilihan lebih kepada para petani. Lahan-lahan yang sulit ditanami pada musim kemarau, pada akhirnya masih bisa tetap produktif dengan keberadaan tanaman tembakau. <\/p>\n \n\n \n

Maka, kampanye aneh mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain dengan ragam rupa dalih yang membingungkan, bukan saja sama sekali tidak tepat dan asal-asalan, namun bisa jadi akan ditertawakan oleh para petani yang begitu paham dengan kondisi lahan dan terutama kondisi iklim dan cuaca. Sulit mencari tanaman semusim yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Jika pun ada, tak ada yang semenguntungkan tanaman tembakau.
<\/p>\n ","post_title":"Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"keberhasilan-gerakan-anti-tembakau-tak-ada-tembakau-saat-musim-hujan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-07 12:16:02","post_modified_gmt":"2019-02-07 05:16:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5415","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5409,"post_author":"919","post_date":"2019-02-05 08:04:43","post_date_gmt":"2019-02-05 01:04:43","post_content":" \n

Tahun Baru Imlek yang merupakan tradisi Bangsa Tiongkok kini sudah tak lagi menjadi hal yang asing bagi masyarakat Indonesia. Kehadirannya sudah mewarnai dan berakulturasi dengan tradisi lokal. Menjelang Tahun Baru Imlek. Berbagai hiasan dan kemeriahan terjadi beberapa titik di Tanah Air. Perayaannya juga menjadi destinasi baru yang mengasyikkan untuk dilihat dan patut disaksikan.<\/p>\n \n\n \n

Berterimakasihlah kepada sang bapak bangsa, KH Abdurrahman Wahid atau yang dikenal dengan nama Gus Dur. Berkat kebijakannya saat menjadi Presiden Indonesia, Tahun Baru Imlek resmi dijadikan hari libur nasional dan dianggap sebagai salah satu hari raya di Tanah Air. Meski sentimen antitionghoa masih ada di sana-sini, tapi tetap tak bisa dipungkiri bahwa bangsa tionghoa sudah bersentuhan dengan budaya lokal dalam kurun waktu yang sangat panjang.<\/p>\n \n\n \n

DNA Bangsa Tionghoa yang memang merupakan pedagang menjadi pembuka kisah interaksi antara nenek moyang berbagai suku di Nusantara dengan mereka. Beberapa kelenteng-kelenteng yang tersebar pada berbagai pesisir daerah di Nusantara jadi buktinya. Pelabuhan-pelabuhan tua di tanah air dan ramainya perdagangan di pesisir mempermudah bangsa kita berhubungan dengan Bangsa Tionghoa.<\/p>\n \n\n \n

Baca Juga: Wong Kalang dan Kota Gede<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa kehadiran Bangsa Tionghoa di Nusantara tak hanya sebagai pedagang, namun juga sebagai pekerja (bahkan hingga pekerja kasar). Benny Setiono, seorang sejarahwan menyebutkan bahwa antara tahun 1760-1770 dalam jumlah yang besar memasuki nusantara melalui Kalimantan Barat. Mereka bekerja sebagai kuli pertambangan di sana dan di kemudian hari membentuk sebuah republik bernama Republik Lanfang yang konon katanya menjadi republik pertama di Asia Tenggara.<\/p>\n \n\n \n

Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n \n\n \n

Baca Juga: Imlek dan Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n

Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n \n\n \n

Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n \n\n \n

Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n \n\n \n

Baca Juga: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n \n\n \n

Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
<\/p>\n ","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_3o3","class":"epic_block_3"};

\n

Akibatnya, ratusan ribu pohon cengkeh di daerah-daerah penghasil utama --Maluku, Maluku Utara, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Selatan-- ditebangi atau dibiarkan terlantar tak terurus.
<\/p>\n \n\n\n

Gelombang reformasi sistem politik dan hukum nasional yang dimulai pada tahun 1998, akhirnya menjungkalkan rezim Soeharto dan BPPC dibubarkan, Pelan tapi pasti, harga cengkeh kembali merangkak naik, sehingga pada tahun 2012, bahkan melewati angka Rp 200.000 per kilogram. Para petani cengkeh di seluruh negeri kembali tersenyum. Tetapi, sampai kapan? <\/p>\n \n\n \n

Catatan:<\/strong><\/p>\n \n\n \n

[1] Beberapa sumber menyebutkan bahwa kata \u2018cengkeh\u2019 dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Mandarin, tkeng-his atau xi\u2019jia, yang berarti \u2018rempah [berbentuk mirip] paku\u2019 (scented nails). Ini menunjukkan bahwa cengkeh sudah dikenal sejak lama oleh bangsa Cina --diketahui sejak abad-2-- jauh sebelum orang Eropa mengenalnya ((lihat, misalnya: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n \n\n \n

[2] Catatan-catatan para biarawan Fransiskan --yang disalin dan dikutip oleh van Frassen-- bahkan menyebut cengkeh sebagai salah satu bahan utama pengawet mumi para Fir\u2019aun, penguasa Mesir Kuno. Beberapa pakar sejarah dan arkeologi menyatakan bahwa rempah-rempah Maluku bahkan sudah ditemukan artefaknya di Lembah Mesopotomia (wilayah Iraq dan sekitarnya sekarang) pada 3.000 tahun sebelum Masehi. (lihat, antara lain: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n \n\n \n

[3] Uraian lebih rinci sejarah kolonialisme rempah-rempah Nusantara ini, terutama oleh Belanda dan Portugis, dapat dibaca pada beberapa sumber kepustakaan yang sudah dikenal luas, antara lain: Glamann (1958) dan Boxer (1965 dan 1969). Dalam risalah klasik Pires disebutkan bahwa pada tahun 1512-1521 saja, jumlah produksi cengkeh di Maluku sudah mencapai 7.250 bahar per tahun, terbesar adalah di Makian serta Amboina dan Lease (masing-masing 1.500 bahar)(Pires, 1512-1515).<\/em>
<\/p>\n \n\n \n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem Topatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n ","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-10 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-02-10 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5425","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5415,"post_author":"878","post_date":"2019-02-07 12:15:55","post_date_gmt":"2019-02-07 05:15:55","post_content":" \n

Belakangan ini, ketika musim hujan tiba, di Kabupaten Temanggung, Kabupaten Jember, dan beberapa wilayah sentra pertanian tembakau lainnya, hampir mustahil menemukan tanaman tembakau tumbuh di lahan-lahan milik petani. Di wilayah-wilayah tersebut, citra sebagai sentra pertanian tembakau seakan menguap. Lahan-lahan yang ada di sana, sama sekali tidak ditumbuhi tanaman tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Kabar ini bisa jadi dianggap sebagai kabar gembira bagi mereka yang menganggap diri dan kelompoknya anti-rokok dan anti-tembakau yang selalu mengampanyekan sikap-sikap mereka terkait kebencian kepada tembakau dan aktivitas merokok. Setelah sekian lama berjuang, akhirnya perjuangan mereka dirasa berhasil usai menyaksikan fenomena lahan-lahan di wilayah yang dianggap sentra pertanian tembakau pada hari-hari belakangan ini.<\/p>\n \n\n \n

Baca juga: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Tak sia-sia turun ke jalan, tak sia-sia melakukan lobi-lobi ke penguasa, tak sia-sia mengucurkan uang yang tidak sedikit, dan tak sia-sia mempermalukan diri dengan mengemis ke lembaga donor asing dan menggondol uang dari cukai tembakau untuk mengampanyekan gerakan anti-rokok dan anti-tembakau. Tak sia-sia. Karena perjuangan sepertinya berhasil.<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

Kampanye-kampanye gerakan mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya, sepertinya juga sangat berhasil. Bagaimana tidak? Wilayah-wilayah yang sebelumnya penuh dengan tanaman tembakau dan bergeliat dengannya, kini lahan-lahannya sudah berganti dengan tanaman lain. Sebuah keberhasilan yang menggembirakan. Begitu mungkin pikir mereka para yang menganggap dirinya pejuang anti-rokok dan anti-tembakau. Dan tentu saja mereka akan kecele dan kita akan menertawakan hal itu.<\/p>\n \n\n \n

Sayangnya, mereka yang menganggap dirinya anti-rokok dan anti-tembakau tidak menyaksikan langsung fenomena ini di lapangan, di lahan-lahan yang peruntukannya berubah pada hari-hari belakangan ini ketika memasuki musim hujan. Mereka asyik duduk pada kursi empuk di ruang-ruang nyaman ber-AC di kota-kota yang jauh dari kultur pertanian. Mereka menyengajakan diri menjadi elit dan enggan untuk turun melihat langsung ke lapangan. Kalaupun ada yang turun langsung ke lapangan, hanya segelintir saja dari mereka, itupun sekadar formalitas saja. Tak pernah benar-benar mau turun ke lapangan, hidup dan merasakan langsung kultur pertanian tembakau dalam jangka waktu cukup lama di lapangan.<\/p>\n \n\n \n

Baca juga: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Fenomena ini membikin kita tak bisa melihat mereka para anti-rokok kecele lalu menertawakan mereka.<\/strong> Fenomena keengganan terjun langsung ke lapangan terlebih mencoba mendengar mereka yang tetap menanam tembakau, juga menjalani keseharian dalam waktu cukup lama bersama petani tembakau inilah yang saya kira menjadikan mereka tetap keras kepala untuk anti-rokok dan anti-tembakau. Karena jika mereka mau melakukan itu, saya yakin mereka semua tidak akan begitu kaku dalam memandang pertanian tembakau dan produk hasil industri tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Salah satu yang selalu mereka kampanyekan dan ngotot dengan itu, terkait hulu pertanian tembakau adalah mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya. Mereka berargumen banyak tanaman lain yang bisa semenguntungkan tanaman tembakau. Keengganan mereka terjun langsung ke lapangan inilah yang membikin mereka buta dengan kondisi pertanian tembakau dan pada akhirnya terus menerus mengampanyekan pergantian tanaman tembakau dengan tanaman lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Baca juga: Imanlah kepada Allah, Bukan Antirokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Tembakau tanaman yang khas. Ia hanya tumbuh baik sepanjang empat hingga lima bulan dalam satu tahun. Tumbuh-kembang tanaman tembakau dengan baik itu umumnya terjadi pada musim kemarau setiap tahunnya. Hanya sedikit sekali jenis tembakau yang tumbuh baik di musim penghujan, mayoritasnya, tumbuh baik pada musim kemarau.<\/p>\n \n\n \n

Jika ditanam pada musim hujan, hampir bisa dipastikan tanaman tembakau akan gagal menghasilkan daun-daun yang berkualitas. Ia akan rusak dan membusuk karena terlalu banyak terkena air sehingga daun-daun itu tak layak dijual. Jangankan bisa dijual, untuk tumbuh dengan baik pun sepertinya sulit karena musim hujan akan membunuh banyak tanaman itu.<\/p>\n \n\n \n

Maka, tak heran pada musim-musim seperti saat ini, ketika musim penghujan mendekati puncaknya, di wilayah-wilayah yang dikenal sebagai sentra pertanian tembakau, sulit menemukan pohon tembakau yang sedang tumbuh. Pada lahan-lahan yang sebelumnya ditumbuhi tanaman tembakau pada musim panas, berganti tanaman-tanaman lain yang bermacam-macam, sesuai dengan kondisi lahannya. Untuk lahan sawah, lahan-lahan itu pada musim penghujan kini ditumbuhi tanaman padi yang subur. Pada lahan tegalan dan lahan di pegunungan, lahan-lahan yang ditanami tembakau pada musim kemarau, saat ini ditumbuhi bermacam jenis tanaman mulai dari cabai, bawang, tomat, kol, terong, mentimun, dan ragam jenis tanaman semusim lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Uniknya, tipikal tanaman tembakau yang tumbuh baik di musim kemarau ini memberi pilihan lebih kepada para petani. Lahan-lahan yang sulit ditanami pada musim kemarau, pada akhirnya masih bisa tetap produktif dengan keberadaan tanaman tembakau. <\/p>\n \n\n \n

Maka, kampanye aneh mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain dengan ragam rupa dalih yang membingungkan, bukan saja sama sekali tidak tepat dan asal-asalan, namun bisa jadi akan ditertawakan oleh para petani yang begitu paham dengan kondisi lahan dan terutama kondisi iklim dan cuaca. Sulit mencari tanaman semusim yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Jika pun ada, tak ada yang semenguntungkan tanaman tembakau.
<\/p>\n ","post_title":"Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"keberhasilan-gerakan-anti-tembakau-tak-ada-tembakau-saat-musim-hujan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-07 12:16:02","post_modified_gmt":"2019-02-07 05:16:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5415","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5409,"post_author":"919","post_date":"2019-02-05 08:04:43","post_date_gmt":"2019-02-05 01:04:43","post_content":" \n

Tahun Baru Imlek yang merupakan tradisi Bangsa Tiongkok kini sudah tak lagi menjadi hal yang asing bagi masyarakat Indonesia. Kehadirannya sudah mewarnai dan berakulturasi dengan tradisi lokal. Menjelang Tahun Baru Imlek. Berbagai hiasan dan kemeriahan terjadi beberapa titik di Tanah Air. Perayaannya juga menjadi destinasi baru yang mengasyikkan untuk dilihat dan patut disaksikan.<\/p>\n \n\n \n

Berterimakasihlah kepada sang bapak bangsa, KH Abdurrahman Wahid atau yang dikenal dengan nama Gus Dur. Berkat kebijakannya saat menjadi Presiden Indonesia, Tahun Baru Imlek resmi dijadikan hari libur nasional dan dianggap sebagai salah satu hari raya di Tanah Air. Meski sentimen antitionghoa masih ada di sana-sini, tapi tetap tak bisa dipungkiri bahwa bangsa tionghoa sudah bersentuhan dengan budaya lokal dalam kurun waktu yang sangat panjang.<\/p>\n \n\n \n

DNA Bangsa Tionghoa yang memang merupakan pedagang menjadi pembuka kisah interaksi antara nenek moyang berbagai suku di Nusantara dengan mereka. Beberapa kelenteng-kelenteng yang tersebar pada berbagai pesisir daerah di Nusantara jadi buktinya. Pelabuhan-pelabuhan tua di tanah air dan ramainya perdagangan di pesisir mempermudah bangsa kita berhubungan dengan Bangsa Tionghoa.<\/p>\n \n\n \n

Baca Juga: Wong Kalang dan Kota Gede<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa kehadiran Bangsa Tionghoa di Nusantara tak hanya sebagai pedagang, namun juga sebagai pekerja (bahkan hingga pekerja kasar). Benny Setiono, seorang sejarahwan menyebutkan bahwa antara tahun 1760-1770 dalam jumlah yang besar memasuki nusantara melalui Kalimantan Barat. Mereka bekerja sebagai kuli pertambangan di sana dan di kemudian hari membentuk sebuah republik bernama Republik Lanfang yang konon katanya menjadi republik pertama di Asia Tenggara.<\/p>\n \n\n \n

Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n \n\n \n

Baca Juga: Imlek dan Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n

Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n \n\n \n

Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n \n\n \n

Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n \n\n \n

Baca Juga: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n \n\n \n

Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
<\/p>\n ","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_3o3","class":"epic_block_3"};

\n

Nilai ekonomisnya yang sangat besar sempat menggoda penguasa otoriter rezim Presiden Soeharto, pada 1990-an, memberlakukan satu kebijakan \u2018Hongi Gaya Baru\u2019: monopoli perdagangan cengkeh dalam negeri melalui Badan Penyanggah dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) yang sangat merugikan petani. Harga cengkeh di tingkat petani penghasil anjlok sampai hanya Rp 2.000 - 3.000 per kilogram, lebih murah dari harga sebungkus kretek yang dihasilkan darinya.
<\/p>\n \n\n\n

Akibatnya, ratusan ribu pohon cengkeh di daerah-daerah penghasil utama --Maluku, Maluku Utara, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Selatan-- ditebangi atau dibiarkan terlantar tak terurus.
<\/p>\n \n\n \n

Gelombang reformasi sistem politik dan hukum nasional yang dimulai pada tahun 1998, akhirnya menjungkalkan rezim Soeharto dan BPPC dibubarkan, Pelan tapi pasti, harga cengkeh kembali merangkak naik, sehingga pada tahun 2012, bahkan melewati angka Rp 200.000 per kilogram. Para petani cengkeh di seluruh negeri kembali tersenyum. Tetapi, sampai kapan? <\/p>\n \n\n \n

Catatan:<\/strong><\/p>\n \n\n \n

[1] Beberapa sumber menyebutkan bahwa kata \u2018cengkeh\u2019 dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Mandarin, tkeng-his atau xi\u2019jia, yang berarti \u2018rempah [berbentuk mirip] paku\u2019 (scented nails). Ini menunjukkan bahwa cengkeh sudah dikenal sejak lama oleh bangsa Cina --diketahui sejak abad-2-- jauh sebelum orang Eropa mengenalnya ((lihat, misalnya: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n \n\n \n

[2] Catatan-catatan para biarawan Fransiskan --yang disalin dan dikutip oleh van Frassen-- bahkan menyebut cengkeh sebagai salah satu bahan utama pengawet mumi para Fir\u2019aun, penguasa Mesir Kuno. Beberapa pakar sejarah dan arkeologi menyatakan bahwa rempah-rempah Maluku bahkan sudah ditemukan artefaknya di Lembah Mesopotomia (wilayah Iraq dan sekitarnya sekarang) pada 3.000 tahun sebelum Masehi. (lihat, antara lain: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n \n\n \n

[3] Uraian lebih rinci sejarah kolonialisme rempah-rempah Nusantara ini, terutama oleh Belanda dan Portugis, dapat dibaca pada beberapa sumber kepustakaan yang sudah dikenal luas, antara lain: Glamann (1958) dan Boxer (1965 dan 1969). Dalam risalah klasik Pires disebutkan bahwa pada tahun 1512-1521 saja, jumlah produksi cengkeh di Maluku sudah mencapai 7.250 bahar per tahun, terbesar adalah di Makian serta Amboina dan Lease (masing-masing 1.500 bahar)(Pires, 1512-1515).<\/em>
<\/p>\n \n\n \n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem Topatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n ","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-10 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-02-10 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5425","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5415,"post_author":"878","post_date":"2019-02-07 12:15:55","post_date_gmt":"2019-02-07 05:15:55","post_content":" \n

Belakangan ini, ketika musim hujan tiba, di Kabupaten Temanggung, Kabupaten Jember, dan beberapa wilayah sentra pertanian tembakau lainnya, hampir mustahil menemukan tanaman tembakau tumbuh di lahan-lahan milik petani. Di wilayah-wilayah tersebut, citra sebagai sentra pertanian tembakau seakan menguap. Lahan-lahan yang ada di sana, sama sekali tidak ditumbuhi tanaman tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Kabar ini bisa jadi dianggap sebagai kabar gembira bagi mereka yang menganggap diri dan kelompoknya anti-rokok dan anti-tembakau yang selalu mengampanyekan sikap-sikap mereka terkait kebencian kepada tembakau dan aktivitas merokok. Setelah sekian lama berjuang, akhirnya perjuangan mereka dirasa berhasil usai menyaksikan fenomena lahan-lahan di wilayah yang dianggap sentra pertanian tembakau pada hari-hari belakangan ini.<\/p>\n \n\n \n

Baca juga: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Tak sia-sia turun ke jalan, tak sia-sia melakukan lobi-lobi ke penguasa, tak sia-sia mengucurkan uang yang tidak sedikit, dan tak sia-sia mempermalukan diri dengan mengemis ke lembaga donor asing dan menggondol uang dari cukai tembakau untuk mengampanyekan gerakan anti-rokok dan anti-tembakau. Tak sia-sia. Karena perjuangan sepertinya berhasil.<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

Kampanye-kampanye gerakan mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya, sepertinya juga sangat berhasil. Bagaimana tidak? Wilayah-wilayah yang sebelumnya penuh dengan tanaman tembakau dan bergeliat dengannya, kini lahan-lahannya sudah berganti dengan tanaman lain. Sebuah keberhasilan yang menggembirakan. Begitu mungkin pikir mereka para yang menganggap dirinya pejuang anti-rokok dan anti-tembakau. Dan tentu saja mereka akan kecele dan kita akan menertawakan hal itu.<\/p>\n \n\n \n

Sayangnya, mereka yang menganggap dirinya anti-rokok dan anti-tembakau tidak menyaksikan langsung fenomena ini di lapangan, di lahan-lahan yang peruntukannya berubah pada hari-hari belakangan ini ketika memasuki musim hujan. Mereka asyik duduk pada kursi empuk di ruang-ruang nyaman ber-AC di kota-kota yang jauh dari kultur pertanian. Mereka menyengajakan diri menjadi elit dan enggan untuk turun melihat langsung ke lapangan. Kalaupun ada yang turun langsung ke lapangan, hanya segelintir saja dari mereka, itupun sekadar formalitas saja. Tak pernah benar-benar mau turun ke lapangan, hidup dan merasakan langsung kultur pertanian tembakau dalam jangka waktu cukup lama di lapangan.<\/p>\n \n\n \n

Baca juga: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Fenomena ini membikin kita tak bisa melihat mereka para anti-rokok kecele lalu menertawakan mereka.<\/strong> Fenomena keengganan terjun langsung ke lapangan terlebih mencoba mendengar mereka yang tetap menanam tembakau, juga menjalani keseharian dalam waktu cukup lama bersama petani tembakau inilah yang saya kira menjadikan mereka tetap keras kepala untuk anti-rokok dan anti-tembakau. Karena jika mereka mau melakukan itu, saya yakin mereka semua tidak akan begitu kaku dalam memandang pertanian tembakau dan produk hasil industri tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Salah satu yang selalu mereka kampanyekan dan ngotot dengan itu, terkait hulu pertanian tembakau adalah mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya. Mereka berargumen banyak tanaman lain yang bisa semenguntungkan tanaman tembakau. Keengganan mereka terjun langsung ke lapangan inilah yang membikin mereka buta dengan kondisi pertanian tembakau dan pada akhirnya terus menerus mengampanyekan pergantian tanaman tembakau dengan tanaman lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Baca juga: Imanlah kepada Allah, Bukan Antirokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Tembakau tanaman yang khas. Ia hanya tumbuh baik sepanjang empat hingga lima bulan dalam satu tahun. Tumbuh-kembang tanaman tembakau dengan baik itu umumnya terjadi pada musim kemarau setiap tahunnya. Hanya sedikit sekali jenis tembakau yang tumbuh baik di musim penghujan, mayoritasnya, tumbuh baik pada musim kemarau.<\/p>\n \n\n \n

Jika ditanam pada musim hujan, hampir bisa dipastikan tanaman tembakau akan gagal menghasilkan daun-daun yang berkualitas. Ia akan rusak dan membusuk karena terlalu banyak terkena air sehingga daun-daun itu tak layak dijual. Jangankan bisa dijual, untuk tumbuh dengan baik pun sepertinya sulit karena musim hujan akan membunuh banyak tanaman itu.<\/p>\n \n\n \n

Maka, tak heran pada musim-musim seperti saat ini, ketika musim penghujan mendekati puncaknya, di wilayah-wilayah yang dikenal sebagai sentra pertanian tembakau, sulit menemukan pohon tembakau yang sedang tumbuh. Pada lahan-lahan yang sebelumnya ditumbuhi tanaman tembakau pada musim panas, berganti tanaman-tanaman lain yang bermacam-macam, sesuai dengan kondisi lahannya. Untuk lahan sawah, lahan-lahan itu pada musim penghujan kini ditumbuhi tanaman padi yang subur. Pada lahan tegalan dan lahan di pegunungan, lahan-lahan yang ditanami tembakau pada musim kemarau, saat ini ditumbuhi bermacam jenis tanaman mulai dari cabai, bawang, tomat, kol, terong, mentimun, dan ragam jenis tanaman semusim lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Uniknya, tipikal tanaman tembakau yang tumbuh baik di musim kemarau ini memberi pilihan lebih kepada para petani. Lahan-lahan yang sulit ditanami pada musim kemarau, pada akhirnya masih bisa tetap produktif dengan keberadaan tanaman tembakau. <\/p>\n \n\n \n

Maka, kampanye aneh mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain dengan ragam rupa dalih yang membingungkan, bukan saja sama sekali tidak tepat dan asal-asalan, namun bisa jadi akan ditertawakan oleh para petani yang begitu paham dengan kondisi lahan dan terutama kondisi iklim dan cuaca. Sulit mencari tanaman semusim yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Jika pun ada, tak ada yang semenguntungkan tanaman tembakau.
<\/p>\n ","post_title":"Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"keberhasilan-gerakan-anti-tembakau-tak-ada-tembakau-saat-musim-hujan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-07 12:16:02","post_modified_gmt":"2019-02-07 05:16:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5415","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5409,"post_author":"919","post_date":"2019-02-05 08:04:43","post_date_gmt":"2019-02-05 01:04:43","post_content":" \n

Tahun Baru Imlek yang merupakan tradisi Bangsa Tiongkok kini sudah tak lagi menjadi hal yang asing bagi masyarakat Indonesia. Kehadirannya sudah mewarnai dan berakulturasi dengan tradisi lokal. Menjelang Tahun Baru Imlek. Berbagai hiasan dan kemeriahan terjadi beberapa titik di Tanah Air. Perayaannya juga menjadi destinasi baru yang mengasyikkan untuk dilihat dan patut disaksikan.<\/p>\n \n\n \n

Berterimakasihlah kepada sang bapak bangsa, KH Abdurrahman Wahid atau yang dikenal dengan nama Gus Dur. Berkat kebijakannya saat menjadi Presiden Indonesia, Tahun Baru Imlek resmi dijadikan hari libur nasional dan dianggap sebagai salah satu hari raya di Tanah Air. Meski sentimen antitionghoa masih ada di sana-sini, tapi tetap tak bisa dipungkiri bahwa bangsa tionghoa sudah bersentuhan dengan budaya lokal dalam kurun waktu yang sangat panjang.<\/p>\n \n\n \n

DNA Bangsa Tionghoa yang memang merupakan pedagang menjadi pembuka kisah interaksi antara nenek moyang berbagai suku di Nusantara dengan mereka. Beberapa kelenteng-kelenteng yang tersebar pada berbagai pesisir daerah di Nusantara jadi buktinya. Pelabuhan-pelabuhan tua di tanah air dan ramainya perdagangan di pesisir mempermudah bangsa kita berhubungan dengan Bangsa Tionghoa.<\/p>\n \n\n \n

Baca Juga: Wong Kalang dan Kota Gede<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa kehadiran Bangsa Tionghoa di Nusantara tak hanya sebagai pedagang, namun juga sebagai pekerja (bahkan hingga pekerja kasar). Benny Setiono, seorang sejarahwan menyebutkan bahwa antara tahun 1760-1770 dalam jumlah yang besar memasuki nusantara melalui Kalimantan Barat. Mereka bekerja sebagai kuli pertambangan di sana dan di kemudian hari membentuk sebuah republik bernama Republik Lanfang yang konon katanya menjadi republik pertama di Asia Tenggara.<\/p>\n \n\n \n

Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n \n\n \n

Baca Juga: Imlek dan Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n

Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n \n\n \n

Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n \n\n \n

Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n \n\n \n

Baca Juga: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n \n\n \n

Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
<\/p>\n ","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_3o3","class":"epic_block_3"};

\n

Cengkeh, bahan baku paling esensial dari kretek --selain tembakau, tentu saja-- pun kembali berjaya. Bahkan, sejak dasawarsa 1970an, telah menjadi salah satu penyumbang terbesar keuangan negara Republik Indonesia. Pada tahun 2012 dan 2013, pemasukan cukai dari industri kretek mencatat 95,5% dari seluruh pemasukan cukai ke kas negara. Nilainya tak tanggung-tanggung: Rp 87 triliun! (el-Guyanie, et.al.: 2013:4-5).<\/strong>
<\/p>\n \n\n\n

Nilai ekonomisnya yang sangat besar sempat menggoda penguasa otoriter rezim Presiden Soeharto, pada 1990-an, memberlakukan satu kebijakan \u2018Hongi Gaya Baru\u2019: monopoli perdagangan cengkeh dalam negeri melalui Badan Penyanggah dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) yang sangat merugikan petani. Harga cengkeh di tingkat petani penghasil anjlok sampai hanya Rp 2.000 - 3.000 per kilogram, lebih murah dari harga sebungkus kretek yang dihasilkan darinya.
<\/p>\n \n\n \n

Akibatnya, ratusan ribu pohon cengkeh di daerah-daerah penghasil utama --Maluku, Maluku Utara, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Selatan-- ditebangi atau dibiarkan terlantar tak terurus.
<\/p>\n \n\n \n

Gelombang reformasi sistem politik dan hukum nasional yang dimulai pada tahun 1998, akhirnya menjungkalkan rezim Soeharto dan BPPC dibubarkan, Pelan tapi pasti, harga cengkeh kembali merangkak naik, sehingga pada tahun 2012, bahkan melewati angka Rp 200.000 per kilogram. Para petani cengkeh di seluruh negeri kembali tersenyum. Tetapi, sampai kapan? <\/p>\n \n\n \n

Catatan:<\/strong><\/p>\n \n\n \n

[1] Beberapa sumber menyebutkan bahwa kata \u2018cengkeh\u2019 dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Mandarin, tkeng-his atau xi\u2019jia, yang berarti \u2018rempah [berbentuk mirip] paku\u2019 (scented nails). Ini menunjukkan bahwa cengkeh sudah dikenal sejak lama oleh bangsa Cina --diketahui sejak abad-2-- jauh sebelum orang Eropa mengenalnya ((lihat, misalnya: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n \n\n \n

[2] Catatan-catatan para biarawan Fransiskan --yang disalin dan dikutip oleh van Frassen-- bahkan menyebut cengkeh sebagai salah satu bahan utama pengawet mumi para Fir\u2019aun, penguasa Mesir Kuno. Beberapa pakar sejarah dan arkeologi menyatakan bahwa rempah-rempah Maluku bahkan sudah ditemukan artefaknya di Lembah Mesopotomia (wilayah Iraq dan sekitarnya sekarang) pada 3.000 tahun sebelum Masehi. (lihat, antara lain: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n \n\n \n

[3] Uraian lebih rinci sejarah kolonialisme rempah-rempah Nusantara ini, terutama oleh Belanda dan Portugis, dapat dibaca pada beberapa sumber kepustakaan yang sudah dikenal luas, antara lain: Glamann (1958) dan Boxer (1965 dan 1969). Dalam risalah klasik Pires disebutkan bahwa pada tahun 1512-1521 saja, jumlah produksi cengkeh di Maluku sudah mencapai 7.250 bahar per tahun, terbesar adalah di Makian serta Amboina dan Lease (masing-masing 1.500 bahar)(Pires, 1512-1515).<\/em>
<\/p>\n \n\n \n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem Topatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n ","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-10 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-02-10 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5425","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5415,"post_author":"878","post_date":"2019-02-07 12:15:55","post_date_gmt":"2019-02-07 05:15:55","post_content":" \n

Belakangan ini, ketika musim hujan tiba, di Kabupaten Temanggung, Kabupaten Jember, dan beberapa wilayah sentra pertanian tembakau lainnya, hampir mustahil menemukan tanaman tembakau tumbuh di lahan-lahan milik petani. Di wilayah-wilayah tersebut, citra sebagai sentra pertanian tembakau seakan menguap. Lahan-lahan yang ada di sana, sama sekali tidak ditumbuhi tanaman tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Kabar ini bisa jadi dianggap sebagai kabar gembira bagi mereka yang menganggap diri dan kelompoknya anti-rokok dan anti-tembakau yang selalu mengampanyekan sikap-sikap mereka terkait kebencian kepada tembakau dan aktivitas merokok. Setelah sekian lama berjuang, akhirnya perjuangan mereka dirasa berhasil usai menyaksikan fenomena lahan-lahan di wilayah yang dianggap sentra pertanian tembakau pada hari-hari belakangan ini.<\/p>\n \n\n \n

Baca juga: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Tak sia-sia turun ke jalan, tak sia-sia melakukan lobi-lobi ke penguasa, tak sia-sia mengucurkan uang yang tidak sedikit, dan tak sia-sia mempermalukan diri dengan mengemis ke lembaga donor asing dan menggondol uang dari cukai tembakau untuk mengampanyekan gerakan anti-rokok dan anti-tembakau. Tak sia-sia. Karena perjuangan sepertinya berhasil.<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

Kampanye-kampanye gerakan mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya, sepertinya juga sangat berhasil. Bagaimana tidak? Wilayah-wilayah yang sebelumnya penuh dengan tanaman tembakau dan bergeliat dengannya, kini lahan-lahannya sudah berganti dengan tanaman lain. Sebuah keberhasilan yang menggembirakan. Begitu mungkin pikir mereka para yang menganggap dirinya pejuang anti-rokok dan anti-tembakau. Dan tentu saja mereka akan kecele dan kita akan menertawakan hal itu.<\/p>\n \n\n \n

Sayangnya, mereka yang menganggap dirinya anti-rokok dan anti-tembakau tidak menyaksikan langsung fenomena ini di lapangan, di lahan-lahan yang peruntukannya berubah pada hari-hari belakangan ini ketika memasuki musim hujan. Mereka asyik duduk pada kursi empuk di ruang-ruang nyaman ber-AC di kota-kota yang jauh dari kultur pertanian. Mereka menyengajakan diri menjadi elit dan enggan untuk turun melihat langsung ke lapangan. Kalaupun ada yang turun langsung ke lapangan, hanya segelintir saja dari mereka, itupun sekadar formalitas saja. Tak pernah benar-benar mau turun ke lapangan, hidup dan merasakan langsung kultur pertanian tembakau dalam jangka waktu cukup lama di lapangan.<\/p>\n \n\n \n

Baca juga: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Fenomena ini membikin kita tak bisa melihat mereka para anti-rokok kecele lalu menertawakan mereka.<\/strong> Fenomena keengganan terjun langsung ke lapangan terlebih mencoba mendengar mereka yang tetap menanam tembakau, juga menjalani keseharian dalam waktu cukup lama bersama petani tembakau inilah yang saya kira menjadikan mereka tetap keras kepala untuk anti-rokok dan anti-tembakau. Karena jika mereka mau melakukan itu, saya yakin mereka semua tidak akan begitu kaku dalam memandang pertanian tembakau dan produk hasil industri tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Salah satu yang selalu mereka kampanyekan dan ngotot dengan itu, terkait hulu pertanian tembakau adalah mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya. Mereka berargumen banyak tanaman lain yang bisa semenguntungkan tanaman tembakau. Keengganan mereka terjun langsung ke lapangan inilah yang membikin mereka buta dengan kondisi pertanian tembakau dan pada akhirnya terus menerus mengampanyekan pergantian tanaman tembakau dengan tanaman lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Baca juga: Imanlah kepada Allah, Bukan Antirokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Tembakau tanaman yang khas. Ia hanya tumbuh baik sepanjang empat hingga lima bulan dalam satu tahun. Tumbuh-kembang tanaman tembakau dengan baik itu umumnya terjadi pada musim kemarau setiap tahunnya. Hanya sedikit sekali jenis tembakau yang tumbuh baik di musim penghujan, mayoritasnya, tumbuh baik pada musim kemarau.<\/p>\n \n\n \n

Jika ditanam pada musim hujan, hampir bisa dipastikan tanaman tembakau akan gagal menghasilkan daun-daun yang berkualitas. Ia akan rusak dan membusuk karena terlalu banyak terkena air sehingga daun-daun itu tak layak dijual. Jangankan bisa dijual, untuk tumbuh dengan baik pun sepertinya sulit karena musim hujan akan membunuh banyak tanaman itu.<\/p>\n \n\n \n

Maka, tak heran pada musim-musim seperti saat ini, ketika musim penghujan mendekati puncaknya, di wilayah-wilayah yang dikenal sebagai sentra pertanian tembakau, sulit menemukan pohon tembakau yang sedang tumbuh. Pada lahan-lahan yang sebelumnya ditumbuhi tanaman tembakau pada musim panas, berganti tanaman-tanaman lain yang bermacam-macam, sesuai dengan kondisi lahannya. Untuk lahan sawah, lahan-lahan itu pada musim penghujan kini ditumbuhi tanaman padi yang subur. Pada lahan tegalan dan lahan di pegunungan, lahan-lahan yang ditanami tembakau pada musim kemarau, saat ini ditumbuhi bermacam jenis tanaman mulai dari cabai, bawang, tomat, kol, terong, mentimun, dan ragam jenis tanaman semusim lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Uniknya, tipikal tanaman tembakau yang tumbuh baik di musim kemarau ini memberi pilihan lebih kepada para petani. Lahan-lahan yang sulit ditanami pada musim kemarau, pada akhirnya masih bisa tetap produktif dengan keberadaan tanaman tembakau. <\/p>\n \n\n \n

Maka, kampanye aneh mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain dengan ragam rupa dalih yang membingungkan, bukan saja sama sekali tidak tepat dan asal-asalan, namun bisa jadi akan ditertawakan oleh para petani yang begitu paham dengan kondisi lahan dan terutama kondisi iklim dan cuaca. Sulit mencari tanaman semusim yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Jika pun ada, tak ada yang semenguntungkan tanaman tembakau.
<\/p>\n ","post_title":"Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"keberhasilan-gerakan-anti-tembakau-tak-ada-tembakau-saat-musim-hujan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-07 12:16:02","post_modified_gmt":"2019-02-07 05:16:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5415","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5409,"post_author":"919","post_date":"2019-02-05 08:04:43","post_date_gmt":"2019-02-05 01:04:43","post_content":" \n

Tahun Baru Imlek yang merupakan tradisi Bangsa Tiongkok kini sudah tak lagi menjadi hal yang asing bagi masyarakat Indonesia. Kehadirannya sudah mewarnai dan berakulturasi dengan tradisi lokal. Menjelang Tahun Baru Imlek. Berbagai hiasan dan kemeriahan terjadi beberapa titik di Tanah Air. Perayaannya juga menjadi destinasi baru yang mengasyikkan untuk dilihat dan patut disaksikan.<\/p>\n \n\n \n

Berterimakasihlah kepada sang bapak bangsa, KH Abdurrahman Wahid atau yang dikenal dengan nama Gus Dur. Berkat kebijakannya saat menjadi Presiden Indonesia, Tahun Baru Imlek resmi dijadikan hari libur nasional dan dianggap sebagai salah satu hari raya di Tanah Air. Meski sentimen antitionghoa masih ada di sana-sini, tapi tetap tak bisa dipungkiri bahwa bangsa tionghoa sudah bersentuhan dengan budaya lokal dalam kurun waktu yang sangat panjang.<\/p>\n \n\n \n

DNA Bangsa Tionghoa yang memang merupakan pedagang menjadi pembuka kisah interaksi antara nenek moyang berbagai suku di Nusantara dengan mereka. Beberapa kelenteng-kelenteng yang tersebar pada berbagai pesisir daerah di Nusantara jadi buktinya. Pelabuhan-pelabuhan tua di tanah air dan ramainya perdagangan di pesisir mempermudah bangsa kita berhubungan dengan Bangsa Tionghoa.<\/p>\n \n\n \n

Baca Juga: Wong Kalang dan Kota Gede<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa kehadiran Bangsa Tionghoa di Nusantara tak hanya sebagai pedagang, namun juga sebagai pekerja (bahkan hingga pekerja kasar). Benny Setiono, seorang sejarahwan menyebutkan bahwa antara tahun 1760-1770 dalam jumlah yang besar memasuki nusantara melalui Kalimantan Barat. Mereka bekerja sebagai kuli pertambangan di sana dan di kemudian hari membentuk sebuah republik bernama Republik Lanfang yang konon katanya menjadi republik pertama di Asia Tenggara.<\/p>\n \n\n \n

Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n \n\n \n

Baca Juga: Imlek dan Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n

Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n \n\n \n

Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n \n\n \n

Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n \n\n \n

Baca Juga: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n \n\n \n

Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
<\/p>\n ","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_3o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Teruslah Menanam Tembakau dan Cengkeh, Wahai Petani Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n\n

Cengkeh, bahan baku paling esensial dari kretek --selain tembakau, tentu saja-- pun kembali berjaya. Bahkan, sejak dasawarsa 1970an, telah menjadi salah satu penyumbang terbesar keuangan negara Republik Indonesia. Pada tahun 2012 dan 2013, pemasukan cukai dari industri kretek mencatat 95,5% dari seluruh pemasukan cukai ke kas negara. Nilainya tak tanggung-tanggung: Rp 87 triliun! (el-Guyanie, et.al.: 2013:4-5).<\/strong>
<\/p>\n \n\n \n

Nilai ekonomisnya yang sangat besar sempat menggoda penguasa otoriter rezim Presiden Soeharto, pada 1990-an, memberlakukan satu kebijakan \u2018Hongi Gaya Baru\u2019: monopoli perdagangan cengkeh dalam negeri melalui Badan Penyanggah dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) yang sangat merugikan petani. Harga cengkeh di tingkat petani penghasil anjlok sampai hanya Rp 2.000 - 3.000 per kilogram, lebih murah dari harga sebungkus kretek yang dihasilkan darinya.
<\/p>\n \n\n \n

Akibatnya, ratusan ribu pohon cengkeh di daerah-daerah penghasil utama --Maluku, Maluku Utara, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Selatan-- ditebangi atau dibiarkan terlantar tak terurus.
<\/p>\n \n\n \n

Gelombang reformasi sistem politik dan hukum nasional yang dimulai pada tahun 1998, akhirnya menjungkalkan rezim Soeharto dan BPPC dibubarkan, Pelan tapi pasti, harga cengkeh kembali merangkak naik, sehingga pada tahun 2012, bahkan melewati angka Rp 200.000 per kilogram. Para petani cengkeh di seluruh negeri kembali tersenyum. Tetapi, sampai kapan? <\/p>\n \n\n \n

Catatan:<\/strong><\/p>\n \n\n \n

[1] Beberapa sumber menyebutkan bahwa kata \u2018cengkeh\u2019 dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Mandarin, tkeng-his atau xi\u2019jia, yang berarti \u2018rempah [berbentuk mirip] paku\u2019 (scented nails). Ini menunjukkan bahwa cengkeh sudah dikenal sejak lama oleh bangsa Cina --diketahui sejak abad-2-- jauh sebelum orang Eropa mengenalnya ((lihat, misalnya: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n \n\n \n

[2] Catatan-catatan para biarawan Fransiskan --yang disalin dan dikutip oleh van Frassen-- bahkan menyebut cengkeh sebagai salah satu bahan utama pengawet mumi para Fir\u2019aun, penguasa Mesir Kuno. Beberapa pakar sejarah dan arkeologi menyatakan bahwa rempah-rempah Maluku bahkan sudah ditemukan artefaknya di Lembah Mesopotomia (wilayah Iraq dan sekitarnya sekarang) pada 3.000 tahun sebelum Masehi. (lihat, antara lain: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n \n\n \n

[3] Uraian lebih rinci sejarah kolonialisme rempah-rempah Nusantara ini, terutama oleh Belanda dan Portugis, dapat dibaca pada beberapa sumber kepustakaan yang sudah dikenal luas, antara lain: Glamann (1958) dan Boxer (1965 dan 1969). Dalam risalah klasik Pires disebutkan bahwa pada tahun 1512-1521 saja, jumlah produksi cengkeh di Maluku sudah mencapai 7.250 bahar per tahun, terbesar adalah di Makian serta Amboina dan Lease (masing-masing 1.500 bahar)(Pires, 1512-1515).<\/em>
<\/p>\n \n\n \n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem Topatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n ","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-10 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-02-10 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5425","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5415,"post_author":"878","post_date":"2019-02-07 12:15:55","post_date_gmt":"2019-02-07 05:15:55","post_content":" \n

Belakangan ini, ketika musim hujan tiba, di Kabupaten Temanggung, Kabupaten Jember, dan beberapa wilayah sentra pertanian tembakau lainnya, hampir mustahil menemukan tanaman tembakau tumbuh di lahan-lahan milik petani. Di wilayah-wilayah tersebut, citra sebagai sentra pertanian tembakau seakan menguap. Lahan-lahan yang ada di sana, sama sekali tidak ditumbuhi tanaman tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Kabar ini bisa jadi dianggap sebagai kabar gembira bagi mereka yang menganggap diri dan kelompoknya anti-rokok dan anti-tembakau yang selalu mengampanyekan sikap-sikap mereka terkait kebencian kepada tembakau dan aktivitas merokok. Setelah sekian lama berjuang, akhirnya perjuangan mereka dirasa berhasil usai menyaksikan fenomena lahan-lahan di wilayah yang dianggap sentra pertanian tembakau pada hari-hari belakangan ini.<\/p>\n \n\n \n

Baca juga: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Tak sia-sia turun ke jalan, tak sia-sia melakukan lobi-lobi ke penguasa, tak sia-sia mengucurkan uang yang tidak sedikit, dan tak sia-sia mempermalukan diri dengan mengemis ke lembaga donor asing dan menggondol uang dari cukai tembakau untuk mengampanyekan gerakan anti-rokok dan anti-tembakau. Tak sia-sia. Karena perjuangan sepertinya berhasil.<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

Kampanye-kampanye gerakan mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya, sepertinya juga sangat berhasil. Bagaimana tidak? Wilayah-wilayah yang sebelumnya penuh dengan tanaman tembakau dan bergeliat dengannya, kini lahan-lahannya sudah berganti dengan tanaman lain. Sebuah keberhasilan yang menggembirakan. Begitu mungkin pikir mereka para yang menganggap dirinya pejuang anti-rokok dan anti-tembakau. Dan tentu saja mereka akan kecele dan kita akan menertawakan hal itu.<\/p>\n \n\n \n

Sayangnya, mereka yang menganggap dirinya anti-rokok dan anti-tembakau tidak menyaksikan langsung fenomena ini di lapangan, di lahan-lahan yang peruntukannya berubah pada hari-hari belakangan ini ketika memasuki musim hujan. Mereka asyik duduk pada kursi empuk di ruang-ruang nyaman ber-AC di kota-kota yang jauh dari kultur pertanian. Mereka menyengajakan diri menjadi elit dan enggan untuk turun melihat langsung ke lapangan. Kalaupun ada yang turun langsung ke lapangan, hanya segelintir saja dari mereka, itupun sekadar formalitas saja. Tak pernah benar-benar mau turun ke lapangan, hidup dan merasakan langsung kultur pertanian tembakau dalam jangka waktu cukup lama di lapangan.<\/p>\n \n\n \n

Baca juga: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Fenomena ini membikin kita tak bisa melihat mereka para anti-rokok kecele lalu menertawakan mereka.<\/strong> Fenomena keengganan terjun langsung ke lapangan terlebih mencoba mendengar mereka yang tetap menanam tembakau, juga menjalani keseharian dalam waktu cukup lama bersama petani tembakau inilah yang saya kira menjadikan mereka tetap keras kepala untuk anti-rokok dan anti-tembakau. Karena jika mereka mau melakukan itu, saya yakin mereka semua tidak akan begitu kaku dalam memandang pertanian tembakau dan produk hasil industri tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Salah satu yang selalu mereka kampanyekan dan ngotot dengan itu, terkait hulu pertanian tembakau adalah mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya. Mereka berargumen banyak tanaman lain yang bisa semenguntungkan tanaman tembakau. Keengganan mereka terjun langsung ke lapangan inilah yang membikin mereka buta dengan kondisi pertanian tembakau dan pada akhirnya terus menerus mengampanyekan pergantian tanaman tembakau dengan tanaman lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Baca juga: Imanlah kepada Allah, Bukan Antirokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Tembakau tanaman yang khas. Ia hanya tumbuh baik sepanjang empat hingga lima bulan dalam satu tahun. Tumbuh-kembang tanaman tembakau dengan baik itu umumnya terjadi pada musim kemarau setiap tahunnya. Hanya sedikit sekali jenis tembakau yang tumbuh baik di musim penghujan, mayoritasnya, tumbuh baik pada musim kemarau.<\/p>\n \n\n \n

Jika ditanam pada musim hujan, hampir bisa dipastikan tanaman tembakau akan gagal menghasilkan daun-daun yang berkualitas. Ia akan rusak dan membusuk karena terlalu banyak terkena air sehingga daun-daun itu tak layak dijual. Jangankan bisa dijual, untuk tumbuh dengan baik pun sepertinya sulit karena musim hujan akan membunuh banyak tanaman itu.<\/p>\n \n\n \n

Maka, tak heran pada musim-musim seperti saat ini, ketika musim penghujan mendekati puncaknya, di wilayah-wilayah yang dikenal sebagai sentra pertanian tembakau, sulit menemukan pohon tembakau yang sedang tumbuh. Pada lahan-lahan yang sebelumnya ditumbuhi tanaman tembakau pada musim panas, berganti tanaman-tanaman lain yang bermacam-macam, sesuai dengan kondisi lahannya. Untuk lahan sawah, lahan-lahan itu pada musim penghujan kini ditumbuhi tanaman padi yang subur. Pada lahan tegalan dan lahan di pegunungan, lahan-lahan yang ditanami tembakau pada musim kemarau, saat ini ditumbuhi bermacam jenis tanaman mulai dari cabai, bawang, tomat, kol, terong, mentimun, dan ragam jenis tanaman semusim lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Uniknya, tipikal tanaman tembakau yang tumbuh baik di musim kemarau ini memberi pilihan lebih kepada para petani. Lahan-lahan yang sulit ditanami pada musim kemarau, pada akhirnya masih bisa tetap produktif dengan keberadaan tanaman tembakau. <\/p>\n \n\n \n

Maka, kampanye aneh mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain dengan ragam rupa dalih yang membingungkan, bukan saja sama sekali tidak tepat dan asal-asalan, namun bisa jadi akan ditertawakan oleh para petani yang begitu paham dengan kondisi lahan dan terutama kondisi iklim dan cuaca. Sulit mencari tanaman semusim yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Jika pun ada, tak ada yang semenguntungkan tanaman tembakau.
<\/p>\n ","post_title":"Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"keberhasilan-gerakan-anti-tembakau-tak-ada-tembakau-saat-musim-hujan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-07 12:16:02","post_modified_gmt":"2019-02-07 05:16:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5415","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5409,"post_author":"919","post_date":"2019-02-05 08:04:43","post_date_gmt":"2019-02-05 01:04:43","post_content":" \n

Tahun Baru Imlek yang merupakan tradisi Bangsa Tiongkok kini sudah tak lagi menjadi hal yang asing bagi masyarakat Indonesia. Kehadirannya sudah mewarnai dan berakulturasi dengan tradisi lokal. Menjelang Tahun Baru Imlek. Berbagai hiasan dan kemeriahan terjadi beberapa titik di Tanah Air. Perayaannya juga menjadi destinasi baru yang mengasyikkan untuk dilihat dan patut disaksikan.<\/p>\n \n\n \n

Berterimakasihlah kepada sang bapak bangsa, KH Abdurrahman Wahid atau yang dikenal dengan nama Gus Dur. Berkat kebijakannya saat menjadi Presiden Indonesia, Tahun Baru Imlek resmi dijadikan hari libur nasional dan dianggap sebagai salah satu hari raya di Tanah Air. Meski sentimen antitionghoa masih ada di sana-sini, tapi tetap tak bisa dipungkiri bahwa bangsa tionghoa sudah bersentuhan dengan budaya lokal dalam kurun waktu yang sangat panjang.<\/p>\n \n\n \n

DNA Bangsa Tionghoa yang memang merupakan pedagang menjadi pembuka kisah interaksi antara nenek moyang berbagai suku di Nusantara dengan mereka. Beberapa kelenteng-kelenteng yang tersebar pada berbagai pesisir daerah di Nusantara jadi buktinya. Pelabuhan-pelabuhan tua di tanah air dan ramainya perdagangan di pesisir mempermudah bangsa kita berhubungan dengan Bangsa Tionghoa.<\/p>\n \n\n \n

Baca Juga: Wong Kalang dan Kota Gede<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa kehadiran Bangsa Tionghoa di Nusantara tak hanya sebagai pedagang, namun juga sebagai pekerja (bahkan hingga pekerja kasar). Benny Setiono, seorang sejarahwan menyebutkan bahwa antara tahun 1760-1770 dalam jumlah yang besar memasuki nusantara melalui Kalimantan Barat. Mereka bekerja sebagai kuli pertambangan di sana dan di kemudian hari membentuk sebuah republik bernama Republik Lanfang yang konon katanya menjadi republik pertama di Asia Tenggara.<\/p>\n \n\n \n

Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n \n\n \n

Baca Juga: Imlek dan Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n

Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n \n\n \n

Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n \n\n \n

Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n \n\n \n

Baca Juga: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n \n\n \n

Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
<\/p>\n ","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_3o3","class":"epic_block_3"};

\n

Puncaknya adalah pada pertengahan tahun 1950-an, ketika produksi kretek mulai berkembang pesat menjadi industri raksasa modern dengan munculnya beberapa pabrik baru, antara lain, yang terkemuka, oleh Oei Wei Gwan (pendiri pabrik \u2018Djarum\u2019) di Kudus dan Tjou Ing Hwie (pendiri pabrik \u2018Gudang Garam\u2019) di Kediri (Topatimasang, et.al., eds., 2010:131).<\/p>\n \n\n\n

Baca: Teruslah Menanam Tembakau dan Cengkeh, Wahai Petani Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n

Cengkeh, bahan baku paling esensial dari kretek --selain tembakau, tentu saja-- pun kembali berjaya. Bahkan, sejak dasawarsa 1970an, telah menjadi salah satu penyumbang terbesar keuangan negara Republik Indonesia. Pada tahun 2012 dan 2013, pemasukan cukai dari industri kretek mencatat 95,5% dari seluruh pemasukan cukai ke kas negara. Nilainya tak tanggung-tanggung: Rp 87 triliun! (el-Guyanie, et.al.: 2013:4-5).<\/strong>
<\/p>\n \n\n \n

Nilai ekonomisnya yang sangat besar sempat menggoda penguasa otoriter rezim Presiden Soeharto, pada 1990-an, memberlakukan satu kebijakan \u2018Hongi Gaya Baru\u2019: monopoli perdagangan cengkeh dalam negeri melalui Badan Penyanggah dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) yang sangat merugikan petani. Harga cengkeh di tingkat petani penghasil anjlok sampai hanya Rp 2.000 - 3.000 per kilogram, lebih murah dari harga sebungkus kretek yang dihasilkan darinya.
<\/p>\n \n\n \n

Akibatnya, ratusan ribu pohon cengkeh di daerah-daerah penghasil utama --Maluku, Maluku Utara, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Selatan-- ditebangi atau dibiarkan terlantar tak terurus.
<\/p>\n \n\n \n

Gelombang reformasi sistem politik dan hukum nasional yang dimulai pada tahun 1998, akhirnya menjungkalkan rezim Soeharto dan BPPC dibubarkan, Pelan tapi pasti, harga cengkeh kembali merangkak naik, sehingga pada tahun 2012, bahkan melewati angka Rp 200.000 per kilogram. Para petani cengkeh di seluruh negeri kembali tersenyum. Tetapi, sampai kapan? <\/p>\n \n\n \n

Catatan:<\/strong><\/p>\n \n\n \n

[1] Beberapa sumber menyebutkan bahwa kata \u2018cengkeh\u2019 dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Mandarin, tkeng-his atau xi\u2019jia, yang berarti \u2018rempah [berbentuk mirip] paku\u2019 (scented nails). Ini menunjukkan bahwa cengkeh sudah dikenal sejak lama oleh bangsa Cina --diketahui sejak abad-2-- jauh sebelum orang Eropa mengenalnya ((lihat, misalnya: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n \n\n \n

[2] Catatan-catatan para biarawan Fransiskan --yang disalin dan dikutip oleh van Frassen-- bahkan menyebut cengkeh sebagai salah satu bahan utama pengawet mumi para Fir\u2019aun, penguasa Mesir Kuno. Beberapa pakar sejarah dan arkeologi menyatakan bahwa rempah-rempah Maluku bahkan sudah ditemukan artefaknya di Lembah Mesopotomia (wilayah Iraq dan sekitarnya sekarang) pada 3.000 tahun sebelum Masehi. (lihat, antara lain: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n \n\n \n

[3] Uraian lebih rinci sejarah kolonialisme rempah-rempah Nusantara ini, terutama oleh Belanda dan Portugis, dapat dibaca pada beberapa sumber kepustakaan yang sudah dikenal luas, antara lain: Glamann (1958) dan Boxer (1965 dan 1969). Dalam risalah klasik Pires disebutkan bahwa pada tahun 1512-1521 saja, jumlah produksi cengkeh di Maluku sudah mencapai 7.250 bahar per tahun, terbesar adalah di Makian serta Amboina dan Lease (masing-masing 1.500 bahar)(Pires, 1512-1515).<\/em>
<\/p>\n \n\n \n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem Topatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n ","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-10 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-02-10 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5425","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5415,"post_author":"878","post_date":"2019-02-07 12:15:55","post_date_gmt":"2019-02-07 05:15:55","post_content":" \n

Belakangan ini, ketika musim hujan tiba, di Kabupaten Temanggung, Kabupaten Jember, dan beberapa wilayah sentra pertanian tembakau lainnya, hampir mustahil menemukan tanaman tembakau tumbuh di lahan-lahan milik petani. Di wilayah-wilayah tersebut, citra sebagai sentra pertanian tembakau seakan menguap. Lahan-lahan yang ada di sana, sama sekali tidak ditumbuhi tanaman tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Kabar ini bisa jadi dianggap sebagai kabar gembira bagi mereka yang menganggap diri dan kelompoknya anti-rokok dan anti-tembakau yang selalu mengampanyekan sikap-sikap mereka terkait kebencian kepada tembakau dan aktivitas merokok. Setelah sekian lama berjuang, akhirnya perjuangan mereka dirasa berhasil usai menyaksikan fenomena lahan-lahan di wilayah yang dianggap sentra pertanian tembakau pada hari-hari belakangan ini.<\/p>\n \n\n \n

Baca juga: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Tak sia-sia turun ke jalan, tak sia-sia melakukan lobi-lobi ke penguasa, tak sia-sia mengucurkan uang yang tidak sedikit, dan tak sia-sia mempermalukan diri dengan mengemis ke lembaga donor asing dan menggondol uang dari cukai tembakau untuk mengampanyekan gerakan anti-rokok dan anti-tembakau. Tak sia-sia. Karena perjuangan sepertinya berhasil.<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

Kampanye-kampanye gerakan mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya, sepertinya juga sangat berhasil. Bagaimana tidak? Wilayah-wilayah yang sebelumnya penuh dengan tanaman tembakau dan bergeliat dengannya, kini lahan-lahannya sudah berganti dengan tanaman lain. Sebuah keberhasilan yang menggembirakan. Begitu mungkin pikir mereka para yang menganggap dirinya pejuang anti-rokok dan anti-tembakau. Dan tentu saja mereka akan kecele dan kita akan menertawakan hal itu.<\/p>\n \n\n \n

Sayangnya, mereka yang menganggap dirinya anti-rokok dan anti-tembakau tidak menyaksikan langsung fenomena ini di lapangan, di lahan-lahan yang peruntukannya berubah pada hari-hari belakangan ini ketika memasuki musim hujan. Mereka asyik duduk pada kursi empuk di ruang-ruang nyaman ber-AC di kota-kota yang jauh dari kultur pertanian. Mereka menyengajakan diri menjadi elit dan enggan untuk turun melihat langsung ke lapangan. Kalaupun ada yang turun langsung ke lapangan, hanya segelintir saja dari mereka, itupun sekadar formalitas saja. Tak pernah benar-benar mau turun ke lapangan, hidup dan merasakan langsung kultur pertanian tembakau dalam jangka waktu cukup lama di lapangan.<\/p>\n \n\n \n

Baca juga: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Fenomena ini membikin kita tak bisa melihat mereka para anti-rokok kecele lalu menertawakan mereka.<\/strong> Fenomena keengganan terjun langsung ke lapangan terlebih mencoba mendengar mereka yang tetap menanam tembakau, juga menjalani keseharian dalam waktu cukup lama bersama petani tembakau inilah yang saya kira menjadikan mereka tetap keras kepala untuk anti-rokok dan anti-tembakau. Karena jika mereka mau melakukan itu, saya yakin mereka semua tidak akan begitu kaku dalam memandang pertanian tembakau dan produk hasil industri tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Salah satu yang selalu mereka kampanyekan dan ngotot dengan itu, terkait hulu pertanian tembakau adalah mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya. Mereka berargumen banyak tanaman lain yang bisa semenguntungkan tanaman tembakau. Keengganan mereka terjun langsung ke lapangan inilah yang membikin mereka buta dengan kondisi pertanian tembakau dan pada akhirnya terus menerus mengampanyekan pergantian tanaman tembakau dengan tanaman lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Baca juga: Imanlah kepada Allah, Bukan Antirokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Tembakau tanaman yang khas. Ia hanya tumbuh baik sepanjang empat hingga lima bulan dalam satu tahun. Tumbuh-kembang tanaman tembakau dengan baik itu umumnya terjadi pada musim kemarau setiap tahunnya. Hanya sedikit sekali jenis tembakau yang tumbuh baik di musim penghujan, mayoritasnya, tumbuh baik pada musim kemarau.<\/p>\n \n\n \n

Jika ditanam pada musim hujan, hampir bisa dipastikan tanaman tembakau akan gagal menghasilkan daun-daun yang berkualitas. Ia akan rusak dan membusuk karena terlalu banyak terkena air sehingga daun-daun itu tak layak dijual. Jangankan bisa dijual, untuk tumbuh dengan baik pun sepertinya sulit karena musim hujan akan membunuh banyak tanaman itu.<\/p>\n \n\n \n

Maka, tak heran pada musim-musim seperti saat ini, ketika musim penghujan mendekati puncaknya, di wilayah-wilayah yang dikenal sebagai sentra pertanian tembakau, sulit menemukan pohon tembakau yang sedang tumbuh. Pada lahan-lahan yang sebelumnya ditumbuhi tanaman tembakau pada musim panas, berganti tanaman-tanaman lain yang bermacam-macam, sesuai dengan kondisi lahannya. Untuk lahan sawah, lahan-lahan itu pada musim penghujan kini ditumbuhi tanaman padi yang subur. Pada lahan tegalan dan lahan di pegunungan, lahan-lahan yang ditanami tembakau pada musim kemarau, saat ini ditumbuhi bermacam jenis tanaman mulai dari cabai, bawang, tomat, kol, terong, mentimun, dan ragam jenis tanaman semusim lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Uniknya, tipikal tanaman tembakau yang tumbuh baik di musim kemarau ini memberi pilihan lebih kepada para petani. Lahan-lahan yang sulit ditanami pada musim kemarau, pada akhirnya masih bisa tetap produktif dengan keberadaan tanaman tembakau. <\/p>\n \n\n \n

Maka, kampanye aneh mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain dengan ragam rupa dalih yang membingungkan, bukan saja sama sekali tidak tepat dan asal-asalan, namun bisa jadi akan ditertawakan oleh para petani yang begitu paham dengan kondisi lahan dan terutama kondisi iklim dan cuaca. Sulit mencari tanaman semusim yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Jika pun ada, tak ada yang semenguntungkan tanaman tembakau.
<\/p>\n ","post_title":"Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"keberhasilan-gerakan-anti-tembakau-tak-ada-tembakau-saat-musim-hujan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-07 12:16:02","post_modified_gmt":"2019-02-07 05:16:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5415","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5409,"post_author":"919","post_date":"2019-02-05 08:04:43","post_date_gmt":"2019-02-05 01:04:43","post_content":" \n

Tahun Baru Imlek yang merupakan tradisi Bangsa Tiongkok kini sudah tak lagi menjadi hal yang asing bagi masyarakat Indonesia. Kehadirannya sudah mewarnai dan berakulturasi dengan tradisi lokal. Menjelang Tahun Baru Imlek. Berbagai hiasan dan kemeriahan terjadi beberapa titik di Tanah Air. Perayaannya juga menjadi destinasi baru yang mengasyikkan untuk dilihat dan patut disaksikan.<\/p>\n \n\n \n

Berterimakasihlah kepada sang bapak bangsa, KH Abdurrahman Wahid atau yang dikenal dengan nama Gus Dur. Berkat kebijakannya saat menjadi Presiden Indonesia, Tahun Baru Imlek resmi dijadikan hari libur nasional dan dianggap sebagai salah satu hari raya di Tanah Air. Meski sentimen antitionghoa masih ada di sana-sini, tapi tetap tak bisa dipungkiri bahwa bangsa tionghoa sudah bersentuhan dengan budaya lokal dalam kurun waktu yang sangat panjang.<\/p>\n \n\n \n

DNA Bangsa Tionghoa yang memang merupakan pedagang menjadi pembuka kisah interaksi antara nenek moyang berbagai suku di Nusantara dengan mereka. Beberapa kelenteng-kelenteng yang tersebar pada berbagai pesisir daerah di Nusantara jadi buktinya. Pelabuhan-pelabuhan tua di tanah air dan ramainya perdagangan di pesisir mempermudah bangsa kita berhubungan dengan Bangsa Tionghoa.<\/p>\n \n\n \n

Baca Juga: Wong Kalang dan Kota Gede<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa kehadiran Bangsa Tionghoa di Nusantara tak hanya sebagai pedagang, namun juga sebagai pekerja (bahkan hingga pekerja kasar). Benny Setiono, seorang sejarahwan menyebutkan bahwa antara tahun 1760-1770 dalam jumlah yang besar memasuki nusantara melalui Kalimantan Barat. Mereka bekerja sebagai kuli pertambangan di sana dan di kemudian hari membentuk sebuah republik bernama Republik Lanfang yang konon katanya menjadi republik pertama di Asia Tenggara.<\/p>\n \n\n \n

Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n \n\n \n

Baca Juga: Imlek dan Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n

Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n \n\n \n

Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n \n\n \n

Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n \n\n \n

Baca Juga: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n \n\n \n

Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
<\/p>\n ","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_3o3","class":"epic_block_3"};

\n

Setelah seperempat abad hanya berkembang dalam skala kecil usaha rumah tangga, produksi kretek akhirnya menjelma menjadi industri besar sejak awal abad-20 yang dirintis oleh Haji Nitisemito (pendiri pabrik \u2018Jambu Bol\u2019) di Kudus dan Liem Seng Tee (pendiri pabrik \u2018Dji Sam Soe\u2019 dan \u2018Sampoerna\u2019) di Surabaya.
<\/p>\n \n\n\n

Puncaknya adalah pada pertengahan tahun 1950-an, ketika produksi kretek mulai berkembang pesat menjadi industri raksasa modern dengan munculnya beberapa pabrik baru, antara lain, yang terkemuka, oleh Oei Wei Gwan (pendiri pabrik \u2018Djarum\u2019) di Kudus dan Tjou Ing Hwie (pendiri pabrik \u2018Gudang Garam\u2019) di Kediri (Topatimasang, et.al., eds., 2010:131).<\/p>\n \n\n \n

Baca: Teruslah Menanam Tembakau dan Cengkeh, Wahai Petani Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n

Cengkeh, bahan baku paling esensial dari kretek --selain tembakau, tentu saja-- pun kembali berjaya. Bahkan, sejak dasawarsa 1970an, telah menjadi salah satu penyumbang terbesar keuangan negara Republik Indonesia. Pada tahun 2012 dan 2013, pemasukan cukai dari industri kretek mencatat 95,5% dari seluruh pemasukan cukai ke kas negara. Nilainya tak tanggung-tanggung: Rp 87 triliun! (el-Guyanie, et.al.: 2013:4-5).<\/strong>
<\/p>\n \n\n \n

Nilai ekonomisnya yang sangat besar sempat menggoda penguasa otoriter rezim Presiden Soeharto, pada 1990-an, memberlakukan satu kebijakan \u2018Hongi Gaya Baru\u2019: monopoli perdagangan cengkeh dalam negeri melalui Badan Penyanggah dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) yang sangat merugikan petani. Harga cengkeh di tingkat petani penghasil anjlok sampai hanya Rp 2.000 - 3.000 per kilogram, lebih murah dari harga sebungkus kretek yang dihasilkan darinya.
<\/p>\n \n\n \n

Akibatnya, ratusan ribu pohon cengkeh di daerah-daerah penghasil utama --Maluku, Maluku Utara, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Selatan-- ditebangi atau dibiarkan terlantar tak terurus.
<\/p>\n \n\n \n

Gelombang reformasi sistem politik dan hukum nasional yang dimulai pada tahun 1998, akhirnya menjungkalkan rezim Soeharto dan BPPC dibubarkan, Pelan tapi pasti, harga cengkeh kembali merangkak naik, sehingga pada tahun 2012, bahkan melewati angka Rp 200.000 per kilogram. Para petani cengkeh di seluruh negeri kembali tersenyum. Tetapi, sampai kapan? <\/p>\n \n\n \n

Catatan:<\/strong><\/p>\n \n\n \n

[1] Beberapa sumber menyebutkan bahwa kata \u2018cengkeh\u2019 dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Mandarin, tkeng-his atau xi\u2019jia, yang berarti \u2018rempah [berbentuk mirip] paku\u2019 (scented nails). Ini menunjukkan bahwa cengkeh sudah dikenal sejak lama oleh bangsa Cina --diketahui sejak abad-2-- jauh sebelum orang Eropa mengenalnya ((lihat, misalnya: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n \n\n \n

[2] Catatan-catatan para biarawan Fransiskan --yang disalin dan dikutip oleh van Frassen-- bahkan menyebut cengkeh sebagai salah satu bahan utama pengawet mumi para Fir\u2019aun, penguasa Mesir Kuno. Beberapa pakar sejarah dan arkeologi menyatakan bahwa rempah-rempah Maluku bahkan sudah ditemukan artefaknya di Lembah Mesopotomia (wilayah Iraq dan sekitarnya sekarang) pada 3.000 tahun sebelum Masehi. (lihat, antara lain: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n \n\n \n

[3] Uraian lebih rinci sejarah kolonialisme rempah-rempah Nusantara ini, terutama oleh Belanda dan Portugis, dapat dibaca pada beberapa sumber kepustakaan yang sudah dikenal luas, antara lain: Glamann (1958) dan Boxer (1965 dan 1969). Dalam risalah klasik Pires disebutkan bahwa pada tahun 1512-1521 saja, jumlah produksi cengkeh di Maluku sudah mencapai 7.250 bahar per tahun, terbesar adalah di Makian serta Amboina dan Lease (masing-masing 1.500 bahar)(Pires, 1512-1515).<\/em>
<\/p>\n \n\n \n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem Topatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n ","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-10 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-02-10 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5425","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5415,"post_author":"878","post_date":"2019-02-07 12:15:55","post_date_gmt":"2019-02-07 05:15:55","post_content":" \n

Belakangan ini, ketika musim hujan tiba, di Kabupaten Temanggung, Kabupaten Jember, dan beberapa wilayah sentra pertanian tembakau lainnya, hampir mustahil menemukan tanaman tembakau tumbuh di lahan-lahan milik petani. Di wilayah-wilayah tersebut, citra sebagai sentra pertanian tembakau seakan menguap. Lahan-lahan yang ada di sana, sama sekali tidak ditumbuhi tanaman tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Kabar ini bisa jadi dianggap sebagai kabar gembira bagi mereka yang menganggap diri dan kelompoknya anti-rokok dan anti-tembakau yang selalu mengampanyekan sikap-sikap mereka terkait kebencian kepada tembakau dan aktivitas merokok. Setelah sekian lama berjuang, akhirnya perjuangan mereka dirasa berhasil usai menyaksikan fenomena lahan-lahan di wilayah yang dianggap sentra pertanian tembakau pada hari-hari belakangan ini.<\/p>\n \n\n \n

Baca juga: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Tak sia-sia turun ke jalan, tak sia-sia melakukan lobi-lobi ke penguasa, tak sia-sia mengucurkan uang yang tidak sedikit, dan tak sia-sia mempermalukan diri dengan mengemis ke lembaga donor asing dan menggondol uang dari cukai tembakau untuk mengampanyekan gerakan anti-rokok dan anti-tembakau. Tak sia-sia. Karena perjuangan sepertinya berhasil.<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

Kampanye-kampanye gerakan mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya, sepertinya juga sangat berhasil. Bagaimana tidak? Wilayah-wilayah yang sebelumnya penuh dengan tanaman tembakau dan bergeliat dengannya, kini lahan-lahannya sudah berganti dengan tanaman lain. Sebuah keberhasilan yang menggembirakan. Begitu mungkin pikir mereka para yang menganggap dirinya pejuang anti-rokok dan anti-tembakau. Dan tentu saja mereka akan kecele dan kita akan menertawakan hal itu.<\/p>\n \n\n \n

Sayangnya, mereka yang menganggap dirinya anti-rokok dan anti-tembakau tidak menyaksikan langsung fenomena ini di lapangan, di lahan-lahan yang peruntukannya berubah pada hari-hari belakangan ini ketika memasuki musim hujan. Mereka asyik duduk pada kursi empuk di ruang-ruang nyaman ber-AC di kota-kota yang jauh dari kultur pertanian. Mereka menyengajakan diri menjadi elit dan enggan untuk turun melihat langsung ke lapangan. Kalaupun ada yang turun langsung ke lapangan, hanya segelintir saja dari mereka, itupun sekadar formalitas saja. Tak pernah benar-benar mau turun ke lapangan, hidup dan merasakan langsung kultur pertanian tembakau dalam jangka waktu cukup lama di lapangan.<\/p>\n \n\n \n

Baca juga: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Fenomena ini membikin kita tak bisa melihat mereka para anti-rokok kecele lalu menertawakan mereka.<\/strong> Fenomena keengganan terjun langsung ke lapangan terlebih mencoba mendengar mereka yang tetap menanam tembakau, juga menjalani keseharian dalam waktu cukup lama bersama petani tembakau inilah yang saya kira menjadikan mereka tetap keras kepala untuk anti-rokok dan anti-tembakau. Karena jika mereka mau melakukan itu, saya yakin mereka semua tidak akan begitu kaku dalam memandang pertanian tembakau dan produk hasil industri tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Salah satu yang selalu mereka kampanyekan dan ngotot dengan itu, terkait hulu pertanian tembakau adalah mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya. Mereka berargumen banyak tanaman lain yang bisa semenguntungkan tanaman tembakau. Keengganan mereka terjun langsung ke lapangan inilah yang membikin mereka buta dengan kondisi pertanian tembakau dan pada akhirnya terus menerus mengampanyekan pergantian tanaman tembakau dengan tanaman lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Baca juga: Imanlah kepada Allah, Bukan Antirokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Tembakau tanaman yang khas. Ia hanya tumbuh baik sepanjang empat hingga lima bulan dalam satu tahun. Tumbuh-kembang tanaman tembakau dengan baik itu umumnya terjadi pada musim kemarau setiap tahunnya. Hanya sedikit sekali jenis tembakau yang tumbuh baik di musim penghujan, mayoritasnya, tumbuh baik pada musim kemarau.<\/p>\n \n\n \n

Jika ditanam pada musim hujan, hampir bisa dipastikan tanaman tembakau akan gagal menghasilkan daun-daun yang berkualitas. Ia akan rusak dan membusuk karena terlalu banyak terkena air sehingga daun-daun itu tak layak dijual. Jangankan bisa dijual, untuk tumbuh dengan baik pun sepertinya sulit karena musim hujan akan membunuh banyak tanaman itu.<\/p>\n \n\n \n

Maka, tak heran pada musim-musim seperti saat ini, ketika musim penghujan mendekati puncaknya, di wilayah-wilayah yang dikenal sebagai sentra pertanian tembakau, sulit menemukan pohon tembakau yang sedang tumbuh. Pada lahan-lahan yang sebelumnya ditumbuhi tanaman tembakau pada musim panas, berganti tanaman-tanaman lain yang bermacam-macam, sesuai dengan kondisi lahannya. Untuk lahan sawah, lahan-lahan itu pada musim penghujan kini ditumbuhi tanaman padi yang subur. Pada lahan tegalan dan lahan di pegunungan, lahan-lahan yang ditanami tembakau pada musim kemarau, saat ini ditumbuhi bermacam jenis tanaman mulai dari cabai, bawang, tomat, kol, terong, mentimun, dan ragam jenis tanaman semusim lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Uniknya, tipikal tanaman tembakau yang tumbuh baik di musim kemarau ini memberi pilihan lebih kepada para petani. Lahan-lahan yang sulit ditanami pada musim kemarau, pada akhirnya masih bisa tetap produktif dengan keberadaan tanaman tembakau. <\/p>\n \n\n \n

Maka, kampanye aneh mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain dengan ragam rupa dalih yang membingungkan, bukan saja sama sekali tidak tepat dan asal-asalan, namun bisa jadi akan ditertawakan oleh para petani yang begitu paham dengan kondisi lahan dan terutama kondisi iklim dan cuaca. Sulit mencari tanaman semusim yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Jika pun ada, tak ada yang semenguntungkan tanaman tembakau.
<\/p>\n ","post_title":"Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"keberhasilan-gerakan-anti-tembakau-tak-ada-tembakau-saat-musim-hujan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-07 12:16:02","post_modified_gmt":"2019-02-07 05:16:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5415","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5409,"post_author":"919","post_date":"2019-02-05 08:04:43","post_date_gmt":"2019-02-05 01:04:43","post_content":" \n

Tahun Baru Imlek yang merupakan tradisi Bangsa Tiongkok kini sudah tak lagi menjadi hal yang asing bagi masyarakat Indonesia. Kehadirannya sudah mewarnai dan berakulturasi dengan tradisi lokal. Menjelang Tahun Baru Imlek. Berbagai hiasan dan kemeriahan terjadi beberapa titik di Tanah Air. Perayaannya juga menjadi destinasi baru yang mengasyikkan untuk dilihat dan patut disaksikan.<\/p>\n \n\n \n

Berterimakasihlah kepada sang bapak bangsa, KH Abdurrahman Wahid atau yang dikenal dengan nama Gus Dur. Berkat kebijakannya saat menjadi Presiden Indonesia, Tahun Baru Imlek resmi dijadikan hari libur nasional dan dianggap sebagai salah satu hari raya di Tanah Air. Meski sentimen antitionghoa masih ada di sana-sini, tapi tetap tak bisa dipungkiri bahwa bangsa tionghoa sudah bersentuhan dengan budaya lokal dalam kurun waktu yang sangat panjang.<\/p>\n \n\n \n

DNA Bangsa Tionghoa yang memang merupakan pedagang menjadi pembuka kisah interaksi antara nenek moyang berbagai suku di Nusantara dengan mereka. Beberapa kelenteng-kelenteng yang tersebar pada berbagai pesisir daerah di Nusantara jadi buktinya. Pelabuhan-pelabuhan tua di tanah air dan ramainya perdagangan di pesisir mempermudah bangsa kita berhubungan dengan Bangsa Tionghoa.<\/p>\n \n\n \n

Baca Juga: Wong Kalang dan Kota Gede<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa kehadiran Bangsa Tionghoa di Nusantara tak hanya sebagai pedagang, namun juga sebagai pekerja (bahkan hingga pekerja kasar). Benny Setiono, seorang sejarahwan menyebutkan bahwa antara tahun 1760-1770 dalam jumlah yang besar memasuki nusantara melalui Kalimantan Barat. Mereka bekerja sebagai kuli pertambangan di sana dan di kemudian hari membentuk sebuah republik bernama Republik Lanfang yang konon katanya menjadi republik pertama di Asia Tenggara.<\/p>\n \n\n \n

Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n \n\n \n

Baca Juga: Imlek dan Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n

Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n \n\n \n

Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n \n\n \n

Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n \n\n \n

Baca Juga: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n \n\n \n

Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
<\/p>\n ","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_3o3","class":"epic_block_3"};

\n

Nasibnya terselamatkan berkat penemuan oleh seorang Haji Djamhari di Kudus, Jawa Tengah. Pada akhir tahun 1880-an, Haji Djamhari menemukan kegunaan baru cengkeh sebagai ramuan utama rokok. Lahirlah satu produk baru yang unik, khas dan asli Indonesia: kretek! (Hanusz, 2000:ii).
<\/p>\n \n\n\n

Setelah seperempat abad hanya berkembang dalam skala kecil usaha rumah tangga, produksi kretek akhirnya menjelma menjadi industri besar sejak awal abad-20 yang dirintis oleh Haji Nitisemito (pendiri pabrik \u2018Jambu Bol\u2019) di Kudus dan Liem Seng Tee (pendiri pabrik \u2018Dji Sam Soe\u2019 dan \u2018Sampoerna\u2019) di Surabaya.
<\/p>\n \n\n \n

Puncaknya adalah pada pertengahan tahun 1950-an, ketika produksi kretek mulai berkembang pesat menjadi industri raksasa modern dengan munculnya beberapa pabrik baru, antara lain, yang terkemuka, oleh Oei Wei Gwan (pendiri pabrik \u2018Djarum\u2019) di Kudus dan Tjou Ing Hwie (pendiri pabrik \u2018Gudang Garam\u2019) di Kediri (Topatimasang, et.al., eds., 2010:131).<\/p>\n \n\n \n

Baca: Teruslah Menanam Tembakau dan Cengkeh, Wahai Petani Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n

Cengkeh, bahan baku paling esensial dari kretek --selain tembakau, tentu saja-- pun kembali berjaya. Bahkan, sejak dasawarsa 1970an, telah menjadi salah satu penyumbang terbesar keuangan negara Republik Indonesia. Pada tahun 2012 dan 2013, pemasukan cukai dari industri kretek mencatat 95,5% dari seluruh pemasukan cukai ke kas negara. Nilainya tak tanggung-tanggung: Rp 87 triliun! (el-Guyanie, et.al.: 2013:4-5).<\/strong>
<\/p>\n \n\n \n

Nilai ekonomisnya yang sangat besar sempat menggoda penguasa otoriter rezim Presiden Soeharto, pada 1990-an, memberlakukan satu kebijakan \u2018Hongi Gaya Baru\u2019: monopoli perdagangan cengkeh dalam negeri melalui Badan Penyanggah dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) yang sangat merugikan petani. Harga cengkeh di tingkat petani penghasil anjlok sampai hanya Rp 2.000 - 3.000 per kilogram, lebih murah dari harga sebungkus kretek yang dihasilkan darinya.
<\/p>\n \n\n \n

Akibatnya, ratusan ribu pohon cengkeh di daerah-daerah penghasil utama --Maluku, Maluku Utara, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Selatan-- ditebangi atau dibiarkan terlantar tak terurus.
<\/p>\n \n\n \n

Gelombang reformasi sistem politik dan hukum nasional yang dimulai pada tahun 1998, akhirnya menjungkalkan rezim Soeharto dan BPPC dibubarkan, Pelan tapi pasti, harga cengkeh kembali merangkak naik, sehingga pada tahun 2012, bahkan melewati angka Rp 200.000 per kilogram. Para petani cengkeh di seluruh negeri kembali tersenyum. Tetapi, sampai kapan? <\/p>\n \n\n \n

Catatan:<\/strong><\/p>\n \n\n \n

[1] Beberapa sumber menyebutkan bahwa kata \u2018cengkeh\u2019 dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Mandarin, tkeng-his atau xi\u2019jia, yang berarti \u2018rempah [berbentuk mirip] paku\u2019 (scented nails). Ini menunjukkan bahwa cengkeh sudah dikenal sejak lama oleh bangsa Cina --diketahui sejak abad-2-- jauh sebelum orang Eropa mengenalnya ((lihat, misalnya: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n \n\n \n

[2] Catatan-catatan para biarawan Fransiskan --yang disalin dan dikutip oleh van Frassen-- bahkan menyebut cengkeh sebagai salah satu bahan utama pengawet mumi para Fir\u2019aun, penguasa Mesir Kuno. Beberapa pakar sejarah dan arkeologi menyatakan bahwa rempah-rempah Maluku bahkan sudah ditemukan artefaknya di Lembah Mesopotomia (wilayah Iraq dan sekitarnya sekarang) pada 3.000 tahun sebelum Masehi. (lihat, antara lain: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n \n\n \n

[3] Uraian lebih rinci sejarah kolonialisme rempah-rempah Nusantara ini, terutama oleh Belanda dan Portugis, dapat dibaca pada beberapa sumber kepustakaan yang sudah dikenal luas, antara lain: Glamann (1958) dan Boxer (1965 dan 1969). Dalam risalah klasik Pires disebutkan bahwa pada tahun 1512-1521 saja, jumlah produksi cengkeh di Maluku sudah mencapai 7.250 bahar per tahun, terbesar adalah di Makian serta Amboina dan Lease (masing-masing 1.500 bahar)(Pires, 1512-1515).<\/em>
<\/p>\n \n\n \n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem Topatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n ","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-10 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-02-10 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5425","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5415,"post_author":"878","post_date":"2019-02-07 12:15:55","post_date_gmt":"2019-02-07 05:15:55","post_content":" \n

Belakangan ini, ketika musim hujan tiba, di Kabupaten Temanggung, Kabupaten Jember, dan beberapa wilayah sentra pertanian tembakau lainnya, hampir mustahil menemukan tanaman tembakau tumbuh di lahan-lahan milik petani. Di wilayah-wilayah tersebut, citra sebagai sentra pertanian tembakau seakan menguap. Lahan-lahan yang ada di sana, sama sekali tidak ditumbuhi tanaman tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Kabar ini bisa jadi dianggap sebagai kabar gembira bagi mereka yang menganggap diri dan kelompoknya anti-rokok dan anti-tembakau yang selalu mengampanyekan sikap-sikap mereka terkait kebencian kepada tembakau dan aktivitas merokok. Setelah sekian lama berjuang, akhirnya perjuangan mereka dirasa berhasil usai menyaksikan fenomena lahan-lahan di wilayah yang dianggap sentra pertanian tembakau pada hari-hari belakangan ini.<\/p>\n \n\n \n

Baca juga: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Tak sia-sia turun ke jalan, tak sia-sia melakukan lobi-lobi ke penguasa, tak sia-sia mengucurkan uang yang tidak sedikit, dan tak sia-sia mempermalukan diri dengan mengemis ke lembaga donor asing dan menggondol uang dari cukai tembakau untuk mengampanyekan gerakan anti-rokok dan anti-tembakau. Tak sia-sia. Karena perjuangan sepertinya berhasil.<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

Kampanye-kampanye gerakan mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya, sepertinya juga sangat berhasil. Bagaimana tidak? Wilayah-wilayah yang sebelumnya penuh dengan tanaman tembakau dan bergeliat dengannya, kini lahan-lahannya sudah berganti dengan tanaman lain. Sebuah keberhasilan yang menggembirakan. Begitu mungkin pikir mereka para yang menganggap dirinya pejuang anti-rokok dan anti-tembakau. Dan tentu saja mereka akan kecele dan kita akan menertawakan hal itu.<\/p>\n \n\n \n

Sayangnya, mereka yang menganggap dirinya anti-rokok dan anti-tembakau tidak menyaksikan langsung fenomena ini di lapangan, di lahan-lahan yang peruntukannya berubah pada hari-hari belakangan ini ketika memasuki musim hujan. Mereka asyik duduk pada kursi empuk di ruang-ruang nyaman ber-AC di kota-kota yang jauh dari kultur pertanian. Mereka menyengajakan diri menjadi elit dan enggan untuk turun melihat langsung ke lapangan. Kalaupun ada yang turun langsung ke lapangan, hanya segelintir saja dari mereka, itupun sekadar formalitas saja. Tak pernah benar-benar mau turun ke lapangan, hidup dan merasakan langsung kultur pertanian tembakau dalam jangka waktu cukup lama di lapangan.<\/p>\n \n\n \n

Baca juga: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Fenomena ini membikin kita tak bisa melihat mereka para anti-rokok kecele lalu menertawakan mereka.<\/strong> Fenomena keengganan terjun langsung ke lapangan terlebih mencoba mendengar mereka yang tetap menanam tembakau, juga menjalani keseharian dalam waktu cukup lama bersama petani tembakau inilah yang saya kira menjadikan mereka tetap keras kepala untuk anti-rokok dan anti-tembakau. Karena jika mereka mau melakukan itu, saya yakin mereka semua tidak akan begitu kaku dalam memandang pertanian tembakau dan produk hasil industri tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Salah satu yang selalu mereka kampanyekan dan ngotot dengan itu, terkait hulu pertanian tembakau adalah mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya. Mereka berargumen banyak tanaman lain yang bisa semenguntungkan tanaman tembakau. Keengganan mereka terjun langsung ke lapangan inilah yang membikin mereka buta dengan kondisi pertanian tembakau dan pada akhirnya terus menerus mengampanyekan pergantian tanaman tembakau dengan tanaman lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Baca juga: Imanlah kepada Allah, Bukan Antirokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Tembakau tanaman yang khas. Ia hanya tumbuh baik sepanjang empat hingga lima bulan dalam satu tahun. Tumbuh-kembang tanaman tembakau dengan baik itu umumnya terjadi pada musim kemarau setiap tahunnya. Hanya sedikit sekali jenis tembakau yang tumbuh baik di musim penghujan, mayoritasnya, tumbuh baik pada musim kemarau.<\/p>\n \n\n \n

Jika ditanam pada musim hujan, hampir bisa dipastikan tanaman tembakau akan gagal menghasilkan daun-daun yang berkualitas. Ia akan rusak dan membusuk karena terlalu banyak terkena air sehingga daun-daun itu tak layak dijual. Jangankan bisa dijual, untuk tumbuh dengan baik pun sepertinya sulit karena musim hujan akan membunuh banyak tanaman itu.<\/p>\n \n\n \n

Maka, tak heran pada musim-musim seperti saat ini, ketika musim penghujan mendekati puncaknya, di wilayah-wilayah yang dikenal sebagai sentra pertanian tembakau, sulit menemukan pohon tembakau yang sedang tumbuh. Pada lahan-lahan yang sebelumnya ditumbuhi tanaman tembakau pada musim panas, berganti tanaman-tanaman lain yang bermacam-macam, sesuai dengan kondisi lahannya. Untuk lahan sawah, lahan-lahan itu pada musim penghujan kini ditumbuhi tanaman padi yang subur. Pada lahan tegalan dan lahan di pegunungan, lahan-lahan yang ditanami tembakau pada musim kemarau, saat ini ditumbuhi bermacam jenis tanaman mulai dari cabai, bawang, tomat, kol, terong, mentimun, dan ragam jenis tanaman semusim lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Uniknya, tipikal tanaman tembakau yang tumbuh baik di musim kemarau ini memberi pilihan lebih kepada para petani. Lahan-lahan yang sulit ditanami pada musim kemarau, pada akhirnya masih bisa tetap produktif dengan keberadaan tanaman tembakau. <\/p>\n \n\n \n

Maka, kampanye aneh mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain dengan ragam rupa dalih yang membingungkan, bukan saja sama sekali tidak tepat dan asal-asalan, namun bisa jadi akan ditertawakan oleh para petani yang begitu paham dengan kondisi lahan dan terutama kondisi iklim dan cuaca. Sulit mencari tanaman semusim yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Jika pun ada, tak ada yang semenguntungkan tanaman tembakau.
<\/p>\n ","post_title":"Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"keberhasilan-gerakan-anti-tembakau-tak-ada-tembakau-saat-musim-hujan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-07 12:16:02","post_modified_gmt":"2019-02-07 05:16:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5415","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5409,"post_author":"919","post_date":"2019-02-05 08:04:43","post_date_gmt":"2019-02-05 01:04:43","post_content":" \n

Tahun Baru Imlek yang merupakan tradisi Bangsa Tiongkok kini sudah tak lagi menjadi hal yang asing bagi masyarakat Indonesia. Kehadirannya sudah mewarnai dan berakulturasi dengan tradisi lokal. Menjelang Tahun Baru Imlek. Berbagai hiasan dan kemeriahan terjadi beberapa titik di Tanah Air. Perayaannya juga menjadi destinasi baru yang mengasyikkan untuk dilihat dan patut disaksikan.<\/p>\n \n\n \n

Berterimakasihlah kepada sang bapak bangsa, KH Abdurrahman Wahid atau yang dikenal dengan nama Gus Dur. Berkat kebijakannya saat menjadi Presiden Indonesia, Tahun Baru Imlek resmi dijadikan hari libur nasional dan dianggap sebagai salah satu hari raya di Tanah Air. Meski sentimen antitionghoa masih ada di sana-sini, tapi tetap tak bisa dipungkiri bahwa bangsa tionghoa sudah bersentuhan dengan budaya lokal dalam kurun waktu yang sangat panjang.<\/p>\n \n\n \n

DNA Bangsa Tionghoa yang memang merupakan pedagang menjadi pembuka kisah interaksi antara nenek moyang berbagai suku di Nusantara dengan mereka. Beberapa kelenteng-kelenteng yang tersebar pada berbagai pesisir daerah di Nusantara jadi buktinya. Pelabuhan-pelabuhan tua di tanah air dan ramainya perdagangan di pesisir mempermudah bangsa kita berhubungan dengan Bangsa Tionghoa.<\/p>\n \n\n \n

Baca Juga: Wong Kalang dan Kota Gede<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa kehadiran Bangsa Tionghoa di Nusantara tak hanya sebagai pedagang, namun juga sebagai pekerja (bahkan hingga pekerja kasar). Benny Setiono, seorang sejarahwan menyebutkan bahwa antara tahun 1760-1770 dalam jumlah yang besar memasuki nusantara melalui Kalimantan Barat. Mereka bekerja sebagai kuli pertambangan di sana dan di kemudian hari membentuk sebuah republik bernama Republik Lanfang yang konon katanya menjadi republik pertama di Asia Tenggara.<\/p>\n \n\n \n

Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n \n\n \n

Baca Juga: Imlek dan Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n

Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n \n\n \n

Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n \n\n \n

Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n \n\n \n

Baca Juga: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n \n\n \n

Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
<\/p>\n ","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_3o3","class":"epic_block_3"};

\n

para saudagar Arab, pedagang Cina, serta kaum ningrat Eropa itu, tergantikan perannya oleh penemuan teknologi mesin pendingin berkat Revolusi Industri yang dimulai di Inggris pada pertengahan abad-18. Pasaran cengkeh di Eropa pun merosot tajam.
<\/p>\n \n\n\n

Nasibnya terselamatkan berkat penemuan oleh seorang Haji Djamhari di Kudus, Jawa Tengah. Pada akhir tahun 1880-an, Haji Djamhari menemukan kegunaan baru cengkeh sebagai ramuan utama rokok. Lahirlah satu produk baru yang unik, khas dan asli Indonesia: kretek! (Hanusz, 2000:ii).
<\/p>\n \n\n \n

Setelah seperempat abad hanya berkembang dalam skala kecil usaha rumah tangga, produksi kretek akhirnya menjelma menjadi industri besar sejak awal abad-20 yang dirintis oleh Haji Nitisemito (pendiri pabrik \u2018Jambu Bol\u2019) di Kudus dan Liem Seng Tee (pendiri pabrik \u2018Dji Sam Soe\u2019 dan \u2018Sampoerna\u2019) di Surabaya.
<\/p>\n \n\n \n

Puncaknya adalah pada pertengahan tahun 1950-an, ketika produksi kretek mulai berkembang pesat menjadi industri raksasa modern dengan munculnya beberapa pabrik baru, antara lain, yang terkemuka, oleh Oei Wei Gwan (pendiri pabrik \u2018Djarum\u2019) di Kudus dan Tjou Ing Hwie (pendiri pabrik \u2018Gudang Garam\u2019) di Kediri (Topatimasang, et.al., eds., 2010:131).<\/p>\n \n\n \n

Baca: Teruslah Menanam Tembakau dan Cengkeh, Wahai Petani Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n

Cengkeh, bahan baku paling esensial dari kretek --selain tembakau, tentu saja-- pun kembali berjaya. Bahkan, sejak dasawarsa 1970an, telah menjadi salah satu penyumbang terbesar keuangan negara Republik Indonesia. Pada tahun 2012 dan 2013, pemasukan cukai dari industri kretek mencatat 95,5% dari seluruh pemasukan cukai ke kas negara. Nilainya tak tanggung-tanggung: Rp 87 triliun! (el-Guyanie, et.al.: 2013:4-5).<\/strong>
<\/p>\n \n\n \n

Nilai ekonomisnya yang sangat besar sempat menggoda penguasa otoriter rezim Presiden Soeharto, pada 1990-an, memberlakukan satu kebijakan \u2018Hongi Gaya Baru\u2019: monopoli perdagangan cengkeh dalam negeri melalui Badan Penyanggah dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) yang sangat merugikan petani. Harga cengkeh di tingkat petani penghasil anjlok sampai hanya Rp 2.000 - 3.000 per kilogram, lebih murah dari harga sebungkus kretek yang dihasilkan darinya.
<\/p>\n \n\n \n

Akibatnya, ratusan ribu pohon cengkeh di daerah-daerah penghasil utama --Maluku, Maluku Utara, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Selatan-- ditebangi atau dibiarkan terlantar tak terurus.
<\/p>\n \n\n \n

Gelombang reformasi sistem politik dan hukum nasional yang dimulai pada tahun 1998, akhirnya menjungkalkan rezim Soeharto dan BPPC dibubarkan, Pelan tapi pasti, harga cengkeh kembali merangkak naik, sehingga pada tahun 2012, bahkan melewati angka Rp 200.000 per kilogram. Para petani cengkeh di seluruh negeri kembali tersenyum. Tetapi, sampai kapan? <\/p>\n \n\n \n

Catatan:<\/strong><\/p>\n \n\n \n

[1] Beberapa sumber menyebutkan bahwa kata \u2018cengkeh\u2019 dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Mandarin, tkeng-his atau xi\u2019jia, yang berarti \u2018rempah [berbentuk mirip] paku\u2019 (scented nails). Ini menunjukkan bahwa cengkeh sudah dikenal sejak lama oleh bangsa Cina --diketahui sejak abad-2-- jauh sebelum orang Eropa mengenalnya ((lihat, misalnya: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n \n\n \n

[2] Catatan-catatan para biarawan Fransiskan --yang disalin dan dikutip oleh van Frassen-- bahkan menyebut cengkeh sebagai salah satu bahan utama pengawet mumi para Fir\u2019aun, penguasa Mesir Kuno. Beberapa pakar sejarah dan arkeologi menyatakan bahwa rempah-rempah Maluku bahkan sudah ditemukan artefaknya di Lembah Mesopotomia (wilayah Iraq dan sekitarnya sekarang) pada 3.000 tahun sebelum Masehi. (lihat, antara lain: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n \n\n \n

[3] Uraian lebih rinci sejarah kolonialisme rempah-rempah Nusantara ini, terutama oleh Belanda dan Portugis, dapat dibaca pada beberapa sumber kepustakaan yang sudah dikenal luas, antara lain: Glamann (1958) dan Boxer (1965 dan 1969). Dalam risalah klasik Pires disebutkan bahwa pada tahun 1512-1521 saja, jumlah produksi cengkeh di Maluku sudah mencapai 7.250 bahar per tahun, terbesar adalah di Makian serta Amboina dan Lease (masing-masing 1.500 bahar)(Pires, 1512-1515).<\/em>
<\/p>\n \n\n \n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem Topatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n ","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-10 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-02-10 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5425","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5415,"post_author":"878","post_date":"2019-02-07 12:15:55","post_date_gmt":"2019-02-07 05:15:55","post_content":" \n

Belakangan ini, ketika musim hujan tiba, di Kabupaten Temanggung, Kabupaten Jember, dan beberapa wilayah sentra pertanian tembakau lainnya, hampir mustahil menemukan tanaman tembakau tumbuh di lahan-lahan milik petani. Di wilayah-wilayah tersebut, citra sebagai sentra pertanian tembakau seakan menguap. Lahan-lahan yang ada di sana, sama sekali tidak ditumbuhi tanaman tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Kabar ini bisa jadi dianggap sebagai kabar gembira bagi mereka yang menganggap diri dan kelompoknya anti-rokok dan anti-tembakau yang selalu mengampanyekan sikap-sikap mereka terkait kebencian kepada tembakau dan aktivitas merokok. Setelah sekian lama berjuang, akhirnya perjuangan mereka dirasa berhasil usai menyaksikan fenomena lahan-lahan di wilayah yang dianggap sentra pertanian tembakau pada hari-hari belakangan ini.<\/p>\n \n\n \n

Baca juga: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Tak sia-sia turun ke jalan, tak sia-sia melakukan lobi-lobi ke penguasa, tak sia-sia mengucurkan uang yang tidak sedikit, dan tak sia-sia mempermalukan diri dengan mengemis ke lembaga donor asing dan menggondol uang dari cukai tembakau untuk mengampanyekan gerakan anti-rokok dan anti-tembakau. Tak sia-sia. Karena perjuangan sepertinya berhasil.<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

Kampanye-kampanye gerakan mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya, sepertinya juga sangat berhasil. Bagaimana tidak? Wilayah-wilayah yang sebelumnya penuh dengan tanaman tembakau dan bergeliat dengannya, kini lahan-lahannya sudah berganti dengan tanaman lain. Sebuah keberhasilan yang menggembirakan. Begitu mungkin pikir mereka para yang menganggap dirinya pejuang anti-rokok dan anti-tembakau. Dan tentu saja mereka akan kecele dan kita akan menertawakan hal itu.<\/p>\n \n\n \n

Sayangnya, mereka yang menganggap dirinya anti-rokok dan anti-tembakau tidak menyaksikan langsung fenomena ini di lapangan, di lahan-lahan yang peruntukannya berubah pada hari-hari belakangan ini ketika memasuki musim hujan. Mereka asyik duduk pada kursi empuk di ruang-ruang nyaman ber-AC di kota-kota yang jauh dari kultur pertanian. Mereka menyengajakan diri menjadi elit dan enggan untuk turun melihat langsung ke lapangan. Kalaupun ada yang turun langsung ke lapangan, hanya segelintir saja dari mereka, itupun sekadar formalitas saja. Tak pernah benar-benar mau turun ke lapangan, hidup dan merasakan langsung kultur pertanian tembakau dalam jangka waktu cukup lama di lapangan.<\/p>\n \n\n \n

Baca juga: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Fenomena ini membikin kita tak bisa melihat mereka para anti-rokok kecele lalu menertawakan mereka.<\/strong> Fenomena keengganan terjun langsung ke lapangan terlebih mencoba mendengar mereka yang tetap menanam tembakau, juga menjalani keseharian dalam waktu cukup lama bersama petani tembakau inilah yang saya kira menjadikan mereka tetap keras kepala untuk anti-rokok dan anti-tembakau. Karena jika mereka mau melakukan itu, saya yakin mereka semua tidak akan begitu kaku dalam memandang pertanian tembakau dan produk hasil industri tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Salah satu yang selalu mereka kampanyekan dan ngotot dengan itu, terkait hulu pertanian tembakau adalah mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya. Mereka berargumen banyak tanaman lain yang bisa semenguntungkan tanaman tembakau. Keengganan mereka terjun langsung ke lapangan inilah yang membikin mereka buta dengan kondisi pertanian tembakau dan pada akhirnya terus menerus mengampanyekan pergantian tanaman tembakau dengan tanaman lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Baca juga: Imanlah kepada Allah, Bukan Antirokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Tembakau tanaman yang khas. Ia hanya tumbuh baik sepanjang empat hingga lima bulan dalam satu tahun. Tumbuh-kembang tanaman tembakau dengan baik itu umumnya terjadi pada musim kemarau setiap tahunnya. Hanya sedikit sekali jenis tembakau yang tumbuh baik di musim penghujan, mayoritasnya, tumbuh baik pada musim kemarau.<\/p>\n \n\n \n

Jika ditanam pada musim hujan, hampir bisa dipastikan tanaman tembakau akan gagal menghasilkan daun-daun yang berkualitas. Ia akan rusak dan membusuk karena terlalu banyak terkena air sehingga daun-daun itu tak layak dijual. Jangankan bisa dijual, untuk tumbuh dengan baik pun sepertinya sulit karena musim hujan akan membunuh banyak tanaman itu.<\/p>\n \n\n \n

Maka, tak heran pada musim-musim seperti saat ini, ketika musim penghujan mendekati puncaknya, di wilayah-wilayah yang dikenal sebagai sentra pertanian tembakau, sulit menemukan pohon tembakau yang sedang tumbuh. Pada lahan-lahan yang sebelumnya ditumbuhi tanaman tembakau pada musim panas, berganti tanaman-tanaman lain yang bermacam-macam, sesuai dengan kondisi lahannya. Untuk lahan sawah, lahan-lahan itu pada musim penghujan kini ditumbuhi tanaman padi yang subur. Pada lahan tegalan dan lahan di pegunungan, lahan-lahan yang ditanami tembakau pada musim kemarau, saat ini ditumbuhi bermacam jenis tanaman mulai dari cabai, bawang, tomat, kol, terong, mentimun, dan ragam jenis tanaman semusim lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Uniknya, tipikal tanaman tembakau yang tumbuh baik di musim kemarau ini memberi pilihan lebih kepada para petani. Lahan-lahan yang sulit ditanami pada musim kemarau, pada akhirnya masih bisa tetap produktif dengan keberadaan tanaman tembakau. <\/p>\n \n\n \n

Maka, kampanye aneh mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain dengan ragam rupa dalih yang membingungkan, bukan saja sama sekali tidak tepat dan asal-asalan, namun bisa jadi akan ditertawakan oleh para petani yang begitu paham dengan kondisi lahan dan terutama kondisi iklim dan cuaca. Sulit mencari tanaman semusim yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Jika pun ada, tak ada yang semenguntungkan tanaman tembakau.
<\/p>\n ","post_title":"Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"keberhasilan-gerakan-anti-tembakau-tak-ada-tembakau-saat-musim-hujan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-07 12:16:02","post_modified_gmt":"2019-02-07 05:16:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5415","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5409,"post_author":"919","post_date":"2019-02-05 08:04:43","post_date_gmt":"2019-02-05 01:04:43","post_content":" \n

Tahun Baru Imlek yang merupakan tradisi Bangsa Tiongkok kini sudah tak lagi menjadi hal yang asing bagi masyarakat Indonesia. Kehadirannya sudah mewarnai dan berakulturasi dengan tradisi lokal. Menjelang Tahun Baru Imlek. Berbagai hiasan dan kemeriahan terjadi beberapa titik di Tanah Air. Perayaannya juga menjadi destinasi baru yang mengasyikkan untuk dilihat dan patut disaksikan.<\/p>\n \n\n \n

Berterimakasihlah kepada sang bapak bangsa, KH Abdurrahman Wahid atau yang dikenal dengan nama Gus Dur. Berkat kebijakannya saat menjadi Presiden Indonesia, Tahun Baru Imlek resmi dijadikan hari libur nasional dan dianggap sebagai salah satu hari raya di Tanah Air. Meski sentimen antitionghoa masih ada di sana-sini, tapi tetap tak bisa dipungkiri bahwa bangsa tionghoa sudah bersentuhan dengan budaya lokal dalam kurun waktu yang sangat panjang.<\/p>\n \n\n \n

DNA Bangsa Tionghoa yang memang merupakan pedagang menjadi pembuka kisah interaksi antara nenek moyang berbagai suku di Nusantara dengan mereka. Beberapa kelenteng-kelenteng yang tersebar pada berbagai pesisir daerah di Nusantara jadi buktinya. Pelabuhan-pelabuhan tua di tanah air dan ramainya perdagangan di pesisir mempermudah bangsa kita berhubungan dengan Bangsa Tionghoa.<\/p>\n \n\n \n

Baca Juga: Wong Kalang dan Kota Gede<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa kehadiran Bangsa Tionghoa di Nusantara tak hanya sebagai pedagang, namun juga sebagai pekerja (bahkan hingga pekerja kasar). Benny Setiono, seorang sejarahwan menyebutkan bahwa antara tahun 1760-1770 dalam jumlah yang besar memasuki nusantara melalui Kalimantan Barat. Mereka bekerja sebagai kuli pertambangan di sana dan di kemudian hari membentuk sebuah republik bernama Republik Lanfang yang konon katanya menjadi republik pertama di Asia Tenggara.<\/p>\n \n\n \n

Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n \n\n \n

Baca Juga: Imlek dan Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n

Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n \n\n \n

Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n \n\n \n

Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n \n\n \n

Baca Juga: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n \n\n \n

Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
<\/p>\n ","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_3o3","class":"epic_block_3"};

\n

Masa suram cengkeh dan pala terus berlangsung sampai pertengahan abad-20. Rempah eksotika yang pernah membuat tergila-gila<\/p>\n \n\n\n

para saudagar Arab, pedagang Cina, serta kaum ningrat Eropa itu, tergantikan perannya oleh penemuan teknologi mesin pendingin berkat Revolusi Industri yang dimulai di Inggris pada pertengahan abad-18. Pasaran cengkeh di Eropa pun merosot tajam.
<\/p>\n \n\n \n

Nasibnya terselamatkan berkat penemuan oleh seorang Haji Djamhari di Kudus, Jawa Tengah. Pada akhir tahun 1880-an, Haji Djamhari menemukan kegunaan baru cengkeh sebagai ramuan utama rokok. Lahirlah satu produk baru yang unik, khas dan asli Indonesia: kretek! (Hanusz, 2000:ii).
<\/p>\n \n\n \n

Setelah seperempat abad hanya berkembang dalam skala kecil usaha rumah tangga, produksi kretek akhirnya menjelma menjadi industri besar sejak awal abad-20 yang dirintis oleh Haji Nitisemito (pendiri pabrik \u2018Jambu Bol\u2019) di Kudus dan Liem Seng Tee (pendiri pabrik \u2018Dji Sam Soe\u2019 dan \u2018Sampoerna\u2019) di Surabaya.
<\/p>\n \n\n \n

Puncaknya adalah pada pertengahan tahun 1950-an, ketika produksi kretek mulai berkembang pesat menjadi industri raksasa modern dengan munculnya beberapa pabrik baru, antara lain, yang terkemuka, oleh Oei Wei Gwan (pendiri pabrik \u2018Djarum\u2019) di Kudus dan Tjou Ing Hwie (pendiri pabrik \u2018Gudang Garam\u2019) di Kediri (Topatimasang, et.al., eds., 2010:131).<\/p>\n \n\n \n

Baca: Teruslah Menanam Tembakau dan Cengkeh, Wahai Petani Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n

Cengkeh, bahan baku paling esensial dari kretek --selain tembakau, tentu saja-- pun kembali berjaya. Bahkan, sejak dasawarsa 1970an, telah menjadi salah satu penyumbang terbesar keuangan negara Republik Indonesia. Pada tahun 2012 dan 2013, pemasukan cukai dari industri kretek mencatat 95,5% dari seluruh pemasukan cukai ke kas negara. Nilainya tak tanggung-tanggung: Rp 87 triliun! (el-Guyanie, et.al.: 2013:4-5).<\/strong>
<\/p>\n \n\n \n

Nilai ekonomisnya yang sangat besar sempat menggoda penguasa otoriter rezim Presiden Soeharto, pada 1990-an, memberlakukan satu kebijakan \u2018Hongi Gaya Baru\u2019: monopoli perdagangan cengkeh dalam negeri melalui Badan Penyanggah dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) yang sangat merugikan petani. Harga cengkeh di tingkat petani penghasil anjlok sampai hanya Rp 2.000 - 3.000 per kilogram, lebih murah dari harga sebungkus kretek yang dihasilkan darinya.
<\/p>\n \n\n \n

Akibatnya, ratusan ribu pohon cengkeh di daerah-daerah penghasil utama --Maluku, Maluku Utara, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Selatan-- ditebangi atau dibiarkan terlantar tak terurus.
<\/p>\n \n\n \n

Gelombang reformasi sistem politik dan hukum nasional yang dimulai pada tahun 1998, akhirnya menjungkalkan rezim Soeharto dan BPPC dibubarkan, Pelan tapi pasti, harga cengkeh kembali merangkak naik, sehingga pada tahun 2012, bahkan melewati angka Rp 200.000 per kilogram. Para petani cengkeh di seluruh negeri kembali tersenyum. Tetapi, sampai kapan? <\/p>\n \n\n \n

Catatan:<\/strong><\/p>\n \n\n \n

[1] Beberapa sumber menyebutkan bahwa kata \u2018cengkeh\u2019 dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Mandarin, tkeng-his atau xi\u2019jia, yang berarti \u2018rempah [berbentuk mirip] paku\u2019 (scented nails). Ini menunjukkan bahwa cengkeh sudah dikenal sejak lama oleh bangsa Cina --diketahui sejak abad-2-- jauh sebelum orang Eropa mengenalnya ((lihat, misalnya: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n \n\n \n

[2] Catatan-catatan para biarawan Fransiskan --yang disalin dan dikutip oleh van Frassen-- bahkan menyebut cengkeh sebagai salah satu bahan utama pengawet mumi para Fir\u2019aun, penguasa Mesir Kuno. Beberapa pakar sejarah dan arkeologi menyatakan bahwa rempah-rempah Maluku bahkan sudah ditemukan artefaknya di Lembah Mesopotomia (wilayah Iraq dan sekitarnya sekarang) pada 3.000 tahun sebelum Masehi. (lihat, antara lain: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n \n\n \n

[3] Uraian lebih rinci sejarah kolonialisme rempah-rempah Nusantara ini, terutama oleh Belanda dan Portugis, dapat dibaca pada beberapa sumber kepustakaan yang sudah dikenal luas, antara lain: Glamann (1958) dan Boxer (1965 dan 1969). Dalam risalah klasik Pires disebutkan bahwa pada tahun 1512-1521 saja, jumlah produksi cengkeh di Maluku sudah mencapai 7.250 bahar per tahun, terbesar adalah di Makian serta Amboina dan Lease (masing-masing 1.500 bahar)(Pires, 1512-1515).<\/em>
<\/p>\n \n\n \n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem Topatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n ","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-10 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-02-10 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5425","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5415,"post_author":"878","post_date":"2019-02-07 12:15:55","post_date_gmt":"2019-02-07 05:15:55","post_content":" \n

Belakangan ini, ketika musim hujan tiba, di Kabupaten Temanggung, Kabupaten Jember, dan beberapa wilayah sentra pertanian tembakau lainnya, hampir mustahil menemukan tanaman tembakau tumbuh di lahan-lahan milik petani. Di wilayah-wilayah tersebut, citra sebagai sentra pertanian tembakau seakan menguap. Lahan-lahan yang ada di sana, sama sekali tidak ditumbuhi tanaman tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Kabar ini bisa jadi dianggap sebagai kabar gembira bagi mereka yang menganggap diri dan kelompoknya anti-rokok dan anti-tembakau yang selalu mengampanyekan sikap-sikap mereka terkait kebencian kepada tembakau dan aktivitas merokok. Setelah sekian lama berjuang, akhirnya perjuangan mereka dirasa berhasil usai menyaksikan fenomena lahan-lahan di wilayah yang dianggap sentra pertanian tembakau pada hari-hari belakangan ini.<\/p>\n \n\n \n

Baca juga: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Tak sia-sia turun ke jalan, tak sia-sia melakukan lobi-lobi ke penguasa, tak sia-sia mengucurkan uang yang tidak sedikit, dan tak sia-sia mempermalukan diri dengan mengemis ke lembaga donor asing dan menggondol uang dari cukai tembakau untuk mengampanyekan gerakan anti-rokok dan anti-tembakau. Tak sia-sia. Karena perjuangan sepertinya berhasil.<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

Kampanye-kampanye gerakan mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya, sepertinya juga sangat berhasil. Bagaimana tidak? Wilayah-wilayah yang sebelumnya penuh dengan tanaman tembakau dan bergeliat dengannya, kini lahan-lahannya sudah berganti dengan tanaman lain. Sebuah keberhasilan yang menggembirakan. Begitu mungkin pikir mereka para yang menganggap dirinya pejuang anti-rokok dan anti-tembakau. Dan tentu saja mereka akan kecele dan kita akan menertawakan hal itu.<\/p>\n \n\n \n

Sayangnya, mereka yang menganggap dirinya anti-rokok dan anti-tembakau tidak menyaksikan langsung fenomena ini di lapangan, di lahan-lahan yang peruntukannya berubah pada hari-hari belakangan ini ketika memasuki musim hujan. Mereka asyik duduk pada kursi empuk di ruang-ruang nyaman ber-AC di kota-kota yang jauh dari kultur pertanian. Mereka menyengajakan diri menjadi elit dan enggan untuk turun melihat langsung ke lapangan. Kalaupun ada yang turun langsung ke lapangan, hanya segelintir saja dari mereka, itupun sekadar formalitas saja. Tak pernah benar-benar mau turun ke lapangan, hidup dan merasakan langsung kultur pertanian tembakau dalam jangka waktu cukup lama di lapangan.<\/p>\n \n\n \n

Baca juga: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Fenomena ini membikin kita tak bisa melihat mereka para anti-rokok kecele lalu menertawakan mereka.<\/strong> Fenomena keengganan terjun langsung ke lapangan terlebih mencoba mendengar mereka yang tetap menanam tembakau, juga menjalani keseharian dalam waktu cukup lama bersama petani tembakau inilah yang saya kira menjadikan mereka tetap keras kepala untuk anti-rokok dan anti-tembakau. Karena jika mereka mau melakukan itu, saya yakin mereka semua tidak akan begitu kaku dalam memandang pertanian tembakau dan produk hasil industri tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Salah satu yang selalu mereka kampanyekan dan ngotot dengan itu, terkait hulu pertanian tembakau adalah mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya. Mereka berargumen banyak tanaman lain yang bisa semenguntungkan tanaman tembakau. Keengganan mereka terjun langsung ke lapangan inilah yang membikin mereka buta dengan kondisi pertanian tembakau dan pada akhirnya terus menerus mengampanyekan pergantian tanaman tembakau dengan tanaman lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Baca juga: Imanlah kepada Allah, Bukan Antirokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Tembakau tanaman yang khas. Ia hanya tumbuh baik sepanjang empat hingga lima bulan dalam satu tahun. Tumbuh-kembang tanaman tembakau dengan baik itu umumnya terjadi pada musim kemarau setiap tahunnya. Hanya sedikit sekali jenis tembakau yang tumbuh baik di musim penghujan, mayoritasnya, tumbuh baik pada musim kemarau.<\/p>\n \n\n \n

Jika ditanam pada musim hujan, hampir bisa dipastikan tanaman tembakau akan gagal menghasilkan daun-daun yang berkualitas. Ia akan rusak dan membusuk karena terlalu banyak terkena air sehingga daun-daun itu tak layak dijual. Jangankan bisa dijual, untuk tumbuh dengan baik pun sepertinya sulit karena musim hujan akan membunuh banyak tanaman itu.<\/p>\n \n\n \n

Maka, tak heran pada musim-musim seperti saat ini, ketika musim penghujan mendekati puncaknya, di wilayah-wilayah yang dikenal sebagai sentra pertanian tembakau, sulit menemukan pohon tembakau yang sedang tumbuh. Pada lahan-lahan yang sebelumnya ditumbuhi tanaman tembakau pada musim panas, berganti tanaman-tanaman lain yang bermacam-macam, sesuai dengan kondisi lahannya. Untuk lahan sawah, lahan-lahan itu pada musim penghujan kini ditumbuhi tanaman padi yang subur. Pada lahan tegalan dan lahan di pegunungan, lahan-lahan yang ditanami tembakau pada musim kemarau, saat ini ditumbuhi bermacam jenis tanaman mulai dari cabai, bawang, tomat, kol, terong, mentimun, dan ragam jenis tanaman semusim lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Uniknya, tipikal tanaman tembakau yang tumbuh baik di musim kemarau ini memberi pilihan lebih kepada para petani. Lahan-lahan yang sulit ditanami pada musim kemarau, pada akhirnya masih bisa tetap produktif dengan keberadaan tanaman tembakau. <\/p>\n \n\n \n

Maka, kampanye aneh mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain dengan ragam rupa dalih yang membingungkan, bukan saja sama sekali tidak tepat dan asal-asalan, namun bisa jadi akan ditertawakan oleh para petani yang begitu paham dengan kondisi lahan dan terutama kondisi iklim dan cuaca. Sulit mencari tanaman semusim yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Jika pun ada, tak ada yang semenguntungkan tanaman tembakau.
<\/p>\n ","post_title":"Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"keberhasilan-gerakan-anti-tembakau-tak-ada-tembakau-saat-musim-hujan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-07 12:16:02","post_modified_gmt":"2019-02-07 05:16:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5415","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5409,"post_author":"919","post_date":"2019-02-05 08:04:43","post_date_gmt":"2019-02-05 01:04:43","post_content":" \n

Tahun Baru Imlek yang merupakan tradisi Bangsa Tiongkok kini sudah tak lagi menjadi hal yang asing bagi masyarakat Indonesia. Kehadirannya sudah mewarnai dan berakulturasi dengan tradisi lokal. Menjelang Tahun Baru Imlek. Berbagai hiasan dan kemeriahan terjadi beberapa titik di Tanah Air. Perayaannya juga menjadi destinasi baru yang mengasyikkan untuk dilihat dan patut disaksikan.<\/p>\n \n\n \n

Berterimakasihlah kepada sang bapak bangsa, KH Abdurrahman Wahid atau yang dikenal dengan nama Gus Dur. Berkat kebijakannya saat menjadi Presiden Indonesia, Tahun Baru Imlek resmi dijadikan hari libur nasional dan dianggap sebagai salah satu hari raya di Tanah Air. Meski sentimen antitionghoa masih ada di sana-sini, tapi tetap tak bisa dipungkiri bahwa bangsa tionghoa sudah bersentuhan dengan budaya lokal dalam kurun waktu yang sangat panjang.<\/p>\n \n\n \n

DNA Bangsa Tionghoa yang memang merupakan pedagang menjadi pembuka kisah interaksi antara nenek moyang berbagai suku di Nusantara dengan mereka. Beberapa kelenteng-kelenteng yang tersebar pada berbagai pesisir daerah di Nusantara jadi buktinya. Pelabuhan-pelabuhan tua di tanah air dan ramainya perdagangan di pesisir mempermudah bangsa kita berhubungan dengan Bangsa Tionghoa.<\/p>\n \n\n \n

Baca Juga: Wong Kalang dan Kota Gede<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa kehadiran Bangsa Tionghoa di Nusantara tak hanya sebagai pedagang, namun juga sebagai pekerja (bahkan hingga pekerja kasar). Benny Setiono, seorang sejarahwan menyebutkan bahwa antara tahun 1760-1770 dalam jumlah yang besar memasuki nusantara melalui Kalimantan Barat. Mereka bekerja sebagai kuli pertambangan di sana dan di kemudian hari membentuk sebuah republik bernama Republik Lanfang yang konon katanya menjadi republik pertama di Asia Tenggara.<\/p>\n \n\n \n

Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n \n\n \n

Baca Juga: Imlek dan Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n

Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n \n\n \n

Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n \n\n \n

Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n \n\n \n

Baca Juga: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n \n\n \n

Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
<\/p>\n ","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_3o3","class":"epic_block_3"};

\n

Meskipun peran utama rempah-rempah Maluku itu kemudian tergusur pada abad-18 dan 19 oleh beberapa barang eksotika tropis lainnya --hasil perkebunan-perkebunana besar baru di Pulau Sumatera dan Jawa: tebu, tembakau, lada, kopi, teh, nila, kelapa sawit, dan kayu jati-- namun sejarah sudah mencatat bahwa dua jenis rempah-rempah Maluku itulah yang mengawali penjelajahan sekaligus penjajahan kepulauan Nusantara oleh bangsa-bangsa Eropah, terutama Belanda (Topatimasang, ed., 2004:32). Jika saja tak pernah ada cengkeh dan pala di Maluku, mungkin sejarah kepulauan Nusantara ini akan berbeda sama sekali.
<\/p>\n \n\n\n

Masa suram cengkeh dan pala terus berlangsung sampai pertengahan abad-20. Rempah eksotika yang pernah membuat tergila-gila<\/p>\n \n\n \n

para saudagar Arab, pedagang Cina, serta kaum ningrat Eropa itu, tergantikan perannya oleh penemuan teknologi mesin pendingin berkat Revolusi Industri yang dimulai di Inggris pada pertengahan abad-18. Pasaran cengkeh di Eropa pun merosot tajam.
<\/p>\n \n\n \n

Nasibnya terselamatkan berkat penemuan oleh seorang Haji Djamhari di Kudus, Jawa Tengah. Pada akhir tahun 1880-an, Haji Djamhari menemukan kegunaan baru cengkeh sebagai ramuan utama rokok. Lahirlah satu produk baru yang unik, khas dan asli Indonesia: kretek! (Hanusz, 2000:ii).
<\/p>\n \n\n \n

Setelah seperempat abad hanya berkembang dalam skala kecil usaha rumah tangga, produksi kretek akhirnya menjelma menjadi industri besar sejak awal abad-20 yang dirintis oleh Haji Nitisemito (pendiri pabrik \u2018Jambu Bol\u2019) di Kudus dan Liem Seng Tee (pendiri pabrik \u2018Dji Sam Soe\u2019 dan \u2018Sampoerna\u2019) di Surabaya.
<\/p>\n \n\n \n

Puncaknya adalah pada pertengahan tahun 1950-an, ketika produksi kretek mulai berkembang pesat menjadi industri raksasa modern dengan munculnya beberapa pabrik baru, antara lain, yang terkemuka, oleh Oei Wei Gwan (pendiri pabrik \u2018Djarum\u2019) di Kudus dan Tjou Ing Hwie (pendiri pabrik \u2018Gudang Garam\u2019) di Kediri (Topatimasang, et.al., eds., 2010:131).<\/p>\n \n\n \n

Baca: Teruslah Menanam Tembakau dan Cengkeh, Wahai Petani Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n

Cengkeh, bahan baku paling esensial dari kretek --selain tembakau, tentu saja-- pun kembali berjaya. Bahkan, sejak dasawarsa 1970an, telah menjadi salah satu penyumbang terbesar keuangan negara Republik Indonesia. Pada tahun 2012 dan 2013, pemasukan cukai dari industri kretek mencatat 95,5% dari seluruh pemasukan cukai ke kas negara. Nilainya tak tanggung-tanggung: Rp 87 triliun! (el-Guyanie, et.al.: 2013:4-5).<\/strong>
<\/p>\n \n\n \n

Nilai ekonomisnya yang sangat besar sempat menggoda penguasa otoriter rezim Presiden Soeharto, pada 1990-an, memberlakukan satu kebijakan \u2018Hongi Gaya Baru\u2019: monopoli perdagangan cengkeh dalam negeri melalui Badan Penyanggah dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) yang sangat merugikan petani. Harga cengkeh di tingkat petani penghasil anjlok sampai hanya Rp 2.000 - 3.000 per kilogram, lebih murah dari harga sebungkus kretek yang dihasilkan darinya.
<\/p>\n \n\n \n

Akibatnya, ratusan ribu pohon cengkeh di daerah-daerah penghasil utama --Maluku, Maluku Utara, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Selatan-- ditebangi atau dibiarkan terlantar tak terurus.
<\/p>\n \n\n \n

Gelombang reformasi sistem politik dan hukum nasional yang dimulai pada tahun 1998, akhirnya menjungkalkan rezim Soeharto dan BPPC dibubarkan, Pelan tapi pasti, harga cengkeh kembali merangkak naik, sehingga pada tahun 2012, bahkan melewati angka Rp 200.000 per kilogram. Para petani cengkeh di seluruh negeri kembali tersenyum. Tetapi, sampai kapan? <\/p>\n \n\n \n

Catatan:<\/strong><\/p>\n \n\n \n

[1] Beberapa sumber menyebutkan bahwa kata \u2018cengkeh\u2019 dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Mandarin, tkeng-his atau xi\u2019jia, yang berarti \u2018rempah [berbentuk mirip] paku\u2019 (scented nails). Ini menunjukkan bahwa cengkeh sudah dikenal sejak lama oleh bangsa Cina --diketahui sejak abad-2-- jauh sebelum orang Eropa mengenalnya ((lihat, misalnya: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n \n\n \n

[2] Catatan-catatan para biarawan Fransiskan --yang disalin dan dikutip oleh van Frassen-- bahkan menyebut cengkeh sebagai salah satu bahan utama pengawet mumi para Fir\u2019aun, penguasa Mesir Kuno. Beberapa pakar sejarah dan arkeologi menyatakan bahwa rempah-rempah Maluku bahkan sudah ditemukan artefaknya di Lembah Mesopotomia (wilayah Iraq dan sekitarnya sekarang) pada 3.000 tahun sebelum Masehi. (lihat, antara lain: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n \n\n \n

[3] Uraian lebih rinci sejarah kolonialisme rempah-rempah Nusantara ini, terutama oleh Belanda dan Portugis, dapat dibaca pada beberapa sumber kepustakaan yang sudah dikenal luas, antara lain: Glamann (1958) dan Boxer (1965 dan 1969). Dalam risalah klasik Pires disebutkan bahwa pada tahun 1512-1521 saja, jumlah produksi cengkeh di Maluku sudah mencapai 7.250 bahar per tahun, terbesar adalah di Makian serta Amboina dan Lease (masing-masing 1.500 bahar)(Pires, 1512-1515).<\/em>
<\/p>\n \n\n \n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem Topatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n ","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-10 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-02-10 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5425","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5415,"post_author":"878","post_date":"2019-02-07 12:15:55","post_date_gmt":"2019-02-07 05:15:55","post_content":" \n

Belakangan ini, ketika musim hujan tiba, di Kabupaten Temanggung, Kabupaten Jember, dan beberapa wilayah sentra pertanian tembakau lainnya, hampir mustahil menemukan tanaman tembakau tumbuh di lahan-lahan milik petani. Di wilayah-wilayah tersebut, citra sebagai sentra pertanian tembakau seakan menguap. Lahan-lahan yang ada di sana, sama sekali tidak ditumbuhi tanaman tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Kabar ini bisa jadi dianggap sebagai kabar gembira bagi mereka yang menganggap diri dan kelompoknya anti-rokok dan anti-tembakau yang selalu mengampanyekan sikap-sikap mereka terkait kebencian kepada tembakau dan aktivitas merokok. Setelah sekian lama berjuang, akhirnya perjuangan mereka dirasa berhasil usai menyaksikan fenomena lahan-lahan di wilayah yang dianggap sentra pertanian tembakau pada hari-hari belakangan ini.<\/p>\n \n\n \n

Baca juga: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Tak sia-sia turun ke jalan, tak sia-sia melakukan lobi-lobi ke penguasa, tak sia-sia mengucurkan uang yang tidak sedikit, dan tak sia-sia mempermalukan diri dengan mengemis ke lembaga donor asing dan menggondol uang dari cukai tembakau untuk mengampanyekan gerakan anti-rokok dan anti-tembakau. Tak sia-sia. Karena perjuangan sepertinya berhasil.<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

Kampanye-kampanye gerakan mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya, sepertinya juga sangat berhasil. Bagaimana tidak? Wilayah-wilayah yang sebelumnya penuh dengan tanaman tembakau dan bergeliat dengannya, kini lahan-lahannya sudah berganti dengan tanaman lain. Sebuah keberhasilan yang menggembirakan. Begitu mungkin pikir mereka para yang menganggap dirinya pejuang anti-rokok dan anti-tembakau. Dan tentu saja mereka akan kecele dan kita akan menertawakan hal itu.<\/p>\n \n\n \n

Sayangnya, mereka yang menganggap dirinya anti-rokok dan anti-tembakau tidak menyaksikan langsung fenomena ini di lapangan, di lahan-lahan yang peruntukannya berubah pada hari-hari belakangan ini ketika memasuki musim hujan. Mereka asyik duduk pada kursi empuk di ruang-ruang nyaman ber-AC di kota-kota yang jauh dari kultur pertanian. Mereka menyengajakan diri menjadi elit dan enggan untuk turun melihat langsung ke lapangan. Kalaupun ada yang turun langsung ke lapangan, hanya segelintir saja dari mereka, itupun sekadar formalitas saja. Tak pernah benar-benar mau turun ke lapangan, hidup dan merasakan langsung kultur pertanian tembakau dalam jangka waktu cukup lama di lapangan.<\/p>\n \n\n \n

Baca juga: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Fenomena ini membikin kita tak bisa melihat mereka para anti-rokok kecele lalu menertawakan mereka.<\/strong> Fenomena keengganan terjun langsung ke lapangan terlebih mencoba mendengar mereka yang tetap menanam tembakau, juga menjalani keseharian dalam waktu cukup lama bersama petani tembakau inilah yang saya kira menjadikan mereka tetap keras kepala untuk anti-rokok dan anti-tembakau. Karena jika mereka mau melakukan itu, saya yakin mereka semua tidak akan begitu kaku dalam memandang pertanian tembakau dan produk hasil industri tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Salah satu yang selalu mereka kampanyekan dan ngotot dengan itu, terkait hulu pertanian tembakau adalah mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya. Mereka berargumen banyak tanaman lain yang bisa semenguntungkan tanaman tembakau. Keengganan mereka terjun langsung ke lapangan inilah yang membikin mereka buta dengan kondisi pertanian tembakau dan pada akhirnya terus menerus mengampanyekan pergantian tanaman tembakau dengan tanaman lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Baca juga: Imanlah kepada Allah, Bukan Antirokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Tembakau tanaman yang khas. Ia hanya tumbuh baik sepanjang empat hingga lima bulan dalam satu tahun. Tumbuh-kembang tanaman tembakau dengan baik itu umumnya terjadi pada musim kemarau setiap tahunnya. Hanya sedikit sekali jenis tembakau yang tumbuh baik di musim penghujan, mayoritasnya, tumbuh baik pada musim kemarau.<\/p>\n \n\n \n

Jika ditanam pada musim hujan, hampir bisa dipastikan tanaman tembakau akan gagal menghasilkan daun-daun yang berkualitas. Ia akan rusak dan membusuk karena terlalu banyak terkena air sehingga daun-daun itu tak layak dijual. Jangankan bisa dijual, untuk tumbuh dengan baik pun sepertinya sulit karena musim hujan akan membunuh banyak tanaman itu.<\/p>\n \n\n \n

Maka, tak heran pada musim-musim seperti saat ini, ketika musim penghujan mendekati puncaknya, di wilayah-wilayah yang dikenal sebagai sentra pertanian tembakau, sulit menemukan pohon tembakau yang sedang tumbuh. Pada lahan-lahan yang sebelumnya ditumbuhi tanaman tembakau pada musim panas, berganti tanaman-tanaman lain yang bermacam-macam, sesuai dengan kondisi lahannya. Untuk lahan sawah, lahan-lahan itu pada musim penghujan kini ditumbuhi tanaman padi yang subur. Pada lahan tegalan dan lahan di pegunungan, lahan-lahan yang ditanami tembakau pada musim kemarau, saat ini ditumbuhi bermacam jenis tanaman mulai dari cabai, bawang, tomat, kol, terong, mentimun, dan ragam jenis tanaman semusim lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Uniknya, tipikal tanaman tembakau yang tumbuh baik di musim kemarau ini memberi pilihan lebih kepada para petani. Lahan-lahan yang sulit ditanami pada musim kemarau, pada akhirnya masih bisa tetap produktif dengan keberadaan tanaman tembakau. <\/p>\n \n\n \n

Maka, kampanye aneh mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain dengan ragam rupa dalih yang membingungkan, bukan saja sama sekali tidak tepat dan asal-asalan, namun bisa jadi akan ditertawakan oleh para petani yang begitu paham dengan kondisi lahan dan terutama kondisi iklim dan cuaca. Sulit mencari tanaman semusim yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Jika pun ada, tak ada yang semenguntungkan tanaman tembakau.
<\/p>\n ","post_title":"Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"keberhasilan-gerakan-anti-tembakau-tak-ada-tembakau-saat-musim-hujan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-07 12:16:02","post_modified_gmt":"2019-02-07 05:16:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5415","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5409,"post_author":"919","post_date":"2019-02-05 08:04:43","post_date_gmt":"2019-02-05 01:04:43","post_content":" \n

Tahun Baru Imlek yang merupakan tradisi Bangsa Tiongkok kini sudah tak lagi menjadi hal yang asing bagi masyarakat Indonesia. Kehadirannya sudah mewarnai dan berakulturasi dengan tradisi lokal. Menjelang Tahun Baru Imlek. Berbagai hiasan dan kemeriahan terjadi beberapa titik di Tanah Air. Perayaannya juga menjadi destinasi baru yang mengasyikkan untuk dilihat dan patut disaksikan.<\/p>\n \n\n \n

Berterimakasihlah kepada sang bapak bangsa, KH Abdurrahman Wahid atau yang dikenal dengan nama Gus Dur. Berkat kebijakannya saat menjadi Presiden Indonesia, Tahun Baru Imlek resmi dijadikan hari libur nasional dan dianggap sebagai salah satu hari raya di Tanah Air. Meski sentimen antitionghoa masih ada di sana-sini, tapi tetap tak bisa dipungkiri bahwa bangsa tionghoa sudah bersentuhan dengan budaya lokal dalam kurun waktu yang sangat panjang.<\/p>\n \n\n \n

DNA Bangsa Tionghoa yang memang merupakan pedagang menjadi pembuka kisah interaksi antara nenek moyang berbagai suku di Nusantara dengan mereka. Beberapa kelenteng-kelenteng yang tersebar pada berbagai pesisir daerah di Nusantara jadi buktinya. Pelabuhan-pelabuhan tua di tanah air dan ramainya perdagangan di pesisir mempermudah bangsa kita berhubungan dengan Bangsa Tionghoa.<\/p>\n \n\n \n

Baca Juga: Wong Kalang dan Kota Gede<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa kehadiran Bangsa Tionghoa di Nusantara tak hanya sebagai pedagang, namun juga sebagai pekerja (bahkan hingga pekerja kasar). Benny Setiono, seorang sejarahwan menyebutkan bahwa antara tahun 1760-1770 dalam jumlah yang besar memasuki nusantara melalui Kalimantan Barat. Mereka bekerja sebagai kuli pertambangan di sana dan di kemudian hari membentuk sebuah republik bernama Republik Lanfang yang konon katanya menjadi republik pertama di Asia Tenggara.<\/p>\n \n\n \n

Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n \n\n \n

Baca Juga: Imlek dan Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n

Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n \n\n \n

Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n \n\n \n

Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n \n\n \n

Baca Juga: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n \n\n \n

Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
<\/p>\n ","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_3o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Budidaya Pohon Cengkeh<\/a><\/h2>\n \n\n\n

Meskipun peran utama rempah-rempah Maluku itu kemudian tergusur pada abad-18 dan 19 oleh beberapa barang eksotika tropis lainnya --hasil perkebunan-perkebunana besar baru di Pulau Sumatera dan Jawa: tebu, tembakau, lada, kopi, teh, nila, kelapa sawit, dan kayu jati-- namun sejarah sudah mencatat bahwa dua jenis rempah-rempah Maluku itulah yang mengawali penjelajahan sekaligus penjajahan kepulauan Nusantara oleh bangsa-bangsa Eropah, terutama Belanda (Topatimasang, ed., 2004:32). Jika saja tak pernah ada cengkeh dan pala di Maluku, mungkin sejarah kepulauan Nusantara ini akan berbeda sama sekali.
<\/p>\n \n\n \n

Masa suram cengkeh dan pala terus berlangsung sampai pertengahan abad-20. Rempah eksotika yang pernah membuat tergila-gila<\/p>\n \n\n \n

para saudagar Arab, pedagang Cina, serta kaum ningrat Eropa itu, tergantikan perannya oleh penemuan teknologi mesin pendingin berkat Revolusi Industri yang dimulai di Inggris pada pertengahan abad-18. Pasaran cengkeh di Eropa pun merosot tajam.
<\/p>\n \n\n \n

Nasibnya terselamatkan berkat penemuan oleh seorang Haji Djamhari di Kudus, Jawa Tengah. Pada akhir tahun 1880-an, Haji Djamhari menemukan kegunaan baru cengkeh sebagai ramuan utama rokok. Lahirlah satu produk baru yang unik, khas dan asli Indonesia: kretek! (Hanusz, 2000:ii).
<\/p>\n \n\n \n

Setelah seperempat abad hanya berkembang dalam skala kecil usaha rumah tangga, produksi kretek akhirnya menjelma menjadi industri besar sejak awal abad-20 yang dirintis oleh Haji Nitisemito (pendiri pabrik \u2018Jambu Bol\u2019) di Kudus dan Liem Seng Tee (pendiri pabrik \u2018Dji Sam Soe\u2019 dan \u2018Sampoerna\u2019) di Surabaya.
<\/p>\n \n\n \n

Puncaknya adalah pada pertengahan tahun 1950-an, ketika produksi kretek mulai berkembang pesat menjadi industri raksasa modern dengan munculnya beberapa pabrik baru, antara lain, yang terkemuka, oleh Oei Wei Gwan (pendiri pabrik \u2018Djarum\u2019) di Kudus dan Tjou Ing Hwie (pendiri pabrik \u2018Gudang Garam\u2019) di Kediri (Topatimasang, et.al., eds., 2010:131).<\/p>\n \n\n \n

Baca: Teruslah Menanam Tembakau dan Cengkeh, Wahai Petani Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n

Cengkeh, bahan baku paling esensial dari kretek --selain tembakau, tentu saja-- pun kembali berjaya. Bahkan, sejak dasawarsa 1970an, telah menjadi salah satu penyumbang terbesar keuangan negara Republik Indonesia. Pada tahun 2012 dan 2013, pemasukan cukai dari industri kretek mencatat 95,5% dari seluruh pemasukan cukai ke kas negara. Nilainya tak tanggung-tanggung: Rp 87 triliun! (el-Guyanie, et.al.: 2013:4-5).<\/strong>
<\/p>\n \n\n \n

Nilai ekonomisnya yang sangat besar sempat menggoda penguasa otoriter rezim Presiden Soeharto, pada 1990-an, memberlakukan satu kebijakan \u2018Hongi Gaya Baru\u2019: monopoli perdagangan cengkeh dalam negeri melalui Badan Penyanggah dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) yang sangat merugikan petani. Harga cengkeh di tingkat petani penghasil anjlok sampai hanya Rp 2.000 - 3.000 per kilogram, lebih murah dari harga sebungkus kretek yang dihasilkan darinya.
<\/p>\n \n\n \n

Akibatnya, ratusan ribu pohon cengkeh di daerah-daerah penghasil utama --Maluku, Maluku Utara, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Selatan-- ditebangi atau dibiarkan terlantar tak terurus.
<\/p>\n \n\n \n

Gelombang reformasi sistem politik dan hukum nasional yang dimulai pada tahun 1998, akhirnya menjungkalkan rezim Soeharto dan BPPC dibubarkan, Pelan tapi pasti, harga cengkeh kembali merangkak naik, sehingga pada tahun 2012, bahkan melewati angka Rp 200.000 per kilogram. Para petani cengkeh di seluruh negeri kembali tersenyum. Tetapi, sampai kapan? <\/p>\n \n\n \n

Catatan:<\/strong><\/p>\n \n\n \n

[1] Beberapa sumber menyebutkan bahwa kata \u2018cengkeh\u2019 dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Mandarin, tkeng-his atau xi\u2019jia, yang berarti \u2018rempah [berbentuk mirip] paku\u2019 (scented nails). Ini menunjukkan bahwa cengkeh sudah dikenal sejak lama oleh bangsa Cina --diketahui sejak abad-2-- jauh sebelum orang Eropa mengenalnya ((lihat, misalnya: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n \n\n \n

[2] Catatan-catatan para biarawan Fransiskan --yang disalin dan dikutip oleh van Frassen-- bahkan menyebut cengkeh sebagai salah satu bahan utama pengawet mumi para Fir\u2019aun, penguasa Mesir Kuno. Beberapa pakar sejarah dan arkeologi menyatakan bahwa rempah-rempah Maluku bahkan sudah ditemukan artefaknya di Lembah Mesopotomia (wilayah Iraq dan sekitarnya sekarang) pada 3.000 tahun sebelum Masehi. (lihat, antara lain: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n \n\n \n

[3] Uraian lebih rinci sejarah kolonialisme rempah-rempah Nusantara ini, terutama oleh Belanda dan Portugis, dapat dibaca pada beberapa sumber kepustakaan yang sudah dikenal luas, antara lain: Glamann (1958) dan Boxer (1965 dan 1969). Dalam risalah klasik Pires disebutkan bahwa pada tahun 1512-1521 saja, jumlah produksi cengkeh di Maluku sudah mencapai 7.250 bahar per tahun, terbesar adalah di Makian serta Amboina dan Lease (masing-masing 1.500 bahar)(Pires, 1512-1515).<\/em>
<\/p>\n \n\n \n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem Topatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n ","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-10 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-02-10 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5425","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5415,"post_author":"878","post_date":"2019-02-07 12:15:55","post_date_gmt":"2019-02-07 05:15:55","post_content":" \n

Belakangan ini, ketika musim hujan tiba, di Kabupaten Temanggung, Kabupaten Jember, dan beberapa wilayah sentra pertanian tembakau lainnya, hampir mustahil menemukan tanaman tembakau tumbuh di lahan-lahan milik petani. Di wilayah-wilayah tersebut, citra sebagai sentra pertanian tembakau seakan menguap. Lahan-lahan yang ada di sana, sama sekali tidak ditumbuhi tanaman tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Kabar ini bisa jadi dianggap sebagai kabar gembira bagi mereka yang menganggap diri dan kelompoknya anti-rokok dan anti-tembakau yang selalu mengampanyekan sikap-sikap mereka terkait kebencian kepada tembakau dan aktivitas merokok. Setelah sekian lama berjuang, akhirnya perjuangan mereka dirasa berhasil usai menyaksikan fenomena lahan-lahan di wilayah yang dianggap sentra pertanian tembakau pada hari-hari belakangan ini.<\/p>\n \n\n \n

Baca juga: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Tak sia-sia turun ke jalan, tak sia-sia melakukan lobi-lobi ke penguasa, tak sia-sia mengucurkan uang yang tidak sedikit, dan tak sia-sia mempermalukan diri dengan mengemis ke lembaga donor asing dan menggondol uang dari cukai tembakau untuk mengampanyekan gerakan anti-rokok dan anti-tembakau. Tak sia-sia. Karena perjuangan sepertinya berhasil.<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

Kampanye-kampanye gerakan mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya, sepertinya juga sangat berhasil. Bagaimana tidak? Wilayah-wilayah yang sebelumnya penuh dengan tanaman tembakau dan bergeliat dengannya, kini lahan-lahannya sudah berganti dengan tanaman lain. Sebuah keberhasilan yang menggembirakan. Begitu mungkin pikir mereka para yang menganggap dirinya pejuang anti-rokok dan anti-tembakau. Dan tentu saja mereka akan kecele dan kita akan menertawakan hal itu.<\/p>\n \n\n \n

Sayangnya, mereka yang menganggap dirinya anti-rokok dan anti-tembakau tidak menyaksikan langsung fenomena ini di lapangan, di lahan-lahan yang peruntukannya berubah pada hari-hari belakangan ini ketika memasuki musim hujan. Mereka asyik duduk pada kursi empuk di ruang-ruang nyaman ber-AC di kota-kota yang jauh dari kultur pertanian. Mereka menyengajakan diri menjadi elit dan enggan untuk turun melihat langsung ke lapangan. Kalaupun ada yang turun langsung ke lapangan, hanya segelintir saja dari mereka, itupun sekadar formalitas saja. Tak pernah benar-benar mau turun ke lapangan, hidup dan merasakan langsung kultur pertanian tembakau dalam jangka waktu cukup lama di lapangan.<\/p>\n \n\n \n

Baca juga: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Fenomena ini membikin kita tak bisa melihat mereka para anti-rokok kecele lalu menertawakan mereka.<\/strong> Fenomena keengganan terjun langsung ke lapangan terlebih mencoba mendengar mereka yang tetap menanam tembakau, juga menjalani keseharian dalam waktu cukup lama bersama petani tembakau inilah yang saya kira menjadikan mereka tetap keras kepala untuk anti-rokok dan anti-tembakau. Karena jika mereka mau melakukan itu, saya yakin mereka semua tidak akan begitu kaku dalam memandang pertanian tembakau dan produk hasil industri tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Salah satu yang selalu mereka kampanyekan dan ngotot dengan itu, terkait hulu pertanian tembakau adalah mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya. Mereka berargumen banyak tanaman lain yang bisa semenguntungkan tanaman tembakau. Keengganan mereka terjun langsung ke lapangan inilah yang membikin mereka buta dengan kondisi pertanian tembakau dan pada akhirnya terus menerus mengampanyekan pergantian tanaman tembakau dengan tanaman lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Baca juga: Imanlah kepada Allah, Bukan Antirokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Tembakau tanaman yang khas. Ia hanya tumbuh baik sepanjang empat hingga lima bulan dalam satu tahun. Tumbuh-kembang tanaman tembakau dengan baik itu umumnya terjadi pada musim kemarau setiap tahunnya. Hanya sedikit sekali jenis tembakau yang tumbuh baik di musim penghujan, mayoritasnya, tumbuh baik pada musim kemarau.<\/p>\n \n\n \n

Jika ditanam pada musim hujan, hampir bisa dipastikan tanaman tembakau akan gagal menghasilkan daun-daun yang berkualitas. Ia akan rusak dan membusuk karena terlalu banyak terkena air sehingga daun-daun itu tak layak dijual. Jangankan bisa dijual, untuk tumbuh dengan baik pun sepertinya sulit karena musim hujan akan membunuh banyak tanaman itu.<\/p>\n \n\n \n

Maka, tak heran pada musim-musim seperti saat ini, ketika musim penghujan mendekati puncaknya, di wilayah-wilayah yang dikenal sebagai sentra pertanian tembakau, sulit menemukan pohon tembakau yang sedang tumbuh. Pada lahan-lahan yang sebelumnya ditumbuhi tanaman tembakau pada musim panas, berganti tanaman-tanaman lain yang bermacam-macam, sesuai dengan kondisi lahannya. Untuk lahan sawah, lahan-lahan itu pada musim penghujan kini ditumbuhi tanaman padi yang subur. Pada lahan tegalan dan lahan di pegunungan, lahan-lahan yang ditanami tembakau pada musim kemarau, saat ini ditumbuhi bermacam jenis tanaman mulai dari cabai, bawang, tomat, kol, terong, mentimun, dan ragam jenis tanaman semusim lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Uniknya, tipikal tanaman tembakau yang tumbuh baik di musim kemarau ini memberi pilihan lebih kepada para petani. Lahan-lahan yang sulit ditanami pada musim kemarau, pada akhirnya masih bisa tetap produktif dengan keberadaan tanaman tembakau. <\/p>\n \n\n \n

Maka, kampanye aneh mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain dengan ragam rupa dalih yang membingungkan, bukan saja sama sekali tidak tepat dan asal-asalan, namun bisa jadi akan ditertawakan oleh para petani yang begitu paham dengan kondisi lahan dan terutama kondisi iklim dan cuaca. Sulit mencari tanaman semusim yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Jika pun ada, tak ada yang semenguntungkan tanaman tembakau.
<\/p>\n ","post_title":"Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"keberhasilan-gerakan-anti-tembakau-tak-ada-tembakau-saat-musim-hujan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-07 12:16:02","post_modified_gmt":"2019-02-07 05:16:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5415","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5409,"post_author":"919","post_date":"2019-02-05 08:04:43","post_date_gmt":"2019-02-05 01:04:43","post_content":" \n

Tahun Baru Imlek yang merupakan tradisi Bangsa Tiongkok kini sudah tak lagi menjadi hal yang asing bagi masyarakat Indonesia. Kehadirannya sudah mewarnai dan berakulturasi dengan tradisi lokal. Menjelang Tahun Baru Imlek. Berbagai hiasan dan kemeriahan terjadi beberapa titik di Tanah Air. Perayaannya juga menjadi destinasi baru yang mengasyikkan untuk dilihat dan patut disaksikan.<\/p>\n \n\n \n

Berterimakasihlah kepada sang bapak bangsa, KH Abdurrahman Wahid atau yang dikenal dengan nama Gus Dur. Berkat kebijakannya saat menjadi Presiden Indonesia, Tahun Baru Imlek resmi dijadikan hari libur nasional dan dianggap sebagai salah satu hari raya di Tanah Air. Meski sentimen antitionghoa masih ada di sana-sini, tapi tetap tak bisa dipungkiri bahwa bangsa tionghoa sudah bersentuhan dengan budaya lokal dalam kurun waktu yang sangat panjang.<\/p>\n \n\n \n

DNA Bangsa Tionghoa yang memang merupakan pedagang menjadi pembuka kisah interaksi antara nenek moyang berbagai suku di Nusantara dengan mereka. Beberapa kelenteng-kelenteng yang tersebar pada berbagai pesisir daerah di Nusantara jadi buktinya. Pelabuhan-pelabuhan tua di tanah air dan ramainya perdagangan di pesisir mempermudah bangsa kita berhubungan dengan Bangsa Tionghoa.<\/p>\n \n\n \n

Baca Juga: Wong Kalang dan Kota Gede<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa kehadiran Bangsa Tionghoa di Nusantara tak hanya sebagai pedagang, namun juga sebagai pekerja (bahkan hingga pekerja kasar). Benny Setiono, seorang sejarahwan menyebutkan bahwa antara tahun 1760-1770 dalam jumlah yang besar memasuki nusantara melalui Kalimantan Barat. Mereka bekerja sebagai kuli pertambangan di sana dan di kemudian hari membentuk sebuah republik bernama Republik Lanfang yang konon katanya menjadi republik pertama di Asia Tenggara.<\/p>\n \n\n \n

Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n \n\n \n

Baca Juga: Imlek dan Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n

Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n \n\n \n

Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n \n\n \n

Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n \n\n \n

Baca Juga: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n \n\n \n

Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
<\/p>\n ","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_3o3","class":"epic_block_3"};

\n

Praktis, sejak akhir abad-16, Belanda pun menguasai penuh perdagangan rempah-rempah Maluku dengan jumlah produksi rerata 2.500 sampai 4.500 ton per tahun. [3]<\/p>\n \n\n\n

Baca: Budidaya Pohon Cengkeh<\/a><\/h2>\n \n\n \n

Meskipun peran utama rempah-rempah Maluku itu kemudian tergusur pada abad-18 dan 19 oleh beberapa barang eksotika tropis lainnya --hasil perkebunan-perkebunana besar baru di Pulau Sumatera dan Jawa: tebu, tembakau, lada, kopi, teh, nila, kelapa sawit, dan kayu jati-- namun sejarah sudah mencatat bahwa dua jenis rempah-rempah Maluku itulah yang mengawali penjelajahan sekaligus penjajahan kepulauan Nusantara oleh bangsa-bangsa Eropah, terutama Belanda (Topatimasang, ed., 2004:32). Jika saja tak pernah ada cengkeh dan pala di Maluku, mungkin sejarah kepulauan Nusantara ini akan berbeda sama sekali.
<\/p>\n \n\n \n

Masa suram cengkeh dan pala terus berlangsung sampai pertengahan abad-20. Rempah eksotika yang pernah membuat tergila-gila<\/p>\n \n\n \n

para saudagar Arab, pedagang Cina, serta kaum ningrat Eropa itu, tergantikan perannya oleh penemuan teknologi mesin pendingin berkat Revolusi Industri yang dimulai di Inggris pada pertengahan abad-18. Pasaran cengkeh di Eropa pun merosot tajam.
<\/p>\n \n\n \n

Nasibnya terselamatkan berkat penemuan oleh seorang Haji Djamhari di Kudus, Jawa Tengah. Pada akhir tahun 1880-an, Haji Djamhari menemukan kegunaan baru cengkeh sebagai ramuan utama rokok. Lahirlah satu produk baru yang unik, khas dan asli Indonesia: kretek! (Hanusz, 2000:ii).
<\/p>\n \n\n \n

Setelah seperempat abad hanya berkembang dalam skala kecil usaha rumah tangga, produksi kretek akhirnya menjelma menjadi industri besar sejak awal abad-20 yang dirintis oleh Haji Nitisemito (pendiri pabrik \u2018Jambu Bol\u2019) di Kudus dan Liem Seng Tee (pendiri pabrik \u2018Dji Sam Soe\u2019 dan \u2018Sampoerna\u2019) di Surabaya.
<\/p>\n \n\n \n

Puncaknya adalah pada pertengahan tahun 1950-an, ketika produksi kretek mulai berkembang pesat menjadi industri raksasa modern dengan munculnya beberapa pabrik baru, antara lain, yang terkemuka, oleh Oei Wei Gwan (pendiri pabrik \u2018Djarum\u2019) di Kudus dan Tjou Ing Hwie (pendiri pabrik \u2018Gudang Garam\u2019) di Kediri (Topatimasang, et.al., eds., 2010:131).<\/p>\n \n\n \n

Baca: Teruslah Menanam Tembakau dan Cengkeh, Wahai Petani Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n

Cengkeh, bahan baku paling esensial dari kretek --selain tembakau, tentu saja-- pun kembali berjaya. Bahkan, sejak dasawarsa 1970an, telah menjadi salah satu penyumbang terbesar keuangan negara Republik Indonesia. Pada tahun 2012 dan 2013, pemasukan cukai dari industri kretek mencatat 95,5% dari seluruh pemasukan cukai ke kas negara. Nilainya tak tanggung-tanggung: Rp 87 triliun! (el-Guyanie, et.al.: 2013:4-5).<\/strong>
<\/p>\n \n\n \n

Nilai ekonomisnya yang sangat besar sempat menggoda penguasa otoriter rezim Presiden Soeharto, pada 1990-an, memberlakukan satu kebijakan \u2018Hongi Gaya Baru\u2019: monopoli perdagangan cengkeh dalam negeri melalui Badan Penyanggah dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) yang sangat merugikan petani. Harga cengkeh di tingkat petani penghasil anjlok sampai hanya Rp 2.000 - 3.000 per kilogram, lebih murah dari harga sebungkus kretek yang dihasilkan darinya.
<\/p>\n \n\n \n

Akibatnya, ratusan ribu pohon cengkeh di daerah-daerah penghasil utama --Maluku, Maluku Utara, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Selatan-- ditebangi atau dibiarkan terlantar tak terurus.
<\/p>\n \n\n \n

Gelombang reformasi sistem politik dan hukum nasional yang dimulai pada tahun 1998, akhirnya menjungkalkan rezim Soeharto dan BPPC dibubarkan, Pelan tapi pasti, harga cengkeh kembali merangkak naik, sehingga pada tahun 2012, bahkan melewati angka Rp 200.000 per kilogram. Para petani cengkeh di seluruh negeri kembali tersenyum. Tetapi, sampai kapan? <\/p>\n \n\n \n

Catatan:<\/strong><\/p>\n \n\n \n

[1] Beberapa sumber menyebutkan bahwa kata \u2018cengkeh\u2019 dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Mandarin, tkeng-his atau xi\u2019jia, yang berarti \u2018rempah [berbentuk mirip] paku\u2019 (scented nails). Ini menunjukkan bahwa cengkeh sudah dikenal sejak lama oleh bangsa Cina --diketahui sejak abad-2-- jauh sebelum orang Eropa mengenalnya ((lihat, misalnya: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n \n\n \n

[2] Catatan-catatan para biarawan Fransiskan --yang disalin dan dikutip oleh van Frassen-- bahkan menyebut cengkeh sebagai salah satu bahan utama pengawet mumi para Fir\u2019aun, penguasa Mesir Kuno. Beberapa pakar sejarah dan arkeologi menyatakan bahwa rempah-rempah Maluku bahkan sudah ditemukan artefaknya di Lembah Mesopotomia (wilayah Iraq dan sekitarnya sekarang) pada 3.000 tahun sebelum Masehi. (lihat, antara lain: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n \n\n \n

[3] Uraian lebih rinci sejarah kolonialisme rempah-rempah Nusantara ini, terutama oleh Belanda dan Portugis, dapat dibaca pada beberapa sumber kepustakaan yang sudah dikenal luas, antara lain: Glamann (1958) dan Boxer (1965 dan 1969). Dalam risalah klasik Pires disebutkan bahwa pada tahun 1512-1521 saja, jumlah produksi cengkeh di Maluku sudah mencapai 7.250 bahar per tahun, terbesar adalah di Makian serta Amboina dan Lease (masing-masing 1.500 bahar)(Pires, 1512-1515).<\/em>
<\/p>\n \n\n \n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem Topatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n ","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-10 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-02-10 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5425","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5415,"post_author":"878","post_date":"2019-02-07 12:15:55","post_date_gmt":"2019-02-07 05:15:55","post_content":" \n

Belakangan ini, ketika musim hujan tiba, di Kabupaten Temanggung, Kabupaten Jember, dan beberapa wilayah sentra pertanian tembakau lainnya, hampir mustahil menemukan tanaman tembakau tumbuh di lahan-lahan milik petani. Di wilayah-wilayah tersebut, citra sebagai sentra pertanian tembakau seakan menguap. Lahan-lahan yang ada di sana, sama sekali tidak ditumbuhi tanaman tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Kabar ini bisa jadi dianggap sebagai kabar gembira bagi mereka yang menganggap diri dan kelompoknya anti-rokok dan anti-tembakau yang selalu mengampanyekan sikap-sikap mereka terkait kebencian kepada tembakau dan aktivitas merokok. Setelah sekian lama berjuang, akhirnya perjuangan mereka dirasa berhasil usai menyaksikan fenomena lahan-lahan di wilayah yang dianggap sentra pertanian tembakau pada hari-hari belakangan ini.<\/p>\n \n\n \n

Baca juga: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Tak sia-sia turun ke jalan, tak sia-sia melakukan lobi-lobi ke penguasa, tak sia-sia mengucurkan uang yang tidak sedikit, dan tak sia-sia mempermalukan diri dengan mengemis ke lembaga donor asing dan menggondol uang dari cukai tembakau untuk mengampanyekan gerakan anti-rokok dan anti-tembakau. Tak sia-sia. Karena perjuangan sepertinya berhasil.<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

Kampanye-kampanye gerakan mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya, sepertinya juga sangat berhasil. Bagaimana tidak? Wilayah-wilayah yang sebelumnya penuh dengan tanaman tembakau dan bergeliat dengannya, kini lahan-lahannya sudah berganti dengan tanaman lain. Sebuah keberhasilan yang menggembirakan. Begitu mungkin pikir mereka para yang menganggap dirinya pejuang anti-rokok dan anti-tembakau. Dan tentu saja mereka akan kecele dan kita akan menertawakan hal itu.<\/p>\n \n\n \n

Sayangnya, mereka yang menganggap dirinya anti-rokok dan anti-tembakau tidak menyaksikan langsung fenomena ini di lapangan, di lahan-lahan yang peruntukannya berubah pada hari-hari belakangan ini ketika memasuki musim hujan. Mereka asyik duduk pada kursi empuk di ruang-ruang nyaman ber-AC di kota-kota yang jauh dari kultur pertanian. Mereka menyengajakan diri menjadi elit dan enggan untuk turun melihat langsung ke lapangan. Kalaupun ada yang turun langsung ke lapangan, hanya segelintir saja dari mereka, itupun sekadar formalitas saja. Tak pernah benar-benar mau turun ke lapangan, hidup dan merasakan langsung kultur pertanian tembakau dalam jangka waktu cukup lama di lapangan.<\/p>\n \n\n \n

Baca juga: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Fenomena ini membikin kita tak bisa melihat mereka para anti-rokok kecele lalu menertawakan mereka.<\/strong> Fenomena keengganan terjun langsung ke lapangan terlebih mencoba mendengar mereka yang tetap menanam tembakau, juga menjalani keseharian dalam waktu cukup lama bersama petani tembakau inilah yang saya kira menjadikan mereka tetap keras kepala untuk anti-rokok dan anti-tembakau. Karena jika mereka mau melakukan itu, saya yakin mereka semua tidak akan begitu kaku dalam memandang pertanian tembakau dan produk hasil industri tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Salah satu yang selalu mereka kampanyekan dan ngotot dengan itu, terkait hulu pertanian tembakau adalah mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya. Mereka berargumen banyak tanaman lain yang bisa semenguntungkan tanaman tembakau. Keengganan mereka terjun langsung ke lapangan inilah yang membikin mereka buta dengan kondisi pertanian tembakau dan pada akhirnya terus menerus mengampanyekan pergantian tanaman tembakau dengan tanaman lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Baca juga: Imanlah kepada Allah, Bukan Antirokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Tembakau tanaman yang khas. Ia hanya tumbuh baik sepanjang empat hingga lima bulan dalam satu tahun. Tumbuh-kembang tanaman tembakau dengan baik itu umumnya terjadi pada musim kemarau setiap tahunnya. Hanya sedikit sekali jenis tembakau yang tumbuh baik di musim penghujan, mayoritasnya, tumbuh baik pada musim kemarau.<\/p>\n \n\n \n

Jika ditanam pada musim hujan, hampir bisa dipastikan tanaman tembakau akan gagal menghasilkan daun-daun yang berkualitas. Ia akan rusak dan membusuk karena terlalu banyak terkena air sehingga daun-daun itu tak layak dijual. Jangankan bisa dijual, untuk tumbuh dengan baik pun sepertinya sulit karena musim hujan akan membunuh banyak tanaman itu.<\/p>\n \n\n \n

Maka, tak heran pada musim-musim seperti saat ini, ketika musim penghujan mendekati puncaknya, di wilayah-wilayah yang dikenal sebagai sentra pertanian tembakau, sulit menemukan pohon tembakau yang sedang tumbuh. Pada lahan-lahan yang sebelumnya ditumbuhi tanaman tembakau pada musim panas, berganti tanaman-tanaman lain yang bermacam-macam, sesuai dengan kondisi lahannya. Untuk lahan sawah, lahan-lahan itu pada musim penghujan kini ditumbuhi tanaman padi yang subur. Pada lahan tegalan dan lahan di pegunungan, lahan-lahan yang ditanami tembakau pada musim kemarau, saat ini ditumbuhi bermacam jenis tanaman mulai dari cabai, bawang, tomat, kol, terong, mentimun, dan ragam jenis tanaman semusim lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Uniknya, tipikal tanaman tembakau yang tumbuh baik di musim kemarau ini memberi pilihan lebih kepada para petani. Lahan-lahan yang sulit ditanami pada musim kemarau, pada akhirnya masih bisa tetap produktif dengan keberadaan tanaman tembakau. <\/p>\n \n\n \n

Maka, kampanye aneh mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain dengan ragam rupa dalih yang membingungkan, bukan saja sama sekali tidak tepat dan asal-asalan, namun bisa jadi akan ditertawakan oleh para petani yang begitu paham dengan kondisi lahan dan terutama kondisi iklim dan cuaca. Sulit mencari tanaman semusim yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Jika pun ada, tak ada yang semenguntungkan tanaman tembakau.
<\/p>\n ","post_title":"Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"keberhasilan-gerakan-anti-tembakau-tak-ada-tembakau-saat-musim-hujan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-07 12:16:02","post_modified_gmt":"2019-02-07 05:16:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5415","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5409,"post_author":"919","post_date":"2019-02-05 08:04:43","post_date_gmt":"2019-02-05 01:04:43","post_content":" \n

Tahun Baru Imlek yang merupakan tradisi Bangsa Tiongkok kini sudah tak lagi menjadi hal yang asing bagi masyarakat Indonesia. Kehadirannya sudah mewarnai dan berakulturasi dengan tradisi lokal. Menjelang Tahun Baru Imlek. Berbagai hiasan dan kemeriahan terjadi beberapa titik di Tanah Air. Perayaannya juga menjadi destinasi baru yang mengasyikkan untuk dilihat dan patut disaksikan.<\/p>\n \n\n \n

Berterimakasihlah kepada sang bapak bangsa, KH Abdurrahman Wahid atau yang dikenal dengan nama Gus Dur. Berkat kebijakannya saat menjadi Presiden Indonesia, Tahun Baru Imlek resmi dijadikan hari libur nasional dan dianggap sebagai salah satu hari raya di Tanah Air. Meski sentimen antitionghoa masih ada di sana-sini, tapi tetap tak bisa dipungkiri bahwa bangsa tionghoa sudah bersentuhan dengan budaya lokal dalam kurun waktu yang sangat panjang.<\/p>\n \n\n \n

DNA Bangsa Tionghoa yang memang merupakan pedagang menjadi pembuka kisah interaksi antara nenek moyang berbagai suku di Nusantara dengan mereka. Beberapa kelenteng-kelenteng yang tersebar pada berbagai pesisir daerah di Nusantara jadi buktinya. Pelabuhan-pelabuhan tua di tanah air dan ramainya perdagangan di pesisir mempermudah bangsa kita berhubungan dengan Bangsa Tionghoa.<\/p>\n \n\n \n

Baca Juga: Wong Kalang dan Kota Gede<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa kehadiran Bangsa Tionghoa di Nusantara tak hanya sebagai pedagang, namun juga sebagai pekerja (bahkan hingga pekerja kasar). Benny Setiono, seorang sejarahwan menyebutkan bahwa antara tahun 1760-1770 dalam jumlah yang besar memasuki nusantara melalui Kalimantan Barat. Mereka bekerja sebagai kuli pertambangan di sana dan di kemudian hari membentuk sebuah republik bernama Republik Lanfang yang konon katanya menjadi republik pertama di Asia Tenggara.<\/p>\n \n\n \n

Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n \n\n \n

Baca Juga: Imlek dan Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n

Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n \n\n \n

Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n \n\n \n

Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n \n\n \n

Baca Juga: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n \n\n \n

Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
<\/p>\n ","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_3o3","class":"epic_block_3"};

\n

Mereka silih berganti saling mengalahkan, tetapi pemenang terakhir adalah Belanda. Melalui Perusahaan Dagang Hindia Timur (Vereenigde Oostindische Compagnie, VOC) yang dibentuk pada awal abad-17 (tepatnya tahun 1609), Belanda melancarkan ekspedisi Pelayaran Hongi (Hongie Tochten), untuk memusnahkan semua tanaman cengkeh di Ternate, Tidore, Moti, dan Makian, lalu membatasi ketat penanamnya hanya di Pulau-pulau Ambon dan Lease --yang lebih dekat ke Banda sebagai pusat pemerintahan mereka sebelum akhirnya dipindahkan ke Batavia.
<\/p>\n \n\n\n

Praktis, sejak akhir abad-16, Belanda pun menguasai penuh perdagangan rempah-rempah Maluku dengan jumlah produksi rerata 2.500 sampai 4.500 ton per tahun. [3]<\/p>\n \n\n \n

Baca: Budidaya Pohon Cengkeh<\/a><\/h2>\n \n\n \n

Meskipun peran utama rempah-rempah Maluku itu kemudian tergusur pada abad-18 dan 19 oleh beberapa barang eksotika tropis lainnya --hasil perkebunan-perkebunana besar baru di Pulau Sumatera dan Jawa: tebu, tembakau, lada, kopi, teh, nila, kelapa sawit, dan kayu jati-- namun sejarah sudah mencatat bahwa dua jenis rempah-rempah Maluku itulah yang mengawali penjelajahan sekaligus penjajahan kepulauan Nusantara oleh bangsa-bangsa Eropah, terutama Belanda (Topatimasang, ed., 2004:32). Jika saja tak pernah ada cengkeh dan pala di Maluku, mungkin sejarah kepulauan Nusantara ini akan berbeda sama sekali.
<\/p>\n \n\n \n

Masa suram cengkeh dan pala terus berlangsung sampai pertengahan abad-20. Rempah eksotika yang pernah membuat tergila-gila<\/p>\n \n\n \n

para saudagar Arab, pedagang Cina, serta kaum ningrat Eropa itu, tergantikan perannya oleh penemuan teknologi mesin pendingin berkat Revolusi Industri yang dimulai di Inggris pada pertengahan abad-18. Pasaran cengkeh di Eropa pun merosot tajam.
<\/p>\n \n\n \n

Nasibnya terselamatkan berkat penemuan oleh seorang Haji Djamhari di Kudus, Jawa Tengah. Pada akhir tahun 1880-an, Haji Djamhari menemukan kegunaan baru cengkeh sebagai ramuan utama rokok. Lahirlah satu produk baru yang unik, khas dan asli Indonesia: kretek! (Hanusz, 2000:ii).
<\/p>\n \n\n \n

Setelah seperempat abad hanya berkembang dalam skala kecil usaha rumah tangga, produksi kretek akhirnya menjelma menjadi industri besar sejak awal abad-20 yang dirintis oleh Haji Nitisemito (pendiri pabrik \u2018Jambu Bol\u2019) di Kudus dan Liem Seng Tee (pendiri pabrik \u2018Dji Sam Soe\u2019 dan \u2018Sampoerna\u2019) di Surabaya.
<\/p>\n \n\n \n

Puncaknya adalah pada pertengahan tahun 1950-an, ketika produksi kretek mulai berkembang pesat menjadi industri raksasa modern dengan munculnya beberapa pabrik baru, antara lain, yang terkemuka, oleh Oei Wei Gwan (pendiri pabrik \u2018Djarum\u2019) di Kudus dan Tjou Ing Hwie (pendiri pabrik \u2018Gudang Garam\u2019) di Kediri (Topatimasang, et.al., eds., 2010:131).<\/p>\n \n\n \n

Baca: Teruslah Menanam Tembakau dan Cengkeh, Wahai Petani Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n

Cengkeh, bahan baku paling esensial dari kretek --selain tembakau, tentu saja-- pun kembali berjaya. Bahkan, sejak dasawarsa 1970an, telah menjadi salah satu penyumbang terbesar keuangan negara Republik Indonesia. Pada tahun 2012 dan 2013, pemasukan cukai dari industri kretek mencatat 95,5% dari seluruh pemasukan cukai ke kas negara. Nilainya tak tanggung-tanggung: Rp 87 triliun! (el-Guyanie, et.al.: 2013:4-5).<\/strong>
<\/p>\n \n\n \n

Nilai ekonomisnya yang sangat besar sempat menggoda penguasa otoriter rezim Presiden Soeharto, pada 1990-an, memberlakukan satu kebijakan \u2018Hongi Gaya Baru\u2019: monopoli perdagangan cengkeh dalam negeri melalui Badan Penyanggah dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) yang sangat merugikan petani. Harga cengkeh di tingkat petani penghasil anjlok sampai hanya Rp 2.000 - 3.000 per kilogram, lebih murah dari harga sebungkus kretek yang dihasilkan darinya.
<\/p>\n \n\n \n

Akibatnya, ratusan ribu pohon cengkeh di daerah-daerah penghasil utama --Maluku, Maluku Utara, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Selatan-- ditebangi atau dibiarkan terlantar tak terurus.
<\/p>\n \n\n \n

Gelombang reformasi sistem politik dan hukum nasional yang dimulai pada tahun 1998, akhirnya menjungkalkan rezim Soeharto dan BPPC dibubarkan, Pelan tapi pasti, harga cengkeh kembali merangkak naik, sehingga pada tahun 2012, bahkan melewati angka Rp 200.000 per kilogram. Para petani cengkeh di seluruh negeri kembali tersenyum. Tetapi, sampai kapan? <\/p>\n \n\n \n

Catatan:<\/strong><\/p>\n \n\n \n

[1] Beberapa sumber menyebutkan bahwa kata \u2018cengkeh\u2019 dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Mandarin, tkeng-his atau xi\u2019jia, yang berarti \u2018rempah [berbentuk mirip] paku\u2019 (scented nails). Ini menunjukkan bahwa cengkeh sudah dikenal sejak lama oleh bangsa Cina --diketahui sejak abad-2-- jauh sebelum orang Eropa mengenalnya ((lihat, misalnya: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n \n\n \n

[2] Catatan-catatan para biarawan Fransiskan --yang disalin dan dikutip oleh van Frassen-- bahkan menyebut cengkeh sebagai salah satu bahan utama pengawet mumi para Fir\u2019aun, penguasa Mesir Kuno. Beberapa pakar sejarah dan arkeologi menyatakan bahwa rempah-rempah Maluku bahkan sudah ditemukan artefaknya di Lembah Mesopotomia (wilayah Iraq dan sekitarnya sekarang) pada 3.000 tahun sebelum Masehi. (lihat, antara lain: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n \n\n \n

[3] Uraian lebih rinci sejarah kolonialisme rempah-rempah Nusantara ini, terutama oleh Belanda dan Portugis, dapat dibaca pada beberapa sumber kepustakaan yang sudah dikenal luas, antara lain: Glamann (1958) dan Boxer (1965 dan 1969). Dalam risalah klasik Pires disebutkan bahwa pada tahun 1512-1521 saja, jumlah produksi cengkeh di Maluku sudah mencapai 7.250 bahar per tahun, terbesar adalah di Makian serta Amboina dan Lease (masing-masing 1.500 bahar)(Pires, 1512-1515).<\/em>
<\/p>\n \n\n \n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem Topatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n ","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-10 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-02-10 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5425","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5415,"post_author":"878","post_date":"2019-02-07 12:15:55","post_date_gmt":"2019-02-07 05:15:55","post_content":" \n

Belakangan ini, ketika musim hujan tiba, di Kabupaten Temanggung, Kabupaten Jember, dan beberapa wilayah sentra pertanian tembakau lainnya, hampir mustahil menemukan tanaman tembakau tumbuh di lahan-lahan milik petani. Di wilayah-wilayah tersebut, citra sebagai sentra pertanian tembakau seakan menguap. Lahan-lahan yang ada di sana, sama sekali tidak ditumbuhi tanaman tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Kabar ini bisa jadi dianggap sebagai kabar gembira bagi mereka yang menganggap diri dan kelompoknya anti-rokok dan anti-tembakau yang selalu mengampanyekan sikap-sikap mereka terkait kebencian kepada tembakau dan aktivitas merokok. Setelah sekian lama berjuang, akhirnya perjuangan mereka dirasa berhasil usai menyaksikan fenomena lahan-lahan di wilayah yang dianggap sentra pertanian tembakau pada hari-hari belakangan ini.<\/p>\n \n\n \n

Baca juga: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Tak sia-sia turun ke jalan, tak sia-sia melakukan lobi-lobi ke penguasa, tak sia-sia mengucurkan uang yang tidak sedikit, dan tak sia-sia mempermalukan diri dengan mengemis ke lembaga donor asing dan menggondol uang dari cukai tembakau untuk mengampanyekan gerakan anti-rokok dan anti-tembakau. Tak sia-sia. Karena perjuangan sepertinya berhasil.<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

Kampanye-kampanye gerakan mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya, sepertinya juga sangat berhasil. Bagaimana tidak? Wilayah-wilayah yang sebelumnya penuh dengan tanaman tembakau dan bergeliat dengannya, kini lahan-lahannya sudah berganti dengan tanaman lain. Sebuah keberhasilan yang menggembirakan. Begitu mungkin pikir mereka para yang menganggap dirinya pejuang anti-rokok dan anti-tembakau. Dan tentu saja mereka akan kecele dan kita akan menertawakan hal itu.<\/p>\n \n\n \n

Sayangnya, mereka yang menganggap dirinya anti-rokok dan anti-tembakau tidak menyaksikan langsung fenomena ini di lapangan, di lahan-lahan yang peruntukannya berubah pada hari-hari belakangan ini ketika memasuki musim hujan. Mereka asyik duduk pada kursi empuk di ruang-ruang nyaman ber-AC di kota-kota yang jauh dari kultur pertanian. Mereka menyengajakan diri menjadi elit dan enggan untuk turun melihat langsung ke lapangan. Kalaupun ada yang turun langsung ke lapangan, hanya segelintir saja dari mereka, itupun sekadar formalitas saja. Tak pernah benar-benar mau turun ke lapangan, hidup dan merasakan langsung kultur pertanian tembakau dalam jangka waktu cukup lama di lapangan.<\/p>\n \n\n \n

Baca juga: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Fenomena ini membikin kita tak bisa melihat mereka para anti-rokok kecele lalu menertawakan mereka.<\/strong> Fenomena keengganan terjun langsung ke lapangan terlebih mencoba mendengar mereka yang tetap menanam tembakau, juga menjalani keseharian dalam waktu cukup lama bersama petani tembakau inilah yang saya kira menjadikan mereka tetap keras kepala untuk anti-rokok dan anti-tembakau. Karena jika mereka mau melakukan itu, saya yakin mereka semua tidak akan begitu kaku dalam memandang pertanian tembakau dan produk hasil industri tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Salah satu yang selalu mereka kampanyekan dan ngotot dengan itu, terkait hulu pertanian tembakau adalah mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya. Mereka berargumen banyak tanaman lain yang bisa semenguntungkan tanaman tembakau. Keengganan mereka terjun langsung ke lapangan inilah yang membikin mereka buta dengan kondisi pertanian tembakau dan pada akhirnya terus menerus mengampanyekan pergantian tanaman tembakau dengan tanaman lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Baca juga: Imanlah kepada Allah, Bukan Antirokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Tembakau tanaman yang khas. Ia hanya tumbuh baik sepanjang empat hingga lima bulan dalam satu tahun. Tumbuh-kembang tanaman tembakau dengan baik itu umumnya terjadi pada musim kemarau setiap tahunnya. Hanya sedikit sekali jenis tembakau yang tumbuh baik di musim penghujan, mayoritasnya, tumbuh baik pada musim kemarau.<\/p>\n \n\n \n

Jika ditanam pada musim hujan, hampir bisa dipastikan tanaman tembakau akan gagal menghasilkan daun-daun yang berkualitas. Ia akan rusak dan membusuk karena terlalu banyak terkena air sehingga daun-daun itu tak layak dijual. Jangankan bisa dijual, untuk tumbuh dengan baik pun sepertinya sulit karena musim hujan akan membunuh banyak tanaman itu.<\/p>\n \n\n \n

Maka, tak heran pada musim-musim seperti saat ini, ketika musim penghujan mendekati puncaknya, di wilayah-wilayah yang dikenal sebagai sentra pertanian tembakau, sulit menemukan pohon tembakau yang sedang tumbuh. Pada lahan-lahan yang sebelumnya ditumbuhi tanaman tembakau pada musim panas, berganti tanaman-tanaman lain yang bermacam-macam, sesuai dengan kondisi lahannya. Untuk lahan sawah, lahan-lahan itu pada musim penghujan kini ditumbuhi tanaman padi yang subur. Pada lahan tegalan dan lahan di pegunungan, lahan-lahan yang ditanami tembakau pada musim kemarau, saat ini ditumbuhi bermacam jenis tanaman mulai dari cabai, bawang, tomat, kol, terong, mentimun, dan ragam jenis tanaman semusim lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Uniknya, tipikal tanaman tembakau yang tumbuh baik di musim kemarau ini memberi pilihan lebih kepada para petani. Lahan-lahan yang sulit ditanami pada musim kemarau, pada akhirnya masih bisa tetap produktif dengan keberadaan tanaman tembakau. <\/p>\n \n\n \n

Maka, kampanye aneh mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain dengan ragam rupa dalih yang membingungkan, bukan saja sama sekali tidak tepat dan asal-asalan, namun bisa jadi akan ditertawakan oleh para petani yang begitu paham dengan kondisi lahan dan terutama kondisi iklim dan cuaca. Sulit mencari tanaman semusim yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Jika pun ada, tak ada yang semenguntungkan tanaman tembakau.
<\/p>\n ","post_title":"Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"keberhasilan-gerakan-anti-tembakau-tak-ada-tembakau-saat-musim-hujan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-07 12:16:02","post_modified_gmt":"2019-02-07 05:16:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5415","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5409,"post_author":"919","post_date":"2019-02-05 08:04:43","post_date_gmt":"2019-02-05 01:04:43","post_content":" \n

Tahun Baru Imlek yang merupakan tradisi Bangsa Tiongkok kini sudah tak lagi menjadi hal yang asing bagi masyarakat Indonesia. Kehadirannya sudah mewarnai dan berakulturasi dengan tradisi lokal. Menjelang Tahun Baru Imlek. Berbagai hiasan dan kemeriahan terjadi beberapa titik di Tanah Air. Perayaannya juga menjadi destinasi baru yang mengasyikkan untuk dilihat dan patut disaksikan.<\/p>\n \n\n \n

Berterimakasihlah kepada sang bapak bangsa, KH Abdurrahman Wahid atau yang dikenal dengan nama Gus Dur. Berkat kebijakannya saat menjadi Presiden Indonesia, Tahun Baru Imlek resmi dijadikan hari libur nasional dan dianggap sebagai salah satu hari raya di Tanah Air. Meski sentimen antitionghoa masih ada di sana-sini, tapi tetap tak bisa dipungkiri bahwa bangsa tionghoa sudah bersentuhan dengan budaya lokal dalam kurun waktu yang sangat panjang.<\/p>\n \n\n \n

DNA Bangsa Tionghoa yang memang merupakan pedagang menjadi pembuka kisah interaksi antara nenek moyang berbagai suku di Nusantara dengan mereka. Beberapa kelenteng-kelenteng yang tersebar pada berbagai pesisir daerah di Nusantara jadi buktinya. Pelabuhan-pelabuhan tua di tanah air dan ramainya perdagangan di pesisir mempermudah bangsa kita berhubungan dengan Bangsa Tionghoa.<\/p>\n \n\n \n

Baca Juga: Wong Kalang dan Kota Gede<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa kehadiran Bangsa Tionghoa di Nusantara tak hanya sebagai pedagang, namun juga sebagai pekerja (bahkan hingga pekerja kasar). Benny Setiono, seorang sejarahwan menyebutkan bahwa antara tahun 1760-1770 dalam jumlah yang besar memasuki nusantara melalui Kalimantan Barat. Mereka bekerja sebagai kuli pertambangan di sana dan di kemudian hari membentuk sebuah republik bernama Republik Lanfang yang konon katanya menjadi republik pertama di Asia Tenggara.<\/p>\n \n\n \n

Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n \n\n \n

Baca Juga: Imlek dan Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n

Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n \n\n \n

Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n \n\n \n

Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n \n\n \n

Baca Juga: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n \n\n \n

Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
<\/p>\n ","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_3o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tergerak oleh sahwat menguasai rempah-rempah yang menggiurkan itu, bangsa-bangsa Eropa --terutama Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda-- pun menggelar ekspedisi-ekspedisi besar untuk menemukan cengkeh dan pala langsung di tanah asalnya. Ketika armada-armada mereka akhirnya mencapai perairan Kepulauan Maluku, pada abad-16, perang pun tak terhindarkan.
<\/p>\n \n\n\n

Mereka silih berganti saling mengalahkan, tetapi pemenang terakhir adalah Belanda. Melalui Perusahaan Dagang Hindia Timur (Vereenigde Oostindische Compagnie, VOC) yang dibentuk pada awal abad-17 (tepatnya tahun 1609), Belanda melancarkan ekspedisi Pelayaran Hongi (Hongie Tochten), untuk memusnahkan semua tanaman cengkeh di Ternate, Tidore, Moti, dan Makian, lalu membatasi ketat penanamnya hanya di Pulau-pulau Ambon dan Lease --yang lebih dekat ke Banda sebagai pusat pemerintahan mereka sebelum akhirnya dipindahkan ke Batavia.
<\/p>\n \n\n \n

Praktis, sejak akhir abad-16, Belanda pun menguasai penuh perdagangan rempah-rempah Maluku dengan jumlah produksi rerata 2.500 sampai 4.500 ton per tahun. [3]<\/p>\n \n\n \n

Baca: Budidaya Pohon Cengkeh<\/a><\/h2>\n \n\n \n

Meskipun peran utama rempah-rempah Maluku itu kemudian tergusur pada abad-18 dan 19 oleh beberapa barang eksotika tropis lainnya --hasil perkebunan-perkebunana besar baru di Pulau Sumatera dan Jawa: tebu, tembakau, lada, kopi, teh, nila, kelapa sawit, dan kayu jati-- namun sejarah sudah mencatat bahwa dua jenis rempah-rempah Maluku itulah yang mengawali penjelajahan sekaligus penjajahan kepulauan Nusantara oleh bangsa-bangsa Eropah, terutama Belanda (Topatimasang, ed., 2004:32). Jika saja tak pernah ada cengkeh dan pala di Maluku, mungkin sejarah kepulauan Nusantara ini akan berbeda sama sekali.
<\/p>\n \n\n \n

Masa suram cengkeh dan pala terus berlangsung sampai pertengahan abad-20. Rempah eksotika yang pernah membuat tergila-gila<\/p>\n \n\n \n

para saudagar Arab, pedagang Cina, serta kaum ningrat Eropa itu, tergantikan perannya oleh penemuan teknologi mesin pendingin berkat Revolusi Industri yang dimulai di Inggris pada pertengahan abad-18. Pasaran cengkeh di Eropa pun merosot tajam.
<\/p>\n \n\n \n

Nasibnya terselamatkan berkat penemuan oleh seorang Haji Djamhari di Kudus, Jawa Tengah. Pada akhir tahun 1880-an, Haji Djamhari menemukan kegunaan baru cengkeh sebagai ramuan utama rokok. Lahirlah satu produk baru yang unik, khas dan asli Indonesia: kretek! (Hanusz, 2000:ii).
<\/p>\n \n\n \n

Setelah seperempat abad hanya berkembang dalam skala kecil usaha rumah tangga, produksi kretek akhirnya menjelma menjadi industri besar sejak awal abad-20 yang dirintis oleh Haji Nitisemito (pendiri pabrik \u2018Jambu Bol\u2019) di Kudus dan Liem Seng Tee (pendiri pabrik \u2018Dji Sam Soe\u2019 dan \u2018Sampoerna\u2019) di Surabaya.
<\/p>\n \n\n \n

Puncaknya adalah pada pertengahan tahun 1950-an, ketika produksi kretek mulai berkembang pesat menjadi industri raksasa modern dengan munculnya beberapa pabrik baru, antara lain, yang terkemuka, oleh Oei Wei Gwan (pendiri pabrik \u2018Djarum\u2019) di Kudus dan Tjou Ing Hwie (pendiri pabrik \u2018Gudang Garam\u2019) di Kediri (Topatimasang, et.al., eds., 2010:131).<\/p>\n \n\n \n

Baca: Teruslah Menanam Tembakau dan Cengkeh, Wahai Petani Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n

Cengkeh, bahan baku paling esensial dari kretek --selain tembakau, tentu saja-- pun kembali berjaya. Bahkan, sejak dasawarsa 1970an, telah menjadi salah satu penyumbang terbesar keuangan negara Republik Indonesia. Pada tahun 2012 dan 2013, pemasukan cukai dari industri kretek mencatat 95,5% dari seluruh pemasukan cukai ke kas negara. Nilainya tak tanggung-tanggung: Rp 87 triliun! (el-Guyanie, et.al.: 2013:4-5).<\/strong>
<\/p>\n \n\n \n

Nilai ekonomisnya yang sangat besar sempat menggoda penguasa otoriter rezim Presiden Soeharto, pada 1990-an, memberlakukan satu kebijakan \u2018Hongi Gaya Baru\u2019: monopoli perdagangan cengkeh dalam negeri melalui Badan Penyanggah dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) yang sangat merugikan petani. Harga cengkeh di tingkat petani penghasil anjlok sampai hanya Rp 2.000 - 3.000 per kilogram, lebih murah dari harga sebungkus kretek yang dihasilkan darinya.
<\/p>\n \n\n \n

Akibatnya, ratusan ribu pohon cengkeh di daerah-daerah penghasil utama --Maluku, Maluku Utara, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Selatan-- ditebangi atau dibiarkan terlantar tak terurus.
<\/p>\n \n\n \n

Gelombang reformasi sistem politik dan hukum nasional yang dimulai pada tahun 1998, akhirnya menjungkalkan rezim Soeharto dan BPPC dibubarkan, Pelan tapi pasti, harga cengkeh kembali merangkak naik, sehingga pada tahun 2012, bahkan melewati angka Rp 200.000 per kilogram. Para petani cengkeh di seluruh negeri kembali tersenyum. Tetapi, sampai kapan? <\/p>\n \n\n \n

Catatan:<\/strong><\/p>\n \n\n \n

[1] Beberapa sumber menyebutkan bahwa kata \u2018cengkeh\u2019 dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Mandarin, tkeng-his atau xi\u2019jia, yang berarti \u2018rempah [berbentuk mirip] paku\u2019 (scented nails). Ini menunjukkan bahwa cengkeh sudah dikenal sejak lama oleh bangsa Cina --diketahui sejak abad-2-- jauh sebelum orang Eropa mengenalnya ((lihat, misalnya: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n \n\n \n

[2] Catatan-catatan para biarawan Fransiskan --yang disalin dan dikutip oleh van Frassen-- bahkan menyebut cengkeh sebagai salah satu bahan utama pengawet mumi para Fir\u2019aun, penguasa Mesir Kuno. Beberapa pakar sejarah dan arkeologi menyatakan bahwa rempah-rempah Maluku bahkan sudah ditemukan artefaknya di Lembah Mesopotomia (wilayah Iraq dan sekitarnya sekarang) pada 3.000 tahun sebelum Masehi. (lihat, antara lain: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n \n\n \n

[3] Uraian lebih rinci sejarah kolonialisme rempah-rempah Nusantara ini, terutama oleh Belanda dan Portugis, dapat dibaca pada beberapa sumber kepustakaan yang sudah dikenal luas, antara lain: Glamann (1958) dan Boxer (1965 dan 1969). Dalam risalah klasik Pires disebutkan bahwa pada tahun 1512-1521 saja, jumlah produksi cengkeh di Maluku sudah mencapai 7.250 bahar per tahun, terbesar adalah di Makian serta Amboina dan Lease (masing-masing 1.500 bahar)(Pires, 1512-1515).<\/em>
<\/p>\n \n\n \n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem Topatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n ","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-10 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-02-10 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5425","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5415,"post_author":"878","post_date":"2019-02-07 12:15:55","post_date_gmt":"2019-02-07 05:15:55","post_content":" \n

Belakangan ini, ketika musim hujan tiba, di Kabupaten Temanggung, Kabupaten Jember, dan beberapa wilayah sentra pertanian tembakau lainnya, hampir mustahil menemukan tanaman tembakau tumbuh di lahan-lahan milik petani. Di wilayah-wilayah tersebut, citra sebagai sentra pertanian tembakau seakan menguap. Lahan-lahan yang ada di sana, sama sekali tidak ditumbuhi tanaman tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Kabar ini bisa jadi dianggap sebagai kabar gembira bagi mereka yang menganggap diri dan kelompoknya anti-rokok dan anti-tembakau yang selalu mengampanyekan sikap-sikap mereka terkait kebencian kepada tembakau dan aktivitas merokok. Setelah sekian lama berjuang, akhirnya perjuangan mereka dirasa berhasil usai menyaksikan fenomena lahan-lahan di wilayah yang dianggap sentra pertanian tembakau pada hari-hari belakangan ini.<\/p>\n \n\n \n

Baca juga: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Tak sia-sia turun ke jalan, tak sia-sia melakukan lobi-lobi ke penguasa, tak sia-sia mengucurkan uang yang tidak sedikit, dan tak sia-sia mempermalukan diri dengan mengemis ke lembaga donor asing dan menggondol uang dari cukai tembakau untuk mengampanyekan gerakan anti-rokok dan anti-tembakau. Tak sia-sia. Karena perjuangan sepertinya berhasil.<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

Kampanye-kampanye gerakan mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya, sepertinya juga sangat berhasil. Bagaimana tidak? Wilayah-wilayah yang sebelumnya penuh dengan tanaman tembakau dan bergeliat dengannya, kini lahan-lahannya sudah berganti dengan tanaman lain. Sebuah keberhasilan yang menggembirakan. Begitu mungkin pikir mereka para yang menganggap dirinya pejuang anti-rokok dan anti-tembakau. Dan tentu saja mereka akan kecele dan kita akan menertawakan hal itu.<\/p>\n \n\n \n

Sayangnya, mereka yang menganggap dirinya anti-rokok dan anti-tembakau tidak menyaksikan langsung fenomena ini di lapangan, di lahan-lahan yang peruntukannya berubah pada hari-hari belakangan ini ketika memasuki musim hujan. Mereka asyik duduk pada kursi empuk di ruang-ruang nyaman ber-AC di kota-kota yang jauh dari kultur pertanian. Mereka menyengajakan diri menjadi elit dan enggan untuk turun melihat langsung ke lapangan. Kalaupun ada yang turun langsung ke lapangan, hanya segelintir saja dari mereka, itupun sekadar formalitas saja. Tak pernah benar-benar mau turun ke lapangan, hidup dan merasakan langsung kultur pertanian tembakau dalam jangka waktu cukup lama di lapangan.<\/p>\n \n\n \n

Baca juga: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Fenomena ini membikin kita tak bisa melihat mereka para anti-rokok kecele lalu menertawakan mereka.<\/strong> Fenomena keengganan terjun langsung ke lapangan terlebih mencoba mendengar mereka yang tetap menanam tembakau, juga menjalani keseharian dalam waktu cukup lama bersama petani tembakau inilah yang saya kira menjadikan mereka tetap keras kepala untuk anti-rokok dan anti-tembakau. Karena jika mereka mau melakukan itu, saya yakin mereka semua tidak akan begitu kaku dalam memandang pertanian tembakau dan produk hasil industri tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Salah satu yang selalu mereka kampanyekan dan ngotot dengan itu, terkait hulu pertanian tembakau adalah mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya. Mereka berargumen banyak tanaman lain yang bisa semenguntungkan tanaman tembakau. Keengganan mereka terjun langsung ke lapangan inilah yang membikin mereka buta dengan kondisi pertanian tembakau dan pada akhirnya terus menerus mengampanyekan pergantian tanaman tembakau dengan tanaman lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Baca juga: Imanlah kepada Allah, Bukan Antirokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Tembakau tanaman yang khas. Ia hanya tumbuh baik sepanjang empat hingga lima bulan dalam satu tahun. Tumbuh-kembang tanaman tembakau dengan baik itu umumnya terjadi pada musim kemarau setiap tahunnya. Hanya sedikit sekali jenis tembakau yang tumbuh baik di musim penghujan, mayoritasnya, tumbuh baik pada musim kemarau.<\/p>\n \n\n \n

Jika ditanam pada musim hujan, hampir bisa dipastikan tanaman tembakau akan gagal menghasilkan daun-daun yang berkualitas. Ia akan rusak dan membusuk karena terlalu banyak terkena air sehingga daun-daun itu tak layak dijual. Jangankan bisa dijual, untuk tumbuh dengan baik pun sepertinya sulit karena musim hujan akan membunuh banyak tanaman itu.<\/p>\n \n\n \n

Maka, tak heran pada musim-musim seperti saat ini, ketika musim penghujan mendekati puncaknya, di wilayah-wilayah yang dikenal sebagai sentra pertanian tembakau, sulit menemukan pohon tembakau yang sedang tumbuh. Pada lahan-lahan yang sebelumnya ditumbuhi tanaman tembakau pada musim panas, berganti tanaman-tanaman lain yang bermacam-macam, sesuai dengan kondisi lahannya. Untuk lahan sawah, lahan-lahan itu pada musim penghujan kini ditumbuhi tanaman padi yang subur. Pada lahan tegalan dan lahan di pegunungan, lahan-lahan yang ditanami tembakau pada musim kemarau, saat ini ditumbuhi bermacam jenis tanaman mulai dari cabai, bawang, tomat, kol, terong, mentimun, dan ragam jenis tanaman semusim lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Uniknya, tipikal tanaman tembakau yang tumbuh baik di musim kemarau ini memberi pilihan lebih kepada para petani. Lahan-lahan yang sulit ditanami pada musim kemarau, pada akhirnya masih bisa tetap produktif dengan keberadaan tanaman tembakau. <\/p>\n \n\n \n

