Perempuan merokok masih sering mendapat stigma yang buruk dari masyarakat. Memang diakui atau tidak masyarakat kita masih sangat kental dengan budaya patriarki. Buktinya, ya, soal perempuan merokok itu tadi. Seperti ada garis pembatas yang cukup tegas antara yang boleh dilakukan laki-laki dan tidak boleh dilakukan perempuan.
Daftar Isi
ToggleSoal perempuan merokok: rokok tidak mengenal gender
Sialnya, aturan atau pembatas ini seringkali tidak adil. Sesuatu aktivitas yang dianggap dilakukan laki-laki biasa saja tapi tidak pantas ketika dilakukan oleh seorang perempuan. Salah satu contohnya: merokok. Padahal, rokok tidak mengenal gender atau jenis kelamin. Semua boleh dan sah untuk menikmati rokok. Karena merokok itu pilihan. Baik laki-laki maupun perempuan.
Sayangnya, di mata masyarakat kita, jika yang merokok itu seorang laki-laki akan dianggap biasa saja. Tapi, jika yang merokok adalah seorang perempuan pasti akan dicap dengan stigma negatif, dianggap tabu. Seperti perempuan nakal, perempuan tidak baik dan stigma buruk lainya. Pelabelan ini sebenarnya hanya untuk memojokkan perempuan tanpa memberinya kesempatan untuk menjelaskan pilihanya. Perempuan yang merokok dianggap sedang melanggar norma sosial.
Isu kesehatan sering dipakai untuk melabeli negatif merokok
Stigma buruk terhadap perempuan merokok juga sering ditumpangi dengan isu kesehatan. Sering digunakan untuk menakut-nakuti kaum hawa yang merokok. Narasi yang digunakan seperti rokok dapat menyebabkan kemandulan, merusak rahim hingga menopous dini. Menariknya adalah narasi ini menyerang perempuan saja. Yang diserang adalah sistem reproduksi perempuan. Lucu memang. Kalau dipikir, seolah-olah tubuh perempuan hanya aset untuk menghasilkan keturunan.
Namun, klaim ini seringkali tidak sesuai dengan realitas dilapangan. Di banyak desa, terutama daerah pelosok atau pegunungan, masih banyak nenek-nenek yang dengan santainya mengisap rokok. Dan mereka tetap sehat hingga usia 70-80 tahunan. Bagi generasi mereka dan pada masanya, mungkin merokok adalah aktivitas yang biasa saja atau bagian dari budaya yang biasa dilakukan dan tanpa beban stigma negatif.
Standar moral terhadap perempuan merokok
Ironisnya, sekarang banyak organisasi mahasiswa atau aktivis perempuan yang sering menyuarakan kesetaraan, namun justru malah jarang melirik isu stigma negatif terhadap perempuan merokok. Malah kadang justru mereka turut mengamini hal itu. Beberapa lembaga atau organisasi mahasiswa yang bergerak di isu perempuan malah justru terjebak dalam kampanye atnti rokok atau anti tembakau yang menempatkan perempuan hanya sebagai objek yang tidak berdaya. Mereka sering abai terhadap pelabelan negatif perempuan yang merokok.
Pelabelan negatif tersebut bisa dibilang merupakan bagian dari pembunuhan karakter perempuan, membatasi ruang ekspresi perempuan dan tentunya dominasi laki-laki dalam menentukan standar moral dalam ruang publik. Bukanya ikut membela pilihan perempuan tapi malah justru ikut memojokkan perempuan yang merokok.
Lebih parah lagi bukannya membela kedaulatan perempuan, tapi malah hanya kampanye soal perempuan yang terdampak asap rokok, yang justru malah menempatkan perempuan pada posisi lemah atau sebagai objek yang tidak berdaya. Mungkin mereka lupa bahwa perempuan merokok mendapat stigma negatif adalah hasil dari budaya patriarki yang sudah mengakar. Buat organisasi yang aktif di isu keperempuanan, sekali lagi merokok adalah aktivitas legal yang dilindungi undang-undang. Dan rokok merokok tidak mengenal gender.
Perempuan yang merokok adalah bentuk perlawanan terhadap budaya patriarki
Sebagai bentuk perlawan terhadap budaya patriarki, merokok bagi banyak perempuan telah menjadi simbol bagian perlawanan terhadap tatanan sosial yang tidak adil. Perlawanan ini sebenarya sudah ada sejak lama, seperti dalam kisah Rara Mendhut. Beliau menggunakan rokok untuk melawan tirani Tumenggung Wiraguna yang ingin menjadikannya selir. Dan juga untuk mempertahankan kedaulatan atas tubuhnya.
Dengan tetap mengisap rokok, mungkin perempuan sedang melawan budaya patriarki dan menuntut hak yang sama sebagai manusia merdeka. Kedaulatan atas pilihan untuk merokok atau tidak adalah pilihan pribadi. Pilihan yang sakral yang tidak boleh dikurung oleh mitos kesehatan yang bias atau tidak jelas.
Untuk organisasi yang katanya aktif dalam isu perempuan, jangan hanya berhenti pada isu-isu sosial yang masih dianggap aman. Bersuaralah untuk membela perempuan yang memilih untuk berdaulat atas dirinya sendiri. Tentu saya tidak mengajak perempuan untuk merokok. Tapi, saya mendukung perempuan yang sudah memiliki pilihan untuk merokok.
Juru Bicara Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), Alfianaja Maulana Ardika
BACA JUGA: Perempuan Merokok Dan Stigma Yang Tidak Adil










