Hari Kartini Dan Perempuan Merokok

hari kartini dan perempuan merokok

Raden Ajeng Kartini adalah figur yang luar biasa, namun setiap tanggal 21 April, kita terjebak dalam ritual tahunan yang dangkal. Parade kebaya sering kali menjadi alat reduksi yang menyederhanakan esensi perjuangannya. Kartini dirayakan seolah-olah ia hanya ingin perempuan bisa baca-tulis atau sekadar tampil anggun. Padahal, inti dari pemikiran Kartini adalah kemerdekaan: hak untuk berpikir secara mandiri, hak untuk memilih jalan hidup, dan yang paling fundamental, hak untuk berdaulat atas dirinya sendiri.

Namun, di era hari ini, kedaulatan itu rupanya masih menjadi barang mewah. Salah satu bukti paling nyata dari kemunafikan sosial kita adalah bagaimana cara kita memandang perempuan yang merokok.

Standar Ganda 

Ada standar ganda yang sangat cacat di tengah masyarakat. Ketika laki-laki merokok, ia dianggap melakukan hal yang lumrah mencari inspirasi, melepas penat, atau sekadar berinteraksi sosial. Tidak ada beban moral yang ditempelkan padanya.

Namun, begitu seorang perempuan menyalakan sebatang rokok, mata masyarakat mendadak berubah menjadi polisi moral. Muncul pelabelan perempuan nakal, tidak benar, atau perusak martabat. Ini adalah sesat pikir. Jika rokok dikritik atas dasar kesehatan, maka kritik itu harus berlaku adil untuk semua gender tanpa kecuali. Tapi jika hujatan itu hanya ditujukan kepada perempuan, jelas motifnya bukan soal kesehatan, melainkan syahwat untuk mengontrol tubuh orang lain melalui stigma.

Hari Kartini Berarti Merayakan Kedaulatan Tubuh

Emansipasi bukan sekadar urusan akses pendidikan formal. Emansipasi adalah pengakuan bahwa perempuan adalah subjek, bukan objek yang harus terus-menerus diatur agar sesuai dengan standar moralitas publik.

Kedaulatan atas tubuh berarti seorang perempuan memiliki kuasa penuh untuk menentukan apa yang masuk ke dalam dirinya, baik itu ilmu pengetahuan, nutrisi, maupun lintingan tembakau. Membela hak perempuan merokok bukan berarti mengajak semua perempuan untuk merokok, melainkan membela hak untuk memilih tanpa intimidasi. Jika seorang perempuan tidak memiliki otoritas atas dirinya sendiri, maka jargon kebebasan yang kita teriakkan setiap Hari Kartini hanyalah omong kosong.

Kretek adalah Warisan

Ironisnya, banyak orang menghakimi perempuan merokok dengan dalih menjaga budaya atau menuduhnya terpapar pengaruh Barat. Ini adalah bentuk buta sejarah. Rekam jejak kita mencatat bahwa nenek moyang perempuan di berbagai pelosok nusantara sudah sejak lama akrab dengan tembakau, baik melalui lintingan maupun tradisi menginang.

Merokok, khususnya kretek tangan yang sarat akan nilai sejarah dan kebudayaan, adalah bagian dari identitas lokal kita. Menstigma perempuan yang menikmati rokok bukan hanya bentuk diskriminasi gender, tapi juga bentuk penjajahan baru terhadap hak individu dan pengingkaran terhadap realita tradisi kita sendiri.

Jangan jadi juru Moral

Seorang perempuan yang merokok tidak sedang meruntuhkan moralitas bangsa. Yang sebenarnya meruntuhkan moralitas justru adalah pikiran yang gemar menghakimi integritas seseorang hanya dari apa yang terlihat di permukaan.

Menjadi perokok yang santun, tahu tempat, dan menghargai ruang publik adalah kewajiban etis bagi semua gender. Namun, memosisikan diri sebagai hakim moral bagi pilihan konsumsi perempuan adalah sebuah ketololan intelektual.

Sudah saatnya kita berhenti mendikte bagaimana perempuan harus berperilaku agar dianggap layak. Cara terbaik menghormati Kartini adalah dengan membiarkan perempuan merdeka dengan pilihannya, berdaulat atas tubuhnya, dan bertindak atas dirinya sendiri, tanpa perlu meminta izin dari prasangka kalian yang sempit.

Juru Bicara Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), Alfianaja Maulana Ardika

BACA JUGA: Perempuan Merokok Selalu Dianggap Tabu, Padahal Perempuan Merokok itu Bukti Perlawanan Terhadap Budaya Patriarkis

Artikel Lain