Maka, kampanye aneh mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain dengan ragam rupa dalih yang membingungkan, bukan saja sama sekali tidak tepat dan asal-asalan, namun bisa jadi akan ditertawakan oleh para petani yang begitu paham dengan kondisi lahan dan terutama kondisi iklim dan cuaca. Sulit mencari tanaman semusim yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Jika pun ada, tak ada yang semenguntungkan tanaman tembakau.
<\/p>\n ","post_title":"Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"keberhasilan-gerakan-anti-tembakau-tak-ada-tembakau-saat-musim-hujan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-07 12:16:02","post_modified_gmt":"2019-02-07 05:16:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5415","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5409,"post_author":"919","post_date":"2019-02-05 08:04:43","post_date_gmt":"2019-02-05 01:04:43","post_content":" \n

Tahun Baru Imlek yang merupakan tradisi Bangsa Tiongkok kini sudah tak lagi menjadi hal yang asing bagi masyarakat Indonesia. Kehadirannya sudah mewarnai dan berakulturasi dengan tradisi lokal. Menjelang Tahun Baru Imlek. Berbagai hiasan dan kemeriahan terjadi beberapa titik di Tanah Air. Perayaannya juga menjadi destinasi baru yang mengasyikkan untuk dilihat dan patut disaksikan.<\/p>\n \n\n \n

Berterimakasihlah kepada sang bapak bangsa, KH Abdurrahman Wahid atau yang dikenal dengan nama Gus Dur. Berkat kebijakannya saat menjadi Presiden Indonesia, Tahun Baru Imlek resmi dijadikan hari libur nasional dan dianggap sebagai salah satu hari raya di Tanah Air. Meski sentimen antitionghoa masih ada di sana-sini, tapi tetap tak bisa dipungkiri bahwa bangsa tionghoa sudah bersentuhan dengan budaya lokal dalam kurun waktu yang sangat panjang.<\/p>\n \n\n \n

DNA Bangsa Tionghoa yang memang merupakan pedagang menjadi pembuka kisah interaksi antara nenek moyang berbagai suku di Nusantara dengan mereka. Beberapa kelenteng-kelenteng yang tersebar pada berbagai pesisir daerah di Nusantara jadi buktinya. Pelabuhan-pelabuhan tua di tanah air dan ramainya perdagangan di pesisir mempermudah bangsa kita berhubungan dengan Bangsa Tionghoa.<\/p>\n \n\n \n

Baca Juga: Wong Kalang dan Kota Gede<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa kehadiran Bangsa Tionghoa di Nusantara tak hanya sebagai pedagang, namun juga sebagai pekerja (bahkan hingga pekerja kasar). Benny Setiono, seorang sejarahwan menyebutkan bahwa antara tahun 1760-1770 dalam jumlah yang besar memasuki nusantara melalui Kalimantan Barat. Mereka bekerja sebagai kuli pertambangan di sana dan di kemudian hari membentuk sebuah republik bernama Republik Lanfang yang konon katanya menjadi republik pertama di Asia Tenggara.<\/p>\n \n\n \n

Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n \n\n \n

Baca Juga: Imlek dan Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n

Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n \n\n \n

Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n \n\n \n

Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n \n\n \n

Baca Juga: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n \n\n \n

Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
<\/p>\n ","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_3o3","class":"epic_block_3"};

\n

Bukan hanya membuat perekonomian dan perdagangan serta ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang, cengkeh dan pala bahkan adalah faktor yang paling menentukan dalam kemunculan satu babakan paling mengenaskan dalam sejarah politik dunia, yakni zaman penjajahan (kolonialisme) Eropa, terutama atas-atas negeri- negeri Asia Selatan, Timur dan Tenggara, termasuk Indonesia.
<\/p>\n \n\n\n

Tergerak oleh sahwat menguasai rempah-rempah yang menggiurkan itu, bangsa-bangsa Eropa --terutama Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda-- pun menggelar ekspedisi-ekspedisi besar untuk menemukan cengkeh dan pala langsung di tanah asalnya. Ketika armada-armada mereka akhirnya mencapai perairan Kepulauan Maluku, pada abad-16, perang pun tak terhindarkan.
<\/p>\n \n\n \n

Mereka silih berganti saling mengalahkan, tetapi pemenang terakhir adalah Belanda. Melalui Perusahaan Dagang Hindia Timur (Vereenigde Oostindische Compagnie, VOC) yang dibentuk pada awal abad-17 (tepatnya tahun 1609), Belanda melancarkan ekspedisi Pelayaran Hongi (Hongie Tochten), untuk memusnahkan semua tanaman cengkeh di Ternate, Tidore, Moti, dan Makian, lalu membatasi ketat penanamnya hanya di Pulau-pulau Ambon dan Lease --yang lebih dekat ke Banda sebagai pusat pemerintahan mereka sebelum akhirnya dipindahkan ke Batavia.
<\/p>\n \n\n \n

Praktis, sejak akhir abad-16, Belanda pun menguasai penuh perdagangan rempah-rempah Maluku dengan jumlah produksi rerata 2.500 sampai 4.500 ton per tahun. [3]<\/p>\n \n\n \n

Baca: Budidaya Pohon Cengkeh<\/a><\/h2>\n \n\n \n

Meskipun peran utama rempah-rempah Maluku itu kemudian tergusur pada abad-18 dan 19 oleh beberapa barang eksotika tropis lainnya --hasil perkebunan-perkebunana besar baru di Pulau Sumatera dan Jawa: tebu, tembakau, lada, kopi, teh, nila, kelapa sawit, dan kayu jati-- namun sejarah sudah mencatat bahwa dua jenis rempah-rempah Maluku itulah yang mengawali penjelajahan sekaligus penjajahan kepulauan Nusantara oleh bangsa-bangsa Eropah, terutama Belanda (Topatimasang, ed., 2004:32). Jika saja tak pernah ada cengkeh dan pala di Maluku, mungkin sejarah kepulauan Nusantara ini akan berbeda sama sekali.
<\/p>\n \n\n \n

Masa suram cengkeh dan pala terus berlangsung sampai pertengahan abad-20. Rempah eksotika yang pernah membuat tergila-gila<\/p>\n \n\n \n

para saudagar Arab, pedagang Cina, serta kaum ningrat Eropa itu, tergantikan perannya oleh penemuan teknologi mesin pendingin berkat Revolusi Industri yang dimulai di Inggris pada pertengahan abad-18. Pasaran cengkeh di Eropa pun merosot tajam.
<\/p>\n \n\n \n

Nasibnya terselamatkan berkat penemuan oleh seorang Haji Djamhari di Kudus, Jawa Tengah. Pada akhir tahun 1880-an, Haji Djamhari menemukan kegunaan baru cengkeh sebagai ramuan utama rokok. Lahirlah satu produk baru yang unik, khas dan asli Indonesia: kretek! (Hanusz, 2000:ii).
<\/p>\n \n\n \n

Setelah seperempat abad hanya berkembang dalam skala kecil usaha rumah tangga, produksi kretek akhirnya menjelma menjadi industri besar sejak awal abad-20 yang dirintis oleh Haji Nitisemito (pendiri pabrik \u2018Jambu Bol\u2019) di Kudus dan Liem Seng Tee (pendiri pabrik \u2018Dji Sam Soe\u2019 dan \u2018Sampoerna\u2019) di Surabaya.
<\/p>\n \n\n \n

Puncaknya adalah pada pertengahan tahun 1950-an, ketika produksi kretek mulai berkembang pesat menjadi industri raksasa modern dengan munculnya beberapa pabrik baru, antara lain, yang terkemuka, oleh Oei Wei Gwan (pendiri pabrik \u2018Djarum\u2019) di Kudus dan Tjou Ing Hwie (pendiri pabrik \u2018Gudang Garam\u2019) di Kediri (Topatimasang, et.al., eds., 2010:131).<\/p>\n \n\n \n

Baca: Teruslah Menanam Tembakau dan Cengkeh, Wahai Petani Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n

Cengkeh, bahan baku paling esensial dari kretek --selain tembakau, tentu saja-- pun kembali berjaya. Bahkan, sejak dasawarsa 1970an, telah menjadi salah satu penyumbang terbesar keuangan negara Republik Indonesia. Pada tahun 2012 dan 2013, pemasukan cukai dari industri kretek mencatat 95,5% dari seluruh pemasukan cukai ke kas negara. Nilainya tak tanggung-tanggung: Rp 87 triliun! (el-Guyanie, et.al.: 2013:4-5).<\/strong>
<\/p>\n \n\n \n

Nilai ekonomisnya yang sangat besar sempat menggoda penguasa otoriter rezim Presiden Soeharto, pada 1990-an, memberlakukan satu kebijakan \u2018Hongi Gaya Baru\u2019: monopoli perdagangan cengkeh dalam negeri melalui Badan Penyanggah dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) yang sangat merugikan petani. Harga cengkeh di tingkat petani penghasil anjlok sampai hanya Rp 2.000 - 3.000 per kilogram, lebih murah dari harga sebungkus kretek yang dihasilkan darinya.
<\/p>\n \n\n \n

Akibatnya, ratusan ribu pohon cengkeh di daerah-daerah penghasil utama --Maluku, Maluku Utara, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Selatan-- ditebangi atau dibiarkan terlantar tak terurus.
<\/p>\n \n\n \n

Gelombang reformasi sistem politik dan hukum nasional yang dimulai pada tahun 1998, akhirnya menjungkalkan rezim Soeharto dan BPPC dibubarkan, Pelan tapi pasti, harga cengkeh kembali merangkak naik, sehingga pada tahun 2012, bahkan melewati angka Rp 200.000 per kilogram. Para petani cengkeh di seluruh negeri kembali tersenyum. Tetapi, sampai kapan? <\/p>\n \n\n \n

Catatan:<\/strong><\/p>\n \n\n \n

[1] Beberapa sumber menyebutkan bahwa kata \u2018cengkeh\u2019 dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Mandarin, tkeng-his atau xi\u2019jia, yang berarti \u2018rempah [berbentuk mirip] paku\u2019 (scented nails). Ini menunjukkan bahwa cengkeh sudah dikenal sejak lama oleh bangsa Cina --diketahui sejak abad-2-- jauh sebelum orang Eropa mengenalnya ((lihat, misalnya: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n \n\n \n

[2] Catatan-catatan para biarawan Fransiskan --yang disalin dan dikutip oleh van Frassen-- bahkan menyebut cengkeh sebagai salah satu bahan utama pengawet mumi para Fir\u2019aun, penguasa Mesir Kuno. Beberapa pakar sejarah dan arkeologi menyatakan bahwa rempah-rempah Maluku bahkan sudah ditemukan artefaknya di Lembah Mesopotomia (wilayah Iraq dan sekitarnya sekarang) pada 3.000 tahun sebelum Masehi. (lihat, antara lain: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n \n\n \n

[3] Uraian lebih rinci sejarah kolonialisme rempah-rempah Nusantara ini, terutama oleh Belanda dan Portugis, dapat dibaca pada beberapa sumber kepustakaan yang sudah dikenal luas, antara lain: Glamann (1958) dan Boxer (1965 dan 1969). Dalam risalah klasik Pires disebutkan bahwa pada tahun 1512-1521 saja, jumlah produksi cengkeh di Maluku sudah mencapai 7.250 bahar per tahun, terbesar adalah di Makian serta Amboina dan Lease (masing-masing 1.500 bahar)(Pires, 1512-1515).<\/em>
<\/p>\n \n\n \n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem Topatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n ","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-10 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-02-10 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5425","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5415,"post_author":"878","post_date":"2019-02-07 12:15:55","post_date_gmt":"2019-02-07 05:15:55","post_content":" \n

Belakangan ini, ketika musim hujan tiba, di Kabupaten Temanggung, Kabupaten Jember, dan beberapa wilayah sentra pertanian tembakau lainnya, hampir mustahil menemukan tanaman tembakau tumbuh di lahan-lahan milik petani. Di wilayah-wilayah tersebut, citra sebagai sentra pertanian tembakau seakan menguap. Lahan-lahan yang ada di sana, sama sekali tidak ditumbuhi tanaman tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Kabar ini bisa jadi dianggap sebagai kabar gembira bagi mereka yang menganggap diri dan kelompoknya anti-rokok dan anti-tembakau yang selalu mengampanyekan sikap-sikap mereka terkait kebencian kepada tembakau dan aktivitas merokok. Setelah sekian lama berjuang, akhirnya perjuangan mereka dirasa berhasil usai menyaksikan fenomena lahan-lahan di wilayah yang dianggap sentra pertanian tembakau pada hari-hari belakangan ini.<\/p>\n \n\n \n

Baca juga: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Tak sia-sia turun ke jalan, tak sia-sia melakukan lobi-lobi ke penguasa, tak sia-sia mengucurkan uang yang tidak sedikit, dan tak sia-sia mempermalukan diri dengan mengemis ke lembaga donor asing dan menggondol uang dari cukai tembakau untuk mengampanyekan gerakan anti-rokok dan anti-tembakau. Tak sia-sia. Karena perjuangan sepertinya berhasil.<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

Kampanye-kampanye gerakan mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya, sepertinya juga sangat berhasil. Bagaimana tidak? Wilayah-wilayah yang sebelumnya penuh dengan tanaman tembakau dan bergeliat dengannya, kini lahan-lahannya sudah berganti dengan tanaman lain. Sebuah keberhasilan yang menggembirakan. Begitu mungkin pikir mereka para yang menganggap dirinya pejuang anti-rokok dan anti-tembakau. Dan tentu saja mereka akan kecele dan kita akan menertawakan hal itu.<\/p>\n \n\n \n

Sayangnya, mereka yang menganggap dirinya anti-rokok dan anti-tembakau tidak menyaksikan langsung fenomena ini di lapangan, di lahan-lahan yang peruntukannya berubah pada hari-hari belakangan ini ketika memasuki musim hujan. Mereka asyik duduk pada kursi empuk di ruang-ruang nyaman ber-AC di kota-kota yang jauh dari kultur pertanian. Mereka menyengajakan diri menjadi elit dan enggan untuk turun melihat langsung ke lapangan. Kalaupun ada yang turun langsung ke lapangan, hanya segelintir saja dari mereka, itupun sekadar formalitas saja. Tak pernah benar-benar mau turun ke lapangan, hidup dan merasakan langsung kultur pertanian tembakau dalam jangka waktu cukup lama di lapangan.<\/p>\n \n\n \n

Baca juga: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Fenomena ini membikin kita tak bisa melihat mereka para anti-rokok kecele lalu menertawakan mereka.<\/strong> Fenomena keengganan terjun langsung ke lapangan terlebih mencoba mendengar mereka yang tetap menanam tembakau, juga menjalani keseharian dalam waktu cukup lama bersama petani tembakau inilah yang saya kira menjadikan mereka tetap keras kepala untuk anti-rokok dan anti-tembakau. Karena jika mereka mau melakukan itu, saya yakin mereka semua tidak akan begitu kaku dalam memandang pertanian tembakau dan produk hasil industri tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Salah satu yang selalu mereka kampanyekan dan ngotot dengan itu, terkait hulu pertanian tembakau adalah mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya. Mereka berargumen banyak tanaman lain yang bisa semenguntungkan tanaman tembakau. Keengganan mereka terjun langsung ke lapangan inilah yang membikin mereka buta dengan kondisi pertanian tembakau dan pada akhirnya terus menerus mengampanyekan pergantian tanaman tembakau dengan tanaman lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Baca juga: Imanlah kepada Allah, Bukan Antirokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Tembakau tanaman yang khas. Ia hanya tumbuh baik sepanjang empat hingga lima bulan dalam satu tahun. Tumbuh-kembang tanaman tembakau dengan baik itu umumnya terjadi pada musim kemarau setiap tahunnya. Hanya sedikit sekali jenis tembakau yang tumbuh baik di musim penghujan, mayoritasnya, tumbuh baik pada musim kemarau.<\/p>\n \n\n \n

Jika ditanam pada musim hujan, hampir bisa dipastikan tanaman tembakau akan gagal menghasilkan daun-daun yang berkualitas. Ia akan rusak dan membusuk karena terlalu banyak terkena air sehingga daun-daun itu tak layak dijual. Jangankan bisa dijual, untuk tumbuh dengan baik pun sepertinya sulit karena musim hujan akan membunuh banyak tanaman itu.<\/p>\n \n\n \n

Maka, tak heran pada musim-musim seperti saat ini, ketika musim penghujan mendekati puncaknya, di wilayah-wilayah yang dikenal sebagai sentra pertanian tembakau, sulit menemukan pohon tembakau yang sedang tumbuh. Pada lahan-lahan yang sebelumnya ditumbuhi tanaman tembakau pada musim panas, berganti tanaman-tanaman lain yang bermacam-macam, sesuai dengan kondisi lahannya. Untuk lahan sawah, lahan-lahan itu pada musim penghujan kini ditumbuhi tanaman padi yang subur. Pada lahan tegalan dan lahan di pegunungan, lahan-lahan yang ditanami tembakau pada musim kemarau, saat ini ditumbuhi bermacam jenis tanaman mulai dari cabai, bawang, tomat, kol, terong, mentimun, dan ragam jenis tanaman semusim lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Uniknya, tipikal tanaman tembakau yang tumbuh baik di musim kemarau ini memberi pilihan lebih kepada para petani. Lahan-lahan yang sulit ditanami pada musim kemarau, pada akhirnya masih bisa tetap produktif dengan keberadaan tanaman tembakau. <\/p>\n \n\n \n

Maka, kampanye aneh mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain dengan ragam rupa dalih yang membingungkan, bukan saja sama sekali tidak tepat dan asal-asalan, namun bisa jadi akan ditertawakan oleh para petani yang begitu paham dengan kondisi lahan dan terutama kondisi iklim dan cuaca. Sulit mencari tanaman semusim yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Jika pun ada, tak ada yang semenguntungkan tanaman tembakau.
<\/p>\n ","post_title":"Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"keberhasilan-gerakan-anti-tembakau-tak-ada-tembakau-saat-musim-hujan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-07 12:16:02","post_modified_gmt":"2019-02-07 05:16:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5415","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5409,"post_author":"919","post_date":"2019-02-05 08:04:43","post_date_gmt":"2019-02-05 01:04:43","post_content":" \n

Tahun Baru Imlek yang merupakan tradisi Bangsa Tiongkok kini sudah tak lagi menjadi hal yang asing bagi masyarakat Indonesia. Kehadirannya sudah mewarnai dan berakulturasi dengan tradisi lokal. Menjelang Tahun Baru Imlek. Berbagai hiasan dan kemeriahan terjadi beberapa titik di Tanah Air. Perayaannya juga menjadi destinasi baru yang mengasyikkan untuk dilihat dan patut disaksikan.<\/p>\n \n\n \n

Berterimakasihlah kepada sang bapak bangsa, KH Abdurrahman Wahid atau yang dikenal dengan nama Gus Dur. Berkat kebijakannya saat menjadi Presiden Indonesia, Tahun Baru Imlek resmi dijadikan hari libur nasional dan dianggap sebagai salah satu hari raya di Tanah Air. Meski sentimen antitionghoa masih ada di sana-sini, tapi tetap tak bisa dipungkiri bahwa bangsa tionghoa sudah bersentuhan dengan budaya lokal dalam kurun waktu yang sangat panjang.<\/p>\n \n\n \n

DNA Bangsa Tionghoa yang memang merupakan pedagang menjadi pembuka kisah interaksi antara nenek moyang berbagai suku di Nusantara dengan mereka. Beberapa kelenteng-kelenteng yang tersebar pada berbagai pesisir daerah di Nusantara jadi buktinya. Pelabuhan-pelabuhan tua di tanah air dan ramainya perdagangan di pesisir mempermudah bangsa kita berhubungan dengan Bangsa Tionghoa.<\/p>\n \n\n \n

Baca Juga: Wong Kalang dan Kota Gede<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa kehadiran Bangsa Tionghoa di Nusantara tak hanya sebagai pedagang, namun juga sebagai pekerja (bahkan hingga pekerja kasar). Benny Setiono, seorang sejarahwan menyebutkan bahwa antara tahun 1760-1770 dalam jumlah yang besar memasuki nusantara melalui Kalimantan Barat. Mereka bekerja sebagai kuli pertambangan di sana dan di kemudian hari membentuk sebuah republik bernama Republik Lanfang yang konon katanya menjadi republik pertama di Asia Tenggara.<\/p>\n \n\n \n

Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n \n\n \n

Baca Juga: Imlek dan Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n

Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n \n\n \n

Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n \n\n \n

Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n \n\n \n

Baca Juga: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n \n\n \n

Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
<\/p>\n ","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_3o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Cengkeh dan Kelapa di Kepulauan Anambas<\/a><\/h2>\n \n\n\n

Bukan hanya membuat perekonomian dan perdagangan serta ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang, cengkeh dan pala bahkan adalah faktor yang paling menentukan dalam kemunculan satu babakan paling mengenaskan dalam sejarah politik dunia, yakni zaman penjajahan (kolonialisme) Eropa, terutama atas-atas negeri- negeri Asia Selatan, Timur dan Tenggara, termasuk Indonesia.
<\/p>\n \n\n \n

Tergerak oleh sahwat menguasai rempah-rempah yang menggiurkan itu, bangsa-bangsa Eropa --terutama Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda-- pun menggelar ekspedisi-ekspedisi besar untuk menemukan cengkeh dan pala langsung di tanah asalnya. Ketika armada-armada mereka akhirnya mencapai perairan Kepulauan Maluku, pada abad-16, perang pun tak terhindarkan.
<\/p>\n \n\n \n

Mereka silih berganti saling mengalahkan, tetapi pemenang terakhir adalah Belanda. Melalui Perusahaan Dagang Hindia Timur (Vereenigde Oostindische Compagnie, VOC) yang dibentuk pada awal abad-17 (tepatnya tahun 1609), Belanda melancarkan ekspedisi Pelayaran Hongi (Hongie Tochten), untuk memusnahkan semua tanaman cengkeh di Ternate, Tidore, Moti, dan Makian, lalu membatasi ketat penanamnya hanya di Pulau-pulau Ambon dan Lease --yang lebih dekat ke Banda sebagai pusat pemerintahan mereka sebelum akhirnya dipindahkan ke Batavia.
<\/p>\n \n\n \n

Praktis, sejak akhir abad-16, Belanda pun menguasai penuh perdagangan rempah-rempah Maluku dengan jumlah produksi rerata 2.500 sampai 4.500 ton per tahun. [3]<\/p>\n \n\n \n

Baca: Budidaya Pohon Cengkeh<\/a><\/h2>\n \n\n \n

Meskipun peran utama rempah-rempah Maluku itu kemudian tergusur pada abad-18 dan 19 oleh beberapa barang eksotika tropis lainnya --hasil perkebunan-perkebunana besar baru di Pulau Sumatera dan Jawa: tebu, tembakau, lada, kopi, teh, nila, kelapa sawit, dan kayu jati-- namun sejarah sudah mencatat bahwa dua jenis rempah-rempah Maluku itulah yang mengawali penjelajahan sekaligus penjajahan kepulauan Nusantara oleh bangsa-bangsa Eropah, terutama Belanda (Topatimasang, ed., 2004:32). Jika saja tak pernah ada cengkeh dan pala di Maluku, mungkin sejarah kepulauan Nusantara ini akan berbeda sama sekali.
<\/p>\n \n\n \n

Masa suram cengkeh dan pala terus berlangsung sampai pertengahan abad-20. Rempah eksotika yang pernah membuat tergila-gila<\/p>\n \n\n \n

para saudagar Arab, pedagang Cina, serta kaum ningrat Eropa itu, tergantikan perannya oleh penemuan teknologi mesin pendingin berkat Revolusi Industri yang dimulai di Inggris pada pertengahan abad-18. Pasaran cengkeh di Eropa pun merosot tajam.
<\/p>\n \n\n \n

Nasibnya terselamatkan berkat penemuan oleh seorang Haji Djamhari di Kudus, Jawa Tengah. Pada akhir tahun 1880-an, Haji Djamhari menemukan kegunaan baru cengkeh sebagai ramuan utama rokok. Lahirlah satu produk baru yang unik, khas dan asli Indonesia: kretek! (Hanusz, 2000:ii).
<\/p>\n \n\n \n

Setelah seperempat abad hanya berkembang dalam skala kecil usaha rumah tangga, produksi kretek akhirnya menjelma menjadi industri besar sejak awal abad-20 yang dirintis oleh Haji Nitisemito (pendiri pabrik \u2018Jambu Bol\u2019) di Kudus dan Liem Seng Tee (pendiri pabrik \u2018Dji Sam Soe\u2019 dan \u2018Sampoerna\u2019) di Surabaya.
<\/p>\n \n\n \n

Puncaknya adalah pada pertengahan tahun 1950-an, ketika produksi kretek mulai berkembang pesat menjadi industri raksasa modern dengan munculnya beberapa pabrik baru, antara lain, yang terkemuka, oleh Oei Wei Gwan (pendiri pabrik \u2018Djarum\u2019) di Kudus dan Tjou Ing Hwie (pendiri pabrik \u2018Gudang Garam\u2019) di Kediri (Topatimasang, et.al., eds., 2010:131).<\/p>\n \n\n \n

Baca: Teruslah Menanam Tembakau dan Cengkeh, Wahai Petani Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n

Cengkeh, bahan baku paling esensial dari kretek --selain tembakau, tentu saja-- pun kembali berjaya. Bahkan, sejak dasawarsa 1970an, telah menjadi salah satu penyumbang terbesar keuangan negara Republik Indonesia. Pada tahun 2012 dan 2013, pemasukan cukai dari industri kretek mencatat 95,5% dari seluruh pemasukan cukai ke kas negara. Nilainya tak tanggung-tanggung: Rp 87 triliun! (el-Guyanie, et.al.: 2013:4-5).<\/strong>
<\/p>\n \n\n \n

Nilai ekonomisnya yang sangat besar sempat menggoda penguasa otoriter rezim Presiden Soeharto, pada 1990-an, memberlakukan satu kebijakan \u2018Hongi Gaya Baru\u2019: monopoli perdagangan cengkeh dalam negeri melalui Badan Penyanggah dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) yang sangat merugikan petani. Harga cengkeh di tingkat petani penghasil anjlok sampai hanya Rp 2.000 - 3.000 per kilogram, lebih murah dari harga sebungkus kretek yang dihasilkan darinya.
<\/p>\n \n\n \n

Akibatnya, ratusan ribu pohon cengkeh di daerah-daerah penghasil utama --Maluku, Maluku Utara, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Selatan-- ditebangi atau dibiarkan terlantar tak terurus.
<\/p>\n \n\n \n

Gelombang reformasi sistem politik dan hukum nasional yang dimulai pada tahun 1998, akhirnya menjungkalkan rezim Soeharto dan BPPC dibubarkan, Pelan tapi pasti, harga cengkeh kembali merangkak naik, sehingga pada tahun 2012, bahkan melewati angka Rp 200.000 per kilogram. Para petani cengkeh di seluruh negeri kembali tersenyum. Tetapi, sampai kapan? <\/p>\n \n\n \n

Catatan:<\/strong><\/p>\n \n\n \n

[1] Beberapa sumber menyebutkan bahwa kata \u2018cengkeh\u2019 dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Mandarin, tkeng-his atau xi\u2019jia, yang berarti \u2018rempah [berbentuk mirip] paku\u2019 (scented nails). Ini menunjukkan bahwa cengkeh sudah dikenal sejak lama oleh bangsa Cina --diketahui sejak abad-2-- jauh sebelum orang Eropa mengenalnya ((lihat, misalnya: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n \n\n \n

[2] Catatan-catatan para biarawan Fransiskan --yang disalin dan dikutip oleh van Frassen-- bahkan menyebut cengkeh sebagai salah satu bahan utama pengawet mumi para Fir\u2019aun, penguasa Mesir Kuno. Beberapa pakar sejarah dan arkeologi menyatakan bahwa rempah-rempah Maluku bahkan sudah ditemukan artefaknya di Lembah Mesopotomia (wilayah Iraq dan sekitarnya sekarang) pada 3.000 tahun sebelum Masehi. (lihat, antara lain: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n \n\n \n

[3] Uraian lebih rinci sejarah kolonialisme rempah-rempah Nusantara ini, terutama oleh Belanda dan Portugis, dapat dibaca pada beberapa sumber kepustakaan yang sudah dikenal luas, antara lain: Glamann (1958) dan Boxer (1965 dan 1969). Dalam risalah klasik Pires disebutkan bahwa pada tahun 1512-1521 saja, jumlah produksi cengkeh di Maluku sudah mencapai 7.250 bahar per tahun, terbesar adalah di Makian serta Amboina dan Lease (masing-masing 1.500 bahar)(Pires, 1512-1515).<\/em>
<\/p>\n \n\n \n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem Topatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n ","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-10 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-02-10 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5425","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5415,"post_author":"878","post_date":"2019-02-07 12:15:55","post_date_gmt":"2019-02-07 05:15:55","post_content":" \n

Belakangan ini, ketika musim hujan tiba, di Kabupaten Temanggung, Kabupaten Jember, dan beberapa wilayah sentra pertanian tembakau lainnya, hampir mustahil menemukan tanaman tembakau tumbuh di lahan-lahan milik petani. Di wilayah-wilayah tersebut, citra sebagai sentra pertanian tembakau seakan menguap. Lahan-lahan yang ada di sana, sama sekali tidak ditumbuhi tanaman tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Kabar ini bisa jadi dianggap sebagai kabar gembira bagi mereka yang menganggap diri dan kelompoknya anti-rokok dan anti-tembakau yang selalu mengampanyekan sikap-sikap mereka terkait kebencian kepada tembakau dan aktivitas merokok. Setelah sekian lama berjuang, akhirnya perjuangan mereka dirasa berhasil usai menyaksikan fenomena lahan-lahan di wilayah yang dianggap sentra pertanian tembakau pada hari-hari belakangan ini.<\/p>\n \n\n \n

Baca juga: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Tak sia-sia turun ke jalan, tak sia-sia melakukan lobi-lobi ke penguasa, tak sia-sia mengucurkan uang yang tidak sedikit, dan tak sia-sia mempermalukan diri dengan mengemis ke lembaga donor asing dan menggondol uang dari cukai tembakau untuk mengampanyekan gerakan anti-rokok dan anti-tembakau. Tak sia-sia. Karena perjuangan sepertinya berhasil.<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

Kampanye-kampanye gerakan mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya, sepertinya juga sangat berhasil. Bagaimana tidak? Wilayah-wilayah yang sebelumnya penuh dengan tanaman tembakau dan bergeliat dengannya, kini lahan-lahannya sudah berganti dengan tanaman lain. Sebuah keberhasilan yang menggembirakan. Begitu mungkin pikir mereka para yang menganggap dirinya pejuang anti-rokok dan anti-tembakau. Dan tentu saja mereka akan kecele dan kita akan menertawakan hal itu.<\/p>\n \n\n \n

Sayangnya, mereka yang menganggap dirinya anti-rokok dan anti-tembakau tidak menyaksikan langsung fenomena ini di lapangan, di lahan-lahan yang peruntukannya berubah pada hari-hari belakangan ini ketika memasuki musim hujan. Mereka asyik duduk pada kursi empuk di ruang-ruang nyaman ber-AC di kota-kota yang jauh dari kultur pertanian. Mereka menyengajakan diri menjadi elit dan enggan untuk turun melihat langsung ke lapangan. Kalaupun ada yang turun langsung ke lapangan, hanya segelintir saja dari mereka, itupun sekadar formalitas saja. Tak pernah benar-benar mau turun ke lapangan, hidup dan merasakan langsung kultur pertanian tembakau dalam jangka waktu cukup lama di lapangan.<\/p>\n \n\n \n

Baca juga: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Fenomena ini membikin kita tak bisa melihat mereka para anti-rokok kecele lalu menertawakan mereka.<\/strong> Fenomena keengganan terjun langsung ke lapangan terlebih mencoba mendengar mereka yang tetap menanam tembakau, juga menjalani keseharian dalam waktu cukup lama bersama petani tembakau inilah yang saya kira menjadikan mereka tetap keras kepala untuk anti-rokok dan anti-tembakau. Karena jika mereka mau melakukan itu, saya yakin mereka semua tidak akan begitu kaku dalam memandang pertanian tembakau dan produk hasil industri tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Salah satu yang selalu mereka kampanyekan dan ngotot dengan itu, terkait hulu pertanian tembakau adalah mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya. Mereka berargumen banyak tanaman lain yang bisa semenguntungkan tanaman tembakau. Keengganan mereka terjun langsung ke lapangan inilah yang membikin mereka buta dengan kondisi pertanian tembakau dan pada akhirnya terus menerus mengampanyekan pergantian tanaman tembakau dengan tanaman lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Baca juga: Imanlah kepada Allah, Bukan Antirokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Tembakau tanaman yang khas. Ia hanya tumbuh baik sepanjang empat hingga lima bulan dalam satu tahun. Tumbuh-kembang tanaman tembakau dengan baik itu umumnya terjadi pada musim kemarau setiap tahunnya. Hanya sedikit sekali jenis tembakau yang tumbuh baik di musim penghujan, mayoritasnya, tumbuh baik pada musim kemarau.<\/p>\n \n\n \n

Jika ditanam pada musim hujan, hampir bisa dipastikan tanaman tembakau akan gagal menghasilkan daun-daun yang berkualitas. Ia akan rusak dan membusuk karena terlalu banyak terkena air sehingga daun-daun itu tak layak dijual. Jangankan bisa dijual, untuk tumbuh dengan baik pun sepertinya sulit karena musim hujan akan membunuh banyak tanaman itu.<\/p>\n \n\n \n

Maka, tak heran pada musim-musim seperti saat ini, ketika musim penghujan mendekati puncaknya, di wilayah-wilayah yang dikenal sebagai sentra pertanian tembakau, sulit menemukan pohon tembakau yang sedang tumbuh. Pada lahan-lahan yang sebelumnya ditumbuhi tanaman tembakau pada musim panas, berganti tanaman-tanaman lain yang bermacam-macam, sesuai dengan kondisi lahannya. Untuk lahan sawah, lahan-lahan itu pada musim penghujan kini ditumbuhi tanaman padi yang subur. Pada lahan tegalan dan lahan di pegunungan, lahan-lahan yang ditanami tembakau pada musim kemarau, saat ini ditumbuhi bermacam jenis tanaman mulai dari cabai, bawang, tomat, kol, terong, mentimun, dan ragam jenis tanaman semusim lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Uniknya, tipikal tanaman tembakau yang tumbuh baik di musim kemarau ini memberi pilihan lebih kepada para petani. Lahan-lahan yang sulit ditanami pada musim kemarau, pada akhirnya masih bisa tetap produktif dengan keberadaan tanaman tembakau. <\/p>\n \n\n \n

Maka, kampanye aneh mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain dengan ragam rupa dalih yang membingungkan, bukan saja sama sekali tidak tepat dan asal-asalan, namun bisa jadi akan ditertawakan oleh para petani yang begitu paham dengan kondisi lahan dan terutama kondisi iklim dan cuaca. Sulit mencari tanaman semusim yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Jika pun ada, tak ada yang semenguntungkan tanaman tembakau.
<\/p>\n ","post_title":"Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"keberhasilan-gerakan-anti-tembakau-tak-ada-tembakau-saat-musim-hujan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-07 12:16:02","post_modified_gmt":"2019-02-07 05:16:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5415","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5409,"post_author":"919","post_date":"2019-02-05 08:04:43","post_date_gmt":"2019-02-05 01:04:43","post_content":" \n

Tahun Baru Imlek yang merupakan tradisi Bangsa Tiongkok kini sudah tak lagi menjadi hal yang asing bagi masyarakat Indonesia. Kehadirannya sudah mewarnai dan berakulturasi dengan tradisi lokal. Menjelang Tahun Baru Imlek. Berbagai hiasan dan kemeriahan terjadi beberapa titik di Tanah Air. Perayaannya juga menjadi destinasi baru yang mengasyikkan untuk dilihat dan patut disaksikan.<\/p>\n \n\n \n

Berterimakasihlah kepada sang bapak bangsa, KH Abdurrahman Wahid atau yang dikenal dengan nama Gus Dur. Berkat kebijakannya saat menjadi Presiden Indonesia, Tahun Baru Imlek resmi dijadikan hari libur nasional dan dianggap sebagai salah satu hari raya di Tanah Air. Meski sentimen antitionghoa masih ada di sana-sini, tapi tetap tak bisa dipungkiri bahwa bangsa tionghoa sudah bersentuhan dengan budaya lokal dalam kurun waktu yang sangat panjang.<\/p>\n \n\n \n

DNA Bangsa Tionghoa yang memang merupakan pedagang menjadi pembuka kisah interaksi antara nenek moyang berbagai suku di Nusantara dengan mereka. Beberapa kelenteng-kelenteng yang tersebar pada berbagai pesisir daerah di Nusantara jadi buktinya. Pelabuhan-pelabuhan tua di tanah air dan ramainya perdagangan di pesisir mempermudah bangsa kita berhubungan dengan Bangsa Tionghoa.<\/p>\n \n\n \n

Baca Juga: Wong Kalang dan Kota Gede<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa kehadiran Bangsa Tionghoa di Nusantara tak hanya sebagai pedagang, namun juga sebagai pekerja (bahkan hingga pekerja kasar). Benny Setiono, seorang sejarahwan menyebutkan bahwa antara tahun 1760-1770 dalam jumlah yang besar memasuki nusantara melalui Kalimantan Barat. Mereka bekerja sebagai kuli pertambangan di sana dan di kemudian hari membentuk sebuah republik bernama Republik Lanfang yang konon katanya menjadi republik pertama di Asia Tenggara.<\/p>\n \n\n \n

Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n \n\n \n

Baca Juga: Imlek dan Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n

Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n \n\n \n

Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n \n\n \n

Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n \n\n \n

Baca Juga: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n \n\n \n

Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
<\/p>\n ","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_3o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201cKemampuan menyimpan makanan lebih dari yang kami makan sekaligus berarti kemampuan menjual dan membelinya dalam jumlah besar --dan kota-kota dagang pun mekar. Perekonomian yang dihasilkannya mengarahkan kami ke zaman Pencerahan dan kemudian Revolusi Industri. Tak lama setelah kami menghirup aroma yang sangat kuat dari Timur itu dan mengubah kimiawi makanan kami, maka kami pun mampu melakukan lompatan besar dalam bidang budaya dan seni.\u201d (Blair & Blair, 2010; 30-31).<\/p><\/blockquote>\n \n\n\n

Baca: Cengkeh dan Kelapa di Kepulauan Anambas<\/a><\/h2>\n \n\n \n

Bukan hanya membuat perekonomian dan perdagangan serta ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang, cengkeh dan pala bahkan adalah faktor yang paling menentukan dalam kemunculan satu babakan paling mengenaskan dalam sejarah politik dunia, yakni zaman penjajahan (kolonialisme) Eropa, terutama atas-atas negeri- negeri Asia Selatan, Timur dan Tenggara, termasuk Indonesia.
<\/p>\n \n\n \n

Tergerak oleh sahwat menguasai rempah-rempah yang menggiurkan itu, bangsa-bangsa Eropa --terutama Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda-- pun menggelar ekspedisi-ekspedisi besar untuk menemukan cengkeh dan pala langsung di tanah asalnya. Ketika armada-armada mereka akhirnya mencapai perairan Kepulauan Maluku, pada abad-16, perang pun tak terhindarkan.
<\/p>\n \n\n \n

Mereka silih berganti saling mengalahkan, tetapi pemenang terakhir adalah Belanda. Melalui Perusahaan Dagang Hindia Timur (Vereenigde Oostindische Compagnie, VOC) yang dibentuk pada awal abad-17 (tepatnya tahun 1609), Belanda melancarkan ekspedisi Pelayaran Hongi (Hongie Tochten), untuk memusnahkan semua tanaman cengkeh di Ternate, Tidore, Moti, dan Makian, lalu membatasi ketat penanamnya hanya di Pulau-pulau Ambon dan Lease --yang lebih dekat ke Banda sebagai pusat pemerintahan mereka sebelum akhirnya dipindahkan ke Batavia.
<\/p>\n \n\n \n

Praktis, sejak akhir abad-16, Belanda pun menguasai penuh perdagangan rempah-rempah Maluku dengan jumlah produksi rerata 2.500 sampai 4.500 ton per tahun. [3]<\/p>\n \n\n \n

Baca: Budidaya Pohon Cengkeh<\/a><\/h2>\n \n\n \n

Meskipun peran utama rempah-rempah Maluku itu kemudian tergusur pada abad-18 dan 19 oleh beberapa barang eksotika tropis lainnya --hasil perkebunan-perkebunana besar baru di Pulau Sumatera dan Jawa: tebu, tembakau, lada, kopi, teh, nila, kelapa sawit, dan kayu jati-- namun sejarah sudah mencatat bahwa dua jenis rempah-rempah Maluku itulah yang mengawali penjelajahan sekaligus penjajahan kepulauan Nusantara oleh bangsa-bangsa Eropah, terutama Belanda (Topatimasang, ed., 2004:32). Jika saja tak pernah ada cengkeh dan pala di Maluku, mungkin sejarah kepulauan Nusantara ini akan berbeda sama sekali.
<\/p>\n \n\n \n

Masa suram cengkeh dan pala terus berlangsung sampai pertengahan abad-20. Rempah eksotika yang pernah membuat tergila-gila<\/p>\n \n\n \n

para saudagar Arab, pedagang Cina, serta kaum ningrat Eropa itu, tergantikan perannya oleh penemuan teknologi mesin pendingin berkat Revolusi Industri yang dimulai di Inggris pada pertengahan abad-18. Pasaran cengkeh di Eropa pun merosot tajam.
<\/p>\n \n\n \n

Nasibnya terselamatkan berkat penemuan oleh seorang Haji Djamhari di Kudus, Jawa Tengah. Pada akhir tahun 1880-an, Haji Djamhari menemukan kegunaan baru cengkeh sebagai ramuan utama rokok. Lahirlah satu produk baru yang unik, khas dan asli Indonesia: kretek! (Hanusz, 2000:ii).
<\/p>\n \n\n \n

Setelah seperempat abad hanya berkembang dalam skala kecil usaha rumah tangga, produksi kretek akhirnya menjelma menjadi industri besar sejak awal abad-20 yang dirintis oleh Haji Nitisemito (pendiri pabrik \u2018Jambu Bol\u2019) di Kudus dan Liem Seng Tee (pendiri pabrik \u2018Dji Sam Soe\u2019 dan \u2018Sampoerna\u2019) di Surabaya.
<\/p>\n \n\n \n

Puncaknya adalah pada pertengahan tahun 1950-an, ketika produksi kretek mulai berkembang pesat menjadi industri raksasa modern dengan munculnya beberapa pabrik baru, antara lain, yang terkemuka, oleh Oei Wei Gwan (pendiri pabrik \u2018Djarum\u2019) di Kudus dan Tjou Ing Hwie (pendiri pabrik \u2018Gudang Garam\u2019) di Kediri (Topatimasang, et.al., eds., 2010:131).<\/p>\n \n\n \n

Baca: Teruslah Menanam Tembakau dan Cengkeh, Wahai Petani Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n

Cengkeh, bahan baku paling esensial dari kretek --selain tembakau, tentu saja-- pun kembali berjaya. Bahkan, sejak dasawarsa 1970an, telah menjadi salah satu penyumbang terbesar keuangan negara Republik Indonesia. Pada tahun 2012 dan 2013, pemasukan cukai dari industri kretek mencatat 95,5% dari seluruh pemasukan cukai ke kas negara. Nilainya tak tanggung-tanggung: Rp 87 triliun! (el-Guyanie, et.al.: 2013:4-5).<\/strong>
<\/p>\n \n\n \n

Nilai ekonomisnya yang sangat besar sempat menggoda penguasa otoriter rezim Presiden Soeharto, pada 1990-an, memberlakukan satu kebijakan \u2018Hongi Gaya Baru\u2019: monopoli perdagangan cengkeh dalam negeri melalui Badan Penyanggah dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) yang sangat merugikan petani. Harga cengkeh di tingkat petani penghasil anjlok sampai hanya Rp 2.000 - 3.000 per kilogram, lebih murah dari harga sebungkus kretek yang dihasilkan darinya.
<\/p>\n \n\n \n

Akibatnya, ratusan ribu pohon cengkeh di daerah-daerah penghasil utama --Maluku, Maluku Utara, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Selatan-- ditebangi atau dibiarkan terlantar tak terurus.
<\/p>\n \n\n \n

Gelombang reformasi sistem politik dan hukum nasional yang dimulai pada tahun 1998, akhirnya menjungkalkan rezim Soeharto dan BPPC dibubarkan, Pelan tapi pasti, harga cengkeh kembali merangkak naik, sehingga pada tahun 2012, bahkan melewati angka Rp 200.000 per kilogram. Para petani cengkeh di seluruh negeri kembali tersenyum. Tetapi, sampai kapan? <\/p>\n \n\n \n

Catatan:<\/strong><\/p>\n \n\n \n

[1] Beberapa sumber menyebutkan bahwa kata \u2018cengkeh\u2019 dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Mandarin, tkeng-his atau xi\u2019jia, yang berarti \u2018rempah [berbentuk mirip] paku\u2019 (scented nails). Ini menunjukkan bahwa cengkeh sudah dikenal sejak lama oleh bangsa Cina --diketahui sejak abad-2-- jauh sebelum orang Eropa mengenalnya ((lihat, misalnya: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n \n\n \n

[2] Catatan-catatan para biarawan Fransiskan --yang disalin dan dikutip oleh van Frassen-- bahkan menyebut cengkeh sebagai salah satu bahan utama pengawet mumi para Fir\u2019aun, penguasa Mesir Kuno. Beberapa pakar sejarah dan arkeologi menyatakan bahwa rempah-rempah Maluku bahkan sudah ditemukan artefaknya di Lembah Mesopotomia (wilayah Iraq dan sekitarnya sekarang) pada 3.000 tahun sebelum Masehi. (lihat, antara lain: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n \n\n \n

[3] Uraian lebih rinci sejarah kolonialisme rempah-rempah Nusantara ini, terutama oleh Belanda dan Portugis, dapat dibaca pada beberapa sumber kepustakaan yang sudah dikenal luas, antara lain: Glamann (1958) dan Boxer (1965 dan 1969). Dalam risalah klasik Pires disebutkan bahwa pada tahun 1512-1521 saja, jumlah produksi cengkeh di Maluku sudah mencapai 7.250 bahar per tahun, terbesar adalah di Makian serta Amboina dan Lease (masing-masing 1.500 bahar)(Pires, 1512-1515).<\/em>
<\/p>\n \n\n \n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem Topatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n ","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-10 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-02-10 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5425","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5415,"post_author":"878","post_date":"2019-02-07 12:15:55","post_date_gmt":"2019-02-07 05:15:55","post_content":" \n

Belakangan ini, ketika musim hujan tiba, di Kabupaten Temanggung, Kabupaten Jember, dan beberapa wilayah sentra pertanian tembakau lainnya, hampir mustahil menemukan tanaman tembakau tumbuh di lahan-lahan milik petani. Di wilayah-wilayah tersebut, citra sebagai sentra pertanian tembakau seakan menguap. Lahan-lahan yang ada di sana, sama sekali tidak ditumbuhi tanaman tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Kabar ini bisa jadi dianggap sebagai kabar gembira bagi mereka yang menganggap diri dan kelompoknya anti-rokok dan anti-tembakau yang selalu mengampanyekan sikap-sikap mereka terkait kebencian kepada tembakau dan aktivitas merokok. Setelah sekian lama berjuang, akhirnya perjuangan mereka dirasa berhasil usai menyaksikan fenomena lahan-lahan di wilayah yang dianggap sentra pertanian tembakau pada hari-hari belakangan ini.<\/p>\n \n\n \n

Baca juga: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Tak sia-sia turun ke jalan, tak sia-sia melakukan lobi-lobi ke penguasa, tak sia-sia mengucurkan uang yang tidak sedikit, dan tak sia-sia mempermalukan diri dengan mengemis ke lembaga donor asing dan menggondol uang dari cukai tembakau untuk mengampanyekan gerakan anti-rokok dan anti-tembakau. Tak sia-sia. Karena perjuangan sepertinya berhasil.<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

Kampanye-kampanye gerakan mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya, sepertinya juga sangat berhasil. Bagaimana tidak? Wilayah-wilayah yang sebelumnya penuh dengan tanaman tembakau dan bergeliat dengannya, kini lahan-lahannya sudah berganti dengan tanaman lain. Sebuah keberhasilan yang menggembirakan. Begitu mungkin pikir mereka para yang menganggap dirinya pejuang anti-rokok dan anti-tembakau. Dan tentu saja mereka akan kecele dan kita akan menertawakan hal itu.<\/p>\n \n\n \n

Sayangnya, mereka yang menganggap dirinya anti-rokok dan anti-tembakau tidak menyaksikan langsung fenomena ini di lapangan, di lahan-lahan yang peruntukannya berubah pada hari-hari belakangan ini ketika memasuki musim hujan. Mereka asyik duduk pada kursi empuk di ruang-ruang nyaman ber-AC di kota-kota yang jauh dari kultur pertanian. Mereka menyengajakan diri menjadi elit dan enggan untuk turun melihat langsung ke lapangan. Kalaupun ada yang turun langsung ke lapangan, hanya segelintir saja dari mereka, itupun sekadar formalitas saja. Tak pernah benar-benar mau turun ke lapangan, hidup dan merasakan langsung kultur pertanian tembakau dalam jangka waktu cukup lama di lapangan.<\/p>\n \n\n \n

Baca juga: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Fenomena ini membikin kita tak bisa melihat mereka para anti-rokok kecele lalu menertawakan mereka.<\/strong> Fenomena keengganan terjun langsung ke lapangan terlebih mencoba mendengar mereka yang tetap menanam tembakau, juga menjalani keseharian dalam waktu cukup lama bersama petani tembakau inilah yang saya kira menjadikan mereka tetap keras kepala untuk anti-rokok dan anti-tembakau. Karena jika mereka mau melakukan itu, saya yakin mereka semua tidak akan begitu kaku dalam memandang pertanian tembakau dan produk hasil industri tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Salah satu yang selalu mereka kampanyekan dan ngotot dengan itu, terkait hulu pertanian tembakau adalah mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya. Mereka berargumen banyak tanaman lain yang bisa semenguntungkan tanaman tembakau. Keengganan mereka terjun langsung ke lapangan inilah yang membikin mereka buta dengan kondisi pertanian tembakau dan pada akhirnya terus menerus mengampanyekan pergantian tanaman tembakau dengan tanaman lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Baca juga: Imanlah kepada Allah, Bukan Antirokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Tembakau tanaman yang khas. Ia hanya tumbuh baik sepanjang empat hingga lima bulan dalam satu tahun. Tumbuh-kembang tanaman tembakau dengan baik itu umumnya terjadi pada musim kemarau setiap tahunnya. Hanya sedikit sekali jenis tembakau yang tumbuh baik di musim penghujan, mayoritasnya, tumbuh baik pada musim kemarau.<\/p>\n \n\n \n

Jika ditanam pada musim hujan, hampir bisa dipastikan tanaman tembakau akan gagal menghasilkan daun-daun yang berkualitas. Ia akan rusak dan membusuk karena terlalu banyak terkena air sehingga daun-daun itu tak layak dijual. Jangankan bisa dijual, untuk tumbuh dengan baik pun sepertinya sulit karena musim hujan akan membunuh banyak tanaman itu.<\/p>\n \n\n \n

Maka, tak heran pada musim-musim seperti saat ini, ketika musim penghujan mendekati puncaknya, di wilayah-wilayah yang dikenal sebagai sentra pertanian tembakau, sulit menemukan pohon tembakau yang sedang tumbuh. Pada lahan-lahan yang sebelumnya ditumbuhi tanaman tembakau pada musim panas, berganti tanaman-tanaman lain yang bermacam-macam, sesuai dengan kondisi lahannya. Untuk lahan sawah, lahan-lahan itu pada musim penghujan kini ditumbuhi tanaman padi yang subur. Pada lahan tegalan dan lahan di pegunungan, lahan-lahan yang ditanami tembakau pada musim kemarau, saat ini ditumbuhi bermacam jenis tanaman mulai dari cabai, bawang, tomat, kol, terong, mentimun, dan ragam jenis tanaman semusim lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Uniknya, tipikal tanaman tembakau yang tumbuh baik di musim kemarau ini memberi pilihan lebih kepada para petani. Lahan-lahan yang sulit ditanami pada musim kemarau, pada akhirnya masih bisa tetap produktif dengan keberadaan tanaman tembakau. <\/p>\n \n\n \n

Maka, kampanye aneh mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain dengan ragam rupa dalih yang membingungkan, bukan saja sama sekali tidak tepat dan asal-asalan, namun bisa jadi akan ditertawakan oleh para petani yang begitu paham dengan kondisi lahan dan terutama kondisi iklim dan cuaca. Sulit mencari tanaman semusim yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Jika pun ada, tak ada yang semenguntungkan tanaman tembakau.
<\/p>\n ","post_title":"Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"keberhasilan-gerakan-anti-tembakau-tak-ada-tembakau-saat-musim-hujan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-07 12:16:02","post_modified_gmt":"2019-02-07 05:16:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5415","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5409,"post_author":"919","post_date":"2019-02-05 08:04:43","post_date_gmt":"2019-02-05 01:04:43","post_content":" \n

Tahun Baru Imlek yang merupakan tradisi Bangsa Tiongkok kini sudah tak lagi menjadi hal yang asing bagi masyarakat Indonesia. Kehadirannya sudah mewarnai dan berakulturasi dengan tradisi lokal. Menjelang Tahun Baru Imlek. Berbagai hiasan dan kemeriahan terjadi beberapa titik di Tanah Air. Perayaannya juga menjadi destinasi baru yang mengasyikkan untuk dilihat dan patut disaksikan.<\/p>\n \n\n \n

Berterimakasihlah kepada sang bapak bangsa, KH Abdurrahman Wahid atau yang dikenal dengan nama Gus Dur. Berkat kebijakannya saat menjadi Presiden Indonesia, Tahun Baru Imlek resmi dijadikan hari libur nasional dan dianggap sebagai salah satu hari raya di Tanah Air. Meski sentimen antitionghoa masih ada di sana-sini, tapi tetap tak bisa dipungkiri bahwa bangsa tionghoa sudah bersentuhan dengan budaya lokal dalam kurun waktu yang sangat panjang.<\/p>\n \n\n \n

DNA Bangsa Tionghoa yang memang merupakan pedagang menjadi pembuka kisah interaksi antara nenek moyang berbagai suku di Nusantara dengan mereka. Beberapa kelenteng-kelenteng yang tersebar pada berbagai pesisir daerah di Nusantara jadi buktinya. Pelabuhan-pelabuhan tua di tanah air dan ramainya perdagangan di pesisir mempermudah bangsa kita berhubungan dengan Bangsa Tionghoa.<\/p>\n \n\n \n

Baca Juga: Wong Kalang dan Kota Gede<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa kehadiran Bangsa Tionghoa di Nusantara tak hanya sebagai pedagang, namun juga sebagai pekerja (bahkan hingga pekerja kasar). Benny Setiono, seorang sejarahwan menyebutkan bahwa antara tahun 1760-1770 dalam jumlah yang besar memasuki nusantara melalui Kalimantan Barat. Mereka bekerja sebagai kuli pertambangan di sana dan di kemudian hari membentuk sebuah republik bernama Republik Lanfang yang konon katanya menjadi republik pertama di Asia Tenggara.<\/p>\n \n\n \n

Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n \n\n \n

Baca Juga: Imlek dan Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n

Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n \n\n \n

Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n \n\n \n

Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n \n\n \n

Baca Juga: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n \n\n \n

Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
<\/p>\n ","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_3o3","class":"epic_block_3"};

\n

Inilah yang membuat orang-orang Eropa untuk pertama kalinya dapat mengawetkan dan menimbun makanan selama bermusim-musim. Prosa indah Blair bersaudara menggambarkannya dengan sangat baik:
<\/p>\n \n\n\n

\u201cKemampuan menyimpan makanan lebih dari yang kami makan sekaligus berarti kemampuan menjual dan membelinya dalam jumlah besar --dan kota-kota dagang pun mekar. Perekonomian yang dihasilkannya mengarahkan kami ke zaman Pencerahan dan kemudian Revolusi Industri. Tak lama setelah kami menghirup aroma yang sangat kuat dari Timur itu dan mengubah kimiawi makanan kami, maka kami pun mampu melakukan lompatan besar dalam bidang budaya dan seni.\u201d (Blair & Blair, 2010; 30-31).<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

Baca: Cengkeh dan Kelapa di Kepulauan Anambas<\/a><\/h2>\n \n\n \n

Bukan hanya membuat perekonomian dan perdagangan serta ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang, cengkeh dan pala bahkan adalah faktor yang paling menentukan dalam kemunculan satu babakan paling mengenaskan dalam sejarah politik dunia, yakni zaman penjajahan (kolonialisme) Eropa, terutama atas-atas negeri- negeri Asia Selatan, Timur dan Tenggara, termasuk Indonesia.
<\/p>\n \n\n \n

Tergerak oleh sahwat menguasai rempah-rempah yang menggiurkan itu, bangsa-bangsa Eropa --terutama Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda-- pun menggelar ekspedisi-ekspedisi besar untuk menemukan cengkeh dan pala langsung di tanah asalnya. Ketika armada-armada mereka akhirnya mencapai perairan Kepulauan Maluku, pada abad-16, perang pun tak terhindarkan.
<\/p>\n \n\n \n

Mereka silih berganti saling mengalahkan, tetapi pemenang terakhir adalah Belanda. Melalui Perusahaan Dagang Hindia Timur (Vereenigde Oostindische Compagnie, VOC) yang dibentuk pada awal abad-17 (tepatnya tahun 1609), Belanda melancarkan ekspedisi Pelayaran Hongi (Hongie Tochten), untuk memusnahkan semua tanaman cengkeh di Ternate, Tidore, Moti, dan Makian, lalu membatasi ketat penanamnya hanya di Pulau-pulau Ambon dan Lease --yang lebih dekat ke Banda sebagai pusat pemerintahan mereka sebelum akhirnya dipindahkan ke Batavia.
<\/p>\n \n\n \n

Praktis, sejak akhir abad-16, Belanda pun menguasai penuh perdagangan rempah-rempah Maluku dengan jumlah produksi rerata 2.500 sampai 4.500 ton per tahun. [3]<\/p>\n \n\n \n

Baca: Budidaya Pohon Cengkeh<\/a><\/h2>\n \n\n \n

Meskipun peran utama rempah-rempah Maluku itu kemudian tergusur pada abad-18 dan 19 oleh beberapa barang eksotika tropis lainnya --hasil perkebunan-perkebunana besar baru di Pulau Sumatera dan Jawa: tebu, tembakau, lada, kopi, teh, nila, kelapa sawit, dan kayu jati-- namun sejarah sudah mencatat bahwa dua jenis rempah-rempah Maluku itulah yang mengawali penjelajahan sekaligus penjajahan kepulauan Nusantara oleh bangsa-bangsa Eropah, terutama Belanda (Topatimasang, ed., 2004:32). Jika saja tak pernah ada cengkeh dan pala di Maluku, mungkin sejarah kepulauan Nusantara ini akan berbeda sama sekali.
<\/p>\n \n\n \n

Masa suram cengkeh dan pala terus berlangsung sampai pertengahan abad-20. Rempah eksotika yang pernah membuat tergila-gila<\/p>\n \n\n \n

para saudagar Arab, pedagang Cina, serta kaum ningrat Eropa itu, tergantikan perannya oleh penemuan teknologi mesin pendingin berkat Revolusi Industri yang dimulai di Inggris pada pertengahan abad-18. Pasaran cengkeh di Eropa pun merosot tajam.
<\/p>\n \n\n \n

Nasibnya terselamatkan berkat penemuan oleh seorang Haji Djamhari di Kudus, Jawa Tengah. Pada akhir tahun 1880-an, Haji Djamhari menemukan kegunaan baru cengkeh sebagai ramuan utama rokok. Lahirlah satu produk baru yang unik, khas dan asli Indonesia: kretek! (Hanusz, 2000:ii).
<\/p>\n \n\n \n

Setelah seperempat abad hanya berkembang dalam skala kecil usaha rumah tangga, produksi kretek akhirnya menjelma menjadi industri besar sejak awal abad-20 yang dirintis oleh Haji Nitisemito (pendiri pabrik \u2018Jambu Bol\u2019) di Kudus dan Liem Seng Tee (pendiri pabrik \u2018Dji Sam Soe\u2019 dan \u2018Sampoerna\u2019) di Surabaya.
<\/p>\n \n\n \n

Puncaknya adalah pada pertengahan tahun 1950-an, ketika produksi kretek mulai berkembang pesat menjadi industri raksasa modern dengan munculnya beberapa pabrik baru, antara lain, yang terkemuka, oleh Oei Wei Gwan (pendiri pabrik \u2018Djarum\u2019) di Kudus dan Tjou Ing Hwie (pendiri pabrik \u2018Gudang Garam\u2019) di Kediri (Topatimasang, et.al., eds., 2010:131).<\/p>\n \n\n \n

Baca: Teruslah Menanam Tembakau dan Cengkeh, Wahai Petani Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n

Cengkeh, bahan baku paling esensial dari kretek --selain tembakau, tentu saja-- pun kembali berjaya. Bahkan, sejak dasawarsa 1970an, telah menjadi salah satu penyumbang terbesar keuangan negara Republik Indonesia. Pada tahun 2012 dan 2013, pemasukan cukai dari industri kretek mencatat 95,5% dari seluruh pemasukan cukai ke kas negara. Nilainya tak tanggung-tanggung: Rp 87 triliun! (el-Guyanie, et.al.: 2013:4-5).<\/strong>
<\/p>\n \n\n \n

Nilai ekonomisnya yang sangat besar sempat menggoda penguasa otoriter rezim Presiden Soeharto, pada 1990-an, memberlakukan satu kebijakan \u2018Hongi Gaya Baru\u2019: monopoli perdagangan cengkeh dalam negeri melalui Badan Penyanggah dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) yang sangat merugikan petani. Harga cengkeh di tingkat petani penghasil anjlok sampai hanya Rp 2.000 - 3.000 per kilogram, lebih murah dari harga sebungkus kretek yang dihasilkan darinya.
<\/p>\n \n\n \n

Akibatnya, ratusan ribu pohon cengkeh di daerah-daerah penghasil utama --Maluku, Maluku Utara, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Selatan-- ditebangi atau dibiarkan terlantar tak terurus.
<\/p>\n \n\n \n

Gelombang reformasi sistem politik dan hukum nasional yang dimulai pada tahun 1998, akhirnya menjungkalkan rezim Soeharto dan BPPC dibubarkan, Pelan tapi pasti, harga cengkeh kembali merangkak naik, sehingga pada tahun 2012, bahkan melewati angka Rp 200.000 per kilogram. Para petani cengkeh di seluruh negeri kembali tersenyum. Tetapi, sampai kapan? <\/p>\n \n\n \n

Catatan:<\/strong><\/p>\n \n\n \n

[1] Beberapa sumber menyebutkan bahwa kata \u2018cengkeh\u2019 dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Mandarin, tkeng-his atau xi\u2019jia, yang berarti \u2018rempah [berbentuk mirip] paku\u2019 (scented nails). Ini menunjukkan bahwa cengkeh sudah dikenal sejak lama oleh bangsa Cina --diketahui sejak abad-2-- jauh sebelum orang Eropa mengenalnya ((lihat, misalnya: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n \n\n \n

[2] Catatan-catatan para biarawan Fransiskan --yang disalin dan dikutip oleh van Frassen-- bahkan menyebut cengkeh sebagai salah satu bahan utama pengawet mumi para Fir\u2019aun, penguasa Mesir Kuno. Beberapa pakar sejarah dan arkeologi menyatakan bahwa rempah-rempah Maluku bahkan sudah ditemukan artefaknya di Lembah Mesopotomia (wilayah Iraq dan sekitarnya sekarang) pada 3.000 tahun sebelum Masehi. (lihat, antara lain: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n \n\n \n

[3] Uraian lebih rinci sejarah kolonialisme rempah-rempah Nusantara ini, terutama oleh Belanda dan Portugis, dapat dibaca pada beberapa sumber kepustakaan yang sudah dikenal luas, antara lain: Glamann (1958) dan Boxer (1965 dan 1969). Dalam risalah klasik Pires disebutkan bahwa pada tahun 1512-1521 saja, jumlah produksi cengkeh di Maluku sudah mencapai 7.250 bahar per tahun, terbesar adalah di Makian serta Amboina dan Lease (masing-masing 1.500 bahar)(Pires, 1512-1515).<\/em>
<\/p>\n \n\n \n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem Topatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n ","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-10 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-02-10 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5425","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5415,"post_author":"878","post_date":"2019-02-07 12:15:55","post_date_gmt":"2019-02-07 05:15:55","post_content":" \n

Belakangan ini, ketika musim hujan tiba, di Kabupaten Temanggung, Kabupaten Jember, dan beberapa wilayah sentra pertanian tembakau lainnya, hampir mustahil menemukan tanaman tembakau tumbuh di lahan-lahan milik petani. Di wilayah-wilayah tersebut, citra sebagai sentra pertanian tembakau seakan menguap. Lahan-lahan yang ada di sana, sama sekali tidak ditumbuhi tanaman tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Kabar ini bisa jadi dianggap sebagai kabar gembira bagi mereka yang menganggap diri dan kelompoknya anti-rokok dan anti-tembakau yang selalu mengampanyekan sikap-sikap mereka terkait kebencian kepada tembakau dan aktivitas merokok. Setelah sekian lama berjuang, akhirnya perjuangan mereka dirasa berhasil usai menyaksikan fenomena lahan-lahan di wilayah yang dianggap sentra pertanian tembakau pada hari-hari belakangan ini.<\/p>\n \n\n \n

Baca juga: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Tak sia-sia turun ke jalan, tak sia-sia melakukan lobi-lobi ke penguasa, tak sia-sia mengucurkan uang yang tidak sedikit, dan tak sia-sia mempermalukan diri dengan mengemis ke lembaga donor asing dan menggondol uang dari cukai tembakau untuk mengampanyekan gerakan anti-rokok dan anti-tembakau. Tak sia-sia. Karena perjuangan sepertinya berhasil.<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

Kampanye-kampanye gerakan mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya, sepertinya juga sangat berhasil. Bagaimana tidak? Wilayah-wilayah yang sebelumnya penuh dengan tanaman tembakau dan bergeliat dengannya, kini lahan-lahannya sudah berganti dengan tanaman lain. Sebuah keberhasilan yang menggembirakan. Begitu mungkin pikir mereka para yang menganggap dirinya pejuang anti-rokok dan anti-tembakau. Dan tentu saja mereka akan kecele dan kita akan menertawakan hal itu.<\/p>\n \n\n \n

Sayangnya, mereka yang menganggap dirinya anti-rokok dan anti-tembakau tidak menyaksikan langsung fenomena ini di lapangan, di lahan-lahan yang peruntukannya berubah pada hari-hari belakangan ini ketika memasuki musim hujan. Mereka asyik duduk pada kursi empuk di ruang-ruang nyaman ber-AC di kota-kota yang jauh dari kultur pertanian. Mereka menyengajakan diri menjadi elit dan enggan untuk turun melihat langsung ke lapangan. Kalaupun ada yang turun langsung ke lapangan, hanya segelintir saja dari mereka, itupun sekadar formalitas saja. Tak pernah benar-benar mau turun ke lapangan, hidup dan merasakan langsung kultur pertanian tembakau dalam jangka waktu cukup lama di lapangan.<\/p>\n \n\n \n

Baca juga: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Fenomena ini membikin kita tak bisa melihat mereka para anti-rokok kecele lalu menertawakan mereka.<\/strong> Fenomena keengganan terjun langsung ke lapangan terlebih mencoba mendengar mereka yang tetap menanam tembakau, juga menjalani keseharian dalam waktu cukup lama bersama petani tembakau inilah yang saya kira menjadikan mereka tetap keras kepala untuk anti-rokok dan anti-tembakau. Karena jika mereka mau melakukan itu, saya yakin mereka semua tidak akan begitu kaku dalam memandang pertanian tembakau dan produk hasil industri tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Salah satu yang selalu mereka kampanyekan dan ngotot dengan itu, terkait hulu pertanian tembakau adalah mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya. Mereka berargumen banyak tanaman lain yang bisa semenguntungkan tanaman tembakau. Keengganan mereka terjun langsung ke lapangan inilah yang membikin mereka buta dengan kondisi pertanian tembakau dan pada akhirnya terus menerus mengampanyekan pergantian tanaman tembakau dengan tanaman lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Baca juga: Imanlah kepada Allah, Bukan Antirokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Tembakau tanaman yang khas. Ia hanya tumbuh baik sepanjang empat hingga lima bulan dalam satu tahun. Tumbuh-kembang tanaman tembakau dengan baik itu umumnya terjadi pada musim kemarau setiap tahunnya. Hanya sedikit sekali jenis tembakau yang tumbuh baik di musim penghujan, mayoritasnya, tumbuh baik pada musim kemarau.<\/p>\n \n\n \n

Jika ditanam pada musim hujan, hampir bisa dipastikan tanaman tembakau akan gagal menghasilkan daun-daun yang berkualitas. Ia akan rusak dan membusuk karena terlalu banyak terkena air sehingga daun-daun itu tak layak dijual. Jangankan bisa dijual, untuk tumbuh dengan baik pun sepertinya sulit karena musim hujan akan membunuh banyak tanaman itu.<\/p>\n \n\n \n

Maka, tak heran pada musim-musim seperti saat ini, ketika musim penghujan mendekati puncaknya, di wilayah-wilayah yang dikenal sebagai sentra pertanian tembakau, sulit menemukan pohon tembakau yang sedang tumbuh. Pada lahan-lahan yang sebelumnya ditumbuhi tanaman tembakau pada musim panas, berganti tanaman-tanaman lain yang bermacam-macam, sesuai dengan kondisi lahannya. Untuk lahan sawah, lahan-lahan itu pada musim penghujan kini ditumbuhi tanaman padi yang subur. Pada lahan tegalan dan lahan di pegunungan, lahan-lahan yang ditanami tembakau pada musim kemarau, saat ini ditumbuhi bermacam jenis tanaman mulai dari cabai, bawang, tomat, kol, terong, mentimun, dan ragam jenis tanaman semusim lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Uniknya, tipikal tanaman tembakau yang tumbuh baik di musim kemarau ini memberi pilihan lebih kepada para petani. Lahan-lahan yang sulit ditanami pada musim kemarau, pada akhirnya masih bisa tetap produktif dengan keberadaan tanaman tembakau. <\/p>\n \n\n \n

Maka, kampanye aneh mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain dengan ragam rupa dalih yang membingungkan, bukan saja sama sekali tidak tepat dan asal-asalan, namun bisa jadi akan ditertawakan oleh para petani yang begitu paham dengan kondisi lahan dan terutama kondisi iklim dan cuaca. Sulit mencari tanaman semusim yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Jika pun ada, tak ada yang semenguntungkan tanaman tembakau.
<\/p>\n ","post_title":"Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"keberhasilan-gerakan-anti-tembakau-tak-ada-tembakau-saat-musim-hujan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-07 12:16:02","post_modified_gmt":"2019-02-07 05:16:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5415","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5409,"post_author":"919","post_date":"2019-02-05 08:04:43","post_date_gmt":"2019-02-05 01:04:43","post_content":" \n

Tahun Baru Imlek yang merupakan tradisi Bangsa Tiongkok kini sudah tak lagi menjadi hal yang asing bagi masyarakat Indonesia. Kehadirannya sudah mewarnai dan berakulturasi dengan tradisi lokal. Menjelang Tahun Baru Imlek. Berbagai hiasan dan kemeriahan terjadi beberapa titik di Tanah Air. Perayaannya juga menjadi destinasi baru yang mengasyikkan untuk dilihat dan patut disaksikan.<\/p>\n \n\n \n

Berterimakasihlah kepada sang bapak bangsa, KH Abdurrahman Wahid atau yang dikenal dengan nama Gus Dur. Berkat kebijakannya saat menjadi Presiden Indonesia, Tahun Baru Imlek resmi dijadikan hari libur nasional dan dianggap sebagai salah satu hari raya di Tanah Air. Meski sentimen antitionghoa masih ada di sana-sini, tapi tetap tak bisa dipungkiri bahwa bangsa tionghoa sudah bersentuhan dengan budaya lokal dalam kurun waktu yang sangat panjang.<\/p>\n \n\n \n

DNA Bangsa Tionghoa yang memang merupakan pedagang menjadi pembuka kisah interaksi antara nenek moyang berbagai suku di Nusantara dengan mereka. Beberapa kelenteng-kelenteng yang tersebar pada berbagai pesisir daerah di Nusantara jadi buktinya. Pelabuhan-pelabuhan tua di tanah air dan ramainya perdagangan di pesisir mempermudah bangsa kita berhubungan dengan Bangsa Tionghoa.<\/p>\n \n\n \n

Baca Juga: Wong Kalang dan Kota Gede<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa kehadiran Bangsa Tionghoa di Nusantara tak hanya sebagai pedagang, namun juga sebagai pekerja (bahkan hingga pekerja kasar). Benny Setiono, seorang sejarahwan menyebutkan bahwa antara tahun 1760-1770 dalam jumlah yang besar memasuki nusantara melalui Kalimantan Barat. Mereka bekerja sebagai kuli pertambangan di sana dan di kemudian hari membentuk sebuah republik bernama Republik Lanfang yang konon katanya menjadi republik pertama di Asia Tenggara.<\/p>\n \n\n \n

Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n \n\n \n

Baca Juga: Imlek dan Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n

Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n \n\n \n

Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n \n\n \n

Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n \n\n \n

Baca Juga: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n \n\n \n

Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
<\/p>\n ","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_3o3","class":"epic_block_3"};

\n

Bandar-bandar besar Tyre di Yunani dan Venesia di Italia menjadi pelabuhan utama rempah-rempah Maluku memasuki kehidupan dan peradaban Eropa. Selain sebagai bumbu masakan, rempah obat, dan ramuan wewangian, cengkeh dan pala juga menjadi bahan utama pengawet bahan pangan. [2]
<\/p>\n \n\n\n

Inilah yang membuat orang-orang Eropa untuk pertama kalinya dapat mengawetkan dan menimbun makanan selama bermusim-musim. Prosa indah Blair bersaudara menggambarkannya dengan sangat baik:
<\/p>\n \n\n \n

\u201cKemampuan menyimpan makanan lebih dari yang kami makan sekaligus berarti kemampuan menjual dan membelinya dalam jumlah besar --dan kota-kota dagang pun mekar. Perekonomian yang dihasilkannya mengarahkan kami ke zaman Pencerahan dan kemudian Revolusi Industri. Tak lama setelah kami menghirup aroma yang sangat kuat dari Timur itu dan mengubah kimiawi makanan kami, maka kami pun mampu melakukan lompatan besar dalam bidang budaya dan seni.\u201d (Blair & Blair, 2010; 30-31).<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

Baca: Cengkeh dan Kelapa di Kepulauan Anambas<\/a><\/h2>\n \n\n \n

Bukan hanya membuat perekonomian dan perdagangan serta ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang, cengkeh dan pala bahkan adalah faktor yang paling menentukan dalam kemunculan satu babakan paling mengenaskan dalam sejarah politik dunia, yakni zaman penjajahan (kolonialisme) Eropa, terutama atas-atas negeri- negeri Asia Selatan, Timur dan Tenggara, termasuk Indonesia.
<\/p>\n \n\n \n

Tergerak oleh sahwat menguasai rempah-rempah yang menggiurkan itu, bangsa-bangsa Eropa --terutama Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda-- pun menggelar ekspedisi-ekspedisi besar untuk menemukan cengkeh dan pala langsung di tanah asalnya. Ketika armada-armada mereka akhirnya mencapai perairan Kepulauan Maluku, pada abad-16, perang pun tak terhindarkan.
<\/p>\n \n\n \n

Mereka silih berganti saling mengalahkan, tetapi pemenang terakhir adalah Belanda. Melalui Perusahaan Dagang Hindia Timur (Vereenigde Oostindische Compagnie, VOC) yang dibentuk pada awal abad-17 (tepatnya tahun 1609), Belanda melancarkan ekspedisi Pelayaran Hongi (Hongie Tochten), untuk memusnahkan semua tanaman cengkeh di Ternate, Tidore, Moti, dan Makian, lalu membatasi ketat penanamnya hanya di Pulau-pulau Ambon dan Lease --yang lebih dekat ke Banda sebagai pusat pemerintahan mereka sebelum akhirnya dipindahkan ke Batavia.
<\/p>\n \n\n \n

Praktis, sejak akhir abad-16, Belanda pun menguasai penuh perdagangan rempah-rempah Maluku dengan jumlah produksi rerata 2.500 sampai 4.500 ton per tahun. [3]<\/p>\n \n\n \n

Baca: Budidaya Pohon Cengkeh<\/a><\/h2>\n \n\n \n

Meskipun peran utama rempah-rempah Maluku itu kemudian tergusur pada abad-18 dan 19 oleh beberapa barang eksotika tropis lainnya --hasil perkebunan-perkebunana besar baru di Pulau Sumatera dan Jawa: tebu, tembakau, lada, kopi, teh, nila, kelapa sawit, dan kayu jati-- namun sejarah sudah mencatat bahwa dua jenis rempah-rempah Maluku itulah yang mengawali penjelajahan sekaligus penjajahan kepulauan Nusantara oleh bangsa-bangsa Eropah, terutama Belanda (Topatimasang, ed., 2004:32). Jika saja tak pernah ada cengkeh dan pala di Maluku, mungkin sejarah kepulauan Nusantara ini akan berbeda sama sekali.
<\/p>\n \n\n \n

Masa suram cengkeh dan pala terus berlangsung sampai pertengahan abad-20. Rempah eksotika yang pernah membuat tergila-gila<\/p>\n \n\n \n

para saudagar Arab, pedagang Cina, serta kaum ningrat Eropa itu, tergantikan perannya oleh penemuan teknologi mesin pendingin berkat Revolusi Industri yang dimulai di Inggris pada pertengahan abad-18. Pasaran cengkeh di Eropa pun merosot tajam.
<\/p>\n \n\n \n

Nasibnya terselamatkan berkat penemuan oleh seorang Haji Djamhari di Kudus, Jawa Tengah. Pada akhir tahun 1880-an, Haji Djamhari menemukan kegunaan baru cengkeh sebagai ramuan utama rokok. Lahirlah satu produk baru yang unik, khas dan asli Indonesia: kretek! (Hanusz, 2000:ii).
<\/p>\n \n\n \n

Setelah seperempat abad hanya berkembang dalam skala kecil usaha rumah tangga, produksi kretek akhirnya menjelma menjadi industri besar sejak awal abad-20 yang dirintis oleh Haji Nitisemito (pendiri pabrik \u2018Jambu Bol\u2019) di Kudus dan Liem Seng Tee (pendiri pabrik \u2018Dji Sam Soe\u2019 dan \u2018Sampoerna\u2019) di Surabaya.
<\/p>\n \n\n \n

Puncaknya adalah pada pertengahan tahun 1950-an, ketika produksi kretek mulai berkembang pesat menjadi industri raksasa modern dengan munculnya beberapa pabrik baru, antara lain, yang terkemuka, oleh Oei Wei Gwan (pendiri pabrik \u2018Djarum\u2019) di Kudus dan Tjou Ing Hwie (pendiri pabrik \u2018Gudang Garam\u2019) di Kediri (Topatimasang, et.al., eds., 2010:131).<\/p>\n \n\n \n

Baca: Teruslah Menanam Tembakau dan Cengkeh, Wahai Petani Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n

Cengkeh, bahan baku paling esensial dari kretek --selain tembakau, tentu saja-- pun kembali berjaya. Bahkan, sejak dasawarsa 1970an, telah menjadi salah satu penyumbang terbesar keuangan negara Republik Indonesia. Pada tahun 2012 dan 2013, pemasukan cukai dari industri kretek mencatat 95,5% dari seluruh pemasukan cukai ke kas negara. Nilainya tak tanggung-tanggung: Rp 87 triliun! (el-Guyanie, et.al.: 2013:4-5).<\/strong>
<\/p>\n \n\n \n

Nilai ekonomisnya yang sangat besar sempat menggoda penguasa otoriter rezim Presiden Soeharto, pada 1990-an, memberlakukan satu kebijakan \u2018Hongi Gaya Baru\u2019: monopoli perdagangan cengkeh dalam negeri melalui Badan Penyanggah dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) yang sangat merugikan petani. Harga cengkeh di tingkat petani penghasil anjlok sampai hanya Rp 2.000 - 3.000 per kilogram, lebih murah dari harga sebungkus kretek yang dihasilkan darinya.
<\/p>\n \n\n \n

Akibatnya, ratusan ribu pohon cengkeh di daerah-daerah penghasil utama --Maluku, Maluku Utara, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Selatan-- ditebangi atau dibiarkan terlantar tak terurus.
<\/p>\n \n\n \n

Gelombang reformasi sistem politik dan hukum nasional yang dimulai pada tahun 1998, akhirnya menjungkalkan rezim Soeharto dan BPPC dibubarkan, Pelan tapi pasti, harga cengkeh kembali merangkak naik, sehingga pada tahun 2012, bahkan melewati angka Rp 200.000 per kilogram. Para petani cengkeh di seluruh negeri kembali tersenyum. Tetapi, sampai kapan? <\/p>\n \n\n \n

Catatan:<\/strong><\/p>\n \n\n \n

[1] Beberapa sumber menyebutkan bahwa kata \u2018cengkeh\u2019 dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Mandarin, tkeng-his atau xi\u2019jia, yang berarti \u2018rempah [berbentuk mirip] paku\u2019 (scented nails). Ini menunjukkan bahwa cengkeh sudah dikenal sejak lama oleh bangsa Cina --diketahui sejak abad-2-- jauh sebelum orang Eropa mengenalnya ((lihat, misalnya: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n \n\n \n

[2] Catatan-catatan para biarawan Fransiskan --yang disalin dan dikutip oleh van Frassen-- bahkan menyebut cengkeh sebagai salah satu bahan utama pengawet mumi para Fir\u2019aun, penguasa Mesir Kuno. Beberapa pakar sejarah dan arkeologi menyatakan bahwa rempah-rempah Maluku bahkan sudah ditemukan artefaknya di Lembah Mesopotomia (wilayah Iraq dan sekitarnya sekarang) pada 3.000 tahun sebelum Masehi. (lihat, antara lain: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n \n\n \n

[3] Uraian lebih rinci sejarah kolonialisme rempah-rempah Nusantara ini, terutama oleh Belanda dan Portugis, dapat dibaca pada beberapa sumber kepustakaan yang sudah dikenal luas, antara lain: Glamann (1958) dan Boxer (1965 dan 1969). Dalam risalah klasik Pires disebutkan bahwa pada tahun 1512-1521 saja, jumlah produksi cengkeh di Maluku sudah mencapai 7.250 bahar per tahun, terbesar adalah di Makian serta Amboina dan Lease (masing-masing 1.500 bahar)(Pires, 1512-1515).<\/em>
<\/p>\n \n\n \n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem Topatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n ","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-10 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-02-10 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5425","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5415,"post_author":"878","post_date":"2019-02-07 12:15:55","post_date_gmt":"2019-02-07 05:15:55","post_content":" \n

Belakangan ini, ketika musim hujan tiba, di Kabupaten Temanggung, Kabupaten Jember, dan beberapa wilayah sentra pertanian tembakau lainnya, hampir mustahil menemukan tanaman tembakau tumbuh di lahan-lahan milik petani. Di wilayah-wilayah tersebut, citra sebagai sentra pertanian tembakau seakan menguap. Lahan-lahan yang ada di sana, sama sekali tidak ditumbuhi tanaman tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Kabar ini bisa jadi dianggap sebagai kabar gembira bagi mereka yang menganggap diri dan kelompoknya anti-rokok dan anti-tembakau yang selalu mengampanyekan sikap-sikap mereka terkait kebencian kepada tembakau dan aktivitas merokok. Setelah sekian lama berjuang, akhirnya perjuangan mereka dirasa berhasil usai menyaksikan fenomena lahan-lahan di wilayah yang dianggap sentra pertanian tembakau pada hari-hari belakangan ini.<\/p>\n \n\n \n

Baca juga: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Tak sia-sia turun ke jalan, tak sia-sia melakukan lobi-lobi ke penguasa, tak sia-sia mengucurkan uang yang tidak sedikit, dan tak sia-sia mempermalukan diri dengan mengemis ke lembaga donor asing dan menggondol uang dari cukai tembakau untuk mengampanyekan gerakan anti-rokok dan anti-tembakau. Tak sia-sia. Karena perjuangan sepertinya berhasil.<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

Kampanye-kampanye gerakan mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya, sepertinya juga sangat berhasil. Bagaimana tidak? Wilayah-wilayah yang sebelumnya penuh dengan tanaman tembakau dan bergeliat dengannya, kini lahan-lahannya sudah berganti dengan tanaman lain. Sebuah keberhasilan yang menggembirakan. Begitu mungkin pikir mereka para yang menganggap dirinya pejuang anti-rokok dan anti-tembakau. Dan tentu saja mereka akan kecele dan kita akan menertawakan hal itu.<\/p>\n \n\n \n

Sayangnya, mereka yang menganggap dirinya anti-rokok dan anti-tembakau tidak menyaksikan langsung fenomena ini di lapangan, di lahan-lahan yang peruntukannya berubah pada hari-hari belakangan ini ketika memasuki musim hujan. Mereka asyik duduk pada kursi empuk di ruang-ruang nyaman ber-AC di kota-kota yang jauh dari kultur pertanian. Mereka menyengajakan diri menjadi elit dan enggan untuk turun melihat langsung ke lapangan. Kalaupun ada yang turun langsung ke lapangan, hanya segelintir saja dari mereka, itupun sekadar formalitas saja. Tak pernah benar-benar mau turun ke lapangan, hidup dan merasakan langsung kultur pertanian tembakau dalam jangka waktu cukup lama di lapangan.<\/p>\n \n\n \n

Baca juga: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Fenomena ini membikin kita tak bisa melihat mereka para anti-rokok kecele lalu menertawakan mereka.<\/strong> Fenomena keengganan terjun langsung ke lapangan terlebih mencoba mendengar mereka yang tetap menanam tembakau, juga menjalani keseharian dalam waktu cukup lama bersama petani tembakau inilah yang saya kira menjadikan mereka tetap keras kepala untuk anti-rokok dan anti-tembakau. Karena jika mereka mau melakukan itu, saya yakin mereka semua tidak akan begitu kaku dalam memandang pertanian tembakau dan produk hasil industri tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Salah satu yang selalu mereka kampanyekan dan ngotot dengan itu, terkait hulu pertanian tembakau adalah mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya. Mereka berargumen banyak tanaman lain yang bisa semenguntungkan tanaman tembakau. Keengganan mereka terjun langsung ke lapangan inilah yang membikin mereka buta dengan kondisi pertanian tembakau dan pada akhirnya terus menerus mengampanyekan pergantian tanaman tembakau dengan tanaman lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Baca juga: Imanlah kepada Allah, Bukan Antirokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Tembakau tanaman yang khas. Ia hanya tumbuh baik sepanjang empat hingga lima bulan dalam satu tahun. Tumbuh-kembang tanaman tembakau dengan baik itu umumnya terjadi pada musim kemarau setiap tahunnya. Hanya sedikit sekali jenis tembakau yang tumbuh baik di musim penghujan, mayoritasnya, tumbuh baik pada musim kemarau.<\/p>\n \n\n \n

Jika ditanam pada musim hujan, hampir bisa dipastikan tanaman tembakau akan gagal menghasilkan daun-daun yang berkualitas. Ia akan rusak dan membusuk karena terlalu banyak terkena air sehingga daun-daun itu tak layak dijual. Jangankan bisa dijual, untuk tumbuh dengan baik pun sepertinya sulit karena musim hujan akan membunuh banyak tanaman itu.<\/p>\n \n\n \n

Maka, tak heran pada musim-musim seperti saat ini, ketika musim penghujan mendekati puncaknya, di wilayah-wilayah yang dikenal sebagai sentra pertanian tembakau, sulit menemukan pohon tembakau yang sedang tumbuh. Pada lahan-lahan yang sebelumnya ditumbuhi tanaman tembakau pada musim panas, berganti tanaman-tanaman lain yang bermacam-macam, sesuai dengan kondisi lahannya. Untuk lahan sawah, lahan-lahan itu pada musim penghujan kini ditumbuhi tanaman padi yang subur. Pada lahan tegalan dan lahan di pegunungan, lahan-lahan yang ditanami tembakau pada musim kemarau, saat ini ditumbuhi bermacam jenis tanaman mulai dari cabai, bawang, tomat, kol, terong, mentimun, dan ragam jenis tanaman semusim lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Uniknya, tipikal tanaman tembakau yang tumbuh baik di musim kemarau ini memberi pilihan lebih kepada para petani. Lahan-lahan yang sulit ditanami pada musim kemarau, pada akhirnya masih bisa tetap produktif dengan keberadaan tanaman tembakau. <\/p>\n \n\n \n

Maka, kampanye aneh mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain dengan ragam rupa dalih yang membingungkan, bukan saja sama sekali tidak tepat dan asal-asalan, namun bisa jadi akan ditertawakan oleh para petani yang begitu paham dengan kondisi lahan dan terutama kondisi iklim dan cuaca. Sulit mencari tanaman semusim yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Jika pun ada, tak ada yang semenguntungkan tanaman tembakau.
<\/p>\n ","post_title":"Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"keberhasilan-gerakan-anti-tembakau-tak-ada-tembakau-saat-musim-hujan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-07 12:16:02","post_modified_gmt":"2019-02-07 05:16:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5415","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5409,"post_author":"919","post_date":"2019-02-05 08:04:43","post_date_gmt":"2019-02-05 01:04:43","post_content":" \n

Tahun Baru Imlek yang merupakan tradisi Bangsa Tiongkok kini sudah tak lagi menjadi hal yang asing bagi masyarakat Indonesia. Kehadirannya sudah mewarnai dan berakulturasi dengan tradisi lokal. Menjelang Tahun Baru Imlek. Berbagai hiasan dan kemeriahan terjadi beberapa titik di Tanah Air. Perayaannya juga menjadi destinasi baru yang mengasyikkan untuk dilihat dan patut disaksikan.<\/p>\n \n\n \n

Berterimakasihlah kepada sang bapak bangsa, KH Abdurrahman Wahid atau yang dikenal dengan nama Gus Dur. Berkat kebijakannya saat menjadi Presiden Indonesia, Tahun Baru Imlek resmi dijadikan hari libur nasional dan dianggap sebagai salah satu hari raya di Tanah Air. Meski sentimen antitionghoa masih ada di sana-sini, tapi tetap tak bisa dipungkiri bahwa bangsa tionghoa sudah bersentuhan dengan budaya lokal dalam kurun waktu yang sangat panjang.<\/p>\n \n\n \n

DNA Bangsa Tionghoa yang memang merupakan pedagang menjadi pembuka kisah interaksi antara nenek moyang berbagai suku di Nusantara dengan mereka. Beberapa kelenteng-kelenteng yang tersebar pada berbagai pesisir daerah di Nusantara jadi buktinya. Pelabuhan-pelabuhan tua di tanah air dan ramainya perdagangan di pesisir mempermudah bangsa kita berhubungan dengan Bangsa Tionghoa.<\/p>\n \n\n \n

Baca Juga: Wong Kalang dan Kota Gede<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa kehadiran Bangsa Tionghoa di Nusantara tak hanya sebagai pedagang, namun juga sebagai pekerja (bahkan hingga pekerja kasar). Benny Setiono, seorang sejarahwan menyebutkan bahwa antara tahun 1760-1770 dalam jumlah yang besar memasuki nusantara melalui Kalimantan Barat. Mereka bekerja sebagai kuli pertambangan di sana dan di kemudian hari membentuk sebuah republik bernama Republik Lanfang yang konon katanya menjadi republik pertama di Asia Tenggara.<\/p>\n \n\n \n

Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n \n\n \n

Baca Juga: Imlek dan Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n

Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n \n\n \n

Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n \n\n \n

Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n \n\n \n

Baca Juga: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n \n\n \n

Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
<\/p>\n ","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_3o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n \n\n\n

Bandar-bandar besar Tyre di Yunani dan Venesia di Italia menjadi pelabuhan utama rempah-rempah Maluku memasuki kehidupan dan peradaban Eropa. Selain sebagai bumbu masakan, rempah obat, dan ramuan wewangian, cengkeh dan pala juga menjadi bahan utama pengawet bahan pangan. [2]
<\/p>\n \n\n \n

Inilah yang membuat orang-orang Eropa untuk pertama kalinya dapat mengawetkan dan menimbun makanan selama bermusim-musim. Prosa indah Blair bersaudara menggambarkannya dengan sangat baik:
<\/p>\n \n\n \n

\u201cKemampuan menyimpan makanan lebih dari yang kami makan sekaligus berarti kemampuan menjual dan membelinya dalam jumlah besar --dan kota-kota dagang pun mekar. Perekonomian yang dihasilkannya mengarahkan kami ke zaman Pencerahan dan kemudian Revolusi Industri. Tak lama setelah kami menghirup aroma yang sangat kuat dari Timur itu dan mengubah kimiawi makanan kami, maka kami pun mampu melakukan lompatan besar dalam bidang budaya dan seni.\u201d (Blair & Blair, 2010; 30-31).<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

Baca: Cengkeh dan Kelapa di Kepulauan Anambas<\/a><\/h2>\n \n\n \n

Bukan hanya membuat perekonomian dan perdagangan serta ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang, cengkeh dan pala bahkan adalah faktor yang paling menentukan dalam kemunculan satu babakan paling mengenaskan dalam sejarah politik dunia, yakni zaman penjajahan (kolonialisme) Eropa, terutama atas-atas negeri- negeri Asia Selatan, Timur dan Tenggara, termasuk Indonesia.
<\/p>\n \n\n \n

Tergerak oleh sahwat menguasai rempah-rempah yang menggiurkan itu, bangsa-bangsa Eropa --terutama Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda-- pun menggelar ekspedisi-ekspedisi besar untuk menemukan cengkeh dan pala langsung di tanah asalnya. Ketika armada-armada mereka akhirnya mencapai perairan Kepulauan Maluku, pada abad-16, perang pun tak terhindarkan.
<\/p>\n \n\n \n

Mereka silih berganti saling mengalahkan, tetapi pemenang terakhir adalah Belanda. Melalui Perusahaan Dagang Hindia Timur (Vereenigde Oostindische Compagnie, VOC) yang dibentuk pada awal abad-17 (tepatnya tahun 1609), Belanda melancarkan ekspedisi Pelayaran Hongi (Hongie Tochten), untuk memusnahkan semua tanaman cengkeh di Ternate, Tidore, Moti, dan Makian, lalu membatasi ketat penanamnya hanya di Pulau-pulau Ambon dan Lease --yang lebih dekat ke Banda sebagai pusat pemerintahan mereka sebelum akhirnya dipindahkan ke Batavia.
<\/p>\n \n\n \n

Praktis, sejak akhir abad-16, Belanda pun menguasai penuh perdagangan rempah-rempah Maluku dengan jumlah produksi rerata 2.500 sampai 4.500 ton per tahun. [3]<\/p>\n \n\n \n

Baca: Budidaya Pohon Cengkeh<\/a><\/h2>\n \n\n \n

Meskipun peran utama rempah-rempah Maluku itu kemudian tergusur pada abad-18 dan 19 oleh beberapa barang eksotika tropis lainnya --hasil perkebunan-perkebunana besar baru di Pulau Sumatera dan Jawa: tebu, tembakau, lada, kopi, teh, nila, kelapa sawit, dan kayu jati-- namun sejarah sudah mencatat bahwa dua jenis rempah-rempah Maluku itulah yang mengawali penjelajahan sekaligus penjajahan kepulauan Nusantara oleh bangsa-bangsa Eropah, terutama Belanda (Topatimasang, ed., 2004:32). Jika saja tak pernah ada cengkeh dan pala di Maluku, mungkin sejarah kepulauan Nusantara ini akan berbeda sama sekali.
<\/p>\n \n\n \n

Masa suram cengkeh dan pala terus berlangsung sampai pertengahan abad-20. Rempah eksotika yang pernah membuat tergila-gila<\/p>\n \n\n \n

para saudagar Arab, pedagang Cina, serta kaum ningrat Eropa itu, tergantikan perannya oleh penemuan teknologi mesin pendingin berkat Revolusi Industri yang dimulai di Inggris pada pertengahan abad-18. Pasaran cengkeh di Eropa pun merosot tajam.
<\/p>\n \n\n \n

Nasibnya terselamatkan berkat penemuan oleh seorang Haji Djamhari di Kudus, Jawa Tengah. Pada akhir tahun 1880-an, Haji Djamhari menemukan kegunaan baru cengkeh sebagai ramuan utama rokok. Lahirlah satu produk baru yang unik, khas dan asli Indonesia: kretek! (Hanusz, 2000:ii).
<\/p>\n \n\n \n

Setelah seperempat abad hanya berkembang dalam skala kecil usaha rumah tangga, produksi kretek akhirnya menjelma menjadi industri besar sejak awal abad-20 yang dirintis oleh Haji Nitisemito (pendiri pabrik \u2018Jambu Bol\u2019) di Kudus dan Liem Seng Tee (pendiri pabrik \u2018Dji Sam Soe\u2019 dan \u2018Sampoerna\u2019) di Surabaya.
<\/p>\n \n\n \n

Puncaknya adalah pada pertengahan tahun 1950-an, ketika produksi kretek mulai berkembang pesat menjadi industri raksasa modern dengan munculnya beberapa pabrik baru, antara lain, yang terkemuka, oleh Oei Wei Gwan (pendiri pabrik \u2018Djarum\u2019) di Kudus dan Tjou Ing Hwie (pendiri pabrik \u2018Gudang Garam\u2019) di Kediri (Topatimasang, et.al., eds., 2010:131).<\/p>\n \n\n \n

Baca: Teruslah Menanam Tembakau dan Cengkeh, Wahai Petani Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n

Cengkeh, bahan baku paling esensial dari kretek --selain tembakau, tentu saja-- pun kembali berjaya. Bahkan, sejak dasawarsa 1970an, telah menjadi salah satu penyumbang terbesar keuangan negara Republik Indonesia. Pada tahun 2012 dan 2013, pemasukan cukai dari industri kretek mencatat 95,5% dari seluruh pemasukan cukai ke kas negara. Nilainya tak tanggung-tanggung: Rp 87 triliun! (el-Guyanie, et.al.: 2013:4-5).<\/strong>
<\/p>\n \n\n \n

Nilai ekonomisnya yang sangat besar sempat menggoda penguasa otoriter rezim Presiden Soeharto, pada 1990-an, memberlakukan satu kebijakan \u2018Hongi Gaya Baru\u2019: monopoli perdagangan cengkeh dalam negeri melalui Badan Penyanggah dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) yang sangat merugikan petani. Harga cengkeh di tingkat petani penghasil anjlok sampai hanya Rp 2.000 - 3.000 per kilogram, lebih murah dari harga sebungkus kretek yang dihasilkan darinya.
<\/p>\n \n\n \n

Akibatnya, ratusan ribu pohon cengkeh di daerah-daerah penghasil utama --Maluku, Maluku Utara, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Selatan-- ditebangi atau dibiarkan terlantar tak terurus.
<\/p>\n \n\n \n

Gelombang reformasi sistem politik dan hukum nasional yang dimulai pada tahun 1998, akhirnya menjungkalkan rezim Soeharto dan BPPC dibubarkan, Pelan tapi pasti, harga cengkeh kembali merangkak naik, sehingga pada tahun 2012, bahkan melewati angka Rp 200.000 per kilogram. Para petani cengkeh di seluruh negeri kembali tersenyum. Tetapi, sampai kapan? <\/p>\n \n\n \n

Catatan:<\/strong><\/p>\n \n\n \n

[1] Beberapa sumber menyebutkan bahwa kata \u2018cengkeh\u2019 dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Mandarin, tkeng-his atau xi\u2019jia, yang berarti \u2018rempah [berbentuk mirip] paku\u2019 (scented nails). Ini menunjukkan bahwa cengkeh sudah dikenal sejak lama oleh bangsa Cina --diketahui sejak abad-2-- jauh sebelum orang Eropa mengenalnya ((lihat, misalnya: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n \n\n \n

[2] Catatan-catatan para biarawan Fransiskan --yang disalin dan dikutip oleh van Frassen-- bahkan menyebut cengkeh sebagai salah satu bahan utama pengawet mumi para Fir\u2019aun, penguasa Mesir Kuno. Beberapa pakar sejarah dan arkeologi menyatakan bahwa rempah-rempah Maluku bahkan sudah ditemukan artefaknya di Lembah Mesopotomia (wilayah Iraq dan sekitarnya sekarang) pada 3.000 tahun sebelum Masehi. (lihat, antara lain: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n \n\n \n

[3] Uraian lebih rinci sejarah kolonialisme rempah-rempah Nusantara ini, terutama oleh Belanda dan Portugis, dapat dibaca pada beberapa sumber kepustakaan yang sudah dikenal luas, antara lain: Glamann (1958) dan Boxer (1965 dan 1969). Dalam risalah klasik Pires disebutkan bahwa pada tahun 1512-1521 saja, jumlah produksi cengkeh di Maluku sudah mencapai 7.250 bahar per tahun, terbesar adalah di Makian serta Amboina dan Lease (masing-masing 1.500 bahar)(Pires, 1512-1515).<\/em>
<\/p>\n \n\n \n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem Topatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n ","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-10 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-02-10 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5425","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5415,"post_author":"878","post_date":"2019-02-07 12:15:55","post_date_gmt":"2019-02-07 05:15:55","post_content":" \n

Belakangan ini, ketika musim hujan tiba, di Kabupaten Temanggung, Kabupaten Jember, dan beberapa wilayah sentra pertanian tembakau lainnya, hampir mustahil menemukan tanaman tembakau tumbuh di lahan-lahan milik petani. Di wilayah-wilayah tersebut, citra sebagai sentra pertanian tembakau seakan menguap. Lahan-lahan yang ada di sana, sama sekali tidak ditumbuhi tanaman tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Kabar ini bisa jadi dianggap sebagai kabar gembira bagi mereka yang menganggap diri dan kelompoknya anti-rokok dan anti-tembakau yang selalu mengampanyekan sikap-sikap mereka terkait kebencian kepada tembakau dan aktivitas merokok. Setelah sekian lama berjuang, akhirnya perjuangan mereka dirasa berhasil usai menyaksikan fenomena lahan-lahan di wilayah yang dianggap sentra pertanian tembakau pada hari-hari belakangan ini.<\/p>\n \n\n \n

Baca juga: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Tak sia-sia turun ke jalan, tak sia-sia melakukan lobi-lobi ke penguasa, tak sia-sia mengucurkan uang yang tidak sedikit, dan tak sia-sia mempermalukan diri dengan mengemis ke lembaga donor asing dan menggondol uang dari cukai tembakau untuk mengampanyekan gerakan anti-rokok dan anti-tembakau. Tak sia-sia. Karena perjuangan sepertinya berhasil.<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

Kampanye-kampanye gerakan mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya, sepertinya juga sangat berhasil. Bagaimana tidak? Wilayah-wilayah yang sebelumnya penuh dengan tanaman tembakau dan bergeliat dengannya, kini lahan-lahannya sudah berganti dengan tanaman lain. Sebuah keberhasilan yang menggembirakan. Begitu mungkin pikir mereka para yang menganggap dirinya pejuang anti-rokok dan anti-tembakau. Dan tentu saja mereka akan kecele dan kita akan menertawakan hal itu.<\/p>\n \n\n \n

Sayangnya, mereka yang menganggap dirinya anti-rokok dan anti-tembakau tidak menyaksikan langsung fenomena ini di lapangan, di lahan-lahan yang peruntukannya berubah pada hari-hari belakangan ini ketika memasuki musim hujan. Mereka asyik duduk pada kursi empuk di ruang-ruang nyaman ber-AC di kota-kota yang jauh dari kultur pertanian. Mereka menyengajakan diri menjadi elit dan enggan untuk turun melihat langsung ke lapangan. Kalaupun ada yang turun langsung ke lapangan, hanya segelintir saja dari mereka, itupun sekadar formalitas saja. Tak pernah benar-benar mau turun ke lapangan, hidup dan merasakan langsung kultur pertanian tembakau dalam jangka waktu cukup lama di lapangan.<\/p>\n \n\n \n

Baca juga: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Fenomena ini membikin kita tak bisa melihat mereka para anti-rokok kecele lalu menertawakan mereka.<\/strong> Fenomena keengganan terjun langsung ke lapangan terlebih mencoba mendengar mereka yang tetap menanam tembakau, juga menjalani keseharian dalam waktu cukup lama bersama petani tembakau inilah yang saya kira menjadikan mereka tetap keras kepala untuk anti-rokok dan anti-tembakau. Karena jika mereka mau melakukan itu, saya yakin mereka semua tidak akan begitu kaku dalam memandang pertanian tembakau dan produk hasil industri tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Salah satu yang selalu mereka kampanyekan dan ngotot dengan itu, terkait hulu pertanian tembakau adalah mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya. Mereka berargumen banyak tanaman lain yang bisa semenguntungkan tanaman tembakau. Keengganan mereka terjun langsung ke lapangan inilah yang membikin mereka buta dengan kondisi pertanian tembakau dan pada akhirnya terus menerus mengampanyekan pergantian tanaman tembakau dengan tanaman lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Baca juga: Imanlah kepada Allah, Bukan Antirokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Tembakau tanaman yang khas. Ia hanya tumbuh baik sepanjang empat hingga lima bulan dalam satu tahun. Tumbuh-kembang tanaman tembakau dengan baik itu umumnya terjadi pada musim kemarau setiap tahunnya. Hanya sedikit sekali jenis tembakau yang tumbuh baik di musim penghujan, mayoritasnya, tumbuh baik pada musim kemarau.<\/p>\n \n\n \n

Jika ditanam pada musim hujan, hampir bisa dipastikan tanaman tembakau akan gagal menghasilkan daun-daun yang berkualitas. Ia akan rusak dan membusuk karena terlalu banyak terkena air sehingga daun-daun itu tak layak dijual. Jangankan bisa dijual, untuk tumbuh dengan baik pun sepertinya sulit karena musim hujan akan membunuh banyak tanaman itu.<\/p>\n \n\n \n

Maka, tak heran pada musim-musim seperti saat ini, ketika musim penghujan mendekati puncaknya, di wilayah-wilayah yang dikenal sebagai sentra pertanian tembakau, sulit menemukan pohon tembakau yang sedang tumbuh. Pada lahan-lahan yang sebelumnya ditumbuhi tanaman tembakau pada musim panas, berganti tanaman-tanaman lain yang bermacam-macam, sesuai dengan kondisi lahannya. Untuk lahan sawah, lahan-lahan itu pada musim penghujan kini ditumbuhi tanaman padi yang subur. Pada lahan tegalan dan lahan di pegunungan, lahan-lahan yang ditanami tembakau pada musim kemarau, saat ini ditumbuhi bermacam jenis tanaman mulai dari cabai, bawang, tomat, kol, terong, mentimun, dan ragam jenis tanaman semusim lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Uniknya, tipikal tanaman tembakau yang tumbuh baik di musim kemarau ini memberi pilihan lebih kepada para petani. Lahan-lahan yang sulit ditanami pada musim kemarau, pada akhirnya masih bisa tetap produktif dengan keberadaan tanaman tembakau. <\/p>\n \n\n \n

Maka, kampanye aneh mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain dengan ragam rupa dalih yang membingungkan, bukan saja sama sekali tidak tepat dan asal-asalan, namun bisa jadi akan ditertawakan oleh para petani yang begitu paham dengan kondisi lahan dan terutama kondisi iklim dan cuaca. Sulit mencari tanaman semusim yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Jika pun ada, tak ada yang semenguntungkan tanaman tembakau.
<\/p>\n ","post_title":"Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"keberhasilan-gerakan-anti-tembakau-tak-ada-tembakau-saat-musim-hujan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-07 12:16:02","post_modified_gmt":"2019-02-07 05:16:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5415","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5409,"post_author":"919","post_date":"2019-02-05 08:04:43","post_date_gmt":"2019-02-05 01:04:43","post_content":" \n

Tahun Baru Imlek yang merupakan tradisi Bangsa Tiongkok kini sudah tak lagi menjadi hal yang asing bagi masyarakat Indonesia. Kehadirannya sudah mewarnai dan berakulturasi dengan tradisi lokal. Menjelang Tahun Baru Imlek. Berbagai hiasan dan kemeriahan terjadi beberapa titik di Tanah Air. Perayaannya juga menjadi destinasi baru yang mengasyikkan untuk dilihat dan patut disaksikan.<\/p>\n \n\n \n

Berterimakasihlah kepada sang bapak bangsa, KH Abdurrahman Wahid atau yang dikenal dengan nama Gus Dur. Berkat kebijakannya saat menjadi Presiden Indonesia, Tahun Baru Imlek resmi dijadikan hari libur nasional dan dianggap sebagai salah satu hari raya di Tanah Air. Meski sentimen antitionghoa masih ada di sana-sini, tapi tetap tak bisa dipungkiri bahwa bangsa tionghoa sudah bersentuhan dengan budaya lokal dalam kurun waktu yang sangat panjang.<\/p>\n \n\n \n

DNA Bangsa Tionghoa yang memang merupakan pedagang menjadi pembuka kisah interaksi antara nenek moyang berbagai suku di Nusantara dengan mereka. Beberapa kelenteng-kelenteng yang tersebar pada berbagai pesisir daerah di Nusantara jadi buktinya. Pelabuhan-pelabuhan tua di tanah air dan ramainya perdagangan di pesisir mempermudah bangsa kita berhubungan dengan Bangsa Tionghoa.<\/p>\n \n\n \n

Baca Juga: Wong Kalang dan Kota Gede<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa kehadiran Bangsa Tionghoa di Nusantara tak hanya sebagai pedagang, namun juga sebagai pekerja (bahkan hingga pekerja kasar). Benny Setiono, seorang sejarahwan menyebutkan bahwa antara tahun 1760-1770 dalam jumlah yang besar memasuki nusantara melalui Kalimantan Barat. Mereka bekerja sebagai kuli pertambangan di sana dan di kemudian hari membentuk sebuah republik bernama Republik Lanfang yang konon katanya menjadi republik pertama di Asia Tenggara.<\/p>\n \n\n \n

Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n \n\n \n

Baca Juga: Imlek dan Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n

Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n \n\n \n

Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n \n\n \n

Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n \n\n \n

Baca Juga: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n \n\n \n

Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
<\/p>\n ","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_3o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sejak beberapa abad sebelum Masehi, adalah para saudagar Arab --melalui Samudera Hindia melintasi Iskandariyah dan Laut Tengah-- serta para pedagang Cina --melalui jalur \u2018Jalan Sutra\u2019 melintasi Asia Tengah dan Asia Barat-- yang membawa dan memperkenalkannya ke daratan Eropa. <\/p>\n \n\n\n

Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n \n\n \n

Bandar-bandar besar Tyre di Yunani dan Venesia di Italia menjadi pelabuhan utama rempah-rempah Maluku memasuki kehidupan dan peradaban Eropa. Selain sebagai bumbu masakan, rempah obat, dan ramuan wewangian, cengkeh dan pala juga menjadi bahan utama pengawet bahan pangan. [2]
<\/p>\n \n\n \n

Inilah yang membuat orang-orang Eropa untuk pertama kalinya dapat mengawetkan dan menimbun makanan selama bermusim-musim. Prosa indah Blair bersaudara menggambarkannya dengan sangat baik:
<\/p>\n \n\n \n

\u201cKemampuan menyimpan makanan lebih dari yang kami makan sekaligus berarti kemampuan menjual dan membelinya dalam jumlah besar --dan kota-kota dagang pun mekar. Perekonomian yang dihasilkannya mengarahkan kami ke zaman Pencerahan dan kemudian Revolusi Industri. Tak lama setelah kami menghirup aroma yang sangat kuat dari Timur itu dan mengubah kimiawi makanan kami, maka kami pun mampu melakukan lompatan besar dalam bidang budaya dan seni.\u201d (Blair & Blair, 2010; 30-31).<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

Baca: Cengkeh dan Kelapa di Kepulauan Anambas<\/a><\/h2>\n \n\n \n

Bukan hanya membuat perekonomian dan perdagangan serta ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang, cengkeh dan pala bahkan adalah faktor yang paling menentukan dalam kemunculan satu babakan paling mengenaskan dalam sejarah politik dunia, yakni zaman penjajahan (kolonialisme) Eropa, terutama atas-atas negeri- negeri Asia Selatan, Timur dan Tenggara, termasuk Indonesia.
<\/p>\n \n\n \n

Tergerak oleh sahwat menguasai rempah-rempah yang menggiurkan itu, bangsa-bangsa Eropa --terutama Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda-- pun menggelar ekspedisi-ekspedisi besar untuk menemukan cengkeh dan pala langsung di tanah asalnya. Ketika armada-armada mereka akhirnya mencapai perairan Kepulauan Maluku, pada abad-16, perang pun tak terhindarkan.
<\/p>\n \n\n \n

Mereka silih berganti saling mengalahkan, tetapi pemenang terakhir adalah Belanda. Melalui Perusahaan Dagang Hindia Timur (Vereenigde Oostindische Compagnie, VOC) yang dibentuk pada awal abad-17 (tepatnya tahun 1609), Belanda melancarkan ekspedisi Pelayaran Hongi (Hongie Tochten), untuk memusnahkan semua tanaman cengkeh di Ternate, Tidore, Moti, dan Makian, lalu membatasi ketat penanamnya hanya di Pulau-pulau Ambon dan Lease --yang lebih dekat ke Banda sebagai pusat pemerintahan mereka sebelum akhirnya dipindahkan ke Batavia.
<\/p>\n \n\n \n

Praktis, sejak akhir abad-16, Belanda pun menguasai penuh perdagangan rempah-rempah Maluku dengan jumlah produksi rerata 2.500 sampai 4.500 ton per tahun. [3]<\/p>\n \n\n \n

Baca: Budidaya Pohon Cengkeh<\/a><\/h2>\n \n\n \n

Meskipun peran utama rempah-rempah Maluku itu kemudian tergusur pada abad-18 dan 19 oleh beberapa barang eksotika tropis lainnya --hasil perkebunan-perkebunana besar baru di Pulau Sumatera dan Jawa: tebu, tembakau, lada, kopi, teh, nila, kelapa sawit, dan kayu jati-- namun sejarah sudah mencatat bahwa dua jenis rempah-rempah Maluku itulah yang mengawali penjelajahan sekaligus penjajahan kepulauan Nusantara oleh bangsa-bangsa Eropah, terutama Belanda (Topatimasang, ed., 2004:32). Jika saja tak pernah ada cengkeh dan pala di Maluku, mungkin sejarah kepulauan Nusantara ini akan berbeda sama sekali.
<\/p>\n \n\n \n

Masa suram cengkeh dan pala terus berlangsung sampai pertengahan abad-20. Rempah eksotika yang pernah membuat tergila-gila<\/p>\n \n\n \n

para saudagar Arab, pedagang Cina, serta kaum ningrat Eropa itu, tergantikan perannya oleh penemuan teknologi mesin pendingin berkat Revolusi Industri yang dimulai di Inggris pada pertengahan abad-18. Pasaran cengkeh di Eropa pun merosot tajam.
<\/p>\n \n\n \n

Nasibnya terselamatkan berkat penemuan oleh seorang Haji Djamhari di Kudus, Jawa Tengah. Pada akhir tahun 1880-an, Haji Djamhari menemukan kegunaan baru cengkeh sebagai ramuan utama rokok. Lahirlah satu produk baru yang unik, khas dan asli Indonesia: kretek! (Hanusz, 2000:ii).
<\/p>\n \n\n \n

Setelah seperempat abad hanya berkembang dalam skala kecil usaha rumah tangga, produksi kretek akhirnya menjelma menjadi industri besar sejak awal abad-20 yang dirintis oleh Haji Nitisemito (pendiri pabrik \u2018Jambu Bol\u2019) di Kudus dan Liem Seng Tee (pendiri pabrik \u2018Dji Sam Soe\u2019 dan \u2018Sampoerna\u2019) di Surabaya.
<\/p>\n \n\n \n

Puncaknya adalah pada pertengahan tahun 1950-an, ketika produksi kretek mulai berkembang pesat menjadi industri raksasa modern dengan munculnya beberapa pabrik baru, antara lain, yang terkemuka, oleh Oei Wei Gwan (pendiri pabrik \u2018Djarum\u2019) di Kudus dan Tjou Ing Hwie (pendiri pabrik \u2018Gudang Garam\u2019) di Kediri (Topatimasang, et.al., eds., 2010:131).<\/p>\n \n\n \n

Baca: Teruslah Menanam Tembakau dan Cengkeh, Wahai Petani Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n

Cengkeh, bahan baku paling esensial dari kretek --selain tembakau, tentu saja-- pun kembali berjaya. Bahkan, sejak dasawarsa 1970an, telah menjadi salah satu penyumbang terbesar keuangan negara Republik Indonesia. Pada tahun 2012 dan 2013, pemasukan cukai dari industri kretek mencatat 95,5% dari seluruh pemasukan cukai ke kas negara. Nilainya tak tanggung-tanggung: Rp 87 triliun! (el-Guyanie, et.al.: 2013:4-5).<\/strong>
<\/p>\n \n\n \n

Nilai ekonomisnya yang sangat besar sempat menggoda penguasa otoriter rezim Presiden Soeharto, pada 1990-an, memberlakukan satu kebijakan \u2018Hongi Gaya Baru\u2019: monopoli perdagangan cengkeh dalam negeri melalui Badan Penyanggah dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) yang sangat merugikan petani. Harga cengkeh di tingkat petani penghasil anjlok sampai hanya Rp 2.000 - 3.000 per kilogram, lebih murah dari harga sebungkus kretek yang dihasilkan darinya.
<\/p>\n \n\n \n

Akibatnya, ratusan ribu pohon cengkeh di daerah-daerah penghasil utama --Maluku, Maluku Utara, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Selatan-- ditebangi atau dibiarkan terlantar tak terurus.
<\/p>\n \n\n \n

Gelombang reformasi sistem politik dan hukum nasional yang dimulai pada tahun 1998, akhirnya menjungkalkan rezim Soeharto dan BPPC dibubarkan, Pelan tapi pasti, harga cengkeh kembali merangkak naik, sehingga pada tahun 2012, bahkan melewati angka Rp 200.000 per kilogram. Para petani cengkeh di seluruh negeri kembali tersenyum. Tetapi, sampai kapan? <\/p>\n \n\n \n

Catatan:<\/strong><\/p>\n \n\n \n

[1] Beberapa sumber menyebutkan bahwa kata \u2018cengkeh\u2019 dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Mandarin, tkeng-his atau xi\u2019jia, yang berarti \u2018rempah [berbentuk mirip] paku\u2019 (scented nails). Ini menunjukkan bahwa cengkeh sudah dikenal sejak lama oleh bangsa Cina --diketahui sejak abad-2-- jauh sebelum orang Eropa mengenalnya ((lihat, misalnya: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n \n\n \n

[2] Catatan-catatan para biarawan Fransiskan --yang disalin dan dikutip oleh van Frassen-- bahkan menyebut cengkeh sebagai salah satu bahan utama pengawet mumi para Fir\u2019aun, penguasa Mesir Kuno. Beberapa pakar sejarah dan arkeologi menyatakan bahwa rempah-rempah Maluku bahkan sudah ditemukan artefaknya di Lembah Mesopotomia (wilayah Iraq dan sekitarnya sekarang) pada 3.000 tahun sebelum Masehi. (lihat, antara lain: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n \n\n \n

[3] Uraian lebih rinci sejarah kolonialisme rempah-rempah Nusantara ini, terutama oleh Belanda dan Portugis, dapat dibaca pada beberapa sumber kepustakaan yang sudah dikenal luas, antara lain: Glamann (1958) dan Boxer (1965 dan 1969). Dalam risalah klasik Pires disebutkan bahwa pada tahun 1512-1521 saja, jumlah produksi cengkeh di Maluku sudah mencapai 7.250 bahar per tahun, terbesar adalah di Makian serta Amboina dan Lease (masing-masing 1.500 bahar)(Pires, 1512-1515).<\/em>
<\/p>\n \n\n \n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem Topatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n ","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-10 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-02-10 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5425","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5415,"post_author":"878","post_date":"2019-02-07 12:15:55","post_date_gmt":"2019-02-07 05:15:55","post_content":" \n

Belakangan ini, ketika musim hujan tiba, di Kabupaten Temanggung, Kabupaten Jember, dan beberapa wilayah sentra pertanian tembakau lainnya, hampir mustahil menemukan tanaman tembakau tumbuh di lahan-lahan milik petani. Di wilayah-wilayah tersebut, citra sebagai sentra pertanian tembakau seakan menguap. Lahan-lahan yang ada di sana, sama sekali tidak ditumbuhi tanaman tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Kabar ini bisa jadi dianggap sebagai kabar gembira bagi mereka yang menganggap diri dan kelompoknya anti-rokok dan anti-tembakau yang selalu mengampanyekan sikap-sikap mereka terkait kebencian kepada tembakau dan aktivitas merokok. Setelah sekian lama berjuang, akhirnya perjuangan mereka dirasa berhasil usai menyaksikan fenomena lahan-lahan di wilayah yang dianggap sentra pertanian tembakau pada hari-hari belakangan ini.<\/p>\n \n\n \n

Baca juga: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Tak sia-sia turun ke jalan, tak sia-sia melakukan lobi-lobi ke penguasa, tak sia-sia mengucurkan uang yang tidak sedikit, dan tak sia-sia mempermalukan diri dengan mengemis ke lembaga donor asing dan menggondol uang dari cukai tembakau untuk mengampanyekan gerakan anti-rokok dan anti-tembakau. Tak sia-sia. Karena perjuangan sepertinya berhasil.<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

Kampanye-kampanye gerakan mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya, sepertinya juga sangat berhasil. Bagaimana tidak? Wilayah-wilayah yang sebelumnya penuh dengan tanaman tembakau dan bergeliat dengannya, kini lahan-lahannya sudah berganti dengan tanaman lain. Sebuah keberhasilan yang menggembirakan. Begitu mungkin pikir mereka para yang menganggap dirinya pejuang anti-rokok dan anti-tembakau. Dan tentu saja mereka akan kecele dan kita akan menertawakan hal itu.<\/p>\n \n\n \n

Sayangnya, mereka yang menganggap dirinya anti-rokok dan anti-tembakau tidak menyaksikan langsung fenomena ini di lapangan, di lahan-lahan yang peruntukannya berubah pada hari-hari belakangan ini ketika memasuki musim hujan. Mereka asyik duduk pada kursi empuk di ruang-ruang nyaman ber-AC di kota-kota yang jauh dari kultur pertanian. Mereka menyengajakan diri menjadi elit dan enggan untuk turun melihat langsung ke lapangan. Kalaupun ada yang turun langsung ke lapangan, hanya segelintir saja dari mereka, itupun sekadar formalitas saja. Tak pernah benar-benar mau turun ke lapangan, hidup dan merasakan langsung kultur pertanian tembakau dalam jangka waktu cukup lama di lapangan.<\/p>\n \n\n \n

Baca juga: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Fenomena ini membikin kita tak bisa melihat mereka para anti-rokok kecele lalu menertawakan mereka.<\/strong> Fenomena keengganan terjun langsung ke lapangan terlebih mencoba mendengar mereka yang tetap menanam tembakau, juga menjalani keseharian dalam waktu cukup lama bersama petani tembakau inilah yang saya kira menjadikan mereka tetap keras kepala untuk anti-rokok dan anti-tembakau. Karena jika mereka mau melakukan itu, saya yakin mereka semua tidak akan begitu kaku dalam memandang pertanian tembakau dan produk hasil industri tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Salah satu yang selalu mereka kampanyekan dan ngotot dengan itu, terkait hulu pertanian tembakau adalah mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya. Mereka berargumen banyak tanaman lain yang bisa semenguntungkan tanaman tembakau. Keengganan mereka terjun langsung ke lapangan inilah yang membikin mereka buta dengan kondisi pertanian tembakau dan pada akhirnya terus menerus mengampanyekan pergantian tanaman tembakau dengan tanaman lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Baca juga: Imanlah kepada Allah, Bukan Antirokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Tembakau tanaman yang khas. Ia hanya tumbuh baik sepanjang empat hingga lima bulan dalam satu tahun. Tumbuh-kembang tanaman tembakau dengan baik itu umumnya terjadi pada musim kemarau setiap tahunnya. Hanya sedikit sekali jenis tembakau yang tumbuh baik di musim penghujan, mayoritasnya, tumbuh baik pada musim kemarau.<\/p>\n \n\n \n

Jika ditanam pada musim hujan, hampir bisa dipastikan tanaman tembakau akan gagal menghasilkan daun-daun yang berkualitas. Ia akan rusak dan membusuk karena terlalu banyak terkena air sehingga daun-daun itu tak layak dijual. Jangankan bisa dijual, untuk tumbuh dengan baik pun sepertinya sulit karena musim hujan akan membunuh banyak tanaman itu.<\/p>\n \n\n \n

Maka, tak heran pada musim-musim seperti saat ini, ketika musim penghujan mendekati puncaknya, di wilayah-wilayah yang dikenal sebagai sentra pertanian tembakau, sulit menemukan pohon tembakau yang sedang tumbuh. Pada lahan-lahan yang sebelumnya ditumbuhi tanaman tembakau pada musim panas, berganti tanaman-tanaman lain yang bermacam-macam, sesuai dengan kondisi lahannya. Untuk lahan sawah, lahan-lahan itu pada musim penghujan kini ditumbuhi tanaman padi yang subur. Pada lahan tegalan dan lahan di pegunungan, lahan-lahan yang ditanami tembakau pada musim kemarau, saat ini ditumbuhi bermacam jenis tanaman mulai dari cabai, bawang, tomat, kol, terong, mentimun, dan ragam jenis tanaman semusim lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Uniknya, tipikal tanaman tembakau yang tumbuh baik di musim kemarau ini memberi pilihan lebih kepada para petani. Lahan-lahan yang sulit ditanami pada musim kemarau, pada akhirnya masih bisa tetap produktif dengan keberadaan tanaman tembakau. <\/p>\n \n\n \n

Maka, kampanye aneh mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain dengan ragam rupa dalih yang membingungkan, bukan saja sama sekali tidak tepat dan asal-asalan, namun bisa jadi akan ditertawakan oleh para petani yang begitu paham dengan kondisi lahan dan terutama kondisi iklim dan cuaca. Sulit mencari tanaman semusim yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Jika pun ada, tak ada yang semenguntungkan tanaman tembakau.
<\/p>\n ","post_title":"Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"keberhasilan-gerakan-anti-tembakau-tak-ada-tembakau-saat-musim-hujan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-07 12:16:02","post_modified_gmt":"2019-02-07 05:16:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5415","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5409,"post_author":"919","post_date":"2019-02-05 08:04:43","post_date_gmt":"2019-02-05 01:04:43","post_content":" \n

Tahun Baru Imlek yang merupakan tradisi Bangsa Tiongkok kini sudah tak lagi menjadi hal yang asing bagi masyarakat Indonesia. Kehadirannya sudah mewarnai dan berakulturasi dengan tradisi lokal. Menjelang Tahun Baru Imlek. Berbagai hiasan dan kemeriahan terjadi beberapa titik di Tanah Air. Perayaannya juga menjadi destinasi baru yang mengasyikkan untuk dilihat dan patut disaksikan.<\/p>\n \n\n \n

Berterimakasihlah kepada sang bapak bangsa, KH Abdurrahman Wahid atau yang dikenal dengan nama Gus Dur. Berkat kebijakannya saat menjadi Presiden Indonesia, Tahun Baru Imlek resmi dijadikan hari libur nasional dan dianggap sebagai salah satu hari raya di Tanah Air. Meski sentimen antitionghoa masih ada di sana-sini, tapi tetap tak bisa dipungkiri bahwa bangsa tionghoa sudah bersentuhan dengan budaya lokal dalam kurun waktu yang sangat panjang.<\/p>\n \n\n \n

DNA Bangsa Tionghoa yang memang merupakan pedagang menjadi pembuka kisah interaksi antara nenek moyang berbagai suku di Nusantara dengan mereka. Beberapa kelenteng-kelenteng yang tersebar pada berbagai pesisir daerah di Nusantara jadi buktinya. Pelabuhan-pelabuhan tua di tanah air dan ramainya perdagangan di pesisir mempermudah bangsa kita berhubungan dengan Bangsa Tionghoa.<\/p>\n \n\n \n

Baca Juga: Wong Kalang dan Kota Gede<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa kehadiran Bangsa Tionghoa di Nusantara tak hanya sebagai pedagang, namun juga sebagai pekerja (bahkan hingga pekerja kasar). Benny Setiono, seorang sejarahwan menyebutkan bahwa antara tahun 1760-1770 dalam jumlah yang besar memasuki nusantara melalui Kalimantan Barat. Mereka bekerja sebagai kuli pertambangan di sana dan di kemudian hari membentuk sebuah republik bernama Republik Lanfang yang konon katanya menjadi republik pertama di Asia Tenggara.<\/p>\n \n\n \n

Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n \n\n \n

Baca Juga: Imlek dan Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n

Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n \n\n \n

Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n \n\n \n

Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n \n\n \n

Baca Juga: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n \n\n \n

Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
<\/p>\n ","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_3o3","class":"epic_block_3"};

\n

Adapun pala, berasal dari empat pulau kecil lainnya di tengah Laut Banda: Lonthor, Neira, Rhun, dan Ai. Pada penjelasan peta abad-16 oleh penjelajah dari Semenanjung Iberia, Fransisco Rodriguez, tertulis: \u201cEstas quatro Ilhas Azures suam as de molluquo homde nace ho crauzo\u201d<\/em> (Adalah empat pulau berwarna biru [dalam peta] yang disebut sebagai Kepulauan Maluku di mana rempah-rempah berasal) (Pires, 1512- 1515:213).
<\/p>\n \n\n\n

Sejak beberapa abad sebelum Masehi, adalah para saudagar Arab --melalui Samudera Hindia melintasi Iskandariyah dan Laut Tengah-- serta para pedagang Cina --melalui jalur \u2018Jalan Sutra\u2019 melintasi Asia Tengah dan Asia Barat-- yang membawa dan memperkenalkannya ke daratan Eropa. <\/p>\n \n\n \n

Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n \n\n \n

Bandar-bandar besar Tyre di Yunani dan Venesia di Italia menjadi pelabuhan utama rempah-rempah Maluku memasuki kehidupan dan peradaban Eropa. Selain sebagai bumbu masakan, rempah obat, dan ramuan wewangian, cengkeh dan pala juga menjadi bahan utama pengawet bahan pangan. [2]
<\/p>\n \n\n \n

Inilah yang membuat orang-orang Eropa untuk pertama kalinya dapat mengawetkan dan menimbun makanan selama bermusim-musim. Prosa indah Blair bersaudara menggambarkannya dengan sangat baik:
<\/p>\n \n\n \n

\u201cKemampuan menyimpan makanan lebih dari yang kami makan sekaligus berarti kemampuan menjual dan membelinya dalam jumlah besar --dan kota-kota dagang pun mekar. Perekonomian yang dihasilkannya mengarahkan kami ke zaman Pencerahan dan kemudian Revolusi Industri. Tak lama setelah kami menghirup aroma yang sangat kuat dari Timur itu dan mengubah kimiawi makanan kami, maka kami pun mampu melakukan lompatan besar dalam bidang budaya dan seni.\u201d (Blair & Blair, 2010; 30-31).<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

Baca: Cengkeh dan Kelapa di Kepulauan Anambas<\/a><\/h2>\n \n\n \n

Bukan hanya membuat perekonomian dan perdagangan serta ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang, cengkeh dan pala bahkan adalah faktor yang paling menentukan dalam kemunculan satu babakan paling mengenaskan dalam sejarah politik dunia, yakni zaman penjajahan (kolonialisme) Eropa, terutama atas-atas negeri- negeri Asia Selatan, Timur dan Tenggara, termasuk Indonesia.
<\/p>\n \n\n \n

Tergerak oleh sahwat menguasai rempah-rempah yang menggiurkan itu, bangsa-bangsa Eropa --terutama Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda-- pun menggelar ekspedisi-ekspedisi besar untuk menemukan cengkeh dan pala langsung di tanah asalnya. Ketika armada-armada mereka akhirnya mencapai perairan Kepulauan Maluku, pada abad-16, perang pun tak terhindarkan.
<\/p>\n \n\n \n

Mereka silih berganti saling mengalahkan, tetapi pemenang terakhir adalah Belanda. Melalui Perusahaan Dagang Hindia Timur (Vereenigde Oostindische Compagnie, VOC) yang dibentuk pada awal abad-17 (tepatnya tahun 1609), Belanda melancarkan ekspedisi Pelayaran Hongi (Hongie Tochten), untuk memusnahkan semua tanaman cengkeh di Ternate, Tidore, Moti, dan Makian, lalu membatasi ketat penanamnya hanya di Pulau-pulau Ambon dan Lease --yang lebih dekat ke Banda sebagai pusat pemerintahan mereka sebelum akhirnya dipindahkan ke Batavia.
<\/p>\n \n\n \n

Praktis, sejak akhir abad-16, Belanda pun menguasai penuh perdagangan rempah-rempah Maluku dengan jumlah produksi rerata 2.500 sampai 4.500 ton per tahun. [3]<\/p>\n \n\n \n

Baca: Budidaya Pohon Cengkeh<\/a><\/h2>\n \n\n \n

Meskipun peran utama rempah-rempah Maluku itu kemudian tergusur pada abad-18 dan 19 oleh beberapa barang eksotika tropis lainnya --hasil perkebunan-perkebunana besar baru di Pulau Sumatera dan Jawa: tebu, tembakau, lada, kopi, teh, nila, kelapa sawit, dan kayu jati-- namun sejarah sudah mencatat bahwa dua jenis rempah-rempah Maluku itulah yang mengawali penjelajahan sekaligus penjajahan kepulauan Nusantara oleh bangsa-bangsa Eropah, terutama Belanda (Topatimasang, ed., 2004:32). Jika saja tak pernah ada cengkeh dan pala di Maluku, mungkin sejarah kepulauan Nusantara ini akan berbeda sama sekali.
<\/p>\n \n\n \n

Masa suram cengkeh dan pala terus berlangsung sampai pertengahan abad-20. Rempah eksotika yang pernah membuat tergila-gila<\/p>\n \n\n \n

para saudagar Arab, pedagang Cina, serta kaum ningrat Eropa itu, tergantikan perannya oleh penemuan teknologi mesin pendingin berkat Revolusi Industri yang dimulai di Inggris pada pertengahan abad-18. Pasaran cengkeh di Eropa pun merosot tajam.
<\/p>\n \n\n \n

Nasibnya terselamatkan berkat penemuan oleh seorang Haji Djamhari di Kudus, Jawa Tengah. Pada akhir tahun 1880-an, Haji Djamhari menemukan kegunaan baru cengkeh sebagai ramuan utama rokok. Lahirlah satu produk baru yang unik, khas dan asli Indonesia: kretek! (Hanusz, 2000:ii).
<\/p>\n \n\n \n

Setelah seperempat abad hanya berkembang dalam skala kecil usaha rumah tangga, produksi kretek akhirnya menjelma menjadi industri besar sejak awal abad-20 yang dirintis oleh Haji Nitisemito (pendiri pabrik \u2018Jambu Bol\u2019) di Kudus dan Liem Seng Tee (pendiri pabrik \u2018Dji Sam Soe\u2019 dan \u2018Sampoerna\u2019) di Surabaya.
<\/p>\n \n\n \n

Puncaknya adalah pada pertengahan tahun 1950-an, ketika produksi kretek mulai berkembang pesat menjadi industri raksasa modern dengan munculnya beberapa pabrik baru, antara lain, yang terkemuka, oleh Oei Wei Gwan (pendiri pabrik \u2018Djarum\u2019) di Kudus dan Tjou Ing Hwie (pendiri pabrik \u2018Gudang Garam\u2019) di Kediri (Topatimasang, et.al., eds., 2010:131).<\/p>\n \n\n \n

Baca: Teruslah Menanam Tembakau dan Cengkeh, Wahai Petani Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n

Cengkeh, bahan baku paling esensial dari kretek --selain tembakau, tentu saja-- pun kembali berjaya. Bahkan, sejak dasawarsa 1970an, telah menjadi salah satu penyumbang terbesar keuangan negara Republik Indonesia. Pada tahun 2012 dan 2013, pemasukan cukai dari industri kretek mencatat 95,5% dari seluruh pemasukan cukai ke kas negara. Nilainya tak tanggung-tanggung: Rp 87 triliun! (el-Guyanie, et.al.: 2013:4-5).<\/strong>
<\/p>\n \n\n \n

Nilai ekonomisnya yang sangat besar sempat menggoda penguasa otoriter rezim Presiden Soeharto, pada 1990-an, memberlakukan satu kebijakan \u2018Hongi Gaya Baru\u2019: monopoli perdagangan cengkeh dalam negeri melalui Badan Penyanggah dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) yang sangat merugikan petani. Harga cengkeh di tingkat petani penghasil anjlok sampai hanya Rp 2.000 - 3.000 per kilogram, lebih murah dari harga sebungkus kretek yang dihasilkan darinya.
<\/p>\n \n\n \n

Akibatnya, ratusan ribu pohon cengkeh di daerah-daerah penghasil utama --Maluku, Maluku Utara, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Selatan-- ditebangi atau dibiarkan terlantar tak terurus.
<\/p>\n \n\n \n

Gelombang reformasi sistem politik dan hukum nasional yang dimulai pada tahun 1998, akhirnya menjungkalkan rezim Soeharto dan BPPC dibubarkan, Pelan tapi pasti, harga cengkeh kembali merangkak naik, sehingga pada tahun 2012, bahkan melewati angka Rp 200.000 per kilogram. Para petani cengkeh di seluruh negeri kembali tersenyum. Tetapi, sampai kapan? <\/p>\n \n\n \n

Catatan:<\/strong><\/p>\n \n\n \n

[1] Beberapa sumber menyebutkan bahwa kata \u2018cengkeh\u2019 dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Mandarin, tkeng-his atau xi\u2019jia, yang berarti \u2018rempah [berbentuk mirip] paku\u2019 (scented nails). Ini menunjukkan bahwa cengkeh sudah dikenal sejak lama oleh bangsa Cina --diketahui sejak abad-2-- jauh sebelum orang Eropa mengenalnya ((lihat, misalnya: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n \n\n \n

[2] Catatan-catatan para biarawan Fransiskan --yang disalin dan dikutip oleh van Frassen-- bahkan menyebut cengkeh sebagai salah satu bahan utama pengawet mumi para Fir\u2019aun, penguasa Mesir Kuno. Beberapa pakar sejarah dan arkeologi menyatakan bahwa rempah-rempah Maluku bahkan sudah ditemukan artefaknya di Lembah Mesopotomia (wilayah Iraq dan sekitarnya sekarang) pada 3.000 tahun sebelum Masehi. (lihat, antara lain: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n \n\n \n

[3] Uraian lebih rinci sejarah kolonialisme rempah-rempah Nusantara ini, terutama oleh Belanda dan Portugis, dapat dibaca pada beberapa sumber kepustakaan yang sudah dikenal luas, antara lain: Glamann (1958) dan Boxer (1965 dan 1969). Dalam risalah klasik Pires disebutkan bahwa pada tahun 1512-1521 saja, jumlah produksi cengkeh di Maluku sudah mencapai 7.250 bahar per tahun, terbesar adalah di Makian serta Amboina dan Lease (masing-masing 1.500 bahar)(Pires, 1512-1515).<\/em>
<\/p>\n \n\n \n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem Topatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n ","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-10 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-02-10 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5425","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5415,"post_author":"878","post_date":"2019-02-07 12:15:55","post_date_gmt":"2019-02-07 05:15:55","post_content":" \n

Belakangan ini, ketika musim hujan tiba, di Kabupaten Temanggung, Kabupaten Jember, dan beberapa wilayah sentra pertanian tembakau lainnya, hampir mustahil menemukan tanaman tembakau tumbuh di lahan-lahan milik petani. Di wilayah-wilayah tersebut, citra sebagai sentra pertanian tembakau seakan menguap. Lahan-lahan yang ada di sana, sama sekali tidak ditumbuhi tanaman tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Kabar ini bisa jadi dianggap sebagai kabar gembira bagi mereka yang menganggap diri dan kelompoknya anti-rokok dan anti-tembakau yang selalu mengampanyekan sikap-sikap mereka terkait kebencian kepada tembakau dan aktivitas merokok. Setelah sekian lama berjuang, akhirnya perjuangan mereka dirasa berhasil usai menyaksikan fenomena lahan-lahan di wilayah yang dianggap sentra pertanian tembakau pada hari-hari belakangan ini.<\/p>\n \n\n \n

Baca juga: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Tak sia-sia turun ke jalan, tak sia-sia melakukan lobi-lobi ke penguasa, tak sia-sia mengucurkan uang yang tidak sedikit, dan tak sia-sia mempermalukan diri dengan mengemis ke lembaga donor asing dan menggondol uang dari cukai tembakau untuk mengampanyekan gerakan anti-rokok dan anti-tembakau. Tak sia-sia. Karena perjuangan sepertinya berhasil.<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

Kampanye-kampanye gerakan mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya, sepertinya juga sangat berhasil. Bagaimana tidak? Wilayah-wilayah yang sebelumnya penuh dengan tanaman tembakau dan bergeliat dengannya, kini lahan-lahannya sudah berganti dengan tanaman lain. Sebuah keberhasilan yang menggembirakan. Begitu mungkin pikir mereka para yang menganggap dirinya pejuang anti-rokok dan anti-tembakau. Dan tentu saja mereka akan kecele dan kita akan menertawakan hal itu.<\/p>\n \n\n \n

Sayangnya, mereka yang menganggap dirinya anti-rokok dan anti-tembakau tidak menyaksikan langsung fenomena ini di lapangan, di lahan-lahan yang peruntukannya berubah pada hari-hari belakangan ini ketika memasuki musim hujan. Mereka asyik duduk pada kursi empuk di ruang-ruang nyaman ber-AC di kota-kota yang jauh dari kultur pertanian. Mereka menyengajakan diri menjadi elit dan enggan untuk turun melihat langsung ke lapangan. Kalaupun ada yang turun langsung ke lapangan, hanya segelintir saja dari mereka, itupun sekadar formalitas saja. Tak pernah benar-benar mau turun ke lapangan, hidup dan merasakan langsung kultur pertanian tembakau dalam jangka waktu cukup lama di lapangan.<\/p>\n \n\n \n

Baca juga: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Fenomena ini membikin kita tak bisa melihat mereka para anti-rokok kecele lalu menertawakan mereka.<\/strong> Fenomena keengganan terjun langsung ke lapangan terlebih mencoba mendengar mereka yang tetap menanam tembakau, juga menjalani keseharian dalam waktu cukup lama bersama petani tembakau inilah yang saya kira menjadikan mereka tetap keras kepala untuk anti-rokok dan anti-tembakau. Karena jika mereka mau melakukan itu, saya yakin mereka semua tidak akan begitu kaku dalam memandang pertanian tembakau dan produk hasil industri tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Salah satu yang selalu mereka kampanyekan dan ngotot dengan itu, terkait hulu pertanian tembakau adalah mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya. Mereka berargumen banyak tanaman lain yang bisa semenguntungkan tanaman tembakau. Keengganan mereka terjun langsung ke lapangan inilah yang membikin mereka buta dengan kondisi pertanian tembakau dan pada akhirnya terus menerus mengampanyekan pergantian tanaman tembakau dengan tanaman lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Baca juga: Imanlah kepada Allah, Bukan Antirokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Tembakau tanaman yang khas. Ia hanya tumbuh baik sepanjang empat hingga lima bulan dalam satu tahun. Tumbuh-kembang tanaman tembakau dengan baik itu umumnya terjadi pada musim kemarau setiap tahunnya. Hanya sedikit sekali jenis tembakau yang tumbuh baik di musim penghujan, mayoritasnya, tumbuh baik pada musim kemarau.<\/p>\n \n\n \n

Jika ditanam pada musim hujan, hampir bisa dipastikan tanaman tembakau akan gagal menghasilkan daun-daun yang berkualitas. Ia akan rusak dan membusuk karena terlalu banyak terkena air sehingga daun-daun itu tak layak dijual. Jangankan bisa dijual, untuk tumbuh dengan baik pun sepertinya sulit karena musim hujan akan membunuh banyak tanaman itu.<\/p>\n \n\n \n

Maka, tak heran pada musim-musim seperti saat ini, ketika musim penghujan mendekati puncaknya, di wilayah-wilayah yang dikenal sebagai sentra pertanian tembakau, sulit menemukan pohon tembakau yang sedang tumbuh. Pada lahan-lahan yang sebelumnya ditumbuhi tanaman tembakau pada musim panas, berganti tanaman-tanaman lain yang bermacam-macam, sesuai dengan kondisi lahannya. Untuk lahan sawah, lahan-lahan itu pada musim penghujan kini ditumbuhi tanaman padi yang subur. Pada lahan tegalan dan lahan di pegunungan, lahan-lahan yang ditanami tembakau pada musim kemarau, saat ini ditumbuhi bermacam jenis tanaman mulai dari cabai, bawang, tomat, kol, terong, mentimun, dan ragam jenis tanaman semusim lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Uniknya, tipikal tanaman tembakau yang tumbuh baik di musim kemarau ini memberi pilihan lebih kepada para petani. Lahan-lahan yang sulit ditanami pada musim kemarau, pada akhirnya masih bisa tetap produktif dengan keberadaan tanaman tembakau. <\/p>\n \n\n \n

Maka, kampanye aneh mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain dengan ragam rupa dalih yang membingungkan, bukan saja sama sekali tidak tepat dan asal-asalan, namun bisa jadi akan ditertawakan oleh para petani yang begitu paham dengan kondisi lahan dan terutama kondisi iklim dan cuaca. Sulit mencari tanaman semusim yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Jika pun ada, tak ada yang semenguntungkan tanaman tembakau.
<\/p>\n ","post_title":"Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"keberhasilan-gerakan-anti-tembakau-tak-ada-tembakau-saat-musim-hujan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-07 12:16:02","post_modified_gmt":"2019-02-07 05:16:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5415","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5409,"post_author":"919","post_date":"2019-02-05 08:04:43","post_date_gmt":"2019-02-05 01:04:43","post_content":" \n

Tahun Baru Imlek yang merupakan tradisi Bangsa Tiongkok kini sudah tak lagi menjadi hal yang asing bagi masyarakat Indonesia. Kehadirannya sudah mewarnai dan berakulturasi dengan tradisi lokal. Menjelang Tahun Baru Imlek. Berbagai hiasan dan kemeriahan terjadi beberapa titik di Tanah Air. Perayaannya juga menjadi destinasi baru yang mengasyikkan untuk dilihat dan patut disaksikan.<\/p>\n \n\n \n

Berterimakasihlah kepada sang bapak bangsa, KH Abdurrahman Wahid atau yang dikenal dengan nama Gus Dur. Berkat kebijakannya saat menjadi Presiden Indonesia, Tahun Baru Imlek resmi dijadikan hari libur nasional dan dianggap sebagai salah satu hari raya di Tanah Air. Meski sentimen antitionghoa masih ada di sana-sini, tapi tetap tak bisa dipungkiri bahwa bangsa tionghoa sudah bersentuhan dengan budaya lokal dalam kurun waktu yang sangat panjang.<\/p>\n \n\n \n

DNA Bangsa Tionghoa yang memang merupakan pedagang menjadi pembuka kisah interaksi antara nenek moyang berbagai suku di Nusantara dengan mereka. Beberapa kelenteng-kelenteng yang tersebar pada berbagai pesisir daerah di Nusantara jadi buktinya. Pelabuhan-pelabuhan tua di tanah air dan ramainya perdagangan di pesisir mempermudah bangsa kita berhubungan dengan Bangsa Tionghoa.<\/p>\n \n\n \n

Baca Juga: Wong Kalang dan Kota Gede<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa kehadiran Bangsa Tionghoa di Nusantara tak hanya sebagai pedagang, namun juga sebagai pekerja (bahkan hingga pekerja kasar). Benny Setiono, seorang sejarahwan menyebutkan bahwa antara tahun 1760-1770 dalam jumlah yang besar memasuki nusantara melalui Kalimantan Barat. Mereka bekerja sebagai kuli pertambangan di sana dan di kemudian hari membentuk sebuah republik bernama Republik Lanfang yang konon katanya menjadi republik pertama di Asia Tenggara.<\/p>\n \n\n \n

Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n \n\n \n

Baca Juga: Imlek dan Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n

Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n \n\n \n

Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n \n\n \n

Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n \n\n \n

Baca Juga: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n \n\n \n

Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
<\/p>\n ","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_3o3","class":"epic_block_3"};

\n

Bahwa cengkeh [1] (Syzygium aromaticum) --bersama pala (Myristica fragrans)-- adalah dua tanaman asli (endemik) Kepulauan Maluku, sudah tak terbantahkan. Cengkeh dikenal dan diakui berasal dari \u2018Empat Pulau Gunung Maluku\u2019 (Maloko Kie Raha): Ternate, Tidore, Moti, dan Makian.
<\/p>\n \n\n\n

Adapun pala, berasal dari empat pulau kecil lainnya di tengah Laut Banda: Lonthor, Neira, Rhun, dan Ai. Pada penjelasan peta abad-16 oleh penjelajah dari Semenanjung Iberia, Fransisco Rodriguez, tertulis: \u201cEstas quatro Ilhas Azures suam as de molluquo homde nace ho crauzo\u201d<\/em> (Adalah empat pulau berwarna biru [dalam peta] yang disebut sebagai Kepulauan Maluku di mana rempah-rempah berasal) (Pires, 1512- 1515:213).
<\/p>\n \n\n \n

Sejak beberapa abad sebelum Masehi, adalah para saudagar Arab --melalui Samudera Hindia melintasi Iskandariyah dan Laut Tengah-- serta para pedagang Cina --melalui jalur \u2018Jalan Sutra\u2019 melintasi Asia Tengah dan Asia Barat-- yang membawa dan memperkenalkannya ke daratan Eropa. <\/p>\n \n\n \n

Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n \n\n \n

Bandar-bandar besar Tyre di Yunani dan Venesia di Italia menjadi pelabuhan utama rempah-rempah Maluku memasuki kehidupan dan peradaban Eropa. Selain sebagai bumbu masakan, rempah obat, dan ramuan wewangian, cengkeh dan pala juga menjadi bahan utama pengawet bahan pangan. [2]
<\/p>\n \n\n \n

Inilah yang membuat orang-orang Eropa untuk pertama kalinya dapat mengawetkan dan menimbun makanan selama bermusim-musim. Prosa indah Blair bersaudara menggambarkannya dengan sangat baik:
<\/p>\n \n\n \n

\u201cKemampuan menyimpan makanan lebih dari yang kami makan sekaligus berarti kemampuan menjual dan membelinya dalam jumlah besar --dan kota-kota dagang pun mekar. Perekonomian yang dihasilkannya mengarahkan kami ke zaman Pencerahan dan kemudian Revolusi Industri. Tak lama setelah kami menghirup aroma yang sangat kuat dari Timur itu dan mengubah kimiawi makanan kami, maka kami pun mampu melakukan lompatan besar dalam bidang budaya dan seni.\u201d (Blair & Blair, 2010; 30-31).<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

Baca: Cengkeh dan Kelapa di Kepulauan Anambas<\/a><\/h2>\n \n\n \n

Bukan hanya membuat perekonomian dan perdagangan serta ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang, cengkeh dan pala bahkan adalah faktor yang paling menentukan dalam kemunculan satu babakan paling mengenaskan dalam sejarah politik dunia, yakni zaman penjajahan (kolonialisme) Eropa, terutama atas-atas negeri- negeri Asia Selatan, Timur dan Tenggara, termasuk Indonesia.
<\/p>\n \n\n \n

Tergerak oleh sahwat menguasai rempah-rempah yang menggiurkan itu, bangsa-bangsa Eropa --terutama Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda-- pun menggelar ekspedisi-ekspedisi besar untuk menemukan cengkeh dan pala langsung di tanah asalnya. Ketika armada-armada mereka akhirnya mencapai perairan Kepulauan Maluku, pada abad-16, perang pun tak terhindarkan.
<\/p>\n \n\n \n

Mereka silih berganti saling mengalahkan, tetapi pemenang terakhir adalah Belanda. Melalui Perusahaan Dagang Hindia Timur (Vereenigde Oostindische Compagnie, VOC) yang dibentuk pada awal abad-17 (tepatnya tahun 1609), Belanda melancarkan ekspedisi Pelayaran Hongi (Hongie Tochten), untuk memusnahkan semua tanaman cengkeh di Ternate, Tidore, Moti, dan Makian, lalu membatasi ketat penanamnya hanya di Pulau-pulau Ambon dan Lease --yang lebih dekat ke Banda sebagai pusat pemerintahan mereka sebelum akhirnya dipindahkan ke Batavia.
<\/p>\n \n\n \n

Praktis, sejak akhir abad-16, Belanda pun menguasai penuh perdagangan rempah-rempah Maluku dengan jumlah produksi rerata 2.500 sampai 4.500 ton per tahun. [3]<\/p>\n \n\n \n

Baca: Budidaya Pohon Cengkeh<\/a><\/h2>\n \n\n \n

Meskipun peran utama rempah-rempah Maluku itu kemudian tergusur pada abad-18 dan 19 oleh beberapa barang eksotika tropis lainnya --hasil perkebunan-perkebunana besar baru di Pulau Sumatera dan Jawa: tebu, tembakau, lada, kopi, teh, nila, kelapa sawit, dan kayu jati-- namun sejarah sudah mencatat bahwa dua jenis rempah-rempah Maluku itulah yang mengawali penjelajahan sekaligus penjajahan kepulauan Nusantara oleh bangsa-bangsa Eropah, terutama Belanda (Topatimasang, ed., 2004:32). Jika saja tak pernah ada cengkeh dan pala di Maluku, mungkin sejarah kepulauan Nusantara ini akan berbeda sama sekali.
<\/p>\n \n\n \n

Masa suram cengkeh dan pala terus berlangsung sampai pertengahan abad-20. Rempah eksotika yang pernah membuat tergila-gila<\/p>\n \n\n \n

para saudagar Arab, pedagang Cina, serta kaum ningrat Eropa itu, tergantikan perannya oleh penemuan teknologi mesin pendingin berkat Revolusi Industri yang dimulai di Inggris pada pertengahan abad-18. Pasaran cengkeh di Eropa pun merosot tajam.
<\/p>\n \n\n \n

Nasibnya terselamatkan berkat penemuan oleh seorang Haji Djamhari di Kudus, Jawa Tengah. Pada akhir tahun 1880-an, Haji Djamhari menemukan kegunaan baru cengkeh sebagai ramuan utama rokok. Lahirlah satu produk baru yang unik, khas dan asli Indonesia: kretek! (Hanusz, 2000:ii).
<\/p>\n \n\n \n

Setelah seperempat abad hanya berkembang dalam skala kecil usaha rumah tangga, produksi kretek akhirnya menjelma menjadi industri besar sejak awal abad-20 yang dirintis oleh Haji Nitisemito (pendiri pabrik \u2018Jambu Bol\u2019) di Kudus dan Liem Seng Tee (pendiri pabrik \u2018Dji Sam Soe\u2019 dan \u2018Sampoerna\u2019) di Surabaya.
<\/p>\n \n\n \n

Puncaknya adalah pada pertengahan tahun 1950-an, ketika produksi kretek mulai berkembang pesat menjadi industri raksasa modern dengan munculnya beberapa pabrik baru, antara lain, yang terkemuka, oleh Oei Wei Gwan (pendiri pabrik \u2018Djarum\u2019) di Kudus dan Tjou Ing Hwie (pendiri pabrik \u2018Gudang Garam\u2019) di Kediri (Topatimasang, et.al., eds., 2010:131).<\/p>\n \n\n \n

Baca: Teruslah Menanam Tembakau dan Cengkeh, Wahai Petani Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n

Cengkeh, bahan baku paling esensial dari kretek --selain tembakau, tentu saja-- pun kembali berjaya. Bahkan, sejak dasawarsa 1970an, telah menjadi salah satu penyumbang terbesar keuangan negara Republik Indonesia. Pada tahun 2012 dan 2013, pemasukan cukai dari industri kretek mencatat 95,5% dari seluruh pemasukan cukai ke kas negara. Nilainya tak tanggung-tanggung: Rp 87 triliun! (el-Guyanie, et.al.: 2013:4-5).<\/strong>
<\/p>\n \n\n \n

Nilai ekonomisnya yang sangat besar sempat menggoda penguasa otoriter rezim Presiden Soeharto, pada 1990-an, memberlakukan satu kebijakan \u2018Hongi Gaya Baru\u2019: monopoli perdagangan cengkeh dalam negeri melalui Badan Penyanggah dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) yang sangat merugikan petani. Harga cengkeh di tingkat petani penghasil anjlok sampai hanya Rp 2.000 - 3.000 per kilogram, lebih murah dari harga sebungkus kretek yang dihasilkan darinya.
<\/p>\n \n\n \n

Akibatnya, ratusan ribu pohon cengkeh di daerah-daerah penghasil utama --Maluku, Maluku Utara, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Selatan-- ditebangi atau dibiarkan terlantar tak terurus.
<\/p>\n \n\n \n

Gelombang reformasi sistem politik dan hukum nasional yang dimulai pada tahun 1998, akhirnya menjungkalkan rezim Soeharto dan BPPC dibubarkan, Pelan tapi pasti, harga cengkeh kembali merangkak naik, sehingga pada tahun 2012, bahkan melewati angka Rp 200.000 per kilogram. Para petani cengkeh di seluruh negeri kembali tersenyum. Tetapi, sampai kapan? <\/p>\n \n\n \n

Catatan:<\/strong><\/p>\n \n\n \n

[1] Beberapa sumber menyebutkan bahwa kata \u2018cengkeh\u2019 dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Mandarin, tkeng-his atau xi\u2019jia, yang berarti \u2018rempah [berbentuk mirip] paku\u2019 (scented nails). Ini menunjukkan bahwa cengkeh sudah dikenal sejak lama oleh bangsa Cina --diketahui sejak abad-2-- jauh sebelum orang Eropa mengenalnya ((lihat, misalnya: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n \n\n \n

[2] Catatan-catatan para biarawan Fransiskan --yang disalin dan dikutip oleh van Frassen-- bahkan menyebut cengkeh sebagai salah satu bahan utama pengawet mumi para Fir\u2019aun, penguasa Mesir Kuno. Beberapa pakar sejarah dan arkeologi menyatakan bahwa rempah-rempah Maluku bahkan sudah ditemukan artefaknya di Lembah Mesopotomia (wilayah Iraq dan sekitarnya sekarang) pada 3.000 tahun sebelum Masehi. (lihat, antara lain: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n \n\n \n

[3] Uraian lebih rinci sejarah kolonialisme rempah-rempah Nusantara ini, terutama oleh Belanda dan Portugis, dapat dibaca pada beberapa sumber kepustakaan yang sudah dikenal luas, antara lain: Glamann (1958) dan Boxer (1965 dan 1969). Dalam risalah klasik Pires disebutkan bahwa pada tahun 1512-1521 saja, jumlah produksi cengkeh di Maluku sudah mencapai 7.250 bahar per tahun, terbesar adalah di Makian serta Amboina dan Lease (masing-masing 1.500 bahar)(Pires, 1512-1515).<\/em>
<\/p>\n \n\n \n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem Topatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n ","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-10 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-02-10 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5425","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5415,"post_author":"878","post_date":"2019-02-07 12:15:55","post_date_gmt":"2019-02-07 05:15:55","post_content":" \n

Belakangan ini, ketika musim hujan tiba, di Kabupaten Temanggung, Kabupaten Jember, dan beberapa wilayah sentra pertanian tembakau lainnya, hampir mustahil menemukan tanaman tembakau tumbuh di lahan-lahan milik petani. Di wilayah-wilayah tersebut, citra sebagai sentra pertanian tembakau seakan menguap. Lahan-lahan yang ada di sana, sama sekali tidak ditumbuhi tanaman tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Kabar ini bisa jadi dianggap sebagai kabar gembira bagi mereka yang menganggap diri dan kelompoknya anti-rokok dan anti-tembakau yang selalu mengampanyekan sikap-sikap mereka terkait kebencian kepada tembakau dan aktivitas merokok. Setelah sekian lama berjuang, akhirnya perjuangan mereka dirasa berhasil usai menyaksikan fenomena lahan-lahan di wilayah yang dianggap sentra pertanian tembakau pada hari-hari belakangan ini.<\/p>\n \n\n \n

Baca juga: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Tak sia-sia turun ke jalan, tak sia-sia melakukan lobi-lobi ke penguasa, tak sia-sia mengucurkan uang yang tidak sedikit, dan tak sia-sia mempermalukan diri dengan mengemis ke lembaga donor asing dan menggondol uang dari cukai tembakau untuk mengampanyekan gerakan anti-rokok dan anti-tembakau. Tak sia-sia. Karena perjuangan sepertinya berhasil.<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

Kampanye-kampanye gerakan mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya, sepertinya juga sangat berhasil. Bagaimana tidak? Wilayah-wilayah yang sebelumnya penuh dengan tanaman tembakau dan bergeliat dengannya, kini lahan-lahannya sudah berganti dengan tanaman lain. Sebuah keberhasilan yang menggembirakan. Begitu mungkin pikir mereka para yang menganggap dirinya pejuang anti-rokok dan anti-tembakau. Dan tentu saja mereka akan kecele dan kita akan menertawakan hal itu.<\/p>\n \n\n \n

Sayangnya, mereka yang menganggap dirinya anti-rokok dan anti-tembakau tidak menyaksikan langsung fenomena ini di lapangan, di lahan-lahan yang peruntukannya berubah pada hari-hari belakangan ini ketika memasuki musim hujan. Mereka asyik duduk pada kursi empuk di ruang-ruang nyaman ber-AC di kota-kota yang jauh dari kultur pertanian. Mereka menyengajakan diri menjadi elit dan enggan untuk turun melihat langsung ke lapangan. Kalaupun ada yang turun langsung ke lapangan, hanya segelintir saja dari mereka, itupun sekadar formalitas saja. Tak pernah benar-benar mau turun ke lapangan, hidup dan merasakan langsung kultur pertanian tembakau dalam jangka waktu cukup lama di lapangan.<\/p>\n \n\n \n

Baca juga: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Fenomena ini membikin kita tak bisa melihat mereka para anti-rokok kecele lalu menertawakan mereka.<\/strong> Fenomena keengganan terjun langsung ke lapangan terlebih mencoba mendengar mereka yang tetap menanam tembakau, juga menjalani keseharian dalam waktu cukup lama bersama petani tembakau inilah yang saya kira menjadikan mereka tetap keras kepala untuk anti-rokok dan anti-tembakau. Karena jika mereka mau melakukan itu, saya yakin mereka semua tidak akan begitu kaku dalam memandang pertanian tembakau dan produk hasil industri tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Salah satu yang selalu mereka kampanyekan dan ngotot dengan itu, terkait hulu pertanian tembakau adalah mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya. Mereka berargumen banyak tanaman lain yang bisa semenguntungkan tanaman tembakau. Keengganan mereka terjun langsung ke lapangan inilah yang membikin mereka buta dengan kondisi pertanian tembakau dan pada akhirnya terus menerus mengampanyekan pergantian tanaman tembakau dengan tanaman lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Baca juga: Imanlah kepada Allah, Bukan Antirokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Tembakau tanaman yang khas. Ia hanya tumbuh baik sepanjang empat hingga lima bulan dalam satu tahun. Tumbuh-kembang tanaman tembakau dengan baik itu umumnya terjadi pada musim kemarau setiap tahunnya. Hanya sedikit sekali jenis tembakau yang tumbuh baik di musim penghujan, mayoritasnya, tumbuh baik pada musim kemarau.<\/p>\n \n\n \n

Jika ditanam pada musim hujan, hampir bisa dipastikan tanaman tembakau akan gagal menghasilkan daun-daun yang berkualitas. Ia akan rusak dan membusuk karena terlalu banyak terkena air sehingga daun-daun itu tak layak dijual. Jangankan bisa dijual, untuk tumbuh dengan baik pun sepertinya sulit karena musim hujan akan membunuh banyak tanaman itu.<\/p>\n \n\n \n

Maka, tak heran pada musim-musim seperti saat ini, ketika musim penghujan mendekati puncaknya, di wilayah-wilayah yang dikenal sebagai sentra pertanian tembakau, sulit menemukan pohon tembakau yang sedang tumbuh. Pada lahan-lahan yang sebelumnya ditumbuhi tanaman tembakau pada musim panas, berganti tanaman-tanaman lain yang bermacam-macam, sesuai dengan kondisi lahannya. Untuk lahan sawah, lahan-lahan itu pada musim penghujan kini ditumbuhi tanaman padi yang subur. Pada lahan tegalan dan lahan di pegunungan, lahan-lahan yang ditanami tembakau pada musim kemarau, saat ini ditumbuhi bermacam jenis tanaman mulai dari cabai, bawang, tomat, kol, terong, mentimun, dan ragam jenis tanaman semusim lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Uniknya, tipikal tanaman tembakau yang tumbuh baik di musim kemarau ini memberi pilihan lebih kepada para petani. Lahan-lahan yang sulit ditanami pada musim kemarau, pada akhirnya masih bisa tetap produktif dengan keberadaan tanaman tembakau. <\/p>\n \n\n \n

Maka, kampanye aneh mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain dengan ragam rupa dalih yang membingungkan, bukan saja sama sekali tidak tepat dan asal-asalan, namun bisa jadi akan ditertawakan oleh para petani yang begitu paham dengan kondisi lahan dan terutama kondisi iklim dan cuaca. Sulit mencari tanaman semusim yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Jika pun ada, tak ada yang semenguntungkan tanaman tembakau.
<\/p>\n ","post_title":"Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"keberhasilan-gerakan-anti-tembakau-tak-ada-tembakau-saat-musim-hujan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-07 12:16:02","post_modified_gmt":"2019-02-07 05:16:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5415","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5409,"post_author":"919","post_date":"2019-02-05 08:04:43","post_date_gmt":"2019-02-05 01:04:43","post_content":" \n

Tahun Baru Imlek yang merupakan tradisi Bangsa Tiongkok kini sudah tak lagi menjadi hal yang asing bagi masyarakat Indonesia. Kehadirannya sudah mewarnai dan berakulturasi dengan tradisi lokal. Menjelang Tahun Baru Imlek. Berbagai hiasan dan kemeriahan terjadi beberapa titik di Tanah Air. Perayaannya juga menjadi destinasi baru yang mengasyikkan untuk dilihat dan patut disaksikan.<\/p>\n \n\n \n

Berterimakasihlah kepada sang bapak bangsa, KH Abdurrahman Wahid atau yang dikenal dengan nama Gus Dur. Berkat kebijakannya saat menjadi Presiden Indonesia, Tahun Baru Imlek resmi dijadikan hari libur nasional dan dianggap sebagai salah satu hari raya di Tanah Air. Meski sentimen antitionghoa masih ada di sana-sini, tapi tetap tak bisa dipungkiri bahwa bangsa tionghoa sudah bersentuhan dengan budaya lokal dalam kurun waktu yang sangat panjang.<\/p>\n \n\n \n

DNA Bangsa Tionghoa yang memang merupakan pedagang menjadi pembuka kisah interaksi antara nenek moyang berbagai suku di Nusantara dengan mereka. Beberapa kelenteng-kelenteng yang tersebar pada berbagai pesisir daerah di Nusantara jadi buktinya. Pelabuhan-pelabuhan tua di tanah air dan ramainya perdagangan di pesisir mempermudah bangsa kita berhubungan dengan Bangsa Tionghoa.<\/p>\n \n\n \n

Baca Juga: Wong Kalang dan Kota Gede<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa kehadiran Bangsa Tionghoa di Nusantara tak hanya sebagai pedagang, namun juga sebagai pekerja (bahkan hingga pekerja kasar). Benny Setiono, seorang sejarahwan menyebutkan bahwa antara tahun 1760-1770 dalam jumlah yang besar memasuki nusantara melalui Kalimantan Barat. Mereka bekerja sebagai kuli pertambangan di sana dan di kemudian hari membentuk sebuah republik bernama Republik Lanfang yang konon katanya menjadi republik pertama di Asia Tenggara.<\/p>\n \n\n \n

Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n \n\n \n

Baca Juga: Imlek dan Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n

Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n \n\n \n

Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n \n\n \n

Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n \n\n \n

Baca Juga: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n \n\n \n

Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
<\/p>\n ","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_3o3","class":"epic_block_3"};

\n
\"\"\/<\/figure>\n ","post_title":"Sukses Bertani Tembakau Bersama Kemitraan Djarum di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sukses-bertani-tembakau-bersama-kemitraan-djarum-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-11 12:32:18","post_modified_gmt":"2019-02-11 05:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5433","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5425,"post_author":"922","post_date":"2019-02-10 09:07:33","post_date_gmt":"2019-02-10 02:07:33","post_content":"\n

Bahwa cengkeh [1] (Syzygium aromaticum) --bersama pala (Myristica fragrans)-- adalah dua tanaman asli (endemik) Kepulauan Maluku, sudah tak terbantahkan. Cengkeh dikenal dan diakui berasal dari \u2018Empat Pulau Gunung Maluku\u2019 (Maloko Kie Raha): Ternate, Tidore, Moti, dan Makian.
<\/p>\n \n\n \n

Adapun pala, berasal dari empat pulau kecil lainnya di tengah Laut Banda: Lonthor, Neira, Rhun, dan Ai. Pada penjelasan peta abad-16 oleh penjelajah dari Semenanjung Iberia, Fransisco Rodriguez, tertulis: \u201cEstas quatro Ilhas Azures suam as de molluquo homde nace ho crauzo\u201d<\/em> (Adalah empat pulau berwarna biru [dalam peta] yang disebut sebagai Kepulauan Maluku di mana rempah-rempah berasal) (Pires, 1512- 1515:213).
<\/p>\n \n\n \n

Sejak beberapa abad sebelum Masehi, adalah para saudagar Arab --melalui Samudera Hindia melintasi Iskandariyah dan Laut Tengah-- serta para pedagang Cina --melalui jalur \u2018Jalan Sutra\u2019 melintasi Asia Tengah dan Asia Barat-- yang membawa dan memperkenalkannya ke daratan Eropa. <\/p>\n \n\n \n

Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n \n\n \n

Bandar-bandar besar Tyre di Yunani dan Venesia di Italia menjadi pelabuhan utama rempah-rempah Maluku memasuki kehidupan dan peradaban Eropa. Selain sebagai bumbu masakan, rempah obat, dan ramuan wewangian, cengkeh dan pala juga menjadi bahan utama pengawet bahan pangan. [2]
<\/p>\n \n\n \n

Inilah yang membuat orang-orang Eropa untuk pertama kalinya dapat mengawetkan dan menimbun makanan selama bermusim-musim. Prosa indah Blair bersaudara menggambarkannya dengan sangat baik:
<\/p>\n \n\n \n

\u201cKemampuan menyimpan makanan lebih dari yang kami makan sekaligus berarti kemampuan menjual dan membelinya dalam jumlah besar --dan kota-kota dagang pun mekar. Perekonomian yang dihasilkannya mengarahkan kami ke zaman Pencerahan dan kemudian Revolusi Industri. Tak lama setelah kami menghirup aroma yang sangat kuat dari Timur itu dan mengubah kimiawi makanan kami, maka kami pun mampu melakukan lompatan besar dalam bidang budaya dan seni.\u201d (Blair & Blair, 2010; 30-31).<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

Baca: Cengkeh dan Kelapa di Kepulauan Anambas<\/a><\/h2>\n \n\n \n

Bukan hanya membuat perekonomian dan perdagangan serta ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang, cengkeh dan pala bahkan adalah faktor yang paling menentukan dalam kemunculan satu babakan paling mengenaskan dalam sejarah politik dunia, yakni zaman penjajahan (kolonialisme) Eropa, terutama atas-atas negeri- negeri Asia Selatan, Timur dan Tenggara, termasuk Indonesia.
<\/p>\n \n\n \n

Tergerak oleh sahwat menguasai rempah-rempah yang menggiurkan itu, bangsa-bangsa Eropa --terutama Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda-- pun menggelar ekspedisi-ekspedisi besar untuk menemukan cengkeh dan pala langsung di tanah asalnya. Ketika armada-armada mereka akhirnya mencapai perairan Kepulauan Maluku, pada abad-16, perang pun tak terhindarkan.
<\/p>\n \n\n \n

Mereka silih berganti saling mengalahkan, tetapi pemenang terakhir adalah Belanda. Melalui Perusahaan Dagang Hindia Timur (Vereenigde Oostindische Compagnie, VOC) yang dibentuk pada awal abad-17 (tepatnya tahun 1609), Belanda melancarkan ekspedisi Pelayaran Hongi (Hongie Tochten), untuk memusnahkan semua tanaman cengkeh di Ternate, Tidore, Moti, dan Makian, lalu membatasi ketat penanamnya hanya di Pulau-pulau Ambon dan Lease --yang lebih dekat ke Banda sebagai pusat pemerintahan mereka sebelum akhirnya dipindahkan ke Batavia.
<\/p>\n \n\n \n

Praktis, sejak akhir abad-16, Belanda pun menguasai penuh perdagangan rempah-rempah Maluku dengan jumlah produksi rerata 2.500 sampai 4.500 ton per tahun. [3]<\/p>\n \n\n \n

Baca: Budidaya Pohon Cengkeh<\/a><\/h2>\n \n\n \n

Meskipun peran utama rempah-rempah Maluku itu kemudian tergusur pada abad-18 dan 19 oleh beberapa barang eksotika tropis lainnya --hasil perkebunan-perkebunana besar baru di Pulau Sumatera dan Jawa: tebu, tembakau, lada, kopi, teh, nila, kelapa sawit, dan kayu jati-- namun sejarah sudah mencatat bahwa dua jenis rempah-rempah Maluku itulah yang mengawali penjelajahan sekaligus penjajahan kepulauan Nusantara oleh bangsa-bangsa Eropah, terutama Belanda (Topatimasang, ed., 2004:32). Jika saja tak pernah ada cengkeh dan pala di Maluku, mungkin sejarah kepulauan Nusantara ini akan berbeda sama sekali.
<\/p>\n \n\n \n

Masa suram cengkeh dan pala terus berlangsung sampai pertengahan abad-20. Rempah eksotika yang pernah membuat tergila-gila<\/p>\n \n\n \n

para saudagar Arab, pedagang Cina, serta kaum ningrat Eropa itu, tergantikan perannya oleh penemuan teknologi mesin pendingin berkat Revolusi Industri yang dimulai di Inggris pada pertengahan abad-18. Pasaran cengkeh di Eropa pun merosot tajam.
<\/p>\n \n\n \n

Nasibnya terselamatkan berkat penemuan oleh seorang Haji Djamhari di Kudus, Jawa Tengah. Pada akhir tahun 1880-an, Haji Djamhari menemukan kegunaan baru cengkeh sebagai ramuan utama rokok. Lahirlah satu produk baru yang unik, khas dan asli Indonesia: kretek! (Hanusz, 2000:ii).
<\/p>\n \n\n \n

Setelah seperempat abad hanya berkembang dalam skala kecil usaha rumah tangga, produksi kretek akhirnya menjelma menjadi industri besar sejak awal abad-20 yang dirintis oleh Haji Nitisemito (pendiri pabrik \u2018Jambu Bol\u2019) di Kudus dan Liem Seng Tee (pendiri pabrik \u2018Dji Sam Soe\u2019 dan \u2018Sampoerna\u2019) di Surabaya.
<\/p>\n \n\n \n

Puncaknya adalah pada pertengahan tahun 1950-an, ketika produksi kretek mulai berkembang pesat menjadi industri raksasa modern dengan munculnya beberapa pabrik baru, antara lain, yang terkemuka, oleh Oei Wei Gwan (pendiri pabrik \u2018Djarum\u2019) di Kudus dan Tjou Ing Hwie (pendiri pabrik \u2018Gudang Garam\u2019) di Kediri (Topatimasang, et.al., eds., 2010:131).<\/p>\n \n\n \n

Baca: Teruslah Menanam Tembakau dan Cengkeh, Wahai Petani Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n

Cengkeh, bahan baku paling esensial dari kretek --selain tembakau, tentu saja-- pun kembali berjaya. Bahkan, sejak dasawarsa 1970an, telah menjadi salah satu penyumbang terbesar keuangan negara Republik Indonesia. Pada tahun 2012 dan 2013, pemasukan cukai dari industri kretek mencatat 95,5% dari seluruh pemasukan cukai ke kas negara. Nilainya tak tanggung-tanggung: Rp 87 triliun! (el-Guyanie, et.al.: 2013:4-5).<\/strong>
<\/p>\n \n\n \n

Nilai ekonomisnya yang sangat besar sempat menggoda penguasa otoriter rezim Presiden Soeharto, pada 1990-an, memberlakukan satu kebijakan \u2018Hongi Gaya Baru\u2019: monopoli perdagangan cengkeh dalam negeri melalui Badan Penyanggah dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) yang sangat merugikan petani. Harga cengkeh di tingkat petani penghasil anjlok sampai hanya Rp 2.000 - 3.000 per kilogram, lebih murah dari harga sebungkus kretek yang dihasilkan darinya.
<\/p>\n \n\n \n

Akibatnya, ratusan ribu pohon cengkeh di daerah-daerah penghasil utama --Maluku, Maluku Utara, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Selatan-- ditebangi atau dibiarkan terlantar tak terurus.
<\/p>\n \n\n \n

Gelombang reformasi sistem politik dan hukum nasional yang dimulai pada tahun 1998, akhirnya menjungkalkan rezim Soeharto dan BPPC dibubarkan, Pelan tapi pasti, harga cengkeh kembali merangkak naik, sehingga pada tahun 2012, bahkan melewati angka Rp 200.000 per kilogram. Para petani cengkeh di seluruh negeri kembali tersenyum. Tetapi, sampai kapan? <\/p>\n \n\n \n

Catatan:<\/strong><\/p>\n \n\n \n

[1] Beberapa sumber menyebutkan bahwa kata \u2018cengkeh\u2019 dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Mandarin, tkeng-his atau xi\u2019jia, yang berarti \u2018rempah [berbentuk mirip] paku\u2019 (scented nails). Ini menunjukkan bahwa cengkeh sudah dikenal sejak lama oleh bangsa Cina --diketahui sejak abad-2-- jauh sebelum orang Eropa mengenalnya ((lihat, misalnya: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n \n\n \n

[2] Catatan-catatan para biarawan Fransiskan --yang disalin dan dikutip oleh van Frassen-- bahkan menyebut cengkeh sebagai salah satu bahan utama pengawet mumi para Fir\u2019aun, penguasa Mesir Kuno. Beberapa pakar sejarah dan arkeologi menyatakan bahwa rempah-rempah Maluku bahkan sudah ditemukan artefaknya di Lembah Mesopotomia (wilayah Iraq dan sekitarnya sekarang) pada 3.000 tahun sebelum Masehi. (lihat, antara lain: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n \n\n \n

[3] Uraian lebih rinci sejarah kolonialisme rempah-rempah Nusantara ini, terutama oleh Belanda dan Portugis, dapat dibaca pada beberapa sumber kepustakaan yang sudah dikenal luas, antara lain: Glamann (1958) dan Boxer (1965 dan 1969). Dalam risalah klasik Pires disebutkan bahwa pada tahun 1512-1521 saja, jumlah produksi cengkeh di Maluku sudah mencapai 7.250 bahar per tahun, terbesar adalah di Makian serta Amboina dan Lease (masing-masing 1.500 bahar)(Pires, 1512-1515).<\/em>
<\/p>\n \n\n \n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem Topatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n ","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-10 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-02-10 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5425","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5415,"post_author":"878","post_date":"2019-02-07 12:15:55","post_date_gmt":"2019-02-07 05:15:55","post_content":" \n

Belakangan ini, ketika musim hujan tiba, di Kabupaten Temanggung, Kabupaten Jember, dan beberapa wilayah sentra pertanian tembakau lainnya, hampir mustahil menemukan tanaman tembakau tumbuh di lahan-lahan milik petani. Di wilayah-wilayah tersebut, citra sebagai sentra pertanian tembakau seakan menguap. Lahan-lahan yang ada di sana, sama sekali tidak ditumbuhi tanaman tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Kabar ini bisa jadi dianggap sebagai kabar gembira bagi mereka yang menganggap diri dan kelompoknya anti-rokok dan anti-tembakau yang selalu mengampanyekan sikap-sikap mereka terkait kebencian kepada tembakau dan aktivitas merokok. Setelah sekian lama berjuang, akhirnya perjuangan mereka dirasa berhasil usai menyaksikan fenomena lahan-lahan di wilayah yang dianggap sentra pertanian tembakau pada hari-hari belakangan ini.<\/p>\n \n\n \n

Baca juga: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Tak sia-sia turun ke jalan, tak sia-sia melakukan lobi-lobi ke penguasa, tak sia-sia mengucurkan uang yang tidak sedikit, dan tak sia-sia mempermalukan diri dengan mengemis ke lembaga donor asing dan menggondol uang dari cukai tembakau untuk mengampanyekan gerakan anti-rokok dan anti-tembakau. Tak sia-sia. Karena perjuangan sepertinya berhasil.<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

Kampanye-kampanye gerakan mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya, sepertinya juga sangat berhasil. Bagaimana tidak? Wilayah-wilayah yang sebelumnya penuh dengan tanaman tembakau dan bergeliat dengannya, kini lahan-lahannya sudah berganti dengan tanaman lain. Sebuah keberhasilan yang menggembirakan. Begitu mungkin pikir mereka para yang menganggap dirinya pejuang anti-rokok dan anti-tembakau. Dan tentu saja mereka akan kecele dan kita akan menertawakan hal itu.<\/p>\n \n\n \n

Sayangnya, mereka yang menganggap dirinya anti-rokok dan anti-tembakau tidak menyaksikan langsung fenomena ini di lapangan, di lahan-lahan yang peruntukannya berubah pada hari-hari belakangan ini ketika memasuki musim hujan. Mereka asyik duduk pada kursi empuk di ruang-ruang nyaman ber-AC di kota-kota yang jauh dari kultur pertanian. Mereka menyengajakan diri menjadi elit dan enggan untuk turun melihat langsung ke lapangan. Kalaupun ada yang turun langsung ke lapangan, hanya segelintir saja dari mereka, itupun sekadar formalitas saja. Tak pernah benar-benar mau turun ke lapangan, hidup dan merasakan langsung kultur pertanian tembakau dalam jangka waktu cukup lama di lapangan.<\/p>\n \n\n \n

Baca juga: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Fenomena ini membikin kita tak bisa melihat mereka para anti-rokok kecele lalu menertawakan mereka.<\/strong> Fenomena keengganan terjun langsung ke lapangan terlebih mencoba mendengar mereka yang tetap menanam tembakau, juga menjalani keseharian dalam waktu cukup lama bersama petani tembakau inilah yang saya kira menjadikan mereka tetap keras kepala untuk anti-rokok dan anti-tembakau. Karena jika mereka mau melakukan itu, saya yakin mereka semua tidak akan begitu kaku dalam memandang pertanian tembakau dan produk hasil industri tembakau.<\/p>\n \n\n \n

Salah satu yang selalu mereka kampanyekan dan ngotot dengan itu, terkait hulu pertanian tembakau adalah mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya. Mereka berargumen banyak tanaman lain yang bisa semenguntungkan tanaman tembakau. Keengganan mereka terjun langsung ke lapangan inilah yang membikin mereka buta dengan kondisi pertanian tembakau dan pada akhirnya terus menerus mengampanyekan pergantian tanaman tembakau dengan tanaman lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Baca juga: Imanlah kepada Allah, Bukan Antirokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Tembakau tanaman yang khas. Ia hanya tumbuh baik sepanjang empat hingga lima bulan dalam satu tahun. Tumbuh-kembang tanaman tembakau dengan baik itu umumnya terjadi pada musim kemarau setiap tahunnya. Hanya sedikit sekali jenis tembakau yang tumbuh baik di musim penghujan, mayoritasnya, tumbuh baik pada musim kemarau.<\/p>\n \n\n \n

Jika ditanam pada musim hujan, hampir bisa dipastikan tanaman tembakau akan gagal menghasilkan daun-daun yang berkualitas. Ia akan rusak dan membusuk karena terlalu banyak terkena air sehingga daun-daun itu tak layak dijual. Jangankan bisa dijual, untuk tumbuh dengan baik pun sepertinya sulit karena musim hujan akan membunuh banyak tanaman itu.<\/p>\n \n\n \n

Maka, tak heran pada musim-musim seperti saat ini, ketika musim penghujan mendekati puncaknya, di wilayah-wilayah yang dikenal sebagai sentra pertanian tembakau, sulit menemukan pohon tembakau yang sedang tumbuh. Pada lahan-lahan yang sebelumnya ditumbuhi tanaman tembakau pada musim panas, berganti tanaman-tanaman lain yang bermacam-macam, sesuai dengan kondisi lahannya. Untuk lahan sawah, lahan-lahan itu pada musim penghujan kini ditumbuhi tanaman padi yang subur. Pada lahan tegalan dan lahan di pegunungan, lahan-lahan yang ditanami tembakau pada musim kemarau, saat ini ditumbuhi bermacam jenis tanaman mulai dari cabai, bawang, tomat, kol, terong, mentimun, dan ragam jenis tanaman semusim lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Uniknya, tipikal tanaman tembakau yang tumbuh baik di musim kemarau ini memberi pilihan lebih kepada para petani. Lahan-lahan yang sulit ditanami pada musim kemarau, pada akhirnya masih bisa tetap produktif dengan keberadaan tanaman tembakau. <\/p>\n \n\n \n

Maka, kampanye aneh mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain dengan ragam rupa dalih yang membingungkan, bukan saja sama sekali tidak tepat dan asal-asalan, namun bisa jadi akan ditertawakan oleh para petani yang begitu paham dengan kondisi lahan dan terutama kondisi iklim dan cuaca. Sulit mencari tanaman semusim yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Jika pun ada, tak ada yang semenguntungkan tanaman tembakau.
<\/p>\n ","post_title":"Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"keberhasilan-gerakan-anti-tembakau-tak-ada-tembakau-saat-musim-hujan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-07 12:16:02","post_modified_gmt":"2019-02-07 05:16:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5415","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5409,"post_author":"919","post_date":"2019-02-05 08:04:43","post_date_gmt":"2019-02-05 01:04:43","post_content":" \n

Tahun Baru Imlek yang merupakan tradisi Bangsa Tiongkok kini sudah tak lagi menjadi hal yang asing bagi masyarakat Indonesia. Kehadirannya sudah mewarnai dan berakulturasi dengan tradisi lokal. Menjelang Tahun Baru Imlek. Berbagai hiasan dan kemeriahan terjadi beberapa titik di Tanah Air. Perayaannya juga menjadi destinasi baru yang mengasyikkan untuk dilihat dan patut disaksikan.<\/p>\n \n\n \n

Berterimakasihlah kepada sang bapak bangsa, KH Abdurrahman Wahid atau yang dikenal dengan nama Gus Dur. Berkat kebijakannya saat menjadi Presiden Indonesia, Tahun Baru Imlek resmi dijadikan hari libur nasional dan dianggap sebagai salah satu hari raya di Tanah Air. Meski sentimen antitionghoa masih ada di sana-sini, tapi tetap tak bisa dipungkiri bahwa bangsa tionghoa sudah bersentuhan dengan budaya lokal dalam kurun waktu yang sangat panjang.<\/p>\n \n\n \n

DNA Bangsa Tionghoa yang memang merupakan pedagang menjadi pembuka kisah interaksi antara nenek moyang berbagai suku di Nusantara dengan mereka. Beberapa kelenteng-kelenteng yang tersebar pada berbagai pesisir daerah di Nusantara jadi buktinya. Pelabuhan-pelabuhan tua di tanah air dan ramainya perdagangan di pesisir mempermudah bangsa kita berhubungan dengan Bangsa Tionghoa.<\/p>\n \n\n \n

Baca Juga: Wong Kalang dan Kota Gede<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa kehadiran Bangsa Tionghoa di Nusantara tak hanya sebagai pedagang, namun juga sebagai pekerja (bahkan hingga pekerja kasar). Benny Setiono, seorang sejarahwan menyebutkan bahwa antara tahun 1760-1770 dalam jumlah yang besar memasuki nusantara melalui Kalimantan Barat. Mereka bekerja sebagai kuli pertambangan di sana dan di kemudian hari membentuk sebuah republik bernama Republik Lanfang yang konon katanya menjadi republik pertama di Asia Tenggara.<\/p>\n \n\n \n

Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n \n\n \n

Baca Juga: Imlek dan Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n

Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n \n\n \n

Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n \n\n \n

Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n \n\n \n

Baca Juga: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n \n\n \n

Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
<\/p>\n ","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_3o3","class":"epic_block_3"};

\n
  1. Tahapan Perawatan<\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n\n
    \"\"\/<\/figure>\n ","post_title":"Sukses Bertani Tembakau Bersama Kemitraan Djarum di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sukses-bertani-tembakau-bersama-kemitraan-djarum-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-11 12:32:18","post_modified_gmt":"2019-02-11 05:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5433","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5425,"post_author":"922","post_date":"2019-02-10 09:07:33","post_date_gmt":"2019-02-10 02:07:33","post_content":" \n

    Bahwa cengkeh [1] (Syzygium aromaticum) --bersama pala (Myristica fragrans)-- adalah dua tanaman asli (endemik) Kepulauan Maluku, sudah tak terbantahkan. Cengkeh dikenal dan diakui berasal dari \u2018Empat Pulau Gunung Maluku\u2019 (Maloko Kie Raha): Ternate, Tidore, Moti, dan Makian.
    <\/p>\n \n\n \n

    Adapun pala, berasal dari empat pulau kecil lainnya di tengah Laut Banda: Lonthor, Neira, Rhun, dan Ai. Pada penjelasan peta abad-16 oleh penjelajah dari Semenanjung Iberia, Fransisco Rodriguez, tertulis: \u201cEstas quatro Ilhas Azures suam as de molluquo homde nace ho crauzo\u201d<\/em> (Adalah empat pulau berwarna biru [dalam peta] yang disebut sebagai Kepulauan Maluku di mana rempah-rempah berasal) (Pires, 1512- 1515:213).
    <\/p>\n \n\n \n

    Sejak beberapa abad sebelum Masehi, adalah para saudagar Arab --melalui Samudera Hindia melintasi Iskandariyah dan Laut Tengah-- serta para pedagang Cina --melalui jalur \u2018Jalan Sutra\u2019 melintasi Asia Tengah dan Asia Barat-- yang membawa dan memperkenalkannya ke daratan Eropa. <\/p>\n \n\n \n

    Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n \n\n \n

    Bandar-bandar besar Tyre di Yunani dan Venesia di Italia menjadi pelabuhan utama rempah-rempah Maluku memasuki kehidupan dan peradaban Eropa. Selain sebagai bumbu masakan, rempah obat, dan ramuan wewangian, cengkeh dan pala juga menjadi bahan utama pengawet bahan pangan. [2]
    <\/p>\n \n\n \n

    Inilah yang membuat orang-orang Eropa untuk pertama kalinya dapat mengawetkan dan menimbun makanan selama bermusim-musim. Prosa indah Blair bersaudara menggambarkannya dengan sangat baik:
    <\/p>\n \n\n \n

    \u201cKemampuan menyimpan makanan lebih dari yang kami makan sekaligus berarti kemampuan menjual dan membelinya dalam jumlah besar --dan kota-kota dagang pun mekar. Perekonomian yang dihasilkannya mengarahkan kami ke zaman Pencerahan dan kemudian Revolusi Industri. Tak lama setelah kami menghirup aroma yang sangat kuat dari Timur itu dan mengubah kimiawi makanan kami, maka kami pun mampu melakukan lompatan besar dalam bidang budaya dan seni.\u201d (Blair & Blair, 2010; 30-31).<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

    Baca: Cengkeh dan Kelapa di Kepulauan Anambas<\/a><\/h2>\n \n\n \n

    Bukan hanya membuat perekonomian dan perdagangan serta ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang, cengkeh dan pala bahkan adalah faktor yang paling menentukan dalam kemunculan satu babakan paling mengenaskan dalam sejarah politik dunia, yakni zaman penjajahan (kolonialisme) Eropa, terutama atas-atas negeri- negeri Asia Selatan, Timur dan Tenggara, termasuk Indonesia.
    <\/p>\n \n\n \n

    Tergerak oleh sahwat menguasai rempah-rempah yang menggiurkan itu, bangsa-bangsa Eropa --terutama Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda-- pun menggelar ekspedisi-ekspedisi besar untuk menemukan cengkeh dan pala langsung di tanah asalnya. Ketika armada-armada mereka akhirnya mencapai perairan Kepulauan Maluku, pada abad-16, perang pun tak terhindarkan.
    <\/p>\n \n\n \n

    Mereka silih berganti saling mengalahkan, tetapi pemenang terakhir adalah Belanda. Melalui Perusahaan Dagang Hindia Timur (Vereenigde Oostindische Compagnie, VOC) yang dibentuk pada awal abad-17 (tepatnya tahun 1609), Belanda melancarkan ekspedisi Pelayaran Hongi (Hongie Tochten), untuk memusnahkan semua tanaman cengkeh di Ternate, Tidore, Moti, dan Makian, lalu membatasi ketat penanamnya hanya di Pulau-pulau Ambon dan Lease --yang lebih dekat ke Banda sebagai pusat pemerintahan mereka sebelum akhirnya dipindahkan ke Batavia.
    <\/p>\n \n\n \n

    Praktis, sejak akhir abad-16, Belanda pun menguasai penuh perdagangan rempah-rempah Maluku dengan jumlah produksi rerata 2.500 sampai 4.500 ton per tahun. [3]<\/p>\n \n\n \n

    Baca: Budidaya Pohon Cengkeh<\/a><\/h2>\n \n\n \n

    Meskipun peran utama rempah-rempah Maluku itu kemudian tergusur pada abad-18 dan 19 oleh beberapa barang eksotika tropis lainnya --hasil perkebunan-perkebunana besar baru di Pulau Sumatera dan Jawa: tebu, tembakau, lada, kopi, teh, nila, kelapa sawit, dan kayu jati-- namun sejarah sudah mencatat bahwa dua jenis rempah-rempah Maluku itulah yang mengawali penjelajahan sekaligus penjajahan kepulauan Nusantara oleh bangsa-bangsa Eropah, terutama Belanda (Topatimasang, ed., 2004:32). Jika saja tak pernah ada cengkeh dan pala di Maluku, mungkin sejarah kepulauan Nusantara ini akan berbeda sama sekali.
    <\/p>\n \n\n \n

    Masa suram cengkeh dan pala terus berlangsung sampai pertengahan abad-20. Rempah eksotika yang pernah membuat tergila-gila<\/p>\n \n\n \n

    para saudagar Arab, pedagang Cina, serta kaum ningrat Eropa itu, tergantikan perannya oleh penemuan teknologi mesin pendingin berkat Revolusi Industri yang dimulai di Inggris pada pertengahan abad-18. Pasaran cengkeh di Eropa pun merosot tajam.
    <\/p>\n \n\n \n

    Nasibnya terselamatkan berkat penemuan oleh seorang Haji Djamhari di Kudus, Jawa Tengah. Pada akhir tahun 1880-an, Haji Djamhari menemukan kegunaan baru cengkeh sebagai ramuan utama rokok. Lahirlah satu produk baru yang unik, khas dan asli Indonesia: kretek! (Hanusz, 2000:ii).
    <\/p>\n \n\n \n

    Setelah seperempat abad hanya berkembang dalam skala kecil usaha rumah tangga, produksi kretek akhirnya menjelma menjadi industri besar sejak awal abad-20 yang dirintis oleh Haji Nitisemito (pendiri pabrik \u2018Jambu Bol\u2019) di Kudus dan Liem Seng Tee (pendiri pabrik \u2018Dji Sam Soe\u2019 dan \u2018Sampoerna\u2019) di Surabaya.
    <\/p>\n \n\n \n

    Puncaknya adalah pada pertengahan tahun 1950-an, ketika produksi kretek mulai berkembang pesat menjadi industri raksasa modern dengan munculnya beberapa pabrik baru, antara lain, yang terkemuka, oleh Oei Wei Gwan (pendiri pabrik \u2018Djarum\u2019) di Kudus dan Tjou Ing Hwie (pendiri pabrik \u2018Gudang Garam\u2019) di Kediri (Topatimasang, et.al., eds., 2010:131).<\/p>\n \n\n \n

    Baca: Teruslah Menanam Tembakau dan Cengkeh, Wahai Petani Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n

    Cengkeh, bahan baku paling esensial dari kretek --selain tembakau, tentu saja-- pun kembali berjaya. Bahkan, sejak dasawarsa 1970an, telah menjadi salah satu penyumbang terbesar keuangan negara Republik Indonesia. Pada tahun 2012 dan 2013, pemasukan cukai dari industri kretek mencatat 95,5% dari seluruh pemasukan cukai ke kas negara. Nilainya tak tanggung-tanggung: Rp 87 triliun! (el-Guyanie, et.al.: 2013:4-5).<\/strong>
    <\/p>\n \n\n \n

    Nilai ekonomisnya yang sangat besar sempat menggoda penguasa otoriter rezim Presiden Soeharto, pada 1990-an, memberlakukan satu kebijakan \u2018Hongi Gaya Baru\u2019: monopoli perdagangan cengkeh dalam negeri melalui Badan Penyanggah dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) yang sangat merugikan petani. Harga cengkeh di tingkat petani penghasil anjlok sampai hanya Rp 2.000 - 3.000 per kilogram, lebih murah dari harga sebungkus kretek yang dihasilkan darinya.
    <\/p>\n \n\n \n

    Akibatnya, ratusan ribu pohon cengkeh di daerah-daerah penghasil utama --Maluku, Maluku Utara, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Selatan-- ditebangi atau dibiarkan terlantar tak terurus.
    <\/p>\n \n\n \n

