Rokok Star Mild, Nostalgia Losta Masta yang Bangkit Kembali

Rokok Star Mild

Setelah lama menghilang dari pasaran rokok nasional, Star Mild kembali hadir bagi para penikmatnya pada Oktober 2026. Kemunculannya tentu membawa semangat baru dengan desain kemasan yang membangkitkan nostalgia. Demikianlah Star Mild, salah satu merek rokok mild yang pernah meramaikan persaingan industri rokok kretek di Indonesia.

Di sejumlah ruas jalan di Yogyakarta, spanduk iklannya terbentang dan menarik perhatian para pengendara yang melintasinya. Bagi mereka yang mengenal Star Mild sejak era 1990-an, kemunculan ini tentu mengingatkan pada masa ketika merek tersebut menjadi salah satu nama penting di pasaran rokok mild.

Saya sendiri mengetahui kemunculan kembali Star Mild secara tidak sengaja. Pagi tadi, Selasa, 20/10/2026, saat melintasi Jalan Kapten Haryadi, Sleman, Yogyakarta, saya melihat spanduk iklannya terbentang di atas para pengandara yang lewat menuju jalan Kaliurang. Satu hal yang langsung menarik perhatian saya adalah pihak pengiklan mencantumkan harga Rp25.000 per bungkus pada spanduk tersebut.

Sebagai penikmat kretek, tentu saya tertarik untuk mencobanya. Bukan semata-mata karena harganya, melainkan juga karena rasa penasaran terhadap merek yang sudah lama menghilang dari pasaran.

Pagi tadi sesampai di Akademi Bahagia, saya langsung menuju sebuah toko kelontong yang jaraknya tidak terlalu jauh untuk menanyakan ketersediaannya. Kebetulan, menurut penjualnya, rokok Star Mild masih ada tersisa tiga bungkus lagi. Saya pun membeli satu bungkus Star Mild di Toko Fafa, Jalan Raya Ngebo, Ngaglik, Sleman, Yogyakarta.

Akhirnya, setelah sekian lama menghilang saya kembali berhadapan dengan Star Mild. Kali ini, bukan sekadar mengingat merek yang pernah populer, melainkan mencoba melihat bagaimana rokok ini hadir kembali di tengah pasar rokok Indonesia yang semakin banyak ragamnya, termasuk rokok ilegal.

Kemasan Nostalgik dengan Bintang Ikonik

Kesan pertama saat melihat kemasan Star Mild terbaru adalah nuansa nostalgia yang cukup kuat.

Dahulu, simbol bintang ikonik Star Mild menghiasi sisi kiri kemasan dengan warna biru dongker. Kini, produsen menempatkan simbol tersebut tepat di tengah kemasan dan menggunakan warna biru yang lebih cerah, berpadu dengan latar putih berhias arsiran garis-garis hitam tipis.

Di bawah simbol bintang ikonik itu, terdapat tulisan berwarna merah “Losta Masta”, slogan yang telah lama akrab dengan telinga para perokok pada masanya. Pada saat itu iklan rokok Star Mild memang gencar dan selalu muncul di layar televisi dengan teriakan “Losta Masta!” Dalam desain kemasan terbaru ini di bawah tulisan “Losta Masta” tercantum keterangan isi kemasan: “16 Kretek Filter”.

Saat membalik kemasannya, saya masih menemukan identitas visual khas Star Mild berupa tulisan “Losta Masta” berwarna merah, dengan tulisan “STAR MILD” berwarna biru tepat di bawahnya.

Pada bagian tersebut juga terdapat pesan dari produsen: “Racikan spesial tembakau dan cengkeh menciptakan rasa klasik STAR MILD untuk sensasi penuh rasa di tiap momenmu.”

Di sisi kiri kemasan, nama Star Mild tercetak besar dengan warna biru. Sementara pada bagian sisi lainnya terdapat keterangan mengenai kadar tar dan nikotin.

Pada kotak informasi di sisi kemasan, rokok jenis Sigaret Kretek Mesin (SKM) mild ini mencantumkan kadar tar 14 mg dan nikotin 1 mg. Lalu bagian atasnya terdapat lembaran cukai yang menempel sebagai pengunci tutup kemasan. Pita cukai pada kemasan mencantumkan nilai Rp23.775, sedangkan saya membeli Star Mild di Toko Fafa dengan harga Rp25.000 per bungkus.

Secara keseluruhan, Star Mild tetap mempertahankan identitas desain lamanya pada kemasan terbaru. Namun, merek ini menghadirkan sentuhan baru melalui perubahan posisi simbol bintang dan penggunaan warna yang lebih cerah tanpa meninggalkan karakter khas yang melekat dalam ingatan para perokok sejak dahulu.

Mengenang Perjalanan Star Mild Sejak 1996

Perokok lawas tentu sudah faham. Star Mild memang bukanlah pendatang baru yang benar benar baru muncul dalam industri rokok kretek di Indonesia. Karena memang rokok Mild ini memiliki perjalanan panjang sejak pertama kali diperkenalkan pada tahun 1996.

