Jejak Tradisi di Negeri Tembakau Temanggung: Dari Sadranan hingga Tingwe

sadranan di temanggung

Sejak pagi pukul 07.00 WIB, ratusan warga Dusun Pete, Desa Kembangsari, Kecamatan Kandangan, Kabupaten Temanggung, berkumpul di pertigaan masjid dusun, Jumat, 23/1/2026. Mereka bersiap mengikuti prosesi sadranan di makam Mbah Kiai Kramat yang terletak di atas bukit, tepat di tengah permukiman warga.

Pada pukul 08.30 WIB, kirab warga bergerak perlahan menuju makam Mbah Kiai. Dalam barisan kirab itu, ada satu buah tumpeng berukuran besa dan gunungan hasil bumi. Ada juga sebuah kotak kayu berisi pusaka Dusun Pete yang dipanggul oleh empat lelaki, beriringan berada di barisan depan.

Di bagian belakang, 94 ekor kambing digiring menyusuri jalan kampung. Kambing-kambing itulah yang nantinya disembelih sebagai sedekah warga yang nazarnya terkabul, lalu dimasak dan dimakan bersama usai salat Jumat.

Tradisi di Negeri Tembakau

Temanggung dijuluki sebagai Negeri Tembakau. Julukan itu lahir bukan hanya diambil dari luasnya ladang tembakau di lereng gunung Sindoro dan Sumbing, tetapi juga dari cara tembakau menyatu dengan kehidupan sosial dan kebudayaan warganya. Bagi petani Temanggung, tembakau bukan sekadar tanaman, melainkan penanda musim, sumber penghidupan, sekaligus pengikat relasi sosial.

Berbagai tradisi hidup di tengah masyarakat petani tembakau Temanggung. Dari tradisi Among Tebal wiwitan tandur, wiwitan panen, sedekah bumi, Merti Desa, Merti Kalen, hingga nyadran pada bulan suro, dan sadranan pada bulan Ruwah menjelang Ramadan. Dalam tradisi-tradisi itu, tembakau selalu hadir baik sebagai hasil bumi, sebagai rokok linting yang diisap bersama maupun sebagai medium berbagi antarwarga.

Tembakau tingwe sendiri menjadi bagian tak terpisahkan dari ritus sosial tersebut. Ia hadir secara sederhana, tanpa seremoni, namun justru di situlah kekuatannya. Sehingga tembakau benar-benar menjadi bagian dari kehidupan nyata warga Temanggung, dan bukan hanya sebagai hiasan simbolik semata.

Sadranan Dusun Pete Temanggung

Sadranan di Dusun Pete menjadi contoh bagaimana tradisi lokal tumbuh dan bertahan di Temanggung. Berbeda dengan sadranan di tempat lain yang identik dengan tenongan berisi nasi, ingkung, dan tumpeng. Warga Dusun Pete membawa kambing yang akan disembelih sebagai bentuk sedekah pada ritual sadranan.

Ba’da Subuh, Jumat, 23/1/2026, saya berangkat dari Jogja menuju Dusun Pete untuk melihat prosesi sadranan. Pada pukul 06.30 WIB saya sudah berada tepat di pertigaan masjid Dusun Pete. Titik kumpul warga menjelang kirab menuju makam Mbah Kiai Kramat.

Untuk mengetahui lebih jauh hubungan sosial warga terhadap tradisi ini, saya menuju rumah Kepala Dusun Pete, yang lokasinya tidak jauh dari lokasi saya memarkir sepeda motor, dekat masjid.

Arif Fatoni menjadi Kepala Dusun sejak berusia 24 tahun, tepatnya tahun 2002. Usianya saat ini 44 tahun. Di rumahnya, saya disuguhi kopi robusta hasil panennya, juga seplastik tembakau dari lereng Sindoro, dan seplastik kecil cengkeh rajangan sebagai campuran tingwe. Arif Fatoni, menjelaskan bahwa pada sadranan tahun ini, tercatat 94 ekor kambing yang disedekahkan warga yang bernazar.

Kambing yang akan disembelih dikirab warga menuju makam Mbah Kiai Kramat. (Foto: BM/Eko Susanto)
Kambing yang akan disembelih dikirab warga menuju makam Mbah Kiai Kramat. (Foto: BM/Eko Susanto)

 

Kambing-kambing tersebut, lanjut Arif, tidak hanya berasal dari warga yang nazarnya terkabul, tetapi juga dari mereka yang merasa mendapat rezeki lebih dan ingin berbagi.

Dusun Pete saat ini dihuni oleh 265 kepala keluarga. Secara ekonomi, mayoritas warganya berprofesi sebagai petani kopi. Karena jika mereka memaksa bertani tembakau, kualitasnya tentu akan kalah jauh jika dibandingkan dengan petani yang tinggal di lereng gunung Sindoro maupun Sumbing yang tanahnya memang paling bagus untuk tanaman tembakau. Namun dalam keseharian warga Dusun Pete, tembakau tetap hadir sebagai bagian tak terpisahkan dari hidup mereka.