    Gelombang reformasi sistem politik dan hukum nasional yang dimulai pada tahun 1998, akhirnya menjungkalkan rezim Soeharto dan BPPC dibubarkan, Pelan tapi pasti, harga cengkeh kembali merangkak naik, sehingga pada tahun 2012, bahkan melewati angka Rp 200.000 per kilogram. Para petani cengkeh di seluruh negeri kembali tersenyum. Tetapi, sampai kapan? <\/p>\n \n\n \n

    Catatan:<\/strong><\/p>\n \n\n \n

    [1] Beberapa sumber menyebutkan bahwa kata \u2018cengkeh\u2019 dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Mandarin, tkeng-his atau xi\u2019jia, yang berarti \u2018rempah [berbentuk mirip] paku\u2019 (scented nails). Ini menunjukkan bahwa cengkeh sudah dikenal sejak lama oleh bangsa Cina --diketahui sejak abad-2-- jauh sebelum orang Eropa mengenalnya ((lihat, misalnya: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n \n\n \n

    [2] Catatan-catatan para biarawan Fransiskan --yang disalin dan dikutip oleh van Frassen-- bahkan menyebut cengkeh sebagai salah satu bahan utama pengawet mumi para Fir\u2019aun, penguasa Mesir Kuno. Beberapa pakar sejarah dan arkeologi menyatakan bahwa rempah-rempah Maluku bahkan sudah ditemukan artefaknya di Lembah Mesopotomia (wilayah Iraq dan sekitarnya sekarang) pada 3.000 tahun sebelum Masehi. (lihat, antara lain: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n \n\n \n

    [3] Uraian lebih rinci sejarah kolonialisme rempah-rempah Nusantara ini, terutama oleh Belanda dan Portugis, dapat dibaca pada beberapa sumber kepustakaan yang sudah dikenal luas, antara lain: Glamann (1958) dan Boxer (1965 dan 1969). Dalam risalah klasik Pires disebutkan bahwa pada tahun 1512-1521 saja, jumlah produksi cengkeh di Maluku sudah mencapai 7.250 bahar per tahun, terbesar adalah di Makian serta Amboina dan Lease (masing-masing 1.500 bahar)(Pires, 1512-1515).<\/em>
    <\/p>\n \n\n \n

    Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem Topatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
    <\/p>\n ","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-10 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-02-10 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5425","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5415,"post_author":"878","post_date":"2019-02-07 12:15:55","post_date_gmt":"2019-02-07 05:15:55","post_content":" \n

    Belakangan ini, ketika musim hujan tiba, di Kabupaten Temanggung, Kabupaten Jember, dan beberapa wilayah sentra pertanian tembakau lainnya, hampir mustahil menemukan tanaman tembakau tumbuh di lahan-lahan milik petani. Di wilayah-wilayah tersebut, citra sebagai sentra pertanian tembakau seakan menguap. Lahan-lahan yang ada di sana, sama sekali tidak ditumbuhi tanaman tembakau.<\/p>\n \n\n \n

    Kabar ini bisa jadi dianggap sebagai kabar gembira bagi mereka yang menganggap diri dan kelompoknya anti-rokok dan anti-tembakau yang selalu mengampanyekan sikap-sikap mereka terkait kebencian kepada tembakau dan aktivitas merokok. Setelah sekian lama berjuang, akhirnya perjuangan mereka dirasa berhasil usai menyaksikan fenomena lahan-lahan di wilayah yang dianggap sentra pertanian tembakau pada hari-hari belakangan ini.<\/p>\n \n\n \n

    Baca juga: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/h3>\n \n\n \n

    Tak sia-sia turun ke jalan, tak sia-sia melakukan lobi-lobi ke penguasa, tak sia-sia mengucurkan uang yang tidak sedikit, dan tak sia-sia mempermalukan diri dengan mengemis ke lembaga donor asing dan menggondol uang dari cukai tembakau untuk mengampanyekan gerakan anti-rokok dan anti-tembakau. Tak sia-sia. Karena perjuangan sepertinya berhasil.<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

    Kampanye-kampanye gerakan mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya, sepertinya juga sangat berhasil. Bagaimana tidak? Wilayah-wilayah yang sebelumnya penuh dengan tanaman tembakau dan bergeliat dengannya, kini lahan-lahannya sudah berganti dengan tanaman lain. Sebuah keberhasilan yang menggembirakan. Begitu mungkin pikir mereka para yang menganggap dirinya pejuang anti-rokok dan anti-tembakau. Dan tentu saja mereka akan kecele dan kita akan menertawakan hal itu.<\/p>\n \n\n \n

    Sayangnya, mereka yang menganggap dirinya anti-rokok dan anti-tembakau tidak menyaksikan langsung fenomena ini di lapangan, di lahan-lahan yang peruntukannya berubah pada hari-hari belakangan ini ketika memasuki musim hujan. Mereka asyik duduk pada kursi empuk di ruang-ruang nyaman ber-AC di kota-kota yang jauh dari kultur pertanian. Mereka menyengajakan diri menjadi elit dan enggan untuk turun melihat langsung ke lapangan. Kalaupun ada yang turun langsung ke lapangan, hanya segelintir saja dari mereka, itupun sekadar formalitas saja. Tak pernah benar-benar mau turun ke lapangan, hidup dan merasakan langsung kultur pertanian tembakau dalam jangka waktu cukup lama di lapangan.<\/p>\n \n\n \n

    Baca juga: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

    Fenomena ini membikin kita tak bisa melihat mereka para anti-rokok kecele lalu menertawakan mereka.<\/strong> Fenomena keengganan terjun langsung ke lapangan terlebih mencoba mendengar mereka yang tetap menanam tembakau, juga menjalani keseharian dalam waktu cukup lama bersama petani tembakau inilah yang saya kira menjadikan mereka tetap keras kepala untuk anti-rokok dan anti-tembakau. Karena jika mereka mau melakukan itu, saya yakin mereka semua tidak akan begitu kaku dalam memandang pertanian tembakau dan produk hasil industri tembakau.<\/p>\n \n\n \n

    Salah satu yang selalu mereka kampanyekan dan ngotot dengan itu, terkait hulu pertanian tembakau adalah mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya. Mereka berargumen banyak tanaman lain yang bisa semenguntungkan tanaman tembakau. Keengganan mereka terjun langsung ke lapangan inilah yang membikin mereka buta dengan kondisi pertanian tembakau dan pada akhirnya terus menerus mengampanyekan pergantian tanaman tembakau dengan tanaman lainnya.<\/p>\n \n\n \n

    Baca juga: Imanlah kepada Allah, Bukan Antirokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

    Tembakau tanaman yang khas. Ia hanya tumbuh baik sepanjang empat hingga lima bulan dalam satu tahun. Tumbuh-kembang tanaman tembakau dengan baik itu umumnya terjadi pada musim kemarau setiap tahunnya. Hanya sedikit sekali jenis tembakau yang tumbuh baik di musim penghujan, mayoritasnya, tumbuh baik pada musim kemarau.<\/p>\n \n\n \n

    Jika ditanam pada musim hujan, hampir bisa dipastikan tanaman tembakau akan gagal menghasilkan daun-daun yang berkualitas. Ia akan rusak dan membusuk karena terlalu banyak terkena air sehingga daun-daun itu tak layak dijual. Jangankan bisa dijual, untuk tumbuh dengan baik pun sepertinya sulit karena musim hujan akan membunuh banyak tanaman itu.<\/p>\n \n\n \n

    Maka, tak heran pada musim-musim seperti saat ini, ketika musim penghujan mendekati puncaknya, di wilayah-wilayah yang dikenal sebagai sentra pertanian tembakau, sulit menemukan pohon tembakau yang sedang tumbuh. Pada lahan-lahan yang sebelumnya ditumbuhi tanaman tembakau pada musim panas, berganti tanaman-tanaman lain yang bermacam-macam, sesuai dengan kondisi lahannya. Untuk lahan sawah, lahan-lahan itu pada musim penghujan kini ditumbuhi tanaman padi yang subur. Pada lahan tegalan dan lahan di pegunungan, lahan-lahan yang ditanami tembakau pada musim kemarau, saat ini ditumbuhi bermacam jenis tanaman mulai dari cabai, bawang, tomat, kol, terong, mentimun, dan ragam jenis tanaman semusim lainnya.<\/p>\n \n\n \n

    Uniknya, tipikal tanaman tembakau yang tumbuh baik di musim kemarau ini memberi pilihan lebih kepada para petani. Lahan-lahan yang sulit ditanami pada musim kemarau, pada akhirnya masih bisa tetap produktif dengan keberadaan tanaman tembakau. <\/p>\n \n\n \n

    Maka, kampanye aneh mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain dengan ragam rupa dalih yang membingungkan, bukan saja sama sekali tidak tepat dan asal-asalan, namun bisa jadi akan ditertawakan oleh para petani yang begitu paham dengan kondisi lahan dan terutama kondisi iklim dan cuaca. Sulit mencari tanaman semusim yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Jika pun ada, tak ada yang semenguntungkan tanaman tembakau.
    <\/p>\n ","post_title":"Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"keberhasilan-gerakan-anti-tembakau-tak-ada-tembakau-saat-musim-hujan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-07 12:16:02","post_modified_gmt":"2019-02-07 05:16:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5415","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5409,"post_author":"919","post_date":"2019-02-05 08:04:43","post_date_gmt":"2019-02-05 01:04:43","post_content":" \n

    Tahun Baru Imlek yang merupakan tradisi Bangsa Tiongkok kini sudah tak lagi menjadi hal yang asing bagi masyarakat Indonesia. Kehadirannya sudah mewarnai dan berakulturasi dengan tradisi lokal. Menjelang Tahun Baru Imlek. Berbagai hiasan dan kemeriahan terjadi beberapa titik di Tanah Air. Perayaannya juga menjadi destinasi baru yang mengasyikkan untuk dilihat dan patut disaksikan.<\/p>\n \n\n \n

    Berterimakasihlah kepada sang bapak bangsa, KH Abdurrahman Wahid atau yang dikenal dengan nama Gus Dur. Berkat kebijakannya saat menjadi Presiden Indonesia, Tahun Baru Imlek resmi dijadikan hari libur nasional dan dianggap sebagai salah satu hari raya di Tanah Air. Meski sentimen antitionghoa masih ada di sana-sini, tapi tetap tak bisa dipungkiri bahwa bangsa tionghoa sudah bersentuhan dengan budaya lokal dalam kurun waktu yang sangat panjang.<\/p>\n \n\n \n

    DNA Bangsa Tionghoa yang memang merupakan pedagang menjadi pembuka kisah interaksi antara nenek moyang berbagai suku di Nusantara dengan mereka. Beberapa kelenteng-kelenteng yang tersebar pada berbagai pesisir daerah di Nusantara jadi buktinya. Pelabuhan-pelabuhan tua di tanah air dan ramainya perdagangan di pesisir mempermudah bangsa kita berhubungan dengan Bangsa Tionghoa.<\/p>\n \n\n \n

    Baca Juga: Wong Kalang dan Kota Gede<\/a><\/h3>\n \n\n \n

    Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa kehadiran Bangsa Tionghoa di Nusantara tak hanya sebagai pedagang, namun juga sebagai pekerja (bahkan hingga pekerja kasar). Benny Setiono, seorang sejarahwan menyebutkan bahwa antara tahun 1760-1770 dalam jumlah yang besar memasuki nusantara melalui Kalimantan Barat. Mereka bekerja sebagai kuli pertambangan di sana dan di kemudian hari membentuk sebuah republik bernama Republik Lanfang yang konon katanya menjadi republik pertama di Asia Tenggara.<\/p>\n \n\n \n

    Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n \n\n \n

    Baca Juga: Imlek dan Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n

    Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n \n\n \n

    Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n \n\n \n

    Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n \n\n \n

    Baca Juga: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

    Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n \n\n \n

    Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
    <\/p>\n ","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_3o3","class":"epic_block_3"};

    \n

    ~ Hama yang sering dijumpai: semut (Decis), janggel, orong-orong <\/p>\n \n\n\n

    1. Tahapan Perawatan<\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n
      \"\"\/<\/figure>\n ","post_title":"Sukses Bertani Tembakau Bersama Kemitraan Djarum di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sukses-bertani-tembakau-bersama-kemitraan-djarum-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-11 12:32:18","post_modified_gmt":"2019-02-11 05:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5433","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5425,"post_author":"922","post_date":"2019-02-10 09:07:33","post_date_gmt":"2019-02-10 02:07:33","post_content":" \n

      Bahwa cengkeh [1] (Syzygium aromaticum) --bersama pala (Myristica fragrans)-- adalah dua tanaman asli (endemik) Kepulauan Maluku, sudah tak terbantahkan. Cengkeh dikenal dan diakui berasal dari \u2018Empat Pulau Gunung Maluku\u2019 (Maloko Kie Raha): Ternate, Tidore, Moti, dan Makian.
      <\/p>\n \n\n \n

      Adapun pala, berasal dari empat pulau kecil lainnya di tengah Laut Banda: Lonthor, Neira, Rhun, dan Ai. Pada penjelasan peta abad-16 oleh penjelajah dari Semenanjung Iberia, Fransisco Rodriguez, tertulis: \u201cEstas quatro Ilhas Azures suam as de molluquo homde nace ho crauzo\u201d<\/em> (Adalah empat pulau berwarna biru [dalam peta] yang disebut sebagai Kepulauan Maluku di mana rempah-rempah berasal) (Pires, 1512- 1515:213).
      <\/p>\n \n\n \n

      Sejak beberapa abad sebelum Masehi, adalah para saudagar Arab --melalui Samudera Hindia melintasi Iskandariyah dan Laut Tengah-- serta para pedagang Cina --melalui jalur \u2018Jalan Sutra\u2019 melintasi Asia Tengah dan Asia Barat-- yang membawa dan memperkenalkannya ke daratan Eropa. <\/p>\n \n\n \n

      Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n \n\n \n

      Bandar-bandar besar Tyre di Yunani dan Venesia di Italia menjadi pelabuhan utama rempah-rempah Maluku memasuki kehidupan dan peradaban Eropa. Selain sebagai bumbu masakan, rempah obat, dan ramuan wewangian, cengkeh dan pala juga menjadi bahan utama pengawet bahan pangan. [2]
      <\/p>\n \n\n \n

      Inilah yang membuat orang-orang Eropa untuk pertama kalinya dapat mengawetkan dan menimbun makanan selama bermusim-musim. Prosa indah Blair bersaudara menggambarkannya dengan sangat baik:
      <\/p>\n \n\n \n

      \u201cKemampuan menyimpan makanan lebih dari yang kami makan sekaligus berarti kemampuan menjual dan membelinya dalam jumlah besar --dan kota-kota dagang pun mekar. Perekonomian yang dihasilkannya mengarahkan kami ke zaman Pencerahan dan kemudian Revolusi Industri. Tak lama setelah kami menghirup aroma yang sangat kuat dari Timur itu dan mengubah kimiawi makanan kami, maka kami pun mampu melakukan lompatan besar dalam bidang budaya dan seni.\u201d (Blair & Blair, 2010; 30-31).<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

      Baca: Cengkeh dan Kelapa di Kepulauan Anambas<\/a><\/h2>\n \n\n \n

      Bukan hanya membuat perekonomian dan perdagangan serta ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang, cengkeh dan pala bahkan adalah faktor yang paling menentukan dalam kemunculan satu babakan paling mengenaskan dalam sejarah politik dunia, yakni zaman penjajahan (kolonialisme) Eropa, terutama atas-atas negeri- negeri Asia Selatan, Timur dan Tenggara, termasuk Indonesia.
      <\/p>\n \n\n \n

      Tergerak oleh sahwat menguasai rempah-rempah yang menggiurkan itu, bangsa-bangsa Eropa --terutama Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda-- pun menggelar ekspedisi-ekspedisi besar untuk menemukan cengkeh dan pala langsung di tanah asalnya. Ketika armada-armada mereka akhirnya mencapai perairan Kepulauan Maluku, pada abad-16, perang pun tak terhindarkan.
      <\/p>\n \n\n \n

      Mereka silih berganti saling mengalahkan, tetapi pemenang terakhir adalah Belanda. Melalui Perusahaan Dagang Hindia Timur (Vereenigde Oostindische Compagnie, VOC) yang dibentuk pada awal abad-17 (tepatnya tahun 1609), Belanda melancarkan ekspedisi Pelayaran Hongi (Hongie Tochten), untuk memusnahkan semua tanaman cengkeh di Ternate, Tidore, Moti, dan Makian, lalu membatasi ketat penanamnya hanya di Pulau-pulau Ambon dan Lease --yang lebih dekat ke Banda sebagai pusat pemerintahan mereka sebelum akhirnya dipindahkan ke Batavia.
      <\/p>\n \n\n \n

      Praktis, sejak akhir abad-16, Belanda pun menguasai penuh perdagangan rempah-rempah Maluku dengan jumlah produksi rerata 2.500 sampai 4.500 ton per tahun. [3]<\/p>\n \n\n \n

      Baca: Budidaya Pohon Cengkeh<\/a><\/h2>\n \n\n \n

      Meskipun peran utama rempah-rempah Maluku itu kemudian tergusur pada abad-18 dan 19 oleh beberapa barang eksotika tropis lainnya --hasil perkebunan-perkebunana besar baru di Pulau Sumatera dan Jawa: tebu, tembakau, lada, kopi, teh, nila, kelapa sawit, dan kayu jati-- namun sejarah sudah mencatat bahwa dua jenis rempah-rempah Maluku itulah yang mengawali penjelajahan sekaligus penjajahan kepulauan Nusantara oleh bangsa-bangsa Eropah, terutama Belanda (Topatimasang, ed., 2004:32). Jika saja tak pernah ada cengkeh dan pala di Maluku, mungkin sejarah kepulauan Nusantara ini akan berbeda sama sekali.
      <\/p>\n \n\n \n

      Masa suram cengkeh dan pala terus berlangsung sampai pertengahan abad-20. Rempah eksotika yang pernah membuat tergila-gila<\/p>\n \n\n \n

      para saudagar Arab, pedagang Cina, serta kaum ningrat Eropa itu, tergantikan perannya oleh penemuan teknologi mesin pendingin berkat Revolusi Industri yang dimulai di Inggris pada pertengahan abad-18. Pasaran cengkeh di Eropa pun merosot tajam.
      <\/p>\n \n\n \n

      Nasibnya terselamatkan berkat penemuan oleh seorang Haji Djamhari di Kudus, Jawa Tengah. Pada akhir tahun 1880-an, Haji Djamhari menemukan kegunaan baru cengkeh sebagai ramuan utama rokok. Lahirlah satu produk baru yang unik, khas dan asli Indonesia: kretek! (Hanusz, 2000:ii).
      <\/p>\n \n\n \n

      Setelah seperempat abad hanya berkembang dalam skala kecil usaha rumah tangga, produksi kretek akhirnya menjelma menjadi industri besar sejak awal abad-20 yang dirintis oleh Haji Nitisemito (pendiri pabrik \u2018Jambu Bol\u2019) di Kudus dan Liem Seng Tee (pendiri pabrik \u2018Dji Sam Soe\u2019 dan \u2018Sampoerna\u2019) di Surabaya.
      <\/p>\n \n\n \n

      Puncaknya adalah pada pertengahan tahun 1950-an, ketika produksi kretek mulai berkembang pesat menjadi industri raksasa modern dengan munculnya beberapa pabrik baru, antara lain, yang terkemuka, oleh Oei Wei Gwan (pendiri pabrik \u2018Djarum\u2019) di Kudus dan Tjou Ing Hwie (pendiri pabrik \u2018Gudang Garam\u2019) di Kediri (Topatimasang, et.al., eds., 2010:131).<\/p>\n \n\n \n

      Baca: Teruslah Menanam Tembakau dan Cengkeh, Wahai Petani Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n

      Cengkeh, bahan baku paling esensial dari kretek --selain tembakau, tentu saja-- pun kembali berjaya. Bahkan, sejak dasawarsa 1970an, telah menjadi salah satu penyumbang terbesar keuangan negara Republik Indonesia. Pada tahun 2012 dan 2013, pemasukan cukai dari industri kretek mencatat 95,5% dari seluruh pemasukan cukai ke kas negara. Nilainya tak tanggung-tanggung: Rp 87 triliun! (el-Guyanie, et.al.: 2013:4-5).<\/strong>
      <\/p>\n \n\n \n

      Nilai ekonomisnya yang sangat besar sempat menggoda penguasa otoriter rezim Presiden Soeharto, pada 1990-an, memberlakukan satu kebijakan \u2018Hongi Gaya Baru\u2019: monopoli perdagangan cengkeh dalam negeri melalui Badan Penyanggah dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) yang sangat merugikan petani. Harga cengkeh di tingkat petani penghasil anjlok sampai hanya Rp 2.000 - 3.000 per kilogram, lebih murah dari harga sebungkus kretek yang dihasilkan darinya.
      <\/p>\n \n\n \n

      Akibatnya, ratusan ribu pohon cengkeh di daerah-daerah penghasil utama --Maluku, Maluku Utara, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Selatan-- ditebangi atau dibiarkan terlantar tak terurus.
      <\/p>\n \n\n \n

      Gelombang reformasi sistem politik dan hukum nasional yang dimulai pada tahun 1998, akhirnya menjungkalkan rezim Soeharto dan BPPC dibubarkan, Pelan tapi pasti, harga cengkeh kembali merangkak naik, sehingga pada tahun 2012, bahkan melewati angka Rp 200.000 per kilogram. Para petani cengkeh di seluruh negeri kembali tersenyum. Tetapi, sampai kapan? <\/p>\n \n\n \n

      Catatan:<\/strong><\/p>\n \n\n \n

      [1] Beberapa sumber menyebutkan bahwa kata \u2018cengkeh\u2019 dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Mandarin, tkeng-his atau xi\u2019jia, yang berarti \u2018rempah [berbentuk mirip] paku\u2019 (scented nails). Ini menunjukkan bahwa cengkeh sudah dikenal sejak lama oleh bangsa Cina --diketahui sejak abad-2-- jauh sebelum orang Eropa mengenalnya ((lihat, misalnya: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n \n\n \n

      [2] Catatan-catatan para biarawan Fransiskan --yang disalin dan dikutip oleh van Frassen-- bahkan menyebut cengkeh sebagai salah satu bahan utama pengawet mumi para Fir\u2019aun, penguasa Mesir Kuno. Beberapa pakar sejarah dan arkeologi menyatakan bahwa rempah-rempah Maluku bahkan sudah ditemukan artefaknya di Lembah Mesopotomia (wilayah Iraq dan sekitarnya sekarang) pada 3.000 tahun sebelum Masehi. (lihat, antara lain: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n \n\n \n

      [3] Uraian lebih rinci sejarah kolonialisme rempah-rempah Nusantara ini, terutama oleh Belanda dan Portugis, dapat dibaca pada beberapa sumber kepustakaan yang sudah dikenal luas, antara lain: Glamann (1958) dan Boxer (1965 dan 1969). Dalam risalah klasik Pires disebutkan bahwa pada tahun 1512-1521 saja, jumlah produksi cengkeh di Maluku sudah mencapai 7.250 bahar per tahun, terbesar adalah di Makian serta Amboina dan Lease (masing-masing 1.500 bahar)(Pires, 1512-1515).<\/em>
      <\/p>\n \n\n \n

      Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem Topatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
      <\/p>\n ","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-10 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-02-10 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5425","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5415,"post_author":"878","post_date":"2019-02-07 12:15:55","post_date_gmt":"2019-02-07 05:15:55","post_content":" \n

      Belakangan ini, ketika musim hujan tiba, di Kabupaten Temanggung, Kabupaten Jember, dan beberapa wilayah sentra pertanian tembakau lainnya, hampir mustahil menemukan tanaman tembakau tumbuh di lahan-lahan milik petani. Di wilayah-wilayah tersebut, citra sebagai sentra pertanian tembakau seakan menguap. Lahan-lahan yang ada di sana, sama sekali tidak ditumbuhi tanaman tembakau.<\/p>\n \n\n \n

      Kabar ini bisa jadi dianggap sebagai kabar gembira bagi mereka yang menganggap diri dan kelompoknya anti-rokok dan anti-tembakau yang selalu mengampanyekan sikap-sikap mereka terkait kebencian kepada tembakau dan aktivitas merokok. Setelah sekian lama berjuang, akhirnya perjuangan mereka dirasa berhasil usai menyaksikan fenomena lahan-lahan di wilayah yang dianggap sentra pertanian tembakau pada hari-hari belakangan ini.<\/p>\n \n\n \n

      Baca juga: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/h3>\n \n\n \n

      Tak sia-sia turun ke jalan, tak sia-sia melakukan lobi-lobi ke penguasa, tak sia-sia mengucurkan uang yang tidak sedikit, dan tak sia-sia mempermalukan diri dengan mengemis ke lembaga donor asing dan menggondol uang dari cukai tembakau untuk mengampanyekan gerakan anti-rokok dan anti-tembakau. Tak sia-sia. Karena perjuangan sepertinya berhasil.<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

      Kampanye-kampanye gerakan mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya, sepertinya juga sangat berhasil. Bagaimana tidak? Wilayah-wilayah yang sebelumnya penuh dengan tanaman tembakau dan bergeliat dengannya, kini lahan-lahannya sudah berganti dengan tanaman lain. Sebuah keberhasilan yang menggembirakan. Begitu mungkin pikir mereka para yang menganggap dirinya pejuang anti-rokok dan anti-tembakau. Dan tentu saja mereka akan kecele dan kita akan menertawakan hal itu.<\/p>\n \n\n \n

      Sayangnya, mereka yang menganggap dirinya anti-rokok dan anti-tembakau tidak menyaksikan langsung fenomena ini di lapangan, di lahan-lahan yang peruntukannya berubah pada hari-hari belakangan ini ketika memasuki musim hujan. Mereka asyik duduk pada kursi empuk di ruang-ruang nyaman ber-AC di kota-kota yang jauh dari kultur pertanian. Mereka menyengajakan diri menjadi elit dan enggan untuk turun melihat langsung ke lapangan. Kalaupun ada yang turun langsung ke lapangan, hanya segelintir saja dari mereka, itupun sekadar formalitas saja. Tak pernah benar-benar mau turun ke lapangan, hidup dan merasakan langsung kultur pertanian tembakau dalam jangka waktu cukup lama di lapangan.<\/p>\n \n\n \n

      Baca juga: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

      Fenomena ini membikin kita tak bisa melihat mereka para anti-rokok kecele lalu menertawakan mereka.<\/strong> Fenomena keengganan terjun langsung ke lapangan terlebih mencoba mendengar mereka yang tetap menanam tembakau, juga menjalani keseharian dalam waktu cukup lama bersama petani tembakau inilah yang saya kira menjadikan mereka tetap keras kepala untuk anti-rokok dan anti-tembakau. Karena jika mereka mau melakukan itu, saya yakin mereka semua tidak akan begitu kaku dalam memandang pertanian tembakau dan produk hasil industri tembakau.<\/p>\n \n\n \n

      Salah satu yang selalu mereka kampanyekan dan ngotot dengan itu, terkait hulu pertanian tembakau adalah mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya. Mereka berargumen banyak tanaman lain yang bisa semenguntungkan tanaman tembakau. Keengganan mereka terjun langsung ke lapangan inilah yang membikin mereka buta dengan kondisi pertanian tembakau dan pada akhirnya terus menerus mengampanyekan pergantian tanaman tembakau dengan tanaman lainnya.<\/p>\n \n\n \n

      Baca juga: Imanlah kepada Allah, Bukan Antirokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

      Tembakau tanaman yang khas. Ia hanya tumbuh baik sepanjang empat hingga lima bulan dalam satu tahun. Tumbuh-kembang tanaman tembakau dengan baik itu umumnya terjadi pada musim kemarau setiap tahunnya. Hanya sedikit sekali jenis tembakau yang tumbuh baik di musim penghujan, mayoritasnya, tumbuh baik pada musim kemarau.<\/p>\n \n\n \n

      Jika ditanam pada musim hujan, hampir bisa dipastikan tanaman tembakau akan gagal menghasilkan daun-daun yang berkualitas. Ia akan rusak dan membusuk karena terlalu banyak terkena air sehingga daun-daun itu tak layak dijual. Jangankan bisa dijual, untuk tumbuh dengan baik pun sepertinya sulit karena musim hujan akan membunuh banyak tanaman itu.<\/p>\n \n\n \n

      Maka, tak heran pada musim-musim seperti saat ini, ketika musim penghujan mendekati puncaknya, di wilayah-wilayah yang dikenal sebagai sentra pertanian tembakau, sulit menemukan pohon tembakau yang sedang tumbuh. Pada lahan-lahan yang sebelumnya ditumbuhi tanaman tembakau pada musim panas, berganti tanaman-tanaman lain yang bermacam-macam, sesuai dengan kondisi lahannya. Untuk lahan sawah, lahan-lahan itu pada musim penghujan kini ditumbuhi tanaman padi yang subur. Pada lahan tegalan dan lahan di pegunungan, lahan-lahan yang ditanami tembakau pada musim kemarau, saat ini ditumbuhi bermacam jenis tanaman mulai dari cabai, bawang, tomat, kol, terong, mentimun, dan ragam jenis tanaman semusim lainnya.<\/p>\n \n\n \n

      Uniknya, tipikal tanaman tembakau yang tumbuh baik di musim kemarau ini memberi pilihan lebih kepada para petani. Lahan-lahan yang sulit ditanami pada musim kemarau, pada akhirnya masih bisa tetap produktif dengan keberadaan tanaman tembakau. <\/p>\n \n\n \n

      Maka, kampanye aneh mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain dengan ragam rupa dalih yang membingungkan, bukan saja sama sekali tidak tepat dan asal-asalan, namun bisa jadi akan ditertawakan oleh para petani yang begitu paham dengan kondisi lahan dan terutama kondisi iklim dan cuaca. Sulit mencari tanaman semusim yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Jika pun ada, tak ada yang semenguntungkan tanaman tembakau.
      <\/p>\n ","post_title":"Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"keberhasilan-gerakan-anti-tembakau-tak-ada-tembakau-saat-musim-hujan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-07 12:16:02","post_modified_gmt":"2019-02-07 05:16:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5415","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5409,"post_author":"919","post_date":"2019-02-05 08:04:43","post_date_gmt":"2019-02-05 01:04:43","post_content":" \n

      Tahun Baru Imlek yang merupakan tradisi Bangsa Tiongkok kini sudah tak lagi menjadi hal yang asing bagi masyarakat Indonesia. Kehadirannya sudah mewarnai dan berakulturasi dengan tradisi lokal. Menjelang Tahun Baru Imlek. Berbagai hiasan dan kemeriahan terjadi beberapa titik di Tanah Air. Perayaannya juga menjadi destinasi baru yang mengasyikkan untuk dilihat dan patut disaksikan.<\/p>\n \n\n \n

      Berterimakasihlah kepada sang bapak bangsa, KH Abdurrahman Wahid atau yang dikenal dengan nama Gus Dur. Berkat kebijakannya saat menjadi Presiden Indonesia, Tahun Baru Imlek resmi dijadikan hari libur nasional dan dianggap sebagai salah satu hari raya di Tanah Air. Meski sentimen antitionghoa masih ada di sana-sini, tapi tetap tak bisa dipungkiri bahwa bangsa tionghoa sudah bersentuhan dengan budaya lokal dalam kurun waktu yang sangat panjang.<\/p>\n \n\n \n

      DNA Bangsa Tionghoa yang memang merupakan pedagang menjadi pembuka kisah interaksi antara nenek moyang berbagai suku di Nusantara dengan mereka. Beberapa kelenteng-kelenteng yang tersebar pada berbagai pesisir daerah di Nusantara jadi buktinya. Pelabuhan-pelabuhan tua di tanah air dan ramainya perdagangan di pesisir mempermudah bangsa kita berhubungan dengan Bangsa Tionghoa.<\/p>\n \n\n \n

      Baca Juga: Wong Kalang dan Kota Gede<\/a><\/h3>\n \n\n \n

      Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa kehadiran Bangsa Tionghoa di Nusantara tak hanya sebagai pedagang, namun juga sebagai pekerja (bahkan hingga pekerja kasar). Benny Setiono, seorang sejarahwan menyebutkan bahwa antara tahun 1760-1770 dalam jumlah yang besar memasuki nusantara melalui Kalimantan Barat. Mereka bekerja sebagai kuli pertambangan di sana dan di kemudian hari membentuk sebuah republik bernama Republik Lanfang yang konon katanya menjadi republik pertama di Asia Tenggara.<\/p>\n \n\n \n

      Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n \n\n \n

      Baca Juga: Imlek dan Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n

      Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n \n\n \n

      Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n \n\n \n

      Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n \n\n \n

      Baca Juga: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

      Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n \n\n \n

      Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
      <\/p>\n ","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_3o3","class":"epic_block_3"};

      \n

      ~ Pada awal penyebaran benih direkomendasikan untuk melakukan penyemprotan fusngisida (jamur), seperti Previcur, Redomil & Antracol <\/p>\n \n\n\n

      ~ Hama yang sering dijumpai: semut (Decis), janggel, orong-orong <\/p>\n \n\n \n

      1. Tahapan Perawatan<\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n
        \"\"\/<\/figure>\n ","post_title":"Sukses Bertani Tembakau Bersama Kemitraan Djarum di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sukses-bertani-tembakau-bersama-kemitraan-djarum-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-11 12:32:18","post_modified_gmt":"2019-02-11 05:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5433","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5425,"post_author":"922","post_date":"2019-02-10 09:07:33","post_date_gmt":"2019-02-10 02:07:33","post_content":" \n

        Bahwa cengkeh [1] (Syzygium aromaticum) --bersama pala (Myristica fragrans)-- adalah dua tanaman asli (endemik) Kepulauan Maluku, sudah tak terbantahkan. Cengkeh dikenal dan diakui berasal dari \u2018Empat Pulau Gunung Maluku\u2019 (Maloko Kie Raha): Ternate, Tidore, Moti, dan Makian.
        <\/p>\n \n\n \n

        Adapun pala, berasal dari empat pulau kecil lainnya di tengah Laut Banda: Lonthor, Neira, Rhun, dan Ai. Pada penjelasan peta abad-16 oleh penjelajah dari Semenanjung Iberia, Fransisco Rodriguez, tertulis: \u201cEstas quatro Ilhas Azures suam as de molluquo homde nace ho crauzo\u201d<\/em> (Adalah empat pulau berwarna biru [dalam peta] yang disebut sebagai Kepulauan Maluku di mana rempah-rempah berasal) (Pires, 1512- 1515:213).
        <\/p>\n \n\n \n

        Sejak beberapa abad sebelum Masehi, adalah para saudagar Arab --melalui Samudera Hindia melintasi Iskandariyah dan Laut Tengah-- serta para pedagang Cina --melalui jalur \u2018Jalan Sutra\u2019 melintasi Asia Tengah dan Asia Barat-- yang membawa dan memperkenalkannya ke daratan Eropa. <\/p>\n \n\n \n

        Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n \n\n \n

        Bandar-bandar besar Tyre di Yunani dan Venesia di Italia menjadi pelabuhan utama rempah-rempah Maluku memasuki kehidupan dan peradaban Eropa. Selain sebagai bumbu masakan, rempah obat, dan ramuan wewangian, cengkeh dan pala juga menjadi bahan utama pengawet bahan pangan. [2]
        <\/p>\n \n\n \n

        Inilah yang membuat orang-orang Eropa untuk pertama kalinya dapat mengawetkan dan menimbun makanan selama bermusim-musim. Prosa indah Blair bersaudara menggambarkannya dengan sangat baik:
        <\/p>\n \n\n \n

        \u201cKemampuan menyimpan makanan lebih dari yang kami makan sekaligus berarti kemampuan menjual dan membelinya dalam jumlah besar --dan kota-kota dagang pun mekar. Perekonomian yang dihasilkannya mengarahkan kami ke zaman Pencerahan dan kemudian Revolusi Industri. Tak lama setelah kami menghirup aroma yang sangat kuat dari Timur itu dan mengubah kimiawi makanan kami, maka kami pun mampu melakukan lompatan besar dalam bidang budaya dan seni.\u201d (Blair & Blair, 2010; 30-31).<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

        Baca: Cengkeh dan Kelapa di Kepulauan Anambas<\/a><\/h2>\n \n\n \n

        Bukan hanya membuat perekonomian dan perdagangan serta ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang, cengkeh dan pala bahkan adalah faktor yang paling menentukan dalam kemunculan satu babakan paling mengenaskan dalam sejarah politik dunia, yakni zaman penjajahan (kolonialisme) Eropa, terutama atas-atas negeri- negeri Asia Selatan, Timur dan Tenggara, termasuk Indonesia.
        <\/p>\n \n\n \n

        Tergerak oleh sahwat menguasai rempah-rempah yang menggiurkan itu, bangsa-bangsa Eropa --terutama Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda-- pun menggelar ekspedisi-ekspedisi besar untuk menemukan cengkeh dan pala langsung di tanah asalnya. Ketika armada-armada mereka akhirnya mencapai perairan Kepulauan Maluku, pada abad-16, perang pun tak terhindarkan.
        <\/p>\n \n\n \n

        Mereka silih berganti saling mengalahkan, tetapi pemenang terakhir adalah Belanda. Melalui Perusahaan Dagang Hindia Timur (Vereenigde Oostindische Compagnie, VOC) yang dibentuk pada awal abad-17 (tepatnya tahun 1609), Belanda melancarkan ekspedisi Pelayaran Hongi (Hongie Tochten), untuk memusnahkan semua tanaman cengkeh di Ternate, Tidore, Moti, dan Makian, lalu membatasi ketat penanamnya hanya di Pulau-pulau Ambon dan Lease --yang lebih dekat ke Banda sebagai pusat pemerintahan mereka sebelum akhirnya dipindahkan ke Batavia.
        <\/p>\n \n\n \n

        Praktis, sejak akhir abad-16, Belanda pun menguasai penuh perdagangan rempah-rempah Maluku dengan jumlah produksi rerata 2.500 sampai 4.500 ton per tahun. [3]<\/p>\n \n\n \n

        Baca: Budidaya Pohon Cengkeh<\/a><\/h2>\n \n\n \n

        Meskipun peran utama rempah-rempah Maluku itu kemudian tergusur pada abad-18 dan 19 oleh beberapa barang eksotika tropis lainnya --hasil perkebunan-perkebunana besar baru di Pulau Sumatera dan Jawa: tebu, tembakau, lada, kopi, teh, nila, kelapa sawit, dan kayu jati-- namun sejarah sudah mencatat bahwa dua jenis rempah-rempah Maluku itulah yang mengawali penjelajahan sekaligus penjajahan kepulauan Nusantara oleh bangsa-bangsa Eropah, terutama Belanda (Topatimasang, ed., 2004:32). Jika saja tak pernah ada cengkeh dan pala di Maluku, mungkin sejarah kepulauan Nusantara ini akan berbeda sama sekali.
        <\/p>\n \n\n \n

        Masa suram cengkeh dan pala terus berlangsung sampai pertengahan abad-20. Rempah eksotika yang pernah membuat tergila-gila<\/p>\n \n\n \n

        para saudagar Arab, pedagang Cina, serta kaum ningrat Eropa itu, tergantikan perannya oleh penemuan teknologi mesin pendingin berkat Revolusi Industri yang dimulai di Inggris pada pertengahan abad-18. Pasaran cengkeh di Eropa pun merosot tajam.
        <\/p>\n \n\n \n

        Nasibnya terselamatkan berkat penemuan oleh seorang Haji Djamhari di Kudus, Jawa Tengah. Pada akhir tahun 1880-an, Haji Djamhari menemukan kegunaan baru cengkeh sebagai ramuan utama rokok. Lahirlah satu produk baru yang unik, khas dan asli Indonesia: kretek! (Hanusz, 2000:ii).
        <\/p>\n \n\n \n

        Setelah seperempat abad hanya berkembang dalam skala kecil usaha rumah tangga, produksi kretek akhirnya menjelma menjadi industri besar sejak awal abad-20 yang dirintis oleh Haji Nitisemito (pendiri pabrik \u2018Jambu Bol\u2019) di Kudus dan Liem Seng Tee (pendiri pabrik \u2018Dji Sam Soe\u2019 dan \u2018Sampoerna\u2019) di Surabaya.
        <\/p>\n \n\n \n

        Puncaknya adalah pada pertengahan tahun 1950-an, ketika produksi kretek mulai berkembang pesat menjadi industri raksasa modern dengan munculnya beberapa pabrik baru, antara lain, yang terkemuka, oleh Oei Wei Gwan (pendiri pabrik \u2018Djarum\u2019) di Kudus dan Tjou Ing Hwie (pendiri pabrik \u2018Gudang Garam\u2019) di Kediri (Topatimasang, et.al., eds., 2010:131).<\/p>\n \n\n \n

        Baca: Teruslah Menanam Tembakau dan Cengkeh, Wahai Petani Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n

        Cengkeh, bahan baku paling esensial dari kretek --selain tembakau, tentu saja-- pun kembali berjaya. Bahkan, sejak dasawarsa 1970an, telah menjadi salah satu penyumbang terbesar keuangan negara Republik Indonesia. Pada tahun 2012 dan 2013, pemasukan cukai dari industri kretek mencatat 95,5% dari seluruh pemasukan cukai ke kas negara. Nilainya tak tanggung-tanggung: Rp 87 triliun! (el-Guyanie, et.al.: 2013:4-5).<\/strong>
        <\/p>\n \n\n \n

        Nilai ekonomisnya yang sangat besar sempat menggoda penguasa otoriter rezim Presiden Soeharto, pada 1990-an, memberlakukan satu kebijakan \u2018Hongi Gaya Baru\u2019: monopoli perdagangan cengkeh dalam negeri melalui Badan Penyanggah dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) yang sangat merugikan petani. Harga cengkeh di tingkat petani penghasil anjlok sampai hanya Rp 2.000 - 3.000 per kilogram, lebih murah dari harga sebungkus kretek yang dihasilkan darinya.
        <\/p>\n \n\n \n

        Akibatnya, ratusan ribu pohon cengkeh di daerah-daerah penghasil utama --Maluku, Maluku Utara, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Selatan-- ditebangi atau dibiarkan terlantar tak terurus.
        <\/p>\n \n\n \n

        Gelombang reformasi sistem politik dan hukum nasional yang dimulai pada tahun 1998, akhirnya menjungkalkan rezim Soeharto dan BPPC dibubarkan, Pelan tapi pasti, harga cengkeh kembali merangkak naik, sehingga pada tahun 2012, bahkan melewati angka Rp 200.000 per kilogram. Para petani cengkeh di seluruh negeri kembali tersenyum. Tetapi, sampai kapan? <\/p>\n \n\n \n

        Catatan:<\/strong><\/p>\n \n\n \n

        [1] Beberapa sumber menyebutkan bahwa kata \u2018cengkeh\u2019 dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Mandarin, tkeng-his atau xi\u2019jia, yang berarti \u2018rempah [berbentuk mirip] paku\u2019 (scented nails). Ini menunjukkan bahwa cengkeh sudah dikenal sejak lama oleh bangsa Cina --diketahui sejak abad-2-- jauh sebelum orang Eropa mengenalnya ((lihat, misalnya: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n \n\n \n

        [2] Catatan-catatan para biarawan Fransiskan --yang disalin dan dikutip oleh van Frassen-- bahkan menyebut cengkeh sebagai salah satu bahan utama pengawet mumi para Fir\u2019aun, penguasa Mesir Kuno. Beberapa pakar sejarah dan arkeologi menyatakan bahwa rempah-rempah Maluku bahkan sudah ditemukan artefaknya di Lembah Mesopotomia (wilayah Iraq dan sekitarnya sekarang) pada 3.000 tahun sebelum Masehi. (lihat, antara lain: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n \n\n \n

        [3] Uraian lebih rinci sejarah kolonialisme rempah-rempah Nusantara ini, terutama oleh Belanda dan Portugis, dapat dibaca pada beberapa sumber kepustakaan yang sudah dikenal luas, antara lain: Glamann (1958) dan Boxer (1965 dan 1969). Dalam risalah klasik Pires disebutkan bahwa pada tahun 1512-1521 saja, jumlah produksi cengkeh di Maluku sudah mencapai 7.250 bahar per tahun, terbesar adalah di Makian serta Amboina dan Lease (masing-masing 1.500 bahar)(Pires, 1512-1515).<\/em>
        <\/p>\n \n\n \n

        Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem Topatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
        <\/p>\n ","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-10 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-02-10 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5425","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5415,"post_author":"878","post_date":"2019-02-07 12:15:55","post_date_gmt":"2019-02-07 05:15:55","post_content":" \n

        Belakangan ini, ketika musim hujan tiba, di Kabupaten Temanggung, Kabupaten Jember, dan beberapa wilayah sentra pertanian tembakau lainnya, hampir mustahil menemukan tanaman tembakau tumbuh di lahan-lahan milik petani. Di wilayah-wilayah tersebut, citra sebagai sentra pertanian tembakau seakan menguap. Lahan-lahan yang ada di sana, sama sekali tidak ditumbuhi tanaman tembakau.<\/p>\n \n\n \n

        Kabar ini bisa jadi dianggap sebagai kabar gembira bagi mereka yang menganggap diri dan kelompoknya anti-rokok dan anti-tembakau yang selalu mengampanyekan sikap-sikap mereka terkait kebencian kepada tembakau dan aktivitas merokok. Setelah sekian lama berjuang, akhirnya perjuangan mereka dirasa berhasil usai menyaksikan fenomena lahan-lahan di wilayah yang dianggap sentra pertanian tembakau pada hari-hari belakangan ini.<\/p>\n \n\n \n

        Baca juga: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/h3>\n \n\n \n

        Tak sia-sia turun ke jalan, tak sia-sia melakukan lobi-lobi ke penguasa, tak sia-sia mengucurkan uang yang tidak sedikit, dan tak sia-sia mempermalukan diri dengan mengemis ke lembaga donor asing dan menggondol uang dari cukai tembakau untuk mengampanyekan gerakan anti-rokok dan anti-tembakau. Tak sia-sia. Karena perjuangan sepertinya berhasil.<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

        Kampanye-kampanye gerakan mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya, sepertinya juga sangat berhasil. Bagaimana tidak? Wilayah-wilayah yang sebelumnya penuh dengan tanaman tembakau dan bergeliat dengannya, kini lahan-lahannya sudah berganti dengan tanaman lain. Sebuah keberhasilan yang menggembirakan. Begitu mungkin pikir mereka para yang menganggap dirinya pejuang anti-rokok dan anti-tembakau. Dan tentu saja mereka akan kecele dan kita akan menertawakan hal itu.<\/p>\n \n\n \n

        Sayangnya, mereka yang menganggap dirinya anti-rokok dan anti-tembakau tidak menyaksikan langsung fenomena ini di lapangan, di lahan-lahan yang peruntukannya berubah pada hari-hari belakangan ini ketika memasuki musim hujan. Mereka asyik duduk pada kursi empuk di ruang-ruang nyaman ber-AC di kota-kota yang jauh dari kultur pertanian. Mereka menyengajakan diri menjadi elit dan enggan untuk turun melihat langsung ke lapangan. Kalaupun ada yang turun langsung ke lapangan, hanya segelintir saja dari mereka, itupun sekadar formalitas saja. Tak pernah benar-benar mau turun ke lapangan, hidup dan merasakan langsung kultur pertanian tembakau dalam jangka waktu cukup lama di lapangan.<\/p>\n \n\n \n

        Baca juga: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

        Fenomena ini membikin kita tak bisa melihat mereka para anti-rokok kecele lalu menertawakan mereka.<\/strong> Fenomena keengganan terjun langsung ke lapangan terlebih mencoba mendengar mereka yang tetap menanam tembakau, juga menjalani keseharian dalam waktu cukup lama bersama petani tembakau inilah yang saya kira menjadikan mereka tetap keras kepala untuk anti-rokok dan anti-tembakau. Karena jika mereka mau melakukan itu, saya yakin mereka semua tidak akan begitu kaku dalam memandang pertanian tembakau dan produk hasil industri tembakau.<\/p>\n \n\n \n

        Salah satu yang selalu mereka kampanyekan dan ngotot dengan itu, terkait hulu pertanian tembakau adalah mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya. Mereka berargumen banyak tanaman lain yang bisa semenguntungkan tanaman tembakau. Keengganan mereka terjun langsung ke lapangan inilah yang membikin mereka buta dengan kondisi pertanian tembakau dan pada akhirnya terus menerus mengampanyekan pergantian tanaman tembakau dengan tanaman lainnya.<\/p>\n \n\n \n

        Baca juga: Imanlah kepada Allah, Bukan Antirokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

        Tembakau tanaman yang khas. Ia hanya tumbuh baik sepanjang empat hingga lima bulan dalam satu tahun. Tumbuh-kembang tanaman tembakau dengan baik itu umumnya terjadi pada musim kemarau setiap tahunnya. Hanya sedikit sekali jenis tembakau yang tumbuh baik di musim penghujan, mayoritasnya, tumbuh baik pada musim kemarau.<\/p>\n \n\n \n

        Jika ditanam pada musim hujan, hampir bisa dipastikan tanaman tembakau akan gagal menghasilkan daun-daun yang berkualitas. Ia akan rusak dan membusuk karena terlalu banyak terkena air sehingga daun-daun itu tak layak dijual. Jangankan bisa dijual, untuk tumbuh dengan baik pun sepertinya sulit karena musim hujan akan membunuh banyak tanaman itu.<\/p>\n \n\n \n

        Maka, tak heran pada musim-musim seperti saat ini, ketika musim penghujan mendekati puncaknya, di wilayah-wilayah yang dikenal sebagai sentra pertanian tembakau, sulit menemukan pohon tembakau yang sedang tumbuh. Pada lahan-lahan yang sebelumnya ditumbuhi tanaman tembakau pada musim panas, berganti tanaman-tanaman lain yang bermacam-macam, sesuai dengan kondisi lahannya. Untuk lahan sawah, lahan-lahan itu pada musim penghujan kini ditumbuhi tanaman padi yang subur. Pada lahan tegalan dan lahan di pegunungan, lahan-lahan yang ditanami tembakau pada musim kemarau, saat ini ditumbuhi bermacam jenis tanaman mulai dari cabai, bawang, tomat, kol, terong, mentimun, dan ragam jenis tanaman semusim lainnya.<\/p>\n \n\n \n

        Uniknya, tipikal tanaman tembakau yang tumbuh baik di musim kemarau ini memberi pilihan lebih kepada para petani. Lahan-lahan yang sulit ditanami pada musim kemarau, pada akhirnya masih bisa tetap produktif dengan keberadaan tanaman tembakau. <\/p>\n \n\n \n

        Maka, kampanye aneh mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain dengan ragam rupa dalih yang membingungkan, bukan saja sama sekali tidak tepat dan asal-asalan, namun bisa jadi akan ditertawakan oleh para petani yang begitu paham dengan kondisi lahan dan terutama kondisi iklim dan cuaca. Sulit mencari tanaman semusim yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Jika pun ada, tak ada yang semenguntungkan tanaman tembakau.
        <\/p>\n ","post_title":"Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"keberhasilan-gerakan-anti-tembakau-tak-ada-tembakau-saat-musim-hujan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-07 12:16:02","post_modified_gmt":"2019-02-07 05:16:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5415","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5409,"post_author":"919","post_date":"2019-02-05 08:04:43","post_date_gmt":"2019-02-05 01:04:43","post_content":" \n

        Tahun Baru Imlek yang merupakan tradisi Bangsa Tiongkok kini sudah tak lagi menjadi hal yang asing bagi masyarakat Indonesia. Kehadirannya sudah mewarnai dan berakulturasi dengan tradisi lokal. Menjelang Tahun Baru Imlek. Berbagai hiasan dan kemeriahan terjadi beberapa titik di Tanah Air. Perayaannya juga menjadi destinasi baru yang mengasyikkan untuk dilihat dan patut disaksikan.<\/p>\n \n\n \n

        Berterimakasihlah kepada sang bapak bangsa, KH Abdurrahman Wahid atau yang dikenal dengan nama Gus Dur. Berkat kebijakannya saat menjadi Presiden Indonesia, Tahun Baru Imlek resmi dijadikan hari libur nasional dan dianggap sebagai salah satu hari raya di Tanah Air. Meski sentimen antitionghoa masih ada di sana-sini, tapi tetap tak bisa dipungkiri bahwa bangsa tionghoa sudah bersentuhan dengan budaya lokal dalam kurun waktu yang sangat panjang.<\/p>\n \n\n \n

        DNA Bangsa Tionghoa yang memang merupakan pedagang menjadi pembuka kisah interaksi antara nenek moyang berbagai suku di Nusantara dengan mereka. Beberapa kelenteng-kelenteng yang tersebar pada berbagai pesisir daerah di Nusantara jadi buktinya. Pelabuhan-pelabuhan tua di tanah air dan ramainya perdagangan di pesisir mempermudah bangsa kita berhubungan dengan Bangsa Tionghoa.<\/p>\n \n\n \n

        Baca Juga: Wong Kalang dan Kota Gede<\/a><\/h3>\n \n\n \n

        Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa kehadiran Bangsa Tionghoa di Nusantara tak hanya sebagai pedagang, namun juga sebagai pekerja (bahkan hingga pekerja kasar). Benny Setiono, seorang sejarahwan menyebutkan bahwa antara tahun 1760-1770 dalam jumlah yang besar memasuki nusantara melalui Kalimantan Barat. Mereka bekerja sebagai kuli pertambangan di sana dan di kemudian hari membentuk sebuah republik bernama Republik Lanfang yang konon katanya menjadi republik pertama di Asia Tenggara.<\/p>\n \n\n \n

        Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n \n\n \n

        Baca Juga: Imlek dan Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n

        Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n \n\n \n

        Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n \n\n \n

        Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n \n\n \n

        Baca Juga: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

        Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n \n\n \n

        Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
        <\/p>\n ","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_3o3","class":"epic_block_3"};

        \n
        1. Pengendalian Hama & Penyakit<\/strong> <\/li><\/ol>\n \n\n\n

          ~ Pada awal penyebaran benih direkomendasikan untuk melakukan penyemprotan fusngisida (jamur), seperti Previcur, Redomil & Antracol <\/p>\n \n\n \n

          ~ Hama yang sering dijumpai: semut (Decis), janggel, orong-orong <\/p>\n \n\n \n

          1. Tahapan Perawatan<\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n
            \"\"\/<\/figure>\n ","post_title":"Sukses Bertani Tembakau Bersama Kemitraan Djarum di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sukses-bertani-tembakau-bersama-kemitraan-djarum-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-11 12:32:18","post_modified_gmt":"2019-02-11 05:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5433","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5425,"post_author":"922","post_date":"2019-02-10 09:07:33","post_date_gmt":"2019-02-10 02:07:33","post_content":" \n

            Bahwa cengkeh [1] (Syzygium aromaticum) --bersama pala (Myristica fragrans)-- adalah dua tanaman asli (endemik) Kepulauan Maluku, sudah tak terbantahkan. Cengkeh dikenal dan diakui berasal dari \u2018Empat Pulau Gunung Maluku\u2019 (Maloko Kie Raha): Ternate, Tidore, Moti, dan Makian.
            <\/p>\n \n\n \n

            Adapun pala, berasal dari empat pulau kecil lainnya di tengah Laut Banda: Lonthor, Neira, Rhun, dan Ai. Pada penjelasan peta abad-16 oleh penjelajah dari Semenanjung Iberia, Fransisco Rodriguez, tertulis: \u201cEstas quatro Ilhas Azures suam as de molluquo homde nace ho crauzo\u201d<\/em> (Adalah empat pulau berwarna biru [dalam peta] yang disebut sebagai Kepulauan Maluku di mana rempah-rempah berasal) (Pires, 1512- 1515:213).
            <\/p>\n \n\n \n

            Sejak beberapa abad sebelum Masehi, adalah para saudagar Arab --melalui Samudera Hindia melintasi Iskandariyah dan Laut Tengah-- serta para pedagang Cina --melalui jalur \u2018Jalan Sutra\u2019 melintasi Asia Tengah dan Asia Barat-- yang membawa dan memperkenalkannya ke daratan Eropa. <\/p>\n \n\n \n

            Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n \n\n \n

            Bandar-bandar besar Tyre di Yunani dan Venesia di Italia menjadi pelabuhan utama rempah-rempah Maluku memasuki kehidupan dan peradaban Eropa. Selain sebagai bumbu masakan, rempah obat, dan ramuan wewangian, cengkeh dan pala juga menjadi bahan utama pengawet bahan pangan. [2]
            <\/p>\n \n\n \n

            Inilah yang membuat orang-orang Eropa untuk pertama kalinya dapat mengawetkan dan menimbun makanan selama bermusim-musim. Prosa indah Blair bersaudara menggambarkannya dengan sangat baik:
            <\/p>\n \n\n \n

            \u201cKemampuan menyimpan makanan lebih dari yang kami makan sekaligus berarti kemampuan menjual dan membelinya dalam jumlah besar --dan kota-kota dagang pun mekar. Perekonomian yang dihasilkannya mengarahkan kami ke zaman Pencerahan dan kemudian Revolusi Industri. Tak lama setelah kami menghirup aroma yang sangat kuat dari Timur itu dan mengubah kimiawi makanan kami, maka kami pun mampu melakukan lompatan besar dalam bidang budaya dan seni.\u201d (Blair & Blair, 2010; 30-31).<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

            Baca: Cengkeh dan Kelapa di Kepulauan Anambas<\/a><\/h2>\n \n\n \n

            Bukan hanya membuat perekonomian dan perdagangan serta ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang, cengkeh dan pala bahkan adalah faktor yang paling menentukan dalam kemunculan satu babakan paling mengenaskan dalam sejarah politik dunia, yakni zaman penjajahan (kolonialisme) Eropa, terutama atas-atas negeri- negeri Asia Selatan, Timur dan Tenggara, termasuk Indonesia.
            <\/p>\n \n\n \n

            Tergerak oleh sahwat menguasai rempah-rempah yang menggiurkan itu, bangsa-bangsa Eropa --terutama Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda-- pun menggelar ekspedisi-ekspedisi besar untuk menemukan cengkeh dan pala langsung di tanah asalnya. Ketika armada-armada mereka akhirnya mencapai perairan Kepulauan Maluku, pada abad-16, perang pun tak terhindarkan.
            <\/p>\n \n\n \n

            Mereka silih berganti saling mengalahkan, tetapi pemenang terakhir adalah Belanda. Melalui Perusahaan Dagang Hindia Timur (Vereenigde Oostindische Compagnie, VOC) yang dibentuk pada awal abad-17 (tepatnya tahun 1609), Belanda melancarkan ekspedisi Pelayaran Hongi (Hongie Tochten), untuk memusnahkan semua tanaman cengkeh di Ternate, Tidore, Moti, dan Makian, lalu membatasi ketat penanamnya hanya di Pulau-pulau Ambon dan Lease --yang lebih dekat ke Banda sebagai pusat pemerintahan mereka sebelum akhirnya dipindahkan ke Batavia.
            <\/p>\n \n\n \n

            Praktis, sejak akhir abad-16, Belanda pun menguasai penuh perdagangan rempah-rempah Maluku dengan jumlah produksi rerata 2.500 sampai 4.500 ton per tahun. [3]<\/p>\n \n\n \n

            Baca: Budidaya Pohon Cengkeh<\/a><\/h2>\n \n\n \n

            Meskipun peran utama rempah-rempah Maluku itu kemudian tergusur pada abad-18 dan 19 oleh beberapa barang eksotika tropis lainnya --hasil perkebunan-perkebunana besar baru di Pulau Sumatera dan Jawa: tebu, tembakau, lada, kopi, teh, nila, kelapa sawit, dan kayu jati-- namun sejarah sudah mencatat bahwa dua jenis rempah-rempah Maluku itulah yang mengawali penjelajahan sekaligus penjajahan kepulauan Nusantara oleh bangsa-bangsa Eropah, terutama Belanda (Topatimasang, ed., 2004:32). Jika saja tak pernah ada cengkeh dan pala di Maluku, mungkin sejarah kepulauan Nusantara ini akan berbeda sama sekali.
            <\/p>\n \n\n \n

            Masa suram cengkeh dan pala terus berlangsung sampai pertengahan abad-20. Rempah eksotika yang pernah membuat tergila-gila<\/p>\n \n\n \n

            para saudagar Arab, pedagang Cina, serta kaum ningrat Eropa itu, tergantikan perannya oleh penemuan teknologi mesin pendingin berkat Revolusi Industri yang dimulai di Inggris pada pertengahan abad-18. Pasaran cengkeh di Eropa pun merosot tajam.
            <\/p>\n \n\n \n

            Nasibnya terselamatkan berkat penemuan oleh seorang Haji Djamhari di Kudus, Jawa Tengah. Pada akhir tahun 1880-an, Haji Djamhari menemukan kegunaan baru cengkeh sebagai ramuan utama rokok. Lahirlah satu produk baru yang unik, khas dan asli Indonesia: kretek! (Hanusz, 2000:ii).
            <\/p>\n \n\n \n

            Setelah seperempat abad hanya berkembang dalam skala kecil usaha rumah tangga, produksi kretek akhirnya menjelma menjadi industri besar sejak awal abad-20 yang dirintis oleh Haji Nitisemito (pendiri pabrik \u2018Jambu Bol\u2019) di Kudus dan Liem Seng Tee (pendiri pabrik \u2018Dji Sam Soe\u2019 dan \u2018Sampoerna\u2019) di Surabaya.
            <\/p>\n \n\n \n

            Puncaknya adalah pada pertengahan tahun 1950-an, ketika produksi kretek mulai berkembang pesat menjadi industri raksasa modern dengan munculnya beberapa pabrik baru, antara lain, yang terkemuka, oleh Oei Wei Gwan (pendiri pabrik \u2018Djarum\u2019) di Kudus dan Tjou Ing Hwie (pendiri pabrik \u2018Gudang Garam\u2019) di Kediri (Topatimasang, et.al., eds., 2010:131).<\/p>\n \n\n \n

            Baca: Teruslah Menanam Tembakau dan Cengkeh, Wahai Petani Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n

            Cengkeh, bahan baku paling esensial dari kretek --selain tembakau, tentu saja-- pun kembali berjaya. Bahkan, sejak dasawarsa 1970an, telah menjadi salah satu penyumbang terbesar keuangan negara Republik Indonesia. Pada tahun 2012 dan 2013, pemasukan cukai dari industri kretek mencatat 95,5% dari seluruh pemasukan cukai ke kas negara. Nilainya tak tanggung-tanggung: Rp 87 triliun! (el-Guyanie, et.al.: 2013:4-5).<\/strong>
            <\/p>\n \n\n \n

            Nilai ekonomisnya yang sangat besar sempat menggoda penguasa otoriter rezim Presiden Soeharto, pada 1990-an, memberlakukan satu kebijakan \u2018Hongi Gaya Baru\u2019: monopoli perdagangan cengkeh dalam negeri melalui Badan Penyanggah dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) yang sangat merugikan petani. Harga cengkeh di tingkat petani penghasil anjlok sampai hanya Rp 2.000 - 3.000 per kilogram, lebih murah dari harga sebungkus kretek yang dihasilkan darinya.
            <\/p>\n \n\n \n

            Akibatnya, ratusan ribu pohon cengkeh di daerah-daerah penghasil utama --Maluku, Maluku Utara, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Selatan-- ditebangi atau dibiarkan terlantar tak terurus.
            <\/p>\n \n\n \n

            Gelombang reformasi sistem politik dan hukum nasional yang dimulai pada tahun 1998, akhirnya menjungkalkan rezim Soeharto dan BPPC dibubarkan, Pelan tapi pasti, harga cengkeh kembali merangkak naik, sehingga pada tahun 2012, bahkan melewati angka Rp 200.000 per kilogram. Para petani cengkeh di seluruh negeri kembali tersenyum. Tetapi, sampai kapan? <\/p>\n \n\n \n

            Catatan:<\/strong><\/p>\n \n\n \n

            [1] Beberapa sumber menyebutkan bahwa kata \u2018cengkeh\u2019 dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Mandarin, tkeng-his atau xi\u2019jia, yang berarti \u2018rempah [berbentuk mirip] paku\u2019 (scented nails). Ini menunjukkan bahwa cengkeh sudah dikenal sejak lama oleh bangsa Cina --diketahui sejak abad-2-- jauh sebelum orang Eropa mengenalnya ((lihat, misalnya: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n \n\n \n

            [2] Catatan-catatan para biarawan Fransiskan --yang disalin dan dikutip oleh van Frassen-- bahkan menyebut cengkeh sebagai salah satu bahan utama pengawet mumi para Fir\u2019aun, penguasa Mesir Kuno. Beberapa pakar sejarah dan arkeologi menyatakan bahwa rempah-rempah Maluku bahkan sudah ditemukan artefaknya di Lembah Mesopotomia (wilayah Iraq dan sekitarnya sekarang) pada 3.000 tahun sebelum Masehi. (lihat, antara lain: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n \n\n \n

            [3] Uraian lebih rinci sejarah kolonialisme rempah-rempah Nusantara ini, terutama oleh Belanda dan Portugis, dapat dibaca pada beberapa sumber kepustakaan yang sudah dikenal luas, antara lain: Glamann (1958) dan Boxer (1965 dan 1969). Dalam risalah klasik Pires disebutkan bahwa pada tahun 1512-1521 saja, jumlah produksi cengkeh di Maluku sudah mencapai 7.250 bahar per tahun, terbesar adalah di Makian serta Amboina dan Lease (masing-masing 1.500 bahar)(Pires, 1512-1515).<\/em>
            <\/p>\n \n\n \n

            Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem Topatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
            <\/p>\n ","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-10 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-02-10 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5425","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5415,"post_author":"878","post_date":"2019-02-07 12:15:55","post_date_gmt":"2019-02-07 05:15:55","post_content":" \n

            Belakangan ini, ketika musim hujan tiba, di Kabupaten Temanggung, Kabupaten Jember, dan beberapa wilayah sentra pertanian tembakau lainnya, hampir mustahil menemukan tanaman tembakau tumbuh di lahan-lahan milik petani. Di wilayah-wilayah tersebut, citra sebagai sentra pertanian tembakau seakan menguap. Lahan-lahan yang ada di sana, sama sekali tidak ditumbuhi tanaman tembakau.<\/p>\n \n\n \n

            Kabar ini bisa jadi dianggap sebagai kabar gembira bagi mereka yang menganggap diri dan kelompoknya anti-rokok dan anti-tembakau yang selalu mengampanyekan sikap-sikap mereka terkait kebencian kepada tembakau dan aktivitas merokok. Setelah sekian lama berjuang, akhirnya perjuangan mereka dirasa berhasil usai menyaksikan fenomena lahan-lahan di wilayah yang dianggap sentra pertanian tembakau pada hari-hari belakangan ini.<\/p>\n \n\n \n

            Baca juga: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/h3>\n \n\n \n

            Tak sia-sia turun ke jalan, tak sia-sia melakukan lobi-lobi ke penguasa, tak sia-sia mengucurkan uang yang tidak sedikit, dan tak sia-sia mempermalukan diri dengan mengemis ke lembaga donor asing dan menggondol uang dari cukai tembakau untuk mengampanyekan gerakan anti-rokok dan anti-tembakau. Tak sia-sia. Karena perjuangan sepertinya berhasil.<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

            Kampanye-kampanye gerakan mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya, sepertinya juga sangat berhasil. Bagaimana tidak? Wilayah-wilayah yang sebelumnya penuh dengan tanaman tembakau dan bergeliat dengannya, kini lahan-lahannya sudah berganti dengan tanaman lain. Sebuah keberhasilan yang menggembirakan. Begitu mungkin pikir mereka para yang menganggap dirinya pejuang anti-rokok dan anti-tembakau. Dan tentu saja mereka akan kecele dan kita akan menertawakan hal itu.<\/p>\n \n\n \n

            Sayangnya, mereka yang menganggap dirinya anti-rokok dan anti-tembakau tidak menyaksikan langsung fenomena ini di lapangan, di lahan-lahan yang peruntukannya berubah pada hari-hari belakangan ini ketika memasuki musim hujan. Mereka asyik duduk pada kursi empuk di ruang-ruang nyaman ber-AC di kota-kota yang jauh dari kultur pertanian. Mereka menyengajakan diri menjadi elit dan enggan untuk turun melihat langsung ke lapangan. Kalaupun ada yang turun langsung ke lapangan, hanya segelintir saja dari mereka, itupun sekadar formalitas saja. Tak pernah benar-benar mau turun ke lapangan, hidup dan merasakan langsung kultur pertanian tembakau dalam jangka waktu cukup lama di lapangan.<\/p>\n \n\n \n

            Baca juga: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

            Fenomena ini membikin kita tak bisa melihat mereka para anti-rokok kecele lalu menertawakan mereka.<\/strong> Fenomena keengganan terjun langsung ke lapangan terlebih mencoba mendengar mereka yang tetap menanam tembakau, juga menjalani keseharian dalam waktu cukup lama bersama petani tembakau inilah yang saya kira menjadikan mereka tetap keras kepala untuk anti-rokok dan anti-tembakau. Karena jika mereka mau melakukan itu, saya yakin mereka semua tidak akan begitu kaku dalam memandang pertanian tembakau dan produk hasil industri tembakau.<\/p>\n \n\n \n

            Salah satu yang selalu mereka kampanyekan dan ngotot dengan itu, terkait hulu pertanian tembakau adalah mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya. Mereka berargumen banyak tanaman lain yang bisa semenguntungkan tanaman tembakau. Keengganan mereka terjun langsung ke lapangan inilah yang membikin mereka buta dengan kondisi pertanian tembakau dan pada akhirnya terus menerus mengampanyekan pergantian tanaman tembakau dengan tanaman lainnya.<\/p>\n \n\n \n

            Baca juga: Imanlah kepada Allah, Bukan Antirokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

            Tembakau tanaman yang khas. Ia hanya tumbuh baik sepanjang empat hingga lima bulan dalam satu tahun. Tumbuh-kembang tanaman tembakau dengan baik itu umumnya terjadi pada musim kemarau setiap tahunnya. Hanya sedikit sekali jenis tembakau yang tumbuh baik di musim penghujan, mayoritasnya, tumbuh baik pada musim kemarau.<\/p>\n \n\n \n

            Jika ditanam pada musim hujan, hampir bisa dipastikan tanaman tembakau akan gagal menghasilkan daun-daun yang berkualitas. Ia akan rusak dan membusuk karena terlalu banyak terkena air sehingga daun-daun itu tak layak dijual. Jangankan bisa dijual, untuk tumbuh dengan baik pun sepertinya sulit karena musim hujan akan membunuh banyak tanaman itu.<\/p>\n \n\n \n

            Maka, tak heran pada musim-musim seperti saat ini, ketika musim penghujan mendekati puncaknya, di wilayah-wilayah yang dikenal sebagai sentra pertanian tembakau, sulit menemukan pohon tembakau yang sedang tumbuh. Pada lahan-lahan yang sebelumnya ditumbuhi tanaman tembakau pada musim panas, berganti tanaman-tanaman lain yang bermacam-macam, sesuai dengan kondisi lahannya. Untuk lahan sawah, lahan-lahan itu pada musim penghujan kini ditumbuhi tanaman padi yang subur. Pada lahan tegalan dan lahan di pegunungan, lahan-lahan yang ditanami tembakau pada musim kemarau, saat ini ditumbuhi bermacam jenis tanaman mulai dari cabai, bawang, tomat, kol, terong, mentimun, dan ragam jenis tanaman semusim lainnya.<\/p>\n \n\n \n

            Uniknya, tipikal tanaman tembakau yang tumbuh baik di musim kemarau ini memberi pilihan lebih kepada para petani. Lahan-lahan yang sulit ditanami pada musim kemarau, pada akhirnya masih bisa tetap produktif dengan keberadaan tanaman tembakau. <\/p>\n \n\n \n

            Maka, kampanye aneh mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain dengan ragam rupa dalih yang membingungkan, bukan saja sama sekali tidak tepat dan asal-asalan, namun bisa jadi akan ditertawakan oleh para petani yang begitu paham dengan kondisi lahan dan terutama kondisi iklim dan cuaca. Sulit mencari tanaman semusim yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Jika pun ada, tak ada yang semenguntungkan tanaman tembakau.
            <\/p>\n ","post_title":"Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"keberhasilan-gerakan-anti-tembakau-tak-ada-tembakau-saat-musim-hujan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-07 12:16:02","post_modified_gmt":"2019-02-07 05:16:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5415","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5409,"post_author":"919","post_date":"2019-02-05 08:04:43","post_date_gmt":"2019-02-05 01:04:43","post_content":" \n

            Tahun Baru Imlek yang merupakan tradisi Bangsa Tiongkok kini sudah tak lagi menjadi hal yang asing bagi masyarakat Indonesia. Kehadirannya sudah mewarnai dan berakulturasi dengan tradisi lokal. Menjelang Tahun Baru Imlek. Berbagai hiasan dan kemeriahan terjadi beberapa titik di Tanah Air. Perayaannya juga menjadi destinasi baru yang mengasyikkan untuk dilihat dan patut disaksikan.<\/p>\n \n\n \n

            Berterimakasihlah kepada sang bapak bangsa, KH Abdurrahman Wahid atau yang dikenal dengan nama Gus Dur. Berkat kebijakannya saat menjadi Presiden Indonesia, Tahun Baru Imlek resmi dijadikan hari libur nasional dan dianggap sebagai salah satu hari raya di Tanah Air. Meski sentimen antitionghoa masih ada di sana-sini, tapi tetap tak bisa dipungkiri bahwa bangsa tionghoa sudah bersentuhan dengan budaya lokal dalam kurun waktu yang sangat panjang.<\/p>\n \n\n \n

            DNA Bangsa Tionghoa yang memang merupakan pedagang menjadi pembuka kisah interaksi antara nenek moyang berbagai suku di Nusantara dengan mereka. Beberapa kelenteng-kelenteng yang tersebar pada berbagai pesisir daerah di Nusantara jadi buktinya. Pelabuhan-pelabuhan tua di tanah air dan ramainya perdagangan di pesisir mempermudah bangsa kita berhubungan dengan Bangsa Tionghoa.<\/p>\n \n\n \n

            Baca Juga: Wong Kalang dan Kota Gede<\/a><\/h3>\n \n\n \n

            Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa kehadiran Bangsa Tionghoa di Nusantara tak hanya sebagai pedagang, namun juga sebagai pekerja (bahkan hingga pekerja kasar). Benny Setiono, seorang sejarahwan menyebutkan bahwa antara tahun 1760-1770 dalam jumlah yang besar memasuki nusantara melalui Kalimantan Barat. Mereka bekerja sebagai kuli pertambangan di sana dan di kemudian hari membentuk sebuah republik bernama Republik Lanfang yang konon katanya menjadi republik pertama di Asia Tenggara.<\/p>\n \n\n \n

            Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n \n\n \n

            Baca Juga: Imlek dan Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n

            Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n \n\n \n

            Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n \n\n \n

            Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n \n\n \n

            Baca Juga: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

            Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n \n\n \n

            Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
            <\/p>\n ","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_3o3","class":"epic_block_3"};

            \n

            Dalam satu hamparan direkomendasikan selesai tanam maksimal 3 Hari. Umur  tanaman akan menjadi sama atau seragam. Performance tanaman juga akan menjadi  seragam. Kemasakan daun pada saat petik juga menjadi seragam. Memudahkan pada saat  proses panen dan pasca panen. Tembakau kering yang dihasilkan pun juga seragam.<\/p>\n \n\n\n

            1. Pengendalian Hama & Penyakit<\/strong> <\/li><\/ol>\n \n\n \n

              ~ Pada awal penyebaran benih direkomendasikan untuk melakukan penyemprotan fusngisida (jamur), seperti Previcur, Redomil & Antracol <\/p>\n \n\n \n

              ~ Hama yang sering dijumpai: semut (Decis), janggel, orong-orong <\/p>\n \n\n \n

              1. Tahapan Perawatan<\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n
                \"\"\/<\/figure>\n ","post_title":"Sukses Bertani Tembakau Bersama Kemitraan Djarum di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sukses-bertani-tembakau-bersama-kemitraan-djarum-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-11 12:32:18","post_modified_gmt":"2019-02-11 05:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5433","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5425,"post_author":"922","post_date":"2019-02-10 09:07:33","post_date_gmt":"2019-02-10 02:07:33","post_content":" \n

                Bahwa cengkeh [1] (Syzygium aromaticum) --bersama pala (Myristica fragrans)-- adalah dua tanaman asli (endemik) Kepulauan Maluku, sudah tak terbantahkan. Cengkeh dikenal dan diakui berasal dari \u2018Empat Pulau Gunung Maluku\u2019 (Maloko Kie Raha): Ternate, Tidore, Moti, dan Makian.
                <\/p>\n \n\n \n

                Adapun pala, berasal dari empat pulau kecil lainnya di tengah Laut Banda: Lonthor, Neira, Rhun, dan Ai. Pada penjelasan peta abad-16 oleh penjelajah dari Semenanjung Iberia, Fransisco Rodriguez, tertulis: \u201cEstas quatro Ilhas Azures suam as de molluquo homde nace ho crauzo\u201d<\/em> (Adalah empat pulau berwarna biru [dalam peta] yang disebut sebagai Kepulauan Maluku di mana rempah-rempah berasal) (Pires, 1512- 1515:213).
                <\/p>\n \n\n \n

                Sejak beberapa abad sebelum Masehi, adalah para saudagar Arab --melalui Samudera Hindia melintasi Iskandariyah dan Laut Tengah-- serta para pedagang Cina --melalui jalur \u2018Jalan Sutra\u2019 melintasi Asia Tengah dan Asia Barat-- yang membawa dan memperkenalkannya ke daratan Eropa. <\/p>\n \n\n \n

                Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                Bandar-bandar besar Tyre di Yunani dan Venesia di Italia menjadi pelabuhan utama rempah-rempah Maluku memasuki kehidupan dan peradaban Eropa. Selain sebagai bumbu masakan, rempah obat, dan ramuan wewangian, cengkeh dan pala juga menjadi bahan utama pengawet bahan pangan. [2]
                <\/p>\n \n\n \n

                Inilah yang membuat orang-orang Eropa untuk pertama kalinya dapat mengawetkan dan menimbun makanan selama bermusim-musim. Prosa indah Blair bersaudara menggambarkannya dengan sangat baik:
                <\/p>\n \n\n \n

                \u201cKemampuan menyimpan makanan lebih dari yang kami makan sekaligus berarti kemampuan menjual dan membelinya dalam jumlah besar --dan kota-kota dagang pun mekar. Perekonomian yang dihasilkannya mengarahkan kami ke zaman Pencerahan dan kemudian Revolusi Industri. Tak lama setelah kami menghirup aroma yang sangat kuat dari Timur itu dan mengubah kimiawi makanan kami, maka kami pun mampu melakukan lompatan besar dalam bidang budaya dan seni.\u201d (Blair & Blair, 2010; 30-31).<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

                Baca: Cengkeh dan Kelapa di Kepulauan Anambas<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                Bukan hanya membuat perekonomian dan perdagangan serta ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang, cengkeh dan pala bahkan adalah faktor yang paling menentukan dalam kemunculan satu babakan paling mengenaskan dalam sejarah politik dunia, yakni zaman penjajahan (kolonialisme) Eropa, terutama atas-atas negeri- negeri Asia Selatan, Timur dan Tenggara, termasuk Indonesia.
                <\/p>\n \n\n \n

                Tergerak oleh sahwat menguasai rempah-rempah yang menggiurkan itu, bangsa-bangsa Eropa --terutama Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda-- pun menggelar ekspedisi-ekspedisi besar untuk menemukan cengkeh dan pala langsung di tanah asalnya. Ketika armada-armada mereka akhirnya mencapai perairan Kepulauan Maluku, pada abad-16, perang pun tak terhindarkan.
                <\/p>\n \n\n \n

                Mereka silih berganti saling mengalahkan, tetapi pemenang terakhir adalah Belanda. Melalui Perusahaan Dagang Hindia Timur (Vereenigde Oostindische Compagnie, VOC) yang dibentuk pada awal abad-17 (tepatnya tahun 1609), Belanda melancarkan ekspedisi Pelayaran Hongi (Hongie Tochten), untuk memusnahkan semua tanaman cengkeh di Ternate, Tidore, Moti, dan Makian, lalu membatasi ketat penanamnya hanya di Pulau-pulau Ambon dan Lease --yang lebih dekat ke Banda sebagai pusat pemerintahan mereka sebelum akhirnya dipindahkan ke Batavia.
                <\/p>\n \n\n \n

                Praktis, sejak akhir abad-16, Belanda pun menguasai penuh perdagangan rempah-rempah Maluku dengan jumlah produksi rerata 2.500 sampai 4.500 ton per tahun. [3]<\/p>\n \n\n \n

                Baca: Budidaya Pohon Cengkeh<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                Meskipun peran utama rempah-rempah Maluku itu kemudian tergusur pada abad-18 dan 19 oleh beberapa barang eksotika tropis lainnya --hasil perkebunan-perkebunana besar baru di Pulau Sumatera dan Jawa: tebu, tembakau, lada, kopi, teh, nila, kelapa sawit, dan kayu jati-- namun sejarah sudah mencatat bahwa dua jenis rempah-rempah Maluku itulah yang mengawali penjelajahan sekaligus penjajahan kepulauan Nusantara oleh bangsa-bangsa Eropah, terutama Belanda (Topatimasang, ed., 2004:32). Jika saja tak pernah ada cengkeh dan pala di Maluku, mungkin sejarah kepulauan Nusantara ini akan berbeda sama sekali.
                <\/p>\n \n\n \n

                Masa suram cengkeh dan pala terus berlangsung sampai pertengahan abad-20. Rempah eksotika yang pernah membuat tergila-gila<\/p>\n \n\n \n

                para saudagar Arab, pedagang Cina, serta kaum ningrat Eropa itu, tergantikan perannya oleh penemuan teknologi mesin pendingin berkat Revolusi Industri yang dimulai di Inggris pada pertengahan abad-18. Pasaran cengkeh di Eropa pun merosot tajam.
                <\/p>\n \n\n \n

                Nasibnya terselamatkan berkat penemuan oleh seorang Haji Djamhari di Kudus, Jawa Tengah. Pada akhir tahun 1880-an, Haji Djamhari menemukan kegunaan baru cengkeh sebagai ramuan utama rokok. Lahirlah satu produk baru yang unik, khas dan asli Indonesia: kretek! (Hanusz, 2000:ii).
                <\/p>\n \n\n \n

                Setelah seperempat abad hanya berkembang dalam skala kecil usaha rumah tangga, produksi kretek akhirnya menjelma menjadi industri besar sejak awal abad-20 yang dirintis oleh Haji Nitisemito (pendiri pabrik \u2018Jambu Bol\u2019) di Kudus dan Liem Seng Tee (pendiri pabrik \u2018Dji Sam Soe\u2019 dan \u2018Sampoerna\u2019) di Surabaya.
                <\/p>\n \n\n \n

                Puncaknya adalah pada pertengahan tahun 1950-an, ketika produksi kretek mulai berkembang pesat menjadi industri raksasa modern dengan munculnya beberapa pabrik baru, antara lain, yang terkemuka, oleh Oei Wei Gwan (pendiri pabrik \u2018Djarum\u2019) di Kudus dan Tjou Ing Hwie (pendiri pabrik \u2018Gudang Garam\u2019) di Kediri (Topatimasang, et.al., eds., 2010:131).<\/p>\n \n\n \n

                Baca: Teruslah Menanam Tembakau dan Cengkeh, Wahai Petani Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                Cengkeh, bahan baku paling esensial dari kretek --selain tembakau, tentu saja-- pun kembali berjaya. Bahkan, sejak dasawarsa 1970an, telah menjadi salah satu penyumbang terbesar keuangan negara Republik Indonesia. Pada tahun 2012 dan 2013, pemasukan cukai dari industri kretek mencatat 95,5% dari seluruh pemasukan cukai ke kas negara. Nilainya tak tanggung-tanggung: Rp 87 triliun! (el-Guyanie, et.al.: 2013:4-5).<\/strong>
                <\/p>\n \n\n \n

                Nilai ekonomisnya yang sangat besar sempat menggoda penguasa otoriter rezim Presiden Soeharto, pada 1990-an, memberlakukan satu kebijakan \u2018Hongi Gaya Baru\u2019: monopoli perdagangan cengkeh dalam negeri melalui Badan Penyanggah dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) yang sangat merugikan petani. Harga cengkeh di tingkat petani penghasil anjlok sampai hanya Rp 2.000 - 3.000 per kilogram, lebih murah dari harga sebungkus kretek yang dihasilkan darinya.
                <\/p>\n \n\n \n

                Akibatnya, ratusan ribu pohon cengkeh di daerah-daerah penghasil utama --Maluku, Maluku Utara, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Selatan-- ditebangi atau dibiarkan terlantar tak terurus.
                <\/p>\n \n\n \n

                Gelombang reformasi sistem politik dan hukum nasional yang dimulai pada tahun 1998, akhirnya menjungkalkan rezim Soeharto dan BPPC dibubarkan, Pelan tapi pasti, harga cengkeh kembali merangkak naik, sehingga pada tahun 2012, bahkan melewati angka Rp 200.000 per kilogram. Para petani cengkeh di seluruh negeri kembali tersenyum. Tetapi, sampai kapan? <\/p>\n \n\n \n

                Catatan:<\/strong><\/p>\n \n\n \n

                [1] Beberapa sumber menyebutkan bahwa kata \u2018cengkeh\u2019 dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Mandarin, tkeng-his atau xi\u2019jia, yang berarti \u2018rempah [berbentuk mirip] paku\u2019 (scented nails). Ini menunjukkan bahwa cengkeh sudah dikenal sejak lama oleh bangsa Cina --diketahui sejak abad-2-- jauh sebelum orang Eropa mengenalnya ((lihat, misalnya: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n \n\n \n

                [2] Catatan-catatan para biarawan Fransiskan --yang disalin dan dikutip oleh van Frassen-- bahkan menyebut cengkeh sebagai salah satu bahan utama pengawet mumi para Fir\u2019aun, penguasa Mesir Kuno. Beberapa pakar sejarah dan arkeologi menyatakan bahwa rempah-rempah Maluku bahkan sudah ditemukan artefaknya di Lembah Mesopotomia (wilayah Iraq dan sekitarnya sekarang) pada 3.000 tahun sebelum Masehi. (lihat, antara lain: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n \n\n \n

                [3] Uraian lebih rinci sejarah kolonialisme rempah-rempah Nusantara ini, terutama oleh Belanda dan Portugis, dapat dibaca pada beberapa sumber kepustakaan yang sudah dikenal luas, antara lain: Glamann (1958) dan Boxer (1965 dan 1969). Dalam risalah klasik Pires disebutkan bahwa pada tahun 1512-1521 saja, jumlah produksi cengkeh di Maluku sudah mencapai 7.250 bahar per tahun, terbesar adalah di Makian serta Amboina dan Lease (masing-masing 1.500 bahar)(Pires, 1512-1515).<\/em>
                <\/p>\n \n\n \n

                Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem Topatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
                <\/p>\n ","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-10 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-02-10 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5425","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5415,"post_author":"878","post_date":"2019-02-07 12:15:55","post_date_gmt":"2019-02-07 05:15:55","post_content":" \n

                Belakangan ini, ketika musim hujan tiba, di Kabupaten Temanggung, Kabupaten Jember, dan beberapa wilayah sentra pertanian tembakau lainnya, hampir mustahil menemukan tanaman tembakau tumbuh di lahan-lahan milik petani. Di wilayah-wilayah tersebut, citra sebagai sentra pertanian tembakau seakan menguap. Lahan-lahan yang ada di sana, sama sekali tidak ditumbuhi tanaman tembakau.<\/p>\n \n\n \n

                Kabar ini bisa jadi dianggap sebagai kabar gembira bagi mereka yang menganggap diri dan kelompoknya anti-rokok dan anti-tembakau yang selalu mengampanyekan sikap-sikap mereka terkait kebencian kepada tembakau dan aktivitas merokok. Setelah sekian lama berjuang, akhirnya perjuangan mereka dirasa berhasil usai menyaksikan fenomena lahan-lahan di wilayah yang dianggap sentra pertanian tembakau pada hari-hari belakangan ini.<\/p>\n \n\n \n

                Baca juga: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                Tak sia-sia turun ke jalan, tak sia-sia melakukan lobi-lobi ke penguasa, tak sia-sia mengucurkan uang yang tidak sedikit, dan tak sia-sia mempermalukan diri dengan mengemis ke lembaga donor asing dan menggondol uang dari cukai tembakau untuk mengampanyekan gerakan anti-rokok dan anti-tembakau. Tak sia-sia. Karena perjuangan sepertinya berhasil.<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

                Kampanye-kampanye gerakan mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya, sepertinya juga sangat berhasil. Bagaimana tidak? Wilayah-wilayah yang sebelumnya penuh dengan tanaman tembakau dan bergeliat dengannya, kini lahan-lahannya sudah berganti dengan tanaman lain. Sebuah keberhasilan yang menggembirakan. Begitu mungkin pikir mereka para yang menganggap dirinya pejuang anti-rokok dan anti-tembakau. Dan tentu saja mereka akan kecele dan kita akan menertawakan hal itu.<\/p>\n \n\n \n

                Sayangnya, mereka yang menganggap dirinya anti-rokok dan anti-tembakau tidak menyaksikan langsung fenomena ini di lapangan, di lahan-lahan yang peruntukannya berubah pada hari-hari belakangan ini ketika memasuki musim hujan. Mereka asyik duduk pada kursi empuk di ruang-ruang nyaman ber-AC di kota-kota yang jauh dari kultur pertanian. Mereka menyengajakan diri menjadi elit dan enggan untuk turun melihat langsung ke lapangan. Kalaupun ada yang turun langsung ke lapangan, hanya segelintir saja dari mereka, itupun sekadar formalitas saja. Tak pernah benar-benar mau turun ke lapangan, hidup dan merasakan langsung kultur pertanian tembakau dalam jangka waktu cukup lama di lapangan.<\/p>\n \n\n \n

                Baca juga: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                Fenomena ini membikin kita tak bisa melihat mereka para anti-rokok kecele lalu menertawakan mereka.<\/strong> Fenomena keengganan terjun langsung ke lapangan terlebih mencoba mendengar mereka yang tetap menanam tembakau, juga menjalani keseharian dalam waktu cukup lama bersama petani tembakau inilah yang saya kira menjadikan mereka tetap keras kepala untuk anti-rokok dan anti-tembakau. Karena jika mereka mau melakukan itu, saya yakin mereka semua tidak akan begitu kaku dalam memandang pertanian tembakau dan produk hasil industri tembakau.<\/p>\n \n\n \n

                Salah satu yang selalu mereka kampanyekan dan ngotot dengan itu, terkait hulu pertanian tembakau adalah mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya. Mereka berargumen banyak tanaman lain yang bisa semenguntungkan tanaman tembakau. Keengganan mereka terjun langsung ke lapangan inilah yang membikin mereka buta dengan kondisi pertanian tembakau dan pada akhirnya terus menerus mengampanyekan pergantian tanaman tembakau dengan tanaman lainnya.<\/p>\n \n\n \n

                Baca juga: Imanlah kepada Allah, Bukan Antirokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                Tembakau tanaman yang khas. Ia hanya tumbuh baik sepanjang empat hingga lima bulan dalam satu tahun. Tumbuh-kembang tanaman tembakau dengan baik itu umumnya terjadi pada musim kemarau setiap tahunnya. Hanya sedikit sekali jenis tembakau yang tumbuh baik di musim penghujan, mayoritasnya, tumbuh baik pada musim kemarau.<\/p>\n \n\n \n

                Jika ditanam pada musim hujan, hampir bisa dipastikan tanaman tembakau akan gagal menghasilkan daun-daun yang berkualitas. Ia akan rusak dan membusuk karena terlalu banyak terkena air sehingga daun-daun itu tak layak dijual. Jangankan bisa dijual, untuk tumbuh dengan baik pun sepertinya sulit karena musim hujan akan membunuh banyak tanaman itu.<\/p>\n \n\n \n

                Maka, tak heran pada musim-musim seperti saat ini, ketika musim penghujan mendekati puncaknya, di wilayah-wilayah yang dikenal sebagai sentra pertanian tembakau, sulit menemukan pohon tembakau yang sedang tumbuh. Pada lahan-lahan yang sebelumnya ditumbuhi tanaman tembakau pada musim panas, berganti tanaman-tanaman lain yang bermacam-macam, sesuai dengan kondisi lahannya. Untuk lahan sawah, lahan-lahan itu pada musim penghujan kini ditumbuhi tanaman padi yang subur. Pada lahan tegalan dan lahan di pegunungan, lahan-lahan yang ditanami tembakau pada musim kemarau, saat ini ditumbuhi bermacam jenis tanaman mulai dari cabai, bawang, tomat, kol, terong, mentimun, dan ragam jenis tanaman semusim lainnya.<\/p>\n \n\n \n

                Uniknya, tipikal tanaman tembakau yang tumbuh baik di musim kemarau ini memberi pilihan lebih kepada para petani. Lahan-lahan yang sulit ditanami pada musim kemarau, pada akhirnya masih bisa tetap produktif dengan keberadaan tanaman tembakau. <\/p>\n \n\n \n

                Maka, kampanye aneh mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain dengan ragam rupa dalih yang membingungkan, bukan saja sama sekali tidak tepat dan asal-asalan, namun bisa jadi akan ditertawakan oleh para petani yang begitu paham dengan kondisi lahan dan terutama kondisi iklim dan cuaca. Sulit mencari tanaman semusim yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Jika pun ada, tak ada yang semenguntungkan tanaman tembakau.
                <\/p>\n ","post_title":"Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"keberhasilan-gerakan-anti-tembakau-tak-ada-tembakau-saat-musim-hujan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-07 12:16:02","post_modified_gmt":"2019-02-07 05:16:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5415","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5409,"post_author":"919","post_date":"2019-02-05 08:04:43","post_date_gmt":"2019-02-05 01:04:43","post_content":" \n

                Tahun Baru Imlek yang merupakan tradisi Bangsa Tiongkok kini sudah tak lagi menjadi hal yang asing bagi masyarakat Indonesia. Kehadirannya sudah mewarnai dan berakulturasi dengan tradisi lokal. Menjelang Tahun Baru Imlek. Berbagai hiasan dan kemeriahan terjadi beberapa titik di Tanah Air. Perayaannya juga menjadi destinasi baru yang mengasyikkan untuk dilihat dan patut disaksikan.<\/p>\n \n\n \n

                Berterimakasihlah kepada sang bapak bangsa, KH Abdurrahman Wahid atau yang dikenal dengan nama Gus Dur. Berkat kebijakannya saat menjadi Presiden Indonesia, Tahun Baru Imlek resmi dijadikan hari libur nasional dan dianggap sebagai salah satu hari raya di Tanah Air. Meski sentimen antitionghoa masih ada di sana-sini, tapi tetap tak bisa dipungkiri bahwa bangsa tionghoa sudah bersentuhan dengan budaya lokal dalam kurun waktu yang sangat panjang.<\/p>\n \n\n \n

                DNA Bangsa Tionghoa yang memang merupakan pedagang menjadi pembuka kisah interaksi antara nenek moyang berbagai suku di Nusantara dengan mereka. Beberapa kelenteng-kelenteng yang tersebar pada berbagai pesisir daerah di Nusantara jadi buktinya. Pelabuhan-pelabuhan tua di tanah air dan ramainya perdagangan di pesisir mempermudah bangsa kita berhubungan dengan Bangsa Tionghoa.<\/p>\n \n\n \n

                Baca Juga: Wong Kalang dan Kota Gede<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa kehadiran Bangsa Tionghoa di Nusantara tak hanya sebagai pedagang, namun juga sebagai pekerja (bahkan hingga pekerja kasar). Benny Setiono, seorang sejarahwan menyebutkan bahwa antara tahun 1760-1770 dalam jumlah yang besar memasuki nusantara melalui Kalimantan Barat. Mereka bekerja sebagai kuli pertambangan di sana dan di kemudian hari membentuk sebuah republik bernama Republik Lanfang yang konon katanya menjadi republik pertama di Asia Tenggara.<\/p>\n \n\n \n

                Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n \n\n \n

                Baca Juga: Imlek dan Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n \n\n \n

                Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n \n\n \n

                Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n \n\n \n

                Baca Juga: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n \n\n \n

                Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
                <\/p>\n ","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_3o3","class":"epic_block_3"};

                \n
                \"\"\/<\/figure>\n \n\n\n

                Dalam satu hamparan direkomendasikan selesai tanam maksimal 3 Hari. Umur  tanaman akan menjadi sama atau seragam. Performance tanaman juga akan menjadi  seragam. Kemasakan daun pada saat petik juga menjadi seragam. Memudahkan pada saat  proses panen dan pasca panen. Tembakau kering yang dihasilkan pun juga seragam.<\/p>\n \n\n \n

                1. Pengendalian Hama & Penyakit<\/strong> <\/li><\/ol>\n \n\n \n

                  ~ Pada awal penyebaran benih direkomendasikan untuk melakukan penyemprotan fusngisida (jamur), seperti Previcur, Redomil & Antracol <\/p>\n \n\n \n

                  ~ Hama yang sering dijumpai: semut (Decis), janggel, orong-orong <\/p>\n \n\n \n

                  1. Tahapan Perawatan<\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n
                    \"\"\/<\/figure>\n ","post_title":"Sukses Bertani Tembakau Bersama Kemitraan Djarum di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sukses-bertani-tembakau-bersama-kemitraan-djarum-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-11 12:32:18","post_modified_gmt":"2019-02-11 05:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5433","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5425,"post_author":"922","post_date":"2019-02-10 09:07:33","post_date_gmt":"2019-02-10 02:07:33","post_content":" \n

                    Bahwa cengkeh [1] (Syzygium aromaticum) --bersama pala (Myristica fragrans)-- adalah dua tanaman asli (endemik) Kepulauan Maluku, sudah tak terbantahkan. Cengkeh dikenal dan diakui berasal dari \u2018Empat Pulau Gunung Maluku\u2019 (Maloko Kie Raha): Ternate, Tidore, Moti, dan Makian.
                    <\/p>\n \n\n \n

                    Adapun pala, berasal dari empat pulau kecil lainnya di tengah Laut Banda: Lonthor, Neira, Rhun, dan Ai. Pada penjelasan peta abad-16 oleh penjelajah dari Semenanjung Iberia, Fransisco Rodriguez, tertulis: \u201cEstas quatro Ilhas Azures suam as de molluquo homde nace ho crauzo\u201d<\/em> (Adalah empat pulau berwarna biru [dalam peta] yang disebut sebagai Kepulauan Maluku di mana rempah-rempah berasal) (Pires, 1512- 1515:213).
                    <\/p>\n \n\n \n

                    Sejak beberapa abad sebelum Masehi, adalah para saudagar Arab --melalui Samudera Hindia melintasi Iskandariyah dan Laut Tengah-- serta para pedagang Cina --melalui jalur \u2018Jalan Sutra\u2019 melintasi Asia Tengah dan Asia Barat-- yang membawa dan memperkenalkannya ke daratan Eropa. <\/p>\n \n\n \n

                    Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                    Bandar-bandar besar Tyre di Yunani dan Venesia di Italia menjadi pelabuhan utama rempah-rempah Maluku memasuki kehidupan dan peradaban Eropa. Selain sebagai bumbu masakan, rempah obat, dan ramuan wewangian, cengkeh dan pala juga menjadi bahan utama pengawet bahan pangan. [2]
                    <\/p>\n \n\n \n

                    Inilah yang membuat orang-orang Eropa untuk pertama kalinya dapat mengawetkan dan menimbun makanan selama bermusim-musim. Prosa indah Blair bersaudara menggambarkannya dengan sangat baik:
                    <\/p>\n \n\n \n

                    \u201cKemampuan menyimpan makanan lebih dari yang kami makan sekaligus berarti kemampuan menjual dan membelinya dalam jumlah besar --dan kota-kota dagang pun mekar. Perekonomian yang dihasilkannya mengarahkan kami ke zaman Pencerahan dan kemudian Revolusi Industri. Tak lama setelah kami menghirup aroma yang sangat kuat dari Timur itu dan mengubah kimiawi makanan kami, maka kami pun mampu melakukan lompatan besar dalam bidang budaya dan seni.\u201d (Blair & Blair, 2010; 30-31).<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

                    Baca: Cengkeh dan Kelapa di Kepulauan Anambas<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                    Bukan hanya membuat perekonomian dan perdagangan serta ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang, cengkeh dan pala bahkan adalah faktor yang paling menentukan dalam kemunculan satu babakan paling mengenaskan dalam sejarah politik dunia, yakni zaman penjajahan (kolonialisme) Eropa, terutama atas-atas negeri- negeri Asia Selatan, Timur dan Tenggara, termasuk Indonesia.
                    <\/p>\n \n\n \n

                    Tergerak oleh sahwat menguasai rempah-rempah yang menggiurkan itu, bangsa-bangsa Eropa --terutama Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda-- pun menggelar ekspedisi-ekspedisi besar untuk menemukan cengkeh dan pala langsung di tanah asalnya. Ketika armada-armada mereka akhirnya mencapai perairan Kepulauan Maluku, pada abad-16, perang pun tak terhindarkan.
                    <\/p>\n \n\n \n

                    Mereka silih berganti saling mengalahkan, tetapi pemenang terakhir adalah Belanda. Melalui Perusahaan Dagang Hindia Timur (Vereenigde Oostindische Compagnie, VOC) yang dibentuk pada awal abad-17 (tepatnya tahun 1609), Belanda melancarkan ekspedisi Pelayaran Hongi (Hongie Tochten), untuk memusnahkan semua tanaman cengkeh di Ternate, Tidore, Moti, dan Makian, lalu membatasi ketat penanamnya hanya di Pulau-pulau Ambon dan Lease --yang lebih dekat ke Banda sebagai pusat pemerintahan mereka sebelum akhirnya dipindahkan ke Batavia.
                    <\/p>\n \n\n \n

                    Praktis, sejak akhir abad-16, Belanda pun menguasai penuh perdagangan rempah-rempah Maluku dengan jumlah produksi rerata 2.500 sampai 4.500 ton per tahun. [3]<\/p>\n \n\n \n

                    Baca: Budidaya Pohon Cengkeh<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                    Meskipun peran utama rempah-rempah Maluku itu kemudian tergusur pada abad-18 dan 19 oleh beberapa barang eksotika tropis lainnya --hasil perkebunan-perkebunana besar baru di Pulau Sumatera dan Jawa: tebu, tembakau, lada, kopi, teh, nila, kelapa sawit, dan kayu jati-- namun sejarah sudah mencatat bahwa dua jenis rempah-rempah Maluku itulah yang mengawali penjelajahan sekaligus penjajahan kepulauan Nusantara oleh bangsa-bangsa Eropah, terutama Belanda (Topatimasang, ed., 2004:32). Jika saja tak pernah ada cengkeh dan pala di Maluku, mungkin sejarah kepulauan Nusantara ini akan berbeda sama sekali.
                    <\/p>\n \n\n \n

                    Masa suram cengkeh dan pala terus berlangsung sampai pertengahan abad-20. Rempah eksotika yang pernah membuat tergila-gila<\/p>\n \n\n \n

                    para saudagar Arab, pedagang Cina, serta kaum ningrat Eropa itu, tergantikan perannya oleh penemuan teknologi mesin pendingin berkat Revolusi Industri yang dimulai di Inggris pada pertengahan abad-18. Pasaran cengkeh di Eropa pun merosot tajam.
                    <\/p>\n \n\n \n

                    Nasibnya terselamatkan berkat penemuan oleh seorang Haji Djamhari di Kudus, Jawa Tengah. Pada akhir tahun 1880-an, Haji Djamhari menemukan kegunaan baru cengkeh sebagai ramuan utama rokok. Lahirlah satu produk baru yang unik, khas dan asli Indonesia: kretek! (Hanusz, 2000:ii).
                    <\/p>\n \n\n \n

                    Setelah seperempat abad hanya berkembang dalam skala kecil usaha rumah tangga, produksi kretek akhirnya menjelma menjadi industri besar sejak awal abad-20 yang dirintis oleh Haji Nitisemito (pendiri pabrik \u2018Jambu Bol\u2019) di Kudus dan Liem Seng Tee (pendiri pabrik \u2018Dji Sam Soe\u2019 dan \u2018Sampoerna\u2019) di Surabaya.
                    <\/p>\n \n\n \n

                    Puncaknya adalah pada pertengahan tahun 1950-an, ketika produksi kretek mulai berkembang pesat menjadi industri raksasa modern dengan munculnya beberapa pabrik baru, antara lain, yang terkemuka, oleh Oei Wei Gwan (pendiri pabrik \u2018Djarum\u2019) di Kudus dan Tjou Ing Hwie (pendiri pabrik \u2018Gudang Garam\u2019) di Kediri (Topatimasang, et.al., eds., 2010:131).<\/p>\n \n\n \n

                    Baca: Teruslah Menanam Tembakau dan Cengkeh, Wahai Petani Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                    Cengkeh, bahan baku paling esensial dari kretek --selain tembakau, tentu saja-- pun kembali berjaya. Bahkan, sejak dasawarsa 1970an, telah menjadi salah satu penyumbang terbesar keuangan negara Republik Indonesia. Pada tahun 2012 dan 2013, pemasukan cukai dari industri kretek mencatat 95,5% dari seluruh pemasukan cukai ke kas negara. Nilainya tak tanggung-tanggung: Rp 87 triliun! (el-Guyanie, et.al.: 2013:4-5).<\/strong>
                    <\/p>\n \n\n \n

                    Nilai ekonomisnya yang sangat besar sempat menggoda penguasa otoriter rezim Presiden Soeharto, pada 1990-an, memberlakukan satu kebijakan \u2018Hongi Gaya Baru\u2019: monopoli perdagangan cengkeh dalam negeri melalui Badan Penyanggah dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) yang sangat merugikan petani. Harga cengkeh di tingkat petani penghasil anjlok sampai hanya Rp 2.000 - 3.000 per kilogram, lebih murah dari harga sebungkus kretek yang dihasilkan darinya.
                    <\/p>\n \n\n \n

                    Akibatnya, ratusan ribu pohon cengkeh di daerah-daerah penghasil utama --Maluku, Maluku Utara, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Selatan-- ditebangi atau dibiarkan terlantar tak terurus.
                    <\/p>\n \n\n \n

                    Gelombang reformasi sistem politik dan hukum nasional yang dimulai pada tahun 1998, akhirnya menjungkalkan rezim Soeharto dan BPPC dibubarkan, Pelan tapi pasti, harga cengkeh kembali merangkak naik, sehingga pada tahun 2012, bahkan melewati angka Rp 200.000 per kilogram. Para petani cengkeh di seluruh negeri kembali tersenyum. Tetapi, sampai kapan? <\/p>\n \n\n \n

                    Catatan:<\/strong><\/p>\n \n\n \n

                    [1] Beberapa sumber menyebutkan bahwa kata \u2018cengkeh\u2019 dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Mandarin, tkeng-his atau xi\u2019jia, yang berarti \u2018rempah [berbentuk mirip] paku\u2019 (scented nails). Ini menunjukkan bahwa cengkeh sudah dikenal sejak lama oleh bangsa Cina --diketahui sejak abad-2-- jauh sebelum orang Eropa mengenalnya ((lihat, misalnya: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n \n\n \n

                    [2] Catatan-catatan para biarawan Fransiskan --yang disalin dan dikutip oleh van Frassen-- bahkan menyebut cengkeh sebagai salah satu bahan utama pengawet mumi para Fir\u2019aun, penguasa Mesir Kuno. Beberapa pakar sejarah dan arkeologi menyatakan bahwa rempah-rempah Maluku bahkan sudah ditemukan artefaknya di Lembah Mesopotomia (wilayah Iraq dan sekitarnya sekarang) pada 3.000 tahun sebelum Masehi. (lihat, antara lain: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n \n\n \n

                    [3] Uraian lebih rinci sejarah kolonialisme rempah-rempah Nusantara ini, terutama oleh Belanda dan Portugis, dapat dibaca pada beberapa sumber kepustakaan yang sudah dikenal luas, antara lain: Glamann (1958) dan Boxer (1965 dan 1969). Dalam risalah klasik Pires disebutkan bahwa pada tahun 1512-1521 saja, jumlah produksi cengkeh di Maluku sudah mencapai 7.250 bahar per tahun, terbesar adalah di Makian serta Amboina dan Lease (masing-masing 1.500 bahar)(Pires, 1512-1515).<\/em>
                    <\/p>\n \n\n \n

                    Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem Topatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
                    <\/p>\n ","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-10 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-02-10 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5425","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5415,"post_author":"878","post_date":"2019-02-07 12:15:55","post_date_gmt":"2019-02-07 05:15:55","post_content":" \n

                    Belakangan ini, ketika musim hujan tiba, di Kabupaten Temanggung, Kabupaten Jember, dan beberapa wilayah sentra pertanian tembakau lainnya, hampir mustahil menemukan tanaman tembakau tumbuh di lahan-lahan milik petani. Di wilayah-wilayah tersebut, citra sebagai sentra pertanian tembakau seakan menguap. Lahan-lahan yang ada di sana, sama sekali tidak ditumbuhi tanaman tembakau.<\/p>\n \n\n \n

                    Kabar ini bisa jadi dianggap sebagai kabar gembira bagi mereka yang menganggap diri dan kelompoknya anti-rokok dan anti-tembakau yang selalu mengampanyekan sikap-sikap mereka terkait kebencian kepada tembakau dan aktivitas merokok. Setelah sekian lama berjuang, akhirnya perjuangan mereka dirasa berhasil usai menyaksikan fenomena lahan-lahan di wilayah yang dianggap sentra pertanian tembakau pada hari-hari belakangan ini.<\/p>\n \n\n \n

                    Baca juga: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                    Tak sia-sia turun ke jalan, tak sia-sia melakukan lobi-lobi ke penguasa, tak sia-sia mengucurkan uang yang tidak sedikit, dan tak sia-sia mempermalukan diri dengan mengemis ke lembaga donor asing dan menggondol uang dari cukai tembakau untuk mengampanyekan gerakan anti-rokok dan anti-tembakau. Tak sia-sia. Karena perjuangan sepertinya berhasil.<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

                    Kampanye-kampanye gerakan mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya, sepertinya juga sangat berhasil. Bagaimana tidak? Wilayah-wilayah yang sebelumnya penuh dengan tanaman tembakau dan bergeliat dengannya, kini lahan-lahannya sudah berganti dengan tanaman lain. Sebuah keberhasilan yang menggembirakan. Begitu mungkin pikir mereka para yang menganggap dirinya pejuang anti-rokok dan anti-tembakau. Dan tentu saja mereka akan kecele dan kita akan menertawakan hal itu.<\/p>\n \n\n \n

                    Sayangnya, mereka yang menganggap dirinya anti-rokok dan anti-tembakau tidak menyaksikan langsung fenomena ini di lapangan, di lahan-lahan yang peruntukannya berubah pada hari-hari belakangan ini ketika memasuki musim hujan. Mereka asyik duduk pada kursi empuk di ruang-ruang nyaman ber-AC di kota-kota yang jauh dari kultur pertanian. Mereka menyengajakan diri menjadi elit dan enggan untuk turun melihat langsung ke lapangan. Kalaupun ada yang turun langsung ke lapangan, hanya segelintir saja dari mereka, itupun sekadar formalitas saja. Tak pernah benar-benar mau turun ke lapangan, hidup dan merasakan langsung kultur pertanian tembakau dalam jangka waktu cukup lama di lapangan.<\/p>\n \n\n \n

                    Baca juga: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                    Fenomena ini membikin kita tak bisa melihat mereka para anti-rokok kecele lalu menertawakan mereka.<\/strong> Fenomena keengganan terjun langsung ke lapangan terlebih mencoba mendengar mereka yang tetap menanam tembakau, juga menjalani keseharian dalam waktu cukup lama bersama petani tembakau inilah yang saya kira menjadikan mereka tetap keras kepala untuk anti-rokok dan anti-tembakau. Karena jika mereka mau melakukan itu, saya yakin mereka semua tidak akan begitu kaku dalam memandang pertanian tembakau dan produk hasil industri tembakau.<\/p>\n \n\n \n

                    Salah satu yang selalu mereka kampanyekan dan ngotot dengan itu, terkait hulu pertanian tembakau adalah mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya. Mereka berargumen banyak tanaman lain yang bisa semenguntungkan tanaman tembakau. Keengganan mereka terjun langsung ke lapangan inilah yang membikin mereka buta dengan kondisi pertanian tembakau dan pada akhirnya terus menerus mengampanyekan pergantian tanaman tembakau dengan tanaman lainnya.<\/p>\n \n\n \n

                    Baca juga: Imanlah kepada Allah, Bukan Antirokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                    Tembakau tanaman yang khas. Ia hanya tumbuh baik sepanjang empat hingga lima bulan dalam satu tahun. Tumbuh-kembang tanaman tembakau dengan baik itu umumnya terjadi pada musim kemarau setiap tahunnya. Hanya sedikit sekali jenis tembakau yang tumbuh baik di musim penghujan, mayoritasnya, tumbuh baik pada musim kemarau.<\/p>\n \n\n \n

                    Jika ditanam pada musim hujan, hampir bisa dipastikan tanaman tembakau akan gagal menghasilkan daun-daun yang berkualitas. Ia akan rusak dan membusuk karena terlalu banyak terkena air sehingga daun-daun itu tak layak dijual. Jangankan bisa dijual, untuk tumbuh dengan baik pun sepertinya sulit karena musim hujan akan membunuh banyak tanaman itu.<\/p>\n \n\n \n

                    Maka, tak heran pada musim-musim seperti saat ini, ketika musim penghujan mendekati puncaknya, di wilayah-wilayah yang dikenal sebagai sentra pertanian tembakau, sulit menemukan pohon tembakau yang sedang tumbuh. Pada lahan-lahan yang sebelumnya ditumbuhi tanaman tembakau pada musim panas, berganti tanaman-tanaman lain yang bermacam-macam, sesuai dengan kondisi lahannya. Untuk lahan sawah, lahan-lahan itu pada musim penghujan kini ditumbuhi tanaman padi yang subur. Pada lahan tegalan dan lahan di pegunungan, lahan-lahan yang ditanami tembakau pada musim kemarau, saat ini ditumbuhi bermacam jenis tanaman mulai dari cabai, bawang, tomat, kol, terong, mentimun, dan ragam jenis tanaman semusim lainnya.<\/p>\n \n\n \n

                    Uniknya, tipikal tanaman tembakau yang tumbuh baik di musim kemarau ini memberi pilihan lebih kepada para petani. Lahan-lahan yang sulit ditanami pada musim kemarau, pada akhirnya masih bisa tetap produktif dengan keberadaan tanaman tembakau. <\/p>\n \n\n \n

                    Maka, kampanye aneh mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain dengan ragam rupa dalih yang membingungkan, bukan saja sama sekali tidak tepat dan asal-asalan, namun bisa jadi akan ditertawakan oleh para petani yang begitu paham dengan kondisi lahan dan terutama kondisi iklim dan cuaca. Sulit mencari tanaman semusim yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Jika pun ada, tak ada yang semenguntungkan tanaman tembakau.
                    <\/p>\n ","post_title":"Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"keberhasilan-gerakan-anti-tembakau-tak-ada-tembakau-saat-musim-hujan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-07 12:16:02","post_modified_gmt":"2019-02-07 05:16:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5415","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5409,"post_author":"919","post_date":"2019-02-05 08:04:43","post_date_gmt":"2019-02-05 01:04:43","post_content":" \n

                    Tahun Baru Imlek yang merupakan tradisi Bangsa Tiongkok kini sudah tak lagi menjadi hal yang asing bagi masyarakat Indonesia. Kehadirannya sudah mewarnai dan berakulturasi dengan tradisi lokal. Menjelang Tahun Baru Imlek. Berbagai hiasan dan kemeriahan terjadi beberapa titik di Tanah Air. Perayaannya juga menjadi destinasi baru yang mengasyikkan untuk dilihat dan patut disaksikan.<\/p>\n \n\n \n

                    Berterimakasihlah kepada sang bapak bangsa, KH Abdurrahman Wahid atau yang dikenal dengan nama Gus Dur. Berkat kebijakannya saat menjadi Presiden Indonesia, Tahun Baru Imlek resmi dijadikan hari libur nasional dan dianggap sebagai salah satu hari raya di Tanah Air. Meski sentimen antitionghoa masih ada di sana-sini, tapi tetap tak bisa dipungkiri bahwa bangsa tionghoa sudah bersentuhan dengan budaya lokal dalam kurun waktu yang sangat panjang.<\/p>\n \n\n \n

                    DNA Bangsa Tionghoa yang memang merupakan pedagang menjadi pembuka kisah interaksi antara nenek moyang berbagai suku di Nusantara dengan mereka. Beberapa kelenteng-kelenteng yang tersebar pada berbagai pesisir daerah di Nusantara jadi buktinya. Pelabuhan-pelabuhan tua di tanah air dan ramainya perdagangan di pesisir mempermudah bangsa kita berhubungan dengan Bangsa Tionghoa.<\/p>\n \n\n \n

                    Baca Juga: Wong Kalang dan Kota Gede<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                    Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa kehadiran Bangsa Tionghoa di Nusantara tak hanya sebagai pedagang, namun juga sebagai pekerja (bahkan hingga pekerja kasar). Benny Setiono, seorang sejarahwan menyebutkan bahwa antara tahun 1760-1770 dalam jumlah yang besar memasuki nusantara melalui Kalimantan Barat. Mereka bekerja sebagai kuli pertambangan di sana dan di kemudian hari membentuk sebuah republik bernama Republik Lanfang yang konon katanya menjadi republik pertama di Asia Tenggara.<\/p>\n \n\n \n

                    Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n \n\n \n

                    Baca Juga: Imlek dan Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                    Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n \n\n \n

                    Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n \n\n \n

                    Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n \n\n \n

                    Baca Juga: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                    Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n \n\n \n

                    Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
                    <\/p>\n ","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_3o3","class":"epic_block_3"};

                    \n
                    \"\"\/<\/figure>\n \n\n\n
                    \"\"\/<\/figure>\n \n\n \n

                    Dalam satu hamparan direkomendasikan selesai tanam maksimal 3 Hari. Umur  tanaman akan menjadi sama atau seragam. Performance tanaman juga akan menjadi  seragam. Kemasakan daun pada saat petik juga menjadi seragam. Memudahkan pada saat  proses panen dan pasca panen. Tembakau kering yang dihasilkan pun juga seragam.<\/p>\n \n\n \n

                    1. Pengendalian Hama & Penyakit<\/strong> <\/li><\/ol>\n \n\n \n

                      ~ Pada awal penyebaran benih direkomendasikan untuk melakukan penyemprotan fusngisida (jamur), seperti Previcur, Redomil & Antracol <\/p>\n \n\n \n

                      ~ Hama yang sering dijumpai: semut (Decis), janggel, orong-orong <\/p>\n \n\n \n

                      1. Tahapan Perawatan<\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n
                        \"\"\/<\/figure>\n ","post_title":"Sukses Bertani Tembakau Bersama Kemitraan Djarum di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sukses-bertani-tembakau-bersama-kemitraan-djarum-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-11 12:32:18","post_modified_gmt":"2019-02-11 05:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5433","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5425,"post_author":"922","post_date":"2019-02-10 09:07:33","post_date_gmt":"2019-02-10 02:07:33","post_content":" \n

                        Bahwa cengkeh [1] (Syzygium aromaticum) --bersama pala (Myristica fragrans)-- adalah dua tanaman asli (endemik) Kepulauan Maluku, sudah tak terbantahkan. Cengkeh dikenal dan diakui berasal dari \u2018Empat Pulau Gunung Maluku\u2019 (Maloko Kie Raha): Ternate, Tidore, Moti, dan Makian.
                        <\/p>\n \n\n \n

                        Adapun pala, berasal dari empat pulau kecil lainnya di tengah Laut Banda: Lonthor, Neira, Rhun, dan Ai. Pada penjelasan peta abad-16 oleh penjelajah dari Semenanjung Iberia, Fransisco Rodriguez, tertulis: \u201cEstas quatro Ilhas Azures suam as de molluquo homde nace ho crauzo\u201d<\/em> (Adalah empat pulau berwarna biru [dalam peta] yang disebut sebagai Kepulauan Maluku di mana rempah-rempah berasal) (Pires, 1512- 1515:213).
                        <\/p>\n \n\n \n

                        Sejak beberapa abad sebelum Masehi, adalah para saudagar Arab --melalui Samudera Hindia melintasi Iskandariyah dan Laut Tengah-- serta para pedagang Cina --melalui jalur \u2018Jalan Sutra\u2019 melintasi Asia Tengah dan Asia Barat-- yang membawa dan memperkenalkannya ke daratan Eropa. <\/p>\n \n\n \n

                        Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                        Bandar-bandar besar Tyre di Yunani dan Venesia di Italia menjadi pelabuhan utama rempah-rempah Maluku memasuki kehidupan dan peradaban Eropa. Selain sebagai bumbu masakan, rempah obat, dan ramuan wewangian, cengkeh dan pala juga menjadi bahan utama pengawet bahan pangan. [2]
                        <\/p>\n \n\n \n

                        Inilah yang membuat orang-orang Eropa untuk pertama kalinya dapat mengawetkan dan menimbun makanan selama bermusim-musim. Prosa indah Blair bersaudara menggambarkannya dengan sangat baik:
                        <\/p>\n \n\n \n

                        \u201cKemampuan menyimpan makanan lebih dari yang kami makan sekaligus berarti kemampuan menjual dan membelinya dalam jumlah besar --dan kota-kota dagang pun mekar. Perekonomian yang dihasilkannya mengarahkan kami ke zaman Pencerahan dan kemudian Revolusi Industri. Tak lama setelah kami menghirup aroma yang sangat kuat dari Timur itu dan mengubah kimiawi makanan kami, maka kami pun mampu melakukan lompatan besar dalam bidang budaya dan seni.\u201d (Blair & Blair, 2010; 30-31).<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

                        Baca: Cengkeh dan Kelapa di Kepulauan Anambas<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                        Bukan hanya membuat perekonomian dan perdagangan serta ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang, cengkeh dan pala bahkan adalah faktor yang paling menentukan dalam kemunculan satu babakan paling mengenaskan dalam sejarah politik dunia, yakni zaman penjajahan (kolonialisme) Eropa, terutama atas-atas negeri- negeri Asia Selatan, Timur dan Tenggara, termasuk Indonesia.
                        <\/p>\n \n\n \n

                        Tergerak oleh sahwat menguasai rempah-rempah yang menggiurkan itu, bangsa-bangsa Eropa --terutama Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda-- pun menggelar ekspedisi-ekspedisi besar untuk menemukan cengkeh dan pala langsung di tanah asalnya. Ketika armada-armada mereka akhirnya mencapai perairan Kepulauan Maluku, pada abad-16, perang pun tak terhindarkan.
                        <\/p>\n \n\n \n

                        Mereka silih berganti saling mengalahkan, tetapi pemenang terakhir adalah Belanda. Melalui Perusahaan Dagang Hindia Timur (Vereenigde Oostindische Compagnie, VOC) yang dibentuk pada awal abad-17 (tepatnya tahun 1609), Belanda melancarkan ekspedisi Pelayaran Hongi (Hongie Tochten), untuk memusnahkan semua tanaman cengkeh di Ternate, Tidore, Moti, dan Makian, lalu membatasi ketat penanamnya hanya di Pulau-pulau Ambon dan Lease --yang lebih dekat ke Banda sebagai pusat pemerintahan mereka sebelum akhirnya dipindahkan ke Batavia.
                        <\/p>\n \n\n \n

                        Praktis, sejak akhir abad-16, Belanda pun menguasai penuh perdagangan rempah-rempah Maluku dengan jumlah produksi rerata 2.500 sampai 4.500 ton per tahun. [3]<\/p>\n \n\n \n

                        Baca: Budidaya Pohon Cengkeh<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                        Meskipun peran utama rempah-rempah Maluku itu kemudian tergusur pada abad-18 dan 19 oleh beberapa barang eksotika tropis lainnya --hasil perkebunan-perkebunana besar baru di Pulau Sumatera dan Jawa: tebu, tembakau, lada, kopi, teh, nila, kelapa sawit, dan kayu jati-- namun sejarah sudah mencatat bahwa dua jenis rempah-rempah Maluku itulah yang mengawali penjelajahan sekaligus penjajahan kepulauan Nusantara oleh bangsa-bangsa Eropah, terutama Belanda (Topatimasang, ed., 2004:32). Jika saja tak pernah ada cengkeh dan pala di Maluku, mungkin sejarah kepulauan Nusantara ini akan berbeda sama sekali.
                        <\/p>\n \n\n \n

                        Masa suram cengkeh dan pala terus berlangsung sampai pertengahan abad-20. Rempah eksotika yang pernah membuat tergila-gila<\/p>\n \n\n \n

                        para saudagar Arab, pedagang Cina, serta kaum ningrat Eropa itu, tergantikan perannya oleh penemuan teknologi mesin pendingin berkat Revolusi Industri yang dimulai di Inggris pada pertengahan abad-18. Pasaran cengkeh di Eropa pun merosot tajam.
                        <\/p>\n \n\n \n

                        Nasibnya terselamatkan berkat penemuan oleh seorang Haji Djamhari di Kudus, Jawa Tengah. Pada akhir tahun 1880-an, Haji Djamhari menemukan kegunaan baru cengkeh sebagai ramuan utama rokok. Lahirlah satu produk baru yang unik, khas dan asli Indonesia: kretek! (Hanusz, 2000:ii).
                        <\/p>\n \n\n \n

                        Setelah seperempat abad hanya berkembang dalam skala kecil usaha rumah tangga, produksi kretek akhirnya menjelma menjadi industri besar sejak awal abad-20 yang dirintis oleh Haji Nitisemito (pendiri pabrik \u2018Jambu Bol\u2019) di Kudus dan Liem Seng Tee (pendiri pabrik \u2018Dji Sam Soe\u2019 dan \u2018Sampoerna\u2019) di Surabaya.
                        <\/p>\n \n\n \n

                        Puncaknya adalah pada pertengahan tahun 1950-an, ketika produksi kretek mulai berkembang pesat menjadi industri raksasa modern dengan munculnya beberapa pabrik baru, antara lain, yang terkemuka, oleh Oei Wei Gwan (pendiri pabrik \u2018Djarum\u2019) di Kudus dan Tjou Ing Hwie (pendiri pabrik \u2018Gudang Garam\u2019) di Kediri (Topatimasang, et.al., eds., 2010:131).<\/p>\n \n\n \n

                        Baca: Teruslah Menanam Tembakau dan Cengkeh, Wahai Petani Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                        Cengkeh, bahan baku paling esensial dari kretek --selain tembakau, tentu saja-- pun kembali berjaya. Bahkan, sejak dasawarsa 1970an, telah menjadi salah satu penyumbang terbesar keuangan negara Republik Indonesia. Pada tahun 2012 dan 2013, pemasukan cukai dari industri kretek mencatat 95,5% dari seluruh pemasukan cukai ke kas negara. Nilainya tak tanggung-tanggung: Rp 87 triliun! (el-Guyanie, et.al.: 2013:4-5).<\/strong>
                        <\/p>\n \n\n \n

                        Nilai ekonomisnya yang sangat besar sempat menggoda penguasa otoriter rezim Presiden Soeharto, pada 1990-an, memberlakukan satu kebijakan \u2018Hongi Gaya Baru\u2019: monopoli perdagangan cengkeh dalam negeri melalui Badan Penyanggah dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) yang sangat merugikan petani. Harga cengkeh di tingkat petani penghasil anjlok sampai hanya Rp 2.000 - 3.000 per kilogram, lebih murah dari harga sebungkus kretek yang dihasilkan darinya.
                        <\/p>\n \n\n \n

                        Akibatnya, ratusan ribu pohon cengkeh di daerah-daerah penghasil utama --Maluku, Maluku Utara, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Selatan-- ditebangi atau dibiarkan terlantar tak terurus.
                        <\/p>\n \n\n \n

                        Gelombang reformasi sistem politik dan hukum nasional yang dimulai pada tahun 1998, akhirnya menjungkalkan rezim Soeharto dan BPPC dibubarkan, Pelan tapi pasti, harga cengkeh kembali merangkak naik, sehingga pada tahun 2012, bahkan melewati angka Rp 200.000 per kilogram. Para petani cengkeh di seluruh negeri kembali tersenyum. Tetapi, sampai kapan? <\/p>\n \n\n \n

                        Catatan:<\/strong><\/p>\n \n\n \n

                        [1] Beberapa sumber menyebutkan bahwa kata \u2018cengkeh\u2019 dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Mandarin, tkeng-his atau xi\u2019jia, yang berarti \u2018rempah [berbentuk mirip] paku\u2019 (scented nails). Ini menunjukkan bahwa cengkeh sudah dikenal sejak lama oleh bangsa Cina --diketahui sejak abad-2-- jauh sebelum orang Eropa mengenalnya ((lihat, misalnya: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n \n\n \n

                        [2] Catatan-catatan para biarawan Fransiskan --yang disalin dan dikutip oleh van Frassen-- bahkan menyebut cengkeh sebagai salah satu bahan utama pengawet mumi para Fir\u2019aun, penguasa Mesir Kuno. Beberapa pakar sejarah dan arkeologi menyatakan bahwa rempah-rempah Maluku bahkan sudah ditemukan artefaknya di Lembah Mesopotomia (wilayah Iraq dan sekitarnya sekarang) pada 3.000 tahun sebelum Masehi. (lihat, antara lain: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n \n\n \n

                        [3] Uraian lebih rinci sejarah kolonialisme rempah-rempah Nusantara ini, terutama oleh Belanda dan Portugis, dapat dibaca pada beberapa sumber kepustakaan yang sudah dikenal luas, antara lain: Glamann (1958) dan Boxer (1965 dan 1969). Dalam risalah klasik Pires disebutkan bahwa pada tahun 1512-1521 saja, jumlah produksi cengkeh di Maluku sudah mencapai 7.250 bahar per tahun, terbesar adalah di Makian serta Amboina dan Lease (masing-masing 1.500 bahar)(Pires, 1512-1515).<\/em>
                        <\/p>\n \n\n \n

                        Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem Topatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
                        <\/p>\n ","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-10 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-02-10 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5425","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5415,"post_author":"878","post_date":"2019-02-07 12:15:55","post_date_gmt":"2019-02-07 05:15:55","post_content":" \n

                        Belakangan ini, ketika musim hujan tiba, di Kabupaten Temanggung, Kabupaten Jember, dan beberapa wilayah sentra pertanian tembakau lainnya, hampir mustahil menemukan tanaman tembakau tumbuh di lahan-lahan milik petani. Di wilayah-wilayah tersebut, citra sebagai sentra pertanian tembakau seakan menguap. Lahan-lahan yang ada di sana, sama sekali tidak ditumbuhi tanaman tembakau.<\/p>\n \n\n \n

                        Kabar ini bisa jadi dianggap sebagai kabar gembira bagi mereka yang menganggap diri dan kelompoknya anti-rokok dan anti-tembakau yang selalu mengampanyekan sikap-sikap mereka terkait kebencian kepada tembakau dan aktivitas merokok. Setelah sekian lama berjuang, akhirnya perjuangan mereka dirasa berhasil usai menyaksikan fenomena lahan-lahan di wilayah yang dianggap sentra pertanian tembakau pada hari-hari belakangan ini.<\/p>\n \n\n \n

                        Baca juga: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                        Tak sia-sia turun ke jalan, tak sia-sia melakukan lobi-lobi ke penguasa, tak sia-sia mengucurkan uang yang tidak sedikit, dan tak sia-sia mempermalukan diri dengan mengemis ke lembaga donor asing dan menggondol uang dari cukai tembakau untuk mengampanyekan gerakan anti-rokok dan anti-tembakau. Tak sia-sia. Karena perjuangan sepertinya berhasil.<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

                        Kampanye-kampanye gerakan mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya, sepertinya juga sangat berhasil. Bagaimana tidak? Wilayah-wilayah yang sebelumnya penuh dengan tanaman tembakau dan bergeliat dengannya, kini lahan-lahannya sudah berganti dengan tanaman lain. Sebuah keberhasilan yang menggembirakan. Begitu mungkin pikir mereka para yang menganggap dirinya pejuang anti-rokok dan anti-tembakau. Dan tentu saja mereka akan kecele dan kita akan menertawakan hal itu.<\/p>\n \n\n \n

                        Sayangnya, mereka yang menganggap dirinya anti-rokok dan anti-tembakau tidak menyaksikan langsung fenomena ini di lapangan, di lahan-lahan yang peruntukannya berubah pada hari-hari belakangan ini ketika memasuki musim hujan. Mereka asyik duduk pada kursi empuk di ruang-ruang nyaman ber-AC di kota-kota yang jauh dari kultur pertanian. Mereka menyengajakan diri menjadi elit dan enggan untuk turun melihat langsung ke lapangan. Kalaupun ada yang turun langsung ke lapangan, hanya segelintir saja dari mereka, itupun sekadar formalitas saja. Tak pernah benar-benar mau turun ke lapangan, hidup dan merasakan langsung kultur pertanian tembakau dalam jangka waktu cukup lama di lapangan.<\/p>\n \n\n \n

                        Baca juga: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                        Fenomena ini membikin kita tak bisa melihat mereka para anti-rokok kecele lalu menertawakan mereka.<\/strong> Fenomena keengganan terjun langsung ke lapangan terlebih mencoba mendengar mereka yang tetap menanam tembakau, juga menjalani keseharian dalam waktu cukup lama bersama petani tembakau inilah yang saya kira menjadikan mereka tetap keras kepala untuk anti-rokok dan anti-tembakau. Karena jika mereka mau melakukan itu, saya yakin mereka semua tidak akan begitu kaku dalam memandang pertanian tembakau dan produk hasil industri tembakau.<\/p>\n \n\n \n

                        Salah satu yang selalu mereka kampanyekan dan ngotot dengan itu, terkait hulu pertanian tembakau adalah mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya. Mereka berargumen banyak tanaman lain yang bisa semenguntungkan tanaman tembakau. Keengganan mereka terjun langsung ke lapangan inilah yang membikin mereka buta dengan kondisi pertanian tembakau dan pada akhirnya terus menerus mengampanyekan pergantian tanaman tembakau dengan tanaman lainnya.<\/p>\n \n\n \n

                        Baca juga: Imanlah kepada Allah, Bukan Antirokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                        Tembakau tanaman yang khas. Ia hanya tumbuh baik sepanjang empat hingga lima bulan dalam satu tahun. Tumbuh-kembang tanaman tembakau dengan baik itu umumnya terjadi pada musim kemarau setiap tahunnya. Hanya sedikit sekali jenis tembakau yang tumbuh baik di musim penghujan, mayoritasnya, tumbuh baik pada musim kemarau.<\/p>\n \n\n \n

                        Jika ditanam pada musim hujan, hampir bisa dipastikan tanaman tembakau akan gagal menghasilkan daun-daun yang berkualitas. Ia akan rusak dan membusuk karena terlalu banyak terkena air sehingga daun-daun itu tak layak dijual. Jangankan bisa dijual, untuk tumbuh dengan baik pun sepertinya sulit karena musim hujan akan membunuh banyak tanaman itu.<\/p>\n \n\n \n

                        Maka, tak heran pada musim-musim seperti saat ini, ketika musim penghujan mendekati puncaknya, di wilayah-wilayah yang dikenal sebagai sentra pertanian tembakau, sulit menemukan pohon tembakau yang sedang tumbuh. Pada lahan-lahan yang sebelumnya ditumbuhi tanaman tembakau pada musim panas, berganti tanaman-tanaman lain yang bermacam-macam, sesuai dengan kondisi lahannya. Untuk lahan sawah, lahan-lahan itu pada musim penghujan kini ditumbuhi tanaman padi yang subur. Pada lahan tegalan dan lahan di pegunungan, lahan-lahan yang ditanami tembakau pada musim kemarau, saat ini ditumbuhi bermacam jenis tanaman mulai dari cabai, bawang, tomat, kol, terong, mentimun, dan ragam jenis tanaman semusim lainnya.<\/p>\n \n\n \n

                        Uniknya, tipikal tanaman tembakau yang tumbuh baik di musim kemarau ini memberi pilihan lebih kepada para petani. Lahan-lahan yang sulit ditanami pada musim kemarau, pada akhirnya masih bisa tetap produktif dengan keberadaan tanaman tembakau. <\/p>\n \n\n \n

                        Maka, kampanye aneh mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain dengan ragam rupa dalih yang membingungkan, bukan saja sama sekali tidak tepat dan asal-asalan, namun bisa jadi akan ditertawakan oleh para petani yang begitu paham dengan kondisi lahan dan terutama kondisi iklim dan cuaca. Sulit mencari tanaman semusim yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Jika pun ada, tak ada yang semenguntungkan tanaman tembakau.
                        <\/p>\n ","post_title":"Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"keberhasilan-gerakan-anti-tembakau-tak-ada-tembakau-saat-musim-hujan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-07 12:16:02","post_modified_gmt":"2019-02-07 05:16:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5415","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5409,"post_author":"919","post_date":"2019-02-05 08:04:43","post_date_gmt":"2019-02-05 01:04:43","post_content":" \n

                        Tahun Baru Imlek yang merupakan tradisi Bangsa Tiongkok kini sudah tak lagi menjadi hal yang asing bagi masyarakat Indonesia. Kehadirannya sudah mewarnai dan berakulturasi dengan tradisi lokal. Menjelang Tahun Baru Imlek. Berbagai hiasan dan kemeriahan terjadi beberapa titik di Tanah Air. Perayaannya juga menjadi destinasi baru yang mengasyikkan untuk dilihat dan patut disaksikan.<\/p>\n \n\n \n

                        Berterimakasihlah kepada sang bapak bangsa, KH Abdurrahman Wahid atau yang dikenal dengan nama Gus Dur. Berkat kebijakannya saat menjadi Presiden Indonesia, Tahun Baru Imlek resmi dijadikan hari libur nasional dan dianggap sebagai salah satu hari raya di Tanah Air. Meski sentimen antitionghoa masih ada di sana-sini, tapi tetap tak bisa dipungkiri bahwa bangsa tionghoa sudah bersentuhan dengan budaya lokal dalam kurun waktu yang sangat panjang.<\/p>\n \n\n \n

                        DNA Bangsa Tionghoa yang memang merupakan pedagang menjadi pembuka kisah interaksi antara nenek moyang berbagai suku di Nusantara dengan mereka. Beberapa kelenteng-kelenteng yang tersebar pada berbagai pesisir daerah di Nusantara jadi buktinya. Pelabuhan-pelabuhan tua di tanah air dan ramainya perdagangan di pesisir mempermudah bangsa kita berhubungan dengan Bangsa Tionghoa.<\/p>\n \n\n \n

                        Baca Juga: Wong Kalang dan Kota Gede<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                        Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa kehadiran Bangsa Tionghoa di Nusantara tak hanya sebagai pedagang, namun juga sebagai pekerja (bahkan hingga pekerja kasar). Benny Setiono, seorang sejarahwan menyebutkan bahwa antara tahun 1760-1770 dalam jumlah yang besar memasuki nusantara melalui Kalimantan Barat. Mereka bekerja sebagai kuli pertambangan di sana dan di kemudian hari membentuk sebuah republik bernama Republik Lanfang yang konon katanya menjadi republik pertama di Asia Tenggara.<\/p>\n \n\n \n

                        Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n \n\n \n

                        Baca Juga: Imlek dan Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                        Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n \n\n \n

                        Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n \n\n \n

                        Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n \n\n \n

                        Baca Juga: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                        Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n \n\n \n

                        Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
                        <\/p>\n ","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_3o3","class":"epic_block_3"};

                        \n
                        1. Pencabutan Bibit, agar mendapatkan jarak tanam yang sesuai lahan <\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n\n
                          \"\"\/<\/figure>\n \n\n \n
                          \"\"\/<\/figure>\n \n\n \n

                          Dalam satu hamparan direkomendasikan selesai tanam maksimal 3 Hari. Umur  tanaman akan menjadi sama atau seragam. Performance tanaman juga akan menjadi  seragam. Kemasakan daun pada saat petik juga menjadi seragam. Memudahkan pada saat  proses panen dan pasca panen. Tembakau kering yang dihasilkan pun juga seragam.<\/p>\n \n\n \n

                          1. Pengendalian Hama & Penyakit<\/strong> <\/li><\/ol>\n \n\n \n

                            ~ Pada awal penyebaran benih direkomendasikan untuk melakukan penyemprotan fusngisida (jamur), seperti Previcur, Redomil & Antracol <\/p>\n \n\n \n

                            ~ Hama yang sering dijumpai: semut (Decis), janggel, orong-orong <\/p>\n \n\n \n

                            1. Tahapan Perawatan<\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n
                              \"\"\/<\/figure>\n ","post_title":"Sukses Bertani Tembakau Bersama Kemitraan Djarum di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sukses-bertani-tembakau-bersama-kemitraan-djarum-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-11 12:32:18","post_modified_gmt":"2019-02-11 05:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5433","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5425,"post_author":"922","post_date":"2019-02-10 09:07:33","post_date_gmt":"2019-02-10 02:07:33","post_content":" \n

                              Bahwa cengkeh [1] (Syzygium aromaticum) --bersama pala (Myristica fragrans)-- adalah dua tanaman asli (endemik) Kepulauan Maluku, sudah tak terbantahkan. Cengkeh dikenal dan diakui berasal dari \u2018Empat Pulau Gunung Maluku\u2019 (Maloko Kie Raha): Ternate, Tidore, Moti, dan Makian.
                              <\/p>\n \n\n \n

                              Adapun pala, berasal dari empat pulau kecil lainnya di tengah Laut Banda: Lonthor, Neira, Rhun, dan Ai. Pada penjelasan peta abad-16 oleh penjelajah dari Semenanjung Iberia, Fransisco Rodriguez, tertulis: \u201cEstas quatro Ilhas Azures suam as de molluquo homde nace ho crauzo\u201d<\/em> (Adalah empat pulau berwarna biru [dalam peta] yang disebut sebagai Kepulauan Maluku di mana rempah-rempah berasal) (Pires, 1512- 1515:213).
                              <\/p>\n \n\n \n

                              Sejak beberapa abad sebelum Masehi, adalah para saudagar Arab --melalui Samudera Hindia melintasi Iskandariyah dan Laut Tengah-- serta para pedagang Cina --melalui jalur \u2018Jalan Sutra\u2019 melintasi Asia Tengah dan Asia Barat-- yang membawa dan memperkenalkannya ke daratan Eropa. <\/p>\n \n\n \n

                              Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                              Bandar-bandar besar Tyre di Yunani dan Venesia di Italia menjadi pelabuhan utama rempah-rempah Maluku memasuki kehidupan dan peradaban Eropa. Selain sebagai bumbu masakan, rempah obat, dan ramuan wewangian, cengkeh dan pala juga menjadi bahan utama pengawet bahan pangan. [2]
                              <\/p>\n \n\n \n

                              Inilah yang membuat orang-orang Eropa untuk pertama kalinya dapat mengawetkan dan menimbun makanan selama bermusim-musim. Prosa indah Blair bersaudara menggambarkannya dengan sangat baik:
                              <\/p>\n \n\n \n

                              \u201cKemampuan menyimpan makanan lebih dari yang kami makan sekaligus berarti kemampuan menjual dan membelinya dalam jumlah besar --dan kota-kota dagang pun mekar. Perekonomian yang dihasilkannya mengarahkan kami ke zaman Pencerahan dan kemudian Revolusi Industri. Tak lama setelah kami menghirup aroma yang sangat kuat dari Timur itu dan mengubah kimiawi makanan kami, maka kami pun mampu melakukan lompatan besar dalam bidang budaya dan seni.\u201d (Blair & Blair, 2010; 30-31).<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

                              Baca: Cengkeh dan Kelapa di Kepulauan Anambas<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                              Bukan hanya membuat perekonomian dan perdagangan serta ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang, cengkeh dan pala bahkan adalah faktor yang paling menentukan dalam kemunculan satu babakan paling mengenaskan dalam sejarah politik dunia, yakni zaman penjajahan (kolonialisme) Eropa, terutama atas-atas negeri- negeri Asia Selatan, Timur dan Tenggara, termasuk Indonesia.
                              <\/p>\n \n\n \n

                              Tergerak oleh sahwat menguasai rempah-rempah yang menggiurkan itu, bangsa-bangsa Eropa --terutama Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda-- pun menggelar ekspedisi-ekspedisi besar untuk menemukan cengkeh dan pala langsung di tanah asalnya. Ketika armada-armada mereka akhirnya mencapai perairan Kepulauan Maluku, pada abad-16, perang pun tak terhindarkan.
                              <\/p>\n \n\n \n

                              Mereka silih berganti saling mengalahkan, tetapi pemenang terakhir adalah Belanda. Melalui Perusahaan Dagang Hindia Timur (Vereenigde Oostindische Compagnie, VOC) yang dibentuk pada awal abad-17 (tepatnya tahun 1609), Belanda melancarkan ekspedisi Pelayaran Hongi (Hongie Tochten), untuk memusnahkan semua tanaman cengkeh di Ternate, Tidore, Moti, dan Makian, lalu membatasi ketat penanamnya hanya di Pulau-pulau Ambon dan Lease --yang lebih dekat ke Banda sebagai pusat pemerintahan mereka sebelum akhirnya dipindahkan ke Batavia.
                              <\/p>\n \n\n \n

                              Praktis, sejak akhir abad-16, Belanda pun menguasai penuh perdagangan rempah-rempah Maluku dengan jumlah produksi rerata 2.500 sampai 4.500 ton per tahun. [3]<\/p>\n \n\n \n

                              Baca: Budidaya Pohon Cengkeh<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                              Meskipun peran utama rempah-rempah Maluku itu kemudian tergusur pada abad-18 dan 19 oleh beberapa barang eksotika tropis lainnya --hasil perkebunan-perkebunana besar baru di Pulau Sumatera dan Jawa: tebu, tembakau, lada, kopi, teh, nila, kelapa sawit, dan kayu jati-- namun sejarah sudah mencatat bahwa dua jenis rempah-rempah Maluku itulah yang mengawali penjelajahan sekaligus penjajahan kepulauan Nusantara oleh bangsa-bangsa Eropah, terutama Belanda (Topatimasang, ed., 2004:32). Jika saja tak pernah ada cengkeh dan pala di Maluku, mungkin sejarah kepulauan Nusantara ini akan berbeda sama sekali.
                              <\/p>\n \n\n \n

                              Masa suram cengkeh dan pala terus berlangsung sampai pertengahan abad-20. Rempah eksotika yang pernah membuat tergila-gila<\/p>\n \n\n \n

                              para saudagar Arab, pedagang Cina, serta kaum ningrat Eropa itu, tergantikan perannya oleh penemuan teknologi mesin pendingin berkat Revolusi Industri yang dimulai di Inggris pada pertengahan abad-18. Pasaran cengkeh di Eropa pun merosot tajam.
                              <\/p>\n \n\n \n

                              Nasibnya terselamatkan berkat penemuan oleh seorang Haji Djamhari di Kudus, Jawa Tengah. Pada akhir tahun 1880-an, Haji Djamhari menemukan kegunaan baru cengkeh sebagai ramuan utama rokok. Lahirlah satu produk baru yang unik, khas dan asli Indonesia: kretek! (Hanusz, 2000:ii).
                              <\/p>\n \n\n \n

                              Setelah seperempat abad hanya berkembang dalam skala kecil usaha rumah tangga, produksi kretek akhirnya menjelma menjadi industri besar sejak awal abad-20 yang dirintis oleh Haji Nitisemito (pendiri pabrik \u2018Jambu Bol\u2019) di Kudus dan Liem Seng Tee (pendiri pabrik \u2018Dji Sam Soe\u2019 dan \u2018Sampoerna\u2019) di Surabaya.
                              <\/p>\n \n\n \n

                              Puncaknya adalah pada pertengahan tahun 1950-an, ketika produksi kretek mulai berkembang pesat menjadi industri raksasa modern dengan munculnya beberapa pabrik baru, antara lain, yang terkemuka, oleh Oei Wei Gwan (pendiri pabrik \u2018Djarum\u2019) di Kudus dan Tjou Ing Hwie (pendiri pabrik \u2018Gudang Garam\u2019) di Kediri (Topatimasang, et.al., eds., 2010:131).<\/p>\n \n\n \n

                              Baca: Teruslah Menanam Tembakau dan Cengkeh, Wahai Petani Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                              Cengkeh, bahan baku paling esensial dari kretek --selain tembakau, tentu saja-- pun kembali berjaya. Bahkan, sejak dasawarsa 1970an, telah menjadi salah satu penyumbang terbesar keuangan negara Republik Indonesia. Pada tahun 2012 dan 2013, pemasukan cukai dari industri kretek mencatat 95,5% dari seluruh pemasukan cukai ke kas negara. Nilainya tak tanggung-tanggung: Rp 87 triliun! (el-Guyanie, et.al.: 2013:4-5).<\/strong>
                              <\/p>\n \n\n \n

                              Nilai ekonomisnya yang sangat besar sempat menggoda penguasa otoriter rezim Presiden Soeharto, pada 1990-an, memberlakukan satu kebijakan \u2018Hongi Gaya Baru\u2019: monopoli perdagangan cengkeh dalam negeri melalui Badan Penyanggah dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) yang sangat merugikan petani. Harga cengkeh di tingkat petani penghasil anjlok sampai hanya Rp 2.000 - 3.000 per kilogram, lebih murah dari harga sebungkus kretek yang dihasilkan darinya.
                              <\/p>\n \n\n \n

                              Akibatnya, ratusan ribu pohon cengkeh di daerah-daerah penghasil utama --Maluku, Maluku Utara, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Selatan-- ditebangi atau dibiarkan terlantar tak terurus.
                              <\/p>\n \n\n \n

                              Gelombang reformasi sistem politik dan hukum nasional yang dimulai pada tahun 1998, akhirnya menjungkalkan rezim Soeharto dan BPPC dibubarkan, Pelan tapi pasti, harga cengkeh kembali merangkak naik, sehingga pada tahun 2012, bahkan melewati angka Rp 200.000 per kilogram. Para petani cengkeh di seluruh negeri kembali tersenyum. Tetapi, sampai kapan? <\/p>\n \n\n \n

                              Catatan:<\/strong><\/p>\n \n\n \n

                              [1] Beberapa sumber menyebutkan bahwa kata \u2018cengkeh\u2019 dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Mandarin, tkeng-his atau xi\u2019jia, yang berarti \u2018rempah [berbentuk mirip] paku\u2019 (scented nails). Ini menunjukkan bahwa cengkeh sudah dikenal sejak lama oleh bangsa Cina --diketahui sejak abad-2-- jauh sebelum orang Eropa mengenalnya ((lihat, misalnya: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n \n\n \n

                              [2] Catatan-catatan para biarawan Fransiskan --yang disalin dan dikutip oleh van Frassen-- bahkan menyebut cengkeh sebagai salah satu bahan utama pengawet mumi para Fir\u2019aun, penguasa Mesir Kuno. Beberapa pakar sejarah dan arkeologi menyatakan bahwa rempah-rempah Maluku bahkan sudah ditemukan artefaknya di Lembah Mesopotomia (wilayah Iraq dan sekitarnya sekarang) pada 3.000 tahun sebelum Masehi. (lihat, antara lain: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n \n\n \n

                              [3] Uraian lebih rinci sejarah kolonialisme rempah-rempah Nusantara ini, terutama oleh Belanda dan Portugis, dapat dibaca pada beberapa sumber kepustakaan yang sudah dikenal luas, antara lain: Glamann (1958) dan Boxer (1965 dan 1969). Dalam risalah klasik Pires disebutkan bahwa pada tahun 1512-1521 saja, jumlah produksi cengkeh di Maluku sudah mencapai 7.250 bahar per tahun, terbesar adalah di Makian serta Amboina dan Lease (masing-masing 1.500 bahar)(Pires, 1512-1515).<\/em>
                              <\/p>\n \n\n \n

                              Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem Topatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
                              <\/p>\n ","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-10 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-02-10 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5425","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5415,"post_author":"878","post_date":"2019-02-07 12:15:55","post_date_gmt":"2019-02-07 05:15:55","post_content":" \n

                              Belakangan ini, ketika musim hujan tiba, di Kabupaten Temanggung, Kabupaten Jember, dan beberapa wilayah sentra pertanian tembakau lainnya, hampir mustahil menemukan tanaman tembakau tumbuh di lahan-lahan milik petani. Di wilayah-wilayah tersebut, citra sebagai sentra pertanian tembakau seakan menguap. Lahan-lahan yang ada di sana, sama sekali tidak ditumbuhi tanaman tembakau.<\/p>\n \n\n \n

                              Kabar ini bisa jadi dianggap sebagai kabar gembira bagi mereka yang menganggap diri dan kelompoknya anti-rokok dan anti-tembakau yang selalu mengampanyekan sikap-sikap mereka terkait kebencian kepada tembakau dan aktivitas merokok. Setelah sekian lama berjuang, akhirnya perjuangan mereka dirasa berhasil usai menyaksikan fenomena lahan-lahan di wilayah yang dianggap sentra pertanian tembakau pada hari-hari belakangan ini.<\/p>\n \n\n \n

                              Baca juga: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                              Tak sia-sia turun ke jalan, tak sia-sia melakukan lobi-lobi ke penguasa, tak sia-sia mengucurkan uang yang tidak sedikit, dan tak sia-sia mempermalukan diri dengan mengemis ke lembaga donor asing dan menggondol uang dari cukai tembakau untuk mengampanyekan gerakan anti-rokok dan anti-tembakau. Tak sia-sia. Karena perjuangan sepertinya berhasil.<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

                              Kampanye-kampanye gerakan mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya, sepertinya juga sangat berhasil. Bagaimana tidak? Wilayah-wilayah yang sebelumnya penuh dengan tanaman tembakau dan bergeliat dengannya, kini lahan-lahannya sudah berganti dengan tanaman lain. Sebuah keberhasilan yang menggembirakan. Begitu mungkin pikir mereka para yang menganggap dirinya pejuang anti-rokok dan anti-tembakau. Dan tentu saja mereka akan kecele dan kita akan menertawakan hal itu.<\/p>\n \n\n \n

                              Sayangnya, mereka yang menganggap dirinya anti-rokok dan anti-tembakau tidak menyaksikan langsung fenomena ini di lapangan, di lahan-lahan yang peruntukannya berubah pada hari-hari belakangan ini ketika memasuki musim hujan. Mereka asyik duduk pada kursi empuk di ruang-ruang nyaman ber-AC di kota-kota yang jauh dari kultur pertanian. Mereka menyengajakan diri menjadi elit dan enggan untuk turun melihat langsung ke lapangan. Kalaupun ada yang turun langsung ke lapangan, hanya segelintir saja dari mereka, itupun sekadar formalitas saja. Tak pernah benar-benar mau turun ke lapangan, hidup dan merasakan langsung kultur pertanian tembakau dalam jangka waktu cukup lama di lapangan.<\/p>\n \n\n \n

                              Baca juga: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                              Fenomena ini membikin kita tak bisa melihat mereka para anti-rokok kecele lalu menertawakan mereka.<\/strong> Fenomena keengganan terjun langsung ke lapangan terlebih mencoba mendengar mereka yang tetap menanam tembakau, juga menjalani keseharian dalam waktu cukup lama bersama petani tembakau inilah yang saya kira menjadikan mereka tetap keras kepala untuk anti-rokok dan anti-tembakau. Karena jika mereka mau melakukan itu, saya yakin mereka semua tidak akan begitu kaku dalam memandang pertanian tembakau dan produk hasil industri tembakau.<\/p>\n \n\n \n

                              Salah satu yang selalu mereka kampanyekan dan ngotot dengan itu, terkait hulu pertanian tembakau adalah mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya. Mereka berargumen banyak tanaman lain yang bisa semenguntungkan tanaman tembakau. Keengganan mereka terjun langsung ke lapangan inilah yang membikin mereka buta dengan kondisi pertanian tembakau dan pada akhirnya terus menerus mengampanyekan pergantian tanaman tembakau dengan tanaman lainnya.<\/p>\n \n\n \n

                              Baca juga: Imanlah kepada Allah, Bukan Antirokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                              Tembakau tanaman yang khas. Ia hanya tumbuh baik sepanjang empat hingga lima bulan dalam satu tahun. Tumbuh-kembang tanaman tembakau dengan baik itu umumnya terjadi pada musim kemarau setiap tahunnya. Hanya sedikit sekali jenis tembakau yang tumbuh baik di musim penghujan, mayoritasnya, tumbuh baik pada musim kemarau.<\/p>\n \n\n \n

                              Jika ditanam pada musim hujan, hampir bisa dipastikan tanaman tembakau akan gagal menghasilkan daun-daun yang berkualitas. Ia akan rusak dan membusuk karena terlalu banyak terkena air sehingga daun-daun itu tak layak dijual. Jangankan bisa dijual, untuk tumbuh dengan baik pun sepertinya sulit karena musim hujan akan membunuh banyak tanaman itu.<\/p>\n \n\n \n

                              Maka, tak heran pada musim-musim seperti saat ini, ketika musim penghujan mendekati puncaknya, di wilayah-wilayah yang dikenal sebagai sentra pertanian tembakau, sulit menemukan pohon tembakau yang sedang tumbuh. Pada lahan-lahan yang sebelumnya ditumbuhi tanaman tembakau pada musim panas, berganti tanaman-tanaman lain yang bermacam-macam, sesuai dengan kondisi lahannya. Untuk lahan sawah, lahan-lahan itu pada musim penghujan kini ditumbuhi tanaman padi yang subur. Pada lahan tegalan dan lahan di pegunungan, lahan-lahan yang ditanami tembakau pada musim kemarau, saat ini ditumbuhi bermacam jenis tanaman mulai dari cabai, bawang, tomat, kol, terong, mentimun, dan ragam jenis tanaman semusim lainnya.<\/p>\n \n\n \n

                              Uniknya, tipikal tanaman tembakau yang tumbuh baik di musim kemarau ini memberi pilihan lebih kepada para petani. Lahan-lahan yang sulit ditanami pada musim kemarau, pada akhirnya masih bisa tetap produktif dengan keberadaan tanaman tembakau. <\/p>\n \n\n \n

                              Maka, kampanye aneh mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain dengan ragam rupa dalih yang membingungkan, bukan saja sama sekali tidak tepat dan asal-asalan, namun bisa jadi akan ditertawakan oleh para petani yang begitu paham dengan kondisi lahan dan terutama kondisi iklim dan cuaca. Sulit mencari tanaman semusim yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Jika pun ada, tak ada yang semenguntungkan tanaman tembakau.
                              <\/p>\n ","post_title":"Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"keberhasilan-gerakan-anti-tembakau-tak-ada-tembakau-saat-musim-hujan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-07 12:16:02","post_modified_gmt":"2019-02-07 05:16:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5415","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5409,"post_author":"919","post_date":"2019-02-05 08:04:43","post_date_gmt":"2019-02-05 01:04:43","post_content":" \n

                              Tahun Baru Imlek yang merupakan tradisi Bangsa Tiongkok kini sudah tak lagi menjadi hal yang asing bagi masyarakat Indonesia. Kehadirannya sudah mewarnai dan berakulturasi dengan tradisi lokal. Menjelang Tahun Baru Imlek. Berbagai hiasan dan kemeriahan terjadi beberapa titik di Tanah Air. Perayaannya juga menjadi destinasi baru yang mengasyikkan untuk dilihat dan patut disaksikan.<\/p>\n \n\n \n

                              Berterimakasihlah kepada sang bapak bangsa, KH Abdurrahman Wahid atau yang dikenal dengan nama Gus Dur. Berkat kebijakannya saat menjadi Presiden Indonesia, Tahun Baru Imlek resmi dijadikan hari libur nasional dan dianggap sebagai salah satu hari raya di Tanah Air. Meski sentimen antitionghoa masih ada di sana-sini, tapi tetap tak bisa dipungkiri bahwa bangsa tionghoa sudah bersentuhan dengan budaya lokal dalam kurun waktu yang sangat panjang.<\/p>\n \n\n \n

                              DNA Bangsa Tionghoa yang memang merupakan pedagang menjadi pembuka kisah interaksi antara nenek moyang berbagai suku di Nusantara dengan mereka. Beberapa kelenteng-kelenteng yang tersebar pada berbagai pesisir daerah di Nusantara jadi buktinya. Pelabuhan-pelabuhan tua di tanah air dan ramainya perdagangan di pesisir mempermudah bangsa kita berhubungan dengan Bangsa Tionghoa.<\/p>\n \n\n \n

                              Baca Juga: Wong Kalang dan Kota Gede<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                              Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa kehadiran Bangsa Tionghoa di Nusantara tak hanya sebagai pedagang, namun juga sebagai pekerja (bahkan hingga pekerja kasar). Benny Setiono, seorang sejarahwan menyebutkan bahwa antara tahun 1760-1770 dalam jumlah yang besar memasuki nusantara melalui Kalimantan Barat. Mereka bekerja sebagai kuli pertambangan di sana dan di kemudian hari membentuk sebuah republik bernama Republik Lanfang yang konon katanya menjadi republik pertama di Asia Tenggara.<\/p>\n \n\n \n

                              Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n \n\n \n

                              Baca Juga: Imlek dan Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                              Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n \n\n \n

                              Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n \n\n \n

                              Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n \n\n \n

                              Baca Juga: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                              Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n \n\n \n

                              Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
                              <\/p>\n ","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_3o3","class":"epic_block_3"};

                              \n

                              Tujuan klipping: menjaga lingkungan bibit agar tidak lembab, <\/strong>memperbesar batan,menyeragamkan ukuran benih, dan memperkuat pertumbuhan akar <\/p>\n \n\n\n

                              1. Pencabutan Bibit, agar mendapatkan jarak tanam yang sesuai lahan <\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n
                                \"\"\/<\/figure>\n \n\n \n
                                \"\"\/<\/figure>\n \n\n \n

                                Dalam satu hamparan direkomendasikan selesai tanam maksimal 3 Hari. Umur  tanaman akan menjadi sama atau seragam. Performance tanaman juga akan menjadi  seragam. Kemasakan daun pada saat petik juga menjadi seragam. Memudahkan pada saat  proses panen dan pasca panen. Tembakau kering yang dihasilkan pun juga seragam.<\/p>\n \n\n \n

                                1. Pengendalian Hama & Penyakit<\/strong> <\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                  ~ Pada awal penyebaran benih direkomendasikan untuk melakukan penyemprotan fusngisida (jamur), seperti Previcur, Redomil & Antracol <\/p>\n \n\n \n

                                  ~ Hama yang sering dijumpai: semut (Decis), janggel, orong-orong <\/p>\n \n\n \n

                                  1. Tahapan Perawatan<\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n
                                    \"\"\/<\/figure>\n ","post_title":"Sukses Bertani Tembakau Bersama Kemitraan Djarum di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sukses-bertani-tembakau-bersama-kemitraan-djarum-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-11 12:32:18","post_modified_gmt":"2019-02-11 05:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5433","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5425,"post_author":"922","post_date":"2019-02-10 09:07:33","post_date_gmt":"2019-02-10 02:07:33","post_content":" \n

                                    Bahwa cengkeh [1] (Syzygium aromaticum) --bersama pala (Myristica fragrans)-- adalah dua tanaman asli (endemik) Kepulauan Maluku, sudah tak terbantahkan. Cengkeh dikenal dan diakui berasal dari \u2018Empat Pulau Gunung Maluku\u2019 (Maloko Kie Raha): Ternate, Tidore, Moti, dan Makian.
                                    <\/p>\n \n\n \n

                                    Adapun pala, berasal dari empat pulau kecil lainnya di tengah Laut Banda: Lonthor, Neira, Rhun, dan Ai. Pada penjelasan peta abad-16 oleh penjelajah dari Semenanjung Iberia, Fransisco Rodriguez, tertulis: \u201cEstas quatro Ilhas Azures suam as de molluquo homde nace ho crauzo\u201d<\/em> (Adalah empat pulau berwarna biru [dalam peta] yang disebut sebagai Kepulauan Maluku di mana rempah-rempah berasal) (Pires, 1512- 1515:213).
                                    <\/p>\n \n\n \n

                                    Sejak beberapa abad sebelum Masehi, adalah para saudagar Arab --melalui Samudera Hindia melintasi Iskandariyah dan Laut Tengah-- serta para pedagang Cina --melalui jalur \u2018Jalan Sutra\u2019 melintasi Asia Tengah dan Asia Barat-- yang membawa dan memperkenalkannya ke daratan Eropa. <\/p>\n \n\n \n

                                    Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                    Bandar-bandar besar Tyre di Yunani dan Venesia di Italia menjadi pelabuhan utama rempah-rempah Maluku memasuki kehidupan dan peradaban Eropa. Selain sebagai bumbu masakan, rempah obat, dan ramuan wewangian, cengkeh dan pala juga menjadi bahan utama pengawet bahan pangan. [2]
                                    <\/p>\n \n\n \n

                                    Inilah yang membuat orang-orang Eropa untuk pertama kalinya dapat mengawetkan dan menimbun makanan selama bermusim-musim. Prosa indah Blair bersaudara menggambarkannya dengan sangat baik:
                                    <\/p>\n \n\n \n

                                    \u201cKemampuan menyimpan makanan lebih dari yang kami makan sekaligus berarti kemampuan menjual dan membelinya dalam jumlah besar --dan kota-kota dagang pun mekar. Perekonomian yang dihasilkannya mengarahkan kami ke zaman Pencerahan dan kemudian Revolusi Industri. Tak lama setelah kami menghirup aroma yang sangat kuat dari Timur itu dan mengubah kimiawi makanan kami, maka kami pun mampu melakukan lompatan besar dalam bidang budaya dan seni.\u201d (Blair & Blair, 2010; 30-31).<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

                                    Baca: Cengkeh dan Kelapa di Kepulauan Anambas<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                    Bukan hanya membuat perekonomian dan perdagangan serta ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang, cengkeh dan pala bahkan adalah faktor yang paling menentukan dalam kemunculan satu babakan paling mengenaskan dalam sejarah politik dunia, yakni zaman penjajahan (kolonialisme) Eropa, terutama atas-atas negeri- negeri Asia Selatan, Timur dan Tenggara, termasuk Indonesia.
                                    <\/p>\n \n\n \n

                                    Tergerak oleh sahwat menguasai rempah-rempah yang menggiurkan itu, bangsa-bangsa Eropa --terutama Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda-- pun menggelar ekspedisi-ekspedisi besar untuk menemukan cengkeh dan pala langsung di tanah asalnya. Ketika armada-armada mereka akhirnya mencapai perairan Kepulauan Maluku, pada abad-16, perang pun tak terhindarkan.
                                    <\/p>\n \n\n \n

                                    Mereka silih berganti saling mengalahkan, tetapi pemenang terakhir adalah Belanda. Melalui Perusahaan Dagang Hindia Timur (Vereenigde Oostindische Compagnie, VOC) yang dibentuk pada awal abad-17 (tepatnya tahun 1609), Belanda melancarkan ekspedisi Pelayaran Hongi (Hongie Tochten), untuk memusnahkan semua tanaman cengkeh di Ternate, Tidore, Moti, dan Makian, lalu membatasi ketat penanamnya hanya di Pulau-pulau Ambon dan Lease --yang lebih dekat ke Banda sebagai pusat pemerintahan mereka sebelum akhirnya dipindahkan ke Batavia.
                                    <\/p>\n \n\n \n

                                    Praktis, sejak akhir abad-16, Belanda pun menguasai penuh perdagangan rempah-rempah Maluku dengan jumlah produksi rerata 2.500 sampai 4.500 ton per tahun. [3]<\/p>\n \n\n \n

                                    Baca: Budidaya Pohon Cengkeh<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                    Meskipun peran utama rempah-rempah Maluku itu kemudian tergusur pada abad-18 dan 19 oleh beberapa barang eksotika tropis lainnya --hasil perkebunan-perkebunana besar baru di Pulau Sumatera dan Jawa: tebu, tembakau, lada, kopi, teh, nila, kelapa sawit, dan kayu jati-- namun sejarah sudah mencatat bahwa dua jenis rempah-rempah Maluku itulah yang mengawali penjelajahan sekaligus penjajahan kepulauan Nusantara oleh bangsa-bangsa Eropah, terutama Belanda (Topatimasang, ed., 2004:32). Jika saja tak pernah ada cengkeh dan pala di Maluku, mungkin sejarah kepulauan Nusantara ini akan berbeda sama sekali.
                                    <\/p>\n \n\n \n

                                    Masa suram cengkeh dan pala terus berlangsung sampai pertengahan abad-20. Rempah eksotika yang pernah membuat tergila-gila<\/p>\n \n\n \n

                                    para saudagar Arab, pedagang Cina, serta kaum ningrat Eropa itu, tergantikan perannya oleh penemuan teknologi mesin pendingin berkat Revolusi Industri yang dimulai di Inggris pada pertengahan abad-18. Pasaran cengkeh di Eropa pun merosot tajam.
                                    <\/p>\n \n\n \n

                                    Nasibnya terselamatkan berkat penemuan oleh seorang Haji Djamhari di Kudus, Jawa Tengah. Pada akhir tahun 1880-an, Haji Djamhari menemukan kegunaan baru cengkeh sebagai ramuan utama rokok. Lahirlah satu produk baru yang unik, khas dan asli Indonesia: kretek! (Hanusz, 2000:ii).
                                    <\/p>\n \n\n \n

                                    Setelah seperempat abad hanya berkembang dalam skala kecil usaha rumah tangga, produksi kretek akhirnya menjelma menjadi industri besar sejak awal abad-20 yang dirintis oleh Haji Nitisemito (pendiri pabrik \u2018Jambu Bol\u2019) di Kudus dan Liem Seng Tee (pendiri pabrik \u2018Dji Sam Soe\u2019 dan \u2018Sampoerna\u2019) di Surabaya.
                                    <\/p>\n \n\n \n

                                    Puncaknya adalah pada pertengahan tahun 1950-an, ketika produksi kretek mulai berkembang pesat menjadi industri raksasa modern dengan munculnya beberapa pabrik baru, antara lain, yang terkemuka, oleh Oei Wei Gwan (pendiri pabrik \u2018Djarum\u2019) di Kudus dan Tjou Ing Hwie (pendiri pabrik \u2018Gudang Garam\u2019) di Kediri (Topatimasang, et.al., eds., 2010:131).<\/p>\n \n\n \n

                                    Baca: Teruslah Menanam Tembakau dan Cengkeh, Wahai Petani Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                    Cengkeh, bahan baku paling esensial dari kretek --selain tembakau, tentu saja-- pun kembali berjaya. Bahkan, sejak dasawarsa 1970an, telah menjadi salah satu penyumbang terbesar keuangan negara Republik Indonesia. Pada tahun 2012 dan 2013, pemasukan cukai dari industri kretek mencatat 95,5% dari seluruh pemasukan cukai ke kas negara. Nilainya tak tanggung-tanggung: Rp 87 triliun! (el-Guyanie, et.al.: 2013:4-5).<\/strong>
                                    <\/p>\n \n\n \n

                                    Nilai ekonomisnya yang sangat besar sempat menggoda penguasa otoriter rezim Presiden Soeharto, pada 1990-an, memberlakukan satu kebijakan \u2018Hongi Gaya Baru\u2019: monopoli perdagangan cengkeh dalam negeri melalui Badan Penyanggah dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) yang sangat merugikan petani. Harga cengkeh di tingkat petani penghasil anjlok sampai hanya Rp 2.000 - 3.000 per kilogram, lebih murah dari harga sebungkus kretek yang dihasilkan darinya.
                                    <\/p>\n \n\n \n

                                    Akibatnya, ratusan ribu pohon cengkeh di daerah-daerah penghasil utama --Maluku, Maluku Utara, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Selatan-- ditebangi atau dibiarkan terlantar tak terurus.
                                    <\/p>\n \n\n \n

                                    Gelombang reformasi sistem politik dan hukum nasional yang dimulai pada tahun 1998, akhirnya menjungkalkan rezim Soeharto dan BPPC dibubarkan, Pelan tapi pasti, harga cengkeh kembali merangkak naik, sehingga pada tahun 2012, bahkan melewati angka Rp 200.000 per kilogram. Para petani cengkeh di seluruh negeri kembali tersenyum. Tetapi, sampai kapan? <\/p>\n \n\n \n

                                    Catatan:<\/strong><\/p>\n \n\n \n

                                    [1] Beberapa sumber menyebutkan bahwa kata \u2018cengkeh\u2019 dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Mandarin, tkeng-his atau xi\u2019jia, yang berarti \u2018rempah [berbentuk mirip] paku\u2019 (scented nails). Ini menunjukkan bahwa cengkeh sudah dikenal sejak lama oleh bangsa Cina --diketahui sejak abad-2-- jauh sebelum orang Eropa mengenalnya ((lihat, misalnya: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n \n\n \n

                                    [2] Catatan-catatan para biarawan Fransiskan --yang disalin dan dikutip oleh van Frassen-- bahkan menyebut cengkeh sebagai salah satu bahan utama pengawet mumi para Fir\u2019aun, penguasa Mesir Kuno. Beberapa pakar sejarah dan arkeologi menyatakan bahwa rempah-rempah Maluku bahkan sudah ditemukan artefaknya di Lembah Mesopotomia (wilayah Iraq dan sekitarnya sekarang) pada 3.000 tahun sebelum Masehi. (lihat, antara lain: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n \n\n \n

                                    [3] Uraian lebih rinci sejarah kolonialisme rempah-rempah Nusantara ini, terutama oleh Belanda dan Portugis, dapat dibaca pada beberapa sumber kepustakaan yang sudah dikenal luas, antara lain: Glamann (1958) dan Boxer (1965 dan 1969). Dalam risalah klasik Pires disebutkan bahwa pada tahun 1512-1521 saja, jumlah produksi cengkeh di Maluku sudah mencapai 7.250 bahar per tahun, terbesar adalah di Makian serta Amboina dan Lease (masing-masing 1.500 bahar)(Pires, 1512-1515).<\/em>
                                    <\/p>\n \n\n \n

                                    Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem Topatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
                                    <\/p>\n ","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-10 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-02-10 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5425","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5415,"post_author":"878","post_date":"2019-02-07 12:15:55","post_date_gmt":"2019-02-07 05:15:55","post_content":" \n

                                    Belakangan ini, ketika musim hujan tiba, di Kabupaten Temanggung, Kabupaten Jember, dan beberapa wilayah sentra pertanian tembakau lainnya, hampir mustahil menemukan tanaman tembakau tumbuh di lahan-lahan milik petani. Di wilayah-wilayah tersebut, citra sebagai sentra pertanian tembakau seakan menguap. Lahan-lahan yang ada di sana, sama sekali tidak ditumbuhi tanaman tembakau.<\/p>\n \n\n \n

                                    Kabar ini bisa jadi dianggap sebagai kabar gembira bagi mereka yang menganggap diri dan kelompoknya anti-rokok dan anti-tembakau yang selalu mengampanyekan sikap-sikap mereka terkait kebencian kepada tembakau dan aktivitas merokok. Setelah sekian lama berjuang, akhirnya perjuangan mereka dirasa berhasil usai menyaksikan fenomena lahan-lahan di wilayah yang dianggap sentra pertanian tembakau pada hari-hari belakangan ini.<\/p>\n \n\n \n

                                    Baca juga: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                    Tak sia-sia turun ke jalan, tak sia-sia melakukan lobi-lobi ke penguasa, tak sia-sia mengucurkan uang yang tidak sedikit, dan tak sia-sia mempermalukan diri dengan mengemis ke lembaga donor asing dan menggondol uang dari cukai tembakau untuk mengampanyekan gerakan anti-rokok dan anti-tembakau. Tak sia-sia. Karena perjuangan sepertinya berhasil.<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

                                    Kampanye-kampanye gerakan mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya, sepertinya juga sangat berhasil. Bagaimana tidak? Wilayah-wilayah yang sebelumnya penuh dengan tanaman tembakau dan bergeliat dengannya, kini lahan-lahannya sudah berganti dengan tanaman lain. Sebuah keberhasilan yang menggembirakan. Begitu mungkin pikir mereka para yang menganggap dirinya pejuang anti-rokok dan anti-tembakau. Dan tentu saja mereka akan kecele dan kita akan menertawakan hal itu.<\/p>\n \n\n \n

                                    Sayangnya, mereka yang menganggap dirinya anti-rokok dan anti-tembakau tidak menyaksikan langsung fenomena ini di lapangan, di lahan-lahan yang peruntukannya berubah pada hari-hari belakangan ini ketika memasuki musim hujan. Mereka asyik duduk pada kursi empuk di ruang-ruang nyaman ber-AC di kota-kota yang jauh dari kultur pertanian. Mereka menyengajakan diri menjadi elit dan enggan untuk turun melihat langsung ke lapangan. Kalaupun ada yang turun langsung ke lapangan, hanya segelintir saja dari mereka, itupun sekadar formalitas saja. Tak pernah benar-benar mau turun ke lapangan, hidup dan merasakan langsung kultur pertanian tembakau dalam jangka waktu cukup lama di lapangan.<\/p>\n \n\n \n

                                    Baca juga: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                    Fenomena ini membikin kita tak bisa melihat mereka para anti-rokok kecele lalu menertawakan mereka.<\/strong> Fenomena keengganan terjun langsung ke lapangan terlebih mencoba mendengar mereka yang tetap menanam tembakau, juga menjalani keseharian dalam waktu cukup lama bersama petani tembakau inilah yang saya kira menjadikan mereka tetap keras kepala untuk anti-rokok dan anti-tembakau. Karena jika mereka mau melakukan itu, saya yakin mereka semua tidak akan begitu kaku dalam memandang pertanian tembakau dan produk hasil industri tembakau.<\/p>\n \n\n \n

                                    Salah satu yang selalu mereka kampanyekan dan ngotot dengan itu, terkait hulu pertanian tembakau adalah mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya. Mereka berargumen banyak tanaman lain yang bisa semenguntungkan tanaman tembakau. Keengganan mereka terjun langsung ke lapangan inilah yang membikin mereka buta dengan kondisi pertanian tembakau dan pada akhirnya terus menerus mengampanyekan pergantian tanaman tembakau dengan tanaman lainnya.<\/p>\n \n\n \n

                                    Baca juga: Imanlah kepada Allah, Bukan Antirokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                    Tembakau tanaman yang khas. Ia hanya tumbuh baik sepanjang empat hingga lima bulan dalam satu tahun. Tumbuh-kembang tanaman tembakau dengan baik itu umumnya terjadi pada musim kemarau setiap tahunnya. Hanya sedikit sekali jenis tembakau yang tumbuh baik di musim penghujan, mayoritasnya, tumbuh baik pada musim kemarau.<\/p>\n \n\n \n

                                    Jika ditanam pada musim hujan, hampir bisa dipastikan tanaman tembakau akan gagal menghasilkan daun-daun yang berkualitas. Ia akan rusak dan membusuk karena terlalu banyak terkena air sehingga daun-daun itu tak layak dijual. Jangankan bisa dijual, untuk tumbuh dengan baik pun sepertinya sulit karena musim hujan akan membunuh banyak tanaman itu.<\/p>\n \n\n \n

                                    Maka, tak heran pada musim-musim seperti saat ini, ketika musim penghujan mendekati puncaknya, di wilayah-wilayah yang dikenal sebagai sentra pertanian tembakau, sulit menemukan pohon tembakau yang sedang tumbuh. Pada lahan-lahan yang sebelumnya ditumbuhi tanaman tembakau pada musim panas, berganti tanaman-tanaman lain yang bermacam-macam, sesuai dengan kondisi lahannya. Untuk lahan sawah, lahan-lahan itu pada musim penghujan kini ditumbuhi tanaman padi yang subur. Pada lahan tegalan dan lahan di pegunungan, lahan-lahan yang ditanami tembakau pada musim kemarau, saat ini ditumbuhi bermacam jenis tanaman mulai dari cabai, bawang, tomat, kol, terong, mentimun, dan ragam jenis tanaman semusim lainnya.<\/p>\n \n\n \n

                                    Uniknya, tipikal tanaman tembakau yang tumbuh baik di musim kemarau ini memberi pilihan lebih kepada para petani. Lahan-lahan yang sulit ditanami pada musim kemarau, pada akhirnya masih bisa tetap produktif dengan keberadaan tanaman tembakau. <\/p>\n \n\n \n

                                    Maka, kampanye aneh mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain dengan ragam rupa dalih yang membingungkan, bukan saja sama sekali tidak tepat dan asal-asalan, namun bisa jadi akan ditertawakan oleh para petani yang begitu paham dengan kondisi lahan dan terutama kondisi iklim dan cuaca. Sulit mencari tanaman semusim yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Jika pun ada, tak ada yang semenguntungkan tanaman tembakau.
                                    <\/p>\n ","post_title":"Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"keberhasilan-gerakan-anti-tembakau-tak-ada-tembakau-saat-musim-hujan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-07 12:16:02","post_modified_gmt":"2019-02-07 05:16:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5415","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5409,"post_author":"919","post_date":"2019-02-05 08:04:43","post_date_gmt":"2019-02-05 01:04:43","post_content":" \n

                                    Tahun Baru Imlek yang merupakan tradisi Bangsa Tiongkok kini sudah tak lagi menjadi hal yang asing bagi masyarakat Indonesia. Kehadirannya sudah mewarnai dan berakulturasi dengan tradisi lokal. Menjelang Tahun Baru Imlek. Berbagai hiasan dan kemeriahan terjadi beberapa titik di Tanah Air. Perayaannya juga menjadi destinasi baru yang mengasyikkan untuk dilihat dan patut disaksikan.<\/p>\n \n\n \n

                                    Berterimakasihlah kepada sang bapak bangsa, KH Abdurrahman Wahid atau yang dikenal dengan nama Gus Dur. Berkat kebijakannya saat menjadi Presiden Indonesia, Tahun Baru Imlek resmi dijadikan hari libur nasional dan dianggap sebagai salah satu hari raya di Tanah Air. Meski sentimen antitionghoa masih ada di sana-sini, tapi tetap tak bisa dipungkiri bahwa bangsa tionghoa sudah bersentuhan dengan budaya lokal dalam kurun waktu yang sangat panjang.<\/p>\n \n\n \n

                                    DNA Bangsa Tionghoa yang memang merupakan pedagang menjadi pembuka kisah interaksi antara nenek moyang berbagai suku di Nusantara dengan mereka. Beberapa kelenteng-kelenteng yang tersebar pada berbagai pesisir daerah di Nusantara jadi buktinya. Pelabuhan-pelabuhan tua di tanah air dan ramainya perdagangan di pesisir mempermudah bangsa kita berhubungan dengan Bangsa Tionghoa.<\/p>\n \n\n \n

                                    Baca Juga: Wong Kalang dan Kota Gede<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                    Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa kehadiran Bangsa Tionghoa di Nusantara tak hanya sebagai pedagang, namun juga sebagai pekerja (bahkan hingga pekerja kasar). Benny Setiono, seorang sejarahwan menyebutkan bahwa antara tahun 1760-1770 dalam jumlah yang besar memasuki nusantara melalui Kalimantan Barat. Mereka bekerja sebagai kuli pertambangan di sana dan di kemudian hari membentuk sebuah republik bernama Republik Lanfang yang konon katanya menjadi republik pertama di Asia Tenggara.<\/p>\n \n\n \n

                                    Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n \n\n \n

                                    Baca Juga: Imlek dan Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                    Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n \n\n \n

                                    Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n \n\n \n

                                    Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n \n\n \n

                                    Baca Juga: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                    Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n \n\n \n

                                    Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
                                    <\/p>\n ","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_3o3","class":"epic_block_3"};

                                    \n

                                    5 Lima sampai tujuh hari menjelang transplanting, kegiatan kliping sebaiknya sudah selesai. <\/p>\n \n\n\n

                                    Tujuan klipping: menjaga lingkungan bibit agar tidak lembab, <\/strong>memperbesar batan,menyeragamkan ukuran benih, dan memperkuat pertumbuhan akar <\/p>\n \n\n \n

                                    1. Pencabutan Bibit, agar mendapatkan jarak tanam yang sesuai lahan <\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n
                                      \"\"\/<\/figure>\n \n\n \n
                                      \"\"\/<\/figure>\n \n\n \n

                                      Dalam satu hamparan direkomendasikan selesai tanam maksimal 3 Hari. Umur  tanaman akan menjadi sama atau seragam. Performance tanaman juga akan menjadi  seragam. Kemasakan daun pada saat petik juga menjadi seragam. Memudahkan pada saat  proses panen dan pasca panen. Tembakau kering yang dihasilkan pun juga seragam.<\/p>\n \n\n \n

                                      1. Pengendalian Hama & Penyakit<\/strong> <\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                        ~ Pada awal penyebaran benih direkomendasikan untuk melakukan penyemprotan fusngisida (jamur), seperti Previcur, Redomil & Antracol <\/p>\n \n\n \n

                                        ~ Hama yang sering dijumpai: semut (Decis), janggel, orong-orong <\/p>\n \n\n \n

                                        1. Tahapan Perawatan<\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n
                                          \"\"\/<\/figure>\n ","post_title":"Sukses Bertani Tembakau Bersama Kemitraan Djarum di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sukses-bertani-tembakau-bersama-kemitraan-djarum-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-11 12:32:18","post_modified_gmt":"2019-02-11 05:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5433","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5425,"post_author":"922","post_date":"2019-02-10 09:07:33","post_date_gmt":"2019-02-10 02:07:33","post_content":" \n

                                          Bahwa cengkeh [1] (Syzygium aromaticum) --bersama pala (Myristica fragrans)-- adalah dua tanaman asli (endemik) Kepulauan Maluku, sudah tak terbantahkan. Cengkeh dikenal dan diakui berasal dari \u2018Empat Pulau Gunung Maluku\u2019 (Maloko Kie Raha): Ternate, Tidore, Moti, dan Makian.
                                          <\/p>\n \n\n \n

                                          Adapun pala, berasal dari empat pulau kecil lainnya di tengah Laut Banda: Lonthor, Neira, Rhun, dan Ai. Pada penjelasan peta abad-16 oleh penjelajah dari Semenanjung Iberia, Fransisco Rodriguez, tertulis: \u201cEstas quatro Ilhas Azures suam as de molluquo homde nace ho crauzo\u201d<\/em> (Adalah empat pulau berwarna biru [dalam peta] yang disebut sebagai Kepulauan Maluku di mana rempah-rempah berasal) (Pires, 1512- 1515:213).
                                          <\/p>\n \n\n \n

                                          Sejak beberapa abad sebelum Masehi, adalah para saudagar Arab --melalui Samudera Hindia melintasi Iskandariyah dan Laut Tengah-- serta para pedagang Cina --melalui jalur \u2018Jalan Sutra\u2019 melintasi Asia Tengah dan Asia Barat-- yang membawa dan memperkenalkannya ke daratan Eropa. <\/p>\n \n\n \n

                                          Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                          Bandar-bandar besar Tyre di Yunani dan Venesia di Italia menjadi pelabuhan utama rempah-rempah Maluku memasuki kehidupan dan peradaban Eropa. Selain sebagai bumbu masakan, rempah obat, dan ramuan wewangian, cengkeh dan pala juga menjadi bahan utama pengawet bahan pangan. [2]
                                          <\/p>\n \n\n \n

                                          Inilah yang membuat orang-orang Eropa untuk pertama kalinya dapat mengawetkan dan menimbun makanan selama bermusim-musim. Prosa indah Blair bersaudara menggambarkannya dengan sangat baik:
                                          <\/p>\n \n\n \n

                                          \u201cKemampuan menyimpan makanan lebih dari yang kami makan sekaligus berarti kemampuan menjual dan membelinya dalam jumlah besar --dan kota-kota dagang pun mekar. Perekonomian yang dihasilkannya mengarahkan kami ke zaman Pencerahan dan kemudian Revolusi Industri. Tak lama setelah kami menghirup aroma yang sangat kuat dari Timur itu dan mengubah kimiawi makanan kami, maka kami pun mampu melakukan lompatan besar dalam bidang budaya dan seni.\u201d (Blair & Blair, 2010; 30-31).<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

                                          Baca: Cengkeh dan Kelapa di Kepulauan Anambas<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                          Bukan hanya membuat perekonomian dan perdagangan serta ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang, cengkeh dan pala bahkan adalah faktor yang paling menentukan dalam kemunculan satu babakan paling mengenaskan dalam sejarah politik dunia, yakni zaman penjajahan (kolonialisme) Eropa, terutama atas-atas negeri- negeri Asia Selatan, Timur dan Tenggara, termasuk Indonesia.
                                          <\/p>\n \n\n \n

                                          Tergerak oleh sahwat menguasai rempah-rempah yang menggiurkan itu, bangsa-bangsa Eropa --terutama Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda-- pun menggelar ekspedisi-ekspedisi besar untuk menemukan cengkeh dan pala langsung di tanah asalnya. Ketika armada-armada mereka akhirnya mencapai perairan Kepulauan Maluku, pada abad-16, perang pun tak terhindarkan.
                                          <\/p>\n \n\n \n

                                          Mereka silih berganti saling mengalahkan, tetapi pemenang terakhir adalah Belanda. Melalui Perusahaan Dagang Hindia Timur (Vereenigde Oostindische Compagnie, VOC) yang dibentuk pada awal abad-17 (tepatnya tahun 1609), Belanda melancarkan ekspedisi Pelayaran Hongi (Hongie Tochten), untuk memusnahkan semua tanaman cengkeh di Ternate, Tidore, Moti, dan Makian, lalu membatasi ketat penanamnya hanya di Pulau-pulau Ambon dan Lease --yang lebih dekat ke Banda sebagai pusat pemerintahan mereka sebelum akhirnya dipindahkan ke Batavia.
                                          <\/p>\n \n\n \n

                                          Praktis, sejak akhir abad-16, Belanda pun menguasai penuh perdagangan rempah-rempah Maluku dengan jumlah produksi rerata 2.500 sampai 4.500 ton per tahun. [3]<\/p>\n \n\n \n

                                          Baca: Budidaya Pohon Cengkeh<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                          Meskipun peran utama rempah-rempah Maluku itu kemudian tergusur pada abad-18 dan 19 oleh beberapa barang eksotika tropis lainnya --hasil perkebunan-perkebunana besar baru di Pulau Sumatera dan Jawa: tebu, tembakau, lada, kopi, teh, nila, kelapa sawit, dan kayu jati-- namun sejarah sudah mencatat bahwa dua jenis rempah-rempah Maluku itulah yang mengawali penjelajahan sekaligus penjajahan kepulauan Nusantara oleh bangsa-bangsa Eropah, terutama Belanda (Topatimasang, ed., 2004:32). Jika saja tak pernah ada cengkeh dan pala di Maluku, mungkin sejarah kepulauan Nusantara ini akan berbeda sama sekali.
                                          <\/p>\n \n\n \n

                                          Masa suram cengkeh dan pala terus berlangsung sampai pertengahan abad-20. Rempah eksotika yang pernah membuat tergila-gila<\/p>\n \n\n \n

                                          para saudagar Arab, pedagang Cina, serta kaum ningrat Eropa itu, tergantikan perannya oleh penemuan teknologi mesin pendingin berkat Revolusi Industri yang dimulai di Inggris pada pertengahan abad-18. Pasaran cengkeh di Eropa pun merosot tajam.
                                          <\/p>\n \n\n \n

                                          Nasibnya terselamatkan berkat penemuan oleh seorang Haji Djamhari di Kudus, Jawa Tengah. Pada akhir tahun 1880-an, Haji Djamhari menemukan kegunaan baru cengkeh sebagai ramuan utama rokok. Lahirlah satu produk baru yang unik, khas dan asli Indonesia: kretek! (Hanusz, 2000:ii).
                                          <\/p>\n \n\n \n

                                          Setelah seperempat abad hanya berkembang dalam skala kecil usaha rumah tangga, produksi kretek akhirnya menjelma menjadi industri besar sejak awal abad-20 yang dirintis oleh Haji Nitisemito (pendiri pabrik \u2018Jambu Bol\u2019) di Kudus dan Liem Seng Tee (pendiri pabrik \u2018Dji Sam Soe\u2019 dan \u2018Sampoerna\u2019) di Surabaya.
                                          <\/p>\n \n\n \n

                                          Puncaknya adalah pada pertengahan tahun 1950-an, ketika produksi kretek mulai berkembang pesat menjadi industri raksasa modern dengan munculnya beberapa pabrik baru, antara lain, yang terkemuka, oleh Oei Wei Gwan (pendiri pabrik \u2018Djarum\u2019) di Kudus dan Tjou Ing Hwie (pendiri pabrik \u2018Gudang Garam\u2019) di Kediri (Topatimasang, et.al., eds., 2010:131).<\/p>\n \n\n \n

                                          Baca: Teruslah Menanam Tembakau dan Cengkeh, Wahai Petani Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                          Cengkeh, bahan baku paling esensial dari kretek --selain tembakau, tentu saja-- pun kembali berjaya. Bahkan, sejak dasawarsa 1970an, telah menjadi salah satu penyumbang terbesar keuangan negara Republik Indonesia. Pada tahun 2012 dan 2013, pemasukan cukai dari industri kretek mencatat 95,5% dari seluruh pemasukan cukai ke kas negara. Nilainya tak tanggung-tanggung: Rp 87 triliun! (el-Guyanie, et.al.: 2013:4-5).<\/strong>
                                          <\/p>\n \n\n \n

                                          Nilai ekonomisnya yang sangat besar sempat menggoda penguasa otoriter rezim Presiden Soeharto, pada 1990-an, memberlakukan satu kebijakan \u2018Hongi Gaya Baru\u2019: monopoli perdagangan cengkeh dalam negeri melalui Badan Penyanggah dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) yang sangat merugikan petani. Harga cengkeh di tingkat petani penghasil anjlok sampai hanya Rp 2.000 - 3.000 per kilogram, lebih murah dari harga sebungkus kretek yang dihasilkan darinya.
                                          <\/p>\n \n\n \n

                                          Akibatnya, ratusan ribu pohon cengkeh di daerah-daerah penghasil utama --Maluku, Maluku Utara, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Selatan-- ditebangi atau dibiarkan terlantar tak terurus.
                                          <\/p>\n \n\n \n

                                          Gelombang reformasi sistem politik dan hukum nasional yang dimulai pada tahun 1998, akhirnya menjungkalkan rezim Soeharto dan BPPC dibubarkan, Pelan tapi pasti, harga cengkeh kembali merangkak naik, sehingga pada tahun 2012, bahkan melewati angka Rp 200.000 per kilogram. Para petani cengkeh di seluruh negeri kembali tersenyum. Tetapi, sampai kapan? <\/p>\n \n\n \n

                                          Catatan:<\/strong><\/p>\n \n\n \n

                                          [1] Beberapa sumber menyebutkan bahwa kata \u2018cengkeh\u2019 dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Mandarin, tkeng-his atau xi\u2019jia, yang berarti \u2018rempah [berbentuk mirip] paku\u2019 (scented nails). Ini menunjukkan bahwa cengkeh sudah dikenal sejak lama oleh bangsa Cina --diketahui sejak abad-2-- jauh sebelum orang Eropa mengenalnya ((lihat, misalnya: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n \n\n \n

                                          [2] Catatan-catatan para biarawan Fransiskan --yang disalin dan dikutip oleh van Frassen-- bahkan menyebut cengkeh sebagai salah satu bahan utama pengawet mumi para Fir\u2019aun, penguasa Mesir Kuno. Beberapa pakar sejarah dan arkeologi menyatakan bahwa rempah-rempah Maluku bahkan sudah ditemukan artefaknya di Lembah Mesopotomia (wilayah Iraq dan sekitarnya sekarang) pada 3.000 tahun sebelum Masehi. (lihat, antara lain: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n \n\n \n

                                          [3] Uraian lebih rinci sejarah kolonialisme rempah-rempah Nusantara ini, terutama oleh Belanda dan Portugis, dapat dibaca pada beberapa sumber kepustakaan yang sudah dikenal luas, antara lain: Glamann (1958) dan Boxer (1965 dan 1969). Dalam risalah klasik Pires disebutkan bahwa pada tahun 1512-1521 saja, jumlah produksi cengkeh di Maluku sudah mencapai 7.250 bahar per tahun, terbesar adalah di Makian serta Amboina dan Lease (masing-masing 1.500 bahar)(Pires, 1512-1515).<\/em>
                                          <\/p>\n \n\n \n

                                          Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem Topatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
                                          <\/p>\n ","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-10 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-02-10 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5425","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5415,"post_author":"878","post_date":"2019-02-07 12:15:55","post_date_gmt":"2019-02-07 05:15:55","post_content":" \n

                                          Belakangan ini, ketika musim hujan tiba, di Kabupaten Temanggung, Kabupaten Jember, dan beberapa wilayah sentra pertanian tembakau lainnya, hampir mustahil menemukan tanaman tembakau tumbuh di lahan-lahan milik petani. Di wilayah-wilayah tersebut, citra sebagai sentra pertanian tembakau seakan menguap. Lahan-lahan yang ada di sana, sama sekali tidak ditumbuhi tanaman tembakau.<\/p>\n \n\n \n

                                          Kabar ini bisa jadi dianggap sebagai kabar gembira bagi mereka yang menganggap diri dan kelompoknya anti-rokok dan anti-tembakau yang selalu mengampanyekan sikap-sikap mereka terkait kebencian kepada tembakau dan aktivitas merokok. Setelah sekian lama berjuang, akhirnya perjuangan mereka dirasa berhasil usai menyaksikan fenomena lahan-lahan di wilayah yang dianggap sentra pertanian tembakau pada hari-hari belakangan ini.<\/p>\n \n\n \n

                                          Baca juga: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                          Tak sia-sia turun ke jalan, tak sia-sia melakukan lobi-lobi ke penguasa, tak sia-sia mengucurkan uang yang tidak sedikit, dan tak sia-sia mempermalukan diri dengan mengemis ke lembaga donor asing dan menggondol uang dari cukai tembakau untuk mengampanyekan gerakan anti-rokok dan anti-tembakau. Tak sia-sia. Karena perjuangan sepertinya berhasil.<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

                                          Kampanye-kampanye gerakan mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya, sepertinya juga sangat berhasil. Bagaimana tidak? Wilayah-wilayah yang sebelumnya penuh dengan tanaman tembakau dan bergeliat dengannya, kini lahan-lahannya sudah berganti dengan tanaman lain. Sebuah keberhasilan yang menggembirakan. Begitu mungkin pikir mereka para yang menganggap dirinya pejuang anti-rokok dan anti-tembakau. Dan tentu saja mereka akan kecele dan kita akan menertawakan hal itu.<\/p>\n \n\n \n

