Kearifan Kiai Nusantara: Kisah Rokok Mbah Kholil Bangkalan dan Habib Luthfi Pekalongan

mbah kholil bangkalan dan kisah kiai nusantara

Perdebatan mengenai hukum rokok seolah menjadi diskusi yang tidak pernah usai. Hingga hari ini, pandangan antara yang mengharamkan, memakruhkan, hingga yang membolehkan (mubah) terus bersahutan di ruang publik. Fenomena ini bahkan berkembang melampaui sekadar masalah kesehatan atau fikih, melainkan sudah menyentuh ranah ideologis. Masyarakat seakan terbelah menjadi dua identitas besar: mereka yang merokok dan mereka yang tidak merokok.

Namun, di tengah tajamnya perbedaan tersebut, para kiai Nusantara dari dulu memiliki cara unik dan elegan dalam menjawab problematika yang terjadi di masyarakat. Alih-alih menggunakan pendekatan doktrinal yang kaku, para ulama ini sering kali memberikan jawaban melalui dawuh (ucapan) singkat, humor yang bernas, atau sekadar isyarat yang penuh makna. Bagi para penanya, isyarat tersebut sudah lebih dari cukup untuk menangkap substansi jawaban tanpa merasa dihakimi.

Kearifan Kiai Nusantara Merespons Perdebatan Hukum Rokok

Kisah-kisah kearifan ini hadir bukan untuk menentukan siapa yang paling benar secara hukum, apalagi menyalahkan pihak yang berbeda pandangan. Semata-mata untuk memberikan keteladanan bahwa perbedaan sudut pandang adalah sebuah rahmat dan bentuk kasih sayang Allah Swt.

Di tangan para kiai Nusantara, agama tidak ditampilkan sebagai alat untuk menyalahkan yang berbeda, tetapi sebagai ruang untuk saling memahami. Pendekatan ini menunjukkan bahwa menjaga kerukunan sosial jauh lebih utama daripada memenangkan perdebatan yang tak pernah selesai.

Jawaban Mbah Kholil Bangkalan Tentang Hukum Rokok

Suatu saat, para kiai dan habaib menghadap Mbah Kholil Bangkalan, Madura, hendak menanyakan status hukum rokok. Namun, sebelum pertanyaan itu sempat terucap, Mbah Kholil yang baru saja keluar hendak menyambut para tamu tiba-tiba memberikan dawuh singkat:

وَيُسَنُّ بَعْدَ أَنْ تَأْكُلَ أَنْ تَأْدُدَ

“Disunahkan setelah makan untuk udud (merokok).”

Sontak, para kiai dan habaib tersebut kaget dan hanya mampu terdiam. Mereka pun tidak jadi mengutarakan pertanyaannya. Mereka semua taslim (menerima dengan lapang dada) dan mafhum atas dawuh singkat Mbah Kholil tersebut.

Isyarat Penuh Makna dari Habib Luthfi bin Yahya Pekalongan

Kejadian serupa juga pernah terjadi saat rombongan kiai sowan menghadap Habib Luthfi bin Yahya Pekalongan. Tujuannya sama, hendak mengutarakan pertanyaan mengenai status hukum merokok.

Semua terdiam saat Habib Luthfi sudah hadir di tengah-tengah mereka. Sebelum niat ditanyakan, tiba-tiba Habib Luthfi bin Yahya yang duduk di hadapan para kiai tersebut menyalakan sebatang rokok, lalu menghisapnya berkali-kali dengan santai tanpa berbicara sedikit pun.

Karena sudah mafhum dengan isyarat tersebut, para kiai pun urung mengutarakan pertanyaannya. Mereka semua taslim atas isyarat yang diberikan oleh Habib Luthfi bin Yahya dan menganggap hal tersebut sudah cukup sebagai jawaban yang tuntas.

Sebagai catatan, kedua kisah kearifan di atas diriwayatkan dari KH. Mujib Hasyim bin KH. Hasyim Jamhari, Pengasuh Pondok Pesantren Dzikrul Ghofilin al-Hasyimiyah, Danawarih, Balapulang, Tegal.

Juru Bicara Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), Alfianaja Maulana Ardika

BACA JUGA: Gus Baha’, Kiai Sepuh dan Rokok

Artikel Lain

No Content Available

Artikel Lain