Sisa-sisa Petani Cengkih di Gemawang Temanggung

Cengkih Temanggung Boleh Merokok

Sebagai orang Temanggung, saya cukup dekat dengan tembakau. Tapi bahan baku kretek kan tidak hanya tembakau saja. Ada cengkih menjadi hal yang tidak boleh dilupakan.

Awalnya saya mengira tidak ada pohon cengkih di Temanggung. Tapi setelah saya coba riset-riset di berbagai sumber yang ada di media online, ternyata ada beberapa kecamatan yang masih menanam cengkih, salah satunya adalah Gemawang.

Di sini tidak hanya terkenal dengan budidaya kopinya saja, tapi cengkih juga pernah berjaya di sini. Sebab, dulu daerah ini pernah menjadi salah satu sentra cengkih terbaik di Temanggung. Salah satunya ada di Desa Kemiriombo.

Masih menanam cengkih di  Temanggung, meski banyak yang telah mati

Saya berangkat dari rumah ke Kemiriombo pukul 10:00 WIB. Jarak antara daerah itu dengan pusat kota sekitar 20 km. Untuk mencapai ke situ, akses jalannya relatif mudah. Tapi tidak untuk sinyal ponsel.

Ketika saya sampai di situ, beberapa warga yang saya tanya ternyata memiliki jawaban bahwa lahan cengkih di Kemiriombo banyak yang berkurang. Cengkih yang dulu banyak ditanam di lahan bahkan depan rumah kini pun sudah banyak yang ditebangi.

Alasannya karena banyak tanaman yang tidak produktif, bahkan mati. Saya bertanya ke banyak warga alasan kematian pohon cengkih itu. Tapi tidak banyak yang tahu.

Tapi saya beruntung, di Kemiriombo, Temanggung, saya masih bisa bertemu dengan Tumadi (42). Ia merupakan salah satu petani yang masih konsisten menanam cengkih sejak 18 tahun lalu. Di situ saya disambut dengan baik. Dibuatkan kopi, mencicipi tembakau miliknya, dan tentunya mendapatkan banyak cerita.

Sebagai seorang petani, Tumidi di setiap tahun ia selalu menyisakan lahan untuk ditanami cengkeh. Meski ketika ia menanam 20 pohon yang jadi paling hanya 4 pohon saja.

Tumidi, petani cengkih di Temanggung Boleh Merokok
Tumidi, petani cengkih di Temanggung Boleh Merokok

Kejayaan yang tertinggal di masa lampau

Kata Pak Tumidi cengkeh yang ia tanam tidak banyak yang berumur lebih dari 30 tahun. Bahkan tidak sedikit yang berumur 20 tahun sudah mati. Sehingga perlu dilakukan pembaharuan lagi. Di tahun ini katanya ia hanya berhasil panen sekitar 30 kg saja.

Tidak hanya jadi petani, di rumahnya ia juga memproduksi cengkih hasil olahannya yang kemudian dijual sendiri dan disetor ke toko-toko lain. Biasanya dipakai untuk campuran tingwe. Ada yang disetor di dalam dan luar daerah Temanggung.

Di situ juga saya sedikit tahu tentang pengolahan cengkih yang awalnya dijemur selama satu minggu lalu ditimbun minimal 3 tahun (maksimal 10 tahun). Baru setelah itu digiling. Ada proses pemilahan juga yang kemudian membuat cengkih dikategorikan sebagai grade A, B, dan C. Tentu beda kualitas beda harga.

Menariknya dalam melakukan pengolahan cengkih, Tumadi belajar otodidak sejak 2014. Mesin yang ia pakai pun rakitan sendiri. Baru kemudian di tahun 2018 ia membuka toko sendiri (cengkih, tembakau, ubo rampe tingwe turut disediakan)

Untuk harganya sendiri cengkih lokal gelondong mencapai Rp100 ribu per-kg. Dengan kuantitas segitu bisa menghasilkan cengkih siap konsumsi 7-8 ons. Lalu untuk cengkih yang sudah jadi di pasaran mencapai Rp10 ribu-Rp35 ribu, tergantung kualitasnya.

Meskipun Tumadi pemain baru (karena sebelumnya ia adalah petani tembakau di Bansari, Temanggung, sebelum pindah ke Kemiriombo) ia ingat betul di mana di tahun 2008-2009 cengkih di Gemawang mencapai kejayaan.

Di tahun itu, harga cengkih gelondongan bisa mencapai Rp80 ribu per-kg. Banyak petani cengkih di kala itu yang kemudian banjir uang. Bisa beli ini-itu.

Juru Bicara Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), Khoirul Atfifudin

BACA JUGA: Datanglah ke Munduk, Hatimu akan Terusik saat Melihat Geliat Petani Cengkeh di Bali

 

Artikel Lain