                                          Sayangnya, mereka yang menganggap dirinya anti-rokok dan anti-tembakau tidak menyaksikan langsung fenomena ini di lapangan, di lahan-lahan yang peruntukannya berubah pada hari-hari belakangan ini ketika memasuki musim hujan. Mereka asyik duduk pada kursi empuk di ruang-ruang nyaman ber-AC di kota-kota yang jauh dari kultur pertanian. Mereka menyengajakan diri menjadi elit dan enggan untuk turun melihat langsung ke lapangan. Kalaupun ada yang turun langsung ke lapangan, hanya segelintir saja dari mereka, itupun sekadar formalitas saja. Tak pernah benar-benar mau turun ke lapangan, hidup dan merasakan langsung kultur pertanian tembakau dalam jangka waktu cukup lama di lapangan.<\/p>\n \n\n \n

                                          Baca juga: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                          Fenomena ini membikin kita tak bisa melihat mereka para anti-rokok kecele lalu menertawakan mereka.<\/strong> Fenomena keengganan terjun langsung ke lapangan terlebih mencoba mendengar mereka yang tetap menanam tembakau, juga menjalani keseharian dalam waktu cukup lama bersama petani tembakau inilah yang saya kira menjadikan mereka tetap keras kepala untuk anti-rokok dan anti-tembakau. Karena jika mereka mau melakukan itu, saya yakin mereka semua tidak akan begitu kaku dalam memandang pertanian tembakau dan produk hasil industri tembakau.<\/p>\n \n\n \n

                                          Salah satu yang selalu mereka kampanyekan dan ngotot dengan itu, terkait hulu pertanian tembakau adalah mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya. Mereka berargumen banyak tanaman lain yang bisa semenguntungkan tanaman tembakau. Keengganan mereka terjun langsung ke lapangan inilah yang membikin mereka buta dengan kondisi pertanian tembakau dan pada akhirnya terus menerus mengampanyekan pergantian tanaman tembakau dengan tanaman lainnya.<\/p>\n \n\n \n

                                          Baca juga: Imanlah kepada Allah, Bukan Antirokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                          Tembakau tanaman yang khas. Ia hanya tumbuh baik sepanjang empat hingga lima bulan dalam satu tahun. Tumbuh-kembang tanaman tembakau dengan baik itu umumnya terjadi pada musim kemarau setiap tahunnya. Hanya sedikit sekali jenis tembakau yang tumbuh baik di musim penghujan, mayoritasnya, tumbuh baik pada musim kemarau.<\/p>\n \n\n \n

                                          Jika ditanam pada musim hujan, hampir bisa dipastikan tanaman tembakau akan gagal menghasilkan daun-daun yang berkualitas. Ia akan rusak dan membusuk karena terlalu banyak terkena air sehingga daun-daun itu tak layak dijual. Jangankan bisa dijual, untuk tumbuh dengan baik pun sepertinya sulit karena musim hujan akan membunuh banyak tanaman itu.<\/p>\n \n\n \n

                                          Maka, tak heran pada musim-musim seperti saat ini, ketika musim penghujan mendekati puncaknya, di wilayah-wilayah yang dikenal sebagai sentra pertanian tembakau, sulit menemukan pohon tembakau yang sedang tumbuh. Pada lahan-lahan yang sebelumnya ditumbuhi tanaman tembakau pada musim panas, berganti tanaman-tanaman lain yang bermacam-macam, sesuai dengan kondisi lahannya. Untuk lahan sawah, lahan-lahan itu pada musim penghujan kini ditumbuhi tanaman padi yang subur. Pada lahan tegalan dan lahan di pegunungan, lahan-lahan yang ditanami tembakau pada musim kemarau, saat ini ditumbuhi bermacam jenis tanaman mulai dari cabai, bawang, tomat, kol, terong, mentimun, dan ragam jenis tanaman semusim lainnya.<\/p>\n \n\n \n

                                          Uniknya, tipikal tanaman tembakau yang tumbuh baik di musim kemarau ini memberi pilihan lebih kepada para petani. Lahan-lahan yang sulit ditanami pada musim kemarau, pada akhirnya masih bisa tetap produktif dengan keberadaan tanaman tembakau. <\/p>\n \n\n \n

                                          Maka, kampanye aneh mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain dengan ragam rupa dalih yang membingungkan, bukan saja sama sekali tidak tepat dan asal-asalan, namun bisa jadi akan ditertawakan oleh para petani yang begitu paham dengan kondisi lahan dan terutama kondisi iklim dan cuaca. Sulit mencari tanaman semusim yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Jika pun ada, tak ada yang semenguntungkan tanaman tembakau.
                                          <\/p>\n ","post_title":"Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"keberhasilan-gerakan-anti-tembakau-tak-ada-tembakau-saat-musim-hujan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-07 12:16:02","post_modified_gmt":"2019-02-07 05:16:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5415","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5409,"post_author":"919","post_date":"2019-02-05 08:04:43","post_date_gmt":"2019-02-05 01:04:43","post_content":" \n

                                          Tahun Baru Imlek yang merupakan tradisi Bangsa Tiongkok kini sudah tak lagi menjadi hal yang asing bagi masyarakat Indonesia. Kehadirannya sudah mewarnai dan berakulturasi dengan tradisi lokal. Menjelang Tahun Baru Imlek. Berbagai hiasan dan kemeriahan terjadi beberapa titik di Tanah Air. Perayaannya juga menjadi destinasi baru yang mengasyikkan untuk dilihat dan patut disaksikan.<\/p>\n \n\n \n

                                          Berterimakasihlah kepada sang bapak bangsa, KH Abdurrahman Wahid atau yang dikenal dengan nama Gus Dur. Berkat kebijakannya saat menjadi Presiden Indonesia, Tahun Baru Imlek resmi dijadikan hari libur nasional dan dianggap sebagai salah satu hari raya di Tanah Air. Meski sentimen antitionghoa masih ada di sana-sini, tapi tetap tak bisa dipungkiri bahwa bangsa tionghoa sudah bersentuhan dengan budaya lokal dalam kurun waktu yang sangat panjang.<\/p>\n \n\n \n

                                          DNA Bangsa Tionghoa yang memang merupakan pedagang menjadi pembuka kisah interaksi antara nenek moyang berbagai suku di Nusantara dengan mereka. Beberapa kelenteng-kelenteng yang tersebar pada berbagai pesisir daerah di Nusantara jadi buktinya. Pelabuhan-pelabuhan tua di tanah air dan ramainya perdagangan di pesisir mempermudah bangsa kita berhubungan dengan Bangsa Tionghoa.<\/p>\n \n\n \n

                                          Baca Juga: Wong Kalang dan Kota Gede<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                          Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa kehadiran Bangsa Tionghoa di Nusantara tak hanya sebagai pedagang, namun juga sebagai pekerja (bahkan hingga pekerja kasar). Benny Setiono, seorang sejarahwan menyebutkan bahwa antara tahun 1760-1770 dalam jumlah yang besar memasuki nusantara melalui Kalimantan Barat. Mereka bekerja sebagai kuli pertambangan di sana dan di kemudian hari membentuk sebuah republik bernama Republik Lanfang yang konon katanya menjadi republik pertama di Asia Tenggara.<\/p>\n \n\n \n

                                          Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n \n\n \n

                                          Baca Juga: Imlek dan Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                          Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n \n\n \n

                                          Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n \n\n \n

                                          Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n \n\n \n

                                          Baca Juga: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                          Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n \n\n \n

                                          Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
                                          <\/p>\n ","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_3o3","class":"epic_block_3"};

                                          \n

                                          4. Frekuensi kliping dilakukan bisa satu, dua kali atau lebih sesuai dengan perkembangan bibit dan persiapan lokasi areal tanam. <\/p>\n \n\n\n

                                          5 Lima sampai tujuh hari menjelang transplanting, kegiatan kliping sebaiknya sudah selesai. <\/p>\n \n\n \n

                                          Tujuan klipping: menjaga lingkungan bibit agar tidak lembab, <\/strong>memperbesar batan,menyeragamkan ukuran benih, dan memperkuat pertumbuhan akar <\/p>\n \n\n \n

                                          1. Pencabutan Bibit, agar mendapatkan jarak tanam yang sesuai lahan <\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n
                                            \"\"\/<\/figure>\n \n\n \n
                                            \"\"\/<\/figure>\n \n\n \n

                                            Dalam satu hamparan direkomendasikan selesai tanam maksimal 3 Hari. Umur  tanaman akan menjadi sama atau seragam. Performance tanaman juga akan menjadi  seragam. Kemasakan daun pada saat petik juga menjadi seragam. Memudahkan pada saat  proses panen dan pasca panen. Tembakau kering yang dihasilkan pun juga seragam.<\/p>\n \n\n \n

                                            1. Pengendalian Hama & Penyakit<\/strong> <\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                              ~ Pada awal penyebaran benih direkomendasikan untuk melakukan penyemprotan fusngisida (jamur), seperti Previcur, Redomil & Antracol <\/p>\n \n\n \n

                                              ~ Hama yang sering dijumpai: semut (Decis), janggel, orong-orong <\/p>\n \n\n \n

                                              1. Tahapan Perawatan<\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n
                                                \"\"\/<\/figure>\n ","post_title":"Sukses Bertani Tembakau Bersama Kemitraan Djarum di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sukses-bertani-tembakau-bersama-kemitraan-djarum-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-11 12:32:18","post_modified_gmt":"2019-02-11 05:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5433","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5425,"post_author":"922","post_date":"2019-02-10 09:07:33","post_date_gmt":"2019-02-10 02:07:33","post_content":" \n

                                                Bahwa cengkeh [1] (Syzygium aromaticum) --bersama pala (Myristica fragrans)-- adalah dua tanaman asli (endemik) Kepulauan Maluku, sudah tak terbantahkan. Cengkeh dikenal dan diakui berasal dari \u2018Empat Pulau Gunung Maluku\u2019 (Maloko Kie Raha): Ternate, Tidore, Moti, dan Makian.
                                                <\/p>\n \n\n \n

                                                Adapun pala, berasal dari empat pulau kecil lainnya di tengah Laut Banda: Lonthor, Neira, Rhun, dan Ai. Pada penjelasan peta abad-16 oleh penjelajah dari Semenanjung Iberia, Fransisco Rodriguez, tertulis: \u201cEstas quatro Ilhas Azures suam as de molluquo homde nace ho crauzo\u201d<\/em> (Adalah empat pulau berwarna biru [dalam peta] yang disebut sebagai Kepulauan Maluku di mana rempah-rempah berasal) (Pires, 1512- 1515:213).
                                                <\/p>\n \n\n \n

                                                Sejak beberapa abad sebelum Masehi, adalah para saudagar Arab --melalui Samudera Hindia melintasi Iskandariyah dan Laut Tengah-- serta para pedagang Cina --melalui jalur \u2018Jalan Sutra\u2019 melintasi Asia Tengah dan Asia Barat-- yang membawa dan memperkenalkannya ke daratan Eropa. <\/p>\n \n\n \n

                                                Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                Bandar-bandar besar Tyre di Yunani dan Venesia di Italia menjadi pelabuhan utama rempah-rempah Maluku memasuki kehidupan dan peradaban Eropa. Selain sebagai bumbu masakan, rempah obat, dan ramuan wewangian, cengkeh dan pala juga menjadi bahan utama pengawet bahan pangan. [2]
                                                <\/p>\n \n\n \n

                                                Inilah yang membuat orang-orang Eropa untuk pertama kalinya dapat mengawetkan dan menimbun makanan selama bermusim-musim. Prosa indah Blair bersaudara menggambarkannya dengan sangat baik:
                                                <\/p>\n \n\n \n

                                                \u201cKemampuan menyimpan makanan lebih dari yang kami makan sekaligus berarti kemampuan menjual dan membelinya dalam jumlah besar --dan kota-kota dagang pun mekar. Perekonomian yang dihasilkannya mengarahkan kami ke zaman Pencerahan dan kemudian Revolusi Industri. Tak lama setelah kami menghirup aroma yang sangat kuat dari Timur itu dan mengubah kimiawi makanan kami, maka kami pun mampu melakukan lompatan besar dalam bidang budaya dan seni.\u201d (Blair & Blair, 2010; 30-31).<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

                                                Baca: Cengkeh dan Kelapa di Kepulauan Anambas<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                Bukan hanya membuat perekonomian dan perdagangan serta ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang, cengkeh dan pala bahkan adalah faktor yang paling menentukan dalam kemunculan satu babakan paling mengenaskan dalam sejarah politik dunia, yakni zaman penjajahan (kolonialisme) Eropa, terutama atas-atas negeri- negeri Asia Selatan, Timur dan Tenggara, termasuk Indonesia.
                                                <\/p>\n \n\n \n

                                                Tergerak oleh sahwat menguasai rempah-rempah yang menggiurkan itu, bangsa-bangsa Eropa --terutama Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda-- pun menggelar ekspedisi-ekspedisi besar untuk menemukan cengkeh dan pala langsung di tanah asalnya. Ketika armada-armada mereka akhirnya mencapai perairan Kepulauan Maluku, pada abad-16, perang pun tak terhindarkan.
                                                <\/p>\n \n\n \n

                                                Mereka silih berganti saling mengalahkan, tetapi pemenang terakhir adalah Belanda. Melalui Perusahaan Dagang Hindia Timur (Vereenigde Oostindische Compagnie, VOC) yang dibentuk pada awal abad-17 (tepatnya tahun 1609), Belanda melancarkan ekspedisi Pelayaran Hongi (Hongie Tochten), untuk memusnahkan semua tanaman cengkeh di Ternate, Tidore, Moti, dan Makian, lalu membatasi ketat penanamnya hanya di Pulau-pulau Ambon dan Lease --yang lebih dekat ke Banda sebagai pusat pemerintahan mereka sebelum akhirnya dipindahkan ke Batavia.
                                                <\/p>\n \n\n \n

                                                Praktis, sejak akhir abad-16, Belanda pun menguasai penuh perdagangan rempah-rempah Maluku dengan jumlah produksi rerata 2.500 sampai 4.500 ton per tahun. [3]<\/p>\n \n\n \n

                                                Baca: Budidaya Pohon Cengkeh<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                Meskipun peran utama rempah-rempah Maluku itu kemudian tergusur pada abad-18 dan 19 oleh beberapa barang eksotika tropis lainnya --hasil perkebunan-perkebunana besar baru di Pulau Sumatera dan Jawa: tebu, tembakau, lada, kopi, teh, nila, kelapa sawit, dan kayu jati-- namun sejarah sudah mencatat bahwa dua jenis rempah-rempah Maluku itulah yang mengawali penjelajahan sekaligus penjajahan kepulauan Nusantara oleh bangsa-bangsa Eropah, terutama Belanda (Topatimasang, ed., 2004:32). Jika saja tak pernah ada cengkeh dan pala di Maluku, mungkin sejarah kepulauan Nusantara ini akan berbeda sama sekali.
                                                <\/p>\n \n\n \n

                                                Masa suram cengkeh dan pala terus berlangsung sampai pertengahan abad-20. Rempah eksotika yang pernah membuat tergila-gila<\/p>\n \n\n \n

                                                para saudagar Arab, pedagang Cina, serta kaum ningrat Eropa itu, tergantikan perannya oleh penemuan teknologi mesin pendingin berkat Revolusi Industri yang dimulai di Inggris pada pertengahan abad-18. Pasaran cengkeh di Eropa pun merosot tajam.
                                                <\/p>\n \n\n \n

                                                Nasibnya terselamatkan berkat penemuan oleh seorang Haji Djamhari di Kudus, Jawa Tengah. Pada akhir tahun 1880-an, Haji Djamhari menemukan kegunaan baru cengkeh sebagai ramuan utama rokok. Lahirlah satu produk baru yang unik, khas dan asli Indonesia: kretek! (Hanusz, 2000:ii).
                                                <\/p>\n \n\n \n

                                                Setelah seperempat abad hanya berkembang dalam skala kecil usaha rumah tangga, produksi kretek akhirnya menjelma menjadi industri besar sejak awal abad-20 yang dirintis oleh Haji Nitisemito (pendiri pabrik \u2018Jambu Bol\u2019) di Kudus dan Liem Seng Tee (pendiri pabrik \u2018Dji Sam Soe\u2019 dan \u2018Sampoerna\u2019) di Surabaya.
                                                <\/p>\n \n\n \n

                                                Puncaknya adalah pada pertengahan tahun 1950-an, ketika produksi kretek mulai berkembang pesat menjadi industri raksasa modern dengan munculnya beberapa pabrik baru, antara lain, yang terkemuka, oleh Oei Wei Gwan (pendiri pabrik \u2018Djarum\u2019) di Kudus dan Tjou Ing Hwie (pendiri pabrik \u2018Gudang Garam\u2019) di Kediri (Topatimasang, et.al., eds., 2010:131).<\/p>\n \n\n \n

                                                Baca: Teruslah Menanam Tembakau dan Cengkeh, Wahai Petani Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                Cengkeh, bahan baku paling esensial dari kretek --selain tembakau, tentu saja-- pun kembali berjaya. Bahkan, sejak dasawarsa 1970an, telah menjadi salah satu penyumbang terbesar keuangan negara Republik Indonesia. Pada tahun 2012 dan 2013, pemasukan cukai dari industri kretek mencatat 95,5% dari seluruh pemasukan cukai ke kas negara. Nilainya tak tanggung-tanggung: Rp 87 triliun! (el-Guyanie, et.al.: 2013:4-5).<\/strong>
                                                <\/p>\n \n\n \n

                                                Nilai ekonomisnya yang sangat besar sempat menggoda penguasa otoriter rezim Presiden Soeharto, pada 1990-an, memberlakukan satu kebijakan \u2018Hongi Gaya Baru\u2019: monopoli perdagangan cengkeh dalam negeri melalui Badan Penyanggah dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) yang sangat merugikan petani. Harga cengkeh di tingkat petani penghasil anjlok sampai hanya Rp 2.000 - 3.000 per kilogram, lebih murah dari harga sebungkus kretek yang dihasilkan darinya.
                                                <\/p>\n \n\n \n

                                                Akibatnya, ratusan ribu pohon cengkeh di daerah-daerah penghasil utama --Maluku, Maluku Utara, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Selatan-- ditebangi atau dibiarkan terlantar tak terurus.
                                                <\/p>\n \n\n \n

                                                Gelombang reformasi sistem politik dan hukum nasional yang dimulai pada tahun 1998, akhirnya menjungkalkan rezim Soeharto dan BPPC dibubarkan, Pelan tapi pasti, harga cengkeh kembali merangkak naik, sehingga pada tahun 2012, bahkan melewati angka Rp 200.000 per kilogram. Para petani cengkeh di seluruh negeri kembali tersenyum. Tetapi, sampai kapan? <\/p>\n \n\n \n

                                                Catatan:<\/strong><\/p>\n \n\n \n

                                                [1] Beberapa sumber menyebutkan bahwa kata \u2018cengkeh\u2019 dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Mandarin, tkeng-his atau xi\u2019jia, yang berarti \u2018rempah [berbentuk mirip] paku\u2019 (scented nails). Ini menunjukkan bahwa cengkeh sudah dikenal sejak lama oleh bangsa Cina --diketahui sejak abad-2-- jauh sebelum orang Eropa mengenalnya ((lihat, misalnya: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n \n\n \n

                                                [2] Catatan-catatan para biarawan Fransiskan --yang disalin dan dikutip oleh van Frassen-- bahkan menyebut cengkeh sebagai salah satu bahan utama pengawet mumi para Fir\u2019aun, penguasa Mesir Kuno. Beberapa pakar sejarah dan arkeologi menyatakan bahwa rempah-rempah Maluku bahkan sudah ditemukan artefaknya di Lembah Mesopotomia (wilayah Iraq dan sekitarnya sekarang) pada 3.000 tahun sebelum Masehi. (lihat, antara lain: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n \n\n \n

                                                [3] Uraian lebih rinci sejarah kolonialisme rempah-rempah Nusantara ini, terutama oleh Belanda dan Portugis, dapat dibaca pada beberapa sumber kepustakaan yang sudah dikenal luas, antara lain: Glamann (1958) dan Boxer (1965 dan 1969). Dalam risalah klasik Pires disebutkan bahwa pada tahun 1512-1521 saja, jumlah produksi cengkeh di Maluku sudah mencapai 7.250 bahar per tahun, terbesar adalah di Makian serta Amboina dan Lease (masing-masing 1.500 bahar)(Pires, 1512-1515).<\/em>
                                                <\/p>\n \n\n \n

                                                Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem Topatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
                                                <\/p>\n ","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-10 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-02-10 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5425","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5415,"post_author":"878","post_date":"2019-02-07 12:15:55","post_date_gmt":"2019-02-07 05:15:55","post_content":" \n

                                                Belakangan ini, ketika musim hujan tiba, di Kabupaten Temanggung, Kabupaten Jember, dan beberapa wilayah sentra pertanian tembakau lainnya, hampir mustahil menemukan tanaman tembakau tumbuh di lahan-lahan milik petani. Di wilayah-wilayah tersebut, citra sebagai sentra pertanian tembakau seakan menguap. Lahan-lahan yang ada di sana, sama sekali tidak ditumbuhi tanaman tembakau.<\/p>\n \n\n \n

                                                Kabar ini bisa jadi dianggap sebagai kabar gembira bagi mereka yang menganggap diri dan kelompoknya anti-rokok dan anti-tembakau yang selalu mengampanyekan sikap-sikap mereka terkait kebencian kepada tembakau dan aktivitas merokok. Setelah sekian lama berjuang, akhirnya perjuangan mereka dirasa berhasil usai menyaksikan fenomena lahan-lahan di wilayah yang dianggap sentra pertanian tembakau pada hari-hari belakangan ini.<\/p>\n \n\n \n

                                                Baca juga: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                Tak sia-sia turun ke jalan, tak sia-sia melakukan lobi-lobi ke penguasa, tak sia-sia mengucurkan uang yang tidak sedikit, dan tak sia-sia mempermalukan diri dengan mengemis ke lembaga donor asing dan menggondol uang dari cukai tembakau untuk mengampanyekan gerakan anti-rokok dan anti-tembakau. Tak sia-sia. Karena perjuangan sepertinya berhasil.<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

                                                Kampanye-kampanye gerakan mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya, sepertinya juga sangat berhasil. Bagaimana tidak? Wilayah-wilayah yang sebelumnya penuh dengan tanaman tembakau dan bergeliat dengannya, kini lahan-lahannya sudah berganti dengan tanaman lain. Sebuah keberhasilan yang menggembirakan. Begitu mungkin pikir mereka para yang menganggap dirinya pejuang anti-rokok dan anti-tembakau. Dan tentu saja mereka akan kecele dan kita akan menertawakan hal itu.<\/p>\n \n\n \n

                                                Sayangnya, mereka yang menganggap dirinya anti-rokok dan anti-tembakau tidak menyaksikan langsung fenomena ini di lapangan, di lahan-lahan yang peruntukannya berubah pada hari-hari belakangan ini ketika memasuki musim hujan. Mereka asyik duduk pada kursi empuk di ruang-ruang nyaman ber-AC di kota-kota yang jauh dari kultur pertanian. Mereka menyengajakan diri menjadi elit dan enggan untuk turun melihat langsung ke lapangan. Kalaupun ada yang turun langsung ke lapangan, hanya segelintir saja dari mereka, itupun sekadar formalitas saja. Tak pernah benar-benar mau turun ke lapangan, hidup dan merasakan langsung kultur pertanian tembakau dalam jangka waktu cukup lama di lapangan.<\/p>\n \n\n \n

                                                Baca juga: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                Fenomena ini membikin kita tak bisa melihat mereka para anti-rokok kecele lalu menertawakan mereka.<\/strong> Fenomena keengganan terjun langsung ke lapangan terlebih mencoba mendengar mereka yang tetap menanam tembakau, juga menjalani keseharian dalam waktu cukup lama bersama petani tembakau inilah yang saya kira menjadikan mereka tetap keras kepala untuk anti-rokok dan anti-tembakau. Karena jika mereka mau melakukan itu, saya yakin mereka semua tidak akan begitu kaku dalam memandang pertanian tembakau dan produk hasil industri tembakau.<\/p>\n \n\n \n

                                                Salah satu yang selalu mereka kampanyekan dan ngotot dengan itu, terkait hulu pertanian tembakau adalah mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya. Mereka berargumen banyak tanaman lain yang bisa semenguntungkan tanaman tembakau. Keengganan mereka terjun langsung ke lapangan inilah yang membikin mereka buta dengan kondisi pertanian tembakau dan pada akhirnya terus menerus mengampanyekan pergantian tanaman tembakau dengan tanaman lainnya.<\/p>\n \n\n \n

                                                Baca juga: Imanlah kepada Allah, Bukan Antirokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                Tembakau tanaman yang khas. Ia hanya tumbuh baik sepanjang empat hingga lima bulan dalam satu tahun. Tumbuh-kembang tanaman tembakau dengan baik itu umumnya terjadi pada musim kemarau setiap tahunnya. Hanya sedikit sekali jenis tembakau yang tumbuh baik di musim penghujan, mayoritasnya, tumbuh baik pada musim kemarau.<\/p>\n \n\n \n

                                                Jika ditanam pada musim hujan, hampir bisa dipastikan tanaman tembakau akan gagal menghasilkan daun-daun yang berkualitas. Ia akan rusak dan membusuk karena terlalu banyak terkena air sehingga daun-daun itu tak layak dijual. Jangankan bisa dijual, untuk tumbuh dengan baik pun sepertinya sulit karena musim hujan akan membunuh banyak tanaman itu.<\/p>\n \n\n \n

                                                Maka, tak heran pada musim-musim seperti saat ini, ketika musim penghujan mendekati puncaknya, di wilayah-wilayah yang dikenal sebagai sentra pertanian tembakau, sulit menemukan pohon tembakau yang sedang tumbuh. Pada lahan-lahan yang sebelumnya ditumbuhi tanaman tembakau pada musim panas, berganti tanaman-tanaman lain yang bermacam-macam, sesuai dengan kondisi lahannya. Untuk lahan sawah, lahan-lahan itu pada musim penghujan kini ditumbuhi tanaman padi yang subur. Pada lahan tegalan dan lahan di pegunungan, lahan-lahan yang ditanami tembakau pada musim kemarau, saat ini ditumbuhi bermacam jenis tanaman mulai dari cabai, bawang, tomat, kol, terong, mentimun, dan ragam jenis tanaman semusim lainnya.<\/p>\n \n\n \n

                                                Uniknya, tipikal tanaman tembakau yang tumbuh baik di musim kemarau ini memberi pilihan lebih kepada para petani. Lahan-lahan yang sulit ditanami pada musim kemarau, pada akhirnya masih bisa tetap produktif dengan keberadaan tanaman tembakau. <\/p>\n \n\n \n

                                                Maka, kampanye aneh mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain dengan ragam rupa dalih yang membingungkan, bukan saja sama sekali tidak tepat dan asal-asalan, namun bisa jadi akan ditertawakan oleh para petani yang begitu paham dengan kondisi lahan dan terutama kondisi iklim dan cuaca. Sulit mencari tanaman semusim yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Jika pun ada, tak ada yang semenguntungkan tanaman tembakau.
                                                <\/p>\n ","post_title":"Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"keberhasilan-gerakan-anti-tembakau-tak-ada-tembakau-saat-musim-hujan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-07 12:16:02","post_modified_gmt":"2019-02-07 05:16:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5415","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5409,"post_author":"919","post_date":"2019-02-05 08:04:43","post_date_gmt":"2019-02-05 01:04:43","post_content":" \n

                                                Tahun Baru Imlek yang merupakan tradisi Bangsa Tiongkok kini sudah tak lagi menjadi hal yang asing bagi masyarakat Indonesia. Kehadirannya sudah mewarnai dan berakulturasi dengan tradisi lokal. Menjelang Tahun Baru Imlek. Berbagai hiasan dan kemeriahan terjadi beberapa titik di Tanah Air. Perayaannya juga menjadi destinasi baru yang mengasyikkan untuk dilihat dan patut disaksikan.<\/p>\n \n\n \n

                                                Berterimakasihlah kepada sang bapak bangsa, KH Abdurrahman Wahid atau yang dikenal dengan nama Gus Dur. Berkat kebijakannya saat menjadi Presiden Indonesia, Tahun Baru Imlek resmi dijadikan hari libur nasional dan dianggap sebagai salah satu hari raya di Tanah Air. Meski sentimen antitionghoa masih ada di sana-sini, tapi tetap tak bisa dipungkiri bahwa bangsa tionghoa sudah bersentuhan dengan budaya lokal dalam kurun waktu yang sangat panjang.<\/p>\n \n\n \n

                                                DNA Bangsa Tionghoa yang memang merupakan pedagang menjadi pembuka kisah interaksi antara nenek moyang berbagai suku di Nusantara dengan mereka. Beberapa kelenteng-kelenteng yang tersebar pada berbagai pesisir daerah di Nusantara jadi buktinya. Pelabuhan-pelabuhan tua di tanah air dan ramainya perdagangan di pesisir mempermudah bangsa kita berhubungan dengan Bangsa Tionghoa.<\/p>\n \n\n \n

                                                Baca Juga: Wong Kalang dan Kota Gede<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa kehadiran Bangsa Tionghoa di Nusantara tak hanya sebagai pedagang, namun juga sebagai pekerja (bahkan hingga pekerja kasar). Benny Setiono, seorang sejarahwan menyebutkan bahwa antara tahun 1760-1770 dalam jumlah yang besar memasuki nusantara melalui Kalimantan Barat. Mereka bekerja sebagai kuli pertambangan di sana dan di kemudian hari membentuk sebuah republik bernama Republik Lanfang yang konon katanya menjadi republik pertama di Asia Tenggara.<\/p>\n \n\n \n

                                                Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n \n\n \n

                                                Baca Juga: Imlek dan Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n \n\n \n

                                                Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n \n\n \n

                                                Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n \n\n \n

                                                Baca Juga: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n \n\n \n

                                                Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
                                                <\/p>\n ","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_3o3","class":"epic_block_3"};

                                                \n

                                                3. Kliping adalah kegiatan memotong sebagian atau 2\/3 daun bibit tembakau. <\/p>\n \n\n\n

                                                4. Frekuensi kliping dilakukan bisa satu, dua kali atau lebih sesuai dengan perkembangan bibit dan persiapan lokasi areal tanam. <\/p>\n \n\n \n

                                                5 Lima sampai tujuh hari menjelang transplanting, kegiatan kliping sebaiknya sudah selesai. <\/p>\n \n\n \n

                                                Tujuan klipping: menjaga lingkungan bibit agar tidak lembab, <\/strong>memperbesar batan,menyeragamkan ukuran benih, dan memperkuat pertumbuhan akar <\/p>\n \n\n \n

                                                1. Pencabutan Bibit, agar mendapatkan jarak tanam yang sesuai lahan <\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n
                                                  \"\"\/<\/figure>\n \n\n \n
                                                  \"\"\/<\/figure>\n \n\n \n

                                                  Dalam satu hamparan direkomendasikan selesai tanam maksimal 3 Hari. Umur  tanaman akan menjadi sama atau seragam. Performance tanaman juga akan menjadi  seragam. Kemasakan daun pada saat petik juga menjadi seragam. Memudahkan pada saat  proses panen dan pasca panen. Tembakau kering yang dihasilkan pun juga seragam.<\/p>\n \n\n \n

                                                  1. Pengendalian Hama & Penyakit<\/strong> <\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                    ~ Pada awal penyebaran benih direkomendasikan untuk melakukan penyemprotan fusngisida (jamur), seperti Previcur, Redomil & Antracol <\/p>\n \n\n \n

                                                    ~ Hama yang sering dijumpai: semut (Decis), janggel, orong-orong <\/p>\n \n\n \n

                                                    1. Tahapan Perawatan<\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n
                                                      \"\"\/<\/figure>\n ","post_title":"Sukses Bertani Tembakau Bersama Kemitraan Djarum di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sukses-bertani-tembakau-bersama-kemitraan-djarum-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-11 12:32:18","post_modified_gmt":"2019-02-11 05:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5433","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5425,"post_author":"922","post_date":"2019-02-10 09:07:33","post_date_gmt":"2019-02-10 02:07:33","post_content":" \n

                                                      Bahwa cengkeh [1] (Syzygium aromaticum) --bersama pala (Myristica fragrans)-- adalah dua tanaman asli (endemik) Kepulauan Maluku, sudah tak terbantahkan. Cengkeh dikenal dan diakui berasal dari \u2018Empat Pulau Gunung Maluku\u2019 (Maloko Kie Raha): Ternate, Tidore, Moti, dan Makian.
                                                      <\/p>\n \n\n \n

                                                      Adapun pala, berasal dari empat pulau kecil lainnya di tengah Laut Banda: Lonthor, Neira, Rhun, dan Ai. Pada penjelasan peta abad-16 oleh penjelajah dari Semenanjung Iberia, Fransisco Rodriguez, tertulis: \u201cEstas quatro Ilhas Azures suam as de molluquo homde nace ho crauzo\u201d<\/em> (Adalah empat pulau berwarna biru [dalam peta] yang disebut sebagai Kepulauan Maluku di mana rempah-rempah berasal) (Pires, 1512- 1515:213).
                                                      <\/p>\n \n\n \n

                                                      Sejak beberapa abad sebelum Masehi, adalah para saudagar Arab --melalui Samudera Hindia melintasi Iskandariyah dan Laut Tengah-- serta para pedagang Cina --melalui jalur \u2018Jalan Sutra\u2019 melintasi Asia Tengah dan Asia Barat-- yang membawa dan memperkenalkannya ke daratan Eropa. <\/p>\n \n\n \n

                                                      Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                      Bandar-bandar besar Tyre di Yunani dan Venesia di Italia menjadi pelabuhan utama rempah-rempah Maluku memasuki kehidupan dan peradaban Eropa. Selain sebagai bumbu masakan, rempah obat, dan ramuan wewangian, cengkeh dan pala juga menjadi bahan utama pengawet bahan pangan. [2]
                                                      <\/p>\n \n\n \n

                                                      Inilah yang membuat orang-orang Eropa untuk pertama kalinya dapat mengawetkan dan menimbun makanan selama bermusim-musim. Prosa indah Blair bersaudara menggambarkannya dengan sangat baik:
                                                      <\/p>\n \n\n \n

                                                      \u201cKemampuan menyimpan makanan lebih dari yang kami makan sekaligus berarti kemampuan menjual dan membelinya dalam jumlah besar --dan kota-kota dagang pun mekar. Perekonomian yang dihasilkannya mengarahkan kami ke zaman Pencerahan dan kemudian Revolusi Industri. Tak lama setelah kami menghirup aroma yang sangat kuat dari Timur itu dan mengubah kimiawi makanan kami, maka kami pun mampu melakukan lompatan besar dalam bidang budaya dan seni.\u201d (Blair & Blair, 2010; 30-31).<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

                                                      Baca: Cengkeh dan Kelapa di Kepulauan Anambas<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                      Bukan hanya membuat perekonomian dan perdagangan serta ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang, cengkeh dan pala bahkan adalah faktor yang paling menentukan dalam kemunculan satu babakan paling mengenaskan dalam sejarah politik dunia, yakni zaman penjajahan (kolonialisme) Eropa, terutama atas-atas negeri- negeri Asia Selatan, Timur dan Tenggara, termasuk Indonesia.
                                                      <\/p>\n \n\n \n

                                                      Tergerak oleh sahwat menguasai rempah-rempah yang menggiurkan itu, bangsa-bangsa Eropa --terutama Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda-- pun menggelar ekspedisi-ekspedisi besar untuk menemukan cengkeh dan pala langsung di tanah asalnya. Ketika armada-armada mereka akhirnya mencapai perairan Kepulauan Maluku, pada abad-16, perang pun tak terhindarkan.
                                                      <\/p>\n \n\n \n

                                                      Mereka silih berganti saling mengalahkan, tetapi pemenang terakhir adalah Belanda. Melalui Perusahaan Dagang Hindia Timur (Vereenigde Oostindische Compagnie, VOC) yang dibentuk pada awal abad-17 (tepatnya tahun 1609), Belanda melancarkan ekspedisi Pelayaran Hongi (Hongie Tochten), untuk memusnahkan semua tanaman cengkeh di Ternate, Tidore, Moti, dan Makian, lalu membatasi ketat penanamnya hanya di Pulau-pulau Ambon dan Lease --yang lebih dekat ke Banda sebagai pusat pemerintahan mereka sebelum akhirnya dipindahkan ke Batavia.
                                                      <\/p>\n \n\n \n

                                                      Praktis, sejak akhir abad-16, Belanda pun menguasai penuh perdagangan rempah-rempah Maluku dengan jumlah produksi rerata 2.500 sampai 4.500 ton per tahun. [3]<\/p>\n \n\n \n

                                                      Baca: Budidaya Pohon Cengkeh<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                      Meskipun peran utama rempah-rempah Maluku itu kemudian tergusur pada abad-18 dan 19 oleh beberapa barang eksotika tropis lainnya --hasil perkebunan-perkebunana besar baru di Pulau Sumatera dan Jawa: tebu, tembakau, lada, kopi, teh, nila, kelapa sawit, dan kayu jati-- namun sejarah sudah mencatat bahwa dua jenis rempah-rempah Maluku itulah yang mengawali penjelajahan sekaligus penjajahan kepulauan Nusantara oleh bangsa-bangsa Eropah, terutama Belanda (Topatimasang, ed., 2004:32). Jika saja tak pernah ada cengkeh dan pala di Maluku, mungkin sejarah kepulauan Nusantara ini akan berbeda sama sekali.
                                                      <\/p>\n \n\n \n

                                                      Masa suram cengkeh dan pala terus berlangsung sampai pertengahan abad-20. Rempah eksotika yang pernah membuat tergila-gila<\/p>\n \n\n \n

                                                      para saudagar Arab, pedagang Cina, serta kaum ningrat Eropa itu, tergantikan perannya oleh penemuan teknologi mesin pendingin berkat Revolusi Industri yang dimulai di Inggris pada pertengahan abad-18. Pasaran cengkeh di Eropa pun merosot tajam.
                                                      <\/p>\n \n\n \n

                                                      Nasibnya terselamatkan berkat penemuan oleh seorang Haji Djamhari di Kudus, Jawa Tengah. Pada akhir tahun 1880-an, Haji Djamhari menemukan kegunaan baru cengkeh sebagai ramuan utama rokok. Lahirlah satu produk baru yang unik, khas dan asli Indonesia: kretek! (Hanusz, 2000:ii).
                                                      <\/p>\n \n\n \n

                                                      Setelah seperempat abad hanya berkembang dalam skala kecil usaha rumah tangga, produksi kretek akhirnya menjelma menjadi industri besar sejak awal abad-20 yang dirintis oleh Haji Nitisemito (pendiri pabrik \u2018Jambu Bol\u2019) di Kudus dan Liem Seng Tee (pendiri pabrik \u2018Dji Sam Soe\u2019 dan \u2018Sampoerna\u2019) di Surabaya.
                                                      <\/p>\n \n\n \n

                                                      Puncaknya adalah pada pertengahan tahun 1950-an, ketika produksi kretek mulai berkembang pesat menjadi industri raksasa modern dengan munculnya beberapa pabrik baru, antara lain, yang terkemuka, oleh Oei Wei Gwan (pendiri pabrik \u2018Djarum\u2019) di Kudus dan Tjou Ing Hwie (pendiri pabrik \u2018Gudang Garam\u2019) di Kediri (Topatimasang, et.al., eds., 2010:131).<\/p>\n \n\n \n

                                                      Baca: Teruslah Menanam Tembakau dan Cengkeh, Wahai Petani Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                      Cengkeh, bahan baku paling esensial dari kretek --selain tembakau, tentu saja-- pun kembali berjaya. Bahkan, sejak dasawarsa 1970an, telah menjadi salah satu penyumbang terbesar keuangan negara Republik Indonesia. Pada tahun 2012 dan 2013, pemasukan cukai dari industri kretek mencatat 95,5% dari seluruh pemasukan cukai ke kas negara. Nilainya tak tanggung-tanggung: Rp 87 triliun! (el-Guyanie, et.al.: 2013:4-5).<\/strong>
                                                      <\/p>\n \n\n \n

                                                      Nilai ekonomisnya yang sangat besar sempat menggoda penguasa otoriter rezim Presiden Soeharto, pada 1990-an, memberlakukan satu kebijakan \u2018Hongi Gaya Baru\u2019: monopoli perdagangan cengkeh dalam negeri melalui Badan Penyanggah dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) yang sangat merugikan petani. Harga cengkeh di tingkat petani penghasil anjlok sampai hanya Rp 2.000 - 3.000 per kilogram, lebih murah dari harga sebungkus kretek yang dihasilkan darinya.
                                                      <\/p>\n \n\n \n

                                                      Akibatnya, ratusan ribu pohon cengkeh di daerah-daerah penghasil utama --Maluku, Maluku Utara, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Selatan-- ditebangi atau dibiarkan terlantar tak terurus.
                                                      <\/p>\n \n\n \n

                                                      Gelombang reformasi sistem politik dan hukum nasional yang dimulai pada tahun 1998, akhirnya menjungkalkan rezim Soeharto dan BPPC dibubarkan, Pelan tapi pasti, harga cengkeh kembali merangkak naik, sehingga pada tahun 2012, bahkan melewati angka Rp 200.000 per kilogram. Para petani cengkeh di seluruh negeri kembali tersenyum. Tetapi, sampai kapan? <\/p>\n \n\n \n

                                                      Catatan:<\/strong><\/p>\n \n\n \n

                                                      [1] Beberapa sumber menyebutkan bahwa kata \u2018cengkeh\u2019 dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Mandarin, tkeng-his atau xi\u2019jia, yang berarti \u2018rempah [berbentuk mirip] paku\u2019 (scented nails). Ini menunjukkan bahwa cengkeh sudah dikenal sejak lama oleh bangsa Cina --diketahui sejak abad-2-- jauh sebelum orang Eropa mengenalnya ((lihat, misalnya: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n \n\n \n

                                                      [2] Catatan-catatan para biarawan Fransiskan --yang disalin dan dikutip oleh van Frassen-- bahkan menyebut cengkeh sebagai salah satu bahan utama pengawet mumi para Fir\u2019aun, penguasa Mesir Kuno. Beberapa pakar sejarah dan arkeologi menyatakan bahwa rempah-rempah Maluku bahkan sudah ditemukan artefaknya di Lembah Mesopotomia (wilayah Iraq dan sekitarnya sekarang) pada 3.000 tahun sebelum Masehi. (lihat, antara lain: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n \n\n \n

                                                      [3] Uraian lebih rinci sejarah kolonialisme rempah-rempah Nusantara ini, terutama oleh Belanda dan Portugis, dapat dibaca pada beberapa sumber kepustakaan yang sudah dikenal luas, antara lain: Glamann (1958) dan Boxer (1965 dan 1969). Dalam risalah klasik Pires disebutkan bahwa pada tahun 1512-1521 saja, jumlah produksi cengkeh di Maluku sudah mencapai 7.250 bahar per tahun, terbesar adalah di Makian serta Amboina dan Lease (masing-masing 1.500 bahar)(Pires, 1512-1515).<\/em>
                                                      <\/p>\n \n\n \n

                                                      Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem Topatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
                                                      <\/p>\n ","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-10 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-02-10 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5425","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5415,"post_author":"878","post_date":"2019-02-07 12:15:55","post_date_gmt":"2019-02-07 05:15:55","post_content":" \n

                                                      Belakangan ini, ketika musim hujan tiba, di Kabupaten Temanggung, Kabupaten Jember, dan beberapa wilayah sentra pertanian tembakau lainnya, hampir mustahil menemukan tanaman tembakau tumbuh di lahan-lahan milik petani. Di wilayah-wilayah tersebut, citra sebagai sentra pertanian tembakau seakan menguap. Lahan-lahan yang ada di sana, sama sekali tidak ditumbuhi tanaman tembakau.<\/p>\n \n\n \n

                                                      Kabar ini bisa jadi dianggap sebagai kabar gembira bagi mereka yang menganggap diri dan kelompoknya anti-rokok dan anti-tembakau yang selalu mengampanyekan sikap-sikap mereka terkait kebencian kepada tembakau dan aktivitas merokok. Setelah sekian lama berjuang, akhirnya perjuangan mereka dirasa berhasil usai menyaksikan fenomena lahan-lahan di wilayah yang dianggap sentra pertanian tembakau pada hari-hari belakangan ini.<\/p>\n \n\n \n

                                                      Baca juga: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                      Tak sia-sia turun ke jalan, tak sia-sia melakukan lobi-lobi ke penguasa, tak sia-sia mengucurkan uang yang tidak sedikit, dan tak sia-sia mempermalukan diri dengan mengemis ke lembaga donor asing dan menggondol uang dari cukai tembakau untuk mengampanyekan gerakan anti-rokok dan anti-tembakau. Tak sia-sia. Karena perjuangan sepertinya berhasil.<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

                                                      Kampanye-kampanye gerakan mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya, sepertinya juga sangat berhasil. Bagaimana tidak? Wilayah-wilayah yang sebelumnya penuh dengan tanaman tembakau dan bergeliat dengannya, kini lahan-lahannya sudah berganti dengan tanaman lain. Sebuah keberhasilan yang menggembirakan. Begitu mungkin pikir mereka para yang menganggap dirinya pejuang anti-rokok dan anti-tembakau. Dan tentu saja mereka akan kecele dan kita akan menertawakan hal itu.<\/p>\n \n\n \n

                                                      Sayangnya, mereka yang menganggap dirinya anti-rokok dan anti-tembakau tidak menyaksikan langsung fenomena ini di lapangan, di lahan-lahan yang peruntukannya berubah pada hari-hari belakangan ini ketika memasuki musim hujan. Mereka asyik duduk pada kursi empuk di ruang-ruang nyaman ber-AC di kota-kota yang jauh dari kultur pertanian. Mereka menyengajakan diri menjadi elit dan enggan untuk turun melihat langsung ke lapangan. Kalaupun ada yang turun langsung ke lapangan, hanya segelintir saja dari mereka, itupun sekadar formalitas saja. Tak pernah benar-benar mau turun ke lapangan, hidup dan merasakan langsung kultur pertanian tembakau dalam jangka waktu cukup lama di lapangan.<\/p>\n \n\n \n

                                                      Baca juga: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                      Fenomena ini membikin kita tak bisa melihat mereka para anti-rokok kecele lalu menertawakan mereka.<\/strong> Fenomena keengganan terjun langsung ke lapangan terlebih mencoba mendengar mereka yang tetap menanam tembakau, juga menjalani keseharian dalam waktu cukup lama bersama petani tembakau inilah yang saya kira menjadikan mereka tetap keras kepala untuk anti-rokok dan anti-tembakau. Karena jika mereka mau melakukan itu, saya yakin mereka semua tidak akan begitu kaku dalam memandang pertanian tembakau dan produk hasil industri tembakau.<\/p>\n \n\n \n

                                                      Salah satu yang selalu mereka kampanyekan dan ngotot dengan itu, terkait hulu pertanian tembakau adalah mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya. Mereka berargumen banyak tanaman lain yang bisa semenguntungkan tanaman tembakau. Keengganan mereka terjun langsung ke lapangan inilah yang membikin mereka buta dengan kondisi pertanian tembakau dan pada akhirnya terus menerus mengampanyekan pergantian tanaman tembakau dengan tanaman lainnya.<\/p>\n \n\n \n

                                                      Baca juga: Imanlah kepada Allah, Bukan Antirokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                      Tembakau tanaman yang khas. Ia hanya tumbuh baik sepanjang empat hingga lima bulan dalam satu tahun. Tumbuh-kembang tanaman tembakau dengan baik itu umumnya terjadi pada musim kemarau setiap tahunnya. Hanya sedikit sekali jenis tembakau yang tumbuh baik di musim penghujan, mayoritasnya, tumbuh baik pada musim kemarau.<\/p>\n \n\n \n

                                                      Jika ditanam pada musim hujan, hampir bisa dipastikan tanaman tembakau akan gagal menghasilkan daun-daun yang berkualitas. Ia akan rusak dan membusuk karena terlalu banyak terkena air sehingga daun-daun itu tak layak dijual. Jangankan bisa dijual, untuk tumbuh dengan baik pun sepertinya sulit karena musim hujan akan membunuh banyak tanaman itu.<\/p>\n \n\n \n

                                                      Maka, tak heran pada musim-musim seperti saat ini, ketika musim penghujan mendekati puncaknya, di wilayah-wilayah yang dikenal sebagai sentra pertanian tembakau, sulit menemukan pohon tembakau yang sedang tumbuh. Pada lahan-lahan yang sebelumnya ditumbuhi tanaman tembakau pada musim panas, berganti tanaman-tanaman lain yang bermacam-macam, sesuai dengan kondisi lahannya. Untuk lahan sawah, lahan-lahan itu pada musim penghujan kini ditumbuhi tanaman padi yang subur. Pada lahan tegalan dan lahan di pegunungan, lahan-lahan yang ditanami tembakau pada musim kemarau, saat ini ditumbuhi bermacam jenis tanaman mulai dari cabai, bawang, tomat, kol, terong, mentimun, dan ragam jenis tanaman semusim lainnya.<\/p>\n \n\n \n

                                                      Uniknya, tipikal tanaman tembakau yang tumbuh baik di musim kemarau ini memberi pilihan lebih kepada para petani. Lahan-lahan yang sulit ditanami pada musim kemarau, pada akhirnya masih bisa tetap produktif dengan keberadaan tanaman tembakau. <\/p>\n \n\n \n

                                                      Maka, kampanye aneh mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain dengan ragam rupa dalih yang membingungkan, bukan saja sama sekali tidak tepat dan asal-asalan, namun bisa jadi akan ditertawakan oleh para petani yang begitu paham dengan kondisi lahan dan terutama kondisi iklim dan cuaca. Sulit mencari tanaman semusim yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Jika pun ada, tak ada yang semenguntungkan tanaman tembakau.
                                                      <\/p>\n ","post_title":"Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"keberhasilan-gerakan-anti-tembakau-tak-ada-tembakau-saat-musim-hujan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-07 12:16:02","post_modified_gmt":"2019-02-07 05:16:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5415","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5409,"post_author":"919","post_date":"2019-02-05 08:04:43","post_date_gmt":"2019-02-05 01:04:43","post_content":" \n

                                                      Tahun Baru Imlek yang merupakan tradisi Bangsa Tiongkok kini sudah tak lagi menjadi hal yang asing bagi masyarakat Indonesia. Kehadirannya sudah mewarnai dan berakulturasi dengan tradisi lokal. Menjelang Tahun Baru Imlek. Berbagai hiasan dan kemeriahan terjadi beberapa titik di Tanah Air. Perayaannya juga menjadi destinasi baru yang mengasyikkan untuk dilihat dan patut disaksikan.<\/p>\n \n\n \n

                                                      Berterimakasihlah kepada sang bapak bangsa, KH Abdurrahman Wahid atau yang dikenal dengan nama Gus Dur. Berkat kebijakannya saat menjadi Presiden Indonesia, Tahun Baru Imlek resmi dijadikan hari libur nasional dan dianggap sebagai salah satu hari raya di Tanah Air. Meski sentimen antitionghoa masih ada di sana-sini, tapi tetap tak bisa dipungkiri bahwa bangsa tionghoa sudah bersentuhan dengan budaya lokal dalam kurun waktu yang sangat panjang.<\/p>\n \n\n \n

                                                      DNA Bangsa Tionghoa yang memang merupakan pedagang menjadi pembuka kisah interaksi antara nenek moyang berbagai suku di Nusantara dengan mereka. Beberapa kelenteng-kelenteng yang tersebar pada berbagai pesisir daerah di Nusantara jadi buktinya. Pelabuhan-pelabuhan tua di tanah air dan ramainya perdagangan di pesisir mempermudah bangsa kita berhubungan dengan Bangsa Tionghoa.<\/p>\n \n\n \n

                                                      Baca Juga: Wong Kalang dan Kota Gede<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                      Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa kehadiran Bangsa Tionghoa di Nusantara tak hanya sebagai pedagang, namun juga sebagai pekerja (bahkan hingga pekerja kasar). Benny Setiono, seorang sejarahwan menyebutkan bahwa antara tahun 1760-1770 dalam jumlah yang besar memasuki nusantara melalui Kalimantan Barat. Mereka bekerja sebagai kuli pertambangan di sana dan di kemudian hari membentuk sebuah republik bernama Republik Lanfang yang konon katanya menjadi republik pertama di Asia Tenggara.<\/p>\n \n\n \n

                                                      Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n \n\n \n

                                                      Baca Juga: Imlek dan Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                      Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n \n\n \n

                                                      Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n \n\n \n

                                                      Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n \n\n \n

                                                      Baca Juga: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                      Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n \n\n \n

                                                      Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
                                                      <\/p>\n ","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_3o3","class":"epic_block_3"};

                                                      \n

                                                      2. Kliping dilakukan pada saat bibit pertumbuhannya terlalu lebat atau saling menutup batangnya. <\/p>\n \n\n\n

                                                      3. Kliping adalah kegiatan memotong sebagian atau 2\/3 daun bibit tembakau. <\/p>\n \n\n \n

                                                      4. Frekuensi kliping dilakukan bisa satu, dua kali atau lebih sesuai dengan perkembangan bibit dan persiapan lokasi areal tanam. <\/p>\n \n\n \n

                                                      5 Lima sampai tujuh hari menjelang transplanting, kegiatan kliping sebaiknya sudah selesai. <\/p>\n \n\n \n

                                                      Tujuan klipping: menjaga lingkungan bibit agar tidak lembab, <\/strong>memperbesar batan,menyeragamkan ukuran benih, dan memperkuat pertumbuhan akar <\/p>\n \n\n \n

                                                      1. Pencabutan Bibit, agar mendapatkan jarak tanam yang sesuai lahan <\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n
                                                        \"\"\/<\/figure>\n \n\n \n
                                                        \"\"\/<\/figure>\n \n\n \n

                                                        Dalam satu hamparan direkomendasikan selesai tanam maksimal 3 Hari. Umur  tanaman akan menjadi sama atau seragam. Performance tanaman juga akan menjadi  seragam. Kemasakan daun pada saat petik juga menjadi seragam. Memudahkan pada saat  proses panen dan pasca panen. Tembakau kering yang dihasilkan pun juga seragam.<\/p>\n \n\n \n

                                                        1. Pengendalian Hama & Penyakit<\/strong> <\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                          ~ Pada awal penyebaran benih direkomendasikan untuk melakukan penyemprotan fusngisida (jamur), seperti Previcur, Redomil & Antracol <\/p>\n \n\n \n

                                                          ~ Hama yang sering dijumpai: semut (Decis), janggel, orong-orong <\/p>\n \n\n \n

                                                          1. Tahapan Perawatan<\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n
                                                            \"\"\/<\/figure>\n ","post_title":"Sukses Bertani Tembakau Bersama Kemitraan Djarum di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sukses-bertani-tembakau-bersama-kemitraan-djarum-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-11 12:32:18","post_modified_gmt":"2019-02-11 05:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5433","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5425,"post_author":"922","post_date":"2019-02-10 09:07:33","post_date_gmt":"2019-02-10 02:07:33","post_content":" \n

                                                            Bahwa cengkeh [1] (Syzygium aromaticum) --bersama pala (Myristica fragrans)-- adalah dua tanaman asli (endemik) Kepulauan Maluku, sudah tak terbantahkan. Cengkeh dikenal dan diakui berasal dari \u2018Empat Pulau Gunung Maluku\u2019 (Maloko Kie Raha): Ternate, Tidore, Moti, dan Makian.
                                                            <\/p>\n \n\n \n

                                                            Adapun pala, berasal dari empat pulau kecil lainnya di tengah Laut Banda: Lonthor, Neira, Rhun, dan Ai. Pada penjelasan peta abad-16 oleh penjelajah dari Semenanjung Iberia, Fransisco Rodriguez, tertulis: \u201cEstas quatro Ilhas Azures suam as de molluquo homde nace ho crauzo\u201d<\/em> (Adalah empat pulau berwarna biru [dalam peta] yang disebut sebagai Kepulauan Maluku di mana rempah-rempah berasal) (Pires, 1512- 1515:213).
                                                            <\/p>\n \n\n \n

                                                            Sejak beberapa abad sebelum Masehi, adalah para saudagar Arab --melalui Samudera Hindia melintasi Iskandariyah dan Laut Tengah-- serta para pedagang Cina --melalui jalur \u2018Jalan Sutra\u2019 melintasi Asia Tengah dan Asia Barat-- yang membawa dan memperkenalkannya ke daratan Eropa. <\/p>\n \n\n \n

                                                            Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                            Bandar-bandar besar Tyre di Yunani dan Venesia di Italia menjadi pelabuhan utama rempah-rempah Maluku memasuki kehidupan dan peradaban Eropa. Selain sebagai bumbu masakan, rempah obat, dan ramuan wewangian, cengkeh dan pala juga menjadi bahan utama pengawet bahan pangan. [2]
                                                            <\/p>\n \n\n \n

                                                            Inilah yang membuat orang-orang Eropa untuk pertama kalinya dapat mengawetkan dan menimbun makanan selama bermusim-musim. Prosa indah Blair bersaudara menggambarkannya dengan sangat baik:
                                                            <\/p>\n \n\n \n

                                                            \u201cKemampuan menyimpan makanan lebih dari yang kami makan sekaligus berarti kemampuan menjual dan membelinya dalam jumlah besar --dan kota-kota dagang pun mekar. Perekonomian yang dihasilkannya mengarahkan kami ke zaman Pencerahan dan kemudian Revolusi Industri. Tak lama setelah kami menghirup aroma yang sangat kuat dari Timur itu dan mengubah kimiawi makanan kami, maka kami pun mampu melakukan lompatan besar dalam bidang budaya dan seni.\u201d (Blair & Blair, 2010; 30-31).<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

                                                            Baca: Cengkeh dan Kelapa di Kepulauan Anambas<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                            Bukan hanya membuat perekonomian dan perdagangan serta ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang, cengkeh dan pala bahkan adalah faktor yang paling menentukan dalam kemunculan satu babakan paling mengenaskan dalam sejarah politik dunia, yakni zaman penjajahan (kolonialisme) Eropa, terutama atas-atas negeri- negeri Asia Selatan, Timur dan Tenggara, termasuk Indonesia.
                                                            <\/p>\n \n\n \n

                                                            Tergerak oleh sahwat menguasai rempah-rempah yang menggiurkan itu, bangsa-bangsa Eropa --terutama Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda-- pun menggelar ekspedisi-ekspedisi besar untuk menemukan cengkeh dan pala langsung di tanah asalnya. Ketika armada-armada mereka akhirnya mencapai perairan Kepulauan Maluku, pada abad-16, perang pun tak terhindarkan.
                                                            <\/p>\n \n\n \n

                                                            Mereka silih berganti saling mengalahkan, tetapi pemenang terakhir adalah Belanda. Melalui Perusahaan Dagang Hindia Timur (Vereenigde Oostindische Compagnie, VOC) yang dibentuk pada awal abad-17 (tepatnya tahun 1609), Belanda melancarkan ekspedisi Pelayaran Hongi (Hongie Tochten), untuk memusnahkan semua tanaman cengkeh di Ternate, Tidore, Moti, dan Makian, lalu membatasi ketat penanamnya hanya di Pulau-pulau Ambon dan Lease --yang lebih dekat ke Banda sebagai pusat pemerintahan mereka sebelum akhirnya dipindahkan ke Batavia.
                                                            <\/p>\n \n\n \n

                                                            Praktis, sejak akhir abad-16, Belanda pun menguasai penuh perdagangan rempah-rempah Maluku dengan jumlah produksi rerata 2.500 sampai 4.500 ton per tahun. [3]<\/p>\n \n\n \n

                                                            Baca: Budidaya Pohon Cengkeh<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                            Meskipun peran utama rempah-rempah Maluku itu kemudian tergusur pada abad-18 dan 19 oleh beberapa barang eksotika tropis lainnya --hasil perkebunan-perkebunana besar baru di Pulau Sumatera dan Jawa: tebu, tembakau, lada, kopi, teh, nila, kelapa sawit, dan kayu jati-- namun sejarah sudah mencatat bahwa dua jenis rempah-rempah Maluku itulah yang mengawali penjelajahan sekaligus penjajahan kepulauan Nusantara oleh bangsa-bangsa Eropah, terutama Belanda (Topatimasang, ed., 2004:32). Jika saja tak pernah ada cengkeh dan pala di Maluku, mungkin sejarah kepulauan Nusantara ini akan berbeda sama sekali.
                                                            <\/p>\n \n\n \n

                                                            Masa suram cengkeh dan pala terus berlangsung sampai pertengahan abad-20. Rempah eksotika yang pernah membuat tergila-gila<\/p>\n \n\n \n

                                                            para saudagar Arab, pedagang Cina, serta kaum ningrat Eropa itu, tergantikan perannya oleh penemuan teknologi mesin pendingin berkat Revolusi Industri yang dimulai di Inggris pada pertengahan abad-18. Pasaran cengkeh di Eropa pun merosot tajam.
                                                            <\/p>\n \n\n \n

                                                            Nasibnya terselamatkan berkat penemuan oleh seorang Haji Djamhari di Kudus, Jawa Tengah. Pada akhir tahun 1880-an, Haji Djamhari menemukan kegunaan baru cengkeh sebagai ramuan utama rokok. Lahirlah satu produk baru yang unik, khas dan asli Indonesia: kretek! (Hanusz, 2000:ii).
                                                            <\/p>\n \n\n \n

                                                            Setelah seperempat abad hanya berkembang dalam skala kecil usaha rumah tangga, produksi kretek akhirnya menjelma menjadi industri besar sejak awal abad-20 yang dirintis oleh Haji Nitisemito (pendiri pabrik \u2018Jambu Bol\u2019) di Kudus dan Liem Seng Tee (pendiri pabrik \u2018Dji Sam Soe\u2019 dan \u2018Sampoerna\u2019) di Surabaya.
                                                            <\/p>\n \n\n \n

                                                            Puncaknya adalah pada pertengahan tahun 1950-an, ketika produksi kretek mulai berkembang pesat menjadi industri raksasa modern dengan munculnya beberapa pabrik baru, antara lain, yang terkemuka, oleh Oei Wei Gwan (pendiri pabrik \u2018Djarum\u2019) di Kudus dan Tjou Ing Hwie (pendiri pabrik \u2018Gudang Garam\u2019) di Kediri (Topatimasang, et.al., eds., 2010:131).<\/p>\n \n\n \n

                                                            Baca: Teruslah Menanam Tembakau dan Cengkeh, Wahai Petani Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                            Cengkeh, bahan baku paling esensial dari kretek --selain tembakau, tentu saja-- pun kembali berjaya. Bahkan, sejak dasawarsa 1970an, telah menjadi salah satu penyumbang terbesar keuangan negara Republik Indonesia. Pada tahun 2012 dan 2013, pemasukan cukai dari industri kretek mencatat 95,5% dari seluruh pemasukan cukai ke kas negara. Nilainya tak tanggung-tanggung: Rp 87 triliun! (el-Guyanie, et.al.: 2013:4-5).<\/strong>
                                                            <\/p>\n \n\n \n

                                                            Nilai ekonomisnya yang sangat besar sempat menggoda penguasa otoriter rezim Presiden Soeharto, pada 1990-an, memberlakukan satu kebijakan \u2018Hongi Gaya Baru\u2019: monopoli perdagangan cengkeh dalam negeri melalui Badan Penyanggah dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) yang sangat merugikan petani. Harga cengkeh di tingkat petani penghasil anjlok sampai hanya Rp 2.000 - 3.000 per kilogram, lebih murah dari harga sebungkus kretek yang dihasilkan darinya.
                                                            <\/p>\n \n\n \n

                                                            Akibatnya, ratusan ribu pohon cengkeh di daerah-daerah penghasil utama --Maluku, Maluku Utara, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Selatan-- ditebangi atau dibiarkan terlantar tak terurus.
                                                            <\/p>\n \n\n \n

                                                            Gelombang reformasi sistem politik dan hukum nasional yang dimulai pada tahun 1998, akhirnya menjungkalkan rezim Soeharto dan BPPC dibubarkan, Pelan tapi pasti, harga cengkeh kembali merangkak naik, sehingga pada tahun 2012, bahkan melewati angka Rp 200.000 per kilogram. Para petani cengkeh di seluruh negeri kembali tersenyum. Tetapi, sampai kapan? <\/p>\n \n\n \n

                                                            Catatan:<\/strong><\/p>\n \n\n \n

                                                            [1] Beberapa sumber menyebutkan bahwa kata \u2018cengkeh\u2019 dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Mandarin, tkeng-his atau xi\u2019jia, yang berarti \u2018rempah [berbentuk mirip] paku\u2019 (scented nails). Ini menunjukkan bahwa cengkeh sudah dikenal sejak lama oleh bangsa Cina --diketahui sejak abad-2-- jauh sebelum orang Eropa mengenalnya ((lihat, misalnya: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n \n\n \n

                                                            [2] Catatan-catatan para biarawan Fransiskan --yang disalin dan dikutip oleh van Frassen-- bahkan menyebut cengkeh sebagai salah satu bahan utama pengawet mumi para Fir\u2019aun, penguasa Mesir Kuno. Beberapa pakar sejarah dan arkeologi menyatakan bahwa rempah-rempah Maluku bahkan sudah ditemukan artefaknya di Lembah Mesopotomia (wilayah Iraq dan sekitarnya sekarang) pada 3.000 tahun sebelum Masehi. (lihat, antara lain: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n \n\n \n

                                                            [3] Uraian lebih rinci sejarah kolonialisme rempah-rempah Nusantara ini, terutama oleh Belanda dan Portugis, dapat dibaca pada beberapa sumber kepustakaan yang sudah dikenal luas, antara lain: Glamann (1958) dan Boxer (1965 dan 1969). Dalam risalah klasik Pires disebutkan bahwa pada tahun 1512-1521 saja, jumlah produksi cengkeh di Maluku sudah mencapai 7.250 bahar per tahun, terbesar adalah di Makian serta Amboina dan Lease (masing-masing 1.500 bahar)(Pires, 1512-1515).<\/em>
                                                            <\/p>\n \n\n \n

                                                            Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem Topatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
                                                            <\/p>\n ","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-10 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-02-10 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5425","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5415,"post_author":"878","post_date":"2019-02-07 12:15:55","post_date_gmt":"2019-02-07 05:15:55","post_content":" \n

                                                            Belakangan ini, ketika musim hujan tiba, di Kabupaten Temanggung, Kabupaten Jember, dan beberapa wilayah sentra pertanian tembakau lainnya, hampir mustahil menemukan tanaman tembakau tumbuh di lahan-lahan milik petani. Di wilayah-wilayah tersebut, citra sebagai sentra pertanian tembakau seakan menguap. Lahan-lahan yang ada di sana, sama sekali tidak ditumbuhi tanaman tembakau.<\/p>\n \n\n \n

                                                            Kabar ini bisa jadi dianggap sebagai kabar gembira bagi mereka yang menganggap diri dan kelompoknya anti-rokok dan anti-tembakau yang selalu mengampanyekan sikap-sikap mereka terkait kebencian kepada tembakau dan aktivitas merokok. Setelah sekian lama berjuang, akhirnya perjuangan mereka dirasa berhasil usai menyaksikan fenomena lahan-lahan di wilayah yang dianggap sentra pertanian tembakau pada hari-hari belakangan ini.<\/p>\n \n\n \n

                                                            Baca juga: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                            Tak sia-sia turun ke jalan, tak sia-sia melakukan lobi-lobi ke penguasa, tak sia-sia mengucurkan uang yang tidak sedikit, dan tak sia-sia mempermalukan diri dengan mengemis ke lembaga donor asing dan menggondol uang dari cukai tembakau untuk mengampanyekan gerakan anti-rokok dan anti-tembakau. Tak sia-sia. Karena perjuangan sepertinya berhasil.<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

                                                            Kampanye-kampanye gerakan mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya, sepertinya juga sangat berhasil. Bagaimana tidak? Wilayah-wilayah yang sebelumnya penuh dengan tanaman tembakau dan bergeliat dengannya, kini lahan-lahannya sudah berganti dengan tanaman lain. Sebuah keberhasilan yang menggembirakan. Begitu mungkin pikir mereka para yang menganggap dirinya pejuang anti-rokok dan anti-tembakau. Dan tentu saja mereka akan kecele dan kita akan menertawakan hal itu.<\/p>\n \n\n \n

                                                            Sayangnya, mereka yang menganggap dirinya anti-rokok dan anti-tembakau tidak menyaksikan langsung fenomena ini di lapangan, di lahan-lahan yang peruntukannya berubah pada hari-hari belakangan ini ketika memasuki musim hujan. Mereka asyik duduk pada kursi empuk di ruang-ruang nyaman ber-AC di kota-kota yang jauh dari kultur pertanian. Mereka menyengajakan diri menjadi elit dan enggan untuk turun melihat langsung ke lapangan. Kalaupun ada yang turun langsung ke lapangan, hanya segelintir saja dari mereka, itupun sekadar formalitas saja. Tak pernah benar-benar mau turun ke lapangan, hidup dan merasakan langsung kultur pertanian tembakau dalam jangka waktu cukup lama di lapangan.<\/p>\n \n\n \n

                                                            Baca juga: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                            Fenomena ini membikin kita tak bisa melihat mereka para anti-rokok kecele lalu menertawakan mereka.<\/strong> Fenomena keengganan terjun langsung ke lapangan terlebih mencoba mendengar mereka yang tetap menanam tembakau, juga menjalani keseharian dalam waktu cukup lama bersama petani tembakau inilah yang saya kira menjadikan mereka tetap keras kepala untuk anti-rokok dan anti-tembakau. Karena jika mereka mau melakukan itu, saya yakin mereka semua tidak akan begitu kaku dalam memandang pertanian tembakau dan produk hasil industri tembakau.<\/p>\n \n\n \n

                                                            Salah satu yang selalu mereka kampanyekan dan ngotot dengan itu, terkait hulu pertanian tembakau adalah mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya. Mereka berargumen banyak tanaman lain yang bisa semenguntungkan tanaman tembakau. Keengganan mereka terjun langsung ke lapangan inilah yang membikin mereka buta dengan kondisi pertanian tembakau dan pada akhirnya terus menerus mengampanyekan pergantian tanaman tembakau dengan tanaman lainnya.<\/p>\n \n\n \n

                                                            Baca juga: Imanlah kepada Allah, Bukan Antirokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                            Tembakau tanaman yang khas. Ia hanya tumbuh baik sepanjang empat hingga lima bulan dalam satu tahun. Tumbuh-kembang tanaman tembakau dengan baik itu umumnya terjadi pada musim kemarau setiap tahunnya. Hanya sedikit sekali jenis tembakau yang tumbuh baik di musim penghujan, mayoritasnya, tumbuh baik pada musim kemarau.<\/p>\n \n\n \n

                                                            Jika ditanam pada musim hujan, hampir bisa dipastikan tanaman tembakau akan gagal menghasilkan daun-daun yang berkualitas. Ia akan rusak dan membusuk karena terlalu banyak terkena air sehingga daun-daun itu tak layak dijual. Jangankan bisa dijual, untuk tumbuh dengan baik pun sepertinya sulit karena musim hujan akan membunuh banyak tanaman itu.<\/p>\n \n\n \n

                                                            Maka, tak heran pada musim-musim seperti saat ini, ketika musim penghujan mendekati puncaknya, di wilayah-wilayah yang dikenal sebagai sentra pertanian tembakau, sulit menemukan pohon tembakau yang sedang tumbuh. Pada lahan-lahan yang sebelumnya ditumbuhi tanaman tembakau pada musim panas, berganti tanaman-tanaman lain yang bermacam-macam, sesuai dengan kondisi lahannya. Untuk lahan sawah, lahan-lahan itu pada musim penghujan kini ditumbuhi tanaman padi yang subur. Pada lahan tegalan dan lahan di pegunungan, lahan-lahan yang ditanami tembakau pada musim kemarau, saat ini ditumbuhi bermacam jenis tanaman mulai dari cabai, bawang, tomat, kol, terong, mentimun, dan ragam jenis tanaman semusim lainnya.<\/p>\n \n\n \n

                                                            Uniknya, tipikal tanaman tembakau yang tumbuh baik di musim kemarau ini memberi pilihan lebih kepada para petani. Lahan-lahan yang sulit ditanami pada musim kemarau, pada akhirnya masih bisa tetap produktif dengan keberadaan tanaman tembakau. <\/p>\n \n\n \n

                                                            Maka, kampanye aneh mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain dengan ragam rupa dalih yang membingungkan, bukan saja sama sekali tidak tepat dan asal-asalan, namun bisa jadi akan ditertawakan oleh para petani yang begitu paham dengan kondisi lahan dan terutama kondisi iklim dan cuaca. Sulit mencari tanaman semusim yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Jika pun ada, tak ada yang semenguntungkan tanaman tembakau.
                                                            <\/p>\n ","post_title":"Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"keberhasilan-gerakan-anti-tembakau-tak-ada-tembakau-saat-musim-hujan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-07 12:16:02","post_modified_gmt":"2019-02-07 05:16:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5415","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5409,"post_author":"919","post_date":"2019-02-05 08:04:43","post_date_gmt":"2019-02-05 01:04:43","post_content":" \n

                                                            Tahun Baru Imlek yang merupakan tradisi Bangsa Tiongkok kini sudah tak lagi menjadi hal yang asing bagi masyarakat Indonesia. Kehadirannya sudah mewarnai dan berakulturasi dengan tradisi lokal. Menjelang Tahun Baru Imlek. Berbagai hiasan dan kemeriahan terjadi beberapa titik di Tanah Air. Perayaannya juga menjadi destinasi baru yang mengasyikkan untuk dilihat dan patut disaksikan.<\/p>\n \n\n \n

                                                            Berterimakasihlah kepada sang bapak bangsa, KH Abdurrahman Wahid atau yang dikenal dengan nama Gus Dur. Berkat kebijakannya saat menjadi Presiden Indonesia, Tahun Baru Imlek resmi dijadikan hari libur nasional dan dianggap sebagai salah satu hari raya di Tanah Air. Meski sentimen antitionghoa masih ada di sana-sini, tapi tetap tak bisa dipungkiri bahwa bangsa tionghoa sudah bersentuhan dengan budaya lokal dalam kurun waktu yang sangat panjang.<\/p>\n \n\n \n

                                                            DNA Bangsa Tionghoa yang memang merupakan pedagang menjadi pembuka kisah interaksi antara nenek moyang berbagai suku di Nusantara dengan mereka. Beberapa kelenteng-kelenteng yang tersebar pada berbagai pesisir daerah di Nusantara jadi buktinya. Pelabuhan-pelabuhan tua di tanah air dan ramainya perdagangan di pesisir mempermudah bangsa kita berhubungan dengan Bangsa Tionghoa.<\/p>\n \n\n \n

                                                            Baca Juga: Wong Kalang dan Kota Gede<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                            Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa kehadiran Bangsa Tionghoa di Nusantara tak hanya sebagai pedagang, namun juga sebagai pekerja (bahkan hingga pekerja kasar). Benny Setiono, seorang sejarahwan menyebutkan bahwa antara tahun 1760-1770 dalam jumlah yang besar memasuki nusantara melalui Kalimantan Barat. Mereka bekerja sebagai kuli pertambangan di sana dan di kemudian hari membentuk sebuah republik bernama Republik Lanfang yang konon katanya menjadi republik pertama di Asia Tenggara.<\/p>\n \n\n \n

                                                            Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n \n\n \n

                                                            Baca Juga: Imlek dan Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                            Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n \n\n \n

                                                            Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n \n\n \n

                                                            Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n \n\n \n

                                                            Baca Juga: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                            Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n \n\n \n

                                                            Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
                                                            <\/p>\n ","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_3o3","class":"epic_block_3"};

                                                            \n

                                                            1. Dilakukan antara jam 08.00 sampai 11.00 (usahakan cuaca cerah) <\/p>\n \n\n\n

                                                            2. Kliping dilakukan pada saat bibit pertumbuhannya terlalu lebat atau saling menutup batangnya. <\/p>\n \n\n \n

                                                            3. Kliping adalah kegiatan memotong sebagian atau 2\/3 daun bibit tembakau. <\/p>\n \n\n \n

                                                            4. Frekuensi kliping dilakukan bisa satu, dua kali atau lebih sesuai dengan perkembangan bibit dan persiapan lokasi areal tanam. <\/p>\n \n\n \n

                                                            5 Lima sampai tujuh hari menjelang transplanting, kegiatan kliping sebaiknya sudah selesai. <\/p>\n \n\n \n

                                                            Tujuan klipping: menjaga lingkungan bibit agar tidak lembab, <\/strong>memperbesar batan,menyeragamkan ukuran benih, dan memperkuat pertumbuhan akar <\/p>\n \n\n \n

                                                            1. Pencabutan Bibit, agar mendapatkan jarak tanam yang sesuai lahan <\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n
                                                              \"\"\/<\/figure>\n \n\n \n
                                                              \"\"\/<\/figure>\n \n\n \n

                                                              Dalam satu hamparan direkomendasikan selesai tanam maksimal 3 Hari. Umur  tanaman akan menjadi sama atau seragam. Performance tanaman juga akan menjadi  seragam. Kemasakan daun pada saat petik juga menjadi seragam. Memudahkan pada saat  proses panen dan pasca panen. Tembakau kering yang dihasilkan pun juga seragam.<\/p>\n \n\n \n

                                                              1. Pengendalian Hama & Penyakit<\/strong> <\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                ~ Pada awal penyebaran benih direkomendasikan untuk melakukan penyemprotan fusngisida (jamur), seperti Previcur, Redomil & Antracol <\/p>\n \n\n \n

                                                                ~ Hama yang sering dijumpai: semut (Decis), janggel, orong-orong <\/p>\n \n\n \n

                                                                1. Tahapan Perawatan<\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n
                                                                  \"\"\/<\/figure>\n ","post_title":"Sukses Bertani Tembakau Bersama Kemitraan Djarum di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sukses-bertani-tembakau-bersama-kemitraan-djarum-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-11 12:32:18","post_modified_gmt":"2019-02-11 05:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5433","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5425,"post_author":"922","post_date":"2019-02-10 09:07:33","post_date_gmt":"2019-02-10 02:07:33","post_content":" \n

                                                                  Bahwa cengkeh [1] (Syzygium aromaticum) --bersama pala (Myristica fragrans)-- adalah dua tanaman asli (endemik) Kepulauan Maluku, sudah tak terbantahkan. Cengkeh dikenal dan diakui berasal dari \u2018Empat Pulau Gunung Maluku\u2019 (Maloko Kie Raha): Ternate, Tidore, Moti, dan Makian.
                                                                  <\/p>\n \n\n \n

                                                                  Adapun pala, berasal dari empat pulau kecil lainnya di tengah Laut Banda: Lonthor, Neira, Rhun, dan Ai. Pada penjelasan peta abad-16 oleh penjelajah dari Semenanjung Iberia, Fransisco Rodriguez, tertulis: \u201cEstas quatro Ilhas Azures suam as de molluquo homde nace ho crauzo\u201d<\/em> (Adalah empat pulau berwarna biru [dalam peta] yang disebut sebagai Kepulauan Maluku di mana rempah-rempah berasal) (Pires, 1512- 1515:213).
                                                                  <\/p>\n \n\n \n

                                                                  Sejak beberapa abad sebelum Masehi, adalah para saudagar Arab --melalui Samudera Hindia melintasi Iskandariyah dan Laut Tengah-- serta para pedagang Cina --melalui jalur \u2018Jalan Sutra\u2019 melintasi Asia Tengah dan Asia Barat-- yang membawa dan memperkenalkannya ke daratan Eropa. <\/p>\n \n\n \n

                                                                  Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                  Bandar-bandar besar Tyre di Yunani dan Venesia di Italia menjadi pelabuhan utama rempah-rempah Maluku memasuki kehidupan dan peradaban Eropa. Selain sebagai bumbu masakan, rempah obat, dan ramuan wewangian, cengkeh dan pala juga menjadi bahan utama pengawet bahan pangan. [2]
                                                                  <\/p>\n \n\n \n

                                                                  Inilah yang membuat orang-orang Eropa untuk pertama kalinya dapat mengawetkan dan menimbun makanan selama bermusim-musim. Prosa indah Blair bersaudara menggambarkannya dengan sangat baik:
                                                                  <\/p>\n \n\n \n

                                                                  \u201cKemampuan menyimpan makanan lebih dari yang kami makan sekaligus berarti kemampuan menjual dan membelinya dalam jumlah besar --dan kota-kota dagang pun mekar. Perekonomian yang dihasilkannya mengarahkan kami ke zaman Pencerahan dan kemudian Revolusi Industri. Tak lama setelah kami menghirup aroma yang sangat kuat dari Timur itu dan mengubah kimiawi makanan kami, maka kami pun mampu melakukan lompatan besar dalam bidang budaya dan seni.\u201d (Blair & Blair, 2010; 30-31).<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

                                                                  Baca: Cengkeh dan Kelapa di Kepulauan Anambas<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                  Bukan hanya membuat perekonomian dan perdagangan serta ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang, cengkeh dan pala bahkan adalah faktor yang paling menentukan dalam kemunculan satu babakan paling mengenaskan dalam sejarah politik dunia, yakni zaman penjajahan (kolonialisme) Eropa, terutama atas-atas negeri- negeri Asia Selatan, Timur dan Tenggara, termasuk Indonesia.
                                                                  <\/p>\n \n\n \n

                                                                  Tergerak oleh sahwat menguasai rempah-rempah yang menggiurkan itu, bangsa-bangsa Eropa --terutama Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda-- pun menggelar ekspedisi-ekspedisi besar untuk menemukan cengkeh dan pala langsung di tanah asalnya. Ketika armada-armada mereka akhirnya mencapai perairan Kepulauan Maluku, pada abad-16, perang pun tak terhindarkan.
                                                                  <\/p>\n \n\n \n

                                                                  Mereka silih berganti saling mengalahkan, tetapi pemenang terakhir adalah Belanda. Melalui Perusahaan Dagang Hindia Timur (Vereenigde Oostindische Compagnie, VOC) yang dibentuk pada awal abad-17 (tepatnya tahun 1609), Belanda melancarkan ekspedisi Pelayaran Hongi (Hongie Tochten), untuk memusnahkan semua tanaman cengkeh di Ternate, Tidore, Moti, dan Makian, lalu membatasi ketat penanamnya hanya di Pulau-pulau Ambon dan Lease --yang lebih dekat ke Banda sebagai pusat pemerintahan mereka sebelum akhirnya dipindahkan ke Batavia.
                                                                  <\/p>\n \n\n \n

                                                                  Praktis, sejak akhir abad-16, Belanda pun menguasai penuh perdagangan rempah-rempah Maluku dengan jumlah produksi rerata 2.500 sampai 4.500 ton per tahun. [3]<\/p>\n \n\n \n

                                                                  Baca: Budidaya Pohon Cengkeh<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                  Meskipun peran utama rempah-rempah Maluku itu kemudian tergusur pada abad-18 dan 19 oleh beberapa barang eksotika tropis lainnya --hasil perkebunan-perkebunana besar baru di Pulau Sumatera dan Jawa: tebu, tembakau, lada, kopi, teh, nila, kelapa sawit, dan kayu jati-- namun sejarah sudah mencatat bahwa dua jenis rempah-rempah Maluku itulah yang mengawali penjelajahan sekaligus penjajahan kepulauan Nusantara oleh bangsa-bangsa Eropah, terutama Belanda (Topatimasang, ed., 2004:32). Jika saja tak pernah ada cengkeh dan pala di Maluku, mungkin sejarah kepulauan Nusantara ini akan berbeda sama sekali.
                                                                  <\/p>\n \n\n \n

                                                                  Masa suram cengkeh dan pala terus berlangsung sampai pertengahan abad-20. Rempah eksotika yang pernah membuat tergila-gila<\/p>\n \n\n \n

                                                                  para saudagar Arab, pedagang Cina, serta kaum ningrat Eropa itu, tergantikan perannya oleh penemuan teknologi mesin pendingin berkat Revolusi Industri yang dimulai di Inggris pada pertengahan abad-18. Pasaran cengkeh di Eropa pun merosot tajam.
                                                                  <\/p>\n \n\n \n

                                                                  Nasibnya terselamatkan berkat penemuan oleh seorang Haji Djamhari di Kudus, Jawa Tengah. Pada akhir tahun 1880-an, Haji Djamhari menemukan kegunaan baru cengkeh sebagai ramuan utama rokok. Lahirlah satu produk baru yang unik, khas dan asli Indonesia: kretek! (Hanusz, 2000:ii).
                                                                  <\/p>\n \n\n \n

                                                                  Setelah seperempat abad hanya berkembang dalam skala kecil usaha rumah tangga, produksi kretek akhirnya menjelma menjadi industri besar sejak awal abad-20 yang dirintis oleh Haji Nitisemito (pendiri pabrik \u2018Jambu Bol\u2019) di Kudus dan Liem Seng Tee (pendiri pabrik \u2018Dji Sam Soe\u2019 dan \u2018Sampoerna\u2019) di Surabaya.
                                                                  <\/p>\n \n\n \n

                                                                  Puncaknya adalah pada pertengahan tahun 1950-an, ketika produksi kretek mulai berkembang pesat menjadi industri raksasa modern dengan munculnya beberapa pabrik baru, antara lain, yang terkemuka, oleh Oei Wei Gwan (pendiri pabrik \u2018Djarum\u2019) di Kudus dan Tjou Ing Hwie (pendiri pabrik \u2018Gudang Garam\u2019) di Kediri (Topatimasang, et.al., eds., 2010:131).<\/p>\n \n\n \n

                                                                  Baca: Teruslah Menanam Tembakau dan Cengkeh, Wahai Petani Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                  Cengkeh, bahan baku paling esensial dari kretek --selain tembakau, tentu saja-- pun kembali berjaya. Bahkan, sejak dasawarsa 1970an, telah menjadi salah satu penyumbang terbesar keuangan negara Republik Indonesia. Pada tahun 2012 dan 2013, pemasukan cukai dari industri kretek mencatat 95,5% dari seluruh pemasukan cukai ke kas negara. Nilainya tak tanggung-tanggung: Rp 87 triliun! (el-Guyanie, et.al.: 2013:4-5).<\/strong>
                                                                  <\/p>\n \n\n \n

                                                                  Nilai ekonomisnya yang sangat besar sempat menggoda penguasa otoriter rezim Presiden Soeharto, pada 1990-an, memberlakukan satu kebijakan \u2018Hongi Gaya Baru\u2019: monopoli perdagangan cengkeh dalam negeri melalui Badan Penyanggah dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) yang sangat merugikan petani. Harga cengkeh di tingkat petani penghasil anjlok sampai hanya Rp 2.000 - 3.000 per kilogram, lebih murah dari harga sebungkus kretek yang dihasilkan darinya.
                                                                  <\/p>\n \n\n \n

                                                                  Akibatnya, ratusan ribu pohon cengkeh di daerah-daerah penghasil utama --Maluku, Maluku Utara, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Selatan-- ditebangi atau dibiarkan terlantar tak terurus.
                                                                  <\/p>\n \n\n \n

                                                                  Gelombang reformasi sistem politik dan hukum nasional yang dimulai pada tahun 1998, akhirnya menjungkalkan rezim Soeharto dan BPPC dibubarkan, Pelan tapi pasti, harga cengkeh kembali merangkak naik, sehingga pada tahun 2012, bahkan melewati angka Rp 200.000 per kilogram. Para petani cengkeh di seluruh negeri kembali tersenyum. Tetapi, sampai kapan? <\/p>\n \n\n \n

                                                                  Catatan:<\/strong><\/p>\n \n\n \n

                                                                  [1] Beberapa sumber menyebutkan bahwa kata \u2018cengkeh\u2019 dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Mandarin, tkeng-his atau xi\u2019jia, yang berarti \u2018rempah [berbentuk mirip] paku\u2019 (scented nails). Ini menunjukkan bahwa cengkeh sudah dikenal sejak lama oleh bangsa Cina --diketahui sejak abad-2-- jauh sebelum orang Eropa mengenalnya ((lihat, misalnya: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n \n\n \n

                                                                  [2] Catatan-catatan para biarawan Fransiskan --yang disalin dan dikutip oleh van Frassen-- bahkan menyebut cengkeh sebagai salah satu bahan utama pengawet mumi para Fir\u2019aun, penguasa Mesir Kuno. Beberapa pakar sejarah dan arkeologi menyatakan bahwa rempah-rempah Maluku bahkan sudah ditemukan artefaknya di Lembah Mesopotomia (wilayah Iraq dan sekitarnya sekarang) pada 3.000 tahun sebelum Masehi. (lihat, antara lain: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n \n\n \n

                                                                  [3] Uraian lebih rinci sejarah kolonialisme rempah-rempah Nusantara ini, terutama oleh Belanda dan Portugis, dapat dibaca pada beberapa sumber kepustakaan yang sudah dikenal luas, antara lain: Glamann (1958) dan Boxer (1965 dan 1969). Dalam risalah klasik Pires disebutkan bahwa pada tahun 1512-1521 saja, jumlah produksi cengkeh di Maluku sudah mencapai 7.250 bahar per tahun, terbesar adalah di Makian serta Amboina dan Lease (masing-masing 1.500 bahar)(Pires, 1512-1515).<\/em>
                                                                  <\/p>\n \n\n \n

                                                                  Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem Topatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
                                                                  <\/p>\n ","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-10 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-02-10 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5425","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5415,"post_author":"878","post_date":"2019-02-07 12:15:55","post_date_gmt":"2019-02-07 05:15:55","post_content":" \n

                                                                  Belakangan ini, ketika musim hujan tiba, di Kabupaten Temanggung, Kabupaten Jember, dan beberapa wilayah sentra pertanian tembakau lainnya, hampir mustahil menemukan tanaman tembakau tumbuh di lahan-lahan milik petani. Di wilayah-wilayah tersebut, citra sebagai sentra pertanian tembakau seakan menguap. Lahan-lahan yang ada di sana, sama sekali tidak ditumbuhi tanaman tembakau.<\/p>\n \n\n \n

                                                                  Kabar ini bisa jadi dianggap sebagai kabar gembira bagi mereka yang menganggap diri dan kelompoknya anti-rokok dan anti-tembakau yang selalu mengampanyekan sikap-sikap mereka terkait kebencian kepada tembakau dan aktivitas merokok. Setelah sekian lama berjuang, akhirnya perjuangan mereka dirasa berhasil usai menyaksikan fenomena lahan-lahan di wilayah yang dianggap sentra pertanian tembakau pada hari-hari belakangan ini.<\/p>\n \n\n \n

                                                                  Baca juga: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                  Tak sia-sia turun ke jalan, tak sia-sia melakukan lobi-lobi ke penguasa, tak sia-sia mengucurkan uang yang tidak sedikit, dan tak sia-sia mempermalukan diri dengan mengemis ke lembaga donor asing dan menggondol uang dari cukai tembakau untuk mengampanyekan gerakan anti-rokok dan anti-tembakau. Tak sia-sia. Karena perjuangan sepertinya berhasil.<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

                                                                  Kampanye-kampanye gerakan mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya, sepertinya juga sangat berhasil. Bagaimana tidak? Wilayah-wilayah yang sebelumnya penuh dengan tanaman tembakau dan bergeliat dengannya, kini lahan-lahannya sudah berganti dengan tanaman lain. Sebuah keberhasilan yang menggembirakan. Begitu mungkin pikir mereka para yang menganggap dirinya pejuang anti-rokok dan anti-tembakau. Dan tentu saja mereka akan kecele dan kita akan menertawakan hal itu.<\/p>\n \n\n \n

                                                                  Sayangnya, mereka yang menganggap dirinya anti-rokok dan anti-tembakau tidak menyaksikan langsung fenomena ini di lapangan, di lahan-lahan yang peruntukannya berubah pada hari-hari belakangan ini ketika memasuki musim hujan. Mereka asyik duduk pada kursi empuk di ruang-ruang nyaman ber-AC di kota-kota yang jauh dari kultur pertanian. Mereka menyengajakan diri menjadi elit dan enggan untuk turun melihat langsung ke lapangan. Kalaupun ada yang turun langsung ke lapangan, hanya segelintir saja dari mereka, itupun sekadar formalitas saja. Tak pernah benar-benar mau turun ke lapangan, hidup dan merasakan langsung kultur pertanian tembakau dalam jangka waktu cukup lama di lapangan.<\/p>\n \n\n \n

                                                                  Baca juga: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                  Fenomena ini membikin kita tak bisa melihat mereka para anti-rokok kecele lalu menertawakan mereka.<\/strong> Fenomena keengganan terjun langsung ke lapangan terlebih mencoba mendengar mereka yang tetap menanam tembakau, juga menjalani keseharian dalam waktu cukup lama bersama petani tembakau inilah yang saya kira menjadikan mereka tetap keras kepala untuk anti-rokok dan anti-tembakau. Karena jika mereka mau melakukan itu, saya yakin mereka semua tidak akan begitu kaku dalam memandang pertanian tembakau dan produk hasil industri tembakau.<\/p>\n \n\n \n

                                                                  Salah satu yang selalu mereka kampanyekan dan ngotot dengan itu, terkait hulu pertanian tembakau adalah mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya. Mereka berargumen banyak tanaman lain yang bisa semenguntungkan tanaman tembakau. Keengganan mereka terjun langsung ke lapangan inilah yang membikin mereka buta dengan kondisi pertanian tembakau dan pada akhirnya terus menerus mengampanyekan pergantian tanaman tembakau dengan tanaman lainnya.<\/p>\n \n\n \n

                                                                  Baca juga: Imanlah kepada Allah, Bukan Antirokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                  Tembakau tanaman yang khas. Ia hanya tumbuh baik sepanjang empat hingga lima bulan dalam satu tahun. Tumbuh-kembang tanaman tembakau dengan baik itu umumnya terjadi pada musim kemarau setiap tahunnya. Hanya sedikit sekali jenis tembakau yang tumbuh baik di musim penghujan, mayoritasnya, tumbuh baik pada musim kemarau.<\/p>\n \n\n \n

                                                                  Jika ditanam pada musim hujan, hampir bisa dipastikan tanaman tembakau akan gagal menghasilkan daun-daun yang berkualitas. Ia akan rusak dan membusuk karena terlalu banyak terkena air sehingga daun-daun itu tak layak dijual. Jangankan bisa dijual, untuk tumbuh dengan baik pun sepertinya sulit karena musim hujan akan membunuh banyak tanaman itu.<\/p>\n \n\n \n

                                                                  Maka, tak heran pada musim-musim seperti saat ini, ketika musim penghujan mendekati puncaknya, di wilayah-wilayah yang dikenal sebagai sentra pertanian tembakau, sulit menemukan pohon tembakau yang sedang tumbuh. Pada lahan-lahan yang sebelumnya ditumbuhi tanaman tembakau pada musim panas, berganti tanaman-tanaman lain yang bermacam-macam, sesuai dengan kondisi lahannya. Untuk lahan sawah, lahan-lahan itu pada musim penghujan kini ditumbuhi tanaman padi yang subur. Pada lahan tegalan dan lahan di pegunungan, lahan-lahan yang ditanami tembakau pada musim kemarau, saat ini ditumbuhi bermacam jenis tanaman mulai dari cabai, bawang, tomat, kol, terong, mentimun, dan ragam jenis tanaman semusim lainnya.<\/p>\n \n\n \n

                                                                  Uniknya, tipikal tanaman tembakau yang tumbuh baik di musim kemarau ini memberi pilihan lebih kepada para petani. Lahan-lahan yang sulit ditanami pada musim kemarau, pada akhirnya masih bisa tetap produktif dengan keberadaan tanaman tembakau. <\/p>\n \n\n \n

                                                                  Maka, kampanye aneh mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain dengan ragam rupa dalih yang membingungkan, bukan saja sama sekali tidak tepat dan asal-asalan, namun bisa jadi akan ditertawakan oleh para petani yang begitu paham dengan kondisi lahan dan terutama kondisi iklim dan cuaca. Sulit mencari tanaman semusim yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Jika pun ada, tak ada yang semenguntungkan tanaman tembakau.
                                                                  <\/p>\n ","post_title":"Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"keberhasilan-gerakan-anti-tembakau-tak-ada-tembakau-saat-musim-hujan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-07 12:16:02","post_modified_gmt":"2019-02-07 05:16:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5415","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5409,"post_author":"919","post_date":"2019-02-05 08:04:43","post_date_gmt":"2019-02-05 01:04:43","post_content":" \n

                                                                  Tahun Baru Imlek yang merupakan tradisi Bangsa Tiongkok kini sudah tak lagi menjadi hal yang asing bagi masyarakat Indonesia. Kehadirannya sudah mewarnai dan berakulturasi dengan tradisi lokal. Menjelang Tahun Baru Imlek. Berbagai hiasan dan kemeriahan terjadi beberapa titik di Tanah Air. Perayaannya juga menjadi destinasi baru yang mengasyikkan untuk dilihat dan patut disaksikan.<\/p>\n \n\n \n

                                                                  Berterimakasihlah kepada sang bapak bangsa, KH Abdurrahman Wahid atau yang dikenal dengan nama Gus Dur. Berkat kebijakannya saat menjadi Presiden Indonesia, Tahun Baru Imlek resmi dijadikan hari libur nasional dan dianggap sebagai salah satu hari raya di Tanah Air. Meski sentimen antitionghoa masih ada di sana-sini, tapi tetap tak bisa dipungkiri bahwa bangsa tionghoa sudah bersentuhan dengan budaya lokal dalam kurun waktu yang sangat panjang.<\/p>\n \n\n \n

                                                                  DNA Bangsa Tionghoa yang memang merupakan pedagang menjadi pembuka kisah interaksi antara nenek moyang berbagai suku di Nusantara dengan mereka. Beberapa kelenteng-kelenteng yang tersebar pada berbagai pesisir daerah di Nusantara jadi buktinya. Pelabuhan-pelabuhan tua di tanah air dan ramainya perdagangan di pesisir mempermudah bangsa kita berhubungan dengan Bangsa Tionghoa.<\/p>\n \n\n \n

                                                                  Baca Juga: Wong Kalang dan Kota Gede<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                  Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa kehadiran Bangsa Tionghoa di Nusantara tak hanya sebagai pedagang, namun juga sebagai pekerja (bahkan hingga pekerja kasar). Benny Setiono, seorang sejarahwan menyebutkan bahwa antara tahun 1760-1770 dalam jumlah yang besar memasuki nusantara melalui Kalimantan Barat. Mereka bekerja sebagai kuli pertambangan di sana dan di kemudian hari membentuk sebuah republik bernama Republik Lanfang yang konon katanya menjadi republik pertama di Asia Tenggara.<\/p>\n \n\n \n

                                                                  Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n \n\n \n

                                                                  Baca Juga: Imlek dan Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                  Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n \n\n \n

                                                                  Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n \n\n \n

                                                                  Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n \n\n \n

                                                                  Baca Juga: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                  Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n \n\n \n

                                                                  Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
                                                                  <\/p>\n ","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_3o3","class":"epic_block_3"};

                                                                  \n
                                                                  1. Bibit dibiasakan untuk terkena sinar  matahari langsung. Tujuan hardening agar bibit dapat beradaptasi dan memperkuat jaringan daun, batang serta mengurangi resiko penyakit karena jamur. Pelaksanaan hardening mulai umur 21 HSS secara bertahap.Pada kondisi hujan tidak dianjurkan. <\/li>
                                                                  2. Klipping <\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n\n

                                                                    1. Dilakukan antara jam 08.00 sampai 11.00 (usahakan cuaca cerah) <\/p>\n \n\n \n

                                                                    2. Kliping dilakukan pada saat bibit pertumbuhannya terlalu lebat atau saling menutup batangnya. <\/p>\n \n\n \n

                                                                    3. Kliping adalah kegiatan memotong sebagian atau 2\/3 daun bibit tembakau. <\/p>\n \n\n \n

                                                                    4. Frekuensi kliping dilakukan bisa satu, dua kali atau lebih sesuai dengan perkembangan bibit dan persiapan lokasi areal tanam. <\/p>\n \n\n \n

                                                                    5 Lima sampai tujuh hari menjelang transplanting, kegiatan kliping sebaiknya sudah selesai. <\/p>\n \n\n \n

                                                                    Tujuan klipping: menjaga lingkungan bibit agar tidak lembab, <\/strong>memperbesar batan,menyeragamkan ukuran benih, dan memperkuat pertumbuhan akar <\/p>\n \n\n \n

                                                                    1. Pencabutan Bibit, agar mendapatkan jarak tanam yang sesuai lahan <\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n
                                                                      \"\"\/<\/figure>\n \n\n \n
                                                                      \"\"\/<\/figure>\n \n\n \n

                                                                      Dalam satu hamparan direkomendasikan selesai tanam maksimal 3 Hari. Umur  tanaman akan menjadi sama atau seragam. Performance tanaman juga akan menjadi  seragam. Kemasakan daun pada saat petik juga menjadi seragam. Memudahkan pada saat  proses panen dan pasca panen. Tembakau kering yang dihasilkan pun juga seragam.<\/p>\n \n\n \n

                                                                      1. Pengendalian Hama & Penyakit<\/strong> <\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                        ~ Pada awal penyebaran benih direkomendasikan untuk melakukan penyemprotan fusngisida (jamur), seperti Previcur, Redomil & Antracol <\/p>\n \n\n \n

                                                                        ~ Hama yang sering dijumpai: semut (Decis), janggel, orong-orong <\/p>\n \n\n \n

                                                                        1. Tahapan Perawatan<\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n
                                                                          \"\"\/<\/figure>\n ","post_title":"Sukses Bertani Tembakau Bersama Kemitraan Djarum di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sukses-bertani-tembakau-bersama-kemitraan-djarum-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-11 12:32:18","post_modified_gmt":"2019-02-11 05:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5433","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5425,"post_author":"922","post_date":"2019-02-10 09:07:33","post_date_gmt":"2019-02-10 02:07:33","post_content":" \n

                                                                          Bahwa cengkeh [1] (Syzygium aromaticum) --bersama pala (Myristica fragrans)-- adalah dua tanaman asli (endemik) Kepulauan Maluku, sudah tak terbantahkan. Cengkeh dikenal dan diakui berasal dari \u2018Empat Pulau Gunung Maluku\u2019 (Maloko Kie Raha): Ternate, Tidore, Moti, dan Makian.
                                                                          <\/p>\n \n\n \n

                                                                          Adapun pala, berasal dari empat pulau kecil lainnya di tengah Laut Banda: Lonthor, Neira, Rhun, dan Ai. Pada penjelasan peta abad-16 oleh penjelajah dari Semenanjung Iberia, Fransisco Rodriguez, tertulis: \u201cEstas quatro Ilhas Azures suam as de molluquo homde nace ho crauzo\u201d<\/em> (Adalah empat pulau berwarna biru [dalam peta] yang disebut sebagai Kepulauan Maluku di mana rempah-rempah berasal) (Pires, 1512- 1515:213).
                                                                          <\/p>\n \n\n \n

                                                                          Sejak beberapa abad sebelum Masehi, adalah para saudagar Arab --melalui Samudera Hindia melintasi Iskandariyah dan Laut Tengah-- serta para pedagang Cina --melalui jalur \u2018Jalan Sutra\u2019 melintasi Asia Tengah dan Asia Barat-- yang membawa dan memperkenalkannya ke daratan Eropa. <\/p>\n \n\n \n

                                                                          Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                          Bandar-bandar besar Tyre di Yunani dan Venesia di Italia menjadi pelabuhan utama rempah-rempah Maluku memasuki kehidupan dan peradaban Eropa. Selain sebagai bumbu masakan, rempah obat, dan ramuan wewangian, cengkeh dan pala juga menjadi bahan utama pengawet bahan pangan. [2]
                                                                          <\/p>\n \n\n \n

                                                                          Inilah yang membuat orang-orang Eropa untuk pertama kalinya dapat mengawetkan dan menimbun makanan selama bermusim-musim. Prosa indah Blair bersaudara menggambarkannya dengan sangat baik:
                                                                          <\/p>\n \n\n \n

                                                                          \u201cKemampuan menyimpan makanan lebih dari yang kami makan sekaligus berarti kemampuan menjual dan membelinya dalam jumlah besar --dan kota-kota dagang pun mekar. Perekonomian yang dihasilkannya mengarahkan kami ke zaman Pencerahan dan kemudian Revolusi Industri. Tak lama setelah kami menghirup aroma yang sangat kuat dari Timur itu dan mengubah kimiawi makanan kami, maka kami pun mampu melakukan lompatan besar dalam bidang budaya dan seni.\u201d (Blair & Blair, 2010; 30-31).<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

                                                                          Baca: Cengkeh dan Kelapa di Kepulauan Anambas<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                          Bukan hanya membuat perekonomian dan perdagangan serta ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang, cengkeh dan pala bahkan adalah faktor yang paling menentukan dalam kemunculan satu babakan paling mengenaskan dalam sejarah politik dunia, yakni zaman penjajahan (kolonialisme) Eropa, terutama atas-atas negeri- negeri Asia Selatan, Timur dan Tenggara, termasuk Indonesia.
                                                                          <\/p>\n \n\n \n

                                                                          Tergerak oleh sahwat menguasai rempah-rempah yang menggiurkan itu, bangsa-bangsa Eropa --terutama Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda-- pun menggelar ekspedisi-ekspedisi besar untuk menemukan cengkeh dan pala langsung di tanah asalnya. Ketika armada-armada mereka akhirnya mencapai perairan Kepulauan Maluku, pada abad-16, perang pun tak terhindarkan.
                                                                          <\/p>\n \n\n \n

                                                                          Mereka silih berganti saling mengalahkan, tetapi pemenang terakhir adalah Belanda. Melalui Perusahaan Dagang Hindia Timur (Vereenigde Oostindische Compagnie, VOC) yang dibentuk pada awal abad-17 (tepatnya tahun 1609), Belanda melancarkan ekspedisi Pelayaran Hongi (Hongie Tochten), untuk memusnahkan semua tanaman cengkeh di Ternate, Tidore, Moti, dan Makian, lalu membatasi ketat penanamnya hanya di Pulau-pulau Ambon dan Lease --yang lebih dekat ke Banda sebagai pusat pemerintahan mereka sebelum akhirnya dipindahkan ke Batavia.
                                                                          <\/p>\n \n\n \n

                                                                          Praktis, sejak akhir abad-16, Belanda pun menguasai penuh perdagangan rempah-rempah Maluku dengan jumlah produksi rerata 2.500 sampai 4.500 ton per tahun. [3]<\/p>\n \n\n \n

                                                                          Baca: Budidaya Pohon Cengkeh<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                          Meskipun peran utama rempah-rempah Maluku itu kemudian tergusur pada abad-18 dan 19 oleh beberapa barang eksotika tropis lainnya --hasil perkebunan-perkebunana besar baru di Pulau Sumatera dan Jawa: tebu, tembakau, lada, kopi, teh, nila, kelapa sawit, dan kayu jati-- namun sejarah sudah mencatat bahwa dua jenis rempah-rempah Maluku itulah yang mengawali penjelajahan sekaligus penjajahan kepulauan Nusantara oleh bangsa-bangsa Eropah, terutama Belanda (Topatimasang, ed., 2004:32). Jika saja tak pernah ada cengkeh dan pala di Maluku, mungkin sejarah kepulauan Nusantara ini akan berbeda sama sekali.
                                                                          <\/p>\n \n\n \n

                                                                          Masa suram cengkeh dan pala terus berlangsung sampai pertengahan abad-20. Rempah eksotika yang pernah membuat tergila-gila<\/p>\n \n\n \n

                                                                          para saudagar Arab, pedagang Cina, serta kaum ningrat Eropa itu, tergantikan perannya oleh penemuan teknologi mesin pendingin berkat Revolusi Industri yang dimulai di Inggris pada pertengahan abad-18. Pasaran cengkeh di Eropa pun merosot tajam.
                                                                          <\/p>\n \n\n \n

                                                                          Nasibnya terselamatkan berkat penemuan oleh seorang Haji Djamhari di Kudus, Jawa Tengah. Pada akhir tahun 1880-an, Haji Djamhari menemukan kegunaan baru cengkeh sebagai ramuan utama rokok. Lahirlah satu produk baru yang unik, khas dan asli Indonesia: kretek! (Hanusz, 2000:ii).
                                                                          <\/p>\n \n\n \n

                                                                          Setelah seperempat abad hanya berkembang dalam skala kecil usaha rumah tangga, produksi kretek akhirnya menjelma menjadi industri besar sejak awal abad-20 yang dirintis oleh Haji Nitisemito (pendiri pabrik \u2018Jambu Bol\u2019) di Kudus dan Liem Seng Tee (pendiri pabrik \u2018Dji Sam Soe\u2019 dan \u2018Sampoerna\u2019) di Surabaya.
                                                                          <\/p>\n \n\n \n

                                                                          Puncaknya adalah pada pertengahan tahun 1950-an, ketika produksi kretek mulai berkembang pesat menjadi industri raksasa modern dengan munculnya beberapa pabrik baru, antara lain, yang terkemuka, oleh Oei Wei Gwan (pendiri pabrik \u2018Djarum\u2019) di Kudus dan Tjou Ing Hwie (pendiri pabrik \u2018Gudang Garam\u2019) di Kediri (Topatimasang, et.al., eds., 2010:131).<\/p>\n \n\n \n

                                                                          Baca: Teruslah Menanam Tembakau dan Cengkeh, Wahai Petani Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                          Cengkeh, bahan baku paling esensial dari kretek --selain tembakau, tentu saja-- pun kembali berjaya. Bahkan, sejak dasawarsa 1970an, telah menjadi salah satu penyumbang terbesar keuangan negara Republik Indonesia. Pada tahun 2012 dan 2013, pemasukan cukai dari industri kretek mencatat 95,5% dari seluruh pemasukan cukai ke kas negara. Nilainya tak tanggung-tanggung: Rp 87 triliun! (el-Guyanie, et.al.: 2013:4-5).<\/strong>
                                                                          <\/p>\n \n\n \n

                                                                          Nilai ekonomisnya yang sangat besar sempat menggoda penguasa otoriter rezim Presiden Soeharto, pada 1990-an, memberlakukan satu kebijakan \u2018Hongi Gaya Baru\u2019: monopoli perdagangan cengkeh dalam negeri melalui Badan Penyanggah dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) yang sangat merugikan petani. Harga cengkeh di tingkat petani penghasil anjlok sampai hanya Rp 2.000 - 3.000 per kilogram, lebih murah dari harga sebungkus kretek yang dihasilkan darinya.
                                                                          <\/p>\n \n\n \n

                                                                          Akibatnya, ratusan ribu pohon cengkeh di daerah-daerah penghasil utama --Maluku, Maluku Utara, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Selatan-- ditebangi atau dibiarkan terlantar tak terurus.
                                                                          <\/p>\n \n\n \n

                                                                          Gelombang reformasi sistem politik dan hukum nasional yang dimulai pada tahun 1998, akhirnya menjungkalkan rezim Soeharto dan BPPC dibubarkan, Pelan tapi pasti, harga cengkeh kembali merangkak naik, sehingga pada tahun 2012, bahkan melewati angka Rp 200.000 per kilogram. Para petani cengkeh di seluruh negeri kembali tersenyum. Tetapi, sampai kapan? <\/p>\n \n\n \n

                                                                          Catatan:<\/strong><\/p>\n \n\n \n

                                                                          [1] Beberapa sumber menyebutkan bahwa kata \u2018cengkeh\u2019 dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Mandarin, tkeng-his atau xi\u2019jia, yang berarti \u2018rempah [berbentuk mirip] paku\u2019 (scented nails). Ini menunjukkan bahwa cengkeh sudah dikenal sejak lama oleh bangsa Cina --diketahui sejak abad-2-- jauh sebelum orang Eropa mengenalnya ((lihat, misalnya: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n \n\n \n

                                                                          [2] Catatan-catatan para biarawan Fransiskan --yang disalin dan dikutip oleh van Frassen-- bahkan menyebut cengkeh sebagai salah satu bahan utama pengawet mumi para Fir\u2019aun, penguasa Mesir Kuno. Beberapa pakar sejarah dan arkeologi menyatakan bahwa rempah-rempah Maluku bahkan sudah ditemukan artefaknya di Lembah Mesopotomia (wilayah Iraq dan sekitarnya sekarang) pada 3.000 tahun sebelum Masehi. (lihat, antara lain: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n \n\n \n

                                                                          [3] Uraian lebih rinci sejarah kolonialisme rempah-rempah Nusantara ini, terutama oleh Belanda dan Portugis, dapat dibaca pada beberapa sumber kepustakaan yang sudah dikenal luas, antara lain: Glamann (1958) dan Boxer (1965 dan 1969). Dalam risalah klasik Pires disebutkan bahwa pada tahun 1512-1521 saja, jumlah produksi cengkeh di Maluku sudah mencapai 7.250 bahar per tahun, terbesar adalah di Makian serta Amboina dan Lease (masing-masing 1.500 bahar)(Pires, 1512-1515).<\/em>
                                                                          <\/p>\n \n\n \n

                                                                          Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem Topatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
                                                                          <\/p>\n ","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-10 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-02-10 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5425","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5415,"post_author":"878","post_date":"2019-02-07 12:15:55","post_date_gmt":"2019-02-07 05:15:55","post_content":" \n

                                                                          Belakangan ini, ketika musim hujan tiba, di Kabupaten Temanggung, Kabupaten Jember, dan beberapa wilayah sentra pertanian tembakau lainnya, hampir mustahil menemukan tanaman tembakau tumbuh di lahan-lahan milik petani. Di wilayah-wilayah tersebut, citra sebagai sentra pertanian tembakau seakan menguap. Lahan-lahan yang ada di sana, sama sekali tidak ditumbuhi tanaman tembakau.<\/p>\n \n\n \n

                                                                          Kabar ini bisa jadi dianggap sebagai kabar gembira bagi mereka yang menganggap diri dan kelompoknya anti-rokok dan anti-tembakau yang selalu mengampanyekan sikap-sikap mereka terkait kebencian kepada tembakau dan aktivitas merokok. Setelah sekian lama berjuang, akhirnya perjuangan mereka dirasa berhasil usai menyaksikan fenomena lahan-lahan di wilayah yang dianggap sentra pertanian tembakau pada hari-hari belakangan ini.<\/p>\n \n\n \n

                                                                          Baca juga: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                          Tak sia-sia turun ke jalan, tak sia-sia melakukan lobi-lobi ke penguasa, tak sia-sia mengucurkan uang yang tidak sedikit, dan tak sia-sia mempermalukan diri dengan mengemis ke lembaga donor asing dan menggondol uang dari cukai tembakau untuk mengampanyekan gerakan anti-rokok dan anti-tembakau. Tak sia-sia. Karena perjuangan sepertinya berhasil.<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

                                                                          Kampanye-kampanye gerakan mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya, sepertinya juga sangat berhasil. Bagaimana tidak? Wilayah-wilayah yang sebelumnya penuh dengan tanaman tembakau dan bergeliat dengannya, kini lahan-lahannya sudah berganti dengan tanaman lain. Sebuah keberhasilan yang menggembirakan. Begitu mungkin pikir mereka para yang menganggap dirinya pejuang anti-rokok dan anti-tembakau. Dan tentu saja mereka akan kecele dan kita akan menertawakan hal itu.<\/p>\n \n\n \n

                                                                          Sayangnya, mereka yang menganggap dirinya anti-rokok dan anti-tembakau tidak menyaksikan langsung fenomena ini di lapangan, di lahan-lahan yang peruntukannya berubah pada hari-hari belakangan ini ketika memasuki musim hujan. Mereka asyik duduk pada kursi empuk di ruang-ruang nyaman ber-AC di kota-kota yang jauh dari kultur pertanian. Mereka menyengajakan diri menjadi elit dan enggan untuk turun melihat langsung ke lapangan. Kalaupun ada yang turun langsung ke lapangan, hanya segelintir saja dari mereka, itupun sekadar formalitas saja. Tak pernah benar-benar mau turun ke lapangan, hidup dan merasakan langsung kultur pertanian tembakau dalam jangka waktu cukup lama di lapangan.<\/p>\n \n\n \n

                                                                          Baca juga: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                          Fenomena ini membikin kita tak bisa melihat mereka para anti-rokok kecele lalu menertawakan mereka.<\/strong> Fenomena keengganan terjun langsung ke lapangan terlebih mencoba mendengar mereka yang tetap menanam tembakau, juga menjalani keseharian dalam waktu cukup lama bersama petani tembakau inilah yang saya kira menjadikan mereka tetap keras kepala untuk anti-rokok dan anti-tembakau. Karena jika mereka mau melakukan itu, saya yakin mereka semua tidak akan begitu kaku dalam memandang pertanian tembakau dan produk hasil industri tembakau.<\/p>\n \n\n \n

                                                                          Salah satu yang selalu mereka kampanyekan dan ngotot dengan itu, terkait hulu pertanian tembakau adalah mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya. Mereka berargumen banyak tanaman lain yang bisa semenguntungkan tanaman tembakau. Keengganan mereka terjun langsung ke lapangan inilah yang membikin mereka buta dengan kondisi pertanian tembakau dan pada akhirnya terus menerus mengampanyekan pergantian tanaman tembakau dengan tanaman lainnya.<\/p>\n \n\n \n

                                                                          Baca juga: Imanlah kepada Allah, Bukan Antirokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                          Tembakau tanaman yang khas. Ia hanya tumbuh baik sepanjang empat hingga lima bulan dalam satu tahun. Tumbuh-kembang tanaman tembakau dengan baik itu umumnya terjadi pada musim kemarau setiap tahunnya. Hanya sedikit sekali jenis tembakau yang tumbuh baik di musim penghujan, mayoritasnya, tumbuh baik pada musim kemarau.<\/p>\n \n\n \n

                                                                          Jika ditanam pada musim hujan, hampir bisa dipastikan tanaman tembakau akan gagal menghasilkan daun-daun yang berkualitas. Ia akan rusak dan membusuk karena terlalu banyak terkena air sehingga daun-daun itu tak layak dijual. Jangankan bisa dijual, untuk tumbuh dengan baik pun sepertinya sulit karena musim hujan akan membunuh banyak tanaman itu.<\/p>\n \n\n \n

                                                                          Maka, tak heran pada musim-musim seperti saat ini, ketika musim penghujan mendekati puncaknya, di wilayah-wilayah yang dikenal sebagai sentra pertanian tembakau, sulit menemukan pohon tembakau yang sedang tumbuh. Pada lahan-lahan yang sebelumnya ditumbuhi tanaman tembakau pada musim panas, berganti tanaman-tanaman lain yang bermacam-macam, sesuai dengan kondisi lahannya. Untuk lahan sawah, lahan-lahan itu pada musim penghujan kini ditumbuhi tanaman padi yang subur. Pada lahan tegalan dan lahan di pegunungan, lahan-lahan yang ditanami tembakau pada musim kemarau, saat ini ditumbuhi bermacam jenis tanaman mulai dari cabai, bawang, tomat, kol, terong, mentimun, dan ragam jenis tanaman semusim lainnya.<\/p>\n \n\n \n

                                                                          Uniknya, tipikal tanaman tembakau yang tumbuh baik di musim kemarau ini memberi pilihan lebih kepada para petani. Lahan-lahan yang sulit ditanami pada musim kemarau, pada akhirnya masih bisa tetap produktif dengan keberadaan tanaman tembakau. <\/p>\n \n\n \n

                                                                          Maka, kampanye aneh mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain dengan ragam rupa dalih yang membingungkan, bukan saja sama sekali tidak tepat dan asal-asalan, namun bisa jadi akan ditertawakan oleh para petani yang begitu paham dengan kondisi lahan dan terutama kondisi iklim dan cuaca. Sulit mencari tanaman semusim yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Jika pun ada, tak ada yang semenguntungkan tanaman tembakau.
                                                                          <\/p>\n ","post_title":"Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"keberhasilan-gerakan-anti-tembakau-tak-ada-tembakau-saat-musim-hujan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-07 12:16:02","post_modified_gmt":"2019-02-07 05:16:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5415","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5409,"post_author":"919","post_date":"2019-02-05 08:04:43","post_date_gmt":"2019-02-05 01:04:43","post_content":" \n

                                                                          Tahun Baru Imlek yang merupakan tradisi Bangsa Tiongkok kini sudah tak lagi menjadi hal yang asing bagi masyarakat Indonesia. Kehadirannya sudah mewarnai dan berakulturasi dengan tradisi lokal. Menjelang Tahun Baru Imlek. Berbagai hiasan dan kemeriahan terjadi beberapa titik di Tanah Air. Perayaannya juga menjadi destinasi baru yang mengasyikkan untuk dilihat dan patut disaksikan.<\/p>\n \n\n \n

                                                                          Berterimakasihlah kepada sang bapak bangsa, KH Abdurrahman Wahid atau yang dikenal dengan nama Gus Dur. Berkat kebijakannya saat menjadi Presiden Indonesia, Tahun Baru Imlek resmi dijadikan hari libur nasional dan dianggap sebagai salah satu hari raya di Tanah Air. Meski sentimen antitionghoa masih ada di sana-sini, tapi tetap tak bisa dipungkiri bahwa bangsa tionghoa sudah bersentuhan dengan budaya lokal dalam kurun waktu yang sangat panjang.<\/p>\n \n\n \n

                                                                          DNA Bangsa Tionghoa yang memang merupakan pedagang menjadi pembuka kisah interaksi antara nenek moyang berbagai suku di Nusantara dengan mereka. Beberapa kelenteng-kelenteng yang tersebar pada berbagai pesisir daerah di Nusantara jadi buktinya. Pelabuhan-pelabuhan tua di tanah air dan ramainya perdagangan di pesisir mempermudah bangsa kita berhubungan dengan Bangsa Tionghoa.<\/p>\n \n\n \n

                                                                          Baca Juga: Wong Kalang dan Kota Gede<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                          Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa kehadiran Bangsa Tionghoa di Nusantara tak hanya sebagai pedagang, namun juga sebagai pekerja (bahkan hingga pekerja kasar). Benny Setiono, seorang sejarahwan menyebutkan bahwa antara tahun 1760-1770 dalam jumlah yang besar memasuki nusantara melalui Kalimantan Barat. Mereka bekerja sebagai kuli pertambangan di sana dan di kemudian hari membentuk sebuah republik bernama Republik Lanfang yang konon katanya menjadi republik pertama di Asia Tenggara.<\/p>\n \n\n \n

                                                                          Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n \n\n \n

                                                                          Baca Juga: Imlek dan Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                          Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n \n\n \n

                                                                          Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n \n\n \n

                                                                          Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n \n\n \n

                                                                          Baca Juga: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                          Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n \n\n \n

                                                                          Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
                                                                          <\/p>\n ","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_3o3","class":"epic_block_3"};

                                                                          \n

                                                                          terserang hama & penyakit. Penjarangan dilakukan pada umur bibit 21-25 hari dengan cara: basahi bedengan sore hari sebelumnya dan pagi hari sebelum bibit dicabut, cabut bibit  yang akan ditanami dengan hati-hati, tanam bibit pada bedengan yang kerapatan bibitnya jarang, siram bibit sesegera mungkin setelah dipindah.<\/p>\n \n\n\n

                                                                          1. Bibit dibiasakan untuk terkena sinar  matahari langsung. Tujuan hardening agar bibit dapat beradaptasi dan memperkuat jaringan daun, batang serta mengurangi resiko penyakit karena jamur. Pelaksanaan hardening mulai umur 21 HSS secara bertahap.Pada kondisi hujan tidak dianjurkan. <\/li>
                                                                          2. Klipping <\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                            1. Dilakukan antara jam 08.00 sampai 11.00 (usahakan cuaca cerah) <\/p>\n \n\n \n

                                                                            2. Kliping dilakukan pada saat bibit pertumbuhannya terlalu lebat atau saling menutup batangnya. <\/p>\n \n\n \n

                                                                            3. Kliping adalah kegiatan memotong sebagian atau 2\/3 daun bibit tembakau. <\/p>\n \n\n \n

                                                                            4. Frekuensi kliping dilakukan bisa satu, dua kali atau lebih sesuai dengan perkembangan bibit dan persiapan lokasi areal tanam. <\/p>\n \n\n \n

                                                                            5 Lima sampai tujuh hari menjelang transplanting, kegiatan kliping sebaiknya sudah selesai. <\/p>\n \n\n \n

                                                                            Tujuan klipping: menjaga lingkungan bibit agar tidak lembab, <\/strong>memperbesar batan,menyeragamkan ukuran benih, dan memperkuat pertumbuhan akar <\/p>\n \n\n \n

                                                                            1. Pencabutan Bibit, agar mendapatkan jarak tanam yang sesuai lahan <\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n
                                                                              \"\"\/<\/figure>\n \n\n \n
                                                                              \"\"\/<\/figure>\n \n\n \n

                                                                              Dalam satu hamparan direkomendasikan selesai tanam maksimal 3 Hari. Umur  tanaman akan menjadi sama atau seragam. Performance tanaman juga akan menjadi  seragam. Kemasakan daun pada saat petik juga menjadi seragam. Memudahkan pada saat  proses panen dan pasca panen. Tembakau kering yang dihasilkan pun juga seragam.<\/p>\n \n\n \n

                                                                              1. Pengendalian Hama & Penyakit<\/strong> <\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                                ~ Pada awal penyebaran benih direkomendasikan untuk melakukan penyemprotan fusngisida (jamur), seperti Previcur, Redomil & Antracol <\/p>\n \n\n \n

                                                                                ~ Hama yang sering dijumpai: semut (Decis), janggel, orong-orong <\/p>\n \n\n \n

                                                                                1. Tahapan Perawatan<\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n
                                                                                  \"\"\/<\/figure>\n ","post_title":"Sukses Bertani Tembakau Bersama Kemitraan Djarum di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sukses-bertani-tembakau-bersama-kemitraan-djarum-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-11 12:32:18","post_modified_gmt":"2019-02-11 05:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5433","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5425,"post_author":"922","post_date":"2019-02-10 09:07:33","post_date_gmt":"2019-02-10 02:07:33","post_content":" \n

                                                                                  Bahwa cengkeh [1] (Syzygium aromaticum) --bersama pala (Myristica fragrans)-- adalah dua tanaman asli (endemik) Kepulauan Maluku, sudah tak terbantahkan. Cengkeh dikenal dan diakui berasal dari \u2018Empat Pulau Gunung Maluku\u2019 (Maloko Kie Raha): Ternate, Tidore, Moti, dan Makian.
                                                                                  <\/p>\n \n\n \n

                                                                                  Adapun pala, berasal dari empat pulau kecil lainnya di tengah Laut Banda: Lonthor, Neira, Rhun, dan Ai. Pada penjelasan peta abad-16 oleh penjelajah dari Semenanjung Iberia, Fransisco Rodriguez, tertulis: \u201cEstas quatro Ilhas Azures suam as de molluquo homde nace ho crauzo\u201d<\/em> (Adalah empat pulau berwarna biru [dalam peta] yang disebut sebagai Kepulauan Maluku di mana rempah-rempah berasal) (Pires, 1512- 1515:213).
                                                                                  <\/p>\n \n\n \n

                                                                                  Sejak beberapa abad sebelum Masehi, adalah para saudagar Arab --melalui Samudera Hindia melintasi Iskandariyah dan Laut Tengah-- serta para pedagang Cina --melalui jalur \u2018Jalan Sutra\u2019 melintasi Asia Tengah dan Asia Barat-- yang membawa dan memperkenalkannya ke daratan Eropa. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                  Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                  Bandar-bandar besar Tyre di Yunani dan Venesia di Italia menjadi pelabuhan utama rempah-rempah Maluku memasuki kehidupan dan peradaban Eropa. Selain sebagai bumbu masakan, rempah obat, dan ramuan wewangian, cengkeh dan pala juga menjadi bahan utama pengawet bahan pangan. [2]
                                                                                  <\/p>\n \n\n \n

                                                                                  Inilah yang membuat orang-orang Eropa untuk pertama kalinya dapat mengawetkan dan menimbun makanan selama bermusim-musim. Prosa indah Blair bersaudara menggambarkannya dengan sangat baik:
                                                                                  <\/p>\n \n\n \n

                                                                                  \u201cKemampuan menyimpan makanan lebih dari yang kami makan sekaligus berarti kemampuan menjual dan membelinya dalam jumlah besar --dan kota-kota dagang pun mekar. Perekonomian yang dihasilkannya mengarahkan kami ke zaman Pencerahan dan kemudian Revolusi Industri. Tak lama setelah kami menghirup aroma yang sangat kuat dari Timur itu dan mengubah kimiawi makanan kami, maka kami pun mampu melakukan lompatan besar dalam bidang budaya dan seni.\u201d (Blair & Blair, 2010; 30-31).<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

                                                                                  Baca: Cengkeh dan Kelapa di Kepulauan Anambas<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                  Bukan hanya membuat perekonomian dan perdagangan serta ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang, cengkeh dan pala bahkan adalah faktor yang paling menentukan dalam kemunculan satu babakan paling mengenaskan dalam sejarah politik dunia, yakni zaman penjajahan (kolonialisme) Eropa, terutama atas-atas negeri- negeri Asia Selatan, Timur dan Tenggara, termasuk Indonesia.
                                                                                  <\/p>\n \n\n \n

                                                                                  Tergerak oleh sahwat menguasai rempah-rempah yang menggiurkan itu, bangsa-bangsa Eropa --terutama Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda-- pun menggelar ekspedisi-ekspedisi besar untuk menemukan cengkeh dan pala langsung di tanah asalnya. Ketika armada-armada mereka akhirnya mencapai perairan Kepulauan Maluku, pada abad-16, perang pun tak terhindarkan.
                                                                                  <\/p>\n \n\n \n

                                                                                  Mereka silih berganti saling mengalahkan, tetapi pemenang terakhir adalah Belanda. Melalui Perusahaan Dagang Hindia Timur (Vereenigde Oostindische Compagnie, VOC) yang dibentuk pada awal abad-17 (tepatnya tahun 1609), Belanda melancarkan ekspedisi Pelayaran Hongi (Hongie Tochten), untuk memusnahkan semua tanaman cengkeh di Ternate, Tidore, Moti, dan Makian, lalu membatasi ketat penanamnya hanya di Pulau-pulau Ambon dan Lease --yang lebih dekat ke Banda sebagai pusat pemerintahan mereka sebelum akhirnya dipindahkan ke Batavia.
                                                                                  <\/p>\n \n\n \n

                                                                                  Praktis, sejak akhir abad-16, Belanda pun menguasai penuh perdagangan rempah-rempah Maluku dengan jumlah produksi rerata 2.500 sampai 4.500 ton per tahun. [3]<\/p>\n \n\n \n

                                                                                  Baca: Budidaya Pohon Cengkeh<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                  Meskipun peran utama rempah-rempah Maluku itu kemudian tergusur pada abad-18 dan 19 oleh beberapa barang eksotika tropis lainnya --hasil perkebunan-perkebunana besar baru di Pulau Sumatera dan Jawa: tebu, tembakau, lada, kopi, teh, nila, kelapa sawit, dan kayu jati-- namun sejarah sudah mencatat bahwa dua jenis rempah-rempah Maluku itulah yang mengawali penjelajahan sekaligus penjajahan kepulauan Nusantara oleh bangsa-bangsa Eropah, terutama Belanda (Topatimasang, ed., 2004:32). Jika saja tak pernah ada cengkeh dan pala di Maluku, mungkin sejarah kepulauan Nusantara ini akan berbeda sama sekali.
                                                                                  <\/p>\n \n\n \n

                                                                                  Masa suram cengkeh dan pala terus berlangsung sampai pertengahan abad-20. Rempah eksotika yang pernah membuat tergila-gila<\/p>\n \n\n \n

                                                                                  para saudagar Arab, pedagang Cina, serta kaum ningrat Eropa itu, tergantikan perannya oleh penemuan teknologi mesin pendingin berkat Revolusi Industri yang dimulai di Inggris pada pertengahan abad-18. Pasaran cengkeh di Eropa pun merosot tajam.
                                                                                  <\/p>\n \n\n \n

                                                                                  Nasibnya terselamatkan berkat penemuan oleh seorang Haji Djamhari di Kudus, Jawa Tengah. Pada akhir tahun 1880-an, Haji Djamhari menemukan kegunaan baru cengkeh sebagai ramuan utama rokok. Lahirlah satu produk baru yang unik, khas dan asli Indonesia: kretek! (Hanusz, 2000:ii).
                                                                                  <\/p>\n \n\n \n

                                                                                  Setelah seperempat abad hanya berkembang dalam skala kecil usaha rumah tangga, produksi kretek akhirnya menjelma menjadi industri besar sejak awal abad-20 yang dirintis oleh Haji Nitisemito (pendiri pabrik \u2018Jambu Bol\u2019) di Kudus dan Liem Seng Tee (pendiri pabrik \u2018Dji Sam Soe\u2019 dan \u2018Sampoerna\u2019) di Surabaya.
                                                                                  <\/p>\n \n\n \n

                                                                                  Puncaknya adalah pada pertengahan tahun 1950-an, ketika produksi kretek mulai berkembang pesat menjadi industri raksasa modern dengan munculnya beberapa pabrik baru, antara lain, yang terkemuka, oleh Oei Wei Gwan (pendiri pabrik \u2018Djarum\u2019) di Kudus dan Tjou Ing Hwie (pendiri pabrik \u2018Gudang Garam\u2019) di Kediri (Topatimasang, et.al., eds., 2010:131).<\/p>\n \n\n \n

                                                                                  Baca: Teruslah Menanam Tembakau dan Cengkeh, Wahai Petani Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                  Cengkeh, bahan baku paling esensial dari kretek --selain tembakau, tentu saja-- pun kembali berjaya. Bahkan, sejak dasawarsa 1970an, telah menjadi salah satu penyumbang terbesar keuangan negara Republik Indonesia. Pada tahun 2012 dan 2013, pemasukan cukai dari industri kretek mencatat 95,5% dari seluruh pemasukan cukai ke kas negara. Nilainya tak tanggung-tanggung: Rp 87 triliun! (el-Guyanie, et.al.: 2013:4-5).<\/strong>
                                                                                  <\/p>\n \n\n \n

                                                                                  Nilai ekonomisnya yang sangat besar sempat menggoda penguasa otoriter rezim Presiden Soeharto, pada 1990-an, memberlakukan satu kebijakan \u2018Hongi Gaya Baru\u2019: monopoli perdagangan cengkeh dalam negeri melalui Badan Penyanggah dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) yang sangat merugikan petani. Harga cengkeh di tingkat petani penghasil anjlok sampai hanya Rp 2.000 - 3.000 per kilogram, lebih murah dari harga sebungkus kretek yang dihasilkan darinya.
                                                                                  <\/p>\n \n\n \n

                                                                                  Akibatnya, ratusan ribu pohon cengkeh di daerah-daerah penghasil utama --Maluku, Maluku Utara, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Selatan-- ditebangi atau dibiarkan terlantar tak terurus.
                                                                                  <\/p>\n \n\n \n

                                                                                  Gelombang reformasi sistem politik dan hukum nasional yang dimulai pada tahun 1998, akhirnya menjungkalkan rezim Soeharto dan BPPC dibubarkan, Pelan tapi pasti, harga cengkeh kembali merangkak naik, sehingga pada tahun 2012, bahkan melewati angka Rp 200.000 per kilogram. Para petani cengkeh di seluruh negeri kembali tersenyum. Tetapi, sampai kapan? <\/p>\n \n\n \n

                                                                                  Catatan:<\/strong><\/p>\n \n\n \n

                                                                                  [1] Beberapa sumber menyebutkan bahwa kata \u2018cengkeh\u2019 dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Mandarin, tkeng-his atau xi\u2019jia, yang berarti \u2018rempah [berbentuk mirip] paku\u2019 (scented nails). Ini menunjukkan bahwa cengkeh sudah dikenal sejak lama oleh bangsa Cina --diketahui sejak abad-2-- jauh sebelum orang Eropa mengenalnya ((lihat, misalnya: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n \n\n \n

                                                                                  [2] Catatan-catatan para biarawan Fransiskan --yang disalin dan dikutip oleh van Frassen-- bahkan menyebut cengkeh sebagai salah satu bahan utama pengawet mumi para Fir\u2019aun, penguasa Mesir Kuno. Beberapa pakar sejarah dan arkeologi menyatakan bahwa rempah-rempah Maluku bahkan sudah ditemukan artefaknya di Lembah Mesopotomia (wilayah Iraq dan sekitarnya sekarang) pada 3.000 tahun sebelum Masehi. (lihat, antara lain: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n \n\n \n

                                                                                  [3] Uraian lebih rinci sejarah kolonialisme rempah-rempah Nusantara ini, terutama oleh Belanda dan Portugis, dapat dibaca pada beberapa sumber kepustakaan yang sudah dikenal luas, antara lain: Glamann (1958) dan Boxer (1965 dan 1969). Dalam risalah klasik Pires disebutkan bahwa pada tahun 1512-1521 saja, jumlah produksi cengkeh di Maluku sudah mencapai 7.250 bahar per tahun, terbesar adalah di Makian serta Amboina dan Lease (masing-masing 1.500 bahar)(Pires, 1512-1515).<\/em>
                                                                                  <\/p>\n \n\n \n

                                                                                  Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem Topatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
                                                                                  <\/p>\n ","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-10 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-02-10 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5425","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5415,"post_author":"878","post_date":"2019-02-07 12:15:55","post_date_gmt":"2019-02-07 05:15:55","post_content":" \n

                                                                                  Belakangan ini, ketika musim hujan tiba, di Kabupaten Temanggung, Kabupaten Jember, dan beberapa wilayah sentra pertanian tembakau lainnya, hampir mustahil menemukan tanaman tembakau tumbuh di lahan-lahan milik petani. Di wilayah-wilayah tersebut, citra sebagai sentra pertanian tembakau seakan menguap. Lahan-lahan yang ada di sana, sama sekali tidak ditumbuhi tanaman tembakau.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                  Kabar ini bisa jadi dianggap sebagai kabar gembira bagi mereka yang menganggap diri dan kelompoknya anti-rokok dan anti-tembakau yang selalu mengampanyekan sikap-sikap mereka terkait kebencian kepada tembakau dan aktivitas merokok. Setelah sekian lama berjuang, akhirnya perjuangan mereka dirasa berhasil usai menyaksikan fenomena lahan-lahan di wilayah yang dianggap sentra pertanian tembakau pada hari-hari belakangan ini.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                  Baca juga: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                  Tak sia-sia turun ke jalan, tak sia-sia melakukan lobi-lobi ke penguasa, tak sia-sia mengucurkan uang yang tidak sedikit, dan tak sia-sia mempermalukan diri dengan mengemis ke lembaga donor asing dan menggondol uang dari cukai tembakau untuk mengampanyekan gerakan anti-rokok dan anti-tembakau. Tak sia-sia. Karena perjuangan sepertinya berhasil.<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

                                                                                  Kampanye-kampanye gerakan mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya, sepertinya juga sangat berhasil. Bagaimana tidak? Wilayah-wilayah yang sebelumnya penuh dengan tanaman tembakau dan bergeliat dengannya, kini lahan-lahannya sudah berganti dengan tanaman lain. Sebuah keberhasilan yang menggembirakan. Begitu mungkin pikir mereka para yang menganggap dirinya pejuang anti-rokok dan anti-tembakau. Dan tentu saja mereka akan kecele dan kita akan menertawakan hal itu.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                  Sayangnya, mereka yang menganggap dirinya anti-rokok dan anti-tembakau tidak menyaksikan langsung fenomena ini di lapangan, di lahan-lahan yang peruntukannya berubah pada hari-hari belakangan ini ketika memasuki musim hujan. Mereka asyik duduk pada kursi empuk di ruang-ruang nyaman ber-AC di kota-kota yang jauh dari kultur pertanian. Mereka menyengajakan diri menjadi elit dan enggan untuk turun melihat langsung ke lapangan. Kalaupun ada yang turun langsung ke lapangan, hanya segelintir saja dari mereka, itupun sekadar formalitas saja. Tak pernah benar-benar mau turun ke lapangan, hidup dan merasakan langsung kultur pertanian tembakau dalam jangka waktu cukup lama di lapangan.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                  Baca juga: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                  Fenomena ini membikin kita tak bisa melihat mereka para anti-rokok kecele lalu menertawakan mereka.<\/strong> Fenomena keengganan terjun langsung ke lapangan terlebih mencoba mendengar mereka yang tetap menanam tembakau, juga menjalani keseharian dalam waktu cukup lama bersama petani tembakau inilah yang saya kira menjadikan mereka tetap keras kepala untuk anti-rokok dan anti-tembakau. Karena jika mereka mau melakukan itu, saya yakin mereka semua tidak akan begitu kaku dalam memandang pertanian tembakau dan produk hasil industri tembakau.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                  Salah satu yang selalu mereka kampanyekan dan ngotot dengan itu, terkait hulu pertanian tembakau adalah mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya. Mereka berargumen banyak tanaman lain yang bisa semenguntungkan tanaman tembakau. Keengganan mereka terjun langsung ke lapangan inilah yang membikin mereka buta dengan kondisi pertanian tembakau dan pada akhirnya terus menerus mengampanyekan pergantian tanaman tembakau dengan tanaman lainnya.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                  Baca juga: Imanlah kepada Allah, Bukan Antirokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                  Tembakau tanaman yang khas. Ia hanya tumbuh baik sepanjang empat hingga lima bulan dalam satu tahun. Tumbuh-kembang tanaman tembakau dengan baik itu umumnya terjadi pada musim kemarau setiap tahunnya. Hanya sedikit sekali jenis tembakau yang tumbuh baik di musim penghujan, mayoritasnya, tumbuh baik pada musim kemarau.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                  Jika ditanam pada musim hujan, hampir bisa dipastikan tanaman tembakau akan gagal menghasilkan daun-daun yang berkualitas. Ia akan rusak dan membusuk karena terlalu banyak terkena air sehingga daun-daun itu tak layak dijual. Jangankan bisa dijual, untuk tumbuh dengan baik pun sepertinya sulit karena musim hujan akan membunuh banyak tanaman itu.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                  Maka, tak heran pada musim-musim seperti saat ini, ketika musim penghujan mendekati puncaknya, di wilayah-wilayah yang dikenal sebagai sentra pertanian tembakau, sulit menemukan pohon tembakau yang sedang tumbuh. Pada lahan-lahan yang sebelumnya ditumbuhi tanaman tembakau pada musim panas, berganti tanaman-tanaman lain yang bermacam-macam, sesuai dengan kondisi lahannya. Untuk lahan sawah, lahan-lahan itu pada musim penghujan kini ditumbuhi tanaman padi yang subur. Pada lahan tegalan dan lahan di pegunungan, lahan-lahan yang ditanami tembakau pada musim kemarau, saat ini ditumbuhi bermacam jenis tanaman mulai dari cabai, bawang, tomat, kol, terong, mentimun, dan ragam jenis tanaman semusim lainnya.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                  Uniknya, tipikal tanaman tembakau yang tumbuh baik di musim kemarau ini memberi pilihan lebih kepada para petani. Lahan-lahan yang sulit ditanami pada musim kemarau, pada akhirnya masih bisa tetap produktif dengan keberadaan tanaman tembakau. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                  Maka, kampanye aneh mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain dengan ragam rupa dalih yang membingungkan, bukan saja sama sekali tidak tepat dan asal-asalan, namun bisa jadi akan ditertawakan oleh para petani yang begitu paham dengan kondisi lahan dan terutama kondisi iklim dan cuaca. Sulit mencari tanaman semusim yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Jika pun ada, tak ada yang semenguntungkan tanaman tembakau.
                                                                                  <\/p>\n ","post_title":"Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"keberhasilan-gerakan-anti-tembakau-tak-ada-tembakau-saat-musim-hujan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-07 12:16:02","post_modified_gmt":"2019-02-07 05:16:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5415","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5409,"post_author":"919","post_date":"2019-02-05 08:04:43","post_date_gmt":"2019-02-05 01:04:43","post_content":" \n

                                                                                  Tahun Baru Imlek yang merupakan tradisi Bangsa Tiongkok kini sudah tak lagi menjadi hal yang asing bagi masyarakat Indonesia. Kehadirannya sudah mewarnai dan berakulturasi dengan tradisi lokal. Menjelang Tahun Baru Imlek. Berbagai hiasan dan kemeriahan terjadi beberapa titik di Tanah Air. Perayaannya juga menjadi destinasi baru yang mengasyikkan untuk dilihat dan patut disaksikan.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                  Berterimakasihlah kepada sang bapak bangsa, KH Abdurrahman Wahid atau yang dikenal dengan nama Gus Dur. Berkat kebijakannya saat menjadi Presiden Indonesia, Tahun Baru Imlek resmi dijadikan hari libur nasional dan dianggap sebagai salah satu hari raya di Tanah Air. Meski sentimen antitionghoa masih ada di sana-sini, tapi tetap tak bisa dipungkiri bahwa bangsa tionghoa sudah bersentuhan dengan budaya lokal dalam kurun waktu yang sangat panjang.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                  DNA Bangsa Tionghoa yang memang merupakan pedagang menjadi pembuka kisah interaksi antara nenek moyang berbagai suku di Nusantara dengan mereka. Beberapa kelenteng-kelenteng yang tersebar pada berbagai pesisir daerah di Nusantara jadi buktinya. Pelabuhan-pelabuhan tua di tanah air dan ramainya perdagangan di pesisir mempermudah bangsa kita berhubungan dengan Bangsa Tionghoa.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                  Baca Juga: Wong Kalang dan Kota Gede<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                  Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa kehadiran Bangsa Tionghoa di Nusantara tak hanya sebagai pedagang, namun juga sebagai pekerja (bahkan hingga pekerja kasar). Benny Setiono, seorang sejarahwan menyebutkan bahwa antara tahun 1760-1770 dalam jumlah yang besar memasuki nusantara melalui Kalimantan Barat. Mereka bekerja sebagai kuli pertambangan di sana dan di kemudian hari membentuk sebuah republik bernama Republik Lanfang yang konon katanya menjadi republik pertama di Asia Tenggara.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                  Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                  Baca Juga: Imlek dan Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                  Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                  Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                  Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                  Baca Juga: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                  Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                  Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
                                                                                  <\/p>\n ","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_3o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                  \n
                                                                                  1. Penjarangan & Hardening<\/strong>
                                                                                    1. Penjarangan dilakukan agar jarak antara bibit ideal (4-5 cm) sehingga tidak<\/li><\/ol><\/li><\/ol>\n \n\n\n

                                                                                      terserang hama & penyakit. Penjarangan dilakukan pada umur bibit 21-25 hari dengan cara: basahi bedengan sore hari sebelumnya dan pagi hari sebelum bibit dicabut, cabut bibit  yang akan ditanami dengan hati-hati, tanam bibit pada bedengan yang kerapatan bibitnya jarang, siram bibit sesegera mungkin setelah dipindah.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                      1. Bibit dibiasakan untuk terkena sinar  matahari langsung. Tujuan hardening agar bibit dapat beradaptasi dan memperkuat jaringan daun, batang serta mengurangi resiko penyakit karena jamur. Pelaksanaan hardening mulai umur 21 HSS secara bertahap.Pada kondisi hujan tidak dianjurkan. <\/li>
                                                                                      2. Klipping <\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                                        1. Dilakukan antara jam 08.00 sampai 11.00 (usahakan cuaca cerah) <\/p>\n \n\n \n

                                                                                        2. Kliping dilakukan pada saat bibit pertumbuhannya terlalu lebat atau saling menutup batangnya. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                        3. Kliping adalah kegiatan memotong sebagian atau 2\/3 daun bibit tembakau. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                        4. Frekuensi kliping dilakukan bisa satu, dua kali atau lebih sesuai dengan perkembangan bibit dan persiapan lokasi areal tanam. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                        5 Lima sampai tujuh hari menjelang transplanting, kegiatan kliping sebaiknya sudah selesai. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                        Tujuan klipping: menjaga lingkungan bibit agar tidak lembab, <\/strong>memperbesar batan,menyeragamkan ukuran benih, dan memperkuat pertumbuhan akar <\/p>\n \n\n \n

                                                                                        1. Pencabutan Bibit, agar mendapatkan jarak tanam yang sesuai lahan <\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n
                                                                                          \"\"\/<\/figure>\n \n\n \n
                                                                                          \"\"\/<\/figure>\n \n\n \n

                                                                                          Dalam satu hamparan direkomendasikan selesai tanam maksimal 3 Hari. Umur  tanaman akan menjadi sama atau seragam. Performance tanaman juga akan menjadi  seragam. Kemasakan daun pada saat petik juga menjadi seragam. Memudahkan pada saat  proses panen dan pasca panen. Tembakau kering yang dihasilkan pun juga seragam.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                          1. Pengendalian Hama & Penyakit<\/strong> <\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                                            ~ Pada awal penyebaran benih direkomendasikan untuk melakukan penyemprotan fusngisida (jamur), seperti Previcur, Redomil & Antracol <\/p>\n \n\n \n

                                                                                            ~ Hama yang sering dijumpai: semut (Decis), janggel, orong-orong <\/p>\n \n\n \n

                                                                                            1. Tahapan Perawatan<\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n
                                                                                              \"\"\/<\/figure>\n ","post_title":"Sukses Bertani Tembakau Bersama Kemitraan Djarum di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sukses-bertani-tembakau-bersama-kemitraan-djarum-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-11 12:32:18","post_modified_gmt":"2019-02-11 05:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5433","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5425,"post_author":"922","post_date":"2019-02-10 09:07:33","post_date_gmt":"2019-02-10 02:07:33","post_content":" \n

                                                                                              Bahwa cengkeh [1] (Syzygium aromaticum) --bersama pala (Myristica fragrans)-- adalah dua tanaman asli (endemik) Kepulauan Maluku, sudah tak terbantahkan. Cengkeh dikenal dan diakui berasal dari \u2018Empat Pulau Gunung Maluku\u2019 (Maloko Kie Raha): Ternate, Tidore, Moti, dan Makian.
                                                                                              <\/p>\n \n\n \n

                                                                                              Adapun pala, berasal dari empat pulau kecil lainnya di tengah Laut Banda: Lonthor, Neira, Rhun, dan Ai. Pada penjelasan peta abad-16 oleh penjelajah dari Semenanjung Iberia, Fransisco Rodriguez, tertulis: \u201cEstas quatro Ilhas Azures suam as de molluquo homde nace ho crauzo\u201d<\/em> (Adalah empat pulau berwarna biru [dalam peta] yang disebut sebagai Kepulauan Maluku di mana rempah-rempah berasal) (Pires, 1512- 1515:213).
                                                                                              <\/p>\n \n\n \n

                                                                                              Sejak beberapa abad sebelum Masehi, adalah para saudagar Arab --melalui Samudera Hindia melintasi Iskandariyah dan Laut Tengah-- serta para pedagang Cina --melalui jalur \u2018Jalan Sutra\u2019 melintasi Asia Tengah dan Asia Barat-- yang membawa dan memperkenalkannya ke daratan Eropa. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                              Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                              Bandar-bandar besar Tyre di Yunani dan Venesia di Italia menjadi pelabuhan utama rempah-rempah Maluku memasuki kehidupan dan peradaban Eropa. Selain sebagai bumbu masakan, rempah obat, dan ramuan wewangian, cengkeh dan pala juga menjadi bahan utama pengawet bahan pangan. [2]
                                                                                              <\/p>\n \n\n \n

                                                                                              Inilah yang membuat orang-orang Eropa untuk pertama kalinya dapat mengawetkan dan menimbun makanan selama bermusim-musim. Prosa indah Blair bersaudara menggambarkannya dengan sangat baik:
                                                                                              <\/p>\n \n\n \n

                                                                                              \u201cKemampuan menyimpan makanan lebih dari yang kami makan sekaligus berarti kemampuan menjual dan membelinya dalam jumlah besar --dan kota-kota dagang pun mekar. Perekonomian yang dihasilkannya mengarahkan kami ke zaman Pencerahan dan kemudian Revolusi Industri. Tak lama setelah kami menghirup aroma yang sangat kuat dari Timur itu dan mengubah kimiawi makanan kami, maka kami pun mampu melakukan lompatan besar dalam bidang budaya dan seni.\u201d (Blair & Blair, 2010; 30-31).<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

                                                                                              Baca: Cengkeh dan Kelapa di Kepulauan Anambas<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                              Bukan hanya membuat perekonomian dan perdagangan serta ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang, cengkeh dan pala bahkan adalah faktor yang paling menentukan dalam kemunculan satu babakan paling mengenaskan dalam sejarah politik dunia, yakni zaman penjajahan (kolonialisme) Eropa, terutama atas-atas negeri- negeri Asia Selatan, Timur dan Tenggara, termasuk Indonesia.
                                                                                              <\/p>\n \n\n \n

                                                                                              Tergerak oleh sahwat menguasai rempah-rempah yang menggiurkan itu, bangsa-bangsa Eropa --terutama Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda-- pun menggelar ekspedisi-ekspedisi besar untuk menemukan cengkeh dan pala langsung di tanah asalnya. Ketika armada-armada mereka akhirnya mencapai perairan Kepulauan Maluku, pada abad-16, perang pun tak terhindarkan.
                                                                                              <\/p>\n \n\n \n

                                                                                              Mereka silih berganti saling mengalahkan, tetapi pemenang terakhir adalah Belanda. Melalui Perusahaan Dagang Hindia Timur (Vereenigde Oostindische Compagnie, VOC) yang dibentuk pada awal abad-17 (tepatnya tahun 1609), Belanda melancarkan ekspedisi Pelayaran Hongi (Hongie Tochten), untuk memusnahkan semua tanaman cengkeh di Ternate, Tidore, Moti, dan Makian, lalu membatasi ketat penanamnya hanya di Pulau-pulau Ambon dan Lease --yang lebih dekat ke Banda sebagai pusat pemerintahan mereka sebelum akhirnya dipindahkan ke Batavia.
                                                                                              <\/p>\n \n\n \n

                                                                                              Praktis, sejak akhir abad-16, Belanda pun menguasai penuh perdagangan rempah-rempah Maluku dengan jumlah produksi rerata 2.500 sampai 4.500 ton per tahun. [3]<\/p>\n \n\n \n

                                                                                              Baca: Budidaya Pohon Cengkeh<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                              Meskipun peran utama rempah-rempah Maluku itu kemudian tergusur pada abad-18 dan 19 oleh beberapa barang eksotika tropis lainnya --hasil perkebunan-perkebunana besar baru di Pulau Sumatera dan Jawa: tebu, tembakau, lada, kopi, teh, nila, kelapa sawit, dan kayu jati-- namun sejarah sudah mencatat bahwa dua jenis rempah-rempah Maluku itulah yang mengawali penjelajahan sekaligus penjajahan kepulauan Nusantara oleh bangsa-bangsa Eropah, terutama Belanda (Topatimasang, ed., 2004:32). Jika saja tak pernah ada cengkeh dan pala di Maluku, mungkin sejarah kepulauan Nusantara ini akan berbeda sama sekali.
                                                                                              <\/p>\n \n\n \n

                                                                                              Masa suram cengkeh dan pala terus berlangsung sampai pertengahan abad-20. Rempah eksotika yang pernah membuat tergila-gila<\/p>\n \n\n \n

                                                                                              para saudagar Arab, pedagang Cina, serta kaum ningrat Eropa itu, tergantikan perannya oleh penemuan teknologi mesin pendingin berkat Revolusi Industri yang dimulai di Inggris pada pertengahan abad-18. Pasaran cengkeh di Eropa pun merosot tajam.
                                                                                              <\/p>\n \n\n \n

                                                                                              Nasibnya terselamatkan berkat penemuan oleh seorang Haji Djamhari di Kudus, Jawa Tengah. Pada akhir tahun 1880-an, Haji Djamhari menemukan kegunaan baru cengkeh sebagai ramuan utama rokok. Lahirlah satu produk baru yang unik, khas dan asli Indonesia: kretek! (Hanusz, 2000:ii).
                                                                                              <\/p>\n \n\n \n

                                                                                              Setelah seperempat abad hanya berkembang dalam skala kecil usaha rumah tangga, produksi kretek akhirnya menjelma menjadi industri besar sejak awal abad-20 yang dirintis oleh Haji Nitisemito (pendiri pabrik \u2018Jambu Bol\u2019) di Kudus dan Liem Seng Tee (pendiri pabrik \u2018Dji Sam Soe\u2019 dan \u2018Sampoerna\u2019) di Surabaya.
                                                                                              <\/p>\n \n\n \n

                                                                                              Puncaknya adalah pada pertengahan tahun 1950-an, ketika produksi kretek mulai berkembang pesat menjadi industri raksasa modern dengan munculnya beberapa pabrik baru, antara lain, yang terkemuka, oleh Oei Wei Gwan (pendiri pabrik \u2018Djarum\u2019) di Kudus dan Tjou Ing Hwie (pendiri pabrik \u2018Gudang Garam\u2019) di Kediri (Topatimasang, et.al., eds., 2010:131).<\/p>\n \n\n \n

                                                                                              Baca: Teruslah Menanam Tembakau dan Cengkeh, Wahai Petani Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                              Cengkeh, bahan baku paling esensial dari kretek --selain tembakau, tentu saja-- pun kembali berjaya. Bahkan, sejak dasawarsa 1970an, telah menjadi salah satu penyumbang terbesar keuangan negara Republik Indonesia. Pada tahun 2012 dan 2013, pemasukan cukai dari industri kretek mencatat 95,5% dari seluruh pemasukan cukai ke kas negara. Nilainya tak tanggung-tanggung: Rp 87 triliun! (el-Guyanie, et.al.: 2013:4-5).<\/strong>
                                                                                              <\/p>\n \n\n \n

                                                                                              Nilai ekonomisnya yang sangat besar sempat menggoda penguasa otoriter rezim Presiden Soeharto, pada 1990-an, memberlakukan satu kebijakan \u2018Hongi Gaya Baru\u2019: monopoli perdagangan cengkeh dalam negeri melalui Badan Penyanggah dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) yang sangat merugikan petani. Harga cengkeh di tingkat petani penghasil anjlok sampai hanya Rp 2.000 - 3.000 per kilogram, lebih murah dari harga sebungkus kretek yang dihasilkan darinya.
                                                                                              <\/p>\n \n\n \n

                                                                                              Akibatnya, ratusan ribu pohon cengkeh di daerah-daerah penghasil utama --Maluku, Maluku Utara, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Selatan-- ditebangi atau dibiarkan terlantar tak terurus.
                                                                                              <\/p>\n \n\n \n

                                                                                              Gelombang reformasi sistem politik dan hukum nasional yang dimulai pada tahun 1998, akhirnya menjungkalkan rezim Soeharto dan BPPC dibubarkan, Pelan tapi pasti, harga cengkeh kembali merangkak naik, sehingga pada tahun 2012, bahkan melewati angka Rp 200.000 per kilogram. Para petani cengkeh di seluruh negeri kembali tersenyum. Tetapi, sampai kapan? <\/p>\n \n\n \n

                                                                                              Catatan:<\/strong><\/p>\n \n\n \n

                                                                                              [1] Beberapa sumber menyebutkan bahwa kata \u2018cengkeh\u2019 dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Mandarin, tkeng-his atau xi\u2019jia, yang berarti \u2018rempah [berbentuk mirip] paku\u2019 (scented nails). Ini menunjukkan bahwa cengkeh sudah dikenal sejak lama oleh bangsa Cina --diketahui sejak abad-2-- jauh sebelum orang Eropa mengenalnya ((lihat, misalnya: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n \n\n \n

                                                                                              [2] Catatan-catatan para biarawan Fransiskan --yang disalin dan dikutip oleh van Frassen-- bahkan menyebut cengkeh sebagai salah satu bahan utama pengawet mumi para Fir\u2019aun, penguasa Mesir Kuno. Beberapa pakar sejarah dan arkeologi menyatakan bahwa rempah-rempah Maluku bahkan sudah ditemukan artefaknya di Lembah Mesopotomia (wilayah Iraq dan sekitarnya sekarang) pada 3.000 tahun sebelum Masehi. (lihat, antara lain: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n \n\n \n

                                                                                              [3] Uraian lebih rinci sejarah kolonialisme rempah-rempah Nusantara ini, terutama oleh Belanda dan Portugis, dapat dibaca pada beberapa sumber kepustakaan yang sudah dikenal luas, antara lain: Glamann (1958) dan Boxer (1965 dan 1969). Dalam risalah klasik Pires disebutkan bahwa pada tahun 1512-1521 saja, jumlah produksi cengkeh di Maluku sudah mencapai 7.250 bahar per tahun, terbesar adalah di Makian serta Amboina dan Lease (masing-masing 1.500 bahar)(Pires, 1512-1515).<\/em>
                                                                                              <\/p>\n \n\n \n

                                                                                              Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem Topatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
                                                                                              <\/p>\n ","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-10 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-02-10 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5425","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5415,"post_author":"878","post_date":"2019-02-07 12:15:55","post_date_gmt":"2019-02-07 05:15:55","post_content":" \n

                                                                                              Belakangan ini, ketika musim hujan tiba, di Kabupaten Temanggung, Kabupaten Jember, dan beberapa wilayah sentra pertanian tembakau lainnya, hampir mustahil menemukan tanaman tembakau tumbuh di lahan-lahan milik petani. Di wilayah-wilayah tersebut, citra sebagai sentra pertanian tembakau seakan menguap. Lahan-lahan yang ada di sana, sama sekali tidak ditumbuhi tanaman tembakau.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                              Kabar ini bisa jadi dianggap sebagai kabar gembira bagi mereka yang menganggap diri dan kelompoknya anti-rokok dan anti-tembakau yang selalu mengampanyekan sikap-sikap mereka terkait kebencian kepada tembakau dan aktivitas merokok. Setelah sekian lama berjuang, akhirnya perjuangan mereka dirasa berhasil usai menyaksikan fenomena lahan-lahan di wilayah yang dianggap sentra pertanian tembakau pada hari-hari belakangan ini.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                              Baca juga: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                              Tak sia-sia turun ke jalan, tak sia-sia melakukan lobi-lobi ke penguasa, tak sia-sia mengucurkan uang yang tidak sedikit, dan tak sia-sia mempermalukan diri dengan mengemis ke lembaga donor asing dan menggondol uang dari cukai tembakau untuk mengampanyekan gerakan anti-rokok dan anti-tembakau. Tak sia-sia. Karena perjuangan sepertinya berhasil.<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

                                                                                              Kampanye-kampanye gerakan mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya, sepertinya juga sangat berhasil. Bagaimana tidak? Wilayah-wilayah yang sebelumnya penuh dengan tanaman tembakau dan bergeliat dengannya, kini lahan-lahannya sudah berganti dengan tanaman lain. Sebuah keberhasilan yang menggembirakan. Begitu mungkin pikir mereka para yang menganggap dirinya pejuang anti-rokok dan anti-tembakau. Dan tentu saja mereka akan kecele dan kita akan menertawakan hal itu.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                              Sayangnya, mereka yang menganggap dirinya anti-rokok dan anti-tembakau tidak menyaksikan langsung fenomena ini di lapangan, di lahan-lahan yang peruntukannya berubah pada hari-hari belakangan ini ketika memasuki musim hujan. Mereka asyik duduk pada kursi empuk di ruang-ruang nyaman ber-AC di kota-kota yang jauh dari kultur pertanian. Mereka menyengajakan diri menjadi elit dan enggan untuk turun melihat langsung ke lapangan. Kalaupun ada yang turun langsung ke lapangan, hanya segelintir saja dari mereka, itupun sekadar formalitas saja. Tak pernah benar-benar mau turun ke lapangan, hidup dan merasakan langsung kultur pertanian tembakau dalam jangka waktu cukup lama di lapangan.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                              Baca juga: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                              Fenomena ini membikin kita tak bisa melihat mereka para anti-rokok kecele lalu menertawakan mereka.<\/strong> Fenomena keengganan terjun langsung ke lapangan terlebih mencoba mendengar mereka yang tetap menanam tembakau, juga menjalani keseharian dalam waktu cukup lama bersama petani tembakau inilah yang saya kira menjadikan mereka tetap keras kepala untuk anti-rokok dan anti-tembakau. Karena jika mereka mau melakukan itu, saya yakin mereka semua tidak akan begitu kaku dalam memandang pertanian tembakau dan produk hasil industri tembakau.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                              Salah satu yang selalu mereka kampanyekan dan ngotot dengan itu, terkait hulu pertanian tembakau adalah mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya. Mereka berargumen banyak tanaman lain yang bisa semenguntungkan tanaman tembakau. Keengganan mereka terjun langsung ke lapangan inilah yang membikin mereka buta dengan kondisi pertanian tembakau dan pada akhirnya terus menerus mengampanyekan pergantian tanaman tembakau dengan tanaman lainnya.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                              Baca juga: Imanlah kepada Allah, Bukan Antirokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                              Tembakau tanaman yang khas. Ia hanya tumbuh baik sepanjang empat hingga lima bulan dalam satu tahun. Tumbuh-kembang tanaman tembakau dengan baik itu umumnya terjadi pada musim kemarau setiap tahunnya. Hanya sedikit sekali jenis tembakau yang tumbuh baik di musim penghujan, mayoritasnya, tumbuh baik pada musim kemarau.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                              Jika ditanam pada musim hujan, hampir bisa dipastikan tanaman tembakau akan gagal menghasilkan daun-daun yang berkualitas. Ia akan rusak dan membusuk karena terlalu banyak terkena air sehingga daun-daun itu tak layak dijual. Jangankan bisa dijual, untuk tumbuh dengan baik pun sepertinya sulit karena musim hujan akan membunuh banyak tanaman itu.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                              Maka, tak heran pada musim-musim seperti saat ini, ketika musim penghujan mendekati puncaknya, di wilayah-wilayah yang dikenal sebagai sentra pertanian tembakau, sulit menemukan pohon tembakau yang sedang tumbuh. Pada lahan-lahan yang sebelumnya ditumbuhi tanaman tembakau pada musim panas, berganti tanaman-tanaman lain yang bermacam-macam, sesuai dengan kondisi lahannya. Untuk lahan sawah, lahan-lahan itu pada musim penghujan kini ditumbuhi tanaman padi yang subur. Pada lahan tegalan dan lahan di pegunungan, lahan-lahan yang ditanami tembakau pada musim kemarau, saat ini ditumbuhi bermacam jenis tanaman mulai dari cabai, bawang, tomat, kol, terong, mentimun, dan ragam jenis tanaman semusim lainnya.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                              Uniknya, tipikal tanaman tembakau yang tumbuh baik di musim kemarau ini memberi pilihan lebih kepada para petani. Lahan-lahan yang sulit ditanami pada musim kemarau, pada akhirnya masih bisa tetap produktif dengan keberadaan tanaman tembakau. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                              Maka, kampanye aneh mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain dengan ragam rupa dalih yang membingungkan, bukan saja sama sekali tidak tepat dan asal-asalan, namun bisa jadi akan ditertawakan oleh para petani yang begitu paham dengan kondisi lahan dan terutama kondisi iklim dan cuaca. Sulit mencari tanaman semusim yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Jika pun ada, tak ada yang semenguntungkan tanaman tembakau.
                                                                                              <\/p>\n ","post_title":"Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"keberhasilan-gerakan-anti-tembakau-tak-ada-tembakau-saat-musim-hujan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-07 12:16:02","post_modified_gmt":"2019-02-07 05:16:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5415","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5409,"post_author":"919","post_date":"2019-02-05 08:04:43","post_date_gmt":"2019-02-05 01:04:43","post_content":" \n

                                                                                              Tahun Baru Imlek yang merupakan tradisi Bangsa Tiongkok kini sudah tak lagi menjadi hal yang asing bagi masyarakat Indonesia. Kehadirannya sudah mewarnai dan berakulturasi dengan tradisi lokal. Menjelang Tahun Baru Imlek. Berbagai hiasan dan kemeriahan terjadi beberapa titik di Tanah Air. Perayaannya juga menjadi destinasi baru yang mengasyikkan untuk dilihat dan patut disaksikan.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                              Berterimakasihlah kepada sang bapak bangsa, KH Abdurrahman Wahid atau yang dikenal dengan nama Gus Dur. Berkat kebijakannya saat menjadi Presiden Indonesia, Tahun Baru Imlek resmi dijadikan hari libur nasional dan dianggap sebagai salah satu hari raya di Tanah Air. Meski sentimen antitionghoa masih ada di sana-sini, tapi tetap tak bisa dipungkiri bahwa bangsa tionghoa sudah bersentuhan dengan budaya lokal dalam kurun waktu yang sangat panjang.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                              DNA Bangsa Tionghoa yang memang merupakan pedagang menjadi pembuka kisah interaksi antara nenek moyang berbagai suku di Nusantara dengan mereka. Beberapa kelenteng-kelenteng yang tersebar pada berbagai pesisir daerah di Nusantara jadi buktinya. Pelabuhan-pelabuhan tua di tanah air dan ramainya perdagangan di pesisir mempermudah bangsa kita berhubungan dengan Bangsa Tionghoa.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                              Baca Juga: Wong Kalang dan Kota Gede<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                              Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa kehadiran Bangsa Tionghoa di Nusantara tak hanya sebagai pedagang, namun juga sebagai pekerja (bahkan hingga pekerja kasar). Benny Setiono, seorang sejarahwan menyebutkan bahwa antara tahun 1760-1770 dalam jumlah yang besar memasuki nusantara melalui Kalimantan Barat. Mereka bekerja sebagai kuli pertambangan di sana dan di kemudian hari membentuk sebuah republik bernama Republik Lanfang yang konon katanya menjadi republik pertama di Asia Tenggara.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                              Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                              Baca Juga: Imlek dan Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                              Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                              Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                              Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                              Baca Juga: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                              Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                              Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
                                                                                              <\/p>\n ","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_3o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                              \n

                                                                                              36 \u2013 45 \/ 50 HSS\t:\tPeriode stress air\/kering<\/p>\n \n\n\n

                                                                                              1. Penjarangan & Hardening<\/strong>
                                                                                                1. Penjarangan dilakukan agar jarak antara bibit ideal (4-5 cm) sehingga tidak<\/li><\/ol><\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                                                  terserang hama & penyakit. Penjarangan dilakukan pada umur bibit 21-25 hari dengan cara: basahi bedengan sore hari sebelumnya dan pagi hari sebelum bibit dicabut, cabut bibit  yang akan ditanami dengan hati-hati, tanam bibit pada bedengan yang kerapatan bibitnya jarang, siram bibit sesegera mungkin setelah dipindah.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                  1. Bibit dibiasakan untuk terkena sinar  matahari langsung. Tujuan hardening agar bibit dapat beradaptasi dan memperkuat jaringan daun, batang serta mengurangi resiko penyakit karena jamur. Pelaksanaan hardening mulai umur 21 HSS secara bertahap.Pada kondisi hujan tidak dianjurkan. <\/li>
                                                                                                  2. Klipping <\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                                                    1. Dilakukan antara jam 08.00 sampai 11.00 (usahakan cuaca cerah) <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                    2. Kliping dilakukan pada saat bibit pertumbuhannya terlalu lebat atau saling menutup batangnya. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                    3. Kliping adalah kegiatan memotong sebagian atau 2\/3 daun bibit tembakau. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                    4. Frekuensi kliping dilakukan bisa satu, dua kali atau lebih sesuai dengan perkembangan bibit dan persiapan lokasi areal tanam. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                    5 Lima sampai tujuh hari menjelang transplanting, kegiatan kliping sebaiknya sudah selesai. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                    Tujuan klipping: menjaga lingkungan bibit agar tidak lembab, <\/strong>memperbesar batan,menyeragamkan ukuran benih, dan memperkuat pertumbuhan akar <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                    1. Pencabutan Bibit, agar mendapatkan jarak tanam yang sesuai lahan <\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n
                                                                                                      \"\"\/<\/figure>\n \n\n \n
                                                                                                      \"\"\/<\/figure>\n \n\n \n

                                                                                                      Dalam satu hamparan direkomendasikan selesai tanam maksimal 3 Hari. Umur  tanaman akan menjadi sama atau seragam. Performance tanaman juga akan menjadi  seragam. Kemasakan daun pada saat petik juga menjadi seragam. Memudahkan pada saat  proses panen dan pasca panen. Tembakau kering yang dihasilkan pun juga seragam.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                      1. Pengendalian Hama & Penyakit<\/strong> <\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                                                        ~ Pada awal penyebaran benih direkomendasikan untuk melakukan penyemprotan fusngisida (jamur), seperti Previcur, Redomil & Antracol <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                        ~ Hama yang sering dijumpai: semut (Decis), janggel, orong-orong <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                        1. Tahapan Perawatan<\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n
                                                                                                          \"\"\/<\/figure>\n ","post_title":"Sukses Bertani Tembakau Bersama Kemitraan Djarum di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sukses-bertani-tembakau-bersama-kemitraan-djarum-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-11 12:32:18","post_modified_gmt":"2019-02-11 05:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5433","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5425,"post_author":"922","post_date":"2019-02-10 09:07:33","post_date_gmt":"2019-02-10 02:07:33","post_content":" \n

                                                                                                          Bahwa cengkeh [1] (Syzygium aromaticum) --bersama pala (Myristica fragrans)-- adalah dua tanaman asli (endemik) Kepulauan Maluku, sudah tak terbantahkan. Cengkeh dikenal dan diakui berasal dari \u2018Empat Pulau Gunung Maluku\u2019 (Maloko Kie Raha): Ternate, Tidore, Moti, dan Makian.
                                                                                                          <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                          Adapun pala, berasal dari empat pulau kecil lainnya di tengah Laut Banda: Lonthor, Neira, Rhun, dan Ai. Pada penjelasan peta abad-16 oleh penjelajah dari Semenanjung Iberia, Fransisco Rodriguez, tertulis: \u201cEstas quatro Ilhas Azures suam as de molluquo homde nace ho crauzo\u201d<\/em> (Adalah empat pulau berwarna biru [dalam peta] yang disebut sebagai Kepulauan Maluku di mana rempah-rempah berasal) (Pires, 1512- 1515:213).
                                                                                                          <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                          Sejak beberapa abad sebelum Masehi, adalah para saudagar Arab --melalui Samudera Hindia melintasi Iskandariyah dan Laut Tengah-- serta para pedagang Cina --melalui jalur \u2018Jalan Sutra\u2019 melintasi Asia Tengah dan Asia Barat-- yang membawa dan memperkenalkannya ke daratan Eropa. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                          Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                                          Bandar-bandar besar Tyre di Yunani dan Venesia di Italia menjadi pelabuhan utama rempah-rempah Maluku memasuki kehidupan dan peradaban Eropa. Selain sebagai bumbu masakan, rempah obat, dan ramuan wewangian, cengkeh dan pala juga menjadi bahan utama pengawet bahan pangan. [2]
                                                                                                          <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                          Inilah yang membuat orang-orang Eropa untuk pertama kalinya dapat mengawetkan dan menimbun makanan selama bermusim-musim. Prosa indah Blair bersaudara menggambarkannya dengan sangat baik:
                                                                                                          <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                          \u201cKemampuan menyimpan makanan lebih dari yang kami makan sekaligus berarti kemampuan menjual dan membelinya dalam jumlah besar --dan kota-kota dagang pun mekar. Perekonomian yang dihasilkannya mengarahkan kami ke zaman Pencerahan dan kemudian Revolusi Industri. Tak lama setelah kami menghirup aroma yang sangat kuat dari Timur itu dan mengubah kimiawi makanan kami, maka kami pun mampu melakukan lompatan besar dalam bidang budaya dan seni.\u201d (Blair & Blair, 2010; 30-31).<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

                                                                                                          Baca: Cengkeh dan Kelapa di Kepulauan Anambas<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                                          Bukan hanya membuat perekonomian dan perdagangan serta ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang, cengkeh dan pala bahkan adalah faktor yang paling menentukan dalam kemunculan satu babakan paling mengenaskan dalam sejarah politik dunia, yakni zaman penjajahan (kolonialisme) Eropa, terutama atas-atas negeri- negeri Asia Selatan, Timur dan Tenggara, termasuk Indonesia.
                                                                                                          <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                          Tergerak oleh sahwat menguasai rempah-rempah yang menggiurkan itu, bangsa-bangsa Eropa --terutama Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda-- pun menggelar ekspedisi-ekspedisi besar untuk menemukan cengkeh dan pala langsung di tanah asalnya. Ketika armada-armada mereka akhirnya mencapai perairan Kepulauan Maluku, pada abad-16, perang pun tak terhindarkan.
                                                                                                          <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                          Mereka silih berganti saling mengalahkan, tetapi pemenang terakhir adalah Belanda. Melalui Perusahaan Dagang Hindia Timur (Vereenigde Oostindische Compagnie, VOC) yang dibentuk pada awal abad-17 (tepatnya tahun 1609), Belanda melancarkan ekspedisi Pelayaran Hongi (Hongie Tochten), untuk memusnahkan semua tanaman cengkeh di Ternate, Tidore, Moti, dan Makian, lalu membatasi ketat penanamnya hanya di Pulau-pulau Ambon dan Lease --yang lebih dekat ke Banda sebagai pusat pemerintahan mereka sebelum akhirnya dipindahkan ke Batavia.
                                                                                                          <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                          Praktis, sejak akhir abad-16, Belanda pun menguasai penuh perdagangan rempah-rempah Maluku dengan jumlah produksi rerata 2.500 sampai 4.500 ton per tahun. [3]<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                          Baca: Budidaya Pohon Cengkeh<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                                          Meskipun peran utama rempah-rempah Maluku itu kemudian tergusur pada abad-18 dan 19 oleh beberapa barang eksotika tropis lainnya --hasil perkebunan-perkebunana besar baru di Pulau Sumatera dan Jawa: tebu, tembakau, lada, kopi, teh, nila, kelapa sawit, dan kayu jati-- namun sejarah sudah mencatat bahwa dua jenis rempah-rempah Maluku itulah yang mengawali penjelajahan sekaligus penjajahan kepulauan Nusantara oleh bangsa-bangsa Eropah, terutama Belanda (Topatimasang, ed., 2004:32). Jika saja tak pernah ada cengkeh dan pala di Maluku, mungkin sejarah kepulauan Nusantara ini akan berbeda sama sekali.
                                                                                                          <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                          Masa suram cengkeh dan pala terus berlangsung sampai pertengahan abad-20. Rempah eksotika yang pernah membuat tergila-gila<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                          para saudagar Arab, pedagang Cina, serta kaum ningrat Eropa itu, tergantikan perannya oleh penemuan teknologi mesin pendingin berkat Revolusi Industri yang dimulai di Inggris pada pertengahan abad-18. Pasaran cengkeh di Eropa pun merosot tajam.
                                                                                                          <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                          Nasibnya terselamatkan berkat penemuan oleh seorang Haji Djamhari di Kudus, Jawa Tengah. Pada akhir tahun 1880-an, Haji Djamhari menemukan kegunaan baru cengkeh sebagai ramuan utama rokok. Lahirlah satu produk baru yang unik, khas dan asli Indonesia: kretek! (Hanusz, 2000:ii).
                                                                                                          <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                          Setelah seperempat abad hanya berkembang dalam skala kecil usaha rumah tangga, produksi kretek akhirnya menjelma menjadi industri besar sejak awal abad-20 yang dirintis oleh Haji Nitisemito (pendiri pabrik \u2018Jambu Bol\u2019) di Kudus dan Liem Seng Tee (pendiri pabrik \u2018Dji Sam Soe\u2019 dan \u2018Sampoerna\u2019) di Surabaya.
                                                                                                          <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                          Puncaknya adalah pada pertengahan tahun 1950-an, ketika produksi kretek mulai berkembang pesat menjadi industri raksasa modern dengan munculnya beberapa pabrik baru, antara lain, yang terkemuka, oleh Oei Wei Gwan (pendiri pabrik \u2018Djarum\u2019) di Kudus dan Tjou Ing Hwie (pendiri pabrik \u2018Gudang Garam\u2019) di Kediri (Topatimasang, et.al., eds., 2010:131).<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                          Baca: Teruslah Menanam Tembakau dan Cengkeh, Wahai Petani Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                                          Cengkeh, bahan baku paling esensial dari kretek --selain tembakau, tentu saja-- pun kembali berjaya. Bahkan, sejak dasawarsa 1970an, telah menjadi salah satu penyumbang terbesar keuangan negara Republik Indonesia. Pada tahun 2012 dan 2013, pemasukan cukai dari industri kretek mencatat 95,5% dari seluruh pemasukan cukai ke kas negara. Nilainya tak tanggung-tanggung: Rp 87 triliun! (el-Guyanie, et.al.: 2013:4-5).<\/strong>
                                                                                                          <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                          Nilai ekonomisnya yang sangat besar sempat menggoda penguasa otoriter rezim Presiden Soeharto, pada 1990-an, memberlakukan satu kebijakan \u2018Hongi Gaya Baru\u2019: monopoli perdagangan cengkeh dalam negeri melalui Badan Penyanggah dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) yang sangat merugikan petani. Harga cengkeh di tingkat petani penghasil anjlok sampai hanya Rp 2.000 - 3.000 per kilogram, lebih murah dari harga sebungkus kretek yang dihasilkan darinya.
                                                                                                          <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                          Akibatnya, ratusan ribu pohon cengkeh di daerah-daerah penghasil utama --Maluku, Maluku Utara, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Selatan-- ditebangi atau dibiarkan terlantar tak terurus.
                                                                                                          <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                          Gelombang reformasi sistem politik dan hukum nasional yang dimulai pada tahun 1998, akhirnya menjungkalkan rezim Soeharto dan BPPC dibubarkan, Pelan tapi pasti, harga cengkeh kembali merangkak naik, sehingga pada tahun 2012, bahkan melewati angka Rp 200.000 per kilogram. Para petani cengkeh di seluruh negeri kembali tersenyum. Tetapi, sampai kapan? <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                          Catatan:<\/strong><\/p>\n \n\n \n

                                                                                                          [1] Beberapa sumber menyebutkan bahwa kata \u2018cengkeh\u2019 dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Mandarin, tkeng-his atau xi\u2019jia, yang berarti \u2018rempah [berbentuk mirip] paku\u2019 (scented nails). Ini menunjukkan bahwa cengkeh sudah dikenal sejak lama oleh bangsa Cina --diketahui sejak abad-2-- jauh sebelum orang Eropa mengenalnya ((lihat, misalnya: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n \n\n \n

                                                                                                          [2] Catatan-catatan para biarawan Fransiskan --yang disalin dan dikutip oleh van Frassen-- bahkan menyebut cengkeh sebagai salah satu bahan utama pengawet mumi para Fir\u2019aun, penguasa Mesir Kuno. Beberapa pakar sejarah dan arkeologi menyatakan bahwa rempah-rempah Maluku bahkan sudah ditemukan artefaknya di Lembah Mesopotomia (wilayah Iraq dan sekitarnya sekarang) pada 3.000 tahun sebelum Masehi. (lihat, antara lain: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n \n\n \n

                                                                                                          [3] Uraian lebih rinci sejarah kolonialisme rempah-rempah Nusantara ini, terutama oleh Belanda dan Portugis, dapat dibaca pada beberapa sumber kepustakaan yang sudah dikenal luas, antara lain: Glamann (1958) dan Boxer (1965 dan 1969). Dalam risalah klasik Pires disebutkan bahwa pada tahun 1512-1521 saja, jumlah produksi cengkeh di Maluku sudah mencapai 7.250 bahar per tahun, terbesar adalah di Makian serta Amboina dan Lease (masing-masing 1.500 bahar)(Pires, 1512-1515).<\/em>
                                                                                                          <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                          Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem Topatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
                                                                                                          <\/p>\n ","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-10 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-02-10 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5425","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5415,"post_author":"878","post_date":"2019-02-07 12:15:55","post_date_gmt":"2019-02-07 05:15:55","post_content":" \n

                                                                                                          Belakangan ini, ketika musim hujan tiba, di Kabupaten Temanggung, Kabupaten Jember, dan beberapa wilayah sentra pertanian tembakau lainnya, hampir mustahil menemukan tanaman tembakau tumbuh di lahan-lahan milik petani. Di wilayah-wilayah tersebut, citra sebagai sentra pertanian tembakau seakan menguap. Lahan-lahan yang ada di sana, sama sekali tidak ditumbuhi tanaman tembakau.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                          Kabar ini bisa jadi dianggap sebagai kabar gembira bagi mereka yang menganggap diri dan kelompoknya anti-rokok dan anti-tembakau yang selalu mengampanyekan sikap-sikap mereka terkait kebencian kepada tembakau dan aktivitas merokok. Setelah sekian lama berjuang, akhirnya perjuangan mereka dirasa berhasil usai menyaksikan fenomena lahan-lahan di wilayah yang dianggap sentra pertanian tembakau pada hari-hari belakangan ini.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                          Baca juga: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                                          Tak sia-sia turun ke jalan, tak sia-sia melakukan lobi-lobi ke penguasa, tak sia-sia mengucurkan uang yang tidak sedikit, dan tak sia-sia mempermalukan diri dengan mengemis ke lembaga donor asing dan menggondol uang dari cukai tembakau untuk mengampanyekan gerakan anti-rokok dan anti-tembakau. Tak sia-sia. Karena perjuangan sepertinya berhasil.<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

                                                                                                          Kampanye-kampanye gerakan mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya, sepertinya juga sangat berhasil. Bagaimana tidak? Wilayah-wilayah yang sebelumnya penuh dengan tanaman tembakau dan bergeliat dengannya, kini lahan-lahannya sudah berganti dengan tanaman lain. Sebuah keberhasilan yang menggembirakan. Begitu mungkin pikir mereka para yang menganggap dirinya pejuang anti-rokok dan anti-tembakau. Dan tentu saja mereka akan kecele dan kita akan menertawakan hal itu.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                          Sayangnya, mereka yang menganggap dirinya anti-rokok dan anti-tembakau tidak menyaksikan langsung fenomena ini di lapangan, di lahan-lahan yang peruntukannya berubah pada hari-hari belakangan ini ketika memasuki musim hujan. Mereka asyik duduk pada kursi empuk di ruang-ruang nyaman ber-AC di kota-kota yang jauh dari kultur pertanian. Mereka menyengajakan diri menjadi elit dan enggan untuk turun melihat langsung ke lapangan. Kalaupun ada yang turun langsung ke lapangan, hanya segelintir saja dari mereka, itupun sekadar formalitas saja. Tak pernah benar-benar mau turun ke lapangan, hidup dan merasakan langsung kultur pertanian tembakau dalam jangka waktu cukup lama di lapangan.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                          Baca juga: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                                          Fenomena ini membikin kita tak bisa melihat mereka para anti-rokok kecele lalu menertawakan mereka.<\/strong> Fenomena keengganan terjun langsung ke lapangan terlebih mencoba mendengar mereka yang tetap menanam tembakau, juga menjalani keseharian dalam waktu cukup lama bersama petani tembakau inilah yang saya kira menjadikan mereka tetap keras kepala untuk anti-rokok dan anti-tembakau. Karena jika mereka mau melakukan itu, saya yakin mereka semua tidak akan begitu kaku dalam memandang pertanian tembakau dan produk hasil industri tembakau.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                          Salah satu yang selalu mereka kampanyekan dan ngotot dengan itu, terkait hulu pertanian tembakau adalah mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya. Mereka berargumen banyak tanaman lain yang bisa semenguntungkan tanaman tembakau. Keengganan mereka terjun langsung ke lapangan inilah yang membikin mereka buta dengan kondisi pertanian tembakau dan pada akhirnya terus menerus mengampanyekan pergantian tanaman tembakau dengan tanaman lainnya.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                          Baca juga: Imanlah kepada Allah, Bukan Antirokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                                          Tembakau tanaman yang khas. Ia hanya tumbuh baik sepanjang empat hingga lima bulan dalam satu tahun. Tumbuh-kembang tanaman tembakau dengan baik itu umumnya terjadi pada musim kemarau setiap tahunnya. Hanya sedikit sekali jenis tembakau yang tumbuh baik di musim penghujan, mayoritasnya, tumbuh baik pada musim kemarau.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                          Jika ditanam pada musim hujan, hampir bisa dipastikan tanaman tembakau akan gagal menghasilkan daun-daun yang berkualitas. Ia akan rusak dan membusuk karena terlalu banyak terkena air sehingga daun-daun itu tak layak dijual. Jangankan bisa dijual, untuk tumbuh dengan baik pun sepertinya sulit karena musim hujan akan membunuh banyak tanaman itu.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                          Maka, tak heran pada musim-musim seperti saat ini, ketika musim penghujan mendekati puncaknya, di wilayah-wilayah yang dikenal sebagai sentra pertanian tembakau, sulit menemukan pohon tembakau yang sedang tumbuh. Pada lahan-lahan yang sebelumnya ditumbuhi tanaman tembakau pada musim panas, berganti tanaman-tanaman lain yang bermacam-macam, sesuai dengan kondisi lahannya. Untuk lahan sawah, lahan-lahan itu pada musim penghujan kini ditumbuhi tanaman padi yang subur. Pada lahan tegalan dan lahan di pegunungan, lahan-lahan yang ditanami tembakau pada musim kemarau, saat ini ditumbuhi bermacam jenis tanaman mulai dari cabai, bawang, tomat, kol, terong, mentimun, dan ragam jenis tanaman semusim lainnya.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                          Uniknya, tipikal tanaman tembakau yang tumbuh baik di musim kemarau ini memberi pilihan lebih kepada para petani. Lahan-lahan yang sulit ditanami pada musim kemarau, pada akhirnya masih bisa tetap produktif dengan keberadaan tanaman tembakau. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                          Maka, kampanye aneh mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain dengan ragam rupa dalih yang membingungkan, bukan saja sama sekali tidak tepat dan asal-asalan, namun bisa jadi akan ditertawakan oleh para petani yang begitu paham dengan kondisi lahan dan terutama kondisi iklim dan cuaca. Sulit mencari tanaman semusim yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Jika pun ada, tak ada yang semenguntungkan tanaman tembakau.
                                                                                                          <\/p>\n ","post_title":"Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"keberhasilan-gerakan-anti-tembakau-tak-ada-tembakau-saat-musim-hujan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-07 12:16:02","post_modified_gmt":"2019-02-07 05:16:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5415","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5409,"post_author":"919","post_date":"2019-02-05 08:04:43","post_date_gmt":"2019-02-05 01:04:43","post_content":" \n

                                                                                                          Tahun Baru Imlek yang merupakan tradisi Bangsa Tiongkok kini sudah tak lagi menjadi hal yang asing bagi masyarakat Indonesia. Kehadirannya sudah mewarnai dan berakulturasi dengan tradisi lokal. Menjelang Tahun Baru Imlek. Berbagai hiasan dan kemeriahan terjadi beberapa titik di Tanah Air. Perayaannya juga menjadi destinasi baru yang mengasyikkan untuk dilihat dan patut disaksikan.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                          Berterimakasihlah kepada sang bapak bangsa, KH Abdurrahman Wahid atau yang dikenal dengan nama Gus Dur. Berkat kebijakannya saat menjadi Presiden Indonesia, Tahun Baru Imlek resmi dijadikan hari libur nasional dan dianggap sebagai salah satu hari raya di Tanah Air. Meski sentimen antitionghoa masih ada di sana-sini, tapi tetap tak bisa dipungkiri bahwa bangsa tionghoa sudah bersentuhan dengan budaya lokal dalam kurun waktu yang sangat panjang.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                          DNA Bangsa Tionghoa yang memang merupakan pedagang menjadi pembuka kisah interaksi antara nenek moyang berbagai suku di Nusantara dengan mereka. Beberapa kelenteng-kelenteng yang tersebar pada berbagai pesisir daerah di Nusantara jadi buktinya. Pelabuhan-pelabuhan tua di tanah air dan ramainya perdagangan di pesisir mempermudah bangsa kita berhubungan dengan Bangsa Tionghoa.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                          Baca Juga: Wong Kalang dan Kota Gede<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                                          Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa kehadiran Bangsa Tionghoa di Nusantara tak hanya sebagai pedagang, namun juga sebagai pekerja (bahkan hingga pekerja kasar). Benny Setiono, seorang sejarahwan menyebutkan bahwa antara tahun 1760-1770 dalam jumlah yang besar memasuki nusantara melalui Kalimantan Barat. Mereka bekerja sebagai kuli pertambangan di sana dan di kemudian hari membentuk sebuah republik bernama Republik Lanfang yang konon katanya menjadi republik pertama di Asia Tenggara.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                          Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                          Baca Juga: Imlek dan Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                                          Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                          Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                          Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                          Baca Juga: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                                          Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                          Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
                                                                                                          <\/p>\n ","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_3o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                          \n

                                                                                                          22 \u2013 35 HSS\t\t:\t1x Sehari <\/p>\n \n\n\n

                                                                                                          36 \u2013 45 \/ 50 HSS\t:\tPeriode stress air\/kering<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                          1. Penjarangan & Hardening<\/strong>
                                                                                                            1. Penjarangan dilakukan agar jarak antara bibit ideal (4-5 cm) sehingga tidak<\/li><\/ol><\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                                                              terserang hama & penyakit. Penjarangan dilakukan pada umur bibit 21-25 hari dengan cara: basahi bedengan sore hari sebelumnya dan pagi hari sebelum bibit dicabut, cabut bibit  yang akan ditanami dengan hati-hati, tanam bibit pada bedengan yang kerapatan bibitnya jarang, siram bibit sesegera mungkin setelah dipindah.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                              1. Bibit dibiasakan untuk terkena sinar  matahari langsung. Tujuan hardening agar bibit dapat beradaptasi dan memperkuat jaringan daun, batang serta mengurangi resiko penyakit karena jamur. Pelaksanaan hardening mulai umur 21 HSS secara bertahap.Pada kondisi hujan tidak dianjurkan. <\/li>
                                                                                                              2. Klipping <\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                                                                1. Dilakukan antara jam 08.00 sampai 11.00 (usahakan cuaca cerah) <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                2. Kliping dilakukan pada saat bibit pertumbuhannya terlalu lebat atau saling menutup batangnya. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                3. Kliping adalah kegiatan memotong sebagian atau 2\/3 daun bibit tembakau. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                4. Frekuensi kliping dilakukan bisa satu, dua kali atau lebih sesuai dengan perkembangan bibit dan persiapan lokasi areal tanam. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                5 Lima sampai tujuh hari menjelang transplanting, kegiatan kliping sebaiknya sudah selesai. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                Tujuan klipping: menjaga lingkungan bibit agar tidak lembab, <\/strong>memperbesar batan,menyeragamkan ukuran benih, dan memperkuat pertumbuhan akar <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                1. Pencabutan Bibit, agar mendapatkan jarak tanam yang sesuai lahan <\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n
                                                                                                                  \"\"\/<\/figure>\n \n\n \n
                                                                                                                  \"\"\/<\/figure>\n \n\n \n

                                                                                                                  Dalam satu hamparan direkomendasikan selesai tanam maksimal 3 Hari. Umur  tanaman akan menjadi sama atau seragam. Performance tanaman juga akan menjadi  seragam. Kemasakan daun pada saat petik juga menjadi seragam. Memudahkan pada saat  proses panen dan pasca panen. Tembakau kering yang dihasilkan pun juga seragam.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                  1. Pengendalian Hama & Penyakit<\/strong> <\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                                                                    ~ Pada awal penyebaran benih direkomendasikan untuk melakukan penyemprotan fusngisida (jamur), seperti Previcur, Redomil & Antracol <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                    ~ Hama yang sering dijumpai: semut (Decis), janggel, orong-orong <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                    1. Tahapan Perawatan<\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n
                                                                                                                      \"\"\/<\/figure>\n ","post_title":"Sukses Bertani Tembakau Bersama Kemitraan Djarum di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sukses-bertani-tembakau-bersama-kemitraan-djarum-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-11 12:32:18","post_modified_gmt":"2019-02-11 05:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5433","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5425,"post_author":"922","post_date":"2019-02-10 09:07:33","post_date_gmt":"2019-02-10 02:07:33","post_content":" \n

                                                                                                                      Bahwa cengkeh [1] (Syzygium aromaticum) --bersama pala (Myristica fragrans)-- adalah dua tanaman asli (endemik) Kepulauan Maluku, sudah tak terbantahkan. Cengkeh dikenal dan diakui berasal dari \u2018Empat Pulau Gunung Maluku\u2019 (Maloko Kie Raha): Ternate, Tidore, Moti, dan Makian.
                                                                                                                      <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                      Adapun pala, berasal dari empat pulau kecil lainnya di tengah Laut Banda: Lonthor, Neira, Rhun, dan Ai. Pada penjelasan peta abad-16 oleh penjelajah dari Semenanjung Iberia, Fransisco Rodriguez, tertulis: \u201cEstas quatro Ilhas Azures suam as de molluquo homde nace ho crauzo\u201d<\/em> (Adalah empat pulau berwarna biru [dalam peta] yang disebut sebagai Kepulauan Maluku di mana rempah-rempah berasal) (Pires, 1512- 1515:213).
                                                                                                                      <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                      Sejak beberapa abad sebelum Masehi, adalah para saudagar Arab --melalui Samudera Hindia melintasi Iskandariyah dan Laut Tengah-- serta para pedagang Cina --melalui jalur \u2018Jalan Sutra\u2019 melintasi Asia Tengah dan Asia Barat-- yang membawa dan memperkenalkannya ke daratan Eropa. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                      Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                                                      Bandar-bandar besar Tyre di Yunani dan Venesia di Italia menjadi pelabuhan utama rempah-rempah Maluku memasuki kehidupan dan peradaban Eropa. Selain sebagai bumbu masakan, rempah obat, dan ramuan wewangian, cengkeh dan pala juga menjadi bahan utama pengawet bahan pangan. [2]
                                                                                                                      <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                      Inilah yang membuat orang-orang Eropa untuk pertama kalinya dapat mengawetkan dan menimbun makanan selama bermusim-musim. Prosa indah Blair bersaudara menggambarkannya dengan sangat baik:
                                                                                                                      <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                      \u201cKemampuan menyimpan makanan lebih dari yang kami makan sekaligus berarti kemampuan menjual dan membelinya dalam jumlah besar --dan kota-kota dagang pun mekar. Perekonomian yang dihasilkannya mengarahkan kami ke zaman Pencerahan dan kemudian Revolusi Industri. Tak lama setelah kami menghirup aroma yang sangat kuat dari Timur itu dan mengubah kimiawi makanan kami, maka kami pun mampu melakukan lompatan besar dalam bidang budaya dan seni.\u201d (Blair & Blair, 2010; 30-31).<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

