Kisah unik ini bermula dari sebuah kunjungan politik yang krusial. Saat itu, tim pendahulu (advance) dari PDI Perjuangan yang terdiri dari Bambang Pacul, Said Abdullah, dan Utut Adianto datang menyambangi kediaman Prabowo Subianto untuk mempersiapkan rencana kedatangan Puan Maharani.
Daftar Isi
ToggleDi kediaman Prabowo, perhatian semua orang tertuju pada sebuah pendopo yang berdiri megah. Secara estetik, antropologis, dan simbolis, pendopo tersebut memiliki nilai arsitektur yang sangat indah.
Mengetahui Bambang Pacul adalah sosok yang sangat memahami seluk-beluk kebudayaan Jawa, Prabowo pun membuka obrolan dengan bertanya mengenai makna dan filosofi di balik bangunan pendopo tersebut.
Filosofi Pendopo Jawa yang Dijelaskan Bambang Pacul
Mendapat pertanyaan itu, Bambang Pacul langsung menjabarkan penjelasan mendalam tentang filosofi Jawa yang terkandung dalam struktur bangunan tersebut.
Penjelasannya begitu memikat dan sarat makna hingga membuat Prabowo terkesan. Sang Jenderal yang penasaran bahkan terus mendesak dengan pertanyaan: “Apa lagi, apa lagi?”
Melihat antusiasme Prabowo yang sedang memuncak, Bambang Pacul merasa ini adalah momentum yang tepat untuk melakukan sebuah “kegilaan”.
Ia berniat mengajukan sebuah permintaan yang sebenarnya sangat tabu di lingkungan kediaman Prabowo, sebuah wilayah yang terkenal memiliki protokol ketat, steril, dan nyaris tidak ada satu orang pun yang berani merokok di sana.
Momen Bambang Pacul Minta Izin Merokok di Kediaman Prabowo
Dengan gaya bicaranya yang lugas, Pacul berkata kepada Prabowo: “Jenderal, kalau di PDI kalau ditanya kayak begini, kalau enggak ngerokok enggak bisa. Kalau ngerokok pikiran bisa ke mana-mana.”
Mendengar permintaan tak terduga itu, suasana sempat terasa tegang. Namun, alih-alih tersinggung atau marah, respons Prabowo justru di luar dugaan. Beliau langsung menoleh dan memerintahkan stafnya untuk mengambilkan asbak khusus bagi Bambang Pacul.
Bagi orang-orang yang berada di sana, kejadian ini dianggap sebagai peristiwa luar biasa yang meruntuhkan “mitos” ketatnya protokoler teritorial Prabowo.
Filosofi Ilmu Keluar dan Kebiasaan Merokok Ala Bambang Pacul
Bambang Pacul sendiri memiliki prinsip personal yang disebutnya sebagai filosofi “Ilmu Keluar”. Bagi dirinya dan orang-orang yang memiliki tingkat kepercayaan diri tinggi, berbicara sambil merokok adalah pemantik fokus.
Saat asap mengepul, barulah seluruh ilmu dan gagasan terbaik di dalam kepala bisa keluar semua. Di kemudian hari, Pacul mengakui bahwa keberaniannya itu muncul karena faktor psikologis “beda geng”.
“Saya berani karena saya bukan bawahan Pak Prabowo. Saya merasa bisa sedikit ‘nakal’ karena posisi saya tidak bisa dipecat oleh beliau,” begitu ungkapnya.
Mengapa Orang Ring 1 Gerindra Tetap Tidak Berani Merokok?
Hal inilah yang membedakannya dengan orang-orang di Ring 1 Gerindra. Menariknya, meskipun Bambang Pacul sudah mendapatkan otorisasi resmi untuk merokok, orang-orang di lingkaran dalam Gerindra tetap tidak ada yang berani ikut menyalakan rokok di dekat Prabowo.
Baru setelah suasana benar-benar cair, beberapa orang lainnya mulai memberanikan diri untuk merokok. Itu pun tetap dengan menjaga jarak aman.
Juru Bicara Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), Alfianaja Maulana Ardika
BACA JUGA: Prabowo Subianto: Misi Ekonomi Kerakyatan dan Sikapnya Terhadap Rokok





