Saya Bangga Menjadi Rakyat Temanggung, Juga Benci Terhadap Antirokok yang “Membunuh” Komoditas Kami!

temanggung negeri tembakau yang dibunuh oleh antirokok

Temanggung buat saya adalah kota yang sangat indah. Meskipun banyak kawan-kawan saya yang main ke sini atau merantau keluar daerah lalu pulang dan bilang kalau kota ini kecil, sepi, dan kesannya ketinggalan zaman dibanding kota besar, saya tetap tidak setuju. Bagi saya, Temanggung itu penuh dengan kenangan yang tidak bisa dibeli. Saya adalah putra daerah yang lahir dan besar di sini.

Mungkin karena saya sudah menghabiskan waktu selama 21 tahun tumbuh di sini, makanya saya punya rasa bangga yang besar sama kota ini. Setiap kali dengar nama Temanggung, pikiran saya langsung penuh dengan memori masa kecil sampai sekarang.

Temanggung negeri tembakau

Temanggung punya sesuatu yang jadi kebanggaan semua warganya. Selain kopi yang memang enak, ya jelas primadonanya adalah tembakau. Sudah ratusan tahun tembakau menyatu dengan kehidupan masyarakat di sini. Tanaman yang punya nama latin Nicotiana tabacum ini bukan cuma tanaman biasa, tapi sudah jadi bagian yang sulit dipisahkan dari warga Temanggung. Dari orang tua sampai anak muda, semua tahu betapa pentingnya tumbuhan ini.

Tembakau sudah jadi identitas buat kami. Karena itulah Temanggung dikenal orang dengan sebutan “Negeri Tembakau“. Tanaman inilah yang sebenarnya membuat kota kecil ini jadi terkenal di seluruh Nusantara. Pengalaman saya sendiri, setiap kali saya pergi ke luar kota, ke Jakarta atau Semarang misalnya, dan bertemu orang. Mereka bertanya pada saya, “asalnya dari mana?”.

Begitu saya jawab, “Saya dari Temanggung, Pak,” mereka langsung menyahut, “Oh, yang daerah sentra tembakau itu ya?”

Di saat itulah saya jawab dengan bangga, “Iya Pak, betul sekali.”

Ada rasa puas tersendiri ketika kota kecil saya dikenali karena potensinya yang besar. Ada rasa haru sekaligus bangga karena kota kecil saya dikenal di seluruh pelosok Nusantara berkat Emas Hijau yang dihasilkan dari tanahnya yang subur. Tembakau telah meletakkan Temanggung di peta kehormatan industri hasil tembakau nasional.

Narasi antirokok yang membuat Temanggung makin terpuruk

Tapi sayangnya, satu dekade terakhir ini kondisinya tidak sehebat dulu lagi. Semenjak banyak sekali kampanye buruk tentang rokok, citra tembakau perlahan-lahan ikut dibuat buruk. Padahal bagi kami di sini, tembakau adalah warisan budaya dan sumber ekonomi utama. Kampanye-kampanye negatif ini dampaknya terasa langsung ke petani. Harga tembakau sering turun drastis dan tidak menentu. Kami yang tinggal di sini merasa kalau tembakau seperti dipojokkan, padahal kontribusinya buat negara juga tidak sedikit.

Sebagai anak muda yang besar di lingkungan petani tembakau, saya merasa sedih melihat kondisi ini. Tembakau yang harusnya jadi kebanggaan malah terus-menerus diserang dengan narasi yang tidak adil. Identitas Negeri Tembakau ini seperti sedang dihapus pelan-pelan lewat kebijakan dan opini publik yang buruk. Padahal, kalau kita bicara jujur, banyak orang bisa sekolah dan sukses ya karena hasil dari tanah Temanggung ini.

Saya berharap Temanggung tetap bisa mempertahankan jati dirinya. Walaupun zaman berubah dan banyak tekanan dari luar, saya ingin kota ini tetap dikenal sebagai penghasil tembakau terbaik. Saya bangga jadi orang Temanggung, dan saya akan selalu bangga dengan setiap kepul asap yang membawa kesejahteraan buat warga di lereng Sumbing dan Sindoro. Kota ini mungkin kecil bagi orang lain, tapi bagi saya, Temanggung adalah segalanya. Semoga hari ini dan hari hari yang akan datang tembakau tetap menjadi kebanggaan warga Temanggung.

Juru Bicara Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), Alfianaja Maulana Ardika

BACA JUGA: Jejak Tradisi di Negeri Tembakau Temanggung: Dari Sadranan hingga Tingwe

 

 

Artikel Lain