                                                                                                                      Baca: Cengkeh dan Kelapa di Kepulauan Anambas<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                                                      Bukan hanya membuat perekonomian dan perdagangan serta ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang, cengkeh dan pala bahkan adalah faktor yang paling menentukan dalam kemunculan satu babakan paling mengenaskan dalam sejarah politik dunia, yakni zaman penjajahan (kolonialisme) Eropa, terutama atas-atas negeri- negeri Asia Selatan, Timur dan Tenggara, termasuk Indonesia.
                                                                                                                      <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                      Tergerak oleh sahwat menguasai rempah-rempah yang menggiurkan itu, bangsa-bangsa Eropa --terutama Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda-- pun menggelar ekspedisi-ekspedisi besar untuk menemukan cengkeh dan pala langsung di tanah asalnya. Ketika armada-armada mereka akhirnya mencapai perairan Kepulauan Maluku, pada abad-16, perang pun tak terhindarkan.
                                                                                                                      <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                      Mereka silih berganti saling mengalahkan, tetapi pemenang terakhir adalah Belanda. Melalui Perusahaan Dagang Hindia Timur (Vereenigde Oostindische Compagnie, VOC) yang dibentuk pada awal abad-17 (tepatnya tahun 1609), Belanda melancarkan ekspedisi Pelayaran Hongi (Hongie Tochten), untuk memusnahkan semua tanaman cengkeh di Ternate, Tidore, Moti, dan Makian, lalu membatasi ketat penanamnya hanya di Pulau-pulau Ambon dan Lease --yang lebih dekat ke Banda sebagai pusat pemerintahan mereka sebelum akhirnya dipindahkan ke Batavia.
                                                                                                                      <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                      Praktis, sejak akhir abad-16, Belanda pun menguasai penuh perdagangan rempah-rempah Maluku dengan jumlah produksi rerata 2.500 sampai 4.500 ton per tahun. [3]<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                      Baca: Budidaya Pohon Cengkeh<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                                                      Meskipun peran utama rempah-rempah Maluku itu kemudian tergusur pada abad-18 dan 19 oleh beberapa barang eksotika tropis lainnya --hasil perkebunan-perkebunana besar baru di Pulau Sumatera dan Jawa: tebu, tembakau, lada, kopi, teh, nila, kelapa sawit, dan kayu jati-- namun sejarah sudah mencatat bahwa dua jenis rempah-rempah Maluku itulah yang mengawali penjelajahan sekaligus penjajahan kepulauan Nusantara oleh bangsa-bangsa Eropah, terutama Belanda (Topatimasang, ed., 2004:32). Jika saja tak pernah ada cengkeh dan pala di Maluku, mungkin sejarah kepulauan Nusantara ini akan berbeda sama sekali.
                                                                                                                      <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                      Masa suram cengkeh dan pala terus berlangsung sampai pertengahan abad-20. Rempah eksotika yang pernah membuat tergila-gila<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                      para saudagar Arab, pedagang Cina, serta kaum ningrat Eropa itu, tergantikan perannya oleh penemuan teknologi mesin pendingin berkat Revolusi Industri yang dimulai di Inggris pada pertengahan abad-18. Pasaran cengkeh di Eropa pun merosot tajam.
                                                                                                                      <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                      Nasibnya terselamatkan berkat penemuan oleh seorang Haji Djamhari di Kudus, Jawa Tengah. Pada akhir tahun 1880-an, Haji Djamhari menemukan kegunaan baru cengkeh sebagai ramuan utama rokok. Lahirlah satu produk baru yang unik, khas dan asli Indonesia: kretek! (Hanusz, 2000:ii).
                                                                                                                      <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                      Setelah seperempat abad hanya berkembang dalam skala kecil usaha rumah tangga, produksi kretek akhirnya menjelma menjadi industri besar sejak awal abad-20 yang dirintis oleh Haji Nitisemito (pendiri pabrik \u2018Jambu Bol\u2019) di Kudus dan Liem Seng Tee (pendiri pabrik \u2018Dji Sam Soe\u2019 dan \u2018Sampoerna\u2019) di Surabaya.
                                                                                                                      <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                      Puncaknya adalah pada pertengahan tahun 1950-an, ketika produksi kretek mulai berkembang pesat menjadi industri raksasa modern dengan munculnya beberapa pabrik baru, antara lain, yang terkemuka, oleh Oei Wei Gwan (pendiri pabrik \u2018Djarum\u2019) di Kudus dan Tjou Ing Hwie (pendiri pabrik \u2018Gudang Garam\u2019) di Kediri (Topatimasang, et.al., eds., 2010:131).<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                      Baca: Teruslah Menanam Tembakau dan Cengkeh, Wahai Petani Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                                                      Cengkeh, bahan baku paling esensial dari kretek --selain tembakau, tentu saja-- pun kembali berjaya. Bahkan, sejak dasawarsa 1970an, telah menjadi salah satu penyumbang terbesar keuangan negara Republik Indonesia. Pada tahun 2012 dan 2013, pemasukan cukai dari industri kretek mencatat 95,5% dari seluruh pemasukan cukai ke kas negara. Nilainya tak tanggung-tanggung: Rp 87 triliun! (el-Guyanie, et.al.: 2013:4-5).<\/strong>
                                                                                                                      <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                      Nilai ekonomisnya yang sangat besar sempat menggoda penguasa otoriter rezim Presiden Soeharto, pada 1990-an, memberlakukan satu kebijakan \u2018Hongi Gaya Baru\u2019: monopoli perdagangan cengkeh dalam negeri melalui Badan Penyanggah dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) yang sangat merugikan petani. Harga cengkeh di tingkat petani penghasil anjlok sampai hanya Rp 2.000 - 3.000 per kilogram, lebih murah dari harga sebungkus kretek yang dihasilkan darinya.
                                                                                                                      <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                      Akibatnya, ratusan ribu pohon cengkeh di daerah-daerah penghasil utama --Maluku, Maluku Utara, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Selatan-- ditebangi atau dibiarkan terlantar tak terurus.
                                                                                                                      <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                      Gelombang reformasi sistem politik dan hukum nasional yang dimulai pada tahun 1998, akhirnya menjungkalkan rezim Soeharto dan BPPC dibubarkan, Pelan tapi pasti, harga cengkeh kembali merangkak naik, sehingga pada tahun 2012, bahkan melewati angka Rp 200.000 per kilogram. Para petani cengkeh di seluruh negeri kembali tersenyum. Tetapi, sampai kapan? <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                      Catatan:<\/strong><\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                      [1] Beberapa sumber menyebutkan bahwa kata \u2018cengkeh\u2019 dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Mandarin, tkeng-his atau xi\u2019jia, yang berarti \u2018rempah [berbentuk mirip] paku\u2019 (scented nails). Ini menunjukkan bahwa cengkeh sudah dikenal sejak lama oleh bangsa Cina --diketahui sejak abad-2-- jauh sebelum orang Eropa mengenalnya ((lihat, misalnya: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                      [2] Catatan-catatan para biarawan Fransiskan --yang disalin dan dikutip oleh van Frassen-- bahkan menyebut cengkeh sebagai salah satu bahan utama pengawet mumi para Fir\u2019aun, penguasa Mesir Kuno. Beberapa pakar sejarah dan arkeologi menyatakan bahwa rempah-rempah Maluku bahkan sudah ditemukan artefaknya di Lembah Mesopotomia (wilayah Iraq dan sekitarnya sekarang) pada 3.000 tahun sebelum Masehi. (lihat, antara lain: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                      [3] Uraian lebih rinci sejarah kolonialisme rempah-rempah Nusantara ini, terutama oleh Belanda dan Portugis, dapat dibaca pada beberapa sumber kepustakaan yang sudah dikenal luas, antara lain: Glamann (1958) dan Boxer (1965 dan 1969). Dalam risalah klasik Pires disebutkan bahwa pada tahun 1512-1521 saja, jumlah produksi cengkeh di Maluku sudah mencapai 7.250 bahar per tahun, terbesar adalah di Makian serta Amboina dan Lease (masing-masing 1.500 bahar)(Pires, 1512-1515).<\/em>
                                                                                                                      <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                      Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem Topatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
                                                                                                                      <\/p>\n ","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-10 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-02-10 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5425","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5415,"post_author":"878","post_date":"2019-02-07 12:15:55","post_date_gmt":"2019-02-07 05:15:55","post_content":" \n

                                                                                                                      Belakangan ini, ketika musim hujan tiba, di Kabupaten Temanggung, Kabupaten Jember, dan beberapa wilayah sentra pertanian tembakau lainnya, hampir mustahil menemukan tanaman tembakau tumbuh di lahan-lahan milik petani. Di wilayah-wilayah tersebut, citra sebagai sentra pertanian tembakau seakan menguap. Lahan-lahan yang ada di sana, sama sekali tidak ditumbuhi tanaman tembakau.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                      Kabar ini bisa jadi dianggap sebagai kabar gembira bagi mereka yang menganggap diri dan kelompoknya anti-rokok dan anti-tembakau yang selalu mengampanyekan sikap-sikap mereka terkait kebencian kepada tembakau dan aktivitas merokok. Setelah sekian lama berjuang, akhirnya perjuangan mereka dirasa berhasil usai menyaksikan fenomena lahan-lahan di wilayah yang dianggap sentra pertanian tembakau pada hari-hari belakangan ini.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                      Baca juga: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                                                      Tak sia-sia turun ke jalan, tak sia-sia melakukan lobi-lobi ke penguasa, tak sia-sia mengucurkan uang yang tidak sedikit, dan tak sia-sia mempermalukan diri dengan mengemis ke lembaga donor asing dan menggondol uang dari cukai tembakau untuk mengampanyekan gerakan anti-rokok dan anti-tembakau. Tak sia-sia. Karena perjuangan sepertinya berhasil.<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

                                                                                                                      Kampanye-kampanye gerakan mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya, sepertinya juga sangat berhasil. Bagaimana tidak? Wilayah-wilayah yang sebelumnya penuh dengan tanaman tembakau dan bergeliat dengannya, kini lahan-lahannya sudah berganti dengan tanaman lain. Sebuah keberhasilan yang menggembirakan. Begitu mungkin pikir mereka para yang menganggap dirinya pejuang anti-rokok dan anti-tembakau. Dan tentu saja mereka akan kecele dan kita akan menertawakan hal itu.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                      Sayangnya, mereka yang menganggap dirinya anti-rokok dan anti-tembakau tidak menyaksikan langsung fenomena ini di lapangan, di lahan-lahan yang peruntukannya berubah pada hari-hari belakangan ini ketika memasuki musim hujan. Mereka asyik duduk pada kursi empuk di ruang-ruang nyaman ber-AC di kota-kota yang jauh dari kultur pertanian. Mereka menyengajakan diri menjadi elit dan enggan untuk turun melihat langsung ke lapangan. Kalaupun ada yang turun langsung ke lapangan, hanya segelintir saja dari mereka, itupun sekadar formalitas saja. Tak pernah benar-benar mau turun ke lapangan, hidup dan merasakan langsung kultur pertanian tembakau dalam jangka waktu cukup lama di lapangan.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                      Baca juga: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                                                      Fenomena ini membikin kita tak bisa melihat mereka para anti-rokok kecele lalu menertawakan mereka.<\/strong> Fenomena keengganan terjun langsung ke lapangan terlebih mencoba mendengar mereka yang tetap menanam tembakau, juga menjalani keseharian dalam waktu cukup lama bersama petani tembakau inilah yang saya kira menjadikan mereka tetap keras kepala untuk anti-rokok dan anti-tembakau. Karena jika mereka mau melakukan itu, saya yakin mereka semua tidak akan begitu kaku dalam memandang pertanian tembakau dan produk hasil industri tembakau.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                      Salah satu yang selalu mereka kampanyekan dan ngotot dengan itu, terkait hulu pertanian tembakau adalah mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya. Mereka berargumen banyak tanaman lain yang bisa semenguntungkan tanaman tembakau. Keengganan mereka terjun langsung ke lapangan inilah yang membikin mereka buta dengan kondisi pertanian tembakau dan pada akhirnya terus menerus mengampanyekan pergantian tanaman tembakau dengan tanaman lainnya.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                      Baca juga: Imanlah kepada Allah, Bukan Antirokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                                                      Tembakau tanaman yang khas. Ia hanya tumbuh baik sepanjang empat hingga lima bulan dalam satu tahun. Tumbuh-kembang tanaman tembakau dengan baik itu umumnya terjadi pada musim kemarau setiap tahunnya. Hanya sedikit sekali jenis tembakau yang tumbuh baik di musim penghujan, mayoritasnya, tumbuh baik pada musim kemarau.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                      Jika ditanam pada musim hujan, hampir bisa dipastikan tanaman tembakau akan gagal menghasilkan daun-daun yang berkualitas. Ia akan rusak dan membusuk karena terlalu banyak terkena air sehingga daun-daun itu tak layak dijual. Jangankan bisa dijual, untuk tumbuh dengan baik pun sepertinya sulit karena musim hujan akan membunuh banyak tanaman itu.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                      Maka, tak heran pada musim-musim seperti saat ini, ketika musim penghujan mendekati puncaknya, di wilayah-wilayah yang dikenal sebagai sentra pertanian tembakau, sulit menemukan pohon tembakau yang sedang tumbuh. Pada lahan-lahan yang sebelumnya ditumbuhi tanaman tembakau pada musim panas, berganti tanaman-tanaman lain yang bermacam-macam, sesuai dengan kondisi lahannya. Untuk lahan sawah, lahan-lahan itu pada musim penghujan kini ditumbuhi tanaman padi yang subur. Pada lahan tegalan dan lahan di pegunungan, lahan-lahan yang ditanami tembakau pada musim kemarau, saat ini ditumbuhi bermacam jenis tanaman mulai dari cabai, bawang, tomat, kol, terong, mentimun, dan ragam jenis tanaman semusim lainnya.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                      Uniknya, tipikal tanaman tembakau yang tumbuh baik di musim kemarau ini memberi pilihan lebih kepada para petani. Lahan-lahan yang sulit ditanami pada musim kemarau, pada akhirnya masih bisa tetap produktif dengan keberadaan tanaman tembakau. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                      Maka, kampanye aneh mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain dengan ragam rupa dalih yang membingungkan, bukan saja sama sekali tidak tepat dan asal-asalan, namun bisa jadi akan ditertawakan oleh para petani yang begitu paham dengan kondisi lahan dan terutama kondisi iklim dan cuaca. Sulit mencari tanaman semusim yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Jika pun ada, tak ada yang semenguntungkan tanaman tembakau.
                                                                                                                      <\/p>\n ","post_title":"Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"keberhasilan-gerakan-anti-tembakau-tak-ada-tembakau-saat-musim-hujan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-07 12:16:02","post_modified_gmt":"2019-02-07 05:16:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5415","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5409,"post_author":"919","post_date":"2019-02-05 08:04:43","post_date_gmt":"2019-02-05 01:04:43","post_content":" \n

                                                                                                                      Tahun Baru Imlek yang merupakan tradisi Bangsa Tiongkok kini sudah tak lagi menjadi hal yang asing bagi masyarakat Indonesia. Kehadirannya sudah mewarnai dan berakulturasi dengan tradisi lokal. Menjelang Tahun Baru Imlek. Berbagai hiasan dan kemeriahan terjadi beberapa titik di Tanah Air. Perayaannya juga menjadi destinasi baru yang mengasyikkan untuk dilihat dan patut disaksikan.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                      Berterimakasihlah kepada sang bapak bangsa, KH Abdurrahman Wahid atau yang dikenal dengan nama Gus Dur. Berkat kebijakannya saat menjadi Presiden Indonesia, Tahun Baru Imlek resmi dijadikan hari libur nasional dan dianggap sebagai salah satu hari raya di Tanah Air. Meski sentimen antitionghoa masih ada di sana-sini, tapi tetap tak bisa dipungkiri bahwa bangsa tionghoa sudah bersentuhan dengan budaya lokal dalam kurun waktu yang sangat panjang.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                      DNA Bangsa Tionghoa yang memang merupakan pedagang menjadi pembuka kisah interaksi antara nenek moyang berbagai suku di Nusantara dengan mereka. Beberapa kelenteng-kelenteng yang tersebar pada berbagai pesisir daerah di Nusantara jadi buktinya. Pelabuhan-pelabuhan tua di tanah air dan ramainya perdagangan di pesisir mempermudah bangsa kita berhubungan dengan Bangsa Tionghoa.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                      Baca Juga: Wong Kalang dan Kota Gede<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                                                      Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa kehadiran Bangsa Tionghoa di Nusantara tak hanya sebagai pedagang, namun juga sebagai pekerja (bahkan hingga pekerja kasar). Benny Setiono, seorang sejarahwan menyebutkan bahwa antara tahun 1760-1770 dalam jumlah yang besar memasuki nusantara melalui Kalimantan Barat. Mereka bekerja sebagai kuli pertambangan di sana dan di kemudian hari membentuk sebuah republik bernama Republik Lanfang yang konon katanya menjadi republik pertama di Asia Tenggara.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                      Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                      Baca Juga: Imlek dan Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                                                      Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                      Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                      Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                      Baca Juga: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                                                      Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                      Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
                                                                                                                      <\/p>\n ","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_3o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                      \n

                                                                                                                      11 \u2013 21 HSS\t\t:\t2x Sehari <\/p>\n \n\n\n

                                                                                                                      22 \u2013 35 HSS\t\t:\t1x Sehari <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                      36 \u2013 45 \/ 50 HSS\t:\tPeriode stress air\/kering<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                      1. Penjarangan & Hardening<\/strong>
                                                                                                                        1. Penjarangan dilakukan agar jarak antara bibit ideal (4-5 cm) sehingga tidak<\/li><\/ol><\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                                                                          terserang hama & penyakit. Penjarangan dilakukan pada umur bibit 21-25 hari dengan cara: basahi bedengan sore hari sebelumnya dan pagi hari sebelum bibit dicabut, cabut bibit  yang akan ditanami dengan hati-hati, tanam bibit pada bedengan yang kerapatan bibitnya jarang, siram bibit sesegera mungkin setelah dipindah.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                          1. Bibit dibiasakan untuk terkena sinar  matahari langsung. Tujuan hardening agar bibit dapat beradaptasi dan memperkuat jaringan daun, batang serta mengurangi resiko penyakit karena jamur. Pelaksanaan hardening mulai umur 21 HSS secara bertahap.Pada kondisi hujan tidak dianjurkan. <\/li>
                                                                                                                          2. Klipping <\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                                                                            1. Dilakukan antara jam 08.00 sampai 11.00 (usahakan cuaca cerah) <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                            2. Kliping dilakukan pada saat bibit pertumbuhannya terlalu lebat atau saling menutup batangnya. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                            3. Kliping adalah kegiatan memotong sebagian atau 2\/3 daun bibit tembakau. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                            4. Frekuensi kliping dilakukan bisa satu, dua kali atau lebih sesuai dengan perkembangan bibit dan persiapan lokasi areal tanam. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                            5 Lima sampai tujuh hari menjelang transplanting, kegiatan kliping sebaiknya sudah selesai. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                            Tujuan klipping: menjaga lingkungan bibit agar tidak lembab, <\/strong>memperbesar batan,menyeragamkan ukuran benih, dan memperkuat pertumbuhan akar <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                            1. Pencabutan Bibit, agar mendapatkan jarak tanam yang sesuai lahan <\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n
                                                                                                                              \"\"\/<\/figure>\n \n\n \n
                                                                                                                              \"\"\/<\/figure>\n \n\n \n

                                                                                                                              Dalam satu hamparan direkomendasikan selesai tanam maksimal 3 Hari. Umur  tanaman akan menjadi sama atau seragam. Performance tanaman juga akan menjadi  seragam. Kemasakan daun pada saat petik juga menjadi seragam. Memudahkan pada saat  proses panen dan pasca panen. Tembakau kering yang dihasilkan pun juga seragam.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                              1. Pengendalian Hama & Penyakit<\/strong> <\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                                                                                ~ Pada awal penyebaran benih direkomendasikan untuk melakukan penyemprotan fusngisida (jamur), seperti Previcur, Redomil & Antracol <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                ~ Hama yang sering dijumpai: semut (Decis), janggel, orong-orong <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                1. Tahapan Perawatan<\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n
                                                                                                                                  \"\"\/<\/figure>\n ","post_title":"Sukses Bertani Tembakau Bersama Kemitraan Djarum di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sukses-bertani-tembakau-bersama-kemitraan-djarum-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-11 12:32:18","post_modified_gmt":"2019-02-11 05:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5433","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5425,"post_author":"922","post_date":"2019-02-10 09:07:33","post_date_gmt":"2019-02-10 02:07:33","post_content":" \n

                                                                                                                                  Bahwa cengkeh [1] (Syzygium aromaticum) --bersama pala (Myristica fragrans)-- adalah dua tanaman asli (endemik) Kepulauan Maluku, sudah tak terbantahkan. Cengkeh dikenal dan diakui berasal dari \u2018Empat Pulau Gunung Maluku\u2019 (Maloko Kie Raha): Ternate, Tidore, Moti, dan Makian.
                                                                                                                                  <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                  Adapun pala, berasal dari empat pulau kecil lainnya di tengah Laut Banda: Lonthor, Neira, Rhun, dan Ai. Pada penjelasan peta abad-16 oleh penjelajah dari Semenanjung Iberia, Fransisco Rodriguez, tertulis: \u201cEstas quatro Ilhas Azures suam as de molluquo homde nace ho crauzo\u201d<\/em> (Adalah empat pulau berwarna biru [dalam peta] yang disebut sebagai Kepulauan Maluku di mana rempah-rempah berasal) (Pires, 1512- 1515:213).
                                                                                                                                  <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                  Sejak beberapa abad sebelum Masehi, adalah para saudagar Arab --melalui Samudera Hindia melintasi Iskandariyah dan Laut Tengah-- serta para pedagang Cina --melalui jalur \u2018Jalan Sutra\u2019 melintasi Asia Tengah dan Asia Barat-- yang membawa dan memperkenalkannya ke daratan Eropa. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                  Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                                                                  Bandar-bandar besar Tyre di Yunani dan Venesia di Italia menjadi pelabuhan utama rempah-rempah Maluku memasuki kehidupan dan peradaban Eropa. Selain sebagai bumbu masakan, rempah obat, dan ramuan wewangian, cengkeh dan pala juga menjadi bahan utama pengawet bahan pangan. [2]
                                                                                                                                  <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                  Inilah yang membuat orang-orang Eropa untuk pertama kalinya dapat mengawetkan dan menimbun makanan selama bermusim-musim. Prosa indah Blair bersaudara menggambarkannya dengan sangat baik:
                                                                                                                                  <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                  \u201cKemampuan menyimpan makanan lebih dari yang kami makan sekaligus berarti kemampuan menjual dan membelinya dalam jumlah besar --dan kota-kota dagang pun mekar. Perekonomian yang dihasilkannya mengarahkan kami ke zaman Pencerahan dan kemudian Revolusi Industri. Tak lama setelah kami menghirup aroma yang sangat kuat dari Timur itu dan mengubah kimiawi makanan kami, maka kami pun mampu melakukan lompatan besar dalam bidang budaya dan seni.\u201d (Blair & Blair, 2010; 30-31).<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

                                                                                                                                  Baca: Cengkeh dan Kelapa di Kepulauan Anambas<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                                                                  Bukan hanya membuat perekonomian dan perdagangan serta ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang, cengkeh dan pala bahkan adalah faktor yang paling menentukan dalam kemunculan satu babakan paling mengenaskan dalam sejarah politik dunia, yakni zaman penjajahan (kolonialisme) Eropa, terutama atas-atas negeri- negeri Asia Selatan, Timur dan Tenggara, termasuk Indonesia.
                                                                                                                                  <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                  Tergerak oleh sahwat menguasai rempah-rempah yang menggiurkan itu, bangsa-bangsa Eropa --terutama Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda-- pun menggelar ekspedisi-ekspedisi besar untuk menemukan cengkeh dan pala langsung di tanah asalnya. Ketika armada-armada mereka akhirnya mencapai perairan Kepulauan Maluku, pada abad-16, perang pun tak terhindarkan.
                                                                                                                                  <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                  Mereka silih berganti saling mengalahkan, tetapi pemenang terakhir adalah Belanda. Melalui Perusahaan Dagang Hindia Timur (Vereenigde Oostindische Compagnie, VOC) yang dibentuk pada awal abad-17 (tepatnya tahun 1609), Belanda melancarkan ekspedisi Pelayaran Hongi (Hongie Tochten), untuk memusnahkan semua tanaman cengkeh di Ternate, Tidore, Moti, dan Makian, lalu membatasi ketat penanamnya hanya di Pulau-pulau Ambon dan Lease --yang lebih dekat ke Banda sebagai pusat pemerintahan mereka sebelum akhirnya dipindahkan ke Batavia.
                                                                                                                                  <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                  Praktis, sejak akhir abad-16, Belanda pun menguasai penuh perdagangan rempah-rempah Maluku dengan jumlah produksi rerata 2.500 sampai 4.500 ton per tahun. [3]<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                  Baca: Budidaya Pohon Cengkeh<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                                                                  Meskipun peran utama rempah-rempah Maluku itu kemudian tergusur pada abad-18 dan 19 oleh beberapa barang eksotika tropis lainnya --hasil perkebunan-perkebunana besar baru di Pulau Sumatera dan Jawa: tebu, tembakau, lada, kopi, teh, nila, kelapa sawit, dan kayu jati-- namun sejarah sudah mencatat bahwa dua jenis rempah-rempah Maluku itulah yang mengawali penjelajahan sekaligus penjajahan kepulauan Nusantara oleh bangsa-bangsa Eropah, terutama Belanda (Topatimasang, ed., 2004:32). Jika saja tak pernah ada cengkeh dan pala di Maluku, mungkin sejarah kepulauan Nusantara ini akan berbeda sama sekali.
                                                                                                                                  <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                  Masa suram cengkeh dan pala terus berlangsung sampai pertengahan abad-20. Rempah eksotika yang pernah membuat tergila-gila<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                  para saudagar Arab, pedagang Cina, serta kaum ningrat Eropa itu, tergantikan perannya oleh penemuan teknologi mesin pendingin berkat Revolusi Industri yang dimulai di Inggris pada pertengahan abad-18. Pasaran cengkeh di Eropa pun merosot tajam.
                                                                                                                                  <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                  Nasibnya terselamatkan berkat penemuan oleh seorang Haji Djamhari di Kudus, Jawa Tengah. Pada akhir tahun 1880-an, Haji Djamhari menemukan kegunaan baru cengkeh sebagai ramuan utama rokok. Lahirlah satu produk baru yang unik, khas dan asli Indonesia: kretek! (Hanusz, 2000:ii).
                                                                                                                                  <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                  Setelah seperempat abad hanya berkembang dalam skala kecil usaha rumah tangga, produksi kretek akhirnya menjelma menjadi industri besar sejak awal abad-20 yang dirintis oleh Haji Nitisemito (pendiri pabrik \u2018Jambu Bol\u2019) di Kudus dan Liem Seng Tee (pendiri pabrik \u2018Dji Sam Soe\u2019 dan \u2018Sampoerna\u2019) di Surabaya.
                                                                                                                                  <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                  Puncaknya adalah pada pertengahan tahun 1950-an, ketika produksi kretek mulai berkembang pesat menjadi industri raksasa modern dengan munculnya beberapa pabrik baru, antara lain, yang terkemuka, oleh Oei Wei Gwan (pendiri pabrik \u2018Djarum\u2019) di Kudus dan Tjou Ing Hwie (pendiri pabrik \u2018Gudang Garam\u2019) di Kediri (Topatimasang, et.al., eds., 2010:131).<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                  Baca: Teruslah Menanam Tembakau dan Cengkeh, Wahai Petani Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                                                                  Cengkeh, bahan baku paling esensial dari kretek --selain tembakau, tentu saja-- pun kembali berjaya. Bahkan, sejak dasawarsa 1970an, telah menjadi salah satu penyumbang terbesar keuangan negara Republik Indonesia. Pada tahun 2012 dan 2013, pemasukan cukai dari industri kretek mencatat 95,5% dari seluruh pemasukan cukai ke kas negara. Nilainya tak tanggung-tanggung: Rp 87 triliun! (el-Guyanie, et.al.: 2013:4-5).<\/strong>
                                                                                                                                  <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                  Nilai ekonomisnya yang sangat besar sempat menggoda penguasa otoriter rezim Presiden Soeharto, pada 1990-an, memberlakukan satu kebijakan \u2018Hongi Gaya Baru\u2019: monopoli perdagangan cengkeh dalam negeri melalui Badan Penyanggah dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) yang sangat merugikan petani. Harga cengkeh di tingkat petani penghasil anjlok sampai hanya Rp 2.000 - 3.000 per kilogram, lebih murah dari harga sebungkus kretek yang dihasilkan darinya.
                                                                                                                                  <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                  Akibatnya, ratusan ribu pohon cengkeh di daerah-daerah penghasil utama --Maluku, Maluku Utara, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Selatan-- ditebangi atau dibiarkan terlantar tak terurus.
                                                                                                                                  <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                  Gelombang reformasi sistem politik dan hukum nasional yang dimulai pada tahun 1998, akhirnya menjungkalkan rezim Soeharto dan BPPC dibubarkan, Pelan tapi pasti, harga cengkeh kembali merangkak naik, sehingga pada tahun 2012, bahkan melewati angka Rp 200.000 per kilogram. Para petani cengkeh di seluruh negeri kembali tersenyum. Tetapi, sampai kapan? <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                  Catatan:<\/strong><\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                  [1] Beberapa sumber menyebutkan bahwa kata \u2018cengkeh\u2019 dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Mandarin, tkeng-his atau xi\u2019jia, yang berarti \u2018rempah [berbentuk mirip] paku\u2019 (scented nails). Ini menunjukkan bahwa cengkeh sudah dikenal sejak lama oleh bangsa Cina --diketahui sejak abad-2-- jauh sebelum orang Eropa mengenalnya ((lihat, misalnya: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                  [2] Catatan-catatan para biarawan Fransiskan --yang disalin dan dikutip oleh van Frassen-- bahkan menyebut cengkeh sebagai salah satu bahan utama pengawet mumi para Fir\u2019aun, penguasa Mesir Kuno. Beberapa pakar sejarah dan arkeologi menyatakan bahwa rempah-rempah Maluku bahkan sudah ditemukan artefaknya di Lembah Mesopotomia (wilayah Iraq dan sekitarnya sekarang) pada 3.000 tahun sebelum Masehi. (lihat, antara lain: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                  [3] Uraian lebih rinci sejarah kolonialisme rempah-rempah Nusantara ini, terutama oleh Belanda dan Portugis, dapat dibaca pada beberapa sumber kepustakaan yang sudah dikenal luas, antara lain: Glamann (1958) dan Boxer (1965 dan 1969). Dalam risalah klasik Pires disebutkan bahwa pada tahun 1512-1521 saja, jumlah produksi cengkeh di Maluku sudah mencapai 7.250 bahar per tahun, terbesar adalah di Makian serta Amboina dan Lease (masing-masing 1.500 bahar)(Pires, 1512-1515).<\/em>
                                                                                                                                  <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                  Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem Topatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
                                                                                                                                  <\/p>\n ","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-10 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-02-10 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5425","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5415,"post_author":"878","post_date":"2019-02-07 12:15:55","post_date_gmt":"2019-02-07 05:15:55","post_content":" \n

                                                                                                                                  Belakangan ini, ketika musim hujan tiba, di Kabupaten Temanggung, Kabupaten Jember, dan beberapa wilayah sentra pertanian tembakau lainnya, hampir mustahil menemukan tanaman tembakau tumbuh di lahan-lahan milik petani. Di wilayah-wilayah tersebut, citra sebagai sentra pertanian tembakau seakan menguap. Lahan-lahan yang ada di sana, sama sekali tidak ditumbuhi tanaman tembakau.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                  Kabar ini bisa jadi dianggap sebagai kabar gembira bagi mereka yang menganggap diri dan kelompoknya anti-rokok dan anti-tembakau yang selalu mengampanyekan sikap-sikap mereka terkait kebencian kepada tembakau dan aktivitas merokok. Setelah sekian lama berjuang, akhirnya perjuangan mereka dirasa berhasil usai menyaksikan fenomena lahan-lahan di wilayah yang dianggap sentra pertanian tembakau pada hari-hari belakangan ini.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                  Baca juga: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                                                                  Tak sia-sia turun ke jalan, tak sia-sia melakukan lobi-lobi ke penguasa, tak sia-sia mengucurkan uang yang tidak sedikit, dan tak sia-sia mempermalukan diri dengan mengemis ke lembaga donor asing dan menggondol uang dari cukai tembakau untuk mengampanyekan gerakan anti-rokok dan anti-tembakau. Tak sia-sia. Karena perjuangan sepertinya berhasil.<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

                                                                                                                                  Kampanye-kampanye gerakan mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya, sepertinya juga sangat berhasil. Bagaimana tidak? Wilayah-wilayah yang sebelumnya penuh dengan tanaman tembakau dan bergeliat dengannya, kini lahan-lahannya sudah berganti dengan tanaman lain. Sebuah keberhasilan yang menggembirakan. Begitu mungkin pikir mereka para yang menganggap dirinya pejuang anti-rokok dan anti-tembakau. Dan tentu saja mereka akan kecele dan kita akan menertawakan hal itu.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                  Sayangnya, mereka yang menganggap dirinya anti-rokok dan anti-tembakau tidak menyaksikan langsung fenomena ini di lapangan, di lahan-lahan yang peruntukannya berubah pada hari-hari belakangan ini ketika memasuki musim hujan. Mereka asyik duduk pada kursi empuk di ruang-ruang nyaman ber-AC di kota-kota yang jauh dari kultur pertanian. Mereka menyengajakan diri menjadi elit dan enggan untuk turun melihat langsung ke lapangan. Kalaupun ada yang turun langsung ke lapangan, hanya segelintir saja dari mereka, itupun sekadar formalitas saja. Tak pernah benar-benar mau turun ke lapangan, hidup dan merasakan langsung kultur pertanian tembakau dalam jangka waktu cukup lama di lapangan.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                  Baca juga: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                                                                  Fenomena ini membikin kita tak bisa melihat mereka para anti-rokok kecele lalu menertawakan mereka.<\/strong> Fenomena keengganan terjun langsung ke lapangan terlebih mencoba mendengar mereka yang tetap menanam tembakau, juga menjalani keseharian dalam waktu cukup lama bersama petani tembakau inilah yang saya kira menjadikan mereka tetap keras kepala untuk anti-rokok dan anti-tembakau. Karena jika mereka mau melakukan itu, saya yakin mereka semua tidak akan begitu kaku dalam memandang pertanian tembakau dan produk hasil industri tembakau.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                  Salah satu yang selalu mereka kampanyekan dan ngotot dengan itu, terkait hulu pertanian tembakau adalah mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya. Mereka berargumen banyak tanaman lain yang bisa semenguntungkan tanaman tembakau. Keengganan mereka terjun langsung ke lapangan inilah yang membikin mereka buta dengan kondisi pertanian tembakau dan pada akhirnya terus menerus mengampanyekan pergantian tanaman tembakau dengan tanaman lainnya.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                  Baca juga: Imanlah kepada Allah, Bukan Antirokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                                                                  Tembakau tanaman yang khas. Ia hanya tumbuh baik sepanjang empat hingga lima bulan dalam satu tahun. Tumbuh-kembang tanaman tembakau dengan baik itu umumnya terjadi pada musim kemarau setiap tahunnya. Hanya sedikit sekali jenis tembakau yang tumbuh baik di musim penghujan, mayoritasnya, tumbuh baik pada musim kemarau.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                  Jika ditanam pada musim hujan, hampir bisa dipastikan tanaman tembakau akan gagal menghasilkan daun-daun yang berkualitas. Ia akan rusak dan membusuk karena terlalu banyak terkena air sehingga daun-daun itu tak layak dijual. Jangankan bisa dijual, untuk tumbuh dengan baik pun sepertinya sulit karena musim hujan akan membunuh banyak tanaman itu.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                  Maka, tak heran pada musim-musim seperti saat ini, ketika musim penghujan mendekati puncaknya, di wilayah-wilayah yang dikenal sebagai sentra pertanian tembakau, sulit menemukan pohon tembakau yang sedang tumbuh. Pada lahan-lahan yang sebelumnya ditumbuhi tanaman tembakau pada musim panas, berganti tanaman-tanaman lain yang bermacam-macam, sesuai dengan kondisi lahannya. Untuk lahan sawah, lahan-lahan itu pada musim penghujan kini ditumbuhi tanaman padi yang subur. Pada lahan tegalan dan lahan di pegunungan, lahan-lahan yang ditanami tembakau pada musim kemarau, saat ini ditumbuhi bermacam jenis tanaman mulai dari cabai, bawang, tomat, kol, terong, mentimun, dan ragam jenis tanaman semusim lainnya.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                  Uniknya, tipikal tanaman tembakau yang tumbuh baik di musim kemarau ini memberi pilihan lebih kepada para petani. Lahan-lahan yang sulit ditanami pada musim kemarau, pada akhirnya masih bisa tetap produktif dengan keberadaan tanaman tembakau. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                  Maka, kampanye aneh mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain dengan ragam rupa dalih yang membingungkan, bukan saja sama sekali tidak tepat dan asal-asalan, namun bisa jadi akan ditertawakan oleh para petani yang begitu paham dengan kondisi lahan dan terutama kondisi iklim dan cuaca. Sulit mencari tanaman semusim yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Jika pun ada, tak ada yang semenguntungkan tanaman tembakau.
                                                                                                                                  <\/p>\n ","post_title":"Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"keberhasilan-gerakan-anti-tembakau-tak-ada-tembakau-saat-musim-hujan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-07 12:16:02","post_modified_gmt":"2019-02-07 05:16:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5415","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5409,"post_author":"919","post_date":"2019-02-05 08:04:43","post_date_gmt":"2019-02-05 01:04:43","post_content":" \n

                                                                                                                                  Tahun Baru Imlek yang merupakan tradisi Bangsa Tiongkok kini sudah tak lagi menjadi hal yang asing bagi masyarakat Indonesia. Kehadirannya sudah mewarnai dan berakulturasi dengan tradisi lokal. Menjelang Tahun Baru Imlek. Berbagai hiasan dan kemeriahan terjadi beberapa titik di Tanah Air. Perayaannya juga menjadi destinasi baru yang mengasyikkan untuk dilihat dan patut disaksikan.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                  Berterimakasihlah kepada sang bapak bangsa, KH Abdurrahman Wahid atau yang dikenal dengan nama Gus Dur. Berkat kebijakannya saat menjadi Presiden Indonesia, Tahun Baru Imlek resmi dijadikan hari libur nasional dan dianggap sebagai salah satu hari raya di Tanah Air. Meski sentimen antitionghoa masih ada di sana-sini, tapi tetap tak bisa dipungkiri bahwa bangsa tionghoa sudah bersentuhan dengan budaya lokal dalam kurun waktu yang sangat panjang.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                  DNA Bangsa Tionghoa yang memang merupakan pedagang menjadi pembuka kisah interaksi antara nenek moyang berbagai suku di Nusantara dengan mereka. Beberapa kelenteng-kelenteng yang tersebar pada berbagai pesisir daerah di Nusantara jadi buktinya. Pelabuhan-pelabuhan tua di tanah air dan ramainya perdagangan di pesisir mempermudah bangsa kita berhubungan dengan Bangsa Tionghoa.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                  Baca Juga: Wong Kalang dan Kota Gede<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                                                                  Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa kehadiran Bangsa Tionghoa di Nusantara tak hanya sebagai pedagang, namun juga sebagai pekerja (bahkan hingga pekerja kasar). Benny Setiono, seorang sejarahwan menyebutkan bahwa antara tahun 1760-1770 dalam jumlah yang besar memasuki nusantara melalui Kalimantan Barat. Mereka bekerja sebagai kuli pertambangan di sana dan di kemudian hari membentuk sebuah republik bernama Republik Lanfang yang konon katanya menjadi republik pertama di Asia Tenggara.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                  Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                  Baca Juga: Imlek dan Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                                                                  Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                  Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                  Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                  Baca Juga: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                                                                  Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                  Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
                                                                                                                                  <\/p>\n ","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_3o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                  \n

                                                                                                                                  0 \u2013 10 HSS\t\t:\t3x Sehari (fase kritis)<\/p>\n \n\n\n

                                                                                                                                  11 \u2013 21 HSS\t\t:\t2x Sehari <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                  22 \u2013 35 HSS\t\t:\t1x Sehari <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                  36 \u2013 45 \/ 50 HSS\t:\tPeriode stress air\/kering<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                  1. Penjarangan & Hardening<\/strong>
                                                                                                                                    1. Penjarangan dilakukan agar jarak antara bibit ideal (4-5 cm) sehingga tidak<\/li><\/ol><\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                                                                                      terserang hama & penyakit. Penjarangan dilakukan pada umur bibit 21-25 hari dengan cara: basahi bedengan sore hari sebelumnya dan pagi hari sebelum bibit dicabut, cabut bibit  yang akan ditanami dengan hati-hati, tanam bibit pada bedengan yang kerapatan bibitnya jarang, siram bibit sesegera mungkin setelah dipindah.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                      1. Bibit dibiasakan untuk terkena sinar  matahari langsung. Tujuan hardening agar bibit dapat beradaptasi dan memperkuat jaringan daun, batang serta mengurangi resiko penyakit karena jamur. Pelaksanaan hardening mulai umur 21 HSS secara bertahap.Pada kondisi hujan tidak dianjurkan. <\/li>
                                                                                                                                      2. Klipping <\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                                                                                        1. Dilakukan antara jam 08.00 sampai 11.00 (usahakan cuaca cerah) <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                        2. Kliping dilakukan pada saat bibit pertumbuhannya terlalu lebat atau saling menutup batangnya. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                        3. Kliping adalah kegiatan memotong sebagian atau 2\/3 daun bibit tembakau. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                        4. Frekuensi kliping dilakukan bisa satu, dua kali atau lebih sesuai dengan perkembangan bibit dan persiapan lokasi areal tanam. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                        5 Lima sampai tujuh hari menjelang transplanting, kegiatan kliping sebaiknya sudah selesai. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                        Tujuan klipping: menjaga lingkungan bibit agar tidak lembab, <\/strong>memperbesar batan,menyeragamkan ukuran benih, dan memperkuat pertumbuhan akar <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                        1. Pencabutan Bibit, agar mendapatkan jarak tanam yang sesuai lahan <\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n
                                                                                                                                          \"\"\/<\/figure>\n \n\n \n
                                                                                                                                          \"\"\/<\/figure>\n \n\n \n

                                                                                                                                          Dalam satu hamparan direkomendasikan selesai tanam maksimal 3 Hari. Umur  tanaman akan menjadi sama atau seragam. Performance tanaman juga akan menjadi  seragam. Kemasakan daun pada saat petik juga menjadi seragam. Memudahkan pada saat  proses panen dan pasca panen. Tembakau kering yang dihasilkan pun juga seragam.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                          1. Pengendalian Hama & Penyakit<\/strong> <\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                                                                                            ~ Pada awal penyebaran benih direkomendasikan untuk melakukan penyemprotan fusngisida (jamur), seperti Previcur, Redomil & Antracol <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                            ~ Hama yang sering dijumpai: semut (Decis), janggel, orong-orong <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                            1. Tahapan Perawatan<\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n
                                                                                                                                              \"\"\/<\/figure>\n ","post_title":"Sukses Bertani Tembakau Bersama Kemitraan Djarum di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sukses-bertani-tembakau-bersama-kemitraan-djarum-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-11 12:32:18","post_modified_gmt":"2019-02-11 05:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5433","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5425,"post_author":"922","post_date":"2019-02-10 09:07:33","post_date_gmt":"2019-02-10 02:07:33","post_content":" \n

                                                                                                                                              Bahwa cengkeh [1] (Syzygium aromaticum) --bersama pala (Myristica fragrans)-- adalah dua tanaman asli (endemik) Kepulauan Maluku, sudah tak terbantahkan. Cengkeh dikenal dan diakui berasal dari \u2018Empat Pulau Gunung Maluku\u2019 (Maloko Kie Raha): Ternate, Tidore, Moti, dan Makian.
                                                                                                                                              <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                              Adapun pala, berasal dari empat pulau kecil lainnya di tengah Laut Banda: Lonthor, Neira, Rhun, dan Ai. Pada penjelasan peta abad-16 oleh penjelajah dari Semenanjung Iberia, Fransisco Rodriguez, tertulis: \u201cEstas quatro Ilhas Azures suam as de molluquo homde nace ho crauzo\u201d<\/em> (Adalah empat pulau berwarna biru [dalam peta] yang disebut sebagai Kepulauan Maluku di mana rempah-rempah berasal) (Pires, 1512- 1515:213).
                                                                                                                                              <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                              Sejak beberapa abad sebelum Masehi, adalah para saudagar Arab --melalui Samudera Hindia melintasi Iskandariyah dan Laut Tengah-- serta para pedagang Cina --melalui jalur \u2018Jalan Sutra\u2019 melintasi Asia Tengah dan Asia Barat-- yang membawa dan memperkenalkannya ke daratan Eropa. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                              Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                                                                              Bandar-bandar besar Tyre di Yunani dan Venesia di Italia menjadi pelabuhan utama rempah-rempah Maluku memasuki kehidupan dan peradaban Eropa. Selain sebagai bumbu masakan, rempah obat, dan ramuan wewangian, cengkeh dan pala juga menjadi bahan utama pengawet bahan pangan. [2]
                                                                                                                                              <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                              Inilah yang membuat orang-orang Eropa untuk pertama kalinya dapat mengawetkan dan menimbun makanan selama bermusim-musim. Prosa indah Blair bersaudara menggambarkannya dengan sangat baik:
                                                                                                                                              <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                              \u201cKemampuan menyimpan makanan lebih dari yang kami makan sekaligus berarti kemampuan menjual dan membelinya dalam jumlah besar --dan kota-kota dagang pun mekar. Perekonomian yang dihasilkannya mengarahkan kami ke zaman Pencerahan dan kemudian Revolusi Industri. Tak lama setelah kami menghirup aroma yang sangat kuat dari Timur itu dan mengubah kimiawi makanan kami, maka kami pun mampu melakukan lompatan besar dalam bidang budaya dan seni.\u201d (Blair & Blair, 2010; 30-31).<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

                                                                                                                                              Baca: Cengkeh dan Kelapa di Kepulauan Anambas<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                                                                              Bukan hanya membuat perekonomian dan perdagangan serta ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang, cengkeh dan pala bahkan adalah faktor yang paling menentukan dalam kemunculan satu babakan paling mengenaskan dalam sejarah politik dunia, yakni zaman penjajahan (kolonialisme) Eropa, terutama atas-atas negeri- negeri Asia Selatan, Timur dan Tenggara, termasuk Indonesia.
                                                                                                                                              <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                              Tergerak oleh sahwat menguasai rempah-rempah yang menggiurkan itu, bangsa-bangsa Eropa --terutama Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda-- pun menggelar ekspedisi-ekspedisi besar untuk menemukan cengkeh dan pala langsung di tanah asalnya. Ketika armada-armada mereka akhirnya mencapai perairan Kepulauan Maluku, pada abad-16, perang pun tak terhindarkan.
                                                                                                                                              <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                              Mereka silih berganti saling mengalahkan, tetapi pemenang terakhir adalah Belanda. Melalui Perusahaan Dagang Hindia Timur (Vereenigde Oostindische Compagnie, VOC) yang dibentuk pada awal abad-17 (tepatnya tahun 1609), Belanda melancarkan ekspedisi Pelayaran Hongi (Hongie Tochten), untuk memusnahkan semua tanaman cengkeh di Ternate, Tidore, Moti, dan Makian, lalu membatasi ketat penanamnya hanya di Pulau-pulau Ambon dan Lease --yang lebih dekat ke Banda sebagai pusat pemerintahan mereka sebelum akhirnya dipindahkan ke Batavia.
                                                                                                                                              <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                              Praktis, sejak akhir abad-16, Belanda pun menguasai penuh perdagangan rempah-rempah Maluku dengan jumlah produksi rerata 2.500 sampai 4.500 ton per tahun. [3]<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                              Baca: Budidaya Pohon Cengkeh<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                                                                              Meskipun peran utama rempah-rempah Maluku itu kemudian tergusur pada abad-18 dan 19 oleh beberapa barang eksotika tropis lainnya --hasil perkebunan-perkebunana besar baru di Pulau Sumatera dan Jawa: tebu, tembakau, lada, kopi, teh, nila, kelapa sawit, dan kayu jati-- namun sejarah sudah mencatat bahwa dua jenis rempah-rempah Maluku itulah yang mengawali penjelajahan sekaligus penjajahan kepulauan Nusantara oleh bangsa-bangsa Eropah, terutama Belanda (Topatimasang, ed., 2004:32). Jika saja tak pernah ada cengkeh dan pala di Maluku, mungkin sejarah kepulauan Nusantara ini akan berbeda sama sekali.
                                                                                                                                              <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                              Masa suram cengkeh dan pala terus berlangsung sampai pertengahan abad-20. Rempah eksotika yang pernah membuat tergila-gila<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                              para saudagar Arab, pedagang Cina, serta kaum ningrat Eropa itu, tergantikan perannya oleh penemuan teknologi mesin pendingin berkat Revolusi Industri yang dimulai di Inggris pada pertengahan abad-18. Pasaran cengkeh di Eropa pun merosot tajam.
                                                                                                                                              <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                              Nasibnya terselamatkan berkat penemuan oleh seorang Haji Djamhari di Kudus, Jawa Tengah. Pada akhir tahun 1880-an, Haji Djamhari menemukan kegunaan baru cengkeh sebagai ramuan utama rokok. Lahirlah satu produk baru yang unik, khas dan asli Indonesia: kretek! (Hanusz, 2000:ii).
                                                                                                                                              <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                              Setelah seperempat abad hanya berkembang dalam skala kecil usaha rumah tangga, produksi kretek akhirnya menjelma menjadi industri besar sejak awal abad-20 yang dirintis oleh Haji Nitisemito (pendiri pabrik \u2018Jambu Bol\u2019) di Kudus dan Liem Seng Tee (pendiri pabrik \u2018Dji Sam Soe\u2019 dan \u2018Sampoerna\u2019) di Surabaya.
                                                                                                                                              <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                              Puncaknya adalah pada pertengahan tahun 1950-an, ketika produksi kretek mulai berkembang pesat menjadi industri raksasa modern dengan munculnya beberapa pabrik baru, antara lain, yang terkemuka, oleh Oei Wei Gwan (pendiri pabrik \u2018Djarum\u2019) di Kudus dan Tjou Ing Hwie (pendiri pabrik \u2018Gudang Garam\u2019) di Kediri (Topatimasang, et.al., eds., 2010:131).<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                              Baca: Teruslah Menanam Tembakau dan Cengkeh, Wahai Petani Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                                                                              Cengkeh, bahan baku paling esensial dari kretek --selain tembakau, tentu saja-- pun kembali berjaya. Bahkan, sejak dasawarsa 1970an, telah menjadi salah satu penyumbang terbesar keuangan negara Republik Indonesia. Pada tahun 2012 dan 2013, pemasukan cukai dari industri kretek mencatat 95,5% dari seluruh pemasukan cukai ke kas negara. Nilainya tak tanggung-tanggung: Rp 87 triliun! (el-Guyanie, et.al.: 2013:4-5).<\/strong>
                                                                                                                                              <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                              Nilai ekonomisnya yang sangat besar sempat menggoda penguasa otoriter rezim Presiden Soeharto, pada 1990-an, memberlakukan satu kebijakan \u2018Hongi Gaya Baru\u2019: monopoli perdagangan cengkeh dalam negeri melalui Badan Penyanggah dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) yang sangat merugikan petani. Harga cengkeh di tingkat petani penghasil anjlok sampai hanya Rp 2.000 - 3.000 per kilogram, lebih murah dari harga sebungkus kretek yang dihasilkan darinya.
                                                                                                                                              <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                              Akibatnya, ratusan ribu pohon cengkeh di daerah-daerah penghasil utama --Maluku, Maluku Utara, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Selatan-- ditebangi atau dibiarkan terlantar tak terurus.
                                                                                                                                              <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                              Gelombang reformasi sistem politik dan hukum nasional yang dimulai pada tahun 1998, akhirnya menjungkalkan rezim Soeharto dan BPPC dibubarkan, Pelan tapi pasti, harga cengkeh kembali merangkak naik, sehingga pada tahun 2012, bahkan melewati angka Rp 200.000 per kilogram. Para petani cengkeh di seluruh negeri kembali tersenyum. Tetapi, sampai kapan? <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                              Catatan:<\/strong><\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                              [1] Beberapa sumber menyebutkan bahwa kata \u2018cengkeh\u2019 dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Mandarin, tkeng-his atau xi\u2019jia, yang berarti \u2018rempah [berbentuk mirip] paku\u2019 (scented nails). Ini menunjukkan bahwa cengkeh sudah dikenal sejak lama oleh bangsa Cina --diketahui sejak abad-2-- jauh sebelum orang Eropa mengenalnya ((lihat, misalnya: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                              [2] Catatan-catatan para biarawan Fransiskan --yang disalin dan dikutip oleh van Frassen-- bahkan menyebut cengkeh sebagai salah satu bahan utama pengawet mumi para Fir\u2019aun, penguasa Mesir Kuno. Beberapa pakar sejarah dan arkeologi menyatakan bahwa rempah-rempah Maluku bahkan sudah ditemukan artefaknya di Lembah Mesopotomia (wilayah Iraq dan sekitarnya sekarang) pada 3.000 tahun sebelum Masehi. (lihat, antara lain: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                              [3] Uraian lebih rinci sejarah kolonialisme rempah-rempah Nusantara ini, terutama oleh Belanda dan Portugis, dapat dibaca pada beberapa sumber kepustakaan yang sudah dikenal luas, antara lain: Glamann (1958) dan Boxer (1965 dan 1969). Dalam risalah klasik Pires disebutkan bahwa pada tahun 1512-1521 saja, jumlah produksi cengkeh di Maluku sudah mencapai 7.250 bahar per tahun, terbesar adalah di Makian serta Amboina dan Lease (masing-masing 1.500 bahar)(Pires, 1512-1515).<\/em>
                                                                                                                                              <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                              Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem Topatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
                                                                                                                                              <\/p>\n ","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-10 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-02-10 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5425","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5415,"post_author":"878","post_date":"2019-02-07 12:15:55","post_date_gmt":"2019-02-07 05:15:55","post_content":" \n

                                                                                                                                              Belakangan ini, ketika musim hujan tiba, di Kabupaten Temanggung, Kabupaten Jember, dan beberapa wilayah sentra pertanian tembakau lainnya, hampir mustahil menemukan tanaman tembakau tumbuh di lahan-lahan milik petani. Di wilayah-wilayah tersebut, citra sebagai sentra pertanian tembakau seakan menguap. Lahan-lahan yang ada di sana, sama sekali tidak ditumbuhi tanaman tembakau.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                              Kabar ini bisa jadi dianggap sebagai kabar gembira bagi mereka yang menganggap diri dan kelompoknya anti-rokok dan anti-tembakau yang selalu mengampanyekan sikap-sikap mereka terkait kebencian kepada tembakau dan aktivitas merokok. Setelah sekian lama berjuang, akhirnya perjuangan mereka dirasa berhasil usai menyaksikan fenomena lahan-lahan di wilayah yang dianggap sentra pertanian tembakau pada hari-hari belakangan ini.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                              Baca juga: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                                                                              Tak sia-sia turun ke jalan, tak sia-sia melakukan lobi-lobi ke penguasa, tak sia-sia mengucurkan uang yang tidak sedikit, dan tak sia-sia mempermalukan diri dengan mengemis ke lembaga donor asing dan menggondol uang dari cukai tembakau untuk mengampanyekan gerakan anti-rokok dan anti-tembakau. Tak sia-sia. Karena perjuangan sepertinya berhasil.<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

                                                                                                                                              Kampanye-kampanye gerakan mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya, sepertinya juga sangat berhasil. Bagaimana tidak? Wilayah-wilayah yang sebelumnya penuh dengan tanaman tembakau dan bergeliat dengannya, kini lahan-lahannya sudah berganti dengan tanaman lain. Sebuah keberhasilan yang menggembirakan. Begitu mungkin pikir mereka para yang menganggap dirinya pejuang anti-rokok dan anti-tembakau. Dan tentu saja mereka akan kecele dan kita akan menertawakan hal itu.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                              Sayangnya, mereka yang menganggap dirinya anti-rokok dan anti-tembakau tidak menyaksikan langsung fenomena ini di lapangan, di lahan-lahan yang peruntukannya berubah pada hari-hari belakangan ini ketika memasuki musim hujan. Mereka asyik duduk pada kursi empuk di ruang-ruang nyaman ber-AC di kota-kota yang jauh dari kultur pertanian. Mereka menyengajakan diri menjadi elit dan enggan untuk turun melihat langsung ke lapangan. Kalaupun ada yang turun langsung ke lapangan, hanya segelintir saja dari mereka, itupun sekadar formalitas saja. Tak pernah benar-benar mau turun ke lapangan, hidup dan merasakan langsung kultur pertanian tembakau dalam jangka waktu cukup lama di lapangan.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                              Baca juga: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                                                                              Fenomena ini membikin kita tak bisa melihat mereka para anti-rokok kecele lalu menertawakan mereka.<\/strong> Fenomena keengganan terjun langsung ke lapangan terlebih mencoba mendengar mereka yang tetap menanam tembakau, juga menjalani keseharian dalam waktu cukup lama bersama petani tembakau inilah yang saya kira menjadikan mereka tetap keras kepala untuk anti-rokok dan anti-tembakau. Karena jika mereka mau melakukan itu, saya yakin mereka semua tidak akan begitu kaku dalam memandang pertanian tembakau dan produk hasil industri tembakau.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                              Salah satu yang selalu mereka kampanyekan dan ngotot dengan itu, terkait hulu pertanian tembakau adalah mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya. Mereka berargumen banyak tanaman lain yang bisa semenguntungkan tanaman tembakau. Keengganan mereka terjun langsung ke lapangan inilah yang membikin mereka buta dengan kondisi pertanian tembakau dan pada akhirnya terus menerus mengampanyekan pergantian tanaman tembakau dengan tanaman lainnya.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                              Baca juga: Imanlah kepada Allah, Bukan Antirokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                                                                              Tembakau tanaman yang khas. Ia hanya tumbuh baik sepanjang empat hingga lima bulan dalam satu tahun. Tumbuh-kembang tanaman tembakau dengan baik itu umumnya terjadi pada musim kemarau setiap tahunnya. Hanya sedikit sekali jenis tembakau yang tumbuh baik di musim penghujan, mayoritasnya, tumbuh baik pada musim kemarau.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                              Jika ditanam pada musim hujan, hampir bisa dipastikan tanaman tembakau akan gagal menghasilkan daun-daun yang berkualitas. Ia akan rusak dan membusuk karena terlalu banyak terkena air sehingga daun-daun itu tak layak dijual. Jangankan bisa dijual, untuk tumbuh dengan baik pun sepertinya sulit karena musim hujan akan membunuh banyak tanaman itu.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                              Maka, tak heran pada musim-musim seperti saat ini, ketika musim penghujan mendekati puncaknya, di wilayah-wilayah yang dikenal sebagai sentra pertanian tembakau, sulit menemukan pohon tembakau yang sedang tumbuh. Pada lahan-lahan yang sebelumnya ditumbuhi tanaman tembakau pada musim panas, berganti tanaman-tanaman lain yang bermacam-macam, sesuai dengan kondisi lahannya. Untuk lahan sawah, lahan-lahan itu pada musim penghujan kini ditumbuhi tanaman padi yang subur. Pada lahan tegalan dan lahan di pegunungan, lahan-lahan yang ditanami tembakau pada musim kemarau, saat ini ditumbuhi bermacam jenis tanaman mulai dari cabai, bawang, tomat, kol, terong, mentimun, dan ragam jenis tanaman semusim lainnya.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                              Uniknya, tipikal tanaman tembakau yang tumbuh baik di musim kemarau ini memberi pilihan lebih kepada para petani. Lahan-lahan yang sulit ditanami pada musim kemarau, pada akhirnya masih bisa tetap produktif dengan keberadaan tanaman tembakau. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                              Maka, kampanye aneh mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain dengan ragam rupa dalih yang membingungkan, bukan saja sama sekali tidak tepat dan asal-asalan, namun bisa jadi akan ditertawakan oleh para petani yang begitu paham dengan kondisi lahan dan terutama kondisi iklim dan cuaca. Sulit mencari tanaman semusim yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Jika pun ada, tak ada yang semenguntungkan tanaman tembakau.
                                                                                                                                              <\/p>\n ","post_title":"Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"keberhasilan-gerakan-anti-tembakau-tak-ada-tembakau-saat-musim-hujan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-07 12:16:02","post_modified_gmt":"2019-02-07 05:16:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5415","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5409,"post_author":"919","post_date":"2019-02-05 08:04:43","post_date_gmt":"2019-02-05 01:04:43","post_content":" \n

                                                                                                                                              Tahun Baru Imlek yang merupakan tradisi Bangsa Tiongkok kini sudah tak lagi menjadi hal yang asing bagi masyarakat Indonesia. Kehadirannya sudah mewarnai dan berakulturasi dengan tradisi lokal. Menjelang Tahun Baru Imlek. Berbagai hiasan dan kemeriahan terjadi beberapa titik di Tanah Air. Perayaannya juga menjadi destinasi baru yang mengasyikkan untuk dilihat dan patut disaksikan.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                              Berterimakasihlah kepada sang bapak bangsa, KH Abdurrahman Wahid atau yang dikenal dengan nama Gus Dur. Berkat kebijakannya saat menjadi Presiden Indonesia, Tahun Baru Imlek resmi dijadikan hari libur nasional dan dianggap sebagai salah satu hari raya di Tanah Air. Meski sentimen antitionghoa masih ada di sana-sini, tapi tetap tak bisa dipungkiri bahwa bangsa tionghoa sudah bersentuhan dengan budaya lokal dalam kurun waktu yang sangat panjang.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                              DNA Bangsa Tionghoa yang memang merupakan pedagang menjadi pembuka kisah interaksi antara nenek moyang berbagai suku di Nusantara dengan mereka. Beberapa kelenteng-kelenteng yang tersebar pada berbagai pesisir daerah di Nusantara jadi buktinya. Pelabuhan-pelabuhan tua di tanah air dan ramainya perdagangan di pesisir mempermudah bangsa kita berhubungan dengan Bangsa Tionghoa.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                              Baca Juga: Wong Kalang dan Kota Gede<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                                                                              Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa kehadiran Bangsa Tionghoa di Nusantara tak hanya sebagai pedagang, namun juga sebagai pekerja (bahkan hingga pekerja kasar). Benny Setiono, seorang sejarahwan menyebutkan bahwa antara tahun 1760-1770 dalam jumlah yang besar memasuki nusantara melalui Kalimantan Barat. Mereka bekerja sebagai kuli pertambangan di sana dan di kemudian hari membentuk sebuah republik bernama Republik Lanfang yang konon katanya menjadi republik pertama di Asia Tenggara.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                              Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                              Baca Juga: Imlek dan Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                                                                              Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                              Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                              Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                              Baca Juga: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                                                                              Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                              Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
                                                                                                                                              <\/p>\n ","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_3o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                              \n

                                                                                                                                              Frekuensi penyiraman berdasarkan umur bibit\/umur hari setelah sebar (HSS):<\/p>\n \n\n\n

                                                                                                                                              0 \u2013 10 HSS\t\t:\t3x Sehari (fase kritis)<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                              11 \u2013 21 HSS\t\t:\t2x Sehari <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                              22 \u2013 35 HSS\t\t:\t1x Sehari <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                              36 \u2013 45 \/ 50 HSS\t:\tPeriode stress air\/kering<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                              1. Penjarangan & Hardening<\/strong>
                                                                                                                                                1. Penjarangan dilakukan agar jarak antara bibit ideal (4-5 cm) sehingga tidak<\/li><\/ol><\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                                                                                                  terserang hama & penyakit. Penjarangan dilakukan pada umur bibit 21-25 hari dengan cara: basahi bedengan sore hari sebelumnya dan pagi hari sebelum bibit dicabut, cabut bibit  yang akan ditanami dengan hati-hati, tanam bibit pada bedengan yang kerapatan bibitnya jarang, siram bibit sesegera mungkin setelah dipindah.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                  1. Bibit dibiasakan untuk terkena sinar  matahari langsung. Tujuan hardening agar bibit dapat beradaptasi dan memperkuat jaringan daun, batang serta mengurangi resiko penyakit karena jamur. Pelaksanaan hardening mulai umur 21 HSS secara bertahap.Pada kondisi hujan tidak dianjurkan. <\/li>
                                                                                                                                                  2. Klipping <\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                                                                                                    1. Dilakukan antara jam 08.00 sampai 11.00 (usahakan cuaca cerah) <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                    2. Kliping dilakukan pada saat bibit pertumbuhannya terlalu lebat atau saling menutup batangnya. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                    3. Kliping adalah kegiatan memotong sebagian atau 2\/3 daun bibit tembakau. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                    4. Frekuensi kliping dilakukan bisa satu, dua kali atau lebih sesuai dengan perkembangan bibit dan persiapan lokasi areal tanam. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                    5 Lima sampai tujuh hari menjelang transplanting, kegiatan kliping sebaiknya sudah selesai. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                    Tujuan klipping: menjaga lingkungan bibit agar tidak lembab, <\/strong>memperbesar batan,menyeragamkan ukuran benih, dan memperkuat pertumbuhan akar <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                    1. Pencabutan Bibit, agar mendapatkan jarak tanam yang sesuai lahan <\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n
                                                                                                                                                      \"\"\/<\/figure>\n \n\n \n
                                                                                                                                                      \"\"\/<\/figure>\n \n\n \n

                                                                                                                                                      Dalam satu hamparan direkomendasikan selesai tanam maksimal 3 Hari. Umur  tanaman akan menjadi sama atau seragam. Performance tanaman juga akan menjadi  seragam. Kemasakan daun pada saat petik juga menjadi seragam. Memudahkan pada saat  proses panen dan pasca panen. Tembakau kering yang dihasilkan pun juga seragam.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                      1. Pengendalian Hama & Penyakit<\/strong> <\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                                                                                                        ~ Pada awal penyebaran benih direkomendasikan untuk melakukan penyemprotan fusngisida (jamur), seperti Previcur, Redomil & Antracol <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                        ~ Hama yang sering dijumpai: semut (Decis), janggel, orong-orong <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                        1. Tahapan Perawatan<\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n
                                                                                                                                                          \"\"\/<\/figure>\n ","post_title":"Sukses Bertani Tembakau Bersama Kemitraan Djarum di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sukses-bertani-tembakau-bersama-kemitraan-djarum-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-11 12:32:18","post_modified_gmt":"2019-02-11 05:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5433","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5425,"post_author":"922","post_date":"2019-02-10 09:07:33","post_date_gmt":"2019-02-10 02:07:33","post_content":" \n

                                                                                                                                                          Bahwa cengkeh [1] (Syzygium aromaticum) --bersama pala (Myristica fragrans)-- adalah dua tanaman asli (endemik) Kepulauan Maluku, sudah tak terbantahkan. Cengkeh dikenal dan diakui berasal dari \u2018Empat Pulau Gunung Maluku\u2019 (Maloko Kie Raha): Ternate, Tidore, Moti, dan Makian.
                                                                                                                                                          <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                          Adapun pala, berasal dari empat pulau kecil lainnya di tengah Laut Banda: Lonthor, Neira, Rhun, dan Ai. Pada penjelasan peta abad-16 oleh penjelajah dari Semenanjung Iberia, Fransisco Rodriguez, tertulis: \u201cEstas quatro Ilhas Azures suam as de molluquo homde nace ho crauzo\u201d<\/em> (Adalah empat pulau berwarna biru [dalam peta] yang disebut sebagai Kepulauan Maluku di mana rempah-rempah berasal) (Pires, 1512- 1515:213).
                                                                                                                                                          <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                          Sejak beberapa abad sebelum Masehi, adalah para saudagar Arab --melalui Samudera Hindia melintasi Iskandariyah dan Laut Tengah-- serta para pedagang Cina --melalui jalur \u2018Jalan Sutra\u2019 melintasi Asia Tengah dan Asia Barat-- yang membawa dan memperkenalkannya ke daratan Eropa. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                          Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                                                                                          Bandar-bandar besar Tyre di Yunani dan Venesia di Italia menjadi pelabuhan utama rempah-rempah Maluku memasuki kehidupan dan peradaban Eropa. Selain sebagai bumbu masakan, rempah obat, dan ramuan wewangian, cengkeh dan pala juga menjadi bahan utama pengawet bahan pangan. [2]
                                                                                                                                                          <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                          Inilah yang membuat orang-orang Eropa untuk pertama kalinya dapat mengawetkan dan menimbun makanan selama bermusim-musim. Prosa indah Blair bersaudara menggambarkannya dengan sangat baik:
                                                                                                                                                          <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                          \u201cKemampuan menyimpan makanan lebih dari yang kami makan sekaligus berarti kemampuan menjual dan membelinya dalam jumlah besar --dan kota-kota dagang pun mekar. Perekonomian yang dihasilkannya mengarahkan kami ke zaman Pencerahan dan kemudian Revolusi Industri. Tak lama setelah kami menghirup aroma yang sangat kuat dari Timur itu dan mengubah kimiawi makanan kami, maka kami pun mampu melakukan lompatan besar dalam bidang budaya dan seni.\u201d (Blair & Blair, 2010; 30-31).<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

                                                                                                                                                          Baca: Cengkeh dan Kelapa di Kepulauan Anambas<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                                                                                          Bukan hanya membuat perekonomian dan perdagangan serta ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang, cengkeh dan pala bahkan adalah faktor yang paling menentukan dalam kemunculan satu babakan paling mengenaskan dalam sejarah politik dunia, yakni zaman penjajahan (kolonialisme) Eropa, terutama atas-atas negeri- negeri Asia Selatan, Timur dan Tenggara, termasuk Indonesia.
                                                                                                                                                          <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                          Tergerak oleh sahwat menguasai rempah-rempah yang menggiurkan itu, bangsa-bangsa Eropa --terutama Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda-- pun menggelar ekspedisi-ekspedisi besar untuk menemukan cengkeh dan pala langsung di tanah asalnya. Ketika armada-armada mereka akhirnya mencapai perairan Kepulauan Maluku, pada abad-16, perang pun tak terhindarkan.
                                                                                                                                                          <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                          Mereka silih berganti saling mengalahkan, tetapi pemenang terakhir adalah Belanda. Melalui Perusahaan Dagang Hindia Timur (Vereenigde Oostindische Compagnie, VOC) yang dibentuk pada awal abad-17 (tepatnya tahun 1609), Belanda melancarkan ekspedisi Pelayaran Hongi (Hongie Tochten), untuk memusnahkan semua tanaman cengkeh di Ternate, Tidore, Moti, dan Makian, lalu membatasi ketat penanamnya hanya di Pulau-pulau Ambon dan Lease --yang lebih dekat ke Banda sebagai pusat pemerintahan mereka sebelum akhirnya dipindahkan ke Batavia.
                                                                                                                                                          <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                          Praktis, sejak akhir abad-16, Belanda pun menguasai penuh perdagangan rempah-rempah Maluku dengan jumlah produksi rerata 2.500 sampai 4.500 ton per tahun. [3]<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                          Baca: Budidaya Pohon Cengkeh<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                                                                                          Meskipun peran utama rempah-rempah Maluku itu kemudian tergusur pada abad-18 dan 19 oleh beberapa barang eksotika tropis lainnya --hasil perkebunan-perkebunana besar baru di Pulau Sumatera dan Jawa: tebu, tembakau, lada, kopi, teh, nila, kelapa sawit, dan kayu jati-- namun sejarah sudah mencatat bahwa dua jenis rempah-rempah Maluku itulah yang mengawali penjelajahan sekaligus penjajahan kepulauan Nusantara oleh bangsa-bangsa Eropah, terutama Belanda (Topatimasang, ed., 2004:32). Jika saja tak pernah ada cengkeh dan pala di Maluku, mungkin sejarah kepulauan Nusantara ini akan berbeda sama sekali.
                                                                                                                                                          <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                          Masa suram cengkeh dan pala terus berlangsung sampai pertengahan abad-20. Rempah eksotika yang pernah membuat tergila-gila<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                          para saudagar Arab, pedagang Cina, serta kaum ningrat Eropa itu, tergantikan perannya oleh penemuan teknologi mesin pendingin berkat Revolusi Industri yang dimulai di Inggris pada pertengahan abad-18. Pasaran cengkeh di Eropa pun merosot tajam.
                                                                                                                                                          <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                          Nasibnya terselamatkan berkat penemuan oleh seorang Haji Djamhari di Kudus, Jawa Tengah. Pada akhir tahun 1880-an, Haji Djamhari menemukan kegunaan baru cengkeh sebagai ramuan utama rokok. Lahirlah satu produk baru yang unik, khas dan asli Indonesia: kretek! (Hanusz, 2000:ii).
                                                                                                                                                          <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                          Setelah seperempat abad hanya berkembang dalam skala kecil usaha rumah tangga, produksi kretek akhirnya menjelma menjadi industri besar sejak awal abad-20 yang dirintis oleh Haji Nitisemito (pendiri pabrik \u2018Jambu Bol\u2019) di Kudus dan Liem Seng Tee (pendiri pabrik \u2018Dji Sam Soe\u2019 dan \u2018Sampoerna\u2019) di Surabaya.
                                                                                                                                                          <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                          Puncaknya adalah pada pertengahan tahun 1950-an, ketika produksi kretek mulai berkembang pesat menjadi industri raksasa modern dengan munculnya beberapa pabrik baru, antara lain, yang terkemuka, oleh Oei Wei Gwan (pendiri pabrik \u2018Djarum\u2019) di Kudus dan Tjou Ing Hwie (pendiri pabrik \u2018Gudang Garam\u2019) di Kediri (Topatimasang, et.al., eds., 2010:131).<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                          Baca: Teruslah Menanam Tembakau dan Cengkeh, Wahai Petani Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                                                                                          Cengkeh, bahan baku paling esensial dari kretek --selain tembakau, tentu saja-- pun kembali berjaya. Bahkan, sejak dasawarsa 1970an, telah menjadi salah satu penyumbang terbesar keuangan negara Republik Indonesia. Pada tahun 2012 dan 2013, pemasukan cukai dari industri kretek mencatat 95,5% dari seluruh pemasukan cukai ke kas negara. Nilainya tak tanggung-tanggung: Rp 87 triliun! (el-Guyanie, et.al.: 2013:4-5).<\/strong>
                                                                                                                                                          <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                          Nilai ekonomisnya yang sangat besar sempat menggoda penguasa otoriter rezim Presiden Soeharto, pada 1990-an, memberlakukan satu kebijakan \u2018Hongi Gaya Baru\u2019: monopoli perdagangan cengkeh dalam negeri melalui Badan Penyanggah dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) yang sangat merugikan petani. Harga cengkeh di tingkat petani penghasil anjlok sampai hanya Rp 2.000 - 3.000 per kilogram, lebih murah dari harga sebungkus kretek yang dihasilkan darinya.
                                                                                                                                                          <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                          Akibatnya, ratusan ribu pohon cengkeh di daerah-daerah penghasil utama --Maluku, Maluku Utara, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Selatan-- ditebangi atau dibiarkan terlantar tak terurus.
                                                                                                                                                          <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                          Gelombang reformasi sistem politik dan hukum nasional yang dimulai pada tahun 1998, akhirnya menjungkalkan rezim Soeharto dan BPPC dibubarkan, Pelan tapi pasti, harga cengkeh kembali merangkak naik, sehingga pada tahun 2012, bahkan melewati angka Rp 200.000 per kilogram. Para petani cengkeh di seluruh negeri kembali tersenyum. Tetapi, sampai kapan? <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                          Catatan:<\/strong><\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                          [1] Beberapa sumber menyebutkan bahwa kata \u2018cengkeh\u2019 dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Mandarin, tkeng-his atau xi\u2019jia, yang berarti \u2018rempah [berbentuk mirip] paku\u2019 (scented nails). Ini menunjukkan bahwa cengkeh sudah dikenal sejak lama oleh bangsa Cina --diketahui sejak abad-2-- jauh sebelum orang Eropa mengenalnya ((lihat, misalnya: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                          [2] Catatan-catatan para biarawan Fransiskan --yang disalin dan dikutip oleh van Frassen-- bahkan menyebut cengkeh sebagai salah satu bahan utama pengawet mumi para Fir\u2019aun, penguasa Mesir Kuno. Beberapa pakar sejarah dan arkeologi menyatakan bahwa rempah-rempah Maluku bahkan sudah ditemukan artefaknya di Lembah Mesopotomia (wilayah Iraq dan sekitarnya sekarang) pada 3.000 tahun sebelum Masehi. (lihat, antara lain: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                          [3] Uraian lebih rinci sejarah kolonialisme rempah-rempah Nusantara ini, terutama oleh Belanda dan Portugis, dapat dibaca pada beberapa sumber kepustakaan yang sudah dikenal luas, antara lain: Glamann (1958) dan Boxer (1965 dan 1969). Dalam risalah klasik Pires disebutkan bahwa pada tahun 1512-1521 saja, jumlah produksi cengkeh di Maluku sudah mencapai 7.250 bahar per tahun, terbesar adalah di Makian serta Amboina dan Lease (masing-masing 1.500 bahar)(Pires, 1512-1515).<\/em>
                                                                                                                                                          <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                          Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem Topatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
                                                                                                                                                          <\/p>\n ","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-10 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-02-10 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5425","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5415,"post_author":"878","post_date":"2019-02-07 12:15:55","post_date_gmt":"2019-02-07 05:15:55","post_content":" \n

                                                                                                                                                          Belakangan ini, ketika musim hujan tiba, di Kabupaten Temanggung, Kabupaten Jember, dan beberapa wilayah sentra pertanian tembakau lainnya, hampir mustahil menemukan tanaman tembakau tumbuh di lahan-lahan milik petani. Di wilayah-wilayah tersebut, citra sebagai sentra pertanian tembakau seakan menguap. Lahan-lahan yang ada di sana, sama sekali tidak ditumbuhi tanaman tembakau.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                          Kabar ini bisa jadi dianggap sebagai kabar gembira bagi mereka yang menganggap diri dan kelompoknya anti-rokok dan anti-tembakau yang selalu mengampanyekan sikap-sikap mereka terkait kebencian kepada tembakau dan aktivitas merokok. Setelah sekian lama berjuang, akhirnya perjuangan mereka dirasa berhasil usai menyaksikan fenomena lahan-lahan di wilayah yang dianggap sentra pertanian tembakau pada hari-hari belakangan ini.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                          Baca juga: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                                                                                          Tak sia-sia turun ke jalan, tak sia-sia melakukan lobi-lobi ke penguasa, tak sia-sia mengucurkan uang yang tidak sedikit, dan tak sia-sia mempermalukan diri dengan mengemis ke lembaga donor asing dan menggondol uang dari cukai tembakau untuk mengampanyekan gerakan anti-rokok dan anti-tembakau. Tak sia-sia. Karena perjuangan sepertinya berhasil.<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

                                                                                                                                                          Kampanye-kampanye gerakan mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya, sepertinya juga sangat berhasil. Bagaimana tidak? Wilayah-wilayah yang sebelumnya penuh dengan tanaman tembakau dan bergeliat dengannya, kini lahan-lahannya sudah berganti dengan tanaman lain. Sebuah keberhasilan yang menggembirakan. Begitu mungkin pikir mereka para yang menganggap dirinya pejuang anti-rokok dan anti-tembakau. Dan tentu saja mereka akan kecele dan kita akan menertawakan hal itu.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                          Sayangnya, mereka yang menganggap dirinya anti-rokok dan anti-tembakau tidak menyaksikan langsung fenomena ini di lapangan, di lahan-lahan yang peruntukannya berubah pada hari-hari belakangan ini ketika memasuki musim hujan. Mereka asyik duduk pada kursi empuk di ruang-ruang nyaman ber-AC di kota-kota yang jauh dari kultur pertanian. Mereka menyengajakan diri menjadi elit dan enggan untuk turun melihat langsung ke lapangan. Kalaupun ada yang turun langsung ke lapangan, hanya segelintir saja dari mereka, itupun sekadar formalitas saja. Tak pernah benar-benar mau turun ke lapangan, hidup dan merasakan langsung kultur pertanian tembakau dalam jangka waktu cukup lama di lapangan.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                          Baca juga: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                                                                                          Fenomena ini membikin kita tak bisa melihat mereka para anti-rokok kecele lalu menertawakan mereka.<\/strong> Fenomena keengganan terjun langsung ke lapangan terlebih mencoba mendengar mereka yang tetap menanam tembakau, juga menjalani keseharian dalam waktu cukup lama bersama petani tembakau inilah yang saya kira menjadikan mereka tetap keras kepala untuk anti-rokok dan anti-tembakau. Karena jika mereka mau melakukan itu, saya yakin mereka semua tidak akan begitu kaku dalam memandang pertanian tembakau dan produk hasil industri tembakau.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                          Salah satu yang selalu mereka kampanyekan dan ngotot dengan itu, terkait hulu pertanian tembakau adalah mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya. Mereka berargumen banyak tanaman lain yang bisa semenguntungkan tanaman tembakau. Keengganan mereka terjun langsung ke lapangan inilah yang membikin mereka buta dengan kondisi pertanian tembakau dan pada akhirnya terus menerus mengampanyekan pergantian tanaman tembakau dengan tanaman lainnya.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                          Baca juga: Imanlah kepada Allah, Bukan Antirokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                                                                                          Tembakau tanaman yang khas. Ia hanya tumbuh baik sepanjang empat hingga lima bulan dalam satu tahun. Tumbuh-kembang tanaman tembakau dengan baik itu umumnya terjadi pada musim kemarau setiap tahunnya. Hanya sedikit sekali jenis tembakau yang tumbuh baik di musim penghujan, mayoritasnya, tumbuh baik pada musim kemarau.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                          Jika ditanam pada musim hujan, hampir bisa dipastikan tanaman tembakau akan gagal menghasilkan daun-daun yang berkualitas. Ia akan rusak dan membusuk karena terlalu banyak terkena air sehingga daun-daun itu tak layak dijual. Jangankan bisa dijual, untuk tumbuh dengan baik pun sepertinya sulit karena musim hujan akan membunuh banyak tanaman itu.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                          Maka, tak heran pada musim-musim seperti saat ini, ketika musim penghujan mendekati puncaknya, di wilayah-wilayah yang dikenal sebagai sentra pertanian tembakau, sulit menemukan pohon tembakau yang sedang tumbuh. Pada lahan-lahan yang sebelumnya ditumbuhi tanaman tembakau pada musim panas, berganti tanaman-tanaman lain yang bermacam-macam, sesuai dengan kondisi lahannya. Untuk lahan sawah, lahan-lahan itu pada musim penghujan kini ditumbuhi tanaman padi yang subur. Pada lahan tegalan dan lahan di pegunungan, lahan-lahan yang ditanami tembakau pada musim kemarau, saat ini ditumbuhi bermacam jenis tanaman mulai dari cabai, bawang, tomat, kol, terong, mentimun, dan ragam jenis tanaman semusim lainnya.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                          Uniknya, tipikal tanaman tembakau yang tumbuh baik di musim kemarau ini memberi pilihan lebih kepada para petani. Lahan-lahan yang sulit ditanami pada musim kemarau, pada akhirnya masih bisa tetap produktif dengan keberadaan tanaman tembakau. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                          Maka, kampanye aneh mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain dengan ragam rupa dalih yang membingungkan, bukan saja sama sekali tidak tepat dan asal-asalan, namun bisa jadi akan ditertawakan oleh para petani yang begitu paham dengan kondisi lahan dan terutama kondisi iklim dan cuaca. Sulit mencari tanaman semusim yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Jika pun ada, tak ada yang semenguntungkan tanaman tembakau.
                                                                                                                                                          <\/p>\n ","post_title":"Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"keberhasilan-gerakan-anti-tembakau-tak-ada-tembakau-saat-musim-hujan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-07 12:16:02","post_modified_gmt":"2019-02-07 05:16:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5415","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5409,"post_author":"919","post_date":"2019-02-05 08:04:43","post_date_gmt":"2019-02-05 01:04:43","post_content":" \n

                                                                                                                                                          Tahun Baru Imlek yang merupakan tradisi Bangsa Tiongkok kini sudah tak lagi menjadi hal yang asing bagi masyarakat Indonesia. Kehadirannya sudah mewarnai dan berakulturasi dengan tradisi lokal. Menjelang Tahun Baru Imlek. Berbagai hiasan dan kemeriahan terjadi beberapa titik di Tanah Air. Perayaannya juga menjadi destinasi baru yang mengasyikkan untuk dilihat dan patut disaksikan.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                          Berterimakasihlah kepada sang bapak bangsa, KH Abdurrahman Wahid atau yang dikenal dengan nama Gus Dur. Berkat kebijakannya saat menjadi Presiden Indonesia, Tahun Baru Imlek resmi dijadikan hari libur nasional dan dianggap sebagai salah satu hari raya di Tanah Air. Meski sentimen antitionghoa masih ada di sana-sini, tapi tetap tak bisa dipungkiri bahwa bangsa tionghoa sudah bersentuhan dengan budaya lokal dalam kurun waktu yang sangat panjang.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                          DNA Bangsa Tionghoa yang memang merupakan pedagang menjadi pembuka kisah interaksi antara nenek moyang berbagai suku di Nusantara dengan mereka. Beberapa kelenteng-kelenteng yang tersebar pada berbagai pesisir daerah di Nusantara jadi buktinya. Pelabuhan-pelabuhan tua di tanah air dan ramainya perdagangan di pesisir mempermudah bangsa kita berhubungan dengan Bangsa Tionghoa.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                          Baca Juga: Wong Kalang dan Kota Gede<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                                                                                          Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa kehadiran Bangsa Tionghoa di Nusantara tak hanya sebagai pedagang, namun juga sebagai pekerja (bahkan hingga pekerja kasar). Benny Setiono, seorang sejarahwan menyebutkan bahwa antara tahun 1760-1770 dalam jumlah yang besar memasuki nusantara melalui Kalimantan Barat. Mereka bekerja sebagai kuli pertambangan di sana dan di kemudian hari membentuk sebuah republik bernama Republik Lanfang yang konon katanya menjadi republik pertama di Asia Tenggara.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                          Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                          Baca Juga: Imlek dan Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                                                                                          Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                          Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                          Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                          Baca Juga: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                                                                                          Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                          Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
                                                                                                                                                          <\/p>\n ","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_3o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                                          \n
                                                                                                                                                          1. Pemupukan kedua, dilakukan apabila pertumbuhan bibit kurang baik (21 HSS). Pupuk yang digunakan adalaj KNO3 <\/sub>(30 \u2013 50 gram per bedeng dengan ukuran 1x5 m) dicampur dengan air \u00b110 liter, selanjutnya bedengan disiram kembali dengan air (pembilasan) <\/li>
                                                                                                                                                          2. Penyiraman<\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n\n

                                                                                                                                                            Frekuensi penyiraman berdasarkan umur bibit\/umur hari setelah sebar (HSS):<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                            0 \u2013 10 HSS\t\t:\t3x Sehari (fase kritis)<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                            11 \u2013 21 HSS\t\t:\t2x Sehari <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                            22 \u2013 35 HSS\t\t:\t1x Sehari <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                            36 \u2013 45 \/ 50 HSS\t:\tPeriode stress air\/kering<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                            1. Penjarangan & Hardening<\/strong>
                                                                                                                                                              1. Penjarangan dilakukan agar jarak antara bibit ideal (4-5 cm) sehingga tidak<\/li><\/ol><\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                terserang hama & penyakit. Penjarangan dilakukan pada umur bibit 21-25 hari dengan cara: basahi bedengan sore hari sebelumnya dan pagi hari sebelum bibit dicabut, cabut bibit  yang akan ditanami dengan hati-hati, tanam bibit pada bedengan yang kerapatan bibitnya jarang, siram bibit sesegera mungkin setelah dipindah.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                1. Bibit dibiasakan untuk terkena sinar  matahari langsung. Tujuan hardening agar bibit dapat beradaptasi dan memperkuat jaringan daun, batang serta mengurangi resiko penyakit karena jamur. Pelaksanaan hardening mulai umur 21 HSS secara bertahap.Pada kondisi hujan tidak dianjurkan. <\/li>
                                                                                                                                                                2. Klipping <\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                  1. Dilakukan antara jam 08.00 sampai 11.00 (usahakan cuaca cerah) <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                  2. Kliping dilakukan pada saat bibit pertumbuhannya terlalu lebat atau saling menutup batangnya. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                  3. Kliping adalah kegiatan memotong sebagian atau 2\/3 daun bibit tembakau. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                  4. Frekuensi kliping dilakukan bisa satu, dua kali atau lebih sesuai dengan perkembangan bibit dan persiapan lokasi areal tanam. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                  5 Lima sampai tujuh hari menjelang transplanting, kegiatan kliping sebaiknya sudah selesai. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                  Tujuan klipping: menjaga lingkungan bibit agar tidak lembab, <\/strong>memperbesar batan,menyeragamkan ukuran benih, dan memperkuat pertumbuhan akar <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                  1. Pencabutan Bibit, agar mendapatkan jarak tanam yang sesuai lahan <\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                    \"\"\/<\/figure>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                    \"\"\/<\/figure>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                    Dalam satu hamparan direkomendasikan selesai tanam maksimal 3 Hari. Umur  tanaman akan menjadi sama atau seragam. Performance tanaman juga akan menjadi  seragam. Kemasakan daun pada saat petik juga menjadi seragam. Memudahkan pada saat  proses panen dan pasca panen. Tembakau kering yang dihasilkan pun juga seragam.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                    1. Pengendalian Hama & Penyakit<\/strong> <\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                      ~ Pada awal penyebaran benih direkomendasikan untuk melakukan penyemprotan fusngisida (jamur), seperti Previcur, Redomil & Antracol <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                      ~ Hama yang sering dijumpai: semut (Decis), janggel, orong-orong <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                      1. Tahapan Perawatan<\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                        \"\"\/<\/figure>\n ","post_title":"Sukses Bertani Tembakau Bersama Kemitraan Djarum di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sukses-bertani-tembakau-bersama-kemitraan-djarum-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-11 12:32:18","post_modified_gmt":"2019-02-11 05:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5433","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5425,"post_author":"922","post_date":"2019-02-10 09:07:33","post_date_gmt":"2019-02-10 02:07:33","post_content":" \n

                                                                                                                                                                        Bahwa cengkeh [1] (Syzygium aromaticum) --bersama pala (Myristica fragrans)-- adalah dua tanaman asli (endemik) Kepulauan Maluku, sudah tak terbantahkan. Cengkeh dikenal dan diakui berasal dari \u2018Empat Pulau Gunung Maluku\u2019 (Maloko Kie Raha): Ternate, Tidore, Moti, dan Makian.
                                                                                                                                                                        <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                        Adapun pala, berasal dari empat pulau kecil lainnya di tengah Laut Banda: Lonthor, Neira, Rhun, dan Ai. Pada penjelasan peta abad-16 oleh penjelajah dari Semenanjung Iberia, Fransisco Rodriguez, tertulis: \u201cEstas quatro Ilhas Azures suam as de molluquo homde nace ho crauzo\u201d<\/em> (Adalah empat pulau berwarna biru [dalam peta] yang disebut sebagai Kepulauan Maluku di mana rempah-rempah berasal) (Pires, 1512- 1515:213).
                                                                                                                                                                        <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                        Sejak beberapa abad sebelum Masehi, adalah para saudagar Arab --melalui Samudera Hindia melintasi Iskandariyah dan Laut Tengah-- serta para pedagang Cina --melalui jalur \u2018Jalan Sutra\u2019 melintasi Asia Tengah dan Asia Barat-- yang membawa dan memperkenalkannya ke daratan Eropa. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                        Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                        Bandar-bandar besar Tyre di Yunani dan Venesia di Italia menjadi pelabuhan utama rempah-rempah Maluku memasuki kehidupan dan peradaban Eropa. Selain sebagai bumbu masakan, rempah obat, dan ramuan wewangian, cengkeh dan pala juga menjadi bahan utama pengawet bahan pangan. [2]
                                                                                                                                                                        <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                        Inilah yang membuat orang-orang Eropa untuk pertama kalinya dapat mengawetkan dan menimbun makanan selama bermusim-musim. Prosa indah Blair bersaudara menggambarkannya dengan sangat baik:
                                                                                                                                                                        <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                        \u201cKemampuan menyimpan makanan lebih dari yang kami makan sekaligus berarti kemampuan menjual dan membelinya dalam jumlah besar --dan kota-kota dagang pun mekar. Perekonomian yang dihasilkannya mengarahkan kami ke zaman Pencerahan dan kemudian Revolusi Industri. Tak lama setelah kami menghirup aroma yang sangat kuat dari Timur itu dan mengubah kimiawi makanan kami, maka kami pun mampu melakukan lompatan besar dalam bidang budaya dan seni.\u201d (Blair & Blair, 2010; 30-31).<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                        Baca: Cengkeh dan Kelapa di Kepulauan Anambas<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                        Bukan hanya membuat perekonomian dan perdagangan serta ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang, cengkeh dan pala bahkan adalah faktor yang paling menentukan dalam kemunculan satu babakan paling mengenaskan dalam sejarah politik dunia, yakni zaman penjajahan (kolonialisme) Eropa, terutama atas-atas negeri- negeri Asia Selatan, Timur dan Tenggara, termasuk Indonesia.
                                                                                                                                                                        <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                        Tergerak oleh sahwat menguasai rempah-rempah yang menggiurkan itu, bangsa-bangsa Eropa --terutama Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda-- pun menggelar ekspedisi-ekspedisi besar untuk menemukan cengkeh dan pala langsung di tanah asalnya. Ketika armada-armada mereka akhirnya mencapai perairan Kepulauan Maluku, pada abad-16, perang pun tak terhindarkan.
                                                                                                                                                                        <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                        Mereka silih berganti saling mengalahkan, tetapi pemenang terakhir adalah Belanda. Melalui Perusahaan Dagang Hindia Timur (Vereenigde Oostindische Compagnie, VOC) yang dibentuk pada awal abad-17 (tepatnya tahun 1609), Belanda melancarkan ekspedisi Pelayaran Hongi (Hongie Tochten), untuk memusnahkan semua tanaman cengkeh di Ternate, Tidore, Moti, dan Makian, lalu membatasi ketat penanamnya hanya di Pulau-pulau Ambon dan Lease --yang lebih dekat ke Banda sebagai pusat pemerintahan mereka sebelum akhirnya dipindahkan ke Batavia.
                                                                                                                                                                        <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                        Praktis, sejak akhir abad-16, Belanda pun menguasai penuh perdagangan rempah-rempah Maluku dengan jumlah produksi rerata 2.500 sampai 4.500 ton per tahun. [3]<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                        Baca: Budidaya Pohon Cengkeh<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                        Meskipun peran utama rempah-rempah Maluku itu kemudian tergusur pada abad-18 dan 19 oleh beberapa barang eksotika tropis lainnya --hasil perkebunan-perkebunana besar baru di Pulau Sumatera dan Jawa: tebu, tembakau, lada, kopi, teh, nila, kelapa sawit, dan kayu jati-- namun sejarah sudah mencatat bahwa dua jenis rempah-rempah Maluku itulah yang mengawali penjelajahan sekaligus penjajahan kepulauan Nusantara oleh bangsa-bangsa Eropah, terutama Belanda (Topatimasang, ed., 2004:32). Jika saja tak pernah ada cengkeh dan pala di Maluku, mungkin sejarah kepulauan Nusantara ini akan berbeda sama sekali.
                                                                                                                                                                        <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                        Masa suram cengkeh dan pala terus berlangsung sampai pertengahan abad-20. Rempah eksotika yang pernah membuat tergila-gila<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                        para saudagar Arab, pedagang Cina, serta kaum ningrat Eropa itu, tergantikan perannya oleh penemuan teknologi mesin pendingin berkat Revolusi Industri yang dimulai di Inggris pada pertengahan abad-18. Pasaran cengkeh di Eropa pun merosot tajam.
                                                                                                                                                                        <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                        Nasibnya terselamatkan berkat penemuan oleh seorang Haji Djamhari di Kudus, Jawa Tengah. Pada akhir tahun 1880-an, Haji Djamhari menemukan kegunaan baru cengkeh sebagai ramuan utama rokok. Lahirlah satu produk baru yang unik, khas dan asli Indonesia: kretek! (Hanusz, 2000:ii).
                                                                                                                                                                        <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                        Setelah seperempat abad hanya berkembang dalam skala kecil usaha rumah tangga, produksi kretek akhirnya menjelma menjadi industri besar sejak awal abad-20 yang dirintis oleh Haji Nitisemito (pendiri pabrik \u2018Jambu Bol\u2019) di Kudus dan Liem Seng Tee (pendiri pabrik \u2018Dji Sam Soe\u2019 dan \u2018Sampoerna\u2019) di Surabaya.
                                                                                                                                                                        <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                        Puncaknya adalah pada pertengahan tahun 1950-an, ketika produksi kretek mulai berkembang pesat menjadi industri raksasa modern dengan munculnya beberapa pabrik baru, antara lain, yang terkemuka, oleh Oei Wei Gwan (pendiri pabrik \u2018Djarum\u2019) di Kudus dan Tjou Ing Hwie (pendiri pabrik \u2018Gudang Garam\u2019) di Kediri (Topatimasang, et.al., eds., 2010:131).<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                        Baca: Teruslah Menanam Tembakau dan Cengkeh, Wahai Petani Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                        Cengkeh, bahan baku paling esensial dari kretek --selain tembakau, tentu saja-- pun kembali berjaya. Bahkan, sejak dasawarsa 1970an, telah menjadi salah satu penyumbang terbesar keuangan negara Republik Indonesia. Pada tahun 2012 dan 2013, pemasukan cukai dari industri kretek mencatat 95,5% dari seluruh pemasukan cukai ke kas negara. Nilainya tak tanggung-tanggung: Rp 87 triliun! (el-Guyanie, et.al.: 2013:4-5).<\/strong>
                                                                                                                                                                        <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                        Nilai ekonomisnya yang sangat besar sempat menggoda penguasa otoriter rezim Presiden Soeharto, pada 1990-an, memberlakukan satu kebijakan \u2018Hongi Gaya Baru\u2019: monopoli perdagangan cengkeh dalam negeri melalui Badan Penyanggah dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) yang sangat merugikan petani. Harga cengkeh di tingkat petani penghasil anjlok sampai hanya Rp 2.000 - 3.000 per kilogram, lebih murah dari harga sebungkus kretek yang dihasilkan darinya.
                                                                                                                                                                        <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                        Akibatnya, ratusan ribu pohon cengkeh di daerah-daerah penghasil utama --Maluku, Maluku Utara, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Selatan-- ditebangi atau dibiarkan terlantar tak terurus.
                                                                                                                                                                        <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                        Gelombang reformasi sistem politik dan hukum nasional yang dimulai pada tahun 1998, akhirnya menjungkalkan rezim Soeharto dan BPPC dibubarkan, Pelan tapi pasti, harga cengkeh kembali merangkak naik, sehingga pada tahun 2012, bahkan melewati angka Rp 200.000 per kilogram. Para petani cengkeh di seluruh negeri kembali tersenyum. Tetapi, sampai kapan? <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                        Catatan:<\/strong><\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                        [1] Beberapa sumber menyebutkan bahwa kata \u2018cengkeh\u2019 dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Mandarin, tkeng-his atau xi\u2019jia, yang berarti \u2018rempah [berbentuk mirip] paku\u2019 (scented nails). Ini menunjukkan bahwa cengkeh sudah dikenal sejak lama oleh bangsa Cina --diketahui sejak abad-2-- jauh sebelum orang Eropa mengenalnya ((lihat, misalnya: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                        [2] Catatan-catatan para biarawan Fransiskan --yang disalin dan dikutip oleh van Frassen-- bahkan menyebut cengkeh sebagai salah satu bahan utama pengawet mumi para Fir\u2019aun, penguasa Mesir Kuno. Beberapa pakar sejarah dan arkeologi menyatakan bahwa rempah-rempah Maluku bahkan sudah ditemukan artefaknya di Lembah Mesopotomia (wilayah Iraq dan sekitarnya sekarang) pada 3.000 tahun sebelum Masehi. (lihat, antara lain: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                        [3] Uraian lebih rinci sejarah kolonialisme rempah-rempah Nusantara ini, terutama oleh Belanda dan Portugis, dapat dibaca pada beberapa sumber kepustakaan yang sudah dikenal luas, antara lain: Glamann (1958) dan Boxer (1965 dan 1969). Dalam risalah klasik Pires disebutkan bahwa pada tahun 1512-1521 saja, jumlah produksi cengkeh di Maluku sudah mencapai 7.250 bahar per tahun, terbesar adalah di Makian serta Amboina dan Lease (masing-masing 1.500 bahar)(Pires, 1512-1515).<\/em>
                                                                                                                                                                        <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                        Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem Topatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
                                                                                                                                                                        <\/p>\n ","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-10 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-02-10 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5425","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5415,"post_author":"878","post_date":"2019-02-07 12:15:55","post_date_gmt":"2019-02-07 05:15:55","post_content":" \n

                                                                                                                                                                        Belakangan ini, ketika musim hujan tiba, di Kabupaten Temanggung, Kabupaten Jember, dan beberapa wilayah sentra pertanian tembakau lainnya, hampir mustahil menemukan tanaman tembakau tumbuh di lahan-lahan milik petani. Di wilayah-wilayah tersebut, citra sebagai sentra pertanian tembakau seakan menguap. Lahan-lahan yang ada di sana, sama sekali tidak ditumbuhi tanaman tembakau.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                        Kabar ini bisa jadi dianggap sebagai kabar gembira bagi mereka yang menganggap diri dan kelompoknya anti-rokok dan anti-tembakau yang selalu mengampanyekan sikap-sikap mereka terkait kebencian kepada tembakau dan aktivitas merokok. Setelah sekian lama berjuang, akhirnya perjuangan mereka dirasa berhasil usai menyaksikan fenomena lahan-lahan di wilayah yang dianggap sentra pertanian tembakau pada hari-hari belakangan ini.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                        Baca juga: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                        Tak sia-sia turun ke jalan, tak sia-sia melakukan lobi-lobi ke penguasa, tak sia-sia mengucurkan uang yang tidak sedikit, dan tak sia-sia mempermalukan diri dengan mengemis ke lembaga donor asing dan menggondol uang dari cukai tembakau untuk mengampanyekan gerakan anti-rokok dan anti-tembakau. Tak sia-sia. Karena perjuangan sepertinya berhasil.<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                        Kampanye-kampanye gerakan mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya, sepertinya juga sangat berhasil. Bagaimana tidak? Wilayah-wilayah yang sebelumnya penuh dengan tanaman tembakau dan bergeliat dengannya, kini lahan-lahannya sudah berganti dengan tanaman lain. Sebuah keberhasilan yang menggembirakan. Begitu mungkin pikir mereka para yang menganggap dirinya pejuang anti-rokok dan anti-tembakau. Dan tentu saja mereka akan kecele dan kita akan menertawakan hal itu.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                        Sayangnya, mereka yang menganggap dirinya anti-rokok dan anti-tembakau tidak menyaksikan langsung fenomena ini di lapangan, di lahan-lahan yang peruntukannya berubah pada hari-hari belakangan ini ketika memasuki musim hujan. Mereka asyik duduk pada kursi empuk di ruang-ruang nyaman ber-AC di kota-kota yang jauh dari kultur pertanian. Mereka menyengajakan diri menjadi elit dan enggan untuk turun melihat langsung ke lapangan. Kalaupun ada yang turun langsung ke lapangan, hanya segelintir saja dari mereka, itupun sekadar formalitas saja. Tak pernah benar-benar mau turun ke lapangan, hidup dan merasakan langsung kultur pertanian tembakau dalam jangka waktu cukup lama di lapangan.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                        Baca juga: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                        Fenomena ini membikin kita tak bisa melihat mereka para anti-rokok kecele lalu menertawakan mereka.<\/strong> Fenomena keengganan terjun langsung ke lapangan terlebih mencoba mendengar mereka yang tetap menanam tembakau, juga menjalani keseharian dalam waktu cukup lama bersama petani tembakau inilah yang saya kira menjadikan mereka tetap keras kepala untuk anti-rokok dan anti-tembakau. Karena jika mereka mau melakukan itu, saya yakin mereka semua tidak akan begitu kaku dalam memandang pertanian tembakau dan produk hasil industri tembakau.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                        Salah satu yang selalu mereka kampanyekan dan ngotot dengan itu, terkait hulu pertanian tembakau adalah mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya. Mereka berargumen banyak tanaman lain yang bisa semenguntungkan tanaman tembakau. Keengganan mereka terjun langsung ke lapangan inilah yang membikin mereka buta dengan kondisi pertanian tembakau dan pada akhirnya terus menerus mengampanyekan pergantian tanaman tembakau dengan tanaman lainnya.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                        Baca juga: Imanlah kepada Allah, Bukan Antirokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                        Tembakau tanaman yang khas. Ia hanya tumbuh baik sepanjang empat hingga lima bulan dalam satu tahun. Tumbuh-kembang tanaman tembakau dengan baik itu umumnya terjadi pada musim kemarau setiap tahunnya. Hanya sedikit sekali jenis tembakau yang tumbuh baik di musim penghujan, mayoritasnya, tumbuh baik pada musim kemarau.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                        Jika ditanam pada musim hujan, hampir bisa dipastikan tanaman tembakau akan gagal menghasilkan daun-daun yang berkualitas. Ia akan rusak dan membusuk karena terlalu banyak terkena air sehingga daun-daun itu tak layak dijual. Jangankan bisa dijual, untuk tumbuh dengan baik pun sepertinya sulit karena musim hujan akan membunuh banyak tanaman itu.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                        Maka, tak heran pada musim-musim seperti saat ini, ketika musim penghujan mendekati puncaknya, di wilayah-wilayah yang dikenal sebagai sentra pertanian tembakau, sulit menemukan pohon tembakau yang sedang tumbuh. Pada lahan-lahan yang sebelumnya ditumbuhi tanaman tembakau pada musim panas, berganti tanaman-tanaman lain yang bermacam-macam, sesuai dengan kondisi lahannya. Untuk lahan sawah, lahan-lahan itu pada musim penghujan kini ditumbuhi tanaman padi yang subur. Pada lahan tegalan dan lahan di pegunungan, lahan-lahan yang ditanami tembakau pada musim kemarau, saat ini ditumbuhi bermacam jenis tanaman mulai dari cabai, bawang, tomat, kol, terong, mentimun, dan ragam jenis tanaman semusim lainnya.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                        Uniknya, tipikal tanaman tembakau yang tumbuh baik di musim kemarau ini memberi pilihan lebih kepada para petani. Lahan-lahan yang sulit ditanami pada musim kemarau, pada akhirnya masih bisa tetap produktif dengan keberadaan tanaman tembakau. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                        Maka, kampanye aneh mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain dengan ragam rupa dalih yang membingungkan, bukan saja sama sekali tidak tepat dan asal-asalan, namun bisa jadi akan ditertawakan oleh para petani yang begitu paham dengan kondisi lahan dan terutama kondisi iklim dan cuaca. Sulit mencari tanaman semusim yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Jika pun ada, tak ada yang semenguntungkan tanaman tembakau.
                                                                                                                                                                        <\/p>\n ","post_title":"Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"keberhasilan-gerakan-anti-tembakau-tak-ada-tembakau-saat-musim-hujan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-07 12:16:02","post_modified_gmt":"2019-02-07 05:16:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5415","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5409,"post_author":"919","post_date":"2019-02-05 08:04:43","post_date_gmt":"2019-02-05 01:04:43","post_content":" \n

                                                                                                                                                                        Tahun Baru Imlek yang merupakan tradisi Bangsa Tiongkok kini sudah tak lagi menjadi hal yang asing bagi masyarakat Indonesia. Kehadirannya sudah mewarnai dan berakulturasi dengan tradisi lokal. Menjelang Tahun Baru Imlek. Berbagai hiasan dan kemeriahan terjadi beberapa titik di Tanah Air. Perayaannya juga menjadi destinasi baru yang mengasyikkan untuk dilihat dan patut disaksikan.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                        Berterimakasihlah kepada sang bapak bangsa, KH Abdurrahman Wahid atau yang dikenal dengan nama Gus Dur. Berkat kebijakannya saat menjadi Presiden Indonesia, Tahun Baru Imlek resmi dijadikan hari libur nasional dan dianggap sebagai salah satu hari raya di Tanah Air. Meski sentimen antitionghoa masih ada di sana-sini, tapi tetap tak bisa dipungkiri bahwa bangsa tionghoa sudah bersentuhan dengan budaya lokal dalam kurun waktu yang sangat panjang.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                        DNA Bangsa Tionghoa yang memang merupakan pedagang menjadi pembuka kisah interaksi antara nenek moyang berbagai suku di Nusantara dengan mereka. Beberapa kelenteng-kelenteng yang tersebar pada berbagai pesisir daerah di Nusantara jadi buktinya. Pelabuhan-pelabuhan tua di tanah air dan ramainya perdagangan di pesisir mempermudah bangsa kita berhubungan dengan Bangsa Tionghoa.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                        Baca Juga: Wong Kalang dan Kota Gede<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                        Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa kehadiran Bangsa Tionghoa di Nusantara tak hanya sebagai pedagang, namun juga sebagai pekerja (bahkan hingga pekerja kasar). Benny Setiono, seorang sejarahwan menyebutkan bahwa antara tahun 1760-1770 dalam jumlah yang besar memasuki nusantara melalui Kalimantan Barat. Mereka bekerja sebagai kuli pertambangan di sana dan di kemudian hari membentuk sebuah republik bernama Republik Lanfang yang konon katanya menjadi republik pertama di Asia Tenggara.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                        Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                        Baca Juga: Imlek dan Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                        Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                        Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                        Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                        Baca Juga: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                        Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                        Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
                                                                                                                                                                        <\/p>\n ","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_3o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                                                        \n
                                                                                                                                                                        \"\"\/<\/figure>\n \n\n\n
                                                                                                                                                                        1. Pemupukan kedua, dilakukan apabila pertumbuhan bibit kurang baik (21 HSS). Pupuk yang digunakan adalaj KNO3 <\/sub>(30 \u2013 50 gram per bedeng dengan ukuran 1x5 m) dicampur dengan air \u00b110 liter, selanjutnya bedengan disiram kembali dengan air (pembilasan) <\/li>
                                                                                                                                                                        2. Penyiraman<\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                          Frekuensi penyiraman berdasarkan umur bibit\/umur hari setelah sebar (HSS):<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                          0 \u2013 10 HSS\t\t:\t3x Sehari (fase kritis)<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                          11 \u2013 21 HSS\t\t:\t2x Sehari <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                          22 \u2013 35 HSS\t\t:\t1x Sehari <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                          36 \u2013 45 \/ 50 HSS\t:\tPeriode stress air\/kering<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                          1. Penjarangan & Hardening<\/strong>
                                                                                                                                                                            1. Penjarangan dilakukan agar jarak antara bibit ideal (4-5 cm) sehingga tidak<\/li><\/ol><\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                              terserang hama & penyakit. Penjarangan dilakukan pada umur bibit 21-25 hari dengan cara: basahi bedengan sore hari sebelumnya dan pagi hari sebelum bibit dicabut, cabut bibit  yang akan ditanami dengan hati-hati, tanam bibit pada bedengan yang kerapatan bibitnya jarang, siram bibit sesegera mungkin setelah dipindah.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                              1. Bibit dibiasakan untuk terkena sinar  matahari langsung. Tujuan hardening agar bibit dapat beradaptasi dan memperkuat jaringan daun, batang serta mengurangi resiko penyakit karena jamur. Pelaksanaan hardening mulai umur 21 HSS secara bertahap.Pada kondisi hujan tidak dianjurkan. <\/li>
                                                                                                                                                                              2. Klipping <\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                1. Dilakukan antara jam 08.00 sampai 11.00 (usahakan cuaca cerah) <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                2. Kliping dilakukan pada saat bibit pertumbuhannya terlalu lebat atau saling menutup batangnya. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                3. Kliping adalah kegiatan memotong sebagian atau 2\/3 daun bibit tembakau. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                4. Frekuensi kliping dilakukan bisa satu, dua kali atau lebih sesuai dengan perkembangan bibit dan persiapan lokasi areal tanam. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                5 Lima sampai tujuh hari menjelang transplanting, kegiatan kliping sebaiknya sudah selesai. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                Tujuan klipping: menjaga lingkungan bibit agar tidak lembab, <\/strong>memperbesar batan,menyeragamkan ukuran benih, dan memperkuat pertumbuhan akar <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                1. Pencabutan Bibit, agar mendapatkan jarak tanam yang sesuai lahan <\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                                  \"\"\/<\/figure>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                                  \"\"\/<\/figure>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                  Dalam satu hamparan direkomendasikan selesai tanam maksimal 3 Hari. Umur  tanaman akan menjadi sama atau seragam. Performance tanaman juga akan menjadi  seragam. Kemasakan daun pada saat petik juga menjadi seragam. Memudahkan pada saat  proses panen dan pasca panen. Tembakau kering yang dihasilkan pun juga seragam.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                  1. Pengendalian Hama & Penyakit<\/strong> <\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                    ~ Pada awal penyebaran benih direkomendasikan untuk melakukan penyemprotan fusngisida (jamur), seperti Previcur, Redomil & Antracol <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                    ~ Hama yang sering dijumpai: semut (Decis), janggel, orong-orong <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                    1. Tahapan Perawatan<\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                                      \"\"\/<\/figure>\n ","post_title":"Sukses Bertani Tembakau Bersama Kemitraan Djarum di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sukses-bertani-tembakau-bersama-kemitraan-djarum-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-11 12:32:18","post_modified_gmt":"2019-02-11 05:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5433","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5425,"post_author":"922","post_date":"2019-02-10 09:07:33","post_date_gmt":"2019-02-10 02:07:33","post_content":" \n

                                                                                                                                                                                      Bahwa cengkeh [1] (Syzygium aromaticum) --bersama pala (Myristica fragrans)-- adalah dua tanaman asli (endemik) Kepulauan Maluku, sudah tak terbantahkan. Cengkeh dikenal dan diakui berasal dari \u2018Empat Pulau Gunung Maluku\u2019 (Maloko Kie Raha): Ternate, Tidore, Moti, dan Makian.
                                                                                                                                                                                      <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                      Adapun pala, berasal dari empat pulau kecil lainnya di tengah Laut Banda: Lonthor, Neira, Rhun, dan Ai. Pada penjelasan peta abad-16 oleh penjelajah dari Semenanjung Iberia, Fransisco Rodriguez, tertulis: \u201cEstas quatro Ilhas Azures suam as de molluquo homde nace ho crauzo\u201d<\/em> (Adalah empat pulau berwarna biru [dalam peta] yang disebut sebagai Kepulauan Maluku di mana rempah-rempah berasal) (Pires, 1512- 1515:213).
                                                                                                                                                                                      <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                      Sejak beberapa abad sebelum Masehi, adalah para saudagar Arab --melalui Samudera Hindia melintasi Iskandariyah dan Laut Tengah-- serta para pedagang Cina --melalui jalur \u2018Jalan Sutra\u2019 melintasi Asia Tengah dan Asia Barat-- yang membawa dan memperkenalkannya ke daratan Eropa. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                      Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                      Bandar-bandar besar Tyre di Yunani dan Venesia di Italia menjadi pelabuhan utama rempah-rempah Maluku memasuki kehidupan dan peradaban Eropa. Selain sebagai bumbu masakan, rempah obat, dan ramuan wewangian, cengkeh dan pala juga menjadi bahan utama pengawet bahan pangan. [2]
                                                                                                                                                                                      <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                      Inilah yang membuat orang-orang Eropa untuk pertama kalinya dapat mengawetkan dan menimbun makanan selama bermusim-musim. Prosa indah Blair bersaudara menggambarkannya dengan sangat baik:
                                                                                                                                                                                      <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                      \u201cKemampuan menyimpan makanan lebih dari yang kami makan sekaligus berarti kemampuan menjual dan membelinya dalam jumlah besar --dan kota-kota dagang pun mekar. Perekonomian yang dihasilkannya mengarahkan kami ke zaman Pencerahan dan kemudian Revolusi Industri. Tak lama setelah kami menghirup aroma yang sangat kuat dari Timur itu dan mengubah kimiawi makanan kami, maka kami pun mampu melakukan lompatan besar dalam bidang budaya dan seni.\u201d (Blair & Blair, 2010; 30-31).<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                      Baca: Cengkeh dan Kelapa di Kepulauan Anambas<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                      Bukan hanya membuat perekonomian dan perdagangan serta ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang, cengkeh dan pala bahkan adalah faktor yang paling menentukan dalam kemunculan satu babakan paling mengenaskan dalam sejarah politik dunia, yakni zaman penjajahan (kolonialisme) Eropa, terutama atas-atas negeri- negeri Asia Selatan, Timur dan Tenggara, termasuk Indonesia.
                                                                                                                                                                                      <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                      Tergerak oleh sahwat menguasai rempah-rempah yang menggiurkan itu, bangsa-bangsa Eropa --terutama Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda-- pun menggelar ekspedisi-ekspedisi besar untuk menemukan cengkeh dan pala langsung di tanah asalnya. Ketika armada-armada mereka akhirnya mencapai perairan Kepulauan Maluku, pada abad-16, perang pun tak terhindarkan.
                                                                                                                                                                                      <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                      Mereka silih berganti saling mengalahkan, tetapi pemenang terakhir adalah Belanda. Melalui Perusahaan Dagang Hindia Timur (Vereenigde Oostindische Compagnie, VOC) yang dibentuk pada awal abad-17 (tepatnya tahun 1609), Belanda melancarkan ekspedisi Pelayaran Hongi (Hongie Tochten), untuk memusnahkan semua tanaman cengkeh di Ternate, Tidore, Moti, dan Makian, lalu membatasi ketat penanamnya hanya di Pulau-pulau Ambon dan Lease --yang lebih dekat ke Banda sebagai pusat pemerintahan mereka sebelum akhirnya dipindahkan ke Batavia.
                                                                                                                                                                                      <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                      Praktis, sejak akhir abad-16, Belanda pun menguasai penuh perdagangan rempah-rempah Maluku dengan jumlah produksi rerata 2.500 sampai 4.500 ton per tahun. [3]<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                      Baca: Budidaya Pohon Cengkeh<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                      Meskipun peran utama rempah-rempah Maluku itu kemudian tergusur pada abad-18 dan 19 oleh beberapa barang eksotika tropis lainnya --hasil perkebunan-perkebunana besar baru di Pulau Sumatera dan Jawa: tebu, tembakau, lada, kopi, teh, nila, kelapa sawit, dan kayu jati-- namun sejarah sudah mencatat bahwa dua jenis rempah-rempah Maluku itulah yang mengawali penjelajahan sekaligus penjajahan kepulauan Nusantara oleh bangsa-bangsa Eropah, terutama Belanda (Topatimasang, ed., 2004:32). Jika saja tak pernah ada cengkeh dan pala di Maluku, mungkin sejarah kepulauan Nusantara ini akan berbeda sama sekali.
                                                                                                                                                                                      <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                      Masa suram cengkeh dan pala terus berlangsung sampai pertengahan abad-20. Rempah eksotika yang pernah membuat tergila-gila<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                      para saudagar Arab, pedagang Cina, serta kaum ningrat Eropa itu, tergantikan perannya oleh penemuan teknologi mesin pendingin berkat Revolusi Industri yang dimulai di Inggris pada pertengahan abad-18. Pasaran cengkeh di Eropa pun merosot tajam.
                                                                                                                                                                                      <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                      Nasibnya terselamatkan berkat penemuan oleh seorang Haji Djamhari di Kudus, Jawa Tengah. Pada akhir tahun 1880-an, Haji Djamhari menemukan kegunaan baru cengkeh sebagai ramuan utama rokok. Lahirlah satu produk baru yang unik, khas dan asli Indonesia: kretek! (Hanusz, 2000:ii).
                                                                                                                                                                                      <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                      Setelah seperempat abad hanya berkembang dalam skala kecil usaha rumah tangga, produksi kretek akhirnya menjelma menjadi industri besar sejak awal abad-20 yang dirintis oleh Haji Nitisemito (pendiri pabrik \u2018Jambu Bol\u2019) di Kudus dan Liem Seng Tee (pendiri pabrik \u2018Dji Sam Soe\u2019 dan \u2018Sampoerna\u2019) di Surabaya.
                                                                                                                                                                                      <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                      Puncaknya adalah pada pertengahan tahun 1950-an, ketika produksi kretek mulai berkembang pesat menjadi industri raksasa modern dengan munculnya beberapa pabrik baru, antara lain, yang terkemuka, oleh Oei Wei Gwan (pendiri pabrik \u2018Djarum\u2019) di Kudus dan Tjou Ing Hwie (pendiri pabrik \u2018Gudang Garam\u2019) di Kediri (Topatimasang, et.al., eds., 2010:131).<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                      Baca: Teruslah Menanam Tembakau dan Cengkeh, Wahai Petani Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                      Cengkeh, bahan baku paling esensial dari kretek --selain tembakau, tentu saja-- pun kembali berjaya. Bahkan, sejak dasawarsa 1970an, telah menjadi salah satu penyumbang terbesar keuangan negara Republik Indonesia. Pada tahun 2012 dan 2013, pemasukan cukai dari industri kretek mencatat 95,5% dari seluruh pemasukan cukai ke kas negara. Nilainya tak tanggung-tanggung: Rp 87 triliun! (el-Guyanie, et.al.: 2013:4-5).<\/strong>
                                                                                                                                                                                      <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                      Nilai ekonomisnya yang sangat besar sempat menggoda penguasa otoriter rezim Presiden Soeharto, pada 1990-an, memberlakukan satu kebijakan \u2018Hongi Gaya Baru\u2019: monopoli perdagangan cengkeh dalam negeri melalui Badan Penyanggah dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) yang sangat merugikan petani. Harga cengkeh di tingkat petani penghasil anjlok sampai hanya Rp 2.000 - 3.000 per kilogram, lebih murah dari harga sebungkus kretek yang dihasilkan darinya.
                                                                                                                                                                                      <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                      Akibatnya, ratusan ribu pohon cengkeh di daerah-daerah penghasil utama --Maluku, Maluku Utara, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Selatan-- ditebangi atau dibiarkan terlantar tak terurus.
                                                                                                                                                                                      <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                      Gelombang reformasi sistem politik dan hukum nasional yang dimulai pada tahun 1998, akhirnya menjungkalkan rezim Soeharto dan BPPC dibubarkan, Pelan tapi pasti, harga cengkeh kembali merangkak naik, sehingga pada tahun 2012, bahkan melewati angka Rp 200.000 per kilogram. Para petani cengkeh di seluruh negeri kembali tersenyum. Tetapi, sampai kapan? <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                      Catatan:<\/strong><\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                      [1] Beberapa sumber menyebutkan bahwa kata \u2018cengkeh\u2019 dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Mandarin, tkeng-his atau xi\u2019jia, yang berarti \u2018rempah [berbentuk mirip] paku\u2019 (scented nails). Ini menunjukkan bahwa cengkeh sudah dikenal sejak lama oleh bangsa Cina --diketahui sejak abad-2-- jauh sebelum orang Eropa mengenalnya ((lihat, misalnya: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                      [2] Catatan-catatan para biarawan Fransiskan --yang disalin dan dikutip oleh van Frassen-- bahkan menyebut cengkeh sebagai salah satu bahan utama pengawet mumi para Fir\u2019aun, penguasa Mesir Kuno. Beberapa pakar sejarah dan arkeologi menyatakan bahwa rempah-rempah Maluku bahkan sudah ditemukan artefaknya di Lembah Mesopotomia (wilayah Iraq dan sekitarnya sekarang) pada 3.000 tahun sebelum Masehi. (lihat, antara lain: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                      [3] Uraian lebih rinci sejarah kolonialisme rempah-rempah Nusantara ini, terutama oleh Belanda dan Portugis, dapat dibaca pada beberapa sumber kepustakaan yang sudah dikenal luas, antara lain: Glamann (1958) dan Boxer (1965 dan 1969). Dalam risalah klasik Pires disebutkan bahwa pada tahun 1512-1521 saja, jumlah produksi cengkeh di Maluku sudah mencapai 7.250 bahar per tahun, terbesar adalah di Makian serta Amboina dan Lease (masing-masing 1.500 bahar)(Pires, 1512-1515).<\/em>
                                                                                                                                                                                      <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                      Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem Topatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
                                                                                                                                                                                      <\/p>\n ","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-10 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-02-10 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5425","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5415,"post_author":"878","post_date":"2019-02-07 12:15:55","post_date_gmt":"2019-02-07 05:15:55","post_content":" \n

                                                                                                                                                                                      Belakangan ini, ketika musim hujan tiba, di Kabupaten Temanggung, Kabupaten Jember, dan beberapa wilayah sentra pertanian tembakau lainnya, hampir mustahil menemukan tanaman tembakau tumbuh di lahan-lahan milik petani. Di wilayah-wilayah tersebut, citra sebagai sentra pertanian tembakau seakan menguap. Lahan-lahan yang ada di sana, sama sekali tidak ditumbuhi tanaman tembakau.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                      Kabar ini bisa jadi dianggap sebagai kabar gembira bagi mereka yang menganggap diri dan kelompoknya anti-rokok dan anti-tembakau yang selalu mengampanyekan sikap-sikap mereka terkait kebencian kepada tembakau dan aktivitas merokok. Setelah sekian lama berjuang, akhirnya perjuangan mereka dirasa berhasil usai menyaksikan fenomena lahan-lahan di wilayah yang dianggap sentra pertanian tembakau pada hari-hari belakangan ini.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                      Baca juga: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                      Tak sia-sia turun ke jalan, tak sia-sia melakukan lobi-lobi ke penguasa, tak sia-sia mengucurkan uang yang tidak sedikit, dan tak sia-sia mempermalukan diri dengan mengemis ke lembaga donor asing dan menggondol uang dari cukai tembakau untuk mengampanyekan gerakan anti-rokok dan anti-tembakau. Tak sia-sia. Karena perjuangan sepertinya berhasil.<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                      Kampanye-kampanye gerakan mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya, sepertinya juga sangat berhasil. Bagaimana tidak? Wilayah-wilayah yang sebelumnya penuh dengan tanaman tembakau dan bergeliat dengannya, kini lahan-lahannya sudah berganti dengan tanaman lain. Sebuah keberhasilan yang menggembirakan. Begitu mungkin pikir mereka para yang menganggap dirinya pejuang anti-rokok dan anti-tembakau. Dan tentu saja mereka akan kecele dan kita akan menertawakan hal itu.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                      Sayangnya, mereka yang menganggap dirinya anti-rokok dan anti-tembakau tidak menyaksikan langsung fenomena ini di lapangan, di lahan-lahan yang peruntukannya berubah pada hari-hari belakangan ini ketika memasuki musim hujan. Mereka asyik duduk pada kursi empuk di ruang-ruang nyaman ber-AC di kota-kota yang jauh dari kultur pertanian. Mereka menyengajakan diri menjadi elit dan enggan untuk turun melihat langsung ke lapangan. Kalaupun ada yang turun langsung ke lapangan, hanya segelintir saja dari mereka, itupun sekadar formalitas saja. Tak pernah benar-benar mau turun ke lapangan, hidup dan merasakan langsung kultur pertanian tembakau dalam jangka waktu cukup lama di lapangan.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                      Baca juga: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                      Fenomena ini membikin kita tak bisa melihat mereka para anti-rokok kecele lalu menertawakan mereka.<\/strong> Fenomena keengganan terjun langsung ke lapangan terlebih mencoba mendengar mereka yang tetap menanam tembakau, juga menjalani keseharian dalam waktu cukup lama bersama petani tembakau inilah yang saya kira menjadikan mereka tetap keras kepala untuk anti-rokok dan anti-tembakau. Karena jika mereka mau melakukan itu, saya yakin mereka semua tidak akan begitu kaku dalam memandang pertanian tembakau dan produk hasil industri tembakau.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                      Salah satu yang selalu mereka kampanyekan dan ngotot dengan itu, terkait hulu pertanian tembakau adalah mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya. Mereka berargumen banyak tanaman lain yang bisa semenguntungkan tanaman tembakau. Keengganan mereka terjun langsung ke lapangan inilah yang membikin mereka buta dengan kondisi pertanian tembakau dan pada akhirnya terus menerus mengampanyekan pergantian tanaman tembakau dengan tanaman lainnya.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                      Baca juga: Imanlah kepada Allah, Bukan Antirokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                      Tembakau tanaman yang khas. Ia hanya tumbuh baik sepanjang empat hingga lima bulan dalam satu tahun. Tumbuh-kembang tanaman tembakau dengan baik itu umumnya terjadi pada musim kemarau setiap tahunnya. Hanya sedikit sekali jenis tembakau yang tumbuh baik di musim penghujan, mayoritasnya, tumbuh baik pada musim kemarau.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                      Jika ditanam pada musim hujan, hampir bisa dipastikan tanaman tembakau akan gagal menghasilkan daun-daun yang berkualitas. Ia akan rusak dan membusuk karena terlalu banyak terkena air sehingga daun-daun itu tak layak dijual. Jangankan bisa dijual, untuk tumbuh dengan baik pun sepertinya sulit karena musim hujan akan membunuh banyak tanaman itu.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                      Maka, tak heran pada musim-musim seperti saat ini, ketika musim penghujan mendekati puncaknya, di wilayah-wilayah yang dikenal sebagai sentra pertanian tembakau, sulit menemukan pohon tembakau yang sedang tumbuh. Pada lahan-lahan yang sebelumnya ditumbuhi tanaman tembakau pada musim panas, berganti tanaman-tanaman lain yang bermacam-macam, sesuai dengan kondisi lahannya. Untuk lahan sawah, lahan-lahan itu pada musim penghujan kini ditumbuhi tanaman padi yang subur. Pada lahan tegalan dan lahan di pegunungan, lahan-lahan yang ditanami tembakau pada musim kemarau, saat ini ditumbuhi bermacam jenis tanaman mulai dari cabai, bawang, tomat, kol, terong, mentimun, dan ragam jenis tanaman semusim lainnya.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                      Uniknya, tipikal tanaman tembakau yang tumbuh baik di musim kemarau ini memberi pilihan lebih kepada para petani. Lahan-lahan yang sulit ditanami pada musim kemarau, pada akhirnya masih bisa tetap produktif dengan keberadaan tanaman tembakau. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                      Maka, kampanye aneh mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain dengan ragam rupa dalih yang membingungkan, bukan saja sama sekali tidak tepat dan asal-asalan, namun bisa jadi akan ditertawakan oleh para petani yang begitu paham dengan kondisi lahan dan terutama kondisi iklim dan cuaca. Sulit mencari tanaman semusim yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Jika pun ada, tak ada yang semenguntungkan tanaman tembakau.
                                                                                                                                                                                      <\/p>\n ","post_title":"Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"keberhasilan-gerakan-anti-tembakau-tak-ada-tembakau-saat-musim-hujan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-07 12:16:02","post_modified_gmt":"2019-02-07 05:16:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5415","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5409,"post_author":"919","post_date":"2019-02-05 08:04:43","post_date_gmt":"2019-02-05 01:04:43","post_content":" \n

                                                                                                                                                                                      Tahun Baru Imlek yang merupakan tradisi Bangsa Tiongkok kini sudah tak lagi menjadi hal yang asing bagi masyarakat Indonesia. Kehadirannya sudah mewarnai dan berakulturasi dengan tradisi lokal. Menjelang Tahun Baru Imlek. Berbagai hiasan dan kemeriahan terjadi beberapa titik di Tanah Air. Perayaannya juga menjadi destinasi baru yang mengasyikkan untuk dilihat dan patut disaksikan.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                      Berterimakasihlah kepada sang bapak bangsa, KH Abdurrahman Wahid atau yang dikenal dengan nama Gus Dur. Berkat kebijakannya saat menjadi Presiden Indonesia, Tahun Baru Imlek resmi dijadikan hari libur nasional dan dianggap sebagai salah satu hari raya di Tanah Air. Meski sentimen antitionghoa masih ada di sana-sini, tapi tetap tak bisa dipungkiri bahwa bangsa tionghoa sudah bersentuhan dengan budaya lokal dalam kurun waktu yang sangat panjang.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                      DNA Bangsa Tionghoa yang memang merupakan pedagang menjadi pembuka kisah interaksi antara nenek moyang berbagai suku di Nusantara dengan mereka. Beberapa kelenteng-kelenteng yang tersebar pada berbagai pesisir daerah di Nusantara jadi buktinya. Pelabuhan-pelabuhan tua di tanah air dan ramainya perdagangan di pesisir mempermudah bangsa kita berhubungan dengan Bangsa Tionghoa.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                      Baca Juga: Wong Kalang dan Kota Gede<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                      Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa kehadiran Bangsa Tionghoa di Nusantara tak hanya sebagai pedagang, namun juga sebagai pekerja (bahkan hingga pekerja kasar). Benny Setiono, seorang sejarahwan menyebutkan bahwa antara tahun 1760-1770 dalam jumlah yang besar memasuki nusantara melalui Kalimantan Barat. Mereka bekerja sebagai kuli pertambangan di sana dan di kemudian hari membentuk sebuah republik bernama Republik Lanfang yang konon katanya menjadi republik pertama di Asia Tenggara.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                      Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                      Baca Juga: Imlek dan Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                      Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                      Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                      Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                      Baca Juga: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                      Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                      Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
                                                                                                                                                                                      <\/p>\n ","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_3o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                                                                      \n
                                                                                                                                                                                      1. Pemupukan <\/strong><\/li>
                                                                                                                                                                                      2. Pemupukan pertama<\/li><\/ol>\n \n\n\n
                                                                                                                                                                                        \"\"\/<\/figure>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                                        1. Pemupukan kedua, dilakukan apabila pertumbuhan bibit kurang baik (21 HSS). Pupuk yang digunakan adalaj KNO3 <\/sub>(30 \u2013 50 gram per bedeng dengan ukuran 1x5 m) dicampur dengan air \u00b110 liter, selanjutnya bedengan disiram kembali dengan air (pembilasan) <\/li>
                                                                                                                                                                                        2. Penyiraman<\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                          Frekuensi penyiraman berdasarkan umur bibit\/umur hari setelah sebar (HSS):<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                          0 \u2013 10 HSS\t\t:\t3x Sehari (fase kritis)<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                          11 \u2013 21 HSS\t\t:\t2x Sehari <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                          22 \u2013 35 HSS\t\t:\t1x Sehari <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                          36 \u2013 45 \/ 50 HSS\t:\tPeriode stress air\/kering<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                          1. Penjarangan & Hardening<\/strong>
                                                                                                                                                                                            1. Penjarangan dilakukan agar jarak antara bibit ideal (4-5 cm) sehingga tidak<\/li><\/ol><\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                              terserang hama & penyakit. Penjarangan dilakukan pada umur bibit 21-25 hari dengan cara: basahi bedengan sore hari sebelumnya dan pagi hari sebelum bibit dicabut, cabut bibit  yang akan ditanami dengan hati-hati, tanam bibit pada bedengan yang kerapatan bibitnya jarang, siram bibit sesegera mungkin setelah dipindah.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                              1. Bibit dibiasakan untuk terkena sinar  matahari langsung. Tujuan hardening agar bibit dapat beradaptasi dan memperkuat jaringan daun, batang serta mengurangi resiko penyakit karena jamur. Pelaksanaan hardening mulai umur 21 HSS secara bertahap.Pada kondisi hujan tidak dianjurkan. <\/li>
                                                                                                                                                                                              2. Klipping <\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                1. Dilakukan antara jam 08.00 sampai 11.00 (usahakan cuaca cerah) <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                2. Kliping dilakukan pada saat bibit pertumbuhannya terlalu lebat atau saling menutup batangnya. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                3. Kliping adalah kegiatan memotong sebagian atau 2\/3 daun bibit tembakau. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                4. Frekuensi kliping dilakukan bisa satu, dua kali atau lebih sesuai dengan perkembangan bibit dan persiapan lokasi areal tanam. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                5 Lima sampai tujuh hari menjelang transplanting, kegiatan kliping sebaiknya sudah selesai. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                Tujuan klipping: menjaga lingkungan bibit agar tidak lembab, <\/strong>memperbesar batan,menyeragamkan ukuran benih, dan memperkuat pertumbuhan akar <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                1. Pencabutan Bibit, agar mendapatkan jarak tanam yang sesuai lahan <\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                                                  \"\"\/<\/figure>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                                                  \"\"\/<\/figure>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                  Dalam satu hamparan direkomendasikan selesai tanam maksimal 3 Hari. Umur  tanaman akan menjadi sama atau seragam. Performance tanaman juga akan menjadi  seragam. Kemasakan daun pada saat petik juga menjadi seragam. Memudahkan pada saat  proses panen dan pasca panen. Tembakau kering yang dihasilkan pun juga seragam.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                  1. Pengendalian Hama & Penyakit<\/strong> <\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                    ~ Pada awal penyebaran benih direkomendasikan untuk melakukan penyemprotan fusngisida (jamur), seperti Previcur, Redomil & Antracol <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                    ~ Hama yang sering dijumpai: semut (Decis), janggel, orong-orong <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                    1. Tahapan Perawatan<\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                                                      \"\"\/<\/figure>\n ","post_title":"Sukses Bertani Tembakau Bersama Kemitraan Djarum di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sukses-bertani-tembakau-bersama-kemitraan-djarum-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-11 12:32:18","post_modified_gmt":"2019-02-11 05:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5433","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5425,"post_author":"922","post_date":"2019-02-10 09:07:33","post_date_gmt":"2019-02-10 02:07:33","post_content":" \n

                                                                                                                                                                                                      Bahwa cengkeh [1] (Syzygium aromaticum) --bersama pala (Myristica fragrans)-- adalah dua tanaman asli (endemik) Kepulauan Maluku, sudah tak terbantahkan. Cengkeh dikenal dan diakui berasal dari \u2018Empat Pulau Gunung Maluku\u2019 (Maloko Kie Raha): Ternate, Tidore, Moti, dan Makian.
                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                      Adapun pala, berasal dari empat pulau kecil lainnya di tengah Laut Banda: Lonthor, Neira, Rhun, dan Ai. Pada penjelasan peta abad-16 oleh penjelajah dari Semenanjung Iberia, Fransisco Rodriguez, tertulis: \u201cEstas quatro Ilhas Azures suam as de molluquo homde nace ho crauzo\u201d<\/em> (Adalah empat pulau berwarna biru [dalam peta] yang disebut sebagai Kepulauan Maluku di mana rempah-rempah berasal) (Pires, 1512- 1515:213).
                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                      Sejak beberapa abad sebelum Masehi, adalah para saudagar Arab --melalui Samudera Hindia melintasi Iskandariyah dan Laut Tengah-- serta para pedagang Cina --melalui jalur \u2018Jalan Sutra\u2019 melintasi Asia Tengah dan Asia Barat-- yang membawa dan memperkenalkannya ke daratan Eropa. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                      Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                      Bandar-bandar besar Tyre di Yunani dan Venesia di Italia menjadi pelabuhan utama rempah-rempah Maluku memasuki kehidupan dan peradaban Eropa. Selain sebagai bumbu masakan, rempah obat, dan ramuan wewangian, cengkeh dan pala juga menjadi bahan utama pengawet bahan pangan. [2]
                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                      Inilah yang membuat orang-orang Eropa untuk pertama kalinya dapat mengawetkan dan menimbun makanan selama bermusim-musim. Prosa indah Blair bersaudara menggambarkannya dengan sangat baik:
                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                      \u201cKemampuan menyimpan makanan lebih dari yang kami makan sekaligus berarti kemampuan menjual dan membelinya dalam jumlah besar --dan kota-kota dagang pun mekar. Perekonomian yang dihasilkannya mengarahkan kami ke zaman Pencerahan dan kemudian Revolusi Industri. Tak lama setelah kami menghirup aroma yang sangat kuat dari Timur itu dan mengubah kimiawi makanan kami, maka kami pun mampu melakukan lompatan besar dalam bidang budaya dan seni.\u201d (Blair & Blair, 2010; 30-31).<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                      Baca: Cengkeh dan Kelapa di Kepulauan Anambas<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                      Bukan hanya membuat perekonomian dan perdagangan serta ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang, cengkeh dan pala bahkan adalah faktor yang paling menentukan dalam kemunculan satu babakan paling mengenaskan dalam sejarah politik dunia, yakni zaman penjajahan (kolonialisme) Eropa, terutama atas-atas negeri- negeri Asia Selatan, Timur dan Tenggara, termasuk Indonesia.
                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                      Tergerak oleh sahwat menguasai rempah-rempah yang menggiurkan itu, bangsa-bangsa Eropa --terutama Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda-- pun menggelar ekspedisi-ekspedisi besar untuk menemukan cengkeh dan pala langsung di tanah asalnya. Ketika armada-armada mereka akhirnya mencapai perairan Kepulauan Maluku, pada abad-16, perang pun tak terhindarkan.
                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                      Mereka silih berganti saling mengalahkan, tetapi pemenang terakhir adalah Belanda. Melalui Perusahaan Dagang Hindia Timur (Vereenigde Oostindische Compagnie, VOC) yang dibentuk pada awal abad-17 (tepatnya tahun 1609), Belanda melancarkan ekspedisi Pelayaran Hongi (Hongie Tochten), untuk memusnahkan semua tanaman cengkeh di Ternate, Tidore, Moti, dan Makian, lalu membatasi ketat penanamnya hanya di Pulau-pulau Ambon dan Lease --yang lebih dekat ke Banda sebagai pusat pemerintahan mereka sebelum akhirnya dipindahkan ke Batavia.
                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                      Praktis, sejak akhir abad-16, Belanda pun menguasai penuh perdagangan rempah-rempah Maluku dengan jumlah produksi rerata 2.500 sampai 4.500 ton per tahun. [3]<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                      Baca: Budidaya Pohon Cengkeh<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                      Meskipun peran utama rempah-rempah Maluku itu kemudian tergusur pada abad-18 dan 19 oleh beberapa barang eksotika tropis lainnya --hasil perkebunan-perkebunana besar baru di Pulau Sumatera dan Jawa: tebu, tembakau, lada, kopi, teh, nila, kelapa sawit, dan kayu jati-- namun sejarah sudah mencatat bahwa dua jenis rempah-rempah Maluku itulah yang mengawali penjelajahan sekaligus penjajahan kepulauan Nusantara oleh bangsa-bangsa Eropah, terutama Belanda (Topatimasang, ed., 2004:32). Jika saja tak pernah ada cengkeh dan pala di Maluku, mungkin sejarah kepulauan Nusantara ini akan berbeda sama sekali.
                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                      Masa suram cengkeh dan pala terus berlangsung sampai pertengahan abad-20. Rempah eksotika yang pernah membuat tergila-gila<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                      para saudagar Arab, pedagang Cina, serta kaum ningrat Eropa itu, tergantikan perannya oleh penemuan teknologi mesin pendingin berkat Revolusi Industri yang dimulai di Inggris pada pertengahan abad-18. Pasaran cengkeh di Eropa pun merosot tajam.
                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                      Nasibnya terselamatkan berkat penemuan oleh seorang Haji Djamhari di Kudus, Jawa Tengah. Pada akhir tahun 1880-an, Haji Djamhari menemukan kegunaan baru cengkeh sebagai ramuan utama rokok. Lahirlah satu produk baru yang unik, khas dan asli Indonesia: kretek! (Hanusz, 2000:ii).
                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                      Setelah seperempat abad hanya berkembang dalam skala kecil usaha rumah tangga, produksi kretek akhirnya menjelma menjadi industri besar sejak awal abad-20 yang dirintis oleh Haji Nitisemito (pendiri pabrik \u2018Jambu Bol\u2019) di Kudus dan Liem Seng Tee (pendiri pabrik \u2018Dji Sam Soe\u2019 dan \u2018Sampoerna\u2019) di Surabaya.
                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                      Puncaknya adalah pada pertengahan tahun 1950-an, ketika produksi kretek mulai berkembang pesat menjadi industri raksasa modern dengan munculnya beberapa pabrik baru, antara lain, yang terkemuka, oleh Oei Wei Gwan (pendiri pabrik \u2018Djarum\u2019) di Kudus dan Tjou Ing Hwie (pendiri pabrik \u2018Gudang Garam\u2019) di Kediri (Topatimasang, et.al., eds., 2010:131).<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                      Baca: Teruslah Menanam Tembakau dan Cengkeh, Wahai Petani Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                      Cengkeh, bahan baku paling esensial dari kretek --selain tembakau, tentu saja-- pun kembali berjaya. Bahkan, sejak dasawarsa 1970an, telah menjadi salah satu penyumbang terbesar keuangan negara Republik Indonesia. Pada tahun 2012 dan 2013, pemasukan cukai dari industri kretek mencatat 95,5% dari seluruh pemasukan cukai ke kas negara. Nilainya tak tanggung-tanggung: Rp 87 triliun! (el-Guyanie, et.al.: 2013:4-5).<\/strong>
                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                      Nilai ekonomisnya yang sangat besar sempat menggoda penguasa otoriter rezim Presiden Soeharto, pada 1990-an, memberlakukan satu kebijakan \u2018Hongi Gaya Baru\u2019: monopoli perdagangan cengkeh dalam negeri melalui Badan Penyanggah dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) yang sangat merugikan petani. Harga cengkeh di tingkat petani penghasil anjlok sampai hanya Rp 2.000 - 3.000 per kilogram, lebih murah dari harga sebungkus kretek yang dihasilkan darinya.
                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                      Akibatnya, ratusan ribu pohon cengkeh di daerah-daerah penghasil utama --Maluku, Maluku Utara, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Selatan-- ditebangi atau dibiarkan terlantar tak terurus.
                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                      Gelombang reformasi sistem politik dan hukum nasional yang dimulai pada tahun 1998, akhirnya menjungkalkan rezim Soeharto dan BPPC dibubarkan, Pelan tapi pasti, harga cengkeh kembali merangkak naik, sehingga pada tahun 2012, bahkan melewati angka Rp 200.000 per kilogram. Para petani cengkeh di seluruh negeri kembali tersenyum. Tetapi, sampai kapan? <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                      Catatan:<\/strong><\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                      [1] Beberapa sumber menyebutkan bahwa kata \u2018cengkeh\u2019 dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Mandarin, tkeng-his atau xi\u2019jia, yang berarti \u2018rempah [berbentuk mirip] paku\u2019 (scented nails). Ini menunjukkan bahwa cengkeh sudah dikenal sejak lama oleh bangsa Cina --diketahui sejak abad-2-- jauh sebelum orang Eropa mengenalnya ((lihat, misalnya: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                      [2] Catatan-catatan para biarawan Fransiskan --yang disalin dan dikutip oleh van Frassen-- bahkan menyebut cengkeh sebagai salah satu bahan utama pengawet mumi para Fir\u2019aun, penguasa Mesir Kuno. Beberapa pakar sejarah dan arkeologi menyatakan bahwa rempah-rempah Maluku bahkan sudah ditemukan artefaknya di Lembah Mesopotomia (wilayah Iraq dan sekitarnya sekarang) pada 3.000 tahun sebelum Masehi. (lihat, antara lain: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                      [3] Uraian lebih rinci sejarah kolonialisme rempah-rempah Nusantara ini, terutama oleh Belanda dan Portugis, dapat dibaca pada beberapa sumber kepustakaan yang sudah dikenal luas, antara lain: Glamann (1958) dan Boxer (1965 dan 1969). Dalam risalah klasik Pires disebutkan bahwa pada tahun 1512-1521 saja, jumlah produksi cengkeh di Maluku sudah mencapai 7.250 bahar per tahun, terbesar adalah di Makian serta Amboina dan Lease (masing-masing 1.500 bahar)(Pires, 1512-1515).<\/em>
                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                      Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem Topatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n ","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-10 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-02-10 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5425","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5415,"post_author":"878","post_date":"2019-02-07 12:15:55","post_date_gmt":"2019-02-07 05:15:55","post_content":" \n

                                                                                                                                                                                                      Belakangan ini, ketika musim hujan tiba, di Kabupaten Temanggung, Kabupaten Jember, dan beberapa wilayah sentra pertanian tembakau lainnya, hampir mustahil menemukan tanaman tembakau tumbuh di lahan-lahan milik petani. Di wilayah-wilayah tersebut, citra sebagai sentra pertanian tembakau seakan menguap. Lahan-lahan yang ada di sana, sama sekali tidak ditumbuhi tanaman tembakau.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                      Kabar ini bisa jadi dianggap sebagai kabar gembira bagi mereka yang menganggap diri dan kelompoknya anti-rokok dan anti-tembakau yang selalu mengampanyekan sikap-sikap mereka terkait kebencian kepada tembakau dan aktivitas merokok. Setelah sekian lama berjuang, akhirnya perjuangan mereka dirasa berhasil usai menyaksikan fenomena lahan-lahan di wilayah yang dianggap sentra pertanian tembakau pada hari-hari belakangan ini.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                      Baca juga: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                      Tak sia-sia turun ke jalan, tak sia-sia melakukan lobi-lobi ke penguasa, tak sia-sia mengucurkan uang yang tidak sedikit, dan tak sia-sia mempermalukan diri dengan mengemis ke lembaga donor asing dan menggondol uang dari cukai tembakau untuk mengampanyekan gerakan anti-rokok dan anti-tembakau. Tak sia-sia. Karena perjuangan sepertinya berhasil.<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                      Kampanye-kampanye gerakan mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya, sepertinya juga sangat berhasil. Bagaimana tidak? Wilayah-wilayah yang sebelumnya penuh dengan tanaman tembakau dan bergeliat dengannya, kini lahan-lahannya sudah berganti dengan tanaman lain. Sebuah keberhasilan yang menggembirakan. Begitu mungkin pikir mereka para yang menganggap dirinya pejuang anti-rokok dan anti-tembakau. Dan tentu saja mereka akan kecele dan kita akan menertawakan hal itu.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                      Sayangnya, mereka yang menganggap dirinya anti-rokok dan anti-tembakau tidak menyaksikan langsung fenomena ini di lapangan, di lahan-lahan yang peruntukannya berubah pada hari-hari belakangan ini ketika memasuki musim hujan. Mereka asyik duduk pada kursi empuk di ruang-ruang nyaman ber-AC di kota-kota yang jauh dari kultur pertanian. Mereka menyengajakan diri menjadi elit dan enggan untuk turun melihat langsung ke lapangan. Kalaupun ada yang turun langsung ke lapangan, hanya segelintir saja dari mereka, itupun sekadar formalitas saja. Tak pernah benar-benar mau turun ke lapangan, hidup dan merasakan langsung kultur pertanian tembakau dalam jangka waktu cukup lama di lapangan.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                      Baca juga: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                      Fenomena ini membikin kita tak bisa melihat mereka para anti-rokok kecele lalu menertawakan mereka.<\/strong> Fenomena keengganan terjun langsung ke lapangan terlebih mencoba mendengar mereka yang tetap menanam tembakau, juga menjalani keseharian dalam waktu cukup lama bersama petani tembakau inilah yang saya kira menjadikan mereka tetap keras kepala untuk anti-rokok dan anti-tembakau. Karena jika mereka mau melakukan itu, saya yakin mereka semua tidak akan begitu kaku dalam memandang pertanian tembakau dan produk hasil industri tembakau.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                      Salah satu yang selalu mereka kampanyekan dan ngotot dengan itu, terkait hulu pertanian tembakau adalah mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya. Mereka berargumen banyak tanaman lain yang bisa semenguntungkan tanaman tembakau. Keengganan mereka terjun langsung ke lapangan inilah yang membikin mereka buta dengan kondisi pertanian tembakau dan pada akhirnya terus menerus mengampanyekan pergantian tanaman tembakau dengan tanaman lainnya.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                      Baca juga: Imanlah kepada Allah, Bukan Antirokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                      Tembakau tanaman yang khas. Ia hanya tumbuh baik sepanjang empat hingga lima bulan dalam satu tahun. Tumbuh-kembang tanaman tembakau dengan baik itu umumnya terjadi pada musim kemarau setiap tahunnya. Hanya sedikit sekali jenis tembakau yang tumbuh baik di musim penghujan, mayoritasnya, tumbuh baik pada musim kemarau.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                      Jika ditanam pada musim hujan, hampir bisa dipastikan tanaman tembakau akan gagal menghasilkan daun-daun yang berkualitas. Ia akan rusak dan membusuk karena terlalu banyak terkena air sehingga daun-daun itu tak layak dijual. Jangankan bisa dijual, untuk tumbuh dengan baik pun sepertinya sulit karena musim hujan akan membunuh banyak tanaman itu.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                      Maka, tak heran pada musim-musim seperti saat ini, ketika musim penghujan mendekati puncaknya, di wilayah-wilayah yang dikenal sebagai sentra pertanian tembakau, sulit menemukan pohon tembakau yang sedang tumbuh. Pada lahan-lahan yang sebelumnya ditumbuhi tanaman tembakau pada musim panas, berganti tanaman-tanaman lain yang bermacam-macam, sesuai dengan kondisi lahannya. Untuk lahan sawah, lahan-lahan itu pada musim penghujan kini ditumbuhi tanaman padi yang subur. Pada lahan tegalan dan lahan di pegunungan, lahan-lahan yang ditanami tembakau pada musim kemarau, saat ini ditumbuhi bermacam jenis tanaman mulai dari cabai, bawang, tomat, kol, terong, mentimun, dan ragam jenis tanaman semusim lainnya.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                      Uniknya, tipikal tanaman tembakau yang tumbuh baik di musim kemarau ini memberi pilihan lebih kepada para petani. Lahan-lahan yang sulit ditanami pada musim kemarau, pada akhirnya masih bisa tetap produktif dengan keberadaan tanaman tembakau. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                      Maka, kampanye aneh mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain dengan ragam rupa dalih yang membingungkan, bukan saja sama sekali tidak tepat dan asal-asalan, namun bisa jadi akan ditertawakan oleh para petani yang begitu paham dengan kondisi lahan dan terutama kondisi iklim dan cuaca. Sulit mencari tanaman semusim yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Jika pun ada, tak ada yang semenguntungkan tanaman tembakau.
                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n ","post_title":"Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"keberhasilan-gerakan-anti-tembakau-tak-ada-tembakau-saat-musim-hujan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-07 12:16:02","post_modified_gmt":"2019-02-07 05:16:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5415","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5409,"post_author":"919","post_date":"2019-02-05 08:04:43","post_date_gmt":"2019-02-05 01:04:43","post_content":" \n

                                                                                                                                                                                                      Tahun Baru Imlek yang merupakan tradisi Bangsa Tiongkok kini sudah tak lagi menjadi hal yang asing bagi masyarakat Indonesia. Kehadirannya sudah mewarnai dan berakulturasi dengan tradisi lokal. Menjelang Tahun Baru Imlek. Berbagai hiasan dan kemeriahan terjadi beberapa titik di Tanah Air. Perayaannya juga menjadi destinasi baru yang mengasyikkan untuk dilihat dan patut disaksikan.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                      Berterimakasihlah kepada sang bapak bangsa, KH Abdurrahman Wahid atau yang dikenal dengan nama Gus Dur. Berkat kebijakannya saat menjadi Presiden Indonesia, Tahun Baru Imlek resmi dijadikan hari libur nasional dan dianggap sebagai salah satu hari raya di Tanah Air. Meski sentimen antitionghoa masih ada di sana-sini, tapi tetap tak bisa dipungkiri bahwa bangsa tionghoa sudah bersentuhan dengan budaya lokal dalam kurun waktu yang sangat panjang.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                      DNA Bangsa Tionghoa yang memang merupakan pedagang menjadi pembuka kisah interaksi antara nenek moyang berbagai suku di Nusantara dengan mereka. Beberapa kelenteng-kelenteng yang tersebar pada berbagai pesisir daerah di Nusantara jadi buktinya. Pelabuhan-pelabuhan tua di tanah air dan ramainya perdagangan di pesisir mempermudah bangsa kita berhubungan dengan Bangsa Tionghoa.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                      Baca Juga: Wong Kalang dan Kota Gede<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                      Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa kehadiran Bangsa Tionghoa di Nusantara tak hanya sebagai pedagang, namun juga sebagai pekerja (bahkan hingga pekerja kasar). Benny Setiono, seorang sejarahwan menyebutkan bahwa antara tahun 1760-1770 dalam jumlah yang besar memasuki nusantara melalui Kalimantan Barat. Mereka bekerja sebagai kuli pertambangan di sana dan di kemudian hari membentuk sebuah republik bernama Republik Lanfang yang konon katanya menjadi republik pertama di Asia Tenggara.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                      Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                      Baca Juga: Imlek dan Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                      Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                      Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                      Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                      Baca Juga: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                      Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                      Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n ","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_3o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                                                                                      \n

                                                                                                                                                                                                      Setelah bibit dan lahan siap, kemudian sebarkan benih dengan ditutup memakai jerami <\/p>\n \n\n\n

                                                                                                                                                                                                      1. Pemupukan <\/strong><\/li>
                                                                                                                                                                                                      2. Pemupukan pertama<\/li><\/ol>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                                                        \"\"\/<\/figure>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                                                        1. Pemupukan kedua, dilakukan apabila pertumbuhan bibit kurang baik (21 HSS). Pupuk yang digunakan adalaj KNO3 <\/sub>(30 \u2013 50 gram per bedeng dengan ukuran 1x5 m) dicampur dengan air \u00b110 liter, selanjutnya bedengan disiram kembali dengan air (pembilasan) <\/li>
                                                                                                                                                                                                        2. Penyiraman<\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                          Frekuensi penyiraman berdasarkan umur bibit\/umur hari setelah sebar (HSS):<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                          0 \u2013 10 HSS\t\t:\t3x Sehari (fase kritis)<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                          11 \u2013 21 HSS\t\t:\t2x Sehari <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                          22 \u2013 35 HSS\t\t:\t1x Sehari <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                          36 \u2013 45 \/ 50 HSS\t:\tPeriode stress air\/kering<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                          1. Penjarangan & Hardening<\/strong>
                                                                                                                                                                                                            1. Penjarangan dilakukan agar jarak antara bibit ideal (4-5 cm) sehingga tidak<\/li><\/ol><\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                              terserang hama & penyakit. Penjarangan dilakukan pada umur bibit 21-25 hari dengan cara: basahi bedengan sore hari sebelumnya dan pagi hari sebelum bibit dicabut, cabut bibit  yang akan ditanami dengan hati-hati, tanam bibit pada bedengan yang kerapatan bibitnya jarang, siram bibit sesegera mungkin setelah dipindah.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                              1. Bibit dibiasakan untuk terkena sinar  matahari langsung. Tujuan hardening agar bibit dapat beradaptasi dan memperkuat jaringan daun, batang serta mengurangi resiko penyakit karena jamur. Pelaksanaan hardening mulai umur 21 HSS secara bertahap.Pada kondisi hujan tidak dianjurkan. <\/li>
                                                                                                                                                                                                              2. Klipping <\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                1. Dilakukan antara jam 08.00 sampai 11.00 (usahakan cuaca cerah) <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                2. Kliping dilakukan pada saat bibit pertumbuhannya terlalu lebat atau saling menutup batangnya. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                3. Kliping adalah kegiatan memotong sebagian atau 2\/3 daun bibit tembakau. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                4. Frekuensi kliping dilakukan bisa satu, dua kali atau lebih sesuai dengan perkembangan bibit dan persiapan lokasi areal tanam. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                5 Lima sampai tujuh hari menjelang transplanting, kegiatan kliping sebaiknya sudah selesai. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                Tujuan klipping: menjaga lingkungan bibit agar tidak lembab, <\/strong>memperbesar batan,menyeragamkan ukuran benih, dan memperkuat pertumbuhan akar <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                1. Pencabutan Bibit, agar mendapatkan jarak tanam yang sesuai lahan <\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                                                                  \"\"\/<\/figure>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                                                                  \"\"\/<\/figure>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                  Dalam satu hamparan direkomendasikan selesai tanam maksimal 3 Hari. Umur  tanaman akan menjadi sama atau seragam. Performance tanaman juga akan menjadi  seragam. Kemasakan daun pada saat petik juga menjadi seragam. Memudahkan pada saat  proses panen dan pasca panen. Tembakau kering yang dihasilkan pun juga seragam.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                  1. Pengendalian Hama & Penyakit<\/strong> <\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                    ~ Pada awal penyebaran benih direkomendasikan untuk melakukan penyemprotan fusngisida (jamur), seperti Previcur, Redomil & Antracol <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                    ~ Hama yang sering dijumpai: semut (Decis), janggel, orong-orong <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                    1. Tahapan Perawatan<\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                                                                      \"\"\/<\/figure>\n ","post_title":"Sukses Bertani Tembakau Bersama Kemitraan Djarum di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sukses-bertani-tembakau-bersama-kemitraan-djarum-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-11 12:32:18","post_modified_gmt":"2019-02-11 05:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5433","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5425,"post_author":"922","post_date":"2019-02-10 09:07:33","post_date_gmt":"2019-02-10 02:07:33","post_content":" \n

                                                                                                                                                                                                                      Bahwa cengkeh [1] (Syzygium aromaticum) --bersama pala (Myristica fragrans)-- adalah dua tanaman asli (endemik) Kepulauan Maluku, sudah tak terbantahkan. Cengkeh dikenal dan diakui berasal dari \u2018Empat Pulau Gunung Maluku\u2019 (Maloko Kie Raha): Ternate, Tidore, Moti, dan Makian.
                                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                      Adapun pala, berasal dari empat pulau kecil lainnya di tengah Laut Banda: Lonthor, Neira, Rhun, dan Ai. Pada penjelasan peta abad-16 oleh penjelajah dari Semenanjung Iberia, Fransisco Rodriguez, tertulis: \u201cEstas quatro Ilhas Azures suam as de molluquo homde nace ho crauzo\u201d<\/em> (Adalah empat pulau berwarna biru [dalam peta] yang disebut sebagai Kepulauan Maluku di mana rempah-rempah berasal) (Pires, 1512- 1515:213).
                                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                      Sejak beberapa abad sebelum Masehi, adalah para saudagar Arab --melalui Samudera Hindia melintasi Iskandariyah dan Laut Tengah-- serta para pedagang Cina --melalui jalur \u2018Jalan Sutra\u2019 melintasi Asia Tengah dan Asia Barat-- yang membawa dan memperkenalkannya ke daratan Eropa. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                      Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                      Bandar-bandar besar Tyre di Yunani dan Venesia di Italia menjadi pelabuhan utama rempah-rempah Maluku memasuki kehidupan dan peradaban Eropa. Selain sebagai bumbu masakan, rempah obat, dan ramuan wewangian, cengkeh dan pala juga menjadi bahan utama pengawet bahan pangan. [2]
                                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                      Inilah yang membuat orang-orang Eropa untuk pertama kalinya dapat mengawetkan dan menimbun makanan selama bermusim-musim. Prosa indah Blair bersaudara menggambarkannya dengan sangat baik:
                                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                      \u201cKemampuan menyimpan makanan lebih dari yang kami makan sekaligus berarti kemampuan menjual dan membelinya dalam jumlah besar --dan kota-kota dagang pun mekar. Perekonomian yang dihasilkannya mengarahkan kami ke zaman Pencerahan dan kemudian Revolusi Industri. Tak lama setelah kami menghirup aroma yang sangat kuat dari Timur itu dan mengubah kimiawi makanan kami, maka kami pun mampu melakukan lompatan besar dalam bidang budaya dan seni.\u201d (Blair & Blair, 2010; 30-31).<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                      Baca: Cengkeh dan Kelapa di Kepulauan Anambas<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                      Bukan hanya membuat perekonomian dan perdagangan serta ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang, cengkeh dan pala bahkan adalah faktor yang paling menentukan dalam kemunculan satu babakan paling mengenaskan dalam sejarah politik dunia, yakni zaman penjajahan (kolonialisme) Eropa, terutama atas-atas negeri- negeri Asia Selatan, Timur dan Tenggara, termasuk Indonesia.
                                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                      Tergerak oleh sahwat menguasai rempah-rempah yang menggiurkan itu, bangsa-bangsa Eropa --terutama Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda-- pun menggelar ekspedisi-ekspedisi besar untuk menemukan cengkeh dan pala langsung di tanah asalnya. Ketika armada-armada mereka akhirnya mencapai perairan Kepulauan Maluku, pada abad-16, perang pun tak terhindarkan.
                                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                      Mereka silih berganti saling mengalahkan, tetapi pemenang terakhir adalah Belanda. Melalui Perusahaan Dagang Hindia Timur (Vereenigde Oostindische Compagnie, VOC) yang dibentuk pada awal abad-17 (tepatnya tahun 1609), Belanda melancarkan ekspedisi Pelayaran Hongi (Hongie Tochten), untuk memusnahkan semua tanaman cengkeh di Ternate, Tidore, Moti, dan Makian, lalu membatasi ketat penanamnya hanya di Pulau-pulau Ambon dan Lease --yang lebih dekat ke Banda sebagai pusat pemerintahan mereka sebelum akhirnya dipindahkan ke Batavia.
                                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                      Praktis, sejak akhir abad-16, Belanda pun menguasai penuh perdagangan rempah-rempah Maluku dengan jumlah produksi rerata 2.500 sampai 4.500 ton per tahun. [3]<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                      Baca: Budidaya Pohon Cengkeh<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                      Meskipun peran utama rempah-rempah Maluku itu kemudian tergusur pada abad-18 dan 19 oleh beberapa barang eksotika tropis lainnya --hasil perkebunan-perkebunana besar baru di Pulau Sumatera dan Jawa: tebu, tembakau, lada, kopi, teh, nila, kelapa sawit, dan kayu jati-- namun sejarah sudah mencatat bahwa dua jenis rempah-rempah Maluku itulah yang mengawali penjelajahan sekaligus penjajahan kepulauan Nusantara oleh bangsa-bangsa Eropah, terutama Belanda (Topatimasang, ed., 2004:32). Jika saja tak pernah ada cengkeh dan pala di Maluku, mungkin sejarah kepulauan Nusantara ini akan berbeda sama sekali.
                                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                      Masa suram cengkeh dan pala terus berlangsung sampai pertengahan abad-20. Rempah eksotika yang pernah membuat tergila-gila<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                      para saudagar Arab, pedagang Cina, serta kaum ningrat Eropa itu, tergantikan perannya oleh penemuan teknologi mesin pendingin berkat Revolusi Industri yang dimulai di Inggris pada pertengahan abad-18. Pasaran cengkeh di Eropa pun merosot tajam.
                                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                      Nasibnya terselamatkan berkat penemuan oleh seorang Haji Djamhari di Kudus, Jawa Tengah. Pada akhir tahun 1880-an, Haji Djamhari menemukan kegunaan baru cengkeh sebagai ramuan utama rokok. Lahirlah satu produk baru yang unik, khas dan asli Indonesia: kretek! (Hanusz, 2000:ii).
                                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                      Setelah seperempat abad hanya berkembang dalam skala kecil usaha rumah tangga, produksi kretek akhirnya menjelma menjadi industri besar sejak awal abad-20 yang dirintis oleh Haji Nitisemito (pendiri pabrik \u2018Jambu Bol\u2019) di Kudus dan Liem Seng Tee (pendiri pabrik \u2018Dji Sam Soe\u2019 dan \u2018Sampoerna\u2019) di Surabaya.
                                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                      Puncaknya adalah pada pertengahan tahun 1950-an, ketika produksi kretek mulai berkembang pesat menjadi industri raksasa modern dengan munculnya beberapa pabrik baru, antara lain, yang terkemuka, oleh Oei Wei Gwan (pendiri pabrik \u2018Djarum\u2019) di Kudus dan Tjou Ing Hwie (pendiri pabrik \u2018Gudang Garam\u2019) di Kediri (Topatimasang, et.al., eds., 2010:131).<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                      Baca: Teruslah Menanam Tembakau dan Cengkeh, Wahai Petani Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                      Cengkeh, bahan baku paling esensial dari kretek --selain tembakau, tentu saja-- pun kembali berjaya. Bahkan, sejak dasawarsa 1970an, telah menjadi salah satu penyumbang terbesar keuangan negara Republik Indonesia. Pada tahun 2012 dan 2013, pemasukan cukai dari industri kretek mencatat 95,5% dari seluruh pemasukan cukai ke kas negara. Nilainya tak tanggung-tanggung: Rp 87 triliun! (el-Guyanie, et.al.: 2013:4-5).<\/strong>
                                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                      Nilai ekonomisnya yang sangat besar sempat menggoda penguasa otoriter rezim Presiden Soeharto, pada 1990-an, memberlakukan satu kebijakan \u2018Hongi Gaya Baru\u2019: monopoli perdagangan cengkeh dalam negeri melalui Badan Penyanggah dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) yang sangat merugikan petani. Harga cengkeh di tingkat petani penghasil anjlok sampai hanya Rp 2.000 - 3.000 per kilogram, lebih murah dari harga sebungkus kretek yang dihasilkan darinya.
                                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                      Akibatnya, ratusan ribu pohon cengkeh di daerah-daerah penghasil utama --Maluku, Maluku Utara, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Selatan-- ditebangi atau dibiarkan terlantar tak terurus.
                                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                      Gelombang reformasi sistem politik dan hukum nasional yang dimulai pada tahun 1998, akhirnya menjungkalkan rezim Soeharto dan BPPC dibubarkan, Pelan tapi pasti, harga cengkeh kembali merangkak naik, sehingga pada tahun 2012, bahkan melewati angka Rp 200.000 per kilogram. Para petani cengkeh di seluruh negeri kembali tersenyum. Tetapi, sampai kapan? <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                      Catatan:<\/strong><\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                      [1] Beberapa sumber menyebutkan bahwa kata \u2018cengkeh\u2019 dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Mandarin, tkeng-his atau xi\u2019jia, yang berarti \u2018rempah [berbentuk mirip] paku\u2019 (scented nails). Ini menunjukkan bahwa cengkeh sudah dikenal sejak lama oleh bangsa Cina --diketahui sejak abad-2-- jauh sebelum orang Eropa mengenalnya ((lihat, misalnya: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                      [2] Catatan-catatan para biarawan Fransiskan --yang disalin dan dikutip oleh van Frassen-- bahkan menyebut cengkeh sebagai salah satu bahan utama pengawet mumi para Fir\u2019aun, penguasa Mesir Kuno. Beberapa pakar sejarah dan arkeologi menyatakan bahwa rempah-rempah Maluku bahkan sudah ditemukan artefaknya di Lembah Mesopotomia (wilayah Iraq dan sekitarnya sekarang) pada 3.000 tahun sebelum Masehi. (lihat, antara lain: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                      [3] Uraian lebih rinci sejarah kolonialisme rempah-rempah Nusantara ini, terutama oleh Belanda dan Portugis, dapat dibaca pada beberapa sumber kepustakaan yang sudah dikenal luas, antara lain: Glamann (1958) dan Boxer (1965 dan 1969). Dalam risalah klasik Pires disebutkan bahwa pada tahun 1512-1521 saja, jumlah produksi cengkeh di Maluku sudah mencapai 7.250 bahar per tahun, terbesar adalah di Makian serta Amboina dan Lease (masing-masing 1.500 bahar)(Pires, 1512-1515).<\/em>
                                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                      Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem Topatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
                                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n ","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-10 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-02-10 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5425","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5415,"post_author":"878","post_date":"2019-02-07 12:15:55","post_date_gmt":"2019-02-07 05:15:55","post_content":" \n

                                                                                                                                                                                                                      Belakangan ini, ketika musim hujan tiba, di Kabupaten Temanggung, Kabupaten Jember, dan beberapa wilayah sentra pertanian tembakau lainnya, hampir mustahil menemukan tanaman tembakau tumbuh di lahan-lahan milik petani. Di wilayah-wilayah tersebut, citra sebagai sentra pertanian tembakau seakan menguap. Lahan-lahan yang ada di sana, sama sekali tidak ditumbuhi tanaman tembakau.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                      Kabar ini bisa jadi dianggap sebagai kabar gembira bagi mereka yang menganggap diri dan kelompoknya anti-rokok dan anti-tembakau yang selalu mengampanyekan sikap-sikap mereka terkait kebencian kepada tembakau dan aktivitas merokok. Setelah sekian lama berjuang, akhirnya perjuangan mereka dirasa berhasil usai menyaksikan fenomena lahan-lahan di wilayah yang dianggap sentra pertanian tembakau pada hari-hari belakangan ini.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                      Baca juga: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                      Tak sia-sia turun ke jalan, tak sia-sia melakukan lobi-lobi ke penguasa, tak sia-sia mengucurkan uang yang tidak sedikit, dan tak sia-sia mempermalukan diri dengan mengemis ke lembaga donor asing dan menggondol uang dari cukai tembakau untuk mengampanyekan gerakan anti-rokok dan anti-tembakau. Tak sia-sia. Karena perjuangan sepertinya berhasil.<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                      Kampanye-kampanye gerakan mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya, sepertinya juga sangat berhasil. Bagaimana tidak? Wilayah-wilayah yang sebelumnya penuh dengan tanaman tembakau dan bergeliat dengannya, kini lahan-lahannya sudah berganti dengan tanaman lain. Sebuah keberhasilan yang menggembirakan. Begitu mungkin pikir mereka para yang menganggap dirinya pejuang anti-rokok dan anti-tembakau. Dan tentu saja mereka akan kecele dan kita akan menertawakan hal itu.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                      Sayangnya, mereka yang menganggap dirinya anti-rokok dan anti-tembakau tidak menyaksikan langsung fenomena ini di lapangan, di lahan-lahan yang peruntukannya berubah pada hari-hari belakangan ini ketika memasuki musim hujan. Mereka asyik duduk pada kursi empuk di ruang-ruang nyaman ber-AC di kota-kota yang jauh dari kultur pertanian. Mereka menyengajakan diri menjadi elit dan enggan untuk turun melihat langsung ke lapangan. Kalaupun ada yang turun langsung ke lapangan, hanya segelintir saja dari mereka, itupun sekadar formalitas saja. Tak pernah benar-benar mau turun ke lapangan, hidup dan merasakan langsung kultur pertanian tembakau dalam jangka waktu cukup lama di lapangan.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                      Baca juga: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                      Fenomena ini membikin kita tak bisa melihat mereka para anti-rokok kecele lalu menertawakan mereka.<\/strong> Fenomena keengganan terjun langsung ke lapangan terlebih mencoba mendengar mereka yang tetap menanam tembakau, juga menjalani keseharian dalam waktu cukup lama bersama petani tembakau inilah yang saya kira menjadikan mereka tetap keras kepala untuk anti-rokok dan anti-tembakau. Karena jika mereka mau melakukan itu, saya yakin mereka semua tidak akan begitu kaku dalam memandang pertanian tembakau dan produk hasil industri tembakau.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                      Salah satu yang selalu mereka kampanyekan dan ngotot dengan itu, terkait hulu pertanian tembakau adalah mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya. Mereka berargumen banyak tanaman lain yang bisa semenguntungkan tanaman tembakau. Keengganan mereka terjun langsung ke lapangan inilah yang membikin mereka buta dengan kondisi pertanian tembakau dan pada akhirnya terus menerus mengampanyekan pergantian tanaman tembakau dengan tanaman lainnya.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                      Baca juga: Imanlah kepada Allah, Bukan Antirokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                      Tembakau tanaman yang khas. Ia hanya tumbuh baik sepanjang empat hingga lima bulan dalam satu tahun. Tumbuh-kembang tanaman tembakau dengan baik itu umumnya terjadi pada musim kemarau setiap tahunnya. Hanya sedikit sekali jenis tembakau yang tumbuh baik di musim penghujan, mayoritasnya, tumbuh baik pada musim kemarau.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                      Jika ditanam pada musim hujan, hampir bisa dipastikan tanaman tembakau akan gagal menghasilkan daun-daun yang berkualitas. Ia akan rusak dan membusuk karena terlalu banyak terkena air sehingga daun-daun itu tak layak dijual. Jangankan bisa dijual, untuk tumbuh dengan baik pun sepertinya sulit karena musim hujan akan membunuh banyak tanaman itu.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                      Maka, tak heran pada musim-musim seperti saat ini, ketika musim penghujan mendekati puncaknya, di wilayah-wilayah yang dikenal sebagai sentra pertanian tembakau, sulit menemukan pohon tembakau yang sedang tumbuh. Pada lahan-lahan yang sebelumnya ditumbuhi tanaman tembakau pada musim panas, berganti tanaman-tanaman lain yang bermacam-macam, sesuai dengan kondisi lahannya. Untuk lahan sawah, lahan-lahan itu pada musim penghujan kini ditumbuhi tanaman padi yang subur. Pada lahan tegalan dan lahan di pegunungan, lahan-lahan yang ditanami tembakau pada musim kemarau, saat ini ditumbuhi bermacam jenis tanaman mulai dari cabai, bawang, tomat, kol, terong, mentimun, dan ragam jenis tanaman semusim lainnya.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                      Uniknya, tipikal tanaman tembakau yang tumbuh baik di musim kemarau ini memberi pilihan lebih kepada para petani. Lahan-lahan yang sulit ditanami pada musim kemarau, pada akhirnya masih bisa tetap produktif dengan keberadaan tanaman tembakau. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                      Maka, kampanye aneh mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain dengan ragam rupa dalih yang membingungkan, bukan saja sama sekali tidak tepat dan asal-asalan, namun bisa jadi akan ditertawakan oleh para petani yang begitu paham dengan kondisi lahan dan terutama kondisi iklim dan cuaca. Sulit mencari tanaman semusim yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Jika pun ada, tak ada yang semenguntungkan tanaman tembakau.
                                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n ","post_title":"Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"keberhasilan-gerakan-anti-tembakau-tak-ada-tembakau-saat-musim-hujan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-07 12:16:02","post_modified_gmt":"2019-02-07 05:16:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5415","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5409,"post_author":"919","post_date":"2019-02-05 08:04:43","post_date_gmt":"2019-02-05 01:04:43","post_content":" \n

                                                                                                                                                                                                                      Tahun Baru Imlek yang merupakan tradisi Bangsa Tiongkok kini sudah tak lagi menjadi hal yang asing bagi masyarakat Indonesia. Kehadirannya sudah mewarnai dan berakulturasi dengan tradisi lokal. Menjelang Tahun Baru Imlek. Berbagai hiasan dan kemeriahan terjadi beberapa titik di Tanah Air. Perayaannya juga menjadi destinasi baru yang mengasyikkan untuk dilihat dan patut disaksikan.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                      Berterimakasihlah kepada sang bapak bangsa, KH Abdurrahman Wahid atau yang dikenal dengan nama Gus Dur. Berkat kebijakannya saat menjadi Presiden Indonesia, Tahun Baru Imlek resmi dijadikan hari libur nasional dan dianggap sebagai salah satu hari raya di Tanah Air. Meski sentimen antitionghoa masih ada di sana-sini, tapi tetap tak bisa dipungkiri bahwa bangsa tionghoa sudah bersentuhan dengan budaya lokal dalam kurun waktu yang sangat panjang.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                      DNA Bangsa Tionghoa yang memang merupakan pedagang menjadi pembuka kisah interaksi antara nenek moyang berbagai suku di Nusantara dengan mereka. Beberapa kelenteng-kelenteng yang tersebar pada berbagai pesisir daerah di Nusantara jadi buktinya. Pelabuhan-pelabuhan tua di tanah air dan ramainya perdagangan di pesisir mempermudah bangsa kita berhubungan dengan Bangsa Tionghoa.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                      Baca Juga: Wong Kalang dan Kota Gede<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                      Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa kehadiran Bangsa Tionghoa di Nusantara tak hanya sebagai pedagang, namun juga sebagai pekerja (bahkan hingga pekerja kasar). Benny Setiono, seorang sejarahwan menyebutkan bahwa antara tahun 1760-1770 dalam jumlah yang besar memasuki nusantara melalui Kalimantan Barat. Mereka bekerja sebagai kuli pertambangan di sana dan di kemudian hari membentuk sebuah republik bernama Republik Lanfang yang konon katanya menjadi republik pertama di Asia Tenggara.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                      Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                      Baca Juga: Imlek dan Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                      Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                      Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                      Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                      Baca Juga: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                      Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                      Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
                                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n ","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_3o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                                                                                                      \n
                                                                                                                                                                                                                      1. Tanah yang digunakan adalah tanah dan pupuk kandang yang sudah matang <\/li>
                                                                                                                                                                                                                      2. Tanah berasal dari tanah steril (sudah dikeringkan dan bukan dari tanah bekas tanaman yang terserang penyakit)<\/li>
                                                                                                                                                                                                                      3. Media tanah dicangkul ringan di para-para minimal 2x <\/li>
                                                                                                                                                                                                                      4. Sebar Benih; <\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n\n

                                                                                                                                                                                                                        Setelah bibit dan lahan siap, kemudian sebarkan benih dengan ditutup memakai jerami <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                        1. Pemupukan <\/strong><\/li>
                                                                                                                                                                                                                        2. Pemupukan pertama<\/li><\/ol>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                                                                          \"\"\/<\/figure>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                                                                          1. Pemupukan kedua, dilakukan apabila pertumbuhan bibit kurang baik (21 HSS). Pupuk yang digunakan adalaj KNO3 <\/sub>(30 \u2013 50 gram per bedeng dengan ukuran 1x5 m) dicampur dengan air \u00b110 liter, selanjutnya bedengan disiram kembali dengan air (pembilasan) <\/li>
                                                                                                                                                                                                                          2. Penyiraman<\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                            Frekuensi penyiraman berdasarkan umur bibit\/umur hari setelah sebar (HSS):<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                            0 \u2013 10 HSS\t\t:\t3x Sehari (fase kritis)<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                            11 \u2013 21 HSS\t\t:\t2x Sehari <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                            22 \u2013 35 HSS\t\t:\t1x Sehari <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                            36 \u2013 45 \/ 50 HSS\t:\tPeriode stress air\/kering<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                            1. Penjarangan & Hardening<\/strong>
                                                                                                                                                                                                                              1. Penjarangan dilakukan agar jarak antara bibit ideal (4-5 cm) sehingga tidak<\/li><\/ol><\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                terserang hama & penyakit. Penjarangan dilakukan pada umur bibit 21-25 hari dengan cara: basahi bedengan sore hari sebelumnya dan pagi hari sebelum bibit dicabut, cabut bibit  yang akan ditanami dengan hati-hati, tanam bibit pada bedengan yang kerapatan bibitnya jarang, siram bibit sesegera mungkin setelah dipindah.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                1. Bibit dibiasakan untuk terkena sinar  matahari langsung. Tujuan hardening agar bibit dapat beradaptasi dan memperkuat jaringan daun, batang serta mengurangi resiko penyakit karena jamur. Pelaksanaan hardening mulai umur 21 HSS secara bertahap.Pada kondisi hujan tidak dianjurkan. <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                2. Klipping <\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                  1. Dilakukan antara jam 08.00 sampai 11.00 (usahakan cuaca cerah) <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                  2. Kliping dilakukan pada saat bibit pertumbuhannya terlalu lebat atau saling menutup batangnya. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                  3. Kliping adalah kegiatan memotong sebagian atau 2\/3 daun bibit tembakau. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                  4. Frekuensi kliping dilakukan bisa satu, dua kali atau lebih sesuai dengan perkembangan bibit dan persiapan lokasi areal tanam. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                  5 Lima sampai tujuh hari menjelang transplanting, kegiatan kliping sebaiknya sudah selesai. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                  Tujuan klipping: menjaga lingkungan bibit agar tidak lembab, <\/strong>memperbesar batan,menyeragamkan ukuran benih, dan memperkuat pertumbuhan akar <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                  1. Pencabutan Bibit, agar mendapatkan jarak tanam yang sesuai lahan <\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                                                                                    \"\"\/<\/figure>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                                                                                    \"\"\/<\/figure>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                    Dalam satu hamparan direkomendasikan selesai tanam maksimal 3 Hari. Umur  tanaman akan menjadi sama atau seragam. Performance tanaman juga akan menjadi  seragam. Kemasakan daun pada saat petik juga menjadi seragam. Memudahkan pada saat  proses panen dan pasca panen. Tembakau kering yang dihasilkan pun juga seragam.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                    1. Pengendalian Hama & Penyakit<\/strong> <\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                      ~ Pada awal penyebaran benih direkomendasikan untuk melakukan penyemprotan fusngisida (jamur), seperti Previcur, Redomil & Antracol <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                      ~ Hama yang sering dijumpai: semut (Decis), janggel, orong-orong <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                      1. Tahapan Perawatan<\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                                                                                        \"\"\/<\/figure>\n ","post_title":"Sukses Bertani Tembakau Bersama Kemitraan Djarum di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sukses-bertani-tembakau-bersama-kemitraan-djarum-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-11 12:32:18","post_modified_gmt":"2019-02-11 05:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5433","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5425,"post_author":"922","post_date":"2019-02-10 09:07:33","post_date_gmt":"2019-02-10 02:07:33","post_content":" \n

                                                                                                                                                                                                                                        Bahwa cengkeh [1] (Syzygium aromaticum) --bersama pala (Myristica fragrans)-- adalah dua tanaman asli (endemik) Kepulauan Maluku, sudah tak terbantahkan. Cengkeh dikenal dan diakui berasal dari \u2018Empat Pulau Gunung Maluku\u2019 (Maloko Kie Raha): Ternate, Tidore, Moti, dan Makian.
                                                                                                                                                                                                                                        <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                        Adapun pala, berasal dari empat pulau kecil lainnya di tengah Laut Banda: Lonthor, Neira, Rhun, dan Ai. Pada penjelasan peta abad-16 oleh penjelajah dari Semenanjung Iberia, Fransisco Rodriguez, tertulis: \u201cEstas quatro Ilhas Azures suam as de molluquo homde nace ho crauzo\u201d<\/em> (Adalah empat pulau berwarna biru [dalam peta] yang disebut sebagai Kepulauan Maluku di mana rempah-rempah berasal) (Pires, 1512- 1515:213).
                                                                                                                                                                                                                                        <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                        Sejak beberapa abad sebelum Masehi, adalah para saudagar Arab --melalui Samudera Hindia melintasi Iskandariyah dan Laut Tengah-- serta para pedagang Cina --melalui jalur \u2018Jalan Sutra\u2019 melintasi Asia Tengah dan Asia Barat-- yang membawa dan memperkenalkannya ke daratan Eropa. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                        Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                        Bandar-bandar besar Tyre di Yunani dan Venesia di Italia menjadi pelabuhan utama rempah-rempah Maluku memasuki kehidupan dan peradaban Eropa. Selain sebagai bumbu masakan, rempah obat, dan ramuan wewangian, cengkeh dan pala juga menjadi bahan utama pengawet bahan pangan. [2]
                                                                                                                                                                                                                                        <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                        Inilah yang membuat orang-orang Eropa untuk pertama kalinya dapat mengawetkan dan menimbun makanan selama bermusim-musim. Prosa indah Blair bersaudara menggambarkannya dengan sangat baik:
                                                                                                                                                                                                                                        <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                        \u201cKemampuan menyimpan makanan lebih dari yang kami makan sekaligus berarti kemampuan menjual dan membelinya dalam jumlah besar --dan kota-kota dagang pun mekar. Perekonomian yang dihasilkannya mengarahkan kami ke zaman Pencerahan dan kemudian Revolusi Industri. Tak lama setelah kami menghirup aroma yang sangat kuat dari Timur itu dan mengubah kimiawi makanan kami, maka kami pun mampu melakukan lompatan besar dalam bidang budaya dan seni.\u201d (Blair & Blair, 2010; 30-31).<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                        Baca: Cengkeh dan Kelapa di Kepulauan Anambas<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                        Bukan hanya membuat perekonomian dan perdagangan serta ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang, cengkeh dan pala bahkan adalah faktor yang paling menentukan dalam kemunculan satu babakan paling mengenaskan dalam sejarah politik dunia, yakni zaman penjajahan (kolonialisme) Eropa, terutama atas-atas negeri- negeri Asia Selatan, Timur dan Tenggara, termasuk Indonesia.
                                                                                                                                                                                                                                        <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                        Tergerak oleh sahwat menguasai rempah-rempah yang menggiurkan itu, bangsa-bangsa Eropa --terutama Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda-- pun menggelar ekspedisi-ekspedisi besar untuk menemukan cengkeh dan pala langsung di tanah asalnya. Ketika armada-armada mereka akhirnya mencapai perairan Kepulauan Maluku, pada abad-16, perang pun tak terhindarkan.
                                                                                                                                                                                                                                        <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                        Mereka silih berganti saling mengalahkan, tetapi pemenang terakhir adalah Belanda. Melalui Perusahaan Dagang Hindia Timur (Vereenigde Oostindische Compagnie, VOC) yang dibentuk pada awal abad-17 (tepatnya tahun 1609), Belanda melancarkan ekspedisi Pelayaran Hongi (Hongie Tochten), untuk memusnahkan semua tanaman cengkeh di Ternate, Tidore, Moti, dan Makian, lalu membatasi ketat penanamnya hanya di Pulau-pulau Ambon dan Lease --yang lebih dekat ke Banda sebagai pusat pemerintahan mereka sebelum akhirnya dipindahkan ke Batavia.
                                                                                                                                                                                                                                        <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                        Praktis, sejak akhir abad-16, Belanda pun menguasai penuh perdagangan rempah-rempah Maluku dengan jumlah produksi rerata 2.500 sampai 4.500 ton per tahun. [3]<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                        Baca: Budidaya Pohon Cengkeh<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                        Meskipun peran utama rempah-rempah Maluku itu kemudian tergusur pada abad-18 dan 19 oleh beberapa barang eksotika tropis lainnya --hasil perkebunan-perkebunana besar baru di Pulau Sumatera dan Jawa: tebu, tembakau, lada, kopi, teh, nila, kelapa sawit, dan kayu jati-- namun sejarah sudah mencatat bahwa dua jenis rempah-rempah Maluku itulah yang mengawali penjelajahan sekaligus penjajahan kepulauan Nusantara oleh bangsa-bangsa Eropah, terutama Belanda (Topatimasang, ed., 2004:32). Jika saja tak pernah ada cengkeh dan pala di Maluku, mungkin sejarah kepulauan Nusantara ini akan berbeda sama sekali.
                                                                                                                                                                                                                                        <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                        Masa suram cengkeh dan pala terus berlangsung sampai pertengahan abad-20. Rempah eksotika yang pernah membuat tergila-gila<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                        para saudagar Arab, pedagang Cina, serta kaum ningrat Eropa itu, tergantikan perannya oleh penemuan teknologi mesin pendingin berkat Revolusi Industri yang dimulai di Inggris pada pertengahan abad-18. Pasaran cengkeh di Eropa pun merosot tajam.
                                                                                                                                                                                                                                        <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                        Nasibnya terselamatkan berkat penemuan oleh seorang Haji Djamhari di Kudus, Jawa Tengah. Pada akhir tahun 1880-an, Haji Djamhari menemukan kegunaan baru cengkeh sebagai ramuan utama rokok. Lahirlah satu produk baru yang unik, khas dan asli Indonesia: kretek! (Hanusz, 2000:ii).
                                                                                                                                                                                                                                        <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                        Setelah seperempat abad hanya berkembang dalam skala kecil usaha rumah tangga, produksi kretek akhirnya menjelma menjadi industri besar sejak awal abad-20 yang dirintis oleh Haji Nitisemito (pendiri pabrik \u2018Jambu Bol\u2019) di Kudus dan Liem Seng Tee (pendiri pabrik \u2018Dji Sam Soe\u2019 dan \u2018Sampoerna\u2019) di Surabaya.
                                                                                                                                                                                                                                        <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                        Puncaknya adalah pada pertengahan tahun 1950-an, ketika produksi kretek mulai berkembang pesat menjadi industri raksasa modern dengan munculnya beberapa pabrik baru, antara lain, yang terkemuka, oleh Oei Wei Gwan (pendiri pabrik \u2018Djarum\u2019) di Kudus dan Tjou Ing Hwie (pendiri pabrik \u2018Gudang Garam\u2019) di Kediri (Topatimasang, et.al., eds., 2010:131).<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                        Baca: Teruslah Menanam Tembakau dan Cengkeh, Wahai Petani Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                        Cengkeh, bahan baku paling esensial dari kretek --selain tembakau, tentu saja-- pun kembali berjaya. Bahkan, sejak dasawarsa 1970an, telah menjadi salah satu penyumbang terbesar keuangan negara Republik Indonesia. Pada tahun 2012 dan 2013, pemasukan cukai dari industri kretek mencatat 95,5% dari seluruh pemasukan cukai ke kas negara. Nilainya tak tanggung-tanggung: Rp 87 triliun! (el-Guyanie, et.al.: 2013:4-5).<\/strong>
                                                                                                                                                                                                                                        <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                        Nilai ekonomisnya yang sangat besar sempat menggoda penguasa otoriter rezim Presiden Soeharto, pada 1990-an, memberlakukan satu kebijakan \u2018Hongi Gaya Baru\u2019: monopoli perdagangan cengkeh dalam negeri melalui Badan Penyanggah dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) yang sangat merugikan petani. Harga cengkeh di tingkat petani penghasil anjlok sampai hanya Rp 2.000 - 3.000 per kilogram, lebih murah dari harga sebungkus kretek yang dihasilkan darinya.
                                                                                                                                                                                                                                        <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                        Akibatnya, ratusan ribu pohon cengkeh di daerah-daerah penghasil utama --Maluku, Maluku Utara, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Selatan-- ditebangi atau dibiarkan terlantar tak terurus.
                                                                                                                                                                                                                                        <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                        Gelombang reformasi sistem politik dan hukum nasional yang dimulai pada tahun 1998, akhirnya menjungkalkan rezim Soeharto dan BPPC dibubarkan, Pelan tapi pasti, harga cengkeh kembali merangkak naik, sehingga pada tahun 2012, bahkan melewati angka Rp 200.000 per kilogram. Para petani cengkeh di seluruh negeri kembali tersenyum. Tetapi, sampai kapan? <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                        Catatan:<\/strong><\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                        [1] Beberapa sumber menyebutkan bahwa kata \u2018cengkeh\u2019 dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Mandarin, tkeng-his atau xi\u2019jia, yang berarti \u2018rempah [berbentuk mirip] paku\u2019 (scented nails). Ini menunjukkan bahwa cengkeh sudah dikenal sejak lama oleh bangsa Cina --diketahui sejak abad-2-- jauh sebelum orang Eropa mengenalnya ((lihat, misalnya: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                        [2] Catatan-catatan para biarawan Fransiskan --yang disalin dan dikutip oleh van Frassen-- bahkan menyebut cengkeh sebagai salah satu bahan utama pengawet mumi para Fir\u2019aun, penguasa Mesir Kuno. Beberapa pakar sejarah dan arkeologi menyatakan bahwa rempah-rempah Maluku bahkan sudah ditemukan artefaknya di Lembah Mesopotomia (wilayah Iraq dan sekitarnya sekarang) pada 3.000 tahun sebelum Masehi. (lihat, antara lain: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                        [3] Uraian lebih rinci sejarah kolonialisme rempah-rempah Nusantara ini, terutama oleh Belanda dan Portugis, dapat dibaca pada beberapa sumber kepustakaan yang sudah dikenal luas, antara lain: Glamann (1958) dan Boxer (1965 dan 1969). Dalam risalah klasik Pires disebutkan bahwa pada tahun 1512-1521 saja, jumlah produksi cengkeh di Maluku sudah mencapai 7.250 bahar per tahun, terbesar adalah di Makian serta Amboina dan Lease (masing-masing 1.500 bahar)(Pires, 1512-1515).<\/em>
                                                                                                                                                                                                                                        <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                        Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem Topatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
                                                                                                                                                                                                                                        <\/p>\n ","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-10 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-02-10 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5425","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5415,"post_author":"878","post_date":"2019-02-07 12:15:55","post_date_gmt":"2019-02-07 05:15:55","post_content":" \n

