Rokok adalah bagian dari budaya Indonesia. Khususnya rokok kretek, yang lahir dan berkembang di negara ini. Ia hanya ada di Indonesia, tidak ada di negara lain. Kretek sudah menjadi bagian sejarah, warisan budaya dan praktik sosial masyarakat Indonesia.
Daftar Isi
ToggleSelain itu, kretek juga bagian sokoguru ekonomi nasional yang menyerap jutaan tenaga kerja: petani, buruh tani, buruh pabrik dan di sektor distribusi, bisa dikatakan juga menenjadi tulang punggung penerimaan negara. Tahun 2025 saja, sampai bulan November, negara sudah menerima Rp198 triliun dari cukai rokok. Sudah sepantasnya kita menjaga industri kretek ini.
Industri Kretek jadi penyokong ekonomi, tapi berakhir tercekik
Selama ratusan tahun industri kretek menjadi penggerak ekonomi di hilir maupun daerah pertanian tembakau. Ratusan tahun itu pula kretek berdampingan dengan masyarakat hingga menjadi bagian budaya yang melekat. Bahkan dalam berbagai ritus dan tradisi adat, rokok seringkali sebagai elemen simbolik yang memiliki makna tersendiri. Sebab, jika tidak ada rokok dalam ritual adat dan tradisi, adat tersebut seperti kurang sakral atau kurang memiliki makna.Â
Pemerintah pernah punya wacana yang cukup bagus untuk melestarikan kretek, sebelum mencekiknya. Pada tahun 2015, muncul wacana kretek akan masuk dalam RUU Kebudayaan. Tapi ya begitulah akhirnya. Tidak ada keseriusan dalam mengawal kedaulatan bangsa. Pemerintah lebih takut dengan intervensi asing yang sarat akan kepentingan, daripada mengawal kedaulatan bangsanya sendiri.
Rokok kretek bukan hanya sekadar rokok tanpa filter
Lebih jauh lagi, kretek hari ini banyak terlupakan oleh generasi muda. Mereka hanya memahami kretek hanya sekadar rokok. Bahkan hanya memahami bahwa kretek sekedar rokok tanpa filter. Padahal jauh lebih dari itu.Â
Yang lebih mengerikan justru antirokok yang benar-benar mencari celah untuk menyerang industri hasil tembakau (IHT) yang tak pernah lepas dari isu kesehatan. Mereka selalu mendukung setiap penelitian yang membuat orang untuk berhenti merokok, meskipun itu lemah atau tidak jelas. Berbeda dengan soal penelitian yang berisi soal manfaat rokok. Pasti akan dianggap dongeng semata atau propaganda dari industri rokok. Bahkan akan sulit di akses atau akan di bantah oleh kalangan kesehatan.
Semua lini diserang yang berkaitan dengan rokok, bahkan sampai ke perokoknya. Seringkali perokok ditakut-takuti dengan propaganda anti rokok yang bertopeng kesehatan. Seperti misal yang sudah banyak terlihat pada setiap bungkus rokok atau pada iklan rokok. Tidak hanya berhenti pada di isu kesehatan. Bahkan sampai jauh ke arah ekonomi. Rokok sering dituding biang kemiskinan. Orang-orang lebih memilih beli rokok daripada beli makan atau yang lain. Padahal beli rokok adalah hak dan itu membantu perekonomian warga kecil.Â
Perokok tidak bermoral: cacat logika antirokok
Salah satu di antara yang tidak masuk akal, ada yang jauh tidak masuk akal. Bagaimana bisa masuk akal rokok dikaitkan dengan moral. Perokok tidak bermoral. Padahal sama sekali tidak berhubungan, rokok ya rokok moral ya moral. Banyak juga yang tidak merokok dan tidak bermoral. Koruptor kebanyakan tidak merokok. Sekali lagi rokok dan moral tidak ada hubunganya.
Itu semua adalah bagian dari upaya penghancuran industri kretek. Kita harus menyadari bahwa kretek adalah bagian budaya dan simbol kemandirian bangsa. Yang terpenting adalah tidak termakan oleh propaganda-propaganda yang tidak jelas yang di buat oleh antirokok dan pihak asing. Kepentingan mereka adalah soal bisnis dan ekonomi. Maka dari itu kita sedang berperang untuk menjaga simbol kemandirian bangsa dan kedaulatan bangsa. Kretek juga sebagai warisan budaya yang harus terus tumbuh.
Juru Bicara Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), Alfinaja Maulana Ardika









