Industri Kretek Adalah Satu-Satunya Industri yang Memiliki Nafas Panjang dan Tahan Banting, Meski Banyak Dimusuhi

masa keemasan industri kretek

Kretek merupakan produk khas Indonesia yang tidak ada di negara lain. Kretek pertama kali ditemukan di Kudus, Jawa Tengah, oleh H. Djamhari pada tahun 1880. Awalnya, racikan ini hanya digunakan untuk obat sesak napas yang diracik oleh beliau. Namun, perlu diingat bahwa H. Djamhari adalah seorang penemu, bukan pengusaha besar.

Industrialisasi kretek baru dimulai di tangan tokoh-tokoh berikutnya, seperti Nitisemito dengan merek Tjap Bal Tiga. Dari sanalah perjalanan kretek menjadi industri besar dimulai, melewati proses panjang yang melibatkan banyak tokoh dan jutaan buruh selama lebih dari satu abad. Inilah awal mula mengapa industri ini kuat dan bisa dibilang memiliki nafas yang sangat panjang karena akarnya sudah tertanam sangat dalam di sejarah dan bagian budaya kita.

Industri paling tahan banting di segala krisis negara

Berbicara soal dunia industri, hanya industri kreteklah yang paling tahan banting terhadap krisis maupun aturan-aturan yang sering kali tidak masuk akal. Kalau mau dibilang berlebihan, rasanya memang tidak ada industri apa pun sekuat industri kretek. Tapi ini faktanya, bukan berlebihan. Industri ini terbukti sangat tahan terhadap krisis ekonomi dan kuat menghadapi aturan-aturan yang terus-menerus mencekiknya.

Ketangguhannya bukan main-main. Industri ini sudah ada sejak zaman kolonial, bertahan dari masa pendudukan Belanda hingga Jepang, dan masih eksis sampai saat ini. Sudah lebih dari satu abad industri ini berdiri. Meski ada sekitar 500 regulasi mengepungnya, baik fiskal maupun non-fiskal, yang terus menekannya, yang membuat industri ini terseok-seok namun tetap eksis.

Sejarah kretek yang tahan banting

Kalau kita melihat sejarahnya, industri ini seolah punya nyawa sembilan. Saat krisis ekonomi besar tahun 1998 atau ketika nilai tukar rupiah melemah drastis terhadap dollar, banyak industri lain langsung gulung tikar karena bahan bakunya impor. Tapi kretek beda. Karena bahan baku utamanya, tembakau dan cengkeh, ada di tanah kita sendiri, industri ini tetap bisa bertahan disaat yang lain tidak tahan atau ambruk. Mereka tidak terlalu pusing soal dollar yang naik, karena kekuatan industri ini ada di dalam negeri, akar rumput dan petani lokal. Inilah simbol kemandirian nasional yang sebenarnya. 

Di sinilah letak keunikannya. Meski terus dicekik dengan pajak tinggi dan aturan yang susah, industri kretek tetap bertahan. Kenapa? Karena di dalamnya ada nasib jutaan orang. Ada petani tembakau di lereng gunung, petani cengkeh, sampai ibu-ibu buruh linting di pabrik yang menggantungkan hidup di sana.Disamping itu, Industri kretek tetap konsisten menyumbang cukainya ke kas negara dengan konsisten 200 Triliun lebih pertahun. Inilah kenapa rantai ekonomi kretek layak disebut sokoguru ekonomi nasional. Selain itu, rasa kretek itu khas Indonesia banget dan tidak bisa ditemukan di negara mana pun. Aroma dan gurih rempahnya sudah menyatu dengan masyarakat Indonesia.

Industri Kretek sudah jadi bagian dari budaya

Bagi masyarakat kita, kretek sudah jadi bagian dari budaya dan tradisi. Inilah yang bikin industri ini tetap kokoh. Mau badai ekonomi datang atau seberapa kuat pun dan pemerintah mencoba menekan, industri kretek terbukti selalu punya cara untuk tetap selamat, beradaptasi, dan melewati tantangan zaman dengan nafas yang tetap panjang.

Meski dunia terus berusaha membunuhnya, industri ini akan tetap kuat sebagai simbol kedaulatan nasional. Inilah bukti kemandirian nasional. Selama cengkeh masih tumbuh, dan petani masih menanam tembakau, kretek akan tetap ada. Dan juga masyarakat masih peduli dengan keberlangsungan budaya dan tradisinya. Kretek bukan hanya soal rokok, tapi ini menjadi bukti bahwa kita bisa berdiri di tanah dan di kaki sendiri. Apapun yang terjadi kita harus menjaga kedaulatan ini. Ingat kata Wiji Thukul, “DI SINI KITA BUKAN TURIS!”

 

Juru Bicara Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), Alfianaja Maulana Ardika

BACA JUGA: Kretek Adalah Produk Lokal yang Mesti Dilestarikan, Bukan Dimusuhi

 

Artikel Lain