                                                                                                                                                                                                                                        Belakangan ini, ketika musim hujan tiba, di Kabupaten Temanggung, Kabupaten Jember, dan beberapa wilayah sentra pertanian tembakau lainnya, hampir mustahil menemukan tanaman tembakau tumbuh di lahan-lahan milik petani. Di wilayah-wilayah tersebut, citra sebagai sentra pertanian tembakau seakan menguap. Lahan-lahan yang ada di sana, sama sekali tidak ditumbuhi tanaman tembakau.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                        Kabar ini bisa jadi dianggap sebagai kabar gembira bagi mereka yang menganggap diri dan kelompoknya anti-rokok dan anti-tembakau yang selalu mengampanyekan sikap-sikap mereka terkait kebencian kepada tembakau dan aktivitas merokok. Setelah sekian lama berjuang, akhirnya perjuangan mereka dirasa berhasil usai menyaksikan fenomena lahan-lahan di wilayah yang dianggap sentra pertanian tembakau pada hari-hari belakangan ini.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                        Baca juga: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                        Tak sia-sia turun ke jalan, tak sia-sia melakukan lobi-lobi ke penguasa, tak sia-sia mengucurkan uang yang tidak sedikit, dan tak sia-sia mempermalukan diri dengan mengemis ke lembaga donor asing dan menggondol uang dari cukai tembakau untuk mengampanyekan gerakan anti-rokok dan anti-tembakau. Tak sia-sia. Karena perjuangan sepertinya berhasil.<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                        Kampanye-kampanye gerakan mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya, sepertinya juga sangat berhasil. Bagaimana tidak? Wilayah-wilayah yang sebelumnya penuh dengan tanaman tembakau dan bergeliat dengannya, kini lahan-lahannya sudah berganti dengan tanaman lain. Sebuah keberhasilan yang menggembirakan. Begitu mungkin pikir mereka para yang menganggap dirinya pejuang anti-rokok dan anti-tembakau. Dan tentu saja mereka akan kecele dan kita akan menertawakan hal itu.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                        Sayangnya, mereka yang menganggap dirinya anti-rokok dan anti-tembakau tidak menyaksikan langsung fenomena ini di lapangan, di lahan-lahan yang peruntukannya berubah pada hari-hari belakangan ini ketika memasuki musim hujan. Mereka asyik duduk pada kursi empuk di ruang-ruang nyaman ber-AC di kota-kota yang jauh dari kultur pertanian. Mereka menyengajakan diri menjadi elit dan enggan untuk turun melihat langsung ke lapangan. Kalaupun ada yang turun langsung ke lapangan, hanya segelintir saja dari mereka, itupun sekadar formalitas saja. Tak pernah benar-benar mau turun ke lapangan, hidup dan merasakan langsung kultur pertanian tembakau dalam jangka waktu cukup lama di lapangan.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                        Baca juga: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                        Fenomena ini membikin kita tak bisa melihat mereka para anti-rokok kecele lalu menertawakan mereka.<\/strong> Fenomena keengganan terjun langsung ke lapangan terlebih mencoba mendengar mereka yang tetap menanam tembakau, juga menjalani keseharian dalam waktu cukup lama bersama petani tembakau inilah yang saya kira menjadikan mereka tetap keras kepala untuk anti-rokok dan anti-tembakau. Karena jika mereka mau melakukan itu, saya yakin mereka semua tidak akan begitu kaku dalam memandang pertanian tembakau dan produk hasil industri tembakau.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                        Salah satu yang selalu mereka kampanyekan dan ngotot dengan itu, terkait hulu pertanian tembakau adalah mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya. Mereka berargumen banyak tanaman lain yang bisa semenguntungkan tanaman tembakau. Keengganan mereka terjun langsung ke lapangan inilah yang membikin mereka buta dengan kondisi pertanian tembakau dan pada akhirnya terus menerus mengampanyekan pergantian tanaman tembakau dengan tanaman lainnya.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                        Baca juga: Imanlah kepada Allah, Bukan Antirokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                        Tembakau tanaman yang khas. Ia hanya tumbuh baik sepanjang empat hingga lima bulan dalam satu tahun. Tumbuh-kembang tanaman tembakau dengan baik itu umumnya terjadi pada musim kemarau setiap tahunnya. Hanya sedikit sekali jenis tembakau yang tumbuh baik di musim penghujan, mayoritasnya, tumbuh baik pada musim kemarau.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                        Jika ditanam pada musim hujan, hampir bisa dipastikan tanaman tembakau akan gagal menghasilkan daun-daun yang berkualitas. Ia akan rusak dan membusuk karena terlalu banyak terkena air sehingga daun-daun itu tak layak dijual. Jangankan bisa dijual, untuk tumbuh dengan baik pun sepertinya sulit karena musim hujan akan membunuh banyak tanaman itu.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                        Maka, tak heran pada musim-musim seperti saat ini, ketika musim penghujan mendekati puncaknya, di wilayah-wilayah yang dikenal sebagai sentra pertanian tembakau, sulit menemukan pohon tembakau yang sedang tumbuh. Pada lahan-lahan yang sebelumnya ditumbuhi tanaman tembakau pada musim panas, berganti tanaman-tanaman lain yang bermacam-macam, sesuai dengan kondisi lahannya. Untuk lahan sawah, lahan-lahan itu pada musim penghujan kini ditumbuhi tanaman padi yang subur. Pada lahan tegalan dan lahan di pegunungan, lahan-lahan yang ditanami tembakau pada musim kemarau, saat ini ditumbuhi bermacam jenis tanaman mulai dari cabai, bawang, tomat, kol, terong, mentimun, dan ragam jenis tanaman semusim lainnya.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                        Uniknya, tipikal tanaman tembakau yang tumbuh baik di musim kemarau ini memberi pilihan lebih kepada para petani. Lahan-lahan yang sulit ditanami pada musim kemarau, pada akhirnya masih bisa tetap produktif dengan keberadaan tanaman tembakau. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                        Maka, kampanye aneh mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain dengan ragam rupa dalih yang membingungkan, bukan saja sama sekali tidak tepat dan asal-asalan, namun bisa jadi akan ditertawakan oleh para petani yang begitu paham dengan kondisi lahan dan terutama kondisi iklim dan cuaca. Sulit mencari tanaman semusim yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Jika pun ada, tak ada yang semenguntungkan tanaman tembakau.
                                                                                                                                                                                                                                        <\/p>\n ","post_title":"Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"keberhasilan-gerakan-anti-tembakau-tak-ada-tembakau-saat-musim-hujan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-07 12:16:02","post_modified_gmt":"2019-02-07 05:16:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5415","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5409,"post_author":"919","post_date":"2019-02-05 08:04:43","post_date_gmt":"2019-02-05 01:04:43","post_content":" \n

                                                                                                                                                                                                                                        Tahun Baru Imlek yang merupakan tradisi Bangsa Tiongkok kini sudah tak lagi menjadi hal yang asing bagi masyarakat Indonesia. Kehadirannya sudah mewarnai dan berakulturasi dengan tradisi lokal. Menjelang Tahun Baru Imlek. Berbagai hiasan dan kemeriahan terjadi beberapa titik di Tanah Air. Perayaannya juga menjadi destinasi baru yang mengasyikkan untuk dilihat dan patut disaksikan.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                        Berterimakasihlah kepada sang bapak bangsa, KH Abdurrahman Wahid atau yang dikenal dengan nama Gus Dur. Berkat kebijakannya saat menjadi Presiden Indonesia, Tahun Baru Imlek resmi dijadikan hari libur nasional dan dianggap sebagai salah satu hari raya di Tanah Air. Meski sentimen antitionghoa masih ada di sana-sini, tapi tetap tak bisa dipungkiri bahwa bangsa tionghoa sudah bersentuhan dengan budaya lokal dalam kurun waktu yang sangat panjang.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                        DNA Bangsa Tionghoa yang memang merupakan pedagang menjadi pembuka kisah interaksi antara nenek moyang berbagai suku di Nusantara dengan mereka. Beberapa kelenteng-kelenteng yang tersebar pada berbagai pesisir daerah di Nusantara jadi buktinya. Pelabuhan-pelabuhan tua di tanah air dan ramainya perdagangan di pesisir mempermudah bangsa kita berhubungan dengan Bangsa Tionghoa.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                        Baca Juga: Wong Kalang dan Kota Gede<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                        Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa kehadiran Bangsa Tionghoa di Nusantara tak hanya sebagai pedagang, namun juga sebagai pekerja (bahkan hingga pekerja kasar). Benny Setiono, seorang sejarahwan menyebutkan bahwa antara tahun 1760-1770 dalam jumlah yang besar memasuki nusantara melalui Kalimantan Barat. Mereka bekerja sebagai kuli pertambangan di sana dan di kemudian hari membentuk sebuah republik bernama Republik Lanfang yang konon katanya menjadi republik pertama di Asia Tenggara.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                        Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                        Baca Juga: Imlek dan Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                        Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                        Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                        Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                        Baca Juga: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                        Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                        Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
                                                                                                                                                                                                                                        <\/p>\n ","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_3o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                                                                                                                        \n

                                                                                                                                                                                                                                        3. Persiapan Media Tanam<\/strong><\/p>\n \n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                        1. Tanah yang digunakan adalah tanah dan pupuk kandang yang sudah matang <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                        2. Tanah berasal dari tanah steril (sudah dikeringkan dan bukan dari tanah bekas tanaman yang terserang penyakit)<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                        3. Media tanah dicangkul ringan di para-para minimal 2x <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                        4. Sebar Benih; <\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                          Setelah bibit dan lahan siap, kemudian sebarkan benih dengan ditutup memakai jerami <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                          1. Pemupukan <\/strong><\/li>
                                                                                                                                                                                                                                          2. Pemupukan pertama<\/li><\/ol>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                                                                                            \"\"\/<\/figure>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                                                                                            1. Pemupukan kedua, dilakukan apabila pertumbuhan bibit kurang baik (21 HSS). Pupuk yang digunakan adalaj KNO3 <\/sub>(30 \u2013 50 gram per bedeng dengan ukuran 1x5 m) dicampur dengan air \u00b110 liter, selanjutnya bedengan disiram kembali dengan air (pembilasan) <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                            2. Penyiraman<\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                              Frekuensi penyiraman berdasarkan umur bibit\/umur hari setelah sebar (HSS):<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                              0 \u2013 10 HSS\t\t:\t3x Sehari (fase kritis)<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                              11 \u2013 21 HSS\t\t:\t2x Sehari <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                              22 \u2013 35 HSS\t\t:\t1x Sehari <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                              36 \u2013 45 \/ 50 HSS\t:\tPeriode stress air\/kering<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                              1. Penjarangan & Hardening<\/strong>
                                                                                                                                                                                                                                                1. Penjarangan dilakukan agar jarak antara bibit ideal (4-5 cm) sehingga tidak<\/li><\/ol><\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                  terserang hama & penyakit. Penjarangan dilakukan pada umur bibit 21-25 hari dengan cara: basahi bedengan sore hari sebelumnya dan pagi hari sebelum bibit dicabut, cabut bibit  yang akan ditanami dengan hati-hati, tanam bibit pada bedengan yang kerapatan bibitnya jarang, siram bibit sesegera mungkin setelah dipindah.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                  1. Bibit dibiasakan untuk terkena sinar  matahari langsung. Tujuan hardening agar bibit dapat beradaptasi dan memperkuat jaringan daun, batang serta mengurangi resiko penyakit karena jamur. Pelaksanaan hardening mulai umur 21 HSS secara bertahap.Pada kondisi hujan tidak dianjurkan. <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                  2. Klipping <\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                    1. Dilakukan antara jam 08.00 sampai 11.00 (usahakan cuaca cerah) <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                    2. Kliping dilakukan pada saat bibit pertumbuhannya terlalu lebat atau saling menutup batangnya. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                    3. Kliping adalah kegiatan memotong sebagian atau 2\/3 daun bibit tembakau. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                    4. Frekuensi kliping dilakukan bisa satu, dua kali atau lebih sesuai dengan perkembangan bibit dan persiapan lokasi areal tanam. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                    5 Lima sampai tujuh hari menjelang transplanting, kegiatan kliping sebaiknya sudah selesai. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                    Tujuan klipping: menjaga lingkungan bibit agar tidak lembab, <\/strong>memperbesar batan,menyeragamkan ukuran benih, dan memperkuat pertumbuhan akar <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                    1. Pencabutan Bibit, agar mendapatkan jarak tanam yang sesuai lahan <\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                                                                                                      \"\"\/<\/figure>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                                                                                                      \"\"\/<\/figure>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                      Dalam satu hamparan direkomendasikan selesai tanam maksimal 3 Hari. Umur  tanaman akan menjadi sama atau seragam. Performance tanaman juga akan menjadi  seragam. Kemasakan daun pada saat petik juga menjadi seragam. Memudahkan pada saat  proses panen dan pasca panen. Tembakau kering yang dihasilkan pun juga seragam.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                      1. Pengendalian Hama & Penyakit<\/strong> <\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                        ~ Pada awal penyebaran benih direkomendasikan untuk melakukan penyemprotan fusngisida (jamur), seperti Previcur, Redomil & Antracol <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                        ~ Hama yang sering dijumpai: semut (Decis), janggel, orong-orong <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                        1. Tahapan Perawatan<\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                                                                                                          \"\"\/<\/figure>\n ","post_title":"Sukses Bertani Tembakau Bersama Kemitraan Djarum di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sukses-bertani-tembakau-bersama-kemitraan-djarum-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-11 12:32:18","post_modified_gmt":"2019-02-11 05:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5433","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5425,"post_author":"922","post_date":"2019-02-10 09:07:33","post_date_gmt":"2019-02-10 02:07:33","post_content":" \n

                                                                                                                                                                                                                                                          Bahwa cengkeh [1] (Syzygium aromaticum) --bersama pala (Myristica fragrans)-- adalah dua tanaman asli (endemik) Kepulauan Maluku, sudah tak terbantahkan. Cengkeh dikenal dan diakui berasal dari \u2018Empat Pulau Gunung Maluku\u2019 (Maloko Kie Raha): Ternate, Tidore, Moti, dan Makian.
                                                                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                          Adapun pala, berasal dari empat pulau kecil lainnya di tengah Laut Banda: Lonthor, Neira, Rhun, dan Ai. Pada penjelasan peta abad-16 oleh penjelajah dari Semenanjung Iberia, Fransisco Rodriguez, tertulis: \u201cEstas quatro Ilhas Azures suam as de molluquo homde nace ho crauzo\u201d<\/em> (Adalah empat pulau berwarna biru [dalam peta] yang disebut sebagai Kepulauan Maluku di mana rempah-rempah berasal) (Pires, 1512- 1515:213).
                                                                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                          Sejak beberapa abad sebelum Masehi, adalah para saudagar Arab --melalui Samudera Hindia melintasi Iskandariyah dan Laut Tengah-- serta para pedagang Cina --melalui jalur \u2018Jalan Sutra\u2019 melintasi Asia Tengah dan Asia Barat-- yang membawa dan memperkenalkannya ke daratan Eropa. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                          Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                          Bandar-bandar besar Tyre di Yunani dan Venesia di Italia menjadi pelabuhan utama rempah-rempah Maluku memasuki kehidupan dan peradaban Eropa. Selain sebagai bumbu masakan, rempah obat, dan ramuan wewangian, cengkeh dan pala juga menjadi bahan utama pengawet bahan pangan. [2]
                                                                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                          Inilah yang membuat orang-orang Eropa untuk pertama kalinya dapat mengawetkan dan menimbun makanan selama bermusim-musim. Prosa indah Blair bersaudara menggambarkannya dengan sangat baik:
                                                                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                          \u201cKemampuan menyimpan makanan lebih dari yang kami makan sekaligus berarti kemampuan menjual dan membelinya dalam jumlah besar --dan kota-kota dagang pun mekar. Perekonomian yang dihasilkannya mengarahkan kami ke zaman Pencerahan dan kemudian Revolusi Industri. Tak lama setelah kami menghirup aroma yang sangat kuat dari Timur itu dan mengubah kimiawi makanan kami, maka kami pun mampu melakukan lompatan besar dalam bidang budaya dan seni.\u201d (Blair & Blair, 2010; 30-31).<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                          Baca: Cengkeh dan Kelapa di Kepulauan Anambas<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                          Bukan hanya membuat perekonomian dan perdagangan serta ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang, cengkeh dan pala bahkan adalah faktor yang paling menentukan dalam kemunculan satu babakan paling mengenaskan dalam sejarah politik dunia, yakni zaman penjajahan (kolonialisme) Eropa, terutama atas-atas negeri- negeri Asia Selatan, Timur dan Tenggara, termasuk Indonesia.
                                                                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                          Tergerak oleh sahwat menguasai rempah-rempah yang menggiurkan itu, bangsa-bangsa Eropa --terutama Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda-- pun menggelar ekspedisi-ekspedisi besar untuk menemukan cengkeh dan pala langsung di tanah asalnya. Ketika armada-armada mereka akhirnya mencapai perairan Kepulauan Maluku, pada abad-16, perang pun tak terhindarkan.
                                                                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                          Mereka silih berganti saling mengalahkan, tetapi pemenang terakhir adalah Belanda. Melalui Perusahaan Dagang Hindia Timur (Vereenigde Oostindische Compagnie, VOC) yang dibentuk pada awal abad-17 (tepatnya tahun 1609), Belanda melancarkan ekspedisi Pelayaran Hongi (Hongie Tochten), untuk memusnahkan semua tanaman cengkeh di Ternate, Tidore, Moti, dan Makian, lalu membatasi ketat penanamnya hanya di Pulau-pulau Ambon dan Lease --yang lebih dekat ke Banda sebagai pusat pemerintahan mereka sebelum akhirnya dipindahkan ke Batavia.
                                                                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                          Praktis, sejak akhir abad-16, Belanda pun menguasai penuh perdagangan rempah-rempah Maluku dengan jumlah produksi rerata 2.500 sampai 4.500 ton per tahun. [3]<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                          Baca: Budidaya Pohon Cengkeh<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                          Meskipun peran utama rempah-rempah Maluku itu kemudian tergusur pada abad-18 dan 19 oleh beberapa barang eksotika tropis lainnya --hasil perkebunan-perkebunana besar baru di Pulau Sumatera dan Jawa: tebu, tembakau, lada, kopi, teh, nila, kelapa sawit, dan kayu jati-- namun sejarah sudah mencatat bahwa dua jenis rempah-rempah Maluku itulah yang mengawali penjelajahan sekaligus penjajahan kepulauan Nusantara oleh bangsa-bangsa Eropah, terutama Belanda (Topatimasang, ed., 2004:32). Jika saja tak pernah ada cengkeh dan pala di Maluku, mungkin sejarah kepulauan Nusantara ini akan berbeda sama sekali.
                                                                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                          Masa suram cengkeh dan pala terus berlangsung sampai pertengahan abad-20. Rempah eksotika yang pernah membuat tergila-gila<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                          para saudagar Arab, pedagang Cina, serta kaum ningrat Eropa itu, tergantikan perannya oleh penemuan teknologi mesin pendingin berkat Revolusi Industri yang dimulai di Inggris pada pertengahan abad-18. Pasaran cengkeh di Eropa pun merosot tajam.
                                                                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                          Nasibnya terselamatkan berkat penemuan oleh seorang Haji Djamhari di Kudus, Jawa Tengah. Pada akhir tahun 1880-an, Haji Djamhari menemukan kegunaan baru cengkeh sebagai ramuan utama rokok. Lahirlah satu produk baru yang unik, khas dan asli Indonesia: kretek! (Hanusz, 2000:ii).
                                                                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                          Setelah seperempat abad hanya berkembang dalam skala kecil usaha rumah tangga, produksi kretek akhirnya menjelma menjadi industri besar sejak awal abad-20 yang dirintis oleh Haji Nitisemito (pendiri pabrik \u2018Jambu Bol\u2019) di Kudus dan Liem Seng Tee (pendiri pabrik \u2018Dji Sam Soe\u2019 dan \u2018Sampoerna\u2019) di Surabaya.
                                                                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                          Puncaknya adalah pada pertengahan tahun 1950-an, ketika produksi kretek mulai berkembang pesat menjadi industri raksasa modern dengan munculnya beberapa pabrik baru, antara lain, yang terkemuka, oleh Oei Wei Gwan (pendiri pabrik \u2018Djarum\u2019) di Kudus dan Tjou Ing Hwie (pendiri pabrik \u2018Gudang Garam\u2019) di Kediri (Topatimasang, et.al., eds., 2010:131).<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                          Baca: Teruslah Menanam Tembakau dan Cengkeh, Wahai Petani Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                          Cengkeh, bahan baku paling esensial dari kretek --selain tembakau, tentu saja-- pun kembali berjaya. Bahkan, sejak dasawarsa 1970an, telah menjadi salah satu penyumbang terbesar keuangan negara Republik Indonesia. Pada tahun 2012 dan 2013, pemasukan cukai dari industri kretek mencatat 95,5% dari seluruh pemasukan cukai ke kas negara. Nilainya tak tanggung-tanggung: Rp 87 triliun! (el-Guyanie, et.al.: 2013:4-5).<\/strong>
                                                                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                          Nilai ekonomisnya yang sangat besar sempat menggoda penguasa otoriter rezim Presiden Soeharto, pada 1990-an, memberlakukan satu kebijakan \u2018Hongi Gaya Baru\u2019: monopoli perdagangan cengkeh dalam negeri melalui Badan Penyanggah dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) yang sangat merugikan petani. Harga cengkeh di tingkat petani penghasil anjlok sampai hanya Rp 2.000 - 3.000 per kilogram, lebih murah dari harga sebungkus kretek yang dihasilkan darinya.
                                                                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                          Akibatnya, ratusan ribu pohon cengkeh di daerah-daerah penghasil utama --Maluku, Maluku Utara, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Selatan-- ditebangi atau dibiarkan terlantar tak terurus.
                                                                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                          Gelombang reformasi sistem politik dan hukum nasional yang dimulai pada tahun 1998, akhirnya menjungkalkan rezim Soeharto dan BPPC dibubarkan, Pelan tapi pasti, harga cengkeh kembali merangkak naik, sehingga pada tahun 2012, bahkan melewati angka Rp 200.000 per kilogram. Para petani cengkeh di seluruh negeri kembali tersenyum. Tetapi, sampai kapan? <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                          Catatan:<\/strong><\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                          [1] Beberapa sumber menyebutkan bahwa kata \u2018cengkeh\u2019 dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Mandarin, tkeng-his atau xi\u2019jia, yang berarti \u2018rempah [berbentuk mirip] paku\u2019 (scented nails). Ini menunjukkan bahwa cengkeh sudah dikenal sejak lama oleh bangsa Cina --diketahui sejak abad-2-- jauh sebelum orang Eropa mengenalnya ((lihat, misalnya: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                          [2] Catatan-catatan para biarawan Fransiskan --yang disalin dan dikutip oleh van Frassen-- bahkan menyebut cengkeh sebagai salah satu bahan utama pengawet mumi para Fir\u2019aun, penguasa Mesir Kuno. Beberapa pakar sejarah dan arkeologi menyatakan bahwa rempah-rempah Maluku bahkan sudah ditemukan artefaknya di Lembah Mesopotomia (wilayah Iraq dan sekitarnya sekarang) pada 3.000 tahun sebelum Masehi. (lihat, antara lain: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                          [3] Uraian lebih rinci sejarah kolonialisme rempah-rempah Nusantara ini, terutama oleh Belanda dan Portugis, dapat dibaca pada beberapa sumber kepustakaan yang sudah dikenal luas, antara lain: Glamann (1958) dan Boxer (1965 dan 1969). Dalam risalah klasik Pires disebutkan bahwa pada tahun 1512-1521 saja, jumlah produksi cengkeh di Maluku sudah mencapai 7.250 bahar per tahun, terbesar adalah di Makian serta Amboina dan Lease (masing-masing 1.500 bahar)(Pires, 1512-1515).<\/em>
                                                                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                          Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem Topatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
                                                                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n ","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-10 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-02-10 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5425","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5415,"post_author":"878","post_date":"2019-02-07 12:15:55","post_date_gmt":"2019-02-07 05:15:55","post_content":" \n

                                                                                                                                                                                                                                                          Belakangan ini, ketika musim hujan tiba, di Kabupaten Temanggung, Kabupaten Jember, dan beberapa wilayah sentra pertanian tembakau lainnya, hampir mustahil menemukan tanaman tembakau tumbuh di lahan-lahan milik petani. Di wilayah-wilayah tersebut, citra sebagai sentra pertanian tembakau seakan menguap. Lahan-lahan yang ada di sana, sama sekali tidak ditumbuhi tanaman tembakau.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                          Kabar ini bisa jadi dianggap sebagai kabar gembira bagi mereka yang menganggap diri dan kelompoknya anti-rokok dan anti-tembakau yang selalu mengampanyekan sikap-sikap mereka terkait kebencian kepada tembakau dan aktivitas merokok. Setelah sekian lama berjuang, akhirnya perjuangan mereka dirasa berhasil usai menyaksikan fenomena lahan-lahan di wilayah yang dianggap sentra pertanian tembakau pada hari-hari belakangan ini.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                          Baca juga: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                          Tak sia-sia turun ke jalan, tak sia-sia melakukan lobi-lobi ke penguasa, tak sia-sia mengucurkan uang yang tidak sedikit, dan tak sia-sia mempermalukan diri dengan mengemis ke lembaga donor asing dan menggondol uang dari cukai tembakau untuk mengampanyekan gerakan anti-rokok dan anti-tembakau. Tak sia-sia. Karena perjuangan sepertinya berhasil.<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                          Kampanye-kampanye gerakan mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya, sepertinya juga sangat berhasil. Bagaimana tidak? Wilayah-wilayah yang sebelumnya penuh dengan tanaman tembakau dan bergeliat dengannya, kini lahan-lahannya sudah berganti dengan tanaman lain. Sebuah keberhasilan yang menggembirakan. Begitu mungkin pikir mereka para yang menganggap dirinya pejuang anti-rokok dan anti-tembakau. Dan tentu saja mereka akan kecele dan kita akan menertawakan hal itu.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                          Sayangnya, mereka yang menganggap dirinya anti-rokok dan anti-tembakau tidak menyaksikan langsung fenomena ini di lapangan, di lahan-lahan yang peruntukannya berubah pada hari-hari belakangan ini ketika memasuki musim hujan. Mereka asyik duduk pada kursi empuk di ruang-ruang nyaman ber-AC di kota-kota yang jauh dari kultur pertanian. Mereka menyengajakan diri menjadi elit dan enggan untuk turun melihat langsung ke lapangan. Kalaupun ada yang turun langsung ke lapangan, hanya segelintir saja dari mereka, itupun sekadar formalitas saja. Tak pernah benar-benar mau turun ke lapangan, hidup dan merasakan langsung kultur pertanian tembakau dalam jangka waktu cukup lama di lapangan.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                          Baca juga: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                          Fenomena ini membikin kita tak bisa melihat mereka para anti-rokok kecele lalu menertawakan mereka.<\/strong> Fenomena keengganan terjun langsung ke lapangan terlebih mencoba mendengar mereka yang tetap menanam tembakau, juga menjalani keseharian dalam waktu cukup lama bersama petani tembakau inilah yang saya kira menjadikan mereka tetap keras kepala untuk anti-rokok dan anti-tembakau. Karena jika mereka mau melakukan itu, saya yakin mereka semua tidak akan begitu kaku dalam memandang pertanian tembakau dan produk hasil industri tembakau.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                          Salah satu yang selalu mereka kampanyekan dan ngotot dengan itu, terkait hulu pertanian tembakau adalah mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya. Mereka berargumen banyak tanaman lain yang bisa semenguntungkan tanaman tembakau. Keengganan mereka terjun langsung ke lapangan inilah yang membikin mereka buta dengan kondisi pertanian tembakau dan pada akhirnya terus menerus mengampanyekan pergantian tanaman tembakau dengan tanaman lainnya.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                          Baca juga: Imanlah kepada Allah, Bukan Antirokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                          Tembakau tanaman yang khas. Ia hanya tumbuh baik sepanjang empat hingga lima bulan dalam satu tahun. Tumbuh-kembang tanaman tembakau dengan baik itu umumnya terjadi pada musim kemarau setiap tahunnya. Hanya sedikit sekali jenis tembakau yang tumbuh baik di musim penghujan, mayoritasnya, tumbuh baik pada musim kemarau.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                          Jika ditanam pada musim hujan, hampir bisa dipastikan tanaman tembakau akan gagal menghasilkan daun-daun yang berkualitas. Ia akan rusak dan membusuk karena terlalu banyak terkena air sehingga daun-daun itu tak layak dijual. Jangankan bisa dijual, untuk tumbuh dengan baik pun sepertinya sulit karena musim hujan akan membunuh banyak tanaman itu.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                          Maka, tak heran pada musim-musim seperti saat ini, ketika musim penghujan mendekati puncaknya, di wilayah-wilayah yang dikenal sebagai sentra pertanian tembakau, sulit menemukan pohon tembakau yang sedang tumbuh. Pada lahan-lahan yang sebelumnya ditumbuhi tanaman tembakau pada musim panas, berganti tanaman-tanaman lain yang bermacam-macam, sesuai dengan kondisi lahannya. Untuk lahan sawah, lahan-lahan itu pada musim penghujan kini ditumbuhi tanaman padi yang subur. Pada lahan tegalan dan lahan di pegunungan, lahan-lahan yang ditanami tembakau pada musim kemarau, saat ini ditumbuhi bermacam jenis tanaman mulai dari cabai, bawang, tomat, kol, terong, mentimun, dan ragam jenis tanaman semusim lainnya.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                          Uniknya, tipikal tanaman tembakau yang tumbuh baik di musim kemarau ini memberi pilihan lebih kepada para petani. Lahan-lahan yang sulit ditanami pada musim kemarau, pada akhirnya masih bisa tetap produktif dengan keberadaan tanaman tembakau. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                          Maka, kampanye aneh mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain dengan ragam rupa dalih yang membingungkan, bukan saja sama sekali tidak tepat dan asal-asalan, namun bisa jadi akan ditertawakan oleh para petani yang begitu paham dengan kondisi lahan dan terutama kondisi iklim dan cuaca. Sulit mencari tanaman semusim yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Jika pun ada, tak ada yang semenguntungkan tanaman tembakau.
                                                                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n ","post_title":"Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"keberhasilan-gerakan-anti-tembakau-tak-ada-tembakau-saat-musim-hujan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-07 12:16:02","post_modified_gmt":"2019-02-07 05:16:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5415","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5409,"post_author":"919","post_date":"2019-02-05 08:04:43","post_date_gmt":"2019-02-05 01:04:43","post_content":" \n

                                                                                                                                                                                                                                                          Tahun Baru Imlek yang merupakan tradisi Bangsa Tiongkok kini sudah tak lagi menjadi hal yang asing bagi masyarakat Indonesia. Kehadirannya sudah mewarnai dan berakulturasi dengan tradisi lokal. Menjelang Tahun Baru Imlek. Berbagai hiasan dan kemeriahan terjadi beberapa titik di Tanah Air. Perayaannya juga menjadi destinasi baru yang mengasyikkan untuk dilihat dan patut disaksikan.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                          Berterimakasihlah kepada sang bapak bangsa, KH Abdurrahman Wahid atau yang dikenal dengan nama Gus Dur. Berkat kebijakannya saat menjadi Presiden Indonesia, Tahun Baru Imlek resmi dijadikan hari libur nasional dan dianggap sebagai salah satu hari raya di Tanah Air. Meski sentimen antitionghoa masih ada di sana-sini, tapi tetap tak bisa dipungkiri bahwa bangsa tionghoa sudah bersentuhan dengan budaya lokal dalam kurun waktu yang sangat panjang.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                          DNA Bangsa Tionghoa yang memang merupakan pedagang menjadi pembuka kisah interaksi antara nenek moyang berbagai suku di Nusantara dengan mereka. Beberapa kelenteng-kelenteng yang tersebar pada berbagai pesisir daerah di Nusantara jadi buktinya. Pelabuhan-pelabuhan tua di tanah air dan ramainya perdagangan di pesisir mempermudah bangsa kita berhubungan dengan Bangsa Tionghoa.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                          Baca Juga: Wong Kalang dan Kota Gede<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                          Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa kehadiran Bangsa Tionghoa di Nusantara tak hanya sebagai pedagang, namun juga sebagai pekerja (bahkan hingga pekerja kasar). Benny Setiono, seorang sejarahwan menyebutkan bahwa antara tahun 1760-1770 dalam jumlah yang besar memasuki nusantara melalui Kalimantan Barat. Mereka bekerja sebagai kuli pertambangan di sana dan di kemudian hari membentuk sebuah republik bernama Republik Lanfang yang konon katanya menjadi republik pertama di Asia Tenggara.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                          Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                          Baca Juga: Imlek dan Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                          Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                          Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                          Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                          Baca Juga: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                          Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                          Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
                                                                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n ","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_3o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                                                                                                                                          \n

                                                                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n \n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                          3. Persiapan Media Tanam<\/strong><\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                          1. Tanah yang digunakan adalah tanah dan pupuk kandang yang sudah matang <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                          2. Tanah berasal dari tanah steril (sudah dikeringkan dan bukan dari tanah bekas tanaman yang terserang penyakit)<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                          3. Media tanah dicangkul ringan di para-para minimal 2x <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                          4. Sebar Benih; <\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                            Setelah bibit dan lahan siap, kemudian sebarkan benih dengan ditutup memakai jerami <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                            1. Pemupukan <\/strong><\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                            2. Pemupukan pertama<\/li><\/ol>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                                                                                                              \"\"\/<\/figure>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                                                                                                              1. Pemupukan kedua, dilakukan apabila pertumbuhan bibit kurang baik (21 HSS). Pupuk yang digunakan adalaj KNO3 <\/sub>(30 \u2013 50 gram per bedeng dengan ukuran 1x5 m) dicampur dengan air \u00b110 liter, selanjutnya bedengan disiram kembali dengan air (pembilasan) <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                              2. Penyiraman<\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                Frekuensi penyiraman berdasarkan umur bibit\/umur hari setelah sebar (HSS):<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                0 \u2013 10 HSS\t\t:\t3x Sehari (fase kritis)<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                11 \u2013 21 HSS\t\t:\t2x Sehari <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                22 \u2013 35 HSS\t\t:\t1x Sehari <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                36 \u2013 45 \/ 50 HSS\t:\tPeriode stress air\/kering<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                1. Penjarangan & Hardening<\/strong>
                                                                                                                                                                                                                                                                  1. Penjarangan dilakukan agar jarak antara bibit ideal (4-5 cm) sehingga tidak<\/li><\/ol><\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                    terserang hama & penyakit. Penjarangan dilakukan pada umur bibit 21-25 hari dengan cara: basahi bedengan sore hari sebelumnya dan pagi hari sebelum bibit dicabut, cabut bibit  yang akan ditanami dengan hati-hati, tanam bibit pada bedengan yang kerapatan bibitnya jarang, siram bibit sesegera mungkin setelah dipindah.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                    1. Bibit dibiasakan untuk terkena sinar  matahari langsung. Tujuan hardening agar bibit dapat beradaptasi dan memperkuat jaringan daun, batang serta mengurangi resiko penyakit karena jamur. Pelaksanaan hardening mulai umur 21 HSS secara bertahap.Pada kondisi hujan tidak dianjurkan. <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                    2. Klipping <\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                      1. Dilakukan antara jam 08.00 sampai 11.00 (usahakan cuaca cerah) <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                      2. Kliping dilakukan pada saat bibit pertumbuhannya terlalu lebat atau saling menutup batangnya. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                      3. Kliping adalah kegiatan memotong sebagian atau 2\/3 daun bibit tembakau. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                      4. Frekuensi kliping dilakukan bisa satu, dua kali atau lebih sesuai dengan perkembangan bibit dan persiapan lokasi areal tanam. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                      5 Lima sampai tujuh hari menjelang transplanting, kegiatan kliping sebaiknya sudah selesai. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                      Tujuan klipping: menjaga lingkungan bibit agar tidak lembab, <\/strong>memperbesar batan,menyeragamkan ukuran benih, dan memperkuat pertumbuhan akar <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                      1. Pencabutan Bibit, agar mendapatkan jarak tanam yang sesuai lahan <\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                                                                                                                        \"\"\/<\/figure>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                                                                                                                        \"\"\/<\/figure>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                        Dalam satu hamparan direkomendasikan selesai tanam maksimal 3 Hari. Umur  tanaman akan menjadi sama atau seragam. Performance tanaman juga akan menjadi  seragam. Kemasakan daun pada saat petik juga menjadi seragam. Memudahkan pada saat  proses panen dan pasca panen. Tembakau kering yang dihasilkan pun juga seragam.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                        1. Pengendalian Hama & Penyakit<\/strong> <\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                          ~ Pada awal penyebaran benih direkomendasikan untuk melakukan penyemprotan fusngisida (jamur), seperti Previcur, Redomil & Antracol <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                          ~ Hama yang sering dijumpai: semut (Decis), janggel, orong-orong <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                          1. Tahapan Perawatan<\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                                                                                                                            \"\"\/<\/figure>\n ","post_title":"Sukses Bertani Tembakau Bersama Kemitraan Djarum di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sukses-bertani-tembakau-bersama-kemitraan-djarum-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-11 12:32:18","post_modified_gmt":"2019-02-11 05:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5433","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5425,"post_author":"922","post_date":"2019-02-10 09:07:33","post_date_gmt":"2019-02-10 02:07:33","post_content":" \n

                                                                                                                                                                                                                                                                            Bahwa cengkeh [1] (Syzygium aromaticum) --bersama pala (Myristica fragrans)-- adalah dua tanaman asli (endemik) Kepulauan Maluku, sudah tak terbantahkan. Cengkeh dikenal dan diakui berasal dari \u2018Empat Pulau Gunung Maluku\u2019 (Maloko Kie Raha): Ternate, Tidore, Moti, dan Makian.
                                                                                                                                                                                                                                                                            <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                            Adapun pala, berasal dari empat pulau kecil lainnya di tengah Laut Banda: Lonthor, Neira, Rhun, dan Ai. Pada penjelasan peta abad-16 oleh penjelajah dari Semenanjung Iberia, Fransisco Rodriguez, tertulis: \u201cEstas quatro Ilhas Azures suam as de molluquo homde nace ho crauzo\u201d<\/em> (Adalah empat pulau berwarna biru [dalam peta] yang disebut sebagai Kepulauan Maluku di mana rempah-rempah berasal) (Pires, 1512- 1515:213).
                                                                                                                                                                                                                                                                            <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                            Sejak beberapa abad sebelum Masehi, adalah para saudagar Arab --melalui Samudera Hindia melintasi Iskandariyah dan Laut Tengah-- serta para pedagang Cina --melalui jalur \u2018Jalan Sutra\u2019 melintasi Asia Tengah dan Asia Barat-- yang membawa dan memperkenalkannya ke daratan Eropa. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                            Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                            Bandar-bandar besar Tyre di Yunani dan Venesia di Italia menjadi pelabuhan utama rempah-rempah Maluku memasuki kehidupan dan peradaban Eropa. Selain sebagai bumbu masakan, rempah obat, dan ramuan wewangian, cengkeh dan pala juga menjadi bahan utama pengawet bahan pangan. [2]
                                                                                                                                                                                                                                                                            <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                            Inilah yang membuat orang-orang Eropa untuk pertama kalinya dapat mengawetkan dan menimbun makanan selama bermusim-musim. Prosa indah Blair bersaudara menggambarkannya dengan sangat baik:
                                                                                                                                                                                                                                                                            <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                            \u201cKemampuan menyimpan makanan lebih dari yang kami makan sekaligus berarti kemampuan menjual dan membelinya dalam jumlah besar --dan kota-kota dagang pun mekar. Perekonomian yang dihasilkannya mengarahkan kami ke zaman Pencerahan dan kemudian Revolusi Industri. Tak lama setelah kami menghirup aroma yang sangat kuat dari Timur itu dan mengubah kimiawi makanan kami, maka kami pun mampu melakukan lompatan besar dalam bidang budaya dan seni.\u201d (Blair & Blair, 2010; 30-31).<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                            Baca: Cengkeh dan Kelapa di Kepulauan Anambas<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                            Bukan hanya membuat perekonomian dan perdagangan serta ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang, cengkeh dan pala bahkan adalah faktor yang paling menentukan dalam kemunculan satu babakan paling mengenaskan dalam sejarah politik dunia, yakni zaman penjajahan (kolonialisme) Eropa, terutama atas-atas negeri- negeri Asia Selatan, Timur dan Tenggara, termasuk Indonesia.
                                                                                                                                                                                                                                                                            <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                            Tergerak oleh sahwat menguasai rempah-rempah yang menggiurkan itu, bangsa-bangsa Eropa --terutama Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda-- pun menggelar ekspedisi-ekspedisi besar untuk menemukan cengkeh dan pala langsung di tanah asalnya. Ketika armada-armada mereka akhirnya mencapai perairan Kepulauan Maluku, pada abad-16, perang pun tak terhindarkan.
                                                                                                                                                                                                                                                                            <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                            Mereka silih berganti saling mengalahkan, tetapi pemenang terakhir adalah Belanda. Melalui Perusahaan Dagang Hindia Timur (Vereenigde Oostindische Compagnie, VOC) yang dibentuk pada awal abad-17 (tepatnya tahun 1609), Belanda melancarkan ekspedisi Pelayaran Hongi (Hongie Tochten), untuk memusnahkan semua tanaman cengkeh di Ternate, Tidore, Moti, dan Makian, lalu membatasi ketat penanamnya hanya di Pulau-pulau Ambon dan Lease --yang lebih dekat ke Banda sebagai pusat pemerintahan mereka sebelum akhirnya dipindahkan ke Batavia.
                                                                                                                                                                                                                                                                            <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                            Praktis, sejak akhir abad-16, Belanda pun menguasai penuh perdagangan rempah-rempah Maluku dengan jumlah produksi rerata 2.500 sampai 4.500 ton per tahun. [3]<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                            Baca: Budidaya Pohon Cengkeh<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                            Meskipun peran utama rempah-rempah Maluku itu kemudian tergusur pada abad-18 dan 19 oleh beberapa barang eksotika tropis lainnya --hasil perkebunan-perkebunana besar baru di Pulau Sumatera dan Jawa: tebu, tembakau, lada, kopi, teh, nila, kelapa sawit, dan kayu jati-- namun sejarah sudah mencatat bahwa dua jenis rempah-rempah Maluku itulah yang mengawali penjelajahan sekaligus penjajahan kepulauan Nusantara oleh bangsa-bangsa Eropah, terutama Belanda (Topatimasang, ed., 2004:32). Jika saja tak pernah ada cengkeh dan pala di Maluku, mungkin sejarah kepulauan Nusantara ini akan berbeda sama sekali.
                                                                                                                                                                                                                                                                            <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                            Masa suram cengkeh dan pala terus berlangsung sampai pertengahan abad-20. Rempah eksotika yang pernah membuat tergila-gila<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                            para saudagar Arab, pedagang Cina, serta kaum ningrat Eropa itu, tergantikan perannya oleh penemuan teknologi mesin pendingin berkat Revolusi Industri yang dimulai di Inggris pada pertengahan abad-18. Pasaran cengkeh di Eropa pun merosot tajam.
                                                                                                                                                                                                                                                                            <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                            Nasibnya terselamatkan berkat penemuan oleh seorang Haji Djamhari di Kudus, Jawa Tengah. Pada akhir tahun 1880-an, Haji Djamhari menemukan kegunaan baru cengkeh sebagai ramuan utama rokok. Lahirlah satu produk baru yang unik, khas dan asli Indonesia: kretek! (Hanusz, 2000:ii).
                                                                                                                                                                                                                                                                            <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                            Setelah seperempat abad hanya berkembang dalam skala kecil usaha rumah tangga, produksi kretek akhirnya menjelma menjadi industri besar sejak awal abad-20 yang dirintis oleh Haji Nitisemito (pendiri pabrik \u2018Jambu Bol\u2019) di Kudus dan Liem Seng Tee (pendiri pabrik \u2018Dji Sam Soe\u2019 dan \u2018Sampoerna\u2019) di Surabaya.
                                                                                                                                                                                                                                                                            <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                            Puncaknya adalah pada pertengahan tahun 1950-an, ketika produksi kretek mulai berkembang pesat menjadi industri raksasa modern dengan munculnya beberapa pabrik baru, antara lain, yang terkemuka, oleh Oei Wei Gwan (pendiri pabrik \u2018Djarum\u2019) di Kudus dan Tjou Ing Hwie (pendiri pabrik \u2018Gudang Garam\u2019) di Kediri (Topatimasang, et.al., eds., 2010:131).<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                            Baca: Teruslah Menanam Tembakau dan Cengkeh, Wahai Petani Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                            Cengkeh, bahan baku paling esensial dari kretek --selain tembakau, tentu saja-- pun kembali berjaya. Bahkan, sejak dasawarsa 1970an, telah menjadi salah satu penyumbang terbesar keuangan negara Republik Indonesia. Pada tahun 2012 dan 2013, pemasukan cukai dari industri kretek mencatat 95,5% dari seluruh pemasukan cukai ke kas negara. Nilainya tak tanggung-tanggung: Rp 87 triliun! (el-Guyanie, et.al.: 2013:4-5).<\/strong>
                                                                                                                                                                                                                                                                            <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                            Nilai ekonomisnya yang sangat besar sempat menggoda penguasa otoriter rezim Presiden Soeharto, pada 1990-an, memberlakukan satu kebijakan \u2018Hongi Gaya Baru\u2019: monopoli perdagangan cengkeh dalam negeri melalui Badan Penyanggah dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) yang sangat merugikan petani. Harga cengkeh di tingkat petani penghasil anjlok sampai hanya Rp 2.000 - 3.000 per kilogram, lebih murah dari harga sebungkus kretek yang dihasilkan darinya.
                                                                                                                                                                                                                                                                            <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                            Akibatnya, ratusan ribu pohon cengkeh di daerah-daerah penghasil utama --Maluku, Maluku Utara, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Selatan-- ditebangi atau dibiarkan terlantar tak terurus.
                                                                                                                                                                                                                                                                            <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                            Gelombang reformasi sistem politik dan hukum nasional yang dimulai pada tahun 1998, akhirnya menjungkalkan rezim Soeharto dan BPPC dibubarkan, Pelan tapi pasti, harga cengkeh kembali merangkak naik, sehingga pada tahun 2012, bahkan melewati angka Rp 200.000 per kilogram. Para petani cengkeh di seluruh negeri kembali tersenyum. Tetapi, sampai kapan? <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                            Catatan:<\/strong><\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                            [1] Beberapa sumber menyebutkan bahwa kata \u2018cengkeh\u2019 dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Mandarin, tkeng-his atau xi\u2019jia, yang berarti \u2018rempah [berbentuk mirip] paku\u2019 (scented nails). Ini menunjukkan bahwa cengkeh sudah dikenal sejak lama oleh bangsa Cina --diketahui sejak abad-2-- jauh sebelum orang Eropa mengenalnya ((lihat, misalnya: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                            [2] Catatan-catatan para biarawan Fransiskan --yang disalin dan dikutip oleh van Frassen-- bahkan menyebut cengkeh sebagai salah satu bahan utama pengawet mumi para Fir\u2019aun, penguasa Mesir Kuno. Beberapa pakar sejarah dan arkeologi menyatakan bahwa rempah-rempah Maluku bahkan sudah ditemukan artefaknya di Lembah Mesopotomia (wilayah Iraq dan sekitarnya sekarang) pada 3.000 tahun sebelum Masehi. (lihat, antara lain: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                            [3] Uraian lebih rinci sejarah kolonialisme rempah-rempah Nusantara ini, terutama oleh Belanda dan Portugis, dapat dibaca pada beberapa sumber kepustakaan yang sudah dikenal luas, antara lain: Glamann (1958) dan Boxer (1965 dan 1969). Dalam risalah klasik Pires disebutkan bahwa pada tahun 1512-1521 saja, jumlah produksi cengkeh di Maluku sudah mencapai 7.250 bahar per tahun, terbesar adalah di Makian serta Amboina dan Lease (masing-masing 1.500 bahar)(Pires, 1512-1515).<\/em>
                                                                                                                                                                                                                                                                            <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                            Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem Topatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
                                                                                                                                                                                                                                                                            <\/p>\n ","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-10 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-02-10 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5425","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5415,"post_author":"878","post_date":"2019-02-07 12:15:55","post_date_gmt":"2019-02-07 05:15:55","post_content":" \n

                                                                                                                                                                                                                                                                            Belakangan ini, ketika musim hujan tiba, di Kabupaten Temanggung, Kabupaten Jember, dan beberapa wilayah sentra pertanian tembakau lainnya, hampir mustahil menemukan tanaman tembakau tumbuh di lahan-lahan milik petani. Di wilayah-wilayah tersebut, citra sebagai sentra pertanian tembakau seakan menguap. Lahan-lahan yang ada di sana, sama sekali tidak ditumbuhi tanaman tembakau.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                            Kabar ini bisa jadi dianggap sebagai kabar gembira bagi mereka yang menganggap diri dan kelompoknya anti-rokok dan anti-tembakau yang selalu mengampanyekan sikap-sikap mereka terkait kebencian kepada tembakau dan aktivitas merokok. Setelah sekian lama berjuang, akhirnya perjuangan mereka dirasa berhasil usai menyaksikan fenomena lahan-lahan di wilayah yang dianggap sentra pertanian tembakau pada hari-hari belakangan ini.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                            Baca juga: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                            Tak sia-sia turun ke jalan, tak sia-sia melakukan lobi-lobi ke penguasa, tak sia-sia mengucurkan uang yang tidak sedikit, dan tak sia-sia mempermalukan diri dengan mengemis ke lembaga donor asing dan menggondol uang dari cukai tembakau untuk mengampanyekan gerakan anti-rokok dan anti-tembakau. Tak sia-sia. Karena perjuangan sepertinya berhasil.<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                            Kampanye-kampanye gerakan mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya, sepertinya juga sangat berhasil. Bagaimana tidak? Wilayah-wilayah yang sebelumnya penuh dengan tanaman tembakau dan bergeliat dengannya, kini lahan-lahannya sudah berganti dengan tanaman lain. Sebuah keberhasilan yang menggembirakan. Begitu mungkin pikir mereka para yang menganggap dirinya pejuang anti-rokok dan anti-tembakau. Dan tentu saja mereka akan kecele dan kita akan menertawakan hal itu.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                            Sayangnya, mereka yang menganggap dirinya anti-rokok dan anti-tembakau tidak menyaksikan langsung fenomena ini di lapangan, di lahan-lahan yang peruntukannya berubah pada hari-hari belakangan ini ketika memasuki musim hujan. Mereka asyik duduk pada kursi empuk di ruang-ruang nyaman ber-AC di kota-kota yang jauh dari kultur pertanian. Mereka menyengajakan diri menjadi elit dan enggan untuk turun melihat langsung ke lapangan. Kalaupun ada yang turun langsung ke lapangan, hanya segelintir saja dari mereka, itupun sekadar formalitas saja. Tak pernah benar-benar mau turun ke lapangan, hidup dan merasakan langsung kultur pertanian tembakau dalam jangka waktu cukup lama di lapangan.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                            Baca juga: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                            Fenomena ini membikin kita tak bisa melihat mereka para anti-rokok kecele lalu menertawakan mereka.<\/strong> Fenomena keengganan terjun langsung ke lapangan terlebih mencoba mendengar mereka yang tetap menanam tembakau, juga menjalani keseharian dalam waktu cukup lama bersama petani tembakau inilah yang saya kira menjadikan mereka tetap keras kepala untuk anti-rokok dan anti-tembakau. Karena jika mereka mau melakukan itu, saya yakin mereka semua tidak akan begitu kaku dalam memandang pertanian tembakau dan produk hasil industri tembakau.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                            Salah satu yang selalu mereka kampanyekan dan ngotot dengan itu, terkait hulu pertanian tembakau adalah mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya. Mereka berargumen banyak tanaman lain yang bisa semenguntungkan tanaman tembakau. Keengganan mereka terjun langsung ke lapangan inilah yang membikin mereka buta dengan kondisi pertanian tembakau dan pada akhirnya terus menerus mengampanyekan pergantian tanaman tembakau dengan tanaman lainnya.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                            Baca juga: Imanlah kepada Allah, Bukan Antirokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                            Tembakau tanaman yang khas. Ia hanya tumbuh baik sepanjang empat hingga lima bulan dalam satu tahun. Tumbuh-kembang tanaman tembakau dengan baik itu umumnya terjadi pada musim kemarau setiap tahunnya. Hanya sedikit sekali jenis tembakau yang tumbuh baik di musim penghujan, mayoritasnya, tumbuh baik pada musim kemarau.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                            Jika ditanam pada musim hujan, hampir bisa dipastikan tanaman tembakau akan gagal menghasilkan daun-daun yang berkualitas. Ia akan rusak dan membusuk karena terlalu banyak terkena air sehingga daun-daun itu tak layak dijual. Jangankan bisa dijual, untuk tumbuh dengan baik pun sepertinya sulit karena musim hujan akan membunuh banyak tanaman itu.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                            Maka, tak heran pada musim-musim seperti saat ini, ketika musim penghujan mendekati puncaknya, di wilayah-wilayah yang dikenal sebagai sentra pertanian tembakau, sulit menemukan pohon tembakau yang sedang tumbuh. Pada lahan-lahan yang sebelumnya ditumbuhi tanaman tembakau pada musim panas, berganti tanaman-tanaman lain yang bermacam-macam, sesuai dengan kondisi lahannya. Untuk lahan sawah, lahan-lahan itu pada musim penghujan kini ditumbuhi tanaman padi yang subur. Pada lahan tegalan dan lahan di pegunungan, lahan-lahan yang ditanami tembakau pada musim kemarau, saat ini ditumbuhi bermacam jenis tanaman mulai dari cabai, bawang, tomat, kol, terong, mentimun, dan ragam jenis tanaman semusim lainnya.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                            Uniknya, tipikal tanaman tembakau yang tumbuh baik di musim kemarau ini memberi pilihan lebih kepada para petani. Lahan-lahan yang sulit ditanami pada musim kemarau, pada akhirnya masih bisa tetap produktif dengan keberadaan tanaman tembakau. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                            Maka, kampanye aneh mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain dengan ragam rupa dalih yang membingungkan, bukan saja sama sekali tidak tepat dan asal-asalan, namun bisa jadi akan ditertawakan oleh para petani yang begitu paham dengan kondisi lahan dan terutama kondisi iklim dan cuaca. Sulit mencari tanaman semusim yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Jika pun ada, tak ada yang semenguntungkan tanaman tembakau.
                                                                                                                                                                                                                                                                            <\/p>\n ","post_title":"Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"keberhasilan-gerakan-anti-tembakau-tak-ada-tembakau-saat-musim-hujan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-07 12:16:02","post_modified_gmt":"2019-02-07 05:16:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5415","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5409,"post_author":"919","post_date":"2019-02-05 08:04:43","post_date_gmt":"2019-02-05 01:04:43","post_content":" \n

                                                                                                                                                                                                                                                                            Tahun Baru Imlek yang merupakan tradisi Bangsa Tiongkok kini sudah tak lagi menjadi hal yang asing bagi masyarakat Indonesia. Kehadirannya sudah mewarnai dan berakulturasi dengan tradisi lokal. Menjelang Tahun Baru Imlek. Berbagai hiasan dan kemeriahan terjadi beberapa titik di Tanah Air. Perayaannya juga menjadi destinasi baru yang mengasyikkan untuk dilihat dan patut disaksikan.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                            Berterimakasihlah kepada sang bapak bangsa, KH Abdurrahman Wahid atau yang dikenal dengan nama Gus Dur. Berkat kebijakannya saat menjadi Presiden Indonesia, Tahun Baru Imlek resmi dijadikan hari libur nasional dan dianggap sebagai salah satu hari raya di Tanah Air. Meski sentimen antitionghoa masih ada di sana-sini, tapi tetap tak bisa dipungkiri bahwa bangsa tionghoa sudah bersentuhan dengan budaya lokal dalam kurun waktu yang sangat panjang.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                            DNA Bangsa Tionghoa yang memang merupakan pedagang menjadi pembuka kisah interaksi antara nenek moyang berbagai suku di Nusantara dengan mereka. Beberapa kelenteng-kelenteng yang tersebar pada berbagai pesisir daerah di Nusantara jadi buktinya. Pelabuhan-pelabuhan tua di tanah air dan ramainya perdagangan di pesisir mempermudah bangsa kita berhubungan dengan Bangsa Tionghoa.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                            Baca Juga: Wong Kalang dan Kota Gede<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                            Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa kehadiran Bangsa Tionghoa di Nusantara tak hanya sebagai pedagang, namun juga sebagai pekerja (bahkan hingga pekerja kasar). Benny Setiono, seorang sejarahwan menyebutkan bahwa antara tahun 1760-1770 dalam jumlah yang besar memasuki nusantara melalui Kalimantan Barat. Mereka bekerja sebagai kuli pertambangan di sana dan di kemudian hari membentuk sebuah republik bernama Republik Lanfang yang konon katanya menjadi republik pertama di Asia Tenggara.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                            Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                            Baca Juga: Imlek dan Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                            Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                            Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                            Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                            Baca Juga: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                            Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                            Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
                                                                                                                                                                                                                                                                            <\/p>\n ","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_3o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                                                                                                                                                            \n

