PERTANIAN

Di Tempat Khusus Merokok, Tak Ada Batasan Negara, Kelas Sosial, Suku, Agama, Ras, atau Gender

Menurutnya, di tempat khusus merokok itu tak memiliki batasan-batasan negara, kelas sosial, suku, agama, ras, gender dan sebagainya. Di tempat itu, semua setara dan sama. Sama-sama mengisap rokok.

[dropcap]A[/dropcap]khir tahun lalu, saya berkesempatan menghadiri satu hajat besar pertemuan regional International Labour Organization (ILO) tingkat Asia-Pasifik, di Bali. Sekitar 400 orang dari 35 negara hadir sebagai delegasi dalam konferensi yang berfokus pada strategi untuk menciptakan lapangan kerja dan mempromosikan kesetaraan dan kerja yang layak.

Delegasi yang hadir dari tiap negara mewakili unsur pekerja, pengusaha dan pemerintah. Dalam istilah perburuhannya disebut tripartit. Saya sendiri hadir bukan mewakili salah satu unsur dari tripartit tersebut, kebetulan saja saya dan beberapa kawan mengelola portal berita perburuhan, kabarburuh.com, sehingga saya hadir sebagai media yang meliput selama empat hari gelaran forum itu.

Karena bukan delegasi atau anggota ILO, maka biaya transportasi dan akomodasi di acara itu terpaksa harus ditanggung sendiri. Namun karena niat ingin mengikuti konferensi yang rutin digelar empat tahun sekali, dan aji mumpung Indonesia menjadi tuan rumahnya, tak ada masalah beberapa juta harus keluar dari dompet sendiri.

Ini kali pertama saya mengikuti konferensi internasional, semangat menggebu ketika masuk ke Nusa Dua Conference Center (NDCC), registrasi untuk mendapatkan ID card. Sedikit deg-degan sebenarnya karena KTP saya sudah tak aktif lagi dan belum diperpanjang, takut ditolak oleh panitia karena dianggap identitas saya tak berlaku.

Agenda pertama adalah group meeting dari setiap unsur tripartit. Sial, group meeting tersebut tak boleh diliput oleh awak media, khusus hanya untuk delegasi saja. Alhasil, saya hanya muter-muter saja di lokasi acara, ke toilet, ke media center, dan tentu ke tempat kopi dan camilan dihidangkan. Ambil kopi dan beberapa kue, lalu menuju tempat khusus merokok di beranda NDCC.

Teryata di sana sudah ada seorang ahli isap yang sedang menikmati kretek filternya, saya sapa dia dengan senyuman dan sedikit mengangkat alis mata. Lalu mulailah basa-basi bicara. Ia adalah delegasi unsur pemerintah dari Timor Leste. Rokok kretek filternya hasil produksi Indonesia, di sana belum ada pabrik rokok katanya.

Selang berapa lama, sidang pleno pertama dibuka oleh Menteri Ketenagakerjaan Republik Indonesia, Hanif Dhakiri. Satu berita saya tuliskan soal pembukaan sidang pleno yang itu. Sampai tiba usai makan siang, beranda NDCC di sebelah kanan dan kiri yang menjadi tempat khusus merokok telah penuh dengan banyak orang.

Siang itu saya kembali berbasa-basi, dengan seorang yang bekerja di sebuah lembaga swadaya masyarakat di Belgia. Sekadar basa-basi, tak sempat bicara serius soal sidang ILO tadi karena beberapa pimpinan dari serikat buruh di Indonesia juga memenuhi tempat khusus merokok itu. Saya alihkan perhatian untuk menyapa mereka, dan kembali berbasa-basi.

Saya teringat ucapan dari seorang teman dekat yang satu bulan sebelumnya pergi ke Bangkok untuk menghadiri pertemuan internasional komunitas Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender (LGBT). Menurutnya, di tempat khusus merokok itu tak memiliki batasan-batasan negara, kelas sosial, suku, agama, ras, gender dan sebagainya. Di tempat itu, semua setara dan sama. Sama-sama mengisap rokok. Bahkan kerap kali keakraban muncul di tempat itu. Di tempat itulah kemudian ia mendapatkan teman baru dari Kolombia.

Setiap hari selama konferensi ILO itu berlangsung, tempat khusus merokok adalah tempat kedua yang paling sering saya singgahi, setelah media center sebagai tempat bekerja. Sebelum waktunya coffee break saya sudah ada di sana, setelah makan juga buru-buruh ke sana, biar dapat duduk di tempat itu.

Mungkin saking seringnya ada di tempat khusus merokok, seorang bule, sepertinya salah satu delegasi undangan dari Eropa, sempat menyapa saya dan kawan saya seorang pimpinan serikat buruh yang sedang santai di tempat khusus merokok. “Sepertinya saya selalu melihat kalian duduk di tempat ini. Setiap kali saya ke sini, kalian pasti sudah duduk di sini,” ujarnya sembari meminjam korek api.

Kami berdua hanya tertawa kecil, sembari saya berikan korek api. Tak dikantonginya korek api saya, walau mungkin korek apinya telah berpindah ke kantong orang lain sehingga meminjam korek saya. Ia sendiri juga selalu absen di tempat khusus merokok itu. Dibakar rokok putihnya, sambil melihat telepon selulernya, disrutup kopinya, dan tak sampai habis rokoknya ia sudah matikan dan kembali ke ruangan rapat.

Di lain kesempatan, saya duduk di sana bersama dengan wartawan-wartawan lain yang meliput gelaran acara itu. Pagi saat group meeting berlangsung, beberapa staf media dari Kementerian Ketenagakerjaan juga bergerombol menikmati setiap isapan kreteknya. Jika Menaker datang, buru-buru mereka masuk dan mengawal pimpinannya. Kadang kala saya berusaha menahan mereka untuk tak segera masuk tempat acara. “Udah sini aja, tar juga dia (Menaker) nongkrong ngerokok bareng di sini sama kita,” kata saya bercanda.

Benar memang, keakraban muncul di tempat khusus merokok. Mungkin karena sering bersua dan berbasa-basi, hingga akhirnya menjadi saling mengenal. Kadang kala gelak tawa lepas begitu saja tanpa batasan dan rasa sungkan, kadang kala pembicaraan serius hasil sidang-sidang konferensi juga masih terbawa di tempat itu, walau kadang kala juga diam saja tak peduli dengan orang lain karena asik menikmati lintingan tembakau.

Empat hari berlangsungnya konferensi menghasilkan dokumen bersama tentang “Kerja Layak” yang entah akan dijalankan dengan baik atau tidak oleh setiap negara. Sementara forum yang terjadi di tempat khusus merokok juga menghasilkan kesepakatan tak tertulis. Kesepakatan bahwa di tempat khusus merokok, kita tak akan memandang batasan-batasan negara, kelas sosial, suku, agama, ras, gender dan sebagainya.

Bijak Berkomentar Tanda Kretekus Santun
mm
Mantan Sekjend Komunitas Kretek. Saat ini aktif di Komite Nasional Pelestarian Kretek dan juru kunci portal Kabar Buruh.

Leave a Reply

More in:PERTANIAN