“Petani kopi, tapi rokoknya tetap mbako tingwe,” ujar Fatoni sambil tertawa.

Tingwe sebagai Perekat Sosial di Temanggung

Lebih lanjut Arif Fatoni menjelaskan, bagi para lelaki dewasa dan pemuda Dusun Pete, tembakau rajangan dari lereng Sindoro dan Sumbing adalah kawan setia sehari-hari. Saat sadranan seperti saat ini, tembakau dilinting di sela-sela aktivitas sadranan; menjelang kirab, saat menunggu kambing disembelih, saat memasak daging bersama, atau saat duduk melingkar menjelang kenduri, dan selepas kenduri.

Pemuda warga Dusun Pete menikmati tembakau tingwe menjelang kirab sadranan di Dusun Pete, Jumat, 23/1/2026. (Foto: BM/Eko Susanto)
Pemuda warga Dusun Pete menikmati tembakau tingwe menjelang kirab sadranan di Dusun Pete, Jumat, 23/1/2026. (Foto: BM/Eko Susanto)

 

Lintingan tembakau menjadi pembuka percakapan dan penanda kebersamaan. Dalam hal ini, tembakau berfungsi sebagai perekat sosial, menghapus sekat usia, status ekonomi, dan latar belakang.

Kopi dan Tembakau, Dua Wajah Kehidupan

Sejak dulu saat Arif Fatoni masih kecil hingga saat ini, kopi dan tembakau selalu berdampingan di Dusun Pete. Kopi menjadi sandaran ekonomi jangka panjang, sementara tembakau hadir sebagai penopang kultural sehari-hari. Keduanya tidak saling menegasikan, namun justru membentuk keseimbangan hidup antarwarga.

Dalam sadranan di Dusun Pete, saya melihat relasi itu sangat nyata. Para petani kopi yang bergotong royong memasak daging kambing, atau saat duduk bersila usai kenduri, hampir selalu ditemani asap tingwe yang mengepul dengan aroma khas.

Sadranan Dusun Pete memperlihatkan bahwa tembakau di Temanggung bukan sekadar komoditas pertanian atau angka produksi. Ia hidup dalam tradisi, dalam ritus syukur, dan dalam laku sehari-hari masyarakatnya. Tembakau menjadi saksi bagaimana warga bernazar, bersedekah, dan merawat hubungan dengan leluhur.

Tembakau Temanggung sebagai Identitas Budaya

Di negeri tembakau ini, tembakau tidak diperlakukan sebagai benda asing yang harus dijauhkan dari ruang sosial. Sebaliknya, ia diterima sebagai bagian dari kehidupan, menyatu dengan doa, kerja, dan kebersamaan.

Maka, julukan Negeri Tembakau menemukan maknanya yang paling nyata di sini, di Dusun Pete. Negeri Tembakau bukan hanya slogan, atau sekadar pajangan baliho di sudut sudut kota, melainkan di Dusun Pete, dan dusun-dusun lainnya seperti Dusun Cepit, Dusun Lamuklegok, serta Dusun-dusun yang ada di Kecamatan Bansari, hingga Dusun-dusun di lereng Sumbing dan Sindoro, tempat di mana tembakau hidup di tangan petani. Karena di dusun yang jauh dari lereng gunung Sindoro, dan Sumbing, tembakau dilinting dengan cara sederhana, dan selalu hadir dalam tradisi yang terus dirawat lintas generasi hingga saat ini.

Di Dusun-dusun pelosok yang jauh dari tanah pertanian tembakau inilah julukan Negeri Tembakau menemukan maknanya yang paling jujur. Ia bukan hanya sekadar penyuplai pabrikan rokok besar, atau hanya sekadar kebanggaan daerah saja, namun kehadirannya sudah merasuk dalam ruang spiritualitas tradisi, ritus, dan keseharian warga. Sadranan Dusun Pete memperlihatkan bahwa tembakau hidup berdampingan dengan nilai spiritual, gotong royong, dan penghormatan pada leluhur.

Tembakau tidak hanya hadir secara simbolik dalam ritual, namun mengalir secara alami dalam praktik hidup warganya. Dari lintingan sederhana di tangan petani kopi, hingga perbincangan panjang usai kenduri, tembakau menjadi saksi sekaligus pengikat hubungan antarwarga.

Maka, ketika Temanggung disebut sebagai Negeri Tembakau, yang dimaksud bukan hanya ladang-ladang hijau di lereng gunung Sindoro, dan Sumbing, tetapi juga manusia-manusia yang hidup, berdoa, bernazar, dan merawat tradisi dengan tembakau sebagai bagian dari keseharian mereka. (ES)

Penulis: Eko Susanto

BACA JUGA: Motor Tua Teman Petani Legoksari Temanggung Lewati Jalan Terjal Menuju Ladang

 

Artikel Lain