                                                                                                                                                                                                                                                                            Sempurna<\/strong> <\/strong>tidak sempurna<\/p>\n \n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                            <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                            3. Persiapan Media Tanam<\/strong><\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                            1. Tanah yang digunakan adalah tanah dan pupuk kandang yang sudah matang <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                            2. Tanah berasal dari tanah steril (sudah dikeringkan dan bukan dari tanah bekas tanaman yang terserang penyakit)<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                            3. Media tanah dicangkul ringan di para-para minimal 2x <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                            4. Sebar Benih; <\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                              Setelah bibit dan lahan siap, kemudian sebarkan benih dengan ditutup memakai jerami <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                              1. Pemupukan <\/strong><\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                              2. Pemupukan pertama<\/li><\/ol>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                                                                                                                                \"\"\/<\/figure>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                                                                                                                                1. Pemupukan kedua, dilakukan apabila pertumbuhan bibit kurang baik (21 HSS). Pupuk yang digunakan adalaj KNO3 <\/sub>(30 \u2013 50 gram per bedeng dengan ukuran 1x5 m) dicampur dengan air \u00b110 liter, selanjutnya bedengan disiram kembali dengan air (pembilasan) <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                2. Penyiraman<\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                  Frekuensi penyiraman berdasarkan umur bibit\/umur hari setelah sebar (HSS):<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                  0 \u2013 10 HSS\t\t:\t3x Sehari (fase kritis)<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                  11 \u2013 21 HSS\t\t:\t2x Sehari <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                  22 \u2013 35 HSS\t\t:\t1x Sehari <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                  36 \u2013 45 \/ 50 HSS\t:\tPeriode stress air\/kering<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                  1. Penjarangan & Hardening<\/strong>
                                                                                                                                                                                                                                                                                    1. Penjarangan dilakukan agar jarak antara bibit ideal (4-5 cm) sehingga tidak<\/li><\/ol><\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                      terserang hama & penyakit. Penjarangan dilakukan pada umur bibit 21-25 hari dengan cara: basahi bedengan sore hari sebelumnya dan pagi hari sebelum bibit dicabut, cabut bibit  yang akan ditanami dengan hati-hati, tanam bibit pada bedengan yang kerapatan bibitnya jarang, siram bibit sesegera mungkin setelah dipindah.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                      1. Bibit dibiasakan untuk terkena sinar  matahari langsung. Tujuan hardening agar bibit dapat beradaptasi dan memperkuat jaringan daun, batang serta mengurangi resiko penyakit karena jamur. Pelaksanaan hardening mulai umur 21 HSS secara bertahap.Pada kondisi hujan tidak dianjurkan. <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                      2. Klipping <\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                        1. Dilakukan antara jam 08.00 sampai 11.00 (usahakan cuaca cerah) <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                        2. Kliping dilakukan pada saat bibit pertumbuhannya terlalu lebat atau saling menutup batangnya. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                        3. Kliping adalah kegiatan memotong sebagian atau 2\/3 daun bibit tembakau. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                        4. Frekuensi kliping dilakukan bisa satu, dua kali atau lebih sesuai dengan perkembangan bibit dan persiapan lokasi areal tanam. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                        5 Lima sampai tujuh hari menjelang transplanting, kegiatan kliping sebaiknya sudah selesai. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                        Tujuan klipping: menjaga lingkungan bibit agar tidak lembab, <\/strong>memperbesar batan,menyeragamkan ukuran benih, dan memperkuat pertumbuhan akar <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                        1. Pencabutan Bibit, agar mendapatkan jarak tanam yang sesuai lahan <\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                                                                                                                                          \"\"\/<\/figure>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                                                                                                                                          \"\"\/<\/figure>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                          Dalam satu hamparan direkomendasikan selesai tanam maksimal 3 Hari. Umur  tanaman akan menjadi sama atau seragam. Performance tanaman juga akan menjadi  seragam. Kemasakan daun pada saat petik juga menjadi seragam. Memudahkan pada saat  proses panen dan pasca panen. Tembakau kering yang dihasilkan pun juga seragam.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                          1. Pengendalian Hama & Penyakit<\/strong> <\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                            ~ Pada awal penyebaran benih direkomendasikan untuk melakukan penyemprotan fusngisida (jamur), seperti Previcur, Redomil & Antracol <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                            ~ Hama yang sering dijumpai: semut (Decis), janggel, orong-orong <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                            1. Tahapan Perawatan<\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                                                                                                                                              \"\"\/<\/figure>\n ","post_title":"Sukses Bertani Tembakau Bersama Kemitraan Djarum di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sukses-bertani-tembakau-bersama-kemitraan-djarum-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-11 12:32:18","post_modified_gmt":"2019-02-11 05:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5433","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5425,"post_author":"922","post_date":"2019-02-10 09:07:33","post_date_gmt":"2019-02-10 02:07:33","post_content":" \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                              Bahwa cengkeh [1] (Syzygium aromaticum) --bersama pala (Myristica fragrans)-- adalah dua tanaman asli (endemik) Kepulauan Maluku, sudah tak terbantahkan. Cengkeh dikenal dan diakui berasal dari \u2018Empat Pulau Gunung Maluku\u2019 (Maloko Kie Raha): Ternate, Tidore, Moti, dan Makian.
                                                                                                                                                                                                                                                                                              <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                              Adapun pala, berasal dari empat pulau kecil lainnya di tengah Laut Banda: Lonthor, Neira, Rhun, dan Ai. Pada penjelasan peta abad-16 oleh penjelajah dari Semenanjung Iberia, Fransisco Rodriguez, tertulis: \u201cEstas quatro Ilhas Azures suam as de molluquo homde nace ho crauzo\u201d<\/em> (Adalah empat pulau berwarna biru [dalam peta] yang disebut sebagai Kepulauan Maluku di mana rempah-rempah berasal) (Pires, 1512- 1515:213).
                                                                                                                                                                                                                                                                                              <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                              Sejak beberapa abad sebelum Masehi, adalah para saudagar Arab --melalui Samudera Hindia melintasi Iskandariyah dan Laut Tengah-- serta para pedagang Cina --melalui jalur \u2018Jalan Sutra\u2019 melintasi Asia Tengah dan Asia Barat-- yang membawa dan memperkenalkannya ke daratan Eropa. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                              Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                              Bandar-bandar besar Tyre di Yunani dan Venesia di Italia menjadi pelabuhan utama rempah-rempah Maluku memasuki kehidupan dan peradaban Eropa. Selain sebagai bumbu masakan, rempah obat, dan ramuan wewangian, cengkeh dan pala juga menjadi bahan utama pengawet bahan pangan. [2]
                                                                                                                                                                                                                                                                                              <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                              Inilah yang membuat orang-orang Eropa untuk pertama kalinya dapat mengawetkan dan menimbun makanan selama bermusim-musim. Prosa indah Blair bersaudara menggambarkannya dengan sangat baik:
                                                                                                                                                                                                                                                                                              <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                              \u201cKemampuan menyimpan makanan lebih dari yang kami makan sekaligus berarti kemampuan menjual dan membelinya dalam jumlah besar --dan kota-kota dagang pun mekar. Perekonomian yang dihasilkannya mengarahkan kami ke zaman Pencerahan dan kemudian Revolusi Industri. Tak lama setelah kami menghirup aroma yang sangat kuat dari Timur itu dan mengubah kimiawi makanan kami, maka kami pun mampu melakukan lompatan besar dalam bidang budaya dan seni.\u201d (Blair & Blair, 2010; 30-31).<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                              Baca: Cengkeh dan Kelapa di Kepulauan Anambas<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                              Bukan hanya membuat perekonomian dan perdagangan serta ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang, cengkeh dan pala bahkan adalah faktor yang paling menentukan dalam kemunculan satu babakan paling mengenaskan dalam sejarah politik dunia, yakni zaman penjajahan (kolonialisme) Eropa, terutama atas-atas negeri- negeri Asia Selatan, Timur dan Tenggara, termasuk Indonesia.
                                                                                                                                                                                                                                                                                              <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                              Tergerak oleh sahwat menguasai rempah-rempah yang menggiurkan itu, bangsa-bangsa Eropa --terutama Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda-- pun menggelar ekspedisi-ekspedisi besar untuk menemukan cengkeh dan pala langsung di tanah asalnya. Ketika armada-armada mereka akhirnya mencapai perairan Kepulauan Maluku, pada abad-16, perang pun tak terhindarkan.
                                                                                                                                                                                                                                                                                              <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                              Mereka silih berganti saling mengalahkan, tetapi pemenang terakhir adalah Belanda. Melalui Perusahaan Dagang Hindia Timur (Vereenigde Oostindische Compagnie, VOC) yang dibentuk pada awal abad-17 (tepatnya tahun 1609), Belanda melancarkan ekspedisi Pelayaran Hongi (Hongie Tochten), untuk memusnahkan semua tanaman cengkeh di Ternate, Tidore, Moti, dan Makian, lalu membatasi ketat penanamnya hanya di Pulau-pulau Ambon dan Lease --yang lebih dekat ke Banda sebagai pusat pemerintahan mereka sebelum akhirnya dipindahkan ke Batavia.
                                                                                                                                                                                                                                                                                              <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                              Praktis, sejak akhir abad-16, Belanda pun menguasai penuh perdagangan rempah-rempah Maluku dengan jumlah produksi rerata 2.500 sampai 4.500 ton per tahun. [3]<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                              Baca: Budidaya Pohon Cengkeh<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                              Meskipun peran utama rempah-rempah Maluku itu kemudian tergusur pada abad-18 dan 19 oleh beberapa barang eksotika tropis lainnya --hasil perkebunan-perkebunana besar baru di Pulau Sumatera dan Jawa: tebu, tembakau, lada, kopi, teh, nila, kelapa sawit, dan kayu jati-- namun sejarah sudah mencatat bahwa dua jenis rempah-rempah Maluku itulah yang mengawali penjelajahan sekaligus penjajahan kepulauan Nusantara oleh bangsa-bangsa Eropah, terutama Belanda (Topatimasang, ed., 2004:32). Jika saja tak pernah ada cengkeh dan pala di Maluku, mungkin sejarah kepulauan Nusantara ini akan berbeda sama sekali.
                                                                                                                                                                                                                                                                                              <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                              Masa suram cengkeh dan pala terus berlangsung sampai pertengahan abad-20. Rempah eksotika yang pernah membuat tergila-gila<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                              para saudagar Arab, pedagang Cina, serta kaum ningrat Eropa itu, tergantikan perannya oleh penemuan teknologi mesin pendingin berkat Revolusi Industri yang dimulai di Inggris pada pertengahan abad-18. Pasaran cengkeh di Eropa pun merosot tajam.
                                                                                                                                                                                                                                                                                              <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                              Nasibnya terselamatkan berkat penemuan oleh seorang Haji Djamhari di Kudus, Jawa Tengah. Pada akhir tahun 1880-an, Haji Djamhari menemukan kegunaan baru cengkeh sebagai ramuan utama rokok. Lahirlah satu produk baru yang unik, khas dan asli Indonesia: kretek! (Hanusz, 2000:ii).
                                                                                                                                                                                                                                                                                              <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                              Setelah seperempat abad hanya berkembang dalam skala kecil usaha rumah tangga, produksi kretek akhirnya menjelma menjadi industri besar sejak awal abad-20 yang dirintis oleh Haji Nitisemito (pendiri pabrik \u2018Jambu Bol\u2019) di Kudus dan Liem Seng Tee (pendiri pabrik \u2018Dji Sam Soe\u2019 dan \u2018Sampoerna\u2019) di Surabaya.
                                                                                                                                                                                                                                                                                              <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                              Puncaknya adalah pada pertengahan tahun 1950-an, ketika produksi kretek mulai berkembang pesat menjadi industri raksasa modern dengan munculnya beberapa pabrik baru, antara lain, yang terkemuka, oleh Oei Wei Gwan (pendiri pabrik \u2018Djarum\u2019) di Kudus dan Tjou Ing Hwie (pendiri pabrik \u2018Gudang Garam\u2019) di Kediri (Topatimasang, et.al., eds., 2010:131).<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                              Baca: Teruslah Menanam Tembakau dan Cengkeh, Wahai Petani Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                              Cengkeh, bahan baku paling esensial dari kretek --selain tembakau, tentu saja-- pun kembali berjaya. Bahkan, sejak dasawarsa 1970an, telah menjadi salah satu penyumbang terbesar keuangan negara Republik Indonesia. Pada tahun 2012 dan 2013, pemasukan cukai dari industri kretek mencatat 95,5% dari seluruh pemasukan cukai ke kas negara. Nilainya tak tanggung-tanggung: Rp 87 triliun! (el-Guyanie, et.al.: 2013:4-5).<\/strong>
                                                                                                                                                                                                                                                                                              <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                              Nilai ekonomisnya yang sangat besar sempat menggoda penguasa otoriter rezim Presiden Soeharto, pada 1990-an, memberlakukan satu kebijakan \u2018Hongi Gaya Baru\u2019: monopoli perdagangan cengkeh dalam negeri melalui Badan Penyanggah dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) yang sangat merugikan petani. Harga cengkeh di tingkat petani penghasil anjlok sampai hanya Rp 2.000 - 3.000 per kilogram, lebih murah dari harga sebungkus kretek yang dihasilkan darinya.
                                                                                                                                                                                                                                                                                              <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                              Akibatnya, ratusan ribu pohon cengkeh di daerah-daerah penghasil utama --Maluku, Maluku Utara, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Selatan-- ditebangi atau dibiarkan terlantar tak terurus.
                                                                                                                                                                                                                                                                                              <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                              Gelombang reformasi sistem politik dan hukum nasional yang dimulai pada tahun 1998, akhirnya menjungkalkan rezim Soeharto dan BPPC dibubarkan, Pelan tapi pasti, harga cengkeh kembali merangkak naik, sehingga pada tahun 2012, bahkan melewati angka Rp 200.000 per kilogram. Para petani cengkeh di seluruh negeri kembali tersenyum. Tetapi, sampai kapan? <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                              Catatan:<\/strong><\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                              [1] Beberapa sumber menyebutkan bahwa kata \u2018cengkeh\u2019 dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Mandarin, tkeng-his atau xi\u2019jia, yang berarti \u2018rempah [berbentuk mirip] paku\u2019 (scented nails). Ini menunjukkan bahwa cengkeh sudah dikenal sejak lama oleh bangsa Cina --diketahui sejak abad-2-- jauh sebelum orang Eropa mengenalnya ((lihat, misalnya: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                              [2] Catatan-catatan para biarawan Fransiskan --yang disalin dan dikutip oleh van Frassen-- bahkan menyebut cengkeh sebagai salah satu bahan utama pengawet mumi para Fir\u2019aun, penguasa Mesir Kuno. Beberapa pakar sejarah dan arkeologi menyatakan bahwa rempah-rempah Maluku bahkan sudah ditemukan artefaknya di Lembah Mesopotomia (wilayah Iraq dan sekitarnya sekarang) pada 3.000 tahun sebelum Masehi. (lihat, antara lain: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                              [3] Uraian lebih rinci sejarah kolonialisme rempah-rempah Nusantara ini, terutama oleh Belanda dan Portugis, dapat dibaca pada beberapa sumber kepustakaan yang sudah dikenal luas, antara lain: Glamann (1958) dan Boxer (1965 dan 1969). Dalam risalah klasik Pires disebutkan bahwa pada tahun 1512-1521 saja, jumlah produksi cengkeh di Maluku sudah mencapai 7.250 bahar per tahun, terbesar adalah di Makian serta Amboina dan Lease (masing-masing 1.500 bahar)(Pires, 1512-1515).<\/em>
                                                                                                                                                                                                                                                                                              <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                              Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem Topatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
                                                                                                                                                                                                                                                                                              <\/p>\n ","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-10 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-02-10 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5425","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5415,"post_author":"878","post_date":"2019-02-07 12:15:55","post_date_gmt":"2019-02-07 05:15:55","post_content":" \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                              Belakangan ini, ketika musim hujan tiba, di Kabupaten Temanggung, Kabupaten Jember, dan beberapa wilayah sentra pertanian tembakau lainnya, hampir mustahil menemukan tanaman tembakau tumbuh di lahan-lahan milik petani. Di wilayah-wilayah tersebut, citra sebagai sentra pertanian tembakau seakan menguap. Lahan-lahan yang ada di sana, sama sekali tidak ditumbuhi tanaman tembakau.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                              Kabar ini bisa jadi dianggap sebagai kabar gembira bagi mereka yang menganggap diri dan kelompoknya anti-rokok dan anti-tembakau yang selalu mengampanyekan sikap-sikap mereka terkait kebencian kepada tembakau dan aktivitas merokok. Setelah sekian lama berjuang, akhirnya perjuangan mereka dirasa berhasil usai menyaksikan fenomena lahan-lahan di wilayah yang dianggap sentra pertanian tembakau pada hari-hari belakangan ini.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                              Baca juga: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                              Tak sia-sia turun ke jalan, tak sia-sia melakukan lobi-lobi ke penguasa, tak sia-sia mengucurkan uang yang tidak sedikit, dan tak sia-sia mempermalukan diri dengan mengemis ke lembaga donor asing dan menggondol uang dari cukai tembakau untuk mengampanyekan gerakan anti-rokok dan anti-tembakau. Tak sia-sia. Karena perjuangan sepertinya berhasil.<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                              Kampanye-kampanye gerakan mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya, sepertinya juga sangat berhasil. Bagaimana tidak? Wilayah-wilayah yang sebelumnya penuh dengan tanaman tembakau dan bergeliat dengannya, kini lahan-lahannya sudah berganti dengan tanaman lain. Sebuah keberhasilan yang menggembirakan. Begitu mungkin pikir mereka para yang menganggap dirinya pejuang anti-rokok dan anti-tembakau. Dan tentu saja mereka akan kecele dan kita akan menertawakan hal itu.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                              Sayangnya, mereka yang menganggap dirinya anti-rokok dan anti-tembakau tidak menyaksikan langsung fenomena ini di lapangan, di lahan-lahan yang peruntukannya berubah pada hari-hari belakangan ini ketika memasuki musim hujan. Mereka asyik duduk pada kursi empuk di ruang-ruang nyaman ber-AC di kota-kota yang jauh dari kultur pertanian. Mereka menyengajakan diri menjadi elit dan enggan untuk turun melihat langsung ke lapangan. Kalaupun ada yang turun langsung ke lapangan, hanya segelintir saja dari mereka, itupun sekadar formalitas saja. Tak pernah benar-benar mau turun ke lapangan, hidup dan merasakan langsung kultur pertanian tembakau dalam jangka waktu cukup lama di lapangan.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                              Baca juga: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                              Fenomena ini membikin kita tak bisa melihat mereka para anti-rokok kecele lalu menertawakan mereka.<\/strong> Fenomena keengganan terjun langsung ke lapangan terlebih mencoba mendengar mereka yang tetap menanam tembakau, juga menjalani keseharian dalam waktu cukup lama bersama petani tembakau inilah yang saya kira menjadikan mereka tetap keras kepala untuk anti-rokok dan anti-tembakau. Karena jika mereka mau melakukan itu, saya yakin mereka semua tidak akan begitu kaku dalam memandang pertanian tembakau dan produk hasil industri tembakau.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                              Salah satu yang selalu mereka kampanyekan dan ngotot dengan itu, terkait hulu pertanian tembakau adalah mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya. Mereka berargumen banyak tanaman lain yang bisa semenguntungkan tanaman tembakau. Keengganan mereka terjun langsung ke lapangan inilah yang membikin mereka buta dengan kondisi pertanian tembakau dan pada akhirnya terus menerus mengampanyekan pergantian tanaman tembakau dengan tanaman lainnya.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                              Baca juga: Imanlah kepada Allah, Bukan Antirokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                              Tembakau tanaman yang khas. Ia hanya tumbuh baik sepanjang empat hingga lima bulan dalam satu tahun. Tumbuh-kembang tanaman tembakau dengan baik itu umumnya terjadi pada musim kemarau setiap tahunnya. Hanya sedikit sekali jenis tembakau yang tumbuh baik di musim penghujan, mayoritasnya, tumbuh baik pada musim kemarau.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                              Jika ditanam pada musim hujan, hampir bisa dipastikan tanaman tembakau akan gagal menghasilkan daun-daun yang berkualitas. Ia akan rusak dan membusuk karena terlalu banyak terkena air sehingga daun-daun itu tak layak dijual. Jangankan bisa dijual, untuk tumbuh dengan baik pun sepertinya sulit karena musim hujan akan membunuh banyak tanaman itu.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                              Maka, tak heran pada musim-musim seperti saat ini, ketika musim penghujan mendekati puncaknya, di wilayah-wilayah yang dikenal sebagai sentra pertanian tembakau, sulit menemukan pohon tembakau yang sedang tumbuh. Pada lahan-lahan yang sebelumnya ditumbuhi tanaman tembakau pada musim panas, berganti tanaman-tanaman lain yang bermacam-macam, sesuai dengan kondisi lahannya. Untuk lahan sawah, lahan-lahan itu pada musim penghujan kini ditumbuhi tanaman padi yang subur. Pada lahan tegalan dan lahan di pegunungan, lahan-lahan yang ditanami tembakau pada musim kemarau, saat ini ditumbuhi bermacam jenis tanaman mulai dari cabai, bawang, tomat, kol, terong, mentimun, dan ragam jenis tanaman semusim lainnya.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                              Uniknya, tipikal tanaman tembakau yang tumbuh baik di musim kemarau ini memberi pilihan lebih kepada para petani. Lahan-lahan yang sulit ditanami pada musim kemarau, pada akhirnya masih bisa tetap produktif dengan keberadaan tanaman tembakau. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                              Maka, kampanye aneh mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain dengan ragam rupa dalih yang membingungkan, bukan saja sama sekali tidak tepat dan asal-asalan, namun bisa jadi akan ditertawakan oleh para petani yang begitu paham dengan kondisi lahan dan terutama kondisi iklim dan cuaca. Sulit mencari tanaman semusim yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Jika pun ada, tak ada yang semenguntungkan tanaman tembakau.
                                                                                                                                                                                                                                                                                              <\/p>\n ","post_title":"Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"keberhasilan-gerakan-anti-tembakau-tak-ada-tembakau-saat-musim-hujan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-07 12:16:02","post_modified_gmt":"2019-02-07 05:16:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5415","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5409,"post_author":"919","post_date":"2019-02-05 08:04:43","post_date_gmt":"2019-02-05 01:04:43","post_content":" \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                              Tahun Baru Imlek yang merupakan tradisi Bangsa Tiongkok kini sudah tak lagi menjadi hal yang asing bagi masyarakat Indonesia. Kehadirannya sudah mewarnai dan berakulturasi dengan tradisi lokal. Menjelang Tahun Baru Imlek. Berbagai hiasan dan kemeriahan terjadi beberapa titik di Tanah Air. Perayaannya juga menjadi destinasi baru yang mengasyikkan untuk dilihat dan patut disaksikan.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                              Berterimakasihlah kepada sang bapak bangsa, KH Abdurrahman Wahid atau yang dikenal dengan nama Gus Dur. Berkat kebijakannya saat menjadi Presiden Indonesia, Tahun Baru Imlek resmi dijadikan hari libur nasional dan dianggap sebagai salah satu hari raya di Tanah Air. Meski sentimen antitionghoa masih ada di sana-sini, tapi tetap tak bisa dipungkiri bahwa bangsa tionghoa sudah bersentuhan dengan budaya lokal dalam kurun waktu yang sangat panjang.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                              DNA Bangsa Tionghoa yang memang merupakan pedagang menjadi pembuka kisah interaksi antara nenek moyang berbagai suku di Nusantara dengan mereka. Beberapa kelenteng-kelenteng yang tersebar pada berbagai pesisir daerah di Nusantara jadi buktinya. Pelabuhan-pelabuhan tua di tanah air dan ramainya perdagangan di pesisir mempermudah bangsa kita berhubungan dengan Bangsa Tionghoa.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                              Baca Juga: Wong Kalang dan Kota Gede<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                              Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa kehadiran Bangsa Tionghoa di Nusantara tak hanya sebagai pedagang, namun juga sebagai pekerja (bahkan hingga pekerja kasar). Benny Setiono, seorang sejarahwan menyebutkan bahwa antara tahun 1760-1770 dalam jumlah yang besar memasuki nusantara melalui Kalimantan Barat. Mereka bekerja sebagai kuli pertambangan di sana dan di kemudian hari membentuk sebuah republik bernama Republik Lanfang yang konon katanya menjadi republik pertama di Asia Tenggara.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                              Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                              Baca Juga: Imlek dan Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                              Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                              Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                              Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                              Baca Juga: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                              Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                              Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
                                                                                                                                                                                                                                                                                              <\/p>\n ","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_3o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                                                                                                                                                                              \n
                                                                                                                                                                                                                                                                                              \"\"\/<\/figure>\n \n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                              Sempurna<\/strong> <\/strong>tidak sempurna<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                              <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                              3. Persiapan Media Tanam<\/strong><\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                              1. Tanah yang digunakan adalah tanah dan pupuk kandang yang sudah matang <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                              2. Tanah berasal dari tanah steril (sudah dikeringkan dan bukan dari tanah bekas tanaman yang terserang penyakit)<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                              3. Media tanah dicangkul ringan di para-para minimal 2x <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                              4. Sebar Benih; <\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                Setelah bibit dan lahan siap, kemudian sebarkan benih dengan ditutup memakai jerami <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                1. Pemupukan <\/strong><\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                2. Pemupukan pertama<\/li><\/ol>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                  \"\"\/<\/figure>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                  1. Pemupukan kedua, dilakukan apabila pertumbuhan bibit kurang baik (21 HSS). Pupuk yang digunakan adalaj KNO3 <\/sub>(30 \u2013 50 gram per bedeng dengan ukuran 1x5 m) dicampur dengan air \u00b110 liter, selanjutnya bedengan disiram kembali dengan air (pembilasan) <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                  2. Penyiraman<\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Frekuensi penyiraman berdasarkan umur bibit\/umur hari setelah sebar (HSS):<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                    0 \u2013 10 HSS\t\t:\t3x Sehari (fase kritis)<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                    11 \u2013 21 HSS\t\t:\t2x Sehari <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                    22 \u2013 35 HSS\t\t:\t1x Sehari <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                    36 \u2013 45 \/ 50 HSS\t:\tPeriode stress air\/kering<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                    1. Penjarangan & Hardening<\/strong>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                      1. Penjarangan dilakukan agar jarak antara bibit ideal (4-5 cm) sehingga tidak<\/li><\/ol><\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                        terserang hama & penyakit. Penjarangan dilakukan pada umur bibit 21-25 hari dengan cara: basahi bedengan sore hari sebelumnya dan pagi hari sebelum bibit dicabut, cabut bibit  yang akan ditanami dengan hati-hati, tanam bibit pada bedengan yang kerapatan bibitnya jarang, siram bibit sesegera mungkin setelah dipindah.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                        1. Bibit dibiasakan untuk terkena sinar  matahari langsung. Tujuan hardening agar bibit dapat beradaptasi dan memperkuat jaringan daun, batang serta mengurangi resiko penyakit karena jamur. Pelaksanaan hardening mulai umur 21 HSS secara bertahap.Pada kondisi hujan tidak dianjurkan. <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                        2. Klipping <\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                          1. Dilakukan antara jam 08.00 sampai 11.00 (usahakan cuaca cerah) <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                          2. Kliping dilakukan pada saat bibit pertumbuhannya terlalu lebat atau saling menutup batangnya. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                          3. Kliping adalah kegiatan memotong sebagian atau 2\/3 daun bibit tembakau. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                          4. Frekuensi kliping dilakukan bisa satu, dua kali atau lebih sesuai dengan perkembangan bibit dan persiapan lokasi areal tanam. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                          5 Lima sampai tujuh hari menjelang transplanting, kegiatan kliping sebaiknya sudah selesai. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Tujuan klipping: menjaga lingkungan bibit agar tidak lembab, <\/strong>memperbesar batan,menyeragamkan ukuran benih, dan memperkuat pertumbuhan akar <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                          1. Pencabutan Bibit, agar mendapatkan jarak tanam yang sesuai lahan <\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                            \"\"\/<\/figure>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                            \"\"\/<\/figure>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Dalam satu hamparan direkomendasikan selesai tanam maksimal 3 Hari. Umur  tanaman akan menjadi sama atau seragam. Performance tanaman juga akan menjadi  seragam. Kemasakan daun pada saat petik juga menjadi seragam. Memudahkan pada saat  proses panen dan pasca panen. Tembakau kering yang dihasilkan pun juga seragam.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                            1. Pengendalian Hama & Penyakit<\/strong> <\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                              ~ Pada awal penyebaran benih direkomendasikan untuk melakukan penyemprotan fusngisida (jamur), seperti Previcur, Redomil & Antracol <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                              ~ Hama yang sering dijumpai: semut (Decis), janggel, orong-orong <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                              1. Tahapan Perawatan<\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                \"\"\/<\/figure>\n ","post_title":"Sukses Bertani Tembakau Bersama Kemitraan Djarum di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sukses-bertani-tembakau-bersama-kemitraan-djarum-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-11 12:32:18","post_modified_gmt":"2019-02-11 05:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5433","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5425,"post_author":"922","post_date":"2019-02-10 09:07:33","post_date_gmt":"2019-02-10 02:07:33","post_content":" \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Bahwa cengkeh [1] (Syzygium aromaticum) --bersama pala (Myristica fragrans)-- adalah dua tanaman asli (endemik) Kepulauan Maluku, sudah tak terbantahkan. Cengkeh dikenal dan diakui berasal dari \u2018Empat Pulau Gunung Maluku\u2019 (Maloko Kie Raha): Ternate, Tidore, Moti, dan Makian.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Adapun pala, berasal dari empat pulau kecil lainnya di tengah Laut Banda: Lonthor, Neira, Rhun, dan Ai. Pada penjelasan peta abad-16 oleh penjelajah dari Semenanjung Iberia, Fransisco Rodriguez, tertulis: \u201cEstas quatro Ilhas Azures suam as de molluquo homde nace ho crauzo\u201d<\/em> (Adalah empat pulau berwarna biru [dalam peta] yang disebut sebagai Kepulauan Maluku di mana rempah-rempah berasal) (Pires, 1512- 1515:213).
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Sejak beberapa abad sebelum Masehi, adalah para saudagar Arab --melalui Samudera Hindia melintasi Iskandariyah dan Laut Tengah-- serta para pedagang Cina --melalui jalur \u2018Jalan Sutra\u2019 melintasi Asia Tengah dan Asia Barat-- yang membawa dan memperkenalkannya ke daratan Eropa. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Bandar-bandar besar Tyre di Yunani dan Venesia di Italia menjadi pelabuhan utama rempah-rempah Maluku memasuki kehidupan dan peradaban Eropa. Selain sebagai bumbu masakan, rempah obat, dan ramuan wewangian, cengkeh dan pala juga menjadi bahan utama pengawet bahan pangan. [2]
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Inilah yang membuat orang-orang Eropa untuk pertama kalinya dapat mengawetkan dan menimbun makanan selama bermusim-musim. Prosa indah Blair bersaudara menggambarkannya dengan sangat baik:
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                \u201cKemampuan menyimpan makanan lebih dari yang kami makan sekaligus berarti kemampuan menjual dan membelinya dalam jumlah besar --dan kota-kota dagang pun mekar. Perekonomian yang dihasilkannya mengarahkan kami ke zaman Pencerahan dan kemudian Revolusi Industri. Tak lama setelah kami menghirup aroma yang sangat kuat dari Timur itu dan mengubah kimiawi makanan kami, maka kami pun mampu melakukan lompatan besar dalam bidang budaya dan seni.\u201d (Blair & Blair, 2010; 30-31).<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Baca: Cengkeh dan Kelapa di Kepulauan Anambas<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Bukan hanya membuat perekonomian dan perdagangan serta ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang, cengkeh dan pala bahkan adalah faktor yang paling menentukan dalam kemunculan satu babakan paling mengenaskan dalam sejarah politik dunia, yakni zaman penjajahan (kolonialisme) Eropa, terutama atas-atas negeri- negeri Asia Selatan, Timur dan Tenggara, termasuk Indonesia.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Tergerak oleh sahwat menguasai rempah-rempah yang menggiurkan itu, bangsa-bangsa Eropa --terutama Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda-- pun menggelar ekspedisi-ekspedisi besar untuk menemukan cengkeh dan pala langsung di tanah asalnya. Ketika armada-armada mereka akhirnya mencapai perairan Kepulauan Maluku, pada abad-16, perang pun tak terhindarkan.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Mereka silih berganti saling mengalahkan, tetapi pemenang terakhir adalah Belanda. Melalui Perusahaan Dagang Hindia Timur (Vereenigde Oostindische Compagnie, VOC) yang dibentuk pada awal abad-17 (tepatnya tahun 1609), Belanda melancarkan ekspedisi Pelayaran Hongi (Hongie Tochten), untuk memusnahkan semua tanaman cengkeh di Ternate, Tidore, Moti, dan Makian, lalu membatasi ketat penanamnya hanya di Pulau-pulau Ambon dan Lease --yang lebih dekat ke Banda sebagai pusat pemerintahan mereka sebelum akhirnya dipindahkan ke Batavia.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Praktis, sejak akhir abad-16, Belanda pun menguasai penuh perdagangan rempah-rempah Maluku dengan jumlah produksi rerata 2.500 sampai 4.500 ton per tahun. [3]<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Baca: Budidaya Pohon Cengkeh<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Meskipun peran utama rempah-rempah Maluku itu kemudian tergusur pada abad-18 dan 19 oleh beberapa barang eksotika tropis lainnya --hasil perkebunan-perkebunana besar baru di Pulau Sumatera dan Jawa: tebu, tembakau, lada, kopi, teh, nila, kelapa sawit, dan kayu jati-- namun sejarah sudah mencatat bahwa dua jenis rempah-rempah Maluku itulah yang mengawali penjelajahan sekaligus penjajahan kepulauan Nusantara oleh bangsa-bangsa Eropah, terutama Belanda (Topatimasang, ed., 2004:32). Jika saja tak pernah ada cengkeh dan pala di Maluku, mungkin sejarah kepulauan Nusantara ini akan berbeda sama sekali.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Masa suram cengkeh dan pala terus berlangsung sampai pertengahan abad-20. Rempah eksotika yang pernah membuat tergila-gila<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                para saudagar Arab, pedagang Cina, serta kaum ningrat Eropa itu, tergantikan perannya oleh penemuan teknologi mesin pendingin berkat Revolusi Industri yang dimulai di Inggris pada pertengahan abad-18. Pasaran cengkeh di Eropa pun merosot tajam.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Nasibnya terselamatkan berkat penemuan oleh seorang Haji Djamhari di Kudus, Jawa Tengah. Pada akhir tahun 1880-an, Haji Djamhari menemukan kegunaan baru cengkeh sebagai ramuan utama rokok. Lahirlah satu produk baru yang unik, khas dan asli Indonesia: kretek! (Hanusz, 2000:ii).
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Setelah seperempat abad hanya berkembang dalam skala kecil usaha rumah tangga, produksi kretek akhirnya menjelma menjadi industri besar sejak awal abad-20 yang dirintis oleh Haji Nitisemito (pendiri pabrik \u2018Jambu Bol\u2019) di Kudus dan Liem Seng Tee (pendiri pabrik \u2018Dji Sam Soe\u2019 dan \u2018Sampoerna\u2019) di Surabaya.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Puncaknya adalah pada pertengahan tahun 1950-an, ketika produksi kretek mulai berkembang pesat menjadi industri raksasa modern dengan munculnya beberapa pabrik baru, antara lain, yang terkemuka, oleh Oei Wei Gwan (pendiri pabrik \u2018Djarum\u2019) di Kudus dan Tjou Ing Hwie (pendiri pabrik \u2018Gudang Garam\u2019) di Kediri (Topatimasang, et.al., eds., 2010:131).<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Baca: Teruslah Menanam Tembakau dan Cengkeh, Wahai Petani Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Cengkeh, bahan baku paling esensial dari kretek --selain tembakau, tentu saja-- pun kembali berjaya. Bahkan, sejak dasawarsa 1970an, telah menjadi salah satu penyumbang terbesar keuangan negara Republik Indonesia. Pada tahun 2012 dan 2013, pemasukan cukai dari industri kretek mencatat 95,5% dari seluruh pemasukan cukai ke kas negara. Nilainya tak tanggung-tanggung: Rp 87 triliun! (el-Guyanie, et.al.: 2013:4-5).<\/strong>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Nilai ekonomisnya yang sangat besar sempat menggoda penguasa otoriter rezim Presiden Soeharto, pada 1990-an, memberlakukan satu kebijakan \u2018Hongi Gaya Baru\u2019: monopoli perdagangan cengkeh dalam negeri melalui Badan Penyanggah dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) yang sangat merugikan petani. Harga cengkeh di tingkat petani penghasil anjlok sampai hanya Rp 2.000 - 3.000 per kilogram, lebih murah dari harga sebungkus kretek yang dihasilkan darinya.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Akibatnya, ratusan ribu pohon cengkeh di daerah-daerah penghasil utama --Maluku, Maluku Utara, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Selatan-- ditebangi atau dibiarkan terlantar tak terurus.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Gelombang reformasi sistem politik dan hukum nasional yang dimulai pada tahun 1998, akhirnya menjungkalkan rezim Soeharto dan BPPC dibubarkan, Pelan tapi pasti, harga cengkeh kembali merangkak naik, sehingga pada tahun 2012, bahkan melewati angka Rp 200.000 per kilogram. Para petani cengkeh di seluruh negeri kembali tersenyum. Tetapi, sampai kapan? <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Catatan:<\/strong><\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                [1] Beberapa sumber menyebutkan bahwa kata \u2018cengkeh\u2019 dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Mandarin, tkeng-his atau xi\u2019jia, yang berarti \u2018rempah [berbentuk mirip] paku\u2019 (scented nails). Ini menunjukkan bahwa cengkeh sudah dikenal sejak lama oleh bangsa Cina --diketahui sejak abad-2-- jauh sebelum orang Eropa mengenalnya ((lihat, misalnya: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                [2] Catatan-catatan para biarawan Fransiskan --yang disalin dan dikutip oleh van Frassen-- bahkan menyebut cengkeh sebagai salah satu bahan utama pengawet mumi para Fir\u2019aun, penguasa Mesir Kuno. Beberapa pakar sejarah dan arkeologi menyatakan bahwa rempah-rempah Maluku bahkan sudah ditemukan artefaknya di Lembah Mesopotomia (wilayah Iraq dan sekitarnya sekarang) pada 3.000 tahun sebelum Masehi. (lihat, antara lain: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                [3] Uraian lebih rinci sejarah kolonialisme rempah-rempah Nusantara ini, terutama oleh Belanda dan Portugis, dapat dibaca pada beberapa sumber kepustakaan yang sudah dikenal luas, antara lain: Glamann (1958) dan Boxer (1965 dan 1969). Dalam risalah klasik Pires disebutkan bahwa pada tahun 1512-1521 saja, jumlah produksi cengkeh di Maluku sudah mencapai 7.250 bahar per tahun, terbesar adalah di Makian serta Amboina dan Lease (masing-masing 1.500 bahar)(Pires, 1512-1515).<\/em>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem Topatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                <\/p>\n ","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-10 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-02-10 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5425","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5415,"post_author":"878","post_date":"2019-02-07 12:15:55","post_date_gmt":"2019-02-07 05:15:55","post_content":" \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Belakangan ini, ketika musim hujan tiba, di Kabupaten Temanggung, Kabupaten Jember, dan beberapa wilayah sentra pertanian tembakau lainnya, hampir mustahil menemukan tanaman tembakau tumbuh di lahan-lahan milik petani. Di wilayah-wilayah tersebut, citra sebagai sentra pertanian tembakau seakan menguap. Lahan-lahan yang ada di sana, sama sekali tidak ditumbuhi tanaman tembakau.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Kabar ini bisa jadi dianggap sebagai kabar gembira bagi mereka yang menganggap diri dan kelompoknya anti-rokok dan anti-tembakau yang selalu mengampanyekan sikap-sikap mereka terkait kebencian kepada tembakau dan aktivitas merokok. Setelah sekian lama berjuang, akhirnya perjuangan mereka dirasa berhasil usai menyaksikan fenomena lahan-lahan di wilayah yang dianggap sentra pertanian tembakau pada hari-hari belakangan ini.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Baca juga: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Tak sia-sia turun ke jalan, tak sia-sia melakukan lobi-lobi ke penguasa, tak sia-sia mengucurkan uang yang tidak sedikit, dan tak sia-sia mempermalukan diri dengan mengemis ke lembaga donor asing dan menggondol uang dari cukai tembakau untuk mengampanyekan gerakan anti-rokok dan anti-tembakau. Tak sia-sia. Karena perjuangan sepertinya berhasil.<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Kampanye-kampanye gerakan mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya, sepertinya juga sangat berhasil. Bagaimana tidak? Wilayah-wilayah yang sebelumnya penuh dengan tanaman tembakau dan bergeliat dengannya, kini lahan-lahannya sudah berganti dengan tanaman lain. Sebuah keberhasilan yang menggembirakan. Begitu mungkin pikir mereka para yang menganggap dirinya pejuang anti-rokok dan anti-tembakau. Dan tentu saja mereka akan kecele dan kita akan menertawakan hal itu.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Sayangnya, mereka yang menganggap dirinya anti-rokok dan anti-tembakau tidak menyaksikan langsung fenomena ini di lapangan, di lahan-lahan yang peruntukannya berubah pada hari-hari belakangan ini ketika memasuki musim hujan. Mereka asyik duduk pada kursi empuk di ruang-ruang nyaman ber-AC di kota-kota yang jauh dari kultur pertanian. Mereka menyengajakan diri menjadi elit dan enggan untuk turun melihat langsung ke lapangan. Kalaupun ada yang turun langsung ke lapangan, hanya segelintir saja dari mereka, itupun sekadar formalitas saja. Tak pernah benar-benar mau turun ke lapangan, hidup dan merasakan langsung kultur pertanian tembakau dalam jangka waktu cukup lama di lapangan.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Baca juga: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Fenomena ini membikin kita tak bisa melihat mereka para anti-rokok kecele lalu menertawakan mereka.<\/strong> Fenomena keengganan terjun langsung ke lapangan terlebih mencoba mendengar mereka yang tetap menanam tembakau, juga menjalani keseharian dalam waktu cukup lama bersama petani tembakau inilah yang saya kira menjadikan mereka tetap keras kepala untuk anti-rokok dan anti-tembakau. Karena jika mereka mau melakukan itu, saya yakin mereka semua tidak akan begitu kaku dalam memandang pertanian tembakau dan produk hasil industri tembakau.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Salah satu yang selalu mereka kampanyekan dan ngotot dengan itu, terkait hulu pertanian tembakau adalah mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya. Mereka berargumen banyak tanaman lain yang bisa semenguntungkan tanaman tembakau. Keengganan mereka terjun langsung ke lapangan inilah yang membikin mereka buta dengan kondisi pertanian tembakau dan pada akhirnya terus menerus mengampanyekan pergantian tanaman tembakau dengan tanaman lainnya.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Baca juga: Imanlah kepada Allah, Bukan Antirokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Tembakau tanaman yang khas. Ia hanya tumbuh baik sepanjang empat hingga lima bulan dalam satu tahun. Tumbuh-kembang tanaman tembakau dengan baik itu umumnya terjadi pada musim kemarau setiap tahunnya. Hanya sedikit sekali jenis tembakau yang tumbuh baik di musim penghujan, mayoritasnya, tumbuh baik pada musim kemarau.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Jika ditanam pada musim hujan, hampir bisa dipastikan tanaman tembakau akan gagal menghasilkan daun-daun yang berkualitas. Ia akan rusak dan membusuk karena terlalu banyak terkena air sehingga daun-daun itu tak layak dijual. Jangankan bisa dijual, untuk tumbuh dengan baik pun sepertinya sulit karena musim hujan akan membunuh banyak tanaman itu.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Maka, tak heran pada musim-musim seperti saat ini, ketika musim penghujan mendekati puncaknya, di wilayah-wilayah yang dikenal sebagai sentra pertanian tembakau, sulit menemukan pohon tembakau yang sedang tumbuh. Pada lahan-lahan yang sebelumnya ditumbuhi tanaman tembakau pada musim panas, berganti tanaman-tanaman lain yang bermacam-macam, sesuai dengan kondisi lahannya. Untuk lahan sawah, lahan-lahan itu pada musim penghujan kini ditumbuhi tanaman padi yang subur. Pada lahan tegalan dan lahan di pegunungan, lahan-lahan yang ditanami tembakau pada musim kemarau, saat ini ditumbuhi bermacam jenis tanaman mulai dari cabai, bawang, tomat, kol, terong, mentimun, dan ragam jenis tanaman semusim lainnya.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Uniknya, tipikal tanaman tembakau yang tumbuh baik di musim kemarau ini memberi pilihan lebih kepada para petani. Lahan-lahan yang sulit ditanami pada musim kemarau, pada akhirnya masih bisa tetap produktif dengan keberadaan tanaman tembakau. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Maka, kampanye aneh mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain dengan ragam rupa dalih yang membingungkan, bukan saja sama sekali tidak tepat dan asal-asalan, namun bisa jadi akan ditertawakan oleh para petani yang begitu paham dengan kondisi lahan dan terutama kondisi iklim dan cuaca. Sulit mencari tanaman semusim yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Jika pun ada, tak ada yang semenguntungkan tanaman tembakau.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                <\/p>\n ","post_title":"Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"keberhasilan-gerakan-anti-tembakau-tak-ada-tembakau-saat-musim-hujan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-07 12:16:02","post_modified_gmt":"2019-02-07 05:16:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5415","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5409,"post_author":"919","post_date":"2019-02-05 08:04:43","post_date_gmt":"2019-02-05 01:04:43","post_content":" \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Tahun Baru Imlek yang merupakan tradisi Bangsa Tiongkok kini sudah tak lagi menjadi hal yang asing bagi masyarakat Indonesia. Kehadirannya sudah mewarnai dan berakulturasi dengan tradisi lokal. Menjelang Tahun Baru Imlek. Berbagai hiasan dan kemeriahan terjadi beberapa titik di Tanah Air. Perayaannya juga menjadi destinasi baru yang mengasyikkan untuk dilihat dan patut disaksikan.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Berterimakasihlah kepada sang bapak bangsa, KH Abdurrahman Wahid atau yang dikenal dengan nama Gus Dur. Berkat kebijakannya saat menjadi Presiden Indonesia, Tahun Baru Imlek resmi dijadikan hari libur nasional dan dianggap sebagai salah satu hari raya di Tanah Air. Meski sentimen antitionghoa masih ada di sana-sini, tapi tetap tak bisa dipungkiri bahwa bangsa tionghoa sudah bersentuhan dengan budaya lokal dalam kurun waktu yang sangat panjang.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                DNA Bangsa Tionghoa yang memang merupakan pedagang menjadi pembuka kisah interaksi antara nenek moyang berbagai suku di Nusantara dengan mereka. Beberapa kelenteng-kelenteng yang tersebar pada berbagai pesisir daerah di Nusantara jadi buktinya. Pelabuhan-pelabuhan tua di tanah air dan ramainya perdagangan di pesisir mempermudah bangsa kita berhubungan dengan Bangsa Tionghoa.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Baca Juga: Wong Kalang dan Kota Gede<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa kehadiran Bangsa Tionghoa di Nusantara tak hanya sebagai pedagang, namun juga sebagai pekerja (bahkan hingga pekerja kasar). Benny Setiono, seorang sejarahwan menyebutkan bahwa antara tahun 1760-1770 dalam jumlah yang besar memasuki nusantara melalui Kalimantan Barat. Mereka bekerja sebagai kuli pertambangan di sana dan di kemudian hari membentuk sebuah republik bernama Republik Lanfang yang konon katanya menjadi republik pertama di Asia Tenggara.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Baca Juga: Imlek dan Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Baca Juga: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                <\/p>\n ","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_3o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                \n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                \"\"\/<\/figure>\n \n\n\n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                \"\"\/<\/figure>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Sempurna<\/strong> <\/strong>tidak sempurna<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                3. Persiapan Media Tanam<\/strong><\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                1. Tanah yang digunakan adalah tanah dan pupuk kandang yang sudah matang <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                2. Tanah berasal dari tanah steril (sudah dikeringkan dan bukan dari tanah bekas tanaman yang terserang penyakit)<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                3. Media tanah dicangkul ringan di para-para minimal 2x <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                4. Sebar Benih; <\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Setelah bibit dan lahan siap, kemudian sebarkan benih dengan ditutup memakai jerami <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  1. Pemupukan <\/strong><\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  2. Pemupukan pertama<\/li><\/ol>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    \"\"\/<\/figure>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    1. Pemupukan kedua, dilakukan apabila pertumbuhan bibit kurang baik (21 HSS). Pupuk yang digunakan adalaj KNO3 <\/sub>(30 \u2013 50 gram per bedeng dengan ukuran 1x5 m) dicampur dengan air \u00b110 liter, selanjutnya bedengan disiram kembali dengan air (pembilasan) <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    2. Penyiraman<\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Frekuensi penyiraman berdasarkan umur bibit\/umur hari setelah sebar (HSS):<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      0 \u2013 10 HSS\t\t:\t3x Sehari (fase kritis)<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      11 \u2013 21 HSS\t\t:\t2x Sehari <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      22 \u2013 35 HSS\t\t:\t1x Sehari <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      36 \u2013 45 \/ 50 HSS\t:\tPeriode stress air\/kering<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      1. Penjarangan & Hardening<\/strong>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        1. Penjarangan dilakukan agar jarak antara bibit ideal (4-5 cm) sehingga tidak<\/li><\/ol><\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          terserang hama & penyakit. Penjarangan dilakukan pada umur bibit 21-25 hari dengan cara: basahi bedengan sore hari sebelumnya dan pagi hari sebelum bibit dicabut, cabut bibit  yang akan ditanami dengan hati-hati, tanam bibit pada bedengan yang kerapatan bibitnya jarang, siram bibit sesegera mungkin setelah dipindah.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          1. Bibit dibiasakan untuk terkena sinar  matahari langsung. Tujuan hardening agar bibit dapat beradaptasi dan memperkuat jaringan daun, batang serta mengurangi resiko penyakit karena jamur. Pelaksanaan hardening mulai umur 21 HSS secara bertahap.Pada kondisi hujan tidak dianjurkan. <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          2. Klipping <\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            1. Dilakukan antara jam 08.00 sampai 11.00 (usahakan cuaca cerah) <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            2. Kliping dilakukan pada saat bibit pertumbuhannya terlalu lebat atau saling menutup batangnya. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            3. Kliping adalah kegiatan memotong sebagian atau 2\/3 daun bibit tembakau. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            4. Frekuensi kliping dilakukan bisa satu, dua kali atau lebih sesuai dengan perkembangan bibit dan persiapan lokasi areal tanam. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            5 Lima sampai tujuh hari menjelang transplanting, kegiatan kliping sebaiknya sudah selesai. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Tujuan klipping: menjaga lingkungan bibit agar tidak lembab, <\/strong>memperbesar batan,menyeragamkan ukuran benih, dan memperkuat pertumbuhan akar <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            1. Pencabutan Bibit, agar mendapatkan jarak tanam yang sesuai lahan <\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              \"\"\/<\/figure>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              \"\"\/<\/figure>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Dalam satu hamparan direkomendasikan selesai tanam maksimal 3 Hari. Umur  tanaman akan menjadi sama atau seragam. Performance tanaman juga akan menjadi  seragam. Kemasakan daun pada saat petik juga menjadi seragam. Memudahkan pada saat  proses panen dan pasca panen. Tembakau kering yang dihasilkan pun juga seragam.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              1. Pengendalian Hama & Penyakit<\/strong> <\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                ~ Pada awal penyebaran benih direkomendasikan untuk melakukan penyemprotan fusngisida (jamur), seperti Previcur, Redomil & Antracol <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                ~ Hama yang sering dijumpai: semut (Decis), janggel, orong-orong <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                1. Tahapan Perawatan<\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  \"\"\/<\/figure>\n ","post_title":"Sukses Bertani Tembakau Bersama Kemitraan Djarum di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sukses-bertani-tembakau-bersama-kemitraan-djarum-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-11 12:32:18","post_modified_gmt":"2019-02-11 05:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5433","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5425,"post_author":"922","post_date":"2019-02-10 09:07:33","post_date_gmt":"2019-02-10 02:07:33","post_content":" \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Bahwa cengkeh [1] (Syzygium aromaticum) --bersama pala (Myristica fragrans)-- adalah dua tanaman asli (endemik) Kepulauan Maluku, sudah tak terbantahkan. Cengkeh dikenal dan diakui berasal dari \u2018Empat Pulau Gunung Maluku\u2019 (Maloko Kie Raha): Ternate, Tidore, Moti, dan Makian.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Adapun pala, berasal dari empat pulau kecil lainnya di tengah Laut Banda: Lonthor, Neira, Rhun, dan Ai. Pada penjelasan peta abad-16 oleh penjelajah dari Semenanjung Iberia, Fransisco Rodriguez, tertulis: \u201cEstas quatro Ilhas Azures suam as de molluquo homde nace ho crauzo\u201d<\/em> (Adalah empat pulau berwarna biru [dalam peta] yang disebut sebagai Kepulauan Maluku di mana rempah-rempah berasal) (Pires, 1512- 1515:213).
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Sejak beberapa abad sebelum Masehi, adalah para saudagar Arab --melalui Samudera Hindia melintasi Iskandariyah dan Laut Tengah-- serta para pedagang Cina --melalui jalur \u2018Jalan Sutra\u2019 melintasi Asia Tengah dan Asia Barat-- yang membawa dan memperkenalkannya ke daratan Eropa. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Bandar-bandar besar Tyre di Yunani dan Venesia di Italia menjadi pelabuhan utama rempah-rempah Maluku memasuki kehidupan dan peradaban Eropa. Selain sebagai bumbu masakan, rempah obat, dan ramuan wewangian, cengkeh dan pala juga menjadi bahan utama pengawet bahan pangan. [2]
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Inilah yang membuat orang-orang Eropa untuk pertama kalinya dapat mengawetkan dan menimbun makanan selama bermusim-musim. Prosa indah Blair bersaudara menggambarkannya dengan sangat baik:
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  \u201cKemampuan menyimpan makanan lebih dari yang kami makan sekaligus berarti kemampuan menjual dan membelinya dalam jumlah besar --dan kota-kota dagang pun mekar. Perekonomian yang dihasilkannya mengarahkan kami ke zaman Pencerahan dan kemudian Revolusi Industri. Tak lama setelah kami menghirup aroma yang sangat kuat dari Timur itu dan mengubah kimiawi makanan kami, maka kami pun mampu melakukan lompatan besar dalam bidang budaya dan seni.\u201d (Blair & Blair, 2010; 30-31).<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Baca: Cengkeh dan Kelapa di Kepulauan Anambas<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Bukan hanya membuat perekonomian dan perdagangan serta ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang, cengkeh dan pala bahkan adalah faktor yang paling menentukan dalam kemunculan satu babakan paling mengenaskan dalam sejarah politik dunia, yakni zaman penjajahan (kolonialisme) Eropa, terutama atas-atas negeri- negeri Asia Selatan, Timur dan Tenggara, termasuk Indonesia.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Tergerak oleh sahwat menguasai rempah-rempah yang menggiurkan itu, bangsa-bangsa Eropa --terutama Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda-- pun menggelar ekspedisi-ekspedisi besar untuk menemukan cengkeh dan pala langsung di tanah asalnya. Ketika armada-armada mereka akhirnya mencapai perairan Kepulauan Maluku, pada abad-16, perang pun tak terhindarkan.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Mereka silih berganti saling mengalahkan, tetapi pemenang terakhir adalah Belanda. Melalui Perusahaan Dagang Hindia Timur (Vereenigde Oostindische Compagnie, VOC) yang dibentuk pada awal abad-17 (tepatnya tahun 1609), Belanda melancarkan ekspedisi Pelayaran Hongi (Hongie Tochten), untuk memusnahkan semua tanaman cengkeh di Ternate, Tidore, Moti, dan Makian, lalu membatasi ketat penanamnya hanya di Pulau-pulau Ambon dan Lease --yang lebih dekat ke Banda sebagai pusat pemerintahan mereka sebelum akhirnya dipindahkan ke Batavia.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Praktis, sejak akhir abad-16, Belanda pun menguasai penuh perdagangan rempah-rempah Maluku dengan jumlah produksi rerata 2.500 sampai 4.500 ton per tahun. [3]<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Baca: Budidaya Pohon Cengkeh<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Meskipun peran utama rempah-rempah Maluku itu kemudian tergusur pada abad-18 dan 19 oleh beberapa barang eksotika tropis lainnya --hasil perkebunan-perkebunana besar baru di Pulau Sumatera dan Jawa: tebu, tembakau, lada, kopi, teh, nila, kelapa sawit, dan kayu jati-- namun sejarah sudah mencatat bahwa dua jenis rempah-rempah Maluku itulah yang mengawali penjelajahan sekaligus penjajahan kepulauan Nusantara oleh bangsa-bangsa Eropah, terutama Belanda (Topatimasang, ed., 2004:32). Jika saja tak pernah ada cengkeh dan pala di Maluku, mungkin sejarah kepulauan Nusantara ini akan berbeda sama sekali.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Masa suram cengkeh dan pala terus berlangsung sampai pertengahan abad-20. Rempah eksotika yang pernah membuat tergila-gila<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  para saudagar Arab, pedagang Cina, serta kaum ningrat Eropa itu, tergantikan perannya oleh penemuan teknologi mesin pendingin berkat Revolusi Industri yang dimulai di Inggris pada pertengahan abad-18. Pasaran cengkeh di Eropa pun merosot tajam.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Nasibnya terselamatkan berkat penemuan oleh seorang Haji Djamhari di Kudus, Jawa Tengah. Pada akhir tahun 1880-an, Haji Djamhari menemukan kegunaan baru cengkeh sebagai ramuan utama rokok. Lahirlah satu produk baru yang unik, khas dan asli Indonesia: kretek! (Hanusz, 2000:ii).
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Setelah seperempat abad hanya berkembang dalam skala kecil usaha rumah tangga, produksi kretek akhirnya menjelma menjadi industri besar sejak awal abad-20 yang dirintis oleh Haji Nitisemito (pendiri pabrik \u2018Jambu Bol\u2019) di Kudus dan Liem Seng Tee (pendiri pabrik \u2018Dji Sam Soe\u2019 dan \u2018Sampoerna\u2019) di Surabaya.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Puncaknya adalah pada pertengahan tahun 1950-an, ketika produksi kretek mulai berkembang pesat menjadi industri raksasa modern dengan munculnya beberapa pabrik baru, antara lain, yang terkemuka, oleh Oei Wei Gwan (pendiri pabrik \u2018Djarum\u2019) di Kudus dan Tjou Ing Hwie (pendiri pabrik \u2018Gudang Garam\u2019) di Kediri (Topatimasang, et.al., eds., 2010:131).<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Baca: Teruslah Menanam Tembakau dan Cengkeh, Wahai Petani Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Cengkeh, bahan baku paling esensial dari kretek --selain tembakau, tentu saja-- pun kembali berjaya. Bahkan, sejak dasawarsa 1970an, telah menjadi salah satu penyumbang terbesar keuangan negara Republik Indonesia. Pada tahun 2012 dan 2013, pemasukan cukai dari industri kretek mencatat 95,5% dari seluruh pemasukan cukai ke kas negara. Nilainya tak tanggung-tanggung: Rp 87 triliun! (el-Guyanie, et.al.: 2013:4-5).<\/strong>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Nilai ekonomisnya yang sangat besar sempat menggoda penguasa otoriter rezim Presiden Soeharto, pada 1990-an, memberlakukan satu kebijakan \u2018Hongi Gaya Baru\u2019: monopoli perdagangan cengkeh dalam negeri melalui Badan Penyanggah dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) yang sangat merugikan petani. Harga cengkeh di tingkat petani penghasil anjlok sampai hanya Rp 2.000 - 3.000 per kilogram, lebih murah dari harga sebungkus kretek yang dihasilkan darinya.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Akibatnya, ratusan ribu pohon cengkeh di daerah-daerah penghasil utama --Maluku, Maluku Utara, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Selatan-- ditebangi atau dibiarkan terlantar tak terurus.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Gelombang reformasi sistem politik dan hukum nasional yang dimulai pada tahun 1998, akhirnya menjungkalkan rezim Soeharto dan BPPC dibubarkan, Pelan tapi pasti, harga cengkeh kembali merangkak naik, sehingga pada tahun 2012, bahkan melewati angka Rp 200.000 per kilogram. Para petani cengkeh di seluruh negeri kembali tersenyum. Tetapi, sampai kapan? <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Catatan:<\/strong><\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  [1] Beberapa sumber menyebutkan bahwa kata \u2018cengkeh\u2019 dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Mandarin, tkeng-his atau xi\u2019jia, yang berarti \u2018rempah [berbentuk mirip] paku\u2019 (scented nails). Ini menunjukkan bahwa cengkeh sudah dikenal sejak lama oleh bangsa Cina --diketahui sejak abad-2-- jauh sebelum orang Eropa mengenalnya ((lihat, misalnya: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  [2] Catatan-catatan para biarawan Fransiskan --yang disalin dan dikutip oleh van Frassen-- bahkan menyebut cengkeh sebagai salah satu bahan utama pengawet mumi para Fir\u2019aun, penguasa Mesir Kuno. Beberapa pakar sejarah dan arkeologi menyatakan bahwa rempah-rempah Maluku bahkan sudah ditemukan artefaknya di Lembah Mesopotomia (wilayah Iraq dan sekitarnya sekarang) pada 3.000 tahun sebelum Masehi. (lihat, antara lain: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  [3] Uraian lebih rinci sejarah kolonialisme rempah-rempah Nusantara ini, terutama oleh Belanda dan Portugis, dapat dibaca pada beberapa sumber kepustakaan yang sudah dikenal luas, antara lain: Glamann (1958) dan Boxer (1965 dan 1969). Dalam risalah klasik Pires disebutkan bahwa pada tahun 1512-1521 saja, jumlah produksi cengkeh di Maluku sudah mencapai 7.250 bahar per tahun, terbesar adalah di Makian serta Amboina dan Lease (masing-masing 1.500 bahar)(Pires, 1512-1515).<\/em>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem Topatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  <\/p>\n ","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-10 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-02-10 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5425","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5415,"post_author":"878","post_date":"2019-02-07 12:15:55","post_date_gmt":"2019-02-07 05:15:55","post_content":" \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Belakangan ini, ketika musim hujan tiba, di Kabupaten Temanggung, Kabupaten Jember, dan beberapa wilayah sentra pertanian tembakau lainnya, hampir mustahil menemukan tanaman tembakau tumbuh di lahan-lahan milik petani. Di wilayah-wilayah tersebut, citra sebagai sentra pertanian tembakau seakan menguap. Lahan-lahan yang ada di sana, sama sekali tidak ditumbuhi tanaman tembakau.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Kabar ini bisa jadi dianggap sebagai kabar gembira bagi mereka yang menganggap diri dan kelompoknya anti-rokok dan anti-tembakau yang selalu mengampanyekan sikap-sikap mereka terkait kebencian kepada tembakau dan aktivitas merokok. Setelah sekian lama berjuang, akhirnya perjuangan mereka dirasa berhasil usai menyaksikan fenomena lahan-lahan di wilayah yang dianggap sentra pertanian tembakau pada hari-hari belakangan ini.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Baca juga: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Tak sia-sia turun ke jalan, tak sia-sia melakukan lobi-lobi ke penguasa, tak sia-sia mengucurkan uang yang tidak sedikit, dan tak sia-sia mempermalukan diri dengan mengemis ke lembaga donor asing dan menggondol uang dari cukai tembakau untuk mengampanyekan gerakan anti-rokok dan anti-tembakau. Tak sia-sia. Karena perjuangan sepertinya berhasil.<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Kampanye-kampanye gerakan mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya, sepertinya juga sangat berhasil. Bagaimana tidak? Wilayah-wilayah yang sebelumnya penuh dengan tanaman tembakau dan bergeliat dengannya, kini lahan-lahannya sudah berganti dengan tanaman lain. Sebuah keberhasilan yang menggembirakan. Begitu mungkin pikir mereka para yang menganggap dirinya pejuang anti-rokok dan anti-tembakau. Dan tentu saja mereka akan kecele dan kita akan menertawakan hal itu.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Sayangnya, mereka yang menganggap dirinya anti-rokok dan anti-tembakau tidak menyaksikan langsung fenomena ini di lapangan, di lahan-lahan yang peruntukannya berubah pada hari-hari belakangan ini ketika memasuki musim hujan. Mereka asyik duduk pada kursi empuk di ruang-ruang nyaman ber-AC di kota-kota yang jauh dari kultur pertanian. Mereka menyengajakan diri menjadi elit dan enggan untuk turun melihat langsung ke lapangan. Kalaupun ada yang turun langsung ke lapangan, hanya segelintir saja dari mereka, itupun sekadar formalitas saja. Tak pernah benar-benar mau turun ke lapangan, hidup dan merasakan langsung kultur pertanian tembakau dalam jangka waktu cukup lama di lapangan.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Baca juga: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Fenomena ini membikin kita tak bisa melihat mereka para anti-rokok kecele lalu menertawakan mereka.<\/strong> Fenomena keengganan terjun langsung ke lapangan terlebih mencoba mendengar mereka yang tetap menanam tembakau, juga menjalani keseharian dalam waktu cukup lama bersama petani tembakau inilah yang saya kira menjadikan mereka tetap keras kepala untuk anti-rokok dan anti-tembakau. Karena jika mereka mau melakukan itu, saya yakin mereka semua tidak akan begitu kaku dalam memandang pertanian tembakau dan produk hasil industri tembakau.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Salah satu yang selalu mereka kampanyekan dan ngotot dengan itu, terkait hulu pertanian tembakau adalah mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya. Mereka berargumen banyak tanaman lain yang bisa semenguntungkan tanaman tembakau. Keengganan mereka terjun langsung ke lapangan inilah yang membikin mereka buta dengan kondisi pertanian tembakau dan pada akhirnya terus menerus mengampanyekan pergantian tanaman tembakau dengan tanaman lainnya.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Baca juga: Imanlah kepada Allah, Bukan Antirokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Tembakau tanaman yang khas. Ia hanya tumbuh baik sepanjang empat hingga lima bulan dalam satu tahun. Tumbuh-kembang tanaman tembakau dengan baik itu umumnya terjadi pada musim kemarau setiap tahunnya. Hanya sedikit sekali jenis tembakau yang tumbuh baik di musim penghujan, mayoritasnya, tumbuh baik pada musim kemarau.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Jika ditanam pada musim hujan, hampir bisa dipastikan tanaman tembakau akan gagal menghasilkan daun-daun yang berkualitas. Ia akan rusak dan membusuk karena terlalu banyak terkena air sehingga daun-daun itu tak layak dijual. Jangankan bisa dijual, untuk tumbuh dengan baik pun sepertinya sulit karena musim hujan akan membunuh banyak tanaman itu.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Maka, tak heran pada musim-musim seperti saat ini, ketika musim penghujan mendekati puncaknya, di wilayah-wilayah yang dikenal sebagai sentra pertanian tembakau, sulit menemukan pohon tembakau yang sedang tumbuh. Pada lahan-lahan yang sebelumnya ditumbuhi tanaman tembakau pada musim panas, berganti tanaman-tanaman lain yang bermacam-macam, sesuai dengan kondisi lahannya. Untuk lahan sawah, lahan-lahan itu pada musim penghujan kini ditumbuhi tanaman padi yang subur. Pada lahan tegalan dan lahan di pegunungan, lahan-lahan yang ditanami tembakau pada musim kemarau, saat ini ditumbuhi bermacam jenis tanaman mulai dari cabai, bawang, tomat, kol, terong, mentimun, dan ragam jenis tanaman semusim lainnya.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Uniknya, tipikal tanaman tembakau yang tumbuh baik di musim kemarau ini memberi pilihan lebih kepada para petani. Lahan-lahan yang sulit ditanami pada musim kemarau, pada akhirnya masih bisa tetap produktif dengan keberadaan tanaman tembakau. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Maka, kampanye aneh mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain dengan ragam rupa dalih yang membingungkan, bukan saja sama sekali tidak tepat dan asal-asalan, namun bisa jadi akan ditertawakan oleh para petani yang begitu paham dengan kondisi lahan dan terutama kondisi iklim dan cuaca. Sulit mencari tanaman semusim yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Jika pun ada, tak ada yang semenguntungkan tanaman tembakau.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  <\/p>\n ","post_title":"Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"keberhasilan-gerakan-anti-tembakau-tak-ada-tembakau-saat-musim-hujan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-07 12:16:02","post_modified_gmt":"2019-02-07 05:16:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5415","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5409,"post_author":"919","post_date":"2019-02-05 08:04:43","post_date_gmt":"2019-02-05 01:04:43","post_content":" \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Tahun Baru Imlek yang merupakan tradisi Bangsa Tiongkok kini sudah tak lagi menjadi hal yang asing bagi masyarakat Indonesia. Kehadirannya sudah mewarnai dan berakulturasi dengan tradisi lokal. Menjelang Tahun Baru Imlek. Berbagai hiasan dan kemeriahan terjadi beberapa titik di Tanah Air. Perayaannya juga menjadi destinasi baru yang mengasyikkan untuk dilihat dan patut disaksikan.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Berterimakasihlah kepada sang bapak bangsa, KH Abdurrahman Wahid atau yang dikenal dengan nama Gus Dur. Berkat kebijakannya saat menjadi Presiden Indonesia, Tahun Baru Imlek resmi dijadikan hari libur nasional dan dianggap sebagai salah satu hari raya di Tanah Air. Meski sentimen antitionghoa masih ada di sana-sini, tapi tetap tak bisa dipungkiri bahwa bangsa tionghoa sudah bersentuhan dengan budaya lokal dalam kurun waktu yang sangat panjang.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  DNA Bangsa Tionghoa yang memang merupakan pedagang menjadi pembuka kisah interaksi antara nenek moyang berbagai suku di Nusantara dengan mereka. Beberapa kelenteng-kelenteng yang tersebar pada berbagai pesisir daerah di Nusantara jadi buktinya. Pelabuhan-pelabuhan tua di tanah air dan ramainya perdagangan di pesisir mempermudah bangsa kita berhubungan dengan Bangsa Tionghoa.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Baca Juga: Wong Kalang dan Kota Gede<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa kehadiran Bangsa Tionghoa di Nusantara tak hanya sebagai pedagang, namun juga sebagai pekerja (bahkan hingga pekerja kasar). Benny Setiono, seorang sejarahwan menyebutkan bahwa antara tahun 1760-1770 dalam jumlah yang besar memasuki nusantara melalui Kalimantan Barat. Mereka bekerja sebagai kuli pertambangan di sana dan di kemudian hari membentuk sebuah republik bernama Republik Lanfang yang konon katanya menjadi republik pertama di Asia Tenggara.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Baca Juga: Imlek dan Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Baca Juga: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  <\/p>\n ","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_3o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  \n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  1. Tanah digemburkan sehingga akar mudah berkembang <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  2. Menyediakan ruang untuk respirasi akar <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  3. Mematikan gulma dan penyakit dalam tanah <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  4. Tanah siap menjadi media tumbuh bagi tanaman <\/li><\/ol>\n \n\n\n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    \"\"\/<\/figure>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    \"\"\/<\/figure>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Sempurna<\/strong> <\/strong>tidak sempurna<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    3. Persiapan Media Tanam<\/strong><\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    1. Tanah yang digunakan adalah tanah dan pupuk kandang yang sudah matang <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    2. Tanah berasal dari tanah steril (sudah dikeringkan dan bukan dari tanah bekas tanaman yang terserang penyakit)<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    3. Media tanah dicangkul ringan di para-para minimal 2x <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    4. Sebar Benih; <\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Setelah bibit dan lahan siap, kemudian sebarkan benih dengan ditutup memakai jerami <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      1. Pemupukan <\/strong><\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      2. Pemupukan pertama<\/li><\/ol>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        \"\"\/<\/figure>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        1. Pemupukan kedua, dilakukan apabila pertumbuhan bibit kurang baik (21 HSS). Pupuk yang digunakan adalaj KNO3 <\/sub>(30 \u2013 50 gram per bedeng dengan ukuran 1x5 m) dicampur dengan air \u00b110 liter, selanjutnya bedengan disiram kembali dengan air (pembilasan) <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        2. Penyiraman<\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Frekuensi penyiraman berdasarkan umur bibit\/umur hari setelah sebar (HSS):<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          0 \u2013 10 HSS\t\t:\t3x Sehari (fase kritis)<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          11 \u2013 21 HSS\t\t:\t2x Sehari <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          22 \u2013 35 HSS\t\t:\t1x Sehari <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          36 \u2013 45 \/ 50 HSS\t:\tPeriode stress air\/kering<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          1. Penjarangan & Hardening<\/strong>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            1. Penjarangan dilakukan agar jarak antara bibit ideal (4-5 cm) sehingga tidak<\/li><\/ol><\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              terserang hama & penyakit. Penjarangan dilakukan pada umur bibit 21-25 hari dengan cara: basahi bedengan sore hari sebelumnya dan pagi hari sebelum bibit dicabut, cabut bibit  yang akan ditanami dengan hati-hati, tanam bibit pada bedengan yang kerapatan bibitnya jarang, siram bibit sesegera mungkin setelah dipindah.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              1. Bibit dibiasakan untuk terkena sinar  matahari langsung. Tujuan hardening agar bibit dapat beradaptasi dan memperkuat jaringan daun, batang serta mengurangi resiko penyakit karena jamur. Pelaksanaan hardening mulai umur 21 HSS secara bertahap.Pada kondisi hujan tidak dianjurkan. <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              2. Klipping <\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                1. Dilakukan antara jam 08.00 sampai 11.00 (usahakan cuaca cerah) <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                2. Kliping dilakukan pada saat bibit pertumbuhannya terlalu lebat atau saling menutup batangnya. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                3. Kliping adalah kegiatan memotong sebagian atau 2\/3 daun bibit tembakau. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                4. Frekuensi kliping dilakukan bisa satu, dua kali atau lebih sesuai dengan perkembangan bibit dan persiapan lokasi areal tanam. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                5 Lima sampai tujuh hari menjelang transplanting, kegiatan kliping sebaiknya sudah selesai. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Tujuan klipping: menjaga lingkungan bibit agar tidak lembab, <\/strong>memperbesar batan,menyeragamkan ukuran benih, dan memperkuat pertumbuhan akar <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                1. Pencabutan Bibit, agar mendapatkan jarak tanam yang sesuai lahan <\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  \"\"\/<\/figure>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  \"\"\/<\/figure>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Dalam satu hamparan direkomendasikan selesai tanam maksimal 3 Hari. Umur  tanaman akan menjadi sama atau seragam. Performance tanaman juga akan menjadi  seragam. Kemasakan daun pada saat petik juga menjadi seragam. Memudahkan pada saat  proses panen dan pasca panen. Tembakau kering yang dihasilkan pun juga seragam.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  1. Pengendalian Hama & Penyakit<\/strong> <\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    ~ Pada awal penyebaran benih direkomendasikan untuk melakukan penyemprotan fusngisida (jamur), seperti Previcur, Redomil & Antracol <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    ~ Hama yang sering dijumpai: semut (Decis), janggel, orong-orong <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    1. Tahapan Perawatan<\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      \"\"\/<\/figure>\n ","post_title":"Sukses Bertani Tembakau Bersama Kemitraan Djarum di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sukses-bertani-tembakau-bersama-kemitraan-djarum-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-11 12:32:18","post_modified_gmt":"2019-02-11 05:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5433","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5425,"post_author":"922","post_date":"2019-02-10 09:07:33","post_date_gmt":"2019-02-10 02:07:33","post_content":" \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Bahwa cengkeh [1] (Syzygium aromaticum) --bersama pala (Myristica fragrans)-- adalah dua tanaman asli (endemik) Kepulauan Maluku, sudah tak terbantahkan. Cengkeh dikenal dan diakui berasal dari \u2018Empat Pulau Gunung Maluku\u2019 (Maloko Kie Raha): Ternate, Tidore, Moti, dan Makian.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Adapun pala, berasal dari empat pulau kecil lainnya di tengah Laut Banda: Lonthor, Neira, Rhun, dan Ai. Pada penjelasan peta abad-16 oleh penjelajah dari Semenanjung Iberia, Fransisco Rodriguez, tertulis: \u201cEstas quatro Ilhas Azures suam as de molluquo homde nace ho crauzo\u201d<\/em> (Adalah empat pulau berwarna biru [dalam peta] yang disebut sebagai Kepulauan Maluku di mana rempah-rempah berasal) (Pires, 1512- 1515:213).
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Sejak beberapa abad sebelum Masehi, adalah para saudagar Arab --melalui Samudera Hindia melintasi Iskandariyah dan Laut Tengah-- serta para pedagang Cina --melalui jalur \u2018Jalan Sutra\u2019 melintasi Asia Tengah dan Asia Barat-- yang membawa dan memperkenalkannya ke daratan Eropa. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Bandar-bandar besar Tyre di Yunani dan Venesia di Italia menjadi pelabuhan utama rempah-rempah Maluku memasuki kehidupan dan peradaban Eropa. Selain sebagai bumbu masakan, rempah obat, dan ramuan wewangian, cengkeh dan pala juga menjadi bahan utama pengawet bahan pangan. [2]
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Inilah yang membuat orang-orang Eropa untuk pertama kalinya dapat mengawetkan dan menimbun makanan selama bermusim-musim. Prosa indah Blair bersaudara menggambarkannya dengan sangat baik:
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      \u201cKemampuan menyimpan makanan lebih dari yang kami makan sekaligus berarti kemampuan menjual dan membelinya dalam jumlah besar --dan kota-kota dagang pun mekar. Perekonomian yang dihasilkannya mengarahkan kami ke zaman Pencerahan dan kemudian Revolusi Industri. Tak lama setelah kami menghirup aroma yang sangat kuat dari Timur itu dan mengubah kimiawi makanan kami, maka kami pun mampu melakukan lompatan besar dalam bidang budaya dan seni.\u201d (Blair & Blair, 2010; 30-31).<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Baca: Cengkeh dan Kelapa di Kepulauan Anambas<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Bukan hanya membuat perekonomian dan perdagangan serta ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang, cengkeh dan pala bahkan adalah faktor yang paling menentukan dalam kemunculan satu babakan paling mengenaskan dalam sejarah politik dunia, yakni zaman penjajahan (kolonialisme) Eropa, terutama atas-atas negeri- negeri Asia Selatan, Timur dan Tenggara, termasuk Indonesia.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Tergerak oleh sahwat menguasai rempah-rempah yang menggiurkan itu, bangsa-bangsa Eropa --terutama Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda-- pun menggelar ekspedisi-ekspedisi besar untuk menemukan cengkeh dan pala langsung di tanah asalnya. Ketika armada-armada mereka akhirnya mencapai perairan Kepulauan Maluku, pada abad-16, perang pun tak terhindarkan.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Mereka silih berganti saling mengalahkan, tetapi pemenang terakhir adalah Belanda. Melalui Perusahaan Dagang Hindia Timur (Vereenigde Oostindische Compagnie, VOC) yang dibentuk pada awal abad-17 (tepatnya tahun 1609), Belanda melancarkan ekspedisi Pelayaran Hongi (Hongie Tochten), untuk memusnahkan semua tanaman cengkeh di Ternate, Tidore, Moti, dan Makian, lalu membatasi ketat penanamnya hanya di Pulau-pulau Ambon dan Lease --yang lebih dekat ke Banda sebagai pusat pemerintahan mereka sebelum akhirnya dipindahkan ke Batavia.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Praktis, sejak akhir abad-16, Belanda pun menguasai penuh perdagangan rempah-rempah Maluku dengan jumlah produksi rerata 2.500 sampai 4.500 ton per tahun. [3]<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Baca: Budidaya Pohon Cengkeh<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Meskipun peran utama rempah-rempah Maluku itu kemudian tergusur pada abad-18 dan 19 oleh beberapa barang eksotika tropis lainnya --hasil perkebunan-perkebunana besar baru di Pulau Sumatera dan Jawa: tebu, tembakau, lada, kopi, teh, nila, kelapa sawit, dan kayu jati-- namun sejarah sudah mencatat bahwa dua jenis rempah-rempah Maluku itulah yang mengawali penjelajahan sekaligus penjajahan kepulauan Nusantara oleh bangsa-bangsa Eropah, terutama Belanda (Topatimasang, ed., 2004:32). Jika saja tak pernah ada cengkeh dan pala di Maluku, mungkin sejarah kepulauan Nusantara ini akan berbeda sama sekali.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Masa suram cengkeh dan pala terus berlangsung sampai pertengahan abad-20. Rempah eksotika yang pernah membuat tergila-gila<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      para saudagar Arab, pedagang Cina, serta kaum ningrat Eropa itu, tergantikan perannya oleh penemuan teknologi mesin pendingin berkat Revolusi Industri yang dimulai di Inggris pada pertengahan abad-18. Pasaran cengkeh di Eropa pun merosot tajam.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Nasibnya terselamatkan berkat penemuan oleh seorang Haji Djamhari di Kudus, Jawa Tengah. Pada akhir tahun 1880-an, Haji Djamhari menemukan kegunaan baru cengkeh sebagai ramuan utama rokok. Lahirlah satu produk baru yang unik, khas dan asli Indonesia: kretek! (Hanusz, 2000:ii).
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Setelah seperempat abad hanya berkembang dalam skala kecil usaha rumah tangga, produksi kretek akhirnya menjelma menjadi industri besar sejak awal abad-20 yang dirintis oleh Haji Nitisemito (pendiri pabrik \u2018Jambu Bol\u2019) di Kudus dan Liem Seng Tee (pendiri pabrik \u2018Dji Sam Soe\u2019 dan \u2018Sampoerna\u2019) di Surabaya.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Puncaknya adalah pada pertengahan tahun 1950-an, ketika produksi kretek mulai berkembang pesat menjadi industri raksasa modern dengan munculnya beberapa pabrik baru, antara lain, yang terkemuka, oleh Oei Wei Gwan (pendiri pabrik \u2018Djarum\u2019) di Kudus dan Tjou Ing Hwie (pendiri pabrik \u2018Gudang Garam\u2019) di Kediri (Topatimasang, et.al., eds., 2010:131).<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Baca: Teruslah Menanam Tembakau dan Cengkeh, Wahai Petani Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Cengkeh, bahan baku paling esensial dari kretek --selain tembakau, tentu saja-- pun kembali berjaya. Bahkan, sejak dasawarsa 1970an, telah menjadi salah satu penyumbang terbesar keuangan negara Republik Indonesia. Pada tahun 2012 dan 2013, pemasukan cukai dari industri kretek mencatat 95,5% dari seluruh pemasukan cukai ke kas negara. Nilainya tak tanggung-tanggung: Rp 87 triliun! (el-Guyanie, et.al.: 2013:4-5).<\/strong>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Nilai ekonomisnya yang sangat besar sempat menggoda penguasa otoriter rezim Presiden Soeharto, pada 1990-an, memberlakukan satu kebijakan \u2018Hongi Gaya Baru\u2019: monopoli perdagangan cengkeh dalam negeri melalui Badan Penyanggah dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) yang sangat merugikan petani. Harga cengkeh di tingkat petani penghasil anjlok sampai hanya Rp 2.000 - 3.000 per kilogram, lebih murah dari harga sebungkus kretek yang dihasilkan darinya.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Akibatnya, ratusan ribu pohon cengkeh di daerah-daerah penghasil utama --Maluku, Maluku Utara, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Selatan-- ditebangi atau dibiarkan terlantar tak terurus.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Gelombang reformasi sistem politik dan hukum nasional yang dimulai pada tahun 1998, akhirnya menjungkalkan rezim Soeharto dan BPPC dibubarkan, Pelan tapi pasti, harga cengkeh kembali merangkak naik, sehingga pada tahun 2012, bahkan melewati angka Rp 200.000 per kilogram. Para petani cengkeh di seluruh negeri kembali tersenyum. Tetapi, sampai kapan? <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Catatan:<\/strong><\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      [1] Beberapa sumber menyebutkan bahwa kata \u2018cengkeh\u2019 dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Mandarin, tkeng-his atau xi\u2019jia, yang berarti \u2018rempah [berbentuk mirip] paku\u2019 (scented nails). Ini menunjukkan bahwa cengkeh sudah dikenal sejak lama oleh bangsa Cina --diketahui sejak abad-2-- jauh sebelum orang Eropa mengenalnya ((lihat, misalnya: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      [2] Catatan-catatan para biarawan Fransiskan --yang disalin dan dikutip oleh van Frassen-- bahkan menyebut cengkeh sebagai salah satu bahan utama pengawet mumi para Fir\u2019aun, penguasa Mesir Kuno. Beberapa pakar sejarah dan arkeologi menyatakan bahwa rempah-rempah Maluku bahkan sudah ditemukan artefaknya di Lembah Mesopotomia (wilayah Iraq dan sekitarnya sekarang) pada 3.000 tahun sebelum Masehi. (lihat, antara lain: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      [3] Uraian lebih rinci sejarah kolonialisme rempah-rempah Nusantara ini, terutama oleh Belanda dan Portugis, dapat dibaca pada beberapa sumber kepustakaan yang sudah dikenal luas, antara lain: Glamann (1958) dan Boxer (1965 dan 1969). Dalam risalah klasik Pires disebutkan bahwa pada tahun 1512-1521 saja, jumlah produksi cengkeh di Maluku sudah mencapai 7.250 bahar per tahun, terbesar adalah di Makian serta Amboina dan Lease (masing-masing 1.500 bahar)(Pires, 1512-1515).<\/em>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem Topatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n ","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-10 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-02-10 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5425","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5415,"post_author":"878","post_date":"2019-02-07 12:15:55","post_date_gmt":"2019-02-07 05:15:55","post_content":" \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Belakangan ini, ketika musim hujan tiba, di Kabupaten Temanggung, Kabupaten Jember, dan beberapa wilayah sentra pertanian tembakau lainnya, hampir mustahil menemukan tanaman tembakau tumbuh di lahan-lahan milik petani. Di wilayah-wilayah tersebut, citra sebagai sentra pertanian tembakau seakan menguap. Lahan-lahan yang ada di sana, sama sekali tidak ditumbuhi tanaman tembakau.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Kabar ini bisa jadi dianggap sebagai kabar gembira bagi mereka yang menganggap diri dan kelompoknya anti-rokok dan anti-tembakau yang selalu mengampanyekan sikap-sikap mereka terkait kebencian kepada tembakau dan aktivitas merokok. Setelah sekian lama berjuang, akhirnya perjuangan mereka dirasa berhasil usai menyaksikan fenomena lahan-lahan di wilayah yang dianggap sentra pertanian tembakau pada hari-hari belakangan ini.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Baca juga: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Tak sia-sia turun ke jalan, tak sia-sia melakukan lobi-lobi ke penguasa, tak sia-sia mengucurkan uang yang tidak sedikit, dan tak sia-sia mempermalukan diri dengan mengemis ke lembaga donor asing dan menggondol uang dari cukai tembakau untuk mengampanyekan gerakan anti-rokok dan anti-tembakau. Tak sia-sia. Karena perjuangan sepertinya berhasil.<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Kampanye-kampanye gerakan mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya, sepertinya juga sangat berhasil. Bagaimana tidak? Wilayah-wilayah yang sebelumnya penuh dengan tanaman tembakau dan bergeliat dengannya, kini lahan-lahannya sudah berganti dengan tanaman lain. Sebuah keberhasilan yang menggembirakan. Begitu mungkin pikir mereka para yang menganggap dirinya pejuang anti-rokok dan anti-tembakau. Dan tentu saja mereka akan kecele dan kita akan menertawakan hal itu.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Sayangnya, mereka yang menganggap dirinya anti-rokok dan anti-tembakau tidak menyaksikan langsung fenomena ini di lapangan, di lahan-lahan yang peruntukannya berubah pada hari-hari belakangan ini ketika memasuki musim hujan. Mereka asyik duduk pada kursi empuk di ruang-ruang nyaman ber-AC di kota-kota yang jauh dari kultur pertanian. Mereka menyengajakan diri menjadi elit dan enggan untuk turun melihat langsung ke lapangan. Kalaupun ada yang turun langsung ke lapangan, hanya segelintir saja dari mereka, itupun sekadar formalitas saja. Tak pernah benar-benar mau turun ke lapangan, hidup dan merasakan langsung kultur pertanian tembakau dalam jangka waktu cukup lama di lapangan.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Baca juga: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Fenomena ini membikin kita tak bisa melihat mereka para anti-rokok kecele lalu menertawakan mereka.<\/strong> Fenomena keengganan terjun langsung ke lapangan terlebih mencoba mendengar mereka yang tetap menanam tembakau, juga menjalani keseharian dalam waktu cukup lama bersama petani tembakau inilah yang saya kira menjadikan mereka tetap keras kepala untuk anti-rokok dan anti-tembakau. Karena jika mereka mau melakukan itu, saya yakin mereka semua tidak akan begitu kaku dalam memandang pertanian tembakau dan produk hasil industri tembakau.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Salah satu yang selalu mereka kampanyekan dan ngotot dengan itu, terkait hulu pertanian tembakau adalah mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya. Mereka berargumen banyak tanaman lain yang bisa semenguntungkan tanaman tembakau. Keengganan mereka terjun langsung ke lapangan inilah yang membikin mereka buta dengan kondisi pertanian tembakau dan pada akhirnya terus menerus mengampanyekan pergantian tanaman tembakau dengan tanaman lainnya.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Baca juga: Imanlah kepada Allah, Bukan Antirokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Tembakau tanaman yang khas. Ia hanya tumbuh baik sepanjang empat hingga lima bulan dalam satu tahun. Tumbuh-kembang tanaman tembakau dengan baik itu umumnya terjadi pada musim kemarau setiap tahunnya. Hanya sedikit sekali jenis tembakau yang tumbuh baik di musim penghujan, mayoritasnya, tumbuh baik pada musim kemarau.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Jika ditanam pada musim hujan, hampir bisa dipastikan tanaman tembakau akan gagal menghasilkan daun-daun yang berkualitas. Ia akan rusak dan membusuk karena terlalu banyak terkena air sehingga daun-daun itu tak layak dijual. Jangankan bisa dijual, untuk tumbuh dengan baik pun sepertinya sulit karena musim hujan akan membunuh banyak tanaman itu.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Maka, tak heran pada musim-musim seperti saat ini, ketika musim penghujan mendekati puncaknya, di wilayah-wilayah yang dikenal sebagai sentra pertanian tembakau, sulit menemukan pohon tembakau yang sedang tumbuh. Pada lahan-lahan yang sebelumnya ditumbuhi tanaman tembakau pada musim panas, berganti tanaman-tanaman lain yang bermacam-macam, sesuai dengan kondisi lahannya. Untuk lahan sawah, lahan-lahan itu pada musim penghujan kini ditumbuhi tanaman padi yang subur. Pada lahan tegalan dan lahan di pegunungan, lahan-lahan yang ditanami tembakau pada musim kemarau, saat ini ditumbuhi bermacam jenis tanaman mulai dari cabai, bawang, tomat, kol, terong, mentimun, dan ragam jenis tanaman semusim lainnya.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Uniknya, tipikal tanaman tembakau yang tumbuh baik di musim kemarau ini memberi pilihan lebih kepada para petani. Lahan-lahan yang sulit ditanami pada musim kemarau, pada akhirnya masih bisa tetap produktif dengan keberadaan tanaman tembakau. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Maka, kampanye aneh mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain dengan ragam rupa dalih yang membingungkan, bukan saja sama sekali tidak tepat dan asal-asalan, namun bisa jadi akan ditertawakan oleh para petani yang begitu paham dengan kondisi lahan dan terutama kondisi iklim dan cuaca. Sulit mencari tanaman semusim yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Jika pun ada, tak ada yang semenguntungkan tanaman tembakau.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n ","post_title":"Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"keberhasilan-gerakan-anti-tembakau-tak-ada-tembakau-saat-musim-hujan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-07 12:16:02","post_modified_gmt":"2019-02-07 05:16:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5415","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5409,"post_author":"919","post_date":"2019-02-05 08:04:43","post_date_gmt":"2019-02-05 01:04:43","post_content":" \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Tahun Baru Imlek yang merupakan tradisi Bangsa Tiongkok kini sudah tak lagi menjadi hal yang asing bagi masyarakat Indonesia. Kehadirannya sudah mewarnai dan berakulturasi dengan tradisi lokal. Menjelang Tahun Baru Imlek. Berbagai hiasan dan kemeriahan terjadi beberapa titik di Tanah Air. Perayaannya juga menjadi destinasi baru yang mengasyikkan untuk dilihat dan patut disaksikan.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Berterimakasihlah kepada sang bapak bangsa, KH Abdurrahman Wahid atau yang dikenal dengan nama Gus Dur. Berkat kebijakannya saat menjadi Presiden Indonesia, Tahun Baru Imlek resmi dijadikan hari libur nasional dan dianggap sebagai salah satu hari raya di Tanah Air. Meski sentimen antitionghoa masih ada di sana-sini, tapi tetap tak bisa dipungkiri bahwa bangsa tionghoa sudah bersentuhan dengan budaya lokal dalam kurun waktu yang sangat panjang.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      DNA Bangsa Tionghoa yang memang merupakan pedagang menjadi pembuka kisah interaksi antara nenek moyang berbagai suku di Nusantara dengan mereka. Beberapa kelenteng-kelenteng yang tersebar pada berbagai pesisir daerah di Nusantara jadi buktinya. Pelabuhan-pelabuhan tua di tanah air dan ramainya perdagangan di pesisir mempermudah bangsa kita berhubungan dengan Bangsa Tionghoa.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Baca Juga: Wong Kalang dan Kota Gede<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa kehadiran Bangsa Tionghoa di Nusantara tak hanya sebagai pedagang, namun juga sebagai pekerja (bahkan hingga pekerja kasar). Benny Setiono, seorang sejarahwan menyebutkan bahwa antara tahun 1760-1770 dalam jumlah yang besar memasuki nusantara melalui Kalimantan Barat. Mereka bekerja sebagai kuli pertambangan di sana dan di kemudian hari membentuk sebuah republik bernama Republik Lanfang yang konon katanya menjadi republik pertama di Asia Tenggara.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Baca Juga: Imlek dan Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Baca Juga: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n ","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_3o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      2. Persiapan Lahan <\/strong><\/p>\n \n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      1. Tanah digemburkan sehingga akar mudah berkembang <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      2. Menyediakan ruang untuk respirasi akar <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      3. Mematikan gulma dan penyakit dalam tanah <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      4. Tanah siap menjadi media tumbuh bagi tanaman <\/li><\/ol>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        \"\"\/<\/figure>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        \"\"\/<\/figure>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Sempurna<\/strong> <\/strong>tidak sempurna<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        3. Persiapan Media Tanam<\/strong><\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        1. Tanah yang digunakan adalah tanah dan pupuk kandang yang sudah matang <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        2. Tanah berasal dari tanah steril (sudah dikeringkan dan bukan dari tanah bekas tanaman yang terserang penyakit)<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        3. Media tanah dicangkul ringan di para-para minimal 2x <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        4. Sebar Benih; <\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Setelah bibit dan lahan siap, kemudian sebarkan benih dengan ditutup memakai jerami <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          1. Pemupukan <\/strong><\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          2. Pemupukan pertama<\/li><\/ol>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            \"\"\/<\/figure>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            1. Pemupukan kedua, dilakukan apabila pertumbuhan bibit kurang baik (21 HSS). Pupuk yang digunakan adalaj KNO3 <\/sub>(30 \u2013 50 gram per bedeng dengan ukuran 1x5 m) dicampur dengan air \u00b110 liter, selanjutnya bedengan disiram kembali dengan air (pembilasan) <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            2. Penyiraman<\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Frekuensi penyiraman berdasarkan umur bibit\/umur hari setelah sebar (HSS):<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              0 \u2013 10 HSS\t\t:\t3x Sehari (fase kritis)<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              11 \u2013 21 HSS\t\t:\t2x Sehari <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              22 \u2013 35 HSS\t\t:\t1x Sehari <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              36 \u2013 45 \/ 50 HSS\t:\tPeriode stress air\/kering<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              1. Penjarangan & Hardening<\/strong>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                1. Penjarangan dilakukan agar jarak antara bibit ideal (4-5 cm) sehingga tidak<\/li><\/ol><\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  terserang hama & penyakit. Penjarangan dilakukan pada umur bibit 21-25 hari dengan cara: basahi bedengan sore hari sebelumnya dan pagi hari sebelum bibit dicabut, cabut bibit  yang akan ditanami dengan hati-hati, tanam bibit pada bedengan yang kerapatan bibitnya jarang, siram bibit sesegera mungkin setelah dipindah.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  1. Bibit dibiasakan untuk terkena sinar  matahari langsung. Tujuan hardening agar bibit dapat beradaptasi dan memperkuat jaringan daun, batang serta mengurangi resiko penyakit karena jamur. Pelaksanaan hardening mulai umur 21 HSS secara bertahap.Pada kondisi hujan tidak dianjurkan. <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  2. Klipping <\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    1. Dilakukan antara jam 08.00 sampai 11.00 (usahakan cuaca cerah) <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    2. Kliping dilakukan pada saat bibit pertumbuhannya terlalu lebat atau saling menutup batangnya. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    3. Kliping adalah kegiatan memotong sebagian atau 2\/3 daun bibit tembakau. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    4. Frekuensi kliping dilakukan bisa satu, dua kali atau lebih sesuai dengan perkembangan bibit dan persiapan lokasi areal tanam. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    5 Lima sampai tujuh hari menjelang transplanting, kegiatan kliping sebaiknya sudah selesai. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Tujuan klipping: menjaga lingkungan bibit agar tidak lembab, <\/strong>memperbesar batan,menyeragamkan ukuran benih, dan memperkuat pertumbuhan akar <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    1. Pencabutan Bibit, agar mendapatkan jarak tanam yang sesuai lahan <\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      \"\"\/<\/figure>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      \"\"\/<\/figure>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Dalam satu hamparan direkomendasikan selesai tanam maksimal 3 Hari. Umur  tanaman akan menjadi sama atau seragam. Performance tanaman juga akan menjadi  seragam. Kemasakan daun pada saat petik juga menjadi seragam. Memudahkan pada saat  proses panen dan pasca panen. Tembakau kering yang dihasilkan pun juga seragam.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      1. Pengendalian Hama & Penyakit<\/strong> <\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        ~ Pada awal penyebaran benih direkomendasikan untuk melakukan penyemprotan fusngisida (jamur), seperti Previcur, Redomil & Antracol <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        ~ Hama yang sering dijumpai: semut (Decis), janggel, orong-orong <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        1. Tahapan Perawatan<\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          \"\"\/<\/figure>\n ","post_title":"Sukses Bertani Tembakau Bersama Kemitraan Djarum di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sukses-bertani-tembakau-bersama-kemitraan-djarum-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-11 12:32:18","post_modified_gmt":"2019-02-11 05:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5433","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5425,"post_author":"922","post_date":"2019-02-10 09:07:33","post_date_gmt":"2019-02-10 02:07:33","post_content":" \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Bahwa cengkeh [1] (Syzygium aromaticum) --bersama pala (Myristica fragrans)-- adalah dua tanaman asli (endemik) Kepulauan Maluku, sudah tak terbantahkan. Cengkeh dikenal dan diakui berasal dari \u2018Empat Pulau Gunung Maluku\u2019 (Maloko Kie Raha): Ternate, Tidore, Moti, dan Makian.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Adapun pala, berasal dari empat pulau kecil lainnya di tengah Laut Banda: Lonthor, Neira, Rhun, dan Ai. Pada penjelasan peta abad-16 oleh penjelajah dari Semenanjung Iberia, Fransisco Rodriguez, tertulis: \u201cEstas quatro Ilhas Azures suam as de molluquo homde nace ho crauzo\u201d<\/em> (Adalah empat pulau berwarna biru [dalam peta] yang disebut sebagai Kepulauan Maluku di mana rempah-rempah berasal) (Pires, 1512- 1515:213).
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Sejak beberapa abad sebelum Masehi, adalah para saudagar Arab --melalui Samudera Hindia melintasi Iskandariyah dan Laut Tengah-- serta para pedagang Cina --melalui jalur \u2018Jalan Sutra\u2019 melintasi Asia Tengah dan Asia Barat-- yang membawa dan memperkenalkannya ke daratan Eropa. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Bandar-bandar besar Tyre di Yunani dan Venesia di Italia menjadi pelabuhan utama rempah-rempah Maluku memasuki kehidupan dan peradaban Eropa. Selain sebagai bumbu masakan, rempah obat, dan ramuan wewangian, cengkeh dan pala juga menjadi bahan utama pengawet bahan pangan. [2]
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Inilah yang membuat orang-orang Eropa untuk pertama kalinya dapat mengawetkan dan menimbun makanan selama bermusim-musim. Prosa indah Blair bersaudara menggambarkannya dengan sangat baik:
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          \u201cKemampuan menyimpan makanan lebih dari yang kami makan sekaligus berarti kemampuan menjual dan membelinya dalam jumlah besar --dan kota-kota dagang pun mekar. Perekonomian yang dihasilkannya mengarahkan kami ke zaman Pencerahan dan kemudian Revolusi Industri. Tak lama setelah kami menghirup aroma yang sangat kuat dari Timur itu dan mengubah kimiawi makanan kami, maka kami pun mampu melakukan lompatan besar dalam bidang budaya dan seni.\u201d (Blair & Blair, 2010; 30-31).<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Baca: Cengkeh dan Kelapa di Kepulauan Anambas<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Bukan hanya membuat perekonomian dan perdagangan serta ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang, cengkeh dan pala bahkan adalah faktor yang paling menentukan dalam kemunculan satu babakan paling mengenaskan dalam sejarah politik dunia, yakni zaman penjajahan (kolonialisme) Eropa, terutama atas-atas negeri- negeri Asia Selatan, Timur dan Tenggara, termasuk Indonesia.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Tergerak oleh sahwat menguasai rempah-rempah yang menggiurkan itu, bangsa-bangsa Eropa --terutama Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda-- pun menggelar ekspedisi-ekspedisi besar untuk menemukan cengkeh dan pala langsung di tanah asalnya. Ketika armada-armada mereka akhirnya mencapai perairan Kepulauan Maluku, pada abad-16, perang pun tak terhindarkan.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Mereka silih berganti saling mengalahkan, tetapi pemenang terakhir adalah Belanda. Melalui Perusahaan Dagang Hindia Timur (Vereenigde Oostindische Compagnie, VOC) yang dibentuk pada awal abad-17 (tepatnya tahun 1609), Belanda melancarkan ekspedisi Pelayaran Hongi (Hongie Tochten), untuk memusnahkan semua tanaman cengkeh di Ternate, Tidore, Moti, dan Makian, lalu membatasi ketat penanamnya hanya di Pulau-pulau Ambon dan Lease --yang lebih dekat ke Banda sebagai pusat pemerintahan mereka sebelum akhirnya dipindahkan ke Batavia.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Praktis, sejak akhir abad-16, Belanda pun menguasai penuh perdagangan rempah-rempah Maluku dengan jumlah produksi rerata 2.500 sampai 4.500 ton per tahun. [3]<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Baca: Budidaya Pohon Cengkeh<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Meskipun peran utama rempah-rempah Maluku itu kemudian tergusur pada abad-18 dan 19 oleh beberapa barang eksotika tropis lainnya --hasil perkebunan-perkebunana besar baru di Pulau Sumatera dan Jawa: tebu, tembakau, lada, kopi, teh, nila, kelapa sawit, dan kayu jati-- namun sejarah sudah mencatat bahwa dua jenis rempah-rempah Maluku itulah yang mengawali penjelajahan sekaligus penjajahan kepulauan Nusantara oleh bangsa-bangsa Eropah, terutama Belanda (Topatimasang, ed., 2004:32). Jika saja tak pernah ada cengkeh dan pala di Maluku, mungkin sejarah kepulauan Nusantara ini akan berbeda sama sekali.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Masa suram cengkeh dan pala terus berlangsung sampai pertengahan abad-20. Rempah eksotika yang pernah membuat tergila-gila<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          para saudagar Arab, pedagang Cina, serta kaum ningrat Eropa itu, tergantikan perannya oleh penemuan teknologi mesin pendingin berkat Revolusi Industri yang dimulai di Inggris pada pertengahan abad-18. Pasaran cengkeh di Eropa pun merosot tajam.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Nasibnya terselamatkan berkat penemuan oleh seorang Haji Djamhari di Kudus, Jawa Tengah. Pada akhir tahun 1880-an, Haji Djamhari menemukan kegunaan baru cengkeh sebagai ramuan utama rokok. Lahirlah satu produk baru yang unik, khas dan asli Indonesia: kretek! (Hanusz, 2000:ii).
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Setelah seperempat abad hanya berkembang dalam skala kecil usaha rumah tangga, produksi kretek akhirnya menjelma menjadi industri besar sejak awal abad-20 yang dirintis oleh Haji Nitisemito (pendiri pabrik \u2018Jambu Bol\u2019) di Kudus dan Liem Seng Tee (pendiri pabrik \u2018Dji Sam Soe\u2019 dan \u2018Sampoerna\u2019) di Surabaya.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Puncaknya adalah pada pertengahan tahun 1950-an, ketika produksi kretek mulai berkembang pesat menjadi industri raksasa modern dengan munculnya beberapa pabrik baru, antara lain, yang terkemuka, oleh Oei Wei Gwan (pendiri pabrik \u2018Djarum\u2019) di Kudus dan Tjou Ing Hwie (pendiri pabrik \u2018Gudang Garam\u2019) di Kediri (Topatimasang, et.al., eds., 2010:131).<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Baca: Teruslah Menanam Tembakau dan Cengkeh, Wahai Petani Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Cengkeh, bahan baku paling esensial dari kretek --selain tembakau, tentu saja-- pun kembali berjaya. Bahkan, sejak dasawarsa 1970an, telah menjadi salah satu penyumbang terbesar keuangan negara Republik Indonesia. Pada tahun 2012 dan 2013, pemasukan cukai dari industri kretek mencatat 95,5% dari seluruh pemasukan cukai ke kas negara. Nilainya tak tanggung-tanggung: Rp 87 triliun! (el-Guyanie, et.al.: 2013:4-5).<\/strong>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Nilai ekonomisnya yang sangat besar sempat menggoda penguasa otoriter rezim Presiden Soeharto, pada 1990-an, memberlakukan satu kebijakan \u2018Hongi Gaya Baru\u2019: monopoli perdagangan cengkeh dalam negeri melalui Badan Penyanggah dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) yang sangat merugikan petani. Harga cengkeh di tingkat petani penghasil anjlok sampai hanya Rp 2.000 - 3.000 per kilogram, lebih murah dari harga sebungkus kretek yang dihasilkan darinya.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Akibatnya, ratusan ribu pohon cengkeh di daerah-daerah penghasil utama --Maluku, Maluku Utara, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Selatan-- ditebangi atau dibiarkan terlantar tak terurus.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Gelombang reformasi sistem politik dan hukum nasional yang dimulai pada tahun 1998, akhirnya menjungkalkan rezim Soeharto dan BPPC dibubarkan, Pelan tapi pasti, harga cengkeh kembali merangkak naik, sehingga pada tahun 2012, bahkan melewati angka Rp 200.000 per kilogram. Para petani cengkeh di seluruh negeri kembali tersenyum. Tetapi, sampai kapan? <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Catatan:<\/strong><\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          [1] Beberapa sumber menyebutkan bahwa kata \u2018cengkeh\u2019 dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Mandarin, tkeng-his atau xi\u2019jia, yang berarti \u2018rempah [berbentuk mirip] paku\u2019 (scented nails). Ini menunjukkan bahwa cengkeh sudah dikenal sejak lama oleh bangsa Cina --diketahui sejak abad-2-- jauh sebelum orang Eropa mengenalnya ((lihat, misalnya: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          [2] Catatan-catatan para biarawan Fransiskan --yang disalin dan dikutip oleh van Frassen-- bahkan menyebut cengkeh sebagai salah satu bahan utama pengawet mumi para Fir\u2019aun, penguasa Mesir Kuno. Beberapa pakar sejarah dan arkeologi menyatakan bahwa rempah-rempah Maluku bahkan sudah ditemukan artefaknya di Lembah Mesopotomia (wilayah Iraq dan sekitarnya sekarang) pada 3.000 tahun sebelum Masehi. (lihat, antara lain: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          [3] Uraian lebih rinci sejarah kolonialisme rempah-rempah Nusantara ini, terutama oleh Belanda dan Portugis, dapat dibaca pada beberapa sumber kepustakaan yang sudah dikenal luas, antara lain: Glamann (1958) dan Boxer (1965 dan 1969). Dalam risalah klasik Pires disebutkan bahwa pada tahun 1512-1521 saja, jumlah produksi cengkeh di Maluku sudah mencapai 7.250 bahar per tahun, terbesar adalah di Makian serta Amboina dan Lease (masing-masing 1.500 bahar)(Pires, 1512-1515).<\/em>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem Topatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n ","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-10 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-02-10 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5425","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5415,"post_author":"878","post_date":"2019-02-07 12:15:55","post_date_gmt":"2019-02-07 05:15:55","post_content":" \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Belakangan ini, ketika musim hujan tiba, di Kabupaten Temanggung, Kabupaten Jember, dan beberapa wilayah sentra pertanian tembakau lainnya, hampir mustahil menemukan tanaman tembakau tumbuh di lahan-lahan milik petani. Di wilayah-wilayah tersebut, citra sebagai sentra pertanian tembakau seakan menguap. Lahan-lahan yang ada di sana, sama sekali tidak ditumbuhi tanaman tembakau.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Kabar ini bisa jadi dianggap sebagai kabar gembira bagi mereka yang menganggap diri dan kelompoknya anti-rokok dan anti-tembakau yang selalu mengampanyekan sikap-sikap mereka terkait kebencian kepada tembakau dan aktivitas merokok. Setelah sekian lama berjuang, akhirnya perjuangan mereka dirasa berhasil usai menyaksikan fenomena lahan-lahan di wilayah yang dianggap sentra pertanian tembakau pada hari-hari belakangan ini.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Baca juga: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Tak sia-sia turun ke jalan, tak sia-sia melakukan lobi-lobi ke penguasa, tak sia-sia mengucurkan uang yang tidak sedikit, dan tak sia-sia mempermalukan diri dengan mengemis ke lembaga donor asing dan menggondol uang dari cukai tembakau untuk mengampanyekan gerakan anti-rokok dan anti-tembakau. Tak sia-sia. Karena perjuangan sepertinya berhasil.<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Kampanye-kampanye gerakan mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya, sepertinya juga sangat berhasil. Bagaimana tidak? Wilayah-wilayah yang sebelumnya penuh dengan tanaman tembakau dan bergeliat dengannya, kini lahan-lahannya sudah berganti dengan tanaman lain. Sebuah keberhasilan yang menggembirakan. Begitu mungkin pikir mereka para yang menganggap dirinya pejuang anti-rokok dan anti-tembakau. Dan tentu saja mereka akan kecele dan kita akan menertawakan hal itu.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Sayangnya, mereka yang menganggap dirinya anti-rokok dan anti-tembakau tidak menyaksikan langsung fenomena ini di lapangan, di lahan-lahan yang peruntukannya berubah pada hari-hari belakangan ini ketika memasuki musim hujan. Mereka asyik duduk pada kursi empuk di ruang-ruang nyaman ber-AC di kota-kota yang jauh dari kultur pertanian. Mereka menyengajakan diri menjadi elit dan enggan untuk turun melihat langsung ke lapangan. Kalaupun ada yang turun langsung ke lapangan, hanya segelintir saja dari mereka, itupun sekadar formalitas saja. Tak pernah benar-benar mau turun ke lapangan, hidup dan merasakan langsung kultur pertanian tembakau dalam jangka waktu cukup lama di lapangan.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Baca juga: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Fenomena ini membikin kita tak bisa melihat mereka para anti-rokok kecele lalu menertawakan mereka.<\/strong> Fenomena keengganan terjun langsung ke lapangan terlebih mencoba mendengar mereka yang tetap menanam tembakau, juga menjalani keseharian dalam waktu cukup lama bersama petani tembakau inilah yang saya kira menjadikan mereka tetap keras kepala untuk anti-rokok dan anti-tembakau. Karena jika mereka mau melakukan itu, saya yakin mereka semua tidak akan begitu kaku dalam memandang pertanian tembakau dan produk hasil industri tembakau.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Salah satu yang selalu mereka kampanyekan dan ngotot dengan itu, terkait hulu pertanian tembakau adalah mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya. Mereka berargumen banyak tanaman lain yang bisa semenguntungkan tanaman tembakau. Keengganan mereka terjun langsung ke lapangan inilah yang membikin mereka buta dengan kondisi pertanian tembakau dan pada akhirnya terus menerus mengampanyekan pergantian tanaman tembakau dengan tanaman lainnya.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Baca juga: Imanlah kepada Allah, Bukan Antirokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Tembakau tanaman yang khas. Ia hanya tumbuh baik sepanjang empat hingga lima bulan dalam satu tahun. Tumbuh-kembang tanaman tembakau dengan baik itu umumnya terjadi pada musim kemarau setiap tahunnya. Hanya sedikit sekali jenis tembakau yang tumbuh baik di musim penghujan, mayoritasnya, tumbuh baik pada musim kemarau.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Jika ditanam pada musim hujan, hampir bisa dipastikan tanaman tembakau akan gagal menghasilkan daun-daun yang berkualitas. Ia akan rusak dan membusuk karena terlalu banyak terkena air sehingga daun-daun itu tak layak dijual. Jangankan bisa dijual, untuk tumbuh dengan baik pun sepertinya sulit karena musim hujan akan membunuh banyak tanaman itu.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Maka, tak heran pada musim-musim seperti saat ini, ketika musim penghujan mendekati puncaknya, di wilayah-wilayah yang dikenal sebagai sentra pertanian tembakau, sulit menemukan pohon tembakau yang sedang tumbuh. Pada lahan-lahan yang sebelumnya ditumbuhi tanaman tembakau pada musim panas, berganti tanaman-tanaman lain yang bermacam-macam, sesuai dengan kondisi lahannya. Untuk lahan sawah, lahan-lahan itu pada musim penghujan kini ditumbuhi tanaman padi yang subur. Pada lahan tegalan dan lahan di pegunungan, lahan-lahan yang ditanami tembakau pada musim kemarau, saat ini ditumbuhi bermacam jenis tanaman mulai dari cabai, bawang, tomat, kol, terong, mentimun, dan ragam jenis tanaman semusim lainnya.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Uniknya, tipikal tanaman tembakau yang tumbuh baik di musim kemarau ini memberi pilihan lebih kepada para petani. Lahan-lahan yang sulit ditanami pada musim kemarau, pada akhirnya masih bisa tetap produktif dengan keberadaan tanaman tembakau. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Maka, kampanye aneh mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain dengan ragam rupa dalih yang membingungkan, bukan saja sama sekali tidak tepat dan asal-asalan, namun bisa jadi akan ditertawakan oleh para petani yang begitu paham dengan kondisi lahan dan terutama kondisi iklim dan cuaca. Sulit mencari tanaman semusim yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Jika pun ada, tak ada yang semenguntungkan tanaman tembakau.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n ","post_title":"Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"keberhasilan-gerakan-anti-tembakau-tak-ada-tembakau-saat-musim-hujan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-07 12:16:02","post_modified_gmt":"2019-02-07 05:16:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5415","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5409,"post_author":"919","post_date":"2019-02-05 08:04:43","post_date_gmt":"2019-02-05 01:04:43","post_content":" \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Tahun Baru Imlek yang merupakan tradisi Bangsa Tiongkok kini sudah tak lagi menjadi hal yang asing bagi masyarakat Indonesia. Kehadirannya sudah mewarnai dan berakulturasi dengan tradisi lokal. Menjelang Tahun Baru Imlek. Berbagai hiasan dan kemeriahan terjadi beberapa titik di Tanah Air. Perayaannya juga menjadi destinasi baru yang mengasyikkan untuk dilihat dan patut disaksikan.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Berterimakasihlah kepada sang bapak bangsa, KH Abdurrahman Wahid atau yang dikenal dengan nama Gus Dur. Berkat kebijakannya saat menjadi Presiden Indonesia, Tahun Baru Imlek resmi dijadikan hari libur nasional dan dianggap sebagai salah satu hari raya di Tanah Air. Meski sentimen antitionghoa masih ada di sana-sini, tapi tetap tak bisa dipungkiri bahwa bangsa tionghoa sudah bersentuhan dengan budaya lokal dalam kurun waktu yang sangat panjang.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          DNA Bangsa Tionghoa yang memang merupakan pedagang menjadi pembuka kisah interaksi antara nenek moyang berbagai suku di Nusantara dengan mereka. Beberapa kelenteng-kelenteng yang tersebar pada berbagai pesisir daerah di Nusantara jadi buktinya. Pelabuhan-pelabuhan tua di tanah air dan ramainya perdagangan di pesisir mempermudah bangsa kita berhubungan dengan Bangsa Tionghoa.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Baca Juga: Wong Kalang dan Kota Gede<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa kehadiran Bangsa Tionghoa di Nusantara tak hanya sebagai pedagang, namun juga sebagai pekerja (bahkan hingga pekerja kasar). Benny Setiono, seorang sejarahwan menyebutkan bahwa antara tahun 1760-1770 dalam jumlah yang besar memasuki nusantara melalui Kalimantan Barat. Mereka bekerja sebagai kuli pertambangan di sana dan di kemudian hari membentuk sebuah republik bernama Republik Lanfang yang konon katanya menjadi republik pertama di Asia Tenggara.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Baca Juga: Imlek dan Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Baca Juga: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n ","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_3o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          f. Cara memperoleh benih yang murni dan baik, harus mengetahui asal usul \/ sumber benih apakah dari BALITTAS, Dinas Pertanian  atau Seeding Center. Daya kecambah terukur sehingga dosis sebar bisa ditentukan. Bebas Hama dan Penyakit. <\/p>\n \n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          2. Persiapan Lahan <\/strong><\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          1. Tanah digemburkan sehingga akar mudah berkembang <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          2. Menyediakan ruang untuk respirasi akar <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          3. Mematikan gulma dan penyakit dalam tanah <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          4. Tanah siap menjadi media tumbuh bagi tanaman <\/li><\/ol>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            \"\"\/<\/figure>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            \"\"\/<\/figure>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Sempurna<\/strong> <\/strong>tidak sempurna<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            3. Persiapan Media Tanam<\/strong><\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            1. Tanah yang digunakan adalah tanah dan pupuk kandang yang sudah matang <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            2. Tanah berasal dari tanah steril (sudah dikeringkan dan bukan dari tanah bekas tanaman yang terserang penyakit)<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            3. Media tanah dicangkul ringan di para-para minimal 2x <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            4. Sebar Benih; <\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Setelah bibit dan lahan siap, kemudian sebarkan benih dengan ditutup memakai jerami <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              1. Pemupukan <\/strong><\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              2. Pemupukan pertama<\/li><\/ol>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                \"\"\/<\/figure>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                1. Pemupukan kedua, dilakukan apabila pertumbuhan bibit kurang baik (21 HSS). Pupuk yang digunakan adalaj KNO3 <\/sub>(30 \u2013 50 gram per bedeng dengan ukuran 1x5 m) dicampur dengan air \u00b110 liter, selanjutnya bedengan disiram kembali dengan air (pembilasan) <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                2. Penyiraman<\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Frekuensi penyiraman berdasarkan umur bibit\/umur hari setelah sebar (HSS):<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  0 \u2013 10 HSS\t\t:\t3x Sehari (fase kritis)<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  11 \u2013 21 HSS\t\t:\t2x Sehari <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  22 \u2013 35 HSS\t\t:\t1x Sehari <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  36 \u2013 45 \/ 50 HSS\t:\tPeriode stress air\/kering<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  1. Penjarangan & Hardening<\/strong>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    1. Penjarangan dilakukan agar jarak antara bibit ideal (4-5 cm) sehingga tidak<\/li><\/ol><\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      terserang hama & penyakit. Penjarangan dilakukan pada umur bibit 21-25 hari dengan cara: basahi bedengan sore hari sebelumnya dan pagi hari sebelum bibit dicabut, cabut bibit  yang akan ditanami dengan hati-hati, tanam bibit pada bedengan yang kerapatan bibitnya jarang, siram bibit sesegera mungkin setelah dipindah.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      1. Bibit dibiasakan untuk terkena sinar  matahari langsung. Tujuan hardening agar bibit dapat beradaptasi dan memperkuat jaringan daun, batang serta mengurangi resiko penyakit karena jamur. Pelaksanaan hardening mulai umur 21 HSS secara bertahap.Pada kondisi hujan tidak dianjurkan. <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      2. Klipping <\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        1. Dilakukan antara jam 08.00 sampai 11.00 (usahakan cuaca cerah) <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        2. Kliping dilakukan pada saat bibit pertumbuhannya terlalu lebat atau saling menutup batangnya. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        3. Kliping adalah kegiatan memotong sebagian atau 2\/3 daun bibit tembakau. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        4. Frekuensi kliping dilakukan bisa satu, dua kali atau lebih sesuai dengan perkembangan bibit dan persiapan lokasi areal tanam. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        5 Lima sampai tujuh hari menjelang transplanting, kegiatan kliping sebaiknya sudah selesai. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Tujuan klipping: menjaga lingkungan bibit agar tidak lembab, <\/strong>memperbesar batan,menyeragamkan ukuran benih, dan memperkuat pertumbuhan akar <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        1. Pencabutan Bibit, agar mendapatkan jarak tanam yang sesuai lahan <\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          \"\"\/<\/figure>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          \"\"\/<\/figure>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Dalam satu hamparan direkomendasikan selesai tanam maksimal 3 Hari. Umur  tanaman akan menjadi sama atau seragam. Performance tanaman juga akan menjadi  seragam. Kemasakan daun pada saat petik juga menjadi seragam. Memudahkan pada saat  proses panen dan pasca panen. Tembakau kering yang dihasilkan pun juga seragam.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          1. Pengendalian Hama & Penyakit<\/strong> <\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            ~ Pada awal penyebaran benih direkomendasikan untuk melakukan penyemprotan fusngisida (jamur), seperti Previcur, Redomil & Antracol <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            ~ Hama yang sering dijumpai: semut (Decis), janggel, orong-orong <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            1. Tahapan Perawatan<\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              \"\"\/<\/figure>\n ","post_title":"Sukses Bertani Tembakau Bersama Kemitraan Djarum di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sukses-bertani-tembakau-bersama-kemitraan-djarum-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-11 12:32:18","post_modified_gmt":"2019-02-11 05:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5433","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5425,"post_author":"922","post_date":"2019-02-10 09:07:33","post_date_gmt":"2019-02-10 02:07:33","post_content":" \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Bahwa cengkeh [1] (Syzygium aromaticum) --bersama pala (Myristica fragrans)-- adalah dua tanaman asli (endemik) Kepulauan Maluku, sudah tak terbantahkan. Cengkeh dikenal dan diakui berasal dari \u2018Empat Pulau Gunung Maluku\u2019 (Maloko Kie Raha): Ternate, Tidore, Moti, dan Makian.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Adapun pala, berasal dari empat pulau kecil lainnya di tengah Laut Banda: Lonthor, Neira, Rhun, dan Ai. Pada penjelasan peta abad-16 oleh penjelajah dari Semenanjung Iberia, Fransisco Rodriguez, tertulis: \u201cEstas quatro Ilhas Azures suam as de molluquo homde nace ho crauzo\u201d<\/em> (Adalah empat pulau berwarna biru [dalam peta] yang disebut sebagai Kepulauan Maluku di mana rempah-rempah berasal) (Pires, 1512- 1515:213).
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Sejak beberapa abad sebelum Masehi, adalah para saudagar Arab --melalui Samudera Hindia melintasi Iskandariyah dan Laut Tengah-- serta para pedagang Cina --melalui jalur \u2018Jalan Sutra\u2019 melintasi Asia Tengah dan Asia Barat-- yang membawa dan memperkenalkannya ke daratan Eropa. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Bandar-bandar besar Tyre di Yunani dan Venesia di Italia menjadi pelabuhan utama rempah-rempah Maluku memasuki kehidupan dan peradaban Eropa. Selain sebagai bumbu masakan, rempah obat, dan ramuan wewangian, cengkeh dan pala juga menjadi bahan utama pengawet bahan pangan. [2]
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Inilah yang membuat orang-orang Eropa untuk pertama kalinya dapat mengawetkan dan menimbun makanan selama bermusim-musim. Prosa indah Blair bersaudara menggambarkannya dengan sangat baik:
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              \u201cKemampuan menyimpan makanan lebih dari yang kami makan sekaligus berarti kemampuan menjual dan membelinya dalam jumlah besar --dan kota-kota dagang pun mekar. Perekonomian yang dihasilkannya mengarahkan kami ke zaman Pencerahan dan kemudian Revolusi Industri. Tak lama setelah kami menghirup aroma yang sangat kuat dari Timur itu dan mengubah kimiawi makanan kami, maka kami pun mampu melakukan lompatan besar dalam bidang budaya dan seni.\u201d (Blair & Blair, 2010; 30-31).<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Baca: Cengkeh dan Kelapa di Kepulauan Anambas<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Bukan hanya membuat perekonomian dan perdagangan serta ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang, cengkeh dan pala bahkan adalah faktor yang paling menentukan dalam kemunculan satu babakan paling mengenaskan dalam sejarah politik dunia, yakni zaman penjajahan (kolonialisme) Eropa, terutama atas-atas negeri- negeri Asia Selatan, Timur dan Tenggara, termasuk Indonesia.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Tergerak oleh sahwat menguasai rempah-rempah yang menggiurkan itu, bangsa-bangsa Eropa --terutama Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda-- pun menggelar ekspedisi-ekspedisi besar untuk menemukan cengkeh dan pala langsung di tanah asalnya. Ketika armada-armada mereka akhirnya mencapai perairan Kepulauan Maluku, pada abad-16, perang pun tak terhindarkan.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Mereka silih berganti saling mengalahkan, tetapi pemenang terakhir adalah Belanda. Melalui Perusahaan Dagang Hindia Timur (Vereenigde Oostindische Compagnie, VOC) yang dibentuk pada awal abad-17 (tepatnya tahun 1609), Belanda melancarkan ekspedisi Pelayaran Hongi (Hongie Tochten), untuk memusnahkan semua tanaman cengkeh di Ternate, Tidore, Moti, dan Makian, lalu membatasi ketat penanamnya hanya di Pulau-pulau Ambon dan Lease --yang lebih dekat ke Banda sebagai pusat pemerintahan mereka sebelum akhirnya dipindahkan ke Batavia.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Praktis, sejak akhir abad-16, Belanda pun menguasai penuh perdagangan rempah-rempah Maluku dengan jumlah produksi rerata 2.500 sampai 4.500 ton per tahun. [3]<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Baca: Budidaya Pohon Cengkeh<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Meskipun peran utama rempah-rempah Maluku itu kemudian tergusur pada abad-18 dan 19 oleh beberapa barang eksotika tropis lainnya --hasil perkebunan-perkebunana besar baru di Pulau Sumatera dan Jawa: tebu, tembakau, lada, kopi, teh, nila, kelapa sawit, dan kayu jati-- namun sejarah sudah mencatat bahwa dua jenis rempah-rempah Maluku itulah yang mengawali penjelajahan sekaligus penjajahan kepulauan Nusantara oleh bangsa-bangsa Eropah, terutama Belanda (Topatimasang, ed., 2004:32). Jika saja tak pernah ada cengkeh dan pala di Maluku, mungkin sejarah kepulauan Nusantara ini akan berbeda sama sekali.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Masa suram cengkeh dan pala terus berlangsung sampai pertengahan abad-20. Rempah eksotika yang pernah membuat tergila-gila<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              para saudagar Arab, pedagang Cina, serta kaum ningrat Eropa itu, tergantikan perannya oleh penemuan teknologi mesin pendingin berkat Revolusi Industri yang dimulai di Inggris pada pertengahan abad-18. Pasaran cengkeh di Eropa pun merosot tajam.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Nasibnya terselamatkan berkat penemuan oleh seorang Haji Djamhari di Kudus, Jawa Tengah. Pada akhir tahun 1880-an, Haji Djamhari menemukan kegunaan baru cengkeh sebagai ramuan utama rokok. Lahirlah satu produk baru yang unik, khas dan asli Indonesia: kretek! (Hanusz, 2000:ii).
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Setelah seperempat abad hanya berkembang dalam skala kecil usaha rumah tangga, produksi kretek akhirnya menjelma menjadi industri besar sejak awal abad-20 yang dirintis oleh Haji Nitisemito (pendiri pabrik \u2018Jambu Bol\u2019) di Kudus dan Liem Seng Tee (pendiri pabrik \u2018Dji Sam Soe\u2019 dan \u2018Sampoerna\u2019) di Surabaya.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Puncaknya adalah pada pertengahan tahun 1950-an, ketika produksi kretek mulai berkembang pesat menjadi industri raksasa modern dengan munculnya beberapa pabrik baru, antara lain, yang terkemuka, oleh Oei Wei Gwan (pendiri pabrik \u2018Djarum\u2019) di Kudus dan Tjou Ing Hwie (pendiri pabrik \u2018Gudang Garam\u2019) di Kediri (Topatimasang, et.al., eds., 2010:131).<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Baca: Teruslah Menanam Tembakau dan Cengkeh, Wahai Petani Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Cengkeh, bahan baku paling esensial dari kretek --selain tembakau, tentu saja-- pun kembali berjaya. Bahkan, sejak dasawarsa 1970an, telah menjadi salah satu penyumbang terbesar keuangan negara Republik Indonesia. Pada tahun 2012 dan 2013, pemasukan cukai dari industri kretek mencatat 95,5% dari seluruh pemasukan cukai ke kas negara. Nilainya tak tanggung-tanggung: Rp 87 triliun! (el-Guyanie, et.al.: 2013:4-5).<\/strong>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Nilai ekonomisnya yang sangat besar sempat menggoda penguasa otoriter rezim Presiden Soeharto, pada 1990-an, memberlakukan satu kebijakan \u2018Hongi Gaya Baru\u2019: monopoli perdagangan cengkeh dalam negeri melalui Badan Penyanggah dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) yang sangat merugikan petani. Harga cengkeh di tingkat petani penghasil anjlok sampai hanya Rp 2.000 - 3.000 per kilogram, lebih murah dari harga sebungkus kretek yang dihasilkan darinya.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Akibatnya, ratusan ribu pohon cengkeh di daerah-daerah penghasil utama --Maluku, Maluku Utara, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Selatan-- ditebangi atau dibiarkan terlantar tak terurus.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Gelombang reformasi sistem politik dan hukum nasional yang dimulai pada tahun 1998, akhirnya menjungkalkan rezim Soeharto dan BPPC dibubarkan, Pelan tapi pasti, harga cengkeh kembali merangkak naik, sehingga pada tahun 2012, bahkan melewati angka Rp 200.000 per kilogram. Para petani cengkeh di seluruh negeri kembali tersenyum. Tetapi, sampai kapan? <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Catatan:<\/strong><\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              [1] Beberapa sumber menyebutkan bahwa kata \u2018cengkeh\u2019 dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Mandarin, tkeng-his atau xi\u2019jia, yang berarti \u2018rempah [berbentuk mirip] paku\u2019 (scented nails). Ini menunjukkan bahwa cengkeh sudah dikenal sejak lama oleh bangsa Cina --diketahui sejak abad-2-- jauh sebelum orang Eropa mengenalnya ((lihat, misalnya: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              [2] Catatan-catatan para biarawan Fransiskan --yang disalin dan dikutip oleh van Frassen-- bahkan menyebut cengkeh sebagai salah satu bahan utama pengawet mumi para Fir\u2019aun, penguasa Mesir Kuno. Beberapa pakar sejarah dan arkeologi menyatakan bahwa rempah-rempah Maluku bahkan sudah ditemukan artefaknya di Lembah Mesopotomia (wilayah Iraq dan sekitarnya sekarang) pada 3.000 tahun sebelum Masehi. (lihat, antara lain: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              [3] Uraian lebih rinci sejarah kolonialisme rempah-rempah Nusantara ini, terutama oleh Belanda dan Portugis, dapat dibaca pada beberapa sumber kepustakaan yang sudah dikenal luas, antara lain: Glamann (1958) dan Boxer (1965 dan 1969). Dalam risalah klasik Pires disebutkan bahwa pada tahun 1512-1521 saja, jumlah produksi cengkeh di Maluku sudah mencapai 7.250 bahar per tahun, terbesar adalah di Makian serta Amboina dan Lease (masing-masing 1.500 bahar)(Pires, 1512-1515).<\/em>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem Topatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              <\/p>\n ","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-10 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-02-10 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5425","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5415,"post_author":"878","post_date":"2019-02-07 12:15:55","post_date_gmt":"2019-02-07 05:15:55","post_content":" \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Belakangan ini, ketika musim hujan tiba, di Kabupaten Temanggung, Kabupaten Jember, dan beberapa wilayah sentra pertanian tembakau lainnya, hampir mustahil menemukan tanaman tembakau tumbuh di lahan-lahan milik petani. Di wilayah-wilayah tersebut, citra sebagai sentra pertanian tembakau seakan menguap. Lahan-lahan yang ada di sana, sama sekali tidak ditumbuhi tanaman tembakau.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Kabar ini bisa jadi dianggap sebagai kabar gembira bagi mereka yang menganggap diri dan kelompoknya anti-rokok dan anti-tembakau yang selalu mengampanyekan sikap-sikap mereka terkait kebencian kepada tembakau dan aktivitas merokok. Setelah sekian lama berjuang, akhirnya perjuangan mereka dirasa berhasil usai menyaksikan fenomena lahan-lahan di wilayah yang dianggap sentra pertanian tembakau pada hari-hari belakangan ini.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Baca juga: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Tak sia-sia turun ke jalan, tak sia-sia melakukan lobi-lobi ke penguasa, tak sia-sia mengucurkan uang yang tidak sedikit, dan tak sia-sia mempermalukan diri dengan mengemis ke lembaga donor asing dan menggondol uang dari cukai tembakau untuk mengampanyekan gerakan anti-rokok dan anti-tembakau. Tak sia-sia. Karena perjuangan sepertinya berhasil.<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Kampanye-kampanye gerakan mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya, sepertinya juga sangat berhasil. Bagaimana tidak? Wilayah-wilayah yang sebelumnya penuh dengan tanaman tembakau dan bergeliat dengannya, kini lahan-lahannya sudah berganti dengan tanaman lain. Sebuah keberhasilan yang menggembirakan. Begitu mungkin pikir mereka para yang menganggap dirinya pejuang anti-rokok dan anti-tembakau. Dan tentu saja mereka akan kecele dan kita akan menertawakan hal itu.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Sayangnya, mereka yang menganggap dirinya anti-rokok dan anti-tembakau tidak menyaksikan langsung fenomena ini di lapangan, di lahan-lahan yang peruntukannya berubah pada hari-hari belakangan ini ketika memasuki musim hujan. Mereka asyik duduk pada kursi empuk di ruang-ruang nyaman ber-AC di kota-kota yang jauh dari kultur pertanian. Mereka menyengajakan diri menjadi elit dan enggan untuk turun melihat langsung ke lapangan. Kalaupun ada yang turun langsung ke lapangan, hanya segelintir saja dari mereka, itupun sekadar formalitas saja. Tak pernah benar-benar mau turun ke lapangan, hidup dan merasakan langsung kultur pertanian tembakau dalam jangka waktu cukup lama di lapangan.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Baca juga: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Fenomena ini membikin kita tak bisa melihat mereka para anti-rokok kecele lalu menertawakan mereka.<\/strong> Fenomena keengganan terjun langsung ke lapangan terlebih mencoba mendengar mereka yang tetap menanam tembakau, juga menjalani keseharian dalam waktu cukup lama bersama petani tembakau inilah yang saya kira menjadikan mereka tetap keras kepala untuk anti-rokok dan anti-tembakau. Karena jika mereka mau melakukan itu, saya yakin mereka semua tidak akan begitu kaku dalam memandang pertanian tembakau dan produk hasil industri tembakau.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Salah satu yang selalu mereka kampanyekan dan ngotot dengan itu, terkait hulu pertanian tembakau adalah mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya. Mereka berargumen banyak tanaman lain yang bisa semenguntungkan tanaman tembakau. Keengganan mereka terjun langsung ke lapangan inilah yang membikin mereka buta dengan kondisi pertanian tembakau dan pada akhirnya terus menerus mengampanyekan pergantian tanaman tembakau dengan tanaman lainnya.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Baca juga: Imanlah kepada Allah, Bukan Antirokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Tembakau tanaman yang khas. Ia hanya tumbuh baik sepanjang empat hingga lima bulan dalam satu tahun. Tumbuh-kembang tanaman tembakau dengan baik itu umumnya terjadi pada musim kemarau setiap tahunnya. Hanya sedikit sekali jenis tembakau yang tumbuh baik di musim penghujan, mayoritasnya, tumbuh baik pada musim kemarau.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Jika ditanam pada musim hujan, hampir bisa dipastikan tanaman tembakau akan gagal menghasilkan daun-daun yang berkualitas. Ia akan rusak dan membusuk karena terlalu banyak terkena air sehingga daun-daun itu tak layak dijual. Jangankan bisa dijual, untuk tumbuh dengan baik pun sepertinya sulit karena musim hujan akan membunuh banyak tanaman itu.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Maka, tak heran pada musim-musim seperti saat ini, ketika musim penghujan mendekati puncaknya, di wilayah-wilayah yang dikenal sebagai sentra pertanian tembakau, sulit menemukan pohon tembakau yang sedang tumbuh. Pada lahan-lahan yang sebelumnya ditumbuhi tanaman tembakau pada musim panas, berganti tanaman-tanaman lain yang bermacam-macam, sesuai dengan kondisi lahannya. Untuk lahan sawah, lahan-lahan itu pada musim penghujan kini ditumbuhi tanaman padi yang subur. Pada lahan tegalan dan lahan di pegunungan, lahan-lahan yang ditanami tembakau pada musim kemarau, saat ini ditumbuhi bermacam jenis tanaman mulai dari cabai, bawang, tomat, kol, terong, mentimun, dan ragam jenis tanaman semusim lainnya.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Uniknya, tipikal tanaman tembakau yang tumbuh baik di musim kemarau ini memberi pilihan lebih kepada para petani. Lahan-lahan yang sulit ditanami pada musim kemarau, pada akhirnya masih bisa tetap produktif dengan keberadaan tanaman tembakau. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Maka, kampanye aneh mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain dengan ragam rupa dalih yang membingungkan, bukan saja sama sekali tidak tepat dan asal-asalan, namun bisa jadi akan ditertawakan oleh para petani yang begitu paham dengan kondisi lahan dan terutama kondisi iklim dan cuaca. Sulit mencari tanaman semusim yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Jika pun ada, tak ada yang semenguntungkan tanaman tembakau.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              <\/p>\n ","post_title":"Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"keberhasilan-gerakan-anti-tembakau-tak-ada-tembakau-saat-musim-hujan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-07 12:16:02","post_modified_gmt":"2019-02-07 05:16:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5415","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5409,"post_author":"919","post_date":"2019-02-05 08:04:43","post_date_gmt":"2019-02-05 01:04:43","post_content":" \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Tahun Baru Imlek yang merupakan tradisi Bangsa Tiongkok kini sudah tak lagi menjadi hal yang asing bagi masyarakat Indonesia. Kehadirannya sudah mewarnai dan berakulturasi dengan tradisi lokal. Menjelang Tahun Baru Imlek. Berbagai hiasan dan kemeriahan terjadi beberapa titik di Tanah Air. Perayaannya juga menjadi destinasi baru yang mengasyikkan untuk dilihat dan patut disaksikan.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Berterimakasihlah kepada sang bapak bangsa, KH Abdurrahman Wahid atau yang dikenal dengan nama Gus Dur. Berkat kebijakannya saat menjadi Presiden Indonesia, Tahun Baru Imlek resmi dijadikan hari libur nasional dan dianggap sebagai salah satu hari raya di Tanah Air. Meski sentimen antitionghoa masih ada di sana-sini, tapi tetap tak bisa dipungkiri bahwa bangsa tionghoa sudah bersentuhan dengan budaya lokal dalam kurun waktu yang sangat panjang.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              DNA Bangsa Tionghoa yang memang merupakan pedagang menjadi pembuka kisah interaksi antara nenek moyang berbagai suku di Nusantara dengan mereka. Beberapa kelenteng-kelenteng yang tersebar pada berbagai pesisir daerah di Nusantara jadi buktinya. Pelabuhan-pelabuhan tua di tanah air dan ramainya perdagangan di pesisir mempermudah bangsa kita berhubungan dengan Bangsa Tionghoa.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Baca Juga: Wong Kalang dan Kota Gede<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa kehadiran Bangsa Tionghoa di Nusantara tak hanya sebagai pedagang, namun juga sebagai pekerja (bahkan hingga pekerja kasar). Benny Setiono, seorang sejarahwan menyebutkan bahwa antara tahun 1760-1770 dalam jumlah yang besar memasuki nusantara melalui Kalimantan Barat. Mereka bekerja sebagai kuli pertambangan di sana dan di kemudian hari membentuk sebuah republik bernama Republik Lanfang yang konon katanya menjadi republik pertama di Asia Tenggara.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Baca Juga: Imlek dan Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Baca Juga: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              <\/p>\n ","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_3o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              e. Teknis sebar benih; apabila luas media tanam cukup, teknis sebar benih yang dianjurkan adalah dicampur dengan abu sekam. Apabila luas media tanam tidak mencukupi, maka teknis sebar benih yang dianjurkan adalah diaduk tanah.<\/p>\n \n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              f. Cara memperoleh benih yang murni dan baik, harus mengetahui asal usul \/ sumber benih apakah dari BALITTAS, Dinas Pertanian  atau Seeding Center. Daya kecambah terukur sehingga dosis sebar bisa ditentukan. Bebas Hama dan Penyakit. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              2. Persiapan Lahan <\/strong><\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              1. Tanah digemburkan sehingga akar mudah berkembang <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              2. Menyediakan ruang untuk respirasi akar <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              3. Mematikan gulma dan penyakit dalam tanah <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              4. Tanah siap menjadi media tumbuh bagi tanaman <\/li><\/ol>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                \"\"\/<\/figure>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                \"\"\/<\/figure>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Sempurna<\/strong> <\/strong>tidak sempurna<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                3. Persiapan Media Tanam<\/strong><\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                1. Tanah yang digunakan adalah tanah dan pupuk kandang yang sudah matang <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                2. Tanah berasal dari tanah steril (sudah dikeringkan dan bukan dari tanah bekas tanaman yang terserang penyakit)<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                3. Media tanah dicangkul ringan di para-para minimal 2x <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                4. Sebar Benih; <\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Setelah bibit dan lahan siap, kemudian sebarkan benih dengan ditutup memakai jerami <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  1. Pemupukan <\/strong><\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  2. Pemupukan pertama<\/li><\/ol>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    \"\"\/<\/figure>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    1. Pemupukan kedua, dilakukan apabila pertumbuhan bibit kurang baik (21 HSS). Pupuk yang digunakan adalaj KNO3 <\/sub>(30 \u2013 50 gram per bedeng dengan ukuran 1x5 m) dicampur dengan air \u00b110 liter, selanjutnya bedengan disiram kembali dengan air (pembilasan) <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    2. Penyiraman<\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Frekuensi penyiraman berdasarkan umur bibit\/umur hari setelah sebar (HSS):<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      0 \u2013 10 HSS\t\t:\t3x Sehari (fase kritis)<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      11 \u2013 21 HSS\t\t:\t2x Sehari <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      22 \u2013 35 HSS\t\t:\t1x Sehari <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      36 \u2013 45 \/ 50 HSS\t:\tPeriode stress air\/kering<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      1. Penjarangan & Hardening<\/strong>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        1. Penjarangan dilakukan agar jarak antara bibit ideal (4-5 cm) sehingga tidak<\/li><\/ol><\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          terserang hama & penyakit. Penjarangan dilakukan pada umur bibit 21-25 hari dengan cara: basahi bedengan sore hari sebelumnya dan pagi hari sebelum bibit dicabut, cabut bibit  yang akan ditanami dengan hati-hati, tanam bibit pada bedengan yang kerapatan bibitnya jarang, siram bibit sesegera mungkin setelah dipindah.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          1. Bibit dibiasakan untuk terkena sinar  matahari langsung. Tujuan hardening agar bibit dapat beradaptasi dan memperkuat jaringan daun, batang serta mengurangi resiko penyakit karena jamur. Pelaksanaan hardening mulai umur 21 HSS secara bertahap.Pada kondisi hujan tidak dianjurkan. <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          2. Klipping <\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            1. Dilakukan antara jam 08.00 sampai 11.00 (usahakan cuaca cerah) <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            2. Kliping dilakukan pada saat bibit pertumbuhannya terlalu lebat atau saling menutup batangnya. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            3. Kliping adalah kegiatan memotong sebagian atau 2\/3 daun bibit tembakau. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            4. Frekuensi kliping dilakukan bisa satu, dua kali atau lebih sesuai dengan perkembangan bibit dan persiapan lokasi areal tanam. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            5 Lima sampai tujuh hari menjelang transplanting, kegiatan kliping sebaiknya sudah selesai. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Tujuan klipping: menjaga lingkungan bibit agar tidak lembab, <\/strong>memperbesar batan,menyeragamkan ukuran benih, dan memperkuat pertumbuhan akar <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            1. Pencabutan Bibit, agar mendapatkan jarak tanam yang sesuai lahan <\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              \"\"\/<\/figure>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              \"\"\/<\/figure>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Dalam satu hamparan direkomendasikan selesai tanam maksimal 3 Hari. Umur  tanaman akan menjadi sama atau seragam. Performance tanaman juga akan menjadi  seragam. Kemasakan daun pada saat petik juga menjadi seragam. Memudahkan pada saat  proses panen dan pasca panen. Tembakau kering yang dihasilkan pun juga seragam.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              1. Pengendalian Hama & Penyakit<\/strong> <\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                ~ Pada awal penyebaran benih direkomendasikan untuk melakukan penyemprotan fusngisida (jamur), seperti Previcur, Redomil & Antracol <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                ~ Hama yang sering dijumpai: semut (Decis), janggel, orong-orong <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                1. Tahapan Perawatan<\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  \"\"\/<\/figure>\n ","post_title":"Sukses Bertani Tembakau Bersama Kemitraan Djarum di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sukses-bertani-tembakau-bersama-kemitraan-djarum-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-11 12:32:18","post_modified_gmt":"2019-02-11 05:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5433","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5425,"post_author":"922","post_date":"2019-02-10 09:07:33","post_date_gmt":"2019-02-10 02:07:33","post_content":" \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Bahwa cengkeh [1] (Syzygium aromaticum) --bersama pala (Myristica fragrans)-- adalah dua tanaman asli (endemik) Kepulauan Maluku, sudah tak terbantahkan. Cengkeh dikenal dan diakui berasal dari \u2018Empat Pulau Gunung Maluku\u2019 (Maloko Kie Raha): Ternate, Tidore, Moti, dan Makian.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Adapun pala, berasal dari empat pulau kecil lainnya di tengah Laut Banda: Lonthor, Neira, Rhun, dan Ai. Pada penjelasan peta abad-16 oleh penjelajah dari Semenanjung Iberia, Fransisco Rodriguez, tertulis: \u201cEstas quatro Ilhas Azures suam as de molluquo homde nace ho crauzo\u201d<\/em> (Adalah empat pulau berwarna biru [dalam peta] yang disebut sebagai Kepulauan Maluku di mana rempah-rempah berasal) (Pires, 1512- 1515:213).
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Sejak beberapa abad sebelum Masehi, adalah para saudagar Arab --melalui Samudera Hindia melintasi Iskandariyah dan Laut Tengah-- serta para pedagang Cina --melalui jalur \u2018Jalan Sutra\u2019 melintasi Asia Tengah dan Asia Barat-- yang membawa dan memperkenalkannya ke daratan Eropa. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Bandar-bandar besar Tyre di Yunani dan Venesia di Italia menjadi pelabuhan utama rempah-rempah Maluku memasuki kehidupan dan peradaban Eropa. Selain sebagai bumbu masakan, rempah obat, dan ramuan wewangian, cengkeh dan pala juga menjadi bahan utama pengawet bahan pangan. [2]
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Inilah yang membuat orang-orang Eropa untuk pertama kalinya dapat mengawetkan dan menimbun makanan selama bermusim-musim. Prosa indah Blair bersaudara menggambarkannya dengan sangat baik:
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  \u201cKemampuan menyimpan makanan lebih dari yang kami makan sekaligus berarti kemampuan menjual dan membelinya dalam jumlah besar --dan kota-kota dagang pun mekar. Perekonomian yang dihasilkannya mengarahkan kami ke zaman Pencerahan dan kemudian Revolusi Industri. Tak lama setelah kami menghirup aroma yang sangat kuat dari Timur itu dan mengubah kimiawi makanan kami, maka kami pun mampu melakukan lompatan besar dalam bidang budaya dan seni.\u201d (Blair & Blair, 2010; 30-31).<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Baca: Cengkeh dan Kelapa di Kepulauan Anambas<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Bukan hanya membuat perekonomian dan perdagangan serta ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang, cengkeh dan pala bahkan adalah faktor yang paling menentukan dalam kemunculan satu babakan paling mengenaskan dalam sejarah politik dunia, yakni zaman penjajahan (kolonialisme) Eropa, terutama atas-atas negeri- negeri Asia Selatan, Timur dan Tenggara, termasuk Indonesia.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Tergerak oleh sahwat menguasai rempah-rempah yang menggiurkan itu, bangsa-bangsa Eropa --terutama Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda-- pun menggelar ekspedisi-ekspedisi besar untuk menemukan cengkeh dan pala langsung di tanah asalnya. Ketika armada-armada mereka akhirnya mencapai perairan Kepulauan Maluku, pada abad-16, perang pun tak terhindarkan.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Mereka silih berganti saling mengalahkan, tetapi pemenang terakhir adalah Belanda. Melalui Perusahaan Dagang Hindia Timur (Vereenigde Oostindische Compagnie, VOC) yang dibentuk pada awal abad-17 (tepatnya tahun 1609), Belanda melancarkan ekspedisi Pelayaran Hongi (Hongie Tochten), untuk memusnahkan semua tanaman cengkeh di Ternate, Tidore, Moti, dan Makian, lalu membatasi ketat penanamnya hanya di Pulau-pulau Ambon dan Lease --yang lebih dekat ke Banda sebagai pusat pemerintahan mereka sebelum akhirnya dipindahkan ke Batavia.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Praktis, sejak akhir abad-16, Belanda pun menguasai penuh perdagangan rempah-rempah Maluku dengan jumlah produksi rerata 2.500 sampai 4.500 ton per tahun. [3]<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Baca: Budidaya Pohon Cengkeh<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Meskipun peran utama rempah-rempah Maluku itu kemudian tergusur pada abad-18 dan 19 oleh beberapa barang eksotika tropis lainnya --hasil perkebunan-perkebunana besar baru di Pulau Sumatera dan Jawa: tebu, tembakau, lada, kopi, teh, nila, kelapa sawit, dan kayu jati-- namun sejarah sudah mencatat bahwa dua jenis rempah-rempah Maluku itulah yang mengawali penjelajahan sekaligus penjajahan kepulauan Nusantara oleh bangsa-bangsa Eropah, terutama Belanda (Topatimasang, ed., 2004:32). Jika saja tak pernah ada cengkeh dan pala di Maluku, mungkin sejarah kepulauan Nusantara ini akan berbeda sama sekali.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Masa suram cengkeh dan pala terus berlangsung sampai pertengahan abad-20. Rempah eksotika yang pernah membuat tergila-gila<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  para saudagar Arab, pedagang Cina, serta kaum ningrat Eropa itu, tergantikan perannya oleh penemuan teknologi mesin pendingin berkat Revolusi Industri yang dimulai di Inggris pada pertengahan abad-18. Pasaran cengkeh di Eropa pun merosot tajam.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Nasibnya terselamatkan berkat penemuan oleh seorang Haji Djamhari di Kudus, Jawa Tengah. Pada akhir tahun 1880-an, Haji Djamhari menemukan kegunaan baru cengkeh sebagai ramuan utama rokok. Lahirlah satu produk baru yang unik, khas dan asli Indonesia: kretek! (Hanusz, 2000:ii).
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Setelah seperempat abad hanya berkembang dalam skala kecil usaha rumah tangga, produksi kretek akhirnya menjelma menjadi industri besar sejak awal abad-20 yang dirintis oleh Haji Nitisemito (pendiri pabrik \u2018Jambu Bol\u2019) di Kudus dan Liem Seng Tee (pendiri pabrik \u2018Dji Sam Soe\u2019 dan \u2018Sampoerna\u2019) di Surabaya.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Puncaknya adalah pada pertengahan tahun 1950-an, ketika produksi kretek mulai berkembang pesat menjadi industri raksasa modern dengan munculnya beberapa pabrik baru, antara lain, yang terkemuka, oleh Oei Wei Gwan (pendiri pabrik \u2018Djarum\u2019) di Kudus dan Tjou Ing Hwie (pendiri pabrik \u2018Gudang Garam\u2019) di Kediri (Topatimasang, et.al., eds., 2010:131).<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Baca: Teruslah Menanam Tembakau dan Cengkeh, Wahai Petani Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Cengkeh, bahan baku paling esensial dari kretek --selain tembakau, tentu saja-- pun kembali berjaya. Bahkan, sejak dasawarsa 1970an, telah menjadi salah satu penyumbang terbesar keuangan negara Republik Indonesia. Pada tahun 2012 dan 2013, pemasukan cukai dari industri kretek mencatat 95,5% dari seluruh pemasukan cukai ke kas negara. Nilainya tak tanggung-tanggung: Rp 87 triliun! (el-Guyanie, et.al.: 2013:4-5).<\/strong>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Nilai ekonomisnya yang sangat besar sempat menggoda penguasa otoriter rezim Presiden Soeharto, pada 1990-an, memberlakukan satu kebijakan \u2018Hongi Gaya Baru\u2019: monopoli perdagangan cengkeh dalam negeri melalui Badan Penyanggah dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) yang sangat merugikan petani. Harga cengkeh di tingkat petani penghasil anjlok sampai hanya Rp 2.000 - 3.000 per kilogram, lebih murah dari harga sebungkus kretek yang dihasilkan darinya.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Akibatnya, ratusan ribu pohon cengkeh di daerah-daerah penghasil utama --Maluku, Maluku Utara, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Selatan-- ditebangi atau dibiarkan terlantar tak terurus.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Gelombang reformasi sistem politik dan hukum nasional yang dimulai pada tahun 1998, akhirnya menjungkalkan rezim Soeharto dan BPPC dibubarkan, Pelan tapi pasti, harga cengkeh kembali merangkak naik, sehingga pada tahun 2012, bahkan melewati angka Rp 200.000 per kilogram. Para petani cengkeh di seluruh negeri kembali tersenyum. Tetapi, sampai kapan? <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Catatan:<\/strong><\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  [1] Beberapa sumber menyebutkan bahwa kata \u2018cengkeh\u2019 dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Mandarin, tkeng-his atau xi\u2019jia, yang berarti \u2018rempah [berbentuk mirip] paku\u2019 (scented nails). Ini menunjukkan bahwa cengkeh sudah dikenal sejak lama oleh bangsa Cina --diketahui sejak abad-2-- jauh sebelum orang Eropa mengenalnya ((lihat, misalnya: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  [2] Catatan-catatan para biarawan Fransiskan --yang disalin dan dikutip oleh van Frassen-- bahkan menyebut cengkeh sebagai salah satu bahan utama pengawet mumi para Fir\u2019aun, penguasa Mesir Kuno. Beberapa pakar sejarah dan arkeologi menyatakan bahwa rempah-rempah Maluku bahkan sudah ditemukan artefaknya di Lembah Mesopotomia (wilayah Iraq dan sekitarnya sekarang) pada 3.000 tahun sebelum Masehi. (lihat, antara lain: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  [3] Uraian lebih rinci sejarah kolonialisme rempah-rempah Nusantara ini, terutama oleh Belanda dan Portugis, dapat dibaca pada beberapa sumber kepustakaan yang sudah dikenal luas, antara lain: Glamann (1958) dan Boxer (1965 dan 1969). Dalam risalah klasik Pires disebutkan bahwa pada tahun 1512-1521 saja, jumlah produksi cengkeh di Maluku sudah mencapai 7.250 bahar per tahun, terbesar adalah di Makian serta Amboina dan Lease (masing-masing 1.500 bahar)(Pires, 1512-1515).<\/em>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem Topatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  <\/p>\n ","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-10 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-02-10 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5425","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5415,"post_author":"878","post_date":"2019-02-07 12:15:55","post_date_gmt":"2019-02-07 05:15:55","post_content":" \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Belakangan ini, ketika musim hujan tiba, di Kabupaten Temanggung, Kabupaten Jember, dan beberapa wilayah sentra pertanian tembakau lainnya, hampir mustahil menemukan tanaman tembakau tumbuh di lahan-lahan milik petani. Di wilayah-wilayah tersebut, citra sebagai sentra pertanian tembakau seakan menguap. Lahan-lahan yang ada di sana, sama sekali tidak ditumbuhi tanaman tembakau.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Kabar ini bisa jadi dianggap sebagai kabar gembira bagi mereka yang menganggap diri dan kelompoknya anti-rokok dan anti-tembakau yang selalu mengampanyekan sikap-sikap mereka terkait kebencian kepada tembakau dan aktivitas merokok. Setelah sekian lama berjuang, akhirnya perjuangan mereka dirasa berhasil usai menyaksikan fenomena lahan-lahan di wilayah yang dianggap sentra pertanian tembakau pada hari-hari belakangan ini.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Baca juga: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Tak sia-sia turun ke jalan, tak sia-sia melakukan lobi-lobi ke penguasa, tak sia-sia mengucurkan uang yang tidak sedikit, dan tak sia-sia mempermalukan diri dengan mengemis ke lembaga donor asing dan menggondol uang dari cukai tembakau untuk mengampanyekan gerakan anti-rokok dan anti-tembakau. Tak sia-sia. Karena perjuangan sepertinya berhasil.<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Kampanye-kampanye gerakan mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya, sepertinya juga sangat berhasil. Bagaimana tidak? Wilayah-wilayah yang sebelumnya penuh dengan tanaman tembakau dan bergeliat dengannya, kini lahan-lahannya sudah berganti dengan tanaman lain. Sebuah keberhasilan yang menggembirakan. Begitu mungkin pikir mereka para yang menganggap dirinya pejuang anti-rokok dan anti-tembakau. Dan tentu saja mereka akan kecele dan kita akan menertawakan hal itu.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Sayangnya, mereka yang menganggap dirinya anti-rokok dan anti-tembakau tidak menyaksikan langsung fenomena ini di lapangan, di lahan-lahan yang peruntukannya berubah pada hari-hari belakangan ini ketika memasuki musim hujan. Mereka asyik duduk pada kursi empuk di ruang-ruang nyaman ber-AC di kota-kota yang jauh dari kultur pertanian. Mereka menyengajakan diri menjadi elit dan enggan untuk turun melihat langsung ke lapangan. Kalaupun ada yang turun langsung ke lapangan, hanya segelintir saja dari mereka, itupun sekadar formalitas saja. Tak pernah benar-benar mau turun ke lapangan, hidup dan merasakan langsung kultur pertanian tembakau dalam jangka waktu cukup lama di lapangan.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Baca juga: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Fenomena ini membikin kita tak bisa melihat mereka para anti-rokok kecele lalu menertawakan mereka.<\/strong> Fenomena keengganan terjun langsung ke lapangan terlebih mencoba mendengar mereka yang tetap menanam tembakau, juga menjalani keseharian dalam waktu cukup lama bersama petani tembakau inilah yang saya kira menjadikan mereka tetap keras kepala untuk anti-rokok dan anti-tembakau. Karena jika mereka mau melakukan itu, saya yakin mereka semua tidak akan begitu kaku dalam memandang pertanian tembakau dan produk hasil industri tembakau.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Salah satu yang selalu mereka kampanyekan dan ngotot dengan itu, terkait hulu pertanian tembakau adalah mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya. Mereka berargumen banyak tanaman lain yang bisa semenguntungkan tanaman tembakau. Keengganan mereka terjun langsung ke lapangan inilah yang membikin mereka buta dengan kondisi pertanian tembakau dan pada akhirnya terus menerus mengampanyekan pergantian tanaman tembakau dengan tanaman lainnya.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Baca juga: Imanlah kepada Allah, Bukan Antirokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Tembakau tanaman yang khas. Ia hanya tumbuh baik sepanjang empat hingga lima bulan dalam satu tahun. Tumbuh-kembang tanaman tembakau dengan baik itu umumnya terjadi pada musim kemarau setiap tahunnya. Hanya sedikit sekali jenis tembakau yang tumbuh baik di musim penghujan, mayoritasnya, tumbuh baik pada musim kemarau.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Jika ditanam pada musim hujan, hampir bisa dipastikan tanaman tembakau akan gagal menghasilkan daun-daun yang berkualitas. Ia akan rusak dan membusuk karena terlalu banyak terkena air sehingga daun-daun itu tak layak dijual. Jangankan bisa dijual, untuk tumbuh dengan baik pun sepertinya sulit karena musim hujan akan membunuh banyak tanaman itu.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Maka, tak heran pada musim-musim seperti saat ini, ketika musim penghujan mendekati puncaknya, di wilayah-wilayah yang dikenal sebagai sentra pertanian tembakau, sulit menemukan pohon tembakau yang sedang tumbuh. Pada lahan-lahan yang sebelumnya ditumbuhi tanaman tembakau pada musim panas, berganti tanaman-tanaman lain yang bermacam-macam, sesuai dengan kondisi lahannya. Untuk lahan sawah, lahan-lahan itu pada musim penghujan kini ditumbuhi tanaman padi yang subur. Pada lahan tegalan dan lahan di pegunungan, lahan-lahan yang ditanami tembakau pada musim kemarau, saat ini ditumbuhi bermacam jenis tanaman mulai dari cabai, bawang, tomat, kol, terong, mentimun, dan ragam jenis tanaman semusim lainnya.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Uniknya, tipikal tanaman tembakau yang tumbuh baik di musim kemarau ini memberi pilihan lebih kepada para petani. Lahan-lahan yang sulit ditanami pada musim kemarau, pada akhirnya masih bisa tetap produktif dengan keberadaan tanaman tembakau. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Maka, kampanye aneh mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain dengan ragam rupa dalih yang membingungkan, bukan saja sama sekali tidak tepat dan asal-asalan, namun bisa jadi akan ditertawakan oleh para petani yang begitu paham dengan kondisi lahan dan terutama kondisi iklim dan cuaca. Sulit mencari tanaman semusim yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Jika pun ada, tak ada yang semenguntungkan tanaman tembakau.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  <\/p>\n ","post_title":"Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"keberhasilan-gerakan-anti-tembakau-tak-ada-tembakau-saat-musim-hujan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-07 12:16:02","post_modified_gmt":"2019-02-07 05:16:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5415","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5409,"post_author":"919","post_date":"2019-02-05 08:04:43","post_date_gmt":"2019-02-05 01:04:43","post_content":" \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Tahun Baru Imlek yang merupakan tradisi Bangsa Tiongkok kini sudah tak lagi menjadi hal yang asing bagi masyarakat Indonesia. Kehadirannya sudah mewarnai dan berakulturasi dengan tradisi lokal. Menjelang Tahun Baru Imlek. Berbagai hiasan dan kemeriahan terjadi beberapa titik di Tanah Air. Perayaannya juga menjadi destinasi baru yang mengasyikkan untuk dilihat dan patut disaksikan.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Berterimakasihlah kepada sang bapak bangsa, KH Abdurrahman Wahid atau yang dikenal dengan nama Gus Dur. Berkat kebijakannya saat menjadi Presiden Indonesia, Tahun Baru Imlek resmi dijadikan hari libur nasional dan dianggap sebagai salah satu hari raya di Tanah Air. Meski sentimen antitionghoa masih ada di sana-sini, tapi tetap tak bisa dipungkiri bahwa bangsa tionghoa sudah bersentuhan dengan budaya lokal dalam kurun waktu yang sangat panjang.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  DNA Bangsa Tionghoa yang memang merupakan pedagang menjadi pembuka kisah interaksi antara nenek moyang berbagai suku di Nusantara dengan mereka. Beberapa kelenteng-kelenteng yang tersebar pada berbagai pesisir daerah di Nusantara jadi buktinya. Pelabuhan-pelabuhan tua di tanah air dan ramainya perdagangan di pesisir mempermudah bangsa kita berhubungan dengan Bangsa Tionghoa.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Baca Juga: Wong Kalang dan Kota Gede<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa kehadiran Bangsa Tionghoa di Nusantara tak hanya sebagai pedagang, namun juga sebagai pekerja (bahkan hingga pekerja kasar). Benny Setiono, seorang sejarahwan menyebutkan bahwa antara tahun 1760-1770 dalam jumlah yang besar memasuki nusantara melalui Kalimantan Barat. Mereka bekerja sebagai kuli pertambangan di sana dan di kemudian hari membentuk sebuah republik bernama Republik Lanfang yang konon katanya menjadi republik pertama di Asia Tenggara.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Baca Juga: Imlek dan Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Baca Juga: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  <\/p>\n ","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_3o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          (Hitungan di atas sudah termasuk cadangan untuk sulaman) <\/p>\n \n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  e. Teknis sebar benih; apabila luas media tanam cukup, teknis sebar benih yang dianjurkan adalah dicampur dengan abu sekam. Apabila luas media tanam tidak mencukupi, maka teknis sebar benih yang dianjurkan adalah diaduk tanah.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  f. Cara memperoleh benih yang murni dan baik, harus mengetahui asal usul \/ sumber benih apakah dari BALITTAS, Dinas Pertanian  atau Seeding Center. Daya kecambah terukur sehingga dosis sebar bisa ditentukan. Bebas Hama dan Penyakit. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  2. Persiapan Lahan <\/strong><\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  1. Tanah digemburkan sehingga akar mudah berkembang <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  2. Menyediakan ruang untuk respirasi akar <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  3. Mematikan gulma dan penyakit dalam tanah <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  4. Tanah siap menjadi media tumbuh bagi tanaman <\/li><\/ol>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    \"\"\/<\/figure>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    \"\"\/<\/figure>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Sempurna<\/strong> <\/strong>tidak sempurna<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    3. Persiapan Media Tanam<\/strong><\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    1. Tanah yang digunakan adalah tanah dan pupuk kandang yang sudah matang <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    2. Tanah berasal dari tanah steril (sudah dikeringkan dan bukan dari tanah bekas tanaman yang terserang penyakit)<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    3. Media tanah dicangkul ringan di para-para minimal 2x <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    4. Sebar Benih; <\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Setelah bibit dan lahan siap, kemudian sebarkan benih dengan ditutup memakai jerami <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      1. Pemupukan <\/strong><\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      2. Pemupukan pertama<\/li><\/ol>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        \"\"\/<\/figure>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        1. Pemupukan kedua, dilakukan apabila pertumbuhan bibit kurang baik (21 HSS). Pupuk yang digunakan adalaj KNO3 <\/sub>(30 \u2013 50 gram per bedeng dengan ukuran 1x5 m) dicampur dengan air \u00b110 liter, selanjutnya bedengan disiram kembali dengan air (pembilasan) <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        2. Penyiraman<\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Frekuensi penyiraman berdasarkan umur bibit\/umur hari setelah sebar (HSS):<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          0 \u2013 10 HSS\t\t:\t3x Sehari (fase kritis)<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          11 \u2013 21 HSS\t\t:\t2x Sehari <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          22 \u2013 35 HSS\t\t:\t1x Sehari <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          36 \u2013 45 \/ 50 HSS\t:\tPeriode stress air\/kering<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          1. Penjarangan & Hardening<\/strong>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            1. Penjarangan dilakukan agar jarak antara bibit ideal (4-5 cm) sehingga tidak<\/li><\/ol><\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              terserang hama & penyakit. Penjarangan dilakukan pada umur bibit 21-25 hari dengan cara: basahi bedengan sore hari sebelumnya dan pagi hari sebelum bibit dicabut, cabut bibit  yang akan ditanami dengan hati-hati, tanam bibit pada bedengan yang kerapatan bibitnya jarang, siram bibit sesegera mungkin setelah dipindah.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              1. Bibit dibiasakan untuk terkena sinar  matahari langsung. Tujuan hardening agar bibit dapat beradaptasi dan memperkuat jaringan daun, batang serta mengurangi resiko penyakit karena jamur. Pelaksanaan hardening mulai umur 21 HSS secara bertahap.Pada kondisi hujan tidak dianjurkan. <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              2. Klipping <\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                1. Dilakukan antara jam 08.00 sampai 11.00 (usahakan cuaca cerah) <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                2. Kliping dilakukan pada saat bibit pertumbuhannya terlalu lebat atau saling menutup batangnya. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                3. Kliping adalah kegiatan memotong sebagian atau 2\/3 daun bibit tembakau. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                4. Frekuensi kliping dilakukan bisa satu, dua kali atau lebih sesuai dengan perkembangan bibit dan persiapan lokasi areal tanam. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                5 Lima sampai tujuh hari menjelang transplanting, kegiatan kliping sebaiknya sudah selesai. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Tujuan klipping: menjaga lingkungan bibit agar tidak lembab, <\/strong>memperbesar batan,menyeragamkan ukuran benih, dan memperkuat pertumbuhan akar <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                1. Pencabutan Bibit, agar mendapatkan jarak tanam yang sesuai lahan <\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  \"\"\/<\/figure>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  \"\"\/<\/figure>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Dalam satu hamparan direkomendasikan selesai tanam maksimal 3 Hari. Umur  tanaman akan menjadi sama atau seragam. Performance tanaman juga akan menjadi  seragam. Kemasakan daun pada saat petik juga menjadi seragam. Memudahkan pada saat  proses panen dan pasca panen. Tembakau kering yang dihasilkan pun juga seragam.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  1. Pengendalian Hama & Penyakit<\/strong> <\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    ~ Pada awal penyebaran benih direkomendasikan untuk melakukan penyemprotan fusngisida (jamur), seperti Previcur, Redomil & Antracol <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    ~ Hama yang sering dijumpai: semut (Decis), janggel, orong-orong <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    1. Tahapan Perawatan<\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      \"\"\/<\/figure>\n ","post_title":"Sukses Bertani Tembakau Bersama Kemitraan Djarum di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sukses-bertani-tembakau-bersama-kemitraan-djarum-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-11 12:32:18","post_modified_gmt":"2019-02-11 05:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5433","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5425,"post_author":"922","post_date":"2019-02-10 09:07:33","post_date_gmt":"2019-02-10 02:07:33","post_content":" \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Bahwa cengkeh [1] (Syzygium aromaticum) --bersama pala (Myristica fragrans)-- adalah dua tanaman asli (endemik) Kepulauan Maluku, sudah tak terbantahkan. Cengkeh dikenal dan diakui berasal dari \u2018Empat Pulau Gunung Maluku\u2019 (Maloko Kie Raha): Ternate, Tidore, Moti, dan Makian.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Adapun pala, berasal dari empat pulau kecil lainnya di tengah Laut Banda: Lonthor, Neira, Rhun, dan Ai. Pada penjelasan peta abad-16 oleh penjelajah dari Semenanjung Iberia, Fransisco Rodriguez, tertulis: \u201cEstas quatro Ilhas Azures suam as de molluquo homde nace ho crauzo\u201d<\/em> (Adalah empat pulau berwarna biru [dalam peta] yang disebut sebagai Kepulauan Maluku di mana rempah-rempah berasal) (Pires, 1512- 1515:213).
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Sejak beberapa abad sebelum Masehi, adalah para saudagar Arab --melalui Samudera Hindia melintasi Iskandariyah dan Laut Tengah-- serta para pedagang Cina --melalui jalur \u2018Jalan Sutra\u2019 melintasi Asia Tengah dan Asia Barat-- yang membawa dan memperkenalkannya ke daratan Eropa. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Bandar-bandar besar Tyre di Yunani dan Venesia di Italia menjadi pelabuhan utama rempah-rempah Maluku memasuki kehidupan dan peradaban Eropa. Selain sebagai bumbu masakan, rempah obat, dan ramuan wewangian, cengkeh dan pala juga menjadi bahan utama pengawet bahan pangan. [2]
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Inilah yang membuat orang-orang Eropa untuk pertama kalinya dapat mengawetkan dan menimbun makanan selama bermusim-musim. Prosa indah Blair bersaudara menggambarkannya dengan sangat baik:
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      \u201cKemampuan menyimpan makanan lebih dari yang kami makan sekaligus berarti kemampuan menjual dan membelinya dalam jumlah besar --dan kota-kota dagang pun mekar. Perekonomian yang dihasilkannya mengarahkan kami ke zaman Pencerahan dan kemudian Revolusi Industri. Tak lama setelah kami menghirup aroma yang sangat kuat dari Timur itu dan mengubah kimiawi makanan kami, maka kami pun mampu melakukan lompatan besar dalam bidang budaya dan seni.\u201d (Blair & Blair, 2010; 30-31).<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Baca: Cengkeh dan Kelapa di Kepulauan Anambas<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Bukan hanya membuat perekonomian dan perdagangan serta ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang, cengkeh dan pala bahkan adalah faktor yang paling menentukan dalam kemunculan satu babakan paling mengenaskan dalam sejarah politik dunia, yakni zaman penjajahan (kolonialisme) Eropa, terutama atas-atas negeri- negeri Asia Selatan, Timur dan Tenggara, termasuk Indonesia.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Tergerak oleh sahwat menguasai rempah-rempah yang menggiurkan itu, bangsa-bangsa Eropa --terutama Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda-- pun menggelar ekspedisi-ekspedisi besar untuk menemukan cengkeh dan pala langsung di tanah asalnya. Ketika armada-armada mereka akhirnya mencapai perairan Kepulauan Maluku, pada abad-16, perang pun tak terhindarkan.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Mereka silih berganti saling mengalahkan, tetapi pemenang terakhir adalah Belanda. Melalui Perusahaan Dagang Hindia Timur (Vereenigde Oostindische Compagnie, VOC) yang dibentuk pada awal abad-17 (tepatnya tahun 1609), Belanda melancarkan ekspedisi Pelayaran Hongi (Hongie Tochten), untuk memusnahkan semua tanaman cengkeh di Ternate, Tidore, Moti, dan Makian, lalu membatasi ketat penanamnya hanya di Pulau-pulau Ambon dan Lease --yang lebih dekat ke Banda sebagai pusat pemerintahan mereka sebelum akhirnya dipindahkan ke Batavia.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Praktis, sejak akhir abad-16, Belanda pun menguasai penuh perdagangan rempah-rempah Maluku dengan jumlah produksi rerata 2.500 sampai 4.500 ton per tahun. [3]<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Baca: Budidaya Pohon Cengkeh<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Meskipun peran utama rempah-rempah Maluku itu kemudian tergusur pada abad-18 dan 19 oleh beberapa barang eksotika tropis lainnya --hasil perkebunan-perkebunana besar baru di Pulau Sumatera dan Jawa: tebu, tembakau, lada, kopi, teh, nila, kelapa sawit, dan kayu jati-- namun sejarah sudah mencatat bahwa dua jenis rempah-rempah Maluku itulah yang mengawali penjelajahan sekaligus penjajahan kepulauan Nusantara oleh bangsa-bangsa Eropah, terutama Belanda (Topatimasang, ed., 2004:32). Jika saja tak pernah ada cengkeh dan pala di Maluku, mungkin sejarah kepulauan Nusantara ini akan berbeda sama sekali.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Masa suram cengkeh dan pala terus berlangsung sampai pertengahan abad-20. Rempah eksotika yang pernah membuat tergila-gila<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      para saudagar Arab, pedagang Cina, serta kaum ningrat Eropa itu, tergantikan perannya oleh penemuan teknologi mesin pendingin berkat Revolusi Industri yang dimulai di Inggris pada pertengahan abad-18. Pasaran cengkeh di Eropa pun merosot tajam.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Nasibnya terselamatkan berkat penemuan oleh seorang Haji Djamhari di Kudus, Jawa Tengah. Pada akhir tahun 1880-an, Haji Djamhari menemukan kegunaan baru cengkeh sebagai ramuan utama rokok. Lahirlah satu produk baru yang unik, khas dan asli Indonesia: kretek! (Hanusz, 2000:ii).
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Setelah seperempat abad hanya berkembang dalam skala kecil usaha rumah tangga, produksi kretek akhirnya menjelma menjadi industri besar sejak awal abad-20 yang dirintis oleh Haji Nitisemito (pendiri pabrik \u2018Jambu Bol\u2019) di Kudus dan Liem Seng Tee (pendiri pabrik \u2018Dji Sam Soe\u2019 dan \u2018Sampoerna\u2019) di Surabaya.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Puncaknya adalah pada pertengahan tahun 1950-an, ketika produksi kretek mulai berkembang pesat menjadi industri raksasa modern dengan munculnya beberapa pabrik baru, antara lain, yang terkemuka, oleh Oei Wei Gwan (pendiri pabrik \u2018Djarum\u2019) di Kudus dan Tjou Ing Hwie (pendiri pabrik \u2018Gudang Garam\u2019) di Kediri (Topatimasang, et.al., eds., 2010:131).<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Baca: Teruslah Menanam Tembakau dan Cengkeh, Wahai Petani Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Cengkeh, bahan baku paling esensial dari kretek --selain tembakau, tentu saja-- pun kembali berjaya. Bahkan, sejak dasawarsa 1970an, telah menjadi salah satu penyumbang terbesar keuangan negara Republik Indonesia. Pada tahun 2012 dan 2013, pemasukan cukai dari industri kretek mencatat 95,5% dari seluruh pemasukan cukai ke kas negara. Nilainya tak tanggung-tanggung: Rp 87 triliun! (el-Guyanie, et.al.: 2013:4-5).<\/strong>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Nilai ekonomisnya yang sangat besar sempat menggoda penguasa otoriter rezim Presiden Soeharto, pada 1990-an, memberlakukan satu kebijakan \u2018Hongi Gaya Baru\u2019: monopoli perdagangan cengkeh dalam negeri melalui Badan Penyanggah dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) yang sangat merugikan petani. Harga cengkeh di tingkat petani penghasil anjlok sampai hanya Rp 2.000 - 3.000 per kilogram, lebih murah dari harga sebungkus kretek yang dihasilkan darinya.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Akibatnya, ratusan ribu pohon cengkeh di daerah-daerah penghasil utama --Maluku, Maluku Utara, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Selatan-- ditebangi atau dibiarkan terlantar tak terurus.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Gelombang reformasi sistem politik dan hukum nasional yang dimulai pada tahun 1998, akhirnya menjungkalkan rezim Soeharto dan BPPC dibubarkan, Pelan tapi pasti, harga cengkeh kembali merangkak naik, sehingga pada tahun 2012, bahkan melewati angka Rp 200.000 per kilogram. Para petani cengkeh di seluruh negeri kembali tersenyum. Tetapi, sampai kapan? <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Catatan:<\/strong><\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      [1] Beberapa sumber menyebutkan bahwa kata \u2018cengkeh\u2019 dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Mandarin, tkeng-his atau xi\u2019jia, yang berarti \u2018rempah [berbentuk mirip] paku\u2019 (scented nails). Ini menunjukkan bahwa cengkeh sudah dikenal sejak lama oleh bangsa Cina --diketahui sejak abad-2-- jauh sebelum orang Eropa mengenalnya ((lihat, misalnya: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      [2] Catatan-catatan para biarawan Fransiskan --yang disalin dan dikutip oleh van Frassen-- bahkan menyebut cengkeh sebagai salah satu bahan utama pengawet mumi para Fir\u2019aun, penguasa Mesir Kuno. Beberapa pakar sejarah dan arkeologi menyatakan bahwa rempah-rempah Maluku bahkan sudah ditemukan artefaknya di Lembah Mesopotomia (wilayah Iraq dan sekitarnya sekarang) pada 3.000 tahun sebelum Masehi. (lihat, antara lain: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      [3] Uraian lebih rinci sejarah kolonialisme rempah-rempah Nusantara ini, terutama oleh Belanda dan Portugis, dapat dibaca pada beberapa sumber kepustakaan yang sudah dikenal luas, antara lain: Glamann (1958) dan Boxer (1965 dan 1969). Dalam risalah klasik Pires disebutkan bahwa pada tahun 1512-1521 saja, jumlah produksi cengkeh di Maluku sudah mencapai 7.250 bahar per tahun, terbesar adalah di Makian serta Amboina dan Lease (masing-masing 1.500 bahar)(Pires, 1512-1515).<\/em>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem Topatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n ","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-10 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-02-10 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5425","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5415,"post_author":"878","post_date":"2019-02-07 12:15:55","post_date_gmt":"2019-02-07 05:15:55","post_content":" \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Belakangan ini, ketika musim hujan tiba, di Kabupaten Temanggung, Kabupaten Jember, dan beberapa wilayah sentra pertanian tembakau lainnya, hampir mustahil menemukan tanaman tembakau tumbuh di lahan-lahan milik petani. Di wilayah-wilayah tersebut, citra sebagai sentra pertanian tembakau seakan menguap. Lahan-lahan yang ada di sana, sama sekali tidak ditumbuhi tanaman tembakau.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Kabar ini bisa jadi dianggap sebagai kabar gembira bagi mereka yang menganggap diri dan kelompoknya anti-rokok dan anti-tembakau yang selalu mengampanyekan sikap-sikap mereka terkait kebencian kepada tembakau dan aktivitas merokok. Setelah sekian lama berjuang, akhirnya perjuangan mereka dirasa berhasil usai menyaksikan fenomena lahan-lahan di wilayah yang dianggap sentra pertanian tembakau pada hari-hari belakangan ini.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Baca juga: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Tak sia-sia turun ke jalan, tak sia-sia melakukan lobi-lobi ke penguasa, tak sia-sia mengucurkan uang yang tidak sedikit, dan tak sia-sia mempermalukan diri dengan mengemis ke lembaga donor asing dan menggondol uang dari cukai tembakau untuk mengampanyekan gerakan anti-rokok dan anti-tembakau. Tak sia-sia. Karena perjuangan sepertinya berhasil.<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Kampanye-kampanye gerakan mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya, sepertinya juga sangat berhasil. Bagaimana tidak? Wilayah-wilayah yang sebelumnya penuh dengan tanaman tembakau dan bergeliat dengannya, kini lahan-lahannya sudah berganti dengan tanaman lain. Sebuah keberhasilan yang menggembirakan. Begitu mungkin pikir mereka para yang menganggap dirinya pejuang anti-rokok dan anti-tembakau. Dan tentu saja mereka akan kecele dan kita akan menertawakan hal itu.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Sayangnya, mereka yang menganggap dirinya anti-rokok dan anti-tembakau tidak menyaksikan langsung fenomena ini di lapangan, di lahan-lahan yang peruntukannya berubah pada hari-hari belakangan ini ketika memasuki musim hujan. Mereka asyik duduk pada kursi empuk di ruang-ruang nyaman ber-AC di kota-kota yang jauh dari kultur pertanian. Mereka menyengajakan diri menjadi elit dan enggan untuk turun melihat langsung ke lapangan. Kalaupun ada yang turun langsung ke lapangan, hanya segelintir saja dari mereka, itupun sekadar formalitas saja. Tak pernah benar-benar mau turun ke lapangan, hidup dan merasakan langsung kultur pertanian tembakau dalam jangka waktu cukup lama di lapangan.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Baca juga: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Fenomena ini membikin kita tak bisa melihat mereka para anti-rokok kecele lalu menertawakan mereka.<\/strong> Fenomena keengganan terjun langsung ke lapangan terlebih mencoba mendengar mereka yang tetap menanam tembakau, juga menjalani keseharian dalam waktu cukup lama bersama petani tembakau inilah yang saya kira menjadikan mereka tetap keras kepala untuk anti-rokok dan anti-tembakau. Karena jika mereka mau melakukan itu, saya yakin mereka semua tidak akan begitu kaku dalam memandang pertanian tembakau dan produk hasil industri tembakau.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Salah satu yang selalu mereka kampanyekan dan ngotot dengan itu, terkait hulu pertanian tembakau adalah mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya. Mereka berargumen banyak tanaman lain yang bisa semenguntungkan tanaman tembakau. Keengganan mereka terjun langsung ke lapangan inilah yang membikin mereka buta dengan kondisi pertanian tembakau dan pada akhirnya terus menerus mengampanyekan pergantian tanaman tembakau dengan tanaman lainnya.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Baca juga: Imanlah kepada Allah, Bukan Antirokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Tembakau tanaman yang khas. Ia hanya tumbuh baik sepanjang empat hingga lima bulan dalam satu tahun. Tumbuh-kembang tanaman tembakau dengan baik itu umumnya terjadi pada musim kemarau setiap tahunnya. Hanya sedikit sekali jenis tembakau yang tumbuh baik di musim penghujan, mayoritasnya, tumbuh baik pada musim kemarau.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Jika ditanam pada musim hujan, hampir bisa dipastikan tanaman tembakau akan gagal menghasilkan daun-daun yang berkualitas. Ia akan rusak dan membusuk karena terlalu banyak terkena air sehingga daun-daun itu tak layak dijual. Jangankan bisa dijual, untuk tumbuh dengan baik pun sepertinya sulit karena musim hujan akan membunuh banyak tanaman itu.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Maka, tak heran pada musim-musim seperti saat ini, ketika musim penghujan mendekati puncaknya, di wilayah-wilayah yang dikenal sebagai sentra pertanian tembakau, sulit menemukan pohon tembakau yang sedang tumbuh. Pada lahan-lahan yang sebelumnya ditumbuhi tanaman tembakau pada musim panas, berganti tanaman-tanaman lain yang bermacam-macam, sesuai dengan kondisi lahannya. Untuk lahan sawah, lahan-lahan itu pada musim penghujan kini ditumbuhi tanaman padi yang subur. Pada lahan tegalan dan lahan di pegunungan, lahan-lahan yang ditanami tembakau pada musim kemarau, saat ini ditumbuhi bermacam jenis tanaman mulai dari cabai, bawang, tomat, kol, terong, mentimun, dan ragam jenis tanaman semusim lainnya.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Uniknya, tipikal tanaman tembakau yang tumbuh baik di musim kemarau ini memberi pilihan lebih kepada para petani. Lahan-lahan yang sulit ditanami pada musim kemarau, pada akhirnya masih bisa tetap produktif dengan keberadaan tanaman tembakau. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Maka, kampanye aneh mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain dengan ragam rupa dalih yang membingungkan, bukan saja sama sekali tidak tepat dan asal-asalan, namun bisa jadi akan ditertawakan oleh para petani yang begitu paham dengan kondisi lahan dan terutama kondisi iklim dan cuaca. Sulit mencari tanaman semusim yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Jika pun ada, tak ada yang semenguntungkan tanaman tembakau.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n ","post_title":"Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"keberhasilan-gerakan-anti-tembakau-tak-ada-tembakau-saat-musim-hujan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-07 12:16:02","post_modified_gmt":"2019-02-07 05:16:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5415","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5409,"post_author":"919","post_date":"2019-02-05 08:04:43","post_date_gmt":"2019-02-05 01:04:43","post_content":" \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Tahun Baru Imlek yang merupakan tradisi Bangsa Tiongkok kini sudah tak lagi menjadi hal yang asing bagi masyarakat Indonesia. Kehadirannya sudah mewarnai dan berakulturasi dengan tradisi lokal. Menjelang Tahun Baru Imlek. Berbagai hiasan dan kemeriahan terjadi beberapa titik di Tanah Air. Perayaannya juga menjadi destinasi baru yang mengasyikkan untuk dilihat dan patut disaksikan.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Berterimakasihlah kepada sang bapak bangsa, KH Abdurrahman Wahid atau yang dikenal dengan nama Gus Dur. Berkat kebijakannya saat menjadi Presiden Indonesia, Tahun Baru Imlek resmi dijadikan hari libur nasional dan dianggap sebagai salah satu hari raya di Tanah Air. Meski sentimen antitionghoa masih ada di sana-sini, tapi tetap tak bisa dipungkiri bahwa bangsa tionghoa sudah bersentuhan dengan budaya lokal dalam kurun waktu yang sangat panjang.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      DNA Bangsa Tionghoa yang memang merupakan pedagang menjadi pembuka kisah interaksi antara nenek moyang berbagai suku di Nusantara dengan mereka. Beberapa kelenteng-kelenteng yang tersebar pada berbagai pesisir daerah di Nusantara jadi buktinya. Pelabuhan-pelabuhan tua di tanah air dan ramainya perdagangan di pesisir mempermudah bangsa kita berhubungan dengan Bangsa Tionghoa.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Baca Juga: Wong Kalang dan Kota Gede<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa kehadiran Bangsa Tionghoa di Nusantara tak hanya sebagai pedagang, namun juga sebagai pekerja (bahkan hingga pekerja kasar). Benny Setiono, seorang sejarahwan menyebutkan bahwa antara tahun 1760-1770 dalam jumlah yang besar memasuki nusantara melalui Kalimantan Barat. Mereka bekerja sebagai kuli pertambangan di sana dan di kemudian hari membentuk sebuah republik bernama Republik Lanfang yang konon katanya menjadi republik pertama di Asia Tenggara.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Baca Juga: Imlek dan Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Baca Juga: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n ","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_3o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      d. Bibit yang tumbuh \t\t\t\t= 37.500 tanaman <\/p>\n \n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              (Hitungan di atas sudah termasuk cadangan untuk sulaman) <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      e. Teknis sebar benih; apabila luas media tanam cukup, teknis sebar benih yang dianjurkan adalah dicampur dengan abu sekam. Apabila luas media tanam tidak mencukupi, maka teknis sebar benih yang dianjurkan adalah diaduk tanah.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      f. Cara memperoleh benih yang murni dan baik, harus mengetahui asal usul \/ sumber benih apakah dari BALITTAS, Dinas Pertanian  atau Seeding Center. Daya kecambah terukur sehingga dosis sebar bisa ditentukan. Bebas Hama dan Penyakit. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      2. Persiapan Lahan <\/strong><\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      1. Tanah digemburkan sehingga akar mudah berkembang <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      2. Menyediakan ruang untuk respirasi akar <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      3. Mematikan gulma dan penyakit dalam tanah <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      4. Tanah siap menjadi media tumbuh bagi tanaman <\/li><\/ol>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        \"\"\/<\/figure>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        \"\"\/<\/figure>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Sempurna<\/strong> <\/strong>tidak sempurna<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        3. Persiapan Media Tanam<\/strong><\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        1. Tanah yang digunakan adalah tanah dan pupuk kandang yang sudah matang <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        2. Tanah berasal dari tanah steril (sudah dikeringkan dan bukan dari tanah bekas tanaman yang terserang penyakit)<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        3. Media tanah dicangkul ringan di para-para minimal 2x <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        4. Sebar Benih; <\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Setelah bibit dan lahan siap, kemudian sebarkan benih dengan ditutup memakai jerami <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          1. Pemupukan <\/strong><\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          2. Pemupukan pertama<\/li><\/ol>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            \"\"\/<\/figure>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            1. Pemupukan kedua, dilakukan apabila pertumbuhan bibit kurang baik (21 HSS). Pupuk yang digunakan adalaj KNO3 <\/sub>(30 \u2013 50 gram per bedeng dengan ukuran 1x5 m) dicampur dengan air \u00b110 liter, selanjutnya bedengan disiram kembali dengan air (pembilasan) <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            2. Penyiraman<\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Frekuensi penyiraman berdasarkan umur bibit\/umur hari setelah sebar (HSS):<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              0 \u2013 10 HSS\t\t:\t3x Sehari (fase kritis)<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              11 \u2013 21 HSS\t\t:\t2x Sehari <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              22 \u2013 35 HSS\t\t:\t1x Sehari <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              36 \u2013 45 \/ 50 HSS\t:\tPeriode stress air\/kering<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              1. Penjarangan & Hardening<\/strong>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                1. Penjarangan dilakukan agar jarak antara bibit ideal (4-5 cm) sehingga tidak<\/li><\/ol><\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  terserang hama & penyakit. Penjarangan dilakukan pada umur bibit 21-25 hari dengan cara: basahi bedengan sore hari sebelumnya dan pagi hari sebelum bibit dicabut, cabut bibit  yang akan ditanami dengan hati-hati, tanam bibit pada bedengan yang kerapatan bibitnya jarang, siram bibit sesegera mungkin setelah dipindah.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  1. Bibit dibiasakan untuk terkena sinar  matahari langsung. Tujuan hardening agar bibit dapat beradaptasi dan memperkuat jaringan daun, batang serta mengurangi resiko penyakit karena jamur. Pelaksanaan hardening mulai umur 21 HSS secara bertahap.Pada kondisi hujan tidak dianjurkan. <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  2. Klipping <\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    1. Dilakukan antara jam 08.00 sampai 11.00 (usahakan cuaca cerah) <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    2. Kliping dilakukan pada saat bibit pertumbuhannya terlalu lebat atau saling menutup batangnya. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    3. Kliping adalah kegiatan memotong sebagian atau 2\/3 daun bibit tembakau. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    4. Frekuensi kliping dilakukan bisa satu, dua kali atau lebih sesuai dengan perkembangan bibit dan persiapan lokasi areal tanam. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    5 Lima sampai tujuh hari menjelang transplanting, kegiatan kliping sebaiknya sudah selesai. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Tujuan klipping: menjaga lingkungan bibit agar tidak lembab, <\/strong>memperbesar batan,menyeragamkan ukuran benih, dan memperkuat pertumbuhan akar <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    1. Pencabutan Bibit, agar mendapatkan jarak tanam yang sesuai lahan <\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      \"\"\/<\/figure>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      \"\"\/<\/figure>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Dalam satu hamparan direkomendasikan selesai tanam maksimal 3 Hari. Umur  tanaman akan menjadi sama atau seragam. Performance tanaman juga akan menjadi  seragam. Kemasakan daun pada saat petik juga menjadi seragam. Memudahkan pada saat  proses panen dan pasca panen. Tembakau kering yang dihasilkan pun juga seragam.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      1. Pengendalian Hama & Penyakit<\/strong> <\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        ~ Pada awal penyebaran benih direkomendasikan untuk melakukan penyemprotan fusngisida (jamur), seperti Previcur, Redomil & Antracol <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        ~ Hama yang sering dijumpai: semut (Decis), janggel, orong-orong <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        1. Tahapan Perawatan<\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          \"\"\/<\/figure>\n ","post_title":"Sukses Bertani Tembakau Bersama Kemitraan Djarum di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sukses-bertani-tembakau-bersama-kemitraan-djarum-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-11 12:32:18","post_modified_gmt":"2019-02-11 05:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5433","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5425,"post_author":"922","post_date":"2019-02-10 09:07:33","post_date_gmt":"2019-02-10 02:07:33","post_content":" \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Bahwa cengkeh [1] (Syzygium aromaticum) --bersama pala (Myristica fragrans)-- adalah dua tanaman asli (endemik) Kepulauan Maluku, sudah tak terbantahkan. Cengkeh dikenal dan diakui berasal dari \u2018Empat Pulau Gunung Maluku\u2019 (Maloko Kie Raha): Ternate, Tidore, Moti, dan Makian.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Adapun pala, berasal dari empat pulau kecil lainnya di tengah Laut Banda: Lonthor, Neira, Rhun, dan Ai. Pada penjelasan peta abad-16 oleh penjelajah dari Semenanjung Iberia, Fransisco Rodriguez, tertulis: \u201cEstas quatro Ilhas Azures suam as de molluquo homde nace ho crauzo\u201d<\/em> (Adalah empat pulau berwarna biru [dalam peta] yang disebut sebagai Kepulauan Maluku di mana rempah-rempah berasal) (Pires, 1512- 1515:213).
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Sejak beberapa abad sebelum Masehi, adalah para saudagar Arab --melalui Samudera Hindia melintasi Iskandariyah dan Laut Tengah-- serta para pedagang Cina --melalui jalur \u2018Jalan Sutra\u2019 melintasi Asia Tengah dan Asia Barat-- yang membawa dan memperkenalkannya ke daratan Eropa. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Bandar-bandar besar Tyre di Yunani dan Venesia di Italia menjadi pelabuhan utama rempah-rempah Maluku memasuki kehidupan dan peradaban Eropa. Selain sebagai bumbu masakan, rempah obat, dan ramuan wewangian, cengkeh dan pala juga menjadi bahan utama pengawet bahan pangan. [2]
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Inilah yang membuat orang-orang Eropa untuk pertama kalinya dapat mengawetkan dan menimbun makanan selama bermusim-musim. Prosa indah Blair bersaudara menggambarkannya dengan sangat baik:
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          \u201cKemampuan menyimpan makanan lebih dari yang kami makan sekaligus berarti kemampuan menjual dan membelinya dalam jumlah besar --dan kota-kota dagang pun mekar. Perekonomian yang dihasilkannya mengarahkan kami ke zaman Pencerahan dan kemudian Revolusi Industri. Tak lama setelah kami menghirup aroma yang sangat kuat dari Timur itu dan mengubah kimiawi makanan kami, maka kami pun mampu melakukan lompatan besar dalam bidang budaya dan seni.\u201d (Blair & Blair, 2010; 30-31).<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Baca: Cengkeh dan Kelapa di Kepulauan Anambas<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Bukan hanya membuat perekonomian dan perdagangan serta ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang, cengkeh dan pala bahkan adalah faktor yang paling menentukan dalam kemunculan satu babakan paling mengenaskan dalam sejarah politik dunia, yakni zaman penjajahan (kolonialisme) Eropa, terutama atas-atas negeri- negeri Asia Selatan, Timur dan Tenggara, termasuk Indonesia.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Tergerak oleh sahwat menguasai rempah-rempah yang menggiurkan itu, bangsa-bangsa Eropa --terutama Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda-- pun menggelar ekspedisi-ekspedisi besar untuk menemukan cengkeh dan pala langsung di tanah asalnya. Ketika armada-armada mereka akhirnya mencapai perairan Kepulauan Maluku, pada abad-16, perang pun tak terhindarkan.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Mereka silih berganti saling mengalahkan, tetapi pemenang terakhir adalah Belanda. Melalui Perusahaan Dagang Hindia Timur (Vereenigde Oostindische Compagnie, VOC) yang dibentuk pada awal abad-17 (tepatnya tahun 1609), Belanda melancarkan ekspedisi Pelayaran Hongi (Hongie Tochten), untuk memusnahkan semua tanaman cengkeh di Ternate, Tidore, Moti, dan Makian, lalu membatasi ketat penanamnya hanya di Pulau-pulau Ambon dan Lease --yang lebih dekat ke Banda sebagai pusat pemerintahan mereka sebelum akhirnya dipindahkan ke Batavia.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Praktis, sejak akhir abad-16, Belanda pun menguasai penuh perdagangan rempah-rempah Maluku dengan jumlah produksi rerata 2.500 sampai 4.500 ton per tahun. [3]<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Baca: Budidaya Pohon Cengkeh<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Meskipun peran utama rempah-rempah Maluku itu kemudian tergusur pada abad-18 dan 19 oleh beberapa barang eksotika tropis lainnya --hasil perkebunan-perkebunana besar baru di Pulau Sumatera dan Jawa: tebu, tembakau, lada, kopi, teh, nila, kelapa sawit, dan kayu jati-- namun sejarah sudah mencatat bahwa dua jenis rempah-rempah Maluku itulah yang mengawali penjelajahan sekaligus penjajahan kepulauan Nusantara oleh bangsa-bangsa Eropah, terutama Belanda (Topatimasang, ed., 2004:32). Jika saja tak pernah ada cengkeh dan pala di Maluku, mungkin sejarah kepulauan Nusantara ini akan berbeda sama sekali.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Masa suram cengkeh dan pala terus berlangsung sampai pertengahan abad-20. Rempah eksotika yang pernah membuat tergila-gila<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          para saudagar Arab, pedagang Cina, serta kaum ningrat Eropa itu, tergantikan perannya oleh penemuan teknologi mesin pendingin berkat Revolusi Industri yang dimulai di Inggris pada pertengahan abad-18. Pasaran cengkeh di Eropa pun merosot tajam.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Nasibnya terselamatkan berkat penemuan oleh seorang Haji Djamhari di Kudus, Jawa Tengah. Pada akhir tahun 1880-an, Haji Djamhari menemukan kegunaan baru cengkeh sebagai ramuan utama rokok. Lahirlah satu produk baru yang unik, khas dan asli Indonesia: kretek! (Hanusz, 2000:ii).
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Setelah seperempat abad hanya berkembang dalam skala kecil usaha rumah tangga, produksi kretek akhirnya menjelma menjadi industri besar sejak awal abad-20 yang dirintis oleh Haji Nitisemito (pendiri pabrik \u2018Jambu Bol\u2019) di Kudus dan Liem Seng Tee (pendiri pabrik \u2018Dji Sam Soe\u2019 dan \u2018Sampoerna\u2019) di Surabaya.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Puncaknya adalah pada pertengahan tahun 1950-an, ketika produksi kretek mulai berkembang pesat menjadi industri raksasa modern dengan munculnya beberapa pabrik baru, antara lain, yang terkemuka, oleh Oei Wei Gwan (pendiri pabrik \u2018Djarum\u2019) di Kudus dan Tjou Ing Hwie (pendiri pabrik \u2018Gudang Garam\u2019) di Kediri (Topatimasang, et.al., eds., 2010:131).<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Baca: Teruslah Menanam Tembakau dan Cengkeh, Wahai Petani Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Cengkeh, bahan baku paling esensial dari kretek --selain tembakau, tentu saja-- pun kembali berjaya. Bahkan, sejak dasawarsa 1970an, telah menjadi salah satu penyumbang terbesar keuangan negara Republik Indonesia. Pada tahun 2012 dan 2013, pemasukan cukai dari industri kretek mencatat 95,5% dari seluruh pemasukan cukai ke kas negara. Nilainya tak tanggung-tanggung: Rp 87 triliun! (el-Guyanie, et.al.: 2013:4-5).<\/strong>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Nilai ekonomisnya yang sangat besar sempat menggoda penguasa otoriter rezim Presiden Soeharto, pada 1990-an, memberlakukan satu kebijakan \u2018Hongi Gaya Baru\u2019: monopoli perdagangan cengkeh dalam negeri melalui Badan Penyanggah dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) yang sangat merugikan petani. Harga cengkeh di tingkat petani penghasil anjlok sampai hanya Rp 2.000 - 3.000 per kilogram, lebih murah dari harga sebungkus kretek yang dihasilkan darinya.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Akibatnya, ratusan ribu pohon cengkeh di daerah-daerah penghasil utama --Maluku, Maluku Utara, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Selatan-- ditebangi atau dibiarkan terlantar tak terurus.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Gelombang reformasi sistem politik dan hukum nasional yang dimulai pada tahun 1998, akhirnya menjungkalkan rezim Soeharto dan BPPC dibubarkan, Pelan tapi pasti, harga cengkeh kembali merangkak naik, sehingga pada tahun 2012, bahkan melewati angka Rp 200.000 per kilogram. Para petani cengkeh di seluruh negeri kembali tersenyum. Tetapi, sampai kapan? <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Catatan:<\/strong><\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          [1] Beberapa sumber menyebutkan bahwa kata \u2018cengkeh\u2019 dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Mandarin, tkeng-his atau xi\u2019jia, yang berarti \u2018rempah [berbentuk mirip] paku\u2019 (scented nails). Ini menunjukkan bahwa cengkeh sudah dikenal sejak lama oleh bangsa Cina --diketahui sejak abad-2-- jauh sebelum orang Eropa mengenalnya ((lihat, misalnya: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          [2] Catatan-catatan para biarawan Fransiskan --yang disalin dan dikutip oleh van Frassen-- bahkan menyebut cengkeh sebagai salah satu bahan utama pengawet mumi para Fir\u2019aun, penguasa Mesir Kuno. Beberapa pakar sejarah dan arkeologi menyatakan bahwa rempah-rempah Maluku bahkan sudah ditemukan artefaknya di Lembah Mesopotomia (wilayah Iraq dan sekitarnya sekarang) pada 3.000 tahun sebelum Masehi. (lihat, antara lain: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          [3] Uraian lebih rinci sejarah kolonialisme rempah-rempah Nusantara ini, terutama oleh Belanda dan Portugis, dapat dibaca pada beberapa sumber kepustakaan yang sudah dikenal luas, antara lain: Glamann (1958) dan Boxer (1965 dan 1969). Dalam risalah klasik Pires disebutkan bahwa pada tahun 1512-1521 saja, jumlah produksi cengkeh di Maluku sudah mencapai 7.250 bahar per tahun, terbesar adalah di Makian serta Amboina dan Lease (masing-masing 1.500 bahar)(Pires, 1512-1515).<\/em>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem Topatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n ","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-10 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-02-10 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5425","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5415,"post_author":"878","post_date":"2019-02-07 12:15:55","post_date_gmt":"2019-02-07 05:15:55","post_content":" \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Belakangan ini, ketika musim hujan tiba, di Kabupaten Temanggung, Kabupaten Jember, dan beberapa wilayah sentra pertanian tembakau lainnya, hampir mustahil menemukan tanaman tembakau tumbuh di lahan-lahan milik petani. Di wilayah-wilayah tersebut, citra sebagai sentra pertanian tembakau seakan menguap. Lahan-lahan yang ada di sana, sama sekali tidak ditumbuhi tanaman tembakau.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Kabar ini bisa jadi dianggap sebagai kabar gembira bagi mereka yang menganggap diri dan kelompoknya anti-rokok dan anti-tembakau yang selalu mengampanyekan sikap-sikap mereka terkait kebencian kepada tembakau dan aktivitas merokok. Setelah sekian lama berjuang, akhirnya perjuangan mereka dirasa berhasil usai menyaksikan fenomena lahan-lahan di wilayah yang dianggap sentra pertanian tembakau pada hari-hari belakangan ini.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Baca juga: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Tak sia-sia turun ke jalan, tak sia-sia melakukan lobi-lobi ke penguasa, tak sia-sia mengucurkan uang yang tidak sedikit, dan tak sia-sia mempermalukan diri dengan mengemis ke lembaga donor asing dan menggondol uang dari cukai tembakau untuk mengampanyekan gerakan anti-rokok dan anti-tembakau. Tak sia-sia. Karena perjuangan sepertinya berhasil.<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Kampanye-kampanye gerakan mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya, sepertinya juga sangat berhasil. Bagaimana tidak? Wilayah-wilayah yang sebelumnya penuh dengan tanaman tembakau dan bergeliat dengannya, kini lahan-lahannya sudah berganti dengan tanaman lain. Sebuah keberhasilan yang menggembirakan. Begitu mungkin pikir mereka para yang menganggap dirinya pejuang anti-rokok dan anti-tembakau. Dan tentu saja mereka akan kecele dan kita akan menertawakan hal itu.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Sayangnya, mereka yang menganggap dirinya anti-rokok dan anti-tembakau tidak menyaksikan langsung fenomena ini di lapangan, di lahan-lahan yang peruntukannya berubah pada hari-hari belakangan ini ketika memasuki musim hujan. Mereka asyik duduk pada kursi empuk di ruang-ruang nyaman ber-AC di kota-kota yang jauh dari kultur pertanian. Mereka menyengajakan diri menjadi elit dan enggan untuk turun melihat langsung ke lapangan. Kalaupun ada yang turun langsung ke lapangan, hanya segelintir saja dari mereka, itupun sekadar formalitas saja. Tak pernah benar-benar mau turun ke lapangan, hidup dan merasakan langsung kultur pertanian tembakau dalam jangka waktu cukup lama di lapangan.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Baca juga: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Fenomena ini membikin kita tak bisa melihat mereka para anti-rokok kecele lalu menertawakan mereka.<\/strong> Fenomena keengganan terjun langsung ke lapangan terlebih mencoba mendengar mereka yang tetap menanam tembakau, juga menjalani keseharian dalam waktu cukup lama bersama petani tembakau inilah yang saya kira menjadikan mereka tetap keras kepala untuk anti-rokok dan anti-tembakau. Karena jika mereka mau melakukan itu, saya yakin mereka semua tidak akan begitu kaku dalam memandang pertanian tembakau dan produk hasil industri tembakau.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Salah satu yang selalu mereka kampanyekan dan ngotot dengan itu, terkait hulu pertanian tembakau adalah mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya. Mereka berargumen banyak tanaman lain yang bisa semenguntungkan tanaman tembakau. Keengganan mereka terjun langsung ke lapangan inilah yang membikin mereka buta dengan kondisi pertanian tembakau dan pada akhirnya terus menerus mengampanyekan pergantian tanaman tembakau dengan tanaman lainnya.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Baca juga: Imanlah kepada Allah, Bukan Antirokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Tembakau tanaman yang khas. Ia hanya tumbuh baik sepanjang empat hingga lima bulan dalam satu tahun. Tumbuh-kembang tanaman tembakau dengan baik itu umumnya terjadi pada musim kemarau setiap tahunnya. Hanya sedikit sekali jenis tembakau yang tumbuh baik di musim penghujan, mayoritasnya, tumbuh baik pada musim kemarau.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Jika ditanam pada musim hujan, hampir bisa dipastikan tanaman tembakau akan gagal menghasilkan daun-daun yang berkualitas. Ia akan rusak dan membusuk karena terlalu banyak terkena air sehingga daun-daun itu tak layak dijual. Jangankan bisa dijual, untuk tumbuh dengan baik pun sepertinya sulit karena musim hujan akan membunuh banyak tanaman itu.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Maka, tak heran pada musim-musim seperti saat ini, ketika musim penghujan mendekati puncaknya, di wilayah-wilayah yang dikenal sebagai sentra pertanian tembakau, sulit menemukan pohon tembakau yang sedang tumbuh. Pada lahan-lahan yang sebelumnya ditumbuhi tanaman tembakau pada musim panas, berganti tanaman-tanaman lain yang bermacam-macam, sesuai dengan kondisi lahannya. Untuk lahan sawah, lahan-lahan itu pada musim penghujan kini ditumbuhi tanaman padi yang subur. Pada lahan tegalan dan lahan di pegunungan, lahan-lahan yang ditanami tembakau pada musim kemarau, saat ini ditumbuhi bermacam jenis tanaman mulai dari cabai, bawang, tomat, kol, terong, mentimun, dan ragam jenis tanaman semusim lainnya.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Uniknya, tipikal tanaman tembakau yang tumbuh baik di musim kemarau ini memberi pilihan lebih kepada para petani. Lahan-lahan yang sulit ditanami pada musim kemarau, pada akhirnya masih bisa tetap produktif dengan keberadaan tanaman tembakau. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Maka, kampanye aneh mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain dengan ragam rupa dalih yang membingungkan, bukan saja sama sekali tidak tepat dan asal-asalan, namun bisa jadi akan ditertawakan oleh para petani yang begitu paham dengan kondisi lahan dan terutama kondisi iklim dan cuaca. Sulit mencari tanaman semusim yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Jika pun ada, tak ada yang semenguntungkan tanaman tembakau.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n ","post_title":"Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"keberhasilan-gerakan-anti-tembakau-tak-ada-tembakau-saat-musim-hujan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-07 12:16:02","post_modified_gmt":"2019-02-07 05:16:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5415","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5409,"post_author":"919","post_date":"2019-02-05 08:04:43","post_date_gmt":"2019-02-05 01:04:43","post_content":" \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Tahun Baru Imlek yang merupakan tradisi Bangsa Tiongkok kini sudah tak lagi menjadi hal yang asing bagi masyarakat Indonesia. Kehadirannya sudah mewarnai dan berakulturasi dengan tradisi lokal. Menjelang Tahun Baru Imlek. Berbagai hiasan dan kemeriahan terjadi beberapa titik di Tanah Air. Perayaannya juga menjadi destinasi baru yang mengasyikkan untuk dilihat dan patut disaksikan.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Berterimakasihlah kepada sang bapak bangsa, KH Abdurrahman Wahid atau yang dikenal dengan nama Gus Dur. Berkat kebijakannya saat menjadi Presiden Indonesia, Tahun Baru Imlek resmi dijadikan hari libur nasional dan dianggap sebagai salah satu hari raya di Tanah Air. Meski sentimen antitionghoa masih ada di sana-sini, tapi tetap tak bisa dipungkiri bahwa bangsa tionghoa sudah bersentuhan dengan budaya lokal dalam kurun waktu yang sangat panjang.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          DNA Bangsa Tionghoa yang memang merupakan pedagang menjadi pembuka kisah interaksi antara nenek moyang berbagai suku di Nusantara dengan mereka. Beberapa kelenteng-kelenteng yang tersebar pada berbagai pesisir daerah di Nusantara jadi buktinya. Pelabuhan-pelabuhan tua di tanah air dan ramainya perdagangan di pesisir mempermudah bangsa kita berhubungan dengan Bangsa Tionghoa.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Baca Juga: Wong Kalang dan Kota Gede<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa kehadiran Bangsa Tionghoa di Nusantara tak hanya sebagai pedagang, namun juga sebagai pekerja (bahkan hingga pekerja kasar). Benny Setiono, seorang sejarahwan menyebutkan bahwa antara tahun 1760-1770 dalam jumlah yang besar memasuki nusantara melalui Kalimantan Barat. Mereka bekerja sebagai kuli pertambangan di sana dan di kemudian hari membentuk sebuah republik bernama Republik Lanfang yang konon katanya menjadi republik pertama di Asia Tenggara.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Baca Juga: Imlek dan Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Baca Juga: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n ","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_3o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          c. Bila daya berkecambah (DB) \u00b1 80 %\t\t= 5 gr x 7.500 x 80% <\/p>\n \n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          d. Bibit yang tumbuh \t\t\t\t= 37.500 tanaman <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  (Hitungan di atas sudah termasuk cadangan untuk sulaman) <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          e. Teknis sebar benih; apabila luas media tanam cukup, teknis sebar benih yang dianjurkan adalah dicampur dengan abu sekam. Apabila luas media tanam tidak mencukupi, maka teknis sebar benih yang dianjurkan adalah diaduk tanah.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          f. Cara memperoleh benih yang murni dan baik, harus mengetahui asal usul \/ sumber benih apakah dari BALITTAS, Dinas Pertanian  atau Seeding Center. Daya kecambah terukur sehingga dosis sebar bisa ditentukan. Bebas Hama dan Penyakit. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          2. Persiapan Lahan <\/strong><\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          1. Tanah digemburkan sehingga akar mudah berkembang <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          2. Menyediakan ruang untuk respirasi akar <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          3. Mematikan gulma dan penyakit dalam tanah <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          4. Tanah siap menjadi media tumbuh bagi tanaman <\/li><\/ol>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            \"\"\/<\/figure>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            \"\"\/<\/figure>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Sempurna<\/strong> <\/strong>tidak sempurna<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            3. Persiapan Media Tanam<\/strong><\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            1. Tanah yang digunakan adalah tanah dan pupuk kandang yang sudah matang <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            2. Tanah berasal dari tanah steril (sudah dikeringkan dan bukan dari tanah bekas tanaman yang terserang penyakit)<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            3. Media tanah dicangkul ringan di para-para minimal 2x <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            4. Sebar Benih; <\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Setelah bibit dan lahan siap, kemudian sebarkan benih dengan ditutup memakai jerami <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              1. Pemupukan <\/strong><\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              2. Pemupukan pertama<\/li><\/ol>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                \"\"\/<\/figure>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                1. Pemupukan kedua, dilakukan apabila pertumbuhan bibit kurang baik (21 HSS). Pupuk yang digunakan adalaj KNO3 <\/sub>(30 \u2013 50 gram per bedeng dengan ukuran 1x5 m) dicampur dengan air \u00b110 liter, selanjutnya bedengan disiram kembali dengan air (pembilasan) <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                2. Penyiraman<\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Frekuensi penyiraman berdasarkan umur bibit\/umur hari setelah sebar (HSS):<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  0 \u2013 10 HSS\t\t:\t3x Sehari (fase kritis)<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  11 \u2013 21 HSS\t\t:\t2x Sehari <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  22 \u2013 35 HSS\t\t:\t1x Sehari <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  36 \u2013 45 \/ 50 HSS\t:\tPeriode stress air\/kering<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  1. Penjarangan & Hardening<\/strong>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    1. Penjarangan dilakukan agar jarak antara bibit ideal (4-5 cm) sehingga tidak<\/li><\/ol><\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      terserang hama & penyakit. Penjarangan dilakukan pada umur bibit 21-25 hari dengan cara: basahi bedengan sore hari sebelumnya dan pagi hari sebelum bibit dicabut, cabut bibit  yang akan ditanami dengan hati-hati, tanam bibit pada bedengan yang kerapatan bibitnya jarang, siram bibit sesegera mungkin setelah dipindah.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      1. Bibit dibiasakan untuk terkena sinar  matahari langsung. Tujuan hardening agar bibit dapat beradaptasi dan memperkuat jaringan daun, batang serta mengurangi resiko penyakit karena jamur. Pelaksanaan hardening mulai umur 21 HSS secara bertahap.Pada kondisi hujan tidak dianjurkan. <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      2. Klipping <\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        1. Dilakukan antara jam 08.00 sampai 11.00 (usahakan cuaca cerah) <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        2. Kliping dilakukan pada saat bibit pertumbuhannya terlalu lebat atau saling menutup batangnya. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        3. Kliping adalah kegiatan memotong sebagian atau 2\/3 daun bibit tembakau. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        4. Frekuensi kliping dilakukan bisa satu, dua kali atau lebih sesuai dengan perkembangan bibit dan persiapan lokasi areal tanam. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        5 Lima sampai tujuh hari menjelang transplanting, kegiatan kliping sebaiknya sudah selesai. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Tujuan klipping: menjaga lingkungan bibit agar tidak lembab, <\/strong>memperbesar batan,menyeragamkan ukuran benih, dan memperkuat pertumbuhan akar <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        1. Pencabutan Bibit, agar mendapatkan jarak tanam yang sesuai lahan <\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          \"\"\/<\/figure>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          \"\"\/<\/figure>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Dalam satu hamparan direkomendasikan selesai tanam maksimal 3 Hari. Umur  tanaman akan menjadi sama atau seragam. Performance tanaman juga akan menjadi  seragam. Kemasakan daun pada saat petik juga menjadi seragam. Memudahkan pada saat  proses panen dan pasca panen. Tembakau kering yang dihasilkan pun juga seragam.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          1. Pengendalian Hama & Penyakit<\/strong> <\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            ~ Pada awal penyebaran benih direkomendasikan untuk melakukan penyemprotan fusngisida (jamur), seperti Previcur, Redomil & Antracol <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            ~ Hama yang sering dijumpai: semut (Decis), janggel, orong-orong <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            1. Tahapan Perawatan<\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              \"\"\/<\/figure>\n ","post_title":"Sukses Bertani Tembakau Bersama Kemitraan Djarum di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sukses-bertani-tembakau-bersama-kemitraan-djarum-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-11 12:32:18","post_modified_gmt":"2019-02-11 05:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5433","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5425,"post_author":"922","post_date":"2019-02-10 09:07:33","post_date_gmt":"2019-02-10 02:07:33","post_content":" \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Bahwa cengkeh [1] (Syzygium aromaticum) --bersama pala (Myristica fragrans)-- adalah dua tanaman asli (endemik) Kepulauan Maluku, sudah tak terbantahkan. Cengkeh dikenal dan diakui berasal dari \u2018Empat Pulau Gunung Maluku\u2019 (Maloko Kie Raha): Ternate, Tidore, Moti, dan Makian.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Adapun pala, berasal dari empat pulau kecil lainnya di tengah Laut Banda: Lonthor, Neira, Rhun, dan Ai. Pada penjelasan peta abad-16 oleh penjelajah dari Semenanjung Iberia, Fransisco Rodriguez, tertulis: \u201cEstas quatro Ilhas Azures suam as de molluquo homde nace ho crauzo\u201d<\/em> (Adalah empat pulau berwarna biru [dalam peta] yang disebut sebagai Kepulauan Maluku di mana rempah-rempah berasal) (Pires, 1512- 1515:213).
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Sejak beberapa abad sebelum Masehi, adalah para saudagar Arab --melalui Samudera Hindia melintasi Iskandariyah dan Laut Tengah-- serta para pedagang Cina --melalui jalur \u2018Jalan Sutra\u2019 melintasi Asia Tengah dan Asia Barat-- yang membawa dan memperkenalkannya ke daratan Eropa. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Bandar-bandar besar Tyre di Yunani dan Venesia di Italia menjadi pelabuhan utama rempah-rempah Maluku memasuki kehidupan dan peradaban Eropa. Selain sebagai bumbu masakan, rempah obat, dan ramuan wewangian, cengkeh dan pala juga menjadi bahan utama pengawet bahan pangan. [2]
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Inilah yang membuat orang-orang Eropa untuk pertama kalinya dapat mengawetkan dan menimbun makanan selama bermusim-musim. Prosa indah Blair bersaudara menggambarkannya dengan sangat baik:
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              \u201cKemampuan menyimpan makanan lebih dari yang kami makan sekaligus berarti kemampuan menjual dan membelinya dalam jumlah besar --dan kota-kota dagang pun mekar. Perekonomian yang dihasilkannya mengarahkan kami ke zaman Pencerahan dan kemudian Revolusi Industri. Tak lama setelah kami menghirup aroma yang sangat kuat dari Timur itu dan mengubah kimiawi makanan kami, maka kami pun mampu melakukan lompatan besar dalam bidang budaya dan seni.\u201d (Blair & Blair, 2010; 30-31).<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Baca: Cengkeh dan Kelapa di Kepulauan Anambas<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Bukan hanya membuat perekonomian dan perdagangan serta ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang, cengkeh dan pala bahkan adalah faktor yang paling menentukan dalam kemunculan satu babakan paling mengenaskan dalam sejarah politik dunia, yakni zaman penjajahan (kolonialisme) Eropa, terutama atas-atas negeri- negeri Asia Selatan, Timur dan Tenggara, termasuk Indonesia.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Tergerak oleh sahwat menguasai rempah-rempah yang menggiurkan itu, bangsa-bangsa Eropa --terutama Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda-- pun menggelar ekspedisi-ekspedisi besar untuk menemukan cengkeh dan pala langsung di tanah asalnya. Ketika armada-armada mereka akhirnya mencapai perairan Kepulauan Maluku, pada abad-16, perang pun tak terhindarkan.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Mereka silih berganti saling mengalahkan, tetapi pemenang terakhir adalah Belanda. Melalui Perusahaan Dagang Hindia Timur (Vereenigde Oostindische Compagnie, VOC) yang dibentuk pada awal abad-17 (tepatnya tahun 1609), Belanda melancarkan ekspedisi Pelayaran Hongi (Hongie Tochten), untuk memusnahkan semua tanaman cengkeh di Ternate, Tidore, Moti, dan Makian, lalu membatasi ketat penanamnya hanya di Pulau-pulau Ambon dan Lease --yang lebih dekat ke Banda sebagai pusat pemerintahan mereka sebelum akhirnya dipindahkan ke Batavia.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Praktis, sejak akhir abad-16, Belanda pun menguasai penuh perdagangan rempah-rempah Maluku dengan jumlah produksi rerata 2.500 sampai 4.500 ton per tahun. [3]<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Baca: Budidaya Pohon Cengkeh<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Meskipun peran utama rempah-rempah Maluku itu kemudian tergusur pada abad-18 dan 19 oleh beberapa barang eksotika tropis lainnya --hasil perkebunan-perkebunana besar baru di Pulau Sumatera dan Jawa: tebu, tembakau, lada, kopi, teh, nila, kelapa sawit, dan kayu jati-- namun sejarah sudah mencatat bahwa dua jenis rempah-rempah Maluku itulah yang mengawali penjelajahan sekaligus penjajahan kepulauan Nusantara oleh bangsa-bangsa Eropah, terutama Belanda (Topatimasang, ed., 2004:32). Jika saja tak pernah ada cengkeh dan pala di Maluku, mungkin sejarah kepulauan Nusantara ini akan berbeda sama sekali.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Masa suram cengkeh dan pala terus berlangsung sampai pertengahan abad-20. Rempah eksotika yang pernah membuat tergila-gila<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              para saudagar Arab, pedagang Cina, serta kaum ningrat Eropa itu, tergantikan perannya oleh penemuan teknologi mesin pendingin berkat Revolusi Industri yang dimulai di Inggris pada pertengahan abad-18. Pasaran cengkeh di Eropa pun merosot tajam.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Nasibnya terselamatkan berkat penemuan oleh seorang Haji Djamhari di Kudus, Jawa Tengah. Pada akhir tahun 1880-an, Haji Djamhari menemukan kegunaan baru cengkeh sebagai ramuan utama rokok. Lahirlah satu produk baru yang unik, khas dan asli Indonesia: kretek! (Hanusz, 2000:ii).
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Setelah seperempat abad hanya berkembang dalam skala kecil usaha rumah tangga, produksi kretek akhirnya menjelma menjadi industri besar sejak awal abad-20 yang dirintis oleh Haji Nitisemito (pendiri pabrik \u2018Jambu Bol\u2019) di Kudus dan Liem Seng Tee (pendiri pabrik \u2018Dji Sam Soe\u2019 dan \u2018Sampoerna\u2019) di Surabaya.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Puncaknya adalah pada pertengahan tahun 1950-an, ketika produksi kretek mulai berkembang pesat menjadi industri raksasa modern dengan munculnya beberapa pabrik baru, antara lain, yang terkemuka, oleh Oei Wei Gwan (pendiri pabrik \u2018Djarum\u2019) di Kudus dan Tjou Ing Hwie (pendiri pabrik \u2018Gudang Garam\u2019) di Kediri (Topatimasang, et.al., eds., 2010:131).<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Baca: Teruslah Menanam Tembakau dan Cengkeh, Wahai Petani Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Cengkeh, bahan baku paling esensial dari kretek --selain tembakau, tentu saja-- pun kembali berjaya. Bahkan, sejak dasawarsa 1970an, telah menjadi salah satu penyumbang terbesar keuangan negara Republik Indonesia. Pada tahun 2012 dan 2013, pemasukan cukai dari industri kretek mencatat 95,5% dari seluruh pemasukan cukai ke kas negara. Nilainya tak tanggung-tanggung: Rp 87 triliun! (el-Guyanie, et.al.: 2013:4-5).<\/strong>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Nilai ekonomisnya yang sangat besar sempat menggoda penguasa otoriter rezim Presiden Soeharto, pada 1990-an, memberlakukan satu kebijakan \u2018Hongi Gaya Baru\u2019: monopoli perdagangan cengkeh dalam negeri melalui Badan Penyanggah dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) yang sangat merugikan petani. Harga cengkeh di tingkat petani penghasil anjlok sampai hanya Rp 2.000 - 3.000 per kilogram, lebih murah dari harga sebungkus kretek yang dihasilkan darinya.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Akibatnya, ratusan ribu pohon cengkeh di daerah-daerah penghasil utama --Maluku, Maluku Utara, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Selatan-- ditebangi atau dibiarkan terlantar tak terurus.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Gelombang reformasi sistem politik dan hukum nasional yang dimulai pada tahun 1998, akhirnya menjungkalkan rezim Soeharto dan BPPC dibubarkan, Pelan tapi pasti, harga cengkeh kembali merangkak naik, sehingga pada tahun 2012, bahkan melewati angka Rp 200.000 per kilogram. Para petani cengkeh di seluruh negeri kembali tersenyum. Tetapi, sampai kapan? <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Catatan:<\/strong><\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              [1] Beberapa sumber menyebutkan bahwa kata \u2018cengkeh\u2019 dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Mandarin, tkeng-his atau xi\u2019jia, yang berarti \u2018rempah [berbentuk mirip] paku\u2019 (scented nails). Ini menunjukkan bahwa cengkeh sudah dikenal sejak lama oleh bangsa Cina --diketahui sejak abad-2-- jauh sebelum orang Eropa mengenalnya ((lihat, misalnya: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              [2] Catatan-catatan para biarawan Fransiskan --yang disalin dan dikutip oleh van Frassen-- bahkan menyebut cengkeh sebagai salah satu bahan utama pengawet mumi para Fir\u2019aun, penguasa Mesir Kuno. Beberapa pakar sejarah dan arkeologi menyatakan bahwa rempah-rempah Maluku bahkan sudah ditemukan artefaknya di Lembah Mesopotomia (wilayah Iraq dan sekitarnya sekarang) pada 3.000 tahun sebelum Masehi. (lihat, antara lain: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              [3] Uraian lebih rinci sejarah kolonialisme rempah-rempah Nusantara ini, terutama oleh Belanda dan Portugis, dapat dibaca pada beberapa sumber kepustakaan yang sudah dikenal luas, antara lain: Glamann (1958) dan Boxer (1965 dan 1969). Dalam risalah klasik Pires disebutkan bahwa pada tahun 1512-1521 saja, jumlah produksi cengkeh di Maluku sudah mencapai 7.250 bahar per tahun, terbesar adalah di Makian serta Amboina dan Lease (masing-masing 1.500 bahar)(Pires, 1512-1515).<\/em>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem Topatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              <\/p>\n ","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-10 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-02-10 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5425","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5415,"post_author":"878","post_date":"2019-02-07 12:15:55","post_date_gmt":"2019-02-07 05:15:55","post_content":" \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Belakangan ini, ketika musim hujan tiba, di Kabupaten Temanggung, Kabupaten Jember, dan beberapa wilayah sentra pertanian tembakau lainnya, hampir mustahil menemukan tanaman tembakau tumbuh di lahan-lahan milik petani. Di wilayah-wilayah tersebut, citra sebagai sentra pertanian tembakau seakan menguap. Lahan-lahan yang ada di sana, sama sekali tidak ditumbuhi tanaman tembakau.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Kabar ini bisa jadi dianggap sebagai kabar gembira bagi mereka yang menganggap diri dan kelompoknya anti-rokok dan anti-tembakau yang selalu mengampanyekan sikap-sikap mereka terkait kebencian kepada tembakau dan aktivitas merokok. Setelah sekian lama berjuang, akhirnya perjuangan mereka dirasa berhasil usai menyaksikan fenomena lahan-lahan di wilayah yang dianggap sentra pertanian tembakau pada hari-hari belakangan ini.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Baca juga: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Tak sia-sia turun ke jalan, tak sia-sia melakukan lobi-lobi ke penguasa, tak sia-sia mengucurkan uang yang tidak sedikit, dan tak sia-sia mempermalukan diri dengan mengemis ke lembaga donor asing dan menggondol uang dari cukai tembakau untuk mengampanyekan gerakan anti-rokok dan anti-tembakau. Tak sia-sia. Karena perjuangan sepertinya berhasil.<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Kampanye-kampanye gerakan mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya, sepertinya juga sangat berhasil. Bagaimana tidak? Wilayah-wilayah yang sebelumnya penuh dengan tanaman tembakau dan bergeliat dengannya, kini lahan-lahannya sudah berganti dengan tanaman lain. Sebuah keberhasilan yang menggembirakan. Begitu mungkin pikir mereka para yang menganggap dirinya pejuang anti-rokok dan anti-tembakau. Dan tentu saja mereka akan kecele dan kita akan menertawakan hal itu.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Sayangnya, mereka yang menganggap dirinya anti-rokok dan anti-tembakau tidak menyaksikan langsung fenomena ini di lapangan, di lahan-lahan yang peruntukannya berubah pada hari-hari belakangan ini ketika memasuki musim hujan. Mereka asyik duduk pada kursi empuk di ruang-ruang nyaman ber-AC di kota-kota yang jauh dari kultur pertanian. Mereka menyengajakan diri menjadi elit dan enggan untuk turun melihat langsung ke lapangan. Kalaupun ada yang turun langsung ke lapangan, hanya segelintir saja dari mereka, itupun sekadar formalitas saja. Tak pernah benar-benar mau turun ke lapangan, hidup dan merasakan langsung kultur pertanian tembakau dalam jangka waktu cukup lama di lapangan.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Baca juga: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Fenomena ini membikin kita tak bisa melihat mereka para anti-rokok kecele lalu menertawakan mereka.<\/strong> Fenomena keengganan terjun langsung ke lapangan terlebih mencoba mendengar mereka yang tetap menanam tembakau, juga menjalani keseharian dalam waktu cukup lama bersama petani tembakau inilah yang saya kira menjadikan mereka tetap keras kepala untuk anti-rokok dan anti-tembakau. Karena jika mereka mau melakukan itu, saya yakin mereka semua tidak akan begitu kaku dalam memandang pertanian tembakau dan produk hasil industri tembakau.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Salah satu yang selalu mereka kampanyekan dan ngotot dengan itu, terkait hulu pertanian tembakau adalah mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya. Mereka berargumen banyak tanaman lain yang bisa semenguntungkan tanaman tembakau. Keengganan mereka terjun langsung ke lapangan inilah yang membikin mereka buta dengan kondisi pertanian tembakau dan pada akhirnya terus menerus mengampanyekan pergantian tanaman tembakau dengan tanaman lainnya.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Baca juga: Imanlah kepada Allah, Bukan Antirokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Tembakau tanaman yang khas. Ia hanya tumbuh baik sepanjang empat hingga lima bulan dalam satu tahun. Tumbuh-kembang tanaman tembakau dengan baik itu umumnya terjadi pada musim kemarau setiap tahunnya. Hanya sedikit sekali jenis tembakau yang tumbuh baik di musim penghujan, mayoritasnya, tumbuh baik pada musim kemarau.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Jika ditanam pada musim hujan, hampir bisa dipastikan tanaman tembakau akan gagal menghasilkan daun-daun yang berkualitas. Ia akan rusak dan membusuk karena terlalu banyak terkena air sehingga daun-daun itu tak layak dijual. Jangankan bisa dijual, untuk tumbuh dengan baik pun sepertinya sulit karena musim hujan akan membunuh banyak tanaman itu.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Maka, tak heran pada musim-musim seperti saat ini, ketika musim penghujan mendekati puncaknya, di wilayah-wilayah yang dikenal sebagai sentra pertanian tembakau, sulit menemukan pohon tembakau yang sedang tumbuh. Pada lahan-lahan yang sebelumnya ditumbuhi tanaman tembakau pada musim panas, berganti tanaman-tanaman lain yang bermacam-macam, sesuai dengan kondisi lahannya. Untuk lahan sawah, lahan-lahan itu pada musim penghujan kini ditumbuhi tanaman padi yang subur. Pada lahan tegalan dan lahan di pegunungan, lahan-lahan yang ditanami tembakau pada musim kemarau, saat ini ditumbuhi bermacam jenis tanaman mulai dari cabai, bawang, tomat, kol, terong, mentimun, dan ragam jenis tanaman semusim lainnya.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Uniknya, tipikal tanaman tembakau yang tumbuh baik di musim kemarau ini memberi pilihan lebih kepada para petani. Lahan-lahan yang sulit ditanami pada musim kemarau, pada akhirnya masih bisa tetap produktif dengan keberadaan tanaman tembakau. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Maka, kampanye aneh mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain dengan ragam rupa dalih yang membingungkan, bukan saja sama sekali tidak tepat dan asal-asalan, namun bisa jadi akan ditertawakan oleh para petani yang begitu paham dengan kondisi lahan dan terutama kondisi iklim dan cuaca. Sulit mencari tanaman semusim yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Jika pun ada, tak ada yang semenguntungkan tanaman tembakau.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              <\/p>\n ","post_title":"Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"keberhasilan-gerakan-anti-tembakau-tak-ada-tembakau-saat-musim-hujan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-07 12:16:02","post_modified_gmt":"2019-02-07 05:16:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5415","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5409,"post_author":"919","post_date":"2019-02-05 08:04:43","post_date_gmt":"2019-02-05 01:04:43","post_content":" \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Tahun Baru Imlek yang merupakan tradisi Bangsa Tiongkok kini sudah tak lagi menjadi hal yang asing bagi masyarakat Indonesia. Kehadirannya sudah mewarnai dan berakulturasi dengan tradisi lokal. Menjelang Tahun Baru Imlek. Berbagai hiasan dan kemeriahan terjadi beberapa titik di Tanah Air. Perayaannya juga menjadi destinasi baru yang mengasyikkan untuk dilihat dan patut disaksikan.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Berterimakasihlah kepada sang bapak bangsa, KH Abdurrahman Wahid atau yang dikenal dengan nama Gus Dur. Berkat kebijakannya saat menjadi Presiden Indonesia, Tahun Baru Imlek resmi dijadikan hari libur nasional dan dianggap sebagai salah satu hari raya di Tanah Air. Meski sentimen antitionghoa masih ada di sana-sini, tapi tetap tak bisa dipungkiri bahwa bangsa tionghoa sudah bersentuhan dengan budaya lokal dalam kurun waktu yang sangat panjang.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              DNA Bangsa Tionghoa yang memang merupakan pedagang menjadi pembuka kisah interaksi antara nenek moyang berbagai suku di Nusantara dengan mereka. Beberapa kelenteng-kelenteng yang tersebar pada berbagai pesisir daerah di Nusantara jadi buktinya. Pelabuhan-pelabuhan tua di tanah air dan ramainya perdagangan di pesisir mempermudah bangsa kita berhubungan dengan Bangsa Tionghoa.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Baca Juga: Wong Kalang dan Kota Gede<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa kehadiran Bangsa Tionghoa di Nusantara tak hanya sebagai pedagang, namun juga sebagai pekerja (bahkan hingga pekerja kasar). Benny Setiono, seorang sejarahwan menyebutkan bahwa antara tahun 1760-1770 dalam jumlah yang besar memasuki nusantara melalui Kalimantan Barat. Mereka bekerja sebagai kuli pertambangan di sana dan di kemudian hari membentuk sebuah republik bernama Republik Lanfang yang konon katanya menjadi republik pertama di Asia Tenggara.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Baca Juga: Imlek dan Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Baca Juga: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              <\/p>\n ","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_3o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              b. Dalam 1 gr benih \t\t\t\t= \u00b1 7.500 benih<\/p>\n \n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              c. Bila daya berkecambah (DB) \u00b1 80 %\t\t= 5 gr x 7.500 x 80% <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              d. Bibit yang tumbuh \t\t\t\t= 37.500 tanaman <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      (Hitungan di atas sudah termasuk cadangan untuk sulaman) <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              e. Teknis sebar benih; apabila luas media tanam cukup, teknis sebar benih yang dianjurkan adalah dicampur dengan abu sekam. Apabila luas media tanam tidak mencukupi, maka teknis sebar benih yang dianjurkan adalah diaduk tanah.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              f. Cara memperoleh benih yang murni dan baik, harus mengetahui asal usul \/ sumber benih apakah dari BALITTAS, Dinas Pertanian  atau Seeding Center. Daya kecambah terukur sehingga dosis sebar bisa ditentukan. Bebas Hama dan Penyakit. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              2. Persiapan Lahan <\/strong><\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              1. Tanah digemburkan sehingga akar mudah berkembang <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              2. Menyediakan ruang untuk respirasi akar <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              3. Mematikan gulma dan penyakit dalam tanah <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              4. Tanah siap menjadi media tumbuh bagi tanaman <\/li><\/ol>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                \"\"\/<\/figure>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                \"\"\/<\/figure>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Sempurna<\/strong> <\/strong>tidak sempurna<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                3. Persiapan Media Tanam<\/strong><\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                1. Tanah yang digunakan adalah tanah dan pupuk kandang yang sudah matang <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                2. Tanah berasal dari tanah steril (sudah dikeringkan dan bukan dari tanah bekas tanaman yang terserang penyakit)<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                3. Media tanah dicangkul ringan di para-para minimal 2x <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                4. Sebar Benih; <\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Setelah bibit dan lahan siap, kemudian sebarkan benih dengan ditutup memakai jerami <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  1. Pemupukan <\/strong><\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  2. Pemupukan pertama<\/li><\/ol>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    \"\"\/<\/figure>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    1. Pemupukan kedua, dilakukan apabila pertumbuhan bibit kurang baik (21 HSS). Pupuk yang digunakan adalaj KNO3 <\/sub>(30 \u2013 50 gram per bedeng dengan ukuran 1x5 m) dicampur dengan air \u00b110 liter, selanjutnya bedengan disiram kembali dengan air (pembilasan) <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    2. Penyiraman<\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Frekuensi penyiraman berdasarkan umur bibit\/umur hari setelah sebar (HSS):<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      0 \u2013 10 HSS\t\t:\t3x Sehari (fase kritis)<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      11 \u2013 21 HSS\t\t:\t2x Sehari <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      22 \u2013 35 HSS\t\t:\t1x Sehari <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      36 \u2013 45 \/ 50 HSS\t:\tPeriode stress air\/kering<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      1. Penjarangan & Hardening<\/strong>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        1. Penjarangan dilakukan agar jarak antara bibit ideal (4-5 cm) sehingga tidak<\/li><\/ol><\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          terserang hama & penyakit. Penjarangan dilakukan pada umur bibit 21-25 hari dengan cara: basahi bedengan sore hari sebelumnya dan pagi hari sebelum bibit dicabut, cabut bibit  yang akan ditanami dengan hati-hati, tanam bibit pada bedengan yang kerapatan bibitnya jarang, siram bibit sesegera mungkin setelah dipindah.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          1. Bibit dibiasakan untuk terkena sinar  matahari langsung. Tujuan hardening agar bibit dapat beradaptasi dan memperkuat jaringan daun, batang serta mengurangi resiko penyakit karena jamur. Pelaksanaan hardening mulai umur 21 HSS secara bertahap.Pada kondisi hujan tidak dianjurkan. <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          2. Klipping <\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            1. Dilakukan antara jam 08.00 sampai 11.00 (usahakan cuaca cerah) <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            2. Kliping dilakukan pada saat bibit pertumbuhannya terlalu lebat atau saling menutup batangnya. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            3. Kliping adalah kegiatan memotong sebagian atau 2\/3 daun bibit tembakau. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            4. Frekuensi kliping dilakukan bisa satu, dua kali atau lebih sesuai dengan perkembangan bibit dan persiapan lokasi areal tanam. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            5 Lima sampai tujuh hari menjelang transplanting, kegiatan kliping sebaiknya sudah selesai. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Tujuan klipping: menjaga lingkungan bibit agar tidak lembab, <\/strong>memperbesar batan,menyeragamkan ukuran benih, dan memperkuat pertumbuhan akar <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            1. Pencabutan Bibit, agar mendapatkan jarak tanam yang sesuai lahan <\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              \"\"\/<\/figure>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              \"\"\/<\/figure>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Dalam satu hamparan direkomendasikan selesai tanam maksimal 3 Hari. Umur  tanaman akan menjadi sama atau seragam. Performance tanaman juga akan menjadi  seragam. Kemasakan daun pada saat petik juga menjadi seragam. Memudahkan pada saat  proses panen dan pasca panen. Tembakau kering yang dihasilkan pun juga seragam.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              1. Pengendalian Hama & Penyakit<\/strong> <\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                ~ Pada awal penyebaran benih direkomendasikan untuk melakukan penyemprotan fusngisida (jamur), seperti Previcur, Redomil & Antracol <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                ~ Hama yang sering dijumpai: semut (Decis), janggel, orong-orong <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                1. Tahapan Perawatan<\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  \"\"\/<\/figure>\n ","post_title":"Sukses Bertani Tembakau Bersama Kemitraan Djarum di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sukses-bertani-tembakau-bersama-kemitraan-djarum-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-11 12:32:18","post_modified_gmt":"2019-02-11 05:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5433","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5425,"post_author":"922","post_date":"2019-02-10 09:07:33","post_date_gmt":"2019-02-10 02:07:33","post_content":" \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Bahwa cengkeh [1] (Syzygium aromaticum) --bersama pala (Myristica fragrans)-- adalah dua tanaman asli (endemik) Kepulauan Maluku, sudah tak terbantahkan. Cengkeh dikenal dan diakui berasal dari \u2018Empat Pulau Gunung Maluku\u2019 (Maloko Kie Raha): Ternate, Tidore, Moti, dan Makian.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Adapun pala, berasal dari empat pulau kecil lainnya di tengah Laut Banda: Lonthor, Neira, Rhun, dan Ai. Pada penjelasan peta abad-16 oleh penjelajah dari Semenanjung Iberia, Fransisco Rodriguez, tertulis: \u201cEstas quatro Ilhas Azures suam as de molluquo homde nace ho crauzo\u201d<\/em> (Adalah empat pulau berwarna biru [dalam peta] yang disebut sebagai Kepulauan Maluku di mana rempah-rempah berasal) (Pires, 1512- 1515:213).
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Sejak beberapa abad sebelum Masehi, adalah para saudagar Arab --melalui Samudera Hindia melintasi Iskandariyah dan Laut Tengah-- serta para pedagang Cina --melalui jalur \u2018Jalan Sutra\u2019 melintasi Asia Tengah dan Asia Barat-- yang membawa dan memperkenalkannya ke daratan Eropa. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Bandar-bandar besar Tyre di Yunani dan Venesia di Italia menjadi pelabuhan utama rempah-rempah Maluku memasuki kehidupan dan peradaban Eropa. Selain sebagai bumbu masakan, rempah obat, dan ramuan wewangian, cengkeh dan pala juga menjadi bahan utama pengawet bahan pangan. [2]
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Inilah yang membuat orang-orang Eropa untuk pertama kalinya dapat mengawetkan dan menimbun makanan selama bermusim-musim. Prosa indah Blair bersaudara menggambarkannya dengan sangat baik:
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  \u201cKemampuan menyimpan makanan lebih dari yang kami makan sekaligus berarti kemampuan menjual dan membelinya dalam jumlah besar --dan kota-kota dagang pun mekar. Perekonomian yang dihasilkannya mengarahkan kami ke zaman Pencerahan dan kemudian Revolusi Industri. Tak lama setelah kami menghirup aroma yang sangat kuat dari Timur itu dan mengubah kimiawi makanan kami, maka kami pun mampu melakukan lompatan besar dalam bidang budaya dan seni.\u201d (Blair & Blair, 2010; 30-31).<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Baca: Cengkeh dan Kelapa di Kepulauan Anambas<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Bukan hanya membuat perekonomian dan perdagangan serta ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang, cengkeh dan pala bahkan adalah faktor yang paling menentukan dalam kemunculan satu babakan paling mengenaskan dalam sejarah politik dunia, yakni zaman penjajahan (kolonialisme) Eropa, terutama atas-atas negeri- negeri Asia Selatan, Timur dan Tenggara, termasuk Indonesia.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Tergerak oleh sahwat menguasai rempah-rempah yang menggiurkan itu, bangsa-bangsa Eropa --terutama Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda-- pun menggelar ekspedisi-ekspedisi besar untuk menemukan cengkeh dan pala langsung di tanah asalnya. Ketika armada-armada mereka akhirnya mencapai perairan Kepulauan Maluku, pada abad-16, perang pun tak terhindarkan.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Mereka silih berganti saling mengalahkan, tetapi pemenang terakhir adalah Belanda. Melalui Perusahaan Dagang Hindia Timur (Vereenigde Oostindische Compagnie, VOC) yang dibentuk pada awal abad-17 (tepatnya tahun 1609), Belanda melancarkan ekspedisi Pelayaran Hongi (Hongie Tochten), untuk memusnahkan semua tanaman cengkeh di Ternate, Tidore, Moti, dan Makian, lalu membatasi ketat penanamnya hanya di Pulau-pulau Ambon dan Lease --yang lebih dekat ke Banda sebagai pusat pemerintahan mereka sebelum akhirnya dipindahkan ke Batavia.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Praktis, sejak akhir abad-16, Belanda pun menguasai penuh perdagangan rempah-rempah Maluku dengan jumlah produksi rerata 2.500 sampai 4.500 ton per tahun. [3]<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Baca: Budidaya Pohon Cengkeh<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Meskipun peran utama rempah-rempah Maluku itu kemudian tergusur pada abad-18 dan 19 oleh beberapa barang eksotika tropis lainnya --hasil perkebunan-perkebunana besar baru di Pulau Sumatera dan Jawa: tebu, tembakau, lada, kopi, teh, nila, kelapa sawit, dan kayu jati-- namun sejarah sudah mencatat bahwa dua jenis rempah-rempah Maluku itulah yang mengawali penjelajahan sekaligus penjajahan kepulauan Nusantara oleh bangsa-bangsa Eropah, terutama Belanda (Topatimasang, ed., 2004:32). Jika saja tak pernah ada cengkeh dan pala di Maluku, mungkin sejarah kepulauan Nusantara ini akan berbeda sama sekali.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Masa suram cengkeh dan pala terus berlangsung sampai pertengahan abad-20. Rempah eksotika yang pernah membuat tergila-gila<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  para saudagar Arab, pedagang Cina, serta kaum ningrat Eropa itu, tergantikan perannya oleh penemuan teknologi mesin pendingin berkat Revolusi Industri yang dimulai di Inggris pada pertengahan abad-18. Pasaran cengkeh di Eropa pun merosot tajam.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Nasibnya terselamatkan berkat penemuan oleh seorang Haji Djamhari di Kudus, Jawa Tengah. Pada akhir tahun 1880-an, Haji Djamhari menemukan kegunaan baru cengkeh sebagai ramuan utama rokok. Lahirlah satu produk baru yang unik, khas dan asli Indonesia: kretek! (Hanusz, 2000:ii).
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Setelah seperempat abad hanya berkembang dalam skala kecil usaha rumah tangga, produksi kretek akhirnya menjelma menjadi industri besar sejak awal abad-20 yang dirintis oleh Haji Nitisemito (pendiri pabrik \u2018Jambu Bol\u2019) di Kudus dan Liem Seng Tee (pendiri pabrik \u2018Dji Sam Soe\u2019 dan \u2018Sampoerna\u2019) di Surabaya.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Puncaknya adalah pada pertengahan tahun 1950-an, ketika produksi kretek mulai berkembang pesat menjadi industri raksasa modern dengan munculnya beberapa pabrik baru, antara lain, yang terkemuka, oleh Oei Wei Gwan (pendiri pabrik \u2018Djarum\u2019) di Kudus dan Tjou Ing Hwie (pendiri pabrik \u2018Gudang Garam\u2019) di Kediri (Topatimasang, et.al., eds., 2010:131).<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Baca: Teruslah Menanam Tembakau dan Cengkeh, Wahai Petani Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Cengkeh, bahan baku paling esensial dari kretek --selain tembakau, tentu saja-- pun kembali berjaya. Bahkan, sejak dasawarsa 1970an, telah menjadi salah satu penyumbang terbesar keuangan negara Republik Indonesia. Pada tahun 2012 dan 2013, pemasukan cukai dari industri kretek mencatat 95,5% dari seluruh pemasukan cukai ke kas negara. Nilainya tak tanggung-tanggung: Rp 87 triliun! (el-Guyanie, et.al.: 2013:4-5).<\/strong>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Nilai ekonomisnya yang sangat besar sempat menggoda penguasa otoriter rezim Presiden Soeharto, pada 1990-an, memberlakukan satu kebijakan \u2018Hongi Gaya Baru\u2019: monopoli perdagangan cengkeh dalam negeri melalui Badan Penyanggah dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) yang sangat merugikan petani. Harga cengkeh di tingkat petani penghasil anjlok sampai hanya Rp 2.000 - 3.000 per kilogram, lebih murah dari harga sebungkus kretek yang dihasilkan darinya.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Akibatnya, ratusan ribu pohon cengkeh di daerah-daerah penghasil utama --Maluku, Maluku Utara, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Selatan-- ditebangi atau dibiarkan terlantar tak terurus.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Gelombang reformasi sistem politik dan hukum nasional yang dimulai pada tahun 1998, akhirnya menjungkalkan rezim Soeharto dan BPPC dibubarkan, Pelan tapi pasti, harga cengkeh kembali merangkak naik, sehingga pada tahun 2012, bahkan melewati angka Rp 200.000 per kilogram. Para petani cengkeh di seluruh negeri kembali tersenyum. Tetapi, sampai kapan? <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Catatan:<\/strong><\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  [1] Beberapa sumber menyebutkan bahwa kata \u2018cengkeh\u2019 dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Mandarin, tkeng-his atau xi\u2019jia, yang berarti \u2018rempah [berbentuk mirip] paku\u2019 (scented nails). Ini menunjukkan bahwa cengkeh sudah dikenal sejak lama oleh bangsa Cina --diketahui sejak abad-2-- jauh sebelum orang Eropa mengenalnya ((lihat, misalnya: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  [2] Catatan-catatan para biarawan Fransiskan --yang disalin dan dikutip oleh van Frassen-- bahkan menyebut cengkeh sebagai salah satu bahan utama pengawet mumi para Fir\u2019aun, penguasa Mesir Kuno. Beberapa pakar sejarah dan arkeologi menyatakan bahwa rempah-rempah Maluku bahkan sudah ditemukan artefaknya di Lembah Mesopotomia (wilayah Iraq dan sekitarnya sekarang) pada 3.000 tahun sebelum Masehi. (lihat, antara lain: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  [3] Uraian lebih rinci sejarah kolonialisme rempah-rempah Nusantara ini, terutama oleh Belanda dan Portugis, dapat dibaca pada beberapa sumber kepustakaan yang sudah dikenal luas, antara lain: Glamann (1958) dan Boxer (1965 dan 1969). Dalam risalah klasik Pires disebutkan bahwa pada tahun 1512-1521 saja, jumlah produksi cengkeh di Maluku sudah mencapai 7.250 bahar per tahun, terbesar adalah di Makian serta Amboina dan Lease (masing-masing 1.500 bahar)(Pires, 1512-1515).<\/em>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem Topatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  <\/p>\n ","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-10 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-02-10 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5425","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5415,"post_author":"878","post_date":"2019-02-07 12:15:55","post_date_gmt":"2019-02-07 05:15:55","post_content":" \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Belakangan ini, ketika musim hujan tiba, di Kabupaten Temanggung, Kabupaten Jember, dan beberapa wilayah sentra pertanian tembakau lainnya, hampir mustahil menemukan tanaman tembakau tumbuh di lahan-lahan milik petani. Di wilayah-wilayah tersebut, citra sebagai sentra pertanian tembakau seakan menguap. Lahan-lahan yang ada di sana, sama sekali tidak ditumbuhi tanaman tembakau.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Kabar ini bisa jadi dianggap sebagai kabar gembira bagi mereka yang menganggap diri dan kelompoknya anti-rokok dan anti-tembakau yang selalu mengampanyekan sikap-sikap mereka terkait kebencian kepada tembakau dan aktivitas merokok. Setelah sekian lama berjuang, akhirnya perjuangan mereka dirasa berhasil usai menyaksikan fenomena lahan-lahan di wilayah yang dianggap sentra pertanian tembakau pada hari-hari belakangan ini.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Baca juga: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Tak sia-sia turun ke jalan, tak sia-sia melakukan lobi-lobi ke penguasa, tak sia-sia mengucurkan uang yang tidak sedikit, dan tak sia-sia mempermalukan diri dengan mengemis ke lembaga donor asing dan menggondol uang dari cukai tembakau untuk mengampanyekan gerakan anti-rokok dan anti-tembakau. Tak sia-sia. Karena perjuangan sepertinya berhasil.<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Kampanye-kampanye gerakan mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya, sepertinya juga sangat berhasil. Bagaimana tidak? Wilayah-wilayah yang sebelumnya penuh dengan tanaman tembakau dan bergeliat dengannya, kini lahan-lahannya sudah berganti dengan tanaman lain. Sebuah keberhasilan yang menggembirakan. Begitu mungkin pikir mereka para yang menganggap dirinya pejuang anti-rokok dan anti-tembakau. Dan tentu saja mereka akan kecele dan kita akan menertawakan hal itu.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Sayangnya, mereka yang menganggap dirinya anti-rokok dan anti-tembakau tidak menyaksikan langsung fenomena ini di lapangan, di lahan-lahan yang peruntukannya berubah pada hari-hari belakangan ini ketika memasuki musim hujan. Mereka asyik duduk pada kursi empuk di ruang-ruang nyaman ber-AC di kota-kota yang jauh dari kultur pertanian. Mereka menyengajakan diri menjadi elit dan enggan untuk turun melihat langsung ke lapangan. Kalaupun ada yang turun langsung ke lapangan, hanya segelintir saja dari mereka, itupun sekadar formalitas saja. Tak pernah benar-benar mau turun ke lapangan, hidup dan merasakan langsung kultur pertanian tembakau dalam jangka waktu cukup lama di lapangan.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Baca juga: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Fenomena ini membikin kita tak bisa melihat mereka para anti-rokok kecele lalu menertawakan mereka.<\/strong> Fenomena keengganan terjun langsung ke lapangan terlebih mencoba mendengar mereka yang tetap menanam tembakau, juga menjalani keseharian dalam waktu cukup lama bersama petani tembakau inilah yang saya kira menjadikan mereka tetap keras kepala untuk anti-rokok dan anti-tembakau. Karena jika mereka mau melakukan itu, saya yakin mereka semua tidak akan begitu kaku dalam memandang pertanian tembakau dan produk hasil industri tembakau.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Salah satu yang selalu mereka kampanyekan dan ngotot dengan itu, terkait hulu pertanian tembakau adalah mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya. Mereka berargumen banyak tanaman lain yang bisa semenguntungkan tanaman tembakau. Keengganan mereka terjun langsung ke lapangan inilah yang membikin mereka buta dengan kondisi pertanian tembakau dan pada akhirnya terus menerus mengampanyekan pergantian tanaman tembakau dengan tanaman lainnya.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Baca juga: Imanlah kepada Allah, Bukan Antirokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Tembakau tanaman yang khas. Ia hanya tumbuh baik sepanjang empat hingga lima bulan dalam satu tahun. Tumbuh-kembang tanaman tembakau dengan baik itu umumnya terjadi pada musim kemarau setiap tahunnya. Hanya sedikit sekali jenis tembakau yang tumbuh baik di musim penghujan, mayoritasnya, tumbuh baik pada musim kemarau.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Jika ditanam pada musim hujan, hampir bisa dipastikan tanaman tembakau akan gagal menghasilkan daun-daun yang berkualitas. Ia akan rusak dan membusuk karena terlalu banyak terkena air sehingga daun-daun itu tak layak dijual. Jangankan bisa dijual, untuk tumbuh dengan baik pun sepertinya sulit karena musim hujan akan membunuh banyak tanaman itu.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Maka, tak heran pada musim-musim seperti saat ini, ketika musim penghujan mendekati puncaknya, di wilayah-wilayah yang dikenal sebagai sentra pertanian tembakau, sulit menemukan pohon tembakau yang sedang tumbuh. Pada lahan-lahan yang sebelumnya ditumbuhi tanaman tembakau pada musim panas, berganti tanaman-tanaman lain yang bermacam-macam, sesuai dengan kondisi lahannya. Untuk lahan sawah, lahan-lahan itu pada musim penghujan kini ditumbuhi tanaman padi yang subur. Pada lahan tegalan dan lahan di pegunungan, lahan-lahan yang ditanami tembakau pada musim kemarau, saat ini ditumbuhi bermacam jenis tanaman mulai dari cabai, bawang, tomat, kol, terong, mentimun, dan ragam jenis tanaman semusim lainnya.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Uniknya, tipikal tanaman tembakau yang tumbuh baik di musim kemarau ini memberi pilihan lebih kepada para petani. Lahan-lahan yang sulit ditanami pada musim kemarau, pada akhirnya masih bisa tetap produktif dengan keberadaan tanaman tembakau. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Maka, kampanye aneh mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain dengan ragam rupa dalih yang membingungkan, bukan saja sama sekali tidak tepat dan asal-asalan, namun bisa jadi akan ditertawakan oleh para petani yang begitu paham dengan kondisi lahan dan terutama kondisi iklim dan cuaca. Sulit mencari tanaman semusim yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Jika pun ada, tak ada yang semenguntungkan tanaman tembakau.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  <\/p>\n ","post_title":"Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"keberhasilan-gerakan-anti-tembakau-tak-ada-tembakau-saat-musim-hujan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-07 12:16:02","post_modified_gmt":"2019-02-07 05:16:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5415","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5409,"post_author":"919","post_date":"2019-02-05 08:04:43","post_date_gmt":"2019-02-05 01:04:43","post_content":" \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Tahun Baru Imlek yang merupakan tradisi Bangsa Tiongkok kini sudah tak lagi menjadi hal yang asing bagi masyarakat Indonesia. Kehadirannya sudah mewarnai dan berakulturasi dengan tradisi lokal. Menjelang Tahun Baru Imlek. Berbagai hiasan dan kemeriahan terjadi beberapa titik di Tanah Air. Perayaannya juga menjadi destinasi baru yang mengasyikkan untuk dilihat dan patut disaksikan.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Berterimakasihlah kepada sang bapak bangsa, KH Abdurrahman Wahid atau yang dikenal dengan nama Gus Dur. Berkat kebijakannya saat menjadi Presiden Indonesia, Tahun Baru Imlek resmi dijadikan hari libur nasional dan dianggap sebagai salah satu hari raya di Tanah Air. Meski sentimen antitionghoa masih ada di sana-sini, tapi tetap tak bisa dipungkiri bahwa bangsa tionghoa sudah bersentuhan dengan budaya lokal dalam kurun waktu yang sangat panjang.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  DNA Bangsa Tionghoa yang memang merupakan pedagang menjadi pembuka kisah interaksi antara nenek moyang berbagai suku di Nusantara dengan mereka. Beberapa kelenteng-kelenteng yang tersebar pada berbagai pesisir daerah di Nusantara jadi buktinya. Pelabuhan-pelabuhan tua di tanah air dan ramainya perdagangan di pesisir mempermudah bangsa kita berhubungan dengan Bangsa Tionghoa.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Baca Juga: Wong Kalang dan Kota Gede<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa kehadiran Bangsa Tionghoa di Nusantara tak hanya sebagai pedagang, namun juga sebagai pekerja (bahkan hingga pekerja kasar). Benny Setiono, seorang sejarahwan menyebutkan bahwa antara tahun 1760-1770 dalam jumlah yang besar memasuki nusantara melalui Kalimantan Barat. Mereka bekerja sebagai kuli pertambangan di sana dan di kemudian hari membentuk sebuah republik bernama Republik Lanfang yang konon katanya menjadi republik pertama di Asia Tenggara.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Baca Juga: Imlek dan Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Baca Juga: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  <\/p>\n ","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_3o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  a. Dosis benih \t\t\t\t\t= 5 gr per 1 Hektare <\/p>\n \n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  b. Dalam 1 gr benih \t\t\t\t= \u00b1 7.500 benih<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  c. Bila daya berkecambah (DB) \u00b1 80 %\t\t= 5 gr x 7.500 x 80% <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  d. Bibit yang tumbuh \t\t\t\t= 37.500 tanaman <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          (Hitungan di atas sudah termasuk cadangan untuk sulaman) <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  e. Teknis sebar benih; apabila luas media tanam cukup, teknis sebar benih yang dianjurkan adalah dicampur dengan abu sekam. Apabila luas media tanam tidak mencukupi, maka teknis sebar benih yang dianjurkan adalah diaduk tanah.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  f. Cara memperoleh benih yang murni dan baik, harus mengetahui asal usul \/ sumber benih apakah dari BALITTAS, Dinas Pertanian  atau Seeding Center. Daya kecambah terukur sehingga dosis sebar bisa ditentukan. Bebas Hama dan Penyakit. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  2. Persiapan Lahan <\/strong><\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  1. Tanah digemburkan sehingga akar mudah berkembang <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  2. Menyediakan ruang untuk respirasi akar <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  3. Mematikan gulma dan penyakit dalam tanah <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  4. Tanah siap menjadi media tumbuh bagi tanaman <\/li><\/ol>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    \"\"\/<\/figure>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    \"\"\/<\/figure>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Sempurna<\/strong> <\/strong>tidak sempurna<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    3. Persiapan Media Tanam<\/strong><\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    1. Tanah yang digunakan adalah tanah dan pupuk kandang yang sudah matang <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    2. Tanah berasal dari tanah steril (sudah dikeringkan dan bukan dari tanah bekas tanaman yang terserang penyakit)<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    3. Media tanah dicangkul ringan di para-para minimal 2x <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    4. Sebar Benih; <\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Setelah bibit dan lahan siap, kemudian sebarkan benih dengan ditutup memakai jerami <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      1. Pemupukan <\/strong><\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      2. Pemupukan pertama<\/li><\/ol>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        \"\"\/<\/figure>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        1. Pemupukan kedua, dilakukan apabila pertumbuhan bibit kurang baik (21 HSS). Pupuk yang digunakan adalaj KNO3 <\/sub>(30 \u2013 50 gram per bedeng dengan ukuran 1x5 m) dicampur dengan air \u00b110 liter, selanjutnya bedengan disiram kembali dengan air (pembilasan) <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        2. Penyiraman<\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Frekuensi penyiraman berdasarkan umur bibit\/umur hari setelah sebar (HSS):<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          0 \u2013 10 HSS\t\t:\t3x Sehari (fase kritis)<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          11 \u2013 21 HSS\t\t:\t2x Sehari <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          22 \u2013 35 HSS\t\t:\t1x Sehari <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          36 \u2013 45 \/ 50 HSS\t:\tPeriode stress air\/kering<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          1. Penjarangan & Hardening<\/strong>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            1. Penjarangan dilakukan agar jarak antara bibit ideal (4-5 cm) sehingga tidak<\/li><\/ol><\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              terserang hama & penyakit. Penjarangan dilakukan pada umur bibit 21-25 hari dengan cara: basahi bedengan sore hari sebelumnya dan pagi hari sebelum bibit dicabut, cabut bibit  yang akan ditanami dengan hati-hati, tanam bibit pada bedengan yang kerapatan bibitnya jarang, siram bibit sesegera mungkin setelah dipindah.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              1. Bibit dibiasakan untuk terkena sinar  matahari langsung. Tujuan hardening agar bibit dapat beradaptasi dan memperkuat jaringan daun, batang serta mengurangi resiko penyakit karena jamur. Pelaksanaan hardening mulai umur 21 HSS secara bertahap.Pada kondisi hujan tidak dianjurkan. <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              2. Klipping <\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                1. Dilakukan antara jam 08.00 sampai 11.00 (usahakan cuaca cerah) <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                2. Kliping dilakukan pada saat bibit pertumbuhannya terlalu lebat atau saling menutup batangnya. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                3. Kliping adalah kegiatan memotong sebagian atau 2\/3 daun bibit tembakau. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                4. Frekuensi kliping dilakukan bisa satu, dua kali atau lebih sesuai dengan perkembangan bibit dan persiapan lokasi areal tanam. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                5 Lima sampai tujuh hari menjelang transplanting, kegiatan kliping sebaiknya sudah selesai. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Tujuan klipping: menjaga lingkungan bibit agar tidak lembab, <\/strong>memperbesar batan,menyeragamkan ukuran benih, dan memperkuat pertumbuhan akar <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                1. Pencabutan Bibit, agar mendapatkan jarak tanam yang sesuai lahan <\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  \"\"\/<\/figure>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  \"\"\/<\/figure>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Dalam satu hamparan direkomendasikan selesai tanam maksimal 3 Hari. Umur  tanaman akan menjadi sama atau seragam. Performance tanaman juga akan menjadi  seragam. Kemasakan daun pada saat petik juga menjadi seragam. Memudahkan pada saat  proses panen dan pasca panen. Tembakau kering yang dihasilkan pun juga seragam.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  1. Pengendalian Hama & Penyakit<\/strong> <\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    ~ Pada awal penyebaran benih direkomendasikan untuk melakukan penyemprotan fusngisida (jamur), seperti Previcur, Redomil & Antracol <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    ~ Hama yang sering dijumpai: semut (Decis), janggel, orong-orong <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    1. Tahapan Perawatan<\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      \"\"\/<\/figure>\n ","post_title":"Sukses Bertani Tembakau Bersama Kemitraan Djarum di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sukses-bertani-tembakau-bersama-kemitraan-djarum-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-11 12:32:18","post_modified_gmt":"2019-02-11 05:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5433","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5425,"post_author":"922","post_date":"2019-02-10 09:07:33","post_date_gmt":"2019-02-10 02:07:33","post_content":" \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Bahwa cengkeh [1] (Syzygium aromaticum) --bersama pala (Myristica fragrans)-- adalah dua tanaman asli (endemik) Kepulauan Maluku, sudah tak terbantahkan. Cengkeh dikenal dan diakui berasal dari \u2018Empat Pulau Gunung Maluku\u2019 (Maloko Kie Raha): Ternate, Tidore, Moti, dan Makian.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Adapun pala, berasal dari empat pulau kecil lainnya di tengah Laut Banda: Lonthor, Neira, Rhun, dan Ai. Pada penjelasan peta abad-16 oleh penjelajah dari Semenanjung Iberia, Fransisco Rodriguez, tertulis: \u201cEstas quatro Ilhas Azures suam as de molluquo homde nace ho crauzo\u201d<\/em> (Adalah empat pulau berwarna biru [dalam peta] yang disebut sebagai Kepulauan Maluku di mana rempah-rempah berasal) (Pires, 1512- 1515:213).