Star Mild pertama kali diluncurkan pada 5 September 1996 oleh PT Lestariputra Wirasejati, perusahaan rokok yang berada di bawah naungan Grup Bentoel, Malang. Star Mild muncul karena pasar rokok mild pada saat itu mulai ramai sejak kemunculan Sampoerna A Mild yang telah mendulang sukses di pasaran.

Pada awal tahun 90an, pasar rokok Low Tar Low Nikotin memang sedang berkembang sangat pesat. Para perokok berbagai kategori ramai ramai mencoba rokok mild yang bentuk batangannya mungil dengan rasa yang halus. Nah, Star Mild pada saat itu hadir dengan pendekatan harga yang lebih murah, dan tentu saja menyasar konsumen rokok yang menginginkan rokok mild dengan karakter yang berbeda.

Salah satu slogan Star Mild yang cukup melekat adalah “Bikin hidup lebih hidup”. Selain itu, Star Mild juga memopulerkan slogan “Losta Masta” yang hingga kini mengingatkan para perokok lawas pada iklan merek tersebut pada masanya.

Perjalanan Star Mild yang sempat sukses di pasaran pada tahun 90an kemudian berlanjut dengan hadirnya produk Star Mild dengan varian Star Mild Menthol, dan Star Mild Cool Menthol. Sayangnya, kedua produk yang hadir belakangan ini pun tidak lama berada di pasaran.

Era Kejayaan Star Mid

Menurut laporan swa.co.id pada 29 April 2004, penjualan Star Mild mencapai miliaran batang per tahun. Saat pertama kali diluncurkan pada 1996, Star Mild memproduksi 754 juta batang. Pada 1998, jumlah produksinya meningkat 148 persen menjadi 1,872 miliar batang, kemudian kembali meningkat 56 persen pada 1999. Lebih lanjut, swa.co.id dalam pemberitaan tersebut juga menyebutkan bahwa penjualan Star Mild mencapai sekitar 5,4 miliar batang pada tahun 2000 dan sekitar 5,5 miliar batang pada 2002. Angka tersebut menunjukkan bahwa Star Mild pernah menjadi produk rokok mild yang sangat diperhitungkan dalam persaingan rokok mild di Indonesia.

Memang dalam perjalanan selanjutnya, Star Mild tidak berjalan mulus. Perubahan pasar, persaingan antarmerek, dan pergantian strategi produk membuat keberadaan Star Mild tidak lagi sekuat pada masa jayanya. Seiring berjalannya waktu, para konsumen semakin jarang menjumpai merek yang dahulu akrab bagi mereka. Sebelum akhirnya menghilang di pasaran secara perlahan, lalu lenyap tak berbekas.

Kini, pada Oktober 2026, Star Mild kembali muncul di hadapan konsumen. Namun kemunculannya berasal dari pabrik rokok yang berbeda. Kini Star Mild diproduksi oleh PT. DBAT, Semarang. Saya tidak tahu apakah pabrikan ini masih anak usaha dari Grup Bentoel atau bukan.  Namun yang saya tahu, spanduk iklannya sudah banyak bergelantungan di jalanan Yogyakarta, termasuk pencantuman harganya yang Rp25.000,-. Desain kemasannya membawa kembali simbol bintang biru yang menjadi tanda ikonik dari Star Mild.

Kemunculan Star Mild menimbulkan pertanyaan menarik dalam diri saya, apakah Star Mild mampu kembali memperoleh tempat di tengah persaingan rokok mild dan rokok illegal yang saat ini makin ramai di pasaran?

Aroma Khas SKM Mild

Saat saya membuka bungkusnya, dalam sebungkus Star Mild batangannya tersusun rapi dalam dua baris, masing-masing baris berjajar delapan batang.

Pada filternya terdapat logo bintang berwarna biru dengan tulisan Star Mild memanjang. Pada bagian batas isapnya diberi garis biru melingkar yang terlihat rapi. Batangannya juga tampak bersih dan tidak menunjukkan bercak yang mencolok. Maklum, namanya juga rokok baru, ya.

Saat sebatang Star Mild saya dekatkan ke hidung, aroma yang muncul terasa segar. Ada perpaduan aroma tembakau dengan sentuhan manis yang ringan, karakter yang khas lazimnya rokok SKM mild.

Ukuran batangannya relatif mungil, sesuai dengan karakter rokok mild yang selama ini dikenal konsumen.

Dari aroma awalnya saja, Star Mild memberi kesan bahwa produk ini masih berusaha mempertahankan karakter klasiknya. Namun, bagaimana dengan rasanya ketika diisap?

Rasa Halus dengan Manis yang Tipis

Ketika ujung rokok mulai menyala, kesan pertama yang saya rasakan adalah halus. Pada tarikan awal, rasanya cenderung tawar. Tidak ada karakter rasa yang langsung menonjol.

