Rokok Tidak Ada Urusannya dengan Moral dan Akhlak

merokok tidak ada urusannya dengan moral dan akhlak

Banyak perokok resah dengan cara pandang masyarakat dan pemerintah yang sudah kelewat benci terhadap rokok dan perokok. Rokok kerap kali dianggap gerbang pembuka kemerosotan moral, menuju narkoba, pintu kemaksiatan, hingga pemanggil kematian. Lebih jauh lagi, orang yang merokok dicap tidak bermoral atau tidak punya akhlak, sehingga layak untuk dijauhi. Apalagi, jika yang merokok seorang perempuan.

Merokok adalah kegiatan menghisap tembakau lalu mengeluarkanya lagi sekedar untuk menikmati. Hal sederhana yang menciptakan lapangan pekerjaan sekaligus melestarikan budaya. Akan tetapi kenapa kegiatan merokok kerap diasosiakan menjadi urusan moral. Padahal dulunya rokok terkenal sebagai obat yang menyembuhkan penyakit asma, juga menjadi alat perlawanan melawan penjajah. Baik itu melawan orang Belanda, maupun melawan watak manusia yang feodal dan patriarki.

Merokok dianggap sebagai perilaku tak bermoral dan nir akhlak

Lalu, di masa kini, merokok berputar 180 derajat dianggap perilaku tak bermoral yang mengganggu kenyamanan sekaligus gerbang menuju kerusakan. Dari mana awal itu bermula? Jawabannya jelas. Tetapi kerap dianggap hanya sebatas konspirasi: merokok menjadi buruk karena narasi perang dagang dari industri farmasi yang berebut nikotin yang terkandung dalam rokok dan tembakau.

Sudah jelas, narasi itu lebih banyak lahir dari kepentingan politik dan bisnis daripada kepedulian sosial. Rokok diposisikan sebagai kambing hitam dari berbagai persoalan masyarakat: kemiskinan, kriminalitas, sampai kerusakan generasi. Padahal persoalan itu lahir dari system yang timpang, bukan dari rokok yang dihisap di warung kopi.

Merokok tidak membuat akhlak orang menjadi buruk

Merokok tidak pernah otomatis membuat seseorang menjadi buruk. Banyak petani, buruh, nelayan, seniman, guru, pemuka agama dan pekerja keras lain dan bahkan pengangguran pun yang merokok, tapi tetap hidup jujur, bertanggung jawab, dan bermartabat. Moral ditentukan oleh tindakanya kepada sesama, bukan oleh apakah ia merokok atau tidak. Toh, masih banyak juga pejabat yang tidak merokok, tapi tetap korupsi, kan?

Jika hari ini rokok terus diserang dengan berbagai narasi, dan bahkan dianggap sebagai ancaman. Maka yang perlu dipertanyakan bukan perokoknya, tapi ada kepentingan apa dibalik itu semua. Selain itu kita juga harus kritis melihat fenomena ini, siapa yang paling diuntungkan dari kampanye bodoh dan sesat menyesatkan ini. Karena dibalik kampanye narasi yang sesat menyesatkan itu ada industri besar yang menjual obat berhenti merokok dan pengganti rokok.

Rokok hari ini semakin masif diserang itu bukan karena kepedulian tentang moral atau kesehatan. Tapi karena pasar rokok mengganggu kepentingan pasar yang lebih besar. Sialnya, masyarakat kita menerima narasi-narasi tersebut tanpa berpikir lebih jauh. Masyarakat dibuat untuk selalu membenci rokok dan perokok. Hingga pada akhirnya, rokok lah yang selalu disudutkan setiap ada ketimpangan maupun masalah yang lain. Bahkan, memilih pasangan pun sampai ada kriteria: merokok atau tidak merokok.

Tidak ada yang Istimewa dari siapapun yang tidak merokok, sebab merokok atau tidak hanya sebuah pilihan. Dan merokok masih menjadi aktivitas legal yang dilindungi undang-undang.

Juru Bicara Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), Alfianaja Maulana Ardika

BACA JUGA: Sisitipsi, Rokok, dan Seni Menunda Zaman dalam Sejarah Musik Indonesia

Artikel Lain Posts

No Content Available

Paling Populer