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Sejak beberapa abad sebelum Masehi, adalah para saudagar Arab --melalui Samudera Hindia melintasi Iskandariyah dan Laut Tengah-- serta para pedagang Cina --melalui jalur \u2018Jalan Sutra\u2019 melintasi Asia Tengah dan Asia Barat-- yang membawa dan memperkenalkannya ke daratan Eropa. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Bandar-bandar besar Tyre di Yunani dan Venesia di Italia menjadi pelabuhan utama rempah-rempah Maluku memasuki kehidupan dan peradaban Eropa. Selain sebagai bumbu masakan, rempah obat, dan ramuan wewangian, cengkeh dan pala juga menjadi bahan utama pengawet bahan pangan. [2]
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Inilah yang membuat orang-orang Eropa untuk pertama kalinya dapat mengawetkan dan menimbun makanan selama bermusim-musim. Prosa indah Blair bersaudara menggambarkannya dengan sangat baik:
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      \u201cKemampuan menyimpan makanan lebih dari yang kami makan sekaligus berarti kemampuan menjual dan membelinya dalam jumlah besar --dan kota-kota dagang pun mekar. Perekonomian yang dihasilkannya mengarahkan kami ke zaman Pencerahan dan kemudian Revolusi Industri. Tak lama setelah kami menghirup aroma yang sangat kuat dari Timur itu dan mengubah kimiawi makanan kami, maka kami pun mampu melakukan lompatan besar dalam bidang budaya dan seni.\u201d (Blair & Blair, 2010; 30-31).<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Baca: Cengkeh dan Kelapa di Kepulauan Anambas<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Bukan hanya membuat perekonomian dan perdagangan serta ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang, cengkeh dan pala bahkan adalah faktor yang paling menentukan dalam kemunculan satu babakan paling mengenaskan dalam sejarah politik dunia, yakni zaman penjajahan (kolonialisme) Eropa, terutama atas-atas negeri- negeri Asia Selatan, Timur dan Tenggara, termasuk Indonesia.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Tergerak oleh sahwat menguasai rempah-rempah yang menggiurkan itu, bangsa-bangsa Eropa --terutama Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda-- pun menggelar ekspedisi-ekspedisi besar untuk menemukan cengkeh dan pala langsung di tanah asalnya. Ketika armada-armada mereka akhirnya mencapai perairan Kepulauan Maluku, pada abad-16, perang pun tak terhindarkan.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Mereka silih berganti saling mengalahkan, tetapi pemenang terakhir adalah Belanda. Melalui Perusahaan Dagang Hindia Timur (Vereenigde Oostindische Compagnie, VOC) yang dibentuk pada awal abad-17 (tepatnya tahun 1609), Belanda melancarkan ekspedisi Pelayaran Hongi (Hongie Tochten), untuk memusnahkan semua tanaman cengkeh di Ternate, Tidore, Moti, dan Makian, lalu membatasi ketat penanamnya hanya di Pulau-pulau Ambon dan Lease --yang lebih dekat ke Banda sebagai pusat pemerintahan mereka sebelum akhirnya dipindahkan ke Batavia.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Praktis, sejak akhir abad-16, Belanda pun menguasai penuh perdagangan rempah-rempah Maluku dengan jumlah produksi rerata 2.500 sampai 4.500 ton per tahun. [3]<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Baca: Budidaya Pohon Cengkeh<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Meskipun peran utama rempah-rempah Maluku itu kemudian tergusur pada abad-18 dan 19 oleh beberapa barang eksotika tropis lainnya --hasil perkebunan-perkebunana besar baru di Pulau Sumatera dan Jawa: tebu, tembakau, lada, kopi, teh, nila, kelapa sawit, dan kayu jati-- namun sejarah sudah mencatat bahwa dua jenis rempah-rempah Maluku itulah yang mengawali penjelajahan sekaligus penjajahan kepulauan Nusantara oleh bangsa-bangsa Eropah, terutama Belanda (Topatimasang, ed., 2004:32). Jika saja tak pernah ada cengkeh dan pala di Maluku, mungkin sejarah kepulauan Nusantara ini akan berbeda sama sekali.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Masa suram cengkeh dan pala terus berlangsung sampai pertengahan abad-20. Rempah eksotika yang pernah membuat tergila-gila<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      para saudagar Arab, pedagang Cina, serta kaum ningrat Eropa itu, tergantikan perannya oleh penemuan teknologi mesin pendingin berkat Revolusi Industri yang dimulai di Inggris pada pertengahan abad-18. Pasaran cengkeh di Eropa pun merosot tajam.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Nasibnya terselamatkan berkat penemuan oleh seorang Haji Djamhari di Kudus, Jawa Tengah. Pada akhir tahun 1880-an, Haji Djamhari menemukan kegunaan baru cengkeh sebagai ramuan utama rokok. Lahirlah satu produk baru yang unik, khas dan asli Indonesia: kretek! (Hanusz, 2000:ii).
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Setelah seperempat abad hanya berkembang dalam skala kecil usaha rumah tangga, produksi kretek akhirnya menjelma menjadi industri besar sejak awal abad-20 yang dirintis oleh Haji Nitisemito (pendiri pabrik \u2018Jambu Bol\u2019) di Kudus dan Liem Seng Tee (pendiri pabrik \u2018Dji Sam Soe\u2019 dan \u2018Sampoerna\u2019) di Surabaya.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Puncaknya adalah pada pertengahan tahun 1950-an, ketika produksi kretek mulai berkembang pesat menjadi industri raksasa modern dengan munculnya beberapa pabrik baru, antara lain, yang terkemuka, oleh Oei Wei Gwan (pendiri pabrik \u2018Djarum\u2019) di Kudus dan Tjou Ing Hwie (pendiri pabrik \u2018Gudang Garam\u2019) di Kediri (Topatimasang, et.al., eds., 2010:131).<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Baca: Teruslah Menanam Tembakau dan Cengkeh, Wahai Petani Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Cengkeh, bahan baku paling esensial dari kretek --selain tembakau, tentu saja-- pun kembali berjaya. Bahkan, sejak dasawarsa 1970an, telah menjadi salah satu penyumbang terbesar keuangan negara Republik Indonesia. Pada tahun 2012 dan 2013, pemasukan cukai dari industri kretek mencatat 95,5% dari seluruh pemasukan cukai ke kas negara. Nilainya tak tanggung-tanggung: Rp 87 triliun! (el-Guyanie, et.al.: 2013:4-5).<\/strong>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Nilai ekonomisnya yang sangat besar sempat menggoda penguasa otoriter rezim Presiden Soeharto, pada 1990-an, memberlakukan satu kebijakan \u2018Hongi Gaya Baru\u2019: monopoli perdagangan cengkeh dalam negeri melalui Badan Penyanggah dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) yang sangat merugikan petani. Harga cengkeh di tingkat petani penghasil anjlok sampai hanya Rp 2.000 - 3.000 per kilogram, lebih murah dari harga sebungkus kretek yang dihasilkan darinya.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Akibatnya, ratusan ribu pohon cengkeh di daerah-daerah penghasil utama --Maluku, Maluku Utara, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Selatan-- ditebangi atau dibiarkan terlantar tak terurus.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Gelombang reformasi sistem politik dan hukum nasional yang dimulai pada tahun 1998, akhirnya menjungkalkan rezim Soeharto dan BPPC dibubarkan, Pelan tapi pasti, harga cengkeh kembali merangkak naik, sehingga pada tahun 2012, bahkan melewati angka Rp 200.000 per kilogram. Para petani cengkeh di seluruh negeri kembali tersenyum. Tetapi, sampai kapan? <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Catatan:<\/strong><\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      [1] Beberapa sumber menyebutkan bahwa kata \u2018cengkeh\u2019 dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Mandarin, tkeng-his atau xi\u2019jia, yang berarti \u2018rempah [berbentuk mirip] paku\u2019 (scented nails). Ini menunjukkan bahwa cengkeh sudah dikenal sejak lama oleh bangsa Cina --diketahui sejak abad-2-- jauh sebelum orang Eropa mengenalnya ((lihat, misalnya: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      [2] Catatan-catatan para biarawan Fransiskan --yang disalin dan dikutip oleh van Frassen-- bahkan menyebut cengkeh sebagai salah satu bahan utama pengawet mumi para Fir\u2019aun, penguasa Mesir Kuno. Beberapa pakar sejarah dan arkeologi menyatakan bahwa rempah-rempah Maluku bahkan sudah ditemukan artefaknya di Lembah Mesopotomia (wilayah Iraq dan sekitarnya sekarang) pada 3.000 tahun sebelum Masehi. (lihat, antara lain: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      [3] Uraian lebih rinci sejarah kolonialisme rempah-rempah Nusantara ini, terutama oleh Belanda dan Portugis, dapat dibaca pada beberapa sumber kepustakaan yang sudah dikenal luas, antara lain: Glamann (1958) dan Boxer (1965 dan 1969). Dalam risalah klasik Pires disebutkan bahwa pada tahun 1512-1521 saja, jumlah produksi cengkeh di Maluku sudah mencapai 7.250 bahar per tahun, terbesar adalah di Makian serta Amboina dan Lease (masing-masing 1.500 bahar)(Pires, 1512-1515).<\/em>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem Topatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n ","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-10 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-02-10 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5425","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5415,"post_author":"878","post_date":"2019-02-07 12:15:55","post_date_gmt":"2019-02-07 05:15:55","post_content":" \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Belakangan ini, ketika musim hujan tiba, di Kabupaten Temanggung, Kabupaten Jember, dan beberapa wilayah sentra pertanian tembakau lainnya, hampir mustahil menemukan tanaman tembakau tumbuh di lahan-lahan milik petani. Di wilayah-wilayah tersebut, citra sebagai sentra pertanian tembakau seakan menguap. Lahan-lahan yang ada di sana, sama sekali tidak ditumbuhi tanaman tembakau.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Kabar ini bisa jadi dianggap sebagai kabar gembira bagi mereka yang menganggap diri dan kelompoknya anti-rokok dan anti-tembakau yang selalu mengampanyekan sikap-sikap mereka terkait kebencian kepada tembakau dan aktivitas merokok. Setelah sekian lama berjuang, akhirnya perjuangan mereka dirasa berhasil usai menyaksikan fenomena lahan-lahan di wilayah yang dianggap sentra pertanian tembakau pada hari-hari belakangan ini.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Baca juga: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Tak sia-sia turun ke jalan, tak sia-sia melakukan lobi-lobi ke penguasa, tak sia-sia mengucurkan uang yang tidak sedikit, dan tak sia-sia mempermalukan diri dengan mengemis ke lembaga donor asing dan menggondol uang dari cukai tembakau untuk mengampanyekan gerakan anti-rokok dan anti-tembakau. Tak sia-sia. Karena perjuangan sepertinya berhasil.<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Kampanye-kampanye gerakan mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya, sepertinya juga sangat berhasil. Bagaimana tidak? Wilayah-wilayah yang sebelumnya penuh dengan tanaman tembakau dan bergeliat dengannya, kini lahan-lahannya sudah berganti dengan tanaman lain. Sebuah keberhasilan yang menggembirakan. Begitu mungkin pikir mereka para yang menganggap dirinya pejuang anti-rokok dan anti-tembakau. Dan tentu saja mereka akan kecele dan kita akan menertawakan hal itu.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Sayangnya, mereka yang menganggap dirinya anti-rokok dan anti-tembakau tidak menyaksikan langsung fenomena ini di lapangan, di lahan-lahan yang peruntukannya berubah pada hari-hari belakangan ini ketika memasuki musim hujan. Mereka asyik duduk pada kursi empuk di ruang-ruang nyaman ber-AC di kota-kota yang jauh dari kultur pertanian. Mereka menyengajakan diri menjadi elit dan enggan untuk turun melihat langsung ke lapangan. Kalaupun ada yang turun langsung ke lapangan, hanya segelintir saja dari mereka, itupun sekadar formalitas saja. Tak pernah benar-benar mau turun ke lapangan, hidup dan merasakan langsung kultur pertanian tembakau dalam jangka waktu cukup lama di lapangan.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Baca juga: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Fenomena ini membikin kita tak bisa melihat mereka para anti-rokok kecele lalu menertawakan mereka.<\/strong> Fenomena keengganan terjun langsung ke lapangan terlebih mencoba mendengar mereka yang tetap menanam tembakau, juga menjalani keseharian dalam waktu cukup lama bersama petani tembakau inilah yang saya kira menjadikan mereka tetap keras kepala untuk anti-rokok dan anti-tembakau. Karena jika mereka mau melakukan itu, saya yakin mereka semua tidak akan begitu kaku dalam memandang pertanian tembakau dan produk hasil industri tembakau.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Salah satu yang selalu mereka kampanyekan dan ngotot dengan itu, terkait hulu pertanian tembakau adalah mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya. Mereka berargumen banyak tanaman lain yang bisa semenguntungkan tanaman tembakau. Keengganan mereka terjun langsung ke lapangan inilah yang membikin mereka buta dengan kondisi pertanian tembakau dan pada akhirnya terus menerus mengampanyekan pergantian tanaman tembakau dengan tanaman lainnya.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Baca juga: Imanlah kepada Allah, Bukan Antirokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Tembakau tanaman yang khas. Ia hanya tumbuh baik sepanjang empat hingga lima bulan dalam satu tahun. Tumbuh-kembang tanaman tembakau dengan baik itu umumnya terjadi pada musim kemarau setiap tahunnya. Hanya sedikit sekali jenis tembakau yang tumbuh baik di musim penghujan, mayoritasnya, tumbuh baik pada musim kemarau.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Jika ditanam pada musim hujan, hampir bisa dipastikan tanaman tembakau akan gagal menghasilkan daun-daun yang berkualitas. Ia akan rusak dan membusuk karena terlalu banyak terkena air sehingga daun-daun itu tak layak dijual. Jangankan bisa dijual, untuk tumbuh dengan baik pun sepertinya sulit karena musim hujan akan membunuh banyak tanaman itu.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Maka, tak heran pada musim-musim seperti saat ini, ketika musim penghujan mendekati puncaknya, di wilayah-wilayah yang dikenal sebagai sentra pertanian tembakau, sulit menemukan pohon tembakau yang sedang tumbuh. Pada lahan-lahan yang sebelumnya ditumbuhi tanaman tembakau pada musim panas, berganti tanaman-tanaman lain yang bermacam-macam, sesuai dengan kondisi lahannya. Untuk lahan sawah, lahan-lahan itu pada musim penghujan kini ditumbuhi tanaman padi yang subur. Pada lahan tegalan dan lahan di pegunungan, lahan-lahan yang ditanami tembakau pada musim kemarau, saat ini ditumbuhi bermacam jenis tanaman mulai dari cabai, bawang, tomat, kol, terong, mentimun, dan ragam jenis tanaman semusim lainnya.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Uniknya, tipikal tanaman tembakau yang tumbuh baik di musim kemarau ini memberi pilihan lebih kepada para petani. Lahan-lahan yang sulit ditanami pada musim kemarau, pada akhirnya masih bisa tetap produktif dengan keberadaan tanaman tembakau. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Maka, kampanye aneh mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain dengan ragam rupa dalih yang membingungkan, bukan saja sama sekali tidak tepat dan asal-asalan, namun bisa jadi akan ditertawakan oleh para petani yang begitu paham dengan kondisi lahan dan terutama kondisi iklim dan cuaca. Sulit mencari tanaman semusim yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Jika pun ada, tak ada yang semenguntungkan tanaman tembakau.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n ","post_title":"Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"keberhasilan-gerakan-anti-tembakau-tak-ada-tembakau-saat-musim-hujan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-07 12:16:02","post_modified_gmt":"2019-02-07 05:16:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5415","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5409,"post_author":"919","post_date":"2019-02-05 08:04:43","post_date_gmt":"2019-02-05 01:04:43","post_content":" \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Tahun Baru Imlek yang merupakan tradisi Bangsa Tiongkok kini sudah tak lagi menjadi hal yang asing bagi masyarakat Indonesia. Kehadirannya sudah mewarnai dan berakulturasi dengan tradisi lokal. Menjelang Tahun Baru Imlek. Berbagai hiasan dan kemeriahan terjadi beberapa titik di Tanah Air. Perayaannya juga menjadi destinasi baru yang mengasyikkan untuk dilihat dan patut disaksikan.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Berterimakasihlah kepada sang bapak bangsa, KH Abdurrahman Wahid atau yang dikenal dengan nama Gus Dur. Berkat kebijakannya saat menjadi Presiden Indonesia, Tahun Baru Imlek resmi dijadikan hari libur nasional dan dianggap sebagai salah satu hari raya di Tanah Air. Meski sentimen antitionghoa masih ada di sana-sini, tapi tetap tak bisa dipungkiri bahwa bangsa tionghoa sudah bersentuhan dengan budaya lokal dalam kurun waktu yang sangat panjang.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      DNA Bangsa Tionghoa yang memang merupakan pedagang menjadi pembuka kisah interaksi antara nenek moyang berbagai suku di Nusantara dengan mereka. Beberapa kelenteng-kelenteng yang tersebar pada berbagai pesisir daerah di Nusantara jadi buktinya. Pelabuhan-pelabuhan tua di tanah air dan ramainya perdagangan di pesisir mempermudah bangsa kita berhubungan dengan Bangsa Tionghoa.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Baca Juga: Wong Kalang dan Kota Gede<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa kehadiran Bangsa Tionghoa di Nusantara tak hanya sebagai pedagang, namun juga sebagai pekerja (bahkan hingga pekerja kasar). Benny Setiono, seorang sejarahwan menyebutkan bahwa antara tahun 1760-1770 dalam jumlah yang besar memasuki nusantara melalui Kalimantan Barat. Mereka bekerja sebagai kuli pertambangan di sana dan di kemudian hari membentuk sebuah republik bernama Republik Lanfang yang konon katanya menjadi republik pertama di Asia Tenggara.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Baca Juga: Imlek dan Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Baca Juga: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n ","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_3o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            1. Persiapan Benih<\/strong>, meliputi:<\/p>\n \n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      a. Dosis benih \t\t\t\t\t= 5 gr per 1 Hektare <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      b. Dalam 1 gr benih \t\t\t\t= \u00b1 7.500 benih<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      c. Bila daya berkecambah (DB) \u00b1 80 %\t\t= 5 gr x 7.500 x 80% <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      d. Bibit yang tumbuh \t\t\t\t= 37.500 tanaman <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              (Hitungan di atas sudah termasuk cadangan untuk sulaman) <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      e. Teknis sebar benih; apabila luas media tanam cukup, teknis sebar benih yang dianjurkan adalah dicampur dengan abu sekam. Apabila luas media tanam tidak mencukupi, maka teknis sebar benih yang dianjurkan adalah diaduk tanah.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      f. Cara memperoleh benih yang murni dan baik, harus mengetahui asal usul \/ sumber benih apakah dari BALITTAS, Dinas Pertanian  atau Seeding Center. Daya kecambah terukur sehingga dosis sebar bisa ditentukan. Bebas Hama dan Penyakit. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      2. Persiapan Lahan <\/strong><\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      1. Tanah digemburkan sehingga akar mudah berkembang <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      2. Menyediakan ruang untuk respirasi akar <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      3. Mematikan gulma dan penyakit dalam tanah <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      4. Tanah siap menjadi media tumbuh bagi tanaman <\/li><\/ol>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        \"\"\/<\/figure>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        \"\"\/<\/figure>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Sempurna<\/strong> <\/strong>tidak sempurna<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        3. Persiapan Media Tanam<\/strong><\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        1. Tanah yang digunakan adalah tanah dan pupuk kandang yang sudah matang <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        2. Tanah berasal dari tanah steril (sudah dikeringkan dan bukan dari tanah bekas tanaman yang terserang penyakit)<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        3. Media tanah dicangkul ringan di para-para minimal 2x <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        4. Sebar Benih; <\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Setelah bibit dan lahan siap, kemudian sebarkan benih dengan ditutup memakai jerami <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          1. Pemupukan <\/strong><\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          2. Pemupukan pertama<\/li><\/ol>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            \"\"\/<\/figure>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            1. Pemupukan kedua, dilakukan apabila pertumbuhan bibit kurang baik (21 HSS). Pupuk yang digunakan adalaj KNO3 <\/sub>(30 \u2013 50 gram per bedeng dengan ukuran 1x5 m) dicampur dengan air \u00b110 liter, selanjutnya bedengan disiram kembali dengan air (pembilasan) <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            2. Penyiraman<\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Frekuensi penyiraman berdasarkan umur bibit\/umur hari setelah sebar (HSS):<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              0 \u2013 10 HSS\t\t:\t3x Sehari (fase kritis)<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              11 \u2013 21 HSS\t\t:\t2x Sehari <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              22 \u2013 35 HSS\t\t:\t1x Sehari <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              36 \u2013 45 \/ 50 HSS\t:\tPeriode stress air\/kering<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              1. Penjarangan & Hardening<\/strong>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                1. Penjarangan dilakukan agar jarak antara bibit ideal (4-5 cm) sehingga tidak<\/li><\/ol><\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  terserang hama & penyakit. Penjarangan dilakukan pada umur bibit 21-25 hari dengan cara: basahi bedengan sore hari sebelumnya dan pagi hari sebelum bibit dicabut, cabut bibit  yang akan ditanami dengan hati-hati, tanam bibit pada bedengan yang kerapatan bibitnya jarang, siram bibit sesegera mungkin setelah dipindah.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  1. Bibit dibiasakan untuk terkena sinar  matahari langsung. Tujuan hardening agar bibit dapat beradaptasi dan memperkuat jaringan daun, batang serta mengurangi resiko penyakit karena jamur. Pelaksanaan hardening mulai umur 21 HSS secara bertahap.Pada kondisi hujan tidak dianjurkan. <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  2. Klipping <\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    1. Dilakukan antara jam 08.00 sampai 11.00 (usahakan cuaca cerah) <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    2. Kliping dilakukan pada saat bibit pertumbuhannya terlalu lebat atau saling menutup batangnya. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    3. Kliping adalah kegiatan memotong sebagian atau 2\/3 daun bibit tembakau. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    4. Frekuensi kliping dilakukan bisa satu, dua kali atau lebih sesuai dengan perkembangan bibit dan persiapan lokasi areal tanam. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    5 Lima sampai tujuh hari menjelang transplanting, kegiatan kliping sebaiknya sudah selesai. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Tujuan klipping: menjaga lingkungan bibit agar tidak lembab, <\/strong>memperbesar batan,menyeragamkan ukuran benih, dan memperkuat pertumbuhan akar <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    1. Pencabutan Bibit, agar mendapatkan jarak tanam yang sesuai lahan <\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      \"\"\/<\/figure>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      \"\"\/<\/figure>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Dalam satu hamparan direkomendasikan selesai tanam maksimal 3 Hari. Umur  tanaman akan menjadi sama atau seragam. Performance tanaman juga akan menjadi  seragam. Kemasakan daun pada saat petik juga menjadi seragam. Memudahkan pada saat  proses panen dan pasca panen. Tembakau kering yang dihasilkan pun juga seragam.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      1. Pengendalian Hama & Penyakit<\/strong> <\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        ~ Pada awal penyebaran benih direkomendasikan untuk melakukan penyemprotan fusngisida (jamur), seperti Previcur, Redomil & Antracol <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        ~ Hama yang sering dijumpai: semut (Decis), janggel, orong-orong <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        1. Tahapan Perawatan<\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          \"\"\/<\/figure>\n ","post_title":"Sukses Bertani Tembakau Bersama Kemitraan Djarum di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sukses-bertani-tembakau-bersama-kemitraan-djarum-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-11 12:32:18","post_modified_gmt":"2019-02-11 05:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5433","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5425,"post_author":"922","post_date":"2019-02-10 09:07:33","post_date_gmt":"2019-02-10 02:07:33","post_content":" \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Bahwa cengkeh [1] (Syzygium aromaticum) --bersama pala (Myristica fragrans)-- adalah dua tanaman asli (endemik) Kepulauan Maluku, sudah tak terbantahkan. Cengkeh dikenal dan diakui berasal dari \u2018Empat Pulau Gunung Maluku\u2019 (Maloko Kie Raha): Ternate, Tidore, Moti, dan Makian.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Adapun pala, berasal dari empat pulau kecil lainnya di tengah Laut Banda: Lonthor, Neira, Rhun, dan Ai. Pada penjelasan peta abad-16 oleh penjelajah dari Semenanjung Iberia, Fransisco Rodriguez, tertulis: \u201cEstas quatro Ilhas Azures suam as de molluquo homde nace ho crauzo\u201d<\/em> (Adalah empat pulau berwarna biru [dalam peta] yang disebut sebagai Kepulauan Maluku di mana rempah-rempah berasal) (Pires, 1512- 1515:213).
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Sejak beberapa abad sebelum Masehi, adalah para saudagar Arab --melalui Samudera Hindia melintasi Iskandariyah dan Laut Tengah-- serta para pedagang Cina --melalui jalur \u2018Jalan Sutra\u2019 melintasi Asia Tengah dan Asia Barat-- yang membawa dan memperkenalkannya ke daratan Eropa. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Bandar-bandar besar Tyre di Yunani dan Venesia di Italia menjadi pelabuhan utama rempah-rempah Maluku memasuki kehidupan dan peradaban Eropa. Selain sebagai bumbu masakan, rempah obat, dan ramuan wewangian, cengkeh dan pala juga menjadi bahan utama pengawet bahan pangan. [2]
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Inilah yang membuat orang-orang Eropa untuk pertama kalinya dapat mengawetkan dan menimbun makanan selama bermusim-musim. Prosa indah Blair bersaudara menggambarkannya dengan sangat baik:
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          \u201cKemampuan menyimpan makanan lebih dari yang kami makan sekaligus berarti kemampuan menjual dan membelinya dalam jumlah besar --dan kota-kota dagang pun mekar. Perekonomian yang dihasilkannya mengarahkan kami ke zaman Pencerahan dan kemudian Revolusi Industri. Tak lama setelah kami menghirup aroma yang sangat kuat dari Timur itu dan mengubah kimiawi makanan kami, maka kami pun mampu melakukan lompatan besar dalam bidang budaya dan seni.\u201d (Blair & Blair, 2010; 30-31).<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Baca: Cengkeh dan Kelapa di Kepulauan Anambas<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Bukan hanya membuat perekonomian dan perdagangan serta ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang, cengkeh dan pala bahkan adalah faktor yang paling menentukan dalam kemunculan satu babakan paling mengenaskan dalam sejarah politik dunia, yakni zaman penjajahan (kolonialisme) Eropa, terutama atas-atas negeri- negeri Asia Selatan, Timur dan Tenggara, termasuk Indonesia.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Tergerak oleh sahwat menguasai rempah-rempah yang menggiurkan itu, bangsa-bangsa Eropa --terutama Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda-- pun menggelar ekspedisi-ekspedisi besar untuk menemukan cengkeh dan pala langsung di tanah asalnya. Ketika armada-armada mereka akhirnya mencapai perairan Kepulauan Maluku, pada abad-16, perang pun tak terhindarkan.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Mereka silih berganti saling mengalahkan, tetapi pemenang terakhir adalah Belanda. Melalui Perusahaan Dagang Hindia Timur (Vereenigde Oostindische Compagnie, VOC) yang dibentuk pada awal abad-17 (tepatnya tahun 1609), Belanda melancarkan ekspedisi Pelayaran Hongi (Hongie Tochten), untuk memusnahkan semua tanaman cengkeh di Ternate, Tidore, Moti, dan Makian, lalu membatasi ketat penanamnya hanya di Pulau-pulau Ambon dan Lease --yang lebih dekat ke Banda sebagai pusat pemerintahan mereka sebelum akhirnya dipindahkan ke Batavia.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Praktis, sejak akhir abad-16, Belanda pun menguasai penuh perdagangan rempah-rempah Maluku dengan jumlah produksi rerata 2.500 sampai 4.500 ton per tahun. [3]<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Baca: Budidaya Pohon Cengkeh<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Meskipun peran utama rempah-rempah Maluku itu kemudian tergusur pada abad-18 dan 19 oleh beberapa barang eksotika tropis lainnya --hasil perkebunan-perkebunana besar baru di Pulau Sumatera dan Jawa: tebu, tembakau, lada, kopi, teh, nila, kelapa sawit, dan kayu jati-- namun sejarah sudah mencatat bahwa dua jenis rempah-rempah Maluku itulah yang mengawali penjelajahan sekaligus penjajahan kepulauan Nusantara oleh bangsa-bangsa Eropah, terutama Belanda (Topatimasang, ed., 2004:32). Jika saja tak pernah ada cengkeh dan pala di Maluku, mungkin sejarah kepulauan Nusantara ini akan berbeda sama sekali.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Masa suram cengkeh dan pala terus berlangsung sampai pertengahan abad-20. Rempah eksotika yang pernah membuat tergila-gila<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          para saudagar Arab, pedagang Cina, serta kaum ningrat Eropa itu, tergantikan perannya oleh penemuan teknologi mesin pendingin berkat Revolusi Industri yang dimulai di Inggris pada pertengahan abad-18. Pasaran cengkeh di Eropa pun merosot tajam.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Nasibnya terselamatkan berkat penemuan oleh seorang Haji Djamhari di Kudus, Jawa Tengah. Pada akhir tahun 1880-an, Haji Djamhari menemukan kegunaan baru cengkeh sebagai ramuan utama rokok. Lahirlah satu produk baru yang unik, khas dan asli Indonesia: kretek! (Hanusz, 2000:ii).
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Setelah seperempat abad hanya berkembang dalam skala kecil usaha rumah tangga, produksi kretek akhirnya menjelma menjadi industri besar sejak awal abad-20 yang dirintis oleh Haji Nitisemito (pendiri pabrik \u2018Jambu Bol\u2019) di Kudus dan Liem Seng Tee (pendiri pabrik \u2018Dji Sam Soe\u2019 dan \u2018Sampoerna\u2019) di Surabaya.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Puncaknya adalah pada pertengahan tahun 1950-an, ketika produksi kretek mulai berkembang pesat menjadi industri raksasa modern dengan munculnya beberapa pabrik baru, antara lain, yang terkemuka, oleh Oei Wei Gwan (pendiri pabrik \u2018Djarum\u2019) di Kudus dan Tjou Ing Hwie (pendiri pabrik \u2018Gudang Garam\u2019) di Kediri (Topatimasang, et.al., eds., 2010:131).<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Baca: Teruslah Menanam Tembakau dan Cengkeh, Wahai Petani Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Cengkeh, bahan baku paling esensial dari kretek --selain tembakau, tentu saja-- pun kembali berjaya. Bahkan, sejak dasawarsa 1970an, telah menjadi salah satu penyumbang terbesar keuangan negara Republik Indonesia. Pada tahun 2012 dan 2013, pemasukan cukai dari industri kretek mencatat 95,5% dari seluruh pemasukan cukai ke kas negara. Nilainya tak tanggung-tanggung: Rp 87 triliun! (el-Guyanie, et.al.: 2013:4-5).<\/strong>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Nilai ekonomisnya yang sangat besar sempat menggoda penguasa otoriter rezim Presiden Soeharto, pada 1990-an, memberlakukan satu kebijakan \u2018Hongi Gaya Baru\u2019: monopoli perdagangan cengkeh dalam negeri melalui Badan Penyanggah dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) yang sangat merugikan petani. Harga cengkeh di tingkat petani penghasil anjlok sampai hanya Rp 2.000 - 3.000 per kilogram, lebih murah dari harga sebungkus kretek yang dihasilkan darinya.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Akibatnya, ratusan ribu pohon cengkeh di daerah-daerah penghasil utama --Maluku, Maluku Utara, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Selatan-- ditebangi atau dibiarkan terlantar tak terurus.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Gelombang reformasi sistem politik dan hukum nasional yang dimulai pada tahun 1998, akhirnya menjungkalkan rezim Soeharto dan BPPC dibubarkan, Pelan tapi pasti, harga cengkeh kembali merangkak naik, sehingga pada tahun 2012, bahkan melewati angka Rp 200.000 per kilogram. Para petani cengkeh di seluruh negeri kembali tersenyum. Tetapi, sampai kapan? <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Catatan:<\/strong><\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          [1] Beberapa sumber menyebutkan bahwa kata \u2018cengkeh\u2019 dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Mandarin, tkeng-his atau xi\u2019jia, yang berarti \u2018rempah [berbentuk mirip] paku\u2019 (scented nails). Ini menunjukkan bahwa cengkeh sudah dikenal sejak lama oleh bangsa Cina --diketahui sejak abad-2-- jauh sebelum orang Eropa mengenalnya ((lihat, misalnya: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          [2] Catatan-catatan para biarawan Fransiskan --yang disalin dan dikutip oleh van Frassen-- bahkan menyebut cengkeh sebagai salah satu bahan utama pengawet mumi para Fir\u2019aun, penguasa Mesir Kuno. Beberapa pakar sejarah dan arkeologi menyatakan bahwa rempah-rempah Maluku bahkan sudah ditemukan artefaknya di Lembah Mesopotomia (wilayah Iraq dan sekitarnya sekarang) pada 3.000 tahun sebelum Masehi. (lihat, antara lain: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          [3] Uraian lebih rinci sejarah kolonialisme rempah-rempah Nusantara ini, terutama oleh Belanda dan Portugis, dapat dibaca pada beberapa sumber kepustakaan yang sudah dikenal luas, antara lain: Glamann (1958) dan Boxer (1965 dan 1969). Dalam risalah klasik Pires disebutkan bahwa pada tahun 1512-1521 saja, jumlah produksi cengkeh di Maluku sudah mencapai 7.250 bahar per tahun, terbesar adalah di Makian serta Amboina dan Lease (masing-masing 1.500 bahar)(Pires, 1512-1515).<\/em>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem Topatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n ","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-10 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-02-10 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5425","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5415,"post_author":"878","post_date":"2019-02-07 12:15:55","post_date_gmt":"2019-02-07 05:15:55","post_content":" \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Belakangan ini, ketika musim hujan tiba, di Kabupaten Temanggung, Kabupaten Jember, dan beberapa wilayah sentra pertanian tembakau lainnya, hampir mustahil menemukan tanaman tembakau tumbuh di lahan-lahan milik petani. Di wilayah-wilayah tersebut, citra sebagai sentra pertanian tembakau seakan menguap. Lahan-lahan yang ada di sana, sama sekali tidak ditumbuhi tanaman tembakau.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Kabar ini bisa jadi dianggap sebagai kabar gembira bagi mereka yang menganggap diri dan kelompoknya anti-rokok dan anti-tembakau yang selalu mengampanyekan sikap-sikap mereka terkait kebencian kepada tembakau dan aktivitas merokok. Setelah sekian lama berjuang, akhirnya perjuangan mereka dirasa berhasil usai menyaksikan fenomena lahan-lahan di wilayah yang dianggap sentra pertanian tembakau pada hari-hari belakangan ini.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Baca juga: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Tak sia-sia turun ke jalan, tak sia-sia melakukan lobi-lobi ke penguasa, tak sia-sia mengucurkan uang yang tidak sedikit, dan tak sia-sia mempermalukan diri dengan mengemis ke lembaga donor asing dan menggondol uang dari cukai tembakau untuk mengampanyekan gerakan anti-rokok dan anti-tembakau. Tak sia-sia. Karena perjuangan sepertinya berhasil.<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Kampanye-kampanye gerakan mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya, sepertinya juga sangat berhasil. Bagaimana tidak? Wilayah-wilayah yang sebelumnya penuh dengan tanaman tembakau dan bergeliat dengannya, kini lahan-lahannya sudah berganti dengan tanaman lain. Sebuah keberhasilan yang menggembirakan. Begitu mungkin pikir mereka para yang menganggap dirinya pejuang anti-rokok dan anti-tembakau. Dan tentu saja mereka akan kecele dan kita akan menertawakan hal itu.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Sayangnya, mereka yang menganggap dirinya anti-rokok dan anti-tembakau tidak menyaksikan langsung fenomena ini di lapangan, di lahan-lahan yang peruntukannya berubah pada hari-hari belakangan ini ketika memasuki musim hujan. Mereka asyik duduk pada kursi empuk di ruang-ruang nyaman ber-AC di kota-kota yang jauh dari kultur pertanian. Mereka menyengajakan diri menjadi elit dan enggan untuk turun melihat langsung ke lapangan. Kalaupun ada yang turun langsung ke lapangan, hanya segelintir saja dari mereka, itupun sekadar formalitas saja. Tak pernah benar-benar mau turun ke lapangan, hidup dan merasakan langsung kultur pertanian tembakau dalam jangka waktu cukup lama di lapangan.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Baca juga: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Fenomena ini membikin kita tak bisa melihat mereka para anti-rokok kecele lalu menertawakan mereka.<\/strong> Fenomena keengganan terjun langsung ke lapangan terlebih mencoba mendengar mereka yang tetap menanam tembakau, juga menjalani keseharian dalam waktu cukup lama bersama petani tembakau inilah yang saya kira menjadikan mereka tetap keras kepala untuk anti-rokok dan anti-tembakau. Karena jika mereka mau melakukan itu, saya yakin mereka semua tidak akan begitu kaku dalam memandang pertanian tembakau dan produk hasil industri tembakau.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Salah satu yang selalu mereka kampanyekan dan ngotot dengan itu, terkait hulu pertanian tembakau adalah mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya. Mereka berargumen banyak tanaman lain yang bisa semenguntungkan tanaman tembakau. Keengganan mereka terjun langsung ke lapangan inilah yang membikin mereka buta dengan kondisi pertanian tembakau dan pada akhirnya terus menerus mengampanyekan pergantian tanaman tembakau dengan tanaman lainnya.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Baca juga: Imanlah kepada Allah, Bukan Antirokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Tembakau tanaman yang khas. Ia hanya tumbuh baik sepanjang empat hingga lima bulan dalam satu tahun. Tumbuh-kembang tanaman tembakau dengan baik itu umumnya terjadi pada musim kemarau setiap tahunnya. Hanya sedikit sekali jenis tembakau yang tumbuh baik di musim penghujan, mayoritasnya, tumbuh baik pada musim kemarau.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Jika ditanam pada musim hujan, hampir bisa dipastikan tanaman tembakau akan gagal menghasilkan daun-daun yang berkualitas. Ia akan rusak dan membusuk karena terlalu banyak terkena air sehingga daun-daun itu tak layak dijual. Jangankan bisa dijual, untuk tumbuh dengan baik pun sepertinya sulit karena musim hujan akan membunuh banyak tanaman itu.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Maka, tak heran pada musim-musim seperti saat ini, ketika musim penghujan mendekati puncaknya, di wilayah-wilayah yang dikenal sebagai sentra pertanian tembakau, sulit menemukan pohon tembakau yang sedang tumbuh. Pada lahan-lahan yang sebelumnya ditumbuhi tanaman tembakau pada musim panas, berganti tanaman-tanaman lain yang bermacam-macam, sesuai dengan kondisi lahannya. Untuk lahan sawah, lahan-lahan itu pada musim penghujan kini ditumbuhi tanaman padi yang subur. Pada lahan tegalan dan lahan di pegunungan, lahan-lahan yang ditanami tembakau pada musim kemarau, saat ini ditumbuhi bermacam jenis tanaman mulai dari cabai, bawang, tomat, kol, terong, mentimun, dan ragam jenis tanaman semusim lainnya.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Uniknya, tipikal tanaman tembakau yang tumbuh baik di musim kemarau ini memberi pilihan lebih kepada para petani. Lahan-lahan yang sulit ditanami pada musim kemarau, pada akhirnya masih bisa tetap produktif dengan keberadaan tanaman tembakau. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Maka, kampanye aneh mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain dengan ragam rupa dalih yang membingungkan, bukan saja sama sekali tidak tepat dan asal-asalan, namun bisa jadi akan ditertawakan oleh para petani yang begitu paham dengan kondisi lahan dan terutama kondisi iklim dan cuaca. Sulit mencari tanaman semusim yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Jika pun ada, tak ada yang semenguntungkan tanaman tembakau.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n ","post_title":"Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"keberhasilan-gerakan-anti-tembakau-tak-ada-tembakau-saat-musim-hujan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-07 12:16:02","post_modified_gmt":"2019-02-07 05:16:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5415","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5409,"post_author":"919","post_date":"2019-02-05 08:04:43","post_date_gmt":"2019-02-05 01:04:43","post_content":" \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Tahun Baru Imlek yang merupakan tradisi Bangsa Tiongkok kini sudah tak lagi menjadi hal yang asing bagi masyarakat Indonesia. Kehadirannya sudah mewarnai dan berakulturasi dengan tradisi lokal. Menjelang Tahun Baru Imlek. Berbagai hiasan dan kemeriahan terjadi beberapa titik di Tanah Air. Perayaannya juga menjadi destinasi baru yang mengasyikkan untuk dilihat dan patut disaksikan.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Berterimakasihlah kepada sang bapak bangsa, KH Abdurrahman Wahid atau yang dikenal dengan nama Gus Dur. Berkat kebijakannya saat menjadi Presiden Indonesia, Tahun Baru Imlek resmi dijadikan hari libur nasional dan dianggap sebagai salah satu hari raya di Tanah Air. Meski sentimen antitionghoa masih ada di sana-sini, tapi tetap tak bisa dipungkiri bahwa bangsa tionghoa sudah bersentuhan dengan budaya lokal dalam kurun waktu yang sangat panjang.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          DNA Bangsa Tionghoa yang memang merupakan pedagang menjadi pembuka kisah interaksi antara nenek moyang berbagai suku di Nusantara dengan mereka. Beberapa kelenteng-kelenteng yang tersebar pada berbagai pesisir daerah di Nusantara jadi buktinya. Pelabuhan-pelabuhan tua di tanah air dan ramainya perdagangan di pesisir mempermudah bangsa kita berhubungan dengan Bangsa Tionghoa.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Baca Juga: Wong Kalang dan Kota Gede<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa kehadiran Bangsa Tionghoa di Nusantara tak hanya sebagai pedagang, namun juga sebagai pekerja (bahkan hingga pekerja kasar). Benny Setiono, seorang sejarahwan menyebutkan bahwa antara tahun 1760-1770 dalam jumlah yang besar memasuki nusantara melalui Kalimantan Barat. Mereka bekerja sebagai kuli pertambangan di sana dan di kemudian hari membentuk sebuah republik bernama Republik Lanfang yang konon katanya menjadi republik pertama di Asia Tenggara.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Baca Juga: Imlek dan Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Baca Juga: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n ","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_3o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Tahapan Pembibitan<\/strong><\/p>\n \n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                1. Persiapan Benih<\/strong>, meliputi:<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          a. Dosis benih \t\t\t\t\t= 5 gr per 1 Hektare <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          b. Dalam 1 gr benih \t\t\t\t= \u00b1 7.500 benih<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          c. Bila daya berkecambah (DB) \u00b1 80 %\t\t= 5 gr x 7.500 x 80% <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          d. Bibit yang tumbuh \t\t\t\t= 37.500 tanaman <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  (Hitungan di atas sudah termasuk cadangan untuk sulaman) <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          e. Teknis sebar benih; apabila luas media tanam cukup, teknis sebar benih yang dianjurkan adalah dicampur dengan abu sekam. Apabila luas media tanam tidak mencukupi, maka teknis sebar benih yang dianjurkan adalah diaduk tanah.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          f. Cara memperoleh benih yang murni dan baik, harus mengetahui asal usul \/ sumber benih apakah dari BALITTAS, Dinas Pertanian  atau Seeding Center. Daya kecambah terukur sehingga dosis sebar bisa ditentukan. Bebas Hama dan Penyakit. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          2. Persiapan Lahan <\/strong><\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          1. Tanah digemburkan sehingga akar mudah berkembang <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          2. Menyediakan ruang untuk respirasi akar <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          3. Mematikan gulma dan penyakit dalam tanah <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          4. Tanah siap menjadi media tumbuh bagi tanaman <\/li><\/ol>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            \"\"\/<\/figure>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            \"\"\/<\/figure>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Sempurna<\/strong> <\/strong>tidak sempurna<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            3. Persiapan Media Tanam<\/strong><\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            1. Tanah yang digunakan adalah tanah dan pupuk kandang yang sudah matang <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            2. Tanah berasal dari tanah steril (sudah dikeringkan dan bukan dari tanah bekas tanaman yang terserang penyakit)<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            3. Media tanah dicangkul ringan di para-para minimal 2x <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            4. Sebar Benih; <\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Setelah bibit dan lahan siap, kemudian sebarkan benih dengan ditutup memakai jerami <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              1. Pemupukan <\/strong><\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              2. Pemupukan pertama<\/li><\/ol>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                \"\"\/<\/figure>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                1. Pemupukan kedua, dilakukan apabila pertumbuhan bibit kurang baik (21 HSS). Pupuk yang digunakan adalaj KNO3 <\/sub>(30 \u2013 50 gram per bedeng dengan ukuran 1x5 m) dicampur dengan air \u00b110 liter, selanjutnya bedengan disiram kembali dengan air (pembilasan) <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                2. Penyiraman<\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Frekuensi penyiraman berdasarkan umur bibit\/umur hari setelah sebar (HSS):<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  0 \u2013 10 HSS\t\t:\t3x Sehari (fase kritis)<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  11 \u2013 21 HSS\t\t:\t2x Sehari <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  22 \u2013 35 HSS\t\t:\t1x Sehari <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  36 \u2013 45 \/ 50 HSS\t:\tPeriode stress air\/kering<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  1. Penjarangan & Hardening<\/strong>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    1. Penjarangan dilakukan agar jarak antara bibit ideal (4-5 cm) sehingga tidak<\/li><\/ol><\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      terserang hama & penyakit. Penjarangan dilakukan pada umur bibit 21-25 hari dengan cara: basahi bedengan sore hari sebelumnya dan pagi hari sebelum bibit dicabut, cabut bibit  yang akan ditanami dengan hati-hati, tanam bibit pada bedengan yang kerapatan bibitnya jarang, siram bibit sesegera mungkin setelah dipindah.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      1. Bibit dibiasakan untuk terkena sinar  matahari langsung. Tujuan hardening agar bibit dapat beradaptasi dan memperkuat jaringan daun, batang serta mengurangi resiko penyakit karena jamur. Pelaksanaan hardening mulai umur 21 HSS secara bertahap.Pada kondisi hujan tidak dianjurkan. <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      2. Klipping <\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        1. Dilakukan antara jam 08.00 sampai 11.00 (usahakan cuaca cerah) <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        2. Kliping dilakukan pada saat bibit pertumbuhannya terlalu lebat atau saling menutup batangnya. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        3. Kliping adalah kegiatan memotong sebagian atau 2\/3 daun bibit tembakau. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        4. Frekuensi kliping dilakukan bisa satu, dua kali atau lebih sesuai dengan perkembangan bibit dan persiapan lokasi areal tanam. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        5 Lima sampai tujuh hari menjelang transplanting, kegiatan kliping sebaiknya sudah selesai. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Tujuan klipping: menjaga lingkungan bibit agar tidak lembab, <\/strong>memperbesar batan,menyeragamkan ukuran benih, dan memperkuat pertumbuhan akar <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        1. Pencabutan Bibit, agar mendapatkan jarak tanam yang sesuai lahan <\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          \"\"\/<\/figure>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          \"\"\/<\/figure>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Dalam satu hamparan direkomendasikan selesai tanam maksimal 3 Hari. Umur  tanaman akan menjadi sama atau seragam. Performance tanaman juga akan menjadi  seragam. Kemasakan daun pada saat petik juga menjadi seragam. Memudahkan pada saat  proses panen dan pasca panen. Tembakau kering yang dihasilkan pun juga seragam.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          1. Pengendalian Hama & Penyakit<\/strong> <\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            ~ Pada awal penyebaran benih direkomendasikan untuk melakukan penyemprotan fusngisida (jamur), seperti Previcur, Redomil & Antracol <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            ~ Hama yang sering dijumpai: semut (Decis), janggel, orong-orong <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            1. Tahapan Perawatan<\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              \"\"\/<\/figure>\n ","post_title":"Sukses Bertani Tembakau Bersama Kemitraan Djarum di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sukses-bertani-tembakau-bersama-kemitraan-djarum-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-11 12:32:18","post_modified_gmt":"2019-02-11 05:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5433","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5425,"post_author":"922","post_date":"2019-02-10 09:07:33","post_date_gmt":"2019-02-10 02:07:33","post_content":" \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Bahwa cengkeh [1] (Syzygium aromaticum) --bersama pala (Myristica fragrans)-- adalah dua tanaman asli (endemik) Kepulauan Maluku, sudah tak terbantahkan. Cengkeh dikenal dan diakui berasal dari \u2018Empat Pulau Gunung Maluku\u2019 (Maloko Kie Raha): Ternate, Tidore, Moti, dan Makian.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Adapun pala, berasal dari empat pulau kecil lainnya di tengah Laut Banda: Lonthor, Neira, Rhun, dan Ai. Pada penjelasan peta abad-16 oleh penjelajah dari Semenanjung Iberia, Fransisco Rodriguez, tertulis: \u201cEstas quatro Ilhas Azures suam as de molluquo homde nace ho crauzo\u201d<\/em> (Adalah empat pulau berwarna biru [dalam peta] yang disebut sebagai Kepulauan Maluku di mana rempah-rempah berasal) (Pires, 1512- 1515:213).
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Sejak beberapa abad sebelum Masehi, adalah para saudagar Arab --melalui Samudera Hindia melintasi Iskandariyah dan Laut Tengah-- serta para pedagang Cina --melalui jalur \u2018Jalan Sutra\u2019 melintasi Asia Tengah dan Asia Barat-- yang membawa dan memperkenalkannya ke daratan Eropa. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Bandar-bandar besar Tyre di Yunani dan Venesia di Italia menjadi pelabuhan utama rempah-rempah Maluku memasuki kehidupan dan peradaban Eropa. Selain sebagai bumbu masakan, rempah obat, dan ramuan wewangian, cengkeh dan pala juga menjadi bahan utama pengawet bahan pangan. [2]
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Inilah yang membuat orang-orang Eropa untuk pertama kalinya dapat mengawetkan dan menimbun makanan selama bermusim-musim. Prosa indah Blair bersaudara menggambarkannya dengan sangat baik:
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              \u201cKemampuan menyimpan makanan lebih dari yang kami makan sekaligus berarti kemampuan menjual dan membelinya dalam jumlah besar --dan kota-kota dagang pun mekar. Perekonomian yang dihasilkannya mengarahkan kami ke zaman Pencerahan dan kemudian Revolusi Industri. Tak lama setelah kami menghirup aroma yang sangat kuat dari Timur itu dan mengubah kimiawi makanan kami, maka kami pun mampu melakukan lompatan besar dalam bidang budaya dan seni.\u201d (Blair & Blair, 2010; 30-31).<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Baca: Cengkeh dan Kelapa di Kepulauan Anambas<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Bukan hanya membuat perekonomian dan perdagangan serta ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang, cengkeh dan pala bahkan adalah faktor yang paling menentukan dalam kemunculan satu babakan paling mengenaskan dalam sejarah politik dunia, yakni zaman penjajahan (kolonialisme) Eropa, terutama atas-atas negeri- negeri Asia Selatan, Timur dan Tenggara, termasuk Indonesia.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Tergerak oleh sahwat menguasai rempah-rempah yang menggiurkan itu, bangsa-bangsa Eropa --terutama Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda-- pun menggelar ekspedisi-ekspedisi besar untuk menemukan cengkeh dan pala langsung di tanah asalnya. Ketika armada-armada mereka akhirnya mencapai perairan Kepulauan Maluku, pada abad-16, perang pun tak terhindarkan.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Mereka silih berganti saling mengalahkan, tetapi pemenang terakhir adalah Belanda. Melalui Perusahaan Dagang Hindia Timur (Vereenigde Oostindische Compagnie, VOC) yang dibentuk pada awal abad-17 (tepatnya tahun 1609), Belanda melancarkan ekspedisi Pelayaran Hongi (Hongie Tochten), untuk memusnahkan semua tanaman cengkeh di Ternate, Tidore, Moti, dan Makian, lalu membatasi ketat penanamnya hanya di Pulau-pulau Ambon dan Lease --yang lebih dekat ke Banda sebagai pusat pemerintahan mereka sebelum akhirnya dipindahkan ke Batavia.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Praktis, sejak akhir abad-16, Belanda pun menguasai penuh perdagangan rempah-rempah Maluku dengan jumlah produksi rerata 2.500 sampai 4.500 ton per tahun. [3]<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Baca: Budidaya Pohon Cengkeh<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Meskipun peran utama rempah-rempah Maluku itu kemudian tergusur pada abad-18 dan 19 oleh beberapa barang eksotika tropis lainnya --hasil perkebunan-perkebunana besar baru di Pulau Sumatera dan Jawa: tebu, tembakau, lada, kopi, teh, nila, kelapa sawit, dan kayu jati-- namun sejarah sudah mencatat bahwa dua jenis rempah-rempah Maluku itulah yang mengawali penjelajahan sekaligus penjajahan kepulauan Nusantara oleh bangsa-bangsa Eropah, terutama Belanda (Topatimasang, ed., 2004:32). Jika saja tak pernah ada cengkeh dan pala di Maluku, mungkin sejarah kepulauan Nusantara ini akan berbeda sama sekali.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Masa suram cengkeh dan pala terus berlangsung sampai pertengahan abad-20. Rempah eksotika yang pernah membuat tergila-gila<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              para saudagar Arab, pedagang Cina, serta kaum ningrat Eropa itu, tergantikan perannya oleh penemuan teknologi mesin pendingin berkat Revolusi Industri yang dimulai di Inggris pada pertengahan abad-18. Pasaran cengkeh di Eropa pun merosot tajam.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Nasibnya terselamatkan berkat penemuan oleh seorang Haji Djamhari di Kudus, Jawa Tengah. Pada akhir tahun 1880-an, Haji Djamhari menemukan kegunaan baru cengkeh sebagai ramuan utama rokok. Lahirlah satu produk baru yang unik, khas dan asli Indonesia: kretek! (Hanusz, 2000:ii).
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Setelah seperempat abad hanya berkembang dalam skala kecil usaha rumah tangga, produksi kretek akhirnya menjelma menjadi industri besar sejak awal abad-20 yang dirintis oleh Haji Nitisemito (pendiri pabrik \u2018Jambu Bol\u2019) di Kudus dan Liem Seng Tee (pendiri pabrik \u2018Dji Sam Soe\u2019 dan \u2018Sampoerna\u2019) di Surabaya.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Puncaknya adalah pada pertengahan tahun 1950-an, ketika produksi kretek mulai berkembang pesat menjadi industri raksasa modern dengan munculnya beberapa pabrik baru, antara lain, yang terkemuka, oleh Oei Wei Gwan (pendiri pabrik \u2018Djarum\u2019) di Kudus dan Tjou Ing Hwie (pendiri pabrik \u2018Gudang Garam\u2019) di Kediri (Topatimasang, et.al., eds., 2010:131).<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Baca: Teruslah Menanam Tembakau dan Cengkeh, Wahai Petani Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Cengkeh, bahan baku paling esensial dari kretek --selain tembakau, tentu saja-- pun kembali berjaya. Bahkan, sejak dasawarsa 1970an, telah menjadi salah satu penyumbang terbesar keuangan negara Republik Indonesia. Pada tahun 2012 dan 2013, pemasukan cukai dari industri kretek mencatat 95,5% dari seluruh pemasukan cukai ke kas negara. Nilainya tak tanggung-tanggung: Rp 87 triliun! (el-Guyanie, et.al.: 2013:4-5).<\/strong>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Nilai ekonomisnya yang sangat besar sempat menggoda penguasa otoriter rezim Presiden Soeharto, pada 1990-an, memberlakukan satu kebijakan \u2018Hongi Gaya Baru\u2019: monopoli perdagangan cengkeh dalam negeri melalui Badan Penyanggah dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) yang sangat merugikan petani. Harga cengkeh di tingkat petani penghasil anjlok sampai hanya Rp 2.000 - 3.000 per kilogram, lebih murah dari harga sebungkus kretek yang dihasilkan darinya.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Akibatnya, ratusan ribu pohon cengkeh di daerah-daerah penghasil utama --Maluku, Maluku Utara, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Selatan-- ditebangi atau dibiarkan terlantar tak terurus.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Gelombang reformasi sistem politik dan hukum nasional yang dimulai pada tahun 1998, akhirnya menjungkalkan rezim Soeharto dan BPPC dibubarkan, Pelan tapi pasti, harga cengkeh kembali merangkak naik, sehingga pada tahun 2012, bahkan melewati angka Rp 200.000 per kilogram. Para petani cengkeh di seluruh negeri kembali tersenyum. Tetapi, sampai kapan? <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Catatan:<\/strong><\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              [1] Beberapa sumber menyebutkan bahwa kata \u2018cengkeh\u2019 dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Mandarin, tkeng-his atau xi\u2019jia, yang berarti \u2018rempah [berbentuk mirip] paku\u2019 (scented nails). Ini menunjukkan bahwa cengkeh sudah dikenal sejak lama oleh bangsa Cina --diketahui sejak abad-2-- jauh sebelum orang Eropa mengenalnya ((lihat, misalnya: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              [2] Catatan-catatan para biarawan Fransiskan --yang disalin dan dikutip oleh van Frassen-- bahkan menyebut cengkeh sebagai salah satu bahan utama pengawet mumi para Fir\u2019aun, penguasa Mesir Kuno. Beberapa pakar sejarah dan arkeologi menyatakan bahwa rempah-rempah Maluku bahkan sudah ditemukan artefaknya di Lembah Mesopotomia (wilayah Iraq dan sekitarnya sekarang) pada 3.000 tahun sebelum Masehi. (lihat, antara lain: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              [3] Uraian lebih rinci sejarah kolonialisme rempah-rempah Nusantara ini, terutama oleh Belanda dan Portugis, dapat dibaca pada beberapa sumber kepustakaan yang sudah dikenal luas, antara lain: Glamann (1958) dan Boxer (1965 dan 1969). Dalam risalah klasik Pires disebutkan bahwa pada tahun 1512-1521 saja, jumlah produksi cengkeh di Maluku sudah mencapai 7.250 bahar per tahun, terbesar adalah di Makian serta Amboina dan Lease (masing-masing 1.500 bahar)(Pires, 1512-1515).<\/em>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem Topatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              <\/p>\n ","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-10 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-02-10 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5425","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5415,"post_author":"878","post_date":"2019-02-07 12:15:55","post_date_gmt":"2019-02-07 05:15:55","post_content":" \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Belakangan ini, ketika musim hujan tiba, di Kabupaten Temanggung, Kabupaten Jember, dan beberapa wilayah sentra pertanian tembakau lainnya, hampir mustahil menemukan tanaman tembakau tumbuh di lahan-lahan milik petani. Di wilayah-wilayah tersebut, citra sebagai sentra pertanian tembakau seakan menguap. Lahan-lahan yang ada di sana, sama sekali tidak ditumbuhi tanaman tembakau.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Kabar ini bisa jadi dianggap sebagai kabar gembira bagi mereka yang menganggap diri dan kelompoknya anti-rokok dan anti-tembakau yang selalu mengampanyekan sikap-sikap mereka terkait kebencian kepada tembakau dan aktivitas merokok. Setelah sekian lama berjuang, akhirnya perjuangan mereka dirasa berhasil usai menyaksikan fenomena lahan-lahan di wilayah yang dianggap sentra pertanian tembakau pada hari-hari belakangan ini.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Baca juga: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Tak sia-sia turun ke jalan, tak sia-sia melakukan lobi-lobi ke penguasa, tak sia-sia mengucurkan uang yang tidak sedikit, dan tak sia-sia mempermalukan diri dengan mengemis ke lembaga donor asing dan menggondol uang dari cukai tembakau untuk mengampanyekan gerakan anti-rokok dan anti-tembakau. Tak sia-sia. Karena perjuangan sepertinya berhasil.<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Kampanye-kampanye gerakan mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya, sepertinya juga sangat berhasil. Bagaimana tidak? Wilayah-wilayah yang sebelumnya penuh dengan tanaman tembakau dan bergeliat dengannya, kini lahan-lahannya sudah berganti dengan tanaman lain. Sebuah keberhasilan yang menggembirakan. Begitu mungkin pikir mereka para yang menganggap dirinya pejuang anti-rokok dan anti-tembakau. Dan tentu saja mereka akan kecele dan kita akan menertawakan hal itu.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Sayangnya, mereka yang menganggap dirinya anti-rokok dan anti-tembakau tidak menyaksikan langsung fenomena ini di lapangan, di lahan-lahan yang peruntukannya berubah pada hari-hari belakangan ini ketika memasuki musim hujan. Mereka asyik duduk pada kursi empuk di ruang-ruang nyaman ber-AC di kota-kota yang jauh dari kultur pertanian. Mereka menyengajakan diri menjadi elit dan enggan untuk turun melihat langsung ke lapangan. Kalaupun ada yang turun langsung ke lapangan, hanya segelintir saja dari mereka, itupun sekadar formalitas saja. Tak pernah benar-benar mau turun ke lapangan, hidup dan merasakan langsung kultur pertanian tembakau dalam jangka waktu cukup lama di lapangan.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Baca juga: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Fenomena ini membikin kita tak bisa melihat mereka para anti-rokok kecele lalu menertawakan mereka.<\/strong> Fenomena keengganan terjun langsung ke lapangan terlebih mencoba mendengar mereka yang tetap menanam tembakau, juga menjalani keseharian dalam waktu cukup lama bersama petani tembakau inilah yang saya kira menjadikan mereka tetap keras kepala untuk anti-rokok dan anti-tembakau. Karena jika mereka mau melakukan itu, saya yakin mereka semua tidak akan begitu kaku dalam memandang pertanian tembakau dan produk hasil industri tembakau.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Salah satu yang selalu mereka kampanyekan dan ngotot dengan itu, terkait hulu pertanian tembakau adalah mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya. Mereka berargumen banyak tanaman lain yang bisa semenguntungkan tanaman tembakau. Keengganan mereka terjun langsung ke lapangan inilah yang membikin mereka buta dengan kondisi pertanian tembakau dan pada akhirnya terus menerus mengampanyekan pergantian tanaman tembakau dengan tanaman lainnya.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Baca juga: Imanlah kepada Allah, Bukan Antirokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Tembakau tanaman yang khas. Ia hanya tumbuh baik sepanjang empat hingga lima bulan dalam satu tahun. Tumbuh-kembang tanaman tembakau dengan baik itu umumnya terjadi pada musim kemarau setiap tahunnya. Hanya sedikit sekali jenis tembakau yang tumbuh baik di musim penghujan, mayoritasnya, tumbuh baik pada musim kemarau.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Jika ditanam pada musim hujan, hampir bisa dipastikan tanaman tembakau akan gagal menghasilkan daun-daun yang berkualitas. Ia akan rusak dan membusuk karena terlalu banyak terkena air sehingga daun-daun itu tak layak dijual. Jangankan bisa dijual, untuk tumbuh dengan baik pun sepertinya sulit karena musim hujan akan membunuh banyak tanaman itu.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Maka, tak heran pada musim-musim seperti saat ini, ketika musim penghujan mendekati puncaknya, di wilayah-wilayah yang dikenal sebagai sentra pertanian tembakau, sulit menemukan pohon tembakau yang sedang tumbuh. Pada lahan-lahan yang sebelumnya ditumbuhi tanaman tembakau pada musim panas, berganti tanaman-tanaman lain yang bermacam-macam, sesuai dengan kondisi lahannya. Untuk lahan sawah, lahan-lahan itu pada musim penghujan kini ditumbuhi tanaman padi yang subur. Pada lahan tegalan dan lahan di pegunungan, lahan-lahan yang ditanami tembakau pada musim kemarau, saat ini ditumbuhi bermacam jenis tanaman mulai dari cabai, bawang, tomat, kol, terong, mentimun, dan ragam jenis tanaman semusim lainnya.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Uniknya, tipikal tanaman tembakau yang tumbuh baik di musim kemarau ini memberi pilihan lebih kepada para petani. Lahan-lahan yang sulit ditanami pada musim kemarau, pada akhirnya masih bisa tetap produktif dengan keberadaan tanaman tembakau. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Maka, kampanye aneh mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain dengan ragam rupa dalih yang membingungkan, bukan saja sama sekali tidak tepat dan asal-asalan, namun bisa jadi akan ditertawakan oleh para petani yang begitu paham dengan kondisi lahan dan terutama kondisi iklim dan cuaca. Sulit mencari tanaman semusim yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Jika pun ada, tak ada yang semenguntungkan tanaman tembakau.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              <\/p>\n ","post_title":"Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"keberhasilan-gerakan-anti-tembakau-tak-ada-tembakau-saat-musim-hujan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-07 12:16:02","post_modified_gmt":"2019-02-07 05:16:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5415","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5409,"post_author":"919","post_date":"2019-02-05 08:04:43","post_date_gmt":"2019-02-05 01:04:43","post_content":" \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Tahun Baru Imlek yang merupakan tradisi Bangsa Tiongkok kini sudah tak lagi menjadi hal yang asing bagi masyarakat Indonesia. Kehadirannya sudah mewarnai dan berakulturasi dengan tradisi lokal. Menjelang Tahun Baru Imlek. Berbagai hiasan dan kemeriahan terjadi beberapa titik di Tanah Air. Perayaannya juga menjadi destinasi baru yang mengasyikkan untuk dilihat dan patut disaksikan.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Berterimakasihlah kepada sang bapak bangsa, KH Abdurrahman Wahid atau yang dikenal dengan nama Gus Dur. Berkat kebijakannya saat menjadi Presiden Indonesia, Tahun Baru Imlek resmi dijadikan hari libur nasional dan dianggap sebagai salah satu hari raya di Tanah Air. Meski sentimen antitionghoa masih ada di sana-sini, tapi tetap tak bisa dipungkiri bahwa bangsa tionghoa sudah bersentuhan dengan budaya lokal dalam kurun waktu yang sangat panjang.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              DNA Bangsa Tionghoa yang memang merupakan pedagang menjadi pembuka kisah interaksi antara nenek moyang berbagai suku di Nusantara dengan mereka. Beberapa kelenteng-kelenteng yang tersebar pada berbagai pesisir daerah di Nusantara jadi buktinya. Pelabuhan-pelabuhan tua di tanah air dan ramainya perdagangan di pesisir mempermudah bangsa kita berhubungan dengan Bangsa Tionghoa.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Baca Juga: Wong Kalang dan Kota Gede<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa kehadiran Bangsa Tionghoa di Nusantara tak hanya sebagai pedagang, namun juga sebagai pekerja (bahkan hingga pekerja kasar). Benny Setiono, seorang sejarahwan menyebutkan bahwa antara tahun 1760-1770 dalam jumlah yang besar memasuki nusantara melalui Kalimantan Barat. Mereka bekerja sebagai kuli pertambangan di sana dan di kemudian hari membentuk sebuah republik bernama Republik Lanfang yang konon katanya menjadi republik pertama di Asia Tenggara.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Baca Juga: Imlek dan Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Baca Juga: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              <\/p>\n ","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_3o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              \n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              1. Mendapatkan Bibit sehat dan seragam<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              2. Mendapatkan jumlah bibit cukup sesuai perhitungan luasan lahan<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              3. Memperoleh jenis bibit murni sesuai kebutuhan (tidak varietas campuran).<\/li><\/ol>\n \n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Tahapan Pembibitan<\/strong><\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      1. Persiapan Benih<\/strong>, meliputi:<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                a. Dosis benih \t\t\t\t\t= 5 gr per 1 Hektare <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                b. Dalam 1 gr benih \t\t\t\t= \u00b1 7.500 benih<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                c. Bila daya berkecambah (DB) \u00b1 80 %\t\t= 5 gr x 7.500 x 80% <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                d. Bibit yang tumbuh \t\t\t\t= 37.500 tanaman <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        (Hitungan di atas sudah termasuk cadangan untuk sulaman) <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                e. Teknis sebar benih; apabila luas media tanam cukup, teknis sebar benih yang dianjurkan adalah dicampur dengan abu sekam. Apabila luas media tanam tidak mencukupi, maka teknis sebar benih yang dianjurkan adalah diaduk tanah.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                f. Cara memperoleh benih yang murni dan baik, harus mengetahui asal usul \/ sumber benih apakah dari BALITTAS, Dinas Pertanian  atau Seeding Center. Daya kecambah terukur sehingga dosis sebar bisa ditentukan. Bebas Hama dan Penyakit. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                2. Persiapan Lahan <\/strong><\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                1. Tanah digemburkan sehingga akar mudah berkembang <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                2. Menyediakan ruang untuk respirasi akar <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                3. Mematikan gulma dan penyakit dalam tanah <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                4. Tanah siap menjadi media tumbuh bagi tanaman <\/li><\/ol>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  \"\"\/<\/figure>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  \"\"\/<\/figure>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Sempurna<\/strong> <\/strong>tidak sempurna<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  3. Persiapan Media Tanam<\/strong><\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  1. Tanah yang digunakan adalah tanah dan pupuk kandang yang sudah matang <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  2. Tanah berasal dari tanah steril (sudah dikeringkan dan bukan dari tanah bekas tanaman yang terserang penyakit)<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  3. Media tanah dicangkul ringan di para-para minimal 2x <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  4. Sebar Benih; <\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Setelah bibit dan lahan siap, kemudian sebarkan benih dengan ditutup memakai jerami <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    1. Pemupukan <\/strong><\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    2. Pemupukan pertama<\/li><\/ol>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      \"\"\/<\/figure>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      1. Pemupukan kedua, dilakukan apabila pertumbuhan bibit kurang baik (21 HSS). Pupuk yang digunakan adalaj KNO3 <\/sub>(30 \u2013 50 gram per bedeng dengan ukuran 1x5 m) dicampur dengan air \u00b110 liter, selanjutnya bedengan disiram kembali dengan air (pembilasan) <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      2. Penyiraman<\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Frekuensi penyiraman berdasarkan umur bibit\/umur hari setelah sebar (HSS):<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        0 \u2013 10 HSS\t\t:\t3x Sehari (fase kritis)<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        11 \u2013 21 HSS\t\t:\t2x Sehari <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        22 \u2013 35 HSS\t\t:\t1x Sehari <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        36 \u2013 45 \/ 50 HSS\t:\tPeriode stress air\/kering<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        1. Penjarangan & Hardening<\/strong>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          1. Penjarangan dilakukan agar jarak antara bibit ideal (4-5 cm) sehingga tidak<\/li><\/ol><\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            terserang hama & penyakit. Penjarangan dilakukan pada umur bibit 21-25 hari dengan cara: basahi bedengan sore hari sebelumnya dan pagi hari sebelum bibit dicabut, cabut bibit  yang akan ditanami dengan hati-hati, tanam bibit pada bedengan yang kerapatan bibitnya jarang, siram bibit sesegera mungkin setelah dipindah.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            1. Bibit dibiasakan untuk terkena sinar  matahari langsung. Tujuan hardening agar bibit dapat beradaptasi dan memperkuat jaringan daun, batang serta mengurangi resiko penyakit karena jamur. Pelaksanaan hardening mulai umur 21 HSS secara bertahap.Pada kondisi hujan tidak dianjurkan. <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            2. Klipping <\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              1. Dilakukan antara jam 08.00 sampai 11.00 (usahakan cuaca cerah) <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              2. Kliping dilakukan pada saat bibit pertumbuhannya terlalu lebat atau saling menutup batangnya. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              3. Kliping adalah kegiatan memotong sebagian atau 2\/3 daun bibit tembakau. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              4. Frekuensi kliping dilakukan bisa satu, dua kali atau lebih sesuai dengan perkembangan bibit dan persiapan lokasi areal tanam. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              5 Lima sampai tujuh hari menjelang transplanting, kegiatan kliping sebaiknya sudah selesai. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Tujuan klipping: menjaga lingkungan bibit agar tidak lembab, <\/strong>memperbesar batan,menyeragamkan ukuran benih, dan memperkuat pertumbuhan akar <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              1. Pencabutan Bibit, agar mendapatkan jarak tanam yang sesuai lahan <\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                \"\"\/<\/figure>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                \"\"\/<\/figure>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Dalam satu hamparan direkomendasikan selesai tanam maksimal 3 Hari. Umur  tanaman akan menjadi sama atau seragam. Performance tanaman juga akan menjadi  seragam. Kemasakan daun pada saat petik juga menjadi seragam. Memudahkan pada saat  proses panen dan pasca panen. Tembakau kering yang dihasilkan pun juga seragam.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                1. Pengendalian Hama & Penyakit<\/strong> <\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  ~ Pada awal penyebaran benih direkomendasikan untuk melakukan penyemprotan fusngisida (jamur), seperti Previcur, Redomil & Antracol <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  ~ Hama yang sering dijumpai: semut (Decis), janggel, orong-orong <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  1. Tahapan Perawatan<\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    \"\"\/<\/figure>\n ","post_title":"Sukses Bertani Tembakau Bersama Kemitraan Djarum di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sukses-bertani-tembakau-bersama-kemitraan-djarum-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-11 12:32:18","post_modified_gmt":"2019-02-11 05:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5433","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5425,"post_author":"922","post_date":"2019-02-10 09:07:33","post_date_gmt":"2019-02-10 02:07:33","post_content":" \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Bahwa cengkeh [1] (Syzygium aromaticum) --bersama pala (Myristica fragrans)-- adalah dua tanaman asli (endemik) Kepulauan Maluku, sudah tak terbantahkan. Cengkeh dikenal dan diakui berasal dari \u2018Empat Pulau Gunung Maluku\u2019 (Maloko Kie Raha): Ternate, Tidore, Moti, dan Makian.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Adapun pala, berasal dari empat pulau kecil lainnya di tengah Laut Banda: Lonthor, Neira, Rhun, dan Ai. Pada penjelasan peta abad-16 oleh penjelajah dari Semenanjung Iberia, Fransisco Rodriguez, tertulis: \u201cEstas quatro Ilhas Azures suam as de molluquo homde nace ho crauzo\u201d<\/em> (Adalah empat pulau berwarna biru [dalam peta] yang disebut sebagai Kepulauan Maluku di mana rempah-rempah berasal) (Pires, 1512- 1515:213).
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Sejak beberapa abad sebelum Masehi, adalah para saudagar Arab --melalui Samudera Hindia melintasi Iskandariyah dan Laut Tengah-- serta para pedagang Cina --melalui jalur \u2018Jalan Sutra\u2019 melintasi Asia Tengah dan Asia Barat-- yang membawa dan memperkenalkannya ke daratan Eropa. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Bandar-bandar besar Tyre di Yunani dan Venesia di Italia menjadi pelabuhan utama rempah-rempah Maluku memasuki kehidupan dan peradaban Eropa. Selain sebagai bumbu masakan, rempah obat, dan ramuan wewangian, cengkeh dan pala juga menjadi bahan utama pengawet bahan pangan. [2]
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Inilah yang membuat orang-orang Eropa untuk pertama kalinya dapat mengawetkan dan menimbun makanan selama bermusim-musim. Prosa indah Blair bersaudara menggambarkannya dengan sangat baik:
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    \u201cKemampuan menyimpan makanan lebih dari yang kami makan sekaligus berarti kemampuan menjual dan membelinya dalam jumlah besar --dan kota-kota dagang pun mekar. Perekonomian yang dihasilkannya mengarahkan kami ke zaman Pencerahan dan kemudian Revolusi Industri. Tak lama setelah kami menghirup aroma yang sangat kuat dari Timur itu dan mengubah kimiawi makanan kami, maka kami pun mampu melakukan lompatan besar dalam bidang budaya dan seni.\u201d (Blair & Blair, 2010; 30-31).<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Baca: Cengkeh dan Kelapa di Kepulauan Anambas<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Bukan hanya membuat perekonomian dan perdagangan serta ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang, cengkeh dan pala bahkan adalah faktor yang paling menentukan dalam kemunculan satu babakan paling mengenaskan dalam sejarah politik dunia, yakni zaman penjajahan (kolonialisme) Eropa, terutama atas-atas negeri- negeri Asia Selatan, Timur dan Tenggara, termasuk Indonesia.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Tergerak oleh sahwat menguasai rempah-rempah yang menggiurkan itu, bangsa-bangsa Eropa --terutama Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda-- pun menggelar ekspedisi-ekspedisi besar untuk menemukan cengkeh dan pala langsung di tanah asalnya. Ketika armada-armada mereka akhirnya mencapai perairan Kepulauan Maluku, pada abad-16, perang pun tak terhindarkan.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Mereka silih berganti saling mengalahkan, tetapi pemenang terakhir adalah Belanda. Melalui Perusahaan Dagang Hindia Timur (Vereenigde Oostindische Compagnie, VOC) yang dibentuk pada awal abad-17 (tepatnya tahun 1609), Belanda melancarkan ekspedisi Pelayaran Hongi (Hongie Tochten), untuk memusnahkan semua tanaman cengkeh di Ternate, Tidore, Moti, dan Makian, lalu membatasi ketat penanamnya hanya di Pulau-pulau Ambon dan Lease --yang lebih dekat ke Banda sebagai pusat pemerintahan mereka sebelum akhirnya dipindahkan ke Batavia.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Praktis, sejak akhir abad-16, Belanda pun menguasai penuh perdagangan rempah-rempah Maluku dengan jumlah produksi rerata 2.500 sampai 4.500 ton per tahun. [3]<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Baca: Budidaya Pohon Cengkeh<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Meskipun peran utama rempah-rempah Maluku itu kemudian tergusur pada abad-18 dan 19 oleh beberapa barang eksotika tropis lainnya --hasil perkebunan-perkebunana besar baru di Pulau Sumatera dan Jawa: tebu, tembakau, lada, kopi, teh, nila, kelapa sawit, dan kayu jati-- namun sejarah sudah mencatat bahwa dua jenis rempah-rempah Maluku itulah yang mengawali penjelajahan sekaligus penjajahan kepulauan Nusantara oleh bangsa-bangsa Eropah, terutama Belanda (Topatimasang, ed., 2004:32). Jika saja tak pernah ada cengkeh dan pala di Maluku, mungkin sejarah kepulauan Nusantara ini akan berbeda sama sekali.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Masa suram cengkeh dan pala terus berlangsung sampai pertengahan abad-20. Rempah eksotika yang pernah membuat tergila-gila<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    para saudagar Arab, pedagang Cina, serta kaum ningrat Eropa itu, tergantikan perannya oleh penemuan teknologi mesin pendingin berkat Revolusi Industri yang dimulai di Inggris pada pertengahan abad-18. Pasaran cengkeh di Eropa pun merosot tajam.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Nasibnya terselamatkan berkat penemuan oleh seorang Haji Djamhari di Kudus, Jawa Tengah. Pada akhir tahun 1880-an, Haji Djamhari menemukan kegunaan baru cengkeh sebagai ramuan utama rokok. Lahirlah satu produk baru yang unik, khas dan asli Indonesia: kretek! (Hanusz, 2000:ii).
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Setelah seperempat abad hanya berkembang dalam skala kecil usaha rumah tangga, produksi kretek akhirnya menjelma menjadi industri besar sejak awal abad-20 yang dirintis oleh Haji Nitisemito (pendiri pabrik \u2018Jambu Bol\u2019) di Kudus dan Liem Seng Tee (pendiri pabrik \u2018Dji Sam Soe\u2019 dan \u2018Sampoerna\u2019) di Surabaya.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Puncaknya adalah pada pertengahan tahun 1950-an, ketika produksi kretek mulai berkembang pesat menjadi industri raksasa modern dengan munculnya beberapa pabrik baru, antara lain, yang terkemuka, oleh Oei Wei Gwan (pendiri pabrik \u2018Djarum\u2019) di Kudus dan Tjou Ing Hwie (pendiri pabrik \u2018Gudang Garam\u2019) di Kediri (Topatimasang, et.al., eds., 2010:131).<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Baca: Teruslah Menanam Tembakau dan Cengkeh, Wahai Petani Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Cengkeh, bahan baku paling esensial dari kretek --selain tembakau, tentu saja-- pun kembali berjaya. Bahkan, sejak dasawarsa 1970an, telah menjadi salah satu penyumbang terbesar keuangan negara Republik Indonesia. Pada tahun 2012 dan 2013, pemasukan cukai dari industri kretek mencatat 95,5% dari seluruh pemasukan cukai ke kas negara. Nilainya tak tanggung-tanggung: Rp 87 triliun! (el-Guyanie, et.al.: 2013:4-5).<\/strong>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Nilai ekonomisnya yang sangat besar sempat menggoda penguasa otoriter rezim Presiden Soeharto, pada 1990-an, memberlakukan satu kebijakan \u2018Hongi Gaya Baru\u2019: monopoli perdagangan cengkeh dalam negeri melalui Badan Penyanggah dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) yang sangat merugikan petani. Harga cengkeh di tingkat petani penghasil anjlok sampai hanya Rp 2.000 - 3.000 per kilogram, lebih murah dari harga sebungkus kretek yang dihasilkan darinya.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Akibatnya, ratusan ribu pohon cengkeh di daerah-daerah penghasil utama --Maluku, Maluku Utara, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Selatan-- ditebangi atau dibiarkan terlantar tak terurus.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Gelombang reformasi sistem politik dan hukum nasional yang dimulai pada tahun 1998, akhirnya menjungkalkan rezim Soeharto dan BPPC dibubarkan, Pelan tapi pasti, harga cengkeh kembali merangkak naik, sehingga pada tahun 2012, bahkan melewati angka Rp 200.000 per kilogram. Para petani cengkeh di seluruh negeri kembali tersenyum. Tetapi, sampai kapan? <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Catatan:<\/strong><\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    [1] Beberapa sumber menyebutkan bahwa kata \u2018cengkeh\u2019 dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Mandarin, tkeng-his atau xi\u2019jia, yang berarti \u2018rempah [berbentuk mirip] paku\u2019 (scented nails). Ini menunjukkan bahwa cengkeh sudah dikenal sejak lama oleh bangsa Cina --diketahui sejak abad-2-- jauh sebelum orang Eropa mengenalnya ((lihat, misalnya: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    [2] Catatan-catatan para biarawan Fransiskan --yang disalin dan dikutip oleh van Frassen-- bahkan menyebut cengkeh sebagai salah satu bahan utama pengawet mumi para Fir\u2019aun, penguasa Mesir Kuno. Beberapa pakar sejarah dan arkeologi menyatakan bahwa rempah-rempah Maluku bahkan sudah ditemukan artefaknya di Lembah Mesopotomia (wilayah Iraq dan sekitarnya sekarang) pada 3.000 tahun sebelum Masehi. (lihat, antara lain: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    [3] Uraian lebih rinci sejarah kolonialisme rempah-rempah Nusantara ini, terutama oleh Belanda dan Portugis, dapat dibaca pada beberapa sumber kepustakaan yang sudah dikenal luas, antara lain: Glamann (1958) dan Boxer (1965 dan 1969). Dalam risalah klasik Pires disebutkan bahwa pada tahun 1512-1521 saja, jumlah produksi cengkeh di Maluku sudah mencapai 7.250 bahar per tahun, terbesar adalah di Makian serta Amboina dan Lease (masing-masing 1.500 bahar)(Pires, 1512-1515).<\/em>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem Topatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    <\/p>\n ","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-10 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-02-10 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5425","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5415,"post_author":"878","post_date":"2019-02-07 12:15:55","post_date_gmt":"2019-02-07 05:15:55","post_content":" \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Belakangan ini, ketika musim hujan tiba, di Kabupaten Temanggung, Kabupaten Jember, dan beberapa wilayah sentra pertanian tembakau lainnya, hampir mustahil menemukan tanaman tembakau tumbuh di lahan-lahan milik petani. Di wilayah-wilayah tersebut, citra sebagai sentra pertanian tembakau seakan menguap. Lahan-lahan yang ada di sana, sama sekali tidak ditumbuhi tanaman tembakau.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Kabar ini bisa jadi dianggap sebagai kabar gembira bagi mereka yang menganggap diri dan kelompoknya anti-rokok dan anti-tembakau yang selalu mengampanyekan sikap-sikap mereka terkait kebencian kepada tembakau dan aktivitas merokok. Setelah sekian lama berjuang, akhirnya perjuangan mereka dirasa berhasil usai menyaksikan fenomena lahan-lahan di wilayah yang dianggap sentra pertanian tembakau pada hari-hari belakangan ini.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Baca juga: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Tak sia-sia turun ke jalan, tak sia-sia melakukan lobi-lobi ke penguasa, tak sia-sia mengucurkan uang yang tidak sedikit, dan tak sia-sia mempermalukan diri dengan mengemis ke lembaga donor asing dan menggondol uang dari cukai tembakau untuk mengampanyekan gerakan anti-rokok dan anti-tembakau. Tak sia-sia. Karena perjuangan sepertinya berhasil.<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Kampanye-kampanye gerakan mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya, sepertinya juga sangat berhasil. Bagaimana tidak? Wilayah-wilayah yang sebelumnya penuh dengan tanaman tembakau dan bergeliat dengannya, kini lahan-lahannya sudah berganti dengan tanaman lain. Sebuah keberhasilan yang menggembirakan. Begitu mungkin pikir mereka para yang menganggap dirinya pejuang anti-rokok dan anti-tembakau. Dan tentu saja mereka akan kecele dan kita akan menertawakan hal itu.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Sayangnya, mereka yang menganggap dirinya anti-rokok dan anti-tembakau tidak menyaksikan langsung fenomena ini di lapangan, di lahan-lahan yang peruntukannya berubah pada hari-hari belakangan ini ketika memasuki musim hujan. Mereka asyik duduk pada kursi empuk di ruang-ruang nyaman ber-AC di kota-kota yang jauh dari kultur pertanian. Mereka menyengajakan diri menjadi elit dan enggan untuk turun melihat langsung ke lapangan. Kalaupun ada yang turun langsung ke lapangan, hanya segelintir saja dari mereka, itupun sekadar formalitas saja. Tak pernah benar-benar mau turun ke lapangan, hidup dan merasakan langsung kultur pertanian tembakau dalam jangka waktu cukup lama di lapangan.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Baca juga: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Fenomena ini membikin kita tak bisa melihat mereka para anti-rokok kecele lalu menertawakan mereka.<\/strong> Fenomena keengganan terjun langsung ke lapangan terlebih mencoba mendengar mereka yang tetap menanam tembakau, juga menjalani keseharian dalam waktu cukup lama bersama petani tembakau inilah yang saya kira menjadikan mereka tetap keras kepala untuk anti-rokok dan anti-tembakau. Karena jika mereka mau melakukan itu, saya yakin mereka semua tidak akan begitu kaku dalam memandang pertanian tembakau dan produk hasil industri tembakau.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Salah satu yang selalu mereka kampanyekan dan ngotot dengan itu, terkait hulu pertanian tembakau adalah mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya. Mereka berargumen banyak tanaman lain yang bisa semenguntungkan tanaman tembakau. Keengganan mereka terjun langsung ke lapangan inilah yang membikin mereka buta dengan kondisi pertanian tembakau dan pada akhirnya terus menerus mengampanyekan pergantian tanaman tembakau dengan tanaman lainnya.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Baca juga: Imanlah kepada Allah, Bukan Antirokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Tembakau tanaman yang khas. Ia hanya tumbuh baik sepanjang empat hingga lima bulan dalam satu tahun. Tumbuh-kembang tanaman tembakau dengan baik itu umumnya terjadi pada musim kemarau setiap tahunnya. Hanya sedikit sekali jenis tembakau yang tumbuh baik di musim penghujan, mayoritasnya, tumbuh baik pada musim kemarau.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Jika ditanam pada musim hujan, hampir bisa dipastikan tanaman tembakau akan gagal menghasilkan daun-daun yang berkualitas. Ia akan rusak dan membusuk karena terlalu banyak terkena air sehingga daun-daun itu tak layak dijual. Jangankan bisa dijual, untuk tumbuh dengan baik pun sepertinya sulit karena musim hujan akan membunuh banyak tanaman itu.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Maka, tak heran pada musim-musim seperti saat ini, ketika musim penghujan mendekati puncaknya, di wilayah-wilayah yang dikenal sebagai sentra pertanian tembakau, sulit menemukan pohon tembakau yang sedang tumbuh. Pada lahan-lahan yang sebelumnya ditumbuhi tanaman tembakau pada musim panas, berganti tanaman-tanaman lain yang bermacam-macam, sesuai dengan kondisi lahannya. Untuk lahan sawah, lahan-lahan itu pada musim penghujan kini ditumbuhi tanaman padi yang subur. Pada lahan tegalan dan lahan di pegunungan, lahan-lahan yang ditanami tembakau pada musim kemarau, saat ini ditumbuhi bermacam jenis tanaman mulai dari cabai, bawang, tomat, kol, terong, mentimun, dan ragam jenis tanaman semusim lainnya.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Uniknya, tipikal tanaman tembakau yang tumbuh baik di musim kemarau ini memberi pilihan lebih kepada para petani. Lahan-lahan yang sulit ditanami pada musim kemarau, pada akhirnya masih bisa tetap produktif dengan keberadaan tanaman tembakau. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Maka, kampanye aneh mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain dengan ragam rupa dalih yang membingungkan, bukan saja sama sekali tidak tepat dan asal-asalan, namun bisa jadi akan ditertawakan oleh para petani yang begitu paham dengan kondisi lahan dan terutama kondisi iklim dan cuaca. Sulit mencari tanaman semusim yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Jika pun ada, tak ada yang semenguntungkan tanaman tembakau.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    <\/p>\n ","post_title":"Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"keberhasilan-gerakan-anti-tembakau-tak-ada-tembakau-saat-musim-hujan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-07 12:16:02","post_modified_gmt":"2019-02-07 05:16:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5415","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5409,"post_author":"919","post_date":"2019-02-05 08:04:43","post_date_gmt":"2019-02-05 01:04:43","post_content":" \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Tahun Baru Imlek yang merupakan tradisi Bangsa Tiongkok kini sudah tak lagi menjadi hal yang asing bagi masyarakat Indonesia. Kehadirannya sudah mewarnai dan berakulturasi dengan tradisi lokal. Menjelang Tahun Baru Imlek. Berbagai hiasan dan kemeriahan terjadi beberapa titik di Tanah Air. Perayaannya juga menjadi destinasi baru yang mengasyikkan untuk dilihat dan patut disaksikan.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Berterimakasihlah kepada sang bapak bangsa, KH Abdurrahman Wahid atau yang dikenal dengan nama Gus Dur. Berkat kebijakannya saat menjadi Presiden Indonesia, Tahun Baru Imlek resmi dijadikan hari libur nasional dan dianggap sebagai salah satu hari raya di Tanah Air. Meski sentimen antitionghoa masih ada di sana-sini, tapi tetap tak bisa dipungkiri bahwa bangsa tionghoa sudah bersentuhan dengan budaya lokal dalam kurun waktu yang sangat panjang.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    DNA Bangsa Tionghoa yang memang merupakan pedagang menjadi pembuka kisah interaksi antara nenek moyang berbagai suku di Nusantara dengan mereka. Beberapa kelenteng-kelenteng yang tersebar pada berbagai pesisir daerah di Nusantara jadi buktinya. Pelabuhan-pelabuhan tua di tanah air dan ramainya perdagangan di pesisir mempermudah bangsa kita berhubungan dengan Bangsa Tionghoa.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Baca Juga: Wong Kalang dan Kota Gede<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa kehadiran Bangsa Tionghoa di Nusantara tak hanya sebagai pedagang, namun juga sebagai pekerja (bahkan hingga pekerja kasar). Benny Setiono, seorang sejarahwan menyebutkan bahwa antara tahun 1760-1770 dalam jumlah yang besar memasuki nusantara melalui Kalimantan Barat. Mereka bekerja sebagai kuli pertambangan di sana dan di kemudian hari membentuk sebuah republik bernama Republik Lanfang yang konon katanya menjadi republik pertama di Asia Tenggara.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Baca Juga: Imlek dan Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Baca Juga: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    <\/p>\n ","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_3o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Tujuan Pembibitan<\/strong>:<\/p>\n \n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    1. Mendapatkan Bibit sehat dan seragam<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    2. Mendapatkan jumlah bibit cukup sesuai perhitungan luasan lahan<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    3. Memperoleh jenis bibit murni sesuai kebutuhan (tidak varietas campuran).<\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Tahapan Pembibitan<\/strong><\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            1. Persiapan Benih<\/strong>, meliputi:<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      a. Dosis benih \t\t\t\t\t= 5 gr per 1 Hektare <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      b. Dalam 1 gr benih \t\t\t\t= \u00b1 7.500 benih<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      c. Bila daya berkecambah (DB) \u00b1 80 %\t\t= 5 gr x 7.500 x 80% <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      d. Bibit yang tumbuh \t\t\t\t= 37.500 tanaman <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              (Hitungan di atas sudah termasuk cadangan untuk sulaman) <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      e. Teknis sebar benih; apabila luas media tanam cukup, teknis sebar benih yang dianjurkan adalah dicampur dengan abu sekam. Apabila luas media tanam tidak mencukupi, maka teknis sebar benih yang dianjurkan adalah diaduk tanah.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      f. Cara memperoleh benih yang murni dan baik, harus mengetahui asal usul \/ sumber benih apakah dari BALITTAS, Dinas Pertanian  atau Seeding Center. Daya kecambah terukur sehingga dosis sebar bisa ditentukan. Bebas Hama dan Penyakit. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      2. Persiapan Lahan <\/strong><\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      1. Tanah digemburkan sehingga akar mudah berkembang <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      2. Menyediakan ruang untuk respirasi akar <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      3. Mematikan gulma dan penyakit dalam tanah <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      4. Tanah siap menjadi media tumbuh bagi tanaman <\/li><\/ol>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        \"\"\/<\/figure>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        \"\"\/<\/figure>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Sempurna<\/strong> <\/strong>tidak sempurna<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        3. Persiapan Media Tanam<\/strong><\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        1. Tanah yang digunakan adalah tanah dan pupuk kandang yang sudah matang <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        2. Tanah berasal dari tanah steril (sudah dikeringkan dan bukan dari tanah bekas tanaman yang terserang penyakit)<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        3. Media tanah dicangkul ringan di para-para minimal 2x <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        4. Sebar Benih; <\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Setelah bibit dan lahan siap, kemudian sebarkan benih dengan ditutup memakai jerami <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          1. Pemupukan <\/strong><\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          2. Pemupukan pertama<\/li><\/ol>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            \"\"\/<\/figure>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            1. Pemupukan kedua, dilakukan apabila pertumbuhan bibit kurang baik (21 HSS). Pupuk yang digunakan adalaj KNO3 <\/sub>(30 \u2013 50 gram per bedeng dengan ukuran 1x5 m) dicampur dengan air \u00b110 liter, selanjutnya bedengan disiram kembali dengan air (pembilasan) <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            2. Penyiraman<\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Frekuensi penyiraman berdasarkan umur bibit\/umur hari setelah sebar (HSS):<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              0 \u2013 10 HSS\t\t:\t3x Sehari (fase kritis)<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              11 \u2013 21 HSS\t\t:\t2x Sehari <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              22 \u2013 35 HSS\t\t:\t1x Sehari <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              36 \u2013 45 \/ 50 HSS\t:\tPeriode stress air\/kering<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              1. Penjarangan & Hardening<\/strong>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                1. Penjarangan dilakukan agar jarak antara bibit ideal (4-5 cm) sehingga tidak<\/li><\/ol><\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  terserang hama & penyakit. Penjarangan dilakukan pada umur bibit 21-25 hari dengan cara: basahi bedengan sore hari sebelumnya dan pagi hari sebelum bibit dicabut, cabut bibit  yang akan ditanami dengan hati-hati, tanam bibit pada bedengan yang kerapatan bibitnya jarang, siram bibit sesegera mungkin setelah dipindah.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  1. Bibit dibiasakan untuk terkena sinar  matahari langsung. Tujuan hardening agar bibit dapat beradaptasi dan memperkuat jaringan daun, batang serta mengurangi resiko penyakit karena jamur. Pelaksanaan hardening mulai umur 21 HSS secara bertahap.Pada kondisi hujan tidak dianjurkan. <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  2. Klipping <\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    1. Dilakukan antara jam 08.00 sampai 11.00 (usahakan cuaca cerah) <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    2. Kliping dilakukan pada saat bibit pertumbuhannya terlalu lebat atau saling menutup batangnya. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    3. Kliping adalah kegiatan memotong sebagian atau 2\/3 daun bibit tembakau. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    4. Frekuensi kliping dilakukan bisa satu, dua kali atau lebih sesuai dengan perkembangan bibit dan persiapan lokasi areal tanam. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    5 Lima sampai tujuh hari menjelang transplanting, kegiatan kliping sebaiknya sudah selesai. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Tujuan klipping: menjaga lingkungan bibit agar tidak lembab, <\/strong>memperbesar batan,menyeragamkan ukuran benih, dan memperkuat pertumbuhan akar <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    1. Pencabutan Bibit, agar mendapatkan jarak tanam yang sesuai lahan <\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      \"\"\/<\/figure>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      \"\"\/<\/figure>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Dalam satu hamparan direkomendasikan selesai tanam maksimal 3 Hari. Umur  tanaman akan menjadi sama atau seragam. Performance tanaman juga akan menjadi  seragam. Kemasakan daun pada saat petik juga menjadi seragam. Memudahkan pada saat  proses panen dan pasca panen. Tembakau kering yang dihasilkan pun juga seragam.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      1. Pengendalian Hama & Penyakit<\/strong> <\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        ~ Pada awal penyebaran benih direkomendasikan untuk melakukan penyemprotan fusngisida (jamur), seperti Previcur, Redomil & Antracol <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        ~ Hama yang sering dijumpai: semut (Decis), janggel, orong-orong <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        1. Tahapan Perawatan<\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          \"\"\/<\/figure>\n ","post_title":"Sukses Bertani Tembakau Bersama Kemitraan Djarum di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sukses-bertani-tembakau-bersama-kemitraan-djarum-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-11 12:32:18","post_modified_gmt":"2019-02-11 05:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5433","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5425,"post_author":"922","post_date":"2019-02-10 09:07:33","post_date_gmt":"2019-02-10 02:07:33","post_content":" \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Bahwa cengkeh [1] (Syzygium aromaticum) --bersama pala (Myristica fragrans)-- adalah dua tanaman asli (endemik) Kepulauan Maluku, sudah tak terbantahkan. Cengkeh dikenal dan diakui berasal dari \u2018Empat Pulau Gunung Maluku\u2019 (Maloko Kie Raha): Ternate, Tidore, Moti, dan Makian.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Adapun pala, berasal dari empat pulau kecil lainnya di tengah Laut Banda: Lonthor, Neira, Rhun, dan Ai. Pada penjelasan peta abad-16 oleh penjelajah dari Semenanjung Iberia, Fransisco Rodriguez, tertulis: \u201cEstas quatro Ilhas Azures suam as de molluquo homde nace ho crauzo\u201d<\/em> (Adalah empat pulau berwarna biru [dalam peta] yang disebut sebagai Kepulauan Maluku di mana rempah-rempah berasal) (Pires, 1512- 1515:213).
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Sejak beberapa abad sebelum Masehi, adalah para saudagar Arab --melalui Samudera Hindia melintasi Iskandariyah dan Laut Tengah-- serta para pedagang Cina --melalui jalur \u2018Jalan Sutra\u2019 melintasi Asia Tengah dan Asia Barat-- yang membawa dan memperkenalkannya ke daratan Eropa. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Bandar-bandar besar Tyre di Yunani dan Venesia di Italia menjadi pelabuhan utama rempah-rempah Maluku memasuki kehidupan dan peradaban Eropa. Selain sebagai bumbu masakan, rempah obat, dan ramuan wewangian, cengkeh dan pala juga menjadi bahan utama pengawet bahan pangan. [2]
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Inilah yang membuat orang-orang Eropa untuk pertama kalinya dapat mengawetkan dan menimbun makanan selama bermusim-musim. Prosa indah Blair bersaudara menggambarkannya dengan sangat baik:
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          \u201cKemampuan menyimpan makanan lebih dari yang kami makan sekaligus berarti kemampuan menjual dan membelinya dalam jumlah besar --dan kota-kota dagang pun mekar. Perekonomian yang dihasilkannya mengarahkan kami ke zaman Pencerahan dan kemudian Revolusi Industri. Tak lama setelah kami menghirup aroma yang sangat kuat dari Timur itu dan mengubah kimiawi makanan kami, maka kami pun mampu melakukan lompatan besar dalam bidang budaya dan seni.\u201d (Blair & Blair, 2010; 30-31).<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Baca: Cengkeh dan Kelapa di Kepulauan Anambas<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Bukan hanya membuat perekonomian dan perdagangan serta ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang, cengkeh dan pala bahkan adalah faktor yang paling menentukan dalam kemunculan satu babakan paling mengenaskan dalam sejarah politik dunia, yakni zaman penjajahan (kolonialisme) Eropa, terutama atas-atas negeri- negeri Asia Selatan, Timur dan Tenggara, termasuk Indonesia.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Tergerak oleh sahwat menguasai rempah-rempah yang menggiurkan itu, bangsa-bangsa Eropa --terutama Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda-- pun menggelar ekspedisi-ekspedisi besar untuk menemukan cengkeh dan pala langsung di tanah asalnya. Ketika armada-armada mereka akhirnya mencapai perairan Kepulauan Maluku, pada abad-16, perang pun tak terhindarkan.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Mereka silih berganti saling mengalahkan, tetapi pemenang terakhir adalah Belanda. Melalui Perusahaan Dagang Hindia Timur (Vereenigde Oostindische Compagnie, VOC) yang dibentuk pada awal abad-17 (tepatnya tahun 1609), Belanda melancarkan ekspedisi Pelayaran Hongi (Hongie Tochten), untuk memusnahkan semua tanaman cengkeh di Ternate, Tidore, Moti, dan Makian, lalu membatasi ketat penanamnya hanya di Pulau-pulau Ambon dan Lease --yang lebih dekat ke Banda sebagai pusat pemerintahan mereka sebelum akhirnya dipindahkan ke Batavia.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Praktis, sejak akhir abad-16, Belanda pun menguasai penuh perdagangan rempah-rempah Maluku dengan jumlah produksi rerata 2.500 sampai 4.500 ton per tahun. [3]<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Baca: Budidaya Pohon Cengkeh<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Meskipun peran utama rempah-rempah Maluku itu kemudian tergusur pada abad-18 dan 19 oleh beberapa barang eksotika tropis lainnya --hasil perkebunan-perkebunana besar baru di Pulau Sumatera dan Jawa: tebu, tembakau, lada, kopi, teh, nila, kelapa sawit, dan kayu jati-- namun sejarah sudah mencatat bahwa dua jenis rempah-rempah Maluku itulah yang mengawali penjelajahan sekaligus penjajahan kepulauan Nusantara oleh bangsa-bangsa Eropah, terutama Belanda (Topatimasang, ed., 2004:32). Jika saja tak pernah ada cengkeh dan pala di Maluku, mungkin sejarah kepulauan Nusantara ini akan berbeda sama sekali.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Masa suram cengkeh dan pala terus berlangsung sampai pertengahan abad-20. Rempah eksotika yang pernah membuat tergila-gila<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          para saudagar Arab, pedagang Cina, serta kaum ningrat Eropa itu, tergantikan perannya oleh penemuan teknologi mesin pendingin berkat Revolusi Industri yang dimulai di Inggris pada pertengahan abad-18. Pasaran cengkeh di Eropa pun merosot tajam.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Nasibnya terselamatkan berkat penemuan oleh seorang Haji Djamhari di Kudus, Jawa Tengah. Pada akhir tahun 1880-an, Haji Djamhari menemukan kegunaan baru cengkeh sebagai ramuan utama rokok. Lahirlah satu produk baru yang unik, khas dan asli Indonesia: kretek! (Hanusz, 2000:ii).
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Setelah seperempat abad hanya berkembang dalam skala kecil usaha rumah tangga, produksi kretek akhirnya menjelma menjadi industri besar sejak awal abad-20 yang dirintis oleh Haji Nitisemito (pendiri pabrik \u2018Jambu Bol\u2019) di Kudus dan Liem Seng Tee (pendiri pabrik \u2018Dji Sam Soe\u2019 dan \u2018Sampoerna\u2019) di Surabaya.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Puncaknya adalah pada pertengahan tahun 1950-an, ketika produksi kretek mulai berkembang pesat menjadi industri raksasa modern dengan munculnya beberapa pabrik baru, antara lain, yang terkemuka, oleh Oei Wei Gwan (pendiri pabrik \u2018Djarum\u2019) di Kudus dan Tjou Ing Hwie (pendiri pabrik \u2018Gudang Garam\u2019) di Kediri (Topatimasang, et.al., eds., 2010:131).<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Baca: Teruslah Menanam Tembakau dan Cengkeh, Wahai Petani Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Cengkeh, bahan baku paling esensial dari kretek --selain tembakau, tentu saja-- pun kembali berjaya. Bahkan, sejak dasawarsa 1970an, telah menjadi salah satu penyumbang terbesar keuangan negara Republik Indonesia. Pada tahun 2012 dan 2013, pemasukan cukai dari industri kretek mencatat 95,5% dari seluruh pemasukan cukai ke kas negara. Nilainya tak tanggung-tanggung: Rp 87 triliun! (el-Guyanie, et.al.: 2013:4-5).<\/strong>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Nilai ekonomisnya yang sangat besar sempat menggoda penguasa otoriter rezim Presiden Soeharto, pada 1990-an, memberlakukan satu kebijakan \u2018Hongi Gaya Baru\u2019: monopoli perdagangan cengkeh dalam negeri melalui Badan Penyanggah dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) yang sangat merugikan petani. Harga cengkeh di tingkat petani penghasil anjlok sampai hanya Rp 2.000 - 3.000 per kilogram, lebih murah dari harga sebungkus kretek yang dihasilkan darinya.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Akibatnya, ratusan ribu pohon cengkeh di daerah-daerah penghasil utama --Maluku, Maluku Utara, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Selatan-- ditebangi atau dibiarkan terlantar tak terurus.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Gelombang reformasi sistem politik dan hukum nasional yang dimulai pada tahun 1998, akhirnya menjungkalkan rezim Soeharto dan BPPC dibubarkan, Pelan tapi pasti, harga cengkeh kembali merangkak naik, sehingga pada tahun 2012, bahkan melewati angka Rp 200.000 per kilogram. Para petani cengkeh di seluruh negeri kembali tersenyum. Tetapi, sampai kapan? <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Catatan:<\/strong><\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          [1] Beberapa sumber menyebutkan bahwa kata \u2018cengkeh\u2019 dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Mandarin, tkeng-his atau xi\u2019jia, yang berarti \u2018rempah [berbentuk mirip] paku\u2019 (scented nails). Ini menunjukkan bahwa cengkeh sudah dikenal sejak lama oleh bangsa Cina --diketahui sejak abad-2-- jauh sebelum orang Eropa mengenalnya ((lihat, misalnya: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          [2] Catatan-catatan para biarawan Fransiskan --yang disalin dan dikutip oleh van Frassen-- bahkan menyebut cengkeh sebagai salah satu bahan utama pengawet mumi para Fir\u2019aun, penguasa Mesir Kuno. Beberapa pakar sejarah dan arkeologi menyatakan bahwa rempah-rempah Maluku bahkan sudah ditemukan artefaknya di Lembah Mesopotomia (wilayah Iraq dan sekitarnya sekarang) pada 3.000 tahun sebelum Masehi. (lihat, antara lain: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          [3] Uraian lebih rinci sejarah kolonialisme rempah-rempah Nusantara ini, terutama oleh Belanda dan Portugis, dapat dibaca pada beberapa sumber kepustakaan yang sudah dikenal luas, antara lain: Glamann (1958) dan Boxer (1965 dan 1969). Dalam risalah klasik Pires disebutkan bahwa pada tahun 1512-1521 saja, jumlah produksi cengkeh di Maluku sudah mencapai 7.250 bahar per tahun, terbesar adalah di Makian serta Amboina dan Lease (masing-masing 1.500 bahar)(Pires, 1512-1515).<\/em>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem Topatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n ","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-10 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-02-10 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5425","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5415,"post_author":"878","post_date":"2019-02-07 12:15:55","post_date_gmt":"2019-02-07 05:15:55","post_content":" \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Belakangan ini, ketika musim hujan tiba, di Kabupaten Temanggung, Kabupaten Jember, dan beberapa wilayah sentra pertanian tembakau lainnya, hampir mustahil menemukan tanaman tembakau tumbuh di lahan-lahan milik petani. Di wilayah-wilayah tersebut, citra sebagai sentra pertanian tembakau seakan menguap. Lahan-lahan yang ada di sana, sama sekali tidak ditumbuhi tanaman tembakau.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Kabar ini bisa jadi dianggap sebagai kabar gembira bagi mereka yang menganggap diri dan kelompoknya anti-rokok dan anti-tembakau yang selalu mengampanyekan sikap-sikap mereka terkait kebencian kepada tembakau dan aktivitas merokok. Setelah sekian lama berjuang, akhirnya perjuangan mereka dirasa berhasil usai menyaksikan fenomena lahan-lahan di wilayah yang dianggap sentra pertanian tembakau pada hari-hari belakangan ini.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Baca juga: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Tak sia-sia turun ke jalan, tak sia-sia melakukan lobi-lobi ke penguasa, tak sia-sia mengucurkan uang yang tidak sedikit, dan tak sia-sia mempermalukan diri dengan mengemis ke lembaga donor asing dan menggondol uang dari cukai tembakau untuk mengampanyekan gerakan anti-rokok dan anti-tembakau. Tak sia-sia. Karena perjuangan sepertinya berhasil.<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Kampanye-kampanye gerakan mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya, sepertinya juga sangat berhasil. Bagaimana tidak? Wilayah-wilayah yang sebelumnya penuh dengan tanaman tembakau dan bergeliat dengannya, kini lahan-lahannya sudah berganti dengan tanaman lain. Sebuah keberhasilan yang menggembirakan. Begitu mungkin pikir mereka para yang menganggap dirinya pejuang anti-rokok dan anti-tembakau. Dan tentu saja mereka akan kecele dan kita akan menertawakan hal itu.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Sayangnya, mereka yang menganggap dirinya anti-rokok dan anti-tembakau tidak menyaksikan langsung fenomena ini di lapangan, di lahan-lahan yang peruntukannya berubah pada hari-hari belakangan ini ketika memasuki musim hujan. Mereka asyik duduk pada kursi empuk di ruang-ruang nyaman ber-AC di kota-kota yang jauh dari kultur pertanian. Mereka menyengajakan diri menjadi elit dan enggan untuk turun melihat langsung ke lapangan. Kalaupun ada yang turun langsung ke lapangan, hanya segelintir saja dari mereka, itupun sekadar formalitas saja. Tak pernah benar-benar mau turun ke lapangan, hidup dan merasakan langsung kultur pertanian tembakau dalam jangka waktu cukup lama di lapangan.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Baca juga: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Fenomena ini membikin kita tak bisa melihat mereka para anti-rokok kecele lalu menertawakan mereka.<\/strong> Fenomena keengganan terjun langsung ke lapangan terlebih mencoba mendengar mereka yang tetap menanam tembakau, juga menjalani keseharian dalam waktu cukup lama bersama petani tembakau inilah yang saya kira menjadikan mereka tetap keras kepala untuk anti-rokok dan anti-tembakau. Karena jika mereka mau melakukan itu, saya yakin mereka semua tidak akan begitu kaku dalam memandang pertanian tembakau dan produk hasil industri tembakau.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Salah satu yang selalu mereka kampanyekan dan ngotot dengan itu, terkait hulu pertanian tembakau adalah mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya. Mereka berargumen banyak tanaman lain yang bisa semenguntungkan tanaman tembakau. Keengganan mereka terjun langsung ke lapangan inilah yang membikin mereka buta dengan kondisi pertanian tembakau dan pada akhirnya terus menerus mengampanyekan pergantian tanaman tembakau dengan tanaman lainnya.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Baca juga: Imanlah kepada Allah, Bukan Antirokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Tembakau tanaman yang khas. Ia hanya tumbuh baik sepanjang empat hingga lima bulan dalam satu tahun. Tumbuh-kembang tanaman tembakau dengan baik itu umumnya terjadi pada musim kemarau setiap tahunnya. Hanya sedikit sekali jenis tembakau yang tumbuh baik di musim penghujan, mayoritasnya, tumbuh baik pada musim kemarau.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Jika ditanam pada musim hujan, hampir bisa dipastikan tanaman tembakau akan gagal menghasilkan daun-daun yang berkualitas. Ia akan rusak dan membusuk karena terlalu banyak terkena air sehingga daun-daun itu tak layak dijual. Jangankan bisa dijual, untuk tumbuh dengan baik pun sepertinya sulit karena musim hujan akan membunuh banyak tanaman itu.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Maka, tak heran pada musim-musim seperti saat ini, ketika musim penghujan mendekati puncaknya, di wilayah-wilayah yang dikenal sebagai sentra pertanian tembakau, sulit menemukan pohon tembakau yang sedang tumbuh. Pada lahan-lahan yang sebelumnya ditumbuhi tanaman tembakau pada musim panas, berganti tanaman-tanaman lain yang bermacam-macam, sesuai dengan kondisi lahannya. Untuk lahan sawah, lahan-lahan itu pada musim penghujan kini ditumbuhi tanaman padi yang subur. Pada lahan tegalan dan lahan di pegunungan, lahan-lahan yang ditanami tembakau pada musim kemarau, saat ini ditumbuhi bermacam jenis tanaman mulai dari cabai, bawang, tomat, kol, terong, mentimun, dan ragam jenis tanaman semusim lainnya.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Uniknya, tipikal tanaman tembakau yang tumbuh baik di musim kemarau ini memberi pilihan lebih kepada para petani. Lahan-lahan yang sulit ditanami pada musim kemarau, pada akhirnya masih bisa tetap produktif dengan keberadaan tanaman tembakau. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Maka, kampanye aneh mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain dengan ragam rupa dalih yang membingungkan, bukan saja sama sekali tidak tepat dan asal-asalan, namun bisa jadi akan ditertawakan oleh para petani yang begitu paham dengan kondisi lahan dan terutama kondisi iklim dan cuaca. Sulit mencari tanaman semusim yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Jika pun ada, tak ada yang semenguntungkan tanaman tembakau.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n ","post_title":"Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"keberhasilan-gerakan-anti-tembakau-tak-ada-tembakau-saat-musim-hujan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-07 12:16:02","post_modified_gmt":"2019-02-07 05:16:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5415","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5409,"post_author":"919","post_date":"2019-02-05 08:04:43","post_date_gmt":"2019-02-05 01:04:43","post_content":" \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Tahun Baru Imlek yang merupakan tradisi Bangsa Tiongkok kini sudah tak lagi menjadi hal yang asing bagi masyarakat Indonesia. Kehadirannya sudah mewarnai dan berakulturasi dengan tradisi lokal. Menjelang Tahun Baru Imlek. Berbagai hiasan dan kemeriahan terjadi beberapa titik di Tanah Air. Perayaannya juga menjadi destinasi baru yang mengasyikkan untuk dilihat dan patut disaksikan.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Berterimakasihlah kepada sang bapak bangsa, KH Abdurrahman Wahid atau yang dikenal dengan nama Gus Dur. Berkat kebijakannya saat menjadi Presiden Indonesia, Tahun Baru Imlek resmi dijadikan hari libur nasional dan dianggap sebagai salah satu hari raya di Tanah Air. Meski sentimen antitionghoa masih ada di sana-sini, tapi tetap tak bisa dipungkiri bahwa bangsa tionghoa sudah bersentuhan dengan budaya lokal dalam kurun waktu yang sangat panjang.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          DNA Bangsa Tionghoa yang memang merupakan pedagang menjadi pembuka kisah interaksi antara nenek moyang berbagai suku di Nusantara dengan mereka. Beberapa kelenteng-kelenteng yang tersebar pada berbagai pesisir daerah di Nusantara jadi buktinya. Pelabuhan-pelabuhan tua di tanah air dan ramainya perdagangan di pesisir mempermudah bangsa kita berhubungan dengan Bangsa Tionghoa.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Baca Juga: Wong Kalang dan Kota Gede<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa kehadiran Bangsa Tionghoa di Nusantara tak hanya sebagai pedagang, namun juga sebagai pekerja (bahkan hingga pekerja kasar). Benny Setiono, seorang sejarahwan menyebutkan bahwa antara tahun 1760-1770 dalam jumlah yang besar memasuki nusantara melalui Kalimantan Barat. Mereka bekerja sebagai kuli pertambangan di sana dan di kemudian hari membentuk sebuah republik bernama Republik Lanfang yang konon katanya menjadi republik pertama di Asia Tenggara.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Baca Juga: Imlek dan Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Baca Juga: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n ","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_3o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          \n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          1. Daerah pegunungan pembibitan di mulai bulan Februari minggu ke III dan IV, akhir pembibitan bulan Maret minggu ke I dan III<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          2. Daerah rendah\/sawah awal pembibitan bulan Maret minggu IV \u2013 April minggu I, akhir pembibitan  bulan April minggu III \u2013 minggu IV. <\/li><\/ol>\n \n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Tujuan Pembibitan<\/strong>:<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            1. Mendapatkan Bibit sehat dan seragam<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            2. Mendapatkan jumlah bibit cukup sesuai perhitungan luasan lahan<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            3. Memperoleh jenis bibit murni sesuai kebutuhan (tidak varietas campuran).<\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Tahapan Pembibitan<\/strong><\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    1. Persiapan Benih<\/strong>, meliputi:<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              a. Dosis benih \t\t\t\t\t= 5 gr per 1 Hektare <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              b. Dalam 1 gr benih \t\t\t\t= \u00b1 7.500 benih<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              c. Bila daya berkecambah (DB) \u00b1 80 %\t\t= 5 gr x 7.500 x 80% <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              d. Bibit yang tumbuh \t\t\t\t= 37.500 tanaman <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      (Hitungan di atas sudah termasuk cadangan untuk sulaman) <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              e. Teknis sebar benih; apabila luas media tanam cukup, teknis sebar benih yang dianjurkan adalah dicampur dengan abu sekam. Apabila luas media tanam tidak mencukupi, maka teknis sebar benih yang dianjurkan adalah diaduk tanah.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              f. Cara memperoleh benih yang murni dan baik, harus mengetahui asal usul \/ sumber benih apakah dari BALITTAS, Dinas Pertanian  atau Seeding Center. Daya kecambah terukur sehingga dosis sebar bisa ditentukan. Bebas Hama dan Penyakit. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              2. Persiapan Lahan <\/strong><\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              1. Tanah digemburkan sehingga akar mudah berkembang <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              2. Menyediakan ruang untuk respirasi akar <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              3. Mematikan gulma dan penyakit dalam tanah <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              4. Tanah siap menjadi media tumbuh bagi tanaman <\/li><\/ol>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                \"\"\/<\/figure>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                \"\"\/<\/figure>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Sempurna<\/strong> <\/strong>tidak sempurna<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                3. Persiapan Media Tanam<\/strong><\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                1. Tanah yang digunakan adalah tanah dan pupuk kandang yang sudah matang <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                2. Tanah berasal dari tanah steril (sudah dikeringkan dan bukan dari tanah bekas tanaman yang terserang penyakit)<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                3. Media tanah dicangkul ringan di para-para minimal 2x <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                4. Sebar Benih; <\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Setelah bibit dan lahan siap, kemudian sebarkan benih dengan ditutup memakai jerami <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  1. Pemupukan <\/strong><\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  2. Pemupukan pertama<\/li><\/ol>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    \"\"\/<\/figure>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    1. Pemupukan kedua, dilakukan apabila pertumbuhan bibit kurang baik (21 HSS). Pupuk yang digunakan adalaj KNO3 <\/sub>(30 \u2013 50 gram per bedeng dengan ukuran 1x5 m) dicampur dengan air \u00b110 liter, selanjutnya bedengan disiram kembali dengan air (pembilasan) <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    2. Penyiraman<\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Frekuensi penyiraman berdasarkan umur bibit\/umur hari setelah sebar (HSS):<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      0 \u2013 10 HSS\t\t:\t3x Sehari (fase kritis)<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      11 \u2013 21 HSS\t\t:\t2x Sehari <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      22 \u2013 35 HSS\t\t:\t1x Sehari <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      36 \u2013 45 \/ 50 HSS\t:\tPeriode stress air\/kering<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      1. Penjarangan & Hardening<\/strong>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        1. Penjarangan dilakukan agar jarak antara bibit ideal (4-5 cm) sehingga tidak<\/li><\/ol><\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          terserang hama & penyakit. Penjarangan dilakukan pada umur bibit 21-25 hari dengan cara: basahi bedengan sore hari sebelumnya dan pagi hari sebelum bibit dicabut, cabut bibit  yang akan ditanami dengan hati-hati, tanam bibit pada bedengan yang kerapatan bibitnya jarang, siram bibit sesegera mungkin setelah dipindah.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          1. Bibit dibiasakan untuk terkena sinar  matahari langsung. Tujuan hardening agar bibit dapat beradaptasi dan memperkuat jaringan daun, batang serta mengurangi resiko penyakit karena jamur. Pelaksanaan hardening mulai umur 21 HSS secara bertahap.Pada kondisi hujan tidak dianjurkan. <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          2. Klipping <\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            1. Dilakukan antara jam 08.00 sampai 11.00 (usahakan cuaca cerah) <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            2. Kliping dilakukan pada saat bibit pertumbuhannya terlalu lebat atau saling menutup batangnya. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            3. Kliping adalah kegiatan memotong sebagian atau 2\/3 daun bibit tembakau. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            4. Frekuensi kliping dilakukan bisa satu, dua kali atau lebih sesuai dengan perkembangan bibit dan persiapan lokasi areal tanam. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            5 Lima sampai tujuh hari menjelang transplanting, kegiatan kliping sebaiknya sudah selesai. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Tujuan klipping: menjaga lingkungan bibit agar tidak lembab, <\/strong>memperbesar batan,menyeragamkan ukuran benih, dan memperkuat pertumbuhan akar <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            1. Pencabutan Bibit, agar mendapatkan jarak tanam yang sesuai lahan <\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              \"\"\/<\/figure>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              \"\"\/<\/figure>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Dalam satu hamparan direkomendasikan selesai tanam maksimal 3 Hari. Umur  tanaman akan menjadi sama atau seragam. Performance tanaman juga akan menjadi  seragam. Kemasakan daun pada saat petik juga menjadi seragam. Memudahkan pada saat  proses panen dan pasca panen. Tembakau kering yang dihasilkan pun juga seragam.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              1. Pengendalian Hama & Penyakit<\/strong> <\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                ~ Pada awal penyebaran benih direkomendasikan untuk melakukan penyemprotan fusngisida (jamur), seperti Previcur, Redomil & Antracol <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                ~ Hama yang sering dijumpai: semut (Decis), janggel, orong-orong <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                1. Tahapan Perawatan<\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  \"\"\/<\/figure>\n ","post_title":"Sukses Bertani Tembakau Bersama Kemitraan Djarum di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sukses-bertani-tembakau-bersama-kemitraan-djarum-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-11 12:32:18","post_modified_gmt":"2019-02-11 05:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5433","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5425,"post_author":"922","post_date":"2019-02-10 09:07:33","post_date_gmt":"2019-02-10 02:07:33","post_content":" \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Bahwa cengkeh [1] (Syzygium aromaticum) --bersama pala (Myristica fragrans)-- adalah dua tanaman asli (endemik) Kepulauan Maluku, sudah tak terbantahkan. Cengkeh dikenal dan diakui berasal dari \u2018Empat Pulau Gunung Maluku\u2019 (Maloko Kie Raha): Ternate, Tidore, Moti, dan Makian.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Adapun pala, berasal dari empat pulau kecil lainnya di tengah Laut Banda: Lonthor, Neira, Rhun, dan Ai. Pada penjelasan peta abad-16 oleh penjelajah dari Semenanjung Iberia, Fransisco Rodriguez, tertulis: \u201cEstas quatro Ilhas Azures suam as de molluquo homde nace ho crauzo\u201d<\/em> (Adalah empat pulau berwarna biru [dalam peta] yang disebut sebagai Kepulauan Maluku di mana rempah-rempah berasal) (Pires, 1512- 1515:213).
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Sejak beberapa abad sebelum Masehi, adalah para saudagar Arab --melalui Samudera Hindia melintasi Iskandariyah dan Laut Tengah-- serta para pedagang Cina --melalui jalur \u2018Jalan Sutra\u2019 melintasi Asia Tengah dan Asia Barat-- yang membawa dan memperkenalkannya ke daratan Eropa. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Bandar-bandar besar Tyre di Yunani dan Venesia di Italia menjadi pelabuhan utama rempah-rempah Maluku memasuki kehidupan dan peradaban Eropa. Selain sebagai bumbu masakan, rempah obat, dan ramuan wewangian, cengkeh dan pala juga menjadi bahan utama pengawet bahan pangan. [2]
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Inilah yang membuat orang-orang Eropa untuk pertama kalinya dapat mengawetkan dan menimbun makanan selama bermusim-musim. Prosa indah Blair bersaudara menggambarkannya dengan sangat baik:
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  \u201cKemampuan menyimpan makanan lebih dari yang kami makan sekaligus berarti kemampuan menjual dan membelinya dalam jumlah besar --dan kota-kota dagang pun mekar. Perekonomian yang dihasilkannya mengarahkan kami ke zaman Pencerahan dan kemudian Revolusi Industri. Tak lama setelah kami menghirup aroma yang sangat kuat dari Timur itu dan mengubah kimiawi makanan kami, maka kami pun mampu melakukan lompatan besar dalam bidang budaya dan seni.\u201d (Blair & Blair, 2010; 30-31).<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Baca: Cengkeh dan Kelapa di Kepulauan Anambas<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Bukan hanya membuat perekonomian dan perdagangan serta ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang, cengkeh dan pala bahkan adalah faktor yang paling menentukan dalam kemunculan satu babakan paling mengenaskan dalam sejarah politik dunia, yakni zaman penjajahan (kolonialisme) Eropa, terutama atas-atas negeri- negeri Asia Selatan, Timur dan Tenggara, termasuk Indonesia.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Tergerak oleh sahwat menguasai rempah-rempah yang menggiurkan itu, bangsa-bangsa Eropa --terutama Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda-- pun menggelar ekspedisi-ekspedisi besar untuk menemukan cengkeh dan pala langsung di tanah asalnya. Ketika armada-armada mereka akhirnya mencapai perairan Kepulauan Maluku, pada abad-16, perang pun tak terhindarkan.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Mereka silih berganti saling mengalahkan, tetapi pemenang terakhir adalah Belanda. Melalui Perusahaan Dagang Hindia Timur (Vereenigde Oostindische Compagnie, VOC) yang dibentuk pada awal abad-17 (tepatnya tahun 1609), Belanda melancarkan ekspedisi Pelayaran Hongi (Hongie Tochten), untuk memusnahkan semua tanaman cengkeh di Ternate, Tidore, Moti, dan Makian, lalu membatasi ketat penanamnya hanya di Pulau-pulau Ambon dan Lease --yang lebih dekat ke Banda sebagai pusat pemerintahan mereka sebelum akhirnya dipindahkan ke Batavia.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Praktis, sejak akhir abad-16, Belanda pun menguasai penuh perdagangan rempah-rempah Maluku dengan jumlah produksi rerata 2.500 sampai 4.500 ton per tahun. [3]<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Baca: Budidaya Pohon Cengkeh<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Meskipun peran utama rempah-rempah Maluku itu kemudian tergusur pada abad-18 dan 19 oleh beberapa barang eksotika tropis lainnya --hasil perkebunan-perkebunana besar baru di Pulau Sumatera dan Jawa: tebu, tembakau, lada, kopi, teh, nila, kelapa sawit, dan kayu jati-- namun sejarah sudah mencatat bahwa dua jenis rempah-rempah Maluku itulah yang mengawali penjelajahan sekaligus penjajahan kepulauan Nusantara oleh bangsa-bangsa Eropah, terutama Belanda (Topatimasang, ed., 2004:32). Jika saja tak pernah ada cengkeh dan pala di Maluku, mungkin sejarah kepulauan Nusantara ini akan berbeda sama sekali.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Masa suram cengkeh dan pala terus berlangsung sampai pertengahan abad-20. Rempah eksotika yang pernah membuat tergila-gila<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  para saudagar Arab, pedagang Cina, serta kaum ningrat Eropa itu, tergantikan perannya oleh penemuan teknologi mesin pendingin berkat Revolusi Industri yang dimulai di Inggris pada pertengahan abad-18. Pasaran cengkeh di Eropa pun merosot tajam.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Nasibnya terselamatkan berkat penemuan oleh seorang Haji Djamhari di Kudus, Jawa Tengah. Pada akhir tahun 1880-an, Haji Djamhari menemukan kegunaan baru cengkeh sebagai ramuan utama rokok. Lahirlah satu produk baru yang unik, khas dan asli Indonesia: kretek! (Hanusz, 2000:ii).
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Setelah seperempat abad hanya berkembang dalam skala kecil usaha rumah tangga, produksi kretek akhirnya menjelma menjadi industri besar sejak awal abad-20 yang dirintis oleh Haji Nitisemito (pendiri pabrik \u2018Jambu Bol\u2019) di Kudus dan Liem Seng Tee (pendiri pabrik \u2018Dji Sam Soe\u2019 dan \u2018Sampoerna\u2019) di Surabaya.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Puncaknya adalah pada pertengahan tahun 1950-an, ketika produksi kretek mulai berkembang pesat menjadi industri raksasa modern dengan munculnya beberapa pabrik baru, antara lain, yang terkemuka, oleh Oei Wei Gwan (pendiri pabrik \u2018Djarum\u2019) di Kudus dan Tjou Ing Hwie (pendiri pabrik \u2018Gudang Garam\u2019) di Kediri (Topatimasang, et.al., eds., 2010:131).<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Baca: Teruslah Menanam Tembakau dan Cengkeh, Wahai Petani Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Cengkeh, bahan baku paling esensial dari kretek --selain tembakau, tentu saja-- pun kembali berjaya. Bahkan, sejak dasawarsa 1970an, telah menjadi salah satu penyumbang terbesar keuangan negara Republik Indonesia. Pada tahun 2012 dan 2013, pemasukan cukai dari industri kretek mencatat 95,5% dari seluruh pemasukan cukai ke kas negara. Nilainya tak tanggung-tanggung: Rp 87 triliun! (el-Guyanie, et.al.: 2013:4-5).<\/strong>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Nilai ekonomisnya yang sangat besar sempat menggoda penguasa otoriter rezim Presiden Soeharto, pada 1990-an, memberlakukan satu kebijakan \u2018Hongi Gaya Baru\u2019: monopoli perdagangan cengkeh dalam negeri melalui Badan Penyanggah dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) yang sangat merugikan petani. Harga cengkeh di tingkat petani penghasil anjlok sampai hanya Rp 2.000 - 3.000 per kilogram, lebih murah dari harga sebungkus kretek yang dihasilkan darinya.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Akibatnya, ratusan ribu pohon cengkeh di daerah-daerah penghasil utama --Maluku, Maluku Utara, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Selatan-- ditebangi atau dibiarkan terlantar tak terurus.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Gelombang reformasi sistem politik dan hukum nasional yang dimulai pada tahun 1998, akhirnya menjungkalkan rezim Soeharto dan BPPC dibubarkan, Pelan tapi pasti, harga cengkeh kembali merangkak naik, sehingga pada tahun 2012, bahkan melewati angka Rp 200.000 per kilogram. Para petani cengkeh di seluruh negeri kembali tersenyum. Tetapi, sampai kapan? <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Catatan:<\/strong><\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  [1] Beberapa sumber menyebutkan bahwa kata \u2018cengkeh\u2019 dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Mandarin, tkeng-his atau xi\u2019jia, yang berarti \u2018rempah [berbentuk mirip] paku\u2019 (scented nails). Ini menunjukkan bahwa cengkeh sudah dikenal sejak lama oleh bangsa Cina --diketahui sejak abad-2-- jauh sebelum orang Eropa mengenalnya ((lihat, misalnya: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  [2] Catatan-catatan para biarawan Fransiskan --yang disalin dan dikutip oleh van Frassen-- bahkan menyebut cengkeh sebagai salah satu bahan utama pengawet mumi para Fir\u2019aun, penguasa Mesir Kuno. Beberapa pakar sejarah dan arkeologi menyatakan bahwa rempah-rempah Maluku bahkan sudah ditemukan artefaknya di Lembah Mesopotomia (wilayah Iraq dan sekitarnya sekarang) pada 3.000 tahun sebelum Masehi. (lihat, antara lain: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  [3] Uraian lebih rinci sejarah kolonialisme rempah-rempah Nusantara ini, terutama oleh Belanda dan Portugis, dapat dibaca pada beberapa sumber kepustakaan yang sudah dikenal luas, antara lain: Glamann (1958) dan Boxer (1965 dan 1969). Dalam risalah klasik Pires disebutkan bahwa pada tahun 1512-1521 saja, jumlah produksi cengkeh di Maluku sudah mencapai 7.250 bahar per tahun, terbesar adalah di Makian serta Amboina dan Lease (masing-masing 1.500 bahar)(Pires, 1512-1515).<\/em>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem Topatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  <\/p>\n ","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-10 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-02-10 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5425","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5415,"post_author":"878","post_date":"2019-02-07 12:15:55","post_date_gmt":"2019-02-07 05:15:55","post_content":" \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Belakangan ini, ketika musim hujan tiba, di Kabupaten Temanggung, Kabupaten Jember, dan beberapa wilayah sentra pertanian tembakau lainnya, hampir mustahil menemukan tanaman tembakau tumbuh di lahan-lahan milik petani. Di wilayah-wilayah tersebut, citra sebagai sentra pertanian tembakau seakan menguap. Lahan-lahan yang ada di sana, sama sekali tidak ditumbuhi tanaman tembakau.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Kabar ini bisa jadi dianggap sebagai kabar gembira bagi mereka yang menganggap diri dan kelompoknya anti-rokok dan anti-tembakau yang selalu mengampanyekan sikap-sikap mereka terkait kebencian kepada tembakau dan aktivitas merokok. Setelah sekian lama berjuang, akhirnya perjuangan mereka dirasa berhasil usai menyaksikan fenomena lahan-lahan di wilayah yang dianggap sentra pertanian tembakau pada hari-hari belakangan ini.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Baca juga: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Tak sia-sia turun ke jalan, tak sia-sia melakukan lobi-lobi ke penguasa, tak sia-sia mengucurkan uang yang tidak sedikit, dan tak sia-sia mempermalukan diri dengan mengemis ke lembaga donor asing dan menggondol uang dari cukai tembakau untuk mengampanyekan gerakan anti-rokok dan anti-tembakau. Tak sia-sia. Karena perjuangan sepertinya berhasil.<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Kampanye-kampanye gerakan mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya, sepertinya juga sangat berhasil. Bagaimana tidak? Wilayah-wilayah yang sebelumnya penuh dengan tanaman tembakau dan bergeliat dengannya, kini lahan-lahannya sudah berganti dengan tanaman lain. Sebuah keberhasilan yang menggembirakan. Begitu mungkin pikir mereka para yang menganggap dirinya pejuang anti-rokok dan anti-tembakau. Dan tentu saja mereka akan kecele dan kita akan menertawakan hal itu.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Sayangnya, mereka yang menganggap dirinya anti-rokok dan anti-tembakau tidak menyaksikan langsung fenomena ini di lapangan, di lahan-lahan yang peruntukannya berubah pada hari-hari belakangan ini ketika memasuki musim hujan. Mereka asyik duduk pada kursi empuk di ruang-ruang nyaman ber-AC di kota-kota yang jauh dari kultur pertanian. Mereka menyengajakan diri menjadi elit dan enggan untuk turun melihat langsung ke lapangan. Kalaupun ada yang turun langsung ke lapangan, hanya segelintir saja dari mereka, itupun sekadar formalitas saja. Tak pernah benar-benar mau turun ke lapangan, hidup dan merasakan langsung kultur pertanian tembakau dalam jangka waktu cukup lama di lapangan.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Baca juga: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Fenomena ini membikin kita tak bisa melihat mereka para anti-rokok kecele lalu menertawakan mereka.<\/strong> Fenomena keengganan terjun langsung ke lapangan terlebih mencoba mendengar mereka yang tetap menanam tembakau, juga menjalani keseharian dalam waktu cukup lama bersama petani tembakau inilah yang saya kira menjadikan mereka tetap keras kepala untuk anti-rokok dan anti-tembakau. Karena jika mereka mau melakukan itu, saya yakin mereka semua tidak akan begitu kaku dalam memandang pertanian tembakau dan produk hasil industri tembakau.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Salah satu yang selalu mereka kampanyekan dan ngotot dengan itu, terkait hulu pertanian tembakau adalah mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya. Mereka berargumen banyak tanaman lain yang bisa semenguntungkan tanaman tembakau. Keengganan mereka terjun langsung ke lapangan inilah yang membikin mereka buta dengan kondisi pertanian tembakau dan pada akhirnya terus menerus mengampanyekan pergantian tanaman tembakau dengan tanaman lainnya.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Baca juga: Imanlah kepada Allah, Bukan Antirokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Tembakau tanaman yang khas. Ia hanya tumbuh baik sepanjang empat hingga lima bulan dalam satu tahun. Tumbuh-kembang tanaman tembakau dengan baik itu umumnya terjadi pada musim kemarau setiap tahunnya. Hanya sedikit sekali jenis tembakau yang tumbuh baik di musim penghujan, mayoritasnya, tumbuh baik pada musim kemarau.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Jika ditanam pada musim hujan, hampir bisa dipastikan tanaman tembakau akan gagal menghasilkan daun-daun yang berkualitas. Ia akan rusak dan membusuk karena terlalu banyak terkena air sehingga daun-daun itu tak layak dijual. Jangankan bisa dijual, untuk tumbuh dengan baik pun sepertinya sulit karena musim hujan akan membunuh banyak tanaman itu.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Maka, tak heran pada musim-musim seperti saat ini, ketika musim penghujan mendekati puncaknya, di wilayah-wilayah yang dikenal sebagai sentra pertanian tembakau, sulit menemukan pohon tembakau yang sedang tumbuh. Pada lahan-lahan yang sebelumnya ditumbuhi tanaman tembakau pada musim panas, berganti tanaman-tanaman lain yang bermacam-macam, sesuai dengan kondisi lahannya. Untuk lahan sawah, lahan-lahan itu pada musim penghujan kini ditumbuhi tanaman padi yang subur. Pada lahan tegalan dan lahan di pegunungan, lahan-lahan yang ditanami tembakau pada musim kemarau, saat ini ditumbuhi bermacam jenis tanaman mulai dari cabai, bawang, tomat, kol, terong, mentimun, dan ragam jenis tanaman semusim lainnya.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Uniknya, tipikal tanaman tembakau yang tumbuh baik di musim kemarau ini memberi pilihan lebih kepada para petani. Lahan-lahan yang sulit ditanami pada musim kemarau, pada akhirnya masih bisa tetap produktif dengan keberadaan tanaman tembakau. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Maka, kampanye aneh mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain dengan ragam rupa dalih yang membingungkan, bukan saja sama sekali tidak tepat dan asal-asalan, namun bisa jadi akan ditertawakan oleh para petani yang begitu paham dengan kondisi lahan dan terutama kondisi iklim dan cuaca. Sulit mencari tanaman semusim yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Jika pun ada, tak ada yang semenguntungkan tanaman tembakau.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  <\/p>\n ","post_title":"Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"keberhasilan-gerakan-anti-tembakau-tak-ada-tembakau-saat-musim-hujan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-07 12:16:02","post_modified_gmt":"2019-02-07 05:16:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5415","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5409,"post_author":"919","post_date":"2019-02-05 08:04:43","post_date_gmt":"2019-02-05 01:04:43","post_content":" \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Tahun Baru Imlek yang merupakan tradisi Bangsa Tiongkok kini sudah tak lagi menjadi hal yang asing bagi masyarakat Indonesia. Kehadirannya sudah mewarnai dan berakulturasi dengan tradisi lokal. Menjelang Tahun Baru Imlek. Berbagai hiasan dan kemeriahan terjadi beberapa titik di Tanah Air. Perayaannya juga menjadi destinasi baru yang mengasyikkan untuk dilihat dan patut disaksikan.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Berterimakasihlah kepada sang bapak bangsa, KH Abdurrahman Wahid atau yang dikenal dengan nama Gus Dur. Berkat kebijakannya saat menjadi Presiden Indonesia, Tahun Baru Imlek resmi dijadikan hari libur nasional dan dianggap sebagai salah satu hari raya di Tanah Air. Meski sentimen antitionghoa masih ada di sana-sini, tapi tetap tak bisa dipungkiri bahwa bangsa tionghoa sudah bersentuhan dengan budaya lokal dalam kurun waktu yang sangat panjang.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  DNA Bangsa Tionghoa yang memang merupakan pedagang menjadi pembuka kisah interaksi antara nenek moyang berbagai suku di Nusantara dengan mereka. Beberapa kelenteng-kelenteng yang tersebar pada berbagai pesisir daerah di Nusantara jadi buktinya. Pelabuhan-pelabuhan tua di tanah air dan ramainya perdagangan di pesisir mempermudah bangsa kita berhubungan dengan Bangsa Tionghoa.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Baca Juga: Wong Kalang dan Kota Gede<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa kehadiran Bangsa Tionghoa di Nusantara tak hanya sebagai pedagang, namun juga sebagai pekerja (bahkan hingga pekerja kasar). Benny Setiono, seorang sejarahwan menyebutkan bahwa antara tahun 1760-1770 dalam jumlah yang besar memasuki nusantara melalui Kalimantan Barat. Mereka bekerja sebagai kuli pertambangan di sana dan di kemudian hari membentuk sebuah republik bernama Republik Lanfang yang konon katanya menjadi republik pertama di Asia Tenggara.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Baca Juga: Imlek dan Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Baca Juga: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  <\/p>\n ","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_3o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Jadwal Pembibitan:<\/p>\n \n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  1. Daerah pegunungan pembibitan di mulai bulan Februari minggu ke III dan IV, akhir pembibitan bulan Maret minggu ke I dan III<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  2. Daerah rendah\/sawah awal pembibitan bulan Maret minggu IV \u2013 April minggu I, akhir pembibitan  bulan April minggu III \u2013 minggu IV. <\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Tujuan Pembibitan<\/strong>:<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    1. Mendapatkan Bibit sehat dan seragam<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    2. Mendapatkan jumlah bibit cukup sesuai perhitungan luasan lahan<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    3. Memperoleh jenis bibit murni sesuai kebutuhan (tidak varietas campuran).<\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Tahapan Pembibitan<\/strong><\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            1. Persiapan Benih<\/strong>, meliputi:<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      a. Dosis benih \t\t\t\t\t= 5 gr per 1 Hektare <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      b. Dalam 1 gr benih \t\t\t\t= \u00b1 7.500 benih<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      c. Bila daya berkecambah (DB) \u00b1 80 %\t\t= 5 gr x 7.500 x 80% <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      d. Bibit yang tumbuh \t\t\t\t= 37.500 tanaman <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              (Hitungan di atas sudah termasuk cadangan untuk sulaman) <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      e. Teknis sebar benih; apabila luas media tanam cukup, teknis sebar benih yang dianjurkan adalah dicampur dengan abu sekam. Apabila luas media tanam tidak mencukupi, maka teknis sebar benih yang dianjurkan adalah diaduk tanah.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      f. Cara memperoleh benih yang murni dan baik, harus mengetahui asal usul \/ sumber benih apakah dari BALITTAS, Dinas Pertanian  atau Seeding Center. Daya kecambah terukur sehingga dosis sebar bisa ditentukan. Bebas Hama dan Penyakit. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      2. Persiapan Lahan <\/strong><\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      1. Tanah digemburkan sehingga akar mudah berkembang <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      2. Menyediakan ruang untuk respirasi akar <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      3. Mematikan gulma dan penyakit dalam tanah <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      4. Tanah siap menjadi media tumbuh bagi tanaman <\/li><\/ol>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        \"\"\/<\/figure>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        \"\"\/<\/figure>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Sempurna<\/strong> <\/strong>tidak sempurna<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        3. Persiapan Media Tanam<\/strong><\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        1. Tanah yang digunakan adalah tanah dan pupuk kandang yang sudah matang <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        2. Tanah berasal dari tanah steril (sudah dikeringkan dan bukan dari tanah bekas tanaman yang terserang penyakit)<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        3. Media tanah dicangkul ringan di para-para minimal 2x <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        4. Sebar Benih; <\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Setelah bibit dan lahan siap, kemudian sebarkan benih dengan ditutup memakai jerami <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          1. Pemupukan <\/strong><\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          2. Pemupukan pertama<\/li><\/ol>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            \"\"\/<\/figure>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            1. Pemupukan kedua, dilakukan apabila pertumbuhan bibit kurang baik (21 HSS). Pupuk yang digunakan adalaj KNO3 <\/sub>(30 \u2013 50 gram per bedeng dengan ukuran 1x5 m) dicampur dengan air \u00b110 liter, selanjutnya bedengan disiram kembali dengan air (pembilasan) <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            2. Penyiraman<\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Frekuensi penyiraman berdasarkan umur bibit\/umur hari setelah sebar (HSS):<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              0 \u2013 10 HSS\t\t:\t3x Sehari (fase kritis)<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              11 \u2013 21 HSS\t\t:\t2x Sehari <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              22 \u2013 35 HSS\t\t:\t1x Sehari <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              36 \u2013 45 \/ 50 HSS\t:\tPeriode stress air\/kering<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              1. Penjarangan & Hardening<\/strong>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                1. Penjarangan dilakukan agar jarak antara bibit ideal (4-5 cm) sehingga tidak<\/li><\/ol><\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  terserang hama & penyakit. Penjarangan dilakukan pada umur bibit 21-25 hari dengan cara: basahi bedengan sore hari sebelumnya dan pagi hari sebelum bibit dicabut, cabut bibit  yang akan ditanami dengan hati-hati, tanam bibit pada bedengan yang kerapatan bibitnya jarang, siram bibit sesegera mungkin setelah dipindah.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  1. Bibit dibiasakan untuk terkena sinar  matahari langsung. Tujuan hardening agar bibit dapat beradaptasi dan memperkuat jaringan daun, batang serta mengurangi resiko penyakit karena jamur. Pelaksanaan hardening mulai umur 21 HSS secara bertahap.Pada kondisi hujan tidak dianjurkan. <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  2. Klipping <\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    1. Dilakukan antara jam 08.00 sampai 11.00 (usahakan cuaca cerah) <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    2. Kliping dilakukan pada saat bibit pertumbuhannya terlalu lebat atau saling menutup batangnya. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    3. Kliping adalah kegiatan memotong sebagian atau 2\/3 daun bibit tembakau. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    4. Frekuensi kliping dilakukan bisa satu, dua kali atau lebih sesuai dengan perkembangan bibit dan persiapan lokasi areal tanam. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    5 Lima sampai tujuh hari menjelang transplanting, kegiatan kliping sebaiknya sudah selesai. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Tujuan klipping: menjaga lingkungan bibit agar tidak lembab, <\/strong>memperbesar batan,menyeragamkan ukuran benih, dan memperkuat pertumbuhan akar <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    1. Pencabutan Bibit, agar mendapatkan jarak tanam yang sesuai lahan <\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      \"\"\/<\/figure>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      \"\"\/<\/figure>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Dalam satu hamparan direkomendasikan selesai tanam maksimal 3 Hari. Umur  tanaman akan menjadi sama atau seragam. Performance tanaman juga akan menjadi  seragam. Kemasakan daun pada saat petik juga menjadi seragam. Memudahkan pada saat  proses panen dan pasca panen. Tembakau kering yang dihasilkan pun juga seragam.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      1. Pengendalian Hama & Penyakit<\/strong> <\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        ~ Pada awal penyebaran benih direkomendasikan untuk melakukan penyemprotan fusngisida (jamur), seperti Previcur, Redomil & Antracol <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        ~ Hama yang sering dijumpai: semut (Decis), janggel, orong-orong <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        1. Tahapan Perawatan<\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          \"\"\/<\/figure>\n ","post_title":"Sukses Bertani Tembakau Bersama Kemitraan Djarum di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sukses-bertani-tembakau-bersama-kemitraan-djarum-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-11 12:32:18","post_modified_gmt":"2019-02-11 05:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5433","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5425,"post_author":"922","post_date":"2019-02-10 09:07:33","post_date_gmt":"2019-02-10 02:07:33","post_content":" \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Bahwa cengkeh [1] (Syzygium aromaticum) --bersama pala (Myristica fragrans)-- adalah dua tanaman asli (endemik) Kepulauan Maluku, sudah tak terbantahkan. Cengkeh dikenal dan diakui berasal dari \u2018Empat Pulau Gunung Maluku\u2019 (Maloko Kie Raha): Ternate, Tidore, Moti, dan Makian.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Adapun pala, berasal dari empat pulau kecil lainnya di tengah Laut Banda: Lonthor, Neira, Rhun, dan Ai. Pada penjelasan peta abad-16 oleh penjelajah dari Semenanjung Iberia, Fransisco Rodriguez, tertulis: \u201cEstas quatro Ilhas Azures suam as de molluquo homde nace ho crauzo\u201d<\/em> (Adalah empat pulau berwarna biru [dalam peta] yang disebut sebagai Kepulauan Maluku di mana rempah-rempah berasal) (Pires, 1512- 1515:213).
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Sejak beberapa abad sebelum Masehi, adalah para saudagar Arab --melalui Samudera Hindia melintasi Iskandariyah dan Laut Tengah-- serta para pedagang Cina --melalui jalur \u2018Jalan Sutra\u2019 melintasi Asia Tengah dan Asia Barat-- yang membawa dan memperkenalkannya ke daratan Eropa. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Bandar-bandar besar Tyre di Yunani dan Venesia di Italia menjadi pelabuhan utama rempah-rempah Maluku memasuki kehidupan dan peradaban Eropa. Selain sebagai bumbu masakan, rempah obat, dan ramuan wewangian, cengkeh dan pala juga menjadi bahan utama pengawet bahan pangan. [2]
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Inilah yang membuat orang-orang Eropa untuk pertama kalinya dapat mengawetkan dan menimbun makanan selama bermusim-musim. Prosa indah Blair bersaudara menggambarkannya dengan sangat baik:
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          \u201cKemampuan menyimpan makanan lebih dari yang kami makan sekaligus berarti kemampuan menjual dan membelinya dalam jumlah besar --dan kota-kota dagang pun mekar. Perekonomian yang dihasilkannya mengarahkan kami ke zaman Pencerahan dan kemudian Revolusi Industri. Tak lama setelah kami menghirup aroma yang sangat kuat dari Timur itu dan mengubah kimiawi makanan kami, maka kami pun mampu melakukan lompatan besar dalam bidang budaya dan seni.\u201d (Blair & Blair, 2010; 30-31).<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Baca: Cengkeh dan Kelapa di Kepulauan Anambas<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Bukan hanya membuat perekonomian dan perdagangan serta ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang, cengkeh dan pala bahkan adalah faktor yang paling menentukan dalam kemunculan satu babakan paling mengenaskan dalam sejarah politik dunia, yakni zaman penjajahan (kolonialisme) Eropa, terutama atas-atas negeri- negeri Asia Selatan, Timur dan Tenggara, termasuk Indonesia.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Tergerak oleh sahwat menguasai rempah-rempah yang menggiurkan itu, bangsa-bangsa Eropa --terutama Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda-- pun menggelar ekspedisi-ekspedisi besar untuk menemukan cengkeh dan pala langsung di tanah asalnya. Ketika armada-armada mereka akhirnya mencapai perairan Kepulauan Maluku, pada abad-16, perang pun tak terhindarkan.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Mereka silih berganti saling mengalahkan, tetapi pemenang terakhir adalah Belanda. Melalui Perusahaan Dagang Hindia Timur (Vereenigde Oostindische Compagnie, VOC) yang dibentuk pada awal abad-17 (tepatnya tahun 1609), Belanda melancarkan ekspedisi Pelayaran Hongi (Hongie Tochten), untuk memusnahkan semua tanaman cengkeh di Ternate, Tidore, Moti, dan Makian, lalu membatasi ketat penanamnya hanya di Pulau-pulau Ambon dan Lease --yang lebih dekat ke Banda sebagai pusat pemerintahan mereka sebelum akhirnya dipindahkan ke Batavia.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Praktis, sejak akhir abad-16, Belanda pun menguasai penuh perdagangan rempah-rempah Maluku dengan jumlah produksi rerata 2.500 sampai 4.500 ton per tahun. [3]<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Baca: Budidaya Pohon Cengkeh<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Meskipun peran utama rempah-rempah Maluku itu kemudian tergusur pada abad-18 dan 19 oleh beberapa barang eksotika tropis lainnya --hasil perkebunan-perkebunana besar baru di Pulau Sumatera dan Jawa: tebu, tembakau, lada, kopi, teh, nila, kelapa sawit, dan kayu jati-- namun sejarah sudah mencatat bahwa dua jenis rempah-rempah Maluku itulah yang mengawali penjelajahan sekaligus penjajahan kepulauan Nusantara oleh bangsa-bangsa Eropah, terutama Belanda (Topatimasang, ed., 2004:32). Jika saja tak pernah ada cengkeh dan pala di Maluku, mungkin sejarah kepulauan Nusantara ini akan berbeda sama sekali.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Masa suram cengkeh dan pala terus berlangsung sampai pertengahan abad-20. Rempah eksotika yang pernah membuat tergila-gila<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          para saudagar Arab, pedagang Cina, serta kaum ningrat Eropa itu, tergantikan perannya oleh penemuan teknologi mesin pendingin berkat Revolusi Industri yang dimulai di Inggris pada pertengahan abad-18. Pasaran cengkeh di Eropa pun merosot tajam.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Nasibnya terselamatkan berkat penemuan oleh seorang Haji Djamhari di Kudus, Jawa Tengah. Pada akhir tahun 1880-an, Haji Djamhari menemukan kegunaan baru cengkeh sebagai ramuan utama rokok. Lahirlah satu produk baru yang unik, khas dan asli Indonesia: kretek! (Hanusz, 2000:ii).
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Setelah seperempat abad hanya berkembang dalam skala kecil usaha rumah tangga, produksi kretek akhirnya menjelma menjadi industri besar sejak awal abad-20 yang dirintis oleh Haji Nitisemito (pendiri pabrik \u2018Jambu Bol\u2019) di Kudus dan Liem Seng Tee (pendiri pabrik \u2018Dji Sam Soe\u2019 dan \u2018Sampoerna\u2019) di Surabaya.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Puncaknya adalah pada pertengahan tahun 1950-an, ketika produksi kretek mulai berkembang pesat menjadi industri raksasa modern dengan munculnya beberapa pabrik baru, antara lain, yang terkemuka, oleh Oei Wei Gwan (pendiri pabrik \u2018Djarum\u2019) di Kudus dan Tjou Ing Hwie (pendiri pabrik \u2018Gudang Garam\u2019) di Kediri (Topatimasang, et.al., eds., 2010:131).<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Baca: Teruslah Menanam Tembakau dan Cengkeh, Wahai Petani Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Cengkeh, bahan baku paling esensial dari kretek --selain tembakau, tentu saja-- pun kembali berjaya. Bahkan, sejak dasawarsa 1970an, telah menjadi salah satu penyumbang terbesar keuangan negara Republik Indonesia. Pada tahun 2012 dan 2013, pemasukan cukai dari industri kretek mencatat 95,5% dari seluruh pemasukan cukai ke kas negara. Nilainya tak tanggung-tanggung: Rp 87 triliun! (el-Guyanie, et.al.: 2013:4-5).<\/strong>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Nilai ekonomisnya yang sangat besar sempat menggoda penguasa otoriter rezim Presiden Soeharto, pada 1990-an, memberlakukan satu kebijakan \u2018Hongi Gaya Baru\u2019: monopoli perdagangan cengkeh dalam negeri melalui Badan Penyanggah dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) yang sangat merugikan petani. Harga cengkeh di tingkat petani penghasil anjlok sampai hanya Rp 2.000 - 3.000 per kilogram, lebih murah dari harga sebungkus kretek yang dihasilkan darinya.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Akibatnya, ratusan ribu pohon cengkeh di daerah-daerah penghasil utama --Maluku, Maluku Utara, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Selatan-- ditebangi atau dibiarkan terlantar tak terurus.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Gelombang reformasi sistem politik dan hukum nasional yang dimulai pada tahun 1998, akhirnya menjungkalkan rezim Soeharto dan BPPC dibubarkan, Pelan tapi pasti, harga cengkeh kembali merangkak naik, sehingga pada tahun 2012, bahkan melewati angka Rp 200.000 per kilogram. Para petani cengkeh di seluruh negeri kembali tersenyum. Tetapi, sampai kapan? <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Catatan:<\/strong><\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          [1] Beberapa sumber menyebutkan bahwa kata \u2018cengkeh\u2019 dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Mandarin, tkeng-his atau xi\u2019jia, yang berarti \u2018rempah [berbentuk mirip] paku\u2019 (scented nails). Ini menunjukkan bahwa cengkeh sudah dikenal sejak lama oleh bangsa Cina --diketahui sejak abad-2-- jauh sebelum orang Eropa mengenalnya ((lihat, misalnya: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          [2] Catatan-catatan para biarawan Fransiskan --yang disalin dan dikutip oleh van Frassen-- bahkan menyebut cengkeh sebagai salah satu bahan utama pengawet mumi para Fir\u2019aun, penguasa Mesir Kuno. Beberapa pakar sejarah dan arkeologi menyatakan bahwa rempah-rempah Maluku bahkan sudah ditemukan artefaknya di Lembah Mesopotomia (wilayah Iraq dan sekitarnya sekarang) pada 3.000 tahun sebelum Masehi. (lihat, antara lain: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          [3] Uraian lebih rinci sejarah kolonialisme rempah-rempah Nusantara ini, terutama oleh Belanda dan Portugis, dapat dibaca pada beberapa sumber kepustakaan yang sudah dikenal luas, antara lain: Glamann (1958) dan Boxer (1965 dan 1969). Dalam risalah klasik Pires disebutkan bahwa pada tahun 1512-1521 saja, jumlah produksi cengkeh di Maluku sudah mencapai 7.250 bahar per tahun, terbesar adalah di Makian serta Amboina dan Lease (masing-masing 1.500 bahar)(Pires, 1512-1515).<\/em>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem Topatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n ","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-10 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-02-10 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5425","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5415,"post_author":"878","post_date":"2019-02-07 12:15:55","post_date_gmt":"2019-02-07 05:15:55","post_content":" \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Belakangan ini, ketika musim hujan tiba, di Kabupaten Temanggung, Kabupaten Jember, dan beberapa wilayah sentra pertanian tembakau lainnya, hampir mustahil menemukan tanaman tembakau tumbuh di lahan-lahan milik petani. Di wilayah-wilayah tersebut, citra sebagai sentra pertanian tembakau seakan menguap. Lahan-lahan yang ada di sana, sama sekali tidak ditumbuhi tanaman tembakau.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Kabar ini bisa jadi dianggap sebagai kabar gembira bagi mereka yang menganggap diri dan kelompoknya anti-rokok dan anti-tembakau yang selalu mengampanyekan sikap-sikap mereka terkait kebencian kepada tembakau dan aktivitas merokok. Setelah sekian lama berjuang, akhirnya perjuangan mereka dirasa berhasil usai menyaksikan fenomena lahan-lahan di wilayah yang dianggap sentra pertanian tembakau pada hari-hari belakangan ini.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Baca juga: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Tak sia-sia turun ke jalan, tak sia-sia melakukan lobi-lobi ke penguasa, tak sia-sia mengucurkan uang yang tidak sedikit, dan tak sia-sia mempermalukan diri dengan mengemis ke lembaga donor asing dan menggondol uang dari cukai tembakau untuk mengampanyekan gerakan anti-rokok dan anti-tembakau. Tak sia-sia. Karena perjuangan sepertinya berhasil.<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Kampanye-kampanye gerakan mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya, sepertinya juga sangat berhasil. Bagaimana tidak? Wilayah-wilayah yang sebelumnya penuh dengan tanaman tembakau dan bergeliat dengannya, kini lahan-lahannya sudah berganti dengan tanaman lain. Sebuah keberhasilan yang menggembirakan. Begitu mungkin pikir mereka para yang menganggap dirinya pejuang anti-rokok dan anti-tembakau. Dan tentu saja mereka akan kecele dan kita akan menertawakan hal itu.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Sayangnya, mereka yang menganggap dirinya anti-rokok dan anti-tembakau tidak menyaksikan langsung fenomena ini di lapangan, di lahan-lahan yang peruntukannya berubah pada hari-hari belakangan ini ketika memasuki musim hujan. Mereka asyik duduk pada kursi empuk di ruang-ruang nyaman ber-AC di kota-kota yang jauh dari kultur pertanian. Mereka menyengajakan diri menjadi elit dan enggan untuk turun melihat langsung ke lapangan. Kalaupun ada yang turun langsung ke lapangan, hanya segelintir saja dari mereka, itupun sekadar formalitas saja. Tak pernah benar-benar mau turun ke lapangan, hidup dan merasakan langsung kultur pertanian tembakau dalam jangka waktu cukup lama di lapangan.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Baca juga: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Fenomena ini membikin kita tak bisa melihat mereka para anti-rokok kecele lalu menertawakan mereka.<\/strong> Fenomena keengganan terjun langsung ke lapangan terlebih mencoba mendengar mereka yang tetap menanam tembakau, juga menjalani keseharian dalam waktu cukup lama bersama petani tembakau inilah yang saya kira menjadikan mereka tetap keras kepala untuk anti-rokok dan anti-tembakau. Karena jika mereka mau melakukan itu, saya yakin mereka semua tidak akan begitu kaku dalam memandang pertanian tembakau dan produk hasil industri tembakau.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Salah satu yang selalu mereka kampanyekan dan ngotot dengan itu, terkait hulu pertanian tembakau adalah mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya. Mereka berargumen banyak tanaman lain yang bisa semenguntungkan tanaman tembakau. Keengganan mereka terjun langsung ke lapangan inilah yang membikin mereka buta dengan kondisi pertanian tembakau dan pada akhirnya terus menerus mengampanyekan pergantian tanaman tembakau dengan tanaman lainnya.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Baca juga: Imanlah kepada Allah, Bukan Antirokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Tembakau tanaman yang khas. Ia hanya tumbuh baik sepanjang empat hingga lima bulan dalam satu tahun. Tumbuh-kembang tanaman tembakau dengan baik itu umumnya terjadi pada musim kemarau setiap tahunnya. Hanya sedikit sekali jenis tembakau yang tumbuh baik di musim penghujan, mayoritasnya, tumbuh baik pada musim kemarau.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Jika ditanam pada musim hujan, hampir bisa dipastikan tanaman tembakau akan gagal menghasilkan daun-daun yang berkualitas. Ia akan rusak dan membusuk karena terlalu banyak terkena air sehingga daun-daun itu tak layak dijual. Jangankan bisa dijual, untuk tumbuh dengan baik pun sepertinya sulit karena musim hujan akan membunuh banyak tanaman itu.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Maka, tak heran pada musim-musim seperti saat ini, ketika musim penghujan mendekati puncaknya, di wilayah-wilayah yang dikenal sebagai sentra pertanian tembakau, sulit menemukan pohon tembakau yang sedang tumbuh. Pada lahan-lahan yang sebelumnya ditumbuhi tanaman tembakau pada musim panas, berganti tanaman-tanaman lain yang bermacam-macam, sesuai dengan kondisi lahannya. Untuk lahan sawah, lahan-lahan itu pada musim penghujan kini ditumbuhi tanaman padi yang subur. Pada lahan tegalan dan lahan di pegunungan, lahan-lahan yang ditanami tembakau pada musim kemarau, saat ini ditumbuhi bermacam jenis tanaman mulai dari cabai, bawang, tomat, kol, terong, mentimun, dan ragam jenis tanaman semusim lainnya.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Uniknya, tipikal tanaman tembakau yang tumbuh baik di musim kemarau ini memberi pilihan lebih kepada para petani. Lahan-lahan yang sulit ditanami pada musim kemarau, pada akhirnya masih bisa tetap produktif dengan keberadaan tanaman tembakau. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Maka, kampanye aneh mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain dengan ragam rupa dalih yang membingungkan, bukan saja sama sekali tidak tepat dan asal-asalan, namun bisa jadi akan ditertawakan oleh para petani yang begitu paham dengan kondisi lahan dan terutama kondisi iklim dan cuaca. Sulit mencari tanaman semusim yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Jika pun ada, tak ada yang semenguntungkan tanaman tembakau.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n ","post_title":"Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"keberhasilan-gerakan-anti-tembakau-tak-ada-tembakau-saat-musim-hujan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-07 12:16:02","post_modified_gmt":"2019-02-07 05:16:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5415","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5409,"post_author":"919","post_date":"2019-02-05 08:04:43","post_date_gmt":"2019-02-05 01:04:43","post_content":" \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Tahun Baru Imlek yang merupakan tradisi Bangsa Tiongkok kini sudah tak lagi menjadi hal yang asing bagi masyarakat Indonesia. Kehadirannya sudah mewarnai dan berakulturasi dengan tradisi lokal. Menjelang Tahun Baru Imlek. Berbagai hiasan dan kemeriahan terjadi beberapa titik di Tanah Air. Perayaannya juga menjadi destinasi baru yang mengasyikkan untuk dilihat dan patut disaksikan.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Berterimakasihlah kepada sang bapak bangsa, KH Abdurrahman Wahid atau yang dikenal dengan nama Gus Dur. Berkat kebijakannya saat menjadi Presiden Indonesia, Tahun Baru Imlek resmi dijadikan hari libur nasional dan dianggap sebagai salah satu hari raya di Tanah Air. Meski sentimen antitionghoa masih ada di sana-sini, tapi tetap tak bisa dipungkiri bahwa bangsa tionghoa sudah bersentuhan dengan budaya lokal dalam kurun waktu yang sangat panjang.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          DNA Bangsa Tionghoa yang memang merupakan pedagang menjadi pembuka kisah interaksi antara nenek moyang berbagai suku di Nusantara dengan mereka. Beberapa kelenteng-kelenteng yang tersebar pada berbagai pesisir daerah di Nusantara jadi buktinya. Pelabuhan-pelabuhan tua di tanah air dan ramainya perdagangan di pesisir mempermudah bangsa kita berhubungan dengan Bangsa Tionghoa.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Baca Juga: Wong Kalang dan Kota Gede<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa kehadiran Bangsa Tionghoa di Nusantara tak hanya sebagai pedagang, namun juga sebagai pekerja (bahkan hingga pekerja kasar). Benny Setiono, seorang sejarahwan menyebutkan bahwa antara tahun 1760-1770 dalam jumlah yang besar memasuki nusantara melalui Kalimantan Barat. Mereka bekerja sebagai kuli pertambangan di sana dan di kemudian hari membentuk sebuah republik bernama Republik Lanfang yang konon katanya menjadi republik pertama di Asia Tenggara.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Baca Juga: Imlek dan Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Baca Juga: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n ","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_3o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          \n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          1. Varietas tanaman tembakau jenis Kemloko 1, 2 & 3 (asli Temanggung)<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          2. Pengolahan tembakau saat panen bebas gula <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          3. Tembakau yang dibeli adalah tembakau yang memenuhi standart kualitas pembelian PT Djarum <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          4. Harga mengikuti harga pasar <\/li><\/ol>\n \n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Jadwal Pembibitan:<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            1. Daerah pegunungan pembibitan di mulai bulan Februari minggu ke III dan IV, akhir pembibitan bulan Maret minggu ke I dan III<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            2. Daerah rendah\/sawah awal pembibitan bulan Maret minggu IV \u2013 April minggu I, akhir pembibitan  bulan April minggu III \u2013 minggu IV. <\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Tujuan Pembibitan<\/strong>:<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              1. Mendapatkan Bibit sehat dan seragam<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              2. Mendapatkan jumlah bibit cukup sesuai perhitungan luasan lahan<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              3. Memperoleh jenis bibit murni sesuai kebutuhan (tidak varietas campuran).<\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Tahapan Pembibitan<\/strong><\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      1. Persiapan Benih<\/strong>, meliputi:<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                a. Dosis benih \t\t\t\t\t= 5 gr per 1 Hektare <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                b. Dalam 1 gr benih \t\t\t\t= \u00b1 7.500 benih<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                c. Bila daya berkecambah (DB) \u00b1 80 %\t\t= 5 gr x 7.500 x 80% <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                d. Bibit yang tumbuh \t\t\t\t= 37.500 tanaman <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        (Hitungan di atas sudah termasuk cadangan untuk sulaman) <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                e. Teknis sebar benih; apabila luas media tanam cukup, teknis sebar benih yang dianjurkan adalah dicampur dengan abu sekam. Apabila luas media tanam tidak mencukupi, maka teknis sebar benih yang dianjurkan adalah diaduk tanah.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                f. Cara memperoleh benih yang murni dan baik, harus mengetahui asal usul \/ sumber benih apakah dari BALITTAS, Dinas Pertanian  atau Seeding Center. Daya kecambah terukur sehingga dosis sebar bisa ditentukan. Bebas Hama dan Penyakit. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                2. Persiapan Lahan <\/strong><\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                1. Tanah digemburkan sehingga akar mudah berkembang <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                2. Menyediakan ruang untuk respirasi akar <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                3. Mematikan gulma dan penyakit dalam tanah <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                4. Tanah siap menjadi media tumbuh bagi tanaman <\/li><\/ol>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  \"\"\/<\/figure>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  \"\"\/<\/figure>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Sempurna<\/strong> <\/strong>tidak sempurna<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  3. Persiapan Media Tanam<\/strong><\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  1. Tanah yang digunakan adalah tanah dan pupuk kandang yang sudah matang <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  2. Tanah berasal dari tanah steril (sudah dikeringkan dan bukan dari tanah bekas tanaman yang terserang penyakit)<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  3. Media tanah dicangkul ringan di para-para minimal 2x <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  4. Sebar Benih; <\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Setelah bibit dan lahan siap, kemudian sebarkan benih dengan ditutup memakai jerami <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    1. Pemupukan <\/strong><\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    2. Pemupukan pertama<\/li><\/ol>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      \"\"\/<\/figure>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      1. Pemupukan kedua, dilakukan apabila pertumbuhan bibit kurang baik (21 HSS). Pupuk yang digunakan adalaj KNO3 <\/sub>(30 \u2013 50 gram per bedeng dengan ukuran 1x5 m) dicampur dengan air \u00b110 liter, selanjutnya bedengan disiram kembali dengan air (pembilasan) <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      2. Penyiraman<\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Frekuensi penyiraman berdasarkan umur bibit\/umur hari setelah sebar (HSS):<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        0 \u2013 10 HSS\t\t:\t3x Sehari (fase kritis)<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        11 \u2013 21 HSS\t\t:\t2x Sehari <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        22 \u2013 35 HSS\t\t:\t1x Sehari <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        36 \u2013 45 \/ 50 HSS\t:\tPeriode stress air\/kering<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        1. Penjarangan & Hardening<\/strong>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          1. Penjarangan dilakukan agar jarak antara bibit ideal (4-5 cm) sehingga tidak<\/li><\/ol><\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            terserang hama & penyakit. Penjarangan dilakukan pada umur bibit 21-25 hari dengan cara: basahi bedengan sore hari sebelumnya dan pagi hari sebelum bibit dicabut, cabut bibit  yang akan ditanami dengan hati-hati, tanam bibit pada bedengan yang kerapatan bibitnya jarang, siram bibit sesegera mungkin setelah dipindah.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            1. Bibit dibiasakan untuk terkena sinar  matahari langsung. Tujuan hardening agar bibit dapat beradaptasi dan memperkuat jaringan daun, batang serta mengurangi resiko penyakit karena jamur. Pelaksanaan hardening mulai umur 21 HSS secara bertahap.Pada kondisi hujan tidak dianjurkan. <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            2. Klipping <\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              1. Dilakukan antara jam 08.00 sampai 11.00 (usahakan cuaca cerah) <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              2. Kliping dilakukan pada saat bibit pertumbuhannya terlalu lebat atau saling menutup batangnya. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              3. Kliping adalah kegiatan memotong sebagian atau 2\/3 daun bibit tembakau. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              4. Frekuensi kliping dilakukan bisa satu, dua kali atau lebih sesuai dengan perkembangan bibit dan persiapan lokasi areal tanam. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              5 Lima sampai tujuh hari menjelang transplanting, kegiatan kliping sebaiknya sudah selesai. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Tujuan klipping: menjaga lingkungan bibit agar tidak lembab, <\/strong>memperbesar batan,menyeragamkan ukuran benih, dan memperkuat pertumbuhan akar <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              1. Pencabutan Bibit, agar mendapatkan jarak tanam yang sesuai lahan <\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                \"\"\/<\/figure>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                \"\"\/<\/figure>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Dalam satu hamparan direkomendasikan selesai tanam maksimal 3 Hari. Umur  tanaman akan menjadi sama atau seragam. Performance tanaman juga akan menjadi  seragam. Kemasakan daun pada saat petik juga menjadi seragam. Memudahkan pada saat  proses panen dan pasca panen. Tembakau kering yang dihasilkan pun juga seragam.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                1. Pengendalian Hama & Penyakit<\/strong> <\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  ~ Pada awal penyebaran benih direkomendasikan untuk melakukan penyemprotan fusngisida (jamur), seperti Previcur, Redomil & Antracol <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  ~ Hama yang sering dijumpai: semut (Decis), janggel, orong-orong <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  1. Tahapan Perawatan<\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    \"\"\/<\/figure>\n ","post_title":"Sukses Bertani Tembakau Bersama Kemitraan Djarum di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sukses-bertani-tembakau-bersama-kemitraan-djarum-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-11 12:32:18","post_modified_gmt":"2019-02-11 05:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5433","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5425,"post_author":"922","post_date":"2019-02-10 09:07:33","post_date_gmt":"2019-02-10 02:07:33","post_content":" \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Bahwa cengkeh [1] (Syzygium aromaticum) --bersama pala (Myristica fragrans)-- adalah dua tanaman asli (endemik) Kepulauan Maluku, sudah tak terbantahkan. Cengkeh dikenal dan diakui berasal dari \u2018Empat Pulau Gunung Maluku\u2019 (Maloko Kie Raha): Ternate, Tidore, Moti, dan Makian.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Adapun pala, berasal dari empat pulau kecil lainnya di tengah Laut Banda: Lonthor, Neira, Rhun, dan Ai. Pada penjelasan peta abad-16 oleh penjelajah dari Semenanjung Iberia, Fransisco Rodriguez, tertulis: \u201cEstas quatro Ilhas Azures suam as de molluquo homde nace ho crauzo\u201d<\/em> (Adalah empat pulau berwarna biru [dalam peta] yang disebut sebagai Kepulauan Maluku di mana rempah-rempah berasal) (Pires, 1512- 1515:213).
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Sejak beberapa abad sebelum Masehi, adalah para saudagar Arab --melalui Samudera Hindia melintasi Iskandariyah dan Laut Tengah-- serta para pedagang Cina --melalui jalur \u2018Jalan Sutra\u2019 melintasi Asia Tengah dan Asia Barat-- yang membawa dan memperkenalkannya ke daratan Eropa. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Bandar-bandar besar Tyre di Yunani dan Venesia di Italia menjadi pelabuhan utama rempah-rempah Maluku memasuki kehidupan dan peradaban Eropa. Selain sebagai bumbu masakan, rempah obat, dan ramuan wewangian, cengkeh dan pala juga menjadi bahan utama pengawet bahan pangan. [2]
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Inilah yang membuat orang-orang Eropa untuk pertama kalinya dapat mengawetkan dan menimbun makanan selama bermusim-musim. Prosa indah Blair bersaudara menggambarkannya dengan sangat baik:
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    \u201cKemampuan menyimpan makanan lebih dari yang kami makan sekaligus berarti kemampuan menjual dan membelinya dalam jumlah besar --dan kota-kota dagang pun mekar. Perekonomian yang dihasilkannya mengarahkan kami ke zaman Pencerahan dan kemudian Revolusi Industri. Tak lama setelah kami menghirup aroma yang sangat kuat dari Timur itu dan mengubah kimiawi makanan kami, maka kami pun mampu melakukan lompatan besar dalam bidang budaya dan seni.\u201d (Blair & Blair, 2010; 30-31).<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Baca: Cengkeh dan Kelapa di Kepulauan Anambas<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Bukan hanya membuat perekonomian dan perdagangan serta ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang, cengkeh dan pala bahkan adalah faktor yang paling menentukan dalam kemunculan satu babakan paling mengenaskan dalam sejarah politik dunia, yakni zaman penjajahan (kolonialisme) Eropa, terutama atas-atas negeri- negeri Asia Selatan, Timur dan Tenggara, termasuk Indonesia.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Tergerak oleh sahwat menguasai rempah-rempah yang menggiurkan itu, bangsa-bangsa Eropa --terutama Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda-- pun menggelar ekspedisi-ekspedisi besar untuk menemukan cengkeh dan pala langsung di tanah asalnya. Ketika armada-armada mereka akhirnya mencapai perairan Kepulauan Maluku, pada abad-16, perang pun tak terhindarkan.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Mereka silih berganti saling mengalahkan, tetapi pemenang terakhir adalah Belanda. Melalui Perusahaan Dagang Hindia Timur (Vereenigde Oostindische Compagnie, VOC) yang dibentuk pada awal abad-17 (tepatnya tahun 1609), Belanda melancarkan ekspedisi Pelayaran Hongi (Hongie Tochten), untuk memusnahkan semua tanaman cengkeh di Ternate, Tidore, Moti, dan Makian, lalu membatasi ketat penanamnya hanya di Pulau-pulau Ambon dan Lease --yang lebih dekat ke Banda sebagai pusat pemerintahan mereka sebelum akhirnya dipindahkan ke Batavia.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Praktis, sejak akhir abad-16, Belanda pun menguasai penuh perdagangan rempah-rempah Maluku dengan jumlah produksi rerata 2.500 sampai 4.500 ton per tahun. [3]<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Baca: Budidaya Pohon Cengkeh<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Meskipun peran utama rempah-rempah Maluku itu kemudian tergusur pada abad-18 dan 19 oleh beberapa barang eksotika tropis lainnya --hasil perkebunan-perkebunana besar baru di Pulau Sumatera dan Jawa: tebu, tembakau, lada, kopi, teh, nila, kelapa sawit, dan kayu jati-- namun sejarah sudah mencatat bahwa dua jenis rempah-rempah Maluku itulah yang mengawali penjelajahan sekaligus penjajahan kepulauan Nusantara oleh bangsa-bangsa Eropah, terutama Belanda (Topatimasang, ed., 2004:32). Jika saja tak pernah ada cengkeh dan pala di Maluku, mungkin sejarah kepulauan Nusantara ini akan berbeda sama sekali.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Masa suram cengkeh dan pala terus berlangsung sampai pertengahan abad-20. Rempah eksotika yang pernah membuat tergila-gila<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    para saudagar Arab, pedagang Cina, serta kaum ningrat Eropa itu, tergantikan perannya oleh penemuan teknologi mesin pendingin berkat Revolusi Industri yang dimulai di Inggris pada pertengahan abad-18. Pasaran cengkeh di Eropa pun merosot tajam.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Nasibnya terselamatkan berkat penemuan oleh seorang Haji Djamhari di Kudus, Jawa Tengah. Pada akhir tahun 1880-an, Haji Djamhari menemukan kegunaan baru cengkeh sebagai ramuan utama rokok. Lahirlah satu produk baru yang unik, khas dan asli Indonesia: kretek! (Hanusz, 2000:ii).
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Setelah seperempat abad hanya berkembang dalam skala kecil usaha rumah tangga, produksi kretek akhirnya menjelma menjadi industri besar sejak awal abad-20 yang dirintis oleh Haji Nitisemito (pendiri pabrik \u2018Jambu Bol\u2019) di Kudus dan Liem Seng Tee (pendiri pabrik \u2018Dji Sam Soe\u2019 dan \u2018Sampoerna\u2019) di Surabaya.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Puncaknya adalah pada pertengahan tahun 1950-an, ketika produksi kretek mulai berkembang pesat menjadi industri raksasa modern dengan munculnya beberapa pabrik baru, antara lain, yang terkemuka, oleh Oei Wei Gwan (pendiri pabrik \u2018Djarum\u2019) di Kudus dan Tjou Ing Hwie (pendiri pabrik \u2018Gudang Garam\u2019) di Kediri (Topatimasang, et.al., eds., 2010:131).<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Baca: Teruslah Menanam Tembakau dan Cengkeh, Wahai Petani Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Cengkeh, bahan baku paling esensial dari kretek --selain tembakau, tentu saja-- pun kembali berjaya. Bahkan, sejak dasawarsa 1970an, telah menjadi salah satu penyumbang terbesar keuangan negara Republik Indonesia. Pada tahun 2012 dan 2013, pemasukan cukai dari industri kretek mencatat 95,5% dari seluruh pemasukan cukai ke kas negara. Nilainya tak tanggung-tanggung: Rp 87 triliun! (el-Guyanie, et.al.: 2013:4-5).<\/strong>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Nilai ekonomisnya yang sangat besar sempat menggoda penguasa otoriter rezim Presiden Soeharto, pada 1990-an, memberlakukan satu kebijakan \u2018Hongi Gaya Baru\u2019: monopoli perdagangan cengkeh dalam negeri melalui Badan Penyanggah dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) yang sangat merugikan petani. Harga cengkeh di tingkat petani penghasil anjlok sampai hanya Rp 2.000 - 3.000 per kilogram, lebih murah dari harga sebungkus kretek yang dihasilkan darinya.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Akibatnya, ratusan ribu pohon cengkeh di daerah-daerah penghasil utama --Maluku, Maluku Utara, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Selatan-- ditebangi atau dibiarkan terlantar tak terurus.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Gelombang reformasi sistem politik dan hukum nasional yang dimulai pada tahun 1998, akhirnya menjungkalkan rezim Soeharto dan BPPC dibubarkan, Pelan tapi pasti, harga cengkeh kembali merangkak naik, sehingga pada tahun 2012, bahkan melewati angka Rp 200.000 per kilogram. Para petani cengkeh di seluruh negeri kembali tersenyum. Tetapi, sampai kapan? <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Catatan:<\/strong><\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    [1] Beberapa sumber menyebutkan bahwa kata \u2018cengkeh\u2019 dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Mandarin, tkeng-his atau xi\u2019jia, yang berarti \u2018rempah [berbentuk mirip] paku\u2019 (scented nails). Ini menunjukkan bahwa cengkeh sudah dikenal sejak lama oleh bangsa Cina --diketahui sejak abad-2-- jauh sebelum orang Eropa mengenalnya ((lihat, misalnya: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    [2] Catatan-catatan para biarawan Fransiskan --yang disalin dan dikutip oleh van Frassen-- bahkan menyebut cengkeh sebagai salah satu bahan utama pengawet mumi para Fir\u2019aun, penguasa Mesir Kuno. Beberapa pakar sejarah dan arkeologi menyatakan bahwa rempah-rempah Maluku bahkan sudah ditemukan artefaknya di Lembah Mesopotomia (wilayah Iraq dan sekitarnya sekarang) pada 3.000 tahun sebelum Masehi. (lihat, antara lain: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    [3] Uraian lebih rinci sejarah kolonialisme rempah-rempah Nusantara ini, terutama oleh Belanda dan Portugis, dapat dibaca pada beberapa sumber kepustakaan yang sudah dikenal luas, antara lain: Glamann (1958) dan Boxer (1965 dan 1969). Dalam risalah klasik Pires disebutkan bahwa pada tahun 1512-1521 saja, jumlah produksi cengkeh di Maluku sudah mencapai 7.250 bahar per tahun, terbesar adalah di Makian serta Amboina dan Lease (masing-masing 1.500 bahar)(Pires, 1512-1515).<\/em>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem Topatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    <\/p>\n ","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-10 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-02-10 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5425","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5415,"post_author":"878","post_date":"2019-02-07 12:15:55","post_date_gmt":"2019-02-07 05:15:55","post_content":" \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Belakangan ini, ketika musim hujan tiba, di Kabupaten Temanggung, Kabupaten Jember, dan beberapa wilayah sentra pertanian tembakau lainnya, hampir mustahil menemukan tanaman tembakau tumbuh di lahan-lahan milik petani. Di wilayah-wilayah tersebut, citra sebagai sentra pertanian tembakau seakan menguap. Lahan-lahan yang ada di sana, sama sekali tidak ditumbuhi tanaman tembakau.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Kabar ini bisa jadi dianggap sebagai kabar gembira bagi mereka yang menganggap diri dan kelompoknya anti-rokok dan anti-tembakau yang selalu mengampanyekan sikap-sikap mereka terkait kebencian kepada tembakau dan aktivitas merokok. Setelah sekian lama berjuang, akhirnya perjuangan mereka dirasa berhasil usai menyaksikan fenomena lahan-lahan di wilayah yang dianggap sentra pertanian tembakau pada hari-hari belakangan ini.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Baca juga: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Tak sia-sia turun ke jalan, tak sia-sia melakukan lobi-lobi ke penguasa, tak sia-sia mengucurkan uang yang tidak sedikit, dan tak sia-sia mempermalukan diri dengan mengemis ke lembaga donor asing dan menggondol uang dari cukai tembakau untuk mengampanyekan gerakan anti-rokok dan anti-tembakau. Tak sia-sia. Karena perjuangan sepertinya berhasil.<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Kampanye-kampanye gerakan mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya, sepertinya juga sangat berhasil. Bagaimana tidak? Wilayah-wilayah yang sebelumnya penuh dengan tanaman tembakau dan bergeliat dengannya, kini lahan-lahannya sudah berganti dengan tanaman lain. Sebuah keberhasilan yang menggembirakan. Begitu mungkin pikir mereka para yang menganggap dirinya pejuang anti-rokok dan anti-tembakau. Dan tentu saja mereka akan kecele dan kita akan menertawakan hal itu.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Sayangnya, mereka yang menganggap dirinya anti-rokok dan anti-tembakau tidak menyaksikan langsung fenomena ini di lapangan, di lahan-lahan yang peruntukannya berubah pada hari-hari belakangan ini ketika memasuki musim hujan. Mereka asyik duduk pada kursi empuk di ruang-ruang nyaman ber-AC di kota-kota yang jauh dari kultur pertanian. Mereka menyengajakan diri menjadi elit dan enggan untuk turun melihat langsung ke lapangan. Kalaupun ada yang turun langsung ke lapangan, hanya segelintir saja dari mereka, itupun sekadar formalitas saja. Tak pernah benar-benar mau turun ke lapangan, hidup dan merasakan langsung kultur pertanian tembakau dalam jangka waktu cukup lama di lapangan.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Baca juga: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Fenomena ini membikin kita tak bisa melihat mereka para anti-rokok kecele lalu menertawakan mereka.<\/strong> Fenomena keengganan terjun langsung ke lapangan terlebih mencoba mendengar mereka yang tetap menanam tembakau, juga menjalani keseharian dalam waktu cukup lama bersama petani tembakau inilah yang saya kira menjadikan mereka tetap keras kepala untuk anti-rokok dan anti-tembakau. Karena jika mereka mau melakukan itu, saya yakin mereka semua tidak akan begitu kaku dalam memandang pertanian tembakau dan produk hasil industri tembakau.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Salah satu yang selalu mereka kampanyekan dan ngotot dengan itu, terkait hulu pertanian tembakau adalah mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya. Mereka berargumen banyak tanaman lain yang bisa semenguntungkan tanaman tembakau. Keengganan mereka terjun langsung ke lapangan inilah yang membikin mereka buta dengan kondisi pertanian tembakau dan pada akhirnya terus menerus mengampanyekan pergantian tanaman tembakau dengan tanaman lainnya.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Baca juga: Imanlah kepada Allah, Bukan Antirokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Tembakau tanaman yang khas. Ia hanya tumbuh baik sepanjang empat hingga lima bulan dalam satu tahun. Tumbuh-kembang tanaman tembakau dengan baik itu umumnya terjadi pada musim kemarau setiap tahunnya. Hanya sedikit sekali jenis tembakau yang tumbuh baik di musim penghujan, mayoritasnya, tumbuh baik pada musim kemarau.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Jika ditanam pada musim hujan, hampir bisa dipastikan tanaman tembakau akan gagal menghasilkan daun-daun yang berkualitas. Ia akan rusak dan membusuk karena terlalu banyak terkena air sehingga daun-daun itu tak layak dijual. Jangankan bisa dijual, untuk tumbuh dengan baik pun sepertinya sulit karena musim hujan akan membunuh banyak tanaman itu.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Maka, tak heran pada musim-musim seperti saat ini, ketika musim penghujan mendekati puncaknya, di wilayah-wilayah yang dikenal sebagai sentra pertanian tembakau, sulit menemukan pohon tembakau yang sedang tumbuh. Pada lahan-lahan yang sebelumnya ditumbuhi tanaman tembakau pada musim panas, berganti tanaman-tanaman lain yang bermacam-macam, sesuai dengan kondisi lahannya. Untuk lahan sawah, lahan-lahan itu pada musim penghujan kini ditumbuhi tanaman padi yang subur. Pada lahan tegalan dan lahan di pegunungan, lahan-lahan yang ditanami tembakau pada musim kemarau, saat ini ditumbuhi bermacam jenis tanaman mulai dari cabai, bawang, tomat, kol, terong, mentimun, dan ragam jenis tanaman semusim lainnya.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Uniknya, tipikal tanaman tembakau yang tumbuh baik di musim kemarau ini memberi pilihan lebih kepada para petani. Lahan-lahan yang sulit ditanami pada musim kemarau, pada akhirnya masih bisa tetap produktif dengan keberadaan tanaman tembakau. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Maka, kampanye aneh mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain dengan ragam rupa dalih yang membingungkan, bukan saja sama sekali tidak tepat dan asal-asalan, namun bisa jadi akan ditertawakan oleh para petani yang begitu paham dengan kondisi lahan dan terutama kondisi iklim dan cuaca. Sulit mencari tanaman semusim yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Jika pun ada, tak ada yang semenguntungkan tanaman tembakau.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    <\/p>\n ","post_title":"Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"keberhasilan-gerakan-anti-tembakau-tak-ada-tembakau-saat-musim-hujan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-07 12:16:02","post_modified_gmt":"2019-02-07 05:16:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5415","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5409,"post_author":"919","post_date":"2019-02-05 08:04:43","post_date_gmt":"2019-02-05 01:04:43","post_content":" \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Tahun Baru Imlek yang merupakan tradisi Bangsa Tiongkok kini sudah tak lagi menjadi hal yang asing bagi masyarakat Indonesia. Kehadirannya sudah mewarnai dan berakulturasi dengan tradisi lokal. Menjelang Tahun Baru Imlek. Berbagai hiasan dan kemeriahan terjadi beberapa titik di Tanah Air. Perayaannya juga menjadi destinasi baru yang mengasyikkan untuk dilihat dan patut disaksikan.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Berterimakasihlah kepada sang bapak bangsa, KH Abdurrahman Wahid atau yang dikenal dengan nama Gus Dur. Berkat kebijakannya saat menjadi Presiden Indonesia, Tahun Baru Imlek resmi dijadikan hari libur nasional dan dianggap sebagai salah satu hari raya di Tanah Air. Meski sentimen antitionghoa masih ada di sana-sini, tapi tetap tak bisa dipungkiri bahwa bangsa tionghoa sudah bersentuhan dengan budaya lokal dalam kurun waktu yang sangat panjang.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    DNA Bangsa Tionghoa yang memang merupakan pedagang menjadi pembuka kisah interaksi antara nenek moyang berbagai suku di Nusantara dengan mereka. Beberapa kelenteng-kelenteng yang tersebar pada berbagai pesisir daerah di Nusantara jadi buktinya. Pelabuhan-pelabuhan tua di tanah air dan ramainya perdagangan di pesisir mempermudah bangsa kita berhubungan dengan Bangsa Tionghoa.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Baca Juga: Wong Kalang dan Kota Gede<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa kehadiran Bangsa Tionghoa di Nusantara tak hanya sebagai pedagang, namun juga sebagai pekerja (bahkan hingga pekerja kasar). Benny Setiono, seorang sejarahwan menyebutkan bahwa antara tahun 1760-1770 dalam jumlah yang besar memasuki nusantara melalui Kalimantan Barat. Mereka bekerja sebagai kuli pertambangan di sana dan di kemudian hari membentuk sebuah republik bernama Republik Lanfang yang konon katanya menjadi republik pertama di Asia Tenggara.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Baca Juga: Imlek dan Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Baca Juga: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    <\/p>\n ","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_3o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Ketentuan Menjadi Mitra: <\/p>\n \n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    1. Varietas tanaman tembakau jenis Kemloko 1, 2 & 3 (asli Temanggung)<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    2. Pengolahan tembakau saat panen bebas gula <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    3. Tembakau yang dibeli adalah tembakau yang memenuhi standart kualitas pembelian PT Djarum <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    4. Harga mengikuti harga pasar <\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Jadwal Pembibitan:<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      1. Daerah pegunungan pembibitan di mulai bulan Februari minggu ke III dan IV, akhir pembibitan bulan Maret minggu ke I dan III<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      2. Daerah rendah\/sawah awal pembibitan bulan Maret minggu IV \u2013 April minggu I, akhir pembibitan  bulan April minggu III \u2013 minggu IV. <\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Tujuan Pembibitan<\/strong>:<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        1. Mendapatkan Bibit sehat dan seragam<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        2. Mendapatkan jumlah bibit cukup sesuai perhitungan luasan lahan<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        3. Memperoleh jenis bibit murni sesuai kebutuhan (tidak varietas campuran).<\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Tahapan Pembibitan<\/strong><\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                1. Persiapan Benih<\/strong>, meliputi:<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          a. Dosis benih \t\t\t\t\t= 5 gr per 1 Hektare <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          b. Dalam 1 gr benih \t\t\t\t= \u00b1 7.500 benih<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          c. Bila daya berkecambah (DB) \u00b1 80 %\t\t= 5 gr x 7.500 x 80% <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          d. Bibit yang tumbuh \t\t\t\t= 37.500 tanaman <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  (Hitungan di atas sudah termasuk cadangan untuk sulaman) <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          e. Teknis sebar benih; apabila luas media tanam cukup, teknis sebar benih yang dianjurkan adalah dicampur dengan abu sekam. Apabila luas media tanam tidak mencukupi, maka teknis sebar benih yang dianjurkan adalah diaduk tanah.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          f. Cara memperoleh benih yang murni dan baik, harus mengetahui asal usul \/ sumber benih apakah dari BALITTAS, Dinas Pertanian  atau Seeding Center. Daya kecambah terukur sehingga dosis sebar bisa ditentukan. Bebas Hama dan Penyakit. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          2. Persiapan Lahan <\/strong><\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          1. Tanah digemburkan sehingga akar mudah berkembang <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          2. Menyediakan ruang untuk respirasi akar <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          3. Mematikan gulma dan penyakit dalam tanah <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          4. Tanah siap menjadi media tumbuh bagi tanaman <\/li><\/ol>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            \"\"\/<\/figure>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            \"\"\/<\/figure>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Sempurna<\/strong> <\/strong>tidak sempurna<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            3. Persiapan Media Tanam<\/strong><\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            1. Tanah yang digunakan adalah tanah dan pupuk kandang yang sudah matang <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            2. Tanah berasal dari tanah steril (sudah dikeringkan dan bukan dari tanah bekas tanaman yang terserang penyakit)<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            3. Media tanah dicangkul ringan di para-para minimal 2x <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            4. Sebar Benih; <\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Setelah bibit dan lahan siap, kemudian sebarkan benih dengan ditutup memakai jerami <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              1. Pemupukan <\/strong><\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              2. Pemupukan pertama<\/li><\/ol>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                \"\"\/<\/figure>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                1. Pemupukan kedua, dilakukan apabila pertumbuhan bibit kurang baik (21 HSS). Pupuk yang digunakan adalaj KNO3 <\/sub>(30 \u2013 50 gram per bedeng dengan ukuran 1x5 m) dicampur dengan air \u00b110 liter, selanjutnya bedengan disiram kembali dengan air (pembilasan) <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                2. Penyiraman<\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Frekuensi penyiraman berdasarkan umur bibit\/umur hari setelah sebar (HSS):<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  0 \u2013 10 HSS\t\t:\t3x Sehari (fase kritis)<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  11 \u2013 21 HSS\t\t:\t2x Sehari <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  22 \u2013 35 HSS\t\t:\t1x Sehari <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  36 \u2013 45 \/ 50 HSS\t:\tPeriode stress air\/kering<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  1. Penjarangan & Hardening<\/strong>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    1. Penjarangan dilakukan agar jarak antara bibit ideal (4-5 cm) sehingga tidak<\/li><\/ol><\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      terserang hama & penyakit. Penjarangan dilakukan pada umur bibit 21-25 hari dengan cara: basahi bedengan sore hari sebelumnya dan pagi hari sebelum bibit dicabut, cabut bibit  yang akan ditanami dengan hati-hati, tanam bibit pada bedengan yang kerapatan bibitnya jarang, siram bibit sesegera mungkin setelah dipindah.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      1. Bibit dibiasakan untuk terkena sinar  matahari langsung. Tujuan hardening agar bibit dapat beradaptasi dan memperkuat jaringan daun, batang serta mengurangi resiko penyakit karena jamur. Pelaksanaan hardening mulai umur 21 HSS secara bertahap.Pada kondisi hujan tidak dianjurkan. <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      2. Klipping <\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        1. Dilakukan antara jam 08.00 sampai 11.00 (usahakan cuaca cerah) <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        2. Kliping dilakukan pada saat bibit pertumbuhannya terlalu lebat atau saling menutup batangnya. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        3. Kliping adalah kegiatan memotong sebagian atau 2\/3 daun bibit tembakau. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        4. Frekuensi kliping dilakukan bisa satu, dua kali atau lebih sesuai dengan perkembangan bibit dan persiapan lokasi areal tanam. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        5 Lima sampai tujuh hari menjelang transplanting, kegiatan kliping sebaiknya sudah selesai. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Tujuan klipping: menjaga lingkungan bibit agar tidak lembab, <\/strong>memperbesar batan,menyeragamkan ukuran benih, dan memperkuat pertumbuhan akar <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        1. Pencabutan Bibit, agar mendapatkan jarak tanam yang sesuai lahan <\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          \"\"\/<\/figure>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          \"\"\/<\/figure>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Dalam satu hamparan direkomendasikan selesai tanam maksimal 3 Hari. Umur  tanaman akan menjadi sama atau seragam. Performance tanaman juga akan menjadi  seragam. Kemasakan daun pada saat petik juga menjadi seragam. Memudahkan pada saat  proses panen dan pasca panen. Tembakau kering yang dihasilkan pun juga seragam.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          1. Pengendalian Hama & Penyakit<\/strong> <\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            ~ Pada awal penyebaran benih direkomendasikan untuk melakukan penyemprotan fusngisida (jamur), seperti Previcur, Redomil & Antracol <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            ~ Hama yang sering dijumpai: semut (Decis), janggel, orong-orong <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            1. Tahapan Perawatan<\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              \"\"\/<\/figure>\n ","post_title":"Sukses Bertani Tembakau Bersama Kemitraan Djarum di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sukses-bertani-tembakau-bersama-kemitraan-djarum-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-11 12:32:18","post_modified_gmt":"2019-02-11 05:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5433","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5425,"post_author":"922","post_date":"2019-02-10 09:07:33","post_date_gmt":"2019-02-10 02:07:33","post_content":" \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Bahwa cengkeh [1] (Syzygium aromaticum) --bersama pala (Myristica fragrans)-- adalah dua tanaman asli (endemik) Kepulauan Maluku, sudah tak terbantahkan. Cengkeh dikenal dan diakui berasal dari \u2018Empat Pulau Gunung Maluku\u2019 (Maloko Kie Raha): Ternate, Tidore, Moti, dan Makian.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Adapun pala, berasal dari empat pulau kecil lainnya di tengah Laut Banda: Lonthor, Neira, Rhun, dan Ai. Pada penjelasan peta abad-16 oleh penjelajah dari Semenanjung Iberia, Fransisco Rodriguez, tertulis: \u201cEstas quatro Ilhas Azures suam as de molluquo homde nace ho crauzo\u201d<\/em> (Adalah empat pulau berwarna biru [dalam peta] yang disebut sebagai Kepulauan Maluku di mana rempah-rempah berasal) (Pires, 1512- 1515:213).
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Sejak beberapa abad sebelum Masehi, adalah para saudagar Arab --melalui Samudera Hindia melintasi Iskandariyah dan Laut Tengah-- serta para pedagang Cina --melalui jalur \u2018Jalan Sutra\u2019 melintasi Asia Tengah dan Asia Barat-- yang membawa dan memperkenalkannya ke daratan Eropa. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Bandar-bandar besar Tyre di Yunani dan Venesia di Italia menjadi pelabuhan utama rempah-rempah Maluku memasuki kehidupan dan peradaban Eropa. Selain sebagai bumbu masakan, rempah obat, dan ramuan wewangian, cengkeh dan pala juga menjadi bahan utama pengawet bahan pangan. [2]
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Inilah yang membuat orang-orang Eropa untuk pertama kalinya dapat mengawetkan dan menimbun makanan selama bermusim-musim. Prosa indah Blair bersaudara menggambarkannya dengan sangat baik:
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              \u201cKemampuan menyimpan makanan lebih dari yang kami makan sekaligus berarti kemampuan menjual dan membelinya dalam jumlah besar --dan kota-kota dagang pun mekar. Perekonomian yang dihasilkannya mengarahkan kami ke zaman Pencerahan dan kemudian Revolusi Industri. Tak lama setelah kami menghirup aroma yang sangat kuat dari Timur itu dan mengubah kimiawi makanan kami, maka kami pun mampu melakukan lompatan besar dalam bidang budaya dan seni.\u201d (Blair & Blair, 2010; 30-31).<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Baca: Cengkeh dan Kelapa di Kepulauan Anambas<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Bukan hanya membuat perekonomian dan perdagangan serta ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang, cengkeh dan pala bahkan adalah faktor yang paling menentukan dalam kemunculan satu babakan paling mengenaskan dalam sejarah politik dunia, yakni zaman penjajahan (kolonialisme) Eropa, terutama atas-atas negeri- negeri Asia Selatan, Timur dan Tenggara, termasuk Indonesia.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Tergerak oleh sahwat menguasai rempah-rempah yang menggiurkan itu, bangsa-bangsa Eropa --terutama Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda-- pun menggelar ekspedisi-ekspedisi besar untuk menemukan cengkeh dan pala langsung di tanah asalnya. Ketika armada-armada mereka akhirnya mencapai perairan Kepulauan Maluku, pada abad-16, perang pun tak terhindarkan.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Mereka silih berganti saling mengalahkan, tetapi pemenang terakhir adalah Belanda. Melalui Perusahaan Dagang Hindia Timur (Vereenigde Oostindische Compagnie, VOC) yang dibentuk pada awal abad-17 (tepatnya tahun 1609), Belanda melancarkan ekspedisi Pelayaran Hongi (Hongie Tochten), untuk memusnahkan semua tanaman cengkeh di Ternate, Tidore, Moti, dan Makian, lalu membatasi ketat penanamnya hanya di Pulau-pulau Ambon dan Lease --yang lebih dekat ke Banda sebagai pusat pemerintahan mereka sebelum akhirnya dipindahkan ke Batavia.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Praktis, sejak akhir abad-16, Belanda pun menguasai penuh perdagangan rempah-rempah Maluku dengan jumlah produksi rerata 2.500 sampai 4.500 ton per tahun. [3]<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Baca: Budidaya Pohon Cengkeh<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Meskipun peran utama rempah-rempah Maluku itu kemudian tergusur pada abad-18 dan 19 oleh beberapa barang eksotika tropis lainnya --hasil perkebunan-perkebunana besar baru di Pulau Sumatera dan Jawa: tebu, tembakau, lada, kopi, teh, nila, kelapa sawit, dan kayu jati-- namun sejarah sudah mencatat bahwa dua jenis rempah-rempah Maluku itulah yang mengawali penjelajahan sekaligus penjajahan kepulauan Nusantara oleh bangsa-bangsa Eropah, terutama Belanda (Topatimasang, ed., 2004:32). Jika saja tak pernah ada cengkeh dan pala di Maluku, mungkin sejarah kepulauan Nusantara ini akan berbeda sama sekali.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Masa suram cengkeh dan pala terus berlangsung sampai pertengahan abad-20. Rempah eksotika yang pernah membuat tergila-gila<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              para saudagar Arab, pedagang Cina, serta kaum ningrat Eropa itu, tergantikan perannya oleh penemuan teknologi mesin pendingin berkat Revolusi Industri yang dimulai di Inggris pada pertengahan abad-18. Pasaran cengkeh di Eropa pun merosot tajam.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Nasibnya terselamatkan berkat penemuan oleh seorang Haji Djamhari di Kudus, Jawa Tengah. Pada akhir tahun 1880-an, Haji Djamhari menemukan kegunaan baru cengkeh sebagai ramuan utama rokok. Lahirlah satu produk baru yang unik, khas dan asli Indonesia: kretek! (Hanusz, 2000:ii).
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Setelah seperempat abad hanya berkembang dalam skala kecil usaha rumah tangga, produksi kretek akhirnya menjelma menjadi industri besar sejak awal abad-20 yang dirintis oleh Haji Nitisemito (pendiri pabrik \u2018Jambu Bol\u2019) di Kudus dan Liem Seng Tee (pendiri pabrik \u2018Dji Sam Soe\u2019 dan \u2018Sampoerna\u2019) di Surabaya.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Puncaknya adalah pada pertengahan tahun 1950-an, ketika produksi kretek mulai berkembang pesat menjadi industri raksasa modern dengan munculnya beberapa pabrik baru, antara lain, yang terkemuka, oleh Oei Wei Gwan (pendiri pabrik \u2018Djarum\u2019) di Kudus dan Tjou Ing Hwie (pendiri pabrik \u2018Gudang Garam\u2019) di Kediri (Topatimasang, et.al., eds., 2010:131).<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Baca: Teruslah Menanam Tembakau dan Cengkeh, Wahai Petani Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Cengkeh, bahan baku paling esensial dari kretek --selain tembakau, tentu saja-- pun kembali berjaya. Bahkan, sejak dasawarsa 1970an, telah menjadi salah satu penyumbang terbesar keuangan negara Republik Indonesia. Pada tahun 2012 dan 2013, pemasukan cukai dari industri kretek mencatat 95,5% dari seluruh pemasukan cukai ke kas negara. Nilainya tak tanggung-tanggung: Rp 87 triliun! (el-Guyanie, et.al.: 2013:4-5).<\/strong>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Nilai ekonomisnya yang sangat besar sempat menggoda penguasa otoriter rezim Presiden Soeharto, pada 1990-an, memberlakukan satu kebijakan \u2018Hongi Gaya Baru\u2019: monopoli perdagangan cengkeh dalam negeri melalui Badan Penyanggah dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) yang sangat merugikan petani. Harga cengkeh di tingkat petani penghasil anjlok sampai hanya Rp 2.000 - 3.000 per kilogram, lebih murah dari harga sebungkus kretek yang dihasilkan darinya.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Akibatnya, ratusan ribu pohon cengkeh di daerah-daerah penghasil utama --Maluku, Maluku Utara, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Selatan-- ditebangi atau dibiarkan terlantar tak terurus.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Gelombang reformasi sistem politik dan hukum nasional yang dimulai pada tahun 1998, akhirnya menjungkalkan rezim Soeharto dan BPPC dibubarkan, Pelan tapi pasti, harga cengkeh kembali merangkak naik, sehingga pada tahun 2012, bahkan melewati angka Rp 200.000 per kilogram. Para petani cengkeh di seluruh negeri kembali tersenyum. Tetapi, sampai kapan? <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Catatan:<\/strong><\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              [1] Beberapa sumber menyebutkan bahwa kata \u2018cengkeh\u2019 dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Mandarin, tkeng-his atau xi\u2019jia, yang berarti \u2018rempah [berbentuk mirip] paku\u2019 (scented nails). Ini menunjukkan bahwa cengkeh sudah dikenal sejak lama oleh bangsa Cina --diketahui sejak abad-2-- jauh sebelum orang Eropa mengenalnya ((lihat, misalnya: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              [2] Catatan-catatan para biarawan Fransiskan --yang disalin dan dikutip oleh van Frassen-- bahkan menyebut cengkeh sebagai salah satu bahan utama pengawet mumi para Fir\u2019aun, penguasa Mesir Kuno. Beberapa pakar sejarah dan arkeologi menyatakan bahwa rempah-rempah Maluku bahkan sudah ditemukan artefaknya di Lembah Mesopotomia (wilayah Iraq dan sekitarnya sekarang) pada 3.000 tahun sebelum Masehi. (lihat, antara lain: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              [3] Uraian lebih rinci sejarah kolonialisme rempah-rempah Nusantara ini, terutama oleh Belanda dan Portugis, dapat dibaca pada beberapa sumber kepustakaan yang sudah dikenal luas, antara lain: Glamann (1958) dan Boxer (1965 dan 1969). Dalam risalah klasik Pires disebutkan bahwa pada tahun 1512-1521 saja, jumlah produksi cengkeh di Maluku sudah mencapai 7.250 bahar per tahun, terbesar adalah di Makian serta Amboina dan Lease (masing-masing 1.500 bahar)(Pires, 1512-1515).<\/em>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem Topatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              <\/p>\n ","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-10 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-02-10 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5425","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5415,"post_author":"878","post_date":"2019-02-07 12:15:55","post_date_gmt":"2019-02-07 05:15:55","post_content":" \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Belakangan ini, ketika musim hujan tiba, di Kabupaten Temanggung, Kabupaten Jember, dan beberapa wilayah sentra pertanian tembakau lainnya, hampir mustahil menemukan tanaman tembakau tumbuh di lahan-lahan milik petani. Di wilayah-wilayah tersebut, citra sebagai sentra pertanian tembakau seakan menguap. Lahan-lahan yang ada di sana, sama sekali tidak ditumbuhi tanaman tembakau.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Kabar ini bisa jadi dianggap sebagai kabar gembira bagi mereka yang menganggap diri dan kelompoknya anti-rokok dan anti-tembakau yang selalu mengampanyekan sikap-sikap mereka terkait kebencian kepada tembakau dan aktivitas merokok. Setelah sekian lama berjuang, akhirnya perjuangan mereka dirasa berhasil usai menyaksikan fenomena lahan-lahan di wilayah yang dianggap sentra pertanian tembakau pada hari-hari belakangan ini.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Baca juga: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Tak sia-sia turun ke jalan, tak sia-sia melakukan lobi-lobi ke penguasa, tak sia-sia mengucurkan uang yang tidak sedikit, dan tak sia-sia mempermalukan diri dengan mengemis ke lembaga donor asing dan menggondol uang dari cukai tembakau untuk mengampanyekan gerakan anti-rokok dan anti-tembakau. Tak sia-sia. Karena perjuangan sepertinya berhasil.<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Kampanye-kampanye gerakan mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya, sepertinya juga sangat berhasil. Bagaimana tidak? Wilayah-wilayah yang sebelumnya penuh dengan tanaman tembakau dan bergeliat dengannya, kini lahan-lahannya sudah berganti dengan tanaman lain. Sebuah keberhasilan yang menggembirakan. Begitu mungkin pikir mereka para yang menganggap dirinya pejuang anti-rokok dan anti-tembakau. Dan tentu saja mereka akan kecele dan kita akan menertawakan hal itu.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Sayangnya, mereka yang menganggap dirinya anti-rokok dan anti-tembakau tidak menyaksikan langsung fenomena ini di lapangan, di lahan-lahan yang peruntukannya berubah pada hari-hari belakangan ini ketika memasuki musim hujan. Mereka asyik duduk pada kursi empuk di ruang-ruang nyaman ber-AC di kota-kota yang jauh dari kultur pertanian. Mereka menyengajakan diri menjadi elit dan enggan untuk turun melihat langsung ke lapangan. Kalaupun ada yang turun langsung ke lapangan, hanya segelintir saja dari mereka, itupun sekadar formalitas saja. Tak pernah benar-benar mau turun ke lapangan, hidup dan merasakan langsung kultur pertanian tembakau dalam jangka waktu cukup lama di lapangan.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Baca juga: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Fenomena ini membikin kita tak bisa melihat mereka para anti-rokok kecele lalu menertawakan mereka.<\/strong> Fenomena keengganan terjun langsung ke lapangan terlebih mencoba mendengar mereka yang tetap menanam tembakau, juga menjalani keseharian dalam waktu cukup lama bersama petani tembakau inilah yang saya kira menjadikan mereka tetap keras kepala untuk anti-rokok dan anti-tembakau. Karena jika mereka mau melakukan itu, saya yakin mereka semua tidak akan begitu kaku dalam memandang pertanian tembakau dan produk hasil industri tembakau.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Salah satu yang selalu mereka kampanyekan dan ngotot dengan itu, terkait hulu pertanian tembakau adalah mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya. Mereka berargumen banyak tanaman lain yang bisa semenguntungkan tanaman tembakau. Keengganan mereka terjun langsung ke lapangan inilah yang membikin mereka buta dengan kondisi pertanian tembakau dan pada akhirnya terus menerus mengampanyekan pergantian tanaman tembakau dengan tanaman lainnya.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Baca juga: Imanlah kepada Allah, Bukan Antirokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Tembakau tanaman yang khas. Ia hanya tumbuh baik sepanjang empat hingga lima bulan dalam satu tahun. Tumbuh-kembang tanaman tembakau dengan baik itu umumnya terjadi pada musim kemarau setiap tahunnya. Hanya sedikit sekali jenis tembakau yang tumbuh baik di musim penghujan, mayoritasnya, tumbuh baik pada musim kemarau.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Jika ditanam pada musim hujan, hampir bisa dipastikan tanaman tembakau akan gagal menghasilkan daun-daun yang berkualitas. Ia akan rusak dan membusuk karena terlalu banyak terkena air sehingga daun-daun itu tak layak dijual. Jangankan bisa dijual, untuk tumbuh dengan baik pun sepertinya sulit karena musim hujan akan membunuh banyak tanaman itu.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Maka, tak heran pada musim-musim seperti saat ini, ketika musim penghujan mendekati puncaknya, di wilayah-wilayah yang dikenal sebagai sentra pertanian tembakau, sulit menemukan pohon tembakau yang sedang tumbuh. Pada lahan-lahan yang sebelumnya ditumbuhi tanaman tembakau pada musim panas, berganti tanaman-tanaman lain yang bermacam-macam, sesuai dengan kondisi lahannya. Untuk lahan sawah, lahan-lahan itu pada musim penghujan kini ditumbuhi tanaman padi yang subur. Pada lahan tegalan dan lahan di pegunungan, lahan-lahan yang ditanami tembakau pada musim kemarau, saat ini ditumbuhi bermacam jenis tanaman mulai dari cabai, bawang, tomat, kol, terong, mentimun, dan ragam jenis tanaman semusim lainnya.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Uniknya, tipikal tanaman tembakau yang tumbuh baik di musim kemarau ini memberi pilihan lebih kepada para petani. Lahan-lahan yang sulit ditanami pada musim kemarau, pada akhirnya masih bisa tetap produktif dengan keberadaan tanaman tembakau. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Maka, kampanye aneh mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain dengan ragam rupa dalih yang membingungkan, bukan saja sama sekali tidak tepat dan asal-asalan, namun bisa jadi akan ditertawakan oleh para petani yang begitu paham dengan kondisi lahan dan terutama kondisi iklim dan cuaca. Sulit mencari tanaman semusim yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Jika pun ada, tak ada yang semenguntungkan tanaman tembakau.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              <\/p>\n ","post_title":"Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"keberhasilan-gerakan-anti-tembakau-tak-ada-tembakau-saat-musim-hujan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-07 12:16:02","post_modified_gmt":"2019-02-07 05:16:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5415","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5409,"post_author":"919","post_date":"2019-02-05 08:04:43","post_date_gmt":"2019-02-05 01:04:43","post_content":" \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Tahun Baru Imlek yang merupakan tradisi Bangsa Tiongkok kini sudah tak lagi menjadi hal yang asing bagi masyarakat Indonesia. Kehadirannya sudah mewarnai dan berakulturasi dengan tradisi lokal. Menjelang Tahun Baru Imlek. Berbagai hiasan dan kemeriahan terjadi beberapa titik di Tanah Air. Perayaannya juga menjadi destinasi baru yang mengasyikkan untuk dilihat dan patut disaksikan.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Berterimakasihlah kepada sang bapak bangsa, KH Abdurrahman Wahid atau yang dikenal dengan nama Gus Dur. Berkat kebijakannya saat menjadi Presiden Indonesia, Tahun Baru Imlek resmi dijadikan hari libur nasional dan dianggap sebagai salah satu hari raya di Tanah Air. Meski sentimen antitionghoa masih ada di sana-sini, tapi tetap tak bisa dipungkiri bahwa bangsa tionghoa sudah bersentuhan dengan budaya lokal dalam kurun waktu yang sangat panjang.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              DNA Bangsa Tionghoa yang memang merupakan pedagang menjadi pembuka kisah interaksi antara nenek moyang berbagai suku di Nusantara dengan mereka. Beberapa kelenteng-kelenteng yang tersebar pada berbagai pesisir daerah di Nusantara jadi buktinya. Pelabuhan-pelabuhan tua di tanah air dan ramainya perdagangan di pesisir mempermudah bangsa kita berhubungan dengan Bangsa Tionghoa.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Baca Juga: Wong Kalang dan Kota Gede<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa kehadiran Bangsa Tionghoa di Nusantara tak hanya sebagai pedagang, namun juga sebagai pekerja (bahkan hingga pekerja kasar). Benny Setiono, seorang sejarahwan menyebutkan bahwa antara tahun 1760-1770 dalam jumlah yang besar memasuki nusantara melalui Kalimantan Barat. Mereka bekerja sebagai kuli pertambangan di sana dan di kemudian hari membentuk sebuah republik bernama Republik Lanfang yang konon katanya menjadi republik pertama di Asia Tenggara.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Baca Juga: Imlek dan Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Baca Juga: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              <\/p>\n ","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_3o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              \n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              1. Lahan yang diukur merupakan lahan calon petani mitra, dengan status milik \/ sewa <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              2. Lahan yang diukur merupakan lahan dengan penggunaan lahan yang tidak ada potensi untuk di tumpangsarikan terutama dengan tanaman sejenis : cabe, terong, tomat <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              3. Lahan harus terletak pada satu cluster yang sama<\/strong> lokasi bisa lebih dari satu dengan ketetuan minimal 0,35 ha \/ petani <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              4. Bersedia menjalankan GAP yang telah dianjurkan dari PT Djarum dan Grader <\/li><\/ol>\n \n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Ketentuan Menjadi Mitra: <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                1. Varietas tanaman tembakau jenis Kemloko 1, 2 & 3 (asli Temanggung)<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                2. Pengolahan tembakau saat panen bebas gula <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                3. Tembakau yang dibeli adalah tembakau yang memenuhi standart kualitas pembelian PT Djarum <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                4. Harga mengikuti harga pasar <\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Jadwal Pembibitan:<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  1. Daerah pegunungan pembibitan di mulai bulan Februari minggu ke III dan IV, akhir pembibitan bulan Maret minggu ke I dan III<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  2. Daerah rendah\/sawah awal pembibitan bulan Maret minggu IV \u2013 April minggu I, akhir pembibitan  bulan April minggu III \u2013 minggu IV. <\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Tujuan Pembibitan<\/strong>:<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    1. Mendapatkan Bibit sehat dan seragam<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    2. Mendapatkan jumlah bibit cukup sesuai perhitungan luasan lahan<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    3. Memperoleh jenis bibit murni sesuai kebutuhan (tidak varietas campuran).<\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Tahapan Pembibitan<\/strong><\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            1. Persiapan Benih<\/strong>, meliputi:<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      a. Dosis benih \t\t\t\t\t= 5 gr per 1 Hektare <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      b. Dalam 1 gr benih \t\t\t\t= \u00b1 7.500 benih<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      c. Bila daya berkecambah (DB) \u00b1 80 %\t\t= 5 gr x 7.500 x 80% <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      d. Bibit yang tumbuh \t\t\t\t= 37.500 tanaman <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              (Hitungan di atas sudah termasuk cadangan untuk sulaman) <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      e. Teknis sebar benih; apabila luas media tanam cukup, teknis sebar benih yang dianjurkan adalah dicampur dengan abu sekam. Apabila luas media tanam tidak mencukupi, maka teknis sebar benih yang dianjurkan adalah diaduk tanah.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      f. Cara memperoleh benih yang murni dan baik, harus mengetahui asal usul \/ sumber benih apakah dari BALITTAS, Dinas Pertanian  atau Seeding Center. Daya kecambah terukur sehingga dosis sebar bisa ditentukan. Bebas Hama dan Penyakit. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      2. Persiapan Lahan <\/strong><\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      1. Tanah digemburkan sehingga akar mudah berkembang <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      2. Menyediakan ruang untuk respirasi akar <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      3. Mematikan gulma dan penyakit dalam tanah <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      4. Tanah siap menjadi media tumbuh bagi tanaman <\/li><\/ol>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        \"\"\/<\/figure>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        \"\"\/<\/figure>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Sempurna<\/strong> <\/strong>tidak sempurna<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        3. Persiapan Media Tanam<\/strong><\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        1. Tanah yang digunakan adalah tanah dan pupuk kandang yang sudah matang <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        2. Tanah berasal dari tanah steril (sudah dikeringkan dan bukan dari tanah bekas tanaman yang terserang penyakit)<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        3. Media tanah dicangkul ringan di para-para minimal 2x <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        4. Sebar Benih; <\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Setelah bibit dan lahan siap, kemudian sebarkan benih dengan ditutup memakai jerami <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          1. Pemupukan <\/strong><\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          2. Pemupukan pertama<\/li><\/ol>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            \"\"\/<\/figure>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            1. Pemupukan kedua, dilakukan apabila pertumbuhan bibit kurang baik (21 HSS). Pupuk yang digunakan adalaj KNO3 <\/sub>(30 \u2013 50 gram per bedeng dengan ukuran 1x5 m) dicampur dengan air \u00b110 liter, selanjutnya bedengan disiram kembali dengan air (pembilasan) <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            2. Penyiraman<\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Frekuensi penyiraman berdasarkan umur bibit\/umur hari setelah sebar (HSS):<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              0 \u2013 10 HSS\t\t:\t3x Sehari (fase kritis)<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              11 \u2013 21 HSS\t\t:\t2x Sehari <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              22 \u2013 35 HSS\t\t:\t1x Sehari <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              36 \u2013 45 \/ 50 HSS\t:\tPeriode stress air\/kering<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              1. Penjarangan & Hardening<\/strong>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                1. Penjarangan dilakukan agar jarak antara bibit ideal (4-5 cm) sehingga tidak<\/li><\/ol><\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  terserang hama & penyakit. Penjarangan dilakukan pada umur bibit 21-25 hari dengan cara: basahi bedengan sore hari sebelumnya dan pagi hari sebelum bibit dicabut, cabut bibit  yang akan ditanami dengan hati-hati, tanam bibit pada bedengan yang kerapatan bibitnya jarang, siram bibit sesegera mungkin setelah dipindah.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  1. Bibit dibiasakan untuk terkena sinar  matahari langsung. Tujuan hardening agar bibit dapat beradaptasi dan memperkuat jaringan daun, batang serta mengurangi resiko penyakit karena jamur. Pelaksanaan hardening mulai umur 21 HSS secara bertahap.Pada kondisi hujan tidak dianjurkan. <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  2. Klipping <\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    1. Dilakukan antara jam 08.00 sampai 11.00 (usahakan cuaca cerah) <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    2. Kliping dilakukan pada saat bibit pertumbuhannya terlalu lebat atau saling menutup batangnya. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    3. Kliping adalah kegiatan memotong sebagian atau 2\/3 daun bibit tembakau. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    4. Frekuensi kliping dilakukan bisa satu, dua kali atau lebih sesuai dengan perkembangan bibit dan persiapan lokasi areal tanam. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    5 Lima sampai tujuh hari menjelang transplanting, kegiatan kliping sebaiknya sudah selesai. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Tujuan klipping: menjaga lingkungan bibit agar tidak lembab, <\/strong>memperbesar batan,menyeragamkan ukuran benih, dan memperkuat pertumbuhan akar <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    1. Pencabutan Bibit, agar mendapatkan jarak tanam yang sesuai lahan <\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      \"\"\/<\/figure>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      \"\"\/<\/figure>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Dalam satu hamparan direkomendasikan selesai tanam maksimal 3 Hari. Umur  tanaman akan menjadi sama atau seragam. Performance tanaman juga akan menjadi  seragam. Kemasakan daun pada saat petik juga menjadi seragam. Memudahkan pada saat  proses panen dan pasca panen. Tembakau kering yang dihasilkan pun juga seragam.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      1. Pengendalian Hama & Penyakit<\/strong> <\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        ~ Pada awal penyebaran benih direkomendasikan untuk melakukan penyemprotan fusngisida (jamur), seperti Previcur, Redomil & Antracol <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        ~ Hama yang sering dijumpai: semut (Decis), janggel, orong-orong <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        1. Tahapan Perawatan<\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          \"\"\/<\/figure>\n ","post_title":"Sukses Bertani Tembakau Bersama Kemitraan Djarum di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sukses-bertani-tembakau-bersama-kemitraan-djarum-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-11 12:32:18","post_modified_gmt":"2019-02-11 05:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5433","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5425,"post_author":"922","post_date":"2019-02-10 09:07:33","post_date_gmt":"2019-02-10 02:07:33","post_content":" \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Bahwa cengkeh [1] (Syzygium aromaticum) --bersama pala (Myristica fragrans)-- adalah dua tanaman asli (endemik) Kepulauan Maluku, sudah tak terbantahkan. Cengkeh dikenal dan diakui berasal dari \u2018Empat Pulau Gunung Maluku\u2019 (Maloko Kie Raha): Ternate, Tidore, Moti, dan Makian.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Adapun pala, berasal dari empat pulau kecil lainnya di tengah Laut Banda: Lonthor, Neira, Rhun, dan Ai. Pada penjelasan peta abad-16 oleh penjelajah dari Semenanjung Iberia, Fransisco Rodriguez, tertulis: \u201cEstas quatro Ilhas Azures suam as de molluquo homde nace ho crauzo\u201d<\/em> (Adalah empat pulau berwarna biru [dalam peta] yang disebut sebagai Kepulauan Maluku di mana rempah-rempah berasal) (Pires, 1512- 1515:213).
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Sejak beberapa abad sebelum Masehi, adalah para saudagar Arab --melalui Samudera Hindia melintasi Iskandariyah dan Laut Tengah-- serta para pedagang Cina --melalui jalur \u2018Jalan Sutra\u2019 melintasi Asia Tengah dan Asia Barat-- yang membawa dan memperkenalkannya ke daratan Eropa. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Bandar-bandar besar Tyre di Yunani dan Venesia di Italia menjadi pelabuhan utama rempah-rempah Maluku memasuki kehidupan dan peradaban Eropa. Selain sebagai bumbu masakan, rempah obat, dan ramuan wewangian, cengkeh dan pala juga menjadi bahan utama pengawet bahan pangan. [2]
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Inilah yang membuat orang-orang Eropa untuk pertama kalinya dapat mengawetkan dan menimbun makanan selama bermusim-musim. Prosa indah Blair bersaudara menggambarkannya dengan sangat baik:
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          \u201cKemampuan menyimpan makanan lebih dari yang kami makan sekaligus berarti kemampuan menjual dan membelinya dalam jumlah besar --dan kota-kota dagang pun mekar. Perekonomian yang dihasilkannya mengarahkan kami ke zaman Pencerahan dan kemudian Revolusi Industri. Tak lama setelah kami menghirup aroma yang sangat kuat dari Timur itu dan mengubah kimiawi makanan kami, maka kami pun mampu melakukan lompatan besar dalam bidang budaya dan seni.\u201d (Blair & Blair, 2010; 30-31).<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Baca: Cengkeh dan Kelapa di Kepulauan Anambas<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Bukan hanya membuat perekonomian dan perdagangan serta ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang, cengkeh dan pala bahkan adalah faktor yang paling menentukan dalam kemunculan satu babakan paling mengenaskan dalam sejarah politik dunia, yakni zaman penjajahan (kolonialisme) Eropa, terutama atas-atas negeri- negeri Asia Selatan, Timur dan Tenggara, termasuk Indonesia.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Tergerak oleh sahwat menguasai rempah-rempah yang menggiurkan itu, bangsa-bangsa Eropa --terutama Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda-- pun menggelar ekspedisi-ekspedisi besar untuk menemukan cengkeh dan pala langsung di tanah asalnya. Ketika armada-armada mereka akhirnya mencapai perairan Kepulauan Maluku, pada abad-16, perang pun tak terhindarkan.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Mereka silih berganti saling mengalahkan, tetapi pemenang terakhir adalah Belanda. Melalui Perusahaan Dagang Hindia Timur (Vereenigde Oostindische Compagnie, VOC) yang dibentuk pada awal abad-17 (tepatnya tahun 1609), Belanda melancarkan ekspedisi Pelayaran Hongi (Hongie Tochten), untuk memusnahkan semua tanaman cengkeh di Ternate, Tidore, Moti, dan Makian, lalu membatasi ketat penanamnya hanya di Pulau-pulau Ambon dan Lease --yang lebih dekat ke Banda sebagai pusat pemerintahan mereka sebelum akhirnya dipindahkan ke Batavia.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Praktis, sejak akhir abad-16, Belanda pun menguasai penuh perdagangan rempah-rempah Maluku dengan jumlah produksi rerata 2.500 sampai 4.500 ton per tahun. [3]<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Baca: Budidaya Pohon Cengkeh<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Meskipun peran utama rempah-rempah Maluku itu kemudian tergusur pada abad-18 dan 19 oleh beberapa barang eksotika tropis lainnya --hasil perkebunan-perkebunana besar baru di Pulau Sumatera dan Jawa: tebu, tembakau, lada, kopi, teh, nila, kelapa sawit, dan kayu jati-- namun sejarah sudah mencatat bahwa dua jenis rempah-rempah Maluku itulah yang mengawali penjelajahan sekaligus penjajahan kepulauan Nusantara oleh bangsa-bangsa Eropah, terutama Belanda (Topatimasang, ed., 2004:32). Jika saja tak pernah ada cengkeh dan pala di Maluku, mungkin sejarah kepulauan Nusantara ini akan berbeda sama sekali.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Masa suram cengkeh dan pala terus berlangsung sampai pertengahan abad-20. Rempah eksotika yang pernah membuat tergila-gila<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          para saudagar Arab, pedagang Cina, serta kaum ningrat Eropa itu, tergantikan perannya oleh penemuan teknologi mesin pendingin berkat Revolusi Industri yang dimulai di Inggris pada pertengahan abad-18. Pasaran cengkeh di Eropa pun merosot tajam.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Nasibnya terselamatkan berkat penemuan oleh seorang Haji Djamhari di Kudus, Jawa Tengah. Pada akhir tahun 1880-an, Haji Djamhari menemukan kegunaan baru cengkeh sebagai ramuan utama rokok. Lahirlah satu produk baru yang unik, khas dan asli Indonesia: kretek! (Hanusz, 2000:ii).
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Setelah seperempat abad hanya berkembang dalam skala kecil usaha rumah tangga, produksi kretek akhirnya menjelma menjadi industri besar sejak awal abad-20 yang dirintis oleh Haji Nitisemito (pendiri pabrik \u2018Jambu Bol\u2019) di Kudus dan Liem Seng Tee (pendiri pabrik \u2018Dji Sam Soe\u2019 dan \u2018Sampoerna\u2019) di Surabaya.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Puncaknya adalah pada pertengahan tahun 1950-an, ketika produksi kretek mulai berkembang pesat menjadi industri raksasa modern dengan munculnya beberapa pabrik baru, antara lain, yang terkemuka, oleh Oei Wei Gwan (pendiri pabrik \u2018Djarum\u2019) di Kudus dan Tjou Ing Hwie (pendiri pabrik \u2018Gudang Garam\u2019) di Kediri (Topatimasang, et.al., eds., 2010:131).<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Baca: Teruslah Menanam Tembakau dan Cengkeh, Wahai Petani Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Cengkeh, bahan baku paling esensial dari kretek --selain tembakau, tentu saja-- pun kembali berjaya. Bahkan, sejak dasawarsa 1970an, telah menjadi salah satu penyumbang terbesar keuangan negara Republik Indonesia. Pada tahun 2012 dan 2013, pemasukan cukai dari industri kretek mencatat 95,5% dari seluruh pemasukan cukai ke kas negara. Nilainya tak tanggung-tanggung: Rp 87 triliun! (el-Guyanie, et.al.: 2013:4-5).<\/strong>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Nilai ekonomisnya yang sangat besar sempat menggoda penguasa otoriter rezim Presiden Soeharto, pada 1990-an, memberlakukan satu kebijakan \u2018Hongi Gaya Baru\u2019: monopoli perdagangan cengkeh dalam negeri melalui Badan Penyanggah dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) yang sangat merugikan petani. Harga cengkeh di tingkat petani penghasil anjlok sampai hanya Rp 2.000 - 3.000 per kilogram, lebih murah dari harga sebungkus kretek yang dihasilkan darinya.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Akibatnya, ratusan ribu pohon cengkeh di daerah-daerah penghasil utama --Maluku, Maluku Utara, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Selatan-- ditebangi atau dibiarkan terlantar tak terurus.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Gelombang reformasi sistem politik dan hukum nasional yang dimulai pada tahun 1998, akhirnya menjungkalkan rezim Soeharto dan BPPC dibubarkan, Pelan tapi pasti, harga cengkeh kembali merangkak naik, sehingga pada tahun 2012, bahkan melewati angka Rp 200.000 per kilogram. Para petani cengkeh di seluruh negeri kembali tersenyum. Tetapi, sampai kapan? <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Catatan:<\/strong><\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          [1] Beberapa sumber menyebutkan bahwa kata \u2018cengkeh\u2019 dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Mandarin, tkeng-his atau xi\u2019jia, yang berarti \u2018rempah [berbentuk mirip] paku\u2019 (scented nails). Ini menunjukkan bahwa cengkeh sudah dikenal sejak lama oleh bangsa Cina --diketahui sejak abad-2-- jauh sebelum orang Eropa mengenalnya ((lihat, misalnya: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          [2] Catatan-catatan para biarawan Fransiskan --yang disalin dan dikutip oleh van Frassen-- bahkan menyebut cengkeh sebagai salah satu bahan utama pengawet mumi para Fir\u2019aun, penguasa Mesir Kuno. Beberapa pakar sejarah dan arkeologi menyatakan bahwa rempah-rempah Maluku bahkan sudah ditemukan artefaknya di Lembah Mesopotomia (wilayah Iraq dan sekitarnya sekarang) pada 3.000 tahun sebelum Masehi. (lihat, antara lain: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          [3] Uraian lebih rinci sejarah kolonialisme rempah-rempah Nusantara ini, terutama oleh Belanda dan Portugis, dapat dibaca pada beberapa sumber kepustakaan yang sudah dikenal luas, antara lain: Glamann (1958) dan Boxer (1965 dan 1969). Dalam risalah klasik Pires disebutkan bahwa pada tahun 1512-1521 saja, jumlah produksi cengkeh di Maluku sudah mencapai 7.250 bahar per tahun, terbesar adalah di Makian serta Amboina dan Lease (masing-masing 1.500 bahar)(Pires, 1512-1515).<\/em>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem Topatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n ","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-10 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-02-10 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5425","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5415,"post_author":"878","post_date":"2019-02-07 12:15:55","post_date_gmt":"2019-02-07 05:15:55","post_content":" \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Belakangan ini, ketika musim hujan tiba, di Kabupaten Temanggung, Kabupaten Jember, dan beberapa wilayah sentra pertanian tembakau lainnya, hampir mustahil menemukan tanaman tembakau tumbuh di lahan-lahan milik petani. Di wilayah-wilayah tersebut, citra sebagai sentra pertanian tembakau seakan menguap. Lahan-lahan yang ada di sana, sama sekali tidak ditumbuhi tanaman tembakau.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Kabar ini bisa jadi dianggap sebagai kabar gembira bagi mereka yang menganggap diri dan kelompoknya anti-rokok dan anti-tembakau yang selalu mengampanyekan sikap-sikap mereka terkait kebencian kepada tembakau dan aktivitas merokok. Setelah sekian lama berjuang, akhirnya perjuangan mereka dirasa berhasil usai menyaksikan fenomena lahan-lahan di wilayah yang dianggap sentra pertanian tembakau pada hari-hari belakangan ini.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Baca juga: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Tak sia-sia turun ke jalan, tak sia-sia melakukan lobi-lobi ke penguasa, tak sia-sia mengucurkan uang yang tidak sedikit, dan tak sia-sia mempermalukan diri dengan mengemis ke lembaga donor asing dan menggondol uang dari cukai tembakau untuk mengampanyekan gerakan anti-rokok dan anti-tembakau. Tak sia-sia. Karena perjuangan sepertinya berhasil.<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Kampanye-kampanye gerakan mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya, sepertinya juga sangat berhasil. Bagaimana tidak? Wilayah-wilayah yang sebelumnya penuh dengan tanaman tembakau dan bergeliat dengannya, kini lahan-lahannya sudah berganti dengan tanaman lain. Sebuah keberhasilan yang menggembirakan. Begitu mungkin pikir mereka para yang menganggap dirinya pejuang anti-rokok dan anti-tembakau. Dan tentu saja mereka akan kecele dan kita akan menertawakan hal itu.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Sayangnya, mereka yang menganggap dirinya anti-rokok dan anti-tembakau tidak menyaksikan langsung fenomena ini di lapangan, di lahan-lahan yang peruntukannya berubah pada hari-hari belakangan ini ketika memasuki musim hujan. Mereka asyik duduk pada kursi empuk di ruang-ruang nyaman ber-AC di kota-kota yang jauh dari kultur pertanian. Mereka menyengajakan diri menjadi elit dan enggan untuk turun melihat langsung ke lapangan. Kalaupun ada yang turun langsung ke lapangan, hanya segelintir saja dari mereka, itupun sekadar formalitas saja. Tak pernah benar-benar mau turun ke lapangan, hidup dan merasakan langsung kultur pertanian tembakau dalam jangka waktu cukup lama di lapangan.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Baca juga: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Fenomena ini membikin kita tak bisa melihat mereka para anti-rokok kecele lalu menertawakan mereka.<\/strong> Fenomena keengganan terjun langsung ke lapangan terlebih mencoba mendengar mereka yang tetap menanam tembakau, juga menjalani keseharian dalam waktu cukup lama bersama petani tembakau inilah yang saya kira menjadikan mereka tetap keras kepala untuk anti-rokok dan anti-tembakau. Karena jika mereka mau melakukan itu, saya yakin mereka semua tidak akan begitu kaku dalam memandang pertanian tembakau dan produk hasil industri tembakau.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Salah satu yang selalu mereka kampanyekan dan ngotot dengan itu, terkait hulu pertanian tembakau adalah mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya. Mereka berargumen banyak tanaman lain yang bisa semenguntungkan tanaman tembakau. Keengganan mereka terjun langsung ke lapangan inilah yang membikin mereka buta dengan kondisi pertanian tembakau dan pada akhirnya terus menerus mengampanyekan pergantian tanaman tembakau dengan tanaman lainnya.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Baca juga: Imanlah kepada Allah, Bukan Antirokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Tembakau tanaman yang khas. Ia hanya tumbuh baik sepanjang empat hingga lima bulan dalam satu tahun. Tumbuh-kembang tanaman tembakau dengan baik itu umumnya terjadi pada musim kemarau setiap tahunnya. Hanya sedikit sekali jenis tembakau yang tumbuh baik di musim penghujan, mayoritasnya, tumbuh baik pada musim kemarau.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Jika ditanam pada musim hujan, hampir bisa dipastikan tanaman tembakau akan gagal menghasilkan daun-daun yang berkualitas. Ia akan rusak dan membusuk karena terlalu banyak terkena air sehingga daun-daun itu tak layak dijual. Jangankan bisa dijual, untuk tumbuh dengan baik pun sepertinya sulit karena musim hujan akan membunuh banyak tanaman itu.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Maka, tak heran pada musim-musim seperti saat ini, ketika musim penghujan mendekati puncaknya, di wilayah-wilayah yang dikenal sebagai sentra pertanian tembakau, sulit menemukan pohon tembakau yang sedang tumbuh. Pada lahan-lahan yang sebelumnya ditumbuhi tanaman tembakau pada musim panas, berganti tanaman-tanaman lain yang bermacam-macam, sesuai dengan kondisi lahannya. Untuk lahan sawah, lahan-lahan itu pada musim penghujan kini ditumbuhi tanaman padi yang subur. Pada lahan tegalan dan lahan di pegunungan, lahan-lahan yang ditanami tembakau pada musim kemarau, saat ini ditumbuhi bermacam jenis tanaman mulai dari cabai, bawang, tomat, kol, terong, mentimun, dan ragam jenis tanaman semusim lainnya.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Uniknya, tipikal tanaman tembakau yang tumbuh baik di musim kemarau ini memberi pilihan lebih kepada para petani. Lahan-lahan yang sulit ditanami pada musim kemarau, pada akhirnya masih bisa tetap produktif dengan keberadaan tanaman tembakau. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Maka, kampanye aneh mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain dengan ragam rupa dalih yang membingungkan, bukan saja sama sekali tidak tepat dan asal-asalan, namun bisa jadi akan ditertawakan oleh para petani yang begitu paham dengan kondisi lahan dan terutama kondisi iklim dan cuaca. Sulit mencari tanaman semusim yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Jika pun ada, tak ada yang semenguntungkan tanaman tembakau.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n ","post_title":"Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"keberhasilan-gerakan-anti-tembakau-tak-ada-tembakau-saat-musim-hujan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-07 12:16:02","post_modified_gmt":"2019-02-07 05:16:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5415","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5409,"post_author":"919","post_date":"2019-02-05 08:04:43","post_date_gmt":"2019-02-05 01:04:43","post_content":" \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Tahun Baru Imlek yang merupakan tradisi Bangsa Tiongkok kini sudah tak lagi menjadi hal yang asing bagi masyarakat Indonesia. Kehadirannya sudah mewarnai dan berakulturasi dengan tradisi lokal. Menjelang Tahun Baru Imlek. Berbagai hiasan dan kemeriahan terjadi beberapa titik di Tanah Air. Perayaannya juga menjadi destinasi baru yang mengasyikkan untuk dilihat dan patut disaksikan.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Berterimakasihlah kepada sang bapak bangsa, KH Abdurrahman Wahid atau yang dikenal dengan nama Gus Dur. Berkat kebijakannya saat menjadi Presiden Indonesia, Tahun Baru Imlek resmi dijadikan hari libur nasional dan dianggap sebagai salah satu hari raya di Tanah Air. Meski sentimen antitionghoa masih ada di sana-sini, tapi tetap tak bisa dipungkiri bahwa bangsa tionghoa sudah bersentuhan dengan budaya lokal dalam kurun waktu yang sangat panjang.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          DNA Bangsa Tionghoa yang memang merupakan pedagang menjadi pembuka kisah interaksi antara nenek moyang berbagai suku di Nusantara dengan mereka. Beberapa kelenteng-kelenteng yang tersebar pada berbagai pesisir daerah di Nusantara jadi buktinya. Pelabuhan-pelabuhan tua di tanah air dan ramainya perdagangan di pesisir mempermudah bangsa kita berhubungan dengan Bangsa Tionghoa.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Baca Juga: Wong Kalang dan Kota Gede<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa kehadiran Bangsa Tionghoa di Nusantara tak hanya sebagai pedagang, namun juga sebagai pekerja (bahkan hingga pekerja kasar). Benny Setiono, seorang sejarahwan menyebutkan bahwa antara tahun 1760-1770 dalam jumlah yang besar memasuki nusantara melalui Kalimantan Barat. Mereka bekerja sebagai kuli pertambangan di sana dan di kemudian hari membentuk sebuah republik bernama Republik Lanfang yang konon katanya menjadi republik pertama di Asia Tenggara.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Baca Juga: Imlek dan Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Baca Juga: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n ","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_3o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Syarat Menjadi Mitra:<\/p>\n \n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          1. Lahan yang diukur merupakan lahan calon petani mitra, dengan status milik \/ sewa <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          2. Lahan yang diukur merupakan lahan dengan penggunaan lahan yang tidak ada potensi untuk di tumpangsarikan terutama dengan tanaman sejenis : cabe, terong, tomat <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          3. Lahan harus terletak pada satu cluster yang sama<\/strong> lokasi bisa lebih dari satu dengan ketetuan minimal 0,35 ha \/ petani <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          4. Bersedia menjalankan GAP yang telah dianjurkan dari PT Djarum dan Grader <\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Ketentuan Menjadi Mitra: <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            1. Varietas tanaman tembakau jenis Kemloko 1, 2 & 3 (asli Temanggung)<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            2. Pengolahan tembakau saat panen bebas gula <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            3. Tembakau yang dibeli adalah tembakau yang memenuhi standart kualitas pembelian PT Djarum <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            4. Harga mengikuti harga pasar <\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Jadwal Pembibitan:<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              1. Daerah pegunungan pembibitan di mulai bulan Februari minggu ke III dan IV, akhir pembibitan bulan Maret minggu ke I dan III<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              2. Daerah rendah\/sawah awal pembibitan bulan Maret minggu IV \u2013 April minggu I, akhir pembibitan  bulan April minggu III \u2013 minggu IV. <\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Tujuan Pembibitan<\/strong>:<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                1. Mendapatkan Bibit sehat dan seragam<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                2. Mendapatkan jumlah bibit cukup sesuai perhitungan luasan lahan<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                3. Memperoleh jenis bibit murni sesuai kebutuhan (tidak varietas campuran).<\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Tahapan Pembibitan<\/strong><\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        1. Persiapan Benih<\/strong>, meliputi:<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  a. Dosis benih \t\t\t\t\t= 5 gr per 1 Hektare <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  b. Dalam 1 gr benih \t\t\t\t= \u00b1 7.500 benih<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  c. Bila daya berkecambah (DB) \u00b1 80 %\t\t= 5 gr x 7.500 x 80% <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  d. Bibit yang tumbuh \t\t\t\t= 37.500 tanaman <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          (Hitungan di atas sudah termasuk cadangan untuk sulaman) <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  e. Teknis sebar benih; apabila luas media tanam cukup, teknis sebar benih yang dianjurkan adalah dicampur dengan abu sekam. Apabila luas media tanam tidak mencukupi, maka teknis sebar benih yang dianjurkan adalah diaduk tanah.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  f. Cara memperoleh benih yang murni dan baik, harus mengetahui asal usul \/ sumber benih apakah dari BALITTAS, Dinas Pertanian  atau Seeding Center. Daya kecambah terukur sehingga dosis sebar bisa ditentukan. Bebas Hama dan Penyakit. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  2. Persiapan Lahan <\/strong><\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  1. Tanah digemburkan sehingga akar mudah berkembang <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  2. Menyediakan ruang untuk respirasi akar <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  3. Mematikan gulma dan penyakit dalam tanah <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  4. Tanah siap menjadi media tumbuh bagi tanaman <\/li><\/ol>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    \"\"\/<\/figure>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    \"\"\/<\/figure>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Sempurna<\/strong> <\/strong>tidak sempurna<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    3. Persiapan Media Tanam<\/strong><\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    1. Tanah yang digunakan adalah tanah dan pupuk kandang yang sudah matang <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    2. Tanah berasal dari tanah steril (sudah dikeringkan dan bukan dari tanah bekas tanaman yang terserang penyakit)<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    3. Media tanah dicangkul ringan di para-para minimal 2x <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    4. Sebar Benih; <\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Setelah bibit dan lahan siap, kemudian sebarkan benih dengan ditutup memakai jerami <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      1. Pemupukan <\/strong><\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      2. Pemupukan pertama<\/li><\/ol>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        \"\"\/<\/figure>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        1. Pemupukan kedua, dilakukan apabila pertumbuhan bibit kurang baik (21 HSS). Pupuk yang digunakan adalaj KNO3 <\/sub>(30 \u2013 50 gram per bedeng dengan ukuran 1x5 m) dicampur dengan air \u00b110 liter, selanjutnya bedengan disiram kembali dengan air (pembilasan) <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        2. Penyiraman<\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Frekuensi penyiraman berdasarkan umur bibit\/umur hari setelah sebar (HSS):<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          0 \u2013 10 HSS\t\t:\t3x Sehari (fase kritis)<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          11 \u2013 21 HSS\t\t:\t2x Sehari <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          22 \u2013 35 HSS\t\t:\t1x Sehari <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          36 \u2013 45 \/ 50 HSS\t:\tPeriode stress air\/kering<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          1. Penjarangan & Hardening<\/strong>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            1. Penjarangan dilakukan agar jarak antara bibit ideal (4-5 cm) sehingga tidak<\/li><\/ol><\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              terserang hama & penyakit. Penjarangan dilakukan pada umur bibit 21-25 hari dengan cara: basahi bedengan sore hari sebelumnya dan pagi hari sebelum bibit dicabut, cabut bibit  yang akan ditanami dengan hati-hati, tanam bibit pada bedengan yang kerapatan bibitnya jarang, siram bibit sesegera mungkin setelah dipindah.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              1. Bibit dibiasakan untuk terkena sinar  matahari langsung. Tujuan hardening agar bibit dapat beradaptasi dan memperkuat jaringan daun, batang serta mengurangi resiko penyakit karena jamur. Pelaksanaan hardening mulai umur 21 HSS secara bertahap.Pada kondisi hujan tidak dianjurkan. <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              2. Klipping <\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                1. Dilakukan antara jam 08.00 sampai 11.00 (usahakan cuaca cerah) <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                2. Kliping dilakukan pada saat bibit pertumbuhannya terlalu lebat atau saling menutup batangnya. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                3. Kliping adalah kegiatan memotong sebagian atau 2\/3 daun bibit tembakau. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                4. Frekuensi kliping dilakukan bisa satu, dua kali atau lebih sesuai dengan perkembangan bibit dan persiapan lokasi areal tanam. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                5 Lima sampai tujuh hari menjelang transplanting, kegiatan kliping sebaiknya sudah selesai. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Tujuan klipping: menjaga lingkungan bibit agar tidak lembab, <\/strong>memperbesar batan,menyeragamkan ukuran benih, dan memperkuat pertumbuhan akar <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                1. Pencabutan Bibit, agar mendapatkan jarak tanam yang sesuai lahan <\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  \"\"\/<\/figure>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  \"\"\/<\/figure>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Dalam satu hamparan direkomendasikan selesai tanam maksimal 3 Hari. Umur  tanaman akan menjadi sama atau seragam. Performance tanaman juga akan menjadi  seragam. Kemasakan daun pada saat petik juga menjadi seragam. Memudahkan pada saat  proses panen dan pasca panen. Tembakau kering yang dihasilkan pun juga seragam.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  1. Pengendalian Hama & Penyakit<\/strong> <\/li><\/ol>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    ~ Pada awal penyebaran benih direkomendasikan untuk melakukan penyemprotan fusngisida (jamur), seperti Previcur, Redomil & Antracol <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    ~ Hama yang sering dijumpai: semut (Decis), janggel, orong-orong <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    1. Tahapan Perawatan<\/strong><\/li><\/ol>\n \n\n \n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      \"\"\/<\/figure>\n ","post_title":"Sukses Bertani Tembakau Bersama Kemitraan Djarum di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sukses-bertani-tembakau-bersama-kemitraan-djarum-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-11 12:32:18","post_modified_gmt":"2019-02-11 05:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5433","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5425,"post_author":"922","post_date":"2019-02-10 09:07:33","post_date_gmt":"2019-02-10 02:07:33","post_content":" \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Bahwa cengkeh [1] (Syzygium aromaticum) --bersama pala (Myristica fragrans)-- adalah dua tanaman asli (endemik) Kepulauan Maluku, sudah tak terbantahkan. Cengkeh dikenal dan diakui berasal dari \u2018Empat Pulau Gunung Maluku\u2019 (Maloko Kie Raha): Ternate, Tidore, Moti, dan Makian.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Adapun pala, berasal dari empat pulau kecil lainnya di tengah Laut Banda: Lonthor, Neira, Rhun, dan Ai. Pada penjelasan peta abad-16 oleh penjelajah dari Semenanjung Iberia, Fransisco Rodriguez, tertulis: \u201cEstas quatro Ilhas Azures suam as de molluquo homde nace ho crauzo\u201d<\/em> (Adalah empat pulau berwarna biru [dalam peta] yang disebut sebagai Kepulauan Maluku di mana rempah-rempah berasal) (Pires, 1512- 1515:213).
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Sejak beberapa abad sebelum Masehi, adalah para saudagar Arab --melalui Samudera Hindia melintasi Iskandariyah dan Laut Tengah-- serta para pedagang Cina --melalui jalur \u2018Jalan Sutra\u2019 melintasi Asia Tengah dan Asia Barat-- yang membawa dan memperkenalkannya ke daratan Eropa. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Bandar-bandar besar Tyre di Yunani dan Venesia di Italia menjadi pelabuhan utama rempah-rempah Maluku memasuki kehidupan dan peradaban Eropa. Selain sebagai bumbu masakan, rempah obat, dan ramuan wewangian, cengkeh dan pala juga menjadi bahan utama pengawet bahan pangan. [2]
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Inilah yang membuat orang-orang Eropa untuk pertama kalinya dapat mengawetkan dan menimbun makanan selama bermusim-musim. Prosa indah Blair bersaudara menggambarkannya dengan sangat baik:
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      \u201cKemampuan menyimpan makanan lebih dari yang kami makan sekaligus berarti kemampuan menjual dan membelinya dalam jumlah besar --dan kota-kota dagang pun mekar. Perekonomian yang dihasilkannya mengarahkan kami ke zaman Pencerahan dan kemudian Revolusi Industri. Tak lama setelah kami menghirup aroma yang sangat kuat dari Timur itu dan mengubah kimiawi makanan kami, maka kami pun mampu melakukan lompatan besar dalam bidang budaya dan seni.\u201d (Blair & Blair, 2010; 30-31).<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Baca: Cengkeh dan Kelapa di Kepulauan Anambas<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Bukan hanya membuat perekonomian dan perdagangan serta ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang, cengkeh dan pala bahkan adalah faktor yang paling menentukan dalam kemunculan satu babakan paling mengenaskan dalam sejarah politik dunia, yakni zaman penjajahan (kolonialisme) Eropa, terutama atas-atas negeri- negeri Asia Selatan, Timur dan Tenggara, termasuk Indonesia.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Tergerak oleh sahwat menguasai rempah-rempah yang menggiurkan itu, bangsa-bangsa Eropa --terutama Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda-- pun menggelar ekspedisi-ekspedisi besar untuk menemukan cengkeh dan pala langsung di tanah asalnya. Ketika armada-armada mereka akhirnya mencapai perairan Kepulauan Maluku, pada abad-16, perang pun tak terhindarkan.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Mereka silih berganti saling mengalahkan, tetapi pemenang terakhir adalah Belanda. Melalui Perusahaan Dagang Hindia Timur (Vereenigde Oostindische Compagnie, VOC) yang dibentuk pada awal abad-17 (tepatnya tahun 1609), Belanda melancarkan ekspedisi Pelayaran Hongi (Hongie Tochten), untuk memusnahkan semua tanaman cengkeh di Ternate, Tidore, Moti, dan Makian, lalu membatasi ketat penanamnya hanya di Pulau-pulau Ambon dan Lease --yang lebih dekat ke Banda sebagai pusat pemerintahan mereka sebelum akhirnya dipindahkan ke Batavia.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Praktis, sejak akhir abad-16, Belanda pun menguasai penuh perdagangan rempah-rempah Maluku dengan jumlah produksi rerata 2.500 sampai 4.500 ton per tahun. [3]<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Baca: Budidaya Pohon Cengkeh<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Meskipun peran utama rempah-rempah Maluku itu kemudian tergusur pada abad-18 dan 19 oleh beberapa barang eksotika tropis lainnya --hasil perkebunan-perkebunana besar baru di Pulau Sumatera dan Jawa: tebu, tembakau, lada, kopi, teh, nila, kelapa sawit, dan kayu jati-- namun sejarah sudah mencatat bahwa dua jenis rempah-rempah Maluku itulah yang mengawali penjelajahan sekaligus penjajahan kepulauan Nusantara oleh bangsa-bangsa Eropah, terutama Belanda (Topatimasang, ed., 2004:32). Jika saja tak pernah ada cengkeh dan pala di Maluku, mungkin sejarah kepulauan Nusantara ini akan berbeda sama sekali.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Masa suram cengkeh dan pala terus berlangsung sampai pertengahan abad-20. Rempah eksotika yang pernah membuat tergila-gila<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      para saudagar Arab, pedagang Cina, serta kaum ningrat Eropa itu, tergantikan perannya oleh penemuan teknologi mesin pendingin berkat Revolusi Industri yang dimulai di Inggris pada pertengahan abad-18. Pasaran cengkeh di Eropa pun merosot tajam.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Nasibnya terselamatkan berkat penemuan oleh seorang Haji Djamhari di Kudus, Jawa Tengah. Pada akhir tahun 1880-an, Haji Djamhari menemukan kegunaan baru cengkeh sebagai ramuan utama rokok. Lahirlah satu produk baru yang unik, khas dan asli Indonesia: kretek! (Hanusz, 2000:ii).
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Setelah seperempat abad hanya berkembang dalam skala kecil usaha rumah tangga, produksi kretek akhirnya menjelma menjadi industri besar sejak awal abad-20 yang dirintis oleh Haji Nitisemito (pendiri pabrik \u2018Jambu Bol\u2019) di Kudus dan Liem Seng Tee (pendiri pabrik \u2018Dji Sam Soe\u2019 dan \u2018Sampoerna\u2019) di Surabaya.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Puncaknya adalah pada pertengahan tahun 1950-an, ketika produksi kretek mulai berkembang pesat menjadi industri raksasa modern dengan munculnya beberapa pabrik baru, antara lain, yang terkemuka, oleh Oei Wei Gwan (pendiri pabrik \u2018Djarum\u2019) di Kudus dan Tjou Ing Hwie (pendiri pabrik \u2018Gudang Garam\u2019) di Kediri (Topatimasang, et.al., eds., 2010:131).<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Baca: Teruslah Menanam Tembakau dan Cengkeh, Wahai Petani Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Cengkeh, bahan baku paling esensial dari kretek --selain tembakau, tentu saja-- pun kembali berjaya. Bahkan, sejak dasawarsa 1970an, telah menjadi salah satu penyumbang terbesar keuangan negara Republik Indonesia. Pada tahun 2012 dan 2013, pemasukan cukai dari industri kretek mencatat 95,5% dari seluruh pemasukan cukai ke kas negara. Nilainya tak tanggung-tanggung: Rp 87 triliun! (el-Guyanie, et.al.: 2013:4-5).<\/strong>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Nilai ekonomisnya yang sangat besar sempat menggoda penguasa otoriter rezim Presiden Soeharto, pada 1990-an, memberlakukan satu kebijakan \u2018Hongi Gaya Baru\u2019: monopoli perdagangan cengkeh dalam negeri melalui Badan Penyanggah dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) yang sangat merugikan petani. Harga cengkeh di tingkat petani penghasil anjlok sampai hanya Rp 2.000 - 3.000 per kilogram, lebih murah dari harga sebungkus kretek yang dihasilkan darinya.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Akibatnya, ratusan ribu pohon cengkeh di daerah-daerah penghasil utama --Maluku, Maluku Utara, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Selatan-- ditebangi atau dibiarkan terlantar tak terurus.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Gelombang reformasi sistem politik dan hukum nasional yang dimulai pada tahun 1998, akhirnya menjungkalkan rezim Soeharto dan BPPC dibubarkan, Pelan tapi pasti, harga cengkeh kembali merangkak naik, sehingga pada tahun 2012, bahkan melewati angka Rp 200.000 per kilogram. Para petani cengkeh di seluruh negeri kembali tersenyum. Tetapi, sampai kapan? <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Catatan:<\/strong><\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      [1] Beberapa sumber menyebutkan bahwa kata \u2018cengkeh\u2019 dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Mandarin, tkeng-his atau xi\u2019jia, yang berarti \u2018rempah [berbentuk mirip] paku\u2019 (scented nails). Ini menunjukkan bahwa cengkeh sudah dikenal sejak lama oleh bangsa Cina --diketahui sejak abad-2-- jauh sebelum orang Eropa mengenalnya ((lihat, misalnya: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      [2] Catatan-catatan para biarawan Fransiskan --yang disalin dan dikutip oleh van Frassen-- bahkan menyebut cengkeh sebagai salah satu bahan utama pengawet mumi para Fir\u2019aun, penguasa Mesir Kuno. Beberapa pakar sejarah dan arkeologi menyatakan bahwa rempah-rempah Maluku bahkan sudah ditemukan artefaknya di Lembah Mesopotomia (wilayah Iraq dan sekitarnya sekarang) pada 3.000 tahun sebelum Masehi. (lihat, antara lain: Brierly, 1994).<\/em><\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      [3] Uraian lebih rinci sejarah kolonialisme rempah-rempah Nusantara ini, terutama oleh Belanda dan Portugis, dapat dibaca pada beberapa sumber kepustakaan yang sudah dikenal luas, antara lain: Glamann (1958) dan Boxer (1965 dan 1969). Dalam risalah klasik Pires disebutkan bahwa pada tahun 1512-1521 saja, jumlah produksi cengkeh di Maluku sudah mencapai 7.250 bahar per tahun, terbesar adalah di Makian serta Amboina dan Lease (masing-masing 1.500 bahar)(Pires, 1512-1515).<\/em>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem Topatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n ","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-10 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-02-10 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5425","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5415,"post_author":"878","post_date":"2019-02-07 12:15:55","post_date_gmt":"2019-02-07 05:15:55","post_content":" \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Belakangan ini, ketika musim hujan tiba, di Kabupaten Temanggung, Kabupaten Jember, dan beberapa wilayah sentra pertanian tembakau lainnya, hampir mustahil menemukan tanaman tembakau tumbuh di lahan-lahan milik petani. Di wilayah-wilayah tersebut, citra sebagai sentra pertanian tembakau seakan menguap. Lahan-lahan yang ada di sana, sama sekali tidak ditumbuhi tanaman tembakau.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Kabar ini bisa jadi dianggap sebagai kabar gembira bagi mereka yang menganggap diri dan kelompoknya anti-rokok dan anti-tembakau yang selalu mengampanyekan sikap-sikap mereka terkait kebencian kepada tembakau dan aktivitas merokok. Setelah sekian lama berjuang, akhirnya perjuangan mereka dirasa berhasil usai menyaksikan fenomena lahan-lahan di wilayah yang dianggap sentra pertanian tembakau pada hari-hari belakangan ini.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Baca juga: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Tak sia-sia turun ke jalan, tak sia-sia melakukan lobi-lobi ke penguasa, tak sia-sia mengucurkan uang yang tidak sedikit, dan tak sia-sia mempermalukan diri dengan mengemis ke lembaga donor asing dan menggondol uang dari cukai tembakau untuk mengampanyekan gerakan anti-rokok dan anti-tembakau. Tak sia-sia. Karena perjuangan sepertinya berhasil.<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Kampanye-kampanye gerakan mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya, sepertinya juga sangat berhasil. Bagaimana tidak? Wilayah-wilayah yang sebelumnya penuh dengan tanaman tembakau dan bergeliat dengannya, kini lahan-lahannya sudah berganti dengan tanaman lain. Sebuah keberhasilan yang menggembirakan. Begitu mungkin pikir mereka para yang menganggap dirinya pejuang anti-rokok dan anti-tembakau. Dan tentu saja mereka akan kecele dan kita akan menertawakan hal itu.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Sayangnya, mereka yang menganggap dirinya anti-rokok dan anti-tembakau tidak menyaksikan langsung fenomena ini di lapangan, di lahan-lahan yang peruntukannya berubah pada hari-hari belakangan ini ketika memasuki musim hujan. Mereka asyik duduk pada kursi empuk di ruang-ruang nyaman ber-AC di kota-kota yang jauh dari kultur pertanian. Mereka menyengajakan diri menjadi elit dan enggan untuk turun melihat langsung ke lapangan. Kalaupun ada yang turun langsung ke lapangan, hanya segelintir saja dari mereka, itupun sekadar formalitas saja. Tak pernah benar-benar mau turun ke lapangan, hidup dan merasakan langsung kultur pertanian tembakau dalam jangka waktu cukup lama di lapangan.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Baca juga: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Fenomena ini membikin kita tak bisa melihat mereka para anti-rokok kecele lalu menertawakan mereka.<\/strong> Fenomena keengganan terjun langsung ke lapangan terlebih mencoba mendengar mereka yang tetap menanam tembakau, juga menjalani keseharian dalam waktu cukup lama bersama petani tembakau inilah yang saya kira menjadikan mereka tetap keras kepala untuk anti-rokok dan anti-tembakau. Karena jika mereka mau melakukan itu, saya yakin mereka semua tidak akan begitu kaku dalam memandang pertanian tembakau dan produk hasil industri tembakau.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Salah satu yang selalu mereka kampanyekan dan ngotot dengan itu, terkait hulu pertanian tembakau adalah mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lainnya. Mereka berargumen banyak tanaman lain yang bisa semenguntungkan tanaman tembakau. Keengganan mereka terjun langsung ke lapangan inilah yang membikin mereka buta dengan kondisi pertanian tembakau dan pada akhirnya terus menerus mengampanyekan pergantian tanaman tembakau dengan tanaman lainnya.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Baca juga: Imanlah kepada Allah, Bukan Antirokok<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Tembakau tanaman yang khas. Ia hanya tumbuh baik sepanjang empat hingga lima bulan dalam satu tahun. Tumbuh-kembang tanaman tembakau dengan baik itu umumnya terjadi pada musim kemarau setiap tahunnya. Hanya sedikit sekali jenis tembakau yang tumbuh baik di musim penghujan, mayoritasnya, tumbuh baik pada musim kemarau.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Jika ditanam pada musim hujan, hampir bisa dipastikan tanaman tembakau akan gagal menghasilkan daun-daun yang berkualitas. Ia akan rusak dan membusuk karena terlalu banyak terkena air sehingga daun-daun itu tak layak dijual. Jangankan bisa dijual, untuk tumbuh dengan baik pun sepertinya sulit karena musim hujan akan membunuh banyak tanaman itu.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Maka, tak heran pada musim-musim seperti saat ini, ketika musim penghujan mendekati puncaknya, di wilayah-wilayah yang dikenal sebagai sentra pertanian tembakau, sulit menemukan pohon tembakau yang sedang tumbuh. Pada lahan-lahan yang sebelumnya ditumbuhi tanaman tembakau pada musim panas, berganti tanaman-tanaman lain yang bermacam-macam, sesuai dengan kondisi lahannya. Untuk lahan sawah, lahan-lahan itu pada musim penghujan kini ditumbuhi tanaman padi yang subur. Pada lahan tegalan dan lahan di pegunungan, lahan-lahan yang ditanami tembakau pada musim kemarau, saat ini ditumbuhi bermacam jenis tanaman mulai dari cabai, bawang, tomat, kol, terong, mentimun, dan ragam jenis tanaman semusim lainnya.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Uniknya, tipikal tanaman tembakau yang tumbuh baik di musim kemarau ini memberi pilihan lebih kepada para petani. Lahan-lahan yang sulit ditanami pada musim kemarau, pada akhirnya masih bisa tetap produktif dengan keberadaan tanaman tembakau. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Maka, kampanye aneh mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain dengan ragam rupa dalih yang membingungkan, bukan saja sama sekali tidak tepat dan asal-asalan, namun bisa jadi akan ditertawakan oleh para petani yang begitu paham dengan kondisi lahan dan terutama kondisi iklim dan cuaca. Sulit mencari tanaman semusim yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Jika pun ada, tak ada yang semenguntungkan tanaman tembakau.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n ","post_title":"Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"keberhasilan-gerakan-anti-tembakau-tak-ada-tembakau-saat-musim-hujan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-07 12:16:02","post_modified_gmt":"2019-02-07 05:16:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5415","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5409,"post_author":"919","post_date":"2019-02-05 08:04:43","post_date_gmt":"2019-02-05 01:04:43","post_content":" \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Tahun Baru Imlek yang merupakan tradisi Bangsa Tiongkok kini sudah tak lagi menjadi hal yang asing bagi masyarakat Indonesia. Kehadirannya sudah mewarnai dan berakulturasi dengan tradisi lokal. Menjelang Tahun Baru Imlek. Berbagai hiasan dan kemeriahan terjadi beberapa titik di Tanah Air. Perayaannya juga menjadi destinasi baru yang mengasyikkan untuk dilihat dan patut disaksikan.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Berterimakasihlah kepada sang bapak bangsa, KH Abdurrahman Wahid atau yang dikenal dengan nama Gus Dur. Berkat kebijakannya saat menjadi Presiden Indonesia, Tahun Baru Imlek resmi dijadikan hari libur nasional dan dianggap sebagai salah satu hari raya di Tanah Air. Meski sentimen antitionghoa masih ada di sana-sini, tapi tetap tak bisa dipungkiri bahwa bangsa tionghoa sudah bersentuhan dengan budaya lokal dalam kurun waktu yang sangat panjang.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      DNA Bangsa Tionghoa yang memang merupakan pedagang menjadi pembuka kisah interaksi antara nenek moyang berbagai suku di Nusantara dengan mereka. Beberapa kelenteng-kelenteng yang tersebar pada berbagai pesisir daerah di Nusantara jadi buktinya. Pelabuhan-pelabuhan tua di tanah air dan ramainya perdagangan di pesisir mempermudah bangsa kita berhubungan dengan Bangsa Tionghoa.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Baca Juga: Wong Kalang dan Kota Gede<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa kehadiran Bangsa Tionghoa di Nusantara tak hanya sebagai pedagang, namun juga sebagai pekerja (bahkan hingga pekerja kasar). Benny Setiono, seorang sejarahwan menyebutkan bahwa antara tahun 1760-1770 dalam jumlah yang besar memasuki nusantara melalui Kalimantan Barat. Mereka bekerja sebagai kuli pertambangan di sana dan di kemudian hari membentuk sebuah republik bernama Republik Lanfang yang konon katanya menjadi republik pertama di Asia Tenggara.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Rombongan pekerja dari Tiongkok tak hanya masuk melalui Kalimantan, catatan sejarah menyebutkan bahwa banyak juga yang tersebar di Sumatera. Jika di Kalimantan mereka dipekerjakan sebagai kuli tambang, berbeda dengan di Sumatera yang dijadikan petani tembakau. Karl Pelzer dalam buku Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria menyebutkan bahwa awalnya ada 120 \u00a0buruh Tionghoa yang dipekerjakan.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Baca Juga: Imlek dan Indonesia<\/a><\/h2>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Jacobus Nienhuys seorang warga Belanda menjadi orang yang membawa 120 buruh Tionghoa tersebut untuk merawat usaha pertanian tembakaunya di daerah Deli. Sebelumnya ia mempekerjakan buruh asal Batak dan Melayu yang kemudian ia berhentikan mengingat kecakapan dalam bekerja. Berkat tangan-tangan buruh Tionghoa, bisnis Nienhuys kemudian sukses dan di kemudian hari tembakau Deli memiliki pamor di dunia.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Lonjakan imigrasi meningkat pada 1883 di mana diceritakan ada sekitar 21.000 buruh Tionghoa yang datang. Angka tersebut sempat naik pada 1890 meski pada akhirnya memasuki abad 20 ada regulasi yang memperketat urusan imigrasi itu. Pada 1930 angka buruh Tionghoa di perkebunan tembakau Deli merosot akibat depresi ekonomi. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Berpindah ke Pulau Jawa, muncul sosok asal Tionghoa yang disebut sebagai pemburu tembakau handal bernama Yap Kay Tjay. Dia hadir di tanah air untuk menelusuri bukit-bukit dan sawah di Jawa untuk mencari tembakau berkualitas mulai dari Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.<\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Baca Juga: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Nama Yap Kay Tjay yang notabene berasal dari Tiongkok tak bisa dipisahkan dari kemajuan tembakau di Indonesia yang kini sudah melegenda di dunia. Warisannya bagi dunia tembakau adalah toko tua bernama \u2018Mukti\u2019 yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang. Kabarnya, tempat tersebut menjadi toko tembakau tertua yang pernah ada di Indonesia. <\/p>\n \n\n \n

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Interaksi yang terjalin sudah begitu lama dengan Bangsa Tionghoa memang mewarnai dinamika perjalanan Indonesia. Bukan hanya perdagangan, sejarah pertembakauan di Indonesia juga ada andil dari Bangsa Tionghoa yang bisa disebut sebagai saudara dari masyarakat di nusantara. Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Gong Xi Fa Cai!
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n ","post_title":"Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tionghoa-dan-sejarah-pertembakauan-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-05 08:04:45","post_modified_gmt":"2019-02-05 01:04:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5409","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_3o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      \n
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      1. Pabrik Rokok