Namun, setelah tarikan dilepaskan, muncul sedikit rasa manis pada bagian akhir. Karakter tersebut mengingatkan saya pada A Mild, meskipun kesan ini tentu subjektif dan bergantung pada kebiasaan perokok sebelumnya. Rokok saya sehari hari adalah SKT. Jadi rasa yang saya rasakan pada Star Mild adalah rasa netral seutuhnya.

Setelah mencoba dua batang, saya merasakan sensasi agak kesat di lidah, seperti ada lapisan tepung tipis yang tertinggal. Rasa manisnya tetap ada, tetapi sangat ringan. Aromanya juga wangi, halus, dan enak merasuk indra penciuman. Seperti wangi bunga entah karena saya tidak bisa menebaknya.

Bagi penikmat rokok mild, karakter semacam ini mungkin terasa cukup akrab. Lazimnya rokok Mild, rasanya tidak terlalu kuat, tarikan cenderung halus, dan tidak menawarkan sensasi yang terlalu tajam.

Namun, saya perlu mengakui bahwa penilaian ini datang dari seseorang yang lebih terbiasa menikmati rokok Sigaret Kretek Tangan (SKT). Karena itu, membandingkan Star Mild dengan rokok SKT sebenarnya bukan perbandingan yang sepenuhnya sepadan. Keduanya memiliki karakter produk dan pengalaman yang berbeda.

Bagi saya pribadi, Star Mild terasa kurang mantap untuk kategori rokok mild. Karakter rasanya ringan dan halus, tetapi tidak memberikan sensasi yang biasanya saya jumpai dalam SKM Mild yang biasanya lembut dan terasa khasnya.

Meski demikian, hal tersebut bukan berarti Star Mild gagal menghadirkan karakter yang diinginkan konsumennya. Rokok mild memang memiliki segmen penikmatnya tersendiri. Apa yang terasa kurang kuat bagi penikmat SKT seperti saya, belum tentu menjadi kekurangan bagi mereka yang terbiasa mengkonsumsi rokok mild.

Mampukah Star Mild Kembali Bersaing?

Kemunculan kembali Star Mild menjadi sesuatu yang menarik di tengah pasar rokok Indonesia yang terus berubah. Belumlagi ketambahan makin banyaknya rokok illegal di pasaran. Konsumen kini berhadapan dengan beragam merek, pilihan harga, dan karakter produk, juga tentu saja pilihan rokok illegal yang makin banyak pilihannya. Dalam situasi seperti ini, menghidupkan kembali merek yang pernah berjaya bukan perkara mudah. Karena perokok mempunyai banyak pilihan dan tentunya harga yang jauh lebih terjangkau

Nostalgia memang dapat menjadi pintu masuk untuk menarik perhatian konsumen lama. Saya sendiri tertarik membeli Star Mild karena ingatan dan rasa nostalgia dari merek ini, serta rasa penasaran setelah melihat spanduk iklannya banyak bermunculan di jalanan Yogyakarta.

Namun, untuk kembali mendapatkan tempat di pasar, nostalgia saja tidak cukup. Karena penerimaan konsumen akan ikut menentukan perjalanan Star Mild selanjutnya. Apalagi di tengah situasi in this economy, tentu harga menjadi pilihan pertama seorang perokok saat berada di depan etalase warung rokok dan di toko kelontong.

Pengalaman Pribadi Terhadap Rokok Mild

Dari pengalaman mencoba produk yang saya beli, Star Mild menawarkan karakter SKM mild yang ringan, halus, dengan aroma tembakau dan sentuhan manis yang tipis. Bagi perokok yang terbiasa menjadi penikmat rokok mild, karakter ini bisa menjadi alasan untuk mencoba  kembali Star Mild yang telah lama menghilang dan kini hadir kembali.

Sementara bagi saya yang terbiasa menikmati SKT, tentu saja sensasi rasanya terasa kurang nendang. Tarikannya terlalu ringan, rasanya cenderung standar untuk kategori mild. Selain itu Star Mild tidak memberikan kekuatan rasa yang bisa saya nikmati. Ya, saya hanya bernostalgia. Tidak lebih dan tidak kurang. Hanya sekadar bernostalgia.

Namun, penilaian terhadap Star Mild akan kembali kepada selera masing-masing perokok. Bagi perokok lawas, kemunculan Star Mild mungkin untuk mengenang kembali salah satu merek yang pernah meramaikan pasar rokok mild di Indonesia. Bagi konsumen yang lebih muda, Star Mild hadir sebagai nama besar yang perlu dicoba.

Satu hal yang pasti, melihat kembali nama Star Mild di jalanan Yogyakarta pada Oktober 2026 ini, membawa ingatan saya pada perjalanan panjang sebuah merek yang telah muncul sejak 1996. Setelah melewati masa ketika namanya diperhitungkan dalam persaingan rokok mild, kini Star Mild kembali mencoba menemukan tempatnya. Berhasil atau tidak, pasarlah yang menentukan.

Apakah Anda sudah mencobanya?

 

Artikel Lain